P. 1
Tradisi Muludan

Tradisi Muludan

|Views: 380|Likes:
Published by Iwan Hermawan

More info:

Published by: Iwan Hermawan on Jan 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

A. Latar Belakang Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah dimulai sejak masa dinasti Fatimiah di Mesir. Kerajaan Fatimah telah merayakan perayaan ini secara besarbesaran. Bukan hanya pada saat kelahiran Nabi Muahammad saja, tetapi juga keluarga Nabi seperti Zainab, Hassan, Hussain (ra) juga dirayakan. Bahkan mereka juga merayakan kelahiran Nabi Isa as. Lalu kemudian, semua perayaan ini dihentikan pada tahun 488 atas perintah Perdana Menteri al-Afdal Shahindah yang ketika itu berpegang kuat pada sunnah seperti tercatat dalam Kitab "Al-Kamil", karangan Ibnu Al-Athir. Masyarakat berhenti merayakannya sampai kemudian Al-Ma'mun Al-Bataa'ni kembali memegang kekuasaan. Beliau memui kembali perayaan yang telah dihentikan sebelumnya. Apabila Kerajaan al-Ayubbiah merampas kuasa, semua perayaan telah dihentikan. Namun begitu, masyarakat tetap merayakannya dikalangan keluarga mereka di dalam rumah. Pada Abad ke 7, Putera Muzafar Al-Deen Abi Sa'd Kawakbri Ibn Zein Ed-Deen `Ali-Ibn Tabakatikin telah mewartakan perayaan Maulid Nabi di kota Irbil. Beliau merupakan seorang sunni. Muzafar mengambil berat akan perayaan ini sehingga memerintahkan agar persediaan seperti mendirikan khemah, menghias khemah dan pelbagai lagi dilaksanakan seawal dan sebaik mungkin. Setiap kali selepas solat Asar, Muzafar akan menyaksikan perayaan ini di dalam khemah yang telah didirikan itu. Perayaan diadakan pada 8 Rabiulawal dan kadang-kadang 12 Rabiulawal. Sambutannya diisikan dengan pelbagai acara antaranya membaca sejarah Nabi (saw) sehinggalah kepada menghias binatang ternakan untuk disembelih kemudian diadakan jamuan besarbesaran. Berkata Ibnu Haajj Abu Abdullah Al-Abdari, perayaan tersebut tersebar luas di seluruh Mesir pada zaman pemerintahan Putera Muzafar ini. Beliau menentang akan perayaan yang diadakan. Banyak buku telah ditulis mengenai perayan Maulidur Rasul ini antara penulisnya ialah Ibn Dahya, meniggal dunia pada 633, Muhy Ed-Deen Ibn Al`Arabi, meniggal di Damascus pada 683, Ibn Taghrabik, meniggal di Mesir pada 670, dan Ahmad Al-` Azli dan anaknya Muhammad, meniggal di Sebata pada 670.

Oleh kerana amalan bid'ah yang banyak ketika perayaan itu, ulama 'telah berbeda pendapat akan kebolehan merayakan Maulid Nabi ini. Pendapat pertama membolehkan perayaan ini manakala pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya. Antara yang membolehkan ialah As-Siyooti, Ibnu Hajar Al-`Asqalaani dan Ibnu Hajar Al-Haythmi. Walaupun mereka setuju dengan perayaan ini, mereka tetap membangkang atur cara ketika Maulid itu (pada zamannya). B. Pembahasan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang sudah kental dan memasyarakat di kalangan kaum muslim. Bukan hanya di Indonesia, tradisi yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam Hijriah itu, juga marak diperingati oleh umat Islam berbagai dunia. Di Indonesia, tradisi ini disahkan oleh negara, sehingga pada hari tersebut dijadikan sebagai hari besar dan hari libur nasional. As-Suyuti dalam Kitab Husn AlMaqosid fi Amal Al-maulid menerangkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid Nabi adalah Malik Mudzofah Ibnu Batati, penguasa dari negeri Ibbril yang terkenal loyal dan berdedikasi tinggi. Mudzorofah pernah menghadiahkan sepuluh ribu dinar kepada Syekh Abu Al-Khotib Ibnu Dihyah yang telah berhasil menyusun sebuah buku riwayat hidup dan risalah Rasulullah dengan judul At-Tanwir fi maulid Al-Basyir Al-Nazir. Pada masa Abbasyiyah, sekitar abad kedua belas masehi, perayaan maulid Nabi dilaksanakan secara resmi yang dibiayai dan difasilitasi oleh khalifah dengan mengundang penguasa lokal. Acara itu diisi dengan puji-pujian dan uraian maulid Nabi, serta dilangsungkan dengan pawai akbar mengelilingi kota diiringi pasukan berkuda dan angkatan bersenjata. C. Dasar Hukum Berikut ini adalah dalil nash al-quran dan as-sunah sebagai dasar perayaan maulid nabi Muhammad SAW:
1.

Firman allah SWT dalam Q.S yunus ayat 58:”katakanlah:”dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya,hendaklah dengan itu mereka bergembira”.ayat ini menganjurkan kita begembira bila mendapatkan karunia besar termasuk bergembira atas karunia kelahiran panutan kita rasullulah SAW.allah telah

berfirman dalam surat Al-Anbiya” ayat 107:”dan tidaklah kami (allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
2.

Di dalam al quran,allah SWT menceritakan kisah-kisah kehidupan nabi-nabi terdahulu untuk memantapkan hati2 rasullulah.seperti tertera dalam firmannya:”dan semua dari kisah2 para rasul kami ceritakan kepadamu,yang dengannya kami teguhkan hatimu,.(Q.S.Hud:120).Begitu pula dengan kita,kita butuh kisah2 kehidupan rasullulah demi memantapkan keimanan dan rasa cinta kita kepadarasullulah.untuk mengetahui kehidupan beliau ya kita harus membaca kitab2 yang terdapat dalam kitab2 maulid nabi.

3.

Perayaan maulid bisa mendorong seseorang untuk memperbanyak sholawat dan salam kepada rasullulah.dan ini sejalan dengan perintah allah SWT dalam alqur”an:”sesungguhnya allah dan para malaikat bersholawat kepada nabi,wahai orang2 yang beriman bacalah sholawat dan salam kepadanya.(Q.S.al-ahzab:56).

4.

Ibnu taimiyah al-hambali berkata :maka muliakanlah maulid nabi dan jadikan acara ini sebagai acara tahunan,semoga dengan niat baik dan tujuan untuk memuliakannya kita yang mendapat pahala yang besar dari Allah SWT.amin

5.

Imam abu syamsah as-syafi”I berkata:di antara yang baik dari hal2 yang baru pada masa kita adalah yang kita lakukan di hari maulid nabi dengan cara mengeluarkan sedekah,berbuat baik,menampakkan kegembiraan dan membahagiakan kaum kafir.dengan perayaan maulid nabi hal ini bisa menumbuhkan rasa cinta dan ta”dzim kepada baginda rasullulah.

6. 7.

Imam ibnu hajar al-haitami berkata:”bid’ah hasanah di sepakati untuk di anjurkan,dan perayaan maulid nabi termasuk di dalamnya. Imam a.suyuti berkata:perayaan maulid nabi termasuk bidah hasanah yang memberikan pahala bagi yang melakukannya karena di dalamnya ada unsur memuliakan nabi dan bergembira atas kelahiran nabi. Oleh karena itu bagi kaum seluruh kaum muslimin yang merayakan maulid

nabi,jangan urusi orang2 yang mengkafir-kafirkan kita,biarkan mereka mempunyai paham seperti itu,kita punya dasar kuat sebagai dalil perayaan maulid nabi,akhirnya marilah kita bersama2 meneladani panutan umat seluruh alam,dan mudah-mudahan kita besok akan mendapatkan syafaat dari beliau. Amin

D. Perbedaan Pendapat Ulama Dilihat dari sudut pandang hukum syara’ ada dua pendapat yang bertentangan dalam menangani masalah peringatan maulid Nabi. Pendapat Pertama Pendapat pertama, yang menentang, mengatakan bahwa maulid Nabi merupakan bid’ah mazmumah, menyesatkan. Pendapat pertama membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual. Perayaan maulid Nabi SAW itu tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam Al-Quran dan juga Al-Hadis. Syekh Tajudiin Al-Iskandari, ulama besar berhaluan Malikiyah yang mewakili pendapat pertama, menyatakan maulid Nabi adalah bid’ah mazmumah, menyesatkan. Penolakan ini ditulisnya dalam Kitab Murid Al-Kalam Ala’amal Al-Maulid. Sikap Ahlussunnah Wal Jamaah Terhadap Bid'ah Maulid Ulama Salafussoleh sepakat bahwa perayaan Maulid Nabi dan perayaan-perayaan lain tidak sesuai dengan syari'at. Ia merupakan perkara yang diada-adakan, yang disusupkan ke dalam agama ini. Tidak ada contoh dari Nabi, para sahabatnya, Tabî'ut Tâbi'în, tidak pula ulama terkemuka dari imam yang empat atau selain mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: "Adapun mengadakan perayaan selain perayaan yang telah disyari'atkan, seperti malam Rabiulawal, disebut juga malam maulid, malam-malam di bulan Rajab, 8 Zulhijah, Jumat pertama Rajab dan 8 Syawal yang dinamakan dengan Idul Abror merupakan bid'ah yang tidak disukai oleh salaf (generasi awal) dan tidak pernah mereka lakukan. Wallahu ta'ala a'lam Ibnu Taimiyah juga menyebutkan di dalam kitabnya Iqtidhô as-Shirâtal Mustaqim: "Pasal: Yang termasuk kemungkaran dalam bab ini adalah: seluruh perayaanperayaan dan musim yang diada-adakan. Ia termasuk kemungkaran yang makruh (dibenci). Sama saja apakah kemakruhannya sampai ke derajat haram atau belum.

Perayaan ahli kitab dan a'jam (orang asing) terlarang karena dua sebab: Pertama: unsur tasyabuh (menyerupai) orang-orang kafir. Kedua: ia merupakan bid'ah dalam agama. Segala perayaan dan musim yang diadaadakan adalah mungkar sekalipun tidak menyerupai ahli kitab. Beliau –rahimahullah- menyebutkan penjelasan hal itu dengan ungkapannya: "Yang demikian masuk kategori bid'ah dan muhdatsah (ajaran yang diada-adakan). Masuk dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya dari Jabir, dia berkata, "Rasulullah jika berkhotbah matanya memerah, meninggi suara dan temperamennya, bahkan seakan tengah mengomando pasukan perang, dengan mengatakan sobâhakum wa masâ akum (waspadalah setiap saat!) seraya berkata:

‫ : )) ب ُعِثللت أ َنللا والسللاع َة‬ ‫قللال رسللول الللله‬ َ ّ َ َ ُ ْ (( ‫ك َهات َي ْن‬ َ ِ ‫)) أ َما ب َعْد ُ فَلإ ِن خي ْلر ال ْحلديث ك ِتلَلاب الل ّلهِ وَخي ْلر‬ ِ ِ َ ُ ّ ُ َ َ َ ّ ّ ‫ال ْهُدى هُدى محمد ٍ وَشلر ال ُملورِ محلد َثات ُها وَك ُلل‬ ‫ُل‬ َ َ ّ َ ُ َ َ ْ ُ ّ َ (( ‫ب ِد ْع َةٍ ضل َل َة‬ ٌ َ

"Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat seperti ini” –beliaupun merapatkan jari telunjuk dan tengahnya- lalu melanjutkan:

"Adapun selanjutnya: sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan perkara yang paling buruk adalah bid'ah (sesuatu yang dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid'ah (yang dibuat-buat dalam agama) adalah sesat." Dalam hadits riwayat an-Nasai:

(( ِ‫)) وَك ُل ضل َل َةٍ فى النار‬ ّ ِ َ ّ
"Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka." Beliaupun menjelaskan bahwa waktu terbagi menjadi tiga, termasuk di antaranya perayaan terkait suatu tempat dan aktivitas: Pertama: hari yang tidak di agungkan sama sekali oleh syari'at Islam dan tidak disinggung oleh generasi salaf, tidak pula ada sesuatu yang mengharuskan untuk

mengagungkannya, seperti Kamis dan Jumat pertama bulan Rajab, yang dinamakan dengan ar-Raqôib. Kedua: berlangsungnya suatu peristiwa yang peristiwa itu juga berlangsung pada waktu yang lain, tanpa ada hal apapun yang mewajibkannya untuk dirayakan dan generasi salaf tidak ada yang mengagungkannya, seperti hari ke-18 Zulhijah, saat Rasulullah wada'. Termasuk juga segala yang dibuat-buat oleh sebagian orang; bisa dalam bentuk menyaingi kaum Nasrani dalam memperingati hari kelahiran Nabi Isa –alaihi salamatau karena kecintaan kepada Nabi . Allah membenarkan kecintaan mereka, tetapi tidak dengan bid'ah yang dilakukan. Siapa yang menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari perayaan, maka perbuatannya itu tidak pernah dilakukan oleh generasi salaf (generasi awal) meskipun mereka juga mencintai Nabi dan tidak ada penghalang untuk juga melakukannya jika itu memang baik. Jika perayaan maulid murni kebaikan atau rajih (asumsi kuat) tentunya generasi salaf lebih berhak merayakannya dari pada kita. Jika kesangatan para sahabat dalam mencintai dan mengagungkan Rasulullah melebihi kita,tentu mereka lebih peduli jika ada kebaikan. Akan tetapi ternyata kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi adalah dengan meneladani, menaati, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunahsunahnya baik yang lahiriah maupun batiniah, menyebarkan ajarannya dengan berjihad menggunakan hati, tangan (kekuasaan) dan lisan. Demikianlah toriqoh (jalan) sabikin al-awalin (generasi pendahulu) dari kaum Muhajirin dan Anshar serta orangorang yang mengikuti jejak mereka. Kebanyakan engkau dapati mereka yang peduli dengan bid'ah-bid'ah seperti ini lemah dalam menjalankan ajaran Rasulullah yang telah diperintahkan untuk melaksanakannya. Mereka hanya sebatas menghias masjid tetapi tidak shalat di dalamnya atau jarang sekali. Sebatas orang yang menenteng-nenteng tasbih dan sajadah yang berhias. Hiasan-hiasan semacam ini menjadi konsentrasi, disertai riya (mengharap pujian), kibr (kesombongan) dan menyibukannya dari perkara-perkara yang memang disyaratkan sehingga merusak keadaan pelakunya. berkhotbah di tempat yang bernama Ghadir kham sepulang dari haji

Pendapat Kedua Pendapat kedua, yang telah menerima dan mendukung tersebut, beralasan bahwa

maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah, inovasi yang baik, dan tidak bertentangan dengan syariat. Pendapat kedua diwakili oleh Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan As-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah. Yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tetapi keberadaannya tidak bertentang dengan ajaran Islam. Bagi As-Suyuti, keabsahan maulid Nabi Muhammad SAW bisa dianalogikan dengan diamnya Rasulullah ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. maulid Nabi, menurut As-Suyuti, adalah ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan. Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafa'at kepadanya di Hari Kiamat." Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!” Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan hal ini termasuk perkara yang diharuskan karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah Ta’ala: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (Qs. Yunus; 58)

Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Qs. Al Anbiya’; 107) Sanggahannya: Bergembira dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, kelahirannya, syariatsyariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu. Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat sebelumnya. “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yunus; 57) Ibnu Katsir menerangkan; “Firman Allah Ta’ala “rahmat dan petunjuk bagi orangorang yang beriman” maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman dengan Al-Qur’an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala; “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Israa’; 82) E. Kesimpulan Terlepas dari polemik di atas, pelaksanaan maulid Nabi adalah perbuatan Bid'ah walaupun disinyalir mendatangkan dan memberikan manfaat kehidupan beragama kaum muslimin secara filosofis, peringatan maulid Nabi dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah yang kemudian ditunjukkan dengan mengikuti segala sunahnya dan menumbuhkan kesadaran akan beragama menuju kesempurnaan takwa, tapi tetap

didahului dengan perbuatan Bid'ah. Secara sosiologis, dengan asumsi kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup konsumeristik, hidonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap penurunan tingkat kesadaran seseorang, maka peringatan maulid Nabi menjadi tuntutan religius yang penting. Demikianlah hukum mengenai sambutan maulid Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa Sallam. Janganlah hendaknya kalian memperbesar-besarkan hari kelahiran Nabi padaha dalam waktu yang sama sunnah Nabi kalian tinggalkan. Yang lebih utama dan sewajibnya diambil oleh kalian adalah apa jua yang dibawa oleh Rasulullah kepada kalian berupa perkataan, perbuatan dan taqrir (pembenaran) baginda. Inilah sunnah Nabi Sallallahu alaihi wa Sallam yang wajib kalian ikuti. Rasulullah bukan sahaja seorang ahli ibadah, malah baginda adalah juga seorang suami, seorang ayah, seorang Nabi yang agung dan seorang ahli pemimpin umat yang adil. Rasulullah adalah seorang pendakwah, pembawa risalah Allah, penyebar Islam dan pembawa rahmat ke seluruh alam. Rasulullah tidak pernah berhenti berdakwah sejak baginda di angkat oleh Allah menjadi RasulNya, Rasulullah berdakwah dalam rangka untuk meninggikan kalimah Allah dan menerapkan segala hukum-hukum Allah di muka bumi, tidak keberatan (untuk dakwah) dan tidak mengenal penat dan lelah, menghadapi segala cabaran dan penderitaan. Inilah sunnah Rasul Sallallahu alaihi wa Sallam yang wajib diteladani oleh umat Islam, bukan hanya sekadar mengingati dan menyambut tarikh kelahiran baginda, namun berdiam diri dari semua yang lain. Banyak manfaat yang dapat diambil dari Peringatan maulid Nabi saw. antara lain : a. Menambah wawasan tentang kisah hidup Nabi Muhammad saw. “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Hud (11): 120) b. c. Dapat mempererat ukhwwah Islamiyyah antar ummat. Hal ini terjadi akibat berkumpulnya ummat Islam didaerah sekitar pelaksanaan. Menambah gairah keislaman serta mengingatkan ummat agar teguh menjalankan ajaran Islam. “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan tetaplah memberi peringatan,

karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Dzariyat (51) : 55) d. e. Menyemarakkan syiar Islam. Menambah wawasan kemasyarakatan dan keislaman.

F. Daftar Pustaka Kitab Lathâif al-Ma'ârif fî mâ Li Mawâsimil Âm Minal Wadzâif, Ibnu Rajab. Kitab al-Bida' al-Hauliah, Abdullah ibn Abdul Aziz at-Tuwaijiri. Artikel 'The Milaad-A Caution against Innovation' oleh Sheikh `Abdul` Aziz bin`Abdullaah bin Baaz http://kanal3.wordpress.com/2010/03/01/%E2%80%9Cbagaimana-hukummerayakan-maulid-nabi-dalam-perspektif-islam%E2%80%9D/ www.islam-qa.com www.islamonline.com http://www.surau.ladang.net/ http://islam.tc/ask-imam/index.php www.bicaramuslim.com http://bdmalhikmah.com/index.php/Risalah-Hikmah/hukum-menyambut-maulidnabi-muhammad-saw.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->