METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

......... 83 5.....6. 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ....... 5......1..1.......3 Tujuan Penelitian …………………………………………......4........ ......5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .1..6.5 Metodologi ………………………………………………… 5..2 Levi’Strauss ………………………………………… 4....1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5..2...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah. 5........... 5........4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.......2.1......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.......4 Greimas …………………………………………….... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .1.4 Landasan Teori …………………………………………… 5......2 Identifikasi Masalah ………………………………………....2..6.

Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. hakikat. sastra dalam penelitian ilmiah. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. i . relevansi metode dan penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Selain itu.

penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Agustus 2007 Penyusun ii . teori. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini.

Dalam pengertian yang lebih luas. metode dianggap sebagai cara-cara. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. atau seni menggunakan alat. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Metodologi berasal dari methodos dan logos.1 Pengertian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Hakikat Metodologi.BAB I PENDAHULUAN 1. melalui. yang berarti alat. arah. Teknik berasal dari kata teknikos. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. sesudah. mengikuti. cara. metode. 2. sedangkan hodos berarti jalan. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Metode. 3. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1.

2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. perumusan masalah. dan (3) sadar teknis. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. (2) sadar teoritik. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 2 . Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. 1. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. dan kerangka pemikiran penelitian. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong.

Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. membangun konsep dan model. deskripsi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. kuantitatif dan kualitatif. induksi dan deduksi. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. mengadakan pengujian teori. komparasi. misalnya. Sebagai alat.Dengan prosedur kerja yang baik. menganalisis data. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. eksplanasi dan interpretasi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. merumuskan hipotesis dan permasalahan. dan akhirnya menarik kesimpulan. termasuk ilmu humaniora. sampling. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. menyusun proposal. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. bukanlah karena perbedaan metode. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. 3 . sama dengan teori. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Klasifikasi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi.

misalnya: wawancara.Berbeda dengan metode. rekaman. dan sebagainya. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Dengan demikian. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Artinya. teknik berhubungan dengan data primer. jelas berbeda. melalui cara: 1. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. angket. Sebagai alat. dokumen. Metode deskripsi. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Sebagai instrumen penelitian. struktural. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. Metode sering disebutkan sebagai teknik. kuesieoner. komparasi. bahkan juga dengan teori. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. teknik dapat dideteksi secara inderawi. teknik bersifat paling kongkret. teknik kartu data. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. statistik.

3. metodologi. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Tetapi sebelumnya. Jadi. 2. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. metode dapat menjadi teori.Pada pembicaraan yang berbeda. struktur disebut sebagai metode. dan teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 5 . teori.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.menerus. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. 9 . d. yaitu sintesis itu sendiri. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.

Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Hubungannya dengan ilmu. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. dan kecerdasan yang memadai. atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Jadi. ilmu dapat hidup. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. kecermatan. 10 . Sebagai akibatnya. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.

1985: 9-15). practicial objective. Pertama. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Oleh karena itu pula. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. scientific objective. Dalam menghadapi masalah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. sistematis. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Kedua. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Oleh karena itu. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan.berkembang. terutama yang berkaitan 11 . kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis.

nalar. yaitu penelitian sastra. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. teori-teori. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). dan sesuai dengan objeknya. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Urutan umum dari proses 12 . Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods).dengan pemanfaatan teori dan metode. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.

penelaahan informasi. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. emosional. fakta. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. manusia mencari tahu dan mencari makna. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. analisis data. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan penyajian kesimpulan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. social. Di samping masalah yang dihadapi. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping itu. pengumpulan data. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Oleh karena itu. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan spiritual.

intuasi. atau pendapat umum. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). dan menafsirkan apa yang diamati. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. otoritas. melakukan kegiatan penemuan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. atau penelitian. menggambarkan. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. penyelidikan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. 14 . Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. kemudian melakukan proses penemuan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau memperkaya teori yang sudah ada. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan.

Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Pertama. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore).Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Kedua. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Oleh karena itu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Dalam hal ini.

2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. serta membantu dalam menginterpretasi data. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Teori dapat membantu merumuskan problem. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengembangan instrumen. pengajuan hipotesis. pengumpulan dan analisis data.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Penelitian akan menghasilkan teori. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . penyusunan design.

(6) mengolah data. (4) merumuskan hipotesis. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (3) mengadakan studi pustaka. 3. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Dalam kerja penelitian. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (3) menggunakan prinsip analisis.ilmiah. menganalisis. 2. (2) bebas prasangka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. Dalam penelitian ilmiah. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. menginterpretasi. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. komunikasi. (5) mengumpulkan data. ilmu-ilmu humaniora. (7) menganalisis dan 17 . dituntut langkah-langkah berturut-turut. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. yaitu: 1. terorganisir. dan menyimpulkan.

Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. 18 . Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian.menginterpretasi. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Demikian pula. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (9) menarik kesimpulan. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya.

(2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. d.2. sistematis 2. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. didukung data empiris 19 . valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.

2. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal.2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Charters. Ratna. Berdasarkan desain metodologinya. (bandingkan Nazir. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. yaitu : 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). 2004. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. dan Muhadjir.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. dan Whitney. 1885.

Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 2. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. 6. content analysis. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. ethnography merupakan pendekatan penelitian. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Macam-macam 21 . 4. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. 5. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 3. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.

Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. 2. lukisan. surat kabar. laporan. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. sesuai dengan hakikat objek. 22 . 2004: 47-49). film. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. grafik. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. yaitu sebagai studi kultural.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Dalam ilmu sastra. 2. gambar. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif .5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. buku harian. Dalam ilmu sosial. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Sejalan dengan uraian di atas. Immanuel kant. dan majalah. fotografi. biografi. buku teks.

1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. 5. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. 2. suatu objek. suatu set kondisi. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Menurut Whitney (dalam Nazir. sikap-sikap. Adakalanya peneliti 23 . serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.3. 4. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. pandangan-pandangan. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. penelitian bersifat alamiah. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. gambaran atau lukisan secara sistematis. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.

data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Metode ini dinamakan juga studi status . masalah yang dirumuskan harus patut. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. kriteria umum: 1. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

3. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan.5. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. variabel dilihat sebagaimana adanya. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. B. kriteria khusus 1. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 .

dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1.3. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. membuat tabulasi serta analisis (statistik). melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7.

Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. subjek penelitian dapat saja individu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. Dalam studi komparatif ini. 27 . maupun masyarakat. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. kelompok.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

ekonomi. Eliis. Menurutnya. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. dan Teeuw. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. 29 . Lotman. Plark. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. dan keagamaan. Riffaterre.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Eagelton. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Sastra mengandung sifat umum dan khusus.

upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. yaitu berupa bahasa. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. secondary modelling system. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). 30 . di antaranya dari sisi bahan. Melalui sistem sastralah.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Sebagai satu sistem. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks.

Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Dalam hal ini. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. 3. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. dari pembaca saja. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. yaitu pembacanya. kerja yang objektif. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Dengan demikian.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu.

pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. sejumlah peralatan diperlukan. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam hal ini. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. 32 .perspektif. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Namun. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur.

Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Bagi ilmuwan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. pola. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data.3. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Tanpa paradigma. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. unsur dalam diri sendiri 2. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. 2004: 21). model.

konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. Jadi. imajinasi. Selanjutnya. tersistem. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. sebagai cara pandang. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. dan sebagainya. Contohnya. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam.yang relatif sama. 34 . Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Di satu pihak. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Di pihak lain. bahkan khayalan. maka teori pun juga beraneka ragam. Dalam penelitian sastra.

faktor epistemologis. faktor metodologis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. dalam ilmu humaniora. faktor aksiologis. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. Pada gilirannya. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. teknik dan proses selanjutnya. periode. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. 35 .Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. dan teknik. teori. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor ontologis. termasuk metode. khususnya sastra. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. mengkondisikan ilmuwan sastra. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. keseluruhan proses penelitian. penelitian adalah penilaian. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. secara kualitatif. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. Paradigma dengan demikian mendahului. metode.

novel. Perbedaannya. latar tempat dan waktu. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Novel sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. drama bersajak. kecuali referensi estetisnya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. psikologis dan ilmu pengetahuan. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. termasuk tokoh-tokoh. novel psikologis. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Dengan kalimat lain. 36 . gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. puisi. dan drama.generasi. Keseluruhan unsur. dan berbagai paham yang lain. aliran. psikologis. Puisi.

sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu.4. approach. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. 37 . dan menyajikan data. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.4 Pendekatan Sastra 3. Lebih lanjut. yaitu metode dan teknik. 2004: 5355). menganalisis. pendekatan berasal dari kata appropio. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. 3.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.1. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis.

pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. dan tekniknya. metode. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. 3. (3) pendekatan pragmatik. intrinsik dan ekstrinsik. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. pendekatan objektif. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pada pendekatan mendahului teori dan metode.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Artinya. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. pragmatik. mitopoik. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. mimetik.4. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. (2) pendekatan mimesis.dan sebagainya. seperti pendekatan sosiologi sastra. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. ekspresif. dan (4) pendekatan objektif. dasarnya. teori. Dalam hubungan inilah. 38 . Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.

(2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. feminisme. pikiran-pikiran. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Secara metodis. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. dan 39 . (3) produk pandangan dunia pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. komunisme. pikiran dan perasaan.2.3. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. ucapan.4. persepsi. nasionalisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. dan hasil-hasil karyanya.

2. dan sebagainya Luxemberg. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. bentuk-bentuk kemasyarakatan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. sesuai tujuan. pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. (2) memetakan sejumlah pikiran. pikiran. 1989:15). perasaan. 40 . pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 3.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. pengalaman hidup.4. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 1958:8).2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. persepsi. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan ideologi pengarang. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. Melalui pandangan ini. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.

metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. suatu copy. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut Baxter. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan".Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Secara terminologis. suatu produk akhir. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. tetapi penekanannya berbeda. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Tiruan. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. suatu proses. Segers (2000.

' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Secara metodis. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. sesuai tujuan. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Oleh karena itu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual..tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Melalui penjabaran di atas. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. 42 . dsb. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

Pembaca dalam 43 . Menurutnya. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Menurutnya. menikmati. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. (2) penerapan praktis estetika resepsi.2.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Dalam uraiannya.4. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. pembacalah yang menilai. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. menafsirkan.3. dan memahami karya sastra. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama.

(4) semangat zaman. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Dalam hal ini. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. dan (7) sejarah umum. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (2) horison harapan. (3) nilai estetik. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing.

rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Dengan kondisi tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman.informasi. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Teori menuntut 45 .

atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Fungsi sosial sastra 46 . Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. satirik. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. diidealkan. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang.

Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. pembaca.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Konsep dialektika respon estetik (Iser. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. literary repertoire. Konsekuansinya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. dan interaksinya. rol. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. 1987: 20 dan 54). Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. historis. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks.

dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. termasuk biografi. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. sosiologis. 48 . 3. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. politis. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. seperti aspekhistoris. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.2. dan totalitas.4. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah. antarhubungan.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Dengan demikian.

fakta cerita (tokoh. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur.). dan latar). mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Secara metodologis.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Adapun terhadap prosa. alur. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. 49 . konflik. dll. gaya bahasa. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi.

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. 50 .

terlepas dari 51 . tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Faruk. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. dan Teeuw. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Artinya. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Selain itu.BAB IV STRUKTURALISME 4. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. melainkan kualitatif. 1984: 120139). apabila suatu bagian dihilangkan. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. 1978: 17-18. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. melainkan rusak sama sekali. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. 1999: 1-9. Hawkes. dan Faruk: 1994: 17-18. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. 1995: 4-12. mekanisme sendiri. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif.

antarhubungan merupakan energi. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. mekanisme yang baru. transformatif. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. sesuatu yang berstruktur. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Formalisme di Rusia. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. mengembangkan. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Artinya. Aliran Kritik Baru di Amerika. sesuatu yang utuh. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. otonom. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Karena itu. motivator terjadinya gejala baru. Dengan kata lain. dan self-regulatif. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sebagai kualitas totalitas. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.

Karya tidak dapat diisolasi. 53 . Sejalan dengan uraian di atas. latar. plot. suatu masyarakat. misalnya. Dengan kata lain. Analisis terhadap penokohan. Di pihak lain. seperti kejadian. Namun demikian. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. dan sebagainya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas.sebagai sistem komunikasi. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra.

Dengan jalan demikian. dan psikologi. 1985: 128-13. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Metode yang digunakan metode formal. reaksi terhadap studi biografis 2. dan sebagainya. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. oposisi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Meskipun demikian. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. asosiasi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. sosiologi. puitika.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw.4. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. yaitu: 1.

dan Ratna. fakta semiotik. 55 . 2003: 88-96. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. karya sastra adalah proses komunikasi. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 1985: 185-192. Muhadjir. 2002: 304). Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. terdiri atas tanda. dan nilai-nilai. struktur. dan pembaca sebagai penerima. dan (3) sebagai teori.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Oleh karena itulah. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. melahirkan strukturalisme. Pradopo 2002: 46. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. (2) sebagai metode. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. 4. masyarakat yang menghasilkannya. Menurutnya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna.

Unsurunsur prosa. peristiwa atau kejadian. Prosa. stilistika. Artinya. penokohan.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. alur. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. sudut pandang. di antaranya tema. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. tujuan analisis di lain pihak. diksi atau pilihan kata. Unsur-unsur puisi. simbol. misalnya mengarah pada tema. peristiwa. nada. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. dan gaya bahasa. rima atau persajakan. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. ritme atau irama. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. latar atau setting. puisi. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. imajinasi. dan enjambemen. latar. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. penokohan. dan gaya bahasa. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. alur. dialog. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula.

57 . Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Jadi. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. karya sastra. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. yaitu pencerita. tidak semau-maunya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. dan pendengar. Dalam hubungan ini. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art.

Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. yaitu persamaan dan sebab akibat. Ada tiga jenis tanda yang pokok. antara penanda dan petanda.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). aliran semiotik. Menurutnya. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Dalam lapangan semiotik. yaitu ikon.4. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. indeks. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. 1993: 183-189). untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Stout (dalam Makaryk. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. pengertian tanda ada dua prinsip. arti bahasa dalam 58 . dan simbol. yang merupakan bentuk tanda.

arti tambahan (konotasi). Berhubungan dengan hal ini. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Jadi. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. suasana. perasaan. Dalam kaya sastra. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . daya liris.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam sistem semiotik. intensitas. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra.

Dilihat dari segi cara kerjanya. Menurut pandangan intertektualitas. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. atau yang lain. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. (2) semantik semiotik. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Sejalan dengan paham triadik peircean.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. termasuk sastra. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. terdapat (1) sintaksis semiotika. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. dan (3) pragmatik semiotik. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda.

tokens. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a.1. b. ground. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. ikon. 2. object (designatum. qualisigns. sinsigns. referent). c. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. Di antara representamen. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. b. b. denotatum. interpretant. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. type. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. c. representamen. dicent signs. yaitu apa yang diacu: a. dan interpretant. 2004: 102) di antara ikon. rheme. c. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. Menurut Aart van Zoet (Ratna. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. argument. yang paling sering diulas adalah object. 61 . legisigns. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. object. simbol.

maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. 4. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 62 . Alasannya. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu.indeks. di lain pihak. yaitu (a) pengarang (ekspresif). (b) semestaan (mimetik). sebagai struktur.5. dan Faruk. Karena itu. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. yang terpenting adalah ikon. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. dan simbol. 1993: 95-99. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan (d) objektif (otonom). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). termasuk karya sastra. Kellner dalam makaryk. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Teks sastra kaya dengan ikon. Sebagai strukturalisme. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. 1993: 340-341. (c) pembaca (pragmatik).

Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. yaitu melakukan transformasi atas alam. Menurut Marxis. Untuk melakukan transformasi atas alam. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Oleh karena itu. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. 4. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. melainkan kelas sosial. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.5. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Karya-karya kultural yang besar.

Karena itu. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . kelompok etnis. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. dan sebagainya. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. seperti kelompok profesi. pendidikan. ras. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian.

Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Greimas. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Dalam pandangan strukturalisme genetik. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.5. seperti strukturalisme. 4. Dengan demikian.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Namun. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Todorov. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. bersifat mimetik. Hanya beberapa di antaranya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. dan sebagainya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan.

dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Struktur yang demikian. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. menurut strukturalisme genetik. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss.semantik pula. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.

Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.5. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Namun. yang juga berstruktur. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. 4.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Menurut paham tersebut. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun.

Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. kisah. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). perkataan. subjek secara linguistik. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. atau sebaliknya. Narratio berarti cerita.dialektik. 4. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. bukan 72 . seperti model sintaksis. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. predikat. logos berarti ilmu. Dengan demikian. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.6 Naratologi 4. demikian juga dengan wacana dan teks. dan objek penderita.6. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. sebagaimana hubungan antara subjek. hikayat. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.

dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). bukan pengarang. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. melainkan melalui bahasa. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Pada pahan pascastruktural. dan wacana. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. bukan pengarang. misalnya. tetapi juga melalui kata-kata. dan ekonomi. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. sastra. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. politik. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. semboyan. restorasi. diceritakan oleh narator. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural.person. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Revolusi. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. dengan pertimbangan 73 . Setiap orang. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks.

kebudayaan pun tidak ada. Dalam karya sastra. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. pembaca. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Hampir keseluruhan genre sastra. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. dan gaya bahasa. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. latar.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dalam pembicaraan mengenai naratif. yaitu dunia fiksional. Di pihak lain. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. cerita sebagai tulang punggung karya. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. sudut pandang. tokoh-tokoh. dan teks. Dilihat dari media yang tersedia. wacana. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. 74 . Tanpa cerita. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. baik sebagai penulis. tema. Tanpa plot. paling luas.

text. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). puisi naratif. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). yaitu: 1. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). biografi. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Para pelopornya. Gerald 75 . Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. story. 1993: 110. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Shlomith Rimmon-Kenan (story. Forster (tokoh bundar dan datar). cerpen. Para pelopornya. Secara historis. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. narration). catatan harian. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. termasuk feminis dan psikoanalisis. gongeng. mitos. epik. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). modus.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. dan suara). interdisipliner. fabula. Percy Lubbock (teknik naratif). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. durasi. dan sebagainya. text). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). juga roman. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. lelucon. Mieke Bal (fabula. frequensi. Henry James (tokoh dan cerita). Claude Bremond (struktur dan fungsi).

6. 4.Prince (struktur narratee). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. yaitu Propp. pastiche). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Propp 76 . Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Jacques Derrida (dekonstruksi).6. Menurutnya. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Artinya. unit terkecil yang membentuk tema.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Todorov. LeviStrauss. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.2. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Hayden White (wacana sejarah). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Oleh karena itu. Marry Louise Pratt (tindak kata). Seymoeur Chatman (struktur naratif). Roland Barthes (Kernels dan satellits). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.

Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. yaitu: pelaku. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (3) penolong. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Model Propp mendasari penelitian dari Greimas.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Dengan kalimat lain. 77 . yaitu: (1) penjahat. Bremond. (2) donor. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. (4) putri dan ayahnya. persona bertindak sebagai variabel. Di sini. dan Todorov. (5) orang yang menyuruh. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). perbuatan. Menurutnya. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. dan (7) pahlawan palsu. (6) pahlawan.

4. Di satu pihak. Pendekatan antropologi sastra. mitos adalah naratif itu sendiri. seperti laki-laki perempuan. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. misalnya. tabu. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. dan sebagainya. Menurutnya. Dengan kalimat lain. dan harus direkonstruksi melaluinya.6. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. khususnya konsep-konsep oposisi biner. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain.2.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. baik secara bulat maupun fragmentasi. dan incest. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. 78 . dilakukan terhadap mitos Oedipus. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. melalui struktural. bumi langit.

meneliti tema. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. dan partisipasi. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. berkaitan dengan makna dan lambang. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi.6. (2) aspek semantik. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. yaitu (1) aspek sintaksis. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . dan sebaliknya. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. secara berdampingan. Oleh karena itulah. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. dan sebagainya. komunikasi.2. tokoh. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. 4. gaya bahasa. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Menurutnya. dan (4) aspek verbal. dan latar. yaitu: kehendak. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek.

2. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Tidak ada subjek di balik wacana. sosiologi sastra. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). yaitu dongeng. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Yang ada hanyalah subjek. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). 4. dll. studi biografi. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. seperti: psikologi sastra. yaitu tata bahasa naratif universal. Apel adalah sebagai objek. 80 . Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. acteurs merupakan kategori umum. Mary sebagai penerima. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary.antarhubungan adalah kausalitas. kritik fenomenologis. John dan Paul juga merupakan pengirim. 1999: 11-13. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. sastra sebagai proyeksi. Greimas (dalam Abdullah. tetapi diperluas pada mitos.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.6. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. baik sebagai pengirim maupun penerima.

maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. dan ilmu sosial lainnya. dan struktur yang bersifat pemutusan. religi. Actans merupakan struktur dalam. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Cerita adalah bahan 81 . Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. pelaku. Sebaliknya. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. yaitu subjek dengan objek. dan plot. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. dan penolong dengan penentang. tek. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Oleh karena itu. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran.

perangkat peristiwa. 82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama.kasar. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

sistematis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan fungsional. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Karenanya.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.1. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. untuk memisahkan kemenduaan. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. dan (c) peletak dasar 86 . (2) kemenduaan arti (ambiguity). 5. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.

hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. waktu. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. serta dana. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Ciri kedua yang menyangkut fisible. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. pikiran. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. Menurut Nazir (1985: 134-135). (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (4) masalah harus dapat duji. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. 87 . Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel.

maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. Dengan demikian. hubungan antarunsur. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. topik penelitian atau judul penelitian. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. dan totalitas di dalamnya. mengembangkan (develop atau extention). Berhubungan dengan penelitian sastra. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. 88 .Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih.1.

Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. lingkup masalah. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). sistematis. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Secara ideal. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. berjumlah tertentu. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. misalnya. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 2001:2). 5. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. 89 .

circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting.Dengan demikian. Sebagai suatu cara pemahaman. teori tidak harus dipahami secara kaku. antarhubungan. Teori adalah alat. Dalam kerangka strukturalisme. Penerimaan yang dimaksud 90 . Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. diperlukan penerimaan positif. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. sebagai akumulasi konsep. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. baik sebagai teori maupun metode. misalnya. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. khususnya analisis fiksi. Dalam uraian landasan teori. Dalam strukturalisme. dan totalitasnya.

Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.mengarah kepada keteraturan. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Atau dengan kalimat lain.1. Sebaliknya. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.

Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. dan hubungan antarunsur. hubungan simetris 92 . pemilihan. ciri. Penentuan data berdasarkan perilaku. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu.(pendekatan) linguistik. dsb. sistematik. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Dengan kata lain. padu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. (2) kategori harus lengkap. demi pemahaman identitas data penelitian. Sejalan dengan uraian di atas. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. dan faktor kebetulan. hubungan saling mempengaruhi. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. 3. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. 2.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 .

pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemilahan.penelitiannya. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. dan pengolahan data secara sistematis. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemilahan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian.

padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. 5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.dan tujuan penelitian.

Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Idealnya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya.

Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Latar Belakang . fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. dsb. keinginan.. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat..1. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. pengembangan penelitian sejenis. keberanian. dana yang tersedia. ciri. . Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. referensi yang memadai. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.. kepahlawanan dan petualangan. Merujuk pada potensi teks tersebut. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. waktu pelaksanaan..

kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. 2. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. tampak 98 . Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. berpikir logis. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Namun demikian. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1.

4. latar) 3. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. keterjalinan antarunsur cerita. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. dan penelusuran tema dan amanat. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. 99 . Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah.

misalnya 100 . Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. 5. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Dalam hal ini . hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya.Berdasarkan upaya tersebut.

antar hubungan.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. menempatkan teks secara otonom. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. 101 . misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Struktur dinamik. Penjabarannya menjadi. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Oleh karena itu. alur. Paham struktural objektif. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur.

Dengan demikian. pengolahan data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. padu. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. dll. sosial). tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. pemilihan data. dan analisis data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dan menyeluruh. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. tempat. identifikasi masalah. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja.

kajian struktural naratif d. dan fungsional. 5. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). pada langkah penyusunan Landasan Teori. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. kajian struktural objektif b.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. sistematis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. dan metodologis. teoretis. dan metode kajian. kajian struktural genetik c.tingkat kepekaan literer. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya.

Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. semendetail. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. 2003:112). Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. dan tujuan penelitian tertentu. kurang memadai. identifikasi masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Berdasarkan contoh di atas. seteliti. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Uraian landasan teori tampak 104 .

Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. 5. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kelemahan lain.

dan menginterpretasikan data (Winarno. keterjalinan unsur. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). fenomena.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sifat. mengklasifikasikan . menganalisis. fakta. Dengan demikian. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. 1980: 139). yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. menyusun. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dan amanat dapat terungkap secara tepat. tema. sifat. unsurunsur karya.1. 106 . sejumlah data.

metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Dalam hal ini. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur.b. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. seteliti. (2) struktur cerita. penyusun UP tersebut cukup 107 . b dan c. plot/alur. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan (4) tema dan amanat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. dan latar. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. semendetail.

Namun demikian. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. plot/alur. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Misalnya saja. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.

Demikian pula pada pembicaraan latar. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. jumlah. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. surrise. suspense. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. seperti pengeplotan. kesatupaduan) sebagai instrumen. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. b. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. d. dan sosial? c. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . Pada unsur-unsur cerita lainnya. kepadatan. tempat.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams.

penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Adapun dalam penentuan amanat. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya.

Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud.

1989. 1999. The Act of Reading. Irena R. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .” Makalah. Toward an Aesthetic of reseption. Luxemburg. 2001.). 1983. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. “Sastra Lisan. “Strukturalisme-Genetik. S. Norton & Company Inc. (ed. Jauss.” Makalah. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Jakarta: Gramedia. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. 1999.) 1993. W. Imran T.H. M. dkk. Chamamah. Abrams. Makaryk. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. 1987. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. 1994. Wlfgang. Pengantar Sosiologi Sastra.W. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Jan van. Hans Robert.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. ed. Pengantar Ilmu Sastra. Iser. New York: The Norton Library.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.

Jakarta: Pustaka Jaya T.Bhd. 1993. ed. Pradopo. 2004. Diterjemahkan oleh Okke K. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Bandung: Eresco. Segers. Noeng. “Strukturalisme”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 1987. Penelitian Sastra: Teori. Wellek. dan Teknik. Makalah. Rene & Austin Warren. 19. Rachmat Djoko.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. ------------------------------. 2001. Metode Penelitian Linguistik. Diterjemahkan oleh Suminto A. Tzvetan. Metode Penelitian. Todorov. Metode. Evaluasi Teks Sastra. Fatimah Djajasudarma. Teori Pengkajian Fiksi. Rien T. 1995. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. “Pengantar Penelitian. 1999. Yogyakarta: Gama Media Propp. Sayuti. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Tata Sastra. A. Morfologi Cerita Rakyat. Zaimar. 2002. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Jakarta: Djambatan.S. Selangor: Sain Baru Sdn. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.Muhadjir. V. dkk. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Metodologi penelitian Kualitatif. 1985. 2002. 2000. 1985. Burhan. Kritik Sastra Indonesia Modern. 1984. Nyoman Kutha. Moh. Sastra dan Ilmu sastra.). Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Jakarta: Gramedia Wuradji.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful