1

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Pendidikan merupakan sarana untuk memajukan sebuah bangsa dengan cara mencerdaskan bangsa terutama untuk Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar serta Pendidikan Menengah. Pendidikan telah menjadi perhatian serius pemerintah terutama dengan telah ditingkatkannya alokasi anggaran pendidikan hingga mencapai 20% dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara. Menurut John Dewey pendidikan merupakan alat yang digunakan untuk kehidupan sosial yang berkesinambungan (Dachnel, 2005)1. Sedangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pendidikan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Dalam pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan standar yang disesuaikan dengan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional bahwa lingkup standar nasional berupa Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 ini juga disampaikan

1

Dachnel Kamars, Administrasi Pendidikan Teori dan Praktek (Padang: CV. Suryani Indah, 2005), p.132

terutama untuk guru-guru swasta. 2 dan No. Sekolah-sekolah lebih mementingkan status mereka di masyarakat serta status akrediatasi sekolahnya. Kenyataan ini dapat dilihat dengan masih banyaknya sekolah-sekolah yang melakukan kecurangan saat ujian akhir nasional. Demi sebuah nama baik dan tanggung jawab terhadap orang tua murid maka pihak sekolah mengabaikan proses dan lebih mengutamakan hasil walaupun dilakukan dengan kecurangan.bahwa perlu adanya jaminan mutu pendidikan seperti yang tertuang dalam Penjaminan Mutu No. Meskipun semua aturan-aturan tersebut telah ditetapkan dan diberlakukan secara menyeluruh akan tetapi pada kenyataannya standar mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. sistematis.3 dimana disampaikan bahwa Penjaminan mutu pendidikan bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah tidak mau kerepotan dalam upaya mengembangkan kemampuan muridnya. Penjaminan mutu pendidikan dilakukan secara bertahap. Organizational Citizenship Behavior (OCB) guru swasta yang rendah ini ditunjukkan oleh kurangnya motivasi guru dalam melakukan perilaku extra-role di suatu sekolah. Para guru lebih banyak melakukan perilaku extra-role dalam keadaan terpaksa dan bukan karena keinginan dan kesukarelaannya untuk memajukan sekolah. khususnya di sekolah-sekolah Islam. Guru-guru di sekolah . yaitu sekolah. Kondisi tersebut semua terutama diakibatkan oleh kurang berjalan baiknya sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia serta masih rendahnya Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang merupakan bagian dari perilaku extra-role guru dalam organisasi. Selain itu masih banyak kasus tentang rendahnya mutu pendidikan.

Kondisi ini akan semakin memuncak ketika sebuah sekolah menerapkan system perekrutan guru paruh waktu dengan sistem reward yang kurang tepat. khususnya di organisasi swasta. pp. Orangorang dalam hal ini guru swasta mulai memiliki budaya seperti halnya budaya perusahaan. Meskipun pernah disinggung oleh Hofstede (1991). sehingga dengan kondisi tersebut semakin memperparah kurangnya perilaku extrarole di sekolah karena iklim organisasi di sekolah swasta memang mulai diarahkan pada tataran individualisme dengan dalih untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru. dalam hal ini sekolah swasta telah menerapkan penghargaan individual. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai nilai kolektivistik tinggi dimana kepentingan kelompok berada di atas kepentingan individu.2 namun kondisi tersebut tidaklah tepat untuk saat ini. Organizational Citizenship Behavior (OCB) berdasarkan pengakuan dan 2 Debora dan Ali Nina. Di Indonesia saat ini. Kondisi ini akan semakin tampak ketika iklim di dalam organisasi tersebut semakin mendukung guru untuk tidak melakukan perilaku extra-role serta ditunjang oleh adanya sistem reward yang tidak baik atau berjalan tidak baik dari organisasi sekolah tersebut. 105-111. 8 No. Sosial Humaniora Vol. 2004).3 hanya memiliki kecenderungan melakukan perilaku intra-role atau hal-hal yang menjadi kewajibannya dalam organisasi. dalam Makara. Pengaruh Kepribadian dan Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior. terutama dengan mengadopsi system reward yang ada di sekolah negeri untuk diterapkan di sekolah swasta. .3 Desember 2004 (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. apalagi dengan diterapkannya UU BHP. Guru-guru swasta mulai mementingkan individunya sendiri tanpa mau membantu kepentingan orang lain sebagai perilaku extra-rolenya. sehingga dapat dikatakan sistem tim kerja berkembang dengan baik di Indonesia.

& Hui. 1999. Pada tingkat individu. 1996). dan perkiraan dari nilai dolar dari perbedaan standar deviasi dalam kinerja. The Journal of Behavior and Applied Management Vol. seorang presiden direktur dari John Braddy Design Consultant dalam mengetahui OCB seseorang. Park & Sims. Podsakoff & MacKenzie. 91 dikarenakan kurangnya perilaku OCB di lingkungan . p. 6 No. Organizational Citizenship Behavior Developmental Experiences: Do Role Definitions Moderate Relationship?.penelitian para ahli akan memberikan kontribusi yang positif bagi organisasi. Ketika di akhir tahun maka akan dihitung kelereng dari masing-masing pegawai tersebut. 2 Januari 2005 (Sandiego: Institute Behavior of Applied Management). Walz & Niehoff. 1989). Yang terbanyak memiliki kelereng maka dia akan memperoleh hadiah walaupun tidak 3 Unnikammu. OCB telah ditemukan untuk mempengaruhi evaluasi pengawasan terhadap kinerja pegawai (Podsakoff. maka pegawai tersebut akan memperoleh kelereng. Ketika ada pegawai yang membantu pegawai lain. & MacKenzie.3 Berdasarkan penjelasan dan penelitian para ahli tersebut sangatlah tepat jika banyak sekolah-sekolah swasta jalan di tempat (stagnan) dan tidak mengalami kesuksesan program sekolah sekolah. dimana dia memberikan beberapa kantong kelereng di awal tahun kepada semua pegawainya. studi mengindikasikan bahwa OCB berhubungan dengan efektivitas organisasi (Podsakoff. MacKenzie. 1997. hal ini seperti yang diungkap oleh para ahli bahwa pada “tingkat organisasi. Kiker & Montowidlo. rekomendasi penghargaan (Allen & Rush. 1993). Berdasarkan kenyataan yang ada mengenai kurangnya perilaku extra-role atau OCB tersebut maka perlu bagi pimpinan organisasi untuk membangkitkan perilaku tersebut dengan memberikan reward nonformal ataupun mengembangkan reward sebagai sistem formal dalam organisasi. Contoh ini bisa kita lihat dari cara yang dilakukan oleh John Brady. 1994. Ahearne. 1998.

Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sekolah-sekolah Islam swasta. 96 .5 banyak. mendirikan sekolah dengan tergesagesa dalam upaya untuk memenuhi permintaan orang-orang yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Islam walaupun dengan mutu yang rendah daripada menyekolahkan anaknya di sekolah umum ataupun di sekolah swasta lainnya. Jones. Hal lainnya yang mendasari perilaku extra-role atau OCB guru swasta Islam yang masih rendah karena sistem pendidikan yang berjalan belum tertata dan belum terarah.4 Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat dikatakan bahwa perilaku extra-role atau OCB guru swasta di sekolah-sekolah Islam apabila diamati disebabkan oleh kurang tersusun rapinya manajemen sekolah. akhlak. Pertimbangan ini mereka lakukan dengan melihat kurikulum di sekolah umum yang menempatkan pendidikan agama Islam yang hanya 2 jam saja sehingga hanya tampak sekedar sebagai pelengkap kurikulum. 2002). Berdasarkan kenyataan tersebut maka pihak yayasan sekolah swasta harus mulai memikirkan cara mengelola manajemen sekolah yang mengarah pada terwudjudnya perilaku exra-role atau OCB. Gareth R. Understanding and Managing Organizational Behavior (New Jersey: Prentice Hall. dan kurangnya pendidikan dasar agama. p. Hal ini terjadi karena para pendiri sekolah dan yayasan yang menaungi sekolah. dimana menurut 4 Jennifer M. Yang lebih parah lagi sebagai penyebab perilaku extra-role atau OCB guru swasta Islam yang masih rendah adalah karena rendahnya kompensasi yang mereka terima atau penerapan sistem kompensasi yang kurang tepat serta karena kurangnya perhatian dari yayasan tempat guru bekerja. Padahal telah tampak dengan jelas bahwa kerusakan generasi muda di Indonesia lebih disebabkan oleh krisis moral. George.

Di samping itu kepemimpinan Kepala Sekolah ataupun perilaku kepemimpinan para pimpinan juga dapat menjadi penyebab rendahnya komitmen organisasional guru-guru sekolah Islam. Ketika iklim organisasi sebuah sekolah tidak baik maka akan berakibat pada rendahnya kualitas pendidikan. 11. Organizational Citizenship Behavior in School and Its Relationship to School Climate: Journal of School Leadership Vol. Iklim organisasi yang rendah ini diantaranya disebabkan oleh kepemimpinan yang kurang 5 Michael Dipaola & Megan Tschannen-Moran.5 Perilaku extra-role yang rendah ini apabila diamati lebih mendalam disebabkan karena rendahnya komitmen organisasional guru-guru di sekolah-sekolah Islam tersebut. Banyak hal yang dapat menyebabkan rendahnya komitmen organisasional guru. Hal yang terjadi dengan rendahnya komitmen organisasional tersebut adalah banyaknya guru yang akan keluar masuk sebuah sekolah. Permasalah di atas merupakan penyebab rendahnya kualitas pendidikan terutama di sekolah-sekolah Islam.Organ. Masalah-masalah eksternal yang sangat berpengaruh terhadap berbagai masalah tersebut adalah berkaitan dengan iklim organisasi. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa manajemen sekolah yang tidak baik dapat menyebabkan rendahnya komitmen organisasional guru-guru sekolah-sekolah Islam. meningkatkan pencapaian hasil keseluruhan. serta rendahnya perilaku organisasional guru. Akan tetapi ada banyak hal di luar internal para guru yang sangat berpengaruh terhadap berbagai masalah yang ada tersebut. Akan tetapi rendahnya komitmen organisasional guru-guru tersebut belum tentu karena salah mereka saja. Smith. dan Near disampaikan bahwa perilaku kewarganegaraan atau perilaku extra-role memberikan kontribusi terhadap kinerja organisasi karena perilaku extra-role menyediakan arti yang efektif dari pengelolaan saling ketergantungan diantara anggota dalam unit kerja. September 2001 (2001) . dan hasilnya.

Mereka menganggapnya bukan sebagai masalah karena telah kebal dan terbiasa dengan masalah tersebut.7 baik. apalagi pada saat sekarang ini ketika telah dikeluarkan dan disahkan UU BHP di Indonesia. dikhawatirkan mereka menganggap tidak ada masalah di sekitar mereka berkaitan dengan kondisi organisasi dan perilaku organisasi di sekolah. Penundaan penanganan masalah ini akan mengakibatkan masalah yang lebih besar bahkan akan menjadi halhal yang biasa bagi sekolah-sekolah Islam. komitmen organisasional yang rendah. Artikel ini sangat penting untuk ditindaklanjuti dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama di sekolah-sekolah Islam. . tidak profesionalnya para guru dalam tugasnya masing-masing. kurang berkembangnya sekolah. karena mereka menganggapnya bukan sebagai masalah. Semua itu akhirnya menjadikan masalah yang lebih luas yaitu rendahnya kualitas sekolah. dan perilaku extra-role yang rendah. bahkan dapat berakibat pada ditutupnya sekolah-sekolah tersebut. komunikasi yang kurang baik. hubungan yang kurang harmonis diantara stakeholder sekolah. Ketika iklim organisasi di sekolah tidak baik maka dapat memiliki akibat antara seperti motivasi kerja yang rendah. Hal ini berakibat pada munculnya kondisi seperti ini di sekolah-sekolah Islam yang baru berdiri. atau yang lainnya. Bahkan yang lebih parah lagi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful