PAJAK PENGHASILAN PASAL 21, 22, 24, DAN 25 SERTA PAJAK PENGHASILAN YANG DIKENAKAN FINAL DI INDONESIA

OLEH :

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI JAYAKARTA Jl. Salemba Raya no. 24 Jakarta Pusat

PENDAHULUAN

Penerimaan Pajak Penghasilan merupakan salah satu sumber utama pembiayaan pemerintah dan pembangunan. Kebijakan fiskal yang dicanangkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 diantaranya melakukan reformasi di tiga bidang utama, yakni pajak, bea dan cukai, serta anggaran. Sebagai refleksi implikasi kebijakan pemerintah, Penerimaan Pajak dan rasio perpajakan terhadap PDB (Produk Domesik Bruto) yang disebut juga rasio pajak (tax ratio) menjadi ukuran kemampuan pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, dalam mengumpulkan pajak dari masyarakat. Pajak penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau dioperolehnya dalam tahun pajak. Dari defenisi diatas ada tiga unsur pajak penghasilan: 1. Subjek Pajak
2. Penghasilan 3. Tahun Pajak yang akan menjadi urutan bahasan berikutnya.

Dalam UU PPh ketentuan tentang subjek pajak (pasal 2) lebih dahulu dari ketentuan objek pajak penghasilan (pasal 4). Pengaturan tersebut disebabkan karena pajak penghasilan adalah pajak subjektif dimana yang ditentukan lebih dahulu siapa yang harus dikenakan pajak, dan mengikuti konvensi internasional yang mendahulukan pembahasan tentang subjek dari objek atau penghasilan. Subjek Pajak adalah pihak yang potensial dikenakan pajak, subjek pajak penghasilan adalah orang, warisan yang belum terbagi, badan usaha tetap (BUT, Permanent Establisment/PE) dan Badan dan orang atau badan yang berada di luar negeri yang dapat menjadi sasaran pengenaan pajak di Indonesia. Keempat-empatnya dalam undang-undang disebut subjek pajak (UU PPh pasal 1 dan pasal 2). Potensial maksudnya subjek pajak tidak atau belum dikenakan pajak penghasilan sepanjang belum mempunyai penghasilan karena praktis sang bayi belum mempunyai penghasilan. Begitu pula orang yang pengahasilannya masih dibawah Penghasilan Tidak Kena Pajak – PTKP, tidak akan dikenakan pajak penghasilan (UU PPh pasal 7). Pengenaan pajak pada umumnya harus memenuhi sesuai kriteria subjeknya dan objek secara kumulatif. Salah satu perbedaan mendasar antara PPh dengan pajak lainnya adalah pada PPh yang ditentukan atau dicari lebih dahulu adalah subjeknya setelah itu baru ditentukan atau dicari objeknya. Pajak-pajak lain sebaliknya, ditentukan dulu objek yang akan dikenakan pajak setelah itu baru ditentukan subjeknya. Dalam hal PPh bila tidak ada subjek pajak namun ada penghasilan tidak dapat dikenakan pajak penghasilan, karena tidak tahu
2

upah. h. g. yang diperoleh dari keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau keseluruhan hak penambangan disektor hulu migas yang menyebabkan pemegang hak memperoleh keuntungan berupa capital gain. Pengalihan Hak dibidang pertambangan. jasa perbankan. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak dengan nama dan dalam bentuk apapun. pesangon dan lain-lain (income from dependent personal service or labor income). c. diskonto. komisi. seperti bunga. segala macam tunjangan. Imbalan bunga. selama masih ada ikatan kerja (sebagai pegawai). pajak dikenakan atas imbalan bunga yang diterima wajib pajak. THR dan lain lain maupun setelah putus ikatan kerja (pensiun). konsultan. jasa manajemen. penghargaan. jasa konstruksi. baik harta tidak berwujud (seperti royalty) maupun harta berwujud (seperti hasil dari sewa rumah). bonus. teknisi. seperti uang pension. yang diperoleh dari kegiatan bisnis yang berupa jasa. yang diperoleh sebagai tenaga professional.siapa yang harus membayar pajak. Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh wajib pajak. honorarium. uang duduk. seperti honorarium. d. seperti uang rapat. Untuk lebih memahami pajak penghasilan maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dinamakan penghasilan?. yang diperoleh dari serangkaian tindakan/kegiatan. Penghasilan dari pekerjaan (employment income or income from personal service). Penghasilan dari modal atau dari penggunaan modal uang (capital income). yang diperoleh dari usaha industri atau penjualan barang dagangan. 3 . Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah. uang saku dan lain-lain. notaris. seperti jasa konsultan. Penghasilan dapat dikelompokkan menjadi. Sebaliknya ada subjek pajak tetapi tidak ada penghasilan maka tidak ada pula pajak penghasilan. dividend an penghasilan dari penggunaan harta lainnya. seperti gaji. Penghasilan bebas. 2. Penghasilan dari kegiatan. seperti penjualan dan pendapatan (business income). atau yang diperoleh sebagai dokter. jasa tekhnik (income from business service). tunjangan hari tua. arsitek. dan lain-lain (income from independent personal service or self employed or professional income) b. terdiri dari : 1. Penghasilan dari usaha barang. fee. e. sebagai berikut : a. f. Penghasilan dari usaha jasa. pengacara. Penghasilan tidak bebas.

buku dan dokumen lainnya bila diminta oleh Kantor Pajak 6. Meminta. Menyelenggarakan Pembukuan atau catatan untuk menghitung Pajak 4. upah. Bila tempat tinggalnya yang pasti tidak diketahui atau tidak ada. PPh Pasal 21 Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak yang dipotong oleh pihak lain atas perolehan berupa gaji. Dengan kata lain Direktoral Jenderal Pajak dapat menetapkan dimana seseorang bertempat tinggal. 4 . tunjangan. Kewajiban Perpajakan adalah : 1. maka Direktorat Jenderal Pajak dapat menetukan dimana orang terssebut mendaftarkan diri. Hal ini terlihat dalam UU PPh yang berbunyi: “… Wajib pajak wajib mendaftar diri… ditempat tinggal… Direktoral Jenderal Pajak dapat menetapkan tempat pendaftaran…” Wajib pajak wajib mendaftarkan diri ditempat tinggalnya. Surplus Bank Indonesia k. Tidak semua Subyek Pajak dapat menjadi wajib pajak. mengisi dan menandatangani dan menyampaikan SPT 3.i. seperti hadiah undian dan yang tidak termasuk kelompok di atas (other income). Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dan NPPKP 2. Bersedia diperiksa oleh Fiskus Undang-undang pajak Indonesia memberi kewenangan kepada Direktoral Jenderal Pajak untuk menetapkan dimana seseorang bertempat tinggal. memperhitungkan dan melaporkan jumlah pajak menurut cara yang ditetapkan 5. PEMBAHASAN A. Menghitung. dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan. honorarium. Penghasilan dari sumber lainnya. Bunga Obligasi yang diterima Reksadana j. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribad Dalam Negeri. yang dapat dikenakan pajak adalah Wajib Pajak yaitu orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan melakukan kewajiban perpajakan termasuk pemungut dan pemotong pajak tertentu. menyetorkan. Memberikan keterangan dan memperlihatkan catatan.

7. 3. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Propinsi. f. Pegawai tetap adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala. dan Anggota DPR/MPR. jabatan. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Menteri. atau kegiatan yang dilakukannya. h. Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu. upah mingguan. Menteri Negara. Wakil Ketua. g. Jaksa Agung. Walikota dan Wakil Walikota. dan DPRD Kabupaten/Kota. Orang pribadi lainnya yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. dan Hakim Mahkamah Agung. Ketua Muda. 5. yaitu : a. Ketua.Penerima penghasilan (Wajib Pajak) yang penghasilannya dipotong PPh Pasal 21 adalah: 1. 4. dan Menteri Muda. e. c. Presiden dan Wakil Presiden. 2. Ketua dan Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. termasuk anggota dewan komisaris dan dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan secara langsung. Ketua. Wakil Ketua. j. DPRD Propinsi. 6. Pejabat Negara. Tenaga lepas adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang hanya menerima atau memperoleh imbalan apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah Kabupaten. i. d. termasuk orang pribadi yang menerima Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua. Pegawai Negeri Sipil (PNS) baik pusat. b. Penerima upah adalah orang pribadi yang menerima upah harian. Penghasilan-penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 (Objek PPh Pasal 21) adalah sebagai berikut: 5 . jasa dan kegiatan dari pemotong pajak. Penerima Honorarium adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan jasa. atau upah satuan. daerah atau lainnya. 8.

Upah tebusan pensiun. dan upah borongan. dan pembayaran lain sejenisnya. uang lembur. uang Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT). tunjangan pendidikan anak. 2. Gaji. 2. Upah harian. 5. dan kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak dalam negeri. uang pesangon. tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji yang diterima oleh pejabat negara. uang tunggu. tunjangan cuti. bea siswa. gratifikasi. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya denan nama apapun yang diberikan oleh pemerintah. komisi. tantiem. gaji kehormatan. tunjangan pajak. asuransi jiwa. asuransi dwiguna dana asuransi bea siswa. uang pensiun bulanan. tunjangan istri. 3. uang saku. bonus. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja. premi tahunan. uang sokongan. Penghasilan tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21: 1. Iuran pensiun yang sibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan penyelenggara Taspen serta THT kepada badan penyelengggara Taspen dan Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja. tunjangan transport. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh pemerintah dan wajib pajak. 7. hadiah. tunjangan jabatan.1. PNS serta uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh pensiun termasuk janda atau duda dan atau anak-anaknya. 4. Penerimaan dalam bentuk natura kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak. beasiswa. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi. 3. premi bulanan. dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur berupa gaji. premi asuransi yang dibayar pemberi kerja. tunjangan hari raya. tunjangan iuran pensiun. dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan biasanya dibayarkan sekali dalam setahun. atau penghargaan lainnya dengan nama dan dalam bentuk apapun. 5. 6 . Honorarium. 4. upah satuan. tunjangan tahun baru. Pembayaran asuransi dari perusahaan asuranasi kesehatan. upah honorarium. uang ganti rugi. jasa. tunjangan khusus. upah mingguan. 6. tunjangan anak. dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun.

2. 50. Pemotong pajak PPh Pasal 21 wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21.Sebagai Pemotong PPh pasal 21. 250. Wajib Pajak Badan Dalam Negeri berbentuk Perseroan Terbuka memperoleh penurunan tarif sebesar 5% dari tarif wajib pajak Badan yang berlaku sepanjang memenuhi syarat paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia disamping persyaratan tertentu lainnya. Penerima penghasilan wajib menyerahkan surat pernyataan kepada pemotong PPh Pasal 21 yang menyatakan jumlah tanggungan keluarga pada permulaan tahun takwim atau pada permulaan menjadi subjek pajak dalam negeri. termasuk penerima pensiun bulanan dalam waktu dua bulan setelah tahun takwim berakhir 3. 4. Tarif pasal 17 UU No. Untuk objek pajak tertentu dapat dikenakan tarif sendiri sebesar 15%.000 Di atas Rp. maka bukti pemotongan (form 1721-A1 atau 1721-A2) diberikan oleh pemberi kerja selambat-lambatnya satu bulan setelah pegawai yang bersangkutan berhenti bekerja atau pensiun.000. 7 . 36 Tahun 2008. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri : Tarif 5% 15 % 25 % 30 % Tetap. Penerima THT.000. baik diminta maupun tidak pada saat dilakukannya pemotongan pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap.Di atas Rp. c. yaitu: 1. Pemotong Pajak PPH Pasal 21 wajib memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 tahunan (form 1721-A1 atau 1721-A2) kepada pegawai tetap.000 s/d 500. dengan ketentuan sebagai berikut : a. Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha menjadi 25%.000.000 s/d 250.000. 50. 500. 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan Undangundang No. Apabila pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun pada bagian tahun takwim.000.000. dan penerima dana pensiun iuran pasti.000. dan mulai tahun 2010 diturunkan Bagi wajib pajak Luar negeri yang bukan BUT. Penrima pesangon. tariff pajak 20% final.000 Di atas Rp. penerima uang tebusan pensiun.di kenakan tarif Penghasilan Kena Pajak Sampai Dengan Rp. ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan. tunggal sebesar 28% untuk tahun pajak 2009.000 b.

000.000. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun.320. Rp 12.000. b. PKP = Penghasilan Netto . 8 . c.Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi adalah penghasilan neto dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Rp 1.000.000. b.880. Rp 15. Rp 1. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun.000.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun.000.000.000.03/2004): a.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun d. Rp 2.000.440. serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.000.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus. serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.840. Rp 1. serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sejak (PTKP) tahun pajak 2005 ( berlaku dari tanggal 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2005 ) adalah sebagai berikut (564/KMK.200.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun. c.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun d.880.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun.440. Besarnya penghasilan tidak kena pajak sebelum tahun pajak 2005 ( Berlaku sampai 31 Desember 2004 ) adalah sebagai berikut : a.000.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.000. Rp 15. b.200.PTKP Penyesuaian terhadap Penghasilan Tidak Kena Pajak yang berlaku efektif per 1 januari 2006 adalah sebagai berikut (137/PMK.000. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun. Rp 1.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.03/2005): a.840. c. Rp 12.320.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun. d. Rp 1. Rp 1.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun. Rp 2.

000 pertahun atau Rp 500. maka tidak termasuk pengertian tanggungan sepenuhnya. dan dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri ditambah dengan PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya sebagaimana dimaksud dalam Ayat (3) huruf c... bukan anggota keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus dan menjadi tanggungan sepenuhnya dari wajib pajak yang bersangkutan. Gaji perbulan Rp 2. Sedarah lurus satu derajat : Ayah.000. Pengertian anak angkat dalam perundang-undangan pajak adalah seseorang yang belum dewasa.000 biaya jabatan yang boleh sebagai pengurang 5% x Rp 2. tidak dibantu oleh orang tua atau keluarga lainnya dan tidak memiliki penghasilan. Yang menjadi tanggungan sepenuhnya menurut undang-undang Pajak Penghasilan adalah anggota keluarga yang tinggal bersama wajib pajak.000 = Rp 100. biaya pensiun atau sejenisnya. anak tiri d. Sedarah ke samping satu derajat : Saudara kandung c. PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri. Semenda ke samping satu derajat : Saudara Ipar Dengan demikian saudara kandung dan saudara ipar yang menjadi tanggungan wajib pajak tidak memperoleh tambahan pengurangan PTKP.000. ibu. Apabila wajib pajak hanya sekedar menyumbang atau membantu saja.Hubungan keluarga sedarah dan semenda: a. 2. biaya jabatan adalah Rp 100.000.000.per bulan atau Rp. Contoh: Biaya jabatan: a. 200. Pajak Penghasilan pasal 21 juga bisa dikurangkan dengan biaya jabatan. Biaya jabatan dan biaya pensiun sebagai pengurang dalam penghitungan PKP karyawan tetap adalah 5% dari jumlah bruto maksimum untuk biaya jabatan Rp 6. Dalam hal karyawati kawin.000. Bagi karyawati kawin yang bekerja dan suaminya tidak bekerja maka dapat diberikan tambahan PTKP dengan syarat ada keterangan dari Kecamatan.000. Bagi Pensiunan dikurangkan 5% dari penghasilan bruto maksimum Rp. dengan demikian.per tahun.000 9 .000 perbulan selain PTKP. anak kandung b. Saudara dari bapak/ibu tidak termasuk dalam pengertian keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.400. Semenda lurus satu derajat : Mertua.

pemagang dan calon pegawai.dikenakan 15% c. 2.000. 7 Tahun 1983. upah borongan. 4. 250.. Tarif progresif final diterapkan atas penghasilan berupa uang pesangon.. pegawai tidak tetap. calon pegawai.per hari.000. Pegawai harian. uang tebusan. Penghasilan bruto yang diterima pegawai harian.000 maka yang dapat diberlakukan sebagai pengurang hanya Rp 500.s/d Rp. 250.dalam satu bulan takwim dan tidak dibayarkan secara bulanan.000.b. penerima pension. tidak dipotong PPh Pasal 21.000..-. Penghasilan bruto diatas Rp.320.000.000..000. upah mingguan. 50. pegawai mingguan. 150. maka PPh Pasal 21 yang terutang dalam sehari adalah dengan menerapkan tarif 5% (lima persen) dari penghasilan bruto setelah dikurangi Rp 150.000 = Rp 1. Tarif final 15% diterapkan atas penghasilan bruto berupa honorarium dan imbalan lain yang diterima oleh Pejabat Negara. Tarif PPh Pasal 21 terbagi atas 5 (lima) macam tarif.250.000. Penghasilan bruto diatas Rp. 3. serta pegawai tidak tetap lainnya yang menerima upah harian. 500. 10 . Gaji perbulan Rp 25. 500.000.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) sehari.000. yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari pegawai tetap. Penghasilan bruto diatas Rp..000.000 namun karena melebihi maksimum Rp 500. Tarif 15% atas perkiraan penghasilan netto (40% dari penghasilan bruto) yang Tarif 5% atas upah harian. pemagang.000. dan uang saku harian yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 150. tetapi tidak melebihi Rp. pegawai mingguan.000. pemagang dan calon pegawai. upah satuan..000.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) tersebut. upah borongan. yaitu : 1. uang saku harian dibayarkan kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas yang jumlahnya diatas Rp. 1.000. dan pegawai tidak tetap lainnya berupa upah harian. upah mingguan. upah borongan. upah mingguan. distributor perusahaan multilevel marketing dan atas penghasilan bruto sesuai Pasal 17 UU No.dikenakan 5% b.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) sehari. upah satuan.s/d Rp. pensiun dengan ketentuan sebagai berikut : a. PNS atau TNI/POLRI yang sumber dananya berasal dari Keuangan Negara/Daerah kecuali yang dibayarkan kepada PNS Golongan II kebawah atau Pembantu Letnan Satu kebawah untuk TNI.000.000.000. Tarif Pasal 17.dikenakan 25% 5.000 biaya jabatan 5% x Rp 25. dan uang saku harian yang besarnya melebihi Rp 150.

Tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 diterapkan atas penghasilan bruto berupa: 1.115 Thn 2000 tentang pembagian Hasil penerimaan pajak penghasilan orang pribadi dan PPh Pasal 21 antara pemerintah pusat dan daerah. 4. beasiswa. Honorarium yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama. gratifikasi. selama 1 (satu) tahun takwim. tempat usaha. a. termasuk yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e angka 2 sampai dengan angka 13. Penarikan dana pada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan oleh peserta program pensiun sebelum memasuki masa pensiun. uang saku. tantiem. Jasa produksi. hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun. karena terdapat hubungan yang erat dengan daerah tempat wajib pajak memperoleh penghasilan. 80% untuk pemerintah pusat b. Honorarium. yang diterima atau diperoleh selama 1 (satu) tahun takwim. yang diterima atau diperoleh dalam 1 (satu) bulan takwim. 2. 3. 20% untuk pemerintah daaerah tempat wajib pajak terdaftar. 11 . Pada umumnya wajib pajak orang pribadi dalam negeri terdaftar berdasarkan tempat tinggal (domisili)." Dalam Peraturan pemerintah RI No. Penerimaan Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21 dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan imbangan sebagai berikut. bonus yang diterima atau diperoleh mantan pegawai selama 1 (satu) tahun takwim. dan pembayaran lain dengan nama apapun sebagai imbalan atas jasa atau kegiatan yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. tempat kegiatan atau pelaksanaan pekerjaan (lokasi). komisi. diatur sebagai berikut: 1. Pembagian hasil penerimaan pajak penghasilan orang pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21 antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dikaitkan dengan tempat wajib pajak terdaftar.

setahun dan Peredaran usaha pabrik tahu Rp. 300. Mengajukan permohonan ke KPP setempat paling lambat 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.000.. Untuk menghitung PPh Pasal 21 juga dapat menggunakan Norma Perhitungan. maka PPh terutang Penghasilan Netto Notaris 30% x Rp.000..000.= 12 Rp.000. 800. Norma perhitungan Notaris 30% dan Pabrik tahu 20%. Pengalokasian bagian penerimaan pemerintah daerah kepada masing-masing daerah Kabupaten/Kota diatur berdasarkan usulan Gubernur dengan pertimbangan faktorfaktor jumlah penduduk. Penerimaan bruto sebagai Notaris Rp. serta faktor-faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. c. Pembukuan atau catatan peredaran bruto wajib pajak ternyata diselenggarakan secara tidak benar Hanya diberikan kepada orang pribadi dengan syarat : a.per tahun. 4. Bagian penerimaan pemerintah daerah antara Daerah Propinsi dan daerah Kabupaten/Kota dengan imbangan sebagai berikut: a.000.000.000. PKP = (% Norma Perhitungan X Penghasilan Bruto) .-.000. 40% untuk daerah propinsi b.000.. luas wilayah. b.2.PTKP Contoh : Bapak Toto (K/1) seorang Notaris di Jakarta dan memiliki Pabrik tahu di Sukabumi. Penggunaan norma perhitungan dilakukan dalam hal : 1.000. Wajib menyelenggarakan pencatatan Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak yang orang pribadi yang menggunakan norma perhitungan adalah penghasilan bruto dikali dengan tariff norma perhitungan dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Peredaran bruto tidak lebih dari Rp. 300. Tidak terdapat dasar perhitungan yang lebih baik.- .800. 60% untuk daerah Kabupaten/Kota 3. yaitu pedoman untuk menentukan besarnya penghasilan netto yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak dan disempurnakan terus menerus. yaitu pembukuan yang lengkap 2. 90.

.000.Rp.000. 250. 3. yang telah diubah dengan keputusan 7.000.520. Dirjen Pajak Nomor KEP-65/PJ/1995 mengenai PPh pasal 22 atas penjualan hasil produksi industri otomotif. 29.000.000. 27. dan perikanan 2..000. mengenai PPh Pasal 22 dari penjualan hasil industri rokok didalam negeri.000. 231. 181.= Jumlah Penghasilan Netto PTKP PKP 5% x Rp. 18.480.Rp.000.000. 50.000. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-32/PJ/1995. PPh Pasal 22 Dasar Hukum Pemungutan PPh Pasal 22 Sejak berlakunya pengenaan PPh yaitu dengan UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak penghasilan. 6. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-529/PJ/2001.Rp. Bendaharawan pemerintah pusat/daerah.000.Penghasilan Netto Pabarik PPh terutang : 20% x Rp. 5. kehutanan.Rp. berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang.- B.500. 2.228. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP/01/PJ/1996 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri Baja didalam negeri.= Rp. 13 .Rp. 160.520. 4. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-523/PJ/2001. perkebunan. instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga Negara lainnya. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP/401/PJ/2001 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri semen didalam negeri.728.= 15% x Rp. yang telah diubah dengan keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-25/PJ/2003 mengenai PPh pasal 22 dari sektor pertanian.000. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-69/PJ/1995 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri Kertas didalam negeri. Peraturan-peraturan lain dibawah keputusan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pemungutan PPh Pasal 22 adalah: 1. 800.Rp.000.. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh: 1. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-401/PJ/2001 mengenai PPh Pasal 22 secara umum. pada tanggal 31 Desember 1983 Menteri Keuangan diberikan kewenangan untuk menetapkan Bendaharawan Pemerintah untuk memungut PPh pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan.000.

kertas. Yang tidak menggunakan API sebesar 7. Yang tidak dikuasai sebesar 7. Badan Urusan Logistik (Bulog) atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu Besarnya Pungutan PPh Pasal 22 atas impor: 1. dan gas atas penjualan hasil produksinya.1% dari DPP PPN 14 . 3. baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain.5% dari harga jual lelang. Direktorat Jendral Anggaran. yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dari belanja Negara dan atau belanja daerah. Industri kertas sebesar 0. 1. industri kertas.5% dari nilai impor 3. Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix. yang melakukan pembayaran atas pembelian barang. industri rokok. 2.5% dari harga pembelian Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi yang dilakukan badan usaha yang bergerak dibidang industri semen.2. 2. Badan usaha yang bergerak dibidang industri semen. otomotif yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak. Bendaharawan pemerintah pusat/daerah. Badan-badan tertentu. baja dan otomotif. 6.5% dari nilai impor 2. BUMN/D. Adapun pihak yang memungut PPH Pasal 22 adalah sebagai berikut: 1. Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJA dan Bendaharawan pemerintah serta BUMN/BUMD sebesar pembelian barang yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBN/APBD)) sebesar 1.25% dari dasar pengenaan pajak (DPP) Pajak pertambahan Nilai (PPN). Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar peerhitungan bea masuk yaitu Cost Insurance and Freight (CIF) ditambah dengan bea masuk dan pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pabean bidang impor. atas penjualan hasil produksinya dalam negeri 5. 4. Industri semen sebesar 0. Bank devisa dan Direktorat Jendaral Bea dan Cukai atas impor barang. Industri rokok kretek/putih sebesar 0.1% dari harga bandrol dan bersifat final 3. rokok kretek/putih. baja. Menggunakan Angka Pengenal Importir (API) sebesar 2.

2. agen atau pembeli lainnya sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (delivery order) ditebus. maka PPh Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan impor untuk dipakai (PIUD). 4. PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh Direktorat Jendaral Anggaran. PPh Pasal 22 atas penjaulan hasil produksi oleh Pertamina dan badan usaha selain pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas harus dilunasi sendiri oleh penyalur. 3. air minum/PAM.(bukan merupakan jumlah yang terpecah-pecah) 6. Industri otomotif sebesar 0. PPh Pasal 22 atas impor terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran bea masuk. baja.000. listrik. 15 .. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah. Pengecualian tersebut harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Direktur Jendral Pajak. 1. Pembayaran atas penyerahan barang yang dibebankan kepada belanja Negara/Daerah yang meliputi jumlah kurang dari Rp 1. industri tokok. BUMN/BUMD yang dibayar dari belanja negara atau belanja daerah.4. Industri baja sebesar 0. Untuk tujuan keilmuan 5. Dalam hal pembayaran bea masuk ditunda atau dibebaskan.000.45% dari DPP PPN Adapun yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 adalah.kertas. terutang dan dipungut pada saat dilakukan pembayaran PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi didalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dibidang industri semen. benda-benda pos dan telepon. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 PP nomor 6 Tahun 1969 tentang pembebanan atas impor sebagaimana diubah dan ditambah terakhir dengan PP nomor 26 tahun 1988 Jo peraturan pemerintah Nomor 2 tahun 1973: a. Yang dilakukan kedalam kawasan berikat dan entreport produksi untuk tujuan ekspor (EPTE). Berupa kiriman hadiah b. Impor barang-barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang PPh. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak.3% dari DPP PPN 5. dipungut pada saat penjualan. dan otomotif yang ditunjuk oleh kepala Kantor Pelayanan Pajak. Impor barang-barang yang dibebaskan dari bea masuk. gas.

Pada tgl 20 Januari 2005.5%) 5. PT ABC melakukan impor barang untuk dipergunakan dalam industrinya. sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (delivery order) ditebus. Saat melakukan impor tersebut. Hanya atas pajak yang lansung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dari luar negeri 16 XXX XXX XXX XXX . PPN 10% Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembayaran Bea masuk. Bea masuk Dr. PPh 22 impor Dr. PPn. Ketentuan yang mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan dibayar atau terutang diluar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak dalam negeri adalah sebagai berikut: 1. PPh pasal 22 impor serta pungutan kepada Bank devisa adalah: 20 Januari 2005 Dr. Batas maximum kredit pajak Luar Negeri 2. Jumlah DPP 4.PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepurng terigu oleh Bulog harus dilunasi sendiri oleh penyalur. grosir. PT ABC tidak mendapat fasilitas pembebasan baik dalam PPn maupun PPh. Bea Masuk (40%) 3. Kas/Bank C. namun impor dilakukan dengan API secara rinci jumlah yang harus dibayar adalah: 1. Nilai Impor (CIF) 2. PPh Pasal 24 Pajak Penghasilan Pasal 24 adalah Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama. PPh Pasal 22 impor (2. Jurnal PT ABC bergerak dibidang industri plastik. PPN impor Cr.

Penghasilan berupa bunga. PT MAJU MUNDUR memperolah penghasilan bersih dari usahanya di Singapore sebesar Sin$ 100.000.. Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut : Keuntungan Z Inc. pekerjaan dan kegiatan adalah Negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada 5. Penghasilan tersebut di Rupiahkan terlebih dahulu guna keperluan Akuntansi.00. 6.= Rp.3. Dalam tahun 1995 Z Inc..00 .maka Pajak penghasilan pasal 24 Singapore 10% x Rp.000.000.000.= Rp.. 60.000. Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%. 17 US$ 100. di Negara X. menjadi Sin $ 100. 600.000.sebelum pajak. Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak bergerak adalah Negara tempat harta tersebut terletak 4.000.-. Paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri.000.2.. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa.000.000. Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah Negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan 2. atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada 3.000. tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap penghasilan kena pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas penghasilan kena pajak atau paling tinggi sama dengan pajak terutang atas penghasilan kena pajak dalam hal penghasilan kena pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.000. Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan.. PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. royalty. kurs pajak saat penerimaan pembayaran dari Singapore adalah Sin$ 1 = 6. tersebut memperoleh keuntungan sebesar US$ 100. royalty dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga. misalkan tarif pajak di Singapore 10%. Penghasilan bentuk usaha tetap dalah Negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan atau melakukan usaha Contoh: 1. 600. penentuan sumber penghasilan adalah: 1.x Rp.

240.760.00.000. di negara X.000/12 = Rp 250.000. melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc.00 52. Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk setiap bulan adalah sebesar pajak penghasilan yang terutang menurut SPT tahunan pajak penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan: 1.- 18 .000.00 19.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri. sebesar US$ 48.000. Pajak Penghasilan (Corporate Income Tax) atas Z Inc.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A.000. D.000. 23 dan 24 jika ada dengan jumlah bulan tahun takwim (12 bulan).000.000. maka PPh Pasal 25 yang harus anda setorkan setiap bulannya di tahun 2007 adalah: Rp 3. 22. yang besarnya dihitung dengan cara membagi PPh Badan Tahun lalu dikurangi PPh Pasal 21.Pajak Penghasilan (Corporate Income Tax) atas Z Inc.00) Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ US$ US$ US$ 48.000.00 Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. Pajak penghasilan yang dipotong sebagaimanan dimaksud dalam pasal 21 dan pasal 23 serta pajak penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 2. karena pajak sebesar US$ 48.000. PPh Pasal 25 Pajak Penghasilan pasal 25 adalah ketentuan perpajakan yang mengatur tentang perhitungan besarnya angsuran bulanan pajak penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak dalam tahun pajak berjalan. Angsuran pajak penghasilan pasal 25 ini dapat dijadikan kredit pajak terhadap pajak terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak pada akhir tahun pajak yang dilaporkan dalam SPT. (48% x US$ 100.00) Pajak atas dividen (38% x US$ 52. Contoh: PPh Badan Terhutang Tahun 2006 Tuan Budi adalah Rp 3.00 32.760. Pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yan gboleh dikreditkan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 24 PPh Pasal 25 adalah uang muka PPh Badan. dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$ 19.

maka unsur aktiva dan kewajiban yang terkait dengan penghasilan yang telah dikenakan PPh final tersebut tidak boleh diakui adanya perbedaan temporer. dan SBI. Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. 4. Artinya penentuan besarnya pajak terutang dipercayakan kepada wajib pajak sendiri dan melaporkan secara teratur jumlah pajak terutang yang sudah dibayar sebagaimana yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. 7. Menurut Undang-undang PPh ada beberapa jenis penghasilan yang dikenakan PPh final. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas di bursa efek. Penghasilan dari bunga deposito. KESIMPULAN Di negara Indonesia system perpajakan yang dianut sistem full self assessment system dan with holding system. Dengan demikian. 5. yang artinya perhitungan pajak terutang diserahkan sepenuhnya kepada wajib pajak serta menganut asas domisili yang artinya pajak di pungut berdasarkan dimana wajib pajak tinggal dan asas sumber yang artinya pajak dikenakan atas seluruh penghasilan yang dihasilkan dari Indonesia.E. tabungan. 3. 19 . antara lain: 1. Penghasilan dari jasa konstruksi. Setiap wajib pajak harus memenuhi kewajiban perpajakannya tanpa harus menunggu surat ketetapan dari pihak Direktorat Jenderal Pajak (UU KUP ps 12 ). kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. untuk penghasilan yang telah dikenakan PPh final tidak ada pengakuan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan atas unsur aktiva dan kewajiban terkait. 6. Penghasilan pada saat transaksi penjualan obligasi yang dilaporkan ke bursa efek atas capital gain dan diskonto. Terhadap penghasilan yang telah dikenakan PPh final. Penghasilan dari sewa harta tetap berwujud. Penghasilan dari hadiah undian. yaitu bahwa setelah pelunasannya. 2. Pajak Penghasilan Final (pasal 4 ayat 2) Pajak penghasilan final adalah pajak penghasilan yang bersifat final.

maka Pemerintah mengenakan sanki berupa sanki administrative maupun sanksi kurungan dilihat dari pelanggaran yang telah dilakukan oleh wajib pajk 20 .Untuk meningkatkan kepatuhan bagi wajib pajak.