Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Dalam sekian banyak mantra. Ia yang maha kuasa. Ang Ung Mang. Sarana Upakara. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. Mantram. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. disebut ”Wijaksara”. Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . Mantra adalah Weda. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. bagian kedua sukta 5. Barunastawa. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. dan sebagainya. Durghastawa.menumbuhkan persanaan. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya. c. Macam . pikiran yang suci. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. Wisnustawa. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja.

Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr .• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra. Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .

Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi.08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia.Suksmaning Banten on Mon Apr 06. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih.07. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia.pinaka warna rupaning Ida Bhatara. pinaka Bhuwana Agung. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. Banten punika taler kawastanin upakara. Stawira punika sarwa tumuwuh. Janggama punika sarwa buronné sami. Banten punika waluya basa mona. Asih. pinaka Anda Bhuwana. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. Yan ring basa Bali mateges ngayah. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Punia. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek.papaya para pidana. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya. Yan ring basa Indonésia mendekat. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika . Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17.

Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika.com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. muang bakti. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron. Manut Manawa Dharmasastra V. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun. Manacika. Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih. M Si. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. punia. Nukning Sri Rahayu. Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia.Wacika. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten. . Yan sampun asapunika dasar makarya banten. muang Kayikané jaga setata madasar asih.kaandapang. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané.

sudi wadani. ACARA AGAMA HINDU 1. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara. pandita-pinandita. sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. 2. 2. Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. 5. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . 3. penyumpahan dan cuntaka. Pengertian 1. Pendahuluan Pengertian. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna.Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. Upa artinya berhubungan dengan. 1. baik yang terkait dengan masalah yajna. loka. masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. 4. Selanjutnya arti upacara adalah : . Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. purwa. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan. Acara • • • • • • Perilaku yang baik. tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari. dasar.

Upa artinya berhubungan dengan. polisi. guru. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.Agama . Ruang lingkup Acara 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. 1. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. pembantu rumah tangga) 1. pendidik. dokter dll. d. keahlian > kebijakan. 1. Sumber Acara Sumber Acara . Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh.Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam . Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. pekerja. juga etika umum 2. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. hakim. kondisi social ekonomi.- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. hansip. antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi.) > ketangkasan fisik ( tentara. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. pengusaha.pemikiran (pendeta. 3. pekerjaan. petani. 1. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). kara artinya perbuatan atau pekerjaan. 1. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. nelayan. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan.

Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Agama : Agama Saiwa. 1. Brahmasutra. Nibanda : ditulis Mahareshi. kepuasan diri sendiri. Upanisad Sama Veda 10 bh. Gopatha > Aitareya Araniyaka. Grhya Sutra = berumah tangga. Satapatha A. Purwamimamsa. Sama Veda.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Silpasastra = asta bumi. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Sila : . Tandya Araniyaka. Artasastra. Tidak bertentangan dengan harga diri. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Satapatha. 1. 1. Purana. Gopatha Araniyaka. 2. 3. Pengertian dharma : Satya = kebenaran. kosala kosali. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Waisnawa. Ayurveda. Veda. tembang tentang isi veda. Upanisad Rg Veda 10 bh. irama. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. Sulwa Sutra = membuat bangunan. Tandya. tingkah laku . Saktisme - 1. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Wedantasutra. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg. 2. 1. Reshi. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda.) Upaveda : Itihasa. peraturan tentang baik buruk. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Wahya. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri .Sumber Acara > sebagai dharma 1.

jer basuki mawa bea. 3.- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. Dharma = kebajikan. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin. Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1. materi. 2. 4. Y A J N A A. tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. = hormat taat tekun. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : . Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja. Kama = keinginan. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja.

system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . Satyam brhadrtamugram diksa. 1. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.pengorbanan suci lahir batin.pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) . persembahan atau korban suci .10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. upakara. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.system persembahyangan. pemujaan. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) . sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) .Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. kebaktian > upacara. berkorban demi kebenaran (dharma) .* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. 1.

dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Mengendalikan hawa nafsu . madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. dari makanan lahir mahkluk hidup. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. 1.24-27. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. diksa. tapa.14). yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). dari hujan timbul makanan. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.rta. brahma dan yadnya yang menyangga dunia.Artinya : Sesungguhnya satya.

Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. B. Atharwa Weda XII. Menolong orang sakit. Dengan kemantapan srada. diksa tapa brahma yadnyah. . doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. Rg Weda X. mengentaskan kemiskinan. Maka sebelum menikmati makanan. Bhagawadgita III. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. menghibur orang susah dll.3. semoga bumi ini. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. Bhagawadgita III. tapa brata. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Bhagawadgita III. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. yang kokoh dan suci (rta). prthiwim dharayanti. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.12 : Ia yang hanya suka dipel. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Bhagawadgita III. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia.

TUJUAN YAJNA 1. VI.Manawa Dharmasatra.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. Bhagawadgita VII. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. mengajarkan isi Weda. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. kepada leluhur. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka). Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya . ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.71. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.

Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. 3. caru. wahai Bharatasabha. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. tawur. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. demikianlah kenyataanya. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. terkadang penuh keragu-raguan. 1. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri .16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. yang mengejar ilmu. prayascita.Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. Pedudusan. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. kemampuan berpikir. mereka yang sengsara. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu. Kitab Bhagawadgita XIV.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power.

Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2. jasmani suci. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna.5 menyebutkan : . 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.54. pikiran disucikan dengan kebenaran . Yajna. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Rajasa dan Tamasa. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. Kitab Manawa Dharmasastra V . Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Sattwika. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).

8 memberi petunjuk sbb. Beliau diair. huruf-huruf kitab suci. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. di bulan di matahari. Kunti putra. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. cahaya bulan dan matahari. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. 1.“Ko addha Veda ka iha pravocad. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. pada seluruh ciptaannya. Tuhan berada dimana-mana. wenang ya . getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. prabha ‘smi sasisuryayoh. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. dapat berterima kasih pada Tuhan. nimittaning mangkana. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. 4. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Pranavah sarvavedeshu. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII.

memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. sloka. 4. 2.nuvartante. semuanya Kuterima. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. seni tari dll ikut mendukungnya. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Seni tabuh. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. 5. . Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. Mam vartma . wirama. Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).Tinulung awaknyasangkeng sangsara. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. 3. karena itu. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. palawakya. D. tams tathai ‘va bhayamy aham. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. 2. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. pupuh. 3. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung.: “ye yatha mam prapadyante. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik.

setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Pahang. Tambir. Galungan. Nyepi. Sungsang. Menail. Julungwangi. Buda. Redite. Langkir. Merakih. Siwaratri. Saniscara. Laba. Wage. Bala. Pepet = Pasah. Selasa. Jumat. Kulantir. Jaya. Medangkungan. 1. Kliwon. Medangsia. Sebagai contoh upacara melaspas. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Kajeng = Sri. Dasar perhitungan wara seperti . eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Sudi wadani dll. Uye. ngulapin orang jatuh. 1. Pujut. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Watugunung. Kamis. 2. Gumbreg. pagi sing dan sore 2. Soma. Anggara. Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Wariga. Dukut. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Rabu. Wayang. Pon. landep. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Kulawu. Wraspati. Sukra. . Sabtu. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. sebelum kita makan masakan itu. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Matal. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Legi. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Senin. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Ukir. Tilem. = Minggu. Beteng. Perhitungan sasih : Purnama. Warigadian. 3. Kuningan. Krulut. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Menala = Pahing. Ugu. Perangbakat.: 1. Tolu. 1.

mantra. 1. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. dan patra (keadaan).ii. Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Kitab Satapatha Brahmana 1. . dalam hidup ini. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. 5.Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). 3. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). gita annasewa dan nasmita.12. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. 4. ketulusan. daksina. kala ( waktu). Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. mantra. sastra agama. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. kesucian hati. lascarya. Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. 2.

Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. Kitab Bhagawadgita IV.: 1.: 1. ada yoga.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. yoga-yajnas tathapare. 2. 2. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur . persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III. ada tapa. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta.2. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. Svadhyaya. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6.

3. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5.3. huta persembahyangan homa. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. • Manawa Dharmasastra I. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : . Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda.: 1. Manawa Dharmasastra III. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. 4. 4. 5. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. 2.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. Brahmahuta. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. kepada leluhur dengan sradha. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban.

Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. 4. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.: 1. 6. 2. . Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6. buah-buahan. tapa dan Samadhi. 5. 7. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.1. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. 4. 5. pintu rumah serta pintu tengah rumah. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb. 4. 1.: 1. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2.: 1. 6. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2. 3. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. 2.: 1. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2. 3. 3. Rsi Yajna adalah persembahan punia. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. 3.

yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. ratus. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). 5. A. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. 6. Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. 4. kemenyan.5. 7. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. Dewa yajna 1. 2. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. 1. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. 2.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. 8. 1. 3.

sebiji buah-buahan atau seteguk air.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. c. aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. 1. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Tad aham bhaktyu pahritam. iri dengki dll. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah.26 menyebutkan : “Patram. b. Disamping itu perlu penanaman bunga. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. mekidung (nyekar dalam bhs. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. Setangkai daun. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. latihan tari. phalam toyam. Jawa). sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). yo me bhaktya praya chchati. Bhagawadgita IX. atau dirumah (kamar suci/ altar. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. tidak usah bermewah-mewah. puspham. marah. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. sekuntum bunga. 1. Sarana : . Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). Yang utama adalah hati suci.

2. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. mohon pengaksama. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa.1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Menghaturkan banten. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. bunga bila ada buahbuahan. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. 3. 1. 2. Hari Purnama dan Tilem 2. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. ngastawa genta. 3. puja “Sthiti”/Apadeku. asuci laksana.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Ngantukan Betara. Sulinggih/pendeta. c. Pelaksanaan : 1. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . air. Prelina Genta kemudian penutup. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Selama pemuput upacara memuja bhakti. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2.

4. 3.- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage . Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). piodalan pura/merajan. Gerhana Bulan Hyang Candra). Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. . Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. kahyangan dll. mendirikan bangunan suci. Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). panen (Dewi Sri).

1. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. kesehatan. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup.: . Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Wujud Niskala : Upacara. B. PITRA YAJNA 1. 4. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. upakara untuk para pitara. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. 1. ibu) serta memperlakukan dengan baik. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. 2. mulaimemberi makan. titik beratnya pada susila. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. 1. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. 3. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal.

Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Atma Wedana : Tempatnya dirumah. 1. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. moksantu. abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. bunga tirtha. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. . swargantu. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1.Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa).

3. Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Seorang yang selalu dalam bersih. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. dan bahasa Indonesia. 5. wasi. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). 2. 5. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. Pinandita. Pedanda. 2. mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. Orang suci. 4. 1. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Sri Empu. Sanskerta. belajar agama dll. Pendeta. atau pemangku). Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. 1. Syarat Calon Sulinggih 1. 3. Sulinggih. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. Syarat-Syarat Nabe 1. a. Pemangku dll.Wujud Niskala : Upacara. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. 3. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. jasa dan kebajikan). 6. sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda. Wasi. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. 4. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Upacara awal . memiliki pengetahuan umum. 2.

muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. gunung dan merajan nabe 1. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. • • Amati raga = penyekepan. b.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. manusia dapat hidup selamat. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. 1. . Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. sejahtera. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. digosok minyak kayu putih. 1. diasapi 3 kali. aman. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. rukun. c. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. 2. Upacara Puncak. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1. dan malah merestui. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. 3. manah satyena sudhayanti. 1. b. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. a. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. 1. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). c.Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Pada umumnya orang yang jujur. 1. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Upacara ini berupa pemberian korban. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti.

Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan. kemudian meketus.Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) .Tumbuh gigi. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia.Upacara perkawinan (pawiwahan). Jenis-jenis manusa Yajna a. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. seperti ramah tamah pada orang lain. c. seni budaya.2. 4. 1. b. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3. 3. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. 4 bulan. mepangur) Mewinten . setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. 7bulan. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . kesehatan. 4. moral/ budi pekerti dll. menjamu tamu . 5 bulan. 5. Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.

memelihara. Tabuh Getuh. mencintai alam. Caru artinya mengharmoniskan. Balik Sumpah. bantennya banten caru. menjamu tamu. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Sekali) 1. mesegeh. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. Tawur Agung. BHUTA YAJNA 1. Panca Wali Krama (10 Th. 1. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Cara pelaksanaan 1. Panca Kelut. b.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). di sumber air dll (Yajna sesa. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. Dengan mengadakan korban (mecaru. Sekali). Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. melestarikan. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya. PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. Rsi Gana. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. keselarasan.

3.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. ini menjadi Panca Yajna. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. 2. mucyante sarva kilbisaih. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. harta benda. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Bhagawad Gita VI. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”.1. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. 5. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi.meneguhkan iman. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. . YAJNA SESA 1. sajen. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. bhunyate te tv agham papa. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti. akan terlepas dari segala dosa. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). Contoh mengendalikan indria.

ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. baru kemudian menikmati hidangan. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan .mereka ini sesungguhnya makan dosa. 1. 1. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. dipintu pekarangan. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya . Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak.

Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. . Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia. Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti). Blog pada WordPress. Theme: Vigilance by The Theme Foundry.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post.com. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

bodoh. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. brata. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. brata. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. semua upakara banten sebagai lambang diri manusia.. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan . semadi. Letaknya amat sepi tetapi indah.. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. Artinya. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : . sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. yoga dan semadi. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih. sakit. mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. brata. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. yoga. Artinya. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin.Rabu Pon. Dalam Lontar Sundarigama. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. pinaka anda bhuwana. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. pinaka warna rupaning Ida Bhatara.

yoga. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. birokrasi semakin tidak melayani. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. Apa itu kesenjangan ekonomi. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. hukum semakin tidak tegak. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja. Seperti menjadi daya tarik wisata.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. Meskipun. * wiana . Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia.

Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya. pinaka andha buwana. .15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi. Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya.CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). pinaka warna rupaning Ida Bhatara.

bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. di tinju dari segi rohaniah. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. Upacara Perkawinan. Upacara perkawinan. upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian.i. baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai. . apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Di samping itu. yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

nelayan. pekerja) 5.Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. Sumber Acara Sumber Acara .petani) > mengandalkan fisik (buruh. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. keahlian Brahmana > kebijakan. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6. dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara.Mantra : catur Veda (Rg. . Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi . pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. Tandya Araniyaka. Gopatha > Aitareya Araniyaka. guru. pendidik. pemikiran (pendeta. Satapatha. polisi. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. kondisi social ekonomi.Agama . Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. Tandya. Sama Veda.B. hansip. Veda. Satapatha A. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. pekerjaan.Brahmana : Aitareya. Gopatha Araniyaka. Ruang Lingkup Acara 1. 1. 3. 4. Yajur Veda dan Athrwa Veda) . C.

perbuatan yang menyenangkan orang lain. kejujuran . .Tingkah laku yang baik dari orang suci. kepuasan diri sendiri. Grhya Sutra = berumah tangga. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani .Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Brahmasutra. Wedantasutra. 5. Purana. 3. Tidak bertentangan dengan harga diri. 6.Tapa = pengendalian diri . 4. Nibanda : ditulis Mahareshi. * Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar..Upaveda : Itihasa. 2.Brahman = Hyang Widhi . Purwamimamsa. kosala kosali. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Resi seperti Sarasamuscaya. Upanisad Rg Veda 10 bh. tembang tentang isi veda.) . Silpasastra = asta bumi. Ayurveda. Artasastra. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. Sulwa Sutra = membuat bangunan. tingkah laku . peraturan tentang baik buruk.Satya = kebenaran.Diksa = penyucian . irama. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu.Upanisad Sama Veda 10 bh.Rta = mengakui hokum alam . Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Wahya Pengertian dharma : . Sila : .

Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. demi kebenaran (dharma) . Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. pemujaan. Saktisme.. Yajus artinya aturan tentang yajna 3.system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak .Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut .Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A.pengorbanan suci lahir batin. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja.sistem persembahyangan. persembahan atau korban suci .pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk . Waisnawa. manifestasinya. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa. upakara. kebaktian > upacara. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) . Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1.

Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya.14). Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. diksa. dari hujan timbul makanan.rta. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). . dari makanan lahir mahkluk hidup. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata.(Bhagawadgita III. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Satyam brhadrtamugram diksa. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. tapa.24-27. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang.

12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. 2. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. semoga bumi ini. tapa brata.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. Bhagawadgita III. 3. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. mengentaskan kemiskinan. yang kokoh dan suci (rta). doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. prthiwim dharayanti. Bhagawadgita III. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Atharwa Weda XII. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. menghibur orang susah dll.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna. 4. Tujuan Yajna . Maka sebelum menikmati makanan. B. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Dengan kemantapan srada. diksa tapa brahma yadnyah. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu.Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini.

rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku.: . mengajarkan isi Weda. Bhagawadgita VII. kemampuan berpikir.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. wahai Bharatasabha.1. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu .Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) .71. 1. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. yang mengejar ilmu. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) . seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. mereka yang sengsara.Manusia memiliki bayu. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. 2.

hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . Sattwika. Rajasa dan Tamasa. Pedudusan. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. terkadang penuh keragu-raguan. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata.Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. Kitab Bhagawadgita XIV. Kitab Manawa Dharmasastra V . prayascita. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. caru. 3. jasmani suci.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. tawur. pikiran disucikan dengan kebenaran . demikianlah kenyataanya. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti.

diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Kunti putra.54. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya.8 memberi petunjuk sbb. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. di bulan di matahari. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Beliau diair. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. Tuhan berada dimana-mana.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Pranavah sarvavedeshu. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a. cahaya . : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. prabha ‘smi sasisuryayoh.4. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b. pada seluruh ciptaannya. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Yajna. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c.

Seni tabuh. 4. huruf-huruf kitab suci. . menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. karena itu. sloka. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat.bulan dan matahari. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. nimittaning mangkana. palawakya. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. seni tari dll ikut mendukungnya. pupuh. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. dapat berterima kasih pada Tuhan. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. wirama. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. 5. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara.

1. 3.D. 5. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. Bhagawadgita III. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. VI. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri.12 : Ia yang hanya suka dipel. Bhagawadgita III. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.: “ye yatha mam prapadyante. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Manawa Dharmasatra. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Rg Weda X. tams tathai ‘va bhayamy aham . Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2. kepada leluhur.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. 2.

Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. sebelum kita makan masakan itu.: a. Kamis. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Tambir. . Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Pujut. Redite.Mam vartma . Selasa. Wage. Warigadian. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Jaya. pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Kulantir. Jumat.eka wara = Luang dwi wara = Menga. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Julungwangi. Kajeng catur wara = Sri. Buda. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Kliwon. Merakih. Langkir. sapta wara = Minggu. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Sabtu. Anggara. 1. Wariga. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Galungan. Ukir. Gumbreg. Wraspati. Saniscara. Rabu. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Senin. Dasar perhitungan wara seperti . Pahang. Soma. Pon. Medangkungan. Sukra. Menala panca wara = Pahing. Tolu. Krulut. landep. Legi. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2. Sungsang. Beteng. . Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1.nuvartante. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. Laba. Pepet tri wara = Pasah. Kuningan. Medangsia.

Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. dalam hidup ini. lascarya. 4. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Watugunung. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). ketulusan. Sudi wadani dll. kala ( waktu).Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Kulawu. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Uye. 3. sastra agama. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). Tilem. ngulapin orang jatuh. Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada).Matal. kesucian hati. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Ugu.Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. Bala. Dukut. 5. kidung suci daksina dan srada . B. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Siwaratri. Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . 2. dan patra (keadaan). mantra. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Nyepi. . Menail. Perhitungan sasih : Purnama. Sebagai contoh upacara melaspas. Wayang.Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. 3. 1. mantra. Perangbakat. . daksina. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan).

Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.: 1. 2.: . persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Svadhyaya. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. ada yoga. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. 2. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Kitab Satapatha Brahmana 1. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2.28 sbb. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. Kitab Bhagawadgita IV. ada tapa. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. yoga-yajnas tathapare.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna.

: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1. 4. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. kepada leluhur dengan sradha. 2. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. * Manawa Dharmasastra III. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. 2. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. 4. huta persembahyangan homa. 3. Brahmahuta. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: . Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5.1. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I.

buah-buahan. tapa dan Samadhi. 5.: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata. 4. . Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. pintu rumah serta pintu tengah rumah. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. 6. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci.

Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. A. Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan. Semua bentuk lealaban seperti caru.BAB V UPAKARA 1. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga. Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga. upakara ngaran bhakti ring Widhi. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut. ngaran pesaksi. arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. ringgit ngara. segehan adalah simbol pantat. kara ngaran sembah. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. patemon. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya.

ngaran eling. ling ngaran tunggal. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa.Apan Widhi widana juga ngaran banten. yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang. jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. anten ngaran inget. B. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. Iki paribasa Aidhining yadnya. motama. yadnya adruwe prabu (hulu). terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). Banten Canang a. Makna simbol dalam Upakara 1. . kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2. madya. luiripun. Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. artinya Pisang yang cantih. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. tangan dafda muah suku manut manista. Daksina pinaka huluia. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. sahananing palelabanan pinaka suku. sirih yang cantih dan bunga harum). Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi. daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian.

melaksanakan yoga. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Dengan aku sebagai pelindungmu. * Tetuesaan. asamsayam samagram mam. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma.b. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala. dan kapur sebagai lambang Siwa. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha. reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. sirih sebagai lambang Wisnu. VII. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. * Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. yogam yunjan madarasyah. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses . Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci.

Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. a. -. Kitab Bhagawadgita III. Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan. Kewangen a.. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1. kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2. . b.Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana . Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan.24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya.

tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. karena itik siwatnya baik. c. 4. bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam. b. 3. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. bunga.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. Bahan-bahan. tidak mau bertengkar. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. gambir dan buah pinang. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . kuning. uang kepeng dan porosan silih asih. kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih.Yang merupakan muka adalah uang kepeng. diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya. Isi kewangen. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. Mengenai telor kenapa harus telor itik. merah. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. Segehan a. dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. merah. Daksina a. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) . Bahan Kewangen dibuat. Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. daun-daunan (plawa).

benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah).Pengertian : . jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga. Prayascita a. letak segehan sesuai dengan warnanya. pemujaan atau mantra. Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. putih timur. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan. merah selatan. api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas. batil sebelah kiri.- . dihalaman pemerajan. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah. kidung tarian atau wayang 5. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada. merajan terakir diluar. Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan. 5 kali untuk dimerajan. uang kepeng (2bh) base (sirih).untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras. sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan. api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali. Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari. Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. c.

dan idep (pengelelenga). (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar. akan terlepas dari segala dosa. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus. Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata. Yajna Sesa a. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti. b.Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri . Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. mucyante sarva kilbisaih. pengelelenga terbuat dari minyak wangi. 6. Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci. Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. bhunyate te tv agham papa. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. bayu (pengresikan). Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru.

1. baru kemudian menikmati hidangan. 2. ditempat menumbuk padi dll 3.Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . dipintu pekarangan. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur.mereka ini sesungguhnya makan dosa. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan.Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. akan memperoleh kebahagiaan. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan.

Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Mengamalkan ajaran.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan.ajaran Weda .Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. B. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. Tujuan Dewa Yajna a. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna.

Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). marah. Yang utama adalah hati suci. b. kemenyan. sebiji buah-buahan atau seteguk air. Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. ratus. Setangkai daun. iri dengki dll.b. sekuntum bunga. phalam toyam. yo me bhaktya praya chchati. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan.26 menyebutkan : “Patram. tidak usah bermewah-mewah. Disamping itu perlu penanaman bunga. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . Untuk mensucikan diri d.Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : . Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. puspham. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. c. . Meningkatkan kualitas diri c. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a.Simbol Brahma : Agni (dupa. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. Bhagawadgita IX.

atau dirumah (kamar suci/ altar. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. latihan tari. mekidung (nyekar dalam bhs. Menghaturkan banten. Sulinggih/pendeta. . disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. c. 3. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. mohon pengaksama.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Pelaksanaan : 1. Selama pemuput upacara memuja bhakti. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. 3. ngastawa genta. 4. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. asuci laksana.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. Jawa). air. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. Sarana : 1. puja “Sthiti”/Apadeku. 2. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. bunga bila ada buahbuahan.

a. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. Prelina Genta kemudian penutup. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. Gerhana Bulan Hyang Candra). Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. mulaimemberi makan. c. panen (Dewi Sri). tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2. 5. d. b. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. kesehatan. Wujud Niskala : Upacara. upakara untuk para pitara. mendirikan bangunan suci. kahyangan dll. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. ibu) serta memperlakukan dengan baik. Hari Purnama dan Tilem 2. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. Tujuan .- Ngantukan Betara. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. piodalan pura/merajan. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. PITRA YAJNA 1. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati.

Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi.Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). 4. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). titik beratnya pada susila. bunga tirtha. abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. . ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Tingkatan Pitra Yajna sbb. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak.: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas.

Syarat Calon Sulinggih . Pinandita. wasi. atau pemangku). Wujud Niskala : Upacara.Atma Wedana : Tempatnya dirumah. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. belajar agama 2. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Pemangku dll. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Pendeta. swargantu. Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. moksantu. Wasi. Pedanda. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Orang suci. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. Sulinggih. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). 3. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Sri Empu. angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi.

Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. Mampu melepaskan diri dari keduniawian c. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Syarat-Syarat Nabe 1. Tenang dan bijaksana d. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon.- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. a. Paham dan mengerti Catur Weda. 6. 5. jasa dan kebajikan). 2. . 4. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. a. memiliki pengetahuan umum. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. Upacara Puncak. dan bahasa Indonesia. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. • • Amati raga = penyekepan. gunung dan merajan nabe 1. Sanskerta. b. Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. c. 3. Seorang yang selalu dalam bersih. sehat lahir batin b. 1.

mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. digosok minyak kayu putih. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. 3. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. sejahtera. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. manah satyena sudhayanti. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. rukun. aman. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Pada umumnya orang yang jujur. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . manusia dapat hidup selamat. diasapi 3 kali. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti.

meninggalkan tempat tersebut. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. c. b. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : . 7bulan. eteh-eteh padudusan agung (paling besar).Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru . 4. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu.Bayi dalam kandungan (3 . Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. 5 . waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : . Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara.Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). d. dan malah merestui. * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. procotan) . Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. Jenis-jenis manusa Yajna a. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). 4 .

keselarasan. b. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia.Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) .Tumbuh gigi. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan. c. seperti ramah tamah pada orang. . 2.Upacara ngelepas aon (12 hari) . 1..Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) .Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) . kemudian meketus. Caru artinya mengharmoniskan. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan.Upacara perkawinan (pawiwahan). keharmanonisan alam semesta seisinya. di sumber air dll (Yajna sesa.Bayi baru lahir (nyambutin) . dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku.Bayi puput puser (kepus pungset) . Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. seni budaya. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . kesehatan. BHUTA YAJNA 1.Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) .Anak meningkat dewasa (raja Sewala) . kesejahteraan semua makhluk. . moral/ budi pekerti dll. bantennya banten caru. mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1. a.

Bhakti Marga (jalan kebaktian). berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.( mengendalikan indria. 2. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. menjamu tamu. harta benda. 5. PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. . ini menjadi Panca Yajna.meneguhkan iman. C. Sekali) 1. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. mencintai alam. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. Upacara persembahyangan. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. Tawur Agung. Panca Wali Krama (10 Th. 1. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan). Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. memberi sedekah dengan tulus ihklas. kehidupan yang serba damai. Sekali). PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran). memantra termasuk Bhakti Marga. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana. Rsi Gana. Panca Kelut. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). Balik Sumpah. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. sajen. Bhagawad Gita VI. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Tabuh Getuh. berdoa. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya.lain.) 3. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). 2. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”.

75. Upacara di Candi Menggung. bayi lahir. tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain. Baik sajen. Upacara Tawur Kesanga. sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia.dan Nyewu (100 hari). Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. 100 hari. Piodalan pura lain di Jawa. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan. 7 hari.Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. 40 hari. B. upacara Mahisa Lawung dll. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. Dewa Yajna 1. Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna. (dilaksanakan dirumah duka umat) 4. seperti Gayatri dalam semua mantra. Malem Jum’at Legi. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). perkawinan. 3. wetonan naik dewasa. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. peringatan kematian 3 hari. 2.76) yang diterjemahkan oleh G. odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Pendak pindo. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. pendak pisan. Upacara Malem Rabu Pon. Manusa Yajna.

Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu.tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna.9). karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. Kepala beliau lambang Makro kosmos. sidhi. maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. ridhi. Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2. \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh. 2003 : 9). Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah). Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya. pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah. karena lambang pengetahuan duniawi. sambil menaburkan bunga kedalam api.00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya. Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu.Veghneswara. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan.matahari. Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah. biji-bijan. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya.23. Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma. . Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. badan melambangkan mikro kosmos. dari matahari turunlah hujan. budhi “ sebanyak 108 kali.00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja.1 dan 10. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana).112. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297).

(luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). kenanga. mawar. Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan.Sanaka. cempaka. Sesudah upacara dimakan. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara. hitam (utara). Dihaturkan : semua dewa 3. selesai upacara ayam dapat dimakan. 5. Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur). Sanadana. merah (Selatan). kantil. Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. dadu Tenggara). baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. . Bunga 2. lancur) . Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih. Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). Biru (timur laut). Sanaatana = Sang Hyang Langgeng). kuning (barat). menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. bulu dan cakar ditanam ditanah. berbagai macam warna (tengah). mlati. 1.Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. hijau (timur laut). jingga (barat daya). wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. gambir.

Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam. Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan. yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9. Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. dengan diringi kidung . Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. Nasi liwet beserta lauknya. Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. sesudah upacara nasi dimakan. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. Sesaji : Campur. Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. Jajan Pasar. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ).Bunga 6. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan. Pisang Ayu Suruh Ayu. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati.

AGNI . Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji. ingkang sampun wonten.YAMA .RUDRA .TAARAA .IISMAYAWATI .SHRII RADHA .BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .BRAHMA .ISWARAH . .CANDRA .KUWERA – NILA . ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).WARUNA shanno PERTIWI . anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula. Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa. * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.INDRA . Buddha Pengayoman Olah Negara .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .SURYA .KALKI AVATAR SANATKUMARA .sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA . sajian disurut untuk makan bersama.KWAN IM .SABDHAPALON . Sesudah Parama Santi. seestunipin sadaya punika.SANAATANA SHRII ERLANGGA . Duh Gusti kawula puja Paduka.MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA .turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan.SANANDHANA SANAKA .WISNU urukramah.SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA .KALI . Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos.

Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah. inggih Mahadewa. mboten kalahiraken. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. kukusing dupa keluhur. merwawangi. Tuking sadaya gesang. ingapuntena wicara kawula. sinembah umat sedarum. Brahma lan Wisnu saha Rudra. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. dahat sru nalangsa. hamemuji.Duh Pangeran Tunggal. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. mugi-mugi. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . Iswarah Parameswarah. ingkang saking tindak tanduk. Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. ingapuntena dosa memanahan kawula. jiwatman kawula nestapa. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. mboten kasad mripat. ngaturake sembah bekti. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya. bibitipun sadaya dumados. Ganda arum. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. kabegjakna sirna sadaya dosanipun. Hyang Widhi paring nugraha.

Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun. tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X . ingkang wingking Tanpa purwa.

00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21. 2X . Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar. Pisang Raja.Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3.

Jajan Pasar. Sesaji yang diatas meja : * Daksina. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. .00 malam sampai satu setengah jam. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi. (Cleo. wawancara tgl. * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. * Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. Ingkung. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. Pisang Ayu Setangkep.) yang menimbulkan malapetaka. 4. Pelaksanaan Upacara. 15 Pebruari 2006). diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. gandarwa dll. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah . dedemit. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. suruh ayu dan bunga. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan. Tirtha suci. * Pada jam 15. Tumpeng Pengyoman. ditaruh di lima tempat.Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. bunga. yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). Nasi Liwet beserta lauknya. setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. kemudian membuat Titha Suci.

* Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. Jam 16. Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya. tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja).00. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. 6. makan surudan bersama. * Pisang Ayu. tidak bekerja. * Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi.* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . Jajan Pasar . boleh beraktivitas lagi. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ). diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. C. Suruh Ayu dan bunga. dengan fokus Sang hyang Semar. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru). Nasi kuning beserta lauknya. Setelah upacara. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban. tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci. Manusa yajna . tidak bicara. besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. 5. Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga.

botok. isinya buah-buahan sad rasa. kacang panjang tidak dipotong. garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. bawang merah. biasanya kangkung. bregedel. lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus. ada jambu. pala kependem seperti ketela rebus.bawang putih. pelas. apel. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu. kencur. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit).dll. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe. bongko.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. kacang rebus. jadah. laos. garam. ubi-ubian. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. daun jerut purut. bayam. terasi. kentang hitam. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. salak. gula Jawa. gereh petek. mangga. salam laos. kenanga kantil putih kantil kuning. garam. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. kelapa muda diparut ditambah garam. Jajan pasar. tempe bosok. cabe. tempe bosok/yang sudah 3 hari. ketumbar. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. kencur. pisang. umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). bawang putih. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. Semuanya diaduk. sere. kenikir. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut. bubuk dele. salam/daun pandan. gula Jawa. irisan timun. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. dapat ditambah dawet. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. 2. ingkung dan nasi asahan. srundeng. sambel goreng basah. ketumbar. bawangputih bawang merah. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. gula Jawa dimasak diberi santan. 3. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). salam. kencur.Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. jeruk. kenanga dan melati. salam laos. kecambah kacang hijau. . irisan telur dadar.

dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. Upacara Manusa Yajna 1. bawang putih. Diluar lauk basah misal tahu terik. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. telur ayam. cabe merah. pisang klutuk mentah dll. santan dimasak sampai matang 6. diuleg/digilas) Ketupat. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. bawang merah. b. daging ayam terik atau apa saja. rempeyek kacang/teri. c. diatasnya bawang merah dan cabe merah. pepaya setengah matang. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). diatas samir diberi lauknya melingkar. Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. brambang. kedondong. daun salam. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit. laos. bangkuang. . santan dan dimasak. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. diberi saus rujak (gula. cabe. krupuk. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. garam. Bayi dalam kandungan 5 bulan. terasi garam dan asam air sedikit. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. Rujak. ebi/udang kering.4. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. daun salam dimasak sampai matang. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. * Sambel goreng jepan/labu jepan. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam.

7 buah ketupat. 2. hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). 7 takir rujak. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana. sambel goreng. Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. 7 buah nasi layah. bregedel. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. merah. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. Hari kelima = Sepasaran Bayi . Upacara bayi lahir a. irisan telur dadar. Jajan pasar. ditambah lele dan udang goreng). Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan. * mohon doa restu para orang tua * siraman. disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih. Upacara mitoni begitu unik :. Doa bersama f. Bali) Sajennya : Nasi gudangan. kuning. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas.e. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . b.

kuning. Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. midodareni dan panggih. 3. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga . bayi dijaga seharian. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi. ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung. nasi liwet.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi.Nasi gudangan. merah. biasanya ada pesta kecil. d. gedang ayu suruh ayu bunga. Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. 4. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh . Dilaksanakan upacara siraman. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya. c. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut. hitam. jajan pasar dan intuk-intuk . 5. Jajan pasar. daksina. Sajen seperti wetonan. kadang-kadang bayi sering menangis.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi.Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. biru dan coklat(gula jawa). ingkung. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya. sesajinya : . Kurungan diberi ayam. terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin. hijau. .

Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. Pelaksanaan persembahyangan. semut. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. perempatan dll. pendak (1 tahun Jawa). untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. nasi asahan. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. 100 hari. 2. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an. selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. dilaksanakan semua umat. ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. BAB VII TEMPAT SUCI A. pisang ayu suruh ayu. tikus dll. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. nasi golong sati. nas gudangan tanpa cabe. 7 hari. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. lauk ayam goreng. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. 40 hari. Sajen ditambah dengan ketan kukus. nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf. nasi iber-iber. tempe goreng. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). kolak dan apem. Pengertian . Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus.

Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira. . dll. Tempat Suci berfungsi sebagai .tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya . di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam . Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. C. Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha. Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1.tempat memohon tuntunan dalam hidup .tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . 2. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin. Bagian bawah gunung alam Bhur. pesantian).sesaji).tempat untuk memohon ampunan . gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. B. seni. Disamping istilah Pura. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : . tempat untuk bersujud. devagriha. di Jawa gunung Semeru. dharma tula. pelatihan pembuatan upakara (banten.Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan. Di India gunung Maha Meru. dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya.tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa.tempat memohon pertolongan . Ssivalaya dll. devalaya. devabhawana. sarasehan. Gunung Oleh umat Hindu. dharmashala. menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. pelatihan sosia.sarana pendidikan agama (perpustakaan. 1.tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya. budaya & agama seperti dharma wacana. berbakti.

: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. makin diringkas lagi menjadi manusia. dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . yen karingkes dados alusing meru. 2. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. orang bersembahyang menghadap gunung. inggih punika alusing donia. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. Kitab Bhagawad Gita IV . yen karingkes dados alusing ndi meru. jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya). yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. Lingga Lingga adalah lambang Siwa. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung.Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. dianggap berbangun gunung. yen karingkes dados meru ndi Himalaya.

. 3. 3. Candi Menurut Dr. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. Bentuk suatu lingga 1. Candi Singosari. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. 3.Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. 4. Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Sudharma dan Mandira. 6. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Candi Simping dll . Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. Candi Jago. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. 4. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga. Dr. b. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. 2. merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. Candi Penataran dll. 5. Nama lain dari Candi adalah Prasada. 1973:84). Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. Candi Prambanan. bunga-bunga teratai. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. ada bidadari-bidadari. Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran.

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Prosedur mendirikan tempat suci a. SK.. Persiapan *. 11. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa.556/DJA/1986 isinya ………. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. Keput. *. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Bhisama. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. Status tanah bersertifikat . Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *. Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. 12. Weda. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum. Awig-Awig. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi. Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. 2. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. D. Lontar. 10.Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali). Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan.

terdiri dari tiga bagian. Maha. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. atap tiga. ada meru atap satu atap dua. lima tujuh. bhuah loka dan swah loka. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). sembilan dan sebelas. 2. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. Jana. Bhur. 1. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Bhuah Swah. 3. Candi Ceto terdiri 13 halaman. untuk masuk halaman pertama melewati gapura. Melampirkan denah 3. Pengurusan sertifikat *. Prasada Bentuknya seperti tugu. E. Gedong . Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan. Tapa dan Satya Loka. halaman pertama ini biasanya kosong. Candi Margarana. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung.. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya. dasar.b. Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling). Pengurusan sertifikat tanah *. Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk.

bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. 4.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. 5. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2. badan dan puncak atau atap. 3. 2. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara. Bagian dasar terbuat dari batu bata. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. terdiri tiga bagian dasar. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1. 5. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. 6. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. Jenis Padmasana : Padmasana. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e. Padmasari. Di Jawa. a. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . 4. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. Letaknya diluar halaman pura. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. padas. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. Padma Capah. f. Padma Agung.

Pengertian Pandita. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. bahasa dan kemampuan daerah. yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda. . Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia. 1. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I. Ida Bhagawan. ekajati maupun upacara dwijati. mahkluk hidup yang paling tinggi. Manawa Dharmasastra I. Dukuh. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya. Ida Pandhita. Rsi. Ida Sri Empu. Diantara yang ahli Weda. Diantara yang melaksanakan upacara.4. Ida Rsi Bhujangga. 97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi.96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. wiku. BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan.

2. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi. Indonesia. yang ahli weda adalah yang tertinggi. pendalaman intisari ajaran agama 6. memiliki pengetahuan umum.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya.96 menyebutkan Bhutanam paninah. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. 3.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana. Manawa Dharmasastra I. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. 2. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. 4. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . Diantara yang punya pikiran. Diantara ahli weda. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Diantara yang melaksanakan upacara. Inilah yang disebut Brahmana sejati. Sanskerta. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1. manusialah yang paling tinggi. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan. Manawa Dharmasastra I. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana. makhluk hidup adalah yang paling tinggi. 5.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit. Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. Paibon. Gede dll. Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa. dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru. Padharman. Pinandita 1. Merajan. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. Hak seorang Pemangku/Pinandita *. Panti. dan juga atas panygrahan nabe. Panyudamalan dan Nyapu Leger b. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c.B. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : . Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Dang Kahyangan. sesuai tingkat pewintenannya.  Kahyangan Tiga. Sasana Pamangku a. Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. Pamangku Dalang 3.

anyondong. wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata. Pengertian Sudi artinya penyucian. Wacika dan Manacika b. Melaksanakan upacara . Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. waspada tidak gegabah dalam kejadian c. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. Bebratan Pemangku a. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata. Catur Paramita : . Apramada 5. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1. berbohong dan menghina. Tidak memfitnah. filsafat dan agama. Yama Brata : Ahimsa. 2. Brahmacari. b. memakai destar.wenang agotra.. Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu. Awyawahara. Sauca. 3. Asteya Niyama Brata : Akroda. SUDI WADANI 1. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. berambut panjang. Tri Kaya Parisudha : Manacika. Gurususruca. 5. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. Selalu jujur. Aharalagawa. 4. Satya. Mendiskusikan pengetahuan.

Ma. canang sari dan air suci.untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa . Na. Ang Ung Mang B. tataban .Nista : mempergunakan air . A.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk). 2. dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan. Pelaksanaan Upasaksi a. saya bersumpah …. Mantra Om Sa. bija. prayascita. Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil. Pelaksanaannya selalu disertai dengan api. Ta. Bila memungkinkan dengan sarana Daksina. Wa.. Bentuk Upacara Upasaksi a. I. -. 3. b. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani. Si. 3. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . bunga. Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah .. . c. Ba. Ya.Utama : mempergunakan banten biyakala. c. sesuai ketentuan. P E N Y U M P A H A N 1. Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang.

4. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1. 5. Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. 9. * Sikap yang akan disumpah . sampai bersih darah dan membersihkan diri. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan. 3.Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa . Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C. CUNTAKA 1. 2. 6.Ruang Lingkup. Sebel karena melakukan Sad Tatayi.Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c. 7.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. 3. Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. 2. Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah. 8. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya.b. .

kajeng). suaminya dan rumah yang ditempatinya. B. 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. Rabu. Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. Selasa. Kamis. Jum’at dan Sabtu) 2. Pahing). sampai diceraikan. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. pepet) Tri Wara (pasah beteng. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. Dwi Wara (menga. . a. sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. 1. 5. Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. Sapta Wara (Senin.. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya. wanita bersalin : diri pribadi. sampai upacara byalaon 10. Kliwon. sampai diadakan upacara byakaon 9. sampai kepus puser (putus pusernya) 4. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. Hari Suci Agama Hindu 1. dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. Panca Wara (Pon. Bali) adalah hari yang diistimewakan. Panglong atau penanggal. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat.3. 3. keguguran : diri pribadi. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. 7. 8. b. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. suaminya danrumah yang ditempatinya. seperti Hari Purnama dan Tilem . Anak dan rumah yang ditempati. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. Wage. Legi. 6.

Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan . Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan.: 1. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. 5. 6. dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. 3. Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. Jenis Hari Suci Rerahinan 2. pemerajan. seperti Dewa Yajna. sumber air. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. 3. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. 1. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. b. Manusa Yajna dll. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. 2. c. 4. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1.3. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. d. 5. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. bulan sabit didahi Dewa Siwa. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. 2. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia. sanggah dll.

nimittaning drsta prajanira sri haji. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. Hyang Ludra 2. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. Yoga Yajna. Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. tkeng kajagatanika. kepada Para Purohita. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. Tapa Yajna. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. Swadhyaya Yajna. Dhyana Yajna dll. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit).Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. rengen warahkwa ri kitanaku. demi untuk kesejahteraan jagat raya. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku. Ini semua diterima oleh para dewa. . ri sawateking purohita kabek. harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. apan parikramaning dahat suksma uttama. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. persembahyangan Trisandya. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. maka drstaning praja mandhala. karena melaksanakan hal-hal yang utama. wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa. 3.

persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. Pengarah Bubuh.5. Wariga Saniscara Kliwon Wariga. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat. Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d. untuk kemakmuran. Tumpek Penguduh atau Pengatag. 4) Hari Raya berdasar pawukon 1. Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c.

h. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m. Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga. Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. 1. i. Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a. pada waktu tilem Hyang Surya . mas perak permata. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k. Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1.

Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. mona brata. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. Sinta Radite Soma Anggara Buda . Sasih Kapat Purnama Kapat. b. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa. jagra dan upawasa d. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. beryoganya Sang Hyang Siwa. 1. turunnya Sang Hyang Dharma. c.beryoga. jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda.

Gumbreg . Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4. Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6.Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2.

Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11. Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9.7. Wariga 8. Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Sukra Kliwon Sugihan Bali 12. Kuningan Radite Soma .

Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih . Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17.Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15. Pujut 16.

Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23. Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22. Wayang Saniscara . Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20. Medangkungan 21.19.

Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. tahun Baru Imlek. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C.Kliwon Tumpek Wayang 28. 29. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. 30. 1. . Tahun Baru Muharam. ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa).

Pratima.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari. mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. b. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan .kepada umat manusia. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1. yang maksudnya berdiam diri. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Pelaksanaan: semua Arca. a. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia. : diperempatan jalan atau didepan rumah. danau atau mata air yang Laut. Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri.

: Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. ini juga disebut labuh brata. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. 2. atau lebar puasa. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. e. kedamaian dan kebahagian. mesui. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. artinya menyalakan api kembali. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hari Raya ini .c. tirtha pelukatan. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. memadamkan api hawa nafsu. untuk mendapatkan ketenangan. d. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. obor. sapu. : Agar dapat mengendalikan diri.

kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. 5. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur. 5. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. kelembutan. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. 3. 3. penuh keindahan. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. 6. 2. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. simbol kekekalan c. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. menarik. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d.dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian.. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam . 4.

Bimas Hindu dan Budha. MA SH. Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. 2002. Agem-Ageman Kepemangkuan. Gde. Surabaya : Paramita. 2007 Widya Dharma Agama Hindu. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. 2000. 2004. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Nyoman S. 2005. Denpasar : Dharma Bhakti. Denpasar :. bertempat di Pura atau dirumah. Dirjen. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. Tjok Rai. Acara. IB. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. Pendit. 2003. Sudirga Ida Bagus. Puja. dengan menghaturkan puja bhakti. Jakarta epartemen Agama RI Nala. Ganesa Exact. dkk. Putu. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). Manggala Upacara. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. Bhagawadgita. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. . Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. DAFTAR PUSTAKA Bangli.perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). Ngurah. Surabaya : Paramita. 6. umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan. 1993. menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. Sehari sesudah hari Galungan. Sudharta. Agama Tirtha & Upakara..

Denpasar : UNHI Tambang Raras. Yajna Sesa. 1981. IB. Denpasar : Setia Kawan. Niken. Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . Msi. Yayasan. 2005. s .. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. Gede. Sudarsana. Wijaya. Nukning Dra. Filsafat Yadnya. Surabaya : Paramita. Sri Rahayu. Intisari Ajaran Agama Hindu. Surabaya : Paramita. Putu. Drs. 2003.Sanatana Dharmasrama. Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). 1998. Denpasar Panakom Publishing. MM. MBA. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful