P. 1
Makalah

Makalah

|Views: 933|Likes:
Published by Erdwiran Hijriani

More info:

Published by: Erdwiran Hijriani on Jan 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

text

original

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu, namun reformasi belum dapat membawa perubahan yang substansional pada kehidupan rakyat Indonesia. Pada makalah ini akan dibahas mengenai suatu permasalahan dasar yang sangat penting untuk dianalisis, yakni Pancasila yang merupakan ideologi bangsa seharusnya dapat ditegakkan agar proses pembangunan nasional yang sesuai dengan reformasi dapat berjalan dengan baik. Di kesempatan kali ini pula penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Harapan penulis, kiranya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk dijadikan sebagai bahan referensi dalam mempelajari bahasan ini. Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati akan menerima kritik, saran dan masukan yang membangun

Daftar Isi Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………. Saran…………………………………………………………………………………………….….2 Pengertian Pancasila……………………………………………………………………………………. Latar Belakang………………………………………….…13 BAB III……………………………………………………………………………………………………15 Penutup a.…………………………………………4 B.7 BAB II Pembahasan…………………………………………………………………………………….. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………..……16 Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………………17 . Kesimpulan……………………………………………………………………………………………15 b.2 A. 1 BAB I Pendahuluan………………………………………………………………………………………..

) Persatuan Indonesia. 2.) Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa atau prinsip Ketuhanan. 2. tepatnya adalah dasar bagi negara Indonesia yang merdeka. Semenjak dikumandangkan pada tanggal 1 Juni 1945. filsafat. pemikiran yang mendalam. 4. Pancasila mengalami beberapa kali perubahan urutan sila maupun kata. kepribadian bangsa sekaligus merupakan alat pemersatu seluruh bangsa untuk mencapai tujuan perjuangan kemerdekaan. yakni pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI). 3.BAB I PENDAHULUAN Pengertian Pancasila Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang dikumandangkan pertama kali oleh Soekarno pada tanggal I Juni 1945.) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan 5. Pancasila. Berikut dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Di samping pengertian formal dalam arti formal menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Sesuai dengan rumusan ini.) Kesejahteraan sosial dan 5. serta jiwa dan hasrat yang mendalam. Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen. Hal ini didasarkan pada interpretasi histories diamana rumusan dalam alinea IV pembukaan UUD 1945 diberi nama dengan bentuk istilah “Pancasila” sejak tanggal 1 Juni 1945. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945.) Mufakat atau demokrasi.) Kebangsaan Indonesia. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 3. di mana kata-kata dalam Pancasila adalah: . Pancasila diartikan sebagai ideologi yang mencerminkan identitas. Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. Dalam rumusan Soekarno sebagai berikut: 1.) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila dari akar kata berarti lima dasar. Perubahan berikutnya terlihat dalam Mukadimah UUD RIS tahun 1950.) Ketuhanan. 4. Dan perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa. maka sejak pertama kali dikumandangkan. Pada awal pidato dalam sidang tersebut. terdapat perubahan kata dalam Pancasila sebagai berikut: 1. secara etimologis berasal dari dua kata yaitu Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti dasar.) Kemanusiaan yang adil dan beradab.) Internasionalisme atau peri kemanusiaan.

) Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. 2. Pancasila dapat diterima sebagai ideologi nasional karena sifatnya yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat.) Keadilan sosial. 3. 2.) Kebangsaan 4. 4.1. .) Peri kemanusiaan. memberi arah dan pedoman tingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadi prosedur penyelesaian konflik.) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.) Ketuhanan Yang Maha Esa.) Kemanusiaan yang adil dan beradab.) Kerakyatan dan 5. 3. Adapun urutan dan kata-kata dalam Pancasila yang digunakan saat ini adalah seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD’45 yakni: 1.) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan 5.) Persatuan Indonesia.

Semangat tersebut muncul berdasarkan pengalaman sejarah dari pemerintahan sebelumnya yang telah menyelewengkan Pancasila serta menyalahgunakan UUD 45 untuk kepentingan kekuasaan. 5.KASI.A. Sidang Paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang sedang bergejolak tak juga berhasil. Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkan upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga bahan bakar menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat. Terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965.KAPI. 2. dan negara Indonesia. Latar belakang lahirnya Orde Baru : 1. 3.KAPPI. Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan Pembentukan Kabinet Seratus Menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap di kabinet tersebut duduk tokohtokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa Gerakan 30 September 1965 ditambah adanya konflik di angkatan darat yang sudah berlangsung lama. 4. bangsa. Sebuah kekuatan baru muncul dengan tekad melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen. Sebagai masa yang menandai sebuah masa baru setelah pemberontakan PKI tahun 1965. Melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Maka Presiden mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang ditujukan bagi Letjen Suharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan negara yang semakin kacau dan sulit dikendalikan. Nama itu dipilih untuk menunjukan bahwa orde ini merupakan tatanan hidup berbangsa dan . Latar Belakang Pancasila Pada Masa Orde Baru Orde baru merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk memisahkan antara kekuasaan masa Sukarno(Orde Lama) dengan masa Suharto. Orde baru lahir sebagai upaya untuk : Mengoreksi total penyimpangan yang dilakukan pada masa Orde Lama. Wibawa dan kekuasaan presiden Sukarno semakin menurun setelah upaya untuk mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa(Mahmilub). Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa muncul sejalan dengan berakhirnya pemerintahan Orde Lama. Dari embrio inilah dibangun suatu tatanan Pemerintahan yang disebut Ode Baru. Kesatuan aksi (KAMI. 8. Kesatuan Aksi “Front Pancasila” pada 10 Januari 1966 di depan gedung DPR-GR mengajukan tuntutan”TRITURA”(Tri Tuntutan Rakyat) yang berisi : ü Pembubaran PKI berserta Organisasi Massanya ü Pembersihan Kabinet Dwikora ü Penurunan Harga-harga barang. 7. 6. 9. Menyusun kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa. Rakyat melakukan demonstrasi menuntut agar PKI berserta Organisasi Masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili.dsb) yang ada di masyarakat bergabung membentuk Kesatuan Aksi berupa “Front Pancasila” yang selanjutnya lebih dikenal dengan “Angkatan 66” untuk menghacurkan tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.

Dalam pada itu. dengan terlebih dahulu mendirikan organisasi kekaryaan dengan nama Golongan Karya (Golkar) yang merupakan gabungan dari berbagai macam organisasi masyarakat. Upaya tersebut diawali oleh pemerintah Orde Baru dengan menata struktur politik berdasarkan UUD 45 dan mencoba membuat garis pemisah yang jelas antara apa yang disebut supra-struktur politik (kehidupan politik pada tataran negara) dan infrastruktur politik (kehidupan politik pada tataran masyarakat). penanaman nilai-nilai Pancasila dilakukan secara indoktrinatif dan birokratis. masyarakatpun sudah jenuh dengan permainan politik para elit yang dirasakan tidak pernah mengerti kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Hal itu terutama disebabkan oleh karena . tanpa sesuatu karya yang nyata bagi rakyat banyak. Organisasi kekaryaan tersebut ikut pemilihan umum dan memperoleh kemenangan lebih dari 60% dari popular vote. atau nama sejenisnya. Dengan demikian. nasib Pancasila dan UUD 45 tidak banyak berbeda bila dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Salah satu agenda besar adalah menghilangkan kotak-kotak ideologi politik dalam masyarakat yang menjadi warisan masa lalu dan membangun sistem kekuasaan yang berorientasi kepada kekaryaan. Cara melakukan pendidikan semacam itu. Akibatnya. setelah dikemas dalam pendidikan yang disebut penataran P4 atau PMP ( Pendidikan Moral Pancasila). Penafsiran yang berbeda terhadap kedua hal tersebut selalu diredam secara represif. Politik yang stabil dibutuhkan untuk membangun perekonomian yang kacau akibat ketidakstabilan politik masa lalu. Dalam dimensi supra-struktur politik. Kemenangan tersebut di samping karena Golkar dijagokan oleh pemerintah. Pancasila yang berisi nilai-nilai luhur. Salah satu upaya dalam tataran politik misalnya adalah menciptakan sistem politik yang menegarakan semua organisasi sosial dan politik dengan tujuan agar tercapai stabilitas politik. Penafsiran dan implementasi Pancasila sebagai ideologi terbuka. Pemilu yang berlangsung secara rutin dan diatur serta diselenggarakan oleh negara memihak kepentingan penguasa. Ideologi kekaryaan ini dikumandangkan untuk membedakan secara lebih jelas dengan pemerintahan sebelumnya yang hanya dianggap bermain pada tataran ideologis. dalam perspektif politik kemasyarakatan pemerintah Orde Baru melakukan restrukturisasi kehidupan kepartaian. bukan nilai-nilai Pancasila yang meresap ke dalam kehidupan masyakat. kalau perlu dengan mempergunakan kekerasan. serta UUD 45 sebagai landasan konstitusi berada di tangan negara. Kedua pemerintahan selalu menempatkan Pancasila dan UUD ˜45 sebagai benda keramat dan azimat yang sakti serta tidak boleh diganggu gugat. pemilu lebih merupakan seremoni dan pesta politik elit dari pada kompetisi politik.bernegara yang bertujuan mengoreksi pemerintahan masa lalu dengan janji melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen. berakibat fatal. Sebab setiap ungkapan para pemimpin mengenai nilai-nilai kehidupan tidak disertai dengan keteladanan serta tindakan yang nyata sehingga Pancasila yang berisi nilai-nilai luhur bangsa dan merupakan landasan filosofi untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. tetapi kemunafikan yang tumbuh subur dalam masyarakat. sehingga sebagaimana diketahui partai yang berkuasa selalu memperoleh kemenangan sekitar 60 persen dari jumlah pemilih dalam setiap pemilihan umum. Sementara itu. Sikap politik masyarakat yang kritis dan berbeda pendapat dengan negara dalam prakteknya diperlakukan sebagai pelaku tindak kriminal atau subversif. Pada tahun-tahun berikutnya. Sejalan dengan semakin dominannya kekuatan negara. jelaslah bahwa Orde Baru tidak hanya memonopoli kekuasaan. bagi rakyat hanyalah omong kosong yang tidak mempunyai makna apapun. lembaga-lembaga negara secara formal-struktural ditata sehingga hubungan dan kewenangan menjadi lebih jelas dibanding dengan struktur kelembagaan kekuasaan pada masa Orde Lama. Untuk itu diperlukan stablitas politik sebagai cara melaksanakan karya-karya yang dianggap secara kongkrit dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. terutama bagi generasi muda. yang tidak memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. semakin mempertumpul pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila. Lebih-lebih pendidikan Pancasila dan UUD 45 yang dilakukan melalui metode indoktrinasi dan unilateral. tetapi juga memonopoli kebenaran. ternyata justru mematikan hati nurani generasi muda terhadap makna dari nilai luhur Pancasila tersebut.

komunisme dan agama. Pengalaman pahit yang pernah dilakukan pada masa Orde Lama dalam memanfaatkan Pancasila yang hanya retorika politik dan sebagai instrumen menggalang kekuasaan ternyata diteruskan pada masa Orde Baru. sedangkan pada masa Orde Baru Pancasila disalahgunakan sebagai ideologi penguasa untuk memasung pluralisme dan mengekang kebebasan berpendapat masyarakat dengan dalih menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. sebaliknya sesuatu dianggap salah kalau bertentangan dengan kehendaknya. pada masa Orde Lama Pancasila dimanipulasi menjadi kekuatan politik dalam bentuk bersatunya tiga kekuatan yang bersumber dari tiga aliran yaitu nasionalisme. Perilaku itu justru semakin membuat persepsi yang buruk bagi para pemimpin serta meredupnya Pancasila sebagai landasan hidup bernegara. bahwa persatuan dan kesatuan bangsa yang dibentuk secara unilateral tidak akan bertahan lama. Gagasan mengenai pluralisme tidak mendapatkan tempat untuk didiskusikan secara intensif. tetapi dalam kenyataannya masyarakat tahu bahwa kelakuan mereka jauh dari apa yang mereka katakan. Retorika persatuan kesatuan menyebabkan bangsa Indonesia yang sangat plural diseragamkan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah. pada zaman Orde Baru di tangan Bapak Pembangunan. Uniformitas menjadi hasil konkrit dari kebijakan politik pembangunan yang unilateral. Seluruh tatanan diatur oleh negara. Pendidikan ideologi yang hanya dilakukan secara sepihak dan doktriner serta tanpa keteladanan selain tidak akan memperkuat bangsa bahkan dapat merusak hati nurani dan moral generasi muda. Kekuasaan yang semakin akumulatif dan monopolistik di tangan seorang pemimpin menjadikan mereka juga berkuasa menentukan apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah. pendidikan semacam itu hanya menyuburkan kemunafikan. Namun pada dasarnya. Hanya bedanya. sementara itu rakyat tinggal menerima apa adanya. Sebab. karena masyarakat menilai bahwa aturan dan norma hanya untuk orang lain (rakyat) tetapi bukan atau tidak berlaku bagi para pemimpin. Hasilnya. Mereka yang setiap hari berpidato dengan selalu mengucapkan kata-kata keramat: Pancasila dan UUD 45.pendidikan yang doktriner tidak disertai dengan keteladanan yang benar. dalam pespektif politik keduanya sama dan sebangun yaitu bagaimana menjadikan ideologi Pancasila hanya sebagai instrumen penguasa agar kekuasaan dapat dipusatkan pada seorang pemimpin. Ukurannya hanya satu: sesuatu dianggap benar kalau hal itu sesuai dengan keinginan penguasa. . Pada masa Orde Lama ancaman bangsa dan negara adalah neo-kolonialisme. pada masa Orde Lama kekuasaan memusat di tangan Pemimpin Besar Revolusi. pada zaman Orde Baru ancaman terhadap bangsa dan negara adalah komunisme.

3. 4. 3. Argentina. Pemerintahan dalam arti luas adalah pemerintah/ lembaga-lembaga Negara yang menjalankan segala tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif. Adanya tanggung jawab yang saling menguntungkan antara legislatif dengan eksekutif. Menteri bertanggung jawab kepada presiden karena presiden berkedudukan sebagai kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Pakistan. Contoh Negara: Perancis. Pemerintahan Presidensial didasarkan pada prinsip pemisahan kekuasaan. parlemen mempunyai kekuasaan yang besar dan mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap eksekutif. Indonesia. Ciri-ciri dan syarat system pemerintahan Parlementer: 1. Contoh Negara: Kerajaan Inggris. 3. system pemerintahan Parlementer merupakan suatu system pemerintahan di mana pemerintah (eksekutif) bertanggung jawab kepada parlemen. system pemerintahan Presidensial merupakan system pemerintahan di mana kepala pemerintahan dipegang oleh presiden dan pemerintah tidak bertanggung jawab kepada parlemen (legislative). Contoh Negara: AS. Eksekutif tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatu dengan Legislatif. Tahun 1945 – 1949 Terjadi penyimpangan dari ketentuan UUD ’45 antara lain: . eksekutif dipilih melalui pemilu. Dalam system pemerintahan ini. Belanda. Selain memiliki presiden sebagai kepala Negara. Eksekutif dipilih oleh kepala pemerintahan dengan persetujuan legislatif. Australia. legislative maupun yudikatif. 2. Kabinet bertanggung jawab kepada presiden. Rumusan Masalah Bagaimanakah system pemerintahan pada masa orde Baru Apa Bentuk dari Pelanggaran Kesalahan pada Masa Orde Baru Apa saja Dampak dari Kesalahan dalam sebuah Orde Baru a. system pemerintahan Campuran dalam system pemerintahan ini diambil hal-hal yang terbaik dari system pemerintahan Presidensial dan system pemerintahan Parlemen. Pemerintahan Parlementer didasarkan pada prinsip pembagian kekuasaan.  Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia 1. Filiphina. Malaysia. dan antara presiden dan kabinet. Sistem Pemerintahan pada Masa Orde Baru Sistem berarti suatu keseluruhan yang terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional.B. 2. Menteri dan perdana menteri bertanggung jawab kepada parlemen.  Pengelompokkan system pemerintahan: 1. 2. Ciri-ciri system pemerintahan Presidensial: 1. India. juga memiliki perdana menteri sebagai kepala pemerintahan.

Terjadinya perubahan sistem kabinet presidensial menjadi kabinet parlementer berdasarkan usul BP – KNIP. d. Tahun 1950 – 1959 Landasannya adalah UUD ’50 pengganti konstitusi RIS ’49. b. Tahun 1966 – 1998 Orde baru pimpinan Soeharto lahir dengan tekad untuk melakukan koreksi terpimpin pada era orde lama. Soeharto mundur pada 21 Mei ’98. Tahun 1949 – 1950 Didasarkan pada konstitusi RIS. Tapi dalam praktiknya banyak elemen-elemen Sistem Pemerintahan Parlementer. Namun lama kelamaan banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan. presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. DPA sebagai pemberi saran kepada pemerintahan. parlemen mempunyai kedudukan yang sangat menentukan terhadap kekuasaan pemerintah.  Sistem Pemerintahan setelah amandemen (1999 – 2002) MPR bukan lembaga tertinggi lagi. K DPR sebagai pembuat UU. Jadi dapat dikatakan Sistem Pemerintahan Indonesia adalah perpaduan antara Presidensial dan Parlementer. Pemerintahan yang diterapkan saat itu adalah system parlementer cabinet semu (Quasy Parlementary). b. Perbandingan SisPem Indonesia dengan SisPem Negara Lain Berdasarkan penjelasan UUD ’45. Ciri-ciri: a. Kekuasaan Legislatif lebih dominan. MA sebagai lembaga pengadilan dan penguji aturan. Presiden dan wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan. 1. 3. BPK pengaudit keuangan. 4.a. 2. Tahun 1998 – Sekarang (Reformasi) Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak memberikan ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi pemerintah secara kritis dan dibenarkan untuk unjuk rasa. 5. Sistem Pemerintahan yang dianut adalah parlementer cabinet dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. Tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat. Komposisi MPR terdiri atas seluruh anggota DPR ditambah DPD yang dipilih oleh rakyat.  Sistem Pemerintahan menurut UUD ’45 sebelum diamandemen:  ekuasaan tertinggi diberikan rakyat kepada MPR. Tahun 1959 – 1966 (Demokrasi Terpimpin) Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat untuk melenyapkan kekuasaankekuasaan yang menghalanginya sehingga nasib parpol ditentukan oleh presiden (10 parpol yang diakui). c. Perdana Menteri diangkat oleh Presiden. Sistem Pemerintahan yang dianut pada masa konstitusi RIS bukan cabinet parlementer murni karena dalam system parlementer murni. Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan. Presiden tidak dapat membubarkan DPR. Presiden berhak membubarkan DPR. Berubah fungsi komite nasional Indonesia pusat dari pembantu presiden menjadi badan yang diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan GBHN yang merupakan wewenang MPR. Indonesia menganut sistem Presidensia.  .

Badan Legislatif a. Di Indonesia berada di tangan DPR yang perannya membuat undang-undang dengan persetujuan Presiden  b. LBH Pers pun menyoroti kebebasan pers yang masih menjadi ancaman.Jumlah ini meningkat dari tahun 2007 yang mencatat ada 25 kasus. Karena dalam pasal 27 UU ITE diatur tentang pencemaran nama baik.Selain itu ancaman hukumannya melebihi KUHP yaitu 6 tahun dan denda Rp 1 miliar. Sering terjadinya pergantian para pejabat karena adanya hak perogatif presiden." ujar Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana saat menggelar jumpa pers catatan akhir tahun di kantornya Jl Prof DR Soepomo. Badan Eksekutif a. intimidasi hingga kekerasan terhadap wartawan. Pengaruh rakyat terhadap kebijaksanaan politik kurang mendapat perhatian.LBH juga menilai dengan diterbitkannya UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi ekektronik (ITE) menjadi ancaman serius bagi dunia jurnalisme yang dibuat oleh wartawan dan masyarakat melalui surat pembaca maupun blog. 2. Pemerintah punya waktu untuk menjalankan programnya dengan tidak dibayangi krisis kabinet. Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.  Kelemahan Sistem Pemerintahan Indonesia Ada kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan di tangan Presiden. Pengawasan rakyat terhadap pemerintah kurang berpengaruh.Rencananya Rabu (23/12/2008) LBH pers akan mengajukan judicial review terhadap UU tersebut. "Pasal tersebut sangat multitafsir dan juga dinilai sebagai pasal karet karena setiap orang berhak menggunakan pasal tersebut. Hal ini tentu sangat membungkam terhadap kebebasan media. Jakarta Selatan. Selasa (23/12/2008). Presiden tidak dapat memberlakukan dan atau membubarkan DPR. b. Lembaga Bantuan Hukum Pers mencatat 40 persen dari 52 kasus kekerasan pada wartawan dilakukan oleh tentara dan polisi. Badan Eksekutif Malaysia terletak pada Perdana Menteri sebagai penggerak pemerintahan negara.” beber Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Pers . Tercatat ada 32 kasus mulai dari PHK.Sepanjang Mei 2008-Mei 2009. “Separuh lebih berupa kekerasan nonfisik. Kebebasan pers masih dalam ancaman. b. Kasus pelanggaran terhadap wartawan meningkat sepanjang tahun 2008.kelebihan Sistem Pemerintahan Indonesia Presiden dan menteri selama masa jabatannya tidak dapat dijatuhkan DPR.  Perbedaan Sistem Pemerintahan Indonesia dan Sistem Pemerintahan Malaysia 1." jelas Hendra. Bentuk dari pelanggaran Kesalahan Pada masa orde Baru Kasus Pelanggaran Terhadap Wartawan Meningkat. Di Malaysia ada 2 Dewan Utama dalam badan perundangan yaitu Dewan Negara dan Dewan Rakyat yang perannyan membuat undang-undang. Kekerasan Terhadap Wartawan 40 Persen Dilakukan Aparat Jakarta . "Hal ini bisa dilihat dari pasal-pasal KUHP tentang pencemaran nama baik.

preman. anggota parlemen. “Tapi media juga harus memperbaiki kekurangan internalnya.” Padahal sudah ada Dewan Pers.” jelasnya. “Upaya hukumnya bukan untuk mendidik.setiap tindakan yang kita lakukan itu tertulis ataupun tidak tertulis. organisasi massa. Sepuluh gugatan masalah perburuhan. Peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia yang jatuh pada tanggal 3 mei juga masih diwarnai gugatan terhadap media dan jurnalis dan regulasi yang membungkam. pelaku kekerasan baik fisik dan nonfisik dilakukan pula oleh massa. Tren gugatan terhadap media dan jurnalis. dari kekerasan fisik yang tercatat 25 kasus.baik itu fisik maupun non-fisik. satu gugatan sengketa Tata Usaha Negara dan satu gugatan masalah kebebasan pers.Sekali lagi ini merupakan pelajaran bagi Bangsa Indonesia bangsa yang menjunjung tinggi hukum. Ancaman pencabutan izin. menurut Hendrayana kini pemerintah tampaknya ingin masuk ranah kebebasan pers. pelarangan peliputan tercatat 27 kasus.” ungkap Sholeh. Catatan Lembaga Bantuan Hukum. Sepanjang Mei 2008-2009 tercatat 26 gugatan yang diterima Lembaga Bantuan. “Ada klausul untuk bisa mengatur surat izin penerbitan dalam revisi UU Pers (No 40/1999). Kepala Divisi Litigasi Lembaga Bantuan Hukum Pers Sholeh Ali menyatakan kekerasan aparat bertujuan membuat wartawan menjadi takut.tindakan kekerasan merupakan tindakan yang primitive.” ucapnya.” imbuhnhya.” Maka Hendrayana turut senang ketika Surat Edaran Mahkamah Agung no 13/2008 tentang saksi ahli dalam kasus pers.semua diatur didalam hukum dan jelas-jelas tindakan kekerasan tidak dibenarkan sama sekali (no excuse for that). “Ini angin segar bagi kebebasn pers. Hendrayana menambahkan juga terlihat pada pasal 57 UU Pemilihan Presiden (UU nomer 42 tahun 2008). aparat pemerintah. gara-gara tulisan seorang jurnalis dipecat pemimpin medianya.kita hidup di Negara Indonesia.” tutupnya. partai politik. aparat keamanan dan mahasiswa. lanjutnya merupakan bentuk ancaman pada wartawan agar tidak menyebarkan informasi. Sumber: Tempo Penjelasan Kekerasan terhadap wartawan . tapi lebih ke pembungkaman. lima gugatan perdata.” Adapun masalah regulasi. “Sebagian besar (40 persen) gugatan masalah perburuhan. Kasus yang dimediasi Lembaganya. sebuah Negara hukum. Beda tipis.Hendrayana di kantornya Ahad (3/5) Kekerasan non fisik seperti perampasan kamera. Hendrayanan menyimpulkan lebih ke arah pembangkrutan media atau jurnalisnya. diikuti sembilan gugatan pidana.kita harus bisa meningalkan praktik-praktik . “Mereka banyak menggunakan pasal pencemaran nama baik. Hendrayana melanjutkan yang mayoritas menang masalah gugatan perdata. jelas Hendrayan. Maka lembaga Bantuan menuntut pemerintah dapat mencabut regulasi yang mengancam kebebasan pers.itu tetap saja merupaka sebuah ganjalan dalam menuju suatu kebebasan pers yang absolute.” jelasnya. Sholeh menyatakan kepentingan media terhadap pemberitaan ternyata mempengaruhi status kepegawaian jurnalis. Kerusuhan di Sentani pekan lalu.” Ia mencontohkan tuntutan Rp 10 miliar mantan Kepala Polisi Daerah Sulawesi Selatan kepada Jupriadi Asmaradhana serta gugatan Rp 1 triliun terhadap majalah Time. Sisanya masih dalam proses hukum. “Kami menerima dua kasus. Diakuinya banyaknya kekerasan dalam peliputan ini justru terjadi di daerah. “Kami menang di tingkat Pengadilan Hubungan Industrial.

Upaya ke arah itu ditempuh setelah penulis melakukan serangkaian riset masif dengan meletakkan dasar-dasar pemikiran pembangunan pertanian dan pedesaan di awal pemerintah Orde Baru. Dampak dari kesalahan dalam sebuah Orde Baru Dampak dari kesalahan kebijakan ini tidak hanya akan menyebabkan terjadinya bencana yang mengakibatkan kerugian harta benda. lingkungan hidup telah kehilangan nilai estetika dan etikanya sebagai akibat dari kebijakan pembangunan pemerintah yang tidak berorientasi pada pelestarian fungsi lingkungan hidup dan SDA. V). Kebijakan pemerintah lebih mengarah pada eksploitasi dan eksplorasi SDA yang ada secara besar-besaran dan tidak terencana. Sebagaimana Karl J. 23). Dengan demikian. politik memiliki peran penting mengubah wajah alam bangsa Indonesia (hal. Jepang mengimpor kayu US $7. Sebagai contoh pada 1979. Profesor Sajogyo mengingatkan pemerintah (Orde Baru) ketika itu bahwa model pembangunan yang dijalankan negara ini. di beberapa negara termasuk Indonesia. Benarkah demikian? Selama kebijakan-kebijakan pemerintah bangsa Indonesia hingga saat ini tidak berpihak pada lingkungan hidup. antara lain dari Indonesia sekitar 21% sehingga setiap tahunnya Jepang dapat membangun satu setengah juta rumah baru di negerinya (hal.2 milyar hasil ekspor kayu yang hampir separuhnya ke Jepang. Pelzer dalam salah satu bab buku tersebut mengatakan. c. Tujuannya semata-mata untuk mendapatkan devisa bagi negara. meskipun pada akhirnya karya intelektual yang melampaui zamannya ini harus dibayar mahal berupa pencekalan dan pencopotan jabatan Sajogyo ketika itu sebagai ketua Badan Pelaksana Survei Agroekonomi. Pemerintah sebagai pemegang kewenangan melaksanakan dan menyelenggarakan pengelolaan lingkungan . Pada 1979. misalnya tergusurnya suatu kelompok masyarakat dari wilayahnya sehingga kehilangan sumbersumber kehidupannya.kekerasan untuk mencapai kebebasan pers yang bertanggung jawab sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam buku yang berumur seperempat abad ini. buku karya Sajogyo berjudul Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai mungkin (jika bisa berbicara) akan berkata "Non omnis moriar (Aku takkan pernah mati. pemerintah adalah manusia politik yang memiliki tanggung jawab ekologis. Bagi Sajogyo. hanya akan menciptakan disharmonisasi dan perusakan lingkungan. yakni keselarasan pembangunan dengan lingkungan di Indonesia." Inilah buku karya Sajogyo (1982) yang menyajikan tema besar (dan mungkin terlalu besar pada zamannya) dan entah kapan akan terwujud. Menarik untuk diperhatikan di sini karena Jepang sendiri merupakan negara penghasil kayu (dua per tiga tanahnya diliputi hutan). tapi juga bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Bagaimana tidak? Sejak awal tahun 1970-an.3 milyar. yang terus menerus mengeksploitasi sumber daya alam (SDA). Horace). kayu-kayu dari Kalimantan menghasilkan US $3.

melainkan menimbulkan pada pelanggaran hak asasi manusia. SH. menurut Dr. berbangsa dan bernegara dan melalui berbagai hambatan dan ancaman yang membahayakan perjuangan bangsa indonesia dalam mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Pertanggungjawaban ekologis pemerintah ini sangat penting mengingat efek dari kesalahan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup berdampak besar. BAB II PEMBAHASAN Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia masuk dalam suatu babak kehidupan baru sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh. Pada masa ini pula politik kepartaian sangat mendominasi konfigurasi politik yang terlihat melalui revolusi fisik serta sistem yang otoriter sebagai esensi feodalisme. Dalam penulisan ini. paham. Dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia mengalami berbagai perubahan asas.hidup seharusnya mampu menjaga dan mengelola lingkungan hidup dan SDA dengan baik. Konfigurasi politik. serta pemahaman terhadap partai politiknya. Konfigurasi politik yang ada pada periode orde lama membawa bangsa Indonesia berada dalam suatu rezim pemerintahan yang otoriter dengan berbagai produk-produk hukum yang konservatif dan pergeseran struktur pemerintahan yang lebih sentralistik melalui ketatnya pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Moh. KONFIGURASI POLITIK ERA ORDE BARU Peristiwa yang lazim disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menandai pergantian orde dari Orde Lama ke Orde Baru. fungsi dan struktur politik yang tradisional berlandaskan ideoligi sosialisme komunisme. Pada tanggal 1 Maret 1966 Presiden Soekarno dituntut untuk menandatangani sebuah surat yang memerintahkan pada Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk keselamatan negara dan melindungi Soekarno sebagai . Sedangkan dibawah kepemimpinan rezim Orde Baru yang mengakhiri tahapan tradisional tersebut pembangunan politik hukum memasuki era lepas landas lewat proses Rencana Pembangunan Lima Tahun yang berkesinambungan dengan pengharapan Indonesia dapat menuju tahap kedewasaan (maturing society) dan selanjutnya berkembang menuju bangsa yang adil dan makmur. yakni Orde Lama dan Orde Baru. Wujud berbagai hambatan adalah disintegrasi dan instabilisasi nasional sejak periode orde lama yang berpuncak pada pemberontakan PKI 30 September 1945 sampai lahirlah Supersemar sebagai titik balik lahirnya tonggak pemerintahan era Orde Baru yang merupakan koreksi total terhadap budaya dan sistem politik Orde Lama dimana masih terlihat kentalnya mekanisme. yaitu konfigurasi politik demokratis dan konfigurasi politik otoriter. kami mencoba memberikan penjelasan singkat seputar konfigurasi politik yang dibatasi pada dua era. ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat. Dampak kesalahan kebijakan ekologis ini tidak hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan semata. mengandung arti sebagai susunan atau konstelasi kekuatan politik yang secara dikotomis dibagi atas dua konsep yang bertentangan secara diametral. Mahfud MD.

1982. Ada dua macam konsensus nasional. Menyusul PKI sebagai partai terlarang. Konsensus ini kemudian dituangkan kedalam TAP MPRS No. 1992 dan 1997). KOSGORO. tokoh-tokoh lama tidak boleh duduk dalam kepengurusan partai. 1987. Surat yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) itu diartikan sebagai media pemberian wewenang kepada Soeharto secara penuh. TNI dan beberapa organisasi massa.[8] Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang disebut dengan konsensus nasional. XX/1966. Artinya. yang kemudian pula pada 20 Oktober 1984 mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pasca pemilu 1971 muncul kembali ide-ide penyederhanaan partai yang dilandasi penilaian hal tersebut harus dilakukan karena partai politik selalu menjadi sumber yang mengganggu stabilitas. MKGR dan lainnya sebagai “Political Battle Unit “ rezim orde baru. Berdasarkan semangat konsensus nasional itu pemerintah Orde Baru dapat melakukan tekanan-tekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas. yaitu : 1.Presiden. masyumi harus mengganti nama sehingga terkesan sebagai partai baru. sebagian besar lainnya diasingkan ke pulau Buru. Secara umum. Konsensus pertama ini disebut juga dengan konsensus utama. pemerintah memberi izin dengan dua syarat. . Terlebih kepada PNI yang nota bene partai besar dan dinilai memiliki kedekatan dengan rezim terdahulu.[10] Pada Pemilu 1971 partai-partai politik disaring melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu. gagasan ini menimbulkan sikap Pro dan Kontra karena dianggap membatasi atau mengekang aspirasi politik dan membentuk partai-partai hanya kedalam golongan nasional.[9] Beberapa hasil konsensus tersebut antara lain penyederhanaan partai politik dan keikutsertaan TNI/Polri dalam keanggotaan MPR/DPR. sistem fusi ini berlangsung hingga lima kali Pemilu selama pemerintahan orde baru (1977. elemen-elemen penting yang terlibat dalam perumusan konsensus nasional antara lain pemerintah. spiritual dan karya. Satu contoh ketika para tokoh Masyumi ingin menghidupkan kembali partainya yang telah dibekukan pemerintah Orde Lama. Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara melaksanakan konsensus utama. Pada mulanya Golkar merupakan gabungan dari berbagai macam organisasi fungsional dan kekaryaan. Pertama. Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang berlangsung pada Juni-Juli 1966. Dalam pemilu kali ini didapati Golongan Karya (Golkar) menjadi peserta pemilu. sejak itu konsensus nasional memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan partai-partai politik dan masyarakat. Kedua.[11] Pada tahun 1973 konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) sudah dapat diterima oleh partai-partai yang ada dan dikukuhkan melalui Undang-Undang No. Tujuannya antara lain memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok fungsional dan mengkoordinir mereka dalam front nasional. Sekber Golkar ini merupakan organisasi besar yang dikonsolidasikan dalam kelompok-kelompok induk organisasi seperti SOKSI. 3/1975 tentang Partai Politik dan Golongan. Pemerintah orde baru juga melakukan tekanan terhadap partai-partai dengan basis massa Islam. setiap orang yang pernah terlibat dalam aktivitas PKI ditahan. diantara ketetapan yang dihasilkan sidang tersebut adalah mengukuhkan Supersemar dan melarang PKI berikut ideologinya tubuh dan berkembang di Indonesia. Sebagian diadili dan dieksekusi. konsensus kedua lahir sebagai lanjutan dari konsensus utama dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Ruslan Abdul Gani dan Wirjono Prodjodikoro. beranggapan bahwa dasar hukum dari dekrit ini berdasarkan doktrin staatsnoodrecht dan noodstaatsrechts yaitu hak darurat yang dimiliki penguasa untuk mengeluarkan produk hukum yang menyimpang dari asas perundang-undangan yang baik karena adanya keadaan yang memaksa dan membahayakan keselamatan Negara.BAB III PENUTUP a. Pada era Orde Lama sejak Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang membubarkan konstituante lewat rumusan sebuah panitia kecil yang terdiri dari: Djuanda. serta mengingat bahwa lembaga-lembaga Negara sebagaimana digariskan oleh UUD 1945 belum lengkap. MPRS yang dibentuk oleh Soekarno kemudian menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup melalui Ketetapan MPRS No. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No. Yamin. III Tahun 1963 yang jelas-jelas melanggar ketentuan pasal 7 UUD 1945. A. 3 Tahun 1959 tentang Dewan Pertimbangan Agung Sementara. Moh. 4 Tahun 1960 sekaligus pemberhentian dengan hormat Dewan Perwakilan Rakyat. Pembaharuan susunan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penetapan Presiden No. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945. Nasution. 3. Penyusunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dengan Penetapan Presiden No. maka Presiden Soekarno melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 5.[20] Pada era Orde Baru dengan gagalnya Gerakan 30 September 1965 dan turunnya Soekarno dari kekuasaan menimbulkan suatu situasi baru (disebut Orde Baru). 2 Tahun 1999 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). 4.H. Kesimpulan Dengan melihat keseluruhan materi pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa politik hukum pada era Orde Lama dan Orde Baru memiliki perbedaan. Jatuhnya legitimasi Presiden Soekarno dalam memegang kekuasaan Negara ditandai oleh peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia hingga berakibat pembunuhan besar-besaran terhadap anggota Partai Komunis Indonesia di berbagai daerah serta dikeluarkannya Supersemar yang pada hakekatnya merupakan bentuk penyerahan kekuasaan kepada Soeharto. 3 Tahun 1960. Penyusunan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dengan Penetapan Presiden No. semboyan untuk melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen banyak dikemukakan pemerintah Orde Baru Pimpinan Soeharto yang lebih mengkonsentrasikan penyelenggaraan sistem pemerintahan dengan menitikberatkan pada . 2. 12 Tahun 1960. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No.

Dan kami sangat berharap kepada teman – teman apabila didalam makalah kami ini terdapat kesalahan maupun kekeliruan kami mohon maaf yang sebesar – besarnya karena kita sebagai manusia biasa tidak pernah luput dari kesalahan dan kehilafan. Selain itu pemerintahan Orde Baru berusaha menciptakan single majority lewat eksistensi partai Golongan Karya. dan kami akan terima dengan lapang dada. .[21] Pada era ini pula mulai memasukkan hak-hak politik warga Negara dan munculnya konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) yang dikukuhkan melalui Undang-Undang No. b. spiritual dan karya. Kami dari Kelompok 3 sangat mengharapkan kritik dari teman – teman apabila didalam makalah kami ini terdapat kesalahan. serta memberikan tekanan-tekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas sekaligus penyaringan partai politik melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu pada tahun 1971 hingga partai-partai hanya terbagi kedalam golongan partai yang berbasis nasional. Saran Adapun saran dari kami dari kelompok 3 (tiga yaitu) semoga apa yang telah kami paparkan dalam makalah kami ini mudah – mudahan dapat bermanfaat dan bisa dipelajari dengan sebaik – baiknya. 4 Tahun 1975 yang membatasi organisasi peserta Pemilu. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Undang-Undang No. Karena kritik dari teman-teman sangat berguna bagi kami agar kami bisa memperbaikinya.aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

1985). (Jakarta: Aksara Karunia. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. 1985). (Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. M. Jakarta: Balai Pustaka. Hukum Tata Negara RI: Era Reformasi. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. 1998). Serbo. 9. 24. 2000). Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik. 1983. [4] Moh. 2005. 2005. Moh. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Politik Hukum di Indonesia. Yogyakarta: FH UII PRESS. 50. Herbert. 25. (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. Jakarta: Konpress. Manan. Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. M. Kusnardi. [7] Sebagian pengamat sejarah asing berpendapat bahwa peristiwa Jakarta 1965 merupakan skenario hebat dari sebuah kup yang didalangi oleh Dinas Intelijen AS. Willem. 163-164. 2001 Serbo. (Jakarta: Konpress. Suhardiman. 1985. hal. 2005). Abdul Bari. 2003. Mendung di Atas Istana Merdeka. Pembangunan Politik Satu Abad. Sumarkidjo. Jakarta: Aksara Karunia. Politik Hukum di Indonesia. hal. 109. (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. [11] Nur Syam. Mahfud. 141. [6] Bagir Manan. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. (Jakarta: Ramdina Prakarsa.J. __________. Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI. 2005. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. *** [1] M. 190. Boland. 2000. Jakarta: FH UI. hal. Morissan. . Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. 148-150. (Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Pembangunan Politik Satu Abad. hal. Atmadji. [8] BJ Boland. [3] Suhardiman.41. 1985. hal. Nur. 1996.DAFTAR PUSTAKA Asshiddiqie. Mahfud MD. Hukum Tata Negara RI Era Reformasi. Pengantar Ilmu Politik. 2005). Hukum. Pengantar Ilmu Politik. hal. 2000. [10] Jimly Asshiddiqie. (Yogyakarta: penerbit UII. 2005). Mahfud MD. 2004. Oltmans. Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. 1998). Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. Pergumulan Islam di Indonesia. Teori dan Politik Konstitusi. (Jakarta: Gramedia. MD. hal. 2003). Nugroho. (Jakarta: Balai Pustaka. Pengalaman Indonesia Orde Baru. [9] Nugroho Notosusanto. [12] Miriam Budiardjo. 1996). hal. 1999). 68 dan 102. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. (Jakarta: Grafiti Press. Notosusanto. [2] Morrisan. ___________ dan Makmur Amir. hal. 1999. Budiardjo. CIA.n. 1998. [5] Moh. Syam." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran. (Yogyakarta: FH UII PRESS. [13] Abdul Bari Azed dan Makmur Amir. Jimly. Azed. Lihat: Willem Oltmans. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. hal. Jakarta: Ramdina Prakarsa. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Gramedia. Jakarta: KPG. Jakarta: s. Bagir. Hukum. Teori dan Politik Konstitusi. hal. Faith. Pengalaman Indonesia Orde Baru. Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. hal. Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. 133-134. 2004). Jakarta: Badan Penerbit FHUI. 1999. 2000. (Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI. 2001). Miriam. Jakarta: Grafiti Press. Yogyakarta: UII. The Indonesian Elections of 1955. B. Pergumulan Islam di Indonesia. 1998. "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia. Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. 27-49.

[14] Abdul Bari Azed. 2000). "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia. 7. . (Jakarta: Badan Penerbit FHUI." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran. hal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->