Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

Mantram. Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. pikiran yang suci. Durghastawa. sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. Ang Ung Mang. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. Mantra adalah Weda.menumbuhkan persanaan. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. c. Barunastawa. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya. bagian kedua sukta 5. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. Sarana Upakara. Wisnustawa. disebut ”Wijaksara”. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Ia yang maha kuasa. dan sebagainya. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. Dalam sekian banyak mantra. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. Macam . mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra.Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr . Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .

Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika . Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. Janggama punika sarwa buronné sami. Punia. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. Asih. Banten punika waluya basa mona. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. pinaka Bhuwana Agung. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek. Yan ring basa Indonésia mendekat. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi.Suksmaning Banten on Mon Apr 06.pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Yan ring basa Bali mateges ngayah. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Stawira punika sarwa tumuwuh. Banten punika taler kawastanin upakara. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih.07. Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita.papaya para pidana. Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. pinaka Anda Bhuwana.08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali.

Wacika. Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika. M Si. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. punia. . Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. Nukning Sri Rahayu. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané.kaandapang. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron. muang Kayikané jaga setata madasar asih. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. muang bakti. Yan sampun asapunika dasar makarya banten. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten. Manut Manawa Dharmasastra V. Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih.com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. Manacika. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala.

peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan. tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. 4.Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. 2. 1. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. Pendahuluan Pengertian. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. Pengertian 1. ACARA AGAMA HINDU 1. penyumpahan dan cuntaka. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. purwa. 2. baik yang terkait dengan masalah yajna. Selanjutnya arti upacara adalah : . Acara • • • • • • Perilaku yang baik. sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. 5. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara. loka. 3. Upa artinya berhubungan dengan. pandita-pinandita. dasar. sudi wadani. cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari.

antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. dokter dll. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). 1. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara.pemikiran (pendeta. 1. pengusaha. pendidik. juga etika umum 2. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. hakim. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. kondisi social ekonomi. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. Ruang lingkup Acara 1. Sumber Acara Sumber Acara . Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh. pembantu rumah tangga) 1. kara artinya perbuatan atau pekerjaan. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. Upa artinya berhubungan dengan. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi.Agama . pekerja. 1. d.- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna. 3. nelayan.Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam . Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. petani. 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. pekerjaan. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. guru. Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. keahlian > kebijakan. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. polisi. hansip.) > ketangkasan fisik ( tentara.

Artasastra. Silpasastra = asta bumi. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. 2. Purana. Reshi. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. kepuasan diri sendiri. 1. Wedantasutra. Gopatha Araniyaka. Purwamimamsa. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg. Tandya. peraturan tentang baik buruk. tingkah laku . 1. Satapatha A. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. 1. Satapatha. irama. Sila : . Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Brahmasutra. cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Upanisad Sama Veda 10 bh. Tandya Araniyaka. tembang tentang isi veda. Saktisme - 1. Upanisad Rg Veda 10 bh. Sama Veda. Waisnawa. 2. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri . Gopatha > Aitareya Araniyaka. Ayurveda. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Acara (Sadacara) : Kebiasaan.Sumber Acara > sebagai dharma 1. Wahya. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. Tidak bertentangan dengan harga diri. 3. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Sulwa Sutra = membuat bangunan.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Grhya Sutra = berumah tangga.) Upaveda : Itihasa. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. 1. kosala kosali. Pengertian dharma : Satya = kebenaran. Nibanda : ditulis Mahareshi. Veda. Agama : Agama Saiwa.

4. Y A J N A A. Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja. Kama = keinginan. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. jer basuki mawa bea. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : .- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. 2. materi. 3. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. = hormat taat tekun. Dharma = kebajikan. Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1. tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin.

1. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . pemujaan.pengorbanan suci lahir batin. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . kebaktian > upacara.pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) .10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. berkorban demi kebenaran (dharma) .Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) .system persembahyangan. 1. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . persembahan atau korban suci . Satyam brhadrtamugram diksa. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. upakara. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.

dari makanan lahir mahkluk hidup. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. 1. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Mengendalikan hawa nafsu . Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. diksa. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1. tapa.24-27. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa.Artinya : Sesungguhnya satya.14).rta. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). dari hujan timbul makanan.

bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri.3. prthiwim dharayanti. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. Bhagawadgita III. tapa brata. yang kokoh dan suci (rta). menghibur orang susah dll. B. Bhagawadgita III. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Menolong orang sakit.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. diksa tapa brahma yadnyah. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. mengentaskan kemiskinan. .12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Atharwa Weda XII. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Bhagawadgita III.12 : Ia yang hanya suka dipel. Bhagawadgita III. Dengan kemantapan srada. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. semoga bumi ini.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. Rg Weda X. Maka sebelum menikmati makanan.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna.

11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. Bhagawadgita VII.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. kepada leluhur. mengajarkan isi Weda. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . TUJUAN YAJNA 1. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya .71. VI.Manawa Dharmasatra. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka). yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan.

1. 3. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. Kitab Bhagawadgita XIV. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. terkadang penuh keragu-raguan. caru. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. tawur. mereka yang sengsara. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . yang mengejar ilmu. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri .Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. prayascita. demikianlah kenyataanya. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. kemampuan berpikir. wahai Bharatasabha.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. Pedudusan. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian.

Kitab Manawa Dharmasastra V . Yajna. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Sattwika. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . pikiran disucikan dengan kebenaran . upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya.5 menyebutkan : . Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. jasmani suci. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Rajasa dan Tamasa. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.54.

Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya.“Ko addha Veda ka iha pravocad. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. nimittaning mangkana. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. di bulan di matahari. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Beliau diair. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Pranavah sarvavedeshu. 1. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. dapat berterima kasih pada Tuhan. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. wenang ya . Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. pada seluruh ciptaannya. Tuhan berada dimana-mana. cahaya bulan dan matahari. 4. Kunti putra. prabha ‘smi sasisuryayoh. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. huruf-huruf kitab suci.8 memberi petunjuk sbb.

dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya.: “ye yatha mam prapadyante. Mam vartma . Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. 5. 3. 4.nuvartante. 2. Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. karena itu. seni tari dll ikut mendukungnya. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. wirama. Seni tabuh. palawakya. sloka. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. D. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. 2. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. 3. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. semuanya Kuterima. tams tathai ‘va bhayamy aham. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik.Tinulung awaknyasangkeng sangsara. . pupuh.

Buda. Tolu. Menail. sebelum kita makan masakan itu. Sudi wadani dll. Laba. Pon. Gumbreg. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Julungwangi. Wayang. Tilem. Kliwon. Medangkungan. Kuningan. Pahang. Watugunung. Senin. Ugu. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Merakih. Beteng. 3. Perhitungan sasih : Purnama.: 1. . Jumat. Legi. Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Sungsang. 2. 1. landep. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Ukir. Tambir. Wage. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Wraspati. Nyepi. Kulantir. Saniscara. Pepet = Pasah. Warigadian. Selasa. Anggara. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Bala. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Soma. Medangsia. Galungan. Rabu. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Kajeng = Sri. Pujut. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Sebagai contoh upacara melaspas. Siwaratri. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Matal. Dukut. Kamis. Dasar perhitungan wara seperti . setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. ngulapin orang jatuh. Jaya. Sabtu. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. 1. pagi sing dan sore 2. Uye. eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Krulut. 1. = Minggu. Menala = Pahing. Wariga. Redite. Perangbakat. Sukra. Langkir. Kulawu.

mantra. Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. 1. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. dan patra (keadaan). 5. 4. ketulusan. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna).12. dalam hidup ini. Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. . Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. mantra. kala ( waktu). keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. sastra agama. hendaknya untuk menjamin kelancaran. 3. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. lascarya. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat).ii. Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Kitab Satapatha Brahmana 1. Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. daksina. kesucian hati. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha.Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. 2. gita annasewa dan nasmita.

Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. 2.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana.: 1. Kitab Bhagawadgita IV. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Svadhyaya.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. 2. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.: 1. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. ada tapa.2. ada yoga. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur . Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. yoga-yajnas tathapare.

Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. 4. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : .3. • Manawa Dharmasastra I. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. kepada leluhur dengan sradha. Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.: 1. 2. 4. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. 5.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. 3. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb. Manawa Dharmasastra III. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. Brahmahuta. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. huta persembahyangan homa.

3. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. 4.: 1. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.: 1. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2. 4.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2. 2. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. 7. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. 5. Rsi Yajna adalah persembahan punia. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4. pintu rumah serta pintu tengah rumah. 3. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. 3. 4. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. 6. 3. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb. . Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6.1. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. 5. 1. 2.: 1. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. tapa dan Samadhi. 6. buah-buahan. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4.: 1.

yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. 1.5. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. kemenyan. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. 7. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. ratus. 1. 3. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. 2. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. A. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 6. 2. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Dewa yajna 1. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. 4. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran. 5. 8. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa).

Membuat banten sesuai dengan kemampuan. yo me bhaktya praya chchati. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya.26 menyebutkan : “Patram. tidak usah bermewah-mewah. 1. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. iri dengki dll. Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Bhagawadgita IX. c. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). Sarana : . serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Tad aham bhaktyu pahritam. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. marah. Disamping itu perlu penanaman bunga. mekidung (nyekar dalam bhs.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. sekuntum bunga. aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. b. Yang utama adalah hati suci. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. latihan tari. Jawa). sebiji buah-buahan atau seteguk air. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. Setangkai daun. phalam toyam. 1. atau dirumah (kamar suci/ altar. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. puspham.

Pelaksanaan : 1. bunga bila ada buahbuahan. puja “Sthiti”/Apadeku. Ngantukan Betara. mohon pengaksama.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Menghaturkan banten. 1. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk.1. ngastawa genta. 3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. 3. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Hari Purnama dan Tilem 2. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. Selama pemuput upacara memuja bhakti. asuci laksana. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Sulinggih/pendeta. c. 2. air. Prelina Genta kemudian penutup. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. 2.

Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). 3. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). Gerhana Bulan Hyang Candra). 4. mendirikan bangunan suci. Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. kahyangan dll. panen (Dewi Sri). .- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage . piodalan pura/merajan.

Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. upakara untuk para pitara. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. kesehatan. Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). B. 4. Wujud Niskala : Upacara. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. 3. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Tingkatan Pitra Yajna sbb. 1. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. mulaimemberi makan. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). 2. ibu) serta memperlakukan dengan baik.: .1. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. PITRA YAJNA 1. titik beratnya pada susila. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. 1. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa.

Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. moksantu. Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi.Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). swargantu. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . 1. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). bunga tirtha. Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut. . Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Atma Wedana : Tempatnya dirumah. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

Sulinggih. 2. 1. 2. Syarat-Syarat Nabe 1. Orang suci. 3. 4. atau pemangku). Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Sri Empu. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. 6. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. dan bahasa Indonesia. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. jasa dan kebajikan). Pinandita. Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Upacara awal . mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. Pemangku dll. Wasi. 3. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. wasi. Syarat Calon Sulinggih 1. 4. 5. Sanskerta. 2. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. belajar agama dll. a. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. Pedanda. 3. 1. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8. Seorang yang selalu dalam bersih. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). 5. memiliki pengetahuan umum.Wujud Niskala : Upacara. Pendeta.

Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. gunung dan merajan nabe 1. . sejahtera. b. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Upacara Puncak. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. rukun. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. diasapi 3 kali.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. 1. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. aman. 1. digosok minyak kayu putih. 2. • • Amati raga = penyekepan. manusia dapat hidup selamat. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. c. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.

3. dan malah merestui. Pada umumnya orang yang jujur. a. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. 1. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. 1. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. manah satyena sudhayanti. b. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. 1. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. Upacara ini berupa pemberian korban.Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. c. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa.

kemudian meketus. seni budaya. moral/ budi pekerti dll. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1.Tumbuh gigi. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan .2. b. 4 bulan. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. Jenis-jenis manusa Yajna a. 5. seperti ramah tamah pada orang lain. Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. 4. mepangur) Mewinten . 5 bulan. 4. setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. menjamu tamu .Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . 1. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan. kesehatan.Upacara perkawinan (pawiwahan). 7bulan. c. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. 3. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3.

Eka Dasa Rudra ( 100 Th. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. keselarasan. BHUTA YAJNA 1. Panca Wali Krama (10 Th. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. Balik Sumpah. Tabuh Getuh. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. melestarikan. Dengan mengadakan korban (mecaru. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. Panca Kelut. b. mesegeh. Rsi Gana. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. di sumber air dll (Yajna sesa. Tawur Agung. bantennya banten caru. 1. Sekali). memberi sedekah dengan tulus ihklas.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). Cara pelaksanaan 1. menjamu tamu. mencintai alam. Caru artinya mengharmoniskan. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . Sekali) 1. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. memelihara.

meneguhkan iman. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir.1. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. mucyante sarva kilbisaih.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. 5. bhunyate te tv agham papa. 3. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. Bhagawad Gita VI. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III. YAJNA SESA 1. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). ini menjadi Panca Yajna. 2. . Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. akan terlepas dari segala dosa. sajen. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. Contoh mengendalikan indria. harta benda.

Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. dipintu pekarangan. ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. baru kemudian menikmati hidangan. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan . 1. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya .mereka ini sesungguhnya makan dosa. 1. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana.

from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post. Blog pada WordPress. . Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti). Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu. Theme: Vigilance by The Theme Foundry.com. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha.Rabu Pon. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi. Dalam Lontar Sundarigama. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. semua upakara banten sebagai lambang diri manusia. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan .. bodoh. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan. yoga. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Artinya. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. pinaka anda bhuwana. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : . Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. yoga dan semadi. mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. sakit. sedih dan dalam keadaan menderita lainnya.. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Artinya. pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. brata. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. brata. semadi. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. Letaknya amat sepi tetapi indah. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. brata. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa.

Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. hukum semakin tidak tegak. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. yoga. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. Seperti menjadi daya tarik wisata. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. Apa itu kesenjangan ekonomi. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. birokrasi semakin tidak melayani. Meskipun. * wiana . Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja.

Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). pinaka andha buwana. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya. pinaka warna rupaning Ida Bhatara.CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. .15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi.

terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). . baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. Di samping itu. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai.i. Upacara perkawinan. pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian. di tinju dari segi rohaniah. karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. Upacara Perkawinan. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan. upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

Satapatha. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. 3. pekerja) 5. 4. Gopatha > Aitareya Araniyaka. kondisi social ekonomi. Tandya.Mantra : catur Veda (Rg.petani) > mengandalkan fisik (buruh. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. pendidik. Satapatha A. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. Tandya Araniyaka. Sama Veda. Ruang Lingkup Acara 1. . Yajur Veda dan Athrwa Veda) .Agama .Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. hansip. nelayan. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara.B. keahlian Brahmana > kebijakan. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. C. pemikiran (pendeta. guru. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi .Brahmana : Aitareya. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. polisi. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. 1. pekerjaan. Sumber Acara Sumber Acara . Gopatha Araniyaka. Veda.

peraturan tentang baik buruk. 6. Ayurveda. 2.Upanisad Sama Veda 10 bh. perbuatan yang menyenangkan orang lain. 5. Upanisad Rg Veda 10 bh.Tapa = pengendalian diri . kosala kosali. Upanisad Atharwa Veda 31 bh.Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Sila : . Wahya Pengertian dharma : . Purwamimamsa. 3.Rta = mengakui hokum alam .Satya = kebenaran.Brahman = Hyang Widhi . kepuasan diri sendiri. tingkah laku .Tingkah laku yang baik dari orang suci. irama. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . kejujuran . Brahmasutra. Sulwa Sutra = membuat bangunan. Wedantasutra. Silpasastra = asta bumi. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Resi seperti Sarasamuscaya. Nibanda : ditulis Mahareshi. Purana.Diksa = penyucian .Upaveda : Itihasa. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Artasastra.. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. * Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. 4. . Tidak bertentangan dengan harga diri. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu.) . Grhya Sutra = berumah tangga. tembang tentang isi veda.

Saktisme. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. upakara.Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A. persembahan atau korban suci . Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . manifestasinya.sistem persembahyangan.menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. pemujaan. Waisnawa.system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk .pengorbanan suci lahir batin. kebaktian > upacara. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: .pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. demi kebenaran (dharma) . jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . Yajus artinya aturan tentang yajna 3..

14). Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Satyam brhadrtamugram diksa. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain.(Bhagawadgita III. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. dari makanan lahir mahkluk hidup. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. brahma dan yadnya yang menyangga dunia.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. tapa. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. diksa. tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata.24-27. dari hujan timbul makanan. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.rta. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. . madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.

Bhagawadgita III. 4. tapa brata. Tujuan Yajna .I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. Atharwa Weda XII. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. 3.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan.Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. Dengan kemantapan srada. Maka sebelum menikmati makanan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. semoga bumi ini. mengentaskan kemiskinan. 2. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. yang kokoh dan suci (rta). kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Bhagawadgita III. menghibur orang susah dll. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. diksa tapa brahma yadnyah. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. prthiwim dharayanti. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. B.

1. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. yang mengejar ilmu. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. 1.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . mereka yang sengsara. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. wahai Bharatasabha. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. kemampuan berpikir.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. mengajarkan isi Weda. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) .11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.: . seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. Bhagawadgita VII.Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) . untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara.Manusia memiliki bayu. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. 2. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.71. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu . dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.

Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. demikianlah kenyataanya. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. prayascita. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . pikiran disucikan dengan kebenaran . banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. Kitab Bhagawadgita XIV. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. 3.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. tawur. Kitab Manawa Dharmasastra V . hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . caru. Rajasa dan Tamasa. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Pedudusan.Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. jasmani suci.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Sattwika. terkadang penuh keragu-raguan. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama.

Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Kunti putra.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga.8 memberi petunjuk sbb. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Yajna. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III .4. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Pranavah sarvavedeshu. Tuhan berada dimana-mana.54. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. cahaya . Beliau diair. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a. di bulan di matahari. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. pada seluruh ciptaannya. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b. prabha ‘smi sasisuryayoh. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa.

dapat berterima kasih pada Tuhan. Seni tabuh. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. 4. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. palawakya. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara. . huruf-huruf kitab suci. wirama. sloka. 5. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. nimittaning mangkana. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. karena itu.bulan dan matahari. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. pupuh. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. seni tari dll ikut mendukungnya.

D. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3. kepada leluhur. 1. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.: “ye yatha mam prapadyante.12 : Ia yang hanya suka dipel. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. 2. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. tams tathai ‘va bhayamy aham .11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. 3. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. Bhagawadgita III.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. 5. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Rg Weda X. Manawa Dharmasatra. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4. Bhagawadgita III. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. VI. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).

Wraspati. Sukra. Wariga. Merakih. Buda. pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Rabu. Dasar perhitungan wara seperti . Legi. Ukir. Beteng. Kajeng catur wara = Sri. 1. Redite. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. sebelum kita makan masakan itu. Anggara. Senin. Julungwangi. Warigadian. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Jumat. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Jaya. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha.: a. Kuningan. . Pujut. Laba.nuvartante. Pon. Gumbreg. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Krulut. Menala panca wara = Pahing. Galungan. Wage. Pahang. Selasa. Medangsia. landep. Medangkungan. Saniscara. Kulantir. Langkir. Tolu. Sungsang. Soma. Pepet tri wara = Pasah. Kliwon. Sabtu. Kamis.Mam vartma . setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Tambir. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2.eka wara = Luang dwi wara = Menga. . sapta wara = Minggu.

3. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. mantra. ngulapin orang jatuh. dalam hidup ini. kidung suci daksina dan srada . Dukut. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). dan patra (keadaan). . 5.Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. sastra agama.Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha.Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. daksina. Tilem. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Equinok(matahari diatas katulistiwa). lascarya. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Kulawu. Nyepi. B. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. . keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Menail. Uye. Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). ketulusan. 4. Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . Sebagai contoh upacara melaspas.Matal. Wayang. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Siwaratri. Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). hendaknya untuk menjamin kelancaran. mantra. Bala. Sudi wadani dll. Perangbakat. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. kala ( waktu). 3. Perhitungan sasih : Purnama. Watugunung. Ugu. kesucian hati. 2. 1.

Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Svadhyaya. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4.28 sbb. yoga-yajnas tathapare. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III. Kitab Bhagawadgita IV. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.: 1.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. ada yoga. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. ada tapa. 2. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3.: . Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Kitab Satapatha Brahmana 1. 2. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.

huta persembahyangan homa. * Manawa Dharmasastra III. 4. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb.: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta.1. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. kepada leluhur dengan sradha. Brahmahuta. 3. 2.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: .74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. 2. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. 4.

: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. 6. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. 4. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia. pintu rumah serta pintu tengah rumah. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7. tapa dan Samadhi.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. buah-buahan. . Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. 5. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat.

Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi. ringgit ngara. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut.BAB V UPAKARA 1. patemon. upakara ngaran bhakti ring Widhi. kara ngaran sembah. ngaran pesaksi. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . Semua bentuk lealaban seperti caru. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. A. Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan. Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. segehan adalah simbol pantat.

Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa.Apan Widhi widana juga ngaran banten. ling ngaran tunggal. luiripun. Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. Makna simbol dalam Upakara 1. motama. artinya Pisang yang cantih. Banten Canang a. sirih yang cantih dan bunga harum). terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. yadnya adruwe prabu (hulu). ngaran eling. ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. . B. kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). anten ngaran inget. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi. Daksina pinaka huluia. yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang. Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2. daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian. Iki paribasa Aidhining yadnya. madya. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. tangan dafda muah suku manut manista. apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. sahananing palelabanan pinaka suku.

VII. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. * Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. Dengan aku sebagai pelindungmu. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. dan kapur sebagai lambang Siwa. melaksanakan yoga.b. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. sirih sebagai lambang Wisnu. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih. * Tetuesaan. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses . asamsayam samagram mam. yogam yunjan madarasyah. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya.

-.Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis. Kewangen a. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1. . Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan.. a.24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja. kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan. kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2. b. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kitab Bhagawadgita III.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana .

bunga. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) .Yang merupakan muka adalah uang kepeng. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. Isi kewangen. kuning. kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih. c.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. karena itik siwatnya baik. dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. tidak mau bertengkar. bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam. uang kepeng dan porosan silih asih. Daksina a. gambir dan buah pinang. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. Segehan a. diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya. tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . daun-daunan (plawa). merah. Mengenai telor kenapa harus telor itik. 3. b. 4. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. Bahan Kewangen dibuat. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. Bahan-bahan. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. merah.

benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah). dihalaman pemerajan. Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga. sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan. putih timur. c. Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari. merajan terakir diluar. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada. pemujaan atau mantra. Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. batil sebelah kiri.Pengertian : . 5 kali untuk dimerajan. Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. letak segehan sesuai dengan warnanya. 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali.- . api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. kidung tarian atau wayang 5. Prayascita a. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah. api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas. didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. uang kepeng (2bh) base (sirih). merah selatan.untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras.

Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. Yajna Sesa a. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti. akan terlepas dari segala dosa. bayu (pengresikan). bhunyate te tv agham papa. mucyante sarva kilbisaih. 6. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri .Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru. Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus. dan idep (pengelelenga). (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata. 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru. b. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. pengelelenga terbuat dari minyak wangi.

Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. akan memperoleh kebahagiaan. ditempat menumbuk padi dll 3. 1. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. dipintu pekarangan. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. baru kemudian menikmati hidangan. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras.mereka ini sesungguhnya makan dosa. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. 2.

Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Tujuan Dewa Yajna a. Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Mengamalkan ajaran. sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. B. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari.ajaran Weda .Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan.

26 menyebutkan : “Patram. c. phalam toyam. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. . marah. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. ratus. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : . Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. Disamping itu perlu penanaman bunga. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3.Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa.Simbol Brahma : Agni (dupa. yo me bhaktya praya chchati. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Meningkatkan kualitas diri c. iri dengki dll. Bhagawadgita IX. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. Untuk mensucikan diri d. puspham. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. b. Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. kemenyan. Yang utama adalah hati suci.b. sebiji buah-buahan atau seteguk air.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . sekuntum bunga. tidak usah bermewah-mewah. Setangkai daun.

mohon pengaksama. asuci laksana. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. 3. ngastawa genta. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. bunga bila ada buahbuahan. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. c. . Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. atau dirumah (kamar suci/ altar. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. latihan tari. Jawa). 4. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. air. Menghaturkan banten. 2. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. Sarana : 1.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Pelaksanaan : 1. Sulinggih/pendeta. 3. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. puja “Sthiti”/Apadeku. mekidung (nyekar dalam bhs. Selama pemuput upacara memuja bhakti.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi.

ibu) serta memperlakukan dengan baik. Tujuan . Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. PITRA YAJNA 1. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. 5. Wujud Niskala : Upacara. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. d. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. piodalan pura/merajan. Hari Purnama dan Tilem 2. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). kahyangan dll. upakara untuk para pitara. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). mendirikan bangunan suci. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. c. b. mulaimemberi makan. Prelina Genta kemudian penutup. panen (Dewi Sri). a. kesehatan. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. Gerhana Bulan Hyang Candra).- Ngantukan Betara. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal.

orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. bunga tirtha. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. .: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. titik beratnya pada susila. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. 4.Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

moksantu. Pedanda. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Sulinggih. Syarat Calon Sulinggih . 3. Wasi. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Pemangku dll. Pinandita. Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Pendeta. belajar agama 2. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. Orang suci. angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. Wujud Niskala : Upacara.Atma Wedana : Tempatnya dirumah. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. wasi. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. atau pemangku). sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. swargantu. Sri Empu. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa.

Mampu melepaskan diri dari keduniawian c. Sanskerta. • • Amati raga = penyekepan. Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. a. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. b. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. Syarat-Syarat Nabe 1. dan bahasa Indonesia. 6. sehat lahir batin b. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar.- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. . 1. gunung dan merajan nabe 1. Tenang dan bijaksana d. mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. 3. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. 4. memiliki pengetahuan umum. Upacara Puncak. Paham dan mengerti Catur Weda. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. 5. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. jasa dan kebajikan). 2. Seorang yang selalu dalam bersih. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. c. a.

suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. aman. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. 3. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. digosok minyak kayu putih. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. manah satyena sudhayanti. rukun. manusia dapat hidup selamat. sejahtera. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. Pada umumnya orang yang jujur. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. diasapi 3 kali. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa.

Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. d. 5 . Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. procotan) .Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : . 4. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). b. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. Jenis-jenis manusa Yajna a. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : . Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.meninggalkan tempat tersebut. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru .Bayi dalam kandungan (3 . c. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. dan malah merestui. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. 7bulan. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. 4 .

a. bantennya banten caru. seni budaya. .Bayi baru lahir (nyambutin) .Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) . dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. . Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . kesehatan. BHUTA YAJNA 1. kemudian meketus.Upacara perkawinan (pawiwahan). mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1.Upacara ngelepas aon (12 hari) . Caru artinya mengharmoniskan.Anak meningkat dewasa (raja Sewala) . kesejahteraan semua makhluk. b. 1. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. di sumber air dll (Yajna sesa. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. seperti ramah tamah pada orang.Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) . c. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia.Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) .Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . moral/ budi pekerti dll. keselarasan.Tumbuh gigi. 2. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan.. keharmanonisan alam semesta seisinya.Bayi puput puser (kepus pungset) .

PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. Sekali) 1. 2. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. . menjamu tamu. Rsi Gana. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Tawur Agung. kehidupan yang serba damai. Sekali). dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana.) 3.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. mencintai alam. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan). menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran). memantra termasuk Bhakti Marga.lain. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak.( mengendalikan indria. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).meneguhkan iman. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. Panca Kelut. Bhagawad Gita VI. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. sajen. PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A. 5. C. 2. Tabuh Getuh. Upacara persembahyangan. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Panca Wali Krama (10 Th. harta benda. ini menjadi Panca Yajna. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. berdoa. Bhakti Marga (jalan kebaktian). Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). Balik Sumpah.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. 1. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang.

tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain. Dewa Yajna 1.dan Nyewu (100 hari).Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. Manusa Yajna. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan. Baik sajen.75. sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. upacara Mahisa Lawung dll. Upacara Malem Rabu Pon. Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. 7 hari. 100 hari. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. 2. Piodalan pura lain di Jawa. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). 40 hari. pendak pisan. Pendak pindo. perkawinan. karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. peringatan kematian 3 hari. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia. Malem Jum’at Legi. seperti Gayatri dalam semua mantra. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. Upacara di Candi Menggung. wetonan naik dewasa. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . (dilaksanakan dirumah duka umat) 4. 3. Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna. bayi lahir.76) yang diterjemahkan oleh G. Upacara Tawur Kesanga. B.

Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2.112. sidhi. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. sambil menaburkan bunga kedalam api. .00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja.00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah. Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu. budhi “ sebanyak 108 kali. peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya. 2003 : 9). badan melambangkan mikro kosmos. Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah.23. karena lambang pengetahuan duniawi. karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya. ridhi. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297). maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. biji-bijan.1 dan 10. dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya. Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu. Kepala beliau lambang Makro kosmos. Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). dari matahari turunlah hujan. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan. Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana).tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya.Veghneswara. Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah).matahari.9).

Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan.Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. kenanga. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara. Bunga 2. baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. gambir. berbagai macam warna (tengah).Sanaka. Sesudah upacara dimakan. Biru (timur laut). mawar. kuning (barat). Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. merah (Selatan). (luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). kantil. Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. cempaka. mlati. lancur) . Dihaturkan : semua dewa 3. hijau (timur laut). Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih. Sanaatana = Sang Hyang Langgeng). Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. 5. selesai upacara ayam dapat dimakan. jingga (barat daya). bulu dan cakar ditanam ditanah. menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. 1. . hitam (utara). Sanadana. Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). dadu Tenggara). Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur).

Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. Pisang Ayu Suruh Ayu. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ). dengan diringi kidung . Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita. Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Jajan Pasar. : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9. Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. Nasi liwet beserta lauknya. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan. Sesaji : Campur. : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati. sesudah upacara nasi dimakan.Bunga 6. Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam. dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina.

SHRII RADHA . Buddha Pengayoman Olah Negara .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .KUWERA – NILA .INDRA . Duh Gusti kawula puja Paduka.BRAHMA . sajian disurut untuk makan bersama. * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.IISMAYAWATI . anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula.MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA .SANANDHANA SANAKA . seestunipin sadaya punika. Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.KALKI AVATAR SANATKUMARA .YAMA .KWAN IM .SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA . ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten). .RUDRA .WISNU urukramah. Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos.AGNI .SURYA .BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .SABDHAPALON .sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA .ISWARAH .KALI . Sesudah Parama Santi.CANDRA .WARUNA shanno PERTIWI . ingkang sampun wonten.turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan. Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji.TAARAA .SANAATANA SHRII ERLANGGA .

Brahma lan Wisnu saha Rudra. ingapuntena dosa memanahan kawula. kabegjakna sirna sadaya dosanipun. Iswarah Parameswarah. ingkang saking tindak tanduk.Duh Pangeran Tunggal. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa. sinembah umat sedarum. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. ngaturake sembah bekti. Hyang Widhi paring nugraha. hamemuji. bibitipun sadaya dumados. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. mugi-mugi. mboten kalahiraken. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya. merwawangi. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . jiwatman kawula nestapa. mboten kasad mripat. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. Ganda arum. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. kukusing dupa keluhur. Tuking sadaya gesang. dahat sru nalangsa. Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. inggih Mahadewa. ingapuntena wicara kawula. Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah.

Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun. tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X . ingkang wingking Tanpa purwa.

Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3. 2X . Pisang Raja.00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina. Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21.

bunga. . yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan.00 malam sampai satu setengah jam.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. Tirtha suci. gandarwa dll. Ingkung. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta. kemudian membuat Titha Suci. Sesaji yang diatas meja : * Daksina. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam. 15 Pebruari 2006). Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. Pisang Ayu Setangkep.) yang menimbulkan malapetaka. suruh ayu dan bunga. 4. Tumpeng Pengyoman. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura. Pelaksanaan Upacara. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah . * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala. * Pada jam 15. Jajan Pasar. dedemit. diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. wawancara tgl. (Cleo. Nasi Liwet beserta lauknya.Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. * Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. ditaruh di lima tempat. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah.

* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. dengan fokus Sang hyang Semar. Nasi kuning beserta lauknya. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon. tidak bicara. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci. C. Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. Manusa yajna . besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja). Setelah upacara. Jam 16. tidak bekerja. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ). Jajan Pasar . * Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. * Pisang Ayu. 5. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban. diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru). Suruh Ayu dan bunga. Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya.00. boleh beraktivitas lagi. makan surudan bersama. * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . * Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi. 6.

srundeng. Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). daun jerut purut. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. kenanga kantil putih kantil kuning. cabe. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. irisan telur dadar.dll. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe.bawang putih. salam laos. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu. Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. . bubuk dele. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. kencur. terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. ketumbar. garam. sambel goreng basah. gula Jawa. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. Semuanya diaduk. laos. bregedel. biasanya kangkung. salak. ketumbar. bawangputih bawang merah. tempe bosok/yang sudah 3 hari.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. tempe bosok. kenikir. mangga. sere. dapat ditambah dawet. kacang rebus. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut. kenanga dan melati. salam laos. irisan timun. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. terasi. bayam. 2. lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus. jadah. isinya buah-buahan sad rasa. jeruk. bawang merah. kencur. kecambah kacang hijau.Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. kencur. 3. salam. ada jambu. Jajan pasar. bongko. pisang. kacang panjang tidak dipotong. pelas. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. kentang hitam. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. gula Jawa dimasak diberi santan. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit). kelapa muda diparut ditambah garam. bawang putih. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. gula Jawa. apel. garam. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. salam/daun pandan. ingkung dan nasi asahan. gereh petek. pala kependem seperti ketela rebus. umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). botok. ubi-ubian.

rempeyek kacang/teri. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). diatas samir diberi lauknya melingkar. santan dan dimasak. bangkuang. c. dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. diatasnya bawang merah dan cabe merah. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. Diluar lauk basah misal tahu terik.4. Bayi dalam kandungan 5 bulan. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. daging ayam terik atau apa saja. terasi garam dan asam air sedikit. kedondong. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. cabe merah. garam. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. Upacara Manusa Yajna 1. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. Rujak. ebi/udang kering. diuleg/digilas) Ketupat. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. krupuk. . Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. * Sambel goreng jepan/labu jepan. santan dimasak sampai matang 6. telur ayam. brambang. diberi saus rujak (gula. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. daun salam dimasak sampai matang. bawang putih. pepaya setengah matang. b. bawang merah. pisang klutuk mentah dll. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. laos. daun salam. * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. cabe. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit.

bregedel. 2. 7 buah nasi layah. Jajan pasar.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. 7 buah ketupat. Upacara bayi lahir a. setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas. satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. ditambah lele dan udang goreng). Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. Doa bersama f. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih. Hari kelima = Sepasaran Bayi . 7 takir rujak. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh. * mohon doa restu para orang tua * siraman. b. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan. 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. irisan telur dadar. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. merah. Upacara mitoni begitu unik :. kuning. * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana.e. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). sambel goreng. Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). Bali) Sajennya : Nasi gudangan. Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya.

4. biasanya ada pesta kecil. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama. gedang ayu suruh ayu bunga. bayi dijaga seharian. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. 5. hijau. Jajan pasar. ingkung. Dilaksanakan upacara siraman. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi.Nasi gudangan. terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. 3. ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut. jajan pasar dan intuk-intuk . . biru dan coklat(gula jawa). Sajen seperti wetonan.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi. hitam. merah. nasi liwet.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi. daksina. d. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh .Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga . c. * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita. Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. kadang-kadang bayi sering menangis. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya. Kurungan diberi ayam. midodareni dan panggih. sesajinya : . Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. kuning.

Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf. nasi iber-iber. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. pisang ayu suruh ayu. untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. nas gudangan tanpa cabe. Pelaksanaan persembahyangan. Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. 7 hari. ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. nasi asahan. nasi golong sati. Pengertian . Sajen ditambah dengan ketan kukus. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. semut. Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. dilaksanakan semua umat. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. 2. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. 100 hari. untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. kolak dan apem. tempe goreng. perempatan dll. tikus dll. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. BAB VII TEMPAT SUCI A. 40 hari. lauk ayam goreng. pendak (1 tahun Jawa).

Di India gunung Maha Meru.tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . Tempat Suci berfungsi sebagai . devabhawana.tempat untuk memohon ampunan . Disamping istilah Pura. devagriha. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam .sesaji). Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1. 2. B. Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha.tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya.Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan.tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya .tempat memohon tuntunan dalam hidup . pelatihan sosia.tempat memohon pertolongan . Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira. di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. di Jawa gunung Semeru. dharmashala. dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya. .tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa. sarasehan. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : . menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. pesantian). gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. devalaya. Bagian bawah gunung alam Bhur.sarana pendidikan agama (perpustakaan. Ssivalaya dll. pelatihan pembuatan upakara (banten. 1. Gunung Oleh umat Hindu. tempat untuk bersujud. budaya & agama seperti dharma wacana. dll. berbakti. C. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin. dharma tula. seni. Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura.

dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . makin diringkas lagi menjadi manusia. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung. orang bersembahyang menghadap gunung. yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya). 2. dianggap berbangun gunung. yen karingkes dados alusing meru. Kitab Bhagawad Gita IV . kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. inggih punika alusing donia. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya.: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. yen karingkes dados alusing ndi meru. Lingga Lingga adalah lambang Siwa. yen karingkes dados meru ndi Himalaya.Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima.

Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran. Candi Penataran dll. Candi Jago. b. bunga-bunga teratai. ada bidadari-bidadari. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. 4. Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. Candi Menurut Dr. 3. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Candi Simping dll . Dr. 1973:84). 3. Candi Singosari.. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. 5. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana .Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. Nama lain dari Candi adalah Prasada. Bentuk suatu lingga 1. Candi Prambanan. Sudharma dan Mandira. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. 6. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. 2. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga. 3. 4. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru).

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi. D. Keput. Weda. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *.Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali). Persiapan *. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.. *. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 12. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. 10.556/DJA/1986 isinya ………. 11. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. Status tanah bersertifikat . Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Bhisama. Prosedur mendirikan tempat suci a. Lontar. SK. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. Awig-Awig. 2.

Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah.b. Bhur. Jana. Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. dasar. Candi Margarana. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung. Gedong . Melampirkan denah 3. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. terdiri dari tiga bagian. Candi Ceto terdiri 13 halaman. bhuah loka dan swah loka. 1. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. sembilan dan sebelas. ada meru atap satu atap dua. Prasada Bentuknya seperti tugu. halaman pertama ini biasanya kosong. E. atap tiga. 2. Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. Tapa dan Satya Loka. 3. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). Pengurusan sertifikat *. lima tujuh. Pengurusan sertifikat tanah *. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling).. Bhuah Swah. Maha. untuk masuk halaman pertama melewati gapura.

4. padas. Di Jawa. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. 5. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. Padma Agung. beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3. 3. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e. Padmasari. Jenis Padmasana : Padmasana. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. 5. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. terdiri tiga bagian dasar. Padma Capah. bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. 2. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . Bagian dasar terbuat dari batu bata. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. a. 4. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. f. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. badan dan puncak atau atap. Letaknya diluar halaman pura. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. 6. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2.

97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana. Manawa Dharmasastra I. Pengertian Pandita. wiku. Ida Rsi Bhujangga. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. 1. Ida Sri Empu. Ida Bhagawan. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. . Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda.96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. yang ahli Weda adalah yang tertinggi.4. ekajati maupun upacara dwijati. bahasa dan kemampuan daerah. mahkluk hidup yang paling tinggi. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia. Rsi. BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. Ida Pandhita. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. Diantara yang melaksanakan upacara. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I. Dukuh. Diantara yang ahli Weda.

yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Indonesia. 5. manusialah yang paling tinggi.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya. yang ahli weda adalah yang tertinggi. Diantara yang punya pikiran. yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi.96 menyebutkan Bhutanam paninah.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. Manawa Dharmasastra I. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. 4. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan. Inilah yang disebut Brahmana sejati.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi. 2. memiliki pengetahuan umum. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi. 2. Diantara yang melaksanakan upacara. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. Diantara ahli weda. Manawa Dharmasastra I. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . 3. Sanskerta. makhluk hidup adalah yang paling tinggi. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana. pendalaman intisari ajaran agama 6.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru. Sasana Pamangku a. Paibon. Merajan.  Kahyangan Tiga. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. sesuai tingkat pewintenannya. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat. Panyudamalan dan Nyapu Leger b. Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa. Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. Pamangku Dalang 3. Panti. Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit. Pinandita 1. Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. Hak seorang Pemangku/Pinandita *.B. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : . Dang Kahyangan. dan juga atas panygrahan nabe. Padharman. Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Gede dll.

Melaksanakan upacara . Bebratan Pemangku a. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah. 4. Tri Kaya Parisudha : Manacika. 5. Pengertian Sudi artinya penyucian. anyondong. Aharalagawa. 2. Brahmacari. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1.. Selalu jujur. berbohong dan menghina. filsafat dan agama. Asteya Niyama Brata : Akroda. 3. Satya. memakai destar. Apramada 5. Yama Brata : Ahimsa. Sauca. b. Catur Paramita : . Wacika dan Manacika b. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata. Awyawahara.wenang agotra. waspada tidak gegabah dalam kejadian c.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti. SUDI WADANI 1. berambut panjang. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata. Tidak memfitnah. Mendiskusikan pengetahuan. Gurususruca. Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu.

c.. P E N Y U M P A H A N 1. Pelaksanaan Upasaksi a. bija. saya bersumpah …. Ba. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . Na. 2. 3.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk). A. Ta. prayascita. sesuai ketentuan. Si. Bentuk Upacara Upasaksi a. Ya. Mantra Om Sa. I. tataban .Utama : mempergunakan banten biyakala. Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah . b. Pelaksanaannya selalu disertai dengan api. Ma. Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang. Ang Ung Mang B. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani.untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa . Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil.. -. Bila memungkinkan dengan sarana Daksina. c. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan. . bunga. Wa.Nista : mempergunakan air . canang sari dan air suci. dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa. 3.

Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa . Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1. sampai bersih darah dan membersihkan diri. 8. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya. . Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah. 5. 6.Ruang Lingkup.Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c. 2. * Sikap yang akan disumpah . Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. 3.b. CUNTAKA 1. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1. 7. 9. Sebel karena melakukan Sad Tatayi. 4. 3. Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. 2.

Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. b. keguguran : diri pribadi. suaminya dan rumah yang ditempatinya. Kliwon. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. B. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya.3. Rabu. a. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. Sapta Wara (Senin. 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. Panglong atau penanggal. Jum’at dan Sabtu) 2. sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. 1. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. suaminya danrumah yang ditempatinya. Pahing). 7. diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat. pepet) Tri Wara (pasah beteng. Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. Kamis. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. wanita bersalin : diri pribadi. . Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. Anak dan rumah yang ditempati. Legi. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. sampai upacara byalaon 10. 8. Panca Wara (Pon. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. Bali) adalah hari yang diistimewakan. Dwi Wara (menga. seperti Hari Purnama dan Tilem . Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. sampai diadakan upacara byakaon 9.. sampai diceraikan. Wage. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. Selasa. 3. sampai kepus puser (putus pusernya) 4. Hari Suci Agama Hindu 1. kajeng). 6. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). 5.

dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. 1. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. 3. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia. 3. 2. sumber air. 6.3. hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan . 4. pemerajan. 5. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1. bulan sabit didahi Dewa Siwa. c.: 1. 2. dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. sanggah dll. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). seperti Dewa Yajna. b. d. Manusa Yajna dll. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. 5. Jenis Hari Suci Rerahinan 2. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”.

persembahyangan Trisandya. nimittaning drsta prajanira sri haji. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4. wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. rengen warahkwa ri kitanaku. maka drstaning praja mandhala. Dhyana Yajna dll. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit). Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi.Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. . harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara. wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. Hyang Ludra 2. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. kepada Para Purohita. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. tkeng kajagatanika. apan parikramaning dahat suksma uttama. Tapa Yajna. Swadhyaya Yajna. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. Yoga Yajna. demi untuk kesejahteraan jagat raya. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa. karena melaksanakan hal-hal yang utama. Ini semua diterima oleh para dewa. Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. ri sawateking purohita kabek. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. 3. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama.

4) Hari Raya berdasar pawukon 1. Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Tumpek Penguduh atau Pengatag. Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e. Wariga Saniscara Kliwon Wariga.5. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat. Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. Pengarah Bubuh. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d. persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. untuk kemakmuran. Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c.

i. Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k. pada waktu tilem Hyang Surya . Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a. Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga.h. 1. mas perak permata. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m.

mona brata. c. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1. turunnya Sang Hyang Dharma.beryoga. beryoganya Sang Hyang Siwa. 1. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. jagra dan upawasa d. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. Sinta Radite Soma Anggara Buda . Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. Sasih Kapat Purnama Kapat. Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. b. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa.

Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2. Gumbreg . Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4. Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6.

Sukra Kliwon Sugihan Bali 12. Wariga 8. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11.7. Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9. Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Kuningan Radite Soma . Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13.

Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18.Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih . Pujut 16. Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15.

Medangkungan 21.19. Wayang Saniscara . Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22. Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26. Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27.

Kliwon Tumpek Wayang 28. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. tahun Baru Imlek. 30. ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa). . 29. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C. Tahun Baru Muharam. 1.

Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari.kepada umat manusia. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan . Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri. Pelaksanaan: semua Arca. : diperempatan jalan atau didepan rumah. sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia. b. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. Pratima. Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. yang maksudnya berdiam diri. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. danau atau mata air yang Laut. a. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1.

d. e. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. memadamkan api hawa nafsu. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. : Agar dapat mengendalikan diri. mesui. artinya menyalakan api kembali. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. ini juga disebut labuh brata. untuk mendapatkan ketenangan. 2. obor. atau lebar puasa. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional.c. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. : Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. Hari Raya ini . sapu. tirtha pelukatan. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian. kedamaian dan kebahagian. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam . Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. 5. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur.dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. 3. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. simbol kekekalan c. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. menarik. penuh keindahan. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. kelembutan. Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. 3.. 6. 2. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. 4. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. 5.

2007 Widya Dharma Agama Hindu. Bimas Hindu dan Budha. Jakarta epartemen Agama RI Nala. 2005. Sudharta. bertempat di Pura atau dirumah. Ganesa Exact. Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. Gde. Tjok Rai.. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. Surabaya : Paramita. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). Denpasar :. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. Denpasar : Dharma Bhakti. MA SH. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. 2004. Putu. Puja. Ngurah. 1993. Sehari sesudah hari Galungan. Acara. Agem-Ageman Kepemangkuan. IB. 2003. DAFTAR PUSTAKA Bangli. Surabaya : Paramita. Agama Tirtha & Upakara. Sudirga Ida Bagus. Nyoman S. dengan menghaturkan puja bhakti. Pendit.perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan. Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. Bhagawadgita. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Dirjen. . Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. dkk. Manggala Upacara. 2000. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. 2002. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. 6.

Surabaya : Paramita. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. Filsafat Yadnya. Denpasar Panakom Publishing. IB. Nukning Dra. Yajna Sesa. Sri Rahayu. MBA.. s . Denpasar : Setia Kawan. Wijaya. Yayasan. Putu.Sanatana Dharmasrama. 1981. Msi. Sudarsana. Surabaya : Paramita. MM. Denpasar : UNHI Tambang Raras. 1998. Gede. Drs. Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . Niken. 2003. Intisari Ajaran Agama Hindu. 2006. 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful