P. 1
IX Interaksi Antara Tingkah Laku Sosial Dan Lingkungan

IX Interaksi Antara Tingkah Laku Sosial Dan Lingkungan

|Views: 75|Likes:
Published by Eko Subhan

More info:

Published by: Eko Subhan on Jan 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2011

pdf

text

original

Interaksi Antara Tingkah Laku Sosial dan Lingkungan

Banyak perencana kota bahkan para arsitek percaya bahwa lingkungan fisik, baik alami maupun lingkungan buatan, secara langsung memberikan pengaruh yang besar pada pola tingkah laku manusia dan masyarakat secara umum. Bahkan banyak Sosiolog yang percaya bahwa struktur social, terutama bangunan ekonomi dan kebijakan-kebijakan yang dibangun di atasnya adalah factor elementer dalam bangunan pola tingkah laku social. Para perencana dan para Sosiolog memiliki perbedaan sikap yang dihadapi dalam menghadapi lingkungan yang bisa dengan cepat berubah. Ketika para sosiolog berpikir tidak ada tujuan tertentu dalam kajian tertentu dalam kaitan antara lingkungan dan pola tingkah laku, para perencana mempelajari berbagai perubahan yang harus dan dapat diantisipasi masyarakat dalam menghadapi bangunan-bangunan fisik lingkungan di hadapannya. Banjir di Jakarta: salah urus lingkungan dan ketidakpdulian pada alam ketika Mall versus Waduk Penampung Air (kiri) Tsunami di Aceh (kanan

Kerusakan alam akibat kebakaran hutan dan keserakahan manusia Kondisi hutan di Indonesia

Kalimantan Timur dari udara: bopeng karena pejabat ingin tambang yang bisa bikin mereka kaya gak ketulungan (kiri) Kerusakan terparah di Freeport papua (kanan)

Interaksi Manusia dan Lingkungan dalam Peradaban Manusia
Interaksi manusia dengan lingkungannya adalah sebuah proses yang sering dikenal dengan adaptasi manusia. Konsepsi Teori Adaptasi diawali oleh Teorinya Charles Darwin yang diperoleh dari penelitiannya di Pulau Galapagos:
The most famous scientist associated with adaptive theory is Charles Darwin whose studies in the 1830s in the Galapagos Islands established a fixed relationship between organism and its habitat. Before Darwin, other scientists such as Empedocles, Aristotle, William Paley, Lamarck and Buffon accepted that fact that species changed, but didn't fully understand the reason behind the changes or that adaptation was a continual process without a final form. Adaptation theory proposed three changes when habitat changes: habitat tracking, genetic change or extinction. Of the three, only genetic change is the adaptation.

Proses interaksi sosial akan terjadi apabila di antara pihak yang berinteraksi melakukan kontak sosial dan komunikasi. Menurut Soerjono Soekanto (2003), kata kontak berasal dari bahasa Latin, yaitu berasal dari kata con dan tangere. Kata con berarti bersama-sama sedangkan tangere mengandung pengertian menyentuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa kontak berarti bersamasama saling menyentuh secara fisik. Dalam pengertian gejala sosial, kontak sosial ini dapat berarti hubungan masing-masing pihak tidak hanya secara langsung bersentuhan secara fisik, tetapi bisa juga tanpa hubungan secara fisik. Misalnya, kontak dapat dilakukan melalui surat-menyurat, telepon, sms, dan lain-lain. Dengan demikian hubungan fisik bukan syarat utama terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial dapat bersifat positif dan negatif. Kontak yang bersifat positif akan mengarah pada kerjasama, sedangkan kontak yang bersifat negatif akan mengarah pada suatu pertentangan. Menurut Karl Mannheim, kontak dapat dibedakan ke dalam dua bagian, 1. Kontak primer adalah kontak yang dikembangkan dalam media tatap muka. 2. Kontak sekunder terjadi tidak dalam media tatap muka dan ditandai dengan adanya jarak. a. Kontak Sekunder langsung, yaitu kontak yang terjadi antara masing-masing pihak melalui alat tertentu seperti telepon, internet, surat, sms, dan lain-lain. b. Kontak Sekunder tidak langsung, yaitu kontak yang memerlukan pihak ketiga. Indonesia yang meratifikasi Kyoto Protocol dan KTT Bumi telah berkomitmen untuk senantiasa menjaga kelestarian bumi dan pembangunan yang bekelanjutan untuk anak cucu serta antisipasi atas ancaman Global Warming. Bentukan yang sempat popular ditawarkan ke Indonesia belakangan ini adalah CDM (Carbon Development Management) sebuah bentuk transaksi perdagangan carbon yang mewajibkan Negara-negara penghasil Carbon untuk memberikan kompensasi kepada Negara-negara yang bersedia untuk menanam Carbon di wilayahnya. GLOBAL WARMING sebuah gagasan yang dimegahkan oleh Al Gore, hingga saat ini walaupun memiliki dampak yang sangat luas dan mendalam pada hampir seluruh diskursus pembangunan dan kegiatan manusia, namun masalah ini masih memiliki kandungan controversial ketika beberapa kelompok justru memiliki pemikiran yang sangat bertentangan yang mengemukakan bahwa perkembangan perubahan

iklim bila ditarik dalam rentang waktu yang sangat panjang akan diperoleh bahwa proses ini adalah proses pengulangan yang tetap dari perkembangan bumi itu sendiri. Realisasi legal dari proses ratifikasi KTT BUMI (Earth Summit di Rio De Janeiro 1992) dan Protokol Kyoto Tahun 1997 di Indonesia adalah dengan diundangkannya UU No 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Kyoto dan kemudian ditekankan lagi melalui UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang salah satu butirnya mewajibkan seluruh stakeholder pembangunan untuk menerapkan studi Kajian lingkungan hidup strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. Sayangnya seperti umumnya di Indonesia, koordinasi antar lembaga masih sangat sulit untuk dilakukan. Intervensi KLHS ini masih sangat terbatas dan tidak dilindungi oleh kesepakatan yang jauh lebih kuat. Pada tahun 2002 Indonesia pasca krisis 1997 juga ditawari oleh banyak negara maju setelah Indonesia meratifikasi KTT Bumi dan Kyoto Protokol sebuah mekanisme pembebasan utang dengan sistem tukar guling dengan program pelestarian lingkungan, penanaman pohon dan penghentian eksploitasi alam khususnya yang menggali berbagai sumber energy yang tidak terbarukan.

Konsepsi Umum dari Balancing Compensation on Natural Resources Management
Secara umum konsepsi Balancing Compensation on Natural Management1 merupakan suatu konsepsi yang mencoba menjunjung tinggi asas keadilan demi peningkatan kesejahtraan masyarakat. Konsepsi ini lebih mencoba menempatkan asas ekonomi sebagai dasar pertimbangan dalam pembangunan yang berkelanjutan, dari pada memelihara trade-off yang secara klasik mempertentangkan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Dasar pemikirannya adalah sederhana, yaitu bahwa seluruh alam telah disediakan bagi manusia dan manusia telah dipersilahkan untuk memanfaatkannya demi tercapainya kesejahteraan umat. Di samping itu, perlu juga dimengerti pula bahwa system peradaban manusia tidak hanya bergerak statis dan linier, sehingga setiap upaya pemanfaatan sumber daya alam harus tetap mempertimbangkan ketersediaan yang cukup hingga mampu bersifat multigenerational. Prinsip lain yang melandasi pemikiran ini adalah konsepsi global balancing environment, bahwa polusi di satu bagian dunia akan mempengaruhi bagian dunia lainnya. Demikian pula sebaliknya, konservasi di satu bagian dunia akan memberikan manfaat kelestarian lingkungan di bagian lainnya. Dalam konsep mikronya, keuntungan di satu sisi akan menyebabkan kerugian di sisi lainnya, atau pendapatan di satu sisi dan kehilangan di sisi lainnya. Dalam penerapannya, konsepsi BCRM dapat dikelompokkan dalam dua sudut pandang, yaitu:
1

Balancing Compensation on Natural Resources Management selanjutnya untuk memudahkan penulisan disingkat dengan BCRM

a) Global Balancing Compensation (i.e. emission trading or pollutant trading, etc.) b) Local Balancing Compensation (i.e. polluter must paid, beneficiaries must be gain, etc) Kedua konsepsi tersebut diatas secara prinsipil tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dan yang lainnya, karena setiap sisi memiliki karakteristik yang berbeda dan saling melengkapi secara finansial satu sama lain. Dalam uraian selanjutnya akan dijelaskan bagaimana penerapan konsep-konsep di atas dalam kondisi yang paling realistis dan sekaligus dapat membantu setiap upaya pembangunan lokal di Indonesia. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana mekanisme ini dapat dijadikan salah satu alternatif pembayaran hutang Indonesia.

Penerapan BCRM dalam Pembangunan Lokal dan Regional
Penerapan BCRM sangat berkaitan dengan spot-spot Sumber Daya Alami yang lokasinya dapat saja berada pada hanya satu wilayah yurisdiksi yang otonomous ataupun lokasinya multi-jurisdiction (yang juga realatif autonomous). Setiap spot SDA sudah barang tentu akan memiliki nilai ekonomis very tangible yang mampu memberikan dampak ekonomi luar biasa bila dilakukan eksploitasi terhadapnya. Nilai ekonomis dari setiap spot SDA, bukan hanya memberikan efek langsung pada pengguna, melainkan juga sangat potensial memberikan multiplier effect dan tricle-down effect yang mengagumkan. Belum lagi bila kita berbicara externalities effects yang umumnya sangat membantu pada peningkatan ekonomi lokal. Sebagai Pemerintah Daerah yang memiliki kewenangan atas spot SDM dan bertindak sebagai beneficiaries utama dari spot tersebut, maka sangat logis bila Pemda akan semaksimal mungkin memanfaatkan SDA demi kepentingan Pembangunan Ekonomi Lokal dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat2. Dari sudut pandang ini jelas bahwa eksploitasi terhadap suatu spot SDA sangat masuk akal, dan semakin jelas pula bahwa setiap upaya conservation merupakan upaya yang dipandang trade-off oleh pemerintah setempat. Namun demikian peradaban manusia telah membuktikan bahwa dalam setiap proses interaksi dengan alam3, selalu alam memberikan suatu nilai kesetimbangan terhadap proses interaksi itu sendiri. Konsepsi BCRM mencoba mengaplikasikan nilai-nilai kesetimbangan alam dalam satuan-satuan numeric yang memiliki kapasitas untuk dilakukan proses exchange atau barter atau reciprocity atau trading dan atau lain serupa dengan itu. Dengan dilakukannya proses tranformasi nilai menjadi angka, maka trade-off yang sempat dikhawatirkan dapat dieliminasikan. Pertanyaan yang pasti akan muncul adalah; Nilai apa saja yang dapat ditranformasikan menjadi numeric dan semuanya menjadi tangible? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita dibantu oleh matriks contoh alur-uang sehingga kita dapat memperoleh gambaran lebih jelas.
2

3

Setidaknya selama kepemimpinan Bupati/Walikota berangkutan dapat memperlihatkan kepada masyarakatnya bahwa ekonomi di tingkat lokal dapat menjanjikan. Prose interaksi dengan alam yang kemudian alam memberikan kesetimbangan sering diungkapkan dengan kata hukum alam

Penerimaan
I. Penerimaan langsung I.a I.b Penjualan produk (sector primer1)  Pajak dan Retribusi sector primer1   II. Penerimaan tidak langsung II.a Penjualan produk sekunder1  Dapat berarti kegiatan penjualan lokal, ekspor regional/multinasional untuk keg. produksi penunjang kegiatan produksi primer Dapat berarti kegiatan penjualan lokal, ekspor regional/multinasional untuk keg. produksi penunjang kegiatan produksi sekunder dan primer Dapat berarti peningkatan kemampuan konsumsi masyarakat melalui peningkatan daya beli akibat terserapnya tenaga kerja Pajak dapat berasal dari PPN, Pajak Penjualan, dsb. Retribusi dapat berasal dari kegiatan transportasi, kegiatan jual beli, dsb. pendapatan dari kegiatan produksi pasca eksploitasi sektor1 untuk sector2-n pendapatan dari kegiatan produksi sekunder dan tertier sebagai akibat pengembangan sector primer2-n dsb. Dapat berarti kegiatan penjualan di tingkat lokal, ekspor regional, maupun ekspor multinasional Pajak dapat berasal dari PPN, PPH, Pajak Penjualan, Pajak Ekspor, dsb. Retribusi dapat berasal dari kegiatan distribusi, kegiatan jual beli, dsb.

II.b

Penjualan produk tertier1 

II.c

Peningkatan kemampuan daya beli 

II.d

Pajak dan Retribusi sector sekunder1 dan tertier1 



II.e

Pengembangan sector primer2 dan  primern Pengembangan sector sekunder2, tertier2, sekundern dan primern dsb. 

II.f

II.g 

III. Penerimaan lain-lainnya dsb. IV. Pengeluaran IV.a Biaya penyusutan  Nilai susut dari sumber daya bila secara linier dieksploitasi, baik untuk kegiatan produksi sector primer1,2-n ataupun sekunder1,2-n dan tertier1,2-n Nilai yang berhubungan dengan pengembangan infrastruktur Nilai yang berhubungan dengan pengembangan SDM  dsb yang mungkin tercipta akibat multiplier effect & kegiatan trickle-down effect

IV.b Biaya investasi Harware IV.c Biaya Investasi Software 



IV.d dsb. 

Dsb

Dari matriks di atas dapat dikemukakan bahwa nilai ekonomi dari sebuah spot SDA benar-benar tangible dan dapat diprediksikan total pendapat yang sudah dan akan diperoleh Pemda setempat dari kegiatan eksploitasi atas SDA tersebut. Mengapa demikian? barangkali pertanyaan itu kembali muncul, atau Bagaimana dengan nilai tambah dari kegiatan konservasi, seperti cadangan air dari kegiatan pelestarian hutan, misalnya? Pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh pertanyaan Siapa yang menjadi kelompok beneficiaries dari konservasi hutan tersebut? Secara logis, mungkin belum tentu Pemda setempat yang mendapatkan benefit dari kegiatan konservasi hutan melalui pencadangan air, mungkin daerah/Pemda di hilir yang mendapatkannya. Kembali secara logis, mereka yang mendapatkan keuntungan (benefit) adalah yang seharusnya mendapat konsekuensi membayar pada mereka yang mendapatkan kerugian4. Selanjutnya siapa yang mendapatkan keuntungan dari udara (carbon) yang dilepas ke udara maupun yang diikat oleh pohon (hutan), mereka pulalah yang seharusnya membayar kepada Pemda yang melakukan konservasi. Bila hal ini dapat dilakukan, maka kita telah mencoba membangun proses kesetimbangan kompensasi atau balancing compensation on natural resources management. Permasalahannya adalah nilai dari eksploitasi sudah pasti akan lebih kecil dari kemampuan negaranegara penghasil polutan untuk mensubtitusi kegiatan konservasi di suatu spot SDA. Belum lagi permasalahan transfer dari negara-negara polutan ke lokasi pengelola spot SDA yang harus menggunakan mekanisme G to G, ini sangat potential losses bila tidak dikaitkan dengan mekanisme DAU. Oleh karena itu, agar Pemda pengelola dapat memperoleh perlakuan yang lebih adil dalam memperoleh kompensasi dari setiap upaya konservasi, maka perlu dilakukan dua pendekatan, yaitu (1) kompensasi dari negara-negara maju pengkontribusi polusi dunia, dan (2) kompensasi dari daerah-daerah sekitar yang menjadi pemanfaat dari kegiatan konservasi.

Debt for Natural Swap Sebagai Pendekatan Global Balancing Compensation
Konsep umum dari Debt for Natural Swap adalah suatu upaya pemutihan hutang melalui kegiatan konservasi SDA. Mekanisme ini akan memberikan peluang bagi Pemerintah untuk tidak terkejar-kejar untuk melunasi hutangnya. Secara umum pula dapat dikatakan bahwa dalam konsep Debt for Natural Swap ditekankan bahwa SDA sebenarnya bukan milik Pemerintah Daerah, bukan pula milik Pemerintah Pusat, melainkan milik seluruh komunitas manusia di dunia.

4

dalam hal ini adalah Pemda pengelola spot SDA

Konsep ini pada pelaksanaannya merupakan kerjasama multilateral yang akan melibatkan para pemberi pinjaman maupun negara-negara Annex 1 sebagai negara pemberi kontribusi terbesar pada polusi global. Selanjutnya mereka akan bergabung dalam satu union untuk menentukan besaran angka yang dapat disubtitusikan bagi program pelestarian lingkungan. Mekanisme selanjunya adalah pengembangan hubungan kerjasama dengan dilandasi oleh material perhitungan potensial kontribusi dari eksploitasi versus kemampuan The Union untuk menyediakan sejumlah dana subtitusinya. Dalam hal ini juga termasuk program penghapusan hutang. Tentu saja prasyarat utama adalah negara-negara atau lembaga-lembaga pemberi pinjaman menyetujui terlebih dahulu program penghapusan hutang dengan model subtitusi konservasi. Prasyarat lainnya adalah Pemerintah pengelola eksisting SDA harus dengan cermat dan teliti menghitung berapa total kapasitas potensial tergali, bila dilakukan eksploitasi atas SDA tersebut.

Teladan dari Debt for Natural Swap di Jordania Pemerintah Jordania telah dilakukan inisiatif yang unik ketika mereka membangun kerjasama dengan IUCN dan UNDP untuk menciptakan mekanisme pembebasan beberapa kelompok hutang luar negeri melalui pengalokasiannya pada proyek-proyek konservasi lingkungan di negara Jordan. Mekanisme yang digunakan adalah debt for natural swap yang juga sekaligus sejalan dengan program pemerintah di bidang lingkungan hidup. Dengan demikian, akan terdapat 2 hal yang terselesaikan, yaitu masalah hutang luar negeri dan masalah pelestarian lingkungan. Beberapa negara sedang diminta oleh Pemerintah Jordan untuk turut serta dalam program ini bersama IUCN dan UNDP, yaitu negara Belgia, Prancis, dan beberapa negara lainnya. Sampai dengan saat ini yang masih belum terselesaikan adalah nilai besaran yang paling realistis dan paling optimal sebagai subtitusi kegiatan konservasi lingkungan mereka. Jordan Time, 10 Okt 2000

Bila kita mau menjunjung tinggi rasa perikeadilan, maka angka kapasitas potensial tergali-lah yang harus disediakan oleh The Union sebagai angka subtitusi program penghapusan hutang tersebut. Pemerintah pengelola SDA harus benar-benar menyiapkan angka perhitungan, dan hal itu diyakini akan menempuh waktu yang cukup lama. Demikian juga The Union harus mampu mekoordinasikan program dan mengkoleksi dana yang diperkirakan sangat besar.

Beberapa negara telah melakukan mekanisme serupa, dan beberapa telah menunjukkan keberhasilan mereka, seperti Jordania, Peru, dan sebagainya. Masalah yang akan dihadapi bila program ini akan diterapkan di Indonesia adalah: 1. 2. Spot-spot SDA potensial di Indonesia akan menjadi milik dunia atau The Union dan kita akan kehilangan kewenangan atas pengelolaannya. Dana yang mungkin mampu dikompensasi oleh The Union secara logis hanya akan sejumlah

Perubahan Iklim di Indonesia
DFID dalam proyeknya di Tahun 2007 mengemukakan bahwa5 deforestasi, degradasi lahan gambut, dan kebakaran hutan telah menempatkan Indonesia di antara tiga penghasil utama gas rumah kaca terbesar di dunia. Emisi yang dihasilkan dari deforestasi dan kebakaran hutan adalah lima kali lebih besar dibandingkan dengan emisi dari non-kehutanan. Emisi dari energi dan sektor industri relatif kecil, namun berkembang sangat pesat. Pada saat yang sama, Indonesia sendiri mengalami kerugian yang signifikan dengan perubahan iklim. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kekeringan yang berkepanjangan (saat ini hujan yang berkepanjangan), meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrim, dan hujan deras menyebabkan banjir besar, adalah beberapa contoh dampak perubahan iklim. Genangan air yang melanda beberapa bagian di Indonesia, misalnya kejadian banjir di Teluk Jakarta; keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya juga mengamali risiko yang besar. Pada gilirannya, ini dapat mengakibatkan efek yang merugikan pada pertanian, perikanan dan kehutanan, yang mengakibatkan ancaman terhadap keamanan pangan dan mata pencaharian penduduk. Ancaman terhadap Indonesia yang sebenarnya merupakan wilayah paru-paru dunia nampaknya sudah tidak dapat diandalkan lagi. Kapitalisme, kerakusan, dan korupsi telah menggantikan posisi Indonesia sebagai pusat paru-paru Dunia.

5

Indonesia and Climate Change - Working Paper on Current Status and Policies

Kondisi perubahan iklim dan pemanasan global juga memberikan pengaruh pada pemanasan Kutub Utara dan Antartika dan menyebabkan potensi pelepasan gunung es semakin mengancam dunia daratan dan meningginya permukaan air laut.

Konstelasi interaksi manusia dengan lingkungan, sebuah proses adaptasi
Fenomena alam yang sudah terjadi dan jawaban alam terhadap rangsangan interaksi manusia terbangun dalam sistem yang relative dalam kontkeks yang pelan dan memakan waktu (time consume). Respon alam terhadap interaksi manusia biasanya sangat bergantung pada besaran rangsangan yang diberikan manusia itu sendiri. Adanya time lag antara rangsangan dengan respon yang diberikan oleh alam, menyebabkan manusia sering merasa tidak bersalah dan merasa tidak bersangkut paut dengan masalah. Strategi adaptasi pada dasarnya adalah sebuah respon terhadap bangunan alam yang intinya mereka juga memberikan respon pada tingkah laku manusia terhadap mereka. Respon alam terhadap pola tingkah laku manusia umumnya sangat sulit untuk diprediksi secara akurat. Manusia yang menanam tanaman akan memperoleh keteduhan oleh tanaman yang dia tanam, buah yang manis, tanah yang subur, udara yang menjadi segar. Manusia yang membabat hutan akan mendapatkan tanah yang longsor, kekeringan di musim panas, kebanjiran di musim hujan. Dan seterusnya. ANDA MEMANEN APA YANG ANDA TANAM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->