PAJAK PENGHASILAN PASAL 21, 22, 24, DAN 25 SERTA PAJAK PENGHASILAN YANG DIKENAKAN FINAL DI INDONESIA

OLEH :

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI JAYAKARTA Jl. Salemba Raya no. 24 Jakarta Pusat

PENDAHULUAN

Penerimaan Pajak Penghasilan merupakan salah satu sumber utama pembiayaan pemerintah dan pembangunan. Kebijakan fiskal yang dicanangkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 diantaranya melakukan reformasi di tiga bidang utama, yakni pajak, bea dan cukai, serta anggaran. Sebagai refleksi implikasi kebijakan pemerintah, Penerimaan Pajak dan rasio perpajakan terhadap PDB (Produk Domesik Bruto) yang disebut juga rasio pajak (tax ratio) menjadi ukuran kemampuan pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, dalam mengumpulkan pajak dari masyarakat. Pajak penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau dioperolehnya dalam tahun pajak. Dari defenisi diatas ada tiga unsur pajak penghasilan: 1. Subjek Pajak
2. Penghasilan 3. Tahun Pajak yang akan menjadi urutan bahasan berikutnya.

Dalam UU PPh ketentuan tentang subjek pajak (pasal 2) lebih dahulu dari ketentuan objek pajak penghasilan (pasal 4). Pengaturan tersebut disebabkan karena pajak penghasilan adalah pajak subjektif dimana yang ditentukan lebih dahulu siapa yang harus dikenakan pajak, dan mengikuti konvensi internasional yang mendahulukan pembahasan tentang subjek dari objek atau penghasilan. Subjek Pajak adalah pihak yang potensial dikenakan pajak, subjek pajak penghasilan adalah orang, warisan yang belum terbagi, badan usaha tetap (BUT, Permanent Establisment/PE) dan Badan dan orang atau badan yang berada di luar negeri yang dapat menjadi sasaran pengenaan pajak di Indonesia. Keempat-empatnya dalam undang-undang disebut subjek pajak (UU PPh pasal 1 dan pasal 2). Potensial maksudnya subjek pajak tidak atau belum dikenakan pajak penghasilan sepanjang belum mempunyai penghasilan karena praktis sang bayi belum mempunyai penghasilan. Begitu pula orang yang pengahasilannya masih dibawah Penghasilan Tidak Kena Pajak – PTKP, tidak akan dikenakan pajak penghasilan (UU PPh pasal 7). Pengenaan pajak pada umumnya harus memenuhi sesuai kriteria subjeknya dan objek secara kumulatif. Salah satu perbedaan mendasar antara PPh dengan pajak lainnya adalah pada PPh yang ditentukan atau dicari lebih dahulu adalah subjeknya setelah itu baru ditentukan atau dicari objeknya. Pajak-pajak lain sebaliknya, ditentukan dulu objek yang akan dikenakan pajak setelah itu baru ditentukan subjeknya. Dalam hal PPh bila tidak ada subjek pajak namun ada penghasilan tidak dapat dikenakan pajak penghasilan, karena tidak tahu
2

Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh wajib pajak. f. atau yang diperoleh sebagai dokter. g. teknisi. Penghasilan dari pekerjaan (employment income or income from personal service). seperti uang pension. dividend an penghasilan dari penggunaan harta lainnya. yang diperoleh sebagai tenaga professional. jasa perbankan. selama masih ada ikatan kerja (sebagai pegawai). arsitek. honorarium. Penghasilan dari modal atau dari penggunaan modal uang (capital income). Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah. Untuk lebih memahami pajak penghasilan maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dinamakan penghasilan?. 3 . pesangon dan lain-lain (income from dependent personal service or labor income). d. yang diperoleh dari serangkaian tindakan/kegiatan. seperti penjualan dan pendapatan (business income). yang diperoleh dari kegiatan bisnis yang berupa jasa. diskonto. e. seperti jasa konsultan. jasa konstruksi. pajak dikenakan atas imbalan bunga yang diterima wajib pajak. jasa manajemen. notaris. uang saku dan lain-lain. h. bonus. c. sebagai berikut : a. jasa tekhnik (income from business service). Sebaliknya ada subjek pajak tetapi tidak ada penghasilan maka tidak ada pula pajak penghasilan. THR dan lain lain maupun setelah putus ikatan kerja (pensiun). terdiri dari : 1. seperti uang rapat.siapa yang harus membayar pajak. Penghasilan tidak bebas. dan lain-lain (income from independent personal service or self employed or professional income) b. Penghasilan bebas. yang diperoleh dari keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau keseluruhan hak penambangan disektor hulu migas yang menyebabkan pemegang hak memperoleh keuntungan berupa capital gain. fee. pengacara. seperti gaji. Imbalan bunga. segala macam tunjangan. Penghasilan dari usaha jasa. 2. yang diperoleh dari usaha industri atau penjualan barang dagangan. konsultan. komisi. upah. tunjangan hari tua. penghargaan. Penghasilan dari usaha barang. seperti bunga. Penghasilan dapat dikelompokkan menjadi. seperti honorarium. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak dengan nama dan dalam bentuk apapun. Penghasilan dari kegiatan. uang duduk. baik harta tidak berwujud (seperti royalty) maupun harta berwujud (seperti hasil dari sewa rumah). Pengalihan Hak dibidang pertambangan.

tunjangan. buku dan dokumen lainnya bila diminta oleh Kantor Pajak 6. Bersedia diperiksa oleh Fiskus Undang-undang pajak Indonesia memberi kewenangan kepada Direktoral Jenderal Pajak untuk menetapkan dimana seseorang bertempat tinggal. honorarium. Dengan kata lain Direktoral Jenderal Pajak dapat menetapkan dimana seseorang bertempat tinggal. upah. Menyelenggarakan Pembukuan atau catatan untuk menghitung Pajak 4. memperhitungkan dan melaporkan jumlah pajak menurut cara yang ditetapkan 5. seperti hadiah undian dan yang tidak termasuk kelompok di atas (other income). Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dan NPPKP 2. Surplus Bank Indonesia k. Bunga Obligasi yang diterima Reksadana j. yang dapat dikenakan pajak adalah Wajib Pajak yaitu orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan melakukan kewajiban perpajakan termasuk pemungut dan pemotong pajak tertentu. maka Direktorat Jenderal Pajak dapat menetukan dimana orang terssebut mendaftarkan diri. PPh Pasal 21 Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak yang dipotong oleh pihak lain atas perolehan berupa gaji. PEMBAHASAN A. Memberikan keterangan dan memperlihatkan catatan. menyetorkan. Tidak semua Subyek Pajak dapat menjadi wajib pajak. mengisi dan menandatangani dan menyampaikan SPT 3. dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribad Dalam Negeri. Bila tempat tinggalnya yang pasti tidak diketahui atau tidak ada. Meminta.i. Kewajiban Perpajakan adalah : 1. 4 . Menghitung. Penghasilan dari sumber lainnya. Hal ini terlihat dalam UU PPh yang berbunyi: “… Wajib pajak wajib mendaftar diri… ditempat tinggal… Direktoral Jenderal Pajak dapat menetapkan tempat pendaftaran…” Wajib pajak wajib mendaftarkan diri ditempat tinggalnya.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) baik pusat. e. Penghasilan-penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 (Objek PPh Pasal 21) adalah sebagai berikut: 5 .Penerima penghasilan (Wajib Pajak) yang penghasilannya dipotong PPh Pasal 21 adalah: 1. Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu. dan Anggota DPR/MPR. dan Menteri Muda. Ketua. termasuk anggota dewan komisaris dan dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan secara langsung. Ketua dan Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. upah mingguan. 3. atau upah satuan. f. b. 7. c. d. Wakil Ketua. 4. h. Menteri. DPRD Propinsi. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Propinsi. Pejabat Negara. 5. Presiden dan Wakil Presiden. atau kegiatan yang dilakukannya. yaitu : a. jasa dan kegiatan dari pemotong pajak. daerah atau lainnya. 8. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung. i. Wakil Ketua. jabatan. Pegawai tetap adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala. j. Penerima upah adalah orang pribadi yang menerima upah harian. termasuk orang pribadi yang menerima Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua. 6. dan Hakim Mahkamah Agung. 2. Jaksa Agung. Orang pribadi lainnya yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. g. Walikota dan Wakil Walikota. Penerima Honorarium adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan jasa. Ketua. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah Kabupaten. Ketua Muda. Menteri Negara. Tenaga lepas adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang hanya menerima atau memperoleh imbalan apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja. dan DPRD Kabupaten/Kota.

gratifikasi. Penerimaan dalam bentuk natura kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak. dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan biasanya dibayarkan sekali dalam setahun. uang ganti rugi. premi asuransi yang dibayar pemberi kerja. uang Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT). uang sokongan. tunjangan transport. 6. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja. komisi. tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji yang diterima oleh pejabat negara. 5. dan upah borongan. bea siswa. premi tahunan. Iuran pensiun yang sibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan penyelenggara Taspen serta THT kepada badan penyelengggara Taspen dan Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja. Gaji. upah satuan. upah mingguan. Upah tebusan pensiun. uang pesangon. tunjangan cuti. 6 . tunjangan anak. tunjangan iuran pensiun. uang saku. uang pensiun bulanan. atau penghargaan lainnya dengan nama dan dalam bentuk apapun. uang lembur. dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun. PNS serta uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh pensiun termasuk janda atau duda dan atau anak-anaknya. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur berupa gaji. tunjangan tahun baru. tunjangan istri. dan pembayaran lain sejenisnya. asuransi dwiguna dana asuransi bea siswa. gaji kehormatan. dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan. 7. dan kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak dalam negeri. asuransi jiwa. 2. jasa. bonus.1. 2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi. tunjangan pajak. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh pemerintah dan wajib pajak. tunjangan khusus. 4. Penghasilan tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21: 1. premi bulanan. tunjangan jabatan. uang tunggu. tantiem. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya denan nama apapun yang diberikan oleh pemerintah. beasiswa. tunjangan hari raya. 3. tunjangan pendidikan anak. 4. hadiah. Honorarium. upah honorarium. Upah harian. 3. Pembayaran asuransi dari perusahaan asuranasi kesehatan. 5.

Di atas Rp. dengan ketentuan sebagai berikut : a. tariff pajak 20% final.000 Di atas Rp.di kenakan tarif Penghasilan Kena Pajak Sampai Dengan Rp. 500. Wajib Pajak Badan Dalam Negeri berbentuk Perseroan Terbuka memperoleh penurunan tarif sebesar 5% dari tarif wajib pajak Badan yang berlaku sepanjang memenuhi syarat paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia disamping persyaratan tertentu lainnya. Penrima pesangon. termasuk penerima pensiun bulanan dalam waktu dua bulan setelah tahun takwim berakhir 3.000.000.000.000. Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha menjadi 25%. 36 Tahun 2008. baik diminta maupun tidak pada saat dilakukannya pemotongan pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap. Penerima penghasilan wajib menyerahkan surat pernyataan kepada pemotong PPh Pasal 21 yang menyatakan jumlah tanggungan keluarga pada permulaan tahun takwim atau pada permulaan menjadi subjek pajak dalam negeri.000. yaitu: 1. 7 . Pemotong Pajak PPH Pasal 21 wajib memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 tahunan (form 1721-A1 atau 1721-A2) kepada pegawai tetap. tunggal sebesar 28% untuk tahun pajak 2009. Tarif pasal 17 UU No.000 s/d 500. 4. dan mulai tahun 2010 diturunkan Bagi wajib pajak Luar negeri yang bukan BUT. 50. 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan Undangundang No. Pemotong pajak PPh Pasal 21 wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21. dan penerima dana pensiun iuran pasti. Apabila pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun pada bagian tahun takwim.000 Di atas Rp.000. 2. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri : Tarif 5% 15 % 25 % 30 % Tetap. ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan. 250. maka bukti pemotongan (form 1721-A1 atau 1721-A2) diberikan oleh pemberi kerja selambat-lambatnya satu bulan setelah pegawai yang bersangkutan berhenti bekerja atau pensiun. 50.000. penerima uang tebusan pensiun. c.000 b.Sebagai Pemotong PPh pasal 21.000 s/d 250. Untuk objek pajak tertentu dapat dikenakan tarif sendiri sebesar 15%. Penerima THT.

serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya. Rp 12.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun. Rp 15.000. Besarnya penghasilan tidak kena pajak sebelum tahun pajak 2005 ( Berlaku sampai 31 Desember 2004 ) adalah sebagai berikut : a. Rp 2.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun.840. Rp 1. Rp 12. Rp 1. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.000.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun. Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sejak (PTKP) tahun pajak 2005 ( berlaku dari tanggal 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2005 ) adalah sebagai berikut (564/KMK.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun d.000. b.320.000.000.440. c.200.00 = Tambahan untuk wajib pajak yang kawin per tahun.00 = Untuk wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan per tahun. b. serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.840. paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga per tahun.000. Rp 1. Rp 1. Rp 15.000.00 = Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami per tahun d.440. Rp 1.000.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.00 = Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus.03/2004): a.000. PKP = Penghasilan Netto . 8 . Rp 2.880. c.200.000.880.000. d. b.PTKP Penyesuaian terhadap Penghasilan Tidak Kena Pajak yang berlaku efektif per 1 januari 2006 adalah sebagai berikut (137/PMK.03/2005): a. Rp 1. c.Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi adalah penghasilan neto dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).000.320.000.000. serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.

Hubungan keluarga sedarah dan semenda: a.000. anak kandung b. Yang menjadi tanggungan sepenuhnya menurut undang-undang Pajak Penghasilan adalah anggota keluarga yang tinggal bersama wajib pajak. Bagi karyawati kawin yang bekerja dan suaminya tidak bekerja maka dapat diberikan tambahan PTKP dengan syarat ada keterangan dari Kecamatan.000 biaya jabatan yang boleh sebagai pengurang 5% x Rp 2.000 = Rp 100. PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri. Contoh: Biaya jabatan: a. Sedarah lurus satu derajat : Ayah. Sedarah ke samping satu derajat : Saudara kandung c. 2.per tahun.per bulan atau Rp. tidak dibantu oleh orang tua atau keluarga lainnya dan tidak memiliki penghasilan. Apabila wajib pajak hanya sekedar menyumbang atau membantu saja. Pengertian anak angkat dalam perundang-undangan pajak adalah seseorang yang belum dewasa. Dalam hal karyawati kawin. Saudara dari bapak/ibu tidak termasuk dalam pengertian keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus. biaya pensiun atau sejenisnya.. 200. Pajak Penghasilan pasal 21 juga bisa dikurangkan dengan biaya jabatan.400.000. Semenda lurus satu derajat : Mertua. Semenda ke samping satu derajat : Saudara Ipar Dengan demikian saudara kandung dan saudara ipar yang menjadi tanggungan wajib pajak tidak memperoleh tambahan pengurangan PTKP..000.000 perbulan selain PTKP. maka tidak termasuk pengertian tanggungan sepenuhnya. dan dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri ditambah dengan PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya sebagaimana dimaksud dalam Ayat (3) huruf c.000. Bagi Pensiunan dikurangkan 5% dari penghasilan bruto maksimum Rp. Biaya jabatan dan biaya pensiun sebagai pengurang dalam penghitungan PKP karyawan tetap adalah 5% dari jumlah bruto maksimum untuk biaya jabatan Rp 6. ibu.000 pertahun atau Rp 500. bukan anggota keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus dan menjadi tanggungan sepenuhnya dari wajib pajak yang bersangkutan. biaya jabatan adalah Rp 100.000 9 .000.000. anak tiri d. Gaji perbulan Rp 2. dengan demikian.

..000 maka yang dapat diberlakukan sebagai pengurang hanya Rp 500. 2. tidak dipotong PPh Pasal 21.000.000.000.000. pensiun dengan ketentuan sebagai berikut : a. 250. 10 .000.000.000.000.dalam satu bulan takwim dan tidak dibayarkan secara bulanan. pemagang dan calon pegawai. uang tebusan.000.b. 3. tetapi tidak melebihi Rp. dan pegawai tidak tetap lainnya berupa upah harian. upah borongan.s/d Rp. pemagang. maka PPh Pasal 21 yang terutang dalam sehari adalah dengan menerapkan tarif 5% (lima persen) dari penghasilan bruto setelah dikurangi Rp 150. pegawai mingguan.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) sehari. Tarif progresif final diterapkan atas penghasilan berupa uang pesangon.000.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) sehari. Penghasilan bruto diatas Rp. serta pegawai tidak tetap lainnya yang menerima upah harian. pemagang dan calon pegawai.000 biaya jabatan 5% x Rp 25. 4. pegawai tidak tetap. Penghasilan bruto diatas Rp. Penghasilan bruto yang diterima pegawai harian.dikenakan 25% 5. 50. 500. Gaji perbulan Rp 25. 7 Tahun 1983. Tarif final 15% diterapkan atas penghasilan bruto berupa honorarium dan imbalan lain yang diterima oleh Pejabat Negara.320. Tarif Pasal 17.s/d Rp. calon pegawai.250.000. PNS atau TNI/POLRI yang sumber dananya berasal dari Keuangan Negara/Daerah kecuali yang dibayarkan kepada PNS Golongan II kebawah atau Pembantu Letnan Satu kebawah untuk TNI. Pegawai harian. Tarif 15% atas perkiraan penghasilan netto (40% dari penghasilan bruto) yang Tarif 5% atas upah harian.. dan uang saku harian yang besarnya melebihi Rp 150. 1.000 namun karena melebihi maksimum Rp 500.000.. upah borongan..000. yaitu : 1. yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari pegawai tetap.dikenakan 5% b. upah mingguan. dan uang saku harian yang jumlahnya tidak lebih dari Rp 150. upah mingguan.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) tersebut.. 250. upah mingguan. pegawai mingguan. upah satuan.000. distributor perusahaan multilevel marketing dan atas penghasilan bruto sesuai Pasal 17 UU No. Tarif PPh Pasal 21 terbagi atas 5 (lima) macam tarif.dikenakan 15% c.000 = Rp 1. Penghasilan bruto diatas Rp.000. upah satuan.000.-. penerima pension. uang saku harian dibayarkan kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas yang jumlahnya diatas Rp.000. 150. upah borongan.per hari.000. 500.

tempat usaha. hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun. Honorarium. beasiswa. Jasa produksi. termasuk yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e angka 2 sampai dengan angka 13. Penerimaan Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21 dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan imbangan sebagai berikut. 2. Honorarium yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama.115 Thn 2000 tentang pembagian Hasil penerimaan pajak penghasilan orang pribadi dan PPh Pasal 21 antara pemerintah pusat dan daerah. gratifikasi. 11 . Pada umumnya wajib pajak orang pribadi dalam negeri terdaftar berdasarkan tempat tinggal (domisili). tantiem. dan pembayaran lain dengan nama apapun sebagai imbalan atas jasa atau kegiatan yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. komisi.Tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 diterapkan atas penghasilan bruto berupa: 1." Dalam Peraturan pemerintah RI No. karena terdapat hubungan yang erat dengan daerah tempat wajib pajak memperoleh penghasilan. diatur sebagai berikut: 1. tempat kegiatan atau pelaksanaan pekerjaan (lokasi). Pembagian hasil penerimaan pajak penghasilan orang pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21 antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dikaitkan dengan tempat wajib pajak terdaftar. uang saku. selama 1 (satu) tahun takwim. 3. yang diterima atau diperoleh selama 1 (satu) tahun takwim. bonus yang diterima atau diperoleh mantan pegawai selama 1 (satu) tahun takwim. Penarikan dana pada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan oleh peserta program pensiun sebelum memasuki masa pensiun. a. 80% untuk pemerintah pusat b. 4. yang diterima atau diperoleh dalam 1 (satu) bulan takwim. 20% untuk pemerintah daaerah tempat wajib pajak terdaftar.

setahun dan Peredaran usaha pabrik tahu Rp.000.000.000. Pengalokasian bagian penerimaan pemerintah daerah kepada masing-masing daerah Kabupaten/Kota diatur berdasarkan usulan Gubernur dengan pertimbangan faktorfaktor jumlah penduduk.000. 800. yaitu pedoman untuk menentukan besarnya penghasilan netto yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak dan disempurnakan terus menerus.per tahun. 4. Wajib menyelenggarakan pencatatan Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak yang orang pribadi yang menggunakan norma perhitungan adalah penghasilan bruto dikali dengan tariff norma perhitungan dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). 60% untuk daerah Kabupaten/Kota 3..000. maka PPh terutang Penghasilan Netto Notaris 30% x Rp. Peredaran bruto tidak lebih dari Rp.800. b.. Penerimaan bruto sebagai Notaris Rp. Mengajukan permohonan ke KPP setempat paling lambat 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Bagian penerimaan pemerintah daerah antara Daerah Propinsi dan daerah Kabupaten/Kota dengan imbangan sebagai berikut: a. Pembukuan atau catatan peredaran bruto wajib pajak ternyata diselenggarakan secara tidak benar Hanya diberikan kepada orang pribadi dengan syarat : a.-.000. Tidak terdapat dasar perhitungan yang lebih baik. luas wilayah.. Norma perhitungan Notaris 30% dan Pabrik tahu 20%.000. yaitu pembukuan yang lengkap 2. Penggunaan norma perhitungan dilakukan dalam hal : 1. 300.000.- .= 12 Rp. Untuk menghitung PPh Pasal 21 juga dapat menggunakan Norma Perhitungan.000.PTKP Contoh : Bapak Toto (K/1) seorang Notaris di Jakarta dan memiliki Pabrik tahu di Sukabumi. serta faktor-faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan.000. 300. 40% untuk daerah propinsi b. 90. PKP = (% Norma Perhitungan X Penghasilan Bruto) .2. c.

perkebunan. 50. 4. mengenai PPh Pasal 22 dari penjualan hasil industri rokok didalam negeri.000.000. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-523/PJ/2001. PPh Pasal 22 Dasar Hukum Pemungutan PPh Pasal 22 Sejak berlakunya pengenaan PPh yaitu dengan UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak penghasilan.228. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP/01/PJ/1996 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri Baja didalam negeri. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP/401/PJ/2001 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri semen didalam negeri. 5.000.000.520. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-401/PJ/2001 mengenai PPh Pasal 22 secara umum. 800. kehutanan. 6.000.500. 160.000. yang telah diubah dengan keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-25/PJ/2003 mengenai PPh pasal 22 dari sektor pertanian. 250. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-69/PJ/1995 mengenai PPh pasal 22 dari penjualan hasil industri Kertas didalam negeri.000. Peraturan-peraturan lain dibawah keputusan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pemungutan PPh Pasal 22 adalah: 1.728. 2..= 15% x Rp. 27.000. 181. 29.Rp.Rp. dan perikanan 2.000.000. 13 . 3.= Jumlah Penghasilan Netto PTKP PKP 5% x Rp. 231.. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-529/PJ/2001.Rp. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-32/PJ/1995.000.Rp. 18.000. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh: 1..480.- B.000. Bendaharawan pemerintah pusat/daerah. yang telah diubah dengan keputusan 7. instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga Negara lainnya. pada tanggal 31 Desember 1983 Menteri Keuangan diberikan kewenangan untuk menetapkan Bendaharawan Pemerintah untuk memungut PPh pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan. berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang.Rp.= Rp.520.000. Dirjen Pajak Nomor KEP-65/PJ/1995 mengenai PPh pasal 22 atas penjualan hasil produksi industri otomotif.Rp.Penghasilan Netto Pabarik PPh terutang : 20% x Rp.

industri rokok. Bank devisa dan Direktorat Jendaral Bea dan Cukai atas impor barang. Direktorat Jendral Anggaran.2. 2. Badan usaha yang bergerak dibidang industri semen. Industri semen sebesar 0. Bendaharawan pemerintah pusat/daerah.5% dari harga jual lelang. Yang tidak menggunakan API sebesar 7. 6.5% dari harga pembelian Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi yang dilakukan badan usaha yang bergerak dibidang industri semen. Menggunakan Angka Pengenal Importir (API) sebesar 2. Yang tidak dikuasai sebesar 7. 2. Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix. 1. dan gas atas penjualan hasil produksinya. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar peerhitungan bea masuk yaitu Cost Insurance and Freight (CIF) ditambah dengan bea masuk dan pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pabean bidang impor. yang melakukan pembayaran atas pembelian barang. kertas. baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain. baja. industri kertas. rokok kretek/putih. Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJA dan Bendaharawan pemerintah serta BUMN/BUMD sebesar pembelian barang yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBN/APBD)) sebesar 1. yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dari belanja Negara dan atau belanja daerah.5% dari nilai impor 3. otomotif yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak. Industri kertas sebesar 0. Badan-badan tertentu. 3. BUMN/D. 4.25% dari dasar pengenaan pajak (DPP) Pajak pertambahan Nilai (PPN). Industri rokok kretek/putih sebesar 0. Adapun pihak yang memungut PPH Pasal 22 adalah sebagai berikut: 1.1% dari harga bandrol dan bersifat final 3.5% dari nilai impor 2. baja dan otomotif. atas penjualan hasil produksinya dalam negeri 5. Badan Urusan Logistik (Bulog) atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu Besarnya Pungutan PPh Pasal 22 atas impor: 1.1% dari DPP PPN 14 .

15 . BUMN/BUMD yang dibayar dari belanja negara atau belanja daerah.45% dari DPP PPN Adapun yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 adalah. gas. PPh Pasal 22 atas impor terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran bea masuk. Pembayaran atas penyerahan barang yang dibebankan kepada belanja Negara/Daerah yang meliputi jumlah kurang dari Rp 1.(bukan merupakan jumlah yang terpecah-pecah) 6.000. maka PPh Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan impor untuk dipakai (PIUD). Pengecualian tersebut harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas PPh Pasal 22 yang diterbitkan oleh Direktur Jendral Pajak. Yang dilakukan kedalam kawasan berikat dan entreport produksi untuk tujuan ekspor (EPTE). dan otomotif yang ditunjuk oleh kepala Kantor Pelayanan Pajak. Impor barang-barang yang dibebaskan dari bea masuk.3% dari DPP PPN 5. baja. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak. listrik. Untuk tujuan keilmuan 5. air minum/PAM. PPh Pasal 22 atas penjaulan hasil produksi oleh Pertamina dan badan usaha selain pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas harus dilunasi sendiri oleh penyalur. Berupa kiriman hadiah b. 1. Dalam hal pembayaran bea masuk ditunda atau dibebaskan. agen atau pembeli lainnya sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (delivery order) ditebus. benda-benda pos dan telepon. industri tokok. 3.kertas. 2.. dipungut pada saat penjualan. Industri baja sebesar 0. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 PP nomor 6 Tahun 1969 tentang pembebanan atas impor sebagaimana diubah dan ditambah terakhir dengan PP nomor 26 tahun 1988 Jo peraturan pemerintah Nomor 2 tahun 1973: a.000. Industri otomotif sebesar 0. Impor barang-barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang PPh. 4. PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh Direktorat Jendaral Anggaran.4. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah. terutang dan dipungut pada saat dilakukan pembayaran PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi didalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dibidang industri semen.

sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (delivery order) ditebus. PPh Pasal 24 Pajak Penghasilan Pasal 24 adalah Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama. Batas maximum kredit pajak Luar Negeri 2. grosir. PPn. PT ABC melakukan impor barang untuk dipergunakan dalam industrinya. Jurnal PT ABC bergerak dibidang industri plastik. Bea masuk Dr. Nilai Impor (CIF) 2. Ketentuan yang mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan dibayar atau terutang diluar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak dalam negeri adalah sebagai berikut: 1. PPN impor Cr.PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepurng terigu oleh Bulog harus dilunasi sendiri oleh penyalur. Kas/Bank C. PPh Pasal 22 impor (2. Bea Masuk (40%) 3.5%) 5. PPh 22 impor Dr. Saat melakukan impor tersebut. PPN 10% Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembayaran Bea masuk. Jumlah DPP 4. Hanya atas pajak yang lansung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dari luar negeri 16 XXX XXX XXX XXX . PT ABC tidak mendapat fasilitas pembebasan baik dalam PPn maupun PPh. PPh pasal 22 impor serta pungutan kepada Bank devisa adalah: 20 Januari 2005 Dr. Pada tgl 20 Januari 2005. namun impor dilakukan dengan API secara rinci jumlah yang harus dibayar adalah: 1.

Penghasilan bentuk usaha tetap dalah Negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan atau melakukan usaha Contoh: 1.000. 600. kurs pajak saat penerimaan pembayaran dari Singapore adalah Sin$ 1 = 6.. Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan.00. tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap penghasilan kena pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas penghasilan kena pajak atau paling tinggi sama dengan pajak terutang atas penghasilan kena pajak dalam hal penghasilan kena pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.000. 6.= Rp. penentuan sumber penghasilan adalah: 1.000. Penghasilan tersebut di Rupiahkan terlebih dahulu guna keperluan Akuntansi.-.000. Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut : Keuntungan Z Inc..000. royalty dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga. di Negara X. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa..000.000.2..000. Dalam tahun 1995 Z Inc.x Rp.00 .000. 600.= Rp. pekerjaan dan kegiatan adalah Negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada 5. PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. Penghasilan berupa bunga.sebelum pajak. royalty. Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak bergerak adalah Negara tempat harta tersebut terletak 4.3. tersebut memperoleh keuntungan sebesar US$ 100.maka Pajak penghasilan pasal 24 Singapore 10% x Rp.. atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada 3. 17 US$ 100. Paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri. menjadi Sin $ 100.000. PT MAJU MUNDUR memperolah penghasilan bersih dari usahanya di Singapore sebesar Sin$ 100. misalkan tarif pajak di Singapore 10%. Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%. Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah Negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan 2.000.000. 60.

000.00 19.000.000/12 = Rp 250.000. D.00 Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri.000. 22.760. sebesar US$ 48.000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A.000. maka PPh Pasal 25 yang harus anda setorkan setiap bulannya di tahun 2007 adalah: Rp 3.00 32.Pajak Penghasilan (Corporate Income Tax) atas Z Inc.- 18 . di negara X.00) Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ US$ US$ US$ 48. melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. Pajak penghasilan yang dipotong sebagaimanan dimaksud dalam pasal 21 dan pasal 23 serta pajak penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 2. PPh Pasal 25 Pajak Penghasilan pasal 25 adalah ketentuan perpajakan yang mengatur tentang perhitungan besarnya angsuran bulanan pajak penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak dalam tahun pajak berjalan. Angsuran pajak penghasilan pasal 25 ini dapat dijadikan kredit pajak terhadap pajak terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak pada akhir tahun pajak yang dilaporkan dalam SPT. Contoh: PPh Badan Terhutang Tahun 2006 Tuan Budi adalah Rp 3. (48% x US$ 100.00) Pajak atas dividen (38% x US$ 52.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri. Pajak Penghasilan (Corporate Income Tax) atas Z Inc.760.240.000. Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk setiap bulan adalah sebesar pajak penghasilan yang terutang menurut SPT tahunan pajak penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan: 1.000.00. Pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yan gboleh dikreditkan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 24 PPh Pasal 25 adalah uang muka PPh Badan. yang besarnya dihitung dengan cara membagi PPh Badan Tahun lalu dikurangi PPh Pasal 21. 23 dan 24 jika ada dengan jumlah bulan tahun takwim (12 bulan).00 52. dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$ 19. karena pajak sebesar US$ 48.000.000.

7. yang artinya perhitungan pajak terutang diserahkan sepenuhnya kepada wajib pajak serta menganut asas domisili yang artinya pajak di pungut berdasarkan dimana wajib pajak tinggal dan asas sumber yang artinya pajak dikenakan atas seluruh penghasilan yang dihasilkan dari Indonesia. tabungan. 5. 19 . kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Setiap wajib pajak harus memenuhi kewajiban perpajakannya tanpa harus menunggu surat ketetapan dari pihak Direktorat Jenderal Pajak (UU KUP ps 12 ). Artinya penentuan besarnya pajak terutang dipercayakan kepada wajib pajak sendiri dan melaporkan secara teratur jumlah pajak terutang yang sudah dibayar sebagaimana yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas di bursa efek. Penghasilan pada saat transaksi penjualan obligasi yang dilaporkan ke bursa efek atas capital gain dan diskonto. 6. 2. antara lain: 1. yaitu bahwa setelah pelunasannya. dan SBI. Terhadap penghasilan yang telah dikenakan PPh final.E. 4. untuk penghasilan yang telah dikenakan PPh final tidak ada pengakuan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan atas unsur aktiva dan kewajiban terkait. Menurut Undang-undang PPh ada beberapa jenis penghasilan yang dikenakan PPh final. Pajak Penghasilan Final (pasal 4 ayat 2) Pajak penghasilan final adalah pajak penghasilan yang bersifat final. Penghasilan dari bunga deposito. KESIMPULAN Di negara Indonesia system perpajakan yang dianut sistem full self assessment system dan with holding system. maka unsur aktiva dan kewajiban yang terkait dengan penghasilan yang telah dikenakan PPh final tersebut tidak boleh diakui adanya perbedaan temporer. Penghasilan dari jasa konstruksi. Penghasilan dari sewa harta tetap berwujud. Penghasilan dari hadiah undian. 3. Dengan demikian. Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan.

maka Pemerintah mengenakan sanki berupa sanki administrative maupun sanksi kurungan dilihat dari pelanggaran yang telah dilakukan oleh wajib pajk 20 .Untuk meningkatkan kepatuhan bagi wajib pajak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful