1

TUJUAN PENEGAKAN HUKUM POLRI DALAM PERSPEKTIF VISI, MISI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH1

I.

PENDAHULUAN Akhir-akhir ini kita saksikan bersama di media cetak maupun elektronik berbagai sorotan tajam tentang penegakan hukum oleh Polri di negeri ini. Beberapa kasus yang menjadi sorotan tersebtu antara lain : 1. Kediri, pencurian semangka Basar Suyanto (49 Tahun) dan Kholil (50 Tahun), vonis 2 bulan 10 hari penjara.2 2. Situbondo , pencurian 5 (lima) batang jagung, tersangka Parto (50 Tahun).3 3. Tanggerang, pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Prita Mulyasari (33 Tahun), didenda 204 juta.4 4. Jakarta Pusat, pencurian listrik, Aguswandi Tanjung (57 Tahun).5 5. Banyumas, Mbah Minah (55 Tahun), Pencurian 3 (tiga) biji kakau, hukuman penjara 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan.6 6. Batang, Pencurian dua kilogram kapas senilai Rp4 ribu, Rusnoto (14), Juwono (16), Sri Suratmi (25), dan Manise (39).7 Apakah ada yang salah dalam penegakan hukum tersebut ? Tentu jawabnya tidak, bila dilihat secara normatif menurut kaca mata undang-undang. Tetapi dari sudut pandang sosiologis dan filosofis, beberapa kalangan masyarakat mengkritik penegakan hukum kasus-kasus tersebut dan memberikan dukungan baik langsung maupun tidak langsung kepada para pelaku. Masyarakat menyuarakan keadilan dan kemanfaatan atas tindakan penegakan hukum atas perkara-perkara tersebut. Mengapa masyarakat berbuat demikian ? Apakah karena

1 2

Dony Setiawan, Tugas Hukum Administrasi Negara, Program Magister Ilmu Hukum, Undip Semarang, 2009. Ant / CN16, Terdakwa Kasus Semangka Terancam Dua Bulan Penjara, http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/12/16/42201/Terdakwa-Kasus-Semangka-TerancamDua-Bulan-Penjara, 16 Desember 2009. Uchie, Ironis Curi 5 Buah Jagung Berakhir di Pengadilan , http://www.klikp21.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5058&Itemid=706, 07 Desember 2009. Pingkan e dundu/kcm, Prita Mulyasari Didenda Rp 204 Juta, http://www.surya.co.id/2009/12/04/pritamulyasari-didenda-rp-204-juta.html, 4 Desember 2009. Riky Ferdianto, Aguswandi Didakwa Pasal Pencurian Listrik, http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2009/11/16/brk,20091116-208659,id.html, 16 November 2009. Hef-Ct, Ketua Majelis Hakim menangis Divonis 3 bulan, Mbah Minah tersenyum, http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=35433&Itemid=1, 20 November 2009. Empat Pemungut Kapas Dua Kilogram Dipenjara, http://antaranews.com/berita/1259092808/empat-pemungutkapas-dua-kilogram-dipenjara, 25 November 2009.

3

4

5

6

7

2

masyarakat sudah banyak yang mengetahui bahwa potret penegakan hukum di Indoensia hanya bisa menjerat masyarakat yang lemah ketika perkara-perkara tersebut dibandingkan dengan vonis hakim atas perkara-perkara yang berat dan mafia peradilan yang masih berkeliaran seolah-olah tidak terjamah hukum ? Tetapi dari sudut pandang yang berbeda, masyarakat tidak mempertimbangkan bahwa ada pihak lain yaitu korban yang juga warga masyarakat dan harus juga dilindungi hak-haknya oleh Polisi. Pada saat yang sama, semua prestasi-prestasi Polri dalam mengungkap kasus-kasus besar tiba-tiba sirna di mata masyarakat. Ketika prestasi yang dibuat oleh Polri, pemberitaan pers sangat singkat, kekaguman dan apresiasi dari masyarakat berlangsung sebentar saja serta hal tersebut dianggap lumrah. Tidak demikian yang terjadi saat Polri dinilai salah melangkah dan salah mengambil keputusan, pemberitaan menjadi sangat eksklusif, berlanjut bagaikan sinetron yang sangat asyik untuk menjadi tontonan. Hal tersebut lumrah bila dilihat dari kaca mata hukum yang normatif. Menyertai hal tersebut, fenomena yang terjadi sekarang ini adalah penegakan hukum oleh Polri yang bisa dipastikan sudah benar menurut hukum positif tetapi dinilai sebagai penegakan hukum yang tidak memberikan rasa keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Penegakan hukum diistilahkan sebagai pisau dapur yang hanya tajam di bagian bawah dan tumpul di bagian atasnya. Masyarakat secara umum merespon tindakan Polri tersebut secara berkesinambungan disertai dukungan-dukungan masyarakat yang disalurkan melalui media-media yang ada. Respon masyarakat yang terjadi secara spontan tersebut sebenarnya dapat kita ambil makna positifnya dan dapat kita jadikan masukan yang berharga bagi Polri yaitu Polri diharapkan dapat menyerap aspirasi dan respon masyarakat tersebut untuk membenahi diri. Masyarakat menuntut Polri agar lebih progresif, tidak mengharapkan Polri menjadi robot atau mesin yang kaku dalam menerapkan undang-undang serta tidak peka terhadap kondisi sosial masyarkat. Tujuan apa yang sebenarnya hendak dituju oleh Polri dalam penegakan hukumnya ? menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab menyikapi kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Arah penegakan hukum seperti pada beberapa contoh kasus di atas adalah menegakkan undang-undang atau hukum positif yang berlaku di Indonesia yaitu hukum positif yang tidak mengenal pemilahan kasus dan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan perkara pidana serta pencapaian keadilan formal atau keadilan prosedural yaitu keadilan menurut undang-undang atau keadilan yang dimaksud sebagai suatu yang adil sebagai hasil dari keputusan para penegak hukum melalui prosedur yang yang telah ditentukan menurut undang-undang. Hukum positif Indonesia tidak mengenal keadilan lainnya selain keadilan formal tersebut. Dengan demikian secara substansi, hukum positif yang ditegakkan oleh Polri atau penegak hukum lainnya dalam kasus-kasus tersebut ikut memberikan kontribusi terhadap potret penegakan hukum yang terjadi di Indonesia yang mengharuskan Polri atau penegakan hukum lainnya harus mengikuti prosedural yang telah ditentukan. Ketika prosedur tersebut tidak diikuti, Polri akan kembali dihadapkan pada sanksi-sanksi yang

Dengan demikian. Berdasarkan uraian tersebut di atas. penegakan hukum oleh Polri tersebut dipertegas lagi kedudukannya dalam Undang-Undang No. mengayomi.9 3. Di lain pihak ketika Polri menegakkan hukum positif tersebut apa adanya tanpa berani memerankan peran.10 8 Pasal 2 Undang-Undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebut berulang kali dan meliputi beberapa makna yaitu : 1.2 tahun 2002Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. penulis merumuskan dua permasalahan dalam makalah ini yaitu : 1. melayanai masyarakat.2 tahun 2002 tentang Polri berbunyi : Polri bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Bagaimana Polri mentransfromasikan tujuan penegakan hukum menurut kebijakan pemerintah ke dalam kebijakan penegakan hukum Polri ? II. perlindungan. tidak kaku. Polri dihadapkan pada penilaian masyarakat yang cenderung mengharapkan Polri lebih fleksibel.8 2. Pasal 5 Undang-Undang No. tujuan dan tugas pokok Polri lainya selain sebagai penegak hukum. Bagaimana tujuan penegakan hukum Polri bila ditinjau dari perspektif visi. Penegakan hukum sebagai tujuan Polri. Misi dan Arah Kebijakan Pemerintah Kedudukan Polri sebagai alat negara penegakan hukum diatur di dalam konstitusi pasal 30 ayat (4) UUD 1945 perubahan ke-4 mengatur peran Polri dalam penegakan hukum yaitu : ³Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi. tertib dan tegaknya hukum. pengayoman dan pelayanan masyarakat. mampu menghadirkan hukum sebagai suatu institusi yang membahagiakan masyarakat. Tujuan Penegakan Hukum Polri dalam Perspektif Visi. terselenggaranya perlindungan. Penegakan hukum sebagai peran Polri. PEMBAHASAN A. serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung hak asasi manusia. menegakkan hukum.2 tahun 2002 tentang Polri yang berbunyi : ³ Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. tegas namun humanis. Penegakan hukum adalah salah satu fungsi pemerintahan negara.´ Selanjutnya. serta menegakkan hukum. misi dan arah kebijakan pemerintah tentang penegakan hukum ? 2.3 telah diatur dalam undang-undang maupun sanksi dalam peraturan internal kepolisian. fungsi. penulis merasa sangat tertarik untuk mengetahui arah dan tujuan penegakan hukum Polri dari perspektif kebijakan pemerintah sehingga dapat memberikan gambaran mengenai apa yang hendak dituju oleh Polri dalam melakukan penegakan hukum. pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.´ Pasal 4 Undang-Undang No. penegakan hukum. serta memberikan 9 10 .

penulis akan menguraikan terlebih dahulu beberapa pendapat tentang definisi penegakan hukum. dan pelayanan kepada masyarakat. penegakan hukum selain merupakan salah satu fungsi Polri sebagai fungsi pemerintahan negara. 2009. ide.Bhuana Ilmu Populer.2 tahun 2002 tentang Polri bahwa tugas pokok Polri adalah: a. ketertiban. menegakkan hukum. seperti keadilan dan kebenaran yang harus diwujudkan dalam realitas nyata. kita temukan makna penegakan hukum cenderung mengarah kepada tujuannya yang masing-masing didefinisikan secara berbeda-beda yaitu : perlindungan. Jakarta. keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sebelum membahas lebih mendalam. Yogyakarta. PT. PT. Hlm. Soerjono Soekanto. peran dan tugas pokok Polri.14 Lain halnya dengan Jimly Asshiddiqie yang mendefinisikan penegakan hukum dalam arti luas dan dalam arti sempit. Satjipto Rahardjo berpendapat bahwa penegakan hukum merupakan rangkaian proses untuk menjabarkan nilai.11 Jadi dapat disimpulkan bahwa secara normatif. Penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir. Bandung. Hlm. 12 13 14 15 .13 Selanjutnya.Citra Aditya Bakti. Menuju Negara Hukum Yang Demokratis. 1983. dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. pengayoman. tetapi juga merupakan salah satu bagian dari tujuan organisasi. dan c. PT. ketentraman dan kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Satjipto Raharjo. memberikan perlindungan. Genta Publishing. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. Penegakan Hukum : Suatu Tinjauan Sosiologis. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.9.Vii. b.Raja Grafindo Persada. 2009. Jakarta.15 Dari keempat pengertian/definisi penegakan hukum yang diuraikan di atas. Dalam arti sempit.4 4.22. 2005. Hlm. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. 11 Pasal 13 Undang-Undang No. Dalam arti luas penegakan hukum mencakup kegiatan untuk melaksanakan dan menerapkan hukum serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan hukum yang dilakukan subjek hukum. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.12 Pengertian penegakan hukum dalam Laporan Seminar Hukum Nasional ke IV sebagaimana dikutip Barda Nawawi Arief adalah keseluruhan kegiatan dari para pelaksana penegak hukum ke arah tegaknya hukum. Tujuan hukum atau cita hukum memuat nilai-nilai moral. Barda Nawawi Arief. Penegakan hukum sebagai tugas pokok Polri. Jimly Asshiddiqie. baik melalui prosedur peradilan ataupun arbitrase dan mekanisme penyelesaian sengketa lainnya. pengayoman.5. untuk menciptakan. penegakan hukum menyangkut kegiatan penindakan terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan. cita yang cukup abstrak yang menjadi tujuan hukum. Hlm.

2 Tahun 2002 memuat pokok pikiran tentang tujuan kepolisian dalam kaitannya dengan tujuan negara dan keamanan dalam negeri. ketentraman dan kepastian hukum sesuai 16 Momo Kelana. PTIK Press. serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung hak asasi manusia. seperti keadilan dan kebenaran yang harus diwujudkan dalam realitas nyata. keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. 2002. Untuk menciptakan. Apakah tujuan penegakan hukum Polri sama dengan tujuan Polri ? Merujuk pada rumusan Pasal 4 Undang-Undang No.5 1. tujuan dan tugas pokok Polri. Tegaknya hukum. 3.2 Tahun 2002 yang berbunyi sebagai berikut : ³Polri bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Beberapa pendapat di atas melihat tujuan penegakan hukum dari sudut pandang yang berbeda baik dari perspektif hukum secara normatif. Penindakan terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan. Jakarta. Memahami Undang-Undang Kepolisian : Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 : Latar Belakang dan Komentar Pasal demi Pasal. tertib dan tegaknya hukum. Sama halnya dengan pokok pikiran pada Laporan Seminar Hukum Nasional ke IV yang dikutip Barda Nawawi Arief yang telah diuraikan sebelumnya bahwa pengertian penegakan hukum mengandung tujuan dari penegakan hukum itu sendiri yaitu untuk menjamin tegaknya hukum.63. Pencapaian tujuan hukum yang memuat nilai-nilai moral. Di dalam Undang-Undang No.2 Tahun 2002 tentang Polri yang bisa kita temukan hanyalah makna dari penegakan hukum sebagai fungsi. . 2. keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. peran. ketertiban. 4.2 Tahun 2002 tentang Polri tidak mengatur secara jelas dan tegas tentang tujuan penegakan hukum Polri. ketertiban. Undang-Undang No. Tiap negara mempunyai tujuan kepolisian sendiri yang khas dan terkait dengan falsafah/ideologi negara dan tujuan negara yang dapat diketahui dari undang-undang dasar negara yang bersangkutan. ketentraman dan kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. hal. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. dan filsafat maupun dari sudut pandang negara. Beberapa pendapat tersebut mendefinisikan bahwa tujuan penegakan hukum sama dengan tujuan hukum. terselenggaranya perlindungan. sosiologis. dan tujuan negara. maka dapat diambil kesimpulan bahwa penegakan hukum merupakan salah satu tujuan Polri yaitu dalam hubungannya dengan tujuan negara. pengayoman dan pelayanan masyarakat.´ Momo Kelana berpendapat bahwa Pasal 4 Undang-Undang No. tujuan sosial.16 Mengacu kepada pendapat di atas.

17 18 Barda Nawawi Arief. Melindungi dan mengayomi masyarakat.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005±2025. Masyarakat. Tegaknya supremasi hukum dan HAM berdasarkan keadilan dan kebenaran. Deddy Ismatullah dan Asep A. 2. mencegah tindak kejahatan. Menegakkan hukum secara adil. bandung. Kemanusiaan yang adil dan beradab. mencerdaskan kehidupan bangsa. penegakan hukum juga idealnya juga harus selaras dengan pencapaian tujan negara dan nilai-nilai yang terkandung di dalam konstitusi. dan menuntaskan tindak kriminalitas.6 dengan Undang-Undang Dasar 1945. maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia.Pustaka Setia. tidak diskriminatif.83. . 3. serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) bahwa tujuan dan citacita negara tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Sahid Gatara. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. konsekuen.18 Pendapat tersebut selaras dengan tujuan negara yang diatur pada Pasal 3 dan Bab I Umum Penjelasan Undang-Undang No.17 Jadi selain untuk mencapai tujuan hukum dan tujuan sosial. misi. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Undang-undang ini merupakan visi.. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.cit. Hukum dan Agama. dan arah pembangunan nasional untuk mencapai cita-cita bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang di dalamnya memuat beberapa kebijakan pemerintah tentang tujuan penegakan hukum yaitu sebagai berikut : 1. op. Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Tujuan tersebut dapat kita simak di dalam Alenia ke-IV Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi sebagai berikut : ³Untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indoensia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indoensia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Tujuan negara menurut Deddy Ismatullah dapat kita temukan dalam rumusan ideologi negara. Hlm. 2007. Ilmu Negara dalam Multi Perspektif : Kekuasaan. dan memihak pada rakyat kecil. CV.´ Pembahasan di atas sangat erat hubungannya dengan kebijakan pemerintah tentang penegakan hukum dalam Undang-Undang No.

dan jabatan seseorang demi supremasi hukum dan terciptanya penghormatan pada hak-hak asasi manusia. Begitu luasnya tujuan yang harus dicapai dalam penegakan hukum dalam perspektif kebijakan pemerintah bila dihubungkan dengan tujuan Polri dan bagaimana Polri merumuskan kebijakan penegakan hukumnya. teratur. Terwujudnya keamanan nasional yang menjamin martabat kemanusiaan. Dari beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam kebijakan tersebut. .17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005±2025. pangkat. hak-hak konstitusi warga negara. dan kebenaran.19 Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kebijakan pemerintah tersebut dalam kaitannya dengan penegakan hukum oleh Polri yaitu : 1. agama. Melindungi dan mengayomi masyarakat. lugas. keadilan. 2. Penegakan hukum tanpa memandang kedudukan. dan tidak diskriminatif dengan tetap berdasarkan pada penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM). Mensyaratkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. lancar. etnis. 3.7 4. misi dan arah pembangunan nasional dalam kaitannya dengan tujuan penegakan hukum diambil dari Lampiran Undang-Undang No. Penegakan hukum tidak hanya sekedar untuk mencapai tujuan hukum. Kebijakan penegakan hukum tersebut lebih berorientasi pada pelayanan aparatur negara kepada masyarakatnya dalam bidang hukum. maupun gender. Hal ini seharusnya 19 Kebijakan pemerintah tentang visi. tujuan sosial dan tujuan polri tetapi juga untuk mencapai tujuan yang lebih luas dan lebih besar lagi ruang lingkupnya yaitu tujuan negara. keselamatan warga negara. 7. Penegakan hukum juga mengandung makna penegakan nilai-nilai yang terkandung di dalam konstitusi. 5. profesional. persamaan di muka hukum. mencegah tindak kejahatan dan menuntaskan tindak kriminalitas. ketertiban dan kesejahteraan dalam rangka penyelenggaraan negara yang makin tertib. yaitu supremasi hukum. Hukum yang ditaati dan diikuti akan menciptakan ketertiban dan keterjaminan hak-hak dasar masyarakat secara maksimal. ras. 5. serta berdaya saing global. 4. 6. 6. 8. kedaulatan rakyat. Lebih cenderung ke arah ketertiban masyarakat. Memastikan terlaksananya keadilan untuk semua warga negara tanpa memandang dan membedakan kelas sosial. Pelayanan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran. semuanya tertuju kepada satu hal yaitu masyarakat atau rakyat atau segenap bangsa Indonesia yang dilakukan dengan cara menjauhkan hal-hal yang bersifat negatif dan berupaya menghadirkan hal-hal yang bersifat positif di tengahtengah masyarakat. Penerapan dan penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) dilaksanakan secara tegas.

peran.72. Antara beberapa tujuan Polri yaitu dalam menegakkan hukum Polri tidak dapat mengabaikan atau menanggalkan fungsi. 21 22 . Jakarta.20 Pertentangan akan terjadi bila masing-masing nilai itu hendak dituju secara bersamaan. Semarang. Polri harus memperhatikan pertentangan-pertentangan dalam masing-masing tujuan tersebut yaitu : 1. Hlm. Esmi Warassih. teori utilitas ( menjamin kebahagiaan yang terbesar bagi manusia dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya) dan teori campuran (ketertiban) secara garis besar tujuan-tujuan hukum meliputi pencapaian suatu masyarakat yang tertib dan damai. Asas prioritas Gustav Radbruch sebagaimana dikutip Achmad Ali yaitu prioritas pertama adalah keadilan. tugas pokok dan tujuan Polri tersebut diharapkan seiring sejalan dan dilaksanakan secara proporsional dan profesional serta dilandasi oleh nilai-nilai kemanusian. Begitu pula untuk mencapai tujuan hukum. Dalam menyusun kebijakan penegakan hukumnya. 2. mewujudkan keadilan serta untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagian atau kesejahteraan. PT.Suryandaru Utama. moral dan etika. kemanfaatan dan keadilan hukum bukan merupakan hal yang mudah. peran dan tugas pokoknya serta tujuan-tujuan lain selain sebagai penegak hukum yang melekat padanya yaitu sebagai pelindung. Menguak Tabir Hukum : Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis. sehingga prioritas tersebut harus diterapkan secara kasuistis dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang begitu kompleks. Hlm.21 Terlepas dari itu. 84-85. Masingmasing mempunyai titik berat yang berbeda yang berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda pula. Pranata Hukum : Sebuah Telaah Sosiologis. Ibid. pelayan dan pengayom masyarakat. hukum mewujudkan keadilan dan 20 Achmad Ali. Masing-masing fungsi. Bahkan Soebekti sebagaimana dikutip Esmi Warassih mengatakan bahwa hukum itu mengabdi kepada tujuan negara untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagian rakyat dengan asumsi bahwa dengan mengabdi kepada tujuan negara itu. 2002. barulah kemanfaatan dan terakhir kepastian juga tidak dapat diterapkan pada untuk semua kasus dan semua situasi. 2005.22Ternyata hukum sendiri mempunyai tujuan yang begitu banyak yang muncul dari teori-teori dari sudut pandang yang berbeda-beda. Esmi Warassih mengutarakan bahwa dari berbagai teori mengenai tujuan hukum yaitu teori etis ( keadilan).. PT.8 memberikan gambaran yang cukup jelas bagi Polri dalam merumuskan kebijakan penegakan hukumnya dimana tujuan penegakan hukum ternyata meliputi aspekaspek di luar tujuan hukum itu sendiri tetapi juga tujuan sosial dan tujuan negara dengan lebih menitikberatkan pelayanan yang berkeadilan sosial untuk mencapai keamanan dan ketertiban masyarakat. menyeimbangkan antara kepastian.2426. Hlm.Toko Gunung Agung.

25 Dari sudut pandang lain. Begitu pula sebaliknya sehingga ketiga nilai dalam tujuan hukum tersebut terkadang sulit untuk dicapai secara bersamaan. tetapi tidak dinilai sebagai suatu keadilan oleh masyarakat dan tidak juga dinilai kemanfaatannya di tengah-tengah masyarakat. Mengedepankan kepastian hukum dengan berpegang teguh pada prinsip persamaan di muka hukum sering menghadapkan Polri pada permasalahan pencapaian keadilan dan kemanfaatan bahkan terancamnya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.23 Begitu luasnya tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh hukum dan dengan merangkum dari beberapa pendapat di atas. Bila tidak.114-115. 25 . 3. ada satu persamaan yang akan dituju oleh hukum yaitu masyarakat dan kehadiran hukum diharapkan menghadirkan kebaikan dari segala aspek kehidupan bagi masyarakat. Hlm. Satjipto Raharjo. Genta Publishing. Situasi tersebut didukung oleh pendapat Farouk Muhammad bahwa praktik penegakan hukum mengalami gejala invariabilitas atau ketidakkonsistenan. PTIK Press dan Restu Agung. kita masih sering menjumpai praktik penegakan hukum yang berdasarkan prosedur hukum sudah benar. 2009. Yogyakarta. Menuju Reformasi Polri. Hlm. Misalnya saja sering kita temukan bahwa pekerjaan Polri yang sudah benar menurut hukum menjadi tidak benar bila dilihat dari sudut pandang lain yaitu saat nilai kemanfaatan dan keadilan serta tujuan negara harus diabaikan untuk mencapai kepastian hukum.. maka perbedaan cara pandang dalam praktik penegakan hukum otomatis tidak dapat dihindarkan. Satjipto Rahardjo yang mengutip pendapat Chambliss dan Seidman bahwa adanya hubungan yang kuat dan saling mempengaruhi antara 23 24 Ibid. Bertolak pada pemikiran ini. 26. maka pemahaman-pemahaman yang komprehensif dari berbagai sudut pandang yang berbeda setidak-tidaknya dapat dijadikan acuan bagi Polri dalam menyusun tujuan penegakan hukumnya sehingga tujuannya lebih mengarah kepada pengabdian hukum terhadap masyarakat.9 ketertiban. tujuan hukum dan antara hukum dan ketertiban dalam hubungannya untuk mencapai tujuan negara harus disepakati bersama dan disusun dengan lebih berorientasi pada masyarakat. Tujuan penegakan hukum Polri harus menyadari bahwa pertentanganpertentangan dalam tujuan polri.24 Dalam kenyataannya. Farouk Muhammad. Jakarta. Penegakan Hukum : Suatu Tinjauan Sosiologis. maka menurut penulis dari berbagai macam perbedaan tujuan yang hendak dicapai oleh hukum.129. Pertentangan antara hukum dan ketertiban sebagaimana dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa dilema dalam pekerjaan polisi ketika harus mencapai tujuan hukum dan tujuan sosial yang keduanya tidak selalu sama tetapi polisi dituntut untuk bertindak berdasarkan hukum yang berlaku serta selalu diminta untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Hlm. 2005.

mengayomi dan melayani masyarakat ? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal mendasar yang menurut penulis harus ikut dipertimbangkan dalam menyusun tujuan penegakan hukum Polri terutama mengenai tujuan penegakan hukum. perbedaan pendefinisian mengenai tujuan penegakan hukum serta tujuan penegakan hukum berdasarkan visi. Tujuan penegakan hukum yang merupakan salah satu bagian dari tujuan Polri untuk mencapai tujuan negara masih merupakan ketentuan yang sangat umum dan mendasar.10 bekerjanya hukum dengan lingkungannya dapat menimbulkan pergeseran tujuan (goal subsitution) atau penggantian tujuan (goal displacement) dimana tujuan formal organisasi digantikan atau bahkan diterlantarkan oleh kebijakan-kebijakan yang lebih menguntungkan organisasi dimana keuntungan-keuntungan ini diperoleh dari masyarkat.. tujuan sosial dan tujuan negara. Hlm.69. tujuan mana yang harus dikedepankan atau diutamakan atau diposisikan dominan sebagai dasar penyusunan tujuan penegakan hukum Polri.67. Dengan tidak diaturnya secara tegas apa 26 27 Satjipto Raharjo. ataukah satu sama lainnya saling melengkapi dan tetap harus berada pada koridor hukum ? 3. akan menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar sehubungan dengan upaya menetapkan tujuan penegakan hukum Polri. maka dapat diperkirakan tindakan atau peranan yang mereka lakukan akan berbeda dari apa yang tertera secara formal dalam peraturan-peraturan.. Bagaimana tujuan penegakan hukum dibuat sehubungan dengan peran. Bagaimana menselaraskan pencapaian tujuan hukum pada saat yang sama juga harus memperhatikan tujuan sosial dalam pencapaian tujuan negara? Apakah dengan berpegang teguh bahwa hukum di atas segala-galanya ? Ataukah harus lebih berorientasi pada masyarakat dan tujuan negara. Op. . fungsi. tugas pokok dan tujuan Polri yang tidak hanya sebagai penegak hukum tapi juga menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.´27 Perbedaan praktik dalam penegakan hukum.26 Inkonsistensi dalam penegakan hukum tersebut digambarkan sebagai berikut : ³Apabila pejabat hukum berhadapan dengan orang-orang dari lapisan-lapisan sosial yang berbeda-beda. melindungi. yaitu : 1. Penegakan Hukum : Suatu Tinjauan Sosiologis. misi dan arah kebijakan pemerintah dalam program pembangunan nasional. Bagaimana praktik penegakan hukum seharusnya diterapkan dengan berorientasi pada tujuan negara? Antara tujuan hukum. Hlm.Cit. Ibid. pertentangan-pertentangan yang terkandung di dalamnya. ataukah semuanya harus diposisikan seimbang dan saling melengkapi serta bagaimana mensinkronkan tujuan-tujuan tersebut ke dalam suatu tujuan penegakan hukum Polri yang lebih berorientasi pada masyarakat ? 2.

The people's welfare: law and regulation in nineteenth-century America. The University of North Carolina Press. no aspect of human intercourse remained outside the purview of police science.´28 merupakan suatu fakta yang menggambarkan begitu luasnya aspek pekerjaan polisi terlebih bila dikaitkan hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan sosial tempatnya beberja. Satjipto Raharjo. tujuan sosial. Pentingnya penyusunan tujuan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti yang dikemukakan Satjipto Raharjo bahwa : 1. Bekerjanya hukum dalam masyarakat tidak berada dalam medan yang hampa. Hal lain yang juga harus diingat bahwa masyarakat semakin mengharapkan Polri untuk melakukan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada rakyat atau masyarakat. Tujuan hukum.14. Novak bahwa ³The police includes everything. Apalagi seperti kita ketahui dari apa yang dikatakan oleh William J. Tujuan menentukan apa yang dikehendaki dan ingin dilakukan oleh organisasi dalam masyarakat sehingga tujuan tersebut berfungsi untuk menuntun organisasi sehingga selamat dalam menjalankan tugasnya di tengah-tengah masyarakat. tujuan Polri dan tujuan negara yang hendak dicapai dalam penegakan hukum harus diselaraskan untuk memberikan arah dan tujuan yang jelas sehingga mensyaratkan bahwa penegakan hukum harus lebih berorientasi pada rakyat atau masyarakat. 1996. Organisasi bekerja dalam masyarakat dan terdapat hubungan yang erat antar keduanya yaitu dalam bentuk saling mempengaruhi. Hlm. 2. Polri harus menyadari bahwa ternyata penegakan hukum memiliki tujuan yang sebenarnya lebih besar dari tujuan hukum itu sendiri yaitu untuk mencapai tujuan negara yang membahagiakan rakyatnya. maka yang terjadi adalah hubungan saling mempengaruhi yang kuat antara hukum dan tempat bekerjanya hukum yaitu di tengah-tengah masyarakat. visi dan misi penegakan hukum dalam kebijakan pemerintah mengandung makna dan tujuan yang sangat luas yaitu selain tujuan 28 William J.11 yang menjadi dari tujuan penegakan hukum Polri maka akan menyebabkan penegakan hukum kehilangan arah karena yang akan terjadi adalah perbedaan cara pandang atau paradigma dalam praktik penegakan hukum.66-67.. Dari uraian-uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa betapa pentingnya menetapkan arah dan tujuan dari penegakan hukum oleh Polri bila dilihat dari kontradiksi-kontradiksi antara nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan hukum dan antara tujuan-tujuan yang terkandung dalam tujuan Polri serta dalam hubungannya dengan upaya pencapaian tujuan negara dan penegakan nilai-nilai yang terkandung di dalam konsitusi. penulis menyimpulkan bahwa penegakan hukum oleh Polri bila dilihat dari arah. 29 . Op. Penegakan Hukum : Suatu Tinjauan Sosiologis. Novak. Hlm.29 Dari beberapa uraian di atas.cit. 3.

penegak hukum. Transformasi Tujuan Penegakan Hukum berdasarkan Kebijakan Pemerintah ke dalam Kebijakan Penegakan Hukum Polri Kebijakan pemerintah dalam hal penegakan hukum seperti yang telah diuraikan sebelumnya telah ditindaklanjuti oleh Polri dengan menggulirkan program reformasi birokrasi sebagaimana diatur dalam Keputusan Kapolri No. B.Pol : Kep/37/X/2008 tanggal 27 Oktober 2008 tentang Program Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Mandiri. No. visi dan misi Polri yaitu sebagai berikut : 1.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005±2025 tidak dijadikan acuan atau dasar pertimbangan padahal Undang-Undang No.30 Sehubungan dengan tujuan penegakan hukum. misi. Kesemua tujuan tersebut tertuju atau terfokus pada satu hal yaitu masyarakat atau rakyat. di dalam Program Akselerasi tersebut dinyatakan bahwa Polri dalam rangka mengemban tugas pemeliharaan kamtibmas.12 hukum.17 Tahun 2007 merupakan visi. dirumuskan tiga tahapan yaitu : a. dan arah pembangunan nasional yang di dalamnya terkandung arah dan kebijakan pemerintah tentang penegakan hukum yang seharusnya juga dijadikan acuan dalam pembuatan keputusan tersebut. hlm. Dalam Keputusan Kapolri ini. Profesional dan Dipercaya Masyarakat. Walaupun demikian. Keberhasilan Polri dalam menjalankan tugas memerlukan dukungan masyarakat dengan landasan kepercayaan (trust). pengayoman dan pelayanan masyarakat dalam mewujudkan keamanan dalam negeri. No. Merupakan kelanjutan dari tahap pertama. menempatkan masyarakat sebagai sentral yang harus dituju dalam penegakan hukum sehingga untuk mengantisipasi perbedaan cara pandang dalam penegakan hukum perlu kiranya ditetapkan kembali tujuan penegakan hukum Polri yang lebih berorientasi pada masyarakat yang dilayaninya. b. . dimana perlu dibangun kerjasama yang erat dengan berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan Polri. Profesional dan Dipercaya Masyarakat. Lampiran ³A´. Grand Strategy Polri (2005-2025). tetap mengacu pada Grand Strategy Polri (2005-2025). Undang-Undang No. 30 Buku I. No. Tahap II : Parthership Building ( 2011-2015). Dengan demikian. perlindungan. Keputusan Kapolri No.17 Tahun 2007 juga ditemukan dalam Keputusan Kapolri ini yaitu kebijakan yang lebih berorientasi pada masyarakat dengan terfokus pada peningkatan kepercayaan masyarakat (publik trust) dan sekaligus mengamankan pembangunan nasional. nilai-nilai prinsip yang terkandung dalam kebijakan penegakan hukum pemerintah pada Undang-Undang No.Pol : Kep/37/X/2008 tanggal 27 Oktober 2008 tentang Program Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Mandiri. Tahap I : Trust Building (2005-2009). tujuan Polri dan tujuan sosial juga tujuan negara.2-3.

Selain sebagai penegak hukum.. peran. Selain misi dalam penegakan hukum melekat juga misi lain terkait dengan fungsi. Semua fungsi. tugas pokok dan tujuan Polri sebagai pelindung. pengayom dan pelayan masyarakat serta penjaga keamanan dan ketertiban. Ibid. Ibid. Visi dan misi Polri a. perlindung. tugas pokok dan tujuan Polri yaitu pemelihara kamtibmas. peran tugas pokok dan tujuan Polri yang lainnya. penegak hukum. . Penjabaran tersebut menggambarkan upaya Polri dalam mewujudkan fungsi. peran. peran. peran. Hlm. baik tujuan Polri maupun penjabarannya dalam grand strategy. tugas pokok dan tujuan Polri karena masing-masing secara normatif maupun empiris tidak dipisahkan satu sama lain. b. tugas pokok dan tujuan Polri sebagai pelindung. pengayom dan pelayan masyarakat serta penjaga keamanan dan ketertiban. visi dan misi Polri dirumuskan dalam satu kesatuan tujuan yang utuh yang satu sama lain saling mengait. tugas pokok dan tujuan Polri melekat ke seluruh penegak hukum. proporsional. transparan dan akuntabel untuk menjamin adanya kepastian hukum dan rasa keadilan. proporsional.´33 Berdasarkan rumusan misi Polri tersebut. Selain misi dalam penegakan hukum melekat juga misi lain terkait dengan fungsi.32 Grand strategy. Namun demikian. Visi Polri adalah : Terwujudnya postur Polri yang profesional. tidak ada yang lebih dominan atau yang lebih diutamakan antara masing-masing fungsi. Misi Polri terkait dengan penegakan hukum adalah menegakkan hukum secara profesional dan obyektif.13 Tahap III : Strive For Excellence ( 2016-2025). bermoral dan modern sebagai pelindung. sosok Polri juga harus memerankan fungsi. visi dan misi Polri tersebut di atas merupakan penjabaran dari fungsi. Bahasan ini dikuatkan dengan pernyataan Misi Polri sebagaimana telah diuraikan sebelumnya yaitu : ³Misi Polri terkait dengan penegakan hukum adalah menegakkan hukum secara profesional dan obyektif. Membangun kemampuan pelayanan publik yang unggul dan dipercaya masyarakat. Berlandaskan pada hal tersebut maka tujuan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat dari persepektif yang sempit tetapi juga meliputi tujuan Polri secara c. pengayom dan pelayanan masyarakat dalam mewujudkan keamanan dalam negeri . peran. transparan dan akuntabel untuk menjamin adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.31 2. pengayom dan pelayan masyarakat yang terpercaya dalam melindungi masyarakat dan menegakkan hukum.7. tugas pokok dan tujuannya agar lebih berorientasi dan fokus kepada masyarakat. peran. 31 32 33 Ibid.

Bila dihubungkan dengan kebijakan pengakan hukum Polri yang lebih berorientasi pada tujuannya yaitu masyarakat. peran. trust building dan strive for excellence yang menjadi grand strategy 34 Kären M. Dengan mengkaji permasalah-permasalahan tersebut. Christine Hess Orthmann.´ Artinya bahwa prioritas dan tujuan polisi sering dipengaruhi oleh kehendak-kehendak polisi daripada pertimbanganpertimbangan lainnya. Jadi tidak cukup hanya sekedar secara formalitas mentransformasikan kebijakan pemerintah ke dalam kebijakan penegakan hukum Polri tetapi harus dimulai dengan menyerap aspirasi dan keinginan atau pengharapan masyarkat terhadap Polri.34 Di Indonesia. 2009. Because the success of policing depends heavily on public support. Introduction to Law Enforcement and Criminal Justice. Bukan tidak mungkin partnership. kebijakan penegakan hukum harus ditentukan oleh ³what the community wants´. Kären M. Berdasarkan pendapat tersebut. ³what the community wants´ atau apa yang diinginkan masyarakat terhadap Polri dalam menegakan hukum telah diuraikan pada bagian pendahuluan yaitu dari potret penegakan hukum Polri dari beberapa contoh kasus yang sedang mengemuka baru-baru ini. Karena suksesnya perpolisian sangat tergantung pada dukungan masyarakat. Hlm. keinginan-keinginan masyarakat harus didengarkan dan dipertimbangkan. kebijakan pemerintah dan peraturan internal Polri adalah tertuju pada masyarakat yang pada akhirnya akan mendukung pencapaian tujuan negara.14 keseluruhan. Wadsworth Cengage Learning.117-118. Hess dan Christine Hess Orthmann mengatakan bahwa ³ Priorities are often influenced by the desires of police than by any others considerations. tugas pokok dan tujuan Polri lainnya yang harus juga diseimbangkan. Mengingat penegakan hukum merupakan bagian dari tujuan Polri secara keseluruhan yang dirumuskan menjadi satu kesatuan tujuan dan dengan mendasari pembahasan-pembasan sebelumnya bahwa tujuan penegakan hukum ditemukan secara implisit di dalam pengertian penegakan hukum dari para pakar. sangat tepat bila kebijakan penegakan hukum tersebut dikaji dan disusun kembali dengan berlandaskan pada permasalahan-permasalahan (problems) dalam penegakan hukum oleh Polri baru-baru ini yang seiring dengan perkembangan masyarakat yang cukup pesat. Karena tujuan penegakan hukum itu tidak ditentukan secara tegas serta begitu banyak dan luasnya tujuan yang hendak dicapai dalam penegakan hukum. . Polri akan semakin menyadari bahwa berbagai tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pelaksanaan tugas Polri makin meningkat sehingga dalam menyusun kebijakan penegakan hukum dengan mendasari permasalahan-permasalahan tersebut akan mendekatkan tujuan yang ingin dicapai dengan apa yang diinginkan masyarakat. Di dalam menegakkan hukum Polri juga harus memperhatikan fungsi. Hess. USA. maka Polri idealnya harus menyusun tujuan tersebut secara jelas dan tegas. the citizen¶s wishes must be listenend to and considered.

tuntutan dan harapan masyarakat yaitu dalam Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri sebagai revisi dan penyempurnaan dari Surat Keputusan Kapolri No. fungsi keteladanan petugas Polri menjadi sangat penting. mengusulkan alternatif-alternatif solusi yang tepat dalam rangka menciptakan rasa aman. agar warga masyarakat tergugah kesadaran dan kepatuhan hukumnya. Sebelum reformasi birokrasi Polri dicanangkan. tentram dan ketertiban (tidak hanya berdasarkan pada hukum pidana dan penangkapan). 4. Oleh karenanya. Pasal 12 huruf d : Upaya penindakan hukum merupakan alternatif tindakan paling akhir bila upaya pemecahan masalah yang bersifat persuasif tidak berhasil. melainkan lebih menitikberatkan kepada upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri melalui kemitraan yang didasari oleh prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Dalam Peraturan Kapolri ini terkandung prinsip-prinsip dasar penegakan hukum yang dijiwai oleh konsep perpolisian masyarakat dan merupakan suatu pencerahan dari ketidakberpihakannya hukum kepada masyarakat. Pasal 12 huruf c : Upaya penegakkan hukum lebih diutamakan kepada sasaran peningkatan kesadaran hukum daripada penindakan. melakukan evaluasi serta evaluasi ulang terhadap efektifitas solusi yang dipilih. 3. sebenarnya Polri sudah menerbitkan kebijakan tentang penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan perubahan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain : 1. 6. 5. menganalisis masalah.Pol : Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.15 Polri akan dapat mencapai nilai-nilai yang lebih substansi daripada hanya sekedar slogan yang sangat abstrak. Pasal 8 ayat (3) : Falsafah Polmas menghendaki agar petugas polisi di tengah masyarakat tidak berpenampilan sebagai alat hukum atau pelaksana undangundang yang hanya menekankan penindakan hukum atau mencari kesalahan warga. sehingga terwujud kebersamaan dalam rangka memahami masalah kamtibmas dan masalah sosial. Pasal 14 huruf f : Penerapan konsep Alternative Dispute Resolution yaitu pola penyelesaian masalah sosial melalui jalur alternatif yang lebih efektif yaitu menetralisir masalah selain melalui proses hukum/non litigasi (misal upaya perdamaian). 2. Pasal 42 ayat (2) huruf a : Pola penugasan yang tidak hanya terfokus pada penindakan kejahatan (penegakan hukum) tetapi lebih luas fokusnya meliputi . Pasal 11 : Dengan mendasari prinsip kesetaraan guna membangun kepercayaan warga masyarakat terhadap Polri.

Polri sebenarnya sudah merubah paradigma penegakan hukumnya yaitu tujuannya lebih difokuskan atau berorientasi pada pemecahan masalah keamanan dan ketertiban atau permasalahan sosial walaupun pada tataran aplikatif perubahan tersebut masih belum dirasakan. Sehingga menurut penulis. Penegakan hukum yang lebih mengutamakan keadilan dan kemanfaatan daripada kepastian hukum demi mencapai ketertiban masyarakat banyak atau dengan kata lain penegakan hukum yang juga mempertimbangkan dampak dari bekerjanya hukum di masyarakat harus diterima oleh organisasi sebagai suatu diskresi yang benarkan. Dengan demikian penegak hukum yang bekerja dengan mendasari hati nuraninya. Polri dituntut bekerja sama dengan masyarakat dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat dan dituntut kreatif mencari solusi penyelesaian masalah yang tepat berdasarkan anilisa yang komprehensif dan tidak selalu berakhir pada penangkapan dan penggunaan hukum pidana. pelayanan masyarakat. dan pemecahan masalah dalam masyarakat (agar dicatat bahwa Polmas tidak meninggalkan penegakan hukum). 2. 8. Penegak hukum tidak lagi menyelesaikan permasalahan hanya mutlak menggunakan hukum pidana selagi upaya persuasif masih bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah. . 7.16 pengendalian kejahatan. Dengan prinsip kemitraan dan kesetaraan. etika dan moral dengan mengedepankan penegakan hukum yang progresif tidak lagi menjadi korban kebijakan yang dilandasi kepastian hukum dan paradigma positivisme. Penegakan hukum yang pro-rakyat dan pro-keadilan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan perwujudan perubahan paradigma dalam memaknai hukum yaitu hukum untuk masyarakat bukan hukum untuk hukum itu sendiri. kemanusiaan. Kebijakan Polri ini selaras gagasan Satjipto Raharjo tentang hukum progresif yang menurut penulis merupakan pilihan yang paling realistis untuk diterapkan dalam pencapaian tujuan penegakan hukum yang berorientasi pada masyarakat. sejahtera dan membuat manusia bahagia. Penegakan hukum sebagai suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil. Pasal 42 ayat (2) huruf b : Dari pola penugasan yang hanya tertuju kepada kejahatan berat menuju ke pola penugasan yang memprioritaskan pemecahan masalah yang ditentukan melalui konsultasi dengan masyarakat. Beberapa point yang dapat diambil dalam gagasan tersebut adalah sebagai berikut : 1. pada tataran normatif. Pasal 42 ayat (2) huruf h : Dari pola penugasan yang mengutamakan penangkapan dan penuntutan sebagai jawaban utama dari permasalahan menuju ke penangkapan dan penuntutan sebagai dua tindakan yang mungkin diambil dari sejumlah pilihan yang dihasilkan melalui pemecahan masalah. pencegahan kejahatan.

kesejateraan. 6. 5. Hlm. untuk mendukung penyusunan kebijakan penegakan hukum seperti yang diuraikan di atas. kepedulian kepada rakyat dan lain-lain. 4.35 Walaupun demikian. Bahayanya akan terjadi penafsiran yang berbeda-beda yang akan berdampak pada praktik yang berbeda pula. 2009. 2009. penulis merumuskan faktor-faktor yang sangat menentukan proses penegakan hukum dalam masyarakat dengan mendasari ruang lingkup bekerjanya hukum sebagai suatu sistem. Hukum Progresif : Sebuah Sintesa Hukum Indonesia. melainkan dilihat dan dinilai dari tujuan sosial yang ingin dicapainya serta akibat-akibat yang timbul dari bekerjanya hukum. Dengan demikian. Hal ini terbukti dari beberapa contoh praktik penegakan hukum dalam beberapa kasus yang telah diuraikan sebelumnya yang menggambarkan bahwa kebijakan ini belum dihayati sepenuhnya dan penegak hukum masih belum berani menerobos kekakuan hukum dalam menghadirkan kebahagian bagi masyarakat.36 Faktor-faktor tersebut bila dikaitkan dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi belakangan ini akan meliputi 3 (tiga) pertanyaan besar yaitu : 1. melainkan syarat dengan kenuranian yang penilaian keberhasilannya terletak pada makna dan kualitas. keselarasan kebijakan penegakan hukum Polri dengan gagasan dan konsep-konsep terbaru mengenai hubungan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat ternyata masih menemukan kebuntuan dalam praktiknya. Satjipto Raharjo.17 3. Penegakan hukum yang bernurani yaitu cara berhukum yang tidak hanya menggunakan rasio (logika). tujuan tersebut tersirat dalam berbagai peraturan yang berbeda-beda dan perlu dipahami dan dinterpretasikan sendiri oleh personil Polri. kebijakan pemerintah tentang penegakan hukum dapat ditemukan dalam Undang-Undang No. Tujuan penegakan hukum tidak hanya dilihat dari kaca mata hukum itu sendiri.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang mengandung makna bahwa banyak tujuan yang hendak dicapai dalam penegakan hukum yaitu 35 36 Satjipto Rahardjo.viii. Gentha Publishing. Yogyakarta. Paradigma hukum untuk manusia dan memberikan ruang kepada faktor manusia yang kualitas kesempurnaannya dapat diverifikasi ke dalam faktor keadilan. Sekalipun ada. Namun demikian. KUHP maupun KUHAP. Substansi hukum yang bagaimana yang harus disusun agar penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat dapat terwujud ? Tujuan penegakan hukum tidak ditemukan secara tegas di dalam perundang-undangan baik di dalam Undang-Undang Kepolisian. . Penegakan hukum agar berpihak pada kepentingan yang lebih besar yaitu mensejahterakan dan memberikan keadilan kepada rakyat (bringing justice to the people).

5-6. tujuan sosial. dan Achmad Ali bahwa : a. lebih membatasi makna hukum sebagai kaidah semata atau hanya menitikberatkan pada seni menemukan dan menerapkan aturan-aturan dalam suatu kasus. Hukum semata-mata diposisikan sebagai pengarah/pengontrol atau tolok dalam menilai benar atau salah perilaku manusia. tujuan penegakan hukumpun tidak ditemukan secara jelas di Undang-Undang Kepolisian maupun peraturanperaturan internal kepolisian. pada praktiknya penegakan hukum masih didominasi oleh paradigma positivisme sebagaimana yang diyakini oleh Yusriyadi dengan mengutip pendapat Wignjosoebroto. Hlm. b. walaupun secara normatif kebijakan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat telah dirumuskan. tujuan Polri. Paradigma Sosiologis dan Implikasinya terhadap Pengembangan Ilmu Hukum dan Penegakan Hukum di Indonesia. hanya saja secara tersirat arah penegakan hukum Polri dirumuskan dalam model perpolisian masyarakat dan kebijakan internal Polri sebagai suatu pencerahan dan perwujudan kesadaran bahwa hukum yang selama ini ditegakkan oleh Polri khususnya KUHP dan KUHAP merupakan warisan dari peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mencerminkan aspirasi serta karakteristik bangsa Indonesia. Pidato Pengukuhan. Ibid.39 Upaya Polri dalam mereformasi diri dan dengan telah ditetapkannya kebijakan-kebijakan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat secara aplikatif akan terhindar dari paradigma positivisme dan perbedaan-perbedaan dalam praktik penegakan hukum bila tujuan penegakan hukum ditetapkan secara jelas dengan beranjak dari permasalahanpermasalahan yang terjadi belakangan ini serta didukung dari partisipasi 37 38 Ibid. 39 . tujuan negara dan tujuan penegakan nilai-nilai yang terkandung dalam konstitusi.38 Apa yang diyakini oleh Yusriyadi ini menjadi sangat relevan bila dihubungkan dengan fakta-fakta yang terjadi dalam praktik penegakan hukum di Indonesia seperti pada contoh beberapa kasus yang telah diuraikan pada bagian pendahuluan makalah ini. Pemahaman hukum. Yusriyadi.37 Terlepas dari itu. Itulah yang terjadi sekarang ini. 2006. bahwa penegakan hukum menghadirkan penyelesaian yang hanya berhenti pada prosedur sekalipun penyelesaian tersebut telah mengusik rasa keadilan masyarakat.18 tujuan hukum. Dari persektif penegakan hukum oleh Polri. Semarang.

dan termasuk dalam lingkungan jabatannya.40 Mengacu pada persoalan-persoalan dalam penegakan hukum oleh Polri. 1980. Administrasi Negara Baru. Hlm. baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada terbentuknya dominasi paradigma positivisme dalam penegakan hukum dan terciptanya kultur penegakan hukum bagi personil Polri di lapangan menjadi ³safety player´ artinya personil Polri di lapangan lebih memilih untuk berjalan sesuai koridor hukum ketimbang inovatif mencari solusi alternatif dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial agar tidak terjerumus dalam karirnya.19 masyarakat dalam menyusun kebijakan tersebut dalam bentuk penyesuaianpenyesuaian dengan kebutuhan-kebutuhan warga negara. harus patut.2 Tahun 2002 tentang Polri dinyatakan bahwa diskresi Polri yang yang disebut juga dengan bertindak menurut penilaian sendiri demi kepentingan umum juga dibatasi bahwa pelaksanaannya harus dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. diskresi dalam penegakan hukum masih terhambat pada batasan-batasan bahwa diskresi dapat dilakukan dengan syarat-syarat ³tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum´41 dan ³dengan memperhatikan perundang-undangan serta kode etik profesi Polri´42. 43 Selain itu. fakta empiris di lapangan dan tuntutan masyarakat. Atau menjadi ³task officer´ yaitu polisi yang menjalankan tugasnya tanpa menggunakan nilai-nilainya sendiri dan hanya menjalankan hukum.54. Alabama. Ditambah lagi dengan tidak diaturnya sifat dari batasanbatasan tersebut apakah saling melengkapi ? ataukah masing-masing berdiri sendiri ? Dengan aturan yang begitu kaku dan terkesan seolah-olah menutup diri dari konsekuensi-konsekuensi sosial. PT. Buku Kompas. 42 43 . kemanfaatan dan keadilan menurut hukum positif di Indonesia hanya dapat ditemukan dengan satu cara dan pada satu tempat yaitu melalui peradilan di pengadilan.65.George Frederickson. masuk akal. Satjipto Rahardjo. 2005. tujuan pemidanaan dan alternatif penyelesaian sengketa pidana di luar pengadilan. Jakarta. serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Di dalam Undang-Undang No. The University of Alabama Press. Pasal 18 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. yang perlu menjadi perhatian adalah paradigma positivisme yang begitu dominan sebagai akibat dari kurang fleksibelnya aturan mengenai diskresi kepolisian terkait dengan penegakan hukum. Pasal 16 ayat (2) huruf a Undang-Undang No. selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan. Hal ini juga merupakan 40 41 H.Pustaka LP3ES. Polisi Sipil dalam Perubahan Sosial Budaya. pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa dan menghormati hak asasi manusia.2 Tahun 2002 tentang Polri.2 Tahun 2002 tentang Polri dinyatakan bahwa diskresi Polri yang disebut sebagai ³tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab´ dibatasi oleh beberapa syarat yaitu tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum. belum diatunya mengenai tujuan hukum. diterjemahkan oleh Al-Ghozei Usman. memang tidak bisa kita sangkali bahwa hukum positif kita juga belum ada yang mengatur mengenai diskresi aparatur negara. dari aspek substansi hukum. Jadi apa yang didengungkan sebagai tujuan hukum yaitu kepastian. Jakarta. Hlm.

10. Namun demikian kebijakan-kebijakan tersebut seharusnya dapat dijadikan masukan untuk mereformsi substansi perundang-undangan agar Polri dalam menegakkan hukum tidak lagi diharuskan untuk mengabdi kepada hukum tetapi lebih mengabdi kepada masyarakat. Dengan struktur seperti ini. restrukturisasi merupakan salah satu proyek besar yang belum selesai. .20 faktor yang sangat dominan menurut penulis yang mempengaruhi dominasi paradigma positivisme dalam penegakan hukum oleh Polri. Dengan semakin gencarnya sorotan masyarakat atas praktik penegakan hukum oleh Polri yang berparadigma positivisme. 2. penulis pernah mengikuti acara Rapat Kerja Validasi/Restrukturisasi 44 H. Menyikapi permasalahan tersebut dalam reformasi Polri. Wacana untuk melakukan restrukturisasi sebagai upaya untuk mendekatkan dan pengoptimalan pelayanan Polri kepada masyarakat masih dalam proses pengumpulan pendapat-pendapat dari kesatuan paling bawah. maka wajar saja bila pada tingkat sektor yang luasnya meliputi satu atau lebih kecamatan jumlah polisinya sangat sedikit. Stuktur organisasi yang bagaimana yang dapat mendukung penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat ? Rumusan pertanyaan ini.. Struktur organisasi Polri saat ini masih seperti piramida terbalik yaitu besar dan luas di atas dan semakin ke bawah semakin mengerucut atau sempit baik dilihat dari fungsi maupun personil. Op. dibuat penulis dari sudut pandang Polri sebagai institusi bukan sebagai perorangan.George Frederickson. Untuk mendukung pencapaian kebijakan dan tujuan penegakan hukum yang berorientasi pada masyarakat maka kita perlu melihat kembali pada struktur organisasi Polri saat ini. Misalnya saja.cit. telah menggugah Polri dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan internal yang mengandung prinsipprinsip penegakan hukum yang lebih peka terhadap perubahan-perubahan yang ada yaitu dengan mengembangkan pendekatan-pendekatan institusional alternatif dalam menghadapi masalah44 sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Hlm. Bagaimana bisa menjawab kebutuhan masyarakat bila dari aspek struktur saja tidak memungkinkan bagi Polri untuk mengoptimalkan pelayanannya secara efektif dan efisien. Bagaimana mungkin pemerintah dan masyarakat mengharapkan Polri sebagai salah satu fungsi pemerintahan di bidang penegakan hukum dapat menegakan hukum dengan lebih berorientasi pada masyarakat bila hukum posistif Indonesia tidak memberikan peluang untuk itu dan pemerintah sendiri belum melakukan perubahan terhadap hukum positif tersebut.

Menuju Hukum Administrasi Negara Yang Mensejahterakan Dan Melindungi. Pada kesempatan ini. Hlm. Yos Johan Utama. Tujuannya adalah untuk menampung usulan-usulan dari kesatuan bawah dikaitkan dengan kondisi nyata di lapangan dan karakteristik wilayah masing-masing. apa salahnya bila Polri bertanya kepada masyarakat tentang struktur organisasi yang bagaimana yang dapat mendukung pencapaian tujuan penegakan hukum agar efektif ? 45 Kepala Bagian Kelembagaan Biro Organisasi dan Tata Kewilayahan.46 Sayangnya rapat kerja yang merupakan tindak lanjut dari reformasi birokrasi Polri di bidang struktural ini hanya melibatkan partisipasi internal dan belum melibatkan partisipasi masyarakat untuk ikut berperan memberikan masukan. Ibid. Hlm. Padahal untuk mewujudkan pelayanan yang berkeadilan sosial.George Frederickson. Mabes Polri memanggil perwakilan perwira Polri yang menduduki jabatan-jabatan baik yang berhubungan langsung dengan penataan kelembagaan maupun operasional dan administrasi.com/2009/10/13/hukum-administrasi-negara-5/. Meninggat sasarannya adalah masyarakat. 46 47 48 . Pada dasarnya yang melatarbelakangi rapat kerja ini adalah untuk mewujudkan tekad Polri dalam mendekatkan pelayanannya kepada masyarakat. 13 Oktober 2009.wordpress.21 Organisasi Polri yang diselenggarakan di Lido Bogor tanggl 28 Juli 2008 sampai dengan 30 Juli 2009. Op.cit.19. H..55.45 Prinsip yang digunakan dalam restrukturisasi organisasi Polri selaras dengan pendapat Yos Johan Utama yaitu model ³efficiency drive ³ yaitu penyederhanaan stuktur yaitu hemat stuktur kaya fungsi dan pendelegasian ke unit-unit yang lebih kecil. Staf Deputi Perencanaan dan Pengembangan Mabes Polri.48 Pendapat ini sangatlah realistis bila dihubungkan dengan pelayanan penegakan hukum Polri yang memang masih dalam proses penyesuaian dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. dalam Rapat Kerja Validasi/Restrukturisasi Organisasi Polri yang diselenggarakan di Lido Bogor tanggl 28 Juli 2008 sampai dengan 30 Juli 2009. Kelompok Kerja Penataan Struktur Organisasi Kewilayahan. Polri seharusnya melibatkan partisipasi masyarakat47 mengingat dalam konteks penegakan hukum untuk mensinkronkan nilai-nilai penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat harus dimulai dari masyarakat atau berorientasi pada masyarakat yang dilayani karena seperti yang dikatakan H George Frederickson bahwa sekelompok warga negara bisa menyatakan suatu pelayanan masyarakat sebagai efektif berdasar cara yang nyata-nyata agak bertentangan dengan definisi-definisi efektivitas pada pejabat manajemen ataupun pejabat yang terpilih mayoritas. Proses ini tentu akan mengalami kesulitan bila tidak didukung stuktur organisasi yang sesuai dan memungkinkan untuk pengoptimalan pelayanan masyarakat. http://studihukum..

tidak membebani atau meminta imbalan dalam bentuk apapun kepada masyarakat dan diskresi dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan dilandasi hati yang bersih serta jiwa yang tulus. dua hal yang bisa terjadi yaitu pelaksana diskresi yang meminta imbalan atas kebijakan yang diberikan dan masyarakt secara ikhlas memberikan imbalan tersebut sebagai wujud rasa terima kasihnya atas keputusan diskresi tersebut. dan memenuhi harapan masyarakat. Pada bagian ini penulis menyoroti praktik penegakan hukum yang masih kental dengan budaya ³ucapan terima kasih´. Karena struktur yang bersifat hirarki akhirnya pejabat yang bertanggung jawab atas suatu proses penyidikan akan meminta pertimbangan kepada pimpinan kesatuannya yang kecenderungan keputusannya adalah lebih mengarah pada perwujudan loyalitas dan pertimbangan menjaga karir sehingga hasil akhirnya penegakan hukum tersebut harus disiasati sedemikian rupa hingga tidak berdampak negatif pada institusi. 3.49 Contoh lainnya adalah budaya ³Asal Bapak Senang´ (ABS) mewarnai proses penegakan hukum. 26 Mei 2009. misalnya menilai bahwa proses penyidikan tidak cukup bukti dan mengarahkan untuk dihentikan penyidikannya dengan alasan demi nama baik organisasi atau profesionalisme penyidik. Jakarta. Maksudnya berlindung di balik celah hukum adalah pimpinan yang mengintervensi memiliki interpretasi normatif yang berbeda tentang penerapan hukum yang sering kali diselimuti oleh kepentingan-kepentingan pertemanan pimpinan dengan masyarakat tertentu. Bunyi undang-undang ini menjadi tidak begitu bermakna bila dalam menentukan kebijakannya terkait dengan restrukturisasi organisasi Polri tidak melibatkan masyarakat. profesional. .2 Tahun 2002 tentang Polri bahwa komitmen masyarakat juga diharapkan untuk secara aktif berpartisipasi dalam mewujudkan Polri yang mandiri. Intervensi kadangkala dilakukan secara terang-terangan dan ada juga yang berlindung di balik celah hukum. Dalam kondisi yang tidak normal ini kadangkala rasa keadilan harus 49 Komitmen Moral Dalam Rangka Reformasi Birokrasi Polri yang disepakati bersama oleh perwakilan perwira terbaik tiap-tiap angkatan alumni Akademi Kepolisian dalam Sarasehan Polri di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. praktik diskresi harus mengutamakan kepentingan masyarkat. direkayasa bahkan lebih parah lagi diintervensi oleh pimpinan kesatuan maupun pimpinan kesatuan di atasnya. Tidak jarang proses penegakan hukum diarahkan. Dalam hal ini. Dalam konteks reformasi Polri di bidang kultural.22 Peran serta masyarakat dalam membantu tugas Polri dapat juga kita lihat di dalam Bab I Umum Penjelasan Undang-Undang No. Kultur organisasi penegak hukum yang bagaimana yang dapat mendukung penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat.

seberapa kuat komitmen kita untuk mengubahnya dan bagaimana cara menegakan kebijakan tersebut secara berkelanjutan ?´ Dalam mereformasi kultur Polri. Seberapa besar komitmen Polri untuk berubah ? 50 David H. dalam rangka reformasi kultural pertanyaanpertanyaan mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu adalah : a. Manakala situasi yang diharapkan pimpinan tersebut tidak memungkinkan untuk disiasati atau kemungkinan kedua adanya rasa kekecewaan dari pejabat kesatuan yang diintervensi sehingga membiarkan situasi tersebut berlalu tanpa memperhatikan rasa keadilan masyarakat. Pergeseran dimaksud bisa dimulai dari ³zero complain´ ke ³zero deviance´ lalu menjadi ³zero tolerance´. U. Sebenarnya yang harus disadari bersama dalam reformasi kultural Polri adalah keberanian untuk menggeser nilai-nilai dalam program reformasi Polri menjadi lebih aplikatif dan tidak sekedar terkesan formalitas untuk mengejar persyaratan pencapaian remunerasi.23 dikesampingkan. Department of Justic. This is probably the most frequently repeated lesson of reform management. Kebijakan dalam menyusun program reformasi kultural akan lebih baik berorientasi pada komitmen untuk mewujudkan perubahan itu sendiri ketimbang menyesuaikan diri terhadap perubahan sehingga bukan membuat bagaimana agar Polri tidak dikomplain masyarakat atau bagaimana menghindari komplain masyarakat tetapi membuat kebijakan yang berawal dari pertanyaan ³apa yang harus diubah agar komplain yang bersifat negatif dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan.20. butuh komitmen dan konsistensi yang sangat besar yang menurut penulis harus dimulai dari atas bukan dari bawah. Sepertinya hal nya pendapat David H. 2001. from administrative processes to operational strategies and tactical behavior. . especially the most senior executive. Komplain masyarakat terhadap Polri janganlah dijadikan acuan dalam mengukur kinerja. National Institute of Justice.S. is required to produce any important organizational change. Significant reform cannot be brought about by stealth from below against the indifference or hostility of senior managers. Apalagi dalam konteks penegakan hukum.Bayley yaitu : ³Sustained and committed leadership by top management. Hlm. Democratizing the Police Abroad: What to Do and How to Do It.Bayley. applies to any sort of reform effort. komplain yang sering kali diwujudkan dalam bentuk ³surat kaleng´ harus diteliti dan diklarifikasi bukan digunakan untuk me-label penegakan hukum lalu menjadi tidak profesional apalagi menjustifikasinya sebagai penegakan hukum berkemungkinan besar salah prosedur.´50 Dengan demikian.

Sangatlah indah bila reformasi yang sekarang ini sedang bergulir menciptakan Polri yang dalam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan penegakan hukum tidak sekedar menjalankan suatu ³job description´. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya. 51 Satjipto Raharjo. melainkan mewujudkan moral yang terkandung dalam pekerjaan tersebut. penulis mengintisarikan tujuan penegakan hukum dari definisi penegakan hukum dari beberapa literatur. tanpa menyadari bahwa perubahan tersebut benar-benar diperlukan ? c. tujuan dan tugas pokok Polri dalam Undang-Undang No. Yogyakarta. Kesimpulan 1. peran.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005±2025. misi dan arah kebijakan pemerintah b. bahwa tujuan penegakan hukum Polri bila ditinjau dari perspektif visi. baru lah reformasi tersebut digulirkan sehingga tidak terkesan hanya sebagai formalitas yang sebenarnya berada di luar tujuan dari reformasi itu sendiri. Gentha Publishing.24 Apakah perubahan yang akan dilaksanakan Polri hanyalah sebagai strategi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada di sekitarnya. Hlm. 2009. Dari mana Polri harus memulainya ? Penulis berpendapat bahwa tidak sulit mengubah perilaku personil Polri selama ketauladanan yang baik yang menghiasi manajemen dan kepemimpinan Polri. Mengapa harus berubah apa untungnya ? Perubahan tersebut hanya akan membuat kita sulit untuk bisa seperti dulu yaitu bebas memanfaatkan masyarakat sebagai objek pemolisian yang menggunakan pendekatan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pribadi bukan menempatkan masyarakat sebagai subyek atau mitra.83. Dari bebarapa pembahasan di atas. PENUTUP A. d. fungsi.51 III. Seberapa besar kesadaran untuk menghilangkan prinsip ³Aji Mumpung´ artinya mumpung masih menjabat kapan lagi bisa menabung untuk hari tua ? Setelah pertanyaan ini bisa dijawab dengan penuh kesadaran dan keihklasan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang urgen dan harus disepakati bersama baik secara individu maupun institusional.2 Tahun 2002 tentang Polri dan kebijakan pemerintah tentang penegakan hukum dalam UndangUndang No. Seberapa besar keikhlasan Polri untuk meninggalkan kenikmatan serta kemewahan yang diperoleh dari peluang-peluang dan celah-celah dalam jabatan dan kewenangannya ? e. .

Polri seharusnya tidak boleh terlena dengan keterbatasasan sistem hukum yang ada. tujuan Polri dan tujuan negara yang semuanya tertuju pada satu hal yaitu mayarakat atau rakyat dan segenap bangsa Indonesia. menempatkan masyarakat sebagai sentral yang harus dituju dalam penegakan hukum sehingga untuk mengantisipasi perbedaan cara pandang dalam penegakan hukum menimbulkan konsekuensi bahwa perlu kiranya ditetapkan kembali tujuan penegakan hukum Polri yang lebih berorientasi pada masyarakat yang dilayaninya untuk menselaraskan banyaknya tujuan yang hendak dicapai dalam penegakan hukum dari sudut pandang kebijakan pemerintah. tugas pokok dan tujuan Polri. reformasi struktural dalam menyusun suatu struktur organisasi yang lebih berorientasi pada masyarakat seharusnya tidak hanya didukung oleh partisipasi internal tapi juga partisipasi masyarakat. Reformasi birokrasi dalam bidang penegakan hukum ini juga merupakan penegasan terhadap kebijakan penegakan hukum sebelumnya yang pernah digulirkan Polri yaitu kebijakan penegakan hukum yang terkandung dalam strategi perpolisian masyarakat yang mengandung keselarasan dengan gagasan hukum progresif.25 2. Namun demikian kebijakan ini masih menemukan kebuntuan dalam menghadirkan penegakan hukum sebagai institusi yang membahagiakan masyarakat yang menurut hemat penulis disebabkan oleh tidak diaturnya tujuan penegakan hukum itu secara jelas sehingga dalam pelaksanaannya ditafsirkan berbeda-beda dan tetap berkiblat pada hukum secara normatif. (3) Kontradiksi dalam pencapaian tujuan hukum dan tujuan sosial serta tujuan negara. perubahan kultur yang begiu mentradisi harus . Polri telah mentranformasikan tujuan penegakan hukum yang tersirat dalam kebijakan pemerintah dalam kebijakan reformasi birokrasi Polri. Dalam rumusannya kebijakan reformasi birokrasi Polri tersebut secara konseptual telah menjawab kontradiksi-kontradiksi dalam upaya Polri menselaraskan tujuan penegakan hukumnya dengan tujuan-tujuan lainnya yang juga hendak dicapai dalam penegakan hukum. Dengan demikian. Dari aspek substansi. Untuk mendukung kebijakan penegakan hukum yang lebih berorientasi pada masyarakat dan dalam menjawab permasalahanpermasalahan dalam penegakan hukum perlu kiranya membenahi penegakan hukum dengan melihat ruang lingkup bekerjanya hukum sebagai suatu sistem. Dari aspek struktur. Dari aspek kultur. peran. (2) Kontradiksi dalam tujuan hukum. mempunyai tujuan yang sangat luas meliputi tujuan hukum. kebijakan untuk menerobos keterbatasan itu sebenarnya sudah dibuat oleh Polri namun mengalami kendala dalam pelaksanaannya. Polri harus menyadari bahwa dari masing-masing tujuan tersebut mengandung kontradiksi-kontradiksi yang juga patut dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan penegakan hukum Polri yaitu (1) Kontradiksi dalam fungsi. Dari perspektif ini. tujuan sosial.

.26 dimulai dari atas dengan penuh kesadaran dan keikhlasan bukan hanya sekedar slogan atau simbol yang terkesan begitu formal sebagai penyesuaian terhadap perubahan yang ada di sekitar Polri tetapi sebagai suatu yang dibutuhkan sebagai komponen yang paling sulit diubah dalam reformasi birokrasi khususnya dalam bidang penegakan hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful