METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

..1....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4..4 Greimas …………………………………………….5 Metodologi ………………………………………………… 5......6.. 5...............6..2. 5.2.2 Identifikasi Masalah ……………………………………….............1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5....3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .1.........4 Landasan Teori …………………………………………… 5..... 5.4...4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4...1.....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….....2.... 83 5.. 5........1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ...1............6. ..2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.1......... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ..

hakikat.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Selain itu. sastra dalam penelitian ilmiah. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. relevansi metode dan penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. i . Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.

penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.. Dengan demikian. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori. Agustus 2007 Penyusun ii . dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.

arah. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. metode dianggap sebagai cara-cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. yang berarti alat. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metodologi berasal dari methodos dan logos. 2. metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Teknik berasal dari kata teknikos. 3. mengikuti. sedangkan hodos berarti jalan. melalui. Metode. Dalam pengertian yang lebih luas. Hakikat Metodologi. sesudah. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. strategi untuk memahami realitas. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. cara. atau seni menggunakan alat. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 .1 Pengertian.BAB I PENDAHULUAN 1.

Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. perumusan masalah. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. 2 . artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. (2) sadar teoritik.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 1. dan kerangka pemikiran penelitian. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. dan (3) sadar teknis. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.

Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. bukanlah karena perbedaan metode. sama dengan teori. kuantitatif dan kualitatif. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. induksi dan deduksi. komparasi. mengadakan pengujian teori. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. menganalisis data. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. dan akhirnya menarik kesimpulan. termasuk ilmu humaniora. Klasifikasi. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. membangun konsep dan model. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. menyusun proposal. sampling. eksplanasi dan interpretasi. 3 . metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. merumuskan hipotesis dan permasalahan. misalnya. Sebagai alat. deskripsi. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya.Dengan prosedur kerja yang baik. Metodologi jelas mengimplikasikan metode.

Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . melalui cara: 1. teknik bersifat paling kongkret. dokumen. teknik berhubungan dengan data primer. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Sebagai alat. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. misalnya: wawancara. komparasi. Metode deskripsi. teknik dapat dideteksi secara inderawi. statistik. bahkan juga dengan teori. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. angket. struktural. Sebagai instrumen penelitian. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Metode sering disebutkan sebagai teknik. rekaman.Berbeda dengan metode. Artinya. jelas berbeda. Dengan demikian. dan sebagainya. kuesieoner. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. teknik kartu data. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret.

Pada pembicaraan yang berbeda. metode. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sebelumnya. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Jadi. dan teknik. 5 . sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 3. metodologi. metode dapat menjadi teori. teori. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur disebut sebagai metode.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. yaitu sintesis itu sendiri. 9 .menerus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian.

10 . Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. dan kecerdasan yang memadai. atau pencarian kembali atas suatu objek. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Sebagai akibatnya. Jadi. kecermatan. Hubungannya dengan ilmu. ilmu dapat hidup. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.

yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. sistematis. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. practicial objective.berkembang. Dalam menghadapi masalah. Kedua. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. terutama yang berkaitan 11 . scientific objective. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Oleh karena itu. 1985: 9-15). Pertama. Oleh karena itu pula.

dan sesuai dengan objeknya.dengan pemanfaatan teori dan metode. teori-teori. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. nalar. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. yaitu penelitian sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Urutan umum dari proses 12 . yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula.

sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. dan spiritual. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. manusia mencari tahu dan mencari makna. penelaahan informasi. Di samping itu. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. emosional. social. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. pengumpulan data. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. analisis data. Oleh karena itu. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. fakta. Di samping masalah yang dihadapi. dan penyajian kesimpulan.

Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. intuasi. 14 . kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. menggambarkan. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. otoritas. dan menafsirkan apa yang diamati. melakukan kegiatan penemuan. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. atau memperkaya teori yang sudah ada. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. atau penelitian. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). penyelidikan. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. kemudian melakukan proses penemuan. atau pendapat umum. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas.

mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Oleh karena itu. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Kedua. Pertama. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Dalam hal ini. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara.

penyusunan design.berhubungan). pengumpulan dan analisis data. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Penelitian akan menghasilkan teori. Teori dapat membantu merumuskan problem. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengajuan hipotesis. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . serta membantu dalam menginterpretasi data. pengembangan instrumen.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu.

Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (6) mengolah data. menginterpretasi. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Dalam penelitian ilmiah. (3) mengadakan studi pustaka. menganalisis. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (5) mengumpulkan data. ilmu-ilmu humaniora.ilmiah. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (7) menganalisis dan 17 . yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. 2. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. komunikasi. Dalam kerja penelitian. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (2) bebas prasangka. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dan menyimpulkan. 3. yaitu: 1. terorganisir. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (4) merumuskan hipotesis. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (3) menggunakan prinsip analisis.

Demikian pula. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. 18 . Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. (9) menarik kesimpulan. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi.menginterpretasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya.

analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. menghasilkan pengetahuan yang: a. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.2. sistematis 2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. d. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. didukung data empiris 19 .

2. dan Whitney. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Charters. Ratna. Berdasarkan desain metodologinya.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. dan Muhadjir. 1885. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. yaitu : 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). (bandingkan Nazir. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. 2. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2004.

Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 4. Macam-macam 21 . Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 6.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. content analysis. 3. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 5. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 2.

Dalam ilmu sosial.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. gambar. Sejalan dengan uraian di atas. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Dalam ilmu sastra. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. surat kabar. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. 22 . sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. fotografi. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. dan majalah. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. 2. film. 2004: 47-49). sesuai dengan hakikat objek. buku teks.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Immanuel kant. grafik. yaitu sebagai studi kultural. 2. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . lukisan. laporan. buku harian. biografi. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut.

pandangan-pandangan. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. sikap-sikap.3. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. Adakalanya peneliti 23 . suatu objek. 2. gambaran atau lukisan secara sistematis. 5. Menurut Whitney (dalam Nazir. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. suatu set kondisi.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. penelitian bersifat alamiah. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 4. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta.

standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. kriteria umum: 1. Metode ini dinamakan juga studi status . data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. masalah yang dirumuskan harus patut. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. 3. variabel dilihat sebagaimana adanya. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. kriteria khusus 1.5. B. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1.

merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 .3. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6.

maupun masyarakat. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. subjek penelitian dapat saja individu. kelompok. lembaga. Dalam studi komparatif ini. 27 . yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Riffaterre. Eagelton. Menurutnya. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. keberadaannya tidak merupakan keharusan.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Sastra mengandung sifat umum dan khusus.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. dan keagamaan. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. ekonomi. Eliis. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. 29 . Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. dan Teeuw. Plark. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Lotman. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.

Sebagai satu sistem. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. secondary modelling system. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. yaitu berupa bahasa. di antaranya dari sisi bahan. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. 30 . Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Melalui sistem sastralah. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem.

3. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Dalam hal ini. Dengan demikian.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. kerja yang objektif. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. dari pembaca saja. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. yaitu pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi.

32 . bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Namun. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur.perspektif. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. sejumlah peralatan diperlukan. Dalam hal ini. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada.

ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . unsur dalam diri sendiri 2. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. sebagai berikut: 1. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Tanpa paradigma. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. model. pola. 2004: 21). baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Bagi ilmuwan.3. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. unsur luar berupa lingkungan fisik 3.

Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. imajinasi. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Jadi. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Di satu pihak. Di pihak lain. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Contohnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Selanjutnya. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. dan sebagainya. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. 34 . penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai cara pandang. bahkan khayalan. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas.yang relatif sama. Dalam penelitian sastra. tersistem.

baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. teori. faktor aksiologis. dan teknik. faktor epistemologis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. 35 . penelitian adalah penilaian. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. khususnya sastra. dalam ilmu humaniora. Paradigma dengan demikian mendahului. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. termasuk metode. faktor ontologis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. faktor metodologis. periode. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. secara kualitatif. mengkondisikan ilmuwan sastra. metode. teknik dan proses selanjutnya. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. Pada gilirannya. keseluruhan proses penelitian. Keempat faktor tersebut adalah: 1. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4.

Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Keseluruhan unsur. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. dan drama. novel psikologis. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Dengan kalimat lain. Perbedaannya. novel. 36 . psikologis. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. drama bersajak. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut.generasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. puisi. Novel sejarah. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. latar tempat dan waktu. Puisi. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. psikologis dan ilmu pengetahuan. dan berbagai paham yang lain. termasuk tokoh-tokoh. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. aliran. kecuali referensi estetisnya.

tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. pendekatan berasal dari kata appropio. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. 3. yaitu metode dan teknik. 37 . Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis.1. menganalisis. Lebih lanjut. 2004: 5355). approach.4 Pendekatan Sastra 3. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. dan menyajikan data.4. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.

dan tekniknya. mimetik.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan (4) pendekatan objektif. Artinya. mitopoik. 3.dan sebagainya. Dalam hubungan inilah. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. seperti pendekatan sosiologi sastra. pendekatan objektif. (3) pendekatan pragmatik.4. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. intrinsik dan ekstrinsik. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. 38 . Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. pragmatik. (2) pendekatan mimesis. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. ekspresif. dasarnya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. metode. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. teori.

dan 39 .3. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan.4. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Secara metodis. persepsi. feminisme. pikiran dan perasaan. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. dan hasil-hasil karyanya. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. nasionalisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. ucapan. pikiran-pikiran. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. komunisme. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi.2. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. (3) produk pandangan dunia pengarang.

Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 3. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. sesuai tujuan. pengalaman. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan (4) membicarakan secara menyeluruh.2. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan sebagainya Luxemberg. persepsi. 1958:8). Melalui pandangan ini. 40 . perasaan. 1989:15). (2) memetakan sejumlah pikiran. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. pengalaman hidup. pikiran. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. bentuk-bentuk kemasyarakatan. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.4. dan ideologi pengarang.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.

Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Menurut Baxter. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Tiruan. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. menyiratkan sesuatu yang statis. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Segers (2000. Secara terminologis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. suatu copy. Menurutnya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. suatu produk akhir.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . suatu proses. tetapi penekanannya berbeda. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis.

(2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama.. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. 42 . Melalui penjabaran di atas.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Secara metodis. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. dsb. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. sesuai tujuan. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. Oleh karena itu. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok.

dan memahami karya sastra. Menurutnya.4. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.2. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. pembacalah yang menilai. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. menafsirkan. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Pembaca dalam 43 . Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. menikmati. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama.3. Menurutnya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Dalam uraiannya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.

(5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (2) horison harapan. (3) nilai estetik. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. dan (7) sejarah umum.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (4) semangat zaman. Dalam hal ini.

Dengan kondisi tersebut. Perihal semangat zaman. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya.informasi. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Teori menuntut 45 . Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.

yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. satirik. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Fungsi sosial sastra 46 .bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. diidealkan. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik.

Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. rol. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. literary repertoire. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. 1987: 20 dan 54). interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan interaksinya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsekuansinya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. pembaca. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. historis. dan literary strategies Implied reader merupakan model.

dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Dengan demikian. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi.2. Oleh karena itulah. antarhubungan. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. termasuk biografi. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. dan totalitas.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. seperti aspekhistoris. sosiologis. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. politis. 3. 48 . Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.4.

Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. 49 . analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. konflik. Adapun terhadap prosa. dll. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. fakta cerita (tokoh. dan latar).Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. alur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Secara metodologis. gaya bahasa.).

Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. 50 .

1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. 1984: 120139). Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Hawkes. apabila suatu bagian dihilangkan. Artinya.BAB IV STRUKTURALISME 4. 1995: 4-12. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. terlepas dari 51 . dan Faruk: 1994: 17-18. dan Teeuw. 1978: 17-18. 1999: 1-9. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Selain itu. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. mekanisme sendiri. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. melainkan rusak sama sekali. melainkan kualitatif. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Faruk. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.

strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. motivator terjadinya gejala baru. Formalisme di Rusia. Dengan kata lain. transformatif. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. mengembangkan. Karena itu. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Artinya. antarhubungan merupakan energi.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. sesuatu yang berstruktur. Aliran Kritik Baru di Amerika. dan self-regulatif. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. otonom. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. mekanisme yang baru. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. sesuatu yang utuh. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sebagai kualitas totalitas. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun.

Namun demikian. 53 . latar. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. seperti kejadian. Di pihak lain.sebagai sistem komunikasi. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. plot. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. dan sebagainya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. suatu masyarakat. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Karya tidak dapat diisolasi. Sejalan dengan uraian di atas. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. misalnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Dengan kata lain. Analisis terhadap penokohan. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas.

Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Sebagai teori modern mengenai sastra. sosiologi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Dengan jalan demikian. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . dan sebagainya. reaksi terhadap studi biografis 2. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. dan psikologi. puitika. asosiasi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Meskipun demikian. Metode yang digunakan metode formal. oposisi. yaitu: 1. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. 1985: 128-13. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya.4. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi.

Muhadjir. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. struktur. 55 . khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Pradopo 2002: 46. dan (3) sebagai teori.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 1985: 185-192. melahirkan strukturalisme. 2002: 304).3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itulah. terdiri atas tanda. fakta semiotik. 2003: 88-96. karya sastra adalah proses komunikasi. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Menurutnya. (2) sebagai metode. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dan Ratna. 4. dan nilai-nilai. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan pembaca sebagai penerima. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya.

dan enjambemen. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dialog. dan gaya bahasa. imajinasi. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . peristiwa atau kejadian. alur. latar.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. stilistika. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. Unsurunsur prosa. di antaranya tema. misalnya mengarah pada tema. puisi. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. penokohan. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Artinya. puisi. tujuan analisis di lain pihak. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Prosa. sudut pandang. simbol. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. peristiwa. Unsur-unsur puisi. diksi atau pilihan kata. nada. alur. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. penokohan. dan gaya bahasa. latar atau setting. rima atau persajakan. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. ritme atau irama. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis.

yaitu pencerita. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Dalam hubungan ini. Jadi. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. tidak semau-maunya. dan pendengar. 57 . Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. karya sastra. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks.

dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. yaitu persamaan dan sebab akibat. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. 1993: 183-189). pengertian tanda ada dua prinsip. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. indeks. latar belakang sejarah pertumbuhannya. yaitu ikon. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. dan simbol. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. aliran semiotik. yang merupakan bentuk tanda. Stout (dalam Makaryk. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). antara penanda dan petanda. Menurutnya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Dalam lapangan semiotik. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Ada tiga jenis tanda yang pokok.4 Semiotik Secara padat Dolezel.4. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. arti bahasa dalam 58 .

yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. suasana. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. perasaan. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Berhubungan dengan hal ini. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. intensitas. daya liris. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam sistem semiotik. arti tambahan (konotasi). sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dalam kaya sastra. Jadi. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .

Menurut pandangan intertektualitas. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. terdapat (1) sintaksis semiotika. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. termasuk sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. Sejalan dengan paham triadik peircean. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. atau yang lain. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. dan (3) pragmatik semiotik. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Dilihat dari segi cara kerjanya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. (2) semantik semiotik. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik.

b. c. 2004: 102) di antara ikon. 2. 61 . tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. rheme. sinsigns. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. ground. dicent signs. ikon. interpretant. object. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. denotatum. Menurut Aart van Zoet (Ratna. yang paling sering diulas adalah object.1. representamen. dan interpretant. Di antara representamen. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. argument. c. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tokens. b. c. qualisigns. simbol. b. object (designatum. legisigns. yaitu apa yang diacu: a. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. type. referent). hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns.

1993: 340-341. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. 1993: 95-99. (b) semestaan (mimetik). 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). sebagai struktur. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. termasuk karya sastra. Kellner dalam makaryk. dan Faruk.indeks. Alasannya. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. (c) pembaca (pragmatik). 62 . di lain pihak. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. yang terpenting adalah ikon. Teks sastra kaya dengan ikon. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 4. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Sebagai strukturalisme. Karena itu. dan simbol. dan (d) objektif (otonom).

Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. yaitu melakukan transformasi atas alam. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Untuk melakukan transformasi atas alam. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Oleh karena itu. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Menurut Marxis.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Karya-karya kultural yang besar. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Karena itu. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.5. 4. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. melainkan kelas sosial.

Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Karena itu. dan sebagainya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pendidikan. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . seperti kelompok profesi. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. ras. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. kelompok etnis. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Dalam pengertian strukturalisme genetik.

melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Hanya beberapa di antaranya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Todorov. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . 4.5. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Namun. bersifat mimetik. seperti strukturalisme. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. dan sebagainya. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Dengan demikian. Greimas.

semantik pula. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Struktur yang demikian. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. menurut strukturalisme genetik. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama.

Menurut paham tersebut. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Namun. 4. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. yang juga berstruktur.5. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra.

logos berarti ilmu. subjek secara linguistik. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. kisah. atau sebaliknya.6 Naratologi 4. Dengan demikian. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. demikian juga dengan wacana dan teks. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. hikayat.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.dialektik. dan objek penderita. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.6. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. seperti model sintaksis. Narratio berarti cerita. bukan 72 . Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. perkataan. sebagaimana hubungan antara subjek. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. predikat. 4.

penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. restorasi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Pada pahan pascastruktural. tetapi juga melalui kata-kata. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Setiap orang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. dengan pertimbangan 73 . diceritakan oleh narator. semboyan. bukan pengarang. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. analisis naratif merupakan bagian ideologi. politik. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. misalnya. akrab dengan cerita Jaka Tarub. bukan pengarang.person. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Revolusi. sastra. dan ekonomi. dan wacana. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. melainkan melalui bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu.

dan gaya bahasa. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Tanpa plot. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. latar. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. wacana. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. paling luas. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. novel juga merupakan objek yang paling memadai. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. 74 . Dalam pembicaraan mengenai naratif. tema. dan teks. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Hampir keseluruhan genre sastra. kebudayaan pun tidak ada. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Dilihat dari media yang tersedia. cerita sebagai tulang punggung karya. Dalam karya sastra. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. baik sebagai penulis. Di pihak lain. tokoh-tokoh. Tanpa cerita. pembaca. yaitu dunia fiksional. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. sudut pandang.

Forster (tokoh bundar dan datar). 1993: 110. Mieke Bal (fabula. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. di antaranya: Gerard Gennet (urutan.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. gongeng. Shlomith Rimmon-Kenan (story. catatan harian. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). cerpen. lelucon. juga roman. Gerald 75 . interdisipliner. dan suara). narration). Tzvetan Todorov (historie dan discours). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. puisi naratif. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Henry James (tokoh dan cerita). Para pelopornya. yaitu: 1. frequensi.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. fabula. termasuk feminis dan psikoanalisis. mitos. durasi. modus. text). dan sebagainya. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). text. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. epik. Para pelopornya. Secara historis. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). biografi. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Percy Lubbock (teknik naratif). story. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3.

yaitu Propp. pastiche). Artinya. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Marry Louise Pratt (tindak kata). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Umberto Eco (wacana dan kebohongan).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Jonathan Culler (kompetensi sastra). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Jacques Derrida (dekonstruksi).6. Seymoeur Chatman (struktur naratif). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. unit terkecil yang membentuk tema. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Todorov.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Hayden White (wacana sejarah). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Oleh karena itu. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik).2. LeviStrauss. Menurutnya.6. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Propp 76 . Roland Barthes (Kernels dan satellits). 4. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan).Prince (struktur narratee). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.

dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Di sini. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. (4) putri dan ayahnya. Bremond. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. dan (7) pahlawan palsu. dan Todorov.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (6) pahlawan. (5) orang yang menyuruh. perbuatan. 77 . Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu: pelaku. persona bertindak sebagai variabel. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Dengan kalimat lain. yaitu: (1) penjahat. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Menurutnya. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (2) donor. (3) penolong. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif.

78 . khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Dengan kalimat lain. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan incest. seperti laki-laki perempuan. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.6. Menurutnya. melalui struktural. baik secara bulat maupun fragmentasi. dan harus direkonstruksi melaluinya. bumi langit. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. dan sebagainya.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. tabu. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot.2. dilakukan terhadap mitos Oedipus. mitos adalah naratif itu sendiri. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.4. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Di satu pihak. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Pendekatan antropologi sastra. misalnya.

(2) aspek semantik. meneliti tema. dan (4) aspek verbal. dan sebagainya. secara berdampingan. yaitu (1) aspek sintaksis. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. tokoh. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.2. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. gaya bahasa. Menurutnya. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. dan latar.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. dan sebaliknya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. 4. komunikasi. yaitu: kehendak.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . berkaitan dengan makna dan lambang.6. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. dan partisipasi. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Oleh karena itulah. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir.

dll.2. sastra sebagai proyeksi. baik sebagai pengirim maupun penerima. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia).4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Greimas (dalam Abdullah. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. sosiologi sastra. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.6. Apel adalah sebagai objek. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). acteurs merupakan kategori umum. Tidak ada subjek di balik wacana. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. 4. studi biografi. 80 . 1999: 11-13. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Yang ada hanyalah subjek. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. tetapi diperluas pada mitos. kritik fenomenologis. John dan Paul juga merupakan pengirim. yaitu tata bahasa naratif universal.antarhubungan adalah kausalitas. seperti: psikologi sastra. Mary sebagai penerima. yaitu dongeng. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.

artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan struktur yang bersifat pemutusan. dan plot. Actans merupakan struktur dalam. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. struktur yang bersifat penyelenggaraan. pelaku. Oleh karena itu. dan ilmu sosial lainnya. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Sebaliknya. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. tek. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. religi. dan penolong dengan penentang. sedangkan acteurs merupakan struktur luar.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. yaitu subjek dengan objek. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Cerita adalah bahan 81 .

sebagai model kedua.kasar. 82 . sebagai model pertama. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

(2) kemenduaan arti (ambiguity). Karenanya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. untuk memisahkan kemenduaan. dan (c) peletak dasar 86 . dan fungsional. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. sistematis.1. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. 5. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.

Menurut Nazir (1985: 134-135). Ciri kedua yang menyangkut fisible. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. pikiran. serta dana. waktu. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (4) masalah harus dapat duji. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. 87 .untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (3) masalah harus merupakan hal penting.

rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. dan totalitas di dalamnya. Berhubungan dengan penelitian sastra. topik penelitian atau judul penelitian. mengembangkan (develop atau extention). dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. hubungan antarunsur. Dengan demikian. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. 88 . misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2.1.

Sebaiknya dalam tujuan penelitian. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. Secara ideal. berjumlah tertentu. sistematis. misalnya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 89 . 5.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.1. lingkup masalah.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. 2001:2). jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.

khususnya analisis fiksi. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam strukturalisme. Dalam uraian landasan teori. Teori adalah alat. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Penerimaan yang dimaksud 90 . misalnya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. antarhubungan. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. diperlukan penerimaan positif. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. dan totalitasnya. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur.Dengan demikian. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Dalam kerangka strukturalisme. sebagai akumulasi konsep. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. baik sebagai teori maupun metode. Sebagai suatu cara pemahaman.

.mengarah kepada keteraturan. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. 5. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Atau dengan kalimat lain. Sebaliknya.1.

hubungan simetris 92 . Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. dan hubungan antarunsur.(pendekatan) linguistik. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. (2) kategori harus lengkap. demi pemahaman identitas data penelitian. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Penentuan data berdasarkan perilaku. Sejalan dengan uraian di atas. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. padu. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Dengan kata lain. dsb. pemilihan. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. sistematik. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. ciri. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

3. Sejalan dengan uraian di atas. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dan faktor kebetulan.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan saling mempengaruhi. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. 2. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama.

kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemilahan. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3.penelitiannya. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . dan pengolahan data secara sistematis. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi.

Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.dan tujuan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 .

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Idealnya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya.

mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.. referensi yang memadai. ciri. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. keinginan.. waktu pelaksanaan. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. kepahlawanan dan petualangan. .. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. pengembangan penelitian sejenis. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. dsb.. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . keberanian. Merujuk pada potensi teks tersebut. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. dana yang tersedia.1. Latar Belakang . Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.

kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. 2. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. berpikir logis. Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tampak 98 . Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci.

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. dan penelusuran tema dan amanat. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. alur. keterjalinan antarunsur cerita. 4. 99 . Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. latar) 3. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif.

mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.Berdasarkan upaya tersebut. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. misalnya 100 . mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Cermati contoh berikut: 1. 5. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Dalam hal ini .

Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. alur.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Oleh karena itu. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. antar hubungan. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Penjabarannya menjadi. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktur dinamik. menempatkan teks secara otonom. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Paham struktural objektif. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. 101 . menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur.

(4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. Dengan demikian. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. identifikasi masalah. padu. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. pengolahan data. dan menyeluruh. dll. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. sosial). Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 .(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan analisis data. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. pemilihan data. tempat.

sistematis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya.tingkat kepekaan literer. dan fungsional. dan metodologis. kajian struktural genetik c. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan metode kajian. teoretis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teori. kajian struktural objektif b. 5. kajian struktural naratif d. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya.

Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Uraian landasan teori tampak 104 . identifikasi masalah. seteliti. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Berdasarkan contoh di atas. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:112). semendetail. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. dan tujuan penelitian tertentu. kurang memadai. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.

5.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kelemahan lain. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.

1. unsurunsur karya. Dengan demikian. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sejumlah data. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. sifat. 106 . Mengacu kepada definisi metode deskriptif. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. menyusun. sifat. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan amanat dapat terungkap secara tepat. mengklasifikasikan . dan menginterpretasikan data (Winarno. fenomena. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. 1980: 139). menganalisis.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. tema. keterjalinan unsur. fakta.

Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. seteliti. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. dan latar.b. dan (4) tema dan amanat. semendetail. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. plot/alur. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Dalam hal ini. penyusun UP tersebut cukup 107 . Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. (2) struktur cerita. b dan c.

penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Namun demikian. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Misalnya saja.

tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. d. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. surrise. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Demikian pula pada pembicaraan latar. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. kesatupaduan) sebagai instrumen. kepadatan. jumlah. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. dan sosial? c. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . suspense. seperti pengeplotan. Pada unsur-unsur cerita lainnya. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. tempat. b.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams.

baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Adapun dalam penentuan amanat.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .

Dengan demikian. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

1994. M. “Strukturalisme-Genetik. ed.) 1993. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. 1987. Jauss. Hans Robert. Makaryk. The Act of Reading. (ed. Imran T. dkk. Jan van.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.” Makalah. W. Iser. Toward an Aesthetic of reseption.W.). Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Wlfgang. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Irena R.H. 2001. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. New York: The Norton Library. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Chamamah. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. S. 1999. 1989. Jakarta: Gramedia. Luxemburg. 1999. 1983. “Sastra Lisan. Norton & Company Inc. Abrams. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Ilmu Sastra. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .” Makalah.

Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Metode Penelitian. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Kritik Sastra Indonesia Modern. Penelitian Sastra: Teori. 1985. Zaimar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. A. Noeng. 19. Jakarta: Pustaka Jaya T. Jakarta: Djambatan. Selangor: Sain Baru Sdn. 1999. “Strukturalisme”. dan Teknik. Makalah. Teori Kesusastraan.Muhadjir. 2002. ed. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 1995. Jakarta: Gramedia Wuradji. Todorov. Morfologi Cerita Rakyat. 2002. Diterjemahkan oleh Okke K. Tzvetan. ------------------------------. Tata Sastra. Wellek. Segers. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Bandung: Eresco.S. “Pengantar Penelitian. Rien T. 2001. 2004. Metode Penelitian Linguistik. Sayuti. Metode.). Evaluasi Teks Sastra. 1993. Sastra dan Ilmu sastra. Fatimah Djajasudarma. Pradopo. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. dkk. Rene & Austin Warren. Rachmat Djoko. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 2000. Burhan. 1984. 1985. Nyoman Kutha. 1987. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Gama Media Propp.Bhd. Diterjemahkan oleh Suminto A. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. V. Moh.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful