P. 1
makalah psikologi agama tentang kesehatan mental

makalah psikologi agama tentang kesehatan mental

5.0

|Views: 5,128|Likes:
Published by alexsandra3749

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: alexsandra3749 on Jan 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Dizaman kuno penyakit yang diderita manusia sering dikait-kaitkan dengan gejala –gejala spiritual

. Seorang penderita sakit dihubungkan dengan adanya gangguan dari roh jahat oleh semacam mahluk halus. Karenanya penderita selalu berhubungan dengan dukun yang dianggap mampu berkomunikasi dengan mahluk halus dan mampu menhan gangguannya. Dalam hal ini pengobatn penyakit dikaitkan dengan gejala ruhani manusia. Sebaliknya di dunia moderen penyakit manusia didiaknosa berdasarkan gejala- gejala biologis. Mahluk- mahluk halus yang diasumsikan sebagai ruh jahat dimasyarakat primitif ternyata dengan menggunakan perangkat medis moderen dapat dideteksi dengan mikroskop, yaitu berupa kuman atau virus. Kemajuan dalam dunia kedokteran membawa manusia demikian yakinnya bahwa gejala simtomatis penyakit disebabkan faktor fisik semata. Kepercayaan ini memang sebagian besar dapat dibuktikan oleh sebagian besar pengobatan dengan menggunakan peralatan dan pengobatan hasil temuan dibidang kedokteran moderen. Disela-sela perkembangan ilmu kedokteran moderen tersebut, para psikolog dan agamawan mulai melihat gejala penyakit dari sudut pandang yang berbeda yaitu gejala gangguan penyakit mental sedangkan sebagian besar dokter fisik melihat bahwa penyakit mental sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyembuhan medis tapi sebagai penyembuhan penderita penyakit mental adalah dengan menggunakan pendekatan agama.

1

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kesehatan Mental. Sebelum kita membahas pengertian kesehatan mental. Kita perlu melacak dari beberapa pengertian yang telah oleh beberapa pakar psikologi. Dalam perjalanan sejarahnya, pengertian kesehatan mental mengalami perkembangan sebagai berikut : a. Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa (neurosis dan psikosis).1 b. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.2 c. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsifungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk mengatasi problem yang biasa terjadi, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan bathin (konflik). d. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi, bakat dan pembawaan semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang lain, terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa.3 Dari pengertian diatas diambil suatu batasan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan yang biasa, adanya keserasian fungsi jiwa, dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin. Dalam pengertian yang sangat sederhana kesehatan mental sudah dikenal sejak manusia pertama yaitu Adam, karena Adam merasa berdosa dan meyebabkan jiwanya gelisah dan sedih. Untuk menghilangkan kesedihan itu ia bertaubat kepada Allah dan taubatnya itu diterima di sisi Allah SWT.

1 2

Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi Press, 1983), cet. 1 h. 6 Yustinus Semiun, Kesehatan Mental I, ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 50 3 Ibid. h. 11-13

2

Kesehatan mental sebagai salah satu cabang ilmu jiwa sudah dikenal sejak abad ke-19, seperti di Jerman tahun 1875 M, orang sudah mengenal kesehatan mental sebagai ilmu walaupun masih sederhana. Pada Abad ke-20 ilmu kesehatan mental sudah jauh berkembang dan maju dengan pesat sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern. Ia merupakan ilmu yang bersifat praktis dan banyak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya dulu pengertian orang tentang ilmu kesehatan mental sangat sempit dan terbatas. Seperti ada yang membatasi pengertian kesehatan mental pada absennya seorang dari gangguan jiwa. Pengertian semacam ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. William Glaser membatasi pengertian kesehatan mental pada “rasa tanggung jawab” seseorang dalam memenuhi kebutuhan. Mustafa Fahmi, sebagaimana yang dikutip Muhammmad Mahmud, menemukan dua pola dalam mendefenisikan kesehatan mental yaitu pola negatif (salaby) yaitu terhindarnya seseorang dari gejala neurosis (al-amradh al-‘ashabiyah) dan psikosis (al-amradh al-dzibaniyah) dan pola positif (ijaby), yaitu kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan. Menurut Marie Johada memberikan pengertian yang sangat luas tentang pengertian kesehatan mental dari yang sebelumnya, sehingga pengertian orang terhadap ilmu kesehatan mental mengalami perkembangan dan kemajuan.4 Menurutnya, pengertian kesehatan mental tidak hanya terbatas kepada absennya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa, tetapi orang yang sehat mentalnya, juga memiliki sifat dan karakteristik utama. Walaupun dia mengartikan sangat luas tetapi pengertian yang dikemukakannya belum mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, karena agama belum termasuk kedalamnya. Menurut Zakiah Daradjat, merumuskan pengertian kesehatan mental dalam pengertian yang luas dengan memasukkan aspek agama didalamnya. Kesehatan mental yang dikemukakan Zakiah Daradjat ialah: terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaaan dan
4

Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 2009), cet. Ke- 9 h. 129

3

terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat. Dengan masuknya faktor keimanan, ketaqwaan dan ketuhanan dalam pengertian ilmu kesehatan mental, maka pengertian kesehatan mental terasa luas dan mencakup seluruh aspek dari kehidupan manusia. Dan sekaligus menunjukkan bahwa agama mempunyai hubungan erat dengan kesehatan mental. B. Prinsip-prinsip Kesehatan Mental. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip kesehatan mental dasar yang harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan mental yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri Prinsip ini biasa diistilahkan dengan self image. Self image yang juga disebut dengan citra diri merupakan salh satu unsure penting dalam pengembangan diri. Citra diri positif akan mewarnai pola hidup, sikap, cara berfikir dan corak penghayatan, serta ragam perbuatan yang positif pula. 2. Keterpaduan antara integrasi diri Yang dimaksud keterpaduan disini adalah adanya keseimbangan antara kekuatan jiwa dalam diri, kesatuna pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan mengatasi stress. 3. Perwujudan diri (aktualisasi diri) Merupakan proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau mampu mewujudkan potensi yang dimilikinya serta memenuhi kebuuhankebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan. 4. Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal. 5. Berminat dalam tugas dan pekerjaan

4

Orang yang menyukai terhadap pekerjaan walaupun berat maka akan cepat selesai dari pada pekerjaan yang ringan tapi tidak diminati. 6. Agama, cita-cita, dan falsafah hidup Untuk pembinaan dan pengembangan kesehatan mental orang membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang knsisten dan pandangan hdup yang kokoh. 7. Pengawasan diri Pengawasan terhadap diri merupakan hal pokok dari kehidupan oang dewasa yang bermental sehat dan berkrepibadian normal karena dengan pengawasan tersebut orang mampu membimbing segala tingkah lakunya. 8. Rasa benar dan tanggung jawab Rasa benar, dan tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap orang yang sehat mentalnya. Rasa benar yang ada dalam diri selalu mengajak orang kepada kebaikan, tanggung jawab dan rasa sukses.5 C. Aliran Dalam Kesehatan Mental 1. Psikoanalitik Aliran ini dikenal dengan tokoh yang mempeloporinya yaitu Sigmund Freud dengan pandangan bahwa manusia adalah makhluk evolusi yang terjadi secara kebetulan dan merupakan makhluk biologis. Psikoanalisis merupakan suatu sistem dinamis dari psikologi yang mencari akar tingkah laku manusia didalam dorongan dan konflik yang tidak disadari. Freud memandang tingkah laku manusia terjadi karena terdapatnya interaksi antara tiga ala dalam personaliti yaitu id, ego dan super ego. Id bekerja menurut prinsip kelezatan, dan tidak dapat mengambil pertimbangan-pertimbangan sosial dan tidak bersifat realistis, tetapi ia sanggup membentuk khayalan-khayalan untuk pemuasannya, meskipun dalam arti sesungguhnya. Ego muncul untuk memuaskan id, ego bekerja diatas prinsip realitas dan menggunakan potensi intelektual. Sedangkan super ego bekerja diatas prinsip nilai-nilai akhlak dan berkenaan dengan

5

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), cet. 1, h. 145-149

5

yang betul dan yang salah. Oleh karena itu, super ego sering juga disebut dengan hati nurani. Penganut aliran psikoanalitik lainnya yakni Erick Fromm. Ia pesimis bahwa manusia akan mencapai kesehatan mental dalam arti yang sebenarnya. Menurutnya manusia hanya sanggup mendapatkan kesehatan mental sebahagiannya saja. Sebab ia dengan kondisi yang saling bertarung tidak akan mungkin mencapai kebahagiaan dan kemajuan sekaligus. Aliran psikoanalitik mendapat kritik dari berbagai pakar psikologi karena aliran ini dipandang sangat menyederhanakan energi dasar dalam diri manusia pada insting. 2. Aliran behavioristik Aliran ini dipelopori oleh Thorndike dan John B. Watson. Aliran ini menitik-beratkan kepada tingkah laku manusia. Mereka memandang manusia diibaratkan mesin. Tingkah lakunya merupakan respon dari setiap stimulus. Aliran ini berpendapat bahwa kesehatan mental adalah kesanggupan seseorang untuk memperoleh kebiasaan yang sesuai dan dinamik yang dapat menolongnya berintegrasi dengan lingkungan, dan menghadapi suasana-suasana yang memerlukan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu ber-adjusment secara baik dengan lingkungan dimana ia berada. 3. Aliran Humanistik Aliran ini dipelopori oleh Abraham Maslow, seorang yang semula beraliran behavioristik, merasa tidak puas dengan aliran tersebut. Ia meragukan keadaan manusia yang dikondisikan seperti mesin yang mengatur stimulus-respon. Aliran ini berpendapat bahwa pengkajian terhadap manusia harus didekati dari sudut kemanusiaannya. Manusia dilengkapi dengan potensi yang bebas dipergunakan menurut kemauannya. Oleh karena itu kesehatan mental, menurut aliran ini adalah kesadaran terhadap potensi-potensinya dan kebebasannya untuk mencapai apa yang dikehendaki dengan cara yang dipilihnya. 4. Aliran psikologi transpersonal

6

Aliran ini merupakan kelanjutan dari aliran humanistik. Penggagasnya juga termasuk Jung, Abraham Maslow, Victor Frankl, William James yang banyak mempengaruhi pemikiran Jung. Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateu dan father reaches of human nature. Dalam arti kata psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali pada spiritual agama. Aliran transpersonal dan psokoterapi menawarkan perjalanan psikologis untuk menemukan diri dengan melihat kedalam “self ego, eksistensi psikologis”. Agama membicarakan tentang kesadaran spiritual yang luas dan multi dimensional. Diri kita, eksistensi psikologis kita , merupakan penampakan luar dari esensi spritual kita. D. Kedudukan dan peran kesehatan mental dalam Islam Dalam dunia Islam, kedudukan, fungsi, dan peranan kesehatan mental tampak lebih jelas lagi. Maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah dalam pengertian luas. Ibadah dalam pengertian, kegiatannya mencakup seluruh aspek kegiatan manusia. Baik yang bersifat i’tiqad, pikiran, amal sosial, jasmani, rohani, akhlak, dan keindahan.6 Pengertian ibadah dalam Islam secara luas adalah pengembangan sifatsifat Allah yang pada manusia untuk menumbuhkan potensi diri yang telah diberikan Allah berupa potensi-potensi yang terdapat dalam nama Allah yang agung (al-asma al-husna), seperti potensi ilmu, kuasa, sosial, kekayaan, pendengaran, dan pemikiran, serta potensi-potensi lainnya. Dengan demikian maksud dan tujuan ibadah dalam Islam tidak hanya menyangkut hubungan vertikal atau hablun min Allah, tetapi juga menyangkut hubungan horizontal yang meliputi hablum min al-annas, hablun min al-nafs, dan hablun minal-alam. Dari uraian singkat di atas dapat dilihat bagaimana kedudukan kesehatan mental dalam Islam. Kesehatan mental dalam Islam adalah ibadah dalam pengertian luas atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia

6

Ibid, h. 148

7

dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agamanya, untuk mendapatkan al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia). Firman Allah : “Hai jiwa dalam ketenangan! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang senang dan diridhai-Nya.” E. Hubungan Agama Dengan Kesehatan Mental. Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani (M. Buchori, 1982: 5). Menurut H.C Witherington, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat lapangan psikologi, kedokteran, psikiatri, biologi, sosiologi, dan agama (M. Buchori, 1982: 5).7 Sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara faktor keyakinan dan kesehatan mental tampaknya sudah disadari para ilmuwan beberapa abad lalu. Misalnya, pernyataan Carel Gustay Jung “diantara pasien saya yang setengah baya, tidak seorang pun yang penyebab penyakit kejiwaannya tidak dilatarbelakangi oleh aspek agama”. Kenyataan serupa itu juga akan dijumpai dalam banyak buku yang mengungkapkan akan betapa eratnya hubungan antara agama dan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri ada dua buku yang diterbitkan dengan judul Peranan Agama dan Kesehatan Mental oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan Agama dan Kesehatan Mental disusun oleh Prof. Dr. Aulia, telah membahas secara luas mengenai sejumlah kasus yang menunjukkan ada hubungan antara kesehatan jiwa dan agama. Dan Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir lebih jauh membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaanpersenyawaan itu disebut hormon. F. Metode Perolehan Dan Pemeliharaan Kesehatan Mental. 1. Metode Pengembangan Potensi

7

Jalaluddin, Psikologi Agama, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 156

8

Ada dua unsur dasar pembentukan manusia yaitu jasmani dan rohani, dengan segala potensi yang melekat padanya, keduanya mempunyai kebutuhan dasar untuk bisa berkembang dan bermanfaat secara maksimal, sesuai dengan keberadaannya. a. Potensi jasmani Dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmaniah (potensi jasmani), Islam memerintahkan untuk makan, minum, dan beberapa hal yang berkaitan dengan jasmani, secara cukup, dalam arti tidak berlebihan atau kurang dan sesuai dengan yang telah digariskan oleh syari’at. b. Potensi rohani Sedangkan untuk pengembangan rohaniah, khususnya akidah (potensi akidah), pada prinsipnya Islam mengajarkan agar manusia menjauhi segenap dosa dan kemaksiatan agar tidak mengotori akidah atau keimanannya. 2. Metode Iman, Islam dan Ihsan a. Metode Iman Sesuai dengan metode kesehatan mental adalah berlandaskan kepada agama, yaitu keimanan dan ketaqwaan. Hal ini dapat dimengerti sebagai indikator orang yang memiliki kesehatan mental adalah orang-orang yang senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan sesuai dengan iman yang melekat pada dirinya, sedangkan ketaqwaan merupakan kristalisasi iman seseorang.8 b. Metode Islam Seseorang yang mengaku Islam berarti ia melaksanakan, tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuh hati terhadap hukumhukum dan aturan Allah, yang dalam hidunya selalu berada dalam kondisi aman dan damai, yang pada akhirnya dapat mendatangkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. c. Metode Ihsan

8

Op-cit, h. 170

9

Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik atau mukhsin adalah orang yang mengetahui hal-hal yang baik, dan dilakukan dengan niat yang baik. 3. Metode Takhalli, Tahalli, dan Tajalli a. Takhalli Pada umumnya berarti sebagai membersihkan diri dari sifatsifat tercela, dari maksiat lahir dan batin. Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi. Pada takhali, seseorang berjuang keras untuk dapat mengosongkan jiwa mereka dari sifat tercela yang mendatangkan kegelisahan pada jiwanya, sifat-sifat tercela itu antara lain 1.) Hasad Yaitu membenci nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang lain agar nikmat itu terhapus atau hilang 2.) Hiqd Menurut al-ghazali hiqd adalah keadaan hati yang terus menerus berat, marah dan iri terhadap orang lain yang menimbulkan dendam. 3.) Takabbur Yaitu memandang rendah orang lain dan menganggap tinggi atau mulia diri sendiri atau membesarkan diri dihadapan orang lain. 4.) Nifaq Artinya bermuka dua atau berpura-pura, ia menjadi karakteristik orang munafik. 5.) Kikir Adalah sifat yang terlalu mencintai harta benda yang dimilikinya dan hal itu membuat ia terikat pada dunia dan ia tidak mau memberikan harta kepada orang lain yang juga mempunyai hak didalamnya seperti fakir miskin, kepentingan umum, kegiatankegiatan sosial dan agama. 6.) Su’ al-dzan

10

Yaitu buruk sangka. Buruk sangka terhadap siapapun sangat dicela oleh agama baik kepada Allah maupun manusia. 7.) Riya Yaitu memperlihatkan amal kebajikan supaya dilihat dan dipuji orang lain. 8.) Ghabbah Yaitu marah atau kemarahan dengan konotasi negatif dan kelebihan, sedangkan secara umum diartikan al-nafsu al ammarah bi al su’ yang selalu mendorong perbuatan jahat sehingga mendatangkan kerugian pada diri sediri dan orang lain. 9.) Ghibah Menggunjing atau menceritakan segala sesuatu mengenai orang lain yang orang lain itu tidak menyukainya apabila ia mengetahui. 10.) Hub al-dunya Cinta terhadap dunia. Cinta kepada dunia bisa berwujud mencintai kemasyuran, popularitas kekuasaan pangkat, dan jabatan. 11.) Namimah Adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba antara keduanya. b. Tahalli Yaitu mengisi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji. Dengan metode ini jiwa seseorang tekah bersih dari sifat-sifat tercela dan maksiat, kemudian ia berusaha secara sungguh-sungguh mengisi diri dengan tingkah laku yang baik dan terpuji. Diantara sifat-sifat yang terpuji adalah: taubat, zuhud, khauf, shabr, syukur, ikhlas, tawakkal, ridha, dan zikr al- maut c. Tajalli Setelah mengetahui fase takhalli dan tahalli, maka metode pembinaan mental disempurnakan dengan fase tajalli. Tajalli adalah terungkapnya nur ghaib untuk hati. Tajalli merupakan lenyap atau hilangnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan, lenyapnya segala yang lain ketika nampak wajah Allah.

11

4. Metode Murabathah Murabathah pada umumnya diartikan melakukakan ketekunan. Kalau dihubungkan dengan ajaran Islam berarti tekun dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Menurut said hawwa untuk melaksanakan metode murabathah ada beberapa yang harus dilakukan, yaitu: a. Musyarathah Yaitu memenuhi persyaratan agar seseorang ingin mencapai ketenangan jiwa dan kesucian batin. Maka ia harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan agama, berupa melaksankan amal-amal shaleh yang ditetapkan allah serta amal-amal lain yang dipandang baik oleh masyarakat. b. Muraqabah Yaitu memonitor perilaku sehari-hari. Apabila seseorang telah mengrjakan persyratan-persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan Allah SWT, maka tahap selanjutnya harus melakukan muraqabah atau memonitoring diri dan jiwa dikala sudah melaksanakan amalan-amalan yang sudah dilakukan. c. Muhasabah Yaitu melakukan perhitungan pada diri sendiri sesudah beramal. d. Mu’aqabah Berarti menghajar diri karena kurang berhati-hati. Bagaimanapun hati-hatinya manusia dalam membuat perhitungan, tetapi ia tidak dapat menjamin dirinya jauh dari perbuatan maksiat, atau setidak-tidaknya berlaku seadanya dan kurang berhati-hati dalam melaksanakan hak Allah SWT. e. Mujahadah Yaitu bersungguh-sungguh atau berjihad. f. Mu’atabah Yaitu mencela keburukan yang dikerjakan dam menghukum diri sendiri. Kita diberi Allah SWT nafsu, kalau dorongan nafsu ini

12

kuat maka ia dapat menaklukkan akal dan hati, sehingga kekuatan akal dan hati menjadi lemah. 5. Metode Pengendalian nafsu (riyadhah) Riyadhah adalah suatu latihan yang dilaksanakan secara terus menerus dalam rangka menekan daya nafsu. Menurut abdul mujib, substansi manusia memiliki tiga daya yaitu: a. qalbu (fitrah ilahiyah), b. akal (fitrah insaniyah), dan c. nafsu (fitrah hayanawiyah)

13

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalahmasalah dan kegoncangan-kegoncangan yang biasa, adanya keserasian fungsi jiwa, dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin. Ada 8 prinsip dari kesehatan mental, yaitu: 1. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri 2. Keterpaduan antara integrasi diri 3. Perwujudan diri (aktualisasi diri) 4. Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal. 5. Berminat dalam tugas dan pekerjaan 6. Agama, cita-cita, dan falsafah hidup 7. Pengawasan diri 8. Rasa benar dan tanggung jawab Diantara aliran-aliran dalam kesehatan mental adalah: Psikoanalitik, bahavioristik, psikologi transpersonal, dan menurut pandangan islam. Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tentram. Ada beberapa metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental, yaitu: 1. Metode pengembangan potensi 2. Metode iman, islam dan ihsan 3. Metode tkhalli, tahalli, dan tajali 4. Metode murabathah 5. Metode pengendalian nafsu B. Saran Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi susunan katanya, penulisannya dan lain sebagainya. Maka kami sebagai pemakalah

14

mengucapkan banyak ma’af atas kekurangan kami karena kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Dan kami juga mengharapkan kritik dan saran yang mendukung, dan semoga dengan kritik dan saran yang di berikan bisa kami jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah kami selanjutnya.

15

DAFTAR PUSTAKA Daradjat, Zakiah, 1983, Kesehatan Mental, cet. 1,Yogyakarta : Fakultas Psikologi Press Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Ramayulis, 2009, Psikologi Agama, cet. Ke- 9, Jakarta : Kalam Mulia Semiun, Yustinus, 2006, Kesehatan Mental I, Yogyakarta: Kanisius Sururin, 2004, Ilmu Jiwa Agama, cet. 1, Jakarta : Raja Grafindo Persada http://ppraudlatulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/14/agama-dan-kesehatanmental/

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->