P. 1
Pewarnaan Bakteri

Pewarnaan Bakteri

|Views: 2,230|Likes:

More info:

Published by: Anggy Anggraeni Wahyudhie on Jan 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI PEWARNAAN SEL BAKTERI

Oleh: Nama Nim Kelompok : Anggy Anggraeni Wahyudhie : 0808505002 : II

Tanggal Praktikum : 5 April 2010 Asisten : Ni Komang Sri Indrawati

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bakteri dapat dilihat tanpa pewarnaan dengan menggunakan mikroskop. Namun karena ukurannya kecil dan tidak berwarna, sulit mengamatinya dengan teliti. Maka, untuk dapat mengamati bakteri secara jelas diperlukan pewarnaan terhadap bakteri tersebut (Entjang, 2003). Tujuan dari pewarnaan adalah untuk mempermudah pengamatan bentuk sel bakteri, memperjelas ukuran jazad, mengamati struktur luar dan dalam sel bakteri dan melihat reaksi jazad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat fisik atau kimia jazad dapat diketahui. Berhasil tidaknya pewarnaan sangat ditentukan oleh waktu pemberian warna dan umur biakan yang diwarnai (umur biakan yang baik adalah 24 jam) (Ramona dkk., 2007). Pada umumnya zat warna yang digunakan adalah garam-garam yang dibangun oleh ion-ion yang bermuatan positif dan negatif dimana salah satu ion tersebut berwarna. Zat warna dikelompokkan menjadi dua, yaitu zat pewarna bersifat asam dan basa. Jika ion yang mengandung warna adalah ion positif maka zat warna tersebut disebut pewarna basa dan bila ion yang mengandung warna adalah ion negatif maka zat warna tersebut disebut pewarna asam (Ramona dkk., 2007). Cara pewarnaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial dan pewarnaan khusus. Pewarnaan sederhana meliputi pewarnaan langsung dengan pewarna asam dan basa (meteline blue, kristal violet atau karbol fuhsin) dan pewarnaan tidak langsung menggunakan nigrosin/tinta cina. Pewarnaan diferensial salah satunya adalah pewarnaan gram (Pratiwi, 2008). Prinsip dasar pewarnaan ini adalah pewarna dasar, fiksasi warna, penghapusan warna dan pewarnaan kembali dengan pewarna pembanding. Pewarnaan gram membagi bakteri menjadi bakteri gram positif dan negatif. Pewarnaan endospora dengan pewarna utama malakit hijau termasuk pewarnaan khusus (Ramona dkk., 2007)

1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui tujuan pewarnaan sel bakteri. 2. Untuk mengetahui metode-metode yang digunakan dalam pewarnaan sel bakteri. 3. Untuk mengetahui pengaruh pewarnaan terhadap bakteri. 4. Untuk mengetahui bentuk sel bakteri hasil isolasi setelah dilakukan pewarnaan. 5. Untuk mengetahui perbedaan warna antara bakteri gram positif dan gram negatif.

II. MATERI DAN METODE

Pada praktikum kali ini dilakukan pewarnaan bakteri menggunakan metode pewarnaan langsung, pewarnaan tidak langsung dan pewarnaan gram. Sampel bakteri yang digunakan adalah bakteri hasil isolasi, yaitu bakteri Bacillus, Streptococcus pyogenes dan E. coli. Langkah pewarnaan langsung diawali dengan meletakkan sebuah kaca objek yang bebas lemak diatas meja kerja kemudian diteteskan setetes air di tengah-tengah kaca objek tersebut. Dengan menggunakan jarum ose yang telah dipanaskan pada nyala api lampu bunsen, ambil sedikit biakan bakteri hasil isolasi yang berada pada medium agar miring di dalam tabung reaksi. Selanjutnya buat apusan bakteri pada air yang diletakkan pada kaca objek dengan cara menggesek-gesekkan jarum ose yang berisi bakteri sehingga didapatkan suatu campuran yang tipis dan merata. Kaca objek yang berisi apusan dari bakteri difiksasi di atas nyala api bunsen dengan jarak sekitar 30 cm dari nyala api agar tidak merusak bentuk sel bakteri. Kemudian teteskan dengan pewarna kristal violet yang akan mewarnai sel dalam 10 detik. Lalu cuci dengan air mengalir dan dikeringkan dengan meletakkan kaca objek diantara kertas tisu. Amati dengan mikroskop pada perbesaran bervariasi antara 10x10 hingga 100x10 dengan menggunakan minyak emersi dan dicatat serta digambar bentuk dan warna sel yang diamati. Pada pewarnaan tidak langsung, tinta cina diteteskan pada pinggir ujung kaca objek dan dengan menggunakan jarum ose yang telah dipijarkan, ambil sedikit biakan bakteri hasil isolasi di dalam tabung reaksi yang berisi medium agar miring. Kemudian suspensikan bakteri tersebut pada tinta cina di atas permukaan kaca objek. Ratakan suspensi bakteri dalam tinta cina pada permukaan kaca objek menggunakan kaca objek yang lain. Biarkan mengering pada suhu kamar dan kemudian diamati dengan mikroskop pada perbesaran 10x10 hingga 100x10 menggunakan minyak emersi. Bentuk sel yang terlihat digambar pada lembar pengamatan. Pada pewarnaan gram, tahap pertama adalah membuat apusan bakteri isolasi dalam 1 tetes air pada permukaan kaca objek yang kering dan bersih. Kaca objek kemudian difiksasi di atas nyala api bunsen hingga air mengering, lalu diwarnai dengan larutan kristal violet selama 1-1,5 menit lalu dicuci dengan air suling. Selanjutnya tetesi dengan garam iodine dan dibiarkan selama 1 menit. Dicuci dengan larutan alkohol 95% sampai warnanya terhapus (kira-kira 30 detik), lalu diwarnai dengan safranin selama 5-15 menit, dicuci kembali dengan air dan keringkan di atas nyala api bunsen. Setelah kering, amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10 hingga 100x10 menggunakan minyak emersi. Hasil pengamatan digambar.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Pengamatan Tabel Hasil Pengamatan Pewarnaan Bakteri Pewarnaan
Kelompok

Bakteri

PTL

PL

PG

Keterangan

I

Bacillus

Bakteri berbentuk batang, gram (-)

Perbesaran:

10x10

10x10

10x10

II

Streptococcus pyogenes Perbesaran: 40x10 40x10 40x10

Bakteri berbentuk rantai, gram (+)

III

Bacillus

Bakteri berbentuk batang, gram (+)

Perbesaran:

40x10

40x10

40x10

IV

Streptococcus pyogenes Perbesaran: 100x10 100x10 100x10

Bakteri berbentuk bulat berantai, gram (+)

V

E. coli

Bakteri berbentuk batang, gram (-)

Perbesaran:

40x10

40x10

40x10

VI

E. coli

Bakteri berbentuk batang, gram (-)

Perbesaran:

40x10

40x10

100x10

Keterangan: PTL = Pewarnaan Tidak Langsung ; PL = Pewarnaan Langsung ; PG = Pewarnaan Gram

3.2 Pembahasan Pada praktikum pewarnaan bakteri digunakan 3 metode pewarnaan, yaitu pewarnaan langsung, pewarnaan tidak langsung dan pewarnaan gram. Untuk setiap sampel bakteri hasil isolasi yaitu bakteri Bacillus, Streptococcus pyogenes dan E.coli akan diwarnai dengan ketiga cara pewarnaan tersebut dengan masing-masing pewarnaan dilakukan pengulangan sekali lagi sebagai pembanding hasil dari pewarnaan sebelumnya dengan teknik yang sama. Pewarnaan langsung dilakukan dengan menggunakan satu larutan warna yaitu kristal violet. Setelah proses pewarnaan selesai dan ketiga bakteri diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran bervariasi yaitu 10x10 hingga 100x10 menggunakan minyak emersi untuk memperjelas bentuk sel yang diamati, didapatkan data pengamatan untuk bakteri Bacillus merupakan bakteri yang berbentuk basil (batang) dengan warna ungu. Hasil yang sama juga diperoleh pada pengulangan pewarnaan Bacillus sebagai data pembanding. Bakteri Streptococcus pyogenes di bawah mikroskop berbentuk coccus yang membentuk untaian menyerupai rantai dengan warna ungu, namun pada pengulangan pewarnaan yang kedua selain bakteri berbentuk coccus, ditemukan juga bakteri berbentuk batang. Hal ini menandakan bahwa sampel bakteri Streptococcus pyogenes telah terkontaminasi dengan bakteri lain yang berasal dari udara atau dari jarum ose yang kurang steril saat dipanaskan. Bakteri E.coli menunjukkan bentuk basil (batang) seperti Bacillus dengan warna ungu. Pengulangan pewarnaan sebagai pembanding pada bakteri E.coli menunjukkan hasil yang serupa seperti pewarnaan pada pengulangan pertama. Bakteri dapat terwarnai oleh pewarna basa disebabkan sitoplasma bakteri kaya akan asam amino dan mengandung muatan negatif seperti kelompok fosfat, sifat ini yang bereaksi dengan zat warna bermuatan positif (Jawetz et al, 2005). Selain sitoplasma, sel bakteri juga mempunyai komponen dinding sel yang relatif bermuatan negatif sehingga mudah berikatan dengan ion bermuatan positif yang berasal dan zat warna dan menyebabkan bakteri menjadi terwarnai (Kawuri dkk., 2007). Pada pewarnaan tidak langsung digunakan tinta cina sebagai pewarna utama. Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah pewarna asam sehingga daya pewarnaannya ada pada ion negatif yang ditolak oleh sitoplasma sel yang bermuatan negatif, sehingga zat warna ini akan berikatan dengan lingkungan yang mengelilingi sel dan bagian dalam sel akan tetap berwarna bening (Ramona dkk., 2007). Selain itu, pada pustaka juga disebutkan bahwa bakteri merupakan organisme mikroseluler yang pada dinding selnya mengandung ion negatif zat warna (tinta cina), sehingga pewarna ini tidak akan mewarnai sel tetapi mewarnai lingkungan

luarnya saja (Entjang, 2003). Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10 hingga 100x10 menggunakan minyak emersi agar bentuk sel semakin jelas terlihat. Hasil yang diperoleh telah sesuai dengan pustaka, sebab bakteri Bacillus menunjukkan bentuk batang (basil) dengan warna bagian dalam sel bening, bakteri Streptococcus pyogenes berbentuk coccus (bulat) dengan warna bening dan bakteri E. coli berbentuk basil (batang) dengan warna bagian dalam sel juga bening. Lingkungan dari ketiga sel bakteri tersebut berwarna hitam akibat pewarnaan dengan tinta cina. Pewarnaan gram pada praktikum ini menggunakan pewarna dasar kristal violet dan pewarna pembanding atau pewarna kontras adalah safranin. Pewarna kristal violet akan menghasilkan warna ungu pada bakteri, sedangkan pewarna safranin akan menghasilkan warna merah atau raddish pink (merah muda). Pada pewarnaan gram di pengulangan pertama untuk bakteri Bacillus menunjukkan hasil bahwa bakteri Bacillus adalah bakteri gram negatif berbentuk batang (basil) karena warna akhir yang ditunjukkan setelah proses pewarnaan selesai adalah warna merah, sedangkan pada pengulangan pewarnaan yang kedua, bakteri Bacillus menunjukkan bentuk batang berwarna ungu yang berarti Bacillus adalah golongan bakteri gram positif. Menurut literatur Bacillus merupakan bakteri yang termasuk golongan bakteri gram positif (Kawuri dkk., 2007). Jadi hasil yang benar ditunjukkan oleh pengulangan pewarnaan yang kedua. Penyimpangan pada pewarnaan pertama dapat disebabkan karena pada saat fiksasi terlalu sedikit garam iodine yang diberikan, sehingga perlekatan dari warna dasar kristal violet tidak terlalu kuat dan banyak terhapus saat dicuci lama dengan alkohol berlebih. Selain itu dapat disebabkan oleh akibat pemberian pewarna safranin yang berlebihan yang membuat warna safranin banyak terserap dan sukar hilang saat pencucian karena pekatnya warna safranin pada bakteri sehingga pada saat penafsiran warna yang dilakukan oleh praktikan, warna yang lebih dominan terlihat adalah warna dari safranin bukan dari kristal violet. Bakteri Streptococcus pyogenes menghasilkan bentuk coccus (bulat) berwarna ungu pada dua kali pengulangan pewarnaan gram yang menunjukkan bahwa Streptococcus pyogenes termasuk ke dalam golongan bakteri gram positif. Hal ini karena bakteri menyerap warna dasar yaitu kristal violet dan warnanya tidak terhapuskan oleh pencucian alkohol sehingga tidak menyerap pewarna pembanding (Ramona dkk., 2007). Warna ungu (violet) ini timbul disebabkan dinding bakteri gram positif banyak mengandung peptidoglikan sehingga kompleks ion kristal violet-iodine yang masuk ke dalam sel akan tidak dapat tercuci oleh alkohol karena adanya lapisan peptidoglikan yang kokoh pada dinding sel (Pratiwi, 2008). Pada pewarnaan

gram bakteri E.coli, kedua pengulangan pewarnaan menunjukkan hasil yang sama yaitu bakteri E.coli di bawah mikroskop berbentuk batang (basil) seperti bakteri Bacillus, yang membedakan adalah bakteri E.coli adalah bakteri gram negatif sebab warna yang ditunjukkan telah sesuai dengan literatur yaitu warna raddish pink (merah muda) (Kawuri dkk., 2007). Bakteri E.coli menunjukkan warna merah muda sebagai hasil akhir dari pewarnaan karena bakteri ini setelah diwarnai oleh pewarna dasar yaitu kristal violet lalu setelah dicuci dengan alkohol maka warna dasarnya akan terhapus dan menyerap pewarna safranin yang digunakan sebagai pewarna pembanding. Warna merah muda ini timbul akibat rusaknya lapisan lipoposakarida oleh alkohol dan tipisnya lapisan peptidoglikan pada bakteri gram negatif sehingga kompleks kristal violet-iodine sedikit yang berikatan dengan peptidoglikan dan dapat tercuci dengan mudahnya dari bakteri yang menyebabkan bakteri menjadi transparan, yang kemudian akan berwarna merah karena menyerap safranin.

IV. KESIMPULAN

1. Tujuan pewarnaan yaitu mempermudah pengamatan bentuk mikroba, memperjelas ukuran jazad, dapat mengamati struktur luar dan dalam sel mikroba serta mengetahui rekasi jazad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat fisik dan kimia jazad dapat diketahui. 2. Metode-metode yang digunakan dalam pewarnaan sel bakteri adalah pewarnaan langsung, pewarnaan tidak langsung, pewarnaan gram dan pewarnaan endospora. Dalam praktikum kali ini tidak dilakukan pewarnaan endospora. 3. Pengaruh pewarnaan terhadap bakteri adalah pada pewarnaan langsung bagian yang terwarnai adalah sel bakteri sehingga bagian dalam dari sel bakteri dapat teramati, pada pewarnaan tidak langsung yang terwarnai adalah lingkungan sekitar sel sehingga hanya dapat mengamati bentuk dan ukuran bakteri dan pada pewarnaan gram digunakan untuk mengelompokkan bakteri menjadi bakteri gram positif dan gram negatif. 4. Pada pewarnaan langsung, bakteri Bacillus, Streptococcus pyogenes dan E.coli berwarna ungu akibat pewarna kristal violet. Pada pewarnaan tidak langsung, ketiga bakteri tersebut berwarna bening dan lingkungan disekitar bakteri berwarna hitam akibat pewarna tinta cina sehingga terlihat bakteri Bacillus dan E.coli berbentuk batang sedangkan Streptococcus pyogenes berbentuk bulat menyerupai rantai. Pada pewarnaan gram, bakteri Bacillus dan Streptococcus pyogenes berwarna ungu akibat pewarna kristal violet sedangkan E.coli berwarna raddish pink (merah muda) akibat pewarna safranin. 5. Bakteri gram positif memiliki ciri berwarna ungu karena mengikat warna dari pewarna dasar dan tidak terhapus oleh pencucian alkohol serta tidak menyerap pewarna kontras. Sedangkan bakteri gram negatif mempunyai ciri berwarna merah karena tidak menyerap pewarna dasar dan terhapus oleh pencucian dengan alkohol serta menyerap warna pewarna kontras.

DAFTAR PUSTAKA Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Citra Aditya Bakti. Bandung. Jawetz, E., J. L. Melnick, dan E.A. Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta. Kawuri, R., I.B.G Darmayasa. 2007. Buku Ajar Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran. Pelczar, M.J., E.C.S. Chan. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta Pratiwi, Silvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga. Jakarta. Prescott, et al. 2003. Microbiology Fifth Edition. McGraw Hill Companies. Singapores. Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Program Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F. MIPA UNUD. Bukit Jimbaran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->