P. 1
Data Rokok

Data Rokok

|Views: 1,758|Likes:
Published by aussie_chan

More info:

Published by: aussie_chan on Jan 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2013

pdf

text

original

Akuisisi PT HM (Penulis : Deri Dahuri

)

Sampoerna

Bahayakan

Kesehatan

Masyarakat

Jakarta - Langkah perusahaan rokok multinasional Philip Morris mengakuisisi PT HM Sampoerna, membahayakan kesehatan masyarakat Indonesia. Pasalnya, Indonesia akan dibanjiri berbagai rokok produk Philip Morris. Tulus Abadi, Koordinator Penanggulangan Masalah Rokok Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan hal itu pada jumpa pers di Jakarta, hari ini. Dalam jumpa pers di gedung Litbang Ditjen Permberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes, Ketua YLKI, Indah Sukmaningsih, mendesak pemerintah Indonesia agar meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Bahkan FCTC kini telah menjadi hukum internasional terhitung 27 Februari 2005. Kini sudah 40 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang meratifikasi FCTC. Hingga 27 Februari 2005 sudah 68 negara yang meratifikasi FCTC. Sebanyak 168 negara anggota WHO telah mendatangani FCTC. " Indonesia satu-satunya negara Asia yang belum meratifikasi," katanya. Tulus menilai dengan tidak meratifikasi FCTC berarti pemerintah tidak melindungi generasi sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, sosial dan ekonomi yang timbul akibat tembakau. Apalagi Indonesia sekarang menjadi konsumen rokok terbesar No 5 di dunia. Menurut Tulus, hingga kini, pemerintah Indonesia tidak menandatangani FCTC hingga batas akhir Juni 2004. Padahal, katanya, sejak awal pembahasan draf FCTC, pemerintah Indonesia ikut terlibat. Bahkan delegasi pemerintah ikut hadir dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) di Jenewa pada 31 Mei 2004. "Artinya secara substansi pemerintah Indonesia sudah menyepakati FCTC, sedangkan penandatangan FCTC tidak bersifat mengikat untuk meratifikasi FCTC dan hanya bersifat political endorsement," kata Tulus. Gugatan Terhadap Pemerintah Mengenai ratifikasi FCTC, kata Tulus, pihak YLKI akan menggalang kekuatan seluas-luasnya. Jika satu bulan ke depan terhitung sejak 4 April 2005 hingga 4 Mei 2005, pemerintah bersikukuh untuk tidak meratifikasi FCTC. YLKI akan melakukan gugatan publik (legal standing) kepada pemerintah. Tulus juga menilai dengan dijualnya 40% saham PT HM Sampoerna ke Philip Morris dari sisi ekonomi akan banyak devisa Indonesia lari ke Amerika Serikat. Lebih dari itu, kepemilikan modal yang begitu tinggi akan menutup peluang tumbuhnya industri rokok nasional. Tulus berpendapat bahwa kenapa Philip Morris mengarahkan ekspansinya ke Indonesia. Pasalnya, di negaranya sendiri (AS) posisi Philip Morris tersudut dengan berbagai aturan mengenai kampanye bahaya merokok. Bahkan di Amerika Serikat, perusahaan Philip Morris sudah beberapa kali kalah dalam gugatan class action dari korban perokok pasif. "Philip Morris tahu memanfaatkan peluang empuk di Indonesia, karena hingga saat ini pemerintah Indonesia belum menandatangi FCTC dan juga tidak meratifikasi. Dengan tidak menandatangani, menyebabkan regulasi tentang penanggulangan bahaya tembakau di Indonesia menjadi tidak jelas dan kuat," katanya. Tulus menambahkan bahwa upaya menanggulangi bahaya tembakau itu sangat mendesak. Pada 2000, WHO melaporkan sebanyak 3 juta orang meninggal akibat rokok. Bahkan diperkirakan pada 2020 akan meningkat menjadi 10 juta jiwa. Ironisnya, mayoritas kematian akan terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Anggota DPR Komisi IX Hakim S Pohan mengatakan, 30% perokok di Indonesia berasal dari kelompok keluarga miskin. Dengan banyaknya masyarakat kelompok miskin yang menjadi perokok dampaknya sangat buruk. "Kita juga tidak sudi kalau generasi muda kita yang di bawah umur menjadi perokok." Sejumlah anggota DPR seperti Ali Nasution dari Komisi I, Elfa Hartati dari Komisi IX dan Marwan Batubara dari DPD mendesak pemerintah menghentikan iklan rokok di media massa dan menaikan cukai rokok menjadi dua kali lipat dari cukai sekarang. Sementara Tulus menyetujui kalau cukai rokok dinaikan menjadi 75% seperti yang dilakukan

pemerintah Thailand. Sedangkan cukai rokok yang dibebankan kepada perusahaan rokok di Indonesia baru 30%. "Faktanya industri rokok di Thailand tidak mati," katanya. (Sumber : Media Indonesia online, Senin 4 April 2005)

(http://www.antirokok.or.id/product_index.htm) Larangan Merokok Tempat (hanyawanita.com, 15 Februari 2005) Umum Didukung 50 LSM

Sekitar 50 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergabung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Masalah Rokok mendukung. Gabungan LSM juga siap membantu mensosialisasikan kebijakan larangan merokok di tempat umum. Termasuk, memberi masukan untuk SK (Surat Keputusan) Gubernur yang akan diterbitkan sebagai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan Perda Pengendalian Pencemaran Udara . "Kami mendukung Perda tersebut dan kami percaya Perda itu akan efektif, mungkin yang perlu digalakkan adalah penegakan hukumnya serta sosialisasi ke masyarakat," kata ketua delegasi, Farid Anfasa Moeloek usai bertemu Gubernur DKI Sutiyoso di Balai Kota, Senin (14/2). LSM yang tergabung dalam Gerakan Nasional tersebut antara lain Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), YLKI dan LM3. Farid mengutip penelitian yang menyebut perokok di Indonesia menghabiskan lebih dari 20 persen anggaran rumah tangga hanya untuk membakar rokok. Mantan Menkes itu juga mengutip penelitian yang menyebut kematian akibat rokok diperkirakan mencapai 3,5 juta jiwa per tahun atau 10 ribu kematian per hari. Di bagian lain, mereka juga mendukung jika Pemprov DKI Jakarta mengurangi keberadaan reklame rokok. "Mengurangi reklame rokok sebenarnya adalah salah satu sosialisasi Perda Pengendalian Pencemaran Udara yang juga mengatur mengenai kebijakan larangan merokok di tempat umum dan tertutup," kata Moeloek. Sebagai bentuk dukungan dan upaya mensosialisasikan kebijakan ini, Farid menyatakan pihaknya akan membagikan leaflet dan menempel pamflet berisi larangan merokok di tempat umum sebagaimana dimuat Perda tersebut. "Namun, sebenarnya yang terpenting dari kebijakan ini adalah membangun kesadaran dan upaya mengubah kebiasaan masyarakat perokok. Mereka harus diberi penyadaran bahwa kebiasaan ini bisa menimbulkan penyakit TBC dan penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan kematian mendadak," demikian Farid Anfasa Moeloek. (ant) (http://www.antirokok.or.id/product_index.htm)

Merokok di Tempat Umum Didenda Rp. 50 Juta (Kompas Cyber Media, 31 Januari 2005) Laporan: Egidius Patnistik Jakarta, KCM Waspadalah para perokok di Jakarta! Kalau Perda tentang Pengendalian Pencemaran Udara jadi, anda bakal di denda Rp. 50 juta bila melanggar. DPRD DKI Jakarta tidak jadi memasukkan klausul tentang batas usia kendaraan bermotor dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Tapi, klausul larangan merokok di dalam ruangan di tempat umum dimasukkan. Para pelanggar akan didenda Rp50 juta.

Demikian salah satu kesepakatan Rapat pimpinan (rapim) DPRD DKI yang khusus membahas raperda tersebut di Gedung DPRD, Senin (31/1). Raperda itu sendiri dijadwalkan ditetapkan menjadi perda pada pertengahan Februari 2005. Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Muhayar, usai rapat, mengatakan, rapim sepakat memasukkan larangan merokok di tempat umum. Alasannya, antara lain, 30 persen penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) disebabkan oleh pencemaran udara dalam ruangan (indoor polution). Asap rokok merupakan salah satu sumber pencemaran udara dalam ruangan. Setiap pengelola tempat umum, kata Muhayar, nantinya akan diwajibkan menyediakan ruangan khusus bagi perokok. Larangan merokok di dalam ruangan di tempat umum antara lain berlaku di sekolah, stasiun, perkantoran, dan kendaraan umum. Uji emisi Sementara, tentang batas usia kendaraan bermotor, Muhayar mengatakan rapim memutuskan untuk tidak memasukkan klausul tersebut. Namun, semua kendaraan bermotor baik roda empat maupun dua akan wajib melakukan uji emisi. "Kalau nggak lolos uji emisi kendaraan nggak boleh berjalan," kata Muhayar. Ketentuan lebih detail tentang uji emisi ini seperti soal ambang baku mutu emisi kendaraan lama dan baru akan diatur dalam surat keputusan gubernur. Uji emisi saat ini hanya dilakukan terhadap kendaraan bermotor angkutan umum. Komisi A DPRD DKI beberapa waktu lalu mengusulkan agar batas usia kendaraan bermotor menjadi salah satu ketentuan dalam Raperda tentang Pengendalian Pencemaran Udara demi menekan tingkat pencemaran udara di Jakarta. Sementara, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Kosasih Wirahadikusumah, Jumat (28/1), menyatakan setuju dengan usul itu. Alasannya, pembatasan bisa menstabilkan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta yang tiap tahun meningkat. Kini jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta sudah mencapai 2,9 juta unit. Wacana pembatasan usia kendaraan ini, tahun lalu sudah pernah diloktarkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Namun, hal itu ditentang berbagai pihak. Salah satu alasan yang diajukan para penentang yaitu usia kendaraan tidak selalu berkaitan dengan emisi. Menurut para penentang, asal kendaraan dirawat secara rutin dan baik, meski sudah tua, kendaraan itu bisa memiliki gas buang yang baik alias tidak mencemari udara. (Prim)

(http://www.antirokok.or.id/product_index.htm)

Jumat, Larangan (Kompas Cyber Media, 3 Februari 2005)

Merokok

Jadi

Perda

Laporan: Egidius Patnistik Jakarta,KCM Larangan merokok di dalam ruangan di tempat-tempat umum membutuhkan sosialisasi serius dan pengawasan ketat saat peraturan itu diberlakukan. Larangan merokok di tempat umum yang terdapat dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian Pencemaran Udara baru akan ditetapkan oleh DPRD DKI menjadi peraturan daerah, Jumat (4/2). Gubernur Sutiyoso mengatakan di Balai Kota, Kamis (3/2), meski sudah ditetapkan perda tersebut belum akan diberlakukan. "Perlu waktu dan sosialisasi. Juga perlu disediakan ruangan khusus untuk merokok seperti di bandara dan kantor-kantor," kata Sutiyoso. Ia mengemukakan, masyarakat sesungguhnya belum siap menerapkan aturan merokok di tempat umum itu. "Tapi, kita harus lakukan ini untuk memangkas polusi yang ada. Negara-negara maju sudah melakukan itu," kata Sutiyoso seraya tidak mengemukakan berapa lama waktu sosialisasi sebelum perda itu diberlakukan. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI yang juga Ketua Tim Perumus Raperda Pengendalian Pencemaran Udara, Muhayar, menyatakan, biasanya perlu waktu satu tahun bagi sebuah perda untuk diberlakukan setelah ditetapkan. Selang waktu itu harus digunakan untuk menyosialisasikan perda tersebut agar diterima masyarakat. Untuk bagian itu, Muhayar mengaku khawatir soal pengawasan penerapan aturan tersebut. Pengawas penerapan aturan di atas adalah polisi dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Berdasarkan raperda tersebut, orang yang merokok di dalam ruangan di tempat umum akan diberi sanksi berupa kurungan enam bulan atau denda Rp50 juta. (Prim)

(http://www.antirokok.or.id/product_index.htm)

Ramadhan, Waktu yang Tepat Berhenti Merokok (Republika, Senin, 25 Oktober 2004) Puasa Ramadhan bukan sekadar menjalankan perintah Allah, tapi dari aspek kesehatan momentum ini harus dapat kita manfaatkan sebagai waktu istirahat bagi organ-organ tubuh. Karena hampir 11 bulan, organ tubuh manusia dipacu bekerja keras, nyaris tak ada waktu istirahat. Pada Ramadhan ini sebaiknya kita manfaatkan untuk istirahat selama sebulan penuh. Menurut dr Rahmadi Iwan Guntoro, adalah waktu yang tepat bagi para perokok untuk menghentikan kebiasaannya merokok yang selama ini sukar di stop . Puasa, katanya, bukan hanya menahan lapar dahaga, tapi sekaligus sebagai awal menghentikan merokok. Karena kasihan tubuh ini seharusnya diisi dengan makanan bergizi, tapi malah dikasih racun rokok. Sebetulnya, setiap perokok mampu menghentikan kebiasannya itu. Buktinya mereka sukses tidak mengisap rokok mulai imsak sampai Magrib dan aktifitasnya tidak terganggung. ''Jadi sebenarnya alasan tidak bisa berhenti merokok itu hanya ketergantungan psikologi,'' ujar dokter yang baru rampung menyelesaikan program S2, spesialis paru-paru di Universitas Indonesia ini. Iwan begitu ia disapa, menjelaskan betapa bahayanya rokok bagi tubuh manusia, karena mengandung berbagai macam racun. Bahayanya, mulai dari mengurangi jumlah sel-sel berfilia (rambut getar), menambah sel lendir sehingga menghambat oksigen ke paru-paru sampai risiko delapan kali lebih besar terkena kanker dibandingkan mereka yang hidup sehat tanpa rokok. Dampak lainnya bagi si perokok adalah karang gigi akibat tar , kalau dibiarkan menjadi bau mulut. Dampak buruk rokok ini bukan saja berbahaya bagi perokok aktif, melainkan juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka kena imbas racun debu sekecil apa pun (0,5 mikro) bisa masuk ke saluran pernapasan. Curangnya, kata Iwan yang praktik di RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur ini, biasanya kalau si perokok sehabis merokok langsung kabur, efeknya terkena kepada mereka yang tidak merokok. Ini yang membuat bahaya bagi perokok pasif. Bagaimana kiat berhenti merokok secara total? Sebut saja Wahyu, 32 tahun, wartawan sebuah majalah di Jakarta mengaku berbagai upaya sudah dilakoni, sampai menemui orang pintar, tapi

hingga sekarang tidak bisa lepas dari rokok. Ibaratnya, di bulan Ramadhan kalau tidak makan dan minum masih kuat, ''Tapi kalau tidak merokok, mana tahan,'' ujarnya. Menurut dr Iwan banyak teori dan berbagai pengobatan dipromosikan untuk menghentikan rokok, tapi jarang ada yang jitu. Obat mujarabnya hanya satu, rajin-rajinlah menjenguk para pasien akibat korban rokok. Lihat saja hidup mereka sangat menderita, mulai makan, buang air besar sampai ke mana-mana harus membawa tabung oksigen. ''Kasihan sekali hidupnya, padahal usia mereka belum begitu tua,'' ujarnya. Oleh karena itu, ''Kalau masih sayang anak-istri dan usia 50 tahun masih ingin sehat, tidak menyusahkan keluarga, niatkan dari sekarang di bulan Ramdhan ini, berhenti merokok. Jangan mengurangi, tapi berhenti merokok secara total,'' tegasnya. Ustadzah Aan Rohanah menjelaskan, memang tidak ada dalil yang melarang bahaya rokok, tapi para ulama mengharamkan mengisap rokok. Karena dalam Islam dilarang berbuat sesuatu yang berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bahkan merokok itu dikiaskan dengan miras, jadi lebih banyak mudharot-nya dari pada manfaatnya. ''Islam ini kan agama Rahmatan lil alamin memberikan rahmat, sedangkan kalau merokok akan merusak diri dan masyarakat di sekitarnya (perokok pasif.red). Makanya, harus ada kesadaran dari para perokok segera menghentikan kebiasaan itu,'' ujar Ustadzah lulusan S2 dari Universitas Ibn Saud Arab Saudi. Kesadaran ini, lanjut Aan yang kini sebagai anggota DPR RI, bisa dilakukan dengan meninjau bahaya merokok dari aspek kesehatan maupun hukum Islam. Dari sudut kesehatan maupun agama Islam merokok tidak ada gunanya. Lalu mengapa mereka masih saja merokok? dr Iwan mengaku, tidak mengerti dengan mereka yang masih tetap mau mengisap dan memelihara racun-racun yang ada dalam sigaret. Mungkin mereka akan sadar kalau sudah melihat penderitaan korban-korban rokok. Kini di berbagai negara maju, Departemen Kesehatan sudah mengatur agar pabrik rokok memberikan santunan kepada para korban yang sakit akibat rokok. Sedangkan di Indonesia tidak ada perhatian seperti itu, makanya korban rokok pada menderita terutama dari aspek biaya. (vie)

(http://www.antirokok.or.id/product_index.htm)

ANAK-ANAK DARI PEROKOK BERESIKO LEBIH BESAR TERHADAP PENYAKIT KANKER Studi ini membuktikan efek asap rokok semasa anak-anak pada resiko terkena kanker setelah dewasa Bukan Perokok Perokok

EFEK PAPARAN ASAP ROKOK PADA ANAK-ANAK YANG ORANGTUANYA PEROKOK Konsultasi medis dan gangguan saluran pernapasan pada bayi/anak umur 0-15 th dengan orangtua perokok. Orangtua bukan perokok Orangtua perokok

KEDUA ORANGTUA BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESEHATAN BAYI Studi mengenai Berat Badan pada kelahiran 500 anak-anak Denmark menunjukkan bahwa kebiasaan merokok kedua orangtua mempengaruhi besar/kecilnya Berat Badan pada kelahiran.

VENTILASI/PERPUTARAN UDARA YANG BURUK MENINGKATKAN GEJALA-GEJALA Studi ini menggambarkan efek dari 2 jam merokok pasif dalam ruangan dengan berbagai cara ventilasi pada denyut nadi, tekanan darah dan CO-hemoglobin dibandingkan dengan yang tidak terpapar asap rokok. Tidak terkena paparan asap rokok Terkena paparan asap rokok di dalam ruangan dengan ventilasi Terkena paparan asap rokok di dalam ruangan dengan ventilasi yang buruk

(http://www.antirokok.or.id/fact_index.htm)

Murid Setuju Larangan Merokok di Tempat Umum (Republika, Senin, 21 Juni 2004) JAKARTA -- Hasil survei Global Youth Tobaco Survei (GYTS) mengungkapkan 88,9 persen murid di Jakarta , setuju merokok dilarang di tempat-tempat umum. ''Merokok di tempat umum memang melanggar hak asasi manusia yang ingin menikmati udara bersih,'' ujar Kasudin Kesehatan Masyarakat, Tini Suryanti kepada Republika . Sayangnya, beberapa kantor instansi resmi di DKI Jakarta belum memiliki ruang khusus untuk merokok. ''Masing-masing unit, di gedung Wali kota Jakarta Barat memiliki ruang khusus merokok,'' ujar Tini. Berdasarkan penelitian GYTS, siswa-siswa di Jakarta yakin asap rokok orang lain berbahaya bagi kesehatan. Tini menjelaskan, banyak pendapat yang menyatakan merokok harus dilarang di tempattempat umum. Hal ini telah mencerminkan pengetahuan siswa mengenai bahaya asap rokok di lingkungan bagi orang lain. Data lain menyebutkan, sedikitnya 69,3 persen anak-anak sekolah di Jakarta terpapar asap rokok. Sedangkan 83,5 persen siswa terpapar asap rokok di tempat-tempat umum. ''Perokok pasif lebih beresiko,'' ujar Tini. Siswa yang terkena paparan asap rokok di rumah, atau perokok pasif, mempunyai risiko terkena kanker paru. Selain itu, mereka juga berisiko terserang penyakit lain yang berkaitan dengan terhirupnya zat beracun yang terpapar asap rokok. ''Wanita bukan perokok pun beresiko terpapar asap rokok di dalam rumah,'' ujar Tini. Padahal, perokok pasif berisiko memiliki peningkatan risiko mendapatkan kanker paru 20 persen hingga 30 persen. Bahkan, mereka yang terpapar pada perokok berat untuk waktu lama mempunyai resiko tinggi. Sedangkan hal yang cukup mengkhawatirkan adalah hampir semua (91,8 persen) perokok yang berumur 10 tahun ke atas menyatakan, mereka melakukan kebiasaan merokok di dalam rumah. Hal ini dilkukan ketika mereka bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. ''Hampir semua penduduk merokok, meski pasif,'' tandas Tini. Akibat tingginya persentase perokok, maka pravalensi perokok pasif menjadi 97.560.002 orang untuk semua golongan umur. Ini sekitar 48,9 persen dari populasi penduduk Indonesia . Apalagi, sekali seseorang mulai merokok secara teratur maka sulit untuk menghentikannya karena nikotin merupakan zat adiktif kuat. Saat ini, di antara 20,4 persen anak sekolah di Jakarta merokok. Namun demikian, 8 dari 20 siswa berkeinginan untuk berhenti merokok, yakni sekitar 80,5 persen. Sementar itu, berdasar cara pembelian rokok, di ibu kota rokok dapat dibeli dengan cara eceran (per batang) dan per pak. Menurut laporan tahunan PT HM Sampoerna, sekitar 30 persen dari total penjualan rokok Sampoerna dilakukan secara per batang. Implikasinya adalah mereka mempunyai keterbatasan anggaran, seperti kelompok masyarakat miskin dan remaja masih mampu untuk membelinya. ''Harus sering dicek penggunaan uang jajan anak-anak,'' ujar Tini. (c06)

( http://www.antirokok.or.id/fact_index.htm) Senin, 02 Juni 2003, 8:30 WIB Senjata Baru untuk Melawan Rokok..! HARI Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) yang diperingati setiap tanggal 31 Mei, mendapat kado istimewa tahun ini berupa diadopsinya FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) oleh seluruh 192 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kesepakatan bulat yang berlangsung dalam sidang World Health Assembly, 21 Mei 2003 itu merupakan langkah amat besar dalam penanggulangan masalah merokok dunia, karena diyakini dapat menekan angka kematian akibat rokok. DEWASA ini ada 4,9 juta orang mati setiap tahunnya akbat rokok. Patut diketahui pula bahwa sekitar 100 juta orang telah meninggal akibat rokok pada abad ke-20. Kalau tren ini terus berjalan maka pada abad ke-21 akan ada satu miliar orang yang meninggal akibat rokok. Kematian siasia miliaran manusia inilah yang diharapkan dapat dicegah dengan penerapan FCTC. Khusus Indonesia, negara dengan konsumsi rokok nomor lima terbesar di dunia, FCTC dapat menjadi senjata untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya asap rokok. Karena itu, FCTC perlu dipahami agar semua pihak dapat berperan aktif dalam proses perundangan dan implementasinya. FCTC adalah suatu perjanjian/traktat internasional pertama di bidang kesehatan masyarakat. Pembahasannya amat alot dan memakan waktu sekitar empat tahun. Selama masa pembahasan, sekitar 20 juta orang telah meninggal akibat kebiasaan merokok di dunia. Tidak mengherankan bila para ahli kesehatan amat lega dengan diadopsinya FCTC ini. Isi FCTC • Materi FCTC terdiri dari beberapa bab yang diawali dengan preambul, definisi, tujuan, prinsip umum dan obligasi umum. Setelah itu ada bab pola tarif dan perpajakan untuk menurunkan kebutuhan dan konsumsi tembakau serta pendekatan nontarif untuk menurunkan kebutuhan dan konsumsi tembakau yang meliputi perlindungan perokok pasif, peraturan perundangan, bungkus rokok, dan peringatannya, pendidikan pelatihan dan pengetahuan masyarakat, serta iklan-promosi dan sponsor. Bab berikutnya membahas penanganan ketergantungan rokok/bantuan berhenti merokok. Isi FCTC selanjutnya adalah yang berhubungan dengan penyediaan rokok, meliputi pencegahan penyelundupan/perdagangan tidak sah, penjualan oleh dan untuk anak-anak/remaja dan pengaturan tentang produksi dan pertanian. Di bagian akhir FCTC dibahas tentang kompensasi, surveilans, riset dan tukar menukar informasi, kerja sama ilmiah, teknik dan legal, pertemuan antar negara, sekretariat, peran WHO, pelaporan dan implementasi, sumber dana, dan penutup. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa FCTC merupakan kumpulan aturan yang lengkap untuk menanggulangi masalah merokok. FCTC antara lain menjamin perlunya implementasi peraturan perundangan untuk perlindungan perokok pasif, antara lain dalam bentuk larangan merokok secara total di tempat umum. Sejauh mungkin harus pula dibuat aturan pelarangan penjualan rokok pada anak berusia di bawah 18 tahun, juga bila mungkin pelarangan penjualan rokok oleh mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, perlu ada standar yang meliputi semua proses pembuatan rokok yang mengacu pada standar internasional (WHO) dan perusahaan rokok harus mau memberi informasi lengkap tentang produknya. Untuk para perokok juga harus diadakan program membantu proses berhenti merokok. Peringatan bahaya • Ada aturan dalam FCTC yang menyebutkan bahwa bungkus rokok harus mencantumkan secara jelas bahaya merokok dan kandungan bahan berbahayanya. Disepakati bahwa peringatan bahaya rokok-dalam bentuk berbagai gambar penyakit dan tulisan bahaya rokok-akan mencakup minimal 30 persen sampai setengah dari permukaan depan bungkus rokok. Pencantuman istilah low, light, mild, dan lain lain yang selama ini menyesatkan, tidak boleh digunakan lagi. Soalnya, sebenarnya tidak ada penurunan bahaya yang bermakna dengan

penurunan kadar tar dan nikotin dengan cara ini. Istilah itu hanya memberi kesan rokok "aman" sehinggga si perokok cenderung merasa "boleh" merokok dan bukan tidak mungkin akan mengonsumsi rokok lebih banyak lagi karena merasa mengisap rokok "ringan". FCTC juga melarang segala bentuk iklan rokok, langsung atau tidak langsung. Kenyataan menunjukkan, banyak sekali remaja mulai merokok akibat melihat iklan, apalagi yang diperankan oleh wanita cantik atau pria gagah. Maka yang perlu diingatkan adalah merokok akan menimbulkan kulit keriput, bukan kecantikan. Merokok pun memicu sakit paru dan jantung, bukan kegagahan. FCTC juga mengatur bahwa pelarangan iklan harus diimbangi dengan digalakkannya penyuluhan kesehatan. FCTC mengatur perlunya dibentuk dan diaktifkannya suatu national coordinating mechanism untuk program penanggulangan masalah merokok. Ditegaskan pula bahwa pendekatan melalui pola tarif dan perpajakan merupakan salah satu pendekatan ampuh untuk menanggulangi masalah merokok. Cukai rokok dapat segera dinaikkan hingga dapat dana untuk penanggulangan akibat buruk kebiasaan merokok, sedang larangan penjualan rokok tax free atau duty free perlu segera diimplementasikan. Penyelundupan rokok-antara lain dengan tulisan bahwa rokok hanya boleh dijual di negara tertentu- serta terlaksananya program surveilans, riset dan tukar menukar informasi antarnegara juga diatur, termasuk dana global untuk membantu program penanggulangan masalah merokok. Situasi Indonesia • Penanggulangan merokok di Indonesia telah berjalan lama, namun masih terkesan berjalan di tempat. Ada banyak alasan yang menerangkan kenapa Indonesia tidak mampu mengelola program penanggulangan merokok, yang terutama adalah terbatasnya peraturan perundangan yang ada. Sebenarnya sudah pernah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, tetapi peraturan ini-kendati belum dilaksananakan dengan baik-telah digerogoti dan dua kali diubah menjadi peraturan yang amat lemah sifatnya. Karena itu, diadopsinya FCTC oleh seluruh negara di dunia termasuk Indonesia amatlah mencerahkan. Ada dua alasan utama kenapa FCTC diharapkan dapat menjadi senjata andalan di Indonesia. Pertama, kalau FCTC telah diberlakukan di dunia, maka semua negara akan terikat untuk melaksanakannya, tak terkecuali Indonesia. Mengikuti kesepakatan internasional, Indonesia harus menerapkan semua aturan FCTC dalam program penanggulangan masalah merokok. Kedua, FCTC merupakan aturan amat lengkap sehingga diyakini dapat mengatasi semua masalah yang ada dalam penanggulangan masalah merokok. Ini akan menjadi senjata andalan utama dalam melindungi masyarakat terhadap bahaya merokok. Namun, setelah diadopsi 21 Mei lalu memang masih ada empat tahap penting selanjutnya agar FCTC dapat memberi manfaat bagi kesehatan manusia. Pertama adalah penandatanganan FCTC oleh Menteri Kesehatan seluruh dunia-termasuk Indonesia-yang diharapkan dilaksanakan Juni 2003. Langkah kedua, yang mungkin perlu perjuangan khusus, adalah meratifikasi FCTC untuk diberlakukan di Indonesia. Hal itu akan melibatkan berbagai komponen masyarakat, dan tentunya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam hal ini amat diharapkan semua pihak benar-benar dapat melihat kepentingan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Tanpa orang Indonesia yang sehat maka cita-cita bangsa tidak akan tercapai. Untuk menyesuaikan dengan sistem hukum yang ada maka ratifikasi ini perlu diwujudkan dalam bentuk undang-undang. Langkah ke tiga, bila telah ada 40 negara yang meratifikasi FCTC-diharapkan Indonesia jadi salah satu di antaranya-maka aturan ini akan diberlakukan di dunia. Diharapkan tahap ini telah tercapai sebelum sidang World Health Assembly WHO tahun 2004 mendatang. Langkah keempat terpenting tentu saja adalah bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu memang diperlukan adanya aturan yang lengkap berikut sanksinya. Perlu diingat bahwa asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia dan kebiasaan merokok diketahui dapat menyebabkan 25 penyakit di tubuh manusia. Asap rokok tidak saja mengganggu kesehatan perokok aktif tetapi juga para perokok pasif, dan dapat menimbulkan kematian. Artinya, program penanggulangan masalah merokok dengan FCTC sebagai senjata andalan, adalah suatu program yang menyehatkan bangsa. http://www.kompas.com/kesehatan/news/0306/02/082803.htm

Tjandra Yoga Aditama Penerima WHO Award on Tobacco Control, 1999

(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/31/iptek/337439.htm) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=127631&kat_id=123&kat_id1=&kat_id2= Minggu, 08 Juni 2003 Merokok Tak Cuma Mengundang Kanker Paru Ada lima jenis penyakit mematikan yang muncul akibat kebiasaan merokok. Anda tak mau mengalaminya, bukan? Tahukah Anda, ada 4,9 juta orang mati setiap tahunnya akibat rokok. Dan kalau dihitung-hitung, selama abad ke-20, sekitar 100 juta orang telah meninggal, juga akibat rokok. Nah, kalau kecenderungan ini terus berjalan maka pada abad ke-21 akan ada satu miliar orang yang mati akibat rokok. Mudah-mudahan, Anda bukan salah satu dari mereka. Rokok memang barang beracun. Setidaknya, ada 4.000 jenis bahan kimia yang yang terkandung di dalam asap rokok. Di antara bahan-bahan kimia itu, ada yang bersifat karsinogenik (memicu kanker) yaitu: nitroso-nor-nicotine, vinyl chloride, benzo pyrenes. Walau begitu, rokok tak cuma menyebabkan kanker. Ia juga bisa mengundang beberapa jenis penyakit mematikan lainnya. Seperti dikatakan dokter Tjandra Yoga Aditama SpP (K) MARS, spesialis paru dari RS Persahabatan, Jakarta, ada lima jenis penyakit mematikan yang bisa muncul akibat kebiasaan merokok. Lima jenis penyakit itu diantaranya, penyakit paru, kanker, jantung, kelainan pada janin akibat ibu merokok, dan penyakit lain. Salah satu penyakit mematikan yang sering merenggut nyawa para perokok adalah kanker paru. Untuk Anda ketahui, kanker ini merupakan kanker penyebab kematian tertinggi. Hampir 90 persen pengidap kanker ini tidak bisa diselamatkan karena jika sudah akut, kanker ini akan dengan mudah menyebar ke jaringan tubuh di sekelilingnya seperti hati (liver), tulang belakang, dan otak melalui pembuluh darah. Penyebab utama penyakit kanker paru adalah asap rokok. Dalam asap rokok, ada beragam bahan kimia dan zat-zat radioaktif. Zat-zat inilah yang menyebabkan kanker. Pada kasus kanker paru, penyebab kematian penderita umumnya bukan karena kesulitan bernapas karena membesarnya kanker, tapi lebih sering karena penyebaran kanker (metastase) ke arah otak dan bagian penting lainnya dari tubuh. Penyebaran sel kanker ini memang sangat dimungkinkan dalam kasus kanker paru mengingat paru merupakan salah satu organ yang menjadi media transit sistem peredaran darah tubuh. Selsel kanker ini menyebar ke jaringan tubuh lain melalui pembuluh darah. Setelah menyebar ke organ tubuh lainnya, biasanya penderita baru merasakan dampak dari penyakit ini, dan akhirnya tak tertolong. FCTC

Asap rokok tidak hanya membahayakan perokok aktif. Aneka penyakit yang berbahaya itu juga bisa menimpa orang-orang yang ada di sekitar perokok atau yang biasa disebut perokok pasif. Mereka tidak tahu apa-apa, tapi menjadi korban dari ketidakpedulian orang lain -- dalam hal ini perokok. Untuk mencegah makin banyaknya korban yang mati sia-sia akibat rokok, sebanyak 192 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengadopsi suatu program penanggulangan yang dinamakan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Ini merupakan suatu perjanjian/traktat internasional pertama di bidang kesehatan masyarakat yang salah satunya berisi ketentuan penanggulangan dan kontrol konsumsi rokok. Menurut Tjandra, FCTC telah disepakati secara bulat dalam sidang World Health Assembly pada 21 Mei 2003 lalu. Kesepakatan itu merupakan langkah besar penanggulangan masalah rokok di dunia. Tentu implementasi penanggulangan rokok itu membutuhkan piranti hukum dan undangundang yang jelas dari negara-negara bersangkutan. FCTC, lanjutnya, akan berjalan jika ada kebijakan pemerintah setempat yang jelas. Di Indonesia misalnya, program penanggulangan masalah rokok selama ini sepertinya hanya berjalan di tempat. Ini terjadi karena terbatasnya dukungan dari peraturan perundangan yang ada. Sebenarnya pemerintah RI telah mengeluarkan PP no 81/1999, tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Namun perturan itu telah diubah dua kali menjadi peraturan yang sifatnya lemah. Dengan pengadopsian FCTC tersebut, maka program penanggulangan rokok bisa menjadi senjata pamungkas dalam penanggulanan masalah rokok selanjutnya. Dengan pengadopsian itu seluruh negara terikat untuk memberlakukan aturan FCTC. Begitu pula Indonesia yang tergabung di dalamnya, tidak bisa menolak untuk tidak menerapkan aturan penanggulangan rokok sedunia itu. Jika FCTC berlaku, pemerintah RI bisa melarang iklan rokok secara total. Pembatasan penjualan rokok pada usia 18 tahun, akan diatur dalam peraturan pemerintah atau undang-undang. Dalam ketentuan tersebut, diatur juga tentang kemungkinan pelarangan penjualan rokok pada mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Menyesatkan Jika Anda perhatikan, selama ini banyak perokok yang mencoba mengurangi dampak buruk rokok dengan menghisap rokok dengan label low, light, atau mild. Padahal, upaya ini sia-sia. Sebab, sebenarnya tidak ada penurunan bahaya yang bermakna dengan penurunan kadar tar dan nikotin dengan cara ini. Menurut Tjandra, pencantuman label low, light, mild untuk kandungan tar, nikotin, dan sejenisnya, sangat menyesatkan. Oleh karena itu FCTC mengatur pelarangan pencantuman label seperti itu dalam kemasan. Kalimat peringatan bahaya merokok dalam bungkus, menurutnya, juga harus ditulis lebih besar yaitu 30 persen dari luas seluruh kemasan. Selama ini pesan peringatan mengenai bahaya merokok itu masih kecil. Beragam peraturan yang ada dalam FCTC, kata Tjandra, memiliki implikasi besar terhadap pembatasan penjualan rokok di masyarakat. Memang usaha untuk menerapkan aturan itu menghadapi banyak kendala. Setiap negara memiliki alasan sendiri untuk tidak ikut meratifikasi FCTC. Salah satu alasannya, ratifikasi akan menghancurkan industri rokok dalam negeri. Padahal mereka mendapatkan keuntungan besar dari pajak sejumlah pabrik rokok yang ada di negaranya itu. Tentu program semacam ini, akan menghadapi tantangan dari negara-negara produsen rokok dunia. Kendati demikian, Tjandra yakin masalah itu akan teratasi dengan mudah. Apalagi sahnya ratifikasi hanya membutuhkan kesediaan minimal 40 negara saja. ''Dengan ratifikasi oleh 40

negara itu, maka FCTC bisa diberlakukan ke seluruh dunia,'' tegas Tjandra yang pada 1999 silam menerima penghargaan dari WHO berupa WHO Award on Tobacco Control. Langkah selanjutnya, masing-masing negara harus mengimplementasikan konvensi internasional itu. Semua negara akan terikat pada ketentuan ini dan pemerintah di negaranegara bersangkutan akan mengeluarkan peraturan, undang-undang dengan segala bentuk sanksinya. ''Dengan begitu upaya penanggulangan masalah rokok di Indonesia bisa mengandalkan program FCTC ini,'' demikian Tjandra. (Muhamad nurcholis)

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=173469&kat_id=301&kat_id1=186

Kematian Akibat Rokok Berlipat Ganda Pada Tahun 2020

17 Feb 2006 LONDON--MIOL : Angka kematian akibat rokok di dunia diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2020. Namun para ilmuwan Jumat mengatakan angka sesungguhnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi. Proyeksi keadaan tersebut kemungkinan terlalu rendah karena menurut survei internasional dari remaja dengan kisaran umur 13-15 tahun ditemukan kenaikan yang tak terduga dikalangan remaja wanita, meningkatnya jumlah perokok dengan sendirinya meningkatkan jumlah perokok pasif dan meningkatnya jumlah penguna produk tembakau lainnya. "Kaitan dampak penggunaan tembakau didunia dapat lebih jauh lebih besar dari yang diperkirakan ," kata Dr.Charles Warren dari Pusat penanggulangan dan pencegahan Penyakit 9CDC) di Atlanta, Georgia. "Kecuali kita melakukan sesuatu maka hal itu akan membawa kita kepada angka kematian yang jauh lebih tinggi," kata Dr.Warren kepada pers. Penelitian akan penggunaan tembakau dikalangan remaja (GYTS) dari 131 negara dengan jumlah sekitar 750 ribu termasuk yang berada di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang dilakukan oleh Warren dan timnya memperlihatkan sebanyak 9 persen murid-murid usia remaja merokok dan 11 persen menggunakan produk lain tembakau antara lain, permen kunyah tembakau, cerutu dan menghisap tembakau lewat pipa. Mengecilnya perbedaan Hasil survei tersebut juga memperlihatkan mengecilnya perbedaan angka perokok wanita dan pria. Menurut penelitian sebelumnya jumlah perokok pria empat kali lipat dari jumlah perokok wanita. Namun hasil perolehan jajak pendapat GYTS perbedaan tersebut memperlihatkan selisih diantara keduanya hanyalah jumlah perokok pria lebih besar 2,3 kali lebih besar dibeberapa negara bahkan tidak ada perbedaan di antara keduanya antara perokok remaja putra dengan yang putri. "Angka yang tinggi dikalangan remaja putri adalah berita yang paling buruk yang kita peroleh," kata Warren lagi. "Hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan yang besar yang sangat berbeda dibandingkan dengan wanita usia dewasa." Lebih dari 40% siswa yang ditanya mengatakan mereka menjadi perokok pasif di rumah dan 50 persen mengalaminya di tempat-tempat umum demikian laporan penelitian jurnal kedokteran Lancet. Merokok adalah penyebab kematian yang paling besar jumlahnya namun sebenarnya dapat dicegah. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena penyakit jantung yang menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan pernafasan, paru-paru dan berbagai jenis kanker. Warren mengatakan temuannya harus disertakan dalam proyeksi terhadap kematian akibat merokok. Ia juga menghimbau agar dilakukan upaya yang lebih bahkan dua kali lipat untuk mencegah para remaja putri memiliki kebiasaan merokok. Dalam penelitian yang terpisah para peneliti dari University of Minnesota School of Public health in Minneapolis yang memuat karyanya di jurnal Lancet mengingatkan India bahwa negara itu dapat menghadapi lonjakan perokok dikalangan usia anak-anak. Setelah melakukan survei terhadap 11.642 murid-murid di 32 sekolah di India para ilmuwan tersebut menemukan murid-murid kelas enam, dua hingga empat kali lipat jumlahnya menggunakan tembakau dibandingkan kakak-kakak mereka yang kelas dua SMP. "Hasil temuannya anak-anak kelas enam secara signifikan menggunakan lebih banyak tembakau dibandingkan dengan muri-murid kelas dua SMP menunjukkan adanya gelombang baru pengguna tembakau di kalangan urban India yang harus di segera ditangani dengan segera." (Ant/OL-1)

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=1639 Iklan Rokok Jadi Masalah Besar Kesehatan Masyarakat Indonesia http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=480 18 Jun 2004 JAKARTA--MIOL : Iklan produk tembakau (rokok) merupakan masalah besar bagi kesehatan masyarakat karena diyakini meningkatkan konsumsi tembakau dengan menciptakan situasi dimana pemakaian tembakau dianggap baik dan biasa. Siaran pers Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang diterima Antara di Jakarta, Senin, menyebutkan seorang artis yang memegang rokok merupakan iklan yang mendorong anak muda untuk mengikuti tren atau kecederungan dan gaya hidup modern. Industri rokok menyatakan bahwa iklan rokok tidak menghasilkan perokok baru tetapi hanya mendorong para perokok agar tetap merokok atau berpindah ke merek lain. WHO menyatakan pernyataan itu tidak benar. Laporan US Surgeon General menyimpulkan bahwa iklan tembakau meningkatkan konsumsi lewat beberapa cara termasuk, menciptakan kesan bahwa pengunaan tembakau adalah suatu yang baik dan biasa. Juga menimbulkan kesan mengurangi motivasi perokok untuk berhenti merokok, mendorong anak-anak mencoba merokok dan mengurangi peluang diskusi terbuka tentang bahaya penggunaan tembakau karena adanya pendapatan dari iklan industri tembakau. Rokok terbuat dari kertas, lem, tembakau, cengkih dan sekitar 600 jenis zat kimia. Rokok dirancang sebagai pintu masuk nikotin yaitu zat sangat adiktif yang menyebabkan ketagihan dan membunuh separuh dari pemakainya. Sejak larangan iklan TV dicabut pada tahun 1991 hampir tidak ada batasan iklan termasuk iklan

tembakau di Indonesia. Laporan tahunan Sampoerna 1995 yang dikutip WHO menyebutkan, "Industri (tembakau) di Indonesia memiliki kebebasan yang hampir mutlak untuk mengiklankan produk mereka dalam bentuk apapun dan melalui semua lajur komunikasi." Pengecualian yang berlaku saat ini adalah larangan jam tayang ilan tembakau di TV antara pukul 5:0021:30 (PP 12/2003). Antara tahun 1990-2001 peningkatan konsumsi rokok di Indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Indonesia menduduki posisi nomer empat terbesar, setelah Pakistan, Turki dan Bulgaria. Pakistan mengalami peningkatan komsumsi 65 persen, Turki 58 persen, Bulgaria 56 persen dan Indonesia 54 persen. Negara lainnya, Rumania 25 persen, Argentina dan Chili masing masing 22 persen, Republik Korea 20 persen dan Aljazair dan Portugal masing-masing 19 persen. (Ant/O-1)

Asap Rokok yang Terhirup Orang Lain Melanggar Hak http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=476 08 Jun 2004 BOGOR--MIOL : Merokok adalah hak seseorang, namun di sisi lain orang yang tidak merokok yang kebetulan satu ruangan atau berada dalam satu kendaraan umum, juga berhak mendapatkan lingkungan udara yang sehat dan bersih. "Ketika kita merokok, kemudian asap rokoknya mengepul ke mana-mana, tak ada lain bahwa kita menebarkan asap racun, dan itu juga melanggar hak orang lain, karena udara menjadi tercemar," kata Tulus Abadi, SH, anggota pengurus harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) di Bogor, Senin. Hal itu dikemukakannya pada Lokakarya Penegakan Kawasan Tanpa Rokok Menuju Kota Bogor Sehat tahun 2006 di Balaikota. "Ingat juga, perokok pasif justru menghirup dua kali lipat racun yang dikepulkan asap rokok. Itulah persoalannya, berbicara hak juga harus secara prorofesional dan fair," tambah Tulus Abadi, yang juga menjabat Ketua III Komnas (Komisi Nasional) Penanggulangan Masalah Merokok. Ia mengatakan, kebiasaan merokok bagi sebagian masyarakat sudah tak terelakan lagi, dan bahkan ada yang memaknai bahwa tanpa kehadiran rokok, kadang-kadang dalam suatu acara terasa tidak lengkap (hambar). Kondisi itu bisa ditemui pada acara seperti sebuah kenduri, selamatan, yang biasanya selain disuguhi berbagai macam kue dinilai akan terasa pincang, jika tidak ada suguhan yang bernama rokok. Malahan, dalam sebuah pergaulan, rokok bisa pula dijadikan sebagai pemicu untuk saling mengakrabkan diri, satu sama lain, sampai ada julukan friendly smooking. Fenomena demikian, katanya, mengakibatkan di antara anggota masyarakat merasa enggan untuk menegur jika ada yang merokok di tempat yang bukan untuk merokok, sekalipun merokok di dekat bayi yang baru lahir. Gejala seperti ini dimaknai beberapa hal misalnya, karena masyarakat belum tahu (belum sadar) terhadap bahaya merokok. Apalagi bahaya menjadi perokok pasif, di samping adanya kendala psikologis lain misalnya khawatir/takut teguran itu menyinggung atau bahkan membuat marah yang ditegur. Bisa difahami keengganan untuk menegur itu karena tidak sedikit perokok yang ditegur kemudian menjawab bahwa "merokok adalah haknya", termasuk uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok juga uang miliknya, sehingga aktivitas merokok tidak perlu diributkan karena hal itu adalah hak asasi manusia (HAM). Kalau bicara hak, kata dia, memang orang yang merokok adalah hanya untuk merokok. Bahkan, mungkin bisa dikategorikan HAM, sehingga ketika pihak lain yang mengusik orang yang merokok, mungkin juga bisa dikatakan melanggar HAM. ''Tapi, harus diingat bahwa tidaklah merupakan kategori HAM lagi jika apa yang dilakukan kemudian merugikan orang atau pihak lain. Atau, mungkin merugikan lingkungan sekitar. Jadi, tidaklah 'fair'

kalau dalam rangka melaksanakan HAM, tetapi justru dibarengi dengan pelanggaran HAM," katanya. Perokok pasif Pada bagian lain, Tulus Abadi mengutarakan, secara yuridis saat ini perokok pasif sudah mendapatkan perlindungan hukum dari ulah si perokok aktif, khusus ketika perokok aktif tersebut merokok di tempat-tempat umum, seperti kantor, sekolah, angkutan umum, bahkan tempat ibadah dan rumah sakit. Ia memberi rujukan dasar hukumnya pada pasal 22 Peraturan Pemerintah No: 19 tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yang berbunyi : "tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok". Namun, kata dia, para pemimpin/penanggung jawab tempat umum tidak bisa tinggal diam guna menegakkan aturan dimaksud. Sebab dalam pasal 23 dalam PP 19 tahun 2003 disebutkan, pemimpin atau penanggung jawab tempat umum dan tempat kerja yang menyediakan tempat khusus untuk merokok harus menyediakan alat penghirup udara sehingga tidak mengganggu kesehatan bagi yang tidak merokok. Sedangkan mengenai bagaimana bentuk pertanggungjawaban dalam kaitan Pemerintah daerah (Pemda), yang sangat relevan dengan semangat Otda (otonomi daerah), kata dia, kalau melihat pasal 23 idealnya, Pemda dalam hal ini Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kota, dan Pemerintah Kabupaten idealnya segera membuat rancangan peraturan daerah (Perda). "Ini perlu dilakukan setidak-tidaknya sebagai langkah permulaan, atau bisa membuat SK, yang dimulai dari SK Gubernur, SK Bupati atau SK Walikota," katanya. "Hingga saat ini baru Gubernur DKI Jakarta saja yang telah membuat SK tentang kawasan tanpa asap rokok yang berlaku untuk instansi yang bernaung di bawah Pemerintah Propinsi DKI Jakarta," katanya. Hanya saja, diakuinya bahwa untuk mewujudkan kawasan tanpa rokok tak semudah membalikan tangan, mengingat kebiasaan merokok di masyarakat masih sangat tinggi. Terlebih, hingga kini larangan untuk tidak merokok bagi siapapun masih merupakan suatu yang kontoversial atau mengundang pro dan kontra di masyarakat. Mengutip survey kesehatan rumah tangga, ia menyebutkan bahwa data jumlah perokok di Indonesia mencapai 62.800.000 orang atau 69,04% laki-laki dan 4,83% perempuan, sementara WHO Tobacco Atlas 2002 menyebutkan, 59% laki-laki, dan 3,7% perempuan. (Ant/O-2)

Murid SMP Terlalu Mudah Beli Rokok http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=327 Oleh Kompas Cyber Media Global Tobacco Youth Survey (GYTS) atau survei merokok pada remaja memperlihatkan bahwa 34 persen remaja di Jakarta pernah merokok dan 16,6 persen hingga kini masih merokok. Survei di tiga kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bekasi, dan Medan itu dipimpin oleh Dr. Tjandra Yoga Aditama Sp.P(K), TM&H, MARS, sebagai bagian dari survei WHO & CDC (Atlanta) yang juga diselenggarakan di lebih 100 negara di dunia. Menurut Dr. Tjandra, kajian dilakukan dalam lima topik yaitu prevalensi merokok, perokok pasif, iklan rokok, remaja membeli rokok, dan berhenti merokok. Di Bekasi, terdapat angka 33 persen murid SMP pernah merokok dan 17,1 persen saat ini masih merokok. Di Medan, 34,9 murid SMP pernah merokok dan 20,9 persen saat ini masih merokok. Angka-angka ini termasuk tinggi dibanding data di Bhutan (20 persen), India, dan Bangladesh yang angkanya di bawah 10 persen. Mengantisipasi kondisi itu, diusulkan : Pertama, membuat dan memasukkan materi bahaya merokok pada kurikulum di sekolah dasar dan menengah, sekolah kedokteran, atau sekolah paramedis. Kedua, membuat kegiatan yang mendukung antirokok dan bahaya merokok pada usia sekolah. Ketiga, membangkithan kasadaran tentang bahaya merokok kecanduan rokok, dampak sosial dan ekonomi akibat rokok pada publik, terutama anak-anak, dewasa muda, serta usia produktif dengan mengikutsertakan media elektronik dan nonelektronik. Keempat, melakukan counter marketing guna mengurangi atau meniadakan keterlibatan industri rokok pada usia anak, dewasa muda, serta usia produktif. Untuk perokok pasif, data GYTS memperlihatkan di Jakarta, 66,8 persen murid SMP tinggal serumah

dengan orang yang merokok dan 81,6 persen tercemar asap rokok di luar rumah. Di Bekasi, angkanya 66,3 persen dan 76,1 persen, sedangkan di Medan 69,0 persen dan 79,5 persen. Untuk “menolong” perokok pasif, diusulkan beberapa hal: Pertama, pengenalan dan pemberlakuan daerah bebas rokok di berbagai tempat. Kedua, pemberlakuan daerah dilarang merokok di institusi sekolah. Ketiga, pemberlakuan daerah dilarang merokok di Institusi kesehatan. Keempat, melakukan pendidikan pada publik tentang bahaya perokok pasif. Tentang iklan rokok data GYTS menunjukkan di Jakarta, 90,9 persen murid SMP melihat iklan bahaya merokok di media dan 93,2 persen melihat iklan rokok di media. Di Bekasi, angka yang didapat adalah 90,7 persen dan 88,8 persen, sedang di Medan 88,6 persen dan 91,8 persen. Terkait dengan hal ini direkomendasikan untuk membatasi iklan rokok pada media elektronik maupun nonelektronik baik secara langsung atau tidak langsung, membatasi promosi, penguatan merek, atau sponsor pada kegiatan olahraga maupun kegiatan publik lain baik yang bersifat lokal atau internasional, menghentikan secara langsung atau tak langsung insentif yang diterima dari penjualan rokok. Data GYTS juga menunjukkan, di Jakarta, 69,3 persen murid SMP membeli rokok pada penjual rokok dan 68,1 persen dapat membeli rokok dengan mudah tanpa ditanya usianya oleh penjual. Untuk urusan ini di Bekasi, didapati angka 67,9 persen dan 68,2 persen, sedangkan Medan 69,7 persen dan 66,2 persen. Karena itu, muncullah usul berupa : 1. Adanya larangan menjual produk rokok pada anak usia sekolah. 2. Larangan penjualan rokok yang dapat diakses langsung oleh anak-anak, dewasa muda, atau usia produktif seperti penjualan melalui media elektronik, Internet, atau mesin khusus. 3. Larangan pemberian sampel produk rokok pada anak dan remaja. 4. Pelarangan penjualan produk yang bentuknya menyerupai rokok. 5. Penegakan hukum atau pemberian sanksi bagi penjual produk rokok pada anak atau remaja. 6. Membuat produk hukum nasional yang mampu mencegah penjualan atau promosi produk rokok pada anak atau dewasa muda dengan pembatasan usia yang jelas. Dr. Tjandra menegaskan, penelitian ini dilakukan sesuai kaidah metodologi penelitian yang baik. “Mudah-mudahan data dan usulan ini dapat menjadi bahan masukan dalam pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence based decision making process) dalam penanggulangan masalah merokok di Indonesia," ujarnya. *

Indonesia Bakar Rp 500 M Sehari http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=457 01 Jun 2004 31 Mei adalah hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tema peringatan kali ini adalah Tobacco and Poverty alias Rokok dan Kemiskinan. Apakah ada hubungannya ? Tentu saja, ya. Pasalnya, masyarakat kita yang pendapatan perkapitanya sempat berada dibawah garis kemisikinan ini ternyata merupakan konsumen besar rokok. Bahkan, angka yang dihimpun WHO (organisasi kesehatan sedunia) menyebutkan, sekitar 215 miliar batang rokok dikonsumsi di Indonesia setiap tahunnya. "Artinya, ada sekitar Rp 150 trilyun uang kita yang dibakar setiap tahunnya," ungkap dr Tjandra Yoga

Aditama SpP (K) MARS DTM & H DTCE. Bayangkan saja, kalau uang ini dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, tentu amat besar dampaknya. Angka ini berasal dari sekitar 70 juta orang Indonesia yang masuk kategori perokok. "Jumlah ini sekitar 30 persen dari total penduduk,"ungkap Direktur Medik dan Keperawatan RS Persahabatan, Jakarta ini. Miskin namun miliarder. Kalau mereka rata-rata merokok sebungkus saja sehari, setiap hari kita membakar uang sekitar Rp 500 miliar. Aneh bukan. Soalnya, "Lima ratus miliar rupiah ini dibakar setiap hari untuk menimbulkan 25 penyakit pada rakyat kita," jelas koordinator Penelitan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI/RSUP Persahabatan itu. Ironisnya lagi, sebagian dari dari perokok Indonesia yang menghabiskan uang Rp 500 miliar sehari atau Rp 150 trilyun setahun ini, sebagian adalah orang miskin. "Berarti, kalau saja hanya 20 juta orang Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan, sedikitnya 7 juta dari mereka adalah perokok," papar Tjandra. Angka 7 juta ini diambil dari angka nasional perokok di Indonesia, 30 persen. "Dengan kata lain, orang Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan ternyata setiap harinya membakar uang sebesar Rp 500 juta," jelasnya. Undang penyakit. Aneh bukan ? Uang sebesar itu bukannya untuk hidup sehat dan mengatasi kemiskinan, malah dibakar untuk menimbulkan penyakit. Padahal. Sebagai manusia hidup, kita butuh makan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lain. Perlu diketahui, rokok bisa menimbulkan beragam penyakit dalam tubuh manusia. "Mereka yang miskin, uangnya akan habislagi untuk berobat," Kata Ketua Komite Ahli, Gerdunas TB Nasional ini mengingatkan. Dunia. Tjandra menyatakan, menurut WHO, seseorang dapat menghabiskan seperempat penghasilannya untuk membeli rokok. Di Filipina, orang yang membeli rokok lokal 20 batang sehari berarti menghabiskan 17 persen anggaran belanja rumah tangganya. Kalau yang dibeli itu rokok impor, 35 persen anggaran belanjanya hilang untuk membeli rokok. Di Malaysia, harga 20 batang rokok bisa setara dengan 5 persen pendapatan buruh kasar. Sementara di Shanghai, china, petani membelanjakan uang untuk rokok dan alkohol lebih banyak daripada uang untuk beli gandum, daging, dan buah-buahan. Nah, marilah mengucapkan selamat tinggal pada rokok sekarang juga.(bet).

Akhirnya Saya berhasil Mematikan Rokok (Pengalaman Nyata Keberhasilan Dalam Melepaskan Jeratan Rokok) Buah Pena Ahmad Salim Ba Dulan Penerjemah Muh Saefuddin M. Basri Editor Muh .mu’inuddin. M. Basri

Pembukaan Segala puji bagi Allah. Kita mohon pertolongan dan ampunan kepadanya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangisapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Saya bersaksi tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam yang banyak kepadanya. Adapun setelah itu: Ikhwah fillah, ini adalah percobaanku meninggalkan rokok yang telah Allah tunjukkan kepadaku. Bagi-Nyalah segala pujian dan sanjungan sesuai yang layak untuk-Nya atas banyak kebaikan yang Dia tunjukan saya kepadanya. Dia telah menjadikan saya menang atas ujian yang mana Dia selamatkan saya darinya setelah melalui pertarungan pahit yang berlangung kurang lebih dua puluh tahun yang saya arungi dalam merusakkan kesehatanku, menghancurkan diriku dan hartaku, menyakitkan keluargaku, rumah tanggaku, orang-orang yang saya cintai, dengan memohon kepada Allah kiranya tidak menguji salah seorang kaum muslimin dengannya. Serta semoga Dia selamatkan orang yang teruji dengannya secepat mungkin. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Mengabulkan doa. Saudaraku yang sedang teruji dengan rokok; Saya tahu betul bahwa anda akan mengatakan bahwa anda telah berupaya berkali-kali untuk meninggalkannya namun tak berhasil jua….Dan saya katakan kepada: Sesungguhnya hal

itu pernah terjadi pada diri saya dan akan saya ceritakan percobaanku secara rinci. Akan tetapi yang saya inginkan dari diri anda adalah anda bisa serius dalam membaca surat ini dan supaya anda melakukan percobaan yang telah saya lalui dalam melewati fase hitam dari fase kehidupanku sepanjang 20 tahun. Allah-lah yang bersaksi bahwa saya menyebutkan di sini bukan karena membanggakan dan menonjolkan kemaksiatan. Akan tetapi saya menyebutkannya sebagai pujian dan sanjungan kepada Allah atas karunia besar yang telah Dia limpahkan kepada saya dalam melepaskan diri dari rokok. Saya sebutkan rincian percobaan ini semoga bisa diambil faidah oleh siapa saja yang diuji dengan rokok sehingga ditetapkan baginya hidayah lalu mematikan rokok terakhir dalam hidupnya bersamaan dengan lembaran akhir dari lembaran-lembaran surat ini. Rokok Pertama Perjalananku yang menyedihkan bersama rokok dimulai semenjak 20 tahun lalu saat saya menjadi pelajar tingkat menengah dan pada hari-hari ujian. Dimana saya berkumpul dengan teman-temanku di loteng rumah kami dalam rangka mengulang pelajaran. Salah seorang kawan diantara yang sedang diuji dengan rokok turut bergabung bersama kami. Hingga dia bisa merokok tanpa kami menegur dan mencelanya lalu berusaha mengajak kami untuk turut merokok bersamanya. Dia katakan: “Sesungguhnya merokok itu bisa membantu konsentrasi dan kefahaman”. Dia mencobanya dan mminta kami untuk melakukan uji coba. Jika ternyata tidak terwujud hasilnya kita tinggalkan rokok. Maka kamipun melakukan ujin coba. Saya bersama teman-temanku lalu menyalakan rokok kali pertama. Lalu saya merasakan kepalaku lebih berat dari badan. Benda-benda yang ada di sekelilingku berputar. Mulailah stagnasi merayapi tubuhku. Saya berkata kepada kawanku yang jahat itu: “Apa yang sedang saya rasakan ini?” Dia berkata kepadaku: “Ini rokok pertama. Biasa lah yang sedang kamu alami itu. Hisaplah kedua kali maka stagnasi dan pusing-pusing itu akan hilang darimu”. Maka saya hisap kedua, ketiga dan keempat. Saya pergi yang pertama kali ke warung untuk beli bungkusan pertama rokok dari merk paling jelek dan paling banyak bahayanya karena harganya murah. Demikianlah saya lalu mengkhususkan setiap riyal yang saya peroleh untuk membeli rokok hingga saya menghisap rokok sehari sampai 20 batang. Disela waktu 20 tahun semakin bertambah banyak saya mengkonsumsi rokok hingga mencapai 80 batang dalam sehari sebelum akhirnya saya tinggalkan rokok berkat karunia Allah. Saya ingin mengisyaratkan dalam menceritakan permulaan rokok yang menyedihkan ini supaya saya menunjukkan beberapa perhatian kepada para orang tua sehingga anak-anak mereka tidak jatuh pada hal-hal yang tidak baik akibatnya. Diantaranya merokok. Beberapa perhatian ini sebagai berikut: - Waspadalah membiarkan anak anda jalan-jalan bersama kawan-kawan dan teman sekolahnya tanpa pengawasan anda. - Upayakan anak anda cukup dengan satu teman untuk belajar dan mengulang pelajaran. Hendaknya teman ini dari yang dikenal istiqomah diantara yang anda kenal dan percayai dari mereka. - Jangan biarkan anak anda mengulang pelajaran atau belajar jauh dari penglihatan anda atau penglihatan ibunya. - Jangan biarkan banyak uang berada di tangan anak anda. Uang lebih terkadang bisa mendorong untuk beli rokok karena kebanyakan. Sebagai ganti uang cukupilah apa yang dibutuhkannya berupa makanan, minuman, kue dan lainnya. - Jika anda punya kawan perokok maka jangan bolehkan dia merokok di rumah anda. Dan jika memang anda tidak mampu, maka laranglah anak anda masuk kepada anda berdua. - Waspadailah anak anda keluar ke tempat-tempat yang jauh dari rumah dengan ditemani kawan-kawannya sekalipun anda percaya kepada mereka. Hati-hatilah wahai para orang tua/wali sesungguhnya merokok pada usia kecil akan susah meninggalkannya. Kebiasaan buruk ini terkadang bisa terus melekat pada orangnya sepanjang hidupnya jika Allah tidak mengasihi dan menunjukinya. Percobaan Yang Gagal

Saya tidak mau menyembunyikan suatu rahasia kepada kalian jika saya katakan: “Sesungguhnya saya telah melakukan upaya lebih dari seratus kali antara waktu 20 tahun saya merokok untuk meninggalkannya. Hanya saja saya gagal dan saya meninggalkan rokok tidak berlanjut lebih dari sehari atau dua hari. Selalu saja ketika saya berupaya untuk meninggalkan rokok saya sering bingung. Apakah saya tinggalkan rokok secara bertahap dimana saya kurangi jumlah rokok yang saya konsumsi secara bertahap hingga saya bisa berhenti total? Ataukah saya tinggalkan rokok sekaligus dan saya hancurkan bungkus rokok dengan kejaman mata? Syetan busuk selalu menggodaku setiap kali saya ingin meninggalkan rokok dengan membuat saya suka pada jalan pertama. Sekaligus menakut-nakuti bahwa jika saya tinggalkan rokok mendadak dan saya hancurkan bungkus rokok maka dalam jangka 24 jam saya pasti akan kembali lagi…Demikianlah dia beserta teman-temannya menggodaku yang semestinya saya meninggalkannya secara bertahap lalu saya kembali lagi. Kondisi ini berlanjut hingga beberapa lama. Ketika saya berfikir untuk meninggalkan rokok sekali lagi akan tetapi secara bertahap, setan kembali dan menggodaku “meninggalkan satu kali lebih baik”..Demikianlah berulang-ulang tanpa saya bisa meninggalkan rokok melainkan hanya dalam waktu sehari atau dua hari setiap kali berupaya. Saya tidak mau menyembunyikan suatu rahasia kepada kalian, jika saya katakan: “Sesungguhnya tidak ada taufiq untuk meninggalkan rokok penyebabnya adalah karena setiap kali saya berfikir untuk meninggalkannya maka motovasi yang mendorong untuk meninggalkan rokok kalau tidak karena pandangan masyarakat terhadap orang yang merokok atau karena demi kesehatanku atau demi mengumpulkan harta..Saya tidak pernah berfikir dalam percobaanku yang gagal itu untuk meninggalkan rokok semata karena Allah dengan memohon pertolongan dan bertawaqal kepada-Nya sebagaimana yang terjadi pada percobaanku yang berhasil yang hendak saya kemukakan kemudian. Sebelum Datangnya Hidayah Sebelum Allah yang memiliki karunia menunjukiku dalam meninggalkan rokok, saya berubah menjadi ‘tabung asap bergerak’. Saya menghisap rokok dengan penuh tamak hingga saya merokok sehari mencapai 4 bungkus, yakni 80 batang. Hingga api terus menyala di mulutku sejak bangun tidur pagi hari hingga tidur kembali. Bahkan kadang-kadang saya bangun dari tidur hanya untuk menyalakan rokok kemudian kembali tidur. Adapun ruangan dimana saya duduk sama saja apakah di tempat kerja, rumah atau di tempat kawan-kawan dipenuhi asap tebal ketika saya berada di situ dengan diliputi perasaan stagnasi (future), malas, dahak hitam, terus batuk-batuk dimana pengobatan tidak lagi bisa memberi manfaat….kedua bibir hitam, mata merah, muka masam. Tempat dimana saya tidak bisa merokok di situ karena suatu sebab, saya segera tinggalkan. Dan saya tergesa-tergesa dalam menunaikan sholat supaya saya kembali untuk merokok. Pada bulan romadhon kadang-kadang berbuka dengan tembakau sebelum kurma. Langkah-langkah berat ketika berjalan dan ludah kering….banyak minum teh dan air secara berlebihan. Kondisi mengenaskan dimana tidak menyenangkan musuh maupun kawan. Di hadapanku telah tertutup semua jalan untuk meninggalkan rokok setelah upaya berkali-kali yang gagal hingga sampailah saya pada sikap menerima untuk tidak berupaya meninggalkannya sekali lagi. Keputusasaan telah begitu memuncak hinggap pada diriku sampai-sampai saya berkhayal kalau saya akan mati sedang di mulutku terdapat rokok. Saat-Saat Yang Menentukan Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar:53). Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan“ barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (Al Kahfi:17 Pada suatu malam penuh berkah di sepuluh akhir bulan Romadhon tahun 1412 H saya beserta saudara saya -yang juga merokok seperti saya- ikut sholat malam di salah satu masjid

wilayah Nashiriyah Riyadh. Usai salam kedua biasanya orang-orang beristirahat sejenak untuk minum air putih, kopi atau the sebelum melanjutkan sholatnya. Nafsuku menggoda saya untuk keluar masjid untuk merokok. Kemudian kembali untuk melanjutkan sholat. Saya beritahukan kepada saudaraku tentang godaan nafsu jahatku. Tidak ada jawaban darinya kecuali hanya dia katakan kepadaku: “Apa pendapatmu sebagai ganti pergi sekedar untuk merokok kita berdoa kepada Allah kiranya menolong kita dalam meninggalakan rokok. Supaya kita meninggalkannya semata karena Allah, takut akan azab-Nya sekaligus berharap rahmat-Nya. Dan supaya kita bersungguh-sungguh dalam berdoa hingga usai sholat dengan memohon kepada Allah untuk tidak menolak (doa) kita dalam keadaan merugi pada malam ini dan kiranya Dia memuliakan kita dengan hidayah”. Kata-kata saudaraku tersebut mengena dalam diriku pada tempat baik dan mendapatkan telinga yang mau mendengar. Kamipun lantas kembali melanjutkan sholat. Setelah usai sholat saya dan saudara saya mengeluarkan sisa rokok yang masih ada di saku kami dan kami hancurkan di depan masjid. Kemudian kami berjanji pada malam penuh berkah itu untuk tidak lagi menghisap rokok dan setiap kami untuk saling menolong yang lain dalam meninggalkan rokok setiap kali melemah dan nafsunya menggodanya untuk kembali lagi. Segala puji bagi Allah saat-saat menghangatkan dalam kehidupan kami setelahnya kami tidak akan kembali lagi merokok berkat pujian dan taufiq Allah. Sekarang saya dan saudara saya telah dua tahun tidak pernah menyalakan satu batang rokokpun. Kecerahan kembali pada rona wajah kami. Kami ucapkan selamat tinggal kepada penyakit dada, daha’, batuk. Dan habis sudah -menurut hitunganku- perjalanan penuh siksaan selama 20 tahun. Keluarga dan kawan karib bergembira dengan apa yang kami perbuat…..Segala puji bagi Allah yang dengan karunia-Nya sempurnalah semua kebaikan. Hukum Menghisap Rokok Sunnah yang disucikan melarang kita dari segala hal yang membuat mabuk dan stagnasi sebagaimana melarang kita dari menyia-nyiakan harta pada tempat yang tidak ada manfaatnya dibalik itu semua sebagai kasih sayang dan kebaikan kepada kita. Para ulama’ telah mengeluarkan fatwa akan haramnya menghisap rokok. Hal itu karena melihat di dalamnya terdapat bahaya terhadap agama, dunia, masyarakat, dan kesehatan. Berdasarkan hal ini rokok digolongkan termasuk ‘barang buruk’ yang diharamkan Al Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (Al A’raf:157) Merokok tidak hanya menyakiti orang-orang yang merokok. Namun menyakiti orang-orang yang ada disekitarnya juga. Allah I telah melarang kita dari menyakiti saudara kaum muslimin kita dimana Dia berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Al Ahzab:58). Merokok –pada dasarnya- merupakan penghamburan harta, pemborosan, tabdzir sedang Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Penyia-nyiaan dan penghaburan mana yang lebih besar daripada orang yang melenyapkan hartanya dan membakarnya dengan api didepannya yang disertai bencana badan dan kesehatan sekaligus?! Allah telah mengkaruniakan kepada manusia ilmu, akal dan kekuatan kemauan maka jika telah mengetahui bahaya merokok dan keharamannya maka tidak lain kecuali dia harus bertekad untuk meninggalkannya. Dan barangsiapa meninggalkan sesuatu semata karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan selalunya balasan itu sejenis dengan amal perbuatan. Jika anda telah mengetahui –wahai saudara muslim- akan bahaya merokok maka anda harus berencana meninggalkannya dan menjauhinya maupun meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang merokok. Rekomendasi Muktamar Islam untuk Penanggulangan Minuman Keras dan Heroin yang diselenggarakan di Madinah Al Munawwaroh pada tahun 1402 H mendukung consensus ulama akan haramnya rokok tembakau dengan segala coraknya yang berbeda. Demikian pula beli rokok dimana didalamnya terdapat bahaya terhadap agama, dunia, masyarakat dan kesehatan. Hasilnya sebagai berikut ini: -Rokok adalah asap yang tidak bisa membuat gemuk dan tidak menghilangkan lapar -Rokok adalah membahayakan kesehatan

-Rokok adalah menyebabkan stagnasi dan tak sadar. Sedang Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari setiap yang memabukkan dan membuat loyo. -Rokok termasuk barang buruk yang diharamkan berdasarkan nash Al Qu’an Al Karim dimana Allah U berfirman –dalam mensifati Nabi kita Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam - : “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (Al A’raf:157) -Bau rokok menyakiti orang yang tidak merokok bahkan menyakiti malaikat yang mulia. -Sesungguhnya membelanjakan harta pada rokok merupakan berlebih-lebihan dan tabdzir (penghamburan) sedang Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Robnya” (Al Isra’:27) Laporan Nyata Secara Singkat -Jumlah orang-orang yang meninggal setiap tahun diakibatkan rokok mencapai 2,5 juta orang di seluruh dunia. Artinya 5 % dari total jumlah orang yang meninggal tiap tahun. Sementara organisasi kesehatan dunia (WHO) mengalokasikan 1 % saja dari anggarannya untuk penanggulangan rokok. -Penelitian dan pengkajian membuktikan bahwa rokok bertanggung jawab atas sekitar 90 % dari seluruh kondisi penyakit jantung demikian pula kangker paru-paru dan sejumlah macam kangker lain. -Terbukti secara ilmiyah bahwa rokok merupakan terminal pertama kepada jalan heroin dimana didapati 90 % dari para pecandu heroin, mereka merokok secara berlebihan. -Penelitian menetapkan bahwa di sana terdapat 400 materi hasil dari proses pembakaran tembakau dan materi-materi yang menutupinya. -Para perokok lebih banyak terjangkit penyakit paru-paru basah dan radang paru-paru. -Sesungguhnya rokok menyebabkan tersendatnya radang udara secara menahun. Penutup Adapun setelah itu: Saudaraku yang sedang teruji dengan rokok; Sesungguhnya ini merupakan ajakan yang jujur dari hati ke hati supaya anda meninggalkan rokok…. Anda akan mengatakan bahwa anda telah berkali-kali melakukan upaya akan tetapi pada kali ini: Janganlah anda meninggalkan rokok demi kesehatan Janganlah anda meninggalkan rokok demi masyarakat dan manusia Janganlah anda meninggalkan rokok demi menjaga harta anda Namun tinggalkanlah rokok semata karena Allah, niscaya Allah akan membantu anda dalam meninggalkannya. Kami doakan anda secara tulus semoga Allah melimpahkan taufiq kepada anda dalam meninggalkannya. Sesungguhnya Dia Maha Menunjukkan kepada jalan yang lurus. Semoga Allah menjaga anda dari segala keburukan.

Demi Cukai, Rokok Tak Lagi Dibatasi Nikotinnya (http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1049354005,21602,) Jumat, 4 April, 2003 oleh: Siswono Demi Cukai, Rokok Tak Lagi Dibatasi Nikotinnya Gizi.net - Demi penerimaan pendapatan cukai Rp 27 trilyun per tahun dari rokok, pembatasan kadar tar dan nikotin rokok yang beredar di Indonesia dicabut dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Padahal, di seluruh dunia justru muncul gerakan pengendalian rokok dan penanggulangan dampaknya, termasuk Konvensi Pengendalian Tembakau yang draf finalnya sudah selesai disusun. Seperti diakui Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Rentan Dr dr Anhari Achadi MPH, revisi PP di atas merupakan kemunduran kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. Menurut Kepala Biro Hukum dan Organisasi Departemen Kesehatan (Depkes) Budhi Yahmono SH, Depkes tidak berdaya menghadapi desakan sektor lain dan pihak yang berkepentingan dengan tembakau untuk meninjau kembali PP Pengamanan Rokok. Anhari dan Budhi dihubungi Sabtu (8/3) di Jakarta berkaitan dengan pernyataan Gerakan Nasional Penanggulangan Masalah Merokok. Lembaga yang merupakan gabungan 19 organisasi nonpemerintah itu meminta pemerintah menunda penandatanganan revisi PP Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan dan PP Nomor 38 Tahun 2000 tentang Perubahan PP No 81/1999. Para aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) itu menyesalkan penghapusan batasan maksimal kadar tar dan nikotin dalam rokok, padahal rokok terbukti mengganggu kesehatan dan memboroskan dana masyarakat. Mereka juga menyayangkan pemerintah tidak melibatkan masyarakat dalam revisi PP (Kompas, 8/3). Difasilitasi Setneg Budhi merupakan wakil Depkes dalam pertemuan revisi kilat PP Pengamanan Rokok yang difasilitasi Sekretariat Negara (Setneg) pada 16-26 Februari lalu. Sejak hari Rabu, Budhi yang kini pensiun, digantikan oleh Dr Faiq Bahfen SH. Budhi menuturkan, desakan kepada pemerintah-bahkan ada yang sampai menghadap presidendatang antara lain dari asosiasi petani tembakau, gabungan perusahaan rokok, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Temanggung, dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Hal itu agaknya membuat Depkes melangkah mundur dan akhirnya menyatakan tidak keberatan PP Pengamanan Rokok direvisi dan pengaturan tar dan nikotin rokok tidak dicantumkan. Sebagai kompensasi, Depkes meminta pengaturan iklan diperketat. Untuk media elektronik, lama waktu tayang peringatan kesehatan (health warning) harus sama dengan lama waktu tayang iklan rokoknya (jumlah detiknya sama). Untuk media luar ruang dan media cetak, besarnya kotak peringatan kesehatan disertai pencantuman kadar tar nikotin tak kurang dari 15 persen ukuran iklan. Kadar tar dan nikotin harus dicantumkan di kemasan rokok. Selain itu, Depkes minta kawasan bebas asap rokok diperluas dan setiap sektor melakukan upaya perlindungan kesehatan terhadap rokok. Misalnya, Departemen Keuangan (Depkeu) menerapkan cukai rokok progresif, Departemen Pertanian (Deptan) mengganti varietas tembakau dengan yang berkadar tar dan nikotin rendah, Depperindag mengusahakan produksi rokok berkadar tar dan nikotin rendah. Semula, tutur Budhi, pihaknya ngotot agar dilakukan larangan komprehensif terhadap iklan dan promosi rokok. Namun hal itu ditolak Setneg dan sektor lain dengan alasan iklan rokok tidak dilarang dalam Undang-Undang Penyiaran No 32/2002 (Pasal 46). "Dalam pertemuan revisi itu Depkes menjadi peserta/diundang Setneg. Peserta lain adalah Depperindag, Depkeu, Deptan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Standarisasi Nasional, serta Ketua DPRD Temanggung," ujar Budhi.

Pengendalian tembakau Menurut Anhari, yang mewakili pemerintah dalam pembahasan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di markas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Geneva, akhir bulan lalu penyusunan draf final Konvensi Pengendalian Tembakau selesai. Negara anggota WHO sepakat untuk mengajukannya ke Pertemuan Kesehatan Sedunia (WHA) bulan Mei mendatang untuk disahkan sehingga bisa diratifikasi. Isi FCTC adalah pengaturan cukai rokok, pencegahan dan terapi berhenti merokok, masalah perdagangan ilegal, larangan komprehensif terhadap iklan, sponsorship dan promosi rokok, serta pengaturan produksi rokok. Menurut Anhari, semua pihak menyadari bahwa rokok mengganggu kesehatan. Akan tetapi, kesadaran itu kini masih kalah dengan kepentingan sesaat, yaitu pemasukan dari rokok yang nilainya Rp 27 trilyun per tahun. "Karena itu, menjadi tantangan Depkes untuk meyakinkan sektor lain mengenai bahaya jangka panjang rokok terhadap mutu sumber daya manusia dan biaya kesehatan yang jauh lebih besar dari sumbangan industri rokok bagi negara. Juga melakukan advokasi pada masyarakat mengenai bahaya merokok bagi kesehatan dan ekonomi keluarga," katanya. Untuk itu, Indonesia perlu meratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau segera setelah disahkan WHA dan menyesuaikan semua peraturan yang ada. (ATK)

Sumber: Kompas 10 Maret 2003

Perokok Pasif Mempunyai Risiko Lebih Besar Dibandingkan Perokok Aktif (http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=474) 31 May 2004 Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Padahal perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kanker paru-paru dan penyakit jantung ishkemia. Sedangkan pada janin, bayi dan anakanak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asthma. Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan tema "Kemiskinan dan Merokok Sebuah Lingkaran Setan" sekaligus meluncurkan buku Fakta Tembakau Indonesia Data Emperis Untuk Strategi Nasional Penanggulangan Masalah Tembakau tanggal 31 Mei 2004 di Kantor Depkes Jakarta. Mengingat besarnya masalah rokok, Menkes mengajak seluruh masyarakat bersama pemerintah untuk menjalankan cara-cara penanggulangan rokok secara sistematis dan terus menerus yaitu meningkatkan penyuluhan dan pemberian informasi kepada masyarakat, memperluas dan mengefektifkan kawasan bebas rokok, secara bertahap mengurangi iklan dan promosi rokok, mengefektifkan fungsi label, menggunakan mekanisme harga dan cukai untuk menurunkan demand merokok dan memperbaiki hukum dan perundang-undangan tentang penanggulangan masalah rokok. Menurut Menkes, kemiskinan dan merokok terutama bagi penduduk miskin merupakan dua hal yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang membakar rokok tiap hari berarti telah kehilangan kesempatan untuk membelikan susu atau makanan lain yang bergizi bagi anak dan keluarganya. Akibat dari itu anaknya tidak dapat tumbuh dengan baik dan kecerdasanya juga tidak cukup berkembang, sehingga kapasitasnya untuk hidup lebih baik di usia dewasa menjadi sangat terbatas. Selain itu, kemungkinan besar sang ayah juga meninggal oleh karena penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok. Demikian seterusnya, sehingga merokok dan kemiskinan merupakan sebuah lingkaran setan Menkes menambahkan, kebiasaan merokok di Indonesia cenderung meningkat. Berdasarkan data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) penduduk Indonesia usia dewasa yang mempunyai kebiasaan merokok sebanyak 31,6%. Dengan besarnya jumlah dan tingginya presentase penduduk yang mempunyai kebiasaan merokok, Indonesia merupakan konsumen rokok tertinggi kelima di dunia dengan jumlah rokok yang dikonsumsi (dibakar) pada tahun 2002 sebanyak 182 milyar batang rokok setiap tahunnya setelah Republik Rakyat China (1.697.291milyar), Amerika Serikat (463,504 milyar), Rusia (375.000 milyar) dan Jepang (299.085 milyar). Menurut Menkes, diantara penduduk laki-laki dewasa, persentase yang mempunyai kebiasaan merokok jumlahnya melebihi 60%. Walaupun peningkatan prevalensi merokok ini merupakan fenomena umum di negara berkembang, namun prevalensi merokok di kalangan laki-laki dewasa di Indonesia termasuk yang sangat tinggi. Sedangkan di negara maju yang terjadi justru sebaliknya, persentase perokok terus menerus cenderung menurun dan saat ini kira-kira hanya 30% laki-laki dewasa di negara maju yang mempunyai kebiasaan merokok. Hal ini disebabkan tingkat kesadaran masyarakat di negara maju akan bahaya merokok sudah tinggi. Masyarakat sudah sadar merokok merupakan faktor risiko penyebab kematian, faktor risiko berbagai penyakit dan disabilitas. Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dr. Frits Reijsenbach de Haan menyatakan, masyarakat miskin adalah kelompok masyarakat yang paling menjadi korban dari industri tembakau karena menggunakan penghasilannya untuk membeli sesuatu (rokok) yang justru membahayakan kesehatan mereka. Dalam laporan yang baru saja dikeluarkan WHO berjudul "Tobacco and Poverty : A Vicious Cycle atau Tembakau dan Kemiskinan : Sebuah Lingkaran Setan" dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tanggal 31 Mei 2004, membuktikan bahwa perokok yang paling banyak adalah kelompok masyarakat miskin. Bahkan di negara-negara maju sekalipun, jumlah perokok terbanyak berasal dari kelompok masyarakat bawah. Mereka pula yang memiliki beban ekonomi dan kesehatan yang terberat

akibat kecanduan rokok. Dari sekitar 1,3 milyar perokok di seluruh dunia, 84% diantaranya di negaranegara berkembang. Hasil penelitian itu juga menemukan bahwa jumlah perokok terbanyak di Madras India justru berasal dari kelompok masyarakat buta huruf. Kemudian riset lain membuktikan bahwa kelompok masyarakat termiskin di Bangladesh menghabiskan hampir 10 kali lipat penghasilannya untuk tembakau dibandingkan untuk kebutuhan pendidikan. Lalu penelitian di 3 provinsi Vietnam menemukan, perokok menghabiskan 3,6 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk pendidikan, 2,5 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan dengan pakaian dan 1,9 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk biaya kesehatan. Menurut WHO, merokok akan menciptakan beban ganda, karena merokok akan menganggu kesehatan sehingga lebih banyak biaya harus dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Disamping itu meropok juga menghabiskan uang yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan yang bergizi. Untuk mengurangi/menghilangkan kemiskinan, pemerintah perlu segera mengatasi masalah konsumsi tembakau. Karena itu Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia mendorong pemerintah Indonesia untuk lebih serius lagi mempertimbangkan untuk menandatangani global Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) akhir masa penandatangan akhir Juni 2004. Dengan demikian Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam gerakan pengawasan tembakau. Selain meluncurkan buku, Menkes menyerahkan penghargaan "Manggala Karya Bakti Husada Arutala" kepada Pondok Pesantren Langitan karena jasanya dalam menciptakan Kawasan Tanpa Rokok serta penyerahan hadiah kepada 4 pemenang Quit and Win (Lomba Berhenti Merokok) yang diselenggarakan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3).

(http://www.suaramerdeka.com/harian/0310/28/surat.htm) Selasa, 28 Oktober 2003 Surat Pembaca

Soal Rokok Merokok Konon tembakau ditemukan suku Apache di AS. Barang bernikotin itu kemudian dilinting dan dibakar ujungnya lalu disulut dan diisap. Kini rokok banyak dikonsumsi masyarakat termasuk wanita, remaja dan anak-anak. Bahkan ada dokternya, walau semua mengerti merokok mengganggu kesehatan. Karena diyakini rokok dapat menambah angka kematian manusia maka Hari Tanpa Tembakau diperingati setiap tanggal 31 Mei. Peringatan tahun ini ditandai dengan diadopsinya Franmerork Convention on Tobacco Control (FCTC) oleh 192 negara anggota WHO. Materinya terdiri preambul, definisi, obligasi dan lainnya. Juga ada bab pola tarif dan perpajakan untuk menurunkan kebutuhan dan konsumsi tembakau. Termasuk membahas penanganan ketergantungan merokok/bantuan berhenti merokok, penyelundupan rokok, penjualan oleh dan untuk anak-anak. Tidak berlebihan jika FCTC kumpulan aturan lengkap penanggulangan masalah merokok. Bungkus rokok harus mencantumkan secara jelas bahaya merokok dan kandungan bahan yang berbahaya. Yang menyesatkan tidak boleh dicantumkan serta melarang segala bentuk rokok langsung dan tidak langsung. Kenyataannya banyak remaja dan anak-anak merokok karena melihat iklan rokok, apalagi yang memerankan wanita cantik dan pria tampan. Padahal merokok tidak membuat orang menjadi cantik dan ganteng. Penanggulangan merokok sudah berjalan lama, tapi belum menunjukkan angka penurunan. Yang harus diingat, asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan 25 penyakit tubuh. Asap rokok juga mengganggu kesehatan terhadap perokok pasif. Dewasa ini ada 4,9 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat rokok. Pada abad 20 ada sekitar 100 juta orang meninggal karena rokok. Nevi Ervina Rahmawati KompleksPerhutani Rt 2/Rw 7 Mranggen, Demak 59567 *** Manfaatkan Barang yang Tidak Berguna Banyak orang menganggap barang yang tidak berguna harus disisihkan atau dibuang. Bila lebih dicermati barangbarang di sekitar dapat dimanfaatkan misalnya gedebog pisang.Pemanfaatan gedebog pisang dengan cara mengambil bagian tengah yang berwarna putih dan berlendir. Awalnya dicuci bersih dengan air dingin, direndam dalam cairan kapur sirih selama semalam, dijemur sampai kering. Kemudian diiris tipis-tipis. Sebelum digoreng dicelupkan ke dalam cairan bumbu bawang. Setelah digoreng rasa dan bentuknya mirip ceriping singkong. Kepada pihak yang meremehkan barang yang dinilainya tidak berguna kiranya dapat dimanfaatkan dengan baik. Ismono Dwi Atmanto Jl Candi Penataran Rt 1/Rw 3 Semarang 50182 *** Kerinduan Ujudkan Gereja yang Pantas GITJ Pepanthan (kelompok) Sidomulyo berdiri tahun 1968 yang menginduk pada GITJ Pakis, Kecamatan Tayu Pati tahun 1970-an membangun sebuah rumah ibadah sangat sederhana. Bangunan tersebut sampai sekarang mengalami renovasi 4 kali secara bertahap demi terwujudnya gereja yang baik dan pantas. Panitia dan jemaat mengharap dukungan/bantuan doa serta partisipasi pembaca lewat rekening BRI Unit Gunungwungkal no 33-213378 atau NI Cabang Pati no 145.000.445.543.901 a.n Amos Jari Amos Jari Sidomulyo Rt 3/Rw 2 Gunungwungkal, Pati *** Jl Kusuma Bangsa Pekalongan Rencana Pemerintah Kota Pekalongan akan membangun trotoar dan drainase di sepanjang Jl Kusuma Bangsa jangan berkesan arogan. Sebab bangunan dan pedagang yang menempati sepanjang jalan tersebut tidak semuanya menempati tanah negara. Pemkot harus benar-benar melakukan pendataan tanah kepada para pemilik tanah dan bangunan yang ada di sepanjang jalan itu. Bila diperlukan diadakan pengukuran kembali batas-batas tanah warga dan tanah negara. Pemkot seharusnya mempertimbangkan nasib para pedagang bila mereka dipaksa pergi. Kalau sampai terjadi penggusuran atau pembongkaran paksa bukan tidak mungkin menimbulkan kerawanan sosial. Apalagi rencana pembangunan proyek dilakukan saat rakyat mengalami kesulitan ekonomi dan kebanyakan penduduk miskin kota. Apakah Pemkot sudah berpikir akibat penggusuran dan pembongkaran paksa yang berakibat akan terjadinya pengangguran dan menambah angka kemiskinan kota. Seharusnya kalau berniat baik mereka diberi alternatif tempat berjualan/usaha.

Pernyataan Framework Convention Alliance (http://www.fctc.org/archives/statementIn.shtml) Penggunaan tembakau merupakan penyebab utama kematian yang sebenarnya dapat dicegah di dunia ini. Dewasa ini 4 juta orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang berhubungan dengan penggunaan tembakau. Bila kecenderungan ini menetap, maka 10 juta orang akan meninggal setiap tahunnya di tahun 2030 di mana sebagian besar dari mereka berasal dari negara berkembang. Bila tidak dilakukan penanganan memadai maka penggunaan tembakau akan menjadi penyebab kematian utama di dunia, dan akan menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan dengan penjumlahan mereka yang meninggal akibat tuberculosis, pneumonia, diare, dan komplikasi persalinan. Negosiasi pada Framework Convention Alliance on Tobacco Control (FCTC) merupakan peluang bersejarah untuk melakukan gerakan dalam menanggulangi epidemi tembakau di dunia. Framework Convention Alliance meminta para anggotanya untuk meningkatkan segala upaya secara maksimal dan melakukan tindakan nyata dan tegas untuk mempercepat berjalannya proses FCTC. Para anggota Framework Convention Alliance menyampaikan rekomendasi tentang FCTC sebagai berikut:  1. 2. Pada prosedur Intergovernmental Negotiating Body (INB), kami mengharapkan: Perlu adanya partisipasi penuh dan aktif dari LSM pada semua pertemuan Negotiating Body, kelompok kerja, kelompok ad hoc, dan komite lain yang dibentuk oleh INB untuk negosiasi atau implementasi FCTC. Produsen rokok beserta yang terkait dengannya tidak dapat menjadi peserta resmi dari negosiasi ini dan tidak diperkenankan untuk berkiprah dalam segala bentuk badan FCTC Dalam hal principle, kami mengharapkan agar: 1. 2. 3. 4. 5. Program penanggulangan masalah tembakau haruslah menggunakan evidence based yang telah terbukti efektif dan menggunakan teknik terbaik yang telah diakui secara internasional. Tujuan utama FCTC harus secara jelas dan cepat menurunkan kematian, penyakit, dan kecacatan. Proteksi dan promosi kesehatan masyarakat harus menjadi prinsip utama dalam seluruh pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan. Konvensi sendiri harus meliputi obligasi yang khusus dalam hal, antara lain: periklanan, penjualan bebas pajak, regulasi produksi, penyelundupan dan pencantuman peringatan di bungkus rokok. Sudut pandang kesehatan masyarakat dalam FCTC harus merupakan prioritas utama, misalnya upaya untuk melindungi kesehatan masyarakat mungkin sedikit banyak tidak sejalan dengan liberalisasi perdagangan, tetapi pelayanan kesehatan masyarakat mempunyai legitimasi yang kuat yang harus dijalankan dengan baik. Isi FCTC tidaklah boleh mengecilkan program penanggulangan tembakau yang sekarang sudah ada dan tidak pula dapat mencegah program / kegiatan yang dilakukan secara lebih tegas dari yang ada di FCTC. Akhirnya, kami juga mengajukan beberapa rekomendasi tentang substance, yang harus dicantumkan, meliputi:

6.

1. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Pelarangan total segala bentuk, langsung muupun tidak langsung iklan tembakau, sponsor, promosi, dan brand stretching. 2. Upaya yang gigih untuk mengurangi penyelundupan tembakau. Pelarangan penjualan tembakau bebas pajak dan pembebasan pajak impor tembakau. Peraturan produksi tembakau yang menyeluruh, yang antara lain meliputi: standar produksi, pengepakan, bahan-bahan yang terkandung di dalamnya, dan pengemasan. Pencantuman peringatan kesehatan bergambar yang meliputi setidaknya 50% dari bungkus rokok dengan menggunakan bahasa utama di negara di mana rokok itu dijual. Pelarangan penggunaan istilah-istilah yang menyesatkan, seperti "light" atau "mild". Tersedianya mekanisme alih teknologi, bantuan keuangan, serta pengetahuan untuk membantu berbagai negara dalam program penanggulangan tembakaunya, dan Penggunaan kebijakan pajak tembakau guna kepentingan kesehatan masyarakat untuk menurunkan secara berkesinambungan konsumsi tembakau. FCTC juga harus mengharapkan semua pihak terkait untuk menyediakan dan mengumpulkan program penanggulangan tembakau yang bersifat menyeluruh dan evidence based, baik di tingkat local, nasional, dan internasional dengan tujuan untuk menurunkan akibat buruk pada pemakai tembakau dan para perokok pasif. Akhirnya para negara anggota tidak perlu menunggu adanya kesimpulan dari negosiasi untuk mengimplementasi kebijakan ini. Aliansi berharap dapat bekerja sama dengan baik dengan para anggota INB untuk memastikan agar dapat dihasilkan FCTC yang kuat dan efektif untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menurunkan kematian dan penyakit akibat tembakau. Desember 2000

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2003/03/10/brk,20030310-05,id.html Pembatalan Pembatasan Nikotin dan Tar Rokok Bahayakan Kesehatan Publik 10 Maret 2003 TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah diminta mengkaji kembali rencana pembatalan Peraturan Pemerintah No.38/2000 yang membatasi kandungan nikotin dan tar dalam rokok. “Jadi tidak begitu saja direvisi karena ada tuntutan dari produsen rokok,” tegas Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Masalah Merokok Merdias Almatsier kepada Tempo News Room melalui sambungan telepon, Senin (10/3). Ia menyesalkan kalau revisi itu jadi dilakukan tanpa proses pengkajian yang komprehensif. Kata dia, dalam peraturan itu salah satu pasalnya jelas menyebutkan kalau mau dirubah harus dibentuk lembaga kajian pokok. “Tapi lembaga itu sendiri belum dibentuk sekarang,” tambah Merdias, “dan kalau mengkaji LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang memperjuangkan dulu diajak ikut serta untuk membahasnya”. Pemerintah sendiri, lanjut Merdias, sudah berbaik hati dengan memberi waktu selama lima tahun untuk rokok produksi mesin dan 10 tahun untuk produksi tangan agar kadar kedua racun itu sesuai dengan peraturan. Menurut dia, sebenarnya teknologi untuk ini sudah ada, hanya saja parapengusaha rokok enggan untuk mengeluarkan uang lagi. “Kan masih ada waktu lima tahun, kenapa buru-buru harus dicabut,” tutur dia. Menurutnya, yang mengusulkan penghapusan kadar nikotin dan tar tidak berpihak terhadap rakyat banyak yang kesehatannya perlu dijaga. Gerakan anti revisi ini juga diikuti belasan organisasi, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Komnas Penanggulangan Masalah Merokok, Ikatan Dokter Indonesia, Yayasan Penyantun Asma Anak Indonesia, Yayasan Stroke Indonesia, Persatuan Wartawan Indonesia, Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia, dan lain-lain Kata Merdias, kalau pun toh batasan kadar nikotin sebesar 1,5 miligram dan tar sebanyak 20 mg jadi dicabut ada tiga kompensasi yang harus dilakukan. Pertama, semua iklan rokok di semua media elektronik dilarang. “Kita maunya dilarang total atau kalau tidak bisa dipersempit waktunya dari jam 24.00-05.00 (awal pukul 21.30-05.00),” ujar dia. Kedua, PP No.81/1999 yang telah diamandemen menjadi PP No.38/2000 tetap diberlakukan dimana salah satu pasalnya menuliskan kadar tar dan nikotin harus dicantumkan dalam bungkus rokok. “Supaya masyarakat yang mau merokok tahu kadar tar dan nikotinnya tinggi atau rendah,” jelas Merdias. Ketiga, menaikkan harga cukai rokok dinaikkan, sehingga harga rokok menjadi mahal. Ia mengatakan bahaya nikotin dan tar terhadap kesehatan harus dicegah. Karana dapat mengakibatkan serangan jantung, kanker, impotensi dan ganguan kehamilan dan janin. Kalau sampai perokok ketagihan akibat kadar kedua racun itu, akibatnya mereka akan menambah aktivitas merokok. “berapapun kadar nikotin dan tarnya, pasti mengganggu kesehatan” tandas Merdias. SS Kurniawan --- TNR

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2003/03/12/brk,20030312-08,id.html Pemerintah Targetkan Cukai Rokok 27,9 Triliun Rupiah 12 Maret 2003 TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktorat Bea dan Cukai menargetkan pendapatan cukai rokok untuk tahun 2003 sebesar Rp 27,9 triliun. Target ini melebihi pendapatan cukai rokok tahun lalu yang mencapai Rp 23,3 triliun. Hal ini diungkapkan Direktur Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman di Jakarta, Rabu (12/3). Menurut Eddy sampai Februari 2003 direktoratnya sudah membukukan pendapatan lebih dari 11 persen dari keseluruhan target tahun ini. Namun, katanya, jumlah itu masih lebih kecil dibanding target dua bulan pertama dalam tahun anggaran yang seharusnya dicapai. "Semestinya bisa mencapai 16 persen," katanya. Tapi ia memaklumi karena pada akhir tahun seluruh industri rokok biasanya meningkatkan pembelian pita cukai dibanding pada awal tahun sehingga pada awal tahun berikutnya jumlah pendapatan cukai menurun. "Memang biasa pada dua bulan pertama pendapatan cukai selalu di bawah target,"imbuh Eddy. Untuk tahun lalu pendapatan Direktorat Bea dan Cukai melebihi pendapatan yang ditargetkan. Dari 22,4 persen pendapatan yang ditargtekan, direktorat di bawah Departemen Keuangan itu membukukan pendapatan sebesar 23,3 persen yakni Rp 900 miliar. Mengomentari rencana pemerintah membatasi jumlah tar dan nikotin dalam tiap batang rokok, menurut Eddy, hal itu tak terlalu berpengaruh terhadap pendapatan cukai rokok. Menurutnya pengaruh itu akan terjadi jika pembatasan tar dan nikotin juga mempengaruhi produksi rokok. Melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 38/2000, pemerintah berencana menetapkan kadar tar sebanyak 20 miligram dan nikotin 1,5 miligram dalam tiap batang rokok. Draft ini, kata Eddy, masih dalam tahap pembahasan. Ia mensinyalir industri rokok, khususnya rokok kretek, belum siap dengan pembatasan itu. Sehingga rencana pemerintah merevisi peraturan batasan rokok mendapat tentangan dari industri rokok. Menurutnya, pembatasan tar dan nikotin relevansinya dengan Departemen Kesehatan yang meminta mencantumkan jumlah dua zat itu dalam tiap bungkus rokok. Eddy menjelaskan dalam menetapkan harga cukai rokok pihaknya menghitung dari tarif dan harga eceran setiap merek rokok, sehingga, "Ada strata untuk masing-masing industri." Maka untuk setiap industri digolongkan menjadi golongan I, II, dan III. Ia mencontohkan kretek putih dengan mesin cukainya mencapai 40 persen, yang merupakan harga lebih tinggi dibanding cukai untuk kretek putih dengan tangan. Pemerintah memperpanjang waktu sosialisasi pembatasan tar dan nikotin menjadi lima tahun untuk industri rokok dengan mesin dan sepuluh tahun untuk industri dengan tangan. Pemerintah beranggapan pembatasan tar dan nikotin harus dilakukan dengan menggunakan teknologi canggih. Bagja Hidayat --- TNR

http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2003/05/26/brk,20030526-34,id.html Departemen Kesehatan Serukan Film Bebas Rokok 26 Mei 2003 TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tangal 31 Mei mendatang, Departemen Kesehatan menetapkan “Film dan Fesyen Bebas Rokok” sebagai tema peringatan. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan RI, Sujudi, di Departemen Kesehatan, Jl. Rasuna Said Jakarta, Senin (26/5) siang. Maksud dipilihnya tema tersebut antara lain karena film dan fesyen melibatkan banyak peragawan peragawati dan bintang film yang menjadi idola masyarakat. Akibatnya, sebagai idola masyarakat, tingkah laku mereka dapat dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap peragawan peragawati dan bintang film mempelopori sikap tidak merokok sebagai gaya hidup," kata Sujudi. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan WHO di Indonesia Dr. George Petersen menjelaskan, tema ini dipilih untuk menyoroti dunia fesyen dan perfilman dalam menyebarluaskan bencana kesehatan akibat rokok. Lewat pemilihan tema ini, kata Petersen, sesungguhanya WHO tengah menyerukan kepada industri hiburan untuk berhenti mempromosikan benda penyebab mematikan manusia tersebut. Menurut Petersen, WHO bersama mitra-mitranya, termasuk berbagai persatuan kedokteran di berbagai negara, menyerukan ke berbagai industri hiburan dan fesyen untuk melaksanakan tanggung jawab sosial yang sama luasnya dengan pengaruh mereka yang jangkauannya mendunia. Secara khusus, WHO meminta industri perfilman Hollywood dan Bollywood ikut serta membersihkan semua film dari promosi tembakau atau rokok “Dunia perfilman dan fesyen tidak dapat dituduh sebagai penyebab kanker. Tetapi mereka juga tidak boleh mempromosikan benda penyebabkan kanker itu,” tutur Petersen. Dalam kesempatan itu, Petersen menyodorkan hasil penelitian di Amerika yang menyebutkan bahwa para remaja yang mengidolakan bintang film yang merokok, di masa depannya akan merokok lebih dari 16 kali. Selain itu, 30 persen yang melihat adegan merokok sampai 150 kali, akhirnya juga merokok. Masih menurut penelitian, selama periode 1988-1997, 85 persen dari 24 film paling laris di Hollywood mempertunjukan adegan penggunaan tembakau. Selain itu, sebuah penelitian tentang 395 film India yang diproduksi 1991–2001 menunjukan bahwa 76,5 persen diantaranya mempertontonkan adegan merokok. “Mengingat semua tantangan ini, jelaslah semua negara termasuk Indonesia tidak boleh istirahat dalam bekerja melawan tembakau,” ujar Petersen. (Yandhrie Arvian -TNR)

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2004/01/07/brk,20040107-21,id.html Pemerintah Targetkan Produksi Rokok 200 Miliar 07 Januari 2004 TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah menargetkan industri rokok bisa memproduksi rokok hingga 200 miliar batang tahun ini. Jumlah tersebut untuk memenuhi target penerimaan cukai tahun ini sebesar Rp 27,6 triliun. Demikian diungkapkan Direktorat Jenderal Bea Cukai Eddy Abdurrahman, di Jakarta, Rabu (7/1), Selain menambah jumlah produksi, kata Eddy, dari segi kegiatan pemerintah tidak akan menaikkan tarif cukai dan harga jual eceran rokok. Dari lima kali perubahan kenaikan cukai rokok sepanjang 2001-2003, kata Eddy, penerimaan negara dari cukai cenderung menurun. Berpedoman pada pengalaman ini pemerintah tidak akan menaikkan harga cukai hingga tercapai situasi ekonomi yang stabil. Ia berharap, dengan adanya kebijakan itu industri rokok bisa merestrukturisasi perusahaan dengan menambah jumlah produksi rokok selain keadaan ekonomi yang terus membaik. "Kalau konsumsi naik produksi juga pasti naik," katanya. Kebijakan lainnya yang akan terus dijalankan pada 2004 adalah mencegah beredarnya pita cukai palsu dan kecepatan pelayanan pembayaran cukai. Sedangkan untuk penerimaan bea masuk tahun ini, pemerintah menargetkan penerimaan sebesar Rp 11,6 triliun. Meski tahun 2003 lalu penerimaan bea masuk tidak tercapai, pemerintah tetap menaikkan target penerimaan denagn perkiraan kondisi ekonomi yang membaik dengan adanya peningkatan impor. Bagja Hidayat - Tempo News Room

http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/jawamadura/2004/06/11/brk,20040611-06,id.html Tujuh Daerah Produsen Rokok Minta Penundaan Cukai Jum'at, 11 Juni 2004 | 11:55 WIB TEMPO Interaktif, Kediri:Tujuh daerah produsen rokok meminta kepada pemerintah agar dapat menunda pembayaran cukai rokok, yang semula ditetapkan dua bulan kemudian dapat diundur menjadi tiga bulan. Ke tujuh daerah itu antara lain Kabupaten Kudus, Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten/Kota Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Surabaya. Permohonan penundaan tersebut juga mendapatkan dukungan dari produsen rokok Sampoerna, Tri Sakti Purwosari Makmur, Gabungan Pengusaha Rokok Malang, Bentoel Prima, dan Gudang Garam. Hal itu diungkapkan Ketua Pansus Cukai DPRD Kudus, MA Kurnen, Jum’at (11/6). Tujuan dari penundaan pembayaran cukai itu, menurut Kurnen, uang yang disetor oleh produsen ke Departemen Keuangan dapat terlebih dahulu mengendap satu bulan di bank, selanjutnya dari bunganya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan di daerahnya masing- masing. Upaya yang dilakukan ini, sebagai kompensasi dari cukai rokok yang disetor ke pemerintah pusat karena selama ini daerah produsen rokok tidak mendapatkan bagian dari perolehan cukai tersebut. Menurut Kurnen, untuk kepentingan penundaan pembayaran cukai itu, telah dibentuk sebuah tim. Surat penundaan dari ketujuh daerah telah disampaikan ke Departemen Keuangan. Dari daerah produsen rokok di Jawa Tengah dan Jatim ini, setiap bulan cukai rokok yang disetor ke pemerintah pusat sekitarRp 2,5 triliun. Untuk kepentingan itu, menurut Kurnen, tim membutuhkan dukungan dari pemprop Jateng dan Jatim. Bandelan Amarudin – Tempo News Room

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2004/01/02/brk,20040102-46,id.html

Rokok dan Kendaraan Bermotor akan Kena Pajak Barang Mewah 02 Januari 2004 TEMPO Interaktif, Jakarta: Mulai 1 Januari 2004 pemerintah akan menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPn BM) untuk tiga komoditi yaitu rokok, kendaraan bermotor, dan minuman berakohol. Kebijakan ini akan diujicobakan di Batam. Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrahman di Jakarta, Jumat (1/2). Selain PPN dan PPn BM, ketiga komoditas itu juga akan dikenakan bea masuk. Menurut Eddy, penerapan ini tidak akan menggangu investasi dan menyurutkan industri memproduksi komoditasnya. Alasannya, kebijakan itu akan dikenakan bagi komoditas yang dipakai untuk konsumsi. "Kalau untuk industri tetap diberikan fasilitas bebas pajak dan bea masuk," kata Eddy. Kebijakan fasilitas bebas bea masuk dan pajak ini diterapkan untuk seluruh kawasan brikat nasional. Batam, kata Eddy, sebelum diterapkan Undang-Undang Zona Perdagangan Bebas yang masih digodok DPR, Batam akan diperlakukan sebagai kawasan brikat. Ia menjamin penerapan kebijakan itu akan mengurangi penyelundupan tiga komoditas itu. "Justru dengan kebijakan ini kami mengupayakan praktek-praktek semacam itu berkurang," katanya. Menurut Eddy, kebijakan penerapan pajak dan bea masuk itu secara bertahap akan dikenakan juga untuk komoditas lainnya. Untuk barang elektronik pengenaan pajak dan bea masuk akan diterapkan pada 1 Maret 2004. "Setiap enam bulan ada pertambahan komoditas sampai 18 bulan sejak 1 Januari," katanya. Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo mengatakan potensi penerimaan pengenaan PPN, PPn BM, dan bea masuk itu sekitar Rp 300-400 miliar. Senada dengan Eddy, Hadi juga menjamin penerapan pajak itu tidak akan mengganggu arus investasi ke dalam negeri. Menteri Keuangan Boediono menambahkan prinsip kebijakan itu ditujukan untuk menyamakan perlakuan bagi seluruh kawasan berikat di Indonesia dalam pengenaan pajak. "Tidak di Gunung Kidul tidak di Batam, nantinya sama," katanya. Ia juga menjamin penerapan kebijakan itu tidak akan mengganggu daya saing investasi. "Itu tidak akan mengganggu," katanya. Tanggal 1 Januari juga mulai diberlakukan peraturan pemungutan PPN dan PPn BM hanya dilakukan oleh bendaharawan negara. BUMN, Bank Indonesia, atau perusahaan kontrak yang ditunjuk pemerintah tidak akan lagi menjadi pemungut dua jenis pajak itu. Pemungutan PPN dan PPN BM dilakukan dengan cara memotong langsung tagihan pengusaha kena pajak rekanan pemerintah. Bagja Hidayat - Tempo News Room

http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2004/05/31/brk,20040531-22,id.html

Konsumsi Rokok Indonesia Lima Besar Dunia Senin, 31 Mei 2004 | 15:49 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia berada dalam urutan tertinggi kelima di antara negaranegara di dunia dengan konsumsi rokok sebanyak 182 miliar batang pada tahun 2002. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan, Achmad Sujudi, dalam sambutan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Senin (31/5), di Gedung Departemen Kesehatan, Jakarta. Tahun ini, peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia mengambil tema "Kemiskinan dan Merokok", untuk mengingatkan bahwa kemiskinan dan kebiasaan merokok merupakan dua hal yang sangat berhubungan. "Berdasarkan data Susenas, lebih dari 30 persen penduduk dewasa mempunyai kebiasaan merokok," papar Sujudi. Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh rokok, Sujudi menilai perlu penanggulangan yang sistematis dan terus menerus. Wakil WHO Indonesia Frits Reijsenbach de Haan, dalam pidatonya menyampaikan bahwa masyarakat miskin adalah kelompok masyarakat yang paling menjadi korban dari industri tembakau, karena menggunakan penghasilan mereka untuk membeli sesuatu yang justru dapat membahayakan kesehatan mereka. "Berbagai penelitian membuktikan bahwa yang paling banyak merokok adalah kelompok masyarakat miskin," paparnya. Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan memberikan penghargaan kepada Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, asuhan KH Abdullah Faqih yang telah menetapkan wilayah pondoknya sebagai kawasan bebas rokok sejak 20 tahun lalu. Rina Rachmawati - Tempo News Room

http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/jawamadura/2005/03/05/brk,20050305-24,id.html

Negara Rugi Rp 150 Miliar Akibat Cukai Rokok Palsu Sabtu, 05 Maret 2005 | 18:52 WIB TEMPO Interaktif, Kediri: Menteri Keuangan Yusuf Anwar menyatakan saat ini pihaknya tengah berkonsentrasi pada meruyaknya serangan cukai palsu. Karena pengaruhnya sangat besar bagi kondisi keuangan di Indonesia. "Industri rokok merupakan salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara. Potensi penerimaan negara dari cukai tahun lalu mencapai Rp 30 triliun," kata Yusuf Anwar saat mengunjungi pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk, Kediri, Sabtu (5/3). Menurutnya kunjungan ke pabrik rokok sangat penting karena jumlah pekerjanya mencapai puluhan ribu orang seperti PT Gudang Garam Tbk yang memiliki pekerja kurang lebih 40 ribu orang. Untuk itu pemerintah wajib melindungi, terutama dari tindakan pelanggaran hukum berupa pemalsuan cukai rokok, rokok palsu serta penyelundupan rokok. "Beberapa waktu lalu Bea Cukai berhasil menemukan rokok Gudang Garam palsu buatan Cina. Tindakan itu jelas mengganggu potensi penerimaan negara dari produk rokok," kata Yusuf Anwar. Akibat pemalsuan cukai dan rokok pada 2004, negara rugi sekitar Rp 150 miliar. Untuk itu Bea Cukai mengambil langkah mencegah pemalsuan pita cukai rokok dengan cara melakukan personalisasi pita cukai rokok untuk masing-masing perusahaan rokok. "Setiap pita cukai rokok untuk sebuah perusahaan rokok tertentu akan diberi kode-kode tertentu. Sehingga sebuah perusahaan rokok tidak bisa menggunakan pita cukai yang dimilki perusahaan rokok lain," katanya. Dwidjo U. Maksum

http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2005/02/03/brk,20050203-16,id.html

Masyarakat Belum Siap Hadapi Larangan Merokok Kamis, 03 Pebruari 2005 | 12:37 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Menurut Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sutiyoso, masyarakat belum siap menghadapi larangan merokok di tempat umum. Selain memerlukan pembangunan infrastruktur pendukung, juga waktu sosialisasi yang cukup. "Jadi ada proses," kata Sutiyoso di Kantor Balaikota, Jakarta, Kamis (3/2). Tentang lamanya sosialisasi, Sutiyoso belum mengetahui secara pasti. "Itu masalah teknis," ungkapnya. Larangan merokok di tempat umum tertuang dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pengendalian pencemaran udara. Raperda ini, rencananya akan disahkan pada Jumat (4/2). Denda yang dikenakan bagi pelanggar peraturan ini adalah Rp 50 juta atau kurungan enam bulan. Dasar Raperda ini adalah UU Nomor 19 tahun 2003 tentang kesehatan. Sementara itu, mengenai pengawas Perda, Sutiyoso mengatakan akan mengambil unsur fungsional saja. Salah satu kemungkinannya, kata dia, menggunakan Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) sebagai pengawas. "Salah satu tugas Trantib adalah mengamankan Perda," kata Sutiyoso. Gubernur menambahkan, Trantib akan diberikan pengarahan tentang Perda ini. Sedangkan dana operasionalnya akan berasal dari anggaran rutin Trantib. Eworaswa

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2005/01/20/brk,20050120-37,id.html

Sampoerna Beri Beasiswa ke 5.000 Siswa Kamis, 20 Januari 2005 | 19:34 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:PT HM Sampoerna Tbk. akan memberikan beasiswa kepada 5.000 siswa pada tahun ajaran 2005/2006. Menurut Direktur Program dan Urusan Alumni Sampoerna Foundation Eddy F. Henry, dari jumlah itu, 1.000 beasiswa akan diberikan untuk siswa tingkat dasar (SD) dan tingkat menengah pertama (SMP). Sebanyak 3.000 beasiswa akan dialokasikan untuk siswa-siswa tingkat menengh atas (SMA). “Sebanyak 60 persen penerima beasiswa dari luar Pulau Jawa dan 40 persen dari Pulau Jawa,” kata Eddy di Jakarta hari ini. Siswa SD akan menerima uang beasiswa sebesar Rp 25 ribu, SMP Rp 35 ribu, dan SMA Rp 50 ribu per bulan. “Untuk penyalurannya, kami bekerja sama dengan BRI,” kata Eddy. Sampoerna juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa tingkat S1 sebanyak 30-45 orang dan S2 sebanyak 20-25 orang. Eddy mengatakan, para siswa yang bisa mendapat beasiswa adalah yang lulus seleksi dengan syarat berprestasi dan miskin. Beberapa standar telah ditetapkan seperti nilai minimum siswa yang tidak boleh kurang dari 7,5. Namun, bagi yang berprestasi di luar akademik seperti olah raga, standar itu diturunkan nilainya menjadi 6,0. Muchamad Nafi - Tempo

http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2005/02/04/brk,20050204-10,id.html

Larangan Merokok Disahkan Hari Ini Jum'at, 04 Pebruari 2005 | 10:19 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Rencananya akan mensahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pengendalian pencemaran udara, termasuk di dalamnya larangan merokok di tempat umum. Selain itu bagi pemilik kendaraan diwajibkan melakukan uji emisi. Bagi pelanggar aturan tersebut akan dikenakan denda Rp 50 juta atau kurungan selama 6 bulan. Pengesahan ini akan dimulai dengan penyampaian kata akhir dari masing-masing fraksi. Rencananya, acara ini dimulai pukul 09.00 WIB namun hingga berita ini diturunkan rapat belum juga dimulai. Rapat Paripurna di gedung DPRD DKI Jakarta Lantai 3 ini rencananya akan dihadiri Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Selain itu, dijadualkan pula hadir berbagai pihak yang terkait dengan Perda ini. Eworaswa

http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2005/02/04/brk,20050204-53,id.html

Denda Rp 50 Juta Untuk Perokok Tak Masuk Akal Jum'at, 04 Pebruari 2005 | 17:23 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengesahan Raperda tentang Pengendalian dan Pencemaran Udara (PPE) mengandung pro-kontra. Perda yang salah satunya mengatur tentang etika merokok itu ditanggapi dingin oleh sebagian besar perokok aktif. Sebagian besar perokok, tidak setuju dengan larangan merokok di tempat umum. Namun para perokok pasif menyambut gembira Raperda ini. Sebagian besar warga Jakarta juga belum mengetahui Raperda tersebut. "Kayanya kurang sosialisasi" kata Bany (25 tahun) warga Duren Sawit Jakarta Timur, ketika ditemui di kantornya, Jumat (4/1). Bany, yang dalam sehari bisa menghabiska 1 bungkus rokok, mengaku kurang setuju dengan pelarangan merokok di tempat umum. "Kalau di kendaraan umum itu wajar lah, tapi kalau di tempat terbuka, masa nggak boleh juga?" ujarnya. Ia sadar tujuan Perda itu baik. Namun ia tetap pesimis hal itu bisa berjalan disemua kalangan masyarakat. sebab, kata dia, hal tersebut hanya dapat ditegakkan kepada orang-orang dengan latar belakang pendidikan tertentu, namun untuk masyarakat bawah, yang merupakan mayoritas penduduk, hal itu akan sulit dilakukan. "Mereka mungkin nggak tau Perda itu apa, gimana menerapkannya?" katanya. Seharusnya, kata dia, kesadaran masyarakatlah yang perlu ditingkatkan terlebih dahulu. "Pemerintah cuma bisa bikin aturan yang hukumannya denda," tambahnya. Bila peraturan tersebut disahkan, tambahnya, akan menjadi polemik bagi masyarakat karena denda yang ditetapkan untuk pelanggarannya adalah Rp 50 juta. "Rakyat kecil Rp 1 juta saja mungkin nggak punya" katanya melanjutkan. Suwito (40 tahun) yang juga seorang perokok, bahkan mengatakan bila peraturan ini ingin ditegakkan sebaiknya tutup saja pabrik rokok. "Karena peraturan ini nggak efektif," katanya. Berbeda dengan dua para perokok aktif itu, Ratih (24 tahun) warga Cilitan dan seorang perokok pasif sangat menyetujui Perda ini. "Sebagai perokok pasif, saya berhak menghirup udara segar bebas asap rokok" katanya. Selama ini, kata dia, masyarakat perokok bisa merokok dimana saja dan seakan tidak peduli dengan yang tidak merokok. Namun ia juga pesimis peraturan ini dapat dijalankan. "Kecuali kalau aparatnya benar-benar menjalankannya" tambahnya. Pernyataan serupa datang dari Ronald (28 tahun). Walaupun seorang perokok aktif yang bisa menghabiskan 1 bungkus rokok dalam sehari, ia setuju dengan Raperda ini. Ia berpendapat peraturan ini efektif untuk mengurangi polusi yang sudah kotor di Jakarta. "Lagipula ini bisa mengurangi tingkat perokok aktif, baik untuk diri sendiri juga" katanya saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan. Namun mengenai denda Rp 50 juta, ia mengatakan hal tersebut sangat berlebihan. "Seharusnya Rp 5 juta saja. Jumlah segitu saja orang sudah mikir, kalau Rp 50 juta orang bisa bayar nggak?" kata dia. Ia yakin bila Raperda ini dilaksanakan benar-benar pasti berhasil. "Tapi kita lihat saja nanti. Kalau nggak ada follow up-nya percuma" tandasnya. nofi triana firman

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2005/03/15/brk,20050315-07,id.html

Investor Disarankan Hati-Hati Beli Saham HM Sampoerna Selasa, 15 Maret 2005 | 10:48 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Analis memperkirakan saham rokok HM Sampoerna (HMSP) masih akan menguat dalam jangka panjang. "Namun investor lebih baik berhati-hati dengan kemungkinan aksi ambil untung (profit taking) terhadap saham ini," kata analis Supra Surya Danawan, Hendra Bujang kepada Tempo, Selasa (15/3). Di samping, itu menurut Hendra, banyak juga investor yang sudah membeli saham HMSP di bawah harga saat ini, sehingga terbuka kemungkinan untuk menjual saham mereka. Harga saham HMSP melonjak tinggi kemarin akibat diakuisisinya PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk oleh Philip Morris Indonesia. Harga HMSP ditutup pada level Rp 10.450 kemarin (14/3), naik Rp 1.600 dari penutupan pada hari Kamis (10/3). Hendra juga mengatakan kenaikan harga HMSP akan berpengaruh juga terhadap saham GGRM (Gudang Garam). "Dan investor harus berhati-hati karena kalau saham HMSP naik terus, sedangkan GGRM tidak naik, maka orang akan membeli GGRM," kata Hendra. Lagipula, secara psikologis, investor akan mencari GGRM sebagai pembanding HMSP. Selain itu, nantinya price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) GGRM pun akan lebih rendah daripada HMSP. Namun Hendra juga melihat untuk jangka panjang sampai tutup buku tahun ini, HMSP bisa saja mencapai level Rp 11-12 ribu. Akuisisi HMSP oleh Philip Morris diperkirakan analis sebagai win-win solution. Bagi Philip Morris, akuisisi ini dilakukan karena prospek HMSP yang bagus. Potensi pasar HMSP masih punya prospek tinggi. "Selain itu Philip Morris melihat nilai tambah HMSP sebagai perusahaan yang sehat dengan good corporate governance," kata Hendra. Bagi HMSP sendiri, akuisisi oleh Philip Morris dapat dijadikan langkah awal HMSP untuk bermain di pasaran internasional di luar Asia. Secara umum, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini masih akan menguat. Namun investor tetap harus berhati-hati dengan kemungkinan aksi ambil untung. "Karena pasar sudah menunjukkan gejala over bought yang mungkin akan diikuti dengan kondisi jenuh beli," kata Hendra. Pergerakan indeks hari ini akan berada pada kisaran 1.100-1.150. Indeks kemarin ditutup menguat 15,435 poin menjadi 1.123,482. Rekomendasi saham untuk aksi beli antara lain saham rokok yaitu HMSP dan GGRM; saham perbankan seperti BNGA (Bank Niaga); saham properti seperti DILD (Dharmala Intiland) dan JIHD (Jakarta International Hotel & Development); serta saham telekomunikasi TLKM (Telekomunikasi Indonesia). Saham telekomunikasi lainnya, ISAT (Indosat) direkomendasikan ditahan atau dijual. Saham perkebunan seperti AALI (Astra Agro Lestari) dan LSIP (PP London Sumatra) pun direkomendasikan untuk dijual. Saham pertambangan seperti BUMI (Bumi Resources), ANTM (Aneka Tambang (Persero)), INCO (International Nickel Indonesia), dan MEDC (Medco Energi International) direkomendasikan untuk disimpan.

Fanny Febiana

http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/jawamadura/2005/03/05/brk,20050305-23,id.html

Pembagian Cukai Rokok Tetap Ditangani Pemerintah Pusat Sabtu, 05 Maret 2005 | 18:43 WIB TEMPO Interaktif, Kediri: Munculnya desakan kuat dari sejumlah daerah penghasil rokok mengenai pembagian hasil cukai rokok, tampaknya bakal kandas. Pasalnya, pembagian cukai rokok tetap akan dilakukan lewat pengalokasian melalui pembahasan DPR dan pemerintah pusat. Dengan begitu perjuangan Kota/Kabupaten Kediri, Surabaya, Malang, Pasuruan dan Kudus mendapatkan bagi hasil langsung pembayaran cukai rokok, gagal. Hal itu disampaikan Dirjen Bea Cukai, Eddy Abdulrahman saat mendampingi Menteri Keuangan Yusuf Anwar berkunjung ke perusahaan rokok PT Gudang Garam Tbk di Kediri, Sabtu (5/3). "Cukai merupakan pajak negara yang langsung dipungut pemerintah pusat. Selain cukai adalah PPn dan PPH. Karena dipungut pemerintah pusat, dana tersbut masuk dalam kas negara. Pengalokasiannya melalui mekanisme APBN," kata Eddy kepada Tempo, Sabtu (5/3) di Kediri. Menurutnya, hasil pembahasan pemerintah pusat dengan DPR dalam panitia anggaran diberikan kepada daerah-daerah dalam bentuk dana alokasi khusus (DAK) dan dana alokasi umum (DAU) yang dalam perhitungannya sudah ditetapkan rumusannya. Dengan adanya formula perhitungan yang ditetapkan, diantaranya berdasarkan jumlah penduduk dan luas daerah, pembagiannya dinilai sudah memenuhi azas keadilan. "Jadi tidak bisa langsung dibagi sesuai tuntutan daerah. Harus melalui mekanisme anggaran. Dan cukai rokok itu merupakan hak pemerintah pusat," tandas Eddy. Selama ini Kota/kabupaten Kediri, Surabaya, Malang, Pasuruan dan Kudus, yang merupakan kota yang banyak ditempati perusahaan rokok, sejak dua tahun lalu berjuang mendapatkan bagi hasil pembayaran cukai rokok sebesar 10 persen. Perjuangan itu ditempuh hingga menghadap DPR di Jakarta. Dwidjo U. Maksum

http://www.tempointeractive.com/hg/ekbis/2005/01/10/brk,20050110-44,id.html

Philip Morris Gandeng Sampoerna Untuk Distribusi Rokok Senin, 10 Januari 2005 | 17:34 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Philip Morris Indonesia, produsen rokok Marlboro, mengajak kerja sama PT HM Sampeorna Tbk (HMSP), melalui anak perusahaan, yakni PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas (Panamas). "Pada tanggal 10 Januari 2005, Panamas yang 99 persen sahamnya dimiliki HM Sampoerna telah menandatangani perjanjian distribusi sebagai distributor eksklusif Philip Morris di Indonesia," kata Tjandra Bachtiar, Sekretaris Perusahaan HM Sampoerna dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Surabaya (BES), Senin,(10/1). Dengan perjanjian ini, tutur Tjandra, Panamas akan menjadi distributor PMI selama 10 tahun mulai tanggal 1 Maret 2005. Beberapa produk hasil tembakau PMI yang akan didistribusikan antara lain, Marlboro Merah, Marlboro Menthol, Marlboro Lights Menthol dan Longbeach Mild. Sampoerna yang memiliki pangsa pasar tertinggi untuk penjualan rokok putih. Sampai dengan September tahun lalu akumulasi penjualan mencapai Rp 13,031 triliun dengan laba bersih Rp 1,726 triliun. Sedangkan untuk periode satu tahun 2003 penjualan Sampoerna sebesar Rp 14,675 triliun dengan laba bersih Rp 1,406 triliun. Sebelumnya, untuk penjualan rokok Marlboro di Indonesia, Philip Morris bekerja sama dengan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Namun Philip Morris telah memutuskan kerja sama dengan Bentoel beberapa waktu lalu. Menurut direksi Bentoel, dengan pemutusan hubungan dengan Morris, pendapatan Bentoel berkurang hingga 60 persen. (yuliawati)

http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2005/02/04/brk,20050204-49,id.html

Petugas Trantib Belum Terima Tugas Pengawasan Perda Jum'at, 04 Pebruari 2005 | 17:12 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Operasional Suku Dinas Keamanan Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat (Tramtib dan Linmas) Jakarta Selatan, Usman Siringo-ringo, hingga hari ini, Jumat (4/2), belum menerima penugasan untuk menegakkan dan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Pengendalian Pencemaran Udara. Padahal, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, dalam pernyataannya kepada wartawan di balaikota, Kamis (3/2), menyatakan Dinas Tramtib dan Linmas akan ditugaskan untuk mengawasi pelaksanaan perda tersebut. "Kami belum menugaskan personel, karena surat penugasaannya belum saya terima," ujarnya kepada Tempo di kantornya, Jakarta, Jumat (4/2). Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta berencana mensahkan Raperda Pengendalian Pencemaran. Secara pribadi, Siringo-ringo, yang tiap harinya menghabiskan tiga batang rokok, mengaku mendukung keluarnya perda tersebut. "Memang sebaiknya tidak merokok di tempat-tempat fasilitas umum," katanya sambil mengisap rokok kreteknya. Dalam pasal 13, Perda tersebut secara tegas melarang orang merokok di fasilitas publik. Orang yang melanggar diancam denda Rp 50 juta atau kurungan selama 6 bulan. Dia sendiri tidak berani berspekulasi, apakah larangan itu akan efektif bisa berjalan atau tidak. "Sebelumnya juga sudah ada SK Gubernur yang melarang merokok di tempat umum, tapi tetap saja banyak yang melanggar," katanya. Menurutnya, berhasil tidaknya perda tersebut, sangat bergantung pada pelaksana di lapangan, terutama pengawas. Suliyanti

http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2004/01/09/brk,20040109-10,id.html

Bakar Diri Lantaran Kesal Lihat Suami Merokok 09 Januari 2004 TEMPO Interaktif, Tangerang: Bagi kebanyakan orang, rokok memang mengganggu. Tapi, tidak harus terjadi seperti yang dialami Sumiyati, 25 tahun, warga Kampung Cisereh, Kadujaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, ini kan? Tidak suka suaminya merokok di hadapannya, Sumiyati nekat membakar tubuhnya hingga mengalami luka bakar serius, Kamis (8/1) malam. Awalnya, Herri, 22 tahun, sedang santai bersama Sumiyati, istrinya yang baru dinikahinya tiga bulan lalu dalam status janda cerai dengan satu anak. Di sela-sela perbincangan, Heri mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek api. Tanpa sungkan, buruh pabrik kabel di Kawasan Curug itu pun menghisap rokok di hadapan istrinya. Seketika, Sumiyati merasa kesal karena keasyikan obrolan mereka terganggu asap rokok Herri. Perbincangan santai kemudian berubah jadi percekcokan. Sumiyati pun menyebut suaminya tidak sayang lagi. Herri diam saja. Tidak disangka, Sumiyati bangkit dari duduknya dan langsung menuju dapur. Diambilnya minyak tanah dan dibawa ke ruang tamu. Dihadapan suaminya, Sumiyati langsung menyirami tubuhnya dengan minyak tanah dan menyulutkan api dari korek api yang juga turut diambilnya dari dapur. Herri pun kaget. Dirinya berusaha mencegah upaya bakar diri Sumiyati dengan menepis korek yang hendak dinyalakan. Tapi Sumiyati semakin nekat, korek yang sudah terlempar direbut kembali dan langsung dinyalakan. Alhasil, api menyala membakar dirinya. Merasa panik, Herri berteriak minta tolong. Tetangga pun berdatangan, memberi pertolongan memadamkan api di sekujur tubuh Sumiyati. Setelah padam, Sumiyati langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tangerang. Tapi lantaran luka bakar serius mencapai stadium empat, Sumiyati kemudian dilarikan lagi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mendapatkan perawatan intensif. Dari keterangan yang dihimpun TNR, aksi membakar diri ini adalah kali keduanya dilakukan Sumiyati. "Sumiyati termasuk kolokan. Mungkin karena dia anak satu-satunya dan berasal dari keluaga yang cukup berada. Setiap permintaannya harus dituruti. Kalau tidak, selalu mengancam akan bakar diri," kata tetangga keluarga Herri-Sumiyati yang tidak mau disebutkan namanya. Ayu Cipta - Tempo News Room

http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/20/slo25.htm Rabu, 20 Juli 2005 Eksekutif Siap Tanggapi Interpelasi DPRD NIAT Wakil Ketua Komisi B DPRD Mahmudi Toh Pati untuk menggunakan hak interpelasi menyangkut rencana pendirian pabrik pelintingan rokok di Sragen (SM, 13/7), mendapatkan respons positif eksekutif. Jajaran eksekutif menyatakan siap hadir di DPRD dan menjelaskan rencana pendirian pabrik rokok senilai Rp 3 miliar kerja bareng Pemkab Sragen, PT Sampoerna, dan mitra kerja PT Aruma Sukowati. Berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Asisten II Sekda Drs Sumarna MM. Legislatif mau menggunakan hak interpelasi, bagaimana respons eksekutif? Kalau DPRD jadi menggunakan hak interpelasi kepada eksekutif, guna menjelaskan rencana pendirian pabrik pelintingan rokok di Nglangon, Sragen, kami siap. Namun, kami lebih menginginkan dialog saja. Dengan dialog dua arah, antara eksekutif dan legislatif diharapkan bisa menghasilkan titik temu. DPRD akan meminta penjelasan karena pendirian pabrik itu dianggap tidak sesuai dengan prosedur? Kami sudah melalui prosedur. Bahkan kami sebelumnya memberitahukan kepada sejumlah anggota DPRD tentang rencana pendirian pabrik pelintingan rokok itu. Kalau DPRD menganggap bahwa rencana pendirian pabrik rokok itu tidak melalui prosedur, lalu prosedur yang mana? Kabarnya eksekutif tidak pernah meminta izin DPRD? Sesuai dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 42 ayat 1 k disebutkan, DPRD memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. Karena rencana pendirian pabrik rokok itu tidak membebani masyarakat dan daerah, wajar kami menginterpretasikan sesuai dengan UU itu kalau kerja sama tersebut dilanjutkan. Sebab tidak membebani masyarakat dan daerah. Kalau membebani APBD dan rakyat, kami harus meminta izin DPRD. Namun, kerja sama itu kan tidak akan mengutik-utik APBD dan membebani rakyat, bahkan akan menguntungkan rakyat karena menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk menampung sekitar 1.300 orang. Tentang Memorandum of Understanding (MoU) yang diminta DPRD menyangkut kerja sama itu? Setelah proyek fisik pabrik rokok yang digarap Mitra Produksi Sigaret (MPS) selesai 75%, pihak PT Sampoerna baru akan menyepakati MoU dengan Pemkab Sragen dan mitra kerja PT Aruma Sukowati. Memang, aturan mainnya begitu. Tetapi saya jamin proyek itu tidak akan merugikan Pemkab Sragen. (Anindito AN-16s) SALA

Pabrik Rokok Utang Iuran Jamsostek http://www.indomedia.com/bernas/2012/18/UTAMA/18jat2.htm Semarang, Bernas Perusahaan rokok di Kudus yang menghentikan iuran Jamsostek sejak Mei 1998 dianggap memiliki utang, karena secara hukum mereka belum keluar secara resmi. Karena itu Kanwil V PT Jamsostek Jateng akan melayangkan surat penagihan, sebab iuran tersebut merupakan piutang negara yang harus dibayar oleh perusahaan rokok. "Iuran Jamsostek yang belum dibayar selama dua tahun lebih itu menjadi utang perusahaan rokok, meski selama itu PT Jamsostek tidak memberikan pelayanan kepada para pekerja. Sebagai piutang negara, PT Jamsostek akan tetap menagih pada perusahaan,"tegas Kepala Kanwil V PT Jamsostek Jateng-DIY, Drs HM Amin H Usman kepada wartawan di Semarang, Sabtu (16/12). Menurut Amin H Usman, sejak para pekerja perusahaan rokok di Kudus masuk sebagai anggota/peserta Jamsostek, bilai dana mereka yang tersimpan di PT Jamsostek mencapai Rp 2,4 milyar. Jumlah tersebut merupakan simpanan jaminan hari tua dan lain-lain dari sekitar 48.734 peserta pekerja 18 perusahaan rokok. "Meski mereka menyatakan keluar dari PT Jamsostek, kenyataannya belum ada satupun pekerja atau perusahaan yang mengambil tabungan jaminan hari tua. Ini juga akan menjadi bukti kalau mereka sebenarnya belum keluar secara resmi," ujarnya. Ditanya mengenai dasar yang dipergunakan untuk menagih piutang negara kepada perusahaan rokok yang tidak membayar selama dua tahun, ternyata Amin tidak bisa menjawab, bahkan mengalihkan pembicaraan tentang rencana kerja di tahun 2001. Mengenai rencana kerja di tahun 2001 mendatang, PT Jamsostek mengalokasikan dana Rp 8,7 milyar guna me- ningkatkan kepedulian kepada peserta Jamsostek. Alokasi dana tersebut dipergunakan untuk menutup uang muka perumahan Rp 4 milyar, dana modal kerja kontraktor Rp 1 milyar, beasiswa untuk 165 anak sebesar Rp 119 juta, santunan korban PHK sebanyak 1500 orang pekerja senilai Rp 300 juta dan bantuan hibah rumah sakit pemerintah Rp 1 milyar. (rif)

RENCANA KERJA SKPD DINAS KESEHATAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2006 http://www.dinkes.kebumen.go.id/index.php?name=EZCMS&menu=4&page_id=4& PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG Desentralisasi membawa implikasi perubahan mendasar dalam tatanan pemerintahan, sehingga terjadi juga perubahan peran dan fungsi birokrasi mulai dari tingkat Pusat sampai ke Daerah. Perubahan yang mendasar itu memerlukan juga pengembangan kebijakan yang mendukung penerapan desentralisasi dalam mewujudkan pembangunan kesehatan sesuai kebutuhan Daerah dan diselenggarakan secara efisien, efektif dan berkualitas. Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak dalam kandungan sampai usia lanjut. Selain itu pembangunan bidang kesehatan juga diarahkan untuk meningkatkan dan memelihara mutu lembaga pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan, dan sarana prasarana dalam bidang medis, termasuk ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Dalam kerangka desentralisasi, pembangunan bidang kesehatan ditujukan untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang kesehatan yang berlandaskan prakarsa dan aspirasi masyarakat dengan cara memberdayakan, menghimpun, dan mengoptimalkan potensi daerah untuk kepentingan daerah dan prioritas Nasional dalam mencapai Indonesia Sehat 2010. Selain hal-hal di atas, berbagai perubahan dan perkembangan dalam sekala luas turut mempengaruhi perubahan arah pembangunan kesehatan di masa yang akan datang. Pertama, perubahan-perubahan mendasar pada dinamika kependudukan yang mendorong lahirnya transisi demografis dan epidemiologis. Kedua, temuan-temuan substantial alam ilmu dan teknologi kedokteran yang membuka cakrawala baru dalam memandang proses hidup sehat, sakit dan mati. Ketiga, tantangan global sebagai akibat kebijakan perdagangan bebas, serta pesatnya revolusi dalam bidan informasi, telekomunikasi dan transportasi. Keempat, perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap derajat dan upaya kesehatan. Kelima, demokratisasi disegala bidang yang menuntut pemberdayaan dan kemitraan dalam pembangunan kesehatan. Untuk dapat meningkatkan daya tangkal dan daya juang pembangunan kesehatan yang merupakan modal utama pembangunan nasional, tinjauan kembali terhadap kebijakan pembangunan kesehatan telah merupakan keharusan. Perubahan pemahaman akan konsep sehat dan sakit serta makin kayanya khasanah ilmu pengetahuan dengan informasi tentang determinan penyebab penyakit yang multifaktorial, telah menggeser paradigma pembangunan kesehatan yang lebih mengutamakan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Pentingnya penerapan PARADIGMA SEHAT merupakan upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan bangsa yang bersifat proaktif. Paradigma sehat tersebut merupakan model pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri, melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif . Untuk mewujudkan KEBUMEN SEHAT TAHUN 2010 bagi terwujudnya INDONESIA SEHAT di masa depan, maka dasar-dasar, visi, serta misi pembangunan kesehatan harus dapat dilaksanakan serta bertaat azaz dan berkesinambungan yang dijabarkan dalam Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tiap tahun. B. MAKSUD DAN TUJUAN Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dimaksudkan sebagai penjabaran Rencana Strategis Dinas Kesehatan. Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bertujuan untuk : 1. Mengetahui Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Kab. Kebumen 2. Mengetahui Visi dan Misi Pembangunan Kesehatan Kab. Kebumen 3. Mengetahui Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kab. Kebumen 4. Mengetahui Program dan Kegiatan Tahun 2006 Dinas Kesehatan Kab. Kebumen C. SISTEMATIKA

Pendahuluan, berisi tentang uraian latar belakang yang mengantarkan permasalahan bidang kesehatan serta maksud dan tujuan disusunnya Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. Kondisi Umum SKPD, berisi tentang uraian permasalahan internal dan eksternal pembangunan kesehatan maupun peluang pengembangan. Dengan tinjauan struktur organisasi Dinas Kesehatan dan masalah strategis. Visi dan Misi, berisi uraian tentang gambaran masa depan yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu, yang realistis dan dapat menyemangati upaya untuk mewujudkannya sejalan dengan kedudukan, tugas pokok dan fungsi SKPD. Sedangkan Misi merupakan uraian tentang sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh SKPD sesuai visi yang ditetapkan agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik.. Kebijakan berisi uraian tentang arah penetapan program agar misi pembangunan dapat tercapai. Program dan Kegiatan, berisi uraian tentang garis besar program dan kegiatan selama satu tahun berdasarkan kebijakan atau standar-standar yang berlaku. KONDISI UMUM SKPD DINAS KESEHATAN KEBUMEN A. STRUKTUR ORGANISASI Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan diatur berdasarkan Perda Kab. Kebumen No. 20 Tahun 2004. Dinas Kesehatan mempunyai Melaksanakan kewenangan otonomi Daerah dibidang kesehatan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini, Dinas Kesehatan mempunyai fungsi: a. pelaksanaan pembinaan umum dan perumusan kebijakan teknis dibidang kesehatan meliputi pendekatan peningkatan (promotif), pencegahan (prefentif), pengobatan (kuratif), pemulihan (rehabilitatif) berdasarkan standar yang telah ditetapkan. b. pelaksanaan pemberian perijinan dan pelayanan umum dibidang kesehatan. c. pelaksanaan pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis dibidang upaya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta pembinaan operasional sesuai kebijakan Bupati. Susunan Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen terdiri dari : • Kepala Dinas • Bagian tata Usaha • Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan • Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat • Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi • Bidang Promosi & Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat • Unit Pelaksana Tehnis Dinas • Kelompok Jabatan Fungsional. B. ISU DAN MASALAH STRATEGIS Setelah dilakukan analisis, masalah, kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman maka dapat disimpulkan bahwa isu strategis yang dihadapi adalah : 1. Kerjasama Lintas Sektor Sebagian dari masalah kesehatan merupakan masalah nasional yang tidak dapat terlepas dari berbagai kebijakan sektor lain sehingga upaya ini harus secara strategis melibatkan sektor terkait. Isu utama tersebut adalah bagaimana upaya meningkatkan kerjasama lintas sektor yang lebih efektif karena kejasama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan selama ini sering kurang berhasil. Banyak program nasional yang terkait dengan kesehatan, tetapi pada akhirnya tidak atau kurang berwawasan kesehatan. Pembangunan kesehatan yang dijalankan selama ini hasilnya belum optimal karena kurangnya dukungan lintas sektor. Beberapa program-program sektoral yang tidak atau kurang berwawasan kesehatan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Sebagian dari masalah kesehatan terutama lingkungan dan perilaku, berkaitan erat dengan bebagai kebijaksanaan maupun pelaksanaan program di sektor lain. Untuk itu diperlukan pendekatan lintas sektor yang sangat baik, agar sektor terkait dapat selalu mempertimbangkan kesehatan masyarakat. Demikian pula peningkatan upaya dan manajemen pelayanan kesehatan tidak dapat terlepas dari peran sektor-sektor yang membidangi pembiayaan, pemerintahan dan pembangunan daerah, ketenagaan, pendidikan, perdagangan dan sosial budaya. 2. Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Mutu sumber daya manusia kesehatan sangat menentukan keberhasilan upaya serta manajemen kesehatan. Sumber daya manusia kesehatan yang bermutu harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berusaha untuk menguasai IPTEK yang tinggi/mutakir. Disamping itu mutu sumber daya tenaga kesehatan ditentukan pula oleh nilai-nilai moral yang dianut dan diterapkannya dalam menjalankan tugas. Disadari bahawa sumber daya manusia kesehatan Indonesia yang mengkuti perkembangan IPTEK dan menerapkan nilai-nilai moral etika profesi dalam era pasar bebas harus diantisipasi dengan meningkatkan mutu dan profesionalisme. Hal ini diperlukan tidak saja untuk meningkatkan daya saing sektor kesehatan, tetapi juga membantu meningkatkan daya saing sektor lain. Antara lain peningkatan komoditi ekport bahan makanan dan makanan jadi. Sejalan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintah, peningkatan kemampuan dan profesionalisme manajer kesehatan disetiap tingkat administrasi, merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Pemberdayaan atau kemandirian masyarakat dalam upaya kesehatan sering belum seperti yang diharapkan. Kemitraan yang setara, terbuka dan saling menguntungkan bagi masing-masing pihak dalam upaya kesehatan, menjadi suatu yang penting untuk upaya pembudayaan perilaku hidup sehat, penetapan kaidah hidup dan promosi kesehatan. 3. Mutu dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan. Dipandang dari segi fisik persebaran sarana pelayanan kesehatan telah dapat dikatakan merata ke seluruh pelosok wilayah. Namun harus diakui bahwa persebaran fisik tersebut masih belum diikuti sepenuhnya dengan peningkatan mutu pelayanan. Mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat, alat kesehatan dan sarana penunjang, proses pemberian pelayanan, dan kompensasi yang diterima serta harapan masyarakat pengguna. Dengan demikian maka peningkatan kualitas fisik serta faktor-faktor tersebut diatas merupakan prakondisi yang harus dipenuhi. Selanjutnya proses pemberian pelayanan ditingkatkan melalui peningkatan pendidikan umum, penyuluhan kesehatan, komunikasi yang baik antara pemberi pelayanan dengan masyarakat. 4. Sumber Daya Pembiayaan Upaya Kesehatan Upaya kesehatan masih kurang mengutamakan pendekatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan serta pencegahan penyakit, dan kurang didukung oleh sumber daya pembiayaan yang memadai. Disadari bahwa keterbatasan dana pemerintah dan masyarakat merupakan ancaman yang besar bagi kelangsungan program pemerintah serta ancaman terhadap pencapaian derajat kesehatan yang optimal. Dengan demikian maka diperlukan upaya lebih intensif untuk peningkatan sumber daya pembiayaan dari sektor publik yang diutamakan untuk kegiatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan serta pencegahan penyakit. Sumber daya pembiayaan untuk upaya penyembuhan dan pemulihan perlu digali lebih bayak dari sumber-sumber yang ada dimasyarakat dan diarahkan agar lebih rasional dan lebih berhasil dan berdaya guna untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Berbagai penelitian menunjukan bahwa sebagian besar pengeluaran langsung masyarakat digunakan secara kurang efektif dan efisien sebagai akibat dari adanya informasi yang tidak sama antara pemberi pelayanan dan penerima pelayanan (pasien dan keluarganya). Keadaan ini mendorong perlunya langkah strategis dalam menciptakan sistim pembiayaan yang bersifat pra upaya yang sering dikenal dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Ketersediaan sumber daya yang terbatas, khususnya di sektor publik mengharuskan adaya upayaupaya untuk meningkatkan peran serta sektor swasta khususnya dalam upaya yang bersifat penyembuhan dan pemulihan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemberdayaan sektor swasta, sehingga sumber daya yang ada dapat dimafaatkan secara optimal. VISI, MISI DAN STRATEGI A. VISI Sejalan dengan kedudukan, tugas pokok dan fungsinya, visi Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dirumuskan sebagai : “Terwujudnya Kebumen Sehat 2010, didukung lingkungan dan perilaku sehat dengan pelayanan berkualitas dan peran serta masyarakat” B. MISI 1. Mendorong terlaksananya pembangunan daerah yang berwawasan kesehatan 2. Menggerakkan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat 3. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, adil, merata dan terjangkau 4. Memberdayakan peran serta masyarakat C. STRATEGI

Untuk mewujudkan misi pembangunan, secara umum dilakukan menggunakan pendekatan Sistem Manajemen Kesehatan Terpadu (Integrated of Management Health System). Pendekatan sistem ini menekankan perencanaan dan pelaksanaan program kesehatan yang berdasar pada fakta (evidencebased), dengan intervensi yang menyeluruh (holistic) di semua tingkatan manajemen. Secara operasional konsep dasar Sistem Manajemen Kesehatan Terpadu terdiri dari fungsi-fungsi pokok, yaitu: 1. Fungsi manajemen umum melalui konsep pengelolaan yang efektif dan efisien 2. Fungsi sistem informasi melalui analisis kependudukan, risiko lingkungan, risiko perilaku, sistem surveilans, sistem informasi geografis, sistem jaringan komunikasi serta penelitian dan riset operasional. 3. Fungsi perencanaan melalui perencanaan program kesehatan terpadu (P2KT) 4. Fungsi intervensi program kesehatan melalui pemasaran sosial, kemitraan dan pemberdayaan masyarakat 5. Fungsi audit melalui audit kasus dan audit kesehatan masyarakat untuk menilai keberhasilan keseluruhan program kesehatan. ARAH KEBIJAKAN Tujuan pembanguan kesehatan menuju Kebumen Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. A. SASARAN Sasaran pembangunan kesehatan menuju Kebumen Sehat 2010 adalah : 1. Perilaku hidup sehat. Meningkatnya secara bermakna jumlah ibu hamil yang emeriksakan diri dan melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan, jumlah bayi yang memperoleh imunisasi lengkap, jumlah bayi yang memperoleh ASI eksklusif, jumlah anak Balita yang ditimbang setiap bulan, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), peserta Keluarga Berencana (KB), jumlah penduduk dengan makan dengan gizi seimbang, jumlah penduduk yang memperoleh air bersih, jumlah penduduk buang air besar di jamban, jumlah pemukiman bebas vektor dan rodent, jumlah rumah yang memenuhi syarat kesehatan, jumlah penduduk berolah raga, dan istarahat teratur, jumlah keluarga dengan komunikasi internal dan ekternal, jumlah keluarga yang menjalankan ajaran agama dengan baik, jumlah pengendara yang menggunakan peralatan keselamatan, jumlah penduduk yang merasa aman berada di kediaman dan tempat-tempat umum, jumlah penduduk yang tidak merokok dan tidak minum-minuman keras/obat zat adiktif, jumlah penduduk yang tidak berhubungan seks diluar nikah serta jumlah penduduk yang menjadi peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). 2. Lingkungan sehat Meningkatnya secara bermakana jumlah willayah/kawasan sehat, tempat-tempat umum sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat rumah dan bangunan sehat, sarana sanitasi, sarana air minum, sarana pembuangan limbah, lingkungan sosial termasuk pergaulan sehat dan keamanan lingkungan, serta berbagai standar dan peraturan perundang-undangan yang mendukung terwujudnya lingkungan sehat. 3. Upaya kesehatan Meningkatnya secara bermakna jumlah sarana kesehatan yang bermutu, jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan, penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan, penggunaan obat secara rasional pemanfaatan pelayanan promotif dan preventif, biaya kesehatan yang dikelola secara efisien, serta ketersediaan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan. 4. Manajemen Pembangunan Kesehatan Meningkatnya secara bermakna sistem informasi pembangunan kesehatan, kemampuan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi pembangunan kesehatan, kepemimpinan dan manajemen kesehatan, peraturan-perundangan-undangan yang mendukung pembangunan kesehatan, kerjasama lintas program dan sektor 5. Derajat Kesehatan Meningkatnya secara bermakna umur harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi dan ibu, menurunnya angka kesakitan beberapa penyakit penting, menurunnya angka kecacatan dan ketergantungan serta meningkatnya status gizi masyarakat, menurunnya angka fertilitas. B. KEBIJAKAN Untuk dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan melandaskan pada dasar-dasar tersebut

diatas, maka penyelenggaraan tersebut diatas, maka penyelenggaraan upaya kesehatan perlu memperhatikan kebijakan umum yang dikelompokan sebagai berikut : 1. Peningkatan Kerjasama Lintas Sektor Untuk optimalisasi hasil pembangunan berwawasan kesehatan, kerjasama lintas sektor merupakan hal yang utama, dan karena itu perlu digalang serta mantapkan itu perlu digalang serta dimantapkan secara seksama, sosialisasi masalah-masalah kesehatan kepada sektor lain perlu dilakukan secara intensif dan berkala. Kerjasama lintas sektor harus mencakup pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian serta melandaskan dengan seksama pada dasar-dasar pembangunan kesehatan. 2. Peningkatan Perilaku, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Swasta Masyarakat dan Swasta perlu berperan akftif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Dalam kaitan ini perilaku hidup manusia sejak usia dini melalui berbagai kegiatan-kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga menjadi bagian dari norma hidup dan budaya masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan terutama melalui penerapan konsep pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong dan bahkan dikembangkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan serta kesinambungan upaya kesehatan. Kemitraan swasta lebih dikembangkan dengan memberikan kemudahan dalam dalam membangun terutama pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit dan pelayanan medik lainnya, dengan memperhatikan efisiensi keseluruhan sistem pelayanan kesehatan. Kemitraan swasta juga ditingkatkan dalam pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan, Peran organisasi, sebagai organisasi masyarakat, ditingkatkan terutama menyangkut penyusunan dan pemantauan standar kode etik profesi dalam pelayanan kesehatan. Organisasi profesi didorong untuk berperan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, membantu pemerintah dalam perumusan kebijakan dan pengolahan serta pemantauan pelaksanaan pembangunan kesehatan dan berfungsi pula memberikan masukan untuk mengembangkan sumber daya manusia kesehatan. 3. Peningkatan Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan, lingkungan yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan kesehatan dan keselamatan hidup manusia. Upaya ini perlu untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup dan meningkatkan kemauan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam merencanakan pembngunan berwawasan kesehatan. Kesehatan lingkungan pemukiman, tempat kerja dan tempattempat umum serta tempat pariwisata ditingkatkan melalui penyediaan serta pengawasan mutu air yang memenuhi persyaratan terutama perpipaan, penerbitan tempat pembuangan sampah, penyediaan sarana pembuangan air limbah serta berbagai sarana sanitasi lingkungan lainnya. Kualitas air, udara dan tanah ditingkatkan untuk menjamin hidup sehat dan produktif sehingga masyakat terhindar dari keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan. Untuk itu diperlukan peningkatan dan perbaikan peraturan perundang-undangan, pendidikan lingkungan sehat sejak dari usia muda serta pembakuan standar lingkungan. Pengendalian penyebab, pembawa serta sumber penyakit perlu dilakukan untuk terciptanya lingkungan yang sehat bagi segenap penduduk.. Perhatian khusus diberikan kepada gangguan lingkungan karena penggunakan teknologi dan bahan berbahaya, eksplorasi sumber daya alam yang berlebihan, serta karena bencana baik oleh alam maupun ulah manusia. Dampak global perubahan cuaca perlu diwaspadai terutama yang terkait dengan timbulnya berbagai gangguan kesehatan disamping dampak negataif kelangkaan bahan pangan yang berpengaruh terhadap gizi penduduk. 4. Peningkatan Upaya Kesehatan Penyelenggaraan upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan serta upaya khusus melalui pelayanan kemanusiaan dan darurat atau krisis. Selanjutnya, pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan perlu terus-menerus diupayakan. Dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat selama krisis ekonomi, upaya kesehatan diprioritaskan untuk mengatasi dampak krisis disamping tetap mempertahankan peningkatan pembangunan kesehatan. Perhatian khusus dalam mengatasi dampak krisis diberikan kepada kelompok berisiko dari keluarga-keluarga miskin agar derajat kesehatannya tidak memburuk dan tetap hidup produktif. Pemerintah bertanggung jawab terhadap biaya pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin. Setelah melewati masa krisis ekonomi status kesehatan masyarakat diusahakan ditingkatkan melalui pencegahan dan pengurangan morbiditas, mortalitas dan kecacatan dalam masyarakat terutama pada

bayi, anak balita, dan wanita hamil, melahirkan dan masa nifas, melalui upaya peningkatan (promosi) hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan penyakit dan rehabilitasi. Prioritas utama diberikan kepada penanggulangan penyakit menular dan wabah cenderung meningkat. Perhatian yang lebih besar diberikan untuk mewujudkan produktifitas kerja yang tinggi, melalui berbagai upaya pelayanan kesehatan kerja termasuk perbaikan gizi dan kebugaran jasmani tenaga kerja serta upaya kesehatan lain yang menyangkut kesehatan lingkungan kerja dan lingkungan pemukiman, terutama bagi penduduk yang tinggal didaerah kumuh. Peningkatan upaya kesehatan dilakukan dengan menggalang kemitraan sektor swasta dan potensi masyarakat. Peningkatan upaya kesehatan sektor pemerintah lebih diutamakan pada pelayanan kesehatan yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat. Sedangkan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan penyakit terutama dipercayakan kepada swasta. Pelayanan kesehatan dasar yang diselenggarakan melalui puskesmas, puskesmas pembantu, bidan di desa dan upaya pelayanan kesehatan swasta ditingkatkan pemerataan dan mutunya. Begitu pula untuk pelayanan kesehatan rujukan yang diselenggarakan oleh rumah sakit milik pemerintah maupun swasta. Peningkatan pemerataan dilakukan penempatan bidan di desa, pengembangan puskesmas yang sudah ada dan membangun puskesmas pembantu lengkap dengan sarananya. Peningkatan kualitas dilakukan melelui pelaksanaan jaminan mutu oleh puskesmas dan rumah sakit. 5. Peningkatan Sumber Daya Kesehatan Peningkatan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan terampil sesuai pengembangan ilmu dan teknologi, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berpegang teguh pada pengabdian bangsa dan negara dan etika profesi. Pengembangan tenaga kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan atau daya guna tenaga dan penyediaan jumlah serta mutu tenaga kesehatan dari masyarakat dan pemerintah yang mampu melaksanakan pembangunan kesehatan. Dalam perencanaan tenaga kesehatan perlu diutamakan penentuan kebutuhan tenaga diberbagai negara diluar negeri dalam rangka globalisasi. Pengembangan karier tenaga kesehatan masyarakat dan pemerintah perlu ditingkatkan dengan terarah dan seksama serta diserasikan secara bertahap. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM), yakni cara pelayanan kesehatan melalui pembayaran secara pra upaya dikembangkan terus untuk menjamin terselenggaranya pemeliharaan kesehatan yang lebih merata dan bermutu dengan raga yang terkendali. JPKM diselenggarakan sebagai upaya bersama antara masyarakat, swasta dan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat. Tarif pelayanan kesehatan perlu disesuaikan atas dasar nilai jasa dan barang yang diterima oleh anggota masyarakat yang memmperoleh pelayanan. Masyarakat yang tidak mampu akan dibantu melalui sisten JPKM yang disubsidi oleh Pemerintah Bersamaan dengan itu dikembangkan pula asuransi kesehatan sebagai pelengkap/pendamping JPKM. Pengembangan asuransi kesehatan berada dibawah pembinaan pemerintah dan asosiasi peransuran. Dalam upaya meningkatkan perbekalan kesehatan, pengadaan dan produksi bahan baku obat yang secara ekonomis menguntungkan terus ditingkatkan. Pengadaan, produksi dan distribusi obat jadi ditingkatkan efisien dan mutunya sehingga masyarakat dapat memperoleh obat yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Pemakaian obat yang rasional terutama dengan menggunakan obat generik lebih digalakkan melalui upaya promosi dan penyuluhan bagai tenaga kesehatan dan masyarakat umum. Obat-obatan tradisional yang bermanfaat bagi kesehatan akan dimanfaatkan secara terintergrasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat sendiri akan dikembangkan terus melalui pembinaan oleh pemerintah maupun asosiasi profesi. Pembinaan kualitas makanan dan minuman yang dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat ditingkatkan untuk melindungi masyarakat dari bahan dan organisme yang membahayakan. 6. Peningkaan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan. Kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan perlu makin ditingkatkan terutama melalui peningkatan secara strategis dalam kerja sama antara sektor kesehatan dan sektor lain yang terkait, dan antara berbagai program kesehatan serta antara para pelaku dalam pembangunan kesehatan sendiri . Manajemen upaya kesehatan yang terdiri dari perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengendalian dan penilaian diselenggarakan secara sistematik untuk menjamin upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh. Manajemen tersebut didukung oleh sistem informasi yang handal guna menghasilkan

pengambilan keputusan dan cara kerja yang efisien. Sistem informasi tersebut dikembangkan secara komprehensif diberbagai tingkat administrasi kesehatan sebagai bagian dari pengembangan administrasi moderm. Organisasi Departemen Kesehatan perlu disesuaikan kembali dengan fungsifungsi : regulasi, perencanaan nasional, pembinaan dan pengawasan. Desentralisasi atas dasar prinsip otomi yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab dipercepat melalui pelimpahan tanggung jawab pengelolaan upaya kesehatan kepada daerah. Dinas kesehatan ditingkatkan terus kemampuan manajemennya sehingga dapat melaksanakan secara lebih bertanggung jawab dalam perencanaan, pembiayaan pelaksana upaya kesehatan. Peningkatan kemampuan manajemen tersebut dilakukan melalui rangkaian kemampuan manajemen tersebut dilakukan melalui rangkaian pendidikan dan pelatihan yang sesuai pembangunan kesehatan yang ada. Upaya tersebut diatas perlu didukung oleh tersedianya pembiayaan kesehatan yang memadai. Untuk itu perlu diupayakan peningkatan pendanaan kesehatan yang baik yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan belanja Nasional maupun dari Anggaran Pembngunan dan Belanja Daerah. Sumber pendapatan untuk pembangunan kesehatan dapat digali dari pengenaan pajak atas barang konsumen yang merugikan kesehatan seperti cukai rokok dan tembakau, dan pajak atas minuman keras. Sejalan dengan itu semua pendapatan oleh intitusi kesehatan dan upaya peningkatan mutu pelayanan. Kerjasama internasional mungkin diperlukan, tetapi kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri dalam pembangunan kesehatan perlu diutamakan. 7. Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan. Penelitian dan pengembengan dibidang kesehatan akan terus dikembangkan secara terarah dan bertahap dalam rangka menunjang upaya kesehatan, utamanya untuk mendukung perumusan kebijaksanaan, membantu memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala di dalam pelaksanaan program kesehatan dan mengatasi kendala didalam pelaksanaan program kesehatan. Penelitian dan pengembngan kesehatan akan terus dikembangkan melalui jaringan kemitraan dan didesentralisasikan sehingga menjadi bagian penting dari pembangunan kesehatan daerah. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didorong untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan, gizi, pendayagunaan obat, pengembangan obat asli Indonesia, pemberantasan penyakit dan perbaikan lingkungan. Penelitian yang berkaiatan dengan ekonomi kesehatan dikembangkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan swasta, serta meningkatkan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan kesehatan yang masih terbatas. Penelitian bidang sosial budaya dan perilaku sehat dilakukan untuk mengembangkan gaya hidup sehat dan mengurangi masalah kesehatan masyarakat yang ada. 8. Peningkatan Lingkungan Sosial Budaya. Selain berpengaruh positif, globalisasi juga menimbulkan perubahan lingkungan sosial dan budaya masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap pembangunan kesehatan. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan kesehatan sosial dan budaya masyarakat melalui peningkatan sosio-ekonomi masyarakat, sehingga dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dan sekaligus meminimalkan dampat negatif dari globalisasi. PROGRAM DAN KEGIATAN Arah kebijakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut dijabarkan dalam program pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJM). Selanjutnya program-program pembangunan kesehatan dijabarkan ke dalam kegiatan tahunan. A. Program 1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 2. Program Lingkungan Sehat 3. Program Upaya Kesehatan Masyarakat 4. Program Upaya Kesehatan Perorangan 5. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 6. Program Perbaikan Gizi Masyarakat 7. Program Sumber Daya Kesehatan 8. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan 9. Program Pengawasan Obat dan Makanan 10. Program Pengembangan Obat Asli Indonesia 11. Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan

12. Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan B. Kegiatan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota Standar Pelayanan Minimal (SPM) memuat batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah Kabupaten/Kota. SPM berisi jenis pelayanan dasar kepada masyarakat dalam bidang kesehatan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457/Menkes/SK/2003 tentang SPM Bidang Kesehatan Kab/Kota dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 71 Th. 2004 tanggal 23 Desember 2004 tentang SPM Bidang Kesehatan Kab/Kota, berisi 9 Kewenangan wajib, 26 jenis pelayanan minimal, 63 indikator kinerja. Kewenangan Wajib Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota meliputi kewenangan dalam: 1. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar 2. Penyelenggaraan perbaikan gizi masyarakat 3. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang 4. Penyelenggaraan pemberantasan penyakit menular 5. Penyelenggaraan kesehatan lingkungan dan sanitaasi dasar 6. Penyelenggaraan promosi kesehatan 7. Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif 8. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian (obat) 9. Penyediaan pembiayaan dan jaminan kesehatan Dari 9 kewenangan wajib di atas di jabarkan dalam Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan, terdiri dari: 1. Pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi 2. Pelayanan kesehatan Anak Pra sekolah dan Usia Sekolah 3. Pelayanan Keluarga Berencana 4. Pelayanan imunisasi 5. Pelayanan Pengobatan /Perawatan 6. Pelayanan Kesehatan Jiwa 7. Pemantauan pertumbuhan balita 8. Pelayanan gizi 9. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Komprehensif 10. Pelayanan gawat darurat 11. Penyelenggaraan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Gizi buruk 12. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Polio 13. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TB Paru 14. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit ISPA 15. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIVAIDS 16. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) 17. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Diare 18. Pelayanan kesehatan lingkungan 19. Pelayanan pengendalian vektor 20. Pelayanan hygiene sanitasi di tempat umum 21. Penyuluhan perilaku sehat 22. Penyuluhan Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (P3 NAPZA) berbasis masyarakat 23. Pelayanan penyediaan obat dan perbekalan kesehatan 24. Pelayanan penggunaan obat generik 25. Penyelenggaraan pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan 26. Penyelenggaraan pembiayaan untuk Keluarga Miskin dan masyarakat rentan Selain SPM tersebut, Kabupaten/Kota wajib menyelenggarakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan spesifik daerah antara lain: 1. Pelayanan Kesehatan Kerja 2. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut 3. Pelayanan gizi pemberian kapsul Yodium pada wanita usia subur 4. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIVAIDS melalui skrining darah donor 5. Pencegahan dan pemberantasan penyakit Malaria 6. Pencegahan dan pemberantasan penyakit Kusta

7. Pencegahan dan pemberantasan penyakit Filariasis Berdasarkan Fungsi-Sub Fungsi dan Program Kesehatan, disusun Rencana Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tahun 2006 berdasarkan prioritas adalah sebagai berikut: 1. Pembinaan Bidan di Desa 2. Penyelenggaraan Imunisasi 3. Pengembangan standar pedoman pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar (SOP) 4. Peningkatan Gizi Masyarakat 5. Penanggulangan GAKY 6. Peningkatan Pelayanan Gawat darurat 7. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit, Bencana dan Masalah Kesehatan 8. Pencegahan dan Pemberantasan TBC 9. Pencegahan dan Pemberantasan ISPA 10. Pencegahan dan Pemberantasan HIV / AIDS 11. Pencegahan dan Pemberantasan DBD 12. Pencegahan dan Pemberantasan Diare 13. Pencegahan dan Pemberantasan Malaria 14. Pelayanan Kesehatan Lingkungan 15. Pengendalian Nyamuk Malaria 16. Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah 17. Survelans Kualitas Air 18. Penyuluhan Perilaku Sehat 19. Revitalisasi Posyandu 20. Pengadaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar dan Obat Kecacingan bagi Murid SD danMI seKabupaten Kebumen 21. Pengadaan Alat Kesehatan untuk Puskesmas 22. Pengadaan Alat Laboratorium untuk Labkesda Kabupaten Kebumen 23. Pembinaan Ketersediaan Penggunaan Obat yang Rasional di Unit Pelayanan Kesehatan. 24. Pembinaan Pengawasan Penerapan Cara Produksi Makanan yang Aman dan Bermutu pada Industri RumahTangga 25. Pengamanan Produk Makanan yang tidak Memenuhi Syarat 26. Penyelenggaraan JPKM bagi Keluarga Miskin dan Rentan 27. Pemberian Bantuan Operasi Katarak bagi Keluarga Miskin 28. Pembinaan Program KB Bagi Bidan di Desa 29. Pengembangan Sistem Akreditasi Puskesmas 30. Peningkatan pelayanan Kesehatan Jiwa/Napza, indera, gigi dan mulut 31. Penyemprotan Lalat dan Vektor 32. Pemeriksaan Kesehatan TTU 33. Pengadaan Sarana Penyuluhan Perilaku Sehat 34. Pemberdayaan Pondok Pesantren dalam Peningkatan PHBS 35. Pembinaan Pengawasan Peredaran Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Kosmetika. 36. Pembinaan dan Pengawasan Penggunaan Bahan Tambahan Makanan (BTM) pada jajanan anak sekolah 37. Pembinaan dan Pengawasan Pelayanan Kesehatan dalam Penggunaan Obat Generik 38. Upaya Kesehatan Kerja 39. Pembinaan Dukun Bayi 40. Pembinaan Kesehatan Remaja dan Usia Lanjut 41. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) 42. Pencegahan dan Pemberantasan Kusta 43. Sosialisasi Program Kesehatan 44. Penyuluhan ttg penyakit menular ( DBD, Malaria, Diare dan PD3 I). 45. Pembinaan dan Pengembangan Obat Asli Indonesia (OAI) 46. Penyelenggaraan Forum Perencanaan Bidang Kesehatan 47. Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas Berdasarkan SPM

48. Pengembangan Program Aplikasi Sistem Informasi Kepegawaian (SIMKA) di Puskesmas 49. Pembangunan/Pengembangan/ Rehabilitasi Puskesmas, Pustu, Polindes. PENUTUP Pembangunan kesehatan pada akhirnya merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi, serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Keberhasilan pembangunan kesehatan merupakan indikator keberhasilan pembangunan manusia pada umumnya. Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) Dinas Kesehatan disusun dengan memperhatikan masukan dari Kecamatan dan kinerja pelaksanaan kegiatan SKPD tahun berjalan. Dengan demikian, penyusunan Renja SKPD Dinas Kesehatan, merupakan daftar prioritas kegiatan yang telah melalui tahap sinkronisasi prioritas pembangunan kecamatan dengan rencana kerja Dinas Kesehatan. Kebumen, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen,

Dr. SUPRAPTI HARTINI, M.Kes. NIP. 140097112

LAMPIRAN INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2003

TANGGAL 15 September 2003

PAKET KEBIJAKAN EKONOMI MENJELANG DAN SESUDAH BERAKHIRNYA PROGRAM KERJASAMA DENGAN INTERNATIONAL MONETARY FUND BAB I PENGANTAR

Selama dua tahun terakhir perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang membaik. Tanda-tanda kepulihan ekonomi sudah terlihat. Pada akhir tahun 2003, inflasi diperkirakan berada di bawah 6 %, kurs stabil di sekitar Rp 8.500 per 1 USD, suku bunga SBI 3 bulan mencapai 9 % per tahun atau lebih rendah, cadangan devisa melampaui USD 34 miliar dan stok utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun menjadi sekitar 67%.

Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi mulai naik, terutama ditopang oleh pengeluaran konsumsi masyarakat dan akhir-akhir ini juga oleh tanda-tanda awal kebangkitan ekspor dan investasi. Namun peningkatan pertumbuhan ekonomi sampai saat ini belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan untuk membuka lapangan kerja baru, meningkatkan penghasilan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Sasaran utama kebijakan ekonomi dalam tahun 2004 dan sesudah itu adalah memacu pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas dalam kerangka kestabilan ekonomi yang tetap terjaga.

Dengan latar belakang situasi ekonomi seperti itu, Pemerintah memutuskan untuk mengakhiri program dengan IMF pada akhir tahun 2003 ini. Untuk selanjutnya, Pemerintah tidak lagi menerima dana dari IMF beserta fasilitas penjadwalan kembali utang dari Paris Club. Pemerintah juga telah menyiapkan program pemulihan ekonominya, melaksanakannya sesuai jadwal yang ditetapkan sendiri oleh Pemerintah dan selanjutnya memonitor hasil-hasilnya. Peran IMF adalah memberikan penilaian dan saran mengenai pelaksanaan kebijakan ekonomi Pemerintah berdasarkan Article IV dari Anggaran Dasar IMF yang diberlakukan terhadap semua anggota IMF serta melalui Post-Program Monitoring yang merupakan proses konsultasi sebagaimana lazimnya diterapkan kepada negara-negara yang baru saja menyelesaikan program pemulihan ekonomi dengan IMF. Tanggungjawab kebijakan ekonomi sepenuhnya berada di tangan Pemerintah.

Dalam rangka pengakhiran program ekonomi dengan IMF tersebut, Pemerintah telah menyusun paket kebijakan ekonomi yang dilaksanakan terutama dalam tahun 2003 dan 2004 dengan sasaran pokok:

a. Memelihara dan memantapkan stabilitas ekonomi makro yang sudah dicapai; b. Melanjutkan restrukturisasi dan reformasi sektor keuangan; dan c. Meningkatkan investasi, ekspor dan penciptaan lapangan kerja.

Ketiga sasaran pokok itu dijabarkan ke dalam matriks rencana kerja seperti terlampir. Bersamasama dengan RAPBN 2004 yang sudah disampaikan kepada DPR-RI, matriks-matriks rencana kerja ini merupakan upaya Pemerintah untuk mengamankan masa transisi pasca-program IMF, agar pemulihan ekonomi nasional dapat terus berlanjut dalam tahun 2004 dan sesudahnya.

BAB II PROGRAM STABILISASI EKONOMI MAKRO

A. Rangkuman Berakhirnya program ekonomi dengan IMF pada akhir Desember 2003 tidak mengubah sasaran. Pemantapan ekonomi makro Pemerintah dalam jangka menengah yang substansinya tertuang dalam Propenas 1999-2004 maupun Repeta 2004. Sasarannya adalah mencapai posisi keuangan negara yang sehat dan berkelanjutan (fiscal substainability) dan penururan laju inflasi ke tingkat yang rendah setara dengan mitra-mitra dagang kita serta terpeliharanya cadangan devisa yang cukup dalam jangka menengah. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan fiskal diarahkan pada : a. Penurunan defisit anggaran belanja negara secara bertahap untuk mencapai posisi keseimbangan pada tahun 2005-2006; b. Pengurangan stok utang pemerintah terhadap PDB hingga mencapai posisi yang aman; c. Reformasi dan modernisasi sistem perpajakan nasional untuk mengembangkan sumber penerimaan negara yang handal; d. Peningkatan efisiensi belanja negara; e. Pengembangan sistem pengelolaan utang pemerintah yang efektif.

Matriks rencana tindak ini merupakan komplemen dari langkah-langkah kebijakan yang diuraikan di dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2004. Kebijakan yang menjadi kewenangan Bank Indonesia yang meliputi pengendalian inflasi, menjaga kemantapan nilai tukar dan kecukupan cadangan devisa diuraikan tersendiri secara rinci oleh Bank Indonesia. Kerangka jangka menengah kebijakan fiskal dan moneter (sampai dengan 2006) telah disusun bersama oleh Pemerintah dan Bank Indonesia dan akan dilaksanakan dengan koordinasi intensif antara Pemerintah dan Bank Indonesia Perincian dari kebijakan konsolidasi fiskal dan kebijakan menjaga kemantapan neraca pembayaran diuraikan dalam matrik berikut.

B. MATRIKS PROGRAM STABILISASI EKONOMI MAKRO (a) KEBIJAKAN KONSOLIDASI FISKAL Sasaran Waktu Penanggung Jawab

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Pelaksana

1.

Reformasi Kebijakan Perpajakan

Meningkatkan Amandemen paket Undangpenerimaan pajak,undang (UU) perpajakan daya saing dan iklimmenyangkut Tarif, Subyek, investasi melaluiObyek dan Tata Cara penyederhanaan Perpajakan, Kepabeanan jenis pajak dandan Cukai struktur tarif dengan memperhatikan tarif• Naskah akademis yang berlaku di negara-negara lain. • Draft RUU • Penyampaian draft RUU ke DPR

Departemen Menteri Keuangan Koordinator (Depkeu), Bidang Departemen Perekonomian Kehakiman (Menko dan Hak Asasi Manusia Perekonomian) (Depkeh & HAM), Sekretariat Negara (Setneg), • Sept 2003

• Rancangan Peraturan • Des 2003 Pemerintah (RPP) dan Rancangan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) • Jan 2004

• Setelah pengesahan UU

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

2.

Reformasi Sistem Administrasi Perpajakan

a. Mempermudah • Melaksanakan KMK No. 23Berlanjut persyaratan wajib Tahun 2003 pajak (WP) patuh dan mempercepat • 250 WP patuh. proses Jan 2004 restitusinya.

Depkeu

Menko Pereknomian

b.

MeningkatkanIntensifikasi penagihanBerlanjut upaya penagihandengan cara konseling, tunggakan. himbauan, audit, perbaikan SPT, dan paksa badan.

Depkeu

Menko Pereknomian

c. Esktensifikasi WP. Tambahan 60 ribu WP orangDes 2003 pribadi dan 50 ribu WP badan. d. Menambah jumlahTambahan 100 WP Besar. Des 2003 WP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) WP Besar (Large Tax Payer Official/LTO) untuk meningkatkan kepatuhan dan pelayanan perpajakan. e. Mengembangkan Penerapan sistemDes 2003 sistem administrasi KPP WP Besar administrasi KPP pada Kanwil VII DJP Jaya WP Besar. Khusus.

Depkeu

Menko Pereknomian Menko Pereknomian

Depkeu

Depkeu

Menko Pereknomian

f. Mengembangkan Uji coba pada Kanwil DJPMar 2004 sistem adminisrasi Jakarta. pajak baru terhadap Kantor WP Menengah dan Kecil (Medium and Small Tax Payer Office).

Depkeu

Menko Pereknomian

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

3.

Kebijakan Cukai Rokok

a. Intensifikasi pemberantasan rokok tanpa pita cukai dan/atau cukai palsu Dimulai di Pulau Jawa dan dilanjutkan ke wilayah lainnya. Hasil operasi dan tindak lanjut diumumkan kepada publik dari waktu ke waktu.

Peningkatan penerimaanBerlanjut negara dari cukai rokok

Depkeu

Menko Perekonomian

b. Mempertahankan sda pemberlakukan tarif advalorem. c. Penetapan target sda cukai yang rasional dengan memperhatikan kemampuan industri rokok.

Tahun Depkeu Anggaran 2004 & Tahun Anggaran 2005 Tahun Depkeu Anggaran 2004 & Tahun Anggaran 2005

Menko Perekonomian

Menko Perekonomian

4.

Refomasi Sistem Administrasi Kepabeanan

a. Perluasan jalur prioritas.

Kriteria pemakai jalurBerlanjut prioritas direview dan disinkronisasikan dengan kriteria wajib pajak patuh Direktorat Jenderal Pajak.

Depkeu

Menko Perekonomian

SK Dirjen Bea dan Cukai.

b. Penyempurnaan

Menko

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

prosedur verifikasi kepabeanan untuk meningkatkan kepatuhan.

Sep 2003

Depkeu

Perekonomian

5.

Peningkatan a. Pembahasan Efisiensi Rancangan Belanja Negara Undang-undang (RUU) Perbendaharaan Negara

UU Perbendaharaan Negara Setelah disahkan

Depkeu

Menko Perekonomian

b. Revisi Keputusan Presiden (Keppres) No.18 Tahun 200 tentang Keppres Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah, untuk meningkatkan efisiensi penyaluran dana, kompetisi, dan transparansi. c. Pengembangan Keppres dan Implementasi e-procurement untuk sistem pengadaan barang dan jasa instansi Pemerintah. d. Reorganisasi Keppres Departemen Keuangan dengan memisahkan fungsi Anggaran

Okt 2003

Menko Badan Peren-Perekonomian canan Pembangunan Nasional (Bappenas), Setneg

Juni 2004

Kementerian Menko Komunikasi Perekonomian dan Informasi (Kmntr Kominfo); Bappenas; Setneg Depkeu Menko Perekonomian

Mar 2004

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

dan Perbendaraan.

e. Penyusunan draft klasifikasi belanja negara menurut organisasi, fungsi dan jenis belanja sesuai dengan standar nasional. • Draft klasifikasi Belanja Negara f. Menyempurnakan mekanisme pinjaman pemerintah.

Des 2003

Depkeu

Menko Perekonomian

• Sosialisasi dan persiapan departemen 2004

Depkeu

Menko Perekonomian

Revisi KMK No. 35/2003 tenang Perencanaan, Pelaksana/Penatausahaan Jan 2004 dan Pemantauan Penerusan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah kepada Daerah.

Menko Perekonomian Depkeu

g. Konsolidasi Treasure Single Account rekening pemerintah ke dalam satu sistem perbendaharaan umum negara.

Sep 2004

Depkeu, Menko berkoordinasi Perekonomian dengan Bank Indonesia (BI)

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

h. Menyusun draft 6 Draft RPP a.l.: RPP sebagai petunjuk  Pedoman sistem pelaksanaan penganggaran berbasis Undang-undang kinerja. Nomor 17 Tahun  Pedoman standar 2003, tentang akuntansi keuangan Keuangan Negara. pemerintah.

Sep 2004 Feb 2004 Juni 2004

Depkeu, Setneg

Menko Perekonomian

i. Menyusun draft 4 Draft RPP RPP atas RUU Perbendaharaan Negara setelah persetujuan DPR. j. On-line sistem rekening pemerintah melalui tahap: i. Persiapan ii. Pilot project

Sep 2004

Depkeu, Setneg

Menko Perekonomian

Sep 2004 Pedoman untuk pilot project 2005 2006

Depkeu, Menko berkoordinasi Perekonomian dengan BI

iii. Implementasi Pedoman Implementasi On-line rekening pemerintah 6 Konsolidasi a. Melanjutkan Desentralisasi penyempurnaan Fiskal UU di bidang hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah:  Undangundang Nomor 22 Tahun 1999, Draft amandemen Undangundang Nomor 22 Tahun khususnya 1999 mengenai hubungan antara Pemda Provinsi dengan Pemda Kabupaten/Kota.

Sep 2004

Departemen Menko Polkam Dalam Negeri (Depdagri)

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu Sep 2004

Pelaksana

Penanggung Jawab Menko Perekonomian

Draft amandemen Undang Undangundang Nomor undang Nomor 25 Tahun 25 Tahun 1999, 1999 mengenai rumusan perimbangan keuangan dan pengawasannya , serta penyesuaian dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2003. Draft amandemen Undang Undangundang Nomor undang Nomor 34 Tahun 34 Tahun 2000, 2000 khususnya mengenai pengenaan pajak dan retribusi daerah berkenaan dengan pemberian diskresi yang lebih besar kepada daerah dalam hal penerimaan sejalan dengan pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada daerah dan pemberian kewenangan tersebut tidak menghambat dunia usaha dan investasi. b. Penyempurnaan sistem pelaporan keuangan pemerintah daerah yang mengacu kepada Undangundang Nomor 17 Tahun 2003 KMK

Depkeu

Jun 2004

Depkeu

Menko Perekonomian

Okt 2004

Depkeu, Depdagri

Menko Perekonomian

No.

Kebijakan

Rencana Tindak

Keluaran

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung Jawab

7.

Privatisasi BUMN

Privatisasi sekitar 10 BUMN (a.l.: PT BRI, PT Perusahaan Gas Negara, PT Danareksa, dan PT Angkasa Pura I):  Konsultasi DPR  Pelaksanaan  Penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2004 KMK

2003/2004 Kementerian Menko Badan UsahaPerekonomian Milik Negara (Kmntr BUMN)

Sep-Okt 2003

2004

8.

Pemantapan a. Merumuskan Manajemen kebijakan Utang Negara pembatasan pinjaman oleh pemerintah daerah dalam 2004 (sesuai Undangundang Nomor 17 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003).

2004

Depkeu

Menko Perekonomian

b. Pengalihan Pusat Manajemen Obligasi Negara (PMON) ke Direktorat Jenderal Perbendaharaan (sesuai reorganisasi Departemen Keuangan).

Keppres

Mar 2004

Depkeu

Menko Perekonomian

(b)

KEBIJAKAN MENJAGA KEMANTAPAN NERACA PEMBAYARAN

Kebijakan No. 1. Menjaga kemantapan neraca pembayaran dengan meningkatkan ekspor dan memperbaiki kondisi transaksi modal mendorong kecukupan cadangan devisa (lihat Bab IV Program Peningkatan Investasi, Ekspor, dan Penciptaan Lapangan Kerja).

Rencana Tindak

Keluaran

Jawab Di Bidang Ekspor: 2004- Departemen Menko Perekonomian  Mendorong 2006 Perindustrian tercapainya Peningkatan ekspor dan transaksi berjalan nonmigas. Perdagangan yang aman (Deperindag), dengan dukungan Departemen ekspor non-migas, Di Bidang Jasa : Kebudayaan pariwisata dan dan Pariwisata jasa TKI yang  Peningkatan (Depbudpar), semakin kedatangan dan Departemen meningkat. lama tinggal Tenaga Kerja turis asing. (Depnaker),  Peningkatan Badan penerimaan jasa Koordinasi TKI dengan Penanaman strata pekerjaan Modal (BKPM), yang semakin Depkeh & baik. HAM, Departemen Perhubungan (Dephub), Depkeu, Departemen Pertanian (Deptan), Bappenas, berkoordinasi dengan BI.

Sasaran Waktu

Pelaksana

Penanggung

 Meningkatkan iklim yang kondusif bagi peningkatan investasi luar negeri dan arus modal masuk.

• Peningkatan 2004BKPM, Menko Perekonomian penanaman 2006 instansi terkait modal asing dan (PMA) dan berkoordinasi investasi asing dengan BI lainnya.

PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MINGGUAN http://www.fiskal.depkeu.go.id/bapekki/indikator/detailindikator.asp?NewsID=N246359019 INDIKATOR EKONOMI 27 Nov-3 Desember 2005 Hidayat Amir , Amnu Fuady & Gunawan Setiyaji 27 November 2005, 12:25:23 PM |Download PDF| SUKU BUNGA Tingkat SBI 1 bulan hasil lelang tanggal 30 November 2005 bertahan pada tingkat rata-rata tertimbang (RRT) sebesar 12,25%. Hasil lelang SBI 1 bulan tersebut mampu menyerap dana sebesar Rp8,912 triliun dari sebesar Rp9,018 triliun penawaran yang masuk. Dana yang terserap lebih besar dari target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp7,00 triliun. Sementara lelang SBI 3 bulan menghasilkan tingkat bunga rata-rata tertimbang (RRT) sebesar 12,83%. Sementara itu BI Rate berdasarkan keputusan Dewan Gubernur tanggal 1 Nopember 2005 adalah sebesar 12,25%. Para pengamat memperkirakan BI Rate masih akan dinaikkan akibat tingginya inflasi. Selain inflasi, kenaikan BI Rate juga dipicu faktor eksternal, yaitu rencana kenaikan tingkat bunga The Fed Funds pada akhir Januari 2006. NILAI KURS RUPIAH Dalam sepekan, rupiah menunjukkan penguatan kurs. Pada tanggal 2 Des 2005, nilai tukar rupiah

mantap di angka Rp10.035 per US$ menyusul penegasan Presiden SBY tentang rencana reshuffle kabinet dan masuknya nama Boediono sebagai salah satu menteri di bidang ekonomi. Meski target pertumbuhan ekonomi AS direvisi lebih besar menjadi 4,3% namun pengaruh isyu reshuffle kabinet lebih besar dan menjadi faktor yang memperkuat nilai tukar rupiah. Hari-hari sebelumnya diwarnai oleh fluktuasi di kisaran Rp10.000 per US$. Pada hari Senin (28 Nov) rupiah ditutup menguat di posisi Rp10.062 per US$. Penguatan rupiah tidak terlepas dari melemahnya dolar atas sejumlah major currency. Di hari Selasa (29 Nov) nilai tukar rupiah ditutup menguat 15 poin terhadap dolar AS pada posisi Rp10.040 menyusul naiknya angka pengangguran dan turunnya penjualan sektor perumahan di AS. Faktor penguatan rupiah berasal dari naiknya jumlah pengangguran yang terjadi di AS menyusul keputusan sejumlah korporasi besar yang memangkas jumlah tenaga kerja, seperti Merck memangkas 7.000 karyawannya untuk efisiensi. Di hari Rabu (30 Nov) nilai tukar rupiah pada penutupan sesi sore menguat 5 poin terhadap dolar AS pada posisi Rp10.035 menyusul potensi membaiknya ekonomi AS di kuartal IV-2005 dan diperkirakan semakin membaik di tahun 2006, namun tetap dibayangi tingginya inflasi. Di hari Kamis (1 Des) berbagai isu positif di dalam negeri berhasil mengangkat nilai tukar rupiah menjadi Rp10.030,00 seperti naiknya cadangan devisa menjadi US$33 miliar, inflasi November yang hanya 1,31% dan naiknya indeks saham. Peluang bagi menguatnya rupiah masih sangat terbuka bila pengumuman reshuffle kabinet dapat memenuhi harapan pasar secara lebih baik. Faktor fundamental seperti kebijakan BI khususnya dalam mengendalikan tingkat inflasi akan tetap merupakan batu ujian bagi stabilitas rupiah. IHSG Perdagangan saham pada satu pekan lalu (28 November – 2 Desember 2005) menunjukkan penguatan indeks yang cukup signifikan. Indeks menguat hingga 45,01 poin dari level 1.074,40 menjadi 1.119,41. Unsur utama penguatan ini adalah kabar resmi dari Presiden SBY tentang masuknya Boediono untuk menduduki salah satu jabatan menteri bidang ekonomi. Kabar ini membuat IHSG pada perdagangan akhir pekan (Jumat, 2 Des 2005) menguat hingga 23,04 poin. Pada perdagangan akhir pekan juga tercatat 100 saham menguat, 48 stagnan dan 21 lainnya melemah. Volume transaksi saham mencapai 1,24 milyar dengan nilai Rp. 1,36 Trilyun dan frekuensi 18.315 kali. Pada hari-hari sebelumnya, sebenarnya indeks berada pada trend menguat. Senin (28/11) sentiment positif bursa regional dan optimisme pasar terhadap tingkat inflasi November 2005 mendorong penguatan indeks sebesar 6,66 poin. Di hari kedua (29/11) indeks menguat tipis 1,21 poin didorong oleh kinerja menggembirakan dari beberapa emiten. Perdagangan Rabu (30/11) menguat 14,36 poin didukung oleh peningkatan harga beberapa komoditas dari sejumlah emiten sektor pertambangan, telekomunikasi dan Astra. Indeks hanya terkoreksi tipis sebesar 0,27 poin di hari Kamis (1/12) saat angka inflasi diumumkan sebesar 1,31%, suatu jumlah di atas harapan pelaku pasar tapi disikapi dengan hati-hati. Pekan selanjutnya diperkirakan indeks memiliki peluang untuk terus menguat. Indeks berpotensi menguat dan saham-saham unggulan akan memberikan sentiment positif ke pasar. Isyu politik terkait dengan reshuffle nampaknya akan memberikan kontribusi lainnya dalam penguatan IHSG. INFLASI Inflasi pada bulan November 2005 mencapai 1,31 persen. Inflasi masih cukup tinggi, meleset dari perkiraan yang akan turun dari November tahun lalu, bahkan ada yang memperkirakan deflasi. Inflasi tahun kalender Januari-November 2005 mencapai 17,17 persen, sedangkan yang tahunan tercatat 18,38 persen. Dengan demikian, inflasi tahun kalender dan tahunan mencapai titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir ini untuk dua bulan berturut-turut. Faktor pendorong utama tingginya inflasi pada November 2005 antara lain adalah kenaikan harga kelompok bahan makanan 2,47 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, serta tembakau yang mencapai 2,06 persen. Kedua kelompok itu masing-masing memberikan andil terhadap inflasi November 2005 sebesar 0,62 persen dan 0,36 persen. Termasuk dalam dua kelompok komoditas itu antara lain adalah nasi dan lauknya, beras, daging ayam ras, bawang merah, daging sapi, dan ikan segar. HARGA MINYAK

PT Pertamina menurunkan harga bahan bakar minyak untuk industri dalam bulan Desember 2005. Penurunan yang berkisar 4,9-14,4 persen itu mengikuti kecenderungan penurunan harga minyak mentah di pasar internasional. Harga BBM industri dihitung mengacu pada harga patokan Mid Oil Platts Singapore (MOPS) plus pajak. Penurunan harga jual ini merupakan bagian dari mekanisme pasar minyak dunia yang diaplikasikan untuk sektor industri, bungker internasional dan pelanggan selain sektor rumah tangga, usaha kecil, transportasi dan pelayanan umum. Harga BBM industri per liter yang berlaku mulai 1 Desember 2005 adalah premium Rp5.150, minyak tanah Rp5.550, minyak solar Rp5.340, minyak diesel Rp5.180, minyak bakar Rp3.680. Dibandingkan dengan harga bulan November, harga minyak tanah turun paling tajam, yaitu sebesar 14,4 persen, disusul solar 13,5 persen, minyak diesel 12,8 persen, premium 12,6 persen, dan minyak bakar 4,9 persen. Harga minyak dunia menurun, setelah diumumkannya kenaikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat. Ada kekhawatiran terjadinya kekurangan pasokan selama musim dingin di wilayah Amerika bagian Utara. Kontrak penjualan minyak mentah ringan New York untuk pengiriman Januari turun 23 sen dolar menjadi US$57,09 per barel dalam perdagangan. Di London, harga minyak mentah jenis Brent dari Laut Utara untuk pengiriman Januari juga mengalami penurunan 37 sen menjadi US$54,68 per barel. CADANGAN DEVISA Cadangan devisa Indonesia yang tersimpan di Bank Indonesia (BI) naik sebesar US$719,2 juta sejalan dengan bertambahnya penerimaan minyak dan gas (migas) karena nilai impor minyak lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan peningkatan tersebut, pada pekan ketiga November 2005 tercatat cadangan devisa di BI sebesar US$33,076 miliar, sementara pekan sebelumnya sebesar US$32,357 miliar. Posisi uang primer pada 23 November 2005 berdasarkan Indikator Moneter BI mengalami penurunan dari pekan sebelum-nya menjadi Rp220,343 triliun. Cadangan devisa diperkirakan mencapai sekitar US$30,7 miliar pada akhir tahun 2005. Penurunan cadangan devisa diproyeksikan masih berlangsung tahun depan sehingga mencapai sekitar US$27,1 miliar. Pelemahan cadangan devisa antara lain disebabkan defisit arus modal publik yang meliputi kegiatan pemerintah, Bank Indonesia, dan BUMN mencapai US$0,6 miliar pada 2005. Tahun depan defisit arus modal publik diproyeksikan masih meningkat menjadi US$1,7 miliar, seperti yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah 2006. Kenaikan defisit arus modal publik tersebut disebabkan antara lain oleh peningkatan pembayaran kembali pinjaman publik dan IMF yang mencapai US$3,5 miliar pada 2005 dan US$7,5 miliar pada 2006. PERDAGANGAN INTERNASIONAL Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan impor sampai Oktober 2005 masih lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pertumbuhan impor Januari hingga Oktober 2005 sebesar 29,13%. Sedangkan pertumbuhan ekspor pada periode yang sama hanya 19,5%. Total nilai ekspor Januari-Oktober 2005 sebesar US$70,1 miliar. Sedangkan nilai impor pada periode yang sama sebesar US$48,6 miliar. Pada Oktober 2005 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 7,76 miliar, lebih tinggi 5,17% dibanding ekspor bulan September 2005 sebesar US$ 7,38 miliar. Ekspor nonmigas Oktober 2005 mencapai US$ 5,94 miliar, atau naik 4,90 % dibanding September 2005. Sedangkan nilai ekspor Januari-Oktober 2005 mengalami kenaikan sebesar 18,75 %. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Oktober 2005 terjadi pada lemak & minyak hewani atau nabani sebesar US$353 juta. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$89,9 juta. Ekspor nonmigas Oktober 2005 terbesar ke Amerika Serikat, mencapai angka terbesar yaitu US$ 929,4 juta, disusul Jepang US$ 842,9 juta dan Singapura US$ 515,6 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,49%. Sementara ekspor ke 25 negara Uni Eropa sebesar US$892,5 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian dan ekspor hasil industri pada Januari-Oktober 2005 meningkat masing-masing 25,48% dan 13,50% dibanding periode yang sama tahun 2004. Kenaikan juga terjadi pada komoditas hasil tambang dan lainnya naik sebesar 75,80%. Sementara nilai impor Indonesia pada Oktober 2005 mencapai US$4,79 miliar atau menurun 2,12% dibanding impor bulan September 2005 sebesar US$4,90 miliar. Total impor JanuariOktober 2005 sebesar US$48,63 miliar atau naik 29,13% dibanding impor periode yang sama

tahun 2004 sebesar US$ 37,66 miliar. Impor nonmigas bulan Oktober 2005 mencapai US$3,26 miliar atau meningkat 4,4% dibandingkan September 2005. Total impor Januari-Oktober 2005 mencapai US$33,81 miliar atau naik 19,41% dibandingkan periode yang sama tahun 2004. Selama Januari-Oktober 2005, impor nonmigas terbesar pada mesin dan pesawat mekanik senilai US$6,74 miliar atau 19,93 % dari total impor nonmigas. Sedangkan negara pemasok barang impor terbesar masih Jepang dengan nilai US$5,95 miliar dengan pangsa 17,59 %, diikuti China 11,25 % dan Amerika Serikat 9,16 %. Impor dari negara ASEAN mencapai 19,33% dan Uni Eropa sebesar 14,30%. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong selama Januari-Oktober 2005 meningkat 29,19%. Impor barang modal dan barang konsumsi masing-masing meningkat sebesar 33,69% dan 20,97% dibanding periode yang sama tahun 2004. Tingginya pertumbuhan impor ini mengakibatkan kebutuhan valuta asing (valas) makin meningkat. Karenanya, kebutuhan suplai valas di dalam negeri ke depan terancam mengalami defisit. Gedung B Ruang 304, Jalan Dr. Wahidin No. 1 Jakarta 10710 Telp: 021-3441484 Fax: 3848049 Tim Penyusun: Purwiyanto (ed.), Hidayat Amir (hidayatamir@gmail.com), Amnu Fuady (amnuf@yahoo.com), Gunawan Setiyaji (gsetiyaji@gmail.com). Materi diolah dari berbagai sumber

Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Berbasiskan Masyarakat [05 Januari 2004, 10:33 WIB] Oleh : Lina Padmo http://www.bnn.go.id/konten.php? nama=ArtikelCegah&op=detail_artikel_cegah&id=6&mn=2&smn=e • Strategi untuk memberi kekuatan pada masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengdentifikasi, memprioritaskan, dan mengambil tindakan terhadap kebutuhan masyarakat secara terpadu. Mengapa perlu partisipasi masyarakat ? • Masalah narkoba adalah masalah yang sangat kompleks disebabkan oleh berbagai faktor dalam lingkungan, dan umumnya disebabkan oleh : Individu, Lingkungan dan Narkoba. • Ini menunjukkan bahwa strategi pencegahan yang efektif adalah secara komprehensif dan terpadu. • Kunci pada program pencegahan yang efektif adalah partisipasi dan kerjasama masyarakat khususnya orang tua, tokoh masyarakat, LSM, sekolah dan anak-anak remaja sendiri. • Masalah Narkoba adalah masalah masyarakat yang memerlukan kepedulian masyarakat

sendiri. Karenanya, wajar bilamana masyarakat berkewajiban dan bertanggung jawab pula untuk menanggulangi masaralah tersebut. • Masyarakat setempat lebih mengetahui masalah lingkungan mereka sendiri daripada siapapun. Keadaan Masalah Narkoba Di Indonesia • Jumlah pasien di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) naik 4x lipat dalam 4 tahun terakhir dan 1.5x lipat dalam 2 tahun terakhir, di mana sebagian besar korban berusia 15-25 tahun. • Jumlah mahasiswa yang menyalahgunakan obat meningkat dari 366 pada tahun 1996 menjadi 1677 pada tahun 1999. • Fakta yang paling memprihatinkan adalah bahwa usia awal perkenalan dengan narkoba semakin muda, yaitu : menghisap rokok (6 tahun), zat halusinogen (10 tahun), obat psikotropika (10 tahun) dan opium (13 tahun). Keadaan Masalah Penyelundupan Narkoba • Keempukan pasar Narkoba di Indonesia bisa dilihat dari jumlah narkoba yang disita dalam 3 tahun terakhir ini. • Indonesia sudah menjadi daerah pemasaran gelap narkoba dan sebagai produsen. • Jumlah Ecstasy dan Shabu yang berhasil disita tahun 1996 – 2000 di Indonesia terus meningkat. • Tersedianya narkoba dimana-mana. • Gampang mendapatkannya. • Harganya relatif terjangkau dalam paket murah meriah. • Kawasan permukiman menengah ke bawah pun kini menjadi incaran para pedagang narkoba. Langkah-langkah pelaksanaan program pencegahan berbasiskan masyarakat • Tahap Persiapan. • Pemilihan satu masyarakat. • Identifikasi tokoh-tokoh masyarakat yang peduli pada masalah nrkoba. • Survei tentang masalah narkoba. • Pembentukan tim/kelompok anti narkoba (penugasan tanggung jawab). • Lokakarya/pelatihan untuk kelompok/tim anti narkoba. • Penyusunan rencana kerja pencegahan penyalahgunaan narkoba. • Evaluasi Program Pencegahan • Pemilihan satu Masyarakat Pilih satu Kecamatan, Kelurahan, RT/RWϖ Tersedianyaϖ anggota masyarakat yang peduli/siap mendukung kegiatan pencegahan Adaϖ potensi kerjasama dari pemerintah dan LSM. Mempunyai sumber dayaϖ • Survei – Mempelajari dan menganalisa masalah narkoba Tingkatϖ kesadaran/pengetahuan masyarakat tentang masalah narkoba Keadaan danϖ jangkauan masalah narkoba. Jenis-jenis narkoba yang sering disalahgunakan,ϖ penyebab penyalahgunaan. Program/tindakan pencegahan yang sudahϖ terlaksana.

Pelayanan pencegahan dan penanggulangan narkoba yang ada.ϖ ϖ Kelompok masyarakat yang terlibat dalam program pencegahan. Sumber dayaϖ yang tersedia. • Pembentukan Tim/Kelompok Anti Narkoba Anggota Tim Anti Narkoba terdiri dari : Tokoh-tokoh masyarakat/agama.ϖ Orang tua.ϖ ϖ Kelompok remaja. Para guru/siswaϖ LSMϖ Tugas Badan Koordinasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba • Menyusun rencana kerja tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba. • Melaksanakan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan pencegahan. • Mengadakan evaluasi program pencegahan. • Menyusun kebijakan tentang penanggulangan masalah narkoba ditempat. • Membuat laporan tentag program pencegahan yang terlaksana. • Lokakarya – Pelatihan Badan Koordinasi/Tim Anti Narkoba. • Penyusunan rencana kerja pencegahan penyalahgunaan Narkoba. • Kunci pada program pencegahan yang efektif adalah partisipasi dan kerjasama masyarakat khususnya orang tua, tokoh masyarakat, LSM, sekolah dan anak-anak remaja sendiri. • Oleh karena itu, rencana kerja untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba perlu berfokus kepada anak remaja, orang tua, guru, dan tokoh masyarakat sebagai mitra dan sasaran dalam pencegahan. Kegiatan apa yang dapat diberikan bagi : Anak Remaja • Pelatihan life skills seperti bagaimana menolak penawaran Narkoba oleh teman sebaya, berkomunikasi yang baik, membuat keputusan yang benar dan sebagainya. • Kegiatan alternatif untuk mengisi waktu luang, seperti kegiatan olah raga, kesenian dan lain lain. • Menjadi peer educator atau role model untuk tidak menggunakan narkoba. • Membangun kelompok sebaya disekolah/masyarakat dengan budaya, perilaku yang sehat dan berdisiplin serta bertanggung jawab. Orang tua • Pelatihan parenting skills. • Penyuluhan tentang narkoba. • Deteksi dini penyalahgunaan narkoba. • Menjadi role model yang baik • Memantau perilaku anak sehari-hari • Menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah Guru • Pembinaan murid mulai umur SD tentang kesadaran dan pengertian tentang penggunaan obat secara tepat. • Peningkatan kemampuan guru dalam mengajar ilmu pengetahuan secara menarik, lancar dan menyenangkan.

• Integrasi pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba. • Pendekatan pihak sekolah pada anak secara lebih intensif melalui bimbingan karir untuk siswa SMA secara professional. • Penambahan kegiatan fisik dan mental yang menarik dan bermanfaat. Tokoh Masyarakat • Mengikutsertakan dalam pengawasan Narkoba dan pelaksanaan Undang-Undang. • Mengadakan penyuluhan, kampanye pencegahan penyalahgunaan Narkoba. • Rujuk korban Narkoba ditempat pengobatan. • Merencanakan, melaksanakan dan mengkoordinir program pencegahan penyalahgunaan Narkoba. • Tahap Pelaksanaan. Pelaksanaan rencanaϖ kerja. Contoh program/kegiatan pencegahan penyalahgunaan Narkoba ϖ Penyuluhan, penerangan dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seperti : Information Campaign (melalui kegiatan rutin masyarakat seperti¬ arisan/rapat ibu-ibu di tingkat RT/RW. Information Campaign (melalui¬ kegiatan rutin masyarakat seperti pengajian ibu-ibu Majelis Taklim, tingkat Kelurahan. Information Campaign melalui rapat bulanan pengurus RT/RW.¬ ¬ Information Campaign melalui exhibits (pameran) di sekolah. TV, leaflet,¬ sticker, poster, dsb. Information campaign organisasi perempuan di tingkat¬ Kecamatan. Penyuluhan pada organisasi perempuan di tingkat¬ Kecamatan. Pendidikan orang tua tentang strategi-strategi pencegahan,ϖ seperti cara mengasuh anak yang baik, cara mengajar anak bagaimana menolak penawaran Narkoba, cara meningkatkan harga diri anak, cara mendeteksi penyalahgunaan Narkoba, cara hidup sehat, dsb. Contoh : Program Orang tua Berbasiskan Masyarakat PARENTING SKILLS Strategi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Oleh : Prof. Paulina G. Padmoehoedojo, MA, MPH Ketua, Research Consultants Indonesia (Recon-Indo) Staf Ahli, Badan Narkotika Nasional (BNN), Indonesia Program pendidikan dan pelatihan bagi orang tua berbasiskan masyarakat adalah program utama oleh Research Consultants Indonesia (Yayasan Recon-Indo) sebagai strategi pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Dengan permasalahan yang sedemikian kompleks ini memerlukan partisipasi rakyat khususnya keluarga dan para orang tua yang merupakan benteng dalam pencegahan masalah Narkoba. Program Parenting Skills ini membuktikan bahwa kelompok orang tua, apabila diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengasuh anak yang baik serta pencegahan, merupakan mitra masyarakat yang paling efektif dalam pencegahan. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kekebalan anak-anak (drug proof children and youth) terhadap Narkoba melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan para orang tua tentang pencegahan dan mengasuh dan mendidik anak dengan baik. Yayasan Recon-Indo mengakui bahwa keberhasilan para orang tua dalam mendidik anak dengan baik merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat pada seluruh masyarakat. Program Parenting skills berbasiskan masyarakat ini adalah program pencegahan yang dilakukan para orang tua untuk para orang tua di masyarakat. Sebagaimana ditunjukkan dari

pengalaman pencegahan penyalahgunaan narkoba, faktor utama program pencegahan yang efektif adalah kerjasama para orang tua yang sadar dan mengetahui tentang masalah narkoba. Selain itu, pengalaman menunjukkan bahwa apabila orang tua diberikan dorongan dan bantuan moril, mereka dapat menjadi “radical change agent” dan mitra masyarakat yang aktif dalam usaha pencegahan. Sebab para orang tua adalah orang-orang yang paling peduli kepada anakanak. Program Parenting Skills berbasiskan masyarakat oleh Yayasan Recon-Indo ini tidak hanya memberikan informasi yang akurat tentang masalah narkoba tetapi juga memberi kesempatan pada orangtua untuk memeriksa hubungan mereka dengan anak-anak mereka dan mempelajari cara-cara untuk memperbaikinya. Program ini juga membantu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para orangtua tentang keadaan dan situasi masalah narkoba di masyarakat termasuk akibat dan bahaya penyalahgunaan narkoba, membahas beberapa alasan mengapa anak-anak menyalahgunakan narkoba seperti alasan tekanan teman sebaya dan sikap para orangtua, serta mengajarkan para orangtua tentang peranan mereka di bidang pencegahan termasuk mengasuh anak dengan baik. Pendidik Orang tua (Parent Peer Educator). Dalam program ini, sembilan puluh (90) pendidik orang tua atau parentpeer educators telah dilatih dan diharapkan melatih dan mendidik orangtua lain di lingkungan masing-masing melalui rapat dan pertemuan rutin para kelompok dan organisasi para orang tua. Materi-materi pendidikan yang diberikan termasuk keadaan dari situasi masalah narkoba di tingkat nasional peranan para orang tua di bidang pencegahan dan keterampilan mengasuh dan mendidik anak dengan baik (Parenting Skills). Program Parenting Skills oleh Yayasan Recon-Indo dilaksanakan untuk membantu para orang tua meningkatkan keterampilan mereka untuk membentuk hubungan kekeluargaan yang kuat. Kita menyadari bahwa jika orang tua diharapkan mempunyai anak yang lebih baik, orang tua harus menjadi pendidik yang lebih baik. Para orangtua mempunyai kewajiban memberikan pendidikan dasar untuk kesejahteraan anak dan memberi bimbingan untuk perkembangan kepribadian anak. Karena kepribadian individu dibentuk dalam beberapa tahun pertama kehidupan, maka tuhun-tahun awal tersebut sangat penting untuk kesejahteraan anak. Dalam program ini, cara-cara untuk membentuk hubungan keluarga yang kuat diajarkan antara lain : 1. Peningkatan komunikasi dalam keluarga dimana anak-anak diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginan. Anak merasa penting dan dihargai apabila orang tua siap menjadi pendengar aktif. 2. Membantu anak meningkatkan harga diri dengan cara berfokus pada kemampuan anak bukan pada kekurangan dan kelemahan; menahan diri untuk tidak mengkritik; pemberian pujian dan mencari keberhasilan dalam pekerjaan walaupun kecil; pemberiaan tugas dan tanggung jawab yang membangun kepercayaan; dan menghindari perbandingan usaha anak dengan usaha anak lain. Perlu disampaikan kepada anak anda bahwa bagaimanapun ia akan tetap diterima kehadirannya dalam keluarga tanpa syarat apapun. 3. Membantu anak-anak berani menyatakan "tidak" pada narkoba. Penelitian membuktikan, mereka yang mempunyai resiko tertinggi untuk mulai menggunakan narkoba adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Itu sebabnya ketrampilan melakukan perlawanan (resistance skills) sudah diajarkan sebelum anak berusia sembila tahun atau selambat-lambatnya pada usuai 12 tahun. Dalam program ini, para orangtua diajarkan pula tentang peranan mereka di bidang pencegahan seperti berikut ini : a. Orangtua sebagai contoh yang baik. Orang tua menyadari bahwa kebiasaan dalam keluarga besar pengaruhnya pada anak-anak. Orang tua yang biasa menyalahgunakan minuman keras dan rokok dapat mempengaruhi anak untuk ikut menyalahgunakan zat-zat tersebut. Jika ayah atau ibu pemabuk atau selalu memakai obat setiap kali merasa sakit, kemungkinan besar anakanak akan pula menjadi pengguna alcohol dan obat-obatan. Beberapa cara bagaimana orang tua

rnenunjukkan contoh-contoh yang baik dan sehat : 1) Berhati-hati tentang kebiasaan penggunaan obat setiap badan sakit atau setiap ada masalah. 2) Memelihara dan memperhatikan kesehatan melalui makanan yang bergizi dan olah raga yang teratur. 3) Menjelaskan kapan sebaiknya obat itu digunakan dan tidak digunakan. b. Orang tua sebagai pendidik. Dalam program parenting skills oleh Yayasan Recon-Indo, para orang tua diberikan fakta-fakta tentang masalah narkoba, khususnya tentang akibat dan bahaya narkoba terhadap pertumbuhan dan kesehatan. Mereka mempelajari materi materi pendidikan pencegahan yang boleh diberikan mulai dari anak-anak sampai siswa. Misalnya, anak-anak TK sampai SD 3, hanya diberikan informasi tentang cara-cara hidup sehat dan penggunaaan obat secara aman (safe use of medicine), dilanjutkan dengan efek zaf; zat yang legal seperti rokok dan rninuman keras pada tingkat SD 4-6. Informasi tentang bahaya jenis-jenis narkoba dimulai pada tingkat SMP. c. Orang tua sebagai Rule Setters. Orang tua diharapkan menyediakan .peraturan yang jelas tentang “Dilarang Narkoba”. Langkah selanjutnya adalah penyarnpaian harapan kita kepada anak-anak untuk mengikuti peraturan tersebut secara tegas tetapi dengan penuh rasa kepedulian. Peraturan tersebut sangat membantu membuat anak-anak merasa aman. d. Orang tua sebagai pengawas. Untuk menghindari anak dari bahaya narkoba, orang tua juga harus meningkatkan perannya sebagai pengawas. Orang tua perlu tahu siapa saja teman anaknya, ke mana mereka pergi dan apa kegiatan mereka. Tetaplah bangun sampai saat anak pulang pada waktu malam. e. Orangtua sebagai detektor penyalahgunaan narkoba. Para orangtua perlu mengetahui gejalagejala penyalahgunaan narkoba agar mereka segera dapatmembantu. Ada tiga gejala yang menunjukkan bahwa anak itu menyalahgunakan narkoba yaitu : Pertama, hadirnya peralatan narkoba, seperti pipa rokok yang biasa dipakai untuk menghirup kokain/heroin; kelias linting untuk ganja atau botol kecil dan pemantik (korek) gas. Kedua, kehadiran narkoba itu sendiri. Ketiga, adanya bau alkohol atau narkoba lainnya. Tanda-tanda lain adalah perubahan perilaku dan keadaan tubuh anak seperti, munculnya kebosanan pada hal-hal yang pada awalnya sering dilakukan dengan senang hati. Juga menurunnya prestasi, menjadi mudah tersinggung, malas, mengantuk, berat badan menurun dan suka memakai baju lengan panjang untuk menyembunyikan suntikan pada lengan. 4. Selain ini, Pembentukan jaringan orangtua berdasarkan lingkungan atau sekolah dimana para orangtua berpartisipasi dan mendukung program pencegahan penyalahgunaan narkoba, juga dilaksanakan. Para orang tua menyusun perjanjian bersama berfokus pada kegiatan-kegiatan anak-anak seperti pesta malam minggu, piknik bersama, waktu pulang rumah, dsb. Pengalaman Yayasan Recon-Indo tentang Parenting Skills menunjukkan bahwa apabila para orangtua menyadari, mengetahui dan trampil mengasuh dan mendidik anak dengan baik, mereka mempunyai harapan besar untuk menjamin anak-anak bebas narkoba. a. Mendukung kebijaksanaan sekolah tentang penyalahgunaan narkoba. b. Membantu keluarga yang bermasalah narkoba. c. Pembentukan Tim penanggulangan masalah narkoba di sekolah. d. Pembahasan kebijaksanaan penggunaan dan pengedaran narkoba disekolah. e. Pelatihan para guru tentang masalah dan strategi pencegahan narkoba. f. Pembentukan program-program pencegahan di sekolah seperti “peer counseling”, “peer education” dan “peer leadership”.

g. Melaksanakan kegiatan-kegiatan alternatif seperti : olahraga, kesenian, dsb. h. Penyusunan sistem rujukan. i. Pendekatan keamanan – kerjasama antara Polisi (Polsek) dan masyarakat melalui hotline yang dapat memberi rasa aman dan tenteram bagi warga.

Berita (Ekonomi dan Sosial)  2004-08-02 08:28:48 WIB SK KAWASAN BEBAS ASAP ROKOK DITERBITKAN WALIKOTA BOGOR. Walikota Bogor H. Diani Budiarto menerbitkan SK (Surat Keputusan) mengenai kawasan bebas asap rokok di Kota Bogor. Kawasan tanpa asap rokok itu diberlakukan untuk tingkat SLTA di sepuluh SMA Negeri satu SMA Swasta, serta satu SMKN. Walikota Bogor H. Diani Budiarto menerbitkan SK (Surat Keputusan) mengenai kawasan bebas asap rokok di Kota Bogor. Kawasan tanpa asap rokok itu diberlakukan untuk tingkat SLTA di sepuluh SMA Negeri satu SMA Swasta, serta satu SMKN. Sedangkan untuk tingkat SLTP di

delapan SMP Negeri dan satu SMP Swasta. Selain itu di sepuluh instasi Pemerintah dan semua jajaran instansi Kesehatan di Kota Bogor termasuk Rumah Sakit dan seluruh Puskesmas. Untuk SMA yaitu SMAN I sampai SMAN 10, SMKN 3 dan SMA Rimba Madya. Kemudian SMPN I sampai SMPN 8 dan SMP Bina Insani. Sedangkan dari 10 instansi diantaranya di lingkungan Balaikota Bogor. SK Walikota Bogor itu diterbitkan bertepatan pada peringatan Hari Internasional melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tingkat Kota Bogor, di Balaikota Sabtu (26/6) pagi, Walikota Bogor H.Diani Budiarto mengatakan, dengan terbitnya SK Walikota perihal penegakan Kawasan Tanpa rokok di Kota Bogor, maka diharapkan sedikit demi sedikit polusi asap rokok yang membahayakan kesehatan masyarakat di Kota Bogor akan berkurang. Selain itu lanjut Diani, dengan adanya kawasan tanpa rokok, juga merupakan rangsangan bagi masyarakat untuk berperan nyata didalam usaha-usaha untuk meningkatkan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian http://www.ekon.go.id/v2/content/view/233/25/33/25/ P USAT INFORMASI DAN PELAYANAN PEREKONOMIAN Home Indonesian News Berita Terkini PAKET INSENTIF 1 Tuesday, 25 April 2006 OKTOBER 2005 PAKET INSENTIF 1 OKTOBER 2005 Written by Biro Persidangan dan Hubungan Masuayakat Monday, 03 October 2005 Paket Insentif 1 Oktober 2005 merupakan bagian integral dan implementasi serta tindak lanjut dari Paket Kebijakan 31 Agustus 2005 yang telah disampaikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Paket ini juga didisain dalam kerangka reformasi ekonomi mikro untuk memperkuat pondasi perekonomian dan mempertahankan momentum percepatan laju pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan daya saing dan menggairahkan investasi. Paket ini juga merupakan program kompensasi bagi seluruh stakeholders yang mencakup (i) kelompok rumah tangga berpendapatan rendah; (ii) petani; (iii) buruh dan (iv) dunia usaha (lihat Lampiran 2 tentang rincian dan kelompok sasaran dari kebijakan). Cakupan paket kebijakan ini terdiri dari: A. Paket Insentif Fiskal B. Reformasi Regulasi dalam Sektor Perdagangan C. Reformasi Regulasi dalam Sektor Perhubungan D. Inpres Perberasan tentang Harga Pembelian Beras oleh Pemerintah E. Subsidi Langsung Tunai Rincian dari Paket Insentif termasuk tujuan, waktu implementasi dan kelompok sasaran kebijakan diuraikan sebagai berikut. A. Paket Insentif Fiskal

Dalam kebijakan fiskal, insentif yang akan diberikan Pemerintah akan terdiri dari pelbagai bentuk kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat daya saing industri, memperbaiki iklim usaha dan memberikan kompensasi kepada kelompok rumah tangga (khususnya pekerja) yang tidak termasuk dalam program subsidi langsung tunai. Implementasi insentif fiskal ini akan berlangsung secara efektif tanggal 1 Oktober 2005 hingga 1 Januari 2006. Bentuk insentif fiskal tersebut meliputi: 1. Perubahan status PPN atas produk primer menjadi Barang Bukan Kena Pajak Perubahan status PPN atas produk primer menjadi barang bukan kena pajak ditujukan untuk memberikan insentif untuk produk primer pertanian. Perubahan ini merupakan bagian dari reformasi pajak dan akan efektif Januari 2006. 2. Penundaan pengenaan PNBP untuk transaksi ekspor dan impor Kebijakan ini ditujukan untuk memperlancar dan meringankan biaya transaksi ekspor dan impor. Penundaan ini akan dituangkan dalam perubahan PP No. 44/2003 berlaku mulai 1 November 2005 dan berlaku selama 3 bulan menunggu berlakunya secara efektif 3. Peningkatan Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) Kebijakan ini ditujukan untuk meringankan beban wajib pajak khususnya buruh yang berpendapatan rendah. Besarnya PTKP dinaikkan dari Rp 1 juta per bulan menjadi Rp 1,1 juta perbulan. Perubahan ini mulai efektif 1 Januari 2006. 4. Pembebasan bea masuk untuk beberapa produk. Pembebasan bea masuk ini dilakukan untuk memperkuat daya saing industri khususnya industri pengguna yang umumnya adalah usaha kecil dan menengah. Khusus untuk gula, penurunan tarif bea masuk dilakukan dengan mempertimbangkan baik kepentingan petani tebu maupun konsumen baik konsumen antara seperti industri makanan dan minuman maupun konsumen akhir. Adapun produk yang akan dibebaskan bea masuk meliputi: a) Bahan baku dan komponen industri alat-alat berat menjadi 0%; b) Pembebasan bea masuk atas impor Engine Assy untuk angkutan umum menjadi 0%; c) Penurunan bea masuk gula terdiri dari - Raw sugar dari Rp 550/kg menjadi Rp 250/kg - Gula rafinasi dari Rp 790/kg menjadi Rp 550/kg - Gula Putih dari Rp 790/kg menjadi Rp 550/kg d) Pembebasan bea masuk converter kit untuk energi; 5. Percepatan pembatalan Perda mengenai pajak dan retribusi yang menghambat dunia usaha. Kebijakan ini ditujukan untuk memperbaiki iklim usaha yang merupakan bagian dari program berlanjut dari Rencana Kerja Tahunan Pemerintah 2005 dan 2006. Program ini merupakan program berjalan yang akan dilanjutkan dengan amandemen UU No. 34/2002.

6. Penurunan tarif dasar Pajak Kendaraan Bermotor untuk kendaraan umum Kebijakan ini akan dilakukan untuk memberikan keringanan bagi angkutan umum. Perubahan dituangkan dalam Permendagri No 16/2005. B. REFORMASI REGULASI DALAM BIDANG PERDAGANGAN Fokus dari reformasi ini adalah adalah untuk memperlancar arus barang untuk meningkatkan daya saing industri dan sekaligus untuk melindungi produk-produk industri dalam negeri dari persaingan yang tidak fair. Ruang lingkup pembebasan meliputi tiga aspek yaitu: (a) Pembebasan verifikasi/penelurusan teknis produk impor untuk: - Garam dan Gula untuk kebutuhan farmasi; - Tire cord; - Filter cloth; - Kain goni; dan - Karung goni. (b) Menambah jalur prioritas dan jalur hijau kepada importir produsen. (c) Upaya mengatasi penyeludupan dengan memperlakukan jalur merah untuk importir umum bagi pelumas, rokok, garmen, sepatu, kosmetik dan barang elektronika dan memperketat Surat Keterangan Asal (SKA). C. REFORMASI REGULASI DALAM BIDANG PERHUBUNGAN Sasaran dari Reformasi Regulasi dalam bidang Perhubungan ini adalah untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi sehingga diharapkan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia baik di pasar internasional maupun pasar domestik. Diharapkan reformasi ini akan memperkuat integrasi ekonomi domestik. Sasaran utama reformasi ini adalah upaya penguatan daya saing produk pertanian. Cakupan reformasi meliputi tiga bidang yaitu: (i) mengurangi jumlah jembatan timbang dari 127 buah menjadi 64 buah (ii) menurunkan harga CHC dan menetapkan surcharge tidak lebih dari 50%, yang diharapkan menurunkan THC dari US$ 150/container menjadi US$ 93/container (iii) pembatalan 36 Perda sektor perhubungan tentang dispensasi kelebihan beban angkutan kendaraan di jembatan timbang. Reformasi Regulasi ini akan efektif berlaku Oktober 2005. D. PERUBAHAN INPRES BERAS Perubahan Inpres 2/2005 tersebut terutama adalah untuk menjaga stabilitas pendapatan petani akibat kenaikan harga BBM dengan tetap memperhatikan kepentingan konsumen. Oleh karena itu harga pembelian pemerintah di tingkat petani (harga gabah kering panen/GKP) diusulkan untuk dinaikkan 36,2 persen persen, sedangkan harga beras diusulkan untuk dinaikkan 34,4%. Inpres Perberasan yang baru tersebut diterbitkan bersamaan dengan penetapan kenaikan harga BBM dan akan efektif berlaku tanggal 1 Januari 2006 E. SUBSIDI LANGSUNG TUNAI

Program Penyesuaian Harga BBM di atas dilakukan dengan melakukan perubahan bentuk subsidi dari subsidi pada komoditi menjadi subsidi langsung tunai kepada 15,5 juta rumah tangga (kurang lebih 30% dari total rumah tangga Indonesia) yang berpendapatan rendah. Pemberian subsidi dimulai pada tanggal 1 Oktober 2005 dengan memberikan bantuan uang tunai selama 3 bulan (Oktober – Desember 2005) sebesar Rp 100.000 per bulan. Program ini akan dilanjutkan pada tahun 2006 setelah dilakukan monitoring dan evaluasi untuk penyempurnaan program lebih lanjut. Dalam jangka panjang diharapkan program subsidi langsung tunai ini akan disempurnakan dan dikaitkan dan dijadikan suplemen dari kebijakan anti kemiskinan yang lebih struktural (conditional cash transfer)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->