PENGARUH KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MATA DIKLAT PRODUKTIF PENJUALAN DI SMK BISNIS

DAN MANAJEMEN SE KABUPATEN KEBUMEN
SKRIPSI untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Eka Yuliana 3301401028

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN EKONOMI 2006

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh dosen pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian pada: Hari Tanggal : Sabtu : 03 Juni 2006

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Joko Widodo, M.Pd NIP. 131993879

Drs. Fx. Sukardi NIP. 130512374

Mengetahui: Ketua Jurusan Ekonomi

Drs. Kusmuriyanto, M.Si NIP. 131401309

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ekonomi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Sabtu : 03 Juni 2006

Penguji

Drs. Tarsis Tarmudji NIP. 1303529513

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Joko Widodo, M.Pd NIP. 131993879

Drs. Fx. Sukardi NIP. 130512374

Mengetahui, Dekan,

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iv

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang. April 2006 Eka Yuliana NIM. 3301401028 v . bukan jiplakan dari karya tulis orang lain.

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.s Luqman, 31:8)

“Orang berakal tidak akan bosan untuk meraih manfaat berpikir, tidak putus asa dalam menghadapi keadaan dan tidak akan pernah berhenti dari berpikir dan berusaha.” (Dr. ‘Aidh ‘Abdullah Al-Qarni)

PERSEMBAHAN Skripsi ini di persembahkan untuk: 1. Bapak dan Mama tercinta atas do’a dan kasih sayangnya. 2. Adikku tersayang Susi dan Tati. 3. Youne, Aty, Fat, Tina, Nunik, Dewi, Evi, Sulis, Rike, Tanti dan Murni terima kasih atas persahabatan ini. 4. Keluarga besar Kos Amanah. 5. Teman seperjuangan Prodi Koperasi angkatan 2001. 6. Almamater UNNES.

vi

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memlimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”PENGARUH KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU MATA DIKLAT

PRODUKTIF PENJUALAN DI SMK BISNIS DAN MANAJEMEN SE KABUPATEN KEBUMEN”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. Dr. Joko Widodo, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan dan arahan dari awal sampai akhir penyelesaian skripsi ini. 2. Drs. Fx. Sukardi, Dosen Pembimbing II yang penuh perhatian dan

kesabaran dalam memberikan bimbingan dan arahan dari awal sampai akhir penyelesaian skripsi ini. 3. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Ketua Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 4. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 5. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen yang telah memberikan izin sehingga dapat terlaksana penelitian ini di wilayah Kabupaten Kebumen.

vii

6. Kepala sekolah SMK Bisnis dan Manajemen Se-Kabupaten Kebumen yang telah memberikan ijin penelitian. 7. Guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen SeKabupaten Kebumen yang telah memberikan bantuan dalam penelitian. 8. Semua pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis hanya bisa memanjatkan do’a semoga Allah SWT memberikan balasan yang sebanding atas jasa dari semua pihak. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang,

April

2006

Penulis

viii

Kinerja guru dalam proses belajar mengajar ditentukan oleh kemampuan Intelektual dan motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap guru. Perlu lebih banyak menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri untuk memberikan informasi tentang perkembangan dunia usaha. disarankan kepada Diknas untuk mengupayakan pelatihan bagi guru dalam penggunaan media dan sumber belajar yang relevan dengan kondisi sekarang. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan analisis diskriptif persentase dan analisis regresi baik parsial dan simultan.92%. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Kinerja Guru Kualitas pendidikan akan terwujud jika proses belajar mengajar di kelas berlangsung dengan baik. Oleh karena itu permasalahan yang diangkat adalah : (1). Populasi penelitian adalah seluruh guru mata diklat produktif penjualan yang berjumlah 31 orang. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya komponen yang mendukung. ix . Kata Kunci : Kemampuan Intelektual.000. 2) besar pengaruh antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru Penelitian ini dilakukan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.76%. 2) seberapa besar pengaruh antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. 129 halaman. Hasil analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja dalam kategori tinggi. angket dan observasi. Disamping itu. Motivasi Kerja. Bagaimana gambaran kemampuan intelektual. Jurusan Pendidikan Ekonomi.700 dengan p value 0.481 dengan p valuee 0. Kemampuan intelektual mempunyai pengaruh signifikan pada taraf 95%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1). Sementara itu berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa. dapat disimpulkan secara umum perlu ada perhatian khusus dalam upaya meningkatkan kinerja guru yaitu berhubungan dengan kemampuan penggunaan media dan sumber belajar.5176 atau sebesar 51. Skripsi. Pengaruh Kemampuan Intelektual dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Mata Diklat Produktif Penjualan Di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. gambaran kemampuan intelektual. kemampuan intelektual dan motivasi kerja mempengaruhi kinerja guru sebesar 0. sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.4692 atau 46. Secara simultan. 2006.012. motivasi kerja dan kinerja guru.SARI Eka Yuliana. Variabel bebas yang dikaji dalam penelitian ini adalah kemampuan intelektual (X1) dan motivasi kerja (X2) sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja guru (Y).66%. Dan motivasi kerja juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan t hitung sebesar 2. yang salah satunya adalah kinerja guru yang profesional. hal ini dapat di lihat dari uji parsial yang menghasilkan t hitung sebesar 5. kemampuan intelektual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru dengan r2 sebesar 0. motivasi kerja dan kinerja guru.2066 atau sebesar 20. Pengumpulan data dengan cara tes. Sedangkan motivasi kerja sebesar 0.

.................................................................................................. v PRAKATA................................................ Landasan Teori.............DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.... LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A.................................. ii PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................ Penegasan Istilah............................. .................... 8 D............................... 1 B... 16 D............................................................................................ Kerangka Berpikir................................................................................................................................. i PERSETUJUAN PEMBIMBING........................ 12 B........................................................................... 32 F............................................. 10 BAB II.. 37 G...... Kemampuan intelektual ......................................................................................................................................................................... x DAFTAR GAMBAR .................................... 42 C.................... 12 C... Variabel Penelitian ................. PENDAHULUAN A................... xii DAFTAR LAMPIRAN...... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..... viii DAFTAR ISI ......... 6 C.................................................... Hipotesis......................................................................................................... Latar Belakang Masalah........................................ ix DAFTAR TABEL.............................................................. Motivasi Kerja............ 25 E............................................... 40 BAB III........ METODE PENELITIAN A........................................................................................ Tujuan dan Manfaat Penelitian . 41 B............................. 43 x ........................................................................... Kinerja Guru ......................................................... Sistematika Skripsi................... Metode Pengumpulan Data ................................................... Identifikasi dan Perumusan Masalah ........................ Populasi dan Sampel ........ 9 E.. vi SARI ................................................................................................. xiii BAB I...................................................................................................................................................................... iii PERNYATAAN.................................. Kedudukan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar ..............

.................................................... PENUTUP A................................... 84 LAMPIRAN................ Hasil Penelitian ........ 75 BAB V.......... Validitas dan Reliabilitas ................................. Hasil Analisis Regresi ................. 45 E..... Kisi-kisi instrumen . Simpulan .......................................................................................... 82 B..... Gambaraan Variabel Penelitian .......................................................................... 49 F............................D. Saran.......... 59 B...................................................................................................................................... HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN A................ Pembahasan...... 50 BAB IV....................................................................................... 59 C.............................................................. 67 D..................................................... 86 xi ............. 83 DAFTAR PUSTAKA .................................. Teknik Analisis Data.................................................................................

..........................................................................................................5..11........................................................... 41 3.....................................9..... 65 4............................. 67 4............ Gambaran Variabel Kinerja Guru .2........... Kriteria Kategori Kemampuan Intelektual.. 53 4........ 72 xii ... 64 4................................................3...........................2......................... Kisi-Kisi Instrumen Penelitian.......... Gambaran Frekuensi Kinerja Guru ......................................................4........................ 60 4......... Hasil Analisis Regresi ......DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3. Hasil Uji Linieritas.... Kriteria Keseluruhan Kinerja Guru...... Kriteria Kategori Kinerja Guru ........ 52 3...... 49 3..........6................. Gambaran Variabel Motivasi Kerja Guru ............................................... Uji Multikolinieritas..............13..... 52 3.... Gambaran Variabel Kemampuan Intelektual...5.... Kriteria Setiap Indikator Motivasi Kerja..... Koefisien Determinasi Secara Parsial dan Simultan... 68 4.......8....... Daftar Populasi Penelitian.................................... 64 4.............. Uji Linieritas ............................................ 72 4........1.......................................6......... 72 4........................................................... Kriteria Kategori Motivasi Kerja ......14............................. Gambaran Frekuensi Motivasi Kerja ....1.................. Hasil Uji Heteroskedastisitas ....................................................................... 67 4................................................ 63 4...............4................ 52 3..............3....10................................7........................ Kriteria Keseluruhan Motivasi Kerja ... 63 4...........12....................... Kriteria Setiap Indikator Kinerja Guru .......................... 70 4........................................................ 59 4................................

......1.. 40 4.............................................. Uji Heteroskedastisitas........................... Garis Linier Hubungan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru ................................1........ 4 2....... Dimensi Kinerja ............... Garis Linier Hubungan Kemampuan Intelektual Terhadap Kinerja Guru 69 4...................3.............................. Kerangka Berpikir........................... 71 xiii ....1........... 69 4.........DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1..............................2...

........ 99 3............................ 112 7..... Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Motivasi Kerja.......................................................... 127 12.......... Analisis Diskriptif Persentase Motivasi Kerja ............ Analisis Diskriptif Persentase Kinerja Guru ..................................... Analisis Diskriptif Persentase Kemampuan Intelektual................ 117 8........................................ 119 10............................. Daftar Responden.............. 107 6.. Permohonan Izin Penelitian ............. 118 9...... 120 11.................................................................. Kunci Jawaban Tes Kemampuan Intelektual............................................ 105 4....... 129 xiv .......................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1.. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kinerja Guru................................................ Surat Keterangan................... Lembar Kriteria Penilaian Observasi Kinerja Guru....................................................................... 106 5................. Instrumen ........................................................................................ Analisis Regresi ..... 86 2.

BBC). Untuk mewujudkan misi tersebut dibutuhkan pendekatan sistem pembelajaran yang khusus artinya pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dan di dunia usaha/industri. berbasis luas. kuat dan mendasar (Broad Based Curirculum. Pada prinsipnya misi SMK Bisnis dan Manajemen adalah menyiapkan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. dan (4). berbasis ganda (Dual Based program) (Depdikbud. Sedangkan proses pelatihan di dunia kerja bertujuan agar siswa menguasai kompetensi standar. pembimbingan dan pelatihan yang dilakukan di sekolah dan di dunia kerja. pembelajaran tuntas (Mastery Learning). Proses pembelajaran di sekolah dimaksudkan untuk mengembangkan profesi akademis dan kepribadian siswa. 1999). berbasis kompetensi (Competency Based Curriculum). (3).BAB I PENDAHULUAN A. Prosedur pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen adalah penerapan pola Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang merupakan tatacara pembelajaran. (2). Sesuai dalam kurikulum 2004 pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen berdasarkan pada prinsip. Latar Belakang Masalah SMK Bisnis dan manajemen merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu yaitu bidang bisnis dan manajemen. serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja. 1 . yaitu (1).

khususnya penjualan. siklus akuntansi. karena mereka harus memahami aspek teoritis dan praktis mengenai apa yang dibutuhkan di masyarakat. khususnya penjualan. membuka usaha kecil. prinsip pemasaran. (2). sekaligus dituntut kemampuan personal untuk bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dengan dunia usaha/industri. menjadi Warga Negara yang produktif. surat niaga dan sistem kearsipan. mengetik. khususnya penjualan. Profil kompetensinya meliputi: pelayanan prima. 1999:27). kuat serta penguasaan alat dan teknik bekerja yang tepat. mesin-mesin bisnis dan penjualan. mampu berkompetensi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup bisnis dan manajemen. Pelaksanaan pembelajaran di SMK Bisnis dan Manajemen adalah realisasi pembelajaran program produktif yang di tekankan pada penguasaan dasar-dasar keahlian yang luas. dan (4). Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. (3). adaptif dan kreatif (Depdikbud. mampu memilih karir. SMK Bisnis dan Manajemen Program Keahlian Penjualan sebagai bagian dari pendidikan menengah bertujuan menyiapkan siswa / tamatan : (1). Untuk pembelajaran mata diklat produktif penjualan sesuai kurikulum 2004 adalah 30% teori dan 70% praktek di lapangan. menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup bisnis dan manajemen. Memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian bisnis dan manajemen.mengembangkan dan menginternalisasi sikap dan nilai profesionalisme sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul. Guru 2 .

yang salah satunya adalah kinerja guru yang profesional. Sedangkan menurut Rice dan Bishoprick (1971). pelaksanaan pembelajaran sampai evaluasi pembelajaran secara terpadu. kompetensi pribadi. teknologi. Kualitas guru 3 . kompetensi sosial dan kompetensi spiritual (Tilaar. Kualitas pendidikan akan terwujud jika proses belajar mengajar di kelas berlangsung dengan baik. dalam arti guru yang melaksanakan proses belajar mengajar telah melakukan perencanaan pembelajaran. Seorang guru profesional harus memiliki beberapa kompetensi. guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. 2002:338).adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan guru memegang posisi yang sangat strategis dalam upaya menciptakan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. karena keberadaan guru sangat berpengaruh terhadap semua sumber daya pendidikan yang ada. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya komponen yang mendukung. Menurut Uzer Usman (2005:15). yaitu kompetensi intelektul. Berbagai sumber daya pendidikan seperti. 2003:5). Kinerja guru sebagai kunci keberhasilan pendidikan. guru profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas sehari–hari (Bafadal. sarana dan prasarana. kompetensi fisik. biaya. informasi. siswa dan orang tua siswa dapat berfungsi dengan baik apabila guru memiliki kemampuan yang baik pula dalam menggunakan semua sumber daya yang ada.

hubungan dengan sesama guru. Menurut Indra Djati Sidi (2001). Secara ideal guru yang diharapkan adalah guru yang memiliki keberdayaan untuk mampu mewujudkan kinerja dalam melaksanakan fungsi dan perannya secara profesional. 1999:220). sikap dan ketrampilan profesionalnya. Perwujudan tersebut terutama tercermin melalui keunggulannya dalam mengajar. untuk menganalisis dimensi kinerja dapat digambarkan sebagai berikut : Kemampuan Kinerja Motivasi Kesempatan Gambar 1.1 Sumber : Dimensi Kinerja : Robbins (2001:218) Terlihat pada teori perilaku organisasi diatas bahwa kinerja (performance) merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Dalam kajian teori Robbins (2001:218). Persamaan ini menggambarkan bahwa performance merupakan fungsi dari motivasi dan kemampuan. tetapi beralih sebagai pelatih (coach). yang temasuk dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas. hubungan dengan pihak lain. dan Sikap sebagai guru (Arikunto. Semakin tinggi 4 . yaitu kinerja = f (AxM). dan manajer belajar (learning teacher) (Syaukani:2002:51). pembimbing (counselor).dapat dilihat dari 3 indikator yaitu: Kemampuan umum. persepsi terhadap profesi guru. hubungan dengan siswa. dimana fungsi guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar.

berdasarkan hasil survei pendahuluan di sekolah yang akan di jadikan objek penelitian. maka peneliti menduga tinggi rendahnya kinerja guru ditentukan oleh kemampuan Intelektual dan motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap guru. Dari teori Robbins tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja guru adalah kemampuan. Tingkat-tingkat kinerja yang tinggi sebagian merupakan fungsi dan tidak adanya rintangan yang mengendalai karyawan itu. yang idealnya adalah 18 jam/minggu tatap muka. karena mengingat seorang individu mungkin bersedia dan mampu namun ada rintangan yang mengendalai kinerja. Selain itu. diberikannya kesempatan yang cukup luas bagi guru yang akan studi lanjut. Kemampuan seseorang menurut Robbins (2001:46). seminar dan sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan dilakukannya secara rutin supervisi ke setiap SMK. Kemampuan intelektual adalah sejumlah 5 .motivasi dan kemampuan seorang. motivasi dan kesempatan. Kenyataan di lapangan menunjukkan.1% belum sesuai antara pendidikan dengan bidang pekerjaan. Namun demikian dalam teori ditambahkan kesempatan untuk berkinerja. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para guru. peneliti menemukan data jumlah guru pengampu mata diklat produktif penjualan sebesar 16.2 % guru mengajar melebihi dari standar yang telah ditetapkan. meliputi kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Sehingga persoalan kinerja guru menjadi perhatian yang cukup serius oleh Cabang Dinas pendidikan kabupaten Kebumen. bahwa kinerja guru belum optimal. Dari permasalahan yang terungkap diatas. Dan untuk peraturan jam mengajar yang telah ditetapkan setiap guru mengajar 24 jam/minggu. dalam kenyataannya sebanyak 74. maka akan semakin tinggi pula kinerjanya.

Kemampuan Intelektual seseorang menunjukkan tingkat kecerdasan. begitu pula sebaliknya. Semakin tinggi kemampuan intelektual dan motivasi kerja seseorang maka semakin tinggi pula kinerjanya. 1. Hal ini terbukti dengan adanya supervisi rutin pada setiap SMK. 6 . Sedangkan motivasi kerja merupakan kekuatan pendorong bagi seorang guru untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. dan seminar yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu guru. Berdasarkan latar belakang diatas. Kondisi di lapangan pada SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen adalah masih banyak guru yang belum memiliki kinerja yang optimal. penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru program produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. adanya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para guru. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Peneliti berharap hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi masukan bagi guru dan lembaga terkait untuk lebih memperhatikan kinerja guru agar lebih ditingkatkan. Kinerja guru masih dirasakan belum memuaskan. B.kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Identifikasi dan Perumusan Masalah. Dengan kinerja guru yang optimal maka pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi siswa dan mutu pendidikan juga semakin baik.

Bagaimana gambaran kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Bervariasinya latar belakang pendidikan guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen. jumlah jam mengajar. 3.2 % belum sesuai standar. Selain itu untuk jumlah jam mengajar guru sebanyak 74. Berdasarkan pada identifikasi masalah diatas. yaitu : 1. 7 .2. perumusan masalah yang diungkap dalam penelitian ini. 4. Bagaimana gambaran kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Seberapa besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. 6. kesejahteraan dan pengalaman. 5. Bagaimana gambaran motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Seberapa besar pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Seberapa besar pengaruh bersama kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. 2. Masalah kinerja guru tidak bisa lepas dari masalah latar belakang pendidikan dan relevansinya dengan mata diklat yang di ampunya.

Motivasi Kerja Motivasi adalah daya pendorong atau penggerak dalam diri seorang individu untuk bertindak. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan / kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugasnya. Penegasan Istilah Penegasan istilah dimaksudkan untuk menghindari penafsiran istilahistilah yang beragam dan memberikan gambaran yang lebih jelas. Kinerja Guru Kinerja Guru adalah hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar. Kemampuan Intelektual Kemampuan intelektual adalah sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Dalam penelitian ini kinerja guru yang dimaksud adalah kinerja guru dalam proses belajar mengajar yaitu penampilan guru dalam mengelola PBM dari membuka sampai menutup pelajaran. Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut : 1. 2. 4.C. 3. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Mata Diklat Produktif Penjualan Adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi standar atau kemampuan produktif pada suatu 8 .

(c). b. meliputi : (a).pekerjaan atau keahlian tertentu yang relevan dengan tuntutan permintaan pasar kerja. Profil kompetensi mata diklat penjualan. d. dan (h). mengerjakan siklus akuntansi untuk perusahaan jasa dan dagang skala kecil. melaksanakan pelayanan prima. melakukan penjualan (Depdikbud. SMK Bisnis dan Manajemen Se-Kabupaten Kebumen Adalah SMK Bisnis dan Manajemen yang ada di Kabupaten Kebumen. (d). menerapkan prinsip pemasaran. Untuk mendiskripsikan motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Untuk mendiskripsikan kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. (f). Tujuan Penelitian ini adalah : a. D. 9 . 1999:3). Untuk mendiskripsikan kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. (g). c. mengoperasikan mesin-mesin bisnis. (b). Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kebumen. mengetik berbagai naskah/dokumen. 5. membuka usaha kecil. (e). membuat surat niaga dan menerapkan sistem kearsipan.

Manfaat Teoritis Memberikan masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsepkonsep baru terutama untuk pengembangan pemikiran dalam memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan kinerja guru. f. yaitu: pendahuluan. serta penutup. landasan teori. Memberikan masukan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun berdasarkan sistematika baku untuk penulisan skripsi. Untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.e. Skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut: 10 . 2). hasil penelitian dan pembahasan. Manfaat Penelitian a. Manfaat Praktis 1). E. 2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh bersama kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. b. Memberikan masukan kepada sekolah dan diknas sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan intelektual. metode penelitian. motivasi kerja dan kinerja guru. motivasi kerja dan kinerjanya.

Landasanlandasan teori yang dikemukakan dalam skripsi ini meliputi: kinerja guru. variabel penelitian. Bab empat. penegasan istilah. validitas dan reliabilitas. Bab dua. Bab ini memuat hasil yang diperoleh dari lapangan. tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika skripsi. identifikasi dan perumusan masalah. yang di dalamnya mencakup: latar belakang masalah. Landasan Teori dan Hipotesis. Selanjutnya akan diberikan saran-saran yang berkaitan erat dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini. Pendahuluan. Dalam bab ini penulis memberikan gambaran secara garis besar mengenai latar belakang penelitian. sehingga penyusunan skripsi ini dapat dipeoleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hasil Penelitian dan Pembahasan. yang terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan Bab lima. metode pengumpulan data. 11 . Bab ini merupakan metodologi penelitian yang berisi penggambaran yang terperinci mengenai objek yang digunakan. Metodologi Penelitian. Penutup.Bab satu. serta metode analisis data. Dari hasil penelitian yang dianalisis dapat diambil kesimpulan yang akan dimasukkan dalam bab terakhir ini. Bab tiga. Bab ini memuat tentang populasi. kemampuan intelektual dan motivasi kerja. Bab ini merupakan landasan teoritis yang mendasari penganalisisan masalah yang akan dibahas.

Kedudukan Guru dalam Proses Belajar Mengajar Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. yakni mengadakan suatu jembatan antara sekolah dengan luar sekolah. bakat dan kreativitas. Landasan Teori 1. Profesi sebagai pengajar menjadikan tugas guru secara langsung menyentuh manusia menyangkut kepentingan dan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan dan kemandirian melalui proses pembelajaran. Dikatakan “ilmu pengetahuan” (science). ilmu pengetahuan dan sekaligus juga suatu pekerjaan yang memerlukan waktu yang banyak. Menurut Woolfolk (Soekartawi. Pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Pengajaran yang dilakukan oleh guru itu dilaksanakan dalam interaksi edukatif antara guru dan murid yaitu antara keadaan internal dan proses kognitif siswa. karena mengajar itu membutuhkan inspirasi. Dikatakan “seni” (art). 1995:32). mengajar itu adalah seni. karena mengajar itu memerlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (bahan ajar) yang diberikan dan juga penguasaan terhadap keterampilan di dalam 13 12 . Guru memiliki dua fungsi istimewa yang sekaligus membedakannya dari pegawai atau pekerja lainnya dalam masyarakat.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. intuisi. serta mengadakan hubungan antara dunia muda dengan dunia dewasa dalam konteks pembelajaran.

Kedudukan guru yang strategis ini kemudian diperlukan perwujudannya melalui kinerja guru. melainkan terjadinya interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya yang cukup kompleks. Hal ini disebabkan pemahaman guru tentang belajar akan mempengaruhi cara guru itu mengajar. guru sebagai pembimbing. Mengajar bukan sekedar penyampaian ilmu pengetahuan.memberikan bahan ajar tersebut. (2). tanggungjawab dalam pengajaran. Sedang Peters. Kinerja guru dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya peranan guru sesuai dengan tanggung jawab dan tugasnya. guru sebagai pengajar. yaitu (1). dan (3). tanggung jawab dalam mengembangkan 13 . yakni (1). Peters mengemukan tugas dan tanggungjawab guru. Amstrong membagi tugas dan tanggung jawab guru dalam lima kategori. (4). Dengan demikian seorang pengajar memerlukan keahlian dalam memilih dan melaksanakan cara mengajar yang terbaik agar ilmu pengetahuan tersebut dapat diberikan dengan baik di kelas dan siswa dapat menerimanya dengan baik pula. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. guru sebagai administrasi kelas. (2) tanggungjawab dalam memberikan bimbingan. (3). Belajar merupakan hal yang penting dan utama dalam proses belajar mengajar. tanggung jawab mengembangkan kurikulum. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

lecture. Menurut Uzer Usman (2005) peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi : a. Guru sebagai Demonstrator Guru dalam peranannya sebagai demonstrator. Dan guru sebagai manajer hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil yang 14 . Guru sebagai Pengelola Kelas Guru dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager). memahami kurikulum. dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dam memberikan informasi kepada kelas. serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas. tanggung jawab dalam membina masyarakat (Sudjana. harus mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. hubungan pribadi antar siswa di dalam kelas. atau pengajar. b. Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas tergantung pada banyak faktor.prestasi. 2004:15). Seorang guru hendaknya mampu dan terampil dalam merumuskan TIK. antara lain ialah guru. Akhirnya seorang guru akan dapat memainkan peranannya sebagai pengajar yang baik apabila ia menguasai dan mampu melaksanakan ketrampilan – ketrampilan tugasnya. senantiasa harus menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. dan (5).

serta ketetapan atau keefektifan metode mengajar. dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Guru sebagai Mediator dan Fasilitator Sebagai mediator. penguasaan siswa terhadap pelajaran. buku teks. Sebagai manajer lingkungan belajar guru hendaknya mampu menggunakan pengetahuan tentang teori–teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan. guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan. Dengan penilaian. Sedangkan sebagai fasilitator. guru dapat mengklarifikasikan apakah 15 . d. guru harus mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar.optimal. Guru sebagai Evaluator Dalam proses belajar mengajar guru harus dapat menjadi seorang evaluator yang baik. baik yang berupa nara sumber. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Dengan penilaian. c. guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupaka alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Tujuan lain dari penilaian diantaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum. majalah ataupun surat kabar.

mengungkapkan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan.. prestasi kerja atau penampilan kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan. karena tugas utama guru adalah mengelola kegiatan belajar mengajar. Smith menyatakan kinerja adalah “. Berkenaan dengan kinerja guru sebagai pengajar. dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. juga berarti prestasi kerja. 2.seorang siswa kelompok siswa yang pandai. jadi kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. 2001:50). Menurut Fattah (2000:19). Selain itu 16 . Performance diterjemahkan menjadi kinerja. kurang atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan dengan teman–temannya.. sikap dan keterampilan.. sedang. menurut Uzer Usman (2005:16). Pengertian Kinerja Guru Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan tergantung pada bagaimana para personel dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. hasil kerja atau unjuk kerja (LAN. pelaksanaan kerja. Kinerja Guru a. dalam Sedarmayanti. August W.. kemampuan profesional dan kemampuan sosial. (Sedarmayanti. mencakup aspek kemampuan personal. Sedangkan menurut Mathis (2002:78). pencapaian kerja. Dalam organisasi sekolah berhasil tidaknya tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja guru.Output drive from processes. human or otherwise”. 2001:50).

kemampuan menggerakkan dan memotivasi siswa untuk belajar dan kerjasama dengan guru lain. Kinerja guru sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan oleh guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya.R. Kinerja guru sebenarnya tidak hanya dalam proses belajar mengajar.capability dan communication. Mitchell (1978). Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang tediri kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar.T. Namun demikian proses belajar mengajar 17 . yaitu quality of work. Berdasarkan uraian diatas dapat di simpulkan. kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah hasil kerja atau prestasi kerja yang dicapai oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar dari mulai membuka pelajaran sampai menutup pelajaran. Dalam penelitian ini. kemudian pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. tetapi lebih luas lagi mencakup hak dan wewenang guru yang dimiliki. initiative. menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan di evaluasi oleh orang-orang tertentu. Kinerja seorang guru dilihat dari sejauh mana guru tersebut melaksanakan tugasnya dengan tertib dan bertanggungjawab. kinerja adalah suatu hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai oleh pekerja dalam bidang pekerjaannya. Kinerja guru atau prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan. menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek. promptness.

kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya. Penilaian kinerja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sesuai dengan standar yang dibakukan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi pekerja sendiri untuk dapat mengetahui kelemahan.dipandang sebagai sebuah posisi dimana muara segala kinerja guru tertampung didalamnya. Untuk mengetahui apakah tugas. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya mengadakan penilaian terhadap kinerja organisasi merupakan hal yang penting. yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan proses belajar mengajar. Diknas sampai saat ini belum melakukan perubahan yang mendasar tentang standar kinerja guru. tanggung jawab dan wewenang guru sudah dilaksanakan atau belum maka perlu adanya penilaian objektif terhadap kinerja. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban. b. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu. Penilaian kinerja Kinerja mempunyai hubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan usaha untuk mencapai tingkat produktivitas organisasi yang tinggi. Penilaian pelaksanaan pekerjaan ini adalah suatu proses yang dipergunakan oleh organisasi untuk menilai pelaksanaan pekerjaan pegawai. dan secara garis besar 18 .

berkomunikasi dengan siswa. (4). yaitu : (1). Ke duabelas kompetensi inilah yang dapat dilihat melalui alat penilaian kemampuan guru (APKG). Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. mendemonstrasikan khasanah metode mengajar. (3). melaksanakan pembelajaran. melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi bbelajar peserta didik. Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran.masih mengacu pada rumusan 12 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru yaitu: (1). Kemampuan guru dalam mengajar di kelas. menilai prestasi belajar. bersikap terbuka dan luwes terhadap siswa dan orang lain. yang meliputi: menggunakan metode. (6). perencanaan pengelolaan kelas. mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran. Aspek-aspek APKG secara umum dapat dikelompokkan kedalam tiga kemampuan. memahami landasan kependidikan. dan (12). yang meliputi: membantu mengembangkan sikap positif pada diri siswa. (9). Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran. Mengembangkan profesi (Depdikbud. Memahami kebijakan pendidikan. media dan bahan latihan. menyusun rencana pembelajaran. (8). mengorganisasikan waktu. perencanaan penilaian hasil belajar siswa. Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran. (7). (2). (2). perencanaan pengelolaan media dan sumber. (3). (5). memahami tingkat perkembangan siswa. Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan. ruang. (11). bahan dan perlengkapan. 19 . (10). 2004:7). yang meliputi: perencanaan pengorganisasian bahan pengajaran. dan evaluasi hasil belajar. Kemampuan guru dalam mengadakan hubungan antar pribadi. perencanaan pengelolahan kegiatan belajar mengajar. mendorong mengadakan keterlibatan siswa dalam pengajaran.

dan (5). dan (8). menguasai landasan pendidikan. Menguasai bahan pelajaran. 20 . (5). (3). menyebutkan seorang pengajar harus mampu merencanakan. Sedangkan menurut Uzer usman (2005:17) kemampuan profesional guru meliputi. Menilai kemajuan proses belajar mengajar dan (4). membuat. (2). kemampuan guru dalam (1). menguasai bahan pengajaran. (4). meliputi: (1). (6). memiliki dan menggunakan media pendidkan yang tepat. Rumusan lain mengenai kompetensi profesional guru yang dikembangkan oleh Tim Dosen Pembina Ilmu Keguruan IKIP Jakarta. menyusun program pengajaran.menampilkan kegairahan dan kesungguhan dalam proses belajar mengajar serta dalam pelajaran yang diajarkan. sehingga efektif dan tidak membosankan. mengembangkan semua kemampuan yang dimilikinya ke tingkat yang lebih efektif dan efisien (Supeno. memanage interaksi belajar mengajar. memilih dan melaksanakan metode penyampaian yang tepat untuk mata pelajaran tertentu. (2). (3). Merencanakan proses belajar mengajar. menguasai. yaitu (1). (3). melaksanakan dan mengevaluasi pengajaran. mengorganisasikan materi pelajaran. Sedangkan menurut Soekartawi (1995:32). Melaksanakan dan mengelolah proses belajar mengajar. (2). merumuskan tujuan instruksional. (4). Menurut Sudjana (2002:17). memanfaatkan sumbersumber materi dan belajar. mengetahui dan menggunakan assesmen siswa. dan mengelolah interaksi pribadi dalam kelas. kinerja guru dapat dilihat dari kompetensinya melaksanakan tugas-tugas guru. menilai hasil dan proses belajar mengajar. (7). 1995:31). melaksanakan program pengajaran.

c). e). Mengklarifikasi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran apabila siswa belum jelas. Memeriksa ketersediaan alat tulis dan penghapus e).Berdasarkan dari uraian diatas indikator dalam penelitian kinerja guru dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: 1). Kesesuaian metode pembelajaran Deskriptor: 21 . Memeriksa kehadiran siswa. Kemampuan berkomunikasi dengan siswa Deskriptor: a). d). Menertibkan suasana kelas. c). Memeriksa kebersihan kelas d). Memeriksa kesiapan alat-alat pelajaran siswa 2). Menggunakan ekspresi lisan atau tertulis yang dapat ditangkap oleh siswa. Menggunakan dan memperhatikan respon dan pertanyaan siswa dalam pembelajaran. Ucapan jelas dan mudah dimengerti. 3). Membuka pelajaran Deskriptor: a). b). Memberi petunjuk dan penjelasan yang berkaitan dengan isi pelajaran dengan baik b).

Mendemonstrasikan kemampuan pembelajaran secara individual di dalam kelompok kecil atau besar di dalam kelas. Mengidentifikasikan dan merespon siswa yang tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Penguasaan materi b). c). b). Menggunakan jenis kegiatan yang sesuai dengan kemampuan siswa d). Menggunakan lebih dari dua metode yang sesuai dengan tujuan. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. b). Penguasaan materi pembelajaran Deskriptor: a). d). menarik dan mendorong siswa untuk memulai pelajaran. Deskriptor: a). c). e). 5). Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. 4). materi dan kebutuhan siswa. Mempersiapkan. Kejelasan materi 22 . Mendemonstrasikan kemampuan pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat. Merespon siswa yang berpartisipasi (bertanya atau menjawab) e). Mengimplementasikan kegiatan belajar dalam urutan yang logis. Guru memberi bimbingan secara individual kepada siswa yang memerlukan bantuan sesuai dengan masalah dan kebutuhannya.a).

e). Deskriptor: a). d). siswa. Menulis dimulai dari tepi kiri b). Memanfaatkan alat bantu dan sumber belajar yang tersedia. Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan menilai hasil belajar siswa. b). 8). Penggunaan sumber belajar yang tepat. Menggunakan papan tulis dengan baik (tidak pemborosan) 7). Tulisan mudah dimengerti d). Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar Deskriptor: a). Menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan lingkungan. 23 . c). Menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Tulisan jelas dan mudah dibaca c). Keterampilan menulis di papan tulis Deskriptor: a). 6).c). Keteraturan materi d). Melakukan penilaian awal/apersepsi yang relevan dengan bahan yang akan diajarkan. Mendorong siswa memahami dan memecahkan masalah kehidupan melalui konsep yang telah dipelajari.

9). Keefektifan pembelajaran Deskriptor: a). Selama pengajaran memberikan tugas-tugas sesuai dengan tujuan pembelajaran. bekerjasama dan tenggang rasa). Memberi penugasan agar siswa memberi kesimpulan materi yang telah disampaikan. Keterampilan memberikan balikan Deskriptor: Menunjukkan pengaruh penilaian terhadap kesadaran siswa untuk memahami kesalahan dan kesulitan belajarnya. d). Pembelajaran lancar c). Mengetahui penguasaan materi dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa selama PBM c). 24 . Guru membuat rangkuman materi pembelajaran. Tujuan pembelajaran tercapai b). Suasana kelas terkendali d). 10). Menutup pelajaran Deskriptor: a). b).b). Memberikan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi. d). Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran. Terbentuknya dampak pengiring (misalnya ada kesempatan bagi siswa untuk dapat bertanggungjawab. 11). Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah materi di sampaikan c).

Penampilan guru dalam pembelajaran Deskriptor: a). pandai sekali/cerdas (genius) atau pandir/dungu (idiot). (Depdikbud. Pengertian Inteligensi Dalam kehidupan sehari–hari orang bekerja. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Intelektual berarti cerdas. kita dapat mengatakan seseorang pandai atau bodoh. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan inteligensinya. Suara dapat di dengar oleh seluruh siswa dalam kelas yang bersangkutan. Kemampuan Intelektual a. Tegas dalam mengambil keputusan. berfikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Dilihat dari inteligensinya. 12). Posisi bervariasi (tidak terpaku pada satu tempat. 2000:437). dan tidak terlalu banyak mondar-mandir) d). Berbusana rapi b). daya menghubungkan serta 25 . e). Ramah dan menyenangkan. yang berarti: “ Proses kognitif berfikir.e). berakal. dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. c). Istilah intelek menurut Chaplin (1981) berasal dari kata intellect (Bahasa Inggris). 3. Memberikan penugasan kepada siswa berupa pekerjaan rumah.

kemampuan menilai dan mempertimbangkan, dan kemampuan mental atau inteligensi.” ( Soeparwoto, 2005:81) Menurut William Stern, inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuan (Purwanto, 2003:52). Wechler (1958) merumuskan inteligensi sebagai keseluruhan

kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif (Sunarto dan hartono, 1998:100). Menurut Robbins (2001:46), kemampuan intelektual adalah kemampuan mental yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Sedangkan Tilaar (2002:338), kemampuan intelektual guru ialah berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk manunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru. Berkaitan dengan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan Intelektual adalah kapasitas umum dari kesadaran individu untuk berfikir, menyesuaikan diri, memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana, cepat dan tepat baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. Robbins (2001:46), menyebutkan dimensi yang membentuk

kemampuan intelektual ini terdiri dari tujuh dimensi yaitu: 1). Kemahiran berhitung adalah kemampuan untuk berhitung dengan cepat dan tepat. 2). Pemahaman verbal adalah kemampuan memahami apa yang dibaca / didengar serta hubungan kata satu dengan yang lainnya. 3). Kecepatan konseptual adalah kemampuan mengenali kemiripan dan beda visual dengan cepat dan tepat.

26

4). Penalaran induktif adalah kemampuan mengenali suatu urutan logis dalam suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah itu. 5). Penalaran deduktif adalah kemampuann menggunakan logika dan menilai implikasi dari suatu argumen. 6). Visualisasi ruang adalah kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisinya dalam ruang di ubah. 7). Ingatan (memori) adalah kemampuan mendalam dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Sedangkan menurut Munzert (2000:36), identifikasi kemampuan intelektual yang tertuang dalam sikap inteligensi (intelligent behavior) antara lain: (1). mengenal soal pengetahuan dan informasi ke pengertian yang lebih luas; (2). Ingatan; (3). Aplikasi akan tepatnya belajar dari situasi yang berlangsung; (4). Kecepatan memberikan jawaban dan penyelesaian dan kemampuan memecahkan masalah; dan (5). Keseluruhan tindakan

menempatkan segalanya dengan seimbang dan efisien. Seorang guru merupakan profesi intelektual, menurut Purwanto (2003:54) suatu perbuatan dapat dianggap inteligen bila memenuhi beberapa syarat antara lain: 1). Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. 2). Perbuatan intelijen sifatnya serasi dan ekonomis. 3). Masalah yang dihadapi harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. 4). Keterangan pemecahan harus dapat diterima oleh masyarakat. 5). Dalam berbuat intelijen seringkali menggunakan daya mengabstraksi. 6). Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan. 7). Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalanya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Menurut Suparno (2003:75), sikap-sikap yang dikembangkan oleh seorang yang intelektual, yaitu (1). terus belajar; (2). Berpikir rasional, kritis dan bebas; (3). mengembangkan angan-angan (cita-cita); (4). aktif mencari,

27

kreatif dan inisiatif; (5). berani bertindak dan bertanggungjawab; (6).sikap reflektif dan (7). pembela kebenaran dan keadilan. Guru sebagai seorang intelektual juga harus mengembangkan sikap tersebut, antara lain: 1). Terus belajar, yaitu seorang guru harus terus belajar, terus

mengembangkan bidang keahliannya, karena pengetahuan selalu berkembang. Guru yang tidak mengembangkan pengetahuannya, akan cenderung kolot dan otoriter dalam mengajar, seakan-akan dialah yang benar dan tidak memberikan ruang bagi siswanya untuk berfikir secara alternatif. 2). Berfikir rasional, kritis dan bebas yaitu guru diharapkan dapat mengembangkan pemikiran yang rasional, kritis dan bebas. Rasional artinya guru dapat mengembangkan pemikiran yang berdasarkan alasan dan argumentasi dan logika yang benar, bukan berdasarkan emosi atau asal menang. Dia dapat berdiskusi secara terbuka dengan siswa atau guru lain, tanpa takut kalah ataupun direndahkan. Berfikir kritis artinya seorang guru dalam mendalami, menghadapi sesuatu hal tidak hanya asal menerima saja, tetapi harus selalu bertanya apakah hal itu benar demikian, atau ada yang tidak benar atau masih dapat dikembangkan. Dan bebas artinya guru bebas untuk berfikir dan mengembangkan pikirannya. Dengan mengembangkan kebebasan berfikir, diharapkan guru dapat lebih kreatif dan mengembangkan inovasi baru dalam proses pendidikan.

28

artinya seorang guru dalam mengembangkan pembelajaran harus selalu mencari yang terbaik bagi siswa yang diajarkan. Sikap reflektif. kreatifitas dan keaktifan mencari. Pikirannya selalu tertutup. Berani bertindak dan bertanggungjawab. artinya guru bukan seorang yang asal menjalankan perintah atau aturan. Guru dituntut untuk berani bertindak dan mempertanggungjawabkan apa yang ditentukan dan dipilihnya. yaitu seorang guru dapat menjadi tonngak kebenaran. 5). Dia dapat menjadi suara hati 29 . Mengembangkan angan-angan (cita-cita). Disinilah guru dituntut punya inisiatif. Sikap reflektif inilah yang memungkinkan guru memperbaiki diri dalam pengetahuan. menjadi pembela kebenaran. kreatif dan inisiatif. 6). tetapi seorang yang melihat situasinya dan bertindak sesuai dengan situasi yang ada. bahkan mungkin untuk memikirkan yang aneh-aneh. pembelajaran. dan mengambil tindakan apa yang paling pas untuk siswa dikelasnya.3). Membela kebenaran. Hal ini penting karena banyak situasi sekolah tempat bekerja guru berbeda dengan situasi yang tertulis dalam aturan atau kurikulum. 4). kadang-kadang guru yang tidak kreatif dalam proses pembelajaran karena mereka tidak punya angan-angan tentang pembelajaran yang baik dan ideal. kurang dibiarkan lepas bebas. melihat. dalam sikap maupun dalam relasi dengan siswa. Aktif mencari. artinya sikap untuk selalu bertanya dan melihat kembali apa yang telah diperbuat dan akan diperbuatnya. 7).

Pembawaan Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama. Faktor – Faktor yang mempengaruhi Intelektual Menurut Purwanto (2003:57). adil atau tidak dan melanggar suara hati atau tidak. Kematangan Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. 2). Kematangan berhubungan erat dengan umur. yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal. b. “Batas kesanggupan kita”. Sehingga dengan berfikir secara rasional ini seorang guru akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungannya secara efektif. 30 . Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. dimana dapat melihat itu baik atau tidak. perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh. benar atau tidak.masyarakat. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini kemampuan Intelektual adalah sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang dan digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami diri sendiri maupun di lingkungan. faktor-faktor yang mempengaruhi intelektual seseorang antara lain : 1).

4). 5). Minat Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar). meneliti dan menulis. Fungsi Kemampuan Intelektual dalam Meningkatkan kinerja. Kemampuan intelektual yang dimiliki oleh seseorang menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang sehingga ia akan lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan selama bekerja. membimbing. 31 . Pembentukan Pembentukan adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. juga bebas memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. membaca. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode. Apa yang menarik minat seseorang untuk menjadi guru mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Kebebasan Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah–masalah. Profesi guru adalah profesi intelektual yang mencakup mengajar. c. melatih. lebih cepat mengembangkan kemampuan diri dan akhirnya mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga dengan kemampuan intelektualnya seorang guru akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.3).

Sedangkan menurut Robbins (2001:166). Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama dengan efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Dan tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu. Menurut Fattah (2003:19). kerja merupakan kegiatan dalam melakukan sesuatu. Motivasi kerja terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan kerja. 2003:94). Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. 32 .4. Menurut Hasibuan (2003:95). Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. Pengertian Motivasi Kerja Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya potensi bawahan agar mau bekerja secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. yang mempunyai arti suatu perangsang. Motivasi Kerja a. motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan suatu pekerjaan (Hasibuan. keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. motivasi berasal dari kata dasar motif.

dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif.Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan. Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6). dan menyebabkan seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya. yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud motivasi kerja adalah sesuatu yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap pekerjaan guna mencapai tujuan. hal itu terjadi karena yang dipelajari adalah perilaku manusia yang komplek. motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia. Motivasi kerja guru akan mensuplai energi untuk bekerja / mengarahkan aktivitas selama bekerja. b. 2002:146). hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk. 33 . Jadi teori–teori ini perlu bagi organisasi dalam memahami karyawan (guru) dan mengarahkan karyawannya (guru) untuk melakukan sesuatu. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. Teori–Teori Motivasi Kerja Teori-teori motivasi kerja banyak lahir dari pendekatan–pendekatan yang berbeda–beda.

tanggungjawab penghargaan (Recognition). (Responsibility). tantangan (Challenge). kebijakan administratif. Sedangkan faktor instrinsik (motivator) adalah faktor yang kehadirannya dapat menimbulkan kepuasaan kerja dan meningkatkan prestasi atau hasil kerja individu. teknik supervisi. pengembangan (Development). faktor-faktor motivator meliputi: prestasi. Dalam teori motivasi herzberg. kondisi kerja dan kehidupan pribadi. (a). Teori motivasi dua faktor atau teori iklim sehat oleh Herzberg. motivasi seseorang akan ditentukan motivatornya.1). pengakuan. Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai kebutuhan “need” dapat mendorongnya mencapai sasaran. Termasuk dalam faktor ekstrinsik (hygienes) adalah hubungan interpersonal antara atasan dengan bawahan. yang meliputi: prestasi (Achievement). (c). Prestasi (achievment) adalah kebutuhan untuk memperoleh prestasi di bidang pekerjaan yang ditangani. tanggungjawab. pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang. kemajuan. Herzberg berpendapat bahwa ada dua faktor ekstrinsik dan instrinsik yang mempengaruhi seseorang bekerja. Tanggungjawab (responbility) adalah kebutuhan untuk memperoleh tanggungjawab dibidang pekerjaan yang ditangani. dan kesempatan (Opportunity). keterlibatan (Involvement). (b). Pengakuan (recoqnition) adalah kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari pimpinan atas hasil karya/hasil kerja yang telah dicapai. 34 . Menurut siswanto (1990:137).

Nilai insentif yang terletak pada tujuan. 35 . Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. rasa aman. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan yaitu: (a). Kebutuhan akan prestasi. dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (penghargaan dan aktualisasi diri).(d). Kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat. karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi. (f). Pekerjaan itu sendiri (the work it self) adalah kebutuhan untuk dapat menangani pekerjaan secara aktif sesuai minat dan bakat. seseorang menyadari bahwa dengan hanya mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. (e). dengan pendapatan yang besar ia dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhannya. Menurut Mc Clelland kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah kerja dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1). dan (c). kemungkinan berkembang (the possibility of growth) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier. Harapan dan keberhasilannya. Frederick Herzberg memilah herarki kebutuhan maslow menjadi kebutuhan tigkat rendah (fisiologis. Kemajuan (advencement) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier (jabatan). asalkan kemungkinan untuk hal itu diberi kesempatan. Teori motivasi prestasi kerja David Mc Clelland. 2). (b).

Pada teori yang dicapai dari Mc. Kebutuhan akan kekuasaan. (3). Implikasi teori ini ialah bahwa seorang pekerja mempunyai persepsi berkarya tidak hanya sekedar 36 . 2001:156). sebagai alat untuk membeli prestise atau mengendalikan pihak lain (Winardi.(2). penting sebagai suatu sumber umpan balik kinerja untuk kelompok karyawan yang berprestasi tinggi (High Achivers) ia dapat bersifat atraktif bagi orangorang yang memiliki kebutuhan tinggi akan afiliasi.Kebutuhan akan afiliasi seseorang karena kebutuhan afiliasi akan memotivasi dan mengembangkan diri serta memanfaatkan semua energinya. maka pada penelitian ini yang sesuai adalah teori dua faktor Herzberg untuk yang motivator. Ego manusia yang ingin berkuasa lebih dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. Herzberg mengatakan bahwa memberikan seseorang kenaikan gaji atau kondisi kerja yang baik tidak dapat memotivasinya karena kebutuhan tingkat rendah dapat dipenuhi secara cepat. persaingan ini oleh manajer ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya supaya termotivasi untuk bekerja giat. Clelland gaji/upah. Karena Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. dan ia sangat dinilai tinggi oleh orangorang yang memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan. Berdasarkan pada dua teori di atas. kebutuhan ini merupakan daya penggarak yang memotivasi semangat kerja seorang karyawan. apabila hal tersebut diberikan sebagai bonus kelompok.

2003:192). Jika guru mempunyai motivasi kerja tinggi maka ia akan bekerja dengan keras. Kedudukan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja Motivasi kerja merupakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan. Kebutuhan akan pengakuan. dan (5). c. senang hati. bagaimanapun kebutuhan itu dikategorisasikan. Pada dasarnya motivasi kerja seseorang itu berbeda-beda. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. (2). Ada motivasi kerjanya tinggi dan ada motivasi kerjanya rendah. Motivasi kerja erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang. Indikator dalam penelitian ini meliputi: (1). tetapi 37 . dan dengan dedikasi tinggi sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. tekun. Pekerjaan itu sendiri. B. (4). Kebutuhan akan Prestasi. bersifat produktif dan dapat melakukan pekerjaan yang memberikan keuntungan ekonomi dan sosial (Danim. Dalam mewujudkan mutu pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas tidak hanya bergantung pada satu komponen saja. KERANGKA BERFIKIR Pendidikan disebut bermutu manakala mampu melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan praktis pragmatis. akan tetapi sebagai wahana untuk memuaskan berbagai kepentingan dan kebutuhannya. Tanggungjawab. bila motivasi kerjanya tinggi maka akan berpengaruh pada kinerja yang tinggi dan sebaliknya jika motivasinya rendah maka akan menyebabkan kinerja yang dimiliki seseorang tersebut rendah. (3).mencari nafkah.

Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan guru memegang posisi yang sangat strategis dalam upaya menciptakan lulusan yang profesional dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang profesional. Karena proses belajar mengajar dipandang sebagai sebuah posisi dimana muara segala kinerja guru tertampung didalamnya. 2002:4). mata diklat produktif penjualan untuk teori 30% dan70% praktek mencakup dalam setiap kompetensi. dan biaya/dana. Mata diklat produktif penjualan adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi standar atau kemampuan produktif pada suatu pekerjaan atau keahlian penjualan yang relevan dengan tuntutan permintaan di pasar kerja. Seorang guru hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. guru juga merupakan unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan (Bafadal. sarana dan prasarana. kurikulum. Namun semua komponen pendidikan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara kontinyu berupaya mewujudkan gagasan. Sesuai kurikulum 2004. ide dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik. Sejalan dengan pendapat Adler. Sehingga hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk terus berkembang terutama dalam penguasaan praktik yang senantiasa 38 . media. yang meliputi siswa.semua komponen. materi.

Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya perlu di dukung adanya kinerja yang optimal. dan sebaliknya orang yang mempunyai kemampuan intelektual rendah dan motivasi rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah juga. Kinerja (performance) karyawan guru adalah merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi (Robbins.berkaitan dengan kondisi di lapangan yang begitu kompleks dan mampu menjalankan roda pembelajaran untuk melahirkan manusia sejati pada masyarakat pengguna jasa pendidikan yang terus berubah. Secara logika seorang yang mempunyai kemampuan intelektual tinggi dan didukung dengan motivasi tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Hubungan kemampuan intelektual dan motivasi kerja dengan kinerja guru mata diklat produktif penjualan dapat dinyatakan sebagai berikut : 39 . Kinerja Guru adalah hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya mengelola kegiatan belajar mengajar. karena guru sebagai komponen yang utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. selain mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Dengan demikian kinerja guru sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dan terwujud dari prestasi siswa yang baik. Seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. juga dituntut untuk memiliki motivasi kerja yang tinggi. Dalam hal ini kinerja guru dapat dilihat melalui penampilannya dalam proses belajar mengajar mulai dari pembukaan sampai penutupan pelajaran. 2001:218).

HIPOTESIS Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian. tanggung jawab. visualisasi ruang.1 Kerangka Berpikir Siswa Kemampuan Intelektual. Kemampuan verbal. penalaran induktif dan deduktif.” SMK Bisnis dan 40 . dan kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. kemampuan kuantitatif. Pekerjaan itu sendiri.Gambar 2. yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Ada pengaruh positif kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di Manajemen Se Kabupaten Kebumen. dan ingatan/memory Prestasi Siswa G U R U Kinerja Guru Motivasi Kerja Kebutuhan akan prestasi. Kebutuhan akan pengakuan. PBM C.

5.BAB III METODE PENELITIAN A. Adapun seluruh jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 3. kuantitatif maupun kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat–sifatnya. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. 6. hasil menghitung ataupun pengukuran. 3. 7. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru mata diklat produktif penjualan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bisnis dan Manajemen Se Kabupaten Kebumen. 2. Nama Sekolah SMK N 1 Kebumen SMK N 1 Karanganyar SMK PGRI 1 Kebumen SMK Batik Sakti 1 Kebumen SMK Batik Sakti 2 Kebumen SMK Tamtama Prembun SMK Yapek Gombong JUMLAH Jumlah Guru 6 5 4 4 5 3 4 31 41 . 2002:108). populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin. Menurut Sudjana (1996:6).1 Responden penelitian NO 1. 4.

variabel adalah konsep yang mempunyai macam–macam nilai. Oleh karena itu penelitian ini merupakan penelitian populasi. 42 . Variabel–variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Karena variabel sebagai objek penelitian maka menurut Nazir Moh. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto. diambil dari TIU (Tes Inteligensi Umum) dan TPA (Tes Potensi Akademik) Yayasan Dharma Graha Jakarta oleh Psikeater Yul Iskandar. B. Dalam penelitian ini. 2002:96). semua populasi dijadikan sampel. Variabel Bebas (X) a. 2002:109). hal ini untuk menentukan secara tapat keadaan populasi yang jumlahnya sedikit. Kemampuan Intelektual (X1) merujuk pada sejumlah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang digunakan untuk memecahkan permasalahan baik yang dialami sendiri maupun lingkungan. (1999:149). Sehingga dengan ketrampilan berfikir secara rasional ini individu akan mampu untuk bertindak secara terarah dan menghadapi lingkungan secara efektif.2. Untuk variabel kemampuan intelektual ini akan diungkap dengan tes inteligensi yang sudah menjadi standar. Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau sesuatu yang menjadi titik perhatian penelitian (Arikunto.

C. Kebutuhan akan Prestasi. (3).b. Variabel Terikat (Y) Kinerja Guru (Y) yaitu hasil kerja atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuannya dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. penguasaan materi pembelajaran. Motivasi Kerja (X2) adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. 2. mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Selain itu penentuan metode pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang diteliti akan membantu memperlancar 43 . kemampuan menilai hasil belajar. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. kemampuan berkomunikasi dengan siswa. kemampuan menulis di papan tulis.Tanggungjawab. (2). Kinerja guru yang dimaksud adalah kinerja guru dalam proses belajar mengajar yaitu penampilan guru dalam mengelola PBM dari membuka sampai menutup pelajaran. Indikator dari penelitian ini meliputi. ketrampilan memberikan balikan. dan (5). Kebutuhan akan pengakuan. Pekerjaan itu sendiri. keefektifan pembelajaran. (4). Metode Pengumpulan Data Penentuan metode pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Dengan indikator : (1). kesesuaian metode pembelajaran. ketrampilan menutup pelajaran dan penampilan dalam pembelajaran. kemampuan menggunakan media dan sumber belajar. ketrampilan membuka pelajaran.

Angket (Kuesioner) Angket (kuesioner) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Alasan digunakan metode ini adalah: (a). 2. (b). 2002:128). Responden adalah orang yang tahu tentang dirinya sendiri sehingga akan diperoleh data yang lengkap dan benar sebab materi yang diungkap lebih bersifat pribadi. Responden tinggal memilih jawaban yang yang disediakan. 2002:127). Untuk setiap pertanyaan terdiri lima alternatif jawaban dengan skor sebagai berikut: 44 . tenaga dan biaya.tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Instrumen tes yang digunakan untuk mengungkapkan data tingkat kemampuan intelektual guru. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang motivasi kerja sebagai variabel bebas. Menurut Riduwan (2002:25). Angket yang digunakan adalah angket tertutup. angket (kuesioner) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. dimana responden tidak diberi kesempatan untuk menjawab dengan kata-kata sendiri. atau hal–hal yang ia ketahui (Arikunto. Hemat waktu. Tes Tes adalah pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan baik secara individu atau kelompok (Arikunto. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1.

2002. 2 diberi skor 2 dan 1 diberi skor 1. sebagai pelengkap dalam memperoleh data. Alasan penggunaan instrumen observasi karena ada kecenderungan subjek penelitian untuk menyatakan kinerjanya dalam ukuran baik.jawaban 5 diberi skor 5. Sedangkan menurut Riduwan (2002:29). 2002:133). Dalam penelitian ini wawancara dilakukan kepada pihak Diknas.132). guru dan siswa. Wawancara Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. 3 diberi skor 3. Observasi Observasi adalah pemusatan perhatian terhadap obyek tertentu dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto. Instrumen ini digunakan untuk mengungkap data kinerja guru. 3. wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. jawaban 4 diberi skor 4. 3. Sebuah 45 . Validitas dan Reliabilitas 1. D. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat–tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto. Pelaksanaan pengambilan data kinerja guru dilakukan sendiri oleh peneliti dengan waktu selama dua minggu. kepala sekolah. 2002:144).

sebagai berikut: rxy = (N(∑ X ) − (∑ X ) )(N(∑Y ) − (∑Y ) ) 2 2 2 2 N ∑ XY − ∑ X ∑Y Keterangan: r XY = nilai Kofesien Korelasi X dan Y jumlah responden N = 46 . kemudian dikonsultasikan dengan tabel nilai r dengan taraf signifikan 95%. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Berdasarkan cara pengujiannya. validitas dibedakan menjadi dua macam yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Instrumen valid jika hasil korelasi skor tiap butir soal dengan skor total lebih besar dengan nilai tabel sebaliknya. 2002:147). Rumus yang digunakan untuk uji validitas menggunakan product moment dari Pearson. Dengan kata lain sebuah instrumen dikatakan validitas internal apabila setiap instrumen mendukung misi instrumen secara keseluruhan. yaitu dengan mengkorelasikan tiap butir pertanyaan dengan skor total. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan analisis butir.instrumen dikatakan valid apabila instrumen itu mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengukur data dari variabel yang diteliti secara tepat. yaitu mengungkap data dari variabel yang dimaksud. Dalam penelitian ini uji validitas yang digunakan adalah validitas internal yaitu validitas yang dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan (Arikunto.

Dalam penelitian ini untuk mencari reliabilitas instrumen menggunakan rumus Alpha. misalnya angket atau soal berbentuk uraian. 2002: 146) Untuk menentukan valid tidaknya instrumen adalah dengan cara mengkonsultasikan hasil perhitungan kofisien korelasi dengan tabel nilai kofisien korelasi(r) pada taraf signifikan 5% atau taraf kepercayaan 95%. Reliabilitas Reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat pengukur (Nazir Moh. Dari hasil uji validitas diketahui setiap item dari instrumen motivasi kerja dan kinerja guru mempunyai nilai r xy >r tabel maka instrumen tersebut dinyatakan valid. karena instrumen ini berbentuk angket yang skornya merupakan rentangan 1 sampai 5. maka menggunakan rumus Alpha sebagai berikut: 47 .X Y ∑ X = skor butir = 2 skor total = jumlah kuadrat nilai X ∑ Y 2 = jumlah kuadrat nilai Y (Arikunto. yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. 2002:154). 1999:162). Instrumen yang sudah dapat dipercaya. Untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. sehingga instrumen tersebut sudah layak untuk mengambil data. 2. Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto.

⎡ k ⎤⎡ r11 = ⎢ ⎥ ⎢1 − ⎣ (k − 1 ) ⎦ ⎢ ⎣ ∑σ σ 2 1 2 b ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ Keterangan : r 11 k : reliabilitas instrumen : b 2 banyaknya butir pertanyaan atau butir soal ∑σ 2 σ 12 : jumlah varians butir : varians total (Arikunto 2002: 171) Untuk mencari tiap butir digunakan rumus : ∑X2 − ∑( X ) N N 2 σ2 = Keterangan: σ = varian tiap butir X = jumlah skor tiap butir N = jumlah responden (Arikunto. Kedua nilai reliabilitas tersebut lebih besar daripada r tabel = 0. 48 . Setelah diperoleh kofisien reliabilitas kemudian dikonsultasikan dengan nilai r pada taraf signifikan 5% atau taraf kepercayaan 95%. Apabila r xy hitung > r xy tabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.514. yang berarti kedua instrumen tersebut reliabel.818 dan kinerja guru sebesar 0. 2002:172) Kemudian untuk menentukan reliabel tidaknya instrumen dilakukan dengan cara mengkonsultasikan dengan r tabel. Jika hasil perhitungan lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk mengambil data penelitian. Berdasarkan hasil uji reliabilitas untuk instrumen motivasi kerja sebesar 0.852.

Pekerjaan itu merupakan pilihan/keinginan sendiri. k. 4. Keterampilan memberikan balikan. f. b. Membuka pelajaran b. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 49 . Prestasi sekolah 2. Keterampilan menutup pelajaran l. b. Keefektifan pembelajaran. 3.Kesesuaian pekerjaan dengan pendidikan. Kebutuhan akan pengakuan a. Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar. Kebutuhan untuk kemajuan a. 5. Peluang pendidikan lanjut. h. Keinginan diakui keberadaannya. b. j. 3. Penguasaan materi pembelajaran. Pekerjaan itu sendiri a. e. Kesungguhan melaksanakan tugas. Kemampuan menilai hasil belajar siswa. Sanggup berkorban untuk kemajuan sekolah.E.2 Kisi-kisi Instrumen NO 1. Penampilan dalam pembelajaran. Kesempatan meningkatkan pengetahuan. i. Kesesuaian metode pembelajaran d. Tanggung jawab a. Kemampuan berkomunikasi dengan siswa c. Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pengakuan atas prestasi yang dicapai. KINERJA GURU a. b. Kebutuhan akan prestasi a. Prestasi belajar siswa b. BUTIR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2. VARIABEL/SUB VARIABEL MOTIVASI KERJA INDIKATOR 1. Ketrampilan menulis dipapan tulis g. Kisi – kisi Instrumen Tabel.

Pembobotan ini dilakukan dengan memberikan skor total dengan jumlah item masing-masing variabel yang dibobot. Menetapkan jumlah butir soal c). Adapun metode analisis data yang digunakan adalah : 1. jumlah item dan jumlah responden. Menetapkan jumlah skor minimal (terendah). yang diperoleh dari hasil perkalian antara skor terendah. Menetapkan jumlah skor maksimal (tertinggi). e). Teknik Analisis Data Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan.F. 3 diberi skor 3. Untuk mengukur variabel motivasi kerja dan kinerja guru dilakukan dengan memberi skor dari jawaban angket yang diisi responden dengan ketentuan sebagai berikut: 5 diberi skor 5. jumlah item dan jumlah responden. Menetapkan jumlah responden b). Sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan pembobotan terhadap skor masing-masing variabel. Langkah langkah yang ditempuh dalam penggunaan analisis data ini adalah sebai berikut: a). d). Analisis Deskriptif Persentase Tujuan analisis deskriptif persentase yaitu untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian secara umum. 2 diberi skor 2 dan 1 diberi skor 1. Menentukan persentase maksimal = 100% 50 . Dengan demikian dapat diketahui persentase antara motivasi kerja dan kinerja guru. 4 diberi skor 4. yang diperoleh dari hasil perkalian antara skor tertinggi.

Menentukan persentase minimal g). Menentukan rentang skor persentase. yang diperoleh dari skor tertinggi dikurangi skor terendah h).f). Menentukan jenjang kriteria. Menentukan rentang skor. Menentukan interval kelas skor. tinggi. Menentukan interval kelas persentase. Setelah didapatkan skor jawaban responden dan skor ideal. j). sedang. dalam penelitian ini ditetapkan lima jenjang kriteria yaitu sangat tinggi. rendah dan sangat rendah. yang diperoleh dari hasil pembagian rentang skor dengan jenjang kriteria k). Berdasarkan langkah-langkah diatas dapat diketahui kriteria setiap variabel m). dimasukkan rumus sebagai berikut: P= n x100% N Keterangan : P n N = persentase sub variabel = nilai yang diperoleh = jumlah seluruh nilai Dari perhitungan diatas. yang diperoleh dari hasil pembagian rentang persentase dengan jenjang kriteria l). yang diperoleh dari persentase maksimal dikurangi persentase minimal i). maka kriteria identifikasi dari motivasi kerja dan kinerja guru sebagai berikut: 51 .

6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Tabel 3.6 <Skor < 967.0 1264.0 < Skor < 669.5. Skor jawaban dan persentase untuk motivasi kerja (X2) Interval skor 1302 <Skor < 1550 1054 <Skor < 1302 806 <Skor < 1054 558 <Skor < 806 310 < Skor < 558 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah 2.Tabel 3.8 669.4 <Skor < 1860.2 372.2 <Skor < 1264.4.8 <Skor < 1562. Skor jawaban untuk kemampuan intelektual (X1) Skor nilai Kriteria 0 < Nilai < 25 Sangat rendah 25 < Nilai < 30 Rendah 30 < Nilai < 35 Sedang 35 < Nilai < 40 Tinggi 40 < Nilai < 50 Sangat tinggi Jumlah Sumber: Yul Iskandar (2005:112).4 967. Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana besarnya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. Tabel 3. Diolah. yaitu antara kemampuan intelektual (X1) dan motivasi kerja (X2) terhadap kinerja guru (Y). Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.3 Skor jawaban dan persentase kinerja guru (Y) Interval skor 1562. Sebelum dilakukan analisis data dengan regresi linier ganda perlu terlebih dahulu diuji syarat-syarat dalam analisis tersebut yaitu Uji Linieritas Garis Regresi. 52 .

Tabel 3. 2002:315) b= Untuk menguji kelinieran garis regrasi digunakan analisis seperti tabel berikut.Y = a + bX Keterangan : Y = Kinerja Guru (variabel terikat) a = Harga bilangan konstant b = Harga koefisien prediktor X = Variabel bebas Untuk mencari nilai a dan b digunakan rumus: a= (Σy )(Σx 2 ) − (Σx)(Σxy ) nΣx 2 − (Σx) 2 nΣxy − (Σx)(Σy ) nΣx 2 − (Σx) 2 (Sudjana.6 Uji Linieritas Garis Regresi Sumber variasi Tuna cocok dk k-2 JK JK (TC) KT JK ( TC ) S 2 TC = k −2 F Kekeliruan n-k JK(E) S 2E = JK ( E ) n − k S 2 TC S 2E Keterangan: JK (TC) = ∑ Y 2 JK (E) = ⎡ (∑ Υi )2 ⎤ ∑ Υi2 − ⎥ ∑⎢ ni ⎦ xi ⎣ JK (TC) = jumlah kuadrat tuna cocok 53 .

artinya varians variabel adalah konstan. Nilai rata-rata kesalahan populasi pada model stokhastiknya sama dengan nol. Setelah semua syarat dalam analisis regresi terpenuhi. Variabel dependen adalah nonstokhastik (setiap konstan pada setiap kali percobaan yang dilakukan secara berulang). 2000:85) Spesifikasi model tersebut menurut Algifari (2000:83) harus memenuhi beberapa asumsi sebagai berikut: (1). (5). Distribusi kesalahan adalah normal. 54 . Homokedastisitas. maka data dapat dianalisis dengan analisis regrasi linier berganda dengan rumus sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 Dimana: Y = Kinerja guru a = bilangan konstanta b = bilangan koefisien X1 = kemampuan Intelektual X2 = motivasi kerja (Algifari. (4). artinya tidak terdapat pengaruh dari variabel dalam model tenggang waktu. dan (6). (2). Non otokorelasi. Non multikolinieritas.JK (E) = jumlah kuadrat error Jika F<F Tabel pada dk pembilang (k-2) dan dk penyebut (n-k) dengan taraf signifikansi 5% maka persamaan regresi tersebut dinyatakan linier. (3). artinya antara variabel independen yang satu dengan independen yang lainnya dalam model regrasi tersebut tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna.

Sebaliknya jika F tabel hitung maka Ho diterima dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi berganda tidak mampu menjelaskan variabel terikat. dan evaluasi ekonometri: a). uji parsial. Nilai t dapat ditentukan dengan formula sebagai berikut: 55 . Nilai F hitung dapat ditemukan dengan formula: Freg R 2 (n − m − 1) = m 1− R2 ( ) Keterangan: R2 n m = koefisien determinasi = banyaknya sampel = banyaknya varians Apabila hasil perhitungan F sehingga dapat dikatakan bahwa hitung > F tabel maka Ho ditolak regresi dapat <F variabel bebas menerangkan variabel terikat secara serentak. b). Uji Simultan Uji simultan atau uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor kemampuan intektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupeten Kebumen. Uji Parsial Untuk menguji kemaknaan koefisien regresi parsial digunakan uji t.Untuk membuktikan kebenaran hipotesis harus melewati beberapa uji kebenaran yaitu uji simultan.

Evaluasi Ekonometri 56 . Untuk mencari besarnya r 2 . Atau secara matematis dapat ditulis dengan formula sebagai berikut: ⎡ ∑ ( y − y )⎤ ˆ r2 = 1− ⎢ ⎥ ⎢ ∑ ( y − y )⎥ ⎣ ⎦ Keterangan: r2 Y = besarnya koefisien determinasi = nilai variabel Y ˆ Y Y = nilai estimasi Y = nilai rata-rata varians Y (Algifari. Sebaliknya apabila t hit < t tab maka Ho diterima. dimana r 2 adalah satu dikurangi rasio antara besarnya deviasi Y observasi dari garis regresi dengan besar deviasi nilai Y observasi dari rata-ratanya. 2000: 41) maka Ho ditolak dengan demikian variabel > t tab bebas dapat menerangkan variabel terikat yang ada dalam model ini. dengan demikian variabel bebas tidak dapat menjelaskan variabel terikat atau dengan kata lain tidak ada pengaruh diantara dua variabel yang diuji.t = r n − 2 1 − r 2 Keterangan: r n = koefisien korelasi = banyaknya sampel Apabila t hit (Algifari. 2000: 32) c).

Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apabila terjadi penyimpangan model karena variance gangguan berbeda antara satu observasi ke observasi lain. Apabila dalam suatu model telah memenuhi asumsi klasik tersebut maka dapat dikatakan model tersebut sebagai model yang ideal. Menurut Algifari (2000: 84). dalam ekonometrika disebut BLUE (Best Linier Unbiased Estimator).Evaluasi ekonometri dimaksudkan untuk mengetahui apakah model regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini memenuhi asumsi klasik atau tidak. Diagnosis adanya heteroskedastisitas secara 57 . artinya antara variabel independen yang terdapat dalam hubungan yang sempurna atau mendekati sempurna. sehingga dalam hal ini sulit diketahui variabel bebas mana yang mempengaruhi variabel terikat. 2). Untuk menguji apakah model yang digunakan dapat diterima secara ekonometrik dan apakah estimator yang diperoleh dengan uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas 1). Multikolinieritas Salah satu asumsi klasik adalah terjadinya multikolinieritas diantara variabel-variabel bebas yang berada dalam satu model. Salah satu cara untuk mendeteksi multikolinieritas ini dilakukan dengan meregresikan antar variabel dan apabila korelasinya signifikan maka antara variabel bebas tersebut terjadi multikolinieritas. apabila hal ini terjadi berarti diantara variabel bebas itu sendiri saling berkolerasi.

nilai e = Y −Y N = banyaknya sampel Setelah itu dihitung korelasinya dan dilakukan pengujian t pada tiap-tiap variabel.kuantitatif dalam suatu regrasi dapat dilakukan dengan Spearman Rank Correlation. Korelasi Ranking Spearman (r s ) dapat dihitung dengan formula: ⎡ ∑ di 2 ⎤ rs = 1 − 6 ⎢ ⎥ ⎢ N (n − 1 ) ⎥ ⎣ ⎦ Keterangan : di = selisih ranking standar (s) dan ranking nilai mutlak error (e). Nilai t hitung dapat ditentukan dengan formula: t = rs N − 2 1 − rs 2 (Algifari. Apabila t hitung lebih besar maka dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan atau dapat diartikan tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model. Kemudian meregresikan antara variabel-variabel bebas dengan variabel pengganggunya. dimana data masing-masing variabel diubah menjadi jenjang yaitu dari nilai terendah sampai tertinggi. Apabila kondisi sebaliknya maka model yang digunakan terjadi heteroskedastisitas. 2000:86) BAB IV 58 .

59 . Tabel 4.88 Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Keterampilan menulis di papan tulis Kemampuan menggunakan media 7 dan sumber belajar Kemampuan menilai hasil belajar 8 siswa 9 Keefektifan pembelajaran 10 Memberikan balikan 11 Menutup pelajaran 12 Penampilan dalam pembelajaran Total Sumber: Data penelitian 2006 Tabel kriteria setiap indikator kinerja guru sebagai berikut.97 83. Gambaran Variabel Penelitian a.35 56.68 Tinggi 67.65 Tinggi 82. Hasil Penelitian 1.58 Tinggi 69.1 Gambaran Variabel Kinerja Guru No 1 2 3 4 5 6 Indikator Membuka pelajaran Berkomunikasi dengan siswa Kesesuaian metode pembelajaran Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran Penguasaan materi pembelajaran Skor % skor 125 128 108 104 132 115 76 98 123 88 110 130 1337 80. Gambaran hasil penelitian variabel kinerja guru sebagai berikut.03 Rendah 63.23 Sedang 79.16 tinggi 74.87 71.19 Tinggi 49.77 70. Gambaran Kinerja Guru Kinerja guru dalam proses belajar mengajar mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dapat dilihat dari hasil observasi yang terdiri dari 12 indikator.10 Sedang Sangat 85.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

58%.1 kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk setiap indikator sebagai berikut: 1). Kesesuaian metode pembelajaran 60 .8 <Skor < 80. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk membuka pelajaran termasuk kategori tinggi. 3).6 <Skor < 105. Membuka pelajaran Skor indikator membuka pelajaran adalah 125 atau 80. Berkomunikasi dengan siswa Skor indikator berkomunikasi dengan siswa adalah 128 atau 82.4 55.8 Tabel 4.4 <Skor < 130.Skor maksimal Skor minimal Rentang = 5 x 1 x 31 = 155 = 1 x 1 x 31 = 31 = Skor maksimal – skor minimal = 155 – 31 = 124 Panjang kelas interval = 124 : 5 = 24.2 80.65%.8 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Berdasarkan pada tabel 4. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk berkomunikasi dengan siswa termasuk kategori tinggi. 2).2 <Skor < 155.6 31 < Skor < 55.0 105.2 Kriteria Setiap Indikator Kinerja Guru Interval skor 130.

10%. Penguasaan materi pembelajaran Skor indikator peenguasaan materi pembelajaran adalah 132 atau 85. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kesesuaian metode pembelajaran termasuk kategori tinggi. Kemampuan menilai hasil belajar siswa 61 . Keterampilan menulis di papan tulis Skor indikator keterampilan menulis di papan tulis adalah 115 atau 74.19%. 8).03%. Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar Skor indikator kemampuan menggunakan media dan sumber belajar adalah 76 atau 49. 7).16%. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk penguasaan materi pembelajaran termasuk kategori sangat tinggi. 5).Skor indikator kesesuaian metode pembelajaran adalah 108 atau 69. 6). 4). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kemampuan menggunakan media dan sumber belajar termasuk dalam kategori rendah. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran termasuk kategori sedang. Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran Skor indikator mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran adalah 104 atau 67. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk keterampilan menulis di papan tulis termasuk kategori tinggi.68%.

Skor indikator kemampuan menilai hasil belajar siswa adalah 98 atau 63. 10). Secara keseluruhan kriteria kinerja guru yang terdiri dari 12 indikator dapat dilihat pada tabel 4. Menutup pelajaran Skor indikator menutup pelajaran adalah 110 atau 70. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk penampilan dalam pembelajaran termasuk kategori tinggi. 11). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk menutup pelajaran termasuk kategori tinggi. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk keefektifan pembelajaran termasuk kategori tinggi.77%. 12). 9).97%.3 berikut. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk kemampuan menilai hasil belajar siswa termasuk kategori sedang.87%.35%. Skor maksimal = 12 x 5 x 31 = 1860 62 . Penampilan dalam pembelajaran Skor indikator penampilan dalam pembelajaran adalah 130 atau 83. Memberikan balikan Skor indikator memberi balikan adalah 88 atau 56. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses belajar mengajar untuk memberikan balikan termasuk kategori sedang. Keefektifan pembelajaran Skor indikator keefektifan pembelajaran adalah 123 atau 79.23%.

7 Rendah 0 0.4 dapat terlihat dari 31 guru terdapat 16 guru atau 51.7% dalam kategori sedang dan hanya 3 guru atau 9. sebanyak 12 guru atau 38.0 1264.0 Sangat rendah 0 0.8 <Skor < 1562.6% mempunyai kinerja yang tinggi.8 669.4 Gambaran frekuensi Kinerja Guru Kriteria f % Sangat tinggi 3 9.6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Secara keseluruhan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa kinerja guru dalam pross belajar mengajar dari 31 responden memiliki skor sebesar 1337 atau 71.7% dalam kategori sangat tinggi.0 < Skor < 669. Tabel 4.2 372.6 Sedang 12 38.88%.7 Tinggi 16 51.2 <Skor < 1264.4 <Skor < 1860. Sedangkan pada tabel 4.3 Kriteria Keseluruhan Kinerja Guru Interval skor 1562.6 Tabel 4.0 Jumlah 31 100 Sumber: Data penelitian 2006 b.4 967. Gambaran Kemampuan Intelektual 63 . termasuk dalam kategori tinggi.Skor minimal Rentang = 12 x 1 x 31 = 372 = Skor maksimal – skor minimal = 1860 – 372 = 1488 Panjang kelas interval = 1488: 5 = 297.6 <Skor < 967.

4% memperoleh skor 3640 dalam kategori tinggi.4% memperoleh skor 31-35 dalam kategori sedang.48 Total 1112 71.6 Gambaran Variabel Motivasi Kerja Guru No Indikator Skor % skor 1 Kebutuhan akan prestasi 256 82.00 5 Kebutuhan untuk berkembang 203 65.65 3 Pekerjaan itu sendiri 186 60.74 Sumber: Data penelitian 2006 Kriteria Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Sedang Tinggi 64 .00 4 Tanggung jawab 217 70. Tabel 4. Gambaran Motivasi Kerja Guru Motivasi kerja guru dapat dilihat dari hasil pengisian angket sebagai berikut.58 2 Kebutuhan akan pengakuan 250 80.5 terdapat 15 guru atau 48. kemampuan visualisasi ruang.Kemampuan intelektual guru meliputi 5 indikator yaitu kemampuan verbal. Tabel 4. Rata-rata nilai kemampuan intelektual dari 31 guru tersebut sebesar 35.4 3.0 48. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan intelektual guru bervariasi.0 0. sebanyak 15 guru atau 48.5 dan berada pada kategori tinggi.2 100 Terlihat pada tabel 4. kemampuan ingatan/informasi dan kemampuan penalaran. Gambaran hasil tes kemampuan intelektual dapat dilihat pada tabel berikut. c.4 48.5 Gambaran Variabel Kemampuan Intelektual Skor nilai Kriteria F 0 < Nilai < 25 Sangat rendah 0 25 < Nilai < 30 Rendah 0 30 < Nilai < 35 Sedang 15 35 < Nilai < 40 Tinggi 15 40 < Nilai < 50 Sangat tinggi 1 Jumlah 31 Sumber: Data penelitian 2006 % 0. kemampuan kuantitatif.

6 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Berdasarkan tabel 4. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan akan prestasi termasuk kategori tinggi.65%. 65 . sehingga kriteria yang digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi kerja dari setiap indiaktor dapat dinyatakan sebagai berikut.7 Kriteria Setiap Indikator Motivasi Kerja Guru Interval skor 260.6 motivasi kerja guru untuk setiap indikator sebagai berikut: 1).2 <Skor < 210. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan akan pengakuan termasuk kategori tinggi. Kebutuhan akan pengakuan Skor indikator kebutuhan akan pengakuan adalah 250 atau 80.0 < Skor < 111.8 111. 2).8 <Skor < 260. Skor maksimal Skor minimal Rentang = 2 x 5 x 31 = 310 = 2 x 1 x 31 = 62 = Skor maksimal – skor minimal = 310 – 62 = 248 Panjang kelas interval = 248: 5 = 49.4 161.58%.6 Tabel 4.2 62.6 <Skor < 161.0 210.4 <Skor < 310. Kebutuhan akan prestasi Skor indikator kebutuhan akan prestasi adalah 256 atau 82.Setiap indikator terdiri dari dua item.

dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk pekerjaan itu sendiri termasuk kategori sedang. 4).3). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk kebutuhan dalam berkembang termasuk kategori sedang. Tanggungjawab Skor indikator tanggungjawab adalah 217 atau 70. Kebutuhan untuk berkembang Skor indikator kebutuhan untuk berkembang adalah 203 atau 65.48%. Pekerjaan itu sendiri Skor indikator pekerjaan itu sendiri adalah 186 atau 60. 5). Secara keseluruhan kriteria motivasi kerja guru yang terdiri dari 5 indikator dapat dilihat pada tabel berikut. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru untuk tanggungjawab termasuk kategori tinggi.00%.00%. Skor maksimal Skor minimal Rentang = 10 x 5 x 31 = 1550 = 10 x 1 x 31 = 310 = Skor maksimal – skor minimal = 1550 – 310 = 1240 Panjang kelas interval = 1240: 5 = 248 66 .

13 guru atau 41. Terlihat pada tabel 4.9. Pengujian secara parsial menggunakan uji t dan secara simultan menggunakan uji F. Hasil Analisis Regresi Analisis regresi dalam penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru baik secara parsial maupun simultan.7% dalam kategori sangat tinggi. dari 31 responden terdapat 15 guru atau 48.4 Rendah 0 0 Sangat rendah 0 0 Jumlah 31 100 Sumber: Data penelitian 2006 2. 67 .7 Tinggi 15 41.4% dalam kategori sedang.9% dalam kategori tinggi dan hanya 3 guru atau 9.9 Gambaran Frekuensi Motivasi Kerja Guru Kriteria f % Sangat tinggi 1 9. Tabel 4.74% termasuk dalam kategori tinggi.9 Sedang 15 48. Sebelum analisis regresi ini dilanjutkan terlebih dahulu diuji linieritasnya.Tabel 4.8 Kriteria keseluruhan Motivasi Kerja Guru Interval skor 1302 <Skor < 1550 1054 <Skor < 1302 806 <Skor < 1054 558 <Skor < 806 310 < Skor < 558 Interval % 84% < % < 100% 68% < % < 84% 52% < % < 68% 36% < % < 52% 20% < % < 36% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Secara keseluruhan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa motivasi kerja guru dari 31 responden memiliki skor 1112 atau 71.

sehingga model regresi linier yang dibentuk dinyatakan dengan Y = -5.641 2.603 Motivasi kerja 39.450 dengan konstanta 39.348 sebesar 44.590 0.567.934 0. Uji Linieritas Uji linieritas digunakan untuk menguji kelinieran masing-masing variabel bebas yaitu kemampuan intelektual dan motivasi kerja dengan variabel terikat kinerja guru.1.a.777 0.05.643 0.10 juga diperoleh koefisien regresi untuk variabel motivasi kerja sebesar 0.000 0. Tabel 4.567 0. Berdasarkan pada tabel 4.184 44. dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel bebas dengan terikatnya bersifat linier. seperti pada gambar diagram pencar 4.450 15.135 66. yang berarti secara nyata hubungan kemampuan intelektual dengan kinerja guru bersifat linier.13.641 + 2. sehingga model regresi 68 . Dari tabel 4.000 0.641.10 diperoleh koefisien regresi untuk variabel kemampuan intelektual sebesar 2. Untuk menguji linieritas digunakan analisis regresi sederhana.135 dengan p value sebesar 0.473 3. Model tersebut bersifat linier. Apabila diperoleh nilai F hitung dengan p value < 0.184 X1. Berdasarkan tabel 4.000 < 0.184 dengan konstanta -5. uji F diperoleh nilai F hitung Kemampuan intelektual -5.05.10 Hasil Uji Linieritas Uji Linieritas Keterangan Kontanta Koefisien regresi F hitung thitung p value R R2 Sumber: Lampiran 10.

184x . uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 15. Dari tabel 4.25 y = 2.000 < 0.473 dengan p value sebesar 0.05.75 25.603 62.2 Garis Linier Hubungan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru 100.linier yang dibentuk dinyatakan dengan Y = 39.13.641 2 R = 0. yang berarti secara nyata hubungan motivasi kerja dengan kinerja guru bersifat linier.1 Garis Linier Hubungan Kemampuan Intelektual terhadap Kinerja Guru 100.450x + 39.2.5.348 2 62.567 + 0.50 43.00 0 20 40 60 80 100 Motivasi Kerja 69 .00 Kinerja Guru 81.25 R = 0.567 Kinerja Guru 81. Model tersebut bersifat linier.50 43. seperti pada gambar diagram pencar 4.75 25. Gambar 4.00 0 10 20 30 40 50 Kemampuan Intelektual Gambar 4.450 X2.00 y = 0.

000 . Uji Ekonometri Uji ekonometri meliputi uji multikolinieritas dan heteroskedastisitas. Apabila koefisien korelasinya > 0. Hasil uji multikolinieritas terlihat seperti pada tabel 4.008 .222 di sekitar 1 yang berarti model regresi linier berganda tidak mengandung multikolinieritas. 31 31 31 Sumber : Data Penelitian diolah 70 .11 koefisien korelasi antara kemampuan intelektual dengan motivasi kerja sebesar 0.11 berikut.008 31 31 31 Kinerja guru Pearson Correlation Kinerja guru 1.8. Tabel 4.777 1. Selain dilihat dari koefisien korelasi ini juga didukung dari nilai VIF sebesar 1.8.000 .11 Uji Multikolinieritas Correlations Kemampuan intelektual .426 1. yang berarti model tidak mengandung multikolinieritas.000 Motivasi kerja . Kemampuan intelektual .426 yang kurang dari 0. 1).000 .426 .590 Sig. Terlihat pada tabel 4. Uji Multikolinieritas Uji multikolnieritas dapat dilihat dari koefisien korelasi antara variabel bebas yaitu antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja. Kedua uji ini digunakan untuk mengetahui efektif tidaknya model regresi lineir berganda yang diperoleh.000 Kemampuan intelektual .000 N Kinerja guru 31 Kemampuan intelektual 31 Motivasi kerja 31 Motivasi kerja .b.777 Motivasi kerja .000 . dalam arti tidak mengandung multikolinieritas dan juga tidak mengandung heteroskedastisitas. (1-tailed) Kinerja guru . . dapat disimpulkan bahwa model regresi mengandung multikolinieritas.590 .

seperti tampak pada gambar 4. 71 . Scatterplot Dependent Variable: Kinerja guru 2 Regression Studentized Residual 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Gambar 4.12 berikut. yaitu titik-titik tersebar tidak teratur dan berada di atas maupun di bawah nol pada sumbu Y. dapat disimpulkan bahwa model regresi ganda tidak mengandung heteroskedastisitas.2).3 dapat pula dilihat dari koefisien korelasi rank Spearman antara harga mutlak residual |e| dengan standar deviasinya. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dapat dilihat dari grafik hubungan regression standardized predicted value dengan regression studentized residual.3. yang hasilnya tercantum pada tabel 4.3 Uji Heteroskedastisitas Selain dari gambar 4. yang berarti model regresi linier berganda tidak mengandung heteroskedastisitas. Apabila titik-titiknya menyebar tidak beraturan di atas dan di bawah nol pada sumbu Y.

c. Tabel 4.05.527 1.13 Hasil Analisis Regresi Keterangan Kontanta Koefisien regresi kemampuan intelektual (b1) Koefisien regresi motivasi kerja (b2) F hitung thitung kemampuan intelektual thitung motivasi kerja P value kemampuan intelektual P value motivasi kerja R R2 Sumber : Lampiran 10. 31 .502 5.946 > 0.12 diperoleh koefisien korelasi rank Spearman antara |e| dan s sebesar 0.527 + 1. yang berarti secara signifikan model regresi linier berganda di atas tidak mengandung heteroskedastisitas.000 . 31 Spearman's rho |e| s Correlation Coefficient Sig.000 . Dari tabel 4. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Sumber : Data Penelitian Diolah Terlihat pada tabel 4.013 .946 31 s .12 Hasil Uji Heteroskedastisitas Correlations |e| 1.000 0.013 dengan p value = 0.805 X1+ 0.242X2 Hasil Analisis -9.242 30.Tabel 4.4692 72 .700 0.805 0.012 0.685 0.946 31 1. Hasil Analisis Regresi Hasil analisis regresi antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru dapat dilihat pada tabel berikut.13 tersebut dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut: Y = -9.013 .481 2.

Koefisien regresi (b1) = 1.700 > ttabel = 2. artinya bahwa jika ada kemampuan intelektual dan motivasi kerja maka kinerja guru (Y) adalah -9.05 dan p value < 0.05 yang berarti secara parsial ada pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru. artinya jika kemampuan intelektual guru (X1) skornya naik 1 satuan sementara faktor motivasi kerja (X2) tetap maka kinerja guru (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 1.000. Nilai thitung = 2. Koefisien regresi (b2) = 0. Uji Parsial Berdasarkan tabel 4.527.700 dengan p value = 0.805 yang diuji kebermaknaannya menggunakan uji t diperoleh thitung sebesar 5. Dari tabel 4. Pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 31-2-1 = 28 diperoleh ttabel = 2.481 dengan p value = 0. artinya jika motivasi kerja guru (X2) skornya naik 1 satuan sementara faktor kemampuan intelektual (X1) tetap maka kinerja guru (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0. 1). Pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 31-2-1 = 28 diperoleh ttabel = 2.805.05 dan p value < 0.05. Nilai thitung = 5. Koefisien regresi untuk motivasi kerja sebesar 0.242.805.05 yang berarti secara parsial ada pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru.242.15 juga 73 .05.Koefisien regresi tersebut bertanda positif (+). Dari persamaan regresi di atas dapat diartikan sebagai berikut: konstanta (a) = -9.012.481 > ttabel = 2.527.15 diperoleh koefisien regresi untuk kemampuan intelektual sebesar 1.242 yang diuji kebermaknaannya menggunakan uji t diperoleh thitung sebesar 2. artinya kenaikan variabel independent akan diikuti oleh kenaikan variabel dependent.

Nilai Fhitung = 30.242 apabila kemampuan intelektual dikontrol.242 X2 Model tersebut berarti setiap terjadi kenaikan satu satuan kemampuan intelektual akan diikuti kenaikan kinerja guru sebesar 1.34 dan p value = 0. Pada taraf signifikansi 5% dengan dk1 = 2 dan dk2 = 28 diperoleh Ftabel = 3. artinya semakin tinggi kemampuan intelektual dan motivasi kerja akan diikuti pula kenaikan kinerja guru. sehingga model regresi untuk menyatakan pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru dinyatakan dengan persamaan: Y = -9.805 apabila motivasi kerja dikontrol dan setiap terjadi kenaikan satu satuan motivasi kerja akan diikuti kenaikan kinerja guru sebesar 0. 74 .34.502 > Ftabel = 3. 2).805X1 + 0. Berdasarkan hasil uji F pada tabel 4.000 < 0.527. Uji Simultan Uji Simultan digunakan untuk menguji kebermaknaan pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja guru.05.15 diperoleh F hitung sebesar 30. yang berarti secara signifikan ada pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Secara umum menunjukkan bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja guru.000 < 0.diperoleh konstanta sebesar -9. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.502 dengan p value sebesar 0.527 + 1.05.

76%.3). Tabel 4. B.14 Koefisien Determinasi secara Parsial dan Simultan No Sumbangan 1 Kemampuan intelektual 2 Motivasi kerja 3 Simultan Sumber : Lampiran 10.5176 0.2066 0. sedangkan sumbangan motivasi kerja terhadap kinerja guru apabila kemampuan intelektual dikontrol sebesar 20.4692 Dari hasil koefisien determinasi pada tabel 4. Secara simultan pengaruh keduanya mencapai 46.685 r2 0.08% kinerja guru dipengaruhi oleh faktor di luar kemampuan intelektual dan motivasi kerja.66%. yang berarti masih 53. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru secara simultan menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan dalam proses belajar 75 .92%. Terlihat bahwa pengaruh kemampuan intelektual lebih besar daripada motivasi kerja.14. Besarnya Pengaruh Untuk mengetahui besarnya pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru baik secara parsial maupun secara simultan dapat dilihat dari koefisien determinasi pada tabel berikut. R 0.455 0.719 0. terlihat bahwa sumbangan kemampuan intelektual terhadap kinerja guru apabila motivasi kerja dikontrol sebesar 51.

527.805 + 0.242 pada konstanta -9. Dari penemuan tersebut maka perlu diupayakan adanya peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan media dan sumber pembelajaran.527 + 1. b2. maka kinerja guru akan meningkat sebesar 1.805X1 + 0. pemberian teori 30% dan praktek 70%. sebagian guru juga masih gagap teknologi terutama yang berkaitan dengan teknologi mesin-mesin bisnis dan guru belum mampu mengimplementasikan teori yang ada dengan kondisi di lapangan. Bentuk persamaan yang menggambarkan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dalam penelitian ini adalah Y = -9.242 pada konstanta -9. bertanda positif maka menunjukkan bahwa bentuk pengaruhnya adalah positif. 1. Hanya pada indikator kemampuan menggunakan media dan sumber belajar dalam kategori rendah. namun ternyata guru pada umumnya masih terpaku pada penguasaan materi semata. Kinerja Guru Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen secara keseluruhan dalam kategori tinggi. maka kinerja guru akan menurun sebesar 1. yang artinya jika variabel kemampuan intelektual dan motivasi kerja ditingkatkan secara bersamasama sebesar satu unit.805 + 0. Berdasarkan persamaan regresi ganda yang diperoleh koefisien regresi b1. Berdasarkan tuntutan kurikulum 2004 untuk mata diklat produktif penjualan.242X2.527 dan sebaliknya jika variabel kemampuan intelektual dan motivasi kerja menurun secara bersama-sama sebesar satu unit. Pihak sekolah sendiri juga belum mampu mencukupi semua kebutuhan praktek tersebut. misalnya adanya pembelajaran khusus guru dalam penguasaaan teknologi dan hubungan 76 .mengajar di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen.

5 yang berarti pada umumnya kemampuan intelektual guru mata diklat penjualan tersebut dalam kategori tinggi. Melihat kenyataan di atas guru sangat perlu meningkatkan pengetahuan. atau rata-rata skornya 35.baik dengan dunia usaha. media dan sumber belajar adalah semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan perbuatan belajar. Menurut Hamalik (2001:51). sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien. seperti menjalin kerja sama dengan meminta kesempatan praktisi dari dunia usaha atau industri menjadi nara sumber dalam pembelajaran. sebab dengan media dan sumber belajar yang baik akan dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Di samping itu. sehingga ketika melaksanakan proses belajar mengajar di kelas guru dapat menggunakan media dan sumber pembelajaran dengan baik. 2. hanya berkaitan dengan media dan sumber belajar yang perlu ditingkatkan.2%. pengalaman dan pemahaman tentang media dan sumber pembelajaran.4%. guru harus kreatif untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kemampuan intelektual Berdasarkan hasil penelitian pada guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen memiliki kemampuan intelektual dengan kategori sangat tinggi 3. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kinerja guru sudah sesuai dengan standar alat penilaian kompetensi guru (APKG) seperti yang diharapkan. tinggi 48. sehingga pembelajaran tidak monoton dan bertambah wawasannya. kemampuan 77 .4%. Kemampuan intelektual meliputi aspek kemampuan verbal. kemampuan visualisasi ruang. dan sedang 48.

kemampuan penalaran induktif dan deduktif.1% dari lulusan non kependidikan dan 45. 3. Menurut Suparno (2003:75).kuantitatif. berani bertindak dan bertanggungjawab. kritis dan bebas. aktif mencari. karena dengan kemampuan intelektualnya. Oleh karena itu perlu upaya-upaya konkrit untuk 78 . kecuali untuk sekedar penataran guru sudah didanai. Hanya pada indikator pekerjaan itu sendiri dan kebutuhan untuk berkembang dalam kategori sedang. pembela kebenaran dan keadilan. Dengan kemampuan intelektual guru yang baik akan dapat menciptakan suatu proses belajar mengajar yang efektif.2% lulusan ekonomi non jurusan penjualan. Motivasi kerja Dari hasil penelitian terungkap bahwa motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen pada umumnya dalam kategori tinggi. Sedangkan indikator kebutuhan untuk berkembang belum optimal karena untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi menggunakan biaya sendiri. Hal ini dapat di pahami untuk indikator pekerjaan itu sendiri karena masih adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan pendidikan. Siswa akan merasa senang mengikuti apa yang diajarkan karena guru dianggap mampu mentransfer pengatahuannya dengan baik. berfikir rasional. kreatif dan inisiatif. selain mempunyai kedalaman materi yang diajarkan juga mempunyai wawasan yang lebih luas tentang dunia di sekitarnya. mengembangkan angan-angan (cita-cita). dan kemampuan memory/ingatan. Di samping itu sebagian guru menyatakan bahwa menjadi guru bukan karena keinginan dan cita-cita mereka. Dari hasil observasi pendahuluan sebanyak 16. tetapi karena kebetulan dan faktor lain. sikap seorang intelektual yaitu terus belajar.

4.76% dengan p = 0. serta selalu berusaha mengembangkan tugas dan dirinya. lebih cepat mengembangkan kemampuan diri dan akhirnya akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. sebaliknya jika kemampuan intelektual rendah maka kinerjanya juga akan menurun. Pengaruh kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se kabupaten Kebumen. prestasi atau kinerja tergantung pada kombinasi yang tepat dari usaha. Sejalan dengan pendapat Keitner Robert dan Kinicki Angelo (2000:187). Menurut Anoraga (2001:37).000.lebih meningkatkan motivasi kerja guru terutama berkaitan dengan kebutuhan untuk berkembang. Hal ini berarti bahwa kemampuan intelektual dapat mempengaruhi kinerja guru. jika guru mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi ia akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan dalam bekerja. Hasil pengujian hipotesis didapat bahwa ada pengaruh positif yang signifikan kemampuan intelektual terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh adalah 51. 79 . Berdasarkan data yang diperoleh secara keseluruhan kemampuan intelektual guru tinggi. orang yang kerja dengan motivasi tinggi adalah orang yang merasa senang dan mendapatkan kepuasan dalam pekerjaannya. Pihak Diknas dapat lebih mengupayakan dana-dana untuk penelitian bagi guru sebagai media pengembangan karier. Ia akan lebih berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan semangat yang tinggi. kemampuan dan keterampilan. Hal ini berpengaruh pada kinerja guru yang baik pula.

Jika dibandingkan kemampuan intelektualnya.5. Hal ini terkait dengan pekerjaan profesi guru membutuhkan kemampuan intelektual dan pemahaman materi yang baik. Dari hasil penelitian didapat bahwa ada pengaruh positif yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh adalah 20. selanjutnya perlu didukung dengan motivasi kerja yang baik.012. Dari data penelitian terlihat bahwa secara keseluruhan motivasi kerja guru tinggi. termasuk kepala sekolah sebagai pembinaan dan penilaian kinerja guru. sebaliknya jika guru memiliki motivasi kerja yang rendah mereka cenderung akan bermalasmalasan bekerja. maka dapat dikatakan bahwa motivasi mempengaruhi kinerja guru. dengan demikian untuk meningkatkan kinerja guru maka perlu adanya peningkatan motivasi kerja dari dalam diri guru sendiri maupun dari luar. Seperti yang dikemukakan Anoraga (2001:35). ternyata pengaruh motivasi kerja ini lebih rendah daripada kemampuan intelektual terhadap kinerjanya. Hal ini dapat dipahami karena jika guru memiliki motivasi kerja yang tinggi maka jelas dia akan berupaya secara maksimal dalam setiap pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru. Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. Berdasarkan analisis data. sehingga akan menunjukkan kinerja yang rendah. bahwa kuat dan lemahnya motivasi kerja seorang tenaga kerja ikut menentukan besar kecil prestasinya.66% dengan p = 0. 80 . Tingginya motivasi kerja guru dalam bekerja memberikan dampak yang positif terhadap kinerja mereka.

(10). meliputi : (1). Motivasi seseorang dalam memasuki pekerjaan. (7). Pengaruh kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen. (2). Sedangkan faktor– faktor yang terkait dalam kinerja menurut Anoraga (1998:14). (4). Sejalan dengan pendapat Sedarmayanti (2001). Untuk meningkatkan kinerja guru. Lingkungan kerja. Keamanan dan kenyamanan bekerja.6. (5). Dari hasil pengujian hipotesis didapatkan bahwa ada pengaruh positif antara kemampuan intelektual dan motivasi kerja terhadap kinerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dan besarnya pengaruh 46.92% dengan p = 0. prestasi kerja atau prestasi kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh abillity (kecakapan/kemampuan) dan motivation (motivasi). Kompensasi gaji atau imbalan. (3). kemampuan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kemampuan tidak akan menghasilkan keluaran yang tinggi. Tugas atau jabatan sesuai dengan kemampuan dan minatnya. (8). (6). 81 . Ketenangan dan semangat kerja. Hal ini berarti bahwa kemampuan intelektual dan motivasi kerja dapat mempengaruhi kinerja guru. maka perlu ditingkatkan kemampuan intelektual dan motivasi kerja guru. (9).000. Kesempatan untuk berpikir. sehingga guru dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. dan sebaliknya. Rekan kerja. Aspirasi atau cara pandang seseorang terhadap pekerjaan. jika guru memiliki kemampuan intelektual yang tinggi diikuti motivasi kerja tinggi maka kinerja guru juga tinggi. Kepribadian dan kehidupan seseorang.

namun kemampuan guru dalam menggunakan sumber dan media pembelajaran masih dalam kategori rendah. Kemampuan intelektual guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam kategori tinggi. Motivasi kerja ini secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru sebesar 20. Kemampuan intelektual ini secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru sebesar 51.82 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Motivasi kerja guru mata diklat produktif penjualan di SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam kategori tinggi. Semakin tinggi motivasi kerja guru akan diikuti dengan peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil beberapa simpulan: 1. Hal ini disebabkan karena kemampuan guru menggunakan sumber dan media pembelajaran belum optimal dan belum lengkapnya sumber dan media pembelajaran yang disediakan oleh sekolah. 3. 2. 82 .66%. Semakin tinggi kemampuan intelektual akan diikuti dengan peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar.76%. Sebagian besar kinerja guru mata diklat produktif penjualan SMK Bisnis dan Manajemen se Kabupaten Kebumen dalam proses belajar mengajar dalam kategori tinggi.

Sekolah dan guru lebih luas menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri untuk memberikan informasi tentang perkembangan dunia usaha yang sebenarnya. Perlu adanya peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan sumber dan media pembelajaran melalui pelatihan bagi guru mata diklat produktif penjualan oleh pihak sekolah maupun diknas. Kemampuan intelektual dan motivasi kerja secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja guru yaitu sebesar 46. 4. Saran 1. Untuk beberapa sekolah perlu diupayakan perbaikan dan melengkapi sumber dan media belajar yang telah ada 3.83 4. Untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan motivasi kerja guru terutama untuk kebutuhan kemajuan/berkembang. pihak diknas selain memberikan peluang untuk pendidikan lebih lanjut juga memberikan beasiswa untuk program penyetaraan. 83 . B. Dengan adanya kemampuan intelektual yang tinggi dan didukung dengan motivasi kerja yang tinggi maka berdampak positif terhadap kinerja guru dalam proses belajar mengajar. 2. serta menjadi nara sumber pembelajaran bagi siswa.92%.

PT Rineka Cipta. Alfrend W. 2004. 1999. 2000. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Bandung: PT Remaja Rodaskarya. Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Howard. Ibrahim. Jakarta: PT Rineka Cipta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung: Bumi Aksara. -----. dan Hanafi. Jakarta: Dharma Graha Group. Yogyakarta: BPFE. Pandji. Moh. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Tes IQ. 2002. Fattah. Mathis. Malayu SP. Kasus dan Solusi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Nanang. Jakarta: Ketindo. 2000. 1994. Umar. Bafadal. Jakarta. Pengantar Manajemen. Jakarta: Balai Pustaka. Arikunto. Depdikbud. 2003. Sudarman. Jakarta: Ghalia Putra. Soal-Soal Inteligensi Test. Jakarta. 2004. Yogyakarta: Kanisius. Teori Inteligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah. Test Potensi Akademik (TPA). Garis-Garis Besar Program Pendidikan dan pelatihan Produktif. Danim. 2003. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Salemba Empat. Jakarta: Pustaka Pelajar. Yul. 2003.84 DAFTAR PUSTAKA Algifari. Jakarta: Dharma Graha Group. Amirullah. 1999. Robert L dan Jackson. Anoraga. Yogyakarta: Graha Ilmu. Suharsimi. Psikologi Kerja. Jakarta: PT Rineka Cipta. 84 . Hamalik. 2003. 2002. Munzert. Nazir. Organisasi Dan Motivasi. Iskandar. John H. Analisis Regresi: Teori. Rindyah. Manajemen SDM. Gardener. 1998. 2002. Hasibuan. Metode Penelitian. 2000. Landasan Kependidikan.

Manajemen Modern (Konsep dan Aplikasi). Siswanto. Supeno. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2001. Syaukani. Sudjana. Bandung: Sinar Baru. Uzer. Metode Statistik. Sunarto dan Hartono Agung. Perkembangan Peserta Didik. H A R. Robbins. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: PT Gramedia. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Moh Usman. Soekartawi. 1995. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Guru Demokrasi Di Era Reformasi Pendidikan. UNNES. 1998. Psikologi Pendidikan. 2005. Potret Guru. Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Bandung: Transito. Yogyakarta: Aditya Media. Nana. hadi. Sedarmayanti. Jakarta: PRAJA. Jakarta. Titik Temu Dalam Dunia Pendidikan. 2004. Pustaka Sinar harapan. UPT MKK Standar Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas. Bedjo. 2002. Riduwan. psikologi Perkembangan. 2002. Motivasi Dan Permotivasian Dalam Manajemen. 1995. Perilaku Organisasi Jilid I. bandung: Mandar Maju. 2003. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Grasindo. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2001. Jakarta. Depdiknas. 2005. Ngalim. 85 . Suparno. Winardi. 2002. Stephen P. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. 1990.85 Purwanto. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. dkk. 2003. 2004. Sudjana. Paul. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Semarang. 2003. Tilaar. Soeparwoto. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002. SDM dan Produktivitas Kerja.

86 86 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful