P. 1
Buletin Jejak Leuser Edisi 10

Buletin Jejak Leuser Edisi 10

|Views: 431|Likes:
Published by Mulyadi Pasaribu

More info:

Published by: Mulyadi Pasaribu on Jan 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

~~HAI-IP'I'_WtiIt __ --------------.

Akhirnya terbit juga ....

Alhamdulillah, JL masih bisa hadir di hadapan pembaca sekalian, setelah sekian lama tidak 'berkunjung'.

Bersama Hijaukan Leuser, sedikit menyitir slogan Balai Besar TNGL ("Bersama Selamatkan Leuser"), inilah tema utama Jejak Leuser edisi ini. Dunia semakin panas, perubahan iklim membawa banyak efek ke arah ketidaknyamanan manusia dan 'teman-temannya' di dunia ini.

Di lingkup yang lebih kecil, Taman Nasional Gunung Leuser, salah satu paru-paru dunia yang masih tersisa, masih belum sembuh dengan 'Iuka-luka' -nya. Bolong-bolong di tubuh taman nasional dengan luas sejuta hektar ini masih banyak menganga. Hijaukan! Inilah satu-satunya jalan untuk menyembuhkan sakit itu, sekaligus membantu pengurangi luka dunia sebagai akibat bolong-bolongnya ozon, sang selimut bumi.

Upaya menghijaukan Leuser dengan memberdayakan masyarakat sekitar kawasan, oleh Ujang WB diulas pada rubrik Laporan Utama di edisi ini. Semoga langkah ini menjadi langkah indah untuk membantu Leuser memulihkan dirinya. Di edisi ini, rubrik Kehati cukup mendominasi halaman Jejak Leuser dengan tiga judul yang ditulis oleh Ridha, Esti, dan Iskandar; masing-masing tentang rafflesia, kelelawar, dan lumut. Semoga menjadi tulisan yang membawa kita untuk lebih ingin menjelajahi pengetahuan tentang fauna dan flora.

Ada bacaan menarik lain di Jejak Leuser edisi ini ... Selamat membaca.

p~

Kepala Balai Besar TNGL

~.cU.:

Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser

P~R~

Bisro Sya'bani

JI. Suka Cita 12 Kel. Suka Maju Medan Johor, Medan, Sumatera Utara Telp/ Fax. (061) 7879378

lflwM-R~

Ratna Hendratmoko Subhan

Ujang Wisnu Barata

Email: jejakleuser@yahoo.co.id Blog : jejakleuser.blogspot.com

~

Ahtu Trihangga

~i!<~

Redaksi Buletin "Jejak Leuser" menerima sumbangan tulisan yang berkaitan dengan aspek konservasi. Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 5 halaman dan minimal 3 halaman A4 dengan font Times New Roman 11. Naskah dikirim ke email: jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas diri (termasuk foto penulis), serta foto-foto dan/atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh redaksi Buletin "Jejak Leuser" untuk dilakukan proses editing seperlunya.

A~ Yunita Aprillia

lJ~

Ali Sadikin

Cover depan : Bersama Hijaukan Leuser

(Foto: Bisro, sxc.hu)

Cover belakang : Gaya Gajah Tangkahan

(Foto: Dokumentasi FFI Medan)

Design'n Layout : Bisro Sya'bani

INTERMEZZO 26 WANASASTRA 27

..... ''':.-::;~-~~ .

. .

»

Rehabilitasi Kawasan Hutan TNGL Melalui Pola Pemberdayaan Masyarakat

Ujang Wisnu Barata?

wasan hutan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan aman Nasional (SPTN) Wilayah VI Besitang, abupaten Langkat merupakan salah satu bagian kawasan TN.Gunung Leuser yang mengalami kerusakan parah. Kerusakan tersebut telah terjadi sejak tahun 1978, sebelum kawasan ditetapkan sebagai bagian dari TN. Gunung Leuser (semula berstatus Suaka Margasatwa).

Penyebab kerusakanl terbukanya kawasan hutan hujan tropis dataran rendah yang kaya jenis dan merupakan habitat satwa gaj ah tersebut, antara lain disebabkan oleh kesalahan kebij akan di masa lalu, illegal logging, pembukaan lahan untuk kepentingan tanaman pertanian dan umumnya untuk penanaman sawit dan karet, perambahan oleh pengusaha sawit skala sedang, penjualan lahan-Iahan yang sudah terbuka kepada pihakpihak ketiga, dan pendudukan sebagian kawasan oleh ± 500 kepala keluarga pengungsi asal Aceh sej ak tahun 1999. Penguasaan dan jual beli lahan kawasan ini meliputi areal seluas lebih kurang 16.000 hektar.

dikendalikan akhir-akhir ini melalui upaya penegakan hukum secara konsisten terhadap para pelaku ilegal logging dan perambahan serta upaya pendekatan kepada para pengungsi yang bermukim di dalam kawasan agar tidak menambah luasan lahan garapan. Di sisi lain, proses suksesi alami pada bekas-bekas lahan yang dikerjakan para perambah yang telah "terusir" terus berjalan, sehingga di beberapa blok hutan telah banyak ditumbuhi semak, dan menjadi temp at hidup satwa. Satwa-satwa tersebut dapat berperan sebagai agen biji. Di blok hutan Sei Bamban dan Alur Gusta (areal eks perambahan kelompok Suruhen Pinem yang sedang menjalani hukuman 3 tahun penjara), telah dapat dijumpai berbagai jenis burung, beberapa kelompok kera ekor panjang, beberapa kelompok lutung, babi hutan, dan kancil. Satwa-satwa tersebut merupakan agen biji yang potensial dalam membantu proses suksesi alami. Begitu juga di lokasilokasi lainnya yang telah ditinggalkan para perambah pasca penertiban tahun lalu.

Rasil analisis tim Balai TNGL yang didasarkan pada penafsiran Citra Landsat tahun 1995 luas kerusakan

mencapai 8.470 hektar dan pada tahun 2002 meluas lagi sampai 2l.130 hektar. Dengan demikian, pada periode 7 tahun tersebut, telah terjadi kerusakan seluas l.832 hektar/tahun, setara dengan 152 hektar/bulan atau 5 hektar/hari. Laju kerusakan tersebut telah coba

Rehabilitasi Kawasan

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 89 tahun 2007 tentang Gerakan Nasional Rehabilitasi Rutan dan Lahan (Gerhan), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan rehabilitasi hutan dan lahan adalah

upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan terjaga. Gerhan merupakan

4

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

kegiatan terkoordinasi dengan mendayagunakan segenap potensi dan kemampuan pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupatenl kota, badan us aha dan masyarakat dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan pada DAS prioritas.

Menurut ketentuan dalam PP. No. 89 tahun 2007 tersebut, penyelenggaraan Gerhan terbagi dalam tiga model, yaitu :

1. Penyelenggaraan Gerhan yang berupa pembuatan tanaman di dalam kawasan hutan yang dibiayai dengan APBN atau APBD dilaksanakan secara kontraktual yang berbasis tahun jamak (multi years) dengan menggerakkan potensi badan usaha nasional dan daerah serta melibatkan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang -undangan

2. Penyelenggaran Gerhan yang berupa pembuatan tanaman di daerah tertentu dalam kawasan hutan dengan mempertimbangkan kondisi tertentu dari aspek keamanan, yang dibiayai denganAPBN atau APBD dilaksanakan secara swakelola berbasis tahun jamak (multi years) melalui operasi bakti Tentara N asional Indonesia (TNI)

3. Penyelenggaraan Gerhan yang berupa pembuatan tanaman di luar kawasan hutan yang dibiayai APBN atau APBD dilaksanakan secara swakelola yang berbasis tahun jamak (multi years) melalui Surat Perjanjian Kerjasama (SPKS) dengan kelompok tani dengan menggerakkan potensi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Balai Besar TNGL saat ini sedang menjalankan program Gerhan seluas 2.000 hektar, dengan jenis tanaman Sungkai (Peronema canescens), Salam (Eugenia sp.), Durian (Durio spp.), Cempedak (Artocarpus sp.), Bayur (Pterospermum javanicum) dan Beringin (Ficus spp.). Pemilihanjenis tersebut atas dasarpertimbangan:

l. Merupakanjenis aslil endemikTNGL

2. Merupakan jenis MPTS (Multi Purpose Trees Species) yang dapat memberikan kemanfaatan bagi masyarakat terutama sebagai hasil hutan non kayu

3. Merupakan sumber pakan satwa, sekaligus mempermudah penyebaran biji dengan satwa sebagai agen bijinya.

Secara teknis, dikenal beberapa pendekatan rehabilitasi (dikutip dari Kuswata & Ismayadi, 2007) yaitu :

1. Regenerasi yang dipercepat

Pola ini di Indonesia dikenal dengan "regenerasi alami yang dipercepat" atau Accelerated Natural Regeneration dan merupakan metode penghutanan kembali dengan memanfaatkan proses-proses alam untuk pemulihan vegetasi.

2. Tumpangsari yang dimodifikasi

Pola ini telah lama diterapkan oleh Perum Perhutani dalam pilot proyek perhutanan so sial di J awa. Metode ini merupakan modifikasi dari teknik tumpangsari konvensional, dimana petani tidak hanya dibolehkan menanam tanaman budidaya di sela tanaman pokok pada awal pembuatan hutan tanaman, namun juga dibolehkan untuk menanam sela dengan tanaman budidaya sepanjang siklus pengembangan hutan dari penanaman sampai panen akhir.

3. Hutan yang dike lola masyarakat

Teknik ini memerlukan pelibatan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan dengan bimbingan Departemen Kehutanan. Masyarakat bertanggung jawab atas pencegahan kebakaran, pengayaan tanaman, dan perlakuan silvikultur. Keuntungan bagi masyarakat lokal adalah hak pemanenan kayu non komersial dan hasil hutan non kayu. Pemerintah bertanggung jawab atas penyediaan dana untuk peralatan, persemaian, dan tenaga kerj a persemaian.

4. Pengembangan hutan model

Program ini didasarkan pada kemandirian finansial untuk unit 100 hektar yang terdiri atas zona inti dan zona pendukung, dari hutan yang telah dibalak atau hutan terganggu dengan berbagai derajat kerusakan. Biaya pengelolaan zona pendukung dan pelestarian zona inti berasal dari penghasilan berbagai kegiatan, misalnya tebang pilih, tumbuhan budidaya, produksi rotan, perkebunan dan pemeliharaan hewan liar.

5. Kontrak proyek penghutanan kembali

Pendekatan ini dirancang dan dilaksanakan oleh perusahaan swasta atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan partisipasi masyarakat lokal. Ada tigamodel pendekatan, yaitu:

a. Pendekatan perusahaan, yang merupakan rancangan untuk kawasan dengan luas lebih dari 500 hektar. Pelaksana adalah perusahaan swasta melalui kontrak dengan pemerintah.

b. Pendekatan masyarakat, yang merupakan rancangan untuk kawasan kurang dari 100 hektar, dimana kontrak dilakukan antara pemerintah setempat dengan LSM.

c. Pendekatan keluarga. Kontrak dibuat antara pemerintah dan LSM untuk kawasan sampai 100 hektar yang dikerjakan oleh beberapa keluargamasing-masing seluas 1-5 hektar.

Pelibatan Masyarakat

Pengelola yang konvensional biasanya selalu enggan untuk melewati tingkatan pelibatan masyarakat, dengan pola pikir bahwa masyarakat biasanya apatis,

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

5

Tua mudanya masyarakat sekitar Sekoci menghijaukan Leuser

dan pelibatan mereka hanya buang-buang waktu. Pengelola pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendekatan partisipasi masyarakat berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah, dan lembaga-lembaga masyarakat ~e.mpunyai tugas berdasarkan hukum yang tidak dapat dilimpahkan ke pihak lain. Sebaliknya, masyarakat semakin meningkat kesadarannya dengan mengharapkan "partisipasi yang lebih bermanfaat", yang dalam keyakinan mereka termasuk pula pelimpahan sebagian kekuasaan. Pelimpahan atau alokasi kembali kekuasaan ini menimbulkan isu "apakah kelompok yang diberi ke~ercayaan dan kekuasaan dapat dipercaya" (Brnce MItchell et.al., 2003). Kepercayaan, komunikasi, kesempatan dan fleksibilitas mernpakan elemen penting yan!? . me~entukan efektif tidaknya program-program partisipasi masyarakat.

Pengelolaan bersama mernpakan suatu pendekatan yang menyatukan sistem-sistem pengelolaan pada tingkat lokal dan negara. Pada tingkat negara, pengelolaan dilakukan oleh kantor pemerintah yang diberi wewenang khusus dan resmi untuk bidang-bidang pengelolaan sumberdaya tertentu. Bentuk pengelolaannya selalu dicirikan dengan sangat terpusat dan hirarki, dengan kantor pusat yang menentukan kebijakan serta kantor lokal yang menerapkannya. Pelaksanaannya didasarkan pada otoritas y~ng dib~rikan berdasar hukum dan peraturan. Sebaliknya, sistern-sistem pengelolaan lokal didasarkan atas pengetahuan percobaan, tradisi budaya, adat-istiadat, tanpa aturan dan hukum resmi. Pendekatannya sepenuhnya tidak terpusat. Semua keputusan ditentukan berdasar kesepakatan, sementara pelaksanaannya didasarkan atas sauksi-sauksi so sial.

Pada lingkup wilayah kerja Balai Besar TNGL,

kesepakatan dua desa membuat Peraturan Desa dan diperkuat dengan pembentukan lembaga pengelola yaitu Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) mernpakan contoh nyata bagaimana masyarakat pinggiran Leuser memiliki inisiatif untuk turnt serta mengelola kawasan. Kedua desa tersebut, yaitu desa Namo Sialang dan desa Sei Serdang, telah sepenuhnya menjadi pengelola dan mitra BBTNGL dengan

, ditandatanganinya Memorandum of , Understanding (MoU) antara Balai TNGLdanLPTpada tahun2006lalu. Model seperti inilah yang akan ditularkan ke wilayah "pinggiran Leuser" lainnya. Salah satu momen penting adalah dengan keterlibatan penuh masyarakat pada kegiatan rehabilitasi yang sedang berj alan.

Kelompok Kerja Rehabilitasi Sebagai Fasilitator

Dengan dilatarbelakangi oleh kompleksitas permasalahan di Besitang, Balai Besar TNGL mencoba membentuk tim kerja internal yang fokus ~ada masing-masing isu penyelesaian. Tim tersebut bernpa tiga kelompok kerja (pokja), yaitu pokja perambahan pokja penyelesaian pengungsi, dan pokja rehabilitasi:

Konsep penyelesaian masalah Besitang secara komprehensif, secara sederhana terbentuk melalui pemikiran "keluarkan-kuasai-hutankan lagi". Artinya keluar~an semua pemukim dan hal-hal ilegal dari kawasan, kuasai dengan melakukan penj agaan areal dan pemusnahan aset perambah, dan terakhir, hutankan lagi dengan merehabilitasi kawasan menggunakan jenis asli untuk membantu mempercepat proses suksesi. Semua itu hams dikawal dengan penegakan hukum yang konsisten.

Tug.as kelompok kerja adalah melakukan pra kondisi kegiatan, mengusulkan rekomendasi kegiatan, hingga meng~:val.pr?ses kegiatan sebagai bahan evaluasi. Pokja rehabilitasi mternal BBTNGL sampai saat ini telah melakukankegiatan-kegiatan berikut:

Melakukan pertemuan-pertemuan internal di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) VI Besitang Melakukan survey potensi pembibitan desa di Desa Halaban, DesaPIR-ADB, danDesa Sekoci Melakukan survey potensi lembaga lokal, baik kelompok tani maupun Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pada tiap des a

M.emfasilitasi pertemuan dengan kelompok Himpunan Kernkunan Tani Indonesia (HKTI) Desa Halaban yang telah didampingi oleh Sumatran Orangutan Society Orangutan Information Centre (SOS-OIC) terkait keinginan masyarakat membuat pembibitan des a

a.

b.

c.

d.

6

Vol. 4 No.1 0 Tahun 2008

e. Memfasilitasi pertemuan dengan KSM lokal (Organisasi Petani Pecinta Ekosistem Leuser - OPPEL & Gerakan Pecinta Alam Leuser - GEPAL) dan Kedatukan Besitang terkait rencana rehabilitasi, pengkondisian pekerja lapangan, dan persiapan pembibitan

f. Melakukan pendampingan dan pengawasan secara intensifterkait pelaksanaan Gerhan TNGL, yang telah dilaksanakan dengan pelibatan masyarakat pada penanaman tahap I.

Oppel di Desa PIR-ADB, dan kelompok ad at Kedatukan. Selain itu, juga mendorong terbentuknya kelompok-kelompok baru yang berkomitmen membantu pelestarian kawasan. Salah satu kelompok bam yang potensial adalah KSM Permata Rimba di Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Kelompok ini sedang didampingi oleh tim SOS-OIC dalam menyusun program dan kepengurusan, sebagai katalisator pembentukan Peraturan Desa (Perdes).

KSM Permata Rima mulai muncul terkait adanya isu konflik satwa gajah liar yang menggangu perkebunan masyarakat. Entry point konflik ini dikelola sedemikian rupa oleh tim CRU Fauna&Flora International dan BB TNGL untuk memunculkan potensi positif dan peningkatan penyadaran konservasi.

Dalam setiap pertemuan dan pendampingan tersebut, pokja rehabilitasi berfungsi sebagai fasilitator yang menggali potensi para pihak untuk keterlibatan dalam rehabilitasi kawasan TNGL. Pokja juga selalu menekaukan agar pihak-pihak yang terlibat tetap mengacu pada kronologis dan skenario penyelesaian secara komprehensif. Dalam bekerja, tim pokja internal rehabilitasi BBTNGL memanfaatkan potensi lembaga lokal di tiap titik, misalnya kelompok HKTI di Desa Halaban, KSM Gepal di Desa Sekoci, KSM

Ilustrasi-ilustrasi berikut menggambarkan beberapa pertemuan yang menghasilkan keputusanJ amanah yang mengikat:

Ilustrasi 1. Hasil "Local Community Workshop" Besitang

Workshop ini dilaksanakan tanggal 8 Juli 2006, dengan menghadirkan wakil sembilan desa yang berbatasan dengan kawasan, jajaran Muspika, Kedatukan Besitang, Sei Lepan, dan Trenggulun, wakil kelompok tam, dan wakil pengungsi.

Hasil sesi I pertemuan stakeholder lokal :

I. Persoalan pengungsi diselesaikan melalui kegiatan relokasi. Untuk itu diperlukan kejujuran dari pihak pengungsi untuk

memberikan data, terkait dengan pembagian dana terminasi

2. Batas TNGL direkonstruksi dengan melibatkan masyarakat sehingga disepakati dan diketahui secara luas

3. Perkebunan sawit di dalam kawasan yang telah terbukti melanggar hukum hams dimusnahkan

4. Pelibatan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan kawasan secara partisipatif dalam berbagai bentuk kegiatan, misalnya: ekowisata, pengamanan bersama, rehabilitasi

5. Penegakan hukum terhadap pelaku pernsakan hutan secara serius dan tegas

6. Tetap mengembangkan prinsip-prinsip penyelesaian masalah secara komprehensif dengan peran aktif para pihak.

Hasil sesi II pertemuan dengan perwakilan pengungsi :

I. Sangat berat bagi pengungsi apabila hams pindah, karena sudah cukup lama mereka menetap, dan sekarang mulai menampakkan hasil untuk hidup lebih layak. Pengalaman pernah direlokasi ke Riau kemudian ditelantarkan, membuat trauma dan kepercayaan terhadap pemerintah makin berkurang.

2. Tanggapan pengungsi dihadapkan pada pilihan/opsi lain (relokasi) maka:

a. Bersedia dipindahkan dengan pola transmigrasi permanen

b. Bersedia dipindahkan asal masih di Pulau Sumatera, terntama SUMUT

c. Bersedia dipindahkan asal: tidak dirugikan, fasilitas yang jelas/terpenuhi, dan dilibatkan dalam proses penyelesaian sejakawal.

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

7

Ilustrasi 2. Kesimpulan Workshop Pusdal Regional I - Departemen Kehutanan, "Penyelesaian Permasalahan Besitang - TNGL"

A. PENGUNGSI

Pada dasarnya penyelesaian persoalan pendudukan kawasan Besitang, TN.Gunung Leuser, di wilayah Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara, dilakukan dengan memperhatikan aspek -aspek kemanusiaan dan konservasi, secara bertahap dan tuntas. Untuk itu, maka dinilai perlu untuk dibentuk Tim Penyelesaian Permasalahan Pengungsi di dalam kawasan TN.Gunung Leuser, dengan SK.Menteri Kehutanan. Tim terdiri dari unsur-unsur Balai TN.Gunung Leuser, PemProp Nanggroe Aceh Darussalam, PemProp Sumatera Utara, dan Yayasan Leuser International, dengan tugas sebagai berikut : (I) Melakukan pendataan kependudukan, koordinasi lintas instansi, pendampingan kepada masyarakat; (2) Mengkaji pilihan-pilihan calon lokasi penempatan, baik di temp at asal maupun di temp at yang baru; (3) Menyusun kebutuhan pendanaan penyelesaian pengungsi;

B. PERAMBAHAN KAWASAN

I. Dibentuk Kelompok Kerja, yang terdiri dari unsur Pemprov Sumut, Pemkab Langkat, BTNGL, Tokoh Masyarakat Adat, Aparat Penegak Hukum, LSM dan instansi terkait lainnya melalui Keputusan Gubernur Sumatera Utara, dengan tugas :

(a) Inventarisasi dan identifikasi perambah,

(b) Melakukan Penegakan hukum,

(c) Menyusun Program Relokasi dan Rehabilitasi.

2. Membangun Kesepakatan Konservasi Lokal dengan Pendekatan Perencanaan Konservasi Partisipatif di tingkat Desa di sekitar kawasan TNGL khususnya Seksi Wilayah IV Besitang.

3. Meningkatkan peran serta masyarakat dam memperkuat Manajemen Desa Penyangga untuk memanfaatkan zona penyangga dan mengamaukan kawasan TNGL.

C. REHABILITASI KAWASAN

I. Percepatan perubahan zonasi dari zona inti menjadi zona rehabilitasi.

2. Penentuan prioritas lokasi lahan yang akan direhabilitasi danjenis tumbuhannya, serta penyusunan pedoman dan rancangan teknis rehabilitasi pada kawasan konservasi.

3. Membangun kelembagaan rehabilitasi kawasan konservasi dan mencari sumber pembiayaan.

Medan, 3 Agustus 2006

Ilustrasi 3. Hasil Konferensi Desa Tangkahan, Cluster I, Komisi Rehabilitasi Kawasan Komisi III: Pokja Rehabilitasi kawasan TNGL di wilayah Besitang - Lepan

Pernyataan:

l. Kerusakan kawasan TNGL seluas kurang lebih 22.000 ha di wilayah Besitang Lepan (Cluster I)

2. Untuk itu harus dilakukan Rehabilitasi kawasan dengan melibatkan masyarakat di Desa setempat yang berbatasan lang sung dengan Taman N asional Gunung Leuser

Solusi:

Untuk mewujudkan Rehabilitasi di kawasan tersebut harus dilakukan:

I. Penuntasan berbagai permasalahan permasalahan kawasan ( pengungsi Aceh, Perambahan ) sebagai langkah awal menuju rehabilitasi kawasan

2. Koordinasi antar instansi pemerintah terkait untuk memberikan kepercayaan pelaksanaan rehabilitasi kepada masyarakat Desa yang berbatasan lang sung

3. Kerjasama seluruh pihak untuk mendukung pelaksanaan rehabilitasi tersebut melalui mekanisme kelembagaan, bukan orang per orang

4. Peningkatan pengetahuan danketerampilan penduduk pedesaan di dalam seluruh proses pelaksanaanrehabilitasi

5. Meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat setempat melalui pelaksanaan rehabilitasi dengan tanaman tanaman hutan yang bernilai produktifbagi perekonomian masyarakat

6. Menetapkan berbagai kebijakan dan peraturan di tingkat Desa ( Perdes ) untuk mendukung berbagai aspek didalam pelaksanaan rehabilitasi

7. Jaminan pembiayaan yang cuknp didalam proses pelaksanaanrehabilitasi

Atas nama sidang Paripurna Konferensi Rakyat Pedesaan Leuser Hasil keputusan komisi III di Cluster I

Tangkahan, 22 Juni 2007 pkl. 21.30 wib

Naswandi Sembiring, Desa PIR ADB Efendi Tarigan, Desa Bukit Selamat Faisal Matondang, Desa Harapan Jaya

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

8

Ilustrasi 4. Kesimpulan Workshop Penyelesaian Perambahan Besitang Medan, 28-29 Januari 2008

Kelompok Kerja Penyelesaian Perambahan

I. Tindak tegas setiap pelaku ilegallogging dan perambahan.

2. Pengelolaan penanganan perkara ilegallogging & parambahan selain memenuhi prosedur fomal dapat dilakukan sistem pengawasan sesuai prinsip akuntabilitas dan keterbukaan.

3. Pihak TNGL bersama aparat penegak hukum melakukan analisis kasus ilegallogging & perambahan di dalam kawasan TNGL untuk ditindaklanjuti.

4. Penguatan payung hukum dalam menghadapi kasus perdata.

5. Mengusulkan dana ke APBN melalui proyek/kegiatan Balai Besar TNGL untuk melanjutkan pemusnahan tanaman ilegal di dalam kawasan.

6. Penyelesaian sistem koordinasi antar pihak terkait (BBTNGL, BPKH, BPN, PT. Bandar Meriah dan masyarakat pemegang SHM PIR ADB).

7. Proses pidana menunggu penyelesaian masalah tumpang tindih kawasan tersebut.

Kelompok Kerja Penyelesaian Pengungsi

I. Secara tegas hanya memberikan opsi relokasi atau transmigrasi.

2. Kementian Kooordinator Kesra menjadi leading sektor proses pelaksanaan relokasi atau transmigrasi pengungsi.

3. Dibutuhkan komitmen proses pengkondisian di lapangan sebelum dan proses transmigrasi atau relokasi bagi pengungsi.

4. Syarat-syarat relokasi yg pernah dikemukakan oleh pengungsi pada Konferensi Rakyat Batas Leuser di Tangkahan pada Juni 2007 (point 1-7) dan kesepakatan warga sebelum utusan hadir pada workshop (point 8-13):

• Lahan siap garap dan memiliki kejelasan status (legal)

• Rumah tinggal minimal 6 x 7 meter persegi

• Fasilitas untuk pendidikan dan kesehatan

• Luas lahan untuk pengungsi asal Aceh adalah 2 hektar per KK

• Tempat relokasi diluar NAD dan tetap berada di dalam wilayah Sumatera, terutama SUMUT

• Jadup

• Pembibitan

• Penerangan

• Perhubungan

• Biaya transportasi

• Pemindahan menjadi satu lokasi

• Peninjauan tempat relokasi

• Ganti rugi tanaman yang selama sekian tahun kami kelola

Kelompok Kerja Rehabilitasi

I. Pemantapan Pokja rehabilitasi para pihak akan segera dilakukan dengan fungsi koordinasi oleh Balai Besar TNGL

2. Kejelasan tentang tata waktu gerhan dari mulai kegiatan pembibitan sid penanaman agar segera disosialisasikan oleh Balai Besar TNGL bersama dengan penguatan dari para pihak

3. Kegiatan rehabilitasi dilaksanakan melalui dua pendekatan, yaitu pola Gerhan dan pola lain yang melibatkan masyarakat, misalnya melalui inisiatif LSM lokal I dan atau kerjasama dengan Pemda-BUMD.

4. Pelaksanaan rehabilitasi dengan pola lain tersebut secara teknis dilakukan dengan model tanaman campuran dalam rangka percepatan proses rehabilitasi, mengingat status emergency kawasan. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pencapaian areal rehabilitasi yang mencapai 4.000 Ha.

5. Semua bentuk partisipasi dan kerjasama diatur dengan perjanjian/MoU/kontrak dengan BBTNGL.

6. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan rehabilitasi akan dilakukan oleh Departemen Kehutanan.

7. Hal-hal teknis yang dijelaskan pada poin 3 sid poin 6 harus mendapatkan landasan berupa kejelasan payung hukum atau aturan-aturan formal.

Ketua Pokja Penyelesaian Perambahan Naswandi Sembiring

Ketua Pokja Penyelesaian Pengungsi OK. Abdul Hamid

Ketua Pokja Rehabilitasi Lahan Syamsul,S.Ag.

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

9

Pada tanggal 23 November 2007, Pokja Rehabilitasi internal BBTNGL bersama dengan SOS-OIC memfasilitasi pertemuan dengan kelompok tani HKTI dan beberapa kelompok lain di Desa Halaban, Kecamatan Besitang. Pertemuan yang dihadiri oleh 26 orang tersebut bertujuan untuk sosialisasi rencana pembentukan kelompok masyarakat yang peduli pelestarian leuser dan hal-hal lain menyangkut rehabilitasi kawasan. Hasil dari pertemuan ini adalah :

1. Masyarakat Desa Halaban melalui KSM yang terbentuk nantinya, ingin dilibatkan secara penuh dalam kegiatan rehabilitasi kawasan dari mulai pembibitan sampai dengan penanaman

2. Masyarakat Pecinta Leuser di Halaban mengajukan usul konkrit agar mereka diberikan akses untuk turut serta mengamankan kawasan sambil memanfaatkan areal rehabilitasi mereka. Untuk itu jenis-j enis tanaman rehabilitasi hendaknya berupa jenis yang dapat dimanfaatkan, misalnya pete, rambe, cempedak dan durian, dimanajenis-jenis tersebutjuga tumbuhan ash TNGL yang banyak dijumpai di wilayah Sei Betung.

3. Masyarakat juga ingin terlibat dalam pengukuran kerusakan kawasan dan kegiatan patroli bersama PolhutTNGL.

Belum lama ini, tim Pokja Rehabilitasi interual BBTNGL juga memfasilitasi pertemuanl musyawarah KSM lokal (Oppel & Gepal), kedatukan, serta masyarakat Desa Sekoci dan PIR ADB. Pertemuan yang dihadiri oleh 30 orang tersebut membahas tentang pola rehabilitasi kawasan TNGL dan keterlibatan mereka. Kesimpulan dari musyawarah tersebut adalah :

1. Masyarakat, melalui lembaga lokal, menginginkan pola pelibatan secara penuh, dari mulai pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan penjagaan tanaman.

2. Masyarakat memiliki kemauan untuk membuat pembibitan desa sebagai stok bibit rehabilitasi dengan jenis-jenis tanaman ash TNGL, melalui mekanisme pemesanan dan pembelian langsung.

3. Masyarakat menginginkan agar dapat diberi hak kelola dengan luasan areal dan batas blok yang jelas, sehingga jelas pula kewenangan dan tanggung jawab dalam perawatan dan pengamanan areal tanam.

4. Untnk itu, masyarakat harus melakukan penguatan lembaga lokal yang berupa kesepakatan beberapa desa sekitar kawasan, agar bisa secara bersama-sama mengajukan usulan rehabilitasi dengan pembagian areal yangjelas.

5. Kegiatan rehabilitasi merupakan salah satu "pintu masuk" untuk merealisasikan program patroli bersama dengan masyarakat, dimulai dengan tanggung jawab pemeliharaan dan pengamanan areal tanam.

Rencana Lanjutan dan U sui an Kerja

Hasil kerja Pokja Rehabilitasi interual BBTNGL perlu ditindaklanjuti agar lebih efektif dalam mengawal agenda

rehabilitasi kawasan TNGL, beberapa hal berikut perlu dipertimbangkan :

a. Segera dibentuk tim pokja para pihak yang fokus pada upaya rehabilitasi kawasan, agar kegiatan-kegiatan rehabilitasi tidak terkesan hanya menunggu proyek pemerintah seperti halnya Gerhan. Tim ini akan dipimpin oleh koordinator tim, yaitu lembaga tertentu (instansi pemerintahlLSM/akademisi) yang ditunjuk secara bersama.

b. Melakukan pertemuan dengan stakeholder lokal pada lokasi target rehabilitasi, yaitu Camat Besitang, Camat Sei Lepan, Kepala Desa Sekoci, Bukit Mas, PIRADB, Tani Jaya, Mekar Makmur, Harapan Jaya, Kedatukan Sei Lepan, Kedatukan Besitang, dan KSM lokal, sebagai sosialisasi dan upaya penguatan dalam rangka pelaksanaan ke giatan rehabilitasi.

c. Membuat kesepakatan tentang pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan dalam kegiatan rehabilitasi dan pola-pola! teknis keterlibatkan yang diharapkan serta mendorong penguatan lembaga lokal.

Penutup

Dalam konsep pengelolaan kawasan konservasi yang mutakhir, masyarakat merupakan benteng hidup untuk menjaga kelestarian hutan. Merekalah yang secara kontinyu dan konsisten berinteraksi dengan hutan dan merasakan manfaat langsung dari keberadaan hutan. Peningkatan kesadaran masyarakat dalam pelestarian hutan perlu didorong ke arah yang lebih produktif.

Praktek rehabilitasi kawasan di TNGL sebisa mungkin mengikutsertakan masyarakat lokal, melalui kesepakatan kerjasama dengan kelembagaan lokal, bnkan orang per orang. Dengan model seperti itu, diharapkan terbentnk komitmen dan tanggungjawab kolektif dalam menjaga areal rehabilitasi dan mendukung proses "suksesi alami yang dipercepat" tersebut.

Bahan Bacaan

Anonim. 2007. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 2007 Tentang Gerakan Nasional Rahabilitasi Hutan dan Lahan. Sekretariat N egara. Jakarta.

Buletin Jejak Leuser, Vo12, No 5. 2006.

Kuswata, K & Ismayadi, S. 2007. Draft. Pendekatan untuk Rehabilitasi Lahan Hutan Rusak dan Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara. UNESCO Office. Jakarta

Mitchell, B. Setiawan, B. Rahmi, D.H. 2003. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

10

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

Rafflesia,

Princess In The Jungle

Ridha Mahyuni'

Jika singa dikenal sebagai raja hutan sejak dahulu kala karena bentuk tubuhnya yang menyeramkan, karena kebuasannya, karen a suara yang sangat khas yang bisa membuat orang lari ketakutan, maka si merah yang sangat menawan ini pantas disebut sebagai putri hutan, walau dia tidak semerbak bagai melati wanginya.

C antik dan eksotis, begitu banyak tanggapan bagi banyak orang yang telah melihatnya. Itulah gambaran sekilas jika melihat Rafflesia saat tumbuh mekar dengan indahnya. Nama Rafflesia sudah cukup dikenal oleh banyak orang

sebagai bunga bangkai, tetapi tidak banyak orang yang telah melihat bunga terbesar di dunia ini. Rafflesia adalah tumbuhan langka yang telah ditetapkan sebagai puspa langka Indonesia, tepatnya pada spesies Rafflesia arnoldii R.Brown. Rafflesia dikenal sebagai tumbuhan parasit yang bergantung sepenuhnya pada inangnya. Tumbuhan ini mempunyai banyak keunikan dan hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand. Flora ini tidak mempunyai akar, batang dan daun. Pada saat mekar, diameter tumbuhan ini dapat mencapai lebih dari 1 meter dan berat bisa lebih dari 7 kilogram (Davis et. al., 2007).

semua deskripsi tentang Rafflesia dari Pulau J awa telah dirampas oleh tentara Inggris pada saat Deschamps akan kembali ke Perancis (pada mas a itu Inggris dan Perancis sedang berperang). Dan publikasinya tidak

pemah terbitkan.

Untuk Rafflesia yang berasal dari Bengkulu, pertama kali dideskripsikan oleh William Jack yang kemudian mengirimkan spesimen dan deskripsinya kepada Sir Stamford Raffles di Inggris. Sementara menunggu pengiriman spesimen Rafflesia ke Inggris, William Jack membuat deskripsi Rafflesia tersebut yang selanjutnya diberi nama Rafflesia titan dan dipublikasikan dalam Appendix of Description of Malayan Plants pada tahun 1821. Cetakan ulang tulisannya itu dikirimkan kepada Robert Brown (salah seorang ilmuwan Inggris) tertanggal 23 Mei 1821 tetapi tulisan

tersebut bam sampai di tangan Robert Brown pada bulan Juli 1821.

Nama Rafflesia titan Jack adalah nama yang lebih dulu muncul daripadaRajJlesia arnoldii, dan walaupun

Rafflesia pertama kali ditemukan di Pulau Jawa pada tahun 1797 oleh Louis Auguste Deschamps (Nais, 2001), seorang naturalis Perancis yang pada waktu itu sedang melakukan eksplorasi di pulau terse but. Tetapi,

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

11

RajJlesia cantleyi.Jl'G

Rafflesia yang berikutnya. Dalam penyebarannya, biji Rafflesia juga dapat dibantu oleh tupai tanah (Tupaia tana) dan cencorot (Callosciurus notatus).

Sebagaimana tumbuhan parasit lainnya, Rafflesia tidak dapat memproses makanannya sendiri melalui fotosintesis. Tumbuhan ini menyerap segala keperluannya (air, mineral dan makanan) dari inangnya. Rafflesia hidup sebagai parasit hanya pada tumbuhan spesies Tetrasitgma, yaitu sejenis anggur-angguran liar dalam famili Vitaceae (N ais, 2001). Rafflesia juga memerlukan hewan lain untuk membantu penyeburkannya, misalnya lalat. Agen penyerbukan ini akan memasuki ruang bagian dalam Rafflesia yang mengeluarkan bau busuk. 'Kunjungan' lalat ini akan menghasilkan suatu pendebungaan, dimana alat akan membawa lendir dari alat kelamin jantan (anter) ke bagian ovari bunga betina. Namun, dalam proses penyerbukan ini ditemukan kesulitan yang disebabkan oleh karena Rafflesia adalah tumbuhan diosius, di mana

organ jantan dan organ betina terdapat pada dua induvidu yang berlainan dan kemungkinan amat kecil untuk menemui dua kuntum Rafflesia, dimana satu jantan dan satu betina saling berdekatan (Nais, 2004). Rafflesia juga disebut sebagai parasit ganda karena tidak membuat makanan sendiri melainkan mengambilnya dari inang, dan tumbuhan tersebut tidak menyediakan untuk agen penyerbukan melainkan agen penyerbukan secara langsung mendatangi bunga yang lagi mekar, karena bau khasnya. (Beamanet.al., 1998).

nama Rafflesia titan diterima sebagai sinonim, tetapi flora tersebut lebih dikenal dengan Rafflesia arnoldii (Susatya et.al., 2005). Rafflesia arnoldii didasari atas koleksi spesimen dari Arnold dan Raffles dari ekspedisi yang mereka lakukan pada tahun 1818 di Pulau Lebar, Perkampungan Sungai Mannam - bagian Bengkulu Selatan. Robert Brown yang telah mempublikasikan Rafflesia arnoldii untuk mengenang kedua penemunya itu pada tahun 1821.

DaurHidup

Apabila ditinjau dari daur hidupnya, Rafflesia menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk melengkapkan satu daur hidupnya (Nais, 2004). Daur hidup Rafflesia diawali dengan biji benih yang selanjutnya akan berkembang menjadi tunas dan biasanya tunas bunga Rafflesia terse but akan terlihat sebagai benjolan sebesar ibu jari yang keluar dari batang atau akar tumbuhan inangnya. Tunas-tunas bunga ini akan berkembang dan ketika matang akan menyerupai kol. Tunas rata-rata memerlukan waktu selama sekitar enam bulan untuk menjadi matang. Setelah tunas bunga Rafflesia matang, maka akan berkembang lagi menjadi bunga yang mekar dengan sempurua (Nais, 2001). Biasanya bunga Rafflesia akan mekar selama 4 sampai dengan 7 hari dan setelah itu akan menghitam dan membusuk. Setelah beberapa hari mekar tersebut, terjadi perkecambahan untuk pembentukan biji kembali. Proses ini akan berlangsung Rajjlesia arnoldii berterusan untuk pembentukan tunas bunga

12

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

RajJlesia di Indonesia

Salah satu keunikan Rafflesia adalah karena tumbuhan ini yang hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia, Rafflesia tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Indonesia mempunyai spesies Rafflesia terbanyak dibandingkan negaranegara kawasan Asia Tenggara lainnya, yaitu sebanyak 11 spesies yang kesemuanya adalah endemik. Adapun spesies-spesies yang dimiliki Indonesia adalah sebagai berikut: Rafflesia arnoldii R.Brown., Rafflesia arnoldii var.atjhensis (Koord) Meijer, Rafflesia microphylora Meijer, Rafflesia patma Blume, Rafflesia rouchesenii Teisjman.&Binn, Rafflesia hasseltii Suringar, Rafflesia borneensis Koorder, Rafflesia ciliata Koorders, Rafflesia witkampii Koorders, Rafflesia zollingeriana Koorders, Rafflesia gadutensis Meijer, Rafflesia bengkuluensis Susatya,Arianto&Mat-Salleh.

RajJlesia di Taman Nasional

Rafflesia merupakan icon dari beberapa taman nasional maupun kawasan eagar alam di Indonesia, beberapa diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Batang Gadis, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Rimbo Panti, Hutan Lindung Ulu Gadut, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Cagar Alam Luewung Sancang, Taman Nasional Meru Betiri. Rafflesia dijadikan daya tarik bagi taman-taman nasional tersebut khususnya untuk menarik wisatawan.

Untuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan kawasan yang telah dikenal dan diakui dunia interuasional memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna sangat tinggi, Rafflesia sangat beragam spesiesnya. Taman nasional ini mempunyai wilayah yang meliputi dua provinsi yaitu Nangroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Untuk kawasan di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser wilayahAceh, telah ditemukan Rafflesia arnoldii di daerah Sungai Jernih dan Lokop-Kabupaten Gayo Lues, Rafflesia arnoldii var. atjehensis dilaporkan telah ditemukan di daerah Lokop (Meijer, 1997) dan Rafflesia microphylora dilaporkan dapat ditemukan di kawasan Ketambe. Sedangkan Rafflesia rouchesenii dapat ditemui di daerah Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Jadi, dengan banyaknya spesies Rafflesia yang telah ditemukan di kawasan taman nasional tersebut hendaknya populasi-populasi Rafflesia ini benar-benar

harus kita jaga dengan sebaik-baiknya, baik itu oleh Departemen Kehutanan (dalam hal ini manajemen Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser), pengunjung, maupun masyarakat umum. Sampai dengan saat ini para peneliti belum ada yang berhasil dengan sempurna membudidayakan Rafflesia, baik itu dengan cara ex situ mau pun in situ. Maka dari itu, satu populasi Rafflesia menjadi sesuatu sangat berharga bagi kelangsungan tumbuhan langka ini. Banyak sudah spesies Rafflesia yang terancam punah karena ulah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab, karena illegal logging, atau karena kejadian alami seperti tumbangnya pohon-pohon yang ada di sekitar populasi Rafflesia, dan 'hilang'-nya tunas-tunas RajJlesia karena dimakan hewan.

Konservasi Rafflesia hendaklah dilakukan dengan serius dan dengan sebenar-benarnya karena tumbuhan langka ini juga merupakan aset bangsa yang akan menj adi kebanggaan rakyat Indonesia. Tanggungjawab menjaganya adalah tanggung jawab kita. Dengan langkah sosialisasi kepada masyarakat setempat, diharapkan populasi Rafflesia dapat terlindungi dan dapat bertahan selamanya.***

') Staf Peneliti LIPI, Puslit Biologi, Bidang Botani di Cibinong Science Center

Rujukan

Beaman, R.S,. Decker, P.J & Beaman lH. 1998. Pollination of Rafflesia (Rafflesiaceae). American JoumalofBotany75(8): 1148-1162.

Davis, CC., Latvis, M., Nikcrent, D.L, Wurdack, KJ., Baum, D.A 2007. Floral Gigantism in Rafflesiaceae. Science 315, Issue 5820,pp.

Meijer, W. 1997. Rafflesiaceae. Flora Malesiana. Ser.l (13):1-42.

Nais, l 200l. Rafflesia of The World. Kota Kinabalu:

Sabah Park in Assosiation with Natural History Publicating (Borneo) Sdn, Bhd.

Nais, J. 2004. Rafflesia Bunga Terbesar di Dunia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Susatya, A, Arianto, W & Mat-Salleh, K. 2005. Rafflesia bengkuluensis, (RajJlesiaceae) A new spesies from South Sumatera, Indonesia. Folia Malaysiana 6 (3&4):139-152

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

13

Hipposideros cervinus, si Kudanil Terbang

Esti Asrnalia'

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang memiliki kemampuan terbang. Mereka sering dihubungkan dengan dunia kegelapan dan makhluk penghisap darah yang menyeramkan. Mitos ini menjadi salah satu alasan mengapa kelelawar cenderung dianggap sebagai hewan pengganggu, sehingga keberadaannya acapkali terpinggirkan. Padahal di balik anggapannya sebagai hama, kelelawar teruyata memiliki fungsi ekologis yang tidak kecil. Kelelawar pemakan buah (fruit-eating bats) mendukung pemencaran biji, kelelawar penyerbuk (pollinator bats) 'berjasa' dalam proses penyerbukan pada beberapa jenis pohon komersial, seperti durian dan kelelawar pemangsa serangga (insectivorous bats) berperan dalam mengendalikan populasi hama.

Alat bantu yang memungkinkan kelelawar untuk terbang adalah sepasang sayapnya. Sayap ini sesungguhnya merupakan lembaran otot dan serat elastis berlapis kulit yang digerakkan oleh otot lengan. Otot-otot penggerak sayap ini sarna dengan yang digunakan manusia untuk mengepakkan kedua lengannya, namun secara proporsional beberapa kali lebih kuat. Sementara rangka sayapnya merupakan perkembangan dari tang an dan jarijari tangan. Tulang-tulang lengan dan jari-jari kedua hingga kelima menyangga sayap. Jari pertama berbentuk seperti kuku dan dipakai untuk merangkak, membersihkan diri dan pada spesies tertentu untuk berkelahi dan memegang makanan (Hutapea, 1992).

Ada banyak fakta mengagumkan mengenai kelelawar. Selain kemampuan terbangnya, kemampuan fisiologi tubuh kelelawar juga luar biasa. Pada musim dingin di kawasan subtropik, kelelawar tidur dan mampu menurunkan laju metabolisme tubuhnya sehingga bisa bertahan hidup tanpa makan; keadaan ini disebut mas a dorman. Pada CO2 sebesar 2l.000 ppm (50 kali kadar CO2 di udara normal) dan kemampuan amonia sebesar 5.000 ppm, kelelawar masih

mampu bertahan hidup. Sementara kemampuan manusia untuk bertahan hidup pada kadar CO2 yang sarna hanya % nya dan hanya mampu bertahan hidup selama satu jam dalam kadar amonia sebesar 100 ppm saja (Constantine 1970 dalam Suyanto, 2001).

Kelelawar, seperti kebanyakan mamalia berkembang biak dengan melahirkan. Pada kelelawar pemangsa serangga, betina melahirkan dengan kaki keluar terlebih dahulu, sementara mamalia lain kepalanya keluar lebih dulu (Suyanto, 2001). Mereka umumnya adalah monotocous (berkembang biak sekali setahun) dengan masa kehamilan 3 -6 bulan dan melahirkan sepanjang periode 2 3 minggu pada awal musim panas (sekitar bulan Juni) ketika ketersediaan pakan melimpah. Biasanya

hanya 1 anakan yang dilahirkan. Sang anak tumbuh dengan cepat dan mampu mencapai ukuran hampir 90% besar induknya ketika mulai disapih (usia 4 - 6 minggu). Mereka masih terus menyusu pada induknya sampai hampir dua bulan berikutnya. Jika proporsi tersebut dibandingkan dengan manusia dewasa dengan berat 60 kilogram, maka bayi yang disusuinya seberat 54 kilogram.

14

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

Secara umum, kelelawar (ordo Chiroptera) dibagi menjadi dua sub-ordo, yaitu Megachiroptera dan Microchiroptera. Termasuk dalam sub-ordo Megachiroptera adalah kelelawar pemakan buah, kelelawar penyerbuk dan rubah terbang (flying fox), sementara kelelawar pemangsa serangga termasuk dalam sub-ordo Microchiroptera. Selain diet, perbedaan kedua sub-ordo tersebut terletak pada ukuran tubuhnya. Keluarga sub-ordo Megachiroptera relatif lebih besar jika dibandingkan dengan sub-ordo Microchiroptera.

Satu dari sekian banyak kelelawar dari sub-ordo Microchiroptera yang hidup di Indonesia adalah Hipposideros cervinus (Fawn Nose-leaf Bats atau Gould's Nose-leaf Bats) yang ditemukan pertama kali oleh Gould tahun 1863. Spesies anggota famili Hipposideridae dengan nama lokal Barong Rusa ini tersebar di Australia, Kepulauan Solomon, Afrika, Vanuatu, Filipina, Pulau-pulau di Pasifik, Brunei, Papua New Guinea dan Malaysia. Di Indonesia ditemukan di Sumetera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Pulau Kangean, Pulau Kai, Pulau Bacan, Kepulauan Aru dan Maluku (Suyanto, 2001).

Wajah Hipposideros cervinus sebagaimana layaknya anggota keluarga Hipposideridae lainnya menyerupai kudanil (Hippopotamus). Dari kenampakan morfologi wajah inilah penamaan famili Hipposideridae muncul. Pada jenis Hipposideros cervinus bagian hidungnya terdiri dari dua lipatan kulit lateral yang berwarua merah jambu keabu-abuan dan daun hidung median lebih sempit daripada daun hidung posterior (Payne, 2000). Wama bulu bagian atas pada Hipposideros cervi nus dewasa berwarna coklat, pada juvenil berwarna agak kehitaman. Bulu tubuh bagian bawah berwarna lebih pucat sementara telinga berbentuk

segitiga lebar dan besar menyerupai telinga kucing. (Anonim, 1997).

Mamalia primitif ini merupakan fauna crepuscular. Mereka aktif setelah matahari terbenam dan menjelang pagi hari. Biasanya mereka keluar dari gua tempat mereka bergantung (roosting) untuk mencari pakan

(foraging) di bawah kanopi hutan. Yang termasuk dalam diet mereka antara lain kumbang, rayap, semut dan kecoa. Saat mencari pakan, spesies ini sering terbang rendah dekat dengan tanah atau vegetasi yangrapat. (Bonaccorso, 1998).

Lain halnya dengan kelelawar pemakan buah yang indera penglihatannya berfungsi baik, kelelawar pemangsa serangga (termasuk didalamnya Hipposideros cervinus) tidak menggunakan mata secara maksimal sebagai indera penglihatan. Mereka menggunakan telinga, mulut dan lubang hidung sekaligus sebagai perangkat orientasi yang disebut dengan ekolokasi. Mulut atau lubang hidung kelelawar akan mengeluarkan suara ultrasonik dengan rerata kekerapan 50 kHz. Jika menabrak suatu benda,

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 --------------------------------------- 15

gelombang ini akan memantul sebagai gema, dengan cara inilah Hipposideros cervinus dan kelelawar pemangsa serangga lainnya dapat mengukur j arak suatu benda. Hal ini yang membuat mereka tidak saling bertabrakan ketika terbang bersama koloninya atau saat mencari pakan pada vegetasi yang rapat.

Status konservasi si 'kudanil terbang' ini termasuk low risk (resiko rendah). Meski demikian mereka tetap menghadapi resiko kepunahan lokal akibat aktivitas manusia yang merangsek ke dalam habitat asli mereka. Kebanyakan aktivitas manusia terkait dengan kelelawar adalah proses pengambilan kotoran kelelawar (guano) yang dimanfaatkan sebagai pupuk. Untuk mendapatkan guano orang harus masuk ke gua tempat kelelawar bersarang. Proses pengambilan guano sendiri secara otomatis mengganggu aktivitas kelelawar di habitat alami mereka.

Habitat Hipposideros cervinus adalah hutan hujan primer dan hutan hujan sekunder, tegakan eukaliptus, taman, perkebunan dan daerah pinggiran kota dengan ketinggian rendah sampai pegunungan. Sementara temp at roosting mereka adalah didalam gua dengan kedalaman dangkal sampai sedang, areal penambangan, terowongan, rumahrumah tua yang kosong dan lubang pohon (Bonaccorso, 1998).

Dalam buku yang bertajuk Biologi Konservasi, Primack et.al (1998) menyebutkan bahwa spesies yang membentuk kelompok secara tetap atau sementara sangat rentan dengan kepunahan lokal, termasuk contoh di dalamnya adalah kelelawar. Mereka mencari makan sendiri pada malam hari dan akan menetap pada malam hari secara bersama-sama pada gua yang sarna. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya pengurangan populasi atau bahkan kepunahan lokal jika temp at mereka bersarang terganggu akibat maraknya aktivitas manusia.

Hipposideros cervinus sebagaimana mamalia lainnya tergolong learning animals terjemahan umumnya adalah hewan yang mampu belajar. Jika habitatnya terganggu, seringkali kelelawar enggan kembali ke sarang mereka selama periode tertentu. Ini yang lantas membuat gua-gua

kelelawar seringkali berkurang populasinya selama beberapa waktu setelah proses pengambilan guano. Proses mencari tempat roosting yang baru akan menimbulkan stress tersendiri pada kelelawar. Jika keadaan ini berlanjut maka kelelawar yang trauma tidak akan kembali lagi ke gua dimana mereka bersarang sebelumnya. lni kemudian yang akan memicu terj adinya kepunahan lokal.

Kepunahan lokal Hipposideros cervinus disuatu tempat berarti berkurangnya predator serangga di kawasan tersebut. Jika keberadaan hama menjadi faktor pengganggu bagi tanaman pertanian atau tanaman beruilai komersial lainnya, maka keberadaan kelelawar pemangsa serangga menjadi elemen yang penting dalam m enj aga keseimbangan ekosistem dan rantai makanan.

*) Project Secretary Interuational Tropical Timber Organization (ITTO) PD 396/06 Rev.2 (F), Jakarta

Referensi

Anonim. 1997. Family Hipposideridae. Operation Wallacea. Buton

Bonaccorso, F. J. 1998. Bats of Papua New Guinea. Conservation Interuational. Washington D. C

Hutapea, G., 1992. Seri Eyewitness: Mamalia. Incorporated with The Natural History Museum. Bentara Antar Asia. Jakarta

Payne, J., 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam. The Sabah Society and World Conservation Society Indonesia Program

Primack, J.B., Jatna Supriatna 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Suyanto, A, 200l. Seri Panduan Lapangan Kelelawar di Indonesia. Puslitbang Biologi LIPI. Balai Penelitian Botani Herbarium Bogoriense. Bogor

~~~~ ~~~~~~~~~~ ~~~~ DM.~~~twu.~14tW.~~a_~~~

~~~~ ~~~~~~I.w;~

16

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

Lumut-Iumut di Sekitar Kita

Oleh: lskandarudin'

Lumut merupakan tumbuhan tingkat rendah yang termasuk dalam divisi Bryophyta. Meliputi kurang lebih l.500 jenis dan l.000 marga, lumut merupakan kelompok tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan daratan. Cara penyebaran kelompok tumbuhan ini adalah dengan spora. Lumut diperkirakan telah mendiami bumi sejak kurang lebih 350 juta tahun yang lalu. Bryophyta dapat ditemukan di semua habitat kecuali di laut, mulai dari padang pasir sampai ke hutan hujan basah, dan dari daerah tropis sampai ke daerah alpin.

Pada umumnya tumbuhan lumut menyukai tempat-tempat yang basah dan lembab di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tumbuhan ini sering disebut sebagai tumbuhan pioneer atau tumbuhan perintis, karena lumut dapat tumbuh dengan berbagai kondisi pertumbuhan, sekalipun tumbuhan tingkat tinggi tidak bisa tumbuh di suatu temp at. Lumut merupakan tumbuhan pertama yang tumbuh ketika awal suksesi pada lahan yang rusak atau daerah dengan hara yang miskin. Setelah areal ditumbuhi lumut, areal tersebut akan menjadi media yang cocok untuk perkecambahan dan pertumbuhan tumbuhan lainnya.

Di Indonesia, penyebaran populasi dan kekayaan spesies lumut tergolong sangat tinggi. Namun sayang, informasi dan pengetahuan tentang Bryophyta tersebut masih belum dapat digali maksimal dikarenakan minimnya ketertarikan masyarakat, terutama kalangan akademisi akan tumbuhan tingkat rendah ini, dibandingkan negara-negara maju yang telah melakukan riset secara terpadu dan lengkap. Bahkan hasil penelitian dan informasi mereka saat ini telah banyak dipublikasikan.

Apakah Beda Lumut, Alga dan Tumbuhan Berbiji?

Dalam skala evolusi, lumut berada di antara ganggang hijau dan tumbuhan berpembuluh (pakis dan tumbuhan berbiji). Persamaan antara ketiga kelompok ini adalah ketiganya mempunyai pigmen fotosintesis berupa klorofil A dan B, dan pati sebagai cadangan makanan utama. Perbedaan mendasar antara ganggang dengan lumut dan tumbuhan tinggi adalah kedua kelompok tumbuhan terakhir telah

beradaptasi terhadap lingkungan darat yang kering dengan mempunyai organ reproduksi (gametangium dan sporangium) selalu terdiri dari banyak sel (multiseluler) dan dilindungi oleh lapisan sel-sel mandul, zigotnya berkembang menjadi embrio dan tetap tinggal di dalam gametangium betina. Oleh karena itu lumut dan

Tumbuhan ini memiliki keanekaragaman spesies dan keindahan yang tinggi, serta memiliki variasi habitat yang luas. Lumut dapat tumbuh menutupi batu-batuan, batang pohon, dinding, batu bata, juga bisa berupa hamparan seperti karpet hij au.

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

17

Lumut dari kelas Bryopsida (lumut daun) menempel pada batang pohon yang masih hidup

tumbuhan vascular (tumbuhan tinggi) pada umumnya merupakan tumbuhan darat, tidak seperti ganggang yang kebanyakan aquatik. Dan lumut dapat dibedakan dari tumbuhan tinggi terutama karena lumut tidak mempunyai sistem pengangkut air dan makanan. Lumut termasuk kelompok tumbuhan dengan ketidakadaan jaringan vask':llar. Meskipun beberapa spesies memiliki batang, tetapi tumbuhan ini tidak memiliki susunan jaringan pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi.

Beberapa Bryophyta ada yang memiliki daun tetapi ada juga yang tidak. Jenis yang tidak memiliki daun hanya berupa hamparan tubuh yang disebut thallus. Struktur thallus seperti ini tidak dijumpai pada tumbuhan tingkat tinggi. Seperti kelompok tumbuhan lainnya, Bryophyta memiliki klorofil, sehingga umumnya memiliki wama hijau. Tetapi, daunnya kadang tidak memiliki

tulang daun. Tulang daun biasanya ada pada kelompok lumut daun (musci), kadang terdapat satu sampai dua tulang daun. Struktur stomata pada tumbuhan tinggi umumnya tidak dijumpai, tetapi Bryophyta memiliki pori yang fungsinya hampir sarna seperti stomata. Perbedaannya, pori selalu berada dalam keadaan terbuka, dan tidak bisa menutup atau membuka seperti pada stomata.

Bryophyta tidak memiliki akar seperti tumbuhan tingkat tinggi, tetapi memiliki rhizoid. Rhizoid hanya berfungsi sebagai alat untuk melekatkan diri pada substrat, tetapi tidak berfungsi dalam menyerap nutrisi. Bryophyta menyerap nutrisi dengan menggunakan seluruh bagian tubuhnya kecuali rhizoid. Daun, batang atau thallusnya memiliki pori yang bisa mengalirkan air, gas dan nutrisi

ke sel-sel untuk lang sung dipergunakan. Pada beberapa jenis terdapat modifikasi struktur daun yang berfungsi untuk memperluas area penyerapan air/ nutrisi.

Ciri khas yang dimiliki Bryophyta adalah sistem reproduksinya. Tumbuhan ini memiliki generasi gametofit yang do.minan. Sedangkan pada tumbuhan tingkat tinggi, generasi gametofit-nya tereduksi. Tumbuhan ini memiliki organ seks (antheridia dan arkegonia) dan garnet (sperma dan sel telur). Sporofit yang menghasilkan spora tidak dapat hidup sendiri, sehingga tetap melekat pada gametofit, Suplai air dan nutrisi bagi sporofit sangat bergantung pada gametofit,

Siklus Hidup

Lumut dapat memperbanyak diri dengan menggunakan spora. Spora tersebut akan berkecambah menjadi protonema dan tumbuh menjadi tumbuhan lumut baru ketika menemukan substrat yang cocok. Tubuh lumut yang baru disebutgametofit, biasanya berwama hijau, memiliki daun atau thallus. Struktur gametofit memiliki jenis kelamin, ada yang jantan (antheridium) dan ada yang betina (arkegonium). Masing-masing g ametofit menghasilkan garnet yang berupa sperma dan sel telur. Jika keduanya bertemu (sperma membuahi sel telur), maka pada tubuh arkegonium akan berkembang dan struktur yang disebut sporofit. Sporofit inilah yang merupakan organ penghasil spora.

Berbeda dengan paku-pakuan, sporofit pada lumut tumbuh melekat dan memperoleh makanan pada gametofit. Ukuran sporofit biasanya lebih kecil dari pada gametofit. Sporofit melekat pada gametofit di bagian reseptakel/ kaki, dan biasanya didukung oleh seta (tangkai). Di ujung seta, terdapat kapsul yang di dalamnya merupakan tempat

Kapsul lumut yang di dalamnya terdapat spora spesies dari Rhizogonium armatum

18

Vol. 4 No.1 0 Tahun 2008

Leucobryumjavense

penghasil spora. Jika spora matang, kadar air dalam kapsul berkurang, penutup kapsul (operkulum) akan lepas atau kapsul akan pecah, sehin~ga spor~ aka~ keluar dengan dibantu oleh gerakan higroskopis dan beberapa organ yang terdapat di dalam kapsul.

Angin sangat berjasa dalam penyebaran spora lumut. Spora akan "mengembara" terti_up. angin hingg~ menempel di suatu tempat. AIr Juga memben kontribusi dalam penyebaran spora di permukaan bumi. Bila hujan datang maka spora akan mengalir terbawa air dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Setelah spora menemukan substrat yang cocok sebagai media tumbuhnya, maka keluarlah si lumut muda dan siklus kehidupanpun berlanjut.

Klasifikasi

Divisi Bryophyta terdiri dari tigakelas

l. Kelas Bryopsida/Musci (Lumutdaun).

2. Kelas Anthocerotopsidal Anthocerotae (Lumut tanduk)

3. Kelas Hepaticopsidal Hepaticae (Lumut hati)

Bryopsida dikenal sebagai lumut daun atau lumut sejati, merupakan kelas yang terbesar dalam Bryophyta (± 9.000 spesies). Hampir semua anggotanya mempunyai gametofit yang telah terdiferensiasi sehingga dapat dibedakan bentukbentuk seperti batang, cabang dan daun. Sporofit-nya berumur panjang, berwarua kecoklatan terd.ir~ ata~ kaki yang berfungsi untuk menyerap nutnsi d~r~ gametofit, dan kapsul yang disangga oleh seta. em khas yang membedakan lumut daun dengan kelas lumut lainnya adalah susunan atau kedudukan daun yang umumnya tersebar mengelilingi tangk~i. Lu~ut daun umumnya dibagi kedalam dua bagian yaitu lumut daun yang tumbuh tegak (acrocarpus mosses) dan lumut daun yang menjalar (pleurocarpus mosses).

Anthocerotopsida atau lumut tanduk tidak mempunyai daun tetapi ber-thallus. Merupakan kelompok lumut dengan jumlah spesies yang terkecil dibanding kelompok lumut lainnya. Menurut Pr?f. .Step~an Robbert Gradstein, seorang ahli lumut dan Universitas Gottingen Jerman, lumut tanduk meliputi ± 100 spesies. Lumut tanduk gampang dibedakan dengan jenis lumut lainnya karena mempunyai antena atau "tanduk" yang merupakan kapsul tempat penyimpanan spora. Apabila spora akan keluar maka kapsul terbelah dua dan spora yang berwarna kekuningan keluar secara sangat perlahan.

Hepaticopsida dikenal sebagai lumut hati. yang kuran~ lebih 5.000 spesies. Gametofit lumut hati mempunyai struktur morfologi yang bervariasi. Ada dua tipe lumut hati, yaitu lumut hati ber-thallus (thallose liverwort) dan lumut hati berdaun (leafy liverwort). Berbeda dengan lumut daun, helaian daun lumut hati tidak mempunyai tulang daun (costa). Lumut hati melekat pada substrat dengan rizhoid unis.ellu~er .. ~ada kebanyakan lumut hati ber-thallus, selam rhizoid Juga dijumpai sisik -sisik.

Manfaat dan Potensi

Secara ekologi, Bryopyta memiliki peranan penting, sebagi tumbuhan perintis dalam menciptakan habitat primer dan sekunder setelah adanya perusaka~ lingkungan. Bryophyta merupakan rumah bagi invertebrata, dan sebagai material pembuatan sarang burung. Divisi ini memiliki peran yang penting dalam menjaga porositas tanah dan mengatur tingkat kelembaban ekosistem, karena kemampuannya dalam menahan dan menyerap air, mencegah erosi lahan, sumber pakan bagi serangga dan beberapa spesies hewan lainnya. Sampai dengan saat ini, masih belum ditemukan spesies lumut yang mengandung racun.

Bryophyta juga dapat digunakan sebagai indikator pencemaran udara. Spesies-spesies tertentu sangat peka terhadap perubahan komposisi gas di udara. Jika udara sudah penuh dengan polutan, lumut tidak bisa tumbuh dengan baik, bahkan bisa mati.

Para ahli sudah mulai banyak meneliti komposisi zat yang dikandung lumut, beber~pa dia_utaranya mengandung antibiotik, juga dipakai sebagai matenal tambahan dalam industri kosmetik dan zat lain yang memiliki khasiat obat.

Keunikan dan keindahan lumut juga memberikan nilai lebih, terutama untuk orang yang menyenangi seni. Lumut memiliki potensi sebagai tanaman hias, karena bentuk dan keragaman jenisnya. Di negara seperti Singapura, sudah ada lumut yang dijadikan tanaman

bersambung ke hal. 22.

Lumut-lumut ....

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

19

Konservasi di Era Kolaborasi

Bambang s. Antoko''

wasan hutan sampai saat ini masih dipandang rang hanya sebagai kumpulan kayu semata yang apat dieksploitasi seluruhnya tanpa memperhatikan unsur kelestariannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar daerah di Indonesia dalam hal pembangunan ekonomi masih sangat bergantung pada hasil dari eksploitasi sumberdaya alam (SDA). Secara lang sung dan tidak langsung hal ini telah menyebabkan hilangnya kawasan hutan beserta keanekaragaman hayatinya, termasuk dalam hal kerusakan serius dan hilangnya habitat bagi flora fauna endemik daerah tersebut. Sebagian besar orang sepertinya belum terbiasa membayangkan bahwa kawasan hutan

bisa mempunyai peran yang s ang at

powerful! terkait fungsinya dalam melindungi kehidupan lain termasuk manusia, dengan caranya sendiri, tanpa kita sadari.

bahkan sudah dilaksanakan secara turun temurun pada beberapa kelompok masyarakat lokal di Indonesia. Seperti kegiatan repong damar di Lampung, budidaya rotan di Kalimantan dan lain sebagainya. Artinya masyarakat (terutama masyarakat sekitar hutan) secara keseluruhan mulai menyadari bahwa secara langsung atau tidak langsung, hutan dan keunikannya mempunyai peran yang sangat besar baik sebagai pengatur dan pelindung tata air maupun sebagai wadah besar dari sekumpulan tanaman yang mereka budidayakan.

Di sisi lain, pada era otonomi daerah sekarang ini makin banyak pemerintah daerah (Pemda) yang menyadari peran

besar keberadaan hutan termasuk bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD)-nya.

Sebagai contoh, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hulu telah menginvestasikan jutaan rupiah bekerj asama dengan Balai Taman N asional Bukit Tigapuluh (TNBT) untuk membangun kawasan wisata air terjun khas batu granit, yang berada di dalam zona pemanfaatan TNBT. Contoh lain adalah proses pembentukan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) di Mandailing Natal, Sumatera Utara yang diawali dari kesepakatan dan kesadaran tinggi multi stakeholders yang ada di daerah tersebut terhadap peran konservasi untuk melindungi kepentingan-kepentingan masa depan yang lebih besar. Dan yang baru-baru ini

terj adi adalah dukungan dan kemauan keras dari Pemda Tapanuli Selatan (Tapsel) untuk mengusulkan empat taman nasional baru di wilayahnya yang merupakan alih fungsi dari kawasan hutan lindung, hutan produksi, hutan bekas tebangan maupun areal HPH habis konsesi. Para pemangku kepentingan di Tapsel beranggapan bahwa keberadaan taman nasional sebagai perwujudan kegiatan

Valuasi terhadap sumberdaya alam terutama hutan yang belum lengkap dan terinci diduga menjadi salah satu sebab dari begitu mudahnya kawasan ini dialihfungsikan menj adi areal peruntukan dan kepentingan lain seperti perkebunan, pertambangan dan energi, jalan raya dan lain-lain. Kegiatan konservasi pada beberapa kasus masih dianggap sebagai cost center belaka.

Tidak seperti kegiatan-kegiatan pada sektor lain, sebagaimana tersebut di atas, yang mampu mendatangkan keuntungan secara cepat (benefit center).

Beberapa kegiatan konservasi yang tidak semata hanya konservasi melulu sudah mulai berkembang di masyarakat

20

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

a sarna dan sarna-sarna bekerj a ... Sebuah 'kolaborasi' BBTNGL dengan masyarakat dalam pembibitan tanaman GERHAN di Sekoci, Kab. Langkat.

konservasi sumberdaya alam akan mampu melindungi aset-aset berharga mereka di bidang lain di mas a mendatang dibanding jika kawasan tersebut dialihfingsikan untuk kepentingan sesaat menjadi kawasan HPH, HPT ataupun areal pertambangan.

Beberapa kejadian bencana yang terjadi akibat over exploitation terhadap sumberdaya alam termasuk kawasan hutan telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Data Greenomics & CI (2005) menyebutkan bahwa total kerugian akibat banjir pada tahun 2003 di Provinsi Riau dan 7 kabupaten setara dengan 832,1 milyar rupiah atau 95 % dari total investasi. Padahal pada tahun 2002 telah diinvestasikan 876, 5 milyar rupiah dalam APBD untuk biaya pembangunan sektor publik. Sebagai upaya antisipasi terhadap kejadian banjir maka setiap tahun antara 2003-2005 telah dialokasikan biaya sebesar sepertiga APBD. Data CRED-EMDAT, 2005 menyebutkan bahwa selama kurun waktu 1975-2005 total kerugian yang diakibatkan oleh banjir di region Asia menempati urutan kedua setelah gempa bumi yaitu sebesar US$ 16l.095.953.000. Namun demikian kerugian secara ekonomi akibat banjir pada kawasan Asia sepanjang tahun terse but merupakan yang terbesar untuk seluruh dunia (region Afrika, Amerika, Eropa dan Oseania). Fakta tersebut membuktikan bahwa keuntungan yang didapat dari eksploitasi sumberdaya alam sangat tidak sebanding dengan total kerugian yang harus ditanggung akibat bencana. Nilai ekonomi parsial DAS Batang Gadis, dimana kawasan TNBG termasuk di dalamnya, jika dikelola secara lestari adalah minimal sekitar 44,4 milyar rupiah yang diperoleh dari nilai air untuk rumah tangga sebesar 7 milyar/tahun, perikanan senilai 10 milyar/tahun, irigasi pertanian sebesar 2,6 milyar/tahun

dan saving dana dari bencana banjir 24,8 milyar/tahun (Conservation International, 2006). Yang harus diingat adalah bahwa kejadian bencana yang telah dan saat ini terjadi, jika tanpa disikapi dengan positive effort dari kita semua, adalah seperti menunggu meledaknya born waktu yang tanpa kita sadari telah dinyalakan sumbunya. Tentunya dengan akibat dan kerugian yang lebih luar biasa dibanding pada saat ini.

Untuk itu Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Kehutanan sebagai pemegang otorita pengelolaan di kawasan konservasi saat ini telah mengeluarkan sebuah payung hukum dalam hal pengelolaan kolaborasi di Kawasan SuakaAlam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/MenhutIII2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Ini merupakan suatu niatan baik dalam merangkul semua pemangku kepentingan (stake holders) di KSA dan atau KPA untuk bersama-sama merancang dan mengembangkan pola kolaboratif yang hasil akhirnya adalah demi terciptanya pengelolaan yang lestari pada kawasan konservasi itu sendiri. Sebagai sebuah proses, model pengelolaan kolaborasi ini perlu didukung dan segera diwujudkan dalam praktek yang nyata. Tentunya membutuhkan kerjasama, kepedulian, komitmen dan sikap saling terbuka serta respek positif dari semua stake holders.

Kenyataan bahwa makin banyak Pemda yang peduli terhadap peran besar konservasi (hutan dan sumberdaya alam lainnya) akan menimbulkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat di daerah tersebut. Selanjutnya tentu akan mengubah gaya hidup dan pola

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

21

pikir masyarakat ke arah yang lebih baik terhadap kepentingan konservasi secara global di mas a kini maupun masa depan. Mungkin mereka berkaca dari pengalaman di daerah lain yang telah mengeksploitasi secara besarbesaran sumberdaya alamnya dengan hasil akhir berupa bencana yang marak terjadi dan ancaman terhadap terj adinya bencana yang secara kontinyu akan terus terj adi. Dalam pandangan logis mungkin mereka beranggapan bahwa hasil sesaat dari eksploitasi yang membabibuta terhadap SDA tidak akan peruah mampu membayar kerugian-kerugian yang telah dan akan ditimbulkan di kemudian hari. Termasuk ancaman bencana yang akan terjadi. Mereka dan kita semua harus sadar bahwa kehilangan kawasan hutan terutama di kawasan konservasi merupakan suatu kerugian yang luar biasa dan secara pasti akan menyebabkan efek domino terhadap terjadinya bencana baik skalakecil maupun besar. Mungkin beberapa dari mereka, juga termasuk kita, akan mulai berpandangan bahwa konservasi ternyata bukan hanya sekedar konservasi. Konservasi bukan lagi dianggap sebagai cost center tetapi sudah mulai dan bisa menjadi benefit center. Dalam hal pembiayaan konservasi saat ini juga telah tersedia banyak pilihan yang dapat dimanfaatkan baik internal funding maupun eksternal seperti dari sumber

pendanaan internasional. Fenomena carbon trade atau berjualan karbon hutan yang hanya bisa dilakukan jika hutan itu ada, pengembangan ekowisata yang prospektif dan semakin mendapat temp at di mata penikmat lingkungan tanpa merusak lingkungan serta lain sebagainya turut menandai era baru konservasi. Atau juga keberadaan proposal Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (REDD/ADD) yang baru-baru ini digagas dan telah diajukan oleh Pemerintah Indonesia dalam Conference of Parties (CoP) of the United Nations Climate Convention (UNFCCC) ke- 13 yang diselenggarakan di Bali, Indonesia pada bulan Desember 2007 yang lalu, dimana mekanisme tersebut akan memberikan keuntungan lebih nyata dan lebih besar bagi daerah-daerah dan atau negara-negara yang mampu melindungi dan mempertahankan luasan kawasan hutannya. Bagi mereka yang belum berkiprah, tidak pernah ada kata terlambat untuk bergabung. Tentunya demi masa depan dan eksistensi kita semua. * * *

*) Staf Peneliti pada Balai Litbang Kehutanan Sumatera, Pematangsiantar, Sumatera Utara

Email: bs_antoko@yahoo.com

Sambungan hal. 19. Lumut-lumut ....

hias, yang dipakai untuk menghiasi akuarium, dengan harga yang cukup mahal. Selain itu, tumbuhan ini telah banyak digunakan sebagai alat dekorasi ruangan, maupun sebagai penghias taman.

Jadi, bagaimana dengan kita? Apakah bisa mengoptimalkan potensi dan peluang sumberdaya alam yang kaya dan melimpah yang telah diberikan Tuhan? Atau malah mengabaikannya? Kita sedang membutuhkan generasi penerus yang mau dan mampu menggali potensi dan kekayaan alam negeri ini secara lestari untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. * * *

') Pengendali Ekosistem Hutan pada Seksi Pegelolaan TNGL Wilayah V Bohorok, BPTNGL Wil. III, Balai BesarTNGL.

Bahan Bacaan:

Compilation of The Lecture Notes, Reprints, Powerpoints, and Keys Related To The Course, 2007. Biotrop Fourth Regional Training Course on Biodiversity Conservation of Bryophytes and Lichens. SEAMEO BIOTROP, Bogor.

Damayanti, L., 2006. Koleksi Bryophyta Taman Lumut Kebun Raya Cibodas, Volume II Nomor 4. Seri koleksi kebunrayaLIPI, Cianjur.

Gradstein, S.R., 2007. Biodiversity and Ecology of Bryophytes in Tropical Rainforest. Powerpoints. Biotrop Fourth Regional Training Course on Biodiversity Conservation of Bryophytes and Lichens. SEAMEO BIOTROP, Bogor.

Hasan, M., 2003. Lebih Mengenal Lumut. Buletin Edelweis. Vol X No.4 Triwulan IV Tahun 2003. Balai Taman N asional Gunung Gede Pangrango, Cianjur.

Newton, E.Angela. 2007. Classification of Mosses. Compilation of The Lecture Notes. Biotrop Fourth Regional Training Course on Biodiversity Conservation of Bryophytes and Lichens. SEAMEO BIOTROP,Bogor.

22

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

How it works

Prinsip Dasar pada GPS (Global Positioning System)

Bisro Sya'bani"

Nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (Navigational Satellite Timing and Ranging Global Positioning System; ada juga yang mengartikan "Navigation System Using Timing and Ranging"). Dari perbedaan singkatan itu, orang lebih mengenal cukup dengan nama GPS. Terdiri dari bagian ruang angkasa (satelit), bagian pengendali (stasiun bumi), dan bagian pengguna (user GPS)

GPS merupakan suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit/alat navigasi yang mampu menyajikan posisi koordinat dimana temp at kita berdiri. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah sate lit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima di seluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.

fee bulanan yang mesti dibayarkan agar dapat mengakses sinyal satelit navigasi? Rupiah atau dollar? Tak perlu khawatir karena kita tidak sedang membahas tentang televisi berlangganan semisal Indovision atauAstro. Sampai saat ini pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat masih bermurah hati dan belum beruiat menarik iuran. Artinya kita bisa memencet tombol GPS sesuka kita dan posisi koordinat akan berj atuhan dari balik awan secara gratis.

Bagaimana GPS Mengetahui Posisinya?

Pertama kali yang mengorbitkan satelit GPS adalah Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS pertama kalinya di-launching pada tahun 1978 yang pada awalnya diperuntukkan untuk kebutuhan militer (pada tahun 1980-an pemerintah mulai membuat sistem GPS untuk kebutuhan sipil). GPS bekerja di kondisi cuaca apapun, dimanapun di bumi ini, 24 jam setiap harinya.

Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa mahal Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

Satelit GPS mengelilingi bumi dua kali tiap harinya dalam ketepatan orbit yang tinggi dan mengirimkan sinyal informasi ke bumi. Penerima GPS mengambil informasi tersebut dan menggunakan triangulasi untuk menentukan dimana lokasi pengguna GPS berada. Pada intinya penerima GPS membandingkan waktu saat sinyal ditransmisikan oleh sate lit dengan waktu saat diterima. Perbedaan waktu ini memberitahukan kepada penerima GPS berapa jaraknya dari satelit berada. Saat ini, dengan pendekatanjarak dari lebih banyak

satelit, penerima GPS dapat menentukan POSlSl pengguna GPS dan menampilkannya dalam unit peta elektronik.

Sebuah penerima GPS harus terikat setidaknya pada 3 satelit untuk menghitung posisi 2 dimensinya (latitude dan longitude) dan jalur pergerakan. Dengan 4 atau lebih satelit, penerima GPS dapat menentukan posisi 3 dimensi si pengguna GPS (latitude, longitude, dan altitude). Saat posisi pengguna GPS diketahui, unit GPS dapat menghitung informasi lain, seperti kecepatan, tujuan, jalur, j arak perj alanan, j arak ke tujuan, waktu sunrise dan sunset dan sebagainya.

Untuk mengetahui posisi dari GPS, diperlukan minimal 3 satelit. Pengukuran posisi GPS didasarkan oleh sistem pengukuran matematika yang disebut dengan Triliterasi. Yaitu pengukuran suatu titik dengan bantuan 3 titik acu. Misalnya anda berada di suatu kota A (di sini kota kita anggap sebagai titik), tetapi anda tidak mengetahui dimana anda berada. Untuk mengetahui keberadaan anda, anda bertanya kepada seseorang, dan orang tersebut menjawab bahwa anda 2 km dari kota B. J awaban ini tidak memuaskan anda karena anda tidak tahu apakah anda di sebelah selatan, utara, barat, atau timur kota B. Kemudian anda bertanya kepada orang ke-2 dan mendapat jawaban bahwa anda berada 5 km dari kota C. Denganjawaban ini anda sudah dapat membayangkan dimana posisi anda, hanya ada kemungkinan 2 titik berbeda yang berpotongan antara lingkaran dengan radius kota A dengan kota B dan lingkaran dengan radius kotaA dengankota C. Untuk lebih memperjelas lagi anda memerlukan orang ke-3, misalnya anda berada di 1 km dari kota D. Dengan demikian anda mendapatkan perpotongan antara lingkaran dengan radius j arak kota A ke kota B, lingkaran antara kota A dan kota C, dan lingkaran antara kotaA dan kota D. Dalam GPS kotaA adalah alat penerima GPS, kota B, C, dan D adalah Satelit.

Seberapa J auh Keakuratan GPS?

Dua hal utama yang mempengaruhi keakuratan GPS adalah Selective Availability (SA) dan multipath. Saat ini penerima GPS mempunyai tingkatkeakuratan yang tinggi. Misalnya saja GarminGPS yang mempunyai nilai keakuratannyasampai 15 meter dalam rata-ratanya. Faktor atmosfer tertentu dan sumber kesalahan lain dapat mempengaruhi keakuratan dari penerima GPS. Garmin GPS terbaru dengan WAAS (Wide Area Augmentation System) tingkat akurasinya bisa kurang dari 3 meter dalam rata-ratanya. Untuk mendapatkan sinyal dengan tingkat koreksi tinggi pengguna GPS bisa menggunakan GPS yang berbeda (Differential GPS). Selain itu juga untuk mendapatkan sinyal terkoreksi, pengguna harus mempunyai menara receiver dan antena yang berbeda untuk ditambahkan dalam GPS-nya.

Sistem Satelit Pada GPS

24 satelit yang menyusun segmen ruang angkasa GPS mengorbit bumi sekitar 12.000 mil diatas kita. Satelit-satelit tersebut bergerak secara konstan, mengorbit lengkap dua kali dalam waktu kurang dari 24 jam. Satelit-satelit itu berjalan dalam kecepatankira-kira 7.000 mil perjam.

Satelit GPS menggunakan energi matahari dan menyimpan energi tersebut untuk menjaga agar tetap berfungsi saat terjadi gerhana matahari, atau saat tidak ada tenaga matahari. Roket penggerak kecil dalam setiap satelit menjaganya agar tetap terbang pada garis edar yang tepat.

Sumber-Sumber Kesalahan Pada Sinyal GPS

1. Ionosphere and troposphere delays

Sinyal satelit bergerak lambat saat melalui atmosfer. Sistem GPS menggunakan model built-in yang mengkalkulasi jumlah rata-rata keterlambatan ke sebagian koreksi kesalahan tipe ini. Kondisi cuaca mempengaruhi delay waktu penerimaan sinyal. Sebagai koreksi, satelit mengirimkan sinyal lain pada frekuensi yang berbeda sebagai komparasi perhitungan untuk mencapai presisi.

2. Signal multi path

Keakuratan juga dipengaruhi oleh gangguan yang disebut dengan multipath. Kesalahan ini terjadi akibat sinyal yang ditangkap oleh antena GPS terpantulkan terlebih dahulu ke obyek di sekeliling GPS semisal gedung maupun batang pohon. Artinya, posisi yang terekam oleh antena GPS sebenamya adalah posisi gedung atau pohon yang memantulkan sinyal tersebut dan bukannya posisi kita berdiri. Untuk menghindari hal tersebut, dianjurkan pada saat mengoperasikan GPS hendaknya memilih lokasi yang relatifterbuka.

24

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

3. Receiver clock errors

Jam penerima GPS tidak seakuratjam satelit GPSnya. Bagaimanapun hal ini memungkinkan kesalahan waktu walaupun tipis.

4. Orbital errors

Juga dikenal sebagai kesalahan sesaat, hal Ill! disebabkan ketidakakuratan lokasi sate lit.

5. Number of satellites visible

Penerima GPS dapat melihat jumlah satelit yang tertangkap oleh GPS untuk akurasi yang lebih baik. Bangunan, perbukitan/pegunungan, gangguan elektronik, atau kadang kerapatan daun pohon dapat menghalangi penerimaan sinyal.

6. Satellite geometry/shading

Hal ini berdasarkan posisi relatif dari sate lit pada setiap waktu yang diberikan. Keberadaan geometri sate lit idealnya ketika sate lit terletak pada luas sudut yang relatif antara satu dengan lainnya. Geometri yang tidak baik terjadi saat sate lit terletak pada suatu garis atau dalam keadaan bergerombol.

7. Intentional degradation of the satellite signal Selective Availability (SA) adalah pengurangan sinyal yang disengaja dan ditentukan oleh Departemen Pertahanan Amerika. SA dimaksudkan untuk mencegah musuh militer dari penggunaan sinyal GPS dengan tingkat akurasi tinggi. Dengan kata lain SA adalah upaya sengaja dari pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mengurangi akurasi GPS dalam rangka melindungi negaranya. Awalnya SA menyebabkan akurasi GPS sebesar 100 meter, artinya posisi obyek berada dalam radius 100 meter dari yang seharusnya. Beruntunglah pada awal tahun 2000 Pemerintah Amerika Serikat mencabut kebijaksanaan SA tersebut sehingga akurasi GPS pada umumnya menjadi sekitar 10 meter. Angka ini cukup memadai untuk GPS genggam. Dengan asumsi peta yang kita tampilkan di layar memiliki skala 1: 10.000, maka kesalahan 10 meter di lapangan hanya setara dengan 0, 1 milimeter di layar display GPS, artinya tidak masalah jika diabaikan.

Aplikasi GPS

1. Lokasi - menentukan posisi utama

Aplikasi pertama dan sangat nyata dari GPS adalah penentuan secara sederhana suatu posisi atau lokasi. GPS adalah positioning system pertama yang menawarkan ketepatan data lokasi yang tinggi untuk point apapun di planet ini dalam kondisi cuaca apapun.

2. Navigasi - mengetahui satu lokasi dengan lokasi lainnya GPS membantu kita menentukan dimana kita berada secara tepat, namun kadang penting kita untuk tahu bagaimana cara menuju/mendapatkan tempat lain yang kita inginkan. GPS telah di desain untuk menyediakan informasi navigasi baik untuk pelayaran dan penerbangan.

3. Tracking - memonitor pergerakan manusia dan benda Jika navigasi adalah proses untuk mengetahui satu lokasi lokasi dengan lokasi lainnya, kemudian tracking adalah proses untuk memonitomya selama pergerakan berlangsung.

4. Mapping - memetakan dunia

Dunia ini begitu luas, dengan menggunakan GPS untuk survey dan memetakannya secara tepat dan dapat meminimalkan waktu dan biaya yang harus dikeluarkan. Pemetaan merupakan ilmu dan seni, dengan GPS untuk menempatkan item-item tertentu kemudian membuat peta dan model dari apapun yang ada di dunia Galan, rute, gunung, sungai, hutan, dan segala mac am bentuk lahan)

5. Timing - menentukan waktu yang tepat

Selain dikenal untuk navigasi, tracking, dan mapping, GPS juga digunakan untuk menyebarkan informasi waktu yang tepat, interval waktu, dan frekuensi. GPS mempunyai tugas untuk mensinkronisasikan jam kita dengan mudah dan dapat dipercaya. Waktu memberitahu kita kapan sesuatu terjadi atau kapan akan terjadi. Sebagai cara untuk mensinkronisasikan orang atau kejadian, waktu membantu menjaga semua rencana/j adwal menjadi tepat waktu. Selain itu juga bisa menginformasikan kapan suatu kejadian akan berakhir. Satelit GPS mempunyai tingkat keakuratan waktu yang tinggi, sehingga penerima GPS kita juga mempunyai keakuratan yang tinggi yang sering disebut dengan istilah an atomic accuracy clock. * * *

*) Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Besar Taman N asional Gunung Leuser di Medan

Materi tulisan di atas bersumber dari www.garmin.com dan www.wikipedia.com.

Vol. 4 No. 10 Tahun 2008 ---------------------------------------

25

10 Perbedaan Antara Manusia

1. Ekstrovert lawan introvert: Yang ekstrovert senang kerumunan orang banyak sementara yang introvert lebih suka melewatkan waktunya sendirian atau dengan seorang ternan dekat. Yang ekstrovert bersemangat karena adanya orang-orang sementara yang introvert bisa jadi terkuras enerjinya karena adanya orang-orang.

2. Pelaku at au pengamat: Para pelaku berani mengambil risiko; kalau melihat peluang mereka ingin segera memanfaatkannya sebelum terlambat. Para pengamat lebih hati-hati. Mereka suka memeriksa segalanya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan.

3. Yang memberikan garis besar at au yang memberikan rincian: Yang memberikan garis besar memiliki fokus yang umum dan melihat gambaran besaruya. Mereka berpikir menurut arah serta keinginan menjadikan segalanya terlaksana. Yang memberikan rincian memperhatikan hal-hal yang sekecil-kecilnya. Keprihatinan mereka adalah bagaimana caranya menjadikan segalanya terlaksana.

4. Tukang belanja atau penghemat : Kalau tukang belanja memiliki uang lebih, mereka ingin membelanjakannyauntuk diri sendiri, untuk orang lain, untuk maksud-maksud yang layak, untuk apapun. Kalau penghemat memiliki uang lebih, mereka ingin menabungnya untukjaga-jaga. Mereka tidak suka membelanjakannya kecuali sangat penting.

5. Perencana at au yang fleksibel : Perencana suka struktur dimana segalanya terorganisasikan dan terkemas dengan rapih. Mereka suka jadwal dan batas waktu. Yang fleksibel menyesuaikan diri dengan jalannya kehidupan dan menangani segalanya seadanya. Mereka cenderung spontan dan santai. Ketidak-rapihan tidak mengganggu mereka karena mereka percaya segalanya akan beres.

6. Yang tergesa-gesa at au yang santai : Yang tergesa-gesa selalu sibuk. Kecepatan serta efisiensi adalah kata kunci mereka - selesaikanlah sebanyak mungkin secepat mungkin. Yang santai meluangkan waktunya dan menetapkan kecepatan kerjanya sendiri. Mungkin mereka tidak menyelesaikan cukup banyak, namun mereka menikmati apa yang mereka kerjakan.

7. Pemikir atau perasa : Pemikir memfokuskan pada fakta-fakta dan prinsip-prinsip. Mereka dasarkan keputusankeputusan atas data yang objektif dan cenderung berorientasi pada tugas. Perasa memfokuskan pada orang serta perasaan. Mereka dasarkan keputusan pada data yang subjektif dan cenderung berorientasi pada hubungan.

8. Pemimpi at au pekerja : Pemimpi adalah orang-orang kreatifyang suka banyak idenya. Mereka optimis dan berorientasi pada mas a depan. Pekerja bersifat praktis. Mereka suka mengambil ide orang lain dan melaksanakannya. Mereka cenderung bersikap realistik dan memfokuskan pada yang sekarang.

9. Pengumpul atau pembuang : Pengumpul suka mengumpulkan barang-barang. Mereka tidak suka membuang apapun karena mereka takut kalau-kalau membutuhkannya kapan-kapan. Pembuang suka membuang barang-barang. Mereka tidak suka berantakan dan mereka bersikeras bahwa kalau sudah lama sesuatu itu tidak digunakan, mungkin takkan pemah digunakan.

10. Tukang akrobat atau pemain tunggal : Tukang akrobat bersifat multi saluran dan dapat menangani banyak hal sekaligus. Pemain tunggal bersifat saluran tunggal dan hanya bisa menangani satu atau dua hal sekaligus. Kalau mereka mencoba mengerjakan lebih banyak, mereka menjadi stress dan kewalahan.

Kita semua berbeda dan unik. Itu menciptakan keseimbangan, keragaman, serta tantangan dalam hubunganhubungan. Syukurilah perbedaan-perbedaan Anda; bicarakanlah juga perbedaan-perbedaan Anda itu.

- dari situs era baru -

26

--------------------------------------- Vol. 4 No. 10 Tahun 2008

Aku Juga Bisa Marah

Wajah ini telah berubah

Walau dilirik dari berbagai arah Dulu aku begitu mulus, tertata rapi Kini menjadi kerikil-kerikil terjal Membingkai semi di ladang hati

Aku tidak lagi diberlakukan sebagaimana gunaku Mereka mengerti tapi tidak peduli

Hingga luas kini bisa dihitung jari

Aku marah.

Luka membawaku padajalan-jalan kerikil dan berliku Kabut yang dulu hinggap dalam tubuhku

Kini mencari celah kemana akan bersipu

Semua bag ian tubuhku robek, koyak

Karna ku digarap,digundul,dan dimusnah

Aku kesakitan.

Kini saatnya ku bersuara Siapa diriku,dan apa gunaku

Biar mereka mengerti, biar mereka sadar Aku marah dengan gumpalan tanah

Aku marah dengan derasan air bah

Tak peduli mereka siapa ... Tua, muda, beriman atau tidak Aku kan hancurkan diriku, biar mereka tau siapa aku.

Sebenarnya diriku tidaklah mendendam, tapi akujuga bisa marah ..

Ali Sadikin

Polhut di BBTNGL

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->