PEMANFAATAN DAUN SIRSAK DAN BERBAGAI JENIS UMPAN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA RAYAP DI LABORATORIUM Fery Simanjuntak , SP, Ir.

Maimunah, MS, Ir. Zulheri Noer, MP, Ir.Hafni Zahara,MSc
Balai Besar Karantina Tumbuhan Belawan 20414 Jalan Sulawesi II Belawan telp.(061)6941484,fax.(061)6941484 Email : hafni_z @yahoo.com

RINGKASAN Rayap merupakan salah satu jenis serangga yang secara ekonomi sangat merugikan. Rayap yang pada mulanya berfungsi sebagai pengurai dari sisa-sisa tumbuhan menjadi bahan organik yang berguna, sekarang menjadi salah satu hama perusak yang harus diperhitungkan keberadaannya. Penggunaan insektisida nabati yang dimodifikasi dengan berbagai jenis umpan dapat digunakan untuk mengendalikan rayap. Pemanfaatan daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan rayap pada area pertanaman ataupun area pemukiman karena disamping efektif juga sangat mudah cara aplikasinya. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ekstrak daun sirsak dengan dicampur dengan umpan rumah rayap dapat mengendalikan rayap dengan tingkat mortalitas yang tinggi daripa pada dicampur dengan umpan kertas tissu dan umpan serbuk gergaji. PENDAHULUAN Rayap merupakan salah satu jenis serangga dalam ordo Isoptera yang tercatat ada sekitar 200 jenis dan baru 179 jenis yang sudah teridentifikasi di Indonesia. Beberapa jenis rayap di Indonesia yang secara ekonomi sangat merugikan karena menjadi hama adalah tiga jenis rayap tanah/subteran (Coptotermes curvignathus Holmgren, Macrotermes gilvus Hagen, serta Schedorhinotermes javanicus Kemner) dan satu jenis rayap kayu kering (Cryptotermes Cynocephalus Light). Tiap tahun kerugian akibat serangan rayap di Indonesia tercatat sekitar Rp 224 miliar-Rp 238 miliar (Kurnia Wiji, 2004). Rayap yang pada mulanya berfungsi sebagai pengurai dari sisa-sisa tumbuhan menjadi bahan organik yang berguna, sekarang menjadi salah satu hama perusak yang harus diperhitungkan keberadaannya. Serangga ini memang tidak mengenal kompromi dan melihat kepentingan manusia, dengan merusak mebel, buku-buku, kabel-kabel listrik, telepon, serta barang-barang yang disimpan (Proyeksi, 2005). Jika dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk mencegah perkembangan rayap dengan berbagai anti rayap dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi plafon/atap, maka biaya menghambat dan mencegah rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan menjadi sangat murah jika hal tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap. Mengapa ? Karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan terbebani oleh biaya bahan pengendali/anti rayap saja. Seandainya pengendalian rayap dilakukan setelah mendapat serangan rayap, maka harus mengeluarkan biaya perbaikan/renovasi terhadap kerusakan yang telah terjadi. Bebas dari serangan rayap berarti rutinitas aktivitas tidak akan terganggu. Mengapa tidak mengantisipasi serangan rayap sedini mungkin daripada dibuat pusing kemudian? Mencegah lebih murah dari pada membasmi (Proyeksi, 2005). Untuk Senyawa kimia bahan-bahan alami juga diketahui relatif lebih ramah lingkungan dibanding dengan senyawea-senyawa sintetik. Namun demikian, bahan-bahan alami sebagai agens pengendali serangga hama masih sangat terbatas. Sementara itu kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tumbuhan setiap tahunnya diperkirakan 35%, baik itu serangan yang diakibatkan oleh serangga hama maupun organisme lainnya.
1) Tenaga Teknis pada Balai Besar Karantina Tuubuhan Belawan 2) Fakultas Pertanian Universitas Medan Area 3) Fakultas Pertanian Universitas Medan Area 4) POPT pada Balai Besar Karantina Tumbuhan Belawan Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti.  Bogor, 21­22 Agustus 2007 

Page 1 

thermometer. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam upaya pengendalian hama rayap baik di area pertanaman maupun di area bangunan. gunting. Untuk mengetahui interaksi insektisida nabati dengan jenis umpan untuk mengendalikan hama rayap. kain kasa. Hanafiah. tepung (bubuk) daun sirsak. 21­22 Agustus 2007 . mudah diterapkan petani dan efektif membunuh hama serta memiliki keuntungan mudah dibuat dan berasal dari bahan alami/nabati yang mudah terurai (biodegradable) sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak. Dalam penelitian ini kami menggunakan daun tanaman sirsak dengan judul “PEMANFAATAN DAUN SIRSAK DAN BERBAGAI JENIS UMPAN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA RAYAP DI LABORATORIUM”. karet. Faktor berbagai jenis umpan/media (notasi M) yaitu : M1 = umpan serbuk gergaji (limbah gergajian kayu) (10 g / toples) M2 = umpan kertas tissu ( 10 g / toples ) M3 = umpan rumah rayap (10 g / toples ) Kombinasi perlakuan (t) : 4 X 3 = 12 perlakuan S0M1 S1M1 S2M1 S3M1 S0M2 S1M2 S2M2 S3M2 S0M3 S1M3 S2M3 S3M3 Apabila hasil analisa data berpengaruh nyata. 2002) Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. Salah satu tanaman yang memiliki senyawa untuk digunakan sebagai insektisida nabati yaitu daun sirsak. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuas kecil. nampan plastik dan alat-alat tulis. yaitu : 1. kaca pembesar (loup). bagian tanaman sirsak yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah daun dan biji. hygrometer. serbuk gergaji dan rumah rayap. 2.2 Dengan kata lain insektisida nabati tentunya dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian serangga hama utama pada tanaman paprika karena memenuhi kriteria yang diinginkan yaitu aman. karena residunya mudah hilang. murah. timbangan analisis. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rayap (hasil rearing). Menurut Kardinan (2000).  Bogor. pisau. Untuk mengetahui jenis umpan yang tepat untuk mengendalikan hama rayap. Faktor bubuk daun sirsak (notasi S) yaitu : So = umpan tidak dicampur bubuk daun sirsak (kontrol) S1 = umpan dicampur bubuk daun sirsak 2 g / toples S2 = umpan dicampur bubuk daun sirsak 4 g / toples S3 = umpan media dicampur bubuk daun sirsak 6 g / toples 2. tissue. maka diadakan ujian beda rataan secara Duncan’s Test untuk masing-masing faktor perlakuan (Kemas A. dengan tujuan penelitian : 1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan. plastik. petridish. METODOLOGI Penelitian dilakukan di laboratorium Balai Besar Karantina Tumbuhan Belawan yang dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Nopember 2006. stoples plastik.

Setelah rayap tersebut dimasukkan ke dalam stoples yang telah berisi umpan maka stoples ditutup dengan kain kasa.3 Pelaksanan Penelitian Serangga rayap yang telah dewasa hasil dari rearing (di biakkan dalam stoples yang berisi rumah rayap). antara lain asimisin.33 tn 23. daya reproduksi.44 a Keterangan : Notasi yang ditandai huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata pada taraf 0.44 b 53.55 a 30. proses ganti kulit. mengganggu dan menghambat proses perkawinan serangga.67 tn 23. serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah.89 a 55. b.00 a 96. 21­22 Agustus 2007 .22 c 44. yang menyatakan bahwa daun sirsak yang mengandung senyawa acetogenin.00 a 9 hsa 57. pertumbuhan.56 b 76. HASIL DAN PEMBAHASAN a.67 a 34.33 tn 25.22 a 85.00 tn 4 hsa 5 hsa 6 hsa 32. Kemudian diambil masing-masing 20 ekor untuk setiap perlakuan (sesuai kebutuhan penelitian).89 b 82. senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti feedent.78 d 53.78 b 25. Pada 5 hsa diperoleh hasil bahwa kontrol tidak berbeda nyata dengan perlakuan S1 (umpan dicampur bubuk daun sirsak 2 g / toples) tetapi berbeda nyata berbeda nyata dengan perlakuan S2 (umpan dicampur bubuk daun sirsak 4 g / toples) dan S3 (umpan media dicampur bubuk daun sirsak 6 g / toples).11 a 33. hambatan menjadi serangga dewasa. sebagai pemandul. menghambat peletakan dan penurunan daya tetas telur dan bekerja secara sistemik dan kontak serta mudah diabsorbsi tanaman. Selanjutnya hasil penelitian pada 6 hsa sampai dengan 9 hsa menunjukkan bahwa semua perlakuan berbeda nyata terhadap kontrol.33 c 65. Tabel 1. Parameter yang Diamati a. Hasil Penelitian Pengaruh Bubuk Daun Sirsak Terhadap Persentase Mortalitas Rayap Perlakuan S0 S1 S2 S3 3 hsa 21. dan selanjutnya stoples-stoples tersebut disusun sesuai dengan perlakuan yang telah ditetapkan. Persentase kehilangan umpan ( % ) Penimbangan berat berbagai jenis umpan yang telah diberi perlakuan dilakukan sebelum dan setelah akhir pengamatan ( penelitian ). bersifat racun perut yang bisa Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. Pada konsentrasi tinggi.89 c 63. Sedang pada pengamatan berikutnya yaitu pada 4 hsa terlihat hasil bahwa semua perlakuan berbeda nyata terhadap control (Tabel 1).  Bogor.78 c 70. Dalam hal ini. Sesuai pendapat Agus Kardiman (1999) yang menyatakan bahwa pestisida sirsak tidak membunuh hama secara cepat.56 a 7 hsa 42. tetapi berpengaruh mengurangi nafsu makan.11 a 8 hsa 48. bulatacin dan squamosin. Pengaruh Perlakuan Bubuk Daun Sirsak Terhadap Perkembangan Rayap Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mulai dari 1 hsa sampai dengan 3 has menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata diantara perlakuan.33 a 26.56 b 95.11 a 22. Dari hasil penelitian ini dosis yang paling baik adalah pada perlakuan S3 (dosis 6 g/toples). Persentase mortalitas ( % ) Pengamatan dilakukan 3 hari setelah perlakuan dengan menghitung persentase kematian serangga dan selanjutnya setiap hari diamati selama 15 hari (sampai semua serangga/rayap yang terdapat pada perlakuan mati). Hal ini sesuai dengan pendapat Agus Kardiman (2005).00 b 26.05. Perlakuan S1 berbeda nyata terhadap perlakuan dan S3 (umpan media dicampur bubuk daun sirsak 6 g / toples).78 b 27.

Sehingga ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama seperti belalang dan hama-hama lainnya.58 a 30. Pada hasil penelitian 7 hsa. makan kayu dan jika perlu menghabiskannya sehingga hanya lapisan luar kayu yang tersisa. MenurutDodi Nandika (2006). seperti pada tanaman jati.25 ab 59. Hasil penelitian 6 hsa menunjukkan pada perlakuan umpan media tissue (M2) tidak berbeda nyata dengan umpan media rumah rayap (M3).17 a 62.17 a 80. Dari hasil penelitian dapat juga dilihat bahwa tingkat kematian rayap lebih tinggi pada perlakuan umpan media tissue (M2) jika dibandingkan dengan kedua perlakuan lainnya yaitu media umpan serbuk gergaji (M1) dan umpan media rumah rayap (M3).  Bogor. Sedang pada pengamatan berikutnya yaitu di 4 hsa terlihat hasilnya bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata (Tabel 2).05. perlakuan umpan media serbuk gergaji (M1) berbeda nyata dengan perlakuan umpan media tissue (M2) dan perlakuan umpan media rumah rayap (M3). Sementara suhu pada tempat penelitian 27 – 280C. Sedang perlakuan (M3) yaitu umpan media rumah rayap yang diambil dari sarang rayap di tanah.50 a M2 24. Hasil Penelitian Pengaruh Berbagai Jenis Umpan Terhadap Persentase Mortalitas Rayap (%) Perlakuan 3 hsa 4 hsa 5 hsa 6 hsa 7 hsa 8 hsa 9 hsa M1 23. hampir semua jenis kayu potensial untuk dimakan rayap.58 a 69.75 a 82. Umpan ini akan diboyong rayap ke sarangnya. Perlakuan umpan media serbuk gergaji (M1) tidak berbeda nyata dengan perlakuan rumah rayap (M3) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan umpan tissue (M2).92 a 73. Hal ini disebabkan tidak berkembangnya rayap yang diberi umpan atau media dikarenakan media atau bahan makanan yang dibutuhkan rayap tidak sesuai dengan kebutuhannya. hal ini merupakan neraka bagi rayap.58 a 29. Sesuai dengan pendapat Elri Ritonga (2006).1-26. Hal lain yang menyebabkan rayap mati dikarenakan makanan rayap bukan tanah tetapi kayu atau bahan makan lain yang mengandung selulosa. Menurut pendapat Rudi Tarumingkeng (1971). habitat rayap membutuhkan kisaran suhu 21.67 a 34.33 tn 24.00 a Keterangan : Notasi yang ditandai huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata pada taraf 0.4 mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya.08 a M3 22. Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. Tabel 2.50 tn 24.17 b 55. 21­22 Agustus 2007 . Hal ini menerangkan mengapa kadang-kadang dalam satu malam saja rayap Macrotermes dan Odontoterme telah mampu menginvasi lemari buku di rumah atau di kantor jika fondasi bangunan tidak dilindungi.08 a 77. semua rayap makan kayu dan bahan berselulosa. Sedangkan perlakuan serbuk gergaji (M1) dan rumah rayap (M3) tidak berbeda nyata. Sedang pada hasil penelitian 8 hsa dan 9 hsa diperoleh hasil bahwa tidak adanya perbedaan yang nyata diantara semua perlakuan.17 tn 26. Mereka bersarang dalam kayu.58 b 46.83 b 67. bahwa pengendalian rayap dapat dilakukan dengan memberikan umpan berupa kertas yang diperkaya enzim heksaflumuron yang berfungsi menghambat pembentukkan kulit luar sehingga rayap mati.00 b 44.58 a 49. dan jika di tekan dengan jari serupa menekan kotak kertas saja.60C dengan kelembaban optimal 95-98% yang merupakan surga bagi rayap. Hasil rata-rata tingkat kematian yang tinggi pada hari ke 9 has. Ada pula rayap yang makan kayu yang masih hidup dan bersarang di dahan atau batang pohon. Pengaruh Perlakuan Berbagai Jenis Umpan Terhadap Perkembangan Rayap Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan mulai dari 1 hsa sampai dengan 3 hsa tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. umpan yang diberikan dalam 2 sampai 3 bulan maka satu koloni rayap mati. Hasil penelitian terlihat pada 5 hsa menunjukkan bahwa perlakuan umpan tissue (M2) berbeda nyata terhadap perlakuan serbuk gergaji (M1) dan perlakuan rumah rayap (M3). sehingga tingkat kematian rayap lebih tinggi dibandingkan dengan 2 perlakuan lainnya. tetapi berbeda nyata dengan perlakuan umpan media serbuk gergaji (M1). tingkat kematian jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan umpan serbuk gergaji (M1). b.

67 de 41.67 tn 28.00 tn 31.89 33.33 tn 33. Tabel 3. Sedangkan perlakuan S1 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan S2 dan S3 hal ini disebabkan semakin tinggi tingkat mortalitas rayap maka kehilangan umpan semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah tingkat mortalitas rayap maka kehilangan umpan semakin tinggi.00 ab 88.00 tn 26. Perlakuan S0 S1 S2 S3 9 hsa 44.67 tn S0 M3 20.33 tn 90.00 tn S1 M2 23.00 d 48.00 tn 25. seperti pencemaran lingkungan (mencemari air sumur.33 tn 95.67 tn 100.33 tn 53.33 ef 65. Sedang pada hari ke 6 dan 7 hsa hasilnya terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan Pada 8 hsa diantara semua perlakuan menunjukkan perbedaan yang tidak dan pada 9 hsa hasilnya menunjukkan hasil yang berbeda nyata.33 cd 48. sejalan dengan menyusutnya konsentrasi zat maka keampuhannya menurun. atau mematikan berbagai jenis cacing).33 tn 43.33 ab 56.33 tn 78. Hasil penelitian menunjukkan pada pengamatan terakhir (9 hsa) dapat dilihat pada tabel ke 4.33 tn S3 M3 25.67 bc 83.33 ab 65.33 tn 26.33 tn 25.33 d 8 hsa 9 hsa 43.00 ab 85.33 ab 25. Tabel 4. Keandalannya hanya berlangsung selama zat penghalang masih ada.67 tn 30.33 fg 58.  Bogor.00 tn 98.33 c 46.67 tn S1 M3 21.00 tn S2 M3 23.00 e 61.00 tn S0 M2 25.33 tn 28.67 c 58.33 tn 26. Hasil Penelitian Pengaruh Bubuk Daun Sirsak Terhadap Kehilangan Umpan (%) Pada Pengamatan Terakhir (9 hsa).33 cd Keterangan : Notasi yang ditanda huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata pada taraf 0.33 bc 71.00 a 7 hsa 38.33 tn 36.00 tn 26.00 tn 65.05.33 c 56.78 a ab b b Keterangan : Notasi yang ditandai huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata pada taraf 0.00 e 30.33 de 53. dimana perlakuan S0 (kontrol) berbeda nyata terhadap perlakuan S2 dan perlakuan S3 kecuali pada perlakuan S1 tidak berbeda nyata. 21­22 Agustus 2007 .5 c.33 tn 6 hsa 30.67 tn 66. interaksi perlakuan ini terjadi dikarenakan penanggulangan dengan menggunakan insektisida nabati pada rayap sifatnya sementara.00 b 86.67 b 58.67 tn S1 M1 25.00 tn 20.67 cd 43.00 bcd 63.00 tn 28.67 d 81.67 tn 95.67 tn 30.33 gh 48.67 tn 25.33 cd 68.00 ab 78.33 tn 33.67 tn 38.67 tn S2 M2 23.00 tn 21.33 tn 26.44 38. Rayap akan kembali begitu zat habis sama sekali.67 tn 95.00 a 81.33 a 73. Pengaruh Perlakuan Daun Sirsak Terhadap Kehilangan Umpan. Hasil Penelitian Pengaruh Mortalitas Rayap (%) Perlakuan 3 hsa 4 hsa S0 M1 20.00 tn S2 M1 23.05.67 tn S3 M1 25.00 e 36.00 tn Bubuk Daun Sirsak dan Berbagai Jenis Umpan Terhadap Persentase 5 hsa 26. Pengaruh Perlakuan Bubuk Daun Sirsak dan Berbagai Jenis Umpan Terhadap Perkembangan Rayap Pada table 3 dapat dilihat hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang nyata diantara semua perlakuan mulai dari 1 hsa sampai dengan 5 has.89 32. Sedang di sisi lain pestisida kimia dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Menurut Dodi Nandika (2006).33 tn 55. d.33 e 55.00 tn 33.00 tn 26.67 tn 66.67 fg 43.67 d 73.67 tn S3 M2 25.33 h 46. Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti.

Penggunaan insektisida nabati yang dimodipikasi dengan berbagai jenis umpan dapat digunakan untuk mengendalikan rayap. Dimana bahwa semakin rendah mortalitas hama rayap. 2. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan insektisida nabati dan berbagai jenis umpan untuk mengendalikan hama rayap di laboratorium. yang terbaik adalah dengan menggunakan perlakuan M2 (umpan media tissue). 4. Pengaruh kehilangan umpan terhadap perlakuan ekstrak sirsak yang menunjukkan hasil kehilangan yang tinggi adalah pada perlakuan S0 (kontrol). Kelembaban dari umpan atau ruang lingkup kehidupan rayap sangat mempengaruhi perkembangan rayap. 21­22 Agustus 2007 .  Bogor. Pengaruh perlakuan ekstrak daun sirsak yang terbaik untuk mengendalikan rayap adalah pada perlakuan S3 (dosis 6 g/toples). 6. 3. Pemanfaatan daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan rayap pada area pertanaman ataupun area pemukiman karena disamping efektif juga sangat mudah cara aplikasinya. 5. Perlakuan yang terbaik adalah S2M3 (dosis 4 g/toples dengan umpan rumah rayap).6 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. maka kehilangan umpan semakin besar dan sebaliknya semakin tinggi mortalitas hama rayap. Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. maka kehilangan umpan semakin rendah. Berbagai jenis umpan untuk mengendalikan hama rayap.

Skripsi. Organisme Pengganggu Tanaman pada Produk Kayu dan Cara Pengendaliannya. Jakarta. Sosialisasi ISPM di Medan. A. 2006. J. Sang Pemakan Kayu.com Agus Kardiman. Johnson. Bogor. LIPI. Pengujian Ekstrak Biji Daun Sirsak Untuk Mengendalikan Hama Helicoverpa armigera Pada Tanaman Tembakau Deli.. Penerbit Kanisius. 14 Mei 2006. R. Graw Hill Book Company Inc. “Mencegah Membasmi dan Mengendalikan Rayap pada Bangunan”.softwarelabs. UISU. D... Pusat kajian Pengendalian Hama Terpadu. Rumusan dan Aplikasi.Penebar Swadaya. 2005. New York. Yogyakarta. (Rabu 6 April 2005). M.. Pembuatan dan Pemanfaatannya. S. 2005. Penebar Swadaya. 2001. Pengenalan Pelajaran Serangga. J. Ridwanti Batubara. S. 9-13 Agustus 1999. 1995. J. Termite Control (Pengendalian Rayap). dan Fumigasi. 2001. 1996. 2005. Budi Daya Untuk Menghasilkan Buah Prima. Hands Book of Plant With Pest Control Properties.D. (2004) Pengendalian rayap dengan Steinernema carpocapsae Weiser 81 6(2): 81-83 (2004) ISSN 1410-9379 Prijono. Pestisida Nabati Kemampuan Dan Aplikasi. Jakarta. Bogor. Harun Yahya Internasional. anggota Ikapi. 21­22 Agustus 2007 . 1996. Departemen Pertanian. Sinar Bandung. Z. Agus Kardiman. Surianto. IPB Ragusasakti Utamakholbi PT. 2006.. Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan Rabu. Inc. Skripsi. Premise 200 SL Produksi PT Bayer Indonesia Rentokil Indonesia PT. Arsitek-Arsitek Kecil di Alam Hartati. Kurnia Wiji P. Bogor. 1949. New York. Steinhaus. Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. M. Pengendali Rayap Ramah Lingkungan. 2006. Grainge.. Principles of Insect Pathology. UMA..W. John Wiley & Sons. Tanaman Sirsak. Epsky. Fakultas Pertanian Program Ilmu Kehutanan. Universitas Sumatera Utara Rismunandar.. Medan .S. 2002. Mc. Pestisida Nabati. Membasmi Rayap. Jhon Wley and Son. R. H. Fakultas Pertanian. 2005 Sumber data Proyeksi Bisnis Rancang Bangun dan Investasi.  Bogor. E. Ahmad.7 DAFTAR PUSTAKA Annonimous. New Yorl Chichester Brisbane Toronto Singapore. 1994. Dirjen Perkebunan. 11 Agustus 2005. Blackwell. 1998. E. Borror. Pedoman Pengendalian Pestisida Bertani. 2004. Alexopoulos. Kanisius. 1988. Pestisida Nabati. 1999. 1999. Pest Control (Pengendalian Hama).L. B. bahan Pelatihan. Swadaya. Introductory Mycology.. 2005. 2006. Jakarta II. C. Economic Entomology 81: 1313-!322.. Rodent Control (Pengendalian Tikus). Ritonga. Bogor. Sudarmo. 18 Agustus 2004 Nasution. Fakultas Pertanian. Tempo. Reticulitermes tibialis (Isoptera: Rhinotermtidae). Bahan Pelatihan Pengembangan Pemanfaatan Insektisida Alami. Jamur Pembunuh ‘Musuh dalam Selimut’ Deptan. Biologi Serangga Penggerek Kayu. N. Penebar. Prospek dan Strategi Pemanfaatan Insektisida Alami dalam PHT. Medan. Harian Proyeksi..D. & Capinera. Sirsak Budi Daya dan Pemamfaatannya. Natur Indonesia. Juhaeni. Setiadi. Sirsak & Srikaya. Efficacy of the nematode steinernema feltiae against a subterranean termites. C. Triplehorn.Mims. Khitosan. Penerbit Gajah Mada Press. Petunjuk Teknis Pengendalian Hama Kesehatan Masyarakat dan Hygiene. 1983. Direktotat Perkebunan Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan. Efektifitas dan Daya Relevansi Ekstrak Biji Sirsak dan Daun Sirsak Terhadap Hama cylas formaerius pada Tanaman Ubi Jalar. 2002. Hendro. RAMUAN DAN APLIKASI PESTISIDA NABATI http://www.

28 p. Rudy C. No.8 Tarumingkeng. 21­22 Agustus 2007 .  Bogor.H. L. 138. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu Indonesia. Lap.P. Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. 1971.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful