dar al tauhid

IBNU MALIK (PENGARANG KITAB ALFIYAH)
Kontribusi Dari A. Khozin Nasuha Selasa, 19 Februari 2008

Ibn Malik, nama lengkapnya adalah Muhammad Jamaluddin ibn Abdillah ibn Malik al-Thay, lahir pada tahun 600 H. di Jayyan. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karangmengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H). Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah hajji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H). Di kawasan dua kota ini nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Siria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh muruid-muridnya, seperti imam-imam Al-Nawawi, Ibn al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia menya-jikan teks al-Hadits. Kalau tidak didapatkan lagi, ia mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran yang diproses melalui paradigma ini di-tuangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazham (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Pada umumnya, karangan tokoh ini lebih baik dan lebih indah dari pada tokoh-tokoh pendahulunya. Di anatara ulama, ada yang menghimpun semua tulisannya, ternyata tulisan itu lebih banyak berbentuk nazham. Demikian tulisan Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Di antara karangannya adalah Nazham al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang IlmuNahwu dan Sharaf yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini di-ringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibn Malik. Kemudian pada tanggal 12 Sya’ban 672 H., ulama pendiam yang banyak mengamalkan ibadah sunnah ini, wafat dan dikuburkan di Damaskus. Alfiyah Ibn Malik Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah (ringkasan) karena isinya mengutip inti urai-an dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah (ribuan) karena bait syiirnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait. Bab yang terpendek diisi oleh dua bait seperti Bb al-Ikhtishash dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir karena diisi empat puluh dua bait. Dalam muqaddimahnya, kitab puisi yang memakai Bahar Rajaz ini disusun dengan maksud (1) menghimpun semua permasalahan nahwiyah dan sharaf yang dianggap penting. (2) menerangkan hal-hal yang rumit dengan bahasa yang singkat , tetapi sanggup menghimpun kaidah yang berbeda-beda, atau dengan sebuah contoh yang bisa menggambarkan satu persyaratan yang diperlukan oleh kaidah itu.(3) membangkitkan perasaan senang bagi orang yang ingin mempelajari isinya. Semua itu terbukti, sehingga kitab ini lebih baik dari pada Kitab Alfiyah karya Ibn Mu’thi. Meskipun begitu, penulisnya tetap menghargai Ibn Mu’thi karena tokoh ini membuka kreativitas dan lebih senior. Dalam Islam, semua junior harus menghargai seniornya, paling tidak karena dia lebih sepuh, dan menampilkan kreativitas. Kitab Khulashah yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan Ilmu Nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibn Malik menjadi popular, dan pendapatnya banyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu di Timur. Al-Radli, seorang cendekiawan besar ketika menyusun Syarah Al-Kafiyah karya Ibn Hajib, banyaklah mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa akademisi Abbasiyah di Baghdad, dan merosot-nya para ilmuan Daulat Fathimiyah di Mesir, maka para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibn Malik. Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran nahwu pada awalnya, tidak banyak diminati oleh masyarakat. Tetapi setelah lama, pelajaran ini menjadi kebutuhan dan dinamislah gerakan karang-mengarang kitab tentang ilmu yang menarik bagi kaum santri ini. Di sana beredarlah banyak karangan yang beda-beda, dari karangan yang paling singkat sampai karangan yang terurai lebar. Maksud penulisnya ingin menyebarkan ilmu ini, kepada masyarakat, dan dapat diambil manfaat oleh kaum pelajar. Dari sekian banyak itu, muncullah Ibn Malik, Ibn Hisyam, dan al-Sayuthi. Karangan mereka tentang kitab-kitab nahwu banyak menampilkan metoda baru dan banyak menyajikan trobosan baru, yang memperkaya khazanah keilmuan. Mereka tetap memampilkan khazanah keilmuan baru, meskipun banyak pula teori-teori lama yang masih dipakai. Dengan kata lain, mereka menampilkan gagasan dan kreatifitas yang baru, seolah-olah hidup mereka disiapkan untuk menjadi penerus Imam Sibawaih. Atas dasar itu, Alfiyah Ibn Malik adalah kitab yang amat banyak dibantu oleh ulama-ulama lain dengan menulis syarah (ulasan) dan hasyiyah (catatan pinggir) terhadap syarah itu.. Syarah Alfiyah Dalam kitab Kasyf alZhunun, para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Di sela-sela itu muncullah beberapa kreasi baru dari beberapa ulama yang memberikan catatan pinggir (hasyiyah) terhadap kitab-kitab syarah. Syarah Alfiyah yang ditulis pertama adalah buah pena putera Ibn Malik sendiri, Muhammad Badruddin (w.686 H). Syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah yang diuraikan oleh ayahnya, seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq, tanazu’ dan sifat mutasyabihat. Kritikannya itu aneh tapi putera ini yakin bahwa tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin mengarang bait Alfiyah tandingan dan mengambil syahid dari ayat al-Qur’an. Disitu tampak rasional juga, tetapi hampir semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama. Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labak ini, sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz Karena itu, penulis-penulis Syarah Alfiyah yang muncul berikutnya, seperti
http://www.daraltauhid.com by je-loPHE Dibuat pada: 11 May, 2008, 08:56

atau hendak belajar ilmu di Makkah dan Mesir. Al-&lsquo.com by je-loPHE Dibuat pada: 11 May. Hasyiyah al-Hifni. Dengan demikian.i. Syarah ini sangat kaya akan informasi. Syarah Badrudin ini cukup menarik. dan Ibn Hisyam. sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Suatu ketika beliau cerita : Perut saya ini besar. atau Sunda. Syaikh Nawawi Banten menulis Syarah al-Ajrumiyah tentang ilmu nahwu. adalah fiqh dan nahwu. dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Di pondok-pondok pesantren di Jawa dan Madura. bahwa kitab ini adalah Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren. Al-Sayuthi (w. Ibn Qasim alAbbadi (w. Tetapi penulis ragu pada uraian muballigh tadi.819 H). Karena itu. Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit. kitab ini wajar dibanggakan karena kurikulum inti di pesantren. penulisnya mencantumkan ulasan. Bashrah dan semacamnya. Maka mulai masuk abad sembilan belas. kayu. adalah Al-Muradi. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah . Meskipun begitu. Hasyiyah Al-Ainiy. Al-Muradi. yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini.855 H). 749 H) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah. Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi. tetapi juga mengutip Mazhab Kufa.daraltauhid.ah (w. sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya. dan dicetak pada tahun 1881 M. gurunya Kiyai Taftazani Tegalrejo. Kiyai Khalil Madura. gurunya Embah Mutamakkin Pati dan lain-lain yang hidup pada akhir abad delapan belas. Di antara penulis-penulis syarah Alfiyah lainnya. dan Qadli Taqiyuddin ibn Abdulqadir al-Tamimiy (w. dan banyak lagi ulama di Sumatra. atau Madura. dan pulau-pulau besar lainnya. Zakaria al-Anshariy (w. 2008.1005 H). Kitab Alfiyah di Jawa dan Madura Sebagaimana telah disebutkan di atas. Hasyiyah al-Syuja&rsquo. Makkah dan Mesir sudah lancar. kitab ini bisa dinilai sebagai pelengkap catatan bagi orang yang ingin mempelajari teori-teori ilmu nahwu. Syekh Mahfuz Termas. dan Hasyiyah Al-Khudlariy. antara lain : Hasyiyah Hasan ibn Ali alMudabbighi. ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia. Al-Muradi (w. sudah mengenal Kitab Alfiyah. tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. kitab ini diberi makna bahasa Jawa kemudian diulas dan diterangkan dengan bahasa Jawa. karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing.W. Di antara tokohtokoh tersebut.di al-Maliki al-Makki. Ibn Aqil. (b) Karangannya akan mengulas beberapa masalah yang sering menimbulkan salah faham bagi pembaca. siapa yang mula-mula mengajarkan Alfiyah di kawasan ini. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna.994 H). Hasyiyah Ibn Jama&rsquo.C. pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. dan banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia. Karya tulisnya banyak. Adapun Ibn Aqil (w. Nusa Tenggara Barat. Ia juga banyak menertibkan kaidahkaidah yang antara satu sama lain bertemu. Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis.905 H). berkat dibukanya Terusan Suez pada tahun 1870. tetapi kalau http://www. Pembukaan terusan ini menjadikan kapal-kapal Eropa yang akan mengangkut rempah-rempah.191 H). sangatlah terbatas jumlah dan pemasarannya. dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ( ta&rsquo.liq ) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ibn Aqil. Munkin karangan ini mengutip juga beberapa syarah Alfiyah. ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. bahwa metodanya didasarkan atas tiga unsure. Van den Berg (1886) meneliti tentang kitab-kitab kuning yang beredar di bebera pesantren di Jawa dan Madura.Ainy (w. Kiyai kharismatik yang terkenal wali ini memiliki badan besar dan perutnya juga besar. L. Yang jelas percetakan kitab berbahasa Arab yang dipelopori oleh Ibrahim Mutafarrika di Istambul Turki pada tahun 1727.dar al tauhid Ibn Hisyam. dan Al-Asymuni. Saat itu ia menemukan Alfiyah Ibn Malik dan syarahnya. Ibn Hisyam (w. banyak sekali pemuda-pemuda dari kawasan nusantara yang belajar ilmu di Makkah dan Mesir. banyak meralat alur pemikiran putra Ibn Malik tadi. yang terurai dalam kitabkitab syarah al-Asymuni. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibn Hisyam ketika menyusun AlMughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi yang muridnya Abu Hayyan itu. ada peluang bagi muballigh untuk cerita bahwa guru-gurunya Kiyai Shalih Ndarat Semarang. kalau Alfiyah telah hadir waktu itu maka hanya merupakan barang elit saja. Hasyiyah Al-Karkhi. Antara lain AlDamaminy (w. seperti karya Ibn Jama&rsquo. (c) Menyajikan komentar baru yang belum ditampilkan oleh penulis hasyiyah sebelumnya. Dalam sejarah perkembangan ilmu agama. Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri. Meskipun begitu. yaitu (a) Karangannya akan merangkum semua pendapat ulama nahwu yang mendahului penulis. Kitab ini cukup menarik. Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis. dan Al-Asymuni. atau hanya menjadi perpustakaan bagi pengasuh. Tetapi orientalis Belanda ini tidak menerangkan apakah Alfiyah itu dijadikan kurikulum di pesantren tadi.769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Al-Sayuthi. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi. tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. gurunya Kiyai Ahmad Ripangi Kalisalak. dan Hasyiyah al-Shabban.911 H). Dengan demikian. Ibn Hisyam. Terhadap syarah ini. sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya. Lalu lintas ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hendak menunaikan ibadah hajji. dapat diraba bahwa Alfiyah Ibn Malik masuk ke pesantren-pesantren di Jawa dan Madura adalah pada pertengahan abad sembilan belas. hubungan lalu lintas antara Jawa. keduanya karya Ibn Malik. seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Kiyai Hasyim Jombang. Tetapi kaum santri sendiri tidak pernah memperhatikan. Tentu saja. sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Ibn Aqil. tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Hasyiyah Al-Sa&rsquo. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibn Malik. Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik.ah. sebab waktu itu kitab-kitab semacam ini banyak dipelajari pula oleh para pemuda antara lain oleh Muhammad Khalil Bangkalan Madura. bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah . muncullah ulama besar seperti Syaikh Nawawi Banten. Penulis berpendapat. Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia. Dalam muqaddimah hasyiyah yang disebut akhir ini. melalui sepenanjung Arab dan berhenti di Jeddah. 08:56 . Dari segi lain. seperti definisi tentang tamyiz. Dalam syarah ini. bahwa Alfiyah Ibn Malik banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. dan lain-lain dari kawasan Nusantara. 929 H). Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga.761 H) adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Al-Asymuni di beberapa pesantren.

Cianjur. 08:56 . disertai dengan aneka macam contoh. Memang kita tidak bisa menutup mata bahwa pesantren-pesantren lama di Jawa seperti Pesantren Langitan di Babat. Tetapi murid-murid mereka tidak secanggih murid Kiyai Khalil Madura dalam mempopulerkan kitab nazham yang ringkas dan indah ini.). eta. Wallahu a&rsquo. dsb. kemudian diterangkan dengan bahasa Sunda. iku. Tetapi anehnya. Penerapan struktur katanya persis seperti makna (apsahan) bahasa Jawa.lam. Bandung. apane. Kitab ini masuk di pasundan sebelum Indonesia merdeka. saha. naona. dan dikemas sedemikian rupa agar ia sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. 2008. Perhatian semacam itu. Garut.com by je-loPHE Dibuat pada: 11 May. tetapi diganti dengan bahasa Sunda. diteruskan murid-murid di pesantrennya masing-masing. Demikian tutur K. atau sekitar abad 19 dan awal abad 20. Pesantren Kiyai Nawawi di Babakan Cirebon. para ajengan di Pasundan mulai menerapkan makna pada kitab-kitab klasik dengan bahasa Sunda. Kreatifitas mereka adalah meng-uraikan isi kitab itu disertai uraian syarahnya. dsb. Syathari. Kiyai Khozin Sidoarjo dan lain-lain Dengan demikian dapat diraba. pelajaran kitab ini sangat diminati oleh beberapa pesantren di Tasikmalaya. kiyai yang selama hayatnya mengasuh Pesantren di Demangan Bangkalan ini sangat ihtimam dan mementingkan pengajaran Kitab Alfiyah. http://www. Sedangkan syarahnya diuraikan dengan bahasa Jawa.dar al tauhid ditepuk akan keluarlah Nazham Burdah atau Nazham Alfiyah. Tetapi setelah tahun enam puluhan.H. Dengan demikian.daraltauhid. dan lain-lainnya. kini memerlukan pemikiran baru untuk dilestarikan nilainya. bahwa Alfiyah Ibn Malik masuk ke pesantren di Jawa dan Madura adalah pertengahan abad sembilan belas. dan dibawakan oleh pemuda-pemuda yang belajar di Timur Tengah. seperti Embah Manaf di Lirboyo Kediri. baik berupa kata mutiara atau syair-syair yang indah seperti peninggalan Imri al-Qais. Nazham (matan) diberi makna (ap-sahan) dengan bahasa Jawa (utawi. sifatna. (ari. pendiri Pesantren Arjawinangun Cirebon. Di Jawa Barat. Embah Maksum di Lasem. sapa. kitab yang menjadi favorit bagi kaum santri ini. ajengan yang mengajarkan kitab ini (dulu) memberikan makna dengan bahasa Jawa.ul Ulum di Solo itu mempunyai andil besar terhadap sosialisasi pengajaran kitab nahwu yang satu ini.A. atau seperti Madrasah Manba&rsquo.) [Hayat Ruhyat] Sebagai penutup.