Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

Wisnustawa. Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. pikiran yang suci. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. disebut ”Wijaksara”.menumbuhkan persanaan. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . Macam . Mantra adalah Weda. Ia yang maha kuasa. Durghastawa. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. c. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. Mantram. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. bagian kedua sukta 5. sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. Ang Ung Mang. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan. sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. dan sebagainya. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Sarana Upakara. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Barunastawa. Dalam sekian banyak mantra.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra.Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr . Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .

Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika . Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. Banten punika taler kawastanin upakara. Stawira punika sarwa tumuwuh. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih. pinaka Bhuwana Agung. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. pinaka Anda Bhuwana. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia.07. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya.08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. Yan ring basa Bali mateges ngayah.pinaka warna rupaning Ida Bhatara.Suksmaning Banten on Mon Apr 06. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. Asih. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi. Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi.papaya para pidana. Janggama punika sarwa buronné sami. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. Punia. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Banten punika waluya basa mona. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Yan ring basa Indonésia mendekat. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten.

M Si. Nukning Sri Rahayu. Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala. Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara.kaandapang. Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika. muang Kayikané jaga setata madasar asih. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. Manut Manawa Dharmasastra V. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané. muang bakti.Wacika.com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. . Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten. punia. Yan sampun asapunika dasar makarya banten. Manacika. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten.

Pendahuluan Pengertian. masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. 2. Acara • • • • • • Perilaku yang baik. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . 4. Upa artinya berhubungan dengan. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. 5. Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. Pengertian 1. ACARA AGAMA HINDU 1. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. Selanjutnya arti upacara adalah : . Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan. penyumpahan dan cuntaka. 2. pandita-pinandita. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. baik yang terkait dengan masalah yajna. 1. Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. purwa.Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna. 3. sudi wadani. loka. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara. dasar. cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan.

Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2.) > ketangkasan fisik ( tentara. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. pembantu rumah tangga) 1. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. 1. hansip. pekerja. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). pekerjaan. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. 3.Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam .Agama . guru. 1. dokter dll. d. Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. hakim.- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna.pemikiran (pendeta. antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. petani. kondisi social ekonomi. pengusaha. nelayan. polisi. Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. juga etika umum 2. Ruang lingkup Acara 1. Sumber Acara Sumber Acara . pendidik. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. keahlian > kebijakan. Upa artinya berhubungan dengan.

Agama : Agama Saiwa. Gopatha Araniyaka. kosala kosali. 1. Satapatha. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg. 1. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Reshi. Wahya. Sila : . Purwamimamsa. Grhya Sutra = berumah tangga. Ayurveda. 2. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri .Sumber Acara > sebagai dharma 1. Purana. 1. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya. Veda. Upanisad Sama Veda 10 bh. Gopatha > Aitareya Araniyaka. peraturan tentang baik buruk. Artasastra. Wedantasutra. Pengertian dharma : Satya = kebenaran. Tandya. Sama Veda. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. irama. Upanisad Rg Veda 10 bh. Saktisme - 1. 1. Nibanda : ditulis Mahareshi. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. tingkah laku . 3. Brahmasutra. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. Waisnawa. 2. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Tidak bertentangan dengan harga diri. tembang tentang isi veda. Tandya Araniyaka.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Sulwa Sutra = membuat bangunan. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Satapatha A.) Upaveda : Itihasa. kepuasan diri sendiri. Silpasastra = asta bumi.

jer basuki mawa bea. 2. Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja. Y A J N A A. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : . tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. materi. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. Kama = keinginan. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin. = hormat taat tekun. 3. Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1.- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. 4. Dharma = kebajikan.

* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. persembahan atau korban suci . berkorban demi kebenaran (dharma) . Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut .pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) . upakara. 1. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) . kebaktian > upacara.system persembahyangan. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . Satyam brhadrtamugram diksa. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman.menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. pemujaan.pengorbanan suci lahir batin. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. 1.system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan.

Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.14). Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. dari hujan timbul makanan. dari makanan lahir mahkluk hidup. Mengendalikan hawa nafsu . Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. diksa. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma.24-27. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa.Artinya : Sesungguhnya satya. tapa.rta. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). 1. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2.

11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. mengentaskan kemiskinan. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Rg Weda X. Dengan kemantapan srada. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. tapa brata.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. . Bhagawadgita III. yang kokoh dan suci (rta). sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. Maka sebelum menikmati makanan.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. prthiwim dharayanti. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Atharwa Weda XII. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Menolong orang sakit.3.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. B. menghibur orang susah dll. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Bhagawadgita III. Bhagawadgita III. semoga bumi ini. Bhagawadgita III.12 : Ia yang hanya suka dipel. diksa tapa brahma yadnyah.

11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan.71. kepada leluhur.Manawa Dharmasatra. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. TUJUAN YAJNA 1. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. Bhagawadgita VII. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya . mengajarkan isi Weda. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . VI.

3. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia.Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah .huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . kemampuan berpikir. tawur. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. terkadang penuh keragu-raguan. wahai Bharatasabha. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. 1. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Kitab Bhagawadgita XIV. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Pedudusan. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. mereka yang sengsara. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. yang mengejar ilmu. prayascita. caru. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. demikianlah kenyataanya. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power.

Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Rajasa dan Tamasa. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa.5 menyebutkan : . Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Yajna. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Kitab Manawa Dharmasastra V . Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. pikiran disucikan dengan kebenaran . Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga.54. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Sattwika. jasmani suci.

Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. di bulan di matahari.“Ko addha Veda ka iha pravocad. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. huruf-huruf kitab suci. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. nimittaning mangkana. 1. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Kunti putra. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. 4. Beliau diair. prabha ‘smi sasisuryayoh. pada seluruh ciptaannya. dapat berterima kasih pada Tuhan. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. Pranavah sarvavedeshu. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia.8 memberi petunjuk sbb. wenang ya . Tuhan berada dimana-mana. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. cahaya bulan dan matahari.

D.: “ye yatha mam prapadyante. 2. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. pupuh. Seni tabuh. seni tari dll ikut mendukungnya. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. tams tathai ‘va bhayamy aham. . Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. 3. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup.nuvartante. Mam vartma . wirama. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. 2. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. sloka. Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). semuanya Kuterima. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. karena itu. 5.Tinulung awaknyasangkeng sangsara. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. 3. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. palawakya. 4.

Legi. Dukut. Dasar perhitungan wara seperti . Menail. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. . Kulantir. Tambir. Sabtu. landep. Galungan. Perangbakat. Perhitungan sasih : Purnama. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Senin. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. 1. Kamis. Kliwon. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. 3. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Pon. Medangsia. Anggara. Ukir. Uye. Wariga. sebelum kita makan masakan itu. Jaya. Watugunung. 1. Sebagai contoh upacara melaspas. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Beteng. Pujut. Nyepi. ngulapin orang jatuh.: 1. Warigadian. Pahang. Sukra. 1. Bala. Kajeng = Sri. pagi sing dan sore 2. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Laba. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Pepet = Pasah. Julungwangi. Wraspati. Rabu. Kuningan. Tilem. Saniscara. Langkir. = Minggu. Wage. Soma. eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Sudi wadani dll. Merakih. Wayang. Buda. Sungsang. Krulut. Jumat. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Selasa. Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Redite. Matal. 2. Menala = Pahing. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Siwaratri. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Gumbreg. Medangkungan.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Ugu. Tolu. Kulawu.

mantra. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. 3. ketulusan. kala ( waktu). Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. 4. dalam hidup ini.12. 1. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). kesucian hati.ii. kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. dan patra (keadaan). Kitab Satapatha Brahmana 1. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci.Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). sastra agama. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. gita annasewa dan nasmita. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. 5. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. lascarya. daksina. hendaknya untuk menjamin kelancaran. 2. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. mantra. .

Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb. ada tapa. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III.: 1.2. 2. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. ada yoga. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.: 1.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. Svadhyaya. 2. Kitab Bhagawadgita IV. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur . Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. yoga-yajnas tathapare. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4.

4. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : . • Manawa Dharmasastra I. 5. 2. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5.3. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar.: 1. kepada leluhur dengan sradha. huta persembahyangan homa. 4.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. 3. Manawa Dharmasastra III. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. Brahmahuta. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.

6. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. .1. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. 3. pintu rumah serta pintu tengah rumah. buah-buahan. Rsi Yajna adalah persembahan punia.: 1.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. 1. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2. 4. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb.: 1. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.: 1. 5. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. 2. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. 3. 2. 3. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. 4. 3. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. 4. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6. tapa dan Samadhi. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. 5.: 1. 7. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. 6.

upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. ratus. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. kemenyan. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. 2. 4. 6. 7. 8. 1.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. 3. Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran. 1.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. 2. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. 5. Dewa yajna 1. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari.5. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. A. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana.

26 menyebutkan : “Patram. Setangkai daun. 1. Jawa). mekidung (nyekar dalam bhs. marah.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. puspham. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. atau dirumah (kamar suci/ altar. b. tidak usah bermewah-mewah. c. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. latihan tari. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). sebiji buah-buahan atau seteguk air. Bhagawadgita IX. phalam toyam. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman bunga. Tad aham bhaktyu pahritam. Sarana : . sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. 1. Yang utama adalah hati suci. iri dengki dll. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. yo me bhaktya praya chchati. aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. sekuntum bunga. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun.

bunga bila ada buahbuahan. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. 3. Sulinggih/pendeta. 3. Selama pemuput upacara memuja bhakti.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. c. 2. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. 2. Menghaturkan banten. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. puja “Sthiti”/Apadeku. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk.1. Hari Purnama dan Tilem 2. 1. mohon pengaksama. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. Pelaksanaan : 1. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. asuci laksana. ngastawa genta. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. air. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Prelina Genta kemudian penutup. Ngantukan Betara. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”.

Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. 4. mendirikan bangunan suci. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). Gerhana Bulan Hyang Candra). Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. kahyangan dll. piodalan pura/merajan.- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage . panen (Dewi Sri). Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. . 3.

PITRA YAJNA 1. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. ibu) serta memperlakukan dengan baik. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. Wujud Niskala : Upacara. mulaimemberi makan. 4. Tingkatan Pitra Yajna sbb. titik beratnya pada susila. Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). 1. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. 3. 2. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. upakara untuk para pitara. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. 1. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. kesehatan.1. B.: .

Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. 1. abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. Atma Wedana : Tempatnya dirumah. . moksantu.Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. swargantu. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1. Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. bunga tirtha. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.

1. 3. 5. Syarat Calon Sulinggih 1. Seorang yang selalu dalam bersih. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. 5. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. 2. mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. a. wasi. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. memiliki pengetahuan umum. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Syarat-Syarat Nabe 1. Wasi. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Pemangku dll. belajar agama dll. 2. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. 4. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. 1. 2. Sri Empu. Pinandita. atau pemangku). 3. jasa dan kebajikan). Pendeta. Sulinggih. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. Pedanda. 6. Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. 4. Sanskerta. Orang suci. 3. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1.Wujud Niskala : Upacara. dan bahasa Indonesia. Upacara awal . sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda.

1.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. rukun. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. digosok minyak kayu putih. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. c. • • Amati raga = penyekepan. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. aman. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. . 1. sejahtera. gunung dan merajan nabe 1. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. 2. b. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. manusia dapat hidup selamat. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. Upacara Puncak. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. diasapi 3 kali. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. 3. 1. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. 1. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. manah satyena sudhayanti. dan malah merestui. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . Upacara ini berupa pemberian korban. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. c. 1. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. a. Pada umumnya orang yang jujur. b.Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja.

Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia.Upacara perkawinan (pawiwahan). Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1.Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . moral/ budi pekerti dll. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. 5. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. kemudian meketus. c. mepangur) Mewinten . Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3. b. 7bulan. 4. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan. 4 bulan. 4. seperti ramah tamah pada orang lain.2. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . 1.Tumbuh gigi. seni budaya. setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. Jenis-jenis manusa Yajna a. kesehatan. 5 bulan. 3. menjamu tamu .

PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . mencintai alam. mesegeh. memelihara. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. Caru artinya mengharmoniskan. Sekali). Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. Panca Wali Krama (10 Th. di sumber air dll (Yajna sesa. Tawur Agung. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Tabuh Getuh. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. b. Rsi Gana. keselarasan. Cara pelaksanaan 1. bantennya banten caru. dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. Sekali) 1. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Panca Kelut. Balik Sumpah. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Dengan mengadakan korban (mecaru. menjamu tamu. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. BHUTA YAJNA 1. melestarikan. 1.

. 3. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4.1.meneguhkan iman. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. 5. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. ini menjadi Panca Yajna. mucyante sarva kilbisaih. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. Bhagawad Gita VI. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). harta benda. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti. 2. akan terlepas dari segala dosa. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. bhunyate te tv agham papa.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. Contoh mengendalikan indria. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. YAJNA SESA 1. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. sajen. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III.

ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan. Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan . Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. dipintu pekarangan. 1. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras.mereka ini sesungguhnya makan dosa. Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya . baru kemudian menikmati hidangan. 1. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan.

Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. .com. Theme: Vigilance by The Theme Foundry. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu. Blog pada WordPress.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti). from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan. yoga dan semadi. dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. sakit. bodoh.. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa. brata. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta.Rabu Pon. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. brata. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. semadi. Artinya. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih.. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. semua upakara banten sebagai lambang diri manusia. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan . Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. yoga. Artinya. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. pinaka warna rupaning Ida Bhatara. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. pinaka anda bhuwana. Letaknya amat sepi tetapi indah. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi. brata. Dalam Lontar Sundarigama. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : .

sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. birokrasi semakin tidak melayani. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. Seperti menjadi daya tarik wisata. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. hukum semakin tidak tegak. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Meskipun. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. * wiana . yoga. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. Apa itu kesenjangan ekonomi. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita.

15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi. . pinaka andha buwana. Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. pinaka warna rupaning Ida Bhatara.

Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. Upacara Perkawinan. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan. upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. . terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian. yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab.i. bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. Upacara perkawinan. baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. Di samping itu. karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. di tinju dari segi rohaniah. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

guru. . pekerja) 5. hansip. pemikiran (pendeta. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. Tandya Araniyaka. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi . Sumber Acara Sumber Acara . pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. Ruang Lingkup Acara 1. Satapatha. C. keahlian Brahmana > kebijakan. Satapatha A. Veda. 1. Yajur Veda dan Athrwa Veda) . Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis.Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. polisi. 4. Gopatha Araniyaka.Mantra : catur Veda (Rg. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6.B. Tandya.Brahmana : Aitareya. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. 3. dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara. pekerjaan. Gopatha > Aitareya Araniyaka. kondisi social ekonomi.petani) > mengandalkan fisik (buruh.Agama . nelayan. Sama Veda. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. pendidik.

* Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Wedantasutra. 3. Wahya Pengertian dharma : . peraturan tentang baik buruk. .Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh.Upanisad Sama Veda 10 bh. Sila : .Diksa = penyucian . Artasastra.Upaveda : Itihasa. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu. 4. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. 2. Purana. 5.Tapa = pengendalian diri . Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Resi seperti Sarasamuscaya. Grhya Sutra = berumah tangga. Brahmasutra. perbuatan yang menyenangkan orang lain. Acara (Sadacara) : Kebiasaan.. Nibanda : ditulis Mahareshi. Ayurveda.) . 6.Brahman = Hyang Widhi . Tidak bertentangan dengan harga diri. kepuasan diri sendiri. kejujuran . Purwamimamsa. tembang tentang isi veda.Satya = kebenaran. irama. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. Sulwa Sutra = membuat bangunan.Rta = mengakui hokum alam .Tingkah laku yang baik dari orang suci. Silpasastra = asta bumi. kosala kosali. tingkah laku . Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Upanisad Rg Veda 10 bh.

Waisnawa. manifestasinya.pengorbanan suci lahir batin. pemujaan. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit.sistem persembahyangan.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. Saktisme. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut .Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk .pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . demi kebenaran (dharma) . antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa. kebaktian > upacara. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja.system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . Yajus artinya aturan tentang yajna 3. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1.. upakara. Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. persembahan atau korban suci .

14).(Bhagawadgita III. tapa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. dari hujan timbul makanan. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. dari makanan lahir mahkluk hidup. Satyam brhadrtamugram diksa. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. diksa. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. .24-27.rta. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata.

bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. 4. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. mengentaskan kemiskinan. 3. menghibur orang susah dll. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Atharwa Weda XII. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. tapa brata.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. Bhagawadgita III.Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Maka sebelum menikmati makanan. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. prthiwim dharayanti. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. 2. Bhagawadgita III. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. diksa tapa brahma yadnyah. semoga bumi ini. yang kokoh dan suci (rta). Dengan kemantapan srada.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. Tujuan Yajna . B. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri.

sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna.71. mereka yang sengsara. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda.: . yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).Manusia memiliki bayu. kemampuan berpikir. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) . 2. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu . Bhagawadgita VII. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. mengajarkan isi Weda. yang mengejar ilmu. wahai Bharatasabha.Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) .rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. 1.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.1. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara.

Kitab Bhagawadgita XIV. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. tawur. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Pedudusan. jasmani suci. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . terkadang penuh keragu-raguan. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. Kitab Manawa Dharmasastra V . hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. demikianlah kenyataanya. prayascita.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. 3. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Sattwika. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. pikiran disucikan dengan kebenaran . Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. Rajasa dan Tamasa. caru. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani.

huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya.4. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c. di bulan di matahari.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. pada seluruh ciptaannya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a. Pranavah sarvavedeshu. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. Beliau diair. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b.8 memberi petunjuk sbb. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. cahaya . Tuhan berada dimana-mana. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Yajna. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).54. Kunti putra. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. prabha ‘smi sasisuryayoh. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III .

Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara. wirama. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. Seni tabuh. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. karena itu. 5. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. pupuh. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. palawakya. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. 4. . * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. huruf-huruf kitab suci. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna.bulan dan matahari. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. seni tari dll ikut mendukungnya. nimittaning mangkana. dapat berterima kasih pada Tuhan. sloka. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya.

ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. VI. Rg Weda X. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Bhagawadgita III. Bhagawadgita III. 3. 5. Manawa Dharmasatra. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).12 : Ia yang hanya suka dipel. tams tathai ‘va bhayamy aham . Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4. kepada leluhur. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3.: “ye yatha mam prapadyante. 1. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir.D. 2.

Buda.eka wara = Luang dwi wara = Menga. Kulantir. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Sukra. Pepet tri wara = Pasah. Wage. Julungwangi. sapta wara = Minggu. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Sabtu. Menala panca wara = Pahing. Pon. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan.: a. Kuningan. Soma. Langkir. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Selasa. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Beteng. Galungan. Kamis. Tambir.Mam vartma . Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Wariga. Medangkungan. Ukir. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Laba. Krulut. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Warigadian. Jumat. Tolu. Rabu. sebelum kita makan masakan itu.nuvartante. Legi. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Senin. Pujut. landep. Jaya. Sungsang. Merakih. pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Wraspati. Saniscara. Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. 1. Kliwon. Medangsia. Dasar perhitungan wara seperti . . Redite. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. Kajeng catur wara = Sri. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2. Gumbreg. Anggara. . Pahang.

Kulawu. kidung suci daksina dan srada . Equinok(matahari diatas katulistiwa). hendaknya untuk menjamin kelancaran. kesucian hati.Matal. 5. 4. lascarya. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Perhitungan sasih : Purnama. Watugunung. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1.Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Siwaratri. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. . Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . Wayang. 1. 3. Tilem. . Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada).Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. B. Bala. Dukut. mantra. Menail. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Perangbakat. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Nyepi.Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. Sebagai contoh upacara melaspas. daksina. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). mantra. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Ugu. sastra agama. ketulusan. dalam hidup ini. kala ( waktu). dan patra (keadaan). 3. Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. ngulapin orang jatuh. 2. Sudi wadani dll. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Uye.

Kitab Bhagawadgita IV. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Svadhyaya. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta.28 sbb. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. 2.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. ada yoga. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4.: . persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2. ada tapa. yoga-yajnas tathapare. Kitab Satapatha Brahmana 1. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.: 1. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. 2.

1.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. 4. Brahmahuta. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. * Manawa Dharmasastra III. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. 3. kepada leluhur dengan sradha. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. 2. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. 4. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: . Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I. huta persembahyangan homa. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. 2. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan.: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda.

mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia. pintu rumah serta pintu tengah rumah. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. 6. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. buah-buahan. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb.: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. . 4. Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. tapa dan Samadhi.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. 5. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.

Semua bentuk lealaban seperti caru. segehan adalah simbol pantat. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. ngaran pesaksi. kara ngaran sembah. A. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi.BAB V UPAKARA 1. patemon. upakara ngaran bhakti ring Widhi. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga. patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya. Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. ringgit ngara. Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan.

apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang. madya. motama. sirih yang cantih dan bunga harum). yadnya adruwe prabu (hulu). ngaran eling. Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2. daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian. . ling ngaran tunggal. Banten Canang a. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi. luiripun. kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. B. tangan dafda muah suku manut manista. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. anten ngaran inget. Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. artinya Pisang yang cantih. jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. Makna simbol dalam Upakara 1. ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa. sahananing palelabanan pinaka suku. Daksina pinaka huluia.Apan Widhi widana juga ngaran banten. Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. Iki paribasa Aidhining yadnya.

lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses . reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. * Tetuesaan. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. asamsayam samagram mam. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. VII. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. * Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. sirih sebagai lambang Wisnu. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. melaksanakan yoga. Dengan aku sebagai pelindungmu. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala. yogam yunjan madarasyah. dan kapur sebagai lambang Siwa.b.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha.

. Kitab Bhagawadgita III. -.Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis. kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana . a. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. b. . Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya.24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja. Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan. Kewangen a.

Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya. dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. Segehan a. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih. 4. 3. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam. merah. uang kepeng dan porosan silih asih. Bahan Kewangen dibuat. karena itik siwatnya baik.Yang merupakan muka adalah uang kepeng. gambir dan buah pinang. bunga. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. merah. Mengenai telor kenapa harus telor itik.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. Isi kewangen. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. c. kuning. daun-daunan (plawa). Bahan-bahan. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) . b. tidak mau bertengkar. Daksina a. tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong.

jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. dihalaman pemerajan. letak segehan sesuai dengan warnanya. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. kidung tarian atau wayang 5. merajan terakir diluar.Pengertian : . Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada. 5 kali untuk dimerajan. Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan.- . Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah). 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali. pemujaan atau mantra. batil sebelah kiri. api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas. Prayascita a. didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan. merah selatan. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. c. uang kepeng (2bh) base (sirih). sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan. putih timur.untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras.

Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1. Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. mucyante sarva kilbisaih.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. pengelelenga terbuat dari minyak wangi. bayu (pengresikan). 6. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri . Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru. Yajna Sesa a. Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). bhunyate te tv agham papa. (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. dan idep (pengelelenga).Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci. b. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. akan terlepas dari segala dosa. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus. Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar.

Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. dipintu pekarangan. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan. Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya.Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur.mereka ini sesungguhnya makan dosa. 2. baru kemudian menikmati hidangan. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. akan memperoleh kebahagiaan. ditempat menumbuk padi dll 3. 1. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana.

Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari.ajaran Weda . sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. B. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Tujuan Dewa Yajna a. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Mengamalkan ajaran. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna.

Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. sekuntum bunga. marah.b. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : . lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. Untuk mensucikan diri d. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. iri dengki dll. puspham. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. b.26 menyebutkan : “Patram. kemenyan. Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. phalam toyam. sebiji buah-buahan atau seteguk air. ratus. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar.Simbol Brahma : Agni (dupa. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. . tidak usah bermewah-mewah. c. yo me bhaktya praya chchati. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. Disamping itu perlu penanaman bunga. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. Yang utama adalah hati suci. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. Bhagawadgita IX. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Setangkai daun. Meningkatkan kualitas diri c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan.

Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. atau dirumah (kamar suci/ altar. bunga bila ada buahbuahan. puja “Sthiti”/Apadeku. c. Selama pemuput upacara memuja bhakti. Pelaksanaan : 1. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. 3. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. latihan tari. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. . Jawa). mohon pengaksama. Sulinggih/pendeta. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. 4. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. air. mekidung (nyekar dalam bhs. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Sarana : 1. asuci laksana.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. 3. Menghaturkan banten. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. 2. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. ngastawa genta.

Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. panen (Dewi Sri).- Ngantukan Betara. piodalan pura/merajan. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). c. Gerhana Bulan Hyang Candra). Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. ibu) serta memperlakukan dengan baik. mulaimemberi makan. Prelina Genta kemudian penutup. d. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2. mendirikan bangunan suci. b. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. a. Hari Purnama dan Tilem 2. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. kahyangan dll. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. PITRA YAJNA 1. upakara untuk para pitara. Tujuan . Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Wujud Niskala : Upacara. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. 5. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). kesehatan. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa.

Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi.: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. . bunga tirtha. 4. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja.Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. titik beratnya pada susila.

Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. moksantu. angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. wasi. Pemangku dll. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Wasi. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Pendeta. belajar agama 2. Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Syarat Calon Sulinggih . Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Sulinggih. 3. Wujud Niskala : Upacara. Orang suci.Atma Wedana : Tempatnya dirumah. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Pedanda. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Sri Empu. atau pemangku). Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. swargantu. Pinandita.

c. 5. . mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Syarat-Syarat Nabe 1. a. dan bahasa Indonesia. Seorang yang selalu dalam bersih. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. 2. 1. Mampu melepaskan diri dari keduniawian c. 3. 6. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. Tenang dan bijaksana d. 4. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. Paham dan mengerti Catur Weda.- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. • • Amati raga = penyekepan. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. a. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. Upacara Puncak. jasa dan kebajikan). b. Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. sehat lahir batin b. Sanskerta. memiliki pengetahuan umum. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. gunung dan merajan nabe 1. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1.

aman. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. rukun. 3. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. sejahtera. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . digosok minyak kayu putih. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Pada umumnya orang yang jujur. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. diasapi 3 kali. manusia dapat hidup selamat. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. manah satyena sudhayanti. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau.

7bulan. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : . Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). procotan) . Jenis-jenis manusa Yajna a. d. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). c. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru . Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. 4 . 4. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara.meninggalkan tempat tersebut. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. dan malah merestui. 5 . eteh-eteh padudusan agung (paling besar).Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : . eteh eteh padudusan alit (lebih besar). Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. b.Bayi dalam kandungan (3 .

Upacara ngelepas aon (12 hari) .Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) . keharmanonisan alam semesta seisinya. bantennya banten caru. moral/ budi pekerti dll. . kesejahteraan semua makhluk. 1. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan. mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1. kesehatan.Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) .Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) . keselarasan. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. kemudian meketus.Upacara perkawinan (pawiwahan). c.Anak meningkat dewasa (raja Sewala) . seni budaya.. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan.Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) . Caru artinya mengharmoniskan. BHUTA YAJNA 1. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.Tumbuh gigi. a. dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. b. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . . seperti ramah tamah pada orang.Bayi puput puser (kepus pungset) . 2.Bayi baru lahir (nyambutin) . di sumber air dll (Yajna sesa.

mencintai alam.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4.meneguhkan iman. Sekali) 1. 1. sajen. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. Bhakti Marga (jalan kebaktian). Sekali). PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. harta benda. Bhagawad Gita VI. Panca Kelut.lain.) 3. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. 2. Panca Wali Krama (10 Th. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. . Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. Tawur Agung. PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran). 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. 2. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. C. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). Rsi Gana. berdoa. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). kehidupan yang serba damai.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. memantra termasuk Bhakti Marga. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Upacara persembahyangan. ini menjadi Panca Yajna. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup.( mengendalikan indria. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan). dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. Balik Sumpah. 5. Tabuh Getuh. menjamu tamu.

40 hari. Baik sajen. Upacara Tawur Kesanga. 3. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Piodalan pura lain di Jawa. Malem Jum’at Legi. 100 hari. upacara Mahisa Lawung dll. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain. Pendak pindo. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). seperti Gayatri dalam semua mantra.dan Nyewu (100 hari).Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Upacara Malem Rabu Pon. bayi lahir. sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. Dewa Yajna 1. Manusa Yajna. B. wetonan naik dewasa. Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . peringatan kematian 3 hari. pendak pisan. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan.75. perkawinan. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. 2. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. (dilaksanakan dirumah duka umat) 4.76) yang diterjemahkan oleh G. Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna. 7 hari. Upacara di Candi Menggung. odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura.

23. .9).1 dan 10. Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah). Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu. \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. sambil menaburkan bunga kedalam api. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana). karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2.tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. budhi “ sebanyak 108 kali. Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu.00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja. badan melambangkan mikro kosmos. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297).matahari.00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya. ridhi. Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya. 2003 : 9). peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh. sidhi. dari matahari turunlah hujan. Kepala beliau lambang Makro kosmos. pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah.Veghneswara.112. biji-bijan. karena lambang pengetahuan duniawi. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya. Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma.

Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur). mlati. Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. Sanadana. mawar. dadu Tenggara). Bunga 2. Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan. 1. menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. Dihaturkan : semua dewa 3. gambir. jingga (barat daya). Sanaatana = Sang Hyang Langgeng).Sanaka. hitam (utara). Biru (timur laut). kenanga. wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara. bulu dan cakar ditanam ditanah. (luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. kantil. hijau (timur laut). Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih.Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. cempaka. Sesudah upacara dimakan. kuning (barat). . berbagai macam warna (tengah). selesai upacara ayam dapat dimakan. merah (Selatan). lancur) . 5.

Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam. sesudah upacara nasi dimakan. Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita. dengan diringi kidung . yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Sesaji : Campur. : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. Jajan Pasar. dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati. Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan.Bunga 6. Nasi liwet beserta lauknya. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ). Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. Pisang Ayu Suruh Ayu. Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina.

Duh Gusti kawula puja Paduka.SABDHAPALON .INDRA .SANANDHANA SANAKA .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .KUWERA – NILA . Sesudah Parama Santi.RUDRA . ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).CANDRA .ISWARAH . seestunipin sadaya punika.turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan.BRAHMA .WARUNA shanno PERTIWI . Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA .TAARAA .KWAN IM .YAMA .AGNI . .SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA .BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .SHRII RADHA . sajian disurut untuk makan bersama.WISNU urukramah.SANAATANA SHRII ERLANGGA . ingkang sampun wonten.IISMAYAWATI . * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.KALKI AVATAR SANATKUMARA . Buddha Pengayoman Olah Negara . anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula. Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos.SURYA .MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA . Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji.KALI .

Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. mboten kalahiraken. Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. ingapuntena wicara kawula. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. kabegjakna sirna sadaya dosanipun. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. Ganda arum. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . Tuking sadaya gesang. jiwatman kawula nestapa.Duh Pangeran Tunggal. inggih Mahadewa. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. Hyang Widhi paring nugraha. hamemuji. merwawangi. kukusing dupa keluhur. ngaturake sembah bekti. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. sinembah umat sedarum. Iswarah Parameswarah. ingkang saking tindak tanduk. mugi-mugi. dahat sru nalangsa. mboten kasad mripat. ingapuntena dosa memanahan kawula. Brahma lan Wisnu saha Rudra. bibitipun sadaya dumados. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa.

ingkang wingking Tanpa purwa.Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun. tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X .

Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura.Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar. 2X . Pisang Raja.00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina.

* Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. Jajan Pasar. Pisang Ayu Setangkep. 4. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi. * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai.Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta. kemudian membuat Titha Suci. . Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura. yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). (Cleo. suruh ayu dan bunga. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. * Pada jam 15. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam.) yang menimbulkan malapetaka. * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. Tumpeng Pengyoman. Tirtha suci. dedemit. 15 Pebruari 2006). diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. Sesaji yang diatas meja : * Daksina. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah . bunga. ditaruh di lima tempat. Pelaksanaan Upacara. gandarwa dll. setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan.00 malam sampai satu setengah jam. Ingkung. wawancara tgl. Nasi Liwet beserta lauknya. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna.

Manusa yajna . * Pisang Ayu.00. Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya. boleh beraktivitas lagi. * Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi. diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. dengan fokus Sang hyang Semar. C. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. Nasi kuning beserta lauknya. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. Setelah upacara. tidak bicara. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru). * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja). Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban.* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. * Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. 6. Jam 16. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ). 5. Jajan Pasar . makan surudan bersama. tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. Suruh Ayu dan bunga. tidak bekerja.

pelas. 3. bubuk dele.bawang putih. Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. salak. sere. ubi-ubian. 2. ada jambu. bawangputih bawang merah. kecambah kacang hijau. biasanya kangkung. pisang. bongko. mangga. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut. kentang hitam. kenanga dan melati. kacang rebus. tempe bosok/yang sudah 3 hari. . Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. ketumbar.Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. botok. salam. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. bregedel. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. isinya buah-buahan sad rasa. Jajan pasar. cabe. bawang putih. kencur. apel. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe. ingkung dan nasi asahan. laos. kelapa muda diparut ditambah garam. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. garam. jeruk. gereh petek. lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. garam. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. kencur. jadah. dapat ditambah dawet. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit). irisan timun. irisan telur dadar. gula Jawa. gula Jawa. bawang merah. salam laos. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. kencur. sambel goreng basah. bayam. srundeng. gula Jawa dimasak diberi santan. pala kependem seperti ketela rebus. ketumbar. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). kacang panjang tidak dipotong. kenanga kantil putih kantil kuning.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. salam/daun pandan. terasi. kenikir. salam laos. Semuanya diaduk. daun jerut purut. tempe bosok. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu.dll.

bawang merah. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. bangkuang. diatas samir diberi lauknya melingkar. diberi saus rujak (gula. pisang klutuk mentah dll. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. cabe. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan.4. Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. bawang putih. kedondong. terasi garam dan asam air sedikit. Diluar lauk basah misal tahu terik. Upacara Manusa Yajna 1. . Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. c. santan dimasak sampai matang 6. brambang. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. ebi/udang kering. garam. daging ayam terik atau apa saja. diuleg/digilas) Ketupat. telur ayam. cabe merah. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). b. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. krupuk. daun salam. rempeyek kacang/teri. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. Rujak. santan dan dimasak. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam. diatasnya bawang merah dan cabe merah. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. laos. Bayi dalam kandungan 5 bulan. daun salam dimasak sampai matang. * Sambel goreng jepan/labu jepan. pepaya setengah matang. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir.

Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. Bali) Sajennya : Nasi gudangan. 7 takir rujak. ditambah lele dan udang goreng). setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas. Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. sambel goreng. 7 buah nasi layah. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana. Upacara mitoni begitu unik :. hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). irisan telur dadar. 7 buah ketupat. merah. bregedel. kuning. b. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. Jajan pasar.e. Upacara bayi lahir a.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. Doa bersama f. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan. 2. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). * mohon doa restu para orang tua * siraman. Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya. satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. Hari kelima = Sepasaran Bayi .

jajan pasar dan intuk-intuk . biasanya ada pesta kecil.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga . c. terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. bayi dijaga seharian.Nasi gudangan. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita. Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. kuning. nasi liwet. daksina. ingkung. hitam. hijau. Sajen seperti wetonan. Dilaksanakan upacara siraman. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. biru dan coklat(gula jawa). sesajinya : . Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. d.Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. midodareni dan panggih. Kurungan diberi ayam. Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. gedang ayu suruh ayu bunga. . 3.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. merah. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi. 4. * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. kadang-kadang bayi sering menangis. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut. ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung. 5. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh . Jajan pasar. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga.

ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. BAB VII TEMPAT SUCI A. untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya. nasi asahan. Sajen ditambah dengan ketan kukus. Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. tempe goreng. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. perempatan dll. nasi golong sati. nasi iber-iber. 2. dilaksanakan semua umat. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an. Pengertian . nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf. 40 hari. Pelaksanaan persembahyangan. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. lauk ayam goreng. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. 100 hari. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. semut. Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. nas gudangan tanpa cabe. pendak (1 tahun Jawa). 7 hari. untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). tikus dll. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. kolak dan apem. selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. pisang ayu suruh ayu.

Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya. devalaya. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : .Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin. dharma tula. pelatihan sosia. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam .tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya .tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya. seni. Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira.tempat untuk memohon ampunan .tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa.tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. B. gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. 1. pelatihan pembuatan upakara (banten. di Jawa gunung Semeru.tempat memohon pertolongan . Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1. 2. Bagian bawah gunung alam Bhur. . Disamping istilah Pura. budaya & agama seperti dharma wacana. pesantian). dll.tempat memohon tuntunan dalam hidup . Ssivalaya dll. C. devabhawana. Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha. Gunung Oleh umat Hindu. berbakti. dharmashala.sarana pendidikan agama (perpustakaan. Di India gunung Maha Meru. Tempat Suci berfungsi sebagai . sarasehan. devagriha. di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya.sesaji). tempat untuk bersujud.

Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. Lingga Lingga adalah lambang Siwa. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. 2.: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima. yen karingkes dados alusing meru. yen karingkes dados alusing ndi meru. dianggap berbangun gunung. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung. jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya). inggih punika alusing donia. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. orang bersembahyang menghadap gunung. kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. Kitab Bhagawad Gita IV . makin diringkas lagi menjadi manusia. dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . yen karingkes dados meru ndi Himalaya.

4. 3. 1973:84). Candi Menurut Dr. Bentuk suatu lingga 1. Candi Simping dll . 6. 3. merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Nama lain dari Candi adalah Prasada. Candi Jago. 4. Candi Singosari. Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran. 2. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. Candi Prambanan. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga.Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. b. ada bidadari-bidadari. Candi Penataran dll. 3. Sudharma dan Mandira. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. Dr. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. 5.. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. bunga-bunga teratai.

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

D. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. 10. *. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. Lontar. Weda. 11. Persiapan *. Status tanah bersertifikat . Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. 12. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. 2. Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. Keput. Prosedur mendirikan tempat suci a. Bhisama.Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali). Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.556/DJA/1986 isinya ………. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. SK.. Awig-Awig. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *.

Pengurusan sertifikat *. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling). Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan. atap tiga. terdiri dari tiga bagian. 1. E. Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. Candi Ceto terdiri 13 halaman. lima tujuh. Pengurusan sertifikat tanah *. Prasada Bentuknya seperti tugu. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. ada meru atap satu atap dua. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. Jana. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung. bhuah loka dan swah loka. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk. halaman pertama ini biasanya kosong. sembilan dan sebelas. Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok.b. Melampirkan denah 3. untuk masuk halaman pertama melewati gapura. Maha. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi.. Bhuah Swah. Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. Tapa dan Satya Loka. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. 3. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). Gedong . 2. Bhur. dasar. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Candi Margarana.

Di Jawa. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. Padmasari. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. 5. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. Letaknya diluar halaman pura. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. Padma Agung. terdiri tiga bagian dasar. 4. beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3. 5. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. 4. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. badan dan puncak atau atap. a. 3. 2. Padma Capah. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. f. padas. Bagian dasar terbuat dari batu bata.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. 6. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. Jenis Padmasana : Padmasana. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e.

bahasa dan kemampuan daerah. BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. Ida Bhagawan. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda. Ida Rsi Bhujangga. 1. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan. Ida Pandhita. mahkluk hidup yang paling tinggi. wiku. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan.96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Pengertian Pandita. Diantara yang ahli Weda. Rsi. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. Manawa Dharmasastra I. . 97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Ida Sri Empu. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. Diantara yang melaksanakan upacara. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya. Dukuh. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya.4. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia. ekajati maupun upacara dwijati.

memiliki pengetahuan umum.96 menyebutkan Bhutanam paninah. pendalaman intisari ajaran agama 6. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. 3. Sanskerta. Diantara yang punya pikiran. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi. Diantara ahli weda. makhluk hidup adalah yang paling tinggi. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi. manusialah yang paling tinggi. Diantara yang melaksanakan upacara.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. 4. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1. 2. Inilah yang disebut Brahmana sejati. 5. yang ahli weda adalah yang tertinggi. Manawa Dharmasastra I. Manawa Dharmasastra I. Indonesia. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. 2.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c. Paibon. Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa.  Kahyangan Tiga. Hak seorang Pemangku/Pinandita *. Merajan. Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Panyudamalan dan Nyapu Leger b. sesuai tingkat pewintenannya. Pinandita 1. Pamangku Dalang 3. Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. Dang Kahyangan. Panti. Gede dll. Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. Padharman. Sasana Pamangku a. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat.B. dan juga atas panygrahan nabe. dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru. Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : .

berbohong dan menghina.wenang agotra. memakai destar. Apramada 5. Tri Kaya Parisudha : Manacika. Catur Paramita : . Aharalagawa. anyondong. Wacika dan Manacika b. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah. 3. Mendiskusikan pengetahuan. waspada tidak gegabah dalam kejadian c. Tidak memfitnah. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata. Gurususruca. Asteya Niyama Brata : Akroda. wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata. Brahmacari. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. 4. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1. Yama Brata : Ahimsa. SUDI WADANI 1. 2. filsafat dan agama.. Selalu jujur. Melaksanakan upacara . 5. Bebratan Pemangku a. b. Awyawahara. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. Sauca. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu. Satya. Pengertian Sudi artinya penyucian. berambut panjang.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti.

I. Bentuk Upacara Upasaksi a. bija. bunga. Ma. -. A. Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang. Pelaksanaan Upasaksi a. 3. Mantra Om Sa.. Bila memungkinkan dengan sarana Daksina.Nista : mempergunakan air . Pelaksanaannya selalu disertai dengan api.. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan. Ya. . prayascita. canang sari dan air suci. P E N Y U M P A H A N 1. sesuai ketentuan. Na. b. Ang Ung Mang B.Utama : mempergunakan banten biyakala. saya bersumpah …. 3. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani. Wa. Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah . Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . tataban . dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa. Ta. c. Si. c. Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil. Ba. 2.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk).untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa .

6. 8. Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan. 4. Sebel karena melakukan Sad Tatayi. sampai bersih darah dan membersihkan diri. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. 5. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1.Ruang Lingkup. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C.Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa . Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah.Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c. . Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya. 2. Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. CUNTAKA 1.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1. 3. * Sikap yang akan disumpah . 2.b. 3. 7. 9.

Kliwon.. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. Panglong atau penanggal. Rabu. Legi. Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. 8. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. Dwi Wara (menga. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. 5. Sapta Wara (Senin. suaminya danrumah yang ditempatinya. sampai diadakan upacara byakaon 9. Pahing). pepet) Tri Wara (pasah beteng. Wage. a. Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. Selasa. 6. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. suaminya dan rumah yang ditempatinya. sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. 1. Panca Wara (Pon. sampai kepus puser (putus pusernya) 4. b. Bali) adalah hari yang diistimewakan. Anak dan rumah yang ditempati. dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. . kajeng). sampai upacara byalaon 10. 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. keguguran : diri pribadi. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya. sampai diceraikan. 3. diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat.3. seperti Hari Purnama dan Tilem . 7. Jum’at dan Sabtu) 2. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. B. Kamis. wanita bersalin : diri pribadi. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. Hari Suci Agama Hindu 1.

hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. 1. b. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan. sumber air. seperti Dewa Yajna. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan . Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”. Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. 5. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. bulan sabit didahi Dewa Siwa.3. 4. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. Jenis Hari Suci Rerahinan 2. 3. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana.: 1. dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1. c. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. 2. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. 2. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). 3. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. 6. pemerajan. Manusa Yajna dll. sanggah dll. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. 5. d. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda.

Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. nimittaning drsta prajanira sri haji. maka drstaning praja mandhala. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. ri sawateking purohita kabek. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. tkeng kajagatanika. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. 3. Dhyana Yajna dll. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi. karena melaksanakan hal-hal yang utama. Yoga Yajna. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara. Tapa Yajna. Ini semua diterima oleh para dewa. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama. wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. rengen warahkwa ri kitanaku. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. persembahyangan Trisandya. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. Hyang Ludra 2. kepada Para Purohita. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit). demi untuk kesejahteraan jagat raya. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa. . Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. Swadhyaya Yajna. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. apan parikramaning dahat suksma uttama. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4.

Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c. Pengarah Bubuh. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat.5. Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Wariga Saniscara Kliwon Wariga. Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . 4) Hari Raya berdasar pawukon 1. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d. Tumpek Penguduh atau Pengatag. persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. untuk kemakmuran. Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e.

1. pada waktu tilem Hyang Surya . Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. i. Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a. Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k. mas perak permata. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m. Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha.h.

beryoga. Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1. 1. mona brata. jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. beryoganya Sang Hyang Siwa. c. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. Sinta Radite Soma Anggara Buda . turunnya Sang Hyang Dharma. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. jagra dan upawasa d. Sasih Kapat Purnama Kapat. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa. b.

Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6. Gumbreg .Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2. Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4.

Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9. Kuningan Radite Soma . Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13. Wariga 8.7. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11. Sukra Kliwon Sugihan Bali 12.

Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17. Pujut 16. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15. Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18.Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih .

Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26. Medangkungan 21. Wayang Saniscara . Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22. Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20. Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23.19.

tahun Baru Imlek. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa). Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. . 1. 30.Kliwon Tumpek Wayang 28. Tahun Baru Muharam. 29. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C.

Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya. Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri. danau atau mata air yang Laut. : diperempatan jalan atau didepan rumah. a. Pelaksanaan: semua Arca. Pratima. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan . mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia.kepada umat manusia. b. danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. yang maksudnya berdiam diri.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut.

tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. tirtha pelukatan. kedamaian dan kebahagian. e. untuk mendapatkan ketenangan. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. sapu. memadamkan api hawa nafsu. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. 2. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. artinya menyalakan api kembali. ini juga disebut labuh brata. mesui. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. obor. atau lebar puasa.c. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian. : Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. d. : Agar dapat mengendalikan diri. Hari Raya ini .

dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. 5. 5. Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d. 6. kelembutan. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. 3. 2. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. simbol kekekalan c. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. 3.. menarik. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam . Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1. 4. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur. penuh keindahan.

Bimas Hindu dan Budha. Manggala Upacara. Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. Nyoman S. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha.. Bhagawadgita. 6. Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. dkk. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. . 2007 Widya Dharma Agama Hindu. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. dengan menghaturkan puja bhakti. Tjok Rai. Sudirga Ida Bagus. bertempat di Pura atau dirumah. 2004. Surabaya : Paramita. Sudharta. Pendit. Agama Tirtha & Upakara. 2003. Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. Denpasar :. Acara. menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Gde. 2002. umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. 2000. Sehari sesudah hari Galungan. Surabaya : Paramita. Puja. 2005. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. Jakarta epartemen Agama RI Nala.perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). MA SH. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. Agem-Ageman Kepemangkuan. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). Ganesa Exact. Denpasar : Dharma Bhakti. IB. Ngurah. 1993. Putu. DAFTAR PUSTAKA Bangli. Dirjen.

Sanatana Dharmasrama. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. Gede. IB. Wijaya. Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . MM. Niken. Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). 2006. Denpasar : UNHI Tambang Raras. Nukning Dra. Denpasar : Setia Kawan. Msi. Sri Rahayu. Surabaya : Paramita. 1998. Yajna Sesa. 1981. Drs.. 2005. Sudarsana. Denpasar Panakom Publishing. Intisari Ajaran Agama Hindu. s . Yayasan. Surabaya : Paramita. 2003. Filsafat Yadnya. Putu. MBA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful