PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Rumah Sakit Bhayangkara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi pegawai negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia dan keluarganya serta masyarakat umum harus dapat memberikan pelayanan bermutu dan merata, dan memberikan pelayanan kedokteran kepolisian yang profesional dan proporsional untuk tugas kepolisian; bahwa untuk mewujudkan pelayanan Rumkit Bhayangkara yang prima, efektif dan efisien perlu penyelenggaraan Rumkit yang terstandarisasi aspek kemampuan pelayanan dan sumber dayanya; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Bhayangkara; Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168); Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 443); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 5063); Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 5072); Keputusan Presiden Nomor 70 Tahun 2002 tentang

b.

c.

Mengingat

: 1.

2.

3.

4.

5.

2

Organisasi Indonesia;

dan

Tata

Kerja

Kepolisian

Negara

Republik

MEMUTUSKAN….. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT BHAYANGKARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri adalah alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Pegawai Negeri pada Polri adalah anggota Polri dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Rumah Sakit yang selanjutnya disingkat Rumkit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit Bhayangkara yang selanjutnya disingkat Rumkit Bhayangkara adalah Rumkit di lingkungan Polri yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi pegawai negeri pada Polri, keluarganya dan masyarakat umum serta pelayanan kedokteran kepolisian. Instalasi Gawat Darurat yang selanjutnya disingkat IGD adalah instalasi di rumkit yang dipimpin oleh seorang dokter, dibantu oleh tenaga medik, keperawatan, dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikat pelatihan gawat darurat dan bertugas menyelenggarakan pelayanan gawat darurat medik secara terus menerus selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. Intensive Care Unit yang disingkat ICU adalah instalasi di rumkit yang dipimpin oleh dokter spesialis anestesi dibantu oleh tenaga medik, keperawatan, dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikat pelatihan perawatan intensif dan bertugas menyelenggarakan perawatan intensif selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. Intensive Coronary Care Unit yang disingkat ICCU adalah instalasi di rumkit yang dipimpin oleh seorang dokter spesialis jantung dibantu oleh tenaga medik, keperawatan, dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikat pelatihan

2.

3.

4.

5.

6.

7.

3

8.

perawatan jantung koroner intensif dan bertugas menyelenggarakan perawatan jantung koroner intensif selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. 8. Neo..... Neo Natal Intensive Care Unit yang disingkat NICU adalah instalasi di rumkit yang dipimpin oleh seorang dokter spesialis anak yang dibantu oleh tenaga ahli, perawatan, dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikat pelatihan perawatan intensif bayi baru lahir dan bertugas menyelenggarakan perawatan intensif bayi baru lahir selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. Perinatal Intensive Care Unit yang selanjutnya disingkat PICU adalah instalasi di rumkit yang dipimpin oleh seorang dokter spesialis anak yang dibantu oleh tenaga ahli, perawat, dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikat pelatihan perawatan intensif bayi baru lahir dan bertugas menyelenggarakan perawatan intensif bayi baru lahir dengan resiko tinggi selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. Urusan Perawatan Sarana dan Prasarana yang selanjutnya disingkat Urwatsar adalah urusan pemeliharaan sarana dan prasarana rumkit untuk mencegah resiko kerusakan peralatan. Instalasi adalah suatu fasilitas penyelenggaraan pelayanan medik dan penunjang medik dalam kaitannya dengan operasional rumah sakit. Satuan Medik Fungsional yang selanjutnya disingkat SMF adalah tenaga kesehatan yang bekerja di instalasi atau jabatan fungsional. Satuan Pengawas Internal yang selanjutnya disingkat SPI adalah kelompok fungsional yang bertugas melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya rumah sakit. Pusat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disingkat PPT adalah pelayanan terpadu terhadap korban kekerasan wanita dan anak-anak. Pelayanan Prima adalah pelayanan yang lebih dari pelayanan yang diberikan sebelumnya, lebih baik dari tempat lain, dilakukan dengan tulus ikhlas dan melibatkan seluruh karyawan untuk mencapai kepuasan pelanggan/pasien. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan Narkotika dan Obat Berbahaya yang selanjutnya disebut Pelayanan Narkoba adalah pelayanan medik terhadap pelaku dan/atau korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza). Audit Klinik adalah penilaian terhadap tindakan medik yang dilakukan oleh tenaga komite medik. Kejadian Tidak Diharapkan yang selanjutnya disingkat KTD adalah suatu kejadian yang mengakibatkan cidera yang tidak diharapkan pada pasien karena

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.
19.

c. yaitu pelayanan kesehatan yang dilaksanakan mendasari dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. 20. e. yaitu setiap tindakan medik yang dilakukan disampaikan kepada pasien g. yaitu pemberian pelayanan kesehatan yang tidak membedakan suku. dan antar golongan. Kejadian Nyaris Cedera yang selanjutnya disingkat KNC adalah suatu kejadian akibat commission atau omission yang dapat mencederai pasien tetapi cedera serius tidak terjadi. Pasal 2 21. d. non diskriminasi. dan tenaga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 3 (2) Asas dalam peraturan ini meliputi: a. agama. profesionalitas. yaitu tindakan dipertanggungjawabkan. karena faktor keberuntungan. nesesitas. peralatan. dan pembangunan Rumkit Bhayangkara yang mencakup standar pelayanan medik. sosio. yang dilakukan secara terukur dan dapat b. akuntabilitas. Intervensi adalah tindakan medik dan/atau non medik yang dilakukan oleh petugas kesehatan dengan tujuan untuk mengatasi masalah atau krisis yang dihadapi individu/ pasien. Kejadian Sentinel adalah kejadian serius yang dapat mengakibatkan kecacatan yang bersifat permanen (irreversible). legalitas. Tujuan dari peraturan ini guna tercapainya suatu kemampuan dan mutu pelayanan Rumkit Bhayangkara yang sesuai dengan standar. Tindakan Invasif adalah tindakan medik dengan memasukkan alat/benda asing ke dalam tubuh pasien. 22. sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima. (1) Maksud dari peraturan ini sebagai pedoman dalam rangka penyelenggaraan. efektif.. yaitu tindakan yang tidak dapat dihindarkan dan harus dilakukan untuk keselamatan pasien. dan spiritual. yaitu tindakan yang dilakukan senantiasa memperhatikan aspek perlindungan dan penghargaan hak asasi manusia secara bio. dan efisien. 23... psiko.4 suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (omission) dan bukan karena underlying disease atau kondisi pasien. 20. yaitu pelayanan medik dilaksanakan berdasarkan kompetensi dan keahlian sesuai dengan bidangnya. dan transparan. ras. humanis. f. .. standar fasilitas. Kejadian. pengembangan.

meliputi: a.. b. 3. dan khusus. c. e. kesehatan anak. bedah. pelayanan umum. yang terdiri dari: 1.5 secara terbuka. penyakit dalam. Pasal 4 Ruang lingkup peraturan ini meliputi: a. medik umum. Pasal 6 Kemampuan pelayanan umum Rumkit Bhayangkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a. f. dan . kemampuan pelayanan Rumkit Bhayangkara: klasifikasi Rumkit Bhayangkara. umum. 2.. 2. pelayanan spesialistik dasar. 1. b. medik gigi dasar. 3. pelayanan gawat darurat.. hak dan kewajiban. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)/Keluarga Berencana (KB). standar pelayanan medik. BAB II KEMAMPUAN PELAYANAN RUMKIT BHAYANGKARA Pasal 5 Kemampuan pelayanan Rumkit Bhayangkara terdiri dari: a. c. penyelenggaraan administrasi Rumkit Bhayangkara. dan pembiayaan. Pasal. b. d.. yang terdiri dari: 4. dan keperawatan.

kesehatan jiwa. g. 7. 1. 4. 2. 5. urologi. 3. dan bedah saraf. 1. 8. jantung. pelayanan spesialistik gigi mulut. kedokteran gigi anak (paedodonsi). 9. penyakit kulit dan kelamin. pelayanan medik spesialistik lain. 2. 8. 5. periodonsi. 4. yang terdiri dari: anestesi dan reanimasi. clinical oral pathology. 7. antara lain terdiri dari: bedah. konservasi gigi (endodonsi). 3. 1. pelayanan…. patologi klinik. d. radiologi. 5. prosthodonsi. penyakit mata. 3. 2. pelayanan spesialistik penunjang. paru. pelayanan sub spesialistik. antara lain terdiri dari: Telinga Hidung Tenggorokan (THT). obstetri dan ginekologi.. e. . f.6 4. 10. 6. dan oral medicine. 4. yang terdiri dari: bedah mulut. 1. d. dan patologi anatomi. penyakit saraf. orthopaedi. orthodonsi. 6. rehabilitasi medik.

h. komunikasi. 12. 2. 1. THT. 6. 5. NICU. antara lain ICU. kebidanan dan penyakit kandungan. 8. dan paru. dan rekam medik.7 2. 7. 2. pelayanan penunjang klinik. perawatan intensif. teknik dan pemeliharaan fasilitas. dan PICU. 3. pelayanan penunjang non klinik. 10. 6. 9. 9. . jantung. 4. 11. orthopaedi. saraf. pengelolaan limbah. farmasi. transportasi/ambulans. pemadam kebakaran. 4. sentral sterilisasi. penyakit dalam 3. ICCU. 5. 7. pemulasaraan jenazah. 6. yang terdiri dari: laundry/linen. kesehatan anak. 3. gudang. 5. jasa boga/dapur. 8. 3. pelayanan darah. i. gizi. 4. jiwa. kulit dan kelamin. kesehatan…. yang terdiri dari: bedah sentral. mata.. 7. dan 1.

Pasal 7 1. pelayanan administrasi. j. dan sistem informasi rumah sakit. d. b. PPT. 6. 4. dan c. otopsi. 7.. (2) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pasal 8 (1) Selain kemampuan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7. forensik patologi. narkoba. personalia. Unit pelayanan medik lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. . Rumkit Bhayangkara dapat mengembangkan jejaring pelayanan medik melalui kerja sama dengan rumkit dan unit pelayanan medik lainnya. keuangan. c. keamanan. forensik odontologi. 5. f. b. humas.. j. dan emergency traumatic center. e. h. forensik psikiatri. g. yang terdiri dari: administrasi umum. 3. informasi dan penerimaan pasien. penampungan air bersih. pelayanan. perawatan tahanan. Kemampuan pelayanan khusus Rumkit Bhayangkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b yaitu pelayanan Kedokteran Kepolisian (Dokpol) yang terdiri dari: a.. poliklinik. forensik klinik. 2. i.. Tempat Perawatan Sementara (TPS).8 10. d. poliklinik induk.

g.. sub spesialistik. c. penunjang non klinik.. BAB . spesialistik penunjang. spesialistik lain. spesialistik dasar. b. poliklinik pembantu. BAB III KLASIFIKASI RUMKIT BHAYANGKARA Bagian Kesatu Rumkit Bhayangkara Tingkat I Pasal 9 (1) Rumkit Bhayangkara Tingkat I berada di Mabes Polri untuk melayani anggota dan keluarganya dan/ atau masyarakat umum dan sebagai tempat rujukan tertinggi di lingkungan Rumkit Bhayangkara. dan Dokpol. k. (2) umum. j.. Pasal 10 f. d. e. Rumkit Bhayangkara Tingkat I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kemampuan pelayanan medik umum dan khusus meliputi: a. Jenis pelayanan Rumkit Bhayangkara Tingkat I terdiri dari pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7. gawat darurat. h. spesialistik gigi dan mulut. penunjang klinik. i. Bagian Kedua Rumkit Bhayangkara Tingkat II Pasal 11 (1) Rumkit Bhayangkara Tingkat II berada di Polda untuk .. administrasi.9 e.

a. administrasi. k. sub spesialistik (terbatas). kedokteran gigi anak (paedodonsi).. b. spesialistik lain. terdiri dari pelayanan: bedah mulut. c. konservasi gigi (endodonsi). dan Dokpol. umum. c. i. b. c. j. d. b. spesialistik gigi dan mulut (terbatas). . f. Pasal 12 d. (1) (2) Jenis pelayanan Rumkit Bhayangkara Tingkat II terdiri dari pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7.10 melayani anggota dan keluarganya dan/atau masyarakat umum. prosthodonsi. dan kulit dan kelamin.. Pada pelayanan sub spesialis pada Rumkit Bhayangkara Tingkat II. h. e. terdiri dari pelayanan: a. g. Rumkit Bhayangkara Tingkat II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kemampuan pelayanan medik umum dan khusus meliputi: a. (2) (2) Rumkit. penunjang non klinik. gawat darurat. Pada pelayanan spesialistik gigi dan mulut pada Rumkit Bhayangkara Tingkat II. orthodonsi. penunjang klinik.. dan periodonsi. penyakit dalam. spesialistik dasar. f.. e. spesialistik penunjang. (3) bedah.

penunjang klinik. spesialistik lain. b. dan Dokpol. satuan kerja Polri atau lembaga pendidikan dan pelatihan (lemdiklat) Polri untuk melayani anggota dan keluarganya dan/atau masyarakat umum. dan patologi klinik. Pada pelayanan spesialistik penunjang pada Rumkit Bhayangkara Tingkat III. Pasal 14 e. spesialistik penunjang (terbatas). g. spesialistik gigi dan mulut (terbatas). radiologi. c. terdiri dari pelayanan: anestesi dan reanimasi. Rumkit Bhayangkara Tingkat III tidak memberikan pelayanan sub spesialis. spesialistik dasar. rehabilitasi medik. c.. f. (2) umum. (1) Jenis pelayanan Rumkit Bhayangkara Tingkat III terdiri dari pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7. penunjang non klinik. j. Bagian Ketiga Rumkit Bhayangkara Tingkat III Pasal 13 (1) Rumkit Bhayangkara Tingkat III berada di satuan kewilayahan. i. h. d. b. (4) Pada pelayanan spesialistik gigi dan mulut pada Rumkit Bhayangkara Tingkat III.. terdiri dari pelayanan: ..11 Bagian.. administrasi. (2) (3) a. Rumkit Bhayangkara Tingkat III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kemampuan pelayanan medik umum dan khusus meliputi: a. d. gawat darurat.

terdiri dari pelayanan: a. Bagian Keempat Rumkit Bhayangkara Tingkat IV Pasal 15 (1) Rumkit Bhayangkara Tingkat IV berada di satuan kewilayahan. e. g. administrasi. c. h. dan patologi klinik.12 a. gawat darurat. satuan kerja Polri atau Lemdiklat Polri untuk melayani anggota dan keluarganya dan/atau masyarakat umum. dan Dokpol. konsevasi.. spesialistik lain. Pasal 16 (1) (2) (2) a. . Jenis pelayanan Rumkit Bhayangkara Tingkat IV terdiri dari pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7. d. bedah mulut. b... dan spesialistik gigi dan mulut.. konservasi gigi (endodonsi). b. spesialistik dasar (terbatas). c. f. Pada pelayanan spesialistik penunjang pada Rumkit Bhayangkara Tingkat IV. spesialistik penunjang (terbatas). b. dan orthodonsi/prosthodonsi. Rumkit Bhayangkara Tingkat IV sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kemampuan pelayanan medik umum dan khusus meliputi: umum. Rumkit Bhayangkara Tingkat IV tidak memberikan pelayanan sub spesialistik. c. b. penunjang klinik (terbatas). radiologi. penunjang non klinik. Rumkit Bhayangkara Tingkat IV memberikan paling sedikit 2 (dua) pelayanan spesialis dasar. (3) (4) anestesi dan reanimasi.

jenis. dan mempromosikan pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Rumkit Bhayangkara Pasal 17 a. menentukan jumlah. . c. mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi. yang mengutamakan b. insentif.. memberi pelayanan gawat darurat keselamatan pasien tanpa uang muka atau jaminan. memberi pelayanan kepada orang tidak mampu atau miskin. c. menggugat mengakibatkan kerugian. d. g. f. gizi. b. c.. secara perdata pihak-pihak yang b. memberi pelayanan kesehatan yang aman. farmasi. Pasal 18 Rumkit Bhayangkara berkewajiban: a. terdiri dari pelayanan: a. gizi. e. melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan pelayanan. menerima bantuan dari pihak lain sesuai ketentuan yang berlaku. h. dengan mengutamakan kepentingan pasien..13 (5) Pada pelayanan spesialis penunjang klinik pada Rumkit Bhayangkara Tingkat IV.. dan kualifikasi sumber daya manusia. dan penghargaan. dan rekam medik. efektif. bermutu. menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan. Rumkit Bhayangkara berhak: a.

k. f.14 d. meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumkit c. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumkit. dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis dan etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar. f. menyediakan informasi tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat polri. menghormati hak-hak pasien dan melaksanakan etika rumah sakit. menerima pelayanan kesehatan yang manusiawi. l. . memperoleh pelayanan medik yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran/ kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi. n. memperoleh asuhan perawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan. dan melaksanakan akreditasi rumkit secara nasional. memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Pasien berhak: a.. mematuhi pola tarif nasional sesuai ketentuan yang berlaku. g. adil. melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya.. Bagian Kedua Pasien Pasal 19 h. ada kepedulian sosial terhadap lingkungan.. i. m. f. melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara nasional maupun regional. e. dan jujur. menghormati. j.. g. b. merujuk pasien yang memerlukan pelayanan di luar kemampuan pelayanan rumah sakit. memilih dokter di kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumkit. d. e. membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktek kedokteran atau kedokteran gigi. menyusun dan melaksanakan peraturan internal rumah sakit (hospital by laws).

dan b.. atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumkit. alternatif terapi lain. menyetujui atau memberikan izin atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang diderita.. menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianut selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. mematuhi segala instruksi dokter dan perawat dalam pengobatannya. 5. mengajukan usul. 6. atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk datadata mediknya. 2. Pasien berkewajiban: a. Pasal 20 l. i. . k. o. tindakan medik apa yang akan dilakukan. melunasi semua imbalan atau jasa pelayanan kesehatan rumkit/dokter. kemungkinan penyulit akibat dari suatu tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya. dan menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.. m. mendapat informasi yang meliputi: 1. 3. d. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. dan perkiraan biaya pengobatan.. penyakit yang diderita. p. h. c. 4. j.15 tersebut (second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya sepengetahuan dokter yang merawat. prognosa. kemungkinan. saran. menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya. menaati segala peraturan dan tata tertib rumah sakit. memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter yang merawat. n. dan perbaikan atas perlakuan rumkit terhadap dirinya. 3.

memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya. dengan standar: a.. serta dikelola dan diintegrasikan dengan instalasi lainnya di rumkit. dibantu oleh tenaga medik. . keperawatan.16 e. Bagian Kedua Pelayanan Gawat Darurat Pasal 23 (1) Semua tingkat Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan pelayanan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b. IGD tidak terpisah secara fungsional. Dokter/dokter gigi. dan tenaga lain yang telah memperoleh sertifikasi pelatihan gawat darurat. SOP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit memuat cara penanganan 10 (sepuluh) jenis penyakit terbanyak. IGD harus dipimpin oleh dokter. Rumkit Bhayangkara menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus selama 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu. c. keperawatan.. Dokter/dokter gigi. dan tenaga kesehatan yang bertugas di pelayanan umum wajib memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya. Pasal 22 (3) (4) Jenis peralatan dan kompetensi tenaga kesehatan yang bertugas pada pelayanan umum tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini. fasilitas yang disediakan di IGD harus menjamin efektivitas dan efesiensi bagi pelayanan gawat darurat dalam waktu 24 (dua puluh empat) jam dan 7 (tujuh) hari dalam seminggu secara terus menerus. keperawatan. dan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam pelaksanaan tugasnya mempedomani Standar Operational Procedure (SOP). d. b. (2) Dokter.. BAB V STANDAR PELAYANAN MEDIK Bagian Kesatu Pelayanan Umum Pasal 21 (1) (2) Semua tingkat Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan pelayanan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a. lokasi IGD harus mudah dicapai dengan diberi rambu petunjuk arah yang jelas dari jalan maupun dari dalam. e..

laboratorium klinik. yaitu ruang tindakan untuk bantuan hidup dasar. laboratorium klinik. harus dapat menampung korban kemampuan klasifikasi rumkit. pintu IGD menghadap ke arah yang dapat di akses langsung oleh ambulans tanpa mundur. dan keadaan ruangan harus menjamin ketenangan. m. dan ruang operasi. i. 3. dan ruang operasi. i. luas IGD disesuaikan dengan klasifikasi Rumkit. dan bencana sesuai dengan kegiatan mudah dikontrol oleh kepala perawat pada saat itu. yaitu ruang untuk seleksi pasien berdasarkan tingkat kegawatan penyakitnya. IGD harus berdekatan dengan ruang radiologi. o. IGD mempunyai akses langsung ke instalasi pemulasaraan jenazah. 2. susunan ruang IGD harus sedemikian rupa sehingga: 1. komunikasi telepon atau radio ke luar rumah sakit dan telepon internal di IGD dan ke rumah sakit disiapkan di luar instalasi. dengan ketentuan: 1. untuk Rumkit Bhayangkara Tingkat III dan Tingkat IV.17 f. ruang tindakan. ruang triage.. n. arus penderita dapat lancar dan tidak ada cross infection. Rumkit Bhayangkara Tingkat I dan Tingkat II dipisahkan antara ruang tindakan bedah dan non bedah. g. dan Rumkit Bhayangkara Tingkat III dan Tingkat IV tidak dipisahkan antara ruang tindakan bedah dan non bedah. 2. IGD harus mampu menampung beberapa ambulans sekaligus sesuai dengan beban kerja/klasifikasi Rumkit. (2) Jenis peralatan dan kompetensi tenaga kesehatan yang bertugas pada pelayanan gawat darurat tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dengan . cukup luas untuk menampung beberapa penderita. h. k. yaitu ruang untuk melaksanakan tindakan medik. dan ruang IGD harus didesain sedemikian rupa sehingga mudah dibuka untuk dijadikan satu ruangan besar dalam rangka antisipasi bencana. dan Rumkit Bhayangkara Tingkat III dan Tingkat IV dapat menampung paling sedikit 2 (dua) ambulans. l. IGD wajib memiliki: 1. ruang IGD Rumkit Bhayangkara Tingkat I dan Tingkat II harus memiliki ruang radiologi. j. letaknya harus berdekatan dengan ruang triage. pelayanan darah. 2. p. dengan rincian: a) b) 3. Rumkit Bhayangkara Tingkat I dan Tingkat II dapat menampung paling sedikit 3 (tiga) ambulans. ruang resusitasi. disediakan ruang tunggu keluarga dekat IGD. IGD….

dan kompetensi pelayanan spesialistik dasar. Untuk pelayanan penunjang klinik pada Rumkit Bhayangkara Tingkat IV bersifat terbatas. dan sub spesialistik sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 16.. dan sub spesialistik tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini. DPJP sebagaimana dimaksud pada ayat (3). spesialistik lain. Spesialistik Gigi dan Mulut. (2) Dokter. perawatan bayi yang baru lahir dengan kondisi sehat wajib dirawat gabung (rooming in) dengan ibunya. Dokter spesialis yang bertugas pada pelayanan penunjang klinik berperan sebagai Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). spesialistik gigi dan mulut. spesialistik penunjang. yang ditetapkan dengan surat tugas dari Karumkit. Spesialistik Lain. informasi tentang hak dan kewajiban pasien dan rencana asuhan pasien.18 peraturan ini. Pasal 25 (3) (4) (5) Pada pelayanan kebidanan dan kandungan (obstetri dan ginekologi) spesialis dasar. spesialistik penunjang. DPJP sebagaimana dimaksud pada ayat (2).. Bagian Ketiga Pelayanan Spesialistik Dasar. alat. Spesialistik Penunjang. sarana. Kegiatan DPJD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didokumentasikan dalam rekam medik pasien. spesialistik gigi dan mulut. juga memberikan pendidikan kesehatan. dan sub spesialistik berperan sebagai Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). selain melaksanakan (2) (3) (4) . spesialistik gigi dan mulut. Bagian Keempat Pelayanan Penunjang Klinik dan Non Klinik Pasal 26 (1) Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan pelayanan penunjang klinik dan non klinik sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 16. Dokter/dokter gigi spesialis yang bertugas pada pelayanan spesialistik dasar. spesialistik penunjang. selain melaksanakan tugas pokok sesuai profesinya. dan Sub Spesialistik Pasal 24 (1) (2) Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan pelayanan spesialistik dasar. yang ditetapkan dengan surat tugas dari Karumkit. spesialistik lain... spesialistik lain. Jenis pelayanan.

7. radiologi. instalasi gawat darurat. kecuali untuk pelayanan sentral sterilisasi dan rekam medik. laboratorium. 2. meliputi: a. alat pelayanan. 3.19 tugas pokok sesuai profesinya. 4. (2) Alat…. khusus. 4. 6. 5. antara lain: 1. (5) Jenis pelayanan. juga memberikan pendidikan kesehatan. 8. sarana. pelayanan darah. dan rehabilitasi medik. 5. informasi tentang hak dan kewajiban pasien. pemadam kebakaran. pendingin ruangan. dan kompetensi penunjang klinik dan non klinik tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini. limbah. 2. bedah sentral. pelayanan administrasi . dan rencana asuhan. Alat medik dan non medik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 27 (1) (2) Pelayanan penunjang non klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) wajib membuat jadwal untuk pemeriksaan berkala terhadap alat medik dan non medik. perawatan intensif. Bagian Kelima Pelayanan Administrasi Pasal 28 (1) Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf j. umum. transportasi. 3. dan instalasi air bersih. b. rencana tindakan. antara lain: 1. yang dilaksanakan oleh Urwatsar. sentral sterilisasi.

dan petunjuk administrasi umum Polri. (2) Kriteria bangunan Rumkit Bhayangkara meliputi: umum. keuangan.. dan khusus. BAB VI PENYELENGGARAAN RUMKIT BHAYANGKARA Bagian Kesatu Tugas dan Fungsi Pasal 31 . Pelayanan khusus sebagamana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang tugasnya. Jenis pelayanan dan alat untuk pelayanan khusus tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.. 3.. personalia. Kriteria bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan ini. (1) Rumkit Bhayangkara wajib menyediakan pelayanan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Bagian. Pelayanan administrasi menggunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan: 1.20 (2) Pelayanan administrasi sebagamana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang tugasnya. dan hubungan masyarakat. Bagian Keenam Pelayanan Khusus Pasal 29 2. Sistem Akuntansi Pemerintah (SAP). b. (3) sistem informasi Rumkit (billing system) dimanfaatkan untuk penerimaan pasien. Bagian Ketujuh Kriteria Bangunan Rumkit Pasal 30 (2) (3) (1) a..

meningkatkan kepercayaan masyarakat. antara lain menyediakan fasilitas untuk merawat penderita yang tidak/kurang mampu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Fungsi Rumkit Bhayangkara meliputi: melaksanakan pelayanan masyarakat umum.21 (1) a. kemampuan pelayanan. kapasitas pelayanan masing-masing Rumkit. pengembangan di bidang kesehatan. dan d. dan mewujudkan masyarakat. e. (2) a. Bagian Kedua Sumber Daya Manusia Pasal 32 d. b. melaksanakan fungsi sosial tanpa mempengaruhi mutu pelayanan yang disediakan. (2) Fungsi . Jumlah dan kualifikasi tenaga medik. Tugas Rumkit Bhayangkara meliputi: memberikan kesehatan paripurna. c. kesehatan kepada anggota dan/atau memberikan dukungan kesehatan pada tugas operasional kepolisian dan pembinaan Polri. b.. keperawatan dan non medik di Rumkit Bhayangkara disesuaikan dengan klasifikasi. pelatihan. memberikan dukungan kesehatan dan tugas operasional kepolisian. berpartisipasi dalam penanganan bencana alam nasional atau lokal dan melakukan misi kemanusiaan. dan memberikan perlindungan kepada pasien. b. . paramedik.. dan eksternal... e. memberikan perlindungan kepada petugas rumkit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung jawab. f. internal. meningkatkan kualitas pelayanan dan perlindungan terhadap masyarakat. c. rasa aman dalam memberikan pelayanan kepada pendidikan. Bagian Ketiga Peningkatan Mutu Pelayanan Pasal 33 Peningkatan mutu pelayanan pada Rumkit Bhayangkara dilakukan secara: a.

Pasal 35 b. Tingkat III. peningkatan. (1) Seluruh Rumkit Bhayangkara wajib melakukan akreditasi untuk 5 (lima) pelayanan dasar. review dokumen rekam medik. paling sedikit melakukan akreditasi lengkap 16 (enam belas) pelayanan. Tingkat IV. d. medik.. dan rekam medik. e.. c. akreditasi rumah sakit yang diselenggarakan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Departemen Kesehatan. keperawatan... survei kepuasan pelanggan. audit klinik. paling sedikit 5 (lima) pelayanan dasar. gawat darurat.22 Pasal 34 (1) Peningkatan mutu pelayanan internal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf a meliputi: a. dan akreditasi internasional. c. b. d. Peningkatan mutu pelayanan eksternal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf b dilakukan melalui: a. dan Tingkat I. observasi kinerja klinik atau wawancara kuesioner dengan staf. paling sedikit melakukan akreditasi lanjutan 12 (dua belas) pelayanan. b. (2) peningkatan kompetensi sumber daya manusia. keselamatan pasien. meliputi pelayanan: a. dan f. d. (2) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai klasifikasi Rumkit Bhayangkara: a. c. b. c. f. International Standarization Organization (ISO). . administrasi dan manajemen. e. dapat melakukan akreditasi lanjutan 12 (dua belas) pelayanan. Tingkat II.

farmasi. Bagian Keempat Penetapan Tarif Pasal 37 (1) Penetapan tarif Rumkit Bhayangkara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengesahan penetapan tarif Rumkit Bhayangkara dilakukan oleh: a. e. g. (2) Karumkit. (2) bedah sentral. dan Kepala Satuan Kerja (Kasatker). g. d. c. pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). untuk Rumkit Bhayangkara Tingkat IV. perinatal resiko tinggi. bedah. b. b. rehabilitasi medik. c.. f. dan gizi. Pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) huruf d. infeksi nosokomial. meliputi: a. intensif. e.. h.. dan kesehatan dan keselamatan kerja rumkit (K3RS).23 Pasal 36 (1) Pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) huruf b dan huruf c. untuk Rumkit Bhayangkara Tingkat I sampai dengan Tingkat III.. darah. pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1). d. (1) Rumkit Bhayangkara dikelola menggunakan sistem akuntabilitas publik. Bagian Kelima Akuntabilitas Pasal 38 b. laboratorium. radiologi. meliputi: a. .

persentase kepuasan pasien. besaran tarif untuk setiap pelayanan. b. hak dan kewajiban pasien.. iuran biaya bagi pasien asuransi kesehatan. angka. kelengkapan pengisian rekam medik. kecepatan penanganan penderita gawat darurat. l. informasi pasien yang dirawat inap. persentase kepuasan karyawan. j. e. rambu dan denah rumkit. g.. h. f. alur pelayanan rawat jalan dan rawat inap. baku mutu limbah cair. persetujuan tindakan medik (informed consent). Pasal 39 j. d. angka infeksi nosokomial. (3) persentase tenaga terlatih di Unit Khusus. angka kematian ibu karena persalinan.24 (2) Sistem akuntabilitas publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimonitor dengan mengacu pada 12 (dua belas) indikator kinerja rumkit yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. g. d. persyaratan administrasi pasien yang ditanggung oleh asuransi. b. kemampuan pelayanan. k. i. waktu tunggu sebelum operasi elektif. f. e. status keuangan rumkit. dan c. i. Rumkit Bhayangkara wajib menyiapkan informasi tertulis kepada masyarakat antara lain mengenai: a. f.. dan persentase penggunaan obat generik di rumkit. c.. Indikator kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. tata tertib rumkit. . tata cara pembayaran. k. h. rerata jam pelatihan per karyawan per tahun 20 (dua puluh) jam.

. (3) Kerja. e. dan lembaga swadaya masyarakat. Pasal 42 c. kemampuan belajar dari insiden. KKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertugas menyusun program keselamatan yang berisi: a. identifikasi dan pengelolaan yang berhubungan dengan risiko pasien.. dokter umum. dan dokter gigi. Rumkit Bhayangkara wajib membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). Kerja sama atau kemitraan dengan pihak ketiga institusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antara lain dengan lembaga pendidikan. rumkit lainnya. (1) Manfaat dari penerapan keselamatan pasien di Rumkit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1) sebagai berikut: ..25 l. dan tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. jalur darurat. pelayanan kesehatan wajib (2) Dalam rangka keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelaporan dan analisis insiden. b. . (3) assesment risiko. perusahaan asuransi kesehatan. d. Kerja sama atau kemitraan dengan pihak ketiga perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan antara lain dengan dokter spesialis. Kerja sama atau kemitraan dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk kesepahaman atau kesepakatan bersama Memorandum of Understanding ( MoU ). dokter gigi spesialis. Bagian Keenam Kemitraan Pasal 40 (1) Rumkit Bhayangkara dapat melakukan kerja sama atau kemitraan dengan pihak ketiga baik perorangan maupun institusi berdasarkan prinsip saling menguntungkan dan tidak mengikat.. Bagian Ketujuh Keselamatan Pasien Rumah Sakit Pasal 41 (2) (3) (4) (1) Rumkit Bhayangkara dalam memberikan menerapkan keselamatan pasien (patient safety).

budaya safety meningkat dan berkembang. c. i. g.. b. dan cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien Bagian Kedelapan Kode Etik Rumah Sakit Pasal 43 (1) Rumkit Bhayangkara dalam melaksanakan pelayanan kesehatan berpedoman pada: a. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (Koderi). dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. f. dilakukan melalui 7 (tujuh) langkah sebagai berikut: bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. e. Kode Etik Profesi Polri. kembangkan sistem pelaporan. citra. diikuti kepercayaan diri yang meningkat. keluhan dan litigasi berkurang.. dan kode etik masing-masing profesi tenaga kesehatan. i. h. b. (2) a. c. pimpin dan dukung staf Rumkit.26 a. d. peta KTD selalu ada dan terkini. dan.. komunikasi dengan pasien berkembang. c. d. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) menurun.. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan kejadian sentinel menurun. g. integrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Bagian Kesembilan Penelitian di Rumah Sakit Pasal 44 . (2) Apabila terjadi pelanggaran kode etik dalam melaksanakan tugas pelayanan kesehatan. Dalam melaksanakan keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1). risiko klinik menurun. f. citra rumah sakit dan kepercayaan masyarakat meningkat. b. libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. mutu pelayanan meningkat. e.

. rencana strategis pembangunan/pengembangan Rumkit Bhayangkara secara nasional.. SPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang Kepala SPI yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Karumkit. dan rencana pengembangan masing-masing Rumkit Bhayangkara. Bagian Kesebelas Pembinaan Pasal 46 (1) a.. Karumkit merupakan pengelola Rumkit Bhayangkara baik di tingkat pusat maupun wilayah. harus mendapatkan informed consent (persetujuan tindakan medik) dari obyek penelitian. Pasal 47 (1) (2) SPI merupakan pembantu pimpinan yang bertugas melakukan pengawasan dan pengendalian internal Rumkit Bhayangkara. . sebagai pembina di tingkat wilayah. sebagai pembina dari tingkat pusat sampai dengan wilayah. Bagian. Kapusdokkes Polri selaku Pembina Rumkit Bhayangkara. b.. Pengumpulan data primer dalam setiap penelitian yang memerlukan tindakan invasif dan/atau intervensi. (2) Pembina fungsi Rumkit Bhayangkara yaitu: Kapusdokkes Polri. dan Kabiddokkes Polda.p. (2) Pengembangan Rumkit Bhayangkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didahului dengan rencana pengembangan yang dilaporkan kepada Kapolri U. informed consent (persetujuan tindakan medik) dapat digantikan dengan persetujuan tertulis sebagai obyek penelitian. Bagian Kesepuluh Pengembangan Rumkit Bhayangkara Pasal 45 (2) (3) (1) Pengembangan Rumkit Bhayangkara disesuaikan dengan: a. . Untuk penelitian non invasif.27 (1) Setiap penelitian yang akan dilaksanakan di Rumkit Bhayangkara harus mempunyai ethical clearance (surat izin) dari Karumkit. b.

antara lain terdiri dari: 1. 3. 6. Sub Komite Pengembangan Profesi. Sub Komite Etika dan Disiplin. dan SOP. Komite Keperawatan. keselamatan pasien. c. mengatur kewenangan anggota Satuan Medik Fungsional (SMF) dan melakukan pembinaan etika profesi. Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Komite Keselamatan Pasien. Sub Komite Keselamatan Pasien. terdiri dari tenaga ahli atau profesi. Sub Komite Akreditasi. Sub Komite Etika dan Profesi.. Sub Komite Kredensial.. Komite medik. memantau. b. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan SOP pelayanan. d. (2) menyusun standar pelayanan medik dan keperawatan. dalam rangka peningkatan pelayanan rumkit. Sub Komite K3RS. 5. b. antara lain terdiri dari: 1. Tugas komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut: a. 2. (3) (4) Komite dipimpin oleh Ketua Komite yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Karumkit. 2.. 2. antara lain terdiri dari: 1. . meningkatkan mutu pelayanan medik dan keperawatan. 3. Sub Komite Mutu Asuhan Keperawatan. Sub Komite Formularium dan Terapi. dan Sub Komite Infeksi Nosokomial. c.28 Pasal 48 (1) Karumkit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (2) membentuk komite sesuai kebutuhan Rumkit yang merupakan wadah non struktural. e. 3. dan memberikan pertimbangan kepada Karumkit terkait dengan pelayanan medik dan keperawatan. dan Sub Komite Rekam Medik. 4.. dan Sub Komite Kredensial Keperawatan. Sub Komite Mutu. 4. c..

Pelayanan Masyarakat Umum (Yanmasum). Dana Pemeliharaan Kesehatan (DPK). Agar setiap orang mengetahuinya. e. Drs. b. b. Pasal 51 Peraturan Kapolri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. d.. berasal dari potongan gaji anggota.29 BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 49 Biaya yang timbul berkenaan dengan penyelenggaraan Rumkit Bhayangkara bersumber dari: a.. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya peraturan ini. Peraturan Kapolri ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.M. H. Dana. JENDERAL POLISI . Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). BAMBANG HENDARSO DANURI. ketentuan mengenai Administrasi Standardisasi Rumah Sakit Bhayangkara tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan ini.. APBN/DIPA Polri. dan sumbangan lain yang tidak mengikat. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Januari 2010 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA.. c. M.

Kasetum Polri : ………. : ………. 4. PATRIALIS AKBAR BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR . Kadivbinkum Polri 2.30 Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAM REPUBLIK INDONESIA 2010 Paraf: 1. 3. Kapusdokkes Polri Wakapolri : ………. : ……….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful