P. 1
doc

doc

|Views: 260|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Aris Budiantara on Jan 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
  • E. Sistematika Skripsi
  • A. Landasan Teori
  • 1. Kedudukan Guru dalam Proses Belajar Mengajar
  • 2. Kinerja Guru
  • 3. Kemampuan Intelektual
  • 4. Motivasi Kerja
  • B. KERANGKA BERFIKIR
  • C. HIPOTESIS
  • B. Variabel Penelitian
  • C. Metode Pengumpulan Data
  • D. Validitas dan Reliabilitas
  • F. Teknik Analisis Data
  • A. Hasil Penelitian
  • 1. Gambaran Variabel Penelitian
  • Tabel 4.1 Gambaran Variabel Kinerja Guru
  • Tabel 4.2 Kriteria Setiap Indikator Kinerja Guru
  • Tabel 4.3 Kriteria Keseluruhan Kinerja Guru
  • 2. Hasil Analisis Regresi
  • Gambar 4.1 Garis Linier Hubungan Kemampuan Intelektual terhadap Kinerja Guru
  • Gambar 4.2 Garis Linier Hubungan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru
  • 1). Uji Multikolinieritas
  • 2). Uji Heteroskedastisitas
  • Tabel 4.12 Hasil Uji Heteroskedastisitas
  • c. Hasil Analisis Regresi
  • B. Pembahasan
  • A. Simpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

PENGARUH KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MATA DIKLAT PRODUKTIF PENJUALAN DI SMK BISNIS

DAN MANAJEMEN SE KABUPATEN KEBUMEN
SKRIPSI untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Eka Yuliana 3301401028

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN EKONOMI 2006

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh dosen pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian pada: Hari Tanggal : Sabtu : 03 Juni 2006

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Joko Widodo, M.Pd NIP. 131993879

Drs. Fx. Sukardi NIP. 130512374

Mengetahui: Ketua Jurusan Ekonomi

Drs. Kusmuriyanto, M.Si NIP. 131401309

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ekonomi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Sabtu : 03 Juni 2006

Penguji

Drs. Tarsis Tarmudji NIP. 1303529513

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Joko Widodo, M.Pd NIP. 131993879

Drs. Fx. Sukardi NIP. 130512374

Mengetahui, Dekan,

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iv

bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Semarang. baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. 3301401028 v . April 2006 Eka Yuliana NIM.

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.s Luqman, 31:8)

“Orang berakal tidak akan bosan untuk meraih manfaat berpikir, tidak putus asa dalam menghadapi keadaan dan tidak akan pernah berhenti dari berpikir dan berusaha.” (Dr. ‘Aidh ‘Abdullah Al-Qarni)

PERSEMBAHAN Skripsi ini di persembahkan untuk: 1. Bapak dan Mama tercinta atas do’a dan kasih sayangnya. 2. Adikku tersayang Susi dan Tati. 3. Youne, Aty, Fat, Tina, Nunik, Dewi, Evi, Sulis, Rike, Tanti dan Murni terima kasih atas persahabatan ini. 4. Keluarga besar Kos Amanah. 5. Teman seperjuangan Prodi Koperasi angkatan 2001. 6. Almamater UNNES.

vi

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memlimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”PENGARUH KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MATA DIKLAT

PRODUKTIF PENJUALAN DI SMK BISNIS DAN MANAJEMEN SE KABUPATEN KEBUMEN”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. Dr. Joko Widodo, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan dan arahan dari awal sampai akhir penyelesaian skripsi ini. 2. Drs. Fx. Sukardi, Dosen Pembimbing II yang penuh perhatian dan

kesabaran dalam memberikan bimbingan dan arahan dari awal sampai akhir penyelesaian skripsi ini. 3. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Ketua Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 5. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen yang telah memberikan izin sehingga dapat terlaksana penelitian ini di wilayah Kabupaten Kebumen.

vii

6. Kepala sekolah SMK Bisnis dan Manajemen Se-Kabupaten Kebumen yang telah memberikan ijin penelitian. 7. Guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen SeKabupaten Kebumen yang telah memberikan bantuan dalam penelitian. 8. Semua pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis hanya bisa memanjatkan do’a semoga Allah SWT memberikan balasan yang sebanding atas jasa dari semua pihak. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang,

April

2006

Penulis

viii

5176 atau sebesar 51. Jurusan Pendidikan Ekonomi. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya komponen yang mendukung. ix . Hasil analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja dalam kategori tinggi.92%. disarankan kepada Diknas untuk mengupayakan pelatihan bagi guru dalam penggunaan media dan sumber belajar yang relevan dengan kondisi sekarang. angket dan observasi. hal ini dapat di lihat dari uji parsial yang menghasilkan t hitung sebesar 5.4692 atau 46. Oleh karena itu permasalahan yang diangkat adalah : (1). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1). Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan analisis diskriptif persentase dan analisis regresi baik parsial dan simultan. 2006.000.76%. 2) besar pengaruh antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru Penelitian ini dilakukan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Secara simultan.SARI Eka Yuliana. kemampuan intelektual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru dengan r2 sebesar 0. Kemampuan intelektual mempunyai pengaruh signifikan pada taraf 95%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut.481 dengan p valuee 0. Variabel bebas yang dikaji dalam penelitian ini adalah kemampuan intelektual (X1) dan motivasi kerja (X2) sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja guru (Y). sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Pengaruh Kemampuan Intelektual dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Mata Diklat Produktif Penjualan Di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Bagaimana gambaran kemampuan intelektual. motivasi kerja dan kinerja guru. Pengumpulan data dengan cara tes.2066 atau sebesar 20. 2) seberapa besar pengaruh antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. Skripsi. gambaran kemampuan intelektual. Dan motivasi kerja juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan t hitung sebesar 2. 129 halaman. Perlu lebih banyak menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri untuk memberikan informasi tentang perkembangan dunia usaha. Kinerja guru dalam proses belajar mengajar ditentukan oleh kemampuan Intelektual dan motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap guru. yang salah satunya adalah kinerja guru yang profesional. Disamping itu.012. Kata Kunci : Kemampuan Intelektual. Motivasi Kerja.66%. kemampuan intelektual dan motivasi kerja mempengaruhi kinerja guru sebesar 0. Populasi penelitian adalah seluruh guru mata diklat produktif penjualan yang berjumlah 31 orang. motivasi kerja dan kinerja guru. Sementara itu berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa.700 dengan p value 0. Kinerja Guru Kualitas pendidikan akan terwujud jika proses belajar mengajar di kelas berlangsung dengan baik. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. dapat disimpulkan secara umum perlu ada perhatian khusus dalam upaya meningkatkan kinerja guru yaitu berhubungan dengan kemampuan penggunaan media dan sumber belajar. Sedangkan motivasi kerja sebesar 0.

................................................................................................................................ iii PERNYATAAN............................. Landasan Teori.... ix DAFTAR TABEL......... 9 E.................... v PRAKATA.................................................................................................................................... METODE PENELITIAN A.. ii PENGESAHAN KELULUSAN ......................... Kinerja Guru .................................................................................... 25 E....................................................................................................................... 1 B........................................................................................................... Latar Belakang Masalah.... LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A.......... xii DAFTAR LAMPIRAN..................................... viii DAFTAR ISI ........................................ xiii BAB I.................... Penegasan Istilah.................................................................. 6 C........................ Kemampuan intelektual ......... Sistematika Skripsi...................................................................................... 32 F........ .......................................... Variabel Penelitian ....................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................................. 12 C............................................................................ 42 C............................................................. 43 x .. 8 D........................... Kedudukan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar . 37 G......... Identifikasi dan Perumusan Masalah ................ PENDAHULUAN A............................................................................................. 12 B.................................. Hipotesis............. Populasi dan Sampel ............................................ 40 BAB III......................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING....................................................................... 10 BAB II.......... 16 D.................................................................... Kerangka Berpikir.............................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................... 41 B....................................................... Metode Pengumpulan Data ................................................... x DAFTAR GAMBAR .............................................. Motivasi Kerja........ vi SARI ...............................

......................................................................................................................................... Pembahasan.................................................................................. Saran............................................................. 45 E.......... 75 BAB V.. Simpulan ................................... 83 DAFTAR PUSTAKA .............................................. 82 B.. Hasil Penelitian ................................................................ PENUTUP A.............. Kisi-kisi instrumen ........... 86 xi ................ Gambaraan Variabel Penelitian ................. 50 BAB IV.............. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN A............................................................................................................................................. 59 C........ 49 F..... 84 LAMPIRAN............. Validitas dan Reliabilitas ..........D....................................... Teknik Analisis Data....... 59 B................................................................................ 67 D........ Hasil Analisis Regresi .................................................

........ 70 4. Gambaran Variabel Motivasi Kerja Guru ... 59 4...........................3..............6................................ Kriteria Setiap Indikator Kinerja Guru .. 64 4..... Kriteria Keseluruhan Kinerja Guru.................10.5.............................. 68 4.....13....... Uji Linieritas .1.............................. 60 4.. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian............................................. 72 4.......... 63 4................ Gambaran Frekuensi Kinerja Guru ........................11...... 64 4.........................5.............................. 52 3.................................................................................. 67 4..............3............................................ Gambaran Variabel Kinerja Guru ................1............................................................................. Kriteria Setiap Indikator Motivasi Kerja................. Kriteria Kategori Kinerja Guru ..6................................................................................. Hasil Uji Linieritas......................................... Kriteria Kategori Motivasi Kerja ...................8... 67 4. Kriteria Kategori Kemampuan Intelektual............2............................................................... Hasil Uji Heteroskedastisitas ............ 72 4.. Gambaran Variabel Kemampuan Intelektual......... Koefisien Determinasi Secara Parsial dan Simultan..................7......... 65 4...................................... Hasil Analisis Regresi .......................................................... Uji Multikolinieritas................ Gambaran Frekuensi Motivasi Kerja .................... Daftar Populasi Penelitian................................................... 52 3...2.............................14........... 72 xii . 53 4.......................................... 63 4.........4............ 41 3......................................... 52 3...9............. 49 3.....12............4............................... Kriteria Keseluruhan Motivasi Kerja ..DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3..........

.............................. Garis Linier Hubungan Kemampuan Intelektual Terhadap Kinerja Guru 69 4................ 71 xiii .........1.DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1........ 4 2... Uji Heteroskedastisitas.......... Kerangka Berpikir.........................3............ Dimensi Kinerja ......1..........1............................................................................2......... Garis Linier Hubungan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru ................................. 40 4....................... 69 4.....

.... Permohonan Izin Penelitian ...... Analisis Diskriptif Persentase Kinerja Guru ............... 117 8..................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. 86 2....... 127 12........................................................................................................ Instrumen .......................... 129 xiv ............ 120 11......................................... Analisis Diskriptif Persentase Motivasi Kerja ............. Lembar Kriteria Penilaian Observasi Kinerja Guru..................................................... 106 5............................................................................ 105 4................................. 112 7.................................. Analisis Diskriptif Persentase Kemampuan Intelektual.... Analisis Regresi ............................................................................ Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kinerja Guru.............. Kunci Jawaban Tes Kemampuan Intelektual......... Surat Keterangan.......... 107 6..................................... Daftar Responden................................. 99 3...... 119 10......................................... Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Motivasi Kerja..... 118 9.......

(3). Proses pembelajaran di sekolah dimaksudkan untuk mengembangkan profesi akademis dan kepribadian siswa. 1999). Latar Belakang Masalah SMK Bisnis dan manajemen merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu yaitu bidang bisnis dan manajemen.BAB I PENDAHULUAN A. berbasis ganda (Dual Based program) (Depdikbud. Prosedur pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen adalah penerapan pola Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang merupakan tatacara pembelajaran. serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja. pembimbingan dan pelatihan yang dilakukan di sekolah dan di dunia kerja. berbasis kompetensi (Competency Based Curriculum). Untuk mewujudkan misi tersebut dibutuhkan pendekatan sistem pembelajaran yang khusus artinya pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dan di dunia usaha/industri. yaitu (1). Pada prinsipnya misi SMK Bisnis dan Manajemen adalah menyiapkan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. Sedangkan proses pelatihan di dunia kerja bertujuan agar siswa menguasai kompetensi standar. kuat dan mendasar (Broad Based Curirculum. (2). 1 . pembelajaran tuntas (Mastery Learning). Sesuai dalam kurikulum 2004 pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen berdasarkan pada prinsip. dan (4). BBC). berbasis luas.

Pelaksanaan pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen adalah realisasi pembelajaran program produktif yang di tekankan pada penguasaan dasar-dasar keahlian yang luas. mampu berkompetensi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup bisnis dan manajemen. Guru 2 .mengembangkan dan menginternalisasi sikap dan nilai profesionalisme sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul. membuka usaha kecil. adaptif dan kreatif (Depdikbud. khususnya penjualan. menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup bisnis dan manajemen. Profil kompetensinya meliputi: pelayanan prima. Untuk pembelajaran mata diklat produktif penjualan sesuai kurikulum 2004 adalah 30% teori dan 70% praktek di lapangan. menjadi Warga Negara yang produktif. mampu memilih karir. surat niaga dan sistem kearsipan. SMK Bisnis dan Manajemen Program Keahlian Penjualan sebagai bagian dari pendidikan menengah bertujuan menyiapkan siswa / tamatan : (1). siklus akuntansi. kuat serta penguasaan alat dan teknik bekerja yang tepat. prinsip pemasaran. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian bisnis dan manajemen. khususnya penjualan. mesin-mesin bisnis dan penjualan. mengetik. (2). (3). sekaligus dituntut kemampuan personal untuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dengan dunia usaha/industri. khususnya penjualan. dan (4). karena mereka harus memahami aspek teoritis dan praktis mengenai apa yang dibutuhkan di masyarakat. 1999:27).

yang salah satunya adalah kinerja guru yang profesional. guru profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas sehari–hari (Bafadal. Sedangkan menurut Rice dan Bishoprick (1971). Seorang guru profesional harus memiliki beberapa kompetensi. karena keberadaan guru sangat berpengaruh terhadap semua sumber daya pendidikan yang ada. guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. dalam arti guru yang melaksanakan proses belajar mengajar telah melakukan perencanaan pembelajaran. 2003:5). Kualitas pendidikan akan terwujud jika proses belajar mengajar di kelas berlangsung dengan baik. kompetensi sosial dan kompetensi spiritual (Tilaar.adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan guru memegang posisi yang sangat strategis dalam upaya menciptakan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. siswa dan orang tua siswa dapat berfungsi dengan baik apabila guru memiliki kemampuan yang baik pula dalam menggunakan semua sumber daya yang ada. teknologi. pelaksanaan pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran secara terpadu. kompetensi pribadi. Berbagai sumber daya pendidikan seperti. biaya. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya komponen yang mendukung. Menurut Uzer Usman (2005:15). kompetensi fisik. informasi. sarana dan prasarana. Kinerja guru sebagai kunci keberhasilan pendidikan. yaitu kompetensi intelektul. 2002:338). Kualitas guru 3 .

dan Sikap sebagai guru (Arikunto. sikap dan ketrampilan profesionalnya. hubungan dengan sesama guru. Dalam kajian teori Robbins (2001:218). persepsi terhadap profesi guru. Menurut Indra Djati Sidi (2001). 1999:220). yaitu kinerja = f (AxM). tetapi beralih sebagai pelatih (coach). pembimbing (counselor). dan manajer belajar (learning teacher) (Syaukani:2002:51).dapat dilihat dari 3 indikator yaitu: Kemampuan umum. untuk menganalisis dimensi kinerja dapat digambarkan sebagai berikut : Kemampuan Kinerja Motivasi Kesempatan Gambar 1. Secara ideal guru yang diharapkan adalah guru yang memiliki keberdayaan untuk mampu mewujudkan kinerja dalam melaksanakan fungsi dan perannya secara profesional. yang temasuk dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas. hubungan dengan pihak lain. Perwujudan tersebut terutama tercermin melalui keunggulannya dalam mengajar.1 Sumber : Dimensi Kinerja : Robbins (2001:218) Terlihat pada teori perilaku organisasi diatas bahwa kinerja (performance) merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Persamaan ini menggambarkan bahwa performance merupakan fungsi dari motivasi dan kemampuan. Semakin tinggi 4 . dimana fungsi guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar. hubungan dengan siswa.

seminar dan sebagainya. bahwa kinerja guru belum optimal. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para guru. peneliti menemukan data jumlah guru pengampu mata diklat produktif penjualan sebesar 16. karena mengingat seorang individu mungkin bersedia dan mampu namun ada rintangan yang mengendalai kinerja.motivasi dan kemampuan seorang.1% belum sesuai antara pendidikan dengan bidang pekerjaan. motivasi dan kesempatan. Dari teori Robbins tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah kemampuan. maka peneliti menduga tinggi rendahnya kinerja guru ditentukan oleh kemampuan Intelektual dan motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap guru. Tingkat-tingkat kinerja yang tinggi sebagian merupakan fungsi dan tidak adanya rintangan yang mengendalai karyawan itu. Selain itu. Kenyataan di lapangan menunjukkan. Dan untuk peraturan jam mengajar yang telah ditetapkan setiap guru mengajar 24 jam/minggu.2 % guru mengajar melebihi dari standar yang telah ditetapkan. dalam kenyataannya sebanyak 74. maka akan semakin tinggi pula kinerjanya. Dari permasalahan yang terungkap diatas. yang idealnya adalah 18 jam/minggu tatap muka. diberikannya kesempatan yang cukup luas bagi guru yang akan studi lanjut. meliputi kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan seseorang menurut Robbins (2001:46). Kemampuan intelektual adalah sejumlah 5 . Sehingga persoalan kinerja guru menjadi perhatian yang cukup serius oleh Cabang Dinas pendidikan kabupaten Kebumen. Hal ini dibuktikan dengan dilakukannya secara rutin supervisi ke setiap SMK. berdasarkan hasil survei pendahuluan di sekolah yang akan di jadikan objek penelitian. Namun demikian dalam teori ditambahkan kesempatan untuk berkinerja.

Kinerja guru masih dirasakan belum memuaskan. penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru program produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Kondisi di lapangan pada SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen adalah masih banyak guru yang belum memiliki kinerja yang optimal. Peneliti berharap hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi masukan bagi guru dan lembaga terkait untuk lebih memperhatikan kinerja guru agar lebih ditingkatkan. Kemampuan Intelektual seseorang menunjukkan tingkat kecerdasan. Dengan kinerja guru yang optimal maka pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi siswa dan mutu pendidikan juga semakin baik. dan seminar yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu guru. 6 . Semakin tinggi kemampuan intelektual dan motivasi kerja seseorang maka semakin tinggi pula kinerjanya. adanya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para guru. B. Hal ini terbukti dengan adanya supervisi rutin pada setiap SMK. Identifikasi dan Perumusan Masalah.kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Berdasarkan latar belakang diatas. Sedangkan motivasi kerja merupakan kekuatan pendorong bagi seorang guru untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif. 1. begitu pula sebaliknya.

perumusan masalah yang diungkap dalam penelitian ini. Selain itu untuk jumlah jam mengajar guru sebanyak 74. 4. Seberapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Bagaimana gambaran kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Seberapa besar pengaruh bersama kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Berdasarkan pada identifikasi masalah diatas.2 % belum sesuai standar. Seberapa besar pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. 3. 5. 7 . Bagaimana gambaran motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. 2. Bervariasinya latar belakang pendidikan guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen. kesejahteraan dan pengalaman. yaitu : 1.2. 6. Masalah kinerja guru tidak bisa lepas dari masalah latar belakang pendidikan dan relevansinya dengan mata diklat yang di ampunya. jumlah jam mengajar. Bagaimana gambaran kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.

Kemampuan Intelektual Kemampuan intelektual adalah sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut : 1.C. Mata Diklat Produktif Penjualan Adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi standar atau kemampuan produktif pada suatu 8 . 2. 4. Penegasan Istilah Penegasan istilah dimaksudkan untuk menghindari penafsiran istilahistilah yang beragam dan memberikan gambaran yang lebih jelas. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Kinerja Guru Kinerja Guru adalah hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar. 3. Motivasi Kerja Motivasi adalah daya pendorong atau penggerak dalam diri seorang individu untuk bertindak. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan / kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugasnya. Dalam penelitian ini kinerja guru yang dimaksud adalah kinerja guru dalam proses belajar mengajar yaitu penampilan guru dalam mengelola PBM dari membuka sampai menutup pelajaran.

1999:3). melakukan penjualan (Depdikbud. b. mengoperasikan mesin-mesin bisnis. Untuk mendiskripsikan kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. SMK Bisnis dan Manajemen Se-Kabupaten Kebumen Adalah SMK Bisnis dan Manajemen yang ada di Kabupaten Kebumen. 9 . d. membuat surat niaga dan menerapkan sistem kearsipan. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen. membuka usaha kecil. Untuk mendiskripsikan kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. (d). c. menerapkan prinsip pemasaran. Profil kompetensi mata diklat penjualan. (b). Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian ini adalah : a. (g). 5. meliputi : (a). mengerjakan siklus akuntansi untuk perusahaan jasa dan dagang skala kecil. dan (h). melaksanakan pelayanan prima. D. (c). (e). (f). mengetik berbagai naskah/dokumen.pekerjaan atau keahlian tertentu yang relevan dengan tuntutan permintaan pasar kerja. Untuk mendiskripsikan motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.

Skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab. Manfaat Praktis 1). 2). 2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.e. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut: 10 . b. yaitu: pendahuluan. landasan teori. hasil penelitian dan pembahasan. Manfaat Penelitian a. E. Manfaat Teoritis Memberikan masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsepkonsep baru terutama untuk pengembangan pemikiran dalam memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan kinerja guru. Memberikan masukan kepada sekolah dan diknas sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan intelektual. motivasi kerja dan kinerja guru. Untuk mengetahui besarnya pengaruh bersama kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. f. metode penelitian. serta penutup. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun berdasarkan sistematika baku untuk penulisan skripsi. Memberikan masukan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan intelektual. motivasi kerja dan kinerjanya.

Selanjutnya akan diberikan saran-saran yang berkaitan erat dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini. Pendahuluan. Bab empat. yang terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan Bab lima. Bab ini memuat hasil yang diperoleh dari lapangan. Dalam bab ini penulis memberikan gambaran secara garis besar mengenai latar belakang penelitian.Bab satu. yang di dalamnya mencakup: latar belakang masalah. Bab tiga. Landasanlandasan teori yang dikemukakan dalam skripsi ini meliputi: kinerja guru. kemampuan intelektual dan motivasi kerja. Bab dua. Dari hasil penelitian yang dianalisis dapat diambil kesimpulan yang akan dimasukkan dalam bab terakhir ini. Penutup. Bab ini merupakan metodologi penelitian yang berisi penggambaran yang terperinci mengenai objek yang digunakan. identifikasi dan perumusan masalah. sehingga penyusunan skripsi ini dapat dipeoleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hasil Penelitian dan Pembahasan. Metodologi Penelitian. 11 . variabel penelitian. validitas dan reliabilitas. Bab ini memuat tentang populasi. tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika skripsi. serta metode analisis data. Landasan Teori dan Hipotesis. metode pengumpulan data. Bab ini merupakan landasan teoritis yang mendasari penganalisisan masalah yang akan dibahas. penegasan istilah.

1995:32). Profesi sebagai pengajar menjadikan tugas guru secara langsung menyentuh manusia menyangkut kepentingan dan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan dan kemandirian melalui proses pembelajaran. Pengajaran yang dilakukan oleh guru itu dilaksanakan dalam interaksi edukatif antara guru dan murid yaitu antara keadaan internal dan proses kognitif siswa. Dikatakan “ilmu pengetahuan” (science). intuisi. Pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. karena mengajar itu membutuhkan inspirasi. yakni mengadakan suatu jembatan antara sekolah dengan luar sekolah. karena mengajar itu memerlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (bahan ajar) yang diberikan dan juga penguasaan terhadap keterampilan di dalam 13 12 . serta mengadakan hubungan antara dunia muda dengan dunia dewasa dalam konteks pembelajaran. Menurut Woolfolk (Soekartawi. Guru memiliki dua fungsi istimewa yang sekaligus membedakannya dari pegawai atau pekerja lainnya dalam masyarakat. ilmu pengetahuan dan sekaligus juga suatu pekerjaan yang memerlukan waktu yang banyak. bakat dan kreativitas.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Dikatakan “seni” (art). Landasan Teori 1. mengajar itu adalah seni. Kedudukan Guru dalam Proses Belajar Mengajar Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.

Kedudukan guru yang strategis ini kemudian diperlukan perwujudannya melalui kinerja guru. Kinerja guru dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya peranan guru sesuai dengan tanggung jawab dan tugasnya. yaitu (1). tanggung jawab dalam mengembangkan 13 . guru sebagai administrasi kelas. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. tanggung jawab mengembangkan kurikulum. yakni (1). guru sebagai pembimbing. (2).memberikan bahan ajar tersebut. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. (4). (2) tanggungjawab dalam memberikan bimbingan. Mengajar bukan sekedar penyampaian ilmu pengetahuan. melainkan terjadinya interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya yang cukup kompleks. Dengan demikian seorang pengajar memerlukan keahlian dalam memilih dan melaksanakan cara mengajar yang terbaik agar ilmu pengetahuan tersebut dapat diberikan dengan baik di kelas dan siswa dapat menerimanya dengan baik pula. Belajar merupakan hal yang penting dan utama dalam proses belajar mengajar. guru sebagai pengajar. tanggungjawab dalam pengajaran. dan (3). Amstrong membagi tugas dan tanggung jawab guru dalam lima kategori. Hal ini disebabkan pemahaman guru tentang belajar akan mempengaruhi cara guru itu mengajar. (3). Sedang Peters. Peters mengemukan tugas dan tanggungjawab guru.

dan (5). antara lain ialah guru. lecture. hubungan pribadi antar siswa di dalam kelas. memahami kurikulum. harus mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Dan guru sebagai manajer hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil yang 14 . tanggung jawab dalam membina masyarakat (Sudjana.prestasi. senantiasa harus menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas tergantung pada banyak faktor. Menurut Uzer Usman (2005) peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi : a. Guru sebagai Demonstrator Guru dalam peranannya sebagai demonstrator. dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dam memberikan informasi kepada kelas. serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas. Guru sebagai Pengelola Kelas Guru dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager). 2004:15). atau pengajar. b. Akhirnya seorang guru akan dapat memainkan peranannya sebagai pengajar yang baik apabila ia menguasai dan mampu melaksanakan ketrampilan – ketrampilan tugasnya. Seorang guru hendaknya mampu dan terampil dalam merumuskan TIK.

buku teks. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum. guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupaka alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.optimal. Guru sebagai Evaluator Dalam proses belajar mengajar guru harus dapat menjadi seorang evaluator yang baik. Sebagai manajer lingkungan belajar guru hendaknya mampu menggunakan pengetahuan tentang teori–teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan. Dengan penilaian. Tujuan lain dari penilaian diantaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian. penguasaan siswa terhadap pelajaran. guru harus mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar. c. guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan. serta ketetapan atau keefektifan metode mengajar. baik yang berupa nara sumber. dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. guru dapat mengklarifikasikan apakah 15 . Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Sedangkan sebagai fasilitator. Guru sebagai Mediator dan Fasilitator Sebagai mediator. d. majalah ataupun surat kabar.

Kinerja Guru a.seorang siswa kelompok siswa yang pandai. dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. dalam Sedarmayanti. Selain itu 16 . kemampuan profesional dan kemampuan sosial. prestasi kerja atau penampilan kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan. Performance diterjemahkan menjadi kinerja.. sedang. 2001:50). Berkenaan dengan kinerja guru sebagai pengajar. kurang atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan dengan teman–temannya. pencapaian kerja.. 2. Sedangkan menurut Mathis (2002:78). Menurut Fattah (2000:19). August W.. Dalam organisasi sekolah berhasil tidaknya tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja guru. mencakup aspek kemampuan personal. jadi kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. sikap dan keterampilan.Output drive from processes. Smith menyatakan kinerja adalah “.. pelaksanaan kerja. mengungkapkan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. menurut Uzer Usman (2005:16). 2001:50). human or otherwise”. (Sedarmayanti. hasil kerja atau unjuk kerja (LAN. juga berarti prestasi kerja. Pengertian Kinerja Guru Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan tergantung pada bagaimana para personel dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. karena tugas utama guru adalah mengelola kegiatan belajar mengajar.

Kinerja seorang guru dilihat dari sejauh mana guru tersebut melaksanakan tugasnya dengan tertib dan bertanggungjawab. menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek. kinerja adalah suatu hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai oleh pekerja dalam bidang pekerjaannya. yaitu quality of work.R. Kinerja guru sebenarnya tidak hanya dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan. Kinerja guru atau prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan. Namun demikian proses belajar mengajar 17 . kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah hasil kerja atau prestasi kerja yang dicapai oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar dari mulai membuka pelajaran sampai menutup pelajaran. Kinerja guru sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan oleh guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya. Mitchell (1978). Dalam penelitian ini. promptness. kemampuan menggerakkan dan memotivasi siswa untuk belajar dan kerjasama dengan guru lain. initiative. tetapi lebih luas lagi mencakup hak dan wewenang guru yang dimiliki. menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan di evaluasi oleh orang-orang tertentu. kemudian pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu.capability dan communication. Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang tediri kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar.T.

Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya mengadakan penilaian terhadap kinerja organisasi merupakan hal yang penting. dan secara garis besar 18 . Penilaian kinerja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sesuai dengan standar yang dibakukan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi pekerja sendiri untuk dapat mengetahui kelemahan. Diknas sampai saat ini belum melakukan perubahan yang mendasar tentang standar kinerja guru. Penilaian pelaksanaan pekerjaan ini adalah suatu proses yang dipergunakan oleh organisasi untuk menilai pelaksanaan pekerjaan pegawai. tanggung jawab dan wewenang guru sudah dilaksanakan atau belum maka perlu adanya penilaian objektif terhadap kinerja. b. Untuk mengetahui apakah tugas. Penilaian kinerja Kinerja mempunyai hubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan usaha untuk mencapai tingkat produktivitas organisasi yang tinggi. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban. yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan proses belajar mengajar. kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya.dipandang sebagai sebuah posisi dimana muara segala kinerja guru tertampung didalamnya. Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu.

mengorganisasikan waktu. dan evaluasi hasil belajar. (3). Ke duabelas kompetensi inilah yang dapat dilihat melalui alat penilaian kemampuan guru (APKG). Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran. perencanaan penilaian hasil belajar siswa. ruang. berkomunikasi dengan siswa. yang meliputi: membantu mengembangkan sikap positif pada diri siswa. bersikap terbuka dan luwes terhadap siswa dan orang lain. 19 . menilai prestasi belajar. (5). (4). (6). (2). melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi bbelajar peserta didik. (10). melaksanakan pembelajaran. (7). mendemonstrasikan khasanah metode mengajar. Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan. perencanaan pengelolahan kegiatan belajar mengajar. Aspek-aspek APKG secara umum dapat dikelompokkan kedalam tiga kemampuan. dan (12). yang meliputi: perencanaan pengorganisasian bahan pengajaran. yang meliputi: menggunakan metode. Memahami kebijakan pendidikan. Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran. mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran.masih mengacu pada rumusan 12 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru yaitu: (1). Mengembangkan profesi (Depdikbud. Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. menyusun rencana pembelajaran. (8). media dan bahan latihan. mendorong mengadakan keterlibatan siswa dalam pengajaran. 2004:7). memahami tingkat perkembangan siswa. perencanaan pengelolaan kelas. (2). Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran. Kemampuan guru dalam mengadakan hubungan antar pribadi. (9). perencanaan pengelolaan media dan sumber. memahami landasan kependidikan. Kemampuan guru dalam mengajar di kelas. (11). (3). yaitu : (1). bahan dan perlengkapan.

20 . membuat. meliputi: (1). Sedangkan menurut Uzer usman (2005:17) kemampuan profesional guru meliputi. Menguasai bahan pelajaran. mengembangkan semua kemampuan yang dimilikinya ke tingkat yang lebih efektif dan efisien (Supeno. menilai hasil dan proses belajar mengajar. (7). (2). memilih dan melaksanakan metode penyampaian yang tepat untuk mata pelajaran tertentu. (4). (5). menguasai landasan pendidikan. Melaksanakan dan mengelolah proses belajar mengajar. dan mengelolah interaksi pribadi dalam kelas. melaksanakan dan mengevaluasi pengajaran. menguasai. Sedangkan menurut Soekartawi (1995:32). Merencanakan proses belajar mengajar. kinerja guru dapat dilihat dari kompetensinya melaksanakan tugas-tugas guru. (6). menyusun program pengajaran. dan (8). 1995:31). dan (5). memanage interaksi belajar mengajar. yaitu (1). mengetahui dan menggunakan assesmen siswa. Menilai kemajuan proses belajar mengajar dan (4). menguasai bahan pengajaran. menyebutkan seorang pengajar harus mampu merencanakan. (3).menampilkan kegairahan dan kesungguhan dalam proses belajar mengajar serta dalam pelajaran yang diajarkan. melaksanakan program pengajaran. merumuskan tujuan instruksional. memanfaatkan sumbersumber materi dan belajar. Menurut Sudjana (2002:17). mengorganisasikan materi pelajaran. sehingga efektif dan tidak membosankan. (4). memiliki dan menggunakan media pendidkan yang tepat. kemampuan guru dalam (1). (2). (3). (2). Rumusan lain mengenai kompetensi profesional guru yang dikembangkan oleh Tim Dosen Pembina Ilmu Keguruan IKIP Jakarta. (3).

e). Memeriksa ketersediaan alat tulis dan penghapus e). Menggunakan dan memperhatikan respon dan pertanyaan siswa dalam pembelajaran. Menertibkan suasana kelas. c). d). Mengklarifikasi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran apabila siswa belum jelas. 3). Menggunakan ekspresi lisan atau tertulis yang dapat ditangkap oleh siswa. Kesesuaian metode pembelajaran Deskriptor: 21 . Kemampuan berkomunikasi dengan siswa Deskriptor: a). Memeriksa kebersihan kelas d). Memeriksa kehadiran siswa. Ucapan jelas dan mudah dimengerti. Memeriksa kesiapan alat-alat pelajaran siswa 2). Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran dengan baik b).Berdasarkan dari uraian diatas indikator dalam penelitian kinerja guru dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: 1). b). c). Membuka pelajaran Deskriptor: a).

Penguasaan materi b). Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Mengimplementasikan kegiatan belajar dalam urutan yang logis. Mengidentifikasikan dan merespon siswa yang tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru memberi bimbingan secara individual kepada siswa yang memerlukan bantuan sesuai dengan masalah dan kebutuhannya. 5). materi dan kebutuhan siswa. Menggunakan lebih dari dua metode yang sesuai dengan tujuan. Mendemonstrasikan kemampuan pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat. Mendemonstrasikan kemampuan pembelajaran secara individual di dalam kelompok kecil atau besar di dalam kelas. menarik dan mendorong siswa untuk memulai pelajaran. Menggunakan jenis kegiatan yang sesuai dengan kemampuan siswa d). 4). c). Merespon siswa yang berpartisipasi (bertanya atau menjawab) e). c). b). e). b). Mempersiapkan. Deskriptor: a).a). Kejelasan materi 22 . Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Penguasaan materi pembelajaran Deskriptor: a). d).

Menggunakan papan tulis dengan baik (tidak pemborosan) 7). c). Keteraturan materi d). b). siswa. Deskriptor: a). Memanfaatkan alat bantu dan sumber belajar yang tersedia. Tulisan mudah dimengerti d). Melakukan penilaian awal/apersepsi yang relevan dengan bahan yang akan diajarkan. Menulis dimulai dari tepi kiri b). Keterampilan menulis di papan tulis Deskriptor: a). Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar Deskriptor: a). e). Tulisan jelas dan mudah dibaca c). Penggunaan sumber belajar yang tepat. 8). 23 . Menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan lingkungan. 6). Kemampuan menilai hasil belajar siswa. Menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. d).c). Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Mendorong siswa memahami dan memecahkan masalah kehidupan melalui konsep yang telah dipelajari.

d). Memberi penugasan agar siswa memberi kesimpulan materi yang telah disampaikan. 24 . 11). d). Menutup pelajaran Deskriptor: a). bekerjasama dan tenggang rasa). Mengetahui penguasaan materi dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa selama PBM c). Selama pengajaran memberikan tugas-tugas sesuai dengan tujuan pembelajaran.b). Keefektifan pembelajaran Deskriptor: a). Guru membuat rangkuman materi pembelajaran. Pembelajaran lancar c). Memberikan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah materi di sampaikan c). Suasana kelas terkendali d). 9). Tujuan pembelajaran tercapai b). Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran. Terbentuknya dampak pengiring (misalnya ada kesempatan bagi siswa untuk dapat bertanggungjawab. Keterampilan memberikan balikan Deskriptor: Menunjukkan pengaruh penilaian terhadap kesadaran siswa untuk memahami kesalahan dan kesulitan belajarnya. 10). b).

2000:437). Dilihat dari inteligensinya. dan tidak terlalu banyak mondar-mandir) d). Memberikan penugasan kepada siswa berupa pekerjaan rumah. Berbusana rapi b). Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan inteligensinya. Kemampuan Intelektual a. Penampilan guru dalam pembelajaran Deskriptor: a). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Intelektual berarti cerdas. Istilah intelek menurut Chaplin (1981) berasal dari kata intellect (Bahasa Inggris). berakal. Tegas dalam mengambil keputusan. yang berarti: “ Proses kognitif berfikir. daya menghubungkan serta 25 . Suara dapat di dengar oleh seluruh siswa dalam kelas yang bersangkutan. Posisi bervariasi (tidak terpaku pada satu tempat. e). kita dapat mengatakan seseorang pandai atau bodoh. pandai sekali/cerdas (genius) atau pandir/dungu (idiot). c). 3. (Depdikbud. Pengertian Inteligensi Dalam kehidupan sehari–hari orang bekerja.e). dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. 12). berfikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Ramah dan menyenangkan.

kemampuan menilai dan mempertimbangkan, dan kemampuan mental atau inteligensi.” ( Soeparwoto, 2005:81) Menurut William Stern, inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuan (Purwanto, 2003:52). Wechler (1958) merumuskan inteligensi sebagai keseluruhan

kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif (Sunarto dan hartono, 1998:100). Menurut Robbins (2001:46), kemampuan intelektual adalah kemampuan mental yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Sedangkan Tilaar (2002:338), kemampuan intelektual guru ialah berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk manunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru. Berkaitan dengan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan Intelektual adalah kapasitas umum dari kesadaran individu untuk berfikir, menyesuaikan diri, memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana, cepat dan tepat baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Robbins (2001:46), menyebutkan dimensi yang membentuk

kemampuan intelektual ini terdiri dari tujuh dimensi yaitu: 1). Kemahiran berhitung adalah kemampuan untuk berhitung dengan cepat dan tepat. 2). Pemahaman verbal adalah kemampuan memahami apa yang dibaca / didengar serta hubungan kata satu dengan yang lainnya. 3). Kecepatan konseptual adalah kemampuan mengenali kemiripan dan beda visual dengan cepat dan tepat.

26

4). Penalaran induktif adalah kemampuan mengenali suatu urutan logis dalam suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah itu. 5). Penalaran deduktif adalah kemampuann menggunakan logika dan menilai implikasi dari suatu argumen. 6). Visualisasi ruang adalah kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisinya dalam ruang di ubah. 7). Ingatan (memori) adalah kemampuan mendalam dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Sedangkan menurut Munzert (2000:36), identifikasi kemampuan intelektual yang tertuang dalam sikap inteligensi (intelligent behavior) antara lain: (1). mengenal soal pengetahuan dan informasi ke pengertian yang lebih luas; (2). Ingatan; (3). Aplikasi akan tepatnya belajar dari situasi yang berlangsung; (4). Kecepatan memberikan jawaban dan penyelesaian dan kemampuan memecahkan masalah; dan (5). Keseluruhan tindakan

menempatkan segalanya dengan seimbang dan efisien. Seorang guru merupakan profesi intelektual, menurut Purwanto (2003:54) suatu perbuatan dapat dianggap inteligen bila memenuhi beberapa syarat antara lain: 1). Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. 2). Perbuatan intelijen sifatnya serasi dan ekonomis. 3). Masalah yang dihadapi harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. 4). Keterangan pemecahan harus dapat diterima oleh masyarakat. 5). Dalam berbuat intelijen seringkali menggunakan daya mengabstraksi. 6). Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan. 7). Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalanya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Menurut Suparno (2003:75), sikap-sikap yang dikembangkan oleh seorang yang intelektual, yaitu (1). terus belajar; (2). Berpikir rasional, kritis dan bebas; (3). mengembangkan angan-angan (cita-cita); (4). aktif mencari,

27

kreatif dan inisiatif; (5). berani bertindak dan bertanggungjawab; (6).sikap reflektif dan (7). pembela kebenaran dan keadilan. Guru sebagai seorang intelektual juga harus mengembangkan sikap tersebut, antara lain: 1). Terus belajar, yaitu seorang guru harus terus belajar, terus

mengembangkan bidang keahliannya, karena pengetahuan selalu berkembang. Guru yang tidak mengembangkan pengetahuannya, akan cenderung kolot dan otoriter dalam mengajar, seakan-akan dialah yang benar dan tidak memberikan ruang bagi siswanya untuk berfikir secara alternatif. 2). Berfikir rasional, kritis dan bebas yaitu guru diharapkan dapat mengembangkan pemikiran yang rasional, kritis dan bebas. Rasional artinya guru dapat mengembangkan pemikiran yang berdasarkan alasan dan argumentasi dan logika yang benar, bukan berdasarkan emosi atau asal menang. Dia dapat berdiskusi secara terbuka dengan siswa atau guru lain, tanpa takut kalah ataupun direndahkan. Berfikir kritis artinya seorang guru dalam mendalami, menghadapi sesuatu hal tidak hanya asal menerima saja, tetapi harus selalu bertanya apakah hal itu benar demikian, atau ada yang tidak benar atau masih dapat dikembangkan. Dan bebas artinya guru bebas untuk berfikir dan mengembangkan pikirannya. Dengan mengembangkan kebebasan berfikir, diharapkan guru dapat lebih kreatif dan mengembangkan inovasi baru dalam proses pendidikan.

28

artinya sikap untuk selalu bertanya dan melihat kembali apa yang telah diperbuat dan akan diperbuatnya. Berani bertindak dan bertanggungjawab. Aktif mencari. Guru dituntut untuk berani bertindak dan mempertanggungjawabkan apa yang ditentukan dan dipilihnya. Hal ini penting karena banyak situasi sekolah tempat bekerja guru berbeda dengan situasi yang tertulis dalam aturan atau kurikulum. dan mengambil tindakan apa yang paling pas untuk siswa dikelasnya. menjadi pembela kebenaran. Disinilah guru dituntut punya inisiatif. pembelajaran. Membela kebenaran. kadang-kadang guru yang tidak kreatif dalam proses pembelajaran karena mereka tidak punya angan-angan tentang pembelajaran yang baik dan ideal. Sikap reflektif inilah yang memungkinkan guru memperbaiki diri dalam pengetahuan. Pikirannya selalu tertutup. kreatif dan inisiatif. dalam sikap maupun dalam relasi dengan siswa. kreatifitas dan keaktifan mencari. artinya guru bukan seorang yang asal menjalankan perintah atau aturan. 4). 6). Dia dapat menjadi suara hati 29 .3). 5). kurang dibiarkan lepas bebas. tetapi seorang yang melihat situasinya dan bertindak sesuai dengan situasi yang ada. artinya seorang guru dalam mengembangkan pembelajaran harus selalu mencari yang terbaik bagi siswa yang diajarkan. bahkan mungkin untuk memikirkan yang aneh-aneh. Sikap reflektif. yaitu seorang guru dapat menjadi tonngak kebenaran. Mengembangkan angan-angan (cita-cita). melihat. 7).

benar atau tidak. Faktor – Faktor yang mempengaruhi Intelektual Menurut Purwanto (2003:57). “Batas kesanggupan kita”. b. Kematangan berhubungan erat dengan umur. 2). yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal.masyarakat. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama. perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. adil atau tidak dan melanggar suara hati atau tidak. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. dimana dapat melihat itu baik atau tidak. 30 . Pembawaan Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. faktor-faktor yang mempengaruhi intelektual seseorang antara lain : 1). pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini kemampuan Intelektual adalah sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif.

31 . Kebebasan Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah–masalah. Kemampuan intelektual yang dimiliki oleh seseorang menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang sehingga ia akan lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan selama bekerja. Apa yang menarik minat seseorang untuk menjadi guru mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. membaca.3). lebih cepat mengembangkan kemampuan diri dan akhirnya mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga dengan kemampuan intelektualnya seorang guru akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. meneliti dan menulis. Pembentukan Pembentukan adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. 4). juga bebas memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. membimbing. Minat Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. c. melatih. 5). Profesi guru adalah profesi intelektual yang mencakup mengajar. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode. Fungsi Kemampuan Intelektual dalam Meningkatkan kinerja. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).

kerja merupakan kegiatan dalam melakukan sesuatu. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. yang mempunyai arti suatu perangsang. motivasi berasal dari kata dasar motif. Pengertian Motivasi Kerja Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya potensi bawahan agar mau bekerja secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. 32 . Menurut Hasibuan (2003:95). Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan suatu pekerjaan (Hasibuan. Motivasi Kerja a. Menurut Fattah (2003:19). Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama dengan efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.4. Dan tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu. motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Motivasi kerja terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan kerja. Sedangkan menurut Robbins (2001:166). 2003:94).

Motivasi kerja guru akan mensuplai energi untuk bekerja / mengarahkan aktivitas selama bekerja. Teori–Teori Motivasi Kerja Teori-teori motivasi kerja banyak lahir dari pendekatan–pendekatan yang berbeda–beda. Jadi teori–teori ini perlu bagi organisasi dalam memahami karyawan (guru) dan mengarahkan karyawannya (guru) untuk melakukan sesuatu. dan menyebabkan seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud motivasi kerja adalah sesuatu yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap pekerjaan guna mencapai tujuan. yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter. 33 .Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan. 2002:146). motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia. mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk. dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6). hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. b. hal itu terjadi karena yang dipelajari adalah perilaku manusia yang komplek.

tanggungjawab penghargaan (Recognition). pengembangan (Development). Pengakuan (recoqnition) adalah kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari pimpinan atas hasil karya/hasil kerja yang telah dicapai. motivasi seseorang akan ditentukan motivatornya. faktor-faktor motivator meliputi: prestasi. Teori motivasi dua faktor atau teori iklim sehat oleh Herzberg. tanggungjawab. Menurut siswanto (1990:137).1). Dalam teori motivasi herzberg. keterlibatan (Involvement). Tanggungjawab (responbility) adalah kebutuhan untuk memperoleh tanggungjawab dibidang pekerjaan yang ditangani. (a). tantangan (Challenge). yang meliputi: prestasi (Achievement). Prestasi (achievment) adalah kebutuhan untuk memperoleh prestasi di bidang pekerjaan yang ditangani. kondisi kerja dan kehidupan pribadi. (Responsibility). pengakuan. kemajuan. Herzberg berpendapat bahwa ada dua faktor ekstrinsik dan instrinsik yang mempengaruhi seseorang bekerja. teknik supervisi. Termasuk dalam faktor ekstrinsik (hygienes) adalah hubungan interpersonal antara atasan dengan bawahan. (c). kebijakan administratif. Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai kebutuhan “need” dapat mendorongnya mencapai sasaran. pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang. Sedangkan faktor instrinsik (motivator) adalah faktor yang kehadirannya dapat menimbulkan kepuasaan kerja dan meningkatkan prestasi atau hasil kerja individu. 34 . dan kesempatan (Opportunity). (b).

Pekerjaan itu sendiri (the work it self) adalah kebutuhan untuk dapat menangani pekerjaan secara aktif sesuai minat dan bakat. kemungkinan berkembang (the possibility of growth) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier. Harapan dan keberhasilannya. Kemajuan (advencement) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier (jabatan). 2). dan (c). (b). rasa aman. 35 . dengan pendapatan yang besar ia dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhannya. Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. Teori motivasi prestasi kerja David Mc Clelland. Nilai insentif yang terletak pada tujuan. (f). Menurut Mc Clelland kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah kerja dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1). karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi. bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan yaitu: (a). (e). dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (penghargaan dan aktualisasi diri). asalkan kemungkinan untuk hal itu diberi kesempatan. Frederick Herzberg memilah herarki kebutuhan maslow menjadi kebutuhan tigkat rendah (fisiologis. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial.(d). Kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat. Kebutuhan akan prestasi. seseorang menyadari bahwa dengan hanya mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar.

dan ia sangat dinilai tinggi oleh orangorang yang memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan. maka pada penelitian ini yang sesuai adalah teori dua faktor Herzberg untuk yang motivator. kebutuhan ini merupakan daya penggarak yang memotivasi semangat kerja seorang karyawan. Clelland gaji/upah. Berdasarkan pada dua teori di atas. Karena Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. Kebutuhan akan kekuasaan. persaingan ini oleh manajer ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya supaya termotivasi untuk bekerja giat. Ego manusia yang ingin berkuasa lebih dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. sebagai alat untuk membeli prestise atau mengendalikan pihak lain (Winardi.(2). penting sebagai suatu sumber umpan balik kinerja untuk kelompok karyawan yang berprestasi tinggi (High Achivers) ia dapat bersifat atraktif bagi orangorang yang memiliki kebutuhan tinggi akan afiliasi.Kebutuhan akan afiliasi seseorang karena kebutuhan afiliasi akan memotivasi dan mengembangkan diri serta memanfaatkan semua energinya. Herzberg mengatakan bahwa memberikan seseorang kenaikan gaji atau kondisi kerja yang baik tidak dapat memotivasinya karena kebutuhan tingkat rendah dapat dipenuhi secara cepat. Implikasi teori ini ialah bahwa seorang pekerja mempunyai persepsi berkarya tidak hanya sekedar 36 . apabila hal tersebut diberikan sebagai bonus kelompok. Pada teori yang dicapai dari Mc. 2001:156). (3).

Dalam mewujudkan mutu pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas tidak hanya bergantung pada satu komponen saja. tetapi 37 . Pekerjaan itu sendiri. tekun. B. Kedudukan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja Motivasi kerja merupakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan.mencari nafkah. (2). Indikator dalam penelitian ini meliputi: (1). bersifat produktif dan dapat melakukan pekerjaan yang memberikan keuntungan ekonomi dan sosial (Danim. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. senang hati. dan (5). bagaimanapun kebutuhan itu dikategorisasikan. Ada motivasi kerjanya tinggi dan ada motivasi kerjanya rendah. Kebutuhan akan pengakuan. Kebutuhan akan Prestasi. dan dengan dedikasi tinggi sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. akan tetapi sebagai wahana untuk memuaskan berbagai kepentingan dan kebutuhannya. Motivasi kerja erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang. KERANGKA BERFIKIR Pendidikan disebut bermutu manakala mampu melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan praktis pragmatis. (4). c. bila motivasi kerjanya tinggi maka akan berpengaruh pada kinerja yang tinggi dan sebaliknya jika motivasinya rendah maka akan menyebabkan kinerja yang dimiliki seseorang tersebut rendah. (3). Pada dasarnya motivasi kerja seseorang itu berbeda-beda. 2003:192). Tanggungjawab. Jika guru mempunyai motivasi kerja tinggi maka ia akan bekerja dengan keras.

materi. kurikulum.semua komponen. media. yang meliputi siswa. Seorang guru hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan guru memegang posisi yang sangat strategis dalam upaya menciptakan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. sarana dan prasarana. Sejalan dengan pendapat Adler. ide dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik. 2002:4). Karena proses belajar mengajar dipandang sebagai sebuah posisi dimana muara segala kinerja guru tertampung didalamnya. guru juga merupakan unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan (Bafadal. dan biaya/dana. Sesuai kurikulum 2004. Sehingga hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk terus berkembang terutama dalam penguasaan praktik yang senantiasa 38 . Mata diklat produktif penjualan adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi standar atau kemampuan produktif pada suatu pekerjaan atau keahlian penjualan yang relevan dengan tuntutan permintaan di pasar kerja. mata diklat produktif penjualan untuk teori 30% dan70% praktek mencakup dalam setiap kompetensi. Namun semua komponen pendidikan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara kontinyu berupaya mewujudkan gagasan.

selain mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi.berkaitan dengan kondisi di lapangan yang begitu kompleks dan mampu menjalankan roda pembelajaran untuk melahirkan manusia sejati pada masyarakat pengguna jasa pendidikan yang terus berubah. Kinerja (performance) karyawan guru adalah merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi (Robbins. Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya perlu di dukung adanya kinerja yang optimal. juga dituntut untuk memiliki motivasi kerja yang tinggi. Dalam hal ini kinerja guru dapat dilihat melalui penampilannya dalam proses belajar mengajar mulai dari pembukaan sampai penutupan pelajaran. Kinerja Guru adalah hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar. dan sebaliknya orang yang mempunyai kemampuan intelektual rendah dan motivasi rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah juga. Secara logika seorang yang mempunyai kemampuan intelektual tinggi dan didukung dengan motivasi tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi. 2001:218). karena guru sebagai komponen yang utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Hubungan kemampuan intelektual dan motivasi kerja dengan kinerja guru mata diklat produktif penjualan dapat dinyatakan sebagai berikut : 39 . Dengan demikian kinerja guru sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dan terwujud dari prestasi siswa yang baik.

Kebutuhan akan pengakuan. Kemampuan verbal. penalaran induktif dan deduktif. dan kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. PBM C.” SMK Bisnis dan 40 . Hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Ada pengaruh positif kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di Manajemen Se Kabupaten Kebumen.1 Kerangka Berpikir Siswa Kemampuan Intelektual.Gambar 2. visualisasi ruang. yang kebenarannya harus diuji secara empiris. kemampuan kuantitatif. HIPOTESIS Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian. dan ingatan/memory Prestasi Siswa G U R U Kinerja Guru Motivasi Kerja Kebutuhan akan prestasi. tanggung jawab. Pekerjaan itu sendiri.

Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. 4. populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin. Nama Sekolah SMK N 1 Kebumen SMK N 1 Karanganyar SMK PGRI 1 Kebumen SMK Batik Sakti 1 Kebumen SMK Batik Sakti 2 Kebumen SMK Tamtama Prembun SMK Yapek Gombong JUMLAH Jumlah Guru 6 5 4 4 5 3 4 31 41 . 3.1 Responden penelitian NO 1. 2002:108). 5.BAB III METODE PENELITIAN A. 2. Populasi dan Sampel Penelitian 1. 7. kuantitatif maupun kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat–sifatnya. 6. Menurut Sudjana (1996:6). hasil menghitung ataupun pengukuran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru mata diklat produktif penjualan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bisnis dan Manajemen Se Kabupaten Kebumen. Adapun seluruh jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 3.

Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto. 2002:96). diambil dari TIU (Tes Inteligensi Umum) dan TPA (Tes Potensi Akademik) Yayasan Dharma Graha Jakarta oleh Psikeater Yul Iskandar. 42 . Kemampuan Intelektual (X1) merujuk pada sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami sendiri maupun lingkungan. Variabel–variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel Bebas (X) a. Oleh karena itu penelitian ini merupakan penelitian populasi. (1999:149). Sehingga dengan ketrampilan berfikir secara rasional ini individu akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungan secara efektif. semua populasi dijadikan sampel. Dalam penelitian ini.2. Karena variabel sebagai objek penelitian maka menurut Nazir Moh. Untuk variabel kemampuan intelektual ini akan diungkap dengan tes inteligensi yang sudah menjadi standar. 2002:109). Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau sesuatu yang menjadi titik perhatian penelitian (Arikunto. hal ini untuk menentukan secara tapat keadaan populasi yang jumlahnya sedikit. variabel adalah konsep yang mempunyai macam–macam nilai. B.

dan (5). kemampuan menilai hasil belajar. Pekerjaan itu sendiri. C. Kinerja guru yang dimaksud adalah kinerja guru dalam proses belajar mengajar yaitu penampilan guru dalam mengelola PBM dari membuka sampai menutup pelajaran. mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. (4). Selain itu penentuan metode pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang diteliti akan membantu memperlancar 43 . keefektifan pembelajaran. Kebutuhan akan Prestasi. kemampuan menggunakan media dan sumber belajar. kemampuan menulis di papan tulis. (3).b. kesesuaian metode pembelajaran. ketrampilan menutup pelajaran dan penampilan dalam pembelajaran. Kebutuhan akan pengakuan. ketrampilan memberikan balikan. Motivasi Kerja (X2) adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. kemampuan berkomunikasi dengan siswa. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. Metode Pengumpulan Data Penentuan metode pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Dengan indikator : (1). 2. (2).Tanggungjawab. penguasaan materi pembelajaran. Indikator dari penelitian ini meliputi. Variabel Terikat (Y) Kinerja Guru (Y) yaitu hasil kerja atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. ketrampilan membuka pelajaran.

Hemat waktu. dimana responden tidak diberi kesempatan untuk menjawab dengan kata-kata sendiri. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Tes Tes adalah pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan baik secara individu atau kelompok (Arikunto. angket (kuesioner) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. 2002:127). 2. Untuk setiap pertanyaan terdiri lima alternatif jawaban dengan skor sebagai berikut: 44 . Responden adalah orang yang tahu tentang dirinya sendiri sehingga akan diperoleh data yang lengkap dan benar sebab materi yang diungkap lebih bersifat pribadi. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang motivasi kerja sebagai variabel bebas. Instrumen tes yang digunakan untuk mengungkapkan data tingkat kemampuan intelektual guru. tenaga dan biaya. Angket (Kuesioner) Angket (kuesioner) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya.tujuan penelitian yang telah ditetapkan. atau hal–hal yang ia ketahui (Arikunto. Alasan digunakan metode ini adalah: (a). (b). Responden tinggal memilih jawaban yang yang disediakan. 2002:128). Angket yang digunakan adalah angket tertutup. Menurut Riduwan (2002:25).

3 diberi skor 3. Alasan penggunaan instrumen observasi karena ada kecenderungan subjek penelitian untuk menyatakan kinerjanya dalam ukuran baik. Observasi Observasi adalah pemusatan perhatian terhadap obyek tertentu dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto. Validitas dan Reliabilitas 1. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan kepada pihak Diknas. Pelaksanaan pengambilan data kinerja guru dilakukan sendiri oleh peneliti dengan waktu selama dua minggu. 2002. Sedangkan menurut Riduwan (2002:29). 3.132). jawaban 4 diberi skor 4. Sebuah 45 . Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat–tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto. D. sebagai pelengkap dalam memperoleh data. 2002:144). Wawancara Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. kepala sekolah.jawaban 5 diberi skor 5. 3. 2002:133). guru dan siswa. wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. 2 diberi skor 2 dan 1 diberi skor 1. Instrumen ini digunakan untuk mengungkap data kinerja guru.

Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan analisis butir. kemudian dikonsultasikan dengan tabel nilai r dengan taraf signifikan 95%. Dalam penelitian ini uji validitas yang digunakan adalah validitas internal yaitu validitas yang dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan (Arikunto. Rumus yang digunakan untuk uji validitas menggunakan product moment dari Pearson. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Dengan kata lain sebuah instrumen dikatakan validitas internal apabila setiap instrumen mendukung misi instrumen secara keseluruhan. yaitu dengan mengkorelasikan tiap butir pertanyaan dengan skor total. sebagai berikut: rxy = (N(∑ X ) − (∑ X ) )(N(∑Y ) − (∑Y ) ) 2 2 2 2 N ∑ XY − ∑ X ∑Y Keterangan: r XY = nilai Kofesien Korelasi X dan Y jumlah responden N = 46 . validitas dibedakan menjadi dua macam yaitu validitas internal dan validitas eksternal. 2002:147). Instrumen valid jika hasil korelasi skor tiap butir soal dengan skor total lebih besar dengan nilai tabel sebaliknya. Berdasarkan cara pengujiannya. yaitu mengungkap data dari variabel yang dimaksud.instrumen dikatakan valid apabila instrumen itu mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengukur data dari variabel yang diteliti secara tepat.

Dalam penelitian ini untuk mencari reliabilitas instrumen menggunakan rumus Alpha. karena instrumen ini berbentuk angket yang skornya merupakan rentangan 1 sampai 5. 2002: 146) Untuk menentukan valid tidaknya instrumen adalah dengan cara mengkonsultasikan hasil perhitungan kofisien korelasi dengan tabel nilai kofisien korelasi(r) pada taraf signifikan 5% atau taraf kepercayaan 95%. 2. 2002:154). Instrumen yang sudah dapat dipercaya. maka menggunakan rumus Alpha sebagai berikut: 47 . misalnya angket atau soal berbentuk uraian.X Y ∑ X = skor butir = 2 skor total = jumlah kuadrat nilai X ∑ Y 2 = jumlah kuadrat nilai Y (Arikunto. 1999:162). Dari hasil uji validitas diketahui setiap item dari instrumen motivasi kerja dan kinerja guru mempunyai nilai r xy >r tabel maka instrumen tersebut dinyatakan valid. Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto. yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Reliabilitas Reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat pengukur (Nazir Moh. Untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. sehingga instrumen tersebut sudah layak untuk mengambil data.

2002:172) Kemudian untuk menentukan reliabel tidaknya instrumen dilakukan dengan cara mengkonsultasikan dengan r tabel. Kedua nilai reliabilitas tersebut lebih besar daripada r tabel = 0.852. Setelah diperoleh kofisien reliabilitas kemudian dikonsultasikan dengan nilai r pada taraf signifikan 5% atau taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil uji reliabilitas untuk instrumen motivasi kerja sebesar 0. yang berarti kedua instrumen tersebut reliabel.514. 48 .818 dan kinerja guru sebesar 0. Apabila r xy hitung > r xy tabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.⎡ k ⎤⎡ r11 = ⎢ ⎥ ⎢1 − ⎣ (k − 1 ) ⎦ ⎢ ⎣ ∑σ σ 2 1 2 b ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ Keterangan : r 11 k : reliabilitas instrumen : b 2 banyaknya butir pertanyaan atau butir soal ∑σ 2 σ 12 : jumlah varians butir : varians total (Arikunto 2002: 171) Untuk mencari tiap butir digunakan rumus : ∑X2 − ∑( X ) N N 2 σ2 = Keterangan: σ = varian tiap butir X = jumlah skor tiap butir N = jumlah responden (Arikunto. Jika hasil perhitungan lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk mengambil data penelitian.

Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar. Penguasaan materi pembelajaran. Prestasi belajar siswa b. f. Pekerjaan itu merupakan pilihan/keinginan sendiri. Membuka pelajaran b. Penampilan dalam pembelajaran. e. i. Kemampuan berkomunikasi dengan siswa c. Keterampilan memberikan balikan.2 Kisi-kisi Instrumen NO 1. Kesungguhan melaksanakan tugas. Pengakuan atas prestasi yang dicapai. 3. b. Kebutuhan akan pengakuan a. k. Keterampilan menutup pelajaran l. Peluang pendidikan lanjut. b. Keinginan diakui keberadaannya. Kebutuhan akan prestasi a. Ketrampilan menulis dipapan tulis g.Kesesuaian pekerjaan dengan pendidikan. Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. 5. j. Prestasi sekolah 2. 3. Kebutuhan untuk kemajuan a. b.E. Kemampuan menilai hasil belajar siswa. Keefektifan pembelajaran. Kesesuaian metode pembelajaran d. Tanggung jawab a. BUTIR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2. Sanggup berkorban untuk kemajuan sekolah. b. KINERJA GURU a. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 49 . Kesempatan meningkatkan pengetahuan. 4. h. Kisi – kisi Instrumen Tabel. Pekerjaan itu sendiri a. VARIABEL/SUB VARIABEL MOTIVASI KERJA INDIKATOR 1.

Untuk mengukur variabel motivasi kerja dan kinerja guru dilakukan dengan memberi skor dari jawaban angket yang diisi responden dengan ketentuan sebagai berikut: 5 diberi skor 5. Pembobotan ini dilakukan dengan memberikan skor total dengan jumlah item masing-masing variabel yang dibobot.F. Menetapkan jumlah responden b). Dengan demikian dapat diketahui persentase antara motivasi kerja dan kinerja guru. Sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan pembobotan terhadap skor masing-masing variabel. jumlah item dan jumlah responden. 2 diberi skor 2 dan 1 diberi skor 1. d). 4 diberi skor 4. jumlah item dan jumlah responden. yang diperoleh dari hasil perkalian antara skor tertinggi. yang diperoleh dari hasil perkalian antara skor terendah. Analisis Deskriptif Persentase Tujuan analisis deskriptif persentase yaitu untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian secara umum. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah : 1. Langkah langkah yang ditempuh dalam penggunaan analisis data ini adalah sebai berikut: a). Menetapkan jumlah butir soal c). Menentukan persentase maksimal = 100% 50 . 3 diberi skor 3. Teknik Analisis Data Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. e). Menetapkan jumlah skor maksimal (tertinggi). Menetapkan jumlah skor minimal (terendah).

Menentukan interval kelas persentase. Menentukan jenjang kriteria. Menentukan rentang skor persentase. Setelah didapatkan skor jawaban responden dan skor ideal. Menentukan interval kelas skor. yang diperoleh dari hasil pembagian rentang persentase dengan jenjang kriteria l). yang diperoleh dari persentase maksimal dikurangi persentase minimal i). yang diperoleh dari skor tertinggi dikurangi skor terendah h). dimasukkan rumus sebagai berikut: P= n x100% N Keterangan : P n N = persentase sub variabel = nilai yang diperoleh = jumlah seluruh nilai Dari perhitungan diatas. Menentukan rentang skor.f). dalam penelitian ini ditetapkan lima jenjang kriteria yaitu sangat tinggi. j). maka kriteria identifikasi dari motivasi kerja dan kinerja guru sebagai berikut: 51 . Menentukan persentase minimal g). rendah dan sangat rendah. yang diperoleh dari hasil pembagian rentang skor dengan jenjang kriteria k). Berdasarkan langkah-langkah diatas dapat diketahui kriteria setiap variabel m). sedang. tinggi.

Diolah.8 669. 52 . Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana besarnya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. Tabel 3.4 967.5.8 <Skor < 1562. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.2 372.4. yaitu antara kemampuan intelektual (X1) dan motivasi kerja (X2) terhadap kinerja guru (Y). Sebelum dilakukan analisis data dengan regresi linier ganda perlu terlebih dahulu diuji syarat-syarat dalam analisis tersebut yaitu Uji Linieritas Garis Regresi.0 < Skor < 669.4 <Skor < 1860.0 1264.Tabel 3.6 <Skor < 967.3 Skor jawaban dan persentase kinerja guru (Y) Interval skor 1562.2 <Skor < 1264. Skor jawaban untuk kemampuan intelektual (X1) Skor nilai Kriteria 0 < Nilai < 25 Sangat rendah 25 < Nilai < 30 Rendah 30 < Nilai < 35 Sedang 35 < Nilai < 40 Tinggi 40 < Nilai < 50 Sangat tinggi Jumlah Sumber: Yul Iskandar (2005:112). Skor jawaban dan persentase untuk motivasi kerja (X2) Interval skor 1302 <Skor < 1550 1054 <Skor < 1302 806 <Skor < 1054 558 <Skor < 806 310 < Skor < 558 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah 2.6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Tabel 3.

Tabel 3.6 Uji Linieritas Garis Regresi Sumber variasi Tuna cocok dk k-2 JK JK (TC) KT JK ( TC ) S 2 TC = k −2 F Kekeliruan n-k JK(E) S 2E = JK ( E ) n − k S 2 TC S 2E Keterangan: JK (TC) = ∑ Y 2 JK (E) = ⎡ (∑ Υi )2 ⎤ ∑ Υi2 − ⎥ ∑⎢ ni ⎦ xi ⎣ JK (TC) = jumlah kuadrat tuna cocok 53 . 2002:315) b= Untuk menguji kelinieran garis regrasi digunakan analisis seperti tabel berikut.Y = a + bX Keterangan : Y = Kinerja Guru (variabel terikat) a = Harga bilangan konstant b = Harga koefisien prediktor X = Variabel bebas Untuk mencari nilai a dan b digunakan rumus: a= (Σy )(Σx 2 ) − (Σx)(Σxy ) nΣx 2 − (Σx) 2 nΣxy − (Σx)(Σy ) nΣx 2 − (Σx) 2 (Sudjana.

Variabel dependen adalah nonstokhastik (setiap konstan pada setiap kali percobaan yang dilakukan secara berulang). dan (6). Non multikolinieritas. artinya tidak terdapat pengaruh dari variabel dalam model tenggang waktu. Nilai rata-rata kesalahan populasi pada model stokhastiknya sama dengan nol.JK (E) = jumlah kuadrat error Jika F<F Tabel pada dk pembilang (k-2) dan dk penyebut (n-k) dengan taraf signifikansi 5% maka persamaan regresi tersebut dinyatakan linier. Homokedastisitas. Setelah semua syarat dalam analisis regresi terpenuhi. (3). artinya antara variabel independen yang satu dengan independen yang lainnya dalam model regrasi tersebut tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna. maka data dapat dianalisis dengan analisis regrasi linier berganda dengan rumus sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 Dimana: Y = Kinerja guru a = bilangan konstanta b = bilangan koefisien X1 = kemampuan Intelektual X2 = motivasi kerja (Algifari. Non otokorelasi. 54 . (2). (4). 2000:85) Spesifikasi model tersebut menurut Algifari (2000:83) harus memenuhi beberapa asumsi sebagai berikut: (1). Distribusi kesalahan adalah normal. (5). artinya varians variabel adalah konstan.

Uji Parsial Untuk menguji kemaknaan koefisien regresi parsial digunakan uji t. Nilai t dapat ditentukan dengan formula sebagai berikut: 55 . Nilai F hitung dapat ditemukan dengan formula: Freg R 2 (n − m − 1) = m 1− R2 ( ) Keterangan: R2 n m = koefisien determinasi = banyaknya sampel = banyaknya varians Apabila hasil perhitungan F sehingga dapat dikatakan bahwa hitung > F tabel maka Ho ditolak regresi dapat <F variabel bebas menerangkan variabel terikat secara serentak. b). Sebaliknya jika F tabel hitung maka Ho diterima dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi berganda tidak mampu menjelaskan variabel terikat.Untuk membuktikan kebenaran hipotesis harus melewati beberapa uji kebenaran yaitu uji simultan. Uji Simultan Uji simultan atau uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor kemampuan intektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupeten Kebumen. dan evaluasi ekonometri: a). uji parsial.

2000: 41) maka Ho ditolak dengan demikian variabel > t tab bebas dapat menerangkan variabel terikat yang ada dalam model ini. Untuk mencari besarnya r 2 . dengan demikian variabel bebas tidak dapat menjelaskan variabel terikat atau dengan kata lain tidak ada pengaruh diantara dua variabel yang diuji. Sebaliknya apabila t hit < t tab maka Ho diterima.t = r n − 2 1 − r 2 Keterangan: r n = koefisien korelasi = banyaknya sampel Apabila t hit (Algifari. Evaluasi Ekonometri 56 . Atau secara matematis dapat ditulis dengan formula sebagai berikut: ⎡ ∑ ( y − y )⎤ ˆ r2 = 1− ⎢ ⎥ ⎢ ∑ ( y − y )⎥ ⎣ ⎦ Keterangan: r2 Y = besarnya koefisien determinasi = nilai variabel Y ˆ Y Y = nilai estimasi Y = nilai rata-rata varians Y (Algifari. dimana r 2 adalah satu dikurangi rasio antara besarnya deviasi Y observasi dari garis regresi dengan besar deviasi nilai Y observasi dari rata-ratanya. 2000: 32) c).

2). dalam ekonometrika disebut BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). Untuk menguji apakah model yang digunakan dapat diterima secara ekonometrik dan apakah estimator yang diperoleh dengan uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas 1). Apabila dalam suatu model telah memenuhi asumsi klasik tersebut maka dapat dikatakan model tersebut sebagai model yang ideal. Diagnosis adanya heteroskedastisitas secara 57 . Salah satu cara untuk mendeteksi multikolinieritas ini dilakukan dengan meregresikan antar variabel dan apabila korelasinya signifikan maka antara variabel bebas tersebut terjadi multikolinieritas. apabila hal ini terjadi berarti diantara variabel bebas itu sendiri saling berkolerasi. Multikolinieritas Salah satu asumsi klasik adalah terjadinya multikolinieritas diantara variabel-variabel bebas yang berada dalam satu model. sehingga dalam hal ini sulit diketahui variabel bebas mana yang mempengaruhi variabel terikat. Menurut Algifari (2000: 84). artinya antara variabel independen yang terdapat dalam hubungan yang sempurna atau mendekati sempurna.Evaluasi ekonometri dimaksudkan untuk mengetahui apakah model regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini memenuhi asumsi klasik atau tidak. Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apabila terjadi penyimpangan model karena variance gangguan berbeda antara satu observasi ke observasi lain.

Apabila kondisi sebaliknya maka model yang digunakan terjadi heteroskedastisitas. Apabila t hitung lebih besar maka dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan atau dapat diartikan tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model. dimana data masing-masing variabel diubah menjadi jenjang yaitu dari nilai terendah sampai tertinggi.kuantitatif dalam suatu regrasi dapat dilakukan dengan Spearman Rank Correlation. Nilai t hitung dapat ditentukan dengan formula: t = rs N − 2 1 − rs 2 (Algifari. nilai e = Y −Y N = banyaknya sampel Setelah itu dihitung korelasinya dan dilakukan pengujian t pada tiap-tiap variabel. Korelasi Ranking Spearman (r s ) dapat dihitung dengan formula: ⎡ ∑ di 2 ⎤ rs = 1 − 6 ⎢ ⎥ ⎢ N (n − 1 ) ⎥ ⎣ ⎦ Keterangan : di = selisih ranking standar (s) dan ranking nilai mutlak error (e). Kemudian meregresikan antara variabel-variabel bebas dengan variabel pengganggunya. 2000:86) BAB IV 58 .

65 Tinggi 82.19 Tinggi 49. Hasil Penelitian 1.16 tinggi 74.58 Tinggi 69.88 Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Keterampilan menulis di papan tulis Kemampuan menggunakan media 7 dan sumber belajar Kemampuan menilai hasil belajar 8 siswa 9 Keefektifan pembelajaran 10 Memberikan balikan 11 Menutup pelajaran 12 Penampilan dalam pembelajaran Total Sumber: Data penelitian 2006 Tabel kriteria setiap indikator kinerja guru sebagai berikut.03 Rendah 63.68 Tinggi 67. 59 .35 56. Gambaran Variabel Penelitian a.97 83.1 Gambaran Variabel Kinerja Guru No 1 2 3 4 5 6 Indikator Membuka pelajaran Berkomunikasi dengan siswa Kesesuaian metode pembelajaran Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran Penguasaan materi pembelajaran Skor % skor 125 128 108 104 132 115 76 98 123 88 110 130 1337 80.10 Sedang Sangat 85.87 71.23 Sedang 79.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Kinerja Guru Kinerja guru dalam proses belajar mengajar mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dapat dilihat dari hasil observasi yang terdiri dari 12 indikator. Gambaran hasil penelitian variabel kinerja guru sebagai berikut.77 70. Tabel 4.

8 Tabel 4. Berkomunikasi dengan siswa Skor indikator berkomunikasi dengan siswa adalah 128 atau 82.2 80.4 <Skor < 130. Kesesuaian metode pembelajaran 60 . Membuka pelajaran Skor indikator membuka pelajaran adalah 125 atau 80.Skor maksimal Skor minimal Rentang = 5 x 1 x 31 = 155 = 1 x 1 x 31 = 31 = Skor maksimal – skor minimal = 155 – 31 = 124 Panjang kelas interval = 124 : 5 = 24.8 <Skor < 80.6 31 < Skor < 55.4 55.65%.1 kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk setiap indikator sebagai berikut: 1).0 105. 3).8 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Berdasarkan pada tabel 4. 2).58%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk membuka pelajaran termasuk kategori tinggi.2 Kriteria Setiap Indikator Kinerja Guru Interval skor 130.2 <Skor < 155.6 <Skor < 105. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk berkomunikasi dengan siswa termasuk kategori tinggi.

5). 6). 4).Skor indikator kesesuaian metode pembelajaran adalah 108 atau 69. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk keterampilan menulis di papan tulis termasuk kategori tinggi. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran termasuk kategori sedang. Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran Skor indikator mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran adalah 104 atau 67.68%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kesesuaian metode pembelajaran termasuk kategori tinggi. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk penguasaan materi pembelajaran termasuk kategori sangat tinggi. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kemampuan menggunakan media dan sumber belajar termasuk dalam kategori rendah. Kemampuan menilai hasil belajar siswa 61 .03%. 7).16%. Keterampilan menulis di papan tulis Skor indikator keterampilan menulis di papan tulis adalah 115 atau 74. Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar Skor indikator kemampuan menggunakan media dan sumber belajar adalah 76 atau 49.10%. 8). Penguasaan materi pembelajaran Skor indikator peenguasaan materi pembelajaran adalah 132 atau 85.19%.

Menutup pelajaran Skor indikator menutup pelajaran adalah 110 atau 70. 10). Memberikan balikan Skor indikator memberi balikan adalah 88 atau 56.Skor indikator kemampuan menilai hasil belajar siswa adalah 98 atau 63.97%. 11). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk keefektifan pembelajaran termasuk kategori tinggi.77%. Secara keseluruhan kriteria kinerja guru yang terdiri dari 12 indikator dapat dilihat pada tabel 4.23%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk memberikan balikan termasuk kategori sedang. Skor maksimal = 12 x 5 x 31 = 1860 62 . dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk penampilan dalam pembelajaran termasuk kategori tinggi. 12). Penampilan dalam pembelajaran Skor indikator penampilan dalam pembelajaran adalah 130 atau 83. Keefektifan pembelajaran Skor indikator keefektifan pembelajaran adalah 123 atau 79.87%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk menutup pelajaran termasuk kategori tinggi. 9).3 berikut.35%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kemampuan menilai hasil belajar siswa termasuk kategori sedang.

4 967.6% mempunyai kinerja yang tinggi.2 372.0 Sangat rendah 0 0. Sedangkan pada tabel 4.0 1264.0 Jumlah 31 100 Sumber: Data penelitian 2006 b.8 669. Tabel 4.7% dalam kategori sedang dan hanya 3 guru atau 9.6 Sedang 12 38.88%.6 Tabel 4.8 <Skor < 1562.7 Tinggi 16 51.4 <Skor < 1860.7% dalam kategori sangat tinggi.4 Gambaran frekuensi Kinerja Guru Kriteria f % Sangat tinggi 3 9.7 Rendah 0 0.6 <Skor < 967.Skor minimal Rentang = 12 x 1 x 31 = 372 = Skor maksimal – skor minimal = 1860 – 372 = 1488 Panjang kelas interval = 1488: 5 = 297.4 dapat terlihat dari 31 guru terdapat 16 guru atau 51.6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Secara keseluruhan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa kinerja guru dalam pross belajar mengajar dari 31 responden memiliki skor sebesar 1337 atau 71.0 < Skor < 669. termasuk dalam kategori tinggi. Gambaran Kemampuan Intelektual 63 .3 Kriteria Keseluruhan Kinerja Guru Interval skor 1562. sebanyak 12 guru atau 38.2 <Skor < 1264.

kemampuan ingatan/informasi dan kemampuan penalaran. Gambaran Motivasi Kerja Guru Motivasi kerja guru dapat dilihat dari hasil pengisian angket sebagai berikut.4% memperoleh skor 31-35 dalam kategori sedang. sebanyak 15 guru atau 48.65 3 Pekerjaan itu sendiri 186 60.0 0.48 Total 1112 71.4 48. Tabel 4. kemampuan visualisasi ruang.Kemampuan intelektual guru meliputi 5 indikator yaitu kemampuan verbal.4% memperoleh skor 3640 dalam kategori tinggi. Tabel 4.58 2 Kebutuhan akan pengakuan 250 80.00 5 Kebutuhan untuk berkembang 203 65.74 Sumber: Data penelitian 2006 Kriteria Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Sedang Tinggi 64 .5 Gambaran Variabel Kemampuan Intelektual Skor nilai Kriteria F 0 < Nilai < 25 Sangat rendah 0 25 < Nilai < 30 Rendah 0 30 < Nilai < 35 Sedang 15 35 < Nilai < 40 Tinggi 15 40 < Nilai < 50 Sangat tinggi 1 Jumlah 31 Sumber: Data penelitian 2006 % 0. kemampuan kuantitatif.5 terdapat 15 guru atau 48. Gambaran hasil tes kemampuan intelektual dapat dilihat pada tabel berikut.4 3. Rata-rata nilai kemampuan intelektual dari 31 guru tersebut sebesar 35.6 Gambaran Variabel Motivasi Kerja Guru No Indikator Skor % skor 1 Kebutuhan akan prestasi 256 82.2 100 Terlihat pada tabel 4.00 4 Tanggung jawab 217 70. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan intelektual guru bervariasi. c.0 48.5 dan berada pada kategori tinggi.

6 motivasi kerja guru untuk setiap indikator sebagai berikut: 1).6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Berdasarkan tabel 4.4 <Skor < 310.0 210.58%. 2).Setiap indikator terdiri dari dua item. 65 .4 161.2 <Skor < 210. Skor maksimal Skor minimal Rentang = 2 x 5 x 31 = 310 = 2 x 1 x 31 = 62 = Skor maksimal – skor minimal = 310 – 62 = 248 Panjang kelas interval = 248: 5 = 49. Kebutuhan akan pengakuan Skor indikator kebutuhan akan pengakuan adalah 250 atau 80.6 <Skor < 161.2 62. sehingga kriteria yang digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi kerja dari setiap indiaktor dapat dinyatakan sebagai berikut.6 Tabel 4. Kebutuhan akan prestasi Skor indikator kebutuhan akan prestasi adalah 256 atau 82.7 Kriteria Setiap Indikator Motivasi Kerja Guru Interval skor 260. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan akan prestasi termasuk kategori tinggi. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan akan pengakuan termasuk kategori tinggi.8 <Skor < 260.8 111.65%.0 < Skor < 111.

3). 5). 4). Pekerjaan itu sendiri Skor indikator pekerjaan itu sendiri adalah 186 atau 60. Kebutuhan untuk berkembang Skor indikator kebutuhan untuk berkembang adalah 203 atau 65. Skor maksimal Skor minimal Rentang = 10 x 5 x 31 = 1550 = 10 x 1 x 31 = 310 = Skor maksimal – skor minimal = 1550 – 310 = 1240 Panjang kelas interval = 1240: 5 = 248 66 . Tanggungjawab Skor indikator tanggungjawab adalah 217 atau 70.00%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk pekerjaan itu sendiri termasuk kategori sedang. Secara keseluruhan kriteria motivasi kerja guru yang terdiri dari 5 indikator dapat dilihat pada tabel berikut. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk tanggungjawab termasuk kategori tinggi.00%.48%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan dalam berkembang termasuk kategori sedang.

9.Tabel 4.8 Kriteria keseluruhan Motivasi Kerja Guru Interval skor 1302 <Skor < 1550 1054 <Skor < 1302 806 <Skor < 1054 558 <Skor < 806 310 < Skor < 558 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Secara keseluruhan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa motivasi kerja guru dari 31 responden memiliki skor 1112 atau 71. Terlihat pada tabel 4.74% termasuk dalam kategori tinggi. Tabel 4.7% dalam kategori sangat tinggi.9% dalam kategori tinggi dan hanya 3 guru atau 9. dari 31 responden terdapat 15 guru atau 48. 67 . Pengujian secara parsial menggunakan uji t dan secara simultan menggunakan uji F. Sebelum analisis regresi ini dilanjutkan terlebih dahulu diuji linieritasnya.4 Rendah 0 0 Sangat rendah 0 0 Jumlah 31 100 Sumber: Data penelitian 2006 2. Hasil Analisis Regresi Analisis regresi dalam penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru baik secara parsial maupun simultan.7 Tinggi 15 41.9 Sedang 15 48.4% dalam kategori sedang. 13 guru atau 41.9 Gambaran Frekuensi Motivasi Kerja Guru Kriteria f % Sangat tinggi 1 9.

184 X1. Dari tabel 4.135 66. uji F diperoleh nilai F hitung Kemampuan intelektual -5. seperti pada gambar diagram pencar 4. Untuk menguji linieritas digunakan analisis regresi sederhana.000 0. Berdasarkan pada tabel 4. sehingga model regresi 68 . sehingga model regresi linier yang dibentuk dinyatakan dengan Y = -5.a.641 2.590 0. dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel bebas dengan terikatnya bersifat linier.05. Uji Linieritas Uji linieritas digunakan untuk menguji kelinieran masing-masing variabel bebas yaitu kemampuan intelektual dan motivasi kerja dengan variabel terikat kinerja guru.000 < 0.777 0.567 0. Apabila diperoleh nilai F hitung dengan p value < 0.000 0.05.643 0. Tabel 4.184 44. Model tersebut bersifat linier.10 juga diperoleh koefisien regresi untuk variabel motivasi kerja sebesar 0.135 dengan p value sebesar 0.603 Motivasi kerja 39.1.13.450 dengan konstanta 39.10 diperoleh koefisien regresi untuk variabel kemampuan intelektual sebesar 2.473 3.934 0. yang berarti secara nyata hubungan kemampuan intelektual dengan kinerja guru bersifat linier.348 sebesar 44. Berdasarkan tabel 4.184 dengan konstanta -5.450 15.641 + 2.567.641.10 Hasil Uji Linieritas Uji Linieritas Keterangan Kontanta Koefisien regresi F hitung thitung p value R R2 Sumber: Lampiran 10.

567 + 0. Dari tabel 4.25 R = 0.50 43.75 25.linier yang dibentuk dinyatakan dengan Y = 39.00 0 20 40 60 80 100 Motivasi Kerja 69 . Gambar 4.50 43.641 2 R = 0. uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 15.450 X2.603 62. seperti pada gambar diagram pencar 4.2 Garis Linier Hubungan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru 100.5. yang berarti secara nyata hubungan motivasi kerja dengan kinerja guru bersifat linier.348 2 62.00 Kinerja Guru 81.2.75 25.13. Model tersebut bersifat linier.05.25 y = 2.1 Garis Linier Hubungan Kemampuan Intelektual terhadap Kinerja Guru 100.000 < 0.00 y = 0.567 Kinerja Guru 81.184x .450x + 39.00 0 10 20 30 40 50 Kemampuan Intelektual Gambar 4.473 dengan p value sebesar 0.

. Uji Ekonometri Uji ekonometri meliputi uji multikolinieritas dan heteroskedastisitas.590 Sig.000 . dapat disimpulkan bahwa model regresi mengandung multikolinieritas.000 Motivasi kerja .11 berikut.11 koefisien korelasi antara kemampuan intelektual dengan motivasi kerja sebesar 0.000 .426 1. Kemampuan intelektual .000 .000 N Kinerja guru 31 Kemampuan intelektual 31 Motivasi kerja 31 Motivasi kerja .590 . Apabila koefisien korelasinya > 0. Uji Multikolinieritas Uji multikolnieritas dapat dilihat dari koefisien korelasi antara variabel bebas yaitu antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja.222 di sekitar 1 yang berarti model regresi linier berganda tidak mengandung multikolinieritas.000 Kemampuan intelektual .426 .008 .b.8.426 yang kurang dari 0.000 . Terlihat pada tabel 4.11 Uji Multikolinieritas Correlations Kemampuan intelektual . yang berarti model tidak mengandung multikolinieritas. 31 31 31 Sumber : Data Penelitian diolah 70 .777 1. Tabel 4. dalam arti tidak mengandung multikolinieritas dan juga tidak mengandung heteroskedastisitas. Hasil uji multikolinieritas terlihat seperti pada tabel 4.008 31 31 31 Kinerja guru Pearson Correlation Kinerja guru 1.8. Kedua uji ini digunakan untuk mengetahui efektif tidaknya model regresi lineir berganda yang diperoleh. (1-tailed) Kinerja guru . 1). Selain dilihat dari koefisien korelasi ini juga didukung dari nilai VIF sebesar 1.777 Motivasi kerja .

yang berarti model regresi linier berganda tidak mengandung heteroskedastisitas.3 dapat pula dilihat dari koefisien korelasi rank Spearman antara harga mutlak residual |e| dengan standar deviasinya. 71 . Scatterplot Dependent Variable: Kinerja guru 2 Regression Studentized Residual 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Gambar 4. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dapat dilihat dari grafik hubungan regression standardized predicted value dengan regression studentized residual. seperti tampak pada gambar 4. yaitu titik-titik tersebar tidak teratur dan berada di atas maupun di bawah nol pada sumbu Y. dapat disimpulkan bahwa model regresi ganda tidak mengandung heteroskedastisitas.3. Apabila titik-titiknya menyebar tidak beraturan di atas dan di bawah nol pada sumbu Y.3 Uji Heteroskedastisitas Selain dari gambar 4.2).12 berikut. yang hasilnya tercantum pada tabel 4.

946 31 1. (2-tailed) N Sumber : Data Penelitian Diolah Terlihat pada tabel 4.000 .000 .012 0.242X2 Hasil Analisis -9.013 .946 > 0.013 dengan p value = 0. Dari tabel 4. 31 Spearman's rho |e| s Correlation Coefficient Sig.13 Hasil Analisis Regresi Keterangan Kontanta Koefisien regresi kemampuan intelektual (b1) Koefisien regresi motivasi kerja (b2) F hitung thitung kemampuan intelektual thitung motivasi kerja P value kemampuan intelektual P value motivasi kerja R R2 Sumber : Lampiran 10. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig.013 .4692 72 .805 X1+ 0.527 1.12 diperoleh koefisien korelasi rank Spearman antara |e| dan s sebesar 0.685 0.946 31 s .12 Hasil Uji Heteroskedastisitas Correlations |e| 1. 31 . c.13 tersebut dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut: Y = -9.805 0.05.242 30.700 0.527 + 1.000 0. Hasil Analisis Regresi Hasil analisis regresi antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru dapat dilihat pada tabel berikut.481 2.502 5.Tabel 4. yang berarti secara signifikan model regresi linier berganda di atas tidak mengandung heteroskedastisitas. Tabel 4.

05.527.805 yang diuji kebermaknaannya menggunakan uji t diperoleh thitung sebesar 5.700 dengan p value = 0.805. artinya kenaikan variabel independent akan diikuti oleh kenaikan variabel dependent.242. Dari persamaan regresi di atas dapat diartikan sebagai berikut: konstanta (a) = -9.242 yang diuji kebermaknaannya menggunakan uji t diperoleh thitung sebesar 2. Koefisien regresi untuk motivasi kerja sebesar 0.805.05.527. Dari tabel 4.05 yang berarti secara parsial ada pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru.15 diperoleh koefisien regresi untuk kemampuan intelektual sebesar 1.05 yang berarti secara parsial ada pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru.700 > ttabel = 2. Koefisien regresi (b2) = 0. 1). Uji Parsial Berdasarkan tabel 4.05 dan p value < 0. artinya jika motivasi kerja guru (X2) skornya naik 1 satuan sementara faktor kemampuan intelektual (X1) tetap maka kinerja guru (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0.481 > ttabel = 2.481 dengan p value = 0. Pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 31-2-1 = 28 diperoleh ttabel = 2. Nilai thitung = 2.242. Nilai thitung = 5. artinya jika kemampuan intelektual guru (X1) skornya naik 1 satuan sementara faktor motivasi kerja (X2) tetap maka kinerja guru (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 1. Pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 31-2-1 = 28 diperoleh ttabel = 2.05 dan p value < 0. artinya bahwa jika ada kemampuan intelektual dan motivasi kerja maka kinerja guru (Y) adalah -9. Koefisien regresi (b1) = 1.012.Koefisien regresi tersebut bertanda positif (+).15 juga 73 .000.

502 dengan p value sebesar 0. sehingga model regresi untuk menyatakan pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru dinyatakan dengan persamaan: Y = -9.527 + 1. Berdasarkan hasil uji F pada tabel 4.502 > Ftabel = 3.34.34 dan p value = 0. Pada taraf signifikansi 5% dengan dk1 = 2 dan dk2 = 28 diperoleh Ftabel = 3.527. 74 .15 diperoleh F hitung sebesar 30.242 apabila kemampuan intelektual dikontrol.000 < 0.000 < 0. Uji Simultan Uji Simultan digunakan untuk menguji kebermaknaan pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja guru. yang berarti secara signifikan ada pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.05. 2). artinya semakin tinggi kemampuan intelektual dan motivasi kerja akan diikuti pula kenaikan kinerja guru.242 X2 Model tersebut berarti setiap terjadi kenaikan satu satuan kemampuan intelektual akan diikuti kenaikan kinerja guru sebesar 1. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.805X1 + 0.05.diperoleh konstanta sebesar -9. Nilai Fhitung = 30. Secara umum menunjukkan bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja guru.805 apabila motivasi kerja dikontrol dan setiap terjadi kenaikan satu satuan motivasi kerja akan diikuti kenaikan kinerja guru sebesar 0.

719 0.685 r2 0. Terlihat bahwa pengaruh kemampuan intelektual lebih besar daripada motivasi kerja.5176 0. Secara simultan pengaruh keduanya mencapai 46. sedangkan sumbangan motivasi kerja terhadap kinerja guru apabila kemampuan intelektual dikontrol sebesar 20. Besarnya Pengaruh Untuk mengetahui besarnya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru baik secara parsial maupun secara simultan dapat dilihat dari koefisien determinasi pada tabel berikut.66%.92%. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru secara simultan menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan dalam proses belajar 75 .14 Koefisien Determinasi secara Parsial dan Simultan No Sumbangan 1 Kemampuan intelektual 2 Motivasi kerja 3 Simultan Sumber : Lampiran 10.08% kinerja guru dipengaruhi oleh faktor di luar kemampuan intelektual dan motivasi kerja.3). yang berarti masih 53.4692 Dari hasil koefisien determinasi pada tabel 4.76%.455 0. Tabel 4.14.2066 0. B. R 0. terlihat bahwa sumbangan kemampuan intelektual terhadap kinerja guru apabila motivasi kerja dikontrol sebesar 51.

805 + 0.527.mengajar di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Pihak sekolah sendiri juga belum mampu mencukupi semua kebutuhan praktek tersebut. sebagian guru juga masih gagap teknologi terutama yang berkaitan dengan teknologi mesin-mesin bisnis dan guru belum mampu mengimplementasikan teori yang ada dengan kondisi di lapangan. 1.805 + 0. Berdasarkan persamaan regresi ganda yang diperoleh koefisien regresi b1. Hanya pada indikator kemampuan menggunakan media dan sumber belajar dalam kategori rendah.805X1 + 0. pemberian teori 30% dan praktek 70%. Berdasarkan tuntutan kurikulum 2004 untuk mata diklat produktif penjualan. b2. Dari penemuan tersebut maka perlu diupayakan adanya peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan media dan sumber pembelajaran.242 pada konstanta -9.242 pada konstanta -9. yang artinya jika variabel kemampuan intelektual dan motivasi kerja ditingkatkan secara bersamasama sebesar satu unit. maka kinerja guru akan meningkat sebesar 1. bertanda positif maka menunjukkan bahwa bentuk pengaruhnya adalah positif.527 dan sebaliknya jika variabel kemampuan intelektual dan motivasi kerja menurun secara bersama-sama sebesar satu unit. misalnya adanya pembelajaran khusus guru dalam penguasaaan teknologi dan hubungan 76 . namun ternyata guru pada umumnya masih terpaku pada penguasaan materi semata. Bentuk persamaan yang menggambarkan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dalam penelitian ini adalah Y = -9. maka kinerja guru akan menurun sebesar 1. Kinerja Guru Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen secara keseluruhan dalam kategori tinggi.527 + 1.242X2.

seperti menjalin kerja sama dengan meminta kesempatan praktisi dari dunia usaha atau industri menjadi nara sumber dalam pembelajaran. hanya berkaitan dengan media dan sumber belajar yang perlu ditingkatkan. sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Melihat kenyataan di atas guru sangat perlu meningkatkan pengetahuan. sehingga ketika melaksanakan proses belajar mengajar di kelas guru dapat menggunakan media dan sumber pembelajaran dengan baik.baik dengan dunia usaha. sehingga pembelajaran tidak monoton dan bertambah wawasannya.2%. atau rata-rata skornya 35. Di samping itu. tinggi 48. Kemampuan intelektual meliputi aspek kemampuan verbal. kemampuan visualisasi ruang. media dan sumber belajar adalah semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan perbuatan belajar. Menurut Hamalik (2001:51). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kinerja guru sudah sesuai dengan standar alat penilaian kompetensi guru (APKG) seperti yang diharapkan.4%. 2. pengalaman dan pemahaman tentang media dan sumber pembelajaran. kemampuan 77 .4%. Kemampuan intelektual Berdasarkan hasil penelitian pada guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen memiliki kemampuan intelektual dengan kategori sangat tinggi 3. guru harus kreatif untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.5 yang berarti pada umumnya kemampuan intelektual guru mata diklat penjualan tersebut dalam kategori tinggi. dan sedang 48. sebab dengan media dan sumber belajar yang baik akan dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.

dan kemampuan memory/ingatan. kritis dan bebas. kemampuan penalaran induktif dan deduktif. pembela kebenaran dan keadilan. berfikir rasional. aktif mencari. Siswa akan merasa senang mengikuti apa yang diajarkan karena guru dianggap mampu mentransfer pengatahuannya dengan baik.1% dari lulusan non kependidikan dan 45. sikap seorang intelektual yaitu terus belajar. selain mempunyai kedalaman materi yang diajarkan juga mempunyai wawasan yang lebih luas tentang dunia di sekitarnya.kuantitatif.2% lulusan ekonomi non jurusan penjualan. kecuali untuk sekedar penataran guru sudah didanai. Hanya pada indikator pekerjaan itu sendiri dan kebutuhan untuk berkembang dalam kategori sedang. Hal ini dapat di pahami untuk indikator pekerjaan itu sendiri karena masih adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan pendidikan. Menurut Suparno (2003:75). mengembangkan angan-angan (cita-cita). berani bertindak dan bertanggungjawab. 3. tetapi karena kebetulan dan faktor lain. Di samping itu sebagian guru menyatakan bahwa menjadi guru bukan karena keinginan dan cita-cita mereka. karena dengan kemampuan intelektualnya. Oleh karena itu perlu upaya-upaya konkrit untuk 78 . Sedangkan indikator kebutuhan untuk berkembang belum optimal karena untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi menggunakan biaya sendiri. kreatif dan inisiatif. Dari hasil observasi pendahuluan sebanyak 16. Motivasi kerja Dari hasil penelitian terungkap bahwa motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen pada umumnya dalam kategori tinggi. Dengan kemampuan intelektual guru yang baik akan dapat menciptakan suatu proses belajar mengajar yang efektif.

lebih cepat mengembangkan kemampuan diri dan akhirnya akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. 4. Berdasarkan data yang diperoleh secara keseluruhan kemampuan intelektual guru tinggi. Hal ini berarti bahwa kemampuan intelektual dapat mempengaruhi kinerja guru.76% dengan p = 0. sebaliknya jika kemampuan intelektual rendah maka kinerjanya juga akan menurun. kemampuan dan keterampilan. orang yang kerja dengan motivasi tinggi adalah orang yang merasa senang dan mendapatkan kepuasan dalam pekerjaannya. Ia akan lebih berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan semangat yang tinggi. Pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se kabupaten Kebumen. serta selalu berusaha mengembangkan tugas dan dirinya. Hasil pengujian hipotesis didapat bahwa ada pengaruh positif yang signifikan kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh adalah 51. 79 . jika guru mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi ia akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan dalam bekerja.lebih meningkatkan motivasi kerja guru terutama berkaitan dengan kebutuhan untuk berkembang. Hal ini berpengaruh pada kinerja guru yang baik pula. Sejalan dengan pendapat Keitner Robert dan Kinicki Angelo (2000:187). Pihak Diknas dapat lebih mengupayakan dana-dana untuk penelitian bagi guru sebagai media pengembangan karier.000. Menurut Anoraga (2001:37). prestasi atau kinerja tergantung pada kombinasi yang tepat dari usaha.

maka dapat dikatakan bahwa motivasi mempengaruhi kinerja guru.66% dengan p = 0. Seperti yang dikemukakan Anoraga (2001:35). Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. ternyata pengaruh motivasi kerja ini lebih rendah daripada kemampuan intelektual terhadap kinerjanya.012. Tingginya motivasi kerja guru dalam bekerja memberikan dampak yang positif terhadap kinerja mereka. bahwa kuat dan lemahnya motivasi kerja seorang tenaga kerja ikut menentukan besar kecil prestasinya. dengan demikian untuk meningkatkan kinerja guru maka perlu adanya peningkatan motivasi kerja dari dalam diri guru sendiri maupun dari luar. sehingga akan menunjukkan kinerja yang rendah. Jika dibandingkan kemampuan intelektualnya. 80 .5. Berdasarkan analisis data. Hal ini dapat dipahami karena jika guru memiliki motivasi kerja yang tinggi maka jelas dia akan berupaya secara maksimal dalam setiap pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru. Hal ini terkait dengan pekerjaan profesi guru membutuhkan kemampuan intelektual dan pemahaman materi yang baik. Dari data penelitian terlihat bahwa secara keseluruhan motivasi kerja guru tinggi. Dari hasil penelitian didapat bahwa ada pengaruh positif yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh adalah 20. termasuk kepala sekolah sebagai pembinaan dan penilaian kinerja guru. sebaliknya jika guru memiliki motivasi kerja yang rendah mereka cenderung akan bermalasmalasan bekerja. selanjutnya perlu didukung dengan motivasi kerja yang baik.

kemampuan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kemampuan tidak akan menghasilkan keluaran yang tinggi. (6). Motivasi seseorang dalam memasuki pekerjaan. meliputi : (1).92% dengan p = 0. (8). Sedangkan faktor– faktor yang terkait dalam kinerja menurut Anoraga (1998:14). Aspirasi atau cara pandang seseorang terhadap pekerjaan. dan sebaliknya. maka perlu ditingkatkan kemampuan intelektual dan motivasi kerja guru. (7). (9). Rekan kerja. (3). prestasi kerja atau prestasi kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh abillity (kecakapan/kemampuan) dan motivation (motivasi). (4). Dari hasil pengujian hipotesis didapatkan bahwa ada pengaruh positif antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh 46. Ketenangan dan semangat kerja.6. Sejalan dengan pendapat Sedarmayanti (2001). Lingkungan kerja. Kepribadian dan kehidupan seseorang. Hal ini berarti bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja dapat mempengaruhi kinerja guru. sehingga guru dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik.000. Pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. (10). Untuk meningkatkan kinerja guru. (2). Kesempatan untuk berpikir. Keamanan dan kenyamanan bekerja. Kompensasi gaji atau imbalan. (5). 81 . jika guru memiliki kemampuan intelektual yang tinggi diikuti motivasi kerja tinggi maka kinerja guru juga tinggi. Tugas atau jabatan sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Sebagian besar kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam proses belajar mengajar dalam kategori tinggi.76%.82 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam kategori tinggi. 3. 82 . 2. Hal ini disebabkan karena kemampuan guru menggunakan sumber dan media pembelajaran belum optimal dan belum lengkapnya sumber dan media pembelajaran yang disediakan oleh sekolah. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil beberapa simpulan: 1. namun kemampuan guru dalam menggunakan sumber dan media pembelajaran masih dalam kategori rendah. Motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam kategori tinggi. Motivasi kerja ini secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru sebesar 20. Kemampuan intelektual ini secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru sebesar 51.66%. Semakin tinggi motivasi kerja guru akan diikuti dengan peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar. Semakin tinggi kemampuan intelektual akan diikuti dengan peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar.

83 4. pihak diknas selain memberikan peluang untuk pendidikan lebih lanjut juga memberikan beasiswa untuk program penyetaraan. serta menjadi nara sumber pembelajaran bagi siswa. 83 . Kemampuan intelektual dan motivasi kerja secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru yaitu sebesar 46. Untuk beberapa sekolah perlu diupayakan perbaikan dan melengkapi sumber dan media belajar yang telah ada 3.92%. Saran 1. Dengan adanya kemampuan intelektual yang tinggi dan didukung dengan motivasi kerja yang tinggi maka berdampak positif terhadap kinerja guru dalam proses belajar mengajar. B. Perlu adanya peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan sumber dan media pembelajaran melalui pelatihan bagi guru mata diklat produktif penjualan oleh pihak sekolah maupun diknas. Sekolah dan guru lebih luas menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri untuk memberikan informasi tentang perkembangan dunia usaha yang sebenarnya. Untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan motivasi kerja guru terutama untuk kebutuhan kemajuan/berkembang. 2. 4.

Jakarta: Balai Pustaka. Manajemen SDM. Teori Inteligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah. -----. Gardener. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran. Fattah. Jakarta: Ketindo. Yogyakarta: BPFE. 2003. Yogyakarta: Graha Ilmu. Anoraga. 1999. Psikologi Kerja. 2000. Garis-Garis Besar Program Pendidikan dan pelatihan Produktif. Jakarta. Jakarta: Dharma Graha Group. Metode Penelitian. Soal-Soal Inteligensi Test. dan Hanafi. Iskandar. Arikunto. Bandung: PT Remaja Rodaskarya. Hasibuan. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Malayu SP. Depdikbud. Mathis. Nanang. Jakarta: PT Rineka Cipta. Rindyah. Jakarta: Ghalia Putra. 2000. 2002. Umar. Analisis Regresi: Teori. Jakarta: Salemba Empat. Yogyakarta: Kanisius. Kasus dan Solusi. Bafadal. 84 . 1994. Test Potensi Akademik (TPA). Yul. Howard. 2004.84 DAFTAR PUSTAKA Algifari. Pengantar Manajemen. 2002. John H. Munzert. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. 1998. Bandung: Bumi Aksara. Sudarman. Pandji. Jakarta. Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Suharsimi. Jakarta: Pustaka Pelajar. Alfrend W. Moh. Ibrahim. 2003. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Organisasi Dan Motivasi. 2003. PT Rineka Cipta. 2003. Danim. 1999. Amirullah. Jakarta: Dharma Graha Group. Nazir. 2000. Landasan Kependidikan. Robert L dan Jackson. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hamalik. 2003. Jakarta: PT Bumi Aksara. Tes IQ. 2002.

85 Purwanto. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. dkk. Sudjana. Guru Demokrasi Di Era Reformasi Pendidikan. 1995. bandung: Mandar Maju. Winardi. Jakarta: PT Gramedia. 2002. 1998. UNNES. hadi. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Ngalim. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. psikologi Perkembangan. Jakarta: PRAJA. Paul. 2004. Motivasi Dan Permotivasian Dalam Manajemen. Yogyakarta: Aditya Media. UPT MKK Standar Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas. Titik Temu Dalam Dunia Pendidikan. 2002. Potret Guru. Bedjo. SDM dan Produktivitas Kerja. Soekartawi. Nana. Robbins. Bandung: Transito. Bandung: Sinar Baru. 2002. Pustaka Sinar harapan. 1995. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. 2005. Siswanto. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1990. 2003. 2004. Soeparwoto. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002. Sedarmayanti. Bandung: Alfabeta. Sunarto dan Hartono Agung. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Moh Usman. Sudjana. 2001. Semarang. Manajemen Modern (Konsep dan Aplikasi). Depdiknas. Tilaar. Jakarta: Grasindo. Uzer. Jakarta. Suparno. Perilaku Organisasi Jilid I. 2003. Stephen P. Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru. Perkembangan Peserta Didik. H A R. 2001. Metode Statistik. Syaukani. Supeno. 85 . Menjadi Guru Profesional. 2005. Riduwan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.

86 86 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->