P. 1
A49DB372d01

A49DB372d01

|Views: 133|Likes:
Published by labib ortega

More info:

Published by: labib ortega on Jan 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik
  • 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian
  • 2.1 Penelitian dan Ilmu
  • 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan
  • 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian
  • 2.4 Penggolongan Penelitian
  • 2.5 Metode Kualitatif
  • 2.6 Metode Deskriptif
  • 3.1 Sastra sebagai Sistem
  • 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian
  • 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra
  • 3.4.1. Pengertian Pendekatan
  • 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif
  • 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik
  • 3.4.2.4 Pendekatan Objektif
  • 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan
  • 4.2 Teori Formalisme
  • 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik
  • 4.4 Semiotik
  • 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan
  • 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif
  • 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia
  • 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial
  • 4.5.5 Metode Dialektik
  • 4.6 Naratologi
  • 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya
  • 4.6.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya
  • 4.6.2.1 Vladimir Propp
  • 4.6.2.3 Tzvetan Todorov
  • 4.6.2.4 Greimas
  • 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian
  • 5.1.1 Latar Belakang Masalah
  • 5.1.2 Identifikasi Masalah
  • 5.1.3 Tujuan Penelitian
  • 5.1.4 Landasan Teori
  • 5.1.5 Metodologi
  • 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian
  • 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis
  • 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode
  • DAFTAR PUSTAKA

METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.6. 5.........4 Greimas ……………………………………………....1..........1..2 Levi’Strauss ………………………………………… 4...2.. 5....3 Tujuan Penelitian …………………………………………......2......... 83 5.......4 Landasan Teori …………………………………………… 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.....6.2.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5..1...... 5.......4.... .....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4....6...1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.2 Identifikasi Masalah ………………………………………......5 Metodologi ………………………………………………… 5...1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ... 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.........1..1...

Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. Selain itu. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. hakikat.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. sastra dalam penelitian ilmiah. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. relevansi metode dan penelitian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian.

Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Agustus 2007 Penyusun ii . penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengan demikian. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.

metode. Metode. sesudah. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi.1 Pengertian. cara. 3. Hakikat Metodologi. melalui. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. mengikuti. Dalam pengertian yang lebih luas. metode dianggap sebagai cara-cara.BAB I PENDAHULUAN 1. 2. Teknik berasal dari kata teknikos. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. strategi untuk memahami realitas. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. atau seni menggunakan alat. yang berarti alat. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. sedangkan hodos berarti jalan. arah. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Metodologi berasal dari methodos dan logos.

artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. perumusan masalah. dan (3) sadar teknis. dan kerangka pemikiran penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. (2) sadar teoritik. 2 . Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. 1.

Dengan prosedur kerja yang baik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. bukanlah karena perbedaan metode. membangun konsep dan model. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. induksi dan deduksi. eksplanasi dan interpretasi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Klasifikasi. mengadakan pengujian teori. misalnya. 3 . sampling. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. menganalisis data. merumuskan hipotesis dan permasalahan. komparasi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. kuantitatif dan kualitatif. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. termasuk ilmu humaniora. Sebagai alat. sama dengan teori. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. deskripsi. dan akhirnya menarik kesimpulan. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. menyusun proposal.

komparasi. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. melalui cara: 1. Metode deskripsi. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. jelas berbeda. dan sebagainya. angket. Metode sering disebutkan sebagai teknik. teknik dapat dideteksi secara inderawi. misalnya: wawancara.Berbeda dengan metode. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. Sebagai instrumen penelitian. Dengan demikian. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . struktural. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. teknik berhubungan dengan data primer. kuesieoner. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Artinya. statistik. dokumen. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. tetapi dasar dan cara pemahamannya. teknik kartu data. bahkan juga dengan teori. rekaman. Sebagai alat. teknik bersifat paling kongkret.

metode. dan teknik. Jadi. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. struktur disebut sebagai metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. metodologi. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 5 . Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. 3. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. teori. Tetapi sebelumnya. 2. metode dapat menjadi teori.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri.menerus. 9 . Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi.

Sebagai akibatnya. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Jadi. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Hubungannya dengan ilmu. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. kecermatan. atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. 10 . penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. dan kecerdasan yang memadai. ilmu dapat hidup.

upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Oleh karena itu. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. practicial objective. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. scientific objective. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. 1985: 9-15). dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Kedua. terutama yang berkaitan 11 .berkembang. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Oleh karena itu pula. sistematis. Dalam menghadapi masalah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Pertama.

Kaitannya dengan kehidupan ilmu.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. teori-teori. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. yaitu penelitian sastra. nalar. Urutan umum dari proses 12 . Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). dan sesuai dengan objeknya.

Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. dan penyajian kesimpulan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. analisis data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Oleh karena itu. dan spiritual. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalah yang dihadapi. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. manusia mencari tahu dan mencari makna. emosional. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. social. penelaahan informasi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Di samping itu. fakta. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. pengumpulan data.

Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. otoritas. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. atau penelitian. menggambarkan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. 14 . intuasi. atau pendapat umum. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. melakukan kegiatan penemuan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. kemudian melakukan proses penemuan. atau memperkaya teori yang sudah ada. penyelidikan. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). dan menafsirkan apa yang diamati. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh.

Oleh karena itu. Pertama. Kedua. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Dalam hal ini. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.

Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. serta membantu dalam menginterpretasi data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. pengembangan instrumen. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengajuan hipotesis. Teori dapat membantu merumuskan problem. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . Penelitian akan menghasilkan teori.berhubungan). penyusunan design. pengumpulan dan analisis data.

landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dituntut langkah-langkah berturut-turut. dan menyimpulkan. menginterpretasi. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. komunikasi. Dalam kerja penelitian. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. Dalam penelitian ilmiah. 2. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. (4) merumuskan hipotesis. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. terorganisir. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. yaitu: 1. ilmu-ilmu humaniora. (3) mengadakan studi pustaka. (5) mengumpulkan data. (3) menggunakan prinsip analisis. 3. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (7) menganalisis dan 17 . (6) mengolah data.ilmiah. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. menganalisis. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (2) bebas prasangka.

18 . produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.menginterpretasi. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Demikian pula. (9) menarik kesimpulan. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian.

menghasilkan pengetahuan yang: a. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. sistematis 2. didukung data empiris 19 . realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1.

Charters. (bandingkan Nazir. yaitu : 1. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut.2. 1885. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Berdasarkan desain metodologinya. dan Whitney. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Ratna. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2004. dan Muhadjir.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.

4. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. 5. 2. 3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Macam-macam 21 . Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 6. content analysis. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.

Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . fotografi. 22 . sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. laporan. biografi. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Immanuel kant. grafik. Sejalan dengan uraian di atas. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. 2. surat kabar. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. gambar. dan majalah. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. 2.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. 2004: 47-49). film. Dalam ilmu sastra. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. sesuai dengan hakikat objek. Dalam ilmu sosial. buku teks. buku harian. lukisan. yaitu sebagai studi kultural. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.

desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. 5. suatu set kondisi. Menurut Whitney (dalam Nazir. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. sikap-sikap. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. penelitian bersifat alamiah. Adakalanya peneliti 23 . gambaran atau lukisan secara sistematis. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 4. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. suatu objek. pandangan-pandangan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. 2. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.3.

ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. kriteria umum: 1. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. masalah yang dirumuskan harus patut. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.

variabel dilihat sebagaimana adanya. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 .5. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. kriteria khusus 1. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. B. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. 3. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6.

3. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9.

subjek penelitian dapat saja individu. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. kelompok. 27 .hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. maupun masyarakat. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Dalam studi komparatif ini. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Lotman. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Riffaterre. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Eliis. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Menurutnya. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Eagelton. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. ekonomi. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. 29 . dan keagamaan. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Plark. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. dan Teeuw. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial.

Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). yaitu berupa bahasa. 30 . Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. di antaranya dari sisi bahan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Sebagai satu sistem. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. secondary modelling system. Melalui sistem sastralah. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua.

visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. yaitu pembacanya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. 3. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. kerja yang objektif. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Dalam hal ini. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dengan demikian. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.

Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. 32 . keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Namun. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Dalam hal ini. sejumlah peralatan diperlukan. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur.perspektif. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan.

jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Bagi ilmuwan.3. model. pola. unsur dalam diri sendiri 2. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. 2004: 21). Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. sebagai berikut: 1. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Tanpa paradigma. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek.

Selanjutnya. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. dan sebagainya. maka teori pun juga beraneka ragam. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. imajinasi. Di satu pihak. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. tersistem. 34 . antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Di pihak lain. Jadi. sebagai cara pandang. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Contohnya.yang relatif sama. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Dalam penelitian sastra. bahkan khayalan. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian.

penelitian adalah penilaian. keseluruhan proses penelitian.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. faktor epistemologis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. teori. secara kualitatif. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. mengkondisikan ilmuwan sastra. termasuk metode. Keempat faktor tersebut adalah: 1. faktor aksiologis. Pada gilirannya. periode. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. faktor metodologis. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. khususnya sastra. faktor ontologis. dan teknik. metode. dalam ilmu humaniora. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. 35 . objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. Paradigma dengan demikian mendahului. teknik dan proses selanjutnya.

demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. kecuali referensi estetisnya. Perbedaannya. novel. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. dan berbagai paham yang lain. Dengan kalimat lain. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. 36 . Novel sejarah. aliran. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. dan drama. psikologis dan ilmu pengetahuan. puisi. latar tempat dan waktu. novel psikologis. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Keseluruhan unsur. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. termasuk tokoh-tokoh. drama bersajak. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. psikologis. Puisi.generasi.

4. dan menyajikan data.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. yaitu metode dan teknik. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.4 Pendekatan Sastra 3. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Lebih lanjut. 2004: 5355). Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. 3. menganalisis. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. approach. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. pendekatan berasal dari kata appropio. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.1. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. 37 . Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.

pendekatan objektif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. (2) pendekatan mimesis. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. dasarnya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. mimetik. 38 . pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu.4. Dalam hubungan inilah. seperti pendekatan sosiologi sastra. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. teori. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Artinya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. (3) pendekatan pragmatik.dan sebagainya. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. dan tekniknya. intrinsik dan ekstrinsik. pragmatik.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. mitopoik. dan (4) pendekatan objektif. 3. ekspresif. metode.

3. Secara metodis. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. ucapan. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. pikiran dan perasaan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.4. nasionalisme. dan hasil-hasil karyanya. feminisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. persepsi. pikiran-pikiran. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. komunisme. (3) produk pandangan dunia pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan 39 .2.

(2) memetakan sejumlah pikiran. sesuai tujuan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. 1989:15). dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 40 . secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. pengalaman hidup. dan ideologi pengarang.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya.2. perasaan. Melalui pandangan ini. 1958:8). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. persepsi. pikiran. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 3. bentuk-bentuk kemasyarakatan. pengalaman. dan sebagainya Luxemberg. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba.4. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.

suatu produk akhir. Secara terminologis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut Baxter. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Segers (2000. suatu copy. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. suatu proses. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. tetapi penekanannya berbeda.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Tiruan. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Menurutnya. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil.

dsb. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. sesuai tujuan. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Secara metodis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. 42 . misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis.. Oleh karena itu. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Melalui penjabaran di atas. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.

Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. (2) penerapan praktis estetika resepsi.3. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. menafsirkan. pembacalah yang menilai. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. dan memahami karya sastra. Dalam uraiannya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya. menikmati. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca.4. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pembaca dalam 43 . yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Menurutnya.2. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.

Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (2) horison harapan. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (4) semangat zaman. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (3) nilai estetik. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Dalam hal ini. dan (7) sejarah umum. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Baru dalam kaitannya dengan pembaca.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (5) rangkaian sastra.

Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Dengan kondisi tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman.informasi. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Teori menuntut 45 .

atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. satirik. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. diidealkan. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Fungsi sosial sastra 46 .

Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. rol. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. historis. Konsekuansinya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. 1987: 20 dan 54). dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan literary strategies Implied reader merupakan model. literary repertoire. pembaca. dan interaksinya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya.

seperti aspekhistoris. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. 48 .2. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.4. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah. termasuk biografi. politis. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. dan totalitas. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. 3. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. sosiologis.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. antarhubungan. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Dengan demikian. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.

dan latar). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Secara metodologis. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan sarana cerita (pusat pengisahan. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. alur. konflik. dll. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Adapun terhadap prosa. fakta cerita (tokoh. 49 . Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra.). sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. gaya bahasa. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.Pada analisis prosa. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya. 50 . tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.

1995: 4-12. terlepas dari 51 . apabila suatu bagian dihilangkan. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Hawkes. Selain itu. dan Teeuw. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. melainkan kualitatif. Artinya. 1978: 17-18. Faruk. melainkan rusak sama sekali. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. mekanisme sendiri. dan Faruk: 1994: 17-18. 1999: 1-9. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya.BAB IV STRUKTURALISME 4. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. 1984: 120139). Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang.

dan self-regulatif. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. motivator terjadinya gejala baru. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. sesuatu yang utuh. Formalisme di Rusia.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sebagai kualitas totalitas. sesuatu yang berstruktur. Karena itu. Aliran Kritik Baru di Amerika. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. mengembangkan. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. transformatif. Dengan kata lain. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. mekanisme yang baru. Artinya. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. otonom. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. antarhubungan merupakan energi. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula.

Karya tidak dapat diisolasi. latar. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Di pihak lain. dan sebagainya.sebagai sistem komunikasi. suatu masyarakat. Dengan kata lain. Sejalan dengan uraian di atas. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. misalnya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. plot. Analisis terhadap penokohan. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. 53 . tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. seperti kejadian. Namun demikian. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.

Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. 1985: 128-13. reaksi terhadap studi biografis 2. Meskipun demikian. oposisi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. sosiologi.4. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Dengan jalan demikian. dan psikologi. yaitu: 1. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Sebagai teori modern mengenai sastra. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan sebagainya.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. Metode yang digunakan metode formal. puitika. asosiasi.

Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Muhadjir. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. terdiri atas tanda. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. fakta semiotik. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Pradopo 2002: 46. melahirkan strukturalisme. dan (3) sebagai teori. karya sastra adalah proses komunikasi. dan nilai-nilai. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. masyarakat yang menghasilkannya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. struktur. 55 . 4. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 2002: 304). (2) sebagai metode. Oleh karena itulah. dan pembaca sebagai penerima. Menurutnya. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 2003: 88-96. 1985: 185-192. dan Ratna.

nada. puisi. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. peristiwa. Artinya. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. dan enjambemen. puisi. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. ritme atau irama. rima atau persajakan. tujuan analisis di lain pihak.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Prosa. dialog. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. latar atau setting. Unsurunsur prosa. simbol. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. imajinasi. latar. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. penokohan. di antaranya tema. sudut pandang. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. alur. dan gaya bahasa. misalnya mengarah pada tema. Unsur-unsur puisi. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . diksi atau pilihan kata. peristiwa atau kejadian. dan gaya bahasa. stilistika. alur. penokohan.

Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. karya sastra. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. 57 .sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dalam hubungan ini. dan pendengar. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak semau-maunya. Jadi. yaitu pencerita. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya.

strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. aliran semiotik. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yang merupakan bentuk tanda. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna.4 Semiotik Secara padat Dolezel. dan simbol. indeks. arti bahasa dalam 58 . Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Stout (dalam Makaryk. latar belakang sejarah pertumbuhannya.4. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam lapangan semiotik. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Menurutnya. antara penanda dan petanda. yaitu ikon. Ada tiga jenis tanda yang pokok. pengertian tanda ada dua prinsip. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. 1993: 183-189). yaitu persamaan dan sebab akibat.

Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. suasana. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Jadi. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. arti tambahan (konotasi). maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Dalam sistem semiotik. daya liris. intensitas. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. perasaan.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Dalam kaya sastra. Berhubungan dengan hal ini.

sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. (2) semantik semiotik. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Menurut pandangan intertektualitas. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. dan (3) pragmatik semiotik. atau yang lain. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. termasuk sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. terdapat (1) sintaksis semiotika. Sejalan dengan paham triadik peircean.

argument. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. c. dan interpretant. representamen. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. ground. interpretant. tokens. referent). Di antara representamen. sinsigns. b. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. qualisigns. Menurut Aart van Zoet (Ratna. 61 . hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. yaitu apa yang diacu: a. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. denotatum. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. ikon. object. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran.1. 2004: 102) di antara ikon. b. rheme. b. c. c. legisigns. object (designatum. yang paling sering diulas adalah object. dicent signs. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. simbol. 2. type.

dan simbol. Teks sastra kaya dengan ikon. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 4. dan Faruk. (b) semestaan (mimetik). Sebagai strukturalisme. termasuk karya sastra. 62 . yang terpenting adalah ikon. Kellner dalam makaryk. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Karena itu. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Alasannya. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. dan (d) objektif (otonom). 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. di lain pihak.indeks.5. (c) pembaca (pragmatik). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. yaitu (a) pengarang (ekspresif). sebagai struktur. 1993: 95-99. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1993: 340-341. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur.

mempunyai kebutuhan tidak terbatas. yaitu melakukan transformasi atas alam. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Menurut Marxis. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Oleh karena itu. Untuk melakukan transformasi atas alam. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya.5. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. 4. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Karena itu. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. melainkan kelas sosial. Karya-karya kultural yang besar. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.

Karena itu. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. seperti kelompok profesi. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. kelompok etnis. ras. dan sebagainya. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pendidikan. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Dalam pengertian strukturalisme genetik.

ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. dan sebagainya. Namun.5. Hanya beberapa di antaranya. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. seperti strukturalisme. Greimas. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Dalam pandangan strukturalisme genetik. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Todorov. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. bersifat mimetik.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . 4. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Dengan demikian.

Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. menurut strukturalisme genetik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain.semantik pula. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Struktur yang demikian. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama.

yang juga berstruktur. Menurut paham tersebut. Namun. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . 4. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik.5. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.

Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. subjek secara linguistik. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). atau sebaliknya. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. kisah. 4. sebagaimana hubungan antara subjek. demikian juga dengan wacana dan teks. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.6 Naratologi 4.dialektik. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Dengan demikian. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial.6. seperti model sintaksis. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. predikat. dan objek penderita. bukan 72 . Narratio berarti cerita. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. hikayat. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. perkataan. logos berarti ilmu.

dan ekonomi. bukan pengarang. politik. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. diceritakan oleh narator. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Revolusi. Pada pahan pascastruktural. tetapi juga melalui kata-kata. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. restorasi. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural.person. misalnya. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. sastra. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. analisis naratif merupakan bagian ideologi. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. bukan pengarang. dengan pertimbangan 73 . dan wacana. semboyan. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Setiap orang. melainkan melalui bahasa. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu.

unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. dan teks. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. tokoh-tokoh. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. novel juga merupakan objek yang paling memadai. pembaca. sudut pandang. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. wacana. Dalam karya sastra. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. 74 . baik sebagai penulis. Tanpa cerita. Di pihak lain. kebudayaan pun tidak ada. tema.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dilihat dari media yang tersedia. yaitu dunia fiksional. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. paling luas. dan gaya bahasa. Hampir keseluruhan genre sastra. Tanpa plot. latar. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. cerita sebagai tulang punggung karya.

periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. dan suara). Claude Bremond (struktur dan fungsi). fabula. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. lelucon. cerpen. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). yaitu: 1. text). story. Para pelopornya. durasi. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Mieke Bal (fabula. termasuk feminis dan psikoanalisis. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. catatan harian. Forster (tokoh bundar dan datar). text. Secara historis. puisi naratif. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). interdisipliner. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Henry James (tokoh dan cerita). biografi. dan sebagainya. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. mitos. Shlomith Rimmon-Kenan (story. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. frequensi. 1993: 110. Gerald 75 .Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Percy Lubbock (teknik naratif). juga roman. epik. Para pelopornya. Tzvetan Todorov (historie dan discours). narration). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. modus. gongeng.

dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Menurutnya. LeviStrauss. yaitu Propp.2. unit terkecil yang membentuk tema. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).6. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Oleh karena itu. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Todorov. Marry Louise Pratt (tindak kata). Jean-Francois Lyotard (metanarasi).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Propp 76 . Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Seymoeur Chatman (struktur naratif). pastiche). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Jacques Derrida (dekonstruksi).Prince (struktur narratee).6. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Artinya. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Hayden White (wacana sejarah). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. 4.

Bremond. dan Todorov. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Di sini. 77 . dan (7) pahlawan palsu. (6) pahlawan. (5) orang yang menyuruh. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Motif dibedakan menjadi tiga macam. persona bertindak sebagai variabel. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. yaitu: pelaku. (3) penolong. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. (4) putri dan ayahnya. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu: (1) penjahat. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (2) donor. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. perbuatan. Menurutnya. Dengan kalimat lain. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294).memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil.

bumi langit. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. mitos adalah naratif itu sendiri.4. dan sebagainya. dan incest. dan harus direkonstruksi melaluinya. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Dengan kalimat lain. melalui struktural. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. baik secara bulat maupun fragmentasi. Pendekatan antropologi sastra. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. khususnya konsep-konsep oposisi biner. 78 . khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dilakukan terhadap mitos Oedipus. Di satu pihak. seperti laki-laki perempuan. Menurutnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.6.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. tabu.2. misalnya.

Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. dan partisipasi. (2) aspek semantik. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Oleh karena itulah. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. 4. yaitu: kehendak. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. dan latar. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 .3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Menurutnya. dan sebaliknya. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. komunikasi. dan (4) aspek verbal. secara berdampingan. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. gaya bahasa. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. tokoh. yaitu (1) aspek sintaksis. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. berkaitan dengan makna dan lambang.6. meneliti tema.2. dan sebagainya.

2. tetapi diperluas pada mitos. Apel adalah sebagai objek. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. yaitu tata bahasa naratif universal. seperti: psikologi sastra. acteurs merupakan kategori umum. baik sebagai pengirim maupun penerima. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. yaitu dongeng. Yang ada hanyalah subjek. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. sosiologi sastra.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Tidak ada subjek di balik wacana. sastra sebagai proyeksi. 1999: 11-13.antarhubungan adalah kausalitas. Greimas (dalam Abdullah. 80 . studi biografi. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. kritik fenomenologis. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. 4. dll.6. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). John dan Paul juga merupakan pengirim. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Mary sebagai penerima. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal.

yaitu subjek dengan objek. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. dan ilmu sosial lainnya. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Actans merupakan struktur dalam. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan plot.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. dan struktur yang bersifat pemutusan. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. religi. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. pelaku. struktur yang bersifat penyelenggaraan. dan penolong dengan penentang. Oleh karena itu. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Cerita adalah bahan 81 . Sebaliknya. tek.

seperti ringkasan cerita atau sinopsis.kasar. sebagai model pertama. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. perangkat peristiwa. 82 .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. sistematis. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena.1. dan (c) peletak dasar 86 . Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Karenanya. dan fungsional. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. 5.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. untuk memisahkan kemenduaan.

Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. serta dana. waktu. pikiran. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. 87 . (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (4) masalah harus dapat duji. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri kedua yang menyangkut fisible.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. (3) masalah harus merupakan hal penting.

tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Dengan demikian. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. topik penelitian atau judul penelitian. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. 88 . Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. mengembangkan (develop atau extention). Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.1.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. hubungan antarunsur. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Berhubungan dengan penelitian sastra. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. dan totalitas di dalamnya. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.

dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian.1. 89 . jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. sistematis. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Secara ideal.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. 2001:2). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. lingkup masalah. 5. misalnya. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. berjumlah tertentu. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian.

Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. misalnya. Penerimaan yang dimaksud 90 . sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain.Dengan demikian. dan totalitasnya. Teori adalah alat. Dalam uraian landasan teori. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. sebagai akumulasi konsep. teori tidak harus dipahami secara kaku. Sebagai suatu cara pemahaman. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. diperlukan penerimaan positif. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. baik sebagai teori maupun metode. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam strukturalisme. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. khususnya analisis fiksi. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Dalam kerangka strukturalisme. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. antarhubungan. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah.

Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . 5. Sebaliknya. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. Atau dengan kalimat lain.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data.1. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.mengarah kepada keteraturan.

Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Dengan kata lain. padu. Sejalan dengan uraian di atas. Penentuan data berdasarkan perilaku. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dan hubungan antarunsur. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. ciri. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. (2) kategori harus lengkap. pemilihan. hubungan simetris 92 . Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. demi pemahaman identitas data penelitian. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. sistematik. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. dsb. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis.(pendekatan) linguistik.

dan faktor kebetulan. Sejalan dengan uraian di atas.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 2. 3. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. hubungan saling mempengaruhi. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama.

kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan pengolahan data secara sistematis. pemilahan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti.penelitiannya. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan.

masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.dan tujuan penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.

pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Idealnya. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh.

waktu pelaksanaan. Merujuk pada potensi teks tersebut. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.1. ciri. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. . penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .. referensi yang memadai.. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. keberanian. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian... dana yang tersedia. keinginan. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. dsb.. kepahlawanan dan petualangan. Latar Belakang . pengembangan penelitian sejenis.

jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. tampak 98 . Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. berpikir logis. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Namun demikian. 2. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana.

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. alur. 4. latar) 3. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. dan penelusuran tema dan amanat. 99 . Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. keterjalinan antarunsur cerita.

Berdasarkan upaya tersebut. 5. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Dalam hal ini . Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. misalnya 100 . mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Cermati contoh berikut: 1. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.

misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. antar hubungan. Oleh karena itu. Struktur dinamik. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. alur. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. menempatkan teks secara otonom. Paham struktural objektif. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. 101 . Penjabarannya menjadi. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik).

(4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. identifikasi masalah. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. dll. pemilihan data. Dengan demikian. dan menyeluruh. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . sosial). padu. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. tempat. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pengolahan data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan analisis data.

teori. dan metode kajian. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural genetik c. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. pada langkah penyusunan Landasan Teori.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teoretis. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural objektif b.tingkat kepekaan literer. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. 5. dan fungsional. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. kajian struktural naratif d. dan metodologis. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. sistematis. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya.

latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. seteliti. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. semendetail. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. identifikasi masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Berdasarkan contoh di atas. 2003:112). Uraian landasan teori tampak 104 . dan tujuan penelitian tertentu. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. kurang memadai. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.

5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5. Kelemahan lain. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.

contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. tema. 106 . unsurunsur karya. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). menganalisis. menyusun. mengklasifikasikan . sifat. keterjalinan unsur. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. fakta. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. fenomena. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan menginterpretasikan data (Winarno. Dengan demikian. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel.1. dan amanat dapat terungkap secara tepat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. 1980: 139).1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sejumlah data. sifat.

(3) keterjalinan antarunsur dalam novel. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan latar. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. seteliti. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1.b. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. b dan c. (2) struktur cerita. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. plot/alur. penyusun UP tersebut cukup 107 . Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. semendetail. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. dan (4) tema dan amanat. Dalam hal ini. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan.

kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. plot/alur. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Namun demikian. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Misalnya saja. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.

tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. Demikian pula pada pembicaraan latar. b. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. kesatupaduan) sebagai instrumen.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. seperti pengeplotan. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. surrise. jumlah. kepadatan. Pada unsur-unsur cerita lainnya. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. dan sosial? c. suspense. tempat. d.

Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.

******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

). 1989. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Abrams.” Makalah. 1999. ed. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. New York: The Norton Library. Norton & Company Inc. dkk.) 1993. Jauss.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Luxemburg. 1999. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.W. 1994. (ed. 1987. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. “Sastra Lisan. W. 2001. Imran T. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.H. Hans Robert. Pengantar Ilmu Sastra. Toward an Aesthetic of reseption. Chamamah. S. Pengantar Sosiologi Sastra. Wlfgang. Makaryk. 1983. M. “Strukturalisme-Genetik. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.” Makalah. Jan van. Jakarta: Gramedia. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Iser. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Irena R. Minneapolis: University of Minnesotta Press. The Act of Reading. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .

Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Metodologi penelitian Kualitatif. Metode Penelitian. Metode Penelitian Linguistik. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 19. Metode. 2001. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 1993. Teori Pengkajian Fiksi. Jakarta: Pustaka Jaya T. Fatimah Djajasudarma.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Todorov. Morfologi Cerita Rakyat. Noeng. 2004. ------------------------------. V. Jakarta: Gramedia Wuradji. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tata Sastra. Selangor: Sain Baru Sdn. Tzvetan. Nyoman Kutha. Yogyakarta: Gama Media Propp. Diterjemahkan oleh Okke K. 1984. 2000. Moh. 1985. “Strukturalisme”. 1999. Sastra dan Ilmu sastra. 2002. dan Teknik. Rene & Austin Warren. Bandung: Eresco. Jakarta: Djambatan. Pradopo. Zaimar. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. dkk. Wellek. Sayuti.Muhadjir. 1985. Makalah. Penelitian Sastra: Teori.Bhd. Rien T. 2002.S. 1987. Evaluasi Teks Sastra. “Pengantar Penelitian. Rachmat Djoko. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 .). Segers. A. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1995. Burhan. Diterjemahkan oleh Suminto A. Kritik Sastra Indonesia Modern.

114 .

115 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->