METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

....1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .....2.....6.4 Greimas ……………………………………………........... .1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5..............2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.......4...6.1.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah...2 Identifikasi Masalah ………………………………………...2...6.....1.. 5..... 5..1.......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.3 Tujuan Penelitian ………………………………………….......2... 5.... 5.1..1.....5 Metodologi ………………………………………………… 5.4 Landasan Teori …………………………………………… 5....4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .. 83 5............3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...

Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. i . Selain itu. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. relevansi metode dan penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. hakikat. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme.

. Agustus 2007 Penyusun ii . teori. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Dengan demikian. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.

Metodologi berasal dari methodos dan logos. metode dianggap sebagai cara-cara. Dalam pengertian yang lebih luas. cara. mengikuti. arah. 3. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. sedangkan hodos berarti jalan.1 Pengertian. strategi untuk memahami realitas.BAB I PENDAHULUAN 1. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Metode. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. sesudah. 2. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. yang berarti alat. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. metode. atau seni menggunakan alat. melalui. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Hakikat Metodologi. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Teknik berasal dari kata teknikos.

1. dan kerangka pemikiran penelitian. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. dan (3) sadar teknis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 2 . (2) sadar teoritik. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. perumusan masalah. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis.

termasuk ilmu humaniora. dan akhirnya menarik kesimpulan. komparasi. sama dengan teori. deskripsi. mengadakan pengujian teori. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Klasifikasi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. induksi dan deduksi. membangun konsep dan model. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. 3 . Metodologi jelas mengimplikasikan metode. eksplanasi dan interpretasi. menganalisis data.Dengan prosedur kerja yang baik. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Sebagai alat. kuantitatif dan kualitatif. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sampling. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. bukanlah karena perbedaan metode. menyusun proposal. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. misalnya. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus.

dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. rekaman. Dengan demikian. kuesieoner. statistik. angket. melalui cara: 1. teknik berhubungan dengan data primer. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Sebagai alat. Metode sering disebutkan sebagai teknik. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . dan sebagainya. tetapi dasar dan cara pemahamannya. teknik bersifat paling kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. struktural. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Sebagai instrumen penelitian.Berbeda dengan metode. Metode deskripsi. misalnya: wawancara. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. teknik kartu data. komparasi. Artinya. dokumen. jelas berbeda. bahkan juga dengan teori. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan.

sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. teori. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. 2. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. 5 .Pada pembicaraan yang berbeda. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. struktur disebut sebagai metode. Jadi. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. 3. metode. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. metodologi. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. dan teknik. metode dapat menjadi teori. Tetapi sebelumnya.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.menerus. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. d. 9 .atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.

BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. dan kecerdasan yang memadai. ilmu dapat hidup. atau pencarian kembali atas suatu objek. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. kecermatan. Jadi. Hubungannya dengan ilmu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. 10 .

kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. scientific objective. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Kedua. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. practicial objective. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam.berkembang. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Oleh karena itu pula. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Oleh karena itu. 1985: 9-15). Dalam menghadapi masalah. terutama yang berkaitan 11 . Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Pertama. sistematis.

dan sesuai dengan objeknya. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep.dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Urutan umum dari proses 12 . nalar. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. teori-teori. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. yaitu penelitian sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.

dan spiritual. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. analisis data. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. penelaahan informasi. Oleh karena itu. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . social. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. emosional. Di samping masalah yang dihadapi. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping itu. dan penyajian kesimpulan. pengumpulan data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. fakta.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. manusia mencari tahu dan mencari makna. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual.

orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. kemudian melakukan proses penemuan. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. atau memperkaya teori yang sudah ada. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. otoritas. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. melakukan kegiatan penemuan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. dan menafsirkan apa yang diamati. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. penyelidikan. atau penelitian. atau pendapat umum. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. 14 . Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). menggambarkan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. intuasi.

Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 .Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Pertama. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Kedua. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Dalam hal ini. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Oleh karena itu. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.

Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. serta membantu dalam menginterpretasi data. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengembangan instrumen. penyusunan design. Teori dapat membantu merumuskan problem. pengajuan hipotesis. Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. pengumpulan dan analisis data.

Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. menginterpretasi. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. 2. (3) mengadakan studi pustaka. ilmu-ilmu humaniora. dan menyimpulkan. (5) mengumpulkan data. (2) bebas prasangka. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. 3. (7) menganalisis dan 17 . terorganisir. Dalam kerja penelitian. yaitu: 1. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (3) menggunakan prinsip analisis. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (6) mengolah data.ilmiah. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). komunikasi. (4) merumuskan hipotesis. Dalam penelitian ilmiah. menganalisis. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan.

produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya.menginterpretasi. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. 18 . Demikian pula. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (9) menarik kesimpulan. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna.

menghasilkan pengetahuan yang: a. sistematis 2. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. d.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. didukung data empiris 19 .

Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. dan Whitney. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. 2004. dan Muhadjir. (bandingkan Nazir.2. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Charters. 1885. Ratna. Berdasarkan desain metodologinya. yaitu : 1.

penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Macam-macam 21 . content analysis. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 2. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 4. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 6. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 3. 5.

2004: 47-49). Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. buku teks. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Sejalan dengan uraian di atas. Dalam ilmu sastra. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. laporan. sesuai dengan hakikat objek. gambar. 22 . biografi. buku harian. Dalam ilmu sosial. 2. lukisan. 2. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Immanuel kant. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. yaitu sebagai studi kultural. dan majalah. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. film. grafik. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. fotografi. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. surat kabar. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif .dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis.

1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. penelitian bersifat alamiah. 4. 5. suatu set kondisi. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. sikap-sikap. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 2. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Adakalanya peneliti 23 . Menurut Whitney (dalam Nazir. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. gambaran atau lukisan secara sistematis. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. pandangan-pandangan.3. suatu objek.

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. masalah yang dirumuskan harus patut. kriteria umum: 1. Metode ini dinamakan juga studi status . ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.

tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. B.5. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. kriteria khusus 1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. variabel dilihat sebagaimana adanya. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. sifat penelitian adalah ex post facto. 3.

mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1.3. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji.

maupun masyarakat. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. subjek penelitian dapat saja individu.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. 27 . metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. kelompok. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. lembaga. Dalam studi komparatif ini.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Sastra mengandung sifat umum dan khusus. ekonomi. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eagelton. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. keberadaannya tidak merupakan keharusan.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Eliis. dan keagamaan. 29 . Plark. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Riffaterre. dan Teeuw.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Lotman. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Menurutnya. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra.

sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sebagai satu sistem. Melalui sistem sastralah. 30 . Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. secondary modelling system. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. yaitu berupa bahasa. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). di antaranya dari sisi bahan. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya.

kerja yang objektif. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. 3. Dengan demikian. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. yaitu pembacanya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dengan demikian. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Dalam hal ini. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .

Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. sejumlah peralatan diperlukan. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Namun. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat.perspektif. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Dalam hal ini. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. 32 . Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah.

paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. model. Bagi ilmuwan. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Tanpa paradigma. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. 2004: 21). baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. pola. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna.3. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. unsur dalam diri sendiri 2. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan.

Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. dan sebagainya. Di satu pihak. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. sebagai cara pandang. Contohnya. bahkan khayalan. Selanjutnya. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. maka teori pun juga beraneka ragam. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori.yang relatif sama. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di pihak lain. Jadi. imajinasi. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. tersistem. Dalam penelitian sastra. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. 34 . konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan.

metode. teori. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. mengkondisikan ilmuwan sastra. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. Paradigma dengan demikian mendahului. khususnya sastra. Pada gilirannya. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. 35 . baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. faktor epistemologis. penelitian adalah penilaian. secara kualitatif. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. keseluruhan proses penelitian. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. faktor aksiologis. faktor metodologis. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. termasuk metode. dan teknik.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. Keempat faktor tersebut adalah: 1. dalam ilmu humaniora. faktor ontologis. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. teknik dan proses selanjutnya. periode.

dan berbagai paham yang lain. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. psikologis dan ilmu pengetahuan. Keseluruhan unsur. novel. kecuali referensi estetisnya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. novel psikologis. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Puisi. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. psikologis. latar tempat dan waktu. dan drama. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Novel sejarah. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. 36 . termasuk tokoh-tokoh. Dengan kalimat lain. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. aliran. drama bersajak. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut.generasi. Perbedaannya. puisi.

sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. 2004: 5355).4. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. menganalisis. 3.1.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. pendekatan berasal dari kata appropio. yaitu metode dan teknik. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. dan menyajikan data. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Lebih lanjut. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. approach. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.4 Pendekatan Sastra 3. 37 . Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis.

2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. pendekatan objektif. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. pragmatik. (2) pendekatan mimesis. mitopoik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.4. 3. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. teori. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (3) pendekatan pragmatik.dan sebagainya. dan (4) pendekatan objektif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. dan tekniknya. mimetik. dasarnya. Artinya. intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. ekspresif. Dalam hubungan inilah. seperti pendekatan sosiologi sastra. 38 . Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. metode. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.

4. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. feminisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. pikiran dan perasaan. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran-pikiran.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.3. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. (3) produk pandangan dunia pengarang. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. nasionalisme. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Secara metodis. ucapan. komunisme. persepsi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran.2. dan 39 . dan hasil-hasil karyanya.

yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). 3. pengalaman. (2) memetakan sejumlah pikiran. bentuk-bentuk kemasyarakatan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan sebagainya Luxemberg. persepsi. Melalui pandangan ini. 40 . dan (4) membicarakan secara menyeluruh. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. perasaan. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. 1989:15). dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.4.2.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. pengalaman hidup. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. sesuai tujuan. dan ideologi pengarang. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. 1958:8). pikiran.

Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Menurutnya. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Segers (2000. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. suatu produk akhir. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurut Baxter. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Secara terminologis. tetapi penekanannya berbeda. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Tiruan. suatu proses. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . suatu copy. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan.

(3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal.. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dsb. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Melalui penjabaran di atas. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Secara metodis. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. sesuai tujuan. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Oleh karena itu. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. 42 . dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis.

secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Menurutnya.2. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. menikmati.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. pembacalah yang menilai.3. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. (2) penerapan praktis estetika resepsi. menafsirkan. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.4. Dalam uraiannya. Menurutnya. Pembaca dalam 43 . Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. dan memahami karya sastra. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.

dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Dalam hal ini. dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (2) horison harapan. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (3) nilai estetik. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . karya sastra mendapat makna dan fungsinya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (4) semangat zaman. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing.

Dengan kondisi tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya.informasi. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Teori menuntut 45 . Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman.

bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. diidealkan. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Fungsi sosial sastra 46 . satirik.

Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. dan interaksinya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. rol. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . 1987: 20 dan 54). dan literary strategies Implied reader merupakan model. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Konsep dialektika respon estetik (Iser.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. literary repertoire. Konsekuansinya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. pembaca. historis. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu.

4. 48 . dan totalitas. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. seperti aspekhistoris. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. termasuk biografi. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. politis.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams.2. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Oleh karena itulah. Dengan demikian. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. antarhubungan. sosiologis. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 3. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca.

konflik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. dll. fakta cerita (tokoh.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita.). Secara metodologis. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan sarana cerita (pusat pengisahan. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. gaya bahasa. dan latar). 49 . Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. alur. Adapun terhadap prosa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya.

tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya. 50 .

Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. apabila suatu bagian dihilangkan. Faruk. Artinya. 1999: 1-9. 1978: 17-18. dan Teeuw. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. dan Faruk: 1994: 17-18. melainkan rusak sama sekali. terlepas dari 51 . keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. mekanisme sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. 1984: 120139).BAB IV STRUKTURALISME 4. Hawkes. 1995: 4-12. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Selain itu. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. melainkan kualitatif.

antarhubungan merupakan energi. mengembangkan. mekanisme yang baru. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. dan self-regulatif. sesuatu yang berstruktur. motivator terjadinya gejala baru. Formalisme di Rusia. Karena itu. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Artinya. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. otonom. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Aliran Kritik Baru di Amerika. sesuatu yang utuh. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Dengan kata lain. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. transformatif. Sebagai kualitas totalitas.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar.

perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Analisis terhadap penokohan. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. latar. seperti kejadian. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Karya tidak dapat diisolasi. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Di pihak lain. plot. Namun demikian. Sejalan dengan uraian di atas. Dengan kata lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.sebagai sistem komunikasi. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat. dan sebagainya. misalnya. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. 53 .

Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Meskipun demikian. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Dengan jalan demikian. oposisi. Sebagai teori modern mengenai sastra. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. reaksi terhadap studi biografis 2. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. 1985: 128-13. Metode yang digunakan metode formal. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. asosiasi. yaitu: 1. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. dan sebagainya. sosiologi. dan psikologi. puitika.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah.4.

yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan pembaca sebagai penerima. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Menurutnya. 4. melahirkan strukturalisme. 1985: 185-192. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. (2) sebagai metode. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Muhadjir.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. fakta semiotik. dan (3) sebagai teori. Pradopo 2002: 46. dan Ratna. terdiri atas tanda. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. masyarakat yang menghasilkannya. 2002: 304). 55 . karya sastra adalah proses komunikasi. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. dan nilai-nilai. struktur. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. 2003: 88-96. Oleh karena itulah.

dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . penokohan. penokohan. dan gaya bahasa. tujuan analisis di lain pihak. ritme atau irama. alur. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. stilistika. nada. peristiwa atau kejadian. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Unsurunsur prosa. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. peristiwa. puisi. dan enjambemen. latar atau setting. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. sudut pandang. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dialog. alur. Prosa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur puisi. diksi atau pilihan kata. latar. simbol. rima atau persajakan. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dan gaya bahasa. di antaranya tema. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. misalnya mengarah pada tema. Artinya. imajinasi.

dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). karya sastra. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dalam hubungan ini. Jadi. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. 57 . Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. tidak semau-maunya. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. yaitu pencerita. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. dan pendengar.

aliran semiotik. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. pengertian tanda ada dua prinsip. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda.4 Semiotik Secara padat Dolezel. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yaitu ikon. Menurutnya. Stout (dalam Makaryk. latar belakang sejarah pertumbuhannya. indeks. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. dan simbol. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. antara penanda dan petanda. 1993: 183-189). Ada tiga jenis tanda yang pokok. arti bahasa dalam 58 . Dalam lapangan semiotik. yaitu persamaan dan sebab akibat. yang merupakan bentuk tanda.4. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.

Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Dalam sistem semiotik. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). daya liris. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. arti tambahan (konotasi). sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. intensitas. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. suasana. Jadi. Berhubungan dengan hal ini. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. perasaan. Dalam kaya sastra. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .

Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. terdapat (1) sintaksis semiotika. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. atau yang lain. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Menurut pandangan intertektualitas. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. dan (3) pragmatik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. (2) semantik semiotik. Dilihat dari segi cara kerjanya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Sejalan dengan paham triadik peircean. termasuk sastra. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.

61 . terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. ground. legisigns. c. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. dicent signs. dan interpretant. rheme. yang paling sering diulas adalah object. type. sinsigns. 2. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. object (designatum. b. argument. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tokens. referent). b. representamen. denotatum. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. interpretant. Di antara representamen. simbol. object. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. yaitu apa yang diacu: a. c. c. 2004: 102) di antara ikon. qualisigns. ikon. b. Menurut Aart van Zoet (Ratna.1. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns.

indeks.5. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. dan Faruk. yang terpenting adalah ikon. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 4. sebagai struktur. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 1993: 95-99. Sebagai strukturalisme. dan (d) objektif (otonom). Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. yaitu (a) pengarang (ekspresif). termasuk karya sastra. Kellner dalam makaryk. 62 . strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Karena itu. (b) semestaan (mimetik). Teks sastra kaya dengan ikon. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan simbol. Alasannya. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. di lain pihak. 1993: 340-341. (c) pembaca (pragmatik). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan.

yaitu melakukan transformasi atas alam. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Untuk melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Menurut Marxis. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. mempunyai kebutuhan tidak terbatas.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Karya-karya kultural yang besar. Karena itu. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. melainkan kelas sosial. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. 4. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis.5. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.

Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. seperti kelompok profesi. pendidikan. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. ras. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Karena itu. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Dalam pengertian strukturalisme genetik. dan sebagainya. kelompok etnis. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Karena itu. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain.

Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. dan sebagainya. Hanya beberapa di antaranya. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. bersifat mimetik. 4. Namun. Todorov. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Dalam pandangan strukturalisme genetik. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. seperti strukturalisme.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Greimas. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.5.

Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss.semantik pula. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. menurut strukturalisme genetik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Struktur yang demikian. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan.

pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Menurut paham tersebut. 4. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.5. yang juga berstruktur. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Namun. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.

Dengan demikian. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. bukan 72 . Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. 4. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. sebagaimana hubungan antara subjek. predikat. Narratio berarti cerita.dialektik. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. perkataan. seperti model sintaksis. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. atau sebaliknya. hikayat. demikian juga dengan wacana dan teks.6 Naratologi 4.6. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. kisah. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. logos berarti ilmu. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). dan objek penderita. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. subjek secara linguistik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya.

tetapi juga melalui kata-kata. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Revolusi. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. misalnya. restorasi. dengan pertimbangan 73 . diceritakan oleh narator. analisis naratif merupakan bagian ideologi. melainkan melalui bahasa. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik.person. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Pada pahan pascastruktural. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. bukan pengarang. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. sastra. bukan pengarang. dan wacana. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Setiap orang. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. politik. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. dan ekonomi. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. semboyan.

yaitu dunia fiksional. baik sebagai penulis. paling luas. pembaca. Hampir keseluruhan genre sastra. cerita sebagai tulang punggung karya. tokoh-tokoh. Tanpa cerita. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Dilihat dari media yang tersedia. sudut pandang. latar. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. dan gaya bahasa. novel juga merupakan objek yang paling memadai. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Di pihak lain. Dalam karya sastra. Dalam pembicaraan mengenai naratif. 74 . unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. wacana. tema. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. dan teks. kebudayaan pun tidak ada. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Tanpa plot. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian.

dan sebagainya. Gerald 75 . Forster (tokoh bundar dan datar). Shlomith Rimmon-Kenan (story. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). mitos. Percy Lubbock (teknik naratif). Henry James (tokoh dan cerita). Tzvetan Todorov (historie dan discours). text. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). puisi naratif. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). story. catatan harian. epik. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. termasuk feminis dan psikoanalisis. fabula. interdisipliner. lelucon. yaitu: 1. Secara historis.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. biografi. Mieke Bal (fabula. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Para pelopornya. juga roman. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. modus. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Claude Bremond (struktur dan fungsi).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). narration). Para pelopornya. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). cerpen. durasi. text). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. dan suara). gongeng. frequensi. 1993: 110. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra.

1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. LeviStrauss. Seymoeur Chatman (struktur naratif).Prince (struktur narratee). 4. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Propp 76 . Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Roland Barthes (Kernels dan satellits).6. Jonathan Culler (kompetensi sastra). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Hayden White (wacana sejarah). Marry Louise Pratt (tindak kata). unit terkecil yang membentuk tema.2. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Menurutnya.6. Oleh karena itu. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Jacques Derrida (dekonstruksi). pastiche). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Jean-Francois Lyotard (metanarasi).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Todorov. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. yaitu Propp. Artinya. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958.

tidak tergantung dari siapa yang melakukan. (4) putri dan ayahnya. persona bertindak sebagai variabel. yaitu: (1) penjahat. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. (5) orang yang menyuruh. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Dengan kalimat lain. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Menurutnya. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. perbuatan. dan (7) pahlawan palsu. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Bremond. Di sini. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dan Todorov. (2) donor. 77 .memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (3) penolong. yaitu: pelaku. (6) pahlawan.

tabu. dan sebagainya. dan incest. baik secara bulat maupun fragmentasi. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.4. Di satu pihak. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. dan harus direkonstruksi melaluinya. misalnya. Dengan kalimat lain. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos.6. bumi langit. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. khususnya konsep-konsep oposisi biner.2. mitos adalah naratif itu sendiri. 78 . seperti laki-laki perempuan. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Menurutnya. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. melalui struktural. Pendekatan antropologi sastra.

secara berdampingan. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. dan sebaliknya. yaitu (1) aspek sintaksis. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. dan sebagainya. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. meneliti tema.2. sebagai hubungan makna dan perlambangan. gaya bahasa. komunikasi. (2) aspek semantik. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Menurutnya.6. 4. Oleh karena itulah.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. yaitu: kehendak. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. berkaitan dengan makna dan lambang. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. dan partisipasi. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. dan latar. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. tokoh. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan (4) aspek verbal. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi.

manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. kritik fenomenologis. studi biografi. tetapi diperluas pada mitos. Tidak ada subjek di balik wacana. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal.antarhubungan adalah kausalitas. yaitu dongeng. 1999: 11-13. 80 .4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu.2. seperti: psikologi sastra.6. Greimas (dalam Abdullah. Mary sebagai penerima. yaitu tata bahasa naratif universal. baik sebagai pengirim maupun penerima. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Apel adalah sebagai objek. sastra sebagai proyeksi. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. John dan Paul juga merupakan pengirim. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. dll. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. sosiologi sastra. Yang ada hanyalah subjek. 4. acteurs merupakan kategori umum.

dan penolong dengan penentang.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Oleh karena itu. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. struktur yang bersifat penyelenggaraan. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Sebaliknya. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. dan plot. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. religi. dan ilmu sosial lainnya. Actans merupakan struktur dalam. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan struktur yang bersifat pemutusan. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. pelaku. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Cerita adalah bahan 81 . actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. yaitu subjek dengan objek. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. tek. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan.

82 . perangkat peristiwa. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.kasar. sebagai model pertama. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. sebagai model kedua.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

5. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. sistematis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.1. dan (c) peletak dasar 86 . Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan fungsional. untuk memisahkan kemenduaan. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Karenanya. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.

serta dana. waktu.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. (4) masalah harus dapat duji. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (3) masalah harus merupakan hal penting. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. pikiran. Menurut Nazir (1985: 134-135). Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. 87 . (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

dan totalitas di dalamnya. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Dengan demikian. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Berhubungan dengan penelitian sastra. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. 88 . masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. topik penelitian atau judul penelitian. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. hubungan antarunsur. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1.1. mengembangkan (develop atau extention). masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore).

Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. sistematis. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 5. Jika rumusan masalah yang dihasilkan.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Secara ideal. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. berjumlah tertentu. lingkup masalah. 2001:2).4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. misalnya. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. 89 .1.

Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Sebagai suatu cara pemahaman. khususnya analisis fiksi. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Penerimaan yang dimaksud 90 . teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori adalah alat. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Dalam kerangka strukturalisme. diperlukan penerimaan positif. sebagai akumulasi konsep. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. antarhubungan. Dalam strukturalisme. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. dan totalitasnya. teori tidak harus dipahami secara kaku. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. misalnya. Dalam uraian landasan teori. baik sebagai teori maupun metode. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya.Dengan demikian.

teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. 5.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Sebaliknya. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.mengarah kepada keteraturan.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Atau dengan kalimat lain. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.

(4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya.(pendekatan) linguistik. dan hubungan antarunsur. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. demi pemahaman identitas data penelitian. ciri. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. dsb. pemilihan. sistematik. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Dengan kata lain. Penentuan data berdasarkan perilaku. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. (3) kategori harus bebas dan terpisah. hubungan simetris 92 . kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Sejalan dengan uraian di atas. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. padu. (2) kategori harus lengkap. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu.

Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. Sejalan dengan uraian di atas. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 2. hubungan saling mempengaruhi. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dan faktor kebetulan. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. 3. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep.

kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . pemilahan. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian.penelitiannya. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan pengolahan data secara sistematis. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1.

5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian.dan tujuan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Idealnya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.

keinginan. keberanian. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. pengembangan penelitian sejenis. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. Latar Belakang .. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan.1. . apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. waktu pelaksanaan.. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. dsb. referensi yang memadai. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. ciri. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.. Merujuk pada potensi teks tersebut. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian.

kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. berpikir logis. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tampak 98 . Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. 2. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2.

Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. struktur cerita yang terbentuk. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. 4. 99 . peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. dan penelusuran tema dan amanat. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. latar) 3. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. keterjalinan antarunsur cerita.

1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.Berdasarkan upaya tersebut. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. misalnya 100 .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Dalam hal ini . penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. 5. Cermati contoh berikut: 1. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.

antar hubungan. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Penjabarannya menjadi. alur. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. 101 . Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks secara otonom. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Oleh karena itu. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Paham struktural objektif. Struktur dinamik. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita.

misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. sosial). (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Dengan demikian. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pengolahan data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . pemilihan data. dan analisis data. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. tempat. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. dll. padu. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. identifikasi masalah.

Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural genetik c. kajian struktural objektif b. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. 5. dan metode kajian. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teoretis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas).4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori. dan fungsional. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural naratif d. dan metodologis. sistematis. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian.tingkat kepekaan literer.

Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. seteliti. Berdasarkan contoh di atas. 2003:112).identifikasi masalah dan tujuan penelitian. identifikasi masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian landasan teori tampak 104 . Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. semendetail. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. kurang memadai. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.

metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Kelemahan lain. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. 5. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai.

keterjalinan unsur. fenomena.1. menganalisis. menyusun. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan amanat dapat terungkap secara tepat. fakta. sejumlah data. 1980: 139).1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sifat. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). sifat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. mengklasifikasikan . dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. unsurunsur karya. dan menginterpretasikan data (Winarno. 106 . Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. tema. Dengan demikian.

penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Dalam hal ini. penyusun UP tersebut cukup 107 . plot/alur. (2) struktur cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan latar. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan (4) tema dan amanat. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel.b. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. seteliti. b dan c. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. semendetail.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif.

? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Misalnya saja. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Namun demikian. plot/alur. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.

mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan sosial? c.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. b. d. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. jumlah. kesatupaduan) sebagai instrumen. Demikian pula pada pembicaraan latar. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. suspense. tempat. seperti pengeplotan. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Pada unsur-unsur cerita lainnya. kepadatan. surrise.

hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Adapun dalam penentuan amanat.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian. ******* 111 .

The Act of Reading. ed. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. “Sastra Lisan. Jakarta: Gramedia. 1999. 1999. dkk. 1989. Irena R.) 1993.H. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Luxemburg. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Abrams. (ed. New York: The Norton Library. S. 1994. 2001. Pengantar Sosiologi Sastra. M. “Strukturalisme-Genetik. Iser. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Minneapolis: University of Minnesotta Press. W. Hans Robert. Norton & Company Inc. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Imran T. Jauss.W. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Wlfgang. Toward an Aesthetic of reseption.” Makalah. 1983. Chamamah. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.). 1987.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Pengantar Ilmu Sastra. Makaryk. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Jan van.

dkk. Jakarta: Gramedia Wuradji. 1984. Jakarta: Pustaka Jaya T. Teori Kesusastraan. Wellek. Kritik Sastra Indonesia Modern. V. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1987. Teori Pengkajian Fiksi. 2004. 2002. Evaluasi Teks Sastra. 2002. Burhan. 2000. Selangor: Sain Baru Sdn. Tzvetan. Diterjemahkan oleh Suminto A. Rachmat Djoko. 1995. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1985.Muhadjir. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. dan Teknik. Metode. 1999. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Metodologi penelitian Kualitatif. Diterjemahkan oleh Okke K.Bhd. Fatimah Djajasudarma. Rien T. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Nyoman Kutha. Rene & Austin Warren. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Sastra dan Ilmu sastra. Morfologi Cerita Rakyat. Yogyakarta: Gama Media Propp. ed. A. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. “Strukturalisme”. Makalah. Penelitian Sastra: Teori.). 19. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Noeng. Sayuti. ------------------------------. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Moh. Pradopo. 2001. 1985. Zaimar. Todorov.S. Metode Penelitian Linguistik. Bandung: Eresco. “Pengantar Penelitian. Segers. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 1993. Metode Penelitian.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful