P. 1
jibab-wanita-muslimah

jibab-wanita-muslimah

|Views: 58|Likes:
Published by Asroful Anam

More info:

Published by: Asroful Anam on Jan 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/21/2011

pdf

text

original

Penerjemah

:
Editor.
Hidayati
Desain Muka:
Safyra
Perwajahan isi:
Jarot
Cetakan
Pertama:
November 2.002.
Cetakan ke:
3 4 5 6 7 8 9 10
(angka terkecil)
Penerbit: Media Hibayab
Pengantar Penerbit
lhamdulillah, buku jilbab Wan/ta Muslimah telah
terbit. Shalawat dan salam semoga senantiasa
tercurah kepada Nabi Muhammad keluarganya, dan para
pengikutnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir
zaman.
Kesadaran untuk mengenakan busana muslimah makin hari kian
meningkat. Seiring dengan itu, model busana muslimah pun semakin
bervariasi dan mulai mengalami distorsi. Kini muncul istilah jilbab
gaul, atau kudung gaul. Berjilbab tetapi tidak memenuhi ketentuan
syari'at, namun mengikuti mode yang sedang ngetrend.
Buku yang ada dihadapan pembaca ini merupakan terjemahan
dari kitab jilbab Mar'ah Muslimah -edisi revisi- karya Syaikh Al-
Albani. Merupakan buku yang paling lengkap dan paling teliti
dalam menjelaskan dari A sampai Z busana muslimah yang sesuai
dengan ketentuan syariat.
Lebih dari itu, dalam mukadimah edisi revisi ini beliau juga
menyinggung masalah hukum cadar. Secara ringkas beliau menjawab
kritikan atau sanggahan para ulama yang mewajibkan cadar. Bagi
pembaca yang ingin mengkaji lebih detail lagi, bisa membaca risalah
Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Ar-Radd Al Mufhim yang juga kami
terbitkan terjemahannya.
Jilbab Wanita Muslimab — 5
A
Harapan kami semoga buku ini bermanfaat. Segala tegur
sapa dari para pembaca akan kami sambut dengan baik demi
kebenaran dan mencari keridhaan Allah . Amin.
Jogjakarta, November 2002
Penerbit
6—Jilbab Wanita Muslimah
Daftar Isi
Pengantar Penerbit
hlm 5
Daftar Isi
hlm. 7
Mukadimah Edisi Revisi
hlm 9
Mukadimah Cetakan Kedua
hlm 32
Mukadimah Cetakan Pertama
hlm 42
Jilbab Wanita Muslimah
hlm 45
Syarat Pertama
Menutup Seluruh Tubuh, Selain yang Dikecualikan
hlm 47
Jilbab Wanita Muslimah — 7
Syarat Kedua
Tidak Untuk Berhias
hlm 132
Syarat Ketiga
Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
hlm 137
Syarat Keempat
Kainnya Harus Longgar, Tidak
Ketat
hlm 142
Syarat Kelima Tidak
Diberi Wewangian atau Parfum
hlm 149
Syarat Keenam Tidak
Menyerupai Pakaian Laki-laki
hlm 153
Syarat Ketujuh Tidak Menyerupai Pakaian Orang-orang
Kafir
hlm 176
Syarat Kedelapan
Bukan Libas Syuhrah (Tidak untuk Mencari Popularitas)
hlm 233
8—Jilbab Wanita Muslimah
M ukadimah Edisi Revisi

egala puji bagi Allah. Kami memuji, meminta
pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya, serta
berlindung diri kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan
kejelekan perbuatan-perbuatan kami. Siapa yang Allah beri hidayah
tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan siapa yang Allah
sesatkan tidak akan ada yang dapat memberinya hidayah. Saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya juga bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba'du. Ini adalah edisi terbaru dari buku saya Hijab Al-
Mar'ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah. Buku ini berbeda
lengan cetakan sebelumnya, karena di dalam buku ini ada beberapa
tambahan penting. Tambahan penting yang saya maksudkan adalah
berkenaan dengan hadits-hadits dan riwayat-riwayat para salaf yang
menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita adalah
bukan aurat. Sebagai contohnya ialah tambahan lima hadits pada
hlm. 81-84' sehingga selengkapnya menjadi tiga belas dalil yang

1
Berdasarkan penomoran dalam buku ini. Demikian selanjutnya kalau tertulis halaman
tertentu, yang dimaksud adalah halaman pada buku ini, bukan pada kitab aslinya.
Jilbab Wanita Muslimah — 9
S
sebelumnya hanya ada delapan dalil. Demikian pula, kami menam-
bahkan pada cetakan baru ini sejumlah atsar sahabat yang amat
penting yang menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan
wanita bukan aurat, bisa pembaca temukan pada hlm. 111-117.
Yang lebih penting lagi adalah uraian kami pada hlm. 59-64. Di
situ kami jelaskan pandangan cemerlang Ibnu Abbas dan para sahabat
lainnya, serta para ahli tafsir yang mengikuti pendapatnya berkait
dengan penafsiran firman Allah ta'ala:

"...Kecuali yang biasa nampak...." (QS. An-Nur: 31)
Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut
adalah wajah dan kedua telapak tangan. Maksudnya, kecuali yang
biasa tampak berdasarkan izin dan perintah Allah yang membuat
syariat. Sehingga sekarang tidak ada lagi ganjalan atau kemusykilan
terhadap penafsiran Ibnu Jarir dan Qurthubi, yang telah saya
beberkan di situ. Kajilah bahasan tersebut, karena sangat penting!
Di situ juga saya jelaskan bahwa pemahaman saya dinukilkan dari
pendapat Al-Hafizh Ibnu Al-Qathan Al-Fasi di dalam kitabnya yang
berbobot An-Nazhar fiAhkam An-Nazhar. Semua itu adalah berkat
usaha pengkajian dan penelitian yang berkesinambungan untuk
mendapatkan kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan para
ulama.
Ada juga tambahan lain dalam judul bahasan "Faidah Muhimmah"
(hlm 128-131) yang membahas tentang bahaya mengambil wanita-
wanita kafir menjadi pembantu di rumah-rumah kaum muslimin.
Ada juga tambahan lainnya (pada hlm 135-136) yang membahas
masalah warna-warna pakaian wanita yang oleh sebagian kaum
wanita dianggap sebagai perhiasan, padahal bukan, dengan menyerta-
kan dalil-dalil yang berkaitan dengannya.
Banyak lagi tambahan-tambahan lain, panjang lebar maupun
ringkas, yang bisa pembaca temukan di berbagai halaman di dalam
kitab ini untuk menopang keilmiahan pembahasan.
Hal lain yang perlu saya sampaikan, bahwa ada beberapa pem-
bahasan yang pada cetakan-cetakan sebelumnya saya masukkan ke
10—Jilbab Wanita Muslimah
dalam catatan kaki, namun pada cetakan yang baru ini saya masukkan
ke dalam bahasan pokok, karena pentingnya masalah tersebut. Misal-
nya, pembahasan yang ada pada hlm. 85-90 dalam judul "Ibthalu
Da'wa Anna Hadzihi Al-Adillah Kullaha Kanat Qabla Fardhiyati Al-
Hijab" (Bantahan terhadap Anggapan bahwa Dalil-dalil Ini Berlaku
Sebelum Diwajibkannya Jilbab); dan juga pembahasan-pembahasan
lain.
Sudan sejak beberapa tahun yang lalu -mungkin sekitar dua
tahun- saya menulis mukadimah untuk cetakan baru ini. Di sela-sela
mengerjakan itu, terpaksa saya perlu menyanggah beberapa ulama
yang mengkritik kitab saya ini, khususnya pendapat saya bahwa wajah
dan telapak tangan bukan aurat, di mana mereka mengkritik saya
dengan kritikan yang tidak ilmiah, bahkan diiringi dengan kecaman,
seakan-akan saya membela pendapat saya dengan hawa nafsu saja,
dan tidak ada ulama salaf yang berpendapat demikian! Saya sanggah
pendapat-pendapat mereka itu dengan memaparkan dalil-dalil dan
bantahan-bantahan mereka, serta mengulas alasan-alasan mereka satu
persatu. Secara khusus, saya bantah pendapat Syaikh Tuwaijiri dalam
kitabnya Ash-Sharim Al-Masyhur, karena dialah tokoh yang paling
menonjol di antara mereka. Terkadang saya bantah mereka dengan
bantahan secara umum saja, yaitu bila dalil yang ada cukup jelas,
tanpa ada kesamaran dan kekaburan. Begitulah seterusnya, sampai
akhirnya tak terasa saya telah mengumpulkan lebih dari seratus
halaman dalam ukuran besar dengan tulisan tangan. Artinya, bila
tulisan itu saya lengkapi, kemudian saya susun (sedemikian rupa
menjadi sebuah buku), niscaya ukurannya hampir sama dengan
ukuran kitab ini, atau bahkan lebih. Dengan demikian,
memasukkan kumpulan tulisan bantahan tersebut ke dalam judul
"Mukadimah Cetakan Baru Kitab Ini" kurang pas dipandang dari
berbagai alasan. Salah satu di antara alasan-alasan tersebut adalah
karena ukuran kitab ini nantinya akan menjadi terlalu tebal. Alasan
lainnya, dan ini yang terpenting, adalah karena tulisan tersebut
merupakan pembahasan spesifik saya. Karena itu, setelah berpikir dan
mempertimbangkan segala sesuatunya akhirnya saya putuskan untuk
tidak memasukkan tulisan saya tadi ke dalam mukadimah buku ini,
dan akan saya terbitkan dalam buku tersendiri. Harapan saya
dengan menjadi satu kitab tersendiri seperti
Jilbab Wanita Muslimah — 11
itu nantinya tulisan tersebut bisa menjadi penerang bagi orang banyak,
dan barangkali, insya Allah, akan lebih bermanfaat serta lebih mudah
untuk disebarluaskan. Kitab tersebut saya beri judul: Ar-Radd Al-
Mufhim 'Ala Man Khalafa Al-'Ulama wa Tasyaddada wa Ta'ashshaba
wa Alzama AI-Mar-ah Ah-Tastura Wajhaha wa Kaffaiha wa
Aujaba wa Lam Yaqna bi Qaulihim: Innahu Sunnah wa Mustahab
(Jawaban Juntas terhadap Mereka yang Menyelisihi Para Ulama,
Bersikap Keras dan Fanatik, serta Mewajibkan Wanita Menutup
Wajah dan Kedua Telapak Tangannya, dan Tidak Puas dengan
Perkataan Mereka: Sesungguhnya Menutup Wajah dan Kedua
Telapak Itu Hukumnya Sunnah dan Mustahab Saja).
Tetapi saya pikir, saya harus menjelaskan, meskipun secara
ringkas, pokok-pokok kesalahan mereka yang menyelisihi pendapat
para ulama dan bersikap keras tersebut.
Pertama. Mereka menafsirkan kata ¸ , · = · dalam firman Allah surat
Al-Ahzab ayat 59 dengan: 'menutup wajah'. Penafsiran ini berten-
tangan dengan arti asal kata tersebut secara bahasa, yaitu: 'mendekat-
kan', sebagaimana disebutkan di dalam kitab Lughah dan disebutkan
pula oleh Al-'Allamah Ar-Raghib Al-Ashbahani di dalam kitab Al-
Mufradat, di mana di situ dia berkata: ¸ · , -v · ¸ · · . , · . , artinya: 'saya
mendekatkan dua hal satu sama lain/ Kemudian dia menyebutkan
ayat "jiIbab" tersebut, lalu mengemukakan hujjahnya yang sangat jitu,
yaitu bahwa Ibnu Abbas yang dikenal sebagai "turjumanul qur'an"
(penerjemah Al-Qur'an) saja menafsirkan seperti itu. Ibnu Abbas
berkata, "Para wanita mendekatkan jilbab ke wajahnya, yang di-
maksud adalah bukan menutupkannya."
Penjelasan tentang derajat sanad dari riwayat Ibnu Abbas ini akan
disebutkan nanti. Dan, riwayat-riwayat dari Ibnu Abbas juga yang
bertentangan dengan pernyataannya di atas yang dikemukakan
oleh mereka tidaklah shahih.
Kedua. Mereka menafsirkan kata jilbab dengan: 'kain yang menu-
tup wajah'. Ini tidak ada rujukannya dari segi bahasa, bahkan juga
bertentangan dengan penafsiran para ulama bahwa jilbab adalah
'kain yang dipakai oleh wanita di atas khiamya', bukan menutup di
atas wajahnya. Bahkan, syaikh At-Tuwaijiri sendiri mengutip
penafsiran
12—Jilbab Wcmita Muslimah
ini dari Ibnu Mas'ud dan ulama salaf lainnya. Penafsiran seperti itulah
yang saya kemukakan nanti di dalam kitab ini pada hlm 96-97.
Ketiga. Mereka bersikeras bahwa khimar adalah 'penutup kepala
dan wajah'. Mereka menambah kata 'wajah' pada penafsiran mereka,
agar mereka bisa menjadikan ayat:

"Hendaklah mereka menutupkan khimar-khimar mereka ke dada-
nya."(QS.An-Nur: 31)
sebagai hujjah yang menguatkan pendapat mereka, padahal sebe-
narnya justru melemahkannya. Sebab, secara bahasa, khimar berarti
'tutup kepala' saja. Pengertian inilah yang dimaksudkan setiap kali
kata khimar ini disebut secara mutlak di dalam As-Sunnah, seperti
hadits-hadits tentang mengusap khimar dan sabda Nabi M-

"Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh
kecuali dengan memakai khimar. "
2

Bahkan, hadits ini menegaskan kesalahan penafsiran mereka.
Sebab, orang-orang yang bersikeras itu sendiri pun -apalagi para
ulama— tidak menjadikan hadits ini sebagai dalil disyariatkannya
menutup wajah bagi seorang wanita di dalam shalat, melainkan
sekedar kepala saja. Maka, tanyakanlah kepada mereka kalau mereka
bisa berbicara!
Yang lebih tegas lagi adalah penafsiran mereka terhadap firman
Allah:

"... untuk menanggalkam pakaian mereka."
Mereka menafsirkan kata 'pakaian' pada ayat di atas dengan
jilbab. Mereka mengatakan, "Seorang wanita tua yang telah
mengalami monopause diperbolehkan menampakkan khimar
mereka
2. Penjelasan tentang sanad hadits iniakandisampaikankemudian.
Jilbab Wcmita Muslimah— 13
dengan membuka wajah mereka di hadapan laki-laki asing (yang
bukan mahramnya). Penafsiran semacam ini dikemukakan oleh salah
seorang ulama yang disegani di kalangan mereka. Adapun syaikh
Tuwaijiri hanya mengisyaratkan saja. Dia tidak menyatakannya secara
tegas. Ini dijelaskan di dalam kitab Ar-RaddAl-Mufhlm
Saya teiah memeriksa pendapat para ulama salaf maupun khalaf,
pada spesifikasinya masing-masing, saya dapati mereka telah ber-
sepakat bahwa khimar adalah 'tutup kepala'. Saya catat ada lebih
dari dua puluh nama ulama, yang mereka adalah para imam dan
hafizh. Di antara mereka ada Abul Walid Al-Baji (wafat 474 H.).
Bahkan, beliau menambahkan keterangan tentang hal ini, semoga
Allah membalas dia dengan kebaikan, dengan perkataannya: 'Tidak
ada yang nampak darinya, kecuali lingkaran wajahnya."
Keempat. Syaikh Tuwaijiri mengklaim adanya ijma' ulama, bah-
wa wajah wanita adalah aurat, dan banyak orang-orang yang tidak
berilmu bertaklid kepada pendapatnya, bahkan, di antara mereka ada
yang bertitel doktor! Klaim ini tidaklah benar, dan tidak ada satu pun
ulama sebelumnya yang menyatakan seperti itu. Kitab-kitab madzhab
Hanbali, yang dia pelajari, apalagi kitab-kitab lainnya, cukup menun-
jukkan kesalahan klaim tersebut. Di dalam kitab Ar-Radd
tersebut, saya telah menyebutkan banyak ucapan ulama madzhab
Hanbali, misalnya adalah ucapan Ibnu'Hubairah Al-Hanbali di dalam
kitabnya Al-lfshah. Di sana disebutkan bahwa tiga imam madzhab
berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. Dia sendiri
berkata, "Tentang hal ini juga ada riwayat dari Imam Ahmad."
Banyak ulama madzhab Hanbali yang menguatkan riwayat ini
dalam tulisan-tulisan mereka, seperti Ibnu Qudamah dan lain-lainnya.
Penulis kitab Al-Mughni, (yakni Ibnu Qudamah Pen.) mengemukakan
alasan pendapat tersebut dengan perkataannya, "Karena kebutuhan
menuntut dibukanya wajah untuk jual beli dan kedua telapak
tangan untuk mengambil dan memberi."
Dan ulama lainnya yang berpendapat seperti itu adalah Al-
'Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali. Beliau ini dikomentari oleh Ibnul
Qayyim Al-Jauziyah: "Saya tidak tahu, di bawah kolong langit ini,
ada orang yang lebih tahu tentang madzhab Hanbali daripada Ibnu
14 — Jilbab Wanita Muslimah
Muflih." Sedangkan Ibnu Taimiyah mengomentarinya, "Kamu ini
bukan Ibnu Muflih (anak orang yang beruntung), tetapi kamu ini
Muflih (orang yang beruntung)."
Di sini saya pikir harus menyampaikan perkataan "orang yang
beruntung" ini kepada pembaca, karena mengandung banyak penge-
tahuan dan faedah, di antaranya menegaskan kesalahan klaim Syaikh
Tuwaijiri. Dan pendapat dia itu sesuai dengan perkataan ulama lain
yang saya pilih sebagai pendapat saya dalam masalah ini.
Di dalam kitabnya yang sangat berharga Al-Adab Asy-
Syar’iyyah, dimana kitab ini juga merupakan salah satu rujukan
Syaikh Tuwaijiri, sehingga menjadi pertanda bahwa sebenarnya dia
itu mengetahui hakekat persoalan, namun dia berusaha menutup-
nutupi kebenaran ilmiah ini kepada para pembaca kitabnya, lalu
mengeluarkan klaim yang bertentangan dengan kebenaran itu!- Ibnu
Muflih rahimahullah berkata: "Bolehkah melarang wanita-wanita
ajnabiyah membuka wajah-wajah mereka di jalan umum? Jawaban
terhadap pertanyaan ini terpulang pada pertanyaan, Apakah wanita
itu berkewajiban menutup wajahnya ataukah kaum laki-laki yang
berkewajiban menundukkan pandangan darinya? Memang, dalam
masalah ini ada dua pendapat. Qadhi 'lyadh rahimahullah berkata
berkait dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir ., dia berkata:
"Saya pernah bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan
yang selintas saja. Maka, beliau memerintahkanku untuk
memalingkan pandangan." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
3
.
Para ulama rahimahumullah berkata, "Di dalam hadits ini
terkandung dalil bahwa wanita tidak berkewajiban menutup
wajahnya di jalan. Hukum wanita menutup wajah hanyalah sunnah
saja, dan menjadi kewajiban laki-laki untuk menundukkan
pandangannya dari melihat wanita, dalam keadaan apa pun, kecuali
untuk tujuan syar'i. Ini disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin An-Nawawi
tanpa komentar apa pun dari dia.
Kemudian Ibnu Muflih menyebut perkataan Ibnu Taimiyah yang
dijadikan sandaran oleh Syaikh At-Tuwaijiri di dalam kitabnya (hlm.
170) yang berpura-pura tidak tahu adanya pendapat jumhur ulama,

3. Hadits ini akan dijelaskansanadnya di belakang.
Jilbab Wanita Muslimah— 15
Pendapat Qadhi 'lyadh dan persetujuan Nawawi terhadap
pendapat mereka.
Ibnu Muflih menambahkan, "Oleh karena itu, apakah diperboleh-
kan untuk mengingkari? Jawabnya tentu sesuai dengan kaidah yang
berlaku dalam urusan khilaf, di mana sama-sama kita ketahui bahwa
masalah ini adalah termasuk masalah khilafiyah. Adapun menurut
pendapat kami dan pendapat sejumlah ulama madzhab syafi'i dan
Iain-Iain, memandang wanita ajnabiyah adalah diperbolehkan se-
panjang tidak disertai syahwat dan tidak dalam keadaan khalwat
(berduaan saja Pen.); karena itu, tidak selayaknya diingkari."
4

Saya katakan: Jawaban ini sangat-sangat sesuai dengan perkataan
Imam Ahmad rahimahullah, "Tidak selayaknya seorang fakih itu
memaksa orang-orang untuk mengikuti pendapatnya."
Saya katakan: "Ini pun, jika kebenaran jelas-jelas ada, pada
pihaknya. Bagaimana jika yang bersangkutan pendapatnya salah,
namun keras kepala dan suka mencap sesat, kalau tidak kita
katakan: suka mencap kafir?! Karena Syaikh At-Tuwaijiri berkata di
dalam kitabnya (hlm. 249),.'Barangsiapa memperbolehkan wanita
untuk melakukan sufur (membuka wajahnya) dengan alasan seperti
yang disampaikan oleh Al-Albani, berarti dia telah membuka lebar-
lebar pintu tabarruj (bersolek dan ngeceng —Pen.) kepada wanita,
dan mendorong mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan
jelek lainnya seperti dilakukan oleh kebanyakan wanita zaman
sekarang ini!'"
Di halaman lain kitabnya (hlm. 233) dia mengatakan, "...Men-
dorong mereka untuk mengingkari ayat-ayat Allah!"
Begitulah apa yang telah dikatakannya. Semoga Allah memberi
hidayah kepadanya. Bila seperti itu perkataan dia, lalu apa yang akan
dia katakan kepada Ibnu Muflih, An-Nawawi, Qadhi 'lyadh, dan
jumhur ulama sebelum mereka, yang notabene mereka itu para ulama
salafi?!
f
Kelima. At-Tuwaijiri dan lain-lainnya yang bersikap keras itu,
bersepakat mentakwil hadits-hadits shahih agar tidak bertentangan
dengan pendapat mereka! Diantaranya adalah terhadap hadits 'Al-

4. Lihat kitab Al-Adab Asy-Syar'iyah (I: 187)
r
16—Jilbab Wanita Muslimab
Khats'amiyah'. Untuk menolak makna hadits ini mereka
menyebut-kan alasan-alasan yang membuat tertawa sekaligus
menangis. Saya telah bantah alasan-alasan dia itu di dalam kitab ini
(hlm 72). Sekali-pun demikian, ada sebagian dari mereka yang
masih bersikeras mengatakan bahwa wanita itu sedang dalam
keadaan ihram! Padahal mereka mengetahui bahwa ibadah ihram
tidak menghalangi seorang wanita untuk menutup wajahnya! Jadi,
At-Tuwaijiri kadang-kadang mau menerima bahwa wanita
tersebut dalam keadaan membuka wajahnya, akan tetapi dia
menolaknya untuk dijadikan sebagai dalil. Dia berkata, "Di situ
tidak terkandung dalil bahwa wanita tersebut terus-menerus
membuka wajahnya!" Yang dia maksudkan adalah, bahwa boleh
jadi angin bertiup membuka wajah wanita itu dan ketika itulah Fadhl
bin Abbas melihatnya! Seperti itukah yang dikatakan oleh orang
Arab yang membaca hadits:

"Mulailah Fadhl pun menoleh melihatnya."
Dalam riwayat lain disebutkan:

"Dia mulai melihatnya dan terpesona dengan kecantikannya?!"
Bukankah ini benar-benar merupakan sikap keras kepala?!!
Dan terkadang dia mentakwilnya bahwa Ibnu Abbas
mungkin hanya melihat perawakan dan postur tubuhnya saja!
Dan dia juga mengemukakan takwil-takwil lain terhadap
hadits tersebut, tetapi semuanya telah saya bantah. Di samping
terhadap hadits tersebut, dia juga mentakwil hadits-hadits
lainnya dengan takwil-takwil serupa itu, namun semuanya juga
telah saya bantah.
Keenam. Mereka bersepakat menggunakan hadits-hadits
dan atsar-atsar yang dha'if sebagai dalil, seperti misalnya hadits
yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang "bolehnya wanita
membuka sebelah matanya", sekalipun mereka telah mengetahui
kelemahan' hadits tersebut, karena telah dijelaskan di dalam kitab
tersebut (hlm 88) yang berisi jawaban terhadapnya. Bahkan,
salah seorang dari
Jilbab Wanita Muslimah — 17
"Apakah kamu berdua buta?"
Mereka menilai kuat hadits ini, karena bersikap taklid kepada At-
Tuwaijiri. Mereka gunakan hadits tersebut sebagai hujjah untuk meng-
haramkan wanita memandang laki-laki, sekalipun laki-laki tersebut
buta! Padahal, menurut para muhaqqiq hadits, seperti Imam Ahmad,
Baihaqi dan Ibnu Abdul Barr hadits tersebut adalah dha'if. Qurtubi
mengutip bahwa hadits tersebut menurut para ahli hadits tidak s/hahih.
Begitulah penilaian banyak ulama dari kalangan madzhab Hanbali,
baik para ulama maqdisi maupun lainnya. Dan seperti itu pulalah
penilaian yang sesuai dengan kaidah ilmu hadits dan usfiulnya, seba-
gaimana yang telah saya jelaskan di dalam kitabi Al-Irwa' (VI:
210).
Meskipun begitu, berani-beraninya Syaikh Abdul Qadir As-Sindi,
mengikuti jejak At-Tuwaijiri dan lainnya, menyatakan bahwa hadits
tersebut shahihl Dengan tindakan semacam itu, secara tidak langsung
dia telah membuat cacat dirinya dan telah menyingkap
kebodohan atau kemasabodohannya -sungguh sayang—, karena
ternyata dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang periwayat
majhul yang mana hanya ada seorang saja meriwayatkan darinya,
(sehingga tidak bisa dijadikan untuk berhujjah). Apa lagi dalam
hal ini penilaian dia bertentangan dengan para ulama yang lebih
mapan keilmuannya.
Untuk memperkuat pernyataannya, —berbeda dengan yang saya
ketahui sebelumnya- sungguh sangat mengherankan, dia telah berbu-
at tadlis (mengaburkan diri periwayat-Pen.), melakukan penyesatan-
penyesatan, bersikap taklid, menyembunyikan ilmu, serta berpaling
dari kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku, di mana tak seorang pun di
antara kita terbetik untuk melakukan hal itu. Itu semua terdapat di
dalam kitabnya setebal kurang lebih empat halaman. Salah satunya
adalah sikap pura-pura bodohnya terhadap kenyataan bahwa hadits
tersebut bertentangan dengan hadits yang mengisahkan Fathimah
binti Qais, di mana Nabi mengizinkan dia untuk tinggal di rumah
18 —Jilbab Wanita Muslimah

mereka juga telah menilai lemah hadits tersebut. Juga, hadits-hadits
lain yang telah saya jelaskan kelemahannya secara detail. Yang paling
penting di antaranya adalah hadits:
"Sesungguhnya jika kamu menanggalkan khimarmu, dia tidak bisa
melihatmu."
Dalam hadits yang diriwayatkan Thabarani dari Fatimah binti
Qais, dia berkata:

"Beliau menyuruh saya tinggal di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena
dia buta, sehingga dia tidak akan melihatku ketika saya membuka
khimar saya."
Juga, terdapat hadits-hadits lain yang lemah yang dihimpun oleh
At-Tuwaijiri dalam kitabnya itu, yang jumlahnya saya catat ada
sepuluh hadits; bahkan sebagiannya ada yang maudhu'!
Ketujuh. Kesalahan mereka dalam menilai lemah hadits-hadits
shahih atau atsar-atsar yang nyata kebenarannya dari sahabat, sikap
pura-pura tidak tahu mereka adanya jalur-jalur periwayatan lain yang
menguatkan hadits-hadits atau atsar-atsar tersebut, atau penilaian
d/ia/'f dari sebagian mereka terhadap hadits-hadits dan atsar-atsar
tersebut yang berlebih-lebihan. Sebagai misalnya, terhadap hadits
yang diriwayatkan dari Aisyah tentang "Wanita yang telah mencapai
usia baligh tidak boleh kelihatan bagian tubuhnya, kecuali wajah dan
kedua telapak tangannya." Mereka bersikeras menilai lemah hadits
ini, karena yang jahiI dari mereka telah bertaklid kepada orang yang
tidak memiliki ilmu! Dalam hal itu, mereka menyelisihi para hafizh
hadits, seperti Baihaqi dan Dzahabi yang telah menilainya kuat.
Penilaian kedua ulama hadits tersebut saya sebutkan di dalam kitab
ini (hlm. 66-68). Sebagian dari mereka mengabaikan banyaknya jalan
periwayatan hadits tersebut, padahal di antara mereka ada tokoh-
tokoh yang cukup mumpuni. Bahkan, At-Tuwaijiri pada hlm 236
secara terang-terang mengatakan bahwa hadits tersebut tidak diriwa-
Jilbab Wanita Muslimab—19
Ibnu Ummi Maktum yang buta, yang sudah pasti Fathimah binti Qais
akan melihatnya. Nabi mengizinkan dia dengan alasan:
yatkan, kecuali dari Aisyah. Padahal, dengan mata kepalanya sendiri
pada halaman itu juga dia mengetahui kalau hadits tersebut mem-
punyai dua jalur periwayatan, satunya dari Asma' binti 'Umais dan
satunya lagi dari Qatadah secara mursal dengan sanad shahih yang
sampai kepadanya. Selanjutnya, banyak tukang taklid yang mengikuti
pendiriannya itu. Di antaranya seorang penulis wanita yang menulis
sebuah kitab berjudul Hijabaki Ukhti Al-Muslimah (hlm. 33). Mereka
juga telah mengabaikan penilaian para hafizh hadits lain yang mengu-
atkan hadits tersebut, seperti Al-Mundziri, Az-Zaila'i, Al-Asqalani dan
Asy-Syaukani. Dan sebagian dari mereka yang merasa mempunyai
ilmu hadits yang mulia ini -yang dipelopori oleh Syaikh As-Sindi-
mengklaim bahwa sebagian dari para periwayatnya mempunyai kele-
mahan yang parah untuk menghindari kaidah kuatnya hadits dha'if
bila mempunyai banyak jalur periwayatan, sehingga mengicuh para
pembaca seakan-akan hadits tersebut tidak bisa menjadi kuat meski-
pun mempunyai banyak jalur periwayatan. Di antara periwayat yang
diklaim parah lemahnya oleh mereka adalah Abdullah bin Lahi'ah.
Dalam hal ini, mereka menyelisihi metode para ulama hadits, seperti
Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahmatullahi 'alaihima, yang me-
nyatakan bahwa sebenarnya Abdullah bin Lahi'ah itu bisa terkuatkan
kelemahannya. Mereka juga mengabaikan bahwa para ulama, di
antaranya Imam Syafi'i menilai kuat hadits mursal bila dipakai oleh
banyak ulama. Padahal, para ulama memakai hadits ini, sebagaimana
yang telah kita sebutkan di muka dan akan dibahas pula di dalam
kitab ini. Di samping itu ada hal-hal lain yang menguatkannya, yaitu:
1. Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Qatadah dengan bersanad
dari Aisyah.
2. Hadits tersebut diriwayatkan juga melalui jalan lain, yaitu dari
Asma'.
3. Hadits tersebut diamalkan oleh ketiga periwayat tersebut:
a. Qatadah, dalam menafsirkan ayat yang menyebutkan tentang
al-idna' (mengulurkan jilbab), dia mengatakan, "Allah telah
mewajibkan mereka mengenakan kain yang menutup alis me-
reka," maksudnya tidak menutup wajah mereka, sebagaimana
yang dikatakan oleh Thabari.
20—Jilbab Wanita Muslimah
b. Aisyah, dia berkata berkenaan dengan wanita yang melakukan
ihram: "Hendaklah dia menutupkan pada wajahnya, jika dia
mau."
Ucapan Aisyah ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad
yang shahih.
Saya katakan: Perkataan Aisyah yang memberi pilihan kepada
wanita yang melakukan ihram untuk menutup wajahnya atau
tidak menjadi dalil yang jelas bahwa wajah bukan aurat me-
nurut dia. Jika tidak demikian, tentulah Aisyah akan mewajib-
kannya kepada wanita itu, seperti yang mereka katakan. Oleh
karena itu, mereka yang berkeras kepala yang dipelopori oleh
At-Tuwaijiri itu telah menyembunyikan perkataan Aisyah dari
para pembacanya. Bahkan, penulis kitab Fashlu Al-
Khithab telah secara sengaja menghilangkan perkataan
Aisyah itu pada hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi! Dan
dia juga melakukan tindakan-tindakan lain serupa itu.
Atsar dari A'isyah ini menguatkan hadits yang dia riwayatkan
secara marfu'. Inilah yang tidak mereka ketahui atau mungkin
pura-pura tidak mengetahui. Namun, kedua hal tersebut
adalah buruk!
c. Adapun Asma', dia telah menceritakan, bahwa Qais bin Abu
Hazim pernah melihat dia sebagai seorang wanita yang ber-
kulit putih dan bertato pada kedua lengannya. Riwayat tentang
Qais ini akan dijelaskan sanadnya nanti. Itulah salah satu di
antara manfaat cetakan baru ini.
4. Atsar dari Ibnu Abbas yang telah dikemukakan pada hlm. 12,
yang mengatakan: "Dia mendekatkan jilbab ke wajahnya, tetapi
tidak menutupkannya."
Demikian pula penafsirannya terhadap ayat, "Kecuali yang biasa
nampak darinya." Dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah
wajah dan kedua telapak tangan, sebagaimana yang akan dibahas
kembali pada hlm 68. Selain ini, ada atsar serupa dari Ibnu Umar.
Untuk itu, saya pandang perlu menyampaikan sebuah kata hikmah
untuk dijadikan pelajaran dan peringatan, yaitu bahwa: "Kebenaran
Jilbab Wanita Muslimah — 21
itu tidak bisa dikenali dari orang-orang; tetapi kenalilah kebenaran,
niscaya kamu akan tahu orang-orang (yang berpegang dengannya)!"
Nah, Syaikh Tuwaijiri di satu kesempatan bersikeras menolak
hadits Aisyah ini, sekalipun hadits ini mempunyai hadits pendukung,
yang salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dari Qatadah
secara mursal, namun di kesempatan lain dia menerima hadits lain
yang diriwayatkan dari Aisyah juga, yang menyebutkan bahwa dia
mengenakan cadar; dan di situ disebutkan bahwa Aisyah berkata
tentang Shafiyah dan wanita-wanita Anshar, "Seorang Wanita Yahudi
di tengah-tengah wanita-wanita Yahudi." Padahal, sanad hadits ini
dha'if juga. Isinya juga mungkar (tertolak), sebagaimana bisa anda
lihat. Sekalipun demikian, Si Syaikh itu menilainya kuat dengan
berkata pada hlm. 181, "Hadits ini memiliki hadits pendukung yang
mursal." Kemudian dia menyebutkan hadits mursal yang diriwayatkan
dari Atha'. Padahal, di dalam sanadnya terdapat seorang periwayat
yang pendusta!
Perhatikanlah, wahai para pembaca, betapa jauh perbedaan hadits
pendukung (yang diriwayatkan dari Atha') yang palsu tadi dengan
hadits pendukung yang diriwayatkan dari Qatadah yang shahih dan
hadits-hadits pendukung lain yang menjadikannya kuat. Tanyakanlah:
Mengapa At-Tuwaijiri menerima hadits yang diriwayatkan dari Aisyah
tadi dan menolak hadits lain yang diriwayatkan dari dia juga?!!
Jawabannya: Karena hadits yang dia terima itu menjelaskan
bahwa Aisyah mengenakan cadar, walaupun hadits tersebut tidak
menunjukkan wajibnya, sedangkan hadits yang ditolaknya itu me-
niadakan kewajiban menggunakan cadar. Jadi, dalam mempertahan-
kan pendapatnya itu Si Syaikh tidak berdasar dengan kaidah-kaidah
ilmiah Islam, melainkan berdasar dengan prinsip orang-orang Yahudi,
"Tujuan menghalalkan segala cara." Hanya Allahlah tempat me-
mohon pertolongan.
Kedelapan dan yang terakhir. Ada sikap yang mengherankan dari
sebagian ulama mutaakhirin dari kalangan madzhab Hanafi dan
lainnya. Karena membeo saja kepada imam-imam mereka, meskipun
memiliki pendapat yang sama dengan kami dan berbeda dengan
orang-orang yang "keras kepala", namun mereka itu memiliki kesama-
22 —Jilbnb Wanita Muslimah
an dengan orang-orang itu, dalam hal membeo-nya kepada imam-
imam mereka. Mereka berijtihad —padahal mereka itu sebenarnya
hanya tukang taklid saja— membatasi madzhab yang dipegangi oleh
para imam dalam masalah "wanita boleh buka wajah" ini dengan
syarat, "asal aman dari fitnah (syahwat)." Yang mereka maksudkan
ialah, fitnah terhadap laki-laki yang ditimbulkan oleh wajah wanita.
Kemudian, orang-orang bodoh di zaman sekarang, yang tahunya
taklid saja, menisbatkan bahwa batasan tersebut berasal dari imam-
imam! Akhirnya, orang-orang awam yang ilmunya hanya berasal dari
"comot sana, comot sini" akan berkesimpulan bahwa tidak ada
perbedaan pendapat antara para imam dengan orang-orang yang
mewajibkan cadar tersebut!!! Padahal, orang yang berilmu pasti
tahu bahwa syarat di atas adalah jelas-jelas batil, karena dengan
hal itu berarti dia berani "menambah-nambah" aturan Allah, Tuhan
semesta alam ini. Sebab, fitnah terhadap kaum laki-laki yang
ditimbulkan oleh wanita itu adanya bukan hanya di zaman sekarang
saja, sehingga kita perlu membuat aturan khusus yang belum pernah
ada sebelumnya, namun fitnah tersebut telah ada sejak zaman
diturunkannya syariat Islam. Kisah Fadhl bin Abbas yang
terpesona dengan wanita Al-Khats'amiyah, tentu menjadi bukti
nyata yang tidak akan hilang begitu saja dari ingatan para
pembaca yang budiman.
Sudah ma'ruf, bahwa Allah ta'ala ketika memerintahkan kaum .
laki-laki dan kaum wanita untuk saling menundukkan pandangan
sesama mereka dan memerintahkan kaum wanita mengenakan hijab di
hadapan para laki-laki, sudah barang tentu, dalam rangka mencegah
terjadinya fitnah tadi. Meskipun demikian, Allah tidak memerintahkan
agar kaum wanita menutup wajah dan kedua telapak tangannya di
hadapan laki-laki. Hal itu dikuatkan oleh Nabi dalam kisah Wanita Al-
Khats'amiyah, di mana beliau tidak memerintahkan wanita tersebut
menutup wajahnya. Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan
Tuhanmu tidaklah akan lupa."
Sebenarnya, adanya syarat tersebut disebutkan oleh para ulama -di
antaranya oleh penulis kitab Al-Fiqh 'Ala Madzhab Al-Arba'ah hlm.
12—tidak lain berkenaan dengan hukum laki-laki memandang wajah
wanita. Mereka mengatakan, "Hal itu (maksudnya, laki-laki
memandang wajah wanita. Pen.) dibolehkan, dengan syarat aman
Jilbab Wanita Muslimah — 23
dari fitnah (syahwat).” Ini memang benar. Berbeda dengan
pemyataan yang disampaikan para tukang taklid itu. Seakan-
akan mereka ini, berdasarkan pendapat ulama tadi,
mengharuskan wanita menutup wajahnya; padahal tidak demikian.
Karena mereka juga tahu, bahwa syarat tersebut juga sebenarnya
berlaku juga untuk wanita. Para wanita diperbolehkan melihat wajah
laki-laki dengan syarat aman dari fitnah (syahwat). Apakah dengan
seperti itu, lalu mereka mengharuskan kaum laki-laki menutup
wajah dari pandangan wanita, untuk mencegah fitnah (syahwat)
seperti yang dilakukan oleh sebagian kabilah yang dikenal dengan
sebutan Al-Mulatsamin?!
Andaikata mereka mengatakan, "Wajib bagi wanita, meskipun
telah mengenakan jilbab, untuk menutup wajahnya bila dia khawatir
diganggu oleh orang-orang nakal dikarenakan wajahnya yang ter-
buka." Bila seperti itu pemyataan mereka, baru dikatakan mempunyai
sandaran kaidah fikih, baik Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Bahkan,
dalam keadaan semacam itu, wanita tadi wajib untuk tidak keluar
bila khawatir jilbab yang dipakainya itu akan dilepas secara paksa
oleh para penguasa jelek yang tidak berhukum dengan hukum yang
diturunkan Allah, sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri Arab
beberapa tahun yang lalu, — sungguh, sangat disayangkan sekali.
Adapun bila kewajiban tersebut dijadikan sebagai syariat yang
tetap, yang berlaku untuk semua wanita di setiap waktu dan tempat,
meskipun tidak dikhawatirkan lagi adanya orang-orang nakal yang
akan mengganggu wanita-wanita berjilbab, maka ini sama sekali tidak
dibenarkan. Mahabenar Allah yang telah berfirman: "Apakah mereka
memiliki Tuhan selain Allah yang mensyariatkan kepada mereka
agama yang tidak diizinkan oleh Allah?"
Itulah kesalahan-kesalahan fatal dari orang-orang yang me-
nyelisihi para ulama dan bersikap keras kepala tersebut, yang saya
pikir perlu untuk saya sampaikan, meskipun ringkas, karena adanya .
hubungan yang erat dengan penulisan kitab ini.
Kemudian pada penutup kitab Ar-Radd Al-Mufhim itu saya meng-
ingatkan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam beragama -selain di-
larang oleh Allah yang membuat syariat—tidak akan mendatangkan
kebaikan dan tidak mungkin bisa melahirkan generasi pemudi
24—Jilbab Wanita Muslimah
muslimah yang mampu mengemban amanat Islam -baik dari segi
ilmu maupun amalan— secara proporsional dan adil, tidak berlebih-
lebihan; bukan seperti generasi yang beritanya pernah saya dengar
bahwa di beberapa negeri Arab ada wanita-wanita yang hendak
konsekuen dengan pendapatnya, ketika mendengar sabda Nabi
"Janganlah wanita yang melakukan ihram itu mengenakan cadar dan
sarung tangan," mereka tidak mengindahkannya. Mereka mengata-
kan, "Kami akan tetap memakai cadar dan akan membayar
denda saja." Sikap mereka seperti itu tidak lain disebabkan karena
mereka senantiasa kemasukan paham-paham yang berlebih-
lebihan berhubungan dengan aturan menutup wajah mereka.
Saya tidak yakin sikap berlebih-lebihan seperti itu —dan itu baru
satu contoh saja— bisa melahirkan generasi wanita-wanita salafiyah
yang mampu melaksanakan segala tuntutan kehidupan sosial
yang sesuai syariat Islam, sebagaimana istri-istri para Salafus
Shaleh.
Baiklah saya akan menyebutkan beberapa riwayat yang menun-
jukkan bagaimana kiprah wanita salaf, namun secara ringkas saja.
Dan riwayat yang lengkap bisa dibaca di kitab Ar-Radd Al-Mufhlm
♦ Ummu Syuraik Al-Anshariyah pernah kedatangan dua orang laki-
laki yang bertamu ke rumahnya, sebagaimana akan disebutkan
di dalam kitab ini pada hlm. 76.
♦ Istri Abu Usaid yang membuatkan makanan untuk Nabi M dan
para sahabatnya ketika mereka diundang oleh suaminya, Abu
Usaid, pada hari pernikahan mereka. Jadi, dia yang menyajikan
hidangan untuk mereka, padahal dia adalah wanita.
♦ Asma' binti Abu Bakaryang membantu pekerjaan suaminya, Az-
Zubair; memberi makan dan mengurus kudanya, membawa biji-
bijian di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair, yang jaraknya
dua pertiga farsakh (lebih dari tiga kilometer), lalu menumbuk
biji-bijiantadi
♦ Seorang wanita Anshar yang menyambut Nabi menghampar-
kan tikar untuk beliau di bawah pohon kurma, menyiram tanah
yang ada di sekitarnya, menyembelih seekor kambing, dan mem-
buatkan makan untuk beliau, lalu beliau dan-para sahabat me-
makan makanan tadi.
Jilbab Wanita Muslimah — 25
♦ Aisyah dan Ummu Sulaim membawa geriba dan memberi minum
pasukan muslimin, sebagaimana akan disebutkan pada hlm 49.
♦ Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz yang berangkat ke medan perang
bersama-sama dengan wanita-wanita Anshar. Para wanita itu
memberi minum pasukan, melayani keperluan mereka, meng-
obati tentara-tentara yang luka, dan membawa tentara-tentara
yang terbunuh ke Madinah. Dalam hadits lain disebutkan, bahwa
para wanita tersebut diberi bagian dari ghanimah (rampasan
perang).
♦ Ummu Athiyyah yang ikut serta dalam tujuh peperangan bersama
Rasulullah ; dia.berjaga di tenda pasukan, membuatkan
makanan untuk mereka, mengobati tentara-tentara yang terluka,
dan mengurusi tentara-tentara yang sakit.
♦ Ummu Sulaim, pada saat Perang Hunain, membawa parang,
hingga Abu Thalhah berkata, "Wahai Rasulullah, lihatlah, ini
Ummu Sulaim membawa parang!" Ketika beliau bertanya
kepadanya, dia menjawab, "Saya sengaja membawanya; bila
salah seorang dari kaum musyrikin mendekati saya, akan kubelah
perutnya!" Beliau pun tertawa. Dan kejadian semacam itu
berlangsung hingga masa sepeninggal Nabi -
♦ Asma' binti Yazid Al-Anshariyah, pada masa Perang Yarmuk
membunuh tujuh tentara Romawi dengan tiang kemahnya.
♦ Istri-istri Khalid bin Walid. Abdullah bin Qurth pernah melihat
mereka di sebuah pertempuran melawan pasukan Romawi, ber-
gegas-gegas membawa air untuk kaum muhajirin.
♦ Samra' binti Nahik, seorang sahabat wanita. Abu Balaj pernah
melihat dia mengenakan dir'un
5
dan fch/mar yang tebal, sedang
tangannya memegang cemeti. Dia mengajari orang-orang serta
melakukan amar ma'ruf nahi mungkar.
5. Dir'un, di sini saya pikir maksudnya: jilbab. Di dalam kitab Lughah (bahasa Arab) dikatakan:
dlr'ulmar'ah: qamishuha. Para ulama Bahasa menyebutkan salah satu makna a/-Qamish
adalah 'jilbab'. Lihat pembahasan tentang al-jilbab, ad-dir'u dan al-qamish di dalam kitab An-
Nihayah, kitab Qamus dan kitab AI-Mu'jamAI-Wasith!
26 —Jilbab Wanita Muslimah
Banyak lagi contoh-contoh lainnya yang tersebut di berbagai
kitab-kitab sirah dan tarikh. Akan tetapi, di sini saya hanya menye-
butkan yang shahih-shahih saja. Semua itu secara jelas menunjukkan
perjuangan-perjuangan dan sikap-sikap kepahlawanan para wanita-
wanita salaf waktu itu, di mana hal tersebut tidak akan mungkin
mereka lakukan kalau mereka mempunyai sikap yang kaku, yang
beranggapan bahwa wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat,
seperti para pemudi-pemudi yang saya ceritakan terdahulu! Menurut
saya, aturan pakaian wanita ini adalah suatu perkara yang sifatnya
badihi (aksiomatis). Begitulah Nabi ^mendidik para wanita-wanita
mulia itu dengan pemahaman yang lurus, tengah-tengah, lagi mudah.
Sikap seperti inilah yang kami inginkan dari saudara-saudara
kami, para syaikh, dan para da'i yang ingin memperjuangkan Islam.
Hendaklah mereka merealisasikan firman Allah: "Demikianlah, Kami
telah menjadikan kalian umat yang tengah-tengah;" begitu juga
firman Allah, "Kalian adalah sebaik-baik umat yang di utus untuk
sekalian manusia." Hendaklah mereka berhati-hati agar jangan sampai
terjerumus ke dalam sikap berlebih-lebihan (ghuluw) yang dilarang
oleh Nabi dalam sabdanya:

"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam beragama, karena orang-
orang sebelum kalian hancur disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan
mereka dalam beragama!"
6

Begitu juga sabda Nabi



6. Lihat penjelasan tentang sanad hadits ini didalamkitab Ash-Shahihah (1283)!
Jilbab Wanita Muslimah — 27
"janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri, karena
sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur tidak lain disebab-
kan oleh sikap mereka memberat-beratkan diri sendiri; dan kalian
a/can menemukan sebagian dari mereka berada di biara-biara dan
pertapaan-pertapaan (beribadah secara berlebih-lebihan. Pen.)."
7

Perlu saya ingatkan, —insya Allah, suatu peringatan akan ber-
manfaat bagi orang-orang beriman— bahwa tidak mungkin kita bisa
merealisasikan ajaran Islam secara baik kalau kita tidak mau
membuang fanatisme madzhab, tidak mau mempelajari sunnah dan
riwayat hidup Nabi baik yang berupa perbuatan maupun
perkataan, serta tidak mau berupaya sungguh-sungguh
mengetahui aturan-aturan agama yang benar yang telah dijalankan
oleh para Salafus Shaleh, sehingga kita benar-benar menjadi
orang-orang yang terbimbing dengan Islam dan juga mau
mengajak manusia ke jalan Islam. Kita berharap semoga kita
menjadi orang-orang yang disebutkan di dalam firman Allah:

"Orang-orang yang termasuk pendahulu lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang
yang mengikuti mereka dalam hal kebaikan, Allah ridha kepada me-
reka dan menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Dan itulah suatu keberuntungan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)
Selanjutnya, tatkala saya sedang menyiapkan materi kitab,4r-
Radd Al Mufhim terpikir dalam benak saya untuk merubah judul kitab
HijabAl-Mar'ah Muslimah menjadi Jilbab Al-Mar'ah Muslimah. Hal

7. Hadits shahih, dan perihal sanadnya telah saya jelaskan di dalam kitab Ash-Shahihah
(3694).
28 — Jilbab Wanita Muslimah
itu tidak lain dikarenakan makna dan interpretasi kedua judul tersebut
jelas-jelas berbeda, sebagaimana saya jelaskan di dalam kitab ini hlm
97-98. Selain itu, tema kitab ini lebih dekat kepada judul yang baru
itu, yaitu tentang jilbab. Memang, antara jilbab dengan hijab memiliki
hubungan umum dan khusus. Setiap jilbab adalah hijab
8
, namun tidak
semua hijab itu jilbab. Saya terdorong untuk merubah judul tersebut
dikarenakan saya melihat orang-orang yang menentang pendapat saya
ini masih kabur dalam memahami kedua kata tersebut, sebagaimana
saya jelaskan dalam Bab II kitab Ar-Radd Al-Mufhlm Saya semakin
mantap menggunakan judul tersebut mengingat perkataan Ibnu
Taimiyah rahimahullah: "Ayat jilbab itu berlaku ketika seorang wanita
keluardari tempat tinggal, sedangkan ayat hijab itu berlaku ketika
seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di tempat
tinggalnya." Sehingga, lapanglah sudah dada saya sekarang ini untuk
menyebarluaskan kitab saya ini dengan judul: jilbab Al-Mar'ah Al-
Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah, dengan selalu memohon
kepada Allah ta'ala agar berkenan memberikan taufiq kepada saya
terhadap segala apa yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Yang menerbitkan kitab saya dengan judul baru ini adalah me-
nantu saya, Nizham Sakkajaha, pemilik penerbit Al-Maktabah Al-
Islamiyah; semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadanya.
Sebagai catatan, saya katakan bahwa dialah satu-satunya yang
memiliki hak mencetak dan menerbitkan kitab ini dengan
perwajahan dan isi yang baru.
Dulu, saya pernah memberikan hak mencetak dan menerbitkan
cetakan kedua dari kitab ini kepada pemilik penerbit Al-Maktab Al-
Islami, Zuhair Asy-Syawisy. Yang bersangkutan telah mencetaknya
beberapa kali. Suatu ketika, saya meneliti buku ini pada cetakan
keenamnya, yang ternyata ada baris yang hilang, yaitu baris pertama
pada hlm 49. Saya tidak mengira kalau dia akan mencetaknya juga,
sekalipun saya telah mengingatkan kepadanya untuk tidak lagi men-


8. Ittulah alasan mengapa kadang-kadang kata hijjabsayagunakandenganartian'jililbab'.Akan tetapikemudian
sayatidak lagi berbuat seperti ituuntukmenghindari kesalah-pahaman, sebagaimana terjadi padapenulis
'AudahAl-Hijab.
Jilbab Wanita Muslimab — 29
cetak buku saya ini, baik dengan format yang baru maupun mencetak
ulang yang lama. Karena, setelah saya pindah ke Amman, dia me-
langgar amanah yang saya berikan kepadanya, baik yang bersifat
keilmuan, materi maupun hak saya sebagai sahabat, -saya tidak
mengatakannya hak sebagai syaikh, sebagaimana yang dia biasa
katakan kepada saya- yang tidak perlu saya sebutkan di sini. Cukuplah
pembaca mengetahui salah satu contoh pelanggaran amanah dia,
yaitu dia telah mencantumkan namanya berikut nama saya pada nama
penulis tahqiq kitab At-Tankil, padahal dia tidak ikut mentahqiq kitab
tersebut, walaupun satu huruf. Kemudian dia mencetak kitab tersebut
-tentu saja tanpa sepengetahuan saya- yang mengandung kedustaan
itu dan mempublikasikannya kepada masyarakat! Mulanya, ada salah
seorang yang terkenal di Mesir sebagai seorang pembajak kitab telah
membajak kitab saya itu. Dia memalsu di dalam kitab tersebut, sebuah
nama seorang ulama kontemporer yang meninggal pada abad ini dan
memasukkannya sebagai pentahqiq kitab tersebut bersama saya.
Maka, kawan lama saya itu pun merasa iri. Dia pun menyertakan pula
namanya yang mulia di situ, bersama ulama tadi dan saya. Itu semua
dilakukannya demi isi perut! Pembaca yang budiman pun akan me-
ngetahui siapa di antara keduanya yang telah bertindak buruk itu!!
Saya telah membeberkan perilaku kedua orang itu di dalam
mukadimah cetakan baru dari kitab At-Tankil, yang diterbitkan oleh
penerbit Maktabah Al-Ma'arif. Dia memang telah melakukan banyak
dan banyak sekali perilaku-perilaku jelek semacam itu, yang
terpapar di dalam mukadimah-mukadimah kitab berikut ini:
♦ Shahih Al-Kalim Ath-Thayyib, cetakan baru dari Maktabah Al-
Ma'arif
♦ ShifatShatat Nabi cetakan baru dari Maktabah Al-Ma'arif.
♦ Mukhtashar Shahih Muslim karya Al-Mundziri, cetakan baru Al-
Maktabah Al-lslamiyah.
♦ Mukhtashar Shahih Al-Bukhari jilid II, yang baru saja diterbitkan
oleh Dar Ibnul Qayyim - Dammam.
Sebagai penutup, bahwa ketika saya hendak menggabungkan
mukadimah ini ke dalam bahasan pokok, beberapa ikhwan yang
30 — Jilbab Wanita Muslimah
mensetting kitab saya di Pusat Setting Komputer Dar Al-Hasan menye-
rahkan hastl settingnya kepada kami. Mereka tinggal menunggu kami
menyerahkan mukadimahnya untuk mereka setting dan mereka
gabungkan menjadi satu kitab. Akan tetapi, karena adanya keperluan
saya sebagaimana telah saya sampaikan di awal mukadimah ini, maka
penerbitan kitab ini pun menjadi terlambat. Oleh karena itu, pada
hasil settingan yang telah jadi itu terpaksa saya tambahkan beberapa
catatan-catatan penting baru yang tentu harus disetting lagi. Catatan-
catatan penting itu saya dapatkan ketika saya sedang mempersiapkan
materi k\tab Ar-Radd Al-Mufhim yang saya sertakan karena perlu
pembaca ketahui. Saya sadar sepenuhnya, bahwa memberi tambahan
semacam itu pada tulisan yang telah disetting dan diprint suatu hal
yang tidak diperbolehkan oleh tukang setting. Karena itulah, saya
memohon maaf kepada para ikhwan yang bekerja di Pusat
Setting Komputer dua kali:
Pertama, karena adanya penambahan tadi, lebih-lebih kami juga
telah melakukan hal serupa sebelumnya. Semoga Allah membalas
kebaikan kepada mereka.
Kedua, karena keterlambatan ini yang jelas tidak kami sengaja,
tetapi semata-mata karena takdir Allah. Bagi orang-orang yang pe-
murah tentu permohonan maaf ini akan diterimanya dengan lega.
Dan, akhir doa kami: alhamdu lillahi rabbil 'alamin.
Amman, 5 Muharram 1412 H.
Penulis,
Muhammad Nashiruddin Al-AJbani
••♦♦♦♦♦••
Jilbab Wanita Muslimah — 31
M MM Mukadimah Cetakan Kedua

egala puji milik Allah. Shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasul-Nya yang paling mulia dan
penutup nabi-nabi-Nya; juga kepada keluarganya, para
sahabatnya, kepada ikhwan-nya
9
yang berpegang teguh dengan
Sunnahnya dan berpedoman kepada petunjuknya hingga hari
kiamat.
Ammaba'du.
Ini adalah kitab Hijab Al-Mar'atu Al-Muslimah cetakan kedua
yang diterbitkan oleh penerbit Al-Maktab Al-lslami -semoga Allah
membalas kebaikan kepada pemiliknya— setelah terbitnya cetakan
yang pertama selama sepuluh tahun lamanya. Saya merasa bertambah
yakin akan pentingnya menerbitkan dan mempublikasikan buku ini
ke tengah-tengah kaum muslimin, khususnya para wanitanya yang
9. Nabi pernah bersabda, "Saya berangan-angan andaikata kita bisa melihat
'ikhwan' kita. "Para sahabat berkate/'Bukankah kamiini 'ikhwan'mu, wahai
Rasulullah?"Beliau menjawab, "Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan
'ikhwan 'kita adalah orang-orangnya belum ada saat ini."
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Dalam riwayat lain disebutkan,
"Ikhwanku adalah orag-orang yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak
pemah melihatku." Hadits ini tercantum di dalam kitab Ash-Shahihah
(2927).
32 —Jilbab Wanita Muslimah
S
telah terpedaya oleh peradaban Eropa yang menipu, sehingga
mereka hanyut dalam gemerlap dan hura-hura. Mereka
kemudian bersolek dan ngaceng seperti pada masa jahiliyah,
menampakkan anggota tubuh mereka, yang mana sebelumnya
kepada bapak-bapak dan mahramnya saja mereka merasa malu
untuk menampakkannya!
Alhamdulillah, buku ini telah membawa pengaruh positif di
kalangan remaja-remaja putri yang beriman dan para istri yang mau
menjaga dirinya. Banyak di antara mereka kemudian mengenakan
jilbab sesuai persyaratan yang diwajibkan. Ada pula di antara
mereka yang menutup wajah mereka setelah mereka mengetahui
dari kitab saya itu bahwa menutup wajah merupakan perkara yang
baik dan akhlak yang mulia. Mereka melaksanakan hal itu
meneladani wanita-wanita utama dari kalangan Salafus Shalih, yang
di antaranya adalah para ummahatul Mu'minin (istri-istri Rasulullah
).
Sekalipun demikian, sebagian ulama dan murid-murid mereka,
apalagi para tukang taklidnya, —sekalipun mereka mengagumi
kitab ini, baik dari segi keilmiahannya, kekuatan hujjahnya dan
kejelasan keterangannya— tetap tidak setuju dengan pendapat
saya bahwa wajah wanita bukan aurat. Beberapa orang pengajar
di Madrasah Tsanawiyah ada yang menulis surat kepada saya
mengenai hal itu. Ada juga beberapa orang yang berbicara langsung
secara lisan kepada saya mengenai hal itu, di sini, di Syiria, juga di
Hijaz.
Mereka itu terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
Kelompok pertama. Orang-orang yang masih berpendapat
bahwa wajah termasuk aurat. Pendapat mereka itu tidak didasari oleh
pengkajian terhadap dalil-dalil syar'i dan penelitian terhadap sumber-
sumbernya yang asli, melainkan hanya didasari oleh sikap taklid
kepada madzhab tertentu, atau lingkungan di mana dia tinggal, yang
di dalamnya terdapat orang-orang yang bertipe sama seperti itu yang
mempunyai semangat dan ghirah keislaman tinggi.
Pernah, suatu ketika saya duduk berbincang-bincang lama hingga
berjam-jam dengan salah seorang dari mereka mendiskusikan
masalah ini. Itu terjadi atas inisiatif saya, dengan harapan di situ
saya bisa mendapatkan dalil-dalil kuat yang mendasari
pendapatnya, namun saya tidak mendapatkan sedikit pun apa yang
saya harapkan itu. Yang '
Jilbab Wanita Muslimah— 33
saya dapatkan darinya hanya berupa kerancuan-kerancuannya dalam
memahami dalil Al-Qur'an, yang akhirnya menghalangi dirinya untuk
meyakini apa yang terkandung di dalam dalil tersebut. Maka,
pada malam itu juga saya jawab kerancuan-kerancuan
pemahamannya itu sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh
Allah kepada saya. Setelah kejadian itu, saya pun berpikir untuk
mencermati kembali permasalahan tersebut. Saya kaji ulang dalil-
dalil yang berkaitan, lalu saya teliti dan saya bahas kerancuan-
kerancuan pemahaman tadi. Dari situ, ternyata saya semakin yakin
akan kebenaran pendapat saya dan kesalahan pendapat orang yang
menyelisihinya. Bagaimana tidak! Pendapat yang saya pegangi
adalah merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan para ahli
tafsir maupun para ahli fikih, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Saya juga mencantumkan kerancuan-kerancuan pemahaman
tersebut beserta jawaban-jawaban yang telah dibukakan oleh Allah
kepada saya pada cetakan terbaru ini.
Kelompok kedua. Orang-orang yang berpendapat bahwa wajah
bukan termasuk aurat, akan tetapi berpandangan bahwa pendapat
semacam ini jangan disebarluaskan, karena mempertimbangkan keru-
sakan yang akan ditimbulkan (bila para wanita membuka wajahnya).
Kepada mereka yang berpendapat semacam ini, saya sampaikan
penjelasan sebagai berikut: Sesungguhnya hukum syar'i yang telah
ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah itu tidak boleh disem-
bunyikan dan ditutut-tutupi dari pengetahuan orang banyak, dengan
alasan nanti akan terjadi kerusakan zaman atau alasan lainnya. Hal
ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang mengharamkan perbuatan
menyembunyikan ilmu. Misalnya, firman Allah ta'ala:

“Sesunggunnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa
yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan
petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia di dalam
Al-Qur'an,
34 —Jilbab Wanita Muslimah
"Barangsiapa menyembunyikan ilmu, niscaya pada hari kiamat Allah
akan memasang kendali dari api neraka di mulutnya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya
dan Hakim. Hakim dan Dzahabi menilai shahih hadits ini.
Selain dua dalil di atas masih banyak dalil-dalil lain yang
melarang tindakan menyembunyikan ilmu.
Bila pendapat bahwa wajah wanita bukan aurat merupakan
hukum yang telah ditetapkan oleh Allah sebagaimana yang kita
yakini, maka bagaimana diperbolehkan kita berpendapat untuk
menyembunyikan dan tidak menyebarluaskannya kepada orang
banyak?! Ya Allah, ampunilah!
Baiklah, jika ada yang berpendapat bahwa sekalipun hukumnya
begitu, tetapi tidak boleh menyebarkannya demi mencegah kerusak-
an. Akan tetapi hendaklah orang-orang yang berpendapat demikian
menjelaskan kepada masyarakat dalil-dalil yang memperkuat penda-
patnya itu. Tapi, itu mustahil, dan sekali lagi itu mustahil!
Mari, saya ajak pembaca untuk berpikir! Rasulullah M pernah
melihat Al-Fadhl bin Abbas memandangi seorang wanita Al-
Khats'amiyah yang cantik dan wanita itu juga memandangi Ibnu
Abbas, di mana wanita ini tidak dalam keadaan berihram —sebagai-
mana yang akan saya jelaskan nanti—, namun tindakan yang diambil
beliau hanyalah sekedar memalingkan wajah Al-Fadhl dari wanita
itu. Beliau tidak menyuruh wanita itu menutup wajahnya agar tidak
dilihat Al-Fadhl. Penyebab dan sarana fitnah manakah yang lebih jelas
dari kejadian ini?! Bahkan, waktu itu beliau ^sendiri berkata:

"Saya khawatir melihat seorang pemuda dan seorang pemudi kalau-
kalau keduanya digoda oleh setan."
Jilbab Wanita Muslimah — 35

mereka itu dilaknat oleh Allah dan oleh semua (makhluk) yang bisa
melaknatnya." (QS. Al-Baqarah: 159)
Juga, sabda Nabi .
Hadits shahih ini menegaskan bahwa seorang wanita berhak
membuka wajahnya, sekalipun wajahnya cantik. Jika dia menghen-
daki, maka dia boleh membukanya dan tidak ada seorang pun yang
berhak melarang dia melakukan hal itu dengan alasan takut
terkena fitnah. Hadits ini mencegah kita mengikuti pendapat
kelompok kedua di atas dan mewajibkan kita menyebarluaskan
pendapat yang benar dalam masalah ini.
Meskipun demikian, kami tetap mengingatkan para mukminah
bahwa sekalipun membuka wajah diperbolehkan, tetapi menutupnya
lebih utama. Kami telah membuat pasal khusus yang membahas
masalah ini pada hlm 118. Dengan demikian, kami benar-benar telah
menunaikan amanat. Kami telah menjelaskan apa yang menjadi kewa-
jiban bagi seorang wanita dan mana yang baik untuk dilakukannya.
Barangsiapa melaksanakan kewajiban tersebut, maka dia akan menda-
patkan balasan kebaikan; dan barangsiapa melakukan yang lebih baik
dari itu, maka tentu itu lebih utama. Begitulah yang saya terapkan
kepada istri saya. Saya berharap semoga Allah memberi taufik kepada
saya untuk menerapkan hal serupa kepada putri-putri saya ketika
mereka telah mencapai usia baligh kelak, atau malah sebelumnya.
Ada hal aneh pada kitab yang ditulis oleh ustadz tadi, di mana
dia berkata, "Barangkali salah seorang dari mereka mengetahui, atau
mendengar semangat baik Anda untuk menutup tubuh istri Anda
sesuai dengan yang dituntut oleh syariat dengan tidak membolehkan
dia memperlihatkan wajah. Tentu bila orang tadi membaca kitab
yang Anda tulis, dia akan mengatakan, "Ketakwaan dia telah
menyelisihi fatwanya!" Dan menuduh Anda dengan tuduhan yang
tidak baik.
Saya telah memberikan jawaban terhadap tulisan dia di dalam
bukunya itu pada tanggal 23- 9- 74 H
10
. Di dalam jawaban saya
itu saya katakan, "Bila salah seorang di antara mereka melemparkan
tuduhan yang kurang baik' kepada saya, maka saya akan melihat apa
yang terjadi yang ada pada diri para nabi dan orang-orang shaleh
shalawatullahi 'alaihlm Musuh-musuh mereka tidak hanya melem-
10. Saya telah mengirimkan tulisan jawaban saya itu ke majalah At-Tamaddun Al-lslam I untuk
menyebarluaskannya, tetapi ternyata tidak dimuat.
36—Jilbab Wanita Muslimah
parkan tuduhan yang kurang baik kepada mereka, bahkan tuduhan
yang buruk sekalipun. Saya tidak ragu lagi, bahwa orang yang telah
melemparkan tuduhan tersebut adalah orang yang telah berlaku
zalim, atau bodoh yang perlu diberi pelajaran." Ini disebabkan dua
hal, yaitu:
Pertama. Inti pembahasan saya dalam kitab ini adalah bahwa
wajah wanita bukanlah aurat, dan seorang wanita diperbolehkan me
nampakkan wajahnya, tentu dengan persyaratan tertentu. Ini bukan
berarti bahwa orang yang berpendapat demikian diharuskan mem-
buka wajah istrinya, karena "pengharusan" yang merupakan kon-
sekwensi dari hukum wajib semacam ini berbeda dengan pendapat
saya yang hanya "membolehkan". Semua orang tahu bahwa per-
buatan yang dihukumi boleh adalah perbuatan yang boleh dilakukan
dan boleh juga ditinggalkan. Sehingga, bila saya memilih untuk me
nutup wajah istri saya atau membukanya, maka kedua tindakan saya
itu tidak keluar dari apa yang telah saya fatwakan. Karena itu, jelaslah
bahwa orang yang menilai saya dengan berkata, "Ketakwaan dia
menyelisihi fatwanya," itu sangat jauh dari pemahaman yang benar
dan obyektif.
Kedua. Ketika saya menetapkan bahwa wajah bukan termasuk
aurat, di situ saya juga menyatakan bahwa menutup wajah itu adalah
lebih utama. Dalam kitab ini hlm 118 terdapat bantahan saya ter-
hadap orang-orang yang berpendapat bahwa menutup wajah me-
rupakan perbuatan bid'ah dan berlebih-lebihan dalam beragama. Di
situ saya bawakan hadits-hadits dan atsar-atsar sahabat yang cukup
banyak yang di akhirnya saya katakan, "Dari penjelasan yang
telah saya kemukakan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa
perbuatan seorang wanita menutup wajahnya dengan cadar atau yang
sejenisnya sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang hendak
menjaga diri-nya, merupakan perbuatan yang disyariatkan,
sekalipun itu tidak diwajibkan kepadanya. Barangsiapa yang
melakukan hal itu, sungguh berarti dia telah berbuat baik dan
barangsiapa yang tidak melakukannya, maka dia pun tidak
dilarang."
Pernyataan saya di atas merupakan bukti yang jelas akan ke-
utamaan orang yang menutup wajahnya, sekaligus sebagai bantahan
Jilbab Wanita Muslimah— 37
terhadap dua kelompok yang berlebih-lebihan dalam berfatwa yang
menyatakan bahwa cadar itu wajib dan yang menyatakan bahwa
cadar itu bid'ah. Dan, "sebaik-baik perkara adalah yang
pertengahan."''
Yang ada dalam benak saya, bahwa sekalipun hati saya sedih dan
merasa prihatin demi melihat perbuatan para wanita zaman sekarang
ini yang berlomba-lomba memamerkan wajahnya yang penuh
dengan pulasan dan dandanannya yang seronok laksana anai-anai
yang berbondong-bondong mengitari api, namun selamanya saya
tidak akan memberi solusi terhadap hal itu dengan mengharamkan
apa-apa yang dibolehkan oleh Allah kepada kaum wanita, yaitu
membuka wajah dan mewajibkan untuk menutupnya tanpa
perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, kebijakan syar'i,
penahapan dalam penyampaiannya, salah satu prinsipnya, yaitu
sebagaimana Nabi sabdakan: "Buatlah mudah, jangan malah
membuat sulit," serta prinsip-prinsip dalam mendidik lainnya,
semua itu mewajibkan para ahli fikih dan juru bimbing umat
manusia agar berlemah lembut kepada kaum wanita,
membimbing mereka dengan penuh kelembutan, tidak dengan
kekerasan, bersikap memudahkan mereka dalam hal-hal yang
memang dimudahkan oleh Allah, lebih-lebih kita hidup di zaman di
mana sedikit sekali orang-orang yang mau melaksanakan hal-hal
yang wajib, apalagi hal-hal yang sunnah!
Jika ada sebagian ulama yang sampai saat ini masih beranggapan
bahwa wanita yang memakai jilbab, namun membuka wajahnya itu
membahayakan diri wanita tersebut, maka menurut kami, tidak layak
bagi mereka hanya sekedar mengecam keras orang-orang yang ber-
selisih paham dengan mereka, lalu mengambil keputusan melarang
kitab-kitab yang menyelisihi paham mereka itu masuk ke negeri
mereka. Paling tidak mereka harus melakukan dua hal, yaitu:
Pertama. Menjelaskan hukum Allah kepada masyarakat
tentang. cadar dengan menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-
Sunnah,
11. Haditsinilemah sanadnya. Karena itu saya tidak menyatakan bahwa perkataan ini berasal dari Nabi .
Karena, ternyata Abu Ya'la meriwayatkan perkataan tersebut dengan sanad yang jayyid
berasal dari Wahb bin Munabbih.
38 —Jilbab Wanita Muslimah
bukan berdasarkan taklid kepada madzhab atau sekedar mengikuti
tradisi yang berlaku di lingkungannya. Dengan begitu, masyarakat
akan mengetahui mana pendapat yang benar dan mana pendapat
yang salah, serta tahu mana yang hak dan mana yang batil.

"Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harga-
nya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia akan
tetap berada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan."
(QS. Ar-Ra'd: 17)
Sesungguhnya, bila mereka melakukan hal itu, maka wanita-
wanita mukminah pun akan menyambut seruan mereka. Adakah
mereka sudah melakukan .hal itu?!
Kedua. Mendidik pemudi-pemudi muslimah dengan pendidikan
Islam secara benar, khususnya di sekolah-sekolah, masjid-masjid,
universitas-universitas dengan cara memberikan pengetahuan dan
wawasan tentang syariat Islam yang akan bermanfaat bagi mereka,
serta berusaha mencegah masuknya majalah-majalah porno yang
akan mempengaruhi dan merusak akhlak mereka; begitu juga sarana-
sarana lainnya yang bertebaran di zaman sekarang ini yang ibarat
pedang bermata dua, bisa untuk meraih kebaikan dan bisa pula untuk
menuai kerusakan.

"Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan bagi kalian." (QS. Al-Anbiya': 35)
Dengan kedua cara tersebut, insya Allah akan terbentuk sebuah
generasi wanita mukminah yang jika mendengar firman Allah ta'ala:

Jilbab Wanita Muslimah — 39
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan-
mu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.'" (QS. Al-Ahzab: 59)
mereka akan segera melaksanakannya, sebagaimana pernah dila-
kukan oleh wanita-wanita Anshar radhiyallahu 'anhunna di mana
ketika turun firman Allah

"Hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dada
mereka,"(QS.An-Nuur:31)
mereka bersegera memakai kain apa saja yang bisa mereka gunakan
untuk berkerudung, sebagaimana disebutkan di dalam kitab ini hlm
96.
Wanita-wanita yang telah terdidik semacam itu akan dengan
ringan melaksanakan perintah menutup wajahnya, bila memang itu
hukumnya wajib. Adapun kebanyakan wanita, seperti di negeri kita,
Syiria, Mesir, atau negeri-negeri lainnya di mana kebiasaan bermake
up menor dan berpakaian buka-bukaan sudah membudaya dan ter-
sebar luas di kalangan mereka, bahkan di negeri tauhid yang sebenar-
nya saya berharap negeri ini bisa terbentengi dari kerusakan semacam
itu, maka memerintahkan mereka untuk menutup wajah yang tidak
diperintahkan oleh Allah di mana mereka saja tidak mempunyai
kesiapan untuk menutup leher mereka, dada mereka, atau bahkan
bagian tubuh yang lebih vital dari itu, merupakan tindakan yang tidak
akan dilakukan oleh orang-orang yang hanya mempunyai sedikit
pemahaman tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah.
jadi, akan sangat bijaksana bila para ulama di zaman sekarang
ini merasa puas jika para kaum wanita telah bersedia melaksanakan
perintah Allah berupa menutup seluruh badan mereka, kecuali wajah
dan kedua telapak tangan. Sementara itu, jika ada di antara mereka
yang juga mau menutup kedua bagian tubuh tadi, maka tentu kita
akan merasa senang dan perlu menganjurkan kepadanya. Sebaliknya,
mewajibkan hal itu kepada mereka, menurut saya, merupakan sikap
berlebih-lebihan dalam beragama yang tidak disukai oleh Allah.
Lebih-lebih terhadap para wanita, di mana Rasulullah M pernah
40—Jilbab Wanita Muslimah
"Bersikap lunaklah terhadap 'gelas-gelas kaca'."'
2

Ketika wanita-wanita muslimah telah melaksanakan perintah
Allah, kecuali sedikit saja di antara mereka yang enggan dan
bandel untuk melaksanakannya, maka pada saat itulah kemuliaan dan
kejayaan akan kembali diraih oleh kaum muslimin, akan tegak
kedaulatan mereka, dan Allah pun akan menolong mereka dalam
mengalahkan musuh-musuh mereka.

"Pada hari itu, bergembiralah orang-orang beriman karena adanya
pertolongan Allah." (QS. Ar-Rum: 4-5)
Hal itu tidak akan terjadi, kecuali jika kaum laki-lakinya mau
terlebih dahulu melaksanakan perintah Allah. Mudah-mudahan hal
itu tidak lama lagi akan terwujud.

"Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan
Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi
kehidupan kepada kalian. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah
membatasi manusia dengan hatinya; dan sesungguhnya kepada-
Nyalah kalian akan dikumpulkan." (QS. Al-Anfal: 24)
♦ ♦♦♦♦*♦
12. Haditsinidiriwayatkan olehBukhari,namunhanya kesimpulanisinyasaja.
Jilbab Wanita Muslimah — 41

berwasiat kepada kita agar berlaku baik terhadap mereka dalam
banyak hadits, di antaranya sabda beliau
M ukadimah Cetakan Pertama

egala puji milik Allah Rabbul 'Alamin, yang telah
berfirman di dalam kitabnya:

"Wahai bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan; namun,
pakaian takwalah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebagian
dari tanda-tanda kekuasaan Allah; mudah-mudahan mereka selalu
ingat."(QS.Al-A'raf:26)
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad
yang telah di utus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia; juga
kepada segenap keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikuti beliau dalam kebaikan hingga hari pembalasan.
Ammaba'du.
Ini adalah sebuah risalah kecil yang memuat pembahasan yang
insya Allah bermanfaat, yang saya susun untuk menjelaskan tentang
pakaian yang wajib dipakai oleh wanita muslimah ketika keluar
42—Jilbab Wanita Muslimah
s
rumah beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadi
pakaian yang sesuai dengan aturan Islam.
Pembahasan di dalam kitab ini berlandaskan kepada Al-Kitabdan
As-Sunnah, juga menengok atsar-atsar dan perkataan-perkataan
para sahabat, serta memperhatikan pendapat para imam dalam
masalah tersebut. Jika apa yang saya sampaikan dalam risalah ini
adalah benar, maka kebenaran itu semata-mata datang dari Allah,
karena hanya Dialah yang memiliki keutamaan dan pujian. Adapun
jika apa yang saya sampaikan itu mengandung kesalahan dan
kekeliruan, tentu kesalahan dan kekeliruan itu berasal dari diri saya
sendiri; dan saya memohon ampun kepada Allah atas kesalahan
dan kekeliruan saya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
Risalah ini saya tulis atas permintaan dari ikhwan saya tercinta,
yang mempunyai kebaikan dan keistiqamahan, yang mempunyai
semangat untuk mengamalkan petunjuk Al-Kitab dan As-Sunnah,
sebagai hadiah di hari pernikahannya. Semoga Allah memberi berkah
kepadanya, serta kepada istri dan keturunannya kelak.
Saya merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaannya dan
mewujudkan keinginannya, sekalipun sebenarnya saya sedang ber-
konsentrasi melaksanakan program saya Mengakrabkan As-Sunnah
di Kalangan Ummat, yang sudah barang tentu banyak menyita
kesempatan dan pikiran saya.
Program saya itu telah saya rintis sejak lebih dari dua tahun yang
lalu; bermula dengan munculnya kitab Sunan Abu Dawud. Namun
beberapa bulan terhenti, karena ada gangguan pada mata kanan saya.
Semoga Allah segera menghilangkan gangguan tersebut dengan
karunia dan kemurahan-Nya.
Sekalipun begitu, saya bertekad untuk segera menulis risalah yang
berharga ini sebagai hadiah untuknya. Semoga risalah ini bisa mem-
bantu dia dan membantu orang lain -yang barangkali ikut membaca-
nya- dalam menaati Allah dan Rasul-Nya dalam masalah yang
dewasa ini banyak disepelekan orang, bahkan ada para ulama yang
seharusnya sebagai suri tauladan bagi orang banyak dalam urusan
syariat; bersikap begitu. Maka, kalau ulamanya begitu, bagaimana
dengan orang-orang awam yang bukan ulama. Akhirnya, memang
Jilbab Wanita Muslimah — 43
sedikit sekali kita dapati di negeri ini orang yang mau menegakkan
hukum yang telah digariskan oleh Allah dalam masalah jilbab ini.
Tetapi kita senantiasa memuji Allah ta'ala, karena temyata masih
ada sekelompok orang dan' umat Nabi yang mau melaksanakan
perintah Allah; tidak membahayakan mereka sedikit pun orang-orang
yang menyelisihi mereka, hingga datangnya keputusan Allah kelak,
sedang mereka tetap eksis di tengah-tengah manusia.
Saya memohon kepada Allah ta'ala, semoga Dia memasukkan
kita ke dalam kelompok ini, serta menjadikan risalah ini, juga apa
saja yang telah saya tulis, benar-benar semata-mata ikhlas karena-Nya,
sebagai jalan untuk menggapai ridha-Nya dan meraih surga-Nya.
Sesungguhnya Dialah sebaik-baik tempat memohon.
Damaskus, 7-5-1370 H. Muhammad
Nashiruddin Al-Albani
♦ ♦♦♦♦♦♦
44—Jilbab Wanita Muslimah
Wanita Muslimah

etelah kami meneliti Al-Qur'an, hadits Nabi dan
riwayat para salaf dalam masalah yang cukup
penting ini, jelaslah bagi kami bahwa seorang wanita bila keluar
dari rumahnya wajib menutup seluruh tubuhnya dan tidak boleh
menampakkan sedikit pun perhiasannya, kecuali wajah dan
kedua telapak tangannya -bila dia ingin menampakkannya-
dengan jenis pakaian apa pun asal terpenuhi syarat-syaratnya.
SYARAT-SYARAT JILBAB
Syarat-syarat jilbab adalah sebagai berikut:
1. Menutup seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan. (hlm
47-131)
2. Bukan untuk berhias. (hlm 132-136)
3. Tebal, tidak tipis. (hlm 137-141)
. 4. Longgar, tidak ketat. (hlm 142-148)
5. Tidak diberi wangi-wangian. (hlm 149-152)
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. (hlm 153-175)
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir. (hlm 176-232)
8. Bukan pakaian untuk kemasyhuran. (hlm 233-236)
Jilbab Wanita Muslimah — 45
S
Peringatan:
1. Sebagian dari syarat-syarat di atas, yaitu syarat keenam, ketujuh,.
dan kedelapan tidak hanya untuk pakaian wanita saja, akan tetapi
termasuk juga pakaian pria.
2. Untuk syarat keenam, ketujuh, dan kedelapan diharamkan secara
mutlak, baik ketika di dalam atau di luar rumah. Akan tetapi,
pembahasan di dalam buku ini hanya dititikberatkan pada
pakaian wanita ketika di luar rumah. Jadi, jangan sampai ada
anggapan bahwa haramnya khusus ketika wanita di luar rumah
saja.
Selanjutnya, ikutilah penjelasan rinci syarat demi syarat di atas
beserta dalil-dalilnya.
♦ ♦♦♦♦♦♦
46—Jilbab Wanita, Muslimah
Menutup Seluruh Tubuh,
Selain yang Dikecualikan
yarat ini terdapat di dalam firman Allah ta'a/a surat An-
Nur ayat31:

Jilbab Wtmita Muslimah — 47
S
"Katakanlah kepada wanita beriman, Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, memelihara kemaluan mereka dan jangan me-
nampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak. Hendak-
lah mereka menutupkan khimar
13
mereka ke dada mereka; dan
jangan menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami
mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, anak-anak mereka, anak-
anak suami mereka, saudara-saudara mereka, anak-anak saudara laki-
laki mereka, anak-anak saudara perempuan mereka, wanita-wanita
muslimah, budak-budak yang mereka miliki, pelayan-pelayan laki-
laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-
anak yang belum mengerti aurat wanita. janganlah mereka meng-
hentak-hentakkan kaki mereka agar diketahui adanya perhiasan yang
mereka sembunyikan. Bertobatlah wahai orang-orang beriman, agar
kalian beruntung."
Juga, terdapat di dalam firman Allah ta'ala surat Al-Ahzabayat 59:

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang
beriman, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya
14
ke seluruh
tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk
dikenal dan tidak diganggu orang. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
Pada ayat pertama diterangkan secara tegas adanya kewajiban
bagi seorang wanita menutup semua perhiasan. Tidak boleh sedikit


13. Khimar adalah sejenis kerudung yang tidak menutup dada. Ibnu Hajar di dalam
kitabnya Fathu AI-Bari berkata, "Khimar yang dipakai wanita seperti sorban yang
biasa
dipakai laki-laki." Pen.
14. Ibnu Hazm berkata, "Jilbab yang diperintahkan untuk dipakai oleh (wanita), menurut
bahasa Arab, adalah yang menutup seluruh tubuh, bukan yang hanya menutup
sebagian." Al-Baghawi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, "Jilbab adalah
pakaian
yang dikenakan oleh kaum wanita merangkapi khimar dan pakaian yang biasa dikena-
kan dirumah."— Pen.
48—Jilbab Wanita Muslimah
pun perhiasan tadi ditampakkan di hadapan orang-orang ajnabi yang
bukan mahramnya, kecuali bagian yang biasa nampak tanpa mereka
sengaja. Dan ketidaksengajaan tadi tidak menjadi dosa bagi mereka
biladengan segera mereka tutup lagi.
Ibnu Katsirdi dalam kitab Tafsimya berkata, "Maksudnya, mereka
tidak menampakkan sedikit pun perhiasannya kepada orang-orang
ajnabi (yang bukan mahramnya), kecuali bagian yang tidak mungkin
mereka sembunyikan. Ibnu Mas'ud berkata, 'Seperti misalnya:
selendang dan pakaian.' Maksudnya ialah, tutup kepala yang biasa
dikenakan oleh wanita Arab dan pakaian bawahan yang memang
biasa mereka nampakkan, maka itu tidak mengapa mereka nampak-
kan, karena tidak mungkin mereka sembunyikan."
Al-Bukhari (Vll:290) dan Muslim (V:197) meriwayatkan sebuah
hadits dari Anas ,, dia berkata:

"Pada waktu perang Uhud, kaum muslimin kocar-kacir meninggalkan
Nabi sedangkan Abu Thalhah berdiri di Hadapan beliau melin-
dungi dengan perisai dari kulit miliknya. Saya mefihat Aisyah binti
Abu Bakar dan Ummu Sulaim berjalan tergesa-gesa. Saya melihat
gelang-gelang kaki mereka tatkala keduanya melompat-lompat
sambil membawa geriba di punggungnya dan menuangkan geriba
tersebut kemulut-mulut kaum muslimin...."
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, "Itu terjadi sebelum
turunnya ayat htjab. Dan kemungkinan hal itu kelihatan tanpa mereka
sengaja."
Jilbab Wanita Muslimah — 49
Pengertian firman Allah: "kecuali yang biasa nampak yang saya
sebutkan di atas adalah pengertian yang langsung bisa ditangkap dari
ayat tersebut. Memang para salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in
berbeda pendapat dalam menafsirkan perkataan "kecuali yang
biasa nampak" ini. Ada yang menafsirkan: 'Pakaian-pakaian luar',
dan ada pula yang menafsirkan: 'Celak, cincin, gelang dan wajah';
serta ada lagi yang berpendapat lainnya yang disebutkan oleh
Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya (XVIII:84). Kemudian dia
sendiri memilih: 'Wajah dan kedua telapak tangan'.'
5
Dia berkata,
"Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang
dimaksud adalah wajah dan kedua telapak tangan. Hal itu
termasuk di dalamnya celak, cincin, gelang dan inai. Kami
mengatakan, bahwa pendapat tersebut yang benar dikarenakan ada
ijma' wajibnya orang shalat menutup auratnya, dan bahwa perempuan
harus membuka wajah dan kedua tangannya ketika shalat
sedangkan bagian tubuh lainnya harus tertutup. Meski-pun ada
diriwayatkan'
6
dari Nabi bahwa beliau membolehkan wanita
menampakkan separoh tangannya. Kalau semua itu sudah
menjadi ijma', sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, maka
berarti wanita dibolehkan membuka bagian badannya yang bukan
termasuk aurat sebagaimana berlaku juga pada pria. Karena bagian
badan yang bukan aurat tentu tidak diharamkan untuk ditampakkan.
Karena sudah sama-sama kita ketahui bahwa bagian-bagian tersebut
termasuk bagian-bagian tubuh yang memang dikecualikan oleh Allah
di dalam firman-Nya 'kecuali yang biasa tampak'. Karena bagian-
bagian tubuh itu memang biasa ditampakkan."

15. Dua telapak tangan ialah bagian dalam dari telapak tangan hingga pergelangan.
Sedang wajah ialah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala bagian depan hingga
dagu bagian bawah, dan mulai dari cuping telinga kanan (yaitu: tempat dipakainya
anting-anting -pent.) hingga cuping telinga kiri. Begitulah yang dikatakan oleh para
ulama, yang berbeda dengan yang dikatakan oleh orang-orang belakangan ini. Bantah-
an terhadap pendapat mereka itu akan saya sampaikan pada penutup pembahasan
mengenai syarat pertama jilbab ini. Insya Allah.
16. Nampaknya, Ibnu Jarir mengisyaratkan adanya kelemahan hadits ini dengan perkata-
annya, "diriwayatkan". Memang begitulah keadaannya. Hadits tersebut -dengan
lafadz seperti itu— memang tidak shahih, bahkan menurut saya hadits tersebut
mungkar.
50—Jilbab Wanita Muslimah

Ibnu Jarir meriwayatkan hadits itu dari jalur Qatadah, katanya," Telah sampai kepada
saya bahwa Nabi bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat menampakkan tangannya, kecuali sampai ini.'
Beliau memegang pertengahan hastanya." Sanad hadits ini munqathi’ (terputus).
Kemudian dia juga meriwayatkan hadits serupa itu dari Ibnu Juraij, katanya,
"Aisyah berkata, 'Saya pernah keluar menemui anak saudara saya dengan be'rhias,
namun Nabi tidak menyukainya.' Saya berkata, 'Dia ini anak saudara saya, wahai
Rasulullah.' Beliau berkata, 'Ma seorang wanita telah dewasa, maka tidak halal
baginya menampakkan anggota tubuhnya kecuali wajahnya dan kecuali ini. Beliau
memegangi hastanya sendiri."
Hadits diatas termasuk hadits mungkar dikarenakan kelemahan sanadnya dan
karena berlawanan dengan hadits yang lebih kuat derajatnya, yaitu hadits Aisyah
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang akan disebutkan nanti. Hal ini tidak diragukan
lagi oleh orang yang mempunyai pengetahuan tentang ilmu hadits. Sebab hadits
Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ini mempunyai dukungan hadits lain yang
diriwayatkan dari Asma yang akan disebutkan nanti di dalam footnote juga. Juga,
didukung oleh praktek para wanita mukminah yang seperti itu di zaman Nabi
Berbeda dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Juraij di atas. Hadits tersebut
tidak mempunyai hadits pendukung yang menguatkannya dan juga tidak didukung
oleh praktek para wanita mukminah di zaman Nabi . Oleh karena itulah hadits
tersebut termasuk hadits mungkar. Hadits Ibnu Juraij ini juga mempunyai kelemahan
lain yang lebih parah, yaitu berlawanan dengan Al-Qur'an. Di dalam hadits tersebut
secara tegas Rasulullah m melarang Aisyah menemui anak laki-laki saudaranya
dalam keadaan berhias. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman: "Janganlah mereka
menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka” yang kelanjutannya
adalah".. .atau kepada putra saudara mereka. "Ayat diatas secara tegas menunjukkan
bolehnya seorang wanita menampakkan perhiasannya kepada anak saudaranya.
Oleh karena itulah, hadits tersebut dari sisi ini juga digolongkan hadits mungkar.
Saya telah menjelaskan tentang hal ini dalam bantahan saya terhadap pendapat
Ustadz Al-Maududi yang terdapat di akhir kitabnya yang berjudul Al-Hijab (Cetakan
Pertama - Damaskus). Dalam bantahan tersebut saya sebutkan bahwa hadits yang
diriwayatkan dari Qatadah itu adalah hadits mungkar dan hadits yang diriwayatkan
dari Ibnu Juraij adalah hadits mu'dhal. Karena jarak masa hidup dia dengan Aisyah
sangatlah jauh. Ustadz Al-Maududi menerima penjelasan saya itu. Tetapi dia berpen-
dapat bahwa lantaran diriwayatkan melalui dua jalan, yaitu yang satu mursal dan yang
satunya mu'dhal dimana keduanya mempunyai pengertian yang bersesuaian, maka
hadits tersebut menjadi kuat.
Beliau lupa —saya tidak mengatakannya beliau menutup mata— bahwa hadits
tersebut yang sanadnya mu'dhal' itu mempunyai kelemahan yang berbeda dengan
yang mursal. Yaitu, sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas bahwa pengertian
hadits tersebut berlawanan dengan Al-Qur'an. Keduanya hanya sama-sama hadits
Jilbab Wanita Muslimah — 51
yang dinisbatkan kepada Nabi m- Satu hal yang membedakan kedua hadits tersebut
adalah bahwa Ustadz Al-Maududi menjadikan kedua hadits tersebut hujjah bahwa
seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, bagi
seluruh manusia sampai pun bagi suaminya, saudara dan semua mahramnya! Inilah
yang mendorong kami menulis bantahan terhadap pendapatnya itu dan mendesak
penerbit buku tersebut untuk menyebarkannya dengan bantahan saya tadi secara
sekaligus. Di dalam bantahan itu saya menyebutkan bahwa hadits yang mursal diatas
yang mendasari pendapat Ustadz Al-Maududi pengertiannya masih bersifat umum.
Hadits yang masih bersifat umum ini sangat mungkin dikhususkan oleh hadits lain
yang bersifat khusus. Saya telah menyebutkan sejumlah hadits yang mengkhususkan
hadits mursal yang masih umum itu di dalam bantahan saya tersebut. Adapun hadits
yang mu'dhal diatas ada tambahan sedikit dari hadits yang mursal, yaitu di dalam
hadits tersebut Rasulullah 3s menampakkan kebenciannya dengan keluarnya Aisyah
dalam keadaan berhias di hadapan anak saudaranya, dimana hal itu berlawanan
dengan Al-Qur'an. Tambahan tersebut di dalam hadits yang mursal tidak ada.
Sehingga jelaslah keduanya berbeda.
Bila saya ditanya: "Apakah kedua hadits tersebut bisa saling menguatkan karena
keduanya membicarakan hal yang sama?" Saya jawab, Tidak." Memang dalam hal
ini kami berbeda pendapat dengan Ustadz Al-Maududi, karena di dalam tulisan
bantahannya kepada saya pada hlm 11 beliau mengatakan: Tampaknya (demikian)
kedua hadits tersebut saling menguatkan."
Beliau berpendapat bahwa kedua hadits diatas saling menguatkan berdasar kaidah
yang beliau sampaikan di dalam kitab bantahannya itu pada hlm 4 sebagai berikut:
"Ma'ruf di kalangan para ulama, dan tentu bagi Syaikh Nashiruddin Al-Albani, bahwa
tentang hadits dha'if bila hanya ada satu hadits dha'if saja yang dijadikan dalil dalam
suatu masalah, maka kehujahannya lemah; akan tetapi, bila ada sejumlah hadits dha'if
lain yang isinya sejalan dengan hadits tadi, maka hal itu akan saling menguatkan,
dan menjadi kuatlah hadits tersebut sehingga bisa dijadikan hujjah, sekalipun hadits-
hadits tadi masing-masingnya lemah."
Kaidah yang dijadikan dasar oleh Ustadz Al-Maududi untuk menguatkan hadits terse-
but jelas tidak benar kalau digunakan secara mutlak seperti itu. Memang kaidah itu
biasa dipakai oleh para ulama hadits. Namun mereka mensyaratkan, bahwa masing-
masing hadits dha'if tersebut kedha'ifannya tidak parah. Imam Nawawi di dalam kitab
At-Taqrib (hlm 58, dengan syarahnya, yaitu kitab At-Tadrib) berkata, "Bila suatu hadits
diriwayatkan dengan beberapa sanad yang dha'if, maka tidak selalu dengan banyak-
nya sanad tadi hadits tersebut menjadi hadits hasan. Hadits tersebut bisa menjadi
hasan dengan banyaknya sanad tadi kalau kelemahan hadits tersebut karena kele-
mahan hafalan dari periwayatnya yang sebenarnya jujur dan dapat dipercaya, atau
karena kemursalannya. Disamping itu, disyaratkan juga agar hadits lain yang mengu-
atkan hadits tersebut sanadnya bersambung hingga kepada Nabi atau mursal juga,
tetapi pada sanad yang mursal ini para periwayatnya orang-orang yang bisa diterima
52—Jilbub Wanita Muslimah
periwayatannya; serta disyaratkan juga agar sumber riwayat dari hadits mursal yang
menguatkan ini berbeda dengan sumber riwayat dari hadits mursal yang dikuatkan-
nya. Karena dalam kondisi semacam ini, maka seseorang akan mantap hatinya
(dalam menerima riwayat tadi) karena mengetahui bahwa hadits tersebut dengan
kedua jalannya sampai kepada seorang sahabat atau beberapa sahabat, sehingga
kedua hadits mursal tersebut akan saling menguatkan. Adapun bila dua syarat di
atas tidak terpenuhi, misalnya karena hadits mursal yang menguatkan tadi jalur
sanadnya "berpenyakif atau "sehat" tetapi tidak bisa diketahui bahwa sumber riwayat
dari dua hadits yang mursal tadi berbeda, maka kedua hadits tersebut tidak bisa saling
menguatkan. Karena boleh jadi sumber riwayat dari dua hadits mursal tadi adalah
satu orang. Hadits yang keadaannya semacam itu dinamakan hadits gharitt"
Itulah maksud dari perkataan Nawawi dalam pembahasannya tentang hadits mursal,
setelah dia menyebutkan bahwa hadits mursal adalah termasuk hadits dha'if menurut
pendapat jumhur ahli hadits, Syafi'i, kebanyakan ahli fikih, dan para ahli ilmu Ushul.
Al-Hakim juga meriwayatkan hadits itu dari Ibnu Al-Musayyab; begitu juga Malik
sebagaimana tersebut di dalam kitab At-Tadrib.
An-Nawawi di dalam kitabnya At-Tadrib hlm 67 berkata, "Bila sumber periwayatan
suatu hadits mursal dianggap baik dengan adanya pendukung hadits lain yang ber-
sambung sanadnya, atau mu/sa/ juga, tetapi sumber riwayat murealhya tidak sama
dengan hadits mursalyang didukungnya tadi, maka jelaslah hadits yang mursal yang
didukungnya tadi dianggap hadits shahih dan kedua. hadits mursal tadi dianggap
hadits shahih. Sehingga bila ada satu hadits dari jalan lain bertentangan dengan kedua
hadits mursal tadi, maka kami menguatkan kedua hadits mursal tadi dari pada hadits
itu, kalau keduanya tidak bisa dipadukan pengertiannya."
Menurut saya, syarat yang disebutkan oleh Nawawi, 'dengan adanya pendukung
hadits lain yang bersambung sanadnya atau'... diatas adalah satu hal yang penting
untuk diperhatikan. Karena tanpa terpenuhinya syarat tersebut suatu hadits mursal
tidak bisa berubah menjadi shahih. Bila kita sudah tahu demikian halnya, maka
jelaslah Ustadz Al-Maududi tidak memperhatikan syarat ini ketika dia memakai hadits
mursal dari Qatadah untuk menguatkan hadits mursal dari Ibnu Juraij, yang bahkan
sebenarnya hadits dari Ibnu Juraij ini adalah hadits mu'dhal Jadi, ada dua masalah
disini, yaitu:
Pertama. Syarat diatas tidak terpenuhi, karena sumber riwayat hadits mursal itu
(Qatadah dan Ibnu Juraij) ternyata mempunyai guru yang sama yaitu Atha' bin Abi
Rabah, sebagaimana disebutkan di dalam biografi keduanya. Maka, hadits ini me-
ngandung kemungkinan berasal dari satu sumber, sehingga keduanya satu sama
lain tidak bisa saling menguatkan.
Kedua. Hadits dari Ibnu Juraij itu ternyata hadits mu'dhal, bukan mursal. Oleh karena-
nya, hadits dari Ibnu Juraij itu tidak bisa menguatkan hadits mursal dan Qatadah di
muka. Karena Ibnu Juraij hanyalah meriwayatkan hadits dari para tabi'in, sehingga
boleh jadi gurunya yang menjadi sumber riwayat dalam hadits itu seorang tabi'in
Jilbab Wanita Muslimah— 53
tsiqah, yang telah mengambil hadits dari seorang guru yang sama pada hadits
mursal yang dari Qatadah, sehingga syarat diatas, (yaitu: sumber riwayat hadits mursal
tidak boleh satu orang periwayat -pent.) tidak terpenuhi. Apalagi kalau guru Ibnu
Juraij sendiri bukan seorang yang tsiqah. Jelas, dalam keadaan seperti ini haditsnya
tidak bisa dipakai karena kedha'fan dan kemursalannya. Dan inilah kemungkinan
yang kuat menurut saya tentang hadits mursal dari Ibnu Juraij ini. Karena dia tidak
meriwayatkan hadits mursal kecuali dari orang-orang yang dicela (oleh para ulama
hadits). Karena dia seorang periwayat mudallis (suka menyamarkan -pent.),
sebagaimana hal itu diakui juga oleh Ustadz Al-Maududi dalam bantahan dia. Namun
dia berlalu begitu saja, tanpa mau sedikit pun menjelaskan jenis tadlis (penyamaran)
yang dia lakukan. Sebaliknya, dia malah banyak mengutip perkataan para imam yang
menilai tsiqah Ibnu Juraij. Suatu hal yang tidak banyak faedahnya di sini, bahkan hal itu
akan menimbulkan kesalahpahaman orang yang tidak tahu tentang dirinya, yang
akan beranggapan bahwa hadits mursal Ibnu Juraij bisa dijadikan hujjah! Ustadz
Al-Maududi menyebutkan bahwa salah satu rujukan dia dalam menilai tsiqah Ibnu
Juraij adalah kitab Mizan Al-I'tidal. Padahal di dalam kitab tersebut juga disebut-kan:
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, "Ayah saya berkata, 'Sebagian dari
hadits-hadits mursal Ibnu Juraij ini adalah hadits-hadits maudhu'. Ibnu Juraij tidak
mempedulikan dari mana dia mengambil perkataan, yaitu ketika umpamanya dia
berkata, 'Saya mendapat kabar dari Fulan atau saya mendapatkan cerita dari Fulan."
Di dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib disebutkan, Al-Atsram berkata dari Ahmad, "Bila
Ibnu Juraij berkata, 'dari Fulan....' atau 'saya diberitahu....', maka hadits-haditsnya
adalah dianggap hadits mungkar. Tetapi bila dia berkata, 'Aku diberi kabar oleh...'
atau 'Saya mendengar....' maka cukup kuat haditsnya untuk kamu (jadikan hujjah).'"
Ja'far bin Abdul Wahid berkata dari Yahya bin Sa'id, "Ibnu Juraij seorang yang jujur.
Bila dia berkata, Telah bercerita kepadaku...', maka berarti dia memang mendengar
langsung; dan bila dia berkata, 'Aku diberi kabar oleh.... 'berarti dia membaca; sedang
bila dia berkata, 'Telah berkata....' maka perkataannya laksana angin lalu saja.'"
Daraquthni berkata, "Jauhilah tadlis (penyamaran) Ibnu Juraij, karena dia tadlisnya
jelek. Karena dia tidak meriwayatkan hadits mursal kecuali dari orang-orang yang
dicela (oleh para ulama hadits), seperti Ibrahim bin Abi Yahya, Musa bin Ubaidah,
dan Iain-Iain."
Dari perkataan para imam hadits diatas, jelaslah hadits Ibnu Juraij yang mu'an'an
(menggunakan lafazh 'dari Fulan....'—pent.) adalah dha'if atau sangat dha’if sehingga
tidak bisa dijadikan hujjah, karena buruknya tadlis (penyamaran) dia; bahkan dia juga
meriwayatkan hadits maudhu', sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad di atas.
Ini, bila hadits mu'an'an yang dia sampaikan bersambung; lalu bagaimana bila hadits
yang dia sampaikan mursal atau bahkan mu'dhal seperti hadits di muka?!
Teranglah, sebagaimana terangnya matahari, bahwa kesimpulan Ustadz Al-Maududi
yang menganggap kuat hadits Qatadah yang mursal karena didukung oleh hadits
Ibnu Juraij yang mu'dhal adalah tidak bisa diterima kebenarannya berdasarkan
54—Jilbab Wanita Muslimah
kaidah-kaidah ilmu hadits dan perkataan para imam yang mengetahui seluk-beluk
para periwayat hadits.
Semua penjelasan di atas mengenyampingkan adanya pertentangan hadits dari
Qatadah yang mursal itu dengan hadits dari Asma' binti Umaisy dan hadits dari
Qatadah lainnya dengan sanad yang sama dari Aisyah. Bagaimana kalau adanya
pertentangan diatas ikut kita jadikan pertimbangan?! Dalam bantahan saya
terhadap Ustadz Al-Maududi saya telah tunjukkan kelemahan hadits-hadits yang dia
tunjuk diatas, kecuali hadits Asma', dengan sanad yang berbeda-beda disertai lafazh
haditsnya masing-masing, sebagai tambahan dari kelemahan sanad-sanadnya.
Dia menjawab, katanya, banyaknya sanad seperti itu tetap lemah, meskipun lafazh-
lafazh hadits tadi semuanya kita padukan menjadi satu. Dia berkata,
"Walaupun sebenarnya masalahnya tidak seperti itu. Keempat hadits tersebut
masing-masing lafazhnya berbeda satu dengan yang lainnya sebagaimana nampak
jelas dari zhahir lafazhnya." Kemudian dia melanjutkan, "Bermacam-macan sanad
diatas bukanlah tidak mungkin untuk dipadukan. Karena kita bisa memahami dengan
mudah bahwa sebenamya yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah bahwa
seorang wanita tidak dibolehkan membuka tubuhnya, kecuali wajah dan kedua
tangannya menurut kebiasaan; tetapi bila ada keperluan atau udzur, maka dia diboleh-
kan membuka tangannya hingga separoh hastanya. Jadi hanya merupakan perbeda-
an antara aurat berat dengan aurat ringan saja. Dalil bahwa bedanya hanya perbedaan
seperti itu saja adalah perkataan Rasulullah tidak halal untuk separoh hasta dalam
hadits riwayat Qatadah yang pertama dan riwayat Ibnu Juraij; dan perkataan beliau
1idakbaik'm\uk pergelangan tangan, wajah dan kedua telapak tangan yang terdapat
dalam riwayat Qatadah yang kedua dan riwayat Khalid bin Duraik." Perkataan dia
kami jawab sebagai berikut:
Pertama. Orang yang mau memperhatikan secara cermat hadits-hadits tersebut tidak
akan mengatakan bahwa hadits-hadits itu ada empat. Hadits tersebut hanya ada dua
saja, yaitu:
1. Hadits Qatadah yang mursal, yang artinya, 'Seorang wanita jika telah memasuki
masa haidh tidak layak ketihatan badannya kecuali wajah dan kedua tangannya
hingga pergelangan. 'Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Marasil-
nya hlm 437 dan dia juga meriwayatkan hadits serupa itu dalam kitab Sunan-
nya dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah, yang artinya 'Sesungguhnya
seorang wanita bila sampai masa haidhnya tidak baik kelihatan badannya kecuali
ini dan ini. Beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangannya.' Tidak
diragukan lagi bahwa kedua hadits di atas adalah terhitung satu hadits.
Karena sumbernya berasal dari seorang periwayat, yaitu Qatadah. Bedanya,
sebagian meriwayatkan dari dia dengan sanad mursal dalam satu lafazh dan
sebagian yang lain meriwayatkan dari dia dengan sanad bersambung dalam
lafazh lain. Namun sebenarnya pengertiannya satu. Belum pernah sekalipun saya
Jilbab Wanita Muslimah— 55
tahu ada seorang ahli hadits menganggap hadits yang diriwayatkan oleh seorang
periwayat, cuma yang satu sanadnya mursal sedang satunya lagi sanadnya
bersambung sebagai dua hadits yang lafazhnya berbeda. 2. Hadits Qatadah yang
diriwayatkan secara mursal dan hadits Ibnu Juraij yang mu'dhal. Kedua hadits ini
sama-sama dengan lafazh "tidak halal" dan mengecualikan separoh hasta. Kedua
hadits ini juga merupakan satu hadits yang diriwayatkan dengan dua sanad.
Bedanya, yang satu mursal dan yang satunya mu'dhal. Hanya dua hadits itulah
yang ditunjuk oleh zhahir lafazh-lafazh hadits tersebut; tidak ada yang lainnya.
Kedua. Kalau telah jelas perbedaan antara hadits yang pertama dengan hadits kedua
sebagaimana yang telah kami sebutkan itu, maka perpaduan yang dilakukan oleh
Ustadz Al-Maududi itu bisa diterima kalau kedua hadits itu kedua-duanya merupakan
hadits yang bisa diterima sebagai hujjah. Memang kalau keadaannya begitu tidak
ada pilihan kecuali harus memadukannya sebagaimana hal itu terkenal di daiam ilmu
musthalah hadits; lebih khusus lagi di dalam kitab Syarhu An-Nuqbah karya Al-Hafizh
Ibnu Hajar.
Dari penjelasan di muka telah kita ketahui bahwa hadits kedua adalah lemah. Sedang-
kan hadits pertama adalah hadits yang bisa kita jadikan hujjah, karena mempunyai
hadits pendukung yang sanadnya bersambung, yaitu hadits Asma' sebagaimana akan
tersebut pada hlm 59 nanti. Dan pengertian hadits itulah yang kita amalkan sebagai-
mana penjelasaannya akan saya sampaikan dalam footnote nanti. Sehingga, tidak
ada lagi dasar untuk memadukan kedua hadits tersebut.
Ketiga. Perpaduan yang dilakukan oleh Ustadz Al-Maududi menurut saya tidak bisa
diterima, bahkan tidak bisa dipahami walaupun sudah diusahakan dengan susah
payah. Sebab, dari mana Al-Maududi menetapkan batasan "menurut kebiasaan" pada
hadits pertama dan batasan "ada keperluan atau udzur" pada hadits kedua. 0, jadi,
seandainya seorang wanita berudzur untuk membuka tangannya atau bahkan paha-
nya misalnya, maka apakah diperbolehkan bagi dia membukanya? Saya tidak ragu-
ragu lagi bahwa dia akan menjawab bahwa wanita tadi wajib membukanya. Karena
dia telah menyatakan seperti itu di dalam kitabnya Al-Hijab hlm 399. Dengan demi-
kian, bukankah batasan yang dibuat oleh Ustadz Al-Maududi sendiri ketika mem-
bantah pendapat saya akan menghapuskan pengecualian yang memang ada dalam
hadits? Kalau begitu, lalu hadits tersebut pengertiannya bagaimana bila pengecualian
yang ada di situ masih harus dibatasi lagi dengan batasan yang dia buat? Jika
demikian halnya, jelaslah sudah kebatilan perpaduan yang dia lakukan. Di samping
itu, karena hadits yang kedua itu adalah lemah, selain itu, juga bertentangan dengan
hadits pertama yang maqbul, maka hadits yang kedua tadi mungkar lagi tertolak.
Yang menarik adalah, bahwa Ustadz Al-Maududi yang membatasi hadits pertama
dengan batasan "menurut kebiasaan", tentunya akan kami pahami bahwa hadits
tersebut membolehkan seorang wanita membuka wajahnya dan menjadikan hal itu
sebagai kebiasaannya, padahal di dalam bukunya Al-Hijab6\a berpendapat bahwa
56—Jilbab Wanita Muslimah
wajah adalah aurat. Bahkan, pada buku tersebut hlm 365-366 dia berkata, "Sesung-
guhnya ayat, '...dan hendaklah mereka (para wanita) mengulurkan jilbabnya' adalah
turun secara khusus berkenaan dengan perintah menutup wajah!!! Kemudian dia
berbicara secara panjang lebar menguatkan pendapatnya itu. Kemudian, dia menye-
butkan pada hlm 377, "Sesungguhnya Islam membolehkan seorang wanita membuka
wajahnya ketika ada keperluan dan dalam keadaan darurat!" Pernyataan di atas
merupakan ketetapan dari dia bahwa wajah wanita tidak boleh dibuka kecuali bila
ada keperluan. Pernyataan ini bertentangan dengan batasan "menurut
kebiasaan" yang dia buat terhadap hadits tersebut. Juga, bertentangan dengan
batasan dia terhadap hadits lainnya yang membolehkan wanita membuka
tangannya hingga separoh hasta, yaitu: "bila ada keperluan atau udzur". Sebab, dalam
kitabnya Al-Hijabdan dalam tulisan bantahannya, dia berpendapat bahwa wajah dan
separoh hasta seorang wanita adalah aurat yang sedikit pun tidak boleh dibuka,
kecuali bila ada keperluan atau dalam keadaan darurat. Padahal di dalam tulisan
bantahannya dia merrfbedakan kedua anggota tubuh tersebut. Hal itu tidak lain adalah
karena ketergantungannya kepada hadits yang telah saya jelaskan kelemahannya
dalam tulisan bantahan saya terhadapnya. Sebenarnya andaikata dia mau menjauh-
kan diri dari hadits tersebut, setelah tahu kelemahannya tidak ada kerugian sedikit
pun baginya, selama dia memberi batasan terhadap hadits tersebut "bila ada keper-
luan atau dalam keadaan darurat"; dan selama dia berpandangan bahwa dengan
batasan diatas seorang wanita diperbolehkan membuka bagian tubuh lebih dari itu.
Adapun penetapan Ustadz Al-Maududi yang membedakan hukum separoh hasta dan
telapak tangan disebabkan dasar masing-masingnya berbeda, yaitu yang pertama
haditsnya mengatakan "tidak halal", sedang yang lain haditsnya mengatakan "tidak
baik" adalah penetapan yang lemah sekali. Saya tidak tahu bagaimana Ustadz Al-
Maududi punya pemikiran semacam itu. Kelemahan penetapan dia diatas
saya jelaskan demikian. Pertama. Andaikata penetapan dia di atas benar, berarti
kedua hadits tersebut jelas akan bertentangan dalam menghukumi badan wanita
yang dikecualikan. Karena hadits pertama mengatakan haramnya badan wanita
kecuali yang dikecualikan, sedang hadits yang satunya, menurut yang saya
pahami cuma mengatakan tidak baik, bukan tidak halal, atau ada hadits lainnya yang
juga tidak secara tegas mengatakan haramnya, maka jelaslah kedua hadits tersebut
bertentangan pengertiannya. Kedua. Menurut saya, tidak ada perbedaan antara
perkataan Nabi "tidak halal" dengan perkataan beliau "tidak baik". Kedua-duanya
menunjukkan pengharaman. Karena yang namanya kerusakan adalah kebalikan
dari kebaikan. Maka, segala apa yang tidak baik berarti rusak, dan pelakunya
disebut perusak. Allah mencela suatu kaum dengan firman-Nya: "Orang-orang yang
membuat kerusakan di muka bum/ ini, mereka itu tidaklah berbuat kebaikan. "Ayat ini
sebagai dalil bahwa "tidak baik" adalah artinya "tidak halal". Contoh-contoh seperti ini
dalam hadits-hadits banyak kita temui. Namun, saya akan sebutkan tiga hadits
saja.
Jilbab Wanita Muslimah— 57
Menurut saya, pengambilan pendapat semacam itu tidaklah kuat,
karena pendapat semacam itu tidak berdasarkan pada pengertian yang
langsung ditangkap dari dzahirnya ayat itu. Akan tetapi semata-mata
diambil dari kesimpulan fikih. Jadi, bukan suatu hal yang pasti.
Karena orang lain bisa membantah dengan berkata, "Bolehnya
wanita membuka wajahnya ketika shalat itu adalah hal yang
khusus di dalam shalat saja. Tidak boleh hal itu diqiaskan untuk
membukanya ketika di luar shalat, karena kedua kondisi tersebut
jelas-jelas berbeda."
Memang saya pun akan mengatakan sebagaimana dikatakan pem-
bantah di atas. Meskipun sebenarnya saya sendiri berpendapat boleh
bagi seorang wanita membuka wajah dan telapak tangan, baik di
dalam maupun di luar shalat. Saya berpendapat demikian itu karena
ada satu dalil, bahkan beberapa dalil yang mendasarinya sebagaimana
yang akan disebutkan nanti. Akan tetapi kesamaan saya dengan pem-
bantah tadi adalah dari segi keakuratan dalam menerapkan dalil,
bukan dari kebenaran pendapatnya. Karena menurut saya makna ayat
"
m
..kecuali yang biasa nampak..." tersebut yang benar adalah
sebagaimana yang telah saya sebutkan di awal pembahasan ini. Dan
pendapat saya itu dikuatkan oleh penafsiran Ibnu Katsir.
Pendapat saya itu dikuatkan pula oleh perkataan Al-Qurthubi di
dalam tafsirnya Xll:229: "Ibnu Athiyah berkata, 'Dari lafadz ayat di
atas, jelaslah bagi saya bahwa seorang wanita diperintahkan untuk
tidak menampakkan apa pun yang merupakan perhiasan baginya dan


1. Rasulullah bersabda, yang artinya: "Sesungguhnya shalat ini tidak baik ada
perkataan manusia di dalamnya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, terdapat juga di kitab Al-lrwa' hadits no.390
dan kitab Shahih Abu Dawud hadits no.862.
2. Perkataan Rasulullah kepada Basyir, ayah Nu'man, setelah memberinya se
orang budak, yang artinya: "Apakah masing-masing kamu beri sebagaimana yang
kau berikan kepada dial Dia menjawab, 'Tidak.' Beliau berkata, 'Itu tidak baik.'
Sesungguhnya saya tidak mau bersaksi adanya kezhaliman(mu).'"Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim, terdapat juga di kitab Al-lrwa' hadits no. 1598.
3. Perkataan Rasulullah kepada Abu Burdah ketika dia bertanya, "Wahai
Rasulullah, saya mempunyai seekor anak kambing yang jinak."
Beliau menjawab, yang artinya: "Sembelihlah, dan itu tidak akan pernah baik selain
untukmu sendiri."'Hadits ini derajatnya muttafaqun 'alaih.
58 —Jilbab Wanita Muslimah
agar bersungguh-sungguh menyembunyikannya. Adapun 'penge-
cualian' pada ayat tersebut memang sudah semestinya diberikan
kepada wanita untuk melakukan kegiatan, atau keperluan lainnya.
Jadi, 'yang biasa nampak' pada ayat di atas adalah suatu tuntutan bagi
seorang wanita dan yang dimaafkan untuk ditampakkan olehnya."'
Al-Qurthubi berkata, "Saya katakan bahwa pendapat ini baik.
Akan tetapi karena pada umumnya terbukanya wajah dan kedua
telapak tangan ini adalah didasarkan pada kebiasaan dan ibadah —
misalnya dalam shalat dan haji— maka selayaknya 'pengecualian'
ini dikembalikan kepada dua hal itu saja. Dalil yang menguatkan
hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,
dari Aisyah, bahwa Asma' binti Abu Bakar pernah menemui
Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah
pun berpaling darinya, dan berkata, "Wahai Asma', sesungguhnya
wanita itu bila telah mencapai masa haid tidak patut ada bagian
tubuhnya yang kelihatan, kecuali ini dan ini. Beliau berkata begitu
sambil menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangannya. Ini adalah
cara yang paling baik dalam menjaga dan mencegah kerusakan
manusia. Maka, janganlah para wanita menampakkan bagian
tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Allahlah
yang member! taufik dan tidak ada Tuhan selain-Nya."
Komentar saya: Ulasan dia pun juga perlu kita cermati. Karena,
meskipun terbukanya wajah dan telapak tangan itu didasarkan pada
kebiasaan, akan tetapi hal itu dilakukan oleh para wanita dengan
sengaja. Padahal ayat tersebut menurut pemahaman saya adalah
mengecualikan apa-apa yang biasa nampak tanpa disengaja. Maka,
bagaimana mungkin ayat tersebut dijadikan sebagai dalil yang men-
cakup bagian tubuh yang nampak dengan sengaja? Coba, camkanlah!
Namun saya pun terus memikirkan masalah ini. Akhirnya, menu-
rut saya, pendapat para ulama salaflah yang benar karena ketajaman
pikiran mereka. Semoga Allah merahmati mereka. Penjelasannya
seperti berikut ini. Sesungguhnya para ulama salaf bersepakat bahwa
ayat "...kecuali yang biasa nampak..." itu adalah ditujukan kepada
para wanita mukallaf (sudah terkena beban syariat—Pen.). Akan tetapi
mereka berselisih pendapat, manakah bagian tubuh wanita yang
Jilbab Wanita Muslimah— 59
boleh secara sengaja ditampakkan itu. Ibnu Mas'ud berpendapat,
"Pakaiannya, yaitu jiIbabnya". Ibnu Abbas dan beberapa sahabat yang
sependapat dengannya berpendapat, "Wajah dan kedua telapak
tangannya". Jadi, pengertian ayat tersebut ialah: "...kecuali yang
biasa nampak..."sesuai dengan izin dan aturan dari Pembuat Syariat,
yaitu Allah. Bukankah kita sepakat bahwa bila seorang wanita
meninggikan jilbabnya sehingga di bagian bawah terlihat pakaian dan
perhiasannya —sebagaimana dilakukan wanita-wanita Saudi
Arabia— menurut kesepakatan ulama berarti dia telah melanggar
ayat tersebut. Perbuatan wanita ini sama dengan perbuatan
wanita yang dalam pembahasan, yaitu sama-sama ada unsur
kesengajaan. Tidak bisa tidak mesti begitu kesimpulannya. Sehingga
kalau begitu, titik masalah pada ayat di atas adalah bukan karena unsur
ketidaksengajaan wanita tersebut —karena ini merupakan hal yang
tidak berdosa pelakunya ' tanpa ada ulama yang
mempermasalahkannya—, akan tetapi karena tidak adanya izin dari
Pembuat syariat, yaitu Allah. Bila syariat telah membolehkan wanita
menampakkan sebagian dari perhiasannya, apakah itu kedua
telapak tangan, wajah atau yang lainnya, maka kebolehan ini tidak bisa
ditolak dengan alasan kesengajaan sebagaimana yang kami sebutkan
di atas. Karena perbuatan tersebut memang diizinkan, misalnya
menampakkan jilbab secara keseluruhan, sebagaimana telah saya
sebutkan tadi.
Begitulah hasil penafsiran dari para sahabat yang mengatakan,
"Yang dikecualikan dalam ayat tersebut adalah muka dan telapak
tangan" dan praktek kebanyakan para wanita pada masa Nabi dan
generasi sesudahnya, sebagaimana kita lihat dalam riwayat-riwayat
mutawatir yang akan disebutkan nanti.
Dengan ditemukannya pemahaman ini sepantasnya kita memberi
pujian —setelah kepada Allah ta'ala— kepada Al-Hafizh Abu Al-
Hasan bin Al-Qathan Al-Fasi yang telah menulis kitab yang sangat
berharga dan tiada tara bandingannya, dan saya telah disempatkan
oleh Allah menelaah kitab tersebut ketika mempersiapkan muka-
dimah dari cetakan kitab saya terbaru ini. Kitab tersebut berjudul:: An-
Nazhar fi Hukmi An-Nazhar. Di dalam kitab tersebut dengan
wawasan ilmunya yang luas dan pandangan nya yang tajam dia
membahas
60—Jilbab Wanita Muslimah
setiap permasalahan yang ada, termasuk pembahasan kita ini. Beliau,
didalam kitab tersebut(Q.14/2) memberi support terhadap
pemahaman yang telah saya sebutkan di atas dengan berkata,
"Yang kami maksudkan dengan kebiasaan di sini adalah kebiasa- .
an orang-orang pada masa Al-Qur'an diturunkan, yang telah menyam-
paikan syariat Nabi kepada kita, dan yang langsung mengalami
peristiwa pada saat-saat diturunkannya syariat tersebut dan siapa saja
sepeninggal mereka yang mengikuti tradisi tersebut. Jadi, bukan ke-
biasaan wanita-wanita yang suka menampakkan bagian tubuh dan
aurat mereka."
Komentar saya: Ibnu Abbas dan para Ulama yang sependapat
dengannya dari kalangan sahabat, tabi'in, dan mufassirin, mereka itu
menafsirkan ayat "kecuali yang biasa nampak" merujuk kepada ke-
biasaan yang terjadi pada masa diturunkannya ayat tersebut dan
mereka pun menjadi kokoh hujahnya karena merujuk dengan tradisi
tersebut. Karena itu, tidak boleh seseorang pun menentang penafsiran
mereka itu dengan dasar penafsiran Ibnu Mas'ud yang tidak seorang
pun dari kalangan sahabat mengikutinya. Hal itu dikarenakan dua
hal, yaitu:
Pertama. Ibnu Mas'ud (pada tafsirannya) memutlakkan untuk
semua jenis pakaian, padahal tidak ada seorang pun yang memutlak-
kannya seperti dia. Karena hal itu berarti mencakup pakaian dalam
yang bendanya sendiri merupakan perhiasan, sebagaimana yang
dilakukan oleh wanita-wanita Saudi yang telah disebutkan di muka.
Kalau begitu, tentu yang mereka maksudkan tidak lain adalah jilbab
saja yang ditampakkan oleh wanita ketika keluar dari rumahnya.
Kedua. Penafsiran ini —meskipun mendapatkan sambutan yang
antusias dari orang-orang yang keras dalam masalah ini— tidak sejalan
dengan bunyi ayat sesudahnya, "dan janganlah mereka menampak-
kan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka
..." Pada ayat tersebut, kata "perhiasan" yang disebutkan pertama
sama dengan kata "perhiasan" yang disebutkan sesudahnya. Begitulah
yang biasa dikenal dalam bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab bila
orang-orang menyebutkan isim ma'rifah, (dalam ayat tersebut, kata
zinah (perhiasan), yang ditandai dengan adanya alif lam yang
melekat
Jilbab Wanita Muslimah — 61
pada kata tersebut -Pent.) kemudian mereka mengulang penyebutan-,
nya, maka isim yang mereka ulang tersebut maknanya sama. jika
demikian halnya, apakah bapak-bapak dan semua orang yang di-
sebutkan di ayat tersebut hanya diperbolehkan melihat pakaian
dalam mereka?! (Tidak diperbolehkan melihat muka dan telapak
tangan mereka?!!)
Oleh karena itulah, maka Abu Bakar Al-Jashshash di dalam kitab
Ahkam Al-Qur'an (111:316) berkata, "Penafsiran Ibnu Mas'ud bahwa
'apa yang biasa nampak' adalah pakaian, tidak memiliki makna apa-
apa, karena sudah mafhum bahwa kata perhiasan di dalam ayat ini
yang dimaksud adalah anggota tubuh wanita yang biasa dikenakannya
perhiasan. Bukankah kita sama-sama tahu bahwa semua perhiasan
seperti gelang tangan, gelang kaki, maupun kalung boleh
ditampakkannya kepada kaum pria jika tidak sedang dia pakai?!
Karena itu kita memahami bahwa kata perhiasan di situ yang
dimaksud adalah tempat-tempat perhiasan, sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah dalam kelanjutan ayat tadi: "dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami
mereka." Yang dimaksud di sini juga adalah tempat-tempat
dikenakannya perhiasan. Mengartikan kata "perhiasan" dengan
pakaian tidak mempunyai makna apa-apa, Karena pakaian yang
dilihat oleh suaminya tanpa ada sedikit pun badan istrinya yang
dilihat sama saja dengan melihat pakaian tersebut ketika tidak
sedang dipakai istrinya.
Barangkali, karena itulah, Al-Hafizh Ibnu Al-Qaththan tidak
memilih penafsiran Ibnu Mas'ud di dalam kitabnya yang telah saya
sebutkan tadi, padahal dia membawakannya sebagai salah satu pen-
dapat dalam menafsirkan ayat tersebut, yang di situ disebutkan pula
pendapat para ulama dan para imam madzhab dengan rincian, pen-
jelasan, dan ulasan-ulasan yang belum pernah saya lihat bandingan-
nya. Kemudian dia juga menyebutkan beberapa hadits yang sudah
cukup dijadikan dalil bolehnya wanita menampakkan wajah dan
kedua telapak tangannya kepada kaum pria yang bukan mahramnya.
Meskipun banyak hadits-hadits yang saya sebutkan di dalam kitab
saya ini luput dia sebutkan, namun dia telah membahasnya secara
teliti. Dia telah memilah mana hadits yang shahih dan mana yang
62 — Jilbab Wanita Muslimah
lemah, mana yang tepat dijadikan dalil dan mana yang tidak,
dengan sudut pandang fikih tanpa memihak kepada salah satu
kelompok pun.
Kemudian dia menyebutkan ayat tersebut dan
menafsirkannya dengan penafsiran yang sangat mengagumkan,
yang dari situ bisa nampak betapa dia seorang pakar yang
mumpuni dalam tafsir dan fikih; juga dalam bidang hadits. Beliau
menyebutkan bahwa larangan tersebut mutlak dipandang dari empat
aspek. Dia jelaskan satu persatu aspek-aspek tadi dengan penjelasan
yang bagus sekali. Namun yang saya anggap penting di sini adalah
aspek keempat. Dia berkata (Q. 15/ 1), "Ayat ini juga bersifat mutlak
jika dikaitkan kepada setiap orang yang melihatnya. Akan tetapi
kemutlakan ini dibatasi dengan dua pengecualian, yaitu:
Pertama. Kemutlakan perhiasan dibatasi dengan "apa yang biasa
nampak", maka yang ada dalam pengecualian ini boleh diperlihatkan
kepada siapa saja.
Kedua. Kemutlakan orang-orang yang melihatnya, yang kepada
merekalah perhiasan tersebut diperlihatkan. Mereka ini terbatas pada
suami dan orang-orang yang disebutkan sesudahnya.
Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Mas'ud, pendapat para
sahabat dan tabi'in yang berselisih pendapat dengannya, serta
pendapat-pendapat dari berbagai madzhab dan hadits-hadits yang
ditunjuk tadi, dia menyimpulkan dan mengemukakan
pendapatnya dalam masalah ini sebagai berikut (Q.21/1):
"Hadits-hadits yang berkait dengan masalah ini yang menunjuk-
kan bahwa wanita boleh menampakkan wajah dan telapak tangan
atau salah satunya itu bisa saja dipalingkan dengan cara menafsirkan
dhahir lafazh atau kisah tersebut ke arah lain, (yang biasa kita kenal
dengan istilah mentakwil —Pen.) Akan tetapi, berpaling dari penger-
tian dhahir lafazh atau kisah tersebut tidak boleh kecuali bila ada dalil
yang mendukungnya. Bila temyata tidak ada dalil yang mendukung-
nya, maka tindakan semacam itu dinamakan tahakkum (sewenang-
wenang). Oleh karena itu, kita wajib memahaminya sesuai dengan
apa yang ditunjuk dan didukung oleh dhahir lafazh tersebut, yaitu
wanita boleh membuka wajah dan kedua telapak tangannya. Akan
tetapi, hal semacam itu tidak boleh dilakukan dengan tujuan untuk
Jilbab Wanita Muslimah — 63
menghias diri lalu memamerkannya di muka umum. Tindakan sema-
cam itu jelas-jelas haram. Yang boleh ditampakkan oleh wanita tadi
adalah bagian-bagian tubuh yang secara adat memang biasa tampak
ketika melakukan kegiatan atau pekerjaan, sehingga bagian-bagian
tubuh tadi tidak wajib untuk senantiasa ditutup. Berbeda dengan
bagian-bagian tubuh yang secara kebiasaan (maksudnya, kebiasaan
yang diakui oleh syariat) tertutup, seperti dada dan perut, maka hal
ini tidak dibolehkan ditampakkan. Terlihatnya bagian ini tidak bisa
dimaafkan lagi. Seorang wanita wajib menutupnya baik sedang
bekerja maupun tidak bekerja. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah:
"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) tampak." Pengertian ayat ini: Janganlah mereka
menampakkan per-hiasan yang sedang mereka pakai kepada
orang lain, kecuali yang biasa nampak ketika mereka sedang
melakukan pekerjaan. Maka, bila tampaknya bagian-bagian tadi tidak
dimaksudkan untuk memamerkan diri dan mengundang fitnah, itu
tidak mengapa.
Kemudian dia berkata (Q.21/2), "Pengertian yang kami pegangi
sebagai tafsir dari ayat tersebut, yaitu bahwa bagian tubuh yang biasa
nampak adalah wajah dan telapak tangan dikuatkan oleh kelanjutan
ayat tersebut: "Hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dada-
nya." Dari situ bisa dipahami bahwa ketika wajah dalam keadaan
terbuka boleh jadi anting-anting akan mereka biarkan terbuka. Kemu-
dian, mereka diperintahkan untuk menutupkan kerudungnya ke dada,
sehingga anting-anting tadi tak terlihat sedikit pun, kecuali wajah yang
memang perlu terbuka ketika mereka bekerja, —kecuali sengaja ingin
ditutup meski terasa berat— dan kedua telapak tangan.
Para Ahli tafsir telah menyebutkan sebab turunnya ayat ini.
Mereka mengatakan bahwa ketika ayat ini turun para wanita biasa
menutup kepala mereka dengan kerudung yang mereka juraikan ke
punggungnya sebagaimana dilakukan oleh wanita kebanyakan. Dada
bagian atas dan leher mereka kelihatan. Kemudian Allah ta'ala meme-
rintahkan mereka agar menutupkan kerudung mereka ke atas dada
agar semua yang disebut tadi tertutup. Dan kaum wanita Muhajirin
dan Anshar sangat memperhatikan sekali perintah ini. Mereka pun
menambahnya dengan mempertebal kerudung mereka...."
64—Jilbab Wanita Muslimah
Kemudian dia menyebutkan hadits Aisyah yang akan kita sebut-
kan pada hlm 91, tetapi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan
lafazh: "Mereka merobek tirai mereka yang tidak berjahit (kata Ibnu
Shalah: 'yang tebal'), lalu mereka gunakan sebagai kerudung." Dia
berkata, "Sanad hadits ini hasan."
Kemudian Al-Hafizh Ibnu Al-Qathan rahimahullah berkata, "Jika
dikatakan, 'Pendapat yang Anda pegangi ini, yaitu bahwa wanita
boleh menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya -meskipun
mereka diperintahkan sebisa mungkin untuk menutupnya— kelihatan-
nya bertentangan dengan firman Allah ta'ala:

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan-
mu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)
Maka, jawabnya: Kata mengulurkan (idna') masih bisa ditafsirkan
dengan penafsiran yang tidak bertentangan dengan pendapat yang
kami pegangi. Yaitu dengan pengertian: "Hendaklah mereka meng-
ulurkan jilbabnya sehingga tidak kelihatan kalung dan anting-anting
mereka, seperti pada firman Allah:

"Hendaklah mereka menutupkan kerudung pada dada mereka." (QS.
An-Nur:31)
Kata "mengulurkan" (idna') yang diperintahkan pada ayat di atas
adalah bersifat "mutlak" untuk semua bentuk tindakan mengulurkan.
Bila kata tersebut kita bawa kepada salah satu pengertiannya yang
lebih khusus, maka terbataslah sudah kemutlakan pengertian kata
"mengulurkan" tersebut dan kita harus mengambil makna yang
Jilbab Wanita Muslimah — 65
khusus itu. Karena pada ayat yang kita bahas ini, (yaitu yang terdapat
perkataan "kecuali yang biasa tampak' -Pen.) digunakan pernyataan
bentuk pewajiban, bukan bentuk pelarangan atau penafian."
Para pembaca yang mulia bisa mengetahui bahwa
pembahasan yang bermutu dari Al Hafizh Ibnu Qaththan —yang atas
karunia Allah saya bisa memahaminya— ini benar-benar sejalan
dengan ijtihad saya yang ditopang dengan sejumlah dalil, bahwa
ayat tersebut adalah bersifat mutlak. Hal ini bisa Anda lihat dengan
jelas pada hlm 101. Segala puji milik Allah, yang dengan nikmat-
Nya sempurnalah kebaikan-kebaikan.
Betul. Hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud adalah
dalil yang sangat jelas tentang bolehnya wanita menampakkan wajah
dan kedua telapak tangannya. Kalau pun di dalam hadits tersebut
terdapat (kelemahan) sebagaimana saya sebutkan di dalam catatan
kaki,
17
akan tetapi, barangkali bisa dikatakan bahwa hadits tersebut
menjadi kuat karena diriwayatkan dari berbagai jalan. Al-Baihaqi telah
menilai kuat hadits tersebut, sebagaimana akan datang penjelasannya.
Sehingga patutlah hadits tersebut dijadikan dalil atas pembolehan
tersebut. Apalagi banyak wanita pada zaman Nabi yang membuka
wajah dan kedua telapak tangannya di hadapan Nabi namun
beliau tidak melarangnya. Tentang hal ini banyak hadits yang
menerangkannya. Di antaranya hadits-hadits sebagai berikut:
17. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:182-183), Al-Baihaqi (ll:226 dan VII: 86),
Ath-Thabarani di dalam kitab Musnad Asy-Syamiyyin (hlm 511-512), Ibnu Adi di
dalam kitab Al- Kam//(lll:1209) melalui jalur Sa'id bin Basyir dari Qatadah dari Khalid
bin Duraik dari Aisyah (Ibnu Adi menambahkan, "Sekali dia mengatakan dari Ummu
Salamah, sebagai ganti dari Aisyah."
Abu Dawud mengatakan bahwa hadits ini mursal, karena Khalid bin Duraik tidak
pernah bertemu dengan Aisyah.
Menurut saya: Sa'id bin Basyir seorang rawi dha'if, sebagaimana disebutkan di dalam
kitab At-Taqrib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar. Akan tetapi hadits di atas diriwayatkan
juga lewat beberapa jalur lain sehingga menjadi kuat, diantaranya: 1. Hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Marasil-nya hadits no.437
sebagaimana telah tersebut terdahulu dengan sanad shahih dari Qatadah, bahwa
Nabi m bersabda: "Sesungguhnya seorang wanita yang telah sampai masa
66 —Jilbctb Wanita Muslimah
haidhnya tidak baik kelihatan badannya, kecuali wajah dan kedua tangannya
hingga pergelangan tangan."
Hadits ini mursalshahih karena dikuatkan oleh hadits sesudahnya, dan tidak ada
periwayat yang bernama Ibnu Duraik maupun Ibnu Basyir.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab AI-Kabir (XX\V: 143/
378) dan kitab Al-Ausath(II: 230/8959) dan Al-Baihaqi melalui jalur Ibnu Lahi'ah
dari 'lyadh bin Abdullah, katanya, dia mendengar Ibrahim bin Ubaid Rifa'ah Al-
Anshari mengabarkan dari ayahnya, yang saya kira dari anaknya Umais,
bahwa dia berkata, "Pernah Rasulullah m mengunjungi Aisyah binti Abu
Bakar yang disampingnya ada Asma' binti Abu Bakar yang mengenakan pakaian
model Syam yang iengannya lebar. Tatkala Rasulullah M melihatnya, beliau
bangkit dan keluar. Aisyah berkata (kepada Asma'), 'Menyingkirlah kamu, karena
Rasulullah , melihat sesuatu yang beliau tidak suka.' Lalu Asma' pun
menyingkir, dan kemudian Rasulullah masuk. Aisyah menanyakan kepada
Rasulullah kenapa beliau bangkit dan keluar. Beliau pun menjawab,
'Tidakkah kamu melihat dandanan Asma!' Karena sesungguhnya seorang
wanita muslimah itu tidak boleh tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini.' Beliau
memegang kedua telapak tangannya."
(Begitulah yang terdapat di dalam riwayat Al-Baihaqi. Yang benar adalah beliau
memegang kedua lengan bajunya sebagaimana tersebut di dalam kitab-kitab
sumber rujukan takhrij), lalu beliau menutup dengan kedua lengan baju tadi hingga
tidak kelihatan punggung telapak tangan beliau kecuali jari-jemarinya saja. Selan-
jutnya beliau menutupkan kedua telapak tangan pada kedua pelipisnya hingga
yang kelihatan hanya wajah beliau."
Al-Baihaqi berkata, "Sanad hadits ini dha'if."
Menurut saya: Cacatnya ada pada Ibnu Lahi'ah ini. Nama aslinya adalah
Abdullah Al-Hadhrami Abu Abdurrahman Al-Mishri Al-Qadhi. Dia seorang
periwayat yang berderajat tsiqah fadhil. Akan tetapi dia biasa menyampaikan
hadits dari buku-buku catatannya, lalu buku catatannya itu terbakar. Sehingga
akhirnya dia menyampaikan hadits berdasar hafalannya, namun ternyata
hafalannya kacau, tidak menentu. Sebagian ulama hadits mutaakhirin memandang
hadits yang dia sampaikan hasan, dan sebagian yang lainnya malah
memandangnya shahih.
Hadits yang ada Ibnu Lahi'ahnya ini disebutkan oleh Al-Haitsami di dalam
kitab Majma'u Az-Zawa-idt: (137) dalam riwayat Ath-Thabarani dari kitabnya Al-
Kabir dan Al-Ausath. Kemudian Al-Haitsami berkata, "Di dalam hadits ini ada Ibnu
Lahi'ah, yang derajatnya hasan, sedang periwayat-periwayat lainnya berderajat
shahih."
Tidak diragukan lagi, bahwa hadits Ibnu Lahi'ah bila ada hadits-hadits lain yang
menguatkan periwayatannya, maka derajatnya tidak turun dari derajat hasan.
Dan hadits ini merupakan salah satu hadits pendukungnya. Al-Baihaqi
menguatkan hadits ini dari sisi lain. Setelah membawakan hadits Aisyah dan
setelah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sahabat lainnya dalam menafsirkan
ayat:" kecuali yang biasa nampak, "yaitu maksudnya adalah wajah dan kedua
telapak
Jilbab Wanita Muslimah— 67
tangan, dia berkata, "Di samping hadits yang mursal ini ternyata ada pendapat dari
kalangan sahabat yang menjelaskan tentang perhiasan wanita yang biasa tampak
yang dibolehkan oleh Allah. Dengan demikian hadits ini menjadi kuat." Pendapat
semacam ini disepakati oleh Adz-Dzahabi di dalam kitab Tahdzib Sunan AI-
Baihaqi(1:38/1).
Menurut saya: "Sahabat yang dimaksudkan oleh Al-Baihaqi adalah Aisyah, Ibnu
Abbas, dan Ibnu Umar. Mereka para sahabat ini berkata (tetapi, lafazh ini adalah
perkataan Ibnu Umar), 'Perhiasan yang biasa tampak adalah wajah dan kedua telapak
tangan."
Selanjutnya Al-Baihaqi berkata, "Kami telah meriwayatkan perkataan serupa dari 'Atha
bin Abu Rabbah dan Sa'id bin Jubair, yaitu yang merupakan pendapat Auza'i."
Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab AI-Mushannaf(N:283) meriwayatkan, katanya: Telah
meriwayatkan kepada kami Ziyad bin Rabi', dari Shalih Ad-Dahhan, dari Jabir bin
Zaid, dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata, '...danjanganlah mereka menampakkan
perhiasannya kecualiyang biasa nampak' maksudnya adalah telapak tangan dan
wajah.'"
isma'il Al-Qadhi juga menyampaikan perkataan itu sebagaimana tersebut di dalam
kitab An-Nazhar-nya Ibnu Qathan (20/1). Sanad riwayat dari Isma'il ini shahih. Kemu-
dian Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan atsar ini bersambung kepada Ibnu Umar dengan
sanad yang shahih juga.
Yang menambah kekuatan hadits tersebut adalah terpraktekkannya hadifs tersebut
sebagaimana tersebut di dalam hadits-hadits dan atsar-atsar berikutnya. 18. Hadits ini
diriwayatkan oleh Muslim (111:19), An-Nasa-i (1:233), Darimi (1:377), Ibnu Khuzaimah
dalam kitab Shahih-nya (11:357,1460), Al-Baihaqi (111:296-300), dan Ahmad (111:318).
Hadits ini menunjukkan secara jelas apa-apa yang telah kami sampaikan, (yaitu boleh
terbukanya wajah dan telapak tangan wanita). Karena kalau tidak begitu, bagaimana
si periwayat tadi bisa menyebutkan bahwa wanita tersebut kedua pipinya sudah ada
perubahan dan tampak kehitam-hitaman.
68—Jilbab Wanita Muslimah

I. Dari Jabir bin Abdullah
l8
, katanya:

Pernah saya menghadiri shalat 'Id bersama Rasulullah . Beliau
melakukan shalat 'Id sebelum berkhutbah tanpa didahului adzan
maupun iqamat. Kemudian (setelah selesai shalat) beliau sambil
berdiri bersandar kepada Bilal memerintahkan (hadirin) agar ber-
takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, menasehati manusia dan
mengingatkan mereka. Kemudian beliau berjalan hingga sampai
kepada para wanita, lalu beliau pun memberi nasehat dan mengingat-
kan mereka. Beliau berkata, 'Bersedekahlah kalian, karena keba-
nyakan dan kalian adalah menjadi kayu bakar neraka jahanam.' Lalu
salah seorang wanita yang duduk di tengah-tengah mereka'
9
, yang
kedua pipinya sudah ada perubahan dan tampak kehitam-hitaman
bertanya, 'Mengapa, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Karena
kalian banyak mengeluh dan tidak mau mensyukuri keadaan suami
kalian.'Jabir bin Abdullah berkata, 'Mereka pun lalu bersedekah
dengan perhiasan-perhiasan yang mereka lemparkan ke kainnya
Bilal, yaitu berupa anting-anting dan cincin. "
20

19. Ini yang tersebut di dalam riwayat Muslim. Namun dalam riwayat lainnya disebutkan
dengan lafazh ِ ء'َ--'ا ُªَ'ِ·'َ- Kata Ibnu Atsir, ِ ء'َ--'ا ُªَ'ِ·'َ- artinya: ُط'´-´-'َ ا
ِ ء'َ--'ا َ .ِ-(orang yang rendah derajatnya).
20. Sebagian orang menyangka bahwa di dalam hadits ini, dan juga hadits lainnya seperti
hadits Ibnu Abbas yang akan kami sampaikan nanti pada nomor 6 menunjukkan
bolehnya kaum wanita mengenakan gelang dan cincin dari emas, serta menjadikan-
nya sebagai dalil untuk me-nasakh (mengnapus) hadits-hadits shahih yang secara
tegas mengharamkan wanita memakainya.
Jilbab Wanita Muslimah — 69
2. Dari Ibnu Abbas (maksudnya, Fadhl bin
Abbas)
21

Sesungguhnya pernah ada wanita Khats'amiyah meminta
fatwa kepada Nabi pada waktu Haji Wada' (di hari Nahar,
yaitu hari penyembelihan hewan qurban -Pen.), sedangkan Al-
Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah (Fadhl ini adalah
seorang anak yang cerdas. Lalu, Nabi ^pun memberi fatwa
kepada manusia.)
Untuk menjawabnya, kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Di dalam hadits di atas tidak terdapat penjelasan bahwa perhiasan tersebut
terbuat
dari emas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara hadits di atas
dengan
hadits-hadils yang mengharamkan (wanita memakai gelang dan cincin dari
emas).
2. Untuk menetapkan terhapusnya hadits yang mengharamkan dengan hadits
yang
membolehkan juga harus ada keyakinan bahwa hadits-hadits yang
membolehkan
ini munculnya lebih akhir dari hadits yang mengharamkan. Tanpa adanya
hal itu,
maka penghapusan semacam itu tidak bisa diberlakukan. Dan hal yang
sebalik-
nyalah yang benar.
Taruhlah ada sebuah hadits atau beberapa hadits yang menegaskan bolehnya hal
itu, maka mestinya itu ditetapkan sebagai hukum asal. Jadi hukum asalnya mubah.
Kemudian hukum yang asal ini berubah menjadi haram karena ada hadits-hadits lain
yang mengharamkannya. Galibnya, hadits-hadits semacam ini tidak dikeluarkan oleh
Pembuat Syariat (Allah), melainkan untuk menghapus hukum asal tersebut, yaitu dari
boleh (menjadi haram) terhadap hal-hal yang dijelaskan keharamannya oleh hadits-
hadits tersebut. Oleh karena itulah para ahli fikih mengatakan, "Bila terjadi perten-
tangan antara dalil yang membolehkan dengan dalil yang melarang, maka dalil yang
melarang itulah yang dipegangi." Dalam keadaan semacam ini kita tidak dituntut
menetapkan bahwa hadits yang mengharamkanlah yang datangnya lebih akhir dari
hadits yang membolehkan. Sebab, hadits yang mengharamkan pada
kenyataannya mengandung isyarat adanya penghapusan terhadap hal-hal yang
dikandung oleh hadits-hadits yang membolehkan. Saya telah membicarakan secara
detail perhiasan emas yang boleh dan yang haram dipakai oleh kaum wanita,
dengan menyebutkan dalil-dalil yang mengharamkannya, serta menyebutkan pula
bantahan terhadap pendapat-pendapat yang membolehkannya dalam kitab saya
yang berjudul Adabu Az-Zifaf Fi As-Sunnah Al-Muthahharah. Silahkan baca kitab
tersebut terutama yang diterbitkan oleh penerbit Al-Maktabah Al-lslamiyah. Karena
di dalam mukadimahnya terdapat bantahan tuntas terhadap sebagian orang yang
suka memunculkan pertentangan dan memperturutkan hawa nafsunya. 21.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (111:295; IV:54 dan Xl:8), Muslim (IV:101), Abu
Dawud (1:286), An-Nasai (11:5), Ibnu Hazm (111:318), Ibnu Majah (11:214), Malik (1:329),
dan Al-Baihaqi.
70—Jilbab Wanita Muslimah






Tambahan lafazh hadits yang berada di dalam kurung pertama dan yang tidak berada
di dalam kurung adalah lafazh yang ada di dalam riwayat Al-Bukhari, An-Nasai, Ibnu-
Majah, dan Ahmad dalam satu riwayat.
Tambahan redaksi yang ada pada kurung yang kedua dan ketiga terdapat dalam
riwayat Al-Bukhari. Sedang tambahan yang ada pada kurung yang terakhir terdapat
dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam satu riwayat yang lain, yang juga ada di
dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah (IV:342).
Adapun hadits dari Ali bin Abi Thalib tentang kisah serupa ini diriwayatkan oleh At-
Tirmidzi (l:167-cet. Bulaq), dan dia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad (hadits no.562 dan no. 1347), dan juga
anaknya, Abdullah, dalam kitab Zawaid Al-Musnad (hadits no.564 dan no.613), Al-
Bazzar di dalam kitab Musnad-nya (11:164,351-352 - cet. Beirut), Adh-Dhiya' di
dalam kitab Al-Mukhtarah (1:214) dengan sanad yang jayyid.
Al-Hafizh Ibnu Hajardidalam kitabnya FathuAI-Bari(\\/:f>7) menjadikan hadits tersebut
sebagai dalil bahwa permintaan fatwa oleh wanita itu dilakukan pada hari nahar
setelah usai dari melempar jumrah.
Komentar saya: Artinya, permintaan fatwa itu terjadi setelah tahalluldari ihram. Sudah
dimaklumi bahwa orang yang menunaikan haji bila sudah melempar jumrah aqabah,
maka halal baginya melakukan sesuatu, kecuali "berkumpul" dengan istrinya. Dengan
• demikian, wanita khats'amiyah tadi tidak dalam keadaan ihram. Hadits ini
sebagaimana hadits sebelumnya menunjukkan bahwa wajah bukanlah aurat.
Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm, bahwa seandainya wajah itu aurat
yang harus ditutup niscaya Rasulullah s tidak akan membiarkan wanita itu
membukanya di hadapan manusia dan tentu akan memerintahkan untuk menutupnya.
Dan seandainya wajah wanita itu tertutup tentu Ibnu Abbas tidak akan tahu apakah
wanita itu cantik atau jelek.
Di dalam kitab Fathu AI-Bari (X\:8) disebutkan, "Ibnu Bathal berkata, "Di dalam
hadits ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan karena dikhawatirkan
terjadinya fitnah. Konsekwensinya, jika sudah aman dari fitnah, maka hal itu tidak
dilarang. Kemudian dia berkata, 'Hal yang menguatkan adalah bahwa beliau
baru memalingkan wajah Al-Fadhl setelah melihat dia terus menerus memandangi
wanita itu lantaran takjub dengan kecantikannya, karena beliau khawatir terjadinya
fitnah pada diri Al-Fadhl. Di dalam hadits ini nampak adanya dorongan naluri
kemanusiaan seseorang dan kelemahannya (menghindar) dari kecenderungan hati
dan terkagum-kagumnya terhadap seorang wanita.'
Selanjutnya dia berkata, 'Di dalam hadits ini terdapat bukti bahwa wanita-wanita
mukminah tidak diwajibkan memakai cadar seperti yang diharuskan kepada para istri-
istri Nabi . Karena kalau hal itu juga diharuskan kepada semua wanita niscaya beliau
menyuruh wanita Khats'amiyah itu untuk menutup wajah, dan tidak perlu beliau
memalingkan wajah Al-Fadhl.'
Jilbab Wanita Muslimah— 71
Dia menambahkan, 'Hadits ini juga menjadi dalil bahwa menutup wajah bagi seorang
wanita tidaklah wajib, lantaran adanya ijma' bahwa seorang wanita haruslah menam-
pakkan wajahnya ketika shalat meskipun terlihat oleh laki-laki asing (yang bukan
mahramnya).'"
Begitulah perkataan Ibnu Bathal, yang merupakan pendapat yang kuat dan baik.
Meskipun Ibnu Hajar sendiri memberi komentar terhadap perkataan Ibnu Bathal ini
dengan berkata, "Menurut saya, pengambilan dalil dengan kisah wanita Khats'amiyah
ini dapat dibantah, karena wanita itu saat sedang ihram."
Komentar saya: Tidak begitu. Tidak ada bukti bahwa wanita itu sedang dalam keadaan
ihram, bahkan yang nampak jelas adalah sebaliknya. Sudah saya kemukakan di
muka, yang saya nukil dari perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri bahwa permintaan
fatwa oleh wanita Khats'amiyah kepada Nabi M itu terjadi setelah dia melempar
jumrah aqabah, yakni setelah tahallul. Nampaknya, dia lupa terhadap perkataannya
sendiri dalam mentahqiq hadits tersebut. Taruhlah wanita tersebut sedang ihram. Hal
itu sama sekali tetap tidak bisa menggugurkan dalil yang telah dikemukakan oleh
Ibnu Bathal diatas. Sebab, wanita yang berihram sama dengan wanita yang tidak
sedang ihram dalam hal bolehnya menutup wajah dengan melabuhkan kainnya ke
wajah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ke-4 dan ke-5 yang akan disebutkan
pada hlm. 121 -122. Yang tidak diperbolehkan bagi wanita yang berihram adalah me-
makai cadar. Seandainya wanita tidak diperbolehkan membuka wajahnya di hadapan
laki-laki asing (yang bukan mahramnya) tentulah Rasulullah m memerintahkan wanita
itu untuk melabuhkan kain penutup kepalanya untuk menutup wajahnya, seperti yang
dikatakan oleh Ibnu Hazm di muka. Apalagi dia adalah seorang wanita yang cantik
jelita, dimana hampir saja Al-Fadhl tergoda oleh kecantikannya itu. Meskipun begitu,
Rasulullah ^ tidak memerintahkan wanita itu (untuk menutup wajahnya). Beliau hanya
memalingkan wajah Al-Fadhl agar tidak keterusan memandang wanita tersebut. Ini
juga merupakan dalil bahwa menutup wajah seperti itu juga tidak diwajibkan kepada
seorang wanita, meskipun dia cantik. Namun hal itu sekedar sunnah saja hukumnya
sebagaimana juga disunnahkan kepada wanita-wanita lainnya. Adapun pendapat
sebagian ulama yang mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut tidak secara tegas
menyebutkan bahwa wanita itu membuka wajahnya adalah pendapat yang jauh dari
kebenaran. Sebab, seandainya wajah wanita itu tidak terbuka, darimana orang yang
menceritakan hadits tersebut atau orang yang melihatnya bisa tahu kalau dia
wajahnya captik jelita? Seandainya benar apa yang dia katakan itu, lalu apanya
wanita yang dilihat oleh Al-Fadhl terus menerus itu? Yang benar, hadits tersebut
merupakan dalil yang paling jelas dan paling kuat bahwa wajah wanita bukan aurat.
Karena kisah tersebut terjadi di akhir hayat Nabi M dan disaksikan sendiri oleh beliau
sehingga menjadi satu hukum yang kuat kokoh. Kisah diatas juga menjelaskan
pengertian ayat: "dan hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya"
bahwa hal itu adalah tidak termasuk wajah. Barangsiapa mencoba memahami ayat
tersebut tanpa menggunakan hadits Nabi m pasti akan keliru.
72—Jilbab Wanita. Muslimah
Di dalam hadits ini selanjutnya disebutkan: "Fadhl menoleh
kepada seorang wanita yang cantik (dalam riwayat lain: seorang
wanita yang bersih), (dalam riwayat lain: 'Al-Fadhl melihat wanita
itu. Kecantikan wanita itu menarik hatinya, dan wanita itu pun
memandang Al-Fadhl). Maka, Rasulullah pun memegang dagu
Al-Fadhl, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dan di dalam hadits riwayat Ahmad (1/211) dari perkataan Al-
Fadhl sendiri:

"Lalu aku pun memandang wanita itu. Nabi melihatku. Lalu, beliau
memalingkan wajahku dari (memandang) wajah wanita tersebut. Aku
kembali melihat wajah wanita tadi. Lalu, beliau memalingkan wajah-
ku lagi dari (memandang) wajahnya, hingga beliau lakukan itu tiga
kali, namun aku belum juga berhenti."
Para periwayat hadits di atas orang-orang kepercayaan. Akan
tetapi munqathi' (terputus), karena Hakam bin 'Utaibah tidak men-
dengar hadits tersebut dari Fadhl bin Abbas.
Kisah di atas diriwayatkan juga oleh Ali bin Abi Thalib. Dia
menyebutkan bahwa permintaan fatwa (oleh wanita itu) dilakukan
pada hari Nahar (yaitu hari penyembelihan hewan qurban -Pen.)
seusai Rasulullah melempar jumrah. Dia menambahkan:

Kemudian Al-Abbas (barangkali maksudnya: Ibnu Abbas -pent.) ber-
tanya kepada Nabi,"Wahai Rasulullah, mengapa Engkau palingkan
leher anak pamanmu?" Beliau menjawab, "Saya melihat ada pemuda
dan pemudi yang aku tidak bisa tenang kalau-kalau ada gangguan
setan terhadap keduanya."
Jilbab Wanita Muslimah — 73
"Pernah seorang wanita datang kepada Rasulullah (saat itu
beliau sedang berada di masjid), katanya, 'Wahai
Rasulullah, saya datang
22. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IX: 107), Muslim (IV: 143), An-Nasai (II: 86),
Ahmad (V: 330,334,336), Al-Humaidi (II: 414), Ar-Rauyani (II: 69/1), Abu Ya'la (XIII:
514), Al-Baihaqi (VII: 84) di mana dia membuat bahasan khusus: "Bab Seorang Laki-
laki Memandang Perempuan yang Hendak dinikahi".
Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Fathu Al-Bari (IX: 210) berkata, "Hadits ini me-
nunjukkan bolehnya melihat kecantikan seorang wanita ketika berkeinginan untuk
menikahinya, meskipun pada akhimya mungkin tidak tertarik untuk menikahinya dan
tidak jadi melamarnya. Sebab, Nabi m melihat dan menatap wajah wanita tersebut.
Bentuk kalimat semacam itu menunjukkan keseriusan beliau dalam melihat, walau-
pun ternyata beliau tidak tertarik dengan wanita itu dan tidak jadi melamarnya.
Kemudian beliau berkata, 'Saya tidak punya keinginan terhadap wanita itu,' sebagai-
mana ada dalam riwayat lain. Seandainya dalam memandang wanita tadi yang
dimungkinkan pada wajahnya ada sesuatu yang menarik pada dirinya itu tidak dalam
rangka penjajagan untuk menerima atau menolaknya, tentu tidak ada gunanya lagi
kesungguhan Nabi dalam melihatnya itu. Namun mungkin hal itu hanya merupakan
kekhususan Nabi , saja karena kema'suman beliau. Sejauh yang kami ketahui,
beliau tidak diharamkan melihat wanita mukminah asing (yang bukan mahram).
Berbeda dengan orang-orang selain beliau j.
Ibnu Al-Arabi, (bukan Ibnu Arabi -tanpa a/- seorang sufi yang meninggal di Damaskus
tahun 638 H) mengomentari masalah ini berkata, "Bisa saja kisah ini terjadi sebelum
turunnya ayat hijab atau sesudahnya. Namun ketika itu si wanita itu mengenakan
penutup." Namun dari kontek haditsnya nampak apa yang dia katakan jauh dari
kebenaran.
74 — Jilbab Wanita Muslimah

3. Dari Sahl bin Sa'ad:
22

untuk memberikan diriku kepadamu." (Nabi diam. Sungguh, aku
melihat wanita tersebut berdiri cukup lama. Atau, dia berkata. 'sambil
menunduk'.) Rasulullah memandang wanita tersebut di bagian
atasnya (wajah) dan menatapnya. Kemudian beliau menundukkan
kepalanya. Tatkala wanita tadi tahu bahwa beliau tidak mengingin-
kan sesuatu pada dirinya, maka dia pun duduk.
4. Dari Aisyah,
23
katanya:

"Kami wanita-wanita mukminat biasa menghadiri sbalat Fajar (Subuh)
bersama Nabi dengan mengenakan kain yang tak berjahit. Kemu-
dian para wanita tadi pulang ke rumahnya seusai melakukan sbalat
mereka tidak bisa dikenali lantaran gelap."
Yang kita jadikan dalil adalah perkataan: "tidak saling mengenal
satu sama lain lantaran gelap". Sebab mafhumnya adalah, seandainya
tidak gelap tentu mereka akan saling mengenal. Biasanya mereka itu
akan saling mengenal dari wajah-wajah mereka yang terbuka, se-
hingga jelaslah siapa-siapanya. Penjelasan semacam ini disebutkan
oleh Asy-Syaukani (11:15) dari Al-Baji.
Kemudian saya juga mendapatkan riwayat yang jelas mengenai
hal ini dengan lafazh:

"Sedangkan sebagian dari kami tidak mengenal wajah-wajah
sebagian yang lain."
24

23. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan lainnya dari jalur-jalur periwayatan
seperti yang lelah saya sebutkan di dalam kitab Shahih Abu Oawud (hadits no.449)
24. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la di dalam kitab Wusnad-nya (11:214 q.) dengan
sanad yang shahih dari Aisyah.
Jilbab Wanita Muslimah — 75

5. Dari Fathimah binti Qais.
25

"Sesungguhnya Abu Amr bin Hafsh, (yaitu suaminya) pernah men-
talak tiga (dalam riwayat lain: Talak yang ketiga.) sedangkan suaminya
itu tidak ada di tempat. Lalu Fathimah binti Qais datang kepada Nabi
untuk menceritakan kejadian yang dialaminya itu. Kemudian Nabi
menyuruh dia ber'iddah di rumah Ummu Syuraik. Tetapi beliau
berkata,

'Dia itu perempuan yang banyak dikunjungi oleh para sahabatku.
Kalau begitu, beriddahlah kamu di rumah Ibnu Ummi Maktum saja.
Karena dia sesungguhnya seorang yang buta, di mana kamu dapat
melepas pakaianmu (di tempat tinggalnya).'"
. Dalam riwayat lain disebutkan:

25. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahih-nya (IV.195-196 dan Vlll:203).
Penunjukan hadits ini Bahwa wajah bukan aurat cukup jelas. Sebab, Nabi mem-
biarkan anak perempuan Qais terlihat oleh kaum laki-laki, sedangkan dia memakai
khimar yang menutup kepalanya. Ini menunjukkan bahwa wajah seorang wanita tidak
wajib ditutup sebagaimana wajibnya menutup kepala. Akan tetapi, beliau si khawatir
kalau-kalau khimamya itu jatuh sehingga akan tampak apa-apa yang' telah diharam-
kan oleh ayat. Maka, beliau pun menyuruh dia pindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum
yang buta agar lebih selamat (dari penglihatan laki-laki), karena Ibnu Ummi Maktum
tidak bisa melihatnya manakala dia menanggalkan khimamya. Adapun.hadits: "Apa-
kah kamu berdua juga buta?' adalah sanadnya lemah dan isinya mungkar, sebagaj-
mana telah saya tahqiq di dalam kitab Adh-Dha'ifah hadits no.5958. Perkataan
Nabi : "jika kamu letakkan khimarmu", maksudnya: bila kamu menurunkannya.
Begitulah yang tersebut di dalam kitab-kitab lughah.
76—Jilbab Wanita Muslimah

"Bepindahlah ke rumah Ummu Syuraik! —Ummu Syuraik adalah
seorang wanita kaya dari kalangan kaum Anshar yang banyak ber-
infak di jalan Allah dan banyak tamu-tamu yang mengunjunginya—
. Aku (Fathimah binti Qais) menjawab, 'Ya, akan saya lakukan.'
Namun Nabi berkata, 'Eh, jangan, jangan! Karena Ummu Syuraik
adalah seorang wanita yang banyak tamunya. Saya tidak suka kalau
nanti kerudungmu lepas atau pakaianmu di bagian betis terbuka
orang-orang akan melihat bagian tubuhmu yang tidak kamu inginkan
terlihat. Berpindahlah saja ke rumah Ibnu Ummi Maktum (yang buta
itu)! Apalagi, dia itu berasal dari suku yang sama denganmu. (Kalau
di sana, jika kamu menanggalkan kerudungmu dia tidak bisa melihat-
mu (karena buta).'"Lalu aku pun berpindah ke sana.
Tatkala iddahku telah habis, aku mendengar ada orang berseru,
"Mari shalat berjamaah! Aku pun keluar menuju masjid, lalu shalat
bersama Rasulullah . Seusai menunaikan shalat, beliau ^duduk
di atas mimbar, lalu bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya saya
mengumpulkan kalian bukan untuk menyampaikan kabar gembira
atau ancaman kepada kalian. Akan tetapi aku mengumpulkan kalian
karena adanyaTamim Ad-Dari, seorang Nasrani yang telah datang,
kemudian berbaiat dan masuk Islam. Dia menyampaikan
sebuah kisah tentang Masih Ad-Dajjal persis seperti yang telah aku
sampaikan kepada kalian."
Patut diketahui, bahwa kisah ini terjadi di akhir hayat Nabi .
Karena Fathimah binti Qais menuturkan bahwa setelah habis masa
iddahnyalah dia mendengar Nabi menyampaikan kisah Tamim Ad-
Dari yang datang dan masuk Islam."
Jilbab Wanita-Muslimah— 77
Telah kita ketahui di dalam riwayat hidup Tamim bahwa dia
masuk Islam pada tahun 9 hijriyah. Hal itu menunjukkan bahwa kisah
tersebut turun setelah turunnya ayat jilbab. Kalau begitu, hadits ter-
sebut sebagai hujjah bahwa wajah bukan termasuk aurat.
6. Dari Ibnu Abbas:
26

Ibnu Abbas pernah ditanya, "Pernahkah kamu menghadiri shalat 'Id
bersama Rasulullah ?" Dia menjawab, "Ya, sekiranya saya bukan
anak yang masih kecil tentu saya tidak ikut menghadirinya. (Lalu
Nabi ^pun) berjalan sampai akhirnya beliau tiba di sebuah tiang
di sisi rumah Katsirbin Ash-Shalt, lalu beliau shalat di situ. (Ibnu
Abbas berkata, 'Latu Nabiyullah turun.
27
Kalau tidak salah, aku
26. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (11:273); dan melalui jalur yang sama diriwayat-
kan pula oleh Ibnu Hazm (111:217), Abu Dawud (1:174), Al-Baihaqi (lll:307), An-Nasai
(1:227), Ahmad (1:331). Tambahan pada teks hadits di atas adalah yang terdapat pada
riwayat Ahmad.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jarud di dalam kitab Al-Muntaqa (hadits
no.263), Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahih-nya (11:356/1458) Ibnu Hazm, setelah
berdalil dengan ayat: "menutupkan khimafbahm wajah itu bukan ' aurat mengatakan,
"Ibnu Abbas yang ketika itu sedang di hadapan Rasulullah melihat tangan-tangan
kaum wanita itu. Dengan demikian, benarlah bahwa tangan dan wajah seorang wanita
bukanlah aurat. Adapun yang selain itu wajiblah ditutup." Saya tambahkan, bahwa
adanya baiat yang dilakukan oleh kaum wanita terhadap Nabi di dalam kisah ini
menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah difardhukannya jilbab. Sebab, jilbab
difardhukan pada tahun 3 H, sedangkan ayat tentang baiat turun tahun 6 H. Hal ini
dikuatkan oleh pernyataan Al-Hafizh di dalam kitab Fathu AI-Bari (ll:377) bahwa
kehadiran Ibnu Abbas saat itu adalah setelah peristiwa Fathu Makkah.
27. Saya katakan: Hadits ini menunjukkan bahwa beliau menyampaikan khutbahnya
di tempat yang tinggi. Kemungkinan waktu itu beliau berada di atas unta tunggang-
annya. Kami tidak mengatakan bahwa beliau Ss berkhutbah di atas mimbar, karena
khutbah beliau di atas mimbar di hari raya tidak dikenal di kalangan para ulama, seba-
gaimana ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan ulama lainnya.
Beliau m biasa berkhutbah'di atas tanah, seperti disebutkan dalam hadits dari Jabir
nomer 1 terdahulu,"... kemudian beliau berdiri dengan bersandarkan pada Bilal."
Ibnu Al-Qayyim berkata di dalam kitab ZadAI-Ma'ad (1:445), "Saat itu di sana tidak
ada mimbar yang dinaiki oleh Nabi , dan juga tidak mengeluarkan mimbar yang
ada di Madinah. Beliau menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat dengan
berdiri di atas tanah."
78—Jilbab Wanita Muslimah
Melihat beliau dengan isyarat tangannya memerintahkan
orang-orang untuk duduk. Lalu beliau ^menghadap kepada
mereka). Kemudian bersama Bilal beliau mendatangi para
wanita, lalu mem-bacakan ayat:

"Wahai Nabi, apabila datang perempuan-perempuan untuk
berbaiat kepadamu untuk tidak menyekutukan sesuatu pun
dengan Allah...."
Beliau membaca ayat tersebut hingga selesai. Setelah itu
beliau bersabda, 'Kalian semua seperti itu!' Lalu salah
seorang di antara mereka menyahut—di saat perempuan-
perempuan lainnya diam—, 'Betul, wahai Nabiyullah!' Ibnu
Abbas berkata, 'Lalu beliau menasehati, mengingatkan dan
menyuruh mereka bersedekah. (Ibnu Abbas berkata,
'Kemudian Bilal membentangkan kainnya dan berkata, 'Ayo,
mana sedekah kalian! Tebusan kalian bapak dan ibuku). Lalu,
aku melihat mereka mengulurkan tangan untuk melempar
sesuatu (dalam riwayat lain disebutkan: "mereka melemparkan
cincin-cincin mereka") ke kain Bilal. Kemudian beliau
bersama Bilal pulang ke rumah."'
Kemudian Ibnu Al-Qayyim membawakan hadits Jabir, kemudian hadits Ibnu Abbas
ini, lalu hadits Jabir yang semisal dengan hadits Ibnu Abbas, kemudian berkata (1:447),
"Hadits ini menunjukkan bahwa beliau berkhutbah di atas mimbar atau di atas ken-
daraannya. Kemungkinan juga sudah dibangun sebuah mimbar untuk beliau dari batu
bata atau tanah atau yang sejenisnya.
Ada yang mengatakan, "Tidak diragukan lagi akan keshahihan kedua hadits ini. Juga,
tidak diragukan lagi bahwa tidak ada mimbar yang dikeluarkan dari masjid. Yang
pertama kali mengeluarkan mimbar dari masjid adalah Marwan Al-Hakam, namun
hal itu banyak ditentang. Adapun mimbar yang dibuat dari batu bata atau tanah, yang
pertama kali membangunnya adalah Katsir bin As-Shalt pada masa pemerintahan
Marwan di Madinah, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Ash-Shahihain. Ke-
mungkinan saat itu beliau berdiri di tempat shalat pada tanah yang tinggi atau
tempat datar yang ditinggikan untuk tempat duduk. Kemudian beliau turun menuju
kerumunan kaum wanita, lalu berhenti dan memberikan khutbah kepada mereka,
menasehati dan mengingatkan mereka. Wallahu a'lam.
Jilbab Wanita Muslimah— 79
7. Dari Subai'ah Binti Al-Harits."
"Dia adalah istri Sa'ad bin Khaulah. Suaminya meninggal pada
waktu haji wada', dan dia adalah salah seorang yang pernah ikut
dalam Perang Badar. Subai'ah melahirkan sebelum genap empat
bulan sepuluh hari dari wafat suaminya. Kemudian setelah dia selesai
dari nifasnya Abu As-Sanabill bin Ba'kak menemuinya dalam keadaan
dia bercelak, tangannya berinai, dan siap untuk menemuinya. Abu
As-Sanabil berkata, 'Kasihanilah dirimu! —atau mengucapkan kata-
kata semisal dengan itu— Barangkali kamu menginginkan nikah?
Sekarang sudah empat bulan sepuluh hari dari meninggalnya suami-
mu.' Kemudian Subai'ah melanjutkan ceritanya, 'Lalu aku pun datang
kepada Nabi dan aku ceritakan apa-apa yang dikatakan oleh Abu
As-Sanabil bin Ba'kak. Nabi menjawab, 'Sesungguhnya kamu telah
halal (dinikahi oleh laki-laki lain) setelah kamu melahirkan.'"
8. Dari Aisyah:
29

Bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi untuk berbaiat
kepada beliau dalam keadaan tidak berinai. Dan beliau mem-
baiatnya setelah dia selesai berinai.
28. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (Vl:432) dengan dua jalur yang sama-sama dari
Subai'ah, yang satu sanadnya shahih dan yang satunya hasan. Asal hadits ini ada
pada kitab Ash-Shahihain dan lainnya. Di dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan,"...
dia bersolek karena hendak dilamar."Di dalam hadits ini disebutkan bahwa Abu As-
Sanabil melamarnya, namun Subai'ah enggan menikah dengannya. Sedangkan
dalam riwayat An-Nasai disebutkan, "...dia berhias karena hendak dinikahi."
Hadits ini menunjukkan secara jelas bahwa kedua telapak tangan bukan merupakan
aurat, sebagaimana dikenal di kalangan wanita sahabat. Demikian juga wajah dan
paling tidak kedua mata. Jika tidak demikian, tentulah Subai'ah tidak diperbolehkan
menampakkan hal itu di hadapan Abu As-Sanabil, apalagi Abu Sanabil sudah me
lamarnya, meskipun Subai'ah menolaknya. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut
tentang masalah ini silahkan lihat kitab An-Nazhar Fi Ahkam An-Nazhar karya Ibnu
Al-Qathan.
29. Hadits ini hasan atau shahih, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:190), Al-Baihaqi
(Vll:86), Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath (1:219,11:3918 - menurut penomoran
saya). Hadits ini mempunyai banyak hadits pendukung sebagaimana yang telah saya
sebutkan di dalam kitab Ats-Tsamar AI-Mustathab fi Fiqhi As-Sunnah wa Al-Kitab.
80 —Jilbab Wanita Muslimah
9. Dari Atha' bin Abu Rabbah:
30

Atha' bin Abu Rabbah berkata, "Ibnu Abbas pernah berkata kepa-
da saya, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni
surga?' Aku menjawab, 'Tentu.' Ibnu Abbas berkata, 'Ada seorang
wanita berkulit hitam datang kepada Nabi lalu berkata, 'Sesung-
guhnya aku ini punya penyakit ayan dan saya suka membuka-buka
auratku (tanpa sadar, ketika penyakitku kambuh -pent.) Mohonkanlah
kepada Allah untuk kesembuhan penyakitku.' Beliau menjawab,
'Jika kamu mau, bersabarlah sehingga kamu akan mendapatkan surga;
dan jika kamu mau, aku akan memohon kepada Allah agar menyem-
buhkan penyakitmu.' Wanita tadi berkata, 'Saya akan bersabar saja.'
Namun dia berkata lagi, 'Sesungguhnya saya ini suka membuka-buka
aurat saya (seperti yang telah saya ceritakan tadi), maka mohonkanlah
kepada Allah agar saya tidak lagi membuka-buka aurat seperti itu!'
Lalu beliau pun berdoa untuknya."
10. Dari Ibnu Abbas,
31
dia berkata:

30. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X:94), Muslim (VIII: 16) dan Ahmad (hadits
no.324).
31. Hadits ini diriwayatkan oleh Ash-hab As-Sunan dan lainnya, seperti Hakim yang
sekaligus menilainya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini juga saya
sebutkan di dalam kitab saya Ats-Tsamar Al-Mustathab fi Fiqhi As-Sunnah wa Al-
Kitab pada bab "Shalat", dan dalam kitab Ash-Shahihah (hadits no.2472). Hadits ini
juga dinilai shahih oleh Ahmad Syakir (IV:278)
Saya katakan: Hadits ini secara gamblang menggugurkan pendapat Syaikh At-
Tuwaijiri (hlm. 170) yang mengatakan, "Seorang wanita yang berada di hadapan laki-
laki asing (yang bukan mahram) harus menutup wajahnya dari pandangan mereka,
sekalipun dalam shalat," dan pendapat serupa yang dia nukil dari Imam Ahmad bahwa
dia berkata, "Wanita yang sedang shalat sekalipun tetap tidak boleh kelihatan tubuh-
nya, meskipun hanya kukunya." Apakah ini mungkin, wahai hamba Allah?! Padahal
dia harus mengangkat tangannya ketika takbir dan harus meletakkan tangannya
ketika ruku', sujud, dan duduk tasyahhud! Hal ini juga berarti menggugurkan ijma'
yang telah disebutkan oleh Ibnu Bathal yang telah disebut di muka.
Jilbab Wanita Muslimah — 81


"Pernah seorang wanita shalat di belakang Rasulullah
(maksud-nya, tentu di belakang Nabi di shaf wanita -
pent) Dia seorang wanita yang sangat cantik dan secantik-
cantik wanita. (Ibnu Abbas mengatakan, 'Demi Allah, aku
sama sekali belum pernah melihat seorang wanita secantik
dia.') Sebagian dari jamaah shalat ada yang memilih maju ke
shaf terdepan agar tidak bisa melihat wanita ter-sebut.
Namun sebagian lainnya ada yang memperlambat datang
untuk mendapatkan shaf yang terakhir sehingga ketika ruku'
dia melihat (wanita tadi) melalui celah bawah ketiaknya, (dan
dia renggangkan kedua tangannya). Maka, Allah ta'ala
menurunkan firman-Nya: "Dan sesungguhnya Kami telah
mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian dan
Kami mengetahui pula orang-orang yang datang lebih akhir
dari kalian." (QS. Al-Hijr: 24)
11.Dari Ibnu Mas'ud,
32
diaberkata,
"Rasulullah pernah melihat seorang wajiita yang
mempesona beliau . Lalu beliau mendatangi Saudah yang
ketika itu sedang
32. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Ibnu Mas'ud, dimana lafazh diatas adalah
lafazh hadits menurut riwayat darinya. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Ibnu
Hibban dan lainnya dari Jabir, yang
dinilai shahih oleh Ibnu Qathan di dalam kitabnya /4n-A/az/7ar(XVIII.q.:12), serta oleh
Ahmad dari sahabat Abu Kabsyah Al-Anmari. Hadits ini juga saya sebutkan di dalam
kitab Ash- Shahihah (hadits no.235).
82—Jilbab Wanita Muslimah
membuat minyak wangi, sedangkan di sampingnya ada beberapa
orang wanita. Lalu mereka meninggalkan Nabi dan Saudah berdua.
Dan Nabi pun memenuhi hajatnya. Setelah itu Nabi ^bersabda:

"Laki-laki siapa pun bila melihat seorang wanita yang mempesonakan
dirinya, maka hendaklah dia segera pergi mendatangi istrinya. Karena
sesungguhnya apa yang dimiliki oleh wanita tadi sama seperti apa
yang dipunyai istrinya."
12.Dari Abdullah bin Muhammad,
33
dia berkata:
"Seorang wanita berkata, "Pemah Rasulullah mengunjungiku
ketika aku sedang makan dengan tangan kiriku, karena aku adalah
seorang wanita kidal. Kemudian Rasulullah memukul tanganku
sehingga suapan yang hendak saya makan tadi terjatuh. Lalu Nabi
bersabda,

'Janganlah kamu makan dengan tangan kirimu, karena Allah ta'ala
telah membuatkan untukmu tangan kanan.' Atau beliau berkata,
'Karena Allah ta'ala telah menjadikan tangan kanan untukmu.'"
33. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad didalam kitab Musnad-nya (IV:69 dan V.380). Al-
Haitsami di dalam kitab Majma'Az-Zawa-id {\/:26) mengatakan, "Hadits ini diriwayat-
kan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani. Para periwayat hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad adalah orang-orang yang tsiqah."
Saya katakan: Sanad hadits ini memang shahih, karena mereka adalah para peri-
wayat hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim, kecuali Abdullah bin Muhammad, yaitu
Ibnu Aqil Al-Madani, menurut perkiraan saya. Dia adalah termasuk periwayat yang
berderajat Hasan Al-Hadits.
Jilbab Wcmita Muslimah — 83
13.Dari Tsauban,
34
dia berkata:
"Anak perempuan Hubairah datang kepada Nabi , yang di
tangannya terdapat beberapa cincin besar dari emas. Nabi me-
mukul tangan wanita tersebut dengan tongkat beliau . Kemudian
beliau ^bersabda:

Sukakah kamu jika Allah membuatkan cincin<incin dari api neraka
yang dipasang di tanganmu?"
Hadits-hadits di atas menjadi dalil diperbolehkannya wanita
membuka wajah dan telapak tangannya; juga memperkuat hadits
Aisyah yang kita sebutkan terdahulu. Hadits-hadits tersebut juga
menjelaskan bahwa seperti itulah yang dimaksud oleh firman Allah
ta'ala: "kecuali yang biasa nampak,"dan menjelaskan pula bahwa
ayat selanjutnya: "dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya
pada dadanya" adalah menunjukkan pengertian seperti yang di-
tunjukkan oleh sebagian hadits-hadits terdahulu bahwa tidak wajib
wanita menutup wajahnya. Sebab, kata khumur yang
merupakan bentuk jamak dari kata khimar (kerudung) artinya adalah
sesuatu yang ditutupkan pada kepala.
35
Adapun kata juyub adalah
bentuk jamak
34. Saya katakan: Sanad hadits ini shahih, meskipun ada orang-orang sombong dari
kalangan jumhur dan pengikut hawa nafsu yang tidak mau menerimanya. Hadits ini
juga dinilai shahih oleh Ibnu Hazm, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Mundziri, dan Al-lraqi,
sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab saya Adab Az-Zifaf (hlm. 17-30 cet.
Oman). Saya melihat Ibnu Al-Qathan di dalam kitab Al-Wahmu Wa Al-lham (1:278/
2) juga cenderung menilai shahih hadits ini.
35. Begitulah yang disebutkan dalam kitab An-Nihayah karya Ibnu Al-Atsir, cfalam kitab
Tafsir Ibnu Katsir, dan dalam kitab Fathu Al-Qadir karya Asy-Syaukani, dan ulama
lainnya yang ahli dalam bahasa Arab dan sastra. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya
Fathu AI-Bari (M\\\:490), "Khimar bagi wanita seperti imamah (sorban) bagi laki-laki."
Sejauh yang kami ketahui, hal ini tidak diperselisihkan oieh para ulama. Juga, tidak
dinafikan oleh Al-Qadhi Abu Ali At-Tanukhi di dalam syairnya ketika dia bersenandung:
Katakan kepada wanita cantik yang memakai
khimar bersulam emas
Engkau telah merusak ibadah saudaraku yang shaleh
Cahaya khimar dan cahaya pipi di wajahnya
84—Jilbab Wanita Muslimah
dari kata/a/fa, artinya adalah batas teratas dari baju besi atau baju
biasa (krah baju —Pen.). Allah memerintahkan (para wanita) me-
lilitkan kerudung pada leherdan dada menunjukkan bahwa wajibnya
menutup dua bagian tubuh tersebut. Dan Dia tidak memerintahkan
mereka menutup wajah menunjukkan bahwa wajah bukan aurat.
Oleh karena itulah Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla (111:216-
217) berkata, "Allah memerintahkan mereka (kaum wanita) menu-
tupkan kerudung pada dada mereka adalah dalil yang menunjukkan
adanya keharusan menutup aurat, termasuk leher dan dada. Di
samping itu, juga merupakan dalil bolehnya membuka wajah. Tidak
ada pengertian lain selain itu."
Batilnya Anggapan Bahwa Hadits-Hadits Tersebut Muncul
Sebelum Diwajibkannya jilbab.
Mungkin ada orang berkata, "Apa yang Anda tuturkan memang
jelas sekali. Namun, hadits-hadits yang Anda sebutkan itu mengan-
dung kemungkinan berlaku sebelum diwajibkannyaj ilbab.
Sehingga,
Sungguh, menakjubkan wajahmu
Bagaimana hati dia tidak berkobar
At-Tanukhi telah menggambarkan perempuan itu bahwa khimamya berada di wajahnya. Saya
katakan: Hal ini tidak menafikan arti khimar yanq telah saya sebutkan. Sebab,
digunakannya khimar sesekali untuk menutup wajah itu bukan berarti fungsi asalnya
demikian. Sama sekali tidak begitu. Bukankah kita melihat bahwa Nabi ketika
membawa Shafiyah dan mendudukannya di belakang, maka beliau pun meletakkan
selendangnya pada punggung dan wajah beliau. Sedang Aisyah di dalam hadits
qishah al-ifk iberkata, "Lalu aku pun menutup wajahku dengan jilbabku." Apakah dari situ
dapat diambil kesimpulan bahwa selendang dan jilbab umumnya dipakai untuk
menutup wajah?! Demikian juga gambaran yang disenandungkan oleh penyair At-
Tanukhi terhadap wanita cantik di atas tidak mungkin ditetapkan sebagai definisi
khimar yanq berarti pakaian yang digunakan untuk menutup kepala dan sekaligus
untuk menutup wajah! Paling mungkin hanya bisa dikatakan bahwa khimar tersebut
terkadang digunakan untuk menutup wajah. Hal ini juga sebagaimana pakaian yang lain,
seperti selendang, jilbab, selimut dan lainnya yang terkadang juga digunakan untuk
menutup wajah. Semua itu dengan asumsi bahwa gambaran yang disampaikan oleh
penyair terhadap wanita cantik itu sebagai gambaran yang sebenamya. Namun, dugaan
kuat saya penggambaran penyair tadi adalah penggambaran syair yang khayali
(tidak sebenarnya), yang tidak mungkin bisa dijadikan sandaran.
Jilbab Wanita Muslimah— 85
hadits-hadits tersebut tidak boleh dijadikan hujjah kecuali setelah
diperoleh kepastian bahwa hadits-hadits tersebut muncul setelah ayat
jilbab."
Perkataan di atas saya tanggapi dari dua segi:
Pertama. Sebenarnya terang sekali bahwa hadits-hadits tersebut
muncul setelah tururuiya ayat jilbab. Untuk membuktikan hal ini
saya tunjukkan dua hadits, yaitu:
1. Hadits Ummu Athiyyah.
Bahwa ketika Nabi memerintahkan para wanita menghadiri shalat
'Id, Ummu Athiyvah berkata, "Salah seorang di antara kami ada yang
tidak mempunyai jilbab.' Maka, Nabi mengatakan, ‘'Hendaklah
saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya!'" (Hadits ini muttafaqun
'alaih)
. Di dalam hadits dlatas terdapat dalil bahwa kaum wanita itu
keluar untuk melakukan shalat 'Id dengan mengenakan jilbab-jilbab
mereka. Tambahan lagi, wanita yang kehitam-hitaman pipinya (seba-
gaimana tersebut di dalam hadits terdahulu) adalah mengenakan
jilbab. Hal itu masih diperkuat juga oleh hadits berikut ini, yajtu:
2. Hadits Ummu Athiyyah juga.
Bahwa tatkala Rasulullah ^ tiba di kota Madinah, beliau mengumpul-
kan para wanita kaum Anshar di sebuah rumah. Kemudian beliau
mengutus Umar bin Khaththab kepada mereka. Lalu, pergilah Umar
hingga sampailah dia di depan pintu rumah tersebut, lalu memberi .
salam kepada mereka, dan mereka pun membalas salam Umar.
Kemudian Umar berkata, "Saya adalah utusan Rasulullah untuk
kalian. Mereka menjawab, "Selamat datang kepada Rasulullah dan
utusannya." Lalu, Umar berkata, "Maukah kalian berbai'at untuk
tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mem-
bunuh anak-anak kalian, serta tidak menyalahi perkara-perkara yang
ma'ruf?" Mereka menjawab, "Ya!" Kemudian Umar mengulurkan
tangannya dari luar pintu dan mereka pun mengulurkan tangan mereka
dari dalam. Kemudian Umar berkata, "Wahai Allah, saksikanlah!" Dan
dia memerintahkan kami, baik yang remaja-remaja maupun yang
sedang haid, untuk keluar menghadiri dua shalat 'Id. Selain itu,
86—Jilbab Wanita Muslimah
dia juga melarang kami ikut mengiring jenazah dan
menerangkan bahwa tidak ada kewajiban bagi kami untuk
menunaikan shalat jum'at. Saya juga bertanya tentang buhtan
(kebohongan) dan tentang ayat, "dan mereka tidak
mendurhakaimu dalam hal yang ma'ruf, maka beliau
menjawab, "Yang dimaksudkan ialah niyahah
16
(me-ratapi
orang mati). *
Hadits di atas bisa dijadikan bukti karena ayat tentang
adanya bai'at kaum wanita, yaitu surat Al-Mumtahanah ayat 12:
"Wahai Nabi, jika datang kepadamu wanita-wanita mukminah
untuk berbai'at kepadamu bahwa mereka tidak akan
menyekutukan sesuatupun dengan Allah,....", turun pada
peristiwa Fathu Makkah, sebagaimana dikatakan oleh Muqatil
(lihat kitab Ad-Dur, VL209) dan turun setelah ayat imtihan
37
,
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Jabir (lihat
kitab Ad-Dur, Vl:211). Sedangkan di dalam kitabnya (yaitu,
Shahih Al-Bukhari) Al- Bukhari meriwayatkan dari Miswar bahwa
ayat imtihan tersebut turun pada hari Perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian
36. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Tahkh-nya (1:1/361), Ahmad di
dalam kitab Musnad-nya (VI:408-409), Al- Baihaqi (111:184), Adh-Dhiya' Al-Maqdisi
di dalam kitab Al-Mukhtarah (1:104-105/1) melalui jalur Ismail bin Abdurrahman bin
Athiyyah dari kekeknya, dari Ummu Athiyyah.
Adh-Dhiya' berkata, "Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban di dalam kitab Shahihnya masing-masing."
Saya katakan: Ismail ini disebut-sebut oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya Al-Jarfi
l/l/a/4r-7atf//(l:1/185), namun dia tidak menyebutkan celaan maupun pujian terhadap-
nya. Sedang Ibnu Hibban menilai dia periwayat yang tsiqah (IV: 18). Di dalam kitab
,4Maqwbdisebutkan bahwa dia rawi yang berderajat maqbul. Dengan keadaan seperti
itu berarti dia terdukung haditsnya, apalagi Adz-Dzahabi menilai hasan sanad hadits
tersebut di dalam kitab Mukhtashar Al-Baihaqi(\\: 133). Adapun hadits
dengan tambahan "...dia tidak mengulurkan tangannya," terdapat di dalam kitab
Shahih Al-Bukhari (hadits no.4892) dan di dalam kitab >l/-Kab/rkarangan Ath-
Thabarani (XXIV:182 dan 46.342) melalui jalur periwayatan yang tidak mungkin
ditolak, kecuali oleh orang-orang yang keras kepala.
37. Maksudnya ialah ayat:

'Wahai orang-orang beriman, bila datang kepada kalian wanita-wanita mukminah
untuk melakukan hijrah, maka ujilah (keimanan) mereka." —Pent.
Jilbab Wanita Muslimah — 87
Hudaibiyah terjadi pada tahun 6 H, -menurut riwayat yang shahih-
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Qayyim di dalam kitabnya Zad
Al-Ma'ad. Adapun ayat hijab itu turun pada tahun 3 H, -ada yang
mengatakan pada tahun 5 H-tatkala Rasulullah mulai membangun
rumah tangga dengan Zainab binti Jahsy, sebagaimana tersebut pada
riwayat hidup beliau ^di dalam kitab Al-/shabah.
Oleh karena itu teranglah bahwa perintah Nabi kepada kaum
wanita untuk keluar menuju tempat shalat Id itu terjadi setelah di-
wajibkannya jilbab. Hal ini dikuatkan juga oleh kisah dalam hadits
Umar bahwa dia tidak masuk ke rumah tempat berkumpulnya kaum
wanita itu, akan tetapi dia hanya membai'at mereka dari luar pintu.
Dalam kisah ini Umar menyampaikan perintah Nabi kepada kaum
wanita itu untuk keluar menuju tempat shalat Id. Peristiwa itu terjadi
pada tahun 6 H sepulangnya Nabi dari Hudaibiyah, yang
tentunya setelah turunnya ayat imtihan dan ayat bai'at-nya kaum
wanita, sebagaimana disebutkan di atas. Dari sini dapat dipahami
bahwa perkata-an Ummu Athiyyah pada awal hadits kedua,
"tatkala Rasulullah tiba di kota Madinah" maksudnya adalah: dari
Hudaibiyah. Tibanya beliau di kota Madinah itu bukan dari Mekkah
dalam rangka hijrah (ke Madinah), yang secara sekilas memang
bisa dipahami begitu.
Kedua. Taruhlah riwayat yang saya sebutkan di atas itu lemah.
Akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa menurut para ulama, taqrir
Nabi terhadap wanita yang membuka wajahnya di hadapan laki-
laki adalah menjadi dalil akan kebolehannya. Jika demikian halnya,
sebagaimana sudah kita pahami bersama, maka kita kembali ke
hukum semula sampai adanya dalil yang menghapusnya. Kami ber-
anggapan, bahwa di sini tidak ada dalil yang menghapus ketetapan
tersebut. Sebaliknya, malah ada dalil lain yang mendukung hal itu,
sebagaimana yang akan Anda lihat nanti. Barangsiapa mempunyai
anggapan yang berbeda dengan kami, maka haus menunjukkan dalil
yang menghapus ketetapan tersebut. Namun hal itu tidak mungkin
akan dia dapatkan.
Disamping itu, kita tahu adanya hadits Khats'amiyah, yang ter-
nyata kisah tersebut terjadi pada waktu Nabi berhaji (yaitu haji
Wada'), yang secara pasti terjadi setelah diwajibkannya jilbab.
88 —Jilbab Wanita Muslimah
Sehingga, pemyataan mereka bahwa hadits-hadits yang saya bawakan
itu kemungkinan adanya sebelum diwajibkannya jilbab adalah jelas-
jelas tidak benar.
Hal itu juga didukung oleh firman Allah ta'ala pada permulaan
ayat tersebut, yaitu: "Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar
mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka
.... dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah agar mereka
menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka." (QS. An-
Nur: 30-31)
Ayat di atas menunjukkan bahwa pada diri wanita ada bagian
tertentu yang terbuka yang memungkinkan untuk dilihat. Oleh karena
itulah, Allah ta'ala menyuruh (laki-laki) untuk menundukkan pan-
dangan agar tidak melihatnya. Bagian tertentu tadi tidak lain adalah
wajah dan telapak tangan.
Contoh yang semisal dengan ayat di atas adalah sebagaimana
tersebut di dalam hadits Nabi :

"Hindarilah duduk-duduk di jalanan... .Namun jika kamu tetap ingin
duduk di situ, berikanlah kepada jalan itu haknya! Para sahabat
bertanya, 'Apa haknya jalan itu, wahai Rasulullah?' Beliau men-
jawab, 'Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab
salam, serta beramar ma'rufnahi mungkar. "
m

Juga sabda Nabi Igkepada Ali, "Wahai Ali, janganlah engkau ikuti
pandangan pertamamu dengan pandangan berikutnya. Sesungguh-
38. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Xl:9), Muslim (Vll:3), Abu Dawud (11:291),
Al-Baihaqi (Vll:89), Ahmad (lll:36) dari Abu Sa'id Al-Khudri. Sedangkan pada riwayat
Muslim dan Ahmad (IV: 30) dari Abu Thalhah Al-Anshari.
Jilbab Wanita Muslimah — 89
nya hak kamu adalah pandangan pertama itu saja. Pandangan kedua
dan seterusnya sudah bukan hakmu.”
39

Dari Jarir bin Abdullah, katanya, "Saya pernah bertanya kepada
Rasulullah tentang pandangan sekilas. Beliau memerintahkanku
untuk memalingkan pandanganku. "
40

Begitulah pembahasan masalah ini.
Al-Qurthubi di dalam kitabnya (Xll:231) dan ulama lainnya men-
jelaskan sebab turunnya ayat: "dan hendaklah mereka menutupkan
kerudungnya ke dada mereka", yaitu bahwa kaum wanita (mukminah)
pada waktu itu, jika mereka menutup kepala dengan kerudungnya
mereka juraikan ke belakang punggungnya sebagaimana umumnya
para wanita pada waktu itu, sehingga leher dan kedua telinganya tidak
tertutup. Kemudian Allah ta'ala menyuruh mereka agar menutupkan
kerudungnya tadi ke dada.
39. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:335), At-Tirmidzi (IV:14), Ath-Thahawi di
dalam kitab Syarhu Al-Atsar (l\:B-9) dan di dalam kitab Al-Musykil (ll:352), dan Al-
Hakim (111:194) sekaligus dia menilanya shahih karena sanadnya sesuai dengan
syarat Muslim, juga disepakati oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh
Al-Baihaqi (VH:90) dan Ahmad (V:353,357) melalui jalur Syuraik bin Abu Rabi'ah,
dari Ibnu Buraidah, dari bapaknya, lalu dari bapaknya inilah bersambung kepada
Nabi . At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib yang tidak pernah kami ketahui,
kecuali melalui jalur Syuraik ini.''
Saya katakan: Dia adalah Ibnu Abdillah Al-Qadhi. Dia buruk hafalannya. Akan tetapi
dia terdukung (oleh periwayat lain yang meriwayatkan hadits yang sama). Ath-
Thahawi meriwayatkan hadits ini di dalam kedua kitabnya; demikian juga Al-Hakim
(111:123) dan Ahmad (hadits no. 1369 dan no. 1373) melalui jalur Hammad bin Salamah,
katanya, "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad
bin Ibrahim At-Taimi, dari Salamah bin Abu Thufail, dari AN bin Abu Thalib, bahwa
Nabi pernah berkata kepadanya, lalu dia menyebutkan hadits diatas. Al-Hakim
berkata, "Hadits ini sanadnya shahih" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Saya
katakan: Di dalam hadits tersebut ada periwayat yang mudallis (suka menyamarkan
periwayat) yang bernama Ibnu Ishaq dan dia meriwayatkan hadits tersebut
dengan perkataan, "dari...". Akan tetapi hadits tersebut derajatnya hasan disebabkan
melalui dua jalur periwayatan ini dan juga dikuatkan oleh hadits sesudahnya.
40. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (Vl:182), Abu Dawud (1:335), At-Tirmidzi (IV:14),
Ad-Darimi (ll:278), Ath-Thahawi di dalam dua kitabnya sebagaimana tersebut di muka,
Al-Baihaqi (VII:89-90); begitu juga Al-Hakim (ll:396) dan Ahmad (IV: 358,361).
90 -Jilbab Wanita Muslimah
Dari Aisyah, katanya, "Semoga Allah memberi rahmat kepada
para wanita muhajirin dulu, yang ketika Allah menurunkan ayat: 'dan
hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dadanya' me-
reka menyobek kain mereka yang tidak berjahit, lalu menjadikannya
sebagai kerudung. (dalam riwayat lain disebutkam''mereka meng-
ambil kain sarung mereka, lalu merobeknya hingga mempunyai dua
tepi, kemudian menjadikannya sebagai kerudung."
M

41. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Buktjari (11:182 dan Vlll:397), Abu Dawud. Al-
Hakim (IV: 194) meng-istadrak riwayat yang kedua kepada Al-Bukhari dan Muslim,
namun diragukan peng/sfadra/rkan dia kepada Al-Bukhari. (Istadrak ialah
meriwayatkan sebuah hadits yang sudah diriwayatkan oleh periwayat lain dengan
menyertakan tambahan-Pent.)
Hadits ini juga diriwayatkan oieh Ibnu Abu Hatim dengan sanad tersendiri dengan
lafazh yang lebih lengkap dari Shafiyyah binti Syaibah, katanya: «

"Tatkala kami berada disamping Aisyah , dia menyebut-nyebut tentang
keutamaan wanita-wanita Anshar. Dia berkata, 'Sesungguhnya kaum wanita suku
Quraisy itu memiliki satu keutamaan. Demi Allah, saya tidak melihat orang yang
lebih utama dari wanita-wanita Anshar dan yang lebih kuat pembenaran dan
keimanannya terhadap kitab Allah. Sungguh, tatkala turun sural An-Nur: "dan
hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka ke tubuh mereka, "para laki-laki
mereka langsung pulang ke rumah, lalu membacakan ayat yang telah diturunten
oleh Allah itu kepada istri-istri mereka, putri-putri mereka, saudara-saudara
perempuan, serta kerabat perempuan dekat mereka. Kemudian tak seorang wanita
pun dari mereka melainkan bangkit
Jilbab Wanita Muslimah — 91
Dari Al-Harits bin Al-Harits Al-Ghamidi, katanya, "(Aku pernah
bertanya kepada ayahku) ketika kami masih di Mina, 'Sedang apa
sekumpulan orang itu?' Ayahku menjawab, 'Mereka adalah suatu
kaum yang sedang mengerumuni sesembahan mereka.' Dia berkata,
'Maka kami pun turun. (dalam riwayat lain disebutkan: ('maka kami
pun mendekat.) Temyatadi situ Rasulullah sedang menyeru rnanu-
sia untuk mengesakan Allah dan agar beriman kepada-Nya. Namun,
mereka menolak seruan beliau bahkan menyakitinya. Setelah
datang waktu pertengahan siang, mereka pun bubar. Kemudian mun-
cullah seorang wanita yang kelihatan lehernya mendekati beliau
(sambil menangis). Wanita tadi membawa panci (yang berisi air) dan
sapu tangan. Beliau pun menerima panci yang berisi air tadi, lalu
minum dan berwudhu. Kemudian beliau ^mengangkat kepalanya
(menatap wajah wanita tadi) dan berkata, 'Wahai puteriku, tutuplah
lehermu dengan kerudung. janganlah khawatirkan ayahmu sedikit
pun. Aku bertanya, 'Siapa wanita itu?' Mereka menjawab, '(Dia)
adalah Zainab, puterinya.'"
42

bergegas mengambil kainnya yang biasa dikenakan, lalu digunakannya untuk me-
nutup kepala dalam rangka membenarkan dan mengimani ayat yang telah diturunkan
oleh Allah itu. Kemudian, pada pagi harinya tatkala (menunaikan shalat Subuh) di
belakang Rasulullah mereka mengenakan tutup-tutup kepala seakan di atas
kepala-kepala mereka terdapat burung gagak."'
Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat ini; demikian pula Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam
kitab Fathu /4/-Bari' (VIII:490). Tambahan kata menunaikan shalat Subuh pada riwayat
di atas adalah dari dia. Namun di dalam sanad hadits ini terdapat periwayat yang
bernama Az-Zanji bin Khalid yang nama sebenarnya adalah Muslim. Pada dirinya
ada kelemahan. Akan tetapi, diperkuat oleh riwayat yang ada pada kitab Tafsir lbnu
Mardawaih, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Takhrij A/-Kasysyaf karangan
Az-Zaila'i (hlm. 435 - manuskrip).
Hadits di atas menjadi nas bahwa mereka itu berdiri di belakang Nabi dengan
membuka wajah-wajah mereka. Karena kata ا ¬ · - ` · yang digunakan pada
riwayat tersebut sama dengan ` · « · - ·, artinya mengenakan khimar, sebagaimana
dikatakan di dalam kitab Ash-Shahak "M'ya^adalah kain yang digunakan oleh
wanita untuk menutup kepala. Biasa dikatakan: ُ ةَ أْ·َ-ْ'ا ْتَ ·َ=ْ·َ-ْ-ِ ا (wanita itu
mengenakan mi'jar). 42. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab
Al-Mu'jam Al-Kabir(\ 245/ 2) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Damsyiq (IV
46-1/243-1). Tambahan yang ada di dalam tanda kurung adalah yang terdapat
pada riwayat Ibnu Asakir. Dan dia berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari
di dalam kitab At-Tarikh-nya dengan diringkas dan oleh Abu Zur'ah. Abu Zur'ah
berkata, 'Hadits ini shahih.'"
92 —Jilbab Wanita Muslimah
Disamping itu, firman Allah ta'ala: "Janganlah mereka meng-
hentak-hentakkan kaki mereka agar diketahui adanya perhiasan yang
mereka sembunyikan. (QS. An-Nur: 31) menunjukkan bahwa kaum
wanita diwajibkan juga menutup kaki-kaki mereka. Seandainya tidak,
tentu diantara mereka masih bisa menampakkan perhiasan, (yaitu
gelang kaki) sehingga tidak perlu menghentak-hentakkan kaki mereka.
Dan mereka tidak bisa begitu karena terbukanya kaki tadi berten-
tangan dengan syariat. Oleh karena itu, mereka mencari akal untuk
'menampakkan' perhiasan yang mereka sembunyikan kepada laki-
laki dengan menghentak-hentalckan kaki mereka. Maka, Allah pun
melarang perbuatan mereka itu.
Sejalan dengan penjelasan saya di atas, Ibnu Hazm di dalam
kitabnya Al-Muhalla (111:216) mengatakan, "Ayat ini menjadi dalil
bahwa kedua kaki dan kedua betis wanita adalah anggota tubuh yang
harus disembunyikan dan tidak halal untuk ditampakkan."
Hal itu juga dikuatkan oleh hadits Ibnu Umar, katanya,
"Rasulullah Slbersabda:

"Barangsiapa (berjalan melabuhkan kain) dan menyeretnya dengan
lagak menyombongkan diri, maka Allah tidak akan melihatnya kelak
pada hari kiamat." Ummu Salamah bertanya, 'Lalu apa yang harus
dilakukan kaum wanita terhadap ujung bawah pakaiannya?' Beliau
menjawab, 'Turunkanlah sejengka/.
43
Ummu Salamah berkata lagi,
'Kalau begitu, punggung telapak kaki mereka akan terbuka.' Lalu,
Nabi pun berkata lagi, 'Kalau begitu, hendaklah mereka me-
nurunkannya satu hasta, dan jangan lebih dari itu.'"
43. yaitu dari tengah-tengah kedua betis!' Ada yang menyebutkan: dari kedua mata kaki.
Jilbab Wanita Muslimah— 93
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (111:47), dan dia berkata,
"Hadits ini shahih."
44

Dalam hadits di atas disebutkan adanya rukhshah (keringanan)
bagi wanita untuk melabuhkan pakaian dan menyeretnya ketika ber-
jalan, karena hal itu lebih bisa menutup aurat mereka.
Al-Baihaqi berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa
kaum wanita wajib menutup kedua punggungtelapak kaki mereka."
45

Oleh karena itulah, para wanita di masa Nabi dan masa-masa
sesudahnya mempraktekkan hal semacam itu; begitu juga dalam
beberapa ketentuan syar'i lainnya.
Imam Malik dan ulama hadits lainnya meriwayatkan dari budak
wanitanya Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, bahwa dia pernah
bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi , "Saya ini seorang
wanita yang biasa memakai pakaian jubah yang ujung bawahnya aku
panjangkan sementara aku harus melewati tempat yang kotor. Bagai-
mana ini?' Ummu Salamah menjawab, "Rasulullah pemah me-
ngatakan bahwa tempat yang dilalui sesudahnya akan menyucikan
kotoran yang menempel sebelumnya."
Diriwayatkan juga dari seorang wanita Bani Abdil Asyhal,
katanya, "Aku pernah berkata kepada Nabi , 'Wahai Rasulullah,
44. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ulama hadits lainnya selain At-Tirmidzi. Kami bicara-
kan juga hadits ini di dalam kitab kami Ats-TsamarAI-Mustathab Fi Fiqhi As-Sunnah
Wa Al-Kitab, juga di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (hadits no. 1864).
45. Asy Syaukani menyebutkan hal serupa itu di dalam kitabnya Nail AI-Authar
(11:59).
Saya katakan: Barangsiapa menyelisihi hal ini, lalu mengatakan bahwa kedua pung-
gung telapak kaki bukan aurat, seperti dikatakan oleh Al-Maududi di dalam tulisan
bantahannya terhadap pendapat saya hlm. 21, maka sebenarnya dia sama sekali
tidak memiliki daiil.
Anehnya, Al-Maududi sendiri sebelumnya di dalam kitabnya Al-Hijab telah menye-
butkan perkataan yang berbeda dengan perkataan dia yang ada di dalam tulisan
bantahannya itu. Perkataan dia yang ada di dalam kitab Al-Hijab itu sejalan dengan
pendapat kami. Di dalam kitab itu (hlm. 331) dalam memberi batasan aurat wanita
dia berkata, "Para wanita diperintahkan untuk menyembunyikan seluruh tubuhnya,
kecuali wajah dan kedua.telapak tangan mereka."Di situ dia tidak mengecualikan
kedua punggung telapak kaki. Karena memang begitulah yang benar. Lalu, apa yang
menyebabkan Al-Maududi berpaling dari pendapat yang benar ini?!
94—Jilbab Wanita Muslimah
sesungguhnya jalan yang kami lewati menuju masjid berbau busuk.
Bagaimana yang harus kami lakukan kalau hari hujan?' Beliau
berkata, 'Bukankah setelah jalan yang berbau busuk tadi ada jalan
yang bersih?' Wanita tadi berkata, 'Aku pun menjawab, 'Betul,' Lalu
beliau berkata, 'Nah, tanah yang bersih tadi menjadi pembersih
dari tanah yang berbau busuk.'
46

Oleh karena itulah, kaum muslimin mensyaratkan kepada Ahlu
Dzimmah agar mereka membuka kaki mereka dari betis kebawah
supaya tidak serupa dengan wanita-wanita muslimah, sebagaimana
dijelaskan di dalam kitab Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim
Mukhalafah Ash-hab Al-jahlm.
47

Selanjutnya, Allah ta'ala setelah pada ayat terdahulu, yaitu surat
An-Nur menjelaskan tentang hal-hal (maksudnya: perhiasan) yang
wajib disembunyikan dan yang boleh ditampakkan oleh kaum wanita
di hadapan laki-laki asing, maka pada ayat lain Allah memerintahkan
kaum wanita agar ketika keluar rumah mereka menutup pakaian dan
khimarnya dengan jilbab, karena dengan seperti itu mereka akan lebih
tertutup dan lebih terhormat. Firman Allah ta'ala yang dimaksud
adalah: "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka me-
nutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu
46. Hadits ini, dan juga hadits sebelumnya diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab
Sunan-nya. Sanad hadits ini shahih. Hadits ini dinilai shahih oieh Al-Mundziri. Adapun
hadits sebelumnya derajatnya adalah hasan li ghairihi. Hadits tersebut dinilai shahih
oleh Ibnu Al-Arabi dan dinilai hasan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami. Hal ini telah saya
sebutkan di dalam kitab saya yang berjudul Shahih Sunan Abi Dawud {hadils no.407
dan 408).
47. Kitab ini adalah dikarang oleh Syaikhu Al-lslam Abu Al-Abbas Ahmad bin Taimiyah
Al-Harani -rahimahullah. Kitab ini merupakan kitab terbaik yang tidak ada tendingan-
nya dalam masalah ini. Kami akan banyak menukil dari kitab tersebut ketika kami
membicarakan Syarat ke Tujuh dari kitab ini. Akan tetapi, coba perhatikanlah! Betapa
keadaan ini telah berubah dan terbalik. Di zaman kita ini, para wanita muslimah justru
merasa bangga meniru wanita-wanita yang membuka betis, bahkan lebih dari itu,
yang sebenarnya perbuatan semacam itu dilarang. Semua itu menjadi bukti kebenar-
an perkataan Rasulullah - "Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum
kamu sedikit demi sedikit." Lihat hadits no.2 dalam bahasan Syarat ke Tujuh yang
akan datang!
Jilbab Wanita Muslimah — 9.5
supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak
diganggu. Dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. Al-
Ahzab: 59)
Tatkala ayat di atas turun, para wanita Anshar pun bila keluar
rumah seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung-burung
gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan.
48

jilbab adalah kain yang dikenakan oleh kaum wanita untuk me-
nutup tubuhnya di atas pakaian yang dia kenakan. Definisi ini adalah
menurut pendapat yang paling benar
49
. Umumnya, jilbab ini dikena-
kan oleh kaum wanita manakala mereka keluar rumah. Ini seperti
yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan (maksudnya: Al-Bukhari dan
Muslim) dan ulama hadits lainnya dari Ummu Athiyyah, katanya:

48. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:182) dengan sanad shahih. Hadits ini
disebutkan pula di dalam kitab Ad-Dur(V:221) berdasarkan riwayat Abdurrazzaq, Abd
bin Humaid, Abu Dawud, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Mardawaih dari
Ummu Salamah dengan lafazh: "..lantaran pakaian (jilbab) hitam yang mereka kenakan."
Kata adalah bentuk jamak dari, yang artinya gagak. Pakaian jilbab mereka diserupa-
kan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.
49. Di dalam menjelaskan jilbab ada tujuh pendapat yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu
Hajar di dalam kitab Fathu Al-Bari (1:336). Pendapat di atas adalah salah satunya.
Pendapat ini juga yang diikuti oleh Al-Baghawi di dalam kitab Tafe/r-nya (111:544). Dia
mengatakan, "Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh wanita merangkapi khimar
dan pakaian yang biasa dikenakan di rumah."
Ibnu Hazm berkata (III: 17), "Jilbab yang diperintahkan untuk dipakai oleh (wanita)
kita, menurut bahasa Arab, adalah yang menutup seluruh tubuh, bukan yang hanya
menutup sebagian."
Al-Qurthubi membenarkan difinisi diatas di dalam kitab Tafsir-nya. Ibnu Katsir (III: 518)
berkata, "Jilbab adalah selendang yang dipakal merangkapi khimar, yang sekarang
ini sama seperti izar (kain sarung)."
Saya katakan: Barangkali yang dimaksudkan adalah pakaian 'aba-ah yang sekarang
ini dipakai oleh wanita Nejed, Irak dan lainnya.
96 —Jilbab Wanita Muslimah

"Rasulullah memerintahkan kami keluar untuk shalat Idul Fitri dan
IdulAdha, baik yang masih gadis yang sedang menginjak dewasa,
wanita-wanita yang sedang haidh maupun wanita-wanita yang di-
pingit. Adapun wanita-wanita yang sedang haidh mereka tidak /'/cut
mengerjakan shalat, namun mereka menyaksikan kebaikan dan dak-
wah kaum muslimin. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, salah seorang
di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab.' Beliau menjawab,
'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya.'"
Syaikh Anwar Al-Kasymiri di dalam kitab Faidh Al-Bari (1:388)
berkata mengomentari hadits ini, "Dapatlah diketahui dari hadits ini
bahwa jilbab dituntut untuk dipakai ketika wanita keluar rumah. Jadi,
seorang wanita tidak boleh keluar rumah kalau tidak memakai jilbab.
Dan yang namanya jilbab ialah pakaian yang menutupi mulai
dari ujung rambut hingga telapak kaki. Sebelumnya sudah saya
jelaskan, bahwa khimar dipakai di dalam rumah, sedangkan jilbab
dipakai kettka keluar rumah. Begitulah penjelasan saya berkepaan
dengan dua ayat mengenai hijab, yaitu ayat: "hendaklah mereka
menutupkan kerudungkedada mereka" (QS.An-Nur: 31) dan ayat:
"hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka." (QS.AI-Ahzab: 59)
Pada kitab yang samajuz I hlm. 256, setelah menjelaskan penger-
tian jilbab dan khimar seperti di atas, dia mengatakan: "Jika Anda
katakan, 'Sebenarnya mengulurkan jilbab itu sudah mencukupi perin-
tah untuk menutupkan kerudung ke dada mereka, maka saya jawab,
"Menutupkan jilbab ke seluruh tubuh adalah dilakukan ketika seorang
wanita hendak keluar rumah, sedangkan menutupkan khimar adalah
untuk semua keadaan. Maka, menutup khimar tetap dibutuhkan,
(meskipun sudah memakai jilbab)."
Saya juga ikut berkomentar: Membatasi pemakaian khimar ketika
di rumah saja, ini perlu ditinjau kembali. Karena hal itu menyalahi
dhahir ayat: "hendaklah mereka menutupkan khimarnya... dan
Jilbab Wanita Muslimah — 97
janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki agar diketahui adanya
perhiasan yang mereka sembunyikan."
Karena larangan menghentak-hentakkan kaki pada ayat di
atas menjadi tanda yang jelas adanya perintah untuk menutupkan
khimar ketika mereka berada di luar rumah juga, (karena satu
pembicaraan dalam ayat tersebut Pent.). Demikian pula firman
Allah di awal ayat tersebut, yaitu: "Dan katakanlah kepada wanita-
wanita mukminat,
'Hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka...... '" (QS.An-
Nur: 31). Firman Allah ini, juga memperkuat adanya perintah kepada
kaum wanita untuk menutupkan khimarnya ketika di luar rumah.
Yang benar dan yang harus dipraktekkan dari apa yang terkan-
dung di dalam dua ayat di atas, -yaitu surat an-Nur dan Al-Ahzab-
adalah, bahwa seorang wanita bila keluar rumah wajib menutupkan
khimar dan mengenakan jilbabnya ke seluruh tubuh merangkapi
khimamya tadi. Sebab, sebagaimana telah kami katakan tadi, bahwa
dengan jilbab seorang wanita bisa lebih tertutup lagi dan lebih sulit
untuk dikenali bentuk kepala maupun pundaknya. Hal seperti itulah
yang dikehendaki oleh Pembuat syariat (Allah), sebagaimana akan
saya jelaskan nanti pada bahasan: Syarat yang Keempatdari buku ini.
Pemahaman saya seperti di atas itu, juga menjadi pendapat seba-
gian ulama Salaf dalam menafsirkan ayat tentang idna' (maksudnya:
mengulurkan jilbab, yaitu QS. Al-Ahzab: 59)
Di dalam kitab Ad-Dur (V:222) disebutkan: Ibnu Abi Hatim me-
riwayatkan hadits dari Sa'id bin Jubair berkenaan dengan firman Allah
ta'ala: "hendaklah mereka menutupkan jilbabnya". Sa'id bin Jubair
berkata, "Maksudnya ialah, agar mereka menjuraikan jilbabnya ke
seluruh tubuh." Sedangkan yang namanya jilbab adalah kain penutup
kepala yang melapisi khimar. Seorang muslimah tidak halal dilihat
oleh laki-laki yang bukan mahramnya, kecuali bila dia mengenakan
khimar, di samping juga memakai jilbab, hingga tertutup rapat kepala
dan lehemya."
Ketahuilah, bahwa pemakaian sekaligus antara khimar dan jilbab
ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum wanita ketika mereka
keluar rumah. Kenyataan yang ada terkadang mereka hanya memakai
jilbab saja atau hanya memakai khimar saja; bahkan, terkadang tidak
98 —Jilbab Wanita Muslimah
memenuhi kriteria kedua-duanya. Kita masih mendapati apa yang
biasa orang sebut dengan isyarib (datam istilah Arab —pent.), yaitu
memakai kerudung atau jilbab tetapi masih terbuka bagian tubuh yang
diharamkan oleh Allah untuk mereka tampakkan, seperti rambut
kepala bagian depan dan leher, misalnya.
Di antara dalil yang menguatkan pemakaian sekaligus antara
jilbab dan kemdung adalah hadits Ibnu Abbas berkenaan dengan ayat:
"Katakanlah kepada wan/ta-wan/ta mukminat agar mereka me-
nundukkan pandangan mereka...."'{QS.AI-Ahzab: 59). Dia
berkata, "Dikecualikan dari ayat tersebut adalah:

Wanita-wanita yang telah terhenti (dari haidh dan mengandung)
yang sudah tidak berkeinginan nikah";
yang kelanjutan dari ayat tersebut adalah:

Maka tidak ada dosa bagi mereka jika menanggalkan pakaian
mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasannya.
Namun berbuat sopan adalah lebih baik bagi mereka. Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS.An-Nur: 60)
Dalam satu riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas disebutkan
bahwa dia membaca ayat tersebut:
50
"... jika dia menanggalkan seba-
gian dari pakaian mereka." Dia berkata, "yaitu jilbabnya." Begitu
pulalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud.
50. Perkataan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no.4111) dengan sanad yang jayyid.
Juga oleh Al-Baihaqi dengan jalur periwayatan yang lain dengan sanad shahih.
Begitulah jalur periwayatan tentang penafsiran ayat tersebut dari Ibnu Mas'ud. Tentang
hal itu Ibnu Jarir menyebutkan di dalam kitabnya (XVIII: 127) adanya tujuh jalur peri-
wayatan (dalam penafsiran ayat tersebut). Untuk lebih menguatkan adanya kewajiban
ini silahkan baca atsar Aisyah dan Ibnu Umar (hlm. 146).
Jilbab Wanita Muslimah — 99
Jadi, ayat diatas merupakan dalil wajibnya mengenakan jilbab
sekaligus khimar bagi kaum wanita, kecuali wanita-wanita tua
(yang sudah tidak diminati oleh laki-laki lantaran ketuaannya).
Wanita-wanita yang semacam itu boleh menanggalkan jilbabnya.
Bukankah sudah tiba saatnya sekarang para wanita shalihah sadar
dari kelalaiannya untuk bertaqwa kepada Allah dengan memulai
memakai jilbab sekaligus khimar mereka?!
Sungguh aneh, para penulis di zaman ini —sejauh yang saya
ketahui— tidak mau terbuka dalam menjelaskan perihal pakaian
wanita ini yang telah tegas diterangkan di dalam Al-Qur'an dan As-
sunnah. Padahal, paling tidak mereka telah secara panjang lebar
membahas masalah tentang wajah, yang menurut mereka termasuk
aurat, meskipun sebenarnya hal itu menjadi perselisihan pendapat
di antara para ulama. Malah yang benara dalah sebaliknya, (yaitu
bukan termasuk aurat), seperti yang bisa Anda lihat secara terperinci
di dalam kitab ini. Segala puji bagi Allah, yang hanya karena nikmat-
Nyalah semua kebaikan menjadi sempurna.
Kemudian, perkataan dia: "Jilbab dipakai ketika mereka ke luar
rumah" adalah perkataan yang Sulit dipahami. Karena jilbab merupa-
kan penutup perhiasan wanita dari laki-laki asing (maksudnya: yang
bukan mahramnya —pent.). Sama saja, apakah ketika wanita itu yang
keluar rumah sehingga bertemu dengan laki-laki asing tadi ataukah
1
laki-laki itu yang masuk ke tempat wanita, mereka tetap harus menge-
nakan jilbab. Hal ini dikuatkan oleh perkataan Qais bin Zaid. Katanya,
"Sesungguhnya Rasulullah pernah menceraikan Hafshah
binyi Umar. Suatu ketika beliau datang mengunjunginya. Maka,
dia pun memakai jilbabnya. Kemudian beliau berkata kepadanya,
'Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan mengatakan,
'Rujukilah Hafshah, karena dia adalah wanita yang banyak
melakukan puasa dan shalat malam, dan dia adalah istrimu kelak di
surga. '"
51

51. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 58), Ath-Thabarani di dalam kitab Al-
Kabir (XVIII: 365/934) dari Hammad bin Salamah, katanya: Telah mengabarkan
kepada kami Imran Al-Juwani. Para periwayat hadits ini semuanya periwayat tsiqah
dan merupakan para periwayat yang dipakai oleh Muslim, kecuali Qais bin Zaid,
100—Jilbab Wanita Muslimah
Jadi, begitulah sebenarnya. Di dalam ayat tersebut tidak
ada dalil yang menunjukkan bahwa wajah seorang wanita
adalah aurat yang wajib ditutup. Namun ayat itu hanyalah
memerintahkan agar seorang wanita menutupkan jilbabnya ke
seluruh tubuhnya. Sebagaimana bisa Anda Iihat, pengertian
ayat tersebut adalah sifatnya mutlak, sehingga kemungkinan
hanya mencakup pengertian menutup perhiasan dan tempat-
tempatdipakainya perhiasan tersebut yang tidak diperkenan-
kan untuk diperlihatkan oleh kaum wanita sesuai dengan
penjelasan ayat pertama, sehingga tertolaklah dalil yang
mengatakan (bahwa wajah seorang wanita adalah aurat. —
pent.) Atau bisa jadi, ayat
dimana dia ini diperselisihkan status kesahabatannya. Ibnu Abdil Bar berkata, "Dikata-
kan: Hadits yang dia riwayatkan termasuk hadits mursal, karena dia bukanlah seorang
sahabat."
Al-Hafizh di dalam kitab Al-lshabah berkata, "Dia adalah seorang tabi'in muda yang
meriwayatkan hadits mursal, namun disebut-sebut oleh sekelompok orang, di antara-
nya Al-Harits bin Abu Usamah sebagai salah seorang sahabat." Ibnu Abi Hatim
dan ulama hadits lainnya menyebut dia sebagai salah seorang tabi'in mengikuti
pendapat Al-Bukhari. Dengan demikian jelaslah bahwa hadits di atas adalah mursal.
Al-Haitsami berkata (IX:245), "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, dan para
periwayatnya adalah para periwayat hadits shahih." Hadits di atas juga
diriwayatkan oleh Al-Hakim (IV:15), dan dia menyebutkan adanya hadits penguat
dari Anas, sehingga kuatlah hadits tersebut, insya Allah. Akan tetapi, di dalam
hadits penguat tersebut tidak tersebut kata (berjilbab). Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad secara ringkas dengan sanad shahih. Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (Vlll:63) melalui jalur Habib bin Abu Tsabit, katanya,
"Ummu Salamah berkata, 'Tatkala masa iddahku dari Abu Salamah habis,
Rasulullah u datang kepadaku, lalu beliau "M berkata kepadaku dari balik tabir.
Kemudian beliau melamarku. (Al-Hadits)
Namun yang jelas, hi/ab yang tersebut di dalam riwayat ini adalah bukanlah pakaian
yang menutup badan seorang wanita. Tetapi yang dimaksud adalah hijab yang bisa
menutup dirinya, misalnya berupa dinding, sekat atau yang semisalnya. Inilah penger-
tian yang dimaksud oleh ayat:" Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian masuk
rumah Nabi , kecuali setelah kalian diberi ijin ...dan bila kalian mempunyai keperluan
dengan istri-istri beliau, berbicaralah lewat balik tabir. Hal itu lebih menjaga hati kalian
dan hati mereka."
Dan disebutkan pula bahwa Aisyah pernah melakukan shalat dengan mengenakan
jilbab. Itu menunjukkan bahwa jilbab tidak hanya khusus dipakai ketika seorang wanita
keluar rumah.
Jilbab Wanita Muslimah— 101
tersebut sifatnya lebih umum lagi, yaitu mencakup menutup
wajah. Kedua takwil ini masing-masing dipegangi oleh para
ulama salaf terdahulu. Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya dan
Suyuthi di dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur menyebutkan
pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini. Akan tetapi,
kami kira kurang ada manfaatnya untuk saya muat di sini. Saya
hanya memberitahu saja. Barangsiapa yang ingin
mengetahuinya lebih lanjut silahkan baca sendiri kedua kitab
tersebut!
32

Menurut kami, pendapat pertamalah yang mendekati
kebenaran. Hal itu dikarenakan dua sebab, yaitu:
52. Catatan: Ustadz Al-Maududi di dalam kitabnya Al-Hijab (hlm. 366) setelah
menyebutkan ayat tersebut, dia berkata, "Ayat ini turun secara khusus tentang
perintah menutup wajah."
Sejauh yang saya ketahui, perkataan seperti di atas tidak ada seorang pun di antara
para ulama yang mengatakannya. Perkataan seperti itu juga tidak mempunyai san-
daran yang layak dijadikan pegangan, kecuali sebuah atsar dari Ka'ab Al-Qurzhi.
Mungkin atsar inilah yang diambil oleh Ustadz Al-Maududi sebagai pegangan. Karena
memang atsar tersebut bisa dijadikan sebagai tafsiran Al-Qurzhi terhadap ayat di
muka. Akan tetapi, atsar dengan lafazh seperti itu sanadnya sangat dha'if, sehingga
tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dan sandaran dalam menetapkan hukum. Pen-
jelasan lebih lanjut tentang hal ini akan kami ulas dalam bab lain dari kitab ini juga,
insya Allah. Demikian pula, tidak sah apa yang disebutkan oleh Al-Maududi dari Ibnu
Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut yang mengatakan, "Allah memerintahkan
wanita-wanita mukmin jika keluar dari rumah mereka untuk suatu keperluan agar
menutup wajah mereka dengan jilbab yang (dijulurkannya dari atas kepala). Dia juga
menyatakan bahwa hal ini juga disebutkan oleh Ath-Thabari (XII: 33), namun tidak
dia sebut secara lengkap. Mestinya pada pernyataan lengkap Ath-Thabari ada kata-
kata,"... Dan hanya boleh menampakkan satu mata." Saya katakan:
Sesungguhnya perkataan itu tidak benar datangnya dari Ibnu Abbas. Sebab Ath-
Thabari meriwayatkan perkataan tersebut melalui jalur Ali dari Ibnu Abbas. Ali di sini
maksudnya adalah Ali bin Abu Thalhah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir.
Sedangkan dia ini menjadi perbincangan sebagian Ahli hadits. Dia tidak
mendengar hadits itu dari Ibnu Abbas. Bahkan, dia tidak pernah melihat Ibnu Abbas.
Ada yang mengatakan bahwa antara dirinya dengan Ibnu Abbas ada Mujahid. Jika
hal ini benar berarti atsar ini bersambung. Akan tetapi, pada jalur periwayatan kepada
Ali ini terdapat Ibnu Shalih, yang nama sebenarnya adalah Abdullah bin Shalih,
dimana dia ini termasuk periwayat yang dha'if.
Ibnu Jarir justeru meriwayatkan atsar dari Ibnu Abbas yang berbeda dengan itu.
Namun, sanadnya juga dha'if.
102—Jilbab Wanita Muslimah
Pertama. Ayat Al-Qur'an itu satu dengan yang lain saling me-
nafsirkan. Telah jelas berdasarkan ayat An-Nur di muka bahwa wajah
wanita tidak wajib ditutup. Sehingga, kata idna' harus ditaqyid (di-
batasi) untuk selain wajah, untuk menjama' kedua pengertian ayat
tersebut.
Kedua. Fungsi hadits adalah menjelaskan ayat Al Qur'an, ter-
masuk mentakhshish (mengkhususkan) pengertian ayat yang masih
umum dan mentaqy/d (membatasi) pengertian ayat yang masih
mutlak. Banyak hadits (lihat hadits nomer 1 sampai dengan nomer
13) yang menunjukkan bahwa wajah seorang wanita tidak wajib
ditutup. Maka, ayat ini (maksudnya: ayat idna') harus ditafsirkan
berdasarkan hadits-hadits tersebut dan ditaqyid (dibatasi) dengannya.
Dengan demikian sudah dapatdipastikan bahwa wajah itu bukan
aurat, sehingga tidak wajib ditutup.
Ketetapan semacam itu menjadi pendapat kebanyakan ulama,
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rusyd di dalam kitab Al-Bidayah
(l:89), diantaranya Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan dalam satu riwayat,
juga Ahmad sebagaimana tersebut di dalam kitab Al-Majmu' (\\\:69).
Thahawi menyebutkan tentang hal itu di dalam kitabnya Syarhu Al-
Ma'ani (ll:9) dari dua orang murid Abu Hanifah dan menegaskan
bahwa pendapat itulah yang benar di dalam kitab Al-Muhimmat yang
merupakan kitab bermadzhab Syafi'i. Hal serupa juga disebutkan
oleh Syaikh Syarbini di dalam kitab Al-lqna' (11:10).
Akan tetapi, pengertian tersebut harus dibatasi selama di wajah
maupun kedua telapak tangan tidak ada perhiasan yang dipakainya,
berdasarkan keumuman firman Allah ta'ala: "dan anganlah mereka
menampakkan perhiasannya". (QS. An-Nur: 31). Bila ternyata pada
wajah dan kedua tangan wanita tadi ada perhiasan, maka wajib
ditutup. Lebih-lebih di zaman sekarang ini di mana para wanita telah
tergoda untuk mempercantik wajah mereka dengan berbagai jenis
make up dan menghias kedua tangannya dengan berbagai
perhiasan. Maka, seorang muslim —yang berakal dan masih
mempunyai ghirah keislaman— mestinya tidak ragu-ragu lagi
melarang kaum wanita menampakkan make up dan perhiasan-
perhiasan mereka itu. Akan tetapi dari semua hiasan itu ada yang
tetap dibolehkan untuk ditam-
Jilbab Wanita Muslimah— 103
pakkan, yaitu celak dan inai, karena keduanya memang dikecualikan
di dalam ayat yang telah tersebut di muka. Hal ini juga dikuatkan
oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII:238-239) lewat
jalur Sufyan, dari Manshur, dari Rub'i bin Kharrasy, dari seorang
wanita, dari saudara perempuannya Hudzaifah dan beberapa saudara
perempuannya yang lain yang pernah secara bersama-sama menyaksi-
kan Nabi Mereka berkata, "Rasulullah pernah menyampaikan
khutbah kepada kami, 'Wahai sekalian kaum wanita, bukankah kalian
mempunyai perhiasan dari perak yang biasa kalian pakai? Ketahuilah,
bahwa tak seorang pun diantara kalian yang memakai perhiasan
emas yang dia tampakkan, melainkan dia akan mendapat adzab
dengan sebab hal tersebut.' Manshur berkata, 'Maka, hal itu saya
sampaikan kepada Mujahid. Lalu, dia pun menjawab, 'Saya sudah
tahu akan mereka. Bahkan, salah seorang di antara mereka ada yang
menjadikan lengan bajunyasebagai penutup cincinnya."
Yang saya ambil sebagai dalil dalam riwayat ini bukanlah per-
kataan langsung Rasulullah , meskipun secara tegas menunjukkan
hal itu —karena di dalam sanad hadits itu terdapat seorang wanita
yang tidak disebut namanya. Tetapi yang saya ambil adalah perkataan
Mujahid,"...sebagai penutup cincinnya" yang mana hal itu
merupakan dalil yang tegas terhadap penjelasan saya. Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah atas taufik-Nya. Saya juga mendapatkan
perkataan Mujahid serupa dengan sanad lain di dalam kitab Musnad
Abu Ya'la. (riwayat no. 6989)
Dan Allah ta'ala telah menjelaskan hikmah dari perintah meng-
ulurkan jilbab ini dengan firman-Nya: "Hal itu adalah agar mereka
lebih mudah untuk dikenali dan tidak diganggu." (QS. Al-Ahzab: 59)
Yaitu, bahwa bila seorang wanita itu memakai jilbab, bisa dimengerti
bahwa dia adalah seorang wanita yang bersih, menjaga diri dan
berperilaku baik. Sehingga, orang-orang fasik tidak berani meng-
godanya dengan perkataan-perkataan mereka yang kurang sopan.
Berbeda halnya kalau dia keluar dengan membuka auratnya. Tentu
dalam keadaan semacam itu dia akan menjadi incaran dan sasaran
orang-orang fasik, sebagaimana yang bisa kita saksikan di mana-mana.
Oleh karena itu, Allah ta'ala memerintahkan wanita-wanita mukminat
untuk mengulurkan jilbabnya dalam rangka saddan lizd dzari'ah.
104 — Jilbab Wanita Muslimah
(istilah fikih, yang maksudnya: melarang sesuatu untuk menghindar-kan
akibat yang besar bila hal itu tidak dilarang. -pent.)
Adasebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 176),
katanya: "Muhammad bin Umar telah meriwayatkan kepada kami,
dari Ibnu Abi Sibrah, dari Abu Shakhr, dari Ibnu Ka'ab Al-Qurzhi,
katanya, "Ada seorang di antara orang-orang munafik mendatangi
wanita-wanita mukminat untuk mengganggunya. Ketika ditegur, dia
mengatakan, "Saya kira dia itu seorang budak." Maka, Allah
memerintahkan mereka (kaum mukminat) agar memakai pakaian
yang berbeda dengan pakaian perempuan budak dan agar
mengulurkan jilbabnya."
Namun hadits di atas tidak shahih, bahkan sangatlah lemah,
dikarenakan hal-hal sebagai berikut:
Pertama. Ibnu Ka'ab Al-Qurzhi -yang nama aslinya Muhammad-
adalah seorang tabi'in (yaitu: orang-orang yang hidup setelah masa
sahabat. -pent.) Dia tidak pernah mengalami hidup di zaman turun-nya
ayat. Sehingga, hadits tersebut dinamakan mursal. Kedua. Ibnu Abi
Sibrah, yaitu Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abi Sibrah
adalah seorang periwayat yang sangat lemah. Al-Hafizh di dalam
kitabnya At-Taqrib mengatakan, "Mereka (para ahli hadits) menuduh
dia sebagai pemalsu hadits."
Ketiga. Karena lemahnya Muhammad bin Umar derigan nisbah Al-
Waqidi. Dia seorang yang dikenal lemah di kalangan para ahli hadits,
bahkan dia itu seorang yang muttahim. (Artinya: dicurigai -pent.)
Ada juga riwayat-riwayat lain yang semakna dengan riwayat di
atas yang disebutkan oleh Suyuthi di dalam kitabnya Ad Dur Al-
Mantsur yang sebagiannya berasal dari Ibnu jarir dan ulama lainnya. .
Namun semua riwayat tersebut tergolong riwayat mursal, tidak
shahih. Karena semua riwayat tersebut hanya menyebutkan langsung
perkataan Abu Malik, Abu Shalih, Al-Kalbi, Mu'awiyah bin Qurrah,
dan Al-Hasan Al-Bashri, yang tak satu pun dengan menyebutkan
sanad (jalur periwayatan)nya. Dengan demikian, riwayat-riwayat tadi
tidak bisa dijadikan hujjah. Lebih-lebih riwayat-riwayat tersebut tidak
bisa diterima oleh syari'at yang suci dan akal yang sehat, sebab
mengandung kerancuan, bahwa Allah menyebutkan adanya para
Jilbab Wanita Muslimah— 105
budak muslimat —yang sudah tentu di antara mereka adalah para
wanita mukminat— dalam keadaan mereka yang tidak menutup
aurat, namun Allah tidak memerintahkan mereka untuk mengenakan
jilbab untuk menghindarkan diri dari gangguan orang-orang
munafik.
Anehnya ada sebagian ahli tafsir yang tertipu dengan riwayat-
riwayat lemah semacam itu. Kemudian dengan riwayat-riwayat
tersebut mereka mentaqyid (membatas) pengertian firman Allah
ta'ala: "dan wanita-wanita mukminat' (QS. Al-Ahzab: 59) dengan:
wanita-wanita yang merdeka, tidak termasuk budak. Bertolak dari situ,
mereka berpendapat bahwa tidak diwajibkan kepada budak-budak
wanita sebagaimana yang diwajibkan kepada wanita-wanita merdeka
untuk menutup kepala dan rambut mereka. Bahkan, ada sebagian
madzhab yang keterlaluan dalam masalah ini sampai-sampai me-
nyatakan bahwa aurat wanita adalah seperti auratnya laki-laki, yaitu
dari pusar hingga lutut. Mereka mengatakan, "Diperbolehkan bagi
laki-laki asing (maksudnya: yang bukan mahram, —pent.) untuk me-
lihat rambut budak wanita, tangannya, betisnya, dan buah dadanya."
(Lihat kitab Ahkam Al-Qur'an (111:390) karya Abu Bakar Al-Jashshash)
Hal itu, —-di samping tidak berdasarkan dalil ayat Al-Qur'an
maupun hadits—, jelas bertentangan dengan keumuman pengertian
firman Allah ta'ala: "dan wanita-wanita mukminat" (QS. Al-Ahzab:
59). Sebab, ayat ini dari segi keumumannya adalah sama seperti ayat:

"Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu
dalam keadaan mabuk hingga kamu (sadar dan) mengetahui apa-apa
yang kamu ucapkan; dan jangan (pula berdiam di masjid) sedang
kamu dalam keadaan junub, kecuali kalau sekedar lewat saja hingga
106—Jilbab Wanita Muslimah
kamu mandi. Dan jika kau sakit, atau sedang musafir, atau
kembali dari tempat buang hajat, atau kamu sehabis
menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air,
maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci),
yaitu sapulah muka dan kedua tangan-mu. Sesungguhnya
Allah Maha Pemaaflag! Maha Pengampun." (QS. An Nisa:
43)
Oleh karena itulah, Abu Hayyan Al-Andalusi di dalam kitab
tafsir-nya Al-Bahr Al-Muhith (Vll:250) mengatakan, "Yang jelas,
firman Allah ta'ala: 'dan wanita-wanita mukminat,' adalah
mencakup wanita-wanita yang merdeka maupun budak. Fitnah
wanita yang budak justeru lebih besar, karena dia lebih banyak
bergaul (di luar rumah) dibanding dengan wanita yang
merdeka. Sehingga, mengeluarkan wanita yang budak ini dari
keumuman pengertian wanita-wanita mukminat jelas
dibutuhkan dalil yang jelas." Sebelumnya, Al-Hafizh Ibnu Al-
Qathan di dalam kitab Ahkam An-Nazhar; juga ulama lainnya
menyatakan hal yang sama. Betapa bagusnya apa yang
dikatakan oleh Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla
(111:218-219), "Adapun antara wanita merdeka dan budak,
menurut saya tidak ada bedanya. Karena, jelas agama Allah itu
satu. Karakter dan tabiat keduanya juga sama. Jadi, wanita itu
sama, apakah merdeka atau budak, kecuali ada nas yang
membedakan keduanya untuk dijadikan pedoman."
Selanjutnya dia mengatakan, "Sebagian orang yang kurang
mampu memahami firman Allah ta'ala: "Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya. Hal itu agar mereka mudah dikenali dan
tidak diganggu," berpendapat bahwa sebenarnya Allah ta'ala
memerintahkan hal itu lantaran orang-orang fasik biasa
mendekati wanita-wanita untuk mengganggunya, maka Allah
pun memerintahkan para wanita yang merdeka agar
mengenakan jilbab supaya orang-orang fasik tadi tahu bahwa
mereka adalah wanita-wanita merdeka sehingga tidak berani
mengganggu atau menggodanya."
53

53. Menurut orang yang berpendapat semacam ini, pada asalnya jilbab itu tidak diperin-
tahkan manakala orang-orang fasik tidak mengganggu atau tatkala tidak ada lagi
perbudakan, karena tidak ada lagi ‘ilaf (sebab dari ketetapan hukum tersebut). Bila
‘ilat tersebut telah hilang, maka sudah barang tentu hilang pula ketetapan hukum yang
dibangun atas dasar ilat tersebut.
Jilbab Wanita Muslimah— 107
Kita jelas berlepas diri dari penafsiran yang menyesatkan ini, yang
boleh jadi disebabkan karena alpanya seorang alim atau ketidak-
mampuan seseorang dalam menangkap pengertian ayat tersebut, atau
bisa jadi itu hanyalah rekaan para penipu yang telah rusak nuraninya.
Sebab, pendapat tersebut mengandung pengertian bahwa Allah ta'ala
menyetujui orang-orang fasik mengganggu para budak wanita. Ini
benar-benar merupakan musibah. Telah menjadi kesepakatan kaum
muslimin bahwa haramnya berzina dengan wanita merdeka itu sama.
dengan haramnya berzina dengan wanita budak; hukuman hudud bagi
orang yang berzina dengan wanita merdeka sama dengan orang yang
berzina dengan wanita budak; dan juga haramnya mengganggu wanita
merdeka tidak ada bedanya dengan haramnya mengganggu wanita
budak. Oleh karena itu, pendapat seseorang selain Rasulullah harus
ditolak, kecuali kalau dia menyandarkan pendapat tersebut kepada
beliau.
54

Sebagian di anlara para penulis di zaman ini menulis bahasan tentang wanita seperti
pendapat di atas. Diantaranya ialah pengarang risalah Al-Qur'an wa Al-Mar'ah (hlm.
59) di mana dia berkata, "Perlu kami sampaikan adanya riwayat-riwayat yang berke-
naan dengan turunnya surat Al-Ahzab ini. (Di sana disebutkan), bahwa pakaian wanita
merdeka dan wanita budak dahulunya adalah sama. Kemudian adanya orang-orang
fasik yang mengganggu wanita-wanita itu tanpa pandang bulu. Kemudian turunlah
ayat (Al-Ahzab) ini yang memberikan pembedaan pakaian untuk wanita-wanita
merdeka agar mereka bisa dikenali sehingga tidak diganggu oleh orang-orang fasik.
Atau dengan kata lain, bahwa ketetapan hukum seperti itu ada karena adanya tuntutan
dari suatu keadaan tertentu."
Jadi, seakan-akan penulis diatas ingin mengatakan, "Sekarang ini tidak ada kepenting-
annya lagi para wanita mengenakan jilbab, karena menurutnya sudah tidak ada lagi
'//at dari ketetapan hukum tersebut, yaitu dengan tidak adanya lagi perbudakan, dan
semua wanita di zaman sekarang ini adalah merdeka! Lihatlah bagaimana kejahilan
dia! Dengan berdasar beberapa riwayat lemah dalam masalah ini dia telah berani
menghilangkan perintah Al-Qur'an dan perintah Nabi , sebagaimana telah tersebut
terdahulu pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyyah.
54. Dia merujuk kepada perkataan Umar yang membedakan antara wanita merdeka dan
wanita budak dalam memakai khimar. Az Zaila'i menyebutkan perkataan Umar ini di
dalam kitabnya Nashbu Ar-Rayah (1:300). Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah (II: 28/1-2), Al-Baihaqi (II: 226-227) dengan berbagai jaiur periwa-
yatan. Kemudian Al-Baihaqi berkata, "Atsar-atsar tentang Umar dalam masalah itu
adalah shahih."
108 — Jilbab Wanita Muslimah
Apa yang telah saya sampaikan di atas tidaklah bertentangan
dengan hadits Anas, bahwa, tatkala Nabi memilih salah seorang
wanita tawanan perang Khaibar, yaitu Shafiyyah binti Huyay, para
sahabat berkata, "Kami tidak tahu apakah beliau menikahinya atau-
kah hanya menjadikannya budak. Sebagian sahabat ada yang berkata,
"Bila beliau memakaikan penutup kepadanya, maka berarti
beliau menikahinya dan bila ternyata beliau tidak memakaikan
penutup kepadanya, maka berarti beiiau hanya menjadikannya
sebagai budak. Maka, tatkala beliau hendak menaiki kendaraan-
nya, (kami melihat) beliau memakaikan penutup kepadanya, lalu
mendudukkan dia pada bagian belakang unta yang beliau
tunggangi. Akhirnya para sahabat pun mengetahui bahwa beliau
menjadikannya sebagai istri. (Dalam riwayat lain disebutkan: "Lalu
Rasulullah memakaikan penutup kepadanya dan membawanya
duduk di belakang beliau . Dan beliau pun menutupkan selen-
dang be/iau pada punggung dan wajahnya, kemudian
mengikatkan selendang tersebut dari bawah kakinya, lalu
membawanya pergi. Beliau memperlakukan dia sama dengan
istri-istrinya yang lain."
55

Menurut kami, tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan
penafsiran ayat di muka yang kita pilih. Karena di dalam hadits
tersebut tidak ada penafian jilbab, melainkan hanya ada penafian
penutup saja. Di situ tidak bisa dipahami secara pasti adanya
penafian jilbab,
Ibnu Hazm (III: 22,1) mengomentari secara gamblang perkataan Al-Baihaqi dii atas, dengan
berkata, "Akan tetapi, tidak ada seseorang pun yang bisa dijadikan hujjah selain
Rasulullah .”
Perkataan Ibnu Hazm ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan dari Aisyah berikut: "Bahwa
Nabi pernah mengunjungi dia. Lalu tiba-tiba bersembunyilah salah seorang
budak milik mereka. Nabi berkata, 'Apakah dia telah pernah haidh?' Mereka
menjawab, 'Ya.' Maka mereka pun menyobek sorban, lalu diberikan
kepadanya sambil berkata, 'Gunakanlah ini untuk berkhimar. '"Hadits ini
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (II: 27/2) dan Ibnu Majah dengan sanad
dha'if.
55. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VII: 387 dan IX: 105), Muslim (IV: 146-
147), Ahmad (III: 123,246,264), Ibnu Sa'ad (VIII: 87). Riwayat lain yang
tersebut di atas adalah yang tersebut pada riwayat Ibnu Sa'ad (VIII: 86). Ibnu
Al-Qayyim di dalam kitabnya Zad AI-Ma'ad (II: 192) berhujah dengan riwayat
tersebut. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi (VII: 259).
Jilbab Wanita Muslimah — 109
melainkan hanya secara kebolehjadian saja. Karena boleh jadi
juga yang dinafikan adalah pemakaian jilbab yang ditambah
penutup wajah sekaligus, sebagaimana perkataan beliau di
dalam hadits tersebut: "Dan beliau pun menutupkan
selendang beliau pada punggung dan wajahnya."
Kebolehjadian seperti ini juga diperkuat dengan keterangan
saya berikut, bahwa perlakuan khusus beliau terhadapnya
(yaitu, menutupkan selendang ke wajah, —pent.) itulah yang
menjadikan para sahabat tahu apakah dia itu istrinya ataukah
budak. Dan ini maksud dari perkataan para sahabat di dalam
hadits tersebut, "Bila beliau Mmemakaikan hijab kepadanya,
maka berarti beliau menikahinya dan bila ternyata beliau
Mtidakmemakaikan penutup kepadanya, maka berarti beliau
hanya menjadikannya sebagai budak."
Dari situ jelaslah, bahwa perkataan mereka, "dan bila
ternyata beliau tidak.memakaikan hijab kepadanya,"
maksudnya ialah menutup wajahnya. Hal ini tidak menafikan
harus tertutupnya seluruh badan wanita budak, seperti kepala,
lebih-lebih bagian dada dan leher. Dengan demikian, sejalanlah
sudah antara hadits di atas dengan ayat yang telah kita bahas
di muka. Alhamdulillah.Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya.
56

56. Adapun perkataan Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan surat An-Nur, di mana setelah
dia membawakan hadits Anas sebagaimana tersebut di muka, dia berkata: "Jilbab
hanyalah diperuntukkan bagi wanita-wanita merdeka, tidak untuk wanita-wanita
budak. Hal ini sebagaimana yang terpraktekkan di zaman Nabi ^ dan para khalifah
sepeninggal beliau, bahwa para wanita merdeka berjilbab sementara para budaknya
tidak berjilbab," adalah perkataan yang ganjil dan aneh. Keganjilannya adalah karena
dia menisbatkan perkataan tersebut akan adanya praktek kaum wanita di zaman
Nabi jg, sehingga hal itu bisa dikatakan sebagai bentuk taqrir beliau terhadap
mereka. Kalaulah ada nas shahih yang menegaskan demikian niscaya bisa menjadi
sandaran pendapat yang mengkhususkan (pakaian jilbab hanya untuk wanita
merdeka) dan menjadi dalil yang jelas untuk mengkhususkan firman Allah ta'ala:'....
dan wanita-wanita mukminah 'bahwa yang dimaksud adalah wanita-wanita
mukminah yang merdeka. Bila begitu keadaannya, niscaya akan kami cabut
pendapat kami diatas. Akan tetapi, saya tidak menemukan adanya riwayat
semacam itu; lebih-lebih riwayat yang shahih. Satu-satunya hadits yang dia bawakan
dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas saja. Ibnu Taimiyah
tidak membawakan hadits lain selain hadits Anas itu. Tentang hadits Anas itu tentu
saya sudah faham apa isinya. Wallahu a'lam.
110 —Jilbab Wanita Muslimah
Kesimpulan: Wajib bagi seluruh kaum wanita, baik yang
merdeka, maupun yang budak untuk menutupkan jilbab ke seluruh
tubuhnya ketika mereka keluar rumah. Mereka hanya dibolehkan
menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya saja berdasarkan
kebiasaan yang berlaku pada zaman Nabi karena adanya per-
setujuan beliau terhadap mereka.
Ada baiknya berikut ini kami sampaikan beberapa riwayat yang
menunjukkan praktek wanitasalafdalam hal itusepeninggal beliau:
1. Dari Qais bin Abu Hazim,
57
"Aku bersama ayahku pernah me-
ngunjungi Abu Bakar, yangternyata dia adalah seorang yang putih
kulitnya dan kurus. Di sampingnya ada Asma' binti Umaisy
yang sedang melindunginya. Asma' ini adalah seorang wanita
yang putih kulitnya yang kedua tangannya bertato yang ditato
pada masa jahiliyahnya dengan tato gaya Barbar. Kemudian
tiba-tiba dihadapkan kepadanya dua ekor kuda dan dia pun
menerimanya. Kemudian Abu Bakar menyuruhku untuk
membawa salah satunya dan ayahku membawa yang satunya
lagi."
2. Dari Abu As-Salil, katanya:
58
"Anak perempuan Abu Dzar pernah
datang dengan mengenakan baju yang berbulu. Dia adalah se-
orang wanita yang pipinya hitam kemerah-merahan. Dia
datang dengan membawa quffah (keranjang jerami yang
mempunyai pegangan) miliknya, lalu dia berdiri di depan
ayahnya (Abu Dzar), yang di sampingnya ada beberapa orang
sahabatnya. Anak
Sebenarnya saya tidak ingin membahas tentang jilbab bagi budak sedetail ini, karena
kurang pas untuk membahasnya di sini. Namun karena tuntutan kajian ilmiah akhimya
saya lakukan juga.
57. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabart di dalam kitab Tahdzib Al-Atsar
(Musnad Umar 1/114/187), dan lafazh di atas adalah yang terdapat didalam riwayatnya;
juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad di dalam kitab Ath-Thabaqat(VIII: 283) dan Ath-
Thabarani di dalam kitab Al-Kabir (XXV: 131/359) tanpa ada perkataan '.. .yang kedua
tangannya bertato yang ditato pada masa jahiliyahnya dengan tato gaya Barbar'. Dan
sanad hadits ini shahih,
58. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (1:164) dan Abu Nu'aim di dalam kitab At-
Hilyah (1:164).
Saya katakan: Sanad hadits ini shahih karena adanya beberapa hadits pendukung.
Jilbab Wanita Muslimah — 111
tadi berkata, "Wahai ayah, para tukang bajak ladang dan para
tukang tanam itu bilang bahwa uang ayah ini palsu." Abu
Dzar menjawab, "Wahai anakku, kalau begitu buanglah! Karena
ayah-mu —alhamdulillah— pagi ini sedang tidak mempunyai
uang kuning (emas) maupun putih (perak), kecuali uang ini
saja."
3. Dari Imran bin Hushain, katanya:
59
"Suatu ketika aku pernah
duduk bersama Rasulullah . Tiba-tiba Fathimah datang, Lalu
berdiri di hadapan beliau - Saya memandangke arahnya. Di
wajahnya ada darah yang kekuning-kuningan. Rasulullah be-
kata kepadanya, 'Mendekatlah, Fathimah!' Lalu Fathimah pun
mendekat hingga berdiri persis di depan beliau . Beliau pun
mengangkat tangan, lalu meletakkannya di dada Fathimah, pada
tempat menempelnya kalung. Lalu, beliau membuka jari jemari
beliau tadi, lalu berkata: 'Wahai Allah, Dzat yang sanggup meng-
hilangkan rasa lapar dan mengangkat seseorang dari kerendahan,
janganlah Engkau jadikan Fathimah binti Muhammad sakit.'
Imran berkata, 'Maka, aku pun pandangi Fathimah. Darah telah
memenuhi mukanya. Dan darahnya tadi sudah berubah ke-
kuning-kuningan semua.'
Imran berkata lagi, 'Setelah selang beberapa lama dari kejadian
itu, saya betemu lagi dengan Fathimah. Lalu saya bertanya kepa-
danya (tentang penyakitnya dulu).' Dia menjawab, 'Sekarang saya
sudah sembuh."'
4. Dari Qabishah bin Jabir, katanya:
60
"Kami biasa belajar Al-
Qur'an bersama seorang wanita (di rumah Ibnu Mas'ud). Wanita
tersebut ditemani seorang wanita tua dari Bani Asad,
sehinggakami semuanya berjumlah tiga orang. (Suatu ketika)
Ibnu Mas'ud melihat dahi wanita tadi tampak berkilauan. Lalu
dia bertanya,'Apakah kau mencukurnya?' Wanita tadi marah,
lalu berkata,
59. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab At-Tahdzib (Musnad Ibnu Abbas
1:286,481) dan Ad-Daulabi di dalam kitab Al-Kina (II: 122) dengan derajat sanad la
ba'sa bihi karena adanya beberapa hadits pendukung.
60. Sanad hadits ini hasan. Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Adab Az-Zifaf h\m.
115.
112 —Jilbab Wanita Muslimah
'Wanita yang mengerok dahinya itu istrimu.' Ibnu Mas'ud ber-
kata, 'Kalau begitu, masuklah kamu dan lihatlah. Kalau dia me-
lakukan seperti itu berarti dia (saya anggap) telah lepas dariku.'
Maka, wanita itu pun masuk menemui istri Ibnu Mas'ud. Laiu,
keluar kembali dan berkata, 'Demi Allah, dia tidak melakukan
hal seperti itu.' Kemudian, Ibnu Mas'ud berkata, 'Saya pernah
mendengar Rasulullah bersabda, 'Allah melaknati
perempuan-perempuan yang menato sendiri badannya dan
yang minta ditatokan...dst.'
5. Dari Abu Asma' Ar-Rahbi
61
, katanya dia pernah mengunjungi
Abu Dzar Al-Ghifari yang ketika itu dia sedang berada di
Rabdzah, yang di sampingnya ada istrinya yang berkulit
hitam.... dst.'
6. Di dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir (XIX:73,2) da/am kisah Shalb
bin Zubair disebutkan bahwa ibunya, (yaitu Asma' binti Abu
Bakar) pemah datang dengan muka berseri-seri dan tersenyum.
7. Dari Anas,
62
katanya: "Seorang budak wanita yang telah dikenal
oleh sebagian kaum muhajirin dan kaum Anshar pernah me
nemui Umar bin Khaththab dengan mengenakan jilbab yang dia
gunakan juga untuk bercadar. Lalu Umar bertanya kepadanya,
61. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V: 159), Ibnu Sa'ad (IV: 236 - Cet. Beirut), Abu
Nu'aim (1:161) dengan sanad shahih. Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan hadits ini melalui
jalur periwayatan lain.
62. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (II: 231),
katanya: "Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mas-har, dari Mukhtar bin Filfil,
dari Anas bin Malik.
Saya katakan: Sanad hadits ini jayyid. Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh
Muslim. Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai shahih hadits ini di dalam kitab Ad-Dirayah Fi
Takhrij Ahadits Al-Hidayah (1:124).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq di dalam kitab
Al-Mushannaf (III 136) melalui jalur periwayatan Qatadah, dari Anas, katanya: "Umar
pernah melihat wanita budak yang mengenakan pakaian menutup kepalanya. Lalu
Umar memukulnya sambil berkata, 'Kamu jangan menyerupai wanita-wanita merdeka!
m

Al-Hafizh berkata, "Sanad hadits ini shahih"
Saya katakan: Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah melalui jalur Az-Zuhri dari Anas
dengan lafazh semacam itu, dan sanadnya shahih juga.
Jilbab Wanita Muslimah — 113
'Apakah kamu sudah dimerdekakan?' Wanita tadi
menjawab, 'Belum.' Umar berkata, 'Mengapa kamu
memakai jilbab seperti itu? Tanggalkan jilbabmu dari
kepalamu! Jilbab itu hanya untuk wanita-wanita mukmin
yang merdeka.' Lalu budak wanita tadi berlambat-lambat
menanggalkannya. Lalu Umar pun berdiri menghampirinya
dengan marah, lalu memukul kepalanya. Kemudian wanita
tadi menanggalkan jilbab tadi dari kepalanya."
8. Dari Umar bin Muhammad,
61
bahwa ayahnya
menceritakan dari Sa'id bin laid bin Amru bin Nufail bahwa
Arwa pernah ber-
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muhammad di dalam kitab Al-Atsar (hlm. 39 - cet.
India) melalui jalur Ibrahim, bahwa Umar bin Khathab pernah memukul beberapa wanita
budak lantaran mereka mengenakan pakaian yang menutup kepalanya sambll berkata,
"Janganlah kalian menyerupai wanita-wanita merdeka!" Saya katakan: Hadits ini
mu'dhal. Namun dua sanad hadits dari Anas yang bersambung tadi sudah mencukupi.
Kemudian saya juga mendapatkan jalur periwayatan lain yang terdapat di dalam kitab
Sunan Sa'id bin Manshur (III: 2/74).
Pengambilan kesimpulan hukum dari atsar ini adalah bahwa dalam riwayat tersebut
Umar mengenali wanita budak tadi meskipun dia dalam keadaan tertutup seluruh
badannya dengan jilbab. Sehingga jelaslah bahwa wajah wanita tadi terbuka. Karena bila
tidak tentu Umar tidak akan bisa mengenalinya. Bila demikian halnya, perkataan Umar,
'Sesungguhnya jilbab hanyalah diperuntukkan bagi wanita-wanita merdeka' menjadi
dalil yang tegas bahwa jilbab tidak dipersyaratkan menutup wajah. Jika para wanita
generasi pertama dulu menutup wajahnya dengan jilbab tentu Umar tidak akan
mengatakan seperti itu. Kalau begitu, maka gabungkanlah atsar Umar ini dengan
atsar-atsar dari Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, Aisyah yang mengatakan bahwa
wajah wanita bukanlah aurat. 63. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (V: 58), Abu
Ya'la di dalam kitab Musnad-nya (II: 250/951)
Saya katakan: Atsar ini membantah orang-orang yang mengatakan, "Wajah wanita
adalah aurat, sehingga tidak boleh terbuka!" Kecuali bila mereka mengatakan bahwa
sesungguhnya bagian paling menarik dari wanita adalah kedua matanya. Sehingga bila
dia buta, maka hilanglah kecantikannya, sehingga tidak ada iagi daya tank yang bisa
menggoda laki-laki!
Kami jawab: Pernyataan mereka itu tidak tepat dalam mengambil pemahaman ter-
hadap perkataan Nabi : 'Apakah kalian berdua juga buta? Menurut kami alasan
seperti itu tentu lemah dan kurang tepat. Karena mengapa Anda membolehkan
wanita-wanita yang tidak buta menutup wajah mereka dengan cadar namun tetap
kelihatan bagian yang paling menarik dari diri mereka, (yaitu mata)?!
114—Jilbab Wanita Muslimah
sengketa dengannya mengenai sebagian dan rumahnya. Lalu dia,
(yaitu Sa'id) berkata, "Biarkan saja dia dan ayahnya begitu. Saya
mendengar Rasulullah pernah bersabda, 'Barangsiapa meng-
ambil sejengkal tanah yang bukan haknya, maka kelak di hari
kiamat dia akan ditindih dengan tujuh bumi.'
Wahai Allah, bila dia dusta, butakanlah penglihatannya dan
jadikanlah kuburan untuk (mengubur mayat)nya di
rumahnya."
Ayah Umar bin Muhammad berkata, "Maka, setelah itu saya
melihat dia ternyata benar-benar buta yang ketika itu sedang
mencari-cari tembok sambil mengatakan, 'Aku tertimpa doanya
Sa'id bin Zaid.' Dan tatkala dia sedang berjalan di dalam
rumahnya, lalu melewati sumur yang ada di rumahnya itu, dia
terjatuh ke dalamnya, yang akhirnya sumur itulah yang menjadi
kuburan baginya.'"
9. DariAtha'bin Abu Rabah,
64
bahwa dia berkata, "Aku pernah
melihat Aisyah sedang memilin kalung pengikat kambing yang
akan disembelih sebagai hadyu baginya."
{Al-hadyu ialah binatang sembelihan yang dagingnya dibagi-
bagikan oleh jamaah haji kepada para fakir-miskin di sekitar
baitullah. -pent.)
10. Dari Abdullah bin Muhammadbin Aqil,
65
katanya, "All bin Al-
Husain pernah mengutusku kepada Rubayyi' binti Mu'awwidz
untuk menanyakan tentang cara wudhunya Rasulullah karena
Rasulullah pernah berwudhu di sampingnya. Maka aku pun
datang menemuinya. Kemudian Rubayyi' mengeluarkan sebuah
64. Abdurrazzaq menuturkan: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Dzar, katanya,
"Saya mendengar Atha bin Abu Rabah...dan seterusnya". Begitulah yang tersebut
di dalam kitab At-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar (XVII: 221). Sanad hadits ini shahih.
Barangkali lantaran menolak hadits yang menunjukkan bahwa kedua telapak tangan
adalah bukan aurat, maka orang yang seperti itu akan mengatakan, 'Dia (Aisyah)
ketika itu memakai kaos tangan!'
65. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Humaidi di dalam kitab Musnad-nya (1:163/342), Ath-
Thabarani di dalam kitab Al-Mu'jam Al-Kabir (XXIV: 267/677) dan lainnya. Sanad
hadits ini hasan karena adanya khilaf yang diketahui pada Ibnu Aqil. Demikianlah
yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qathan (II: 35/2).
Jilbab Wanita Muslimah — 115
bejana yang berukuran satu mud, lalu dia berkata, 'Seukuran
inilah saya mengeluarkan air untuk digunakan beliau
berwudhu.'"
11. Dari Urwah bin Abdullah bin Qusyair,
66
bahwa dia pernah me-
ngunjungi Fathimah binti Ali bin Abi Thalib. Dia berkata, "Saya
melihat di tangan Fathimah terdapat gelang tebal, yang pada tiap-
tiap tangannya terdapat dua gelang." Dia berkata lagi, "Dan saya
juga melihat ada cincin di tangannya...."
12. Dari Isa bin Utsman, katanya, "Saya pernah berada di samping
Fathimah binti Ail. Lalu, datanglah seorang laki-laki memuji-muji
ayah Fathimah di depannya. Maka, Fathimah pun mengambil
abu, lalu dihamburkannya ke muka orang itu."
13. Dari Yahya bin Abi Sulaim,
67
katanya, "Saya pernah melihat
Samra' binti Nahik —dia adalah salah seorang yang pernah ber-
temu dengan Nabi — memakai baju yang tebal dan kerudung
yang tebal, sedangkan tangannya memegang cemeti. Dia sedang
member! nasehat kepada orang-orang, menyuruh mereka berbuat
baik dan melarang berbuat kemungkaran."
14. Dari Maimun, yaitu Ibnu Mahran,
68
katanya, "Saya pernah me-
ngunjungi Ummu Darda'. Saya melihat dia memakai kerudung
yang tebal yang dia julurkan dari atas alisnya. Di rumahnya
terdapat sebuah ruangan yang dapat saya tempuh dengan cukup
Ada hadits semisal terdapat di dalam kitab Shahih Abi Dawud (hadits no. 117). Di
dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Nabi berkata kepadanya,
'Tuangkanlah untukku (air) untuk berwudhu!" D\ dalam riwayat Ath-Thabarani
disebutkan, 'Tuangilah aku air untuk berwudhu!" Dan dalam riwayat lain disebutkan,
"Dan saya menuangkan air pada kedua telapak tangan beliau tiga kali."
66. Hadits no.11 dan no.12 keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 366) dan Ibnu
Asakir (XIX: 503). Sanad hadits pertama shahihdan yang kedua jayyid. Isa bin Utsman
ini dicantumkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqat-nya (VII: 233). Dan beberapa
ulama hadits lain meriwayatkan darinya.
67. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Kabir (XXIV: 311/785)
dengan sanad yang jayyid.
68. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Damsyiq (XIX: 562)
melalui jalur Al-Baghawi, katanya: Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Salim
Asy-Syasyi: Telah mengabarkan kepada kami Abu Malih, dari Maimun....
116—Jilbab Wanita Muslimah
berjalan sebentar. Tidaklah aku masuk pada waktu-waktu shalat
melainkan saya selalu mendapati dia sedang melakukan shalat."
15. Dari Mu'awiyah,
69
katanya, "Pernah saya bersama ayah saya
berkunjung ke Abu Bakar. Saya melihat Asma' berdiri di
dekatnya, dan (wajah Asma') nampak kelihatan putih. Lalu,
saya juga melihat Abu Bakar. Ternyata dia adalah seorang
laki-laki yang berkulit putih dan kurus."
16. Dari Uyainah bin Abdurrahman,
70
dari ayahnya, katanya,
"Pernah seorang wanita datang menghadap Samurah bin Jundub.
Dia menceritakan bahwa suaminya tidak lagi membelanjainya.
Lalu, suaminya ditanya. Ternyata dia mengingkari hal itu. Maka,
Samurah menulis surat kepada Muawiyah tentang masalah ini.
Dan Muawiyah pun membalasnya yang isi suratnya, 'Sesung-
guhnya istri dia itu makan dari baitul mal; dan dia adalah seorang
yang cantik lagi (baik) agamanya.' Si periwayat melanjutkan,
"Lalu Mu'awiyah.... Kemudian wanita itu datang dengan me-
ngenakan tutup kepala. "
71

Saya katakan: Ini adalah sanad yang shahih. Abu Malih nama sebenarnya adalah
Al-Hasan bin Umar Ar-Raqi, seorang periwayat tsiqah yang tercantum di dalam kitab
At-Tahdzib. Adapun Asy-Syasyi dinilai tsiqah oleh ibnu Hibban (Vlll:494); begitu juga
oleh Al-Khathib di dalam kitab At-Tarikh (X\: 161). Sedangkan Ummu Darda' adalah
istri Abu Darda', nama sebenarnya adalah Hujaimah; dan ada pula yang mengatakan
Juhaimah. Dia adalah seorang yang tsiqah, ahli fiqih dan ahli ibadah. Riwayat hidup
Ummu Darda' ini dipaparkan secara panjang lebar di dalam kitab At-Tarikh tersebut.
69. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Kabir (I: 10/25) dengan
sanad jayyid karena adanya beberapa hadits pendukung. Para periwayat hadits ini
adalah para periwayat tsiqah, kecuali gurunya Ath-Thabarani sendiri yang bernama
Al- Qasim bin Ibad Al-Khathabi. Ada empat hadits yang diriwayatkan darinya yang
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath (II: 3/1). Al-Haitsami berkata,
"Para periwayat hadits ini adalah para periwayat hadits shahih."
70. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi (VII: 228) dengan sanad hasan.
71. Sebelumnya saya masih agak bimbang sehingga akan memasukkan atsar ini ke
dalam golongan atsar yang menunjukkan adanya praktek menutup wajah yag dilaku-
kan oleh kaum wanita di zaman Nabi m- Akan tetapi sekarang telah nampak terang
bagi saya bahwa ternyata yang benar justeru sebaliknya. Sebab, yang namanya
taqannu' adalah perbuatan wanita menutup kepalanya, bukan menutup wajah, seba-
gaimana telah saya jelaskan pada mukadimah edisi ini. Atsar ini termasuk bukti-bukti
Jilbab Wanita Muslimah — 117
Hukum Menutup Wajah
Banyak para syaikh dewasa ini berpendapat bahwa wajah
wanita adalah aurat, sehinggatidak boleh atau haram dibuka.
Namun, penje-lasan di muka saya kira cukup untuk membantah
pendapat mereka.
Sebaliknya, ada kelompok ulama lain yang berpendapat
bahwa menutup wajah adalah bid'ah dan termasuk berlebih-
lebihan dalam beragama, sebagaimana yang saya dengar
pendapat itu dipegangi oleh orang-orang yang berpegang teguh
dengan Sunnah di negara Libanon.
Kepada saudara-saudaraku yang berpendapat demikian
saya sam-paikan penjelasan sebagai berikut: "Perlu diketahui,
bahwa menutup wajah dan kedua telapak tangan itu ada
dasarnya dari Sunnah, dan hal itu juga pernah dipraktekkan
oleh para wanita di zaman Nabi sebagaimana ditunjukkan
oleh sabda beliau kepada mereka,

"Janganlah wanita yang berihram itu mengenakan cadar
maupun kaos tangan. "
n

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menafsirkan surat An-
Nur ayat 59 berkata, "Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos
tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang
berihram. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup
wajah dan kedua tangan mereka."
yang tidak menyenangkan orang-orang yang fanatik terhadap madzhab-madzhab
mereka serta keras dalam memegang pendapatnya. Allah maha tahu segala yang
mereka lakukan dalam menetapkan batasan pakaian bagi wanita-wanita mereka.
Oleh karena itulah atsar ini saya cantumkan di sini. 72. Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IV: 42), An-Nasai (II: 9/10), Al Baihaqi (V: 46-47), Ahmad
(hadits no.6003) dari Ibnu Umar secara marfu'. Catatan: Kaos tangan adalah kain yang
dipakai oleh kaum wanita menutup jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan,
yang terkadang dipakai karena kedinginan atau karena keperluan tertentu seperti
menenun dan sebagainya. Kaos tangan ini dipakai di tangan sebagaimana khuf atau
kaos kaki yang dipakai di kaki. Sedangkan niqab adalah kain penutup yang menutup
wajah dari hidung atau dari bawah lekuk mata kebawah.
118 —Jilbab Wanita Muslimah
Banyak nas-nas yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi
^me-makai cadar untuk menutup wajah-wajah mereka. Di
antara hadits-hadits maupun riwayat-riwayat yang mendukung
pernyataan saya di atas adalah sebagai berikut:
1. Dari Aisyah/
3
katanya,
"Saudah pernah keluar untuk suatu keperluan. Ini terjadi
setelah turun ayat hijab
7A
. Dia adalah seorang wanita gemuk
dimana dia tidak bisa menyembunyikan diri dari orang yang
pernah mengenalnya (karena gemuknya). Umar melihat dia,
lalu berkata, "Wahai Saudah, demi Allah, kamu tidak bisa
menyembunyikan diri dari kami. Lihatlah, bagaimana kamu
ini keluar-keluar. Maka, Saudah pun bergegas pulang yang
ketika itu Rasulullah berada di rumah saya sedang makan
malam dan tangan beliau masih memegang tulang yang
masih tersisa sedikit dagingnya. Saudah masuk menemui Nabi
dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tadi keluar untuk
suatu keperluan. Namun Umar mengatakan kepada saya
begini-begini. Maka, Allah ta'ala menurunkan wahyu kepada
beliau . Dan masalah Saudah pun akhifnya terpecahkan.
Kemudian dengan masih memegangi tulang tadi, beliau
bersabda,

"Sesungguhnya kalian telah diizinkan keluar untuk
memenuhi keperluan kalian. "
75

73. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VIII: 430-431), Muslim (VII: 6-7), Ibnu Sa'ad
(VIII: 125-126), Ibnu Jarir (XXII: 25), Al-Baihaqi (VII: 88) dan Ahmad (VI: 56).
74. Hijab di sini maksudnya adalah tabir untuk para istri Nabi u yang disebutkan dalam
firman Allah: "Apabila kalian mempunyai keperluan dengan mereka hendaklah ber-
bicara dari balik tabir. Karena hal itu lebih menjaga kesucian hati-hati kalian dan hati-
hati mereka."Ayat ini turun berkenaan dengan perkataan Umar sebagaimana diriwa
yatkan oleh Al-Bukhari (Vlll:428) dan lainnya dari Anas yang berkata, 'Umar pernah
berkata, 'Wahai Rasulullah, yang mengunjungi engkau itu ada orang yang baik dan
ada pula orang yang jahat. Alangkah baiknya kalau engkau menyuruh Ummahatul
Mukminin untuk berhijab. Kemudian Allah menurunkan ayat ini.
75. Hadits ini menunjukkan bahwa Umar bisa mengenali Saudah dari badannya. Hal ini
menunjukkan bahwa dia dalam keadaan terbuka wajahnya. Karena Aisyah menye-
butkan bahwa Saudah bisa dikenali dari tubuhnya yang gemuk. Umar menginginkan
supaya Saudah tidak dapat dikenali orang, oleh karena itu dia tidak usah keluar saja
Jilbab Wanita Muslimah — 119
2. Dari Aisyah dalam qishah Al-lfki, katanya
76
:
"Tatkala saya sedang duduk di rumahku, tiba-tiba saya
mengantuk, lalu tertidur. Ternyata Shafwan bin Mu'athal As-
Silmi Adz-Dzakwani datang menjelang malam dengan
pasukan. Dia (dan pasukannya) pun menginap di rumahku.
Saya melihat bayangan hitam orang-orang tidur (di
kegelapan malam). Dia lalu datang menemui saya. Dia bisa
mengenali saya karena saya sendiri mengarahkan pandangan
kepada-
dari rumahnya. Akan tetapi Pembuat syariat (Allah) Yang Maha Bijaksana tidak
menghendaki gagasan Umar tadi, karena hal itu akan memberatkan. Al-Hafizh Ibnu
Hajar dalam menafsirkan hadits ini berkata, "Sesungguhnya Umar tidak ingin nantinya
ada orang-orang yang memandangi istri Nabi sehingga dengan jelas dia berkata,
'Buatkanlah hijab untuk istri-istri Engkau.' Usulan Umar tadi sangatlah perlu
sehingga turunlah ayat Hijab. Di samping itu Umar juga berkeinginan agar istri-istri
Nabi tidak usah keluar menampakkan dirinya, meskipun mereka memakai
jilbab. Akan tetapi usulan ini terlalu berlebihan sehingga Nabi pun menolaknya.
Nabi tetap membolehkan mereka keluar bila sewaktu-waktu ada keperluan agar
mereka tidak merasa kerepotan dan keberatan."
Al-Qadhi lyadh berkata, "Kewajiban berhijab yang dikhususkan bagi Ummahatul
mukminin (maksudnya: istri-istri Nabi ) adalah meliputi juga menutup wajah dan
kedua telapak tangan. Maka mereka tidak boleh membukanya meskipun untuk keper-
luan persaksian atau yang lainnya; dan mereka juga tidak boleh menampakkan wajah-
nya tersebut meskipun dalam keadaan berjilbab, kecuali karena keadaan darurat."
Al-Hafizh Ibnu Hajar (Vlll:530) berkata, "Kemudian dia mengambil dalil dari
hadits yang ada di dalam kitab Al-Muwatha' bahwa ketika Umar meninggal,
Hafshah ditutupi oleh para sahabat wanitanya agar tidak bisa dikenali orang.
Bahkan, Zainab binti Jahsy membuat penutup di atas tandunya agar tidak
dikenali orang. Sekian." Apa yang tersebut di atas bukanlah dalil (yang mapan) dari
orang yang menganggap menutup wajah adalah hukumnya wajib bagi para wanita.
Karena dalam kenyataan-nya sepeninggal Nabi para istri beliau berhaji dan
melakukan thawaf. Para sahabat dan orang-orang sesudahnya juga
mendengarkan hadits dari mereka, di-mana mereka hanyalah menutup seluruh
badannya (dengan pakaian), namun tidak menutup wajahnya. Dan telah tersebut di
muka —dalam masalah Haji— pertanyaan Ibnu Juraij kepada Atha' tatkala dia
menyebutkan thawafnya Aisyah: 'Itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab ataukah
sesudahnya?' Maka dia menjawab, 'Saya tahu persis kalau hal itu terjadi
setelah turunnya ayat hijab.' 76. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VIII:
194-197) dengan syarahnya pada kitab FathAI-Bari), Muslim (VIII: 113-118),
Ahmad (VI: 194-197), Ibnu Jarir (XVIII: 62-66) dan Abu Al-Qasim Al-Hanai di
dalam kitab AI-Fawa-id (IX: 142/2) yang sekaligus menilai hadits ini hasan.
Lafazh lain yang ada di dalam tanda kurung adalah yang terdapat di dalam
riwayat Al-Qasim Ai-Hana-i.
120—Jilbab Wanita Muslimah
nya; dan itu terjadi karena saya waktu itu belum
mengenakan hijab. Lalu saya bangun dan meminta dia
untuk kembali (ke tempatnya menginap) setelah dia bisa
mengenaliku. Maka, aku pun menutup (dalam riwayat ini
dengan lafazh: fa khamartu, sedangkan dalam riwayat lain
dengan lafazh: fa satartu. (Artinya sama: menutup —Pent.)
wajahku dengan jilbab agar tidak terlihat olehnya."
3. Dari Anas, dalam kisah Perang Khaibar dan terpilihnya
Shafiyah menjadi istri Nabi
77

Anas berkata, "Lalu, Rasulullah keluar dari Khaibar dan
belum ada tanda-tanda untuk memperistrinya. Namun tatkala
unta beliau yang hendak ditunggangi keluar Khaibar sudah
dekat, maka beliau me-nyodorkan pahanya agar Shafiyah
memancatkan telapak kakinya di atas paha beliau (untuk naik
ke unta). Shafiyah tidak mau. Dia hanya mau meletakkan
lututnya di atas paha Nabi . Nabi pun lalu menutupinya
dan memposisikan dia di belakang beliau (di atas unta).
Beliau menutupkan selendang beliau di atas punggung
dan wajah dia. Kemudian beliau mengikatkan selendang
itu dari bawah kaki dia. Lalu beliau pun berangkat. Beliau
memperlaku-kan dia sebagaimana memperlakukan istri-istri
beliau yang lain.
4. Dari Aisyah,
78
katanya,

77. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 86-87) dengan beberapajalur periwa-
yatan: dari Abu Hurairah, dari Abu Ghathafan bin Tharif Al-Mirri, dari Anas bin Malik,
dan dari Ummu Sinan Al-Aslamiyah.
Ibnu Sa'ad berkata, 'Antara satu hadits dengan hadits lainnya saling melengkapi.' Saya
katakan: Hadits serupa ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Anas
yang telah kami kemukakan di muka pada hlm. 109.
78. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (VI: 30), Abu Dawud, Ibnu Al-Jarud (hadrts no.418),
Al-Baihaqi di dalam kitab Al-Haj. Sanad hadits ini hasan karena adanya beberapa
hadits pendukung. Dan yang termasuk salah satu hadits pendukungnya adalah hadits
pada urutan sesudahnya. Kedua hadits ini juga termuat di dalam kitab Al Irwa' (hadits
no.1023 dan 1024)
Jilbab Wanita. Muslimah— 121
"Biasa para pengendara melewati kami yang sedang
berihram bersama Rasulullah . Maka, jika mereka lewat di
hadapan kami, maka masing-masing dari kami menjulurkan
jilbab yang ada di atas kepala untuk menutup muka.
Namun bila mereka sudah berlalu dari kami, maka kami
pun membukanya kembali seperti semula."
5. Dari Asma' binti Abu Bakar,
79
katanya,

"Kami biasa menutup wajah kami dari pandangan laki-laki
dan se-belum itu kami juga biasa menyisir rambut ketika
ihram."
6. Dari Shafiyah binti Syaibah,
80
katanya:

"Saya pernah melihat Aisyah melakukan thawaf mengelilingi
ka'bah dengan memakai cadar."
7. Dari Abdullah bin Umar,
81
katanya:

79. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (1:545). Dia berkata, "Hadits ini shahih, karena
para periwayatnya adalah biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim." Hal ini disepakati
oleh Adz- Dzahabi. Akan tetapi sebenarnya para periwayat hadits ini hanya dipakai
oleh Muslim saja.
Karena Zakaria bin Adi yang ada dalam sanad hadits ini dipakai oleh Al-Bukhari tidak
dalam kitabnya AI-Jami'Ash Shahih sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Tahdzib.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Malik (1:305) dari Fatimah binti Al-Mundzir.
80. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 49). Begitu juga oleh Abdurrazzaq di
dalam kitab AI-Mushannaf (V: 24-25) dari Ibnu Juraij, dari Al-Hasan bin Muslim, dari
Shafiyyah. Semua periwayat hadits ini tsiqah, kecuali Ibnu Juraij yang mudallis dan
meriwayatkan hadits ini dengan lafazh 'dari....'.
81. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 90). Katanya: Telah mengabarkan kepada
kami Ahmad bin Muhammad bin Al-Walid Al-Azruqi: Telah mengabarkan kepada kami
Abdurrahamn bin Abur Rijal dari dia, (yaitu Abdullah bin Umar).
122—Jilbab Wanita Muslimah
"Tatkala Nabi sedang memperhatikan Shafiyah, beliau
meiihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para
wanita. Dan beliau tahu kalau itu Aisyah dari cadarnya".
8. Oari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf
82
:
"Bahwa Umar bin Khathab memberi izin kepada para istri
Nabi untuk menunaikan haji yang terakhir kalinya. Umar
mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf
untuk menemani mereka." Ibrahim berkata, "Ketika itu
Utsman berseru:

Seluruh periwayat hadits ini tsiqah, namun ada keterputusan antara Abur Rijal dengan
Ibnu Umar. Akan tetapi ada hadits serupa yang mendukungnya yang diriwayatkan
oleh Atha' secara mursal. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Manshur bin Asakir
di dalam kitab Al-Arba'in fi Manaqib Ummahat AI-Mu'minin (hlm. 89). Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dengan dua jalur periwayatan lain yang sumbernya dari
Al-Waqidi, dimana dia ini salah seorang periwayat yang dha'if sebagaimana telah
disebutkan di muka.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad melalui jalur Al- Waqidi dengan sanad-
nya bahwa Hindun binti Utbah membuka cadarnya ketika berbaiat kepada Nabi
. Dan hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mandah melalui jalur periwayatan
lain sebagaimana tersebut di dalam biografinya di dalam kitab Al-lshabah (IV:
409). 82. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 152), katanya: Telah
meriwayatkan kepada kami Al-Walid bin Atha' bin Al-Aghar Al-Makki, katanya:
Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad, dari bapaknya, dari kakeknya,
bahwa Umar Ibnu Al-Khathab...dst.
Sanad hadits ini hasan. Para periwayat hadits ini adalah orang-orang tsiqah, dan biasa
dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.kecuali Al-Walid ini saja. Adz-Dzahabi menyebut-
kan tentang dia ini di dalam kitabnya Al-Mizan, yang diikuti oleh Al-Hafizh di dalam
kitab AI-LiSan. Keduanya berkata, "Ibnu Adi menyebutkan tentang dia. Tidak semesti-
nya dia dikatakan sedemikian itu. Karena dia itu telah dinilai tsiqah. Kemudian Al-
Walid menyampaikan hadits kepadanya. Lalu, Ibnu Adi pun berlepas diri dari hadits
yang dia sampaikan."
Namun ada riwayat lain dari Al-Waqidi yang menjadi penguat haditsnya Al-Walid ini
yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 151). Di dalam atsar ini disebutkan bahwa
para istri Nabi itu menutup wajah mereka. Akan tetapi atsar ini tidak menunjukkan
kewajiban hal tersebut atas mereka. Sehingga hal itu tidak bertentangan dengan
perkataan Al-Hafizh yang telah kami sebutkan tadi, bahwa mereka menampakkan
diri di depan para sahabat lain dalam keadaan tertutup seluruh badannya, namun
tidak tertutup wajahnya. Karena hal itu adalah merupakan suatu keperluan atau
Jilbab Wcmita Muslimah— 123
'Awas, jangan sampai ada seorang pun yang mendekati
mereka dan jangan ada seorang pun yang memandangi
mereka!'
Para istri Nabi tadi berada di dalam sekedup di atas unta.
Tatkala m'ereka turun untuk singgah, Utsman tempatkan
mereka di suatu dataran, sementara Utsman sendiri
bersama Abdurrahman bin Auf berada di balik bukit. Dan
tidak ada seorang pun yang naik ke tempat di mana mereka
tinggal."
Hadits-hadits yang saya sebutkan di atas secara jelas
menunjuk-kan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di
zaman Nabi dan istri-istri beliau pun mengenakannya.
Selanjutnya, hal semacam itu jugadipraktekanoleh wanita-
wanita shalehah sepeninggal mereka. Berikut ini akan saya
tampilkan dua contohnya:
1. Dari Ashim Al-Ahwal,
83
katanya,
"Kami pernah mengunjungi Hafshah bin Sirin
84
yang ketika
itu dia menggunakan jilbabnya sekalian untuk menutup
wajahnya. Lalu, saya katakan kepadanya, 'Semoga Allah
memberi rahmat kepadamu. Allah ta'ala telah berfirman:
kemudahan yang memang diberikan oleh Pembuat syariat. Perkatan Al-Hafizh di atas
nampaknya menyiratkan hal yang demikian ini. Wallahu a'lam. Ahmad (Vl:219)
telah meriwayatkan dari Yazid bin Babanus, katanya: Pernah saya dan bersama
sahabat saya datang ke Aisyah, lalu kami meminta izin masuk. Aisyah kemudian
memberikan bantal kepada kami, dan saya pun menutupkan tabir, Kemu-dian
sahabatku tadi berkata, "Wahai.Ummul Mukminin, bagaimana pendapatmu
tentang perkelahian.... dst.” Sanad hadits ini hasan.
83. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (VII: 93) melalui jalur Sa'dan bin Nashr: Telah
meriwayatkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ashim bin Al-Ahwal... dan
seterusnya.
Sanad hadits ini shahih. Sa'dan, nama aslinya adalah Sa'id. Namun dia lebih sering
dipanggil Sa'dan, sebagaimana disebutkan oleh Al-Khathib di dalam kitab Tarikh-nya.
Dia menyebutkan tentang ketsiqahan diri Sa'dan ini dari Daraquthni dan lainnya.
84. Dia adalah Ummu Hudzail Al-Anshariyah Al-Bashriyah, salah seorang tabi'iyah yang
utama. Dia hafal Al-Qur'an ketika berumur 12 tahun dan meninggal pada usia 70
tahun.
lyas bin Mu'awiyah berkata, Tidak ada seorang pun yang lebih saya utamakan
daripada Hafshah."
Dia meninggal pada tahun 101 H.
124—Jilbab Wtmita Muslimah

"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari
haidh dan menyusui) yang sudah tidak punya keinginan
nikah, tidaklah berdosa menanggalkan pakaian mereka."
85

85. Para ahli tafsir berbeda-beda dalam menafsirkan maksud perkataan ini. Namun
kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa yang dimaksud adalah 'jilbab', sebagai-
mana yang dikatakan oleh Hafshah ini.
Ibnu Abbas serta dari beberapa orang tabi'in. Dan penafsiran semacam itu juga
dibenarkan oleh Al-Qurthubi.
Jabir bin Zaid (dia seorang yang tsiqah lagi ahli dalam hal fikih, yang meninggal tahun 93
H.) mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah 'khimar'. Ibnu Jarir dan Abu Bakar
Al Jashash (111:411) meriwayatkan penafsiran semacam itu. Boleh jadi sandarannya
adalah sebagaimana yang tersebut di dalam tafsir Al-Qurthubi:
"Orang Arab mengatakan: imra-atun wadhi’ adalah untuk seorang perempuan yang
sudah tua yang menanggalkan khimar-nya."
Hal itu dikuatkan lagi bahwa ayat ini disebutkan oleh Allah dalam surat An-Nur sesu-
dah disebutkannya ayat yang menyuruh kaum wanita untuk mengenakan khimar
secara mutlak. Lalu, seakan-akan Allah hendak mentaqyidnya, lalu menurunkan ayat
ini. Wallahu a'lam.
Kemudian saya juga melihat bahwa Ibnu Abbas menjelaskan ayat di atas dengan
makna demikian, dan bahwa ayat: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah ter-
henti (dari haidh dan menyusui) yang sudah tidak punya keinginan nikah, tidaklah
berdosa menanggalkan pakaian mereka asal tidak dengan maksud menampakkan
perhiasan"'adalah merupakan pengecualian dari ayat yang memerintahkan mengena-
kan khimar.
Penafsiran Ibnu Abbas di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no.4111) dan
Al-Baihaqi (VII: 93) dengan sanad hasan.
Yang jelas bahwa Jabir bin Zaid menerima penafsiran semacam itu dari Ibnu Abbas.
Dia memang termasuk orang yang banyak meriwayatkan tentang Ibnu Abbas. Boleh
jadi inilah penafsiran yang tepat untuk lafazh: tsiyabahunna (pakaian mereka) yang
dalam bentuk jamak.
Saya juga melihat bahwa Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As Sa'di menafsirkan
semacam itu. Dia berkata di dalam kitab tafsir-nya (V: 445): "Yakni, pakaian yang
tampak, seperti khimar dan sejenisnya yang sebelumnya telah Allah tetapkan untuk
Jilbab Wanita Muslimah— 125
Ashim berkata kepada kami, 'Lalu dia mengatakan kepada
kami, 'Apa lagi sesudah itu?' Kami menjawab,'.. dan kalau
mereka mau menjaga kesucian dirinya itu akan lebih baik bagi
mereka." Dia kemudian . berkata, 'Ayat itu menetapkan
adanya aturan hijab.'"
86

dikenakan oleh wanita sebagaimana tersebut di dalam ayat: '.... dan hendaklah
mereka menutupkan khimar mereka ke dadanya'.
Al-Hafizh Abu Al-Hasan Al-Qathan juga telah menyampaikan .penjelasan yang sama di
dalam kitabnya An-Nazharila Ahkam An Nazhar. 86. Sebagian dari ulama muta-
akhirin mendukung apa yang telah kami sebutkan di atas dengan satu hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:389) melalui jalur Farj bin Fadhalah, dari Abdul Khabir
bin Tsabit bin Qais bin Syammas, dari bapaknya, dari kekeknya yang berkata:
"PernahseorangperempuanyangbemamaUmmuKhalad datang kepada Nabi
dengan mengenakan cadar menanyakan perihal anaknya yang mati terbunuh. Lalu
sebagian sahabat Nabi M menegurnya, 'Kamu datang untuk menanyakan perihal
anakmu, sementara kamu datang dalam keadaan bercadar?' Dia menjawab, 'Bila
anakku mendapatkan musibah, maka tidakakan bergunalah rasa maluku ini.' Rasulullah
pun berkata, 'Anakmu mendapatkan dua pahala mati syahid.'Dia menjawab,
'Mengapa begitu, wahai Rasulullah?'Beliau m menjawab, 'Karena anakmu dibunuh
oleh seorang Ahli kitab.'"
Ini merupakan nas yang jelas mengenai keutamaan cadar, yang dengan memakai
cadar seperti itu tergolong menjaga rasa malu. Perbuatan dia ini disetujui oleh
Rasulullah *.
Akan tetapi kita tidak bisa berhujjah dengan hadits dengan sanad semacam ini, karena
Al-Bukhari berkata: "Abdul Khabir ini, bila diambil riwayatnya oleh Farj bin Fadhalah,
maka haditsnya laisa bil qaim (lemah). Farj sering meriwayatkan hadits-hadits
mungkar."
Abu Hatim Ar-Razi berkata, "Abdul Khabir, haditsnya laisa bilqaim(\emar)), munkarul
hadits (tertolak), sebagaimana tersebut di dalam kitab Mukhtashar Al-Mundziri (III:
359)."
Di sisi lain di dalam kitab TsiqahAI-'Ajali(h\m. 322, cetBeirut) pada bahasan biografi
Ubaid bin Umar Al-Makki disebutkan: "Ada seorang wanita cantik yang tinggal di
Mekkah bersama suaminya. Suatu hari dia melihat wajahnya di cermin, lalu berkata
kepada suaminya, Apakah engkau tahu ada seorang yang meskipun melihat wajahku
ini namun tetap tidak tergoda?' Suaminya menjawab, 'Ya, saya tahu.' Dia bertanya,
'Siapa?' Suaminya menjawab, 'Dia adalah Ubaid bin Umair.' Istrinya berkata lagi,
'Izinkanlah aku untuk mencoba menggodanya!' Suaminya berkata, 'Ya, aku mengizin-
kan.' Kemudian wanita tadi pun datang kepada Ubaid dan meminta fatwa kepadanya.
Keduanya lalu berduaan di salah satu sudut masjidil haram. Wanita tadi berkata, 'Saya
buka wajahku bagai sepotong rembulan.' Lalu, Ubaid pun menegur, 'Wahai hamba
Allah, bertakwalah kepada Allah....'"
126—Jilbab Wanita Muslimab
2. Dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Musa Al-
Qadhi,
87

katanya,
"Aku pernah menghadiri majlisnya Musa bin Ishaq Al-Qadhi
yang menjadi hakim di kota Rai pada tahun 286 H. Ketika itu
ada seorang perempuan mengadukan persoalan karena
walinya mengklaim bahwa suaminya masih mempunyai
hutang mahar sebesar lima ratus dinar, namun dia tidak
mengakuinya.
Musa Al-Qadhi berkata, 'Manasaksi-saksinya?'
Wanita itu berkata, 'Itu, sayatelah mendatangkan saksi-
saksinya.'
Maka sebagian saksi-saksi yang ada itu diminta menghadap
kepada wanita tadi untuk memberikan persaksiaannya.
Lalu, salah seorang di antara para saksi itu berkata kepada
wanita tadi, 'Bangunlah!'
Melihat hal itu suaminya berkata, 'Apa yang kalian
lakukan?'
Catatan:
Tidak diragukan lagi bahwa yang namanya wajah adalah sebagaimana telah saya
sebutkan di muka dan sebagaimana terkenal di dalam kitab-kitab fikih, yaitu batasnya
dari tempat tumbuhnya rambut kepala bagian depan hingga bawah dagu dan mulai
dari cuping telinga kanan hingga cuping telinga kiri. Pengertian seperti itulah
yang telah disebutkan oleh para ahli bahasa menurut arti asalnya.
Al-Ashfahani berkata di dalam kitab Mufradat-nya, "Wajah adalah anggota badan.
Karena wajah merupakan anggota badan yang pertama kali bisa Anda tatap dan
merupakan bagian yang paling mulia diantara anggota badan yang lain, maka kata
.wajah ini digunakan untuk menamai setiap segala sesuatu yang berada di depan,
yang paling mulia atau yang paling asasi."
Bila telah jelas masalahnya demikian, maka pendapat Al Ustadz Al-Maududi di dalam
tulisan bantahannya terhadap tulisan saya (hlm. 21) dimana dia berkata: "Adapun
yang namanya wajah, maka yang dimaksud bukanlah hanya bulatan wajah saja, akan
tetapi meliputi juga seluruh bagian telinga, menurut pengertian umumnya."
Begitulah kata dia. Saya tidak tahu apa dasarnya. Karena apa yang dia katakan itu
bertentangan dengan pendapat ulama bahasa dalam mendefinisikan wajah sebagai-
mana tersebut di atas; dan juga bertentangan dengan hadits Nabi yang cukup jelas
yang menyebutkan: "Kedua telinga adalah termasuk bagian dari kepala." Hadits ini
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari Ibnu Abbas dengan sanad shahih dan juga
terdapat banyak hadits lain yang mendukung sebagaimana saya sebutkan di dalam
kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Hlm. 40. 87. Riwayat ini diriwayatkan
oleh Al-Khathib di dalam kitab Tarikh Baghdad(XIII: 53).
Jilbab WanitaMuslimah— 127
Salah seorang wakil dari mereka berkata, 'Para saksi ini ingin melihat
istrimu dalam keadaan terbuka wajahnya, agar mereka dapat menge-
nalnya dengan jelas.'
Lantas suami wanita itu berkata, 'Saya mengaku di hadapan hakim
bahwa aku memang mempunyai hutang mahar seperti yang diklaim-
kan itu. Tetapi istri saya jangan disuruh untuk membuka wajahnya.'
Lalu istrinya pun menimpali, 'Saya pun bersaksi di hadapan hakim
bahwa saya telah menghibahkan mahar ini kepadanya dan saya telah
bebaskan dia dari (tanggungan mahar ini) di dunia dan di akhirat.'
Lalu, hakim berkata, 'Ini tercatat sebagai bentuk akhlak yang mulia.'
Berdasar dari apa yang telah saya sebutkan di atas dapatlah
diambil kesimpulan bahwa masalah menutup wajah bagi seorang
wanita dengan cadar atau yang sejenis itu seperti yang sekarang ini
dikenakan oleh para wanita yang menjaga dirinya adalah perkara
yang disyariatkan dan termasuk amalan yang terpuji, meskipun itu
bukan hal yang diwajibkan. Namun, yang mengenakannya berarti
dia telah melakukan suatu kebaikan dan yang tidak melakukannya
pun tidak berdosa.
Dari penjelasan di atas nampak teranglah syarat pertama dari
pakaian wanita bila dia keluar rumah, yaitu menutup seluruh badan-
nya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.
Catatan Penting:
Firman Allah ta'ala di dalam surat An Nurayat 31: "...atau
kepada kaum wanita mereka," maksudnya adalah kaum wanita
mukminat, sebagaimana dikatakan oleh Mujahid dan lainnya dari
kalangan ulama salaf. Berbeda dengan yang dikatakan oleh
ulama-ulama belakangan. Mereka berpendapat, bahwa maksud ayat
di atas adalah kaum wanita yang baik-baik, apakah muslimat
maupun kafir.
Di dalam kitabnya Fat-hu Al-Qadir (IV:22) Syaukani berkata,
"Disandarkannya kata 'nisa' (wanita-wanita) kepada mereka (yaitu:
kaum mukminat) menunjukkan bahwa yang di maksud adalah khusus,
yaitu wanita-wanita mukminat."
Di dalam kitab Al-Adab (hlm. 407 cet. Libanon) Al-Baihaqi ber-
kata, "Adapun mengenai perkataan 'nisa-ihinna' telah disampaikan
128—Jilbab Wanita Muslimah
kepada kami dari Umar bin Khathab bahwa dia pernah menulis surat
kepada Ubaidah bin Jarrah yang isinya: 'Sesungguhnya ada beberapa
kaum wanita dari kalangan kaum muslimin masuk ke tempat
pemandian yang di situ terdapat juga wanita-wanita Ahli kitab.
Oleh karena itu, laranglah mereka!'
Dalam riwayat lain Umarberkata

"Sesungguhnya tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat dilihat auratnya kecuali oleh wanita yang
seagama dengannya."
Riwayat pertama di atas diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam
kitab Sunan-nya (Vll:95) melalui jalur Isa bin Yunus, katanya, "Telah
meriwayatkan kepada kami Hisyam bin Al-Ghaz bin Rabi'ah Al-Jirsyi
dari Ubadah bin Nusai Al-Kindi, katanya, 'Umar pernah menulis....'"
Ibnu Jarir juga meriwayatkan hadits tersebut (XVIII:95).
Menurut saya, para periwayat hadits itu orang-orang yang bisa
dipercaya. Akan tetapi sanadnya munqathi' (terputus), karena Ubadah
tidak bertemu dengan Umar. Diantara Umar dan Ubadah, di dalam
sanad hadits tersebut terdapat Nusai, yaitu ayah Ubadah.
Begitu juga Sa'id bin Manshur. Dia juga meriwayatkan hadits itu
di dalam kitab Sunan-nya sebagaimana tersebut di dalam kitab Tafs/r
Ibnu Katsir (111:284). Dan dia juga meriwayatkan hadits lain melalui
jalur Al-Baihaqi, katanya, 'Telah mengabarkan kepada kami Ismail
bin lyasy, dari Hisyam Al-Ghaz, dari Ubadah bin Nusai, dari bapak-
nya, dari Al-Harits bin Qais, katanya, 'Umar pernah menulis....'
Para periwayat hadits di atas orang-orang yang dapat dipercaya,
kecuali Nusai. Tidak ada ulama hadits yang menilai dia sebagai
periwayat yang dapat dipercaya, kecuali Ibnu Hibban (V:482).
Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya At-Taqrib
menyatakan bahwa dia seorang periwayat yang majhul (tidak
dikenal).
Jilbab Wanita Muslimab— 129
Namun demikian, pengertian semacam itu, (yaitu nisa-ihinna
yang dimaksud para wanita mukminat —pent.) telah menjadi kese-
pakatan para ahli tafsirdan ahli tahqiq, seperti: Ibnu Jarir, Ibnu Katsir,
Syaukani dan ulama lainnya yang dalam menafsirkan ayat Al-
Qur'an mereka senantiasa berpegang pada hadits-hadits Nabi
Adapun pendapat para ulama khalaf tidak perlu kita
perhitungkan.
Bila telah jelas seperti itu, maka ketahuilah, adanya bahaya yang
sekarang ini menimpa kebanyakan orang kaya di kalangan orang-
orang Islam yaitu dengan adanya pembantu-pembantu wanita kafir
di rumah-rumah mereka. Sebab, akan sulit dihindari terjadinya fitnah
atau terlanggarnya syariat oleh suami-istri muslim tadi atau oleh salah
satu di antara keduanya (dengan adanya pembantu wanita kafir itu)!
Bahayanya terhadap suami jelas, yaitu dikhawatirkan akan terjadi-
nya perbuatan zina antara dia dengan pembantu tadi. Lebih-lebih bila
suami tidak memiliki sifat iffah (sifat menjaga kesucian diri) di hadapan
pembantu wanitanya itu karena pembantunya tadi wanita kafir
yang tidak tau halal dan haram. Al-Qur'an telah menjelaskan
bagaimana sikap dan perilaku ahli kitab (tentu termasuk juga
wanita-wanitanya) yang seperti itu. Lalu, bagaimana kalau yang
menjadi pembantu di rumah orang-orang Islam tadi wanita-wanita
Srilangka para penyembah berhala yang tidak mempunyai kitab?
Adapun bahayanya terhadap istri, jelas sulit sekali di zaman
sekarang ini para istri dan anak-anak perempuannya yang sudah
baligh untuk selalu berjilbab agar tidak terlihat oleh pembantu wanita-
nya yang kafir, sebagaimana mereka berjilbab agar tidak terlihat oleh
kaum laki-laki. Walaupun tentu ada saja yang bisa bersikap begitu,
yaitu orang-orang yang dilindungi oleh Allah. Namun jumlah mereka
sedikit sekali.
Mungkin saja para suami istri itu bisa selamat dari bahaya-bahaya
tadi. Akan tetapi, bisakah anak-anak mereka selamat dari pengaruh
tingkah laku dan kebiasaan mereka yang sudah dipastikan berten-
tangan dengan syariat agama kita? Itu pun kalau pembantu wanita
tadi tidak mempunyai keinginan busuk untuk merusak pendidikan
mereka dan membuat mereka ragu-ragu terhadap agama mereka. Dan
kasus semacam itu pernah saya dengar benar-benar terjadi.
130—Jilbab Wanita, Muslimah
Saya mendengar kabar, —benar tidaknya terpulang kepada
pembawa kabar— bahwa ada seorang mufti pernah ditanya tentang
hukum mengambil wanita sebagai pembatu rumah tangga. Mufti tadi
menjawab, "Boleh, sebab kedudukan pernbantu wanita tadi sama
dengan kedudukan wanita-wanita tawanan perang atau budak yang
secara syar'i boleh untuk dimiliki." Saya khawatir, jangan-jangan mufti
tadi lebih jauh lagi akan menganggap halal bersetubuh dengan pern-
bantu wanita tadi karena sudah disamakan dengan budak wanita yang
boleh disetubuhi oleh pemiliknya! Apalagi di sana sudah ada orang
yang berani menggugurkan hukuman had terhadap orang yang ber-
setubuh dengan pembantu wanitanya, meskipun seorang muslimah,
dengan alasan karena orang tadi telah membeli pembantu wanita
tersebut seperti halnya membeli budak!
Allahlah tempat kita memohon pertolongan; tiada daya dan ke-
kuatan bisa kita miliki, kecuali dengan pertolongan Allah.
Itulah hal-hal yang ingin saya sampaikan kepada manusia ber-
kenaan dengan masalah pakaian wanita yang harus menutup seluruh
badan, kecuali muka dan telapak tangan.
Semoga Allah menjadikan tulisan saya ini bermanfaat bagi orang
yang mungkin lalai akan adanya kewajiban ini dan semoga juga
bermanfaat bagi orang yang telah sengaja tidak mau melaksana-
kannya. Karena Allahlah sematayangmemberi taufiq dan petunjuk
kejalanyanglurus.
♦ ♦♦♦♦♦♦
Jilbab Wanita Muslimah — 131
T idakUntuk Berhias

ilbab disyaratkan tidak untuk berhias, berdasarkan firman
Allah ta'a/a yang tersebut di dalam surat An-Nur ayat 31:

"Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka."
Secara umum ayat ini mengandung larangan menghiasi pakaian
yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Ayat ini juga
dikuatkan oleh firman Allah yang tersebut di dalam surat Al- Ahzab
ayat 33:

"Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah!]uga, janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu!"
Juga berdasarkan sabda Nabi .
]

132—Jilbab Wanita Muslimah

"Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanya, (karena
mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka):
pertama, seorang laki-laki yang meninggalkan jama'ah dan
mendurhakai imamnya serta meninggal dalam
kedurhakaannya itu; kedua, seorang budak wanita atau laki-
laki yang melarikan diri meninggalkan pemiliknya, lalu dia
mati; ketiga, wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya,
dimana suaminya itu telah mencukupi kebutuhan
duniawinya, namun (ketika suaminya tidak ada itu) dia
bertabarruj. Ketiga orang itu tidak akan ditanya.™
Tabarruj adalah perbuatan wanita menampakkan perhiasan
dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya
ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan
syahwat laki-laki.
Jadi, maksud perintah mengenakan jilbab adalah perintah
untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian, tidaklah
masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan
wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias, sebagaimana
sering kita temukan.
Berkaitan dengan ini, Imam Adz-Dzahabi di dalam Kitab A/-
Kabair hlm. 131 berkata: "Di antara perbuatan yang
menyebabkan wanita akan mendapatkan laknat adalah:
menampakkan perhiasan emas dan mutiara yang berada di
balik niqab (tutup kepala)nya, memakai berbagai wangi-
wangian, seperti misik, anbar dan thib ketika keluar rumah,
memakai berbagai kain yang dicelup, memakai pakaian sutera,
memanjangkan baju dan melebarkan serta memanjangkan
88. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (1:119) dan Ahmad (VI: 19) dari Fadhalah bin
Ubaid. Sanad hadits ini shahih. As Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jami' menyatakan
bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad,
diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la, oleh Ath-habarani di dalam kitab Al-Kabir, oleh Al-
Baihaqi di dalam kitab Asy-Syu'ab. Al-Hakim berkata: "Hadits ini para periwayatnya
adalah para periwayat Al-Bukhari dan Muslim. Saya tidak melihat adanya cacat pada
hadits ini." Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. Sedangkan Ibnu Asakir menilai hasan
hadits ini di dalam kitab Madhu At-Tawadhu'(V: 88/1)
Jilbab WanitaMuslimah— 133
lengannya. Semua itu termasuk bentuk tabarruj yang dibenci Allah,
yang pelakunya akan mendapatkan murka Allah di dunia dan di
akhirat. Karena perbuatan-perbuatan tersebut banyak dilakukan oleh
kaum wanita, maka Rasulullah bersabda tentang mereka:

"Saya pernah menengok ke neraka, dan temyata kebanyakan peng-
huninya adalah kaum wanita."
Hadits ini adalah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Al-
Bukhari, Muslim dan lainnya dari Imran bin Hushain dan lainnya.
Ahmad dan lainnya dari Ibnu Amru secara marfu' menambahkan:
"... dan orang-orang kaya." Namun tambahan di atas mungkar
(tertolak), sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab Silsilah
Al-Ahadits Adh-Dha'ifah (hadits no.2800) jilid VI.
Saya katakan: Begitu kerasnya Islam melarang perbuatan tabarruj
sehingga disetarakan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri dan
perbuatan-perbuatan haram lainnya. Hal itu karena ketika
Rasulullah membai'at para wanita beliau menegaskan agar mereka
tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.
Abdullah bin Amru pernah mengisahkan:

Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai'at kepada Nabi
untuk masuk Islam. Nabi berkata, "Saya membai'at kamu untuk
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri,
tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat ke-
134—Jilbab Wanita Muslimah
dustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kedua
kakimu, tidak meratap, dan tidak bertabarruj seperti
dilakukan wanita-wanita jahiliyah dulu."
89

Namun perlu diketahui, bahwa sama sekali bukanlah
termasuk kategori perhiasan jika pakaian yang dipakai oleh
seorang wanita itu tidak berwarna putih atau hitam. Ini perlu
saya tegaskan, karena hal ini terkadang disalahpahami oleh
sebagaian kaum wanita yang ingin komitmen (dengan
agamanya). Alasannya adalah:
89. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (II: 196) dengan sanad hasan. Al-Haitsami di
dalam kitab Al-Majma' (VI: 37) berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani,
dan para perawinya orang-orang yang tsiqah."
Saya katakan: Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-
Thabarani, bukan Ahmad. Saya tidak tahu, apakah dia ini yang salah ataukah mungkin
salah cetak, karena As-Suyuthi di dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur (VI: 209) telah
menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Mardawaih saja.
Adapun berkenaan dengan kisah Nabi membai'at para wanita agar tidak beitabarruj
memang terdapat dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam
kitab Al-Kabir6ar\ Ibnu Abbas.
Al-Alusi di dalam kitab RuhAI-Ma'ani (V\: 56) berkata, "Selanjutnya, menurut hemat
saya, yang termasuk dalam kategori perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan
adalah pakaian yang biasa dipakai oleh kebanyakan kaum wanita untuk bermewah-
mewahan di zaman kita sekarang ini yang ditutupkan di atas pakaian biasanya yang
dipakai ketika mereka hendak keluar rumah. Contohnya adalah kerudung yang
disulam dengan benang sutera warna-warni dan ditambah pula dengan hiasan emas
dan perak kerlap-kerlip yang menyilaukan mata. Dan saya melihat para suami mereka
pun membiarkan saja istrinya keluar rumah mengenakan pakaian semacam itu dan
membiarkan mereka berjalan di sela-sela laki-laki lain. Hal ini bisa terjadi dikarenakan
kurangnya rasa kecemburuan dari para suami mereka. Kejadian semacam itu yang
sebenarnya merupakan musibah sudah menjadi pemandangan umum di sekitar kita.
Bencana lain yang juga sudah umum adalah para wanita tidak memakai jilbab di
hadapan saudara-saudara laki-laki suami mereka, sementara tidak ada kepedulian
sedikit pun dari para suami mereka dalam masalah ini. Bahkan, banyak terjadi para
suami menganjurkan istrinya untuk berbuat seperti itu. Kadang malah ada wanita yang
sebelumnya memakai jilbab, namun setelah beberapa hari menikah dan diberinya
sedikit perhiasan (oleh suaminya), dia pun tidak lagi memakai jilbabnya. Semua itu
jelas merupakan hal-hal yang tidak diizinkan oleh Allah fa'a/a dan Rasul-Nya. Dan
contoh-contoh perbuatan melanggar aturan syariat seperti banyak sekali. La haula
wala quwwata ilia billah."
Jilbab Wanita Muslimah— 135

"Parfum wanita adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi
baunya.... (Had its ini tersebutdi dalam kitab Mukhtashar Asy-
Syama’il, hadits no.188)
Kedua, adanya praktek para wanita sahabat yang memakai pakai-
an yang berwarna selain hitam dan putih....
Berikut ini saya kemukakan beberapa riwayatyang menunjukkan
hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di dalam
kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372):
1. Dari Ibrahim, yaitu Ibrahim An-Nakha'i, bahwa pernah dia ber-
sama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi
dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang
berwarna merah.
2. Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, "Saya pernah melihat Ummu
Salamah mengenakan baju dan pakaian panjang yang berwarna
kuning."
3. Dari Al-Qasim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash
Shiddiq, bahwa Aisyah pernah mengenakan pakaian yang ber
warna kuning, padahal dia sedang melakukan ihram.
4. Dari Hisyam, dari Fathimah bintu Al-Mundzir, bahwa Asma'
pernah memakai pakaian yang berwarna kuning padahal dia
sedang ihram.
5. Dari Sa'id bin Jubair bahwa dia pernah melihat sebagian dari istri-
istri Nabi ^thawaf mengelilingi ka'bah dengan mengenakan
pakaian berwarna kuning.
*******
136 —Jilbab Wanita Muslimah

Pertama, adanya sabda Rasulullah
^ ainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
ilbab disyaratkan harus terbuat dari kain yang tebal,
sebab yang namanya menutup tidak akan terwujud,
kecuali dengan bahan penutup yang tebal. Adapun bila kain
penutup tadi tipis, maka hanya akan menambah daya tarik bagi
si wanita yang me-ngenakannya atau malah menjadi perhiasan
baginya. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah ilbersabda:

"Pada akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita dari kalangan
umatku yang berpakaian, namun pada hakekatnya mereka
telanjang. Diatas kepala mereka seperti terdapat punuk unta.
Kutuklah mereka itu, karena sebenarnya mereka itu wanita-
wanita terkutuk."
Di dalam riwayat lainnya terdapat tambahan:
]

Jilbab Wanita Muslimah— 137
"Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan
mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium
dari jarak sekian dan sekian."
90

Ibnu Abdil Barberkata: "Yang dimaksud oleh Nabi adalah
para wanita yang mengenakan pakaian tipis yang
menggambarkan bentuk tubuhnya, belum menutup atau
menyembunyikan tubuh yang sebenarnya. Mereka itu
berpakaian, namun pada hakekatnya masih telanjang."
9
'
Dari Ummu Al-Qamah bin Abu Al-Qamah, dia berkata:
"Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar
mengunjungi Aisyah dengan mengenakan khimar tipis yang
masih menggambarkan keningnya. Lalu, Aisyah pun merobek
khimar yang dia pakai sambil berkata, 'Apakah kau tidak tahu
ayat yang telah diturunkan oleh Allah di dalam surat An-Nur?,'
kemudian mengambilkan khimar (lain yang tebal), lalu
dipakaikan kepadanya.'"
92

90. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam kitab Al Mu'jam Ash Shaghir (hlm.
232) melalui jalur periwayatan Ibnu Amr dengan sanad shahih. Sedangkan lafazh
lain hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur priwayatan Abu Hurairah.
Saya telah membahas kedua hadits di atas secara rinci dalam kitab Ats TsamarAI
Mustathab fi Fiqh As Sunnah wa Al Kitab, dalam kitab Silsilah AlAhadits Ash Shahihah
(no.1326), dan dalam kitab TakhrijAhaditsAIHalalwaAIHaram{no.85).
91. Perkataan Ibnu Abdil Bar ini dinukil oleh As-Suyuthi di dalam kitab TanwirAI-Hawalik
(III: 103).
92. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 46), katanya: Telah mengabarkan kepada
kami Khalid bin Mukhallad, katanya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin
Bilal, dari Al-Qamah bin Abu Al-Qamah, dari ibunya. Sanad ini, semua periwayatnya
adalah para periwayat yang biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim, kecuali Ummu
Al-Qamah, yang nama aslinya Mirjanah. Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqat-nya (V:
466) menyebutkan Ummu Al-Qamah ini. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata, "Dia tidak
dikenal."
Saya katakan: Periwayat semacam dia ini riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah,
namun bisa dijadikan syahid(penguat). Riwayat dari dirinya yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari adalah mu'allaq (tidak disebutkan urutan sanadnya, -pent.), sehingga tidak
berarti dia dianggap tsiqah oleh Al-Bukhari. Berbeda dengan apa yang disebutkan
oleh Al-Ustadz Al-Maududi di dalam tulisan bantahannya (hlm. 16). Dia keliru. Atsar
ini diriwayatkan juga oleh Malik (111:103) dari Al-Qamah namun lebih ringkas. Di
dalamnya disebutkan:"... Lalu Aisyah memakaikan kepadanya sebuah khimar
yangtebal."
138 —Jilbab Wanita, Muslimah
Dari Hisyam bin Urwah, bahwa Al-Mundzirbin Zubair
pernah datang dari Irak, lalu mengirimkan kepada Asma' binti
Abu Bakar sebuah pakaian marwiyyah (nama pakaran yang
terkenal di Irak) dan quhiyyah (kain tefiun dari Quhistan, suatu
daerah di kawasan Khurasan) yang ternyata tipis dan halus.
Peristiwa ini terjadi setelah dia mengalami kebutaan. Asma' pun
menyentuh kain-kain tadi dengan tangannya, lalu berkata,
"Huh, kembalikan kain-kain ini kepadanya!" Al-Mundzir merasa
keberatan, lalu berkata, "Wahai ibu, sesungguhnya pakaian ini
tidak tipis." Namun Asma' menjawab, "Memang tidak tipis, akan
tetapi masih bisa menggambarkan (lekuk tubuh)."
93

Ibnu Sa'ad dan Al-Baihaqi (11:235) meriwayatkan atsar ini melalui jalur Al-Qamah juga.
Adz-Dzahabi di dalam kitab Mukhtashar-nya tidak memberi komentar terhadap atsar
ini, tetapi terhadap atsar dengan sanad yang sama namun dengan redaksi lain dia
berkata, "Sanad atsar ini kuat." Meskipun perkataan dia ini perlu kita cermati, karena
ternyata di dalam kitabnya Al-Mizan dia mengatakan. "Ummu Al-Qamah tidak dikenal."
Perkataan Aisyah: "Apakah kau tidak tahu ayat yang telah diturunkan oleh Allah di
dalam surat An Wur?" menunjukkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan
pakaian yang tipis pada hakekatnya dia belum menutup tubuhnya, dan belum melak-
sanakan perintah Allah yang terdapat di dalam surat An-Nuryang ditunjuk oleh Aisyah
itu, yaitu "Dan hendaklah mereka kaum wanita menutupkan khimarnya ke dada
mereka." Jelas harus begitu, tidak diragukan lagi.
Catatan:
Atsar yang bersumber dari Ummu Al-Qamah ini adalah yang diriwayatkan oleh
Malik dan Ibnu Sa'ad. Sa'id bin Manshur dan Ibnu Mardawai^telah meriwayatkan
atsar semisal atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad itu, namun^idak menyebutkan
nama orang yang mengunjungi Aisyah. Ustadz Al-Maududi telah keliru, karena dia
mengatakan adanya riwayat lain selain yang diriwayatkan oleh Malik dari Ummu
Al-Qamah, " lalu menjadikan riwayat tadi sebagai pendukung dari riwayat Malik yang
telah disebut-kan, padahal sebenarnya jalur periwayatannya satu.
93. Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 184) dengan sanad shiahih
sampai kepada Al-Mundzir. Dia dicantumkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab
Tsiqat-nya (V: 420), dan dia mengatakan, "Muhammad bin Al-Mundzir mengambil
riwayat darinya." Saya katakan: Telah mengambil riwayat dari dia juga anak
saudaranya, yaitu Hisyam bin Urwah, sebagaimana tersebut di dalam sanad
atsar ini. Di dalam biografinya disebutkan bahwa dia telah meriwayatkan juga dari
istrinya, yaitu Fathimah binti Al-Mundzir bin Zubair. Di dalam kitab At-Ta’jil
diisebutkan bahwa dia telah meriwayatkan dari bapaknya dan telah mengambil
riwayat dari dia Falih bin Muhammad bin Al-Mundzir. Sedangkan Hakim bin
Hazzam pernah memberikan pujian baik kepadanya. ' Dengan demikian sanad
hadits ini adalah jayyid dan muffashil (bersambung).
Jilbab Wanita Muslimah— 139
Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahwa Umar bin Khathab
pernah membagikan baju qibthiyah
94
kepada orang-orang, kemudian
berkata, "Jangan kalian pakaikan baju-baju ini kepada istri-istri kalian!"
Namun ada salah seorang yang menyahut, "Wahai Amirul Mukminin,
saya telah memakaikannya kepada istri saya, dan telah aku pandangi
dari arah muka maupun belakang, yang ternyata pakaian tadi tidaklah
tergolong pakaian tipis." Maka Umar menjawab, "Sekalipun tidak
tipis, namun pakaian itu tetap menggambarkan (lekuk tubuh)."
95

Atsardi atas dan juga atsar sebelumnyamenunjukkan bahwa
pakaian yang tipis atau yang menggambarkan lekuk tubuh adalah
dilarang. Namun pakaian yang tipis lebih jelek dari pada pakaian tebal
yang masih menggambarkan lekuk tubuh. Oleh karena itulah Aisyah
pernah berkata, "Yang namanya khimar adalah yang bisa menyem-
bunyikan kulit dan rambut."
96

Syamisah berkata, "Saya pernah mengunjungi Aisyah yang
mengenakan pakaian siyad,
97
shifaq
96
, khimar serta nuqbah
99
yang
berwarna kuning.
100

94. Jenis pakaian Mesir yang tipis dan berwarna putih. Barangkali nama ini dinisbalkan
kepada suku Qibthi yang tinggal di negeri Mesir.
95. Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (II: 234-235). Dan dia berkata, "Sanad hadits
ini mursal." Yakni, adanya keterputusan periwayat antara Abdullah bin Abu Salamah
dan Umar bin Khathab. Akan tetapi para periwayat atsar ini orang-orang yang tsiqah.
Lagi pula dikuatkan oleh perkataan Al-Baihaqi sendiri di akhirnya, "Atsar ini diriwayat
kan pula oleh Muslim Al-Bithin dari Abu Shalih, dari Umar."
96. Al-Baihaqi menyebutkan atsar ini secara mu'allaq (tidak bersanad), dan dia berkata,
"Kami telah meriwayatkan dari Aisyah, bahwa dia pernah ditanya mengenai khimar,
lalu dia menjawab:.... (seperti perkataan diatas).
97. Begitulah yang telah saya nukil dari asalnya. Namun tidak jelas bagiku makna kata
tersebut. Barangkali sejenis kain bergaris-garis kuning atauada campuran sutera.
98. Di dalam kitab Lisan AI-'Arab disebutkan, Shifaq; adalah 'pakaian yang tebal dan kuat
yang tenunannya bagus'. Di dalam kitab Al-Qamus disebutkan, Shifaq adalah pakaian
yang tebal’.
99. Nuqbah ialah 'pakaian sejenis sarung yang kuat seperti bahan celana panjang',
sebagaimana disebutkan di dalam Al-Munjid dan di dalam Al-Qamus.
100. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 70) dengan sanad shahih sampai kepada
Syamisah, yaitu Syamisah binti Aziz bin Amir Al-Atakiyah Al-Bashriyah. Al-Hafizh
berkata, "Dia maqbulah (diterima riwayatnya)."
140—Jilbab Wanita Muslimah
Karena itulah para ulama mengatakan, "Diwajibkan menutup
aurat dengan pakaian yang tidak menggambarkan warna kulit, yaitu
dengan bahan yang tebal atau yang terbuat dari kulit binatang; dan
bila hanya menutup aurat dengan pakaian tipis yang masih meng-
gambarkan warna kulit maka itu tidak boleh, karena hal itu tidak
memenuhi kriteria 'menutup'."
101

Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam k\tab Az-Zawajir (\-A 27) telah
membuat bab khusus tentang wanita yang mengenakan pakaian tipis
yang masih menggambarkan warna kulitnya yang mana hal seperti
itu termasuk dosa besar. Kemudian dia menyebutkan hadits: "Pada
akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita dari kalangan umatku
yang berpakaian, namun pada hakekatnya mereka telanjang..
dst...., lalu berkata: "Memasukkan perbuatan tersebut sebagai salah
satu dosa besar sudah jelas lantaran perbuatan tersebut diancam
dengan ancaman yang keras. Lagi pula perbuatan tersebut mudah
difahami menyerupai laki-laki."
Saya katakan: Hadits-hadits yang melaknat wanita-wanita yang
menyerupai laki-laki akan disampaikan ketika membicarakan: Syarat
Keenam.
♦ ♦♦♦♦♦♦
101. Perkalaan ini disebutkan di dalam kitab AIMuhadzdzab(\l\: 70- disertai syarahnya,
yaitu kitab Syarhu Al-Majmu')
JilbabWanita Muslimah— 141
^ ainnya Harus Longgar, Tidak Ketat
ilbab disyaratkan harus longgar, karena maksud dan
tujuan (seorang wanita) berpakaian tidak lain adalah
untuk menghilangkan fitnah (ketertarikan laki-laki asing). Hal itu
tidak mungkin terwujud kecuali dengan potongan yang longgar.
Karena pakaian yang ketat, meskipun bisa membuat tertutupnya
warna kulit, namun tetap dapat menggambarkan lekuk tubuhnya
sehingga masih akan menggoda pandangan laki-laki. Bila pakaian
wanita seperti itu keadaannya niscaya akan mengundang banyak
kemaksiatan dan menimbulkan kerusakan bagi laki-laki yang
melihatnya. Oleh karena itulah pakaian wanita mesti harus
longgar, tidak ketat.
Usamah bin Zaid pernah berkata:

]
142—Jilbab Wanita Muslimah
"Pernah Rasulullah memberi saya baju qibthiyah yang tebal
hadiah dari Dihyah Al-Kalbi. Baju itu pun saya pakaikan pada
istri saya. Nabi bertanya kepada saya, 'Mengapa kamu tidak
pernah memakai baju qibthiyah?' Saya menjawab, 'Baju itu
saya pakaikan istri saya.' Beliau lalu berkata, 'Perintahkan
istrimu agar memakai baju dalam ketika memakai baju
qibthiyah, karena saya khawatir baju qibthiyah itu masih
bisa menggambarkan bentuk tulangnya. ""
02

Rasulullah memerintahkan agar wanita yang memakai
baju qibthiyah itu juga memakai pakaian dalam agar tidak
nampak lekuk tubuhnya. Perintah pada asalnya wajib,
sebagaimana ditetapkan dalam ilmu Ushul Fikih. Oleh karena
itulah, Asy-Syaukani berkata, "Hadits ini menunjukkan wajibnya
seorang wanita memakai pakaian yang menutup seluruh
badannya dengan pakaian yang tidak menggambarkan bentuk
tubuhnya. Ini menjadi syarat dari pakaian yang merupakan
penutup aurat. Rasulullah memerintahkan agar istri Usamah
mengenakan pakaian dalam di balik baju qibthiyahnya itu,
karena biasanya baju qibthiyah itu tipis sehingga tidak bisa
menyembunyikan warna kulit dari pandangan orang atau paling
tidak akan menggambarkan lekuk tubuhnya."
Asy-Syaukani, sebagaimana bisa kita lihat, membawa
hadits tersebut kepada pembicaraan sebuah pakaian tipis yang
tidak dapat menyembunyikan terlihatnya warna kulit.
Sebenarnya hadits ini lebih tepat dia tempatkan pada
pembahasan syarat sebelumnya, yaitu syarat ketiga. Karena di
dalam hadits tersebut disebutkan bahwa pakaian qibthiyah tadi
bahannya tebal namun masih bisa menggambarkan lekuk
tubuh.
Pendapat Asy-Syaukani diatas lemah, karena:
Pertama. Hadits tersebut menjelaskan bahwa baju
qibthiyah yang beliau Sberikan kepada Usamah adalah baju
qibthiyah yang tebal.
102. Hadits ini diriwayatkan oleh Adh Dhiya' Al Maqdisi dalam kitab Al Ahadits AI
Mukhtarah (1/441), Ahmad, Al Baihaqi dengan sanad hasan. Hadits ini mempunyai
hadits pendukung yang diriwayatkan dari Dihyah Al Kalbi sendiri, yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud, Al Baihaqi, dan Al Hakim. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Hakim.
Dalam hadits ini ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Dan kami telah
membahasnya secara rinci dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab fi Fiqh As
Sunnah wa Al Kitab.
Jilbab Wanita Muslimah— 143
Baju seperti itu bagaimana bisa menggambarkan warna kulit dan tidak
dapat menutupinya dari pandangan manusia?! Barangkali Syaukani
lupa adanya kata "tebal" pada hadits tersebut, sehingga dia menafsir-
kan pakaian qibthiyah sebagaimana pakaian qibthiyah pada umum-
nya, yaitu tipis.
Kedua. Nabi sendiri menjelaskan sebab pelarangannya
adalah karena kekhawatiran beliau dengan pakaian qibthiyah
tadi, yaitu dengan mengatakan: "...karena saya khawatir baju
qibthiyah itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." Ini
adalah merupakan bukti yangjelas bahwa yang dihindari tidak lain
adalah ternampakkannya lekuk tubuh, bukan warna kulitnya.
Jika Anda bertanya: Jika permasalahnnya sebagaimana yang Anda
katakan, padahal pakaian qibthiyah tadi tebal, lalu apa gunanya
pakaian dalam yang beliau perintahkan untuk dipakai?'
Jawabnya: Gunanya adalah untuk menghindarkan diri dari hal
yang dikhawatirkan Nabi - Karena baju qibthiyah tersebut, meski-
pun tebal, terkadang masih menggambarkan lekuk tubuh, .karena dia
memiliki karakter lembut dan lentur di tubuh seperti pakaian yang
terbuat dari sutera atau tenunan dari bulu domba yang dikenal di
zaman kita sekarang ini. Jadi, Rasulullah memerintahkan istri
Usamah untuk memakai pakaian dalam tidak lain karena hal ini.
Wallahu a'lam.
Para pengikut madzhab Syafi'i memiliki pendapat aneh. Mereka
mengatakan: "Jika pakaian itu dapat menutupi warna kulit, meskipun
masih menggambarkan lekuk tubuh, maka hal itu tidak mengapa
seperti misalnya memakai celana panjang yang ketat."
103

103. Perkataan ini disebutkan oleh Ar-Rafi'i di dalam kitab Syarhu Al-Muhadzdzab (V:
92,105).
Komentar saya: Berdasarkan pendapat mereka ini berarti dibolehkan bagi pare wanita
sekarang ini untuk keluar rumah mengenakan pakaian ketat yang melekat pada
tubuhnya dan dapat menggambarkan lekuk tubuh secara jelas, sehingga orang yang
berada di kejauhan pun akan mengira bahwa dia telanjang, contohnya seperti pakaian
stoking yang dapat menggambarkan bentuk kedua betis dan kedua paha dan men-
jadikannya semakin indah, bahkan pakaian cawat yang dapat menggambarkan
anggota tubuh itu sendiri. Sekiranya mereka memakai pakaian semacam itu, menurut
144—-Jilbab Wanita Muslimah
Mereka juga mengatakan: "Adalah mustahab bila seorang wanita
melakukan shalat dengan mengenakan baju yang longgar dan khimar,
serta memakai jilbab yang tebal di atasnya sehingga melebar ke
seluruh tubuhnya dan lekuk tubuhnya pun menjadi tidak jelas."
Pendapat di atas yang mengatakan hanya mustahab saja berarti
menafikan adanya perintah di dalam hadits, padahal pada asalnya
yang namanya perintah menunjukkan wajib.
pendapat mereka dibolehkan dengan alasan bahwa pakaian tersebut telah menutupi
kulitnya, meskipun memberikan warna yang lebih indah dan elok dari kulit asli si
pemakainya!! Adakah seorang muslim yang berani mengatakan bolehnya mengena-
kan pakaian semacam itu? Ini merupakan satu bukti wajibnya kita berijtihad, tidak
hanya selalu taklid. Namun, adakah yang mau mengambil pelajaran?!! Pada
kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan: Banyak di antara para remaja mukmin
yang beriebihan dalam menutup bagian atas badan, yakni kepala, menutup rambut
dan dada, namun mereka tidak menutup bagian tubuh lainnya, sehingga mereka
pun mengenakan pakaian yang ketat dan pendek yang panjangnya tidak sampai
melampaui betis. Atau, menutup anggota tubuh yang lain tadi dengan stoking yang
hanya menambah keelokannya saja. Terkadang ada di antara mereka yang
melakukan shalat dengan mengenakan pakaian seperti itu. Jeias, hal ini tidak diboleh-
kan. Mereka wajib segera menyempumakan cara menutup badan sebagaimana yang
diperintahkan oleh Allah dengan meneladani kaum wanita muhajirin yang ketika turun
perintah menutupkan khimar lantas mereka merobek pakaian mereka untuk dijadikan
khimar. Namun kami tidak menuntut para remaja mukminah untuk merobek sebagian
pakaiannya seperti wanita muhajirin tadi. Yang kami tuntut adalah agar mereka
memanjangkan dan melonggarkan pakaiannya sehingga menjadi sebuah pakaian
yang menutup seluruh tubuh yang telah diperintahkan oleh Allah untuk mereka tutup.
Kami sering melihat banyak remaja mukminah tertipu oleh sebagian orang yang
mengaku sebagai da'iyyah. Mereka mempopulerkan pakaian pendek yang hanya
sampai separoh betis, lalu mengenakan kaos kaki yang jelas menggambarkan bentuk
dari separoh betis lainnya, dan hanya mengenakan khimar saja di atas kepala mereka
tanpa mengenakan jilbab di atas khimar tersebut sebagaimana tersebut di dalam Al-
Qur'an yang telah dijelaskan di muka. Dengan perbuatannya yang seperti itu mereka
tidak merasa bahwa mereka akan dikumpulkan bersama kelompok yang telah dise-
butkan oleh Allah ta'ala dalam firman-Nya:"...sedangkan mereka menyangka telah
berbuat sebaik-baiknya."(QS. Al-Kahfi: 104). Kepada mereka yang masih mau ikhlas
saya sampaikan nasehat ini agar dalam mengikuti Al-Qur'an dan Assunnah tidak
dipengaruhi oleh sikap taklid kepada suatu kelompok atau syaikh. Allah ta'ala telah
berfirman: "Ikutilah apa-apa yang telah diturunkan untuk kalian dari Tuhan kalian, dan
janganlah mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit di antara kalian
yang mau mengambil pelajaran darinya. "(QS. Al-A'raf: 3)
Jilbab Wanita Muslimah— 145
















Sebenarnya pendapat Imam Syafi'i sendiri di dalam k\tab Al-Umm
dekat dengan pendapat yang kami pegangi. Dia berkata (1:78): "Jika
seseorang menunaikan shalat dengan mengenakan gamis tipis, maka
itu tidak dibolehkan. Jika menunaikan shalat dengan
mengenakan gamis yang tidak tipis namun masih menggambarkan
lekuk tubuhnya, maka itu makruh hukumnya, namun tidak ada
keharusan baginya untuk mengulangi shalatnya. Larangan
terhadap wanita yang shalat dengan mengenakan baju dan khimar
yang masih menggambarkan lekuk tubuhnya lebih keras dibanding
larangan terhadap laki-laki yang shalat mengenakan pakaian yang
agak ketat. Dan saya suka jika wanita itu shalat memakai jilbab yang
memanjang menutupi baju-baju dalamnya tadi agar tidak
menggambarkan lekuk tubuhnya.
Aisyah pernah berkata: "Seorang wanita ketika menunaikan shalat
harus mengenakan tiga pakaian, yaitu baju, jilbab dan khimar. Adalah
Aisyah pernah shalat dengan memanjangkan kain sarungnya untuk
diajadikan jilbab."
104

Aisyah melakukan hal itu tidak lain agar tidak ada sedikit pun
bagian pakaiannya yang menggambarkan lekuk tubuhnya. Perkataan
Aisyah "harus" merupakan bukti wajibnya hal itu.
Pendapat senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar: "Bila
wanita shalat maka harus mengenakan pakaiannya secara
lengkap, yaitu baju, khimar dan pakaian yang menyelimuti seluruh
tubuhnya."
105

Ini semua menguatkan pendapat kami di muka mengenai wajib-
nya wanita mengenakan khimar sekaligus jilbab ketika hendak keluar
rumah.
Alangkah baiknya juga kami kemukakan sebuah atsar yang di-
riwayatkan dari Ummu Ja'far bintu Muhammad bin Ja'far, bahwa
Fathimah binti Rasulullah pernah berkata: "Wahai Asma', svsung-
guhnya aku memandang buruk seorang wanita yang mengenakan
pakaian namun masih menggambarkan lekuk tubuhnya." Asma'
104. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 71) dengan sanad shahih dan para
perawinya biasa dipakai oleh Muslim.
105. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al- Mushannaf (II: 26/1)
dengan sanad shahih.
146—Jilbab Wanita Muslimah
menjawab, "Wahai putri Rasulullah maukah saya perlihatkan
kepadamu sesuatu yang pernah saya lihat di negeri Habasyah?" Lalu
Asma' membawakan bebera papelepah daun kurma yang masih
basah, kemudian dia bentuk menjadi pakaian lalu dia pakai. Fathimah
berkata, "Betapa baiknya dan betapa eloknya pakaian ini,
karena dengan pakaian ini dapat dibedakan antara perempuan dan
laki-laki, jika saya mati nanti, maka saya minta dimandikan oleh kamu
bersama Ali dan jangan boleh ada seorangpun yang menengok
saya," Maka tatkala Fathimah meninggal, Ali dan Asma' yang
memandikannya.
106

106. Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam kitab/4/-H//ya/i (II: 43), dan lafazh ini
yang ada pada riwayat dia. Atsar ini juga diriwayatkan oleh-Al-Baihaqi (VI: 34-35),
dimana lafazh atsar yang ada pada riwayat Al-Baihaqi ini lebih lengkap. Di dalam
lafazh atsar ini disebutkan bahwa Asma' membuatkan usungan jenazah untuk
Fathimah sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Asma' kepada Fathimah.
Abu Nu'aim maupun Al-Baihaqi, keduanya meriwayatkan atsar ini melalui jalur Abu
Al-Abbas As-Siraj Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqafi, katanya: Telah meriwayatkan
kepada kami Qutaibah bin Said: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Musa Al-Makhzumi dari Aun bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib, dari ibunya, yaitu
Ummu Ja'farbinti Muhammad bin Ja'far'dari dari Imarah bin Muhajirdari Ummu Ja'far.
Atsar ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (III: 396) dengan potongan akhir lafazhnya:
"... Wahai Asma', bila aku meninggalnanti.. .dst" melalui jalur lain dari Qutaibah bin
Sa'id dan Abdullah bin Nafi' dari Muhammad bin Musa. Akan tetapi Ibnu Nafi' di dalam
sanad itu tidak menyebutkan nama Imarah bin Al-Muhajir. Ibnu At-Turkumani
berkata, "Di dalam sanad atsar ini terdapat beberapa periwayat yang perlu
dibeberkan keadaannya."
Saya katakan: Yang dia maksudkan adalah Al-Makhzumi, Auf bin Muhammad dan
Imarah. Saya tidak menemukan riwayat hidup mereka. Adapun Ummu Ja'far ada
disebutkan di dalam kitab TahdzibuAt-Tahdzibdaniuga kitab lainnyayang memakai
nama gelaran Ummu Aun.
Ada atsar dengan lafazh lain dari Asma' juga yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
di dalam kitab Al-Ausath bahwa pernah terjadi salah satu putri Rasulullah * mening-
gal. Biasanya orang-orang dalam mengusung jenazah laki-laki dan perempuan sama
saja yaitu memakai keranda semacam dipan. Lalu Asma' berkata, "Wahai Rasulullah,
saya pernah tinggal di negeri Habasyah dimana penduduknya adalah Nashara Ahlul
Kitab. Mereka membuatkan keranda jenazah (yang tertutup) untuk mayit perempuan
karena mereka tidak suka bagian dari mayat wanita tadi yang ternampakkan. Boleh-
kah saya membuat keranda jenazah semacam itu untuk putrimu?' Beliau men-
jawab, "Buatkanlah!" Dialah orang yang pertama kali membuat keranda jenazah dalam
Islam yang untuk pertama kalinya diperuntukkan buat Ruqayyah binti Muhammad
Jilbab Wtmita Muslimah— 147
Perhatikanlah sikap Fathimah yang merupakan tulang
rusuk Nabi bagaimana dia memandang buruk bilamana sebuah
pakaian itu dapat menggambarkan lekuk tubuh seorang wanita
meskipun sudah mati, apalagi yang masih hidup, tentu lebih-
lebih lagi.
Oleh karena itu, hendaklah wanita mukminah di zaman ini
mau merenungkan hal ini, terutama para wanita yang masih
memakai pakaian yang ketat yang menggambarkan bulatnya
buah dada, pinggang, betis dan anggota badan lainnya.
Selanjutnya, hendaklah mereka beristighfar kepada Allah,
bertobat kepada-Nya dan selalu mengingat sabda Nabi :

"Perasaan malu dan iman itu keduanya selalu bertalian; manakala
salah satunya hilang, maka hilang pulalah satu lainnya. "°
7

♦♦♦♦♦♦♦
Al-Haitsami berkata di dalam kitab Al-Majma'(\\l: 26), "Di dalam sanad hadits tersebut
terdapat Khalf bin Rasyid. Dia seorang periwayat yang majhul (tidak dikenal)." 107.
Haclits di atas diriwayaikan oteh Al-Hakim (1:22), Abu Nu'aim (IV: 297) dari Ibnu Umar. Al-
Hakim berkata, "Hadits ini shahih karena para periwayatnya para periwayat Al-
Bukhari dan Muslim.' Hal itu disepakati oleh Adz-Dzahabi. Memang begitulah keadaan
hadits tersebut sebagaimana yang keduanya katakan.
148—Jilbub Wanita Muslimah














g gg g idak Diberi Wewangian atau Parfum
llbab disyaratkan tidak diberi wewangian atau parfum
berdasarkan hadits-hadits yang melarang wanita
memakai wangi-wangian ketika mereka keluar rumah. Berikut ini
kami sampaikan beberapa hadits shahih yang berkait dengan
masalah ini.
1. Dari Abu Musa Al-Asy'ari bahwa dia berkata, "Rasulullah
bersabda:

'Perempuan yang memakai wewangian, lalu dia lewat dihadapan
laki-laki agar mereka mencium baunya, maka dia adalah pezina*.
108

108. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai (II: 283), Abu Dawud (II: 192), At-Tirmkbi (IV:
17 - yang telah diberi syarah oleh Mubarakfuri), Al-Hakim (II: 396), Ahmad (IV: 400,
413), Ibnu Khuzaimah (III: 91/1681) dan Ibnu Hiboan (no.1474-Mawarid). At-Trmiclzi
berkata, "Hadits ini hasan shahih." Al-Hakim berkata, "Hadits ini shahih sanadnya,"
dan Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataan tersebut. Menurut saya, hadits ini
hasan.
Jilbab Wanita Muslimab— 149
]
"jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid,
maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.'"
109

3. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah pernah
bersabda:

'Perempuan yang memakai bakhur (sejenis pewangi pakaian
pent), janganlah shalat Isya bersama karni.'""
110

4. Dari Musa bin Yasar, dari Abu Hurairah, bahwa pernah seorang
wanita berpapasan dengannya dan bau semerbak menerpanya.
Maka Abu Hurairah pun berkata, "Wahai hamba Allah, apakah
kamu hendak ke masjid?" Dia menjawab, "Ya." Abu Hurairah
berkata kepadanya, "Pulanglah dulu, kemudian mandi! Karena
saya mendengar Rasulullah bersabda:

'Bila seorang wanita ke masjid sementara bau wewangian
menghembus dari tubuhnya, maka Allah tidak akan
menerima shalatnya hingga dia pulang, lalu mandi, (baru
kemudian shalat ke masjid)."''
109. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di dalam kitab s/ia/w/rmasing-
masing. Juga diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan dan lainnya. Tentang sanad hadits
ini telah saya bahas di dalam kitab Ats-Tsamar AI-Mustathab dan di dalam kifab Ash-
Shahihah (hadits no. 1094).
110. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di kitab shahih-nya masing-
masing. Juga diriwayatkan oleh Ash-HabusSunan dan lainnya. Tentang sanad hadits
ini telah saya bahas di dalam kitab Ats-TsarharAI-Mustathab dan di dalam kitab Ash-
Shahihah (hadils no.1094).
111. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (III: 133,246) melalui jalur Auza'i dari Musa
bin Yasar. Sanad hadits ini shahih bila yang dimaksud dengan Ibnu Yasar di sini adalah
Al-Kalbi Al-Madani, karena dia memang mengambil riwayat dari Abu Hurairah. Namun
150—Jilbab Wanita Muslimah

2. Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah, bahwa Nabi pernah bersabda:
Pada hadits-hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa larangan
Nabi berkaitan dengan wewangian adalah sifatnya umum meliputi
pewangi badan maupun pewangi pakaian. Karena parfum atau we-
wangian selain digunakan untuk badan ada juga yang digunakan
untuk pakaian, lebih-lebih hadits ketiga yang menyebutkan 'bakhur'
yang jelas lebih banyak— bahkan khusus—digunakan untuk pakaian.
Sebab munculnya larangan Nabi jelas, yaitu karena hal itu akan
membangkitkan nafsu birahi. Hal-hal lain yang biasa dilakukan
oleh wanita yang dikategorikan oleh para ulama dapat
membangkitkan birahi adalah seperti: berpakaian indah, memakai
perhiasan yang mencolok mata, memakai asesoris pakaian dan
berbaurnya dengan laki-laki."
112

Ibnu Daqiq Al-'ld berkata, "Hadits tersebut menunjukkan
haramnya wanita memakai wewangian ketika hendak ke masjid,
karena hal itu akan membangkitkan nafsu birahi laki-laki."
Saya katakan: Bila hal itu diharamkan bagi wanita yang hendak
ke masjid, lalu apa hukumnya bagi wanita yang hendak pergi ke pasar
atau tempat keramaian lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu
lebih haram dan lebih besar dosanya.
Al-Haitami di dalam kitab Az-Zawajir (11:37) mengatakan bahwa
keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai
wewangian dan dengan berhias adalah termasuk perbuatan dosa
besar, meski-pun suaminya mengijinkan.
bila yang dimaksud dengan Ibnu Yasar adalah Al-Urduni, maka hadits ini munqathi'. Dan
inilah yang lebih mendekati kebenaran. Para ahli hadits menyebutkan bahwa di antara
orang-orang yang mengambil riwayat dari dia (maksudnya, Ibnu Yasar yang Al-Urduni)
adalah Auza'i. Hadits ini adalah salah satu hadits yang Auza'i riwayatkan dari dia. Para
ahli hadits menyebutkan di dalam biografi Ibnu Yasar Al-Urduni, bahwa dia telah
meriwayatkan hadits secara mursaldari Abu Hurairah. Waljahu a'lam. Hadits di atas
disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam kitab At- Targhib(\\\: 94) diriwayat-kan oleh Ibnu
Khuzaimah di dalam kitab Shahih-nya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui
jalur lain dari Abu Hurairah. Hadits ini juga mempunyai satu atau beberapa jalur
periwayatan lain sebagaimana saya sebutkan di dalam kitab Ats-Tsamar Al-
Mustathab dan di dalam kitab Ash-Shahihah jilid III (hadits no.1031 -Maktabah Al-
Ma'arif, Riyadh) 112. Lihat kitab FathuAI-Bari(II: 279)
Jilbob Wanita Muslimah— 151
Perlu diketahui bahwa larangan pada hadits-hadits tersebut
adalah sifatnya umum di setiap waktu. Pada hadits ketiga Nabi
menyebutkan secara khusus waktu Isya', karena pada waktu-waktu
tersebut bahayanya lebih besar. Maka, jangan disalahpahamkan
bahwa keluarnya wanita selain waktu itu dibolehkan.
Ibnu Al-Malik berkata, "Waktu Isya' disebut secara khusus karena
pada saat tersebut hari sudah gelap dan jalanan sudah sepi, sementara
bau wewangian bisa membangkitkan syahwat, sehingga seorang
wanita akan tidak aman berjalan pada saat-saat tersebut. Berbeda
dengan pada saat-saat lainnya seperti Subuh dan Maghrib di mana
hari masih agak terang. Tetapi yang jelas bahwa memakai wewangian
secara mutlak menghalangi seorang wanita untuk mendatangi masjid
kapan saja.""
113

♦♦♦♦♦♦♦
113. Perkataan ini dinukil oleh Syaikh Ali Al-Qari' di dalam kitab Al-Mirqah (II: 71)
152—Jilbab Wanita Muslimah

















g gg g idak Menyerupai Pakaian Laki-laki
al itu berdasarkan beberapa hadits shahih yang melaknat
wanita yang menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian
atau hal lainnya. Kami akan sebutkan beberapa hadits sebagai
berikut:
1. Dari Abu Hurairah, dia berkata:

"Rasulullah , melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita
dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. "
114

114. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 182), Ibnu Majah (1:588), Al-Hakim (IV: 194)
dan Ahmad (II: 325) melalui jalur Suhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.
Al-Hakim berkata, "Hadits ini sha/hih karena para periwayatnya adalah para periwayat
Muslim." Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataan tersebut. Memang hadits tersebut
keadaannya seperti apa yang keduanya katakan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban di dalam kitab Shahih-nya (Hadits no. 1455,1456 - mawarid). Al-Mundziri di dalam
kitab At-Targhib (III: 105-106) dan Asy-Syaukani di dalam kitab^/MMutfar menyebutkan
bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh An-Nasai, yang barangkali di dalam kitabnya As-
SunanAI-Kubra (V: 398). Kemudiao Asy-Syaukani berkata, "Para periwayat hadits ini
adalah para periwayat hadits shahih."
Jilbab Wanita Muslimah — 153
H HH H
'Bukan termasuk golongan kami wanita yang
menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai
wanita.'""
115

115. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (II: 199-200): Telah menceritakan kepada
kami Abdurrazzaq: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Hausyab,
yaitu seorang laki-laki shalih: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin
Dinar, dari Atha, dari seorang laki-laki Hudzal, katanya: Saya melihat Abdullah
bin Amru bin AI-'Ash yang tempat tinggalnya di /w//(daerah di luar tanah Al-
Haram) dan masjidnya di tanah Al-Haram, yang ketika saya lewat di depannya,
dia melihat Ummu Sa'id binti Abu Jahal berkalungkan busur dan berjalan seperti
layaknya seorang laki-laki. Maka, Abdullah pun bertanya, "Siapa ini?" Saya
menjawab, "Ummu Sa'id binti Abu Jahal." Abdullah berkata, "Saya
mendengar Rasulullah ...." (menyebutkan hadits tersebut). Saya katakan:
Hadits ini, para periwayatnya orang-orang tsiqah, kecuali seorang laki-laki yang
tak dikenal dan tidak disebut namanya di atas, sebagaimana yang dikatakan oleh
Al-Mundziri (III: 106) yang diikuti oleh Al-Haitsami (VIII: 103) di mana dia juga
menambahkan, "Laki-laki Hudzal itu tidak saya kenal. Ath-Thabarani juga
meriwayat-kan hadits diatas dengan lafazh yang lebih ringkas tanpa laki-laki
Hudzal tadi. Dengan demikian, seluruh periwayat Ath-Thabarani ini
tsiqah." Saya katakan: Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam
kitab Al-Hilyah (III: 321) melalui jalur Ahmad tanpa laki-laki Hudzal yang tidak
dikenal itu dengan lafazh yang ringkas sebatas yang tersebut di dalam hadits
yang marfu' saja. Al-Hafizh menyebutkah di dalam kitab At-Ta'jil (fi\in. 200',
hadits no. 495) bahwa Al-Bukhari meriwayatkan hadits tersebut, yakni d!
dalam kitab A)-Tarikh melalui jalur Amru bin Dinar dari Atha', katanya, "Saya
mendengar Ibnu Umar (demikian tersebut di dalam teks aslinya. Barangkali
sebenarnya Ibnu Amru, tetapi huruf wawu terhapus dari teks.) berkata, 'Saya
pemah mendengar Rasulullah bersabda: "Bukan termasuk golongan kami
wanita yang menyerupai laki-laki."
Saya katakan: Atha', yaitu Ibnu Yasar telah secara jelas menyebutkan
bahwa dia mendengar hadits tersebut dari Ibnu Amru. Dengan demikian
jadilah sanad hadits tersebut bersambung dan shahih. Memang ada
kemungkinan bahwa Atha' ini meriwayatkan hadits ini melalui jalur laki-laki-laki
Hudzal, dari Ibnu Amru. Namun bisa juga dia meriwayatkannya langsung
dari Ibnu Amru, tanpa melalui laki-laki Hudzal itu. Wallahu a'lam.
Kemudian saya juga menemukan sanad hadits tersebut di daiam kitab
Tarikh-nya Bukhari dan saya kira ada hal-hal yang saya perlu jelaskan
sebagai berikut:
154 —Jilbab Wanita Muslimab









2. Dari Abdullah bin Amru, katanya, "Saya mendengar Rasulullah
bersabda:


Pertama. Al Bukhari berkata (II: 2/362): Yahya bin Musa berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Abdurrazzaq: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Habib Ash
Shan'ani, dari Amru bin Dinar, dari Alha'bin Abu Rabah: Telah bercerita kepadaku
seorang laki-laki Hudzal, dia berkata: "Saya melihat Abdullah bin Umar.. .datang se-
orang perempuan yang berjalan seperti jalannya seorang laki-laki...." dan seterusnya
sampai akhir hadits, sebagaimana lafazh hadits riwayat Ahmad. Di situ tidak disebut
bahwa Atha' mendengar dari Ibnu Umar seperti yang disebut di dalam kitab At-Ta'jil.
Kedua. Adanya periwayat yang bernama Umar bin Habib, sebagaimana tertulis di
dalam teks aslinya, saya memberikan dua catatan sebagai berikut:
1. Nama Habib, saya khawatirkan merupakan perubahan dari nama Hausyab,
karena demikianlah yang tersebut di dalam kitab Al-Musnad dan kitab Al-Hilyah
sebagaimana telah tersebut di muka. Namun, pentahqiq kitab tersebut tidak
memberinya komentar sedikit pun berkenaan dengan masalah int.
2. Dia berkomentar tentang nama Umar, "Memang, tertulis pada teks aslinya Amru,
tetapi yang benar adalah Umar. Para ulama telah menuliskan biografi tentang
dirinya pada bab Umar."
Saya katakan: Memang demikianlah yang telah para ulama sebutkan, seperti Ibnu
Abi Hatim, Ibnu Hibban dan para ulama sesudah mereka sebagaimana tersebut di
dalam kitab At-Tahdzibdan kitab-kitab lainnya. Tetapi ada beberapa hal yang menarik
perhatian saya:
a. Mereka para ulama tadi menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari
Isma'il bin Umayyah dan diriwayatkan dari Abdurrazzaq, dari dia (Ismail). Mereka
tidak pernah menyebutkan riwayat hadits tersebut dari Amru bin Dinar. Adz-
Dzahabi di dalam kitab Al-Mizan berkata, "Guru dari Abdurrazzaq tidak diketahui
keadaannya." Ibnu Qathan juga mengatakan demikian.
b. Al-Bukhari tidak menyebut periwayat ini (yaituAmru bin Dinar) di dalam kitabnya
At-Tarikh /AWCab/rmaupun At-Tarikh Ash-Shaghir, baik Umar maupun Amru, baik
yang nama ayahnya Habib maupun Hausyab.
c. Bedasarkan dari apa yang telah dikemukakan di atas, maka besar kemungkinan
bahwa Amru bin Hausyab ini adalah bukan Umar bin Hausyab seperti yang telah
para ulama sebutkan biografinya. Hal itu disebabkan kedua guru orang itu ber-
beda; dan juga berdasarkan perkataan Abdurrazzaq bahwa dia (Amru atau Umar)
tadi adalah seseorang yang shalih.
d. Mana pun pendapat yang benar, yang jelas penilaian terhadapnya sebagai periwa
yat yang majhultidak sesuai dengan pernyataan Abdurrazzaq bahwa dia adalah
seorang laki-laki yang shalih. Padahal secara kaidah, orang yang mengetahui
keadaan seseorang adalah sebagai pedoman bagi orang yang tidak mengetahui-
nya. Tampaknya, para ulama yang telah menyebutkan biografinya itu tidak menge
tahui pernyataan Abdurrazzaq ini. Kalau mereka mengetahui, niscaya mereka
akan menukilnya. Wallahua'lam.
Jilbab WanitaMuslimah— 155
"Nabi melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti
wanita dan melaknat wanita yang bertingkah laku seperti
laki-laki. Nabi mengatakan: 'Keluarkanlah mereka dari
rumah-rumah kalian!' Nabi mengeluarkan si Fulan dan
Umar pun mengeluarkan si Fulan."
Dalam lafazh lain disebutkan:

Ketiga. Adanya nama: Atha' bin Abu Rabah di dalam riwayal Al-Bukhari di atas
menunjukkan adanya kesalahan pada perkataan saya yang terdahulu, dimana dahulu
saya menyebutkan: "Ibnu Yasar". Ini Motion diperhatikan!
Keempat. Dari keterangan di atas kita bisa mengetahui bahwa cacat hadits ini adalah
ada pada seorang laki-laki Hudzal, dimana dia seorang tabi'in yang tidak disebutkan
namanya. Oleh karena itulah, Al-Bukhari menilai cacat hadits tersebut dan memberi-
nya komentar, "Hadits ini mursaf, yaknf munqathi' (terputus sanadnya). Akan tetapi
ada hadits serupa yang menjadi penguat hadits tersebut, sehingga hadits tersebut
menjadi kuat."
Syaikh Ahmad Syakir dalam ta'liqnya terhadap kitab/4/-Ataad(XI: 103-104) memas-
tikan bahwa sanad hadits ini hasan berdasarkan perkataan Abdurrazzaq tentang diri
Amru bin Hausyab. Tentang adanya seorang laki-laki Hudzal itu dia berkomentar,
"Dia adalah seorang tabi'in yang mubham, majhul hal, dan tergolong periwayat yang
mastur."
(Periwayat masfurialah periwayat yang meriwayatkan hadits tertentu hanya kepada
dua orang periwayat saja. Pen.)
Begitulah kata dia. Komentarnya itu tidak bisa diterima. Karena periwayat yang mastur
itu menuntut hal lain, yaitu kekuatan hafalan. Yang benar, periwayat semacam itu
bisa terdukung oleh periwayat lain yang sederajat. Wallahu a'lam.

156—Jilbab Wanita Muslimah

3. Dari Ibnu Abbas, dia berkata:
Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan
dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki.
116

4. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

'Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan tidak
akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. (Mereka itu yaitu):
Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita
yang bertingkah laku seperti laki-laki, dan dayyuts (laki-
laki yang tidak peduli dengan kejelekan akhlak istrinya. -
pent.)
117

116. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 274), Abu Dawud (II: 305), Ad-Darimi (II:
280-281), Ahmad (hadits no. 1982,2006 dan 2123) melalui jalur Hisyam ad Dustuwai
dari Yahya bin Abu Katsir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.
Hadils ini juga diriwayatkan oleh At-Tignitizi (IV: 16-17), dan dia juga menilai shahih
hadits ini; juga diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi (hadits no. 2679), Al-Bukhari (X: 273),
Abu Dawud (II: 182), Ahmad (hadits no. 2263,2291,3060,3151,4357) melalui jalur
periw^ayatan lain diri Ikrimah dengan lafazh yang sama, tetapi tanpa perkataan:
"Keluarkanlah mereka....dst."
Adapun lafazh lain yang tersebut di atas adalah lafazh hadits yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari.
117. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai (1:357), Al-Hakim (1:72 dan IV: 146-147), Al-
Baihaqi (X: 226), Ahmad (hadits no. 6180) melalui dua jalur periwayatan yang shahih
dari Abdullah bin Yasar, maula Ibnu Umar, dari Salim, dari Ibnu Umar.
Al-Hakim berkata, "Hadits ini shahih sanadnya." Adz-Dzahabi sepakat dengan per-
kataannya. Memang keadaan hadits ini sebagaimana yang keduanya katakan, insya
Allah. Karena Abdullah ini, meskipun tidak ada ulama lain yang menyatakan ketsiqah-
annya selain Ibnu Hibban, namun sejumlah periwayat yang tsiqah telah meriwayatkan
dari dia.
Al-Haitsami berkata (VIII: 147-148), "Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Al-Bazzar
dengan dua sanad. Para periwayat pada kedua sanad tersebut orang-orang tsiqah."
Al-Mundziri berkata (III: 220), "Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai dan Al-Bazzar.
Lafazh di atas ada pada hadits yang dia riwayatkan dengan dua sanad yang baik."
Di dalam kitab Al-Faidh, Al-M,unawi menukil perkataan pemilik kitab Al-Firdaus, yaitu
Ad-Dailami dimana dia berkata, "Hadits tersebut shahih." Al-Mundziri lupa,
begitu pula Al-Haitsami dan As-Suyuthi sehingga mereka tidak menyebutkan
kalau hadits ini sebenarnya juga diriwayatkan oleh Ahmad.
Jilbab Wanita Muslimah—157
5. Dari Ibnu Abu Mulaikah, yang nama aslinya Abdullah bin
Ubaidillah, dia berkata, "Aisyah pernah ditanya, 'Bagaimana
pendapatmu tentang wanita yang memakai sandal jepit?' Dia
menjawab:

'Rasulullah telah melaknat wanita yang bertingkah laku
menye-rupai laki-laki,'"
118

Di dalam hadits-hadits di atas terdapat petunjuk yang jelas
haram-nya wanita menyerupai laki-laki; begitu pula sebaliknya.
Ini sifatnya umum, meliputi masalah pakaian dan lain-lainnya,
kecuali hadits pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam
masalah pakaian.
Abu Dawud berkata di dalam kitab Masa-il Al- Imam Ahmad
(him. 261): "Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya
tentang seseorang yang memakaikan rompi
119
kepada anak
perempuannya. Maka dia menjawab, "Tidak boleh dia
memakaikan pakaian laki-laki kepadanya dan tidak boleh
menyerupakannya dengan anak laki-laki."
Abu Dawud berkata, "Saya pernah bertanya kepada
Ahmad, 'Bolehkah seseorang memakaikan sandal jepit kepada
anak perempuannya?' Dia menjawab, Tidak boleh, kecuali jika
dia memakainya
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Adh-Dhiya' dii dalam kitab Al-Mukhtarah (1:75)
dengan sanad sebagaimana tersebut dari Ibnu Umar. Dan dia memasukkannya ke
dalam bagian Musnad Umar, bukan Musnad anaknya, yaitu Ibnu Umar. Hadits ini
mempunyai hadits pendukung yang diriwayatkan dari Ammar bin Vasir. Hadits ini
juga diriwayatkan oleh Amru bin Muhnid di dalam kitab Al-Muntakhab min Fawa-
idih (II: 268). Dan hadits ini juga saya sebutkan di dalam kitab saya Ash-
Shahihah (hadits no. 1397).
118. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 184) dalam potongan haditsnya (V: 2)
melalui jalur Thariq bin Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah dengan lafazh seperti diatas.
Para periwayatnya orang-orang kepercayaan, kecuali Ibnu Juraij. Dia adalah seorang
mudallis (suka menyamarkan periwayat lain yang menjadi sumber hadits baginya -
Pent.), dan pada hadits ini dia meriwayatkan dengan menggunakan lafazh: "Dari...."
Akan tetapi derajat hadits ini shahih, karena ada beberapa hadits lain yang men-
dukungnya sebagaimana tersebut di muka.
119. Di dalam kitab An-Nihayah dikatakan: Seorang anak laki-laki datang mengenakan
rompi putih.
158 —Jilbab Wanita Muslimah
untuk keperluan berwudhu.' Saya bertanya, 'Kalau untuk
berhias?' Dia menjawab, 'Tidak boleh.' Saya bertanya lagi,
'Bagaimana kalau dia mencukur rambutnya?' Dia menjawab,
'Tidak boleh.'"
120

Adz-Dzahabi memasukkan tindakan wanita yang
menyerupai laki-laki dan tindakan laki-laki menyerupai wanita
sebagai dosa besar sebagai tersebut di dalam kitab Al-Kabair
(him. 129) seraya menyebutkan sebagian dari hadits-hadits di
muka. Kemudian dia berkata: "Jika seorang wanita memakai
pakaian laki-laki, maka berarti dia telah menyerupai kaum laki-
laki, sehingga dia pun akan dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya.
Laknat Allah ini bisa juga menimpa suaminya bila dia
membiarkan dan tidak mau melarang istrinya melakukan hal
seperti itu, karena seorang suami diperintahkan untuk
membimbing istrinya agar senantiasa taat kepada aturan Allah
dan mencegahnya
120. Tampaknya yang dimaksud oleh Imam Ahmad di sini adalah mencukur gundul rambut-
nya sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Al-Fath (1:285). Dan ada larangan tegas
dari Rasulullah M tentang hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits yang diriwayat-
kan oleh An-Nasai (II: 276) dan At-Tirmidzi (II: 109) dari Ali, dia berkata, "Rasulullah
melarang seorang wanita mencukur rambut kepalanya." Sanad hadits ini
shahih, kalaulah perawinya tidak ragu-ragu akan bersambung tidak-nya hadits
tersebut. Karena adanya hal inilah At-Tirmidzi mencacat hadits ini, meskipun dengan
tindakannya yang tasahul (kurang teliti). Saya telah meneliti dan mencantumkan
hadits ini, serta membicarakan seluruh jalur periwayatanriya sejauh yang saya
ketahui di dalam kitab Adh-Dha'ifah (no. hadits 678). Nampaknya larangan
Imam Ahmad pada riwayat di atas adalah mencukur gundul, bukan melarang
memotong sebagian dari rambutnya, karena untuk hal ini dibolehkan berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (1:176) dari Abu Salamah bin
Abdurrahman, dia berkata:
Saya pernah mengunjungi Aisyah bersama saudara sesusuannya. Dia bertanya
kepada Aisyah tentang cara mandi janabat Nabi m- Lalu, dia berkata, "Istri-istri
Nabi m itu memotong rambut kepala mereka hingga seperti wafrah" (maksudnya,
memotong pendek rambutnya hingga sampai kedua telinganya, tidak lebih pendek
lagi dari itu).
Seorang wanita dibolehkan memotong rambutnya hingga sampai kedua telinga itu
asa tidak dimaksudkan untuk menyerupai wanita-wanita non Islam. Bila dimaksudkan
untuk menyerupai wanita-wanita non-Islam, maka tidak dibolehkan berdasarkan
sabda Nabi |j: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam
golongan mereka" dan hadits lain sebagaimana yang akan kita bicarakan di dalam
membahas Syarat Ketujuh.
Jilbab Wanita Muslimah — 159
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian
dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu."
Juga, berdasarkan sabda Nabi :

Masing-masing dan kalian adalah pemimpin dan masing-
masing dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas
kepemimpinannya itu. Seorang suami adalah pemimpin
dalam keluarganya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban perihal keluarganya itu kelak di hari
kiamat."
Hadits di atas muttafaqun 'alaih. Hadits di atas juga tercantum
di dalam kitab Ghayah Al-Maram (hadits no.269).
Hadits di atas juga disebutkan oleh Al-Haitami di dalam kitab Az-
Zawajir (1:126). Dia berkata, "Memasukkan tindakan semacam itu ke
dalam dosa besar sangatlah tepat mengingat adanya hadits-hadits
shahih yang mengancam dengan keras perilaku semacam itu. Adapun
tentang hukum tasyabuh (menyerupai kaum non Islam -pent.) ini,
para ulama kita setahu saya terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat
pertama, mengatakan bahwa perbuatan tersebut haram, dan pendapat
ini dipegangi oleh An-Nawawi. Pendapat kedua, mengatakan bahwa
perbuatan tersebut makruh, dan pendapat ini dipegangi oleh Ar-Rafi'i.
Adapun yang benar adalah sebagaimana yang dipegangi oleh An-
Nawawi, yaitu hukumnya haram. Bahkan, saya telah memasukkan
perbuatan tersebut sebagai dosa besar. Kemudian saya juga menda-
pati beberapa orang yang membicarakan tentang dosa-dosa besar
160—Jilbab Wanita Muslimah

Agar tidak melakukan perbuatan maksiat. Hal itu berdasarkan
firman Allah ta'ala:
memasukkan perbuatan tersebut ke dalamnya. Dan pendapat itulah
yang lebih tepat."
Al-Hafizh di dalam kitab Fathu Al-Bari (X: 273-274) ketika men-
jelaskan hadits Ibnu Abbas di muka pada nomer 3 dengan lafazh
kedua, yaitu:

"Rasulullah melaknat para wanita yang menyerupai laki-laki dan
melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita,"
dia berkata yang secara ringkasnya sebagai berikut: "Ath-Thabari
berkata, 'Tidak dibolehkan seorang laki-laki menyerupai wanita
dalam hal pakaian dan perhiasan yang menjadi ciri khas wanita;
dan sebaliknya.'"
Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah berkata, "Tampaknya
larangan menyerupai tingkah lawan jenis tersebut meliputi segala hal.
Akan tetapi dari dalil-dalil lain diketahui bahwa yang
dimaksudkan adalah dalam masalah pakaian, beberapa sifat,
perilaku dan sejenis-nya. Jadi, bukan termasuk dalam perkara-
perkara kebaikan." Dia menambahkan, "Dan hikmah pelaknatan
terhadap perilaku penyerupaan diri ini adalah karena hal itu bisa
menyimpangkan seseorang dari sifat asli yang telah diciptakan
oleh Allah Yang Mahabijaksana pada dirinya. Nabi telah
mengisyaratkan hal itu ketika melaknat wanita-wanita yang
menyambung rambutnya dengan bersabda:

"Wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah."
,121

121. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 306), Muslim (VI: 166-167) dan lainnya dari
Ibnu Mas'ud secara marfu, yang lafazh lengkapnya: "Allah melaknat wanita-wanita
yang menato dan yang minta ditato, yang mencukur dan yang minta dicukur alisnya,
yang merenggangkan gigi supaya tampak cantik, yang merubah ciptaan Allah."
Perlu diketahui bahwa barangsiapa mengubah ciptaan Allah tanpa izin dari-Nya, maka
dia berarti telah mengikuti jalan-jalan setan.
Jilbab Wanita Muslimah— 161
Dari keterangan di muka jelaslah bahwa seorang wanita tidak
diperbolehkan mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian laki-
laki. Wanita tidak diperbolehkan memakai selendang dan sarung laki-
laki, serta pakaian laki-laki lainnya, sebagaimana yang biasa kita lihat
wanita zaman sekarang memakai jaket dan celana panjang, walaupun
pakaian jenis ini lebih menutup aurat dibandingkan dengan pakaian-
pakaian mereka lainnya. Pikirkanlah, wahai orang-orang yang mem-
punyai pikiran sehat!
Kemudian saya menemukan tulisan yang bagus sekali yang ditulis
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Saya pikir tulisan dia itu perlu
saya kemukakan di sini karena isinya penuh dengan manfaat keilmuan
berkaitan erat dengan pembahasan kita ini. Tulisan dia tersebut adalah
merupakan jawaban dari pertanyaan yang disodorkan kepadanya.
Berikut ini isi pertanyaan dan jawaban dari Ibnu Taimiyah seba-
gaimana tersebut di dalam kitab Al-Kawakib karya Ibnu Urwah
Al-Hanbali (C.93/132-134) yang masih tersimpan di Perpustakaan
Azh-Zhahiriyah Damaskus dengan nomor (579 - tafsir):
Soal: Bagaimana hukum wanita memakai kain tutup kepala
dengan bando dan tali pengikat yang melingkar di kepalanya?
Bagaimana hukum seorang wanita mengenakan farjiah
U2
1 Bagaimana
kaidah dalam menetapkan seorang wanita dikatakan menyerupai laki-
laki? Apakah hal itu diukur dengan apa yang terjadi di zaman
Rasulullah ^ataukah setiap zaman ada tolok ukurnya sendiri-sendiri?
Jawaban: Segala puji hanya milik Allah. Kain tutup kepala dengan
bando dan tali pengikat yang tidak menutup rambut yang terurai
adalah pakaian untuk anak (laki-laki). Wanita yang memakainya
berarti dia telah menyerupai anak laki-laki. Pada mulanya perbuatan
Allah ta’ala telah berfirman: "Dan siapakah yang lebih balk ciptaannya daripada Allah?"
Allah ta'ala berfirman: "Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, akan mem-
bangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka, akan menyuruh mereka (me-motong
telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan aku pun akan
menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya."
(QS. An-Nisa': 119) 122. Pakaian semacam jubah yang berlengan lebar yang biasanya
dipakai oleh para tokoh agama dan aparat pemerintahan. -Pent.
162 —Jilbab Wanita Muslimah
semacam itu dilakukan para wanita tuna susila yang rambutnya ber-
kepang satu dan menjulur pada kedua pundaknya, memanjangkan
cambangnya, dan mengenakan sorban untuk menyerupai mardan
123
.
Kemudian perbuatan ini ditiru oleh wanita yang baik-baik. Barangkali
wanita yang baik-baik ini melakukan hal itu mungkin bukan dengan
tujuan-tujuan di atas tadi. Meskipun begitu, tetap saja itu termasuk
perbuatan menyerupai laki-laki (yang dilarang oleh Islam).
Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melaknat wanita yang
menyerupai laki-laki dan melaknat laki-laki yang menyerupai wanita.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi melaknat laki-laki yang
bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti
laki-laki. Beliau memerintahkan untuk mengasingkan para band.
Syafi'i, Ahmad, dan ulama lainnya membahas hukum tentang peng-
asingan banci. Mereka mengatakan, "Praktek Rasulullah menunjuk-
kan kepada kita bahwa para pezina dan para banci harus diasingkan.
Di dalam kitab Shahih Muslim™
4
, disebutkan bahwa Nabi ^bersabda:

"Ada dua golongan penduduk neraka yang sekarang saya belum
melihat keduanya, yaitu: wanita-wanita yang berpakaian tetapi
123. Mardan ialah anak laki-laki yang masih muda, yang bulu kumisnya mulai tumbuh,
tetapi jenggotnya belum. -Pent.
124. Saya katakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (VIII: 155) dengan lafazh yang
mirip dengan lafazh di atas. Tetapi lafazh di atas lebih mirip dengan lafazh hadits
yang diriwayatkan oleh Ahmad (II: 40). Memang di dalam hadits tersebut terdapat
seorang periwayat yang bernama Syarik. Namun, menurut Muslim dan lainnya Syarik
ini mutaba'(periwayat yang agak lemah, akan tetapi ada periwayat lain yang meriwa-
yatkan hadits dari satu sumber periwayat yang sama dengannya. Pent.) Oleh karena
itu saya mencantumkan hadits tersebut di dalam kitab saya Ash-Shahihah (hadits
no. 1326) sebagaimana tersebut di buku ini pada him. 137.
Jilbab Wanita Muslimah— 163
telanjang, yang berlenggak-lenggok dan memiringkan
kepalanya seperti punuk unta, dimana mereka tidak akan masuk
surga, bahkan mencium baunya pun tidak bisa. Kemudian,
sekelompok laki-laki yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang
mereka gunakan untuk memukul hamba-hamba Allah."
Perkataan Nabi "wanita-wanita yang berpakaian tetapi telan-
jang, " maksudnya wanita yang memakai pakaian tetapi tidak menutup
auratnya. Wanita tadi memang memakai pakaian, tetapi pada hake-
katnya dia telanjang. Misalnya, wanita yang memakai pakian tipis
sehingga masih menggambarkan warna kulitnya atau pakaian sempit
dan ketat yang masih menggambarkan lekuk tubuhnya, seperti
bagian pinggul dan lengannya atau bagian-bagian tubuhnya yang lain.
Padahal seharusnya seorang wanita itu memakai pakaian yang
menutup auratnya, sehingga tidak menampakkan seluruh tubuhnya
dan bagian-bagian tertentu tubuhnya, yaitu dengan memakai
pakaian yang tebal dan longgar.
Dari sini kita bisa tahu prinsip dan kaidah Nabi dalam
melarang wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai
wanita. Prinsipnya, dalam hal ini tidak dikembalikan kepada semata-
mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai oleh kaum pria
dan kaum wanita. Karena, bila demikian halnya, maka andaikata
dalam suatu masyarakat kaum prianya biasa memakai khimar yang
menutup wajah dan leher, serta biasa memakai jilbab yang
diulurkan dari atas kepala hingga hanya kedua mata pemakainya
saja yang kelihatan; sedangkan kaum wanitanya memakai sorban dan
baju pendek, serta pakaian lain semisalnya, tentu hal ini akan
menjadi boleh! Padahal hal itu jelas bertentangan dengan Al-Qur'an
dan ijma'. Allah ta'ala telah berfirman kepada kaum wanita:

"Hendaklah mereka menutupkan khimar mereka ke dada mereka;
dan jangan menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami
mereka...."(QS.An-Nur:31)
164 —Jilbab Wanita Muslimah
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang
beriman, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk
dikenal dan tidak diganggu orang." (QS. Al-Ahzab: 59)
Allah ta'ala juga telah berfirman:

"Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-
orang jahiliyah dulu." (QS. Al-Ahzab: 33)
Jika perbedaan pakaian kaum pria dan kaum wanita hanya
diukur dengan apa yang biasa dipakai oleh kaum wanita dan
kaum pria berdasarkan pilihan dan kesukaan mereka, niscaya kaum
wanita tidak wajib mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka dan
tidak wajib pula menutupkan khimar ke dada; juga, mereka tidak
akan diharamkan berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
jahiliyah dulu, karena itu merupakan adat istiadat mereka. Prinsip
yang dijadikan pedoman dalam hal ini juga bukan pakaian tertentu
yang telah disebutkan oleh Nabi atau pakaian yang biasa
dipakai oleh para wanita dan para laki-laki di zaman beliau lalu
dikatakan: "Inilah pakaian yang wajib, sedangkan yang selain ini
haram dipakai". Karena sebenarnya di zaman Nabi para wanitanya
memakai pakaian yang ujung bawahnya panjang sehingga ketika
mereka berjalan terseret, sedangkan kaum laki-lakinya
diperintahkan untuk menaikkan ujung bawah pakaiannya hingga di
atas mata kaki. Oleh karena itulah, ketika Nabi memerintahkan
kaum laki-laki memanjangkan kain sarungnya beliau ditanya:


Allah ta'ala telah berfirman:
Jilbab Wanita Muslimah— 165
"Bagaimana dengan kaum wanita? Beliau menjawab,
'Mereka panjangkan (ujung bawahnya) sejengkal.'
Dikatakan kepada beliau, 'Kalau begitu, betis mereka akan
tersingkap!' Beliau bersabda, 'Turun-kan lagi sehasta, jangan
sampai melebihi itu.'" (At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini
shahih.")
Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau ^memberi keringanan
kepada kaum wanita yang menyeret ujung bawah pakaiannya,
bila melalui tempat yang kotor, lalu melalui tempat yang bersih,
maka seretan pada tempat yang bersih itu telah menyucikan
ujung bawah kainnya (yang terkena tempat yang kotor)
125
. Ini
merupakan pendapat sejumlah ulama dalam Madzhab Hanbali
dan lainnya. Mereka menganggap bagian pakaian yang terseret
itu kedudukannya sama dengan sandal yang biasanya sering
bersentuhan dengan benda-benda bernajis, lalu disucikan
dengan benda-benda padat. Hal itu juga seperti "dua jalan"
(buang air kita) yang sering kena najis yang menjadi suci juga
bila dibasuh dengan benda-benda padat. Kemudian, bagaimana
bentuk pakaian yang digunakan untuk menutup tidaklah
ditentukan. Seandainya seorang wanita memakai celana atau
memakai selop yang terbuat dari bahan yang cukup keras,
kemudian di atasnya dia tutupkan pakaian jilbab hingga lekuk
telapak kaki tidak tampak, maka pakaian semacam itu sudah
memenuhi syarat yang diharuskan. Berbeda bila selop tadi
terbuat dari bahan yang lunak, sehingga masih menggam-
barkan lekuk telapak kaki, maka ini termasuk jenis pakaian laki-
laki. Demikian halnya jika seorang wanita memakai jubah dan
farwah (sejenis tutup kepala -pent.) yang dia butuhkan untuk
mengusir dingin, maka hal itu tidak dilarang melakukannya. Jika
ada orang berkata, "Bukankah tidak pernah ada wanita yang
mengenakan farwah?” Maka, kami jawab, "Sebenarnya pakaian
itu dipakai karena ada kebutuhan. Di negara-negara yang
beriklim dingin dibutuhkan pakaian-pakaian yang tebal untuk
menghangatkan badan. Memang di negara-negara yang
beriklim panas pakaian semacam itu tidak diperlukan."
125. Saya katakan: Hadits ini shahih, karena mempunyai hadits pendukung sebagaimana
yang telah saya sebut di muka pada him. 95. Perkataan dia (Ibnu Taimiyah) meng-
gunakan kata "diriwayatkan" memang memberi kesan akan lemahnya hadits ini. Akan
tetapi sebenarnya tidak demikian. Hadits ini shahih.
166—Jilbab Wanita Muslimah
Jadi yang membedakan antara jenis pakaian laki-laki dan
pakaian wanita kembali kepada apa yang pantas dipakai kaum
laki-laki dan apa yang pantas dipakai kaum wanita, yaitu tidak
lain adalah pakaian yang sesuai dengan apa yang
diperintahkan oleh Allah untuk dipakai kaum laki-laki dan
dipakai untuk kaum wanita. Kaum wanita itu diperintahkan
menutup seluruh tubuhnya, serta dilarang bersolek dan
memamerkan diri. Oleh karena itu, tidak disyaritakan kepada
wanita untuk meninggikan suaranya ketika adzan dan
membaca talbiyah; juga ketika menaiki Shafa dan Marwah,
serta tidak disyariatkannya menggunting rambut dalam ihram,
sebagaimana disyariatkannya hal itu kepada kaum laki-laki.
Karena, laki-laki memang diperintahkan untuk membuka
kepalanya, tidak memakai pakaian yang biasa dia gunakan,
tidak memakai baju dan celana, juga kopiah dan selop. Akan
tetapi, ketika dia membutuhkan pakaian yang harus menutup
aurat dan sarana untuk alas berjalan, maka diberinya
keringanan, yaitu bila tidak menemukan sarung untuk memakai
celana dan jika tidak menemukan sandal untuk memakai selop,
dimana ini sebagai pengganti karena hal-hal yang sifatnya
umum; berbeda bila karena hal-hal yang sifatnya khusus,
seperti sakit atau kedinginan, maka dia ber-kewajiban
membayar fidyah (tebusan) bila dia memakainya. Abu Hanifah
menolak adanya ketentuan semacam itu. Akan tetapi
kebanyakan ulama berselisih pendapat dengannya. Mereka
beralasan dengan hadits shahih
126
, dan karena adanya
perbedaan antara yang
126. Yaitu hadits Nabi u "Janganlah orang yang berihram memakai gamis, sorban, celana,
kopiah dan sepatu, —kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal, itu pun
hanya dibolehkan menggunakan selop dan hendaklah dia memotong selopnya itu
hingga tingginya di bawah mata kaki—; dan janganlah memakai sedikit pun pakaian
yang telah disentuh jia’faran atau waras. (maksudnya, wangi-wangian. -pent.)"
Hadits di atas muttafaqun 'alaih dan lafazh di atas adalah yang tersebut di dalam
riwayat Al-Bukhari dalam kitab /4/-Haj'(hadits no. 1542 - Fath). Hadits ini juga tersebut
di dalam kitab Al-lrwa'(hadits no. 1012).
Al-Hafizh di dalam kitab Al-Fath berkata, "Dhahir hadits ini menunjukkan bahwa sese-
orang yang memakai selop ketika tidak mendapatkan sandal tidak harus membayar
fidyah. Adapun pengikut madzhab Hanafi berpendapat bahwa dia wajib membayar
fidyah (tebusan). Tetapi pendapat mereka itu bisa dibantah bahwa seandainya mem-
bayar fidyah itu wajib tentulah Nabi a menjelaskannya."
Jilbab Wanita Muslimah— 167
satu dengan yang lain, (yaitu antara yang sifatnya umum dan
yang sifatnya khusus. -pent.). Lain halnya wanita. Mereka tidak
terlarang memakai pakaian apa pun, karena dia diperintahkan
untuk menutup seluruh tubuhnya. Dia tidak disyariatkan
melakukan penggantian semacam itu. Akan tetapi mereka
dilarang memakai cadar dan kaos tangan (di waktu ihram),
karena keduanya digunakan untuk menutup anggota badan
tertentu saja yang sebenarnya tidak perlu ditutup.
Para ahli fikih berselisih pendapat apakah ketika ihram wajah
seorang wanita itu dikiaskan dengan kepala seorang laki-iaki
ataukah seperti badannya? Dalam madzhab Hanbali dan lainnya
ada dua pendapat. Pendapat pertama, menganggap bahwa
kedudukan wajah wanita seperti kepala seorang laki-laki; oleh
karena itu, mereka menetapkan bila wanita mengulurkan pakaian
dari atas kepalanya agar tidak menutup wajahnya, sebagaimana
seorang laki-laki yang melepas . penutup kepalanya. Pendapat
kedua, menganggap bahwa kedudukannya sebagaimana tangan
laki-laki, —dan inilah pendapat yang benar—mengatakan:
"seorang wanita tidak dilarang menutup wajah, tetapi dilarang
memakai cadar sebagaimana dilarang juga memakai kaos
tangan. Hal ini sama sebagaimana kaum laki-laki yang dilarang
memakai baju, celana, dan yang sejenisnya. Termasuk juga
yang dilarang adalah memakai burqu' (sejenis cadar) dan apa
saja yang dibuat secara khusus untuk menutup wajah. Adapun
menutup wajah dengan kain yang diulurkan dari atas kepalanya,
maka itu seperti dia menutup wajahnya dengan selimut atau
semisalnya; juga menutup tangan dengan lengan baju, maka
semuanya itu tidak dilarang.
Seandainya seorang laki-laki berkeinginan mengenakan
cadar dan membiarkan para wanita membuka wajah mereka,
niscaya mereka dilarang melakukannya. Demikian juga, wanita
ketika shalat diperintahkan
Saya katakan: Pendapat ini juga dikuatkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari tortu .
Abbas, bahwa dia pernah mendengar Nabi M berkhutbah di Arafah, "Barangsiapa
tidak mendapatkan sarung, hendaklah memakai celana; dan barangsiapa tidak men-
dapatkan sandal, maka hendaklah memakai selop." Hadits di alas muttafaqun 'aiaih.
Hadits ini juga tersebut di dalam kitab Al-lrwa '(hadits no. 1013).
168—Jilbab Wcmitn Muslimnh
untuk merapatkan anggota tubuhnya
127
. Seorang wanita juga
diperintahkan untuk menutup kepalanya. Sehingga, tidak
diterima shalat seorang wanita yang telah dewasa kecuali dengan
memakai kerudung, sekalipun dia berada di dalam rumah yang tidak
terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Hal itu menunjukkan
bahwa secara syar'i seorang wanita diperintahkan menutup anggota
tubuh yang mana hal itu tidak diperintahkan kepada kaum laki-laki.
Itu adalah hak Allah yang harus ditunaikan oleh seorang wanita,
meskipun tidak ada seorang pun manusia yang melihatnya. Allah
ta'a/a berfirman:

"Dan hendaklah kalian tetap berada di rumah! Janganlah kamu ber-
bias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu." (QS.
Al-Ahzab:33)
Nabi M bersabda:

"Janganlah kalian melarang wanita-wanita hamba Allah pergi ke
masjid. Akan tetapi sebenarnya rumah-rumah mereka lebih baik
untuk mereka."
Nabi ^ juga bersabda:

127. Saya tidak mengetahui adanya hadits yang mendukung pendapat dia ini. Bahkan,
keumuman hadits: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalaf mem-
bantah pendapatnya.
Jilbob Wanita Muslimah— 169
"Shalat salah seorang dari kalian (kaum wanita) di kamar tidumya
lebih baik daripada shalat di kamar tamunya, shalat dia di kamar
tamunya lebih baik daripada shalat di rumahnya, shalat dia di
rumah-nya lebih baik daripada shalat di masjid kaumnya, dan
shalat dia di masjid kaumnya lebih baik daripada shalat di
masjidku.”
128

Keutamaan di atas tidak lain karena lebih tertutup dan lebih
terhijab.
Merupakan hal yang sudah dimaklumi bersama bahwa tempat
tinggal itu adalah laksana pakaian juga, dimana keduanya pada dasar-
nya dibuat untuk melindungi dan menghindarkan diri dari bahaya,
128. Sanad hadits ini hasan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad; begitu juga Ibnu Khuzaimah
dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya masing-masing. Hadits ini merupakan peng-.
khusus dari hadits Nabi "Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kalai
shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram." yang diriwayatkan oleh Muslim.
Hadits (yang diriwayatkan oleh Muslim) ini menunjukkan bahwa keutamaan tersebut
adalah khusus untuk laki-laki. Untuk kaum wanita, shalat di rumah-rumah mereka
lebih baik daripada shalat di masjid Nabi M. Dari situ, kita tahu bahwa berdesak-
desakkannya para wanita untuk melakukan shalat di masjid Nabawi, terutama pada
saat musim haji, menunjukkan kebodohan mereka terhadap syariat, atau sikap mere-
mehkan mereka temadap bimbingan agama. Apalagi untuk hal tersebut mereka harus
berdesak-desakkan dengan kaum laki-laki, yaitu tatkala kaum laki-laki hendak keluar
dari masjid (setelah selesai shalat). Hanya kepada Allah kita adukan sikap tak tahu
malu mereka dan sikap ketidakpedulian para suami mereka. Pada cetakan-cetakan
sebelumnya saya sebutkan adanya pengkhususan tersebut. Namun sekarang
nampak di mata saya bahwa pendapat saya itu tidak tepat. Yang benar, membiarkan
hadits tersebut berlaku secara umum, mencakup laki-laki maupun perempuan.
Perlu saya sampaikan di sini bahwa hal itu tidak berarti menafikan adanya keutamaan
bagi para wanita untuk shalat di rumah mereka dan menafikan bahwa shalat sunnah
yang dilakukan oleh seseorang di rumah lebih utama daripada yang dilakukannya di
masjid. Namun, bila shalat sunnah tersebut dia lakukan di salah satu di antara tiga
masjid (yaitu Masjid Nabawi, Masjidl Haram, dan Masjidil Aqsha, Pent), maka dia
akan mendapatkan keutamaan pahala secara khusus. Ini berlaku juga untuk para
wanita.
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi para wanita untuk berdesak-desakkan sebagai-
mana saya sebutkan di atas, bagaimanapun kondisinya. Hendaklah para wanita yang
biasa melakukan hal tersebut segera menghentikan perbuatannya. Insya Allah, bila
hal itu dilakukan, akan banyak kemungkaran yang bisa dicegah. Hanya Allahlah yang
mengetahui maksud hati hamba-Nya.
170 —Jilbab Wanita Muslimah
Sebagaimana dibuatnya makanan dan minuman untuk mendapatkan
manfaatnya. Pakaian adalah sesuatu yang digunakan oleh manusia
untuk berlindung dari panas, dingin dan dari gangguan musuh. Allah ta'ala
berfirman:

"Dan Allah menjadikan rumah-rumah untuk kalian sebagai
tempat tinggal." (QS. An-Nahl: 80)
Allah ta'ala juga berfirman:

"Dan Allah menjadikan untuk kalian tempat bernaung dari
apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan untuk kalian
tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan
untuk kalian pakaian yang melindungi kalian dari panas dan
pakaian (baju besi) yang melindungi kalian dalam
peperangan. Demikianlah Allah menyempumakan nikmat-
Nya untuk kalian semua agar kalian berserah diri kepada-
Nya." (QS. An-Nahl: 81)
Pada ayat di atas Allah menyebutkan apa-apa yang kalian butuh-
kan untuk menolak hal-hal yang mungkin menyakitkan kalian. Se-
dangkan di awal surat tersebut Allah menyebutkan apa-apa yang
kalian butuhkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan
kalian.
Allah ta'ala berfirman:

"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kalian.
Pada binatang ternak tersebut terdapat (bulu) yang
menghangatkan dan berbagai manfaat lain, dan sebagian
(daging)nya kalian makan."(QS. An Nahl: 5)
Jilbab Wanita Muslimah— 171
Pada ayat di atas Allah menyebutkan apa-apa yang bisa meng-
hangatkan dan bisa mengusir dingin. Dikatakan begitu, karena dingin
itu membinasakan, sedangkan panas hanyalah sekedar mengganggu
saja. Karena itu, sebagian orang Arab mengatakan, "Dingin adalah
kebinasaan, sedangkan panas hanyalah gangguan saja." Karena itu,
di ayat lain tidak disebutkan masalah perlindungan dari dingin, karena
hal itu telah disebutkan di awal surat. Jadi, di pertengahan surat Allah
menyebut tentang penyempurna nikmat, sedangkan di awal surat
Allah menyebut tentang pokok nikmat-Nya. Oleh karena itu Allah
berfirman: "Demikianlah Allah menyempumakan nikmat-Nya untuk
kalian semua agar kalian berserah diri kepada-Nya."
Jadi, tujuan dibuatnya pakaian adalah sama dengan tujuan di-
buatnya tempat tinggal. Para wanita diperintahkan untuk memakai
pakaian yang bisa menutup dan menyembunyikan dirinya. Sehingga,
apabila kita ingin membedakan antara pakaian laki-laki dan wanita,
maka yang lebih mendekati maksud untuk menutup dan menyem-
bunyikan diri itulah yang menjadi pakaian wanita. Sedangkan yang
tidak seperti itu, maka itu pakaian untuk laki-laki.
Prinsip dasar yang harus kita ketahui adalah bahwa Allah mem-
buat syariat tentang pakaian ini mempunyai dua tujuan, yaitu:
Pertama, untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Kedua, untuk menutup dan menyembunyikan wanita.
Bila maksud Allah hanya sekedar untuk bisa membedakan antara
laki-laki dan wanita saja, niscaya hal ini bisa terwujud dengan cara
apa saja yang pokoknya bisa membuat perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Namun, ini adalah merupakan pendapat yang rusak. Kita
perlu melihat dibedakannya pakaian ahli dzimmah (orang-orang non-
Islam yang mendapatkan jaminan perlindungan dari pemerintah Islam -
pent.) dari pakaian orang-orang Islam yang tujuannya tidak lain
adalah terbedakan antara seorang muslim dengan seorang ahli
dzimmah sehingga masing-masing mendapatkan perlakuan hukum
yang sesuai. Sebenarnya perbedaan bisa saja diwujudkan dengan
pakaian apa saja yang penting bisa membedakan antara keduanya.
Akan tetapi syariat memberinya pembeda dengan pakaian yang ber-
172—Jilbab Wanita Muslimah
"Hendaklah kalian memakai pakaian yang berwarna putih. Hendak-
lah orang-orang yang masih hidup diantara kalian memakai pakaian
berwarna putih, dan hendaklah kalian menkafani orang-orang yang
meninggal dengan kain yang berwarna putih pula."
Jadi, syariat tidak menetapkan agar pakaian ahli dzimmah ber-
warna putih dan pakaian orang-orang Islam selain warna putih, misal-
nya warna madu, kehitam-hitaman, atau warna lainnya. Tidak begitu,
tetapi sebaliknya. Demikian pula dalam masalah rambut dan
lain-lainnya.
Nah, demikian pulalah halnya dalam masalah pakaian wanita dan
pakaian laki-laki yang sedang kita bahas ini. Tujuan dibuatnya bukan
sekedar asal berbeda antara pakaian laki-laki dan perempuan saja.
Akan tetapi harus diperhatikan pula aspek tertutupnya aurat. Akan
tetapi, juga tidak sekedar dengan tujuan tertutupnya aurat wanita saja
tanpa memperhatikan pembedaan di antara pakaian keduanya. Jadi,
dua tujuan itu mesti diperhatikan. Sehingga, andaikata ketika seorang
laki-laki dan seorang perempuan membuat pakaian yang sama dan
serupa, meskipun itu menutup aurat, tetap saja masing-masingnya
dilarang memakainya oleh syariat. Allah ta'a/a juga telah menjelaskan
tujuan dibuatnya pakaian ini dengan firman-Nya:

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang
beriman, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk
dikenal dan tidak diganggu orang.'"
Jilbab Wanita Muslimah — 173

warna putih, karena pakaian berwama putih lebih utama dari pakaian
dengan warna lainnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Allah menjadikan agar dikenalnya kaum wanita dengan pakaian
yang berbeda menjadi tujuan dibuatnya pakaian untuk para wanita.
Karena itu bentuk pelarangan Nabi disampaikan dalam urusan
tasyabbuh (penyerupaan)nya, yaitu:

"Allah melaknat para wanita yang menyerupai kaum laki-laki dan
kaum laki-laki yang menyerupai para wanita."
Pada hadits di atas nampak bahwa Nabi menetapkan hukum
itu berkait dengan masalah tasyabbuh-nya terhadap lawan jenisnya.
Kaidah di atas telah kami paparkan di dalam kitab Iqtidha' Shirath
Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-)ahim. Kami juga telah menje-
laskan bahwa kesamaan dalam hal lahir akan menyebabkan kesama-
an dan keserupaan dalam hal tingkah laku dan perbuatan. Karena
itu, kita dilarang menyerupai orang-orang kafir, orang-orang a'jam,
dan orang-orang Arab Badui. Demikian pulalah, kaum wanita dan
kaum laki-laki dilarang saling menyerupai satu sama lain.
Seorang laki-laki yang menyerupai kaum wanita lambat laun dia
akan tertulari tingkah dan perilaku wanita, yang pada puncaknya nanti
dia akan bisa menjadi banci dan akan menganggap dirinya sebagai
seorang wanita. Kemudian, karena nyanyian adalah merupakan peng-
antar menuju ke sana, dan karena menyanyi itu merupakan pekerjaan
wanita, maka orang-orang menyebut para penyanyi laki-laki dengan
sebutan kaum banci.
Sebaliknya, seorang wanita yang menyerupai kaum pria lambat
laun dia akan tertulari tingkah dan perilaku pria; dia akan berdandan
dan berpenampilan sebagaimana layaknya kaum laki-laki. Terkadang
dia tunjukkan bagian-bagian tubuhnya sebagaimana yang biasa kaum
laki-laki tunjukkan, meminta menjadi pemimpin bagi kaum laki-laki
sebagaimana umumnya kaum laki-laki, dan melakukan perbuatan-
perbuatan yang menghilangkan rasa malu pada diri wanita itu sendiri.
Dan itu semua terjadi semata-mata akibat dari tindakannya menye-
rupai kaum laki-laki.
174—Jilbab Wanita Muslimah
Kita telah tahu bahwa harus ada pembeda antara pakaian wanita
dan pakaian laki-laki. Kita juga telah tahu bahwa pakaian wanita
haruslah merupakan pakaian yang menutup seluruh badannya dan
menyembunyikan dirinya hingga terpenuhilah tujuan dibuatnya
pakaian untuknya. Maka, bila ada suatu pakaian yang pada galibnya
itu merupakan pakaian laki-laki sudah barang tentu dilarang bagi
wanita memakainya meskipun pakaian tersebut telah menutup se-
luruh badannya, seperti farjiah yang di beberapa negara biasa dipakai
oleh kaum laki-laki, bukan untuk pakaian wanita. Terlarangnya bentuk
pakaian ini bisa berubah mengikuti kebiasaan masyarakat. Adapun
bila pembedaan tadi kita tinjau dari sisi fungsinya menutup dan me-
nyembunyikan badan, maka kaum wanita disuruh memilih pakaian
yang lebih bagus dalam hal menutupnya. Andaikata tidak bisa begitu,
misalnya suatu pakaian di satu sisi sangat minim untuk menutup rapat
badan wanita, sementara juga menyerupai pakaian laki-laki, maka
hal ini jelas dilarang untuk dipakai wanita. Wallahu a'lam."
Begitulah penjelasan panjang lebar seputar tasyabbuh dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
♦♦♦♦♦♦♦
Jilbab Wanita Muslimah— 175
T TT T idak Menyerupai
Pakaian Orang-orang Kafir
illbab disyaratkan tidak menyerupai pakaian orang-orang
kafir, sebab di dalam syariat Islam telah ditetapkan
bahwa kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, tidak
boleh tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, baik dalam hal
ibadah, perayaan hari raya, dan pakaian yang menjadi pakaian
khas mereka. Ini merupakan prinsip yang mendasar dalam syariat
Islam, yang sayangnya pada zaman sekarang ini banyak
dilanggar oleh kaum muslimin sendiri, bahkan oleh para pemuka
agamanya. Hal itu dikarenakan kebodohan atau hawa nafsu
mereka sehingga mereka pun larut dalam arus zaman dan tradisi
Eropa yang kafir. Pada akhirnya semua itu menjadi sumber
kehinaan dan kelemahan kaum muslimin dan terbukanya peluang
bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka. Padahal, Allah
ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu
kaum hingga mereka sendiri mau mengubah keadaan mereka
sendiri." (QS. Ar-Ra'd:11)
176 —Jilbab Wanita Muslimah
]
Perlu diketahui bahwa dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran
prinsip penting di atas banyak tersebut di dalam Al-Qur'an maupun As-
Sunnah; Al-Qur'an menyebutkannya secara global, kemudian As-Sunnah
menafsirkan dan menjelaskannya secara terperinci.
Sebagian dalil-dalil dari Al-Qur'an itu di antaranya:
1. Firman Allah ta'a/a:

"Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (yaitu:
Taurat), kekuasaan dan kenabian. Kami telah berikan pula kepada
mereka rezki-rezki yang baik dan Kami telah lebihkan mereka dari
bangsa-bangsa (pada masanya). Kami telah berikan kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama). Dan
mereka itu tidak saling berselisih melainkan setelah datang kepada
mereka pengetahuan yang disebabkan karena kedengkian mereka.
Sesungguhnya Tuhanmu akan memberi keputusan kepada mereka
pada hari kiamat kelak dalam hal-hal yang mereka perselisihkan itu.
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dalam
urusan agama itu. Oleh karena itu, maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak me-
ngetahui." (QS. Al-Jatsiyah: 16-18)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Al-lqtidha':
"Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia telah memberikan nikmat
agama dan dunia kepada Bani Israil; dan Dia mengabarkan pula
bahwa mereka itu saling berselisih justeru setelah datang pengetahuan
kepada mereka disebabkan kedengkian sebagian dari mereka ter-
Jilbab Wanita Muslimah — 177
hadap yang lainnya. Kemudian Allah telah menjadikan syariat agama
untuk Muhammad dimana Allah memerintahkan beliau untuk
mengikutinya dan melarang beliau mengikuti hawa nafsu orang-
orang yang tidak mengetahui. Yang tergolong dalam kategori
orang-orang yang tidak mengetahui adalah semua orang yang
menyelisihi syariat Allah. Sedangkan pengertian hawa nafsu mereka
adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan orang-orang musyrik yang
sangat mereka sukai yang merupakan tuntutan dari agama mereka
yang batil. Apabila kita mengikuti kebiasaan mereka berarti kita
menyukai mereka; dan apabila tingkah laku kita bersesuaian
dengan tingkah laku mereka berarti kita mengikuti apa-apa yang
mereka sukai itu. Orang-orang kafirakan bergembira sekali ketika
orang-orang Islam mau mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka.
Bahkan, mereka akan rela mengeluarkan harta benda yang banyak
sekalipun untuk keperluan itu. Kalau pun perbuatan menyerupai
mereka itu bukan termasuk kategori mengikuti hawa nafsu
mereka, namun tidak diragukan lagi, bahwa menyelisihi mereka
berarti kita telah mencegah diri untuk mengikuti hawa nafsu
mereka. Dengan sikap tegas kita seperti itu kita akan
mendapatkan pertolongan dari Allah ta'a/a dan dimudahkan men-
jauhi perbuatan-perbuatan batil tersebut. Karena kita tahu, bahwa bila
kita menyamai mereka dalam satu hal, maka lambat laun kita akan
menyamai mereka dalam perkara lainnya (yang lebih besar). Sebab,
Barangsiapa menggembala (ternaknya) di dekat daerah terlarang,
maka hal itu besar kemungkinan akan memasuki daerah tersebut.
Namun, perbuatan menyamai mereka itu termasuk kategori mengikuti
hawa nafsu mereka ataukah tidak, kedua-duanya sama-sama mung-
kin; meskipun yang pertamalah yang lebih kuat kemungkinannya.
2. Firman Allah ta'ala:

178 —Jilbab Wanita Muslimah

"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka itu
bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, namun di
antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu ada
yang mengingkari sebagian (isi)nya. Katakanlah, 'Sesungguhnya
aku hanyalah diperintah untuk menyembah Allah dan agar tidak
menyekutukan Dia dengan sesuatu pun. Hanya kepada Dialah aku
menyeru (manusia) dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.'
Demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai
peraturan (yang benar) dengan bahasa Arab. Seandainya kamu
mengikuti hawa nafsu mereka, setelah datang pengetahuan
kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara
bagimu dari (siksa) Allah. (QS. Ar-Ra'du: 36-37)
Kata ganti dalam perkataan hawa nafsu mereka kembali -wallahu
a'lam— kepada golongan-golongan yang mengingkari sebagian ayat
Al-Qur'an, yaitu orang Yahudi, Nasrani dan lainnya.
Firman Allah ta'ala: "Seandainya kamu mengikuti hawa nafsu
mereka setelah datang pengetahuan kepadamu," maksudnya ialah
mengikuti mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khas dan tun-
tunan agama mereka. Dan, mengikuti hawa nafsu mereka itu bisa
terwujud dengan perilaku lain (yang lebih remeh) dari itu sekalipun.
3. Allah ta'ala berfirman:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman tunduk
hatinya untuk mengingat Allah dan (taat) kepada kebenaran
yang telah diturunkan (kepada mereka). janganlah mereka
seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-
Kitab kepada mereka, lalu berjalanlah masa yang panjang,
sehingga hati mereka menjadi keras dan kebanyakan dari
mereka menjadi orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadid:16)
Jilbab Wanita Muslimah— 179
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Firman Allah ta'a/a,
'janganlah mereka seperti....' merupakan larangan mutlak terhadap
tindakan menyerupai mereka; disamping itu, merupakan peringatan
khusus (bagi kita) bahwa hati bisa membatu akibat dari
kemaksiatan.
. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV:310) berkata: "Oleh
karena itu, Allah ta'ala melarang orang-orang beriman menyerupai
mereka dalam perkara-perkara pokok (akidah) maupun perkara-per-
kara cabang (hukum fikih)."
4. Allah ta'a/a berfirman:

"Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengatakan, 'Ra'ina',
tetapi katakanlah, 'unzhurna', dan dengarkanlah. Dan bagi orang-
orang kafir (disediakan) siksaan yang pedih." (QS. Al-Baqarah: 104)
Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (1:148) berkata,
"Allah ta'ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupai
ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab,
orang-orang Yahudi suka menggunakan kata p/esetan dengan tujuan
mengejek -semoga Allah melaknat mereka-. Jika mereka ingin
mengatakan, dengarlah kami, mereka mengatakan, ra'ina, sebagai
plesetan dari kata ru'unah, (yang artinya ketololan), sebagaimana
tersebut dalam firman Allah ta'ala: "Yaitu orang-orang Yahudi, mereka
mengubah perkataan dari tempat-tempat (semesti)nya. Mereka ber-
kata, 'Kami mendengar', tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan
(mereka mengatakan pula): 'Dengarlah!', sedangkan kami sebenarnya
tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka juga mengatakan): 'Ra'ina'
dengan memutar-mutar lidahnya untuk mencela agama. Sekiranya
mereka mengatakan, 'Kami mendengar dan kami patuh, dengarlah,
perhatikan kami' tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih
tepat. Akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka.
Mereka tidak beriman kecuali dengan keimanan yang sangat sedikit."
(QS.An-Nisa':46)
180 —Jilbab Wanita Muslimah
Ada juga hadits-hadits yang mengabarkan bahwa mereka jika
memberi salam mengatakan, "assamu 'alaikum", padahal 'assam'
artinya kematian. Karena itu, kita diperintahkan menjawab salam
mereka dengan perkataan "wa 'alaikum," yang maksudnya: semoga
ucapan doa mereka itu menimpa mereka sendiri, tidak menimpa
kepada kami. Jadi, Allah melarang kaum mukminin menyerupai
orang-orang kafir, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Syaikhul Islam menjelaskan ayat ini yang secara ringkasnya
sebagai berikut (him. 22): "Qatadah dan ulama lainnya berkata,
'Orang-orang Yahudi mengucapkan perkataan tersebut adalah dengan
maksud untuk mengolok-olok. Allah ta'ala tidak suka bila orang-orang
mukmin mengucapkan perkataan semacam itu".
Dia juga mengatakan: "Orang-orang Yahudi mengatakan kepada
Nabi , 'ra'ina sam'aka' dengan maksud mengolok-olok, karena
perkataan tersebut dalam bahasa mereka mempunyai arti yang jelek.
Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kaum muslimin dilarang
mengucapkan perkataan tersebut disebabkan orang-orang Yahudi
biasa mengucapkannya, walaupun mungkin maknanya tidak jelek
menurut bahasa kaum muslimin. Sebab, dengan berbuat seperti itu
berarti kita telah menyerupai kebiasaan orang-orang kafir dan mem-
buat mereka senang karena harapan dan tujuan mereka tercapai."
Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang membicarakan
masalah ini, namun beberapa ayat yang telah disebutkan di atas kami
kira telah mencukupi. Bagi yang ingin mengkajinya lebih lanjut, kami
persilahkan untuk membaca kitab Al-lqtidha'(h\m. 8-14,22, dan 42).
Berdasarkan ayat-ayat di atas jelaslah bahwa menjauhi perilaku
orang-orang kafir serta tidak menyerupai mereka dalam perkataan
maupun perbuatan merupakan sasaran dan tujuan asasi diturun-
kannya Al-Qur'anul Karim. Nabi telah menjelaskan dan mene-
rangkan hal itu kepada umatnya. Beliau ^juga telah mempraktekkan
sikap semacam itu dalam kehidupan beliau , hingga orang-orang
Yahudi yang hidup di zaman beliau waktu itu tahu dan merasa
bahwa Nabi memang berkeinginan menyelisihi mereka dalam
segala perilaku yang merupakan ciri khas mereka. Hal ini diceritakan
secara jelas oleh Anas bin Malik sebagai berikut:
Jilbab Wanita Muslimah— 181

"Sesungguhnya menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi, bila
salah seorang wanita dari mereka haidh, mereka tidak
mengajaknya makan dan berkumpul bersama mereka. Para
sahabat pun menanyakan hal itu kepada Nabi Lalu Allah
menurunkan ayat, 'Mereka bertanya kepadamu tentang
masalah haidh.' Katakanlah, 'Sesungguhnya haidh itu adalah
suatu gangguan. Maka, hendaklah kalian menjauhi para
wanita yang sedang haidh dan seterusnya hingga akhir
ayat.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Lakukanlah apa saja
terhadap mereka, kecuali bersetubuh.' Sabda beliau ini
didengar oleh orang-orang Yahudi. Mereka berkata, 'Apa
yang diinginkan oleh laki-laki ini? Tidak ada satu pun dari
urusan kita, melainkan orang ini selalu menyelisihinya.
182 —Jilbnb Wanita Muslimah
Lalu, datanglah Usaid bin Hudhair dan Ibadh bin Basyir.
Keduanya berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi
mengatakan begini-begini. Apakah tidak sebaiknya kita
menyetubuhi (istri-istri kita yang sedang haidh)? Berubahlah
wajah Rasulullah , dan kami kira beliau marah kepada
mereka berdua. Lalu, keduanya keluar. Sekeluarnya mereka
datanglah hadiah susu untuk Nabi Beliau mengutus sese-
orang untuk menyusul keduanya dan memberikan susu itu
kepada mereka. Sehingga, keduanya pun tahu bahwa Nabi
tidak marah kepada mereka."
129

129. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (1:169), Abu 'Awanah (I: 311-312) di dalam
masing-masing kitab Shahih-nya. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan-shahih."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh ulama hadits lainnya. Hadits ini kami bahas di dalam
kitab Shahih Sunan Abi Dawud (hadits no. 250).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya, Al-lqtidha\ "Hadits ini menun-
jukkan betapa banyak syariat Allah ta'ala yang menyuruh Rasulullah menyelisihi
orang-orang Yahudi; bahkan dalam segala urusan mereka. Hal itu diisyaratkan oleh
perkataan mereka, "Apa yang diinginkan oleh laki-laki ini? Tidak ada satu pun dan
urusan kita, melainkan orang ini selalu menyelisihinya." Kemudian, bentuk
penyelisihan yang kita lakukan ada kalanya mengena pada pokok hukumnya dan ada
kalanya pula pada tata caranya. Pada kasus menjauhi istri yang sedang haidh di
atas adalah berkenaan dengan tata caranya, di mana Allah telah menetapkan
bolehnya 'mendekati' istri yang sedang haidh asal tidak untuk ber-setubuh.
Ketika, sebagian sahabat berlebih-lebihan dalam menyelisihi orang-orang Yahudi
hingga hendak meninggalkan apa yang telah disyariatkan oleh Allah (yaitu hendak
menyetubuhi istri-istrinya yang sedang haidh), berubahlah wajah Rasulullah (yang
menunjukkan ketidaksetujuan beliau).
Dalam urusan thaharah (kebersihan) yang berkaitan dengan orang haidh ini orang-
orang Yahudi mempunyai aturan-aturan yang sangat memberatkan. Kemudian,
datanglah orang-orang Nasrani yang meninggalkan seluruh aturan-aturan tersebut
-tanpa berdasar dengan aturan-aturan Allah— hingga mereka menetapkan bahwa
wanita haidh tidak najis sama sekali. (Maksudnya, boleh digauli kapan saja diperlukan
— Pent.). Lalu, Allah memberikan bimbingan kepada umat yang 'tengah-tengah' ini
dengan memberinya syariat yang sifatnya tengah-tengah di antara kedua syariat umat
terdahulu tersebut. Meskipun, apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi seperti
di atas adalah disyariatkan oleh Allah. Dari situ jelaslah, bahwa menjauhi apa-apa
yang tidak diperintahkan oleh Allah untuk dijauhi adalah mendekati perilaku orang-
orang Yahudi; sedang melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dijauhi
adalah mendekati perilaku orang-orang Nasrani. Dan, sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Jilbab Wanita Muslimah— 183
Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah yang menguatkan tujuan asasi
syariat Islam yang disebutkan di muka sangatlah banyak. Dan dalil-
dalil tersebut tidak khusus berkaitan dengan masalah shalat saja,
namun meliputi juga masalah-masalah lain, seperti: ibadah, adab,
sosial dan adat. Dalil-dalil tersebut merupakan penjelasan dan pen-
jabaran dari keterangan-keterangan di dalam Al-Qur'an yang telah
tersebut di muka yang sifatnya masih global. Kami akan sebutkan dalil-
dalil tersebut agar para pembaca sekalian mantap dengan alasan-
alasan kami.
Dalam Masalah Shalat
1. Dari Abu Umair bin Anas, dari seorang pamannya yang termasuk
sahabat Anshar, dia berkata:

"Suatu ketika Nabi ^sedang memikirkan bagaimana cara
mengumpulkan orang untuk menunaikan shalat. Ada salah
seorang berkata mengusulkan, 'Kita pasang saja bendera
ketika tiba waktunya shalat. Jika (waktu shalat tiba, lalu
bendera telah dipasang), niscaya orang yang melihatnya
akan sating memberi tahu yang lainnya.' Beliau tidak
menyetujui usulan ini. Kemudian diusulkan juga kepada
beliau agar menggunakan terompet (dalam riwayat lain
disebutkan: terompet
184—Jilbab Wanita Muslimah
Yahudi), namun beliau juga tidak menyetujuinya. Beliau mengata-
kan, 'Itu seperti orang-orang Yahudi. 'Ada yang mengusulkan
menggunakan lonceng. Namun beliau mengatakan, 'Itu seperti
orang-orang Nasrani.' Abdullah bin laid bin Abdi Rabbihi
meninggalkan majlis dalam keadaan sangat memikirkan apa yang
sedang difikirkan oleh Rasulullah tersebut. Dalam tidurnya, dia
diperlihatkan adzan (untuk memanggil orang-orang shalat"
130

130. Hadits di atas shahih. Kami telah sebutkan hadits ini di dalam kitab kami Shahih Sunan
Abu Dawud (hadits no. 511). Di dalam totab tersebut juga kami sebutkan imam-imam
yang telah menilai shahih hadits ini. Dan penguat hadits ini cukup jelas, sebagaknana
disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 56): "Sesungguhnya tatkala
Nabi melarang terompet yang ditiup dengan mulut dan lonceng orang-orang
Nasrani yang dipukul dengan tangan beliau menjelaskan ///af (sebab)nya, yaitu karena
terompet merupakan alat yang biasa digunakan orang-orang Yahudi; sedang lonceng
merupakan alat yang biasa digunakan oleh orang-orang Nasrani. Sebab, penyebutan
alasan suatu masalah setelah ditetapkannya hukum masalah tersebut, maka menun-
jukkan bahwa alasan tersebut merupakan '///ardari hukum tersebut. Konsekwensinya,
beliau melarang apa saja yang merupakan ciri khas orang-orang Yahudi dan orang-
orang Nasrani. Sekalipun terompet orang-orang Yahudi konon sumbernya berasal
dari Nabi Musa, di mana pada masa itu terompet biasa digunakan. Adapun lonceng
orang-orang Nasrani itu adalah bid'ah, karena memang mayoritas syariat orang-orang
Nasrani merupakan bid'ah-bid'ah yang dibuat oleh para pendeta dan pemuka agama
mereka.
Hadits di atas juga menunjukkan dibencinya menggunakan kedua alat ini secara
mutlak, termasuk di luar shalat, karena hal itu merupakan kebiasaan mereka. Orang-
orang Nasrani biasa membunyikan lonceng dalam banyak acara di luar acara ibadah
mereka. Adapun syiar Islam yang lurus ini untuk memanggil orang-orang untuk shalat
tidak lain adalah dengan adzan, yang mengandung ajakan untuk berdzikir kepada
Allah di mana adzan ini pintu-pintu langit terbuka, setan-setan melarikan diri dan
rahmat Allah turun.
Banyak di antara umat Islam ini, baik dari kalangan raja atau lainnya ikut-ikutan
menggunakan kedua alat yang biasa digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani
itu. Sampai-sampai kita bisa melihat mereka pada hari 'Kamis kecil' (yaitu hari Kamis
yang menjadi awal dari puasa orang-orang Nasrani menjelang perayaan Paskah.
Pen.) biasa membakar dupa dan memukul lonceng-lonceng kecil. Bahkan, ada di-
antara raja-raja tadi yang menggunakan lonceng atau beduk untuk panggilan shalat
lima waktul Padahal alat-alat itu sudah jelas dilarang oleh Rasulullah . Dan diantara
mereka ada yang memukul alat-alat itu pada saat pagi dan petang hari, —katanya
untuk meniru Dzulkarnain— dan memerintahkan kepada raja-raja kecil.dalam ke-
kuasaannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid'ah lainnya.
Jilbab Wanita Muslimah— 185
Tatkala tindakan menyerupai orang-orang Yahudi atau Nasrani, atau orang-orang
A'jam, yaitu orang-orang Romawi dan Persia telah membudaya di kalangan raja-raja
Timur (baca: Islam), dimana sebenarnya tindakan itu menyalahi tuntunan kaum
muslimin, dan telah masuk pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan Rasul-
Nya, maka Allah pun menjadikan mereka dikuasai oleh orang-orang Turki kafir yang
menurut aturan Islam boleh diperangi, sehingga orang-orang Turki tadi memper-
lakukan negeri-negeri dan orang-orang Islam dengan perlakuan yang tidak pernah
sama sekali terjadi di negeri Islam lain. Itu merupakan bukti kebenaran sabda Nabi
"Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi dan kebiasaan orang-orang sebelum kalian"
sebagaimana telah disebutkan di depan:
Kaum muslimin di zaman Nabi dan zaman sesudahnya, (yaitu zaman sahabat dan
tabi'in), ketika dalam peperangan kondisi mereka dalam ketenangan dan senantiasa
mengingat Allah ta'ala. Qais bin 'Ibad -salah seorang tokoh dan kalangan tabi'in—
berkata, "Mereka (para sahabat) lebih menyukai tidak banyak bersuara ketika ber-
dzikir, dafam peperangan, dan ketika mengurus jenazah. Semua atsar menunjukkan
bahwa mereka terbiasa tenang dalam keadaan-keadaan tersebut dengan hati yang
sibuk mengingat, mengagungkan dan memuliakan Allah; begitu juga ketika mereka
melakukan shalat. Tindakan mengeraskan suara dalam tiga keadaan di atas adalah
merupakan tradisi Ahli kitab, (yaitu Yahudi dan Nasrani), dan orang-orang A'jam, (yaitu
Romawi dan Persia) yang kemudian banyak dilakukan oleh orang-orang Islam."
Begitulah perkataan Ibnu Taimiyah.
Saya katakan: Yang menunjukkan dibencinya suara lonceng secara mutlak adalah
perkataan Nabi "Lonceng adalah seruling setan." Hadits ini diriwayatkan oleh
Muslim (VI: 163), Abu Dawud (1:401), Al-Hakim.(l: 445), Al-Khathib (XIII: 70), Al-
Baihaqi (V: 253), dan Ahmad (II: 366,372).
Di dalam hadits lain disebutkan, "Para malaikat tidakmenyertaisuatu majlisyang di
dalamnya terdapatlonceng."'Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah,
dari Ummu Salamah.
Al-Munawi berkata, Ibnu Hajar berkata, 'Dimakruhkannya karena suara dan bentuk-
nya menyerupai lonceng orang-orang Yahudi."
Saya katakan: Di zaman sekarang ini telah dibuat orang bermacam-macam bel untuk
tujuan dan kemanfaatan yang beragam, seperti bel pada jam weker untuk mem-
bangunkan orang tidur, bel pada telepon, bel di kantor-kantor pemerintah, di rumah-
rumah dan sebagainya. Apakah semua itu termasuk dalam kategori lonceng yang
telah disebutkan di dalam hadits-hadits di muka? Jawaban saya: Tidak, karena suara
dan bentuknya tidaklah menyerupai lonceng. Wallahu a'lam. Berbeda dengan bel
pada beberapa jenis jam besar yang biasa ditempelkan pada dinding. Suaranya
benar-benar persis dengan suara lonceng. Oleh karena itu, tidak patut bagi seorang
muslim untuk memasukkan jam-jam jenis ini ke dalam rumahnya.
186 —Jilbab Wanita Muslimath
Apalagi sebagian diantara jam-jam tersebut mengeluarkan suara yang menyerupai
musik sebelum bel tersebut berdentang, seperti jam di kota London yang dikenal
dengan sebutan Big Ben. Sayangnya, jam-jam jenis ini pun banyak dipakai oleh kaum
muslimin, bahkan sampai di masjid-masjid. Hal itu tidak lain karena kebodohan
mereka terhadap syariat agamanya sendiri. Sering kita jumpai seorang imam mem-
baca di dalam shalatnya ayat-ayat yang mencela kesyirikan dan kesesatan ajaran
trinitas, tetapi pada saat yang sama lonceng berdentang di atas kepalanya, menyeru-
kan dan mengingatkan kepada ajaran trinitas. Nampaknya, si imam dan para jamaah-
nya itu telah terieiap dalam kelalaian.
Setiap kali saya memasuki masjid yang di dalamnya terdapat jam semacam itu, saya
hanya melepas loncengnya, namun saya tidak menyentuh mesin jamnya itu sendiri
sama sekali, karena saya memang cukup ahli dalam masalah jam. Alhamdulillah.
Tentu saja saya melakukan hal itu setelah saya menjelaskan kepada orang-orang
bagaimana tuntunan syariat tentang lonceng semacam itu, dan setelah saya mene-
rangkan pentingnya menjauhkan masjid dari masuknya lonceng tersebut. Meskipun
demikian, kadang-kadang mereka tidak menyetujui tindakan saya seperti itu, meski-
pun mereka faham dan menerima penjelasan saya, dengan alasan bahwa syaikh
Fulan, ulama Fulan dan Fulan pernah shalat di masjid ini, namun tidak salah seorang
pun dari mereka yang mempersalahkan (adanya lonceng itu).
Itu terjadi di Suriah. Semula saya tidak mengira kalau jam-jam yang mengundang
kesyirikan semacam itu masuk pula ke negeri tauhid, Saudi. Sampai suatu ketika
pada musim haji tahun 1382 M saya bersama saudara saya, Munir, memasuki masjid
Quba. Kami berdua terkejut mendengar dentang lonceng di masjid itu. Lalu, kami
ajak bicara beberapa pengurus masjid itu, barangkali diantara mereka juga ada imam
masjidnya. Kami yakinkan kepada mereka mengenai tidak bolehnya memakai jam
semacam itu, lebih-lebih di masjid. Mereka faham dan menerima penjelasan saya.
Akan tetapi, ketika saya meminta izin untuk melepas lonceng dari jam tersebut dengan
serta merta mereka menolak. Mereka berkata, "Ini bukan wewenang kami. Kami akan
sampaikan masalah ini kepada Pengurus," Maka, kami katakan kepada mereka,
"Alangkah bedanya antara kemarin dan hari ini. Benarlah sabda Rasulullah *: "Tidak
ada suatu tahun, kecuali tahun sesudahnya lebih buruk darinya, hingga kalian ber-
jumpa dengan Tuhan kalian."(Kitab Ash-Shahihah hadits no. 1218) Itu semua
merupakan peringatan; dan, "Peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang
beriman."
Atsar Qais bin 'Ibad yang telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di muka tadi diriwayat-
kan oleh Al-Baihaqi (IV: 74 dan IX: 153) dengan sanad shahih. Bagian awal dari hadits
di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:414) dan Al-Hakim (II: 116). Al- Hakim
juga meriwayatkan hadits lain yang mendukung hadits tersebut secara marfu'yang
para perawinya biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Jilbab Wanita Muslimah—187
"Saya pernah berkata, 'Wahai Nabi Allah, kabarkan
kepadaku apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu dan
hal shalat karena aku belum mengetahuinya!' Beliau
bersabda, 'Laksanakan shalat Subuh; setelah itu, janganlah
melaksanakan shalat tatkala matahari terbit sampai
matahari naik, karena dia terbit di antara dua tanduk setan
dan ketika itu orang-orang kafir sedang sujud kepadanya.
Kemudian shalatlah, karena shalat (di waktu tersebut)
disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat) sampai bayang-
bayang tepat di bawah bendanya. Setelah itu, jangan lakukan
shalat, karena pada saat itu neraka jahannam sedang
dinyalakan. Kemudian jika bayangan benda telah mulai
nampak memanjang, shalatlah, karena shalat (di waktu
tersebut) disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat) hingga
datang waktu shalat Ashar. Setelah itu, janganlah
melaksanakan shalat di saat matahari terbenam, karena dia
terbenam di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-
orang kafir sedang sujud kepadanya. '"
131

131. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (II: 208-209) dan Abu Awanah (I: 386-387) di
dalam kitab Shahihnya masing-masing.
188—Jilbab Wanita Muslimah

2. Dari Amru bin Abasah, dia berkata:
Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian
menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih
mereka sebagai masjid.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. 31), "Nabi melarang seseorang shalat
ketika matahari terbit dan ketika tenggelam, dikarenakan matahari terbit dan teng-
gelam diantara dua tanduk setan dan pada saat-saat itu orang kafir sedang bersujud
kepadanya. Telah dimaklumi bahwa seorang mukmin itu tidak akan pernah bersujud
kecuali kepada Allah semata, sedangkan kebanyakan manusia tidak tahu kalau
matahari terbit dan tenggelam diantara dua tanduk setan dan mereka juga tidak tahu
kalau pada saat itu orang-orang kafir sedang sujud kepadanya. Jadi, Nabi m melarang
shalat pada saat-saat tersebut adalah untuk menjauhkan (umatnya) dari tasyabbuh
(dengan orang-orang kafir) dalam segala halnya.
Hadits ini memberikan peringatan bahwa segala ibadah dan perbuatan orang-orang
kafir semisalnya yang merupakan kekafiran dan kemaksiatan dalam hal niat, tidak
boleh dicontoh oleh orang-orang mukmin, sekalipun mereka tidak mempunyai niatan
sebagaimana diniatkan oleh orang-orang musyrik. Hal itu dalam rangka mencegah
dan menghindarkan dari bahaya dan kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu
beliau melarang (seseorang) shalat menghadap segala sesuatu selain Allah yang
biasa disembah, meskipun niatan dia tidak untuk menyembahnya, dikarenakan hal
itu menyerupai sujud kepada selain Allah. Perhatikanlah, betapa syariat Allah telah
mencegah kita menyerupai (orang-orang kafir) dalam hal arah dan waktu-waktu
ibadah.
Orang Islam selain tidak diperbolehkan shalat ke arah yang biasa menjadi kiblat orang-
orang kafir, tidak diperbolehkan juga shalat menghadap ke segala apa yang biasa
mereka sembah, bahkan yang kedua ini lebih rusak daripada yang pertama. Sebab,
kiblat hanyalah salah satu syariat yang mana tiap-tiap Nabi n berbeda-beda syariat-
nya. Sedangkan bersujud dan beribadah kepada selain Allah itu diharamkan oleh
semua agama para rasul Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Tanya-
kanlah kepada para Rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu. Apakah Kami
pernah menjadikan Tuhan-Tuhan untuk mereka sembah selain Allah Yang Maha
Pemurah?
Jilbab Wanita Muslimah— 189

3. Dari jundub, yaitu Ibnu Abdillah Al-Bajali, dia berkata, "Saya
mendengar Nabi bersabda lima hari sebelum beliau wafat:
Ketahuilah, janganlah menjadikan kuburan sebagai masjidl
Sungguh, saya melarang kalian melakukan hal itu. *
132

4. Dari Syaddad bin Aus, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

'Selisihilah orang-orang Yahudi, karena mereka tidak
melaksanakan shalat dengan memakai sandal dan sepatu.
'"
133

132. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (II: 67-68) dan Abu Awanah (1:401) di dalam kitab
Shahihnya masing-masing; juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (II: 2/35).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Rasulullah menceritakan bahwa orang-
orang sebelum kita menjadikan kubur para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan
mereka sebagai masjid. Setelah menceritakan hal itu, langsung beliau sambung
dengan larangan kepada orang-orang Islam agar tidak menjadikan kuburah menjadi
masjid.
Dia menambahkan, "Hadits tersebut mengandung petunjuk bahwa disebabkan orang-
orang sebelum kita menjadikan masjid itulah yang menjadi alasan Rasulullah
melarang kita melakukan tindakan serupa, bisa jadi sebagai fenomena yang
terjadi sehingga perlu dilarang maupun sebagai suatu tuntutan periunya larangan.
Sehingga nampaklah, bahwa dikarenakan mereka melakukan perbuatan itulah Allah
melarang orang-orang mukmin melakukan perbuatan tersebut, atau perbuatan
mereka itulah yang menjadi alasan munculnya larangan Rasulullah .di atas.
Berdasarkan hal-hal itulah dapat kita ketahui bahwa secara umum menyelisihi orang-
orang kafir adalah salah satu perkara yang dituntut oleh syariat.
Larangan terhadap sikap menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani di atas juga
berdasarkan laknat Rasulullah terhadap mereka. Namun kami tidak akan mem-
bahas hal itu secara panjang lebar di sini mengingat yang kita bicarakan hanyalah
kaidah secara umum saja. Meskipun sebenarnya adanya larangan terhadap hal
semacam itu telah dikemukakan oleh beberapa ulama dari para pengikut Malik, Syafi'i,
Ahmad, dan Iain-Iain."
133. Kami telah menyebutkan hadits di atas di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud
(hadits no. 658). Kami sebutkan di kitab tersebut para ulama yang telah menilai shahih
hadits di atas. Pembahasan fikih hadits ini telah kami sebutkan di dalam kitab Ats-
Tsamar Al-Mustathab dan di dalam membicarakan derajat hadits dad kitab Shifat
Shalat An-Nabi-.
Nabi memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang Yahudi secara mutlak.
Hal itu menunjukkan bahwa semua tindakan yang termasuk kategori menyelisihi
mereka adalah merupakan tindakan yang dituntut oleh syariat. Kemudian secara
190 — Jilbab Wanita Musimah
'jika salah seorang di antara kalian shalat dengan
mengenakan satu kain, maka hendaklah dia mengikatkan
kain tersebut pada pinggangnya. Janganlah kalian
menyelimutkan kain kalian seperti yang dilakukan oleh orang-
orang Yahudi. "
134

6. Dari jabir bin Abdullah, dia berkata:

khusus beliau menyebutkan perintah menyelisihi mereka, yaitu melaksanakan
shalat dengan memakai sandal dan sepatu. Penyebutan secara khusus ini bukan
termasuk kategori takhshishu al 'am (mengkhususkan sesuatu yang sifatnya umum
-pent.) atau taqyid al-muthlaq (membatasi sesuatu yang sifatnya mutlak -pent.),
melainkan merupakan dzikru ba'dh iafrad al-'am (menyebutkan sebagian
perincian dari hal yang sifatnya umum -pent.).
Syakhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. 29), "Walaupun tindakan orang-
orang Yahudi melepas sandal mereka itu diambil dari kisah Musa, ketika Allah
berfirman kepadanya: "Lepaskanlah kedua sandalmu!”
134. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ath-Thahawi dengan sanad shahih. Kami
telah menyebutkan hadits serupa di dalam kitab Shahih Abu Dawud(hadits no.
645) dan kami telah beberkan serta ambil kesimpuian bahwa riwayat hadits
tersebut sampai kepada Nabi Meskipun terkadang periwayatnya sendiri
meragukan akan sampainya hadits tersebut kepada Nabi
Syaikhui Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. 42), "Pengertian semacam ini benar
bersumber dari Nabi berdasar riwayat dari Jabir dan sahabat lainnya, bahwa
beliau memerintahkan menyarungkan kain yang ukurannya sempit, bukan me-
nyelimutkannya. Ini adalah merupakan pendapat Jumhur ulama. Namun, yang perlu
kita perhatikan dari sabda Nabi , di atas adalah perkataan beliau : "Dan janganlah
kalian menyelimutkan kain kalian sepertiyang dilakukan orang-orang Yahudi."Meng-
kaitkan larangan tersebut dengan perbuatan orang-orang Yahudi menunjukkan bahwa
perbuatan orang-orang Yahudi itulah yang menyebabkan adanya larangan Nabi
itu, sebagai telah dikemukakan di muka."
Jilbab Wanita Muslimah— 191

5. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

"Pernah suatu ketika Rasulullah sakit. Kami pun shalat di
belakarij beliau yang shalat dengan duduk, sedangkan Abu
Bakar mengeraskan takbir kepada para jama'ah. Beliau
menoleh, dan melihat kami shalat dengan berdiri. Lalu, beliau
member! isyarat agar kami duduk. Maka kami pun duduk.
Setelah salam, beliau bersabda, 'Hampir saja kalian
melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh
orang-orang Persia dan Romawi dimana mereka berdiri
menghormati raja merek, yang sedang duduk. janganlah
kalian melakukan perbuatan itul Ikuti lah imam kalian; jika dia
shalat dengan berdiri, maka shalatlah kaliai dengan berdiri,
dan jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian
dengan duduk!'"
Di dalam riwayat lain disebutkan:

"Dan janganlah kalian berbuat sebagaimana diperbuat oleh
orang-orang Persia terhadap para pembesar mereka. "
135

135. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di dalam kitab shahihnya
masing-masing. Dan hadits ini cukup populer diriwayatkan oleh Jabir. Kami telah
membeberkan 3 jalur periwayatan hadits ini di dalam kitab Shahih Abu Dawud(hadits
no. 615 dan 619) dan di dalam kitab TakhrijShifah Shalat An-Nabim, Tambahan lafazh
pada akhir hadits adalah yang terdapat pada riwayat Abu Dawud dan Iain-Iain dengan
sanad shahih.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 32) berkata, "Dalam hadits ini disebutkan bahwa
Rasulullah melarang para sahabat (shalat dengan) berdiri, padahal berdiri adalah
merupakan kewajiban dalam shalat. Beliau menjelaskan alasannya, yaitu karena
berdirinya makmum ketika imam shalat sambil duduk adalah seperti perbuatan orang-
orang Persia dan Romawi yang mereka lakukan untuk menghormati pembesar-
192 — Jilbab Wanita Muslimah
pembesar mereka, dimana mereka berdiri sedangkan para pembesar mereka duduk.
Padahal sudah dimaklumi, bahwa seorang makmum berdiri untuk shalat itu adalah karena
Allah, bukan untuk menghormati imamnya. Larangan Nabi di atas merupakan larangan
keras terhadap orang yang berdiri di hadapan seseorang yang duduk dan terhadap
perbuatan yang serupa itu, meskipun bukan bermaksud untuk menghormati. Oleh karena
itulah Rasulullah melarang seseorang bersujud kepada Allah dengan menghadap kepada
seseorang; juga melarang shalat menghadap sesuatu selain Allah yang biasa disembah,
seperti api dan sejenisnya. Hadits di atas juga mengandung larangan menyerupai segala
perbuatan orang-orang Persia dan Romawi, sekalipun niatan kita berbeda dengan niatan
mereka. Karena di dalam hadits tersebut beliau bersabda, "Janganlah kalian
melakukan!". Masih adakah larangan "menyerupai mereka dalam penampilan" yang
lebih (mencakup) dari larangan Nabi tersebut?!
Meskipun hukum duduknya imam di dalam hadits tersebut mungkin muhkam dan
mungkin juga mansukh, tetap saja hadits tersebut bisa dijadikan hujjah, karena
terhapusnya hukum duduk itu tidak menjadikan hilangnya sebab (pelarangan Nabi ), kecuali
bila ada hal lain yang lebih kuat dari itu, umpamanya karena hukum berdiri di dalam shalat
adalah wajib dan kewajiban ini tidak bisa gugur hanya karena perbuatan ini menyerupai
perbuatan orang-orang kafir. Dan hal yang semacam ini termasuk dalam lingkup ijtihad.
Kemudian, bila tindakan menyerupai orang-orang kafir di atas tidak bisa menggugurkan
suatu kewajiban, maka sebab pelarangan Nabi di atas tidak bisa terlawan atau
terhapus. Sebab, berdiri di dalam shalat bukanlah tindakan menyerupai orang-orang kafir
secara hakekat, karenanya tidaklah terlarang. Suatu hukum bila ditetapkan berdasarkan
sebab tertentu, kemudian hukum tersebut dihapus dengan tidak menghilangkan sebab tadi,
maka pasti ada sebab lain yang lebih kuat ketika terjadinya penghapusan hukum atau
karena sebab tadi sudah lemah pengaruh-nya. Jadi tidak mungkin sebab yang asal tersebut
hilang. Ini semua jika kita andaikan ketetapan hukum tersebut dihapuskan. Padahal, yang
benar ketetapan hukum dalam hadits ini adalah muhkam dan banyak dipraktekkan oieh
para sahabat sepeninggal Rasulullah dimana mereka mengetahui shalat beliau
ketika sakit dan hal itu telah tersebar luas secara shahih dan gamblang, sehingga tidak
memungkinkan jika hadits mengenai shalat beliau ketika sakit itu menghapuskan hukum
berdiri dalam shalat, sebagaimana hal ini dipertegas pada pembahasan di tempat lain. Jadi,
hadits tersebut muhkam. Mungkin kedua hal tersebut dibolehkan, karena shalat dengan
berdiri tidak menafikan adanya shalat dengan duduk. Atau mungkin dibedakan antara
shalatnya seseorang (yang bersendirian) sambil duduk dengan shalatnya makmum yang
dari permulaan imamnya shalat dengan berdiri, karena hal itu tidak termasuk dalam shalat
yang disabdakan Nabi "... dan jika dia (imam) shalat dengan duduk..." dan karena tidak
ada bahaya tertentu yang bisa dijadikan sebab; juga, karena melakukan bagian akhir shalat
berdasarkan perbuatan shalat ketika awalnya lebih utama daripada melakukannya
berdasarkan shalat yang dilakukan oleh imam, dan alasan-alasan lain yang disebutkan di
luar pembahasan ini."
Jilbab Wanita Muslimah— 193
7. Dari Ibnu Umar:

"Sesungguhnya Nabi pernah melarang seseorang shalat
duduk bertumpu dengan tangan kirinya. Beliau bersabda,
'Sungguh, itu adalah cara shalat orang Yahudi.'
Da/am riwayat lain disebutkan, 'Jangan duduk seperti itu,
karena itu adalah cara duduk orang-orang yang disiksa. "
n6

136. Lafazh hadits pertama diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lain-lainnya dengan sanad
shahih. Sedangkan lafazh kedua diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan, dan
para periwayatnya biasa dipakai oleh Muslim. Kami telah membicarakan kedua hadits
ini di dalam kitab Takhrij Shifat Shalat An-Nabi. Lihat pula hadits yang akan dikemuka-
kan pada sub judul "Dalam Masalah Adab dan Adat", yaitu hadits no. 2.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 31) berkata, "Di dalam hadits ini terdapat larangan
duduk seperti itu, dengan alasan karena duduk seperti itu merupakan cara duduk
orang-orang yang disiksa. Ini merupakan penekanan dari beliau * untuk menjauhi
gaya penampilan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan sebuah atsar dari Masruq, dari
Aisyah, bahwa dia tidak suka melihat Masruq berkacak pinggang. Dia (Aisyah) ber-
kata, 'Karena orang Yahudi melakukan hal semacam itu.' Al-Bukhari juga meriwayat-
kan sebuah hadits dari Abu Hurairah, dia berkata, 'Dilarang berkacak pinggang dalam
shalat.' Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dengan lafazh, 'Rasulullah me-
larang..."
Perhatian: Abu Dawud meriwayatkan hadits Ibnu Umar ini dengan lafazh, "Beliau
melarang seseorang bertumpu dengan tangannya ketika bangkit di dalam shalat."
Hadits dengan lafazh semacam ini adalah hadits mungkar (tertolak). Hadits ini hanya
diriwayatkan oleh gurunya Abu Dawud, yaitu Muhammad bin Abdul Malik Al- Ghazali
di mana dia seorang periwayat yang buruk hafalannya. Imam Ahmad dan lain-lainnya
meriwayatkan hadits yang isinya bertentangan dengan hadits itu. Mengenai hal ini
saya telah membahasnya secara mendetail di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-
Dha’ifah (haditsno.967).
194—Jilbab Wanita Muslimah
Dalam Masalah Jenazah
1. Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata, "Rasulullah M bersabda:

'Lahad adalah untuk kita, sedangkan syiq adalah untuk ahlul
kitab.'"
37

Dalam Masalah Puasa
1. Dari Amru bin Al-'Ash, bahwa Rasulullah bersabda:

"Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah
makan sahur.
138

2. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

137. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thahawi di dalam kitab Musykil AI-Atsar, Ahmad dan
lainnya seperti Ibnu Sa'ad (II: 2/72). Hadits ini mempunyai hadits pendukung, yaitu
h'adits dari Ibnu Abbas. Saya telah membicarakan jalur-jalur periwayatan hadits
tersebut dan sekaligus menjelaskan kelemahan-kelemahannya di dalam kitab Naqd
Kitab At-Taj (hadits no. 299). Akan tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 33)
berkata, "Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur yang di dalamnya ada kelemahan,
namun satu dengan lainnya saling menguatkan. Hadits ini mengandung peringatan
agar kita menyelisihi ahli kitab sampai pun dalam masalah meletakkan mayat ke
dalam kubur."
(Catatan dari penerjemah: Laftadialah lubang tambahan yang berada di sisi kanan
(atau sisi barat) liang kubur. Syiq ialah lubang tambahan yang berada di tengah liang
kubur.)
138. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (III: 130-131), Ash-habu As-Sunan, dan Ahmad
(IV: 197,202).
Jilbab Wanita Muslimah— 195
'Agama ini akan senantiasa jaya selama orang-orang menyegerakan
berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhir-
kannya;"
139

3. Dari Laila, yaitu istri Basyir bin Al- Khashashiyah, dia berkata,
"Saya perrtah berniat hendak melakukan puasa wishal selama dua
hari, namun Basyir melarangku. Dia berkata, 'Sesungguhnya
Rasulullah ^gpernah melakukan hal itu.' Beliau bersabda:

'Puasa seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Puasa-
lah kalian sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan sempur-
nakanlah puasa kalian sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.
(Sempumakanlah puasa hingga malam tiba). jika malam telah tiba,
maka berbukalah kalian. "
,140

139. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad hasan. kami telah
membeberkan perihal derajat hadits ini di dalam kitab At-Ta'liqat Al-Jiyad 'Ala Zad
Al-Ma'ad.
Syakhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Ini merupakan nasyang menegaskan bahwa
kemenangan agama bisa diperoleh dengan menyegerakan berbuka puasa, untuk
menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika sikap menyelisihi mereka merupa-
kan sebab kemenangan agama (Islam), sedangkan maksud diutusnya para rasul
adalah untuk memenangkan agama Allah atas seluruh agama lainnya, maka menye-
lisihi mereka merupakan tujuan teragung diutusnya rasul."
140. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V: 225); juga oleh Sa'id bin Manshur, sebagai
mana dijelaskan di dalam kitab Iqtidha'(h\m. 29) melalui jalur Ubaidillah bin lyadh
bin Laqith, dari bapaknya, dari Laila. Isnad ini shahih. Laila adalah seorang wanita
sahabat sebagaimana dijelaskan di dalam kitab At-Taqrib dan kitab lainnya. Di dalam
kitab Al-Fath (IV: 164) Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan
juga oleh Ath-Thabarani, Abd bin Humaid, dan Ibnu Abi Hatim di dalam kitab tafsirnya
masing-masing dengan sanad yang shahih sampai Laila.
Syaikhul Islam berkata, "Nabi menjelaskan sebab dilarangnya puasa wishal, yaitu
karena itu merupakan puasa orang-orang Nasrani. Dan nampaknya itu adalah bentuk
kerahiban yang dibuat-buat oleh mereka."
196—Jilbab Wanita Muslimah
"Ketika Rasulullah melaksanakan puasa Asyura' (tanggal
10 Muharram -pen.) dan memerintahkan para sahabatnya
untuk me-lakukan itu, mereka berkata, Wahai Rasulullah,
sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh
orang-orang Nasrani dan Yahudi.' Rasulullah berkata,
'Kalau begitu, tahun depan, insya Allah, kita puasa tanggal
9-nya saja.' Namun, belum sampai tahun berikutnya datang
beliau sudah iva/at.""
141

141. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (III: 151), Al-Baihaqi (IV: 287), dan lain-lainnya.
Syajkhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Hari Asyura' adalah hari yang mulia, yang
blsa menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu. Rasulullah melaksanakan
puasa pada hari itu juga memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakannya
pula. Kemudian (ketika menjelang wafatnya) dikatakan kepada beliau , 'Sesung-
guhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.'
Maka, beliau m memerintahkan (para sahabatnya) untuk menyelisihi mereka dengan
menambah puasa satu hari lagi selain hari tersebut, dan beliau * sendiri telah
bertekad untuk melaksanakan hal itu. Karena itu, para ulama, diantaranya Imam
Ahmad memandang sunnah melaksanakan puasa tasu’a (tanggal 9 Muharram) dan
asyura '(tanggal 10 Muharram). Dan para sahabat juga beralasan semacam itu.
Sa'id bin Manshur berkata, Telah mengabarkan kepada kami........ dari Ibnu Abbas,
'Hendaklah kalian puasa pada tanggal sembiian dan sepuluh untuk menyelisihi orang-
orang Yahudi."'
Saya katakan: Sanadnya shahih karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Al-.
Bukhari dan Muslim. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (IV: 287). Dia juga meriwa-
yatkan hadits lain serupa itu secara marfu' dengan sanad lemah.
Jilbab Wanita Muslimah— 197

4, Dari Ibnu Abbas . dia berkata:

"Rasulullah lebih sering berpuasa pada hah Sabtu dan Ahad di-
bandinghah-hah lainnya. Beliau bersabda, 'Kedua hah itu adalah
hah raya prang-orang musyhk, dan saya suka kalau menyelisihi
merefca.'"
142

142. Hadits ini dirhvayatkan oleh Ahmad (VI: 324) dan Al-Hakim (1:436). Melalui jalur sanad
riwayat Al-Hakim, Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini melalui Abdullah bin
Muhammad bin Umar bin Ali, dari bapaknya, dari Kuraib, dari Ummu Salamah. Sanad
hadits ini hasan.
■ Al-Hakim berkata, "(Hadits ini) shahih", dan perkataannya ini disepakati oleh Adz-
Ozahabi.
Ibnu Khuzaknah juga menilai shahih hadits ini sebagaimana disebutkan di dalam kitab
NailAI-Authar(\V: 214). Hadits ini juga dinisbatkan kepada Ibnu Hibban. Ibnu Al-
Qayyim di dalam kitab ZadAI-Ma'ad(\: 237) mengatakan kalau hadits ini juga
terdapat di dalam kitab Sunan An-Nasai. Pernyataan Ibnu Al-Qayyim ini diikuti oleh
Ai-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath (X: 298). Nampaknya, yang dimaksud
oleh kedua orang ahli tadi adalah kitab As-SunanAI- Kubrakarya An-Nasai, karena
saya tJdak menemukan hadits tersebut di dalam kitab As-Sunan Ash-Shughm. Karena
itulart, An-Nabulisi tjdak menyebutkan hadits tersebut di dalam kitabnya Adz- Dzakha-
ir, karena kitab tersebut hanya berisi hadits-hadits yang dinukil dari kitab As-Sunan
Ash-Shughra sebagaimana dia sebutkan di dalam mukadimahnya. Bahkan, Al-
Haitsami menyebutkan hadits tersebut di dalam kitabnya Al-Majma'{\\\: 198), dan
dia berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitabnya Al-Kabir,
dan para periwayatnya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Hadrts ini dinilai
s/iah/hoteh Ibnu Hibban." Dan, ini merupakan kekurangan dia (Al-Haitsami), karena
dia tidak menisbatkan riwayat ini ke kitab Al-Musnad. Nampaknya dia telah luput
dalam masalah ini.
Al-Hafizh berkata, 'Rasulullah mengatakan dalam sabdanya, 'Kedua hari itu adalah
nan raya,' maksudnya bahwa hari Sabtu hari raya orang Yahudi dan hari Ahad hari
raya orang Nasrani. Hari raya adalah hari yang di dalamnya tidak dilaksanakan puasa,
dan Nabi melaksanakan puasa pada kedua hari tersebut untuk menyelisihi mereka.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa pendapat sebagaian penganut madzhab Syafi'i yang
menganggap makruh berpuasa di hari Sabtu atau hari Ahad saja adalah pendapat
198—Jilbab Wanita Muslimah

5. Dari Ummu Salamah , dia berkata:
"Orang-orang musyrik biasanya tidak mau bertolak dari /ama"
43
sebelum matahari terbit di atas bukit Tsabir. Dan mereka biasa me-
yang kurang bark. Yang lebih tepat dalam masalah in i adalah hari Jum'at sebagaimana
hal itu disebutkan di dalam hadits shahih. Adapun hari Sabtu dan Ahad, dianjurkan
melakukan puasa pada kedua hari tersebut, baik menggabungkan puasa pada kedua
hari tersebut maupun hari Sabtu saja atau hari Ahad saja untuk melaksanakan ke-
umuman perintah menyelisihi ahli kitab."
Kemudian dia berkata, "Saya telah menghimpun masalah-masaiah yang telah di-
sebutkan di dalam hadits-hadits, dan berhasil terhimpun lebih dari tiga puluh perma-
salahan. Dan saya telah susun dalam sebuah kitab yang saya beri judul AI-QaulAts-
Tsabitfi-Ash Shaum YaumAs-Sabt.
Saya katakan: Dan yang berhasil saya himpun juga ada sekitar tiga puluh perma-
salahan, dimana hal itu saya ambil dari tiga puluh hadits iebih. Segala puji bagi Allah
yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya.
Namun yang saya ketahui hadits tersebut mengandung kelemahan, dan hal ini telah
saya terangkan di dalam kitab saya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah (hadits
no.1099). Dan dipandang dari sudut pandang fikih, tidak disyariatkan puasa pada
hari Sabtu, kecuali untuk puasa wajib, sebagaimana disebutkan oleh Ath-Thahawi
di dalam kitab Syarh Al-Ma'ani(1:399) tentang hal itu dari sebagian ulama.
Karena Nabi m telah melarang puasa pada hari Sabtu secara umum dengan
sabdanya, "Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali puasa yang telah
diwajibkan kepada kalian....'' Hadits tersebut telah dibeberkan jalur periwayatannya
di dalam kitab Al-Irwa' (hadits no. 960). Periksalah juga penjelasan saya tentang
hadits tersebut dari sudut pandang fikih di dalam kitab Shahih At-Targhib (I: 509)
dan di dalam istidrak (keterangan susulan) di bagian akhir jilid II dari kitab Ash-
Shahihah (cetakan baru terbitan Al-Ma'arif).
143. Jama' maksudnya adalah Muzdalifah. Konon, disebut demikian karena ketika Adam
dan Hawa diturunkan ke bumi keduanya berjumpa di situ.
Jilbab Wanita, Muslimah— 199

Dalam Masalah Haji
1. Dari Umar Bin Khathab , dia berkata:
ngatakan, 'Tsabir telah bersinar, dan kami pun akan pergi.'
Maka, Nabi pun menyelisihi mereka, sehingga beliau
bertolak (dari Jama") sebelum matahari terbit"
Dalam Masalah Penyembelihan
1. Dari Rafi' bin Khudaij, dia berkata:

"Saya pernah berkata, 'Wahai Rasulullah, besok kita akan
berjumpa dengan musuh, sementara kita tidak mempunyai
pisau (untuk menyembelih). Beliau bersabda, 'Apa saja
yang bisa mengalirkan darah, (lalu digunakan untuk
menyembelih binatang) dengan disebut nama Allah, maka
(binatang yang telah disembelih itu), makanlah! Tetapi, asal
jangan berupa gigi atau kuku. Saya beritahukan kepada
kamu: jangan gigi, karena itu adalah tulang; dan jangan kuku,
karena itu adalah pisau orang-orang Habasyah."
,144

144. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IX: 513-517 dan 553), Muslim (VI: 78 dan
79), Abu Dawud (II: 6), An-Nasai (II: 207), At-Tirmidzi (II: 350-351), Ibnu Majah (II:
284), Al-Baihaqi (IX: 247), Ahmad (III: 463 dan IV: 140), dan Ath-Thahawi di dalam
kitab SyarhAI-Ma'ani(\l: 306).
Ibnu Taimiyah berkata (him. 54-55), "Nabi melarang menyembelih dengan meng-
gunakan kuku dengan alasan bahwa kuku adalah pisau orang-orang Habasyah,
sebagaimana beliau juga melarang menyembelih dengan menggunakan gigi
dikarenakan gigi adalah merupakan tulang. Para ahli fikih berbeda pendapat dalam
masalah ini. Para ulama ahlu ra'yi (ulama Hanafiyah -pen.) berpendapat bahwa
alasan pelarangan menyembelih dengan gigi dan kuku adalah dikarenakan penyem-
beiihan semacam itu menyerupai pencekikan, atau besar kemungkinan akan ada
unsur pencekikan di situ. Padahal binatang yang mati tercekik hukumnya adaiah
haram. Oleh sebab itu mereka membolehkan penyembelihan dengan menggunakan
gigi atau kuku yang telah dicabut, karena penyembelihan dengan alat-alat yang telah
tercabut serta tajam tidak akan ada lagi di situ unsur pencekikan. Namun jumhur ulama
melarang hal itu secara mutlak, karena Nabi mengecualikan gigi dan kuku dari
alat-alat yang bisa mengalirkan darah. Sehingga kita bisa tahu bahwa kedua benda
200—Jilbab Wanita, Muslimah
"Saya pemah berkata, 'Wahai Rasulullah, saya bertanya
kepadamu tentang makanan yang tidak aku tinggalkan
kecuali karena aku takut mendapatkan dosa.'Lalu beliau
menjawab, 'Jangan men/ngga/kan
tersebut adalah termasuk benda tajam yang tidak diperbotehkan untuk menyembelih.
Kata mereka, andaikata pelarangan itu disebabkan adanya unsur pencekikan niscaya
beliau as tidak akan mengecualikannya. Dan dugaan di atas mungkin memiliki kebe-
naran bila hikmah (dari pelarangan Nabi itu) masih samar atau belum pasti. Namun
karena hikmah tersebut telah jelas dan pasti, maka tidak ada kemungkinan lagi
dugaan tersebut memiliki kebenaran. Selain itu, pendapat itu juga bertentangan
dengan alasan yang disebutkan oleh Nabi di dalam hadits tersebut. Perkataan
Nabi "dan jangan kuku, karena itu adalah pisau orang-orang Habasyah" setelah
beliau mengatakan: "Saya beritahukan kepada kamu," mengandung
konsekwensi bahwa perkataan beliau "karena itu adalah pisau orang-orang
Habasyah' merupakan salah satu unsur munculnya larangan tersebut, mungkin
merupakan sebab itu sendiri, atau jalan menuju sebab tadi, atau merupakan salah
satu di antara sekian banyak sebab yang disebutkan oleh Nabi . Orang-orang
Habasyah biasa meman-jangkan kuku mereka yang mereka gunakan untuk
menyembelih. Berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya. Sehingga, kemungkinan
larangan beliau terhadap per-buatan tersebut adalah karena hal itu
menyerupai kaum lain, yakni orang-orang Habasyah dalam hal-hal yang
menjadi ciri khas mereka." Di dalam kitab Al-Fath terdapat keterangan yang
ringkasnya sebagai berikut: Perkataan Nabi , "Jangan kuku, karena kuku adalah
pisau orang-orang Habasyah" ialah: mereka adalah orang-orang kafir sedangkan
kalian dilarang menyerupai mereka. Pendapat tersebut dipegangi oleh Ibnu Shalah
dan diikuti oleh An-Nawawi. Pendapat ini dibantah, dengan alasan bahwa kalau begitu
ketetapannya, maka berarti menyembelih dengan pisau atau alat-alat lainnya yang
biasa digunakan oleh orang-orang kafir untuk menyembelih juga terlarang.
Bantahan ini dijawab bahwa pisau adalah alat menyembelih yang asli, (sehingga
tidak bisa dikenakan hukum tasyabbuh). Alat-alat lainnya yang juga digunakan untuk
menyembelih itulah yang dimungkinkan terkena hukum tasyabbuh. Karena itu, para
sahabat bertanya tentang boleh-tidaknya menyembelih dengan menggunakan selain
pisau dan alat-alat yang serupa dengan pisau sebagaimana akan dijelaskan
nanti."
Jilbab Wnnita Muslimah — 201

Dalam Masalah Makanan 1.
Dari Adi bin Hatim, dia berkata:
makanan yang dengan perbuatanmu itu kamu menyerupai
orang-orang Nasrani."
145

Dalam Masalah Pakaian dan Perhiasan
1. Dari Abdullah bin Amru bin AI-'Ash, dia berkata:

145. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (IV: 258 dan 377), Al-Baihaqi (VII: 279), At-Tirmidzi
(II: 384) dari jalan Syu'bah, dari Simak bin Harb, dia berkata: Saya pernah mendengar
Muri bin Qathri berkata: Saya pemah mendengar Adi bin Hatim.... (menyebutkan
hadits tersebut). Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits tersebut (1:274/333/AI Ihsan).
Sanad hadits ini hasan dengan adanya riwayat sesudahnya. Para periwayatnya
orang-orang yang tsiqah (dapat dipercaya), yaitu para periwayat yang biasa dipakai
Muslim, kecuali Muri bin Qathri. Dia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban. Tentang diri
Muri - ini, Al-Hafizh di dalam kitab At-Taqrib berkata, "Dia maqbul, yaitu bila ada
periwayat lain yang meriwayatkan hadits serupa melalui jalur periwayatan yang
sama dengan dia.
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:142), At-Tirmidzi, Ibnu Majah
(11:192), Al-Baihaqi, Ahmad (V:226 dan 227) melalui beberapa jalur periwayatan dari
Simak bin Harb: Telah bercerita kepadaku Qabishah bin Halb, dari bapaknya, dia
berkata: Saya mendengar Nabi * bersabda ketika ada seseorang berkata kepada
beliau m, "Sesungguhnya ada makanan yang saya tinggalkan karena saya takut
berbuat dosa." Beliau berkata, "Janganlah ada sesuatu yang mengkhawatirkan
dirimu yang karena perbuatan tersebut kamu menyerupai orang-orang Nasrani."
Sanad hadits ini Ziasansebagaimana sanad sebelumnya, kecuali Qabishah bin Halb.
Dia seorang periwayat yang dinilai tsiqah oleh AI-'Ajali. At-Tirmidzi berkata, 'Hadits
ini hasan.'
pada hadits tersebut maksudnya ialah kamu telah menyerupai orang-orang Nasrani;
dimana mereka itu bila hatinya merasa bahwa suatu makanan itu haram atau makruh
mereka tidak mau memakannya. Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan sebab
larangan Nabi . Maksud Nabi , janganlah kamu takut berbuat dosa (untuk me-
makan makanan itu), karena sesungguhnya bila kamu melakukan hal itu berarti kamu
telah menyerupai orang-orang Nasrani, karena hal itu telah menjadi kebiasaan mereka
dan merupakan sikap kerahiban mereka. Demikian penjelasan yang terdapat di dalam
kitab TuhfahAI-Ahwadz dalam menjelaskan hadits riwayat Halb di muka yang menjadi
pendukung dari hadits riwayat Adi.
202 —Jilbab Wanita Muslimah
'Rasulullah pernah melihat saya memakai dua kain yang
dicelup warna kuning. Maka beliau berkata, 'Sungguh, ini
adalah pakaian orang-orang kafir. Oleh karena itu, janganlah
kamu memakainya!"
146

2. Dari Ali secara marfu':

"Janganlah kalian memakai pakaian para pendeta. Karena
sesungguhnya barangsiapa mengenakan pakaian semacam
itu atau menyerupai mereka, maka dia bukan termasuk
golonganku."*
147

146. Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim (VI: 144), An-Nasai (II: 298), dan Al-Hakim
(IV: 190), Ahmad (II: 162,164,193,207 dan 211).
Hakim berkata, 'Hadits ini shahih karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Al-
Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan hadits ini.' Al-Hakim
salah sangka bahwa hadits ini tidak diriwayatkan oleh Muslim. Oi dalam hadits ini
terkandung larangan memakai pakaian khas orang-orang kafir. Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah (him. 57-58) berkata, "Nabi menjelaskan alasan pelarangan
memakai pakaian itu, yaitu karena pakaian tersebut merupakan pakaian orang-orang
kafir, dan beliau tidak peduli apakah pakaian tersebut memang menjadi pakaian
mereka di dunia ataukah pakaian yang biasa mereka pakai. Tentang hal ini telah
disebutkan dalam sebuah hadits, 'Sesungguhnya mereka memakai bejana-
bejana dari emas dan perak, yang mana bejana-bejana tersebut akan dipakai oleh
orang-orang mukmin kelak di akhirat.' Karena itu, para ulama menganggap bahwa
memakai kain sutera, memakai bejana dari emas dan perak merupakan perbuatan
menyerupai orang-orang kafir.
Di dalam kitab Ash-Shahihain tersebut sebuah riwayat dari Utsman An-Nahdi, kata-
nya, "Umar pernah menulis surat kepada kami ketika kami berada di Azerbeijan
bersama dengan Utbah bin Farqad, yang isinya: Wahai Utbah, sesungguhnya itu
semua bukan hasil kerja keras ayah atau ibumu. Karena itu, buatlah mereka kenyang
di rumah mereka sebagaimana kamu merasakan kenyang di rumahmu. Jauhilah
olehmu hidup bermewah-mewah, pakaian orang-orang musyrik dan pakaian dari
sutera. Karena Rasulullah telah melarang kita memakai pakaian dari sutera, dan
beliau berkata, '...kecuali sekian ini.' Beliau mengangkatjaritengah dan jari
telun-juknya ke arah kami, lalu merapatkan kedua jari tersebut."
147. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath dengan
derajat sanad 7a ba'sa bihf; demikian juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Fath
(X:223).
Jilbab Wanita Muslimnh — 203
"Suatu ketika Rasulullah keluar mendatangi para tokoh
kaum Anshar yang berjenggot putih. Beliau berkata, 'Wahai
kaum Anshar, semirlah (jenggot kalian) dengan warna merah
atau kuning! Selisilah ahli kitab!' Kami berkata, 'Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ahli kitab
Pada cetakan ini, saya sampaikan: Barangkali yang dimaksud oleh Al-Hafizh adalah
"la ba'sa bihr bila ada hadits-hadits pendukungnya. Karena, saya telah memeriksa
sanad hadits tersebut, dan ternyata di dalam hadits tersebut terdapat cacat yang
mengharuskan saya menghukumi hadits tersebut dha'if. Karena itu hadits tersebut
saya masukkan ke dalam kitab Al-Ahadhs Adh-Dha'ifah (hadits no. 3234). Penjelasan
rinci tentang sanad hadits tersebut ada di daiam kitab saya itu. Semata-mata hanya
Allahlah yang memberi petunjuk.
204—Jilbab Wanita Muslimah

3. Dari Abu Umamah, dia berkata:
memakai celana, tetapi tidakmemakaisarung.' Lalu,
Rasulullah menjawab, 'Sekali-kali pakailah celana dan
sekali-kali pakailah sarung! Selisihilah ahli kitab!' Kami
berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya ahli kitab
berjalan dengan kaki telanjang dan tidak mau memakai alas
kaki.' Nabi berkata, 'Berjalanlah kamu sekali-kali dengan
kaki telanjang dan sekali-kali memakai alas kaki! Selisihilah
ahli kitab!' Kami berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya
ahli kitab memangkas jenggot dan memanjangkan kumis
mereka.' Nabi berkata, 'Pangkas kumis dan
panjangkanlah jenggot kalian! Selisihilah ahli kitab!'
148

4. Dari Ibnu Umar , dia berkata, "Rasulullah Ispernah
bersabda:

'Selisihilah orang-orang musyrik, yaitu potonglah kumis dan
biar-kanlah jenggot tumbuh panjang!'"
149


148. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad (V: 264) melalui jalur Al-Qasim, dia berkata:
"Saya mendengar Abu Umamah...." (dia menceritakan hadits di atas)
Saya katakan: Sanad hadits ini hasan. Semua periwayatnya orang-orang tsiqah,
kecuali Al-Qasim yang nama lengkapnya Ibnu Abdurrahman Abu Abdurrahman Ad-
Dimasqi. Dia seorang perawi dengan derajat hasanui hadits. Al-Haitsami berkata di
dalam kitab AI-Majma'{V: 131), "Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-
Thabarani. Para periwayat yang dipakai Ahmad ini adalah para periwayat hadits
shahih, kecuali Al-Qasim. Dia adalah periwayat tsiqah. Dirinya memang menjadi
pembicaraan ulama hadits, namun tidak menjadikan dirinya cacat dan tercela."
Pernyataan Al-Haitsami di atas kita komentari, bahwa sebenamya di dalam sanad
hadits ini terdapat gurunya Ahmad, yaitu Zaid bin Yahya, dimana dia bukan termasuk
seorang periwayat hadits shahih, yaitu bukan periwayat hadits Al-Bukhari maupun
Muslim. Sehingga merupakan kelalaian dia memasukkan gurunya Ahmad tadi ke
dalam para periwayat hadits shahih.
Kemudian dia juga menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah
yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath sebagai pendukung
dari hadits tersebut. Pada akhir hadits tersebut Nabi is bersabda: "Selisihilah para
wali setan dengan apa saja yang bisa kalian lakukart" Hadits yang
diriwayatkan dari Abu Umamah di atas dinilai hasan oleh Al-Hafizh di dalam kitab
Al-Fath (\X: 291), dan dia berkata, "Ath-Thabarani juga meriwayatkan hadits
serupa itu dari jaian Anas."
149. Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 288), Muslim (1:153), Abu Awanah (I:
189), Al-Baihaqi (1:150) melalui jalan Naff, dari Ibnu Umar. Hanya saja, hadits riwayat
Jilbab Wanita Muslimah — 205
'Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot! Selisilah orang-orang
majusi.'""
150

Abu Awanah dengan lafazh "orang-orang Majussi sebagai ganti " orang-orang rnusynk
1
.
Hadits riwayat Abu Awanah ini dikuatkan oleh hadits riwayat Al-Baihaqi (1:151) melalui
jalan Maimun bin Mahran, dari Abdullah bin Umar, dia berkata: "Rasulullah pernah
ditanya tentang orang-orang Majusi. Beliau menjawab, 'Sesungguhnya mereka
itu biasa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot mereka. Oleh karena itu,
selisihilah merekaV" Para periwayat hadits ini adalah orang-orang tsiqah, kecuali Abu
Bakar Muhammad bin Ja'far Al-Muzakki, dimana saya tidak menemukan data tentang
dirinya. Akan tetapi, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits tersebut di dalam kitab Shahih-
nya (hadits no. 2452 Al-lhsan) melalui jalurperiwayatan lain. Oleh karena itulah saya
mencantumkan hadits tersebut di dalam kitab saya Ash-Shahihah (hadits no. 2834).
Hadits di atas juga dikuatkan oleh hadits yang diriw,ayatkan dari Abu Hurairah yang
akan disebutkan pada nomer berikutnya.150. Hadits di atas diriwayatkan oleh
Muslim (1:153), Abu Awanah (1:188), Al-Baihaqi (I:150), Ahmad (II: 153 dan 366) melalui
jalan AI-'Ala' bin Abdurrahman, dari bapaknya,dari Abu Hurairah. Hadits ini mempunyai
hadits pendukung yaitu hadits yang diriwayat kan dari Anas. Al-Hajtsami menyebutkan
hadits pendukung ini di dalarti kitab Al-Wayma'(V: 166). Dia berkata, "Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Di dalam sanad hadits ini terdapat periwayat bemama Al-
Hasan bin Ja'far. Dia seorang periwayat yang lemah dan ditinggalkan haditsnya."
Ath-Thahawi meriwayatkan hadits ini (II: 333) melalui jalur periwayatan lain, namun
derajatnya dha’if juga.
Syaikhul Islam berkata, "Nabi mengiringi perintah (menyelisihi orang-orang Majusi)
dengan menyebutkan sebagian dari bentuk-bentuk perbuatan menyelisihi mereka. Hal
itu menunjukkan bahwa menyelisihi orang-orang Majusi adalah perkara yang dituntut
oleh Allah yang membuat syariat, dan hal itu pulalah yang merupakan sebab (adanya
larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang disebutkan menyertainya), atau salah satu
sebab, atau sebagian sebab. Namun nampaknya itu adalah merupakan satu-satunya
sebab adanya lafangan terhadap perbuatan-perbuatan tadi. Karena itu, ketika para salaf
telah memahami akan haramnya menyerupai orang-orang Majusi dalam perkara-perkara
yang telah disebutkan oleh Nabi mereka pun mengharam-kan perkara-perkara lain
yang menjadi ciri khas orang-orang Majusi, meskipun tidak disebutkan oleh Nabi . Al-
Marwazi berkata, 'Saya pernah bertanya kepada Abu Abdullah, yaitu Ahmad bin Hanbal
tentang mencukur bulu tengkuk.' Dia menjawab, 'Itu adalah merupakan perbuatan orang-
orang Majusi. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam
golongannya....'"
206—Jilbab Wanita Muslimah

5. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah' pernah bersabda:
"Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani
tidak menyemir rambut, maka selisihilah mereka.'"'
151

Al-Khalal juga menyebutkan tentang Al-Mu'tamir bin Sulaiman At-Tamimi, dia berkala,
'Biasanya ayahku bila mencukur rambutnya, dia tidak mencukur bulu tengkuknya.' Ada
yang bertanya kepadanya, 'Mengapa?' Dia menjawab, 'Dia tidak suka menyerupai
orang-orang 'ajam. Para salaf (ketika tidak mau melakukan perbuatan tertentu) mereka
akan sebutkan sebabnya, terkadang karena tidak mau menyerupai ahli kitab, atau
terkadang karena tidak mau menyerupai orang 'ajam. Kedua sebab tersebut ada
disebutkan di dalam hadits. Meskipun Rasulullah --ShadiqAI-Masduq—sendiri telah
mengabarkan bahwa umat beliau kelak akan menyerupai kedua bangsa tadi,
sebagaimanatelah dijelaskan di muka. 151. Madits di atas diriwayatkan oleh Al
Bukhari (X: 291), Muslim (VI: 155), Abu Dawud (II: 195), Nasai (II: 273), Ibnu Majah (II:
381), Ahmad (II: 240,260,309 dan 401). Asy-Syaukani di dalam kitab Nail AI-Authar(l:
105) berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa sebab dilarangnya menyemir rambut dan
mengubah wama uban adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dengan
demikian cukup kuatlah anjuran untuk menyemir rambut. Sungguh, Nabi sangat serius
sekali untuk selalu menyelisihi ahli kitab dan dalam memerintahkan (umatnya) untuk
melakukan sikap semacam itu. Sikap semacam itu banyak dilakukan oleh para saiaf.
Oleh karena itu, kita bisa lihat para ahli sejarah ketika menyebutkan riwayat hidup para
salaf, mereka seringkali mengatakan, "Dia biasa menyemir rambut," atau "Dia tidak biasa
menyemir rambut." Ibnul Jauzi berkata, "Sejumlah sahabat dan tabi'in menyemir rambut
mereka." Ahmad bin Hanbal berkata ketika dia melihat seseorang yang menyemir
jenggotnya, "Sungguh, saya melihat seseorang yang menghidupkan Sunnah yang telah
mati. Dan dia sangat bergembira melihat orang yang menyemir jenggotnya itu." Syaikhul
Islam (him. 24) setelah menyebutkan hadits ini berkata, "Hadits ini mengan-dung perintah
untuk menyelisihi mereka (yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani). Itu berarti segala jenis
tindakan menyelisihi mereka merupakan perkara yang diperintah-kan oleh Allah ta'ala
yang telah membuat syariat. Karena itu, asal kita melakukan tindakan menyelisihi
mereka, maka telah terpenuhilah apa yang diperintahkan oleh Allah, meskipun hanya
dengan merubah warna rambut. Maka, menyelisihi mereka itu mungkin merupakan
satu-satunya sebab, atau mungkin ada sebab lain selain itu, atau mungkin pula menjadi
sebagian sebab saja. Namun, dalam semua kemungkinan itu, tetap saja tindakan
menyelisihi mereka merupakan satu hal yang diperintahkan oleh Allah. Karena
perbuatan yang diperintahkan itu bila disertai dengan penyebutan perbuatan yang
cakupan maknanya lebih umum dari itu, maka perbuatan yang cakup-an maknanya lebih
umum itu juga menjadi perintah yang harus dijalankan, lebih-lebih
Jilbab Wanita Muslimah — 207

6. Dari Abu Hurairah juga, dia berkata:
bila kita mengetahui bahwa hal itu mengandung beberapa hikmah. Umpamanya,
ketika ada seorang tamu kita diberi perintah, "Hormatilah dial," maka maknanya adalah
jamulah dia; atau terhadap orang yang lebih besar kita diperintah, "Hargailah dial,"
maka maknanya adalah rendahkanlah suaramu di hadapannya atau perbuatan-
perbuatan lain semisalnya."
Saya katakan: Kemudian Syaikhul Islam menjelaskannya secara panjang lebar
hingga hlm. 28. Penjelasannya itu sarat dengan faedah-faedah keilmuan yang belum
pernah saya temukan di kitab-kitab lainnya. Di antara penjelasan tersebut adalah
sebagaimana tersebut di him. 27 dia katakan sebagai berikut: "Perbuatan menyelisihi
mereka itu merupakan perkara yang dikehendaki oleh syariat. Kemudian kita juga
melihat bahwa perbuatan-perbuatan yang dijadikan pembeda dari mereka itu mengan-
dung beberapa kemaslahatan kalau pun kita mengenyampingkan unsurpenyelisihan-
nya. Kemanfaatan dimaksud ada dua, yaitu:
1. Tindakan menyelisihi perilaku mereka itu sendiri mengandung kemanfaatan dan
maslahat bagi orang-orang beriman, karena dengan menyelisihi mereka itu berarti
kita memisahkan diri dari perbuatan-perbuatan para ahli neraka. Adanya ke
maslahatan ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang 'hatinya bercahaya'
yang mampu melihat penyakit yang ada pada diri orang-orang yang dimurkai oleh
Allah dan orang-orang yang tersesat, yang mana penyakit tersebut lebih besar
bahayanya dari penyakit-penyakit badan.
2. Perilaku dan akhlak mereka itu sendiri terkadang memang membahayakan atau
mengurangi kesempurnaan, sehingga kitadilarang menirunya, malah diperintah-
kan melakukan hal sebaliknya, karena perbuatan sebaliknya itulah yang mengan
dung kemaslahatan dan kesempurnaan. Dan, tidak ada sedikit pun dari tindakan
mereka, kecuali membahayakan atau setidaknya mengurangi kesempurnaan.
Sebab, amalan-amalan bid'ah dan amalan-amalan lain mereka yang diperintahkan
untuk ditinggalkan itu semuanya adalah mengandung kemudharatan, sedangkan
amalan-amalan mereka yang asalnya tidak ada perintah untuk ditinggalkan, maka
itu masih memungkinkan menambah dan mengurangi kesempurnaan. Sehingga,
menyelisihi mereka dalam hal-hal yang mengarah kepada amalan-amalan ter
sebut adalah dengan dasar untuk mewujudkan kesempurnaan, karena pada
dasarnya tidak ada satu pun dari perkara-perkara mereka yang sempurna. Jadi,
menyelisihi segala urusan mereka akan senantiasa mengandung kemanfaatan
dan kebaikan bagi kita, sampai dalam urusan dunia yang biasanya mampu mereka
kerjakan dengan sempurna sekalipun, karena bisa saja hal itu membahayakan
bagi urusan akhirat mereka, atau membahayakan urusan dunia yang lebih penting
dari itu. Maka, tetap saja menyelisihi mereka akan mendatangkan kebaikan bagi
kita....!!
Intinya, seluruh amalan dan urusan orang-orang kafir itu pasti mengandung cacat
yang menghalangi terwujudnya kemanfataan yang sempurna. Andaikata ada sesuatu
dari urusan mereka yang sempurna, niscaya mereka berhak mendapatkan pahala
208—Jilbab Wanita Muslimah
"Semirlah uban! Janganlah kalian menyerupai orang-orang
Yahudi dan orang-orang Nasrani!"
n152

akhirat. Akan tetapi sangat disayangkan, amalan mereka hanya ada dua kemung-
kinan, yaitu rusak atau kurang bermanfaat. Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam
yang telah dikaruniakan-Nya, yang merupakan nikmat teragung dan menjadi segala
sumber kebaikan, yang Dia cintai dan ridhai. Telah jelas, bahwa tindakan menyelisihi
mereka itu sebenarnya secara umum dikehendaki oleh Allah yang membuat syariat.
Karena itu, Imam Ahmad dan ulama-ulama lainnya menjelaskan bahwa sebab diperin-
tahkannya menyemir rambut adalah untuk menyelisihi orang-orang kafir." Kemudian dia
menyebutkan beberapa riwayat dari Imam Ahmad tentang hal itu. 152. Hadits di atas
diriwayatkan oleh Ahmad (II: 161 dan 499) melalui jalan Muhammad bin Amru, dari
Abu Salamah, dari Abu Hurairah.
Saya katakan: Sanad ini adalah sanad yang hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban di dalam kitab Shahih-nya (5449-AI-lhsan). Umar bin Abu Salamah juga ikut
meriwayatkan hadits tersebut dari ayahnya, yang diriwayatkan oleh Ahmad (II: 356),
dan At-Tirmidzi (III: 55). At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih." Hadits ini juga
mempunyai banyak hadits pendukung, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari
Az-Zubair bin Awwam yang diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 1415), katanya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Kinasah, katanya: telah menceritakan kepada
kami Hisyam bin Urwah, dari Utsman bin Urwah, dari ayahnya, dari Zubair, dia berkata,
"Rasulullah bersabda....(lalu dia menyebutkan hadits tersebut), namun tanpa
perkataan: "dan orang-orang Nasrani." Dari jalan Ibnu Kinasah ini juga hadits ini
diriwayatkan oleh Nasai (II: 278), Abu Nu'aim (II: 180), dan Al-Khathib (V: 404-405).
Saya katakan: Sanad ini shahih. Abu Nu'aim berkata, "Gharib, hadits yang diriwayatkan
dari Urwah bila hanya melalui jalan Ibnu Kinasah. Hadits ini disampaikan juga oleh
beberapa imam hadits: Abu Bakar bin Abu Syaibah, Ibnu Namir, Ahmad bin Hanbal,
dan Abu Khaitsamah."
Dari situ terkandung isyarat bahwa sanad hadits tersebut shahih. Tetapi Ibnu Ma'in dan
Daraquthni mencela sanad hadits tersebut lantaran mursabya, sebagaimana yang
dikatakan oleh Al- Khathib. Ad-Daraquthni berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan oleh para
sahabat Hisyam, dari Hisyam, dari urwah secara mursal." Hadits ini juga diriwayatkan
oleh Nasai dan Al-Khathib (IV:77) melalui jalan Ahmad bin Janab Al-Hadatsi: Telah
menceritakan kepada kami Isa bin Yunus, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari
Ibnu Umar secara marfu'.
Jilbab Wanita Muslimab — 209

7. Dari Abu Hurairah juga, dia berkata, "Rasulullah pernah ber-
sabda:
Sanad di atas shahih, karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Muslim, tetapi
ada juga yang mencacatnya. Setelah menyebutkan sanad di atas dan sanad sebelum-
nya, Nasai berkata, 'Masing-masing dari kedua sanad di atas ghairu mahfuzh (mak-
sudnya: syadz, yaitu ganjil. —Pen.).
Al-Khathib berkata, "Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad bin Janab, dari Isa."
Saya katakan: Kedua orang itu orang-orang kepercayaan, karena itu tidaklah me-
ngapa jika keduanya meriwayatkan hadits secara bersendirian saja. Semua sanad
yang bersumber dari Hisyam adalah shahih. Dalam meriwayatkan hadits ini dia
mempunyai beberapa jalur periwayatan, dan ini adalah salah satunya. Dan salah
satu sanadnya adalah ada pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Khathib (V: 405
dan IX: 378) dari jalan Abdullah bin Ahmad Al-Ahwazi Al-Jawaliqi, katanya: Telah
menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Huraisy, katanya: Telah menceritakan
kepada kami Ibnu Raja', dari Sufyan, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari
Aisyah yang secara marfu' meriwayatkan hadits tersebut. Sanad di atas tidak
ada halangan untuk diterima haditsnya bila ada sanad lain yang mendukungnya.
Para periwayatnya orang-orang kepercayaan yang telah dikenal, kecuali Zaid bin
Al-Huraisy. Al-Khathib menyebut tentang dia ini di dalam kitab Al-Lisan, dia
berkata, "Ibnu Hibban di dalam kitab /4fs-7s/o;af.'Dia terkadang melakukan kesalahan
(dalam meriwayatkan)'. Ibnu Qathan berkata: 'Dia adalah seorang pe-riwayat yang
majhulhal.' Tetapi dalam hal ini dia tidak meriwayatkan hadits tersebut sendirian.
Karena di akhir perkataannya itu Al Khathib berkata, "Abu Marwan Yahya bin Abu
Zakariya Al Ghasani juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam." Ad Daraquthni
berkata, "Hafsh bin Umar Al Habthi juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam."
Akan tetapi Yahya bin Zakariya dan Hafsh bin Umar adalah dua periwayat hadits yang
dha'if. Karena itu yang bisa dijadikan sandaran adalah hadits yang terdapat periwayat
Sufyan, (dari Aisyah). Al Haitsami menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah
ini dalam kitab Al Majma'(V: 160-161), kemudian berkata, "Hadits ini diriwayatkan
oleh Ath Thabarani dalam kitab AlAusath dari seorang syaikhnya yang bernama
Ahmad, meskipun saya sendiri tidak mengenalnya, tetapi nampaknya dia seorang
perawi yang tsiqah, karena Ath Thabarani banyak meriwayatkan darinya. Adapun
periwayat-periwayat lain dalam sanad tersebut semuanya periwayat kepercayaan.
Salah satu dari hadits yang mendukung hadits tersebut adalah hadits yang diriwayat-
kan oleh Ath Thabarani di dalam kitab AlAusath (1:10/2/141 dengan penomoran saya)
dari Anas bin Malik, dia berkata: Suatu hari saya bersama Nabi , lalu datanglah
kepada beliau m orang-orang Yahudi yang jenggot mereka kelihatan putih. Beliau m
bertanya, "Mengapa kalian tidak menyemirnya?" Katanya, "Sesungguhnya mereka
itu tidak menyukainya." Maka, Nabi bersabda, "Adapuh kalian, (wahai para sahabat-
ku), jauhilah warna hitam!"
Haitsami berkata (V: 160), "Di dalam sanad hadits ini ada periwayat bernama Ibnu
Lahi'ah. Adapun para periwayat lainnya orang-orang tsiqah. Hadits ini hasan."
210—Jilbab Wanita Muslimah
"Pada mulanya Nabi suka menyerupai ahli kitab dalam
masalah-masalah yangbeliau belum diperintahkan (untuk
menyelisihi)nya. Ahli kitab biasa membiarkan rambut mereka
terurai dan orang-orang musyrik biasa menyisir rambut
mereka. Maka, Nabi pun membiarkan jambulnya terurai,
walaupun sesudah itu akhirnya beliau menyisir
rambutnya."
153

Saya katakan: Secara garis besar, hadits ini shahih karena diriwayatkan dalam
beberapa jalur periwayatan dan karena adanya beberapa hadits yang mendukung."
Syaikhul Islam berkala, "Perkataan ini, —maksudnya yang terkandung di dalam hadits
ini— menunjukkan adanya perintah untuk menyelisihi mereka dan larangan menye-
rupai mereka. Beliau melarang menyerupai mereka dalam membiarkan wama uban
tetap putih, padahal putihnya uban itu bukan dari perbuatan kita, sehingga dari sini
jelaslah bahwa larangan itu adalah karena alasan menyerupai mereka. Oleh karena
itu, tindakan menyerupai mereka ini hukumnya haram. Berbeda dengan perbuatan
yang pertama."
Al-Munawi berkata, "Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menyelisihi
orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani secara mutlak, karena ada kaidah
ushul fikih, 'Bila ada suatu perkataan, maka yang kita ambil adalah
keumumannya.'" 153. Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VI: 447; VII: 221
;'X: 297), Muslim (VII: 83), Abu Dawud (II: 193), An-Nasai (II: 292), Ibnu Majah (II:
383), Ahmad (hadits no. 2209, 2362, 2605, dan 2944). Sebagian ulama ada
yang mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Ash-habu
As-Sunan, sehingga menimbul-kan kesan seolah-olah hadits tersebut
diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi, padahal tidak demikian. An-Nabulisi di dalam
kitabnya Ad-Dakha-irtidak menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh At-
Tirmidzi.
Di dalam hadits tersebut Nabi memberi keputusan akhir untuk menyelisihi ahli
kitab sampai masalah rambut sekalipun!
Syaikhul Islam (him. 82) berkata, "Oleh karena itu, menyisir rambut merupakan syiar
kaum muslimin dan merupakan salah satu persyaratan yang harus dijalani oleh ahli
Jilbab Wanita Muslimah — 211

8. Dari Ibnu Abbas, dia berkata:
"Janganlah kalian memberi salam seperti salamnya orang-
orang ' Yahudi!. Mereka memberi salam dengan kepala,
telapak tangan dan /syarat."
154

dzimmah agar mereka tidak menyisir rambut mereka. Hal ini sebagaimana ketika
pertama kali Allah mensyariatkan menghadap ke Baitul Maqdis untuk menyamai ahli
kitab. Namun kemudian syariat tersebut dihapuskan dan Allah memerintahkan Nabi m
untuk menghadap ke Ka'bah. Allah mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan
orang-orang yang jahil dan golongan lainnya akan mengatakan, "Apakah yang me-
malingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu?"
Rahasia mengapa pada awal masa keislaman, beliau menyamai ahli kitab dijelas-kan
oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath sebagai berikut: "Para penyembah berhaia
lebih jauh dari keimanan dibandingkan dengan ahli kitab, karena ahli kitab secara garis
besar masih berpegang kepada syariat. Oleh karena itu beliau suka menyamai
mereka dalam rangka untuk melunakkan hati mereka, sekalipun me-nyerupai
mereka itu mengakibatkan beliau menyelisihi para penyembah berhaia. Ketika para
penyembah berhaia yang berada di sekitar beliau masuk Islam, sedang-kan ahli kitab
berkelanjutan dalam kekafirannya, menyelisihi ahli kitab lebih beliau sukai." 154. Al-
Hafizh di dalam kitab Al-Fath (XI: 12) berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai
dengan sanad jayyid."
Saya katakan: Barangkali hadits ini terdapat di kitab As-Sunan Al- Kubra atau kitab 'Amal
Al-Yaum wa Al-Lailah karya An-Nasai. Kitab ini sudah dicetak, dan hadits ini ada di situ
dengan nomer 340. Di dalam hadits tersebut Ibnu Az-Zubair meriwayatkan dengan lafadz
'an (artinya: dari). Lihat kitab Ash-Shahihah (hadits no. 1783)! Al-Haitsami
menyebutkan hadits ini di dalam kitabnya Al-Majma'(VIII: 38) dengan lafadz serupa itu.
Kemudian dia berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Ath-Thabarani di dalam
kitab Al-Ausath. Para periwayat yang dipakai Abu Ya'la adalah para periwayat hadits
shahih.
Hadits tersebut jugadidukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (III: 386)
melalui jalan Abu Lahi'ah dari Amru bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa
Rasulullah *pernah berkata, "Bukan termasuk golongan kitasiapa yang menyerupai
golongan selain kita. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan orang-
212 —Jilbab Wanita Muslimah

Dalam Masalah Adab dan Adat
1. Dari Jabir bin Abdullah secara marfu' dia meriwayatkan:
orang Nasrani! Sesungguhnya salam orang-orang Yahudi dilakukan dengan isyarat
jari, sedangkan salam orang-orang Nasrani dengan isyarat telapak tangan." At-
Tirmidzi berkata, "Sanad hadits ini lemah."
Saya berkata: Ibnu Lahi'ah lemah dari sisi hafalannya. Namun hadits sebelumnya
menguatkan apa yang dia riwayatkan; begitu juga hadits sesudahnya. Oleh karena
itu, para ulama membenci melakukan salam dengan isyarat tangan, sebagaimana
dikatakan oleh Atria' bin Abu Rabah dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Al-
Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad(blm. 146). Sanad hadits ini shahih, karena
para periwayatnya juga biasa dia pakai di dalam kitab Shahih-nya. An-Nawawi
berkata, "Larangan menyampaikan salam dengan isyarat dikhususkan bagi orang
yang mampu melakukan salam dengan ucapan. Disyariatkan menyampaikan salam
dengan isyarat bagi orang yang sedang dalam keadaan tertentu sehingga tidak
memungkinkan dia melakukan salam dengan ucapan, misalnya orang yang
sedang shalat, orang yang berada di kejauhan, orang yang bisu; begitu pula salam
kepada orang yang tuli." Perkataan An-Nawawi ini terdapat di dalam kitab Al-Fath.
Saya katakan: Hadits ini umum, —kecuali hal-hal yang telah dikecualikan di muka—
meliputi salam yang dilakukan dengan ucapan dan isyarat secara bersamaan maupun
salam yang dilakukan dengan isyarat saja tanpa dengan ucapan. Sikap kedua ini
lebih berat bobot pelanggarannya dibanding yang pertama, karena dia memadukan
tindakan meninggalkan Sunnah, -yaitu Sunnah mengucapkan atau menjawab salam-
dengan tindakan menyerupai orang-orang kafir.
Adapun An-Nawawi menafsirkan hadits tersebut kepada pengertian terakhir, (yaitu
bolehnya salam dengan ucapan dan isyarat secara bersamaan. Pen.) beralasan
dengan sebuah hadits yang masih diperselisihkan kebaikan sanadnya. Di dalam kitab
Al- Adzkar(h\m. 313) setelah menyebutkan hadits yang diriwayatkan lewat Amru bin
Syu'aib di muka, dia berkata, "Adapun hadits yang kami riwayatkan dari kitab At-
Tirmidzi, dari Asma' binti Yazid bahwa pernah suatu hari Rasulullah di masjid
melewati sekumpulan wanitayang sedang duduk-duduk, lalu beliau mengucapkan
salam dengan isyarat tangannya —hadits tersebut ada dalam riwayat At-Tirmidzi—
adalah hadits hasan. Oleh karena itu, hadits tersebut bisa dipahami bahwa beliau
menggabungkan antara ucapan dan isyarat. Hal ini dikuatkan dengan diriwayatkannya
hadits ini oleh Abu Dawud, di mana dalam riwayat Abu Dawud ini disebutkan:"...dan
Rasulullah mengucapkan saiam kepada kami."
Saya katakan: Hadits Asma' ini tidak shahih, sehingga tidak boleh digunakan
sebagai alasan untuk membolehkan apa yang dilarang berdasarkan kemutlakan
pengertian hadits yang diriwayatkan oleh Jabir dan lainnya. Hal itu dikarenakan
sanadnya ber-• kisar pada Syahr bin Hausyab, dari Asma', padahal Syahr adalah
salah seorang periwayat yang diperselisihkan. Tentang diri Syahr ini, Ibnu Adi
berkata, "Dia termasuk periwayat yang perkataannya tidak bisa dijadikan hujjah
agama." Al-Hafizh di dalam kitab At-Taqrib berkata, "Dia seorang periwayat yang
jujur, tetapi banyak meriwayatkan hadits secara mursal dan banyak salahnya."
Jilbab Wanita Muslimah— 213
Banyaknya kesalahan dia ini tidak diragukan lagi bisa dilihat dengan meneliti riwayat-
riwayat dan hadits-haditsnya. Karena itu, kita tidak ragu lagi bahwa hadits yang dia
riwayatkan dengan bersendirian atau masih diperselisihkan oleh para ulama tidak
bisa dijadikan hujjah; dan kalau pun mau dipakai paling banter sebagai hadits pen-
dukung saja. Padahal hanya dia dalam hadits ini yang menyebutkan adanya salam
dengan isyarat tangan. Bahkan, para periwayat yang meriwayatkan darinya pun
berbeda-beda; sebagian ada yang menyebutkan adanya isyarat tangan itu, namun
sebagian lainnya tidak menyebutkan adanya isyarat tangan sama sekali. Hadits yang
diriwayatkan melalui jalan dia ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (III: 386), Al-Bukhari
di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (him. 151), Ahmad (VI: 357-358) melalui jalan
Abdurrahman bin Bahram, dari Syahr dengan lafadz seperti itu. At-Tirmidzi
berkata, "Hadits ini hasan." Kata Ahmad bin Hanbal, "Tidak ada masalah dengan
hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Bahram, dari Syahr bin
Hausyab." Muhammad berkata, "Syahr adalah seorang periwayat yang baik haditsnya
dan kuat dalam urusan tersebut." Dia juga berkata, "Yang memperbincangkan tentang
dirinya hanyalah Ibnu 'Aun."
Saya katakan: Sebenamya ada ulama lain yang memperbincangkan tentang dirinya.
Lihat biografinya di dalam kitab TahdzibAt-Tahdzib. Kiranya saya telah cukup dalam
memberikan kesimpulan dari pembicaraan para ulama tentang dirinya. Hadits
tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 343), Ad-Darimi (II: 277), Ibnu Majah
(II: 398), Ahmad (VI: 352) melalui jalan Ibnu Abu Husain yang telah mendengar hadits
tersebut dari Syahr bin Hausyab, dia berkata: "Asma binti Yazid pemah me-
ngabarkan kepadanya: 'Nabi m pernah melewati kami, dan beliau memberi salam
kepada kami.' Ibnu Abu Husain, —nama aslinya Abdullah bin Abdurrahman— yang
meriwayatkan dari Hausyab tidak menyebutkan adanya isyarat tangan, sementara
Abdurrahman bin Bahram menyebutkan adanya isyarat tangan. Jadi, keduanya saling
bertentangan, sehingga kita perlu mengambil salah satu yang lebih bisa dipercaya.
Menurut saya, riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Abu Husain yang lebih kuat, karena
dia seorang periwayat yang dinilai tsiqah oleh seluruh ulama hadits, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Abdul Bar. Dia juga dijadikan sandaran hujjah di dalam kitab Ash-
Shahihain. Tidak demikian dengan Abdurrahman bin Bahram; selain dia bukan peri-
wayat yang dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim ada yang menilai dirinya, "Dia kadang
melakukan kesalahan" dan ada juga yang mengatakan, "Perkataannya tidak bisa
dijadikan hujjalf. Sehingga, riwayat dari dia tidak bisa mengalahkan riwayat dari Ibnu
Abu Husain. Memang ada kaidah, Tambahan perkataan dari seorang periwayat yang
fe/qaftditerima". Namun kaidah ini bisa dipakai kalau yang menambahkan perkataan
tersebut seorang periwayat yang kuat hafalannya, sebagaimana hal ini disebutkan
dalam ilmu musthalah hadits. Akan tetapi, keadaan dia, (yaitu Abdurrahman bin
Bahram) tidak seperti itu. Camkanlahl
Taruhlah Abdurrahman bin Bahram benar-benar menghafal tambahan (isyarat tangan)
itu dari Syahr, maka hal itu pun menunjukkan bahwa Syahr sendiri seorang periwayat
214 —Jilbab Wamita Muslimah
yang mudhtharib (maksudnya, tidak konsisten daiam menyampaikan perkataan. pen.)
Yaitu, satu waktu dia menceritakan adanya isyarat tangan, namun di waktu lain dia
menyampaikan lanpa adanya isyarat tangan. Hal itulah yang menyebabkan kelemah-
an dia untuk dijadikan hujjah adanya tambahan isyarat tangan tersebut. Tambahan
lagi, hadits tersebut juga diriwayatkan oleh periwayat lain, selain Syahr, dari Asma'
juga tanpa adanya tambahan isyarat tangan.
Al-Bukhari berkata di dalam kitab Al-Adab: "Mukhallad telah mengabarkan kepada
kami: 'Mubasyir bin Isma'il telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Ghaniyyah,
dari Muhammad bin Muhajir, dari bapaknya, dari Asma' binti Yazid Al-Anshariyyah,
katanya, "Nabi pernah melewati saya yang waktu itu bersama gadis-gadis sebaya
saya. Beliau memberi salam kepada kami."
Sanad hadits di atas shahih, insya Allah ta'ala. Para periwayatnya orang-orang tsiqah,
para periwayat hadits shahih, kecuali Muhajir, yaitu ayah Muhammad. Sejumlah ulama
meriwayatkan haditsnya, dan Ibnu Hibban memasukkan dia ke dalam kitab Ats-Tsiqat-
nya (V: 427). Maka, mengambil hadits dari dia adalah lebih utama, lebih-lebih dia
adalah mau/a-nya Asma', sehingga dia tentu lebih tahu tentang omongan Asma'
dibanding Syahr.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pokok hadits (yaitu tanpa dengan isyarat pen.)
tersebut shahih, dan menyebutkan adanya tambahan isyarat tangan ke dalamnya
tertolak, karena kelemahan periwayat Syahr bin Hausyab. Jadi, hadits Syahr bin
Hausyab ini tidak bisa dijadikan hujjah karena melawan hadits pokok yang kita
bicarakan di atas.
Perhatian: Al-Hafizh di dalam kitab Al-Fath setelah menyebutkan hadits yang diriwa-
yatkan dari Asma' dengan lafadz yang menyatakan adanya isyarat tangan, berkata,
"Hadits tersebut mempunyai hadits pendukung yang bersumber dari Jabir yang
diriwayatkan oleh Ahmad. Mubarakfuri menukil perkataan Al-Hafizh di atas di dalam
kitabnya Tuhfah Al-Abwadz. Kemungkinan besar, nama 'Jabir' yang dikatakan oleh
Al-Hafizh yang benar adalah 'Jarir'. Karena Al-Haitsami tidak menyebutkan di dalam
kitabnya ^/Ma/ma'selain hadits yang diriwayatkan dari Jarir, dengan lafadz: "Pemah
Nabi m melewati sekelompok orang wanita, lalu memberi salam kepada mereka."
Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Al-Musnad (i\/: 357 dan 363) dan kitab 'Amal
Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu Sunni (hadits no. 221); juga diriwayatkan oleh Abu
Ya'la dan Ath-Thabarani. Namun, Al-Haitsami telah menyebutkan sesuatu yang
menyebabkan ke-idhthirab-an sanadnya, dimana di sebagian jalur periwayatan hadits
tersebut ada periwayat yang bernama Jabir yang meriwayatkan dari Thariq At-Taimi.
Al-Haitsami berkata, "Bila Jabir ini maksudnya Al-Ja'fi, maka dia adalah periwayat
yang dha'if."
Di dalam kitab At-Ta'jil, Al-Hafizh memastikan bahwa yang dimaksud memang Al-
Ja'fi itu. Namun, pemastian Al-Hafizh ini bisa dibantah, karena dalam sanad tersebut
ada disebutkan periwayat yang bernama Jabir bin Abdullah, sedangkan ayah Al-Ja'fi
bernama Yazid; jadi keduanya berbeda. Wailahu a'lam.
Jilbab Wanita Muslimah — 215
"Pemah suatu ketika Rasulullah rnelewati saya yang
sedang duduk seperti ini, yaitu aku letakkan tangan kiriku di
belakang punggungku dan bertumpu dengan telapak tangan
kiriku itu. Maka, beliau berkata, 'Apakah kamu suka duduk
seperti duduknya orang-orang yang di-murfea/?'"
155

3. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash, dia berkata: "Rasulullah ber-
sabda:
155. Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 295), Al-Hakim (IV: 269), Ahmad (IV:
388). Al-Hakim berkata, "Hadits ini shahih isnadnya"; dan Adz-Dzahabi sepakat
dengan perkataan tersebut.
Saya katakan: Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh Al-Bukhari. Ibnu Juraij,
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq menyatakan bahwa dia mendengar
langsung dari orang yang menyampaikan hadits kepadanya, sebagaimana disebutkan
di dalam kitab Al-Ahkam karya Abdul Haq Isybili (hadits no. 1284 - dengan tahqiq
dari saya).
Kemudian saya juga menemukan hadits tersebut sebagaimana disampaikan oleh
Abdul Haq di dalam kitab Mushannaf Abdirrazzaq (II: 198/3057), sehingga hilang
sudah cacat hadits tersebut, dan derajatnya pun menjadi shahih. Alhamdulillah.
Abdurrazzaq juga meriwayatkan hadits (X: 415/19542) dari Yahya bin Abu Katsir, dia
berkata: "Rasulullah M melarang seseorang bertumpu dengan tangan kirinya ketika
sedang makan."
Saya katakan: Para periwayatnya orang-orang tsiqah, akan tetapi mu'dhal, Namun,
keumuman pengertian hadits sebelumnya menguatkan hadits ini. Wallahu a'lam.
Hadits tersebut juga didukung oleh hadits Umar: "Sungguh, Rasulullah m pemah me-
lihat seseorang turun bertumpu dengan satu tangannya ketika shalat. Maka beliau
bersabda, 'Janganlah kamu duduk seperti itu, karena itu adalah duduknya orang-
orang yang diadzab."
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 5972) dengan sanad yang hasan
shahih. Hadits ini telah disebutkan terdahulu ketika membicarakan "Dalam Masalah
Shalat" dengan urutan no. 7 hlm. 194.
216 —Jilbab Wanita Muslimah

2. Dari Asy-Syarid bin Suwaid, dia berkata:

'Bersihkanlah halaman rumah kalian! Janganlah kalian
menyerupai orang-qrang Yahudi yang membiarkan sampah
menumpuk di rumah-rumafi mereka.'""
56

156. Derajat hadits ini hasan; diriwayatkan oleh Ad-Daulabi di dalam kitab AI-Kina(\\A37)
melalui jalan Abu Thayyib Harun bin Muhammad, dia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Bakir bin Samar, dari Amir bin Sa'ad, dan Sa'ad, —dalam kitab asalnya
lersebut Sa'id, jadi nampaknya ada perubahan— dia berkata: "Rasulullah bersabda:
'Sesungguhnya Allatfbersih dan Dia menyukai kebersihan; pemurah dan menyukai
kemurahan; bagus dan mencintai kebagusan, maka bersihkanlah ....dst. hingga akhir
hadits."
Para periwayat hadits ini orang-orang tsiqah, kecuali Abu Thayyib Harun bin
Muhammad; dia seorang periwayat yang lemah sekali. Akan tetapi At-
Tirmidzi meriwayatkan hadits ini melalui jalur periwayatan lain, dari Khalid bin llyas,
dari Shalih bin Abu Hisan, dia berkata: "Saya pernah mendengar Sa'id bin Al-
Musayyab berkata, (lalu dia menyebutkan hadits serupa itu itu secara mauquf).
Shalih bin Hisan berkata, 'Maka saya menceritakan hal itu kepada Muhajir bin
Mismar. Lalu dia menjawab, 'Saya pernah mendapatkan hadits serupa itu dari
Amir bin Sa'ad, dari bapaknya, dari Rasulullah m"
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini gharib (ganjil), sedangkan Khalid bin llyas seorang
periwayat yang lemah."
Saya katakan: Tetapi hadits ini menjadi kuat lantaran adanya hadits pertama. Derajat-
nya semakin kuat dengan adanya hadits yang tersebut di dalam kitab Al-Jami' dari
Sa'ad juga secara marfu'dengan lafadz: "Bers/Wtan/afi halaman rumah kalian, (arena
orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah-rumah mereka! Hadits ini
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath. Seorang pensyarah hadits,
Al-Munawi, berkata, "Al-Haitsami berkata, 'Para periwayat hadits ini para periwayat
hadits shahih, kecuali gurunya Ath-Thabarani."'
Saya katakan: Jalur periwayatan ini jelas berbeda dengan dua jalur periwayatan yang
pertama. Maka, ini merupakan hadits pendukung yang kuat bagi hadits yang telah
kami sebutkan di muka. Wallahu ta ala a 'lam.
Kemudian saya juga menemukan sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
di dalam kitab Zawa-id Al-Mu'jam Ash-Shaghir wa Al-Ausath (XI: 2). Saya melihat,
para periwayatnya para periwayat hadits shahih, sebagaimana dikatakan oleh Al-
Haitsami di atas, kecuali gurunya Ath-Thabarani yang bernama Ali bin Sa'id Ar-Razi,
seorang periwayat yang diperselisihkan. Yang benar, haditsnya hasan bila tidak
bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat.


Jilbab Wanita Muslimah — 217
'Hendaklah kalian menjauhi permainan dadu yang keduanya
benar-benar terlarang, karena merupakan judi orang-orang
A'jam!'"
]57

Hadits ini juga mempunyai hadits pendukung yang mursal, yang diriwayatkan oleh
Waki' bin Al-Jarrah di dalam kitab AzZuhd (II: 65/1) dengan sanad yang lemah.
Kesimpulannya, hadits tersebut benar-benar kuat karena diriwayatkan dengan
beberapa jalur periwayatan.
157. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 4263), Al-Baihaqi (X: 215) melalui
jalan Ibrahim bin Muslim Al-Hijri, dari Abu Al-Ahwash, dari Ibnu Mas'ud. Tetapi
Al-Hijri ini adalah periwayat yang lemah. Hadits ini juga ada yang diriwayatkan dari
dia secara mauquf, hanya sampai kepada Ibnu Mas'ud. Al-Baihaqi juga
meriwayatkan hadits ini, dan dia berkata, "Hadits ini mahfuzh. (Hadits . mahfuzh
adalah lawan dari hadits syadz, ganjil. Pen.) Saya katakan: Akan tetapi
nampaknya hadits ini juga diriwayatkan dari jalan lain selain Al-Hijri. Al-Haitsami
menyebutkannya di dalam kitab Al-Majma'(VIII: 113) dengan lafadz seperti itu
tanpa adanya periwayat yang bernama Al-Hijri, dan berkata: "Hadits ini diriwayatkan
oleh Ath-Thabarani dan Ahmad. Para periwayat yang dipakai oleh Ath-Thabarani
para periwayat hadits shahih."
Al-Hijri bukanlah periwayat hadits shahih. Ini menunjukkan bahwa Ath-Thabarani
meriwayatkan hadits tersebut melalui jalan lain, sehingga menjadi kuatlah hadits
tersebut. Lebih-lebih hadits tersebut mempunyai hadits pendukung. Hadits tersebut
juga disebutkan di dalam kitab Al-Kasysyaf, dan periwayatnya, Ibnu Hajar Asqalani,
berkata (IV: 18 hadits no.145, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari
Samurah bin Jundub dan dari Abu Musa Al-Asy'ari dengan lafadz seperti itu. Hadits
itu juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad
dengan dua jalur periwayatan, dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah bin Mas'ud."
Saya katakan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari (him. 184) melalui jalan
Abdul Malik, dari Abu Al-Ahwash dengan lafadz serupa itu secara mauquf, sedangkan
yang diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalan Al-Hijri secara marfu' seperti hadits di
muka. Komentar Al-Hafizh di atas memberi kesan seakan-akan keduanya, (yakni
Ahmad dan Al-Bukhari) meriwayatkan hadits tersebut dengan dua sanad yang kedua-
nya mauquf atau keduanya marfu', padahal tidak seperti itu keadaannya.
Kesimpulannya, hadits tersebut hasan atau shahih. Wallahu a'lam.
218—Jilbab Wanita Muslimah

4. Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Rasulullah pernah
bersabda:
Dalam Masalah-masalah Lain
1. Dari Umar bin Khathab, bahwa dia pernah mendengar Nabi
berkata:

"janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana
orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putera
Maryam. Saya ini tidak lain hanyalah seorang hamba dan
Rasul Allah. Karena itu, katakanlah, (bahwa saya ini) hamba
dan rasul Allah."
158r

Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf
(8/737/6203) dan Ibnu Adi ketika menyebutkan biografi Al-Hijri di kitab Al-Kamil(\:2)3),
berkata, "Ibrahim Al-Hijri adalah seorang periwayat yang haditsnya diriwayatkan oleh
Syu'bah, Tsauri, dan lainnya. Secara umum, hadits-hadits yang dia riwayatkan isinya
lurus. Dia ditolak oleh beberapa ulama hadits hanya karena sering meriwayatkan
hadits dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah. Dan menurut saya, dia adalah termasuk
seorang periwayat yang haditsnya ditulis orang."
Ibnu Abi Syaibah (hadits no.6195) meriwayatkan sebuah hadits yang mendukung
hadits tersebut dari Qatadah, dia berkata, "Ada kabar sampai kepada kami, bahwa
Rasulullah spemah ditanya tentang permainan dadu. Beliau menjawab, "Itu adalah
judinya orang-orang A'jam."
Kata salah seorang periwayat hadits tersebut, "Qatadah adalah seorang ulama
yang membenci segala jenis permainan bahkan permainan dengan kerikil
sekah'pun." Saya katakan: Sanad hadits ini shahih, akan tetapi mursal. Namun,
tidak mengapa menggunakan hadits tersebut bila banyak hadits-hadits yang
mendukungnya. 158. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VI: 381 dan XII:
124), At-Tirmidzi di dalam kitab Asy-Syama-il (II: 161), Ad-Darimi (II: 320), Ath-
Thayalisi (hadits no. 25), dan Ahmad (hadits no. 154,164,331,391).
ِْﻥْوُ ·ْ=ُ-َ ` dengan dhommah pada ta'-nya berasal dari masdar'ٌءاَ ·ْ=ِ إ Al-
Munawi memberi syarah terhadap kitab Asy-Syama-il: ٌءاَ ·ْ=ِ إ adalah "berlebih-
lebihan dalam memuji". Jadi, maksud hadits ini: Janganlah kalian melampaui batas
dalam memujiku, sehingga hal itu menyeret kalian kepada kekufuran, sebagaimana
hal itu terjadi pada orang-orang Nasrani lantaran mereka melampaui batas dalam
memuji Isa, yaitu menganggapnya sebagai Tuhan."
Al-Munawi menambahkan: Bentuk penyerupaan dalam sabda beliau "sebagai-
mana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa" adalah menyamakan
dalam memberikan sifat ketuhanan. Bisa juga tidak terbatas dalam hal itu saja, me-
lainkan dalam menisbatkan apa saja yang tidak layak untuk dirinya; jadi lebih umum.
Jilbab Wanita Muslimnh — 219
Saya katakan: Pengertian kedua inilah yang benar. Karena kita tahu bahwa orang-
orang Nasrani juga memuji Isa secara melampaui batas di luar masalah ketuhanan.
Maka, jika kaum muslimin memuji Nabi dengan hal-hal yang tidak layak bagi
beliau , berarti mereka telah menyerupai orang-orang Nasrani. Hal itu dilarang
dengan dua alasan:
Pertama. Karena hal itu merupakan kebohongan terhadap diri beliau , padahal
kedudukan beliau sudahiah teramat tinggi, sehingga beliau m tidak perlu dipuji
dengan cara semacam itu.
Kedua. Sebagai upaya mencegah terjadinya hal-hal yang dikhawatirkan, yaitu mela-
kukan tindakan seperti tindakan orang-orang Nasrani yang berlebih-lebihan memuji
nabi-nabi mereka sampai mengangkatnya sebagai Tunan dan tindakan semisalnya.
Hal semacam ini temyata benar-benar terjadi pada sebagian kaum muslimin. Memang
amat disayangkan, padahal hal itu sudah diingatkan dalam hadits ini dan hadits
lainnya. Hal itu menjadi bukti kebenaran sabda Nabi "Sungguh, kalian akan meng-
ikuti tindakan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta
demi sehasta. Bahkan, andaikata mereka masuk lubang biawak sekalipun, niscaya
kalian akan ikut memasukinya." Hadits ini disepakati keshahihannya. Hadits ini ter-
cantum di dalam kitab Zhilal Al-Jannah (72-75).
Saya katakan: Meskipun begitu, kita masih selalu mendengar sebagian dari mereka
menyenandungkan lagu yang ditujukan kepada Nabi
Sungguh, salah satu kemurahanmu adalah dunia dan segala kenikmatannya Dan
salah satu ilmumu adalah ilmu tentang Al-Lauh dan Al-Qalam Nyanyian di atas
mengandung kesyirikan dalam sebagian sifat Allah. Sesungguhnya, Allah itu selain esa
dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, Dia juga esa dalam sifat-sifat-Nya. Tidak satu
pun dari sifat-sifat-Nya dimiliki makhluk-Nya, betapa pun tinggi kedudukan dan
martabat makhluk tersebut. Perhatikan, suatu ketika Nabi Muhammad , penghulu
manusia, mendengar seorang budak wanita melantunkan nyanyian: Di hadapan
kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kontan saja
beliau berkata kepadanya, 'Hentikan nyanyianmu itul Nyanyikanlah nyanyian lain
saja! Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan lainnya. Bandingkanlah nyanyian
budak wanita tadi dengan ucapan yang sejak ratusan tahun yang lalu
didendangkan oleh kaum muslimin:
Dan salah satu ilmumu adalah ilmu tentang Al-Lauh dan Al-Qalam. Menurut
mereka, beliau bukan hanya mengetahui apa yang akan terjadi besok, akan
tetapi lebih dari itu, beliau mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, yang telah
tertulis oleh Al-Qalam di dalam Lauh Mahfuzhl Bahkan, menurut mereka, itu baru
sebagian dari ilmu beliaul Mahasuci Engkau, wahai Allah. Sungguh, ini merupakan
kedustaan besar dan nyata-nyata perbuatan dosa! Barangsiapa mengkaji
kitab-kitab sufi yang mereka sebut "hakekaf, kitab-kitab maulid dan sebagainya,
niscaya akan menemukan hal-hal yang mencengangkan.
220 —Jilbab Wanita Muslimah
"Sesungguhnya ketika Rasulullah berangkat menuju
Perang Hunain, beliau melewati sebuah potion milik orang-
orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath yangbiasa
mereka gunakan meng-gantungkan senjata (dan biasa
mereka kelilingi). Para sahabat berkata,
Banyak orang yang ingin selalu berprasangka baik kepada sesama manusia mem-
berikan pembelaan, bahwa perkataan-perkataan yang digunakan untuk memuji
Nabi tidak mereka maksudkan menurut pengertian yang sebenarnya, dan tidak
terbetik sama sekali di dalam hati mereka akan hal itu. Kami berharap semoga hal
itu benar adanya. Akan tetapi, kata pepatah "tidak semua prasangka baik (itu benar
adanya)." Karena saya pemah mendengar dari orang-orang yang dianggap sebagai
ulama dan orang shalih, perkataan-perkataan yang menjadikan kami berprasangka
buruk terhadap mereka dan terhadap aqidah mereka. Kejadian terakhir, ada seorang
syaikh dari kalangan mereka (yang belum lama ini meninggal) mengajar di masjid
Bani Umayyah. Dia menafsirkan firman Allah dalam surat Al-Hadid: "Dialah Yang Awal
dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu."Kata dia, "Dia di dalam ayat tersebut adalah Muhammad ." Ketika ada
yang membantahnya, dia mencoba secara halus memberikan takwil, tetapi tetap
bersikeras bahwa kata ganti "Dia" dalam ayat tersebut adalah Muhammad . Dan
ketika dikatakan kepadanya, "Coba, baca ayat berikutnya: Vidian yang telah men-
ciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian bersemayam di alas 'Arsy,"
apakah 'Dia' di sini juga Muhammad ?" Syaikh itu pun terdiam.... Orang yang tahu
ajaran Wihdatul Wu/ud memang tidak akan merasa aneh dengan munculnya bentuk-
bentuk kekatiran dari para penganutnya.
Jilbab Wanita Muslimah — 221

2. Dari Abu Waqid Al-Laitsi:
"Wahai Rasulullah, buatkan juga untuk kami DzatuAnwath
seperti yang dimiliki oleh mereka itu!" Nabi menjawab,
"Subhanallah! (Dalam riwayat lain: "Allahu akbar!")
Perkataan kalian ini seperti perkataan kaum Musa, 'Buatkan
untuk kami sesembahan sebagai-mana mereka mempunyai
beberapa sesembahan.' Demi Allah yang jiwaku ada di
Tangan-Nya, sungguh, kalian akan mengikuti adat
kebiasaan orang-orang sebelum kalian satu demi satu.'
n,159

3. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Rasulullah pernah
bersabda:

159. Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (II: 213) dan lafadz di atas adalah yang
terdapat pada riwayat dia; juga diriwayatkan oleh Ahmad (V: 218). Lafadz lain yang
diriwayatkan oieh Ahmad dengan tambahan yang ada di dalam tanda kurung itu
adalah melalui jalan Az-Zuhri, dari Sinan bin Abu Sinan, dari Abu Waqid Al-Laitsi.
Sanad hadits ini shahih, karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan
Muslim. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih." Ibnul Qayyim menilai
kuat hadits tersebut di dalam kitab Igatsah Al-Lahfan (ll:300), dan pada halaman
kitab tersebut juga (I: 205) dia mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-
Bukhari di dalam kitab Shahirnnya. Namun, dalam hal ini beliau keliru, karena hadits
tersebut sebenarnya tidak terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari. An-Nabalusi
di dalam kitab Adz-Dzakha-ir (10461) menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak
ada yang meriwayatkan selain At-Tirmidzi. Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir-nya (II:
243) hanya menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Ibnu Jarir dan
Ahmad saja. Barangkali dia lupa bahwa hadits tersebut terdapat juga di dalam
kitabnya At-Tirmidzi, salah satu dari Kitab As-Sittah (enam kitab hadits). Kalau
tidak begitu, tentulah dia tidak akan mengatakan semacam itu!! Nabi menolak
permintaan para sahabatnya itu dikarenakan hal itu menyerupai perkataan orang-
orang Yahudi, meskipun dengan redaksi perkataan dan maksud yang berbeda. Ini
merupakan dalil yang jelas bahwa menyerupai orang-orang kafir secara syar'i
dilarang, meskipun dengan niatan yang baik. Dalam pengambilan daiilnya,
kasus ini serupa dengan kasus para sahabat shalat di beiakang Nabi w dengan
cara berdiri, sementara beliau shalat dengan duduk, lalu beliau menyuruh para
sahabat untuk duduk. Kisah ini sudah dibicarakan di muka. Silahkan dikaji
kembali!
222—Jilbab Wanita Muslimah
'Menjelang datangnya hah kiamat ini saya diutus dengan
membawa pedang hingga Allah saja yang diibadahi, tanpa
ada satu sekutu pun bagi-Nya; dan rizkiku berada di bawah
naungan tombakku. Kerendahan dan kehinaan pasti akan
ditimpakan kepada siapa saja yang menyelisihi perintahku.
Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti dia
termasuk golongan mereka. '"
160

160. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 5114,5115 dan 5667), Al-Khathib
di dalam kitab Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (II: 73), Ibnu Asakir (XIX: 96/1) melalui jalan
Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, katanya: Telah mengabarkan kepada kami
Hisan bin Athiyyah, dari Abu Munib Al-Jarasyi, dari Abdullah bin Umar." Sanad
hadits ini hasan. Ibnu Tsabit ini menjadi pembicaraan para ulama hadits, namun tidak
menjadikan lemah bobot periwayatan dirinya. Al-Bukhari meriwayatkan sebagian isi
hadits ini secara mu'allaq (yaitu, tanpa menyebutkan dua periwayat atau lebih
secara berturut-turut antara dirinya dengan sahabat Nabi syang meriwayatkan. Pen.)
di dalam kitab Shahih-nya (VI: 75). Dan Al- Hafizh berkata memberi penjelasan
terhadap hadits Al-Bukhari itu, "Isi hadits ini adalah bagian dari hadits yang diriwayat-
kan oleh Ahmad melalui jalan Abu Muriib...'. Hadits ini mempunyai hadits pendukung
yang mursal (yaitu, hadits yang sanadnya tidak disebutkan sahabat Nabi * yang
meriwayatkannya. Pen.) dengan sanad hasan, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah melalui jalan Auza'i, dari Sa'id bin Jabalah, dari Nabi dengan lafadz hadits
tersebut secara lengkap."
Saya katakan: Bagian terakhir dari hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud
(II: 173) melalui jalan Ibnu Tsabit dengan lafadz seperti itu. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah di dalam kitab Al-lqtidha (him. 39) berkata, "Sanad hadits ini jayyid" Al-
Hafizh Al-lraqi di dalam kitab Takhrij Al-Ihya'(\: 342), berkata "Sanadnya shahih." Al-
Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath (X: 222), berkata "Sanadnya hasan," beliau
menetapkan bahwa hadits ini bisa dijadikan hujah di dalam kitab Al-Fath (X: 274).
Di dalam kitab Bulugh Al-Maram (IV: 239 - yang disyarah oleh Ash Shan'ani) Al Hafizh
mengatakan bahwa Ibnu Hibban menilai shahih hadits ini. Dan saya menemukan
periwayat yang kuat yang mendukung periwayatan Ibnu Tsauban. Ath-Thahawi
berkata di dalam kitab Musykil At-Atsar{i: 88), katanya: Telah men-ceritakan
kepada kami Abu Umayah, katanya: Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Wahb bin Athiyyah, katanya: Telah menceritakan kepada kami Al-
Walid bin Muslim, katanya: Telah menceritakan kepada kami Auza'i, dari Hisan bin
Athiyah, lalu menyebutkan hadits itu.
Ini sanad yang shahih, karena semua periwayatnya orang-orang yang terkenal tsiqah,
andaikata Al-Walid bin Muslim tidak melakukan tadlis taswiyah (yaitu, menyem-
bunyikan adanya periwayat dhai'f yang menjadi sumber periwayatan. Pen.) dan
menyebutkan secara jelas kalau Auza'i mendengar dari Hisan. Wallahu a 'lam. Abu
Umayah nama aslinya Muhammad bin Ibrahim bin Muslim Ath-Thursusi.
Jilbab Wanita Muslimah— 223
Potongan hadits tersebut mempunyai hadits pendukung yang diriwayatkan dari
Hudzaifah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath. Di dalam
sanad hadits ini terdapat periwayat yang bernama Ali bin Ghurab, yang dinilai tsiqah
oleh lebih dari satu ahli hadits, namun juga dinilai lemah oleh sebagian ahli hadits
lain. Para periwayat lainnya tsiqah, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Mafria'
(X:271).
Syaikhul Islam berkata, "Paling tidak, hadits ini menunjukkan haramnya menyerupai
mereka, meskipun dzahir hadits ini menyebutkan kafirnya orang-orang yang menye-
rupai mereka, sebagaimana tersebut pula di sebuah firman Allah ta'ala: "Siapa di
antara kalian yang mengambil mereka sebagai wali, maka dia termasuk golongan
mereka." Ini juga serupa dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru,
bahwa beliau berkata, "Barangsiapa tinggal di negeri orang-orang musyrik dan
melakukan perayaan hari raya dan pesta-pesta mereka, serta menyerupai mereka
hingga matinya, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat."
Tasyabbuh pada hadits ini bisa dipahami tasyabbuh secara mutlak, meliputi semua
perilaku yang dikategorikan tasyabbuh dan menyebabkan kafir pelakunya; namun
bisa juga dipahami bahwa termasuk golongan mereka pada hadits tersebut dinilai
tergantung bentuk tindakan tasyabbuhdia dengan mereka, apakah itu termasuk tindak
kekafiran, sekedar maksiat, atau syiar terhadap agama mereka, sehingga hukumnya
pun berbeda tergantung tindakan yang dilakukannya. Bagaimana pun juga, hadits
ini tetap melarang tindakan tasyabbuh dengan sebab tasyabbuh-nya itu sendiri.
Tasyabbuh meliputi semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang terhadap perilaku-
perilaku yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir, sedangkan tindakan tersebut
jarang dilakukan oleh orang Islam. Barangsiapa mengikutj orang lain melakukan suatu
perbuatan dengan niatan meniru dan asal perbuatan tersebut dari orang kafir tadi,
maka berarti dia telah melakukan perbuatan tasyabbuh. Sedangkan orang yang
melakukan suatu perbuatan yang sama dengan perbuatan orang lain, namun tidak
ada niatan untuk saling meniru, maka bentuk tasyabbuh semacam ini masih perlu
dilihat dalam menghukuminya. Akan tetapi, perbuatan ini terkadang dilarang juga
untuk mencegah terjadinya tasyabbuh (yang dilarang) dan untuk tujuan menyelisihi,
sebagaimana Nabi memerintah ktta menyemir jenggot dan memangkas kumis.
Padahal, sabda beliau : "Semirlah uban danjanganlah kalian menyerupai orang-
orang Yahudi,"menunjukkan bahwa tasyabbuh kita kepada mereka (dalam urusan
uban) jelas tanpa ada unsur kesengajaan dari kita, namun semata-mata karena kita
tidak merubah apa yang telah diciptakan oleh Allah untuk kita. Dan nampaknya unsur
terakhir ini yang lebih menonjol daripada unsur ketidaksengajaan. Telah
diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar, dari Nabi bahwa beliau
melarang kita menyerupai orang-orang A'jam; dan beliau bersabda, 'Barangsiapa
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Al-Qadhi Abu Ya'la. Berdasarkan hadits tersebut lebih dari satu
orang ulama membenci mode-mode pakaian non-muslim."
224—Jilbab Wanita Muslimah
Dari hadits-hadits yang telah dikemukakan di atas, jelaslah
bahwa menyelisihi orang-orang kafir merupakan tujuan dari
syariat Islam yang agung ini. Maka, setiap muslim, laki-laki
maupun perempuan, berkewajiban melaksanakan hal ini dalam
segala urusan mereka, khususnya dalam urusan pakaian
karena adanya nas-nas yang secara khusus membicarakan
masalah tersebut. Dengan demikian, akan terwujudlah syarat
ketujuh dari pakaian wanita.
Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan beberapa sikap Imam Ahmad dan lainnya
dalam masalah ini, diantaranya: Muhammad bin Abu Hart) berkata: Ahmad pernah
ditanya tentang sandal Sindu yang dipakai untuk keluar bepergian, maka dia meng-
hukuminya makruh, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dia berkata, "Jika untuk
ke kamar mandi, maka tidak apa-apa. Namun, saya tidak suka kalau dipakai secara
terus-menerus." Dia berkata lagi, "Karena itu termasuk model pakaian orang-orang
A'jam."
Kemudian Syaikhul Islam membuat pasal khusus yang menjelaskan adanya ijma'
kaum muslimin yang dipahami dari hadits-hadits dan ayat-ayat di muka adanya
perintah menyelisihi orang-orang kafir dan larangan menyerupai mereka, Dia menye-
butkan perkataan para sahabat dalam masalah ini; juga perkataan empat imam
madzhab dan ulama lainnya. Fasal ini banyak mengandung faedah yang jarang sekali
ulama lain mendapatkan taufik dari Allah untuk memberikan penjeiasan semacam
itu. Periksalah kitab dia him. 58 - 67! Pada bagian penutup tulisan tersebut, dia
berkata, Tanpa beralasan dengan apa yang telah kami sebutkan di atas itu pun, telah
diketahui adanya ijma' kaum muslimin akan makruhnya tasyabbuh kepadaahli kitab
dan orang-orang A'jam secara umum, sekalipun mereka masih belum ijma' dalam
beberapa masalah cabangnya. Hal itu mungkin disebabkan ada sebagian ulama yang
menganggap masalah tersebut bukan termasuk perilaku khas orang-orang kafir, atau
mungkin adanya dalil yang jelas-jelas membolehkannya, atau mungkin karena alasan
lainnya. Hal ini sama dengan ijma' mereka untuk mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah,
sekalipun dalam memahami sebagian nas Alqur'an maupun As-Sunnah mereka
terkadang berbeda disebabkan ada yang menggunakan takwil dan ada yang tidak."
Demikian penjeiasan panjang lebardari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ash-
Shan'ani di dalam kitab SubulAs-Salam berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa siapa
yang bertasyabbuh dengan orang-orang fasik, kafir, atau para tukang bid'ah dalam
hal-hal yang menjadi ciri khas mereka, maka dia temrasuk golongan mereka." Para
ulama mengatakan, "Bila dia bertasyabbuh dengan orang kafir dalam hal pakaian
dengan niatan agar bisa seperti mereka, maka dia telah kafir; namun bila tidak dengan
niatan semacam itu, maka dalam masalah ini para ahli fikih berbeda pendapat; di
antara mereka ada yang menganggapnya kafir, namun ada yang tidak menganggap-
nya kafir, tapi hanya memberinya hukuman."
Jilbab Wmita Muslimah — 225
Begitulah. Namun, ada sebagian orang menyangka bahwa
tindakan menyelisihi orang-orang kafir ini hanyalah urusan ibadah
mahdhah semata. Padahal tidaklah demikian, karena sebenarnya hal
tersebut bisa dipikirkan kemanfaatan dan hikmahnya.
Para ulama telah membuktikan bahwa ada kaitan erat antara hal
yang lahir dengan yang batin. Dan hal yang lahir ini sangat ber-
pengaruh terhadap batin; bila lahir seseorang baik, maka batinnya
akan baik, namun sebaliknya, bila lahirnya jelek, maka batinnya pun
jelek. Terkadang manusia tidak merasa adanya hubungan semacam
itu dalam dirinya, tetapi dia bisa melihat hal itu pada orang lain.
Syaikhul Islam IbnuTaimiyah berkata (hlm. 105-106), "Kenyataan
dan pengalaman telah membuktikan hal ini. Lihatlah, dua orang yang
berasal dari sebuah negeri yang sama, lalu bertemu di negeri asing,
maka di antara keduanya akan terjadi keterpautan hati yang sangat
besar, sekalipun di negeri asalnya keduanya tidak saling kenal karena
saling berjauhan tempatnya. Itu bisa terjadi karena kesamaan asal
negeri menjadi semacam pengikat keduanya di negeri asing tersebut.
Perhatikan pula, bila ada dua orang bertemu dalam suatu perjalanan
jauh atau di negeri asing, lalu keduanya ada kesamaan dalam hal
sorban, pakaian, rambutatau kendaraan, dan sebagainya, niscaya
keterpautan hati di antara keduanya akan lebih kuat daripada kepada
yang lain. Demikian pula, kitaakan menjumpai orang-orang yang
berprofesi sama dalam urusan keduniaan, keterpautan hati sesama
mereka jauh berbeda dengan keterpautan hati mereka terhadap yang
lain; bahkan kalau pun harus dibarengi dengan sikap permusuhan
atau berperang mereka pun akan rela melakukannya, meskipun hanya
untuk sekedar urusan kepemilikan atau hutang-piutang. Dan kita juga
menjumpai para raja dan para pemimpin negara, sekalipun negeri
dan kerajaan mereka berjauhan, di antara mereka ada keterkaitan
yang mendorong sikap saling meniru dan sikap saling memperhatikan
dan empati satu sama lain. Ini semua memang merupakan tuntutan
naluri, kecuali bila ada hal-hal yang menghalanginya, seperti agama
atau tujuan-tujuan tertentu, (maka akan lain jadinya).
Bila keserupaan dalam perkara-perkara keduniaan saja bisa me-
nimbulkan kecintaan dan keterpautan hati, maka bagaimana bila
226—Jilbab Wanita Muslimah
keserupaan itu dalam perkara-perkara agama? Tentu, pengaruhnya
dalam menimbulkan kecintaan dan keterpautan hati lebih besardan
lebih kuat. Padahal, mencintai dan terpautnya hati kita kepada orang-
orang kafir menyalahi prinsip keimanan. Allah ta'ala berfirman:

"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah
dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-
bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara atau keluarga mereka
sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah tanamkan
keimanan pada diri mereka dan telah kokohkan dengan pertolongan
dari-Nya." (QS. Al Mujadalah: 22)
Allah telah mengabarkan bahwa tidak akan kita dapati seorang
mukmin yang mencintai orang kafir. Sehingga, siapa yang mencintai
orang-orang kafir, maka berarti dia bukan seorang mukmin.
Kesamaan dalam hal-hal lahir adalah hal-hal yang bisa menim-
bulkan kecintaan, oleh karena itulah perbuatan tersebut dilarang."
Pada bagian lain (him. 6-7), dia berkata, "Ada kaitan erat antara
perkara-perkara batin dengan yang lahir. Sesungguhnya kondisi hati
akan melahirkan tindakan-tindakan lahir; sebaliknya, segala tindakan-
tindakan lahir juga akan mempengaruhi kondisi hati.
Allah telah mengutus Muhammad dengan membawa hikmah,
yaitu Sunnahnya, yang menjadi aturan dan pedoman hidup untuknya.
Salah satu di antara hikmah (dari aturan dan pedoman tersebut) ialah
Allah menjadikan amalan dan perbuatan-perbuatan beliau ^berbeda
dengan tingkah laku orang-orang yang dimurkai (yaitu orang-orang
Yahudi) dan orang-orang yang tersesat (yaitu orang-orang Nasrani).
Allah memerintahkan beliau untuk senantiasa membedakan diri dari
mereka dalam hal-hal yang lahir, sekalipun sebagian besar kita tidak
mampu melihat (kebaikan tindakan Nabi tersebut) dan tidak me-
Jilbab Wanita Muslimah — 227
ngetahui akan bahaya dan kejelekan (yang ditimbulkan bila kita
menyerupai tindakan mereka).
Tindakan menyerupai mereka itu dilarangdikarenakan beberapa
hal:
1. Kesamaan dalam perilaku lahir antara dua pihak akan menimbul-
kan keterkaitan hati sesama keduanya, yang pada gilirannya akan
menggiring kepada kesamaan akhlak dan perilaku. Hal ini secara
nyata bisa kita lihat. Seseorang yang memakai pakaian yang biasa
dipakai seorang ulama, niscaya di dalam dirinya timbul semacam
perasaan yang menyatu dengan diri mereka. Orang yang menge-
nakan pakaian tentara, misalnya, niscaya dia akan bertingkah laku
seperti layaknya seorang tentara. Hal itu terjadi karena
memang adanya tuntutan naluri di dalam dirinya, yang tidak akan
berubah
kecuali bila ada hal-hal lain yang mempengaruhinya.
2. Perbedaan (kita dengan orang-orang kafir) dalam perilaku lahir
akan menimbulkan sikap memisahkan dan menjauhkan diri
mereka, yang akhirnya membuahkan putusnya hubungan dengan
hal-hal yang akan membawa kepada kemurkaan Allah, dan dari
sebab-sebab yang membawa kepada kesesatan. Sikap kita sema
cam itu juga akan menumbuhkan sikap simpati kepada orang-
orang yang mengikuti petunjuk dan jalan yang diridhai oleh Allah.
Sikap semacam itu juga akan membuat terputusnya keterkaitan
hati antara tentara-tentara Allah yang beruntungdengan musuh-
musuh-Nyayangmerugi. Semakin sempurna keimanan seseorang
dan semakin dia mengenal Islam yang sebenarnya, —maksud
saya, bukan sekedar mengaku Islam dalam bibir saja— maka
semangatnya untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi dan
Nasrani akan semakih mantap dan keinginan menjauhkan diri
dari akhlak-akhlak mereka yang telah terlanjur ada pada sebagian
kaum muslimin semakian kuat.
3. Kesamaan lahir kita dengan mereka mengakibatkan terjadinya
pembauran antara kita dengan mereka, sehingga hilanglah per
bedaan lahir antara orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan
diridhai oleh Allah dengan orang-orang yang dimurkai dan ter-
sesat dan jalan-Nya.

228 —Jilbab Wanita Muslimah
Sebenarnya masih banyak sebab-sebab lainnya, akan tetapi nam-
paknya tidak mungkin kami paparkan di sini semuanya.
Hal-hal yang kami paparkan di atas adalah untuk perilaku lahir
mereka yang sifatnya mubah. Itu saja seperti itu. Untuk perilaku
mereka yang menjurus kepada kekafiran, kemaksiatan, tentu kita
hams lebih berhati-hati lagi. Jadi ini prinsip yang harus kita perhatikan
secara seksama!"
Di bagian awal kitab tersebut (him. 7-8), Syaikhul Islam berkata,
"Di sini ada satu hal yang butuh perhatian seksama. Yaitu, bahwa
perintah untuk menyerupai atau membedakan diri dengan suatu kaum
itu kadang-kadang disebabkan pada tujuan menyerupai atau per-
buatan menyerupainya itu sendiri mengandung kemaslahatan. Begitu
juga pada tindakan membedakan diri, bisa jadi tujuan atau tindakan
membedakan dirinya sendiri mengandung kemaslahatan. Artinya,
perbuatan menyerupai atau membedakan diri tersebut kemungkinan
mengandung kemaslahatan atau kemadharatan bagi seseorang.
Meskipun, bila perbuatan tersebut kita lakukan tanpa menyebabkan
kita sama atau berbeda dengan suatu kaum, maka di situ tidak lagi
terdapat kemaslahatan atau kemudharatan. Oleh karena itulah, tentu
kita akan mendapatkan manfaat dari tindakan kita meneladani
Rasulullah dan parasalaf dalam melakukan suatu perbuatan, yang
mana bila beliau dan mereka tidak melakukannya kita tidak akan
mendapatkan kemaslahatan apa-apa. Hal itu karena perbuatan kita
meneladani beliau at dan mereka itu bisa menimbulkan kecintaan,
bisa menumbuhkan kedekatan hati, serta mendorong kita untuk me-
nyamai beliau dan mereka dalam hal-hal lain yang berfaedah.
Begitu juga, kita akan mendapatkan kemudharatan disebabkan kita
menyerupai orang-orangkafirdalam suatu perbuatan-perbuatan, yang
sebenarnya andaikata mereka tidak melakukannya kita tidak tertimpa
kemudharatan kalau melakukannya. Terkadang, ada perintah untuk
menyerupai atau membedakan diri dengan mereka. Hal itu di-
karenakan perbuatan yang menjadi penyerupa atau pembeda itu
mengandung kemaslahatan atau kemudharatan kalau mereka tidak
melakukannya. Jadi, tindakan menyerupai atau membedakan diri
itulah menjadi suatu petunjuk atau pertanda; menyerupai mereka
Jilbab Wanita Muslimah — 229
berarti akan mendapatkan kemudharatan, sedangkan membedakan
diri dari mereka berarti akan mendapatkan kemasiahatan. Pengguna-
an tindakan menyerupai dan membedakan diri sebagai petunjukdan
pertanda semacam itu termasuk dalam kontek qiyas dilalah, sedang-
kan untuk pembicaraan sebelumnya termasuk dalam kontek qiyas
'illat. Namun terkadang kedua qiyas ini berpadu, maksud saya,
hikmah yang terkandung di dalam perbuatan di mana kita
menyerupai atau membedakan diri dari mereka itu masuk dalam
dua qiyas tadi; dan inilah yang umumnya terjadi pada perintah atau
larangan untuk menyerupai atau menyelisihi mereka. Oleh karena itu,
sudah seharusnyalah hal ini kita perhatikan dengan seksama, karena
dengan begitu akan segera diketahui mengapa Allah melarang kita
mengikuti atau menyerupai mereka secara mutlak, atau dengan
batasan-batasan tertentu.
Saya katakan: Keterkaitan erat antara perilaku lahir dengan kondisi
batin ini telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir, dia berkata:
"Rasulullah dalam meluruskan shaf kami (dalam shalat) seperti
beliau Mmeluruskan anak panah sampai kami betul-betul paham
akan pentingnya hal itu. Kemudian suatu hari beliau keluar, dan
bersabda:

'Wahai hamba-hamba Allah, luruskan shaf-shaf kalian atau Allah
akan mempertentangkan wajah-wajah kalian.'" Dalam riwayat lain
disebutkan: "mempertentangkan hati-hatikalian."'
161

Beliau mengisyaratkan bahwa perbedaan dalam hal lahir —
walau dalam urusan meluruskan shaf— merupakan salah satu yang
161. Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim dan Abu 'Awanah dalam kitab Shahih-nya
masing-masing, sedangkan riwayat lain pada hadits di atas adalah diriwayatkan oleh
Abu Dawud dengan sanad shahih. Lihat kitab kami Shahih Abu Dawud (hadits no.
668-669)!
230—Jilbab Wanita Muslimah
menyebabkan pertentangan hati. Maka, ini menunjukkkan
bahwa perilaku lahir berpengaruh terhadap batin. Oleh karena
itu, kita tahu, bahwa beliau melarang kita membuat
perpecahan, sampai pun dalam masalah duduk berkelompok.
Saya akan tunjukkan dua hadits yang berkaitan dengan
masalah ini.
1. Dari Jabir bin Samurah, dia berkata:

"Pernah Rasulullah keluar menemui kami, dan mendapati
kami duduk berpencar-pencar. Maka beliau berkata,
'Mengapa saya lihat kalian duduk berkelompok-
kelompok?!'"
162

2. Dari Abu Tsa'labah Al-Khasyani
;
dia berkata:

"Biasanya para sahabat bila singgah di suatu tempat,
mereka berpencar di lembah-lembah. Maka, Rasulullah
pun bersabda, 'Sesungguhnya berpencar-pencarnya kalian di
lembah-lembah semacam ini tidak lain merupakan perbuatan
setan.' Setelah kejadian itu, tidak pernah mereka singgah di
suatu tempat, kecuali mereka bergabung
162. Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim (II: 31), Ahmad (V: 93), dan Ath-Thabarani
di dalam kitab Al-Mu'jam Al-Kabir.
Hadits di atas melarang kita duduk berpencar berkelompok-kelompok. Artinya kita
dilarang berpecah belah dan diperintah untuk bersatu padu. Begitulah yang tersebut
di dalam kitab Syarah Muslim karya An-Nawawi.
Jilbab Wanita Muslimah— 231
menjadi satu, hingga konon, bila dihamparkan sebuah kain untuk
mereka niscaya akan mencukupi mereka semua. *'
63

♦♦♦♦♦♦♦
163. Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:409 dan 410), Ibnu Hibban (1664 -
Mawarid), Al-Hakim (II: 115), Al-Baihaqi (IX: 152), Ahmad (IV: 193) dari jalan Al-Walid
bin Muslim, katanya: Abdullah, —maksudnya Ibnu Zabr— bercerita kepada kami,
bahwa dia mendengar Salm bin Misykam berkata, 'Telah bercerita kepada kami Abu
Tsa'labah Al-Kasyani."
Sanad hadits ini bersambung dan shahih. Al-Hakim berkata, "Isnadnya shahih," dan
Adz-Dzahabi setuju dengan perkataannya itu. Zabr adalah kakek Abdullah,
sedangkan nama ayahnya adalah AI-'Ala. Perhatian: Bila perpecahan dalam
masalah kebiasaan semacam itu saja dikatakan termasuk perbuatan setan, lalu
bagaimana bila perpecahan itu menyangkut urusan agama atau rukun agama,
seperti shalat umpamanya? Padahal kita melihat, betapa kaum muslimin di zaman
sekarang ini shalat di satu masjid dengan berkelompok-kelompok menjadi
beberapa jama'ah mengikuti imamnya masing-masing. Bukankah hal semacam itu
merupakan perbuatan setan?!! Akan tetapi, masya Allah, keba-nyakan dari mereka
tidak mengetahuinya. Benarlah firman Allah: "Sesungguhnya pada
yangdemikianitubenar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang
mempunyai hat iatau diberi pendengaran, sementara mereka sendir
imenyaksikannya."
232—Jilbab Wanita Muslimah
U ukan Libas Syuhrah
164
(Tidak untuk Mencari Popularitas)
ilbab disyaratkan bukan merupakan pakaian untuk mencari
popularitas berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu
Umar, dia berkata, "Rasulullah pernah bersabda:

164. Libas syuhrah ada\ah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas
di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian itu harganya mahal yang dipakai oleh
seseorang untuk berbangga dengan harta dan perhiasannya, maupun pakaian murah-
an yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezu/wtfannya dan dengan
tujuan riya\
Asy-Syaukani di dalam kitab Nail Al-Authar (II: 94) berkata: "Ibnul Atsir berkata,
'Syuhrah artinya ternampakkannya sesuatu. Jadi maksudnya ialah, pakaiannya
mudah dikenali di tengah-tengah banyak orang karena perbedaan warnanya dari
warna-warna kebanyakan orang, sehingga mereka mendongakkan pandangan kepa-
danya, dan dia pun bersikap angkuh dan sombong terhadap mereka."
Jilbab Wanita, Muslimah— 233
]
'Barangsiapa memakai pakaian untuk mencari popularitas di
dunia, maka Allah mengenakan pakaian kehinaan
kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya
dengan api neraka. '"
,165

165. Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (l\: 172), Ibnu Majah (II: 278-279) melalui
jalan Abu 'Awanah, dari Utsman bin Mughirah, dari Muhajir, dari Ibnu Umar. Sanad
hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mundziri di dalam kitab At- Targhib
(III: 112), dan para periwayatnya adalah orang-orang tsiqah, sebagaimana dikatakan
oleh Asy-Syaukani.
Saya katakan: Mereka adalah para periwayat yang biasa dipakai oleh Al-Bukhari,
kecuali periwayat yang bernama Muhajir, yang mendapat julukan Ibnu Amru Asy-
Syami (di dalam kitab Nail Al-authar tertulis Al-Basami, dan ini merupakan kesalahan
tulis). Dia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban (V: 428 dan VII: 468). Sejumlah periwayat
tsiqah telah meriwayatkan hadits darinya.
Keduanya, yaitu Al-Bukhari dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits ini melalui jalan
Syarik, dari Utsman, dengan lafadz seperti itu, tetapi tanpa perkataan: "...kemudian
membakarnya dengan api neraka."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 5664 dan 6345). Di dalam kitab
Mukhtashar-nya (no. 3871) Al-Mundziri menyatakan bahwa hadits tersebut diriwayat-
.kan oleh An-Nasai. Al-Munawi berkata, "Hadits tersebut dia masukkan dalam bab
"Az-Zinah."
Saya katakan: Saya tidak menemukan hadits itu di dalam kitabnya, As-SunanAsh-
Shughra. Nampaknya, terdapat di kitabnya, As-Sunan AI-Kubra. Kemudian, kitabnya,
As-Sunan Al-Kubra ini telah dicetak, dan ternyata hadits tersebut ada di sana (V: 460
9560).
Hadits tersebut mempunyai hadits pendukung yang diriwayatkan dari Abu Dzar secara
marfu' dengan lafadz: "Barangsiapa memakai pakaian untuk mencari popularitas,
maka Allah berpaling darinya sampai kelak saat Dia menghinakannya." Hadits ini
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Hilyah (IV: 190-191)
melalui jalan Waki' bin Muhriz An Naji, katanya: Utsman bin Jahm telah bercerita
kepada kami, dari Zir bin Habisy, dari Abu Dzar. Abu Nu'aim berkata, "Waki' bersen-
dirian dalam meriwayatkan hadits ini."
Saya katakan: Dia, Waki', tidak mengapa diambil perkataannya, sebagaimana dikata-
kan oleh Abu Hatim dan ulama hadits lainnya. Akan tetapi, gurunya, Utsman bin Jahm,
tidak ada periwayat lain yang meriwayatkan darinya, kecuali Waki' ini sebagaimana
disebutkan di dalam kitab Al-Mizan, sehingga dia ini termasuk periwayat ma/jhul
yang tidak dikenal), meskipun Ibnu Hibban memasukkan dia ke dalam kitabnya Ats-
Tsiqat (VII: 202) sesuai syarat-syarat yang dia tetapkan. Karena itu, kita menjadi tahu
bahwa perkataan Al-Bushairi di dalam kitab Az-Zawa-id(Q. 218/1), "Sanadnya hasan,"
adalah tidak tepat, kecuali bila yang dimaksudkan adalah hasan lighairihi. Barangkali,
karena itulah Al-Maqdisi mencantumkan hadits tersebut di dalam kitabnya Al-
Ahadits Al-Mukhtarah. Wallahu a'lam.
234—Jilbab Wanita Muslimah
Sampai di sini, selesailah sudah pembicaraantentangsyarat-syarat
wajib yang harus dipenuhi oleh pakaian seorang wanita. Sebagai
kesimpulannya adalah, bahwa pakaian wanita itu:
* haruslah menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan kedua
telapak tangannya dengan penjelasan sebagaimana yang dibicara-
kan di muka;
* bukan merupakan pakaian untuk berhias;
* tidaktipis, tidaksempit, sehinggamenampakkan lekuktubuh;
* tidak diberi wangi-wangian;
* tidak menyerupai pakaian laki-laki;
* tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir; dan
* bukan untuk mencari popularitas.
Setiap laki-laki muslim berkewajiban menerapkan syarat-syarat di atas
pada pakaian istrinya dan orang-orang yang berada di dalam
kekuasannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (III: 273) melalui jalan Kinanah,
bahwa Nabi melarang dua jenis pakaian popularitas, yaitu pakaian yang indah lagi
menarik perhatian orang lain dan pakaian yang kumal jelek juga untuk menarik
perhatian orang lain. Sanad hadits ini shahih, tetapi mursal. Kinanah adalah seorang
tabi'i, (yaitu suatu generasi setelah sahabat Nabi , yang biasa disebut juga Abu
Nu'aim. Ath-Thabarani juga meriwayatkan hadits serupa itu dari Ibnu Umar dengan
sanad yang di dalamnya terdapat periwayat yang dituduh sebagai pemalsu hadits.
Lihat kitab Dha'ifAI-Jami''(Vl:36)!
Asy-Syaukani berkata, "Hadits ini menunjukkan haramnya mengenakan pakaian
untuk mencari popularitas. Hadits ini tidak mengkhususkan pakaian yang harganya
mahal saja, bahkan bisa saja mengena pada pakaian yang dipakai oleh seorang
miskin yang berbeda dengan pakaian orang pada umumnya, agar orang-orang me-
lihat dan kagum kepadanya, serta menganggapnya sebagai orang zuhud. Pendapat
semacam ini dikemukakan oleh Ibnu Ruslan."
Dan pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk mencari popularitas di kalangan
masyarakat ini, tidak ada bedanya baik yang mahal dengan yang murah, baik yang
sesuai dengan pakaian yang dipakai orang kebanyakan maupun yang berbeda
dengan mereka. Karena haramnya di sini adalah berkaitan dengan tujuan mencari
popularitas, Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya, sekalipun
bisa jadi tidak sesuai dengan yang dia harapkan."
Jilbab Wanita Muslimah — 235
"Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing
dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan-
nya itu."
Dan Allah ta'ala juga berfirman:

"Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganyapara malaikat yangbengis-bengis, yangkeras, yangtidak
pernah mendurhakai Allah terhadap segala apa yang diperintahkan
kepada mereka dan selalu mengerjakan segala apa yang diperin-
tahkan kepada mereka." (QS. At-Tahrim: 6)
Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepa-
da kitasemuadalam mematuhi peri ntah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya.
Mahasuci Engkau, wahai Allah. Dengan memuji-Mu, aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Engkau,
dan aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.
Damaskus, 9-5- 1371 H.
Penulis,
Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Abu Abdurrahman
♦ ♦♦♦♦♦♦
236—Jilbab Wanita Muslimah
DAFTAR BUKU MEDIA HIDAYAH
YANG SUDAH TERBIT
(harga bulan Juli 2005)
1. Sifat Shalat Nabi , Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
Rp. 15.000, Rp.25.000 (HC)
2. Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi, Imam Ibnu Daqiq Al 'led.
Rp. 12.500
3. Do'a dan Shalat Istikharah, Samir Qorni Muhammad Rizq.
Rp. 10.000
4. 15 Kesalahan Mendidik Anak & Cara Islami Memperbaikinya,
Dr. Muhammad bin 'Abdullah As Sahim. Rp. 10.000
5. Romantika Pergaulan Suami Istri, Syaikh Musthofa Al 'Adawi.
Rp. 17.500
6. Ar-Radd Al-Mufhim, Hukum Cadar, Syqikh Muhammad
Nashiruddin Al Albani. Rp. 10.000
7. Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al
Albani. Rp. 18.000
8. Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi; Do'a dan Kiat Nabi
Mendidik Anak; Sejak dalam Sulbi Ayah, dalam Kandungan,
hingga Dewasa, Syaikh Jamal Abdul Rahman. Rp.22.000
9. Ringkasan Al I'thisom Imam Asy Syatibi, Membedah Seluk
Beluk Bid'ah, Syaikh Abdul QadirAs Saqqaf. Rp.16.000
10. Al Firqotun Najiyah, Jalan Hidup Golongan yang Selamat,
Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Rp. 15.000
11. Bahaya Mengekor Non Muslim (Mukhtarot I'tidho Shirothol
Mustaqim - Ibnu Taimiyah), Syaikh Muhammad bin 'Alibin Ibrahim
Adh-Dhabi'i. Rp. 12.000
12. Tahajud Nabi M, Syaikh Dr. Said bin Ali bin WahfAl Qohthoni.
Rp. 10.000
13. Al-Qawa'idul Mutsla, Memahami Nama dan Sifat Allah -fe,
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Rp.16.000
Jilbab Wanita Muslimah — 237
14. Bahaya Lidah, Penyakit Lisan dan Terapinya, Syaikh Dr. Said
bin Ali bin WahfAl Qohthoni. Rp. 11.000
15. Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci; Bahasan: Tauhid,
Syirik, Kufur, Bid'ah, Syaikh bin Baz, bin Utsaimin, Syaikh al Jibrin,
Syaikh Fauzan al Fauzan. Rp.20.000
16. No Smoking, Tidak Merokok Karena Allah, Syaikh Muhammad
Jamil Zainu. Rp. 5.000
17. TataCaraQurbanTYintunanNabi^Sya/ttA/ Utsaimin. Rp. 5.000
18. Fatawa Liz Zaujain; Kepada Pasangan Suami Istri, Syaikh Sa 'di,
Syaikh bin Baz, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh Al Fauzan, Muhammad
Alu Syaikh. Rp. 10.000
19. Sittu Durror, Landasan Membangun Jalan Selamat, Syaikh Abdul
Malik Ramadhani. Rp. 15.000
20. Kisah-kisahTeladanBakti AnakkepadaIbuBapak, Ibrahim bin
Abdullah Musa Al Hazimi. Rp. 5.000
21. Seputar Asyiknya Nasyid; Wasiat & Nasihat Syaikh Shalih
Fauzan, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh Al Albani, Abu Abdir Rahman
Asham bin AbdulMun 'im Al Mary. Rp. 9.000
22. Jenggot Yes, Isbal No, Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid,
AbdulKarim Al Juhaiman, Abdullah bin Jarullah alu Jarullah. Rp.
6.000
23. Adab Az-Zifaf; Panduan Pernikahan Cara Nabi, Syaikh
Muhammad Nashirudin Al-Albani. Rp. 18.000
24. Syarah Kasyfu Subhat; Membongkar Akar Kesyirikan, Syaikh
Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin. Rp. 17.500
25. Al Ushul Ats Tsalatsah (Matan arab dan terjemah), Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab. Rp. 5.000
26. Kasyfu Subhat (Matan arab dan terjemah), Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab. Rp. 6.000
27. Adab Safar, Perjalanan Penuh Berkah, Syaikh Dr. Said bin Wahf
Al Qahtani. Rp. 10.000
28. Tolak Bala', Resep Nabi Menangkal dan Mengatasi Musibah,
Muhammad bin Abdul Aziz Azy-Syayi'. Rp. 18.000
29. Thaharah Nabi m, Syaikh Dr. Said bin Wahf Al Qahtani. Rp. 15.000
238—Jilbab Wanita Muslimah
30. Do'a-Do'a & Ruqyah dari Al Qur'an dan Sunnah, Syaikh Dr.
Said bin WahfAl Qahtani. Rp. 7.000
31. Fatwa-fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albani, Syaikh Muhammad
NashiruddinAlAlbani.Rp. 13.000
32. Kitab Tauhid Memurnikan Laa Ilaha IUallah, Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab. Rp. 16.000
33. Sufi menurut AI-Qur'an dan As-Sunnah, Syaikh Muhammad bin
Jamil Zainu. Rp. 5.000
34. Materi Khutbah Pilihan, Abu Hudzaifah bin Abbas. Rp. 18.000
35. Fiqih Mubasyaroh; Pengaruh Aktivitas Seksual Terhadap
Ibadah, Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al-Ahmadi. Rp.18.000
36. Dzikir dan Doa Shahih, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
Rp.6.000
37. Aqidah Thahawiyah; Syarah dan Ta'liq, Muhammad Nashiruddin
Al-Albani. Rp.l 1.000
38. Awas Ada Setan; Mengenal Tipu Daya Setan dan Penangkalnya,
Wahid Abdussalam Bali dan Yahya Mukhtar Ghazawi. Rp.6.000
39. Menebar Ilmu Menuai Pahala, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
dan Fawwaz Ahmad Zamarli. Rp.7.000
40. Al Wajibat; Yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Syaikh
Abdullah bin Ibrahim Al Qar'awi.
41. Tarbiyatul Abna'; Bagaimana Nabi M Mendidik Anak, Syaikh
Musthafa Al 'Adawi.
42. Tanya Jawab Masalah Nikah Dari A Sampai Z, Syaikh Musthafa
Al 'Adawi.
Jilbab Wanita Muslimah— 239

Penerjemah: Editor. Hidayati Desain Muka:

Safyra
Perwajahan isi: Jarot Cetakan Pertama: November 2.002. Cetakan ke: 3 4 5 6 7 8 9 10 (angka terkecil) Penerbit: Media Hibayab

Pengantar Penerbit

lhamdulillah, buku jilbab Wan/ta Muslimah telah terbit. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad keluarganya, dan para pengikutnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman. Kesadaran untuk mengenakan busana muslimah makin hari kian meningkat. Seiring dengan itu, model busana muslimah pun semakin bervariasi dan mulai mengalami distorsi. Kini muncul istilah jilbab gaul, atau kudung gaul. Berjilbab tetapi tidak memenuhi ketentuan syari'at, namun mengikuti mode yang sedang ngetrend. Buku yang ada dihadapan pembaca ini merupakan terjemahan dari kitab jilbab Mar'ah Muslimah -edisi revisi- karya Syaikh AlAlbani. Merupakan buku yang paling lengkap dan paling teliti dalam menjelaskan dari A sampai Z busana muslimah yang sesuai dengan ketentuan syariat. Lebih dari itu, dalam mukadimah edisi revisi ini beliau juga menyinggung masalah hukum cadar. Secara ringkas beliau menjawab kritikan atau sanggahan para ulama yang mewajibkan cadar. Bagi pembaca yang ingin mengkaji lebih detail lagi, bisa membaca risalah Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Ar-Radd Al Mufhim yang juga kami terbitkan terjemahannya.

A

Jilbab Wanita Muslimab — 5

November 2002 Penerbit 6—Jilbab Wanita Muslimah . Amin. Jogjakarta.Harapan kami semoga buku ini bermanfaat. Segala tegur sapa dari para pembaca akan kami sambut dengan baik demi kebenaran dan mencari keridhaan Allah .

Selain yang Dikecualikan hlm 47 Jilbab Wanita Muslimah — 7 .Daftar Isi Pengantar Penerbit hlm 5 Daftar Isi hlm. 7 Mukadimah Edisi Revisi hlm 9 Mukadimah Cetakan Kedua hlm 32 Mukadimah Cetakan Pertama hlm 42 Jilbab Wanita Muslimah hlm 45 Syarat Pertama Menutup Seluruh Tubuh.

Tidak Ketat hlm 142 Syarat Kelima Tidak Diberi Wewangian atau Parfum hlm 149 Syarat Keenam Tidak Menyerupai Pakaian Laki-laki hlm 153 Syarat Ketujuh Tidak Menyerupai Pakaian Orang-orang Kafir hlm 176 Syarat Kedelapan Bukan Libas Syuhrah (Tidak untuk Mencari Popularitas) hlm 233 8—Jilbab Wanita Muslimah . Tidak Tipis hlm 137 Syarat Keempat Kainnya Harus Longgar.Syarat Kedua Tidak Untuk Berhias hlm 132 Syarat Ketiga Kainnya Harus Tebal.

meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Ini adalah edisi terbaru dari buku saya Hijab AlMar'ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah. yang dimaksud adalah halaman pada buku ini. Demikian selanjutnya kalau tertulis halaman tertentu. Sebagai contohnya ialah tambahan lima hadits pada hlm. Kami memuji. 81-84' sehingga selengkapnya menjadi tiga belas dalil yang S 1 Berdasarkan penomoran dalam buku ini. Amma ba'du. dan siapa yang Allah sesatkan tidak akan ada yang dapat memberinya hidayah. Buku ini berbeda lengan cetakan sebelumnya. karena di dalam buku ini ada beberapa tambahan penting. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.M ukadimah Edisi Revisi egala puji bagi Allah. Tambahan penting yang saya maksudkan adalah berkenaan dengan hadits-hadits dan riwayat-riwayat para salaf yang menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita adalah bukan aurat. Jilbab Wanita Muslimah — 9 . serta berlindung diri kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan kejelekan perbuatan-perbuatan kami. bukan pada kitab aslinya. Siapa yang Allah beri hidayah tidak ada yang mampu menyesatkannya.

panjang lebar maupun ringkas. 111-117... Maksudnya. 59-64. Di situ kami jelaskan pandangan cemerlang Ibnu Abbas dan para sahabat lainnya. kecuali yang biasa tampak berdasarkan izin dan perintah Allah yang membuat syariat. Kajilah bahasan tersebut. kami menambahkan pada cetakan baru ini sejumlah atsar sahabat yang amat penting yang menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukan aurat. An-Nur: 31) Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah wajah dan kedua telapak tangan. yang bisa pembaca temukan di berbagai halaman di dalam kitab ini untuk menopang keilmiahan pembahasan. Sehingga sekarang tidak ada lagi ganjalan atau kemusykilan terhadap penafsiran Ibnu Jarir dan Qurthubi. Ada juga tambahan lain dalam judul bahasan "Faidah Muhimmah" (hlm 128-131) yang membahas tentang bahaya mengambil wanitawanita kafir menjadi pembantu di rumah-rumah kaum muslimin. Demikian pula.sebelumnya hanya ada delapan dalil. Ada juga tambahan lainnya (pada hlm 135-136) yang membahas masalah warna-warna pakaian wanita yang oleh sebagian kaum wanita dianggap sebagai perhiasan. padahal bukan. Hal lain yang perlu saya sampaikan. bahwa ada beberapa pembahasan yang pada cetakan-cetakan sebelumnya saya masukkan ke 10—Jilbab Wanita Muslimah ." (QS. Banyak lagi tambahan-tambahan lain.Kecuali yang biasa nampak.. karena sangat penting! Di situ juga saya jelaskan bahwa pemahaman saya dinukilkan dari pendapat Al-Hafizh Ibnu Al-Qathan Al-Fasi di dalam kitabnya yang berbobot An-Nazhar fiAhkam An-Nazhar. serta para ahli tafsir yang mengikuti pendapatnya berkait dengan penafsiran firman Allah ta'ala: ".. bisa pembaca temukan pada hlm. Yang lebih penting lagi adalah uraian kami pada hlm. dengan menyertakan dalil-dalil yang berkaitan dengannya. Semua itu adalah berkat usaha pengkajian dan penelitian yang berkesinambungan untuk mendapatkan kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. yang telah saya beberkan di situ..

memasukkan kumpulan tulisan bantahan tersebut ke dalam judul "Mukadimah Cetakan Baru Kitab Ini" kurang pas dipandang dari berbagai alasan. Secara khusus. atau bahkan lebih. Dengan demikian.saya menulis mukadimah untuk cetakan baru ini. adalah karena tulisan tersebut merupakan pembahasan spesifik saya. niscaya ukurannya hampir sama dengan ukuran kitab ini. Harapan saya dengan menjadi satu kitab tersendiri seperti Jilbab Wanita Muslimah — 11 . bila tulisan itu saya lengkapi. saya bantah pendapat Syaikh Tuwaijiri dalam kitabnya Ash-Sharim Al-Masyhur. dan juga pembahasan-pembahasan lain. terpaksa saya perlu menyanggah beberapa ulama yang mengkritik kitab saya ini.dalam catatan kaki. Salah satu di antara alasan-alasan tersebut adalah karena ukuran kitab ini nantinya akan menjadi terlalu tebal. Di sela-sela mengerjakan itu. Artinya. kemudian saya susun (sedemikian rupa menjadi sebuah buku). tanpa ada kesamaran dan kekaburan. dan tidak ada ulama salaf yang berpendapat demikian! Saya sanggah pendapat-pendapat mereka itu dengan memaparkan dalil-dalil dan bantahan-bantahan mereka. Terkadang saya bantah mereka dengan bantahan secara umum saja. Begitulah seterusnya. sampai akhirnya tak terasa saya telah mengumpulkan lebih dari seratus halaman dalam ukuran besar dengan tulisan tangan. karena pentingnya masalah tersebut. 85-90 dalam judul "Ibthalu Da'wa Anna Hadzihi Al-Adillah Kullaha Kanat Qabla Fardhiyati AlHijab" (Bantahan terhadap Anggapan bahwa Dalil-dalil Ini Berlaku Sebelum Diwajibkannya Jilbab). Misalnya. pembahasan yang ada pada hlm. dan ini yang terpenting. namun pada cetakan yang baru ini saya masukkan ke dalam bahasan pokok. setelah berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya akhirnya saya putuskan untuk tidak memasukkan tulisan saya tadi ke dalam mukadimah buku ini. Karena itu. serta mengulas alasan-alasan mereka satu persatu. karena dialah tokoh yang paling menonjol di antara mereka. bahkan diiringi dengan kecaman. yaitu bila dalil yang ada cukup jelas. dan akan saya terbitkan dalam buku tersendiri. Alasan lainnya. seakan-akan saya membela pendapat saya dengan hawa nafsu saja. Sudan sejak beberapa tahun yang lalu -mungkin sekitar dua tahun. di mana mereka mengkritik saya dengan kritikan yang tidak ilmiah. khususnya pendapat saya bahwa wajah dan telapak tangan bukan aurat.

Kitab tersebut saya beri judul: Ar-Radd AlMufhim 'Ala Man Khalafa Al-'Ulama wa Tasyaddada wa Ta'ashshaba wa Alzama AI-Mar-ah Ah-Tastura Wajhaha wa Kaffaiha wa Aujaba wa Lam Yaqna bi Qaulihim: Innahu Sunnah wa Mustahab (Jawaban Juntas terhadap Mereka yang Menyelisihi Para Ulama." Penjelasan tentang derajat sanad dari riwayat Ibnu Abbas ini akan disebutkan nanti. Mereka menafsirkan kata dalam firman Allah surat Al-Ahzab ayat 59 dengan: 'menutup wajah'. insya Allah. saya harus menjelaskan. yaitu: 'mendekatkan'. bukan menutup di atas wajahnya. syaikh At-Tuwaijiri sendiri mengutip penafsiran 12—Jilbab Wcmita Muslimah . "Para wanita mendekatkan jilbab ke wajahnya. Dan. pokok-pokok kesalahan mereka yang menyelisihi pendapat para ulama dan bersikap keras tersebut. lalu mengemukakan hujjahnya yang sangat jitu. Bahkan. di mana di situ dia berkata: . Mereka menafsirkan kata jilbab dengan: 'kain yang menutup wajah'. akan lebih bermanfaat serta lebih mudah untuk disebarluaskan. bahkan juga bertentangan dengan penafsiran para ulama bahwa jilbab adalah 'kain yang dipakai oleh wanita di atas khiamya'. yaitu bahwa Ibnu Abbas yang dikenal sebagai "turjumanul qur'an" (penerjemah Al-Qur'an) saja menafsirkan seperti itu. yang dimaksud adalah bukan menutupkannya. serta Mewajibkan Wanita Menutup Wajah dan Kedua Telapak Tangannya. Ini tidak ada rujukannya dari segi bahasa. Bersikap Keras dan Fanatik. dan barangkali. meskipun secara ringkas. riwayat-riwayat dari Ibnu Abbas juga yang bertentangan dengan pernyataannya di atas yang dikemukakan oleh mereka tidaklah shahih. Tetapi saya pikir. Kedua. Penafsiran ini bertentangan dengan arti asal kata tersebut secara bahasa. Pertama. dan Tidak Puas dengan Perkataan Mereka: Sesungguhnya Menutup Wajah dan Kedua Telapak Itu Hukumnya Sunnah dan Mustahab Saja). artinya: 'saya mendekatkan dua hal satu sama lain/ Kemudian dia menyebutkan ayat "jiIbab" tersebut.itu nantinya tulisan tersebut bisa menjadi penerang bagi orang banyak. Ibnu Abbas berkata. sebagaimana disebutkan di dalam kitab Lughah dan disebutkan pula oleh Al-'Allamah Ar-Raghib Al-Ashbahani di dalam kitab AlMufradat.

seperti hadits-hadits tentang mengusap khimar dan sabda Nabi M- "Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh 2 kecuali dengan memakai khimar. untuk menanggalkam pakaian mereka." Mereka menafsirkan kata 'pakaian' pada ayat di atas dengan jilbab. Mereka menambah kata 'wajah' pada penafsiran mereka..An-Nur: 31) sebagai hujjah yang menguatkan pendapat mereka. hadits ini menegaskan kesalahan penafsiran mereka. padahal sebenarnya justru melemahkannya. "Seorang wanita tua yang telah mengalami monopause diperbolehkan menampakkan khimar mereka 2. Penjelasantentang sanad hadits iniakandisampaikankemudian. Mereka bersikeras bahwa khimar adalah 'penutup kepala dan wajah'. melainkan sekedar kepala saja. Mereka mengatakan. secara bahasa. Maka. Pengertian inilah yang dimaksudkan setiap kali kata khimar ini disebut secara mutlak di dalam As-Sunnah. Sebab. orang-orang yang bersikeras itu sendiri pun -apalagi para ulama— tidak menjadikan hadits ini sebagai dalil disyariatkannya menutup wajah bagi seorang wanita di dalam shalat. Penafsiran seperti itulah yang saya kemukakan nanti di dalam kitab ini pada hlm 96-97. Ketiga. " Bahkan.ini dari Ibnu Mas'ud dan ulama salaf lainnya. tanyakanlah kepada mereka kalau mereka bisa berbicara! Yang lebih tegas lagi adalah penafsiran mereka terhadap firman Allah: ". agar mereka bisa menjadikan ayat: "Hendaklah mereka menutupkan khimar-khimar mereka ke dadanya. khimar berarti 'tutup kepala' saja."(QS. Jilbab Wcmita Muslimah— 13 . Sebab..

) mengemukakan alasan pendapat tersebut dengan perkataannya. bahwa wajah wanita adalah aurat. Kitab-kitab madzhab Hanbali. Ini dijelaskan di dalam kitab Ar-RaddAl-Mufhlm Saya teiah memeriksa pendapat para ulama salaf maupun khalaf. Di sana disebutkan bahwa tiga imam madzhab berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. bahkan. yang dia pelajari. Penafsiran semacam ini dikemukakan oleh salah seorang ulama yang disegani di kalangan mereka. "Tentang hal ini juga ada riwayat dari Imam Ahmad. semoga Allah membalas dia dengan kebaikan. Bahkan.dengan membuka wajah mereka di hadapan laki-laki asing (yang bukan mahramnya)." Dan ulama lainnya yang berpendapat seperti itu adalah Al'Allamah Ibnu Muflih Al-Hanbali. Di antara mereka ada Abul Walid Al-Baji (wafat 474 H. Adapun syaikh Tuwaijiri hanya mengisyaratkan saja. dengan perkataannya: 'Tidak ada yang nampak darinya. seperti Ibnu Qudamah dan lain-lainnya. dan tidak ada satu pun ulama sebelumnya yang menyatakan seperti itu. pada spesifikasinya masing-masing. apalagi kitab-kitab lainnya. beliau menambahkan keterangan tentang hal ini. di antara mereka ada yang bertitel doktor! Klaim ini tidaklah benar.). kecuali lingkaran wajahnya. Beliau ini dikomentari oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah: "Saya tidak tahu. Dia sendiri berkata. yang mereka adalah para imam dan hafizh. saya dapati mereka telah bersepakat bahwa khimar adalah 'tutup kepala'. "Karena kebutuhan menuntut dibukanya wajah untuk jual beli dan kedua telapak tangan untuk mengambil dan memberi. Dia tidak menyatakannya secara tegas." Banyak ulama madzhab Hanbali yang menguatkan riwayat ini dalam tulisan-tulisan mereka. dan banyak orang-orang yang tidak berilmu bertaklid kepada pendapatnya. misalnya adalah ucapan Ibnu'Hubairah Al-Hanbali di dalam kitabnya Al-lfshah. Syaikh Tuwaijiri mengklaim adanya ijma' ulama." Keempat. Saya catat ada lebih dari dua puluh nama ulama. Penulis kitab Al-Mughni. saya telah menyebutkan banyak ucapan ulama madzhab Hanbali. cukup menunjukkan kesalahan klaim tersebut. ada orang yang lebih tahu tentang madzhab Hanbali daripada Ibnu 14 — Jilbab Wanita Muslimah . (yakni Ibnu Qudamah Pen. di bawah kolong langit ini. Di dalam kitab Ar-Radd tersebut.

" Sedangkan Ibnu Taimiyah mengomentarinya. Hukum wanita menutup wajah hanyalah sunnah saja. Qadhi 'lyadh rahimahullah berkata berkait dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir ." Di sini saya pikir harus menyampaikan perkataan "orang yang beruntung" ini kepada pembaca. Maka. beliau memerintahkanku untuk 3 memalingkan pandangan. lalu mengeluarkan klaim yang bertentangan dengan kebenaran itu!. Jilbab Wanita Muslimah— 15 . Ini disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin An-Nawawi tanpa komentar apa pun dari dia. tetapi kamu ini Muflih (orang yang beruntung). dimana kitab ini juga merupakan salah satu rujukan Syaikh Tuwaijiri. namun dia berusaha menutupnutupi kebenaran ilmiah ini kepada para pembaca kitabnya. 3. karena mengandung banyak pengetahuan dan faedah. Haditsiniakan dijelaskansanadnyadibelakang. 170) yang berpura-pura tidak tahu adanya pendapat jumhur ulama. dan menjadi kewajiban laki-laki untuk menundukkan pandangannya dari melihat wanita. Para ulama rahimahumullah berkata." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim .Muflih. Kemudian Ibnu Muflih menyebut perkataan Ibnu Taimiyah yang dijadikan sandaran oleh Syaikh At-Tuwaijiri di dalam kitabnya (hlm. Apakah wanita itu berkewajiban menutup wajahnya ataukah kaum laki-laki yang berkewajiban menundukkan pandangan darinya? Memang.Ibnu Muflih rahimahullah berkata: "Bolehkah melarang wanita-wanita ajnabiyah membuka wajah-wajah mereka di jalan umum? Jawaban terhadap pertanyaan ini terpulang pada pertanyaan. kecuali untuk tujuan syar'i. sehingga menjadi pertanda bahwa sebenarnya dia itu mengetahui hakekat persoalan. "Kamu ini bukan Ibnu Muflih (anak orang yang beruntung). dia berkata: "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang selintas saja. dalam keadaan apa pun. dalam masalah ini ada dua pendapat. di antaranya menegaskan kesalahan klaim Syaikh Tuwaijiri. "Di dalam hadits ini terkandung dalil bahwa wanita tidak berkewajiban menutup wajahnya di jalan. Di dalam kitabnya yang sangat berharga Al-Adab AsySyar’iyyah. . Dan pendapat dia itu sesuai dengan perkataan ulama lain yang saya pilih sebagai pendapat saya dalam masalah ini.

Qadhi 'lyadh. memandang wanita ajnabiyah adalah diperbolehkan sepanjang tidak disertai syahwat dan tidak dalam keadaan khalwat (berduaan saja Pen.. karena itu. 233) dia mengatakan.. Lihat kitab Al-Adab Asy-Syar'iyah (I: 187) r 16—Jilbab Wanita Muslimab . Bila seperti itu perkataan dia. pada pihaknya. "Tidak selayaknya seorang fakih itu memaksa orang-orang untuk mengikuti pendapatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya. An-Nawawi. Bagaimana jika yang bersangkutan pendapatnya salah. "Oleh karena itu."4 Saya katakan: Jawaban ini sangat-sangat sesuai dengan perkataan Imam Ahmad rahimahullah.) kepada wanita. apakah diperbolehkan untuk mengingkari? Jawabnya tentu sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam urusan khilaf. ".Pendapat Qadhi 'lyadh dan persetujuan Nawawi terhadap pendapat mereka.Mendorong mereka untuk mengingkari ayat-ayat Allah!" Begitulah apa yang telah dikatakannya. di mana sama-sama kita ketahui bahwa masalah ini adalah termasuk masalah khilafiyah. 249). yang notabene mereka itu para ulama salafi?! f Kelima.'Barangsiapa memperbolehkan wanita untuk melakukan sufur (membuka wajahnya) dengan alasan seperti yang disampaikan oleh Al-Albani. Adapun menurut pendapat kami dan pendapat sejumlah ulama madzhab syafi'i dan Iain-Iain. lalu apa yang akan dia katakan kepada Ibnu Muflih. At-Tuwaijiri dan lain-lainnya yang bersikap keras itu. dan mendorong mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan jelek lainnya seperti dilakukan oleh kebanyakan wanita zaman sekarang ini!'" Di halaman lain kitabnya (hlm..). berarti dia telah membuka lebarlebar pintu tabarruj (bersolek dan ngeceng —Pen. namun keras kepala dan suka mencap sesat. bersepakat mentakwil hadits-hadits shahih agar tidak bertentangan dengan pendapat mereka! Diantaranya adalah terhadap hadits 'Al- 4. jika kebenaran jelas-jelas ada. dan jumhur ulama sebelum mereka. kalau tidak kita katakan: suka mencap kafir?! Karena Syaikh At-Tuwaijiri berkata di dalam kitabnya (hlm. tidak selayaknya diingkari." Saya katakan: "Ini pun. Ibnu Muflih menambahkan.

Saya telah bantah alasan-alasan dia itu di dalam kitab ini (hlm 72). "Di situ tidak terkandung dalil bahwa wanita tersebut terus-menerus membuka wajahnya!" Yang dia maksudkan adalah. Dia berkata. sekalipun mereka telah mengetahui kelemahan' hadits tersebut. dia juga mentakwil hadits-hadits lainnya dengan takwil-takwil serupa itu. Sekali-pun demikian. ada sebagian dari mereka yang masih bersikeras mengatakan bahwa wanita itu sedang dalam keadaan ihram! Padahal mereka mengetahui bahwa ibadah ihram tidak menghalangi seorang wanita untuk menutup wajahnya! Jadi. akan tetapi dia menolaknya untuk dijadikan sebagai dalil.Khats'amiyah'. Keenam." Dalam riwayat lain disebutkan: "Dia mulai melihatnya dan terpesona dengan kecantikannya?!" Bukankah ini benar-benar merupakan sikap keras kepala?!! Dan terkadang dia mentakwilnya bahwa Ibnu Abbas mungkin hanya melihat perawakan dan postur tubuhnya saja! Dan dia juga mengemukakan takwil-takwil lain terhadap hadits tersebut. Bahkan. karena telah dijelaskan di dalam kitab tersebut (hlm 88) yang berisi jawaban terhadapnya. Untuk menolak makna hadits ini mereka menyebut-kan alasan-alasan yang membuat tertawa sekaligus menangis. Di samping terhadap hadits tersebut. namun semuanya juga telah saya bantah. Mereka bersepakat menggunakan hadits-hadits dan atsar-atsar yang dha'if sebagai dalil. salah seorang dari Jilbab Wanita Muslimah — 17 . seperti misalnya hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang "bolehnya wanita membuka sebelah matanya". At-Tuwaijiri kadang-kadang mau menerima bahwa wanita tersebut dalam keadaan membuka wajahnya. bahwa boleh jadi angin bertiup membuka wajah wanita itu dan ketika itulah Fadhl bin Abbas melihatnya! Seperti itukah yang dikatakan oleh orang Arab yang membaca hadits: "Mulailah Fadhl pun menoleh melihatnya. tetapi semuanya telah saya bantah.

mereka juga telah menilai lemah hadits tersebut. dia telah berbuat tadlis (mengaburkan diri periwayat-Pen. bersikap taklid. hadits-hadits lain yang telah saya jelaskan kelemahannya secara detail. menyatakan bahwa hadits tersebut shahihl Dengan tindakan semacam itu. Itu semua terdapat di dalam kitabnya setebal kurang lebih empat halaman. melakukan penyesatanpenyesatan.sungguh sangat mengherankan. berani-beraninya Syaikh Abdul Qadir As-Sindi. —berbeda dengan yang saya ketahui sebelumnya. Baihaqi dan Ibnu Abdul Barr hadits tersebut adalah dha'if. sebagaimana yang telah saya jelaskan di dalam kitabi Al-Irwa' (VI: 210). di mana Nabi mengizinkan dia untuk tinggal di rumah 18 —Jilbab Wanita Muslimah . serta berpaling dari kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku. Dan seperti itu pulalah penilaian yang sesuai dengan kaidah ilmu hadits dan usfiulnya. Juga. menurut para muhaqqiq hadits. (sehingga tidak bisa dijadikan untuk berhujjah).). Untuk memperkuat pernyataannya. Begitulah penilaian banyak ulama dari kalangan madzhab Hanbali. di mana tak seorang pun di antara kita terbetik untuk melakukan hal itu. Yang paling penting di antaranya adalah hadits: "Apakah kamu berdua buta?" Mereka menilai kuat hadits ini. Meskipun begitu. seperti Imam Ahmad. Mereka gunakan hadits tersebut sebagai hujjah untuk mengharamkan wanita memandang laki-laki. Salah satunya adalah sikap pura-pura bodohnya terhadap kenyataan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan hadits yang mengisahkan Fathimah binti Qais. Apa lagi dalam hal ini penilaian dia bertentangan dengan para ulama yang lebih mapan keilmuannya. menyembunyikan ilmu. karena bersikap taklid kepada AtTuwaijiri. Qurtubi mengutip bahwa hadits tersebut menurut para ahli hadits tidak s/hahih. baik para ulama maqdisi maupun lainnya. secara tidak langsung dia telah membuat cacat dirinya dan telah menyingkap kebodohan atau kemasabodohannya -sungguh sayang—. karena ternyata dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang periwayat majhul yang mana hanya ada seorang saja meriwayatkan darinya. sekalipun laki-laki tersebut buta! Padahal. mengikuti jejak At-Tuwaijiri dan lainnya.

Ibnu Ummi Maktum yang buta. At-Tuwaijiri pada hlm 236 secara terang-terang mengatakan bahwa hadits tersebut tidak diriwa- Jilbab Wanita Muslimab—19 . Sebagai misalnya. karena yang jahiI dari mereka telah bertaklid kepada orang yang tidak memiliki ilmu! Dalam hal itu." Mereka bersikeras menilai lemah hadits ini. yang jumlahnya saya catat ada sepuluh hadits. sehingga dia tidak akan melihatku ketika saya membuka khimar saya. padahal di antara mereka ada tokohtokoh yang cukup mumpuni." Juga. dia berkata: "Beliau menyuruh saya tinggal di rumah Ibnu Ummi Maktum. bahkan sebagiannya ada yang maudhu'! Ketujuh. Sebagian dari mereka mengabaikan banyaknya jalan periwayatan hadits tersebut. Nabi mengizinkan dia dengan alasan: "Sesungguhnya jika kamu menanggalkan khimarmu. karena dia buta. Bahkan. mereka menyelisihi para hafizh hadits. terdapat hadits-hadits lain yang lemah yang dihimpun oleh At-Tuwaijiri dalam kitabnya itu. Kesalahan mereka dalam menilai lemah hadits-hadits shahih atau atsar-atsar yang nyata kebenarannya dari sahabat. dia tidak bisa melihatmu. 66-68). Penilaian kedua ulama hadits tersebut saya sebutkan di dalam kitab ini (hlm. terhadap hadits yang diriwayatkan dari Aisyah tentang "Wanita yang telah mencapai usia baligh tidak boleh kelihatan bagian tubuhnya. sikap pura-pura tidak tahu mereka adanya jalur-jalur periwayatan lain yang menguatkan hadits-hadits atau atsar-atsar tersebut. yang sudah pasti Fathimah binti Qais akan melihatnya. seperti Baihaqi dan Dzahabi yang telah menilainya kuat. kecuali wajah dan kedua telapak tangannya." Dalam hadits yang diriwayatkan Thabarani dari Fatimah binti Qais. atau penilaian d/ia/'f dari sebagian mereka terhadap hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut yang berlebih-lebihan.

Mereka juga mengabaikan bahwa para ulama. yaitu dari Asma'. mereka menyelisihi metode para ulama hadits. yang menyatakan bahwa sebenarnya Abdullah bin Lahi'ah itu bisa terkuatkan kelemahannya. Selanjutnya. satunya dari Asma' binti 'Umais dan satunya lagi dari Qatadah secara mursal dengan sanad shahih yang sampai kepadanya. dalam menafsirkan ayat yang menyebutkan tentang al-idna' (mengulurkan jilbab). di antaranya Imam Syafi'i menilai kuat hadits mursal bila dipakai oleh banyak ulama. Dan sebagian dari mereka yang merasa mempunyai ilmu hadits yang mulia ini -yang dipelopori oleh Syaikh As-Sindimengklaim bahwa sebagian dari para periwayatnya mempunyai kelemahan yang parah untuk menghindari kaidah kuatnya hadits dha'if bila mempunyai banyak jalur periwayatan. dengan mata kepalanya sendiri pada halaman itu juga dia mengetahui kalau hadits tersebut mempunyai dua jalur periwayatan. Az-Zaila'i. kecuali dari Aisyah. seperti Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahmatullahi 'alaihima. 3. Padahal. sehingga mengicuh para pembaca seakan-akan hadits tersebut tidak bisa menjadi kuat meskipun mempunyai banyak jalur periwayatan. sebagaimana yang telah kita sebutkan di muka dan akan dibahas pula di dalam kitab ini. "Allah telah mewajibkan mereka mengenakan kain yang menutup alis mereka. banyak tukang taklid yang mengikuti pendiriannya itu. Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Qatadah dengan bersanad dari Aisyah. 20—Jilbab Wanita Muslimah . Qatadah. Mereka juga telah mengabaikan penilaian para hafizh hadits lain yang menguatkan hadits tersebut." maksudnya tidak menutup wajah mereka. 2. Di antaranya seorang penulis wanita yang menulis sebuah kitab berjudul Hijabaki Ukhti Al-Muslimah (hlm. Dalam hal ini. Di antara periwayat yang diklaim parah lemahnya oleh mereka adalah Abdullah bin Lahi'ah. Padahal. Hadits tersebut diamalkan oleh ketiga periwayat tersebut: a. dia mengatakan. Hadits tersebut diriwayatkan juga melalui jalan lain. seperti Al-Mundziri.yatkan. para ulama memakai hadits ini. Di samping itu ada hal-hal lain yang menguatkannya. sebagaimana yang dikatakan oleh Thabari. yaitu: 1. 33). Al-Asqalani dan Asy-Syaukani.

Jika tidak demikian. Aisyah." Demikian pula penafsirannya terhadap ayat. Saya katakan: Perkataan Aisyah yang memberi pilihan kepada wanita yang melakukan ihram untuk menutup wajahnya atau tidak menjadi dalil yang jelas bahwa wajah bukan aurat menurut dia. mereka yang berkeras kepala yang dipelopori oleh At-Tuwaijiri itu telah menyembunyikan perkataan Aisyah dari para pembacanya. dia berkata berkenaan dengan wanita yang melakukan ihram: "Hendaklah dia menutupkan pada wajahnya. tentulah Aisyah akan mewajibkannya kepada wanita itu." Dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah dan kedua telapak tangan. Itulah salah satu di antara manfaat cetakan baru ini. saya pandang perlu menyampaikan sebuah kata hikmah untuk dijadikan pelajaran dan peringatan. Namun. 12. Atsar dari Ibnu Abbas yang telah dikemukakan pada hlm. jika dia mau. seperti yang mereka katakan. 4. kedua hal tersebut adalah buruk! c. Bahkan. sebagaimana yang akan dibahas kembali pada hlm 68. Untuk itu. yaitu bahwa: "Kebenaran Jilbab Wanita Muslimah — 21 . Atsar dari A'isyah ini menguatkan hadits yang dia riwayatkan secara marfu'. Inilah yang tidak mereka ketahui atau mungkin pura-pura tidak mengetahui. bahwa Qais bin Abu Hazim pernah melihat dia sebagai seorang wanita yang berkulit putih dan bertato pada kedua lengannya. Adapun Asma'. dia telah menceritakan." Ucapan Aisyah ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang shahih. Selain ini. Oleh karena itu. yang mengatakan: "Dia mendekatkan jilbab ke wajahnya. "Kecuali yang biasa nampak darinya. ada atsar serupa dari Ibnu Umar. penulis kitab Fashlu AlKhithab telah secara sengaja menghilangkan perkataan Aisyah itu pada hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi! Dan dia juga melakukan tindakan-tindakan lain serupa itu. tetapi tidak menutupkannya. Riwayat tentang Qais ini akan dijelaskan sanadnya nanti.b.

dalam mempertahankan pendapatnya itu Si Syaikh tidak berdasar dengan kaidah-kaidah ilmiah Islam. "Hadits ini memiliki hadits pendukung yang mursal. yang menyebutkan bahwa dia mengenakan cadar. Padahal. Jadi. melainkan berdasar dengan prinsip orang-orang Yahudi. Ada sikap yang mengherankan dari sebagian ulama mutaakhirin dari kalangan madzhab Hanafi dan lainnya. Kedelapan dan yang terakhir. sebagaimana bisa anda lihat. meskipun memiliki pendapat yang sama dengan kami dan berbeda dengan orang-orang yang "keras kepala". Isinya juga mungkar (tertolak). "Tujuan menghalalkan segala cara." Kemudian dia menyebutkan hadits mursal yang diriwayatkan dari Atha'." Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. 181. Karena membeo saja kepada imam-imam mereka. Syaikh Tuwaijiri di satu kesempatan bersikeras menolak hadits Aisyah ini." Padahal.itu tidak bisa dikenali dari orang-orang. sedangkan hadits yang ditolaknya itu meniadakan kewajiban menggunakan cadar. sanad hadits ini dha'if juga. yang salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dari Qatadah secara mursal. niscaya kamu akan tahu orang-orang (yang berpegang dengannya)!" Nah. wahai para pembaca. namun di kesempatan lain dia menerima hadits lain yang diriwayatkan dari Aisyah juga. betapa jauh perbedaan hadits pendukung (yang diriwayatkan dari Atha') yang palsu tadi dengan hadits pendukung yang diriwayatkan dari Qatadah yang shahih dan hadits-hadits pendukung lain yang menjadikannya kuat. namun mereka itu memiliki kesama- 22 —Jilbnb Wanita Muslimah . sekalipun hadits ini mempunyai hadits pendukung. tetapi kenalilah kebenaran. walaupun hadits tersebut tidak menunjukkan wajibnya. "Seorang Wanita Yahudi di tengah-tengah wanita-wanita Yahudi. Si Syaikh itu menilainya kuat dengan berkata pada hlm. Sekalipun demikian. Tanyakanlah: Mengapa At-Tuwaijiri menerima hadits yang diriwayatkan dari Aisyah tadi dan menolak hadits lain yang diriwayatkan dari dia juga?!! Jawabannya: Karena hadits yang dia terima itu menjelaskan bahwa Aisyah mengenakan cadar. dan di situ disebutkan bahwa Aisyah berkata tentang Shafiyah dan wanita-wanita Anshar. di dalam sanadnya terdapat seorang periwayat yang pendusta! Perhatikanlah.

Mereka mengatakan. orang yang berilmu pasti tahu bahwa syarat di atas adalah jelas-jelas batil. Pen.) dibolehkan. karena dengan hal itu berarti dia berani "menambah-nambah" aturan Allah. orang-orang bodoh di zaman sekarang. 12—tidak lain berkenaan dengan hukum laki-laki memandang wajah wanita. bahwa Allah ta'ala ketika memerintahkan kaum . Hal itu dikuatkan oleh Nabi dalam kisah Wanita AlKhats'amiyah. Sudah ma'ruf. Mereka berijtihad —padahal mereka itu sebenarnya hanya tukang taklid saja— membatasi madzhab yang dipegangi oleh para imam dalam masalah "wanita boleh buka wajah" ini dengan syarat. di mana beliau tidak memerintahkan wanita tersebut menutup wajahnya. fitnah terhadap laki-laki yang ditimbulkan oleh wajah wanita." Sebenarnya. menisbatkan bahwa batasan tersebut berasal dari imamimam! Akhirnya. sehingga kita perlu membuat aturan khusus yang belum pernah ada sebelumnya. Kemudian. dalam rangka mencegah terjadinya fitnah tadi. "Hal itu (maksudnya. laki-laki memandang wajah wanita. adanya syarat tersebut disebutkan oleh para ulama -di antaranya oleh penulis kitab Al-Fiqh 'Ala Madzhab Al-Arba'ah hlm. dengan syarat aman Jilbab Wanita Muslimah — 23 . comot sini" akan berkesimpulan bahwa tidak ada perbedaan pendapat antara para imam dengan orang-orang yang mewajibkan cadar tersebut!!! Padahal. Allah tidak memerintahkan agar kaum wanita menutup wajah dan kedua telapak tangannya di hadapan laki-laki." Yang mereka maksudkan ialah. fitnah terhadap kaum laki-laki yang ditimbulkan oleh wanita itu adanya bukan hanya di zaman sekarang saja. Tuhan semesta alam ini. Sebab. namun fitnah tersebut telah ada sejak zaman diturunkannya syariat Islam. sudah barang tentu. Meskipun demikian.an dengan orang-orang itu. "asal aman dari fitnah (syahwat). Kisah Fadhl bin Abbas yang terpesona dengan wanita Al-Khats'amiyah. laki-laki dan kaum wanita untuk saling menundukkan pandangan sesama mereka dan memerintahkan kaum wanita mengenakan hijab di hadapan para laki-laki. Mahabenar Allah yang telah berfirman. yang tahunya taklid saja. "Dan Tuhanmu tidaklah akan lupa. dalam hal membeo-nya kepada imamimam mereka. tentu menjadi bukti nyata yang tidak akan hilang begitu saja dari ingatan para pembaca yang budiman. orang-orang awam yang ilmunya hanya berasal dari "comot sana.

karena adanya . sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri Arab beberapa tahun yang lalu. sangat disayangkan sekali. bahwa syarat tersebut juga sebenarnya berlaku juga untuk wanita. mengharuskan wanita menutup wajahnya. wanita tadi wajib untuk tidak keluar bila khawatir jilbab yang dipakainya itu akan dilepas secara paksa oleh para penguasa jelek yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah. Mahabenar Allah yang telah berfirman: "Apakah mereka memiliki Tuhan selain Allah yang mensyariatkan kepada mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?" Itulah kesalahan-kesalahan fatal dari orang-orang yang menyelisihi para ulama dan bersikap keras kepala tersebut. berdasarkan pendapat ulama tadi. untuk menutup wajahnya bila dia khawatir diganggu oleh orang-orang nakal dikarenakan wajahnya yang terbuka. Berbeda dengan pemyataan yang disampaikan para tukang taklid itu. baru dikatakan mempunyai sandaran kaidah fikih. meskipun tidak dikhawatirkan lagi adanya orang-orang nakal yang akan mengganggu wanita-wanita berjilbab.dari fitnah (syahwat). maka ini sama sekali tidak dibenarkan. hubungan yang erat dengan penulisan kitab ini." Bila seperti itu pemyataan mereka. — sungguh. Bahkan. Seakanakan mereka ini. dalam keadaan semacam itu. Apakah dengan seperti itu. meskipun telah mengenakan jilbab. "Wajib bagi wanita. Kemudian pada penutup kitab Ar-Radd Al-Mufhim itu saya mengingatkan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam beragama -selain dilarang oleh Allah yang membuat syariat—tidak akan mendatangkan kebaikan dan tidak mungkin bisa melahirkan generasi pemudi 24—Jilbab Wanita Muslimah . padahal tidak demikian. untuk mencegah fitnah (syahwat) seperti yang dilakukan oleh sebagian kabilah yang dikenal dengan sebutan Al-Mulatsamin?! Andaikata mereka mengatakan. yang berlaku untuk semua wanita di setiap waktu dan tempat. meskipun ringkas. Karena mereka juga tahu. lalu mereka mengharuskan kaum laki-laki menutup wajah dari pandangan wanita. Para wanita diperbolehkan melihat wajah laki-laki dengan syarat aman dari fitnah (syahwat). baik Al-Qur'an maupun As-Sunnah. yang saya pikir perlu untuk saya sampaikan.” Ini memang benar. Adapun bila kewajiban tersebut dijadikan sebagai syariat yang tetap.

dia yang menyajikan hidangan untuk mereka. yang jaraknya dua pertiga farsakh (lebih dari tiga kilometer)." mereka tidak mengindahkannya. tidak berlebihlebihan. ketika mendengar sabda Nabi "Janganlah wanita yang melakukan ihram itu mengenakan cadar dan sarung tangan. bukan seperti generasi yang beritanya pernah saya dengar bahwa di beberapa negeri Arab ada wanita-wanita yang hendak konsekuen dengan pendapatnya. ♦ ♦ ♦ Jilbab Wanita Muslimah — 25 ." Sikap mereka seperti itu tidak lain disebabkan karena mereka senantiasa kemasukan paham-paham yang berlebihlebihan berhubungan dengan aturan menutup wajah mereka. Abu Usaid. membawa bijibijian di atas kepalanya dari tanah milik Az-Zubair. Asma' binti Abu Bakaryang membantu pekerjaan suaminya. menyiram tanah yang ada di sekitarnya. sebagaimana istri-istri para Salafus Shaleh. "Kami akan tetap memakai cadar dan akan membayar denda saja. sebagaimana akan disebutkan di dalam kitab ini pada hlm. lalu beliau dan-para sahabat memakan makanan tadi. Jadi.muslimah yang mampu mengemban amanat Islam -baik dari segi ilmu maupun amalan— secara proporsional dan adil. namun secara ringkas saja. AzZubair. Baiklah saya akan menyebutkan beberapa riwayat yang menunjukkan bagaimana kiprah wanita salaf. padahal dia adalah wanita. dan membuatkan makan untuk beliau. Mereka mengatakan. 76. Istri Abu Usaid yang membuatkan makanan untuk Nabi M dan para sahabatnya ketika mereka diundang oleh suaminya. menyembelih seekor kambing. Saya tidak yakin sikap berlebih-lebihan seperti itu —dan itu baru satu contoh saja— bisa melahirkan generasi wanita-wanita salafiyah yang mampu melaksanakan segala tuntutan kehidupan sosial yang sesuai syariat Islam. lalu menumbuk biji-bijiantadi Seorang wanita Anshar yang menyambut Nabi menghamparkan tikar untuk beliau di bawah pohon kurma. pada hari pernikahan mereka. memberi makan dan mengurus kudanya. Dan riwayat yang lengkap bisa dibaca di kitab Ar-Radd Al-Mufhlm ♦ Ummu Syuraik Al-Anshariyah pernah kedatangan dua orang lakilaki yang bertamu ke rumahnya.

Para ulama Bahasa menyebutkan salah satu makna a/-Qamish adalah 'jilbab'. membawa parang. akan kubelah perutnya!" Beliau pun tertawa. bila salah seorang dari kaum musyrikin mendekati saya. Para wanita itu memberi minum pasukan. Dir'un. sedang tangannya memegang cemeti. kitab Qamus dan kitab AI-Mu'jamAI-Wasith! 26 —Jilbab Wanita Muslimah . melayani keperluan mereka. mengobati tentara-tentara yang luka. Dan kejadian semacam itu berlangsung hingga masa sepeninggal Nabi Asma' binti Yazid Al-Anshariyah. Istri-istri Khalid bin Walid. ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ 5. Ummu Athiyyah yang ikut serta dalam tujuh peperangan bersama Rasulullah . Abu Balaj pernah 5 melihat dia mengenakan dir'un dan fch/mar yang tebal. dan mengurusi tentara-tentara yang sakit. ini Ummu Sulaim membawa parang!" Ketika beliau bertanya kepadanya. "Saya sengaja membawanya. bergegas-gegas membawa air untuk kaum muhajirin. dia. lihatlah. "Wahai Rasulullah. membuatkan makanan untuk mereka. ad-dir'u dan al-qamish di dalam kitab AnNihayah. Dalam hadits lain disebutkan. mengobati tentara-tentara yang terluka. bahwa para wanita tersebut diberi bagian dari ghanimah (rampasan perang). Di dalam kitab Lughah (bahasa Arab) dikatakan: dlr'ulmar'ah: qamishuha. Dia mengajari orang-orang serta melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. pada masa Perang Yarmuk membunuh tujuh tentara Romawi dengan tiang kemahnya. di sini saya pikir maksudnya: jilbab. hingga Abu Thalhah berkata. Samra' binti Nahik. seorang sahabat wanita.berjaga di tenda pasukan. Ummu Sulaim. dia menjawab. Abdullah bin Qurth pernah melihat mereka di sebuah pertempuran melawan pasukan Romawi. dan membawa tentara-tentara yang terbunuh ke Madinah. Lihat pembahasan tentang al-jilbab. sebagaimana akan disebutkan pada hlm 49. pada saat Perang Hunain.♦ ♦ Aisyah dan Ummu Sulaim membawa geriba dan memberi minum pasukan muslimin. Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz yang berangkat ke medan perang bersama-sama dengan wanita-wanita Anshar.

Semua itu secara jelas menunjukkan perjuangan-perjuangan dan sikap-sikap kepahlawanan para wanitawanita salaf waktu itu." Hendaklah mereka berhati-hati agar jangan sampai terjerumus ke dalam sikap berlebih-lebihan (ghuluw) yang dilarang oleh Nabi dalam sabdanya: "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam beragama. Begitulah Nabi ^mendidik para wanita-wanita mulia itu dengan pemahaman yang lurus. para syaikh. di mana hal tersebut tidak akan mungkin mereka lakukan kalau mereka mempunyai sikap yang kaku. Lihat penjelasan tentang sanad haditsinididalam kitabAsh-Shahihah (1283)! Jilbab Wanita Muslimah — 27 .Banyak lagi contoh-contoh lainnya yang tersebut di berbagai kitab-kitab sirah dan tarikh. yang beranggapan bahwa wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat. "Kalian adalah sebaik-baik umat yang di utus untuk sekalian manusia. seperti para pemudi-pemudi yang saya ceritakan terdahulu! Menurut saya. aturan pakaian wanita ini adalah suatu perkara yang sifatnya badihi (aksiomatis). Kami telah menjadikan kalian umat yang tengah-tengah. lagi mudah." begitu juga firman Allah. di sini saya hanya menyebutkan yang shahih-shahih saja. tengah-tengah. Akan tetapi. Sikap seperti inilah yang kami inginkan dari saudara-saudara kami. dan para da'i yang ingin memperjuangkan Islam. karena orangorang sebelum kalian hancur disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan 6 mereka dalam beragama!" Begitu juga sabda Nabi 6. Hendaklah mereka merealisasikan firman Allah: "Demikianlah.

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. dan perihal sanadnya telah saya jelaskan di dalam kitab Ash-Shahihah (3694). serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam hal kebaikan. karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur tidak lain disebabkan oleh sikap mereka memberat-beratkan diri sendiri. 28 — Jilbab Wanita Muslimah . dan kalian a/can menemukan sebagian dari mereka berada di biara-biara dan pertapaan-pertapaan (beribadah secara berlebih-lebihan. Dan itulah suatu keberuntungan yang besar. Hadits shahih."7 Perlu saya ingatkan.). tidak mau mempelajari sunnah dan riwayat hidup Nabi baik yang berupa perbuatan maupun perkataan. Hal 7. At-Taubah: 100) Selanjutnya. Allah ridha kepada mereka dan menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. sehingga kita benar-benar menjadi orang-orang yang terbimbing dengan Islam dan juga mau mengajak manusia ke jalan Islam. serta tidak mau berupaya sungguh-sungguh mengetahui aturan-aturan agama yang benar yang telah dijalankan oleh para Salafus Shaleh.4rRadd Al Mufhim terpikir dalam benak saya untuk merubah judul kitab HijabAl-Mar'ah Muslimah menjadi Jilbab Al-Mar'ah Muslimah. suatu peringatan akan bermanfaat bagi orang-orang beriman— bahwa tidak mungkin kita bisa merealisasikan ajaran Islam secara baik kalau kita tidak mau membuang fanatisme madzhab. Pen. tatkala saya sedang menyiapkan materi kitab. —insya Allah. Kita berharap semoga kita menjadi orang-orang yang disebutkan di dalam firman Allah: "Orang-orang yang termasuk pendahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar." (QS."janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian sendiri.

yaitu baris pertama pada hlm 49. dengan selalu memohon kepada Allah ta'ala agar berkenan memberikan taufiq kepada saya terhadap segala apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. yang ternyata ada baris yang hilang. Nizham Sakkajaha.itu tidak lain dikarenakan makna dan interpretasi kedua judul tersebut jelas-jelas berbeda. Suatu ketika. namun tidak semua hijab itu jilbab. Yang bersangkutan telah mencetaknya beberapa kali. Sebagai catatan. sebagaimana terjadi pada penulis 'AudahAl-Hijab. lapanglah sudah dada saya sekarang ini untuk menyebarluaskan kitab saya ini dengan judul: jilbab Al-Mar'ah AlMuslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah. sekalipun saya telah mengingatkan kepadanya untuk tidak lagi men- 8. sedangkan ayat hijab itu berlaku ketika seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di tempat tinggalnya. antara jilbab dengan hijab memiliki 8 hubungan umum dan khusus. Yang menerbitkan kitab saya dengan judul baru ini adalah menantu saya. Dulu. saya pernah memberikan hak mencetak dan menerbitkan cetakan kedua dari kitab ini kepada pemilik penerbit Al-Maktab AlIslami. saya katakan bahwa dialah satu-satunya yang memiliki hak mencetak dan menerbitkan kitab ini dengan perwajahan dan isi yang baru. Saya terdorong untuk merubah judul tersebut dikarenakan saya melihat orang-orang yang menentang pendapat saya ini masih kabur dalam memahami kedua kata tersebut. Jilbab Wanita Muslimab — 29 . yaitu tentang jilbab." Sehingga.Akan tetapikemudian saya tidak lagi berbuat seperti itu untuk menghindari kesalah-pahaman. tema kitab ini lebih dekat kepada judul yang baru itu. semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadanya. Zuhair Asy-Syawisy. Memang. Saya tidak mengira kalau dia akan mencetaknya juga. Setiap jilbab adalah hijab . sebagaimana saya jelaskan di dalam kitab ini hlm 97-98. sebagaimana saya jelaskan dalam Bab II kitab Ar-Radd Al-Mufhlm Saya semakin mantap menggunakan judul tersebut mengingat perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Ayat jilbab itu berlaku ketika seorang wanita keluardari tempat tinggal. Selain itu. saya meneliti buku ini pada cetakan keenamnya. pemilik penerbit Al-Maktabah AlIslamiyah. Ittulah alasan mengapa kadang-kadang kata hijabsayagunakandenganartian'jililbab'.

yang mengandung kedustaan itu dan mempublikasikannya kepada masyarakat! Mulanya. baik dengan format yang baru maupun mencetak ulang yang lama. cetakan baru dari Maktabah AlMa'arif ShifatShatat Nabi cetakan baru dari Maktabah Al-Ma'arif. yang baru saja diterbitkan oleh Dar Ibnul Qayyim . dia melanggar amanah yang saya berikan kepadanya. sebuah nama seorang ulama kontemporer yang meninggal pada abad ini dan memasukkannya sebagai pentahqiq kitab tersebut bersama saya.yang tidak perlu saya sebutkan di sini. walaupun satu huruf. Mukhtashar Shahih Muslim karya Al-Mundziri. sebagaimana yang dia biasa katakan kepada saya.cetak buku saya ini. beberapa ikhwan yang 30 — Jilbab Wanita Muslimah . kawan lama saya itu pun merasa iri. cetakan baru AlMaktabah Al-lslamiyah. yang diterbitkan oleh penerbit Maktabah Al-Ma'arif. Sebagai penutup. Maka. Itu semua dilakukannya demi isi perut! Pembaca yang budiman pun akan mengetahui siapa di antara keduanya yang telah bertindak buruk itu!! Saya telah membeberkan perilaku kedua orang itu di dalam mukadimah cetakan baru dari kitab At-Tankil. materi maupun hak saya sebagai sahabat. padahal dia tidak ikut mentahqiq kitab tersebut. Dia pun menyertakan pula namanya yang mulia di situ.Dammam. setelah saya pindah ke Amman. bersama ulama tadi dan saya. Dia memang telah melakukan banyak dan banyak sekali perilaku-perilaku jelek semacam itu. baik yang bersifat keilmuan. Cukuplah pembaca mengetahui salah satu contoh pelanggaran amanah dia. Karena. ada salah seorang yang terkenal di Mesir sebagai seorang pembajak kitab telah membajak kitab saya itu. Dia memalsu di dalam kitab tersebut. yaitu dia telah mencantumkan namanya berikut nama saya pada nama penulis tahqiq kitab At-Tankil. Mukhtashar Shahih Al-Bukhari jilid II. yang terpapar di dalam mukadimah-mukadimah kitab berikut ini: ♦ ♦ ♦ ♦ Shahih Al-Kalim Ath-Thayyib. Kemudian dia mencetak kitab tersebut -tentu saja tanpa sepengetahuan saya. bahwa ketika saya hendak menggabungkan mukadimah ini ke dalam bahasan pokok. -saya tidak mengatakannya hak sebagai syaikh.

Saya sadar sepenuhnya. akhir doa kami: alhamdu lillahi rabbil 'alamin. Dan. Penulis.mensetting kitab saya di Pusat Setting Komputer Dar Al-Hasan menyerahkan hastl settingnya kepada kami. Muhammad Nashiruddin Al-AJbani ••♦♦♦♦♦•• Jilbab Wanita Muslimah — 31 . Amman. Kedua. karena adanya penambahan tadi. bahwa memberi tambahan semacam itu pada tulisan yang telah disetting dan diprint suatu hal yang tidak diperbolehkan oleh tukang setting. Mereka tinggal menunggu kami menyerahkan mukadimahnya untuk mereka setting dan mereka gabungkan menjadi satu kitab. Catatancatatan penting itu saya dapatkan ketika saya sedang mempersiapkan materi k\tab Ar-Radd Al-Mufhim yang saya sertakan karena perlu pembaca ketahui. Bagi orang-orang yang pemurah tentu permohonan maaf ini akan diterimanya dengan lega. pada hasil settingan yang telah jadi itu terpaksa saya tambahkan beberapa catatan-catatan penting baru yang tentu harus disetting lagi. lebih-lebih kami juga telah melakukan hal serupa sebelumnya. Akan tetapi. saya memohon maaf kepada para ikhwan yang bekerja di Pusat Setting Komputer dua kali: Pertama. tetapi semata-mata karena takdir Allah. Semoga Allah membalas kebaikan kepada mereka. karena adanya keperluan saya sebagaimana telah saya sampaikan di awal mukadimah ini. maka penerbitan kitab ini pun menjadi terlambat. Karena itulah. Oleh karena itu. 5 Muharram 1412 H. karena keterlambatan ini yang jelas tidak kami sengaja.

juga kepada keluarganya. khususnya para wanitanya yang 9. Dalam riwayat lain disebutkan. para 9 sahabatnya. "Para sahabat berkate/'Bukankah kamiini 'ikhwan'mu. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul-Nya yang paling mulia dan penutup nabi-nabi-Nya. S 32 —Jilbab Wanita Muslimah . sedangkan 'ikhwan 'kita adalah orang-orangnya belum ada saat ini. "Saya berangan-angan andaikata kita bisa melihat 'ikhwan' kita. Ammaba'du." Hadits ini tercantum di dalam kitab Ash-Shahihah (2927)." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. "Ikhwanku adalah orag-orang yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pemah melihatku. Nabi pernah bersabda. wahai Rasulullah?"Beliau menjawab.Mukadimah Cetakan Kedua egala puji milik Allah. Saya merasa bertambah yakin akan pentingnya menerbitkan dan mempublikasikan buku ini ke tengah-tengah kaum muslimin. "Kalian adalah sahabat-sahabatku. Ini adalah kitab Hijab Al-Mar'atu Al-Muslimah cetakan kedua yang diterbitkan oleh penerbit Al-Maktab Al-lslami -semoga Allah membalas kebaikan kepada pemiliknya— setelah terbitnya cetakan yang pertama selama sepuluh tahun lamanya. kepada ikhwan-nya yang berpegang teguh dengan Sunnahnya dan berpedoman kepada petunjuknya hingga hari kiamat.

Pernah. yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bertipe sama seperti itu yang mempunyai semangat dan ghirah keislaman tinggi. sebagian ulama dan murid-murid mereka. Ada juga beberapa orang yang berbicara langsung secara lisan kepada saya mengenai hal itu. Mereka itu terbagi menjadi dua kelompok. Itu terjadi atas inisiatif saya. melainkan hanya didasari oleh sikap taklid kepada madzhab tertentu. juga di Hijaz. yang di antaranya adalah para ummahatul Mu'minin (istri-istri Rasulullah ). kekuatan hujjahnya dan kejelasan keterangannya— tetap tidak setuju dengan pendapat saya bahwa wajah wanita bukan aurat. menampakkan anggota tubuh mereka. Mereka melaksanakan hal itu meneladani wanita-wanita utama dari kalangan Salafus Shalih. Banyak di antara mereka kemudian mengenakan jilbab sesuai persyaratan yang diwajibkan. Beberapa orang pengajar di Madrasah Tsanawiyah ada yang menulis surat kepada saya mengenai hal itu. Pendapat mereka itu tidak didasari oleh pengkajian terhadap dalil-dalil syar'i dan penelitian terhadap sumbersumbernya yang asli. yaitu: Kelompok pertama. apalagi para tukang taklidnya. namun saya tidak mendapatkan sedikit pun apa yang saya harapkan itu. di sini. Mereka kemudian bersolek dan ngaceng seperti pada masa jahiliyah. —sekalipun mereka mengagumi kitab ini. atau lingkungan di mana dia tinggal. baik dari segi keilmiahannya. Orang-orang yang masih berpendapat bahwa wajah termasuk aurat. dengan harapan di situ saya bisa mendapatkan dalil-dalil kuat yang mendasari pendapatnya. Yang ' Jilbab Wanita Muslimah— 33 . buku ini telah membawa pengaruh positif di kalangan remaja-remaja putri yang beriman dan para istri yang mau menjaga dirinya. Ada pula di antara mereka yang menutup wajah mereka setelah mereka mengetahui dari kitab saya itu bahwa menutup wajah merupakan perkara yang baik dan akhlak yang mulia. sehingga mereka hanyut dalam gemerlap dan hura-hura.telah terpedaya oleh peradaban Eropa yang menipu. di Syiria. suatu ketika saya duduk berbincang-bincang lama hingga berjam-jam dengan salah seorang dari mereka mendiskusikan masalah ini. yang mana sebelumnya kepada bapak-bapak dan mahramnya saja mereka merasa malu untuk menampakkannya! Alhamdulillah. Sekalipun demikian.

lalu saya teliti dan saya bahas kerancuankerancuan pemahaman tadi. firman Allah ta'ala: “Sesunggunnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Misalnya. sebagaimana akan dijelaskan nanti. ternyata saya semakin yakin akan kebenaran pendapat saya dan kesalahan pendapat orang yang menyelisihinya. saya pun berpikir untuk mencermati kembali permasalahan tersebut. Orang-orang yang berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. setelah Kami menerangkannya kepada manusia di dalam Al-Qur'an. 34 —Jilbab Wanita Muslimah . Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang mengharamkan perbuatan menyembunyikan ilmu. Setelah kejadian itu. karena mempertimbangkan kerusakan yang akan ditimbulkan (bila para wanita membuka wajahnya). Saya kaji ulang dalildalil yang berkaitan. Dari situ. Saya juga mencantumkan kerancuan-kerancuan pemahaman tersebut beserta jawaban-jawaban yang telah dibukakan oleh Allah kepada saya pada cetakan terbaru ini. Kelompok kedua. pada malam itu juga saya jawab kerancuan-kerancuan pemahamannya itu sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada saya. Maka. Bagaimana tidak! Pendapat yang saya pegangi adalah merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan para ahli tafsir maupun para ahli fikih. yang akhirnya menghalangi dirinya untuk meyakini apa yang terkandung di dalam dalil tersebut. Kepada mereka yang berpendapat semacam ini. akan tetapi berpandangan bahwa pendapat semacam ini jangan disebarluaskan.saya dapatkan darinya hanya berupa kerancuan-kerancuannya dalam memahami dalil Al-Qur'an. dengan alasan nanti akan terjadi kerusakan zaman atau alasan lainnya. saya sampaikan penjelasan sebagai berikut: Sesungguhnya hukum syar'i yang telah ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah itu tidak boleh disembunyikan dan ditutut-tutupi dari pengetahuan orang banyak.

saya ajak pembaca untuk berpikir! Rasulullah M pernah melihat Al-Fadhl bin Abbas memandangi seorang wanita AlKhats'amiyah yang cantik dan wanita itu juga memandangi Ibnu Abbas. Hakim dan Dzahabi menilai shahih hadits ini. Bila pendapat bahwa wajah wanita bukan aurat merupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah sebagaimana yang kita yakini. tetapi tidak boleh menyebarkannya demi mencegah kerusakan." Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya dan Hakim. sabda Nabi . Selain dua dalil di atas masih banyak dalil-dalil lain yang melarang tindakan menyembunyikan ilmu." (QS. Akan tetapi hendaklah orang-orang yang berpendapat demikian menjelaskan kepada masyarakat dalil-dalil yang memperkuat pendapatnya itu. niscaya pada hari kiamat Allah akan memasang kendali dari api neraka di mulutnya. "Barangsiapa menyembunyikan ilmu. Beliau tidak menyuruh wanita itu menutup wajahnya agar tidak dilihat Al-Fadhl. Penyebab dan sarana fitnah manakah yang lebih jelas dari kejadian ini?! Bahkan. ampunilah! Baiklah. jika ada yang berpendapat bahwa sekalipun hukumnya begitu. dan sekali lagi itu mustahil! Mari. waktu itu beliau ^sendiri berkata: "Saya khawatir melihat seorang pemuda dan seorang pemudi kalaukalau keduanya digoda oleh setan. maka bagaimana diperbolehkan kita berpendapat untuk menyembunyikan dan tidak menyebarluaskannya kepada orang banyak?! Ya Allah.mereka itu dilaknat oleh Allah dan oleh semua (makhluk) yang bisa melaknatnya. Al-Baqarah: 159) Juga. itu mustahil. namun tindakan yang diambil beliau hanyalah sekedar memalingkan wajah Al-Fadhl dari wanita itu. Tapi." Jilbab Wanita Muslimah — 35 . di mana wanita ini tidak dalam keadaan berihram —sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti—.

Ada hal aneh pada kitab yang ditulis oleh ustadz tadi. Saya telah memberikan jawaban terhadap tulisan dia di dalam 10 bukunya itu pada tanggal 2 3 . "Bila salah seorang di antara mereka melemparkan tuduhan yang kurang baik' kepada saya. kami tetap mengingatkan para mukminah bahwa sekalipun membuka wajah diperbolehkan. kami benar-benar telah menunaikan amanat. Barangsiapa melaksanakan kewajiban tersebut. atau mendengar semangat baik Anda untuk menutup tubuh istri Anda sesuai dengan yang dituntut oleh syariat dengan tidak membolehkan dia memperlihatkan wajah. tetapi menutupnya lebih utama. Dengan demikian.9 .Hadits shahih ini menegaskan bahwa seorang wanita berhak membuka wajahnya. maka dia akan mendapatkan balasan kebaikan. Begitulah yang saya terapkan kepada istri saya. atau malah sebelumnya. "Barangkali salah seorang dari mereka mengetahui. dan barangsiapa melakukan yang lebih baik dari itu. Saya telahmengirimkan tulisan jawaban saya itu ke majalahAt-TamaddunAl-lslamI untuk menyebarluaskannya. Kami telah membuat pasal khusus yang membahas masalah ini pada hlm 118. Di dalam jawaban saya itu saya katakan. Kami telah menjelaskan apa yang menjadi kewajiban bagi seorang wanita dan mana yang baik untuk dilakukannya. Hadits ini mencegah kita mengikuti pendapat kelompok kedua di atas dan mewajibkan kita menyebarluaskan pendapat yang benar dalam masalah ini. maka tentu itu lebih utama. maka saya akan melihat apa yang terjadi yang ada pada diri para nabi dan orang-orang shaleh shalawatullahi 'alaihlm Musuh-musuh mereka tidak hanya melem10. Tentu bila orang tadi membaca kitab yang Anda tulis. "Ketakwaan dia telah menyelisihi fatwanya!" Dan menuduh Anda dengan tuduhan yang tidak baik. Saya berharap semoga Allah memberi taufik kepada saya untuk menerapkan hal serupa kepada putri-putri saya ketika mereka telah mencapai usia baligh kelak. Jika dia menghendaki.7 4 H . dia akan mengatakan. maka dia boleh membukanya dan tidak ada seorang pun yang berhak melarang dia melakukan hal itu dengan alasan takut terkena fitnah. di mana dia berkata. Meskipun demikian. tetapi ternyata tidak dimuat. sekalipun wajahnya cantik. 36—Jilbab Wanita Muslimah .

maka kedua tindakan saya itu tidak keluar dari apa yang telah saya fatwakan. bahwa orang yang telah melemparkan tuduhan tersebut adalah orang yang telah berlaku zalim. Di situ saya bawakan hadits-hadits dan atsar-atsar sahabat yang cukup banyak yang di akhirnya saya katakan." Pernyataan saya di atas merupakan bukti yang jelas akan keutamaan orang yang menutup wajahnya. atau bodoh yang perlu diberi pelajaran. jelaslah bahwa orang yang menilai saya dengan berkata. bahkan tuduhan yang buruk sekalipun. "Dari penjelasan yang telah saya kemukakan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa perbuatan seorang wanita menutup wajahnya dengan cadar atau yang sejenisnya sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang hendak menjaga diri-nya. Saya tidak ragu lagi. maka dia pun tidak dilarang. Ketika saya menetapkan bahwa wajah bukan termasuk aurat. sungguh berarti dia telah berbuat baik dan barangsiapa yang tidak melakukannya. tentu dengan persyaratan tertentu. di situ saya juga menyatakan bahwa menutup wajah itu adalah lebih utama." itu sangat jauh dari pemahaman yang benar dan obyektif. Ini bukan berarti bahwa orang yang berpendapat demikian diharuskan membuka wajah istrinya." Ini disebabkan dua hal. Dalam kitab ini hlm 118 terdapat bantahan saya terhadap orang-orang yang berpendapat bahwa menutup wajah merupakan perbuatan bid'ah dan berlebih-lebihan dalam beragama. Barangsiapa yang melakukan hal itu. Karena itu. Sehingga. karena "pengharusan" yang merupakan konsekwensi dari hukum wajib semacam ini berbeda dengan pendapat saya yang hanya "membolehkan". "Ketakwaan dia menyelisihi fatwanya. yaitu: Pertama. bila saya memilih untuk me nutup wajah istri saya atau membukanya. Kedua. Semua orang tahu bahwa perbuatan yang dihukumi boleh adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan. dan seorang wanita diperbolehkan me nampakkan wajahnya. sekaligus sebagai bantahan Jilbab Wanita Muslimah— 37 . Inti pembahasan saya dalam kitab ini adalah bahwa wajah wanita bukanlah aurat. sekalipun itu tidak diwajibkan kepadanya. merupakan perbuatan yang disyariatkan.parkan tuduhan yang kurang baik kepada mereka.

terhadap dua kelompok yang berlebih-lebihan dalam berfatwa yang menyatakan bahwa cadar itu wajib dan yang menyatakan bahwa cadar itu bid'ah. Paling tidak mereka harus melakukan dua hal. Sebaliknya. "sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. yaitu membuka wajah dan mewajibkan untuk menutupnya tanpa perintah dari Allah dan Rasul-Nya. apalagi hal-hal yang sunnah! Jika ada sebagian ulama yang sampai saat ini masih beranggapan bahwa wanita yang memakai jilbab. lebih-lebih kita hidup di zaman di mana sedikit sekali orang-orang yang mau melaksanakan hal-hal yang wajib. yaitu sebagaimana Nabi sabdakan: "Buatlah mudah."'' Yang ada dalam benak saya. bahwa sekalipun hati saya sedih dan merasa prihatin demi melihat perbuatan para wanita zaman sekarang ini yang berlomba-lomba memamerkan wajahnya yang penuh dengan pulasan dan dandanannya yang seronok laksana anai-anai yang berbondong-bondong mengitari api. lalu mengambil keputusan melarang kitab-kitab yang menyelisihi paham mereka itu masuk ke negeri mereka. ternyata Abu Ya'la meriwayatkan perkataan tersebut dengan sanad yang jayyid berasal dari Wahb bin Munabbih." serta prinsip-prinsip dalam mendidik lainnya. Menjelaskan hukum Allah kepada masyarakat tentang. Karena. jangan malah membuat sulit. cadar dengan menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan AsSunnah. Dan. namun selamanya saya tidak akan memberi solusi terhadap hal itu dengan mengharamkan apa-apa yang dibolehkan oleh Allah kepada kaum wanita. 38 —Jilbab Wanita Muslimah . tidak dengan kekerasan. maka menurut kami. penahapan dalam penyampaiannya. yaitu: Pertama. salah satu prinsipnya. Hadits ini lemah sanadnya. tidak layak bagi mereka hanya sekedar mengecam keras orang-orang yang berselisih paham dengan mereka. namun membuka wajahnya itu membahayakan diri wanita tersebut. kebijakan syar'i. membimbing mereka dengan penuh kelembutan. Karena itu saya tidak menyatakan bahwa perkataan ini berasal dari Nabi . bersikap memudahkan mereka dalam hal-hal yang memang dimudahkan oleh Allah. semua itu mewajibkan para ahli fikih dan juru bimbing umat manusia agar berlemah lembut kepada kaum wanita. 11.

Dengan begitu. universitas-universitas dengan cara memberikan pengetahuan dan wawasan tentang syariat Islam yang akan bermanfaat bagi mereka.bukan berdasarkan taklid kepada madzhab atau sekedar mengikuti tradisi yang berlaku di lingkungannya. Adakah mereka sudah melakukan . khususnya di sekolah-sekolah. adapun yang memberi manfaat kepada manusia. bisa untuk meraih kebaikan dan bisa pula untuk menuai kerusakan. Ar-Ra'd: 17) Sesungguhnya." (QS. begitu juga saranasarana lainnya yang bertebaran di zaman sekarang ini yang ibarat pedang bermata dua. serta berusaha mencegah masuknya majalah-majalah porno yang akan mempengaruhi dan merusak akhlak mereka. Mendidik pemudi-pemudi muslimah dengan pendidikan Islam secara benar. serta tahu mana yang hak dan mana yang batil. "Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan bagi kalian. bila mereka melakukan hal itu. insya Allah akan terbentuk sebuah generasi wanita mukminah yang jika mendengar firman Allah ta'ala: Jilbab Wanita Muslimah — 39 .hal itu?! Kedua." (QS. maka dia akan tetap berada di bumi. maka wanitawanita mukminah pun akan menyambut seruan mereka. Al-Anbiya': 35) Dengan kedua cara tersebut. masyarakat akan mengetahui mana pendapat yang benar dan mana pendapat yang salah. masjid-masjid. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. "Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya.

kecuali wajah dan kedua telapak tangan. dada mereka."Wahai Nabi. Adapun kebanyakan wanita. menurut saya. merupakan sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang tidak disukai oleh Allah. maka tentu kita akan merasa senang dan perlu menganjurkan kepadanya."(QS. jadi. maka memerintahkan mereka untuk menutup wajah yang tidak diperintahkan oleh Allah di mana mereka saja tidak mempunyai kesiapan untuk menutup leher mereka. sebagaimana pernah dilakukan oleh wanita-wanita Anshar radhiyallahu 'anhunna di mana ketika turun firman Allah "Hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dada mereka. katakanlah kepada istri-istrimu.An-Nuur:31) mereka bersegera memakai kain apa saja yang bisa mereka gunakan untuk berkerudung. Al-Ahzab: 59) mereka akan segera melaksanakannya. jika ada di antara mereka yang juga mau menutup kedua bagian tubuh tadi. mewajibkan hal itu kepada mereka. bahkan di negeri tauhid yang sebenarnya saya berharap negeri ini bisa terbentengi dari kerusakan semacam itu. Sebaliknya. 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Syiria. atau negeri-negeri lainnya di mana kebiasaan bermake up menor dan berpakaian buka-bukaan sudah membudaya dan tersebar luas di kalangan mereka. Sementara itu. akan sangat bijaksana bila para ulama di zaman sekarang ini merasa puas jika para kaum wanita telah bersedia melaksanakan perintah Allah berupa menutup seluruh badan mereka. anak-anak perempuanmu. atau bahkan bagian tubuh yang lebih vital dari itu. di mana Rasulullah M pernah 40—Jilbab Wanita Muslimah . Mesir. Wanita-wanita yang telah terdidik semacam itu akan dengan ringan melaksanakan perintah menutup wajahnya. bila memang itu hukumnya wajib. merupakan tindakan yang tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang hanya mempunyai sedikit pemahaman tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah. dan istri-istri orang mukmin.'" (QS. Lebih-lebih terhadap para wanita. sebagaimana disebutkan di dalam kitab ini hlm 96. seperti di negeri kita.

berwasiat kepada kita agar berlaku baik terhadap mereka dalam banyak hadits, di antaranya sabda beliau

"Bersikap lunaklah terhadap 'gelas-gelas kaca'."'2 Ketika wanita-wanita muslimah telah melaksanakan perintah Allah, kecuali sedikit saja di antara mereka yang enggan dan bandel untuk melaksanakannya, maka pada saat itulah kemuliaan dan kejayaan akan kembali diraih oleh kaum muslimin, akan tegak kedaulatan mereka, dan Allah pun akan menolong mereka dalam mengalahkan musuh-musuh mereka.

"Pada hari itu, bergembiralah orang-orang beriman karena adanya pertolongan Allah." (QS. Ar-Rum: 4-5) Hal itu tidak akan terjadi, kecuali jika kaum laki-lakinya mau terlebih dahulu melaksanakan perintah Allah. Mudah-mudahan hal itu tidak lama lagi akan terwujud.

"Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah membatasi manusia dengan hatinya; dan sesungguhnya kepadaNyalah kalian akan dikumpulkan." (QS. Al-Anfal: 24)

♦ ♦♦♦♦*♦

12. HaditsinidiriwayatkanolehBukhari,namun hanya kesimpulan isinya saja.

Jilbab Wanita Muslimah — 41

M ukadimah Cetakan Pertama

s

egala puji milik Allah Rabbul 'Alamin, yang telah berfirman di dalam kitabnya:

"Wahai bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan; namun, pakaian takwalah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah; mudah-mudahan mereka selalu ingat."(QS.Al-A'raf:26) Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang telah di utus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia; juga kepada segenap keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau dalam kebaikan hingga hari pembalasan. Ammaba'du. Ini adalah sebuah risalah kecil yang memuat pembahasan yang insya Allah bermanfaat, yang saya susun untuk menjelaskan tentang pakaian yang wajib dipakai oleh wanita muslimah ketika keluar

42—Jilbab Wanita Muslimah

rumah beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadi pakaian yang sesuai dengan aturan Islam. Pembahasan di dalam kitab ini berlandaskan kepada Al-Kitabdan As-Sunnah, juga menengok atsar-atsar dan perkataan-perkataan para sahabat, serta memperhatikan pendapat para imam dalam masalah tersebut. Jika apa yang saya sampaikan dalam risalah ini adalah benar, maka kebenaran itu semata-mata datang dari Allah, karena hanya Dialah yang memiliki keutamaan dan pujian. Adapun jika apa yang saya sampaikan itu mengandung kesalahan dan kekeliruan, tentu kesalahan dan kekeliruan itu berasal dari diri saya sendiri; dan saya memohon ampun kepada Allah atas kesalahan dan kekeliruan saya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Risalah ini saya tulis atas permintaan dari ikhwan saya tercinta, yang mempunyai kebaikan dan keistiqamahan, yang mempunyai semangat untuk mengamalkan petunjuk Al-Kitab dan As-Sunnah, sebagai hadiah di hari pernikahannya. Semoga Allah memberi berkah kepadanya, serta kepada istri dan keturunannya kelak. Saya merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaannya dan mewujudkan keinginannya, sekalipun sebenarnya saya sedang berkonsentrasi melaksanakan program saya Mengakrabkan As-Sunnah di Kalangan Ummat, yang sudah barang tentu banyak menyita kesempatan dan pikiran saya. Program saya itu telah saya rintis sejak lebih dari dua tahun yang lalu; bermula dengan munculnya kitab Sunan Abu Dawud. Namun beberapa bulan terhenti, karena ada gangguan pada mata kanan saya. Semoga Allah segera menghilangkan gangguan tersebut dengan karunia dan kemurahan-Nya. Sekalipun begitu, saya bertekad untuk segera menulis risalah yang berharga ini sebagai hadiah untuknya. Semoga risalah ini bisa membantu dia dan membantu orang lain -yang barangkali ikut membacanya- dalam menaati Allah dan Rasul-Nya dalam masalah yang dewasa ini banyak disepelekan orang, bahkan ada para ulama yang seharusnya sebagai suri tauladan bagi orang banyak dalam urusan syariat; bersikap begitu. Maka, kalau ulamanya begitu, bagaimana dengan orang-orang awam yang bukan ulama. Akhirnya, memang

Jilbab Wanita Muslimah — 43

sedikit sekali kita dapati di negeri ini orang yang mau menegakkan hukum yang telah digariskan oleh Allah dalam masalah jilbab ini. Tetapi kita senantiasa memuji Allah ta'ala, karena temyata masih ada sekelompok orang dan' umat Nabi yang mau melaksanakan perintah Allah; tidak membahayakan mereka sedikit pun orang-orang yang menyelisihi mereka, hingga datangnya keputusan Allah kelak, sedang mereka tetap eksis di tengah-tengah manusia. Saya memohon kepada Allah ta'ala, semoga Dia memasukkan kita ke dalam kelompok ini, serta menjadikan risalah ini, juga apa saja yang telah saya tulis, benar-benar semata-mata ikhlas karena-Nya, sebagai jalan untuk menggapai ridha-Nya dan meraih surga-Nya. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik tempat memohon. Damaskus, 7-5-1370 H. Muhammad Nashiruddin Al-Albani ♦ ♦♦♦♦♦♦

44—Jilbab Wanita Muslimah

(hlm 149-152) 6. tidak ketat. jelaslah bagi kami bahwa seorang wanita bila keluar dari rumahnya wajib menutup seluruh tubuhnya dan tidak boleh menampakkan sedikit pun perhiasannya. selain bagian yang dikecualikan. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. Tidak diberi wangi-wangian. kecuali wajah dan kedua telapak tangannya -bila dia ingin menampakkannyadengan jenis pakaian apa pun asal terpenuhi syarat-syaratnya. (hlm 153-175) 7. SYARAT-SYARAT JILBAB Syarat-syarat jilbab adalah sebagai berikut: 1. (hlm 132-136) 3. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir. tidak tipis. (hlm 142-148) 5. (hlm 137-141) . Longgar.Wanita Muslimah etelah kami meneliti Al-Qur'an. (hlm 176-232) 8. hadits Nabi dan riwayat para salaf dalam masalah yang cukup penting ini. Menutup seluruh tubuh. (hlm 233-236) S Jilbab Wanita Muslimah — 45 . Tebal. (hlm 47-131) 2. 4. Bukan untuk berhias. Bukan pakaian untuk kemasyhuran.

baik ketika di dalam atau di luar rumah. ketujuh. Akan tetapi. dan kedelapan tidak hanya untuk pakaian wanita saja. jangan sampai ada anggapan bahwa haramnya khusus ketika wanita di luar rumah saja. Jadi.. ketujuh. pembahasan di dalam buku ini hanya dititikberatkan pada pakaian wanita ketika di luar rumah. dan kedelapan diharamkan secara mutlak. ♦ ♦♦♦♦♦♦ 46—Jilbab Wanita. Muslimah . ikutilah penjelasan rinci syarat demi syarat di atas beserta dalil-dalilnya. 2. Untuk syarat keenam. Selanjutnya. akan tetapi termasuk juga pakaian pria. yaitu syarat keenam.Peringatan: 1. Sebagian dari syarat-syarat di atas.

Menutup Seluruh Tubuh. Selain yang Dikecualikan S yarat ini terdapat di dalam firman Allah ta'a/a surat AnNur ayat31: Jilbab Wtmita Muslimah — 47 .

adalah yang menutup seluruh tubuh. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu orang. "Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh kaum wanita merangkapi khimar dan pakaian yang biasa dikenakan dirumah. terdapat di dalam firman Allah ta'ala surat Al-Ahzabayat 59: "Wahai Nabi. Hendaklah mereka menutupkan khimar13 mereka ke dada mereka. Ibnu Hazm berkata. menurut bahasa Arab. anak-anak saudara perempuan mereka. "Khimar yang dipakai wanita seperti sorban yang biasa dipakai laki-laki." Juga."Katakanlah kepada wanita beriman. ayah mereka. Bertobatlah wahai orang-orang beriman. wanita-wanita muslimah. 48—Jilbab Wanita Muslimah . bukan yang hanya menutup sebagian. janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki mereka agar diketahui adanya perhiasan yang mereka sembunyikan." Pen. anak-anak saudara lakilaki mereka. Hendaklah mereka menahan pandangan mereka. kecuali yang biasa nampak. "Jilbab yang diperintahkan untuk dipakai oleh (wanita). Tidak boleh sedikit 13. anak-anak mereka. Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathu AI-Bari berkata."— Pen. memelihara kemaluan mereka dan jangan menampakkan perhiasan mereka. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. budak-budak yang mereka miliki. saudara-saudara mereka. agar kalian beruntung. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Khimar adalah sejenis kerudung yang tidak menutup dada. kecuali kepada suami mereka. dan jangan menampakkan perhiasan mereka. pelayan-pelayan lakilaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. 14. atau anakanak yang belum mengerti aurat wanita. anakanak suami mereka." Pada ayat pertama diterangkan secara tegas adanya kewajiban bagi seorang wanita menutup semua perhiasan. ayah suami mereka." Al-Baghawi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan. katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang 14 beriman.

' Maksudnya ialah. mereka tidak menampakkan sedikit pun perhiasannya kepada orang-orang ajnabi (yang bukan mahramnya). "Maksudnya. tutup kepala yang biasa dikenakan oleh wanita Arab dan pakaian bawahan yang memang biasa mereka nampakkan." Al-Bukhari (Vll:290) dan Muslim (V:197) meriwayatkan sebuah hadits dari Anas . Ibnu Katsirdi dalam kitab Tafsimya berkata. kaum muslimin kocar-kacir meninggalkan Nabi sedangkan Abu Thalhah berdiri di Hadapan beliau melindungi dengan perisai dari kulit miliknya. karena tidak mungkin mereka sembunyikan.. Dan kemungkinan hal itu kelihatan tanpa mereka sengaja.." Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata. Saya mefihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim berjalan tergesa-gesa. maka itu tidak mengapa mereka nampakkan. Ibnu Mas'ud berkata. Saya melihat gelang-gelang kaki mereka tatkala keduanya melompat-lompat sambil membawa geriba di punggungnya dan menuangkan geriba tersebut kemulut-mulut kaum muslimin. dia berkata: "Pada waktu perang Uhud.. kecuali bagian yang biasa nampak tanpa mereka sengaja.. Dan ketidaksengajaan tadi tidak menjadi dosa bagi mereka biladengan segera mereka tutup lagi." Jilbab Wanita Muslimah — 49 . "Itu terjadi sebelum turunnya ayat htjab.pun perhiasan tadi ditampakkan di hadapan orang-orang ajnabi yang bukan mahramnya. kecuali bagian yang tidak mungkin mereka sembunyikan. 'Seperti misalnya: selendang dan pakaian.

bahwa pendapat tersebut yang benar dikarenakan ada ijma' wajibnya orang shalat menutup auratnya. gelang dan inai. dan ada pula yang menafsirkan: 'Celak. "diriwayatkan". dan bahwa perempuan harus membuka wajah dan kedua tangannya ketika shalat sedangkan bagian tubuh lainnya harus tertutup.) hingga cuping telinga kiri. Karena bagianbagian tubuh itu memang biasa ditampakkan. Karena sudah sama-sama kita ketahui bahwa bagian-bagian tersebut termasuk bagian-bagian tubuh yang memang dikecualikan oleh Allah di dalam firman-Nya 'kecuali yang biasa tampak'. Kalau semua itu sudah menjadi ijma'. bahkan menurut saya hadits tersebut mungkar. Hal itu termasuk di dalamnya celak. Nampaknya. Dua telapak tangan ialah bagian dalam dari telapak tangan hingga pergelangan. yang berbeda dengan yang dikatakan oleh orang-orang belakangan ini. maka berarti wanita dibolehkan membuka bagian badannya yang bukan termasuk aurat sebagaimana berlaku juga pada pria. Meski-pun ada diriwayatkan'6dari Nabi bahwa beliau membolehkan wanita menampakkan separoh tangannya. Hadits tersebut -dengan lafadz seperti itu— memang tidak shahih. 50—Jilbab Wanita Muslimah . "Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah dan kedua telapak tangan. Memang begitulah keadaannya. gelang dan wajah'. Kami mengatakan. Kemudian dia 5 sendiri memilih: 'Wajah dan kedua telapak tangan'. sebagaimana yang sama-sama kita ketahui. cincin. Memang para salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in berbeda pendapat dalam menafsirkan perkataan "kecuali yang biasa nampak" ini. Ada yang menafsirkan: 'Pakaian-pakaian luar'. Ibnu Jarir mengisyaratkan adanya kelemahan hadits ini dengan perkataannya.' Dia berkata. serta ada lagi yang berpendapat lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya (XVIII:84). cincin. Insya Allah. Karena bagian badan yang bukan aurat tentu tidak diharamkan untuk ditampakkan. 16.Pengertian firman Allah: "kecuali yang biasa nampak yang saya sebutkan di atas adalah pengertian yang langsung bisa ditangkap dari ayat tersebut. Sedang wajah ialah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala bagian depan hingga dagu bagian bawah. Begitulah yang dikatakan oleh para ulama. Bantahan terhadap pendapat mereka itu akan saya sampaikan pada penutup pembahasan mengenai syarat pertama jilbab ini. dan mulai dari cuping telinga kanan (yaitu: tempat dipakainya anting-anting -pent." 15.

' Beliau berkata.Damaskus). 'Ma seorang wanita telah dewasa. Yaitu. yaitu yang satu mursal dan yang satunya mu'dhal dimana keduanya mempunyai pengertian yang bersesuaian. yaitu hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang akan disebutkan nanti. Karena jarak masa hidup dia dengan Aisyah sangatlah jauh. Sebab hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ini mempunyai dukungan hadits lain yang diriwayatkan dari Asma yang akan disebutkan nanti di dalam footnote juga. katanya. katanya. "Aisyah berkata. kecuali kepada suami mereka” yang kelanjutannya adalah". kecuali sampai ini. maka hadits tersebut menjadi kuat. 'Dia ini anak saudara saya. Di dalam hadits tersebut secara tegas Rasulullah m melarang Aisyah menemui anak laki-laki saudaranya dalam keadaan berhias. Beliau memegangi hastanya sendiri. hadits tersebut dari sisi ini juga digolongkan hadits mungkar. Oleh karena itulah. "Ayat diatas secara tegas menunjukkan bolehnya seorang wanita menampakkan perhiasannya kepada anak saudaranya." Sanad hadits ini munqathi’ (terputus). 'Saya pernah keluar menemui anak saudara saya dengan be'rhias. didukung oleh praktek para wanita mukminah yang seperti itu di zaman Nabi Berbeda dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Juraij di atas. Oleh karena itulah hadits tersebut termasuk hadits mungkar. Hadits tersebut tidak mempunyai hadits pendukung yang menguatkannya dan juga tidak didukung oleh praktek para wanita mukminah di zaman Nabi .' Beliau memegang pertengahan hastanya.' Saya berkata. Keduanya hanya sama-sama hadits Jilbab Wanita Muslimah — 51 . .. Hadits Ibnu Juraij ini juga mempunyai kelemahan lain yang lebih parah. namun Nabi tidak menyukainya. maka tidak halal baginya menampakkan anggota tubuhnya kecuali wajahnya dan kecuali ini.atau kepada putra saudara mereka. Saya telah menjelaskan tentang hal ini dalam bantahan saya terhadap pendapat Ustadz Al-Maududi yang terdapat di akhir kitabnya yang berjudul Al-Hijab (Cetakan Pertama . Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman: "Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka. sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas bahwa pengertian hadits tersebut berlawanan dengan Al-Qur'an. Tetapi dia berpendapat bahwa lantaran diriwayatkan melalui dua jalan. Dalam bantahan tersebut saya sebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan dari Qatadah itu adalah hadits mungkar dan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Juraij adalah hadits mu'dhal. Kemudian dia juga meriwayatkan hadits serupa itu dari Ibnu Juraij." Telah sampai kepada saya bahwa Nabi bersabda. Beliau lupa —saya tidak mengatakannya beliau menutup mata— bahwa hadits tersebut yang sanadnya mu'dhal' itu mempunyai kelemahan yang berbeda dengan yang mursal. Ustadz Al-Maududi menerima penjelasan saya itu. “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat menampakkan tangannya. Juga. Hal ini tidak diragukan lagi oleh orang yang mempunyai pengetahuan tentang ilmu hadits." Hadits diatas termasuk hadits mungkar dikarenakan kelemahan sanadnya dan karena berlawanan dengan hadits yang lebih kuat derajatnya.Ibnu Jarir meriwayatkan hadits itu dari jalur Qatadah. yaitu berlawanan dengan Al-Qur'an. wahai Rasulullah.

yang dinisbatkan kepada Nabi m. Adapun hadits yang mu'dhal diatas ada tambahan sedikit dari hadits yang mursal. yaitu di dalam hadits tersebut Rasulullah 3s menampakkan kebenciannya dengan keluarnya Aisyah dalam keadaan berhias di hadapan anak saudaranya. dimana hal itu berlawanan dengan Al-Qur'an. tetapi pada sanad yang mursal ini para periwayatnya orang-orang yang bisa diterima 52—Jilbub Wanita Muslimah . Tidak. Saya telah menyebutkan sejumlah hadits yang mengkhususkan hadits mursal yang masih umum itu di dalam bantahan saya tersebut. sekalipun haditshadits tadi masing-masingnya lemah. Sehingga jelaslah keduanya berbeda. Di dalam bantahan itu saya menyebutkan bahwa hadits yang mursal diatas yang mendasari pendapat Ustadz Al-Maududi pengertiannya masih bersifat umum. karena di dalam tulisan bantahannya kepada saya pada hlm 11 beliau mengatakan: Tampaknya (demikian) kedua hadits tersebut saling menguatkan. maka kehujahannya lemah. bila ada sejumlah hadits dha'if lain yang isinya sejalan dengan hadits tadi. Bila saya ditanya: "Apakah kedua hadits tersebut bisa saling menguatkan karena keduanya membicarakan hal yang sama?" Saya jawab. saudara dan semua mahramnya! Inilah yang mendorong kami menulis bantahan terhadap pendapatnya itu dan mendesak penerbit buku tersebut untuk menyebarkannya dengan bantahan saya tadi secara sekaligus. Imam Nawawi di dalam kitab At-Taqrib (hlm 58. bahwa masingmasing hadits dha'if tersebut kedha'ifannya tidak parah. bahwa tentang hadits dha'if bila hanya ada satu hadits dha'if saja yang dijadikan dalil dalam suatu masalah. Disamping itu." Memang dalam hal ini kami berbeda pendapat dengan Ustadz Al-Maududi. dengan syarahnya. bagi seluruh manusia sampai pun bagi suaminya. "Bila suatu hadits diriwayatkan dengan beberapa sanad yang dha'if. maka tidak selalu dengan banyaknya sanad tadi hadits tersebut menjadi hadits hasan. atau karena kemursalannya. Namun mereka mensyaratkan. Hadits yang masih bersifat umum ini sangat mungkin dikhususkan oleh hadits lain yang bersifat khusus." Kaidah yang dijadikan dasar oleh Ustadz Al-Maududi untuk menguatkan hadits tersebut jelas tidak benar kalau digunakan secara mutlak seperti itu. Tambahan tersebut di dalam hadits yang mursal tidak ada. yaitu kitab At-Tadrib) berkata. akan tetapi." Beliau berpendapat bahwa kedua hadits diatas saling menguatkan berdasar kaidah yang beliau sampaikan di dalam kitab bantahannya itu pada hlm 4 sebagai berikut: "Ma'ruf di kalangan para ulama.Satu hal yang membedakan kedua hadits tersebut adalah bahwa Ustadz Al-Maududi menjadikan kedua hadits tersebut hujjah bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. maka hal itu akan saling menguatkan. Memang kaidah itu biasa dipakai oleh para ulama hadits. dan menjadi kuatlah hadits tersebut sehingga bisa dijadikan hujjah. Hadits tersebut bisa menjadi hasan dengan banyaknya sanad tadi kalau kelemahan hadits tersebut karena kelemahan hafalan dari periwayatnya yang sebenarnya jujur dan dapat dipercaya. dan tentu bagi Syaikh Nashiruddin Al-Albani. kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. disyaratkan juga agar hadits lain yang menguatkan hadits tersebut sanadnya bersambung hingga kepada Nabi atau mursal juga.

"Bila sumber periwayatan suatu hadits mursal dianggap baik dengan adanya pendukung hadits lain yang bersambung sanadnya. Al-Hakim juga meriwayatkan hadits itu dari Ibnu Al-Musayyab. serta disyaratkan juga agar sumber riwayat dari hadits mursal yang menguatkan ini berbeda dengan sumber riwayat dari hadits mursal yang dikuatkannya. setelah dia menyebutkan bahwa hadits mursal adalah termasuk hadits dha'if menurut pendapat jumhur ahli hadits. misalnya karena hadits mursal yang menguatkan tadi jalur sanadnya "berpenyakif atau "sehat" tetapi tidak bisa diketahui bahwa sumber riwayat dari dua hadits yang mursal tadi berbeda. Syarat diatas tidak terpenuhi. sehingga kedua hadits mursal tersebut akan saling menguatkan. Hadits dari Ibnu Juraij itu ternyata hadits mu'dhal. yaitu: Pertama. Karena tanpa terpenuhinya syarat tersebut suatu hadits mursal tidak bisa berubah menjadi shahih.. Kedua. kalau keduanya tidak bisa dipadukan pengertiannya. An-Nawawi di dalam kitabnya At-Tadrib hlm 67 berkata. atau mu/sa/ juga. maka seseorang akan mantap hatinya (dalam menerima riwayat tadi) karena mengetahui bahwa hadits tersebut dengan kedua jalannya sampai kepada seorang sahabat atau beberapa sahabat. Adapun bila dua syarat di atas tidak terpenuhi. sehingga keduanya satu sama lain tidak bisa saling menguatkan. hadits mursal tadi dianggap hadits shahih.periwayatannya. Bila kita sudah tahu demikian halnya. sebagaimana disebutkan di dalam biografi keduanya." Menurut saya. 'dengan adanya pendukung hadits lain yang bersambung sanadnya atau'. hadits ini mengandung kemungkinan berasal dari satu sumber. maka jelaslah hadits yang mursal yang didukungnya tadi dianggap hadits shahih dan kedua. sehingga boleh jadi gurunya yang menjadi sumber riwayat dalam hadits itu seorang tabi'in Jilbab Wanita Muslimah— 53 . Sehingga bila ada satu hadits dari jalan lain bertentangan dengan kedua hadits mursal tadi. dan para ahli ilmu Ushul. hadits dari Ibnu Juraij itu tidak bisa menguatkan hadits mursal dan Qatadah di muka. syarat yang disebutkan oleh Nawawi. maka kami menguatkan kedua hadits mursal tadi dari pada hadits itu. karena sumber riwayat hadits mursal itu (Qatadah dan Ibnu Juraij) ternyata mempunyai guru yang sama yaitu Atha' bin Abi Rabah. bukan mursal. Karena dalam kondisi semacam ini. Oleh karenanya. Hadits yang keadaannya semacam itu dinamakan hadits gharitt" Itulah maksud dari perkataan Nawawi dalam pembahasannya tentang hadits mursal. Maka. maka kedua hadits tersebut tidak bisa saling menguatkan. maka jelaslah Ustadz Al-Maududi tidak memperhatikan syarat ini ketika dia memakai hadits mursal dari Qatadah untuk menguatkan hadits mursal dari Ibnu Juraij. kebanyakan ahli fikih. diatas adalah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Karena Ibnu Juraij hanyalah meriwayatkan hadits dari para tabi'in. tetapi sumber riwayat murealhya tidak sama dengan hadits mursalyang didukungnya tadi. begitu juga Malik sebagaimana tersebut di dalam kitab At-Tadrib. yang bahkan sebenarnya hadits dari Ibnu Juraij ini adalah hadits mu'dhal Jadi.. ada dua masalah disini. Syafi'i. Karena boleh jadi sumber riwayat dari dua hadits mursal tadi adalah satu orang.

... Sebaliknya. Karena dia tidak meriwayatkan hadits mursal kecuali dari orang-orang yang dicela (oleh para ulama hadits).) tidak terpenuhi. maka berarti dia memang mendengar langsung." Di dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib disebutkan. seperti Ibrahim bin Abi Yahya.) adalah dha'if atau sangat dha’if sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. 'dari Fulan... bahkan hal itu akan menimbulkan kesalahpahaman orang yang tidak tahu tentang dirinya. 'Sebagian dari hadits-hadits mursal Ibnu Juraij ini adalah hadits-hadits maudhu'.' atau 'saya diberitahu. 'Aku diberi kabar oleh. "Jauhilah tadlis (penyamaran) Ibnu Juraij. jelaslah hadits Ibnu Juraij yang mu'an'an (menggunakan lafazh 'dari Fulan. Karena dia seorang periwayat mudallis (suka menyamarkan -pent. yaitu ketika umpamanya dia berkata. Musa bin Ubaidah. Telah bercerita kepadaku. sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad di atas. yang telah mengambil hadits dari seorang guru yang sama pada hadits mursal yang dari Qatadah. Ini. Tetapi bila dia berkata. (yaitu: sumber riwayat hadits mursal tidak boleh satu orang periwayat -pent....' atau 'Saya mendengar. "Ibnu Juraij seorang yang jujur.. 'Aku diberi kabar oleh. tanpa mau sedikit pun menjelaskan jenis tadlis (penyamaran) yang dia lakukan.'" Daraquthni berkata.. "Ayah saya berkata.'" Ja'far bin Abdul Wahid berkata dari Yahya bin Sa'id. 'berarti dia membaca.'. 'Telah berkata. dan Iain-Iain. karena dia tadlisnya jelek. Apalagi kalau guru Ibnu Juraij sendiri bukan seorang yang tsiqah. "Bila Ibnu Juraij berkata. dia malah banyak mengutip perkataan para imam yang menilai tsiqah Ibnu Juraij. Padahal di dalam kitab tersebut juga disebut-kan: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata. Bila dia berkata.' maka cukup kuat haditsnya untuk kamu (jadikan hujjah). dan bila dia berkata.tsiqah. yang akan beranggapan bahwa hadits mursal Ibnu Juraij bisa dijadikan hujjah! Ustadz Al-Maududi menyebutkan bahwa salah satu rujukan dia dalam menilai tsiqah Ibnu Juraij adalah kitab Mizan Al-I'tidal..'. bila hadits mu'an'an yang dia sampaikan bersambung. Suatu hal yang tidak banyak faedahnya di sini. Namun dia berlalu begitu saja. sebagaimana hal itu diakui juga oleh Ustadz Al-Maududi dalam bantahan dia. lalu bagaimana bila hadits yang dia sampaikan mursal atau bahkan mu'dhal seperti hadits di muka?! Teranglah... maka hadits-haditsnya adalah dianggap hadits mungkar. Jelas.. dalam keadaan seperti ini haditsnya tidak bisa dipakai karena kedha'fan dan kemursalannya.'—pent. sebagaimana terangnya matahari. Dan inilah kemungkinan yang kuat menurut saya tentang hadits mursal dari Ibnu Juraij ini.). sehingga syarat diatas. Al-Atsram berkata dari Ahmad. karena buruknya tadlis (penyamaran) dia. bahwa kesimpulan Ustadz Al-Maududi yang menganggap kuat hadits Qatadah yang mursal karena didukung oleh hadits Ibnu Juraij yang mu'dhal adalah tidak bisa diterima kebenarannya berdasarkan 54—Jilbab Wanita Muslimah . bahkan dia juga meriwayatkan hadits maudhu'.." Dari perkataan para imam hadits diatas.. Karena dia tidak meriwayatkan hadits mursal kecuali dari orang-orang yang dicela (oleh para ulama hadits). sedang bila dia berkata.. Ibnu Juraij tidak mempedulikan dari mana dia mengambil perkataan...... 'Saya mendapat kabar dari Fulan atau saya mendapatkan cerita dari Fulan.' maka perkataannya laksana angin lalu saja.

Namun sebenarnya pengertiannya satu. "Walaupun sebenarnya masalahnya tidak seperti itu. yaitu Qatadah. Orang yang mau memperhatikan secara cermat hadits-hadits tersebut tidak akan mengatakan bahwa hadits-hadits itu ada empat. Hadits tersebut hanya ada dua saja.' Tidak diragukan lagi bahwa kedua hadits di atas adalah terhitung satu hadits. Karena kita bisa memahami dengan mudah bahwa sebenamya yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah bahwa seorang wanita tidak dibolehkan membuka tubuhnya. 'Seorang wanita jika telah memasuki masa haidh tidak layak ketihatan badannya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan. Dia menjawab. kecuali wajah dan kedua tangannya menurut kebiasaan.kaidah-kaidah ilmu hadits dan perkataan para imam yang mengetahui seluk-beluk para periwayat hadits. maka dia dibolehkan membuka tangannya hingga separoh hastanya. yang artinya 'Sesungguhnya seorang wanita bila sampai masa haidhnya tidak baik kelihatan badannya kecuali ini dan ini. Bedanya. Bagaimana kalau adanya pertentangan diatas ikut kita jadikan pertimbangan?! Dalam bantahan saya terhadap Ustadz Al-Maududi saya telah tunjukkan kelemahan hadits-hadits yang dia tunjuk diatas. Keempat hadits tersebut masing-masing lafazhnya berbeda satu dengan yang lainnya sebagaimana nampak jelas dari zhahir lafazhnya. tetapi bila ada keperluan atau udzur. 'Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Marasilnya hlm 437 dan dia juga meriwayatkan hadits serupa itu dalam kitab Sunannya dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah. kecuali hadits Asma'. meskipun lafazhlafazh hadits tadi semuanya kita padukan menjadi satu. katanya. sebagian meriwayatkan dari dia dengan sanad mursal dalam satu lafazh dan sebagian yang lain meriwayatkan dari dia dengan sanad bersambung dalam lafazh lain. wajah dan kedua telapak tangan yang terdapat dalam riwayat Qatadah yang kedua dan riwayat Khalid bin Duraik. yang artinya. Belum pernah sekalipun saya Jilbab Wanita Muslimah— 55 . "Bermacam-macan sanad diatas bukanlah tidak mungkin untuk dipadukan. banyaknya sanad seperti itu tetap lemah. Dalil bahwa bedanya hanya perbedaan seperti itu saja adalah perkataan Rasulullah tidak halal untuk separoh hasta dalam hadits riwayat Qatadah yang pertama dan riwayat Ibnu Juraij. dengan sanad yang berbeda-beda disertai lafazh haditsnya masing-masing. Dia berkata." Kemudian dia melanjutkan. dan perkataan beliau 1idakbaik'm\uk pergelangan tangan. Hadits Qatadah yang mursal. Karena sumbernya berasal dari seorang periwayat. sebagai tambahan dari kelemahan sanad-sanadnya." Perkataan dia kami jawab sebagai berikut: Pertama. Jadi hanya merupakan perbedaan antara aurat berat dengan aurat ringan saja. Semua penjelasan di atas mengenyampingkan adanya pertentangan hadits dari Qatadah yang mursal itu dengan hadits dari Asma' binti Umaisy dan hadits dari Qatadah lainnya dengan sanad yang sama dari Aisyah. yaitu: 1. Beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangannya.

bukankah batasan yang dibuat oleh Ustadz Al-Maududi sendiri ketika membantah pendapat saya akan menghapuskan pengecualian yang memang ada dalam hadits? Kalau begitu. Perpaduan yang dilakukan oleh Ustadz Al-Maududi menurut saya tidak bisa diterima. yang satu mursal dan yang satunya mu'dhal.tahu ada seorang ahli hadits menganggap hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat. bahkan tidak bisa dipahami walaupun sudah diusahakan dengan susah payah. karena hadits yang kedua itu adalah lemah. maka apakah diperbolehkan bagi dia membukanya? Saya tidak raguragu lagi bahwa dia akan menjawab bahwa wanita tadi wajib membukanya. 0. Hadits Qatadah yang diriwayatkan secara mursal dan hadits Ibnu Juraij yang mu'dhal. cuma yang satu sanadnya mursal sedang satunya lagi sanadnya bersambung sebagai dua hadits yang lafazhnya berbeda. Kedua. tentunya akan kami pahami bahwa hadits tersebut membolehkan seorang wanita membuka wajahnya dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaannya. selain itu. karena mempunyai hadits pendukung yang sanadnya bersambung. jadi. maka perpaduan yang dilakukan oleh Ustadz Al-Maududi itu bisa diterima kalau kedua hadits itu kedua-duanya merupakan hadits yang bisa diterima sebagai hujjah. Sehingga. Dengan demikian. Kedua hadits ini sama-sama dengan lafazh "tidak halal" dan mengecualikan separoh hasta. tidak ada lagi dasar untuk memadukan kedua hadits tersebut. padahal di dalam bukunya Al-Hijab6\a berpendapat bahwa 56—Jilbab Wanita Muslimah . lebih khusus lagi di dalam kitab Syarhu An-Nuqbah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar. Sedangkan hadits pertama adalah hadits yang bisa kita jadikan hujjah. Dan pengertian hadits itulah yang kita amalkan sebagaimana penjelasaannya akan saya sampaikan dalam footnote nanti. bahwa Ustadz Al-Maududi yang membatasi hadits pertama dengan batasan "menurut kebiasaan". yaitu hadits Asma' sebagaimana akan tersebut pada hlm 59 nanti. Kalau telah jelas perbedaan antara hadits yang pertama dengan hadits kedua sebagaimana yang telah kami sebutkan itu. maka hadits yang kedua tadi mungkar lagi tertolak. lalu hadits tersebut pengertiannya bagaimana bila pengecualian yang ada di situ masih harus dibatasi lagi dengan batasan yang dia buat? Jika demikian halnya. Sebab. jelaslah sudah kebatilan perpaduan yang dia lakukan. Yang menarik adalah. tidak ada yang lainnya. dari mana Al-Maududi menetapkan batasan "menurut kebiasaan" pada hadits pertama dan batasan "ada keperluan atau udzur" pada hadits kedua. Dari penjelasan di muka telah kita ketahui bahwa hadits kedua adalah lemah. 2. Memang kalau keadaannya begitu tidak ada pilihan kecuali harus memadukannya sebagaimana hal itu terkenal di daiam ilmu musthalah hadits. Karena dia telah menyatakan seperti itu di dalam kitabnya Al-Hijab hlm 399. Bedanya. Di samping itu. seandainya seorang wanita berudzur untuk membuka tangannya atau bahkan pahanya misalnya. Hanya dua hadits itulah yang ditunjuk oleh zhahir lafazh-lafazh hadits tersebut. juga bertentangan dengan hadits pertama yang maqbul. Kedua hadits ini juga merupakan satu hadits yang diriwayatkan dengan dua sanad. Ketiga.

saya akan sebutkan tiga hadits saja. atau ada hadits lainnya yang juga tidak secara tegas mengatakan haramnya.. maka jelaslah kedua hadits tersebut bertentangan pengertiannya. "Sesungguhnya ayat. Pertama.wajah adalah aurat. Karena yang namanya kerusakan adalah kebalikan dari kebaikan. yaitu: "bila ada keperluan atau udzur". Jilbab Wanita Muslimah— 57 . Sebenarnya andaikata dia mau menjauhkan diri dari hadits tersebut. menurut yang saya pahami cuma mengatakan tidak baik. tidak ada perbedaan antara perkataan Nabi "tidak halal" dengan perkataan beliau "tidak baik". Sebab. sedang yang lain haditsnya mengatakan "tidak baik" adalah penetapan yang lemah sekali. Contoh-contoh seperti ini dalam hadits-hadits banyak kita temui. selama dia memberi batasan terhadap hadits tersebut "bila ada keperluan atau dalam keadaan darurat". Hal itu tidak lain adalah karena ketergantungannya kepada hadits yang telah saya jelaskan kelemahannya dalam tulisan bantahan saya terhadapnya. bukan tidak halal. '. setelah tahu kelemahannya tidak ada kerugian sedikit pun baginya. Andaikata penetapan dia di atas benar. Bahkan. dan pelakunya disebut perusak. Pernyataan ini bertentangan dengan batasan "menurut kebiasaan" yang dia buat terhadap hadits tersebut. "Ayat ini sebagai dalil bahwa "tidak baik" adalah artinya "tidak halal". Kelemahan penetapan dia diatas saya jelaskan demikian. Allah mencela suatu kaum dengan firman-Nya: "Orang-orang yang membuat kerusakan di muka bum/ ini. Kedua. dalam kitabnya Al-Hijabdan dalam tulisan bantahannya. berarti kedua hadits tersebut jelas akan bertentangan dalam menghukumi badan wanita yang dikecualikan. "Sesungguhnya Islam membolehkan seorang wanita membuka wajahnya ketika ada keperluan dan dalam keadaan darurat!" Pernyataan di atas merupakan ketetapan dari dia bahwa wajah wanita tidak boleh dibuka kecuali bila ada keperluan. Karena hadits pertama mengatakan haramnya badan wanita kecuali yang dikecualikan.dan hendaklah mereka (para wanita) mengulurkan jilbabnya' adalah turun secara khusus berkenaan dengan perintah menutup wajah!!! Kemudian dia berbicara secara panjang lebar menguatkan pendapatnya itu. Maka. yaitu yang pertama haditsnya mengatakan "tidak halal". kecuali bila ada keperluan atau dalam keadaan darurat. Kedua-duanya menunjukkan pengharaman. sedang hadits yang satunya. bertentangan dengan batasan dia terhadap hadits lainnya yang membolehkan wanita membuka tangannya hingga separoh hasta. Menurut saya. pada buku tersebut hlm 365-366 dia berkata. Saya tidak tahu bagaimana Ustadz AlMaududi punya pemikiran semacam itu. Padahal di dalam tulisan bantahannya dia merrfbedakan kedua anggota tubuh tersebut. Kemudian. Namun. dan selama dia berpandangan bahwa dengan batasan diatas seorang wanita diperbolehkan membuka bagian tubuh lebih dari itu. segala apa yang tidak baik berarti rusak. dia berpendapat bahwa wajah dan separoh hasta seorang wanita adalah aurat yang sedikit pun tidak boleh dibuka. Adapun penetapan Ustadz Al-Maududi yang membedakan hukum separoh hasta dan telapak tangan disebabkan dasar masing-masingnya berbeda. dia menyebutkan pada hlm 377.. mereka itu tidaklah berbuat kebaikan. Juga.

bukan dari kebenaran pendapatnya. Pendapat saya itu dikuatkan pula oleh perkataan Al-Qurthubi di dalam tafsirnya Xll:229: "Ibnu Athiyah berkata. jelaslah bagi saya bahwa seorang wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan apa pun yang merupakan perhiasan baginya dan 1. yang artinya: "Apakah masing-masing kamu beri sebagaimana yang kau berikan kepada dial Dia menjawab. Perkataan Rasulullah kepada Abu Burdah ketika dia bertanya.. Perkataan Rasulullah kepada Basyir.862. Karena orang lain bisa membantah dengan berkata. terdapat juga di kitab Al-lrwa' hadits no." tersebut yang benar adalah sebagaimana yang telah saya sebutkan di awal pembahasan ini. 'Dari lafadz ayat di atas. 2. Akan tetapi kesamaan saya dengan pembantah tadi adalah dari segi keakuratan dalam menerapkan dalil.' Beliau berkata. Jadi.390 dan kitab Shahih Abu Dawud hadits no." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim." Memang saya pun akan mengatakan sebagaimana dikatakan pembantah di atas. yang artinya: "Sembelihlah. setelah memberinya se orang budak. Meskipun sebenarnya saya sendiri berpendapat boleh bagi seorang wanita membuka wajah dan telapak tangan. 'Itu tidak baik. karena pendapat semacam itu tidak berdasarkan pada pengertian yang langsung ditangkap dari dzahirnya ayat itu. dan itu tidak akan pernah baik selain untukmu sendiri. baik di dalam maupun di luar shalat. Akan tetapi semata-mata diambil dari kesimpulan fikih. 1598. ayah Nu'man.kecuali yang biasa nampak. bahkan beberapa dalil yang mendasarinya sebagaimana yang akan disebutkan nanti. 3. 58 —Jilbab Wanita Muslimah . 'Tidak. terdapat juga di kitab Al-lrwa' hadits no. yang artinya: "Sesungguhnya shalat ini tidak baik ada perkataan manusia di dalamnya."'Hadits ini derajatnya muttafaqun 'alaih. Tidak boleh hal itu diqiaskan untuk membukanya ketika di luar shalat.. "Wahai Rasulullah.' Sesungguhnya saya tidak mau bersaksi adanya kezhaliman(mu). pengambilan pendapat semacam itu tidaklah kuat. saya mempunyai seekor anak kambing yang jinak. Karena menurut saya makna ayat "m.Menurut saya. bukan suatu hal yang pasti. Dan pendapat saya itu dikuatkan oleh penafsiran Ibnu Katsir.." Beliau menjawab. karena kedua kondisi tersebut jelas-jelas berbeda. "Bolehnya wanita membuka wajahnya ketika shalat itu adalah hal yang khusus di dalam shalat saja. Rasulullah bersabda. Saya berpendapat demikian itu karena ada satu dalil.'"Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Maka. Adapun 'pengecualian' pada ayat tersebut memang sudah semestinya diberikan kepada wanita untuk melakukan kegiatan." itu adalah ditujukan kepada para wanita mukallaf (sudah terkena beban syariat—Pen. Karena.). Semoga Allah merahmati mereka. sesungguhnya wanita itu bila telah mencapai masa haid tidak patut ada bagian tubuhnya yang kelihatan. manakah bagian tubuh wanita yang Jilbab Wanita Muslimah— 59 . kecuali ini dan ini. bahwa Asma' binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Padahal ayat tersebut menurut pemahaman saya adalah mengecualikan apa-apa yang biasa nampak tanpa disengaja. Allahlah yang member! taufik dan tidak ada Tuhan selain-Nya. "Wahai Asma'. Beliau berkata begitu sambil menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangannya.. meskipun terbukanya wajah dan telapak tangan itu didasarkan pada kebiasaan. Akan tetapi karena pada umumnya terbukanya wajah dan kedua telapak tangan ini adalah didasarkan pada kebiasaan dan ibadah — misalnya dalam shalat dan haji— maka selayaknya 'pengecualian' ini dikembalikan kepada dua hal itu saja. dan berkata. 'yang biasa nampak' pada ayat di atas adalah suatu tuntutan bagi seorang wanita dan yang dimaafkan untuk ditampakkan olehnya. Akhirnya. janganlah para wanita menampakkan bagian tubuhnya. Penjelasannya seperti berikut ini..kecuali yang biasa nampak. camkanlah! Namun saya pun terus memikirkan masalah ini. Akan tetapi mereka berselisih pendapat. akan tetapi hal itu dilakukan oleh para wanita dengan sengaja. kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Rasulullah pun berpaling darinya.agar bersungguh-sungguh menyembunyikannya. Ini adalah cara yang paling baik dalam menjaga dan mencegah kerusakan manusia.. dari Aisyah.." Komentar saya: Ulasan dia pun juga perlu kita cermati. Maka. Dalil yang menguatkan hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Jadi. "Saya katakan bahwa pendapat ini baik. Sesungguhnya para ulama salaf bersepakat bahwa ayat ". bagaimana mungkin ayat tersebut dijadikan sebagai dalil yang mencakup bagian tubuh yang nampak dengan sengaja? Coba. atau keperluan lainnya. pendapat para ulama salaflah yang benar karena ketajaman pikiran mereka."' Al-Qurthubi berkata. menurut saya.

maka kebolehan ini tidak bisa ditolak dengan alasan kesengajaan sebagaimana yang kami sebutkan di atas. sebagaimana telah saya sebutkan tadi. Bila syariat telah membolehkan wanita menampakkan sebagian dari perhiasannya. Sehingga kalau begitu. Kitab tersebut berjudul:: AnNazhar fi Hukmi An-Nazhar. Bukankah kita sepakat bahwa bila seorang wanita meninggikan jilbabnya sehingga di bagian bawah terlihat pakaian dan perhiasannya —sebagaimana dilakukan wanita-wanita Saudi Arabia— menurut kesepakatan ulama berarti dia telah melanggar ayat tersebut. Ibnu Abbas dan beberapa sahabat yang sependapat dengannya berpendapat. dan saya telah disempatkan oleh Allah menelaah kitab tersebut ketika mempersiapkan mukadimah dari cetakan kitab saya terbaru ini...boleh secara sengaja ditampakkan itu. "Wajah dan kedua telapak tangannya". akan tetapi karena tidak adanya izin dari Pembuat syariat. yaitu Allah. misalnya menampakkan jilbab secara keseluruhan. sebagaimana kita lihat dalam riwayat-riwayat mutawatir yang akan disebutkan nanti. Dengan ditemukannya pemahaman ini sepantasnya kita memberi pujian —setelah kepada Allah ta'ala— kepada Al-Hafizh Abu AlHasan bin Al-Qathan Al-Fasi yang telah menulis kitab yang sangat berharga dan tiada tara bandingannya. Jadi. Karena perbuatan tersebut memang diizinkan. "Yang dikecualikan dalam ayat tersebut adalah muka dan telapak tangan" dan praktek kebanyakan para wanita pada masa Nabi dan generasi sesudahnya. "Pakaiannya.. pengertian ayat tersebut ialah: ". Ibnu Mas'ud berpendapat. Perbuatan wanita ini sama dengan perbuatan wanita yang dalam pembahasan.. wajah atau yang lainnya.kecuali yang biasa nampak. Tidak bisa tidak mesti begitu kesimpulannya. apakah itu kedua telapak tangan. yaitu jiIbabnya". Di dalam kitab tersebut dengan wawasan ilmunya yang luas dan pandangan nya yang tajam dia membahas 60—Jilbab Wanita Muslimah . Begitulah hasil penafsiran dari para sahabat yang mengatakan. yaitu Allah."sesuai dengan izin dan aturan dari Pembuat Syariat. titik masalah pada ayat di atas adalah bukan karena unsur ketidaksengajaan wanita tersebut —karena ini merupakan hal yang tidak berdosa pelakunya ' tanpa ada ulama yang mempermasalahkannya—. yaitu sama-sama ada unsur kesengajaan.

Beliau. kata "perhiasan" yang disebutkan pertama sama dengan kata "perhiasan" yang disebutkan sesudahnya. dan mufassirin.. Karena hal itu berarti mencakup pakaian dalam yang bendanya sendiri merupakan perhiasan. Jadi. bukan kebiasaan wanita-wanita yang suka menampakkan bagian tubuh dan aurat mereka. yang ditandai dengan adanya alif lam yang melekat Jilbab Wanita Muslimah — 61 . sebagaimana yang dilakukan oleh wanita-wanita Saudi yang telah disebutkan di muka. tentu yang mereka maksudkan tidak lain adalah jilbab saja yang ditampakkan oleh wanita ketika keluar dari rumahnya. didalam kitab tersebut(Q. Karena itu.. Kedua. (dalam ayat tersebut. dan yang langsung mengalami peristiwa pada saat-saat diturunkannya syariat tersebut dan siapa saja sepeninggal mereka yang mengikuti tradisi tersebut. Begitulah yang biasa dikenal dalam bahasa Arab. padahal tidak ada seorang pun yang memutlakkannya seperti dia. tabi'in. yang telah menyampaikan syariat Nabi kepada kita. Di dalam bahasa Arab bila orang-orang menyebutkan isim ma'rifah.. Ibnu Mas'ud (pada tafsirannya) memutlakkan untuk semua jenis pakaian." Pada ayat tersebut. termasuk pembahasan kita ini. "Yang kami maksudkan dengan kebiasaan di sini adalah kebiasa. an orang-orang pada masa Al-Qur'an diturunkan. yaitu: Pertama. tidak boleh seseorang pun menentang penafsiran mereka itu dengan dasar penafsiran Ibnu Mas'ud yang tidak seorang pun dari kalangan sahabat mengikutinya. mereka itu menafsirkan ayat "kecuali yang biasa nampak" merujuk kepada kebiasaan yang terjadi pada masa diturunkannya ayat tersebut dan mereka pun menjadi kokoh hujahnya karena merujuk dengan tradisi tersebut." Komentar saya: Ibnu Abbas dan para Ulama yang sependapat dengannya dari kalangan sahabat. Kalau begitu. Penafsiran ini —meskipun mendapatkan sambutan yang antusias dari orang-orang yang keras dalam masalah ini— tidak sejalan dengan bunyi ayat sesudahnya. Hal itu dikarenakan dua hal.setiap permasalahan yang ada. kata zinah (perhiasan). "dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka .14/2) memberi support terhadap pemahaman yang telah saya sebutkan di atas dengan berkata.

Mengartikan kata "perhiasan" dengan pakaian tidak mempunyai makna apa-apa. Al-Hafizh Ibnu Al-Qaththan tidak memilih penafsiran Ibnu Mas'ud di dalam kitabnya yang telah saya sebutkan tadi. "Penafsiran Ibnu Mas'ud bahwa 'apa yang biasa nampak' adalah pakaian.pada kata tersebut -Pent. padahal dia membawakannya sebagai salah satu pendapat dalam menafsirkan ayat tersebut. maupun kalung boleh ditampakkannya kepada kaum pria jika tidak sedang dia pakai?! Karena itu kita memahami bahwa kata perhiasan di situ yang dimaksud adalah tempat-tempat perhiasan. maka Abu Bakar Al-Jashshash di dalam kitab Ahkam Al-Qur'an (111:316) berkata. maka isim yang mereka ulang tersebut maknanya sama. sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam kelanjutan ayat tadi: "dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka. Dia telah memilah mana hadits yang shahih dan mana yang 62 — Jilbab Wanita Muslimah . Barangkali." Yang dimaksud di sini juga adalah tempat-tempat dikenakannya perhiasan. kecuali kepada suami mereka. tidak memiliki makna apaapa. penjelasan. Karena pakaian yang dilihat oleh suaminya tanpa ada sedikit pun badan istrinya yang dilihat sama saja dengan melihat pakaian tersebut ketika tidak sedang dipakai istrinya. namun dia telah membahasnya secara teliti. apakah bapak-bapak dan semua orang yang disebutkan di ayat tersebut hanya diperbolehkan melihat pakaian dalam mereka?! (Tidak diperbolehkan melihat muka dan telapak tangan mereka?!!) Oleh karena itulah. karena itulah. karena sudah mafhum bahwa kata perhiasan di dalam ayat ini yang dimaksud adalah anggota tubuh wanita yang biasa dikenakannya perhiasan. Kemudian dia juga menyebutkan beberapa hadits yang sudah cukup dijadikan dalil bolehnya wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya kepada kaum pria yang bukan mahramnya.) kemudian mereka mengulang penyebutan-. nya. dan ulasan-ulasan yang belum pernah saya lihat bandingannya. yang di situ disebutkan pula pendapat para ulama dan para imam madzhab dengan rincian. Meskipun banyak hadits-hadits yang saya sebutkan di dalam kitab saya ini luput dia sebutkan. jika demikian halnya. gelang kaki. Bukankah kita sama-sama tahu bahwa semua perhiasan seperti gelang tangan.

yang dari situ bisa nampak betapa dia seorang pakar yang mumpuni dalam tafsir dan fikih. dia menyimpulkan dan mengemukakan pendapatnya dalam masalah ini sebagai berikut (Q. Beliau menyebutkan bahwa larangan tersebut mutlak dipandang dari empat aspek. serta pendapat-pendapat dari berbagai madzhab dan hadits-hadits yang ditunjuk tadi. Mereka ini terbatas pada suami dan orang-orang yang disebutkan sesudahnya. pendapat para sahabat dan tabi'in yang berselisih pendapat dengannya. Namun yang saya anggap penting di sini adalah aspek keempat. yang kepada merekalah perhiasan tersebut diperlihatkan. Akan tetapi.21/1): "Hadits-hadits yang berkait dengan masalah ini yang menunjukkan bahwa wanita boleh menampakkan wajah dan telapak tangan atau salah satunya itu bisa saja dipalingkan dengan cara menafsirkan dhahir lafazh atau kisah tersebut ke arah lain. maka yang ada dalam pengecualian ini boleh diperlihatkan kepada siapa saja. kita wajib memahaminya sesuai dengan apa yang ditunjuk dan didukung oleh dhahir lafazh tersebut. maka tindakan semacam itu dinamakan tahakkum (sewenangwenang). hal semacam itu tidak boleh dilakukan dengan tujuan untuk Jilbab Wanita Muslimah — 63 . juga dalam bidang hadits. Oleh karena itu. Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Mas'ud. (yang biasa kita kenal dengan istilah mentakwil —Pen. Kemudian dia menyebutkan ayat tersebut dan menafsirkannya dengan penafsiran yang sangat mengagumkan. Bila temyata tidak ada dalil yang mendukungnya. Akan tetapi kemutlakan ini dibatasi dengan dua pengecualian. dengan sudut pandang fikih tanpa memihak kepada salah satu kelompok pun.) Akan tetapi. 15/ 1). yaitu: Pertama. mana yang tepat dijadikan dalil dan mana yang tidak. Dia berkata (Q. berpaling dari pengertian dhahir lafazh atau kisah tersebut tidak boleh kecuali bila ada dalil yang mendukungnya. Kemutlakan perhiasan dibatasi dengan "apa yang biasa nampak". "Ayat ini juga bersifat mutlak jika dikaitkan kepada setiap orang yang melihatnya. Kedua.lemah. Dia jelaskan satu persatu aspek-aspek tadi dengan penjelasan yang bagus sekali. Kemutlakan orang-orang yang melihatnya. yaitu wanita boleh membuka wajah dan kedua telapak tangannya.

. Mereka mengatakan bahwa ketika ayat ini turun para wanita biasa menutup kepala mereka dengan kerudung yang mereka juraikan ke punggungnya sebagaimana dilakukan oleh wanita kebanyakan. itu tidak mengapa. "Pengertian yang kami pegangi sebagai tafsir dari ayat tersebut." Pengertian ayat ini: Janganlah mereka menampakkan per-hiasan yang sedang mereka pakai kepada orang lain. Para Ahli tafsir telah menyebutkan sebab turunnya ayat ini. kecuali yang (biasa) tampak. Dan kaum wanita Muhajirin dan Anshar sangat memperhatikan sekali perintah ini. mereka diperintahkan untuk menutupkan kerudungnya ke dada. seperti dada dan perut. sehingga anting-anting tadi tak terlihat sedikit pun. Yang boleh ditampakkan oleh wanita tadi adalah bagian-bagian tubuh yang secara adat memang biasa tampak ketika melakukan kegiatan atau pekerjaan. Kemudian dia berkata (Q. Kemudian Allah ta'ala memerintahkan mereka agar menutupkan kerudung mereka ke atas dada agar semua yang disebut tadi tertutup. maka hal ini tidak dibolehkan ditampakkan. Kemudian. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah: "Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya. Maka. kecuali wajah yang memang perlu terbuka ketika mereka bekerja." Dari situ bisa dipahami bahwa ketika wajah dalam keadaan terbuka boleh jadi anting-anting akan mereka biarkan terbuka. Terlihatnya bagian ini tidak bisa dimaafkan lagi. Dada bagian atas dan leher mereka kelihatan.21/2). Mereka pun menambahnya dengan mempertebal kerudung mereka.menghias diri lalu memamerkannya di muka umum.. Seorang wanita wajib menutupnya baik sedang bekerja maupun tidak bekerja.. sehingga bagian-bagian tubuh tadi tidak wajib untuk senantiasa ditutup. kebiasaan yang diakui oleh syariat) tertutup. kecuali yang biasa nampak ketika mereka sedang melakukan pekerjaan. yaitu bahwa bagian tubuh yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan dikuatkan oleh kelanjutan ayat tersebut: "Hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dadanya. Berbeda dengan bagian-bagian tubuh yang secara kebiasaan (maksudnya. bila tampaknya bagian-bagian tadi tidak dimaksudkan untuk memamerkan diri dan mengundang fitnah. —kecuali sengaja ingin ditutup meski terasa berat— dan kedua telapak tangan. Tindakan semacam itu jelas-jelas haram." 64—Jilbab Wanita Muslimah .

anak-anak perempuanmu. maka terbataslah sudah kemutlakan pengertian kata "mengulurkan" tersebut dan kita harus mengambil makna yang Jilbab Wanita Muslimah — 65 . lalu mereka gunakan sebagai kerudung." Dia berkata." (QS. katakanlah kepada istri-istrimu. Al-Ahzab: 59) Maka. 'Pendapat yang Anda pegangi ini." (QS. An-Nur:31) Kata "mengulurkan" (idna') yang diperintahkan pada ayat di atas adalah bersifat "mutlak" untuk semua bentuk tindakan mengulurkan. dan istri-istri orang mukmin.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Yaitu dengan pengertian: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya sehingga tidak kelihatan kalung dan anting-anting mereka." Kemudian Al-Hafizh Ibnu Al-Qathan rahimahullah berkata. jawabnya: Kata mengulurkan (idna') masih bisa ditafsirkan dengan penafsiran yang tidak bertentangan dengan pendapat yang kami pegangi. "Sanad hadits ini hasan. 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Kemudian dia menyebutkan hadits Aisyah yang akan kita sebutkan pada hlm 91. "Jika dikatakan. yaitu bahwa wanita boleh menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya -meskipun mereka diperintahkan sebisa mungkin untuk menutupnya— kelihatannya bertentangan dengan firman Allah ta'ala: "Wahai Nabi. tetapi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan lafazh: "Mereka merobek tirai mereka yang tidak berjahit (kata Ibnu Shalah: 'yang tebal'). sehingga mereka tidak diganggu. seperti pada firman Allah: "Hendaklah mereka menutupkan kerudung pada dada mereka. Bila kata tersebut kita bawa kepada salah satu pengertiannya yang lebih khusus. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Menurut saya: Sa'id bin Basyir seorang rawi dha'if. Ibnu Adi di dalam kitab Al. sebagai ganti dari Aisyah. bahwa Nabi m bersabda: "Sesungguhnya seorang wanita yang telah sampai masa 66 —Jilbctb Wanita Muslimah . Segala puji milik Allah. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Marasil-nya hadits no. Al-Baihaqi telah menilai kuat hadits tersebut. Hal ini bisa Anda lihat dengan jelas pada hlm 101. "Sekali dia mengatakan dari Ummu Salamah. barangkali bisa dikatakan bahwa hadits tersebut menjadi kuat karena diriwayatkan dari berbagai jalan.) digunakan pernyataan bentuk pewajiban. Hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud adalah dalil yang sangat jelas tentang bolehnya wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya." Abu Dawud mengatakan bahwa hadits ini mursal. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:182-183). Betul. Apalagi banyak wanita pada zaman Nabi yang membuka wajah dan kedua telapak tangannya di hadapan Nabi namun beliau tidak melarangnya.437 sebagaimana telah tersebut terdahulu dengan sanad shahih dari Qatadah. Sehingga patutlah hadits tersebut dijadikan dalil atas pembolehan tersebut. bukan bentuk pelarangan atau penafian. Di antaranya hadits-hadits sebagai berikut: 17. Ath-Thabarani di dalam kitab Musnad Asy-Syamiyyin (hlm 511-512). (yaitu yang terdapat perkataan "kecuali yang biasa tampak' -Pen. Tentang hal ini banyak hadits yang menerangkannya. Karena pada ayat yang kita bahas ini. Al-Baihaqi (ll:226 dan VII: 86). diantaranya: 1. karena Khalid bin Duraik tidak pernah bertemu dengan Aisyah. sebagaimana disebutkan di dalam kitab At-Taqrib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.Kam//(lll:1209) melalui jalur Sa'id bin Basyir dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah (Ibnu Adi menambahkan. bahwa ayat tersebut adalah bersifat mutlak. yang dengan nikmatNya sempurnalah kebaikan-kebaikan.17akan tetapi.khusus itu. Akan tetapi hadits di atas diriwayatkan juga lewat beberapa jalur lain sehingga menjadi kuat. Kalau pun di dalam hadits tersebut terdapat (kelemahan) sebagaimana saya sebutkan di dalam catatan kaki. sebagaimana akan datang penjelasannya." Para pembaca yang mulia bisa mengetahui bahwa pembahasan yang bermutu dari Al Hafizh Ibnu Qaththan —yang atas karunia Allah saya bisa memahaminya— ini benar-benar sejalan dengan ijtihad saya yang ditopang dengan sejumlah dalil.

" (Begitulah yang terdapat di dalam riwayat Al-Baihaqi. beliau bangkit dan keluar. kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan. yang derajatnya hasan. bahwa hadits Ibnu Lahi'ah bila ada hadits-hadits lain yang menguatkan periwayatannya. Selanjutnya beliau menutupkan kedua telapak tangan pada kedua pelipisnya hingga yang kelihatan hanya wajah beliau." Hadits ini mursalshahih karena dikuatkan oleh hadits sesudahnya. "Sanad hadits ini dha'if." Al-Baihaqi berkata. Beliau pun menjawab. Tatkala Rasulullah M melihatnya. 'Tidakkah kamu melihat dandanan Asma!' Karena sesungguhnya seorang wanita muslimah itu tidak boleh tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini. karena Rasulullah .' Lalu Asma' pun menyingkir. bahwa dia berkata. maka derajatnya tidak turun dari derajat hasan. Setelah membawakan hadits Aisyah dan setelah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sahabat lainnya dalam menafsirkan ayat:" kecuali yang biasa nampak. Kemudian Al-Haitsami berkata. Nama aslinya adalah Abdullah Al-Hadhrami Abu Abdurrahman Al-Mishri Al-Qadhi. Dia seorang periwayat yang berderajat tsiqah fadhil. Akan tetapi dia biasa menyampaikan hadits dari buku-buku catatannya.' Beliau memegang kedua telapak tangannya. dan kemudian Rasulullah masuk. Aisyah menanyakan kepada Rasulullah kenapa beliau bangkit dan keluar. Sehingga akhirnya dia menyampaikan hadits berdasar hafalannya. katanya. Aisyah berkata (kepada Asma'). melihat sesuatu yang beliau tidak suka. dan sebagian yang lainnya malah memandangnya shahih. lalu buku catatannya itu terbakar. "yaitu maksudnya adalah wajah dan kedua telapak Jilbab Wanita Muslimah— 67 . "Di dalam hadits ini ada Ibnu Lahi'ah. lalu beliau menutup dengan kedua lengan baju tadi hingga tidak kelihatan punggung telapak tangan beliau kecuali jari-jemarinya saja.haidhnya tidak baik kelihatan badannya. yang saya kira dari anaknya Umais. Dan hadits ini merupakan salah satu hadits pendukungnya. "Pernah Rasulullah m mengunjungi Aisyah binti Abu Bakar yang disampingnya ada Asma' binti Abu Bakar yang mengenakan pakaian model Syam yang iengannya lebar." Tidak diragukan lagi. 'Menyingkirlah kamu. dan tidak ada periwayat yang bernama Ibnu Duraik maupun Ibnu Basyir. 2. Yang benar adalah beliau memegang kedua lengan bajunya sebagaimana tersebut di dalam kitab-kitab sumber rujukan takhrij). Hadits yang ada Ibnu Lahi'ahnya ini disebutkan oleh Al-Haitsami di dalam kitab Majma'u Az-Zawa-idt: (137) dalam riwayat Ath-Thabarani dari kitabnya AlKabir dan Al-Ausath. tidak menentu. Hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab AI-Kabir (XX\V: 143/ 378) dan kitab Al-Ausath(II: 230/8959) dan Al-Baihaqi melalui jalur Ibnu Lahi'ah dari 'lyadh bin Abdullah. namun ternyata hafalannya kacau. Al-Baihaqi menguatkan hadits ini dari sisi lain. Sebagian ulama hadits mutaakhirin memandang hadits yang dia sampaikan hasan. dia mendengar Ibrahim bin Ubaid Rifa'ah AlAnshari mengabarkan dari ayahnya." Menurut saya: Cacatnya ada pada Ibnu Lahi'ah ini. sedang periwayat-periwayat lainnya berderajat shahih.

'Perhiasan yang biasa tampak adalah wajah dan kedua telapak tangan. 68—Jilbab Wanita Muslimah . katanya: Telah meriwayatkan kepada kami Ziyad bin Rabi'. lafazh ini adalah perkataan Ibnu Umar). Karena kalau tidak begitu. (yaitu boleh terbukanya wajah dan telapak tangan wanita). Yang menambah kekuatan hadits tersebut adalah terpraktekkannya hadifs tersebut sebagaimana tersebut di dalam hadits-hadits dan atsar-atsar berikutnya. katanya: tangan.danjanganlah mereka menampakkan perhiasannya kecualiyang biasa nampak' maksudnya adalah telapak tangan dan wajah. dan Ibnu Umar. Dari Jabir bin Abdullahl8. "Kami telah meriwayatkan perkataan serupa dari 'Atha bin Abu Rabbah dan Sa'id bin Jubair." Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab AI-Mushannaf(N:283) meriwayatkan. Mereka para sahabat ini berkata (tetapi." Selanjutnya Al-Baihaqi berkata. Sanad riwayat dari Isma'il ini shahih.. dan Ahmad (111:318). dari Shalih Ad-Dahhan. Hadits ini menunjukkan secara jelas apa-apa yang telah kami sampaikan. Al-Baihaqi (111:296-300). yaitu yang merupakan pendapat Auza'i.1460). Darimi (1:377). Ibnu Abbas. dari Jabir bin Zaid.I. Dengan demikian hadits ini menjadi kuat." Pendapat semacam ini disepakati oleh Adz-Dzahabi di dalam kitab Tahdzib Sunan AIBaihaqi(1:38/1). bagaimana si periwayat tadi bisa menyebutkan bahwa wanita tersebut kedua pipinya sudah ada perubahan dan tampak kehitam-hitaman. bahwa dia berkata.'" isma'il Al-Qadhi juga menyampaikan perkataan itu sebagaimana tersebut di dalam kitab An-Nazhar-nya Ibnu Qathan (20/1). dari Ibnu Abbas. dia berkata. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (111:19). Menurut saya: "Sahabat yang dimaksudkan oleh Al-Baihaqi adalah Aisyah.. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya (11:357. '. Kemudian Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan atsar ini bersambung kepada Ibnu Umar dengan sanad yang shahih juga. "Di samping hadits yang mursal ini ternyata ada pendapat dari kalangan sahabat yang menjelaskan tentang perhiasan wanita yang biasa tampak yang dibolehkan oleh Allah. An-Nasa-i (1:233). 18.

serta menjadikannya sebagai dalil untuk me-nasakh (mengnapus) hadits-hadits shahih yang secara tegas mengharamkan wanita memakainya. Jilbab Wanita Muslimah — 69 . dan juga hadits lainnya seperti hadits Ibnu Abbas yang akan kami sampaikan nanti pada nomor 6 menunjukkan bolehnya kaum wanita mengenakan gelang dan cincin dari emas. karena kebanyakan dan kalian adalah menjadi kayu bakar neraka jahanam. yaitu berupa anting-anting dan cincin. Beliau berkata.Pernah saya menghadiri shalat 'Id bersama Rasulullah . menasehati manusia dan mengingatkan mereka. ‫ َ َِ ُ ا َ ء‬artinya: ُ ِ ِ ‫ا ط‬ َ ‫( ِ َ ا َ ء‬orang yang rendah derajatnya). 'Bersedekahlah kalian. yang kedua pipinya sudah ada perubahan dan tampak kehitam-hitaman bertanya. Beliau melakukan shalat 'Id sebelum berkhutbah tanpa didahului adzan maupun iqamat. lalu beliau pun memberi nasehat dan mengingatkan mereka. Sebagian orang menyangka bahwa di dalam hadits ini.' Lalu 9 salah seorang wanita yang duduk di tengah-tengah mereka' . wahai Rasulullah?' Beliau menjawab. " 19. 'Mengapa. Kemudian beliau berjalan hingga sampai kepada para wanita. 'Mereka pun lalu bersedekah dengan perhiasan-perhiasan yang mereka lemparkan ke kainnya 20 Bilal. 'Karena kalian banyak mengeluh dan tidak mau mensyukuri keadaan suami kalian.'Jabir bin Abdullah berkata. Kemudian (setelah selesai shalat) beliau sambil berdiri bersandar kepada Bilal memerintahkan (hadirin) agar bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. ِ 20. Namun dalam riwayat lainnya disebutkan dengan lafazh ‫ َ َِ ُ ا َ ء‬Kata Ibnu Atsir. Ini yang tersebut di dalam riwayat Muslim.

Karena di dalam mukadimahnya terdapat bantahan tuntas terhadap sebagian orang yang suka memunculkan pertentangan dan memperturutkan hawa nafsunya.2. Nabi ^pun memberi fatwa kepada manusia. maka dalil yang melarang itulah yang dipegangi. maka penghapusan semacam itu tidak bisa diberlakukan. Ibnu Majah (11:214). Lalu. Saya telah membicarakan secara detail perhiasan emas yang boleh dan yang haram dipakai oleh kaum wanita. Taruhlah ada sebuah hadits atau beberapa hadits yang menegaskan bolehnya hal itu. An-Nasai (11:5). Untuk menetapkan terhapusnya hadits yang mengharamkan dengan hadits yang membolehkan juga harus ada keyakinan bahwa hadits-hadits yang membolehkan ini munculnya lebih akhir dari hadits yang mengharamkan. tidak ada pertentangan antara hadits di atas dengan hadits-hadils yang mengharamkan (wanita memakai gelang dan cincin dari emas). Silahkan baca kitab tersebut terutama yang diterbitkan oleh penerbit Al-Maktabah Al-lslamiyah.) Untuk menjawabnya. melainkan untuk menghapus hukum asal tersebut. Jadi hukum asalnya mubah. maka mestinya itu ditetapkan sebagai hukum asal. 2. serta menyebutkan pula bantahan terhadap pendapat-pendapat yang membolehkannya dalam kitab saya yang berjudul Adabu Az-Zifaf Fi As-Sunnah Al-Muthahharah. Di dalam hadits di atas tidak terdapat penjelasan bahwa perhiasan tersebut terbuat dari emas. IV:54 dan Xl:8). Dengan demikian. Muslim (IV:101). Sebab. Kemudian hukum yang asal ini berubah menjadi haram karena ada hadits-hadits lain yang mengharamkannya. Oleh karena itulah para ahli fikih mengatakan. "Bila terjadi pertentangan antara dalil yang membolehkan dengan dalil yang melarang. 21. Dari Ibnu Abbas (maksudnya. Abu Dawud (1:286). kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut: 1. dengan menyebutkan dalil-dalil yang mengharamkannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (111:295.). Malik (1:329). sedangkan AlFadhl bin Abbas membonceng Rasulullah (Fadhl ini adalah seorang anak yang cerdas. hadits-hadits semacam ini tidak dikeluarkan oleh Pembuat Syariat (Allah). hadits yang mengharamkan pada kenyataannya mengandung isyarat adanya penghapusan terhadap hal-hal yang dikandung oleh hadits-hadits yang membolehkan. Ibnu Hazm (111:318). Dan hal yang sebaliknyalah yang benar." Dalam keadaan semacam ini kita tidak dituntut menetapkan bahwa hadits yang mengharamkanlah yang datangnya lebih akhir dari hadits yang membolehkan. dan Al-Baihaqi. Fadhl bin Abbas)21 Sesungguhnya pernah ada wanita Khats'amiyah meminta fatwa kepada Nabi pada waktu Haji Wada' (di hari Nahar. yaitu hari penyembelihan hewan qurban -Pen. yaitu dari boleh (menjadi haram) terhadap hal-hal yang dijelaskan keharamannya oleh haditshadits tersebut. 70—Jilbab Wanita Muslimah . Tanpa adanya hal itu. Galibnya.

Kemudian dia berkata. kecuali "berkumpul" dengan istrinya. jika sudah aman dari fitnah.562 dan no. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad (hadits no. karena beliau khawatir terjadinya fitnah pada diri Al-Fadhl. Dan seandainya wajah wanita itu tertutup tentu Ibnu Abbas tidak akan tahu apakah wanita itu cantik atau jelek. dan tidak perlu beliau memalingkan wajah Al-Fadhl. Sebab. Tambahan redaksi yang ada pada kurung yang kedua dan ketiga terdapat dalam riwayat Al-Bukhari. Sedang tambahan yang ada pada kurung yang terakhir terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam satu riwayat yang lain. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm. Di dalam kitab Fathu AI-Bari (X\:8) disebutkan. Dengan • demikian. Karena kalau hal itu juga diharuskan kepada semua wanita niscaya beliau menyuruh wanita Khats'amiyah itu untuk menutup wajah. dan juga anaknya. IbnuMajah. maka halal baginya melakukan sesuatu. Konsekwensinya. maka hal itu tidak dilarang. Bulaq).613).' Jilbab Wanita Muslimah— 71 . permintaan fatwa itu terjadi setelah tahalluldari ihram.cet. dan Ahmad dalam satu riwayat. An-Nasai. dan dia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Di dalam hadits ini nampak adanya dorongan naluri kemanusiaan seseorang dan kelemahannya (menghindar) dari kecenderungan hati dan terkagum-kagumnya terhadap seorang wanita. Adapun hadits dari Ali bin Abi Thalib tentang kisah serupa ini diriwayatkan oleh AtTirmidzi (l:167-cet. Abdullah. dalam kitab Zawaid Al-Musnad (hadits no. Adh-Dhiya' di dalam kitab Al-Mukhtarah (1:214) dengan sanad yang jayyid. 1347). Al-Hafizh Ibnu Hajardidalam kitabnya FathuAI-Bari(\\/:f>7) menjadikan hadits tersebut sebagai dalil bahwa permintaan fatwa oleh wanita itu dilakukan pada hari nahar setelah usai dari melempar jumrah. "Di dalam hadits ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan karena dikhawatirkan terjadinya fitnah. bahwa seandainya wajah itu aurat yang harus ditutup niscaya Rasulullah s tidak akan membiarkan wanita itu membukanya di hadapan manusia dan tentu akan memerintahkan untuk menutupnya. AlBazzar di dalam kitab Musnad-nya (11:164.564 dan no. 'Di dalam hadits ini terdapat bukti bahwa wanita-wanita mukminah tidak diwajibkan memakai cadar seperti yang diharuskan kepada para istriistri Nabi . Hadits ini sebagaimana hadits sebelumnya menunjukkan bahwa wajah bukanlah aurat. "Ibnu Bathal berkata. Komentar saya: Artinya. 'Hal yang menguatkan adalah bahwa beliau baru memalingkan wajah Al-Fadhl setelah melihat dia terus menerus memandangi wanita itu lantaran takjub dengan kecantikannya. Sudah dimaklumi bahwa orang yang menunaikan haji bila sudah melempar jumrah aqabah. yang juga ada di dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah (IV:342).Tambahan lafazh hadits yang berada di dalam kurung pertama dan yang tidak berada di dalam kurung adalah lafazh yang ada di dalam riwayat Al-Bukhari. wanita khats'amiyah tadi tidak dalam keadaan ihram.351-352 .' Selanjutnya dia berkata. Beirut).

yakni setelah tahallul. Nampaknya.Dia menambahkan. wanita yang berihram sama dengan wanita yang tidak sedang ihram dalam hal bolehnya menutup wajah dengan melabuhkan kainnya ke wajah. pengambilan dalil dengan kisah wanita Khats'amiyah ini dapat dibantah. 121 -122. Seandainya wanita tidak diperbolehkan membuka wajahnya di hadapan laki-laki asing (yang bukan mahramnya) tentulah Rasulullah m memerintahkan wanita itu untuk melabuhkan kain penutup kepalanya untuk menutup wajahnya. sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ke-4 dan ke-5 yang akan disebutkan pada hlm. Sebab. Namun hal itu sekedar sunnah saja hukumnya sebagaimana juga disunnahkan kepada wanita-wanita lainnya. Karena kisah tersebut terjadi di akhir hayat Nabi M dan disaksikan sendiri oleh beliau sehingga menjadi satu hukum yang kuat kokoh. Yang tidak diperbolehkan bagi wanita yang berihram adalah memakai cadar. 'Hadits ini juga menjadi dalil bahwa menutup wajah bagi seorang wanita tidaklah wajib. lalu apanya wanita yang dilihat oleh Al-Fadhl terus menerus itu? Yang benar. Meskipun begitu. dimana hampir saja Al-Fadhl tergoda oleh kecantikannya itu. Meskipun Ibnu Hajar sendiri memberi komentar terhadap perkataan Ibnu Bathal ini dengan berkata. Rasulullah ^ tidak memerintahkan wanita itu (untuk menutup wajahnya). seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm di muka. Sebab. Hal itu sama sekali tetap tidak bisa menggugurkan dalil yang telah dikemukakan oleh Ibnu Bathal diatas. Muslimah . lantaran adanya ijma' bahwa seorang wanita haruslah menampakkan wajahnya ketika shalat meskipun terlihat oleh laki-laki asing (yang bukan mahramnya). "Menurut saya. meskipun dia cantik. Beliau hanya memalingkan wajah Al-Fadhl agar tidak keterusan memandang wanita tersebut. dia lupa terhadap perkataannya sendiri dalam mentahqiq hadits tersebut. hadits tersebut merupakan dalil yang paling jelas dan paling kuat bahwa wajah wanita bukan aurat. karena wanita itu saat sedang ihram. darimana orang yang menceritakan hadits tersebut atau orang yang melihatnya bisa tahu kalau dia wajahnya captik jelita? Seandainya benar apa yang dia katakan itu." Komentar saya: Tidak begitu. Tidak ada bukti bahwa wanita itu sedang dalam keadaan ihram. Sudah saya kemukakan di muka. Apalagi dia adalah seorang wanita yang cantik jelita. seandainya wajah wanita itu tidak terbuka. Taruhlah wanita tersebut sedang ihram. yang saya nukil dari perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri bahwa permintaan fatwa oleh wanita Khats'amiyah kepada Nabi M itu terjadi setelah dia melempar jumrah aqabah. 72—Jilbab Wanita. yang merupakan pendapat yang kuat dan baik. Kisah diatas juga menjelaskan pengertian ayat: "dan hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya" bahwa hal itu adalah tidak termasuk wajah. bahkan yang nampak jelas adalah sebaliknya. Ini juga merupakan dalil bahwa menutup wajah seperti itu juga tidak diwajibkan kepada seorang wanita. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut tidak secara tegas menyebutkan bahwa wanita itu membuka wajahnya adalah pendapat yang jauh dari kebenaran.'" Begitulah perkataan Ibnu Bathal. Barangsiapa mencoba memahami ayat tersebut tanpa menggunakan hadits Nabi m pasti akan keliru.

beliau memalingkan wajahku lagi dari (memandang) wajahnya. Nabi melihatku. Dia menyebutkan bahwa permintaan fatwa (oleh wanita itu) dilakukan pada hari Nahar (yaitu hari penyembelihan hewan qurban -Pen." Para periwayat hadits di atas orang-orang kepercayaan. Akan tetapi munqathi' (terputus). Kisah di atas diriwayatkan juga oleh Ali bin Abi Thalib. hingga beliau lakukan itu tiga kali. Dan di dalam hadits riwayat Ahmad (1/211) dari perkataan AlFadhl sendiri: "Lalu aku pun memandang wanita itu."Wahai Rasulullah. Maka.Di dalam hadits ini selanjutnya disebutkan: "Fadhl menoleh kepada seorang wanita yang cantik (dalam riwayat lain: seorang wanita yang bersih). Lalu. mengapa Engkau palingkan leher anak pamanmu?" Beliau menjawab. Aku kembali melihat wajah wanita tadi. beliau memalingkan wajahku dari (memandang) wajah wanita tersebut. Rasulullah pun memegang dagu Al-Fadhl. dan wanita itu pun memandang Al-Fadhl).) seusai Rasulullah melempar jumrah. "Saya melihat ada pemuda dan pemudi yang aku tidak bisa tenang kalau-kalau ada gangguan setan terhadap keduanya. lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. (dalam riwayat lain: 'Al-Fadhl melihat wanita itu. Lalu.) bertanya kepada Nabi. namun aku belum juga berhenti. Dia menambahkan: Kemudian Al-Abbas (barangkali maksudnya: Ibnu Abbas -pent." Jilbab Wanita Muslimah — 73 . Kecantikan wanita itu menarik hatinya. karena Hakam bin 'Utaibah tidak mendengar hadits tersebut dari Fadhl bin Abbas.

Bentuk kalimat semacam itu menunjukkan keseriusan beliau dalam melihat. katanya. meskipun pada akhimya mungkin tidak tertarik untuk menikahinya dan tidak jadi melamarnya. beliau tidak diharamkan melihat wanita mukminah asing (yang bukan mahram).334. Nabi m melihat dan menatap wajah wanita tersebut. "Bisa saja kisah ini terjadi sebelum turunnya ayat hijab atau sesudahnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IX: 107). Berbeda dengan orang-orang selain beliau j. 'Wahai Rasulullah. (bukan Ibnu Arabi -tanpa a/. walaupun ternyata beliau tidak tertarik dengan wanita itu dan tidak jadi melamarnya. Ahmad (V: 330. Kemudian beliau berkata. An-Nasai (II: 86). Sejauh yang kami ketahui. Sebab. Dari Sahl bin Sa'ad:22 "Pernah seorang wanita datang kepada Rasulullah (saat itu beliau sedang berada di masjid). Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Fathu Al-Bari (IX: 210) berkata. Namun ketika itu si wanita itu mengenakan penutup. Namun mungkin hal itu hanya merupakan kekhususan Nabi .3. tentu tidak ada gunanya lagi kesungguhan Nabi dalam melihatnya itu. 74 — Jilbab Wanita Muslimah .' sebagaimana ada dalam riwayat lain. "Hadits ini menunjukkan bolehnya melihat kecantikan seorang wanita ketika berkeinginan untuk menikahinya. Ar-Rauyani (II: 69/1). Muslim (IV: 143). Al-Humaidi (II: 414).seorang sufi yang meninggal di Damaskus tahun 638 H) mengomentari masalah ini berkata. Seandainya dalam memandang wanita tadi yang dimungkinkan pada wajahnya ada sesuatu yang menarik pada dirinya itu tidak dalam rangka penjajagan untuk menerima atau menolaknya." Namun dari kontek haditsnya nampak apa yang dia katakan jauh dari kebenaran.336). saja karena kema'suman beliau. Abu Ya'la (XIII: 514). Al-Baihaqi (VII: 84) di mana dia membuat bahasan khusus: "Bab Seorang Lakilaki Memandang Perempuan yang Hendak dinikahi". saya datang 22. Ibnu Al-Arabi. 'Saya tidak punya keinginan terhadap wanita itu.

Penjelasan semacam ini disebutkan oleh Asy-Syaukani (11:15) dari Al-Baji.449) 24." (Nabi diam." Yang kita jadikan dalil adalah perkataan: "tidak saling mengenal satu sama lain lantaran gelap".) Rasulullah memandang wanita tersebut di bagian atasnya (wajah) dan menatapnya. Kemudian saya juga mendapatkan riwayat yang jelas mengenai hal ini dengan lafazh: "Sedangkan sebagian dari kami tidak mengenal wajah-wajah sebagian yang lain. Sungguh. Dari Aisyah. Tatkala wanita tadi tahu bahwa beliau tidak menginginkan sesuatu pada dirinya. seandainya tidak gelap tentu mereka akan saling mengenal. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la di dalam kitab Wusnad-nya (11:214 q. dia berkata.) dengan sanad yang shahih dari Aisyah."24 23. Atau.untuk memberikan diriku kepadamu. sehingga jelaslah siapa-siapanya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan lainnya dari jalur-jalur periwayatan seperti yang lelah saya sebutkan di dalam kitab Shahih Abu Oawud (hadits no. Kemudian beliau menundukkan kepalanya. aku melihat wanita tersebut berdiri cukup lama. Sebab mafhumnya adalah. Biasanya mereka itu akan saling mengenal dari wajah-wajah mereka yang terbuka. 4. maka dia pun duduk. Jilbab Wanita Muslimah — 75 . Kemudian para wanita tadi pulang ke rumahnya seusai melakukan sbalat mereka tidak bisa dikenali lantaran gelap. 23 katanya: "Kami wanita-wanita mukminat biasa menghadiri sbalat Fajar (Subuh) bersama Nabi dengan mengenakan kain yang tak berjahit. 'sambil menunduk'.

25 "Sesungguhnya Abu Amr bin Hafsh.5. Dalam riwayat lain disebutkan: 25. Begitulah yang tersebut di dalam kitab-kitab lughah.5958. Penunjukan hadits ini Bahwa wajah bukan aurat cukup jelas.hadits: "Apakah kamu berdua juga buta?' adalah sanadnya lemah dan isinya mungkar. 76—Jilbab Wanita Muslimah . Karena dia sesungguhnya seorang yang buta. sedangkan dia memakai khimar yang menutup kepalanya. (yaitu suaminya) pernah mentalak tiga (dalam riwayat lain: Talak yang ketiga. Maka. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahih-nya (IV. sebagajmana telah saya tahqiq di dalam kitab Adh-Dha'ifah hadits no. di mana kamu dapat melepas pakaianmu (di tempat tinggalnya). Kalau begitu. Dari Fathimah binti Qais. Ini menunjukkan bahwa wajah seorang wanita tidak wajib ditutup sebagaimana wajibnya menutup kepala.) sedangkan suaminya itu tidak ada di tempat. Adapun. Lalu Fathimah binti Qais datang kepada Nabi untuk menceritakan kejadian yang dialaminya itu.'" .195-196 dan Vlll:203). Akan tetapi. Tetapi beliau berkata. karena Ibnu Ummi Maktum tidak bisa melihatnya manakala dia menanggalkan khimamya. beliau pun menyuruh dia pindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum yang buta agar lebih selamat (dari penglihatan laki-laki). Perkataan Nabi : "jika kamu letakkan khimarmu". 'Dia itu perempuan yang banyak dikunjungi oleh para sahabatku. Sebab. maksudnya: bila kamu menurunkannya. beliau si khawatir kalau-kalau khimamya itu jatuh sehingga akan tampak apa-apa yang' telah diharamkan oleh ayat. Nabi membiarkan anak perempuan Qais terlihat oleh kaum laki-laki. Kemudian Nabi menyuruh dia ber'iddah di rumah Ummu Syuraik. beriddahlah kamu di rumah Ibnu Ummi Maktum saja.

aku mendengar ada orang berseru. beliau ^duduk di atas mimbar. Berpindahlah saja ke rumah Ibnu Ummi Maktum (yang buta itu)! Apalagi.' Namun Nabi berkata. Karena Fathimah binti Qais menuturkan bahwa setelah habis masa iddahnyalah dia mendengar Nabi menyampaikan kisah Tamim AdDari yang datang dan masuk Islam. kemudian berbaiat dan masuk Islam. akan saya lakukan. dia itu berasal dari suku yang sama denganmu. Saya tidak suka kalau nanti kerudungmu lepas atau pakaianmu di bagian betis terbuka orang-orang akan melihat bagian tubuhmu yang tidak kamu inginkan terlihat. Aku (Fathimah binti Qais) menjawab. bahwa kisah ini terjadi di akhir hayat Nabi . jangan! Karena Ummu Syuraik adalah seorang wanita yang banyak tamunya. 'Ya. lalu shalat bersama Rasulullah . Akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena adanyaTamim Ad-Dari.'"Lalu aku pun berpindah ke sana. sesungguhnya saya mengumpulkan kalian bukan untuk menyampaikan kabar gembira atau ancaman kepada kalian. 'Eh."Bepindahlah ke rumah Ummu Syuraik! —Ummu Syuraik adalah seorang wanita kaya dari kalangan kaum Anshar yang banyak berinfak di jalan Allah dan banyak tamu-tamu yang mengunjunginya— . "Mari shalat berjamaah! Aku pun keluar menuju masjid. Tatkala iddahku telah habis. jika kamu menanggalkan kerudungmu dia tidak bisa melihatmu (karena buta). "Demi Allah. jangan. Dia menyampaikan sebuah kisah tentang Masih Ad-Dajjal persis seperti yang telah aku sampaikan kepada kalian. lalu bersabda. Seusai menunaikan shalat." Jilbab Wanita-Muslimah— 77 . (Kalau di sana. seorang Nasrani yang telah datang." Patut diketahui.

sekiranya saya bukan anak yang masih kecil tentu saya tidak ikut menghadirinya. hadits tersebut sebagai hujjah bahwa wajah bukan termasuk aurat. Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahih-nya (11:356/1458) Ibnu Hazm. 6. Sebab. Abu Dawud (1:174). dan melalui jalur yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Hazm (111:217). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jarud di dalam kitab Al-Muntaqa (hadits no. Tambahan pada teks hadits di atas adalah yang terdapat pada riwayat Ahmad. "Saat itu di sana tidak ada mimbar yang dinaiki oleh Nabi . dan juga tidak mengeluarkan mimbar yang ada di Madinah. Kalau begitu. benarlah bahwa tangan dan wajah seorang wanita bukanlah aurat. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Al-Hafizh di dalam kitab Fathu AI-Bari (ll:377) bahwa kehadiran Ibnu Abbas saat itu adalah setelah peristiwa Fathu Makkah. jilbab difardhukan pada tahun 3 H.263). (Lalu Nabi ^pun) berjalan sampai akhirnya beliau tiba di sebuah tiang di sisi rumah Katsirbin Ash-Shalt. Dengan demikian. dan ulama lainnya. 'Latu Nabiyullah turun. setelah berdalil dengan ayat: "menutupkan khimafbahm wajah itu bukan ' aurat mengatakan. Kami tidak mengatakan bahwa beliau Ss berkhutbah di atas mimbar. sedangkan ayat tentang baiat turun tahun 6 H. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (11:273). seperti disebutkan dalam hadits dari Jabir nomer 1 terdahulu. Beliau m biasa berkhutbah'di atas tanah. Al-Baihaqi (lll:307). Al-Hafizh Ibnu Hajar." 78—Jilbab Wanita Muslimah .Telah kita ketahui di dalam riwayat hidup Tamim bahwa dia masuk Islam pada tahun 9 hijriyah. Adapun yang selain itu wajiblah ditutup." Saya tambahkan. bahwa adanya baiat yang dilakukan oleh kaum wanita terhadap Nabi di dalam kisah ini menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah difardhukannya jilbab. "Pernahkah kamu menghadiri shalat 'Id bersama Rasulullah ?" Dia menjawab. "Ya. Saya katakan: Hadits ini menunjukkan bahwa beliau menyampaikan khutbahnya di tempat yang tinggi. Kemungkinan waktu itu beliau berada di atas unta tunggangannya. kemudian beliau berdiri dengan bersandarkan pada Bilal. An-Nasai (1:227). lalu beliau shalat di situ. Ahmad (1:331). sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim. Dari Ibnu Abbas:26 Ibnu Abbas pernah ditanya. Beliau menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat dengan berdiri di atas tanah. karena khutbah beliau di atas mimbar di hari raya tidak dikenal di kalangan para ulama. "Ibnu Abbas yang ketika itu sedang di hadapan Rasulullah melihat tangan-tangan kaum wanita itu.". Hal itu menunjukkan bahwa kisah tersebut turun setelah turunnya ayat jilbab. 27.. (Ibnu 27 Abbas berkata." Ibnu Al-Qayyim berkata di dalam kitab ZadAI-Ma'ad (1:445). aku 26. Kalau tidak salah..

kemudian hadits Ibnu Abbas ini.. wahai Nabiyullah!' Ibnu Abbas berkata. lalu hadits Jabir yang semisal dengan hadits Ibnu Abbas. mana sedekah kalian! Tebusan kalian bapak dan ibuku). Lalu beliau ^menghadap kepada mereka). Ada yang mengatakan."' Kemudian Ibnu Al-Qayyim membawakan hadits Jabir. Jilbab Wanita Muslimah— 79 . Wallahu a'lam. yang pertama kali membangunnya adalah Katsir bin As-Shalt pada masa pemerintahan Marwan di Madinah. kemudian berkata (1:447). apabila datang perempuan-perempuan untuk berbaiat kepadamu untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah. Setelah itu beliau bersabda. Kemudian beliau bersama Bilal pulang ke rumah. menasehati dan mengingatkan mereka. 'Ayo. aku melihat mereka mengulurkan tangan untuk melempar sesuatu (dalam riwayat lain disebutkan: "mereka melemparkan cincin-cincin mereka") ke kain Bilal. lalu berhenti dan memberikan khutbah kepada mereka. Kemudian bersama Bilal beliau mendatangi para wanita. Kemungkinan juga sudah dibangun sebuah mimbar untuk beliau dari batu bata atau tanah atau yang sejenisnya. 'Lalu beliau menasehati. mengingatkan dan menyuruh mereka bersedekah. Kemungkinan saat itu beliau berdiri di tempat shalat pada tanah yang tinggi atau tempat datar yang ditinggikan untuk tempat duduk. "Hadits ini menunjukkan bahwa beliau berkhutbah di atas mimbar atau di atas kendaraannya. Adapun mimbar yang dibuat dari batu bata atau tanah. Yang pertama kali mengeluarkan mimbar dari masjid adalah Marwan Al-Hakam. Juga. lalu mem-bacakan ayat: "Wahai Nabi. sebagaimana disebutkan di dalam kitab Ash-Shahihain. 'Kalian semua seperti itu!' Lalu salah seorang di antara mereka menyahut—di saat perempuanperempuan lainnya diam—.Melihat beliau dengan isyarat tangannya memerintahkan orang-orang untuk duduk.. (Ibnu Abbas berkata. Kemudian beliau turun menuju kerumunan kaum wanita. 'Betul. tidak diragukan lagi bahwa tidak ada mimbar yang dikeluarkan dari masjid. Lalu." Beliau membaca ayat tersebut hingga selesai. namun hal itu banyak ditentang. 'Kemudian Bilal membentangkan kainnya dan berkata. "Tidak diragukan lagi akan keshahihan kedua hadits ini..

29.. 80 —Jilbab Wanita Muslimah .. 'Kasihanilah dirimu! —atau mengucapkan katakata semisal dengan itu— Barangkali kamu menginginkan nikah? Sekarang sudah empat bulan sepuluh hari dari meninggalnya suamimu. Hadits ini mempunyai banyak hadits pendukung sebagaimana yang telah saya sebutkan di dalam kitab Ats-Tsamar AI-Mustathab fi Fiqhi As-Sunnah wa Al-Kitab. apalagi Abu Sanabil sudah me lamarnya. Suaminya meninggal pada waktu haji wada'."Di dalam hadits ini disebutkan bahwa Abu AsSanabil melamarnya. Kemudian setelah dia selesai dari nifasnya Abu As-Sanabill bin Ba'kak menemuinya dalam keadaan dia bercelak. meskipun Subai'ah menolaknya. ". 'Lalu aku pun datang kepada Nabi dan aku ceritakan apa-apa yang dikatakan oleh Abu As-Sanabil bin Ba'kak.. Dari Aisyah:29 Bahwa ada seorang wanita datang kepada Nabi untuk berbaiat kepada beliau dalam keadaan tidak berinai. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang masalah ini silahkan lihat kitab An-Nazhar Fi Ahkam An-Nazhar karya Ibnu Al-Qathan.'" 8. dan diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:190). dia bersolek karena hendak dilamar. sebagaimana dikenal di kalangan wanita sahabat.11:3918 . Dan beliau membaiatnya setelah dia selesai berinai." Hadits ini menunjukkan secara jelas bahwa kedua telapak tangan bukan merupakan aurat. Jika tidak demikian.menurut penomoran saya). 28." "Dia adalah istri Sa'ad bin Khaulah. Subai'ah melahirkan sebelum genap empat bulan sepuluh hari dari wafat suaminya. dan siap untuk menemuinya.' Kemudian Subai'ah melanjutkan ceritanya. Di dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan. namun Subai'ah enggan menikah dengannya. Al-Baihaqi (Vll:86). Dari Subai'ah Binti Al-Harits. tangannya berinai. dan dia adalah salah seorang yang pernah ikut dalam Perang Badar. 'Sesungguhnya kamu telah halal (dinikahi oleh laki-laki lain) setelah kamu melahirkan. Asal hadits ini ada pada kitab Ash-Shahihain dan lainnya. Demikian juga wajah dan paling tidak kedua mata. yang satu sanadnya shahih dan yang satunya hasan.".dia berhias karena hendak dinikahi. tentulah Subai'ah tidak diperbolehkan menampakkan hal itu di hadapan Abu As-Sanabil. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (Vl:432) dengan dua jalur yang sama-sama dari Subai'ah.7. Hadits ini hasan atau shahih. Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath (1:219. Sedangkan dalam riwayat An-Nasai disebutkan.. Nabi menjawab. Abu As-Sanabil berkata.

dan duduk tasyahhud! Hal ini juga berarti menggugurkan ijma' yang telah disebutkan oleh Ibnu Bathal yang telah disebut di muka.' Namun dia berkata lagi. maka mohonkanlah kepada Allah agar saya tidak lagi membuka-buka aurat seperti itu!' Lalu beliau pun berdoa untuknya.' Wanita tadi berkata. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X:94).9. seperti Hakim yang sekaligus menilainya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.' Ibnu Abbas berkata. aku akan memohon kepada Allah agar menyembuhkan penyakitmu." 10. Hadits ini juga saya sebutkan di dalam kitab saya Ats-Tsamar Al-Mustathab fi Fiqhi As-Sunnah wa AlKitab pada bab "Shalat". meskipun hanya kukunya. dan dalam kitab Ash-Shahihah (hadits no. Hadits ini diriwayatkan oleh Ash-hab As-Sunan dan lainnya. ketika penyakitku kambuh -pent. 31.) Mohonkanlah kepada Allah untuk kesembuhan penyakitku. 'Saya akan bersabar saja. Jilbab Wanita Muslimah — 81 . "Ibnu Abbas pernah berkata kepada saya. 'Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?' Aku menjawab. Dari Ibnu Abbas. 'Tentu." dan pendapat serupa yang dia nukil dari Imam Ahmad bahwa dia berkata. "Wanita yang sedang shalat sekalipun tetap tidak boleh kelihatan tubuhnya. Hadits ini juga dinilai shahih oleh Ahmad Syakir (IV:278) Saya katakan: Hadits ini secara gamblang menggugurkan pendapat Syaikh AtTuwaijiri (hlm. 'Ada seorang wanita berkulit hitam datang kepada Nabi lalu berkata.2472). sujud." Apakah ini mungkin.' Beliau menjawab. 'Sesungguhnya aku ini punya penyakit ayan dan saya suka membuka-buka auratku (tanpa sadar. 'Sesungguhnya saya ini suka membuka-buka aurat saya (seperti yang telah saya ceritakan tadi). 'Jika kamu mau. Muslim (VIII: 16) dan Ahmad (hadits no. "Seorang wanita yang berada di hadapan lakilaki asing (yang bukan mahram) harus menutup wajahnya dari pandangan mereka. 170) yang mengatakan. Dari Atha' bin Abu Rabbah: 30 Atha' bin Abu Rabbah berkata.324). bersabarlah sehingga kamu akan mendapatkan surga.31 dia berkata: 30. dan jika kamu mau. wahai hamba Allah?! Padahal dia harus mengangkat tangannya ketika takbir dan harus meletakkan tangannya ketika ruku'. sekalipun dalam shalat.

Shahihah (hadits no. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Ibnu Mas'ud.:12). dimana lafazh diatas adalah lafazh hadits menurut riwayat darinya. diaberkata. Allah ta'ala menurunkan firman-Nya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian dan Kami mengetahui pula orang-orang yang datang lebih akhir dari kalian.Dari Ibnu Mas'ud.') Sebagian dari jamaah shalat ada yang memilih maju ke shaf terdepan agar tidak bisa melihat wanita ter-sebut. tentu di belakang Nabi di shaf wanita pent) Dia seorang wanita yang sangat cantik dan secantikcantik wanita. 'Demi Allah.235). 82—Jilbab Wanita Muslimah . "Rasulullah mempesona beliau ketika itu sedang pernah melihat seorang wajiita yang . serta oleh Ahmad dari sahabat Abu Kabsyah Al-Anmari. Lalu beliau mendatangi Saudah yang 32 32. (dan dia renggangkan kedua tangannya). Hadits ini juga saya sebutkan di dalam kitab Ash. (Ibnu Abbas mengatakan." (QS."Pernah seorang wanita shalat di belakang Rasulullah (maksud-nya. Namun sebagian lainnya ada yang memperlambat datang untuk mendapatkan shaf yang terakhir sehingga ketika ruku' dia melihat (wanita tadi) melalui celah bawah ketiaknya. yang dinilai shahih oleh Ibnu Qathan di dalam kitabnya /4n-A/az/7ar(XVIII. Ibnu Hibban dan lainnya dari Jabir. Al-Hijr: 24) 11. Maka.q. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim. aku sama sekali belum pernah melihat seorang wanita secantik dia.

"Pemah Rasulullah mengunjungiku ketika aku sedang makan dengan tangan kiriku.' Atau beliau berkata. sedangkan di sampingnya ada beberapa orang wanita. karena aku adalah seorang wanita kidal. Kemudian Rasulullah memukul tanganku sehingga suapan yang hendak saya makan tadi terjatuh. Para periwayat hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad adalah orang-orang yang tsiqah. "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani. yaitu Ibnu Aqil Al-Madani.'" 33.380). Jilbab Wcmita Muslimah — 83 ." Saya katakan: Sanad hadits ini memang shahih.Dari Abdullah bin Muhammad. Karena sesungguhnya apa yang dimiliki oleh wanita tadi sama seperti apa yang dipunyai istrinya. menurut perkiraan saya. Lalu mereka meninggalkan Nabi dan Saudah berdua.membuat minyak wangi. AlHaitsami di dalam kitab Majma'Az-Zawa-id {\/:26) mengatakan. karena mereka adalah para periwayat hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim." 12. kecuali Abdullah bin Muhammad. karena Allah ta'ala telah membuatkan untukmu tangan kanan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad didalam kitab Musnad-nya (IV:69 dan V. Dia adalah termasuk periwayat yang berderajat Hasan Al-Hadits.33 dia berkata: "Seorang wanita berkata. Lalu Nabi bersabda. maka hendaklah dia segera pergi mendatangi istrinya. 'Janganlah kamu makan dengan tangan kirimu. 'Karena Allah ta'ala telah menjadikan tangan kanan untukmu. Dan Nabi pun memenuhi hajatnya. Setelah itu Nabi ^bersabda: "Laki-laki siapa pun bila melihat seorang wanita yang mempesonakan dirinya.

Oman).35Adapun kata juyub adalah bentuk jamak 34. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathu AI-Bari (M\\\:490). 35. "Khimar bagi wanita seperti imamah (sorban) bagi laki-laki. 34 dia berkata: "Anak perempuan Hubairah datang kepada Nabi . Kemudian beliau ^bersabda: Sukakah kamu jika Allah membuatkan cincin<incin dari api neraka yang dipasang di tanganmu?" Hadits-hadits di atas menjadi dalil diperbolehkannya wanita membuka wajah dan telapak tangannya. sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab saya Adab Az-Zifaf (hlm. kata khumur yang merupakan bentuk jamak dari kata khimar (kerudung) artinya adalah sesuatu yang ditutupkan pada kepala. meskipun ada orang-orang sombong dari kalangan jumhur dan pengikut hawa nafsu yang tidak mau menerimanya. cfalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. Begitulah yang disebutkan dalam kitab An-Nihayah karya Ibnu Al-Atsir.Dari Tsauban. dan ulama lainnya yang ahli dalam bahasa Arab dan sastra. Hadits-hadits tersebut juga menjelaskan bahwa seperti itulah yang dimaksud oleh firman Allah ta'ala: "kecuali yang biasa nampak. dan dalam kitab Fathu Al-Qadir karya Asy-Syaukani. 17-30 cet. Juga. yang di tangannya terdapat beberapa cincin besar dari emas. Nabi memukul tangan wanita tersebut dengan tongkat beliau ."dan menjelaskan pula bahwa ayat selanjutnya: "dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya pada dadanya" adalah menunjukkan pengertian seperti yang ditunjukkan oleh sebagian hadits-hadits terdahulu bahwa tidak wajib wanita menutup wajahnya. Hadits ini juga dinilai shahih oleh Ibnu Hazm. tidak dinafikan oleh Al-Qadhi Abu Ali At-Tanukhi di dalam syairnya ketika dia bersenandung: Katakan kepada wanita cantik yang memakai khimar bersulam emas Engkau telah merusak ibadah saudaraku yang shaleh Cahaya khimar dan cahaya pipi di wajahnya 84—Jilbab Wanita Muslimah ." Sejauh yang kami ketahui. Saya melihat Ibnu Al-Qathan di dalam kitab Al-Wahmu Wa Al-lham (1:278/ 2) juga cenderung menilai shahih hadits ini. juga memperkuat hadits Aisyah yang kita sebutkan terdahulu. Al-Hakim. dan Al-lraqi. hal ini tidak diperselisihkan oieh para ulama. Sebab. Al-Mundziri. Adz-Dzahabi.13. Saya katakan: Sanad hadits ini shahih.

" Batilnya Anggapan Bahwa Hadits-Hadits Tersebut Muncul Sebelum Diwajibkannya jilbab. Hal ini juga sebagaimana pakaian yang lain. "Apa yang Anda tuturkan memang jelas sekali. Saya katakan: Hal ini tidak menafikan arti khimar yanq telah saya sebutkan. Tidak ada pengertian lain selain itu. Di samping itu. Sama sekali tidak begitu. termasuk leher dan dada. jilbab. Namun. Mungkin ada orang berkata. selimut dan lainnya yang terkadang juga digunakan untuk menutup wajah. Namun.dari kata/a/fa. Sehingga. artinya adalah batas teratas dari baju besi atau baju biasa (krah baju —Pen. Bukankah kita melihat bahwa Nabi ketika membawa Shafiyah dan mendudukannya di belakang. seperti selendang.). Semua itu dengan asumsi bahwa gambaran yang disampaikan oleh penyair terhadap wanita cantik itu sebagai gambaran yang sebenamya. yang tidak mungkin bisa dijadikan sandaran. juga merupakan dalil bolehnya membuka wajah. Sungguh. "Allah memerintahkan mereka (kaum wanita) menutupkan kerudung pada dada mereka adalah dalil yang menunjukkan adanya keharusan menutup aurat. Dan Dia tidak memerintahkan mereka menutup wajah menunjukkan bahwa wajah bukan aurat. Jilbab Wanita Muslimah— 85 . "Lalu aku pun menutup wajahku dengan jilbabku." Apakah dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa selendang dan jilbab umumnya dipakai untuk menutup wajah?! Demikian juga gambaran yang disenandungkan oleh penyair AtTanukhi terhadap wanita cantik di atas tidak mungkin ditetapkan sebagai definisi khimar yanq berarti pakaian yang digunakan untuk menutup kepala dan sekaligus untuk menutup wajah! Paling mungkin hanya bisa dikatakan bahwa khimar tersebut terkadang digunakan untuk menutup wajah. hadits-hadits yang Anda sebutkan itu mengandung kemungkinan berlaku sebelum diwajibkannyaj ilbab. menakjubkan Bagaimana hati dia tidak berkobar wajahmu At-Tanukhi telah menggambarkan perempuan itu bahwa khimamya berada di wajahnya. Sebab. digunakannya khimar sesekali untuk menutup wajah itu bukan berarti fungsi asalnya demikian. Sedang Aisyah di dalam hadits qishah al-ifk iberkata. dugaan kuat saya penggambaran penyair tadi adalah penggambaran syair yang khayali (tidak sebenarnya). Allah memerintahkan (para wanita) melilitkan kerudung pada leherdan dada menunjukkan bahwa wajibnya menutup dua bagian tubuh tersebut. Oleh karena itulah Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla (111:216217) berkata. maka beliau pun meletakkan selendangnya pada punggung dan wajah beliau.

"Ya!" Kemudian Umar mengulurkan tangannya dari luar pintu dan mereka pun mengulurkan tangan mereka dari dalam.' Maka. Lalu. 86—Jilbab Wanita Muslimah . tidak berzina. Sebenarnya terang sekali bahwa hadits-hadits tersebut muncul setelah tururuiya ayat jilbab. Selain itu. Umar berkata. Untuk membuktikan hal ini saya tunjukkan dua hadits. tidak membunuh anak-anak kalian. yaitu: 1. ‘'Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya!'" (Hadits ini muttafaqun 'alaih) . serta tidak menyalahi perkara-perkara yang ma'ruf?" Mereka menjawab. Di dalam hadits dlatas terdapat dalil bahwa kaum wanita itu keluar untuk melakukan shalat 'Id dengan mengenakan jilbab-jilbab mereka. Hadits Ummu Athiyyah. Hal itu masih diperkuat juga oleh hadits berikut ini. yajtu: 2. Kemudian beliau mengutus Umar bin Khaththab kepada mereka. Kemudian Umar berkata. Nabi mengatakan. Kemudian Umar berkata. Mereka menjawab. Tambahan lagi." Lalu. beliau mengumpulkan para wanita kaum Anshar di sebuah rumah. "Maukah kalian berbai'at untuk tidak menyekutukan Allah. Bahwa tatkala Rasulullah ^ tiba di kota Madinah.hadits-hadits tersebut tidak boleh dijadikan hujjah kecuali setelah diperoleh kepastian bahwa hadits-hadits tersebut muncul setelah ayat jilbab. salam kepada mereka. "Selamat datang kepada Rasulullah dan utusannya. lalu memberi . "Salah seorang di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab. Hadits Ummu Athiyyah juga. "Wahai Allah. "Saya adalah utusan Rasulullah untuk kalian. Bahwa ketika Nabi memerintahkan para wanita menghadiri shalat 'Id. untuk keluar menghadiri dua shalat 'Id. saksikanlah!" Dan dia memerintahkan kami. tidak mencuri." Perkataan di atas saya tanggapi dari dua segi: Pertama. baik yang remaja-remaja maupun yang sedang haid. dan mereka pun membalas salam Umar. pergilah Umar hingga sampailah dia di depan pintu rumah tersebut. wanita yang kehitam-hitaman pipinya (sebagaimana tersebut di dalam hadits terdahulu) adalah mengenakan jilbab. Ummu Athiyvah berkata.

dari Ummu Athiyyah. * Hadits di atas bisa dijadikan bukti karena ayat tentang adanya bai'at kaum wanita. jika datang kepadamu wanita-wanita mukminah untuk berbai'at kepadamu bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatupun dengan Allah. "dan mereka tidak mendurhakaimu dalam hal yang ma'ruf. namun dia tidak menyebutkan celaan maupun pujian terhadapnya.4Maqwbdisebutkan bahwa dia rawi yang berderajat maqbul. Sedangkan di dalam kitabnya (yaitu.. Dengan keadaan seperti itu berarti dia terdukung haditsnya. turun pada peristiwa Fathu Makkah. Shahih Al-Bukhari) Al.. sebagaimana dikatakan oleh Muqatil (lihat kitab Ad-Dur. Sedang Ibnu Hibban menilai dia periwayat yang tsiqah (IV: 18). yaitu surat Al-Mumtahanah ayat 12: "Wahai Nabi..Bukhari meriwayatkan dari Miswar bahwa ayat imtihan tersebut turun pada hari Perjanjian Hudaibiyah. VL209) dan turun setelah ayat imtihan37. Adh-Dhiya' Al-Maqdisi di dalam kitab Al-Mukhtarah (1:104-105/1) melalui jalur Ismail bin Abdurrahman bin Athiyyah dari kekeknya. apalagi Adz-Dzahabi menilai hasan sanad hadits tersebut di dalam kitab Mukhtashar Al-Baihaqi(\\: 133).dia juga melarang kami ikut mengiring jenazah dan menerangkan bahwa tidak ada kewajiban bagi kami untuk menunaikan shalat jum'at. Di dalam kitab .342) melalui jalur periwayatan yang tidak mungkin ditolak. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Tahkh-nya (1:1/361).". Jilbab Wanita Muslimah — 87 ." Saya katakan: Ismail ini disebut-sebut oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya Al-Jarfi l/l/a/4r-7atf//(l:1/185). Maksudnya ialah ayat: 'Wahai orang-orang beriman. kecuali oleh orang-orang yang keras kepala. maka beliau 16 menjawab. "Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya masing-masing. "Yang dimaksudkan ialah niyahah (me-ratapi orang mati).dia tidak mengulurkan tangannya. 37. Perjanjian 36. Adapun hadits dengan tambahan ". sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Jabir (lihat kitab Ad-Dur. Ahmad di dalam kitab Musnad-nya (VI:408-409). bila datang kepada kalian wanita-wanita mukminah untuk melakukan hijrah... Adh-Dhiya' berkata." terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari (hadits no.. Saya juga bertanya tentang buhtan (kebohongan) dan tentang ayat." —Pent. maka ujilah (keimanan) mereka.Baihaqi (111:184).4892) dan di dalam kitab >l/-Kab/rkarangan AthThabarani (XXIV:182 dan 46. Al. Vl:211).

yang ternyata kisah tersebut terjadi pada waktu Nabi berhaji (yaitu haji Wada'). Oleh karena itu teranglah bahwa perintah Nabi kepada kaum wanita untuk keluar menuju tempat shalat Id itu terjadi setelah diwajibkannya jilbab. yang secara pasti terjadi setelah diwajibkannya jilbab. Tibanya beliau di kota Madinah itu bukan dari Mekkah dalam rangka hijrah (ke Madinah). taqrir Nabi terhadap wanita yang membuka wajahnya di hadapan lakilaki adalah menjadi dalil akan kebolehannya. akan tetapi dia hanya membai'at mereka dari luar pintu. Kedua. Kami beranggapan. Akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa menurut para ulama. sebagaimana tersebut pada riwayat hidup beliau ^di dalam kitab Al-/shabah. Namun hal itu tidak mungkin akan dia dapatkan. malah ada dalil lain yang mendukung hal itu. Dalam kisah ini Umar menyampaikan perintah Nabi kepada kaum wanita itu untuk keluar menuju tempat shalat Id. "tatkala Rasulullah tiba di kota Madinah" maksudnya adalah: dari Hudaibiyah. bahwa di sini tidak ada dalil yang menghapus ketetapan tersebut. kita tahu adanya hadits Khats'amiyah. sebagaimana sudah kita pahami bersama. Adapun ayat hijab itu turun pada tahun 3 H. Disamping itu. yang secara sekilas memang bisa dipahami begitu. Sebaliknya.Hudaibiyah terjadi pada tahun 6 H. -menurut riwayat yang shahihsebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Qayyim di dalam kitabnya Zad Al-Ma'ad. sebagaimana yang akan Anda lihat nanti. Hal ini dikuatkan juga oleh kisah dalam hadits Umar bahwa dia tidak masuk ke rumah tempat berkumpulnya kaum wanita itu. sebagaimana disebutkan di atas. -ada yang mengatakan pada tahun 5 H-tatkala Rasulullah mulai membangun rumah tangga dengan Zainab binti Jahsy. Jika demikian halnya. 88 —Jilbab Wanita Muslimah . maka kita kembali ke hukum semula sampai adanya dalil yang menghapusnya. maka haus menunjukkan dalil yang menghapus ketetapan tersebut. yang tentunya setelah turunnya ayat imtihan dan ayat bai'at-nya kaum wanita. Barangsiapa mempunyai anggapan yang berbeda dengan kami. Peristiwa itu terjadi pada tahun 6 H sepulangnya Nabi dari Hudaibiyah. Taruhlah riwayat yang saya sebutkan di atas itu lemah. Dari sini dapat dipahami bahwa perkata-an Ummu Athiyyah pada awal hadits kedua.

Contoh yang semisal dengan ayat di atas adalah sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi : "Hindarilah duduk-duduk di jalanan. " Juga sabda Nabi Igkepada Ali. pemyataan mereka bahwa hadits-hadits yang saya bawakan itu kemungkinan adanya sebelum diwajibkannya jilbab adalah jelasjelas tidak benar. yaitu: "Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka . AnNur: 30-31) Ayat di atas menunjukkan bahwa pada diri wanita ada bagian tertentu yang terbuka yang memungkinkan untuk dilihat." (QS. Bagian tertentu tadi tidak lain adalah wajah dan telapak tangan. Sesungguh38. Abu Dawud (11:291).Namun jika kamu tetap ingin duduk di situ. serta beramar ma'rufnahi mungkar. tidak mengganggu. Hal itu juga didukung oleh firman Allah ta'ala pada permulaan ayat tersebut. "Wahai Ali. Sedangkan pada riwayat Muslim dan Ahmad (IV: 30) dari Abu Thalhah Al-Anshari. Allah ta'ala menyuruh (laki-laki) untuk menundukkan pandangan agar tidak melihatnya.. berikanlah kepada jalan itu haknya! Para sahabat bertanya. .. 'Menundukkan pandangan. 'Apa haknya jalan itu. Al-Baihaqi (Vll:89). Muslim (Vll:3).. wahai Rasulullah?' Beliau menjawab. menjawab m salam. Jilbab Wanita Muslimah — 89 . Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Xl:9). Ahmad (lll:36) dari Abu Sa'id Al-Khudri...Sehingga. dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. janganlah engkau ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan berikutnya. Oleh karena itulah.

Akan tetapi dia terdukung (oleh periwayat lain yang meriwayatkan hadits yang sama)... yaitu bahwa kaum wanita (mukminah) pada waktu itu.357) melalui jalur Syuraik bin Abu Rabi'ah. 90 -Jilbab Wanita Muslimah . dan AlHakim (111:194) sekaligus dia menilanya shahih karena sanadnya sesuai dengan syarat Muslim. lalu dia menyebutkan hadits diatas. Kemudian Allah ta'ala menyuruh mereka agar menutupkan kerudungnya tadi ke dada. begitu juga Al-Hakim (ll:396) dan Ahmad (IV: 358. dari AN bin Abu Thalib. "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan sekilas. Ath-Thahawi di dalam kitab Syarhu Al-Atsar (l\:B-9) dan di dalam kitab Al-Musykil (ll:352). katanya.". kecuali melalui jalur Syuraik ini. Dia buruk hafalannya. demikian juga Al-Hakim (111:123) dan Ahmad (hadits no. Akan tetapi hadits tersebut derajatnya hasan disebabkan melalui dua jalur periwayatan ini dan juga dikuatkan oleh hadits sesudahnya. "Hadits ini sanadnya shahih" dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Beliau memerintahkanku 40 untuk memalingkan pandanganku. sehingga leher dan kedua telinganya tidak tertutup. 40. Saya katakan: Di dalam hadits tersebut ada periwayat yang mudallis (suka menyamarkan periwayat) yang bernama Ibnu Ishaq dan dia meriwayatkan hadits tersebut dengan perkataan.” Dari Jarir bin Abdullah.nya hak kamu adalah pandangan pertama itu saja. Al-Hakim berkata. 1373) melalui jalur Hammad bin Salamah. " Begitulah pembahasan masalah ini. Al-Baihaqi (VII:89-90). lalu dari bapaknya inilah bersambung kepada Nabi . "dari. dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi. Al-Qurthubi di dalam kitabnya (Xll:231) dan ulama lainnya menjelaskan sebab turunnya ayat: "dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dada mereka". Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:335). dari Ibnu Buraidah.361). Abu Dawud (1:335). AthThahawi meriwayatkan hadits ini di dalam kedua kitabnya. 39. 1369 dan no. jika mereka menutup kepala dengan kerudungnya mereka juraikan ke belakang punggungnya sebagaimana umumnya para wanita pada waktu itu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (VH:90) dan Ahmad (V:353. katanya. "Hadits ini hasan gharib yang tidak pernah kami ketahui. juga disepakati oleh Adz-Dzahabi. dari Salamah bin Abu Thufail. Pandangan kedua 39 dan seterusnya sudah bukan hakmu. Ath-Thahawi di dalam dua kitabnya sebagaimana tersebut di muka. Ad-Darimi (ll:278). At-Tirmidzi (IV:14). "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq. At-Tirmidzi (IV:14). dari bapaknya. bahwa Nabi pernah berkata kepadanya. At-Tirmidzi berkata.'' Saya katakan: Dia adalah Ibnu Abdillah Al-Qadhi. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (Vl:182).

lalu menjadikannya sebagai kerudung. saudara-saudara perempuan. AlHakim (IV: 194) meng-istadrak riwayat yang kedua kepada Al-Bukhari dan Muslim. 'Sesungguhnya kaum wanita suku Quraisy itu memiliki satu keutamaan. tatkala turun sural An-Nur: "dan hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka ke tubuh mereka. putri-putri mereka. Kemudian tak seorang wanita pun dari mereka melainkan bangkit Jilbab Wanita Muslimah — 91 . (Istadrak ialah meriwayatkan sebuah hadits yang sudah diriwayatkan oleh periwayat lain dengan menyertakan tambahan-Pent. serta kerabat perempuan dekat mereka. katanya: « "Tatkala kami berada disamping Aisyah . Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Buktjari (11:182 dan Vlll:397).Dari Aisyah. kemudian menjadikannya sebagai kerudung. "para laki-laki mereka langsung pulang ke rumah. dia menyebut-nyebut tentang keutamaan wanita-wanita Anshar. lalu membacakan ayat yang telah diturunten oleh Allah itu kepada istri-istri mereka. Dia berkata."M 41. (dalam riwayat lain disebutkam''mereka mengambil kain sarung mereka. lalu merobeknya hingga mempunyai dua tepi. "Semoga Allah memberi rahmat kepada para wanita muhajirin dulu. Demi Allah. katanya. saya tidak melihat orang yang lebih utama dari wanita-wanita Anshar dan yang lebih kuat pembenaran dan keimanannya terhadap kitab Allah.) Hadits ini juga diriwayatkan oieh Ibnu Abu Hatim dengan sanad tersendiri dengan lafazh yang lebih lengkap dari Shafiyyah binti Syaibah. yang ketika Allah menurunkan ayat: 'dan hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dadanya' mereka menyobek kain mereka yang tidak berjahit. Abu Dawud. Sungguh. namun diragukan peng/sfadra/rkan dia kepada Al-Bukhari.

Setelah datang waktu pertengahan siang. Namun. Hadits di atas menjadi nas bahwa mereka itu berdiri di belakang Nabi dengan membuka wajah-wajah mereka. 'Mereka adalah suatu kaum yang sedang mengerumuni sesembahan mereka. Karena kata ‫ ا‬yang digunakan pada riwayat tersebut sama dengan . artinya mengenakan khimar. '(Dia) adalah Zainab. mereka menolak seruan beliau bahkan menyakitinya. Pada dirinya ada kelemahan. janganlah khawatirkan ayahmu sedikit pun. Namun di dalam sanad hadits ini terdapat periwayat yang bernama Az-Zanji bin Khalid yang nama sebenarnya adalah Muslim. sebagaimana disebutkan di dalam kitab Takhrij A/-Kasysyaf karangan Az-Zaila'i (hlm. demikian pula Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Fathu /4/-Bari' (VIII:490).'" 92 —Jilbab Wanita Muslimah . 'Hadits ini shahih. Kemudian muncullah seorang wanita yang kelihatan lehernya mendekati beliau (sambil menangis). 42. lalu digunakannya untuk menutup kepala dalam rangka membenarkan dan mengimani ayat yang telah diturunkan oleh Allah itu. sebagaimana dikatakan di dalam kitab Ash-Shahak "M'ya^adalah kain yang digunakan oleh wanita untuk menutup kepala. mereka pun bubar. (dalam riwayat lain disebutkan: ('maka kami pun mendekat. 'Siapa wanita itu?' Mereka menjawab.manuskrip). 'Maka kami pun turun. 'Wahai puteriku. lalu minum dan berwudhu. "Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab At-Tarikh-nya dengan diringkas dan oleh Abu Zur'ah.'"42 bergegas mengambil kainnya yang biasa dikenakan. Kemudian.' Dia berkata."' Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat ini. 'Sedang apa sekumpulan orang itu?' Ayahku menjawab. Tambahan yang ada di dalam tanda kurung adalah yang terdapat pada riwayat Ibnu Asakir. diperkuat oleh riwayat yang ada pada kitab Tafsir lbnu Mardawaih. Akan tetapi. Abu Zur'ah berkata. tutuplah lehermu dengan kerudung. Tambahan kata menunaikan shalat Subuh pada riwayat di atas adalah dari dia. puterinya. Dan dia berkata. Aku bertanya. Kemudian beliau ^mengangkat kepalanya (menatap wajah wanita tadi) dan berkata. Biasa dikatakan: ‫( ا ْ َ ْ َ َ ْ ا ْ َ ْأة‬wanita itu َُ ‫ت‬ ِ mengenakan mi'jar). katanya. Wanita tadi membawa panci (yang berisi air) dan sapu tangan. pada pagi harinya tatkala (menunaikan shalat Subuh) di belakang Rasulullah mereka mengenakan tutup-tutup kepala seakan di atas kepala-kepala mereka terdapat burung gagak. Beliau pun menerima panci yang berisi air tadi.Dari Al-Harits bin Al-Harits Al-Ghamidi. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Mu'jam Al-Kabir(\ 245/ 2) dan Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Damsyiq (IV 46-1/243-1). "(Aku pernah bertanya kepada ayahku) ketika kami masih di Mina. 435 .) Temyatadi situ Rasulullah sedang menyeru rnanusia untuk mengesakan Allah dan agar beriman kepada-Nya.

'Turunkanlah sejengka/. (yaitu gelang kaki) sehingga tidak perlu menghentak-hentakkan kaki mereka." Hal itu juga dikuatkan oleh hadits Ibnu Umar. Nabi pun berkata lagi. 'Kalau begitu. "Rasulullah Slbersabda: "Barangsiapa (berjalan melabuhkan kain) dan menyeretnya dengan lagak menyombongkan diri. Dan mereka tidak bisa begitu karena terbukanya kaki tadi bertentangan dengan syariat. Seandainya tidak. hendaklah mereka menurunkannya satu hasta. firman Allah ta'ala: "Janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki mereka agar diketahui adanya perhiasan yang mereka sembunyikan. Ummu Salamah berkata lagi. (QS. "Ayat ini menjadi dalil bahwa kedua kaki dan kedua betis wanita adalah anggota tubuh yang harus disembunyikan dan tidak halal untuk ditampakkan. Oleh karena itu. punggung telapak kaki mereka akan terbuka. Jilbab Wanita Muslimah— 93 . mereka mencari akal untuk 'menampakkan' perhiasan yang mereka sembunyikan kepada lakilaki dengan menghentak-hentalckan kaki mereka. maka Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat. yaitu dari tengah-tengah kedua betis!' Ada yang menyebutkan: dari kedua mata kaki. Sejalan dengan penjelasan saya di atas. katanya. Maka. 'Lalu apa yang harus dilakukan kaum wanita terhadap ujung bawah pakaiannya?' Beliau 43 menjawab. Allah pun melarang perbuatan mereka itu." Ummu Salamah bertanya. 'Kalau begitu. An-Nur: 31) menunjukkan bahwa kaum wanita diwajibkan juga menutup kaki-kaki mereka. dan jangan lebih dari itu. tentu diantara mereka masih bisa menampakkan perhiasan.' Lalu.Disamping itu. Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla (111:216) mengatakan.'" 43.

Anehnya. para wanita di masa Nabi dan masa-masa sesudahnya mempraktekkan hal semacam itu. "Rasulullah pemah mengatakan bahwa tempat yang dilalui sesudahnya akan menyucikan kotoran yang menempel sebelumnya. begitu juga dalam beberapa ketentuan syar'i lainnya. Al-Baihaqi berkata. 331) dalam memberi batasan aurat wanita dia berkata. "Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa 45 kaum wanita wajib menutup kedua punggungtelapak kaki mereka. "Aku pernah berkata kepada Nabi . maka sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki daiil.Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (111:47). istri Nabi ."Di situ dia tidak mengecualikan kedua punggung telapak kaki. katanya. 1864). 45. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ulama hadits lainnya selain At-Tirmidzi. karena hal itu lebih bisa menutup aurat mereka. 'Wahai Rasulullah. apa yang menyebabkan Al-Maududi berpaling dari pendapat yang benar ini?! 94—Jilbab Wanita Muslimah ." Oleh karena itulah. Al-Maududi sendiri sebelumnya di dalam kitabnya Al-Hijab telah menyebutkan perkataan yang berbeda dengan perkataan dia yang ada di dalam tulisan bantahannya itu. Lalu. "Saya ini seorang wanita yang biasa memakai pakaian jubah yang ujung bawahnya aku panjangkan sementara aku harus melewati tempat yang kotor. Saya katakan: Barangsiapa menyelisihi hal ini. lalu mengatakan bahwa kedua punggung telapak kaki bukan aurat. "Para wanita diperintahkan untuk menyembunyikan seluruh tubuhnya. 21." Dalam hadits di atas disebutkan adanya rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk melabuhkan pakaian dan menyeretnya ketika berjalan. dan dia berkata. Asy Syaukani menyebutkan hal serupa itu di dalam kitabnya Nail AI-Authar (11:59). kecuali wajah dan kedua. Kami bicarakan juga hadits ini di dalam kitab kami Ats-TsamarAI-Mustathab Fi Fiqhi As-Sunnah Wa Al-Kitab. Bagaimana ini?' Ummu Salamah menjawab. Di dalam kitab itu (hlm. Perkataan dia yang ada di dalam kitab Al-Hijab itu sejalan dengan pendapat kami. seperti dikatakan oleh Al-Maududi di dalam tulisan bantahannya terhadap pendapat saya hlm. Imam Malik dan ulama hadits lainnya meriwayatkan dari budak wanitanya Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf." Diriwayatkan juga dari seorang wanita Bani Abdil Asyhal.telapak tangan mereka. 44. juga di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (hadits no. 44 "Hadits ini shahih. Karena memang begitulah yang benar. bahwa dia pernah bertanya kepada Ummu Salamah.

" Lihat hadits no. yang sebenarnya perbuatan semacam itu dilarang. Di zaman kita ini.5 . para wanita muslimah justru merasa bangga meniru wanita-wanita yang membuka betis. Firman Allah ta'ala yang dimaksud adalah: "Wahai Nabi. yaitu surat An-Nur menjelaskan tentang hal-hal (maksudnya: perhiasan) yang wajib disembunyikan dan yang boleh ditampakkan oleh kaum wanita di hadapan laki-laki asing. Hal ini telah saya sebutkan di dalam kitab saya yang berjudul Shahih Sunan Abi Dawud {hadils no. Kami akan banyak menukil dari kitab tersebut ketika kami membicarakan Syarat ke Tujuh dari kitab ini. 'Nah.' Lalu beliau berkata. dan juga hadits sebelumnya diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunan-nya. Hadits tersebut dinilai shahih oleh Ibnu Al-Arabi dan dinilai hasan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami. karena dengan seperti itu mereka akan lebih tertutup dan lebih terhormat. Kitab ini adalah dikarang oleh Syaikhu Al-lslam Abu Al-Abbas Ahmad bin Taimiyah Al-Harani -rahimahullah. Bagaimana yang harus kami lakukan kalau hari hujan?' Beliau berkata.2 dalam bahasan Syarat ke Tujuh yang akan datang! Jilbab Wanita Muslimah — 9. 'Aku pun menjawab.sesungguhnya jalan yang kami lewati menuju masjid berbau busuk. anak-anak perempuanmu. 47. katakanlah kepada istri-istrimu. coba perhatikanlah! Betapa keadaan ini telah berubah dan terbalik. tanah yang bersih tadi menjadi pembersih 46 dari tanah yang berbau busuk. 'Bukankah setelah jalan yang berbau busuk tadi ada jalan yang bersih?' Wanita tadi berkata.' Oleh karena itulah. sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-jahlm. 'Betul.407 dan 408). Hadits ini dinilai shahih oieh Al-Mundziri. dan istri-istri orang mukmin. kaum muslimin mensyaratkan kepada Ahlu Dzimmah agar mereka membuka kaki mereka dari betis kebawah supaya tidak serupa dengan wanita-wanita muslimah. Semua itu menjadi bukti kebenaran perkataan Rasulullah . Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sedikit demi sedikit. bahkan lebih dari itu. Sanad hadits ini shahih. Allah ta'ala setelah pada ayat terdahulu. Adapun hadits sebelumnya derajatnya adalah hasan li ghairihi. Hadits ini. maka pada ayat lain Allah memerintahkan kaum wanita agar ketika keluar rumah mereka menutup pakaian dan khimarnya dengan jilbab. Akan tetapi. Kitab ini merupakan kitab terbaik yang tidak ada tendingannya dalam masalah ini.47 Selanjutnya. Yang demikian itu 46.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:182) dengan sanad shahih. yang sekarang ini sama seperti izar (kain sarung). Dia mengatakan.48 jilbab adalah kain yang dikenakan oleh kaum wanita untuk menutup tubuhnya di atas pakaian yang dia kenakan. Di dalam menjelaskan jilbab ada tujuh pendapat yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Fathu Al-Bari (1:336). sehingga mereka tidak diganggu. Pendapat ini juga yang diikuti oleh Al-Baghawi di dalam kitab Tafe/r-nya (111:544)." Saya katakan: Barangkali yang dimaksudkan adalah pakaian 'aba-ah yang sekarang ini dipakai oleh wanita Nejed. menurut bahasa Arab. bukan yang hanya menutup sebagian. dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah dengan lafazh: ". Pendapat di atas adalah salah satunya. Abu Dawud.lantaran pakaian (jilbab) hitam yang mereka kenakan. Abd bin Humaid. 96 —Jilbab Wanita Muslimah .. AlAhzab: 59) Tatkala ayat di atas turun." Ibnu Hazm berkata (III: 17). jilbab ini dikenakan oleh kaum wanita manakala mereka keluar rumah. Ibnu Katsir (III: 518) berkata. Irak dan lainnya. para wanita Anshar pun bila keluar rumah seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan. yang artinya gagak. "Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh wanita merangkapi khimar dan pakaian yang biasa dikenakan di rumah. Umumnya. "Jilbab yang diperintahkan untuk dipakai oleh (wanita) kita. Ibnu Al-Mundzir." Al-Qurthubi membenarkan difinisi diatas di dalam kitab Tafsir-nya. 49." Kata adalah bentuk jamak dari. Definisi ini adalah 49 menurut pendapat yang paling benar . Pakaian jilbab mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam." (QS. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan (maksudnya: Al-Bukhari dan Muslim) dan ulama hadits lainnya dari Ummu Athiyyah.supaya mereka lebih mudah untuk dikenali. Hadits ini disebutkan pula di dalam kitab Ad-Dur(V:221) berdasarkan riwayat Abdurrazzaq. Dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ibnu Abi Hatim. adalah yang menutup seluruh tubuh. katanya: 48. "Jilbab adalah selendang yang dipakal merangkapi khimar.

'Sebenarnya mengulurkan jilbab itu sudah mencukupi perintah untuk menutupkan kerudung ke dada mereka. yaitu ayat: "hendaklah mereka menutupkan kerudungkedada mereka" (QS." Saya juga ikut berkomentar: Membatasi pemakaian khimar ketika di rumah saja. Dan yang namanya jilbab ialah pakaian yang menutupi mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki.. salah seorang di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab." (QS. "Menutupkan jilbab ke seluruh tubuh adalah dilakukan ketika seorang wanita hendak keluar rumah. maka saya jawab. Sebelumnya sudah saya jelaskan. "Dapatlah diketahui dari hadits ini bahwa jilbab dituntut untuk dipakai ketika wanita keluar rumah. 'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya. wanita-wanita yang sedang haidh maupun wanita-wanita yang dipingit. 256. sedangkan menutupkan khimar adalah untuk semua keadaan.'" Syaikh Anwar Al-Kasymiri di dalam kitab Faidh Al-Bari (1:388) berkata mengomentari hadits ini. setelah menjelaskan pengertian jilbab dan khimar seperti di atas. sedangkan jilbab dipakai kettka keluar rumah. Karena hal itu menyalahi dhahir ayat: "hendaklah mereka menutupkan khimarnya.AI-Ahzab: 59) Pada kitab yang samajuz I hlm. Begitulah penjelasan saya berkepaan dengan dua ayat mengenai hijab.. seorang wanita tidak boleh keluar rumah kalau tidak memakai jilbab."Rasulullah memerintahkan kami keluar untuk shalat Idul Fitri dan IdulAdha. dia mengatakan: "Jika Anda katakan. Maka.An-Nur: 31) dan ayat: "hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. 'Wahai Rasulullah. Aku berkata. dan Jilbab Wanita Muslimah — 97 . Jadi. baik yang masih gadis yang sedang menginjak dewasa. Adapun wanita-wanita yang sedang haidh mereka tidak /'/cut mengerjakan shalat. (meskipun sudah memakai jilbab).' Beliau menjawab. namun mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. menutup khimar tetap dibutuhkan. bahwa khimar dipakai di dalam rumah. ini perlu ditinjau kembali.

"Maksudnya ialah. Sa'id bin Jubair berkata." Ketahuilah. Yang benar dan yang harus dipraktekkan dari apa yang terkandung di dalam dua ayat di atas. Al-Ahzab: 59) Di dalam kitab Ad-Dur (V:222) disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits dari Sa'id bin Jubair berkenaan dengan firman Allah ta'ala: "hendaklah mereka menutupkan jilbabnya". di samping juga memakai jilbab. bahwa seorang wanita bila keluar rumah wajib menutupkan khimar dan mengenakan jilbabnya ke seluruh tubuh merangkapi khimamya tadi.janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki agar diketahui adanya perhiasan yang mereka sembunyikan. juga menjadi pendapat sebagian ulama Salaf dalam menafsirkan ayat tentang idna' (maksudnya: mengulurkan jilbab.. Pemahaman saya seperti di atas itu. bahwa dengan jilbab seorang wanita bisa lebih tertutup lagi dan lebih sulit untuk dikenali bentuk kepala maupun pundaknya. Kenyataan yang ada terkadang mereka hanya memakai jilbab saja atau hanya memakai khimar saja. Firman Allah ini. yaitu: "Dan katakanlah kepada wanitawanita mukminat. sebagaimana telah kami katakan tadi.. -yaitu surat an-Nur dan Al-Ahzabadalah.AnNur: 31). yaitu QS.. Hal seperti itulah yang dikehendaki oleh Pembuat syariat (Allah)." Sedangkan yang namanya jilbab adalah kain penutup kepala yang melapisi khimar. juga memperkuat adanya perintah kepada kaum wanita untuk menutupkan khimarnya ketika di luar rumah. bahwa pemakaian sekaligus antara khimar dan jilbab ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum wanita ketika mereka keluar rumah. sebagaimana akan saya jelaskan nanti pada bahasan: Syarat yang Keempatdari buku ini. 'Hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka ." Karena larangan menghentak-hentakkan kaki pada ayat di atas menjadi tanda yang jelas adanya perintah untuk menutupkan khimar ketika mereka berada di luar rumah juga. hingga tertutup rapat kepala dan lehemya. kecuali bila dia mengenakan khimar.. Sebab. Seorang muslimah tidak halal dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. terkadang tidak 98 —Jilbab Wanita Muslimah .). agar mereka menjuraikan jilbabnya ke seluruh tubuh.. (karena satu pembicaraan dalam ayat tersebut Pent. bahkan. '" (QS. Demikian pula firman Allah di awal ayat tersebut.

. "Dikecualikan dari ayat tersebut adalah: Wanita-wanita yang telah terhenti (dari haidh dan mengandung) yang sudah tidak berkeinginan nikah".).4111) dengan sanad yang jayyid. yang kelanjutan dari ayat tersebut adalah: Maka tidak ada dosa bagi mereka jika menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasannya. Untuk lebih menguatkan adanya kewajiban ini silahkan baca atsar Aisyah dan Ibnu Umar (hlm.." Dia berkata. Namun berbuat sopan adalah lebih baik bagi mereka." (QS. Juga oleh Al-Baihaqi dengan jalur periwayatan yang lain dengan sanad shahih. seperti rambut kepala bagian depan dan leher. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Kita masih mendapati apa yang biasa orang sebut dengan isyarib (datam istilah Arab —pent. jika dia menanggalkan sebagian dari pakaian mereka. yaitu memakai kerudung atau jilbab tetapi masih terbuka bagian tubuh yang diharamkan oleh Allah untuk mereka tampakkan. 146)." Begitu pulalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud. Di antara dalil yang menguatkan pemakaian sekaligus antara jilbab dan kemdung adalah hadits Ibnu Abbas berkenaan dengan ayat: "Katakanlah kepada wan/ta-wan/ta mukminat agar mereka menundukkan pandangan mereka. Dia berkata. "yaitu jilbabnya. Tentang hal itu Ibnu Jarir menyebutkan di dalam kitabnya (XVIII: 127) adanya tujuh jalur periwayatan (dalam penafsiran ayat tersebut). Jilbab Wanita Muslimah — 99 . Perkataan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no.An-Nur: 60) Dalam satu riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas disebutkan 50 bahwa dia membaca ayat tersebut: ". Begitulah jalur periwayatan tentang penafsiran ayat tersebut dari Ibnu Mas'ud. 50. misalnya."'{QS..memenuhi kriteria kedua-duanya.AI-Ahzab: 59)...

para penulis di zaman ini —sejauh yang saya ketahui— tidak mau terbuka dalam menjelaskan perihal pakaian wanita ini yang telah tegas diterangkan di dalam Al-Qur'an dan Assunnah. 100—Jilbab Wanita Muslimah . paling tidak mereka telah secara panjang lebar membahas masalah tentang wajah. (yaitu bukan termasuk aurat). 'Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan mengatakan. katanya: Telah mengabarkan kepada kami Imran Al-Juwani. Suatu ketika beliau datang mengunjunginya. Maka. Para periwayat hadits ini semuanya periwayat tsiqah dan merupakan para periwayat yang dipakai oleh Muslim.Jadi. Padahal. apakah ketika wanita itu yang keluar rumah sehingga bertemu dengan laki-laki asing tadi ataukah1 laki-laki itu yang masuk ke tempat wanita. kecuali wanita-wanita tua (yang sudah tidak diminati oleh laki-laki lantaran ketuaannya). yang menurut mereka termasuk aurat. kecuali Qais bin Zaid. meskipun sebenarnya hal itu menjadi perselisihan pendapat di antara para ulama. Ath-Thabarani di dalam kitab AlKabir (XVIII: 365/934) dari Hammad bin Salamah. Malah yang benara dalah sebaliknya. ayat diatas merupakan dalil wajibnya mengenakan jilbab sekaligus khimar bagi kaum wanita. Wanita-wanita yang semacam itu boleh menanggalkan jilbabnya. Kemudian beliau berkata kepadanya. karena dia adalah wanita yang banyak melakukan puasa dan shalat malam. Katanya. 'Rujukilah Hafshah. perkataan dia: "Jilbab dipakai ketika mereka ke luar rumah" adalah perkataan yang Sulit dipahami. Sama saja. Hal ini dikuatkan oleh perkataan Qais bin Zaid. Segala puji bagi Allah. dan dia adalah istrimu kelak di 51 surga. seperti yang bisa Anda lihat secara terperinci di dalam kitab ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 58). dia pun memakai jilbabnya. "Sesungguhnya Rasulullah pernah menceraikan Hafshah binyi Umar. Kemudian. '" 51.). mereka tetap harus mengenakan jilbab. Karena jilbab merupakan penutup perhiasan wanita dari laki-laki asing (maksudnya: yang bukan mahramnya —pent. Bukankah sudah tiba saatnya sekarang para wanita shalihah sadar dari kelalaiannya untuk bertaqwa kepada Allah dengan memulai memakai jilbab sekaligus khimar mereka?! Sungguh aneh. yang hanya karena nikmatNyalah semua kebaikan menjadi sempurna.

Di dalam ayat tersebut tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa wajah seorang wanita adalah aurat yang wajib ditutup. kecuali setelah kalian diberi ijin .Jadi.) Atau bisa jadi." Ibnu Abi Hatim dan ulama hadits lainnya menyebut dia sebagai salah seorang tabi'in mengikuti pendapat Al-Bukhari. dan dia menyebutkan adanya hadits penguat dari Anas. Hal itu lebih menjaga hati kalian dan hati mereka.. Kemudian beliau melamarku. Inilah pengertian yang dimaksud oleh ayat:" Wahai orang-orang beriman. "Dia adalah seorang tabi'in muda yang meriwayatkan hadits mursal. "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani. (Al-Hadits) Namun yang jelas. "Ummu Salamah berkata. ayat dimana dia ini diperselisihkan status kesahabatannya. dan para periwayatnya adalah para periwayat hadits shahih. namun disebut-sebut oleh sekelompok orang. sehingga kuatlah hadits tersebut." Al-Hafizh di dalam kitab Al-lshabah berkata. katanya." Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al-Hakim (IV:15). berbicaralah lewat balik tabir. lalu beliau "M berkata kepadaku dari balik tabir. begitulah sebenarnya. di antaranya Al-Harits bin Abu Usamah sebagai salah seorang sahabat. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad secara ringkas dengan sanad shahih. Jilbab Wanita Muslimah— 101 .dan bila kalian mempunyai keperluan dengan istri-istri beliau. Dengan demikian jelaslah bahwa hadits di atas adalah mursal. Tetapi yang dimaksud adalah hijab yang bisa menutup dirinya. Itu menunjukkan bahwa jilbab tidak hanya khusus dipakai ketika seorang wanita keluar rumah. Rasulullah u datang kepadaku. sehingga tertolaklah dalil yang mengatakan (bahwa wajah seorang wanita adalah aurat.. karena dia bukanlah seorang sahabat. Sebagaimana bisa Anda Iihat. 'Tatkala masa iddahku dari Abu Salamah habis. Al-Haitsami berkata (IX:245). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (Vlll:63) melalui jalur Habib bin Abu Tsabit. janganlah kalian masuk rumah Nabi . sekat atau yang semisalnya. Akan tetapi. pengertian ayat tersebut adalah sifatnya mutlak. "Dikatakan: Hadits yang dia riwayatkan termasuk hadits mursal. sehingga kemungkinan hanya mencakup pengertian menutup perhiasan dan tempattempatdipakainya perhiasan tersebut yang tidak diperkenankan untuk diperlihatkan oleh kaum wanita sesuai dengan penjelasan ayat pertama. — pent. di dalam hadits penguat tersebut tidak tersebut kata (berjilbab). insya Allah. Ibnu Abdil Bar berkata. Namun ayat itu hanyalah memerintahkan agar seorang wanita menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya." Dan disebutkan pula bahwa Aisyah pernah melakukan shalat dengan mengenakan jilbab. misalnya berupa dinding. hi/ab yang tersebut di dalam riwayat ini adalah bukanlah pakaian yang menutup badan seorang wanita.

Bahkan. sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dan sandaran dalam menetapkan hukum. namun tidak dia sebut secara lengkap.". Sebab AthThabari meriwayatkan perkataan tersebut melalui jalur Ali dari Ibnu Abbas. Mungkin atsar inilah yang diambil oleh Ustadz Al-Maududi sebagai pegangan. Ibnu Jarir justeru meriwayatkan atsar dari Ibnu Abbas yang berbeda dengan itu. dimana dia ini termasuk periwayat yang dha'if. atsar dengan lafazh seperti itu sanadnya sangat dha'if." Saya katakan: Sesungguhnya perkataan itu tidak benar datangnya dari Ibnu Abbas. yaitu mencakup menutup wajah. pendapat pertamalah yang mendekati kebenaran. Sedangkan dia ini menjadi perbincangan sebagian Ahli hadits. "Ayat ini turun secara khusus tentang perintah menutup wajah. kami kira kurang ada manfaatnya untuk saya muat di sini. Mestinya pada pernyataan lengkap Ath-Thabari ada katakata. Hal itu dikarenakan dua sebab. Jika hal ini benar berarti atsar ini bersambung. insya Allah. Akan tetapi. Perkataan seperti itu juga tidak mempunyai sandaran yang layak dijadikan pegangan. Akan tetapi. Saya hanya memberitahu saja. perkataan seperti di atas tidak ada seorang pun di antara para ulama yang mengatakannya.. Namun. Barangsiapa yang ingin mengetahuinya lebih lanjut silahkan baca sendiri kedua kitab 32 tersebut! Menurut kami. Dan hanya boleh menampakkan satu mata. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan kami ulas dalam bab lain dari kitab ini juga. Dia tidak mendengar hadits itu dari Ibnu Abbas. Demikian pula. Dia juga menyatakan bahwa hal ini juga disebutkan oleh Ath-Thabari (XII: 33). Karena memang atsar tersebut bisa dijadikan sebagai tafsiran Al-Qurzhi terhadap ayat di muka. pada jalur periwayatan kepada Ali ini terdapat Ibnu Shalih.tersebut sifatnya lebih umum lagi. Ali di sini maksudnya adalah Ali bin Abu Thalhah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir. "Allah memerintahkan wanita-wanita mukmin jika keluar dari rumah mereka untuk suatu keperluan agar menutup wajah mereka dengan jilbab yang (dijulurkannya dari atas kepala)." Sejauh yang saya ketahui. dia berkata. yaitu: 52. yang nama sebenarnya adalah Abdullah bin Shalih. tidak sah apa yang disebutkan oleh Al-Maududi dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut yang mengatakan. 366) setelah menyebutkan ayat tersebut. sanadnya juga dha'if. Ada yang mengatakan bahwa antara dirinya dengan Ibnu Abbas ada Mujahid.. Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya dan Suyuthi di dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur menyebutkan pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini. dia tidak pernah melihat Ibnu Abbas. Kedua takwil ini masing-masing dipegangi oleh para ulama salaf terdahulu. Catatan: Ustadz Al-Maududi di dalam kitabnya Al-Hijab (hlm. Akan tetapi. kecuali sebuah atsar dari Ka'ab Al-Qurzhi. 102—Jilbab Wanita Muslimah .

Maka. Telah jelas berdasarkan ayat An-Nur di muka bahwa wajah wanita tidak wajib ditutup. Lebih-lebih di zaman sekarang ini di mana para wanita telah tergoda untuk mempercantik wajah mereka dengan berbagai jenis make up dan menghias kedua tangannya dengan berbagai perhiasan. Akan tetapi dari semua hiasan itu ada yang tetap dibolehkan untuk ditam- Jilbab Wanita Muslimah— 103 . Dengan demikian sudah dapatdipastikan bahwa wajah itu bukan aurat. maka wajib ditutup. Ketetapan semacam itu menjadi pendapat kebanyakan ulama. ayat ini (maksudnya: ayat idna') harus ditafsirkan berdasarkan hadits-hadits tersebut dan ditaqyid (dibatasi) dengannya. kata idna' harus ditaqyid (dibatasi) untuk selain wajah. (QS. sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rusyd di dalam kitab Al-Bidayah (l:89). sehingga tidak wajib ditutup. Banyak hadits (lihat hadits nomer 1 sampai dengan nomer 13) yang menunjukkan bahwa wajah seorang wanita tidak wajib ditutup. Maka. berdasarkan keumuman firman Allah ta'ala: "dan anganlah mereka menampakkan perhiasannya". seorang muslim —yang berakal dan masih mempunyai ghirah keislaman— mestinya tidak ragu-ragu lagi melarang kaum wanita menampakkan make up dan perhiasanperhiasan mereka itu. pengertian tersebut harus dibatasi selama di wajah maupun kedua telapak tangan tidak ada perhiasan yang dipakainya. An-Nur: 31). Sehingga. Syafi'i dan dalam satu riwayat. termasuk mentakhshish (mengkhususkan) pengertian ayat yang masih umum dan mentaqy/d (membatasi) pengertian ayat yang masih mutlak. Ayat Al-Qur'an itu satu dengan yang lain saling menafsirkan. untuk menjama' kedua pengertian ayat tersebut. juga Ahmad sebagaimana tersebut di dalam kitab Al-Majmu' (\\\:69). Malik. Bila ternyata pada wajah dan kedua tangan wanita tadi ada perhiasan. Fungsi hadits adalah menjelaskan ayat Al Qur'an. Hal serupa juga disebutkan oleh Syaikh Syarbini di dalam kitab Al-lqna' (11:10). Thahawi menyebutkan tentang hal itu di dalam kitabnya Syarhu AlMa'ani (ll:9) dari dua orang murid Abu Hanifah dan menegaskan bahwa pendapat itulah yang benar di dalam kitab Al-Muhimmat yang merupakan kitab bermadzhab Syafi'i.Pertama. Kedua. Akan tetapi. diantaranya Abu Hanifah.

pakkan. melainkan dia akan mendapat adzab dengan sebab hal tersebut. dari saudara perempuannya Hudzaifah dan beberapa saudara perempuannya yang lain yang pernah secara bersama-sama menyaksikan Nabi Mereka berkata. 104 — Jilbab Wanita Muslimah .sebagai penutup cincinnya" yang mana hal itu merupakan dalil yang tegas terhadap penjelasan saya. yaitu celak dan inai. (riwayat no. Segala puji bagi Allah atas taufik-Nya." Yang saya ambil sebagai dalil dalam riwayat ini bukanlah perkataan langsung Rasulullah . Berbeda halnya kalau dia keluar dengan membuka auratnya. dari Manshur. bukankah kalian mempunyai perhiasan dari perak yang biasa kalian pakai? Ketahuilah. sebagaimana yang bisa kita saksikan di mana-mana.. meskipun secara tegas menunjukkan hal itu —karena di dalam sanad hadits itu terdapat seorang wanita yang tidak disebut namanya. Allah ta'ala memerintahkan wanita-wanita mukminat untuk mengulurkan jilbabnya dalam rangka saddan lizd dzari'ah. hal itu saya sampaikan kepada Mujahid. "Rasulullah pernah menyampaikan khutbah kepada kami.' Manshur berkata. Alhamdulillah. 'Saya sudah tahu akan mereka. bahwa bila seorang wanita itu memakai jilbab. Tentu dalam keadaan semacam itu dia akan menjadi incaran dan sasaran orang-orang fasik. dia pun menjawab. Oleh karena itu. 'Wahai sekalian kaum wanita. menjaga diri dan berperilaku baik. Al-Ahzab: 59) Yaitu. dari seorang wanita.. bahwa tak seorang pun diantara kalian yang memakai perhiasan emas yang dia tampakkan. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII:238-239) lewat jalur Sufyan.". Sehingga. salah seorang di antara mereka ada yang menjadikan lengan bajunyasebagai penutup cincinnya. 'Maka. Saya juga mendapatkan perkataan Mujahid serupa dengan sanad lain di dalam kitab Musnad Abu Ya'la. orang-orang fasik tidak berani menggodanya dengan perkataan-perkataan mereka yang kurang sopan. 6989) Dan Allah ta'ala telah menjelaskan hikmah dari perintah mengulurkan jilbab ini dengan firman-Nya: "Hal itu adalah agar mereka lebih mudah untuk dikenali dan tidak diganggu." (QS. Bahkan. dari Rub'i bin Kharrasy. Tetapi yang saya ambil adalah perkataan Mujahid. karena keduanya memang dikecualikan di dalam ayat yang telah tersebut di muka. Lalu. bisa dimengerti bahwa dia adalah seorang wanita yang bersih.

katanya: "Muhammad bin Umar telah meriwayatkan kepada kami. riwayat-riwayat tadi tidak bisa dijadikan hujjah. bahwa Allah menyebutkan adanya para Jilbab Wanita Muslimah— 105 . yang maksudnya: melarang sesuatu untuk menghindar-kan akibat yang besar bila hal itu tidak dilarang. Kedua.(istilah fikih. Ketika ditegur. bahkan sangatlah lemah. Karena semua riwayat tersebut hanya menyebutkan langsung perkataan Abu Malik. dikarenakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. tidak shahih. Ibnu Abi Sibrah. dari Ibnu Abi Sibrah. sebab mengandung kerancuan. "Mereka (para ahli hadits) menuduh dia sebagai pemalsu hadits. Mu'awiyah bin Qurrah.) Adasebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 176). dari Abu Shakhr. (Artinya: dicurigai -pent. -pent. Lebih-lebih riwayat-riwayat tersebut tidak bisa diterima oleh syari'at yang suci dan akal yang sehat. Sehingga. dan Al-Hasan Al-Bashri. . "Ada seorang di antara orang-orang munafik mendatangi wanita-wanita mukminat untuk mengganggunya." Ketiga. dari Ibnu Ka'ab Al-Qurzhi.) Dia tidak pernah mengalami hidup di zaman turun-nya ayat. Al-Kalbi. Abu Shalih." Maka. hadits tersebut dinamakan mursal. Karena lemahnya Muhammad bin Umar derigan nisbah AlWaqidi.) Ada juga riwayat-riwayat lain yang semakna dengan riwayat di atas yang disebutkan oleh Suyuthi di dalam kitabnya Ad Dur AlMantsur yang sebagiannya berasal dari Ibnu jarir dan ulama lainnya. Dengan demikian. Namun semua riwayat tersebut tergolong riwayat mursal. -pent. yang tak satu pun dengan menyebutkan sanad (jalur periwayatan)nya." Namun hadits di atas tidak shahih. Dia seorang yang dikenal lemah di kalangan para ahli hadits. katanya. Ibnu Ka'ab Al-Qurzhi -yang nama aslinya Muhammadadalah seorang tabi'in (yaitu: orang-orang yang hidup setelah masa sahabat. bahkan dia itu seorang yang muttahim. Allah memerintahkan mereka (kaum mukminat) agar memakai pakaian yang berbeda dengan pakaian perempuan budak dan agar mengulurkan jilbabnya. "Saya kira dia itu seorang budak. dia mengatakan. Al-Hafizh di dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan. yaitu Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abi Sibrah adalah seorang periwayat yang sangat lemah.

dan buah dadanya." (Lihat kitab Ahkam Al-Qur'an (111:390) karya Abu Bakar Al-Jashshash) Hal itu. Bahkan. Mereka mengatakan. Kemudian dengan riwayat-riwayat tersebut mereka mentaqyid (membatas) pengertian firman Allah ta'ala: "dan wanita-wanita mukminat' (QS. —pent. tidak termasuk budak. "Diperbolehkan bagi laki-laki asing (maksudnya: yang bukan mahram. —-di samping tidak berdasarkan dalil ayat Al-Qur'an maupun hadits—. Al-Ahzab: 59) dengan: wanita-wanita yang merdeka. Bertolak dari situ. janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk hingga kamu (sadar dan) mengetahui apa-apa yang kamu ucapkan.budak muslimat —yang sudah tentu di antara mereka adalah para wanita mukminat— dalam keadaan mereka yang tidak menutup aurat. dan jangan (pula berdiam di masjid) sedang kamu dalam keadaan junub. Anehnya ada sebagian ahli tafsir yang tertipu dengan riwayatriwayat lemah semacam itu. yaitu dari pusar hingga lutut. ayat ini dari segi keumumannya adalah sama seperti ayat: "Wahai orang-orang beriman. tangannya. jelas bertentangan dengan keumuman pengertian firman Allah ta'ala: "dan wanita-wanita mukminat" (QS.) untuk melihat rambut budak wanita. namun Allah tidak memerintahkan mereka untuk mengenakan jilbab untuk menghindarkan diri dari gangguan orang-orang munafik. ada sebagian madzhab yang keterlaluan dalam masalah ini sampai-sampai menyatakan bahwa aurat wanita adalah seperti auratnya laki-laki. mereka berpendapat bahwa tidak diwajibkan kepada budak-budak wanita sebagaimana yang diwajibkan kepada wanita-wanita merdeka untuk menutup kepala dan rambut mereka. Al-Ahzab: 59). Sebab. kecuali kalau sekedar lewat saja hingga 106—Jilbab Wanita Muslimah . betisnya.

firman Allah ta'ala: 'dan wanita-wanita mukminat. An Nisa: 43) Oleh karena itulah. Dan jika kau sakit. atau kamu sehabis menyentuh perempuan. Betapa bagusnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla (111:218-219). menurut saya tidak ada bedanya. yaitu sapulah muka dan kedua tangan-mu. apakah merdeka atau budak. atau kembali dari tempat buang hajat. karena tidak ada lagi ‘ilaf (sebab dari ketetapan hukum tersebut). kecuali ada nas yang membedakan keduanya untuk dijadikan pedoman. maka sudah barang tentu hilang pula ketetapan hukum yang dibangun atas dasar ilat tersebut. pada asalnya jilbab itu tidak diperintahkan manakala orang-orang fasik tidak mengganggu atau tatkala tidak ada lagi perbudakan. Abu Hayyan Al-Andalusi di dalam kitab tafsir-nya Al-Bahr Al-Muhith (Vll:250) mengatakan. maka Allah pun memerintahkan para wanita yang merdeka agar mengenakan jilbab supaya orang-orang fasik tadi tahu bahwa mereka adalah wanita-wanita merdeka sehingga tidak berani 53 mengganggu atau menggodanya. Sehingga. wanita itu sama. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaflag! Maha Pengampun. Hal itu agar mereka mudah dikenali dan tidak diganggu. Menurut orang yang berpendapat semacam ini.kamu mandi. jelas agama Allah itu satu." 53." (QS. Karena." berpendapat bahwa sebenarnya Allah ta'ala memerintahkan hal itu lantaran orang-orang fasik biasa mendekati wanita-wanita untuk mengganggunya. Fitnah wanita yang budak justeru lebih besar. "Adapun antara wanita merdeka dan budak." Selanjutnya dia mengatakan. Bila ‘ilat tersebut telah hilang. juga ulama lainnya menyatakan hal yang sama.' adalah mencakup wanita-wanita yang merdeka maupun budak. Al-Hafizh Ibnu AlQathan di dalam kitab Ahkam An-Nazhar. karena dia lebih banyak bergaul (di luar rumah) dibanding dengan wanita yang merdeka. "Sebagian orang yang kurang mampu memahami firman Allah ta'ala: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya. "Yang jelas. maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). mengeluarkan wanita yang budak ini dari keumuman pengertian wanita-wanita mukminat jelas dibutuhkan dalil yang jelas. Jilbab Wanita Muslimah— 107 . Jadi." Sebelumnya. lalu kamu tidak mendapatkan air. atau sedang musafir. Karakter dan tabiat keduanya juga sama.

yaitu dengan tidak adanya lagi perbudakan. 54. Ini benar-benar merupakan musibah. sebagaimana telah tersebut terdahulu pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyyah. kecuali kalau dia menyandarkan pendapat tersebut kepada 54 beliau. Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (II: 28/1-2). pendapat seseorang selain Rasulullah harus ditolak. Telah menjadi kesepakatan kaum muslimin bahwa haramnya berzina dengan wanita merdeka itu sama. Dia merujuk kepada perkataan Umar yang membedakan antara wanita merdeka dan wanita budak dalam memakai khimar. seakan-akan penulis diatas ingin mengatakan. (Di sana disebutkan). bahwa ketetapan hukum seperti itu ada karena adanya tuntutan dari suatu keadaan tertentu. "Sekarang ini tidak ada kepentingannya lagi para wanita mengenakan jilbab. Az Zaila'i menyebutkan perkataan Umar ini di dalam kitabnya Nashbu Ar-Rayah (1:300). dengan haramnya berzina dengan wanita budak. pendapat tersebut mengandung pengertian bahwa Allah ta'ala menyetujui orang-orang fasik mengganggu para budak wanita. Kemudian turunlah ayat (Al-Ahzab) ini yang memberikan pembedaan pakaian untuk wanita-wanita merdeka agar mereka bisa dikenali sehingga tidak diganggu oleh orang-orang fasik. hukuman hudud bagi orang yang berzina dengan wanita merdeka sama dengan orang yang berzina dengan wanita budak. "Atsar-atsar tentang Umar dalam masalah itu adalah shahih." Jadi. yang boleh jadi disebabkan karena alpanya seorang alim atau ketidakmampuan seseorang dalam menangkap pengertian ayat tersebut. 59) di mana dia berkata. Kemudian adanya orang-orang fasik yang mengganggu wanita-wanita itu tanpa pandang bulu. Kemudian Al-Baihaqi berkata. Sebagian di anlara para penulis di zaman ini menulis bahasan tentang wanita seperti pendapat di atas.Kita jelas berlepas diri dari penafsiran yang menyesatkan ini. atau bisa jadi itu hanyalah rekaan para penipu yang telah rusak nuraninya. dan juga haramnya mengganggu wanita merdeka tidak ada bedanya dengan haramnya mengganggu wanita budak. Al-Baihaqi (II: 226-227) dengan berbagai jaiur periwayatan." 108 — Jilbab Wanita Muslimah . Atau dengan kata lain. dan semua wanita di zaman sekarang ini adalah merdeka! Lihatlah bagaimana kejahilan dia! Dengan berdasar beberapa riwayat lemah dalam masalah ini dia telah berani menghilangkan perintah Al-Qur'an dan perintah Nabi . "Perlu kami sampaikan adanya riwayat-riwayat yang berkenaan dengan turunnya surat Al-Ahzab ini. bahwa pakaian wanita merdeka dan wanita budak dahulunya adalah sama. Sebab. Diantaranya ialah pengarang risalah Al-Qur'an wa Al-Mar'ah (hlm. karena menurutnya sudah tidak ada lagi '//at dari ketetapan hukum tersebut. Oleh karena itu.

' Maka mereka pun menyobek sorban. melainkan hanya ada penafian penutup saja. tatkala Nabi memilih salah seorang wanita tawanan perang Khaibar. tatkala beliau hendak menaiki kendaraannya. dengan berkata. Jilbab Wanita Muslimah — 109 . Di situ tidak bisa dipahami secara pasti adanya penafian jilbab. (Dalam riwayat lain disebutkan: "Lalu Rasulullah memakaikan penutup kepadanya dan membawanya duduk di belakang beliau . bahwa." Menurut kami. 'Apakah dia telah pernah haidh?' Mereka menjawab. maka berarti beliau menikahinya dan bila ternyata beliau tidak memakaikan penutup kepadanya.1) mengomentari secara gamblang perkataan Al-Baihaqi dii atas. (kami melihat) beliau memakaikan penutup kepadanya. Muslim (IV: 146147). yaitu Shafiyyah binti Huyay. Nabi berkata. 55. 'Gunakanlah ini untuk berkhimar. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi (VII: 259). Ibnu Sa'ad (VIII: 87). "Kami tidak tahu apakah beliau menikahinya ataukah hanya menjadikannya budak. Sebagian sahabat ada yang berkata. lalu membawanya pergi. maka berarti beiiau hanya menjadikannya sebagai budak. Ibnu Al-Qayyim di dalam kitabnya Zad AI-Ma'ad (II: 192) berhujah dengan riwayat tersebut. Lalu tiba-tiba bersembunyilah salah seorang budak milik mereka. Karena di dalam hadits tersebut tidak ada penafian jilbab. Ibnu Hazm (III: 22. tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan penafsiran ayat di muka yang kita pilih.246. Dan beliau pun menutupkan selendang be/iau pada punggung dan wajahnya. Riwayat lain yang tersebut di atas adalah yang tersebut pada riwayat Ibnu Sa'ad (VIII: 86). kemudian mengikatkan selendang tersebut dari bawah kakinya. Beliau memperlakukan dia sama dengan 55 istri-istrinya yang lain. Maka. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VII: 387 dan IX: 105). Ahmad (III: 123. tidak ada seseorang pun yang bisa dijadikan hujjah selain Rasulullah . Akhirnya para sahabat pun mengetahui bahwa beliau menjadikannya sebagai istri. lalu mendudukkan dia pada bagian belakang unta yang beliau tunggangi. lalu diberikan kepadanya sambil berkata.Apa yang telah saya sampaikan di atas tidaklah bertentangan dengan hadits Anas. para sahabat berkata. "Bila beliau memakaikan penutup kepadanya.264). '"Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (II: 27/2) dan Ibnu Majah dengan sanad dha'if.” PerkataanIbnu Hazm ini didukungolehhadits yang diriwayatkan dari Aisyahberikut: "Bahwa Nabi pernah mengunjungi dia. "Akan tetapi. 'Ya.

." Kebolehjadian seperti ini juga diperkuat dengan keterangan saya berikut. Keganjilannya adalah karena dia menisbatkan perkataan tersebut akan adanya praktek kaum wanita di zaman Nabi jg. bahwa para wanita merdeka berjilbab sementara para budaknya tidak berjilbab. 110 —Jilbab Wanita Muslimah . —pent. "Bila beliau Mmemakaikan hijab kepadanya. "dan bila ternyata beliau tidak.. Adapun perkataan Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan surat An-Nur.56 56. sehingga hal itu bisa dikatakan sebagai bentuk taqrir beliau terhadap mereka. saya tidak menemukan adanya riwayat semacam itu. Hal ini sebagaimana yang terpraktekkan di zaman Nabi ^ dan para khalifah sepeninggal beliau.melainkan hanya secara kebolehjadian saja.memakaikan hijab kepadanya. maka berarti beliau menikahinya dan bila ternyata beliau Mtidakmemakaikan penutup kepadanya. Ibnu Taimiyah tidak membawakan hadits lain selain hadits Anas itu. dia berkata: "Jilbab hanyalah diperuntukkan bagi wanita-wanita merdeka. niscaya akan kami cabut pendapat kami diatas. Dan ini maksud dari perkataan para sahabat di dalam hadits tersebut. Satu-satunya hadits yang dia bawakan dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas saja. Hal ini tidak menafikan harus tertutupnya seluruh badan wanita budak. lebih-lebih riwayat yang shahih. maka berarti beliau hanya menjadikannya sebagai budak.Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya. Karena boleh jadi juga yang dinafikan adalah pemakaian jilbab yang ditambah penutup wajah sekaligus. sejalanlah sudah antara hadits di atas dengan ayat yang telah kita bahas di muka. bahwa perlakuan khusus beliau terhadapnya (yaitu.) itulah yang menjadikan para sahabat tahu apakah dia itu istrinya ataukah budak. tidak untuk wanita-wanita budak." adalah perkataan yang ganjil dan aneh. dan wanita-wanita mukminah 'bahwa yang dimaksud adalah wanita-wanita mukminah yang merdeka. Alhamdulillah. seperti kepala. di mana setelah dia membawakan hadits Anas sebagaimana tersebut di muka." Dari situ jelaslah. Kalaulah ada nas shahih yang menegaskan demikian niscaya bisa menjadi sandaran pendapat yang mengkhususkan (pakaian jilbab hanya untuk wanita merdeka) dan menjadi dalil yang jelas untuk mengkhususkan firman Allah ta'ala:'. Akan tetapi. Tentang hadits Anas itu tentu saya sudah faham apa isinya. sebagaimana perkataan beliau di dalam hadits tersebut: "Dan beliau pun menutupkan selendang beliau pada punggung dan wajahnya. bahwa perkataan mereka. menutupkan selendang ke wajah." maksudnya ialah menutup wajahnya. Wallahu a'lam. Dengan demikian. Bila begitu keadaannya. lebih-lebih bagian dada dan leher..

Di sampingnya ada Asma' binti Umaisy yang sedang melindunginya. Mereka hanya dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya saja berdasarkan kebiasaan yang berlaku pada zaman Nabi karena adanya persetujuan beliau terhadap mereka. dan lafazh di atas adalah yang terdapat didalam riwayatnya.. baik yang merdeka. Dari Abu As-Salil. Namun karena tuntutan kajian ilmiah akhimya saya lakukan juga. Saya katakan: Sanad hadits ini shahih karena adanya beberapa hadits pendukung. juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad di dalam kitab Ath-Thabaqat(VIII: 283) dan AthThabarani di dalam kitab Al-Kabir (XXV: 131/359) tanpa ada perkataan '.yang kedua tangannya bertato yang ditato pada masa jahiliyahnya dengan tato gaya Barbar'. Kemudian tiba-tiba dihadapkan kepadanya dua ekor kuda dan dia pun menerimanya. lalu dia berdiri di depan ayahnya (Abu Dzar). Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabart di dalam kitab Tahdzib Al-Atsar (Musnad Umar 1/114/187). "Aku bersama ayahku pernah mengunjungi Abu Bakar.Kesimpulan: Wajib bagi seluruh kaum wanita. Dari Qais bin Abu Hazim. Anak 57 Sebenarnya saya tidak ingin membahas tentang jilbab bagi budak sedetail ini. Dan sanad hadits ini shahih. karena kurang pas untuk membahasnya di sini. yangternyata dia adalah seorang yang putih kulitnya dan kurus. maupun yang budak untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuhnya ketika mereka keluar rumah. . Jilbab Wanita Muslimah — 111 . Dia adalah seorang wanita yang pipinya hitam kemerah-merahan. 58. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (1:164) dan Abu Nu'aim di dalam kitab AtHilyah (1:164). Dia datang dengan membawa quffah (keranjang jerami yang mempunyai pegangan) miliknya. Kemudian Abu Bakar menyuruhku untuk membawa salah satunya dan ayahku membawa yang satunya lagi. Asma' ini adalah seorang wanita yang putih kulitnya yang kedua tangannya bertato yang ditato pada masa jahiliyahnya dengan tato gaya Barbar. yang di sampingnya ada beberapa orang sahabatnya. katanya:58 "Anak perempuan Abu Dzar pernah datang dengan mengenakan baju yang berbulu." 2. Ada baiknya berikut ini kami sampaikan beberapa riwayat yang menunjukkan praktek wanitasalafdalam hal itusepeninggal beliau: 1. 57.

' Imran berkata. Di wajahnya ada darah yang kekuning-kuningan.tadi berkata. pada tempat menempelnya kalung. Darah telah memenuhi mukanya. "Wahai ayah. 115." Abu Dzar menjawab. (Suatu ketika) Ibnu Mas'ud melihat dahi wanita tadi tampak berkilauan. 'Sekarang saya sudah sembuh. janganlah Engkau jadikan Fathimah binti Muhammad sakit. katanya: "Suatu ketika aku pernah duduk bersama Rasulullah . lalu berkata: 'Wahai Allah. para tukang bajak ladang dan para tukang tanam itu bilang bahwa uang ayah ini palsu.' Imran berkata lagi. Lalu. kalau begitu buanglah! Karena ayah-mu —alhamdulillah— pagi ini sedang tidak mempunyai uang kuning (emas) maupun putih (perak). Wanita tersebut ditemani seorang wanita tua dari Bani Asad. 'Mendekatlah. kecuali uang ini saja."' 4.481) dan Ad-Daulabi di dalam kitab Al-Kina (II: 122) dengan derajat sanad la ba'sa bihi karena adanya beberapa hadits pendukung. Tiba-tiba Fathimah datang. 60. Dari Qabishah bin Jabir. 59 59. 112 —Jilbab Wanita Muslimah . lalu meletakkannya di dada Fathimah. sehinggakami semuanya berjumlah tiga orang.'Apakah kau mencukurnya?' Wanita tadi marah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab At-Tahdzib (Musnad Ibnu Abbas 1:286. Lalu dia bertanya. Dari Imran bin Hushain. lalu berkata. Rasulullah bekata kepadanya.' Dia menjawab. Dan darahnya tadi sudah berubah kekuning-kuningan semua." 3.Saya memandangke arahnya. 'Setelah selang beberapa lama dari kejadian itu. Sanad hadits ini hasan. beliau membuka jari jemari beliau tadi. saya betemu lagi dengan Fathimah. "Wahai anakku. Beliau pun mengangkat tangan. Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Adab Az-Zifaf h\m. Fathimah!' Lalu Fathimah pun mendekat hingga berdiri persis di depan beliau . katanya:60 "Kami biasa belajar AlQur'an bersama seorang wanita (di rumah Ibnu Mas'ud). 'Maka. Lalu berdiri di hadapan beliau . Dzat yang sanggup menghilangkan rasa lapar dan mengangkat seseorang dari kerendahan. aku pun pandangi Fathimah. Lalu saya bertanya kepadanya (tentang penyakitnya dulu).

Di dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir (XIX:73. dst. masuklah kamu dan lihatlah. Laiu. Ibnu Sa'ad (IV: 236 .' Kemudian. wanita itu pun masuk menemui istri Ibnu Mas'ud. dari Mukhtar bin Filfil. Ibnu Mas'ud berkata. dari Anas.. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V: 159).' Maka. Lalu m Umar memukulnya sambil berkata. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah melalui jalur Az-Zuhri dari Anas dengan lafazh semacam itu.dst. Lalu Umar bertanya kepadanya. Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh Muslim. dari Anas bin Malik.Cet. katanya: "Umar pernah melihat wanita budak yang mengenakan pakaian menutup kepalanya. 'Kalau begitu. 62.' 6. Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan hadits ini melalui jalur periwayatan lain. keluar kembali dan berkata. 'Kamu jangan menyerupai wanita-wanita merdeka! Al-Hafizh berkata. 7.. (yaitu Asma' binti Abu Bakar) pemah datang dengan muka berseri-seri dan tersenyum. katanya: "Seorang budak wanita yang telah dikenal oleh sebagian kaum muhajirin dan kaum Anshar pernah me nemui Umar bin Khaththab dengan mengenakan jilbab yang dia gunakan juga untuk bercadar. Kalau dia melakukan seperti itu berarti dia (saya anggap) telah lepas dariku. dia tidak melakukan hal seperti itu. katanya: "Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mas-har. "Sanad hadits ini shahih" Saya katakan: Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (II: 231).' 5. Dari Anas.' Ibnu Mas'ud berkata. 62 61 61. Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai shahih hadits ini di dalam kitab Ad-Dirayah Fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah (1:124). Jilbab Wanita Muslimah — 113 . katanya dia pernah mengunjungi Abu Dzar Al-Ghifari yang ketika itu dia sedang berada di Rabdzah. Beirut).. 'Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda. Dari Abu Asma' Ar-Rahbi . 'Allah melaknati perempuan-perempuan yang menato sendiri badannya dan yang minta ditatokan. 'Demi Allah. Saya katakan: Sanad hadits ini jayyid.2) da/am kisah Shalb bin Zubair disebutkan bahwa ibunya.. yang di sampingnya ada istrinya yang berkulit hitam. Abu Nu'aim (1:161) dengan sanad shahih. dan sanadnya shahih juga. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Mushannaf (III 136) melalui jalur periwayatan Qatadah.'Wanita yang mengerok dahinya itu istrimu.

Dari Umar bin Muhammad. Sehingga jelaslah bahwa wajah wanita tadi terbuka. Kemudian saya juga mendapatkan jalur periwayatan lain yang terdapat di dalam kitab Sunan Sa'id bin Manshur (III: 2/74). Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya (II: 250/951) Saya katakan: Atsar ini membantah orang-orang yang mengatakan. bahwa Umar bin Khathab pernah memukul beberapa wanita budak lantaran mereka mengenakan pakaian yang menutup kepalanya sambll berkata." 8. maka hilanglah kecantikannya. 63. sehingga tidak ada iagi daya tank yang bisa menggoda laki-laki! Kami jawab: Pernyataan mereka itu tidak tepat dalam mengambil pemahaman terhadap perkataan Nabi : 'Apakah kalian berdua juga buta? Menurut kami alasan seperti itu tentu lemah dan kurang tepat. India) melalui jalur Ibrahim. Bila demikian halnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (V: 58). Namun dua sanad hadits dari Anas yang bersambung tadi sudah mencukupi. lalu memukul kepalanya. perkataan Umar. 'Belum. Kalau begitu. Ibnu Abbas.'Apakah kamu sudah dimerdekakan?' Wanita tadi menjawab.' Umar berkata. 39 . Karena bila tidak tentu Umar tidak akan bisa mengenalinya. Jika para wanita generasi pertama dulu menutup wajahnya dengan jilbab tentu Umar tidak akan mengatakan seperti itu. (yaitu mata)?! 114—Jilbab Wanita Muslimah . Kemudian wanita tadi menanggalkan jilbab tadi dari kepalanya.' Lalu budak wanita tadi berlambat-lambat menanggalkannya.cet. Lalu Umar pun berdiri menghampirinya dengan marah. 'Mengapa kamu memakai jilbab seperti itu? Tanggalkan jilbabmu dari kepalamu! Jilbab itu hanya untuk wanita-wanita mukmin yang merdeka. "Wajah wanita adalah aurat. sehingga tidak boleh terbuka!" Kecuali bila mereka mengatakan bahwa sesungguhnya bagian paling menarik dari wanita adalah kedua matanya. Pengambilan kesimpulan hukum dari atsar ini adalah bahwa dalam riwayat tersebut Umar mengenali wanita budak tadi meskipun dia dalam keadaan tertutup seluruh badannya dengan jilbab. Aisyah yang mengatakan bahwa wajah wanita bukanlah aurat. Sehingga bila dia buta. 'Sesungguhnya jilbab hanyalah diperuntukkan bagi wanita-wanita merdeka' menjadi dalil yang tegas bahwa jilbab tidak dipersyaratkan menutup wajah. "Janganlah kalian menyerupai wanita-wanita merdeka!" Saya katakan: Hadits ini mu'dhal. maka gabungkanlah atsar Umar ini dengan atsar-atsar dari Abdullah bin Umar.61 bahwa ayahnya menceritakan dari Sa'id bin laid bin Amru bin Nufail bahwa Arwa pernah berHadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muhammad di dalam kitab Al-Atsar (hlm. Karena mengapa Anda membolehkan wanita-wanita yang tidak buta menutup wajah mereka dengan cadar namun tetap kelihatan bagian yang paling menarik dari diri mereka.

Begitulah yang tersebut di dalam kitab At-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar (XVII: 221). "Saya mendengar Atha bin Abu Rabah. "Maka. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Humaidi di dalam kitab Musnad-nya (1:163/342). Sanad hadits ini shahih. Lalu dia. DariAtha'bin Abu Rabah. maka orang yang seperti itu akan mengatakan. "Aku pernah melihat Aisyah sedang memilin kalung pengikat kambing yang akan disembelih sebagai hadyu baginya. butakanlah penglihatannya dan jadikanlah kuburan untuk (mengubur mayat)nya di rumahnya.. maka kelak di hari kiamat dia akan ditindih dengan tujuh bumi. katanya. bila dia dusta. Saya mendengar Rasulullah pernah bersabda." Ayah Umar bin Muhammad berkata. Sanad hadits ini hasan karena adanya khilaf yang diketahui pada Ibnu Aqil.'" 9. -pent.) 10. dia terjatuh ke dalamnya. "All bin AlHusain pernah mengutusku kepada Rubayyi' binti Mu'awwidz untuk menanyakan tentang cara wudhunya Rasulullah karena Rasulullah pernah berwudhu di sampingnya. AthThabarani di dalam kitab Al-Mu'jam Al-Kabir (XXIV: 267/677) dan lainnya. 65 64 Jilbab Wanita Muslimah — 115 . "Biarkan saja dia dan ayahnya begitu. Barangkali lantaran menolak hadits yang menunjukkan bahwa kedua telapak tangan adalah bukan aurat. bahwa dia berkata. 'Dia (Aisyah) ketika itu memakai kaos tangan!' 65. Dari Abdullah bin Muhammadbin Aqil.dan seterusnya". katanya. Abdurrazzaq menuturkan: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Dzar.. setelah itu saya melihat dia ternyata benar-benar buta yang ketika itu sedang mencari-cari tembok sambil mengatakan. yang akhirnya sumur itulah yang menjadi kuburan baginya. 'Aku tertimpa doanya Sa'id bin Zaid. lalu melewati sumur yang ada di rumahnya itu.' Dan tatkala dia sedang berjalan di dalam rumahnya. (yaitu Sa'id) berkata.' Wahai Allah.sengketa dengannya mengenai sebagian dan rumahnya. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qathan (II: 35/2)." {Al-hadyu ialah binatang sembelihan yang dagingnya dibagibagikan oleh jamaah haji kepada para fakir-miskin di sekitar baitullah. Kemudian Rubayyi' mengeluarkan sebuah 64. 'Barangsiapa mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya. Maka aku pun datang menemuinya.

bejana yang berukuran satu mud, lalu dia berkata, 'Seukuran inilah saya mengeluarkan air untuk digunakan beliau berwudhu.'" 11. Dari Urwah bin Abdullah bin Qusyair, bahwa dia pernah mengunjungi Fathimah binti Ali bin Abi Thalib. Dia berkata, "Saya melihat di tangan Fathimah terdapat gelang tebal, yang pada tiaptiap tangannya terdapat dua gelang." Dia berkata lagi, "Dan saya juga melihat ada cincin di tangannya...." 12. Dari Isa bin Utsman, katanya, "Saya pernah berada di samping Fathimah binti Ail. Lalu, datanglah seorang laki-laki memuji-muji ayah Fathimah di depannya. Maka, Fathimah pun mengambil abu, lalu dihamburkannya ke muka orang itu." 13. Dari Yahya bin Abi Sulaim,67 katanya, "Saya pernah melihat Samra' binti Nahik —dia adalah salah seorang yang pernah bertemu dengan Nabi — memakai baju yang tebal dan kerudung yang tebal, sedangkan tangannya memegang cemeti. Dia sedang member! nasehat kepada orang-orang, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang berbuat kemungkaran." 14. Dari Maimun, yaitu Ibnu Mahran,68 katanya, "Saya pernah mengunjungi Ummu Darda'. Saya melihat dia memakai kerudung yang tebal yang dia julurkan dari atas alisnya. Di rumahnya terdapat sebuah ruangan yang dapat saya tempuh dengan cukup
66

Ada hadits semisal terdapat di dalam kitab Shahih Abi Dawud (hadits no. 117). Di dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Nabi berkata kepadanya, 'Tuangkanlah untukku (air) untuk berwudhu!" D\ dalam riwayat Ath-Thabarani disebutkan, 'Tuangilah aku air untuk berwudhu!" Dan dalam riwayat lain disebutkan, "Dan saya menuangkan air pada kedua telapak tangan beliau tiga kali." 66. Hadits no.11 dan no.12 keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 366) dan Ibnu Asakir (XIX: 503). Sanad hadits pertama shahihdan yang kedua jayyid. Isa bin Utsman ini dicantumkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqat-nya (VII: 233). Dan beberapa ulama hadits lain meriwayatkan darinya. 67. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Kabir (XXIV: 311/785) dengan sanad yang jayyid. 68. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh Damsyiq (XIX: 562) melalui jalur Al-Baghawi, katanya: Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Salim Asy-Syasyi: Telah mengabarkan kepada kami Abu Malih, dari Maimun....

116—Jilbab Wanita Muslimah

berjalan sebentar. Tidaklah aku masuk pada waktu-waktu shalat melainkan saya selalu mendapati dia sedang melakukan shalat." 15. Dari Mu'awiyah,69 katanya, "Pernah saya bersama ayah saya berkunjung ke Abu Bakar. Saya melihat Asma' berdiri di dekatnya, dan (wajah Asma') nampak kelihatan putih. Lalu, saya juga melihat Abu Bakar. Ternyata dia adalah seorang laki-laki yang berkulit putih dan kurus." 16. Dari Uyainah bin Abdurrahman,70 dari ayahnya, katanya, "Pernah seorang wanita datang menghadap Samurah bin Jundub. Dia menceritakan bahwa suaminya tidak lagi membelanjainya. Lalu, suaminya ditanya. Ternyata dia mengingkari hal itu. Maka, Samurah menulis surat kepada Muawiyah tentang masalah ini. Dan Muawiyah pun membalasnya yang isi suratnya, 'Sesungguhnya istri dia itu makan dari baitul mal; dan dia adalah seorang yang cantik lagi (baik) agamanya.' Si periwayat melanjutkan, "Lalu Mu'awiyah.... Kemudian wanita itu datang dengan me71 ngenakan tutup kepala. "

Saya katakan: Ini adalah sanad yang shahih. Abu Malih nama sebenarnya adalah Al-Hasan bin Umar Ar-Raqi, seorang periwayat tsiqah yang tercantum di dalam kitab At-Tahdzib. Adapun Asy-Syasyi dinilai tsiqah oleh ibnu Hibban (Vlll:494); begitu juga oleh Al-Khathib di dalam kitab At-Tarikh (X\: 161). Sedangkan Ummu Darda' adalah istri Abu Darda', nama sebenarnya adalah Hujaimah; dan ada pula yang mengatakan Juhaimah. Dia adalah seorang yang tsiqah, ahli fiqih dan ahli ibadah. Riwayat hidup Ummu Darda' ini dipaparkan secara panjang lebar di dalam kitab At-Tarikh tersebut. 69. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Kabir (I: 10/25) dengan sanad jayyid karena adanya beberapa hadits pendukung. Para periwayat hadits ini adalah para periwayat tsiqah, kecuali gurunya Ath-Thabarani sendiri yang bernama Al- Qasim bin Ibad Al-Khathabi. Ada empat hadits yang diriwayatkan darinya yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath (II: 3/1). Al-Haitsami berkata, "Para periwayat hadits ini adalah para periwayat hadits shahih." 70. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi (VII: 228) dengan sanad hasan. 71. Sebelumnya saya masih agak bimbang sehingga akan memasukkan atsar ini ke dalam golongan atsar yang menunjukkan adanya praktek menutup wajah yag dilakukan oleh kaum wanita di zaman Nabi m- Akan tetapi sekarang telah nampak terang bagi saya bahwa ternyata yang benar justeru sebaliknya. Sebab, yang namanya taqannu' adalah perbuatan wanita menutup kepalanya, bukan menutup wajah, sebagaimana telah saya jelaskan pada mukadimah edisi ini. Atsar ini termasuk bukti-bukti

Jilbab Wanita Muslimah — 117

Hukum Menutup Wajah
Banyak para syaikh dewasa ini berpendapat bahwa wajah wanita adalah aurat, sehinggatidak boleh atau haram dibuka. Namun, penje-lasan di muka saya kira cukup untuk membantah pendapat mereka. Sebaliknya, ada kelompok ulama lain yang berpendapat bahwa menutup wajah adalah bid'ah dan termasuk berlebihlebihan dalam beragama, sebagaimana yang saya dengar pendapat itu dipegangi oleh orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah di negara Libanon. Kepada saudara-saudaraku yang berpendapat demikian saya sam-paikan penjelasan sebagai berikut: "Perlu diketahui, bahwa menutup wajah dan kedua telapak tangan itu ada dasarnya dari Sunnah, dan hal itu juga pernah dipraktekkan oleh para wanita di zaman Nabi sebagaimana ditunjukkan oleh sabda beliau kepada mereka,

"Janganlah wanita yang berihram itu mengenakan cadar n maupun kaos tangan. " Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menafsirkan surat AnNur ayat 59 berkata, "Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihram. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka."
yang tidak menyenangkan orang-orang yang fanatik terhadap madzhab-madzhab mereka serta keras dalam memegang pendapatnya. Allah maha tahu segala yang mereka lakukan dalam menetapkan batasan pakaian bagi wanita-wanita mereka. Oleh karena itulah atsar ini saya cantumkan di sini. 72. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IV: 42), An-Nasai (II: 9/10), Al Baihaqi (V: 46-47), Ahmad (hadits no.6003) dari Ibnu Umar secara marfu'. Catatan: Kaos tangan adalah kain yang dipakai oleh kaum wanita menutup jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan, yang terkadang dipakai karena kedinginan atau karena keperluan tertentu seperti menenun dan sebagainya. Kaos tangan ini dipakai di tangan sebagaimana khuf atau kaos kaki yang dipakai di kaki. Sedangkan niqab adalah kain penutup yang menutup wajah dari hidung atau dari bawah lekuk mata kebawah.

118 —Jilbab Wanita Muslimah

Banyak nas-nas yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi ^me-makai cadar untuk menutup wajah-wajah mereka. Di antara hadits-hadits maupun riwayat-riwayat yang mendukung pernyataan saya di atas adalah sebagai berikut: 1. Dari Aisyah/ katanya, "Saudah pernah keluar untuk suatu keperluan. Ini terjadi 7A setelah turun ayat hijab . Dia adalah seorang wanita gemuk dimana dia tidak bisa menyembunyikan diri dari orang yang pernah mengenalnya (karena gemuknya). Umar melihat dia, lalu berkata, "Wahai Saudah, demi Allah, kamu tidak bisa menyembunyikan diri dari kami. Lihatlah, bagaimana kamu ini keluar-keluar. Maka, Saudah pun bergegas pulang yang ketika itu Rasulullah berada di rumah saya sedang makan malam dan tangan beliau masih memegang tulang yang masih tersisa sedikit dagingnya. Saudah masuk menemui Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tadi keluar untuk suatu keperluan. Namun Umar mengatakan kepada saya begini-begini. Maka, Allah ta'ala menurunkan wahyu kepada beliau . Dan masalah Saudah pun akhifnya terpecahkan. Kemudian dengan masih memegangi tulang tadi, beliau bersabda,
3

"Sesungguhnya kalian telah 75 memenuhi keperluan kalian. "

diizinkan

keluar

untuk

73. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VIII: 430-431), Muslim (VII: 6-7), Ibnu Sa'ad (VIII: 125-126), Ibnu Jarir (XXII: 25), Al-Baihaqi (VII: 88) dan Ahmad (VI: 56). 74. Hijab di sini maksudnya adalah tabir untuk para istri Nabi u yang disebutkan dalam firman Allah: "Apabila kalian mempunyai keperluan dengan mereka hendaklah berbicara dari balik tabir. Karena hal itu lebih menjaga kesucian hati-hati kalian dan hatihati mereka."Ayat ini turun berkenaan dengan perkataan Umar sebagaimana diriwa yatkan oleh Al-Bukhari (Vlll:428) dan lainnya dari Anas yang berkata, 'Umar pernah berkata, 'Wahai Rasulullah, yang mengunjungi engkau itu ada orang yang baik dan ada pula orang yang jahat. Alangkah baiknya kalau engkau menyuruh Ummahatul Mukminin untuk berhijab. Kemudian Allah menurunkan ayat ini. 75. Hadits ini menunjukkan bahwa Umar bisa mengenali Saudah dari badannya. Hal ini menunjukkan bahwa dia dalam keadaan terbuka wajahnya. Karena Aisyah menyebutkan bahwa Saudah bisa dikenali dari tubuhnya yang gemuk. Umar menginginkan supaya Saudah tidak dapat dikenali orang, oleh karena itu dia tidak usah keluar saja

Jilbab Wanita Muslimah — 119

Ternyata Shafwan bin Mu'athal AsSilmi Adz-Dzakwani datang menjelang malam dengan pasukan. dan mereka juga tidak boleh menampakkan wajahnya tersebut meskipun dalam keadaan berjilbab. Ibnu Jarir (XVIII: 62-66) dan Abu Al-Qasim Al-Hanai di dalam kitab AI-Fawa-id (IX: 142/2) yang sekaligus menilai hadits ini hasan. 'Saya tahu persis kalau hal itu terjadi setelah turunnya ayat hijab. Hafshah ditutupi oleh para sahabat wanitanya agar tidak bisa dikenali orang. Muslim (VIII: 113-118). Bahkan. katanya : "Tatkala saya sedang duduk di rumahku. Nabi tetap membolehkan mereka keluar bila sewaktu-waktu ada keperluan agar mereka tidak merasa kerepotan dan keberatan. Dan telah tersebut di muka —dalam masalah Haji— pertanyaan Ibnu Juraij kepada Atha' tatkala dia menyebutkan thawafnya Aisyah: 'Itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab ataukah sesudahnya?' Maka dia menjawab. Dia bisa mengenali saya karena saya sendiri mengarahkan pandangan kepada- 76 dari rumahnya. 'Buatkanlah hijab untuk istri-istri Engkau.' Usulan Umar tadi sangatlah perlu sehingga turunlah ayat Hijab. Dia lalu datang menemui saya." Al-Qadhi lyadh berkata. "Sesungguhnya Umar tidak ingin nantinya ada orang-orang yang memandangi istri Nabi sehingga dengan jelas dia berkata. karena hal itu akan memberatkan. Maka mereka tidak boleh membukanya meskipun untuk keperluan persaksian atau yang lainnya." Apa yang tersebut di atas bukanlah dalil (yang mapan) dari orang yang menganggap menutup wajah adalah hukumnya wajib bagi para wanita. tiba-tiba saya mengantuk. Para sahabat dan orang-orang sesudahnya juga mendengarkan hadits dari mereka. lalu tertidur. Dari Aisyah dalam qishah Al-lfki." Al-Hafizh Ibnu Hajar (Vlll:530) berkata. Akan tetapi Pembuat syariat (Allah) Yang Maha Bijaksana tidak menghendaki gagasan Umar tadi. namun tidak menutup wajahnya. di-mana mereka hanyalah menutup seluruh badannya (dengan pakaian).' 76. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VIII: 194-197) dengan syarahnya pada kitab FathAI-Bari). kecuali karena keadaan darurat. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits ini berkata. Dia (dan pasukannya) pun menginap di rumahku. Karena dalam kenyataan-nya sepeninggal Nabi para istri beliau berhaji dan melakukan thawaf.2. Lafazh lain yang ada di dalam tanda kurung adalah yang terdapat di dalam riwayat Al-Qasim Ai-Hana-i. Di samping itu Umar juga berkeinginan agar istri-istri Nabi tidak usah keluar menampakkan dirinya. meskipun mereka memakai jilbab. "Kewajiban berhijab yang dikhususkan bagi Ummahatul mukminin (maksudnya: istri-istri Nabi ) adalah meliputi juga menutup wajah dan kedua telapak tangan. Akan tetapi usulan ini terlalu berlebihan sehingga Nabi pun menolaknya. Sekian. Saya melihat bayangan hitam orang-orang tidur (di kegelapan malam). Ahmad (VI: 194-197). Zainab binti Jahsy membuat penutup di atas tandunya agar tidak dikenali orang. 120—Jilbab Wanita Muslimah . "Kemudian dia mengambil dalil dari hadits yang ada di dalam kitab Al-Muwatha' bahwa ketika Umar meninggal.

78 77.) wajahku dengan jilbab agar tidak terlihat olehnya. Beliau menutupkan selendang beliau di atas punggung dan wajah dia. katanya. maka beliau me-nyodorkan pahanya agar Shafiyah memancatkan telapak kakinya di atas paha beliau (untuk naik ke unta). dan dari Ummu Sinan Al-Aslamiyah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (VI: 30).418). Muslimah— 121 . sedangkan dalam riwayat lain dengan lafazh: fa satartu. 'Antara satu hadits dengan hadits lainnya saling melengkapi. Shafiyah tidak mau. (Artinya sama: menutup —Pent.' Saya katakan: Hadits serupa ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Kemudian beliau mengikatkan selendang itu dari bawah kaki dia. dan itu terjadi karena saya waktu itu belum mengenakan hijab. "Lalu. Lalu saya bangun dan meminta dia untuk kembali (ke tempatnya menginap) setelah dia bisa mengenaliku. Rasulullah keluar dari Khaibar dan belum ada tanda-tanda untuk memperistrinya.nya. Dari Aisyah. Abu Dawud.1023 dan 1024) Jilbab Wanita. 4. Lalu beliau pun berangkat. Ibnu Al-Jarud (hadrts no. dari Abu Ghathafan bin Tharif Al-Mirri. Muslim dan lainnya dari Anas yang telah kami kemukakan di muka pada hlm. Al-Baihaqi di dalam kitab Al-Haj. 78. Dari Anas. Ibnu Sa'ad berkata. Nabi pun lalu menutupinya dan memposisikan dia di belakang beliau (di atas unta). Dan yang termasuk salah satu hadits pendukungnya adalah hadits pada urutan sesudahnya. Sanad hadits ini hasan karena adanya beberapa hadits pendukung. dalam kisah Perang Khaibar dan terpilihnya 77 Shafiyah menjadi istri Nabi Anas berkata. 109. Kedua hadits ini juga termuat di dalam kitab Al Irwa' (hadits no. Dia hanya mau meletakkan lututnya di atas paha Nabi . Beliau memperlaku-kan dia sebagaimana memperlakukan istri-istri beliau yang lain." 3. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 86-87) dengan beberapajalur periwayatan: dari Abu Hurairah. aku pun menutup (dalam riwayat ini dengan lafazh: fa khamartu. Maka. dari Anas bin Malik. Namun tatkala unta beliau yang hendak ditunggangi keluar Khaibar sudah dekat.

Dzahabi. Semua periwayat hadits ini tsiqah. karena para periwayatnya adalah biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim. maka masing-masing dari kami menjulurkan jilbab yang ada di atas kepala untuk menutup muka."Biasa para pengendara melewati kami yang sedang berihram bersama Rasulullah . 81. Akan tetapi sebenarnya para periwayat hadits ini hanya dipakai oleh Muslim saja.. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Malik (1:305) dari Fatimah binti Al-Mundzir.. Dari Abdullah bin Umar. Karena Zakaria bin Adi yang ada dalam sanad hadits ini dipakai oleh Al-Bukhari tidak dalam kitabnya AI-Jami'Ash Shahih sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Tahdzib." 5. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 49). dari Al-Hasan bin Muslim. jika mereka lewat di hadapan kami. katanya: 80 "Saya pernah melihat Aisyah melakukan thawaf mengelilingi ka'bah dengan memakai cadar.79 katanya. 122—Jilbab Wanita Muslimah .'. Katanya: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Al-Walid Al-Azruqi: Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahamn bin Abur Rijal dari dia." 7. 81 katanya: 79. Dia berkata. dari Shafiyyah. "Kami biasa menutup wajah kami dari pandangan laki-laki dan se-belum itu kami juga biasa menyisir rambut ketika ihram. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (1:545)." 6. Begitu juga oleh Abdurrazzaq di dalam kitab AI-Mushannaf (V: 24-25) dari Ibnu Juraij. (yaitu Abdullah bin Umar). 80. Dari Shafiyah binti Syaibah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 90). maka kami pun membukanya kembali seperti semula. Maka. kecuali Ibnu Juraij yang mudallis dan meriwayatkan hadits ini dengan lafazh 'dari." Hal ini disepakati oleh Adz. Dari Asma' binti Abu Bakar. Namun bila mereka sudah berlalu dari kami.. "Hadits ini shahih.

yang diikuti oleh Al-Hafizh di dalam kitab AI-LiSan.kecuali Al-Walid ini saja. Oari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf : "Bahwa Umar bin Khathab memberi izin kepada para istri Nabi untuk menunaikan haji yang terakhir kalinya.. Umar mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk menemani mereka." Namun ada riwayat lain dari Al-Waqidi yang menjadi penguat haditsnya Al-Walid ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 151). Tidak semestinya dia dikatakan sedemikian itu. "Ketika itu Utsman berseru: 82 Seluruh periwayat hadits ini tsiqah."Tatkala Nabi sedang memperhatikan Shafiyah. Karena hal itu adalah merupakan suatu keperluan atau Jilbab Wcmita Muslimah— 123 .dst. Akan tetapi ada hadits serupa yang mendukungnya yang diriwayatkan oleh Atha' secara mursal. Sehingga hal itu tidak bertentangan dengan perkataan Al-Hafizh yang telah kami sebutkan tadi. Akan tetapi atsar ini tidak menunjukkan kewajiban hal tersebut atas mereka. Ibnu Adi pun berlepas diri dari hadits yang dia sampaikan. dimana dia ini salah seorang periwayat yang dha'if sebagaimana telah disebutkan di muka. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 152). beliau meiihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Kemudian AlWalid menyampaikan hadits kepadanya. Dan hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mandah melalui jalur periwayatan lain sebagaimana tersebut di dalam biografinya di dalam kitab Al-lshabah (IV: 409). Karena dia itu telah dinilai tsiqah. dari kakeknya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad melalui jalur Al. dari bapaknya. Lalu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Manshur bin Asakir di dalam kitab Al-Arba'in fi Manaqib Ummahat AI-Mu'minin (hlm. katanya: Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad. bahwa mereka menampakkan diri di depan para sahabat lain dalam keadaan tertutup seluruh badannya. Adz-Dzahabi menyebutkan tentang dia ini di dalam kitabnya Al-Mizan. Dan beliau tahu kalau itu Aisyah dari cadarnya". Di dalam atsar ini disebutkan bahwa para istri Nabi itu menutup wajah mereka. 89). Keduanya berkata. "Ibnu Adi menyebutkan tentang dia. namun tidak tertutup wajahnya. 8. dan biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim. bahwa Umar Ibnu Al-Khathab. 82. Sanad hadits ini hasan. katanya: Telah meriwayatkan kepada kami Al-Walid bin Atha' bin Al-Aghar Al-Makki. namun ada keterputusan antara Abur Rijal dengan Ibnu Umar.Waqidi dengan sanadnya bahwa Hindun binti Utbah membuka cadarnya ketika berbaiat kepada Nabi . Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dengan dua jalur periwayatan lain yang sumbernya dari Al-Waqidi. Para periwayat hadits ini adalah orang-orang tsiqah.." Ibrahim berkata.

jangan sampai ada seorang pun yang mendekati mereka dan jangan ada seorang pun yang memandangi mereka!' Para istri Nabi tadi berada di dalam sekedup di atas unta..” Sanad hadits ini hasan. Sanad hadits ini shahih. dan saya pun menutupkan tabir.. bagaimana pendapatmu tentang perkelahian. Wallahu a'lam. Dia menyebutkan tentang ketsiqahan diri Sa'dan ini dari Daraquthni dan lainnya. lalu kami meminta izin masuk. Berikut ini akan saya tampilkan dua contohnya: 1. Dia adalah Ummu Hudzail Al-Anshariyah Al-Bashriyah.'Awas. Tatkala m'ereka turun untuk singgah. 84 "Kami pernah mengunjungi Hafshah bin Sirin yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekalian untuk menutup wajahnya. Dia hafal Al-Qur'an ketika berumur 12 tahun dan meninggal pada usia 70 tahun. katanya." Hadits-hadits yang saya sebutkan di atas secara jelas menunjuk-kan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi dan istri-istri beliau pun mengenakannya. lyas bin Mu'awiyah berkata. Sa'dan. 84. sementara Utsman sendiri bersama Abdurrahman bin Auf berada di balik bukit. nama aslinya adalah Sa'id. Dan tidak ada seorang pun yang naik ke tempat di mana mereka tinggal. katanya: Pernah saya dan bersama sahabat saya datang ke Aisyah." Dia meninggal pada tahun 101 H.. 83 124—Jilbab Wtmita Muslimah . Dari Ashim Al-Ahwal. salah seorang tabi'iyah yang utama. Selanjutnya. Aisyah kemudian memberikan bantal kepada kami. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (VII: 93) melalui jalur Sa'dan bin Nashr: Telah meriwayatkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ashim bin Al-Ahwal. sebagaimana disebutkan oleh Al-Khathib di dalam kitab Tarikh-nya. 83. Perkatan Al-Hafizh di atas nampaknya menyiratkan hal yang demikian ini. Namun dia lebih sering dipanggil Sa'dan. 'Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.. dst. Ahmad (Vl:219) telah meriwayatkan dari Yazid bin Babanus. hal semacam itu jugadipraktekanoleh wanitawanita shalehah sepeninggal mereka. Allah ta'ala telah berfirman: kemudahan yang memang diberikan oleh Pembuat syariat. dan seterusnya. Kemu-dian sahabatku tadi berkata. "Wahai. Utsman tempatkan mereka di suatu dataran..Ummul Mukminin. Lalu. saya katakan kepadanya. Tidak ada seorang pun yang lebih saya utamakan daripada Hafshah.

Kemudian saya juga melihat bahwa Ibnu Abbas menjelaskan ayat di atas dengan makna demikian. Ibnu Abbas serta dari beberapa orang tabi'in."Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haidh dan menyusui) yang sudah tidak punya keinginan 85 nikah. Boleh jadi inilah penafsiran yang tepat untuk lafazh: tsiyabahunna (pakaian mereka) yang dalam bentuk jamak. yang meninggal tahun 93 H. Yang jelas bahwa Jabir bin Zaid menerima penafsiran semacam itu dari Ibnu Abbas. Lalu. Dia berkata di dalam kitab tafsir-nya (V: 445): "Yakni. tidaklah berdosa menanggalkan pakaian mereka asal tidak dengan maksud menampakkan perhiasan"'adalah merupakan pengecualian dari ayat yang memerintahkan mengenakan khimar. sebagaimana yang dikatakan oleh Hafshah ini. Saya juga melihat bahwa Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As Sa'di menafsirkan semacam itu. Dan penafsiran semacam itu juga dibenarkan oleh Al-Qurthubi. pakaian yang tampak. Ibnu Jarir dan Abu Bakar Al Jashash (111:411) meriwayatkan penafsiran semacam itu. Wallahu a'lam. Penafsiran Ibnu Abbas di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no. Jabir bin Zaid (dia seorang yang tsiqah lagi ahli dalam hal fikih. Boleh jadi sandarannya adalah sebagaimana yang tersebut di dalam tafsir Al-Qurthubi: "Orang Arab mengatakan: imra-atun wadhi’ adalah untuk seorang perempuan yang sudah tua yang menanggalkan khimar-nya. Para ahli tafsir berbeda-beda dalam menafsirkan maksud perkataan ini.) mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah 'khimar'. dan bahwa ayat: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haidh dan menyusui) yang sudah tidak punya keinginan nikah. seakan-akan Allah hendak mentaqyidnya. tidaklah berdosa menanggalkan pakaian mereka. lalu menurunkan ayat ini. Dia memang termasuk orang yang banyak meriwayatkan tentang Ibnu Abbas. Namun kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa yang dimaksud adalah 'jilbab'." 85. seperti khimar dan sejenisnya yang sebelumnya telah Allah tetapkan untuk Jilbab Wanita Muslimah— 125 ." Hal itu dikuatkan lagi bahwa ayat ini disebutkan oleh Allah dalam surat An-Nur sesudah disebutkannya ayat yang menyuruh kaum wanita untuk mengenakan khimar secara mutlak.4111) dan Al-Baihaqi (VII: 93) dengan sanad hasan.

'Kamu datang untuk menanyakan perihal anakmu. 'Wahai hamba Allah.. Lalu sebagian sahabat Nabi M menegurnya.. sebagaimana tersebut di dalam kitab Mukhtashar Al-Mundziri (III: 359).." Dia kemudian . saya tahu.penjelasan yang sama di dalam kitabnya An-Nazharila Ahkam An Nazhar..'" 126—Jilbab Wanita Muslimab . 'Ya.." Abu Hatim Ar-Razi berkata.. Ubaid pun menegur. cetBeirut) pada bahasan biografi Ubaid bin Umar Al-Makki disebutkan: "Ada seorang wanita cantik yang tinggal di Mekkah bersama suaminya. maka haditsnya laisa bil qaim (lemah). Akan tetapi kita tidak bisa berhujjah dengan hadits dengan sanad semacam ini. bertakwalah kepada Allah. Al-Hafizh Abu Al-Hasan Al-Qathan juga telah menyampaikan . aku mengizinkan. 'Ayat itu menetapkan 86 adanya aturan hijab. dari bapaknya. maka tidakakan bergunalah rasa maluku ini.' Rasulullah pun berkata. Suatu hari dia melihat wajahnya di cermin. Keduanya lalu berduaan di salah satu sudut masjidil haram. wahai Rasulullah?'Beliau m menjawab.'" Ini merupakan nas yang jelas mengenai keutamaan cadar. karena Al-Bukhari berkata: "Abdul Khabir ini. 'Dia adalah Ubaid bin Umair. 'Lalu dia mengatakan kepada kami. Sebagian dari ulama mutaakhirin mendukung apa yang telah kami sebutkan di atas dengan satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:389) melalui jalur Farj bin Fadhalah. 'Bila anakku mendapatkan musibah. haditsnya laisa bilqaim(\emar)). 'Izinkanlah aku untuk mencoba menggodanya!' Suaminya berkata.' Dia bertanya. Wanita tadi berkata.' Istrinya berkata lagi." Di sisi lain di dalam kitab TsiqahAI-'Ajali(h\m.' Lalu.. 'Siapa?' Suaminya menjawab. lalu berkata kepada suaminya. 322. dari Abdul Khabir bin Tsabit bin Qais bin Syammas. yang dengan memakai cadar seperti itu tergolong menjaga rasa malu. munkarul hadits (tertolak). 'Anakmu mendapatkan dua pahala mati syahid. dan hendaklah mereka menutupkan khimar mereka ke dadanya'. 'Ya. bila diambil riwayatnya oleh Farj bin Fadhalah.' Kemudian wanita tadi pun datang kepada Ubaid dan meminta fatwa kepadanya. Perbuatan dia ini disetujui oleh Rasulullah *. dari kekeknya yang berkata: "PernahseorangperempuanyangbemamaUmmuKhalad datang kepada Nabi dengan mengenakan cadar menanyakan perihal anaknya yang mati terbunuh. 'Karena anakmu dibunuh oleh seorang Ahli kitab. sementara kamu datang dalam keadaan bercadar?' Dia menjawab. 'Mengapa begitu. "Abdul Khabir. dan kalau mereka mau menjaga kesucian dirinya itu akan lebih baik bagi mereka.Ashim berkata kepada kami. Apakah engkau tahu ada seorang yang meskipun melihat wajahku ini namun tetap tidak tergoda?' Suaminya menjawab. berkata. 'Saya buka wajahku bagai sepotong rembulan. 'Apa lagi sesudah itu?' Kami menjawab.'. Farj sering meriwayatkan hadits-hadits mungkar.'" dikenakan oleh wanita sebagaimana tersebut di dalam ayat: '. 86.'Dia menjawab.

Musa Al-Qadhi berkata. 21) dimana dia berkata: "Adapun yang namanya wajah. Ketika itu ada seorang perempuan mengadukan persoalan karena walinya mengklaim bahwa suaminya masih mempunyai hutang mahar sebesar lima ratus dinar. 'Itu." Bila telah jelas masalahnya demikian.' Maka sebagian saksi-saksi yang ada itu diminta menghadap kepada wanita tadi untuk memberikan persaksiaannya. Karena wajah merupakan anggota badan yang pertama kali bisa Anda tatap dan merupakan bagian yang paling mulia diantara anggota badan yang lain. katanya. 87. yang paling mulia atau yang paling asasi. salah seorang di antara para saksi itu berkata kepada wanita tadi. Hlm. Riwayat ini diriwayatkan oleh Al-Khathib di dalam kitab Tarikh Baghdad(XIII: 53). akan tetapi meliputi juga seluruh bagian telinga. maka pendapat Al Ustadz Al-Maududi di dalam tulisan bantahannya terhadap tulisan saya (hlm. Lalu. 40. Jilbab WanitaMuslimah— 127 . 'Manasaksi-saksinya?' Wanita itu berkata. 'Apa yang kalian lakukan?' Catatan: Tidak diragukan lagi bahwa yang namanya wajah adalah sebagaimana telah saya sebutkan di muka dan sebagaimana terkenal di dalam kitab-kitab fikih. "Aku pernah menghadiri majlisnya Musa bin Ishaq Al-Qadhi yang menjadi hakim di kota Rai pada tahun 286 H.wajah ini digunakan untuk menamai setiap segala sesuatu yang berada di depan." Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari Ibnu Abbas dengan sanad shahih dan juga terdapat banyak hadits lain yang mendukung sebagaimana saya sebutkan di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. menurut pengertian umumnya. maka kata . sayatelah mendatangkan saksisaksinya. yaitu batasnya dari tempat tumbuhnya rambut kepala bagian depan hingga bawah dagu dan mulai dari cuping telinga kanan hingga cuping telinga kiri. maka yang dimaksud bukanlah hanya bulatan wajah saja. Saya tidak tahu apa dasarnya. Karena apa yang dia katakan itu bertentangan dengan pendapat ulama bahasa dalam mendefinisikan wajah sebagaimana tersebut di atas. "Wajah adalah anggota badan. namun dia tidak mengakuinya." Begitulah kata dia.2. Dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Musa Al87 Qadhi. Pengertian seperti itulah yang telah disebutkan oleh para ahli bahasa menurut arti asalnya. 'Bangunlah!' Melihat hal itu suaminya berkata. dan juga bertentangan dengan hadits Nabi yang cukup jelas yang menyebutkan: "Kedua telinga adalah termasuk bagian dari kepala. Al-Ashfahani berkata di dalam kitab Mufradat-nya.

sebagaimana dikatakan oleh Mujahid dan lainnya dari kalangan ulama salaf. agar mereka dapat mengenalnya dengan jelas. Berbeda dengan yang dikatakan oleh ulama-ulama belakangan. Dari penjelasan di atas nampak teranglah syarat pertama dari pakaian wanita bila dia keluar rumah. yang mengenakannya berarti dia telah melakukan suatu kebaikan dan yang tidak melakukannya pun tidak berdosa. apakah muslimat maupun kafir. 'Saya pun bersaksi di hadapan hakim bahwa saya telah menghibahkan mahar ini kepadanya dan saya telah bebaskan dia dari (tanggungan mahar ini) di dunia dan di akhirat." Di dalam kitab Al-Adab (hlm. 'Ini tercatat sebagai bentuk akhlak yang mulia. yaitu menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Namun. yaitu wanita-wanita mukminat. Catatan Penting: Firman Allah ta'ala di dalam surat An Nurayat 31: ".' Lalu.atau kepada kaum wanita mereka. bahwa maksud ayat di atas adalah kaum wanita yang baik-baik." maksudnya adalah kaum wanita mukminat.' Lantas suami wanita itu berkata. meskipun itu bukan hal yang diwajibkan. hakim berkata.' Berdasar dari apa yang telah saya sebutkan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa masalah menutup wajah bagi seorang wanita dengan cadar atau yang sejenis itu seperti yang sekarang ini dikenakan oleh para wanita yang menjaga dirinya adalah perkara yang disyariatkan dan termasuk amalan yang terpuji. Di dalam kitabnya Fat-hu Al-Qadir (IV:22) Syaukani berkata. "Disandarkannya kata 'nisa' (wanita-wanita) kepada mereka (yaitu: kaum mukminat) menunjukkan bahwa yang di maksud adalah khusus.Salah seorang wakil dari mereka berkata. Mereka berpendapat. 'Saya mengaku di hadapan hakim bahwa aku memang mempunyai hutang mahar seperti yang diklaimkan itu. "Adapun mengenai perkataan 'nisa-ihinna' telah disampaikan 128—Jilbab Wanita Muslimah . Libanon) Al-Baihaqi berkata.' Lalu istrinya pun menimpali... 'Para saksi ini ingin melihat istrimu dalam keadaan terbuka wajahnya. 407 cet. Tetapi istri saya jangan disuruh untuk membuka wajahnya.

. Jilbab Wanita Muslimab— 129 . katanya. Menurut saya. Dia juga meriwayatkan hadits itu di dalam kitab Sunan-nya sebagaimana tersebut di dalam kitab Tafs/r Ibnu Katsir (111:284). 'Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin lyasy. Begitu juga Sa'id bin Manshur. kecuali Nusai. Diantara Umar dan Ubadah. laranglah mereka!' Dalam riwayat lain Umarberkata "Sesungguhnya tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dilihat auratnya kecuali oleh wanita yang seagama dengannya. kecuali Ibnu Hibban (V:482). dari Hisyam Al-Ghaz... katanya. para periwayat hadits itu orang-orang yang bisa dipercaya.. dari bapaknya. Dan dia juga meriwayatkan hadits lain melalui jalur Al-Baihaqi. di dalam sanad hadits tersebut terdapat Nusai. dari Ubadah bin Nusai. katanya..." Riwayat pertama di atas diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Sunan-nya (Vll:95) melalui jalur Isa bin Yunus. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya At-Taqrib menyatakan bahwa dia seorang periwayat yang majhul (tidak dikenal). karena Ubadah tidak bertemu dengan Umar.kepada kami dari Umar bin Khathab bahwa dia pernah menulis surat kepada Ubaidah bin Jarrah yang isinya: 'Sesungguhnya ada beberapa kaum wanita dari kalangan kaum muslimin masuk ke tempat pemandian yang di situ terdapat juga wanita-wanita Ahli kitab. Akan tetapi sanadnya munqathi' (terputus). 'Umar pernah menulis.'" Ibnu Jarir juga meriwayatkan hadits tersebut (XVIII:95). Oleh karena itu. dari Al-Harits bin Qais. yaitu ayah Ubadah. 'Umar pernah menulis. katanya.' Para periwayat hadits di atas orang-orang yang dapat dipercaya. "Telah meriwayatkan kepada kami Hisyam bin Al-Ghaz bin Rabi'ah Al-Jirsyi dari Ubadah bin Nusai Al-Kindi. Tidak ada ulama hadits yang menilai dia sebagai periwayat yang dapat dipercaya.

maka ketahuilah. Bila telah jelas seperti itu. Lalu. Dan kasus semacam itu pernah saya dengar benar-benar terjadi. adanya bahaya yang sekarang ini menimpa kebanyakan orang kaya di kalangan orangorang Islam yaitu dengan adanya pembantu-pembantu wanita kafir di rumah-rumah mereka. Namun jumlah mereka sedikit sekali. seperti: Ibnu Jarir. sebagaimana mereka berjilbab agar tidak terlihat oleh kaum laki-laki. jelas sulit sekali di zaman sekarang ini para istri dan anak-anak perempuannya yang sudah baligh untuk selalu berjilbab agar tidak terlihat oleh pembantu wanitanya yang kafir. Al-Qur'an telah menjelaskan bagaimana sikap dan perilaku ahli kitab (tentu termasuk juga wanita-wanitanya) yang seperti itu. pengertian semacam itu. bisakah anak-anak mereka selamat dari pengaruh tingkah laku dan kebiasaan mereka yang sudah dipastikan bertentangan dengan syariat agama kita? Itu pun kalau pembantu wanita tadi tidak mempunyai keinginan busuk untuk merusak pendidikan mereka dan membuat mereka ragu-ragu terhadap agama mereka. 130—Jilbab Wanita. bagaimana kalau yang menjadi pembantu di rumah orang-orang Islam tadi wanita-wanita Srilangka para penyembah berhala yang tidak mempunyai kitab? Adapun bahayanya terhadap istri. Ibnu Katsir.) telah menjadi kesepakatan para ahli tafsirdan ahli tahqiq. Akan tetapi. Walaupun tentu ada saja yang bisa bersikap begitu. yaitu dikhawatirkan akan terjadinya perbuatan zina antara dia dengan pembantu tadi. Mungkin saja para suami istri itu bisa selamat dari bahaya-bahaya tadi. (yaitu nisa-ihinna yang dimaksud para wanita mukminat —pent. Lebih-lebih bila suami tidak memiliki sifat iffah (sifat menjaga kesucian diri) di hadapan pembantu wanitanya itu karena pembantunya tadi wanita kafir yang tidak tau halal dan haram. Muslimah . Sebab. yaitu orang-orang yang dilindungi oleh Allah.Namun demikian. akan sulit dihindari terjadinya fitnah atau terlanggarnya syariat oleh suami-istri muslim tadi atau oleh salah satu di antara keduanya (dengan adanya pembantu wanita kafir itu)! Bahayanya terhadap suami jelas. Syaukani dan ulama lainnya yang dalam menafsirkan ayat AlQur'an mereka senantiasa berpegang pada hadits-hadits Nabi Adapun pendapat para ulama khalaf tidak perlu kita perhitungkan.

meskipun seorang muslimah. Itulah hal-hal yang ingin saya sampaikan kepada manusia berkenaan dengan masalah pakaian wanita yang harus menutup seluruh badan. jangan-jangan mufti tadi lebih jauh lagi akan menganggap halal bersetubuh dengan pernbantu wanita tadi karena sudah disamakan dengan budak wanita yang boleh disetubuhi oleh pemiliknya! Apalagi di sana sudah ada orang yang berani menggugurkan hukuman had terhadap orang yang bersetubuh dengan pembantu wanitanya. kecuali muka dan telapak tangan. "Boleh. ♦ ♦♦♦♦♦♦ Jilbab Wanita Muslimah — 131 . sebab kedudukan pernbantu wanita tadi sama dengan kedudukan wanita-wanita tawanan perang atau budak yang secara syar'i boleh untuk dimiliki." Saya khawatir.Saya mendengar kabar. Mufti tadi menjawab. kecuali dengan pertolongan Allah. Karena Allahlah sematayangmemberi taufiq dan petunjuk kejalanyanglurus. —benar tidaknya terpulang kepada pembawa kabar— bahwa ada seorang mufti pernah ditanya tentang hukum mengambil wanita sebagai pembatu rumah tangga. dengan alasan karena orang tadi telah membeli pembantu wanita tersebut seperti halnya membeli budak! Allahlah tempat kita memohon pertolongan. tiada daya dan kekuatan bisa kita miliki. Semoga Allah menjadikan tulisan saya ini bermanfaat bagi orang yang mungkin lalai akan adanya kewajiban ini dan semoga juga bermanfaat bagi orang yang telah sengaja tidak mau melaksanakannya.

janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu!" Juga berdasarkan sabda Nabi . 132—Jilbab Wanita Muslimah .Ahzab ayat 33: "Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah!]uga. berdasarkan firman Allah ta'a/a yang tersebut di dalam surat An-Nur ayat 31: "Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka. Ayat ini juga dikuatkan oleh firman Allah yang tersebut di dalam surat Al." Secara umum ayat ini mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki.T idakUntuk Berhias ] ilbab disyaratkan tidak untuk berhias.

memakai berbagai wangiwangian. seperti misik. dimana suaminya itu telah mencukupi kebutuhan duniawinya. seorang budak wanita atau lakilaki yang melarikan diri meninggalkan pemiliknya. serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. memakai pakaian sutera.™ Tabarruj adalah perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya. Dengan demikian. oleh AlBaihaqi di dalam kitab Asy-Syu'ab. lalu dia mati. Ketiga orang itu tidak akan ditanya. Saya tidak melihat adanya cacat pada hadits ini. maksud perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Sedangkan Ibnu Asakir menilai hasan hadits ini di dalam kitab Madhu At-Tawadhu'(V: 88/1) Jilbab WanitaMuslimah— 133 . kedua. diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la. Jadi. memakai berbagai kain yang dicelup. sebagaimana sering kita temukan. tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias. Al-Hakim berkata: "Hadits ini para periwayatnya adalah para periwayat Al-Bukhari dan Muslim. As Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jami' menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad. anbar dan thib ketika keluar rumah. oleh Ath-habarani di dalam kitab Al-Kabir. ketiga."Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanya. wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya. seorang laki-laki yang meninggalkan jama'ah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam kedurhakaannya itu. namun (ketika suaminya tidak ada itu) dia bertabarruj. Imam Adz-Dzahabi di dalam Kitab A/Kabair hlm." Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini shahih. 131 berkata: "Di antara perbuatan yang menyebabkan wanita akan mendapatkan laknat adalah: menampakkan perhiasan emas dan mutiara yang berada di balik niqab (tutup kepala)nya. (karena mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka): pertama. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (1:119) dan Ahmad (VI: 19) dari Fadhalah bin Ubaid. Berkaitan dengan ini. memanjangkan baju dan melebarkan serta memanjangkan 88.

yang diriwayatkan oleh AlBukhari. sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah (hadits no.. tidak berzina. yang pelakunya akan mendapatkan murka Allah di dunia dan di akhirat. tidak membuat-buat ke- 134—Jilbab Wanita Muslimah . Nabi berkata.lengannya. tidak mencuri. zina. "Saya membai'at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Abdullah bin Amru pernah mengisahkan: Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai'at kepada Nabi untuk masuk Islam. Ahmad dan lainnya dari Ibnu Amru secara marfu' menambahkan: ". Muslim dan lainnya dari Imran bin Hushain dan lainnya." Namun tambahan di atas mungkar (tertolak). Saya katakan: Begitu kerasnya Islam melarang perbuatan tabarruj sehingga disetarakan dengan perbuatan syirik. Semua itu termasuk bentuk tabarruj yang dibenci Allah. dan temyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." Hadits ini adalah hadits shahih. dan orang-orang kaya. Hal itu karena ketika Rasulullah membai'at para wanita beliau menegaskan agar mereka tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. tidak membunuh anakmu. mencuri dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. maka Rasulullah bersabda tentang mereka: "Saya pernah menengok ke neraka..2800) jilid VI. Karena perbuatan-perbuatan tersebut banyak dilakukan oleh kaum wanita.

Bahkan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (II: 196) dengan sanad hasan. Al-Haitsami di dalam kitab Al-Majma' (VI: 37) berkata. tidak meratap. Dan contoh-contoh perbuatan melanggar aturan syariat seperti banyak sekali. Saya tidak tahu.dustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kedua kakimu. karena hal ini terkadang disalahpahami oleh sebagaian kaum wanita yang ingin komitmen (dengan agamanya). Al-Alusi di dalam kitab RuhAI-Ma'ani (V\: 56) berkata. Dan saya melihat para suami mereka pun membiarkan saja istrinya keluar rumah mengenakan pakaian semacam itu dan membiarkan mereka berjalan di sela-sela laki-laki lain. yang termasuk dalam kategori perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan adalah pakaian yang biasa dipakai oleh kebanyakan kaum wanita untuk bermewahmewahan di zaman kita sekarang ini yang ditutupkan di atas pakaian biasanya yang dipakai ketika mereka hendak keluar rumah. Adapun berkenaan dengan kisah Nabi membai'at para wanita agar tidak beitabarruj memang terdapat dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Kabir6ar\ Ibnu Abbas." Jilbab Wanita Muslimah— 135 . Kejadian semacam itu yang sebenarnya merupakan musibah sudah menjadi pemandangan umum di sekitar kita. La haula wala quwwata ilia billah. "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani. bahwa sama sekali bukanlah termasuk kategori perhiasan jika pakaian yang dipakai oleh seorang wanita itu tidak berwarna putih atau hitam. menurut hemat saya. apakah dia ini yang salah ataukah mungkin salah cetak. Bencana lain yang juga sudah umum adalah para wanita tidak memakai jilbab di hadapan saudara-saudara laki-laki suami mereka. Alasannya adalah: 89. Kadang malah ada wanita yang sebelumnya memakai jilbab. bukan Ahmad." Namun perlu diketahui. Semua itu jelas merupakan hal-hal yang tidak diizinkan oleh Allah fa'a/a dan Rasul-Nya. banyak terjadi para suami menganjurkan istrinya untuk berbuat seperti itu. dia pun tidak lagi memakai jilbabnya." Saya katakan: Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh AthThabarani. dan para perawinya orang-orang yang tsiqah. karena As-Suyuthi di dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur (VI: 209) telah menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Mardawaih saja. namun setelah beberapa hari menikah dan diberinya sedikit perhiasan (oleh suaminya). Contohnya adalah kerudung yang disulam dengan benang sutera warna-warni dan ditambah pula dengan hiasan emas dan perak kerlap-kerlip yang menyilaukan mata. Hal ini bisa terjadi dikarenakan kurangnya rasa kecemburuan dari para suami mereka. dan tidak bertabarruj seperti 89 dilakukan wanita-wanita jahiliyah dulu. Ini perlu saya tegaskan. sementara tidak ada kepedulian sedikit pun dari para suami mereka dalam masalah ini. "Selanjutnya.

padahal dia sedang melakukan ihram. ******* 136 —Jilbab Wanita Muslimah ... Dari Hisyam. adanya praktek para wanita sahabat yang memakai pakaian yang berwarna selain hitam dan putih." 3. 4. "Saya pernah melihat Ummu Salamah mengenakan baju dan pakaian panjang yang berwarna kuning.. Dari Sa'id bin Jubair bahwa dia pernah melihat sebagian dari istriistri Nabi ^thawaf mengelilingi ka'bah dengan mengenakan pakaian berwarna kuning.. 5. bahwa pernah dia bersama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang berwarna merah. bahwa Asma' pernah memakai pakaian yang berwarna kuning padahal dia sedang ihram. yaitu Ibrahim An-Nakha'i.Pertama. (Had its ini tersebutdi dalam kitab Mukhtashar AsySyama’il. Berikut ini saya kemukakan beberapa riwayatyang menunjukkan hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372): 1. yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq.. dari Fathimah bintu Al-Mundzir.. hadits no. adanya sabda Rasulullah "Parfum wanita adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya. Dari Ibrahim. 2.188) Kedua. dia berkata. Dari Ibnu Abi Mulaikah. bahwa Aisyah pernah mengenakan pakaian yang ber warna kuning. Dari Al-Qasim.

kecuali dengan bahan penutup yang tebal. maka hanya akan menambah daya tarik bagi si wanita yang me-ngenakannya atau malah menjadi perhiasan baginya. Kutuklah mereka itu. sebab yang namanya menutup tidak akan terwujud. karena sebenarnya mereka itu wanitawanita terkutuk." Di dalam riwayat lainnya terdapat tambahan: Jilbab Wanita Muslimah— 137 . Adapun bila kain penutup tadi tipis. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah ilbersabda: ] "Pada akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita dari kalangan umatku yang berpakaian.^ ainnya Harus Tebal. Diatas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Tidak Tipis ilbab disyaratkan harus terbuat dari kain yang tebal. namun pada hakekatnya mereka telanjang.

Di dalamnya disebutkan:". Saya telah membahas kedua hadits di atas secara rinci dalam kitab Ats TsamarAI Mustathab fi Fiqh As Sunnah wa Al Kitab. -pent. dia berkata: "Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi Aisyah dengan mengenakan khimar tipis yang masih menggambarkan keningnya. Sedangkan lafazh lain hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur priwayatan Abu Hurairah.1326). dari ibunya. Perkataan Ibnu Abdil Bar ini dinukil oleh As-Suyuthi di dalam kitab TanwirAI-Hawalik (III: 103). sehingga tidak berarti dia dianggap tsiqah oleh Al-Bukhari. Sanad ini. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 46). semua periwayatnya adalah para periwayat yang biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim. 232) melalui jalur periwayatan Ibnu Amr dengan sanad shahih. Atsar ini diriwayatkan juga oleh Malik (111:103) dari Al-Qamah namun lebih ringkas.'"92 90. 91. Dia keliru..85)." ' Dari Ummu Al-Qamah bin Abu Al-Qamah. 'Apakah kau tidak tahu ayat yang telah diturunkan oleh Allah di dalam surat An-Nur?. dari Al-Qamah bin Abu Al-Qamah. katanya: Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Mukhallad. 16). Lalu Aisyah memakaikan kepadanya sebuah khimar yangtebal. "Dia tidak dikenal. kecuali Ummu Al-Qamah." Ibnu Abdil Barberkata: "Yang dimaksud oleh Nabi adalah para wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya.. 92. namun bisa dijadikan syahid(penguat)." Saya katakan: Periwayat semacam dia ini riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata. Mereka itu 9 berpakaian. katanya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal. Muslimah . dan dalam kitab TakhrijAhaditsAIHalalwaAIHaram{no." 138 —Jilbab Wanita. Riwayat dari dirinya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari adalah mu'allaq (tidak disebutkan urutan sanadnya. Aisyah pun merobek khimar yang dia pakai sambil berkata. padahal baunya surga itu dapat dicium 90 dari jarak sekian dan sekian.' kemudian mengambilkan khimar (lain yang tebal). Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqat-nya (V: 466) menyebutkan Ummu Al-Qamah ini. namun pada hakekatnya masih telanjang. dalam kitab Silsilah AlAhadits Ash Shahihah (no. belum menutup atau menyembunyikan tubuh yang sebenarnya.)."Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam kitab Al Mu'jam Ash Shaghir (hlm. yang nama aslinya Mirjanah. Lalu. Berbeda dengan apa yang disebutkan oleh Al-Ustadz Al-Maududi di dalam tulisan bantahannya (hlm. lalu dipakaikan kepadanya.

Asma' pun menyentuh kain-kain tadi dengan tangannya. "Ummu Al-Qamah tidak dikenal. Ustadz Al-Maududi telah keliru. suatu daerah di kawasan Khurasan) yang ternyata tipis dan halus. akan tetapi masih bisa menggambarkan (lekuk tubuh). kembalikan kain-kain ini kepadanya!" Al-Mundzir merasa keberatan. namun^idak menyebutkan nama orang yang mengunjungi Aisyah. "Wahai ibu. lalu berkata. dan dia mengatakan.Dari Hisyam bin Urwah. bahwa Al-Mundzirbin Zubair pernah datang dari Irak. sebagaimana tersebut di dalam sanad atsar ini. yaitu Hisyam bin Urwah. "Sanad atsar ini kuat. sesungguhnya pakaian ini tidak tipis." Meskipun perkataan dia ini perlu kita cermati." Perkataan Aisyah: "Apakah kau tidak tahu ayat yang telah diturunkan oleh Allah di dalam surat An Wur?" menunjukkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakekatnya dia belum menutup tubuhnya. 93. karena ternyata di dalam kitabnya Al-Mizan dia mengatakan. Adz-Dzahabi di dalam kitab Mukhtashar-nya tidak memberi komentar terhadap atsar ini. Di dalam kitab At-Ta’jil diisebutkan bahwa dia telah meriwayatkan dari bapaknya dan telah mengambil riwayat dari dia Falih bin Muhammad bin Al-Mundzir. Peristiwa ini terjadi setelah dia mengalami kebutaan. dan belum melaksanakan perintah Allah yang terdapat di dalam surat An-Nuryang ditunjuk oleh Aisyah itu. " lalu menjadikan riwayat tadi sebagai pendukung dari riwayat Malik yang telah disebut-kan."93 Ibnu Sa'ad dan Al-Baihaqi (11:235) meriwayatkan atsar ini melalui jalur Al-Qamah juga. padahal sebenarnya jalur periwayatannya satu." Jelas harus begitu. Dia dicantumkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqat-nya (V: 420). lalu berkata. Catatan: Atsar yang bersumber dari Ummu Al-Qamah ini adalah yang diriwayatkan oleh Malik dan Ibnu Sa'ad. tidak diragukan lagi. "Memang tidak tipis. Sa'id bin Manshur dan Ibnu Mardawai^telah meriwayatkan atsar semisal atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad itu. yaitu Fathimah binti Al-Mundzir bin Zubair. Sedangkan Hakim bin Hazzam pernah memberikan pujian baik kepadanya." Namun Asma' menjawab. lalu mengirimkan kepada Asma' binti Abu Bakar sebuah pakaian marwiyyah (nama pakaran yang terkenal di Irak) dan quhiyyah (kain tefiun dari Quhistan. karena dia mengatakan adanya riwayat lain selain yang diriwayatkan oleh Malik dari Ummu Al-Qamah. tetapi terhadap atsar dengan sanad yang sama namun dengan redaksi lain dia berkata. Di dalam biografinya disebutkan bahwa dia telah meriwayatkan juga dari istrinya. "Huh. Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 184) dengan sanad shiahih sampai kepada Al-Mundzir. Jilbab Wanita Muslimah— 139 . yaitu "Dan hendaklah mereka kaum wanita menutupkan khimarnya ke dada mereka. "Muhammad bin Al-Mundzir mengambil riwayat darinya. ' Dengan demikian sanad hadits ini adalah jayyid dan muffashil (bersambung)." Saya katakan: Telah mengambil riwayat dari dia juga anak saudaranya.

Barangkali sejenis kain bergaris-garis kuning atauada campuran sutera. "Saya pernah mengunjungi Aisyah yang 97 96 99 mengenakan pakaian siyad. Al-Hafizh berkata. Jenis pakaian Mesir yang tipis dan berwarna putih.. shifaq . 100. dari Umar." Yakni. adanya keterputusan periwayat antara Abdullah bin Abu Salamah dan Umar bin Khathab. saya telah memakaikannya kepada istri saya. "Sekalipun tidak 95 tipis. Dan dia berkata. "Sanad hadits ini mursal." 140—Jilbab Wanita Muslimah . yang ternyata pakaian tadi tidaklah tergolong pakaian tipis. 98. 95. "Jangan kalian pakaikan baju-baju ini kepada istri-istri kalian!" Namun ada salah seorang yang menyahut. namun pakaian itu tetap menggambarkan (lekuk tubuh).." Atsardi atas dan juga atsar sebelumnyamenunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang menggambarkan lekuk tubuh adalah dilarang. adalah 'pakaian yang tebal dan kuat yang tenunannya bagus'. bahwa Umar bin Khathab 94 pernah membagikan baju qibthiyah kepada orang-orang. dan telah aku pandangi dari arah muka maupun belakang. "Wahai Amirul Mukminin. lalu dia menjawab:." Maka Umar menjawab. "Kami telah meriwayatkan dari Aisyah. 99. Namun tidak jelas bagiku makna kata tersebut. 97. bahwa dia pernah ditanya mengenai khimar." Syamisah berkata. khimar serta nuqbah yang 100 berwarna kuning. Nuqbah ialah 'pakaian sejenis sarung yang kuat seperti bahan celana panjang'. Namun pakaian yang tipis lebih jelek dari pada pakaian tebal yang masih menggambarkan lekuk tubuh. Akan tetapi para periwayat atsar ini orang-orang yang tsiqah. sebagaimana disebutkan di dalam Al-Munjid dan di dalam Al-Qamus. Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (II: 234-235). Di dalam kitab Lisan AI-'Arab disebutkan. "Yang namanya khimar adalah yang bisa menyem96 bunyikan kulit dan rambut. Al-Baihaqi menyebutkan atsar ini secara mu'allaq (tidak bersanad). Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 70) dengan sanad shahih sampai kepada Syamisah. Oleh karena itulah Aisyah pernah berkata. Di dalam kitab Al-Qamus disebutkan. "Dia maqbulah (diterima riwayatnya). Shifaq." 96.. dan dia berkata.Dari Abdullah bin Abu Salamah. yaitu Syamisah binti Aziz bin Amir Al-Atakiyah Al-Bashriyah. Shifaq adalah pakaian yang tebal’. Barangkali nama ini dinisbalkan kepada suku Qibthi yang tinggal di negeri Mesir. (seperti perkataan diatas). kemudian berkata. "Atsar ini diriwayat kan pula oleh Muslim Al-Bithin dari Abu Shalih. 94. Lagi pula dikuatkan oleh perkataan Al-Baihaqi sendiri di akhirnya. Begitulah yang telah saya nukil dari asalnya.

yaitu dengan bahan yang tebal atau yang terbuat dari kulit binatang. lalu berkata: "Memasukkan perbuatan tersebut sebagai salah satu dosa besar sudah jelas lantaran perbuatan tersebut diancam dengan ancaman yang keras... dst. namun pada hakekatnya mereka telanjang. "Diwajibkan menutup aurat dengan pakaian yang tidak menggambarkan warna kulit. Perkalaan ini disebutkan di dalam kitab AIMuhadzdzab(\l\: 70." Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam k\tab Az-Zawajir (\-A 27) telah membuat bab khusus tentang wanita yang mengenakan pakaian tipis yang masih menggambarkan warna kulitnya yang mana hal seperti itu termasuk dosa besar. dan bila hanya menutup aurat dengan pakaian tipis yang masih menggambarkan warna kulit maka itu tidak boleh. yaitu kitab Syarhu Al-Majmu') JilbabWanita Muslimah— 141 .. Kemudian dia menyebutkan hadits: "Pada akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita dari kalangan umatku yang berpakaian.." Saya katakan: Hadits-hadits yang melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki akan disampaikan ketika membicarakan: Syarat Keenam. karena hal itu tidak 101 memenuhi kriteria 'menutup'.disertai syarahnya. Lagi pula perbuatan tersebut mudah difahami menyerupai laki-laki. ♦ ♦♦♦♦♦♦ 101.Karena itulah para ulama mengatakan..

Usamah bin Zaid pernah berkata: ] 142—Jilbab Wanita Muslimah . tidak ketat.^ ainnya Harus Longgar. Oleh karena itulah pakaian wanita mesti harus longgar. Bila pakaian wanita seperti itu keadaannya niscaya akan mengundang banyak kemaksiatan dan menimbulkan kerusakan bagi laki-laki yang melihatnya. meskipun bisa membuat tertutupnya warna kulit. karena maksud dan tujuan (seorang wanita) berpakaian tidak lain adalah untuk menghilangkan fitnah (ketertarikan laki-laki asing). Karena pakaian yang ketat. Tidak Ketat ilbab disyaratkan harus longgar. namun tetap dapat menggambarkan lekuk tubuhnya sehingga masih akan menggoda pandangan laki-laki. Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan potongan yang longgar.

sebagaimana ditetapkan dalam ilmu Ushul Fikih. "Hadits ini menunjukkan wajibnya seorang wanita memakai pakaian yang menutup seluruh badannya dengan pakaian yang tidak menggambarkan bentuk tubuhnya. Ahmad. Asy-Syaukani berkata. Al Baihaqi. yaitu syarat ketiga. Hadits ini diriwayatkan oleh Adh Dhiya' Al Maqdisi dalam kitab Al Ahadits AI Mukhtarah (1/441). Hadits ini mempunyai hadits pendukung yang diriwayatkan dari Dihyah Al Kalbi sendiri. Rasulullah memerintahkan agar istri Usamah mengenakan pakaian dalam di balik baju qibthiyahnya itu. Al Baihaqi dengan sanad hasan." Asy-Syaukani. Pendapat Asy-Syaukani diatas lemah. karena biasanya baju qibthiyah itu tipis sehingga tidak bisa menyembunyikan warna kulit dari pandangan orang atau paling tidak akan menggambarkan lekuk tubuhnya."Pernah Rasulullah memberi saya baju qibthiyah yang tebal hadiah dari Dihyah Al-Kalbi. 102. Oleh karena itulah. Dan kami telah membahasnya secara rinci dalam kitab Ats Tsamar Al Mustathab fi Fiqh As Sunnah wa Al Kitab. 'Perintahkan istrimu agar memakai baju dalam ketika memakai baju qibthiyah. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Perintah pada asalnya wajib. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Hakim. Ini menjadi syarat dari pakaian yang merupakan penutup aurat. Nabi bertanya kepada saya. "" Rasulullah memerintahkan agar wanita yang memakai baju qibthiyah itu juga memakai pakaian dalam agar tidak nampak lekuk tubuhnya. dan Al Hakim. Jilbab Wanita Muslimah— 143 . Dalam hadits ini ada sesuatu yang perlu dibicarakan. 'Baju itu saya pakaikan istri saya. Hadits tersebut menjelaskan bahwa baju qibthiyah yang beliau Sberikan kepada Usamah adalah baju qibthiyah yang tebal. sebagaimana bisa kita lihat. 'Mengapa kamu tidak pernah memakai baju qibthiyah?' Saya menjawab. karena: Pertama. Karena di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa pakaian qibthiyah tadi bahannya tebal namun masih bisa menggambarkan lekuk tubuh.' Beliau lalu berkata. Sebenarnya hadits ini lebih tepat dia tempatkan pada pembahasan syarat sebelumnya. karena saya khawatir baju qibthiyah itu masih 02 bisa menggambarkan bentuk tulangnya. membawa hadits tersebut kepada pembicaraan sebuah pakaian tipis yang tidak dapat menyembunyikan terlihatnya warna kulit. Baju itu pun saya pakaikan pada istri saya.

karena saya khawatir baju qibthiyah itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya. yaitu tipis. Jadi. bukan warna kulitnya. Para pengikut madzhab Syafi'i memiliki pendapat aneh.karena dia memiliki karakter lembut dan lentur di tubuh seperti pakaian yang terbuat dari sutera atau tenunan dari bulu domba yang dikenal di zaman kita sekarang ini. contohnya seperti pakaian stoking yang dapat menggambarkan bentuk kedua betis dan kedua paha dan menjadikannya semakin indah. meskipun masih menggambarkan lekuk tubuh. Perkataan ini disebutkan oleh Ar-Rafi'i di dalam kitab Syarhu Al-Muhadzdzab (V: 92. menurut 144—-Jilbab Wanita Muslimah ..."103 103. Nabi sendiri menjelaskan sebab pelarangannya adalah karena kekhawatiran beliau dengan pakaian qibthiyah tadi. sehingga dia menafsirkan pakaian qibthiyah sebagaimana pakaian qibthiyah pada umumnya. terkadang masih menggambarkan lekuk tubuh. Wallahu a'lam.Karena baju qibthiyah tersebut. . bahkan pakaian cawat yang dapat menggambarkan anggota tubuh itu sendiri. meskipun tebal. Komentar saya: Berdasarkan pendapat mereka ini berarti dibolehkan bagi pare wanita sekarang ini untuk keluar rumah mengenakan pakaian ketat yang melekat pada tubuhnya dan dapat menggambarkan lekuk tubuh secara jelas. Sekiranya mereka memakai pakaian semacam itu. maka hal itu tidak mengapa seperti misalnya memakai celana panjang yang ketat. padahal pakaian qibthiyah tadi tebal. sehingga orang yang berada di kejauhan pun akan mengira bahwa dia telanjang. Rasulullah memerintahkan istri Usamah untuk memakai pakaian dalam tidak lain karena hal ini. Kedua. Mereka mengatakan: "Jika pakaian itu dapat menutupi warna kulit.Baju seperti itu bagaimana bisa menggambarkan warna kulit dan tidak dapat menutupinya dari pandangan manusia?! Barangkali Syaukani lupa adanya kata "tebal" pada hadits tersebut. lalu apa gunanya pakaian dalam yang beliau perintahkan untuk dipakai?' Jawabnya: Gunanya adalah untuk menghindarkan diri dari hal yang dikhawatirkan Nabi . Jika Anda bertanya: Jika permasalahnnya sebagaimana yang Anda katakan." Ini adalah merupakan bukti yangjelas bahwa yang dihindari tidak lain adalah ternampakkannya lekuk tubuh.105). yaitu dengan mengatakan: ".

yakni kepala. dan janganlah mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. menutup anggota tubuh yang lain tadi dengan stoking yang hanya menambah keelokannya saja. Al-Kahfi: 104). Namun. meskipun memberikan warna yang lebih indah dan elok dari kulit asli si pemakainya!! Adakah seorang muslim yang berani mengatakan bolehnya mengenakan pakaian semacam itu? Ini merupakan satu bukti wajibnya kita berijtihad. lalu mengenakan kaos kaki yang jelas menggambarkan bentuk dari separoh betis lainnya. sehingga mereka pun mengenakan pakaian yang ketat dan pendek yang panjangnya tidak sampai melampaui betis. hal ini tidak dibolehkan. namun mereka tidak menutup bagian tubuh lainnya. Mereka mempopulerkan pakaian pendek yang hanya sampai separoh betis. padahal pada asalnya yang namanya perintah menunjukkan wajib. Dengan perbuatannya yang seperti itu mereka tidak merasa bahwa mereka akan dikumpulkan bersama kelompok yang telah disebutkan oleh Allah ta'ala dalam firman-Nya:". Kami sering melihat banyak remaja mukminah tertipu oleh sebagian orang yang mengaku sebagai da'iyyah. serta memakai jilbab yang tebal di atasnya sehingga melebar ke seluruh tubuhnya dan lekuk tubuhnya pun menjadi tidak jelas. Al-A'raf: 3) Jilbab Wanita Muslimah— 145 . tidak hanya selalu taklid.."(QS." Pendapat di atas yang mengatakan hanya mustahab saja berarti menafikan adanya perintah di dalam hadits. pendapat mereka dibolehkan dengan alasan bahwa pakaian tersebut telah menutupi kulitnya.sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. menutup rambut dan dada. dan hanya mengenakan khimar saja di atas kepala mereka tanpa mengenakan jilbab di atas khimar tersebut sebagaimana tersebut di dalam AlQur'an yang telah dijelaskan di muka. "(QS. Mereka wajib segera menyempumakan cara menutup badan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dengan meneladani kaum wanita muhajirin yang ketika turun perintah menutupkan khimar lantas mereka merobek pakaian mereka untuk dijadikan khimar. Amat sedikit di antara kalian yang mau mengambil pelajaran darinya. Jeias. Namun kami tidak menuntut para remaja mukminah untuk merobek sebagian pakaiannya seperti wanita muhajirin tadi. Kepada mereka yang masih mau ikhlas saya sampaikan nasehat ini agar dalam mengikuti Al-Qur'an dan Assunnah tidak dipengaruhi oleh sikap taklid kepada suatu kelompok atau syaikh. Atau. Terkadang ada di antara mereka yang melakukan shalat dengan mengenakan pakaian seperti itu. Allah ta'ala telah berfirman: "Ikutilah apa-apa yang telah diturunkan untuk kalian dari Tuhan kalian.Mereka juga mengatakan: "Adalah mustahab bila seorang wanita melakukan shalat dengan mengenakan baju yang longgar dan khimar. Yang kami tuntut adalah agar mereka memanjangkan dan melonggarkan pakaiannya sehingga menjadi sebuah pakaian yang menutup seluruh tubuh yang telah diperintahkan oleh Allah untuk mereka tutup.. adakah yang mau mengambil pelajaran?!! Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan: Banyak di antara para remaja mukmin yang beriebihan dalam menutup bagian atas badan.

146—Jilbab Wanita Muslimah . Perkataan Aisyah "harus" merupakan bukti wajibnya hal itu.Mushannaf (II: 26/1) dengan sanad shahih. svsungguhnya aku memandang buruk seorang wanita yang mengenakan pakaian namun masih menggambarkan lekuk tubuhnya. Dia berkata (1:78): "Jika seseorang menunaikan shalat dengan mengenakan gamis tipis. Dan saya suka jika wanita itu shalat memakai jilbab yang memanjang menutupi baju-baju dalamnya tadi agar tidak menggambarkan lekuk tubuhnya. bahwa Fathimah binti Rasulullah pernah berkata: "Wahai Asma'." Aisyah melakukan hal itu tidak lain agar tidak ada sedikit pun bagian pakaiannya yang menggambarkan lekuk tubuhnya. namun tidak ada keharusan baginya untuk mengulangi shalatnya. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (VIII: 71) dengan sanad shahih dan para perawinya biasa dipakai oleh Muslim. Jika menunaikan shalat dengan mengenakan gamis yang tidak tipis namun masih menggambarkan lekuk tubuhnya. 105. maka itu makruh hukumnya. Larangan terhadap wanita yang shalat dengan mengenakan baju dan khimar yang masih menggambarkan lekuk tubuhnya lebih keras dibanding larangan terhadap laki-laki yang shalat mengenakan pakaian yang agak ketat."105 Ini semua menguatkan pendapat kami di muka mengenai wajibnya wanita mengenakan khimar sekaligus jilbab ketika hendak keluar rumah. khimar dan pakaian yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Aisyah pernah berkata: "Seorang wanita ketika menunaikan shalat harus mengenakan tiga pakaian. Alangkah baiknya juga kami kemukakan sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ummu Ja'far bintu Muhammad bin Ja'far. yaitu baju.Sebenarnya pendapat Imam Syafi'i sendiri di dalam k\tab Al-Umm dekat dengan pendapat yang kami pegangi. jilbab dan khimar." Asma' 104. maka itu tidak dibolehkan. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al. Adalah Aisyah pernah shalat dengan memanjangkan kain sarungnya untuk 104 diajadikan jilbab. yaitu baju. Pendapat senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar: "Bila wanita shalat maka harus mengenakan pakaiannya secara lengkap.

dimana lafazh atsar yang ada pada riwayat Al-Baihaqi ini lebih lengkap. katanya: Telah meriwayatkan kepada kami Qutaibah bin Said: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa Al-Makhzumi dari Aun bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib. Fathimah berkata. "Wahai putri Rasulullah maukah saya perlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah saya lihat di negeri Habasyah?" Lalu Asma' membawakan bebera papelepah daun kurma yang masih basah. jika saya mati nanti..dst" melalui jalur lain dari Qutaibah bin Sa'id dan Abdullah bin Nafi' dari Muhammad bin Musa. dan lafazh ini yang ada pada riwayat dia. maka saya minta dimandikan oleh kamu bersama Ali dan jangan boleh ada seorangpun yang menengok saya. "Betapa baiknya dan betapa eloknya pakaian ini. "Buatkanlah!" Dialah orang yang pertama kali membuat keranda jenazah dalam Islam yang untuk pertama kalinya diperuntukkan buat Ruqayyah binti Muhammad Jilbab Wtmita Muslimah— 147 .. Ibnu At-Turkumani berkata.. yaitu Ummu Ja'farbinti Muhammad bin Ja'far'dari dari Imarah bin Muhajirdari Ummu Ja'far. karena dengan pakaian ini dapat dibedakan antara perempuan dan laki-laki. Auf bin Muhammad dan Imarah. Atsar ini juga diriwayatkan oleh-Al-Baihaqi (VI: 34-35). Bolehkah saya membuat keranda jenazah semacam itu untuk putrimu?' Beliau menjawab. Abu Nu'aim maupun Al-Baihaqi. Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam kitab/4/-H//ya/i (II: 43). . saya pernah tinggal di negeri Habasyah dimana penduduknya adalah Nashara Ahlul Kitab. Biasanya orang-orang dalam mengusung jenazah laki-laki dan perempuan sama saja yaitu memakai keranda semacam dipan. "Wahai Rasulullah. keduanya meriwayatkan atsar ini melalui jalur Abu Al-Abbas As-Siraj Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqafi.menjawab. dari ibunya. Atsar ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (III: 396) dengan potongan akhir lafazhnya: ". "Di dalam sanad atsar ini terdapat beberapa periwayat yang perlu dibeberkan keadaannya." Saya katakan: Yang dia maksudkan adalah Al-Makhzumi. Mereka membuatkan keranda jenazah (yang tertutup) untuk mayit perempuan karena mereka tidak suka bagian dari mayat wanita tadi yang ternampakkan. Lalu Asma' berkata. Akan tetapi Ibnu Nafi' di dalam sanad itu tidak menyebutkan nama Imarah bin Al-Muhajir. bila aku meninggalnanti. Ali dan Asma' yang memandikannya. Adapun Ummu Ja'far ada disebutkan di dalam kitab TahdzibuAt-Tahdzibdaniuga kitab lainnyayang memakai nama gelaran Ummu Aun. Saya tidak menemukan riwayat hidup mereka. kemudian dia bentuk menjadi pakaian lalu dia pakai.106 106. Wahai Asma'. Ada atsar dengan lafazh lain dari Asma' juga yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath bahwa pernah terjadi salah satu putri Rasulullah * meninggal. Di dalam lafazh atsar ini disebutkan bahwa Asma' membuatkan usungan jenazah untuk Fathimah sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Asma' kepada Fathimah." Maka tatkala Fathimah meninggal.

"Di dalam sanad hadits tersebut terdapat Khalf bin Rasyid. bertobat kepada-Nya dan selalu mengingat sabda Nabi : "Perasaan malu dan iman itu keduanya selalu bertalian. "Hadits ini shahih karena para periwayatnya para periwayat AlBukhari dan Muslim. betis dan anggota badan lainnya. terutama para wanita yang masih memakai pakaian yang ketat yang menggambarkan bulatnya buah dada. tentu lebihlebih lagi. maka hilang pulalah satu lainnya.' Hal itu disepakati oleh Adz-Dzahabi. manakala 7 salah satunya hilang. pinggang. hendaklah mereka beristighfar kepada Allah. Selanjutnya. AlHakim berkata. hendaklah wanita mukminah di zaman ini mau merenungkan hal ini. Haclits di atas diriwayaikan oteh Al-Hakim (1:22).Perhatikanlah sikap Fathimah yang merupakan tulang rusuk Nabi bagaimana dia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat menggambarkan lekuk tubuh seorang wanita meskipun sudah mati. Dia seorang periwayat yang majhul (tidak dikenal). apalagi yang masih hidup. 148—Jilbub Wanita Muslimah ." 107. Oleh karena itu. Memang begitulah keadaan hadits tersebut sebagaimana yang keduanya katakan. Abu Nu'aim (IV: 297) dari Ibnu Umar. "° ♦♦♦♦♦♦♦ Al-Haitsami berkata di dalam kitab Al-Majma'(\\l: 26).

1. Abu Dawud (II: 192). Dari Abu Musa Al-Asy'ari bahwa dia berkata. Ibnu Khuzaimah (III: 91/1681) dan Ibnu Hiboan (no. Menurut saya. "Hadits ini hasan shahih. maka dia adalah pezina*. Jilbab Wanita Muslimab— 149 . At-Tirmkbi (IV: 17 . hadits ini hasan." dan Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataan tersebut. Al-Hakim (II: 396).1474-Mawarid). 108. At-Trmiclzi berkata. Ahmad (IV: 400.yang telah diberi syarah oleh Mubarakfuri). "Hadits ini shahih sanadnya.g idak Diberi Wewangian atau Parfum llbab disyaratkan tidak diberi wewangian atau parfum berdasarkan hadits-hadits yang melarang wanita memakai wangi-wangian ketika mereka keluar rumah. 413). lalu dia lewat dihadapan 108 laki-laki agar mereka mencium baunya. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai (II: 283). Berikut ini kami sampaikan beberapa hadits shahih yang berkait dengan masalah ini." Al-Hakim berkata. "Rasulullah bersabda: ] 'Perempuan yang memakai wewangian.

karena dia memang mengambil riwayat dari Abu Hurairah.246) melalui jalur Auza'i dari Musa bin Yasar. lalu mandi.'""110 4." Abu Hurairah berkata kepadanya. "Rasulullah bersabda: pernah 'Perempuan yang memakai bakhur (sejenis pewangi pakaian pent). Tentang sanad hadits ini telah saya bahas di dalam kitab Ats-Tsamar AI-Mustathab dan di dalam kifab AshShahihah (hadits no."'' 109. 111. maka Allah tidak akan menerima shalatnya hingga dia pulang. 110.1094). apakah kamu hendak ke masjid?" Dia menjawab. Juga diriwayatkan oleh Ash-HabusSunan dan lainnya. maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian. Juga diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan dan lainnya. kemudian mandi! Karena saya mendengar Rasulullah bersabda: 'Bila seorang wanita ke masjid sementara bau wewangian menghembus dari tubuhnya. Dari Abu Hurairah. bahwa Nabi pernah bersabda: "jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid. Dari Musa bin Yasar. 1094). Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (III: 133. dia berkata. janganlah shalat Isya bersama karni.'"109 3. Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah. "Ya. dari Abu Hurairah. "Wahai hamba Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di kitab shahih-nya masingmasing. Tentang sanad hadits ini telah saya bahas di dalam kitab Ats-TsarharAI-Mustathab dan di dalam kitab AshShahihah (hadils no. "Pulanglah dulu. bahwa pernah seorang wanita berpapasan dengannya dan bau semerbak menerpanya.2. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di dalam kitab s/ia/w/rmasingmasing. (baru kemudian shalat ke masjid). Maka Abu Hurairah pun berkata. Namun 150—Jilbab Wanita Muslimah . Sanad hadits ini shahih bila yang dimaksud dengan Ibnu Yasar di sini adalah Al-Kalbi Al-Madani.

"112 Ibnu Daqiq Al-'ld berkata. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui jalur lain dari Abu Hurairah. lebih-lebih hadits ketiga yang menyebutkan 'bakhur' yang jelas lebih banyak— bahkan khusus—digunakan untuk pakaian. yaitu karena hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Riyadh) 112.1031 -Maktabah AlMa'arif. maka hadits ini munqathi'. Hadits di atas disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam kitab At. Dan inilah yang lebih mendekati kebenaran. Al-Haitami di dalam kitab Az-Zawajir (11:37) mengatakan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dan dengan berhias adalah termasuk perbuatan dosa besar. meski-pun suaminya mengijinkan. Ibnu Yasar yang Al-Urduni) adalah Auza'i. Hadits ini adalah salah satu hadits yang Auza'i riwayatkan dari dia. lalu apa hukumnya bagi wanita yang hendak pergi ke pasar atau tempat keramaian lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu lebih haram dan lebih besar dosanya. memakai asesoris pakaian dan berbaurnya dengan laki-laki. Para ahli hadits menyebutkan bahwa di antara orang-orang yang mengambil riwayat dari dia (maksudnya.Targhib(\\\: 94) diriwayat-kan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahih-nya. memakai perhiasan yang mencolok mata. karena hal itu akan membangkitkan nafsu birahi laki-laki. Para ahli hadits menyebutkan di dalam biografi Ibnu Yasar Al-Urduni. Waljahu a'lam. Hal-hal lain yang biasa dilakukan oleh wanita yang dikategorikan oleh para ulama dapat membangkitkan birahi adalah seperti: berpakaian indah. bahwa dia telah meriwayatkan hadits secara mursaldari Abu Hurairah. "Hadits tersebut menunjukkan haramnya wanita memakai wewangian ketika hendak ke masjid.Pada hadits-hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa larangan Nabi berkaitan dengan wewangian adalah sifatnya umum meliputi pewangi badan maupun pewangi pakaian. Karena parfum atau wewangian selain digunakan untuk badan ada juga yang digunakan untuk pakaian. Lihat kitab FathuAI-Bari(II: 279) Jilbob Wanita Muslimah— 151 ." Saya katakan: Bila hal itu diharamkan bagi wanita yang hendak ke masjid. bila yang dimaksud dengan Ibnu Yasar adalah Al-Urduni. Hadits ini juga mempunyai satu atau beberapa jalur periwayatan lain sebagaimana saya sebutkan di dalam kitab Ats-Tsamar AlMustathab dan di dalam kitab Ash-Shahihah jilid III (hadits no. Sebab munculnya larangan Nabi jelas.

Perkataan ini dinukil oleh Syaikh Ali Al-Qari' di dalam kitab Al-Mirqah (II: 71) 152—Jilbab Wanita Muslimah . Ibnu Al-Malik berkata.Perlu diketahui bahwa larangan pada hadits-hadits tersebut adalah sifatnya umum di setiap waktu. Pada hadits ketiga Nabi menyebutkan secara khusus waktu Isya'. Berbeda dengan pada saat-saat lainnya seperti Subuh dan Maghrib di mana hari masih agak terang. Maka."" ♦♦♦♦♦♦♦ 113. Tetapi yang jelas bahwa memakai wewangian secara mutlak menghalangi seorang wanita untuk mendatangi masjid 113 kapan saja. jangan disalahpahamkan bahwa keluarnya wanita selain waktu itu dibolehkan. karena pada waktu-waktu tersebut bahayanya lebih besar. "Waktu Isya' disebut secara khusus karena pada saat tersebut hari sudah gelap dan jalanan sudah sepi. sehingga seorang wanita akan tidak aman berjalan pada saat-saat tersebut. sementara bau wewangian bisa membangkitkan syahwat.

dari Abu Hurairah." Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataan tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 182). "Hadits ini sha/hih karena para periwayatnya adalah para periwayat Muslim. Kemudiao Asy-Syaukani berkata.mawarid). Kami akan sebutkan beberapa hadits sebagai 1. yang barangkali di dalam kitabnya AsSunanAI-Kubra (V: 398). Al-Hakim (IV: 194) dan Ahmad (II: 325) melalui jalur Suhail bin Abu Shalih. Memang hadits tersebut keadaannya seperti apa yang keduanya katakan." Jilbab Wanita Muslimah — 153 . dari ayahnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya (Hadits no. melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita 114 dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. Ibnu Majah (1:588). Al-Mundziri di dalam kitab At-Targhib (III: 105-106) dan Asy-Syaukani di dalam kitab^/MMutfar menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh An-Nasai. "Para periwayat hadits ini adalah para periwayat hadits shahih.1456 . 1455. Al-Hakim berkata.g idak Menyerupai Pakaian Laki-laki H berikut: al itu berdasarkan beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian atau hal lainnya. Dari Abu Hurairah. dia berkata: "Rasulullah . " 114.

Dari Abdullah bin Amru. Dengan demikian jadilah sanad hadits tersebut bersambung dan shahih." Saya katakan: Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Hilyah (III: 321) melalui jalur Ahmad tanpa laki-laki Hudzal yang tidak dikenal itu dengan lafazh yang ringkas sebatas yang tersebut di dalam hadits yang marfu' saja.. katanya: Saya melihat Abdullah bin Amru bin AI-'Ash yang tempat tinggalnya di /w//(daerah di luar tanah AlHaram) dan masjidnya di tanah Al-Haram. Ath-Thabarani juga meriwayat-kan hadits diatas dengan lafazh yang lebih ringkas tanpa laki-laki Hudzal tadi.. kecuali seorang laki-laki yang tak dikenal dan tidak disebut namanya di atas. para periwayatnya orang-orang tsiqah. "Laki-laki Hudzal itu tidak saya kenal. Wallahu a'lam. Maka. Al-Hafizh menyebutkah di dalam kitab At-Ta'jil (fi\in. yaitu seorang laki-laki shalih: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Dinar. dia melihat Ummu Sa'id binti Abu Jahal berkalungkan busur dan berjalan seperti layaknya seorang laki-laki. yaitu Ibnu Yasar telah secara jelas menyebutkan bahwa dia mendengar hadits tersebut dari Ibnu Amru.'"" 115. "Ummu Sa'id binti Abu Jahal. yang ketika saya lewat di depannya. Barangkali sebenarnya Ibnu Amru. hadits no. "Siapa ini?" Saya menjawab. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (II: 199-200): Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Hausyab. Dengan demikian. dari Atha. yakni d! dalam kitab A)-Tarikh melalui jalur Amru bin Dinar dari Atha'.2. 'Saya pemah mendengar Rasulullah bersabda: "Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai laki-laki. dari seorang laki-laki Hudzal. "Saya mendengar Rasulullah . 200'." (menyebutkan hadits tersebut)." Saya katakan: Atha'. Abdullah pun bertanya. dari Ibnu Amru. 495) bahwa Al-Bukhari meriwayatkan hadits tersebut.) berkata. "Saya mendengar Rasulullah bersabda: 'Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai 115 wanita. "Saya mendengar Ibnu Umar (demikian tersebut di dalam teks aslinya.. Namun bisa juga dia meriwayatkannya langsung dari Ibnu Amru. tanpa melalui laki-laki Hudzal itu. Kemudian saya juga menemukan sanad hadits tersebut di daiam kitab Tarikh-nya Bukhari dan saya kira ada hal-hal yang saya perlu jelaskan sebagai berikut: 154 —Jilbab Wanita Muslimab . katanya. sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mundziri (III: 106) yang diikuti oleh Al-Haitsami (VIII: 103) di mana dia juga menambahkan. tetapi huruf wawu terhapus dari teks. Memang ada kemungkinan bahwa Atha' ini meriwayatkan hadits ini melalui jalur laki-laki-laki Hudzal. seluruh periwayat Ath-Thabarani ini tsiqah." Abdullah berkata. Saya katakan: Hadits ini. katanya.

Al Bukhari berkata (II: 2/362): Yahya bin Musa berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Habib Ash Shan'ani. Bedasarkan dari apa yang telah dikemukakan di atas. Dia berkomentar tentang nama Umar. Mana pun pendapat yang benar. Kalau mereka mengetahui. Mereka para ulama tadi menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Isma'il bin Umayyah dan diriwayatkan dari Abdurrazzaq. "Guru dari Abdurrazzaq tidak diketahui keadaannya. karena demikianlah yang tersebut di dalam kitab Al-Musnad dan kitab Al-Hilyah sebagaimana telah tersebut di muka.. para ulama yang telah menyebutkan biografinya itu tidak menge tahui pernyataan Abdurrazzaq ini. dari dia (Ismail). 2. Al-Bukhari tidak menyebut periwayat ini (yaituAmru bin Dinar) di dalam kitabnya At-Tarikh /AWCab/rmaupun At-Tarikh Ash-Shaghir.Pertama. yang jelas penilaian terhadapnya sebagai periwa yat yang majhultidak sesuai dengan pernyataan Abdurrazzaq bahwa dia adalah seorang laki-laki yang shalih." dan seterusnya sampai akhir hadits.datang seorang perempuan yang berjalan seperti jalannya seorang laki-laki. orang yang mengetahui keadaan seseorang adalah sebagai pedoman bagi orang yang tidak mengetahuinya." Ibnu Qathan juga mengatakan demikian. pentahqiq kitab tersebut tidak memberinya komentar sedikit pun berkenaan dengan masalah int. Wallahua'lam. seperti Ibnu Abi Hatim. Hal itu disebabkan kedua guru orang itu berbeda. Kedua. c.. dari Alha'bin Abu Rabah: Telah bercerita kepadaku seorang laki-laki Hudzal. Mereka tidak pernah menyebutkan riwayat hadits tersebut dari Amru bin Dinar. sebagaimana tertulis di dalam teks aslinya. saya memberikan dua catatan sebagai berikut: 1. dia berkata: "Saya melihat Abdullah bin Umar. . b. Ibnu Hibban dan para ulama sesudah mereka sebagaimana tersebut di dalam kitab At-Tahdzibdan kitab-kitab lainnya. Di situ tidak disebut bahwa Atha' mendengar dari Ibnu Umar seperti yang disebut di dalam kitab At-Ta'jil. Adanya periwayat yang bernama Umar bin Habib. baik Umar maupun Amru." Saya katakan: Memang demikianlah yang telah para ulama sebutkan.. AdzDzahabi di dalam kitab Al-Mizan berkata. Nama Habib.. Tetapi ada beberapa hal yang menarik perhatian saya: a. dan juga berdasarkan perkataan Abdurrazzaq bahwa dia (Amru atau Umar) tadi adalah seseorang yang shalih. tertulis pada teks aslinya Amru. dari Amru bin Dinar. saya khawatirkan merupakan perubahan dari nama Hausyab. niscaya mereka akan menukilnya. Tampaknya. baik yang nama ayahnya Habib maupun Hausyab. Jilbab WanitaMuslimah— 155 . d. Padahal secara kaidah. tetapi yang benar adalah Umar. "Memang. Para ulama telah menuliskan biografi tentang dirinya pada bab Umar. maka besar kemungkinan bahwa Amru bin Hausyab ini adalah bukan Umar bin Hausyab seperti yang telah para ulama sebutkan biografinya. Namun. sebagaimana lafazh hadits riwayat Ahmad.

Nabi mengatakan: 'Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!' Nabi mengeluarkan si Fulan dan Umar pun mengeluarkan si Fulan. yaknf munqathi' (terputus sanadnya)." (Periwayat masfurialah periwayat yang meriwayatkan hadits tertentu hanya kepada dua orang periwayat saja. dia berkata: "Nabi melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan melaknat wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. Komentarnya itu tidak bisa diterima. majhul hal. "Dia adalah seorang tabi'in yang mubham. Yang benar." Syaikh Ahmad Syakir dalam ta'liqnya terhadap kitab/4/-Ataad(XI: 103-104) memastikan bahwa sanad hadits ini hasan berdasarkan perkataan Abdurrazzaq tentang diri Amru bin Hausyab. dan tergolong periwayat yang mastur. Dari Ibnu Abbas. dimana dahulu saya menyebutkan: "Ibnu Yasar". Wallahu a'lam. yaitu kekuatan hafalan. Al-Bukhari menilai cacat hadits tersebut dan memberinya komentar. Pen. 156—Jilbab Wanita Muslimah . Oleh karena itulah. Adanya nama: Atha' bin Abu Rabah di dalam riwayal Al-Bukhari di atas menunjukkan adanya kesalahan pada perkataan saya yang terdahulu. Akan tetapi ada hadits serupa yang menjadi penguat hadits tersebut. periwayat semacam itu bisa terdukung oleh periwayat lain yang sederajat. Ini Motion diperhatikan! Keempat. sehingga hadits tersebut menjadi kuat. Dari keterangan di atas kita bisa mengetahui bahwa cacat hadits ini adalah ada pada seorang laki-laki Hudzal.) Begitulah kata dia. "Hadits ini mursaf. Tentang adanya seorang laki-laki Hudzal itu dia berkomentar." Dalam lafazh lain disebutkan: Ketiga.3. Karena periwayat yang mastur itu menuntut hal lain. dimana dia seorang tabi'in yang tidak disebutkan namanya.

2291.. maula Ibnu Umar. Lafazh di atas ada pada hadits yang dia riwayatkan dengan dua sanad yang baik. 2679)." Al-Mundziri lupa. "Hadits tersebut shahih. namun sejumlah periwayat yang tsiqah telah meriwayatkan dari dia.3151.. juga diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi (hadits no. Al-M. Hadils ini juga diriwayatkan oleh At-Tignitizi (IV: 16-17). Para periwayat pada kedua sanad tersebut orang-orang tsiqah.4357) melalui jalur periw^ayatan lain diri Ikrimah dengan lafazh yang sama. Ad-Darimi (II: 280-281). Abu Dawud (II: 182)." Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataannya. begitu pula Al-Haitsami dan As-Suyuthi sehingga mereka tidak menyebutkan kalau hadits ini sebenarnya juga diriwayatkan oleh Ahmad.)117 116. pent. Ahmad (hadits no. insya Allah. "Hadits ini shahih sanadnya. AlBaihaqi (X: 226).3060. "Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai dan Al-Bazzar." Di dalam kitab Al-Faidh. dari Ibnu Umar. wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki.Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan 116 dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki. dan dayyuts (lakilaki yang tidak peduli dengan kejelekan akhlak istrinya. Al-Bukhari (X: 273). dari Ikrimah." Al-Mundziri berkata (III: 220). tetapi tanpa perkataan: "Keluarkanlah mereka. 6180) melalui dua jalur periwayatan yang shahih dari Abdullah bin Yasar. 117. dari Salim.dst. 4. Dari Abdullah bin Umar. "Rasulullah bersabda: 'Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Ahmad (hadits no. Karena Abdullah ini. 1982. dia berkata.2006 dan 2123) melalui jalur Hisyam ad Dustuwai dari Yahya bin Abu Katsir. 2263. Ahmad (hadits no. Abu Dawud (II: 305). yaitu Ad-Dailami dimana dia berkata." Adapun lafazh lain yang tersebut di atas adalah lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.. Jilbab Wanita Muslimah—157 . dan dia juga menilai shahih hadits ini. meskipun tidak ada ulama lain yang menyatakan ketsiqahannya selain Ibnu Hibban. dari Ibnu Abbas. "Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Al-Bazzar dengan dua sanad. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai (1:357).unawi menukil perkataan pemilik kitab Al-Firdaus. (Mereka itu yaitu): Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 274). Al-Hakim (1:72 dan IV: 146-147). Memang keadaan hadits ini sebagaimana yang keduanya katakan. Al-Hakim berkata. Al-Haitsami berkata (VIII: 147-148).

119. 158 —Jilbab Wanita Muslimah . 1397)." Akan tetapi derajat hadits ini shahih. Abu Dawud berkata di dalam kitab Masa-il Al.. bukan Musnad anaknya." Abu Dawud berkata. Dan dia memasukkannya ke dalam bagian Musnad Umar. dari Ibnu Abu Mulaikah dengan lafazh seperti diatas. yaitu Ibnu Umar. Di dalam kitab An-Nihayah dikatakan: Seorang anak laki-laki datang mengenakan rompi putih.. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 184) dalam potongan haditsnya (V: 2) melalui jalur Thariq bin Juraij. yang nama aslinya Abdullah bin Ubaidillah. karena ada beberapa hadits lain yang mendukungnya sebagaimana tersebut di muka.Imam Ahmad (him. kecuali Ibnu Juraij.). "Saya pernah bertanya kepada Ahmad. 261): "Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya 119 tentang seseorang yang memakaikan rompi kepada anak perempuannya.'"118 Di dalam hadits-hadits di atas terdapat petunjuk yang jelas haram-nya wanita menyerupai laki-laki. kecuali jika dia memakainya Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Adh-Dhiya' dii dalam kitab Al-Mukhtarah (1:75) dengan sanad sebagaimana tersebut dari Ibnu Umar. Ini sifatnya umum. Dari Ibnu Abu Mulaikah. dan pada hadits ini dia meriwayatkan dengan menggunakan lafazh: "Dari. Para periwayatnya orang-orang kepercayaan. Dia adalah seorang mudallis (suka menyamarkan periwayat lain yang menjadi sumber hadits baginya Pent. begitu pula sebaliknya. kecuali hadits pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian. 'Bagaimana pendapatmu tentang wanita yang memakai sandal jepit?' Dia menjawab: 'Rasulullah telah melaknat wanita yang bertingkah laku menye-rupai laki-laki. dia berkata. "Aisyah pernah ditanya.. Hadits ini mempunyai hadits pendukung yang diriwayatkan dari Ammar bin Vasir. "Tidak boleh dia memakaikan pakaian laki-laki kepadanya dan tidak boleh menyerupakannya dengan anak laki-laki. 'Bolehkah seseorang memakaikan sandal jepit kepada anak perempuannya?' Dia menjawab. 118. meliputi masalah pakaian dan lain-lainnya. Tidak boleh. Maka dia menjawab. Dan hadits ini juga saya sebutkan di dalam kitab saya AshShahihah (hadits no.5. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Amru bin Muhnid di dalam kitab Al-Muntakhab min Fawaidih (II: 268).

bukan melarang memotong sebagian dari rambutnya.Lalu. tidak lebih pendek lagi dari itu). Laknat Allah ini bisa juga menimpa suaminya bila dia membiarkan dan tidak mau melarang istrinya melakukan hal seperti itu. Dia bertanya kepada Aisyah tentang cara mandi janabat Nabi m. Tampaknya yang dimaksud oleh Imam Ahmad di sini adalah mencukur gundul rambutnya sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Al-Fath (1:285). kalaulah perawinya tidak ragu-ragu akan bersambung tidak-nya hadits tersebut. "Rasulullah melarang seorang wanita mencukur rambut kepalanya. maka berarti dia telah menyerupai kaum lakilaki.'"120 Adz-Dzahabi memasukkan tindakan wanita yang menyerupai laki-laki dan tindakan laki-laki menyerupai wanita sebagai dosa besar sebagai tersebut di dalam kitab Al-Kabair (him. meskipun dengan tindakannya yang tasahul (kurang teliti). Saya telah meneliti dan mencantumkan hadits ini. hadits 678). Bila dimaksudkan untuk menyerupai wanita-wanita non-Islam. 'Tidak boleh. sehingga dia pun akan dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Nampaknya larangan Imam Ahmad pada riwayat di atas adalah mencukur gundul. Kemudian dia berkata: "Jika seorang wanita memakai pakaian laki-laki. "Istri-istri Nabi m itu memotong rambut kepala mereka hingga seperti wafrah" (maksudnya. maka tidak dibolehkan berdasarkan sabda Nabi |j: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum. 'Kalau untuk berhias?' Dia menjawab. 'Tidak boleh. Seorang wanita dibolehkan memotong rambutnya hingga sampai kedua telinga itu asa tidak dimaksudkan untuk menyerupai wanita-wanita non Islam." Sanad hadits ini shahih.untuk keperluan berwudhu. maka dia termasuk ke dalam golongan mereka" dan hadits lain sebagaimana yang akan kita bicarakan di dalam membahas Syarat Ketujuh. memotong pendek rambutnya hingga sampai kedua telinganya. Karena adanya hal inilah At-Tirmidzi mencacat hadits ini. dia berkata: Saya pernah mengunjungi Aisyah bersama saudara sesusuannya. serta membicarakan seluruh jalur periwayatanriya sejauh yang saya ketahui di dalam kitab Adh-Dha'ifah (no. Dan ada larangan tegas dari Rasulullah M tentang hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasai (II: 276) dan At-Tirmidzi (II: 109) dari Ali. Jilbab Wanita Muslimah — 159 . karena untuk hal ini dibolehkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (1:176) dari Abu Salamah bin Abdurrahman. 'Bagaimana kalau dia mencukur rambutnya?' Dia menjawab.' Saya bertanya. dia berkata. 129) seraya menyebutkan sebagian dari hadits-hadits di muka. karena seorang suami diperintahkan untuk membimbing istrinya agar senantiasa taat kepada aturan Allah dan mencegahnya 120. dia berkata.' Saya bertanya lagi.

yaitu hukumnya haram. Pendapat kedua. saya telah memasukkan perbuatan tersebut sebagai dosa besar. "Memasukkan tindakan semacam itu ke dalam dosa besar sangatlah tepat mengingat adanya hadits-hadits shahih yang mengancam dengan keras perilaku semacam itu. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban perihal keluarganya itu kelak di hari kiamat.269). mengatakan bahwa perbuatan tersebut haram. para ulama kita setahu saya terbagi menjadi dua pendapat. Hadits di atas juga disebutkan oleh Al-Haitami di dalam kitab AzZawajir (1:126). berdasarkan sabda Nabi : Masing-masing dan kalian adalah pemimpin dan masingmasing dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu." Juga. Adapun yang benar adalah sebagaimana yang dipegangi oleh AnNawawi." Hadits di atas muttafaqun 'alaih. Bahkan.) ini. dan pendapat ini dipegangi oleh Ar-Rafi'i. dan pendapat ini dipegangi oleh An-Nawawi. mengatakan bahwa perbuatan tersebut makruh. Hal itu berdasarkan firman Allah ta'ala: "Wahai orang-orang yang beriman. Adapun tentang hukum tasyabuh (menyerupai kaum non Islam -pent. Kemudian saya juga mendapati beberapa orang yang membicarakan tentang dosa-dosa besar 160—Jilbab Wanita Muslimah . Pendapat pertama. peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Hadits di atas juga tercantum di dalam kitab Ghayah Al-Maram (hadits no.Agar tidak melakukan perbuatan maksiat. Dia berkata.

" Al-Hafizh di dalam kitab Fathu Al-Bari (X: 273-274) ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas di muka pada nomer 3 dengan lafazh kedua. Muslim (VI: 166-167) dan lainnya dari Ibnu Mas'ud secara marfu. yang merenggangkan gigi supaya tampak cantik.". yang merubah ciptaan Allah.'" Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah berkata." dia berkata yang secara ringkasnya sebagai berikut: "Ath-Thabari berkata. yang mencukur dan yang minta dicukur alisnya. bukan termasuk dalam perkaraperkara kebaikan. perilaku dan sejenis-nya.121 121. "Tampaknya larangan menyerupai tingkah lawan jenis tersebut meliputi segala hal." Dia menambahkan. "Dan hikmah pelaknatan terhadap perilaku penyerupaan diri ini adalah karena hal itu bisa menyimpangkan seseorang dari sifat asli yang telah diciptakan oleh Allah Yang Mahabijaksana pada dirinya. Dan pendapat itulah yang lebih tepat." Perlu diketahui bahwa barangsiapa mengubah ciptaan Allah tanpa izin dari-Nya. yaitu: "Rasulullah melaknat para wanita yang menyerupai laki-laki dan melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita. 'Tidak dibolehkan seorang laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang menjadi ciri khas wanita. dan sebaliknya. Akan tetapi dari dalil-dalil lain diketahui bahwa yang dimaksudkan adalah dalam masalah pakaian. maka dia berarti telah mengikuti jalan-jalan setan. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 306).memasukkan perbuatan tersebut ke dalamnya. beberapa sifat. Jadi. Jilbab Wanita Muslimah— 161 . yang lafazh lengkapnya: "Allah melaknat wanita-wanita yang menato dan yang minta ditato. Nabi telah mengisyaratkan hal itu ketika melaknat wanita-wanita yang menyambung rambutnya dengan bersabda: "Wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.

Berikut ini isi pertanyaan dan jawaban dari Ibnu Taimiyah sebagaimana tersebut di dalam kitab Al-Kawakib karya Ibnu Urwah Al-Hanbali (C.Dari keterangan di muka jelaslah bahwa seorang wanita tidak diperbolehkan mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian lakilaki. Saya pikir tulisan dia itu perlu saya kemukakan di sini karena isinya penuh dengan manfaat keilmuan berkaitan erat dengan pembahasan kita ini.tafsir): Soal: Bagaimana hukum wanita memakai kain tutup kepala dengan bando dan tali pengikat yang melingkar di kepalanya? U2 Bagaimana hukum seorang wanita mengenakan farjiah 1 Bagaimana kaidah dalam menetapkan seorang wanita dikatakan menyerupai lakilaki? Apakah hal itu diukur dengan apa yang terjadi di zaman Rasulullah ^ataukah setiap zaman ada tolok ukurnya sendiri-sendiri? Jawaban: Segala puji hanya milik Allah. wahai orang-orang yang mempunyai pikiran sehat! Kemudian saya menemukan tulisan yang bagus sekali yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. lalu mereka benar-benar mengubahnya. akan menyuruh mereka (me-motong telinga-telinga binatang ternak).93/132-134) yang masih tersimpan di Perpustakaan Azh-Zhahiriyah Damaskus dengan nomor (579 . lalu mereka benar-benar memotongnya. Wanita tidak diperbolehkan memakai selendang dan sarung lakilaki. akan membangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka. Pada mulanya perbuatan Allah ta’ala telah berfirman: "Dan siapakah yang lebih balk ciptaannya daripada Allah?" Allah ta'ala berfirman: "Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka. Kain tutup kepala dengan bando dan tali pengikat yang tidak menutup rambut yang terurai adalah pakaian untuk anak (laki-laki). dan aku pun akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah)." (QS. Pakaian semacam jubah yang berlengan lebar yang biasanya dipakai oleh para tokoh agama dan aparat pemerintahan. Pikirkanlah. 162 —Jilbab Wanita Muslimah . An-Nisa': 119) 122. serta pakaian laki-laki lainnya. Wanita yang memakainya berarti dia telah menyerupai anak laki-laki. Tulisan dia tersebut adalah merupakan jawaban dari pertanyaan yang disodorkan kepadanya. -Pent. walaupun pakaian jenis ini lebih menutup aurat dibandingkan dengan pakaianpakaian mereka lainnya. sebagaimana yang biasa kita lihat wanita zaman sekarang memakai jaket dan celana panjang.

akan tetapi ada periwayat lain yang meriwayatkan hadits dari satu sumber periwayat yang sama dengannya.semacam itu dilakukan para wanita tuna susila yang rambutnya berkepang satu dan menjulur pada kedua pundaknya. "Praktek Rasulullah menunjukkan kepada kita bahwa para pezina dan para banci harus diasingkan. 1326) sebagaimana tersebut di buku ini pada him. Ahmad. Pent. tetapi jenggotnya belum. Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan melaknat laki-laki yang menyerupai wanita. Di dalam kitab Shahih Muslim™4. yaitu: wanita-wanita yang berpakaian tetapi 123. Mereka mengatakan.) Oleh karena itu saya mencantumkan hadits tersebut di dalam kitab saya Ash-Shahihah (hadits no. dan mengenakan sorban untuk menyerupai mardan123. Beliau memerintahkan untuk mengasingkan para band. Barangkali wanita yang baik-baik ini melakukan hal itu mungkin bukan dengan tujuan-tujuan di atas tadi. Tetapi lafazh di atas lebih mirip dengan lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (II: 40). memanjangkan cambangnya. tetap saja itu termasuk perbuatan menyerupai laki-laki (yang dilarang oleh Islam). -Pent. 137. Meskipun begitu. Kemudian perbuatan ini ditiru oleh wanita yang baik-baik. Saya katakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (VIII: 155) dengan lafazh yang mirip dengan lafazh di atas. disebutkan bahwa Nabi ^bersabda: "Ada dua golongan penduduk neraka yang sekarang saya belum melihat keduanya. Mardan ialah anak laki-laki yang masih muda. Namun. menurut Muslim dan lainnya Syarik ini mutaba'(periwayat yang agak lemah. Syafi'i. yang bulu kumisnya mulai tumbuh. 124. dan ulama lainnya membahas hukum tentang pengasingan banci. Memang di dalam hadits tersebut terdapat seorang periwayat yang bernama Syarik. Jilbab Wanita Muslimah— 163 . Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki.

kecuali kepada suami mereka. serta pakaian lain semisalnya. yaitu dengan memakai pakaian yang tebal dan longgar. tentu hal ini akan menjadi boleh! Padahal hal itu jelas bertentangan dengan Al-Qur'an dan ijma'. Allah ta'ala telah berfirman kepada kaum wanita: "Hendaklah mereka menutupkan khimar mereka ke dada mereka. Prinsipnya.. wanita yang memakai pakian tipis sehingga masih menggambarkan warna kulitnya atau pakaian sempit dan ketat yang masih menggambarkan lekuk tubuhnya. sedangkan kaum wanitanya memakai sorban dan baju pendek. yang berlenggak-lenggok dan memiringkan kepalanya seperti punuk unta. dimana mereka tidak akan masuk surga. dan jangan menampakkan perhiasan mereka. Dari sini kita bisa tahu prinsip dan kaidah Nabi dalam melarang wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai wanita.An-Nur:31) 164 —Jilbab Wanita Muslimah ."(QS.. tetapi pada hakekatnya dia telanjang. sekelompok laki-laki yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul hamba-hamba Allah.telanjang. Karena. seperti bagian pinggul dan lengannya atau bagian-bagian tubuhnya yang lain. Wanita tadi memang memakai pakaian. serta biasa memakai jilbab yang diulurkan dari atas kepala hingga hanya kedua mata pemakainya saja yang kelihatan. Misalnya. disukai dan biasa dipakai oleh kaum pria dan kaum wanita. bahkan mencium baunya pun tidak bisa. maka andaikata dalam suatu masyarakat kaum prianya biasa memakai khimar yang menutup wajah dan leher." Perkataan Nabi "wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Kemudian. bila demikian halnya. " maksudnya wanita yang memakai pakaian tetapi tidak menutup auratnya. Padahal seharusnya seorang wanita itu memakai pakaian yang menutup auratnya. sehingga tidak menampakkan seluruh tubuhnya dan bagian-bagian tertentu tubuhnya.. dalam hal ini tidak dikembalikan kepada sematamata apa yang dipilih.

'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. niscaya kaum wanita tidak wajib mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka dan tidak wajib pula menutupkan khimar ke dada. katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang beriman." (QS.Allah ta'ala telah berfirman: "Wahai Nabi." (QS. sedangkan yang selain ini haram dipakai". Al-Ahzab: 59) Allah ta'ala juga telah berfirman: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orangorang jahiliyah dulu. Prinsip yang dijadikan pedoman dalam hal ini juga bukan pakaian tertentu yang telah disebutkan oleh Nabi atau pakaian yang biasa dipakai oleh para wanita dan para laki-laki di zaman beliau lalu dikatakan: "Inilah pakaian yang wajib. Al-Ahzab: 33) Jika perbedaan pakaian kaum pria dan kaum wanita hanya diukur dengan apa yang biasa dipakai oleh kaum wanita dan kaum pria berdasarkan pilihan dan kesukaan mereka. mereka tidak akan diharamkan berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu. Karena sebenarnya di zaman Nabi para wanitanya memakai pakaian yang ujung bawahnya panjang sehingga ketika mereka berjalan terseret. karena itu merupakan adat istiadat mereka. juga. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu orang. ketika Nabi memerintahkan kaum laki-laki memanjangkan kain sarungnya beliau ditanya: Jilbab Wanita Muslimah— 165 . sedangkan kaum laki-lakinya diperintahkan untuk menaikkan ujung bawah pakaiannya hingga di atas mata kaki. Oleh karena itulah.

Akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Berbeda bila selop tadi terbuat dari bahan yang lunak. lalu disucikan dengan benda-benda padat. diriwayatkan bahwa beliau ^memberi keringanan kepada kaum wanita yang menyeret ujung bawah pakaiannya. "Hadits ini shahih. karena mempunyai hadits pendukung sebagaimana yang telah saya sebut di muka pada him. Hadits ini shahih. 'Kalau begitu. Memang di negara-negara yang beriklim panas pakaian semacam itu tidak diperlukan. bila melalui tempat yang kotor. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dalam Madzhab Hanbali dan lainnya.") Bahkan. Seandainya seorang wanita memakai celana atau memakai selop yang terbuat dari bahan yang cukup keras. 95.) yang dia butuhkan untuk mengusir dingin. Perkataan dia (Ibnu Taimiyah) menggunakan kata "diriwayatkan" memang memberi kesan akan lemahnya hadits ini. jangan sampai melebihi itu. Demikian halnya jika seorang wanita memakai jubah dan farwah (sejenis tutup kepala -pent. maka ini termasuk jenis pakaian lakilaki. 'Mereka panjangkan (ujung bawahnya) sejengkal. Jika ada orang berkata. Mereka menganggap bagian pakaian yang terseret itu kedudukannya sama dengan sandal yang biasanya sering bersentuhan dengan benda-benda bernajis." 125."Bagaimana dengan kaum wanita? Beliau menjawab. maka seretan pada tempat yang bersih itu telah menyucikan ujung bawah kainnya (yang terkena tempat yang kotor)125. Hal itu juga seperti "dua jalan" (buang air kita) yang sering kena najis yang menjadi suci juga bila dibasuh dengan benda-benda padat. lalu melalui tempat yang bersih. kami jawab. 166—Jilbab Wanita Muslimah . "Bukankah tidak pernah ada wanita yang mengenakan farwah?” Maka. Di negara-negara yang beriklim dingin dibutuhkan pakaian-pakaian yang tebal untuk menghangatkan badan. bagaimana bentuk pakaian yang digunakan untuk menutup tidaklah ditentukan. "Sebenarnya pakaian itu dipakai karena ada kebutuhan.'" (At-Tirmidzi berkata. Saya katakan: Hadits ini shahih. maka pakaian semacam itu sudah memenuhi syarat yang diharuskan. kemudian di atasnya dia tutupkan pakaian jilbab hingga lekuk telapak kaki tidak tampak. maka hal itu tidak dilarang melakukannya. sehingga masih menggambarkan lekuk telapak kaki. betis mereka akan tersingkap!' Beliau bersabda. 'Turun-kan lagi sehasta. Kemudian.' Dikatakan kepada beliau.

Mereka 126 beralasan dengan hadits shahih . (maksudnya. Karena. 1012). tidak disyaritakan kepada wanita untuk meninggikan suaranya ketika adzan dan membaca talbiyah. tidak memakai pakaian yang biasa dia gunakan. tidak memakai baju dan celana. Hadits ini juga tersebut di dalam kitab Al-lrwa'(hadits no. dimana ini sebagai pengganti karena hal-hal yang sifatnya umum. Abu Hanifah menolak adanya ketentuan semacam itu. Akan tetapi. laki-laki memang diperintahkan untuk membuka kepalanya. wangi-wangian. dan karena adanya perbedaan antara yang 126. Al-Hafizh di dalam kitab Al-Fath berkata. Tetapi pendapat mereka itu bisa dibantah bahwa seandainya membayar fidyah itu wajib tentulah Nabi a menjelaskannya. 1542 . sebagaimana disyariatkannya hal itu kepada kaum laki-laki.Jadi yang membedakan antara jenis pakaian laki-laki dan pakaian wanita kembali kepada apa yang pantas dipakai kaum laki-laki dan apa yang pantas dipakai kaum wanita. "Dhahir hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang memakai selop ketika tidak mendapatkan sandal tidak harus membayar fidyah. maka diberinya keringanan. celana. seperti sakit atau kedinginan. itu pun hanya dibolehkan menggunakan selop dan hendaklah dia memotong selopnya itu hingga tingginya di bawah mata kaki—. juga kopiah dan selop. -pent. kopiah dan sepatu. yaitu tidak lain adalah pakaian yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dipakai kaum laki-laki dan dipakai untuk kaum wanita. sorban. maka dia ber-kewajiban membayar fidyah (tebusan) bila dia memakainya. Kaum wanita itu diperintahkan menutup seluruh tubuhnya. juga ketika menaiki Shafa dan Marwah. Akan tetapi kebanyakan ulama berselisih pendapat dengannya. Yaitu hadits Nabi u "Janganlah orang yang berihram memakai gamis.Fath).)" Hadits di atas muttafaqun 'alaih dan lafazh di atas adalah yang tersebut di dalam riwayat Al-Bukhari dalam kitab /4/-Haj'(hadits no." Jilbab Wanita Muslimah— 167 . yaitu bila tidak menemukan sarung untuk memakai celana dan jika tidak menemukan sandal untuk memakai selop. —kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal. Oleh karena itu. dan janganlah memakai sedikit pun pakaian yang telah disentuh jia’faran atau waras. ketika dia membutuhkan pakaian yang harus menutup aurat dan sarana untuk alas berjalan. Adapun pengikut madzhab Hanafi berpendapat bahwa dia wajib membayar fidyah (tebusan). berbeda bila karena hal-hal yang sifatnya khusus. serta tidak disyariatkannya menggunting rambut dalam ihram. serta dilarang bersolek dan memamerkan diri.

" Hadits di alas muttafaqun 'aiaih. Mereka tidak terlarang memakai pakaian apa pun. Hadits ini juga tersebut di dalam kitab Al-lrwa '(hadits no. mereka menetapkan bila wanita mengulurkan pakaian dari atas kepalanya agar tidak menutup wajahnya. Akan tetapi mereka dilarang memakai cadar dan kaos tangan (di waktu ihram). oleh karena itu. -pent. maka itu seperti dia menutup wajahnya dengan selimut atau semisalnya. sebagaimana seorang laki-laki yang melepas . 1013). hendaklah memakai celana. bahwa dia pernah mendengar Nabi M berkhutbah di Arafah. Abbas. dan barangsiapa tidak mendapatkan sandal. —dan inilah pendapat yang benar—mengatakan: "seorang wanita tidak dilarang menutup wajah. (yaitu antara yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus. 168—Jilbab Wcmitn Muslimnh . karena dia diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya. juga menutup tangan dengan lengan baju. maka hendaklah memakai selop.satu dengan yang lain. Seandainya seorang laki-laki berkeinginan mengenakan cadar dan membiarkan para wanita membuka wajah mereka. menganggap bahwa kedudukan wajah wanita seperti kepala seorang laki-laki. tetapi dilarang memakai cadar sebagaimana dilarang juga memakai kaos tangan. Adapun menutup wajah dengan kain yang diulurkan dari atas kepalanya. Dia tidak disyariatkan melakukan penggantian semacam itu. Termasuk juga yang dilarang adalah memakai burqu' (sejenis cadar) dan apa saja yang dibuat secara khusus untuk menutup wajah. karena keduanya digunakan untuk menutup anggota badan tertentu saja yang sebenarnya tidak perlu ditutup. Lain halnya wanita. "Barangsiapa tidak mendapatkan sarung. Demikian juga. Para ahli fikih berselisih pendapat apakah ketika ihram wajah seorang wanita itu dikiaskan dengan kepala seorang laki-iaki ataukah seperti badannya? Dalam madzhab Hanbali dan lainnya ada dua pendapat. dan yang sejenisnya. menganggap bahwa kedudukannya sebagaimana tangan laki-laki. wanita ketika shalat diperintahkan Saya katakan: Pendapat ini juga dikuatkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari tortu . niscaya mereka dilarang melakukannya. penutup kepalanya. maka semuanya itu tidak dilarang. celana. Pendapat pertama. Hal ini sama sebagaimana kaum laki-laki yang dilarang memakai baju.). Pendapat kedua.

Sehingga. Itu adalah hak Allah yang harus ditunaikan oleh seorang wanita. tidak diterima shalat seorang wanita yang telah dewasa kecuali dengan memakai kerudung.untuk merapatkan anggota tubuhnya . keumuman hadits:"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalaf membantah pendapatnya. sekalipun dia berada di dalam rumah yang tidak terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Al-Ahzab:33) Nabi M bersabda: "Janganlah kalian melarang wanita-wanita hamba Allah pergi ke masjid. Jilbob Wanita Muslimah— 169 . Bahkan. Akan tetapi sebenarnya rumah-rumah mereka lebih baik untuk mereka. Saya tidak mengetahui adanya hadits yang mendukung pendapat dia ini." Nabi ^ juga bersabda: 127. Hal itu menunjukkan bahwa secara syar'i seorang wanita diperintahkan menutup anggota tubuh yang mana hal itu tidak diperintahkan kepada kaum laki-laki." (QS. meskipun tidak ada seorang pun manusia yang melihatnya. Seorang wanita juga diperintahkan untuk menutup kepalanya. Allah ta'a/a berfirman: 127 "Dan hendaklah kalian tetap berada di rumah! Janganlah kamu berbias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.

Sanad hadits ini hasan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad. akan banyak kemungkaran yang bisa dicegah. yaitu tatkala kaum laki-laki hendak keluar dari masjid (setelah selesai shalat). Pada cetakan-cetakan sebelumnya saya sebutkan adanya pengkhususan tersebut. terutama pada saat musim haji. bagaimanapun kondisinya. Namun. Oleh karena itu. Yang benar. membiarkan hadits tersebut berlaku secara umum." yang diriwayatkan oleh Muslim. Ini berlaku juga untuk para wanita. dan shalat dia di masjid kaumnya lebih baik daripada shalat di 128 masjidku. Masjidl Haram. Hanya Allahlah yang mengetahui maksud hati hamba-Nya. atau sikap meremehkan mereka temadap bimbingan agama. shalat dia di rumah-nya lebih baik daripada shalat di masjid kaumnya. Merupakan hal yang sudah dimaklumi bersama bahwa tempat tinggal itu adalah laksana pakaian juga. Hadits (yang diriwayatkan oleh Muslim) ini menunjukkan bahwa keutamaan tersebut adalah khusus untuk laki-laki. tidak ada alasan bagi para wanita untuk berdesak-desakkan sebagaimana saya sebutkan di atas. dimana keduanya pada dasarnya dibuat untuk melindungi dan menghindarkan diri dari bahaya. maka dia akan mendapatkan keutamaan pahala secara khusus. Hadits ini merupakan peng-. Insya Allah. bila shalat sunnah tersebut dia lakukan di salah satu di antara tiga masjid (yaitu Masjid Nabawi. menunjukkan kebodohan mereka terhadap syariat. begitu juga Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya masing-masing."Shalat salah seorang dari kalian (kaum wanita) di kamar tidumya lebih baik daripada shalat di kamar tamunya. mencakup laki-laki maupun perempuan. Untuk kaum wanita. kita tahu bahwa berdesakdesakkannya para wanita untuk melakukan shalat di masjid Nabawi. Hendaklah para wanita yang biasa melakukan hal tersebut segera menghentikan perbuatannya. 170 —Jilbab Wanita Muslimah . dan Masjidil Aqsha. 128. bila hal itu dilakukan. kecuali Masjidil Haram. khusus dari hadits Nabi "Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kalai shalat di masjid lain. Perlu saya sampaikan di sini bahwa hal itu tidak berarti menafikan adanya keutamaan bagi para wanita untuk shalat di rumah mereka dan menafikan bahwa shalat sunnah yang dilakukan oleh seseorang di rumah lebih utama daripada yang dilakukannya di masjid. shalat dia di kamar tamunya lebih baik daripada shalat di rumahnya. shalat di rumah-rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid Nabi M. Dari situ. Hanya kepada Allah kita adukan sikap tak tahu malu mereka dan sikap ketidakpedulian para suami mereka. Apalagi untuk hal tersebut mereka harus berdesak-desakkan dengan kaum laki-laki. Namun sekarang nampak di mata saya bahwa pendapat saya itu tidak tepat. Pent).” Keutamaan di atas tidak lain karena lebih tertutup dan lebih terhijab.

Demikianlah Allah menyempumakan nikmatNya untuk kalian semua agar kalian berserah diri kepadaNya. Allah ta'ala berfirman: "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kalian. dan Dia jadikan untuk kalian tempat-tempat tinggal di gunung-gunung."(QS. An-Nahl: 80) Allah ta'ala juga berfirman: "Dan Allah menjadikan untuk kalian tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan.Sebagaimana dibuatnya makanan dan minuman untuk mendapatkan manfaatnya. Pada binatang ternak tersebut terdapat (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat lain. dingin dan dari gangguan musuh." (QS. Pakaian adalah sesuatu yang digunakan oleh manusia untuk berlindung dari panas. dan Dia jadikan untuk kalian pakaian yang melindungi kalian dari panas dan pakaian (baju besi) yang melindungi kalian dalam peperangan. Sedangkan di awal surat tersebut Allah menyebutkan apa-apa yang kalian butuhkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan kalian. An Nahl: 5) Jilbab Wanita Muslimah— 171 . dan sebagian (daging)nya kalian makan." (QS. An-Nahl: 81) Pada ayat di atas Allah menyebutkan apa-apa yang kalian butuhkan untuk menolak hal-hal yang mungkin menyakitkan kalian. Allah ta'ala berfirman: "Dan Allah menjadikan rumah-rumah untuk kalian sebagai tempat tinggal.

" Jadi. Para wanita diperintahkan untuk memakai pakaian yang bisa menutup dan menyembunyikan dirinya.Pada ayat di atas Allah menyebutkan apa-apa yang bisa menghangatkan dan bisa mengusir dingin. yaitu: Pertama. "Dingin adalah kebinasaan. untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu Allah berfirman: "Demikianlah Allah menyempumakan nikmat-Nya untuk kalian semua agar kalian berserah diri kepada-Nya. maka itu pakaian untuk laki-laki. Dikatakan begitu. Karena itu. sedangkan panas hanyalah gangguan saja. Namun. Akan tetapi syariat memberinya pembeda dengan pakaian yang ber- 172—Jilbab Wanita Muslimah . untuk menutup dan menyembunyikan wanita. tujuan dibuatnya pakaian adalah sama dengan tujuan dibuatnya tempat tinggal. niscaya hal ini bisa terwujud dengan cara apa saja yang pokoknya bisa membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. di pertengahan surat Allah menyebut tentang penyempurna nikmat. maka yang lebih mendekati maksud untuk menutup dan menyembunyikan diri itulah yang menjadi pakaian wanita. sebagian orang Arab mengatakan." Karena itu. di ayat lain tidak disebutkan masalah perlindungan dari dingin. karena dingin itu membinasakan. sedangkan panas hanyalah sekedar mengganggu saja. Sebenarnya perbedaan bisa saja diwujudkan dengan pakaian apa saja yang penting bisa membedakan antara keduanya. Prinsip dasar yang harus kita ketahui adalah bahwa Allah membuat syariat tentang pakaian ini mempunyai dua tujuan. sedangkan di awal surat Allah menyebut tentang pokok nikmat-Nya. Sedangkan yang tidak seperti itu. Jadi. karena hal itu telah disebutkan di awal surat.) dari pakaian orang-orang Islam yang tujuannya tidak lain adalah terbedakan antara seorang muslim dengan seorang ahli dzimmah sehingga masing-masing mendapatkan perlakuan hukum yang sesuai. ini adalah merupakan pendapat yang rusak. Kita perlu melihat dibedakannya pakaian ahli dzimmah (orang-orang nonIslam yang mendapatkan jaminan perlindungan dari pemerintah Islam pent. Kedua. Bila maksud Allah hanya sekedar untuk bisa membedakan antara laki-laki dan wanita saja. apabila kita ingin membedakan antara pakaian laki-laki dan wanita. Sehingga.

'" Jilbab Wanita Muslimah — 173 . syariat tidak menetapkan agar pakaian ahli dzimmah berwarna putih dan pakaian orang-orang Islam selain warna putih. 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Akan tetapi. kehitam-hitaman. karena pakaian berwama putih lebih utama dari pakaian dengan warna lainnya. Akan tetapi harus diperhatikan pula aspek tertutupnya aurat. dua tujuan itu mesti diperhatikan. andaikata ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan membuat pakaian yang sama dan serupa. Hendaklah orang-orang yang masih hidup diantara kalian memakai pakaian berwarna putih. Demikian pula dalam masalah rambut dan lain-lainnya. Tidak begitu. atau warna lainnya. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu orang. Nah. dan hendaklah kalian menkafani orang-orang yang meninggal dengan kain yang berwarna putih pula. Sehingga. Jadi. tetapi sebaliknya. Allah ta'a/a juga telah menjelaskan tujuan dibuatnya pakaian ini dengan firman-Nya: "Wahai Nabi. juga tidak sekedar dengan tujuan tertutupnya aurat wanita saja tanpa memperhatikan pembedaan di antara pakaian keduanya. katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang beriman. demikian pulalah halnya dalam masalah pakaian wanita dan pakaian laki-laki yang sedang kita bahas ini. sebagaimana disabdakan oleh Nabi "Hendaklah kalian memakai pakaian yang berwarna putih. tetap saja masing-masingnya dilarang memakainya oleh syariat. Tujuan dibuatnya bukan sekedar asal berbeda antara pakaian laki-laki dan perempuan saja.warna putih." Jadi. misalnya warna madu. meskipun itu menutup aurat.

Dan itu semua terjadi semata-mata akibat dari tindakannya menyerupai kaum laki-laki. karena nyanyian adalah merupakan pengantar menuju ke sana. maka orang-orang menyebut para penyanyi laki-laki dengan sebutan kaum banci. meminta menjadi pemimpin bagi kaum laki-laki sebagaimana umumnya kaum laki-laki. dan melakukan perbuatanperbuatan yang menghilangkan rasa malu pada diri wanita itu sendiri. Kami juga telah menjelaskan bahwa kesamaan dalam hal lahir akan menyebabkan kesamaan dan keserupaan dalam hal tingkah laku dan perbuatan." Pada hadits di atas nampak bahwa Nabi menetapkan hukum itu berkait dengan masalah tasyabbuh-nya terhadap lawan jenisnya. dan orang-orang Arab Badui. Kemudian. Karena itu bentuk pelarangan Nabi disampaikan dalam urusan tasyabbuh (penyerupaan)nya. yaitu: "Allah melaknat para wanita yang menyerupai kaum laki-laki dan kaum laki-laki yang menyerupai para wanita. Demikian pulalah. seorang wanita yang menyerupai kaum pria lambat laun dia akan tertulari tingkah dan perilaku pria. orang-orang a'jam. Seorang laki-laki yang menyerupai kaum wanita lambat laun dia akan tertulari tingkah dan perilaku wanita. Karena itu. dan karena menyanyi itu merupakan pekerjaan wanita. yang pada puncaknya nanti dia akan bisa menjadi banci dan akan menganggap dirinya sebagai seorang wanita. Terkadang dia tunjukkan bagian-bagian tubuhnya sebagaimana yang biasa kaum laki-laki tunjukkan. dia akan berdandan dan berpenampilan sebagaimana layaknya kaum laki-laki. kaum wanita dan kaum laki-laki dilarang saling menyerupai satu sama lain. kita dilarang menyerupai orang-orang kafir.Allah menjadikan agar dikenalnya kaum wanita dengan pakaian yang berbeda menjadi tujuan dibuatnya pakaian untuk para wanita. Kaidah di atas telah kami paparkan di dalam kitab Iqtidha' Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-)ahim. Sebaliknya. 174—Jilbab Wanita Muslimah .

seperti farjiah yang di beberapa negara biasa dipakai oleh kaum laki-laki. Terlarangnya bentuk pakaian ini bisa berubah mengikuti kebiasaan masyarakat. Maka. Adapun bila pembedaan tadi kita tinjau dari sisi fungsinya menutup dan menyembunyikan badan. Andaikata tidak bisa begitu. ♦♦♦♦♦♦♦ Jilbab Wanita Muslimah— 175 ." Begitulah penjelasan panjang lebar seputar tasyabbuh dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. bukan untuk pakaian wanita.Kita telah tahu bahwa harus ada pembeda antara pakaian wanita dan pakaian laki-laki. bila ada suatu pakaian yang pada galibnya itu merupakan pakaian laki-laki sudah barang tentu dilarang bagi wanita memakainya meskipun pakaian tersebut telah menutup seluruh badannya. maka hal ini jelas dilarang untuk dipakai wanita. Wallahu a'lam. Kita juga telah tahu bahwa pakaian wanita haruslah merupakan pakaian yang menutup seluruh badannya dan menyembunyikan dirinya hingga terpenuhilah tujuan dibuatnya pakaian untuknya. sementara juga menyerupai pakaian laki-laki. maka kaum wanita disuruh memilih pakaian yang lebih bagus dalam hal menutupnya. misalnya suatu pakaian di satu sisi sangat minim untuk menutup rapat badan wanita.

" (QS. tidak boleh tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir. baik dalam hal ibadah. Allah ta'ala berfirman: ] "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mau mengubah keadaan mereka sendiri. Pada akhirnya semua itu menjadi sumber kehinaan dan kelemahan kaum muslimin dan terbukanya peluang bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka. yang sayangnya pada zaman sekarang ini banyak dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Ini merupakan prinsip yang mendasar dalam syariat Islam. Ar-Ra'd:11) 176 —Jilbab Wanita Muslimah . bahkan oleh para pemuka agamanya. Padahal. sebab di dalam syariat Islam telah ditetapkan bahwa kaum muslimin. baik laki-laki maupun perempuan. dan pakaian yang menjadi pakaian khas mereka. perayaan hari raya. Hal itu dikarenakan kebodohan atau hawa nafsu mereka sehingga mereka pun larut dalam arus zaman dan tradisi Eropa yang kafir.T idak Menyerupai Pakaian Orang-orang Kafir illbab disyaratkan tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dalam urusan agama itu. Dan mereka itu tidak saling berselisih melainkan setelah datang kepada mereka pengetahuan yang disebabkan karena kedengkian mereka. Al-Jatsiyah: 16-18) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Al-lqtidha': "Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia telah memberikan nikmat agama dan dunia kepada Bani Israil. Sesungguhnya Tuhanmu akan memberi keputusan kepada mereka pada hari kiamat kelak dalam hal-hal yang mereka perselisihkan itu." (QS. kemudian As-Sunnah menafsirkan dan menjelaskannya secara terperinci. Kami telah berikan pula kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami telah lebihkan mereka dari bangsa-bangsa (pada masanya). Kami telah berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama). Sebagian dalil-dalil dari Al-Qur'an itu di antaranya: 1. Al-Qur'an menyebutkannya secara global. Oleh karena itu. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. dan Dia mengabarkan pula bahwa mereka itu saling berselisih justeru setelah datang pengetahuan kepada mereka disebabkan kedengkian sebagian dari mereka ter- Jilbab Wanita Muslimah — 177 . Firman Allah ta'a/a: "Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (yaitu: Taurat). kekuasaan dan kenabian.Perlu diketahui bahwa dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran prinsip penting di atas banyak tersebut di dalam Al-Qur'an maupun AsSunnah.

bahwa bila kita menyamai mereka dalam satu hal.hadap yang lainnya. Dengan sikap tegas kita seperti itu kita akan mendapatkan pertolongan dari Allah ta'a/a dan dimudahkan menjauhi perbuatan-perbuatan batil tersebut. mereka akan rela mengeluarkan harta benda yang banyak sekalipun untuk keperluan itu. Orang-orang kafirakan bergembira sekali ketika orang-orang Islam mau mengikuti kebiasaan-kebiasaan mereka. Firman Allah ta'ala: 178 —Jilbab Wanita Muslimah . Namun. Kalau pun perbuatan menyerupai mereka itu bukan termasuk kategori mengikuti hawa nafsu mereka. Kemudian Allah telah menjadikan syariat agama untuk Muhammad dimana Allah memerintahkan beliau untuk mengikutinya dan melarang beliau mengikuti hawa nafsu orangorang yang tidak mengetahui. namun tidak diragukan lagi. maka lambat laun kita akan menyamai mereka dalam perkara lainnya (yang lebih besar). perbuatan menyamai mereka itu termasuk kategori mengikuti hawa nafsu mereka ataukah tidak. meskipun yang pertamalah yang lebih kuat kemungkinannya. Yang tergolong dalam kategori orang-orang yang tidak mengetahui adalah semua orang yang menyelisihi syariat Allah. kedua-duanya sama-sama mungkin. Sedangkan pengertian hawa nafsu mereka adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan orang-orang musyrik yang sangat mereka sukai yang merupakan tuntutan dari agama mereka yang batil. 2. Apabila kita mengikuti kebiasaan mereka berarti kita menyukai mereka. Sebab. dan apabila tingkah laku kita bersesuaian dengan tingkah laku mereka berarti kita mengikuti apa-apa yang mereka sukai itu. Barangsiapa menggembala (ternaknya) di dekat daerah terlarang. Karena kita tahu. Bahkan. maka hal itu besar kemungkinan akan memasuki daerah tersebut. bahwa menyelisihi mereka berarti kita telah mencegah diri untuk mengikuti hawa nafsu mereka.

mengikuti hawa nafsu mereka itu bisa terwujud dengan perilaku lain (yang lebih remeh) dari itu sekalipun." maksudnya ialah mengikuti mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khas dan tuntunan agama mereka. sehingga hati mereka menjadi keras dan kebanyakan dari mereka menjadi orang-orang yang fasik.' Demikianlah. Dan. Katakanlah. Seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka. 3. lalu berjalanlah masa yang panjang. yaitu orang Yahudi. Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dengan bahasa Arab. Nasrani dan lainnya. janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan AlKitab kepada mereka." (QS. (QS."Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka itu bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu. 'Sesungguhnya aku hanyalah diperintah untuk menyembah Allah dan agar tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun. Ar-Ra'du: 36-37) Kata ganti dalam perkataan hawa nafsu mereka kembali -wallahu a'lam— kepada golongan-golongan yang mengingkari sebagian ayat Al-Qur'an. maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu dari (siksa) Allah. setelah datang pengetahuan kepadamu. Hanya kepada Dialah aku menyeru (manusia) dan hanya kepada-Nyalah aku kembali. Allah ta'ala berfirman: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman tunduk hatinya untuk mengingat Allah dan (taat) kepada kebenaran yang telah diturunkan (kepada mereka). Firman Allah ta'ala: "Seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu. namun di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu ada yang mengingkari sebagian (isi)nya. Al-Hadid:16) Jilbab Wanita Muslimah— 179 .

ra'ina." 4. 'Kami mendengar'. dan dengarkanlah. Al-Baqarah: 104) Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (1:148) berkata. .." (QS. tetapi kami tidak mau menurutinya.. 'Kami mendengar dan kami patuh.' merupakan larangan mutlak terhadap tindakan menyerupai mereka. Allah ta'a/a berfirman: "Hai orang-orang beriman. (yang artinya ketololan). sebagai plesetan dari kata ru'unah. sedangkan kami sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Allah ta'ala melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok (akidah) maupun perkara-perkara cabang (hukum fikih). dengarlah kami. "Allah ta'ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. merupakan peringatan khusus (bagi kita) bahwa hati bisa membatu akibat dari kemaksiatan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Firman Allah ta'a/a. dengarlah." (QS.An-Nisa':46) 180 —Jilbab Wanita Muslimah . Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV:310) berkata: "Oleh karena itu. mereka mengatakan. janganlah kalian mengatakan. sebagaimana tersebut dalam firman Allah ta'ala: "Yaitu orang-orang Yahudi. disamping itu. Sekiranya mereka mengatakan. mereka mengubah perkataan dari tempat-tempat (semesti)nya. 'Ra'ina'. Dan (mereka juga mengatakan): 'Ra'ina' dengan memutar-mutar lidahnya untuk mencela agama. Jika mereka ingin mengatakan. orang-orang Yahudi suka menggunakan kata p/esetan dengan tujuan mengejek -semoga Allah melaknat mereka-. perhatikan kami' tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. tetapi katakanlah.. 'unzhurna'. Akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Sebab. Mereka tidak beriman kecuali dengan keimanan yang sangat sedikit. Mereka berkata. Dan bagi orangorang kafir (disediakan) siksaan yang pedih. 'janganlah mereka seperti. Dan (mereka mengatakan pula): 'Dengarlah!'.

karena perkataan tersebut dalam bahasa mereka mempunyai arti yang jelek. hingga orang-orang Yahudi yang hidup di zaman beliau waktu itu tahu dan merasa bahwa Nabi memang berkeinginan menyelisihi mereka dalam segala perilaku yang merupakan ciri khas mereka. baik dalam perkataan maupun perbuatan. 'Orang-orang Yahudi mengucapkan perkataan tersebut adalah dengan maksud untuk mengolok-olok. dengan berbuat seperti itu berarti kita telah menyerupai kebiasaan orang-orang kafir dan membuat mereka senang karena harapan dan tujuan mereka tercapai. walaupun mungkin maknanya tidak jelek menurut bahasa kaum muslimin.22. namun beberapa ayat yang telah disebutkan di atas kami kira telah mencukupi. tidak menimpa kepada kami.Ada juga hadits-hadits yang mengabarkan bahwa mereka jika memberi salam mengatakan. Syaikhul Islam menjelaskan ayat ini yang secara ringkasnya sebagai berikut (him. 8-14. padahal 'assam' artinya kematian. Dia juga mengatakan: "Orang-orang Yahudi mengatakan kepada Nabi . Allah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir. kita diperintahkan menjawab salam mereka dengan perkataan "wa 'alaikum. Berdasarkan ayat-ayat di atas jelaslah bahwa menjauhi perilaku orang-orang kafir serta tidak menyerupai mereka dalam perkataan maupun perbuatan merupakan sasaran dan tujuan asasi diturunkannya Al-Qur'anul Karim. "assamu 'alaikum". kami persilahkan untuk membaca kitab Al-lqtidha'(h\m. 'ra'ina sam'aka' dengan maksud mengolok-olok." Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang membicarakan masalah ini. Hal ini diceritakan secara jelas oleh Anas bin Malik sebagai berikut: Jilbab Wanita Muslimah— 181 . dan 42). Bagi yang ingin mengkajinya lebih lanjut. Beliau ^juga telah mempraktekkan sikap semacam itu dalam kehidupan beliau . Sebab. Allah ta'ala tidak suka bila orang-orang mukmin mengucapkan perkataan semacam itu". Karena itu. 22): "Qatadah dan ulama lainnya berkata." yang maksudnya: semoga ucapan doa mereka itu menimpa mereka sendiri. Jadi. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kaum muslimin dilarang mengucapkan perkataan tersebut disebabkan orang-orang Yahudi biasa mengucapkannya. Nabi telah menjelaskan dan menerangkan hal itu kepada umatnya.

mereka tidak mengajaknya makan dan berkumpul bersama mereka. Mereka berkata. Para sahabat pun menanyakan hal itu kepada Nabi Lalu Allah menurunkan ayat.' Katakanlah.' Sabda beliau ini didengar oleh orang-orang Yahudi."Sesungguhnya menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi. 'Lakukanlah apa saja terhadap mereka. melainkan orang ini selalu menyelisihinya.' Lalu Rasulullah bersabda. 'Sesungguhnya haidh itu adalah suatu gangguan. 182 —Jilbnb Wanita Muslimah . kecuali bersetubuh. 'Apa yang diinginkan oleh laki-laki ini? Tidak ada satu pun dari urusan kita. bila salah seorang wanita dari mereka haidh. 'Mereka bertanya kepadamu tentang masalah haidh. Maka. hendaklah kalian menjauhi para wanita yang sedang haidh dan seterusnya hingga akhir ayat.

sedang melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dijauhi adalah mendekati perilaku orang-orang Nasrani. bentuk penyelisihan yang kita lakukan ada kalanya mengena pada pokok hukumnya dan ada kalanya pula pada tata caranya. (Maksudnya. berubahlah wajah Rasulullah (yang menunjukkan ketidaksetujuan beliau). "Wahai Rasulullah. Kemudian. Al-lqtidha\ "Hadits ini menunjukkan betapa banyak syariat Allah ta'ala yang menyuruh Rasulullah menyelisihi orang-orang Yahudi. datanglah orang-orang Nasrani yang meninggalkan seluruh aturan-aturan tersebut -tanpa berdasar dengan aturan-aturan Allah— hingga mereka menetapkan bahwa wanita haidh tidak najis sama sekali. Keduanya berkata. bahkan dalam segala urusan mereka. orang-orang Yahudi mengatakan begini-begini." 129. "Hadits ini hasan-shahih. sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu. Sekeluarnya mereka datanglah hadiah susu untuk Nabi Beliau mengutus seseorang untuk menyusul keduanya dan memberikan susu itu kepada mereka. Dari situ jelaslah. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (1:169). di mana Allah telah menetapkan bolehnya 'mendekati' istri yang sedang haidh asal tidak untuk ber-setubuh.Lalu. Hal itu diisyaratkan oleh perkataan mereka. Jilbab Wanita Muslimah— 183 . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya. Allah memberikan bimbingan kepada umat yang 'tengah-tengah' ini dengan memberinya syariat yang sifatnya tengah-tengah di antara kedua syariat umat terdahulu tersebut." Hadits ini juga diriwayatkan oleh ulama hadits lainnya. Dan. Abu 'Awanah (I: 311-312) di dalam masing-masing kitab Shahih-nya. Pada kasus menjauhi istri yang sedang haidh di atas adalah berkenaan dengan tata caranya. keduanya keluar. keduanya pun tahu bahwa Nabi 129 tidak marah kepada mereka. Sehingga. Meskipun. dan kami kira beliau marah kepada mereka berdua. Hadits ini kami bahas di dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud (hadits no. bahwa menjauhi apa-apa yang tidak diperintahkan oleh Allah untuk dijauhi adalah mendekati perilaku orangorang Yahudi." Kemudian. Ketika. apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi seperti di atas adalah disyariatkan oleh Allah. datanglah Usaid bin Hudhair dan Ibadh bin Basyir. Dalam urusan thaharah (kebersihan) yang berkaitan dengan orang haidh ini orangorang Yahudi mempunyai aturan-aturan yang sangat memberatkan. At-Tirmidzi berkata.). Apakah tidak sebaiknya kita menyetubuhi (istri-istri kita yang sedang haidh)? Berubahlah wajah Rasulullah . boleh digauli kapan saja diperlukan — Pent. "Apa yang diinginkan oleh laki-laki ini? Tidak ada satu pun dan urusan kita. 250). sebagian sahabat berlebih-lebihan dalam menyelisihi orang-orang Yahudi hingga hendak meninggalkan apa yang telah disyariatkan oleh Allah (yaitu hendak menyetubuhi istri-istrinya yang sedang haidh). Lalu. melainkan orang ini selalu menyelisihinya.

niscaya orang yang melihatnya akan sating memberi tahu yang lainnya. Ada salah seorang berkata mengusulkan. adab. dia berkata: "Suatu ketika Nabi ^sedang memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk menunaikan shalat. Dan dalildalil tersebut tidak khusus berkaitan dengan masalah shalat saja. namun meliputi juga masalah-masalah lain. Kemudian diusulkan juga kepada beliau agar menggunakan terompet (dalam riwayat lain disebutkan: terompet 184—Jilbab Wanita Muslimah . Dari Abu Umair bin Anas. 'Kita pasang saja bendera ketika tiba waktunya shalat. Kami akan sebutkan dalildalil tersebut agar para pembaca sekalian mantap dengan alasanalasan kami.' Beliau tidak menyetujui usulan ini.Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah yang menguatkan tujuan asasi syariat Islam yang disebutkan di muka sangatlah banyak. Dalil-dalil tersebut merupakan penjelasan dan penjabaran dari keterangan-keterangan di dalam Al-Qur'an yang telah tersebut di muka yang sifatnya masih global. seperti: ibadah. dari seorang pamannya yang termasuk sahabat Anshar. sosial dan adat. Dalam Masalah Shalat 1. Jika (waktu shalat tiba. lalu bendera telah dipasang).

karena memang mayoritas syariat orang-orang Nasrani merupakan bid'ah-bid'ah yang dibuat oleh para pendeta dan pemuka agama mereka. Sekalipun terompet orang-orang Yahudi konon sumbernya berasal dari Nabi Musa. Dalam tidurnya. dia 130 diperlihatkan adzan (untuk memanggil orang-orang shalat" 130. Pen. 'Itu seperti orang-orang Yahudi.Yahudi). penyebutan alasan suatu masalah setelah ditetapkannya hukum masalah tersebut. namun beliau juga tidak menyetujuinya. Dan diantara mereka ada yang memukul alat-alat itu pada saat pagi dan petang hari. sedang lonceng merupakan alat yang biasa digunakan oleh orang-orang Nasrani. Hadits di atas juga menunjukkan dibencinya menggunakan kedua alat ini secara mutlak. Jilbab Wanita Muslimah— 185 .' Abdullah bin laid bin Abdi Rabbihi meninggalkan majlis dalam keadaan sangat memikirkan apa yang sedang difikirkan oleh Rasulullah tersebut. yang mengandung ajakan untuk berdzikir kepada Allah di mana adzan ini pintu-pintu langit terbuka. 56): "Sesungguhnya tatkala Nabi melarang terompet yang ditiup dengan mulut dan lonceng orang-orang Nasrani yang dipukul dengan tangan beliau menjelaskan ///af (sebab)nya. Hadits di atas shahih. 'Itu seperti orang-orang Nasrani. yaitu karena terompet merupakan alat yang biasa digunakan orang-orang Yahudi. Beliau mengatakan. Konsekwensinya. ada diantara raja-raja tadi yang menggunakan lonceng atau beduk untuk panggilan shalat lima waktul Padahal alat-alat itu sudah jelas dilarang oleh Rasulullah . maka menunjukkan bahwa alasan tersebut merupakan '///ardari hukum tersebut.) biasa membakar dupa dan memukul lonceng-lonceng kecil. baik dari kalangan raja atau lainnya ikut-ikutan menggunakan kedua alat yang biasa digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani itu. Namun beliau mengatakan. Adapun lonceng orang-orang Nasrani itu adalah bid'ah. Dan penguat hadits ini cukup jelas. —katanya untuk meniru Dzulkarnain— dan memerintahkan kepada raja-raja kecil. setan-setan melarikan diri dan rahmat Allah turun. di mana pada masa itu terompet biasa digunakan. Sebab. Sampai-sampai kita bisa melihat mereka pada hari 'Kamis kecil' (yaitu hari Kamis yang menjadi awal dari puasa orang-orang Nasrani menjelang perayaan Paskah. Kami telah sebutkan hadits ini di dalam kitab kami Shahih Sunan Abu Dawud (hadits no. termasuk di luar shalat. Banyak di antara umat Islam ini. Adapun syiar Islam yang lurus ini untuk memanggil orang-orang untuk shalat tidak lain adalah dengan adzan. Di dalam totab tersebut juga kami sebutkan imam-imam yang telah menilai shahih hadits ini. Bahkan.dalam kekuasaannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid'ah lainnya. sebagaknana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. karena hal itu merupakan kebiasaan mereka. beliau melarang apa saja yang merupakan ciri khas orang-orang Yahudi dan orangorang Nasrani. 'Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng. Orangorang Nasrani biasa membunyikan lonceng dalam banyak acara di luar acara ibadah mereka. 511).

di rumahrumah dan sebagainya. Saya katakan: Yang menunjukkan dibencinya suara lonceng secara mutlak adalah perkataan Nabi "Lonceng adalah seruling setan. Suaranya benar-benar persis dengan suara lonceng."'Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. karena suara dan bentuknya tidaklah menyerupai lonceng. "Mereka (para sahabat) lebih menyukai tidak banyak bersuara ketika berdzikir. Apakah semua itu termasuk dalam kategori lonceng yang telah disebutkan di dalam hadits-hadits di muka? Jawaban saya: Tidak." Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (VI: 163). Tindakan mengeraskan suara dalam tiga keadaan di atas adalah merupakan tradisi Ahli kitab. Wallahu a'lam. mengagungkan dan memuliakan Allah. (yaitu zaman sahabat dan tabi'in). "Para malaikat tidakmenyertaisuatu majlisyang di dalamnya terdapatlonceng. (yaitu Romawi dan Persia) yang kemudian banyak dilakukan oleh orang-orang Islam. yaitu orang-orang Romawi dan Persia telah membudaya di kalangan raja-raja Timur (baca: Islam).(l: 445). Qais bin 'Ibad -salah seorang tokoh dan kalangan tabi'in— berkata. dan Ahmad (II: 366. seperti bel pada jam weker untuk membangunkan orang tidur. dimana sebenarnya tindakan itu menyalahi tuntunan kaum muslimin. Ibnu Hajar berkata.Tatkala tindakan menyerupai orang-orang Yahudi atau Nasrani.372). bel di kantor-kantor pemerintah. AlBaihaqi (V: 253). Itu merupakan bukti kebenaran sabda Nabi "Sungguh. bel pada telepon. Oleh karena itu. tidak patut bagi seorang muslim untuk memasukkan jam-jam jenis ini ke dalam rumahnya. dari Ummu Salamah. Al-Hakim. Berbeda dengan bel pada beberapa jenis jam besar yang biasa ditempelkan pada dinding. sehingga orang-orang Turki tadi memperlakukan negeri-negeri dan orang-orang Islam dengan perlakuan yang tidak pernah sama sekali terjadi di negeri Islam lain. ketika dalam peperangan kondisi mereka dalam ketenangan dan senantiasa mengingat Allah ta'ala. atau orang-orang A'jam. (yaitu Yahudi dan Nasrani). Di dalam hadits lain disebutkan. 186 —Jilbab Wanita Muslimath . dan orang-orang A'jam. dan telah masuk pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. kalian akan mengikuti tradisi dan kebiasaan orang-orang sebelum kalian" sebagaimana telah disebutkan di depan: Kaum muslimin di zaman Nabi dan zaman sesudahnya. begitu juga ketika mereka melakukan shalat. Semua atsar menunjukkan bahwa mereka terbiasa tenang dalam keadaan-keadaan tersebut dengan hati yang sibuk mengingat. maka Allah pun menjadikan mereka dikuasai oleh orang-orang Turki kafir yang menurut aturan Islam boleh diperangi. 'Dimakruhkannya karena suara dan bentuknya menyerupai lonceng orang-orang Yahudi." Begitulah perkataan Ibnu Taimiyah. dan ketika mengurus jenazah. Al-Munawi berkata. dafam peperangan." Saya katakan: Di zaman sekarang ini telah dibuat orang bermacam-macam bel untuk tujuan dan kemanfaatan yang beragam. Abu Dawud (1:401). Al-Khathib (XIII: 70).

dan. Itu terjadi di Suriah. menyerukan dan mengingatkan kepada ajaran trinitas. seperti jam di kota London yang dikenal dengan sebutan Big Ben. Sayangnya. karena saya memang cukup ahli dalam masalah jam. Jilbab Wanita Muslimah—187 . 1218) Itu semua merupakan peringatan. Kami berdua terkejut mendengar dentang lonceng di masjid itu. jam-jam jenis ini pun banyak dipakai oleh kaum muslimin. Akan tetapi.Apalagi sebagian diantara jam-jam tersebut mengeluarkan suara yang menyerupai musik sebelum bel tersebut berdentang. Tentu saja saya melakukan hal itu setelah saya menjelaskan kepada orang-orang bagaimana tuntunan syariat tentang lonceng semacam itu."(Kitab Ash-Shahihah hadits no. dan setelah saya menerangkan pentingnya menjauhkan masjid dari masuknya lonceng tersebut. dengan alasan bahwa syaikh Fulan. namun saya tidak menyentuh mesin jamnya itu sendiri sama sekali. Semula saya tidak mengira kalau jam-jam yang mengundang kesyirikan semacam itu masuk pula ke negeri tauhid. memasuki masjid Quba. Hal itu tidak lain karena kebodohan mereka terhadap syariat agamanya sendiri. Lalu. "Alangkah bedanya antara kemarin dan hari ini. barangkali diantara mereka juga ada imam masjidnya. Saudi. Sampai suatu ketika pada musim haji tahun 1382 M saya bersama saudara saya. kami katakan kepada mereka. Sering kita jumpai seorang imam membaca di dalam shalatnya ayat-ayat yang mencela kesyirikan dan kesesatan ajaran trinitas. tetapi pada saat yang sama lonceng berdentang di atas kepalanya. Munir. kecuali tahun sesudahnya lebih buruk darinya. "Peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Mereka faham dan menerima penjelasan saya.Hakim juga meriwayatkan hadits lain yang mendukung hadits tersebut secara marfu'yang para perawinya biasa dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim. Setiap kali saya memasuki masjid yang di dalamnya terdapat jam semacam itu. ketika saya meminta izin untuk melepas lonceng dari jam tersebut dengan serta merta mereka menolak. si imam dan para jamaahnya itu telah terieiap dalam kelalaian. Mereka berkata." Atsar Qais bin 'Ibad yang telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di muka tadi diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (IV: 74 dan IX: 153) dengan sanad shahih. "Ini bukan wewenang kami. Kami akan sampaikan masalah ini kepada Pengurus. Bagian awal dari hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1:414) dan Al-Hakim (II: 116)." Maka. namun tidak salah seorang pun dari mereka yang mempersalahkan (adanya lonceng itu). Al. ulama Fulan dan Fulan pernah shalat di masjid ini. Nampaknya. bahkan sampai di masjid-masjid. kami ajak bicara beberapa pengurus masjid itu. lebih-lebih di masjid. Benarlah sabda Rasulullah *: "Tidak ada suatu tahun. meskipun mereka faham dan menerima penjelasan saya. kadang-kadang mereka tidak menyetujui tindakan saya seperti itu. hingga kalian berjumpa dengan Tuhan kalian. Alhamdulillah. Kami yakinkan kepada mereka mengenai tidak bolehnya memakai jam semacam itu. saya hanya melepas loncengnya. Meskipun demikian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (II: 208-209) dan Abu Awanah (I: 386-387) di dalam kitab Shahihnya masing-masing. '"131 131. karena dia terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sedang sujud kepadanya. 'Wahai Nabi Allah. janganlah melaksanakan shalat tatkala matahari terbit sampai matahari naik. janganlah melaksanakan shalat di saat matahari terbenam. Setelah itu. setelah itu. karena shalat (di waktu tersebut) disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat) hingga datang waktu shalat Ashar. karena dia terbenam di antara dua tanduk setan dan ketika itu orangorang kafir sedang sujud kepadanya. 188—Jilbab Wanita Muslimah . karena shalat (di waktu tersebut) disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat) sampai bayangbayang tepat di bawah bendanya. kabarkan kepadaku apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu dan hal shalat karena aku belum mengetahuinya!' Beliau bersabda. 'Laksanakan shalat Subuh. Kemudian jika bayangan benda telah mulai nampak memanjang. Kemudian shalatlah. jangan lakukan shalat.2. dia berkata: "Saya pernah berkata. karena pada saat itu neraka jahannam sedang dinyalakan. Dari Amru bin Abasah. shalatlah. Setelah itu.

"Nabi melarang seseorang shalat ketika matahari terbit dan ketika tenggelam. Sebab. bahkan yang kedua ini lebih rusak daripada yang pertama.3. Oleh karena itu beliau melarang (seseorang) shalat menghadap segala sesuatu selain Allah yang biasa disembah. dikarenakan hal itu menyerupai sujud kepada selain Allah. kiblat hanyalah salah satu syariat yang mana tiap-tiap Nabi n berbeda-beda syariatnya. betapa syariat Allah telah mencegah kita menyerupai (orang-orang kafir) dalam hal arah dan waktu-waktu ibadah. Hadits ini memberikan peringatan bahwa segala ibadah dan perbuatan orang-orang kafir semisalnya yang merupakan kekafiran dan kemaksiatan dalam hal niat. Orang Islam selain tidak diperbolehkan shalat ke arah yang biasa menjadi kiblat orangorang kafir. "Saya mendengar Nabi bersabda lima hari sebelum beliau wafat: Ketahuilah. tidak boleh dicontoh oleh orang-orang mukmin. Dari jundub. sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. sedangkan kebanyakan manusia tidak tahu kalau matahari terbit dan tenggelam diantara dua tanduk setan dan mereka juga tidak tahu kalau pada saat itu orang-orang kafir sedang sujud kepadanya. Nabi m melarang shalat pada saat-saat tersebut adalah untuk menjauhkan (umatnya) dari tasyabbuh (dengan orang-orang kafir) dalam segala halnya. dia berkata. sekalipun mereka tidak mempunyai niatan sebagaimana diniatkan oleh orang-orang musyrik. yaitu Ibnu Abdillah Al-Bajali. Jadi. tidak diperbolehkan juga shalat menghadap ke segala apa yang biasa mereka sembah. Hal itu dalam rangka mencegah dan menghindarkan dari bahaya dan kerusakan yang lebih besar. Apakah Kami pernah menjadikan Tuhan-Tuhan untuk mereka sembah selain Allah Yang Maha Pemurah? Jilbab Wanita Muslimah— 189 . Sedangkan bersujud dan beribadah kepada selain Allah itu diharamkan oleh semua agama para rasul Allah. 31). Telah dimaklumi bahwa seorang mukmin itu tidak akan pernah bersujud kecuali kepada Allah semata. meskipun niatan dia tidak untuk menyembahnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. Perhatikanlah. dikarenakan matahari terbit dan tenggelam diantara dua tanduk setan dan pada saat-saat itu orang kafir sedang bersujud kepadanya. sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Tanyakanlah kepada para Rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu.

saya melarang kalian melakukan hal itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata.. Nabi memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang Yahudi secara mutlak.Ketahuilah. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (II: 67-68) dan Abu Awanah (1:401) di dalam kitab Shahihnya masing-masing. bahwa dikarenakan mereka melakukan perbuatan itulah Allah melarang orang-orang mukmin melakukan perbuatan tersebut. janganlah menjadikan kuburan sebagai masjidl 132 Sungguh. 658). Kami telah menyebutkan hadits di atas di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud (hadits no. "Rasulullah menceritakan bahwa orangorang sebelum kita menjadikan kubur para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Dari Syaddad bin Aus. atau perbuatan mereka itulah yang menjadi alasan munculnya larangan Rasulullah . Dia menambahkan." 133. juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad (II: 2/35). bisa jadi sebagai fenomena yang terjadi sehingga perlu dilarang maupun sebagai suatu tuntutan periunya larangan. Ahmad. Kami sebutkan di kitab tersebut para ulama yang telah menilai shahih hadits di atas. Namun kami tidak akan membahas hal itu secara panjang lebar di sini mengingat yang kita bicarakan hanyalah kaidah secara umum saja. Hal itu menunjukkan bahwa semua tindakan yang termasuk kategori menyelisihi mereka adalah merupakan tindakan yang dituntut oleh syariat. Berdasarkan hal-hal itulah dapat kita ketahui bahwa secara umum menyelisihi orangorang kafir adalah salah satu perkara yang dituntut oleh syariat. dia berkata. Meskipun sebenarnya adanya larangan terhadap hal semacam itu telah dikemukakan oleh beberapa ulama dari para pengikut Malik. '"133 132. Pembahasan fikih hadits ini telah kami sebutkan di dalam kitab AtsTsamar Al-Mustathab dan di dalam membicarakan derajat hadits dad kitab Shifat Shalat An-Nabi. Larangan terhadap sikap menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani di atas juga berdasarkan laknat Rasulullah terhadap mereka. "Rasulullah bersabda: 'Selisihilah orang-orang Yahudi. dan Iain-Iain. langsung beliau sambung dengan larangan kepada orang-orang Islam agar tidak menjadikan kuburah menjadi masjid. Setelah menceritakan hal itu. Kemudian secara 190 — Jilbab Wanita Musimah . karena mereka tidak melaksanakan shalat dengan memakai sandal dan sepatu. Sehingga nampaklah. * 4.di atas. "Hadits tersebut mengandung petunjuk bahwa disebabkan orangorang sebelum kita menjadikan masjid itulah yang menjadi alasan Rasulullah melarang kita melakukan tindakan serupa. Syafi'i.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ath-Thahawi dengan sanad shahih. maka hendaklah dia mengikatkan kain tersebut pada pinggangnya. 42). Syakhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. Dari jabir bin Abdullah. yang perlu kita perhatikan dari sabda Nabi .). Janganlah kalian menyelimutkan kain kalian seperti yang dilakukan oleh orang134 orang Yahudi. dia berkata: khusus beliau menyebutkan perintah menyelisihi mereka. "Walaupun tindakan orangorang Yahudi melepas sandal mereka itu diambil dari kisah Musa. melainkan merupakan dzikru ba'dh iafrad al-'am (menyebutkan sebagian perincian dari hal yang sifatnya umum -pent. yaitu melaksanakan shalat dengan memakai sandal dan sepatu. "Pengertian semacam ini benar bersumber dari Nabi berdasar riwayat dari Jabir dan sahabat lainnya. Namun.5. Penyebutan secara khusus ini bukan termasuk kategori takhshishu al 'am (mengkhususkan sesuatu yang sifatnya umum -pent. "Rasulullah bersabda: 'jika salah seorang di antara kalian shalat dengan mengenakan satu kain. sebagai telah dikemukakan di muka. ketika Allah berfirman kepadanya: "Lepaskanlah kedua sandalmu!” 134. di atas adalah perkataan beliau : "Dan janganlah kalian menyelimutkan kain kalian sepertiyang dilakukan orang-orang Yahudi. dia berkata. Ini adalah merupakan pendapat Jumhur ulama. bukan menyelimutkannya. " 6." Jilbab Wanita Muslimah— 191 . Kami telah menyebutkan hadits serupa di dalam kitab Shahih Abu Dawud(hadits no. 29). 645) dan kami telah beberkan serta ambil kesimpuian bahwa riwayat hadits tersebut sampai kepada Nabi Meskipun terkadang periwayatnya sendiri meragukan akan sampainya hadits tersebut kepada Nabi Syaikhui Islam Ibnu Taimiyah berkata (him. bahwa beliau memerintahkan menyarungkan kain yang ukurannya sempit. Dari Abdullah bin Umar.) atau taqyid al-muthlaq (membatasi sesuatu yang sifatnya mutlak -pent.)."Mengkaitkan larangan tersebut dengan perbuatan orang-orang Yahudi menunjukkan bahwa perbuatan orang-orang Yahudi itulah yang menyebabkan adanya larangan Nabi itu.

"Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah melarang para sahabat (shalat dengan) berdiri. padahal berdiri adalah merupakan kewajiban dalam shalat. Kami pun shalat di belakarij beliau yang shalat dengan duduk. 615 dan 619) dan di dalam kitab TakhrijShifah Shalat An-Nabim. janganlah kalian melakukan perbuatan itul Ikuti lah imam kalian. Dan hadits ini cukup populer diriwayatkan oleh Jabir. Beliau menoleh. yang sedang duduk. beliau bersabda. 32) berkata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah di dalam kitab shahihnya masing-masing. beliau member! isyarat agar kami duduk. 'Hampir saja kalian melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Persia dan Romawi dimana mereka berdiri menghormati raja merek. Beliau menjelaskan alasannya. dan jika dia shalat sambil duduk."Pernah suatu ketika Rasulullah sakit. maka shalatlah kalian dengan duduk!'" Di dalam riwayat lain disebutkan: "Dan janganlah kalian berbuat sebagaimana diperbuat oleh 135 orang-orang Persia terhadap para pembesar mereka. jika dia shalat dengan berdiri. dan melihat kami shalat dengan berdiri. Tambahan lafazh pada akhir hadits adalah yang terdapat pada riwayat Abu Dawud dan Iain-Iain dengan sanad shahih. " 135. yaitu karena berdirinya makmum ketika imam shalat sambil duduk adalah seperti perbuatan orangorang Persia dan Romawi yang mereka lakukan untuk menghormati pembesar- 192 — Jilbab Wanita Muslimah . Lalu. sedangkan Abu Bakar mengeraskan takbir kepada para jama'ah. Kami telah membeberkan 3 jalur periwayatan hadits ini di dalam kitab Shahih Abu Dawud(hadits no. maka shalatlah kaliai dengan berdiri. Setelah salam. Maka kami pun duduk.

"Janganlah kalian melakukan!". Oleh karena itulah Rasulullah melarang seseorang bersujud kepada Allah dengan menghadap kepada seseorang. karenanya tidaklah terlarang. Jadi. Dan hal yang semacam ini termasuk dalam lingkup ijtihad. maka sebab pelarangan Nabi di atas tidak bisa terlawan atau terhapus. Atau mungkin dibedakan antara shalatnya seseorang (yang bersendirian) sambil duduk dengan shalatnya makmum yang dari permulaan imamnya shalat dengan berdiri..pembesar mereka. sehingga tidak memungkinkan jika hadits mengenai shalat beliau ketika sakit itu menghapuskan hukum berdiri dalam shalat. Padahal. Mungkin kedua hal tersebut dibolehkan. sebagaimana hal ini dipertegas pada pembahasan di tempat lain. seperti api dan sejenisnya. juga melarang shalat menghadap sesuatu selain Allah yang biasa disembah. Jadi tidak mungkin sebab yang asal tersebut hilang. tetap saja hadits tersebut bisa dijadikan hujjah. yang benar ketetapan hukum dalam hadits ini adalah muhkam dan banyak dipraktekkan oieh para sahabat sepeninggal Rasulullah dimana mereka mengetahui shalat beliau ketika sakit dan hal itu telah tersebar luas secara shahih dan gamblang. umpamanya karena hukum berdiri di dalam shalat adalah wajib dan kewajiban ini tidak bisa gugur hanya karena perbuatan ini menyerupai perbuatan orang-orang kafir. karena hal itu tidak termasuk dalam shalat yang disabdakan Nabi ". karena terhapusnya hukum duduk itu tidak menjadikan hilangnya sebab (pelarangan Nabi ). bahwa seorang makmum berdiri untuk shalat itu adalah karena Allah. bukan untuk menghormati imamnya. bila tindakan menyerupai orang-orang kafir di atas tidak bisa menggugurkan suatu kewajiban. juga. hadits tersebut muhkam. karena melakukan bagian akhir shalat berdasarkan perbuatan shalat ketika awalnya lebih utama daripada melakukannya berdasarkan shalat yang dilakukan oleh imam. Padahal sudah dimaklumi." Jilbab Wanita Muslimah— 193 ." dan karena tidak ada bahaya tertentu yang bisa dijadikan sebab. Sebab. meskipun bukan bermaksud untuk menghormati. Ini semua jika kita andaikan ketetapan hukum tersebut dihapuskan... kemudian hukum tersebut dihapus dengan tidak menghilangkan sebab tadi. dan alasan-alasan lain yang disebutkan di luar pembahasan ini. maka pasti ada sebab lain yang lebih kuat ketika terjadinya penghapusan hukum atau karena sebab tadi sudah lemah pengaruh-nya. Hadits di atas juga mengandung larangan menyerupai segala perbuatan orang-orang Persia dan Romawi. Masih adakah larangan "menyerupai mereka dalam penampilan" yang lebih (mencakup) dari larangan Nabi tersebut?! Meskipun hukum duduknya imam di dalam hadits tersebut mungkin muhkam dan mungkin juga mansukh. dimana mereka berdiri sedangkan para pembesar mereka duduk. Karena di dalam hadits tersebut beliau bersabda. Larangan Nabi di atas merupakan larangan keras terhadap orang yang berdiri di hadapan seseorang yang duduk dan terhadap perbuatan yang serupa itu.. kecuali bila ada hal lain yang lebih kuat dari itu. sekalipun niatan kita berbeda dengan niatan mereka. karena shalat dengan berdiri tidak menafikan adanya shalat dengan duduk. berdiri di dalam shalat bukanlah tindakan menyerupai orang-orang kafir secara hakekat. Kemudian. dan jika dia (imam) shalat dengan duduk. Suatu hukum bila ditetapkan berdasarkan sebab tertentu.

7. Dari Ibnu Umar:

"Sesungguhnya Nabi pernah melarang seseorang shalat duduk bertumpu dengan tangan kirinya. Beliau bersabda, 'Sungguh, itu adalah cara shalat orang Yahudi.' Da/am riwayat lain disebutkan, 'Jangan duduk seperti itu, n6 karena itu adalah cara duduk orang-orang yang disiksa. "

136. Lafazh hadits pertama diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lain-lainnya dengan sanad shahih. Sedangkan lafazh kedua diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan, dan para periwayatnya biasa dipakai oleh Muslim. Kami telah membicarakan kedua hadits ini di dalam kitab Takhrij Shifat Shalat An-Nabi. Lihat pula hadits yang akan dikemukakan pada sub judul "Dalam Masalah Adab dan Adat", yaitu hadits no. 2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 31) berkata, "Di dalam hadits ini terdapat larangan duduk seperti itu, dengan alasan karena duduk seperti itu merupakan cara duduk orang-orang yang disiksa. Ini merupakan penekanan dari beliau * untuk menjauhi gaya penampilan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan sebuah atsar dari Masruq, dari Aisyah, bahwa dia tidak suka melihat Masruq berkacak pinggang. Dia (Aisyah) berkata, 'Karena orang Yahudi melakukan hal semacam itu.' Al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, dia berkata, 'Dilarang berkacak pinggang dalam shalat.' Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dengan lafazh, 'Rasulullah melarang..." Perhatian: Abu Dawud meriwayatkan hadits Ibnu Umar ini dengan lafazh, "Beliau melarang seseorang bertumpu dengan tangannya ketika bangkit di dalam shalat." Hadits dengan lafazh semacam ini adalah hadits mungkar (tertolak). Hadits ini hanya diriwayatkan oleh gurunya Abu Dawud, yaitu Muhammad bin Abdul Malik Al- Ghazali di mana dia seorang periwayat yang buruk hafalannya. Imam Ahmad dan lain-lainnya meriwayatkan hadits yang isinya bertentangan dengan hadits itu. Mengenai hal ini saya telah membahasnya secara mendetail di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits AdhDha’ifah (haditsno.967).

194—Jilbab Wanita Muslimah

Dalam Masalah Jenazah 1. Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata, "Rasulullah M bersabda:

'Lahad adalah untuk kita, sedangkan syiq adalah untuk ahlul 37 kitab.'" Dalam Masalah Puasa 1. Dari Amru bin Al-'Ash, bahwa Rasulullah bersabda:

"Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.138 2. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah bersabda:

137. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thahawi di dalam kitab Musykil AI-Atsar, Ahmad dan lainnya seperti Ibnu Sa'ad (II: 2/72). Hadits ini mempunyai hadits pendukung, yaitu h'adits dari Ibnu Abbas. Saya telah membicarakan jalur-jalur periwayatan hadits tersebut dan sekaligus menjelaskan kelemahan-kelemahannya di dalam kitab Naqd Kitab At-Taj (hadits no. 299). Akan tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. 33) berkata, "Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur yang di dalamnya ada kelemahan, namun satu dengan lainnya saling menguatkan. Hadits ini mengandung peringatan agar kita menyelisihi ahli kitab sampai pun dalam masalah meletakkan mayat ke dalam kubur." (Catatan dari penerjemah: Laftadialah lubang tambahan yang berada di sisi kanan (atau sisi barat) liang kubur. Syiq ialah lubang tambahan yang berada di tengah liang kubur.) 138. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (III: 130-131), Ash-habu As-Sunan, dan Ahmad (IV: 197,202).

Jilbab Wanita Muslimah— 195

'Agama ini akan senantiasa jaya selama orang-orang menyegerakan berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya;"139 3. Dari Laila, yaitu istri Basyir bin Al- Khashashiyah, dia berkata, "Saya perrtah berniat hendak melakukan puasa wishal selama dua hari, namun Basyir melarangku. Dia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah ^gpernah melakukan hal itu.' Beliau bersabda:

'Puasa seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Puasalah kalian sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan sempurnakanlah puasa kalian sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah. (Sempumakanlah puasa hingga malam tiba). jika malam telah tiba, ,140 maka berbukalah kalian. "

139. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad hasan. kami telah membeberkan perihal derajat hadits ini di dalam kitab At-Ta'liqat Al-Jiyad 'Ala Zad Al-Ma'ad. Syakhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Ini merupakan nasyang menegaskan bahwa kemenangan agama bisa diperoleh dengan menyegerakan berbuka puasa, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika sikap menyelisihi mereka merupakan sebab kemenangan agama (Islam), sedangkan maksud diutusnya para rasul adalah untuk memenangkan agama Allah atas seluruh agama lainnya, maka menyelisihi mereka merupakan tujuan teragung diutusnya rasul." 140. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V: 225); juga oleh Sa'id bin Manshur, sebagai mana dijelaskan di dalam kitab Iqtidha'(h\m. 29) melalui jalur Ubaidillah bin lyadh bin Laqith, dari bapaknya, dari Laila. Isnad ini shahih. Laila adalah seorang wanita sahabat sebagaimana dijelaskan di dalam kitab At-Taqrib dan kitab lainnya. Di dalam kitab Al-Fath (IV: 164) Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Ath-Thabarani, Abd bin Humaid, dan Ibnu Abi Hatim di dalam kitab tafsirnya masing-masing dengan sanad yang shahih sampai Laila. Syaikhul Islam berkata, "Nabi menjelaskan sebab dilarangnya puasa wishal, yaitu karena itu merupakan puasa orang-orang Nasrani. Dan nampaknya itu adalah bentuk kerahiban yang dibuat-buat oleh mereka."

196—Jilbab Wanita Muslimah

4, Dari Ibnu Abbas . dia berkata:

"Ketika Rasulullah melaksanakan puasa Asyura' (tanggal 10 Muharram -pen.) dan memerintahkan para sahabatnya untuk me-lakukan itu, mereka berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.' Rasulullah berkata, 'Kalau begitu, tahun depan, insya Allah, kita puasa tanggal 9-nya saja.' Namun, belum sampai tahun berikutnya datang beliau sudah iva/at.""141

141. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (III: 151), Al-Baihaqi (IV: 287), dan lain-lainnya. Syajkhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Hari Asyura' adalah hari yang mulia, yang blsa menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu. Rasulullah melaksanakan puasa pada hari itu juga memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakannya pula. Kemudian (ketika menjelang wafatnya) dikatakan kepada beliau , 'Sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.' Maka, beliau m memerintahkan (para sahabatnya) untuk menyelisihi mereka dengan menambah puasa satu hari lagi selain hari tersebut, dan beliau * sendiri telah bertekad untuk melaksanakan hal itu. Karena itu, para ulama, diantaranya Imam Ahmad memandang sunnah melaksanakan puasa tasu’a (tanggal 9 Muharram) dan asyura '(tanggal 10 Muharram). Dan para sahabat juga beralasan semacam itu. Sa'id bin Manshur berkata, Telah mengabarkan kepada kami........ dari Ibnu Abbas, 'Hendaklah kalian puasa pada tanggal sembiian dan sepuluh untuk menyelisihi orangorang Yahudi."' Saya katakan: Sanadnya shahih karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Al-. Bukhari dan Muslim. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (IV: 287). Dia juga meriwayatkan hadits lain serupa itu secara marfu' dengan sanad lemah.

Jilbab Wanita Muslimah— 197

Kubrakarya An-Nasai. 'Kedua hari itu adalah nan raya. 'Rasulullah mengatakan dalam sabdanya. dan dia berkata. karena saya tJdak menemukan hadits tersebut di dalam kitab As-Sunan Ash-Shughm. dari Ummu Salamah. Sanad hadits ini hasan. AlHaitsami menyebutkan hadits tersebut di dalam kitabnya Al-Majma'{\\\: 198). ini merupakan kekurangan dia (Al-Haitsami). dia berkata: "Rasulullah lebih sering berpuasa pada hah Sabtu dan Ahad dibandinghah-hah lainnya. Ibnu AlQayyim di dalam kitab ZadAI-Ma'ad(\: 237) mengatakan kalau hadits ini juga terdapat di dalam kitab Sunan An-Nasai. dan saya suka kalau menyelisihi merefca.5." Dan. Dari Ummu Salamah . Nampaknya dia telah luput dalam masalah ini. Al-Hafizh berkata. yang dimaksud oleh kedua orang ahli tadi adalah kitab As-SunanAI.' maksudnya bahwa hari Sabtu hari raya orang Yahudi dan hari Ahad hari raya orang Nasrani.Dzakhair. Hadits ini dirhvayatkan oleh Ahmad (VI: 324) dan Al-Hakim (1:436). dan para periwayatnya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Hadrts ini dinilai s/iah/hoteh Ibnu Hibban. Melalui jalur sanad riwayat Al-Hakim.'"142 142. Nampaknya. Ibnu Khuzaknah juga menilai shahih hadits ini sebagaimana disebutkan di dalam kitab NailAI-Authar(\V: 214). dan Nabi melaksanakan puasa pada kedua hari tersebut untuk menyelisihi mereka. dari Kuraib. Hari raya adalah hari yang di dalamnya tidak dilaksanakan puasa. Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini melalui Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali. "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitabnya Al-Kabir. karena kitab tersebut hanya berisi hadits-hadits yang dinukil dari kitab As-Sunan Ash-Shughra sebagaimana dia sebutkan di dalam mukadimahnya. An-Nabulisi tjdak menyebutkan hadits tersebut di dalam kitabnya Adz. Hadits ini juga dinisbatkan kepada Ibnu Hibban. Karena itulart. Pernyataan Ibnu Al-Qayyim ini diikuti oleh Ai-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath (X: 298). Beliau bersabda. "(Hadits ini) shahih". dari bapaknya. dan perkataannya ini disepakati oleh AdzOzahabi. ■ Al-Hakim berkata. Bahkan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa pendapat sebagaian penganut madzhab Syafi'i yang menganggap makruh berpuasa di hari Sabtu atau hari Ahad saja adalah pendapat 198—Jilbab Wanita Muslimah . 'Kedua hah itu adalah hah raya prang-orang musyhk. karena dia tidak menisbatkan riwayat ini ke kitab Al-Musnad.

'' Hadits tersebut telah dibeberkan jalur periwayatannya di dalam kitab Al-Irwa' (hadits no. Dari Umar Bin Khathab . dimana hal itu saya ambil dari tiga puluh hadits iebih. Namun yang saya ketahui hadits tersebut mengandung kelemahan. dan berhasil terhimpun lebih dari tiga puluh permasalahan. Adapun hari Sabtu dan Ahad. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya. Dan saya telah susun dalam sebuah kitab yang saya beri judul AI-QaulAtsTsabitfi-Ash Shaum YaumAs-Sabt.1099). dia berkata: "Orang-orang musyrik biasanya tidak mau bertolak dari /ama" sebelum matahari terbit di atas bukit Tsabir. Muslimah— 199 . Jilbab Wanita. baik menggabungkan puasa pada kedua hari tersebut maupun hari Sabtu saja atau hari Ahad saja untuk melaksanakan keumuman perintah menyelisihi ahli kitab.. Konon. Jama' maksudnya adalah Muzdalifah. Dan mereka biasa me- 43 yang kurang bark. Yang lebih tepat dalam masalah in i adalah hari Jum'at sebagaimana hal itu disebutkan di dalam hadits shahih. dianjurkan melakukan puasa pada kedua hari tersebut. disebut demikian karena ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi keduanya berjumpa di situ. Karena Nabi m telah melarang puasa pada hari Sabtu secara umum dengan sabdanya.Dalam Masalah Haji 1. Saya katakan: Dan yang berhasil saya himpun juga ada sekitar tiga puluh permasalahan. Dan dipandang dari sudut pandang fikih. "Saya telah menghimpun masalah-masaiah yang telah disebutkan di dalam hadits-hadits." Kemudian dia berkata. tidak disyariatkan puasa pada hari Sabtu. dan hal ini telah saya terangkan di dalam kitab saya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah (hadits no. kecuali puasa yang telah diwajibkan kepada kalian... "Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu. 960). 143. sebagaimana disebutkan oleh Ath-Thahawi di dalam kitab Syarh Al-Ma'ani(1:399) tentang hal itu dari sebagian ulama. Periksalah juga penjelasan saya tentang hadits tersebut dari sudut pandang fikih di dalam kitab Shahih At-Targhib (I: 509) dan di dalam istidrak (keterangan susulan) di bagian akhir jilid II dari kitab AshShahihah (cetakan baru terbitan Al-Ma'arif). kecuali untuk puasa wajib.

karena itu adalah tulang. sementara kita tidak mempunyai pisau (untuk menyembelih). Nabi pun menyelisihi mereka. Oleh sebab itu mereka membolehkan penyembelihan dengan menggunakan gigi atau kuku yang telah dicabut. besok kita akan berjumpa dengan musuh.". dan jangan kuku. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IX: 513-517 dan 553). 'Wahai Rasulullah. maka (binatang yang telah disembelih itu). At-Tirmidzi (II: 350-351).' Maka. 'Tsabir telah bersinar. (lalu digunakan untuk menyembelih binatang) dengan disebut nama Allah. Saya beritahukan kepada kamu: jangan gigi. Para ahli fikih berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun jumhur ulama melarang hal itu secara mutlak. atau besar kemungkinan akan ada unsur pencekikan di situ. sebagaimana beliau juga melarang menyembelih dengan menggunakan gigi dikarenakan gigi adalah merupakan tulang. sehingga beliau bertolak (dari Jama") sebelum matahari terbit" Dalam Masalah Penyembelihan 1. Para ulama ahlu ra'yi (ulama Hanafiyah -pen. Al-Baihaqi (IX: 247). dia berkata: "Saya pernah berkata.ngatakan. 54-55). karena itu adalah pisau orang-orang Habasyah. Muslim (VI: 78 dan 79). Beliau bersabda. Ahmad (III: 463 dan IV: 140). Padahal binatang yang mati tercekik hukumnya adaiah haram. dan kami pun akan pergi. "Nabi melarang menyembelih dengan menggunakan kuku dengan alasan bahwa kuku adalah pisau orang-orang Habasyah.144 144. Abu Dawud (II: 6). Muslimah . asal jangan berupa gigi atau kuku. Ibnu Taimiyah berkata (him. makanlah! Tetapi. Sehingga kita bisa tahu bahwa kedua benda 200—Jilbab Wanita.) berpendapat bahwa alasan pelarangan menyembelih dengan gigi dan kuku adalah dikarenakan penyembeiihan semacam itu menyerupai pencekikan. Dari Rafi' bin Khudaij. 'Apa saja yang bisa mengalirkan darah. karena penyembelihan dengan alat-alat yang telah tercabut serta tajam tidak akan ada lagi di situ unsur pencekikan. Ibnu Majah (II: 284). karena Nabi mengecualikan gigi dan kuku dari alat-alat yang bisa mengalirkan darah. An-Nasai (II: 207). dan Ath-Thahawi di dalam kitab SyarhAI-Ma'ani(\l: 306).

Selain itu. maka berarti menyembelih dengan pisau atau alat-alat lainnya yang biasa digunakan oleh orang-orang kafir untuk menyembelih juga terlarang. pendapat itu juga bertentangan dengan alasan yang disebutkan oleh Nabi di dalam hadits tersebut. yakni orang-orang Habasyah dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka. dia berkata: "Saya pemah berkata. mungkin merupakan sebab itu sendiri." mengandung konsekwensi bahwa perkataan beliau "karena itu adalah pisau orang-orang Habasyah' merupakan salah satu unsur munculnya larangan tersebut.'Lalu beliau menjawab." Di dalam kitab Al-Fath terdapat keterangan yang ringkasnya sebagai berikut: Perkataan Nabi . 'Jangan men/ngga/kan tersebut adalah termasuk benda tajam yang tidak diperbotehkan untuk menyembelih. Perkataan Nabi "dan jangan kuku. atau merupakan salah satu di antara sekian banyak sebab yang disebutkan oleh Nabi . karena itu adalah pisau orang-orang Habasyah" setelah beliau mengatakan: "Saya beritahukan kepada kamu. kemungkinan larangan beliau terhadap per-buatan tersebut adalah karena hal itu menyerupai kaum lain. Dari Adi bin Hatim.Dalam Masalah Makanan 1. andaikata pelarangan itu disebabkan adanya unsur pencekikan niscaya beliau as tidak akan mengecualikannya. Dan dugaan di atas mungkin memiliki kebenaran bila hikmah (dari pelarangan Nabi itu) masih samar atau belum pasti. dengan alasan bahwa kalau begitu ketetapannya. maka tidak ada kemungkinan lagi dugaan tersebut memiliki kebenaran." Jilbab Wnnita Muslimah — 201 . 'Wahai Rasulullah. atau jalan menuju sebab tadi. Berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya. Orang-orang Habasyah biasa meman-jangkan kuku mereka yang mereka gunakan untuk menyembelih. "Jangan kuku. karena kuku adalah pisau orang-orang Habasyah" ialah: mereka adalah orang-orang kafir sedangkan kalian dilarang menyerupai mereka. para sahabat bertanya tentang boleh-tidaknya menyembelih dengan menggunakan selain pisau dan alat-alat yang serupa dengan pisau sebagaimana akan dijelaskan nanti. Bantahan ini dijawab bahwa pisau adalah alat menyembelih yang asli. Kata mereka. Sehingga. Pendapat ini dibantah. Karena itu. (sehingga tidak bisa dikenakan hukum tasyabbuh). Namun karena hikmah tersebut telah jelas dan pasti. Alat-alat lainnya yang juga digunakan untuk menyembelih itulah yang dimungkinkan terkena hukum tasyabbuh. saya bertanya kepadamu tentang makanan yang tidak aku tinggalkan kecuali karena aku takut mendapatkan dosa. Pendapat tersebut dipegangi oleh Ibnu Shalah dan diikuti oleh An-Nawawi.

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (11:142).. (menyebutkan hadits tersebut). yaitu para periwayat yang biasa dipakai Muslim. dari bapaknya. dia berkata: Saya pernah mendengar Muri bin Qathri berkata: Saya pemah mendengar Adi bin Hatim. Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits tersebut (1:274/333/AI Ihsan). kecuali Qabishah bin Halb. Tentang diri Muri . Dia dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (IV: 258 dan 377). Para periwayatnya orang-orang yang tsiqah (dapat dipercaya). janganlah kamu takut berbuat dosa (untuk memakan makanan itu)." Dalam Masalah Pakaian dan Perhiasan 1. At-Tirmidzi.' pada hadits tersebut maksudnya ialah kamu telah menyerupai orang-orang Nasrani. yaitu bila ada periwayat lain yang meriwayatkan hadits serupa melalui jalur periwayatan yang sama dengan dia. Dia seorang periwayat yang dinilai tsiqah oleh AI-'Ajali. dari Simak bin Harb. Ahmad (V:226 dan 227) melalui beberapa jalur periwayatan dari Simak bin Harb: Telah bercerita kepadaku Qabishah bin Halb. "Janganlah ada sesuatu yang mengkhawatirkan dirimu yang karena perbuatan tersebut kamu menyerupai orang-orang Nasrani. Dari Abdullah bin Amru bin AI-'Ash. Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan sebab larangan Nabi . Maksud Nabi . Al-Hafizh di dalam kitab At-Taqrib berkata. At-Tirmidzi (II: 384) dari jalan Syu'bah.ini. 'Hadits ini hasan. Ibnu Majah (11:192). At-Tirmidzi berkata. karena sesungguhnya bila kamu melakukan hal itu berarti kamu telah menyerupai orang-orang Nasrani. Demikian penjelasan yang terdapat di dalam kitab TuhfahAI-Ahwadz dalam menjelaskan hadits riwayat Halb di muka yang menjadi pendukung dari hadits riwayat Adi. "Dia maqbul. karena hal itu telah menjadi kebiasaan mereka dan merupakan sikap kerahiban mereka. "Sesungguhnya ada makanan yang saya tinggalkan karena saya takut berbuat dosa." Beliau berkata. kecuali Muri bin Qathri.. Al-Baihaqi. dia berkata: 145. Al-Baihaqi (VII: 279). 202 —Jilbab Wanita Muslimah .makanan yang dengan perbuatanmu itu kamu menyerupai 145 orang-orang Nasrani. dimana mereka itu bila hatinya merasa bahwa suatu makanan itu haram atau makruh mereka tidak mau memakannya.. dia berkata: Saya mendengar Nabi * bersabda ketika ada seseorang berkata kepada beliau m. Sanad hadits ini hasan dengan adanya riwayat sesudahnya." Sanad hadits ini Ziasansebagaimana sanad sebelumnya.

lalu merapatkan kedua jari tersebut. katanya. ini adalah pakaian orang-orang kafir. Karena Rasulullah telah melarang kita memakai pakaian dari sutera. 57-58) berkata.. Dari Ali secara marfu': "Janganlah kalian memakai pakaian para pendeta. dan beliau tidak peduli apakah pakaian tersebut memang menjadi pakaian mereka di dunia ataukah pakaian yang biasa mereka pakai.' Al-Hakim salah sangka bahwa hadits ini tidak diriwayatkan oleh Muslim.207 dan 211).. "Umar pernah menulis surat kepada kami ketika kami berada di Azerbeijan bersama dengan Utbah bin Farqad.kecuali sekian ini. 'Sungguh."* 146.164.' Beliau mengangkatjaritengah dan jari telun-juknya ke arah kami. 'Sesungguhnya mereka memakai bejanabejana dari emas dan perak. Hakim berkata. demikian juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Fath (X:223). Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim (VI: 144). Maka beliau berkata. Tentang hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath dengan derajat sanad 7a ba'sa bihf. memakai bejana dari emas dan perak merupakan perbuatan menyerupai orang-orang kafir. Karena itu. pakaian orang-orang musyrik dan pakaian dari sutera. Oleh karena itu." 147.' Karena itu. yang isinya: Wahai Utbah. 'Hadits ini shahih karena para periwayatnya biasa dipakai oleh AlBukhari dan Muslim. maka dia bukan termasuk 147 golonganku. dan Al-Hakim (IV: 190). Ahmad (II: 162. dan beliau berkata. Karena sesungguhnya barangsiapa mengenakan pakaian semacam itu atau menyerupai mereka. sesungguhnya itu semua bukan hasil kerja keras ayah atau ibumu. meskipun keduanya tidak meriwayatkan hadits ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (him. Di dalam kitab Ash-Shahihain tersebut sebuah riwayat dari Utsman An-Nahdi. Jauhilah olehmu hidup bermewah-mewah. '.'Rasulullah pernah melihat saya memakai dua kain yang dicelup warna kuning.193. para ulama menganggap bahwa memakai kain sutera. janganlah kamu memakainya!"146 2. yaitu karena pakaian tersebut merupakan pakaian orang-orang kafir. yang mana bejana-bejana tersebut akan dipakai oleh orang-orang mukmin kelak di akhirat. Oi dalam hadits ini terkandung larangan memakai pakaian khas orang-orang kafir. "Nabi menjelaskan alasan pelarangan memakai pakaian itu. Jilbab Wanita Muslimnh — 203 . buatlah mereka kenyang di rumah mereka sebagaimana kamu merasakan kenyang di rumahmu. An-Nasai (II: 298).

semirlah (jenggot kalian) dengan warna merah atau kuning! Selisilah ahli kitab!' Kami berkata. dia berkata: "Suatu ketika Rasulullah keluar mendatangi para tokoh kaum Anshar yang berjenggot putih. saya telah memeriksa sanad hadits tersebut. saya sampaikan: Barangkali yang dimaksud oleh Al-Hafizh adalah "la ba'sa bihr bila ada hadits-hadits pendukungnya. Penjelasan rinci tentang sanad hadits tersebut ada di daiam kitab saya itu. 3234). Dari Abu Umamah. dan ternyata di dalam hadits tersebut terdapat cacat yang mengharuskan saya menghukumi hadits tersebut dha'if. Karena. Beliau berkata. Karena itu hadits tersebut saya masukkan ke dalam kitab Al-Ahadhs Adh-Dha'ifah (hadits no. 204—Jilbab Wanita Muslimah . 'Wahai kaum Anshar.3. 'Wahai Rasulullah. sesungguhnya ahli kitab Pada cetakan ini. Semata-mata hanya Allahlah yang memberi petunjuk.

'Wahai Rasulullah. 'Pangkas kumis dan panjangkanlah jenggot kalian! Selisihilah ahli kitab!'148 4. dia berkata. kecuali Al-Qasim.' Nabi berkata. Hanya saja. "Ath-Thabarani juga meriwayatkan hadits serupa itu dari jaian Anas. Abu Awanah (I: 189). namun tidak menjadikan dirinya cacat dan tercela. yaitu potonglah kumis dan biar-kanlah jenggot tumbuh panjang!'"149 148.' Nabi berkata. bahwa sebenamya di dalam sanad hadits ini terdapat gurunya Ahmad. dia berkata: "Saya mendengar Abu Umamah. sesungguhnya ahli kitab berjalan dengan kaki telanjang dan tidak mau memakai alas kaki. Al-Baihaqi (1:150) melalui jalan Naff. Muslim (1:153). dan dia berkata." (dia menceritakan hadits di atas) Saya katakan: Sanad hadits ini hasan. Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X: 288).. yaitu Zaid bin Yahya. Rasulullah menjawab. Dirinya memang menjadi pembicaraan ulama hadits. hadits riwayat Jilbab Wanita Muslimah — 205 . Al-Haitsami berkata di dalam kitab AI-Majma'{V: 131).' Lalu. dari Ibnu Umar. 'Sekali-kali pakailah celana dan sekali-kali pakailah sarung! Selisihilah ahli kitab!' Kami berkata. yaitu bukan periwayat hadits Al-Bukhari maupun Muslim.memakai celana. tetapi tidakmemakaisarung.. "Rasulullah Ispernah 'Selisihilah orang-orang musyrik. 'Wahai Rasulullah. Dia seorang perawi dengan derajat hasanui hadits. Para periwayat yang dipakai Ahmad ini adalah para periwayat hadits shahih. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad (V: 264) melalui jalur Al-Qasim. Dia adalah periwayat tsiqah. "Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dan AthThabarani." Pernyataan Al-Haitsami di atas kita komentari. sesungguhnya ahli kitab memangkas jenggot dan memanjangkan kumis mereka. kecuali Al-Qasim yang nama lengkapnya Ibnu Abdurrahman Abu Abdurrahman AdDimasqi. Semua periwayatnya orang-orang tsiqah. Pada akhir hadits tersebut Nabi is bersabda: "Selisihilah para wali setan dengan apa saja yang bisa kalian lakukart" Hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah di atas dinilai hasan oleh Al-Hafizh di dalam kitab Al-Fath (\X: 291). Dari Ibnu Umar bersabda: . Kemudian dia juga menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath sebagai pendukung dari hadits tersebut." 149. dimana dia bukan termasuk seorang periwayat hadits shahih. 'Berjalanlah kamu sekali-kali dengan kaki telanjang dan sekali-kali memakai alas kaki! Selisihilah ahli kitab!' Kami berkata. Sehingga merupakan kelalaian dia memasukkan gurunya Ahmad tadi ke dalam para periwayat hadits shahih..

ketika para salaf telah memahami akan haramnya menyerupai orang-orang Majusi dalam perkara-perkara yang telah disebutkan oleh Nabi mereka pun mengharam-kan perkara-perkara lain yang menjadi ciri khas orang-orang Majusi.' Dia menjawab. Oleh karena itu.5.. Al-Hajtsami menyebutkan hadits pendukung ini di dalarti kitab Al-Wayma'(V: 166). yaitu Ahmad bin Hanbal tentang mencukur bulu tengkuk. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits tersebut di dalam kitab Shahihnya (hadits no.150. selisihilah merekaV" Para periwayat hadits ini adalah orang-orang tsiqah. dia berkata: "Rasulullah pernah ditanya tentang orang-orang Majusi. kecuali Abu Bakar Muhammad bin Ja'far Al-Muzakki. Al-Baihaqi (I:150). 'Saya pernah bertanya kepada Abu Abdullah. dan hal itu pulalah yang merupakan sebab (adanya larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang disebutkan menyertainya). Barangsiapa menyerupai suatu kaum.. Syaikhul Islam berkata. Akan tetapi. Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim (1:153). "Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Hadits riwayat Abu Awanah ini dikuatkan oleh hadits riwayat Al-Baihaqi (1:151) melalui jalan Maimun bin Mahran. Hadits ini mempunyai hadits pendukung yaitu hadits yang diriwayat kan dari Anas. Namun nampaknya itu adalah merupakan satu-satunya sebab adanya lafangan terhadap perbuatan-perbuatan tadi. Dari Abu Hurairah.. Beliau menjawab. dari Abdullah bin Umar. atau sebagian sebab. 2834). Ahmad (II: 153 dan 366) melalui jalan AI-'Ala' bin Abdurrahman.ayatkan dari Abu Hurairah yang akan disebutkan pada nomer berikutnya. dia berkata. meskipun tidak disebutkan oleh Nabi . maka dia termasuk dalam golongannya. Di dalam sanad hadits ini terdapat periwayat bemama AlHasan bin Ja'far. 'Sesungguhnya mereka itu biasa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot mereka. atau salah satu sebab. 'Itu adalah merupakan perbuatan orangorang Majusi. Hal itu menunjukkan bahwa menyelisihi orang-orang Majusi adalah perkara yang dituntut oleh Allah yang membuat syariat.dari Abu Hurairah. "Nabi mengiringi perintah (menyelisihi orang-orang Majusi) dengan menyebutkan sebagian dari bentuk-bentuk perbuatan menyelisihi mereka. Dia berkata. dari bapaknya. Karena itu. 2452 Al-lhsan) melalui jalurperiwayatan lain. AlMarwazi berkata. Oleh karena itulah saya mencantumkan hadits tersebut di dalam kitab saya Ash-Shahihah (hadits no. Hadits di atas juga dikuatkan oleh hadits yang diriw. Dia seorang periwayat yang lemah dan ditinggalkan haditsnya." Ath-Thahawi meriwayatkan hadits ini (II: 333) melalui jalur periwayatan lain. dimana saya tidak menemukan data tentang dirinya. "Rasulullah' pernah bersabda: 'Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot! Selisilah orang-orang majusi.'""150 Abu Awanah dengan lafazh "orang-orang Majussi sebagai ganti " orang-orang rnusynk1. namun derajatnya dha’if juga. Abu Awanah (1:188).'" 206—Jilbab Wanita Muslimah .

"Hadits ini menunjukkan bahwa sebab dilarangnya menyemir rambut dan mengubah wama uban adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. kita bisa lihat para ahli sejarah ketika menyebutkan riwayat hidup para salaf.6. dia berkata: "Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani 151 tidak menyemir rambut. menyelisihi mereka itu mungkin merupakan satu-satunya sebab. dia berkala. saya melihat seseorang yang menghidupkan Sunnah yang telah mati. Dengan demikian cukup kuatlah anjuran untuk menyemir rambut. "Sejumlah sahabat dan tabi'in menyemir rambut mereka. 'Dia tidak suka menyerupai orang-orang 'ajam.'"' Al-Khalal juga menyebutkan tentang Al-Mu'tamir bin Sulaiman At-Tamimi. Dan dia sangat bergembira melihat orang yang menyemir jenggotnya itu. Madits di atas diriwayatkan oleh Al Bukhari (X: 291). Ibnu Majah (II: 381). Nabi sangat serius sekali untuk selalu menyelisihi ahli kitab dan dalam memerintahkan (umatnya) untuk melakukan sikap semacam itu. meskipun hanya dengan merubah warna rambut. Maka. atau terkadang karena tidak mau menyerupai orang 'ajam. Sungguh. Meskipun Rasulullah --ShadiqAI-Masduq—sendiri telah mengabarkan bahwa umat beliau kelak akan menyerupai kedua bangsa tadi. Karena itu. atau mungkin ada sebab lain selain itu. Namun.309 dan 401). maka perbuatan yang cakup-an maknanya lebih umum itu juga menjadi perintah yang harus dijalankan. dia tidak mencukur bulu tengkuknya." Ibnul Jauzi berkata. asal kita melakukan tindakan menyelisihi mereka. 'Biasanya ayahku bila mencukur rambutnya. 151. Para salaf (ketika tidak mau melakukan perbuatan tertentu) mereka akan sebutkan sebabnya." Syaikhul Islam (him.260. dalam semua kemungkinan itu. mereka seringkali mengatakan. lebih-lebih Jilbab Wanita Muslimah — 207 . sebagaimanatelah dijelaskan di muka. Kedua sebab tersebut ada disebutkan di dalam hadits." atau "Dia tidak biasa menyemir rambut. Dari Abu Hurairah juga. 'Mengapa?' Dia menjawab. Itu berarti segala jenis tindakan menyelisihi mereka merupakan perkara yang diperintah-kan oleh Allah ta'ala yang telah membuat syariat. Abu Dawud (II: 195). Oleh karena itu. "Dia biasa menyemir rambut.' Ada yang bertanya kepadanya. terkadang karena tidak mau menyerupai ahli kitab. maka selisihilah mereka. "Sungguh. maka telah terpenuhilah apa yang diperintahkan oleh Allah." Ahmad bin Hanbal berkata ketika dia melihat seseorang yang menyemir jenggotnya. "Hadits ini mengan-dung perintah untuk menyelisihi mereka (yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani). Muslim (VI: 155). Nasai (II: 273). Ahmad (II: 240. Karena perbuatan yang diperintahkan itu bila disertai dengan penyebutan perbuatan yang cakupan maknanya lebih umum dari itu. tetap saja tindakan menyelisihi mereka merupakan satu hal yang diperintahkan oleh Allah. atau mungkin pula menjadi sebagian sebab saja. 24) setelah menyebutkan hadits ini berkata. Sikap semacam itu banyak dilakukan oleh para saiaf. Asy-Syaukani di dalam kitab Nail AI-Authar(l: 105) berkata.

bila kita mengetahui bahwa hal itu mengandung beberapa hikmah. Umpamanya, ketika ada seorang tamu kita diberi perintah, "Hormatilah dial," maka maknanya adalah jamulah dia; atau terhadap orang yang lebih besar kita diperintah, "Hargailah dial," maka maknanya adalah rendahkanlah suaramu di hadapannya atau perbuatanperbuatan lain semisalnya." Saya katakan: Kemudian Syaikhul Islam menjelaskannya secara panjang lebar hingga hlm. 28. Penjelasannya itu sarat dengan faedah-faedah keilmuan yang belum pernah saya temukan di kitab-kitab lainnya. Di antara penjelasan tersebut adalah sebagaimana tersebut di him. 27 dia katakan sebagai berikut: "Perbuatan menyelisihi mereka itu merupakan perkara yang dikehendaki oleh syariat. Kemudian kita juga melihat bahwa perbuatan-perbuatan yang dijadikan pembeda dari mereka itu mengandung beberapa kemaslahatan kalau pun kita mengenyampingkan unsurpenyelisihannya. Kemanfaatan dimaksud ada dua, yaitu: 1. Tindakan menyelisihi perilaku mereka itu sendiri mengandung kemanfaatan dan maslahat bagi orang-orang beriman, karena dengan menyelisihi mereka itu berarti kita memisahkan diri dari perbuatan-perbuatan para ahli neraka. Adanya ke maslahatan ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang 'hatinya bercahaya' yang mampu melihat penyakit yang ada pada diri orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan orang-orang yang tersesat, yang mana penyakit tersebut lebih besar bahayanya dari penyakit-penyakit badan. 2. Perilaku dan akhlak mereka itu sendiri terkadang memang membahayakan atau mengurangi kesempurnaan, sehingga kitadilarang menirunya, malah diperintahkan melakukan hal sebaliknya, karena perbuatan sebaliknya itulah yang mengan dung kemaslahatan dan kesempurnaan. Dan, tidak ada sedikit pun dari tindakan mereka, kecuali membahayakan atau setidaknya mengurangi kesempurnaan. Sebab, amalan-amalan bid'ah dan amalan-amalan lain mereka yang diperintahkan untuk ditinggalkan itu semuanya adalah mengandung kemudharatan, sedangkan amalan-amalan mereka yang asalnya tidak ada perintah untuk ditinggalkan, maka itu masih memungkinkan menambah dan mengurangi kesempurnaan. Sehingga, menyelisihi mereka dalam hal-hal yang mengarah kepada amalan-amalan ter sebut adalah dengan dasar untuk mewujudkan kesempurnaan, karena pada dasarnya tidak ada satu pun dari perkara-perkara mereka yang sempurna. Jadi, menyelisihi segala urusan mereka akan senantiasa mengandung kemanfaatan dan kebaikan bagi kita, sampai dalam urusan dunia yang biasanya mampu mereka kerjakan dengan sempurna sekalipun, karena bisa saja hal itu membahayakan bagi urusan akhirat mereka, atau membahayakan urusan dunia yang lebih penting dari itu. Maka, tetap saja menyelisihi mereka akan mendatangkan kebaikan bagi kita....!! Intinya, seluruh amalan dan urusan orang-orang kafir itu pasti mengandung cacat yang menghalangi terwujudnya kemanfataan yang sempurna. Andaikata ada sesuatu dari urusan mereka yang sempurna, niscaya mereka berhak mendapatkan pahala

208—Jilbab Wanita Muslimah

7. Dari Abu Hurairah juga, dia berkata, "Rasulullah sabda:

pernah ber-

"Semirlah uban! Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani!"n152

akhirat. Akan tetapi sangat disayangkan, amalan mereka hanya ada dua kemungkinan, yaitu rusak atau kurang bermanfaat. Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam yang telah dikaruniakan-Nya, yang merupakan nikmat teragung dan menjadi segala sumber kebaikan, yang Dia cintai dan ridhai. Telah jelas, bahwa tindakan menyelisihi mereka itu sebenarnya secara umum dikehendaki oleh Allah yang membuat syariat. Karena itu, Imam Ahmad dan ulama-ulama lainnya menjelaskan bahwa sebab diperintahkannya menyemir rambut adalah untuk menyelisihi orang-orang kafir." Kemudian dia menyebutkan beberapa riwayat dari Imam Ahmad tentang hal itu. 152. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad (II: 161 dan 499) melalui jalan Muhammad bin Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah.

Saya katakan: Sanad ini adalah sanad yang hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya (5449-AI-lhsan). Umar bin Abu Salamah juga ikut meriwayatkan hadits tersebut dari ayahnya, yang diriwayatkan oleh Ahmad (II: 356), dan At-Tirmidzi (III: 55). At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih." Hadits ini juga mempunyai banyak hadits pendukung, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Az-Zubair bin Awwam yang diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 1415), katanya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Kinasah, katanya: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah, dari Utsman bin Urwah, dari ayahnya, dari Zubair, dia berkata, "Rasulullah bersabda....(lalu dia menyebutkan hadits tersebut), namun tanpa perkataan: "dan orang-orang Nasrani." Dari jalan Ibnu Kinasah ini juga hadits ini diriwayatkan oleh Nasai (II: 278), Abu Nu'aim (II: 180), dan Al-Khathib (V: 404-405). Saya katakan: Sanad ini shahih. Abu Nu'aim berkata, "Gharib, hadits yang diriwayatkan dari Urwah bila hanya melalui jalan Ibnu Kinasah. Hadits ini disampaikan juga oleh beberapa imam hadits: Abu Bakar bin Abu Syaibah, Ibnu Namir, Ahmad bin Hanbal, dan Abu Khaitsamah." Dari situ terkandung isyarat bahwa sanad hadits tersebut shahih. Tetapi Ibnu Ma'in dan Daraquthni mencela sanad hadits tersebut lantaran mursabya, sebagaimana yang dikatakan oleh Al- Khathib. Ad-Daraquthni berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan oleh para sahabat Hisyam, dari Hisyam, dari urwah secara mursal." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Nasai dan Al-Khathib (IV:77) melalui jalan Ahmad bin Janab Al-Hadatsi: Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Ibnu Umar secara marfu'.

Jilbab Wanita Muslimab — 209

Sanad di atas shahih, karena para periwayatnya biasa dipakai oleh Muslim, tetapi ada juga yang mencacatnya. Setelah menyebutkan sanad di atas dan sanad sebelumnya, Nasai berkata, 'Masing-masing dari kedua sanad di atas ghairu mahfuzh (maksudnya: syadz, yaitu ganjil. —Pen.). Al-Khathib berkata, "Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad bin Janab, dari Isa." Saya katakan: Kedua orang itu orang-orang kepercayaan, karena itu tidaklah mengapa jika keduanya meriwayatkan hadits secara bersendirian saja. Semua sanad yang bersumber dari Hisyam adalah shahih. Dalam meriwayatkan hadits ini dia mempunyai beberapa jalur periwayatan, dan ini adalah salah satunya. Dan salah satu sanadnya adalah ada pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Khathib (V: 405 dan IX: 378) dari jalan Abdullah bin Ahmad Al-Ahwazi Al-Jawaliqi, katanya: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Huraisy, katanya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Raja', dari Sufyan, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah yang secara marfu' meriwayatkan hadits tersebut. Sanad di atas tidak ada halangan untuk diterima haditsnya bila ada sanad lain yang mendukungnya. Para periwayatnya orang-orang kepercayaan yang telah dikenal, kecuali Zaid bin Al-Huraisy. Al-Khathib menyebut tentang dia ini di dalam kitab Al-Lisan, dia berkata, "Ibnu Hibban di dalam kitab /4fs-7s/o;af.'Dia terkadang melakukan kesalahan (dalam meriwayatkan)'. Ibnu Qathan berkata: 'Dia adalah seorang pe-riwayat yang majhulhal.' Tetapi dalam hal ini dia tidak meriwayatkan hadits tersebut sendirian. Karena di akhir perkataannya itu Al Khathib berkata, "Abu Marwan Yahya bin Abu Zakariya Al Ghasani juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam." Ad Daraquthni berkata, "Hafsh bin Umar Al Habthi juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam." Akan tetapi Yahya bin Zakariya dan Hafsh bin Umar adalah dua periwayat hadits yang dha'if. Karena itu yang bisa dijadikan sandaran adalah hadits yang terdapat periwayat Sufyan, (dari Aisyah). Al Haitsami menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ini dalam kitab Al Majma'(V: 160-161), kemudian berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam kitab AlAusath dari seorang syaikhnya yang bernama Ahmad, meskipun saya sendiri tidak mengenalnya, tetapi nampaknya dia seorang perawi yang tsiqah, karena Ath Thabarani banyak meriwayatkan darinya. Adapun periwayat-periwayat lain dalam sanad tersebut semuanya periwayat kepercayaan. Salah satu dari hadits yang mendukung hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabarani di dalam kitab AlAusath (1:10/2/141 dengan penomoran saya) dari Anas bin Malik, dia berkata: Suatu hari saya bersama Nabi , lalu datanglah kepada beliau m orang-orang Yahudi yang jenggot mereka kelihatan putih. Beliau m bertanya, "Mengapa kalian tidak menyemirnya?" Katanya, "Sesungguhnya mereka itu tidak menyukainya." Maka, Nabi bersabda, "Adapuh kalian, (wahai para sahabatku), jauhilah warna hitam!" Haitsami berkata (V: 160), "Di dalam sanad hadits ini ada periwayat bernama Ibnu Lahi'ah. Adapun para periwayat lainnya orang-orang tsiqah. Hadits ini hasan."

210—Jilbab Wanita Muslimah

8. Dari Ibnu Abbas, dia berkata:

"Pada mulanya Nabi suka menyerupai ahli kitab dalam masalah-masalah yangbeliau belum diperintahkan (untuk menyelisihi)nya. Ahli kitab biasa membiarkan rambut mereka terurai dan orang-orang musyrik biasa menyisir rambut mereka. Maka, Nabi pun membiarkan jambulnya terurai, walaupun sesudah itu akhirnya beliau menyisir rambutnya."153

Saya katakan: Secara garis besar, hadits ini shahih karena diriwayatkan dalam beberapa jalur periwayatan dan karena adanya beberapa hadits yang mendukung." Syaikhul Islam berkala, "Perkataan ini, —maksudnya yang terkandung di dalam hadits ini— menunjukkan adanya perintah untuk menyelisihi mereka dan larangan menyerupai mereka. Beliau melarang menyerupai mereka dalam membiarkan wama uban tetap putih, padahal putihnya uban itu bukan dari perbuatan kita, sehingga dari sini jelaslah bahwa larangan itu adalah karena alasan menyerupai mereka. Oleh karena itu, tindakan menyerupai mereka ini hukumnya haram. Berbeda dengan perbuatan yang pertama." Al-Munawi berkata, "Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani secara mutlak, karena ada kaidah ushul fikih, 'Bila ada suatu perkataan, maka yang kita ambil adalah keumumannya.'" 153. Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Bukhari (VI: 447; VII: 221 ;'X: 297), Muslim (VII: 83), Abu Dawud (II: 193), An-Nasai (II: 292), Ibnu Majah (II: 383), Ahmad (hadits no. 2209, 2362, 2605, dan 2944). Sebagian ulama ada yang mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Ash-habu As-Sunan, sehingga menimbul-kan kesan seolah-olah hadits tersebut diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi, padahal tidak demikian. An-Nabulisi di dalam kitabnya Ad-Dakha-irtidak menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh AtTirmidzi. Di dalam hadits tersebut Nabi memberi keputusan akhir untuk menyelisihi ahli kitab sampai masalah rambut sekalipun! Syaikhul Islam (him. 82) berkata, "Oleh karena itu, menyisir rambut merupakan syiar kaum muslimin dan merupakan salah satu persyaratan yang harus dijalani oleh ahli

Jilbab Wanita Muslimah — 211

Kubra atau kitab 'Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya An-Nasai. Para periwayat yang dipakai Abu Ya'la adalah para periwayat hadits shahih. "Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu?" Rahasia mengapa pada awal masa keislaman. Lihat kitab Ash-Shahihah (hadits no. sedang-kan ahli kitab berkelanjutan dalam kekafirannya. dari kakeknya. 154 telapak tangan dan /syarat. sekalipun me-nyerupai mereka itu mengakibatkan beliau menyelisihi para penyembah berhaia. Oleh karena itu beliau suka menyamai mereka dalam rangka untuk melunakkan hati mereka. 1783)! Al-Haitsami menyebutkan hadits ini di dalam kitabnya Al-Majma'(VIII: 38) dengan lafadz serupa itu.Dalam Masalah Adab dan Adat 1. Mereka memberi salam dengan kepala. Allah mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang yang jahil dan golongan lainnya akan mengatakan. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan orang- 212 —Jilbab Wanita Muslimah ." Saya katakan: Barangkali hadits ini terdapat di kitab As-Sunan Al." dzimmah agar mereka tidak menyisir rambut mereka. Kemudian dia berkata. karena ahli kitab secara garis besar masih berpegang kepada syariat. Dari Jabir bin Abdullah secara marfu' dia meriwayatkan: "Janganlah kalian memberi salam seperti salamnya orangorang ' Yahudi!. beliau menyamai ahli kitab dijelas-kan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath sebagai berikut: "Para penyembah berhaia lebih jauh dari keimanan dibandingkan dengan ahli kitab. dan hadits ini ada di situ dengan nomer 340. bahwa Rasulullah *pernah berkata. Namun kemudian syariat tersebut dihapuskan dan Allah memerintahkan Nabi m untuk menghadap ke Ka'bah. "Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath. Ketika para penyembah berhaia yang berada di sekitar beliau masuk Islam." 154. Hal ini sebagaimana ketika pertama kali Allah mensyariatkan menghadap ke Baitul Maqdis untuk menyamai ahli kitab. Hadits tersebut jugadidukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (III: 386) melalui jalan Abu Lahi'ah dari Amru bin Syu'aib. Di dalam hadits tersebut Ibnu Az-Zubair meriwayatkan dengan lafadz 'an (artinya: dari). Kitab ini sudah dicetak. "Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai dengan sanad jayyid. "Bukan termasuk golongan kitasiapa yang menyerupai golongan selain kita. dari ayahnya. AlHafizh di dalam kitab Al-Fath (XI: 12) berkata. menyelisihi ahli kitab lebih beliau sukai.

146). karena para periwayatnya juga biasa dia pakai di dalam kitab Shahih-nya. -yaitu Sunnah mengucapkan atau menjawab salamdengan tindakan menyerupai orang-orang kafir. para ulama membenci melakukan salam dengan isyarat tangan. dari Asma' binti Yazid bahwa pernah suatu hari Rasulullah di masjid melewati sekumpulan wanitayang sedang duduk-duduk. "Dia seorang periwayat yang jujur." Saya berkata: Ibnu Lahi'ah lemah dari sisi hafalannya. tetapi banyak meriwayatkan hadits secara mursal dan banyak salahnya. Oleh karena itu." Jilbab Wanita Muslimah— 213 ." Al-Hafizh di dalam kitab At-Taqrib berkata. sebagaimana dikatakan oleh Atria' bin Abu Rabah dalam riwayat yang diriwayatkan oleh AlBukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad(blm. di mana dalam riwayat Abu Dawud ini disebutkan:"." AtTirmidzi berkata. "Larangan menyampaikan salam dengan isyarat dikhususkan bagi orang yang mampu melakukan salam dengan ucapan. Saya katakan: Hadits ini umum. Adapun An-Nawawi menafsirkan hadits tersebut kepada pengertian terakhir. orang yang berada di kejauhan. sedangkan salam orang-orang Nasrani dengan isyarat telapak tangan. hadits tersebut bisa dipahami bahwa beliau menggabungkan antara ucapan dan isyarat. "Sanad hadits ini lemah." Saya katakan: Hadits Asma' ini tidak shahih.Adzkar(h\m.orang Nasrani! Sesungguhnya salam orang-orang Yahudi dilakukan dengan isyarat jari.. begitu pula salam kepada orang yang tuli. Pen. dia berkata. Di dalam kitab Al. Sikap kedua ini lebih berat bobot pelanggarannya dibanding yang pertama. 313) setelah menyebutkan hadits yang diriwayatkan lewat Amru bin Syu'aib di muka. "Dia termasuk periwayat yang perkataannya tidak bisa dijadikan hujjah agama. Sanad hadits ini shahih..dan Rasulullah mengucapkan saiam kepada kami. lalu beliau mengucapkan salam dengan isyarat tangannya —hadits tersebut ada dalam riwayat At-Tirmidzi— adalah hadits hasan. Tentang diri Syahr ini. karena dia memadukan tindakan meninggalkan Sunnah. begitu juga hadits sesudahnya. "Adapun hadits yang kami riwayatkan dari kitab AtTirmidzi. orang yang bisu. Namun hadits sebelumnya menguatkan apa yang dia riwayatkan. Oleh karena itu.) beralasan dengan sebuah hadits yang masih diperselisihkan kebaikan sanadnya. (yaitu bolehnya salam dengan ucapan dan isyarat secara bersamaan. Ibnu Adi berkata. Disyariatkan menyampaikan salam dengan isyarat bagi orang yang sedang dalam keadaan tertentu sehingga tidak memungkinkan dia melakukan salam dengan ucapan. An-Nawawi berkata. sehingga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk membolehkan apa yang dilarang berdasarkan kemutlakan pengertian hadits yang diriwayatkan oleh Jabir dan lainnya. Hal ini dikuatkan dengan diriwayatkannya hadits ini oleh Abu Dawud. padahal Syahr adalah salah seorang periwayat yang diperselisihkan. Hal itu dikarenakan sanadnya ber-• kisar pada Syahr bin Hausyab. dari Asma'. misalnya orang yang sedang shalat." Perkataan An-Nawawi ini terdapat di dalam kitab Al-Fath. —kecuali hal-hal yang telah dikecualikan di muka— meliputi salam yang dilakukan dengan ucapan dan isyarat secara bersamaan maupun salam yang dilakukan dengan isyarat saja tanpa dengan ucapan.

Namun kaidah ini bisa dipakai kalau yang menambahkan perkataan tersebut seorang periwayat yang kuat hafalannya. Ahmad (VI: 352) melalui jalan Ibnu Abu Husain yang telah mendengar hadits tersebut dari Syahr bin Hausyab. Karena itu. Menurut saya. Sehingga. Akan tetapi. Bahkan. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 343). kita tidak ragu lagi bahwa hadits yang dia riwayatkan dengan bersendirian atau masih diperselisihkan oleh para ulama tidak bisa dijadikan hujjah. Dia juga dijadikan sandaran hujjah di dalam kitab AshShahihain. dan beliau memberi salam kepada kami. 151). —nama aslinya Abdullah bin Abdurrahman— yang meriwayatkan dari Hausyab tidak menyebutkan adanya isyarat tangan. Tambahan perkataan dari seorang periwayat yang fe/qaftditerima". "Hadits ini hasan. Hadits yang diriwayatkan melalui jalan dia ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (III: 386). sehingga kita perlu mengambil salah satu yang lebih bisa dipercaya. (yaitu Abdurrahman bin Bahram) tidak seperti itu. sebagaimana hal ini disebutkan dalam ilmu musthalah hadits. Lihat biografinya di dalam kitab TahdzibAt-Tahdzib. dari Syahr dengan lafadz seperti itu. "Dia kadang melakukan kesalahan" dan ada juga yang mengatakan." Saya katakan: Sebenamya ada ulama lain yang memperbincangkan tentang dirinya. Kiranya saya telah cukup dalam memberikan kesimpulan dari pembicaraan para ulama tentang dirinya. keadaan dia. Jadi. maka hal itu pun menunjukkan bahwa Syahr sendiri seorang periwayat 214 —Jilbab Wamita Muslimah ." Muhammad berkata." Kata Ahmad bin Hanbal. "Yang memperbincangkan tentang dirinya hanyalah Ibnu 'Aun. Ad-Darimi (II: 277). "Tidak ada masalah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Bahram. dari Syahr bin Hausyab. sementara Abdurrahman bin Bahram menyebutkan adanya isyarat tangan. dia berkata: "Asma binti Yazid pemah mengabarkan kepadanya: 'Nabi m pernah melewati kami. "Syahr adalah seorang periwayat yang baik haditsnya dan kuat dalam urusan tersebut. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdul Bar. Ahmad (VI: 357-358) melalui jalan Abdurrahman bin Bahram. keduanya saling bertentangan. "Perkataannya tidak bisa dijadikan hujjalf.' Ibnu Abu Husain. Ibnu Majah (II: 398). Al-Bukhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (him. riwayat dari dia tidak bisa mengalahkan riwayat dari Ibnu Abu Husain. Padahal hanya dia dalam hadits ini yang menyebutkan adanya salam dengan isyarat tangan. Tidak demikian dengan Abdurrahman bin Bahram. Memang ada kaidah. karena dia seorang periwayat yang dinilai tsiqah oleh seluruh ulama hadits. sebagian ada yang menyebutkan adanya isyarat tangan itu. At-Tirmidzi berkata.Banyaknya kesalahan dia ini tidak diragukan lagi bisa dilihat dengan meneliti riwayatriwayat dan hadits-haditsnya. dan kalau pun mau dipakai paling banter sebagai hadits pendukung saja. riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Abu Husain yang lebih kuat. namun sebagian lainnya tidak menyebutkan adanya isyarat tangan sama sekali. Camkanlahl Taruhlah Abdurrahman bin Bahram benar-benar menghafal tambahan (isyarat tangan) itu dari Syahr." Dia juga berkata. selain dia bukan periwayat yang dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim ada yang menilai dirinya. para periwayat yang meriwayatkan darinya pun berbeda-beda.

insya Allah ta'ala. karena dalam sanad tersebut ada disebutkan periwayat yang bernama Jabir bin Abdullah. satu waktu dia menceritakan adanya isyarat tangan. yaitu ayah Muhammad. Tambahan lagi. Sejumlah ulama meriwayatkan haditsnya. dengan lafadz: "Pemah Nabi m melewati sekelompok orang wanita. selain Syahr. Wailahu a'lam. Maka. Jadi. 221). juga diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Ath-Thabarani. Al-Hafizh memastikan bahwa yang dimaksud memang AlJa'fi itu. Dengan demikian. kecuali Muhajir. "Bila Jabir ini maksudnya Al-Ja'fi. "Nabi pernah melewati saya yang waktu itu bersama gadis-gadis sebaya saya. dari Asma' juga tanpa adanya tambahan isyarat tangan. sedangkan ayah Al-Ja'fi bernama Yazid. mengambil hadits dari dia adalah lebih utama. pen." Hadits ini juga terdapat di dalam kitab Al-Musnad (i\/: 357 dan 363) dan kitab 'Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu Sunni (hadits no. Jilbab Wanita Muslimah — 215 . dari Asma' binti Yazid Al-Anshariyyah. para periwayat hadits shahih. Beliau memberi salam kepada kami. dari bapaknya. Perhatian: Al-Hafizh di dalam kitab Al-Fath setelah menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Asma' dengan lafadz yang menyatakan adanya isyarat tangan. Al-Bukhari berkata di dalam kitab Al-Adab: "Mukhallad telah mengabarkan kepada kami: 'Mubasyir bin Isma'il telah mengabarkan kepada kami.yang mudhtharib (maksudnya. karena kelemahan periwayat Syahr bin Hausyab." Di dalam kitab At-Ta'jil.) Yaitu. Karena Al-Haitsami tidak menyebutkan di dalam kitabnya ^/Ma/ma'selain hadits yang diriwayatkan dari Jarir. dari Muhammad bin Muhajir. dan menyebutkan adanya tambahan isyarat tangan ke dalamnya tertolak. berkata. hadits tersebut juga diriwayatkan oleh periwayat lain. Al-Haitsami berkata. hadits Syahr bin Hausyab ini tidak bisa dijadikan hujjah karena melawan hadits pokok yang kita bicarakan di atas. "Hadits tersebut mempunyai hadits pendukung yang bersumber dari Jabir yang diriwayatkan oleh Ahmad. lebih-lebih dia adalah mau/a-nya Asma'. dan Ibnu Hibban memasukkan dia ke dalam kitab Ats-Tsiqatnya (V: 427). dari Ibnu Abu Ghaniyyah. jadi keduanya berbeda." Sanad hadits di atas shahih. lalu memberi salam kepada mereka. jelaslah bahwa pokok hadits (yaitu tanpa dengan isyarat pen. pemastian Al-Hafizh ini bisa dibantah. Namun. dimana di sebagian jalur periwayatan hadits tersebut ada periwayat yang bernama Jabir yang meriwayatkan dari Thariq At-Taimi. Para periwayatnya orang-orang tsiqah. namun di waktu lain dia menyampaikan lanpa adanya isyarat tangan. nama 'Jabir' yang dikatakan oleh Al-Hafizh yang benar adalah 'Jarir'. Al-Haitsami telah menyebutkan sesuatu yang menyebabkan ke-idhthirab-an sanadnya. maka dia adalah periwayat yang dha'if. Namun. tidak konsisten daiam menyampaikan perkataan. Kemungkinan besar.) tersebut shahih. sehingga dia tentu lebih tahu tentang omongan Asma' dibanding Syahr. katanya. Hal itulah yang menyebabkan kelemahan dia untuk dijadikan hujjah adanya tambahan isyarat tangan tersebut. Mubarakfuri menukil perkataan Al-Hafizh di atas di dalam kitabnya Tuhfah Al-Abwadz.

216 —Jilbab Wanita Muslimah . Maka beliau bersabda. Saya katakan: Para periwayat hadits ini biasa dipakai oleh Al-Bukhari. Maka. Ahmad (IV: 388). Hadits ini telah disebutkan terdahulu ketika membicarakan "Dalam Masalah Shalat" dengan urutan no. dia berkata: "Pemah suatu ketika Rasulullah rnelewati saya yang sedang duduk seperti ini. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq menyatakan bahwa dia mendengar langsung dari orang yang menyampaikan hadits kepadanya. dan Adz-Dzahabi sepakat dengan perkataan tersebut. Kemudian saya juga menemukan hadits tersebut sebagaimana disampaikan oleh Abdul Haq di dalam kitab Mushannaf Abdirrazzaq (II: 198/3057). 'Apakah kamu suka duduk 155 seperti duduknya orang-orang yang di-murfea/?'" 3. 194. sehingga hilang sudah cacat hadits tersebut. Alhamdulillah.dengan tahqiq dari saya). 7 hlm. 1284 . Namun. Dari Asy-Syarid bin Suwaid. Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 295). Hadits tersebut juga didukung oleh hadits Umar: "Sungguh. beliau berkata.2. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash. Al-Hakim (IV: 269). Al-Hakim berkata. karena itu adalah duduknya orangorang yang diadzab. akan tetapi mu'dhal. Rasulullah m pemah melihat seseorang turun bertumpu dengan satu tangannya ketika shalat. dia berkata: "Rasulullah M melarang seseorang bertumpu dengan tangan kirinya ketika sedang makan. dia berkata: "Rasulullah ber- sabda: 155. 5972) dengan sanad yang hasan shahih. Abdurrazzaq juga meriwayatkan hadits (X: 415/19542) dari Yahya bin Abu Katsir. Wallahu a'lam. keumuman pengertian hadits sebelumnya menguatkan hadits ini. sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Ahkam karya Abdul Haq Isybili (hadits no. yaitu aku letakkan tangan kiriku di belakang punggungku dan bertumpu dengan telapak tangan kiriku itu." Saya katakan: Para periwayatnya orang-orang tsiqah. dan derajatnya pun menjadi shahih. "Hadits ini shahih isnadnya"." Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 'Janganlah kamu duduk seperti itu. Ibnu Juraij.

Derajat hadits ini hasan. "Hadits ini gharib (ganjil). bagus dan mencintai kebagusan."' Saya katakan: Jalur periwayatan ini jelas berbeda dengan dua jalur periwayatan yang pertama. 'Saya pernah mendapatkan hadits serupa itu dari Amir bin Sa'ad. maka bersihkanlah . dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bakir bin Samar.'"" 156.. Saya melihat. Yang benar. Seorang pensyarah hadits. para periwayatnya para periwayat hadits shahih. hingga akhir hadits.. —dalam kitab asalnya lersebut Sa'id." Saya katakan: Tetapi hadits ini menjadi kuat lantaran adanya hadits pertama. seorang periwayat yang diperselisihkan. kecuali Abu Thayyib Harun bin Muhammad. pemurah dan menyukai kemurahan. Lalu dia menjawab. kecuali gurunya Ath-Thabarani yang bernama Ali bin Sa'id Ar-Razi. haditsnya hasan bila tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat. Jilbab Wanita Muslimah — 217 . (lalu dia menyebutkan hadits serupa itu itu secara mauquf). dari bapaknya. jadi nampaknya ada perubahan— dia berkata: "Rasulullah bersabda: 'Sesungguhnya Allatfbersih dan Dia menyukai kebersihan. sedangkan Khalid bin llyas seorang periwayat yang lemah. Wallahu ta ala a 'lam. dari Khalid bin llyas. dia berkata: "Saya pernah mendengar Sa'id bin AlMusayyab berkata. dan Sa'ad.. 'Para periwayat hadits ini para periwayat hadits shahih. dia seorang periwayat yang lemah sekali. berkata. kecuali gurunya Ath-Thabarani. dari Shalih bin Abu Hisan. Akan tetapi AtTirmidzi meriwayatkan hadits ini melalui jalur periwayatan lain. dari Rasulullah m" At-Tirmidzi berkata. "Al-Haitsami berkata.dst. Kemudian saya juga menemukan sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Zawa-id Al-Mu'jam Ash-Shaghir wa Al-Ausath (XI: 2). Al-Munawi. Derajatnya semakin kuat dengan adanya hadits yang tersebut di dalam kitab Al-Jami' dari Sa'ad juga secara marfu'dengan lafadz: "Bers/Wtan/afi halaman rumah kalian. Maka. diriwayatkan oleh Ad-Daulabi di dalam kitab AI-Kina(\\A37) melalui jalan Abu Thayyib Harun bin Muhammad. dari Amir bin Sa'ad. 'Maka saya menceritakan hal itu kepada Muhajir bin Mismar. sebagaimana dikatakan oleh AlHaitsami di atas." Para periwayat hadits ini orang-orang tsiqah. Shalih bin Hisan berkata. ini merupakan hadits pendukung yang kuat bagi hadits yang telah kami sebutkan di muka.'Bersihkanlah halaman rumah kalian! Janganlah kalian menyerupai orang-qrang Yahudi yang membiarkan sampah 56 menumpuk di rumah-rumafi mereka. (arena orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah-rumah mereka! Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausath.

yang diriwayatkan oleh Waki' bin Al-Jarrah di dalam kitab AzZuhd (II: 65/1) dengan sanad yang lemah." Saya katakan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari (him.) Saya katakan: Akan tetapi nampaknya hadits ini juga diriwayatkan dari jalan lain selain Al-Hijri. 157. sedangkan yang diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalan Al-Hijri secara marfu' seperti hadits di muka. (yakni Ahmad dan Al-Bukhari) meriwayatkan hadits tersebut dengan dua sanad yang keduanya mauquf atau keduanya marfu'. padahal tidak seperti itu keadaannya. "Rasulullah bersabda: pernah 'Hendaklah kalian menjauhi permainan dadu yang keduanya benar-benar terlarang. Dari Abdullah bin Mas'ud. Al-Haitsami menyebutkannya di dalam kitab Al-Majma'(VIII: 113) dengan lafa