P. 1
Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Arti dan Fungsi Sarana Upakara

|Views: 12,222|Likes:
Published by Adan Pale Dembank

More info:

Published by: Adan Pale Dembank on Jan 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

pdf

text

original

Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

dan sebagainya. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. Mantram. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. Wisnustawa. disebut ”Wijaksara”. bagian kedua sukta 5. Dalam sekian banyak mantra. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. c. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Ang Ung Mang. Ia yang maha kuasa. sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha.menumbuhkan persanaan. Durghastawa. Barunastawa. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. Sarana Upakara. Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. Mantra adalah Weda. mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. pikiran yang suci. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya. Macam .

Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr .• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra.

Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. Banten punika taler kawastanin upakara.08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. Yan ring basa Bali mateges ngayah. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. pinaka Anda Bhuwana. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Asih. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika .Suksmaning Banten on Mon Apr 06. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi.papaya para pidana. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi. Stawira punika sarwa tumuwuh. Punia.pinaka warna rupaning Ida Bhatara. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih. Janggama punika sarwa buronné sami. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. pinaka Bhuwana Agung. Yan ring basa Indonésia mendekat. Banten punika waluya basa mona. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi.07.

M Si. Manacika. punia. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara.com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia. Manut Manawa Dharmasastra V. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten. . Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. Nukning Sri Rahayu. Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. muang bakti. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala.kaandapang.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara.Wacika. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. Yan sampun asapunika dasar makarya banten. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané. muang Kayikané jaga setata madasar asih. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih.

Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. pandita-pinandita. dasar. sudi wadani. masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara.Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. loka. purwa. penyumpahan dan cuntaka. peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. Selanjutnya arti upacara adalah : . Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. Upa artinya berhubungan dengan. 2. cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Pendahuluan Pengertian. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna. Pengertian 1. 5. baik yang terkait dengan masalah yajna. 1. sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. Acara • • • • • • Perilaku yang baik. 4. 2. ACARA AGAMA HINDU 1. 3. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan.

Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. Upa artinya berhubungan dengan. guru. nelayan. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. hakim. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. 3.) > ketangkasan fisik ( tentara. petani. juga etika umum 2. pembantu rumah tangga) 1. keahlian > kebijakan. Sumber Acara Sumber Acara . Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. hansip. 1.Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam . Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. pekerjaan.- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna. pekerja. Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.pemikiran (pendeta. polisi.Agama . Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. dokter dll. kondisi social ekonomi. 1. d. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. pengusaha. 1. 1. Ruang lingkup Acara 1. kara artinya perbuatan atau pekerjaan. pendidik. Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh. antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya.

Sulwa Sutra = membuat bangunan. Veda. Waisnawa. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. tingkah laku . cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya.) Upaveda : Itihasa.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Gopatha Araniyaka. irama. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. Satapatha. Saktisme - 1. Purwamimamsa. Purana. Agama : Agama Saiwa. Wedantasutra. 3. Sama Veda. 1. Wahya. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Pengertian dharma : Satya = kebenaran. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. tembang tentang isi veda. kosala kosali. 2. Tandya. 1. kepuasan diri sendiri. Gopatha > Aitareya Araniyaka. 1. Satapatha A. Tidak bertentangan dengan harga diri. 2. Grhya Sutra = berumah tangga. Nibanda : ditulis Mahareshi. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Upanisad Rg Veda 10 bh. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri . Ayurveda. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Sila : . Upanisad Sama Veda 10 bh. Brahmasutra. Silpasastra = asta bumi. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Reshi.Sumber Acara > sebagai dharma 1. peraturan tentang baik buruk. 1. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Tandya Araniyaka. Artasastra. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg.

materi. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : . 3. Kama = keinginan. jer basuki mawa bea. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. Dharma = kebajikan. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin. Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja. Y A J N A A. tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. 2. = hormat taat tekun. Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1.- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 4.

Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang.system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . berkorban demi kebenaran (dharma) .system persembahyangan. 1.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . upakara. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. 1. persembahan atau korban suci . Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. Satyam brhadrtamugram diksa.pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) . pemujaan. kebaktian > upacara. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) .pengorbanan suci lahir batin. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut .

Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. dari makanan lahir mahkluk hidup. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. Mengendalikan hawa nafsu . yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan.Artinya : Sesungguhnya satya. diksa. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. dari hujan timbul makanan. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. tapa. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa.14). 1. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Dengan yajna itu menimbulkan hujan.rta. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain.24-27.

Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. .11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. semoga bumi ini. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Dengan kemantapan srada. prthiwim dharayanti.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. Maka sebelum menikmati makanan. menghibur orang susah dll. mengentaskan kemiskinan.3. B. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Bhagawadgita III. tapa brata. yang kokoh dan suci (rta). Bhagawadgita III. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Bhagawadgita III. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4. Atharwa Weda XII.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.12 : Ia yang hanya suka dipel.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. diksa tapa brahma yadnyah. Bhagawadgita III. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. Rg Weda X. Menolong orang sakit.

ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan.Manawa Dharmasatra. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. kepada leluhur. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. VI. mengajarkan isi Weda. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. TUJUAN YAJNA 1. Bhagawadgita VII. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya . Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3.71.

Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. caru.Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. tawur. Pedudusan. yang mengejar ilmu. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. wahai Bharatasabha. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu. Kitab Bhagawadgita XIV. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. 3. 1. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. terkadang penuh keragu-raguan. prayascita. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. mereka yang sengsara. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. kemampuan berpikir. demikianlah kenyataanya. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power.

Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Rajasa dan Tamasa. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2.54. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Sattwika.5 menyebutkan : . Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Kitab Manawa Dharmasastra V . Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. pikiran disucikan dengan kebenaran . Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. jasmani suci. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Yajna.

Pranavah sarvavedeshu. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. wenang ya . 1. Kunti putra. nimittaning mangkana. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. huruf-huruf kitab suci. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. pada seluruh ciptaannya.“Ko addha Veda ka iha pravocad. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. 4. Beliau diair. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. cahaya bulan dan matahari. dapat berterima kasih pada Tuhan.8 memberi petunjuk sbb. di bulan di matahari. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Tuhan berada dimana-mana. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. prabha ‘smi sasisuryayoh. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia.

memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). 4. karena itu. Seni tabuh. palawakya. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. D. pupuh. wirama. . Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. 3. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. 3. seni tari dll ikut mendukungnya. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Mam vartma . ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik.: “ye yatha mam prapadyante.Tinulung awaknyasangkeng sangsara. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. 2. sloka. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. tams tathai ‘va bhayamy aham. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. 5. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya.nuvartante. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. 2. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. semuanya Kuterima. dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha.

Anggara. Selasa. Menail. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Jaya. Laba. Kamis. Menala = Pahing. Uye. sebelum kita makan masakan itu. Dukut. Kulawu. Wayang. Nyepi. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Perangbakat. Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Kajeng = Sri. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Kliwon. ngulapin orang jatuh. Redite. Sukra. Siwaratri. 2. 1. Rabu. Saniscara. eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Bala. Wraspati.: 1. pagi sing dan sore 2. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Medangsia. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Kulantir. Perhitungan sasih : Purnama. Pahang. Buda. Sabtu. Sebagai contoh upacara melaspas. Medangkungan. Tambir. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. 1. Krulut. Gumbreg. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Galungan. Langkir. Pujut. Legi. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Pepet = Pasah. Pon. Sudi wadani dll. Warigadian. Tolu. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Dasar perhitungan wara seperti . Wariga. Tilem. Ugu. . Watugunung. Ukir. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Kuningan. Senin. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Jumat. Wage. 3.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. landep. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Soma. Merakih. 1. Julungwangi. Beteng. = Minggu. Sungsang. Matal. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan).

2. lascarya. dalam hidup ini. mantra. hendaknya untuk menjamin kelancaran. kesucian hati.12. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. daksina. kala ( waktu). Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. .Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. 1. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. sastra agama. dan patra (keadaan).ii. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). ketulusan. 4. 3. Kitab Satapatha Brahmana 1. kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. 5. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. mantra. Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. gita annasewa dan nasmita.

Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.: 1. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. ada yoga. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. ada tapa. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb.: 1. 2. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. Svadhyaya. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur .70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. 2. yoga-yajnas tathapare. Kitab Bhagawadgita IV.2. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.

kepada leluhur dengan sradha. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. 4. Manawa Dharmasastra III. 2. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. 3. huta persembahyangan homa.3. 4. Brahmahuta.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. 5. Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban.: 1. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. • Manawa Dharmasastra I. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : .

Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. 3. 3. . Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4.: 1. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. 7.: 1. 3. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. 2. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2. Rsi Yajna adalah persembahan punia. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb.: 1. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb. 3. 2. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. 1. 5. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. 4. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.: 1. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. 6. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. buah-buahan. tapa dan Samadhi. 4. 4. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2.1. 5. 6. pintu rumah serta pintu tengah rumah.

2. Dewa yajna 1. 6. 1. ratus. kemenyan. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa).5.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. 1. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. 7. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. A. 2. 3. 4. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 5. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. 8.

sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Sarana : . atau dirumah (kamar suci/ altar. sebiji buah-buahan atau seteguk air. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. b. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. Tad aham bhaktyu pahritam. Setangkai daun. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun. mekidung (nyekar dalam bhs. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). latihan tari. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. sekuntum bunga. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Disamping itu perlu penanaman bunga. yo me bhaktya praya chchati. iri dengki dll. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. tidak usah bermewah-mewah. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. Bhagawadgita IX. marah. phalam toyam. aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. c. 1. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. 1.26 menyebutkan : “Patram. Jawa). Yang utama adalah hati suci. puspham. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama.

bunga bila ada buahbuahan. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. air. Menghaturkan banten. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. Pelaksanaan : 1. 3.1. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. asuci laksana. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. 2. Selama pemuput upacara memuja bhakti. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. ngastawa genta. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Hari Purnama dan Tilem 2. 2.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. 3. Ngantukan Betara. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. puja “Sthiti”/Apadeku. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. Prelina Genta kemudian penutup. mohon pengaksama. Sulinggih/pendeta. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. 1. c.

Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. Gerhana Bulan Hyang Candra). Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. 3.- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage . 4. . kahyangan dll. Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). mendirikan bangunan suci. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). panen (Dewi Sri). piodalan pura/merajan.

Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak.: . upakara untuk para pitara. kesehatan. 4. 1. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia.1. Tingkatan Pitra Yajna sbb. 1. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. mulaimemberi makan. Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. 2. PITRA YAJNA 1. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. 3. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. titik beratnya pada susila. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. ibu) serta memperlakukan dengan baik. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Wujud Niskala : Upacara. B. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah.

dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. 1. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. Atma Wedana : Tempatnya dirumah. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. . disanggah atau tempat lain yang ditentukan. bunga tirtha. moksantu. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas.Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. swargantu. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah .

Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. 4. 3. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. 5. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. 2. Syarat Calon Sulinggih 1. 1. atau pemangku). Syarat-Syarat Nabe 1. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. memiliki pengetahuan umum. 2. Pinandita. 2. a. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Wasi. Pedanda. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. 3. dan bahasa Indonesia. Pemangku dll. Sri Empu. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. 6. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. 4. 5. Sanskerta. Pendeta. Seorang yang selalu dalam bersih. Sulinggih. jasa dan kebajikan).Wujud Niskala : Upacara. Upacara awal . sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda. wasi. belajar agama dll. 3. Orang suci. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. 1.

gunung dan merajan nabe 1.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. b. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. 1. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. diasapi 3 kali. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. . 2. 1. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. manusia dapat hidup selamat. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. digosok minyak kayu putih. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. sejahtera. • • Amati raga = penyekepan. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. rukun. aman. Upacara Puncak. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. c. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya.

Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). dan malah merestui. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. c. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. 1. a. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Pada umumnya orang yang jujur. 3. 1. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. 1. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. Upacara ini berupa pemberian korban. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. manah satyena sudhayanti. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. eteh eteh padudusan alit (lebih besar).Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. b.

mepangur) Mewinten . setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan. procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . kesehatan. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . b.Tumbuh gigi. kemudian meketus. 4. Jenis-jenis manusa Yajna a. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1. menjamu tamu . Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.Upacara perkawinan (pawiwahan).2. 5. Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. 4. 1. c. 3. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. seperti ramah tamah pada orang lain. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3.Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . moral/ budi pekerti dll. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. 5 bulan. 4 bulan. seni budaya. 7bulan.

Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. menjamu tamu. Sekali) 1. Tabuh Getuh. Dengan mengadakan korban (mecaru. Tawur Agung. Cara pelaksanaan 1. Balik Sumpah. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. mesegeh. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. bantennya banten caru. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. Caru artinya mengharmoniskan. Sekali). Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. melestarikan. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. keselarasan. b. dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. mencintai alam.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Rsi Gana. BHUTA YAJNA 1. Panca Kelut. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. 1. PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . memelihara. Panca Wali Krama (10 Th. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. di sumber air dll (Yajna sesa. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya.

Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. 2.meneguhkan iman. . dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). akan terlepas dari segala dosa. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. YAJNA SESA 1. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. bhunyate te tv agham papa. Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. Bhagawad Gita VI. 5. 3. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. ini menjadi Panca Yajna. sajen. mucyante sarva kilbisaih. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti.1. harta benda. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. Contoh mengendalikan indria. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama.

mereka ini sesungguhnya makan dosa. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan . ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. 1. dipintu pekarangan. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. 1. ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. baru kemudian menikmati hidangan. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya . Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.

Theme: Vigilance by The Theme Foundry. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.com. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti). Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia. Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. . Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Blog pada WordPress. from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. sakit. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. brata. Dalam Lontar Sundarigama. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. pinaka anda bhuwana. yoga dan semadi.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. brata. sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. semadi. bodoh. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. Letaknya amat sepi tetapi indah. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : . dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Artinya. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi.. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa.Rabu Pon. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. yoga. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan . semua upakara banten sebagai lambang diri manusia. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa. Artinya.. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. brata. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin.

Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. birokrasi semakin tidak melayani. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. hukum semakin tidak tegak. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja. yoga. Seperti menjadi daya tarik wisata. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. * wiana . Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. Meskipun. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. Apa itu kesenjangan ekonomi. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma.

Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. pinaka warna rupaning Ida Bhatara.15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi. Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya. pinaka andha buwana. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). .CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.

yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). di tinju dari segi rohaniah. Upacara Perkawinan. Di samping itu. bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian. . Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan. upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. Upacara perkawinan. apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna.i. Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

pekerja) 5. Tandya. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. Satapatha. guru. Tandya Araniyaka. kondisi social ekonomi. polisi. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. pendidik. Gopatha Araniyaka. Satapatha A. Sumber Acara Sumber Acara . Veda. Sama Veda.petani) > mengandalkan fisik (buruh. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. keahlian Brahmana > kebijakan. . Ruang Lingkup Acara 1. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi .B. Yajur Veda dan Athrwa Veda) . 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6. C. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. 4.Brahmana : Aitareya. pemikiran (pendeta. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. Gopatha > Aitareya Araniyaka. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.Mantra : catur Veda (Rg. dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara. nelayan. pekerjaan.Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. hansip. 3. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi.Agama .

peraturan tentang baik buruk. irama. Silpasastra = asta bumi. Purwamimamsa..Tapa = pengendalian diri . Purana. 3. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. kosala kosali. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Artasastra. perbuatan yang menyenangkan orang lain.) . Grhya Sutra = berumah tangga. tingkah laku . Wedantasutra. 6.Satya = kebenaran. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Sila : . Tidak bertentangan dengan harga diri. tembang tentang isi veda. * Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar.Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Resi seperti Sarasamuscaya. kejujuran .Brahman = Hyang Widhi . 2. . 5. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda.Upaveda : Itihasa. Ayurveda. Nibanda : ditulis Mahareshi. kepuasan diri sendiri. Wahya Pengertian dharma : .Rta = mengakui hokum alam . Upanisad Rg Veda 10 bh. Sulwa Sutra = membuat bangunan.Diksa = penyucian .Upanisad Sama Veda 10 bh. Brahmasutra. 4.

jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.. Waisnawa. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa. manifestasinya. kebaktian > upacara. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk . mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1.Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A.pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . pemujaan. upakara.system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Saktisme.pengorbanan suci lahir batin. persembahan atau korban suci . Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. demi kebenaran (dharma) . Yajus artinya aturan tentang yajna 3.sistem persembahyangan.

(Bhagawadgita III. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa.14). Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa.24-27. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). dari makanan lahir mahkluk hidup. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Satyam brhadrtamugram diksa. . Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. dari hujan timbul makanan. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. diksa. tapa. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang.rta. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata.

3. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. 2. Tujuan Yajna .Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Bhagawadgita III. mengentaskan kemiskinan. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Dengan kemantapan srada. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. diksa tapa brahma yadnyah. 4. semoga bumi ini. Bhagawadgita III. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. tapa brata.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. Maka sebelum menikmati makanan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. Atharwa Weda XII. yang kokoh dan suci (rta). B. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. prthiwim dharayanti. menghibur orang susah dll. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.

Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu . untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. mereka yang sengsara.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). Bhagawadgita VII. 1.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda.: . 2. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.71. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. mengajarkan isi Weda. kemampuan berpikir.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) .rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.Manusia memiliki bayu.Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) . yang mengejar ilmu. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia.1. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. wahai Bharatasabha.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati.Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . Rajasa dan Tamasa. Kitab Manawa Dharmasastra V . prayascita. terkadang penuh keragu-raguan. caru. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Kitab Bhagawadgita XIV. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Sattwika. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. jasmani suci. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . Pedudusan.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. demikianlah kenyataanya. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. 3. pikiran disucikan dengan kebenaran . jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. tawur. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.

Yajna. prabha ‘smi sasisuryayoh. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III .54. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. pada seluruh ciptaannya. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Tuhan berada dimana-mana. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). Beliau diair. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. di bulan di matahari.8 memberi petunjuk sbb.4. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. cahaya . pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Pranavah sarvavedeshu.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Kunti putra. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c.

menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. nimittaning mangkana. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. huruf-huruf kitab suci. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. 5. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. dapat berterima kasih pada Tuhan. Seni tabuh. wirama. seni tari dll ikut mendukungnya. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia.bulan dan matahari. karena itu. 4. palawakya. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. . sloka. pupuh. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I.

10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. Bhagawadgita III. 2. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. Bhagawadgita III. Manawa Dharmasatra. Rg Weda X.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. tams tathai ‘va bhayamy aham . Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. 5. VI.: “ye yatha mam prapadyante. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). 3. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka). Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. kepada leluhur.12 : Ia yang hanya suka dipel. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan.D. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2. 1.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2.

eka wara = Luang dwi wara = Menga. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Jumat. Soma. Dasar perhitungan wara seperti . Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2. . Medangsia. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Merakih. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Pon. Jaya. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. sapta wara = Minggu. Kuningan. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Redite. Sukra. Wage. Selasa.nuvartante. Laba. sebelum kita makan masakan itu. Gumbreg.Mam vartma . Pepet tri wara = Pasah. Sabtu. Beteng. Rabu. Pujut. Warigadian. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Kajeng catur wara = Sri. Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Saniscara. Buda.: a. Tambir. Krulut. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Kamis. 1. Kliwon. Pahang. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Kulantir. Galungan. Anggara. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Menala panca wara = Pahing. landep. Sungsang. Medangkungan. Legi. Langkir. Senin. Tolu. Wariga. . Ukir. Wraspati. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Julungwangi.

Nyepi. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Tilem. Dukut. 1. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. 4. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Perhitungan sasih : Purnama. 5. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Menail. B. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). kesucian hati. Uye. . 3. kidung suci daksina dan srada .Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. Kulawu. daksina. sastra agama.Matal. Ugu. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Wayang. mantra. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Watugunung. 3. .Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha.Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. dalam hidup ini. kala ( waktu). 2. Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). Perangbakat. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. ketulusan. Bala. Sebagai contoh upacara melaspas. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. ngulapin orang jatuh. lascarya. mantra. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . dan patra (keadaan). Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Siwaratri. Sudi wadani dll.

Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. 2. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. 2. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. yoga-yajnas tathapare. ada yoga. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. ada tapa. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. Kitab Bhagawadgita IV.: . Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Svadhyaya.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Kitab Satapatha Brahmana 1. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III.28 sbb. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur.: 1. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta.

1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. 4.: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. huta persembahyangan homa. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. 4. 2. Brahmahuta. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: . kepada leluhur dengan sradha.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. * Manawa Dharmasastra III. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. 3. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. 2. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara.

. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata. 5. buah-buahan. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. 6. tapa dan Samadhi. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. 4.: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. pintu rumah serta pintu tengah rumah. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.

kara ngaran sembah. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. upakara ngaran bhakti ring Widhi. A. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan.BAB V UPAKARA 1. ngaran pesaksi. patemon. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan. Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut. patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi. Semua bentuk lealaban seperti caru. ringgit ngara. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. segehan adalah simbol pantat. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya. Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga.

anten ngaran inget. luiripun. kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang. tangan dafda muah suku manut manista. madya. Makna simbol dalam Upakara 1. terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. sahananing palelabanan pinaka suku. daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian.Apan Widhi widana juga ngaran banten. sirih yang cantih dan bunga harum). . B. ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. Iki paribasa Aidhining yadnya. ngaran eling. yadnya adruwe prabu (hulu). Daksina pinaka huluia. Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2. artinya Pisang yang cantih. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. motama. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi. Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. Banten Canang a. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa. ling ngaran tunggal.

VII. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci.b. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. sirih sebagai lambang Wisnu. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. * Tetuesaan. yogam yunjan madarasyah. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha. asamsayam samagram mam. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. * Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. dan kapur sebagai lambang Siwa. Dengan aku sebagai pelindungmu. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala. reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. melaksanakan yoga. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses .

kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2. -.. kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan. Kitab Bhagawadgita III. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1. b.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana . .24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja. Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Kewangen a. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis. a.

Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya. merah. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. kuning. dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. Daksina a. c. uang kepeng dan porosan silih asih. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. Bahan-bahan. merah. Segehan a. karena itik siwatnya baik. bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. bunga. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . daun-daunan (plawa). Isi kewangen. tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. b. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. gambir dan buah pinang. Mengenai telor kenapa harus telor itik. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi.Yang merupakan muka adalah uang kepeng. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. 3. 4. tidak mau bertengkar. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) . kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih. Bahan Kewangen dibuat.

Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. 5 kali untuk dimerajan. Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. putih timur. pemujaan atau mantra.- . batil sebelah kiri. benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah). uang kepeng (2bh) base (sirih).untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras. letak segehan sesuai dengan warnanya. c. merah selatan. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada. sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah. Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari. merajan terakir diluar. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas.Pengertian : . dihalaman pemerajan. 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. kidung tarian atau wayang 5. didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan. api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. Prayascita a. Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga.

Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti. bayu (pengresikan). Yajna Sesa a. pengelelenga terbuat dari minyak wangi. mucyante sarva kilbisaih. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. b. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. dan idep (pengelelenga). 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci. Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar. Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. bhunyate te tv agham papa. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus. akan terlepas dari segala dosa. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri . Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1. Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru. 6.Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru.

Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras. akan memperoleh kebahagiaan. Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. 2. 1.mereka ini sesungguhnya makan dosa. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. ditempat menumbuk padi dll 3. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. baru kemudian menikmati hidangan. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . dipintu pekarangan. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur.

Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. Mengamalkan ajaran. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. B. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. Tujuan Dewa Yajna a. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan.ajaran Weda . Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu.

kemenyan. . ratus. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. yo me bhaktya praya chchati. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman bunga. Setangkai daun. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . iri dengki dll. Yang utama adalah hati suci.Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : . Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a.Simbol Brahma : Agni (dupa.26 menyebutkan : “Patram. tidak usah bermewah-mewah. phalam toyam. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. sekuntum bunga. Bhagawadgita IX. Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. b. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.b. Meningkatkan kualitas diri c. sebiji buah-buahan atau seteguk air. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Untuk mensucikan diri d. marah. puspham.

Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Pelaksanaan : 1. ngastawa genta. latihan tari. asuci laksana. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. atau dirumah (kamar suci/ altar. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. 3. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. air. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. 4. bunga bila ada buahbuahan. puja “Sthiti”/Apadeku. Jawa). c. mekidung (nyekar dalam bhs. Sarana : 1. . Sulinggih/pendeta. mohon pengaksama. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. 2. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. Selama pemuput upacara memuja bhakti. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. 3. Menghaturkan banten.

ibu) serta memperlakukan dengan baik. b. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. mendirikan bangunan suci. c. panen (Dewi Sri). Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. PITRA YAJNA 1.- Ngantukan Betara. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. d. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Hari Purnama dan Tilem 2. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. piodalan pura/merajan. Tujuan . orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). upakara untuk para pitara. Wujud Niskala : Upacara. kahyangan dll. Prelina Genta kemudian penutup. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. kesehatan. a. 5. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Gerhana Bulan Hyang Candra). mulaimemberi makan.

Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. . Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . bunga tirtha. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Tingkatan Pitra Yajna sbb. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). 4. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia.: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas.Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. titik beratnya pada susila.

sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Pinandita. Syarat Calon Sulinggih . Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Sri Empu.Atma Wedana : Tempatnya dirumah. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. Orang suci. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. 3. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Pedanda. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Pemangku dll. belajar agama 2. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. swargantu. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. atau pemangku). Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Wujud Niskala : Upacara. angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. wasi. moksantu. Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. Sulinggih. Wasi. Pendeta. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa.

a. Sanskerta. Seorang yang selalu dalam bersih. • • Amati raga = penyekepan. a. mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Tenang dan bijaksana d. 4. gunung dan merajan nabe 1. 6. Mampu melepaskan diri dari keduniawian c. . memiliki pengetahuan umum. jasa dan kebajikan). 1. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. dan bahasa Indonesia. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. Paham dan mengerti Catur Weda. 3.- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. sehat lahir batin b. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. 5. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Syarat-Syarat Nabe 1. Upacara Puncak. Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. b. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. c. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. 2.

Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . pikiran dibersihkan dengan kejujuran. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. manah satyena sudhayanti. sejahtera. aman. Pada umumnya orang yang jujur. 3. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. manusia dapat hidup selamat. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. rukun.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. digosok minyak kayu putih. diasapi 3 kali. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau.

Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna.Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru . dan malah merestui. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : .Bayi dalam kandungan (3 . Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. b. procotan) . dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. 4 . Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. d. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil).Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Jenis-jenis manusa Yajna a. 7bulan. 5 . c. 4. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). eteh eteh padudusan alit (lebih besar).meninggalkan tempat tersebut. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : .

kesehatan. moral/ budi pekerti dll. di sumber air dll (Yajna sesa. seperti ramah tamah pada orang. b. mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1. kemudian meketus. Caru artinya mengharmoniskan. . dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan .Upacara ngelepas aon (12 hari) . Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan.Bayi baru lahir (nyambutin) . 1.. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. keselarasan.Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) .Bayi puput puser (kepus pungset) .Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) .Tumbuh gigi. seni budaya. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. keharmanonisan alam semesta seisinya.Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) .Anak meningkat dewasa (raja Sewala) . BHUTA YAJNA 1. 2. kesejahteraan semua makhluk. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. bantennya banten caru.Upacara perkawinan (pawiwahan). Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan.Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) . c. a. .

Panca Kelut. sajen. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Tawur Agung. menjamu tamu. Panca Wali Krama (10 Th. 1. Sekali). menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. Bhagawad Gita VI.( mengendalikan indria. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. 2. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. Rsi Gana. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan).meneguhkan iman. Balik Sumpah. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. kehidupan yang serba damai. .lain. PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A. harta benda. memantra termasuk Bhakti Marga. menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran). PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Tabuh Getuh. ini menjadi Panca Yajna. C. Bhakti Marga (jalan kebaktian). tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. Upacara persembahyangan. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Sekali) 1. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. 5. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). mencintai alam. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. memberi sedekah dengan tulus ihklas. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita.) 3. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. berdoa. 2. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam.

40 hari. 2. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. Baik sajen. seperti Gayatri dalam semua mantra. perkawinan. sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia. Upacara Tawur Kesanga. Malem Jum’at Legi. karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. Manusa Yajna. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. wetonan naik dewasa. 3. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan. B.75. (dilaksanakan dirumah duka umat) 4. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). bayi lahir. 100 hari.76) yang diterjemahkan oleh G. 7 hari. Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. pendak pisan. Pendak pindo. Piodalan pura lain di Jawa. peringatan kematian 3 hari. tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain.Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. upacara Mahisa Lawung dll. Upacara di Candi Menggung. Upacara Malem Rabu Pon. Dewa Yajna 1.dan Nyewu (100 hari).

9). Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan.matahari. Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma.23.112. badan melambangkan mikro kosmos. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja. sidhi. Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah. pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah. ridhi. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana). Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu. karena lambang pengetahuan duniawi. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya.tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. dari matahari turunlah hujan. Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah). dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya. 2003 : 9). Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2. Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu. . \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh.Veghneswara. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). biji-bijan. maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. sambil menaburkan bunga kedalam api. Kepala beliau lambang Makro kosmos.00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah.1 dan 10. budhi “ sebanyak 108 kali. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297).00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya.

Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur). Sanadana. mlati. Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. Biru (timur laut). merah (Selatan). 5. dadu Tenggara). baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. kuning (barat). selesai upacara ayam dapat dimakan. Sesudah upacara dimakan.Sanaka. hijau (timur laut). cempaka. lancur) . bulu dan cakar ditanam ditanah. kantil. Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. 1. kenanga. berbagai macam warna (tengah). Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan. Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. Dihaturkan : semua dewa 3. Sanaatana = Sang Hyang Langgeng). Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). mawar. Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih. Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. . jingga (barat daya). menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. (luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). hitam (utara). gambir. Bunga 2. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara.

Bunga 6. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. sesudah upacara nasi dimakan. Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina. : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. Sesaji : Campur. Jajan Pasar. Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ). Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati. Nasi liwet beserta lauknya. Pisang Ayu Suruh Ayu. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. dengan diringi kidung . Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9. Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam.

KWAN IM . seestunipin sadaya punika. .SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA .SHRII RADHA . Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.SANANDHANA SANAKA .BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .SURYA . Buddha Pengayoman Olah Negara . Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos. Sesudah Parama Santi. ingkang sampun wonten.WARUNA shanno PERTIWI . anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula. ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).ISWARAH .KALI .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .CANDRA .IISMAYAWATI .BRAHMA .RUDRA .sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA .SABDHAPALON .KALKI AVATAR SANATKUMARA .AGNI . Duh Gusti kawula puja Paduka.turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan.WISNU urukramah.INDRA . Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji.TAARAA . sajian disurut untuk makan bersama.SANAATANA SHRII ERLANGGA .KUWERA – NILA . * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.YAMA .MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA .

Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. mboten kalahiraken. Brahma lan Wisnu saha Rudra. Tuking sadaya gesang. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. mugi-mugi. ingkang saking tindak tanduk. hamemuji. jiwatman kawula nestapa. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya. bibitipun sadaya dumados. sinembah umat sedarum. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. Ganda arum. Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. Iswarah Parameswarah. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . inggih Mahadewa. dahat sru nalangsa. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa. kabegjakna sirna sadaya dosanipun.Duh Pangeran Tunggal. ingapuntena dosa memanahan kawula. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. ngaturake sembah bekti. mboten kasad mripat. ingapuntena wicara kawula. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. kukusing dupa keluhur. merwawangi. Hyang Widhi paring nugraha.

tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X . ingkang wingking Tanpa purwa.Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun.

Pisang Raja. 2X .Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3.00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina. Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21.

Nasi Liwet beserta lauknya. wawancara tgl. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta. setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. dedemit. Ingkung. ditaruh di lima tempat. * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi. suruh ayu dan bunga.) yang menimbulkan malapetaka. * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam. 4.Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). Pisang Ayu Setangkep. gandarwa dll. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah . (Cleo. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah. 15 Pebruari 2006). Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura. Tumpeng Pengyoman. Tirtha suci. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. kemudian membuat Titha Suci. bunga. . Sesaji yang diatas meja : * Daksina.00 malam sampai satu setengah jam. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. Pelaksanaan Upacara.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. * Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. * Pada jam 15. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. Jajan Pasar.

* Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi.* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. Setelah upacara. 5.00. besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. 6. tidak bekerja. tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja). Jam 16. diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci. Manusa yajna . dengan fokus Sang hyang Semar. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban. Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru). C. Nasi kuning beserta lauknya. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ). tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. * Pisang Ayu. tidak bicara. * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . Jajan Pasar . Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya. Suruh Ayu dan bunga. * Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. makan surudan bersama. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon. boleh beraktivitas lagi.

kecambah kacang hijau. Jajan pasar. gula Jawa. lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus. srundeng. salam/daun pandan. sere. dapat ditambah dawet. ingkung dan nasi asahan. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang.bawang putih. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. Semuanya diaduk. bawangputih bawang merah. bayam. salam. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe. kencur. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. salam laos. gula Jawa. Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. garam. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. kacang rebus. kelapa muda diparut ditambah garam. ubi-ubian. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. irisan telur dadar. tempe bosok/yang sudah 3 hari. bongko. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. bawang merah. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit).Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. pelas. salak. mangga. sambel goreng basah. apel. cabe. botok. tempe bosok. ketumbar. laos. umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). gula Jawa dimasak diberi santan. kenanga dan melati. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. . 3. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. ketumbar. kentang hitam. bawang putih. ada jambu. jeruk. irisan timun. bregedel. bubuk dele. kencur. kacang panjang tidak dipotong.dll. daun jerut purut. pala kependem seperti ketela rebus. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. jadah. pisang. isinya buah-buahan sad rasa. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. terasi. garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. biasanya kangkung. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu. kenikir. salam laos. garam. kenanga kantil putih kantil kuning. gereh petek. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. 2. kencur.

santan dimasak sampai matang 6. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). pisang klutuk mentah dll. krupuk. daun salam dimasak sampai matang. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. terasi garam dan asam air sedikit. daun salam. telur ayam. cabe. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. daging ayam terik atau apa saja. Bayi dalam kandungan 5 bulan. bawang merah. diatasnya bawang merah dan cabe merah. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit. garam. * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam. diberi saus rujak (gula. santan dan dimasak. brambang. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. ebi/udang kering. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. * Sambel goreng jepan/labu jepan. pepaya setengah matang. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. diatas samir diberi lauknya melingkar. Upacara Manusa Yajna 1. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. laos. bangkuang. rempeyek kacang/teri. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. Rujak. bawang putih. b. . Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan. cabe merah. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. c. Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. kedondong.4. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. diuleg/digilas) Ketupat. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. Diluar lauk basah misal tahu terik.

* mohon doa restu para orang tua * siraman. Jajan pasar. Upacara mitoni begitu unik :. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. sambel goreng. Doa bersama f. b. 7 buah nasi layah.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih.e. Hari kelima = Sepasaran Bayi . Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. bregedel. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. kuning. 7 buah ketupat. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh. hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya. satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. ditambah lele dan udang goreng). irisan telur dadar. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. Bali) Sajennya : Nasi gudangan. Upacara bayi lahir a. merah. setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas. 2. 7 takir rujak. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan.

Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. sesajinya : . . bayi dijaga seharian. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita. hijau. 3. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. Jajan pasar. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh . Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. Kurungan diberi ayam. biasanya ada pesta kecil.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi. Sajen seperti wetonan. ingkung. kuning. nasi liwet. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. merah. d. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi. daksina. kadang-kadang bayi sering menangis.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi.Nasi gudangan. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga . 5. Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. c. biru dan coklat(gula jawa). Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. midodareni dan panggih. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama. gedang ayu suruh ayu bunga. hitam. 4. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut.Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. Dilaksanakan upacara siraman. jajan pasar dan intuk-intuk . terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya.

nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. tempe goreng. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. 2. pendak (1 tahun Jawa). Pengertian . selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. lauk ayam goreng. 7 hari. nasi golong sati. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. BAB VII TEMPAT SUCI A. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. Sajen ditambah dengan ketan kukus. ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. nas gudangan tanpa cabe. perempatan dll. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an. semut. nasi asahan. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. 40 hari. tikus dll. Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. 100 hari. Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. Pelaksanaan persembahyangan. Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. dilaksanakan semua umat. kolak dan apem. nasi iber-iber. pisang ayu suruh ayu. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya.

dharmashala. pesantian).tempat memohon tuntunan dalam hidup . menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. Bagian bawah gunung alam Bhur. Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam . di Jawa gunung Semeru.tempat untuk memohon ampunan . pelatihan pembuatan upakara (banten.tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha. devagriha. 1. devalaya.tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya . di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. . tempat untuk bersujud. pelatihan sosia. seni. berbakti. dharma tula. Ssivalaya dll. Gunung Oleh umat Hindu. budaya & agama seperti dharma wacana. Tempat Suci berfungsi sebagai . Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : .sesaji). Di India gunung Maha Meru. dll. Disamping istilah Pura. C. Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1.tempat memohon pertolongan . dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya.tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa. Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura.tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya.Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan.sarana pendidikan agama (perpustakaan. B. 2. devabhawana. sarasehan. gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin.

orang bersembahyang menghadap gunung. Kitab Bhagawad Gita IV . Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. yen karingkes dados alusing meru. 2.: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. Lingga Lingga adalah lambang Siwa. inggih punika alusing donia. kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung. dianggap berbangun gunung. makin diringkas lagi menjadi manusia. 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima.Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya). yen karingkes dados meru ndi Himalaya. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. yen karingkes dados alusing ndi meru.

Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga. 3. 6. 3. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran. ada bidadari-bidadari. Candi Menurut Dr. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. 1973:84). Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Nama lain dari Candi adalah Prasada. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. bunga-bunga teratai. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. 2. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. Dr. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. 5.Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. Candi Penataran dll. Candi Simping dll . Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. Bentuk suatu lingga 1. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. 4. Sudharma dan Mandira. Candi Singosari. b. 3.. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. 4. Candi Prambanan. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. Candi Jago.

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali). Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Lontar. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.. Awig-Awig. Weda. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. 10. Keput. Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. 12. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. Prosedur mendirikan tempat suci a. Persiapan *. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi.556/DJA/1986 isinya ………. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 2. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. *. Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Bhisama. SK. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *. D. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Status tanah bersertifikat . 11.

Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). dasar. Pengurusan sertifikat tanah *. Prasada Bentuknya seperti tugu. Tapa dan Satya Loka. Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling). Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. Maha. Pengurusan sertifikat *. Melampirkan denah 3. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. 3. Gedong . Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. 2. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan. Candi Margarana. atap tiga. Bhur. Bhuah Swah. E. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. untuk masuk halaman pertama melewati gapura. 1.b. bhuah loka dan swah loka. sembilan dan sebelas. halaman pertama ini biasanya kosong. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung. Jana. lima tujuh. terdiri dari tiga bagian. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya.. ada meru atap satu atap dua. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. Candi Ceto terdiri 13 halaman.

bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Padma Capah. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. Letaknya diluar halaman pura. padas. 5. 5. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. terdiri tiga bagian dasar. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. Padma Agung. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. 6. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. Padmasari. Jenis Padmasana : Padmasana. 3. Di Jawa. 2. 4. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. badan dan puncak atau atap. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara. a. Bagian dasar terbuat dari batu bata. f. 4. bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2.

Ida Bhagawan. Rsi. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda. Diantara yang melaksanakan upacara. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. wiku. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya.96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. Diantara yang ahli Weda. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan. Ida Pandhita. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. Manawa Dharmasastra I. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya. 1. Dukuh. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. yang ahli Weda adalah yang tertinggi. 97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana. Ida Sri Empu. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. mahkluk hidup yang paling tinggi. bahasa dan kemampuan daerah. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia.4. ekajati maupun upacara dwijati. Pengertian Pandita. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Ida Rsi Bhujangga. . BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I.

Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. pendalaman intisari ajaran agama 6. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi. Inilah yang disebut Brahmana sejati. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana. 2. Sanskerta. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. Diantara yang melaksanakan upacara. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. Diantara ahli weda. 5. 3. yang ahli weda adalah yang tertinggi. Manawa Dharmasastra I. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. 4. manusialah yang paling tinggi. Indonesia. Diantara yang punya pikiran. 2. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. memiliki pengetahuan umum.96 menyebutkan Bhutanam paninah.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya. Manawa Dharmasastra I. makhluk hidup adalah yang paling tinggi.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. sesuai tingkat pewintenannya. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : . Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. Dang Kahyangan. Pamangku Dalang 3. Panti. Gede dll.  Kahyangan Tiga. Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit. Padharman. Hak seorang Pemangku/Pinandita *. Merajan. Panyudamalan dan Nyapu Leger b. Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Paibon. Pinandita 1. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat. dan juga atas panygrahan nabe. dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru.B. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c. Sasana Pamangku a.

wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata. b. Awyawahara. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata. 2.. Pengertian Sudi artinya penyucian. Bebratan Pemangku a. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. berambut panjang. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. anyondong. Sauca.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti. Gurususruca. Asteya Niyama Brata : Akroda. Satya. 4. Selalu jujur. Mendiskusikan pengetahuan. berbohong dan menghina. Catur Paramita : . SUDI WADANI 1. waspada tidak gegabah dalam kejadian c. Melaksanakan upacara . filsafat dan agama. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1. Aharalagawa. Yama Brata : Ahimsa. memakai destar. Tri Kaya Parisudha : Manacika. Tidak memfitnah. 5. Wacika dan Manacika b. Apramada 5. 3. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. Brahmacari.wenang agotra. Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu.

Pelaksanaannya selalu disertai dengan api. b. sesuai ketentuan. 3. bija. canang sari dan air suci. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani. prayascita. tataban . Pelaksanaan Upasaksi a. dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa..Utama : mempergunakan banten biyakala. Ta. Si. c.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk). Bentuk Upacara Upasaksi a. 2. c. Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah .Nista : mempergunakan air . 3. Ba. . Ya. Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang. Ang Ung Mang B. Ma.. A. bunga. Bila memungkinkan dengan sarana Daksina. P E N Y U M P A H A N 1. I. saya bersumpah …. -. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil. Mantra Om Sa.untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa . Na. Wa.

* Sikap yang akan disumpah .b. sampai bersih darah dan membersihkan diri. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1. 6. Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. . 2.Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1. 5. Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. 8.Ruang Lingkup. Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah. CUNTAKA 1.Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa . Sebel karena melakukan Sad Tatayi. 9. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C. 4. 2. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya. 3. 7. 3.

. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs.. wanita bersalin : diri pribadi.3. sampai kepus puser (putus pusernya) 4. kajeng). Kamis. sampai diadakan upacara byakaon 9. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. Wage. keguguran : diri pribadi. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. B. 8. 6. suaminya danrumah yang ditempatinya. Kliwon. 3. sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. Bali) adalah hari yang diistimewakan. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. sampai upacara byalaon 10. Pahing). sampai diceraikan. Jum’at dan Sabtu) 2. Rabu. Selasa. 7. Sapta Wara (Senin. Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. a. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. Panca Wara (Pon. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. 5. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. pepet) Tri Wara (pasah beteng. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. seperti Hari Purnama dan Tilem . Hari Suci Agama Hindu 1. Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. 1. Anak dan rumah yang ditempati. Panglong atau penanggal. Dwi Wara (menga. suaminya dan rumah yang ditempatinya. diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. Legi. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. b.

pemerajan. 3. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia.: 1. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan . c. Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). Jenis Hari Suci Rerahinan 2. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. 2. 3. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. sumber air.3. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). seperti Dewa Yajna. sanggah dll. Manusa Yajna dll. d. 4. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. b. 5. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. 5. 2. 6. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. bulan sabit didahi Dewa Siwa. 1. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”.

3. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. maka drstaning praja mandhala. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. Ini semua diterima oleh para dewa. ri sawateking purohita kabek. demi untuk kesejahteraan jagat raya. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. . Swadhyaya Yajna. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit).Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. tkeng kajagatanika. Hyang Ludra 2. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. Tapa Yajna. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. karena melaksanakan hal-hal yang utama. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4. Dhyana Yajna dll. wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. persembahyangan Trisandya. apan parikramaning dahat suksma uttama. harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. nimittaning drsta prajanira sri haji. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama. rengen warahkwa ri kitanaku. Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. Yoga Yajna. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. kepada Para Purohita. wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. andhyata kalinganya nahanta ling bhatara.

Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d.5. untuk kemakmuran. Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . Tumpek Penguduh atau Pengatag. persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. Wariga Saniscara Kliwon Wariga. Pengarah Bubuh. Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e. 4) Hari Raya berdasar pawukon 1. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat.

Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma. pada waktu tilem Hyang Surya . Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga. 1. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha. Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a.h. mas perak permata. Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m. i. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1.

c. jagra dan upawasa d. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. Sasih Kapat Purnama Kapat.beryoga. b. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa. jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Sinta Radite Soma Anggara Buda . Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. turunnya Sang Hyang Dharma. Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . beryoganya Sang Hyang Siwa. 1. mona brata.

Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4. Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6.Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2. Gumbreg .

Kuningan Radite Soma . Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11.7. Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Wariga 8. Sukra Kliwon Sugihan Bali 12. Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13.

Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih . Pujut 16. Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15. Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17.

Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23. Medangkungan 21. Wayang Saniscara . Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22.19. Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20. Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26.

Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C. Tahun Baru Muharam. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. 30. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. 1. . ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa). tahun Baru Imlek.Kliwon Tumpek Wayang 28. 29.

a. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1. mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri. sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia. b. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari.kepada umat manusia. yang maksudnya berdiam diri. Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut. : diperempatan jalan atau didepan rumah. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Pratima.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . danau atau mata air yang Laut. danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta. Pelaksanaan: semua Arca. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan . Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya.

sapu. artinya menyalakan api kembali. mesui. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. atau lebar puasa. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. : Agar dapat mengendalikan diri. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. : Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. e. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. d. untuk mendapatkan ketenangan.c. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian. ini juga disebut labuh brata. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. memadamkan api hawa nafsu. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 2. tirtha pelukatan. obor. kedamaian dan kebahagian. Hari Raya ini .

4. Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. 6.dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). simbol kekekalan c. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa.. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. 5. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. 2. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam . 3. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. 5. kelembutan. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d. 3. Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. menarik. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. penuh keindahan. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati.

Jakarta epartemen Agama RI Nala. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. dkk. 2005. 2004. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). Pendit. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. Surabaya : Paramita. Putu. 2002. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. Gde. MA SH. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. IB. 1993. Surabaya : Paramita. Agama Tirtha & Upakara. Sudirga Ida Bagus. Sudharta. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. 2000. 2003. Acara.. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Bimas Hindu dan Budha. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. dengan menghaturkan puja bhakti. DAFTAR PUSTAKA Bangli. Denpasar : Dharma Bhakti. Puja. 6. bertempat di Pura atau dirumah. Ngurah. Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. Bhagawadgita. Sehari sesudah hari Galungan. 2007 Widya Dharma Agama Hindu. Manggala Upacara. Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. Tjok Rai. umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan. Ganesa Exact. .perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). Dirjen. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. Nyoman S. Agem-Ageman Kepemangkuan. Denpasar :.

.Sanatana Dharmasrama. Surabaya : Paramita. Denpasar : UNHI Tambang Raras. Nukning Dra. s . Yayasan. Msi. Drs. 1998. Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . 2003. Yajna Sesa. 2006. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. Niken. Filsafat Yadnya. IB. 2005. Denpasar Panakom Publishing. Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). Putu. Denpasar : Setia Kawan. Intisari Ajaran Agama Hindu. Sudarsana. Sri Rahayu. MBA. Gede. Wijaya. Surabaya : Paramita. MM. 1981.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->