METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.. 5......1........2.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ......4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.3 Tujuan Penelitian …………………………………………......3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4..4.............1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5. 83 5.....1.2 Identifikasi Masalah ………………………………………......... 5.........5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..4 Landasan Teori …………………………………………… 5.2......6...... 5.6...1.... 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah......1...... .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5..1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .1....5 Metodologi ………………………………………………… 5.6........2.2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.4 Greimas ……………………………………………......

menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Selain itu. hakikat. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. i . sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. relevansi metode dan penelitian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai.

. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Dengan demikian. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Agustus 2007 Penyusun ii . dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.

Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. mengikuti. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Teknik berasal dari kata teknikos. sesudah. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Hakikat Metodologi. Dalam pengertian yang lebih luas. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian.1 Pengertian. atau seni menggunakan alat. cara.BAB I PENDAHULUAN 1. melalui. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Metode. strategi untuk memahami realitas. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. yang berarti alat. Metodologi berasal dari methodos dan logos. metode dianggap sebagai cara-cara. metode. sedangkan hodos berarti jalan. 2. arah. 3.

dan (3) sadar teknis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. 1. perumusan masalah. (2) sadar teoritik. 2 . Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. dan kerangka pemikiran penelitian. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri.

komparasi. sampling. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. membangun konsep dan model. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. merumuskan hipotesis dan permasalahan. termasuk ilmu humaniora. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. 3 . metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan akhirnya menarik kesimpulan. kuantitatif dan kualitatif. bukanlah karena perbedaan metode. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. misalnya. menganalisis data.Dengan prosedur kerja yang baik. induksi dan deduksi. Klasifikasi. Sebagai alat. deskripsi. mengadakan pengujian teori. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. menyusun proposal. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. eksplanasi dan interpretasi. sama dengan teori. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain.

Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai instrumen penelitian. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. teknik berhubungan dengan data primer. statistik. misalnya: wawancara. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Artinya. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. struktural. Metode deskripsi. teknik kartu data. teknik dapat dideteksi secara inderawi. dan sebagainya. rekaman. Sebagai alat. Metode sering disebutkan sebagai teknik. tetapi dasar dan cara pemahamannya. jelas berbeda. kuesieoner. melalui cara: 1. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. teknik bersifat paling kongkret. komparasi. angket. dokumen. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Dengan demikian. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. bahkan juga dengan teori.Berbeda dengan metode. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun.

luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau.Pada pembicaraan yang berbeda. metode. dan teknik. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. 5 . memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. metode dapat menjadi teori. 2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. struktur disebut sebagai metode. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sebelumnya. Jadi. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. 3. teori. metodologi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. 9 . misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. d.menerus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.

dan kecerdasan yang memadai. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. atau pencarian kembali atas suatu objek. ilmu dapat hidup. Sebagai akibatnya. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Jadi. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. kecermatan. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. 10 . Hubungannya dengan ilmu.

yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan.berkembang. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. terutama yang berkaitan 11 . penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. 1985: 9-15). yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Pertama. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Oleh karena itu pula. scientific objective. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. sistematis. practicial objective.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Kedua. Oleh karena itu. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Dalam menghadapi masalah.

yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Kaitannya dengan kehidupan ilmu.dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. dan sesuai dengan objeknya. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. nalar.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Urutan umum dari proses 12 . Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. teori-teori. yaitu penelitian sastra. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.

Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. dan penyajian kesimpulan. emosional. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalah yang dihadapi. dan spiritual. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. pengumpulan data. fakta. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Di samping itu. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. manusia mencari tahu dan mencari makna. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Oleh karena itu. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. analisis data. penelaahan informasi. social. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan.

atau pendapat umum. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. kemudian melakukan proses penemuan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. dan menafsirkan apa yang diamati. menggambarkan.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau memperkaya teori yang sudah ada. penyelidikan. atau penelitian. 14 . penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. intuasi. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. otoritas. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. melakukan kegiatan penemuan.

Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Kedua. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Pertama. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Oleh karena itu. Dalam hal ini. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas.

penyusunan design. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. serta membantu dalam menginterpretasi data. pengumpulan dan analisis data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengajuan hipotesis. Teori dapat membantu merumuskan problem. pengembangan instrumen.berhubungan). Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Penelitian akan menghasilkan teori.

landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Dalam kerja penelitian. dituntut langkah-langkah berturut-turut. komunikasi. (3) mengadakan studi pustaka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (3) menggunakan prinsip analisis. (7) menganalisis dan 17 . (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. menganalisis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. menginterpretasi. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. terorganisir. ilmu-ilmu humaniora. (4) merumuskan hipotesis. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (2) bebas prasangka. yaitu: 1. Dalam penelitian ilmiah. (6) mengolah data. 3. 2. (5) mengumpulkan data.ilmiah. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. dan menyimpulkan.

(8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Demikian pula. 18 . juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian.menginterpretasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. (9) menarik kesimpulan. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan.

analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.2. sistematis 2. d. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. didukung data empiris 19 .3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. menghasilkan pengetahuan yang: a. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.

penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. 2004. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Charters.2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). (bandingkan Nazir. 1885. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Ratna. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. yaitu : 1. dan Muhadjir. dan Whitney.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.

Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 2. 5. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. content analysis. 3. 6. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Macam-macam 21 . 4. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.

yaitu sebagai studi kultural. laporan. Dalam ilmu sosial. buku harian. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. 2. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. biografi. buku teks. 2. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. lukisan. film. dan majalah. gambar. fotografi. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Sejalan dengan uraian di atas. grafik. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. sesuai dengan hakikat objek. surat kabar. Immanuel kant.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. 22 . 2004: 47-49). dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Dalam ilmu sastra. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif .

4. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. sikap-sikap. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. penelitian bersifat alamiah. pandangan-pandangan.3. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Adakalanya peneliti 23 . Menurut Whitney (dalam Nazir. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu set kondisi. gambaran atau lukisan secara sistematis. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 5. suatu objek. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 2. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi.

Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Metode ini dinamakan juga studi status . ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. kriteria umum: 1. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. masalah yang dirumuskan harus patut. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4.

Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. 3.5. variabel dilihat sebagaimana adanya. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . B. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. kriteria khusus 1. sifat penelitian adalah ex post facto. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.

baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10.3. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. membuat tabulasi serta analisis (statistik). melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual.

lembaga. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. maupun masyarakat.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. kelompok. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. 27 . Dalam studi komparatif ini. subjek penelitian dapat saja individu. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Lotman. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Plark. ekonomi. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Eagelton. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Eliis. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Riffaterre. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Menurutnya. dan keagamaan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. 29 . dan Teeuw.

Sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Melalui sistem sastralah. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. yaitu berupa bahasa. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. di antaranya dari sisi bahan. secondary modelling system. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. 30 .

Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dengan demikian. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dalam hal ini. dari pembaca saja. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. kerja yang objektif. 3. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. yaitu pembacanya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya.

Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus.perspektif. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Dalam hal ini. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. sejumlah peralatan diperlukan. Namun. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. 32 . Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra.

unsur luar berupa lingkungan fisik 3. pola. Tanpa paradigma. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . model. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. 2004: 21). dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. Bagi ilmuwan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. sebagai berikut: 1. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. unsur dalam diri sendiri 2.

imajinasi. Contohnya. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian.yang relatif sama. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Di satu pihak. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. tersistem. 34 . Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Selanjutnya. dan sebagainya. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. bahkan khayalan. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. sebagai cara pandang. Jadi. Di pihak lain. maka teori pun juga beraneka ragam. Dalam penelitian sastra. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori.

termasuk metode. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. dalam ilmu humaniora. Keempat faktor tersebut adalah: 1.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Paradigma dengan demikian mendahului. periode. metode. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. khususnya sastra. penelitian adalah penilaian. faktor aksiologis. keseluruhan proses penelitian. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. mengkondisikan ilmuwan sastra. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. dan teknik. faktor metodologis. Pada gilirannya. secara kualitatif. teori. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor ontologis. teknik dan proses selanjutnya. 35 . faktor epistemologis. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3.

generasi. Novel sejarah. puisi. kecuali referensi estetisnya. aliran. psikologis dan ilmu pengetahuan. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. latar tempat dan waktu. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. dan drama. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Perbedaannya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. 36 . drama bersajak. Dengan kalimat lain. psikologis. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. dan berbagai paham yang lain. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. novel psikologis. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. novel. termasuk tokoh-tokoh. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Keseluruhan unsur.

approach. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. menganalisis. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu.4.1. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. 37 . 2004: 5355). Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Lebih lanjut. dan menyajikan data. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. pendekatan berasal dari kata appropio.4 Pendekatan Sastra 3. 3. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. yaitu metode dan teknik. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.

Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. mimetik. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. 38 . intrinsik dan ekstrinsik. seperti pendekatan sosiologi sastra. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Dalam hubungan inilah. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. ekspresif. teori. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (2) pendekatan mimesis. mitopoik. Artinya. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. 3. pragmatik. metode.4. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.dan sebagainya.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. pendekatan objektif.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. (3) pendekatan pragmatik. dan tekniknya. dasarnya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. dan (4) pendekatan objektif.

Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. feminisme. Secara metodis. ucapan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme.3. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. komunisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran-pikiran. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. pikiran dan perasaan. dan 39 .2. dan hasil-hasil karyanya. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. persepsi. nasionalisme.4. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. (3) produk pandangan dunia pengarang.

Melalui pandangan ini. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 1958:8). secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. (2) memetakan sejumlah pikiran. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. sesuai tujuan. bentuk-bentuk kemasyarakatan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. pikiran. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. perasaan.4. dan sebagainya Luxemberg. pengalaman. dan ideologi pengarang. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. 40 .2. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. pengalaman hidup. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 3. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). persepsi. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. 1989:15).

suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Segers (2000. tetapi penekanannya berbeda. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. menyiratkan sesuatu yang statis. suatu produk akhir.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu proses. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Menurut Baxter. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Tiruan. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu copy. Secara terminologis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.

dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. sesuai tujuan. Secara metodis.. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. dsb. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Oleh karena itu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. 42 . (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Melalui penjabaran di atas. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal.

mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. pembacalah yang menilai. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. (2) penerapan praktis estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Menurutnya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Pembaca dalam 43 .3. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.2. dan memahami karya sastra. menikmati. Menurutnya. Dalam uraiannya. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.4. menafsirkan.

Dalam hal ini. (5) rangkaian sastra. dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (3) nilai estetik. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. yaitu: (1) pengalaman pembaca.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (4) semangat zaman. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (2) horison harapan. (6) perspektif sinkronik dan diakronik.

Dengan kondisi tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Perihal semangat zaman. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Teori menuntut 45 . Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya.informasi. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.

tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Fungsi sosial sastra 46 . diidealkan. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. satirik. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang.

Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan interaksinya. 1987: 20 dan 54). Konsep dialektika respon estetik (Iser.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. pembaca. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. historis. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. rol. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. literary repertoire. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Konsekuansinya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 .

Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. sosiologis. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. politis. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. termasuk biografi. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.2. Dengan demikian. dan totalitas. 3. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. antarhubungan. Oleh karena itulah. seperti aspekhistoris. 48 . Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca.4.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya.

fakta cerita (tokoh. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. dll. konflik. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Adapun terhadap prosa. gaya bahasa. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan sarana cerita (pusat pengisahan. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya.). Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. dan latar). Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Secara metodologis. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 49 . Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. alur.

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.Pada analisis prosa. 50 . tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

BAB IV STRUKTURALISME 4. dan Faruk: 1994: 17-18. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. 1999: 1-9. mekanisme sendiri. Selain itu. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. terlepas dari 51 . 1995: 4-12. 1978: 17-18. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Artinya. melainkan rusak sama sekali.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Hawkes. melainkan kualitatif. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. apabila suatu bagian dihilangkan. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Teeuw. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Faruk. 1984: 120139). untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.

Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. otonom. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Aliran Kritik Baru di Amerika. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. mengembangkan. dan self-regulatif. Formalisme di Rusia. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. sesuatu yang berstruktur. Sebagai kualitas totalitas. Dengan kata lain. sesuatu yang utuh. Karena itu. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. transformatif. antarhubungan merupakan energi. motivator terjadinya gejala baru. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Artinya. mekanisme yang baru. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya.

latar. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Namun demikian. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. seperti kejadian. 53 . Sejalan dengan uraian di atas. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat. Karya tidak dapat diisolasi. dan sebagainya. Analisis terhadap penokohan. misalnya. Di pihak lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. plot. Dengan kata lain.sebagai sistem komunikasi. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas.

Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi.4. 1985: 128-13. puitika. sosiologi. asosiasi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. dan sebagainya. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Sebagai teori modern mengenai sastra. yaitu: 1. Meskipun demikian. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. dan psikologi. Dengan jalan demikian. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . oposisi. Metode yang digunakan metode formal.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. reaksi terhadap studi biografis 2.

Pradopo 2002: 46. terdiri atas tanda.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. struktur. fakta semiotik. melahirkan strukturalisme. dan Ratna. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. 55 . (2) sebagai metode. 4. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Muhadjir. 2002: 304). Oleh karena itulah. dan nilai-nilai. masyarakat yang menghasilkannya. Menurutnya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. karya sastra adalah proses komunikasi. 1985: 185-192. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 2003: 88-96. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. dan (3) sebagai teori. dan pembaca sebagai penerima.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya.

Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. dialog. rima atau persajakan. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. alur. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. tujuan analisis di lain pihak. nada. stilistika. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. peristiwa. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan gaya bahasa. di antaranya tema. puisi. Unsur-unsur puisi. misalnya mengarah pada tema. sudut pandang. imajinasi. dan gaya bahasa. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. penokohan. ritme atau irama. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. diksi atau pilihan kata. latar. peristiwa atau kejadian. latar atau setting. simbol. dan enjambemen. Prosa. penokohan. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. alur. Artinya.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. puisi. Unsurunsur prosa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis.

Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. tidak semau-maunya.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. yaitu pencerita. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Dalam hubungan ini. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dan pendengar. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. karya sastra. 57 . Jadi. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda.

aliran semiotik. 1993: 183-189). Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Dalam lapangan semiotik. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).4 Semiotik Secara padat Dolezel. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. yaitu ikon. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. indeks. arti bahasa dalam 58 . Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama.4. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. yaitu persamaan dan sebab akibat. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. antara penanda dan petanda. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Menurutnya. Ada tiga jenis tanda yang pokok. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yang merupakan bentuk tanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. pengertian tanda ada dua prinsip. Stout (dalam Makaryk. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. dan simbol.

Dalam sistem semiotik. arti tambahan (konotasi). menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dalam kaya sastra. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Jadi. perasaan. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . intensitas. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Berhubungan dengan hal ini. suasana. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. daya liris.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning).

yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. atau yang lain. dan (3) pragmatik semiotik. Menurut pandangan intertektualitas. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Sejalan dengan paham triadik peircean. (2) semantik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. terdapat (1) sintaksis semiotika. Dilihat dari segi cara kerjanya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. termasuk sastra. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni.

dicent signs. ikon. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. b. tokens. Di antara representamen. simbol. argument. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. referent). terbentuk oleh kualitas: warna hijau. interpretant. yaitu apa yang diacu: a. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. c. ground. type. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. object (designatum. rheme. denotatum. dan interpretant. 2004: 102) di antara ikon. yang paling sering diulas adalah object. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. qualisigns.1. 2. sinsigns. legisigns. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. c. Menurut Aart van Zoet (Ratna. b. 61 . terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. c. object. representamen. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. b.

yang terpenting adalah ikon. 1993: 95-99. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Sebagai strukturalisme. dan (d) objektif (otonom). yaitu (a) pengarang (ekspresif). Alasannya. dan Faruk. sebagai struktur. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. 1993: 340-341. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Karena itu. Kellner dalam makaryk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu.indeks. di lain pihak. (b) semestaan (mimetik). Teks sastra kaya dengan ikon. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. termasuk karya sastra. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 4.5. dan simbol. (c) pembaca (pragmatik). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 62 .

Untuk melakukan transformasi atas alam. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. yaitu melakukan transformasi atas alam. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Oleh karena itu. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Menurut Marxis. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

melainkan kelas sosial. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. 4. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya-karya kultural yang besar. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Karena itu.5. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.pengertian marxis yang sudah dikemukakan.

karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Dalam pengertian strukturalisme genetik. seperti kelompok profesi. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Karena itu. ras. kelompok etnis. pendidikan. Karena itu. dan sebagainya.

Greimas.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. 4. Todorov. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Hanya beberapa di antaranya. Namun. seperti strukturalisme. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian.5.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . bersifat mimetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. dan sebagainya. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung.

menurut strukturalisme genetik. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Struktur yang demikian.semantik pula. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.

5. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yang juga berstruktur. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . 4. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Namun. Menurut paham tersebut. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial.

predikat. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator.6 Naratologi 4. sebagaimana hubungan antara subjek. perkataan. hikayat.6. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. dan objek penderita. seperti model sintaksis. 4.dialektik. logos berarti ilmu. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. demikian juga dengan wacana dan teks. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Dengan demikian. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Narratio berarti cerita. subjek secara linguistik. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. bukan 72 . kisah. atau sebaliknya.

diceritakan oleh narator. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. tetapi juga melalui kata-kata. semboyan. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. bukan pengarang. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. dengan pertimbangan 73 . Pada pahan pascastruktural. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. melainkan melalui bahasa. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. dan ekonomi. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. politik. misalnya. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Setiap orang. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. dan wacana. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. analisis naratif merupakan bagian ideologi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. sastra. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks.person. Revolusi. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). restorasi. bukan pengarang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia.

dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. latar. dan teks. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dalam pembicaraan mengenai naratif. Dilihat dari media yang tersedia. 74 . Di pihak lain. wacana. tokoh-tokoh. tema. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. pembaca. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Dalam karya sastra. Tanpa plot. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. cerita sebagai tulang punggung karya. dan gaya bahasa. sudut pandang. Hampir keseluruhan genre sastra. novel juga merupakan objek yang paling memadai. kebudayaan pun tidak ada. yaitu dunia fiksional. baik sebagai penulis. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Tanpa cerita. paling luas. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

dan suara). Para pelopornya. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). yaitu: 1. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. termasuk feminis dan psikoanalisis. epik. puisi naratif. modus. Gerald 75 . frequensi. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. cerpen. catatan harian.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Henry James (tokoh dan cerita). Claude Bremond (struktur dan fungsi). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Percy Lubbock (teknik naratif). Forster (tokoh bundar dan datar). story. fabula. lelucon. 1993: 110. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. gongeng. dan sebagainya. durasi. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). narration). juga roman. interdisipliner. text). Shlomith Rimmon-Kenan (story. text. Para pelopornya. biografi. Mieke Bal (fabula. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). mitos. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Secara historis.

2. Umberto Eco (wacana dan kebohongan).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. yaitu Propp. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Menurutnya. Jacques Derrida (dekonstruksi). Todorov. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. unit terkecil yang membentuk tema.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Artinya. Roland Barthes (Kernels dan satellits). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.6. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). 4. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Propp 76 . Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. LeviStrauss. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Hayden White (wacana sejarah). Marry Louise Pratt (tindak kata). Oleh karena itu. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra).6. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). pastiche). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.Prince (struktur narratee). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Jean-Francois Lyotard (metanarasi).

Motif dibedakan menjadi tiga macam.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Menurutnya. Bremond. (6) pahlawan. dan Todorov. yaitu: (1) penjahat. Dengan kalimat lain. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). perbuatan. (4) putri dan ayahnya. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. yaitu: pelaku. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. persona bertindak sebagai variabel. dan (7) pahlawan palsu. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. 77 . yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Di sini. (3) penolong. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (2) donor. (5) orang yang menyuruh.

seperti laki-laki perempuan. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. mitos adalah naratif itu sendiri. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.6. Menurutnya. dilakukan terhadap mitos Oedipus.2. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. dan sebagainya. dan incest. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. Di satu pihak. Dengan kalimat lain. tabu. dan harus direkonstruksi melaluinya. baik secara bulat maupun fragmentasi. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. misalnya. melalui struktural. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. khususnya konsep-konsep oposisi biner. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. bumi langit. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. 78 . Pendekatan antropologi sastra. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.4. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.

Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. berkaitan dengan makna dan lambang. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . Oleh karena itulah. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. dan partisipasi. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. dan sebaliknya. sebagai hubungan makna dan perlambangan. 4. gaya bahasa. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Menurutnya. tokoh. komunikasi. dan latar. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. secara berdampingan.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. yaitu: kehendak. (2) aspek semantik. meneliti tema. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan (4) aspek verbal. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. yaitu (1) aspek sintaksis. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.2.6. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. dan sebagainya.

Apel adalah sebagai objek. John dan Paul juga merupakan pengirim.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. studi biografi. tetapi diperluas pada mitos. Greimas (dalam Abdullah. 80 . Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. yaitu dongeng. baik sebagai pengirim maupun penerima. yaitu tata bahasa naratif universal. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi.2. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.antarhubungan adalah kausalitas. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. sastra sebagai proyeksi. Tidak ada subjek di balik wacana. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. dll. acteurs merupakan kategori umum. seperti: psikologi sastra. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku.6. sosiologi sastra. Mary sebagai penerima. kritik fenomenologis. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. 1999: 11-13. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). 4. Yang ada hanyalah subjek. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.

dan struktur yang bersifat pemutusan. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Cerita adalah bahan 81 . Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. religi. Actans merupakan struktur dalam. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. dan penolong dengan penentang. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Oleh karena itu. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. dan plot. tek. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. pelaku. yaitu subjek dengan objek. Sebaliknya. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan ilmu sosial lainnya.

perangkat peristiwa.kasar. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. 82 . sebagai model kedua. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

(2) kemenduaan arti (ambiguity). untuk memisahkan kemenduaan. Karenanya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah.1. dan (c) peletak dasar 86 . 5. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. sistematis. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. dan fungsional.

(2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. (3) masalah harus merupakan hal penting. (4) masalah harus dapat duji.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. serta dana. pikiran. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. 87 . Menurut Nazir (1985: 134-135). waktu. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan.

dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. Berhubungan dengan penelitian sastra. mengembangkan (develop atau extention). tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. dan totalitas di dalamnya. hubungan antarunsur.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). 88 . Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. Dengan demikian. topik penelitian atau judul penelitian. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.1.

Sebaiknya dalam tujuan penelitian. sistematis. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. berjumlah tertentu. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. 2001:2). jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut).4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 5. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Secara ideal.1. lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. misalnya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 89 . tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.

Dalam strukturalisme. Dalam uraian landasan teori. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Penerimaan yang dimaksud 90 . Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. khususnya analisis fiksi. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. dan totalitasnya. Teori adalah alat. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.Dengan demikian. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam kerangka strukturalisme. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. baik sebagai teori maupun metode. Sebagai suatu cara pemahaman. misalnya. diperlukan penerimaan positif. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. antarhubungan. sebagai akumulasi konsep. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah.

Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.1.. 5. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Atau dengan kalimat lain. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.mengarah kepada keteraturan. Sebaliknya.

Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. hubungan simetris 92 . Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Sejalan dengan uraian di atas. sistematik. Penentuan data berdasarkan perilaku. ciri. dan hubungan antarunsur. demi pemahaman identitas data penelitian. Dengan kata lain. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. padu. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (2) kategori harus lengkap. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dsb. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. (3) kategori harus bebas dan terpisah. pemilihan. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu.(pendekatan) linguistik. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan.

Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. 2. hubungan saling mempengaruhi. dan faktor kebetulan. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. 3. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel.

kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan.penelitiannya. dan pengolahan data secara sistematis. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. pemilahan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemilahan. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1.

peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 .dan tujuan penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. 5. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.

(2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Idealnya. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data.

mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Merujuk pada potensi teks tersebut. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. keinginan. waktu pelaksanaan.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.. kepahlawanan dan petualangan.1. dsb. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. pengembangan penelitian sejenis... referensi yang memadai. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . dana yang tersedia. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Latar Belakang .. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. ciri. . Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. keberanian.

termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tampak 98 . Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Namun demikian. berpikir logis. 2.

mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 4. struktur cerita yang terbentuk. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. keterjalinan antarunsur cerita. alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. 99 . mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. dan penelusuran tema dan amanat. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. latar) 3.

Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.Berdasarkan upaya tersebut.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Dalam hal ini . mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Cermati contoh berikut: 1. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. misalnya 100 . penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. 5.

Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. 101 . Paham struktural objektif. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Oleh karena itu. alur. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Penjabarannya menjadi. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Struktur dinamik. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. antar hubungan. menempatkan teks secara otonom.

dan analisis data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. tempat. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. dan menyeluruh. Dengan demikian. dll. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . padu. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. sosial). pemilihan data. identifikasi masalah. pengolahan data.

kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). kajian struktural naratif d. teoretis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. dan metodologis. dan fungsional.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori. sistematis. dan metode kajian.tingkat kepekaan literer. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. 5. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural genetik c. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural objektif b. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya.

latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. kurang memadai. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Uraian landasan teori tampak 104 . Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Berdasarkan contoh di atas. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. semendetail. 2003:112). seteliti. dan tujuan penelitian tertentu. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. identifikasi masalah.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra.

Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . 5.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kelemahan lain. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.

keterjalinan unsur. 106 .1. dan menginterpretasikan data (Winarno. dan amanat dapat terungkap secara tepat. mengklasifikasikan . menyusun. Dengan demikian. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. menganalisis. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. tema. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). 1980: 139). yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. fakta. unsurunsur karya. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. sifat. sejumlah data. sifat. fenomena. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel).

2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel.b. semendetail. b dan c. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. Dalam hal ini. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. seteliti. (2) struktur cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. plot/alur. penyusun UP tersebut cukup 107 . (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. dan (4) tema dan amanat. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. dan latar.

? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Misalnya saja. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. plot/alur. Namun demikian. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.

Demikian pula pada pembicaraan latar. suspense. dan sosial? c. surrise. jumlah.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. tempat. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. kepadatan. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. b. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. Pada unsur-unsur cerita lainnya. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. kesatupaduan) sebagai instrumen. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . d. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. seperti pengeplotan. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.

******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian.

M.) 1993. Abrams. Wlfgang. Jauss. Minneapolis: University of Minnesotta Press. ed. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. dkk.” Makalah. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. New York: The Norton Library. Jakarta: Gramedia. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. 1999. 2001. Irena R. Norton & Company Inc. Makaryk. “Sastra Lisan. Pengantar Ilmu Sastra. Imran T.” Makalah. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. 1999. W.H. Jan van. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. S. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . The Act of Reading. Toward an Aesthetic of reseption. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition.W. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Hans Robert. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. “Strukturalisme-Genetik.).DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Luxemburg. (ed. 1983. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Iser. 1989.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1987. Chamamah. Pengantar Sosiologi Sastra. 1994.

Rene & Austin Warren.Bhd. 1985. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tata Sastra. Sastra dan Ilmu sastra.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.S. “Pengantar Penelitian. Todorov. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Metode. 2002. Rien T. Kritik Sastra Indonesia Modern. 2002. Metodologi penelitian Kualitatif. 1987. Jakarta: Pustaka Jaya T. Diterjemahkan oleh Suminto A. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Yogyakarta: Gama Media Propp. “Strukturalisme”. dan Teknik. 1984. ------------------------------. Segers. Moh. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Metode Penelitian. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. dkk. A. 2004. 1993. 1995.). 1999. Zaimar. Noeng. 2000. Diterjemahkan oleh Okke K. 1985. Teori Pengkajian Fiksi. Selangor: Sain Baru Sdn. Evaluasi Teks Sastra. Makalah. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Metode Penelitian Linguistik. Wellek. Tzvetan. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 2001. Bandung: Eresco. Jakarta: Djambatan. ed. Rachmat Djoko. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Nyoman Kutha. Pradopo. 19. Burhan. Jakarta: Gramedia Wuradji. V.Muhadjir. Sayuti. Morfologi Cerita Rakyat. Fatimah Djajasudarma.

114 .

115 .