BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat. Dan agar manusia itu dapat mempertahankan keberadaannya di tengah kelompok, maka ia harus menyesuaikan diri terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam kelompok masyarakatnya. Salah satu proses belajar yang harus dilalui oleh setiap individu untuk dapat memahami keadaan sistem sosialnya dan berperilaku sebagaimana warga masyarakat lainnya adalah dengan cara bersosialisasi. Melalui sosialisasi seorang individu mempelajari pola-pola tingkah laku dari pergaulan atau interaksinya dengan individu-individu lain yang menduduki berbagai peranan sosial dalam kehidupan sehari-hari (Koentjaraningrat, 1980 : 243). Dengan demikian boleh dikatakan bahwa sosialisasi dapat terjadi pada setiap lingkungan sosial manusia, dari tingkat yang paling sederhana yaitu keluarga dan kelompok kekerabatan sampai dengan tingkat yang lebih kompleks seperti pada lingkungan kampus atau kelompok sebaya. Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kebudayaan. Kebudayaan adalah seluruh sistem pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang digunakannya untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungan yang dihadapinya serta untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan (Parsudi Suparlan, 1981 : 16).

Universitas Sumatera Utara

Proses sosialisasi merupakan proses dimana seorang individu belajar polapola tindakan dalam hubungan pergaulan dengan segala macam individu sekelilingnya, yang menduduki beraneka macam peranan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga proses sosialisasi bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hal ini penempatan individunya kedalam sistem sosialnya. Juga melalui sosialisasi seseorang berangsur-angsur mengenal persyaratanpersyaratan atau tuntutan hidup dilingkungan budayanya. Sosialisasi dilaksanakan dengan berbagai cara yang berbeda oleh sejumlah orang dan dalam konteks sosial. Setiap kelompok masyarakat memiliki tata aturan, tata nilai, dan normanorma yang berlaku. Hal mana telah terkonsensus dan menjadi acuan bagi setiap tata kelakuan individu pendukung dari kebudayaan kelompoknya. Proses mempelajari kebudayaan kelompok ini berlangsung terus menerus sepanjang kehidupan manusia, dari sepanjang kehidupan manusia masa kini, dan dari generasi ke generasi. Kodrat manusia hidup di dunia selalu bersama-sama dengan jenis atau kelompoknya. Kehidupan bersama-sama manusia menjadi satu keharusan sebab manusia mempunyai kebutuhan hidup yang tidak mungkin dapat dipenuhi srluruhnya tanpa ada bantuan dari orang lain. Wujud nyata dari suatu kehidupan bersama ini dapat berupa kelompok, institusi ataupun dalam bentuk lembaga. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa orang-orang yang ingin bergabung dalam suatu organisasi adalah orang-orang yang aktif bukan yang pasif, terutama organisasi yang terbentuk sebagai pemberi informasi, karena jika orang tersebut pasif, dia tidak akan mampu bergaul dengan baik didalam organisasi tersebut maupun diuar organisasi yang ada. Orang yang pasif tersebut

Universitas Sumatera Utara

seperti: darah. para ahli kesehatan menemukan jalan untuk penemuan penyakit AIDS. transfusi darah. Dalam tubuh empat pemuda tersebut ditemukan penyakit peneumonia (Pneumonic Carini) yang disertai dengan penurunan kekebalan tubuh (imunitas). Tertular HIV disebut masa jendela. Amerika Serikat. Adapun HIV (Human Immuno Deficiency Virus) merupakan sejenis parasit obligat yang dapat hidup di dalam cairan media hidup. jarum suntik. Maka penularan HIV terjadi dikarenakan : hubungan sex yang berganti-gantian pasangan. ibu hamil yang terkena AIDS pada bayinya. Setelah itu akan berlanjut ke masa tanpa gejala yakni 5-7 tahun. sehingga dia tidak akan mampu memberikan informasi yang aktual dan bersosialisasi dengan baik dengan sekitarnya. pada tahun 1981. sumsum tulang belakang dan lain-lain. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sindroma atau kumpulan gejala menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. cairan vagina. HIV hidup dan berkembang dalam sel darah putih manusia dan akan ada pada cairan yang mengandung sel darah putih.juga tidak akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Pada masa ini penderita tampak sehat dan tidak ada gejala yang tampak. penderita mulai tampak gejala AIDS dan penderita bertahan 6 bulan sampai 2 tahun dan kemudian akan meninggal. dimana dilakukan tes darah dan di dalam darah terdapat positif HIV. Lalu berlanjut ke AIDS. Sedangkan virus HIV diketahui pada tahun 1983. Dari hasil penelitian tersebut. cairan sperma. oleh Lug-Montaigneur seorang ahli mikrobiologi Universitas Sumatera Utara . HIV/AIDS pertama sekali ditemukan oleh ahli kesehatan di Kota Los Angeles. saat melakukan penelitian terhadap empat mahasiswa (pemuda).

Jawa Tengah. Sedangkan di Sumatera Utara data yang diperoleh dari sejak tahun 19942007 January lebih banyak warga Negara Indonesia dibandingkan warga Negara asing. sejak penyakit itu melanda Indonesia Universitas Sumatera Utara . pada tahun 2001 menteri kesehatan menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang terinveksi HIV/AIDS diperkirakan 80 ribu sampai 120 ribu orang. Sampai dengan tanggal 31 April 2007 jumlah kasus AIDS di Indonesia adalh 8988 orang. Jawa Timur.Perancis. Pada saat itu diperkirakan bahwa pada akhir tahun 2003 jumlah yang terkena HIV akan bertambah 2 kali lipat. Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan estimasi jumlah pemakai narkoba satu juta orang. Kasus AIDS terdapat di 32 provinsi dengan kasus tertinggi dimulai dari DKI Jakarta. Pada 15 April tahun 1987 kasus HIV/AIDS ditemukan di Indonesia yakni seorang turis asal Belanda (Edward Hop. Kalimantan Barat. Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan. Ia meninggal di Rumah Sakit Sanglah. 44). Dan sebanyak 80 orang meninggal akibat AIDS. Papua. Jawa Barat. Bali. Dimana total yang mengidap HIV WNI dan WNA adalah 470 orang dan untuk yang mengidap AIDS pada WNI dan WNA adalah 331 orang. ahli mikribiologi asal Amerika Serikat yakni Robert Gallo menemukan HIV. Penderita yang meninggal akibat AIDS adalah sebanyak 1994 orang. Setahun setelah penelitian Lug. Sumatera Utara. dengan total 26 orang. Bali. Sedangkan kasus HIV/AIDS yang terungkap (tercatat). sekitar 60% diantaranya menggunakan jarum suntik bergantian dan 15% terinfeksi HIV. Penderita HIV+ sebanyak 5640 orang. Dimana WNI (Warga Negara Indonesia) yang mengidap HIV adalah 25 orang. yang mengidap AIDS adalah 1 orang. Di Indonesia.

kasus HIV/AIDS yang terungkap mencapai 46 kasus dengan rincian 4 korban terindikasi HIV dan 42 positif mengidap AIDS yang kasusnya tertinggi di Jakarta. Unaids dan WHO pada tahun 2002 menyebutkan bahwa hampir semua infeksi HIV di Eropa Timur dan Asia Tengah terkait dengan narkoba suntik. Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-24 tahun merupakan 29. Artinya epidemi HIV/AIDS yang nampak di depan mata hanya merupakan puncak dari gunung es yang ada dipermukaan air. kemudian Yogyakarta (10). Selama kurun waktu 12 tahun sejak kasus HIV ditemukan di Indonesia pada 1987. Mereka seolah menjadi remaja modern dan tidak kampungan. Bahkan Departemen Kesehatan menyatakan bahwa kecenderungan epidemic concentrate level HIV/AIDS di beberapa daerah di Indonesia telah sampai pada lampu merah. 332 korban diantaranya meninggal dunia. tercatat sebanyak 300 kasus HIV dikalangan IDU. hanya terdapat 6 kasus HIV dikalangan IDU (injecting drug user).614 orang. Banyak yang tidak Universitas Sumatera Utara . Sulawesi Utara (5). mereka (terutama remaja cowok) bangga memiliki tato atau menindik bagian-bagian tubuhnya.8% dari2. Bali(4). Gaya hidup (lifestyle) anak anak muda sekarang juga mempunyai kontribusi terhadap munculnya HIV/AIDS. Pada tahun 1999. epidemi terjadi pada pengguna narkoba suntik dan pekerja seks dengan mayoritas umur dibawah 25 tahun. Peningkatan yang sangat pesat terjadi setelah itu. Di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa permasalahn IDU di Indonesia sudah saatnya dicermati karena ini dapat menyebabkan ledakan untuk penularan HIV. Khusus untuk tahun 2003.tahun 1987 sampai akhir Maret 2003 dicatat sebanyak 3. Contohnya . Laporan Unicef.649 orang pengidap virus HIV/AIDS di Indonesia.

menyadari bahwa jarum yang digunakan untuk menato atau menindik tubuh mereka itu menjadi medium penularan HIV/AIDS. Karena tujuan dari warung sahiva di kampus ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman 1 Sumber dari : http://www. Mereka tidak menyadari bahwa akumulasi penggunaan IDU bisa berujung pada penyakit yang mematikan itu. merekalah yang menjadi sasaran empuk HIV yang ditularkan melalui jarum-jarum suntik narkoba atau hubungan seks bebas. Minimnya informasi dan pengetahuan remaja soal bahaya HIV/AIDS. Karena itu. faktor penyebab itu bergeser ke penggunaan jarum suntik intrevenous drugs user (IDU) atau narkoba (putaw). Namun.HIV/AIDS.net/?p=248 Universitas Sumatera Utara . Dalam hal ini organisasi warung sahiva harus memiliki pengetahuan yang lebih mengenai HIV/AIDS. kata Esti konsentrasi KPAD untuk mencegah virus HIV/AIDS saat ini terfokus ke anak-anak muda (remaja). Sebab. menjadi faktor kesalahan dalam pergaulan. kesehatan reproduksi dan seks. Mereka dihadapkan pada suasana pergaulan tak terkontrol di luar rumah yang begitu bebas. agar mampu menjelaskan kepada orang-orang yang ingin tahu. Dari hasil pemeriksaan terhadap para penderita. penyebab terbesar kasus HIV/AIDS diketahui karena penggunaan IDU. Pada dekade 1990-an faktor seks bebas menjadi penyebab utama penyakit mematikan tersebut. mulai penyebab hingga pencegahannya. 1 Warung Sahiva adalah suatu wadah atau pusat informasi dan konseling di kampus Universitas Sumatera Utara yang tentunya terdiri dari orang-orang yang menjadi satu kelompok membentuk menjadi suatu organisasi atau lembaga untuk membantu orang-orang yang memiliki rasa keingintahuan mengenai seks dan HIV/AIDS.

maka orang-orang yang terlibat atau bergabung dalam warung sahiva ini harus aktif dalam pergaulannya. menyebabkan orang takut untuk melakukan untuk melakukan kontak sosial biasa (berbicara.id/). HIV/AIDS dan Napza terutama cara pencegahan dan penanggulangannya. Pengembangan warung Sahiva sebagai pusat informasi dan konseling merupakan salah satu upaya mempercepat keberhasilan tujuan program penanggulangan HIV/AIDS yang telah digariskan secara nasional. agar terwujud tujuan warung sahiva tersebut. Universitas Sumatera Utara . salaman dan sebagainnya) dengan Odha (orang dengan HIV/AIDS). Adapun justifikasi awal dikembangkannya pusat informasi dan konseling di kanpus Universitas Sumatera Utara adalah : • Adanya kebutuhan informasi HIV/AIDS.sahiva. Ketidaktahuan menyebabkan ketakutan yang berlebihan. • Adanya tenaga-tenaga yang dapat mengembangkan Pusat Informasi dan Konseling HIV/AIDS terutama dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (http://www. Kesehatan Reproduksi dan Napza.anak muda tentang kesehatan Reproduksi. Tidak mengetahui cara penularan yang benar. • Sudah adanya wadah Bimbingan dan Konsultasi Mahasiswa yang memang berfungsi membantu mahasiswa yang bermasalah dalam proses belajar.or. • Adanya kecenderungan meningkatkan perilaku berisiko ( seks bebas dan menggunakan narkoba ) di kalangan mahasiswa. Infeksi Menular Seksual (IMS).

Kampus Universitas merupakan tempat atau wadah bagi berbagai kegiatan mahasiswa mulai dari kuliah sampai dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. komprehensif dan profesional. IMS. dalam waktu yang tidak lama tentunya harus diantisipasi meningkatnya kasus AIDS. bukan hanya orangorang yang telah lulus dari perkuliahan. Oleh karena itu. yang pada saatnya memerlukan perawatan. dukungan dan pengobatan. Menurut AIDS Epidemic Updated 2004. Dibutuhkan suatu wadah yang dapat memberikan pelayanan secara berkesinambungan. Sering kali infeksi HIV terjadi karena tidak memiliki kekuatan ekonomi dan sosial untuk melindungi diri mereka. Adapun infeksi HIV tidak semata-mata disebabkan oleh ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan cara-cara pencegahan HIV. Jadi. para mahasiswa yang Universitas Sumatera Utara . Sejalan dengan meningkatnya kasus HIV (+). Dalam Warung Sahiva ini terdapat mahasiswa-mahasiswa USU yang terlibat dan bergabung dalam lembaga-lembaga ini. hal itu hanya berhenti sampai di situ karena kurangnya wadah yang dapat menampung “ rasa keingintahuan “ ini. Dengan dikembangkannya wadah informasi dan konseling di dalam kampus tentunya akan sangat membantu meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap HIV/AIDS. kendala terbesar dalam penanggulangan AIDS di banyak negara termasuk Indonesia adalah kurangnya sumber daya dan kepemimpinan politik untuk segera meningkatkan skala penanggulangannya.Pada dasarnya rasa ingin tahu para remaja terhadap HIV/AIDS cukup besar terbukti dari banyaknya peserta yang mengikuti seminar-seminar mengenai HIV/AIDS yang dilakukan dan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. dan Reproduksi Sehat. Namun.

terlibat dalam lembaga ini tentunya masih bergaul di lingkungan kampus atau mahasiswa-mahasiswa lainnya yang tidak terlibat dalam lembaga ini. HIV/AIDS dan IMS masih dianggap sesuatu yang menjadi “ milik “ kelompok pekerja seks. dan penanggulangan HIV/AIDS ke arah kelompok ini secara lebih intensif dan komprehensif. sudah saatnya perlu dilakukan upaya perlindungan. orang yang suka ‘ jajan ‘. Meskipun ditujukan terutama kepada anak muda/ mahasiswa. Karena dianggap lebih efektif dan sesuai dengan kelompok sasaran. Oleh sebab itu. Adapun pola penyampaian dan pendekatan yang di gunakan adalah metode pendidikan sebaya (peer education method). pencegahan. Penyebaran informasi yang dilakukan sahiva diharapkan juga dapat meningkatkan wawasan peduli AIDS dan Napza di kalangan Sivitas Akademik USU. maupun kelompok homoseksual. Efektifnya pola penyampaian dan pendekatan dengan metode pendidikan sebaya sebagai penyebaran informasi sahiva kepada mahasiswa sebagai sasaran utama maka mahasiswa-mahasiswa yang bergabung dalam warung sahiva ini harus bersosialisasi dengan baik dilingkungan sekitarnya terutama dilingkungan kampus FISIP USU. salah satunya dengan mengembangkan warung sahiva dikampus Universitas Sumatera Utara secara khusus lembaga ini mengembangkan pola-pola KIE (Komunikasi. HIV/AIDS dan Napza di kalangan remaja dan anak muda di kampus sangat mengkhwatirkan karena menimbulkan rasa aman yang semu. Minimnya informasi yang benar tentang Kesehatan Reproduksi. Informasi dan Edukasi) khususnya bagi mahasiswa / Universitas Sumatera Utara . Seringkali mereka merasa bahwa mereka ( remaja / anak muda ) cukup aman dan tidak mungkin tertular HIV ataupun Infeksi Menular Seksual.

lokakarya. Karena keminimannya informasi yang benar tentang Kesehatan di kampus Reproduksi. seminar. Ikut membuka stand / meja informasi di setiap kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini. dan kegiatan-kegiatan lainnya. HIV/AIDS dan Napza dikalangan mahasaiswa/i khususnya mahasiswa/i FISIP USU maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam bagaimana sesungguhnya sosialisasi Sahiva dan sejauh mana Sahiva memberi kontribusi dalam peningkatan pengetahuan & pemahaman kesehatan reproduksi dikalangan mahasiswa/i FISIP USU. Sejauh mana Sahiva memberi kontribusi dalam peningkatan dan pemahaman anak muda khususnya mahasiswa tentang kesehatan reproduksi ? Universitas Sumatera Utara . Secara rutin mengelar lesehan / tikar informasi di dalam kampus. didalam maupun diluar kampus. melakukan pelatihan-pelatihan. Bagaimana sesungguhnya proses sosialisasi Sahiva dikalangan mahasiswa FISIP USU ? 2. baik institusi pemerintahan maupun swasta.2. tentang I. penulis mencoba untuk menarik suatu permasalahan agar lebih mengarah pada penelitian yang dimaksud. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang masalah berikut uraian-uraian yang telah dikemukakan diatas. yaitu : 1.remaja. temu-temu diskusi.

Untuk mengetahui sejauh mana Sahiva memberi kontribusi dalam peningkatan dan pengetahuan anak muda khususnya mahasiswa tentang kesehatan reproduksi. Untuk mengetahui bagaimana metode pendidikan sebaya yang digunakan oleh Sahiva 3. Manfaat Penelitian Adapun manfat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. I. 3.I. Hasil penelitian yang didapat berguna sebagai bahan referensi untuk informasi pengembangan ilmu pengetahuan bagi para instansi-instansi pemerintahan. 4. lembaga formal maupun non formal (sekolah/akademik). 2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. serta melatih kemampuan dan keterampilan penulis dalam bidang penelitian sosial. Universitas Sumatera Utara .4. Untuk mengetahui bagaimana proses sosialisasi Sahiva dikalangan mahasiswa FISIP USU. Hasil penelitian yang didapat berguna sebagai bahan bacaan untuk informasi pengembangan ilmu pengetahuan tentang HIV/AIDS di masyarakat khususnya dikalangan anak muda. 2.3. Hasil penelitian yang didapat berguna sebagai bahan bacaan untuk informasi pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat khususnya anak muda yang peduli akan HIV/AIDS. Menambah dan meningkatkan kemampuan serta wawasan penulis mengenai “Sosialisasi Sahiva”.

Alasan mengapa peneliti memilih lokasi ini karena posisi peneliti merupakan mahasiswa di kampus FISIP USU. sehingga peneliti diharapkan akan dengan mudah menjangkau lebih banyak infoman dimana informan tersebut merupakan teman-teman peneliti sendiri selama diperkuliahan untuk dapat diwawancarai ataupun mewawancarai informan yang belum dikenal melalui perantara informan yang telah dikenal. Pengembangan yang dimaksud sebagai persiapan bagi masa depan mereka sebagai pewaris masa depan bangsa. 1. I. I. Dr. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang merupakan salah satu fakultas dari Universitas Sumatera Utara (USU).5. Universitas Sumatera Utara .6. Tinjauan Pustaka Tujuan praktis dari pembinaan generasi muda adalah mengantarkan para pemuda (generasi muda) untuk memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya dalam pengembangan diri pribadi dan sosial mereka dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Sofyan No. Dan peneliti ingin mengetahui dan melihat bagaimana sesungguhnya sosialisasi Sahiva dikalangan mahasiswa FISIP USU. dimana dalam hal ini sebenarnya informan terlepas dari posisi sebagai seorang mahasiswa.5. Diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi khazanah kepustakaan yang bermutu. Fakultas ini terletak di jalan Prof. Kampus USU Medan.

IMS. kesadaran. hanya dapat dimungkinkan apabila mereka dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai sehingga mereka dapat dikembangkan dan mengembangkan diri. Ini dapat berarti satu kelompok sebaya pelajar. karena penjelasan yang diberikan oleh seseorang dari kalangannya sendiri akan mudah dipahami. kelompok mahasiswa. ambisi dan aspirasi agar mereka menjadi orang pragmatis dan konstruktif. Pendidikan sebaya adalah suatu proses komunikasi. Kegiatan sebaya dipandang sangat efektif dalam rangka KIE penanggulangan HIV/AIDS. Dengan dikembangkannya wadah informasi dan konseling di dalam kampus tentunya akan sangat membantu meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap HIV/AIDS. Kampus Universitas merupakan tempat atau wadah bagi berbagai kegiatan mahasiswa mulai dari kuliah samapai dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. sesama rekan kerja. Untuk memperoleh kepandaian. informasi dan edukasi yang dilakukan oleh dan untuk kalangan yang sebaya yaitu kalangan satu kelompok. jenis kelamin. dan Reproduksi Sehat.Pembinaan pemudan (generasi pemuda) tidak hanya dari segi pengetahuan dan keterampilan saja tetapi juga bersifat mental dan rohani. sesama profesi. berbagai masukan langsung yang datang dari relawan melalui proses pendekatan sebaya menunjukkan bahwa kebutuhan informasi yang lebih mendalam sangat dibutuhkan. Sehingga sosialisasi merupakan proses penempatan individu di dalam sistem sosialnya atau Universitas Sumatera Utara . Dalam perjalanannya. Sosialisasi adalah proses dimana seorang individu belajar pola-pola tindakan dalam hubungan dengan segala macam individu disekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial dalam hidupnya sehari-hari.

Dalam pola-pola pergaulan. Dengan adanya kesadaran akan eksistensi diri serta kemampuannya. pola-pola baku yang telah ada dalam kebudayaan sebagai alat adopsi mendapat persambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 1991 : 154). Manusia dibekali oleh alam dengan akal budi untuk berfikir dan berkarya. Pengadopsian kebiasan sikap dan ide-ide tersebut hanya terjadi melalui proses belajar mengenai hal-hal yang akan di adopsi tersebut atau dengan kata lain sikap dan kebiasan individu dalam mentransfer nilai-nilai merupakan proses imitasi atau meniru orang lain. Sehubungan dengan masalah sosialisasi maka kebudayan sebagai alat adopsi manusia terhadap lingkungannya. Dalam proses sosialisasi itu individu mengadopsi kebiasaan-kebiasaan. dia berusaha memberikan bentuk baru atau bentuk lain yang lebih baik terhadap lingkungannya. seorang individu harus menyesuaikan tingkah lakunya dengan aturan-aturan yang berlaku dilingkungan sosialnya. Sosialisasi dapat diukur menurut tingkatan pengetahuan serta pengertian si individu tentang kebudayaan. Universitas Sumatera Utara . Hal ini disebabkan karena proses sosialisasi itu tidak pernah selesai seratus persen tanpa kemajuan kearah yang lebih baik. 1986 : 229).prosese belajar tentang kebudayan dalam hubungannya dengan sistem sosialnya (Koentjaraningrat. Ralph Linton (1980 : 135) menyatakan bahwa setiap lingkungan suatu masyarakat menerangkan pola-pola yang mengatur bagaimana seharusnya individu bertingkah laku. sikap dan ide-ide dari orang lain dan menyusun kembali sebagai suatu sistem dalam diri pribadinya (Ahmadi. ditransmisikan dari generasi tua ke generasi muda dalam masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Dalam proses sosialisasi ini.

Menurut tahapannya. Dalam tahap ini proses sosialisasi mengarah pada tujuan terwujudnya sikap profesionalisme (dunia yang lebih khusus). 2. melalui mana ia menjadi anggota masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kehidupannya maka masyarakat tersebut dengan sendirinya akan mengalami proses sosialisasi ini karena setiap harinya diperhadapakan dengan kehidupan masyarakat tersebut.Disamping itu terdapat juga proses sosialisasi yang dialami oleh masyarakat yaitu sosialisasi partisipatoris dan sosialisasi represif. sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil. dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi. Bukan karena dipelajari tetapi oleh karena masyarakat itu sendiri yang mengalami dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sosialisasi primer. Sosialisasi represif merupakan sosialisasi yang dipaksakan kepada seseorang atau sekelompok orang karena tidak merasakan adanya kebebasan dalam bertindak. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat. sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap : 1. Sosialisasi sekunder. Sosilaisasi partisipatoris merupakan sosialialisasi yang didapat dari masyarakat. Untuk penelitian ini. sosialisasi sekunder merupakan pokok permasalahan yang akan dibahas. karena proses sosialisasi yang dipentingkan dalam karya ilmiah ini. didefenisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah di sosialisasikan kedalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya. Dalam tahap proses ini sosialisasi primer membentuk kepribadian anak kedalam dunia umum. Dan dalam hal ini yang menjadi Universitas Sumatera Utara .

Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. dan lembaga pendidikan sekolah. 1998 : 63) menyimpulkan bahwa sosialisasi : 1. bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berfikir dari kelompok tersebut lebih lanjut (Verbriarto. media massa. peer group. Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. dalam Khairuddin.agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan. Sosialisasi dapat berjalan karena ada agen atau perantara penyampai sosialisasi tersebut. mengubah implus-implus dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayan. lembaga pekerjan dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga. maka agen sosialisasi juga mempunyai banyak bentuk dan varian. yaitu proses akomodasi dengan nama individu menahan. Dikarenakan banyaknya kebiasaan didalam masyarakat yang harus dikuasai oleh seorang individu. meminum-minuman keras dan menggunakan obatobatan terlarang (narkoba). Apa yang diajarkan kelurga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat dimana seorang individu belajar terhadap segala sesuatu yang kemudian menjadikannya dewasa. Proses sosialisasi adalah proses belajar. Misalnya. Universitas Sumatera Utara . Ada empat agen sosialisasi yang utama. tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa. kelompok bermain. Proses sosialisasi yaitu proses yang membantu individu. disekolah anakanak diajarkan untuk merokok. yaitu keluarga. melalui proses belajar dan penyesuaian diri.

1985. ide-ide. dalam sesuatu yang baru ini dicamkan (artinya dimasukkan dalam fungsi ingatan) oleh individu yang ditampilkan kembali dalam lingkungan“. kegiatan-kegiatan yang dicakup adalah : 1. Universitas Sumatera Utara . baik lingkungan fisik maupun. individu mempelajari kebiasan. individu tidak dapat begitu saja untuk melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya. lingkungan sosial. Penyesuaian diri dengan lingkungan Dalam proses kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat. nilai-nilai dan tingkah laku dalam masyarakat dimana ia hidup. S. 3. 2. karena individu tersebut mempunyai lingkungan di luar dirinya. Belajar (Learning) Menurut Morgan T. 1985. Dimana lingkungan ini mempunyai aturan dan norma-norma yang membatasi tingkah laku individu tersebut. Dalam proses sosialisasi. Semua sikap dalam kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam kepribadiannya. pola-pola. C.2. Sedangkan menurut Woodworth R. “ belajar terdiri dari melakukan sesuatu yang baru. Dalam proses sosialisasi itu. belajar adalah sebagai suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu.

kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya. Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. 1985 : 79-83). sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan. Pengalaman mental Pengalaman seorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang. Universitas Sumatera Utara . 2000) : • Tahap persiapan (Preparatory Stage) Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan. termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. lama kelamaan anak akan memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya. George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut (George Herbert Mead. Akan tetapi di masyarakat.3. Contoh. Makna kata tersebut juga belum dipahami betul oleh anak. dimana didahului oleh sikap terbentuknya suatu kebiasaan yang menimbulkan relasi yang sama (Khairuddin. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.

Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Dengan kata lain. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembembentukan dan bertahannya diri. orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other). Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersamasama. • Tahap siap bertindak (Game Stage) Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Pada tahap ini dimulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai berbentuk. Universitas Sumatera Utara . kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Peraturanperaturan yang berlaku di luar keluarga secara bertahap juga mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. kakaknya dan sebagainya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks.• Tahap meniru (Play Stage) Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak.

Proses sosialisasi seseorang dapat menerima dan juga dapat menolak sosialisasi tergantung pada apa yang di sosialisasikan serta cara mensosialisasikannya. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan. Untuk mencapai sasaran yang akan dituju yang mendeskrifikan bagaimana Warung Sahiva sebagai pusat informasi HIV/AIDS di kalangan mahasiswa. bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. kemampuan bekerja sama.• Tahap peneriman norma kolektif (generalized Stage) Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. penulis akan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara . Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Metode Penelitian Tipe penelitian ini bersifat deskriptif yang berusaha mengumpulkan data kualitatif sebanyak mungkin yang merupakan data utama untuk menjelaskan permasalahan yang akan dibahas nantinya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya. ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas.7. I. maka dilakukan pengumpulan data. Orang-orang yang di sosialisasikan dapat bersifat aktif ataupun pasif tergantung seberapa jauh keterlibatan mereka pada orang yang mensosialisasikannya. Dengan kata lain. Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan.

I. Untuk memperkuat data yang diinginkan di dalam penelitian ini. maka dilanjutkan wawancara dengan orang yang lebih merasakan sejauh mana Sahiva sebagai pusat informasi HIV/AIDS yaitu berupa anggota-anggota Sahiva serta orang yang berada dilingkungan Sahiva. maka wawancara ini juga tidak dibatasi kepada orang-orang tertentu saja tetapi melainkan juga ditambah dengan cara mewawancarai beberapa orang mahasiswa yng berada di lokasi penelitian. Observasi non partisipasi Dalam melakukan observasi non partisipasi ini si peneliti mengamati secara langsung warung Sahiva tersebut sebagai pusat informasi HIV/AIDS Universitas Sumatera Utara . Teknik Observasi Teknik observasi ini dilakukan peneliti untuk memperoleh gambaran penuh mengenai Sahiva sebagai pusat informasi HIV/AIDS dikalangan mahasiswa (studi kasus pada mahasiswa FISIP-USU Medan). Dalam hal mengobservasi ini maka si peneliti menggunakan dua macam teknik observasi yaitu : a. adapun wawancara yang dilakukan yaitu mewawancarai orang yang berperan serta dalam lokasi penelitian tersebut yaitu berupa pengurus Sahiva.7. Si peneliti menggunakan teknik snowball dalam penentuan informan terutama informan kunci.1.7. Setelah mendapatkan informasi dari pengurus Sahiva.I. anggota dan lain-lain. Penentuan Informan Sebelum melakukan wawancara mendalam maka terlebih dhulu mencari beberapa informan sebagai sumber data.2.

mengubah dan memperluas kontruksi yang dikembangkan oleh si peneliti (Lexy J. kepedulian dan lain-lain kebulatan.7. memproyeksikan kebulatn-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban. Moleong.3. Mengkontruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu. mengverifikasi. mengubah. Wawancara mendalam (dept interview) dalam penelitian ini wawancra mendalam (dept interview) digunakan untuk memperoleh data tentang Sahiva sebagai pusat informasi Universitas Sumatera Utara . Teknik Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. organisasi. percakapan ini dilakukan oleh dua pihak. Juga melihat kontribusi sahiva dalam peningkatan dan pemahaman mahasiswa tentang kesehatan reproduksi. antara lain : mengkontruksi mengenai orang. baik manusia maupun tidak manusia (triangulasi).dikalangan mahsiswa. tuntutan. perasaan. kejadian. Observasi sepintas lalu Observasi biasa ini dilakukan si peneliti untuk memperkuat data yang telah dapat dari hasil wawancara dan hal ini bisa dilakukan kapan saja ketika si peneliti berada pada lokasi penelitian. seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985:226). b. dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain. motivasi. 2005:186). dan memverifikasi. Adapun dalam pengumpulan data si peneliti menggunakan beberapa teknik wawancara untuk mendapatkan data dari informan. I.

dan kamera sebagai dokumentasi. tape recorder.8 Analisis Data Pada tahap analisis ini. Dalam pengumpulan data dilapangan wawancara tak berstruktur ini banyak dilakukan terhadap informan biasa yang sedang berada dilingkungan kampus si peneliti. untuk wawancara mendalam ini peneliti membuat perjanjian dengan informan dalam waktu yang tepat untuk di wawancarai. Untuk melengkapi data yang diperoleh dari lapangan peneliti juga mencari data kepustakaan. surat kabar dan tulisan-tulisan lainnya. Tetapi kadang-kadang yang menjadi kendala adalah ketika si peneliti membuat perjanjian dengan informan yang berada kota tempat peneliti melakukan penelitian adalah kesulitan didalam menepati janji dikarenakan waktu. peneliti memeriksa ulang kembali data untuk melihat kelengkapan data. Kedua wawancara diatas tadi akan di dukung pula oleh alatalat pengumpulan data lainnya seperti. Wawancara tak berstruktur. wawancara ini dilakukan tanpa persiapan terlebih dahulu dan biasanya apabila si peneliti secara kebetulan berjumpa dengan si informan. Data kepustakaan itu dapat berupa buku-buku. yang dipilah-pilah untuk kemudian diambil sesuai dengan kepentingan kajian atau masalah yang dibahas. Pada kejadian dilapangan.HIV/AIDS dikalangan mahasiswa dengan berpedoman kepada interview quide sebagai acuan dalam wawancara. majalah. dengan tujuan dapat menambah pemahaman penulis terhadap permasalahan yang diteliti. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian dianalisis Universitas Sumatera Utara . I.

secara kualitatif. Dalam menulis dan menganalisis peneliti juga menambahkan data-data berupa hasil observasi yang peneliti dapat pada saat berada di lapangan sebagai penguat data hasil wawancara yang telah di klasifikasikan tadi. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara disusun sesuai dengan sistematika penulisan. Tahap pertama yang dilakukan di dalam menganalisis data yang sudah di dapat dilapangan adalah mengumpulkan data yang sejenis kedalam kategorikategori yang telah di tentukan (pengklasifikasian data yang sejenis). Setelah dilakukan pengelompokan maka peneliti memeriksa kembali dan mengelompokan kedalam ketegori yang lebih kecil sehingga peneliti mudah menuliskan data yang sudah di dapat. Universitas Sumatera Utara . Data yang dituliskan tersebut diperkuat dengan data kepustakaan terutama yang berupa teori-teori yang memperkuat data lapangan yang di analisis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.