P. 1
askep ckr

askep ckr

|Views: 1,636|Likes:
Published by Wiwi Cuka Bubuxx

More info:

Published by: Wiwi Cuka Bubuxx on Jan 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

skip to main | skip to sidebar

ASUHAN KEPERAWATAN RIZKI
Selamat Datang di Blog Ku yang sederhana ini

Rabu, 04 Maret 2009
LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA
A. PENGERTIAN Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi - decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. B. PATOFISIOLOGI Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua : 1. Cedera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi - decelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada cedera primer dapat terjadi : 1. Gegar kepala ringan 2. Memar otak 3. Laserasi 2. Cedera kepala sekunder 1. Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :

2. Hipotensi sistemik 3. Hipoksia 4. Hiperkapnea 5. Udema otak 6. Komplikasi pernapasan 7. infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain C. PERDARAHAN YANG SERING DITEMUKAN 1. Epidural Hematoma Terdapat pengumpulan darah di antara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang - cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1-2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis. Gejala-gejala yang terjadi : Penurunan tingkat kesadaran, Nyeri kepala, Muntah, Hemiparesis, Dilatasi pupil ipsilateral, Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irreguler, Penurunan nadi, Peningkatan suhu 2. Subdural Hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam - 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan. Tanda-tanda dan gejalanya adalah : nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan udem pupil Perdarahan intracerebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri; kapiler; vena. Tanda dan gejalanya : Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegia kontra lateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital 3. Perdarahan Subarachnoid Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pad cedera kepala yang hebat. Tanda dan gejala : Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Data yang perlu didapati adalah sebagai berikut : 1. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab): nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, golongan darah, pengahasilan, hubungan klien dengan penanggung jawab. 2. Riwayat kesehatan : Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah

simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular. Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif. Datadata ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien. 3. Pemeriksaan Fisik Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese. Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII. 4. Pemeriksaan Penujang • CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri. • MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif. • Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma. • Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis • X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis(perdarahan/edema), fragmen tulang. • BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil • PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak • CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid. • ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial • Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial • Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran. Penatalaksanaan Konservatif: • Bedrest total • Pemberian obat-obatan • Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran) Prioritas Perawatan: 1. Maksimalkan perfusi / fungsi otak 2. Mencegah komplikasi 3. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal 4. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga 5. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan rehabilitasi. Tujuan:

adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak adekuatnya pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat. Rencana tindakan : • Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan 5. Tujuan : Mempertahankan pola napas yang efektif melalui ventilator. INTERVENSI Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos . Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak 4. tidak terdapat suara sekret pada selang dan bunyi alarm karena peninggian suara mesin. Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi. Tujuan : Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi Kriteria Evaluasi : Suara napas bersih.1. • Cek pemasangan tube. • Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien.coma) 5. untuk memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal volume. C. 2. Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sendiri atau dibantu orang lain 4. • Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x lebih panjang dari inspirasi. Tidakefektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum. sianosis tidak ada atau tanda-tanda hipoksia tidak ada dan gas darah dalam batas-batas normal. membantu membarikan ventilasi yang adekuat bila ada gangguan pada ventilator. • Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit). tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap gangguan pertukaran gas. Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak. Fungsi otak membaik : defisit neurologis berkurang/tetap 2. sianosis tidak ada. tidak adekuatnya sirkulasi perifer. 3. B. Rencana tindakan : • Hitung pernapasan pasien dalam satu menit. Proses penyakit. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum. prognosis. Obstruksi dapat disebabkan . pernapasan yang cepat dari pasien dapat menimbulkan alkalosis respiratori dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2 dan menyebabkan asidosis respiratorik. program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi. Kriteria evaluasi : Penggunaan otot bantu napas tidak ada. • Perhatikan kelembaban dan suhu pasien keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi / cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan yang biasanya muncul adalah: 1. Komplikasi tidak terjadi 3.

Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak. Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit. Dapat menurunkan hipoksia otak. • Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila sputum banyak. Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan. bronchospasme atau masalah terhadap tube. tidak ada peningkatan intrakranial. Dapat mencetuskan respon otomatik penngkatan intrakranial. Berikan obat-obatan yang diindikasikan dengan tepat dan benar (kolaborasi). perdarahan.pengumpulan sputum. Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien. Untuk mengetahui tanda-tanda keadaan syok akibat perdarahan. Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks batang otak. Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang. untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial. pertahankan pengukuran urin dan hindari konstipasi yang berkepanjangan. hipoksia. Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial adalah terganggunya abduksi mata. Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik untuk menarik air dari sel-sel otak sehingga dapat menurunkan udem otak. Hindari batuk yang berlebihan. . menurunkan edema jaringan. Rencana tindakan : Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode GCS. Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik. Pergerakan yang simetris dan suara napas yang bersih indikasi pemasangan tube yang tepat dan tidak adanya penumpukan sputum. Kriteria hasil : Tanda-tanda vital stabil. • Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ). Kejang terjadi akibat iritasi otak. Pengisapan lendir tidak selalu rutin dan waktu harus dibatasi untuk mencegah hipoksia. • Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak Tujuan : Mempertahankan dan memperbaiki tingkat kesadaran fungsi motorik. muntah. mengedan. Meningkatkan ventilasi untuk semua bagian paru dan memberikan kelancaran aliran serta pelepasan sputum. steroid (dexametason) untuk menurunkan inflamasi. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. dan kejang dapat meningkatkan tekanan intrakrania. Obat anti kejang untuk menurunkan kejang. Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat kesadaran.

mulut. oksigen adekuat. Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan. Untuk membina hubungan terpiutik perawat . • Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertemu dengan klien.coma ) Tujuan : Kebutuhan dasar pasien dapat terpenuhi secara adekuat. • Berikan dorongan spiritual untuk keluarga. Penjelasan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerja sama yang dilakukan pada pasien dengan kesadaran penuh atau menurun. mencegah infeksi dan keindahan. pengobatan dan tindakan meningkat. Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan lingkungan. Penjelasan akan mengurangi kecemasan akibat ketidak tahuan. keluarga akan merasa diperhatikan. mandi. Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.keluarga. merupakan kebutuhan dasar akan kenyamanan yang harus dijaga oleh perawat untuk meningkatkan rasa nyaman. Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien. Mempertahankan hubungan pasien dan keluarga. berpakaian. Rencana tindakan : • Bina hubungan saling percaya. Lingkungan yang bersih dapat mencegah infeksi dan kecelakaan. Makanan dan minuman merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan perolehan energi. Rencana Tindakan : Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien. Keikutsertaan keluarga diperlukan untuk menjaga hubungan klien . kalori. eliminasi. Penjelasan perlu agar keluarga dapat memahami peraturan yang ada di ruangan. kebersihan lingkungan terjaga. Kriteria hasil : Kebersihan terjaga.Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak. Dengarkan dengan aktif dan empati. • Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien. Semangat keagamaan dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan keimanan dan ketabahan dalam menghadapi krisis. Diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien baik jumlah. . Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos . Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan yang aman dan bersih. Kebersihan perorangan. Tujuan : Kecemasan keluarga dapat berkurang Kriteri evaluasi : Ekspresi wajah tidak menunjang adanya kecemasan Keluarga mengerti cara berhubungan dengan pasien Pengetahuan keluarga mengenai keadaan. membersihkan mata dan kuku. telinga. dan waktu. nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan.keluarga.

Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Philadelpia. • Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang. • Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema. Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi Rencana tindakan : • Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan sirkulasi perifer untuk menetapkan kemungkinan terjadinya lecet pada kulit. F. tidak adekuatnya sirkulasi perifer. Asikin Z (1991) Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala. Panatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. Mosby Company. Long. Cv. Harsono (1993) Kapita Selekta Neurologi. • Ganti posisi pasien setiap 2 jam • Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien : keadaan lembab akan memudahkan terjadinya kerusakan kulit.E.Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi. • Berikan posisi dalam sikap anatomi dan gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol. DAFTAR KEPUSTAKAAN Doenges M. Davis Company. • Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan. keluar cairan setiap 8 jam. Jakarta. Gadjah Mada University Press Ditulis oleh ASUHAN KEPERAWATAN RIZKI di 3/04/2009 08:47:00 PM Label: Keperawatan Reaksi: Wadung Indah Permai Sukses itu : Selamat dunia dan akhirat Lompat ke isi • • Beranda aplikasi ○ ○ ○ aplikasi java Chating game hp .A. (1989) Nursing Care Plan. • Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 .8 jam dengan menggunakan H2O2. • Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam sekali. Louis.

Pengertian Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak.○ • • • IRC ( Internet Relay Chat ) buku tamu Dunia Dalam Berita FILM ○ Indonesia  Merah Putih 2010 • Game Online ( PC ) ○ ○ Left 4 Dead Point Blank • • • • • Ilmu blogging Kesehatan Request Wisata Tentang Wadung ← Study Kasus Keperawatan Nonton tv online → Laporan Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan Posted on 25 Maret 2010 by Ghandi| Tinggalkan komentar LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA RINGAN Konsep Dasar A. percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan .

dimana penurunan tekanan vaskuler akan menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pada cidera primer dapat terjadi : 1). Hipokapnea 4). Geger kepala ringan 2). b. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktifitas atypical myocardial. Udema otak 5). perubahan tekanan vaskuler dan udema paru. sehingga bila kadar oksigen plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral. jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain. Klasifikasi cidera kepala Cidera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik ( acceselarsi – descelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma. Perubahan otonim pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P aritmia.penurunan percepatan. 2. 1. Laserasi. energi yang dihasilkan di dalam sel – sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Hal ini akan menyebabkan oksidasi metabolisme anaerob. Pada saat otak mengalami hipoksia. Hal ini akan menyebabkan asidosis metababolik. kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan tubuh. Cedera kepala sekunder : timbul gejala seperti : 1). Memar otak 3). Pengaruh persyarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. Komplikasi pernapasan 6). Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit 100 gr. fibrilasi atrium dan ventrikel serta takikardi. Hipotensi sistemik 2). serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Jenis perdarahan yang sering ditemui pada cidera kepala : . Hiperkapnea 3). a. Pada kontusio berat. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler. B. Jaringan otak yang merupakan 15 % dari cardiac output. tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolisme anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.

Epidural hematoma Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater. Komplikasi pernapasan 4). Penurunan nadi 8). dapat terjadi akut dan kronik. Menarik diri 5).a. Nyeri kepala 3). Perubahan tanda – tanda vital . Peningkatan suhu b. Dilatasi pupil ipsilateral 6). Dilatasi pupil 6). Kejang 7). Nyeri kepala 2). pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . Perdarahan intra serebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Gejala – gejalanya : 1). Gejala – gejalanya : 1). 1. kapiler dan vena. Muntah 4). Penurunan tingkat kesadaran 2). Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2 hari. Berfikir lambat 6). Gejala – gejalanya : 1). Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Penurunan kesadaran 3). Bingung 3). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler ) 7). Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis. Hemiparese 5). Udem pupil. Hemiplegi kontra lateral 5). 2 minggu atau beberapa bulan. Mengantuk 4). Nyeri kepala 2). perdarahan lambat dan sedikit. Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak.

Gejala – gejalanya : 1). Kaku kuduk. Hemiparese 4). Pengkajian . Perdarahan Subarachnoid Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. Penurunan kesadaran 3). Hubungan cedera kepala terhadap munculnya masalah keperawatan Asuhan Keperawatan 1.d. Dilatasi pupil ipsilateral 5). hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. 3. Nyeri kepala 2).

tinitus. muntah. 5) Makanan / cairan S 6) : Mual. jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. status perkawinan. adanya liquor dari hidung dan telinga serta kejang. demikian pula riwayat penyakit keluarga yang mempunyai penyakit menular. Riwayat kesehatan Tingkat kesadaran / GCS < 15. suku bangsa. perubahan selera makan Neuro sensori : O : Muntah (mungkin proyektil). 2. convulsi. perubahan penglihatan. atensi dan kinsentarsi) perubahan pupil (respon terhadap cahaya). 3. gangguan pengecapan / pembauan. Riwayat penyakit dahulu barulah diketahui dengan baik yang berhubungan dengan sistem persyarafan maupun penyakit sistem – sistem lainnya. kehilangan penginderaan. Pemeriksaan Fisik 1) Aktifitas / istirahat S : Lemah. takipnea. Perubahan status mental (orientasi. muntah. vertigo.1. O : Perubahan kesadara. depresi dan impulsive O : bab / bak inkontinensia / disfungsi. letargi. Postur (dekortisasi. penghasilan. diplopia. kehilangan pendengaran. desebrasi). Sensitive terhadap sentuhan / gerakan. paralise. 3) Integritas ego S 4) : Perubahan tingkah laku / kepribadian Eliminasi O : Mudah tersinggung. lelah. akumulasi secret pada saluran pernapasan. agama. bingung. guadriparese. 1. wajah simetris atau tidak. Identitas klien dan keluarga ( penanngungjawab ) : nama. umur. 2) Sirkulasi O : Tekanan darah normal atau berubah. cidera pada tulang dan kehilangan tonus otot. pengecapan dan pembauan serta pendengaran. koma. luka di kepala. takhikardi dan aritmia. kaku dan hilang keseimbangan O : Perubahan kesadaran. kejang.goyah dalam berjalan ( ataksia ). lemah. sakit kepala. lokasi. kewaspadaan. alamat golongan darah. hubungan klien dengan penanggungjawab. S : Kehilangan kesadaran sementara. gangguan menelan (batuk. disfagia). nadi bradikardi. hemiparese. Pengumpulan data klien baik subyektif maupun obyektif pada gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk. jenis kelamin. .

2) MRI Digunakan sama dengan CT – Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif. demam. gangguan ROM. napas berbunyi. O : Perubahan pola napas ( apnea. ronchi dan wheezing. 3) Cerebral Angiography Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema. tonus otot hilang kekuatan paralysis. 4) Serial EEG Dapat melihat perkembangan gelombang patologis. stridor . distarsia 1. 7) PET Mendeteksi perubahan aktifitas metabolisme otak. 10) Intensitas sosial O : Afasia. fragmen tulang.perubahan regulasi temperatur tubuh. 6) BAER Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil.Scan ( dengan tanpa kontras ) Mengidentifikasi luasnya lesi. hiperventilasi ). 9) Keamanan S : Trauma / injuri kecelakaan O : Fraktur dislokasi. perdarahan dan trauma. determinan. Pemeriksaan penunjang 1) CT. . 5) X – Ray Mendeteksi perubahan struktur tulang ( fraktur ) perubahan struktur garis ( perdarahan / edema ). 8) CFS Lumbal punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid. gangguan penglihatan. merintih. perdarahan. Repirasi O : Wajah menyeringa.7) Nyeri / rasa nyaman S 8) : Sakit kepala dengan intensitas dan lokai yang berbeda. ventrikuler dan perubahan jaringan otak.

Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasai. tidak adekuatnya sirkulasi perifer. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal. Pemberian informasi tentang proses penyakit. Mencegah komplikasi 3). 4). 4. 2. prognosis. 10) Kadar elektrolit Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intrakranial. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan 5). rencana. Prioritas Masalah : 1). 11) Screen Toxicologi Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran. Proses penyakit.9) ABGs Mendeteksi keradangan ventilasi atau masalah pernapasan ( oksigenisasi ) jika terjadi peningkatan tekanan intra cranial. 6. defisit neurologis berkurang/ tetap 2). Kecemasan keluarga berhubungan dengan keadaan yang kritis pada pasien. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan udema pada otak. Penatalaksanaan Konservatif : Bedres total Pemberian obat – obatan Observasi tanda – yanda vital ( GCS dan tingkat kesadaran). Diagnosa Keperawatan 1. Kebutuhan sehari – hari dapat terpenuhi sendiri atau dibantu oleh orang lain 4). pengobatan dan rehabilitasi. Tujuan : 1). Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pada pusat napas di otak. . Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan penurunan kesadaran (Soporous koma) 5. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sputum 3. Memaksimalkan perfusi / fungsi otak 2). 1. prognosis. Komplikasi tidak terjadi 3). Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga 5). Fungsi otak membaik. program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi.

Daftar Putaka Asikin Z. BC and Phipps WJ. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Davis Company Harsono. Nama Umur Suku / bangsa Agama Identitas : Tn Cahyono : 21 tahun : Jawa / Indonesia : Islam : Mahasiswa : Kedaton / Jombang : Sumiatun : 45 tahun : Jawa / Indonesia : Islam : SMP / Wiraswasta : Orang tua / ibu kandung : Kedaton / Jombang Pendidikan/pekerjaan Alamat Penannggung jawab : Nama Umur Suku / bangsa Agama Pendidikan/pekerjaan Hubungan dengan klien Alamat II. Yogyakarta. (1991). Agenda Gawat Darurat. Fraktur Maksilla F II – F III I. F. Alasan Masuk Rumah Sakit Alasan di rawat : Tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari kendaraan sepeda motor Upaya yang dilakukan : Langsung membawa klien ke IRD RSUD Dr. Philadelpia. M. CV. Doenges. Kariasa I Made. (Jakarta). Jakarta. . Essensial of Medical Surgical Nursing : A Nursing process Approach St. E. Gajah Mada University Press. Nursing Care Plan. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Cedera Kepala. Long. (1998). Simposium Keperawatan Penderita Cidera kepala Penatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. Mosby Company. Soetomo.A. (1997). Penerbit Alumni. Bandung. Tabrani. Guidelines For Planning Patient Care (2 nd ). TINJAUAN KASUS Tanggal Pengkajian Tanggal Masuk Rumah Sakit Ruangan / Tempat Diagnosa Masuk : 8 April 2002 : 7 April 2002 : Ruangan Bedah F RS Dr. (1989). (1993) Kapita Selekta Neurologi. Soetomo : COS + Fraktur Basis Cranii. (1985).

Kemudian klien di bawa ke IRD RSUD Dr. 3. GCS pada saat di IRD ExV4M6. Diabetes Mellitus tidak ada. Keadaan kesehatan lingkungan 3. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit sebelumnya Klien sebelumnya tidak pernah menderita penyakit yang kronis / penyakit keturunan. Soetomo.1. selanjutnya klien pingsan dan temannya yang minta bantuan pada orang yang lewat. 1.Klien baru pertama kali di opname di Rumah Sakit III.5.3 Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak dikaji.2 Riwayat penyakit sekarang Klien tidak sadarkan diri / pingsan setelah jatuh ke selokan karena menghindar dari truk yang berkecepatan tinggi pada tanggal 7 April 2002. batuk dan pilek saja. Genogram Keterangan .4. Posisi jatuh tidak diketahui . klien selama ini hanya menderita penyakit panas. Asthma Bronchiale tidak ada. Tidak ada keluarga yang memiliki penyakit genetic maupun penyakit menular yang berbahaya. 3. 3.

= Laki – laki = Perempuan = Tinggal dalam satu rumah. kram kaki tidak ada.Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan 1. sakit kepala sebelah kanan. pusing tidak ada. Frekuensi napas : 20 x / menit Kardiovaskuler Nyeri dada tidak ada. agak gelisah.8 0C : 20 x / menit Hidung Trakhea Dada Suara napas cyanosis tidak. gizi cukup. Clubbing finger tidak ada. palpitasi tidak ada.4. edema palpebra S/D : +/+ . Observasi dan Pemeriksaan Fisik 1. b) : Nampak kotor karena adanya sisa darah yang kering : Dalam Batas normal : Bentuk simetris. = Klien IV. batuk tidak ada. tidak ada suara tambahan.Body Sistem a) Pernapasan : 90/60 mm Hg : 84 x / menit : 36. GCS E3V4M6 : Deformitas wajah baik.2.3. terpasang infus DS – ½ – NS 1500 cc / 24 jam dan manitol 4 x 100 cc pada tangan kiri dan terpasang Dower kateter 1. c) Persyarafan Kesadaran Kepala dan wajah : baik.Keadaan Umum Kesadaran baik. jejas tidak ada : Vesikuler. sputum tidak ada. Badan klien nampak bersih. GCS E3V4M6. gerakan simetris.

Mata kebiruan. hemiparese tidak ada. paralise. makanan yang diberikan adalah bubur saring dan susu. Gangguan saat kencing : Tidak ada Makan dan minum : Mulut : Tampak kotor dengan darah yang mongering. tidak. simetris : Selama 2 hari ini klien belum BAB : belum digunakan : Belum dilakukan : Tidak ada. gigi depan atas dan bawah keluar sebanyak 4 dan 3. Leher Refleks fisiologis Refleks Pathologis Pendengaran Penciuman Pengecapan Penglihatan Perabaan Lainnya d) : Dalam batas normal : Normal : Babinski negatif : kanan / kiri normal : Normal : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak ada. Tulang otot dan integumen 5 5 5 Kemampuan pergerakan sendi Parese tidak ada. . udem pada daerah bibir. Tenggorokan Abdomen BAB Obat pencahar Lavamen Lain – lain f) 5 : Tidak ada kelainan : jejas tidak ada. Perkemihan / eliminasi urine Produksi urine Warna urine Lainnya e) : kurang lebih 1300 cc / 24 jam : Kuning agak kemerahan : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002. tidak dapat menutup mulut dengan rapat. peristaltik baik. :Mata agak sulit dibuka karena pada daerah palpebra oedema dan nampak Mulut : Bengkak pada daerah bibir. Porsi yang diberikan dapat dihabiskan. terdapat darah yang mengering pada daerah mulut. Klien tidak dapat mengunyah dengan sempurna.

Sistem Endokrin Terapi hormon :normal Rambut dan kulit Exopthalmus Goiter Hipoglikemia :tidak ada Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik Perubahan ukuran kepala :tidak mengalami kelainan : Tidak nampak kering : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Toleransi terhadap panas : Ya Toleransi terhadap dingin : Ya Polidipsi Poliuri Polipagi Postural hipotensi Kelemahan h) : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada.Ekstremitas atas Ekstremitas bawah Warna kulit Akral Turgor kulit ADL g) : Tidak terdapat kelainan : Terdapat luka lecet pada lutut kanan yang mengering. k) Spritual Sewaktu belum sakit klien menjalankan sholat 5 waktu secara teratur. dan selama sakit klien tidak lagi melaksanakannya. Laki – laki j) Psikososial Klien dapat berinteraksi dengan baik kepada petugas kesehatan. : Testis ada. Sistem Hemopoitik Diagnosa penyakit hemopoitik yang lalu : Tidak ada Anemia Kecenderungan perdarahan Transfusi darah Golongan darah i) Reproduksi : Tidak ada : Tidak ada : Tidak pernah : O. . : Sawo matang : Hangat : Baik : Klien saat ini masih berbaring di tempat tidur. penis normal.

Pemberian manitol 4 x 100 cc .4 gr % : 20.Scan ICH Parieto Occipital dextra.392 : 34. Tanggal 8 April 2002 1. Maxilla LF II – III + Hematosinus dextra dan sinistra. Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas. Nadi : 84 x / menit.8 OC Pernapasan 20 x / menit.4 : – 4.35 – 7. Fronto parietal dextra. Tekanan darah : 90/ 60 mmHg. fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra. Fraktur Zygoma Dextra. Suhu : 36. dinding lateral orbita dextra Analisa : COS + SFBC + FR.6 ( N : 7.000 : 7.9 : 20. 1. Hb Leuko Trombo PH PCO2 PO2 HCO3 BE Pemeriksaan Penunjang : 13.600 : 181.3 – +1. Therapy Voltaren 3 x 1 amp Rantin 3 x 1 amp Cedantron 3 x 1 amp Dilantin 3 x 1 amp Manitol 4 x 100 cc Infus DS ½ – NS VII. BGA : 1. Gangguan perfusi darah otak berhubungan dengan oedema serebri dengandata penunjang : Sewaktu kecelakaan pasien tidak sadarakan diri GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra. Rencana Acara : Operasi fraktur maxilla VI.45 ) ( N : 35 – 45 ) ( N : 80 – 104 ) ( N : 21 – 25 ) ( N : – 3.2 ) 1. CT.V.2 : 217.

Nadi : 84 x / menit. Pemberian cedantion 3 x 1 amp Pemberian voltaren 3 x 1 amp 4. Gangguan oral hygiene berhubungan dengan perawatan mulut yang tidak optimal dengan data penunjang : i Wadung Indah Permai Sukses itu : Selamat dunia dan akhirat Lompat ke isi • • Beranda aplikasi ○ ○ ○ ○ • • aplikasi java Chating game hp IRC ( Internet Relay Chat ) Klien mengatakan rasa nyeri sewaktu membuka mulut Oedema pada daerah mulut Gigi tanggal sebanyak 7 buah Terdapatnya darah kering sekitar mulut dan hidung buku tamu Dunia Dalam Berita . Resiko terjadinya peningkatan TIK berhubungan dengan gangguan oksigenisasi ke otak dengan data penunjang : GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra. Suhu : 36.2.8 OC Pernapasan 20 x / menit. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter dan infus dengan data penunjang : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002 Terpasang infus sejak tanggal 7 April 2002 Pengeluaran urine sebanyak 1300 cc/ 24 jam melalui selang kateter. fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra. Tekanan darah : 90/ 60 mmHg. Pemberian Dilantin 3 x 1 amp 3.

B. serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.• FILM ○ Indonesia  Merah Putih 2010 • Game Online ( PC ) ○ ○ Left 4 Dead Point Blank • • • • • Ilmu blogging Kesehatan Request Wisata Tentang Wadung ← Study Kasus Keperawatan Nonton tv online → Laporan Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan Posted on 25 Maret 2010 by Ghandi| Tinggalkan komentar LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA RINGAN Konsep Dasar A. Pengertian Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak. percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan. Patofisiologi .

Klasifikasi cidera kepala Cidera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik ( acceselarsi – descelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Hiperkapnea 3). sehingga bila kadar oksigen plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral. 1. Hal ini akan menyebabkan asidosis metababolik. Laserasi. hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. 2. Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain. kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan tubuh. a. Cedera kepala sekunder : timbul gejala seperti : 1). Udema otak 5). Jaringan otak yang merupakan 15 % dari cardiac output. Memar otak 3). perubahan tekanan vaskuler dan udema paru. Pada kontusio berat. Hipotensi sistemik 2). Jenis perdarahan yang sering ditemui pada cidera kepala : Epidural hematoma Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma. Perubahan otonim pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P aritmia.Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. a. Pada saat otak mengalami hipoksia. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler. energi yang dihasilkan di dalam sel – sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Geger kepala ringan 2). Hipokapnea 4). tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolisme anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit 100 gr. Pengaruh persyarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. b. Komplikasi pernapasan 6). Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. Pada cidera primer dapat terjadi : 1). dimana penurunan tekanan vaskuler akan menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. . Hal ini akan menyebabkan oksidasi metabolisme anaerob. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktifitas atypical myocardial. fibrilasi atrium dan ventrikel serta takikardi.

Komplikasi pernapasan 4). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler ) 7). Kejang 7). Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2 hari. hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. Mengantuk 4). Peningkatan suhu b. kapiler dan vena. Gejala – gejalanya : 1). Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Penurunan tingkat kesadaran 2). Nyeri kepala 3). . Hemiplegi kontra lateral 5). 2 minggu atau beberapa bulan. Berfikir lambat 6). Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. dapat terjadi akut dan kronik. Udem pupil. perdarahan lambat dan sedikit. Bingung 3). Nyeri kepala 2). Penurunan kesadaran 3). 1. Perubahan tanda – tanda vital d. Dilatasi pupil 6). Perdarahan intra serebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. Hemiparese 5). Perdarahan Subarachnoid Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. Gejala – gejalanya : 1). Menarik diri 5).pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . Nyeri kepala 2). Gejala – gejalanya : 1). Dilatasi pupil ipsilateral 6). Muntah 4). Penurunan nadi 8). Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak.

jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Hubungan cedera kepala terhadap munculnya masalah keperawatan Asuhan Keperawatan 1. 3. Dilatasi pupil ipsilateral 5). Pengkajian 1. lokasi. Penurunan kesadaran 3). Kaku kuduk. .Gejala – gejalanya : 1). Pengumpulan data klien baik subyektif maupun obyektif pada gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk. Nyeri kepala 2). Hemiparese 4).

perubahan selera makan Neuro sensori : O : Muntah (mungkin proyektil). S : Kehilangan kesadaran sementara. depresi dan impulsive O : bab / bak inkontinensia / disfungsi. 1. kehilangan pendengaran. Pemeriksaan Fisik 1) Aktifitas / istirahat S : Lemah. jenis kelamin. adanya liquor dari hidung dan telinga serta kejang. atensi dan kinsentarsi) perubahan pupil (respon terhadap cahaya). pengecapan dan pembauan serta pendengaran. nadi bradikardi. lelah. suku bangsa. sakit kepala. paralise. takhikardi dan aritmia.goyah dalam berjalan ( ataksia ). hemiparese. hubungan klien dengan penanggungjawab. cidera pada tulang dan kehilangan tonus otot. kewaspadaan.2. Postur (dekortisasi. agama. O : Perubahan kesadara. . merintih. disfagia). tinitus. penghasilan. takipnea. diplopia. kejang. Perubahan status mental (orientasi. Identitas klien dan keluarga ( penanngungjawab ) : nama. desebrasi). wajah simetris atau tidak. status perkawinan. 3. O : Wajah menyeringa. perubahan penglihatan. umur. muntah. gangguan menelan (batuk. vertigo. kaku dan hilang keseimbangan O : Perubahan kesadaran. 7) Nyeri / rasa nyaman S : Sakit kepala dengan intensitas dan lokai yang berbeda. muntah. Sensitive terhadap sentuhan / gerakan. 3) Integritas ego S 4) : Perubahan tingkah laku / kepribadian Eliminasi O : Mudah tersinggung. luka di kepala. bingung. 2) Sirkulasi O : Tekanan darah normal atau berubah. Riwayat kesehatan Tingkat kesadaran / GCS < 15. guadriparese. akumulasi secret pada saluran pernapasan. lemah. letargi. demikian pula riwayat penyakit keluarga yang mempunyai penyakit menular. 5) Makanan / cairan S 6) : Mual. convulsi. gangguan pengecapan / pembauan. koma. Riwayat penyakit dahulu barulah diketahui dengan baik yang berhubungan dengan sistem persyarafan maupun penyakit sistem – sistem lainnya. alamat golongan darah. kehilangan penginderaan.

hiperventilasi ). napas berbunyi. 8) CFS Lumbal punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.perubahan regulasi temperatur tubuh. 2) MRI Digunakan sama dengan CT – Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif. ronchi dan wheezing. stridor . fragmen tulang. demam. 7) PET Mendeteksi perubahan aktifitas metabolisme otak. 6) BAER Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil. perdarahan dan trauma. 5) X – Ray Mendeteksi perubahan struktur tulang ( fraktur ) perubahan struktur garis ( perdarahan / edema ).8) Repirasi O : Perubahan pola napas ( apnea. 9) ABGs Mendeteksi keradangan ventilasi atau masalah pernapasan ( oksigenisasi ) jika terjadi peningkatan tekanan intra cranial. determinan. tonus otot hilang kekuatan paralysis. 4) Serial EEG Dapat melihat perkembangan gelombang patologis. gangguan penglihatan. . Pemeriksaan penunjang 1) CT. 9) Keamanan S : Trauma / injuri kecelakaan O : Fraktur dislokasi. perdarahan. 10) Intensitas sosial O : Afasia. 3) Cerebral Angiography Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema. ventrikuler dan perubahan jaringan otak. distarsia 1.Scan ( dengan tanpa kontras ) Mengidentifikasi luasnya lesi. gangguan ROM.

pengobatan dan rehabilitasi. prognosis. Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan penurunan kesadaran (Soporous koma) 5. (1991). tidak adekuatnya sirkulasi perifer. 4). (Jakarta). Kecemasan keluarga berhubungan dengan keadaan yang kritis pada pasien. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal. Fungsi otak membaik. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sputum 3. 6. 1. Memaksimalkan perfusi / fungsi otak 2). 4. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga 5). prognosis. defisit neurologis berkurang/ tetap 2). Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan 5). Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasai. Simposium Keperawatan Penderita Cidera kepala Penatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. Pemberian informasi tentang proses penyakit. Kebutuhan sehari – hari dapat terpenuhi sendiri atau dibantu oleh orang lain 4). Tujuan : 1). Mencegah komplikasi 3). Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan udema pada otak. 2. Penatalaksanaan Konservatif : Bedres total Pemberian obat – obatan Observasi tanda – yanda vital ( GCS dan tingkat kesadaran). Prioritas Masalah : 1). Daftar Putaka Asikin Z. program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi. Diagnosa Keperawatan 1. 11) Screen Toxicologi Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran. Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.10) Kadar elektrolit Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intrakranial. Proses penyakit. . Komplikasi tidak terjadi 3). rencana.

Long. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Gajah Mada University Press. (1998). Nama Umur Suku / bangsa Agama Identitas : Tn Cahyono : 21 tahun : Jawa / Indonesia : Islam : Mahasiswa : Kedaton / Jombang : Sumiatun : 45 tahun : Jawa / Indonesia : Islam : SMP / Wiraswasta : Orang tua / ibu kandung : Kedaton / Jombang Pendidikan/pekerjaan Alamat Penannggung jawab : Nama Umur Suku / bangsa Agama Pendidikan/pekerjaan Hubungan dengan klien Alamat II. Kariasa I Made. Agenda Gawat Darurat. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Cedera Kepala. Bandung. M. CV. TINJAUAN KASUS Tanggal Pengkajian Tanggal Masuk Rumah Sakit Ruangan / Tempat Diagnosa Masuk : 8 April 2002 : 7 April 2002 : Ruangan Bedah F RS Dr. Philadelpia. Essensial of Medical Surgical Nursing : A Nursing process Approach St. Riwayat Kesehatan . Guidelines For Planning Patient Care (2 nd ). Alasan Masuk Rumah Sakit Alasan di rawat : Tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari kendaraan sepeda motor Upaya yang dilakukan : Langsung membawa klien ke IRD RSUD Dr. Jakarta. Nursing Care Plan. Davis Company Harsono. Klien baru pertama kali di opname di Rumah Sakit III. Tabrani. F. Mosby Company. Yogyakarta. Soetomo. Soetomo : COS + Fraktur Basis Cranii. (1989). (1997). (1993) Kapita Selekta Neurologi. Penerbit Alumni.A. BC and Phipps WJ. E.Doenges. (1985). Fraktur Maksilla F II – F III I.

3. Keadaan kesehatan lingkungan 3.2 Riwayat penyakit sekarang Klien tidak sadarkan diri / pingsan setelah jatuh ke selokan karena menghindar dari truk yang berkecepatan tinggi pada tanggal 7 April 2002. Riwayat Penyakit sebelumnya Klien sebelumnya tidak pernah menderita penyakit yang kronis / penyakit keturunan. Genogram Keterangan = Laki – laki = Klien . Asthma Bronchiale tidak ada. Posisi jatuh tidak diketahui . Soetomo. klien selama ini hanya menderita penyakit panas.5. 3. Kemudian klien di bawa ke IRD RSUD Dr. Tidak ada keluarga yang memiliki penyakit genetic maupun penyakit menular yang berbahaya. batuk dan pilek saja.1. GCS pada saat di IRD ExV4M6. 3.4.1. Diabetes Mellitus tidak ada.3 Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak dikaji. selanjutnya klien pingsan dan temannya yang minta bantuan pada orang yang lewat.

gizi cukup. Frekuensi napas : 20 x / menit Kardiovaskuler Nyeri dada tidak ada.4.8 0C : 20 x / menit Hidung Trakhea Dada Suara napas cyanosis tidak. gigi depan atas dan bawah keluar sebanyak 4 dan 3. GCS E3V4M6.Keadaan Umum Kesadaran baik. sakit kepala sebelah kanan. sputum tidak ada. b) : Nampak kotor karena adanya sisa darah yang kering : Dalam Batas normal : Bentuk simetris. terpasang infus DS – ½ – NS 1500 cc / 24 jam dan manitol 4 x 100 cc pada tangan kiri dan terpasang Dower kateter 1.Body Sistem a) Pernapasan : 90/60 mm Hg : 84 x / menit : 36.3. pusing tidak ada. GCS E3V4M6 : Deformitas wajah baik. terdapat darah yang mengering pada daerah mulut. Clubbing finger tidak ada. Observasi dan Pemeriksaan Fisik 1. tidak ada suara tambahan. Badan klien nampak bersih. palpitasi tidak ada. IV. gerakan simetris.Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan 1. batuk tidak ada. Leher Refleks fisiologis : Dalam batas normal : Normal . : baik. edema palpebra S/D : +/+ :Mata agak sulit dibuka karena pada daerah palpebra oedema dan nampak Mulut : Bengkak pada daerah bibir.= Perempuan = Tinggal dalam satu rumah. c) Persyarafan Kesadaran Kepala dan wajah Mata kebiruan. agak gelisah. jejas tidak ada : Vesikuler. kram kaki tidak ada.2.

simetris : Selama 2 hari ini klien belum BAB : belum digunakan : Belum dilakukan : Tidak ada. Gangguan saat kencing : Tidak ada Makan dan minum : Mulut : Tampak kotor dengan darah yang mongering.Refleks Pathologis Pendengaran Penciuman Pengecapan Penglihatan Perabaan Lainnya d) : Babinski negatif : kanan / kiri normal : Normal : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak ada. hemiparese tidak ada. Klien tidak dapat mengunyah dengan sempurna. : Sawo matang : Hangat : Baik . tidak. Tenggorokan Abdomen BAB Obat pencahar Lavamen Lain – lain f) 5 : Tidak ada kelainan : jejas tidak ada. Ekstremitas atas terdapat kelainan Ekstremitas bawah Warna kulit Akral Turgor kulit : Tidak : Terdapat luka lecet pada lutut kanan yang mengering. udem pada daerah bibir. tidak dapat menutup mulut dengan rapat. makanan yang diberikan adalah bubur saring dan susu. Porsi yang diberikan dapat dihabiskan. Perkemihan / eliminasi urine Produksi urine Warna urine Lainnya e) : kurang lebih 1300 cc / 24 jam : Kuning agak kemerahan : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002. Tulang otot dan integumen 5 5 5 Kemampuan pergerakan sendi Parese tidak ada. paralise. peristaltik baik.

dan selama sakit klien tidak lagi melaksanakannya. V. k) Spritual Sewaktu belum sakit klien menjalankan sholat 5 waktu secara teratur.600 1.4 gr % : 20. Hb Leuko Pemeriksaan Penunjang : 13. Sistem Endokrin Terapi hormon :normal Rambut dan kulit Exopthalmus Goiter Hipoglikemia :tidak ada Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik Perubahan ukuran kepala :tidak mengalami kelainan : Tidak nampak kering : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Toleransi terhadap panas : Ya Toleransi terhadap dingin : Ya Polidipsi Poliuri Polipagi Postural hipotensi Kelemahan h) : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada. Laki – laki j) Psikososial Klien dapat berinteraksi dengan baik kepada petugas kesehatan.ADL g) : Klien saat ini masih berbaring di tempat tidur. : Testis ada. penis normal. Sistem Hemopoitik Diagnosa penyakit hemopoitik yang lalu : Tidak ada Anemia Kecenderungan perdarahan Transfusi darah Golongan darah i) Reproduksi : Tidak ada : Tidak ada : Tidak pernah : O. Tanggal 8 April 2002 .

Resiko terjadinya peningkatan TIK berhubungan dengan gangguan oksigenisasi ke otak dengan data penunjang : GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra. Gangguan perfusi darah otak berhubungan dengan oedema serebri dengandata penunjang : Sewaktu kecelakaan pasien tidak sadarakan diri GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra.45 ) ( N : 35 – 45 ) ( N : 80 – 104 ) ( N : 21 – 25 ) ( N : – 3. Nadi : 84 x / menit. Pemberian manitol 4 x 100 cc 2. CT.35 – 7. Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas.Trombo PH PCO2 PO2 HCO3 BE : 181. 1. Rencana Acara : Operasi fraktur maxilla VI. Fronto parietal dextra.8 OC Pernapasan 20 x / menit. Therapy Voltaren 3 x 1 amp Rantin 3 x 1 amp Cedantron 3 x 1 amp Dilantin 3 x 1 amp Manitol 4 x 100 cc Infus DS ½ – NS VII.2 ) 1. dinding lateral orbita dextra Analisa : COS + SFBC + FR.6 ( N : 7. . fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra.000 : 7. Fraktur Zygoma Dextra. fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra. Tekanan darah : 90/ 60 mmHg.392 : 34. Maxilla LF II – III + Hematosinus dextra dan sinistra. BGA : 1.4 : – 4.Scan ICH Parieto Occipital dextra.9 : 20.2 : 217.3 – +1. Suhu : 36.

8 OC Pernapasan 20 x / menit. Gangguan oral hygiene berhubungan dengan perawatan mulut yang tidak optimal dengan data penunjang : i Klien mengatakan rasa nyeri sewaktu membuka mulut Oedema pada daerah mulut Gigi tanggal sebanyak 7 buah Terdapatnya darah kering sekitar mulut dan hidung 9 Votes This entry was posted in Asuhan Keperawatan and tagged Asuhan Keperawatan. ← Study Kasus Keperawatan Nonton tv online → Suka Be the first to like this post. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter dan infus dengan data penunjang : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002 Terpasang infus sejak tanggal 7 April 2002 Pengeluaran urine sebanyak 1300 cc/ 24 jam melalui selang kateter. KMB. Bookmark the permalink. Tinggalkan Balasan Cancel reply Top of Form Your email address will not be published. Required fields are marked * Nama * . Wadung Indah Permai. Nadi : 84 x / menit.Tekanan darah : 90/ 60 mmHg. Suhu : 36. Wadung. Pemberian cedantion 3 x 1 amp Pemberian voltaren 3 x 1 amp 4. Pemberian Dilantin 3 x 1 amp 3.

Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Komentar tulisan 298 0 1295687181 Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel.com Mengubah Tampilannya. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. 211989d418 Bottom of Form • Cari itu! Top of Form Cari Pencarian untuk: Bottom of Form • Entri Terkini ○ ○ ○ ○ ○ Cinta Sejati Kisah Anak Kuliahan Gendowor. Keren The New Social Network From Indonesia ( Generation Indonesia Social Network ) Gendowor rute ke bali .

com. EXd=document. EXd.write("").EXw=EXs.//--> Theme: Coraline by Automattic Blog pada WordPress. EXref? EXref=EXref:EXref=EXd.colorDepth:EXb=EXs.○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Update status seperti dari blackberry telpon umum kantor pos daftar asuhan keperawatan 5 mei 2010 Asuhan Keperawatan blog sahabat Jangan Terlalu Sering Menahan BAB Asuhan Keperawatan cintul blog Ilunk.javaEnabled()==1?EXjv="y":EXjv="n".width. navigator.com Situs Download Lagu Mp3 Gratis Watch Hellcats Online watch the vampire diaries online • Tautan • <!-.referrer.appName!="Netscape"? EXb=EXs.EXsrc="src".pixelDepth.var EXlogin='wadunkz' // Login var EXvsrv='s10' // VServer EXs=screen.EXb?"":EXb="na". .EXw?"":EXw="na".navigator.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->