Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara. Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan. Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi. Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain: - Pattram = daun-daunan, - Puspam = bunga-bungaan, - Phalam = buah-buahan, - Toyam = air suci atau tirtha. Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan

oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur. Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu : 1. Canang Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah: a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti. c. Bunga lambang keikhlasan d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran. e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi. 2. Kewangen Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan. Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip. 3. Bunga sebagai Lambang, antara lain a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran. c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi : 1. Sebagai pendeta pemimpin upacara 2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja 3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat 4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.

Arti dan Fungsi Tirtha Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu

Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan. untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja. bagian kedua sukta 5. tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah. disebut ”Wijaksara”. Dalam sekian banyak mantra. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa. pikiran yang suci. mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan Dalam Rg Weda I. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. c. Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama. Mantram. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut : a. Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra. Yadnya 0 comments: Post a Comment Note: Only a member of this blog may post a comment. Wisnustawa. Ia yang maha kuasa. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan. Ang Ung Mang. ada mantra yang hanya terdiri dari dua. sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti. Mantra adalah Weda. Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Kategori • • Bali (3) Bhagawadgita (1) . Macam . Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. Barunastawa. Mantra itu banyak macam dan ragamnya. Durghastawa.macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan b. dan sebagainya.menumbuhkan persanaan. Sarana Upakara. Posted by Sapta at 9:39 PM Labels: Hari Raya. karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Bhatara (1) Candi (1) Caru (1) Hari Raya (4) Jawa (1) Mantram (3) Mantram Gayatri (1) Meditasi (1) Nyepi (1) Padmasana (1) Pura (1) Renungan (4) Sarana Upakara (1) Sejarah Hindu (2) Spiritual (3) Tirtayatra (1) Tumpek (1) Weda (1) Yadnya (2) Zaman Kerajaan (2) Archive • ▼ 2009 (15) o ▼ April (14)  Arti dan Fungsi Sarana Upakara  Mengurai Nyepi dan Saka  Perlukah Kita Memantra ?  Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan  Belajarlah Menjadi Orang Bodoh  Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual  Yadnya Dalam Bhagawadgita  Mantram Gayatri  Caru  Padmasana  Lahirnya Betara Kala  Setiap Langkah adalah Anugerah  Tirthayatra. Perjalanan Suci Atau Wisata ?  Bangunan .Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa o ► March (1)  Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India Globe Trackr .

08 Olih I Ketut Wiana Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. Nampekan raga ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti.papaya para pidana. Yan ring basa Bali mateges ngayah. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi. Dadosnyané malarapan antuk banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan antuk bakti. Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané madaging tutur utama. Banten punika taler kawastanin upakara.07. muang Bakti kawastaning Tri Para Artha. ring sajatma sami miwah ring sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Asih. Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu. pinaka kawisésan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma ngayah. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges melayani manut ring basa Indonesia. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané jaga polih punia. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa. Taler nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih. Banten punika waluya basa mona. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos. pinaka Bhuwana Agung. Yan ring basa Indonésia mendekat. Punia. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. 2009 3:47 pm dyayu VISUDDHA Number of posts: 3698 Reputation: 12 Registration date: 17. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama. pinaka Anda Bhuwana. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar antuk asih.Suksmaning Banten on Mon Apr 06. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. Banten punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika prasida neked tekén krama Hinduné makasami. Janggama punika sarwa buronné sami. Sahananing Bebanten pinaka raganta tuwi. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napinapi. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita.pinaka warna rupaning Ida Bhatara. Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya. Stawira punika sarwa tumuwuh. sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni papa neraka ring uripnyané. Yan sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika . Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek.

Anaké sané asapunika kocap jaga mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa. muang Kayikané jaga setata madasar asih. Yan sampun asapunika dasar makarya banten. nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami wau dados anggén srana upakara. nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa. Message [Halaman 1 dari 1] BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten Just another WordPress. punia. Mangdané pula miwah ubuh sarwa tumuwuh miwah sarwa i buron punika. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. Manacika. Tatwa Tri Parartha punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten. Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entikentikan miwah sakancan buron. selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana. .Wacika. Manut Manawa Dharmasastra V. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa praniné punika tresna sih utawai asih. M Si.com site • • Beranda About ACARAAGAMAH I N D U I 13 September 2010 oleh pasraman MATERI PERKULIAHAN ACARA AGAMA HINDU I Dosen pengajar : Dra. Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan.kaandapang. Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang ring sajroning kayun. muang bakti.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah sarwa buronné sané kaanggén srana upakara. Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané. Nukning Sri Rahayu. ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap kawéntenanyané. Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika polih galah ngayah malarapan antuk punia. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah anggén srana Upakara kémanten. Nanging yan sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka.

Tujuan kurikuler Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu. upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran. sudi wadani. tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. loka. peranan dan tujuan Yajna Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna Panca Yajna dan Yajna Sesa Pendahuluan Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara. 5. masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya. baik yang terkait dengan masalah yajna. Selanjutnya arti upacara adalah : . sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga 1. 4. purwa. 1. Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan keyakinan dalam beragama Hindu. Acara • • • • • • Perilaku yang baik. upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari. pandita-pinandita. 2. Upa artinya berhubungan dengan. Pengertian 1. Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara. perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat. tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat. sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri. Garis Besar Pembahasan Acara Agama Hindu I 1. penyumpahan dan cuntaka. 2. Pendahuluan Pengertian. peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu Pengertian. ACARA AGAMA HINDU 1. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran. yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna. dasar. 3.

keahlian > kebijakan. juga etika umum 2. dokter dll. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. nelayan. hansip. pendidik. Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. polisi. Sumber Acara Sumber Acara . hakim. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara. d. antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya.) > ketangkasan fisik ( tentara. Brahmana Ksatria Waisya peternak) Sudra > mengandalkan fisik (buruh. 3. Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya. 1. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. pekerja. Ruang lingkup Acara 1. Upa artinya berhubungan dengan. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.Rta > sebagai sila = diambil dari kitab suci = hokum alam . 1. pembantu rumah tangga) 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi 2. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan).Agama . petani. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2. pekerjaan. kondisi social ekonomi. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi.pemikiran (pendeta.- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna. kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis. 1. guru. 1. pengusaha.

Satapatha.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Tandya Araniyaka. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi • • • • • Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) Siksa = cara pengucapan mantra yang benar Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat Chanda = lagu. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. 2. Tandya. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi Mantra : catur Veda (Rg. Wedantasutra. Upanisad Sama Veda 10 bh. Saktisme - 1. peraturan tentang baik buruk. Satapatha A. Nibanda : ditulis Mahareshi. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. kosala kosali. kejujuran Rta = mengakui hokum alam Tapa = pengendalian diri . Agama : Agama Saiwa. 1. Silpasastra = asta bumi. Sila : . Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . Reshi. Ayurveda. Upanisad Rg Veda 10 bh.) Upaveda : Itihasa. 2.Sumber Acara > sebagai dharma 1. Yajur Veda dan Athrwa Veda) Brahmana : Aitareya. Grhya Sutra = berumah tangga. cendekiawan Hindu seperti Sarasamuscaya. Wahya. Sulwa Sutra = membuat bangunan. Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. Veda. Acara (Sadacara) : Kebiasaan. Waisnawa. Sama Veda. irama. Gopatha Araniyaka. kepuasan diri sendiri. Purana. 1. 1. tingkah laku . Artasastra. Upanisad Atharwa Veda 31 bh. perbuatan yang Menyenangkan orang lain. Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. Purwamimamsa. Gopatha > Aitareya Araniyaka. 3. 1. Brahmasutra. tembang tentang isi veda. Pengertian dharma : Satya = kebenaran. Tidak bertentangan dengan harga diri.

Fungsi Acara - Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera 1. tekun : lima adat kebiasaan Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat. materi. 2.- Diksa = penyucian Brahman = Hyang Widhi Yajna = pengorbanan 1. pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran Artha = kekayaan. Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. Y A J N A A. 4. 3. Kama = keinginan. = hormat taat tekun. kesenangan Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. Dharma = kebajikan. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : . jer basuki mawa bea. aktif Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Yoga Marga Panca dresta = disiplin. Catur marga : Bakti marga Karma marga = kerja.

kebaktian > upacara.* Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: . Satyam brhadrtamugram diksa. tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) . antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.pengorbanan suci lahir batin. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk (Bhagawadgita III. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. pemujaan. Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . 1. persembahan atau korban suci .system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . berkorban demi kebenaran (dharma) . berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. 1. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). upakara.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna * Yajus artinya aturan tentang yajna * Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu.system persembahyangan. jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) .pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain) .menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit.

Artinya : Sesungguhnya satya. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa.24-27.rta. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur. Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) Budhi (kesadaran) Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. tapa. dari makanan lahir mahkluk hidup. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. Mengendalikan hawa nafsu . madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. dari hujan timbul makanan. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa 1.14). diksa. Dengan yajna itu menimbulkan hujan. Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. 1. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi 2.

Bhagawadgita III. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. Menolong orang sakit. Bhagawadgita III.3. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda.9 menyebutkan : setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. tapa brata. prthiwim dharayanti. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. Bhagawadgita III. mengentaskan kemiskinan. . dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. semoga bumi ini. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi.12 : Ia yang hanya suka dipel. Atharwa Weda XII. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Maka sebelum menikmati makanan. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup 4. Rg Weda X. yang kokoh dan suci (rta). B. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Bhagawadgita III. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Dengan kemantapan srada. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. menghibur orang susah dll. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. diksa tapa brahma yadnyah.

Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur C.16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino . seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. mengajarkan isi Weda. yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya .11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “ Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda. Bhagawadgita VII. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2.71. TUJUAN YAJNA 1.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka). dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. kepada leluhur. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Manawa Dharmasatra. VI. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1.

Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” . wahai Bharatasabha. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) Manusia memiliki bayu. tawur. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. 3. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri .16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati. Pedudusan. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. caru. prayascita. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup. kemampuan berpikir. pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia. 1. yang mengejar ilmu.Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power. demikianlah kenyataanya. terkadang penuh keragu-raguan. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Kitab Bhagawadgita XIV. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. mereka yang sengsara. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.: Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa.5 menyebutkan : . Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. jasmani suci. Kitab Manawa Dharmasastra V . hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. Yajna. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. Sattwika. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten 3.54. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). Rajasa dan Tamasa. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : 1. pikiran disucikan dengan kebenaran . Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual 1. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna 2. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya.

menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. dapat berterima kasih pada Tuhan. Pranavah sarvavedeshu. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. huruf-huruf kitab suci. 1. pada seluruh ciptaannya. Kunti putra. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. wenang ya . huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Beliau diair. prabha ‘smi sasisuryayoh. 4. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. di bulan di matahari. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda.8 memberi petunjuk sbb. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti : Kitab Sarasamucaya I. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. cahaya bulan dan matahari.“Ko addha Veda ka iha pravocad. Tuhan berada dimana-mana. paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. nimittaning mangkana.

Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. 4. karena itu. pupuh. tams tathai ‘va bhayamy aham. . Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. 3. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : 1. Seni tabuh. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. makasadanang subhakarma hinganing kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga. sloka. 2. D. seni tari dll ikut mendukungnya. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.: “ye yatha mam prapadyante. semuanya Kuterima. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. 2. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku.Tinulung awaknyasangkeng sangsara. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. Mam vartma . 5. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. palawakya. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna. wirama.nuvartante. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. 3. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna.

Medangkungan. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. pagi sing dan sore 2. Tolu. Nyepi. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Sukra. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan. Soma. 1. Uye. Kulawu. Merakih. Anggara.Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Senin. 3. eka wara dwi wara tri wara catur wara panca wara sapta wara = Luang = Menga. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 1. Tilem. landep. Pujut. Sudi wadani dll. Medangsia. Dukut. 1. Watugunung. Ugu. sebelum kita makan masakan itu. Legi. Pepet = Pasah. Buda. Jumat. Julungwangi. Menail. Wage. = Minggu. Gumbreg. Ukir. Redite. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. Siwaratri. Jaya. Kamis. Menala = Pahing. . Kulantir. Tambir. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Wariga. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Langkir. Perhitungan sasih : Purnama. Wraspati. Sabtu. Krulut. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. Naimitika Yajna Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Wayang. Rabu. Kuningan. Warigadian. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Perangbakat. Galungan. Pahang. Laba. Kajeng = Sri. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. ngulapin orang jatuh. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Dasar perhitungan wara seperti . Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. Equinok(matahari diatas katulistiwa).: 1. Beteng. Pon. Sungsang. 2. Matal. Saniscara. 1. Sebagai contoh upacara melaspas. Bala. Kliwon. Selasa.

ketulusan. lascarya.ii. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. 3. dan patra (keadaan). Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). Pokok Ajaran Panca Yajna Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. 1. kala ( waktu). 2. . Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu. 5. mantra. Kitab Satapatha Brahmana 1.Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). hendaknya untuk menjamin kelancaran. Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. dalam hidup ini. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. kesucian hati. sastra agama. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar.12. gita annasewa dan nasmita. kidung suci daksina dan srada Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. 4. Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII. Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan : Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. daksina. mantra.

ada yoga. Svadhyaya. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. 2. 2. ada tapa.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana.: 1. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 6. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.2. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb. Kitab Bhagawadgita IV. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur . menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu : • Manawa Dharmasastra III. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda 2.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4.: 1. yoga-yajnas tathapare. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5.

81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb. • Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. 4. • Manawa Dharmasastra I.: 1. yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. Manawa Dharmasastra III. 2. kepada leluhur dengan sradha. Brahmahuta. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah. kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan : . prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. 4. 5.3. 3.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. huta persembahyangan homa. Pitrrn sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda.

6. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur 5. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 4. 6. 2. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 6. 3. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa 4. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.: 1. 5. 4. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.: 1. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat 5. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.: 1.: 1. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. pintu rumah serta pintu tengah rumah. tapa dan Samadhi.1. mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. 7. 3. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya 2. 3. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama 2. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci 3. 1. 4. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur 4. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata. . Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Rsi Yajna adalah persembahan punia. 4. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. buah-buahan. 2. Lontar Korawa Srama Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb. 3. 5. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda 2.

Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.ajaran Weda Meningkatkan kualitas diri Untuk mensucikan diri Sarana berhubungan dengan Tuhan Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. kemenyan. A.5. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Dewa yajna 1. 5. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. 1. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 2. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 1. 4. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. 6. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : Simbol Brahma : Agni (dupa. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. ratus. lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . 8. 2. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara. 7. PANCA YAJNA Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. 3. 1. Tujuan Dewa Yajna Mengamalkan ajaran. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.

latihan tari. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. aku terima Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. Yang utama adalah hati suci.26 menyebutkan : “Patram. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. sekuntum bunga. Sarana : . Disamping itu perlu penanaman bunga. Tad aham bhaktyu pahritam. mekidung (nyekar dalam bhs. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). sebiji buah-buahan atau seteguk air. Bhagawadgita IX. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Jawa). c. phalam toyam. Asnami prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai Daun. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. yo me bhaktya praya chchati. puspham. 1. tidak usah bermewah-mewah. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. marah. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan. b. 1. iri dengki dll. Setangkai daun. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. atau dirumah (kamar suci/ altar.

3. Ngantukan Betara. Prelina Genta kemudian penutup. bunga bila ada buahbuahan. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian 4. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. Selama pemuput upacara memuja bhakti.pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk.1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. asuci laksana. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi. Sulinggih/pendeta. Hari Purnama dan Tilem 2. 2. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. Pelaksanaan : 1. c. mohon pengaksama. air. ngastawa genta. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Menghaturkan banten. puja “Sthiti”/Apadeku. Hari berdasar pawukon Sinta Soma Pon = Soma Ribek Sabuh Mas > Dewi Sri di lumbung > Dewsa Mahadewa > Sang Hyang Pramesti Guru Sinta Anggara Wage = Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi . 2. 1. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. 3. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2.

3. kahyangan dll. 4. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. Gerhana Bulan Hyang Candra). Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). panen (Dewi Sri). Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). . mendirikan bangunan suci. Klawu Sukra Kliwon > > > Dewa & Pitara turun > Sang Rare Angon > > > Sang Hyang Iswara Buda Cemeng Klawu Wedalan Dewi Sri Sang Hyang Aji Mohon pengetahuan Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati Saraswati Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh 1. Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. piodalan pura/merajan.- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali Penyekepan Penyajaan Dungulan Anggara Wage = Penampahan Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan Kuningan Redite Wage = Ulihan > Bhuana Alit > Sang Kala Wisesa > Sang bhuta Galungan > Sang Kala Tiganing Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara > Dewa & Pitara kembali Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan kembali Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan kembali Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang Klawu Buda Wage .

3. ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. ibu) serta memperlakukan dengan baik. orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. mulaimemberi makan. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. 4. 1. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah.1.: . upakara untuk para pitara. 2. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 1. Wujud Niskala : Upacara. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. PITRA YAJNA 1. 1. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. titik beratnya pada susila. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 1. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. kesehatan. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). B. Tujuan Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal.

Pelaksanaan Pitra Yajna • • • Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Atma Wedana : Tempatnya dirumah. abu tulangtulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. bunga tirtha. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. moksantu. dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb. Pengertian Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi.Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng. angksama sampurna ya namah swaha RESI YAJNA 1. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut.: Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau Murcahntu. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bungabungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. . 1. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. swargantu. Banten-banten juga disiapkan untuk itu.

dan bahasa Indonesia. 1. 3. 5. memiliki pengetahuan umum. 5. Wasi. 3. Upacara awal . Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Cara melaksanakan Rsi Yajna • • • • • • • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. Orang suci. 3. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. 6. a. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. Pinandita. Sanskerta. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. 2. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. 2. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana 7. belajar agama dll. Pemangku dll. Syarat-Syarat Nabe 1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi. 2. dan selalu berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). Pedanda. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan 8.Wujud Niskala : Upacara. upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Pendeta. 4. 1. Sulinggih. 4. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia. Sri Empu. jasa dan kebajikan). mendalami intisari ajaran agama Hindu 6. atau pemangku). wasi. Syarat Calon Sulinggih 1. Seorang yang selalu dalam bersih.

digosok minyak kayu putih. gunung dan merajan nabe 1. sejahtera. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. Upacara Puncak. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan 1. 1. c. aman. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. Upacara pokok Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. 2.• • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. diasapi 3 kali. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. • • Amati raga = penyekepan. rukun. . manusia dapat hidup selamat. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. b. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin. 1. Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe.

Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Upacara ini berupa pemberian korban. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti. dan malah merestui. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). manah satyena sudhayanti. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna 1. waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Hati ditempati oleh Dewa Brahma . c. 3. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: 1. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). eteh eteh padudusan alit (lebih besar). Upacara mabyakala (mabyakaon) Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Pada umumnya orang yang jujur. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut. Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. 1. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. a. 1. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. 1. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. b.

setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru 2. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan . Jenis-jenis manusa Yajna a. 4 bulan.Upacara ngelepas aon (12 hari) Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) . seni budaya. 1. seperti ramah tamah pada orang lain.2. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. kesehatan. 7bulan. menjamu tamu . Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada. moral/ budi pekerti dll. c. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia. procotan) Bayi baru lahir (nyambutin) Bayi puput puser (kepus pungset) . Jantung ditempati oleh Dewa Iswara 3. 4. kemudian meketus. 4. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. 5 bulan. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : 1. b.Upacara perkawinan (pawiwahan). Mengadakan upacara selamatan pada waktu : Bayi dalam kandungan(3 bulan.Tumbuh gigi. Anak meningkat dewasa (raja Sewala) Upacara potong gigi (mesangih/mepandes. 3. 5. mepangur) Mewinten .

dan untuk tumbuhtumbuhan tumpek pengatak. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan. Tabuh Getuh. mengharmoniskan jagat atau alam semesta seisinya 1. mencintai alam. Balik Sumpah. Tawur Agung. BHUTA YAJNA 1. memberi sedekah dengan tulus ihklas. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. menjamu tamu. Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta Sekala > menjaga. mesegeh. Cara pelaksanaan 1. Rsi Gana. Sekali). di sumber air dll (Yajna sesa. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Panca Wali Krama (10 Th.menghormati hak orang lain (bersikap toleran). Sekali) 1. keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk. Caru artinya mengharmoniskan. Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. keselarasan. Panca Kelut. PANCA MAHA YAJNA Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu : . memelihara. bantennya banten caru. b. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaikbaiknya. melestarikan. 1. Dengan mengadakan korban (mecaru. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. tawur) dengan cara : • • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku.

harta benda. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan.meneguhkan iman. kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. 3. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya.13 menyebutkan : • Yajna sishtasinah santo. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. Bhagawad Gita VI. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. akan terlepas dari segala dosa. segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. 5. ini menjadi Panca Yajna. 2. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut. ye pacaanty atma karamat” Artinya • Yang baik makan setelah bhakti. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. bhunyate te tv agham papa. YAJNA SESA 1.1. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. Contoh mengendalikan indria. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. . Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam” Dasar Bhagawad Gita III. sajen. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. mucyante sarva kilbisaih. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi.

Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan.mereka ini sesungguhnya makan dosa. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan. 1. ditempat menumbuk padi dll Yajna Sesa memiliki makna : Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya . 1. Tempat Yajna sesa : Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi Ada juga yang member ditempat beras. dipintu pekarangan. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan . ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. baru kemudian menikmati hidangan. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.

Belum ada komentar Tinggalkan Balasan Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Blog pada WordPress. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.- Belajar dan berlatih mengendalikan diri Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan Melatih tidak mementingkan diri sendiri Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan bahagia.com. . Theme: Vigilance by The Theme Foundry. from → Uncategorized ← Hello world! ACARA AGAMA III → Like Be the first to like this post. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti). Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu. Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel.

BERITA HARI INI BALI NUSATENGGARA NUSANTARA MANCANEGARA EKONOMI PARIWISATA BUDAYA OLAHRAGA RUBRIK OPINI SISIPAN TOPIK SURAT PEMBACA DENPOST harian warga kota Denpasar .

brata. brata. brata. Letaknya amat sepi tetapi indah. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : . Artinya. sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. bodoh. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. semua upakara banten sebagai lambang diri manusia. banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam. melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin. pinaka warna rupaning Ida Bhatara..Rabu Pon. mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa. semadi. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. sakit. yoga. pinaka anda bhuwana. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan. sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan .. sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. 30 April 2008 Ajeg Bali Pentingnya Manajemen Upacara Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara? =========================================================== Menurut Lontar Yadnya Prakerti. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan.sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa. yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. yoga dan semadi. Artinya. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. Dalam Lontar Sundarigama. wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana.

Meskipun. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. * wiana . Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Apa itu kesenjangan ekonomi. baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. birokrasi semakin tidak melayani. membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta. Seperti menjadi daya tarik wisata. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia.mempermudah mereka yang melakukan tapa brata. yoga. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. hukum semakin tidak tegak. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. semadhi mencapai tujuan menyucikan diri.

. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.CUACA ACARA TV & RADIO Radio Global FM 99. Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya. pinaka warna rupaning Ida Bhatara. pinaka andha buwana.15 (LIVE) 1 Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti by Cu Deblag in Dharma Wacana Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi.

Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri. bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. Upacara perkawinan. memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai. Di samping itu. apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan.i. . yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian. terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ). upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai. di tinju dari segi rohaniah. Upacara Perkawinan. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan. baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas. pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian.

Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site
• •

Beranda About

ACARA AGAMA III
13 September 2010 oleh pasraman ACARA AGAMA III BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar belakang Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut. Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan : Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo Brahma yajna prithivim dharayanti Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi 1. B. Tujuan Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma. C. Standar Kompetensi Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat D. Kompetensi Dasar Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acara Agama Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci Upakara /sarana upacara Panca yajna dan Panca Maha Yajna Tempat Suci Pandita dan Pinandita Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka Hari Suci

BAB II ACARA AGAMA A. Pengertian 1. 1. Acara
• • • • • •

Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan Dresta > kuna, purwa, loka, sastra Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat Lembaga

1. 2. Upacara Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah : yajna. gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu

Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya. 1. 3. Upakara Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan B. Peranan Acara Tertib hokum dan moral Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai bahagia sejahtera a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran) b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea c. Kama = keinginan, kesenangan 1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi. 2. Catur marga : a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi d. Yoga Marga 3. Panca dresta = samadi berserah diri, disiplin, tekun : lima adat kebiasaan

Sastra dresta = hokum tertulis Desa dresta = peraturan desa

Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu Loka dresta = adat istiadat setempat Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

nelayan. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis.Agama . Ruang Lingkup Acara 1. Satapatha. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi. keahlian Brahmana > kebijakan. pendidik. pekerja) 5. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi . dokter) Ksatria Waisya Sudra > ketangkasan fisik ( tentara.petani) > mengandalkan fisik (buruh.Brahmana : Aitareya. Jati acara Kebiasaan dalam satu golongan. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga 2.Rta > sebagai sila = diambil dari kita = hokum alam > sebagai dharma Sumber Acara 1. pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum. . Sumber Acara Sumber Acara . Tandya Araniyaka. hansip. kondisi social ekonomi. Veda.Mantra : catur Veda (Rg. Yajur Veda dan Athrwa Veda) . Satapatha A. 3. Gopatha Araniyaka. pemikiran (pendeta. 1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara 6. C. satpam) > keahlian bisnis ( pedagang. Gopatha > Aitareya Araniyaka.B. polisi. Tandya. 4. guru. pekerjaan. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma. kelompok Catur warna > pembagian berdasar profesi. Sama Veda.

Rta = mengakui hokum alam . Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi = Wedangga > enam buah (Sad Wedangga) * Siksa = cara pengucapan mantra yang benar * Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat * Chanda = lagu. Tidak bertentangan dengan harga diri. kejujuran . Ayurveda. tingkah laku . 6.Satya = kebenaran. kosala kosali. Artasastra.Tingkah laku yang baik dari orang suci. Upanisad Rg Veda 10 bh. Nibanda : ditulis Mahareshi. Wedantasutra. Purwamimamsa. Sulwa Sutra = membuat bangunan. tembang tentang isi veda.Tapa = pengendalian diri .. 3. Resi seperti Sarasamuscaya. Brahmasutra.Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh. 4. . Upanisad Atharwa Veda 31 bh.Brahman = Hyang Widhi . Grhya Sutra = berumah tangga. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani . 5.Diksa = penyucian . Acara (Sadacara) : Kebiasaan.Upaveda : Itihasa.Upanisad Sama Veda 10 bh. irama. Sila : . * Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia * Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar. peraturan tentang baik buruk. Purana. Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda. Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan. Wahya Pengertian dharma : . 2. perbuatan yang menyenangkan orang lain. kepuasan diri sendiri. Silpasastra = asta bumi.) .

Yajna = pengorbanan BAB III Y A J N A A.menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana alit. Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Waisnawa. antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama : Agama Saiwa.system penerapan dan mengamalkan ajaran agama Secara sekala /yang nampak . jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan) .sistem persembahyangan.Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna 2. manifestasinya.pengorbanan suci lahir batin. mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana : 1.. Saktisme. Yajus artinya aturan tentang yajna 3. persembahan atau korban suci . Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut . upakara. pemujaan.pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang) . Pengertian Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja. kebaktian > upacara. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih ‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk . demi kebenaran (dharma) . Yajna artinya : Secara niskala yang tidak nampak: .

Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa. berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang. dari hujan timbul makanan. . yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan. tapa. Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata. Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Satyam brhadrtamugram diksa. yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila). Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III. tapo brahma yadnya Prthiwimdharayanti (Atharwa Weda) Artinya : Sesungguhnya satya. Yajna ngaraning manghanaken homa (Wraspati Tattwa) Artinya : Yajna artinya mengadakan homa Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya (Agastya Parwa) Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan kepada Sang Hyang Siwa Agni. madu kayu cendana (sri wrksa) mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.14). Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu. diksa. Dengan yajna itu menimbulkan hujan.10) Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan. Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna.(Bhagawadgita III.rta.24-27. sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri). Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. dari makanan lahir mahkluk hidup. brahma dan yadnya yang menyangga dunia. walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.

Dengan kemantapan srada. Atharwa Weda XII. Bhagawadgita III. diksa tapa brahma yadnyah. bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini. B. menghibur orang susah dll. kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. semoga bumi ini. 3. prthiwim dharayanti.Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna : • • Karya (adanya perbuatan) Sreya (ketulus ihklasan) o Budhi (kesadaran) o Bhakti (persembahan) Semua perbuatan yang berdasarkan dharma.12 menyebutkan Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. 2.I menyebutkan : “Satyam behad rtam ugram. sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam” Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung. Maka sebelum menikmati makanan. ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami. Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna. Tujuan Yajna . Bhagawadgita III. dilakukan dengan tulus ihklas disebut yajna seperti “ 1. mengentaskan kemiskinan. tapa brata. 4. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi Mengendalikan hawa nafsu Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup Menolong orang sakit. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan. doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi. yang kokoh dan suci (rta). Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri.9 menyebutkan : Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.

yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna). yang mengejar ilmu. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa. dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power.: . mereka yang sengsara. wahai Bharatasabha. Bhagawadgita VII. mengajarkan isi Weda. Untuk meningkatkan diri Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu . seorang melakukan nyanyiannyanyian pujian dalam Sakwari. sabda dan idep (tri pramana) Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. 1. kemampuan berpikir. untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia.rjuna Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha” Artinya Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku. seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda. 2.Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana) .16 menyebutkan : “Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino .1. Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb. Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.71. yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna. Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati.11 : “Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah Artinya Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda.Manusia memiliki bayu. dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda. Untuk mengamalkan ajaran Weda Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana) .

3. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. tawur. demikianlah kenyataanya. sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan. hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual . pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Kitab Bhagawadgita XIV. Rajasa dan Tamasa. prayascita. Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna. Pedudusan. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci. jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain. pikiran disucikan dengan kebenaran . Kitab Manawa Dharmasastra V . Dalam agama ada ajaran pengendalian diri . terkadang penuh keragu-raguan. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani. caru. hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa. 109 menyebutkan “Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti. jasmani suci. Masingmasing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan. Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama.huh Satvikam nirmalam phalam Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam” Artinya : Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala.Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya. Penyucian Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati.16 menyebutkan : “Karmanah sukrtasyah . Sattwika.

8 memberi petunjuk sbb. pada seluruh ciptaannya. : “Raso ‘ham apsu kaunteya. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda. Pranavah sarvavedeshu. Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia. sabdah khe paurusham nrisu” Artinya : Aku adalah rasa dalam air. Yajna. Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga. Beliau diair. Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten c. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ? Kitab Rg Weda III . Kunti putra. pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya.4.5 menyebutkan : “Ko addha Veda ka iha pravocad. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna b. cahaya . paresu ya guhyesu wratesu “ Artinya : Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi. Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Tuhan berada dimana-mana. diwilayah rahasia Kitab Bhagawadgita VII. Dewam accha pathyaaka sameti Dadrsra esamavamak sadamsi. Manusia telah dapat menikmati rasanya air. di bulan di matahari. Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih). prabha ‘smi sasisuryayoh. upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna yaitu : a.54.

pupuh. makasadanang subhakarma Hinganina kotamamaningdadi wwang ika Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga.bulan dan matahari. * Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan. Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung. nimittaning mangkana. seni tari dll ikut mendukungnya. demikianlah keistimewaan menjadi manusia. dapat berterima kasih pada Tuhan. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna. palawakya. * Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Untuk mencetuskan rasa terima kasih Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna. sloka. Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. 5. getaran suara dan kemanusiaan dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta. Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu : * Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. wenang ya Tinulung awaknyasangkeng sangsara. huruf-huruf kitab suci. karena itu. memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri. ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik. . 4. wirama. menyebutkan “Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih Apan ikang dadi wwang uttama juga ya. Seni tabuh. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna.

Rg Weda X.ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri. Bhagawadgita III. ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).12 : Ia yang hanya suka dipel. Bhagawadgita III.: “ye yatha mam prapadyante. Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) : 1. Dasar dan peranan Yajna Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan. dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir. 2. kepada leluhur. Manawa Dharmasatra. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa 2.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri) 3. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain : 1. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten) 2. 5. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan. Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet. dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia. ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah” Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan.D. 3. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur BAB IV YAJNA JENIS A. VI. 1. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan). Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas 4. tams tathai ‘va bhayamy aham . Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi 3. Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna.

Senin. Langkir. Jaya. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta. Legi. semuanya Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha. Merakih. Kuningan. Soma. setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal. Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb. Laba. Ukir. Julungwangi. Wraspati. Medangsia. Gumbreg. . Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan. Tolu. Naimitika Yajna • • • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari. Dasar perhitungan wara seperti . pagi sing dan sore Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya. Pepet tri wara = Pasah. Rabu. Warigadian. landep. Kliwon. Anggara. Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi : 1. Redite. Pujut. pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Sabtu. Sukra. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat. sebelum kita makan masakan itu. Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa. sapta wara = Minggu. Nitya Yajna Yajna yang dilaksanakan setiap hari 2. manushyah partha sarvasah” Artinya Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku. Buda. Tambir. Wariga. Jumat. Selasa. Kamis. Medangkungan. Kulantir. Galungan. Sungsang.eka wara = Luang dwi wara = Menga. Menala panca wara = Pahing. Wage.Mam vartma . Saniscara.: a. 1. Beteng. untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan.nuvartante. Pahang. Kajeng catur wara = Sri. Krulut. Pon. .

5. kidung suci daksina dan srada . Perangbakat. Ugu. . Uye. Watugunung. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal. kesucian hati. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang) Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci. Landasan pelaksanaan yajna Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada). 3. ketulusan. Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. B. dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. 1. 3.Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha. Tilem. gita annasewa dan nasmi Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah : 1. Menail. . 4. mantra. dalam hidup ini. kala ( waktu). daksina. 2. hendaknya untuk menjamin kelancaran. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan. Dukut. lascarya. keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya. Equinok(matahari diatas katulistiwa). Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan : . Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu. Perhitungan sasih : Purnama. Kulawu. Panca Yajna dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna). Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha). ngulapin orang jatuh.Matal. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat). sastra agama. Sudi wadani dll.Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra. Nyepi. Wayang. dan patra (keadaan).Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan. mantra. Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan). Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan : Nista artinya yajna tingkatan kecil Madya artinya yajna tingkatan sedang Utama artinya yajna tingkatan besar. Siwaratri. Sebagai contoh upacara melaspas. Bala.

Svadhyaya.70 “Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam” Artinya : Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana. Kitab Satapatha Brahmana 1. menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur. 2. ada tapa. yoga-yajnas tathapare. Kitab Bhagawadgita IV. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha 4. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda 2.: . Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka : * Manawa Dharmasastra III. mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.28 sbb. 2. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda. ada yoga.: 1. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi 3. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria 3. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia 3. Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb. jnana yajnas ca yatayah samstia vratah Artinya : Ada yang mempersembahkan harta. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa 5. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa 4. persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa. Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb : 1. persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta. dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat.: “Dravya-Yajnas tapa-yajna.

kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan upacara korban. 2. 3. 4. Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb.1. Brahmahuta. 2. Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan: . yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana kepada para pitara. 4. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa. prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta 5. Pitrrn Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana” Artinya Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap Weda.81 “Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi.74 “Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam Artinya : Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah * Manawa Dharmasastra I. kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar. * Manawa Dharmasastra III. kepada leluhur dengan sradha. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur 3. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan. Huta adalah persembahan dengan api homa Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara. huta persembahyangan homa.: Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda 1.

Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma. 4. pintu rumah serta pintu tengah rumah. Kitab Gautama Dharmasastra Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna: • • • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan. Lontar Singhalanghyala Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.• • • • • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci.: • • • • • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen. Lontar Agastya Parwa Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia.: • • • • • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa. buah-buahan.sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta. tapa dan Samadhi. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian 7. 6. . mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb. 5. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb. makanan dan barangbarang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi. mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama Rsi Yajna adalah persembahan punia. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat.: • • • • • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.

ringgit ngara. ngaran pesaksi. upakara ngaran bhakti ring Widhi. Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.BAB V UPAKARA 1. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. ada yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi. nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya. Petikan Tutur Tapeni : Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi. Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten” Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau dibuat sadar. Semua bentuk lealaban seperti caru. patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa. sahananing dasa guna parekrama ring manusa . Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbolsimbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain : • • • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan. arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran. A. Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya. kara ngaran sembah. segehan adalah simbol pantat. patemon. Pengertian Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya sembah. apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya. juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga. ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan. dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut. Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga.

ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi. Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan : 1. terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa). ngaran eling. madya. Pengertian Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan. apalagi dengan banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Daksina pinaka huluia. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat Kekawin Nitisastra menjelaskan : ” Masepi tikang waktra tan amucang wang” Artinya ” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih” Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi. yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut banten canang.Apan Widhi widana juga ngaran banten. Banten Canang a. motama. Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa. Daiwi Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol 2. sirih yang cantih dan bunga harum). anten ngaran inget. tangan dafda muah suku manut manista. ling ngaran tunggal. Iki paribasa Aidhining yadnya. artinya Pisang yang cantih. Asuri Sampad Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol. Setelah Agama Hindu berkembang di Bali. B. luiripun. yadnya adruwe prabu (hulu). daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian. kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi). jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara. sahananing palelabanan pinaka suku. . Makna simbol dalam Upakara 1.

* Plawa Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci. Reringgitan dan jejahitan Tetuesan. Dengan aku sebagai pelindungmu. melaksanakan yoga. VII. Bahan Banten Canang * Porosan Porosan dibuat dari daun sirih. tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. * Bunga Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci. yogam yunjan madarasyah.1 disebutkan Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha. asamsayam samagram mam. reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran * Urassari Urassari dibuat darijejahitan. lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui tiga proses . Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan Dalam Bhagawadgita. yatha jnasyasi tach chhrinu Artinya Dengarkan kini oh Partha. dan kapur sebagai lambang Siwa. kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang sebagai lambang Brahma. Dengan pikiranmu terpaku kepadaku. * Tetuesaan. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci.b. sirih sebagai lambang Wisnu. Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya.

Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis. Cara memakainya Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Pengertian Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya. a. kelanggengan dan kesucian pikiran manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini 2. dunia akan hancur lebur dan Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu 1.. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. b. Kitab Bhagawadgita III. -. Kewangen a.24 menyebutkan Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah Artinya Jika Aku berhenti bekerja.Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana . kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan. . Makna Canang Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya Lambang menumbuhkan keteguhan.

dapat membedakan yang kotor dan yang bersih. kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih. 4. merah. Pengertian Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada . Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi. Isi kewangen. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi. isi dan makna simbol dalam Daksina : Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut. tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. Segehan a. Mengenai telor kenapa harus telor itik. daun-daunan (plawa). bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam. c. karena itik siwatnya baik. Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur. tidak mau bertengkar. bunga. Bahan Kewangen dibuat.Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah Sang Bhuta Bucari = halaman merajan Sang Dewi Durga = dipintu luar b. uang kepeng dan porosan silih asih. 3. Bahan-bahan. b. Daksina a. kuning. merah. sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. gambir dan buah pinang. Bahan segehan Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga) untuk dihalaman rumah 4 warna (putih. hitam dan ditengah pancawarna/brumbun) .Yang merupakan muka adalah uang kepeng. Pengertian Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya.

merajan terakir diluar. Api takep diletakkan disebelah kanan tamas. 5 kali untuk dimerajan. pemujaan atau mantra.Pengertian : . didepan pintu pekarangan * Tata cara menghaturkan segehan • • • • • • • • • • • Tamas berisi segehan.- . merah selatan. api takep atau dupa air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha. Bahan ini semua ditaruh dalam tamas. Etika Religius masegeh • • Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem) Tempat/menaruh dengfan urutan: o     dihalaman rumah. api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi bahuditaruh ditempat seperti diatas. benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah). 9 kali untuk didepan pintu prkarangan Berdoa atau memantra Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali. Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah. uang kepeng (2bh) base (sirih). kidung tarian atau wayang 5. dihalaman pemerajan. Prayascita a. putih timur. batil sebelah kiri. kuning barat dan hitam utara begitu pula yang lain. letak segehan sesuai dengan warnanya. Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah. jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga. juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada.untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah) beras. Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari. c. sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan. Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan.

6. Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus.Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru. 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata. Bahan Prayascita • • • • • • • • • • • • • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai kekuatan pawitra (penyucian) 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata. bhunyate te tv agham papa. Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa. dan idep (pengelelenga). Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri . b. bayu (pengresikan). 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci.13 menyebutkan : Yajna sishtasinah santo. Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma) Ceper berisi tepung tawar. ye pacaanty atma karamat” Artinya Yang baik makan setelah bhakti. Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru. Yajna Sesa a. Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha) Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan 1. mucyante sarva kilbisaih. pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar). akan terlepas dari segala dosa. (prasadham istilah India) Dasar Bhagawad Gita III. Pengertian Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan. pengelelenga terbuat dari minyak wangi.

baru kemudian menikmati hidangan.Pelaksanaan Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan.Tujuan Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita. Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur. Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur. dipintu pekarangan. ditempat menumbuk padi dll 3. * Belajar dan berlatih mengendalikan diri * Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan . 1. Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan.mereka ini sesungguhnya makan dosa. Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja. Makna Yajna Sesa memiliki makna : * Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya. akan memperoleh kebahagiaan.Tempat Yajna sesa : * Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether * Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni * Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi * Dihalaman * Ada juga yang member ditempat beras. ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak. ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani. menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan. 2. Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana.

Pengertian Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci) Wujud : Niskala > upacara.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu. B. karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita. upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa.ajaran Weda . Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna. Pengertian Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana. Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa). Tujuan Dewa Yajna a. Batara Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha) 2. sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti) BAB VI PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA A. PANCA YAJNA Dewa yajna 1. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa. Mengamalkan ajaran. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan.

lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan . iri dengki dll. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan Perlu diperhatikan. Disamping itu perlu penanaman bunga. kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar.Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi . Untuk mencetuskan rasa terima kasih 3. puspham. yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna : .Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa. Setangkai daun. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra). Asnami Tad aham bhaktyu pahritam. Membuat banten sesuai dengan kemampuan. aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.26 menyebutkan : “Patram. jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna a. tidak usah bermewah-mewah. phalam toyam.b. sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu. kemenyan. b. sekuntum bunga. Meningkatkan kualitas diri c. c. Sarana berhubungan dengan Tuhan e. sebiji buah-buahan atau seteguk air. Yang utama adalah hati suci. . ratus. Bhagawadgita IX. prayatatmanah” Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun. serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan.Simbol Brahma : Agni (dupa. marah. yo me bhaktya praya chchati. pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Untuk mensucikan diri d.

mekidung (nyekar dalam bhs. Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas. 3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian d. mohon pengaksama. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna Tempat : di Pura. Menghaturkan banten. Sarana : 1. Selama pemuput upacara memuja bhakti. atau dirumah (kamar suci/ altar. air. latihan tari. puja “Sthiti”/Apadeku.Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama. Nglinggihang/ngantep banten taksu Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan Nganteb banten Byakala. Juga untuk latihan meditasi (raja yoga). Durmenggala dan Prayascita untuk banten Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”. asuci laksana. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi 2. 4. Pelaksanaan : 1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing. bunga bila ada buahbuahan. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian. di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara Pemuput upacara duduk. ngastawa genta. umat menghaturkan kidung-kidung Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas. 3. disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten. Jawa). .pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput. Sulinggih/pendeta. 2. c. ngantep segehan dan pengaksama jagatnata Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi.

PITRA YAJNA 1. Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah. Upacara yang termasuk Dewa Yajna : 1. Dasar Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi) 3. pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam) 3. tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal 2.- Ngantukan Betara. 5. a. Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar. b. Wujud Niskala : Upacara. Tujuan . Pengertian Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia. orang yang sudah meninggal Sekala : menghormati. d. ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa. ibu) serta memperlakukan dengan baik. kesehatan. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah. panen (Dewi Sri). mulaimemberi makan. piodalan pura/merajan. mendirikan bangunan suci. Prelina Genta kemudian penutup. Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. upakara untuk para pitara. kahyangan dll. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya). Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan 1. Hari berdasarkan Pancawara : Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah). Hari Purnama dan Tilem 2. c. Gerhana Bulan Hyang Candra).

Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara. bunga tirtha. Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah . ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua.Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal). Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Pelaksanaan Pitra Yajna Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern). titik beratnya pada susila. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra. 4. Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan. Tingkatan Pitra Yajna sbb. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna Untuk orang tua yang masih hidup. dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa). dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur. Untuk orang tua yang sudah meninggal Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi). orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia. Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja. .: Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng.

angksama sampurna ya RESI YAJNA 1. Tujuan Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi. Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih Menghaturkan punia.Atma Wedana : Tempatnya dirumah. wasi. Pendeta. Cara melaksanakan Rsi Yajna Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita. disanggah atau tempat lain yang ditentukan. moksantu. belajar agama 2. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut Hembusan nafas terakhir Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina : Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau namah swaha Murcahntu. Pedanda. Pemangku dll. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih Membantu tugas para Sulinggih Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih Diksa artinya disucikan. Sulinggih. swargantu. Orang suci. Pinandita. atau pemangku). Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Syarat Calon Sulinggih . upakara kependetaan Sekala : menghormati Sulinggih. Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih). Wasi. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Sri Empu. Pengertian Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi. para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu. sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali. Wujud Niskala : Upacara. 3.

Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal. Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa. 4. mendalami intisari ajaran agama Hindu Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana. Langkah pelaksanaan upacara Diksa 1. Tenang dan bijaksana d. b. Upacara Puncak. 2. 3. Sanskerta. a. 1. sehat lahir batin b. Mampu membaca Sruti dan Smerti f. 6. 5. Syarat-Syarat Nabe 1. c. Upacara pokok • • • Pedanda nabe memuja atau ngarga Calon diksita melakukan upacara mebyakaon. Upacara awal • • • Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu Mapinton = asucilaksana > disegara. melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari penuh sebelum mediksa. a. muspa dan luhur apari sudana (ganti nama) Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar. berkelakuan baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan. • • Amati raga = penyekepan. memiliki pengetahuan umum. . dan selalu berpedoman Kitab suci Weda e. gunung dan merajan nabe 1. dan bahasa Indonesia. Seorang yang selalu dalam bersih. Paham dan mengerti Catur Weda. jasa dan kebajikan). Mampu melepaskan diri dari keduniawian c.- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya) Pasangan suami istri Umur minimal 40 Tahun Paham bahasa kawi.

sejahtera. Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa 2. damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia. widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti. manusia dapat hidup selamat. digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya MANUSA YAJNA 1. roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau. Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air. diasapi 3 kali. manah satyena sudhayanti. aman. Pada umumnya orang yang jujur. Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja. Upacara mabyakala (mabyakaon) Upacara ini berupa pemberian korban. Tujuan Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin.• • • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe. suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan . Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan. digosok minyak kayu putih. pikiran dibersihkan dengan kejujuran. Pengertian Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya. 3. rukun. mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna a. Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan : Ad bhir gatrani cudhayanti.

waktu natap banten diarahkan kearah belakang dan samping. Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatankekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti: * Hati ditempati oleh Dewa Brahma * Jantung ditempati oleh Dewa Iswara * Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu. Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara. eteh eteh padudusan alit (lebih besar). Upacara melukat/mejaya-jaya Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil). Upacara Natab (ngayab) Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna. Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon. eteh-eteh padudusan agung (paling besar). dan malah merestui. b. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin. Jenis-jenis manusa Yajna a.meninggalkan tempat tersebut. Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Upacara muspa (bersembahyang) Upacara ini dapat dilakukan dua macam : . * Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll. Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai. 4 . 5 .Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru . dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Mengadakan upacara selamatan pada waktu : . procotan) . 4. 7bulan. c.Bayi dalam kandungan (3 . Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah. d.

Pengertian Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. keharmanonisan alam semesta seisinya. kesejahteraan semua makhluk. c. . 1. moral/ budi pekerti dll. Atau penyucian alam semesta beserta isinya Upacaranya disebut mecaru. BHUTA YAJNA 1. di sumber air dll (Yajna sesa.Upacara potong gigi (mesangih/mepandes) . Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong sesama manusia.Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan) . a. seni budaya.Tumbuh gigi.Upacara perkawinan (pawiwahan). kesehatan. bantennya banten caru.Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari) . Caru artinya mengharmoniskan. keselarasan. dengan cara : • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak ditungku. .Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan) .Bayi puput puser (kepus pungset) . seperti ramah tamah pada orang. Tujuan Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan .Upacara ngelepas aon (12 hari) . mengharmoniskan jagat/alam seisinya 1.Anak meningkat dewasa (raja Sewala) . Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\ Sekala > melestarikan. b. 2.Bayi baru lahir (nyambutin) . kemudian meketus..

PANCA YAJNA BUDAYA JAWA A. tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying 1. kehidupan yang serba damai. 2. dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya.( mengendalikan indria. Pengertian Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan). C. Eka Dasa Rudra ( 100 Th. . Upacara persembahyangan. Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab) 4. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi. PANCA MAHA YAJNA Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu : 1. Bhakti Marga (jalan kebaktian). Tawur Agung.meneguhkan iman. Tabuh Getuh. menjamu tamu. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam. memantra termasuk Bhakti Marga. segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”. menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. sajen. berdoa. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti). ini menjadi Panca Yajna. Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang. Panca Kelut. 33 menyebutkan : “ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita. 5. mencintai alam. Rsi Gana. harta benda. Bhagawad Gita VI. 1. 2. Balik Sumpah. Sekali). menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran). Panca Wali Krama (10 Th. berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia.) 3. dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana.• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata. Sekali) 1. memberi sedekah dengan tulus ihklas.lain.

sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo. Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “ Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III. pendak pisan. Pendak pindo. Piodalan pura lain di Jawa. wetonan naik dewasa. bayi lahir. Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga. Upacara Agni Hotra Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan : Seperti raja diantara umat manusia. 3. Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono. Upacara Malem Rabu Pon. karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa. Adapun Yajna tersebut antara lain : 1. odalan pura dan setiap ada yajna Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura.dan Nyewu (100 hari). Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya). Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna.Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. 40 hari. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan : Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai . 7 hari. 100 hari. Upacara di Candi Menggung.75.76) yang diterjemahkan oleh G. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra. tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain. Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura. Manusa Yajna. seperti Gayatri dalam semua mantra. peringatan kematian 3 hari. Upacara Tawur Kesanga. perkawinan. upacara Mahisa Lawung dll. 2. Baik sajen. Malem Jum’at Legi. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan. Dewa Yajna 1. (dilaksanakan dirumah duka umat) 4. B.

00 Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya. sambil menaburkan bunga kedalam api. ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya. dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya.00 (jam tujuh malam Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah. pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah. biji-bijan. budhi “ sebanyak 108 kali. Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana). Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja. karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini.Veghneswara.112. badan melambangkan mikro kosmos. Di RigWeda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya). Dari istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan. Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah). karena lambang pengetahuan duniawi. 2003 : 9).9).1 dan 10. Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). . Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai (108 butir). Kepala beliau lambang Makro kosmos.tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. \Konsep paling dini kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini. Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2. maka termasuk Dewa Yajna Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19. ridhi. Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu. sidhi.matahari. spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan. Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit 2. peri kebinatangan peri kedewataan secara utuh.23. dari matahari turunlah hujan. ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya. Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297). Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon Maksud dan tujuan Ritual Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu. Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16. Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya.

. hijau (timur laut). kenanga. (luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi). Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang : Mawar Putih. Sanaatana = Sang Hyang Langgeng).Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa. Bunga 2. Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga 4. baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam. mawar. selesai upacara ayam dapat dimakan. mlati. Sesaji pucuknya : Tumpaeng bangun tapa 1 biji. menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam) Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon. bulu dan cakar ditanam ditanah. 1.Sanaka. kantil. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara. Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah Jawa). Dihaturkan : semua dewa 3. Biru (timur laut). lancur) . Sanadana. Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan. merah (Selatan). Sesudah upacara dimakan. kuning (barat). Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus : 7 warna. 5. gambir. wujudnya tumpeng putih warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya telur dadar (telur jantan). dadu Tenggara). jingga (barat daya). Sesaji : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji) : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar putih (timur). berbagai macam warna (tengah). cempaka. Dihaturkan : Ki Lurah Semar Bunga dewandaru. hitam (utara).

: Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang) Bunga 10. Pisang Ayu Suruh Ayu. Sesaji : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan. sesudah upacara nasi dimakan. Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng) Bunga 8. (Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ). dinyalakan lilin 18 batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara. Mantram Budha Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita. Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga 7. Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina. dengan diringi kidung . Sesaji : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan. Sesaji : Mawar putih : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik dimasak tanpa garam. * Pelaksanaan Upacara Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan. yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Jajan Pasar. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati. Nasi liwet beserta lauknya. Metirtha yang dilayani oleh pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu. Sesaji : Campur. Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana. : Es batu pecahan (2 piring) Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai 11. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Sesaji : Sekar Boreh komplit : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih Dihaturkan : Jenggespati Bunga 9.Bunga 6. Persembahyangan Gayatri Tri Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. yang memuja dan menghaturkan semua sesajian. : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan.

KUWERA – NILA . Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos.sham BRHASPATIH shanno BHAWADVARIYYAMA . anugrahana kawula ambuka cahya Paduka sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula. Mantram ini diucapkan 9 kali Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.BRAHMA .TAARAA . ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).KWAN IM .KALI .BUDDHA MaiTeRA AMITABHA .YAMA . Sesudah Parama Santi. seestunipin sadaya punika.IISMAYAWATI .SANANDHANA SANAKA .ISWARAH .SHRII RADHA .KALKI AVATAR SANATKUMARA .AGNI .OM shanno PARAMA SHIWA shanno IISMAYA .MANU WISWAWATA SHIVA MAHADEVA .SABDHAPALON .WISNU urukramah.INDRA .CANDRA .RUDRA .turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan. Duh Gusti kawula puja Paduka.WARUNA shanno PERTIWI .SURYA . .SANAATANA SHRII ERLANGGA . * Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI shanno DHARMA . sajian disurut untuk makan bersama. Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa Duh Gusti asta kawula kasucekna Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka ) Ingkang acahya cumlorong pinuji. ingkang sampun wonten. Buddha Pengayoman Olah Negara .

jiwatman kawula nestapa. Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman. Duh Gusti ingapuntena dosa kawula. mugi-mugi. kabegjakna sirna sadaya dosanipun. mboten kalahiraken. sinembah umat sedarum. Ganda arum. bibitipun sadaya dumados. dahat sru nalangsa. kukusing dupa keluhur. Tuking sadaya gesang. dosa wiwit dumados Duh Gusti Pangeran Siwah. mboten kasad mripat. ingapuntena dosa memanahan kawula. inggih Mahadewa. ingkang saking tindak tanduk. Ingkang wonten sakjawining pepeteng. ingapuntena wicara kawula. Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa Wus kumelun. Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa. Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang. datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci. Saking pra jalma sadarum Sumedya hangesthi Widhi Haminta sih mring Hyang Manon Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra * Kinanti Trisandya.Duh Pangeran Tunggal. ngaturake sembah bekti. kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun * Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung) Duh Hyang Agung. Duh Gusti Kang Maha Agung Pangeraning jagat katri . hamemuji. Iswarah Parameswarah. Hyang Widhi paring nugraha. paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula. Brahma lan Wisnu saha Rudra. Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah. merwawangi.

Acahya suci gumilang Dahat ulun sun pepuji Anglunturna sih nugraha Sumunaring cahyo wening Tumandhuk ing manah ulun Manter amadangi budhi Dadosa jalaranira Rahayu mulya sayekti Gesang wonten madya pada 2 X Dumugi delahan nenggih Hyang Tunggal ugi sinebut Narayana dedasaring Kang tumitah sakbuwana Ingkang sampun. tan wasana Datan wujud datan lahir Pepeteng datan manaput Netra kang wening umeksi Satuhu sucining Dewa Narayana datan kalih Datan wonten nimbangana 2 X Ingkang uning saget tunggil Paduka ugi sinebut Hyang Siwah Maha Dewa Di Iswara Parameswara 2X 2X . ingkang wingking Tanpa purwa.

Pisang Raja.Brahma wisnu Rudra nenggih Purusah parikirtitah Asmo yutan eko yekti Kawula rumaos estu Tiyang dosa langkung nistib Karma jiwa sarwa dosa Dosa wiwit duk dumadi Maha suci asih mirah 2 X Nucekna jiwangga mami Maha Dewa amba nyuwun Sih nugrahaning aksami Sagung gesang kabegjakna Luwar saking dosa sisip Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X Karsa tansah angayomi Dosa saking tindak tanduk Pangucap myang muna-muni Dosa saklebeting manah Sembrana myang weya mami Gusti ngluberna haksama 2 X Manunggaling tur sesant) 3. Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura. 2X .00 (jam 9 malam) Sajen : Daksina. Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar. Upacara Siwaratri Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21.

dedemit. kemudian membuat Titha Suci. maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19. gandarwa dll. suruh ayu dan bunga. diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin. * Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. 4. * Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala. * Pada jam 15. (Cleo.Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta. * Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya. dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa. Nasi Liwet beserta lauknya. * Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai. Pelaksanaan Upacara. wawancara tgl. Jajan Pasar. ditaruh di lima tempat. yang membawa Nyala api (Oncor Jawa dari bambu). Ingkung. * Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci. pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta.00 malam sampai satu setengah jam. Tumpeng Pengyoman. bunga. * Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita. setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra Adhi Pura. dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia. Pisang Ayu Setangkep. Sesaji yang diatas meja : * Daksina. Tirtha suci. empat pojok lokasi pura dan yang satu ditaruh ditengah. . 15 Pebruari 2006). Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam. Sesudah selesai kembali ke Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan.) yang menimbulkan malapetaka. Sesaji untuk yang dibawah : * Sesaji pencok bakal lima buah .

* Pisang Ayu. Manusa yajna . diundang menghadiri Upacara Persembahyangan. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura Waktu : Upakara Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa : Seperti Upacara Malem Rabu Pon.00. Pisang Ayu Suruh Ayu Bunga. boleh beraktivitas lagi. Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya. Jajan Pasar . * Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan . tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka. besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api. Pelaksanaan * Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci.* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu. Jam 16. Nasi kuning beserta lauknya. Setelah upacara. C. * Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya. tiap 35 hari seka Upakara/sesaji Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja). tidak bekerja. 5. tidak bicara. * Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi. Pelaksanaan : Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon. makan surudan bersama. kurang lebih ada 150 Pelinggih/Pesimpangan. * Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon * Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban. Suruh Ayu dan bunga. jajan pasar * Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru). dengan fokus Sang hyang Semar. 6. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya) Waktu pelaksanaan : Kamis sore (Malem Jum’at Legi ).

lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai berikut : * Gudangan : sayuran direbus.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam * Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar. umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). kencur. Sajen untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning. gula Jawa. dapat ditambah dawet. jeruk.bawang putih. bawangputih bawang merah. bawang putih. sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir. pala kependem seperti ketela rebus. ketumbar. Semuanya diaduk. daun jerut purut. sere.Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan. ada jambu. ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah jambu. isinya buah-buahan sad rasa. bregedel. .dll. tempe bosok. terasi. kelapa muda diparut ditambah garam. cabe. * Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit). Nasi Gudangan beserta lauknya Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap). garam. srundeng. ingkung dan nasi asahan. gula Jawa dimasak diberi santan. garam. kencur. * Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus. jadah. bongko. mangga. kencur. pelas. laos. kacang rebus. Cara membuat nasi-nasi tersebut : 1. garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. irisan telur dadar. ubi-ubian. terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. biji lamtoro yang muda diberi sambel (cabe. bawang merah. kacang panjang tidak dipotong. salak. sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet. salam laos. salam. kenikir. salam laos. Jajan pasar. 3. Nasi kuning beserta lauknya Nasi kuning : beras dikukus. bayam. dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. salam/daun pandan. ketumbar. 2. kenanga kantil putih kantil kuning. bubuk dele. kentang hitam. apel. sambel goreng basah. kecambah kacang hijau. pisang. gula Jawa * Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus. * Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam. tempe bosok/yang sudah 3 hari. kenanga dan melati. gereh petek. biasanya kangkung. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa parut. irisan timun. botok. Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering. gula Jawa.

Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi. bawang merah. daun salam. diuleg/digilas) Ketupat. rempeyek kacang/teri. * Sambel goreng jepan/labu jepan. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat. santan dimasak sampai matang 6. ditengah lauk yang kering seperti srundeng. cabe. krupuk. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi gula Jawa cair. Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. . b. * Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam. c. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”. kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit. kedondong. terasi garam dan asam air sedikit. garam. pisang klutuk mentah dll. laos. dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam * Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit. Upacara Manusa Yajna 1. daun salam dimasak sampai matang. cabe merah. bawang putih. Bayi dalam kandungan 5 bulan. sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit). pepaya setengah matang. telur ayam.4. diatas samir diberi lauknya melingkar. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir) d. beras dimasukkan diselongsong ketupat dimasak sampai matang. jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh. diberi saus rujak (gula. ebi/udang kering. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng. diatasnya bawang merah dan cabe merah. Upacara untuk Bayi dalam kandungan a. kluwak kemiri(pakai kulit) 5. brambang. bangkuang. Bubur sumsum dibuat dari tepung beras diberi garam. Diluar lauk basah misal tahu terik. daging ayam terik atau apa saja. santan dan dimasak. Rujak.

Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan). Upacara bayi lahir a. * mohon doa restu para orang tua * siraman. Intuk-intuk (uraian tersebut diatas) Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya. irisan telur dadar. Bali) Sajennya : Nasi gudangan. merah. * Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah dimasak). setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas. 7 buah ketupat. bregedel.7 buah Pontang/takir (Nasi kuning beserta lauk srundeng. Jajan pasar. Hari kelima = Sepasaran Bayi . disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua * Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih. Doa bersama f. 7 takir rujak. 7 buah nasi layah. 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih. Upacara mitoni begitu unik :. b. 2. ditambah lele dan udang goreng). satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung. * Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana. Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan. bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh. Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. sambel goreng.e. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen : bubur procotan. Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu sendok bubur putih) Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus Intil : katul dibuat butiran dan dikukus. Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat. * Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram . kuning.

Jajan pasar. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi. 5. daksina. midodareni dan panggih. jajan pasar dan intuk-intuk . biasanya ada pesta kecil. 3. nasi liwet. c. Upacara anak naik dewasa : Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. Dilaksanakan upacara siraman. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa) Sajen sama dengan wetonan. hijau. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh . 4. d.Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga . Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya. Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing. . * Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya. kadang-kadang bayi sering menangis. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi. gedang ayu suruh ayu bunga. terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. biasanya diadakan bancakan(pesta) untuk anak-anak balita. Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton e. secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut.Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi.Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih. Ingkung panggang * Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin.Nasi gudangan. Kurungan diberi ayam. Upacara Perkawinan/Pawiwahan Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung. Puput puser = lepasnya ikatan puser Sajen sama. ingkung. * Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan. bayi dijaga seharian. Sajen seperti wetonan.Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi. merah. sesajinya : . hitam. biru dan coklat(gula jawa). kuning.

Pengertian . Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan. Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal ini diadakan upacara khusus. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. Slametan/Wilujengan : Wilujengan/slametan untuk 3 hari. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah.ditanah : (a) pencok bakal satu takir. Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain membuat guwakan. ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur. nasi iber-iber. dilaksanakan semua umat. pendak (1 tahun Jawa). tempe goreng. kolak dan apem. yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. nasi asahan. nasi golong sati. ungkurungkuran dan nasi iber-iber. 7 hari. tikus dll. selalu dengan nasi liwet dengan ingkung. 2. untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton. ditaruh pinggir melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong. nas gudangan tanpa cabe. semut. lauk ayam goreng. BAB VII TEMPAT SUCI A. pisang ayu suruh ayu. (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah PITRA YAJNA 1. 100 hari. Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan). Butha Yajna Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon. Pelaksanaan persembahyangan. Sajen ditambah dengan ketan kukus. perempatan dll. nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf. Hari meninggalnya seseorang Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an. untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung. untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya. 40 hari.

B. 1.tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya . dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya. Tempat Suci berfungsi sebagai . tempat untuk bersujud. devalaya. Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha. dharma tula.Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan.tempat untuk memohon ampunan .tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya . seni.sarana pendidikan agama (perpustakaan.tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya. dll. devagriha. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin. pelatihan sosia. devabhawana. Fungsi tempat suci/tempat pemujaan 1. Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. pesantian). di Jawa gunung Semeru. di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. Disamping istilah Pura. sarasehan.tempat memohon tuntunan dalam hidup . C.tempat memohon pertolongan .sesaji). Gunung Oleh umat Hindu. . dharmashala. gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. bagian tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam . budaya & agama seperti dharma wacana. Bagian bawah gunung alam Bhur. Di India gunung Maha Meru. pelatihan pembuatan upakara (banten. menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas. berbakti. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai : . 2. Ssivalaya dll.tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa. Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira.

Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. dianggap berbangun gunung. inggih punika alusing donia. Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb. jika diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya).Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan : ” Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi. kalau diringkas lagi menjadi Meru seperti di Bali. yen karingkes dados meru ndi Himalaya. yen karingkes malih dados alusing manusya” Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung. dari manamana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha” . yen karingkes malih dados meru kadi ring tanah Bali. Lingga Lingga adalah lambang Siwa. makin diringkas lagi menjadi manusia. Kitab Bhagawad Gita IV . 11 menyebutkan ”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma ’nuvartante manusyah partha sarvasah” Artinya Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima. 2.: ”Bhatara Siwa = suwung Sipat ipun ikang halus. yen karingkes dados alusing ndi meru. yen karingkes malih dados tiyang Artinya ” Bhatara Siwa = suwung Sifat kasarnya berbentuk dunia. yen karingkes dados alusing meru. orang bersembahyang menghadap gunung.

Candika merupakan salah satu nama lain dari nama Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung. Nama lain dari Candi adalah Prasada.Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan : 1. bunga-bunga teratai. 3. Bentuk suatu lingga 1. Candi Jago. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran. merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa 2. 1973:84). Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci : candi Kidal. 6. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga. Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran. ada bidadari-bidadari. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata Candi berasal dari kata Candika. Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana .. Dasar lingga disebut Yoni Siwabhaga. 4. Candi Simping dll . 4. b. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas) Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata) Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu. terdapat di India) Lingga cala (lingga sebagai gunung) f. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti : a. 3. 5. Sudharma dan Mandira. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa. Candi Prambanan. Dr. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu. Candi Menurut Dr. Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma. daun-daun dan sebagainya (Soekmono. 2. 3. Candi Singosari. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya : Candi Dieng. Candi Penataran dll.

c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi : Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi Sari dll. 4. Meru Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos) DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan : “ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit. Artinya Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa, penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur) Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana). Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur (2) Ba bertempat di arah selatan (3) Ta bertempat di arah barat (4) A bertempat di arah utara (5) I bertempat ditengah (6) Na bertempat diarah tenggara (7) Ma bertempat diarah barat daya (8) Si bertempat di arah barah laut (9) Wa bertempat diarah timur laut

(10) Ya bertempat ditengah. Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara). 4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu. Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya. Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. : Prasabam vacchiva saktyatmakam Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad Dhyeya prathamam cabhipujya Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16 Terjemahan : ” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang melakukan perenungan dan memuja-Nya.” Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah

upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293). 3. Kuil, Mandir Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi. Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. 4. Balai Antang Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara. 5. Balai Kaharingan Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan. 6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan). 7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali). 8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung. 9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Payuh-Payuhan Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Tanah tidak dalam keadaan sengketa *. Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. SK. D. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum. Lontar. *. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan pengelolaan tempat suci yang akan didirikan. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan 1. 12. Sanggar Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa.Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali).. 11. Status tanah bersertifikat . 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Bhisama. Prosedur mendirikan tempat suci a. Awig-Awig. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan *. Cubal-cubalan Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo.556/DJA/1986 isinya ………. Persiapan *. Keput. 2. Mahasabha ke VI 13 Desember 1991 di Jakarta a l : 2. 10. biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama N0. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura) 1. Weda.

Melampirkan denah 3. sembilan dan sebelas. Maha. 2. Meru Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk. badan dan atap memakai gelung seperti mahkota. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. Tapa dan Satya Loka. halaman pertama ini biasanya kosong. ada meru atap satu atap dua. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung). Apa bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. Pengurusan sertifikat *. bhuah loka dan swah loka. Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka. Bhur.. Denah Pura Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) : *. terdiri dari tiga bagian. 1. Tiga Mandala melambangkan bhur loka. Candi Ceto terdiri 13 halaman. atap tiga. Bhuah Swah. lima tujuh. Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka bhuana. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci * Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan * Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan. Jana. Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok.b. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang aling). Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. Pengurusan sertifikat tanah *. E. Prasada Bentuknya seperti tugu. Candi Margarana. 3. dasar. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah *. Gedong . untuk masuk halaman pertama melewati gapura. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan.

2. 3. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng. Rong Tiga Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma c. 5. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan . 6. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara 3. bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Bagian dasar terbuat dari batu bata. Padma Agung. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya : 1. Padma Capah. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu e. Letaknya diluar halaman pura. f. Padmasari. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja . Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA Mahadeva 2. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh 2. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu 6. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan. Padma kurung Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider : 1. Padmasana Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di Bali abad ke 16 Masehi. Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu. Di Jawa. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora 1. a. terdiri tiga bagian dasar. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan upacara. beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima 3.Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar. badan dan puncak atau atap. 5. 4. Tugu Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. 4. Jenis Padmasana : Padmasana. padas.

Ida Rsi Bhujangga. Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe.4. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi. bahasa dan kemampuan daerah. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah Ida Pedanda. Diantara yang melaksanakan upacara. . Manawa Dharmasastra I. Rsi. wiku.96 menyebutkan : Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih Artinya Diantara ciptaanNya. Pengertian Pandita. Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan. yang melaksanakan adalah yang tertinggi. masuk budaya daerah setempah yang bermacammacam begitu pula tentang jenis upakaranya. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya. Ida Bhagawan. BAB VIII PANDITA DAN PINANDITA A. 97 menyebutkan : Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah Artinya : Diantara para Brahmana. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi Manawa Dharmasastra I. Ida Sri Empu. Ida Pandhita. Dukuh. 1. yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Diantara yang ahli Weda. Pandita Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana. ekajati maupun upacara dwijati. pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia. mahkluk hidup yang paling tinggi.

2. Diantara yang punya pikiran. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari) Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya) Pasangan suami istri Umum minimal 40 tahun Paham dalam bahasa Kawi. Sesana Pandita Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu : Umat Hindu yang boleh didiksa : 1. yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Manawa Dharmasastra I.96 menyebutkan Bhutanam paninah. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan. 4. Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi.Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. Indonesia. yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. manusialah yang paling tinggi. Manawa Dharmasastra I. yang ahli weda adalah yang tertinggi. makhluk hidup adalah yang paling tinggi. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan.sresthah praninam buddhijiwinam Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah Artinya Diantara semua ciptaanNya. 2. sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana. 3. 5. Sanskerta. memiliki pengetahuan umum. Inilah yang disebut Brahmana sejati. Diantara yang melaksanakan upacara. pendalaman intisari ajaran agama 6.97 menyebutkan Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah Artinya Diantara Brahmana. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana . yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi. Diantara ahli weda.

7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana 8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan 9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan. Sifat-sifat Calon Sulinggih 1. Bersifat sosial 2. Bijaksana 3. Setia pada ucapan 4. Memiliki kesusilaan 5. Teguh pada dharma tanpa noda 6. Keturunan orang baik-baik 7. Pandai dalam ilmu 8. Berjiwa besar 9. Tegas dalam siasat 10. Kuat menahan suka dan duka 11. Setia dan hormat pada catur guru 12. Suka melaksanakan ajaran Dharma 13. Teguh melakukan tapa Orang yang tidak patut didiksa

Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll) o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng Tri Kaya Parisudha
• • •

Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata
• • • • •

Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu. Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata
• • • • •

Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa Aharalagawa artinya tidak banyak makan Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila
• • • • • • • • • •

Drti artinya pikiran bersih Ksama artinya suka mengampuni Dama artinya kuat mengendalikan pikiran Asteya artinya tidak mencuri Sauca artinya bersih lahir dan batin Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra Hrih artinya memiliki sifat malu Widya artinya rajin menuntut ilmu Satya artinya jujur dan setia pada ucapan Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain a.Tri Mala
• • •

Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk. Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu
• • • • • •

Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi
• • • • • •

Agnida artinya membakar milik orang lain Atharwa artinya melakukan ilmu hiram Dratikrama artinyaaa memperkosa Rajapisuna artinya memfitnah Sastraghna artinya mengamuk Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

Dana artinya sombong karena kekayaan

• • • • • •

Guna artinya sombong karena kepandaian Kasuran artinya sombong karena kemenangan Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan) Sura artinya minum-minuman keras Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe a. Syarat-Syarat Nabe
• • • • • •

Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin Mampu melepaskan diri dari keduniawian Tenang dan bijaksana Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda Mampu membaca Sruti dan Smerti Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe
• • • • • • • • • •

Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda. Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha) Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan) Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus) Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi) Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka) Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga) Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa) Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu) Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe 1. 2. 3. 4. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa 1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika 2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag) 3. PHDI mengadakan testing 4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima 5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima 6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya. Gegelaran Pamangku * Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa. Gede dll. Panyudamalan dan Nyapu Leger b. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten * Dapat menerima pembagian sesari * Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura c. sesuai tingkat pewintenannya. Merajan. Padharman. Panti. Tingkatan Pamangku • o o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan. Paibon. dan juga atas panygrahan nabe.B. Pamangku Dalang 3. * Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning Padalangan. Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya 2. dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru.  Kahyangan Tiga. Hak seorang Pemangku/Pinandita *. Dang Kahyangan. Pengertian • • • • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat. Pinandita 1. * Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut : . Sasana Pamangku a. Wewenang Pamangku * Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya * Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit.

Sudi Wadani artinya penyucian perkataan Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu. Brahmacari. 5. anyondong.. 4. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa 2. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah.wenang agotra. b. Bebratan Pemangku a. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya 1. Selalu jujur. tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata. Melaksanakan upacara . Yama Brata : Ahimsa. mencerca pemangku lain BAB VIII SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA A. Aharalagawa. Gurususruca. Pengertian Sudi artinya penyucian.Metria (kasih sayang pada semua mahkluk) • o     Karuna (welas asih pada semua mahkluk) Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka Upeksa teliti. wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata. Satya. SUDI WADANI 1. berbohong dan menghina. Tri Kaya Parisudha : Manacika. 2. 3. filsafat dan agama. Sauca. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda 4. Wacika dan Manacika b. memakai destar. Tata Cara Upacara Sudi Wadani a. Mendiskusikan pengetahuan. waspada tidak gegabah dalam kejadian c. Tidak memfitnah. Catur Paramita : . Awyawahara. berambut panjang. Asteya Niyama Brata : Akroda. Apramada 5.

Upasaksi Sumpah Jabatan * Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang akan disumpah berpakaian dinas * Sikap yang akan disumpah . b. 3. tataban . Wa. Na. bunga. dengan sikap tangan ”Dewa Prestistha” Mantram : Om atah paramawisesa. . Pelaksanaannya selalu disertai dengan api. Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil. A. bija. Ang Ung Mang B. Ya. -.. Bila memungkinkan dengan sarana Daksina. 2. P E N Y U M P A H A N 1. Pengertian Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang. Ba. c. c. Si. Ta. Bentuk Upacara Upasaksi a. I. saya bersumpah …. Mantra Om Sa. canang sari dan air suci.. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani. Pelaksanaan Upasaksi a. sesuai ketentuan. Ma. prayascita.Utama : mempergunakan banten biyakala.untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa . 3. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana . Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan.Anggota ABRI sikap sempurna * Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk).Nista : mempergunakan air .

* Sikap yang akan disumpah . Upasaksi/Sumpah di Pengadilan * Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk * Yang disumpah berpakaian sopan.b. 3. . Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya. Sebel karena melakukan Sad Tatayi. 7. 2.Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa .Anggota ABRI sikap sempurna * Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha” c. sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta. Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah. Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu 2. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor : * Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk * Tempat pelaksanaan di Tempat Suci * Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat * Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan C. dan batas waktu Cuntaka(sebel): 1. 9. sampai bersih darah dan membersihkan diri.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali) 1. 2. 5. 8. CUNTAKA 1.Ruang Lingkup. Sebel karena kematian Sebel karena haid Sebel karena wanita keguguran kandungan Sebel karena sakit (kelainan) Sebel karena perkawinan Sebel karena gamia gamana Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang) Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara 10. 4. 3. 6.

Selasa. Wage. sampai kepus puser (putus pusernya) 4. nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang). kajeng). 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan. smpai mendapat tirtha pebyakaonan. BAB IX HARI SUCI AGAMA HINDU A. Dwi Wara (menga. Panca Wara (Pon. wanita bersalin : diri pribadi. suaminya danrumah yang ditempatinya. Pengertian Hari Suci Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. Larangan bagi yang cuntaka (sebel) Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci. Legi. Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya. sampai diceraikan. Rabu. sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama) 11. Dasar perhitungan Hari Suci Selain hari suci yang bersifat haarian. 6. 3. Kamis. Panglong atau penanggal.3. Pahing). seperti Hari Purnama dan Tilem . sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya. a. Hari Suci Agama Hindu 1. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar). Bali) adalah hari yang diistimewakan. sampai upacara byalaon 10. pepet) Tri Wara (pasah beteng. 8. Anak dan rumah yang ditempati. 5.. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi. sampai diadakan upacara byakaon 9. Kliwon. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. suaminya dan rumah yang ditempatinya. keguguran : diri pribadi. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya. b. . Sapta Wara (Senin. 1. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari. dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan. 7. diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya. asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain : 1. Jum’at dan Sabtu) 2. B.

5. sanggah dll. 2. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan . Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif. 1. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter). pemerajan. 4. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan. hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang). Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. 2. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara 4. Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”. Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari 1. seperti Dewa Yajna. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura 7. b. Jenis Hari Suci Rerahinan 2. sumber air. Manusa Yajna dll.: 1.3. c. d. dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planetplanet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia. 6. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada Dari kitab Purana. 3. dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman. bulan sabit didahi Dewa Siwa. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu : • • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci. 5. 3.

Hyang Ludra 2. Ini semua diterima oleh para dewa. Dhyana Yajna dll. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi) 2. maka drstaning praja mandhala. demi untuk kesejahteraan jagat raya. wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh. an linging aji sundhari gama Artinya : Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu : 1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit). wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat. begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama. rengen warahkwa ri kitanaku. harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa. Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. nimittaning drsta prajanira sri haji. Yoga Yajna. sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu. tkeng kajagatanika. ri sawateking purohita kabek. Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku.Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan : Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin. persembahyangan Trisandya. agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia. kepada Para Purohita. demikian perintah-Ku sabda Bhatara. Swadhyaya Yajna. iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh. Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi. 3. 2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara 1. winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma. Tapa Yajna. andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. . karena melaksanakan hal-hal yang utama. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia. Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu 4. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara. sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera. 3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara 1. apan parikramaning dahat suksma uttama. demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa.

Wariga Saniscara Kliwon Wariga.5. Pengarah Bubuh. Sinta * Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana) * Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa * Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai Dewata Nawa Sangga b. Tumpek Penguduh atau Pengatag. 4) Hari Raya berdasar pawukon 1. untuk kemakmuran. Kulantir Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa e. Warigadian Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma g. persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan menghormati tumbuh-tumbuhan f. Sungsang * Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung) * Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara (Bhuana alit) . Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat. Ukir Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan d. Landep Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang Hyang Pasopati c.

pada waktu tilem Hyang Surya . Wayang Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara 1. Uye Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon m. Purnama Tilem Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga. Sinta Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati) 5) Hari Raya berdasar Pasasihan a. Dungulan Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma. i. Watugunung Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati 1. Kuningan * Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan * Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada Bhutakala * Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu * Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan) j. 1. mas perak permata. Merakih Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara Rambut Sedhana penguasa artha.h. Pahang Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal k.

jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Sasih Kapitu Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri. jagra dan upawasa d. mona brata. Sasih Kedasa Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau Tahun Baru Saka. waktu gerhana matahari dengan Suryacakra Bhuanastawa. 1. Sinta Radite Soma Anggara Buda . b. Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa . c. Pada waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa. umat Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri. Sasih Kesanga Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka e. beryoganya Sang Hyang Siwa.beryoga. Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara) Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya 1. turunnya Sang Hyang Dharma. Sasih Kapat Purnama Kapat.

Gumbreg . Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir 5 Tolu 6.Pahing Pon Wage Kliwon Banyu Pinaruh Soma ribek Sabuh Mas Pagerwesi 2. Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep 3 Ukir Radite Buda Umanis Wage Persembahan Bhatara Guru Buda Cemeng Ukir 4.

Kuningan Radite Soma . Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian 9. Wariga 8. Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan Budha Kliwon Galungan 13.7. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan 11. Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi 10. Sukra Kliwon Sugihan Bali 12.

Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut 18. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih . Pahang Budha Kliwon Pegatwakan 17. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia 15.Sukra Saniscara Wage Kliwon Wage Kliwon Ulihan Pemacekan Agung Penampahan Kuningan Kuningan 14. Pujut 16.

Medangkungan 21. Wayang Saniscara . Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu 27. Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir 20.19. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal 22. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang 23. Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail 24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat 25 Bala 26.

29. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia 1. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret. ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa). 30. Klawu Dukut Watugunung Budha Sukra Anggara Saniscara Wage Umanis Kliwon Umanis Budha Cemeng Klawu Wedalan Bhatara Sri Anggara Kasih Dukut Saraswati C.Kliwon Tumpek Wayang 28. Tahun Baru Muharam. tahun Baru Imlek. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi. . 1.

Nyasa atau Pralingga yang merupakan wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya.kepada umat manusia. Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut. Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana. serta memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan . danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta.Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam. sehari sebelum hari Nyepi : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia. yang maksudnya berdiam diri. b. menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut : 1. : diperempatan jalan atau didepan rumah. Pratima. a. Pecaruan (Bhuta Yajna) Waktu Makna Tujuan Tempat : pagi hari. Melasti Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi. danau atau mata air yang Laut. Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian : Mensucikan diri. mensucikan kembali symbol-simbol suci Makna : Tujuan keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi. Pelaksanaan: semua Arca. Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan .

2. tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan. mesui. atau lebar puasa. Pengrupukan Waktu Makna Tujuan : Malam hari setelah pecaruan : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang Tempat : mengelilingi rumah atau kampong Pelaksanaan: dengan membawa dupa. : Dirumah atau mencari tempat sepi : Menyepikan diri. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam. d. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. tidak menikmati keindahan Amati Lelungan : tidak bepergian.c. obor. sapu. Nyepi Waktu Tempat Makna Tujuan : Tgl. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional. untuk mendapatkan ketenangan. Ngembak api Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api. kedamaian dan kebahagian. tirtha pelukatan. memadamkan api hawa nafsu. : Agar dapat mengendalikan diri. artinya menyalakan api kembali. ini juga disebut labuh brata. Hari Siwa Ratri Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata • • • • Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci Amati Lelanguan : langu artinya indah. Hari Raya ini . e.

simbol kekekalan c. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan d. penuh keindahan. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup. 5. kelembutan. Hari Pagerwesi Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici. Hari Raya Galungan Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur. 2. menarik. 6. Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam . Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung genitri. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan) 4. dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa : 1..dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem). 3. 3. 5. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung. Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk dan burung merak symbol kewibawaan Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Hari Saraswati Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. 4. Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung.

Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya. Denpasar : Dharma Bhakti. Sehari sesudah hari Galungan. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti) Parisada Hindhu Dharma. Bimas Hindu dan Budha. Gde.perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). Ganesa Exact.. Sudharta. bertempat di Pura atau dirumah. Surabaya : Paramita. menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya Pelaksanaan perayaan hari Galungan. Denpasar :. Ngurah. melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Dirayakan pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton). IB. Puja. DAFTAR PUSTAKA Bangli. 6. 2004. 2005. Jakarta epartemen Agama RI Nala. Agama Tirtha & Upakara. dkk. 2003. Dirjen. Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning. Surabaya : Paramita. . Hari ini merayakan kembalinya para Dewa. Pendit. Acara. 2002. 2007 Widya Dharma Agama Hindu. dengan menghaturkan puja bhakti. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda. Agem-Ageman Kepemangkuan. Hari Kuningan Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali. Manggala Upacara. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha. 2000. Sudirga Ida Bagus. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia ———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. MA SH. Nyoman S. Tjok Rai. 1993. Bhagawadgita. Putu. umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan.

Surabaya : Paramita. Intisari Ajaran Agama Hindu.Sanatana Dharmasrama. 1981. Sudarsana. Upacara-Yadnya Agama-Hindu. 1998. Denpasar : Setia Kawan. Niken. Denpasar : UNHI Tambang Raras. MM. 2006. Sri Rahayu. Msi. Drs. 2005. Yayasan. Gede. Surabaya : Paramita. Wijaya. Filsafat Yadnya. Putu. s . MBA. Nukning Dra. Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura . Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses). Yajna Sesa.. IB. Denpasar Panakom Publishing. 2003.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful