P. 1
Pedoman Manajemen Peran Serta Masyarakat

Pedoman Manajemen Peran Serta Masyarakat

|Views: 2,468|Likes:
Published by Lanang Rek

More info:

Published by: Lanang Rek on Jan 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2015

pdf

text

original

Ill) Ii' • 7

-

~.,.-'t",c.,._J '_:-r--_

362. 104. 25 Ind

a'

AR)RI'F'~l'

.. I!J 1II lIJlJIl .'

PEDOMAN MANAJEMEN· PERANSERTA MASYARAKAT

Cetak Ulang ke·1

OEPARTEMEN KESEHATAN RI

Diperbanyak Dleh:

DINAS KESEHATAN PROPINSI DKI JAKARTA JI. Kesehatan No. 10 Jakarta Pusat .

----·-----------·-----Preiyck ~enjngkata-n Promosi Sosialisasi dan-infurmas! KeS"P.T1ata'r

Iahun 2002 ('

PENYUSUN

Penanggung Jawab Widyastuti Wibisana

Koordinator Penullsan Trihono

Kontributor

Anasrul, Ardi Kaptiningsih, Atikah, Baidarsyah 0., Bastari

Ema Tresnaningsih, John Mokoginta, Kodrat P., Louise Ferdinandes, Mulyanah Abdulhaq, Nani Suhyani, Pong Muhartono, Poppy Trisnawati, Rosani Azwar, Rusjda Hadjerat, Siti Haryani, Sri Herrniyanti,

Sri Pangastutl, Sri Nurwati, Sugiarto, Supriyadi, Sutarman Adam, Tanya Mokoginta, Trihono, Trisa Wahjuni, Widyastuti Soerojo, Widyastuti Wibisana.

Tata Letak Sri Nurwati

Desaln Sampul Trihono

KATA PENGANTAR

BUKU "PEOOMAN ARRIF!' ini merupakan cetakula'1g ke-l, sebagai penycmpul'I1aan dari cetakan ke-6 oleh Departernen Kesehatan

RI. .

Perbedaan buku ini dengan yang sebelumnya adalah adanya Indikator khusus untuk Propinsi DKI Jakarta.

Indikator UKBM khusus di Propinsi OKI Jakarta, telah disusun bersama-sama dan disesuaikan dengan kondisi serta keadaan Propinsl OKI Jakarta

Indikator UKBM ada yang ditambah dan ada yang dikurangi. Diharapkan UKBM yang rendah stratanya dapat ditingkatkan.

.Akhirnya kami mcngucapkan terirna kasih kepada semua pihak, tim penyusun atas kontribusi clan sumbangsihnya sehingga tersusunnya

buku pedoman ini. . . , .

Harapan kami scmoga buku pedoman ini dapat dijadikan sebagai pcgangan bagi Petugas Pcranscrta Masyarakst baik di tingkat Propinsi, Kotamadya, Kecamatan sampai Kelul'ahal1,' .

KEPALA DINAS KESEHATAN PROPINSI DKJ JAKARTA

.>

D.,. H.A. CHALIK MASULILI,. MSc NIP 140082077

KATA PENGANTAR

~<";.BUku. pedornan Manajemen Peranserta Masyarakat "ARRIF" ini 'lil'ei:llpaki:1I1 cetakan ke 6 sebagai penyempurnaan dari cetakan sebelumnya,

Halmendasar yang membedakan dengan cetakan sebelurnnya adalah masuknya kelompok usia lanjut dalam buku ini.

I

" Masuk kelompok usia lanjut dalarn edisi ini karena perkembangan

kelompok tersebut di lapangan cukup pesat, sehingga para petugas di lapangan " perlu acuan untuk dapat digunakan dalal1ll11elllllnbuhkembangkan kelompok usia lanj ut.

Meskipun telah dilakukan beberapa upaya penvempurnaan, namun kami menyadari bahwa buku pedornan ini rnasih banyak kekurangalUlya, baik isi maupun teknis pcnyajiannya, Sehubungan dengan itu, kritik yang mcrubangun sangat kami harapkan guna menyempwllakan buku ini, sesuai dengan harapan kita semua. Kepada tim penyusun dan penYlInting akhir, karni ucapkan terima kasih atas kesungguhan dan slIll1bangsihnya.

Jakarta, Oktober 200 I

Direktur Promosi Kesehatan

.~

z.->:;

Drs. Dachroni, MPH

NIP. 140025019

ii

S

hi a.

h

n 1 k

n 1

KATA PENGANTAR

Partisipasi atau peranserta rnasyarakatjelas dirasakan keberadaan dan perannya dalarn segal a bidang pembangunan. Wujud peranserta rnasyarakat dalam pembangunanjuga beragam, Di bidang kesehatan, wujud partisipasi biasanya berupa upaya kesehatan bersumber-daya masyarakat (UKBM), yang bentuknya bermacam-macam. Ada Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa, Poskestren. Saka Bakti Husada, Dana Sehat, dll.

Bentuk UKBM itu bervariasi sesuai kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Melihat kondisi demikian, dirasakan kebutuhan yang nyata dad para petugas pembina akan pedoman untuk rnernotret dan meningkatkan Iebih lanjut tingkat partisipasi masyarakat tersebut.

Buku pedornan ini merupakan hasil dari upaya "menyederhanakan yang sui it" dan "membuat yang beragam dan luas menjadi berpola dan bisa diukur", Peran serta rnasyarakat pada dasarnya dapat diukur dcngan menelaah penyebaran/kcterjangkauan dan tingkat perkembangan tiap UKBM yang seharusnya ada di wilayah tersebut.

Kedua jenis pengukuran tersebut (keterjangkauan dan tingkat perkernbangan UKBM) diharapkan dapat menggulirkanjenis intervcnsi yang harus dilakukan. sehingga dapat sekaligus digunakan untuk penyusunan rencana kegiatan. Di sarnping itu, adanya indikator keterjangkauan dan tingkat perkembangan UKBM diharapkan dapat mcmpermudah petugas dalam mengevaluasi kemajuan peran serta masyarakat, untuk kemudian mencari pendekatan yang pas. kiat yang tepat, dan intervensi yang spesifik.

Pedornan manajernen ini sengaja diberi nama "ARRIF" agar memu.dahkan petugas untuk mengikuti tahapan yang harus dllakukan, di sam ping sekaJigus rnengingatkan setiap insan PSM agar selalu bersikap "arif".

iii

Buku ini menipakan cetakan keenarn, dengan beberapa perubahan tata letak dan sisipan yang mempertajam analisa, Walaupun sudah memasuki cetakan keenam, kami yakin masih banyak kekurangan, kelemahan atau kesalahan, baik dari seg! konsep I11UUPUl1 teknik penyajiannya. Untuk itu karni mohon muafyang setulusnya. sC1mbill11engul1dang kritik dan saran yang membangun, demi perbaikan buku p~dOnHU1l11anajemen PSM ini.

Harapan kami. sernoga pedornan sederhana ini dapat dijadikan pegangan bagi petugas dalal1ll11el1l:rapkunI1mgsi-fungsi manajemen khususnya untuk menul11buh-kembangknn berbagai bentuk UKBM di wilayah keijanya

Jakarta, Januari 1999

Kopala Direktorat

Bina Peran Serta Masyarakat

~

Dr. Widyastuti Wibisana MSc(PH) NIP. 14005 1640

, i

5.

DAFTAR'ISI "-, -
!
i.,-
PENYUSUN
KATA PENGANTAR ...
. " ~ .. m
DAFTARISI 1" v
DAFTAR DAMBAR & LAMPIRAN vii
DAFTAR SINGKATAN Dc
1. PENTINGNYAPERAN SERTA MASYARAKAT
., ~ ~
"
2. PRINSIP PENGGERAKAN PSM 3
Tuj uan yang hendak dicapai 3
Bentuk ideal UKBM dimasa yang akan datang 4
Strategi yang ditempuh ~
3. MANAJEMEN & PEMBINAAN PERAN SERTA 7
MASYARAKAT MODEL "ARRIF"
Kekhususan Peranserta Masyarakat 7
Peran Ganda petugas 7
Pengertian "ARRIF" 8
4. IMPLEMENTASI MANAJEMEN "ARRlF" 11
Analisis Situasi/ Analisis Keterjangkauan 11
Analisis Sumber Oaya 17
Rumusan 18
Rencana 22
Intervensi 23
Forum Komunikasi 23
Siklus danjadual kegiatan 24
S. UKBM DAN TINOKAT PERKEMBANOANNYA 26
Jenis Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat 26
Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) 27 y

Stratiflkasi Posyandu dan Intervensinya 29
Pas Obat Desa (POD) 33
Dana Sehat 37
Jenis Intervensi pada tiap Kategori Dana Sehat 43
Pas Upaya Kesehatan Kerja 44
Satuan Karya Bhakti Husada (SBH) 49
Pas Kesehatan Pesantren (POSKENTREN) 51
Karang Taruna Husada 52
Pondok Bersalin Desa (POLINDES) 53
Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD) 62
Stratifikasi UKGMD dan Intervensinya 65
Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan (DPKL) 66
Pembinaan Kelompok Usia Lanjut 68
6. CONTOH DOKUMEN "ARRlF" 72
Data Umum Kab. Dati II Sikka 72
Data Peran Serta Masyarakat Tahun 1997 75
7. PENUTUP 87
'.
DAFTAR PUSTAKA 88
LAMPIRAN vi

2 2 5

7

8

DAFTAR GAM BAR & LAMPlRAN

Gambar:

5.1. .5.2. 5.3. 5.4. 5.5. 5.6.

Posyandu

Pos Obat Desa

Logo Dana Sehat Seka Bakti Husada Pondok Bersalin Desa UKGMD

Lampiran:

2.1.

Bagan Penggerakan PSM melaiui kepemimpinan pengorganisasian & Pendanaan.

2.2. 3.1. 4.1. 4.2. 4.3. 4.4a sid 4.4k.

4.5a Rekapitulasi tingkat perkembangan UKBM

sid

4.Sg.

4.6. Gagan anal isis tingkat perkembangan UKBM

4.7. Format rekapitulasi hasll analisis tingkat perkembangan

UKBM

4.8. Grafik hasil analisis tingkat perkembangan UKBM

4.9. Analisiskasus

4.10. Rangkaian analisis

4.11.. Analisis surnber daya

4.12. Rumusan masalah dan tujuan

Gambaran bentuk ideal UKBM. di mas a YAD

Bagan peran ganda petugas selaku pembina dan manajer, Format data dasar

Bagan anal isis situasi

Grafik analisis situasi

F0I111at tingkat perkernbangan UKBM

vii

4.13. RUI11L1san intervensi

4.14. Ren<.:anu(RUKdanRPK)

4.15. Alur proses DUP Terpadu

4.16. SiklusjadualARRlF

5. 1 . Bagan intervensi tiap tingkat

perkembangan Posyandu

5.2. . Bagan intervensi roo

5.3. Bagan intcrvcnsi Pos UKK

5.4. Bagan intervensi Dana Sehat

5.5. Bagan intervensi TOGA

6.1. Contoh keterkaitan rumusan masalah, rUl11l1Stu1 tujuan dun rumusan intervensi.

6.2. Contoh matriks "RAOrrE" sebagai alat untuk evaluasi program PSM.

viii

I I

I

I

I

:

j

L M M M M M

OAFTAR SJNGKATAN

Angkot APBN

: Angkutan Perkotaan

: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ARRIF Analisa- RlIl11l1San- Rencana- Intervensi-ForumKomunikasi

: Bawah Lima Tahun

: Badan Penyelenggara : Pengo bat Tradisional : Bina Keluarga Balita

: Ib 1I Hamil

: Daerah Tingkat II

: Daftar Isian Proyek

: Dafiar lsian Proyek Daerah

: Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan : Di fteri-Pertusis- Tetanus I

: dan seterusnya

: Daftar Usulan Proyek

: Garis-Garis Besar Haluan Negara

: Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat : Keluarga Bereneana

: Kesehatan Untuk Semua : Kesehatan I btl dan Anak

: Komunikasi-Infol111asi-Edukasi : Kepala Keluarga

: Kelornpok Peminat Kesehatan lbu dan Anak : Karang Taruna Husada

: Koperasi Unit Desa

: Kumulatif

: K wartir Ranting : K wartir Cabang

: Lembaga Swadaya Masyarakat : N0n11a sehat dalam bekerja

: Mandi Cuci Kakus

: Menteri Kesehatan

: Musyawarah Masyarakat Desa

: Maje 1 is Permusyawaratan Rakyat

Baliia Bapel Bartra BKB BlD11il Dati" DIP DIPDA DPKL OPTI

Ds!

OUP GBHN .IPKM KB Kesuma KIA

KIE

KK KP-KIA KTH KUD KlII1l Kwaran Kwarcab LSM MASKER MCK Menkes MMD MPR

ix

PAJ\'l

P3K P2M·PKMD

'pJP Permenkes P.lP fI

PKK PKMD PLP·PKMD

POA

POD

Pokdes Polindes

POP Poskestren Posyandu Posyand 1I Asta PPO

Pramuka

PSM

PSN

. PSPB Pusinkes Puskesrnas MGPIE

Repelita VI RPK RUK

SADARI

SBH

SO ··SIMASKER

: Perusahaan Air Minurn

: Pertolongan Pcrtama padu Kecelakaan

: Pemberantastlll Penynkit Menular mefutu: Pende-

kntan PKMO·

: Pertolongan Pertarna pada Penyakit : Peraturan Menteri Kesehnran

: Perubangunan Jangka Panjang II

: Pembinaan Kesejahteraan Keluarga

: Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa

: Penyehatan Lingkungan Pemukiman rnelalui

pendekatan PKMD· .

: Plan of Action

: Pos Obat Desa

. : Pos Kesehatan Desa

: Pondok Bersalin Oesa

: Pos Obat Pond ok Pesantren : Pos Kesehatan Pesantren

: Pos Pelayanan Terpadu

: Posyandu Asuhan Tokoh Agarna : Pertolongan Persalinan Di rurnah : Praja Muda Karana

: Peran Serta Masyarakat

: Pemberantasan Sarang Nyamuk

: Pemantaun dan Stirnulasi Perkembangan Baiita : Pusat Inforrnasi Kesehatan

: Pusat Kesehatan Masyarakat

: Resollrces.Activities.Goal.Pl<u1I1ing • Implementation-Evaluation

: Rencana Pernbangunan Lima Tahun VI : Rencana Pelaksana Kegiatan

" : Rencana U sulan Kegiatan

:: Karsa Husada Mandiri

: Saka 8hakti Husada

: Sekolah Dasar

; Sarasehan Informasi menuju Norma Sehat dalarn , ~ bekerja

: Sekolah Lanjutan TingkatAtas

l l (

u u. U

SLTP SMD SPAL SP2TP TKP TOGA Toma TT2

uci UKBM UKGMD UKK UKP UKR UKS Usila

UU

: Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Survei Mawas Diri

: Sarana Pembuanzan Ail' Limbah

~ .

: Sistem Pencatatan & Pelaporan Terpadu Puskesmas : Telaah Kemandirian Posyandu

: Taman Obat Keluarga

: Tokoh Masyarakat

: Tetanus-Toxoid JI

: Universal Child Immunization

: Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat : Upaya Kcsehatan Gigi Masyarakat Desa

: Upaya Kesehatan Kerja

: Upaya Kesehatan Pesantren

. : Upaya Kesehatan Rernaja : Usaha Kesehatan Sekolah : Usia Lanjut

: Undang-Undang

xi

BAB 1

PENTINGNYA PERAN SERTA MASYARAKAT

Pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan, telah diakui oleh semua pihak. Hasil pengamatan, pengalaman lapangan sampai peningkatan cakupan program yang dikaji secara statistik, semuanya rnembuktikan bahwa peran serta masyarakat amat menentukan terhadap keberhasilan, kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan,

Peran serta masyarakat itu semakin menampakkan sosoknya, setelah munculnya Posyandu sebagai salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM), yang merupakan wujud nyata peran serta rnereka dalarn pembangunan keschatan. Kondisi ini ternyata mampu memacu munculnya berbagai bentuk UKBM lainnya seperti Polindes (pondok Bersalin Desa), POD (Pos Obat Desa), Pos UKK (Pos Upaya Kesehatan Kerja),' TOGA (Taman Obat Keluarga), Dana Sehat dll, yangjenis danjumlahnya terus bertambah.

Secara j uridis, pentingnya peran serta masyarakat telah diakui oleh seluruh masyarakat Indonesia, terbukti dengan selalu tertuangnyahal ini dalam Garis-garis Besar Haluan Negara maupun Rencana Pembangunan Lima.

Tahunan. ' "

Bukti lain adalah seperti yang tercantum dalam UU nomer 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Peran serta masyarakat tercantum dalam beberapa pasal (pasal 5,,8, 71 dan 72) dan dibahas secara khusus dalam satu Bab (UU Kesehatan, Bab VII Peran Serta Masyarakat), Kutipan pasal- pasal

tersebut dapat dilihat dibawah ini. '

Pasal5 .'

Setlop orang berkewajiban untuk tkut serta dalam memellhara , "dan. meningkatkan derajat kesehatan perseorangan, keluarga dan

. .lingkungannya. '

Pasal 8

" .. Pemcrintah bertugas menggerakkan Pc!/'((11 serta masyarakat '} d,,/clI1l tnenyelenggarukan dan Ih!I11h/U.j'I,lOl1 kesehatan. deng"'1 memperhattkanfungsi sosial sehingga J?~J",yan((11 kesehatan bag; -masyarakut yang kurang mampu tetap terjamin.

Pasal71 r.

Masyarakat memiliki kesempatan unt uk berperan serta dahlin penyelenggaraan upaya 'kesehatan beserta sumber dayanya.

Pemerintah membina, mendorong, dan tnenggerakan swada.I'" tnasyarukat yUl1g bergerak dibidans; kesehatan Clgal' dapat lebih berdayaguna dan berhasllguna.

Ket ent uun mengenai syarat dO/1 t atacara peran sert a masyarakat dibidang kesehat an ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

2.

...

.J.

Pasal 72 I.

Peron serta musyarakat untuk memberikan pertimbungan dalam ikut menentukun aturun pemerintahan pada pcnyclenggaraan kesehat an dapa! dilakukan melalui Badan Pertimbongan Kesehatan Nasional yang berpatokan pada tokoh masyarakat dan pakur lainnya.

Ketentuanmengenai pembentukan, tugus pokok . fungsi dan tata kerja Bailan Pertimbangan Kesehatan Nasional ditetapkan dengan Keput usan Pres ide 11.

2.

Tertorehnya peran serta masyarakat dalarn dokumen utama diatas menunjukkan bahwa para penentu kebijakan di negeri ini, sepenuhnya mernahami akan arti penting dari peran serta masyarakat dalarn pernbangunan pada umumnya dan pembangunan kesehatan pada khususnya.

2

ka

kat

'(fI1

agi

'ta

er

a~ 01

la r·

11

,_

11

1

BAB 2 ':i

PRINSIP PENGGERAKKAN ,PSM'"

TVJUAN YANG HENDAI( OICAPAI

Kesehatan merupakan kebutllhal1 setiap orang, oleh karena itu kesehatan seharusnya tercermin dalarn kegiatan setiap insan. Peransertamasya_ rakat dalam bidang kesehatan diarahkan melalui 3 kegiatan utama yaknl:

• Kepemimpinan, yaitu melakukan intervensi kepemimpinal1 yang berwa. wasan Kesuma (Keseharan untuk sernua) bagi sernua pemimpin, baik formal maupun informal, dari tingkat atas sampai tingkat terbawah.

• Pengorganisasian, yait1ll11elailli intervensi 'C0I11I11W1ity development' di bidang kesehatan pada setiap kelompok masyarakat, sehingga muncul bentuk UKBM di setiap kelol11pok masyarakat.

• Pendanaan, yaitu mcngembangj:.an sumber dana masyal'akat untuk membiayai berbagai bentuk kegiatan di bidang kesehatan. dari tingkat promotif, prcventif, kuratifl11C1UPUIl rchabilitatif. Wujudnya berupa Dana Sehat atau JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat). yang merupakan kunci 'sustainabilitas' kegiatan kesehatan kelornpok masyarakat yang bersangkutan.

Dengan dernikian, tujuan akhir yang hendak dicapai dalam peningkatan peran serta masyarakat di bidang kesehatan adalah :

• Setiap pemimpin kelornpok masyarakat baik formal maupun informal mempullyai wawasan KesLU11a (Kesehatan untuk semua). Pemimpin yang belwuwasan kesuma ditandai dengan munculnya UKBM di IingklUlgannya dengan kuaIitas yang memadai.

• Setiap kelompok masyarake: baik di tingkat kewilayaban rnaupun organisasi, mcrnpunyai bentuk UKBM yang merupakan wujud partisipasl

J

mereka dalam mcnanggulangi masalah keschaum yang mercka hadapi. dengan kualitas yang baik. Dcngan dernikian setiap unit kelornpok masyarakat mcmpunyai bentuk-bentuk UKBM sesuai dengan karak-

. teristik kelompoknya. Hila masyarakat desa, dapat membentuk Posyandu, POD, Polindes dll, Bilu organisasi pernuda, dapat mengernbangkan Rernaja Husada (Sanrri Husada untuk pesantren, Taruna Husada untuk Karang Taruna, Saka Bhakti Husada untuk Pramuka, dll).

(I Setiap kelornpok masyarakat, rnengernbangkan Dana Sehat menggunakan pola yang sesuai dengan karakicristik masyarakat setempat, dengan kual itas yang mernadai. Dana Sehat pola PKMD untuk masyarakat pedesaan, Dana Sehat pola KUD untuk kelompok masyarakat anggota KUD, Dana Sehat pola UKS untuk para murid sekolab, dll. Bila telah maju nanti, setiap anggota rnasyarakat wajib menjadi pcserta JPKM, sebaiknya salah satu paket perneliharaan kesehatannya adalah melalui berbagai bentuk upaya promoti f .. preventi f yang sebagian besar wahananya ada lab UKBM.

Bagan penggerakkan Peran Serta Masyarakat melalui kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat dan pendanaan dapat dilihat pada larnpiran 2.1.

BENTUK IDEAL UKBM DI MASA YANG AKAN DATANG

Berdasarkan pendekatan intervensi PSM melalui kepernimpinan, pcngorganisasian dan pendanaan masyarakat, dapat dirancang bentuk ideal UKBM di masa yang akan datang. Jenis UKBM bisa bermacam-rnacam sesuai dengan rnasalah kesehatan dan tingkat keburuhan rnasyarakat seternpat, namun yang jelas kelestarian kegiatan tersebut akan bergantung pada kernampuan pendanaan masyarakat yang bersangkutan. Ibarat sebuah bangunan dapat dikatakan bahwa Dana Sehat merupakan basis atau

. fondasinya, sernentara bentuk UKBM rnerupakan tiang penyangganya. Bila kernudian Dana Sehat terse but marnpu rnernbiayai petugas kesehatan profesional (bidan, dokter, dll) yang memayungi UKBM tersebut, terjadilah satu bent uk UKBM yang paripurna, yang dalarn hal ini dapat dinamaka.i Karsa Husada Mandiri (SADARI). Bila nanti JPKM makin berkembang

4

1

1I, :ill .Ik

u-

11 a

1.

1

a 1

menggantikan Dana Schar, nantinya masyarakat menjadi anggota JPKM. sementara JPKM menjadi basis upaya promotif-preventif'melalu] UKBM yang cocok untuk masyarakat seternpat. Secara skematis gambaran bentuk ideal UKBM di masa yang akan datang dapat dilihat pada larnpiran 2.2.

STRATEGI YANG DITEMPUH

Melihat tujuan diatas dan bentuk ideafUKBM di masa yang akan datang, maka indikator utama rneningkatnya peran serta masyarakat adalah makin banyaknya UKBM dengan kualitas yang memadai dan mengarak kekemandirian. Oleh karena itulah titik sentral kegiatan peningkatan peran serta masyarakat akan bertumpu pad a menumbuhkan berbagai bentuk uKBM serta meningkatkan kualitasnya ke tingkat perkembangan yang rnaksimal, sampai ke tingkat mandiri.

Untuk mencapai itu diperlukan arahan yangjelas, agar segala bentuk UKBM yans sudah berkembang selarna ini.mengarah ke bentuk ideal:

SADARI tersebut diatas. Hal inilah yang melatarbelakangi dirumuskannya strata atan 'Tingkat Perkernbanganbagi tiap UKBM, yang diarahkan ke kemandirian, yaitu terbentuknya Dana Sehat I JPKM pada kelornpok masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, pada umumnya UKBM akan dibagi tingkat perkembangannya rnenjadi 4 strata:

1. Pratama, yaitu UKBM yang baru dibentuk atau UKBM yang tergolong 'hidup segan mati tak mau'.

2. Madya, yaitu UKBM yang sudah berjalan teratur tetapi cakupannya masih rendah.

3. Purnama, yaitu UKBM yang sudah bcrjalan teratur dan cakupannya telah tinggi.

4. Mandlri, yaitu UKBM yang sudah berjalan teratur, cakupan tinggi dan >50% masyarakatnya telah menjadi anggtoa Dana Sehat atau lPKM.

5

Dana Sehat yang selama ini berkembang, dibina pula agar makin kuat dan mengarah ke prinsip JPKM. Untuk ini Dana Sehatjuga telah dilakukan stratifikasi sebagai berikut:

.. I;' Dunn Sehat Pratama. yang kernudian dibagi lagi menjadi Pratama [, . Pratama II dan Pratarna II I.

2. Dana Sehat Madya

3. 'Dana Sehat Purnama,

f ;.<. •

. '!' .•. ;: Bila adaDana Sehat yang telah mencapai tingkat lebih dari purnama, perlu diarahkan ke JPKM sehingga diberlakukan berbagai persyaratan Badan Penyelenggara JPKM (rnisalnya berbadan hukum, punya modal awal yang . disetor' ke Pemerintah sebagai jaminan, punya tennga puma waktu, dll). Dengan pendekatandi atas, maka strategi yang diternpuh adalah sebagai berikut:

, i ~; ..

~ ~ .',.- '/': ., ~ . ~ .

r.1.Setiap pernimpin diintervensi agar berwawasan Kesuma, yang ditandai

.:dengan kemampuan mereka dalam menumbuhkan UKBM dan mening.' . katkan kualitasnya sampai mencapai tingkat perkernbangan tertinggi bagi .. 'UK.BM yang bersangkutan.

2.'" Setiap UKB'M dirumuskan tingkat perkernbangannya, dengan tingkat tertinggi sampai rnandiri, yang ditandai dengan >50% masyarakatnya telah menjadi anggota Dana Sehat I JPKM.

3 .. Setiap Dana Sehat yang telah terbentuk, dibina dan dikembangkan lebin lanjut ke tingkat pumama, untuk kemudian diarahkan agar sepenuhnya berprinsip JPKM.

6

F

BAD 3

MANA.JEMEN DAN PEMBINAAN PERAN SERrA MASYARAKAT MODELARRIF

KEKHVSVSAN PERAN SERTA MASYARAKAT

Pera.i serta masyarakat di bidang kesehatan mernpunyai kekhususan antara lain:

I . Kesehatan meski berdampingan dengan kedokteran, namun implemcntasi program kesehatan rnasyarakat berbeda jauh dengan dunia kedokteran. Kesehatan rnasyarakat sangat erat kaitannya dengan aspek sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Sebagai contoh, teknik operas! lISlIS buntu eli Indonesia dan Amcrika akan sama, tctapi Pola partisipasi masyarakat agar berkiprah di bidang kesehatan, akan berbeda sekali,

2. Bidang gcrak pcranscrta masyarakat amat luas dan sangat bervariasi, schingga tidaklah rnungkin menerapkan suatu keharusan yang mutlak sifatnya, 01ch karena itu hal yang bisa dilakukan adalah memberikan kerangka pik ir, sementara isinya diserahkan kepuda aparat lokal untuk mengem bangkannya.

Atas dasar kekhususan tersebut, program peran serta masyarakat harus lentur si fatnya dan banyak pilihannya. lad i petugas sebaiknya mampu mempersiapkan serangkaian alternatifintervensi, namun pilihannya tetap berada di tangan masyarakat itu sendiri.

PERAN GANDA PETVGAS

Petugas kesehatan yang menggeluti program PKMlPSM rnernpunyai peran ganda, karena mengemban 2 tugas yang tidak bisadipisahkan yaitu:

7

Ada atau tidak ada paket program dad sektoral, bcntuk-bentuk peran serta masyarakat di bidung keschatan akan tetap ada, Bentuk peran serta masyarakat ini akan sangat bervariasi, baik dari segi wujud institusinyautaupun intensltas kegiatannya. Paket bantuan program dari sektoral pada dasamya adalah untuk lebih mempercepat proses tumbuh-kernbangnya PSM dan lebih rnenajarnkan tujuan yang ingin dicapai dalam pernbangunan kesehatal,l.

Sebagai petugas kesehatan yang rnengetahui bahwa kesehatan masyarakat itu amat ditentukan oleh partisipasi rnereka dalam berperilaku sehat, ada panggilan nurani yangmembuat para petugas harus melakukan pembinaan. Variasi kegiatan PSM yang dernikian Iuas mernbuat petugas harus cukup arif dalam melakukan pernbinaan. Kiat tertentu digunakan di satu wilayah sernentara untuk wilayah sebelahnya sering hams digunakan kiat yang lain lagi. Diperlukan kejelian melihat peluang, ketrampilan merurnuskan kiat dan ketepatan waktu bertindak, sehingga peran serta masyarakat bisa tumbuh optimal dan terarah,

2. Sebugai munajer program PSM

Meski paket bantuan dari sektoral sifatnya stimulan atau rangsangan terhadap tumbuh dan berkembangnya PSM. namun hasil yang optimal baru akan tercapai bila dikelola dengan baik. Artinya petugas PSM harus mempunyai kcmampuan rnanajemen, yaitu bagairnana mernbuat rencana usulan kegiatan agar disetujui oleh Pernerintah Daerah dan Pusat. Setelah sumber daya dicairkan, harus dapat merencanakan, melaksanakan, mernantau perkernbangan dan mengevaluasi hasil kegiatannya. Bagan peran ganda petugas selaku pembina dan manujer dapat dilihat pada lampiran 3,1.

PENGERTIAN 'ARRIF'

Untuk petugas PSM yang rnerupakan bagian dari sektor kesehatan, tentu saja tidak cocok bila menggunakan model-model manajemen yang diperuntukkan bagi perusahaan swasta. Apalagi bila dikaji lebih Ianjut, bahwa petugas PSM berfungsi ganda, yaitu sebagai manajer program yang harus

8

k

Ri A

R

,
"
all ~
,
ta f,
Wl
lya
~ih (a!

A
n
ru

n
r

s
R 1,
g , ,
j'
s .mengikuti aturan ruenajemen program pemerintah, serta sebagai pembina peran, serta mesyarakat yang hams arif'menghadap! kritik dan bijak dalam bertindak.

Oleh karena itu tidak ada salahnya bilakhusus untuk program yang partisipatifini diperkenalkan model manajemen yang bernuansa peran serta rnasyarakat. Model ini tidak sepenuhnya mengacu pada berbagai teori manajemen pada umumnya, tetapi lebih memtikberatkan pada apa yang selama ini terjadi sesuai dengan siklus manajemen sektoral, serta berkaitan dengan fungsi petugas sebagai pembina peran serta masyarakat.

Untuk memudahkan ingatan kita, modelmanajernen yang ditawarkan ini disingkat menjadi ARRlF, yaitu :

A Analisis
R Rumusan
R Rencana
I Intervensi
F Forum komunikasi Rincian lebih lanjut dari ARRlF ini adalah sebagai berikut:

Analisls

Dalam tahap ini ada 4 macam analisis yaitu.

• Analisis Situasi atau Analisis keterjangkauan

• Analisis Tingkat Perkembangan atau Stratifikasi

• Analisis Kasus

• Analisis Sumber Oaya Rumusan

Dalam tahap ini ada 3 macam rum us an yaitu:

• Rumusan Masalah

• Rumusan Tujuan

• Rumusan Intervensi

9

R Rencana

Dulam tahap ini. ada 2 macam rencana yang dibuat, yaitu

tRcncana Usulan Kegiatan (RUKIDUP)

• Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPKJPOA)

Intervensi

Pada tahap ini, intervensi kegiatan yang dilakukan amat beragam, sebab bergantung pada masalah, tujuan yang akan dicapai danjuga kemarnpuan perugas dalarn melihat celah, mencari kiat dan memilih waktu yang tepat untuk melakukan interveusi. Pada iahap inllah kernampuan dan keuletan petugas di uji, apakah tetap bergairah melanjutkan kiprahnya untuk mengernbangkan potensi masyarakat, atau patah sernan gat dan rnundur secara teratur,

F Forum komunikasi

Dalam tahap ini ada 2 kegiatan utama yaitu:

• Forum kornunikasi unruk melakukan pernantauan t Forum komunikasi untuk melakukan evaluasi.

Implementasi tiap tahapan rnanajernen model ARRlF ini dapat dilihat pada uraian selanjutnya,

10

~------

III re pr

. .'

b

1- g 11 a 11

a

, "

-------------------

BAB 4 IMPLEMENTASI MANAJEMEN ARRIF

ANALrSIS

ANALlsrs SITUASI / ANALISIS KETERJANGKAUAN

Analisis situasi merllpakan langkah perdana yang harus dilakukan. Analisis situasi pada dasai .. nya rnenganal isis keadaan yang dicapai saat itu secara kasar, untuk melihar wilayah/kelompok mana yang sudah diliput dan kelompok/ wilayah mana yang belum diliput.

Untuk melaksanakan anal isis situasi ini, dapat dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan format data dasar pl!rkembal1gan peran.serta masyarakat seperti tarnpak pad a larnpiran 4 .: I .

Format ini diisi oleb petugas PSM di tingkat operasional yaitu Puskesmas. Hasil pengumpulan data di tingkat Puskesmas kemudian dilakukan rekapitulas! di tingkat kabupaten, untuk seterusnya di rekapitulasi di tingkat propinsi,

Hasil dad analisis situasi ini adalah 2 (dua) kategori unit sasaran, yaitu:

Kategori 1 Unit sasaran berupa wilayah/lompok yang belum . mempunyai kcgiatan UKBM yang bersangkutan.

Kategori 2 Unit sasaran berupa wi!ayahlkelompokyang sudah mempunyal kegtatan UKBM yang hersangkutan.

11

Sebagai contoh. akan diketahui dusun/desa yang sudah ada Posyandu dan dusun/desa yang belum ada Posyandunya, SD yang sudah memiliki Dana Sehat dan SO yang belurn. kelornpok pekerja yang sudah ada Pos UKK dan kelornpok pekerja yang belum mernilikinya, dst. Bagan Analisis Situasi dapat dilihat pada lampiran 4.2.

Ada beberapa UKBM yang tidak harus ada di sernua kelornpok/wilayah.

Misalnya saja POD (Pos Cbat Desa), tidak perlu ada di setiap desa, karena POD diutamakun ditempatkan pudu daerah terpencil yangjauh dari sarana kesehatan . Jadi POD akun ditumbuhkan pacta desa yang jauh dari Puskesmas. Pustu dan belurn punyu pclindes. Untuk ini diperlukan data: desalayak POD. artinya desa yang seharusnya ada POD. Desa layak POD akan dijadikan denominator anal isis situasi, sehingga untuk POD, anal isis situaslnya

~~~: .

'/11117/,,17 desC/ dengClI7 POD .Iumlah desa layak POD

Pula serupa bisa diterapkan padu UKBM yang mernpunyai kerniripan situasi/kondisi sepcni POD.

Analisis siruasi dilakukan terhadap sernua bentuk UKBM di wilayah kerja yang bersangkutan, sehingga secara keseluruhan hasil analisis situasi terhadap sernua bentuk UKBM dapat digarnbarkan seperti pada larnpiran 4,3

A nnlisls Tlngkn r Perkern banga n/Stratifikasi

Setelah diketahui wilayah/kelornpok yang telah mernpunyai UKBM (sebagai hasil dari analisis keterjangkauan), langkah selanjutnya adalah melakukan anal isis tingkat perkembangan dill; rnasing-rnasing bentuk UKBM.

. Sernua bentuk UKBM diharapkan mengernbangkan indikator untuk rnenentukan tingkatan perkernbangan 'UKBM' yang bersangkutan, Sarnpai saat ini, yang telah dirurnuskan indikator tingkat perkernbangannya tampak seperti tabel 4.1 . dibawah in; :

12

y
11
tc
s
L
L.
L
J L~
I L"
,.
;1
J La
~ La
I
La)
Lru
Lru
Lar du 1a all pat

l1a na

~s-

ak 1111 yJ

n

a )

-----~~~...., .. --

Tabel -1.1. : Jenis UKBJI dUI? lil1gkal Perkembangannya

I-N"",,:,O_.+-:::--_U.;._K~'_B_IV_I _-+- _ _..;.T..;;..:I N:...;_(,;:.;.;:_;;KA:..:,T PE RKE M BA N G AN

1 Posyandu pratama, madya, purnama dan mandiri

2 PO D pratama, madya, purnama dan mandiri

3 Pes U KK pratarna. madya, purnama dan mandirl

4 Dana Sehat pratama IIII1III, madya, purnama

5 TOGA pratama. madya dan purnama

6 Kes. Rernaja pratam u. madya. pumama dan mandiri

7 Polindes pratama, madya, purnama dal1l11andiri

~--~------------~-------------

Bentuk UKBrvt lain tnmpaknya ak an mengikuri jejak ini. yuitu dirumuskunnya indikator gUI1H menentukan tingkat perkembangan UKBM yang bersangkutan. Untuk melakukan anal isis tingkat perkembangan UKBM ini, digunakan format pendataan UKBM yang bcrsangkutan. Adapn bentuk fOIT,1at pendataan dapat di 1 ihat pada lampiran 4.4n sid 4 .4k. dengan rincian sebagai berikut :

Lampiran 4.4a Lampiran4.4b Lampiran 4.4c Lampiran d.ad Lampiran 4.4~

Format Telaah Kemandirian Posyandu Format Tingkat Perkernbangan POD Format Tingkat Perkernbangan Pos UKK Format Tingkat Perkernbangan Dana Sehat

Format Tingkat Parrisipasi Masyarakat dalam Perkembangan TOGA

Format Tingkat Perkembangan SBH

Format Tingkat Perkembangan Upaya Kesehatan Pesantren

Format Tingkat Perkembangan Karang Taruna Husada Format Tingkat Perkembangan Upaya Kesehatan Remaia

Format Tingkat Perkembangan Polindes

Formal Tingkat Kemandirian Posyandu dengan UKGMD

Larnpiran 4.4f Lampiran 4.4g

Larnpiran 4.4h Lampiran 4.4i

Lampiran 4.4.1 Larnpiran 4.4k

13

Format ini tentu saja bisa bertambah, bilajumlah UKBM yang relah dirumuskan tingkat pcrkembangannya bcrtarubuh pula.

Untuk melakukan analisis, format tingkat perkernbangan UKBM tersebut dikurnpulkan kemudian dilakukan rekapitulasi di tingkat Puskesmas terhadap perkernbangan ruasing-ruusingjenis 'UK13tv1'. Secara nyata rekapitulasi dapat dilakukan dengan menggunakan format terlampir (lampiran 4.5a sid 4.5g), yaitu:

Lampiran 4.5a Lampi ran 4.5b Lampiran 4.5c Larnpiran 4.5d Larnpiran 4.5e

Rekapitulasi Hasil Telaah Kemandirian Posyandu Rekapirulasi Hasil Tingkat Pcrkernbangan POD Rekapitulasi Hasi] Tingkur Perkembangun Pas UKK Rekapirulasi Hasi I Tingkat Perkernbangan Dana Sehat Rekapitulasi Hasil Tingkat Partisipasi Masyarakat datum Perkernbangan TOGA

Rekapitulasi Hasil Tingkut Perkembangan Partisipasi Rernaja Dalam Bidang Kesehatan

Rekapirulasi Has.l Tingkat Pcrkembangan Polindes

l.arnpiran .f.5f

Larnpiran 4.5g

Format rekapitulasi hasil tingkat perkernbangan ini tentu snja bisa bertambah, sesuai dengan bertambahnya 'UKBM' yang telah dirurnuskan tingkat perkembangannya,

Hasil analisis tingkat perkernbangan ini adalah diketahuinya tingkat perkembangan dari masing-rnasing 'UKBM' di wilayah Puskesrnas yang bersangkutan, Sebagai garnbaran, di wilayah tersebut akan diketahui bahwa . dari seluruh Posyandu ternyata baru sedikit (misalnya 5 %) yang tergolong Posyandu Mandiri, sernentara yang terbanyak (rnisalnya 70 %) adalah Posyandu Pratarna. Hal serupajuga dilakukan pada POD, Pos UKK, TOGA dan Dana Sehat. Bagan analisis tingkat perkembangan UKBM dapat dilihat pada Iampiran 4.6.

14

1

te b

A

la m di

inl

ml i

in1 m,

lah

but ap pat g),

at at

'a n

Untuk melihar gambaran menyeluruh di lingkat Puskesmas. hasil rekapitulasi tingkat perkembangan m3sing-masing 'UKBM' dapat dipaparkan dalam Format Rekapitulasi Gabungan Tingkat Pe,.kembangan'UKBM', sepertl tampak pada lampiran 4.7. Bila digambarkan dalam bentuk grafik, dapat dilihat pada lampil'an 4.8. Dan rekapitulasi gabungan tingkat perkembangan 'UKBM' ini dapat diketahui secara rnenyeluruh gambaran 'UKBM' di wilayah tersebur dengan proporsi masing-masing tingkat perkembangan UKBM yang bersangkutan.

Rekapitlliasi hasil tingkat perkembangan UKBM di Puskesmas ini dapat dikumpulkan di tingkat kabupaten, menjadi hasil rekapitulasi tingkat perkembangan UKBM Dati II KodyaiKabupaten. Hasil ini selanjutnya direkapitulasi di propinsi, sehingga menjadi hasil analisis tingkat perkernbang an UKBM di propinsi yang bersangkutan.

Analisis Kasus

Setelah gambaran umum tingkat perkembangan 'UKBM' diketahui, langkah berikutnya adalah analisis kasus, yaitu analisis mendalam terhadap ma:.iing-masing 'UKBM'. Adalah bagus sekali bila seluruh bentuk 'UKBM' dilakukan anal isis kasus secara mendalam, Bila hal ini bisa dilakukan, maka akan dapat dirumuskan jenis intervensi yang seharusnya di lakukan bagi masingmasing bentuk 'UKBM'.

Narnun bila banyak keterbatasan, anal isis kasus dapat dilakukan pada 'UKBM' yang tergolong gawat. Jadi ada skala prioritas, kasus-kasus gawatlah yang perlu anal isis kasus secara rnendalam.

Analisis kasus secara mendalarn dilakukan dengan mernpelajari sistem informasi 'UKBM' yang bersangkuran, Sebagai contoh, bila kita ingin menganalisis salah satu Dana Sehat, dilakukan penelusuran terhadap sistem lnformasl Dana Sehat. Dad sistem informasi tersebut dapat diketahui pilar mana yang lemah, Sebagaimana diketahui, ada 4 pilar Dana Sehat yaitu:

15

• Pendanaan

• Kepesertaan

• Pemeliharaan kesehatan

• Organisasi

Bila penelusuran sistern infonuasi Dana Sehat menunjukkan bahwa Dana Sehat tersebut masih lernah dalam hal pendanaan, dapat dilakukan serangkaian alternati fintervensi untuk memperkuat pendanaan, Bi 10 pilar yang lernah adalah paket pelayanan kesehatan, rnaka intervensi yang dilakukan adalah perbaikan paket pelayanan kesehatan. Bagan anal isis kasus Dana Sehat dapat di!ihat pada lampiran 4.9.

Contoh serupa dapat pula dilakukan pad a Posyandu. Ada 8 indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat kernandirian Posyandu. Kajian lebih mendalam terhadap sistern pencatatan dan pelaporan Posyandu yang bersangkutan, akan dapat diketahui inikator mana yang masih lemah dan mana yang sudah bagus, Intervensi di lakukan sesuai dengan indikator yang lemah. Sebagai contoh, hila Posyandu tersebut rnasih tergolong pratama, intervensinya adalah latihan kader ulang.

B< da

Terkadang pada analisis kasus diperlukan kajian yang lebih mendalam, bukan hanya menelaah pilar utama UKBM yang bersangkutan, tetapi per\u ditambah dengan informasi pendukung lainnya. Untuk ini dapat dilakukan telaah yang kualitatifsifatnya, misalnya melalui diskusi kelompok terarah, survei cepat, dll. Sebagai contoh, dapat dibaca: Proses dan Hasil Penyeliaan Interaktif di 5 Dati II (Tegal, Dernak, Purwakarta, Lebak dan Pandeglang), Bagi yang mernerlukan dapat berhubungan dengan Subdit Bina PKMD, Direktorat Bina PSM Departemen Kesehatan.

Catatan :

Rangkaian analisis situasi., analisis perkembangan dan analisis kasus terhadap bentuk-bentuk UKBM secara skernatis dapat dilihat pada lampiran 4.1 0

daya dan I

16

\ ~-~.--

na an ah an at

'(1

II 1

, , ,

ANALISIS SUMBER DAYA

Anal isis sum bel' daya di lakukan untuk mengetahui kekuatan atau daya bina kita terhadap program PSM di masa l11endatang. Analisis sumber daya ini meliputi :

• analisis sumber daya manusia, berapajumlah dan kualitas tenaga yang

OOMOO. '

• anal isis sumber dana, berapa sumber dana yang bisa didayagunakan.

• anal isis peralatan, apakah peralatan yang diperlukan teIah tersedia dalam keadaan cukup dan berfungsi baik.

• anal isis potensi pengernbangan, pad a dasarnya ini meliputi: "community knowledge" (sebagai basis merancang KlE), "community technology" (sebagai basis mengembangkan teknologi tepat guna) dan "community system" (sebagai basis mengembangkan kegiatan yang memanfaatkan sistem yang telah berkembang di masyarakat setempat).

Bagan anal isis sumber daya dapat dilihat pada larnpiran 4.11. AnaIisis sumber daya di lakukan untuk 2 jenis perencanaan, yaitu:

• Anal isis sumber daya yang dibutuhkan dikaitkan dengan rencana usulan ' kegiatan (RUK). yang dananya dituangkan dalam bentuk OUP (Daftar Usulan Proyek) 1I11tuk tahun yang akan datang.

• Analisis sumber daya yang ada (termasuk DIP APBN, DIPDA Dati I, , DfPDA Dati n dan sumber dana lain) yang sudah cair, dikaitkan dengan rencana pelaksanaan kegiatan (RPK) atan Plan of Action (PO A). ,

Secara rinci tidak akan dibahas disini, na11111n yangjelas analisis sumber daya tersebut diatas erat kaitannya dengan rumusan masalah, rumusan tuj,uan

dan rumusan intervensi yang dipilih. '

17

RUMUSAN Rumusan Masalah

Masalah adalah keadaan kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan.

Rumusan masalah diperlukan agar dapat ditentukan tujuan yang akan dicapai. Untuk program PSM, rumusan masalah mencakup 2 hal besar yaitu:

t. Masalah keterjangkauan

Masalah keterjangkauan adalah kesenjangan antara unit kelornpok/ wilayah yang seharusnya dijangkau dengan kelompok/wilayah yang secaru nyata telah terjangakau.

Sebagai contoh, bi la ada sejumlah X desa yang seharusnya mengembangkan Dana Sehat, tetapi kenyataannya baru sejumlah Y dcsa yang mempunyai Dana Sehat, maka rurnusan masalahnya adalah :

Sejumlah (X-}') desa be/urn mengembangkan 1)(//W Sehat

Pemyataan masalah serupa bisa diberlakukan terhadap kelompok pekerja yang belum rnenjalankan UKK, Desa yang belum mempunyai POD, Dusun yang belum merniliki Posyandu, SD yang belum menjalankan Dana Sehat, LSM yang belum mernpunyai kegiatan kesehatan, RBIBP swasta yang belum mempunyai wilayah binaan, Kwaran yang bclum rnernpunyai SOH, dll.

2. Masalah tingkar perkembangan

Masalah tingkat perkembangan menunjukkan kesenjangan antara tingkat perkernbangan yang diharapkan (purnarna dan mandiri) dengan tingkat perkernbangan saat ini. Sebagai gambaran bila di satu wilayah baru ada 10% Posyandu rnandiri, maka rnasalahnya adalah

J

g

l.

ke:
pa:
rur
bila
kes.
f!J Con
Bila
tetnp
runu 18

-.~-.l...---...,._.

lkan iitu:

ok/
ara
'~
.an
na > ju

Sejumlah 90 % Posyandu belum sampai ke tingkat mandiri.

Hal serupa berlaku pula bagi bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat lainnya, seperti proporsi POD yang belum mandirl, proporsi

TOGA yang belum purnarna, dll. .

Daftar masalah saja belum cukup untuk l11CI1Ll11tllll ke arab perencanaan yang mapan, Diperlukan penentuan skala prioritas masalah. Caranya dapat dibaca pada buku : "Pendekatan Kemasyarakatan" yang dikeluarkan oleh Dit Bina Peran Serta Masyarakat Depkes. (Bagi yang berminat bisa mengbubungi Oit Bina PSM Depkes).

Rumusan Tujuan

Rumusan tujuan merupakanjav.nban dari permasalahan, sehingga secara garis besar dapat pula dikelompokkan ke dalam 2 hal yaitu:

I. Rumusan tujuan unruk meningkarknn ketcrjangkauan

~ :

Rurnusan tujuan merupakan pernyataan untuk. menutup gap atau kcsenjangan yang dinyatakan oleh rumusan masalah. Hanya saja tergantung pada kemampuan sumber daya yang dimiliki. Bila sumber day a terbatas, rumusan tujuan hanya menutup sebagian dud kesenjangan itu, Akan tetapi bi la sumber daya yang ada memenuhi kebutuhan, rumusan tujuan bisa menutupi keseluruhan kesenjangan rnasalah keterjangkauan.

Contoh konkritnya adalah sebagai berlkut.,

Bila ada sejurnlah X desa yang seharusnya mengernbangkan Dana Sehat, tempi kenyataannya bani sejumlah Y desa yang mernpunyai Dana Schar, maka

l'Ul1111san masalahnya adalah : '; .

19

[ Sejumlah (X- Y) k", bellim mengembangkan Dana S'_I1(,_II_, _--" Bi la sumber daya mencukupi rnaka rumusan tujuannya adalah:

Mengembangkan Dana Se hat pada sejumlah (X-Y) desa. sehingga pada akhir period", semua desa telah mengembungkan Dana Sehat

Bila surnber daya hanya ada 50 %, rnaka rumusan tujuannya adalah:

Mengembangkan Dana Sehat pad" sejumlah 50 % dari (X- Y) desa yang belum tnengembangkan Dana Sehat

2. Rumusan tujuan untuk meningkatkan tingkat perkembangan.

Rumusan tujuan untuk tingkat perkernbangan juga berfungsi guna menutup kesenjangan dalam hal kualitas 'UKBM', Bi la sumber daya mencukupi. rumusan tujuan dapat disebutkan secara maksimal. Akan tetapi bi let terbaras surnber daya yang dirni I iki, rUI11L1san tuj uan tingkat perkernbangan 'UKBM' hanya menutupi sebagian dari kesenjangan kualitas iru.

Contoh konkrit rurnusan tujuan adalah sebagai berikut :

Bila di satu wi I ayah baru ada 10% Posyandu rnandiri, maka masalahnya adalah sejumlah 90 % Posyandu belum sarnpai ke tingkat rnandiri. Dengan demikian J'lII11USUn tujuan tingkat perkembangan adalah sebagai berikut:

20

n s n

I 11"'

Bn

ellla an

h

Bila sumber daya Il1CI1ClIkupi :

/

.'

};t'

Meningkatkan sejumlah 90 % Posyandu yang belum " mandiri menjadi Posyandu mandiri.

Bila sumber daya tidak mencukupi :

Meningkatkan sejumlah 50 % dart Posyandu yang belum

mandiri menjadi Posyandu mandirl: , ;,

, .

Dengan demikian rumusan tt~jllan menjadi konkrit dan bisa diukur, sehingga

akan memudahkan sewaktu evaluasi nanti, . ,

Catalan:

Bagan n unusan masalah dan rumusan tuj U3n dapat dilihat pada lampiran 4.12.

Rumusan Intervensi

Setelah tujuan dirumuskan, dapat disusun serangkaian altematif untuk mcncapai tujuun tcrscbut. Bcrbaga: hcntuk intcrvcnsi ini amat beragam. sehingga tidak mungkin untuk ditelaah disini. Disinilah 'seni' manajemen, yang rnenjadi tantangan bagi tiap petugas.untuk membuat terobosan yangjitu dan memilih kiat yang tcpat. guna mencapai tujuan yang telah dirumuskan .. " ~

Untuk merumuskan intervensi, sebaiknya ditempuh langkah sebagai . berikut:

• Kembangkan berbagai alternatifintervensi yang mungkin dilakukan untuk mencapai tuiuan,

• Bandingkan baik-buruknya tiap alternatiftersebut.

• Tentukan alternati f terpilih, yang mudah dilaksanakan, efektif dan

efisien, '

Bagan perumusan altematif'terpilih dapat dilihat pada lampiran4.13.

21

RENCANA

Rencana Usulan Kegtatan

Rencana usulan kegiatan dibuat untuk kemudian diteruskan ke tingkat administrasi diatasnya.Bai1an ini selanjlltnya diolah meniadi Daftar Usulan Proyek (DUP) yang secara proporsional dibagi dan disampaikan kepada:

• Di Pusat untuk APBN

• of Propinsi untuk APBO r

• Oi Kabllpaten/Kota untuk APBD If

Rencana usulan kegiatan yang disusun berclasarkan rentetan anal isis, rUl11l1san masalah, tujuan clan intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan kuulitas usulan kegiaran, sehingga OUl' yang dihnsilkunjllg<ll11eningknt

kualitamya. .

ouP ini rnerupakan usulan k.egiatan untuk tahun anggaran yang nkan dmung. yang biasanya mulai diminta dari tingkat kabupaten pad a hulan AprilMei.

Renc'a~a Pelaksannan Kegiatan (RPK)

Rencana pelaksanaan kegiatan (RPK) atau lebih dikenal c1engan 'Plan of Action' (POA), biasanya dilakukan setelah paket anggaran proyek diturunkan, yaltu pada awal tabun anggaran (April-Mei). Surnber dana bisa berasal dari APBN.APBD I, AP8D II maupun sumber dana lainnya, Setelah sumber dana diketahui denganjelas, para pelaksana di tingkat operasional dapat membuat RPK bagi wilayah kerjanya masing-masing.

.. Bagan rene ana usulan kegiatan (RUK) dan rencana pelaksanaan kegiat-

an (RPK) dapat diJihat pada larnpiran 4. 14. .

22

a n

F

k
l k
1
i p
$
e
I lair
1 (at al1

s, n at

n 1-

f

INTERVENSI

lntcrvensi kegiatan merupakan impicmcntas! dari rangkaian proses yang panjang, dan saat anal isis, dicairkannya dana DIP/DIPDA sampai pembuatan RPK.

Bila saar PCl'lll1111San intervensi diperlukan kejelian untuk rnembun] terobosan dan keteparan mcncl11ukan k iat. maka pada pelaksanaan intervensi. kernampuan itu maslb harus ditarnbah dcngan menerapknn pendekatal1 kemasyarakatan dan hubungan antar manusia yang baik,

Diperlukan konscp program yang gamblang agar implementaslnyn nanri rnernhaw.; dampak yang mengaral: ke tercapainya tujuan.

Diperlukan kCl11ampuan pendekatan kcmasyarakatan, agar dapat ditumbuhkan rasa memiliki masyarakat schingga kelestarian program lebih teijamin.

Diperlukan kemal11pUallmclakllkan hubungan antar manusiayang IU\A!\:!s. agar kerja sama lintas program dan linras sektor dapat berjalan mulus dan mendapatkan dukungan pol itis yang mcmadai dad Pemerintah Daerah.

FORUM KOMLJNIKASI

Selama intervensi kegiatan dilaksanakan. dikembangkan forum komunikasi sebagai wahana pemantauan dan evaluasi. Secara berkala intervensi kegiatan dipantau dan pada akhir tahun dilakukan evaluasi.

Pemantauan

Pemantauan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara antara lain:

"

• Supervisi dan bimbingan teknis

• Analisis dan pelaporan yang masuk

23

Kajian dad basil sup~rvjsi dan anal isis dari pelaporan rersebur dibahas dalarn forum komunikasi,

Evaluasi dilakukan pada awal tahun kalender di tingkat desa, kemudian bulan berikutnya <.Ii tingkat Puskesrnas dan sekitar bulan Maret-April sarnpai di tingkat kabupaten. Pada saar itu merllpakan waktu yang tepat untuk 2 tuiuan yaitu:

• Menyusun Rcncana Usulan Kegiatan (RUK) yang diterllskanke tingkat adrninistrasi diatasnya, sebagai bahan utarna pembuaran Daftar Usulan Proyek (DUP).

• Menyusun Rencaria Pelaksanaan Kegiatan, yang dilakukan setelah informasi OIPlDlPOA diketahui.

Siklus ini bcri41ngsling setiap tahun, sehingg« S\?CUnl terutur kita sebugai pengelola program PSM mendapatkan inforrnasi lenlangjul11lnh clan tingkat perkcl11bangan berbagaijenis 'UKBM'.

SIKLUS DAN .JADUAL KEGIATAN

Rangkaian uraian fungsi -fungsi munujcmcnl110dlll ARRI F tersebut dap at berfungsi ganda yaitu:

• Menuntun para petugas dalam menganalisis, merumuskan dan rnenyusun rencana usulan kegiatan yang kernudian dijabarkan dalam tolok ukur OUP Terpadu, Bagan alur kegiatan dari analisis situasi sampai menjadi OUP Terpadu dapat dilihat pada lampiran 4.15

• . Menuntun para petugas untuk menennlkan altematifterpilih dan rnelaksanakan dengan mengena ke sasaran, serta dapat melakukan monitor. ingleva1uasi melalui forum komunikasi.

24

has

'an al 2

(at an

h

ai at

at
:+
,
r
; Manajemen modul ARRIF juga menumun proses perencanaan dad bawah ("bottoll1l1P planning") dari tingkat dusun/dcsa sampai ke Dati llbahkan

propinsi dan pusat. . . . " ..

Siklus kegiatan rnanajemen dan pembinaan program PSM dari tingkat Desa. Puskesmas, Kabupaten, Propinsi dan Pusat sertajadwal waktunya,

dapat dilihat pada larnpiran 4.16. .

25

BAB 5

UKBM DAN TINGKAT PERKEMBANGANNYA

.JENIS VPAYA KESEHATAN REJ{~.;tJMIJERDAYA MASYARAKAT

Besar dan beragamnya peran serta masyarakar dapat dilihat pada beberapa fakta berikut ini. Dari kajian kunjungan lapangan di berbagai daerah. terungkap bahwa peran serta masyarakat diwujudkan dalarn berbagai bentuk. yaitu;

Manusianya seperti:

• Kader posyandu

• Dokter kecil

• Pasukan SBH (Saka Bhakti Husada)

• Santri Husada (dari kalangan pondok pesantren) i Tarunn Husada (dari kalangan Karang Taruna)

• 11111a Husada (dari kalangan Ikatan Remaja Masjid)

• Remaja Anti Diare

• Kaderjalan kaki (di Irian.Jaya)

• Keluarga Mandiri

fC

Kelel11bagaannya seperti:

• . Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)

• Posyandu Asta (Posyandu Asuhan Tokoh Agama)

• Pos Obat Oesa (POD) ,

• Posyandu Usila (Posyandu usia lanjut)

• Karang Werda

• Polindes (Pondok Bersalin Desa)

• Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja)

• Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren)

• Pusinkes (Pusat Infonnasi Kesehatan)

• TOGA (Taman Obat KeJuarga)

• Pokdes (Pos Kesehatan Desa)

• KeJompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)

• Paguyuban pe,$erta KB .

• aKB (Bina Keluarga Balita)

JLl L.l

im. dan pen

26

beah. uk.

.' I

Pendanaannya, sepcrti:

• Dana S,'hat Pola PKMD

• Dana Sehat Pola UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)

• Dana Sehat Pola Pondok Pesantren

• Dana Sehat Pola KUD (Koperasi Unit Dcsa)

• Dana Sehat Pola UKK (Upaya Kesehatan Kerja) .

• Dana Sehat Pola PKK (Pembinaan Kesehatan Keluarga)

• Dana Sehat Angkot (Angkutan·Perkotaan)

Aktivitasnya seperti:

• Maklurah (rnakan tclur eli sekolah) dan Misusah (minum SliSU di

sekolah)

• Upaya Kesehatan Masjid (Uk.M)

• Upaya Kesehatan Pesantren (Ukestren)

• Pcmberantasan Penyakit Menular dengan pendekatan PKiVIO( P2MPKMD)

• Pcnyeljatan Lingkungnn Pemukiman dengan pendekatan PKMD (PLP-PKMD). sering disebut dengan Desa Percontohan Kesehatan Lingkupgan (DPKL)

• PSP13 (Pemantauan dan Stimulasi Perkcmbanuan Bnlita)

. ~

• Arisan Jamban Keluarga

• Arisan Rumah Sehat

t"

• PPD (Pertolongan Persalinan Oi 111111ah)

• Sarasehan Battra (Pengobat tradisional)

Setelah mernotretjenis UKBM.mal'i bersama-sama kita kaji peugertian. jU1111ah dan perkembangan beberapa UKBI\'I tersebut, berdasarkan berbagai laporan baik dati SP2TP. sistern intormasi lainnya maupun laporan dati daerah .

(>OS PELAYANAN TERPADLI (POSYANDV)

Posyandu merupakanjenis UKBM yang paling memasyarakat dewasa ini. Posyandu yang rneliputi 5 program prioritas (KB~ KIA, Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare) terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi. Sejak dicanangkanpada tahun 1984, per-

27

tumbuhanjumlnl, Posyandu dapat dilihat pacta tabel 5.1

-

Tabet 5. J: Pertumhuhanjum/ah Posyandu

TahUI1 Jumlah
1985 25.000
1986 67.986
1987 185.660
1988 213.617
1989 226.162
199() 244.382
1991 ~51.815
1992 242.255
1993 233.061
1994 25"1.459
1995 244.470
.. 1996 244.107 Bila diperhirungkar, bahwa tiap Posyandu rota-rata mempunyai 5 Orting kadcr, maka j umlah kader ak ti f Posyandu adalah lebih dari sat 1I j uta orang knder.

Gombar 5.1: Salah satu Posyandu sedang melaksanakan kegiatan pada meja II.

28

-"~-"'''''-'- .,,- ..... --_"

P II

d

S ta

ng ng

.fumlnll yang ucmikiun bcsnr lCI~IlYfl('I.ilig[j dibLIl\~llgi dengan pt;;I'<II1U11I1Y~' yang l11enon.iol. khususnya dalul11l11cningKatkan cakupan program. Besanwa sUl11bangnn Posyandu dnlal11 nll!l1il1gkatkan cakllpan progran, dapa: dili';u! pada tabel 5.2

Tabel 5.2 .' Peran Posyun.Iu dalam cClkujJal1 program

Jenis Pelayanan Cakllpan (%)
Balita 74,0
Imunisasi DPT 161,9
Imunisasi Polio-3 60.9
Illlllnisasi IT-2 Bumil 22.4
KB(Pil) 32.4
Pe.ncriksaan Burni] 11,2 Tarnpak balm/a Posyandu mempunyai kontribllsi yang besar pada peningkatall cakupan program. khususnya pad a sasaran populasi bayi. Hal iuiiah yang 111~llyebabkan UCI (Universal Child Immunizationj.f negara kita dapar dicapa: 3 bllianlebih cepat yaitu pada bulan September 1990.

Untuk Posyandu,jumlahnya sudah dianggap memadai, hanyakualitns pelaynnanllya yang perlu ditingkatkall.

STRATIFIKASJ POSYANDU DAN INTERVENSINYA .

Atas dasar 8 indikator, Posyandu dapat digoiongkallll1el1jadi 4 tingkatan.

Secara ringkas kriteria kategorisasi Posyandu adalah seperti tampa], pada tabeIS.3.

29

Tabel 5.3: Tingkat Kemandirian Posyandu

No. lndikator Prararna Madya Purnama I Mandiri
I. Frek. Penimbangan <8 ~8
2. Rerara kader tugas <5 ~5
3. Rerata Cakupan DIS <50% ~50%
4. Cakupan KUITI. KB <50% ~50%
5. Cakupan Kurn. KIA <50% ~50%
6. Cakupan Kum. Irnun <50% ~50%
7. Program Tarnbahan (. ) (+)
8. Cakupan Dana Sehat <50% I ~50% Catatau:

1. Jumlah indikator utarna tersebut di atas tidaklah mutlak. Bagi daerah yang relati fterti nggal, jumlah indikator utarna dapat dikurangi, Sebal iknya bagi daerah yang rnaju dan menginginkan indikator yang lebih banyak, dapat rnenarnbah indikator urania sesuai dengan situasi dan kondisi daerah.

2. Jenis indikator pada ridap indikator utama merupakan indikator program terpilih. Sebagai contoh bila indikator irnunisasi lengkap adalah campak, maka untuk cakupan inh\l1isnsi yang digunakan adalah cakupun campak. Narnun dernikian tetap diberikan keleluasaan untuk memilih atau menarnbah. Sebagai contoh, untuk cakupan KIA bila satu daerah

. menganggap indikator K I belurn cukup, dapat rnenggunakan K4 sebagai .. tarnbahan indikator.

3. Ni lai batas dari indikator terpi lih juga tidak kakul. Bagi daerah yang sudah maju cakupan imunisasinya, nilai batas 50% mungkn terlalu rendah, sehingga dapat dinaikkan menjadi 70% misalnya,

4. Batasan yang tidak bisa ditawar adalah Posyandu tingkat rnandiri, yang harus ditandal dengan lebih dari 50% KK di wilayah tersebut telah rrienjadi anggota Dana Sehat/ J PKM.

Sampai saat ini tercatat ada 3 prpinsi yang telah rnelakukan modifikasi dari Indikator tersebut, yaitu :

30

,............. ...... -.".".~ ............. --

n

d

-,

rolah an

'lih rah gai

I1g all,

ng ah

ri

I. :1'0pinsi Jawa Timur, rnelakukan mpdifikasi dengan menambahjumlah IIldrkator utarna dan perhitungannya menggunakan sistem skoring, Jadi j umlah indikatornya lebih banyak dan mempunyal standar yang lebih tinggi.

2. Propinsi D.1. Yogyakarta, mernperbanyak indikator dan menggunakan standar yang lebih tinggi, narnun tidak rnengugnakan sistem skoring.

3. Propinsi Timor Timur, menyederhanakan indikator, sesuai dengan kondisi daer·ahnya.

Adapun intervensinya antara lain sebagai berikur :

1. Posyandu pratama (warna rnerah)

Posyandu tingkat pratarna adalah Posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan Kader aktifnya terbatas. Sehingga intcrvensinya antara lain: pelatihan kader, penyegaran kader, penambahan jumlah kader.

2. Posyandu Madya (warna kunlng)

Posyandu pada tingkat rnadya sudah dapat melaks.anakan kegiatan lebih dari 8 kali pel' tahun, dengan rata-ratajumlah Kader tigas 5 orang atau Icbih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) masih rendah, yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian kegiatan Posyandu sudah baik tetapi masih rendah eakupannya. Untuk ini perIu dilakukan penggerakan masyarakat secara intensif, serta penambahan program yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Intervensi untuk Posyandu madya an tara lain:

Pelatihan Toma dengan modul eskalasi Posandu yang sekarang sdah dilengkapi dengan metoda simulasi.

Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMO) untuk menentukan masalah dan mencarl penyelesalannya terrnasuk mellentukan program tarnbahan yang sesuai dengan sltuasl dan kondisi seternpat. Untuk melaksanakan hal ini dengan baik, dapat digunakan aeuan buku

31

pedornan "Pendekatan Kemasyarakatan' yang diterbitkan oleh Dit Bina . Peran Serta Masyarekat Depkes.

3. Posyandu Purnama (warna hijau)

Posyandu pad a tingkat purnama adalah Posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlaj, kader tugas 5 orang ataulebih, dan cakupan 5 program utarnanya (KB, KlA Gizi dan.lmunisasi) lebih dari 50 %. Sudah ada program tarnbahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana. Intervensi pada Posyandu di tingkat ini an tara lain:

.• Penggarapan dengan pendekatan PKlYILJ, untuk mengarahkan masyarakat menentukan sendiri pengembangan program di Posyandu.

• Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat turnbuh Dana Sehat yang kuat, dengan cakupan anggota minimal 50 % KK atau lebih. Untuk kegiatan ini dapat mengacu pada buku "Pedoman Penyetenggaraan Dana Sehat' dan "Pedornan Pembina Dana Sehat" yang diterbitkan oleh Oit

. Bi~9 Peran Serra Masyaraknt Depkes,

4. Posyandu Mandiri (warna biru)

. -_ .. ) ,

Posyandu 111i berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambabun dan Dana Sehat telah menjangkalllebih dari 50 % KK. Untuk Posyandu tingkat ini. intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat

. tersebur l11enggunakan prinsip J PK..~1. Bagan pcnentuan jenis intervens] bag] tiap tingkat perkembangan Posyandu dapat dilihat pada lampiran 6.1.

Selarna 3 tahun ini, tingkat perkembangan posyandu adalah seperti tampak pad a tabel S.4.

32

.,._-.----.,.. ... -- ..

u

b k

P te biJ

ke ka

teta

.. , •........

.

~

., ..•.. ~.:;'.; ..

.~

ij

~ J -~~

me

Ina

nya ih, ari hat

ya-

hat tuk nil it

til'. na i. lat gi

k

Tabel 5. 4 : Hasil analisis perbandingan posyandu Tahun 1995/96 dan 1996/97

Uraian 1995/96 1996/97
Posyandu yang di laporkan 244.470 244.107
Posyandu yang d ianal isis 240. 70 242.3 1
perkembangan
Posyandu Pratama 42,6% 44,4%
Posyandu Madya 33 ,6°'/') 33,3%
Posyandu Purnama 19,9%· 18,7%
Posyandu Mandiri 3,9% 3,6%
POS OBAT DESA (POD) Pos obat desa adalah salah satu bentuk peran serta masyarakat berupa upaya pengobatan sederhana bersumber-daya masyarakat. POD merupakan bentuk operasional Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) khususnya dalam melaksanakan unsur :

• penyediaan obat-obat sederhana

• penanggulangan penyakit ringan seternpat

Sebagaimana upaya kesehatan bersumber-daya masyarakat lainnya, POD rnerupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat dengan bantuan teknis dari petugas. POD adalah kegiatan masyarakat yang mendapat

birnbingan teknisdari Puskesmas. ' ,;'!

'1' •

I •

POD merupakan wahana edukasi yaitu alih pengetahuan dan olah

kcterampilan tentang obat dan pengobatan sederhana, dari petugas kepada kader dan dari kader kepada rnasyarakat.

;.' "Il •

Kegiatan POD secara organisatoris tetap berada di tingkatmasyarakat,

tetapi secara teknis medis harus dibina oleh Puskesmas. . ""

PoD bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk rnenolong dirinya sendiri dibidang kesehatan, melalui penyediaan obat dan

33

penyediaan obat dan pengobatan sendiri, sebagai pertclongan pertarna secara f

>~ .aman dan tepat. Bila dirinci lebih lanjut, tujuan khususnya adalah:

~~"''"'.~.. ~,;.~

• Merilngkatka» pengetahuan rnasyarakat tentang obat dan upaya pengobatan sederhana terhadap penyakit ringan eli daerah setempat,

• Meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam mengenal keluhan dan mengobati penyakit ringan secara sederhana.

• .- Tersedianya obat yang bermutu, dengan harga terjangkau bagi masya. rakat.

Sasaran POD adalah kelorupok masyarakat yang rnasih rendah keterjangkauannya dalam hal obat dan pengobatan.

Obat-obatan yang digunakan pada POD adalah obat generik golongan obat bebas dan bebas terbatas, serta obat khusus yang disusun oleh pemerintah . . Jnruk nama obat, digunakan nama yang sesuai dengan peruntukannya, Sebagai contoh nama obat adalah: obat panas, obat sakit kepala, obat caeing dl!.

Dalam implernentasinya, POD dikernbangkan melalui beberapa pola discsuaikan dengan situasi dan kondisi seternpat. B~wberapa pola pengembangan POD itu antara lain:

• POD murni, tidak terkait dengan UKBM lainnya

• POD yang duntegrasikan dengan Dana Sehat

• POD yang merupakan bentuk peningkatan Posyandu

• POD yang dikaitkan dengan Pokdes/Polindes

• Pos Obat Pondok Pesantren (POP). yang dikembangkan di beberapa pond ok pesantren.

• DU.

Untuk POD,jumlahnya belum memadai. Bila digunakan unit desa saja makaseluruh desa di Iuar kotamadya yang jauh dari sarana keseharan sebaiknya mengernbangkan POD.

34

.. <

St

pa

ya

an

'a-

111 1. at

la In

Gambar 5.2. 'Pos Obat Desa di Kecamatan Maospati kabupaten Magetan Jawa Timur

Stratifikasi POD dan intervensinya

Untuk menentukan strati fikasi POD, digunakan indikator seperti tampak pad a tabel ).5.

Tabel 5.5 : Tingkat Perkembangan Pas Obat Desa
No. Indikator Pratama Madya Pumama Mandiri
a I. Jenis Oba! <5 5·10 >10
2. Cakupan 3{)O;;; 30-60% >60%
3. Dana Sehat <50% ~50%
-- a n

Cakupan pengobatan dihitung atas dasar angka kesakitan sesuai dengan standar yang dipakai pad a stratifikasi Puskesmas

Adapunjenis intervensi untuk tiap tingkat perkembangan adalah sebagai berikut:

35

POI) pratama

Jenis intervensinya an tara lain pelatihan tambahanjenis penyakit setempat yang perlu di tanggulangi, sehingga jenis obatpun bertambah jurnlahnya.

PODmadya

Jenis intervensinya antara lain pelatihan tokoh masyarakat dan pelatihan tambahan penyakit dan obat yang digunakan untuk mengatasinya.

POl) purnama

Jenis intervensinya an tara lain pelatihan Dana Sehat, agar POD tersebut mulai rneniti ke arah kernandirian, sehingga kelestarian program dapat lebih terjamin.

POD mandiri

Jenis intervensinya antara lain pelatihan Dana Sehat berprinsip JPKM, agar Dana Sehat seternpat ditingkatkan stra: .. .uiya, mengarah ke JPKM.

~Bagan penentuan altemati f jenis intervensi bagi tiap tingkat perkernbangan POD dapat dilihat pada lampiran.

Jumlah dan tingkat perkembangan POD dalam 2 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 5.6: Jumlah dan tingkat perkembemgem POD Tahun 1995196 dan 1996197

Uraian 1995/96 1996/97
Jumlah POD 13.725 14.719
Desa denaan POD 10.561 11.843
POD Pratama 72,4% 79,1%
POD Madya 22,9% 15,2%
POD Pumama 3,7% 4,6%
POD Mandiri 1,0% 1,1% ·36


I;,
; l
, d
• •

ml SUI jan ke

mpat

ihan

.,

kat

hat

Pada tahun 1995, telah dilakukan evaluasi terhadap berbagai bentuk POD pada 8 propinsi, temuannya antara lain adalah sebagai berikut: .

• POD yang berdiri sendiri cenderung tidak lestari. POD semacam ini bisa lestari bila dukungan Puskesmas setempat cukup kuat. •

• POD yang lestari biasanya merupakan bagian dari kegiatan lain, misalnya bagian dari Dana Sehat, bagian dari Posyandu atau rnerupakan kepanjangan program Puskesmas (seperti di Sulawesi Tenggara) .. ·

ft Bila polindes telah berdiri, biasanya POD diintegrasikan ke polindes.

Oleh karena itu pada mas a mendatang, POD diarahkan sebagai bagian dati UKBM lain, yaitu diintegrasikan ke Dana Sehat atau polindes. Dengan demikian intervensi yang per1u dilakukan adalah sebagai berikut: .

• Untuk daerah tidak terpencil, POD diintegrasikan dengan UKBM lainnya, khususnya Dana Sehat. POD dapat merupakan penyaring pertama penderita sebelum ke Puskesmas.

• Untuk daerah terpencil, POD bisa dikembangkan karena dati segi keterjangkauan memang - diperlukan. Namun demikian peranan Puskesmas harus besar karena daerah terpencil relatif sulit distribusinya, sehingga relatiflebih mahal harga obatnya.

• Untuk daerah transmigrasi, keberadaan POD sangat cocok dikernbangkan.

DAl'iA SEHAT

Dana Sehat sudah lama dikembangkan di Indonesiajauh sebelum program JPKM dicanangkan. Sejak pendekatan PKMD (Pernbangunan Kesehatan Masyarakat Desa) digunakan pada tahun 1974, Dana Sehat telah 111111ai rnarak, meski masih dalam bentuk yang sederhana. Jirnpitan beras, sumbangan keluarga untuk PMT (pernberian rnakanan tambahan) balita, arisan jamban keluarga, arisan rumah sehat, adalah beberapa dari sekian banyak kegiatan yang bernuansa Dana Sehat.

37

Meskipun secara KlIHntilalit'\;l.IkUp bWIY<lK. 11,11111.111 p"da sk.tia Iljikru harus diakui bahwa Dana Scluu ill; Ilh.mg'II~1mi:2 tcnomena yang menurik yahu:

I. Fenomena gig; gergaji

Banyak Dana Sehat Y,1Ilg baru berdiri, kCl1lL1dianjatuh, bangunlagi..Fllllh lugi dun seterusnya, sehi nggn bila dignmbar grafik pertumbllhannya tampuk $1:I)~rti gigi rzerua,·i. Hal ini terjadi karena pada Dana Sehat yanl! berskal.,

r ~.~ ;.,..:., .....

kecil illl,meskiplin mudah tumbuh namun daya tahalliiya sangat lernah.

2. Fenomena bonsai

Dana Sehat yailg berhasil metampaut tenomena gig; gergaj i akan IllcI1jadi Dana Sehat yang bcrtahan terus sampni bert"hlln-tuhlll1, 11[11l1l1l1 tetap keci) ~ ehingga rnirip bonsai. Hal ini terjadi karena pada model pendanaan seperli ini berlaku hukum bilangan besar, schingga hila pesertanya terbatas, mHnfaatnya juga nmat terbatas. Seperti halnya Bonsai, Dana Sehat mernerluknn dedikasi yung tinggi dari pengelolanya. Bila tidak ada pengelolayang dedikatifDana Sehat biasanya akan terbengkalai.

Bcrsamaan dengall kebcrhasilan pcmbangunan ekonomi Indonesia, "de- 111£1I1d" ll1C1syamknt terhadap kesehntan rnakin I1lcningkut. Sejalan dengan hu teljw .. ii perkcmbangun yang menarik, yakni meluasnya keinginunl11embcntllk Dana Sehat dan membesarnya liputnn wilayal; Dana Sehat. Bila dulu Dana Sehat banya sebatas pada desa, kini sudah mulai merambah ke tingkat kecnmatan bahkan kabllpaten.lnstitusi penyelcllggara Dana Sehatjuga rnulai beragam, ada pola PKMD, pola UKS, pola Kopcrasi, pola UKK, pola pondok pesuntren, pola PKK, kclompok agama, pola LSM, pola peru-sahaan swasta, dl!.

38

,

.~

ta


-I •
1 • iarlls

muh ipak kala

Gamber 5.3. Logo Dana Sehat

Untuk rnemasyarakatkan Dana Sehat, telah dibuat logo Dana Sehat seperti tarnpak pada gam bar 5.3. Adapun arti dari logo tersebut adalah:

Palang hijau melambangkan kesehatan dalam arti yang sebenamyayaitu sehatjasmani, rohani dan sosial serta produktif, yang merupakan tujuan

akhir dari Dana Sehat; 0 ,

Lengkungan 5 besar menunjukkan bahwa Dana Sehat berbasis Pancasila sebagai falsafah pandangan hidup bangsa Indonesia

Dua buah panah yang saling berhubungan menunjukkan keterkaitan antara hak dan kewajiban, an tara premi dan benefit, dan·seterusnya.·' . Garis panah yang tergambar dari kecil ke besar menunjukkan keter-kaitan Dana Sehat dengan hukum bilangan besar, makin besar makin baik. .

~ .

39

Stratlflkasi Dana Schar dan Intervensinya

Pada masa lalu, para pengelola cenderung untuk tetap mengelola Dunn Sehat dalarn skala kecil. Memang kecil itu indah, Namun kini dengan meningkatnya "ability to pay" rnasyarakat dan menlngkatnya demand rnereka pada perneliharaan kesehatan, Pernerintah telah menyiapkan alternatif untuk pernenuhan kebutuhan mereka, melalui beberapa ketentuan seperti yang dimuat pada Garis-garis Besar Haluan Negara, Undang-Undang nomor 23 ten tang Kesehatan dan perangkat peraturan !ainnya.

Pernbinaan Dana Sehat tentu saja diarahkan pada kondisi yang memenuhi syarat sebagai JPKM, seperti yang tertuang dalarn UU nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Perrnenkes nornor 527/Menkes/Per/VlI/l 993 tentang Paket Perneliharaan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program JPKM dan Permenkes nomor 57l!Mt:nkes/PerNII/l 993 tentang Penyelenggaraan Program.JPKM.

Bila diurai lebih lanjutrncnurut fungsi kepesertaan, pendanaan. pemeliharaan kesehatan dan orgunisasi.rnaka arah pernbinaan yang harus dituju adalah sebagai berikut:

Paket pelayanan dasar

Bila Dana Sehat akan mengarah ke .fPKM. maka paket pelayanan kesehatan dasar harus meliputi:

a. Rawatja!an yang meliputi:

o pelayanan kesehatan pencegahan

o penyul uhan kesehatan

o perneriksaan kesehatan, pengobatan dan tindakan medis

o pelayanan pemulihan kesehatan.

o termasuk didalarnnya pemberian imunisasi, pelayanan KB dan pelayanan kesehatan ibu dan anak scrta persalinan.

b. Rawat inap yang meliputi 5 had rawat.

c. Pelayanan kesehatan penunjang terrnasuk:

o pelayanan radio diagnostik dan atau ultrasonograf

o pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik.

40

(

---.:-_r------ .. _

na pan eka tuk mg

123

hi 92

ng an 0-

Iiju

1I1

.Iumlah anggota dan besarnya luran

Dikaitkan dengan paket pelayanan kesehatan dasar tersebut diatas, maka jumlah peserta dan besarnya iuran akan saling bergantung. Makin besar jurnlah - peserta, makin kecil iurannya, sebaliknya bilajumlah peserta makin sedikit. iuran yang hams dibayar menjadi semakin besar.

Dari perhitungan dengan menggunakan tarif dasar pelayanan kesehatan pemerintah yang berlaku sekarang ini, untuk peserta lebih dari 1000 KK atau 5000 orang, maka iuran yang hams dibayar adalah sebesar Rp. 800,-ikapital bulan. Pada peserta yang sebesar ini, perlu organisasi Bapel JPKM yang:

• berbadan hukum (PT, Koperasi atau BUMN)

• cukup punya permodalan

• manajemen minimum dengan 8 orang tenaga "full time"

Melihat standar minimal yang harus dilakukan bagi Dana Sehat yang mengarah ke JPKM, tampaknya cukup berat untuk dicapai. Meski potensi ke sana tetap ada, namun masih perlu waktu yang cukup panjang untuk menggapainya,

Untuk itu telah dirumuskan tahapan perkembangan Dana Sehat sebagai berikut:

1. Dana Sehat pratama, yaitu Dana Sehat yang paling pemula tingkatannya.

2. Dana Sehat madya, yaitu Dana Sehat yang sudah agak berkembang, tetapi belum seperti yang diinginkan.

3. Dana Sehat purnama, yaitu Dana Sehat yang sudah mantap seperti yang kita inginkan dan mendekati persyaratan JPKM.

Bila dikaitkan dengan perhirungan berdasarkan tarifpelayanan kesehatan Pemeriutah yang berlaku saat ini, tahap perkembangan Dana Sehat tersebut dapat dikualifikasi seperti tabel 6.3.

41

Tabel 5.7: TingkCl{ Perkembangun Dana Sehu{

Indlkator Prarama l\-hldyn Purn a rna
Kepesertaan <500KK 500~1000 KK 1.000 KK
(2.500org) (2.500·5.000org) (>5.000org)
Pendanaanl <Rp. 500/ Rp.500·800 >Rp.800/
Iuran/Prerni bln/kap bln/kap , bln/kap
Pemeliharaan Rawatjalan ditambah: Pkt. lengkap:
Kesehatan SubPuskes & rawa: inap dan spt. tertulis dim
Puskesmas persalinan Permenkes
Organisasi lnstitusi lokal Organisasi ada Organisasi her-
1-2 org tenaga 3-7 org tenaga badan hkm
puma waktu puma waktu >8 org tenaga
puma waktu
Perkiraan tkt Tingkat Desa Ttngkat Lintas
wilayah Kecamatan Kecamatan Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak Dana Sehat yang masih dalam skala 'kecil', baik ditinjau dari aspek kepesertaan, besarnya iuran, paket perneliharaan kesehatan rnaupun organisasinya. Oleh karena itu terpaksa dilakukan stratifikasi Dana Sehat Pratama menjadi:

" ..

• Dana Sehat Pratama I, artinya yang paling kecil.

• Dana Sehat Pratarna II, yang tergolong menengah

• Dana Sehat Pratama Ill, yang sudah mendekati kriteria maksimal Dana Sehat Pratama tersebut diatas.

Adapun kriteria pembagiannya seperti tergambar dalam tabel berikut.

,~!~.'" :.;~:I,\ :'f- ·'f .:

42

. . ~- ~,r

.IE

ad. ed

per. met

Jum

f

-.~....".,.........._. --:, ... ""!~ .•

Tabel 5.8; Pernbagian tingkat perkernbangan Dana Sehat Pratama

Indikator Pratama I Pratama If Pratama III
Kepesertaan <150KK 150-300 KK 300·500 KK
(750org) (750-1.500org) (1500-2500org)
Pendanaan/ Rp. 150/ Rp.500-800 Rp. 300-500/
Iuran/l'rem i bln/kap bln/kap bln/kap
Perneliharnan Rawarjalan Rawat jalan Rawatjalan Sub.
Kesehatan Subl'uskes dan Sub. Puskes dan Puskesdan
Puskes dgn Puskes dgn Puskes tanpa
pembatasan pembatasan pembatasan
Organisasi Institusi lokal Institusi lokal Institusi lokal
Sukarelawan Sukarelawan ] -2 org tenaga
puma waktu ; .JENIS iNTERVENSI PADATIAPKATEGORI DANASEHAT

t

Dana Schat pratama I, II dan lll, jenis intervensi yang bisa dilakukan

adalah meningkatkan frekuensi dan intensitas KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) dari petugas pembina kepada para pengurus Dana Sehat.

Dana Sehat madya. jenis intervensinya adalah pelatihan rnanajemen operasibnal Dana Sehat. Pelatihan ini berkaitan dengan pengelolaan Dana Sehat sccara keseluruhan, termasuk rnanajernen keuangannya.

~ ~

J

Dana Sehat purnama, jenis intervensinya adalah pelatihan JPKM, sebagai persiupan Dana Sehat tersebut untuk bergabung atau meningkatkan statusnya menjadi JPKM.

Jumlah Dana Sehat selama 2 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut.

43

Tabel 5.9: Jumlah Dana Selwt Th. 1995196 - 1996/97

Pola Dana Sehat 1995196 1996/97
l. Dana Sehat Desa 16.462 11.236
. -
2. Dana Sehat K UD 490 339
J. Dana Sehat KOE. 569 25
4. Dana Sehat S D 43.170 32.703
5. Dana Sehat SLTi 4.199 3.831
6. Dana Sehat SLTA 2.075 2.055
------
7. Dana Sehat PT 24 10 POS UPAYA KESEHATAN KER.JA

Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) adalah bentuk operasional PHC dilingkungan pekerja, merupakan wadah dud serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja yang terencanu. teratur dan berkesinarnbungan yang diselenggarakan oleh masyarakat pekerja atau kelornpok pekerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama dan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Dengan demikian dalam implementasinya selah, mencakup 3 pilar PHC yaitu:

i Adanya kerja sama lintas sektor

• Adanya pelayanan dasar kesehatan kerja

• Adanya peran serta masyarakat.

.'

Dari aspek kerja sama lintas sektor, Pas UKK merupakan wahana kerja sama sektor kesehatan, tenagn kerja, pertanian, perindustrian, dan lain-lain dalam pembinaan pekerja sesuai dengan jenis pekerjaannya.

Dari aspek partisipasi rnasyarakat. Pas UKK rnerupakan wujud peran serta masyarakat pekerja, pengusaha, organisasi pekerja, organisasi peng. usaha, dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Jadi Pas UKK rnerupakan salah satu bentuk UKBM bagi kelornpok pekerja, baik pekerja formal maupun informal.

44

. '0 '::-_""-_

Ca *)

**)

.rne-

gan 'ang kan ca-

rja in

an gK ja

Kegiatan spesifik yang menjadi "ciri pokok" Pos UKK adalah sebagai berikut:

J

t

• }

Adanya Komunikasi, Informasi, Edukasi dan Motivasi tentang ergonomi, pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, gizi kerja, kebugaran, penanggulangan stres, hipertensi, bahaya rnerokok, pencegahan penyakit rnenular, keracunan makanan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan kesehatan kerja,

• Kegiatan yang bersifat lintas sektor, dengan peran masing-masing sesuai dengan profesi dan fungsi sektor ybs.

• PeJayanan dasar kesehatan kerja yang antara lain meliputi P3P, pemantauan, penggunaan alat pelindung dan upaya penyehatan Iingkungan kerja.

Bentuk "periodic activity" Pos UKK dan frekuensinya adalah seperti tampak pada tabe15.10. dibawah ini:

Tabel 5.10: Kegiatan Pos UKK

KEG lATA N

FREK

PELAKSANA

Pemeriksaan awal kesehatan pekerja & lin kun an keria

1 kl

petugas& kader

Pemeriksaan berkala bagi pekerja (general check up dan pemeriksaan kesehatan berkaitan ekerjaannya)

t kllth

petugas/kader

t kll3 bIn

SIMASKER*

tiap hari

Pelayanan P3K!P3P/rujukan & en ehatan lin un an

kader

Pencatan/pelaporan Dana Sehat

1 kllbln **)

Catatan:

*) SIMASKER = Sarasehan Intervensi Menuju Norma Sehat dalam Bekerja, merupakan pertemuan lintas sektor yang membahas intervensi lokal gun a menuju tercapainya "Norma Sehat Dalam Bekerja"

* *) Dilakukan sesuai situasi dan kondisi setempat

,t

45

Stratifikasi Pos UKK dan Intervensinya

Sebagaimana UKBM lainnya, tingkat perkernbangan Pos UKKjuga rnemakai isti lab: pratarna, rnadya, purnama dan mandiri. Adapun indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat perkembangan Pos UKK adalah seperti tampak pacta tabel berikut.

Tohel 5.11: Tlngkat Perkembangan Pos UKK

INDIKATOR J>RATAMA MADYA PURNAMA IMANDIRI
Jenis Obat <5 5·10 >10
P3K Kit >IIJO 1/20-1/30 <1/20
Ergonorni <30 % 30-60% >60%
Penggunaan <30 % 30-60% >60(Yo
Pelindunu
Simasker <2 kl/th 2-3 kllth >4 kl/th
Dana Sehat 0 <50% I :;:50% Adupun jenis intervensinya untuk tiap tingkat perkembangan Pos UKK adalah sebagai berikut:

• Pos UKK tingkat pratama, intcrvensinya antara lain pclatihan ulang boer Pos UKK.

• Pos UKK tingkat madya, intervensinya antara lain pelatihan tarnbahan tentang obat dan pencegahan penyakit yang berkaitan dengan pekerjaannya.

• Pos UKK tingkat purnama. intervcr.sinya antara lain pelatihan Dana Sehat. agar dapat diarahkan ke tingkat rnandiri. Disarnping itu dapat pula diintervensi dengan pelatihan ketrarnpilan dan produktivitas kerja .

. _ Pos UKK tingkat mandiri, intervensinya antara lain pelatihan Dana Sehat berprinsip JPKM, agar dirasakan benefit yang didapat dari keanggotaan JPKM .

Jumlah dan anal isis Perkembangan Pos UKK selarna 2 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut.

46

-~- ... - ...

1

I

!.,-'"

1

-,,--- - .... - .• «.~ _- •.

,

Tabel 5.12: Jumlah & analisis perkembangan Pos UKK tahun 1995/J6 & 1996/97

Tahun t996/97

Uraian

Tahun 1995/96

Jumlah I},;, Jumlah %

I

TANAMAN OBAT KELUARGA(TOGA)

T,U1U1nan Obat Keluarga yang disingkat dengan "TOGA" adalah sebidang tanah di halaman atau ladang yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Dikaitkan dengan peran serta masyarakat, TOGA rnerupakan wujud partisipasi mereka dalam bidang peningkatan kesehatan dan pengobatan sederhana dengan memarifaatkan obat tradisional,

. Fungsi utama dari TOGA adalah menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan antara lain untuk:

- Menjaga dan meningkatkan kesehatan.

- Mengobati gejala (keluhan) dan beberapa penyakit yang ringan.

Selain itu TOGA bergunajuga unu-k:

- Memperbaiki gizi masyarakat

- Upaya pelestarian alam & memperindah pemandangan

- Menarnbah penghasilan keluarga

Tingkat perkembangan TOGA dan lntervensinya

Untuk menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan TOGA, digunakan kategorisasi tingkatan perkembangan:

I

J

47,

pratama, madya, purnama dan mandiri, dengan indikator seperti tarnpak pada tabel berikut

TC/bel 5. /3: Tingkat perkembangan TOGA

INDIKATOR PRATAMA MADYA PURNAMA
Jrnl KKada TOGA <30% 30-60% >60%
J en is tanaman ~er desa <to 10-25 >25
.Tml KK memanfaatkan TOGA <10 % 10·50% >50% Adapunjenis intervensi untuk tiap tingkat perkembangan TOGA adalah

sebagai berikut: .

• TOGA tingkat pratarna, intervensinya adalah peningkatan KIE tentang perl uasan dan pemanfaatan TOe; A untuk petugas kesehatan, lintas sektor terkait dan kader kesehatan.

• TOGA tingkat rnadya, intervensinya adalah peningkatan KIE tentang perluasan, pengernbangan dan pemanfaatan TOGA kepada masyarakat.

• TOGA tingkat purnama, intervensinya adalah peningkatan KIE tentang budidaya TOGA kepada masyarakat.

Untuk bina upaya kesehatan tradisional, TOGAmerupakan UKBM yang cukup rnemasyarakat. Dari laporan yang masuk, ada 3 macam yaitu:

• Desa yang rnelaksanakan TOGA

• Kelompok yang melaksanakan TOGA

• Keluarga yang melaksanakan TOGA

Akibatnya meski hampir semua propinsi memasukkan laporan TOGA, namun tidak sarna klasifikasinya untuk desa dengan TOGA. Gambaran perkembangan TOGA tahun 1996/1997 dapat dilihat pada tabe! berikut.

48

n d k

a

Tabel 5. J 4: Tingkat Perkembangan TOGA tahun J 996/97 .

7.997

Strata

.Jumlah

too

TOGA Pratama

5.958

74,6

TOGA Madya

1.740

21,7

TOGA Purnama

. 299

3,7

Jumlah

SATUAN KARYABHAKTI HUSADA(SBH)

, i

I j .,

Satuan Karya Bakti Husada (SBH)adalah wadah prarnuka untuk mengernbangkan pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan kesempatan dalam membaktikan dirinya kepada rnasyarakat dalam pembangunan kesehatan.

Gambar 5.4: Partisipast Saka Bhakii Husada pada Comdeca tahun J 993 di Desa Lebak Hardjo Malang - Jawa Timur

49

Keberadaan pramuka pada pembangunan kesehatan terse but dimulai sejak dilantiknya Pimpinan Saka Bakti Husada tingkat pusat oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada tanggal 17 Juli 1985. SBH mengeruban misi untuk mewujudkan Kader pembangunan di bidang kesehatan, yang dapat .mernbantu melembagakan norma hidup sehat bagi semua anggota Gerakan Pramuka dan rnasyarakat di Iingkungannya.

,

. Kegiatan kesakaan dilaksanakan di gugus depan dan satuan karyu Pramuka yang disesuaikan dengan usia dan kemampuanjasrnani serta rohani peserta didik' Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan dengan praktek pada j (lima) krida yaitu :

1.' , KridaBina Lingkungan Sehat : 5 kecakapan

2. Krida Bina Keluarga Sehat : 5 kecakapan

3. Krida Bina Penanggulangan Penyakit : 8 kecakapan

4. Krida Bina Gizi : 5 kecakapan

5. Krida Bina Obat : 5 kecakapan

Srratlfikasi SBB dan lntervensinya

Unit SBH ini ada ditingkat kabupaten (Kwarti~ Cabang) dan kecamatan (Kwartir Ranting). Kegiatan SBH kini teluh meliputi 30 Propinsi 320 kabupaten dan 1200 kecarnatan. Jurnlah anggota SBH mencapai Iebih dari 50.000 orang. Seyogyanya, setiap Kwarcab dan Kwaran Gerakan Prarnuka mengernbangkan Saka Bhakti Husada,

Untuk menentukan tingkat perkembangan SBH, dipergunakan lndikator-indikator sebagai berikut :

'"···1·.·····

"

,

b k k

It1

1

j

"<: t?"
,.
fllai Tuhel 5.15: Ti
rtir
pun INDIKATOR
pat
'an Jumlah anggota
Pelak. krida dim I th
Jangkauan kegiatan
ya Jangkauan pelayanan:
Elni Prom. sid rehab
ek Penggalian sumber dar
Cakupan OS
'~
-I

~ POS KESEHATAN P
~
~ Pondok pesantren a
belajar yang disebut san
kelak dikemudian hari
kemampuan sebagai in
· intelektual yang bemuai
·
~n Keberadaan pondo
~O
H pada pembangunan man
~n bersih & sehut, sesuai
iman, Peran serta pond
kan antara lain dalam b
n Agama), "Poskestren" (
Oa11a Sehat Pondok Pe
Poskestren merupa
, dalam bidang kesehata
f kegiatan antara lain:
1 • Pos obat pondo
~
-I • Santri Husada (
J
p
.i
l'
-'
.-
~'~~
',_ ------

ngkat Perkembungan Saka Batat Husada

1a

PRA MA PUR MAN
TAMA OVA NAMA OIRI
<5 6-10 11-15 >15
1 kali 2 kali 3 kali >3 kali
Gudcp Kwaran Kwarcab Masy
I 2 >2
(-) (+)
<50% >50% ESANTREN (POSKESTREN)

dalah lembaga pcndidikan islam yang merniliki warga trio Para santri ini jurnlahnya cukup banyak, sehingga diharapkan para alumnus pondok pesantren merniliki ovator dalarn pcmbangunan mom! dan spiritual serta isa lslarni.

k pesantren di tanah air kita ternyata mernbawa warna usia Indonesia seutuhnya, termasuk pola perilaku hidup ajaran Islam bahwa kebersihan adalah bagian dari ok pesantren pada pembangunan kesehatan diwujudentuk: "Posyandu Asta" (Posyandu Asuhan Tokoh Pos Kesehatan Pesantren), Upaya Kesehatan Masjid, santren, Santri Husada, dl!.

kan wujud partisipasi masyarakat pondok pesantren n. Biasanya dalam poskestren ini muncul beberapa

k pesantren (POP)

kader kesehatan di kalangan santri)

51

• Pusat informasi kcsehatan, berupa perpustakaan kerohanian dan ccramah kesehatan secara berkala, bekerja sama dengan Puskesmas setempat.

• Upaya kesehatan lingkungan di sekitar pondok pesantren.

p

Data yang lengkap belum didapat namun sebagai gambaran poskestren ini berkernbang pesat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa TenggaraBarat.

U ntuk mengukur ti ngkatan peran serta upaya kesehatan pesantren dapat kita gunakan indikator-indikator pada tabel berikut ini.

Tabel 5.16: Tingkat Perkembangan Upaya Kesehatan Pesantren

INDIKATOR PRt\TAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
J urnlah anggota <5 6-10 J 1·15 >15
Frek. Kegiat .. lI1 I kali 2bli 3 kali >3 kali
Jangkauan Intern pesau'rcn Antar Mas)
kegiatan PI!SW1tn;!11
Jangkauan
pelayanan: 1 2 >2
Prom. sid rehab
Penggalian (.) (+)
sumberdana
Cakupan OS <50% ::::50% KARANG TARUNA HUSADA

Karang Taruna adalah wadah kegiatan remaja dan pemuda di tingkat rukun wargaJRW yang besar peranannya pada pembinaan remaja & pemuda dalarn menyalurkan aspirasi dan kreasinya. Oi rnasyarakat, Karang Taruna banyak peranannya pada kegiatan-kegiatan sosial yang marnpu mendorong dinamika masyarakat pad a pembangunan lingkungan & masyarakatnya, termasuk pula dalam pembangunan kesehatan.

se pe h~ te pc U

52

dan Pada pelaksanaan Posyandu, gerakan kebersihan lingkungan, keIja bakti

smas pembangunanjamban umurn & tempat pembuangan sampah, gotong royong pembasrnian sarang ayamuk (PSN), dan pengurnpulan sumbangan untuk kematian rnaupun dana sehat serta lain-lainnya, potensi Karang Taruna inl . sangat besar, Oi beberapa daerah di Indonesia legalitas Karang Taruna inipun

stren semakinjelas dengan munculnya kelompok-kelompok remajalpemuda dalam

usa pelembagaan perilaku hidup sehat melalui inovasi rnereka seperti "Rema]a Darling" (Remaja Sadar Lingkungan), "Remadi "(Remaja Anti Diare), Remaja Husada, Remaja Bebas Rokok dan lain-lainnya, yang semuanya ini merupakan

apat wujud partisipasi Karang Taruna dalam pern-bangunan kesehatan ..

U ntuk mengukur peringkat peran serta Karang Taruna Husada dalam pembangunan kesehatan dapat diikuti pada tabel berikut ini:

Tabel 5.17: Tingkat Perkembangan Karang Taruna Husada

'at da na ng a,

INDIKATOR PRATAMA MADYA PtJRNAMA MANDIRI
Jumlah an ota <5 6-10 11-15 >15
Frek. Kegiatan . 1 kali 2 kali 3 kali >3 kali
Jangkallan Intern Org RWIRK Desa/Kel Masy
kegiatan
Jangkauan
pelayanan: 2 >2
Prom.s/d rehab
Penggalian (-) (+)
. sumber dana
CakupanOS <50% 2!50%
PONDOK BERSALIN DESA (POLINDES) Polindes, atau pondok bersalin desa, merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rnenyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan ansk lainnya, termasuk KB, di desa. Polindes hanya dapat dirintis di desa yang telah mernpunyai bidan yang tinggal di desa tersebut. Sebagai bentuk peranscrta masyarakat, polindes seperti halnya posyandu, dikelola oleh pamong setempat, dalam hal ini kepaIa desa melalui LKMOnya,

53

Namun, berbeda dengan posyandu yang pelaksanaan pelayanannya dilakukan oleh kader dan didukung oleh petugas puskesmas, polindes dalam pelaksanaan pelayanannya sangat tergantung pad a keberadaan bidan. Hal ini karena pelayanan di polindes rnerupakan pelayanan profesi kebidanan.

Kader masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun bayi. Karena itu, polindes dimanfaatkan pula sebagai sarana untuk rneningkatkan kernitraan bidan dan dukun bayi dalam pertolongan persalinan. Kader posyandu dapat pula berperan di polindes seperti perannya dalam melaksanakan kegiatan posyandu, yaitu dalam penggerakan sasaran dan penyuluhan. Selain itu bila memungkinkan, kegiatan posyandu dapat dilaksanakan pada tempat yang sama dengan polindes

Dan pengertian di atas dapat dikaji beberapa rnakna polindes sebagai berikut:

I . . Polindes merupakan bentuk peranserta rnasyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak (KIA), terrnasuk KB.

2. Polindes dapat dirintis di des a yang telah mempunyai bidan yang tinggal di desa tersebut. Peranserta masyarnkat dalam pengernbangan polindes berupa penyediaan tempat unruk pelayanan KIA (khususnya pertolongan persalinan), pengelolaan polindes, penggerakan sasaran dan dukungan terhadap pelaksanaan tugas bidan di desa. Peran bidan di desa, yang sudah diperlengkapi oleli'pemerintah dengan alat-alat yang diperlukan, adalah mernberikan pelayanan kebidanan kepada masya.rakat di desa tersebut.

3. Pol indes sebagai bent uk peranserta masyarakat, secara organisatoris berada di bawah Seksi 7 LKMO; namun seca.ra teknis b~i-bawah pembinaan dan pengawasan puskesm~are-t1abid;~ dalam menjalankan tugasnya di desa merupakan bagian dari perpanjangan tangan puskesmas.

4. -Ternpat yang disediakan oleh masyarakat untuk polindes dapat berupa , ruanglkarnar untuk pelayanan KIA, tennasuk tempat untuk pertolongan

54

ml

-r

tkan

aan

lah ituk

an pat

an

di

is h

n

a

persal inan, yang dilengkapi dengan sarana air bersih. Dengan demikian, penyediaan tempat untuk polindes tidak perlu selalu harus berupa pembangunan gedung baru, bila hal itu tidak 1111111gkin dilakukan oleh masyarakat karena keterbatasan dana. Polindes dapat rnenggunakan bangunan lama yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan polindes. Apapun bentuk ternpatnya.Ietak polindes diharapkan tidak berjauhan dengan tempat tinggal bidan di desa, bahkan sedapat mungkin bidan diberi tempat tinggal bersebelahan dengan polindes,

5. Mengingat tanggung-jawab penyediaan dan pengelolaan ternpat serta dukungan operasional berasal dari ruasyarakat, maka perlu diadakan kesepakatan antara wak il masyarakat. melalui wadah LKMD. dengan bidan di desa tentang pengaturan biaya operasional dan tarip pertolongan persalinan di polindes.

6. Dalam mernberikan pelayanan pertolongan persalinan di polindes, bidan di desa diharapkan sekaligus memanfaatkannya untuk membina kernitraan dukun bayi dengan bidan, selain sebagai kesempatan untuk melakukan pembinaan persalinan "3 bersih' bagi dukun bayi.

7. Dengan adanya polindes, tidak berarti bahwa bidan di desa hanya memberikan pelayanan di dalam gedung polindes. Bidan masih tetap mernpunyai kewaj iban untuk rnengunjungi dukun yang mempunyai ibu hamil/bayi berisiko yang tidak melakukan pemeriksaan ulangan, sasaran yang belum memeriksakan diri, rnendatangi dukun bayi yang tidak pernah datang ke polindes dan tugas-tugas luar gedung lainnya, Pemberian pertolongan persalinan di polindes hendaknya tidak dipaksakan, baik oleh bidan maupun oleh pamong setempat, Bila ibu ingin melahirkan di rurnah, yang tempatnya mernenuhi persyaratan sebagai ternpat persalinan yang bersih, maka keinginan tersebut hendaknya dihormati dan dipenuhi.

Dengan dernikian, pengembangan polindes merupakan upaya untuk mengatasi kesenjangan sebagai berikut.

55

I.· Kesenjangan geografis dalam rnernperoleh pertolongan persalinan yang aman dan bersih. Dengan adanya polindes, maka masyarakat di pedesaan dapat rnemperoleh peJayanan tersebut di desanya.

2. Kesenjangan lnforrnasi mengenai kesehatan ibu dan anak, serta perilaku hidup sehat pada urnumnya, Dengan adanya bidan di desa, maka masyarakat dapat sering bertemu dan mendapat inforrnasi yang di butuhkan untuk menjaga did agar tetap sehat.

3. Kesenjangan sosiobudaya antara petugas kesehatan dan masyarakat yang dilayaninya. Dengan rnenetapnya bidan di desa, hubungan bidan dengan anggota masyarakat, tokoh masyarakat, kader dan dukun bayi akan sernakin akrab, sehingga bidan diharapkan dapat diterima sebagai bagian dari rnasyarakat desa.

4. Kesenjangan ekonomi dalam mendapatkan pelayanan kebidanan profesiona1.

Dengan perentuan tarip pelayanan persaiinansecaramusyawarah melalui wadah LKMO, maka diharapkan sasaran dapat menjangkau pelayanan yang dibutuhkan, Selain itu, masyarakat yang tidak marnpu diharapkan dapat terjangkau melalui pengorganisasian dana sehat atau pengem-bangan jaminan perneliharaan kesehatan masyarakat (JPKM).

5. Kesenjangan dalam memperoleh pelayanan rujukan. Dengan adanya bidan di desa yang diharapkan l11aJl1pU memberikan pertolongan pertama pada kegawatan kebidanan dan bayi baru lahir, rnaka ibu atau bayi bani lahirdapat ditangani dan dirujuk lebih dini, sehingga kemungkinan untuk rnempertahankan kelangsungan hidupnya lebih besar.

56

"-.-.,,,- .~-.- "'~ _.,--

1

,

p

1

p

• •

'U 'a 1

g 11

;""ONDOI(- BEIiSILIN'

"'". MUHDI MUSAllt '

.:

••• :.1

,"'_;' f >::, ....

. '~"'."" l.~ ...

'"., ,t:

Gambar 5,5: Pondok Bersalin Desa di Sleman Yogyakarta

Stratifikasi Polindes

Berdasarkan uraian polindes pacta bab 2, maka disusun indikator tingkat perkernbangan polindes yang mencakup beberapa hal yaitu :

1. Fisik

Ternpat yang disediakan oleh masyarakat untuk polindes perlu memenuhi persyaratan antara lain:

• Bangunan polindes tampak bersih, salah satunya ditandai tidak adanya sampah berserakan.

• Lingkungan yang sehat, bila polindes jauh dari kandang ternak

• Mempunyaijumlah ruangan yang cukup untuk : pemertkeaen kehamilan dan pelayanan KIA, mempunyai ruang untuk pertolongan persallnan.

• Tempat pelayanan bersih dengan aliran udaralventilasi yang balk terjamin.

57

Mempunyai perabotan dJI1 alar-alar yang mernadai untuk pelaksanaan pelayanan,

Mernpunyai sarana ui r bersih dan jamban yang memenuhi persyaratan kesehatan.

Idealnya suatu polindes rnempunyai bangunan tersendiri dan rnemenuhi persyaratan terse but di atas, namun dalam kenyntaannya rnungkin sqja poliudes masih menumpang di salah satu rumah warga atau bersatu dengankediarnan bidan di desa.

2. Tempat tinggaJ bidan di desa

Keberadaan bidan di desa secara terus-menerus (menetap) rnenentukan efektivitas pelayanannya, tennasuk efekti vitas polindes, Selain itu.jarak tempat tinggal bidan yang rnenetap di desa dengan polindes akan berpengaruh kepada kualitas pelayanan di polindes. Bidan yang tidak tinggal di desa dianggap ridak rnungkin rnelaksanakan pelayanan pertolongan persalinan di polindes.

3. Pengelolaan polin des

Pengelolaan polindes yang baik akan menentukan kualitas pelayanan, sekaligus pemanfaatan pelayanan oleh rnasyarakat. Kriteria pengelolaan polindes yang baik antara lain adalah keterlibatan rnasyarakat melalui wadah LKMD dalarn menentukan tarif pelayanan, Tarifyang ditetapkan secara bersama, diharapkan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pol indes, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan sekaligus dapat memuaskan sernua pihak.

4. Cakupan persalinan

Pemanfaatan pertolongan persalinan merupakan salah satu mata rantai upaya peningkatan keamanan persalinan. T inggi rendahnya cakupan persalinan dipengaruhi banyak faktor, di antaranya ketersediaan sumberdaya kesehatan termasuk di dalamnya keberadaan polindes beserta tenaga profesionalnya, yaitu bidan di desa.

58

c c

k I<

~

~

I

an .~

an

hi es ill

--~~----. - .. -----

Tersed ianya polindes dan bidan di suatu desa l11emberikan kemudahan unruk rnendapatkan pelayanan KIA, khususnya dalam pertolongan persaliuan, baik ditiajau dari segi jarak maupun dari segi pembiayaan, Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong di polindes, selain berpengaruh terhadap kualitas pelayanan ibu hamil, sekaligus mencerminkan kernampuan bidan itu sendiri baik di dalam kernampuan teknis rnedis rnaupun di dalam menjalin hubungan dengan masyarakat. Cakupan persalinandihitung secara kumulatif selama setahun,

~ 5. Sarana air bersih

Tersedianya air bersih merupakan salah satu persyaratan untuk hidup sehat. Demikianjuga halnya di dalam operasional pelayanan polindes. Polindes dianggap baik apabila telah tersedia air bersih yang dilengkapi dengan: MCK, tersedia sumber air (sumur, pompa, PAM, dll), dan dilengkapi pula dengan saluran pernbuangan air Iimbah.

6. Kemitruan bidan dan dukun bayi

Kemitraan bidan dun dukun bayi rnerupakan hal yang dianjurkan dalam pelayanan pertolongan persalinan di polindes. Penghitungan cakupan kemitraan bidan dan dukun dihitung secara kumulatif'selama setahun.

7. Kcgiatan KIE untuk Kelompok Sasaran

KIE merupakan salah satu teknologi peningkatan peranserta masyarakat yang bertujuan untuk mendorong rnasyarakat agar mau dan marnpu memelihara dan rnelaksanakan hidup sehat sesuai dengan kernampuan yang dimillkinya, melalui jalinan komunikasi, informasi dan edukasi yang bersifat praktis.

Dengan keberadaan polindes beserta bidan di tengah-tengah rnasyarakat diharapkan akan terjalin interaksi antara bidan dengan masyarakat, lnteraksi dengan intensltas dan frekwensi yang cukup tlnggi, akan dapat mengatasi kesenjangan informasi kesehatan. Semakin sering bidan di desa rnenjalankan KIE, akan semakin mendorong rnasyarakat untuk meningkatkan kualitas

hidup sehatnya, termasuk di dalamnya meningkatkan kemarnpuan dukun bayi sebagai mitra kerja di dalarn memberikan penyuluhan kesehatan ibu hamil.

Seharusnya suatu polindes di dalarn pelaksanaan kegiatannya telah melakukan KIE untuk kelompok sasaran minimal sekali dalam setiap bulannya. Kegiatan KlE ini dihitung secara kumulatif selama setahun.

8. Dana Sehat

Dana sehat sebagai wah ana memandirikan masyarakat untuk hidup sehat, pada gilirannya diharapkan akan rnarnpu melestarikan berbagai jenis upaya kesehatan bersumber daya rnasyarakat seternpat, Untuk itu dana sehat perlu dikembangkan ke seluruh wi layahlkelumpok, sehingga semua penduduk terliput oleh dana sehat.

Suatu polindes dianggap baik bila masyarakat di desa binaannya telah terliput dana sehat, sehingga diharapkan kelestarian polindes dapat terjamin, kepastlanunnjj, mendapatkan pelayanan yang berkualitas tak perlu dikhawatirkan lagi.

'! .. Cskupan dana sehat dianggap baik bila telah mencapai 50% dan kurang dati 50% polindes dapat dikatakan belurn mantap.

Sebagaimana UKBM lainnya, tingkat perkembangan Polindes juga memakai istilah: pratama, rnadya, purnama dan mandiri. Adapun indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat perkembangan Polindes adalah seperti tarnpakpada tabel dibawah ini:

60

1

"';''-' ..... '

.,

,

i, '1 ~~

yi

h

a.

t, a t

1

_._ ....... _ - ~----

Tube! 5. 18: Tingkat Perkembanyan Polindes

No. Indikator Pratama Madva Purnama Mandir!
I. Fisik Belum ada Belum ada Ada Ada
bangllnan bangul1an bangunan bangunall
tetap, belum tctap, tetap, tetap,
memenuhi memenuhi belum rnemenuhi
syarat syarat mernenuhi syarat
svarar
2. Ternpat Tidak > 3 krn 1-3 km < 1 km
tinggal tingga di
bidan desa vbs
~ Pengelolaan Tak ada Ada. rak Ada dan Ada dan
J.
Polindes kesepa- tertul is tertul is tertulis
katan
4. Cakupan < 10% 1 O-19(~o 20-1~% :::30%
persalinan di
Polindes
5. Sarana ail' Terscdia air Tcrsedia Tersedia Tersedia
bersih bersih, tapi air bersih air bersih air bersih
belum blm ada sumber sumber air.
dilengkapi sumber air. dan MCK&
sumber air air. tapi MCK dilengkapi
dan MCK ada MCK SPAL
6. Cakupan <25% 25-49% 50-74% ~75%
kemitraan
bidan &
dukun bay]
7. Kegiatan <6kali 6-8 kali 9·12kali ~12kali
KIE untuk
Kelompok
sasaran
8. Dana Sehat < 50 % <50% <50% ~50% .
/JPKM 61

Catatan:

1. Jumlah indikator tersebut di atas tidaklah 11111tlak, Bagi daerah yang relati f tertinggal.jumlah indikator dapat dikurangi. Sebaliknya bagl daerah yang , maju dan menginginkan indikator yang lebih banyak, dapat meuambah indikator sesuai dengan situasi dan kondisi daerah.

2. Demikian pula dengan "cut offpoint"-nya, bagi daerah yang muiu dapat rneningkatkan nilai cukupan, misalnya: cakupan persulinan eli I'ol indes masuk strata mandiri bila angkanya >50%.

Selarna 3 tahun terakhir, perturnbuhan polindes dapat dilihat pada tabcl berikut:

Tabel 5. /9: Analisis perbandingan Polindes tahun 199-//95 dan /995/96 dan 1996197

Vrain" 1994/95 1995/96 1996/97
Propinsi vanz rnelapor 22 26 26
~- .. ' ~ 5.665 15.520 10.177
Jumlah Polindes
Desa denzan Polindes 5.665 15.439 19.079
Proporsi desa dengun Pol indcs 9,8 23,6 29,8
Catatan: Polindes dikernbangkan pad a 26 propinsi, OKl Jakarta tidak mengernbangkan Polindes.

llPAYA KF:SEHATAN GIGl MASYARAKAT DESA(UKGMO)

Penyakitgigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat adalah karies (gigi lubang) dun periodontltis (peradangan jaringan ikat gigi), Kedua penyakit ini bila dibiarkan akan menyebabkan gangguan fungsi pengunyahan, tetapi sebenarnya sungat mudah dicegah yaitu dengan menanamkan kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi sejak usia dini.

62

p p la k k

I

1

til' 19 h

s

- ....___--_.

Dewasa ini penyaki] karies banyak diderita anak-anak Hasil penelitian di DKI Jakarta pada tahun 1993: 85,9 % anak balita rnenderitagigi lubang. dengan 2-4 gigi terkena. Pada tahun 1994 di Jawa Barat menunjukan 86% anak balita menderita gigi lubag dengan rata-rata per anak 6,82 gigi terkena. Sedangkan di Hasil SUSENAS 1995 l11enunjukan 64 % anak balita tidak menyikat gigi.

I

Kondisi ini disebabkan karena makin meningkatnya konsumsi makanan yang merusak gigi (permen, coklat. dsb). sedangkan di sisi lain ada kecenderungan menurunnyn perhatian orang tua terhadap perneliharaan kesehatan gigi anaknya. Anggapan bahwa kesehatan gigi SUSll tidak perlu diperhatikan karena akan diganti oleh gigi dewasa adalah tidak benar, karena kerusakan pada gigi SlISlI akal1l1lcnyebabk:m anak cendcrung mcmilih makanan yang lunak dari pad a yang bcrscrut ntau bahkan tidak mau makan sama sekali karena giginya sakit, Hal ini selain dapat mcnyebabkan gangguan keseirn-bangan nutrisijuga dapat rncnvebabkan gangguan pertumbuhan rahang, sehingga rahang rnenjadi scmpit dan gigi dewasanya akan tumbuh rnenjejal, Hal ini akan mernbutuhkan pcrawatan kompleks dan mahal sehinggn akan membebani ekonomi keluarga. Oleh karena itu pernbinaan kemarnpuan keluargadalam perneliharaan kcschatan gigi anaknya perlu ditingkatkan.

I

I

t

t

~

/

{ {

~

1 )

l

I \

• ,

l

I

)

I

Seiak tahun 1979 pcmbinaan kesci.ntan gigi keluarga telah dilaksanakan sebagai bagian dari program dengan pendekatan PKMD yang dikenal dengan UKOMD (Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat Desa),

UKGMD adalah upaya pembina kcsadnran, kemauan, kemampuan dun peran serta masyaraat dalam pemeliharaan keehatan gigl dan mulut dengan , pendckatan PKMf). Dilaksanakan tcrintcgrasi dengan upaya kesehatan lainnya, dengan kerja sama lintas program dan lintas sektor, Sasarannya adalah keillargaltr.asyarakat yang telah mempunyai otoaktivitas dengan prioritas kelornpok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut,

, I I I ,

1 ~ f

I

,

63

\

Gambar 5.6: Salah satu kegiatan UKGMD adalah sikat gigi masal bagi anak balita

Dari uraian diatas dapat dikaji beberapa makna UKGMD sebagai berikut :

J. . UKGMD adalah bent uk peran serta rnasyarakat dibidang kesehatan gigi dan mulut dengan pendekatan PKMD.

2. UKGMD bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, sehingga dapat dicapai derajat kesehatan gigi masyarakat yang optimal

3. Sasaran utama adalah kelornpok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut (balita, anak pra sekolah, ibu hamiI).

4:' Dilaksanakan secara terpadu dengan upaya kesehatan Iainnya.

5. UKGMDsebagai bentuk upaya kesehatan bersumber daya masvarakat, " secaraiehnis dibina oIeh Puskesmas,dibawah tanggungjawab tenaga . kesehatan gigi danlintas program terkait (UKS, KIA). Penggerakan , rnasyarakat berada dibawah binaan Tim Penggerak PKK.

6. Peranan masyarakat (kader, gum) dalarn UKGMD adaJah :

, 64

I

~

···'····l·····

-~.,

,

i

- Penyuluhan masalah kesehatan gigi dan nuilut yang essensial,

- Bimbingan cara-cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut

- Deteksi dini dan rujukan

- Pengobatan darurat (menghilangkan rasa sakit)

STRATIFIKASI UKGMD DAN INTERVENSINYA

Tingkat perkembangan UKGMD tidak dirumuskan tersendiri seperti UKBM lainnya, tetapi diintegrasikan ke dalam indikator tingkat perkem-bangan Posyandu. Jadi dalam hal ini UKGMD merupakan bagian integral dati posyandu. Oleh karena itu, kcbijakan ini sepenuhnya diserahkan ke daerah. BUa UKGMD sudah dianggap layak untuk dilaksanakan di segala pelosok propinsi seperti halnya posyandu, maka sebaiknya UKGNID rnerupakan bagian integral dari posyandu. Dalam hal ini, indikator tingkat perkembangan posyandu ditambah cakupan UKGNID, seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel 5.20: Tingkat Kemandirian Posyandu dengan UKGMD.

No. Indikator Pratama Madya Pumama 1 Mandiri
1. Frek. Penimbangan <8 ~8
2. Rerata kader tugas <5 ~5
3. Rerata Cakupan DIS <50010 ;::50%
~ Cakupan Kum. KB <50% >50010
5. Cakupan Kum. KIA <50010 ;::50%
6. Cakupan Kum, 1m un <50% ;::50010
7, Cakupan UKGMD <50% ~SO%
8, Cakupan OS Sehat <50% I ';::50% Catatan:

I. Cakupan UKGMD adalah cakupan balita yang mendapat intervensi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut oleh kader sesuai leaflet pemetlharaan kesehatan gigi balita baik berupa kegiatan konsultasi, menyikat gigi bersama, pengobatan pertama atau rujukan.

2. Bila UKGMD belum secara menyeluruh dilntegrasikan ke Posyandu, maka tingkat perkembangan posyandu menggunakan indikatoryang lama.

I

I

1 ~

· ,

• I.

I ,

~

1

• t

65

P2M~PKMD (Pemberantasan Penyakit Menular melalui pendekatan Pembangunan Keseharan Masynrakat Desa)

P2M-PKMO merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam penanggulangan penyakit menular yang banyak diderita penduduk setempat. Kendati kita berada dalam transisi epidemiologis dimana penyak it ticak menular mulai rnengancam, narnun penyakit menular masih merupakan rnasalah kesehatan rnasyarakat yang menonjol. Di sernua wilayah Indonesia, baik pedesaan maupun perkotaan, penyakit menular masih banyak diderita. Oleh karena ltu, peran serta masyarakat amat diperlukan pada kegiatun ini.

Jenis penyak it yang rnasuk dalam program ini adalah : P2- Tuberkulosis, P2~DiCJre. P2~Demam Berdarah Dengue, P2-Infeksi Saluran Pernapasan Akut, P2-Malaria, P2-Schistosomiasis, 2-FiTariasis, dlI. Jenis program yang dimasukkan dalam P2M-PKMD tidak sarna antar daerah, bergantung pada siruasi penyakit menulardi daerah yang bersangkutan.

Garnbaran keterjangkauan P2M-PKMO selama 3 tahun terakhir ini tarnpak seperti pada tabel berikut.

TCtheI5.21: Keterjangkauan P2M-PKMD tahun 1994/95, 1995/96 dan 1996/97

1994/95

1995/96

1996/97

Uraian

Propinsi yang melapor 1 8 23 15

JmldesadenganP2M-PKMO 5.475 8.816 3.234

P ropo I'si desa dengan P2 M - P K;-;-:-M~O~--9:::-,-:4--+-__;_1::-::3:-,-:-5 -+-~5=':. =-1 ~

DESA PERCONTOHAN KESEHATAN LINGKUNGAN (DPKL)

DPKL merupakan wujud peran serta masyarakat dalam program penyediaan air bersih dan perbaikan lingkungan pemukiman. Melalui kegiatan ini diharapkan cakupan penyediaan air bersih dan rumah sehat menjadi semakin tinggi.

I

I _L_

I

1

l

,1

J

1

J

I

i

I

1 1

i, t

Analisis keterjangkauan PLP-PKMD selama 3 tahun ini adalah sebagai berikut ,

, ,

Tabel 5.22: Keterjangkauan PLP-PKMD 1994/95, /995/96 dan j 'J96/97

Uraian 1994/95 1995/96 1996/97
Propinsi yang melapor 17 23 15
Jml desa dengan PLP·PKMD 2.887 6.673 2.326
Proporsi desa dengan PLP-PKMD 5,0 10,2 3,6 Kegiatan Keberslhan Llngkungan

67

KELOMPOK USIA LAN.nrr

Pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil menlngkatkan derajat kesehatan masyarakat secara bermakna. Hal ini dapat dilihat dengan mcnurunnya angka kematian bayi. angka kernatian ibll serta meningkatnya angka harapan hid up.

Pada tahun 1980 angka harapan hidup perernpuan adalah 54 tahun dan untuk laki-laki 50.') tahun. kernudian pada tahun 1995 meningkat rnenjadi 66. 7lahun untuk perempuan dan 62.9 tahun untuk laki-laki. Biro Pusat Statistik f1lel1lpmyt:ksi kan pad a tahun 20()5-20 I 0 j umlah usia lanjut akan soma dcngan jumlah annk balita, yuiru bcrkisa- I l) jutujiwn atau xcbesar 8,5 % d.iri jumla'i penduduk Indonesia. PcningkuI,llljumlah pcnduduk usia lanjut ini, tentunya tlapallll<';"ll1IK'ngaruhi berbaga: aspc]; kehidupan, baik terhadap kehidupan usiu Innjllt ill! sendiri. kclll;lrg,lllldllj1l1n ll'l'h'llklj1 masyarukat.

Guna I11cnganlisipasi hall\;'rst'hlll di atax, b~.·rhdg"i kegiatan telah dilakukan, sabh satunya Illcnggalakkun pustisipasi musvarakat rnelalu: pCl11hcntlibn kclompok-kclol11pok usia 1'.lI1j ut. Kebcradaan kelornpok usia lanjut Il1crupakan wujud nyata k('pcdllli~1I1111:1s}'arakat tcrhadap usia lanjllt. agar nh:rck;llllcmpcrol~h lnyannr, yang tcrjangkau. bl.'rkL'lanjlll;1I1 dan bcnuutu dulam rangkn rncncapa: masa tua yang schat, bahagia. berduyu guna dan PI'! «iukti f'selama mungkin.

Sesuai dengan scmangat otonorni daerah, kelompo], usia laqj lit tli bcrbagai pr(lpinsi dikenal dcngnn nama yang b'·'rhcda. sl.·suai dcngnn aspirus: dacrah ll1asing-masing. Sebagai contoh :

• Oi Jawa Burnt. dikenal dcngan scbutan Pos Pernbinaan Terpadu

(Posbindu) Usia Lanjut,

• Di Jawa Tirnur, dengan seblltan Karang Werda.

• Di Nusa Tenggara Barat. menyeblltnya dengan nama Karang Lansia

• Di Propinsi lain. umurnnya dikenal dengan sebutan Pos Pelayan Terpadu

(Posyandu) Usia Lanjut

Kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing kelompok usia lanjut antara propinsi yang satu dengan propins: Iainnya atau antara saru kecarnatan dengan kecrunultln lainnya berbedn pula. Bahkan satu kelompok dengan kelornpo] y:mg lain dalarn kecamatan yang sarna dupat berbedn pula,

PelaY.ll1un kescharan yang dibcrikn» kelornpok usia lanjut meliputi pelllcriksaan kesehatan Ilsik dan t:mosiollal. Sed;1l1gknnjenis kegiatan yag

6S

I

l

-~

---.~- ;.... __ . ...,_..._ ..

dikembangkan di kelompok usia lanjut antara lain meliputi r ..'. ,,'

• Perneriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari (Activity of dailyliving)

• Pemeriksaan status kesehatan mental dengan menggunakan metode2

menit '.' . '.

• Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan, pengukuran

tinggi badan. Hasilnya kemudian dicatat di dalam KMS.

• Pengukuran tekanan darah.

• Pemeriksaan kadar Hb

• Penyuluhan, baik di dalam kelompok usia lanjut maupun dalam kunjungan rumah

• Pemberian makanan tambahan (PMT).

• Olah raga, misalnya: senam, gerakjalan santai, dll,

• Kunjungan rumah, sebagai ajang tali kasih di antara sesama usia lanjut

• dll,

Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjut sebagai suatu bentuk pernberdayaan masyarakat sangat tergantung dari peran serta masyarakat atau kelompok usia lanjut itu sendiri, namun dalam pelaksanaannya peran serta petugas kesehatan/petugas lain masih cukup penting khususnya dalam pembinaan, agar kelangsungan dan kesinambungan kegiatan terse but tetap terpelihara.

69

Pernbinaan yang dilakukan berupa asistensi kepada masy;mlkat dan kelornpok usia lanjut dengan menggunakan prinsip kemitraan artinya dalam peluksanaan pernbinaan mesyaraksr, posisi kelompok usia lanjut adalah sebagai rnitra petugas, yang secara bersarna-sans, menganalisis dan memecahkan masalah dengnnll1el11unfaotkan potensi yang dimiliki potensi.

Untuk melakukan pembinLlHn terdapui beberapa model yang dapat digunakan. Narnun berdasarkan pengalaman di lapangan salah satu model yang dapat diterapkan, khususnya dalarn melakukan pembinaan yang berkaitan dengan pel11berdayaanll1asyarakat adalah Manajemen ARRIF. Manaiemen ARRIF merupakan salah satu manajemen peran serta masyarakat, telah dilaksanakar, eli berbagai daerah untuk rnelakukan pembinaan berbagai benruk Upaya Kesehatnn 8ersumberdaya Masyarakat (UKBM) lainnya, seperti :

Posyandu, Polindes, POD, Dana SehatlJPKM, dll.

Agar langkah·langkah fasilitasi dun pernbinaan yang dilakukan hasilnya optimal, perlu disusun suatu rencana dengan mendayagunakan potensi yang tersedia, kemudian dilakukan langkah-langkah fasilitasi dan terakhir penilaian/ cvaluasi meJalui berbagai forum komunikasl,

Untuk melakukan evaluasi secarn baik dan akurat diperrukan bebcrapa indikaror. Melalui pedoman ini ditawarkan beberapa indikator yang dapat dipel1imbangkan sebaga] alat atau tolok ukur untuk melakukan evaluasi tingkat pcrkembangan kelornpok usia lanjut. fndikator·indikator tersebut sebagai berikut :

I. Frekwensi pertellluan atau pelaksanaall kegiatan selama satu tahun

2. Kehadiran kader.

3. Cakupan pelnyanan kcsehatan, antara lain:

•. Cakupan penimbangan berm badan, pengukuran tinggi badan

• Cakupan pcmcriksaan laborutorium sederhana (pemeriksaallllrillc. pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kadar darahlHb).

• Cakupan anggola yang ikut pellyulllhan/konseling.

4. Kegiatan penunjang :

• Senarn usia lanjut

• Peng~ian atau pendalaman agama

• Diskusi atau pertemuan ceramah

• . Usaha ekonoml produktif

• Rekreasi, dlJ

5 Tersedianya dana unruk penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjut.

70

--------"" ,.. ".-

J' ,

n In ai n

Tingkat perkembagan kelompok usia lanjut dapat digolongkan menjadi 4 (empat) tingkat, yaitu :

I. Kelompok usia lanjutpratama, yaitu kelompok usia lanjut yang belum mantap, pelaksanaan kegiatannya tidak rutin setiap bulan (frekwensinya masih kurang dari 8 kalij.jumlah kader yang hadir kurang dari 3 orang, cakupan program < 50%. jenis kegiatannya terbatas, dan belum ada dukungan dana dari masyarakat.

2. Kelompok usia lanjut madya, yaitu kelompok usia lanjut yang sudah mulai berkembang, pelaksanaan kegiatannya hampir rutin setiap bulan (frekwensinya 8·9 kalij.jumlah kader yang hadir lebih dari 3 orang, cakupan program 50% - 60%, sudah ada tambahan kegiatan penunjang, namun belum ada dukungan dana dari masyarakat.

3. Kelornpok usia lanjutpurlUlltUl, yaitu kelompok usia lanjut yang sudah nUIIHap. pclaksanaan kcgiatan rutin sctiap bulan (frekwensinya g 10 kali), jurnlah kadcr yang hadir lcbih dati 3 orang, cakupan program diatas 60%, kegiatan tambahannya lebih dari satu, sudah ada dukungan dana dari masyarakat namun masih di bawah 50%.

4. Kclompok usia lanjut mandiri. rnerupakan kelompok usia lanjut tingkat I'",.IIIII11ft plus, dengan ragarn kegiatan penunjangnya lebih dari 2 jenis, dukungan dana dari masyarakat cukup baik di atas 50 % sehingga diharapkan marnpu membiayai kegiatan secara rnandiri. .

Untuk lebihjelasnya tingkat perkembangan kelon ipok usia lanjut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.23 Tingkat Perkembangan Kelompok Usia Lanjut.

No. ~1~Il=d~ik~at~o~r ~.P~I·a~t~al~lIa~ __ M~l~~~'~ __ ~P~tI~r~1I1~"n_a-r_~~ta~n~d_iI'~i

1 Frekwensi_£enilllbangan <8 8-9 >10 >10

2 Rerata ka~d::::;er:...!h.:.::a~dl:.:...· r --f_....;<3~--+ __ >-;:3;._-t __ >_::3-._r-_::>3~_,

3 Kegiatan penunjang • 1 2 >2

4 Caku an:....2.mr;.:elr:.;~.:.:a~n=:al~' kr-e~se~h-:-at-:-a-:-n +-:<~SOirnoAi"o -+-;:s~oo1ii/o-_7:60i'\ti~:7o+---:>6~ .. :n()lliiiVoc-r--:::>67.iO'l'\irVcLo---l

S Pendanaan keglatan berasal • • <50% ~S()o1o dari masyarakat

~--------~--~----~----~--~

71

, Untuk memudahkan pemahanan "ARRIF" berikut ini dikemukakan satu contoh '1

konkrir dari salah satu kabupaten yang telah meJakllkan pendataan kegiatan PSM dengan pendekatan ARRIF, yaitu Kabupaten Sikka propinsi Nusa Tenggara Timur.

BAB 6

CONTOI-{ DOKUMEN ARRfF

DATA UMUM KAB. DATI II SIKKA

1. Data Geografi

Kabupaten Dati I Sikka adalah salah satu kabupaten yang ada di propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di pulau Flores dengan batas-batasnya:

Utnra S0/utan 1irmu' Barat

: Lalit Flores : LalltSmvu

: KJouparen Flores Timur : J\.~lhllIXltL'J1 l.ndc

Luas Wiiayah I. 731.{) I krn yang terdiri dari plllau-plIlali kecil dan bexar, dirnana pulau-pulau terse but adalah Pulau Babi, Pulau Pemann Pulau Paille. Pulau SlIklln dan Pulau Besar.

2. Data Demograti

Jumlah pendudul, : 251.399 jiwa dengan rata-rata kepadatan pendl:duk 145 jiwalkm serta rate kepadatan pendllduk 5-6 orang dengan j~lmlah KK seba'1yak 50.295.

3. Data SosiaJ Ekonomi

Mata pencaharian penduduk sebagian besar adaJah petani/nelayan : 80. J 93 orang. Sedangkan pedagetng: 5.532 orang.

72

. ;,r~'

.~.", .. ,

,j

~

,.~

~'io>t_ .... _.

- ....... ..._,._---

4. Data Sosial Budaya :

Data Sarana Pendidikan sebagai berikut :

Taman Kanak-kanak : 42

Sekolah Dasar : 292

Madrasah Ibtidaiyah I

Sekolah Dasar Luar Biasa 1

SLTPUmum 36

Madrasah Tsanawiyah SLTA Umum Kursus-kursus Akaderni

Perguruan Tinggi

2 8 4 I 2

Adapun data sarana ibadah adalah sebagai berikut :

Masjid ' 42 buah

Gereja Katolik 27 buah

Gereja Protestan 3 buah

Gereja Pantekosta I buah

Pura I buah

5. Pcmbagian Wilayah :

Kabupaten Sikka dibagi menurut kecarnatan, puskesmas dan sertajumlah penduduk dapat diketahui rnelalui tabel berikut :

7J

Tabe! 6.1: Jumlah Kecamatan, Puskesmas, Desa dan Jumtah Penduduk di Kab. Slkka tahun 1997

No Kecamatnn Puskesruns Des a Jumlah
Penduduk
I Paga Paga 7 23.262
2 Pernb. Paga Lekebai 6 11.335
., Lela Nanga 5 11.240
J
4 Nita Nita 8 27.220
Magepanda
5 Alok Kopeta 13 45.354
6 Maumere Nelle 12 22.806
7 Pemb. Maurncre Uwa/Pu lue 6 10.625
8 Kewapante Waipare 14 32.968
9 Pemb. Talibura Waigere 5 16.958
10 Talibura Watubaing II 22.272
II Bola Bola II 27.272
II 12 38 2S 1.399 6. Data Sarana Keschahtn

Puskesmas Puskesmas Pembantu MobiJ Pusling Roda 4 MobiJ Unit PKM Pusling Laut

Rumah Sakit Umum Sarana Kesehatan Swasta

• Rumah Sakit

• Balai PengobatanlBKlA

• Rwnah Sakit

12 57 12

1 3 1

74

-~ -,."-- ~ ...... -.

'!-"""" '.

f I

--'''''''--_''._''_'''--'''

DATAPERAN SERTAMASYARAKATTAHUN 1997

Data peran serta masyarakat dapat dikelompokkan menjadi 2 kelornpok: besar, yaitu data tentang penyebaran dan tingkat perkembangan UKBM. i

1. Data Penyebaran UKBM :

Adapun tingkat penyebaran Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat ; (UKBM)d i Kabupaten Dati II Sikka dapat dilihat pad a tabel berikut,:, '

Tabe! 6,2: Penyebaran UKBM di Kqhupalen Sikka

; ~

Keterangan Jumlah
DesaIKel urahan 85/13
Desa dengan Posyandu 98
Jumlah Posyandu 423
Desa dengan Polindes 98
Jumlah Polindes 101
Desa dengan POD 37
Jumlah POD 48
Desa dengan P2PKMD 98
Desa dengan PLP PKMD 10
Sekolah Dasar 292
S D dengan Dana Sehat 15
SLTP 38
S L TP dengan Dana Sehat 2
KUD 10
KUD dengan Dana Sehat 4
UKGMD 1
TOGA 55
Kelompok Pengrajin 40
Kelornpok Pengrajin dengan POSUKK 2
Kelompok Tenun Ikat 23
Kelornpok Tenun Ikat dengan pas UKK I 75

2. Tingkat Perkembangan UKBM :

Hasil rekapitulasi tingkat perkernbangan UKBM dapat dilihat pada hasil/telaah kernandirian seperti tampak pada tabel berikut :

TaheI6.3: Hasil Telaah Kemandirian Posyandu di Kab. Sikka

Puskesmas Posvandu Jumlah
Pratama Madya Purnama Mandiri
Paga 30 4 - - 34
Lekebai 26 I · · 27
Nanga 14 9 · · 23
Nita 25 12 - - 37
Kopeta 26 23 - · 49
Nelle 21 17 · · 38
Walpare 53 9 I · 63
Bola 30 7 I · 38
Waigeta 34 . · - 34
Watubaing 29 13 4 · 46
Uwa/Palue 18 5 - - 23
Magepanda 7 5 - · 12
313 105 6 - 424 Tabel 6.4: Rekapitulasi Hasil Telaah Kemandirian Dana Sehat

. Kabupaten Sikka

KUDlNon KUD Dana Sehat
No. Pratama Madya Puruarna Jumlah
I 11 III
1. KUD Lela V
2. KUD Paga v
" KUD Sinar lIigal V
.).
4. KUD Talibura ..J
S. OSI Urun Pigang ..J
6. Kopdit Derudede ..J
7. PT. Perk. Kepala Oiag ..J
8. Jernaat OMIT Kalvari ...j .76

-~

I

....•. j ....•. ~~

i

I

Tabe! 6.5: Tingkat Perkemhangan POD di Kab. Sikka Th. 1997

No. Kecamatan Desa pon Tingkat Perkembangan Kef
Dgn
POD
Pra Mad Pur Man
l. Paga 6 7 7 - - -
) Pernb. Paga 5 5 5
-. - - -
., Leia 3 3 3
J. - - -
4. Nita 8 10 10 - - -
5. Alok 1 2 2 - - -
6. Maumere 1 2 ") - - -
7. Kewapante 3 5 5 - - -
8. Bola 6 7 7 -- -. -
9. Talibura 1 :2 ') - -- -
10. Pemb. Talibura 3 5 5 - - -
Jurnlah 37 48 48 1. J>OSYANDU

Analisa Situasi

Jurnlah posyandu sarnpai saat ini sebanyak 423 posyandu yang terse bat' pada . 9~ desa denganjumlah rata-rata perdesa 4·5 posyandu. Dengan demlkian bila ditinjau dari segi geografis, berarti semua desa telah terjangkau posyandu, Dikaltkan denganjumlah penduduk, tiap Posyandu meliputi 118 KK, dianggap sudah mencukupi.

Rum usan masalah keterlangkauan

Sernua desa telah terjangkau oleh Posyandu, sehingga praktis tidak ada masalah keterjangkauan.

Rumusan tujuan keterjangkauan

Karena rnasalah keterjangkauan tidak ada, rnaka tujuan keterjangkauanjuga .. tidak ada.

77

Rumusan Intervensi untuk mengatasi masalah keterjangkauan

Karena tujuan keterjangkauan tidak ada, maka tidak ada intervensi khusus untuk masalah keterjangkauan ini.

Analisis perkembangan

Dari rekapitulasi telaah kemandirian Posyandu di semua Puskesmas didapatkan rangkuman hasil seperti tampah pad a tabel bcrikut ini :

Tabe! 6.6 : Hasil analisis perkembangan Posyandu di Kab. Sikka Th. 1997

Tingkatperkembangan Jumlah %
Pratama 313 74,0
Madya 105 24,8
Pumama 5 1,2
Mandiri 0 0,0
Jlunlnh 423 100
- Tampak bahwa 3/4 j urnlah Posyandu berada pada tingkat Pratama, sementara baru 1,2 % yang mencapai purnama bahkan mandiri belum ada.

Rumusan masalah tingkat perkembangan

Baru 24,82 % posyandu tergolong rnadya dan 1,18 % posyandu purnama bahkan mandiri rnasih 0 'Yo.

Rumusan tujuan tingkat pcrI<cmbangan

Rumusan tujuan yang hendak dicapai dikaitkan dengan kemungkinan ketersediaan sumber dana, perala tan dan tenaga. Untuk menaikkan tingkat perkembangan Posyandu, rumusan tujuannya adalah :

1. Sebanyak 313 posyandu Pratama akan ditingkatkan menjadi Posyandu madya

78

. ;,

2. Sebanyak 105 posyandu Madya akan ditingkatkan menjadi posyandu

Pumama . .

3. Sebanyak 5 posyandu Purnarna akan ditingkatkan menjadi posyandu Mandiri.

Rumusan Intervensi masalah tingkat perkembangan

Atas dasar tujuan tingkat perkembangan tersebut diatas, dirumuskan intervensi

sebagai berikut : '

1. Untuk meningkatkan 313 posyandu pratama menjadi madya, diperlukan pelatihan/refreshing kader bagi 313 posyandu tersebut.

2. Untuk meningkatkan 105 posyandu madya rnenjadi purnama, diperlukan pelatihan tokoh masyarakat dan pelatihan program tambahan. Dan profil yang ada terlihat rencana intervensi sebagai berikut :

•. Pelatihan TOMA

• Pelatihan program tambahan seperti malaria dan ISPA

3, Untuk meningkatkan 5 posyandu Pumaa menjadi Mandiri, diperlukan pelatihan Dana Sehat bagi kader dari 5 Posyandu tersebut.

4. Untuk mendukung terlaksananya intervensi diatas, perlu ada forum komunikasi baik di tingkat kai.upaten, kecamatanrnaupun puskesmas.

2. DANASEHAT

Analisa situasi

Berdasarkan daya yang ada pada tabel, dapat dl lil .. at tingkat perkembangan Dana Sehat di Kabupaten Dati If Sikka dapat dikatakan bahwa kesadaran melaksanakan dana sehat masih sangatrendah, baik dana sehat pola KUD maupun Koperasi Kredit. Rangkuman hasil analisis siatuasi Dana Sehat seperti tampak pada tabel berikut.

79

Tabel 6.7 : Rangkuman hasil ana/isis situasi Dana Sehat eli Kabupaten Dati 11 Sikka tahun 1997

No. Dana Schut Jumlah Berdana Schut Kcterang_an
I. KUD 10 4 Dengan jumlah
2. Koperasi Kredit 4 4 KK 2.325 KK
3. SD 292 IS dan tertanggung
4. SeTP 38 2 8.482jiwa
Jumlah 334 25 Tarnpak bahwa keterjangkauan Dana Sehat masih sangat rendah. Seluruh desa (100%) belum ada yang mengernbangkan Dana Sehat, Dari 10 KUD, sampai dengan saat ini hanya 4 KUD saja yang ber Dana Sehat.

Rumusan masalah keterjangkauan

Atas dasar analisis situasi diatas, dapat dirumuskan rnasalah keterjangkauan sebagai berikut :

I . Belurn ada desa yang mengembangkan Dana sehat

2. Sebanyak 60 % KUD belum mengembangkan Dana Sehat

3. Lebih dari 95 % SO dan SLTP belum mengembangkan Dana Sehat

Rumusan tujuan keterjangkauan

Atas dasar masalah keterjangkauan diatas dikaitkan dengan keadaan sumber daya, tenaga, dana dan peralatan dirumuskan tujuan keterjangkauan sebagai berikut :

I. Dana Sehat perlu dikembangkan pad a desalkelurahan. Sebagai tahap awal rnisalnya akan dikembangkan Dana Sehat pada 12 Desa dengan asumsi tiap puskesrnas mengembangkan Dana Sehat di satu desa,

2. Mengembangkan Dana Sehat pola UKS pada 12 Sekolah Dasar (tiap puskesmas mengembangkan 1 DS pola UKS). Kalau ini dilaksanakan maka SD ber Dana Sehat akan menjadi 35 SO (12 %).

3. Mengembangkan Dana Sehat pola KUD pada KUD yang sudah mandiri.

80

----~..._..,-..,..~. ~- ....

..

I 1

I

I

I

uruh Rekapitulasi tingkat perkembangan Dana Sehat di Kabupaten Sikka menun-

UD. jukkan bahwa hanya Dana Sehat KUD yang mengisi data tingkat perkembangan, sernuanya (8 kelompok) berada pada tingkat Pratama III.

K ng

uan

ber gai

hap gan

iap an

iri.

Rurnusan intcrvensi untuk mengatasl masalah ketcr-jangkaunn

Atas dasar rumusan tujuan keterjangkauan diatas.rumusan intervensinyn adalah sebagai berikut :

I. Diserninasi infonnasi Dana Sehat di tingkat DesaiKelurahan.

2. Pelatihan kader Dana Sehat pada 12 desa.

3. Pelatihan kader Dana Sehat pola UKS pada 12 SO

4. Diseminasi infonnasi Dana Sehat pola KUD pada KUD Mandiri.

5. Forum komunikasi di tingkat Kabupaten dan Kecamatan

Analisa Perkembangan

Rumusan masalah tingkat perkembangan

Atas dasar anal isis tingkat perkembangan Dana Sehat diatas. dapat dirumuskan masalah tingkat perkembangan sebagai berikut :

I. Sebanyak 8 (32%) Dana Sehat tergolong Pratarna III, yang seluruhnya merupakan Dana Sehat pola KUD.

2. Sebanyak 17 (68%) Dana Sehat pola UKS belum dilakukan tingkat perkemangan, dan kernungkinan rnasih tergolong pad tingkat pratama.

J ·"i

,!

Rumusan tujuan tingkat perkembangan

I

,

I

Atas dasar I1ll11USan masalah tingkat perkembangan tersebut diatas, diruntuskan tujuan tingkat perkembangan yang ingin dicapai, dengan tidak lupa mernperkirakan kemampuan sumber daya baik tenaga, dana, dan sarana, Biasanya sumber daya yang tersedia terbatas, sehingga masalah tersebut diatas akan diatasi secara bertahap. Dengan demikian rurnusan tujuan biasanya merupakan pernyataan untuk mengatasi sebagian dad seluruh masalah. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

.I 1 'I

I. Sebanyak 8 (delapan) Dana Sehat pola KUD tingkat Pratarna III akan ditingkatkan menjadi Dana Sehat Madya

.

1

,I

I

,

81

2. Sebanyak J 7 (tujuh belas) Dana Sehat pola UKS yang kitaanggap berada pada pratama I akan ditingkarkan rnenjadi Dana Sehat pratarna II.

Rumusan lntervensi masalah tingkat perkembangan

Atas dasar rumusan tujuan perkernbangan tersebut diatas, dapat dirumuskan intervensi sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan Dana Sehat tingkat pratama III menjadi Madya diperlukan pelatihan manajemen operasional Dana Sehat secara keseluruhan terrnasuk manajemen keuangannya.

2. Sedangkan untuk rneningkatkan Dana Sehat Pratarna I ke Pratama II, serangkaian kegiatan KIE secara terus menerus kepada para pengelola dan peserta Dana Sehat.

Petugss di Kabupaten Sikka, teJah menyusun intervensi untuk perkembangan Dana Sehat antara lain:

1. Forum Komunikasi Lintas Sektor tingkat kabupaten termasuk LSM, sekolah clan institusi terkait 1I11tuk rneningkatkan peserta Dana Sehat.

2. Penyuluhan Dalla Sehat kepada LSM, KUD. Koperasi kredit, dan sekolah

3. Pelatihan Dana Sehat berkala bagi pengelola.

3. POS OBAT DESA (POD)

Analisa situasi :

Dan rekapituJasi Pos Obat Desa yang ada di Kabupaten Sikka, dapat diketahui bahwa dari 98 desalkelurahan, terdapat 37 desa yang telah memiliki POD. Bahkan dan ke 37 desa terse but ada yang memiliki lebih dari 1 POD mengingat jurnlah seluruh POD di J7 desa tersebut adalah 48 POD. Dengan demikian POD di Kab. Sikka dapat dikatakan belum merata

Rumusan masalah keterjangkauan

Dari 98 Desa baru 37 (37,6%) desa yang memiliki POD, dengan demikian masih ada 61 (62,3%) desa yang belum memiliki POD. Bahkan dari POD yang ada hanya 4 POD yang berada di desa terpenciliIDT.

82

1

J

.!

I

!

I

!

1

f

1

I

rada

kan

ya 11I-

fl, 12

an

n

.~,

Rumusan tujuan kctcrj,angkallan

Atas dasar rnasalah kell~ljal1gblJu.l (~ia(as dikaitkan dengan kelayakm-, sumbcr dayu, tenaga, dana dirumuskan tujuan kckrjangkuuun POD di Kabupaten Sikka adalah I11cngcmbangkan POD pada desa-desu yang jauh atuu sulit dijnngkau olch pelayanan kesehatan,

Rumusun Inrervcnsl untuk I11cnglltasi mnsnluh l,ctcl'janglmUllll

Aias dasar rnasulah kctcrjangkauan diatas, rurnusan intervensinya adalah sebagai berikut :

I. Discminasi informasi tcntang manfaat dan fungs] POD bagi aparat desa dan masyarakat.

"') Pclatihan kadcr POD pada desa-dcsa terpencil,

3. Pelurihnn tcntang bcrbagai jenis penyak it setempat yang perlu d i tanggtd'U1gi.

4. Pcmbcntuko» dan pcngadaan obat-obatan ,Ii POD.

Annlisa Perkcmbangnn

Rckapitulasi tingkat perkembangan POD eli knbupatcn Sikka menuniukkan bahwa dari scluruh POD yang ada (48 POD) sel11L11.! berada pada tingkat pratama.

Rumusan musalnh tingkat perkembnngan

Rumusan rnasnlah tingkat perkembangannya adalah sebanyak 48 (100%) POD tergolong pada tingkat Pratarna.

Rumusan tnjuan tingkat pcrkembangan

Meningkatkan strata perkembangan 48 POD Pratama ke Madya. Berapa jumlah yang akan ditingkatkan, tergantung pada kemampuan sumber daya dan tenaga yang ada di wilayah tersebut.

83

Rumusan intcrvcnsi masalah tingkat perkcmbangan

1. Pelatihan Tokoh masyarakat tentang pengelolaan, manfaar dan fungsi POD.

2. Peiatihan bagi kader tentang tambahan pengetahuanjenis penyakit dan obat yang digunakan untuk mengatasinya.

Demikianlah serangkaian contoh dari "Analisis Situasi" yang menghasilkan "Rurnusan Masalah Keterjangkauan" yang kemudian rnenuntun kita sampai pada "Rurnusan Tujuan Keterjangkauan" dan "Rumusan Intervensinya". Sedangkan "Analisis Perkembangan" akan rnenghasilkan "Rumusan Masalah

Tingkat Perkembangan" yang kernudian menuntun kita untuk sampai pada "Rumusan Tujuan Perkernbangan" dan "Rumusan Intervensinya". Untuk jelasnya dapat dilihat pada larnpiran 6.)

Rencana Usulan Kegiatan

Untuk UKBM Posyandu, Dana Sehat dan Pos Obat Desa dari serangkuian analisis tersebut diatas, :elah tersusun "Rumusan Intervensinya" yang bila dirangkum adalah sebagai berikut :

I . PeJatihanirefreshing kader bagi 3 13 posyandu tersebut.

2. Pelatihan TOMA.

3. Pelatihan program tam bah an seperti malaria dan ISPA.

4. Pelatihan Dana Sehat bagi kader da .. i 5 Posyandu tersebut.

5. Forum komunikasi baik di tingkat kabupatsn kecarnatan rna up un

puskesmas.

6. Diseminasi informasi Dana Sehat di tingkat DesaIKelurahan.

7. Pelatihan kader Dana Sehat pad a 12 desa.

8. Pelatihan kader Dana Sehat pola UKS pada l2 SO

9. Diseminasi infonnasi Dana Sehat pola KUD pada KUD mandiri. 1 O. FOnl~ komunikasi di tingkatKabupaten dan Kecamatan

11. Forum Komunikasi Lintas Sektor tingkat kabupaten termasuk LSM. sekolah dan institusi terkait untuk meningkatkan peserta Dana Sehat.

12. Penyuluhan Dana Sehat kepada LSM, KUD, Koperasi kredit, dan sekolah.

84

I /

I

I

j

1.

J

j ~ .~

I

si

an

a k

13. Pelatihan Dana Sehat berkala bagi pengelola.

14. Diseminasi infonnasi tentang rnanfaat dan fungsi POD bagi aparat desa

dan masyarakat, . . ..

15. Pelatihan kader POD pada desa-desa terpeneil.

16. Pelatihan tentang berbagaijenis penyakit setempat yang perlu ditanggulangi.

17. Pembentukan dan pengadaan obat-obatan di POD.

18. Pelatihan Tokoh Masyarakat tentang pengelolaan, manfaat dan fungsi POD.

19. Pelatihan bagi kader tentang tambahan pengetahuanjenis penyakit dan obat yang digunakan untuk mengatasinya.

Bila rumusan intervensi telah terinci seperti tersebut di atas, tidaklah terlalu sulit untuk menuangkannya dalam bentuk "Reneana Usulan Kegiatan" yang kernudian dikonversi ke dalarn bentuk Daftar Usulan Proyek (DUP) baik melalui DUP terpadu APBN, APBD I maupun Af'Bf) II.

Rencann pelaksanaan kcgiatan

Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) bisa dibuat setelah sumber daya diketahui. Jadi RPK disusun setelah DIP cair (baik APBN, APBD I, APBD II).

Setelah Dll' cairdapat dilakukan :

• Alokasi sumber dana dan paket program ke tiap puskesmas.

• Rencana Kegiatan (,'Plan of Action"/POA) di tingkat Kabupaten dan Puskesmas

Intervensi

Intervensi merupakan wujud implementasi atau operasional dari rencana pelaksanaan kegiatan di atas. Pelaksanaannya adalah tingkat puskesmas ke bawah dan beberapa di tingkat kabupaten.

85

Tahap ini arnat dipengaruhi oleh nuansa lokal baik dari sisimasyarakat maupun petugas. Disini diuji pola kepemimpinan petugas di tingkat operasional.

Forum Komunikasi

Adajenis forum komunikasi yaitu :

• Forum komunikasi untuk pemantauan, dilakukan secara berkala baik di tingkat puskesmas rnaupun ditingkat kabupaten.

~ Forum komunikasi untuk evaluasi, dilakukan pada akhir periode, untuk mengevaluasi terhadap target seperti yang telah disebut dalam tujuan, baik tujuan keterjangkauan maupun tujuan tingkat perkernbangan,

Khusus untuk evaluasi, dapat digunakan matrik RAGPIE dengan mengisi kolom 3 x J'yang merupakan kolom silang dari Resources - Activities _ Goal dan Planning - Implementation - Evaluation.

Kajian terhadap matrik RAGPIE ini dapat menunjukkan sampai seberapa jauh intervensi kita menjawab tujuan yang telah kita rurnsukan sebelumnya. Contoh sederhana pengisian matrik RAG PIE dapat dilihat pada lampiran 6,2 .

• ., J !. . ':. ~ _; ; .

t '.r .

'0 •

-': { ';.-;

86

:~

v ~

.j;.f

i ~

1

,

~ .

Wl

di

k

'1 1

BAB 7

PENUTUP

Panduan manajernen dan pembinaan reran serta masyarakat model ARRIF ini merupakan kerangka pikir bagi petugas dalam merencanakan, mendisain, menumbuhkan, mengembangkan, memantau dan mengevaluasi partisipasi masyarakat di bidang kesehatan. Manajernen model ARRIF ini dapat diterapkan untuk sega!ajenis UKBM, asa! UKBM tersebut sudah dirumuskan tingkat perkernbangannya. Oleh karena itu dalam waktu mendatang, muatan manajemen model ARRIF ini akan terus bertambah, sesuai denganjumlah UKBM yang telah diteutukan tingkat perkembangannya,

Bila di satu wilayah adajenis UKBM yang spesifik daerah, pernegang kebijakan setempat bisa merumuskan tingkat perkembangan UKBM spesifik tersebur, sehingga dapat rnenjadi muatan lokal, manajemen model ARRIF ini.

Dengan model ARRIF ini tingkat partisipasi masyarakat dapat secara lebih konkrit di ukur baik secara kuantitatifrnaupun kualitatif. Harapan kami, dengan indikator keterjangkauan dan tingkat perkembangan UKBM ini akan dapat mernacu segenap petugas dan pembina khususnya di tingkat operasional, untuk !ebih giat menumbuh-kernbangkan partisipasi masyarakat di bidang kesehatan, yang ditandai dengan makin banyaknya UKBM dengan tingkat perkembangan yang memadai.

Selamat bekerja dan mengamalkan ilmu untuk kesejahteraan sesama bangsa Indonesia. Terima kasih .

87

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->