P. 1
Pratikum Farmasi Fisika Stabilita

Pratikum Farmasi Fisika Stabilita

|Views: 2,913|Likes:
Published by Dwija Bawa Temaja
penentuan stabilitas obat
penentuan stabilitas obat

More info:

Published by: Dwija Bawa Temaja on Jan 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA STABILITAS

Nama Kelompok :
1.

Bayu Anggara

(0808505027) (0808505028) (0808505029) (0808505030) (0808505031) (0808505032)

2. Kadek Welly Prasminda 3. Nyoman Yudi Kurniawan
4.

Wayan Ria Medisina

5. Gede Dwija Bawa Temaja 6. Rico Pramana Sugiarto

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2009

PERCOBAAN VI STABILITAS

I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk • • Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat Menerangkan pengaruh suhu terhadap kestabilan zat

II. Dasar Teori
Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana obat tidak berubah menjadi zat tidak berkhaziat atau racun; ahli farmasi harus mengetahui ketidakstabilan potensial dari obat yang dibuatnya. Dokter dan penderita harus diyakinkan bahwa obat yang ditulis atau yang digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai efek pengobatan yang diinginkan. Beberapa prinsip dan proses laju yang berkaitan dimasukkan dalam rantai peristiwa ini:
1. Kestabilan dan tak tercampurkan proses laju umumnya adalah sesuatu

yang menyebabkan ketidakaktifan obat melalui penguraian obat, atau melalui hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan kimia yang kurang diinginkan dari obat tersebut.
2. Disolusi, di sini yang diperhatikan terutama kecepatan berubahnya obat

dalam bentuk sediaan padat menjadi bentuk larutan molecular.

3. Proses absorpsi, distribusi, dan eliminasi beberapa proses ini berkaitan

dengan laju absorpsi obat ke dalam tubuh, laju distribusi obat dalam tubuh dan laju pengeluaran obat setelah proses distribusi dengan berbagai factor, seperti metabolisme, penyimpanan dalam organ tubuh lemak, dan melalui jalur-jalur pengelepasan.
4. Kerja obat pada tingkat molecular obat dapat dibuat dalam bentuk yang

tepat dengan menganggap timbulnya respons dari obat merupakan suatu proses laju. (Martin,dkk.2008) Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sedian farmasi. Hal ini penting mengingat suatu sedian biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang membutuhkan.Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang.Adakalanya hasil uraian zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien.Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih kondisi pembuatan sedian yang tepat sehingga kestabilan obat terjaga. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain panas,cahaya,kelembaban,oksigen,pH,mikroorganisme dan bahan-bahan tambahan yang dipergunakan dalam formula sedian obat.Sebagai contoh;senyawa-senyawa ester dan amil nitrat seperti anvil nitrat dan kloramfenikol merupakan zat yang mudah terhidrolisis dengan adanya lembab.Sedangkan vitamin C sangat mudah sekali mengalami oksidasi.Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan melalui perhitungan kinetika kimia.Cara ini tidak memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis digunakan dalam bidang farmasi. (Tim Penyusun. 2009)

III.

Alat Dan Bahan
:

Alat

          Bahan :   

Tabung Reaksi Erlenmeyer Buret Statip Batang Pengaduk Penangas air Gelas Ukur Penggaris Termometer Stopwacth

Vitamin C Air Suling(Aqua Destilata) Iodium 0,1 N Campuran air dengan H2SO4 10% dengan air Es Batu

IV.

Cara Kerja
Disiapkan larutan vitamin C 100 mL

Larutan Vitamin C dipanaskan pada suhu 30 oC,50 oC,70 o C,dan 90 oC Masing-masing sampel dipanaskan selama 15 menit

Masing-masing sampel dimasukan kedalam Es setelah dipanaskan

Kadar vitamin C IV. Hasil dan Perhitungandihitung dengan ditambahkan campuran air 50 mL dan 12,5 mL H2SO4 10%.Kemudian titrasi dengan iodium 0,1 N dengan indikator kanji.Iodium 0,1 N setara dengan 8,806 gram vitamin C Jumlah Vitamin C 300 C 500 C 700 C 900 C 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL Jumlah Larutan Iodium 9.95 mL 8.5 mL 8.5 mL 9.0 mL

Suhu

Perubahan Warna Sebelum Putih Pucat Putih Pucat Putih Pucat Putih Pucat Sesudah Ungu Ungu Ungu Ungu

Perhitungan 1 mL iodium setara dengan 8.806 mg vitamin C Jumlah vitamin C per suhu yaitu :
1. Untuk suhu 300 C jumlah vitamin C = 9.95 x 8.806 = 87,619 mg 2. Untuk suhu 500 C jumlah vitamin C = 8.5 x 8.806 = 74.851 mg

3. Untuk suhu 700 C jumlah vitamin C = 8.5 x 8.806 = 74.851 mg 4. Untuk suhu 900 C jumlah vitamin C = 9.0 x 8.806 = 79.254 mg

V. Pembahasan
Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sedian farmasi. Hal ini penting mengingat suatu sedian biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang membutuhkan.Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang. Adakalanya hasil uraian zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien.Oleh karena itu perlu diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih kondisi pembuatan sedian yang tepat sehingga kestabilan obat terjaga. Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas adalah suhu. Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pengujian stabilitas pada vitamin C (asam askrobat) yaitu pengaruh suhu terhadap stabilitas vitamin C. Sebanyak 4 ampul sampel vitamin C dipanaskan pada suhu berturut-turut 300 C, 500 C, 700 C, 900 C selama 15 menit. Setelah dilakukan pemanasan, sampel dimasukkan ke dalam es begitu dikeluarkan dari penanggas selama 10 menit. Setelah 10 menit sampel dikeluarkan. Sebanyak 1 mL vitamin C dicampurkan dengan 12 mL H2SO4 10 % dan 50 mL air suling. Kemudian titrasi dengan iodium 0,1 N dengan indikator kanji sebanyak 10 tetes hingga terjadi perubahan warna dari putih pucat menjadi ungu. 1 mL iodium setara dengan 8.806 mg vitamin C. Pendinginan yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah untuk mencegah oksidasi lebih lanjut dari sampel vitamin C, karena jika oksidasi berlangsung maka iodine tidak bisa mengoksidasi asam askrobat karena asam askrobat telah teroksidasi oleh pemanasan. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :

Obat-obat yang mudah teroksidasi seperti asam askrobat dan epinefrin (adrenalin) dapat distabilkan dengan menghindari oksigen, mendapar pada larutan yang sesuai, menggunakan

pelarut bebas logam, menambah inhibitor, menghindari cahaya, menyimpan produk pada temperatur rendah dan meracun sistem oksidasi-reduksi dengan potensial tertentu (Martin,dkk.2008). Dengan kenaikan suhu 10 °C (diatas nol) jumlah vitamin yang dioksidasikan naik 2- 2,5 kalinya, dan aktifitas optimal didapatkan didaptkan pada suhu sekitar 38 °C Berdasarkan data pengamatan diperoleh penurunan jumlah vitamin C dari suhu 300 hingga 700 yaitu berturut-turut 87,619 mg, 74.851 mg dan 74.851 mg, dan mengalami peningkatan konsentrasi pada suhu 900 yaitu sebesar 79.254 mg. Hal ini terjadi karena pada saat praktikan melakukan pemanasan sampel vitamin C pada suhu 900, sampel didiamkan kembali pada suhu kamar setelah dimasukkan ke dalam es. Akibatnya jumlah vitamin C akan mendekati konsentrasi vitamin C yang di dapat pada suhu 300 ( suhu kamar diasumsikan 300). Seharusnya hasil yang didapat adalah penurunan konstan jumlah vitamin C seiring dengan peningkatan suhu.

VI.

Kesimpulan
1. Stabilitas vitamin C (asam askrobat) dipengaruhi oleh suhu. 2. Semakin tinggi suhu, vitamin C lebih mudah teroksidasi 3. Vitamin C sebaiknya disimpan pada suhu kamar atau lebih rendah agar tidak teroksidsasi.
4. Berdasarkan data pengamatan diperoleh penurunan jumlah vitamin C dari

suhu 300 hingga 700 yaitu berturut-turut 87,619 mg, 74.851 mg dan 74.851 mg, dan mengalami peningkatan konsentrasi pada suhu 900 yaitu sebesar 79.254 mg.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Jilid IV. DepKes RI. Martin, dkk. 2008. Farmasi Fisik. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. Tim Penyusun. 2008. Buku Ajar Farmasi Fisika. Jimbaran : Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Tim Penyusun. 2009. Petujuk Praktikum Farmasi Fisika. Jimbaran : Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->