Pengertian Politik Hukum 1.

Padmo Wahjono mengatakan bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk maupun isi hukum yang akan dibentuk.
2. Teuku Mohammad Radhie mendefinisikan politik hukum sebagai suatu pernyataan

kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun.
3. Satjipto Raharjo mendefinisikan politik hukum sebagai aktivitas memilih dan cara

yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dengan hukum tertentu di dalam masyarakat yang cakupannya meliputi jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar, yaitu 1) tujuan apa yang hendak dicapai melalui sistem yang ada, 2) caracara apa yang mana yang dirasa paling baik untuk dipakai dalam mencapai tujuan tersebut, 3) kapan waktunya dan melalui cara bagaimana hukum itu perlu diubah, 4) dapatkah suatu pola yang baku dan mapan dirumuskan untuk membantu dalam memutuskan proses pemilihan tujuan serta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan baik. 4. Menurut Moh Mahfud MD, politik hukum adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara. Dengan demikian politik hukum merupakan pilihan tentang hukum-hukum yang akan diberlakukan sekaligus pilihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut atau tidak diberlakukan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan negara seperti yang tercantum di dalam pembukaan UUD 1945.

Hukum Sebagai Alat Berbagai pengertian atau definisi tersebut mempunyai substansi makna yakni bahwa politi hukum itu merupakan legal policy tentang hukum yang akan diberlakukan atau tidak diberlakukan untuk mencapai tujuan negara. Di sini hukum diposisikan sebagai alat untuk mencapai tujuan negara. Terkait dengan ini Sunaryati Hartono mengemukakan tentang “hukum sebagai alat” sehingga secara praktis politik hukum juga merupakan alat atau sarana
1

dan langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan sistem hukum nasional guna mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara.

Hukum Sebagai Produk Politik Pernyataan bahwa “hukum adalah produk politik” adalah benar jika didasarkan pada das sein dengan mengkonsepkan hukum sebagai undang-undang. Dalam faktanya jika hukum dikonsepkan sebagai undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif maka tak seorang pun dapat membantah bahwa hukum adalah produk politik sebab ia merupakan kristalisasi, formalisasi atau legalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling bersaingan baik melalui kompromi politik maupun melalui dominasi oleh kekuatan politik yang terbesar. Dalam konsep dan konteks inilah terletak kebenaran pernyataan bahwa “hukum merupakan produk politik”. Hukum merupakan produk politik, maka karakter produk hukum berubah jika konfigurasi politik yang melahirkannya berubah. Siapa yang dapat membantah bahwa hukum dalam arti undang-undang merupakan produk dari pergulatan politik. Itulah sebabnya von Krichman mengatakan bahwa karena hukum merupakan produk politik maka kepustakaan hukum yang ribuan jumlahnya bisa menjadi sampah yang tak berguna jika lembaga legislatif mengetokkan palu pencabutan atau pembatalannya.

Politik Hukum Pertanahan (Agraria). Berdasarkan beberapa pengertian atau definisi di atas, maka dapat dikemukakan pengertian atau definisi politik hukum tanah atau agraria adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara dalam bidang pertanahan atau agraria. Politik agraria adalah garis besar kebijaksanaan yang dianut oleh negara dalam memelihara, mengawetkan, memperuntukkan, mengusahakan, mengambil manfaat, mengurus dan membagi tanah dan sumber alam lainnya termasuk hasilnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan negara, yang bagi negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

2

dijelmakan dalam sebuah undang-undang yang mengatur agraria yang memuat asas-asas. Beberapa ketentuan yang menunjukkan bahwa hukum dan kebijaksanaan agraria yang berlaku sebelum Indonesia merdeka disusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi Pemerintahan Hindia belanda. Tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan jajahan. Hukum agraria tersebut mempunyai sifat dualisme. dengan berlakunya hukum adat. Pada masa orde lama. Pada masa orde baru (1966-1998) 5. periode demokrasi liberal (1945-1959) 3. dasar-dasar. 2. Hukum agraria penjajah tidak menjamin kepastian hukum bagi rakyat asli (pribumi). 3. ada hubungan erat antara politik dan hukum. Dengan demikian. Pada era reformasi (1998-saat ini) Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Kolonial / Penjajahan Hukum agraria kolonial mempunyai 3 ciri : 1. Pada masa kolonial / penjajahan 2. di samping hukum agraria yang berdasarkan atas hukum barat.Politik agraria dapat dilaksanakan. dilengkapai dengan peraturan pelaksananya. dan soal-soal agraria dalam garis besarnya. Perkembangan Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Di Indonesia Perkembangan politik hukum agraria di Indonesia terdiri atas beberapa fase : 1. periode demokrasi terpimpin (1959-1966) 4. dapat dijelaskan sebagai berikut : 3 . Pada masa orde lama.

Karena kekuasaan telah beralih kepada Pemerintah Inggris. Dengan demikian. c. Verplichte leveranten Ketentuan yang diputuskan oleh kompeni dengan raja tentang kewajiban menyerahkan seluruh hasil panen dengan pembayaran yang harganya juga sudah ditetapkan secara sepihak. rakyat tani benarbenar tidak bisa berbuat apa-apa. tanah-tanah yang dikuasai dan digunakan oleh 4 . 2. yang dibebankan kepada rakyat Indonesia yang tidak mempunyai tanah pertanian. Pada masa pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendles (1800-1811) Kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Gubernur Herman Willem Daendles adalan menjual tanah-tanah rakyat Indonesia kepada orang-orang Cina. Petani harus menyerahkan sebagian hasil pertaniannya kepada kompeni tanpa dibayar sepeser pun. Roerendiensten Kebijaksanaan ini dikenal denga kerja rodi. Tanah-tanah di daerah swapraja di Jawa adalah milik raja. b.1. Arab maupun bangsa Belanda sendiri. Tanah-tanah yang dijual itu dikenal dengan sebutan tanah partikelir. Pada masa pemerintahan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816) Kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur Thomas Stamford Raffles adalah landrent atau pajak tanah. Mereka tidak berkuasa atas apa yang mereka hasilakn. 3. sedang rakyat hanya sekedar memakai dan menggarapnya. Contingenten Pajak atas hasil tanah pertanian harus diserahkan kepada penguasa kolonial (kompeni). antara lain : a. Pada masa terbentuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Beberapa kebijaksanaan politik pertanian yang sangat menindas rakyat Indonesia yang ditetapkan oleh VOC. Dengan ketentuan ini. maka sebagai akibat hukumnya adalah hak kepemilikan atas tanah-tanah tersebut dengan sendirinya beralih pula kepada Raja Inggris.

Pada masa berlakunya Agrarische Besluit Stb.55 Dengan berlakunya Agrarische Wet. mereka wajib memberikan pajak tanah kepada Raja Inggris. 4.rakyat itu bukan miliknya. Politik Pertanahan (Agraria) Kolonial / Penjajah 5 . di Kesultanan Yogyakarta juga terdapat ketentuan semacam Domein Verklaring. Pada masa berlakunya Agrarische Wet Stb. petani dipaksa untuk menanam suatu jenis tanaman tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung dibutuhkan pasar internasional pada waktu itu.16. Dalam sistem tanam paksa ini. Oleh karena itu. melainkan milik Raja Inggris. kedudukan rakyat Indonesia yang memiliki tanah berada pada pihak yang lemah karena hampir semua tanah tersebut tidak mempunyai tanda bukti pemilikan sertifikat. sehingga secara yuridis formal tanah-tanah tersebut menjadi domein (milik) negara. politik monopoli (politik kolonial konservatif) dihapuskan dan digantikan dengan politik liberal yaitu pemerintah tidak ikut mencampuri di bidang usaha. 1870 No. sebagaimana sebelumnya diberikan kepada raja mereka sendiri.118 Pada masa berlakunya Agrarische Besluit. Dengan berlakunya Domein Verklaring. 5. Pada masa pemerintahan Gubernur Johanes van de Bosch Pada tahun 1830 Gubernur Johanes van de Bosch menetapkan kebijakan pertanahan yang dikenal dengan Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel. pengusaha diberikan kesempatan dan kebebasan mengembangkan usaha dan modalnya di bidang pertanian di Indonesia. sedangkan bagi rakyat yang tidak mempunyai tanah pertanian wajib menyerahkan tenaga kerjanya yaitu seperlima bagian dari masa kerjanya atau 66 hari untuk waktu satu tahunnya.1870 No. 6. Rakyat Indonesia yang memiliki tanah dianggap sebagai penyewa atau penggarap saja dengan membayar pajak atas tanah. Hasil pertanian tersebut diserahkan kepada pemerintah kolonial tanpa mendapat imbalan apa pun. yang dimuat dalam Rijksblad Yogyakarta tahun 1918 No.

Keuntungan ini juga dinikmati oleh pengusaha Belanda dan penguasa Eropa. 13 Tahun 1948 yang menghapus hak konversi. eksploitasi. Akhirnya keluarlah UU No. Dari komisi ini disampaikan rancangan UU untuk memperbaiki Peraturan Sewa Tanah atas tanah milik pangeran melalui sepucuk surat tanggal 28 Maret 1948 kepada Presiden Soekarno. Eksploitasi atau pemerasan sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan negara penjajah. Golongan penjajah dianggap sebagai bangsa superior. Oleh sebab itu. yaitu dominasi. Sistem kolonial ditandai oleh 4 ciri pokok. pengetahuan dan keterampilan karena mereka semakin lemah dan miskin. Penduduk pribumi diperas tenaga dan hasil produksinya untuk diserahkan kepada pihak penjajah. Dominasi ini ditopang oleh keunggulan militer kaum penjajah dalam menguasai dan memerintah penduduk pribumi. Prinsip dominasi terwujud dalam kekuasaan golongan penjajah yang minoritas terhadap penduduk pribumi yang mayoritas. jelas sangat bertentangan dengan kesadaran hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat. teknologi. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama. presiden membentuk sebuah komisi yang dikenal dengan Panitia Tanah Konversi. wajar jika setelah proklamasi kemerdekaan timbul tuntutan agar segera diadakan pembaruan terhadap hukum agraria. feodalistik.Dasar politik agraria kolonial adalah prinsip dagang. Dengan asas Domein Verklraing yang menyertainya. dan dependensi. Sebaliknya bagi rakyat Indonesia menimbulkan penderitaan yang sangat mendalam. dualistik. kemudian dijual dengan harga setinggi-tingginya. Tujuannya ialah tidak lain mencari keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri pribadi penguasa kolonial yang merangkap sebagai penguasa. 6 . Untuk menanggapi berbagai tuntutan itu pada tanggal 6 Maret 1948. Masyarakat terjajah menjadi makin tergantung kepada penjajah dalam hal modal. Periode Demokrasi Liberal (1945-1959) Hukum agraria pada zaman Hindia Belanda telah menunjukkan bahwa hukum agraria zaman kolonial sangat eksploitatif. yang kemudian oleh pihak penjajah itu dikirim ke negara induknya untuk kemakmuran mereka sendiri. Diskriminasi atau perbedaan ras dan etnis. Dependensi atau ketergantungan masyarakat jajahan terhadap penjajah. diskriminasi. yaitu mendapatkan hasil bumi/bahan mentah dengan harga yang serendah mungkin. sedangkan penduduk pribumi yang dijajah dipandang sebagai bangsa yang rendah atau hina.

24 Tahun 1954.7 Tahun 1958. 4. 3. Namun. Penghapusan Hak Konversi dengan UU No.1 Tahun 1952 yang kemudian dikukuhkan menjadi UU No. 8.5 Tahun 1950. Untuk menyusun UU Agraria yang bercorak nasional dan bulat (menyeluruh) guna menggantikan UU Agraria peninggalan kolonial. Diantara berbagai pertauran perundang-undangan yang penting yang dilahirkan sebagai kebijaksanaan dan tafsir baru menyangkut hal-hal sebagai berikut : 1. 6 Tahun 1952. Pengaturan Perjanjian Bagi Hasil dengan UU No.6 Tahun 1951 yang kemudian dikukuhkan menjadi UU biasa dengan UU No. Larangan dan Penyesuaian Pemakaina Tanah Tanpa Izin dengan UU Darurat No. Penaikan Besarnya Canon dan Cijns dengan UU No. Ada beberapa panitia yang terbentuk dalam usaha menyusun UU agraria nasional.2 Tahun 1960. meskipun kenyataannya UU agraria nasional yang “bulat” baru dapat diundangkan pada tahun 1960. Perubahan Peraturan Persewaan Tanah Rakyat dengan UU Darurat No.78 Tahun 1957. Sejak awal kemerdekaan pemerintah telah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengalhiri berlakunya UU produk kolonialisme. kemudian dirubah dan ditambah dengan UU Darurat No. 2.8 Tahun 1954. yaitu : 7 . maka sejak awal kemerdekaan telah dibentuk komisi atau panitia yang diberi tugas menyusun dasar-dasar hukum agraria baru. Penambahan Peraturan dalam Pengawasan Pemindahan Hak atas Tanah dengan UU Darurat No.1 Tahun 1958. artinya setelah terlampuinya periode 1945-1959.Pada periode 1945-1959 pemerintah belum berhasil membuat UU Agraria nasional yang bulat sebagai pengganti Agrarische Wet 1870. Penghapusan Tanah Partikelir dengan UU No. 5. Pengalihhan Tugas-tugas Wewenang Agraria dengan Keppres No.1 Tahun 1956.55 Tahun 1955 dan UU No. hasil akhir dan kerja-kerja berbagai panitia baru mengkristal dalam bentuk UU pada tahun 1960. 6.13 Tahun 1948 yang kemudian dilengkapi UU No. 7.

pembahasannya di dalam sidang pleno menjadi tertunda.1. Sejak RUU Soenarjo diserahkan kepada Panitia ad hoc yang dibentuk DPR. Panitia Agraria Yogya.36 Tahun 1951. dengan Keppres No. 4. sebab RUU itu disususn berdasarkan UUDS 1950. dan dilengkapi bahan-bahan baru agar lebih sempurna. dengan beberapa penambahan atas sistematika dan beberapa pasalnya. Rancangan yang diajukan kepada DPR tanggal 24 April 1958 disebut Rancangan Soenarjo karena pada waktu itu menteri agraria yang mewakili pemerintah mengajukan RUU itu kepada DPR adalah Soenarjo.16 Tahun 1948. Rancangan Soenarjo Hasil RUU yang disusun Panitia Soewahjo. dirasakan perlunya pembentukan Panitia Agraria yang baru yang dapat bekerja sesuai dengan perkembangan keadaan. Alasan penarikan itu secara yuridis konstitusional dapat dimengerti. Yogyakarta. Ketika pada tahun 1959 terjadi perubahan konfigurasi politik dengan Dekrit 5 Juli 1959 RUU tersebut ditarik kembali oleh pemerintah pada tanggal 23 Mei 1960. Pembentukannya dilakukan dengan Penetapan Presiden No. Dibentuk dengan Keppres No. Panitia Soewahjo Panitia ini dibentuk untuk melangkah lebih lanjut dalam upaya pembentukan hukum agraria yang baru sesuai dengan pasal 26. pasal 37 (1) dan pasal 38 (3) UUDS 1950. 2. 3. yakni Panitia Agraria Jakarta. Panitia Agraria Yogyakarta dibubarkan dan digantikan dengan panitia baru. sedangkan UUD yang berlaku berdasar Dekrit 5 Juli 1959 adalah UUD 1945.1 Tahun 1956 panitia ini diketuai oleh Soewahjo Soemodilogo dengan tugas utama menyusun rancangan UU Pokok Agraria Nasional yang sedapat mungkin sudah dapat menyelesaikan tugasnya dalam waktu 1 tahun. 8 . disetujui oleh pemerintah untuk diajukan kepada DPR. Panitia ini dibentuk pada tahun 1948 di ibukota Republik Indonesia. Panitia Agraria Jakarta Setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan ibu kota negara berpindah lagi ke Jakarta. Pada tanggal 19 Maret 1951.

yang disesuaikan dengan UUD 1945 dan Manifesto Politik. sebagai yang termuat dalam pasal 51 Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie (S. Beberapa peraturan yang dicabut secara eksplisit oleh UUPA : 1. (karena pada periode ini belum ada produk hukum agraria nasional yang komprehensif).Rangkaian langkah-langkah dalam membuat peraturan perundang-undangan secara parsial dan membentuk berbagai panitia agraria. tersebut dalam pasal 1 Agrarische Besluit S. Agrarische Wet (S.1870-118. terlihat dari dibuatnya berbagai UU secara parsial. menunjukkan bahwa pada periode ini pemerintah bersungguh-sungguh untuk membuat hukum agrraria yang responsif atau sesuai denggan rasa keadilan dalam masyarakat. pemberian kualifikasi responsif atas bentuk-bentuk respons pemerintah sudah menunjukkan signifikansi yang proposional. Tanpa harus membuat rincian kewenangan interpretasi pemerintah atas berbagai produk hukum agaraia yang parsial. dapat dilihat dengan jelas. bahkan sampai menggajukan RUU-nya. Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1966) Menteri Agraria yang baru Sadjarwo. Sebuah rancangan UU baru. Meskipun belum pada hukum agraria nasional yang komprehensif. Tindakan pemerintah dalam member respons tersebut. 2. sama sekali tidak bersifat positivis-instrumentalis. RUU yang telah disetujui tersebut disahkan 24 September 1960 sebagai UU No.1870-55). Watak responsif terlihat dari respons pemerintah pada aspirasi seluruh masyarakat Indonesia yang menuntut secara keras dibentuknya UU agraria nasional.1925-447) dan ketentuan dalam ayatayat lainnya dari pasal itu . Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama. melainkan menyerap aspirasi masyarakat pada umumnya. 9 . tetapi dari produkproduknya yang parsial itu. tidak lupa untuk terus mengusahakan terciptanya hukum agraria nasional yang baru. diajukan kepada DPR-GR oleh pemerintah dengan sebuah amanat presiden tanggal 1 Agustus 1960. Pada tanggal 14 September 1960 DPR-GR dengan suara bulat menerima RUU agraria yang diajukan oleh pemerintah. hukum agraria pada periode ini berkarakter sangat responsif. Domein Verklaring.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yang menurut diktum kelimanya dapat disebut sebagai Undang-undang Pokok Agraria (UUPA).

Dalam kaitan ini dapat disebutkan sebagai contoh bahwa S. menghilangkan feodalisme dan segala hak konversinya.Algemene Domeinverklaring.1875-179 berisi “larangan pengasingan tanah” dari penduduk asli Indonesia (golongan Bumi Putra) terhadap orang asing.1874-94 f. 3.187755. Koninklijk Besluit tangggal 16 April 1872 No. kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hipotek yang masih berlaku pada mulai berlakunya UUPA. Disamping pencabutan secra tegas (eksplisit) terdapat juga pencabutan yang sifatnya tidak langsung (implisit). Domeinverklaring untuk Sumatera.1875-179 menjadi tidak berlaku (tercabut) karena memuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan jiwa UUPA. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Baru (1966-1998) Pemerintah Orde Baru tidak lagi mengahadapi tuntutan untuk membuat hukum agraria nasional. tersebut dalam pasal 1 dari S. S. serta penegasan tentang melekatnya “fungsi sosial” atas hak atas tanah.29 (S. air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. tersebut dalam pasal I dari S. yakni terhadap semua peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan jiwa UUPA. 4. sebab tugas itu sudah selesai ketika UUPA diundangkan pada tanggal 24 10 . menghapus domeinverklaring.1888-58. menghilangkan dualism hukum sehinggga tercipta unifikasi hukum. Domeinverklaring untuk Keresidenan Menado. Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) sepanjang yang mengenai bumi.1875-119a. tersebut dalam pasal dari S.1872-117) dan peraturan pelaksanaannya. Adanya hak menguasai oleh negara justru memberi jalan bagi tindakan responsif lainnya karena dari hak tersebut pemerintah dapat melakukan tindakan-tindakan yang berpihak bagi kepentingan masyarakat. tersebut dalam pasal 1 dalam s. Domeinverklaring untuk Residentie Zuider en Qoster-afdeling van Borneo. Dari sudut materinya yang bukan positivis-instrumentalis tersebut UUPA memperlihatkan karakter responsifnya dengan merombak seluruh sistem yang dianut oleh Agrarische Wet 1870.

20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak atas Tanah. Pada era orde baru ini tidak ada lagi produk baru hukum agraria nasional karena produk periode sebelumnya yang memiliki karakter responsif masih terus diberlakukan. karena menyangkut hak rakyat banyak. Kecendrungan ini terlihat.september 1960. seharusnya materi yang begitu penting tidak hanya diatur dengan sebuah Inpres yang biasanya bersifat teknis dan einmalig. Pada masa orde baru tuntutan pembangunan nasional semakin memperbesar kapasitas tuntutan atas tanah dan volume pengambilan tanah dari masyarakat. Pemberian bentuk Inpres atas kriteria “kepentingan umum” lebih merupakan tindakan pragmatis pemerintah dalam melancarkan programprogrmnya. Ada kecendrungan untuk keperluan pragmatis pada era orde baru ini dibuat beberapa paraturan perundangan agraria secara parsial dengan watak konservatif. penyesuaian kembali isi peraturan-peraturana tertentu di bidang agraria. Akan tetapi.9 Tahun 1973 yang berisi pedoman jenis-jenis kegiatan yang dapat dikategorikan kepentingan umum. dan pelaksanaan proses pembebasan tanah untuk keperluan pembangunan. Meskipun secara materiil Inpres tersebut dapat dipakai. dan dengan sendirinya tidak aspiratif karena tidak membuka saluran secara wajar bagi masuknya aspirasi masyarakat. Pada tahun 1973 presiden mengeluarkan Inpres No. Memang sebagai produk hukum yang tidak menyangkut gezagverhouding dan yang mencakup hukum publik dan privat. UUPA memberi legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pencabutan hak atas tanah demi kepentingan umum yang pedomannya diatur dalam UU No.9 tahun 1973. yaitu pembuatan peraturan pelaksana. Berkenaan dengan pelaksanaan UUPA pada periode Orde baru ini ada tiga masalah pokok yang dihadapi oleh pemerintah. tuntutan pragmatis telah membawa pemerintah untuk melahirkannya hanya dalam bentuk Peraturan Menteri dan Instruksi Presiden. tetapi secara formal. UUPA berkarakter responsif. tetapi interpretasi 11 . Materi Inpres tersebut seharusnya diatur dengan UU.15 tahun 1957 dan Inpres No. Salah satu hal yang sering menjadi masalah publik adalah masalah pembebasan tanah untuk keperluan pembangunan. Seperti diketahui. Hal ini menjadi masalah karena kreteria kepentingan umum sebagai alasan pencabutan belum diatur dalam peraturan perundang-undangan yang proporsional. Kedua peraturan perundang-undangan ini jika dilihat dari materinya lebih proporsional untuk dituangkan dalam bentuk UU. Kedua bentuk peraturan perundang-undangan tersebut jelas sangat tidak partisipatif karena secara formal hanya dilakukan secara sepihak oleh pemerintah. misalnya dengan adanya PMDN No.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. redistribusi tanah pun kembali diagendakan. alam demokrasi yang semakin menguat. Materinya yang prinsip seharusnya menjadi materi UU yang tidak dapat dibuat sepihak oleh eksekutif. Adanya Kepres No.IX/MPR/2001 bahwa salah satu arah kebijakan pembaruan agraria adalah: 1. Beberapa peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam (agraria) dikeluarkan sejak dilakukannya reformasi pemerintahan di tahun 1998. Landreform kembali masuk dalam program penting pembaruan agraria. Melaksanakan penataan tanah kembali penguasaan. Baik itu yang kemudian dinilai merupakan langkah maju maupun yang justru dinilai mundur dari substansi peraturanperaturan sebelumnya. pemilikan. maka semangat pembaruan agraria juga menggema dan kemudian melahirkan Ketetapan MPR Nomor IX Tahun 2001 yang merekomendasikan dilakukannya pembaruan atau revisi terhadap UUPA. 2. yaitu disebutkan dalam Pasal 5 TAP MPR RI No. yang pemilikan.55 Tahun 1993. dan dilaksanakannya sistem desentralisasi. Pembagian 8. Politik Pertanahan (Agraria) Pada Era Reformasi (1998-Saat ini) Seiring dengan perubahan konstelasi politik.15 juta hektar lahan ini akan dilakukan pemerintah tahun 2007 hingga 2014. meskipun membawa sedikit kemajuan. dikuasai oleh Pemerintah dan ditetapkan sebagai objek landreform untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang termasuk dalam kelompok yang memperoleh hak utama. namun bentuk peraturannya tetap tidak proporsional. Diperkirakan.pemerintah dalam bentuk peraturan perundang-undangan secara parsial untuk keperluan pragmatis dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan memperlihatkan watak yang konservatif. Dalam rancangan Undang-Undang tentang Sumber Daya Agraria disebutkan Tanah dan sumberdaya agraria selain tanah yang penguasaan dan pemilikannya melebihi batas maksimum. Menyelenggarakan pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan registrasi penguasaan. penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sisematis dalam rangka pelaksanaan landreform. penggunaan dan pemanfaatan (landreform) berkeadilan dengan memperhatikan kepemilikan tanah oleh rakyat. 6 juta hektar lahan akan dibagikan pada masyarakat 12 .

30 Tahun 2007 tentang Energi dan UU No. tanggal 30 Januari 2007). orientasi pengelolaan sumber daya alam yang lebih berpihak pada pemodal-pemodal besar (capital oriented).27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. maupun tanah bekas swapraja (Kompas.4 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Treaty On Plant Genetic Resources For Food And Agriculture (Perjanjian Mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman Untuk Pangan Dan Pertanian). mengubah dan/atau mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan dengan Ketetapan ini..18 Tahun 2004 tentang Perkebunan. serta mencabut. UU No. dimana hal tersebut akan mengabaikan kepentingan dan akses atas sumber daya alam serta mematikan potensi-potensi pengelolaan perekonomian masyarakat lokal.27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. sehingga berpotensi kembali melanggengkan pola pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada eksploitasi (use oriented) yang mengabaikan kepentingan konservasi dan keberlanjutan fungsi sumber daya alam. UU No.1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UU No. Bahwa dengan disahkannya peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan sumber daya alam1 telah merusak politik pembaharuan hukum pengelolaan agraria dan sumber daya alam yang telah dimandatkan secara tegas dalam TAP-MPR No. tanah telantar.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. UU No. hutan produksi konversi. UU No. UU No. karena semata-mata digunakan sebagai perangkat hukum (legal instrument) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. UU No.15 juta hektar diberikan kepada pengusaha untuk usaha produktif yang melibatkan petani perkebunan.19 Tahun 2004 tentang Penetapan Perpu No..IX Tahun 2001 dimana DPR RI bersama Presiden ditugaskan untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Sumatera.. Tanah itu berasal dari lahan kritis. dengan prioritas di Pulau Jawa. dan Sulawesi Selatan. serta untuk segera melaksanakan Ketetapan tersebut dan melaporkan pelaksanaannya pada Sidang Tahunan MPR RI.. 1 13 ..26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Bahwa kebijakan pembaharuan agraria dan sumber daya alam tersebut dilaksanakan antara lain dengan melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan agraria dalam rangka sinkronisasi kebijakan antar sektor serta menyelesaikan konflik-konflik berkenaan dengan sumber daya agraria yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan pada prinsip-prinsip berkeadilan.31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Misalnya. Bahwa hal tersebut dimandatkan secara tegas dalam ketentuan Pasal 6 dan Pasal 7 TAP-MPR No. Sisanya 2. UU No.. Tanah yang di bagian ini tersebar di Indonesia.IX Tahun 2001. UU No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang... tanah milik negara yang hak guna usahanya habis..miskin. UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. antara lain: UU No..

air. dikuasai. pemakaian.. Untuk memberikan atau menetapkan kekuasaan dan kewenangan kepada pemerintah dalam mengatur hubungan hukum antara seseorang atau badan hukum tertentu dengan tanah yang dimiliki. yaitu antara lain: 1. dipakai.. Untuk mengatur dan sekaligus membatasi hak dan kewajiban seseorang atau badan hukum. masyarakat.. 4. 3. Untuk penyederhanaan hukum dan kesatuan hukum dalam mengatur halhal yang berkaitan dengan agraria atau pertanahan dengan memperhatikan hukum adat. Hal ini harus disesuaikan dengan Pasal 5 ayat 2 Ketetapan MPR RI No. 5. Untuk menjamin ketertiban. pengusahaan. pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. dimanfaatkan. untuk membentuk suatu Pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. air. 2.. perdamaian abadi dan keadilan sosial .”. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dalam hubungannya dengan kepentingan manusia menuju masyarakat yang adil dan makmur.IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang menyebutkan bahwa arah kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam adalah: 1. dan masyarakat serta negara dalam hubungannya dengan kepemilikan. penggunaan atau pemanfaatan. air. baik oleh seseorang. badan hukum maupun instansi pemerintah lainnya. penguasaan. mencerdaskan kehidupan bangsa. penatagunaan dan pengelolaan atas bumi (tanah). ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. sehingga sumber daya alam tidak dilihat sebagai sistem ekologi yang terintegrasi dan tidak terkoordinasi serta berpotensi melanggar hak asasi manusia berkaitan dengan penguasaan.. ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya... digunakan. Hal ini bertentangan dengan Pembukaan alinea IV UUD 1945 yang menyatakan: “. Untuk mengatur keselarasan dan keseimbangan dalam pemanfaatan bumi. Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dalam rangka sinkronisasi kebijakan 14 . Hal ini sejalan dengan tujuan dan politik hukum pertanahan/agraria.. dikelola. kepastian hukum dan keadilan dalam hubungannya dengan hak-hak seseorang atau masyarakat atas tanah (bumi).Implementasi pengelolaan yang dilakukan Pemerintah akhirnya bersifat sangat sektoral.

24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 7. Putusan MK No. dimana hukum telah dipakai menjadi alat (instrument) untuk kepentingan kekuasaan semata. Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan sumber daya alam yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik di masa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum. Pasal 22 ayat (1) sepanjang mengenai kata- 15 . Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai sumber daya alam melalui identifikasi dan inventarisasi kualitas dan kuantitas sumber daya alam sebagai potensi pembangunan nasional.01-21-22/PUU-I/2003. seperti dinyatakan dalam Pasal 24C UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-undang Republik Indonesia No. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi sumber daya alam di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab sosial untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional. Mengupayakan pemulihan ekosistem yang telah rusak akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. menyatakan UU No. 2.20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.antarsektor yang berdasarkan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 4 Ketetapan ini. Menyusun strategi pemanfaatan sumber daya alam yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan potensi. kontribusi. Para Pemohon yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan. Bahwa dengan berbagai indikasi penyimpangan atas beberapa prinsip yang disebut di atas telah terjadi pembelokan prinsip negara hukum. 4. 2. 6. sehingga masyarakat menganggap perlu untuk mengajukan uji materil ke Mahkamah Konstitusi. misalnya: 1. 5. Putusan MK No.002/PUU-I/2003 tentang menyatakan Pasal 12 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata “diberi wewenang”. Memperhatikan sifat dan karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk sumber daya alam tersebut. karena Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap UUD 1945. 3. kepentingan masyarakat dan kondisi daerah maupun nasional.

4. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Putusan MK No. efektif.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. menyatakan permohonan pemohon ditolak.03/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. yang walaupun ditolak. Dengan adanya berbagai permohonan uji materil atas peraturan perundang-undangan yang menyangkut pertanahan. Selain itu.19 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No.20/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. penggunaan. dan demokrasi. menyatakan permohonan Pemohon ditolak untuk seluruhnya.13/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. 6. permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). lokasi. perlu dilakukan penyempurnaan penguasaan. Putusan MK No. menyatakan Permohonan para Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). Putusan MK No. 8. transparansi. Selain itu.58-59-60-63/PUU-II/2004 dan No. dan pemanfaatan tanah melalui perumusan berbagai aturan pelaksanaan land reform serta penciptaan insentif/disinsentif perpajakan yang sesuai dengan luas. Putusan MK No.08/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Putusan MK No. Putusan MK No. dan penggunaan tanah agar masyarakat golongan ekonomi lemah dapat lebih mudah mendapatkan hak atas tanah.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.56 Prp Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. namun dalam pertimbangan hukumnya majelis menganggap bahwa alasan-alasan permohonan dapat dimaklumi. 9. 5. pemilikan. 7.21/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. maka perlu diterapkan sistem pengelolaan pertanahan yang efisien.19 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No.11/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. 3. Putusan MK No.kata “paling banyak”.21-22/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. menyetakan Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2) sepanjang menyangkut kata-kata “di muka sekaligus” dan “sekaligus di muka”. dan Pasal 28 ayat (2) dan ayat (3) UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. serta melaksanakan penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan. menyatakan menolak Permohonan Pemohon. menyempurnakan sistem hukum dan produk hukum pertanahan melalui inventarisasi dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan pertanahan dengan mempertimbangkan aturan masyarakat 16 .

Sahala Sianipar. termasuk investor asing. serta benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah menjadi terganggu. terlebih yang dimaksud dengan kepentingan umum dalam Peraturan Presiden No. mengungkapkan. 08/05/2005). Salah satu peraturan perundang-undangan yang menimbulkan banyak tanggapan dari masyarakat adalan Peraturan Presiden No. perusahan publik relation yang bermarkas di AS. hingga presiden sendiri yang mencabut hak atas tanah itu. Dan nampaknya bahwa pemerintah ingin menguasai tanah masyarakatnya dengan harga murah. Sekalipun diatur mengenai musyawarah dalam Peraturan Presiden No. terutama yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang pertanahan di daerah. budaya oleh masyarakat oleh pemerintah. Sebab itu. Permasalahan utamanya adalah hak masyarakat atas hak atas tanah. Pada kenyataan – seperti yang 17 .36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. maupun alternative dispute resolution. bahwa beberapa investor asing memang belum mau meneken persetujuan investasi di proyek infarstruktur karena belum ada jaminan soal pertanahan di Indonesia. akan tetapi jika musyawarah gagal ditempuh kemudian terdapat uang pengganti dari pemerintah yang dititipkan ke pengadilan. Direktur Golin/Haris Internasional Pte Ltd Singapura. tanaman. Tetapi mungkin saja justru para pemodal yang diuntungkan. 36 tahun 2005. peradilan. 36 tahun 2005 tersebut telah mengalami perluasan kriteria jika dibandingkan dengan Keputusan Presiden No. atau berdasarkan perhitungan dari instansi pemerintah yang bersangkutan dengan benda-benda selain tanah. serta peningkatan upaya penyelesaian baik melalui kewenangan administrasi. Pemerintah dapat saja “ seolah-olah “ dalam rangka kepentingan umum yang sebenarnya adalah akses memperlancar “bisnis“ segelintir orang mencabut hak masyarakat tersebut. Investor asing tidak mungkin berhadapan langsung dengan masyarakat di Indonesia.adat. bangunan. akan dilakukan penyempurnaan kelembagaan pertanahan sesuai dengan semangat otonomi daerah dan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 55 tahun 1993. sosial. Selain itu. serta benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah oleh negara dengan pemberian ganti rugi senilai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk tanah. bangunan. Hal tersebut sangat meresahkan masyarakat dan menjadi masalah sosial yang timbul di masyarakat. investor menginginkan agar pemerintah mengatur soal tanah (Jawa Pos Online. Hal tersebut menunjukan diperlemahnya akses masyarakat akan hak atas tanah dan dilanggarnya hak sipil-politik dan hak ekonomi. Berbagai tanggapan tersebut menjadi lebih mendasar ketika masyarakat melihat bahwa substansi atau materi yang diatur dalam Peraturan Presiden sangat kental dengan pencabutan hak atas tanah. tanaman.

Peraturan Presiden tersebut jelas sangat tidak partisipatif karena secara formal hanya dilakukan secara sepihak oleh presiden (pemerintah). tuntutan pragmatis telah membawa pemerintah untuk melahirkannya hanya dalam bentuk Peraturan Presiden.36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.36 Tahun 2005 memiliki kecendrungan untuk keperluan pragmatis pada era ini yang dibuat secara parsial dengan watak konservatif. 18 .bahwa berdasarkan hasil pemantauan proyek-proyek pemerintah yang berupa pinjaman luar negeri diperoleh bahwa salah satu faktor penghambat pelaksanaan proyek tersebut adalah kurangnya dana pengadaan tanah. Hal ini semakin membuktikan bahwa PP No.disampaikan Abdul Haris Kepala Subdit Pertanahan Bappenas Jakarta . Peraturan Presiden tersebut jika dilihat dari materinya lebih proporsional untuk dituangkan dalam bentuk UU. adanya hambatan dalam proses pembebasan tanah. Peraturan Presiden itu juga tidak memberikan rasa keadilan bagi masyarakat sehingga dalam pelaksanaannya banyak mendapat perlawanan dari masyarakat. Peraturan Presiden No.36 tahun 2005 yang dilakukan melalui Peraturan Presiden No. dan dengan sendirinya tidak aspiratif karena tidak membuka saluran secara wajar bagi masuknya aspirasi masyarakat. maupun hambatan dalam permukiman kembali (Media Indonesia Kamis. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas PP No.36 tahun 2005 tidak berwatak responsif dan tidak mampu mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat Indonesia dalam bidang pertanahan (agraria). 26 Mei 2005). Pada tahun 2006 diadakan perubahan terhadap PP No. Akan tetapi.

...DAFTAR ISI 1.. Pengertian Politik Hukum …………………………. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Baru (1966-1998) …….2 4.3 7.…………………………..…..5 9. Perkembangan Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Di Indonesia ……………….1 3.5 8. Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1966) ………………………………….......... Hukum Sebagai Produk Politik ……………………………………………..……………………….…8 10....3 6... Politik Pertanahan (Agraria) Kolonial / Penjajah …………………………………. Hukum Sebagai Alat …………………………………………. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama.... Periode Demokrasi Liberal (1945-1959) ………………….…..….2 5... Politik Hukum Pertanahan (Agraria) ……………………………………………...…………….1 2.…………………. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Kolonial / Penjajahan ……. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama.….....…9 19 ..

Djambatan. 2006.11.………………11 DAFTAR PUSTAKA Harsono. Cet. Hukum Agraria Indonesia.XVII. Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Boedi. Politik Hukum Pada Era Orde Baru (1998-Saat ini) ……………….. Jakarta. 20 .

Mahfud MD. Peraturan Perundang-undangan : Kitab Undang-Undang Agraria Dan Pertanahan.or. 21 . Sumber Media Internet : Lilis Nur Faizah. Santoso.zeilla. Prenada Media Group. 36 Tahun 2005. 2010. 2008. http://www.IX. Parlindungan. AP. Bandung.I.com Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI). Komentar Atas Undang Undang Pokok Agraria.VI. 2009. Tanggapan Terhadap Perpres No.wordpress. Urip. Mandar Maju. Politik Hukum Di Indonesia. 2009. Landreform: Sejarah Dari Masa Ke Masa. Cet. Hukum Agraria & Hak-Hak Atas Tanah. www.. Raja Garafindo Persada.. Jakarta.id. Moh. Cet. Cet. Bandung. Fokusmedia. Jakarta.pbhi.

TUGAS HUKUM AGRARIA I POLITIK HUKUM PERTANAHAN (AGRARIA) DI INDONESIA 22 .

S. NIM. 1092461024 PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2010 23 .H.I MADE WIDANA PUTRA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful