Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. Mantra adalah Weda. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. disebut ”Wijaksara”. Macam . sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Sarana Upakara. Durghastawa. pikiran yang suci. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. Dalam sekian banyak mantra. Ia yang maha kuasa. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Ang Ung Mang. Wisnustawa. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. dan sebagainya. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . Barunastawa. Mantram. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. bagian kedua sukta 5. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia.menumbuhkan persanaan. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. c.

Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr . Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra.

Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17. Yan ring basa Indonésia mendekat.Suksmaning Banten on Mon Apr 06.08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. pinaka Bhuwana Agung. Yan ring basa Bali mateges ngayah. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika . pinaka Anda Bhuwana.papaya para pidana. Janggama punika sarwa buronné sami. Banten punika waluya basa mona. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. Asih. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita. Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek. Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya. Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi.pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia.07. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. Stawira punika sarwa tumuwuh. Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Punia. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi. Banten punika taler kawastanin upakara.

com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. M Si. Manacika. . Manut Manawa Dharmasastra V. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten. Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika. Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih. muang Kayikané jaga setata madasar asih. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara. Nukning Sri Rahayu. Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia. muang bakti. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten. punia. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron.Wacika. Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. Yan sampun asapunika dasar makarya banten. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun.kaandapang.

cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari. 2. loka. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. Pendahuluan Pengertian. sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. 4. purwa.Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan. 1. 2. dasar. masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. 3. Selanjutnya arti upacara adalah : . sudi wadani. pandita-pinandita. ACARA AGAMA HINDU 1. baik yang terkait dengan masalah yajna. Acara • • • • • • Perilaku yang baik. peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. 5. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. Upa artinya berhubungan dengan. penyumpahan dan cuntaka. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. Pengertian 1. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara.

Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan).Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam . 3. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. guru. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. nelayan.pemikiran (pendeta. 1. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. kara artinya perbuatan atau pekerjaan.Agama .- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna. Sumber Acara Sumber Acara . juga etika umum 2. petani. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan.) > ketangkasan fisik ( tentara. 1. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara. pendidik. keahlian > kebijakan. Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh. d. Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. hansip. pekerja. polisi. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. pengusaha. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. kondisi social ekonomi. 1. pembantu rumah tangga) 1. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. hakim. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. pekerjaan. Ruang lingkup Acara 1. 1. Upa artinya berhubungan dengan. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. dokter dll.

Gopatha Araniyaka. Purana. Tidak bertentangan dengan harga diri. Sulwa Sutra = membuat bangunan. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Gopatha > Aitareya Araniyaka. Silpasastra = asta bumi. Tandya. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Waisnawa. Ayurveda. 1. Artasastra. peraturan tentang baik buruk. tingkah laku . cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya. Grhya Sutra = berumah tangga. Brahmasutra. Upanisad Sama Veda 10 bh. tembang tentang isi veda. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. 1. Satapatha A. Tandya Araniyaka. 2. kosala kosali. 1. Wedantasutra. 2. Satapatha.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Sila : . irama. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Sama Veda. kepuasan diri sendiri. Reshi. 1. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Upanisad Rg Veda 10 bh.Sumber Acara > sebagai dharma 1. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri . Purwamimamsa. Saktisme - 1. Veda. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. Wahya. 3. Agama : Agama Saiwa. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. Nibanda : ditulis Mahareshi.) Upaveda : Itihasa. Pengertian dharma : Satya = kebenaran.

Y A J N A A. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. Kama = keinginan. tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1. 3. = hormat taat tekun. 4. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja.- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : . Dharma = kebajikan. Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja. jer basuki mawa bea. 2. materi.

pemujaan. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. 1. upakara. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. kebaktian > upacara.* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.pengorbanan suci lahir batin. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) .Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . persembahan atau korban suci .system persembahyangan.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna. berkorban demi kebenaran (dharma) .system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit.pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) . Satyam brhadrtamugram diksa. 1. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.

yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. dari hujan timbul makanan.14).Artinya : Sesungguhnya satya. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Mengendalikan hawa nafsu . dari makanan lahir mahkluk hidup. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. tapa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1. 1.24-27. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. diksa.rta.

Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Bhagawadgita III. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. tapa brata. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. B. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. yang kokoh dan suci (rta). Maka sebelum menikmati makanan.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu.12 : Ia yang hanya suka dipel.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. mengentaskan kemiskinan. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Bhagawadgita III. . Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4. prthiwim dharayanti. Bhagawadgita III. Rg Weda X. Atharwa Weda XII.3.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. menghibur orang susah dll.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Dengan kemantapan srada. Bhagawadgita III. diksa tapa brahma yadnyah. semoga bumi ini. Menolong orang sakit.

16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino .Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). kepada leluhur. Bhagawadgita VII. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda.71. TUJUAN YAJNA 1. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya . Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. VI. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. mengajarkan isi Weda.Manawa Dharmasatra. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir.

demikianlah kenyataanya. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . wahai Bharatasabha. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. kemampuan berpikir. Pedudusan. prayascita. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. caru. mereka yang sengsara. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. yang mengejar ilmu. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. 3. Kitab Bhagawadgita XIV. terkadang penuh keragu-raguan. 1. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. tawur.Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku.

Yajna. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Sattwika. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Rajasa dan Tamasa. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.5 menyebutkan : . Kitab Manawa Dharmasastra V . Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. pikiran disucikan dengan kebenaran . Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga.54. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. jasmani suci.

sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Tuhan berada dimana-mana. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. dapat berterima kasih pada Tuhan. cahaya bulan dan matahari. 1. wenang ya . Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Beliau diair.“Ko addha Veda ka iha pravocad. nimittaning mangkana. Kunti putra. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. pada seluruh ciptaannya. prabha ‘smi sasisuryayoh. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. di bulan di matahari. Pranavah sarvavedeshu. 4. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. huruf-huruf kitab suci. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta.8 memberi petunjuk sbb.

wirama. tams tathai ‘va bhayamy aham.Tinulung awaknyasangkeng sangsara. 4. Seni tabuh. palawakya. Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. semuanya Kuterima. 2. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. D.nuvartante. seni tari dll ikut mendukungnya. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. demikianlah keistimewaan menjadi manusia.: “ye yatha mam prapadyante. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. 5. 3. . Mam vartma . Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. 2. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. karena itu. 3. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. pupuh. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. sloka. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).

Buda. Merakih. Jaya. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Pon. Menail. Julungwangi. . Selasa. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Rabu. Sebagai contoh upacara melaspas. Kamis. Sukra. Anggara. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. 1. Watugunung. 1. Sungsang. Legi. pagi sing dan sore 2. Tolu. Nyepi. Perhitungan sasih : Purnama.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Kliwon. Saniscara. Tambir. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Dasar perhitungan wara seperti . dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Redite. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Tilem. Krulut. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Senin. Kulantir. Laba. Menala = Pahing. Dukut. Jumat. Ugu. Galungan. Warigadian. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Sabtu. Pujut. Kajeng = Sri. Uye. Medangkungan. Perangbakat. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Wage. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. sebelum kita makan masakan itu. Wayang. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. = Minggu. Pepet = Pasah. Matal. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Kuningan. eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Wariga. Pahang. Medangsia. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. ngulapin orang jatuh. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. 3. Siwaratri. Beteng. Kulawu. 2. Gumbreg. 1. Langkir. Ukir. landep. Soma. Sudi wadani dll.: 1. Bala. Wraspati.

Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Kitab Satapatha Brahmana 1.ii. dan patra (keadaan).12.Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). mantra. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. daksina. 4. lascarya. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). kesucian hati. dalam hidup ini. 2. Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. ketulusan. gita annasewa dan nasmita. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). sastra agama. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. mantra. Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. 3. 5. Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). . keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. kala ( waktu). Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. 1.

70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. 2. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.: 1. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.2. Kitab Bhagawadgita IV. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. ada yoga. ada tapa. 2. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III. Svadhyaya. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur . Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3.: 1. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. yoga-yajnas tathapare. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.

3.3. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : . kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. Manawa Dharmasastra III. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. huta persembahyangan homa. 5. kepada leluhur dengan sradha.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Brahmahuta. Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. 4.: 1. • Manawa Dharmasastra I. 4. 2. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar.

mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2. 3. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. 2. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. 5. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Rsi Yajna adalah persembahan punia. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. 6. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4. pintu rumah serta pintu tengah rumah.: 1. 3. 4. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. buah-buahan. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. 4. 3. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. 7. 6.: 1. tapa dan Samadhi. 1. 5. . 2.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb.1. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.: 1. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. 4. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. 3.: 1. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2.

upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. 4. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. 8. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. 1. kemenyan. 7. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. A. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. 5. Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran.5. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). ratus. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 2. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. 6. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. 1. 2. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. 3. Dewa yajna 1.

aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. 1. c. mekidung (nyekar dalam bhs. yo me bhaktya praya chchati. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. 1. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). marah. phalam toyam. Setangkai daun. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. b. sebiji buah-buahan atau seteguk air.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun. Tad aham bhaktyu pahritam. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. tidak usah bermewah-mewah. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.26 menyebutkan : “Patram. iri dengki dll. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Sarana : . kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Yang utama adalah hati suci. Bhagawadgita IX. atau dirumah (kamar suci/ altar. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. Jawa). Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Disamping itu perlu penanaman bunga. puspham. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. latihan tari. sekuntum bunga.

Prelina Genta kemudian penutup. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. bunga bila ada buahbuahan. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. 3. c. 3. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. asuci laksana. Menghaturkan banten.1. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. 2. Sulinggih/pendeta. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. puja “Sthiti”/Apadeku. 1. air. Pelaksanaan : 1. 2. mohon pengaksama. ngastawa genta. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Hari Purnama dan Tilem 2. Ngantukan Betara. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. Selama pemuput upacara memuja bhakti.

. panen (Dewi Sri). Gerhana Bulan Hyang Candra). kahyangan dll. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). mendirikan bangunan suci. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya).- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage . 3. Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. 4. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. piodalan pura/merajan.

Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. 1. PITRA YAJNA 1. titik beratnya pada susila. B. kesehatan. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. 4. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Wujud Niskala : Upacara. ibu) serta memperlakukan dengan baik. 1. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. upakara untuk para pitara.1. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. 2. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. mulaimemberi makan.: . orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. 3. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua.

Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1. bunga tirtha. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut. Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. . moksantu. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Atma Wedana : Tempatnya dirumah. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. 1. swargantu. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern).Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas.

4. mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. dan bahasa Indonesia. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. 2. 5. Syarat Calon Sulinggih 1. Sanskerta. 6. 1. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). wasi. memiliki pengetahuan umum. Pendeta. Upacara awal . Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Seorang yang selalu dalam bersih. Wasi. Pinandita. Pedanda. 3. Sri Empu. 3.Wujud Niskala : Upacara. sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda. 5. Sulinggih. Pemangku dll. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. Syarat-Syarat Nabe 1. 2. 2. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. atau pemangku). a. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. 3. 1. jasa dan kebajikan). belajar agama dll. Orang suci. 4. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali.

b. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. . 2. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. Upacara Puncak. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. 1. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. aman. manusia dapat hidup selamat. 1. gunung dan merajan nabe 1. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. sejahtera. • • Amati raga = penyekepan. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. digosok minyak kayu putih. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. c. diasapi 3 kali. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. rukun.

suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). a. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Upacara ini berupa pemberian korban. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1.Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. 1. Pada umumnya orang yang jujur. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. manah satyena sudhayanti. c. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. 3. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. dan malah merestui. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. b. 1. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . 1. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara.

c. 1. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. 4. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan.Upacara perkawinan (pawiwahan). 4 bulan. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Jenis-jenis manusa Yajna a. mepangur) Mewinten . procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . 5. setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. b. moral/ budi pekerti dll.Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . 3. kemudian meketus. Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.2. seperti ramah tamah pada orang lain. kesehatan. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. 7bulan. 5 bulan. 4. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1. menjamu tamu . Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . seni budaya.Tumbuh gigi.

Caru artinya mengharmoniskan. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Dengan mengadakan korban (mecaru. mesegeh. Cara pelaksanaan 1.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). Tabuh Getuh. Balik Sumpah. Sekali) 1. mencintai alam. Panca Kelut. keselarasan. dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. 1. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. di sumber air dll (Yajna sesa. menjamu tamu. melestarikan. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. Sekali). Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya. PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . Tawur Agung. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. bantennya banten caru. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. BHUTA YAJNA 1. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. memelihara. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Panca Wali Krama (10 Th. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. Rsi Gana. b. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru.

3. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. sajen. harta benda.1. 5. 2. akan terlepas dari segala dosa.meneguhkan iman. Bhagawad Gita VI. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). Contoh mengendalikan indria. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. YAJNA SESA 1. mucyante sarva kilbisaih. . bhunyate te tv agham papa. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. ini menjadi Panca Yajna. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir.

Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. dipintu pekarangan. Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan.mereka ini sesungguhnya makan dosa. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. baru kemudian menikmati hidangan. 1. 1. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan . Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya . Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.

Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia. from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post. Theme: Vigilance by The Theme Foundry. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti).com. Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. . Blog pada WordPress. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

Letaknya amat sepi tetapi indah. Dalam Lontar Sundarigama. sakit. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : . mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. brata. bodoh. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin. pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya.. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan . brata. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. yoga. semua upakara banten sebagai lambang diri manusia. brata. Artinya. dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. yoga dan semadi. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan. semadi. pinaka anda bhuwana. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih.Rabu Pon. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. Artinya. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat..

Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. * wiana . Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. hukum semakin tidak tegak. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. birokrasi semakin tidak melayani. yoga. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Seperti menjadi daya tarik wisata. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. Meskipun. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Apa itu kesenjangan ekonomi.

Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. . pinaka andha buwana. pinaka warna rupaning Ida Bhatara.15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti).

apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. . karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. di tinju dari segi rohaniah. yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian.i. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan. Upacara perkawinan. Di samping itu. upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai. terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. Upacara Perkawinan.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

C. 3. pekerja) 5.Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. Satapatha A. kondisi social ekonomi. keahlian Brahmana > kebijakan. guru. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang.B. Tandya. Tandya Araniyaka. . Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. Veda. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. Gopatha Araniyaka. Ruang Lingkup Acara 1. 4.Agama . pendidik. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. hansip.Brahmana : Aitareya. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi . dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara. 1. pekerjaan. Yajur Veda dan Athrwa Veda) . Satapatha. Sama Veda. polisi.petani) > mengandalkan fisik (buruh. nelayan. Sumber Acara Sumber Acara . Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma.Mantra : catur Veda (Rg. pemikiran (pendeta. Gopatha > Aitareya Araniyaka.

irama. Tidak bertentangan dengan harga diri. Sulwa Sutra = membuat bangunan. * Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Purana..Upaveda : Itihasa. tembang tentang isi veda. 2. tingkah laku .Rta = mengakui hokum alam . Wedantasutra. 5. perbuatan yang menyenangkan orang lain. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. 6. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani .Upanisad Sama Veda 10 bh. Upanisad Atharwa Veda 31 bh.Satya = kebenaran. Brahmasutra.Tapa = pengendalian diri . Grhya Sutra = berumah tangga. Resi seperti Sarasamuscaya.Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh.Tingkah laku yang baik dari orang suci. 3.Brahman = Hyang Widhi . . Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu. Ayurveda. peraturan tentang baik buruk.Diksa = penyucian . Silpasastra = asta bumi.) . kosala kosali. Artasastra. 4. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Purwamimamsa. kejujuran . kepuasan diri sendiri. Sila : . Nibanda : ditulis Mahareshi. Upanisad Rg Veda 10 bh. Wahya Pengertian dharma : .

Yajus artinya aturan tentang yajna 3. persembahan atau korban suci . jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . upakara. demi kebenaran (dharma) .sistem persembahyangan.pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu.. Waisnawa.Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A. Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk .system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.pengorbanan suci lahir batin. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . pemujaan.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. manifestasinya. kebaktian > upacara. Saktisme. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa.

tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya.(Bhagawadgita III. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).24-27. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. tapa. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Satyam brhadrtamugram diksa. brahma dan yadnya yang menyangga dunia.14). Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. dari makanan lahir mahkluk hidup. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain.rta. diksa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. dari hujan timbul makanan. .

Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Atharwa Weda XII. mengentaskan kemiskinan.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. menghibur orang susah dll. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. B.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Dengan kemantapan srada. prthiwim dharayanti.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. 3. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Bhagawadgita III. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan.Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. semoga bumi ini. 4. yang kokoh dan suci (rta). doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. Maka sebelum menikmati makanan. Tujuan Yajna . tapa brata. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. 2. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. diksa tapa brahma yadnyah. Bhagawadgita III.

71. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu .1. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.Manusia memiliki bayu. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) . Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. kemampuan berpikir. wahai Bharatasabha.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. 2. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Bhagawadgita VII. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati.Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) . mereka yang sengsara. mengajarkan isi Weda. 1. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. yang mengejar ilmu.: .

manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. terkadang penuh keragu-raguan. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Kitab Manawa Dharmasastra V . Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. tawur. Pedudusan. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Rajasa dan Tamasa. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. caru. prayascita. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . 3. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah .Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Kitab Bhagawadgita XIV. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. demikianlah kenyataanya. jasmani suci. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. Sattwika. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. pikiran disucikan dengan kebenaran . Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian.

huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan berada dimana-mana. pada seluruh ciptaannya. prabha ‘smi sasisuryayoh.54. Pranavah sarvavedeshu. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a.4. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Yajna. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia.8 memberi petunjuk sbb. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Kunti putra.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b. Beliau diair. di bulan di matahari. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. cahaya . Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya.

pupuh. huruf-huruf kitab suci. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara. Seni tabuh. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. 4. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. dapat berterima kasih pada Tuhan. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. karena itu. seni tari dll ikut mendukungnya. nimittaning mangkana. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. wirama. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. .bulan dan matahari. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. sloka. palawakya. 5.

35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). 2.: “ye yatha mam prapadyante. 5. VI. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri.D. Bhagawadgita III.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka). Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Bhagawadgita III. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4.12 : Ia yang hanya suka dipel. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2. Rg Weda X. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. 3. Manawa Dharmasatra. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. kepada leluhur. 1. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A. tams tathai ‘va bhayamy aham . Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.

Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Medangsia. Tambir. Rabu. Beteng. Anggara. Jumat. Pahang. Kamis. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Selasa. 1. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Legi. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Medangkungan. Senin. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Warigadian. Sukra.: a. Wariga. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Pepet tri wara = Pasah. Kulantir. Galungan. Pujut. Tolu. Menala panca wara = Pahing. Langkir. Laba.eka wara = Luang dwi wara = Menga. Dasar perhitungan wara seperti . . Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Pon. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. sapta wara = Minggu. Julungwangi. Kliwon.Mam vartma .nuvartante. Saniscara. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Soma. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2. Kajeng catur wara = Sri. Jaya. Sabtu. Gumbreg. Wage. landep. Krulut. Sungsang. Redite. . Ukir. sebelum kita makan masakan itu. Buda. pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Kuningan. Wraspati. Merakih.

mantra. Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . Kulawu. sastra agama. .Matal. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Bala. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Equinok(matahari diatas katulistiwa).Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. mantra. Tilem. 1. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. ngulapin orang jatuh. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Perangbakat. . ketulusan. B. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). 4. Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya.Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. kala ( waktu). lascarya. Siwaratri. 5. 3. Wayang. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). dalam hidup ini. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Uye. Perhitungan sasih : Purnama.Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Ugu. Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). 3. kesucian hati. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Nyepi. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). daksina. Dukut. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Sebagai contoh upacara melaspas. Menail. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). 2. Watugunung. dan patra (keadaan). Sudi wadani dll. kidung suci daksina dan srada .

persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. 2. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Kitab Bhagawadgita IV. ada yoga. yoga-yajnas tathapare.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. 2. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1.: 1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Svadhyaya.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana.28 sbb. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta.: . Kitab Satapatha Brahmana 1. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. ada tapa. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.

Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: . Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa.1. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb. 4. 2. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. * Manawa Dharmasastra III. Brahmahuta. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. 2. kepada leluhur dengan sradha. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. 3.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi.: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. 4. huta persembahyangan homa.

Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. pintu rumah serta pintu tengah rumah. buah-buahan.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. 5. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia. tapa dan Samadhi.: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. 4. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7. . Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. 6. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan.

Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. ringgit ngara. patemon. upakara ngaran bhakti ring Widhi. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya. Semua bentuk lealaban seperti caru. A. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . kara ngaran sembah. arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. ngaran pesaksi. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan. dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut. Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. segehan adalah simbol pantat. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya.BAB V UPAKARA 1. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan.

ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. madya. yadnya adruwe prabu (hulu). motama. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa. Daksina pinaka huluia. Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2.Apan Widhi widana juga ngaran banten. Iki paribasa Aidhining yadnya. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. anten ngaran inget. daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian. yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. Makna simbol dalam Upakara 1. ngaran eling. kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. B. artinya Pisang yang cantih. luiripun. sahananing palelabanan pinaka suku. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. . Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). sirih yang cantih dan bunga harum). Banten Canang a. ling ngaran tunggal. tangan dafda muah suku manut manista. jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi.

* Tetuesaan. reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses . dan kapur sebagai lambang Siwa. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. asamsayam samagram mam.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. sirih sebagai lambang Wisnu.b. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. VII. Dengan aku sebagai pelindungmu. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. melaksanakan yoga. yogam yunjan madarasyah. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. * Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan.

b. Kewangen a. kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. a. Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan.24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja.Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis. . kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1.. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Kitab Bhagawadgita III. Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. -.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana .

diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. Isi kewangen. gambir dan buah pinang. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . merah. dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. Bahan-bahan. Mengenai telor kenapa harus telor itik. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam. merah. 3.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. tidak mau bertengkar. karena itik siwatnya baik. daun-daunan (plawa).Yang merupakan muka adalah uang kepeng. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) . kuning. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. c. bunga. b. tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. uang kepeng dan porosan silih asih. Daksina a. Bahan Kewangen dibuat. Segehan a. kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih. Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. 4.

5 kali untuk dimerajan. api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. pemujaan atau mantra.untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras. jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga. batil sebelah kiri. sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan.- . benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah). Prayascita a. Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. dihalaman pemerajan. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. c. letak segehan sesuai dengan warnanya. kidung tarian atau wayang 5. Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan. uang kepeng (2bh) base (sirih). Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari.Pengertian : . api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. merajan terakir diluar. merah selatan. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan. putih timur. 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah.

Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1. 6. Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar. pengelelenga terbuat dari minyak wangi. (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. Yajna Sesa a. Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. bayu (pengresikan). mucyante sarva kilbisaih. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan.Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru. Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus. akan terlepas dari segala dosa. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. bhunyate te tv agham papa. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). b. dan idep (pengelelenga). Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri . Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci.

Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.mereka ini sesungguhnya makan dosa.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya. 2. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. 1. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. akan memperoleh kebahagiaan. baru kemudian menikmati hidangan.Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita.Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. ditempat menumbuk padi dll 3. dipintu pekarangan.

Mengamalkan ajaran.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu. Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. B. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Tujuan Dewa Yajna a. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan.ajaran Weda . sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari.

tidak usah bermewah-mewah. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. phalam toyam. . b. ratus. puspham. c. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. sebiji buah-buahan atau seteguk air. Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra).b. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. yo me bhaktya praya chchati. iri dengki dll. Untuk mensucikan diri d. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. marah. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. Disamping itu perlu penanaman bunga. sekuntum bunga. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : . Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. kemenyan. Setangkai daun. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan .Simbol Brahma : Agni (dupa.Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a.26 menyebutkan : “Patram. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Bhagawadgita IX. Yang utama adalah hati suci.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . Meningkatkan kualitas diri c. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan.

mekidung (nyekar dalam bhs. Sarana : 1. 4. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. . c. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. Pelaksanaan : 1. asuci laksana. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. ngastawa genta. atau dirumah (kamar suci/ altar. bunga bila ada buahbuahan. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. mohon pengaksama. Menghaturkan banten. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. puja “Sthiti”/Apadeku. 2. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Selama pemuput upacara memuja bhakti. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. 3. Sulinggih/pendeta. air. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. 3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. Jawa). latihan tari.

PITRA YAJNA 1. Prelina Genta kemudian penutup. upakara untuk para pitara. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Gerhana Bulan Hyang Candra). orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). b. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2. d. 5. kesehatan. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. mendirikan bangunan suci. mulaimemberi makan. Tujuan . Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. piodalan pura/merajan. c.- Ngantukan Betara. panen (Dewi Sri). Hari Purnama dan Tilem 2. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Wujud Niskala : Upacara. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. ibu) serta memperlakukan dengan baik. kahyangan dll. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. a.

Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja.: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Tingkatan Pitra Yajna sbb. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). titik beratnya pada susila. 4. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. . Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. bunga tirtha. abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

wasi. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Orang suci. Syarat Calon Sulinggih .Atma Wedana : Tempatnya dirumah. atau pemangku). para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. belajar agama 2. Pedanda. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. 3. Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). moksantu. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Wasi. Pemangku dll. Pendeta. angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Sri Empu. Pinandita. Wujud Niskala : Upacara. swargantu. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Sulinggih.

- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. Syarat-Syarat Nabe 1. mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. 4. sehat lahir batin b. . Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. c. a. gunung dan merajan nabe 1. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. b. jasa dan kebajikan). 1. 3. 2. Upacara Puncak. • • Amati raga = penyekepan. memiliki pengetahuan umum. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. Mampu melepaskan diri dari keduniawian c. Tenang dan bijaksana d. dan bahasa Indonesia. Sanskerta. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. Paham dan mengerti Catur Weda. a. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. Seorang yang selalu dalam bersih. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. 6. 5.

digosok minyak kayu putih. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. aman. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Pada umumnya orang yang jujur. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. manah satyena sudhayanti. sejahtera. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. 3. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. manusia dapat hidup selamat. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. rukun. diasapi 3 kali. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.

Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). Mengadakan upacara selamatan pada waktu : . Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. dan malah merestui. 4 . Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. 7bulan. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). 4.Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru .Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. 5 . Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : . Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. c. Jenis-jenis manusa Yajna a. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. eteh eteh padudusan alit (lebih besar).Bayi dalam kandungan (3 . eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu.meninggalkan tempat tersebut. d. b. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. procotan) . Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon.

kemudian meketus. 2. keharmanonisan alam semesta seisinya.Bayi baru lahir (nyambutin) . b. . seni budaya.. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . . Caru artinya mengharmoniskan.Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . keselarasan. c. seperti ramah tamah pada orang. a.Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) .Anak meningkat dewasa (raja Sewala) .Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) . dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru.Bayi puput puser (kepus pungset) . kesejahteraan semua makhluk.Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) . di sumber air dll (Yajna sesa. 1. bantennya banten caru. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan.Upacara perkawinan (pawiwahan). kesehatan. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. moral/ budi pekerti dll. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan. mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1. BHUTA YAJNA 1.Tumbuh gigi.Upacara ngelepas aon (12 hari) .

. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. Sekali). Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. kehidupan yang serba damai. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. 1. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). Rsi Gana. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran).meneguhkan iman. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. ini menjadi Panca Yajna. menjamu tamu. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. Tawur Agung. berdoa. C.( mengendalikan indria.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Balik Sumpah. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). harta benda. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Bhakti Marga (jalan kebaktian). 2. Sekali) 1. PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A.) 3.lain. memantra termasuk Bhakti Marga. 2. PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. Tabuh Getuh. Panca Wali Krama (10 Th. Upacara persembahyangan. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Bhagawad Gita VI. 5. sajen. Panca Kelut. mencintai alam. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan).

Upacara di Candi Menggung. 100 hari. upacara Mahisa Lawung dll. Manusa Yajna. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. Pendak pindo. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan. B. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). bayi lahir. 40 hari. wetonan naik dewasa. Dewa Yajna 1. 3.dan Nyewu (100 hari). odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura.76) yang diterjemahkan oleh G. 7 hari. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. Malem Jum’at Legi. sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. peringatan kematian 3 hari. 2. karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. seperti Gayatri dalam semua mantra. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia.75. Baik sajen.Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. pendak pisan. Piodalan pura lain di Jawa. perkawinan. Upacara Malem Rabu Pon. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. Upacara Tawur Kesanga. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . (dilaksanakan dirumah duka umat) 4. tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna.

Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda).tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya. karena lambang pengetahuan duniawi.00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah).Veghneswara.112. pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah. badan melambangkan mikro kosmos. Kepala beliau lambang Makro kosmos. Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma. budhi “ sebanyak 108 kali. \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan. Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2. Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya. ridhi. sambil menaburkan bunga kedalam api. Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana). Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja. 2003 : 9).00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya. dari matahari turunlah hujan. maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297).1 dan 10. .matahari. karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. sidhi. Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah.9). peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh.23. Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu. biji-bijan.

Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. gambir. Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih. selesai upacara ayam dapat dimakan. berbagai macam warna (tengah). merah (Selatan). jingga (barat daya). 1.Sanaka. Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur). Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. lancur) . Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara. Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. Sanaatana = Sang Hyang Langgeng). kenanga. hijau (timur laut). Sesudah upacara dimakan. Sanadana. Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). . dadu Tenggara). mlati. (luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). cempaka. wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). kuning (barat). bulu dan cakar ditanam ditanah. Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. Bunga 2. kantil. Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. 5. Dihaturkan : semua dewa 3. hitam (utara). Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan. mawar. menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. Biru (timur laut).

Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita.Bunga 6. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. Nasi liwet beserta lauknya. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. sesudah upacara nasi dimakan. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. Jajan Pasar. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati. Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9. Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ). : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. dengan diringi kidung . Pisang Ayu Suruh Ayu. dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan. yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Sesaji : Campur. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan.

seestunipin sadaya punika. * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara. Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos.BRAHMA . .TAARAA .CANDRA .ISWARAH .KALKI AVATAR SANATKUMARA .SHRII RADHA .SANANDHANA SANAKA . Buddha Pengayoman Olah Negara .KUWERA – NILA .SURYA .sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA .YAMA .SANAATANA SHRII ERLANGGA .INDRA . ingkang sampun wonten. ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten). sajian disurut untuk makan bersama. anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula. Duh Gusti kawula puja Paduka.KALI . Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji. Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.WISNU urukramah.BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .KWAN IM . Sesudah Parama Santi.IISMAYAWATI .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .AGNI .turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan.MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA .WARUNA shanno PERTIWI .SABDHAPALON .SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA .RUDRA .

Duh Pangeran Tunggal. kabegjakna sirna sadaya dosanipun. Hyang Widhi paring nugraha. kukusing dupa keluhur. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. inggih Mahadewa. sinembah umat sedarum. Tuking sadaya gesang. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. ingapuntena dosa memanahan kawula. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. ingkang saking tindak tanduk. mboten kalahiraken. mugi-mugi. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . merwawangi. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya. Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah. ingapuntena wicara kawula. ngaturake sembah bekti. dahat sru nalangsa. jiwatman kawula nestapa. Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. Brahma lan Wisnu saha Rudra. Ganda arum. Iswarah Parameswarah. hamemuji. mboten kasad mripat. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. bibitipun sadaya dumados.

tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X .Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun. ingkang wingking Tanpa purwa.

2X . Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar.00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina.Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3. Pisang Raja.

Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan. Sesaji yang diatas meja : * Daksina. bunga. dedemit. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala. 4. yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). ditaruh di lima tempat. Pisang Ayu Setangkep.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. Pelaksanaan Upacara. (Cleo. * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai. Ingkung. 15 Pebruari 2006).00 malam sampai satu setengah jam. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi. gandarwa dll. Tumpeng Pengyoman. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah. * Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah . * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. wawancara tgl. Tirtha suci. .) yang menimbulkan malapetaka. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. Nasi Liwet beserta lauknya. Jajan Pasar. diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. suruh ayu dan bunga. setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. * Pada jam 15. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam. kemudian membuat Titha Suci.

* Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi. dengan fokus Sang hyang Semar. boleh beraktivitas lagi. tidak bicara. * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja). Manusa yajna . Setelah upacara. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. 6. makan surudan bersama. Jajan Pasar . Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci. tidak bekerja. tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon. Jam 16. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban. diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga.00. Suruh Ayu dan bunga. Nasi kuning beserta lauknya. C. * Pisang Ayu. * Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ). besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. 5.* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru).

dll. jeruk. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. bawangputih bawang merah. bawang putih. irisan timun. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. pisang. kencur. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. garam. kacang panjang tidak dipotong. gula Jawa dimasak diberi santan. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. ketumbar. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit). umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). 3. Jajan pasar. . garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. laos. ada jambu. salam/daun pandan. ingkung dan nasi asahan.Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. salak. bubuk dele. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe. kencur. kenanga dan melati. pala kependem seperti ketela rebus. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. bayam. srundeng. gereh petek. lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus. kelapa muda diparut ditambah garam. gula Jawa. salam. kenikir. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. 2. ketumbar. bongko. apel. garam. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. kecambah kacang hijau. pelas. Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. jadah. bregedel. salam laos. daun jerut purut. mangga. cabe. Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. bawang merah. ubi-ubian. kenanga kantil putih kantil kuning. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu. salam laos. biasanya kangkung. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. sambel goreng basah.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. irisan telur dadar. botok. dapat ditambah dawet. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. Semuanya diaduk. gula Jawa. sere. tempe bosok/yang sudah 3 hari.bawang putih. tempe bosok. kencur. isinya buah-buahan sad rasa. kentang hitam. kacang rebus. terasi.

cabe merah. diatasnya bawang merah dan cabe merah.4. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. pisang klutuk mentah dll. ebi/udang kering. pepaya setengah matang. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. Rujak. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). laos. bawang merah. c. telur ayam. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. bawang putih. diatas samir diberi lauknya melingkar. diberi saus rujak (gula. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. daun salam. santan dimasak sampai matang 6. brambang. dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. santan dan dimasak. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. * Sambel goreng jepan/labu jepan. daging ayam terik atau apa saja. b. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. garam. terasi garam dan asam air sedikit. Diluar lauk basah misal tahu terik. Upacara Manusa Yajna 1. . * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. diuleg/digilas) Ketupat. bangkuang. cabe. krupuk. Bayi dalam kandungan 5 bulan. kedondong. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. rempeyek kacang/teri. daun salam dimasak sampai matang. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan.

Upacara bayi lahir a. ditambah lele dan udang goreng). Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . Jajan pasar.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. sambel goreng. Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. 7 takir rujak. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh. 7 buah nasi layah. merah. irisan telur dadar. kuning. * mohon doa restu para orang tua * siraman. disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih. 2. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas. Hari kelima = Sepasaran Bayi . bregedel. 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. Upacara mitoni begitu unik :. 7 buah ketupat. Doa bersama f.e. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). Bali) Sajennya : Nasi gudangan. * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana. satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. b. Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya.

4. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut.Nasi gudangan. merah. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama. kadang-kadang bayi sering menangis. sesajinya : . ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. 3. 5. biasanya ada pesta kecil. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh . Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. Jajan pasar.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi. hijau. bayi dijaga seharian. * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya. nasi liwet. daksina. ingkung. midodareni dan panggih. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. d. biru dan coklat(gula jawa). Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. c. . Dilaksanakan upacara siraman. Kurungan diberi ayam. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. hitam. kuning. terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga .Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. jajan pasar dan intuk-intuk . Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. gedang ayu suruh ayu bunga. Sajen seperti wetonan.

untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. tempe goreng. Pengertian . selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an. dilaksanakan semua umat. tikus dll. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. nas gudangan tanpa cabe. pendak (1 tahun Jawa). Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus. semut. nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. 100 hari. lauk ayam goreng. Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. nasi asahan. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. BAB VII TEMPAT SUCI A. Sajen ditambah dengan ketan kukus. nasi golong sati. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. 2. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. perempatan dll. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. kolak dan apem. pisang ayu suruh ayu. 7 hari. Pelaksanaan persembahyangan. Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. 40 hari. nasi iber-iber. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya.

dll. Ssivalaya dll. menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. devagriha.tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya .tempat untuk memohon ampunan . berbakti.sesaji). Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha. budaya & agama seperti dharma wacana.tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam . dharma tula. seni. B.sarana pendidikan agama (perpustakaan. devabhawana. . Bagian bawah gunung alam Bhur. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : . dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya. di Jawa gunung Semeru. sarasehan. Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. Di India gunung Maha Meru.tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira. pelatihan sosia. 2. C.tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya.tempat memohon pertolongan . pesantian). Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin. tempat untuk bersujud. pelatihan pembuatan upakara (banten.tempat memohon tuntunan dalam hidup .Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan. Gunung Oleh umat Hindu. Disamping istilah Pura. gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1. devalaya. dharmashala. 1. Tempat Suci berfungsi sebagai .

makin diringkas lagi menjadi manusia. yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima. Kitab Bhagawad Gita IV . Lingga Lingga adalah lambang Siwa.: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. inggih punika alusing donia. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . 2. dianggap berbangun gunung.Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. yen karingkes dados meru ndi Himalaya. yen karingkes dados alusing ndi meru. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya). orang bersembahyang menghadap gunung. yen karingkes dados alusing meru.

merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. 6. ada bidadari-bidadari. bunga-bunga teratai. 4. 4. Candi Penataran dll. 5. 3. b. Bentuk suatu lingga 1. Candi Jago. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. 1973:84). Candi Singosari.. 3. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. Dr. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. 2. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. Candi Menurut Dr. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. Sudharma dan Mandira. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran.Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. Nama lain dari Candi adalah Prasada. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. Candi Simping dll . Candi Prambanan. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. 3. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga. Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa.

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo.. Persiapan *. *. Keput. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. Prosedur mendirikan tempat suci a. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa.Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali). Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Bhisama. 10. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Weda. SK. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. 11. D. 12. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. 2.556/DJA/1986 isinya ………. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Awig-Awig. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Status tanah bersertifikat . Lontar.

Bhur. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling). atap tiga. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. bhuah loka dan swah loka. halaman pertama ini biasanya kosong. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan. Maha. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. 3. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. lima tujuh.b. Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. Candi Ceto terdiri 13 halaman. Pengurusan sertifikat *. untuk masuk halaman pertama melewati gapura. Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung. 2. terdiri dari tiga bagian. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk. ada meru atap satu atap dua. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya.. Melampirkan denah 3. Gedong . Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok. Candi Margarana. sembilan dan sebelas. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Pengurusan sertifikat tanah *. Prasada Bentuknya seperti tugu. Tapa dan Satya Loka. E. Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. Bhuah Swah. dasar. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. 1. Jana.

beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . 5.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. padas. Padma Capah. bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Jenis Padmasana : Padmasana. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. badan dan puncak atau atap. Padma Agung. 4. terdiri tiga bagian dasar. f. 2. 5. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . 3. a. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. Letaknya diluar halaman pura. Di Jawa. 6. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Bagian dasar terbuat dari batu bata. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. 4. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. Padmasari. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e.

Pengertian Pandita. 97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana.4. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I. Ida Pandhita. Diantara yang ahli Weda. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. Diantara yang melaksanakan upacara. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. bahasa dan kemampuan daerah. ekajati maupun upacara dwijati. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. Rsi. Ida Rsi Bhujangga. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda. wiku. mahkluk hidup yang paling tinggi. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya. yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan. Manawa Dharmasastra I. Ida Bhagawan. 1. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. Ida Sri Empu. .96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. Dukuh.

manusialah yang paling tinggi. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan. Diantara yang punya pikiran.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . 2. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana.96 menyebutkan Bhutanam paninah. 3. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. memiliki pengetahuan umum. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Diantara ahli weda. Diantara yang melaksanakan upacara. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. Manawa Dharmasastra I. Indonesia. makhluk hidup adalah yang paling tinggi. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya. yang ahli weda adalah yang tertinggi. 5. pendalaman intisari ajaran agama 6. 2. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. 4. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi. Sanskerta. yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi. Inilah yang disebut Brahmana sejati. Manawa Dharmasastra I.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

Panyudamalan dan Nyapu Leger b. Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : .  Kahyangan Tiga. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. Padharman. Panti. Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru. Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. Gede dll. Pamangku Dalang 3.B. Dang Kahyangan. dan juga atas panygrahan nabe. Hak seorang Pemangku/Pinandita *. Pinandita 1. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat. Merajan. Paibon. sesuai tingkat pewintenannya. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c. Sasana Pamangku a. Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa.

Satya. berbohong dan menghina. Mendiskusikan pengetahuan.wenang agotra. 5. Aharalagawa. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. Wacika dan Manacika b. Pengertian Sudi artinya penyucian. Brahmacari. Selalu jujur. filsafat dan agama. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. SUDI WADANI 1. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah. Apramada 5. Catur Paramita : . b. memakai destar. Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu. Gurususruca. Melaksanakan upacara . Sauca. Awyawahara. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. Tri Kaya Parisudha : Manacika. 3. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1. waspada tidak gegabah dalam kejadian c. Yama Brata : Ahimsa. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. Tidak memfitnah. anyondong. berambut panjang. Bebratan Pemangku a. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata.. Asteya Niyama Brata : Akroda. wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti. 4. 2.

. Na. 2. -. c. Pelaksanaan Upasaksi a. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . Ta. bija. b. Bentuk Upacara Upasaksi a.Nista : mempergunakan air . Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang. 3. Pelaksanaannya selalu disertai dengan api. Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah .. prayascita. Ang Ung Mang B. A. Ya. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan. dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa. Wa. I.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk). Bila memungkinkan dengan sarana Daksina. Ma. sesuai ketentuan. 3. Si. c. Mantra Om Sa. saya bersumpah …. P E N Y U M P A H A N 1. .Utama : mempergunakan banten biyakala. canang sari dan air suci. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani. tataban . Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil.untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa . Ba. bunga.

Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. 5. 7.Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1.b. 6. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1. sampai bersih darah dan membersihkan diri. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C. 2. 3. 3. . CUNTAKA 1. 8. * Sikap yang akan disumpah .Ruang Lingkup. Sebel karena melakukan Sad Tatayi.Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa . Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah. 4. 9. Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. 2. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya.

Bali) adalah hari yang diistimewakan. diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat. Hari Suci Agama Hindu 1. Jum’at dan Sabtu) 2. Selasa. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci.. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya.3. Kamis. a. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. Anak dan rumah yang ditempati. suaminya dan rumah yang ditempatinya. Pahing). Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. Kliwon. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. seperti Hari Purnama dan Tilem . sampai kepus puser (putus pusernya) 4. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. Legi. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. 5. sampai diadakan upacara byakaon 9. Sapta Wara (Senin. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. Wage. sampai upacara byalaon 10. suaminya danrumah yang ditempatinya. B. wanita bersalin : diri pribadi. Rabu. . Dwi Wara (menga. 3. Panglong atau penanggal. 1. 6. sampai diceraikan. 7. pepet) Tri Wara (pasah beteng. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. b. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). keguguran : diri pribadi. 8. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. kajeng). Panca Wara (Pon.

hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. 5. b. 4. dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. 5. 2. sanggah dll. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). c. 2. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. 3. 3. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”. 6. seperti Dewa Yajna. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. Jenis Hari Suci Rerahinan 2. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. bulan sabit didahi Dewa Siwa. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana.3. d. dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan.: 1. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. Manusa Yajna dll. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). 1. pemerajan. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. sumber air. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan .

Swadhyaya Yajna. harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. apan parikramaning dahat suksma uttama. Yoga Yajna. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. rengen warahkwa ri kitanaku. kepada Para Purohita. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. maka drstaning praja mandhala. nimittaning drsta prajanira sri haji. Hyang Ludra 2. wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. tkeng kajagatanika. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. Tapa Yajna. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. demi untuk kesejahteraan jagat raya. karena melaksanakan hal-hal yang utama. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. ri sawateking purohita kabek. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit). andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. Dhyana Yajna dll. 3. . wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. persembahyangan Trisandya.Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. Ini semua diterima oleh para dewa. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara.

Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . Wariga Saniscara Kliwon Wariga. 4) Hari Raya berdasar pawukon 1. Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. Tumpek Penguduh atau Pengatag. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat. Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e.5. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d. Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c. untuk kemakmuran. Pengarah Bubuh.

h. pada waktu tilem Hyang Surya . i. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha. 1. Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga. Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1. mas perak permata. Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma.

Sinta Radite Soma Anggara Buda . mona brata. turunnya Sang Hyang Dharma. beryoganya Sang Hyang Siwa. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. b.beryoga. Sasih Kapat Purnama Kapat. jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. c. jagra dan upawasa d. 1. Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1.

Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2. Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6. Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4. Gumbreg .

Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Sukra Kliwon Sugihan Bali 12. Wariga 8.7. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11. Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13. Kuningan Radite Soma . Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9.

Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih . Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15. Pujut 16.Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17. Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18.

Medangkungan 21.19. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23. Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22. Wayang Saniscara . Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26. Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27.

29. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. 1. 30. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C. tahun Baru Imlek.Kliwon Tumpek Wayang 28. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. . Tahun Baru Muharam. ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa).

danau atau mata air yang Laut. mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. yang maksudnya berdiam diri.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1. Pelaksanaan: semua Arca. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari. b. Pratima. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan . : diperempatan jalan atau didepan rumah. danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta. Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut.kepada umat manusia. a.

Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. d. obor. kedamaian dan kebahagian. atau lebar puasa. e. untuk mendapatkan ketenangan. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. ini juga disebut labuh brata. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional.c. artinya menyalakan api kembali. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. memadamkan api hawa nafsu. : Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. 2. tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. Hari Raya ini . tirtha pelukatan. mesui. sapu. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. : Agar dapat mengendalikan diri. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian.

kelembutan.dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). 3. Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. 4. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. simbol kekekalan c. 3. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d. Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. menarik. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam .. penuh keindahan. 6. 5. 2. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. 5.

menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Surabaya : Paramita. Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. IB. Nyoman S. Gde. 1993. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. Surabaya : Paramita. 6. Tjok Rai. Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. Agem-Ageman Kepemangkuan. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. 2000. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. bertempat di Pura atau dirumah. dkk. 2003. 2002.perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). 2005. DAFTAR PUSTAKA Bangli. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. Denpasar : Dharma Bhakti. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. Jakarta epartemen Agama RI Nala. Dirjen. Sudirga Ida Bagus. Denpasar :. .. umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan. Ngurah. Manggala Upacara. Bimas Hindu dan Budha. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. Ganesa Exact. Sudharta. Sehari sesudah hari Galungan. dengan menghaturkan puja bhakti. 2004. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. Puja. Bhagawadgita. Acara. Putu. MA SH. Pendit. 2007 Widya Dharma Agama Hindu. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. Agama Tirtha & Upakara.

2006. Putu. Surabaya : Paramita. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. Yayasan. Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . Drs. Sudarsana. Wijaya. MM. Gede. s . Denpasar : Setia Kawan.. Sri Rahayu. 1981. 2003. Niken. Intisari Ajaran Agama Hindu. Filsafat Yadnya. 1998. Nukning Dra. IB. 2005. Surabaya : Paramita. Denpasar Panakom Publishing. Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). Denpasar : UNHI Tambang Raras.Sanatana Dharmasrama. MBA. Msi. Yajna Sesa.