P. 1
Definisi Agama Menurut Durkheim

Definisi Agama Menurut Durkheim

|Views: 555|Likes:
Published by Raden Ari

More info:

Published by: Raden Ari on Jan 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2012

pdf

text

original

. Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang

telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis. B. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis, melainkan sosiologis. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan, yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat, dan hal ini akan dibahas nanti. Di dalam totemisme, ada tiga obyek yang dianggap kudus, yaitu totem, lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Pada totemisme Australia, benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu, sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia, kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya, dan disebut sebagai mana. Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. Ciri khas yang sama, yaitu kekudusan, tetap terdapat pada moralitas rasional. Ini terlihat dari rasa hormat dan

Praktek ini menjamin agar kedua dunia. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim . Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. C.perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. praktek ritual yang negatif. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. Ritual Agama Selain daripada melibatkan sifat "kudus". Adapun praktek-praktek ritual yang positif. serta praktek ritual yang positif." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya. Dengen demikian. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu. D. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat.

memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada. melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. . menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari. Ritual. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. "burung kakatua".. Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). dan agama nampak memainkan peran ini. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. Dengan demikian. Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asalusul sosial dari konsep "kekudusan'. Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus". maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu. Di dalam totemisme juga. yang merupakan obyek kudus. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. Di dalam suatu upacara. yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari".adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya. Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog. Upacara-upacara keagamaan. dll. dengan demikian.

Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. . moralitas individual itu. seperti yang juga telah disebutkan di atas. Moralitas Individual Modern Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. dsb. menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentuk-bentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. E. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. Walaupun begitu. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". Moralitas individual. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki. dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual).

melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. Menurut Durkheim. diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata. Durkheim dan Max Weber. Jakarta: UI-Press. Individualisme masyarakat modern. Di dalam hal ini.suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. disiplin atau penguasaan gerak hati. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. Seseorang. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja. melalui perlindungan masyarakat. . sebagai hasil perkembangan sosial. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. Dengan demikian. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. Sumber Acuan: Anthony Giddens. 1986. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx. yang dihasilkan oleh masyarakat. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini. pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. yaitu moralitas individual. tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap.

cinta kasih. nafsu atau pemilikan. bermakna sebagai suatu cara hidup yang diorientasikan ke hal-hal yang bukan kekuasaan. Karena ada bagian yang saling .Spiritualitas dalam arti sempit. serta komitmen dasariah manusia. Ikatan/ kohesi Keterkaitan agama dengan spiritualitas Ada keterkaitan agama dengan spritualitas. apapun isinya (Griffin. kesucian.Beberapa pemikir Postmodern memakai istilah spiritualitas menunjuk pada nilai dan makna dasar yang melandasi hidup manusia. kebahagiaan) 3. 2005. kedamaian. dalam Erna Karim) Esensi utama dari spiritualitas 1. Nilai (seperti kebenaran. baik duniawi maupun yang tidak duniawi. . Spirit sesuatu yang mendorong atau mendasari untuk melakukan sesuatu 2.SOSIOLOGI AGAMA Spiritualtas baru Pemahaman mengenai spritualitas Nilai-nilai dan/atau makna tertentu serta cara hidup yang dipakai individu atau kelompok untuk mencapai kepuasan dan ketenangan batin .

kegiatan. bertapa. antikekerasan) 2. Tujuan (ketenangan. Apakah dalam mengikuti suatu komunitas spiritualitas ada kepuasan batin? Ada kepuasan batin. kesehatan) 4. persaudaraan. Persamaan nilai (seperti cinta kasih. persamaan. dll) • tempat beserta fasilitas • etika & ajaran • masa atau periode keberakhiran Tanya jawab 1. kedamaian. praktik penyembuhan.beririsan dan memperkuat. dll) • tata organisasi (pemimpin. saling menolong. Mengapa Muncul komunitas spiritual. meditasi. 2. aturan. angota/pengikut. penyembuhan. jika agama bisa menjawab masalah . Indikator keterkaitan 1. Ada kekuatan lain di luar manusia (supranatural) Komunitas spiritual Kelompok individu yang membuat ikatan berdasarkan nilai-nilai dan spritualitas tertentu yang mempunyai • institusi • kegiatan spiritual (upacara. Persamaan latar belakang atau pengalaman hidup (agama. etnik) 3.

kekerabatan. .ketenangan tersebut? Terdapat beberapa hal yang menyebabkan munculnya komunitas spiritual di masyarakat. karena keinginan untuk memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. kerjasama. atau untuk meningkatkan keimanan kepad Tuhan. kebaikan. karena dinamika hidup sehingga berdampak pada dimanmika keimanan manusia yang naik turun sehingga ketika manusia dihadapkan pada suatu masalah dalam kehidupan maka salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan ikut sutau komunitas spiritual. Faktor-faktor tersebut antara lain. karena keinginan untuk mengembangkan diri. penghargaan dalam suatu lingkungan komunitas yang baru.

[1] Ada penekanan tertentu di dalam peran agama di seluruh masyarakat dan sepanjang sejarah. sebuah karya mendasar dari penelitian sosial yang ditujukan untuk membedakan sosiologi dari ilmu disiplin lain seperti psikologi.Sosiologi agama mempelajari peran agama di dalam masyarakat. Perdebatan kontemporer lebih memusat pada masalah seperti sekularisasi. Sosiologi akademik modern dimulau dengan analisis agama dalam studi tingkat bunuh diri Durkheim tahun 1897 di antara penduduk Katolik dna Protestan. latar sejarah. dan kepaduan agama dalam konteks globalisasi dan multikulturalisme. perkembangan dan tema universal suatu agama di dalam masyarakat.[2] Sementara sosiologi agama berbeda dengan teologi dalam mengasumsikan ketidakabsahan supernatural. Sosiologi agama berbeda dari filsafat agama karena tidak menilai kebenaran kepercayaan agama. Berger sebagai "ateisme metodologis" yang melekat. Karya Karl Marx dan Max Weber menekankan hubungan antara agama dan ekonomi atau struktur sosial masyarakat. praktik. para teoris cenderung mengakui reifikasi sosial budaya dalam praktik keagamaan. . Sosiologi agama kontemporer juga dapat mencakup sosiologi ketiadaan agama (contohnya dalam analisis sistem kepercayaan Humanis Sekuler). agama sipil. meski proses membandingkan dogma yang saling bertentangan membutuhkan apa yang disebut Peter L.

Apa pasal? "Karena agama adalah tema paling penting 7ang sanggup membangkitkan perhatian serius dan paling intens. . kenyataan ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah keagamaan berimplikasi pada proses perkembangan kehidupan manusia terutama dalam persoalan kemanusiaan. dikotomi ini ibarat pemisahan antara alam langit dan alam bumi." ujar Prof Dr Dadang Kahmad MSi. Pertama. Dorongan untuk beragama telah menjadi tuntutan jiwa yang tidak dapat dihindari. Sedangkan realitas langit dianggap sebagai realitas subjektif. Perbedaan pandangan itu dapat dilihat dari dua faktor. Realitas bumi secara prinsip dalam khazanah masyarakat modern dianggap sebagai realitas objektif. Seringkali agama dianggap bertolak belakang dengan modernitas. Heri Ruslan.Agama ternyata menjadi masalah besar yang dihadapi oleh umat manusia. dengan Direktur Program Pascasarjana UIN Bandung ini tentang dialektika agama dan modernitas. Menurutnya. bagaimana pandangan Anda?Agama memang kerap diasumsikan bertolak belakang dengan modernitas.Berikut petikan wawancara wartawan Republika. moral. dan estetika. yang juga ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Barat. guru besar sosiologi agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

moral. Mengapa? Karena agama adalah tema paling penting yang sanggup membangkitkan perhatian serius dan paling intens. Sementara ilmu teknologi adalah ilmu rendah. Kenyataan ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah keagamaan berimplikasi pada proses perkembangan kehidupan manusia terutama dalam persoalan kemanusiaan. ia sadar bahwa agama juga memberikan beberapa fungsi yang tidak kalah pentingnya dengan fungsi duniawi. Sedangkan bagi kaum agamawan. Bagi Whitehead. . Tapi. Mengapa agama menjadi tema paling penting bagi manusia di era modern ini?Ya. Tuhanlah yang merancang atau merencanakan kelahiran manusia dan alamnya. teknologi dengan logic oftechnic justru merupakan ilmu tertinggi. Sebab. justru sebaliknya. Tetapi. di antara masalah besar yang sering dihadapi oleh umakmanusia adalah yang berkaitan dengan agama. maka ilmu keagamaan bagi masyarakat agamis. dalam masyarakat modern. Menurut masyarakat agama dalam pengertian orisinal tadi.Maksudnya. agama merupakan sumber visi dan motor perjuangan. sementara agama merupakan ilmu yang rendah. Tuhan adalah dasar atau asas dari segalanya. bahwa kebutuhan manusia akan agama. dan estetika. Suatu kemungkinan yang jauh. manusia adalah dasar dari realitas ini dan Tuhan merupakan penafsiran manusia. maka ia tidak hanya memprioritaskan aspek duniawi saja. Manusia memerlukan objek pengabdian semacam agama agar dapat mengatasi eksistensinya yang terisolasi dengan semua keraguan dan ketidakmam-puannya menjawab arti hidup. Begitu juga dengan apa yang diungkapkan Erich Fromm.Bagi masyarakat agama. sekaligus merupakana sebuah kenyataan yang terwujud sekarang ini. Ia mengatakan. merupakan ilmu tertinggi (paling objektif). Realitas langitlah yang merupakan realitas objektif dan realitas bumi sebagai realitas subjektif. tapi juga akan mencari alternatif lain di luar dirinya. Manusialah yang menafsirkan keberadaan Tuhan. bagi masyarakat modern. Tuhan dianggap sebagai rencana manusia atau penafsiran manusia. Karena itu.Mengapa manusia membutuhkan agama?Apabila manusia sadar akan kebutuhan hidupnya. yaitu beragama. pada awalnyrf manusia adalah tafsiran Tuhan. Kedua. Sedangkan pada zaman modern ini. berakar dalam kondisi dasar eksistensi species manusia itu sendiri. dari segi asal-usul. "Agama merupakan suatu visi tentang sesuatu di balik kenyataan yang menunggu untuk diungkap. dalam tingkatan ilmu.

tragedi. tapi dorongan jiwanya untuk beragama.Apa yang menyebabkan manusia tak bisa lepas dari agama?Begini. Dengan demikian. Dorongan psikis manusia membentuk interpretasi baru bagi dirinya untuk mengenal Tuhan. Kalaupun Freud beranggapan bahwa agama hanyalah sebuah ilusi bagi manusia dan gangguan jiwa yang mengakibatkan kemunduran kembali pada hidup dalam kelezatan dan kenikmatan seksual. dalam arti nilai pada eksistensi manusia suatu yangmengalir dari hakikat kenyataan diri. kenyataannya agama memang telah menjadi persoalan pokok kehidupan manusia. ia akan merasa tenang.Sesuatu yang memberi makna bagi yang telah lalu. Sifat yang khas dari kebenaran agama adalah kebenaran tersebut secara eksplisit berkaitan dengan nilai-nilai. agama merupakan Sacred Canopy (kanopi sakral) yang melindungi manusia dari chaos. Sesungguhnya keadaan seperti itu dapat kita lihat pada tingkah laku dalam kehidupan manusia. menurut Sastraperadja. penderitaan. mereka dengan sendirinyamenciptakan suasana batin dengan mewujudkan sebuah peribadatan. Kebenaran itu menyadarkan manusia akan aspek yang tetap dari alam semesta dan dapat dipandang bernilai. Sesuatu yang apabila dimiliki merupakan ideal tertinggi yang pantas dicita-citakan. namun hingga saat ini agama tetap dijadikan sebagai kebutuhan yang tidak Hapat ditinggalkan oleh manusia. Karenanya. Pertama.Jadi.. tetapi sekaligus juga merupakan sesuatu yang mengatasi segala dambaan. Tampak secara jelas dan bersesuaian dengan isyarat yang ditunjukkan oleh Alquran. dan ketidakadilan. agama memberikan semesta simbolik yang memberi makna pada kehidupan manusia dan yang memberikan penjelasan yang paling komprehensif tentang realitas seperti kematian.. agama itu bisa dianggap sebagai pokok persoalan kehidupan manusia?Ya. agama mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu yang di luar dirinya.Lalu apa fungsi agama bagi manusia?Thomas F ODea menyebutkan ada enam fungsi agama. Ia . Bahkan. agama menyadarkan akan sebuah dimensi nilai yang abadi. dorongan beragama itu merupakan tuntutan jiwa yang tidak dapat dihindari. situasi tanpa arti."Whitehead menambahkan bahwa agama memberi rasa damai yang diperlukan berani berpetualang di dunia yang bersifat sementara. Karena itu... kebenaran tersebut memberi suatu makna. Hanya saja konsepsi manusia dalam mengekspresikan keberagamaannya tersebut berbeda-beda. Sehingga. Oleh karenanya. namun yang terpenting bukanlah konsep keberagamaannya.

dapat dikatakan bahwa kecenderungan asli atau kecenderungan dasar manusia itu adalah menyembah Tuhan. Dengan demikian. agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia. agama menyediakan sarana emosional bagi manusia. juga adalah fenomen sosial. Agama dalam hipotesis para teolog modern bukanlah suatu hypostase. agama menyucikan niali-nilai dan norma-norma masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Keenam.memberikan dukungan moral dari ketidakpastian hidup manusia. Demikian juga alam semesta menjadi berarti bagi dirinya. Agama memberikan kesempatan bagi individu untuk mengenal identitas dirinya. Hal ini dapat dilihat dari fungsi-fungsi sosiologis yang dapat dilakukan agama. Tampaknya. Dengan demikian. agama dapat memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlem-baga yang dapat dikaji kembali secara kritis. dan membantu mengurangi kebencian. Dia tidak berada di langit Plato yang sempurna dan suci murni serta mengatasi .Kelima. Agama juga mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu. baik pada masa lampau maupun masa mendatang yang tak terbatas. Di samping memiliki signifikansi personal. agama sebagai pandangan dunia (weltanchaung) sesungguhnya tidak dipisahkan dari manusia.Dengan bahasa ilmiah. Agama di samping sebagai fenomena individual. serta menopang nilai-nilai serta tujuan yang telah terbentuk. Agama memperluas ego manusia dengan memberikan spirit bagi alam semesta. Ia juga memberi berbagai alternatif penyelamatan dari kekecewaan dan kesedihan serta kegelisahan manusia. Menempatkan disiplin kelompok di atas kepentingan dan dorongan individu. posisi agama dalam konteks personalitas demikian tidak banyak mempertentangkannya. Itu memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di tengah ketidakpastian dalam hidupnya serta dalam menghadapi perubahan sejarah dirinya. Perkembangan usia seseorang memengaruhi karakterisktik tingkat keberagamaan manusia. agama diakui memiliki signifikansi sosial. agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui pemujaan dan periba-datan. Apakah agama juga memiliki signifikansi secara sosial?Benar.Ketiga. memperkuat moral. Keempat.Kedua. Agama tumbuh dan berkembang bersamaan dengan perkembangan kehidupan masyarakat. agama memberikan fungsi identitas yang sangat penting.

Manusia harus menemukan ruang dalam agama untuk mengembangkan akalnya dan membangun potensi-potensi dirinya. Tapi. biasanya bukan satu. lambat laun akan ditinggalkan manusia. Tapi. tidak mengandung gerak dalam dirinya dan mantap dalam keabadian. agama juga perlu menghindari dogmatisme. agama yang tidak bicara kepada masalah moral pokok zamannya akan menghadapi bahaya. Dengan kata lain.Apakah semua agama bisa menjadi solusi? Sejarah merupakan pelajaran berharga bagi keberadaan agama.manusia dan Tuhan. karena jalan untuk menerjemahkan penilaian moral menjadi kebijaksanaan.Sejauh manakah agama bisa menjadi solusi bagi manusia? Milenium ketiga sebagaimana yang dilansir Alvin Toffler adalah milenium kebangkitan. Tofler menunjukkan bahwa krisis manusia modern hanya bisa diselesaikan oleh agama. selesai. Seperti diungkapkan Soedjatmoko. agama bisa menjadi solusi bagi kehidupan masyarakat modern. agama yang membebaskan adalah agama yang berpusat pada manusia dan kekuatannya. Agama yang hanya mementingkan keutuhan dan kemapanan ortodoksi teologis dan tidak memberikan peluang proporsional pemberdayaan akal untuk menerjemahkan pesan-pesan teologis Tuhan. Itu artinya.Dengan gambaran ini. melainkan banyak. Agama berada dalam irama perubahan dan kefanaan dan bukan hakikat metafisik yang tertutup. Entitas terkait7ang | Agama | Apabila | Apakah | Berikut | Dea | Dorongan | Erich | Hapat | Heri | Kebenaran | Keberagamaan | Kenyataan | Manusia | Manusialah | Menempatkan | Milenium | Perbedaan | Perkembangan | Plato | Realitas | Sejarah | Sejauh | Seringkali | Sesungguhnya | Sifat | Suatu | Tampak | Tofler | Tuhan | Tuhanlah | Whitehead | Alvin Toffler | Kalaupun Freud | Muhammadiyah Jawa | Pimpinan Wilayah | Sacred Canopy | Thomas F | Beragama Tuntutan Jiwa | Sunan Gunung Djati | Universitas Islam Negeri | Prof Dr Dadang Kahmad | Direktur Program Pascasarjana UIN Bandung | Ringkasan Artikel Ini . Dia secara berangsurangsur akan menjadi tidak relevan. hakikat agama selalu merupakan hakikat yang historis. dia merupakan agama manusia biasa dengan daging dan darah.Keberagamaan yang membebaskan adalah keberagamaan yang memberikan tempat pada usaha menumbuhkan kemampuan terbesar manusia dan meraih pertumbuhan rohaninya yang paling tinggi.

Keberagamaan yang membebaskan adalah keberagamaan yang memberikan tempat pada usaha menumbuhkan kemampuan terbesar manusia dan meraih pertumbuhan rohaninya yang paling tinggi. selesai. Dengan demikian."Karena agama adalah tema paling penting 7ang sanggup membangkitkan perhatian serius dan paling intens. Ya." ujar Prof Dr Dadang Kahmad MSi. memperkuat moral. agama menyediakan sarana emosional bagi manusia. penderitaan. Agama berada dalam irama perubahan dan kefanaan dan bukan hakikat metafisik yang tertutup. yang juga ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Barat. agama yang membebaskan adalah agama yang berpusat pada manusia dan kekuatannya. dan membantu mengurangi kebencian. guru besar sosiologi agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Karenanya. Dengan kata lain. berakar dalam kondisi dasar eksistensi species manusia itu sendiri. Begitu juga dengan apa yang diungkapkan Erich Fromm. Manusia memerlukan objek pengabdian semacam agama agar dapat mengatasi eksistensinya yang terisolasi dengan semua keraguan dan ketidakmampuannya menjawab arti hidup. . lambat laun akan ditinggalkan manusia. dan ketidakadilan. namun hingga saat ini agama tetap dijadikan sebagai kebutuhan yang tidak Hapat ditinggalkan oleh manusia. tidak mengandung gerak dalam dirinya dan mantap dalam keabadian. bahwa kebutuhan manusia akan agama. di antara masalah besar yang sering dihadapi oleh umakmanusia adalah yang berkaitan dengan agama. tragedi. Agama yang hanya mementingkan keutuhan dan kemapanan ortodoksi teologis dan tidak memberikan peluang proporsional pemberdayaan akal untuk menerjemahkan pesan-pesan teologis Tuhan. serta menopang nilai-nilai serta tujuan yang telah terbentuk. agama memberikan semesta simbolik yang memberi makna pada kehidupan manusia dan yang memberikan penjelasan yang paling komprehensif tentang realitas seperti kematian. Kalaupun Freud beranggapan bahwa agama hanyalah sebuah ilusi bagi manusia dan gangguan jiwa yang mengakibatkan kemunduran kembali pada hidup dalam kelezatan dan kenikmatan seksual.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->