METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

........ 5.2 Levi’Strauss ………………………………………… 4....1.2... 5.... 83 5.....5 Metodologi ………………………………………………… 5..1....3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5... .. 5..4 Landasan Teori …………………………………………… 5.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah..4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5....2.....1.....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4..4.....6.2.............5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ....2 Identifikasi Masalah ……………………………………….... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ............6....6.3 Tujuan Penelitian ………………………………………….1..4 Greimas ……………………………………………...1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .1.................. 5..

Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. relevansi metode dan penelitian. Selain itu. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. hakikat. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. i . Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.

Agustus 2007 Penyusun ii . teori. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Dengan demikian. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.

Teknik berasal dari kata teknikos. sedangkan hodos berarti jalan. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. sesudah. Metodologi berasal dari methodos dan logos.BAB I PENDAHULUAN 1. metode dianggap sebagai cara-cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Hakikat Metodologi. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. cara. melalui. arah. yang berarti alat. 2. Dalam pengertian yang lebih luas.1 Pengertian. Metode. mengikuti. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. metode. atau seni menggunakan alat. strategi untuk memahami realitas. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. 3.

1. dan (3) sadar teknis. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. perumusan masalah. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. 2 . (2) sadar teoritik. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. dan kerangka pemikiran penelitian. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.

Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. termasuk ilmu humaniora. merumuskan hipotesis dan permasalahan. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. bukanlah karena perbedaan metode. komparasi. induksi dan deduksi. menyusun proposal. membangun konsep dan model. deskripsi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Klasifikasi. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. misalnya. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. Sebagai alat. sampling. dan akhirnya menarik kesimpulan. eksplanasi dan interpretasi. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. kuantitatif dan kualitatif. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. menganalisis data. 3 . Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus.Dengan prosedur kerja yang baik. mengadakan pengujian teori. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. sama dengan teori.

metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Dengan demikian. bahkan juga dengan teori. misalnya: wawancara. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. teknik bersifat paling kongkret. Sebagai alat. angket. Metode sering disebutkan sebagai teknik. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. teknik kartu data. struktural. rekaman. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. teknik dapat dideteksi secara inderawi. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan.Berbeda dengan metode. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai instrumen penelitian. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. jelas berbeda. komparasi. dokumen. Metode deskripsi. Artinya. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. dan sebagainya. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. kuesieoner. teknik berhubungan dengan data primer. tetapi dasar dan cara pemahamannya. statistik. melalui cara: 1. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan.

metode. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. struktur disebut sebagai metode. dan teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sebelumnya. metodologi. teori. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. metode dapat menjadi teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Jadi. 2. 5 . 3. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

9 . yaitu sintesis itu sendiri. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. d.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.menerus.

yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. ilmu dapat hidup. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. dan kecerdasan yang memadai. atau pencarian kembali atas suatu objek. Jadi. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. kecermatan. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Hubungannya dengan ilmu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya. 10 . Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.

terutama yang berkaitan 11 . yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Kedua. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. scientific objective. 1985: 9-15). kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Pertama. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Oleh karena itu. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Dalam menghadapi masalah. practicial objective. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan.berkembang. sistematis. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Oleh karena itu pula.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu.

Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. teori-teori. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. dan sesuai dengan objeknya. nalar. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Urutan umum dari proses 12 . yaitu penelitian sastra. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods).dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.

Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Oleh karena itu. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. fakta. pengumpulan data. Di samping itu. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. dan spiritual. Di samping masalah yang dihadapi. social. analisis data. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. manusia mencari tahu dan mencari makna. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 .sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. emosional. dan penyajian kesimpulan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. penelaahan informasi. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya.

Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. atau memperkaya teori yang sudah ada. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. 14 . menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. penyelidikan. menggambarkan. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. kemudian melakukan proses penemuan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. atau pendapat umum. melakukan kegiatan penemuan. atau penelitian. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. otoritas. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. dan menafsirkan apa yang diamati. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. intuasi.

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Dalam hal ini. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Pertama. Oleh karena itu. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Kedua. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.

pengumpulan dan analisis data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. serta membantu dalam menginterpretasi data. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem. Penelitian akan menghasilkan teori. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengembangan instrumen. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu.berhubungan). penyusunan design. pengajuan hipotesis. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 .

bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. menganalisis. terorganisir. ilmu-ilmu humaniora. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (6) mengolah data. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (2) bebas prasangka. 2. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (4) merumuskan hipotesis. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (3) mengadakan studi pustaka. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. 3. (7) menganalisis dan 17 . yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. (3) menggunakan prinsip analisis. dituntut langkah-langkah berturut-turut. Dalam penelitian ilmiah. Dalam kerja penelitian. (5) mengumpulkan data. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. komunikasi. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal.ilmiah. menginterpretasi. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. dan menyimpulkan. yaitu: 1.

(8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.menginterpretasi. 18 . juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Demikian pula.

(2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. menghasilkan pengetahuan yang: a. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. sistematis 2. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c.2. didukung data empiris 19 .

4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Ratna. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. 1885. yaitu : 1.2. dan Whitney. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. dan Muhadjir. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. (bandingkan Nazir. Charters. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2004. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis.

Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Macam-macam 21 . penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. 3. 2. 6. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. content analysis. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 4. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 5.

dan majalah.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Immanuel kant. film. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. buku harian. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. yaitu sebagai studi kultural. surat kabar. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . gambar. biografi. buku teks. sesuai dengan hakikat objek. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. 2. 2. Dalam ilmu sastra. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Dalam ilmu sosial. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Sejalan dengan uraian di atas. 2004: 47-49). grafik. fotografi. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. 22 . laporan. lukisan.

sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. Adakalanya peneliti 23 . tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Menurut Whitney (dalam Nazir. pandangan-pandangan. penelitian bersifat alamiah. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 2. 5. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. 4. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. suatu objek. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. sikap-sikap.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. suatu set kondisi.3. gambaran atau lukisan secara sistematis.

Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode ini dinamakan juga studi status . ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . kriteria umum: 1. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). masalah yang dirumuskan harus patut. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

variabel dilihat sebagaimana adanya. 3. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. B. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. kriteria khusus 1.5. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. sifat penelitian adalah ex post facto. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1.

dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji.3. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. membuat tabulasi serta analisis (statistik). menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9.

penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. 27 . yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. lembaga. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. kelompok. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. subjek penelitian dapat saja individu. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. maupun masyarakat. Dalam studi komparatif ini.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. dan keagamaan. 29 . Menurutnya. Lotman. Eagelton. Plark. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Riffaterre. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. dan Teeuw.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. ekonomi.

Melalui sistem sastralah. 30 . di antaranya dari sisi bahan. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sebagai satu sistem. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. secondary modelling system. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. yaitu berupa bahasa. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks.

yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Dengan demikian.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . 3.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Dalam hal ini. Dengan demikian. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. yaitu pembacanya. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. dari pembaca saja. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. kerja yang objektif. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.

Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. sejumlah peralatan diperlukan. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum.perspektif. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Namun. 32 . Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Dalam hal ini. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul.

Bagi ilmuwan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. pola. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. 2004: 21). ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. sebagai berikut: 1.3. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Tanpa paradigma. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. unsur dalam diri sendiri 2. model. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .

penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural.yang relatif sama. imajinasi. Contohnya. maka teori pun juga beraneka ragam. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Jadi. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. tersistem. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di satu pihak. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. dan sebagainya. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Di pihak lain. 34 . Selanjutnya. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. bahkan khayalan. sebagai cara pandang. Dalam penelitian sastra.

faktor aksiologis. keseluruhan proses penelitian. Pada gilirannya. Paradigma dengan demikian mendahului. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. teknik dan proses selanjutnya. 35 .Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. mengkondisikan ilmuwan sastra. khususnya sastra. dan teknik. teori. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. penelitian adalah penilaian. dalam ilmu humaniora. faktor ontologis. termasuk metode. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. metode. faktor epistemologis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. faktor metodologis. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. Keempat faktor tersebut adalah: 1. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. periode. secara kualitatif.

kecuali referensi estetisnya. aliran. Novel sejarah. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. termasuk tokoh-tokoh. psikologis. Puisi. psikologis dan ilmu pengetahuan. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. dan drama. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Perbedaannya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. 36 . gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dan berbagai paham yang lain. Keseluruhan unsur. novel. Dengan kalimat lain. drama bersajak. latar tempat dan waktu. novel psikologis. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. puisi.generasi. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya.

Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. menganalisis. 2004: 5355). Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 3.4 Pendekatan Sastra 3. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.1. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. dan menyajikan data. Lebih lanjut. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. approach. yaitu metode dan teknik. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.4. 37 . sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. pendekatan berasal dari kata appropio.

Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. intrinsik dan ekstrinsik. mimetik. pendekatan objektif. pragmatik. Artinya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. ekspresif. dan tekniknya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. 3. dasarnya. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Dalam hubungan inilah. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode.4. mitopoik. 38 . Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. metode.dan sebagainya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dan (4) pendekatan objektif.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. teori. (2) pendekatan mimesis. (3) pendekatan pragmatik. seperti pendekatan sosiologi sastra.

dan 39 . feminisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. komunisme. persepsi.3. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. (3) produk pandangan dunia pengarang. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. nasionalisme. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan hasil-hasil karyanya. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. pikiran-pikiran. ucapan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. pikiran dan perasaan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan.4. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Secara metodis. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya.2. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran.

pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. pikiran. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. 1989:15). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pengalaman hidup. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.2. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan sebagainya Luxemberg. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. perasaan.4. 1958:8). 40 .2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. 3. dan ideologi pengarang.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. sesuai tujuan. Melalui pandangan ini. bentuk-bentuk kemasyarakatan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).

suatu proses. Segers (2000. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. suatu produk akhir. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurut Baxter. menyiratkan sesuatu yang statis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Secara terminologis. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Tiruan. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Menurutnya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu copy. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. tetapi penekanannya berbeda. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal.

dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal.. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Secara metodis. Oleh karena itu. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. 42 . misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dsb. sesuai tujuan. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Melalui penjabaran di atas.

yaitu (1) konsep umum estetika resepsi.4. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. menafsirkan. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dalam uraiannya.3. menikmati. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.2. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pembaca dalam 43 . Menurutnya.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. pembacalah yang menilai. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. dan memahami karya sastra.

Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (5) rangkaian sastra. (4) semangat zaman. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (3) nilai estetik. dan (7) sejarah umum. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Dalam hal ini. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (2) horison harapan. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.

Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya.informasi. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Dengan kondisi tersebut. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Teori menuntut 45 . Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Perihal semangat zaman.

Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. diidealkan. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Fungsi sosial sastra 46 . Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. satirik. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang.

dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Konsep dialektika respon estetik (Iser. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsekuansinya. dan interaksinya. literary repertoire. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. 1987: 20 dan 54). pembaca. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. historis. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. rol.

Oleh karena itulah. antarhubungan. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 48 . sosiologis. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.4. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. termasuk biografi. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. dan totalitas. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. politis.2. Dengan demikian. 3. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. seperti aspekhistoris.

pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. fakta cerita (tokoh. Adapun terhadap prosa. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. alur. konflik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan latar). Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. 49 . Secara metodologis. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa.). gaya bahasa. dll. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. 50 .Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.

terlepas dari 51 . Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. 1978: 17-18. apabila suatu bagian dihilangkan. melainkan rusak sama sekali. Selain itu. 1984: 120139). Faruk. mekanisme sendiri. 1995: 4-12. Hawkes. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata.BAB IV STRUKTURALISME 4. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. 1999: 1-9. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. melainkan kualitatif. dan Faruk: 1994: 17-18. Artinya. dan Teeuw.

Formalisme di Rusia. sesuatu yang utuh. sesuatu yang berstruktur. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. motivator terjadinya gejala baru. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Karena itu. transformatif. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. antarhubungan merupakan energi. Aliran Kritik Baru di Amerika. Artinya. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . otonom. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. mekanisme yang baru. Sebagai kualitas totalitas. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. dan self-regulatif. mengembangkan. Dengan kata lain.

antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. seperti kejadian. latar. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Karya tidak dapat diisolasi. Analisis terhadap penokohan. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. misalnya. 53 . Sejalan dengan uraian di atas. dan sebagainya. Dengan kata lain. plot. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme.sebagai sistem komunikasi. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Namun demikian. Di pihak lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.

dan psikologi. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. oposisi. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. sosiologi.4. dan sebagainya. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Dengan jalan demikian. 1985: 128-13. Meskipun demikian. Metode yang digunakan metode formal. Sebagai teori modern mengenai sastra. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. reaksi terhadap studi biografis 2. puitika. asosiasi. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. yaitu: 1. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor.

Pradopo 2002: 46.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Oleh karena itulah. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan (3) sebagai teori. melahirkan strukturalisme. 4. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 1985: 185-192. dan Ratna. masyarakat yang menghasilkannya. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. (2) sebagai metode. dan pembaca sebagai penerima. dan nilai-nilai. 2003: 88-96.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Menurutnya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. terdiri atas tanda. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 2002: 304). Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. struktur.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 55 . karya sastra adalah proses komunikasi. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. fakta semiotik. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Muhadjir.

alur. latar. imajinasi. tujuan analisis di lain pihak. Unsurunsur prosa. Artinya. Prosa.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. misalnya mengarah pada tema. peristiwa atau kejadian. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. dan gaya bahasa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. penokohan. di antaranya tema. simbol. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . ritme atau irama. dan enjambemen. sudut pandang. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. dan gaya bahasa. alur. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. penokohan. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur puisi. dialog. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. latar atau setting. nada. stilistika. diksi atau pilihan kata. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. puisi. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. rima atau persajakan. peristiwa. puisi.

melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. 57 . tidak semau-maunya. Dalam hubungan ini. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Jadi.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. karya sastra. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dan pendengar. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. yaitu pencerita. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca.

strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Menurutnya. 1993: 183-189). Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. latar belakang sejarah pertumbuhannya. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. pengertian tanda ada dua prinsip. antara penanda dan petanda. aliran semiotik. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Stout (dalam Makaryk. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. indeks. arti bahasa dalam 58 . Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Dalam lapangan semiotik. yaitu ikon. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. yaitu persamaan dan sebab akibat. dan simbol. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. yang merupakan bentuk tanda. Ada tiga jenis tanda yang pokok.4. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna.4 Semiotik Secara padat Dolezel.

daya liris. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam sistem semiotik. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Berhubungan dengan hal ini. perasaan. Jadi. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. arti tambahan (konotasi). dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . intensitas. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. suasana. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Dalam kaya sastra. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan.

Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. terdapat (1) sintaksis semiotika. termasuk sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 .karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. (2) semantik semiotik. atau yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Menurut pandangan intertektualitas. Sejalan dengan paham triadik peircean. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Dilihat dari segi cara kerjanya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. dan (3) pragmatik semiotik. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda.

sinsigns. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. Menurut Aart van Zoet (Ratna. yang paling sering diulas adalah object. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. ground. qualisigns. referent). terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. argument. object (designatum. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. type. dan interpretant. denotatum. rheme. 2004: 102) di antara ikon. legisigns. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. 2. ikon. interpretant. simbol. c. tokens. b. 61 . b. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. b.1. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. representamen. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. c. object. Di antara representamen. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. yaitu apa yang diacu: a. c. dicent signs.

usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. termasuk karya sastra. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. 62 . Karena itu. dan Faruk. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme.indeks. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. (c) pembaca (pragmatik). Kellner dalam makaryk. sebagai struktur. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. yang terpenting adalah ikon. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. yaitu (a) pengarang (ekspresif). 1993: 95-99. Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. dan (d) objektif (otonom).5. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan simbol. Alasannya. (b) semestaan (mimetik). Sebagai strukturalisme. di lain pihak. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 1993: 340-341. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 4. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek.

yaitu melakukan transformasi atas alam. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Oleh karena itu. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Menurut Marxis. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Untuk melakukan transformasi atas alam. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Karena itu. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. 4. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karya-karya kultural yang besar.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . melainkan kelas sosial.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.

ras.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. pendidikan. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Karena itu. seperti kelompok profesi. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. kelompok etnis. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Karena itu. dan sebagainya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya.

strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Hanya beberapa di antaranya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Todorov.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. dan sebagainya. bersifat mimetik. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. 4. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.5. Dalam pandangan strukturalisme genetik.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. seperti strukturalisme. Namun. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Greimas. Dengan demikian.

yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya.semantik pula. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Struktur yang demikian. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. menurut strukturalisme genetik. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.

yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.5. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Menurut paham tersebut. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Namun. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yang juga berstruktur. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. 4.

Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. bukan 72 .dialektik. 4. seperti model sintaksis. hikayat. Dengan demikian. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. kisah. demikian juga dengan wacana dan teks. atau sebaliknya. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna.6. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. dan objek penderita. sebagaimana hubungan antara subjek. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. predikat. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. perkataan. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narratio berarti cerita.6 Naratologi 4. logos berarti ilmu. subjek secara linguistik.

naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. sastra. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. melainkan melalui bahasa. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. akrab dengan cerita Jaka Tarub. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. dengan pertimbangan 73 . Setiap orang. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. politik. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. semboyan. restorasi. bukan pengarang. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. analisis naratif merupakan bagian ideologi. dan wacana. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural.person. diceritakan oleh narator. bukan pengarang. dan ekonomi. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. tetapi juga melalui kata-kata. Pada pahan pascastruktural. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. misalnya. Revolusi.

sudut pandang. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. yaitu dunia fiksional. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dalam karya sastra. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. tema. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. dan gaya bahasa. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Hampir keseluruhan genre sastra. cerita sebagai tulang punggung karya. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. tokoh-tokoh. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dan teks. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. pembaca. Di pihak lain. baik sebagai penulis. Dilihat dari media yang tersedia. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. paling luas. wacana. Tanpa cerita. latar. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Tanpa plot. kebudayaan pun tidak ada. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. 74 .

lelucon. epik. gongeng. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Shlomith Rimmon-Kenan (story. yaitu: 1. narration). fabula. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. catatan harian. Claude Bremond (struktur dan fungsi). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Henry James (tokoh dan cerita). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). dan sebagainya. Percy Lubbock (teknik naratif). Tzvetan Todorov (historie dan discours). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. durasi. dan suara). Secara historis. text. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). di antaranya: Gerard Gennet (urutan. cerpen. puisi naratif. interdisipliner. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. mitos. 1993: 110. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. termasuk feminis dan psikoanalisis. juga roman. text). Para pelopornya. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). modus. biografi. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Mieke Bal (fabula. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Forster (tokoh bundar dan datar). frequensi. story.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Gerald 75 . Para pelopornya.

tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Todorov. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. LeviStrauss. Propp 76 . Oleh karena itu. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). Hayden White (wacana sejarah). Menurutnya. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan).Prince (struktur narratee). Seymoeur Chatman (struktur naratif). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. pastiche). unit terkecil yang membentuk tema. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). 4. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). yaitu Propp. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Artinya. Roland Barthes (Kernels dan satellits).2. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Jacques Derrida (dekonstruksi). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6.6. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik).

(6) pahlawan. perbuatan. (4) putri dan ayahnya. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. 77 . tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan (7) pahlawan palsu. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Menurutnya.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Di sini. Dengan kalimat lain. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (3) penolong. dan Todorov. yaitu: pelaku. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. persona bertindak sebagai variabel. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. yaitu: (1) penjahat. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Bremond. (5) orang yang menyuruh. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). (2) donor.

Dengan kalimat lain. baik secara bulat maupun fragmentasi. Pendekatan antropologi sastra. melalui struktural. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. bumi langit.6.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. misalnya. dan sebagainya. dan harus direkonstruksi melaluinya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. tabu. 78 . Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Menurutnya. mitos adalah naratif itu sendiri. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Di satu pihak. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.2. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng.4. dan incest. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. khususnya konsep-konsep oposisi biner. seperti laki-laki perempuan.

dan (4) aspek verbal. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.6. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. 4. yaitu (1) aspek sintaksis. yaitu: kehendak. dan latar. Menurutnya. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. dan sebaliknya. Oleh karena itulah. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia.2. meneliti tema.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. secara berdampingan. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. gaya bahasa. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. (2) aspek semantik. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. dan sebagainya. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. berkaitan dengan makna dan lambang. dan partisipasi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. tokoh. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. komunikasi. sebagai hubungan makna dan perlambangan.

1999: 11-13. Yang ada hanyalah subjek. seperti: psikologi sastra. dll. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. John dan Paul juga merupakan pengirim. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. baik sebagai pengirim maupun penerima. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal.antarhubungan adalah kausalitas. yaitu tata bahasa naratif universal. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.2. Tidak ada subjek di balik wacana.6. 4. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 80 . Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Mary sebagai penerima. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. studi biografi. sosiologi sastra. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Apel adalah sebagai objek. acteurs merupakan kategori umum. yaitu dongeng. Greimas (dalam Abdullah. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. tetapi diperluas pada mitos. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. kritik fenomenologis. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. sastra sebagai proyeksi.

yaitu subjek dengan objek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. pelaku. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. religi. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Cerita adalah bahan 81 . sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. dan plot. Oleh karena itu. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Actans merupakan struktur dalam. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan penolong dengan penentang. dan ilmu sosial lainnya. dan struktur yang bersifat pemutusan. Sebaliknya. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. tek. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana.

seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 . sebagai model kedua. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.kasar. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model pertama. perangkat peristiwa. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

dan fungsional. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. untuk memisahkan kemenduaan. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. dan (c) peletak dasar 86 . untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. (2) kemenduaan arti (ambiguity). sistematis. 5. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Karenanya.1. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.

(2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. serta dana. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Menurut Nazir (1985: 134-135). (4) masalah harus dapat duji. 87 . (3) masalah harus merupakan hal penting.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. pikiran. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. waktu. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum.

misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. Berhubungan dengan penelitian sastra.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih.1. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Dengan demikian. dan totalitas di dalamnya. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. topik penelitian atau judul penelitian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. mengembangkan (develop atau extention). hubungan antarunsur. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. 88 .

Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. misalnya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Secara ideal.1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). 89 . Sebaiknya dalam tujuan penelitian. sistematis. berjumlah tertentu.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. lingkup masalah. 2001:2). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 5.

circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam strukturalisme. sebagai akumulasi konsep. Sebagai suatu cara pemahaman. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Dalam kerangka strukturalisme. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Penerimaan yang dimaksud 90 . antarhubungan. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. baik sebagai teori maupun metode. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain.Dengan demikian. teori tidak harus dipahami secara kaku. dan totalitasnya. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Dalam uraian landasan teori. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. khususnya analisis fiksi. diperlukan penerimaan positif. Teori adalah alat. misalnya.

5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku..1. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5. Atau dengan kalimat lain. Sebaliknya. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.mengarah kepada keteraturan. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.

sistematik. (2) kategori harus lengkap. dan hubungan antarunsur. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Dengan kata lain. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. hubungan simetris 92 . ciri. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. padu. dsb. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. pemilihan.(pendekatan) linguistik. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Penentuan data berdasarkan perilaku. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. demi pemahaman identitas data penelitian. Sejalan dengan uraian di atas. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data.

dan faktor kebetulan. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. 3. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. 2. hubungan saling mempengaruhi.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Sejalan dengan uraian di atas. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 .

kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemilahan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.penelitiannya. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. pemilahan.

dan tujuan penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).

Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Idealnya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.

Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. waktu pelaksanaan. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Merujuk pada potensi teks tersebut.. dsb. ciri. pengembangan penelitian sejenis.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. keinginan. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. .1. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Latar Belakang . samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . referensi yang memadai. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. keberanian. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP.. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.

fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. 2. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Namun demikian. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tampak 98 . Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. berpikir logis. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.

menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. dan penelusuran tema dan amanat. latar) 3. alur. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. 4. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. struktur cerita yang terbentuk. keterjalinan antarunsur cerita. 99 .

seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Dalam hal ini . Cermati contoh berikut: 1. 5. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. misalnya 100 . Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4.Berdasarkan upaya tersebut.

(2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Oleh karena itu. Penjabarannya menjadi. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. alur. Paham struktural objektif. menempatkan teks secara otonom. Struktur dinamik. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. antar hubungan. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. 101 .

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. pemilihan data. padu. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Dengan demikian. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. dll. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. identifikasi masalah. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. tempat. dan analisis data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dan menyeluruh. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . sosial). pengolahan data.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran.

teoretis. 5.tingkat kepekaan literer. kajian struktural objektif b. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. teori. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan metodologis. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . dan fungsional. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. sistematis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. kajian struktural genetik c. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. kajian struktural naratif d. dan metode kajian.

latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. kurang memadai. semendetail. 2003:112). 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. seteliti. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. identifikasi masalah. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Uraian landasan teori tampak 104 . dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Berdasarkan contoh di atas.

metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. 5. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kelemahan lain. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.

106 . dan amanat dapat terungkap secara tepat.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. fenomena. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian.1. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). tema. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dan menginterpretasikan data (Winarno. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. keterjalinan unsur. unsurunsur karya. Dengan demikian. 1980: 139). mengklasifikasikan . sifat. menyusun. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. fakta. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. sejumlah data. menganalisis. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. sifat.

Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. semendetail. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. Dalam hal ini. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. penyusun UP tersebut cukup 107 . dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a.b. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. b dan c. seteliti. dan (4) tema dan amanat. dan latar. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. (2) struktur cerita. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. plot/alur.

Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Misalnya saja. Namun demikian. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b.

surrise. Demikian pula pada pembicaraan latar.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. kepadatan. kesatupaduan) sebagai instrumen. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. jumlah. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. d. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. tempat. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. seperti pengeplotan. dan sosial? c. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Pada unsur-unsur cerita lainnya. b. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . suspense.

Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Adapun dalam penentuan amanat. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .

Dengan demikian. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

Jan van.). S. dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Pengantar Ilmu Sastra. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. 1999. “Strukturalisme-Genetik. Jakarta: Gramedia. M.” Makalah. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.H. 2001. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. ed. Wlfgang. The Act of Reading. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.W. Irena R. Norton & Company Inc. 1987.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Hans Robert. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. “Sastra Lisan. Pengantar Sosiologi Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Iser. (ed. Abrams. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.) 1993. 1994. W. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Chamamah. Luxemburg. 1983. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Toward an Aesthetic of reseption. Jauss.” Makalah. Makaryk. 1999. 1989. Imran T. New York: The Norton Library.

dkk. Bandung: Eresco. 1985. Sayuti. Fatimah Djajasudarma. Metode Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. V. “Strukturalisme”. 19. ------------------------------. Kritik Sastra Indonesia Modern. 1985. Zaimar. Teori Pengkajian Fiksi. Penelitian Sastra: Teori. Moh. Tata Sastra. Selangor: Sain Baru Sdn. Jakarta: Pustaka Jaya T. Sastra dan Ilmu sastra. 1993. 2000. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Jakarta: Djambatan. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 2002. A. 1987. ed. Metodologi penelitian Kualitatif.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Morfologi Cerita Rakyat.Muhadjir. 1999. Yogyakarta: Gama Media Propp. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Makalah. Pradopo.Bhd. Burhan. Yogyakarta: AdiCita Teeuw.). Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Diterjemahkan oleh Suminto A. 1984. dan Teknik. Todorov. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Metode Penelitian Linguistik. Jakarta: Gramedia Wuradji. “Pengantar Penelitian. Nyoman Kutha. 2002. Metode. Rachmat Djoko. Diterjemahkan oleh Okke K. 1995. Segers. 2001.S. Tzvetan. Rien T. Wellek. Rene & Austin Warren. Noeng. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. 2004.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful