P. 1
Contoh Pengajuan Proposal Tugas Akhir

Contoh Pengajuan Proposal Tugas Akhir

|Views: 6,961|Likes:
Semoga bermanfaat...silahkan di print :D
Semoga bermanfaat...silahkan di print :D

More info:

Published by: Isfadjar Djaka Mulya on Jan 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

pdf

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INDUSTRI PENGOLAHAN TEPUNG IKAN DI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA
(Study Kasus Kab. Kulon Progo, Kab. Bantul dan Kab. Gunung Kidul) Usulan Proposal Tugas Akhir

Diajukan oleh : MOH. ISFADJAR DJAKA MULYA NIM : 4055111003

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA 2011
PRODI TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL
Proposal Tugas Akhir dengan judul “Analisis Studi Kelayakan Industri Pengolahan Tepung Ikan Di Provinsi D.I. Yogyakarta” ini telah diperiksa keaslian dan kelayakan judulnya oleh Tim Vertifikasi Tugas Akhir Program Studi Teknik Industri FTI UTY pada : Hari Tanggal : :

Ketua Tim Verifikasi Judul

(

)

PRODI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA PROPOSAL TUGAS AKHIR
Nama NIM Judul Tugas Akhir : Moh. Isfadjar Djaka Mulya : 4055111003 : “Analisis Studi Kelayakan Industri Pengolahan Tepung Ikan Di Provinsi D.I. Yogyakarta” : Masrul Indrayana, ST.MT : Semester Ganjil Tahun 2010/2011 Yogyakarta,.......................... Yang mengusulkan,

Pembimbing Dilaksanakan

Moh. Isfadjar Djaka Mulya

Menyetujui, Pembimbing,

Masrul Indrayana, ST, MT Mengetahui, Ketua Program Studi Teknik Industri,

Suseno, STP. MT I. 1. 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Berkembangnya usaha peternakan dan budidaya ikan di Indonesia telah menaikkan tingkat penggunaan tepung ikan. Sementara produksi tepung ikan di dalam negeri belum mencukupi kebutuhannya, sehingga posisi Indonesia sebenarrnya memiliki potensi yang besar bagi pengembangan produksi tepung ikan. Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86% Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 857.782 ton, 80% diantaranya didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional hanya sekitar 6%. Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, dua per tiga wilayah Indonesia terdiri dari laut, potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005, total produksi perikanan 4,71 juta ton, dimana 75% (3,5 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Apabila dilihat dari tingkat pemanfaatan, terutama untuk ikanikan non ekonomis belum optimal. Hal ini disebabkan pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah (DKP,2007). Secara geografis, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak berbatasan dengan Samudera Hindia. Panjang garis pantai Provinsi DIY sebesar 113 km atau 61,02 mil yang secara administratif masuk kedalam 3 wilayah kabupaten, yaitu Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo. Sehingga masih tersedia cukup peluang untuk meningkatkan usaha (Murtidjo, 2005). Tepung ikan (fish meal) adalah salah satu produk ikan awetan dalam bentuk kering yang berupa tepung. Produk tersebut mengandung protein hewani yang tinggi dan merupakan bahan baku yang diperlukan dalam penyusunan formulasi pakan ternak, ikan, pembuatan biskuit maupun dalam pembuatan mie yang bila ditinjau dari kualitasnya. Hal ini disebabkan karena bahan baku tepung ikan mengandung protein tinggi dan asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh. Selain itu nilai biologisnya mencapai 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna (Adawiyah, 2007). Tepung ikan umumnya diolah dari ikan-ikan yang bernilai

ekonomi rendah, hasil samping penangkapan (by catch) atau persediaan ikan saat produksi hasil tangkapan nelayan melimpah. Untuk membuat tepung ikan sebenarnya dapat digunakan semua jenis ikan, tetapi hanya ikan pelagis dan demersal saja yang banyak digunakan sebagai bahan baku. Oleh karena itu, selama ikan masih mungkin dikomsumsi segar oleh masyarakat. Tidaklah layak bila ikan dijadikan tepung ikan karena akan terjadi persaingan harga pembelian bahan baku. 1. 2. Rumusan Masalah

Melihat latar belakang permasalahan maka masalah yang dirumuskan yaitu : a. Bagaimana informasi mengenai manfaat industri tepung ikan dan kelayakannya, bermanfaat bagi pelaku usaha dan investor. b. Bagaimana melakukan analisa kelayakan industri pengolahan tepung ikan yang ditinjau berdasarkan aspek produksi dan teknologi, aspek pemasaran, aspek keuangan serta aspek sosial budaya. c. Bagaimana melakukan analisa terhadap meramalkan permintaan dan penjualan ketersediaan bahan baku yang dapat dipengaruhi oleh iklim (cuaca). d. Bagaimana menganalisis ketahanan industri pengolahan tepung ikan di masa mendatang. 1. 1. Batasan Masalah Dalam penyusunan tugas akhir ini, untuk mengatasi permasalahan yang ada maka penyusun membatasi permasalahan sebagai berikut : 1. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan ikan pelagis terutama ikan rucah dan ekor kuning sebagai bahan baku utama. 2. Penetuan lokasi industri pengolahan tepung ikan dengan menggunakan pendekatan AHP (Analytical Hierarki Process). 3. Aspek pemasaran dibatasi pada analisis pasar dan ketersediaan bahan baku. 4. Aspek keuangan meliputi aliran kas, besarnya investasi, serta analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku, penurunan harga jual dan penurunan penjualan

5. Kemampuan penyediaan modal investor diasumsikan tak terbatas dan sebagai modal pinjaman. 6. Perencanaan yang dibuat dalam penelitian ini adalah 5 tahun (lima tahun) 20102015. 1. 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk studi kelayakan industri pengolahan tepung ikan dengan fokus perencanaan di wilayah pesisir laut Yogyakarta, harapan-harapan yang ingin dicapai dengan pengembangan penelitian ini adalah: a) Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk peluang investasi di bidang industri tepung ikan yang sangat potensial untuk dikembangkan. b) Menentukan kelayakan industri tepung ikan sebagai bahan pakan alternatif ditinjau dari aspek teknik produksi dan teknologi, aspek pemasaran, aspek keuangan serta aspek sosial budaya. c) Memaksimalkan pemanfaatan hasil tangkap ikan nelayan dari nilai ekonomis rendah menjadi penunjang industri pengolahan tepung ikan bernilai ekonomi tinggi. d) Mengukur kadar kualitas tepung ikan (Fish Meal) yang ada, dari ikan rucah dan ekor kuning sebagai sampling standard untuk produksi sesuai kualitas FAO. 1. 1. Manfaat Penelitian Sebagai langka awal dalam mengolah potensi sumber daya kelautan, khususnya industri tepung ikan, maka diharapkan dapat beguna bagi : 1) Masyarakat  Penelitian ini ini diharapkan mampu menjadi alternatif solusi untuk meningkatkat kualitas kebutuhan protein dari pangan masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi D.I. Yogyakarta.  Memberikan informasi tentang tingkat kelayakan pabrik produksi pengolahan tepung ikan bagi instansi pemerintah dan masyarakat.  Sebagai alternatif pakan ikan budidaya mayarakat dengan kandungan protein yang tinggi.

 Masyarakat, dapat meningkatkan pendapatan melalui usaha tepung ikan yang berkualitas. 1) Nelayan  Peluang mengembangkan pengolahan industri tepung ikan sebagai home industry secara legal.  Sebagai alternatif penghasilan tambahan dikala sedang tidak melaut.  Meningkatkan pengetahuan secara terperinci mengenai manfaat ikan rucah secara ekonomi. 1) Pemerintah .  Pemerintah Daerah, dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan masuknya investor untuk menanamkan modalnya dalam membangun industri tepung ikan.  Peluang dalam meningkatkan pembangunan infrastruktur dengan masuknya investor.  Dapat menampung tenaga kerja yang ada.  Sebagai sarana informasi peluang investasi kapada investor, sehingga dapat melakukan investasi pada sektor perikanan, khususnya industri tepung ikan. I. 2 .1. TINJAUAN PUSTAKA Tepung Ikan (Fish Meal) Fish Meal dikenal juga dengan tepung ikan adalah salah satu sumber gizi yang lengkap dan sangat potensial dalam pembuatan pakan. Faktor yang sangat penting dalam pengembangan usaha peternakan dan budidaya ikan adalah tersedianya pakan sehingga untuk menstimulasi produksi tersebut selain mengusahakan adanya pakan alami juga perlu ditambahkan pakan tambahan yang merupakan sumber gizi yang dapat melengkapi pakan alami. Pakan tersebut harus mempunyai kandungan gizi yang lengkap berupa protein, asam amino, lemak, asam lemak, vitamin, kalori dan mineral yang akan mampu meningkatkan produksi (Sunarya dan Saleh, 1990). Adapun klasifikasi kadar protein dengan nilai gizi tepung ikan dengan jenis bahan-bahan pakan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.1. Kandungan Protein Bahan Pakan Ikan

Nama bahan Tepung Teri Tepung Ikan Tepung Darah Tepung bekicot Tepung Ikan Tepung Kedelai Tepung Terigu Dedak Halus Tepung Jagung Tepung Singkong Bungkil Kelapa Tepung Ayam Segar

Protein 63.71 47.47 80.85 39 62.99 46.8 12.27 13.3 9.5 0.85 24.0 15.51

Lemak 4.21 8.95 5.61 9.33 6.01 5.31 1.16 2.4 3.22 0.3 8.0 0.21

Serat 3.6 4.49 0 1.05 3.6 3.54 0 9.4 1.76 0 10 0.36

Sumber : Data Perikanan ikannila.com 2 .2. Teknik Pengolahan Tepung Ikan Pengolahan tepung ikan dengan menggunakan bahan baku berlemak tinggi, harus didahului dengan perebusan. Perebusan yang tidak sempurna akan menyebabkan protein menggumpal. Oleh karena itu, perebusan harus dilakukan secara sempurna atau dihentikan setelah mendidih selama ±15 menit. Jika perebusan sempurna, kandungan air hasil pengepresan dapat mencapai 50% - 55%. Selama perebusan, sel yang mengandung lemak akan pecah, sehingga diperoleh hasil sampling berupa minyak ikan (setelah dipisahkan dari airnya). Setelah pengepresan, cairan akan terbuang ± 20% bagian dari padatan ikan. Ikut terbuangnya bagian padatan tersebut akan menyebabkan kualitas tepung ikan yang dihasilkan menjadi rendah. (Murtidjo, 2001). Dari uraian dan evaluasi di atas terdapat beberapa langkah dalam proses pengolahan tepung ikan secara umum sebagai berikut : 1) Bakan baku ikan rucah atau sisa olahan dicuci/dibersihkan terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada ikan, termasuk mengeluarkan isi dan perut ikan. 2) Ikan yang sudah dibersihkan, dikupas kulitnya, dicincang atau dilembutkan dan dipotong kepala serta ujung ekornya untuk mendapatkan ikan yang lebih bersih sehingga hasilnya (tepung) menjadi lebih putih.

3) Bahan baku ikan yang sudah berupa daging yang halus, kemudian direbus hingga matang. Perebusan bertujuan untuk menggumpalkan otot-otot ikan, sehingga daya ikat airnya berkurang. Lama perebusan sangat mempengaruhi proses selanjutnya, karena jika kurang matang, proses pengepresan sulit dilakukan. 4) Setelah perebusan, daging ikan atau sisa olahan didinginkan dan kemudian di pres. Pada pengepresan ini, tepung ikan padatan yang dihasilkan memiliki kandungan air ±45%. Setelah ditiriskan airnya, kemudian diproses menjadi pellet dengan menggunakan mesin pembuat pellet (meat micer) untuk dijemur. 5) Setelah melalui proses pembuatan pellet, kemudian dikeringkan (dapat menggunakan mesin pengering atau dengan dijemur dengan menggunakan alat tertentu sehingga keringnya lebih merata dengan jangka waktu relatif pendek), kandungan air yang ada pada tepung ikan padatan dapat meresap atau menguap karena pengeringan. Setelah kering (secara merata) kemudian “pellet-pellet” tersebut diolah melalui mesin “meal mincer” sehingga menjadi tepung. 6) Jika kandungan air tepung ikan sudah mencair ±10%, tepung ikan yang berupa padatan tersebut dapat digiling lembut dan dikemas dalam kantong plastik. Jika ditinjau dari segi kandungan lemaknya, ikan sebagai bahan baku produk tepung ikan, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut. a) Ikan berkadar lemak rendah (3% - 5%) b) Ikan berkadar lemak sedang (6% - 10%) c) Ikan berkadar lemak tinggi (lebih besar dari 10%) Ikan Proses Menjadi dengan Cara Tepung Ikan Lemak Dikukus ±15-30 Pengolahan Penghilangan Proses Segar Menit Pengepresan Pengeringan Penepungan Pellet Gambar 2. 1. Bagan Alir Proses Pengolahan Tepung Ikan Ditinjau dari tempat hidupnya, jenis-jenis ikan secara umum dapat dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut.  Ikan pelagis, merupakan ikan-ikan yang biasa hidup di lapisan air bagian atas antara ± 0 – 500 m.

 Ikan demersal, merupakan ikan-ikan yang biasa hidup di dasar perairan. Habitat atau tempat hidup jenis ikan, secara langsung berkaitan dengan kadar lemak ikan tersebut. Jenis ikan pelagis umumnya memiliki kadar lemak yang relatif tinggi. Sementara, ikan demersal memiliki kadar lemak yang rendah. Namun secara umum, semua jenis ikan memiliki kadar protein tinggi, yaitu berkisar antara 15% 20%. Dengan demikina, sebagai bahan baku pembuatan produk tepung ikan berkualitas, sebaiknya digunakan jenis-jenis ikan sebagai bahan baku yang memiliki kadar lemak rendah. Di samping habitat hidupnya, kondisi musim juga dapat mempengaruhi kandungan lemak ikan. Tabel 2.1 Komposisis Kimia dari Beberapa Jenis Ikan Rucah
Jenis Ikan Nama Lokal Blose Pafere Tiga Waja Kerong-kerong Kuniran Kerisi Selangat Selar Kuning Julung-julung Rajung Mata Besar Bulu Ayam Nama Latin Saurida sp. Leiognathus sp. Pseudosciaena spp. Therapron therapen sp. Upeneus sp. Nemipterus sp. Doerosema chacunda Caranx leptolepsis Tylesorus sp. Silago spp. Priacantus Thryssa Komposisi Kimia (%) Protein 16.00 17.70 17.82 19.36 15.43 14.80 19.60 19.02 18.02 21.38 18.10 16.95 Lemak 0.55 0.20 1.73 0.41 0.46 0.47 1.10 2.28 1.45 0.41 0.81 4.45 0.14 Abu 1.30 1.30 0.01 1.22 0.77 0.70 1.70 0.88 0.10 1.43 1.35 1.78 1.78 Air 79.50 80.00 79.27 79.70 84.29 84.00 77.50 78.85 79.98 76.78 79.68 77.33 77.33

Kepala Gepeng Platycephalus 20.75 Sumber : Jaringan Informasi Perikanan Indonesia

2 .1.

Standar Kualitas Tepung Ikan Sesuai dengan standar kualitas FAO, maka tepung ikan yang berkualitas baik,

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1) Tepung ikan harus merupakan partikel-partikel yang dapat melewati satingan Tyler nomor 8. 2) Tepung ikan memiliki warna terang, keputihan, abu-abu, sampai coklat muda. 3) Tepung ikan memiliki kandungan protein lebih dari 50%. 4) Tepung ikan memiliki kandungan lemak 2,5% - 5%. 5) Tepung ikan memiliki kandungan air sekitar 6%. Adapun untuk dapat menghasilkan tepung ikan berkualitas baik, sebaiknya digunakan bahan baku yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Bahan baku berupa ikan rucah yang memiliki ukuran kecil dengan kandungan lemak relatif kecil. 2) Kesegaran bahan baku ikan rucah yang digunakan harus baik. 3) Proses pengolahan harus dilakukan dengan cepat dan bersih. 4) Pengemasan dan penyimpanan produk tepung ikan harus baik. Selain standar persyaratan kualitas tepung ikan yang ditentukan FAO, pabrik makanan ternak ikan di Indonesia juga memberikan persyaratan standar kualitas tepung ikan produksi lokal. Adapun persyaratan dan standar produk tepung ikan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Batasan Tepung ikan merupakan bahan baku makanan ternak dan ikan yang bersih dan kering, yang dibuat dari jaringan tubuh ikan, baik seutuhnya, dicampur, ataupun tidak dengan sisa prosesing ikan, dan jaringan tersebut belum membusuk. Proses pengolahan dengan atau tanpa diekstraksi sebagai minyaknya. Jika mengandung garam (NaC1) lebih dari 3%, maka harus diinformasikan kepada konsumen. Adapun kadar garamnya tidak boleh melebihi 7%. 2. Penilaian Secara Fisik. Penilaian kualitas tepung ikan secara fisik meliputi parameter-parameter sebagai berikut : a. Warn a : Kuning kecoklatan, atau sedikit kemerahan, tergantung jenis ikan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tepung.

b. Bau : c. Bentu k : d. Sifat :

Produk disertai sedikit bau minyak. Hasil penggilingan tepung ikan 100% harus dapat lolos saringan nomor 9 dan 98% dapat lolos saringan nomor 10. Produk Tepung ikan bebas dari tenggikan serta tidak hangus, warna tingkat kehalusan homogen.

1. Komposisi Kimiawi Komposisi untuk kualitas tepung ikan meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Kadar air rataan 6,5%, dengan spesifikasi maksimal 10,0%. b. Kadar protein kasar rataan 60,5%, dengan spesifikasi minimal 60,0 %. c. Kadar lemak rataan 6,0%, dngan spesifikasi maksimal 10,0% atau minimal 5,0%. d. Kadar serat kasar rataan 1,0% dengan spesifikasi maksimal 1,0%. e. f. Kadar abu rataan 21,0%, dengan spesifikasi maksimal 20%. Kadar Calsium rataan 6,0%.

g. Kadar Phospor rataan 3,0%. h. Tulang dengan spesifikasi maksimal 15%. i. Protein tercemar dengan spesifikasi maksimal 90%.

1. Pertimbangan Kualitas lainnya. Adapun beberapa hal lain yang digunakan untuk mempertimbangkan kualitas tepung ikan adalah sebagai berikut : a. Produk tepung tidak diproses dengan suhu yang terlalu tinggi hingga hangus. b. Produk tepung ikan diawetkan dengan antioksida, sehingga tidak mudah menjadi tengik. c. Produk tepung ikan memiliki kandungan tulang dan sisik maksimal 15,0%. d. Produk tepung ikan tidak dipalsukan dengan bahan baku lain. e. Produk tepung ikan mengandung pasir maksimal 1,0%. f. Produk tepung ikan mengandung bahan NPN (Non Protein Nitrogen) maksimal 0,32%.

g. Produk tepung ikan mengandung abu yang tidak larut pada asam maksimal 2,5%. Agar tepung ikan merupakan produk yang dapat dipergunakan dengan baik sebagai pakan ternak dan ikan serta sebagai bahan produksi lanjutan, maka sebaiknya memiliki kualitas yang kurang lebih menyamai atau bahkan melebihi persyaratan tersebut. (Murtidjo, 2001). 2 .1. Tujuan Alanalisa Kelayakkan Pada investasi yang memerlukan modal cukup besar dan diperuntukkan untuk investasi yang besar dan jangka panjang, maka diperlukan studi agar jangan sampai proyek yang diinvestasikan kemudian tidak mendatangkan keuntungan bagi pelaku usaha maupun perusahaan. Semakin besar skala investasi studi kelayakan, maka semakin penting untuk dibuat terlebih dahulu kelayakannya. Studi ini memerlukan biaya yang tidak kecil, akan tetapi biaya ini reatif kecil bila dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu proyek investasi yang besar, (Husnan. 2005). 2 .2. Lembaga-lembaga yang Memerlukan Studi Kelayakan Dalam melakukan suatu studi kelayakan, hasil yang diperoleh dapat menjadi masukan dan acuan bagi lembaga-lembaga yang memerlukan, adapun lembagalembaga yang membutuhkan studi kelayakn tersebut adalah : 1) Investor, yaitu pihak penanam modal suatu proyek (sebagai pemilik atau pemegang saham) akan lebih memperhatikan prospek usaha tersebut. 2) Kreditur, yaitu kreditur akan lebih memperhatikan dari segi keamanan dana yang dipinjamkan dalam investasi tersebut, dimana kreditur mengharapkan peminjam dapat mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Oleh karena itu kreditur selama masa waktu pinjaman lebih memperhatikan pola aliran kas. 3) Pemerintah, yaitu pemerintah lebih berkepentingan terhadap manfaat proyek tersebut bagi perekonomian daerah maupun nasional, apakah proyek tersebut menghemat devisa, menambah devisa atau membuka memperluas kesempatan kerja. Dimana manfaat ini dikaitkan dengan masalah yang dialami negara tersebut.

4) Instansi, yaitu badan non pemerintah terkait yang memerlukan inovasi dari suatu proyek yang sudah ada atau masih dalam perencanaan untuk dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri dan prospek dimasa mendatang. Baik dalam meningatkan kualitas sumber daya yang dimiliki juga profit yang diperoleh.

2 .1.

Aspek-aspek Dalam Melakukan Studi Kelayakan Pasar merupakan kumpulan orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang

2. 6. 1Aspek pasar untuk belanja, serta kemauan untuk membelanjakannya (Umar, 2003). Dalam penentuan pasar ada beberapa kriteria pasar yang harus diukur untuk mempermudah penentuan pasar sasaran yaitu: a. b. c. Pasar Potensial adalah sekumpulan konsumen yang menyatakan tingkat minat yang memadai terhadap penawaran pasar. Pasar Tersedia adalah sekumpulan konsumen yang mempunyai minat, pendapatan, akses dan kaulifikasi untuk penawaran pasar tertentu. Pasar Sasaran (pasar terlayani) adalah bagian dari pasar tersedia yang akan dimasuki oleh perusahaan berdasarkan pada kesiapan dan kebijakan perusahaan. Dalam menentukan pasar tersebut maka akan dilakukan survei terhadap populasi yang telah ditentukan. Teori dalam pemilihan populasi, metode sampling, juga penetapan jumlah sampling dalam penelitian: 1. Memilih Populasi Survei Survei digunakan untuk memprediksi permintaan sebagai dasar untuk membuat keputusan finansial. Dalam memilih populasi survei dengan tingkat akurasi dan representasi tertentu dari fakta keseluruhan dengan pertimbangan teknik, waktu, dan biaya maka maka dilakukan teknik sampling yang disebabkan banyaknya obyek yang harus diteliti. Sampel anggota populasi diharapkan

mewakili karakteristik dan sifat anggota populasi, sehingga akan diperoleh suatu kesimpulan dengan tingkat kepercayaan tertentu dari obyek populasi secara keseluruhan. 2. Metode Sampling Secara garis besar terdapat dua macam metode sampling yaitu: a. Probability Sampling, dimana setiap unsur dalam populasi memiliki kemungkinan dipilih sama besarnya. Terdiri dari Simple Random Sampling, Proportionate Stratified Random Sampling, Disroportionate Stratified Random Sampling, Systematic Sampling, Cluster Sampling, Multistage Sampling. b. Non Probability Sampling,dimana setiap unsur dalam populasi tidak memiliki kemungkinan yang sama besar, karena tidak diketahui dan dikenal populasi yang sebenarnya. Terdiri dari Convenience Sampling, Judgement Sampling, Quota Sampling, dan Snowball Sampling. 3. Ukuran Sampling Ukuran sampel yang digunakan didasarkan pada jumlah minimum ukuran sampel yang diperlukan, diperoleh dengan teknik perhitungan melalui suatu rumusan matematis, serta ukuran sampel dalam suatu penelitian akan mempengaruhi valid atau tidaknya suatu penelitian tersebut. Teori yang dikemukakan oleh Gervitz yaitu responden yang dibutuhkan sebagai sampel untuk suatu kuisioner ditentukan dari populasi sebenarnya sebagai berikut: a. Sampel minimal adalah 30, jika ukuran sampel kurang dari 30 maka biasanya terlalu kecil untuk menggambarkan kesimpulan yang diambil. b. Jika populasi lebih dari 500, maka sampel yang diambil berkisar antara 10 persen dari populasi. c. Untuk populasi sekitar 5.000 sampel, ukuran sampelnya sebaiknya antara 100500. d. Untuk populasi yang lebih dari 10.000 maka sampel yang diambil seharusnya berkisar antara 200-1000.

2. 6. 1Aspek Teknis Dan Operasional Evaluasi aspek teknis ini mempelajari kebutuhan-kebutuhan teknis pabrik, seperti penentuan kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi pabrik dan letak pabrik yang menguntungkan. Lalu dari kesimpulan dari kesimpulan dapat dibuat rencana jumlah biaya pengadaan harta tetapnya (Sayuti, 2008) 1 Faktor pemilihan lokasi untuk pengolahan tepung ikan yang tepat meliputi dua faktor yaitu pertimbangan umum dan prasyarat teknis.  Pertimbangan umum  Kedekatan dengan sumber bahan baku, yaitu dekat dengan sumber bahan baku potensial untuk pengolahan tepung ikan, merupakan salah satu kunci mempercepat proses produksi pengolahannya. Selain ketersedian bahan baku yang memadai, kemudahan untuk memperoleh bahan baku ikan untuk tepung ikan juga sangat penting dalam usaha ini, agar siklus usaha pengolahan tepung tidak terputus.  Kedekatan pendistribusian, hal ini diperlukan agar memudahkan dalam melakukan penjualan, pengangkutan menuju usaha atau industri terkait dan juga konsumen.  Keamanan, merupakan faktor yang sangat penting, lokasi yang keamanan kurang terjamin hendaknya jangan dipilih sebagai alternatif pemilihan lokasi karena akan mengakibatkan sering terjadinya pencurian dan hal ini menyebabkan kerugian. Kemudahan mencapai lokasi, yaitu kemudahan yang dibutuhkan untuk melakukan proses kontrol pada usaha ini, serta kemudahan dalam pengadaan bahan baku, pendistribusian, serta sarana penunjangnya 1 Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam aspek teknologi antara lain: a. Mengkaji implementasi sistem teknis kelayakan industri tepung ikan berdasarkan kondisi real. b. Teknologi harus mudah untuk diterapkan.

c. Jenis teknologi yang digunakan harus dapat menghasilkan standar mutu yang sesuai dengan keinginan pasar. d. Teknologi harus sesuai dengan persyaratan yang diperlukan untuk mencapai skala produksi yang ekonomis. e. Pilihan jenis teknologi yang diusulkan sering dipengaruhi oleh kemungkinan pengadaan tenaga ahli, pengadaan bahan baku, dan bahan penunjang yang diperlukan dalam kualitas maupun kuantitas akan membatasi perencanaan proyek, serta berpengaruh pada biaya. f. Pemilihan teknologi hendaknya dikaitkan dengan memperhatikan jumlah dana yang diperlukan untuk pembelian mesin serta peralatan yang dibutuhkan. g. Perlu juga meninjau pengalaman penerapan teknologi yang bersangkutan oleh pihak lain di tempat lain, sehingga dapat diketahui apakah teknologi tersebut telah dapat disetarakan dengan baik. Perencanaan kapasitas berhubungan dengan jumlah tenaga kerja, mesin, dan peralatan fisik yang diperlukan. Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kapasitas produksi, yaitu:  Faktor yang dapat dikendalikan meliputi: shift kerja per-hari, hari kerja perminggu, jam lembur, subkontrak dan jadwal pemeliharaan.  Faktor yang tidak dapat dikendalikan, meliputi absesnsi tenaga kerja, performansi tenaga kerja, kerusakan mesin dan peralatan, scrap dan rework. 2. 6. 1Aspek Finansial/ keuangan Aspek finansial sangat memegang peranan penting dalam melakukan studi kelayakan. Pada penelitian ini perlu melakukan pengkajian lebih mengenai aspekaspek pendapatan dan biaya yang diperlukan dalam pengimplemntasiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan kajian pertimbangan tersendiri bagi pihak manajemen perusahaan dalam mengambil langkah strategi terhadap penyelengaraan pembangunan pabrik atau industri, untuk mengambil suatu keputusan dalam memilih suatu investasi diperlukan perhitungan dan anlisa yang tepat untuk menilai dan menentukan investasi

yang menguntungkan ditinjau dari segi ekonomis. Ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan dalam penilaian suatu investasi:

a. Net Present Value (NPV) Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Suatu proyek dikatakan layak secara ekonomis jika NPV positif (lebih besar dari nol), dan jika sebaliknya maka proyek ditolak karena tidak menguntungkan. Dirumuskan sebagai berikut: NPV=A0+ r=1nAt(1+r)2 Keterangan: A0 At r n = = = = Pengeluaran investasi pada tahun ke-0 Aliran kas masuk bersih pada tahun ke-t Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik modal dengan memperhitingkan resiko usaha. Jumlah tahun/usia ekonomis proyek (atau periode studi)

b. Internal Rate Of Return (IRR) Perhitungan tingkat suku bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa mendatang. Suatu rencana investasi dikatakan layak jika memiliki nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga Bank yang berlaku (Minimum Attractive Rate of Return / MARR). Jika terjadi sebaliknya, maka rencana investasi tersebut dianggap tidak layak untuk direalisasikan. Dengan mempergunakan adalah i’% pada nilai ini: t=0nRtPF. i%.t=t=0nEtPF.i%.t Dimana: Rt Et n = Penghasilan atau penghematan netto untuk tahun ke-t = Pengeluaran netto termasuk tiap biaya investasi untuk tahun ke-t = Jumlah tahun / usia ekonomis proyek (atau periode studi) rumus PW (Present Worth), IRR

c. Payback Period (PBP)

Payback period adalah jangka waktu tertentu menunjukan terjadinya arus penerimaan secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value. Semakin kecil periode waktu pengembaliannya, semakin cepat proses pengembalian suatu investasi. Dapat dirumuskan sebgai berikut: Payback Period=CostAnnual Profit Untuk dapat menentukan tingkat BEP, terdapat dua komponen biaya yang perlu dipertimbangkan, yaitu : 1 2 Biaya tetap, yaitu biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Biaya variabel, yaitu biaya yang besarnya tergantung oleh volume produksi. Rumus BEP adalah : TR = TC PQ = F + VQ Q (dalam unit) = FP. V Q (dalam unit) = FC1- (V/P) Dimana : P Q F V = Harga jual per unit = Tingkat produksi (unit) = Biaya Tetap = Biaya varibel

a. Analisa Sensitivitas Setelah dilakukan evaluasi terhadap kriteria investasi perlu dilakukan analisa sensitivitas untuk mengetahui sejauh mana tingkat sensitivitas / pengaruh dari beberapa variabel terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan berdasarkan skenario-skenario yang logis. Metode yang biasa digunakan dalam analisa sensitivitas adalah: 1. 2. 3. Analisa Break Event Point (BEP) Analisa Sensitivitas dengan Model Sederhana Analisa Sensitivitas dengan Model Discounted.

a. Depresiasi Depresiasi pada dasarnya adalah penurunan nilai suatu properti atau aset karena waktu dan pemakaian. Depresiasi bisa disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini :  Kerusakan fisik akibat pemakaian dari alat atau properti tersebut.  Kebutuhan produksi atau jasa yang lebih baru dan lebih baik.  Penurunan kebutuhan produksi atau jasa.  Properti atau aset tersebut menjadi using karena adanya perkembangan teknologi.  Penentuan fasilitas-fasilitas yang bisa menghasilkan produk yang lebih baik dengan ongkos lebih rendah dan tingkat keselamatan yang lebih memadai. Metode perhitungan depresiasi yang sering digunakan antara lain metode garis lurus (Straight Line), Sum of Year Digit (SOTD), Declining Balance (DB), Sinking Fund (SF), Production Unit (UP). 2. 6. 1Penentuan Lokasi Pabrik Dengan AHP Beberapa prinsip dasar dari AHP adalah : decompasistion, comparative judgment, synthesis of priority, logical consistency. 1 Decomposition, adalah proses penguraian permasalahan atau elemen menjadi unsur-unsurnya sehingga tidak dapat diuraikan ataupun dijabarkan lagi dari proses tersebut akan didapat beberapa level hirarki atau persoalan yang dihadapi. 2 Comparative Judgement, merupakan proses penilaian kepentingan relatif terhadap elemen-elemen yang ada dalam suatu level sehubungan dengan level diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena akan ditemukan prioritas dari elemen/variabel yang ditentukan. Hasil penilaian bisa disajikan dalam matriks ajj berikut ini :

a11 a12 a13 λ a1n a21 a22 a23 λ a2n a31 a32 a33 λ M M M M λ M an1 an2 an3 λ ann Gambar 2.2. Matrik Penilaian Matriks ini mempunyai sifat resiprokal, yakni :

aji = 1aij
Dimana I dan j berturut-turut merujuk pada baris dan kolom. Perbandingan pairwise comparison dapat digambarkan sebagai berikut : Misalkan A1, A2, A3,…, An merupakan bobot atau intesnsitas masing-masing elemen AHP menentukan perbandingan antara dua elemen (pairwaise comparison) menurut bobot atau intensitasnya. Perbandingan antara dua elemen tersebut dapat ditunjukkan pada matriks dibawah berikut : A1 A1 A2 … An W1/W1 W2/W1 . Wn/W1 A2 W1/W2 W2/W2 . Wn/W2 … … … . … An W1/Wn W2/Wn . Wn/Wn

Gambar 2. 3. Matriks Perbandingan Matriks ini menunjukkan tingkatan kepentingan setiap A terhadap A lainnya, yang diukur dengan skala ordinal untuk mengukur tingkat kepentingan terebut, AHP mengusulkan skala yang seperti pada tercantuk pada tabel 2.2 berikut : Tabel 2. 2. Skala Perbandingan Nilai 1 Keterangan Kriteria/Alternatif A sama penting dengan kriteria/alternatif B

3 5 7 9 2,4,6,8

A sedikit lebih penting dari B A sangat lebih penting dari B A sangat jelas lebih penting dari B Mutlak lebih penting B Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

Skala tersebut dinilai dari sakala sama penting (equally preferred) hingga mutlak penting (extremely preferred) penilaian (judgment) bisa dilakukan atas dua pertanyaan : (1) Elemen mana yang lebih penting (penting, disukai, mungkin terjadi, …), (2) Berapa kali lebih (penting, disukai, mungkin terjadi,…). 3. 1. METODOLOGI PENELITIAN Obyek penilitian studi kelayakan industri pengolahan tepung ikan ini tahap awal meliputi analisis kelayakan lokasi ditiap Kabupaten di Yogyakarta, yaitu :  Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di Kecamatan Temon, Desa Glagah.  Kabupaten Bantul, tepatnya di Kecamatan Kretek, Parangkritis Depok.  Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di Kecamatan Tanjungsari, Pantai Baron. Selain itu, obyek penelitian ini juga mempertimbangkan segala aspek dalam kelayakannya mulai dari aspek pasar, finansial, aspek keuangan, dan juga sensitivitas dalam perkembangan dan ketahanan usaha ini dimasa mendatang.

3. 1 .1.Obyek Penelitian

YaAnalisis Uji TidakTinjauan dan Studi Literatur Rumusan Kesimpulan Penentuan Kriteria Penelitian Hasil dan Data dengan AHP Mula SelesaKeputusan Studi

Data Studi Pustakan Masalah SaranExpertChoice Program Kelayakan Industri Tepung Ikan : dani Kelayakan Kelayakan Industri i KetersediaanTepungbaku Pengolahan bahan Ikan Segmen pasar Lokasi kelayakan industri Aspek teknis dan produksi Aspek finansial Organisasi perusahaan Aspek sosial Infrastruktur penunjang Aspek politik (peraturan pemerintah)

3. 1 .1.Bagan Alir Penelitian

3. 1 .1.Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian untuk mengumpulkan data secara sistimatis. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan kuisioner. a. Metode Wawancara Suatu metode pengumpulan data yang dengan cara melakukan tanya jawab atau wawancara secara langsung kepada pihak-pihak terkait dalam penelitian ini baik dari para pelaku usaha, nelayan dan karyawan Dinas Kelautan dan Perikanan yang dapat memberikan informasi dan keterangan yang dibutuhkan terkait dengan tujuan penelitian studi kelayakan industri pengolahan tepung ikan dan sebagai salah satu pedoman dalam penyusunan laporan proyek tugas akhir. b. Metode Observasi Metode ini digunakan peneliti untuk mendapatkan data langsung dan berkaitan dengan situasi lapangan untuk mengkordinasikan data dan analisis data, pengkayaan data awal serta interpretasi data sebagai data pendukung. c. Metode Kuestioner Metode ini digunakan dengan memperoleh hasil sampling analisis terhadap pihakpihak yang terkait secara langsung pada obyek dan tujuan penelitian sebagai informasi untuk mendapatkan data-data yang digunakan sebagai data pendukung dalam analisa penelitian untuk mengetahui aspek pasar dan teknis (pemilihan lokasi). 3. 1 .1.Pengumpulan Data Dan Sumber Data a. Peluang Pasar ✔ Ketersediaan bahan baku ✔ Macam dan jumlah pesaing ✔ Data Potensi sumber daya ikan dan Tingkat Pemanfaatannya ✔ Data Permintaan Tepung ikan ✔ Data Import Tepung Ikan ✔ Data Peluang Pasar dan Perkembangan Harga a. Data Produksi ✔ Faktor Pemilihan Lokasi

✔ Alternatif Lokasi ✔ Data Proses Pengolahan Tepung Ikan ✔ Data sarana dan prasarana pengolahan ✔ Data aspek sumber dan kapasitas ✔ Data spesifikasi standar ekspor ✔ Data mesin dan peralatan yang dibutuhkan meliputi kapasitas dan ketersediaannya dipasar. ✔ Kapasitas produksi dilihat dari kapasitas alat. ✔ Jumlah mesin, peralatan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk memproduksi tepung ikan sesuai dengan kapasitas yang ditentukan. a. Data Finansial ✔ Umur ekonomis dan nilai sisa peralatan ✔ Biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya variable. ✔ Rincian biaya investasi awal produksi tepung ikan. ✔ Analisis manajemen dan organisasi. ✔ Data bunga bank Data yang diperlukan untuk pengolahan didapat dari berberapa sumber. yaitu: 1. Data primer, yaitu informasi yang dikumpulkan sendiri yang langsung berkaitan dengan proyek riset. Data primer merupakan data yang dikumpulkan melalui sejumlah alat, termaksud eksperimen, survei, kuesioner, wawancaran dan pengumpulan pendapat. 2. Data sekunder, yaitu informasi yang telah dikumpulkan untuk beberapa tujuan, bukan semata-mata untuk tujuan penelitian saat ini. Sumber data sekunder meliputi :  BPS (Biro Pusat Statistik).  Dinas Kelautan dan Perikanan daerah.  Nelayan PPI (Pelabuhan dan Pelelangan Ikan ) kabupaten.  Bulletin yang diterbitkan oleh ahli profesi.  Publikasi lembaga-lembaga penelitian.

Data-data yang diperlukan untuk aspek pasar adalah :  Data permintaan masa lalu dan kecenderungannya.  Data produksi perikanan tangkap.  Variable-variabel yang berpengaruh terhadap permintaan.  Data P2HP (Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan) Dinas Dinas Kelautan dan Perikanan.  Harga produk sejenis. 3. 1 .1.Metode Penentuan Sample (kuesioner) Metode pengambilan sampel yang digunakan untuk analisa aspek pasar diambil bersifat tidak acak (non random sampling) yaitu aksidental sampling. Aksidental sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan yaitu berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan ditemui. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rumus penentuan jumlah sampel (Sugiono, 1997) yaitu sebagai berikut: N= pqα2p Dimana: n p q
αp

= = = =

Jumlah sampel Prosentase hipotesis nol (Ho) dinyatakan dalam peluang yang besarnya 0,50. 1 – 0,50 = 0,50 Perbedaan antara yang ditaksir pada hipotesis kerja (Ha) dengan hipotesis nol (Ho), dibagi dengan z pada tingkat kepercayaan tertentu.

Dengan demikian besarnya ukuran sampel yang diperlukan pada taraf kepercayaan 99% (nilai distribusi z sebesar 2,58) adalah sebagai berikut: N= 0,500,502,58=41,60 ≈42 Maka untuk melakukan analisa untuk industri pengolahan tepung ikan pada kuesioner dibutuhkan sebanyak 42 sampel, dengan estimasi tingkat kepercayaan 99%, karena penyebaran kuesioner dilakukan sebanyak dua tahap, yaitu : a. Kuesioner aspek pemasaran Melakukan analisa pada penerimaan pasar akan produk tepung ikan, langsung pada pelaku ussaha peternakan dan budidaya ikan. b. Kuesioner aspek teknis

Melakukan analisa terhadap pemahaman dan pengetahuan nelayan mengenai tepung ikan dan pengolahannya. Selain mengetahui pemahaman nelayan akan bahan baku untuk pengolahan tepung ikan. 3. 1 .1.Metode Penentuan Lokasi Pengolahan Tepung Ikan Metode AHP dengan Expert Choice, perangkat lunak yang digunakan dalam penelitian ini adalah Expert choice V 11.5. Perangkat ini berjalan di PC dengan processor berbasis intel 1 Gb atau yang lebih baik, RAM 512 Mb, video card 128 Mb, ruang harddisk standart 500 Mb. Adapun pertimbangan-pertimbangan penentuan lokasi tersebut adalah :  Kecamatan Tanjungsari, Pantai Baron. Letaknya yang berada di sebelah selatan Yogyakrta yang hanya berjarak ±55 Km dari Kota Yogyakarta, serta ±23 Km dari kota Wonosari dan diapit oleh PPI Depok (±122kg/hari) dan PPI Baron (±500kg/hari). Kecamatan Tanjungsari juga cukup berdekatan dengan PPI Ngerenehan (±725kg/hari), PPI Gesing (±425kg/hari), PPI Drini (±160kg/hari), PPI Ngandong (±98,5kg/hari) dan PPI Siung (±110kg/hari). Serta lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Sadeng merupakan Pelabuhan Penangkapan Perikanan (PPP) terbesar di Yogyakarta, dengan produksi perikanan ±2000 kg/hari. Dapat dinilai sebagai tempat yang strategis untuk pemasaran hasil tangkapan dan pengolahan ikan.  Kecamatan Kretek, Parangkritis. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota Yogyakarta yang hanya berjarak ±20km, serta ±15 Km dari kota Bantul dan cukup berdekatan dengan PPI Baron, PPI Pandan Mino (±375kg/hari), dan memiliki infrastruktur jalan yang cukup baik. Selain itu di Kabupaten Bantul yang terdapat banyaknya usaha budidaya perikanan dinilai sebagai keunggulan dalam pendirian usaha pengolahan industri tepung ikan di lokasi ini, karena sangat dekat dengan konsumen (pasar).  Kecamatan Temon, Desa Glagah. Letaknya yang berada di ±36km barat Yogyakarta dan merupakan salah satu alternatif jalan antar provinsi di selatan jawa, memiliki infrastruktur yang sangat baik, selain itu di wilayah ini sedang dibangun proyek pembangunan Pelabuhan Penangkapan Perikanan (PPP) terbesar yang

menurut informasi didapat peneliti akan terealisasi pada tahun 2012. Di kecamatan ini juga terdapat PPI Glagah (±140kg/hari), berdekatan dengan PPI Trisik (±200kg/hari), PPI Bugel (±200kg/hari), PPI Sindutan (±110kg/hari), dan PPI Congot (±180kg/hari). Kriteria untuk masing-masing dari informasi diatas beserta dengan subkriteria yang terkait dalam membuat keputusan alternatif yang tersedia terlihat pada level yang paling bawah. Hierarki persoalan ini dapat di gambarkan sebagai berikut:

Biaya sewa lahan Kec. Lokasi Kec. Temon Kretek Ketersedian Bahan lahan Tanjungsari Pengolahan Baku Ikan Ketersedian Ikan Tepung Kedekatan dengan Bahan Baku Ikan Sumber Bahan Baku Kedekatan Kemudahan Baku dengan Sumber Pencapaian Kemudahan Bahan Baku Menuju Lokasi Pengolahan Pencapaian Kemudahan Menuju Kemudahan Lokasi Pengolahan Pencapaian Pendistribusian Kemudahan Menuju Lokasi Pendistribusian Pengolahan Kemudahan Pendistribusian

Gambar 3. 1. Struktur Hierarki Penentuan Lokasi Pengolahan I. Jadwal Penelitian

Kegiatan penelitian untuk Tugas Akhir ini akan dilaksanakan pada bulan September 2010 sampai dengan bulan Desember 2010 dengan disesuaikan pada kebijakan Departemen Perikanan dan kelautan sesuai kesepakatan. Adapun rencana pelaksanaan kegiatan penelitian ini secara lengkap dapat dilihat di bawah ini.
Rencana Kegiatan Pengajuan Proposal Identifikasi Masalah Analisa Data Observasi Kelayakan Industri Pengkajian dan Hasil studi Kelayakan Penyusunan laporan November I II III IV I Desember II III IV I Januari II III IV

II.

Daftar Pustaka

Adawyah, 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Cetakan Pertama. Bumi Aksara. Jakarta. Ahmad Mudjiman, 2004. Pengetahuan Lengkap Makanan Ikan, edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta. Agus Murtidjo 2001, Beberapa Metode Pengolahan Tepung Ikan, Kanisius. Yogyakarta. Asriani Hasanuddin, Mappiratu, Zakariah Raihani, 2008. Studi Kelayakan Industri Pengoloahan Tepung Ikan di Provinsi Sulawesi Tengah oleh Pusat Kajian Ekonomi dan Pengolahan Sumber daya Pesisir/Laut Fakultas Pertanian-UNTAD Kerjasama dengan Bank Indonesia Palu. Sulawesi Tengah. Alessio Ishizaka and Ashraf Labib, Analytic Hierarchy Process and Expert Choice: Benefits and Limitations, Portsmouth Business School.
University of Portsmouth. (Sricbd.com, Akses 9 Mei 2010).

Faila Sufa. Analisis Sensitivitas Pada Keputusan Pembangunan Meeting Hall Untuk Meminimasi Resiko Investasi, Makalah TI UMS, 2007. Marimin, 2004, Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk, Grasindo. Jakarta. Maya Yuli Davita 2010, Penerapan AHP Dalam Pemilihan Alternatif Penerbangan (Airline) di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Skripsi Teknik Industri. Fakultas Teknik. UTY. Suharsimi Arikunto. 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi V. Rineka Cipta, Jakarta. Laporan Jurnal Bank Indonesia, 2007. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK), Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, 2008. Youtube.com, Keyword; How To Analytic Hierarchy Process With ExpertChoice. (Akses 9 Mei 2010). Yopi Ananta, Membendung Gempuran Impor Perikanan, Majalah Trobos Edisi Agustus 2010 Tahun XI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->