P. 1
Irene Susanti F1C006001

Irene Susanti F1C006001

|Views: 1,526|Likes:
Published by IreneSusanti

More info:

Published by: IreneSusanti on Jan 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • ABSTRAKSI
  • ABSTRACT
  • DAFTAR LAMPIRAN
  • A.Latar Belakang Masalah
  • B. Perumusan masalah
  • C. Tujuan penelitian
  • B. Pembatasan Masalah
  • C. Manfaat penelitian
  • B. Kerangka Konsep
  • 1.Membaca Teks dengan Analisis Isi Kualitatif
  • 2.Komodifikasi
  • 3. Kemiskinan
  • 4.Televisi sebagai Industri Media
  • 5.Reality Show
  • Tabel 1. Makna teknik pengambilan gambar dalam pergerakan kamera
  • Tabel 2. Petunjuk pengambilan gambar
  • C.Kerangka Pikir
  • A.Pendekatan Penelitian
  • B.Jenis Penelitian
  • C.Sasaran Penelitian
  • E.Jenis Sumber Data
  • F.Unit Analisa
  • G.Teknik Pengumpulan Data
  • Tabel 3. Identitas Sumber FGD 1
  • H.Teknik Analisis Data
  • I.Teknik Pengambilan Cuplikan
  • J.Validitas Data
  • A.DESKRIPSI REALITY SHOW “BEDAH RUMAH”
  • B.TIM PRODUKSI REALITY SHOW “BEDAH RUMAH”
  • Gambar 1. Logo Bedah Rumah
  • C.SEKILAS TENTANG BEDAH RUMAH EDISI JUMAT 22 MEI 2009
  • D. ANALISIS DAN REPRESENTASI DATA
  • D.1. Konsepsi Komodifikasi Media dalam Bedah Rumah
  • D.2. Telaah Penelitian
  • D.3 Analisis Isi Interpretatif Komodifikasi Kemiskinan
  • Tabel 5. Karakteristik cuplikan gambar yang dipilih
  • Gambar 2. Rumah tampak dari luar
  • Gambar 3. Tempat mandi kumuh
  • Gambar 4. Dapur yang kotor dan jorok
  • Gambar 7. nenek dan cucu yang menangis
  • Gambar 8. Tiara Smith menangis
  • Gambar 9. Tiara membantu membuat sapu lidi
  • Gambar 10. Kegiatan memulung sampah
  • Gambar 11. Tiara saat tidur dirumah nenek Sami
  • Gambar 12. Keluarga Sami menikmati fasilitas hotel
  • Gambar 13. Keluarga nenek Sami yang dimanja fasilitas salon
  • Gambar 14. Kejutan saat diberi kesempatan oleh Bedah Rumah
  • Gambar 15. Saat melihat rumah selesai dibedah
  • Gambar 16. Saat tirai dibuka
  • Gambar 17. Rumah sebelum dan sesudah dibedah
  • Gambar 18. Ruang depan sebelum dan sesudah dibedah
  • Gambar 19. Dapur sebelum dan sesudah dibedah
  • D.4. Representasi Bentuk-Bentuk Komodifikasi Kemiskinan
  • E. PENERIMAAM PESAN PEMIRSA TERHADAP TAYANGAN
  • E.1. Karakteristik Informan
  • E.2. TEMUAN FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)
  • E.3.1. Status ekonomi dan status social
  • E.3.2. Rezim yang berkuasa
  • Tabel 10 . FGD I Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan
  • Tabel 11. FGD I Kategori Sensasi Kegembiraan
  • Tabel 12. FGD I Kategori Merangsang Syaraf Keharuan
  • Tabel 13. FGD I Kategori Memancing Simpati dan Emosi Spontan
  • Tabel 14. FGD II Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan
  • Tabel 15. FGD II Kategori Sensasi Kegembiraan
  • Tabel 16. FGD II Kategori Merangsang Syaraf Keharuan
  • F. ANALISIS SPECTRUM OF READING
  • F.1. Gambaran Penerimaan Pesan
  • F.2.2. Negotiated reading
  • F.2.3. Oppositional (counter hegemonic) reading
  • G. Konsep Ekonomi Media
  • H.Konsep Politik Media
  • A.KESIMPULAN

KOMODIFIKASI KEMISKINAN DALAM REALITY SHOW ( ANALISIS ISI PROGRAM REALITY SHOW “BEDAH RUMAH”

)

SKRIPSI

Oleh : IRENE SUSANTI F1C 006001

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU KOMUNIKASI PURWOKERTO 2011
1

ABSTRAKSI

Pengaruh negatif kemajuan teknologi, khususnya televisi, kurang menjadi perhatian disebabkan Production House (rumah produksi) lebih menekankan tersedianya alternatif informasi dan hiburan bagi konsumennya. Oleh sebab itu, televisi swasta yang ada di Indonesia menghadirkan beragam acara untuk menarik minat masyarakat, sehingga menambah rating, misalkan film, sinetron, gossip, reality show dan charity show. Salah satu program tayangan televisi yang sedang digemari adalah reality show. Survei yang dilakukan oleh Nielsen Media Research (NMR) di Indonesia sejak pertengahan tahun 2005 tercatat reality show yang memiliki rating tertinggi adalah Bedah Rumah. Program acara reality show ‘kemiskinan’ hingga saat ini masih menduduki rangking tertinggi untuk dijadikan komoditas segala kepentingan individu atau yang dapat disebut sebagai komodifikasi kemiskinan. Komodifikasi berupaya menjadikan media bukan sebagai pusat perhatian, dengan konsentrasi lebih diarahkan pada kajian mengenai keterkaitannya dengan ekonomi, politik dan faktor-faktor lainnya. Fokus penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan dalam acara reality show “Bedah Rumah” edisi 22 Mei 2009. Hal ini dititik beratkan pada beberapa tujuan penelitian yang diantaranya membedah isi melalui interpretasi text dalam acara reality show “Bedah Rumah” dan mengetahui bagaimana penerimaan (resepsi) pemirsa terhadap tayangan Bedah Rumah yang merepresentasikan komodifikasi kemiskinan. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Isi Kualitatif untuk menginterpretasikan objek penelitian ke dalam simbolik dan mencari makna yang terkandung di dalamnya demikian mencari makna laten di dalam isi pesan. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dengan teknik cuplikan yang bersifat selektif serta FGD (Focus Grup Discussion) sebagai pendukung penelitian yang dikaji dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif interpretative. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa acara reality show “Bedah Rumah” merepresentasikan bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan. Bentukbentuk komodifikasi kemiskinan tersebut terbagi menjadi empat bentuk yaitu gambaran kondisi kemiskinan, sensasi kegembiraan, merangsang syaraf keharuan serta memancing simpati dan emosi spontan. Penerimaan dan pemahaman informan FGD sebagai audiens yaitu pembantu rumah tangga dan majikan mendukung kategorisasi bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan dalam tayangan reality show “Bedah Rumah”.

Kata Kunci : Komodifikasi, Komodifikasi Kemiskinan, Reality Show

2

ABSTRACT Negative influence of technological advances, especially television, is less a concern due to Production House (home production) is more emphasized the availability of alternative information and entertainment for consumers. Therefore, the private television in Indonesia presents a variety of events to attract people, so add rating, eg films, soap operas, gossip, reality shows and charity shows. One of television programs that are popular are reality shows. Surveys by Nielsen Media Research (NMR) in Indonesia since mid 2005 have recorded a reality show which is the highest rating is “Bedah Rumah”. Programme reality show 'poverty' are still ranked the highest for any commodity used as the interests of individuals or which may be cited as the commodification of poverty. Commodification of trying to make the media not as a center of attention, with concentration focused on the study of their relation with the economic, political and other factors. The focus of this research to know how the forms of commodification of poverty in the reality show "Bedah Runah" edition May 22, 2009. It is put emphasis on a number of purposes including research that dissect the contents through interpretation of the text in the reality show "Bedah Rumah" and find out how the reception (reception) viewers of the show that represents the commodification of Bedah Rumah poverty. This study uses qualitative content analysis method to interpret the object of research into the symbolic and the search for the meaning contained in it so look for the meaning latent in the message body. The data was collected technique documentation with footage that is selective and FGD (Focus Group Discussion) as the supporting research that examined using qualitative interpretative content analysis method. The results of this study indicate that the reality show "Bedah Rumah" represents the commodification of forms of poverty. The forms of commodification of poverty is divided into four forms of presentation of the conditions of poverty, the sensation of excitement, nerves stimulate emotion and provoke sympathy and spontaneous emotion. Acceptance and understanding of the informant FGD as an audience is a housemaid and the employer support the categorization of the forms of commodification of poverty in the reality show "Bedah Rumah". Keywords: Commodification, Commodification Poverty, Reality Show
3

.... E............................................................. Pembatasan Masalah........................ Manfaat Penelitian........................................................................................ Perumusan Masalah................................................ C........................................................................................................ 4..................... Membaca Teks dengan Analisis Isi Kualitatif........ 1......... Kemiskinan..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN.............................. Kajian Pustaka.......................... 1 2 3 4 7 8 9 10 16 16 16 16 BAB II.......... DAFTAR GAMBAR.............. 5.................................................................................... Komodifikasi.. 19 21 21 27 34 40 42 47 4 ...... Reality Show...........................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............... ABSTRACT....... D................... PENDAHULUAN A....................................... B.................................................................... KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP A.......................................... 2.......... Latar Belakang Masalah........................... 3................ BAB I......... B........... DAFTAR ISI............................. C...................... ABSTRAKSI......................................................................................................................................................... Kerangka Konsep.................. Televisi sebagai Industri Media......................... Tujuan Penelitian................................................................................ Kerangka Pikir................................................................ DAFTAR TABEL.............

....................... E............................................................... C.. Sensasi Kegembiraan................................................... E... D...............2....... Gambaran Kondisi Kemiskinan......... B............. 63 64 66 68 68 71 73 99 99 102 104 108 111 111 114 115 116 D............................. .................. Teknik Pengambilan Cuplikan...... Jenis Sumber Data......... Karakteristik Informan...................... Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Gambaran Kondisi Kemiskinan........ Deskripsi Reality Show “Bedah Rumah”..... J................. Resepsi Komodifikasi Kemiskinan Informan.... E........ E....... D......BAB III....... Teknik Analisis Data.. BAB IV................. G... METODOLOGI PENELITIAN A........................ 49 49 50 50 51 51 51 57 61 61 H.......... b........ d..............................1........ Jenis Penelitian....2.......................... Memancing Simpati dan Emosi Spontan......................................................................... Representasi Bentuk-Bentuk Komodifikasi kemiskinan a............................................... Temuan Focus Group Discussion (FGD).......... Validitas Data................ Sekilas Tentang Bedah Rumah Edisi Jumat 22 Mei 2009....... I.....3....... E..............1................................... E........... D..................... Sasaran Penelitian......... HASIL DAN PEMBAHASAN A..2..... D... Lokasi Penelitian.......................................................1....... D.........2............... Analisis Isi Interpretatif Komodifikasi Kemiskinan......................4.............................................. Analisis dan Representasi Data............................. Penerimaan Pesan Pemirsa Terhadap Tayangan....... c. Merangsang Syaraf Keharuan..................... Telaah Penelitian................. 5 ....... Unit Analisa........ Pendekatan Penelitian...................... B.. F......... C.. Tim Produksi Reality Show “Bedah Rumah”..... Teknik Pengumpulan Data...........2......... Konsepsi Komodifikasi Media dalam Bedah Rumah..................

... Pengelompokan Audiens.......1.............. Saran .......... Status ekonomi dan status social.............................................. F. Oppositional (counter hegemonic) reading...................... F........4........3............................3................... E...... E............... F........ F...................... G.....................2...... Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Merangsang Syaraf Keharuan...........................2....... Rezim yang berkuasa.................................................. Gambaran Penerimaan Pesan.. Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Sensasi Kegembiraan.... E.............4...................... E.......... Kategorisasi FGD II.....2.................... H.................... Dominan (or hegemonic) reading.........................................3......................3.... E.......2.......................3........ 118 120 121 122 122 124 125 129 131 131 134 134 134 134 135 137 139 140 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 6 .2........................... Kesimpulan.............. Konsep Politik Media... BAB V....5......5............................. F................. Konsep Ekonomi Media.......... Analisis Spectrum Of Reading..................... Kategorisasi FGD I................................ Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Memancing Simpati dan Emosi Spontan.. F....... B........... Negotiated Reading............1..2................... KESIMPULAN DAN SARAN A............ E.............2..........1..E...................... Analisis Kontekstual.........2........ E.2......

................. Tabel 4............... Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Merangsang Syaraf Keharuan........................ Karakteristik cuplikan gambar yang dipilih.......................... FGD I Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan.. Tabel 12.......... Tabel 15......................................................... FGD II Kategori Merangsang Syaraf Keharuan................ Tabel 3.............. Tabel 8......... Tabel 14.....................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. FGD I Kategori Sensasi Kegembiraan.......... FGD I Kategori Memancing Simpati dan Emosi Spontan...................................... Indentitas Sumber FGD II......... Identitas Sumber FGD 1.................................... 110 126 127 127 128 129 129 130 107 103 101 43 45 55 56 75 7 . Tabel 10.... FGD II Kategori Sensasi Kegembiraan............................................ Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Gambaran Kondisi Kemiskinan............. FGD I Kategori Merangsang Syaraf Keharuan... FGD II Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan... Tabel 9.............................................................. Tabel 13...................... Tabel 2........... Petunjuk pengambilan gambar......... Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Sensasi Kegembiraan............. Tabel 7...... Tabel 16..................................................................... Tabel 5................................ Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Memancing Simpati dan Emosi Spontan........................ Makna teknik pengambilan gambar dalam pergerakan kamera. Tabel 11............................... Tabel 6..

......... Gambar 7............................... Gambar 8................. Kejutan saat diberi kesempatan oleh Bedah Rumah.......................................... Logo Bedah Rumah................................................... Saat tirai dibuka. Tiara membantu membuat sapu lidi................Tabel 17..................................................... Rumah sebelum dan sesudah dibedah. Gambar 3..... FGD II Kategori Memancing Simpati dan Emosi Spontan. Genteng yang bocor................. Keluarga Sami menikmati fasilitas hotel............ Gambar 9....... Tiara saat tidur dirumah nenek Sami................. Saat melihat rumah selesai dibedah.............................................................. 131 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.............................................................. Rumah depan sebelum dan sesudah dibedah.. Gambar 20............. Gambar 17............................. Gambar 13..... Gambar 11........................................ 64 79 81 82 82 82 84 85 86 87 89 90 91 93 94 94 96 96 96 96 8 ........ Gambar 19............................... Gambar 5......... Dapur yang jorok dan kotor......................................... Tempat mandi kumuh................ Rumah tampak dari luar....................................................... Gambar 15............ Tiara Smith menangis................... Lantai yang tanah.. Kegiatan memulung sampah................. Gambar 2........................ Nenek dan cucu yang menangis...... Gambar 14...... Gambar 18..... Gambar 16............................... Gambar 12............................................ Dapur sebelum dan sesudah dibedah........ Keluarga nenek Sami yang dimanja fasilitas salon......................... Kamar sebelum dan sesudah dibedah....................................... Gambar 6. Gambar 10..... Gambar 4........

Transkrip FGD (Focus of Discussion) I Lampiran 2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Transkrip FGD (Focus of Discussion) II 9 .

Menurut perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) angka itu dapat terjadi jika ekonomi cuma tumbuh 4. Kemiskinan merupakan persoalan yang sangat kompleks dan sulit ditemukan benang merahnya meski generasi kepemimpinan telah berganti beberapa kali. Ketika hampir mayoritas orang ingin menjadi orang kaya. pinggir kali hingga emperan sebuah ruko merupakan tempat strategis untuk bisa menemukan mereka. dengan keadaan yang seperti diatas ternyata terdapat sebuah anomali di dalam masyarakat kita. Kolong jembatan. jika kita melihat angka kemiskinan negara Indonesia tahun 2009 yang mencapai angka 33. Bukan hanya orang yang memang tadinya sudah miskin ingin tetap dikatakan miskin.5% dan inflasi lari sampai 9%. Di sudut ibu kota (Jakarta) ratusan bahkan ribuan warga miskin berjuang hidup ditengah kemegahan ibukota. Sangat mengejutkan. Meski angka ini dibandingkan dengan tahun 2008 tidak jauh berbeda yakni 34.BAB I PENDAHULUAN A. namun justru banyak orang berebut untuk menjadi miskin. namun orang-orang yang kaya pun mulai memperebutkan status sebagai orang miskin dikarenakan status miskin identik dengan “subsidi” atau 10 . 96 juta jiwa. Latar Belakang Masalah Persoalan pengentasan kemiskinan merupakan cerita klasik yang dihadapi setiap negara. tidak terkecuali dengan Indonesia.7 juta jiwa. Namun tragisnya. Sangat mudah menemukan wajah kemiskinan di negeri yang konon memiliki hasil pribumi melimpah ruah.

mencoba mewujudkan adanya nilai seni dengan citra tinggi di balik rendahnya selera hidup orang-orang miskin. Contoh sederhana untuk menggambarkan kontradiksi di atas adalah pembagian Bantuan Langsung Tunai ( BLT ) yang diberikan pemerintah sebagai penopang ekonomi masyarakat agar tidak jatuh dalam kubang kemiskinan akibat kenaikan harga BBM. Akhirnya satu persatu program berbau kemiskinan dikemas oleh produsen media sedemikan rupa dengan harapan mampu meningkatkan rating. ‘Duit Kaget’. Orangorang tersebut tidak malu berdemonstarasi menyatakan dirinya miskin agar mendapat bantuan. Potret kemiskinan di negeri ini ternyata tidak hanya sebatas pada elit politik yang menjadikan kemiskinan sebagai sebuah obyek. yang tadinya merupakan sebuah aib menjadi status yang dibanggakan. Namun realitasnya. tiba-tiba beramai-ramai mengurus surat keterangan miskin untuk turut mencicipi uang subsidi. lahirlah acara yang berseliweran di televisi saat ini seperti ‘Minta Tolong’. Perilaku manipulatif dan bermental pengemis ini bukanlah muncul secara tiba-tiba. Status miskin kini mengalami perubahan makna. dan 11 . ‘Bedah Rumah’.“kompensasi” . Orang yang tadinya berkecukupan. Dan dari fakta inilah kemiskinan ini justru dilirik oleh produsen media massa sebagai seni yang menarik untuk dikaryakan di televisi. Pemilik media. Akibatnya. namun ikut didorong oleh bagaimana negara mengelola kemiskinan warganya. yang miskin akan tetap miskin dan yang kaya akan semakin kaya. banyak orang dengan status orang miskin baru muncul dan menuntut pembagian dana BLT. Belakangan. namun termasuk juga produsen media.

‘Dibayar Lunas’ yang ditayangkan oleh RCTI. umumnya menampilkan kehidupan orang-orang miskin. 1996). Program acara reality show ‘kemiskinan’ hingga saat ini masih menduduki rangking tertinggi untuk dijadikan komoditas segala kepentingan individu atau yang dapat disebut sebagai komodifikasi kemiskinan. Komodifikasi berupaya menjadikan media bukan sebagai pusat perhatian. Harapannya dapat memancing rasa iba hingga tetesan airmata para penonton televisi. dalam media massa selalu melibatkan para awak media. "The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal" (Sage Publications. 12 . khalayak pembaca. dengan konsentrasi lebih diarahkan pada kajian mengenai keterkaitannya dengan ekonomi. 1996). politik dan faktor-faktor lainnya. dan negara apabila masing-masing di antaranya mempunyai kepentingan (Mosco. Alhasil akan terjadi keseragaman bentuk dan isi media untuk dapat menarik perhatian khalayak. pasar. Acara-acara tersebut. ‘Tukar Nasib’ dan ‘Pemberian Misterius’ di Stasiun SCTV. Proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar. atau ‘Tangan di Atas’ dan ‘Jika Aku Menjadi’ yang tayang di Trans TV. Komodifikasi Vincent Mosco lewat bukunya yang menjadi "klasik" di kajian ini. Komodifikasi disini dapat diasumsikan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar. menjelaskan adanya bentuk komodifikasi isi (content) yaitu Proses komodifikasi ini dimulai ketika pelaku media mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi manusia yang penuh makna hingga menjadi pesan yang marketable. melalui pendekatan Ekonomi Politik Komunikasi.

dan budaya fundamental dalam masyarakat. Narasinya terkadang harus dibumbui dengan sedusedan dan air mata untuk menunjukkan bahwa keluarga tersebut layak dibantu. Program acara ini semakin menarik perhatian dengan permainan gambar yang diambil camera person. politik. Media massa disini. seperti rekaman raut mukamimik muka yang diambil secara dekat (close-up) dengan guratan-guratan muka. “Bedah Rumah” adalah sebuah program reality show yang membantu orang merenovasi rumahnya menjadi layak huni hanya dalam waktu 12 jam.Menjadikan media bukan sebagai pusat perhatian berarti memandang sistem komunikasi sebagai terintegrasi dengan proses ekonomi. Bahkan media massa juga mampu menghasilkan surplus dengan menjalankan peran penghubung antara produksi dan konsumsi. Selain itu konsep acara yang mempertontonkan keprihatinan sedemikian rupa justru di blow up oleh presenter acara dengan naskah yang menurut peneliti sangatlah berlebihan. tetapi juga menjalankan fungsi ideologis sehingga diperlukan berbagai pendekatan tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga politik atau biasa disebut dengan pendekatan ekonomi politik. alih-alih pantas mendapatkan hadiah yaitu rumah mereka akan direnovasi oleh Tim Bedah Rumah. Hal itu bisa 13 . media massa juga dipergunakan sebagai medium efektif pengiklan utama yang secara signifikan mampu mendorong penjualan produk dan jasa. sosial. Acara tersebut membawa bintang tamu-nya untuk tinggal bersama dengan keluarga yang akan “dibedah” rumahnya. bibir yang gemetata dan matanya yang nanar. Hadirnya media massa ternyata tidak hanya dimanfaatkan sebagai media penghantar pesan saja tetapi. tidak hanya memiliki fungsi sosial dan ekonomi.

Kemiskinan yang membuat banyak penonton menangis dan terharu adalah sebuah komoditas menguntungkan bagi para pemilik modal berdasarkan survei. Tapi itu tidak masalah. Tayangan tersebut dalam pandangan penulis bukan tidak ada yang positif.diamati dari banyaknya bentuk tangisan. Keuntungan lainnya adalah hiburan yang menarik tidak hanya sinetron tetapi ada alternatif lain. Bagi masyarakat luas program ini akan menjadikan kemiskinan seperti halnya isu-isu miring dan aib seputar selebritis dalam sejumlah tayangan infotainment. sandang. kesehatan. Walau mereka juga tidak sadar bahwa ada keuntungan yang berlipat-lipat dari acara tersebut. Di sisi lain masyarakat yang menonton bisa mensyukuri keadaan mereka yang lebih baik daripada subyek acara televisi tersebut. papan dan pendidikan. keluhan dan kesedihan dilengkapi dengan keterlibatan aktris atau selebriti yang bagi peneliti hal itu hanya memperlihatkan sebuah simpati semu saja. yaitu golongan masyarakat yang hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan. rating dan share audience-nya tinggi. Program acara “bedah rumah” merupakan program yang dikonsumsi oleh masyarakat luas baik masyarakat kelas sosial menengah ke atas ataupun menengah ke bawah. karena orang-orang miskin terbantu dengan sejumlah uang dan sebagainya. Sementara yang mereka perolah hanya sedikit. namun posisinya menyedihkan karena orang miskin kerap menjadi objek. jika orang miskin itu benar mendapat pertolongan. Namun disisi lain acara 14 . Dari penjelasan diatas digambarkan bahwa bentuk kemiskinan yang dikomodifikasikan dalam acara ini adalah kemiskinan absolut. Jika dilihat dari manfaatnya memang ada.

bedah rumah juga akan menimbulkan harapan-harapan masyarakat kelas sosial menengah kebawah untuk bisa mendapatkan rezeki serupa. Sehingga tiap ada kamera televisi, mereka berharap bahwa itu adalah salah satu reality show yang akan menjadikan mereka sebagai subyeknya. Harapan itu muncul tiap kali mereka mendapatkan adanya kameramen televisi yang berkeliaran, harapan itu membuat mereka sedikit melupakan bahwa ada hal yang lebih baik jika mereka mau berusaha sendiri. Kritikan terhadap acara televisi saat ini adalah tidak adanya siaran yang mendidik. Mulai dari sinetron hingga reality show, sedikit yang memberikan nilai pendidikan. Kemiskinan sebenarnya tidak layak dijadikan alat untuk mencari keuntungan segelintir orang, apalagi jika menimbulkan efek pengharapan orang miskin lain yang membuat mereka tidak produktif dan akhirnya bisa mengalami stress karena pengharapan yang tak kunjung datang tersebut. Menikmati siaran yang mengangkat kemiskinan mungkin baik jika hasilnya adalah tumbuh empati dan rasa ingin membantu. Namun jika tidak, tentu tetap tidak perubahaan pada bangsa ini. Kemiskinan kurang pantas dijadikan komoditas mencari keuntungan. Dan menjadi tidak pantas jika hanya sekedar menikmati tanpa timbul rasa empati atau keinginan untuk menolong sesama. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti sangat tertarik untuk mengakaji lebih lanjut mengenai bagaimana bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan yang tergambar dalam program acara reality show “Bedah Rumah” dengan menggunakan analisis isi kualitatif.

15

B. Perumusan masalah Dari uraian latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan yang tergambar dalam program reality show Bedah Rumah ?

C. Tujuan penelitian Bertolak dari rumusan tersebut di atas maka dapat dikemukakan bahwasanya penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui interpretasi text dalam acara reality show bedah rumah.

2.

Mengetahui bagaimana penerimaan (resepsi) pemirsa terhadap tayangan Bedah Rumah yang merepresentasikan komodifikasi kemiskinan.

B. Pembatasan Masalah

Dalam upayanya untuk mendapatkan hasil yang mendalam dan memiliki fokus yang jelas, maka penelitian ini akan dibatasi dalam hal tayangan reality show “Bedah Rumah” edisi Jumat, 22 Mei 2009.

C. Manfaat penelitian E.a. Manfaat Teoritis Dapat memiliki manfaat bagi perkembangan dan pendalaman bagi peminat studi komunikasi khususnya produksi program televisi sehingga mampu menjadi acuan bagi studi-studi berikutnya.

16

E.b. Manfaat Praktis
1.

Diharapkan

penelitian

ini

dapat

memiliki

manfaat

untuk

memberikan sumbangan pemikiran mengenai bentuk-bentuk komodifikasi khususnya pada pengelola program acara dan dapat menjadi salah satu sumbangan untuk pengentasan kemiskinan komodifikasi dalam media televisi .
2.

Selain itu penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi bahan

referensi atau bahan rujukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan bidang kajian komunikasi.

17

Penelitian bertemakan tayangan reality show dalam karya sastra salah satunya dilakukan oleh Budi Angkoso (2008).BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP A. Adapun maksud dari keberadaan tinjauan pustaka dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui letak atau posisi dari keberadaan penelitian ini diantara sekian banyak penelitian yang telah dilakukan. khususnya penelitian dalam ranah Ilmu Komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi atau penerimaan pemirsa terhadap tayangan yang merepresentasikan identitas kultural mereka. berjudul “Praktik Wacana Globalisasi dalam Televisi (Studi Analisis Wacana Kritis terhadap tayangan Reality Show “Turis Dadakan” yang disiarkan oleh TRANS 7). Bangunan keilmuan yang dimaksud merupakan suatu konsekuensi dari keberadaan penelitian ini sebagai sebuah karya tulis ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana globalisasi lewat media melakukan praktik wacana 18 . Kajian Pustaka Kajian pustaka merupakan suatu telaah kepustakaan yang bertujuan untuk membangun sebuah kerangka keilmuan. Sebelumnya telah dilakukan penelitian yang menggunakan metode analisis isi kualitatif pernah oleh Tri Adi Nugroho dalam tesisnya yang berjudul Identitas Kultural dan Televisi Lokal (Studi Tentang Konstruksi dan Representasi Identitas Kultural dalam Tayangan Banyumas TV).

bahwa pada fase ini anak mampu membedakan antara hal-hal yang sifatnya fantasi dan realistis. perasaan. Hal ini sejalan dengan teori Stern. Fokus penelitian ini adalah bagaimana anak meresepso dan membaca makna kecantikan yang tercermin dalam majalah princess. peneliti menemukan bahwa anak bahkan sudah dapat memberikan penilaian subjektif sendiri dengan melakukan resepsi dan konstruksi makna kecantikan. Nainggolan meneliti mengenai resepsi anak di Lembaga Pendidikan Informal Visigama Purwokerto terhadap makna kecantikan dalam majalah Princess. kemampuan berpikir dan pengalaman masing-masing individu. Sementara penelitian dengan menggunakan analisis resepsi pernah dilakukan oleh Asri H Nainggolan pada tahun 2007. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan resepsi dan konstruksi anak pada fase analisa dan fase intensi logis. Jika fase 19 . Posisi inferior yang dilekatkan pada Pak Misar dimaksudkan untuk menempatkannya sebagai objek transfer budaya dan objek komodifikasi untuk meraih keuntungan.dalam lingkup media televisi dengan kemasan reality show. bagaimana anak mengkonstruksi makna yang terkandung dalam majalah princess. Pada fase intensi logis. Penelitian ini membagi objek penelitian (anak) menjadi dua kategori yaitu : anak fase analisa dan fase intensi logis. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh aspek sosio kultural. Metode yang digunakan adalah metode dari Norman Faiclough dengan hasil penelitian di tingkat analisis teks diketahui bahwa penempatan posisi yang dilakukan dalam tayangan “Turis Dadakan” terhadap Benjamin sebagai presenter dalam Pak Misar sebagai peserta merepresentasikan hubungan antara superior dan inferior.

kecantikan dalam media sifatnya terlalu idealis dan tidak realistis untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman resepsi anggota UKI FISIP Unsoed tentang model partisipasi politik rakyat Venezuela dalam film dokumenter tersebut adalah bahwa kesadaran rakyat tentang haknya sebagai warga negara dan kesadaran untuk melakukan tindakan politik atau bentuk partisipasi kekerasan dengan demokrasi berasal dari pengaruh rezim yang demokratis. yang bertujuan untuk menginterpretasikan objek penelitian 20 . Hanung meneliti resepsi anggota Unit Kerohanian Islam (UKI) Fisip Unsoed terhadap partisipasi politik dalam film dokumenter “The Revolution Will Not Be Televised”.analisa terdapat anak yang menerima sepenuhnya (Dominant Reading) dan beberapa melakukan negosiasi terhadap konsep kecantikan dalam media (Negotiated Reading) maka pada fase intensi logis. Adapun perbedaan dari penelitian – penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis teliti adalah penelitian peneliti menggunakan metode penelitian analisis isi kualitatif. dengan proses komunikasi langsung antara presiden dengan rakyatnya. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa penerimaan dan konstruksi anak sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berkembang dalam lingkungan sosialnya. anak justru sudah mampu melakukan kritik bahkan penolakan (Oppositional Reading) atas konsep tersebut. Bagi kelompok intensi logis. Penelitian lain yang menggunakan analisis resepsi juga pernah dilakukan oleh Hanung Krisnanto pada tahun 2007.

Riset media ini memanfaatkan interpretasi dan gaya hermeneutik sebagai landasan metodologinya. Analisis isi kualitatif dengan demikian mencari makna laten di dalam isi pesan. Membaca Teks dengan Analisis Isi Kualitatif Asamen dan Berrry ( 1998 : 275 ) menyatakan salah satu kunci dalam analisis isi kualitatif terletak pada pemakaian teknik deskriptif untuk menginterpretasikan objek penelitian ke dalam simbolik dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. 2000 : 82). Adalah Weber (1907). Tahap spesifik ini memungkinkan peneliti untuk masuk “ke dalam” dan menghasilkan analisis yang lebih lengkap. Itulah sebabnya analisis ini memperluas diri pada pembacaan interpretatif terhadap simbolisasi yang ada di balik data-data yang secara fisik disajikan. B. Analisis isi kualitatif dengan demikian mencari makna laten di dalam isi pesan. Metode pengumpulan datanya bisa berupa observasi. Kerangka Konsep 1. 21 . Blumer (1933) dan Levi-Strauss (1963) yang tulisantulisannya mengilhami lahirnya qualitative content analiysis. Analisis isi kualitatif menuju pada makna holistik di dalam konteks pesannya.ke dalam simbolik dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. wawancara mendalam dan bermacam variasi yang dipakai dalam analisis isi kualitatif (Gunter. Menurut Fink dan Gratz ( 1996) seperti dikutip Asamen dan Berry (1998 : 275) analisis isi kualitatif memang lebih berfokus pada makna laten dari suatu pesan.

Dalam proses ini peneliti akan mengetahui apa dan 22 . Di sini peneliti diharapkan dapat memahami the nature (kealamiahan) dan cultural meaning (makna kultural) dari artifact (text) yang diteliti. gambar. mengolah dan menganalisis dokumen untuk memahami makna. dan sebagainya. signifikansi dan relevansinya. Dalam analisis isi media kualitatif ini semua jenis data atau dokumen yang dianalisis lebih cenderung disebut dengan istilah “text” apa pun bentuknya gambar. gambar bergerak (moving image). Di sini peneliti menggunakan dokumen atau teks untuk membantu memahami proses dan makna dari aktivitas-aktivitas sosial. simbol dan sebagainya untuk memahami budaya dari suatu konteks sosial tertentu. Burhan Bungin (2008 : 192) menyatakan bahwa peneliti yang melakukan studi analisis isi kualitatif harus memperhatikan beberapa hal yaitu : a. Context Yaitu situasi sosial di seputar dokumen atau text yang diteliti. Analisis isi media kualitatif ini merujuk pada metode analisis integratif dan lebih secara konseptual untuk menemukan. Emergence ini akan membantu peneliti memahami proses dari kehidupan sosial dimana pesan tadi diproduksi.Burhan Bungin (2008 : 191) berpendapat analisis isi media kualitatif lebih banyak dipakai untuk meneliti dokumen yang dapat berupa teks. simbol. b. tanda (sign). mengidentifikasi. Atau dengan kata lain yang disebut dokumen dalam analisis isi kualitatif adalah wujud dari representasi simbolik yang dapat direkam/ didokumentasikan atau disimpan untuk dianalisis. Emergence Yakni pembentukan secara gradual/bertahap dari makna sebuah pesan melalui pemahaman dan interpretasi.

bagaimana si pembuat pesan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya atau oleh bagaimana si pembuat pesan mendefinisikan sebuah situasi. Sedangkan prosedur analisis isi kualitatif lebih menekankan pada kemampuan teks di dalam membawakan suatu keragaman makna bergantung pada si penerimanya (Gunter. 4. Perbedaan mendasar antara metodologi kuantitatif dan kualitatif dapat dilacak pada tempat dimana makna suatu teks media itu berada. 2. Sebuah studi sinkronik dari teks media melihat hubungan yang ada antara 23 . Analisis semiotika-struktural Analisis wacana Analisis retorika Analisis naratif Analisis interpretatif Analisis Semiotika Struktural Dalam analisis semiological media. perhatian utama adalah untuk menetapkan bagaimana makna dibuat dan dikomunikasikan melalui cerita atau narasi. 3. 5. dalam Gunter 2000: 83) mengklasifikasikan beberapa model analisis isi kualitatif : 1. 2000 : 82). Sebuah perbedaan penting lebih lanjut dalam analisis semiological adalah antara sinkronis dan diakronis ini. makna dapat muncul. Hijmans (1996. Analisis kuantitatif menekankan pada makna tetap dari teks media yang bisa diidentifikasi secara berulang oleh ‘pembaca’ yang berbeda dengan menggunakan kerangka analisis yang sama. Tanda-tanda dapat diidentifikasi dalam teks-teks media dan melalui analisis hubungan antara tanda.

dapat dilihat sebagai bentuk linguistik kritis (Fowler. 1993:7). 1991). bentuk. Analisis Naratif 24 . tetapi telah digunakan dalam kaitannya dengan media audio visual. Wacana telah digunakan untuk merujuk kepada teks tertulis. dan analisis wacana memberikan perhatian khusus untuk komponen linguistik dari penggunaan bahasa di media. Penerapannya pada media tumbuh dari studi semiotik mencoba untuk menilai arti bahasa dalam hal ideologis asumsi implisit. sementara kajian diakronis melihat jalan cerita berkembang.berbagai elemen. sementara analisis diakronis memfokuskan pada rantai peristiwa (struktur sintagmatik) yang membentuk cerita. Analisis retoris Pusat dari analisis retoris adalah pertanyaan tentang bagaimana pesan disajikan secara visual atau tekstual. Analisis Retoris menyiratkan rekonstruksi komposisi atau organisasi yang diamati dan tampak pesan secara langsung dengan cara pembacaan fragmen rinci atau unit yang lebih besar dari teks atau bahan visual. Hal ini secara luas jenis analisis stilistik organisasi serta penyajian pesan dan fitur khusus seperti komposisi. penggunaan metafora dan struktur argumentasi atau penalaran. (Berger. Ini melibatkan penguraian karakteristik eksternal formal bahasa dan / atau citra yang digunakan. Analisis Wacana Wacana analisis. Sebuah analisis sinkronis meneliti pola oposisi berpasangan dalam teks (atau struktur paradigmatik nya). maupun sebagai sebuah aspek dari semiotika.

pengujian wawasan teoretis pada data empiris.Dalam analisis naratif. Peneliti menggunakan analisis isi interpretatif mengajukan pertanyaan penelitian deskriptif bertujuan pada penemuan dan pembentukan teori. Analisis prosedur bersifat kumulatif dan komparatif. Coding aturan lebih eksplisit dijelaskan. Hubungan antara data dan konsep dasarnya terbuka. Dengan prosedur interpretasi. teks dianggap sebagai cerita. Pesan diambil untuk menjadi disajikan atau versi diedit dari urutan kejadian. Analisis interpretatif Bentuk analisis isi kualitatif terutama berasal dari ilmu sosial. 25 . dimana unsur-unsur yang dijelaskan dan dicirikan sebagai struktur mereka. 1989 Chatman. Ini ditampilkan dalam desain dan elemen prosedural. peka konsep yang membimbing observasi dan analisis. Ada yang ketat merupakan bentuk analisis (Burke. Analisis kumulatif dengan beginings terbuka. Metode penelitian adalah jelas dijabarkan. 1978).. kesulitan dan kejadian terjadi pada karakter. Prosedur berfokus pada rekonstruksi dan deskripsi struktur naratif berdasarkan tindakan. konsep melayani untuk mengatur data dan untuk memahami mereka dalam cara yang baru secara substansial. Pengambilan sampel secara teoritis informasi: peneliti memilih kasus untuk alasan strategis karena mereka merupakan fenomena yang dikaji dengan cara tertentu. metodologi selalu jelas dijabarkan. pilihan. dan gaya yang lebih impresionistis lain analisis naratif. penyesuaian konsep-konsep dan bekerja dengan hipotesis sementara adalah sinyal dari analisis isi interpretatif.

Analisis isi media kualitatif memanfaatkan interpretasi dan gaya hermeneutik sebagai landasan metodologinya (Gunter, 2000 : 82). Perbedaan mendasar antara metodologi kuantitatif dan kualitatif dapat dilacak pada tempat dimana makna suatu teks media itu berada. Analisis kuantitatif menekankan pada makna tetap dari teks media yang bisa diidentifikasi secara berulang oleh ‘pembaca’ yang berbeda dengan menggunakan kerangka analisis yang sama. Sedangkan prosedural analisis isi kualitatif lebih menekankan pada kemampuan teks di dalam membawakan suatu keragaman makna bergantung pada si penerimanya (Gunter, 2000 : 82). Dalam penelitian ini menggunakan analisis interpretatif, yaitu hubungan antara data dan konsep pada dasarnya bersifat terbuka. Konsep disusun guna memadu pengorganisasian data dan untuk memahaminya dengan cara yang baru. Model analisis isi juga mensyaratkan kriteria teoritis dari sampling yang dipakai yaitu peneliti memilih adegan-adegan tertentu dengan alasan strategis tertentu karena kasus tersebut mewakili fenomena yang hendak dikaji lebih mendalam (Gunter, 2000 : 91). Beberapa ahli telah memakai model analisis interpretatif ini untuk mengkaji isi media baik cetak maupun audio visual (televisi) sebagaimana sicatat Gunter (2000: 90) diantaranya : Dahlgren (1980) yang meneliti pemberitaan di televisi. White dan White (1982) menganalisis representasi para pengungsi Vietnam di dalam pers Australia. Weber dan Laux (1985) meneliti mengenai penggunaan kata “stress” di media. Alexander (1994) mengkaji tentang kecenderungan

pemanfaatan anak-anak dalam iklan. Altheide (1985,1987) meneliti beberapa

26

aspek yang mempengaruhi produksi berita. Sedangkan Griffin dkk. (1994) membandingkan stereotype kultural di dalam iklan di India dan USA. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa minat pokok analisis isi kualitatif sesungguhnya adalah bukan semata pada apa yang nampak dari teme-tema yang ada, sumber informasi atau kategori pelaku, melainkan dari bagaimana tema-tema, sumber-sumber atau tindakan ditempatkan. Dengan kata lain, keseluruhan variasi pola-pola linguistik dan format produk dapat dianalisis untuk menyingkap maknamakna yang mungkin tidak serta merta bisa ditangkap bila hanya menggunakan perhitungan elemen-elemen isi seperti dalam analisis kuantitatif. Dalam analisis isi media kualitatif ini semua jenis data atau dokumen yang dianalisis lebih cenderung disebut dengan istilah “text” apa pun bentuknya gambar, tanda (sign), simbol, gambar bergerak (moving image), dan sebagainya. Dalam penelitian ini, dengan menggunakan analisis isi kualitatif akan diteliti keseluruhan isi tayangan reality show “Bedah Rumah” meliputi isi konsep tayangan dan bagaimana membaca teks visual dengan analisis isi kualitatif. Teks disini dimaksudkan sebagai keseluruhan tanda-tanda dalam sebuah tayangan, baik verbal maupun nonverbal.

2. Komodifikasi Komersialisasi berlebihan terhadap kebudayaan (hypercommercialization of culture) sangat terlihat dalam pertelevisian kita. Melihat perkembangan pertelevisian di Indonesia melalui perspektif political economy (kritis), dapat dicontohkan melalui pengemasan tayangan kemiskinan yang booming akhir-akhir

27

ini, yang tidak bisa lepas dari proses komodifikasi. Bentuk komodifikasi dalam konteks ini adalah komodifikasi khalayak, dimana media massa menghasilkan proses, dan industri media memproduksi khalayak dan menyerahkan pada pengiklan. Dalam hal ini, salah satu program media berupa tayangan kemiskinan digunakan untuk menarik khalayak. Pemasang iklan membayar perusahaan media untuk mengakses khalayak. Komodifikasi dapat diasumsikan sebagai proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar. Proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar, dalam media massa selalu melibatkan para awak media, khalayak pembaca, pasar, dan negara apabila masing-masing di antaranya mempunyai kepentingan (Mosco, 1996). Nilai tambah produksi berita akan sangat ditentukan oleh kemampuan berita tersebut memenuhi kebutuhan sosial dan individual. Sementara Graeme Burton menyatakan bahwa komodifikasi adalah sesuatu dimana televisi telah disokong, karena televisi sendiri merupakan cerminan dari masyarakat materialistis. Segala sesuatu bisa dikomodifikasikan oleh industri televisi dalam rangka mendukung dan menjaga eksistensinya ( dalam Fajar Junaedi, 2000 : 23). Fajar Junaedi (2005 : 29) menjelaskan Komodifikasi dalam pandangan ekonomi politik Vincent Mosco (1996) merupakan salah satu entry point, disamping strukturasi dan spasialisasi (terdapat tiga proses masuk / three entry procceses). “Komodifikasi adalah proses mentransformasi nilai guna, yakni nilai yang didasarkan pada kemampuan memenuhi kebutuhan menjadi nilai tukar (nilai

28

pengertian ekonomi politik bisa dibedakan dalam pengertian sempit dan luas. khususnya relasi kekuasaan. “Commodification processes analyzed included media content as 29 . 1999: 177) mendefinisikan komodifikasi sebagai : “the process of transforming use values into exchange values. Komodifikasi ini merupakan salah satu cara yang bisa melakukakan pendekatan atau pintu masuk mempelajari media massa dalam pendekatan ekonomi politik. adalah proses dimana struktur-struktur satu sama lain saling diangkat oleh agensi. Sementara strukturasi (strukturation). of transforming products whose value is determined by their ability to meet individual and social needs into products whose value is set by what they can bring in the marketplace”. Dalam pengertian luas kajian mengenai kontrol dan pertahanan kehidupan sosial. Dalam pengertian sempit berarti kajian relasi sosial. Menurut Mosco (1996). Komodifikasi. Dan spasialisasi (spatialization). yang bersama-sama membentuk produksi. merujuk pada pertumbuhan kekuatan kapital untuk menggunakan dan meningkatkan makna transportasi dan komunikasi.yang didasarkan pasar)”. adalah proses mentransformasi ruang dengan waktu. Dengan demikian maka kemudian bisa dikatakan bahwa komodifikasi isi media berarti mengubah pesan menjadi produk yang dapat dipasarkan. Komodifikasi menjadi alat utama untuk mengubah relasi sosial menjadi relasi ekonomi. menurut Mosco (dalam Fajar Junaedi. distribusi dan konsumsi sumber daya termasuk sumber daya komunikasi.

the collection and sale of personal information. and intrusion of advertising into public space”.comodity. Privatisasi yang menurut Murdock dan Golding (dalam Putra. Liberalisasi yang biasanya dirancang untuk memperkenalkan kompetisi dalam pasar yang tadinya dikuasai secara tunggal oleh perusahaan negara juga dapat kita temukan wujudnya dalam dunia pertelevisian Indonesia yang pada awalnya hanya dimonopoli oleh TVRI. Komodifikasi ini biasanya mengejawantah dalam bentuk-bentuk commercialization di mana negara menempatkan bentuk aturan didasarkan standar pasar dan menetapkan aturan pasar. 2001:89) berkaitan dengan dua hal yaitu pertama. ditampakkan dengan pengalihan fasilitas lembaga komunikasi penting kepada para pemodal swasta dan menjadikan keberhasilan 30 . Liberalization yaitu masuknya intervensi negara untuk memperluas jumlah partisipan di pasar. Komersialisasi umumnya terkait dengan upaya pemerintah dalam mengatasi krisis keuangan yang melanda lembaga-lembaga komunikasi yang sebelumnya menjadi tanggung jawab pemerintah. the sale of audiences to advertisers. Serta internationalization yang merupakan kebijakan negara untuk menyatukan kebijakan ekonominya dengan sistem ekonomi global. Privatization dengan menjual asset pemerintah ke pengusaha swasta. secara ekonomis mengakibatkan pergeseran produksi dan prasyarat pelayanan komunikasi dan informasi dari sektor publik ke pasar. kini sudah menjadi arena kompetisi lebih dari 10 stasiun televisi swasta dan pemerintah.

3. Komodifikasi Audiens atau Khalayak Mosco menyebutkan bahwa penggunaan periklanan merupakan penyempurnaan dalam proses komodifikasi media secara ekonomi. Alhasil akan terjadi keseragaman bentuk dan isi media untuk dapat menarik perhatian khalayak. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana 31 . Media dapat menciptakan khalayaknya sendiri dengan membuat program semenarik mungkin dan kemudian khalayak yang tertarik tersebut dikirmkan kepada para pengiklan. Komodifikasi Pekerja (Labour) Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. 2. Audiens merupakan komoditi penting untuk media media massa dalam mendapatkan iklan dan pemasukan. tapi juga distribusi. Bukan hanya produksi sebenarnya.dalam pasar sebagai tolak ukur utama untuk menilai penampilan seluruh lembaga komunikasi dan informasi. Bentuk komodifikasi menurut Vincent Mosco (1996) : 1. Komodifikasi Isi atau Content Proses komodifikasi ini dimulai ketika pelaku media mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi manusia yang penuh makna hingga menjadi pesan yang marketable.

tidak hanya kesetiaan. Sehingga tidak sulit dipahami jika kemudian media cenderung lebih merupakan sebuah “mesin pengeruk keuntungan” bagi para penanam modal di dalamnya. value.menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa. dihomogenisasikan. Terry Lovell ( 1994: 467) menyatakan bahwa. Tidak hanya cinta. exchange-value. Akibatnya yang terjadi kemudian media memperlakukan semua hal sebagai komoditas. Akibatnya. independensi kebijakan editorial menjadi suatu “kemewahan” yang semakin sulit untuk dimiliki oleh media. Cultural production shares features with all capitalist commodity production. Komodifikasi dalam media Struktur media yang terkonsentrasi menyebabkan peningkatan pengaruh kekuatan pemilik (ownership) terhadap media (McQuail. surplus-value and comodity fetishism. dikomersialisasikan. 2000: 199). 1994: 468). walaupun dengan upah yang tak seharusnya. 2000: 149). These are use-value. segala produk dan simbol budaya pada gilirannya harus distandardisasikan. Capitalist commodity production is per se interested only in the production of surplus value (Lovell. tidak 32 . karena semua hal harus menjadi produk budaya untuk konsumsi massa (Ibrahim. Nilai (value) komoditas tidak tergantung pada manfaatnya tapi pada jumlah jam kerja yang telah digunakan untuk menghasilkannya. Oleh karena itu. and tehe most appropiate starting point of a Marxist analysis of cultural production might be Marx’s own categories for the analysis of capitalist commodity production. Dengan masuknya modal. dikomodifikasikan. Uang kemudian digunakan sebagai ukuran nilai.

hanya impian, bahkan tubuh, kecantikan, seni, musik dan suara pun telah menjadi “komoditi” (Ibrahim, 2000: 149). Ketika produk media telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan maka perusahaan media memang menjadi tidak berbeda dengan sebuah industri sepatu yang tidak punya idealisme untuk mengabdi pada kepentingan publik namun hanya berpikir bagaimana memproduksi sepatu yang disukai konsumen dan laku dijual. Realitas di atas juga telah turut mewarnai kondisi media televisi di Indonesia. Sehingga meski secara kuantitas khalayak Indonesia sedang dibanjiri berbagai program tayangan informasi dan hiburan lewat media televisi, namun situasi tersebut tidak menyebabkan penduduk Indonesia menjadi sosok-sosok “informed man” melainkan melahirkan “crystallized man” (Christian dalam Putra, 2001). Hal tersebut terjadi karena berbagai informasi yang dihadirkan media sudah disesuaikan dengan berbagai kepentingan pihak-pihak di balik layar media. Sehingga produk informasi di media sudah melewati apa yang disebut Wasburn (dalam Putra 2001: 93) sebagai dekontekstualisasi, dramatisasi dan trivialisasi yang menjadi salah satu “resep” media dalam meramu sajian acaranya agar diminati konsumen. Grossberg dan kawan-kawan dalam Media Making: Mass Media in a Popular Culture (Sage Publication, 2006) menegaskan bahwa media mempunyai peran dalam memproduksi identitas masyarakat, membangun relasi produksi, distribusi dan konsumsi, serta bagaimana pada titik tertentu media membangun sebuah perilaku atau tindakan tertentu. Intinya, bagaimana media berpengaruh

33

secara langsung maupun tidak dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam ekonomi, politik, sosial dan ideologi, alih-alih bagaimana media berkontribusi signifikan pada proses-proses globalisasi yang melahirkan imperialisme kebudayaan karena adanya ‘global media’. Media dengan kekuatan dan peluang yang dimiliki akan melihat setiap celah yang menguntungkan bagi industri layak menjadi komoditas. Program Bedah Rumah dan juga program lain sejenis menjadikan kemiskinan sebagai tontonan yang pantas dikonsumsi masyarakat luas. Kemiskinan yang membuat banyak penonton menangis dan terharu adalah sebuah komoditas menguntungkan bagi para pemilik modal, alih-alih jika berdasarkan survei, rating dan share audience-nya tinggi.

3. Kemiskinan a. Pengertian Kemiskinan Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002:3). Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan nonmakanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos, 2002:4).

34

Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (Depsos, 2001). Kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi: (a) (b) (c) modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan), sumber keuangan (pekerjaan, kredit), organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) (e) (f) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa, pengetahuan dan keterampilan, dan informasi yang berguna untuk kemajuan hidup (Friedman dalam Suharto, dkk.,2004:6). b. Dimensi Kemiskinan Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan non-material yang diterima oleh seseorang. Secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat (SMERU dalam Suharto dkk, 2004). Menurut SMERU (2001), kemiskinan memiliki berbagai dimensi: 1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan).

35

9. Pemenang umumnya adalah negara-negara maju. Tidak dilibatkannya dalam kegiatan sosial masyarakat. kelompok marjinal dan terpencil). 36 . Sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi. Kemiskinan merupakan fenomena yang berwayuh wajah. 5. 4. kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan). air bersih dan transportasi). 3. Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak telantar. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan. wanita korban tindak kekerasan rumah tangga. 2. 7. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga). janda miskin. Globalisasi menghasilkan pemenang dan pengkalah. 8. pendidikan. sanitasi. 6.2. David Cox (2004:1-6) membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi: 1. Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Kemiskinan subsisten (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan).

4. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia. Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi.kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang sebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan). Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek. posisi lemah dalam proses pengambil keputusan. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi. Sedangkan. dan tingginya jumlah penduduk. bencana alam. Kemiskinan sosial. fatalisme. psikologi dan politik. lemah mengantisipasi peluang. Kemiskinan konsekuensial. 37 . penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. kerusakan lingkungan. hingga mereka tetap miskin. anak-anak. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas. daya tawar rendah. 3. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. ekonomi. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan. malas. sosial. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan. yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan. tabungan nihil. dan kelompok minoritas. seperti konflik. dan rasa terisolir. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin. diskriminatif. upah kecil. dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan.

namun justru banyak orang berebut untuk menjadi miskin. c. sandang. Ketika hampir mayoritas orang ingin menjadi orang kaya. kesehatan. Kemiskinan absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan. Miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya. 38 . 3. Kemiskinan relatif Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. pendidikan. Bukan hanya orang yang memang tadinya sudah miskin ingin tetap dikatakan miskin. Kemiskinan kultural. Anomali Kemiskinan Ada sebuah anomali di dalam masyarakat kita. 2. namun orang-orang yang kaya pun mulai memperebutkan status sebagai orang miskin dikarenakan status miskin identik dengan “subsidi” atau “kompensasi” . tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan. papan. yang miskin akan tetap miskin dan yang kaya akan semakin kaya. Akibatnya.Menurut SMERU (2001) Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian yaitu : 1.

Selama ini negara dalam mengurus orang miskin kebanyakan memakai paradigma bagi-bagi uang dan terkesan instan dan tidak mendidik. 2007-2009) Perilaku ini selain bersifat individualis juga turut diakibatkan oleh cara negara dalam mengurus rakyatnya. maka status atau 39 . yang tadinya merupakan sebuah aib menjadi status yang dibanggakan.Contoh sederhana untuk menggambarkan kontradiksi di atas adalah pembagian Bantuan Langsung Tunai ( BLT ) yang diberikan pemerintah sebagai penopang ekonomi masyarakat agar tidak jatuh dalam kubang kemiskinan akibat kenaikan harga BBM. Tentunya pola semacam ini turut mendorong masyarakat berorientasi uang. tiba-tiba beramai-ramai mengurus surat keterangan miskin untuk turut mencicipi uang subsidi. Republik ini bahkan pernah harus mengaku miskin demi mendapat pinjaman dari IMF. banyak orang dengan status orang miskin baru muncul dan menuntut pembagian dana BLT. Tersungkur dalam cap “kesulitan ekonomi” untuk menarik rasa iba negeri-negeri donor mengirimkan bantuan. sejumlah orang Indonesia mengisi daftar teratas orang-orang kaya di Asia. Sehingga ketika berbicara tentang uang. Menengadah tangan di tengah fakta bahwa meskipun negerinya miskin. Perilaku bermental pengemis dan manipulatif tidak hanya terjadi di tataran akar rumput (grass root). namun ikut didorong oleh bagaimana negara mengelola kemiskinan warganya. Orang yang tadinya berkecukupan. Perilaku manipulatif dan bermental pengemis ini bukanlah muncul secara tiba-tiba. (Adi Surya. Orangorang tersebut tidak malu berdemonstarasi menyatakan dirinya miskin agar mendapat bantuan. Status miskin kini mengalami perubahan makna. Namun realitasnya.

4. pesan bersifat umum. sasarannya menimbulkan keserempakan dan komunikannya 40 . Kemiskinan sebenarnya tidak layak dijadikan alat untuk mencari keuntungan segelintir orang. Kritikan terhadap acara televisi saat ini adalah tidak adanya siaran yang mendidik. Menjadi wajar ketika orang kaya juga mencoba merebut jatah subsidi bagi rakyat tidak mampu. tentu tetap tidak perubahaan pada bangsa ini. Menikmati siaran yang mengangkat kemiskinan mungkin baik jika hasilnya adalah tumbuh empati dan rasa ingin membantu. apalagi jika menimbulkan efek pengharapan orang miskin lain yang membuat mereka tidak produktif dan akhirnya bisa mengalami stress karena pengharapan yang tak kunjung datang tersebut. bantuan yang bersifat bagi-bagi uang akan menjadi ladang perburuan setiap orang. Dan menjadi tidak pantas jika hanya sekedar menikmati tanpa timbul rasa empati atau keinginan untuk menolong sesama. yaitu komunikasi berlangsung satu arah komunikatornya melembaga. Televisi sebagai Industri Media Televisi mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan media lainnya. Kemiskinan kurang pantas dijadikan komoditas mencari keuntungan. Mulai dari sinetron hingga reality show. Namun jika tidak.kategori tidak menjadi relevan lagi. Tidak perduli apa pun statusnya. sedikit yang memberikan nilai pendidikan. karena ada faktor uang yang dibutuhkan oleh setiap kalangan baik miskin atau pun kaya.

media lebih banyak menjalankan fungsinya sebagai sebuah institusi sosial yang mengemban tugas utama untuk melayani kepentingan 41 . Media massa telah menjadi wahana periklanan utama yang menghubungkan produsen dengan konsumennya. Oleh karena itu tidak berlebihan kemudian jika Golding dan Murdock (dalam Sudibyo. 1993). Televisi merupakan sebuah kotak ajaib yang seakan telah menyatu dalam keseharian umat manusia di sunia. Kekuatan media massa yang besar dalam mempengaruhi khalayak sudah disadari oleh masyarakat jauh sebelum media itu sendiri berkembang pesat seperti saat ini. jarak dan waktu yang menjadi landasan majunya peradaban (Wardana. Istilah televisi terdiri dari perkataan “tele” yang berarti jauh dan “visi” atau vision (penglihatan) yang berasal dari kata videre berarti melihat (Uchjana. Saat ini media massa telah mampu menghadirkan dirinya sebagai satu wacana utama yng turut mempengaruhi dinamika sosial. Kehadiran televisi disorong oleh obsesi manusia untuk mengatasi ruang. Pada awal berdirinya.heterogen (Soemandoyo. 2001). 1999). Media televisi lahir dari proses panjang perkembangan teknologi. Melalui berbagai programnya media massa telah menjadi alat transfer nilai dari suatu sistem sosial ke sistem sosial yang lain. Media massa juga telah menjadi mediator penting antara negara dengan rakyatnya. 2004 : 2) menyatakan bahwa untuk melakukan analisis terhadap media tidak hanya diperlukan pendekatan ekonomi namun juga pendekatan politik. politik dan budaya di tingkat lokal maupun global. Sehingga jelas sudah bahwa media memang tidak hanya menjalankan fungsi sosial namun juga fungsi ekonomis dan bahkan politis ideologis.

Dennis McQuail (1994). tidak lagi semata-mata menjadi sebuah institusi sosial namun juga institusi ekonomi dan institusi politik. sedangkan untuk PH yang lebih canggih. 5. karena tidak perlu memiliki intelektualitas tinggi atau daya nalar terlalu tinggi. institusi media mengalami pergeseran idealisme. untuk mendirikan sebuah rumah produksi (production house/PH) sederhana saja modal awal yang dibutuhkan paling tidak berkisar antara setengah hingga satu miliyar. berpendapat bahwa institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi. Karena. Untuk itu hadirlah berbagai tayangan informasi yang berupa berbagai bentuk hiburan. Sebagai gambaran. salah satu hiburan tersebut adalah Reality Show. antara 25 hingga 50 miliyar.publik (pyblic servant). Reality Show Menurut Anwar (dalam Soemandoyo. Dalam perkembangannya kemudian. 1999) dampak televisi terhadap masyarakat sangat kuat. Untuk perusahaan penyiarannya (broadcasting) sendiri. 42 . khususnya orang haus akan informasi dan televisi merupakan cara yang paling mudah untuk dicerna. 2001:50). sehingga muncul anggapan bahwa media telah berubah fungsi. investasi awal yang harus dikeluarkan bisa mencapai di atas satu triliun (Siregar. Tingginya modal yang harus disediakan ketika menjalankan bisnis ini dengan mudah bisa dilihat pada modal awal dan asset sejumlah media di Indonesia. bisnis media massa adalah sebuah industri yang padat modal.

Teks disini dimaksudkan sebagai keseluruhan tanda-tanda dalam sebuah tayangan. Dalam penelitian ini. dan sebagainya. Untuk mengkaji makna dari tanda-tanda yang terangkum dalam grafis dan gambar dalam sebuah program televisi dapat dilihat dari teknik pengambilan gambar serta penggerakan kamera yang dapat mewakili makna-makna tertentu. syaraf tawa bagi masyarakat pemirsanya. baik verbal maupun nonverbal. gambar bergerak (moving image). Acara ini mengeksploitasi munculnya momen dramatik objek penelitian yang akan menjadi “tontonan” yang mengasyikkan (exiting). Makna teknik pengambilan gambar dalam pergerakan kamera 43 . yang bisa merangsang syaraf keharuan. dengan menggunakan analisis isi kualitatif akan diteliti keseluruhan isi tayangan reality show “Bedah Rumah” meliputi isi konsep tayangan dan bagaimana membaca teks visual dengan analisis isi kualitatif. simbol. tak terkendali. 2006 : 45). (Wirodono. karena akan memunculkan emosi-emosi spontan.Masalah yang kemudian muncul adalah masalah etika ketika berbagai bentuk ekspresi spontan dijadikan ciri khas dan sebuah komoditi bagi seluruh program acara hiburan yang bertajuk Reality Show. Untuk itu. di luar dugaan. tanda (sign). Reality Show adalah tayangan tentang realitas sosial masyarakat kita. Dalam analisis isi media kualitatif ini semua jenis data atau dokumen yang dianalisis lebih cenderung disebut dengan istilah “text” apa pun bentuknya gambar. peneliti ini menggunakan klasifikasi mengenai definisi dan makna yang ditimbulkan oleh beberapa teknik penggambaran seperti terangkum dalam tabel berikut : Tabel 1.

mengamati Mengikuti. peristiwa penting. tidak punya kekuatan Dramatis Keseharian. nostalgia Semua elemen adalah penting ‘lihatlah semua’ Kebahagiaan Kesedihan Teaterikal. jarak public • Long Shot Hubungan sosial • Full Shot Sudut Pengambilan (camera angel) • High • Eye Level • Low Jenis Lensa • Wide Angel • Normal • Tele Komposisi • Simetris • Asimetris • Statis • Dinamis Focus • Selective focus • Soft focus • Deep focus Pencahayaan • High key • Low key • High contrast • Low contrast Kode sinematik • Zoom in • Zoom out • Pan (ke kiri atau ke kanan) • Tilt (ke atas atau ke bawah) • Fade in • Fade out Gambar Dominasi. kewenangan Kesetaraan Kelemahan. dramatis Realitas. normalitas Dramatis. religiusitas Keseharian.Penanda Petanda Ukuran Pengambilan Gambar (Shot Size) Emosi. drama • Big Close – up Keintiman • Close Up Hubungan personal dengan subjek • Medium Shot Konteks. mengamati Mulai/awal Selesai/akhir Jarak waktu. kerahasiaan Tenang. stabil. keintiman. hubungan antar adegan 44 . dokumenter Observasi Konteks Mengikuti. alamiah Ketiadaan konflik Disonrientasi. kekuatan. gangguan Menarik perhatian penonton Romantika.

hanya dua orang saja yang terlihat pada gambar Pengambilan gambar lebih dari 2 orang atau sekelompok orang Big Close UP atau Big Close Shoot kadang disebut juga PCS (Very Close Shoot). yaitu pengambilan yang memperlihatkan pokok sasarannya secara lebih dekat dengan mengesampingkan latar belakang maupun detail yang kurang perlu. yaitu : 1. yaitu pengambilan yang memperlihatkan latar secara keseluruhan dalam segala dimensi dan perbandingannya. Shoot ini hanya memperlihatkan beberapa bagian dari wajah seseorang biasanya antara dagu dan dahi atau detildetil yang terperinci dari sebuah benda. Long Shot (LS).• • • • Dissolve Wove Iris out Cut • Slow motion Kesimpulan yang menghentak Film tua Kesamaan waktu. Petunjuk pengambilan gambar SHOOT TWO SHOOT GROUPSHOOT Munculnya gambar di layar TV yang diambil dengan memakai sebuah kamera selama jangka waktu tertentu. yaitu pengambilan yang memfokuskan pada subjeknya atau bagian tertentu. 2002 Petunjuk pengambilan gambar adalah posisi pengambilan oleh kamera pada objek yang diambil. Lainnya dikesampingkan supaya perhatian tertuju ke situ. Close-Up (CU). perhatian Evaluasi. 3. Secara mendasar terdapat 3 cara pengambilan. Tabel 2. 2. memperlihatkan seluruh wajah seseorang atau bagian bentuk untuk sebuah BCU atau BCS CU atau CS 45 . Medium Shot (MS). Biasanya dalam naskah ditulis 2-Shoot atau 2s. apresiasi keindahan Sumber : Keith Selby dan Ron Cowdery dalam Widiningtyas. Close Up atau Close Shoot.

edu 46 . seringkali dikenal istilah “waist” (pinggang) shoot. sampai pori-pori kulitpun dapat kelihatan. dan kesan HA pengambilan ini mengandung unsur dramatis yaitu “kerdil”. memperlihatkan kepala sampai MS pinggang seseorang atau seluruh bagian sebuah benda atau sebagian besar sebuah bangunan. seringkali disebut chest shoot atau bust shoot MCU atau MCS memperlihatkan kepala dan bahu sampai ke dada bagian atas. Sumber : Cheppy@upi. Medium Long Shoot. Long Shoot atau Wide Shoot atau “wide angle” memperlihatkan ¾ badan seseorang dengan latar LS atau WS atau WA belakang yang luas atau seluruh badannya bila berdiri sendiri pemandangan alam luas atau bagian dalam bangunan secara penuh Very Long Shoot atau Very Wide Angle jarang VLS atau VWA dipakai di studio karena studio tidak cukup luas untuk menampilkan luasnya pemandangan. Untuk benda akan terlihat bagian penuh benda tersebut atau bagian dari sebuah bangunan. sering dipakai untuk mengambil dua orang yang sedang bercakap-cakap. Medium Shoot. Extreme Close UP. Low Angle : sudut pengambilan dari arah bawah sehingga kesan objek jadi membesar.benda. OSS Pengambilannya lewat pundak seseorang membelakangi kamera. sama seperti LA high angle posisi ini juga terkesan dramatis untuk menunjukkan keagungan Eye Level : sudut pengambilan gambar sejajar EL dengan mata. Over Sholder Shoot. sering kali dikenal dengan MLS istilah “knee” sampai lutut atau gambar sebagian besar kelompok bangunan. Heigh Angle : sudut pengambilan dari suatu objek sehingga kesan objekjadi mengecil. Fungsinya untuk memperlihatkan detil suatu objek. Medium Close UP atau Medium Close Shoot. yaitu pengambilan sangat dekat ECU sekali.

kemudian tayangan televisi disiarkan televisi dengan berbagai tujuan diantaranya 47 .C. Kerangka Pikir Pemasang iklan Industri Media /Televisi Pemilik Media Tayangan Reality Show Kemiskinan : tema komodifikasi dominan Anomali Masyarakat Bedah Rumah Analisis Isi Media Interpretasi Teks Resepsi Penonton Iklan adalah “media” pemilik produk yang diciptakan oleh biro iklan.

Persoalan kemiskinan merupakan salah sebuah bentuk komodifikasi yang mendominasi program acara televisi di negeri ini. Tak terkecuali program reality show “Bedah Rumah” yang dalam realitas media menampilkan berbagai citra menurut penilaian normatif masyarakat. apa yang muncul dalam setiap tayangan program televisi selalu berhitung dengan kalkulasi ekonomi yang berujung pada hasil. Tema kemiskinan menjadi tema komodifikasi bagi pengelola media yang mampu menarik perhatian biro iklan. 48 . Untuk mengetahui apa saja bentuk komodifikasi. peneliti mencoba menginterpretasi teks yang ada dalam reality show Bedah Rumah melalui pendekatan analisis isi kualitatif. Media dengan kekuatan dan peluang yang dimiliki akan melihat setiap celah yang menguntungkan bagi industri layak menjadi komoditas. untung/rugi. setelah itu peneliti juga mencoba ununtuk mengetahui bagaimana represi penonton terhadap komodifikasi kemiskinan yang terdapat dalam acara tersebut. Sebagai industri.untuk meningkatkan rating. dimana tayangan televisi membutuhkan iklan yang pada kenyataannya iklan adalah sebuah investasi yang membutuhkan modal besar.

rancangannya bersifat sementara dan kesimpulan penelitian disepakati oleh peneliti dan subyek yang diteliti (dalam Moleong. mengandalkan manusia sebagai instrument pengumpul data. bersifat deskriptif. penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. membatasi studi dengan fokus. Dilihat dari pendekatan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan. mengandalkan analisis data secara induktif. sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif. mengarah pada penemuan teori. memiliki kriteria untuk memeriksa keabsahan data. Jenis Penelitian 49 . maka seseorang dapat menggunakan berbagai jenis metodologi penelitian. lebih mementingkan proses daripada hasil. 1996:26). yang diarahkan pada latar dan individu secara holistic disebut dengan kualitatif. B. Pendekatan Penelitian Untuk mengungkap realita sosial yang ada.

Peneliti memilih edisi ini karena rumah yang dibedah menurut peneliti sangat mencerminkan kemiskinan absolut yaitu dilihat dari kondisi rumah yang tidak layak huni dan kehidupan yang memprihatinkan. Selain itu pemilihan episode 50 . analaisis isi kualitatif ini disebut juga dengan ECA (Etnographic Content Analysis) C. mengolah dan menganalisis dokumen dalam rangka untuk memahami makna. 22 Mei 2009. Selanjutnya. 2001:71). para peneliti juga menghubungkan isi pesan-pesan tersebut dengan variabel input penting lainnya. Analisis isi merupakan metode analisis yang integratif dan lebih secara konseptual untuk menemukan.Sementara jika dilihat dari jenis penelitian. Akan tetapi. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah acara reality show ‘Bedah Rumah’ yang ditayangkan di stasiun televisi swasta RCTI yaitu edisi Jumat. signifikansi dan relevansinya. kajian ini termasuk Analisis isi yang memiliki tujuan utama menjelaskan karakteristik dari pesan-pesan yang termuat dalam teks-teks umum dan bermedia. mengidentifikasi. Dokumen dalam analisis isi kualitatif ini merupakan wujud dari representasi simbolik yang dapat direkam atau didokumentasikan atau disimpan untuk dianalisa. Selain itu adalah teknik sistematik untuk menganalisis pesan dan mengolah pesan. adalah suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisisi perilaku komunikasi yang terbuka dan komunikator yang dipilih (dalam Tobroni.

dialog atau kombinasinya dalam tayangan reality show “Bedah Rumah” periode 22 Mei 2009.tersebut semata didasarkan pada pertimbangan kebutuhan aka nisi atau muatan yang signifikan dengan bentuk komodifikasi kemiskinan. D. Jenis Sumber Data Peneliti mengambil data primer dari hasil interpretasi peneliti terhadap tayangan reality show yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI yaitu “Bedah Rumah” episode 22 Mei 2009. Data sekunder peneliti adalah data-data yang diperoleh dari hasil Focus Group Discussion (FGD) dari terhadap informan yang relevan dengan penelitian. Teknik Pengumpulan Data Dalam mengumpulkan data. peneliti mengunakan empat cara. narasi. Dokumentasi 51 . G. yaitu : a. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Perumahan Bina Griya Pekalongan. Peneliti memilih lokasi ini dikarenakan merupakan lokasi pemukiman yang kaitannya akan mempermudah peneliti dalam pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) E. Unit Analisa Unit analisa peneliti adalah teknik pengambilan gambar. F.

agar peneliti mendapat kemudahan dalam melakukan penelitian mengingat tanyangan tersebut hanya ada dalam televisi dan penayangannya tidak dapat diulang sehingga menyulitkan dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan analisis interpretatif. yaitu hubungan antara data dan konsep pada dasarnya bersifat terbuka. Perbedaan mendasar antara metodologi kuantitatif dan kualitatif dapat dilacak pada tempat dimana makna suatu teks media itu berada. Maksudnya. Sedangkan prosedural analisis isi kualitatif lebih menekankan pada kemampuan teks di dalam membawakan suatu keragaman makna bergantung pada si penerimanya (Gunter. b. Analisis kuantitatif menekankan pada makna tetap dari teks media yang bisa diidentifikasi secara berulang oleh ‘pembaca’ yang berbeda dengan menggunakan kerangka analisis yang sama. 22 Mei 2009. Konsep disusun guna memadu pengorganisasian data dan untuk memahaminya dengan cara yang baru. 2000 : 82).Peneliti mendokumentasikan Acara Reality Show Bedah Rumah dalam bentuk CD (compact disk) yang isinya adalah hasil rekaman dari tayangan Bedah Rumah edisi Jumat. Analisis isi kualitatif ( qualitative content analysis) Analisis isi media kualitatif memanfaatkan interpretasi dan gaya hermeneutik sebagai landasan metodologinya (Gunter. 2000 : 91). 2000 : 82). Model analisis isi juga mensyaratkan kriteria teoritis dari sampling yang dipakai yaitu peneliti memilih adegan-adegan tertentu dengan alasan strategis tertentu karena kasus tersebut mewakili fenomena yang hendak dikaji lebih mendalam (Gunter. 52 .

White dan White (1982) menganalisis representasi para pengungsi Vietnam di dalam pers Australia. Teknik ini dimaksud untuk memperoleh data dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu (Burhan Bungin. Sedangkan menurut Pawito (2007:125. Sejauh itu 53 . c. dalam Ghozali. Sedangkan Griffin dkk. FGD juga merupakan teknik pengumpulan data dengan membentuk suatu kelompok diskusi atau kelompok fokus dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan sharing bersama setiap anggota diskusi. FGD menjadi amat penting untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap masalah yang sedang diteliti. (1994) membandingkan stereotype kultural di dalam iklan di India dan USA. Weber dan Laux (1985) meneliti mengenai penggunaan kata “stress” di media. 2007 : 237). Focus Group Discussion (FGD) FGD adalah sebuah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif. Alexander (1994) mengkaji tentang kecenderungan pemanfaatan anak-anak dlam iklan.Beberapa ahli telah memakai model analisis interpretatif ini untuk mengkaji isi media baik cetak maupun audio visual (televisi) sebagaimana sicatat Gunter (2000: 90) diantaranya : Dahlgren (1980) yang meneliti pemberitaan di televisi. Altheide (1985. 2009:30) FGD merupakan metode kualitatif yang lazim digunakan untuk melacak hal-hal tertentu yang tampaknya ingin ditonjolkan yang menjadi prioritas bagi responden atau subjek penelitian.1987) meneliti beberapa aspek yang mempengaruhi produksi berita.

Pembantu rumah tangga yang menonton program acara Bedah Rumah b.1. Kelebihan FGD diantaranya adalah dapat menghasilkan data yang kaya akan detail yang sulit dihasilkan dari metode lain. Selain itu FGD juga membantu mengidentifikasi kondisi yang menunjang interaksi dan diskusi terbuka dari pandangan informan. FGD dapat berjalan baik apabila memperhatikan hal-hal seperti mendalami kepercayaan dari informan dan peneliti. Pembantu rumah tangga yang berpendidikan maksimal SMP c. Pembantu rumah tangga yang termasuk golongan masyarakat miskin. ide. c. dalam Nainggolan. ataupun pandangan informan tentang diskusi (Asbury.2. Tiap kelompok berjumlah 5 orang yang mempunyai kriteria tertentu. yakni suasana saling pengertian sehingga informan dapat dengan bebas berpendapat melalui pernyataan terbukanya yang mewakili perasaan.pula teknik ini digunakan untuk menarik kesimpulan terhadap makna-makna intersubjektif yang sulit dimaknakan sendiri oleh peneliti karena dihalangi oleh dorongan subjektivitas peneliti. Ibu rumah tangga yang menonton program acara Bedah Rumah 54 . c. Kriteria kelompok pembantu rumah tangga : a. 2007: 29) Dalam penelitian ini peneliti membagi FGD dalam 2 kelompok berdasarkan status sosial yaitu kelompok pembantu rumah tangga dan kelompok majikan. Kriteria kelompok majikan : a. Kedua kelompok ini bertujuan untuk mewakili bagaimana penerimaan dan pemaknaan dari pemirsa.

3 Februari 1988 Pendidikan terakhir : SMP Nama : I’ah Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Perempuan : Batang. Identitas Sumber FGD 1 Identitas Sumber Kelompok FGD I (Pembantu Rumah Tangga) Nama : Kuswati Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Perempuan : Sumbang. 3 Maret 1990 Pendidikan terakhir : SMP Nama : Ita’ Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Perempuan : Poncol. 22 Agustus 1978 Pendidikan terakhir : SD Nama : Yanti Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Perempuan : Pekalongan. 22 Juli 1993 Pendidikan terakhir : SMP Nama : Yuni Septiani Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Perempuan : Wiradesa.b. Tabel 3. Termasuk golongan masyarakat menengah ke atas. 19 April 1981 55 .

Pendidikan terakhir : SD Tabel 4. Sihombing : Perempuan : Batak. Sumber Data FGD II Nama Identitas Sumber Kelompok FGD II (Majikan) : Sutini : Perempuan : Madiun. 10 Februari 1953 Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan Nama Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Pensiunan PNS : Ny. 10 Juni 1948 Jenis Kelamin Tempat / tanggal Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan Nama Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Pensiunan PNS : Sri Nur Peni : Perempuan : Pekalongan. 17 Mei 1966 Pendidikan terakhir : Sarjana Muda Pekerjaan Nama Jenis Kelamin : PNS : Sari : Perempuan 56 . 8 September 1957 Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan Nama Jenis Kelamin Tempat / tanggal : Wiraswasta : Tutik Djumiati : Perempuan : Ambarawa.

Identifikasi masalah yang akan diteliti Peneliti melakukan pengamatan terhadap keseluruhan tayangan “Bedah Rumah” dengan merekam kemudian mempelajarinya. Teknik Analisis Data Peneliti di dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis isi kualitatif/Qualitatif Content Analysis dengan teknik interpretasi terhadap isi dalam tayangan reality show “Bedah Rumah”. 163-165) : 1.2004. Selama menonton tayangan. artikel-artikel dan informasi nonhuman yang terkait dengan penelitian. penulis menggunakan berbagai macam data yang dikumpulkan melalui bukubuku. Dimana isi tersebut akan menghasilkan kategori-kategori bentuk komodifikasi kemiskinan.Tempat / tanggal : Yogyakarta. 13 Juni 1955 Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan d. : Wiraswasta H. 57 . p. Kepustakaan Untuk mengumpulkan data dan teori dalam penelitian ini. peneliti mendapatkan adanya komodifikasi kemiskinan. Rachmad Ida membagi tahapan penelitian Analisis Isi Kualitatif menjadi sebagai berikut (Bungin.

5. artikel maupun internet. 3. Peneliti kemudian melakukan pengujian antara lembar kategorisasi yang telah dibuat peneliti dengan dokumentasi tayangan Bedah Rumah. Mulai mengenal atau terlibat dengan proses dan konteks dari sumber informasi Peneliti mencari segala informasi mengenai tayangan “Bedah Rumah” dan segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep komodifikasi kemiskinan melalui buku-buku. Menyeleksi unit analisis Peneliti mulai menyeleksi beberapa cuplikan tayangan Bedah Rumah yang mencerminkan bentuk komodifikasi media 4. 58 . Melakukan revisi terhadap protocol yang ada dan menyeleksi beberapa kasus-kasus tambahan untuk pembuatan protokol selanjutnya yang lebih halus. Membuat protokol (semacam coding form) dan membuat daftar beberapa item atau kategori untuk meng-guide pengumpulan data dan draft protokol (semacam data collection sheet). 6. Melakukan pengujian protokol dengan mengoleksi data dari beberapa dokumen.2. Peneliti membuat lembar koding kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan dari hasil interpretasi unit analisis di atas.

menambah bagian dalam lembar kategorisasi yang peneliti anggap masuk dalam bagian bentuk komodifikasi kemiskinan. 59 . Peneliti mencantumkan hasil dari pengumpulan data sekunder yaitu FGD dan membuat hasil koding kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan menurut persepsi pemirsa. 9. 8. Membaca semua catatan yang dibuat selama proses penelitian dan mengulang data-data yang diperoleh selama proses berlangsung. Penekanan utama dari analisis isi kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman maknamakna. penonjolan dan tema-tema dari pesan dan untuk memahami organisasi dan proses bagaimana pesan-pesan direpresentasikan dalam media (Glaser&Straus. teoritikal. 7.Dalam melakukan pengkodingan peneliti melakukan seleksi ulang. Penentuan sampling rasional dan strategisnya. Peneliti berusaha memahami makna dan tema apa yang ingin disampaikan oleh tayangan “Bedah Rumah” melalui cuplikan yang telah diperoleh. Melakukan analisis data termasuk penghalusan konsep dan koding data yang sudah dilakukan. kluster atau random stratifikasi (yang harus dicatat bahwa biasanya penentuan sampling ini akan bersifat theoretical sampling). Koleksi data berupa pengumpulan data informasi dan banyak contohcontoh deskriptif. 1967).

Mengintergrasikan semua temuan data dengan interpretasi peneliti dan konsep-konsep kunci dan draft atau format yang berbeda atau lain. Dari semua data yang ada kemudian peneliti melakukan interpretasi akhir untuk menjawab rumusan masalah yaitu apa saja 60 . Melakukan komparasi dan kontras hal-hal yang ekstrem dan pemilihan kunci-kunci perbedaan yang muncul dalam setiap kategori atau item teks. 11. Dalam presentasi data ini (sangat) dimungkinkan mencantumkan narasi-narasi observasi yang dilakukan serta membuat ilustrasi-ilustrasi berdasarkan rangkuman/protokol informasi untuk setiap kasus yang dianalisis. Peneliti melakukan perbandingan antara hasil kategorisasi peneliti dan kategorisasi persepsi pemirsa untuk melihat letak perbedaan interpretasi bentuk komodifikasi kemiskinan. Peneliti melakukan kombinasi antara data yang didapat dari FGD dengan hasil analisis data peneliti yaitu berupa kategorisasi dari data primer dan sekunder. 12.Peneliti melakukan analisis data dengan membaca semua catatan yang dibuat dan melakukan koreksi ulang terhadap koding kategorisasi yang telah dilakukan peneliti. Melakukan kombinasi antar semua data dan contoh-contoh kasus yang ada. Catatan bahwa semua ini dilakukan dengan critical thinking dan analysis. 10.

Kriteria ini berfungsi untuk melaksanakan pengamatan (inquiry) sedemikian rupa sehingga penemuannya dapat dicapai dan menunjukkan derajat kepercayaan hasil penemuan dengan jalan 61 . Sampling ini dikenal juga sebagai interval sampling yang diambil karena mewakili informasinya dengan kelengkapan dan kedalamannya (Sutopo.bentuk-bentuk komodifikasi pada tayangan reality show “Bedah Rumah” I. Namun dalam penelitian kualitatif teknik sampling didasarkan pada informasi yang diwakilinya dan bukan generalisasi populasi. Validitas Data Teknik menetapkan keabsahan data dalam penelitian ini dengan melakukan derajat kepercayaan. Seperti dikemukakan Miles dan Huberman (1992 : 47) dan Patton (2002 : 230) bahwa umumnya teknik sampling dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan pada prinsip random probabilitas dimana setiap populasi memiliki peluang sama untuk dipilih sebagai sampel. Teknik Pengambilan Cuplikan Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoretis yang digunakan. keingintahuan pribadi peneliti. J. prinsip purposeful selection diambil berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. 2002 : 55). karakteristik empirisnya dll. Oleh sebab itu.

evaluasi terhadap penelitian ini. Memberi ruang bebas secara komunikatif terhadap berbagai kelompok kepentingan untuk memberikan komentar. dengan harapan untuk memperoleh masukan-masukan guna keberhasilan. Teknik ini diambil penulis. 62 . b. Sehingga penelitian ini bukan dijadikan kajian akhir tapi sebagai awal dari sebuah metode dan perspektif tertentu untuk selalu diperdebatkan secara ilmiah. juga dapat menambah pemahaman dalam menyikapi data yang diperoleh untuk mendapatkan klarifikasi penafsiran yang sesuai dengan teori dan metodologi yang dipakai penulis. Teknik pemeriksaan keabsahan dapat menggunakan : a. kritik. Selain itu. teoritis dan terbuka. dalam penelitian ini. penulis akan mengeskposkan hasil penelitian guna memperoleh masukan dan sekaligus dilakukan diskusi analisis dengan teman-teman penulis serta dosen pembimbing.pembuktian pada kenyataan ganda yang sedang diteliti (Moeleong. 2001 : 173175). Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi Teknik ini.

acara ini juga menampilkan bintang tamu yaitu artis yang berbeda disetiap episodenya yang berperan mendampingi dan merasakan kesusahan keluarga yang terpilih untuk dibedah rumahnya. sinetron. sehingga menambah rating. khususnya televisi. gossip. Sedangkan survei yang dilakukan oleh Nielsen 63 . televisi swasta yang ada di Indonesia menghadirkan beragam acara untuk menarik minat masyarakat.67 % di seluruh acara televisi swasta. kurang menjadi perhatian disebabkan Production House (rumah produksi) lebih menekankan tersedianya alternatif informasi dan hiburan bagi konsumennya. Oleh sebab itu. Konsep acara ini yaitu bertujuan merenovasi rumah yang tak layak huni menjadi layak huni hanya dalam waktu 12 jam saja. misalkan film. Bedah Rumah adalah tayangan reality show yang ditayangkan di stasiun swasta yakni stasiun televisi RCTI setiap hari kamis sampai minggu pukul 16. Salah satu program tayangan televisi yang sedang digemari adalah reality show. Selain dipandu Ratna Listy sebagai host acara. Acara reality show ini sudah ada sejak tahun 2005 sudah mencapai rating tertinggi dan sampai sekarang menurut indorating bulan Agustus 2010 masih menduduki peringkat pertama acara reality show televisi yaitu mencapai 4.30 WIB. DESKRIPSI REALITY SHOW “BEDAH RUMAH” Pengaruh negatif kemajuan teknologi.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. reality show dan charity show.

B. TIM PRODUKSI REALITY SHOW “BEDAH RUMAH” Gambar 1. : Michael Rusmanah : Yanto : Yuni Melia 64 . Logo Bedah Rumah KERABAT KERJA Konsep Acara : Helmi Yahya Eko Nugroho Produser Eksekutif : Helmi Yahya Liem Siau Bok Supervisi Produksi Kepala Divisi Support Produser Asisten Produser Sutradara Kreatif Administrasi : Zulkarnaen : Reny Sulasiah : Johana Asbanu : Angela Putri P.Media Research (NMR) di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 tercatat reality show yang memiliki rating tertinggi adalah reality show Bedah Rumah disusul reality show Uang Kaget diperingkat kedua.

Mainal & Rudi Patrol 65 .Legal Penata Gambar : Sarah Dilla : Adi (Koordinator) Luhur Yanto Gemblong Agus Keong Teknisi Unit Arsitek : Yanto : Ony Sahrony : Rudi Raja (Koordinator) Rudi Black Adi Editor Asisten Editor Koordinator Artis Tim Survey Onset : Novadi Papa Vanessa : Borink : Prasha Asmarandana : Ocha Victoria : Edy Doyok Bomad Pengemudi : Gendon.

Sampai di rumah nenek Sami. Nenek Sami tinggal bersama Santi. Pada hari kedua. SEKILAS TENTANG BEDAH RUMAH EDISI JUMAT 22 MEI 2009 Pada Bedah Rumah edisi Jumat 22 Mei 2009. kamar tidur. Ketika nenek Sami pergi “mulung”. penghasilannya berapa dan sebagainya. dapur dan sumur. Tiara berusaha ikut membantu dan menunjukkan kepada pemirsa betapa tidak mudahnya membuat sapu lidi. Setelah melihat kondisi rumah. dengan siapa dia tinggal. nenek Sami juga sudah mulai berkurang dalam pendengarannya. mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah. Tiara melihat-lihat kondisi rumah yang ditinggali oleh nenek Sami dan cucunya mulai dari ruang tamu. Selain sudah berusia lanjut. beberapa saat kemudian nenek Sami juga ikut keluar menemui Tiara. Setelah berbincang-bincang beberapa saat. Sampai pada akhirnya Tiara meminta ijin untuk tinggal beberapa hari di rumah nenek Sami.C. Tiara disambut oleh Santi. cucu perempuannya dan suaminya. menampilkan artis dan model Tiara Smith mendatangi keluarga nenek Sami. Tiara kemudian menanyakan tentang kehidupan nenek Sami. Tiara pun ikut 66 . Ketika nenek Sami membuat sapu lidi. pekerjaannya apa. Pada awalnya Tiara Smith berpura-pura sedang disuruh oleh perusahaan tempat dia bekerja untuk mencari barang-barang rongsokan sampai akhirnya tiba di rumah nenek Sami. Seorang nenek tua yang berprofesi sebagai pemulung dan pembuat sapu lidi. Tiara mulai ikut membantu dan ikut terlibat dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh nenek Sami.

Setelah dari salon mereka pergi ke sebuah hotel untuk istirahat. Tiara gelisah dan tidak bisa tidur. keluarga nenek Sami pulang ke rumah dan disambut oleh presenter tim Bedah Rumah Ratna Listy beserta warga sekitar. sampai akhirnya sandal yang tiara pakai terlepas dan hanyut terbawa air. namun akhirnya berhasil ditemukan oleh Tiara. Tiara menemani nenek Sami untuk mengambil dana BLT.membantu nenek Sami untuk memulung barang-barang bekas di tempat pembuangan sampah. Setelah itu. Tiara mengajak nenek Sami dan cucunya pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuh. Tiara pun ikut melakukan apa yang dilakukan oleh nenek Sami. Tiara juga banyak digigit oleh nyamuk. 67 . Dan akhirnya tirai pun dibuka. Sampai pada malam hari. tim bedah rumah sudah mulai merenovasi rumah nenek sami agar menjadi rumah yang layak huni. Selain karena tempat tidurnya sempit dan keras. Pada hari ketiga. Pada malam harinya ketika nenek Sami dan cucunya tertidur pulas. nenek Sami sempat tertinggal di lantai bawah. Ketika berada di hotel. ditempatkan di sebuah kamar yang berstandar VIP dan menikmati makan malam di hotel. Tak lama setelah itu nenek beserta keluarga dikejutkan dengan berita menggembirakan yang menyatakan bahwa rumah nenek akan segera dibedah. Bahkan ketika nenek Sami mencuci kakinya di got. Di tempat yang lain. perawatan rambut dan perawatan kecantikan lainnya yang bisa didapatkan di salon kecantikan.

including communication resources”. 68 . Dan sekarang ini telah sangat banyak sekali bentuk komodifikasi yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia. distribution. (Mosco. jadi perbaikan dan bantahan dalam proses komodifikasi sosial mempengaruhi komunikasi sebagai praktik sosial. distribusi dan konsumsi media massa. particularly the power relations.1. Komodifikasi menurut Vincent Mosco digambarkan sebagai cara kapitalisme dengan membawa akumulasi tujuan kapitalnya. Yang pertama adalah komodifikasi. kedua spasialisasi dan terakhir strukturasi. termasuk media massa. Kedua adalah proses komodifikasi yang terjadi dalam masyarakat secara keseluruhan menekan proses komunikasi dan institusinya. Karena mulai banyak juga yang dijadikan komoditas oleh manusia. 1996:2) Terdapat tiga konsep kunci dalam pendekatan ekonomi politik media massa. ANALISIS DAN REPRESENTASI DATA D.D. dapat digambarkan dari dua dimensi hubungan. Hingga hubungan kepengaruhan tersebut dapat mempengaruhi sistem produksi. “Political economy is the study of the social relations. and consumption of resource. Atau dapat pula digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau guna menjadi sebuah nilai tukar. that mutually constitute the productions. Dan sekarang kaitan komodifikasi dan komunikasi. Konsepsi Komodifikasi Media dalam Bedah Rumah Pendekatan ekonomi politik memusatkan kajiannya pada bagaimana hubungan dominasi dan penguasa ekonomi bisa mempengaruhi institusi sosial lain. Yang pertama adalah proses komunikasi dan terknologinya memiliki kontribusi terhadap proses umum komodifikasi secara keseluruhan.

Audiens merupakan komoditi penting untuk media media massa dalam 69 . Komodifikasi isi media berarti mengubah pesan menjadi produk yang dapat dipasarkan. 3. the sale of audiences to advertisers. and intrusion of advertising into public spaces. inilah logika bisnis industri media.1996). Pengertian komodifikasi Isi / Content dari sebuah isi media sendiri adalah mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi manusia yang penuh makna hingga menjadi pesan yang marketable. Inilah yang menjadi ciri dari ideology industry media tertentu.”(Mosco. Namun sayangnya. “Commodification processes analyzed included media content as commodity. 2.Konsep Komodifikasi Media oleh Vincent Mosco (1996) pada tayangan reality show “Bedah Rumah” : 1. Bedah Rumah adalah acara reality show yang bertemakan kemiskinan yang pada akhirnya tema kemiskinan menjadi content media (Komodifikasi isi media). Dan kemudian jika komodifikasi ini berhasil maka para advertiser akan tertarik untuk membeli waktu jeda dalam program tersebut. konten media dibuat sedemikian rupa sehingga agar benar-benar menjadi kesukaan publik meski hal itu bukanlah fakta dan kebutuhan publik. Salah satu prinsip dimensi komodifikasi media massa menurut Gamham dalam buku yang ditulis Mosco menyebutkan bahwa penggunaan periklanan merupakan penyempurnaan dalam proses komodifikasi media secara ekonomi. Alhasil akan terjadi keseragaman bentuk dan isi media untuk dapat menarik perhatian khalayak. the collection and sale of personal information. ideology ekonomi misalnya.

mendapatkan iklan dan pemasukan. Dan tentu saja tetap memiliki banyak unsur. Dan akan selalu mendapat perhatian yang tinggi dari audiens. Media dapat menciptakan khalayaknya sendiri dengan membuat program semenarik mungkin dan kemudian khalayak yang tertarik tersebut dikirimkan kepada para pengiklan. Menyesuaikan keinginan audiens dalam satu program Tayangan Bedah Rumah yang menampilkan tema kemiskinan menjadi indikasi dalam komodifikasi. Mencari dan menjawab keinginan audiens (Audiens need & want) Seperti isu awal yang disebarkan adalah memberikan alternatif tontonan bagi keluarga. Dengan membuat program yang “all in one” maka RCTI dapat mengklain bahwa inilah program yang benar-benar diinginkan oleh audiens. Dengan demikian audiens dapat menikmati beragam kebutuhan hiburan (misalnya) dalam satu program saja. Penciptaan audiens dengan program semenarik mungkin 70 . programmer media massa akan menggabungkan beragam kebutuhan audiens dalam satu program atau beberapa program. Seolah-olah program ini memang menjawab kebutuhan dari audiens. b. Hasil Analisa Peneliti : a. Program tersebut biasanya menjawab kebutuhan audiensnya. c. Program sebagai andalan 1. bukan hanya hiburan. Konkritnya media biasanya menjual audiens dalam bentuk rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan air time mereka.

dari hasil pengamatan sementara. peneliti melihat struktur plot atau shot-shot yang ada dalam video acara “Bedah Rumah” edisi Jum’at 22 Mei 2009 dapat berdiri dalam satu kerangka besar yang menggabungkan aspek-aspek komoditas dan psikologis seperti hasrat. tangisan dan atau sebuah bentuk pemuasan kebutuhan manusia. Telaah Penelitian Secara keseluruhan. Khalayak yang tertarik berjumlah banyak Audiens sama dengan komoditas. 71 . Kita tahu jika rating tinggi maka jumlah penontonnya termasuk tinggi dan para pengiklan akan sangat tertarik dengan program ber-rating tinggi untuk memasang iklannya. Aspek-aspek tersebut hadir secara dominan dalam bagian-bagian video berupa visual maupun audio. Hal ini menunjukkan bahwa memang penonton program ini bukanlah sedikit. impian. 2.Acara Bedah Rumah menjadi program acara favorit oleh anggota keluarga dan telah mendapat angka rating yang cukup tinggi. D. dibuktikan dengan angka ratingnya yang cukup tinggi. Dalam hal ini tentu saja audiens adalah sumber pemasukan yang sangat menggirukan bagi medianya. Seperti acara “Bedah Rumah” yang dalam pemunculan iklannya jika diakumulasikan sebanyak 48 spot dalam waktu 18 menit atau memiliki iklan sebanyak 28 % dari seluruh jam tayang yang berdurasi 50 menit.2.

bagian ini dalam pandangan peneliti sebagai bagian dari serangkaian kegiatan penekanan konsep kemiskinan. Terdiri dari bagian-bagian shot. isi dan penutup. Dengan menampilkan satuan-satuan tanda ciri-ciri kemiskinan yang dikemas secara menyedihkan hadir sebuah pemaknaan akan sebuah realitas media. bagian isi atau tujuan utama dari adanya acara reality show “Bedah Rumah. Pertama.Bagian-bagian tersebut dapat teruraikan dalam penggalan scene atau shotshot yang pada dasarnya dapat dikategorikan dalam tiga bagian yakni bagian pembuka. Sedangkan latar belakang dan karakteristik individu yang terbangun dalam video ini adalah sebuah keluarga miskin yang terdiri seorang nenek beserta anak dan cucunya yang yang keadaannya sangat memprihatinkan. Narasi utama dalam bagian – bagian awal audio visual ini adalah tentang sebuah bentuk kemiskinan atau lebih tepatnya permasalahan sebagian orang yang terhimpit oleh kesulitan ekonomi dan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dari hal tersebut peneliti melihat penekanan konsep kemiskinan sebagai realitas media adalah sebagai konsep komodifikasi kemiskinan di media. bagian pembuka atau awalan berisi shot yang secara sekilas sedang berbicara tentang permasalahan pokok yang sedang dihadapi serta latar belakang dan karakteristik tokoh. Kesadaran sebagian masyarakat akan arti penting dan kekuatan media dalam membangun kendali atas berbagai citra menjadikan apa yang disebut sebagai “realitas media” kadang disalah-artikan sebagai “realitas sosial”. Realitas media menampilkan berbagai citra menurut penilaian normatif masyarakat. 72 . Kedua.

Hal tersebut bisa diamati bila dikaitkan dengan penggunaan tanda-tanda sebelumnya dimana ada semacam konstruksi psikologis yang coba dibangun bahwa kenikmatan dan khayalan yang mungkin belum pernah dialami bisa terwujud jika dengan adanya tim bedah rumah dimana acara tersebut tentu tidak lepas dari para pemilik modal. bagian penutup. Dalam bagian terakhir acara ini ada semacam penekanan fokus pada kehebatan acara reality show “Bedah Rumah” yang mampu menyulap rumah tak layak huni menjadi layak huni hanya dalam waktu 12 jam saja.3 Analisis Isi Interpretatif Komodifikasi Kemiskinan Data hasil tentang bentuk komodifikasi kemiskinan dalam tayangan reality show Bedah Rumah ini diperoleh setelah melakukan analisis isi kualitatif terhadap tayangan Bedah Rumah yang khususnya signifikan menggambarkan simbol dan bentuk mengeksploitasi kemiskinan dan akan dilakukan kategorisasi bentukbentuk komodifikasi kemiskinan. Pemilihan 73 . dapat ditarik kesimpulan bahwa acara reality show “Bedah Rumah” edisi Jumat 22 Mei 2009 disini membentuk bingkai makna komodifikasi isi media dengan tema kemiskinan yang menghadirkan unsur pengharapan dari seseorang yang miskin sebagai pencapaian kenikmatan hidup. D. Sampel tayangan yaitu Bedah Rumah episode 22 Mei 2009 diperoleh melalui You Tube. Bahwa orang yang miskin bisa memperoleh sebuah kenikmatan hidup yang ia inginkan lewat sebuah kesempatan yang diberikan oleh acara reality show “Bedah Rumah”. Dari penelaahan ketiga bagian diatas. Sampel ini merupakan salah satu dari banyak episode yang ditayangkan dalam periode 1 tahun terakhir.Ketiga.

peneliti membagi tayangan bedah rumah menjadi beberapa shot/gambar yang peneliti anggap penting. Setelah melalui proses olah data maka beberapa cuplikan tersebut dikelompokkan dan dianalisis menurut signifikan memuat komodifikasi kemiskinan berdasarkan pengambilan gambar dan narasi guna memperoleh kategorisasi dari bentuk komodifikasi kemiskinan. Untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis tayangan bedah rumah tersebut.flv) menjadi empat bagian. Untuk memudahkan pengambilan data dan untuk menjamin kualitas gambar yang akan diteliti maka rekaman video Bedah Rumah selanjutnya ditransfer kedalam format Flash Video File (. yaitu berupa analisis isi terhadap beberapa cuplikan gambar yang telah dipilih dalam tayangan tersebut yang dianggap merepresentasikan bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan.episode ini semata didasarkan pada pertimbangan kebutuhan akan isi atau muatan yang signifikan dengan bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinannya yang kemudian jika diperlukan akan didukung oleh hasil dari proses FGD . Gambar-gambar tersebut merupakan rangkaian dari isi cerita tayangan bedah rumah. Berikut ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti atas tayangan Bedah Rumah episode 22 Mei 2009. Gambar yang telah diperoleh kemudian dilakukan proses pengeditan yaitu dengan cara di capture dengan menggunakan software GOM Player berupa beberapa cuplikan untuk keperluan analisis atau deskripsi detail tayangan acara reality show Bedah Rumah. Dokumen gambar yang didapat dari proses editing maupun rekaman keseluruhan di simpan kedalam laptop guna memudahkan proses analisis maupun FGD. Adapun 74 .

cuplikan gambar yang dipilih oleh peneliti sebanyak 13 shot yang terdiri dari 20 gambar. roda kehidupan terus berputar. diperlihatkan juga kondisi sekitar halaman luar rumah sebelum tim Tiara Smith mendatangi rumah keluarga Sami Narasi dan Dialog Pemirsa. Dan bagi sebagian orang. shot X menggambarkan suasana keluarga Sami yang menikmati fasilitas hotel. shot VII menampilkan gambar kegiatan memulung sampah. tidak terkecuali nenek sami di Kranggan Bogor yang menggantungkan hidupnya sebagai 75 . shot III terdiri dari 3 gambar yaitu menampilkan pemandangan dapur yang kotor. shot VIII menampilkan gambar Tiara Smith yang ikut menginap dan tidur seranjang dengan nenek Sami. shot XII menampilkan gambar nenek Sami yang berpelukan dengan Tiara. Berikutnya. ruang tamu. Shot IV menampilkan gambar nenek Sami dan cucunya yang sedang menangis. shot XI menggambarkan suasana saat berada di tempat pengambilan BLT. atap yang bocor dan lantai yang masih tanah. cucu dan Tiara Smith. Ibarat jalan yang menanjak. Tabel 5. shot V menampilkan menceritakan kesedihan keluarga nenek Sami dan Tiara Smith. semakin hari semakin terasa berat. Karakteristik cuplikan gambar yang dipilih Shot LS Visualisasi Pemandangan lingkungan rumah yang berada di desa. Shot I menggambarkan pemandangan rumah keluarga nenek Sami tampak depan. shot IX menampilkan gambar keluarga Sami yang berada di hotel. shot II menampilkan gambar tempat mandi nenek Sami yang kumuh. shot VI menggambarkan kegiatan membuat sapu lidi oleh nenek Sami. dapur dan kamar selesai dibedah. shot XIII menampilkan gambar suasana di depan rumah saat rumah selesai dibedah. himpitan dan kesulitan ekonomi terus menghantui mereka. shot XIV terdiri dari 4 gambar yaitu gambar saat rumah depan.

sedih mak orang ga punya ditanya-tanya..pemulung dan juga pembuat sapu lidi.. pake aja kain " Tiara : "Trus nenek misalnya sendiri kalau ambil air suka sendiri?. LS Kondisi tempat mandi keluarga Tiara : " Kamar mandinya kok kebuka Sami yang berada di luar rumah. emang belum ada alatnya.. Tiara : " Kenapa atuh ga dibenerin ? ditutup.sedih." Tiara : " ini kalau dijual sama ke tempat yang tadi ? Santi : “Iya sama.debu.” Suasana saat Santi. kotor dan pengap. cucu nenek Sami Tiara : " ini mah berat ini yah? ini mah menceritakan kisah hidupnya lebih dari satu kilo yah ? kepada Tiara Smith Santi : "tapi ini murah. Suasana dapur keluarga Sami Genteng dari dalam rumah Lantai dalam rumah Atap ini yang tidak layak adalah genteng tua yang telah bocor dan tak pantas.kalau misalkan kegiatan membuat sapu lidi di bisa dapat biaya sehari-hari itu dari FS LS 76 . MS EC EC CU Santi.. malu. Lalu sanggupkah artis kita Tiara Smith mampu menyelami kehidupan nenek sami ? Kita lihat Bedah Rumah episode kali ini. Begitu pula lantai yang tanah." Sami : " Ga dibenerin. nenek Sami dan Tiara mencurahkan perasaannya masing-masing Dihari pertama pada siang hari Tiara : " terus teh santi.malu mak.sedih mak. gini apa ga takut dilihatin orang ? Tiara Smith tidak jadi mandi Kenapa kebuka ? Ntar kalau karena tempatnya yang terlalu dilihatin orang gimana ? terbuka Sami : "Gada yang lihat.. sedih mak kerjaannya kaya gini.. masih kuat ? Sami : " Jam 12 malem juga sering ke sumur. sedih. sedih mak. Ya Allah. Terasa sangat sedih dan miris melihat apa yang terjadi jika hujan datang..

Tapi nenek di usia yang 75 tahun seperti ini masih kuat setiap hari kaya gini. semangatku jadi timbul lagi. apa aja yang khalal FS Suasana di malam pertama Tiara Malam ini nenek begitu sedih. kasihan. Tiara : "nenek mulung juga ?" Sami : " besok mulung. Hari dimana tim Bedah Rumah member kejutan. kalau sedikit 3 rb. sampah-sampah yang menggunung ini adalah teman sejati nenek stiap hari. Tiara Smith : itu yang ngambil nenek sendiri? Nenek Sami : orang gada yang ngambil. Aku ga ngerti apa yang ada dipikiran nenek. tapi nenek tetap tegar. aku heran apa nenek ga sesak yah napasnya ataupun sakit. bau dan juga jorok. Sudah puluhan tahun. aku yang melihat nenek semangat untuk mengambil sampah-sampah itu seakan gak perduli walaupun bau dan kotor. Nenek Sami FS 77 ." LS Dihari kedua pada siang hari Nenek sami hanyalah seorang pemulung kegiatan memulung sampah yang sehari-harinya hanyalah berkutat dengan samah yang kotor.belakang rumah jualan sapu lidi itu ? Santi :"ga sapu lidi aja kadang-kadang suka mulung juga. Jujur ini bau banget. melihat menginap di rumah nenek Sami wajah nenek juga sangat mengenaskan dan sangat mengharukan. aku yang masih mudah sudah gak kuat. nenek dan cucunya hidup dalam ketiadaan seperti ini.naku malu sama nenek. Namun semua kekotoran yang ada seakan terhapus oleh kebiluan nenek. nenek tetap bersemangat untuk mencari sampah-sampah itu. perutku mual. Santi : sekilo 5rb. nenek gak pernah kenal lelah tetap harus semangat.

impian. sesaat setelah layar dibelakang saya terbuka. kita akan lihat sama-sama. Rumah dari luar sebelum dan sesudah dibedah Ruang depan sebelum sesudah dibedah Dapur sebelum dibedah dan FS FS FS FS dan sesudah Kamar sebelum dan sesudah dibedah Keterangan : CU : Close Up FS : Full Shot MS : Medium Shot 78 . harapan dan semangat yang baru akan hadir. saya dan tim bedah rumah telah menyiapkan kejutan untuk keluarga nenek sami.beserta keluarga diajak sebuah hotel berbintang. seperti apa ekspresi dari keluarga ini dalam menyambut hari yang bersejarah ini. FS ke Nenek Sami dan Santi sedang melakukan perawatan rambut di salon Nenek Sami dan Santi sedang melakukan perawatan kulit di salon Pijat Refleksi Suasana saat berada di tempat pengambilan BLT Suasana saat mencurahkan kepada Tiara nenek Sami perasaannya FS CU FS MS FS Suasana sejenak setelah tirai impian nenek akan hunian yang layak dibuka sebentar lagi akan terwujud.

ukuran pengambilan gambar (shot size) yang digunakan adalah Long Shot (LS) kode sinematik zoom out dengan memperlihatkan latar 79 . Secara umum rumah yang sangat sederhana diartikan sebagai “papan” atau tempat tinggal yang apa adanya dan atau rumah yang terbuat dari bahan seadanya yang bisa digunakan untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Dalam shot ini dihadirkan pemandangan sebuah rumah di pedesaan yang tampak dari luar bisa dianggap rumah yang sangat sederhana. antara lain halaman sekitar rumah yang masih ditumbuhi tanaman liar yang tidak terawat.EC : Extreme Close LS : Long Shot Shot 1 : Gambar 2. Disebut termasuk berada di daerah pedesaan melihat konstruksi setting yang ditampilkan. Dalam shot ini. Rumah tampak dari luar Pada gambar diatas menunjukkan potongan scene pembuka atau opening acara. jalan yang masih berupa tanah dan letak rumah yang saling berjauhan satu sama lain.

Selain itu. Yaitu bagaimana pesan yang disampaikan media melalui cuplikan gambar ini dapat mencerminkan dari suatu bentuk kemiskinan dan bagaimana public dapat menangkap suatu simbol kemiskinan itu dengan melihat cuplikan gambar. 80 . setting yang terlihat di gambar ini dilihat dalam satu pertalian dengan tanda dalam kategori rumah miskin. Penggunaan kedua teknik pengambilan gambar tersebut dalam hal ini menghadirkan pemaknaan bahwa rumah yang ditampilkan dalam shot ini tidak sekedar sebagai rumah yang berada di pedesaan tapi juga sebagai rumah yang miskin dengan kondisi yang memprihatinkan. penggunaan Long Shot (LS) dan zoom out dalam gambar ini kemudian memunculkan makna status social. Dalam sudut pandang peneliti. Sebagai suatu proses penandaan. shot (rumah) disini juga dapat ditempatkan dalam sebuah penataan bertingkat dengan rumah mewah yang dalam aspek-aspek tertentu memiliki perbedaan jenjang kualitas baik secara ekonomi maupun social. Jadi dari pemetaan pengambilan gambar di atas makna yang ditimbulkan oleh shot size adalah deep focus atau konteks jarak public artinya isi dari semua elemen adalah penting “lihatlah semua”.secara keseluruhan dalam dimensi dan perbandingannya.

ember dan tempat penampungan air bekas. serta penutup kamar mandi yang tidak layak 81 . penekanan terletak pada minimnya dan tidak memadainya kondisi tempat mandi keluarga Sami. Gambar diatas menjelaskan tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya yaitu kesehatan. masih kuat ? Sami : " Jam 12 malem juga sering ke sumur. termasuk ruang hunian atau tempat tinggal yang tidak layak. tidak memenuhi derajat kesehatan. Tiara : " Kenapa atuh ga dibenerin ? ditutup. Keluarga miskin adalah dengan akses yang serba minim. emang belum ada alatnya. pake aja kain " Tiara : "Trus nenek misalnya sendiri kalau ambil air suka sendiri?. Tempat mandi kumuh Dalam shot LS ini. Dialog diatas secara tidak langsung memberikan pemahaman sosok nenek Sami yang pasrah dan tidak peduli dengan keamanan dan kebersihan lingkungan sekitar. sanitasi dan air bersih. Dialog Tiara : " Kamar mandinya kok kebuka gini apa ga takut dilihatin orang ? Sami : "Gada yang lihat. 2002). Dengan fasilitas yang seadanya yaitu sumur yang sudah tua. dan terkesan apa adanya (Evers & Korff." Sami : " Ga dibenerin.Shot 2 : Gambar 3.

tidak hanya mengarahkan pemaknaan sebagai sebuah tempat mandi yang kumuh saja tapi lebih dari itu memperkuat sebuah makna kualitas status ekonomi dan social kebawah yang juga hadir dalam shot sebelumnya. Penekanan terletak pada dapur. Sebagai sebuah signifikasi atau penandaan.seperti yang tergambar diatas. Genteng yang bocor Gambar 6. Shot 3: Gambar 4. Dapur yang kotor dan jorok Gambar 5. Lantai yang tanah Ketiga gambar tersebut menceritakan kondisi di dalam rumah nenek Sami. atap dan tanah yang diambil dengan extreme close up. ketiga gambar tersebut secara implisit mengacu pada sebuah realitas social bahwa tanda-tanda di atas 82 .

kesehatan.merupakan ciri orang miskin atau orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan non makanan. pakaian. Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan. Terasa sangat sedih dan miris melihat apa yang terjadi jika hujan datang.debu. Dalam cuplikan dan narasi di atas menurut peneliti adalah hal yang bersifat komoditas media dimana fenomena-fenomena kemiskinan yang mencerminkan rasa iba bagi yang menontonnya dikemas secara 83 . 2002:4). pendidikan. yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Hal ini didukung dengan adanya narasi berikut : “Atap ini yang tidak layak adalah genteng tua yang telah bocor dan tak pantas. baik untuk makanan dan non makanan. Pada tataran interpretative. Dalam kaitannya dengan persepsi penonton. kehadiran tanda ini hanya dimiliki oleh orang yang berada pada sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum. turut menunjukkan bagaimana sebuah kemiskinan itu adalah suatu hal yang memang miris sehingga kemiskinan identik dengan pemaknaan “belas kasihan”. transportasi. Begitu pula lantai yang tanah.” (Narasi II) Menyimak narasi diatas. penghadiran gambar-gambar diatas membentuk makna ketidakmampuan dan kepasrahan sehingga menimbulkan rasa simpati audiens. serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos. kotor dan pengap.

segar. Shot 4: Gambar 7. Makna yang dapat dihadirkan dari shot pengambilan gambar Shot size Close Up menandakan adanya suatu keintiman yang dalam pandangan peneliti dapat ditarik dalam hubungannya dengan respon pemirsa atau penerima pesan untuk dapat terhanyut dan ikut dalam keintiman tersebut dengan selective focus guna menarik perhatian penonton. nenek dan cucu yang menangis Dalam shot ini." Tiara : " ini kalau dijual sama ke tempat yang tadi ? 84 . penekanan terletak pada mimik wajah yang diambil dengan Close Up Shot (CU) dengan memfokuskan pada subjek dan mengesampingkan bagian yang lain agar perhatian tertuju hanya kepada subjek. menarik dalam sebuah tontonan yang sebenarnya tontonan tersebut adalah bersifat privat. Dialog Tiara : " ini mah berat ini yah? ini mah lebih dari satu kilo yah ? Santi : "tapi ini murah.

.. malu. Ya Allah. sedih.sedih mak..Santi : “Iya sama. Shot 5: Gambar 8.” Dialog dan mimik wajah menangis yang ditampilkan pada gambar ini merupakan bentuk dari sebuah keluhan atas keprihatinan dan ketidakmampuan seseorang yang dalam pandangan peneliti terkait erat dengan masalah kemiskinan.. Full Shot yang diambil dari seorang perempuan yang menangis menciptakan suasana tersendiri 85 .sedih. sedih mak orang ga punya ditanya-tanya..malu mak. Bentuk komodifikasi kemiskinan dalam gambar ini terlihat dari bagaimana subyek yaitu tangisan nenek Sami dan cucunya yang termasuk golongan masyarakat miskin ditampilkan secara dominan mencerminkan sekelumit realitas menggambarkan bahwa mereka golongan miskin yang tidak terlahir bahagia dan serba tidak bercukupan membawa mereka kepada sebuah ketidakadilan. Tiara Smith menangis Gambar diatas menceritakan tentang cucu nenek Sami yang mencurahkan perasaan dan keluahannya kepada bintang tamu artis Tiara Smith.. sedih mak kerjaannya kaya gini.. sedih mak.

Tiara membantu membuat sapu lidi Bisa dilihat dalam shot ini menggambarkan kehidupan sehari-hari. Pada shot ini juga ikut menampilkan ekspresi tangisan Tiara. Karakter ini akan semakin menarik perhatian penonton dan menggali keharuan untuk bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Keseharian tampak pada aktivitas pagi nenek Sami dan cucunya yang membuat sapu lidi dibantu oleh Tiara.bagi audiens. Suasana tersebut adalah sebuah emosi atau drama menyedihkan dan kepedihan rakyat ketika mengalami nasib sebagai seorang yang miskin. Shot 6: Gambar 9. Mengenai tampilnya ekspresi Tiara yang ikut menangis memunculkan karakter simpati atas penderitaan nenek Sami dan cucunya. Shot ini dipenuhi dengan aktivitas di belakang rumah (penggambaran belakang rumah dalam shot ini terlihat dari terdapatnya peralatan 86 . Tiara Smith sebagai artis tentunya memiliki kelebihan tersendiri untuk menarik perhatian audiens.

kalau misalkan bisa dapat biaya sehari-hari itu dari jualan sapu lidi itu ? Santi :"ga sapu lidi aja kadang-kadang suka mulung juga.dapur yang memang berada di luar ruangan serta bahan tanaman untuk membuat sapu lidi). Kegiatan memulung sampah 87 . Shot 7: Gambar 10." Jika melihat pengambilan gambar Long Shot diatas memunculkan karakter kepedulian Tiara sebagai seorang artis untuk ikut merasakan kesulitan yang dihadapi keluarga nenek Sami. Terlepas dari itu semua keberadaan dari seorang bintang tamu artis adalah merupakan sebuah peranan dari sebuah scenario media dalam hal pendukung acara Bedah Rumah sebagai satuan paket strategi untuk memancing rasa keharuan pemirsa. Dialog Tiara : " terus teh santi. Tiara : "nenek mulung juga ?" Sami : " besok mulung.

Tiara Smith : itu yang ngambil nenek sendiri? Nenek Sami : orang gada yang ngambil. semangatku jadi timbul lagi. Memulung adalah kegiatan mengumpulkan barangbarang bekas yang masih bisa sekiranya masih bisa didaur ulang untuk dipakai kembali.Pada shot Long Shot diatas tampaknya menampilkan sebuah lingkungan tempat pembuangan sampah sebagai lahan tempat bekerja nenek Sami sehari-hari sehingga menciptakan suatu asumsi bahwa orang miskin sudah terbiasa berada di tempat kotor. Dialog Santi : sekilo 5rb. apa aja yang khalal Keterlibatan Tiara dalam gambar ini yang ikut merasakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dia alami sebelumnya yang harus berada di antara 88 . sampah-sampah yang menggunung ini adalah teman sejati nenek stiap hari. aku yang masih mudah sudah gak kuat. Menambah rasa kemirisan audiens ketika yang ditampilkan pada gambar adalah seorang nenek tua berusia 75 tahun yang seharusnya sudah tidak produktif ternyata masih saja mengerjakan pekerjaan kasar hanya untuk mendapatkan sesuap nasi untuk kelanjutan hidupnya beserta keluarganya. aku yang melihat nenek semangat untuk mengambil sampahsampah itu seakan gak perduli walaupun bau dan kotor. jorok dan bau. kalau sedikit 3 rb. nenek gak pernah kenal lelah tetap harus semangat.aku malu sama nenek.” (Narasi III). bau dan juga jorok. nenek tetap bersemangat untuk mencari sampah2 itu. Tapi nenek di usia yang 75 tahun seperti ini masih kuat setiap hari kaya gini. Jujur ini bau banget. “Nenek sami hanyalah seorang pemulung yang sehari-harinya hanyalah berkutat dengan samah yang kotor. Namun semua kekotoran yang ada seakan terhapus oleh kebiluan nenek. Yaitu suatu pekerjaan yang sebagian besar dilakukan oleh masyarakat yang berstatus social rendah. perutku mual. aku heran apa nenek ga sesak yah napasnya ataupun sakit.

Koentjaraningrat (1994: 138) menegaskan bahwa rumah berdinding gedhek merupakan satu bagian dari rumah asli keluarga petani Jawa. Shot 8: Gambar 11. dinding yang masih terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan atap kayu yang menambah kesan kehidupan sederhana yang apa adanya. Tiara saat tidur dirumah nenek Sami Pada shot ini penonton diajak untuk menyelami kesederhanaan masyarakat miskin dari tanda-tanda yang hadir. Kesederhanaan ditampilkan melalui peralatan yang masih tradisional.benda-benda kotor. mencium bau busuk sampah dan memungut sampah yang menjijikan dengan tangan adalah suatu maksud untuk menunjukkan sebuah kegiatan yang mencerminkan sikap prososial. Yaitu bagaimana media dengan tanpa rasa malu mengumbar kemiskinan dan penderitaan di depan umum penikmat televisi. 89 . Namun dalam hal ini yang terlihat justru sebuah gambar yang menonjolkan penderitaan lakon yang berasal dari ‘true story’ kemiskinan warga yang menjadi hidangan utama media.

Kamar yang luas. kamar mandi shower menjadi bentuk kenikmatan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Keluarga Sami menikmati fasilitas hotel Penekanan pada shot diatas adalah bagaimana ekspresi kegembiraan yang terpancar dari keluarga nenek Sami yang menikmati kemewahan hotel yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. tempat tidur spring bed. Kenikmatan tersebut akan memperlihatkan keluguan dan kepolosan mereka yang akhirnya akan menjadi hal menarik untuk ditonjolkan.Pada gambar diatas menceritakan bagaimana menyedihkannya nenek Sami yang hanya tidur hanya beralaskan dipan tua tanpa kasur. Pada shot ini ditampilkan juga Tiara yang secara rela menemani nenek Sami dan tidur ditempat yang sama. Reaksi Tiara yang gelisah menunjukkan suatu ketidaknyamanan tinggal di rumah itu menjadi gambaran menyedihkan bahwa untuk dapat istirahat dan tidur dengan nyaman saja sulit untuk dipenuhi. Pengambilan 90 . Shot 9 : Gambar 12. modern yang penuh dengan peralatan yang megah. pendingin ruangan. Reaksi dan ekspresi Tiara tersebut semakin menimbulkan efek iba yang timbul bagi pemirsa yang menontonnya.

Keluarga nenek Sami yang dimanja fasilitas salon 91 . Artinya bagi audiens yang berstatus social sama yaitu masyarakat menengah kebawah akan meyakini. Shot 10 : Gambar 13. sehingga antara audiens dengan keluarga Sami adalah sama.gambar menggunakan teknik mengikuti gerakan objek sehingga audiens mampu untuk dibawa larut dan seolah-olah masuk dalam situasi yang menggembirakan dan seperti berada dalam situasi yang sebenarnya. bahwa acara ini adalah acara yang memang diperuntukkan untuk mereka dan akan menimbulkan harapan bahwa suatu saat akan tiba waktu bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Ukuran gambar yang digunakan adalah Full Shot (FS) yang menyatakan hubungan social.

Pada gambar ini menceritakan aktifitas saat keluarga nenek Sami mendapat kesempatan untuk mendapatkan kenikmatan dan pemanjaan fasilitas salon yaitu berupa pelayanan perawatan rambut seperti creambath dan cuci blow. 92 . Pengambilan gambar Full Shot yang aktivitas creambath dan lulur kemudian begitu juga pengambilan gambar Close Up pijat refleksi dapat ditarik dalam hubungan dengan aktifitas relaksasi atau perawatan kulit khusus yang dalam pandangan peneliti konteks gambar ini menghadirkan makna yang terkait erat dengan nilai-nilai kecantikan kulit bukan sekedar mandi (membersihkan badan dari kuman dan kotoran) yang biasa dilakukan. Dari gambar inilah mencoba menggambarkan sebuah sensasi baru bagi keluarga Sami sebagai wanita kelas sosial ke bawah yang ikut merasakan aktifitas wanita kelas sosial menengah keatas. Aktifitas ini tentunya tidak hanya mengarahkan pemaknaan sebagai sebuah perawatan kecantikan saja tetapi lebih dari itu memperkuat makna kualitas status ekonomi sebagai perawatan wanita kelas sosial menengah keatas. Reaksi yang timbul dari sensasi baru itu tentu saja menjadi sebuah hal yang menarik perhatian. dimana seorang nenek dan cucu sangat merasa takjub dan senang ketika diberi kemanjaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. serta perawatan kulit seperti lulur dan pijat refleksi. Reaksi inilah yang menurut peneliti merupakan indikasi dari sebuah kemiskinan yang di komodifikasi yaitu bagaimana hal-hal yang mungkin dapat menjadi ketertarikan sendiri bagi audiens ditonjolkan.

Dana BLT adalah dana Bantuan Langsung Tunai yang diberikan oleh pemerintah kepada orang yang berstatus miskin agar tidak jatuh ke lubang kemiskinan akibat kenaikan BBM. Semuanya berawal dari niat Tiara Smith yang mengantar nenek Sami beserta cucunya untuk mengambil dana BLT.Shot 11 Gambar 14. Kejutan saat diberi kesempatan oleh Bedah Rumah Pada gambar diatas menceritakan saat-saat dimana kejutan tiba yaitu berupa kesempatan yang diberikan oleh tim Bedah Rumah untuk merenovasi rumah keluarga Sami. ukuran pengambilan gambar menggunakan Full Shot dimana ada sebuah hubungan sosial yang keluar ketika audiens melihatnya. Hal ini tentunya akan memancing keharuan audiens sebagai bentuk rasa simpati. Setelah selesai mengambil dana BLT kemudian secara tak diduga petugas yang bersangkutan memberi kejutan berupa sebuah amplop yang berisikan pemberitahuan bahwa rumah keluarga nenek Sami akan segera dibedah. 93 . Sementara itu untuk menunjukkan betapa besarnya rasa terima kasih kepada tim Bedah Rumah. Alhasil secara spontan nenek Sami dan cucunya seketika merasa kaget kegirangan dan meluapkan kebahagiaan lewat pelukan dan tangisan.

Saat tirai dibuka 94 . Shot 13: Gambar 16. Saat melihat rumah selesai dibedah Pada penggunaan ukuran gambar menggunakan Medium Shot. Indikasi komodifikasi pada gambar diatas adalah berupa ekspresi tangisan bahagia nenek Sami yang tua dan miskin yang dan tangisan Tiara yang mencerminkan simpati kegembiraan secara signifikan akan menghubungkan kedekatan perasaan lakon terhadap audiens sehingga audiens akan ikut terenyuh dan menangis.Shot 12 Gambar 15. yang mengartikan bahwa audiens seakan ikut terlarut dalam suasana mengharukan tersebut dan sepakat dengan apa yang mereka rasakan.

Bentuk ekspresi yang ditonjolkan yaitu moment kebahagiaan yang terpancar dari keluarga Sami. (Narasi V). 95 . Ini merupakan moment yang tentu saja menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh audiens. seperti apa ekspresi dari keluarga ini dalam menyambut hari yang bersejarah ini. sesaat setelah layar dibelakang saya terbuka. harapan dan semangat yang baru akan hadir. Semangat dan tepuk tangan masyarakat sekitar dijadikan “bumbu” moment teaterikal tersebut. saya dan tim bedah rumah telah menyiapkan kejutan untuk keluarga nenek sami.Gambar diatas menggambarkan suasana saat tirai Bedah Rumah telah dibuka. Saatnya menyaksikan sebuah impian seorang rakyat yang sangat miskin yang akan segera menjadi kenyataan hanya dalam waktu sehari saja. impian. Hal ini terlihat dari naskah berikut ini : “Impian nenek akan hunian yang layak sebentar lagi akan terwujud. kita akan lihat sama-sama”. Dengan pencahayaan high contrast akan menciptakan sebuah teaterikal dan dramatis ditambah lagi ketika shot kerumunan masyarakat sekitar yang secara berbondong-bondong sangat antusias menunggu detik-detik pembukaan tirai. Pengambilan gambar Full Shot menyatakan hubungan sosial audiens sehingga audiens akan ikut terlarut dalam ketegangan dan penantian kebahagiaan yang akan segera terwujud.

Shot 14: Gambar 17. Dapur sebelum dan sesudah dibedah Gambar 20. Kamar sebelum dan sesudah di bedah 96 . Rumah sebelum dan sesudah dibedah Gambar 18. Ruang depan sebelum dan sesudah dibedah Gambar 19.

bagaimana mereka akan memenuhi gaya hidup 97 . Pengambilan gambar Full Shot yang diambil untuk kondisi rumah sebelum dibedah menggunakan kode sinematik iris out yang mempunyai makna gambar tua. Ini tak lain untuk menunjukkan kehebatan acara Bedah Rumah yang mampu membuktikan dapat mewujudkan impian seorang rakyat miskin. Perabotan mahal seperti lemari es. televise. Perbedaan yang mencolok terlihat dari perbedaan kondisi rumah keseluruhan yang sangat kontras. Yaitu menampilkan perbandingan keadaan rumah sebelum dibedah dan setelah dibedah. tidak hanya terlihat renovasi rumah saja tetapi juga mencakup seluruh isi rumah yang dipenuhi dengan perabotan baru yang modern dan megah.Pada shot 13 terdapat empat jenis gambar yang berbeda namun memiliki makna serupa. Ini menginterpretasikan bahwa rumah lama yang hampir tidak layak huni itu telah menjadi masa lalu dan yang akan menjadi masa depan adalah hasil rumah yang telah disulap secara ajaib oleh tim Bedah Rumah. Namun inilah faktanya bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti biasa saja mereka sangat terbatas. Dilihat dari sisi lain mengenai manfaat pemberian perabotan yang serba mewah sebenarnya cenderung dirasa kurang efektif. Karena kebiasaan rakyat miskin yang serba hidup dengan peralatan yang sederhana tentu akan mengalami kesulitan jika secara tiba-tiba harus membiasakan hidup dengan peralatan dan perabotan rumah tangga yang serba mewah. kompor gas dan mesin cuci yang butuh biaya listrik dan biaya tambahan lainnya justru akan menimbulkan masalah baru yang pengaruhnya akan cepat dirasakan.

membangun relasi produksi. Kalau pun mereka diberikan modal fisik. distribusi dan konsumsi. tim Bedah Rumah berpikir sampai ke persoalan itu. Hidup dari alam dan sedikit demi sedikit menjual apa yang telah dimilikinya. misalnya soal kamar tidur dan kamar mandi. Persoalan ekonomi yang tidak tuntas ini menimbulkan masalah budaya baru. serta bagaimana pada titik tertentu media membangun 98 . Tidak sedikit pula orang yang terbiasa memenuhi kebutuhan fisiologisnya berbaur dengan alam (di sungai). padahal tuntutan gaya hidup mendorong untuk tetap belanja demi hidup yang terus berjalan. Tidak jarang orang terbiasa tidur tanpa alas menjadi sangat tersiksa saat harus tidur di atas kasur yang empuk. Kemiskinan yang dibenturkan dengan budaya konsumerisme akan melahirkan sebuah konstruksi budaya yang ambivalen yaitu pada satu sisi tidak mungkin dalam sebuah kemiskinan seseorang dapat “berbelanja”. Jika modalitas ekonomi dan budaya mereka tidak juga terpenuhi tetap akan kembali kepada kemiskinannya. belum tentu modal tersebut dapat dipastikan berhasil dan dapat menjadi penopang hidup barunya mengingat pendapatan tiap bulan mereka yang sangat terbatas sebagai masyarakat miskin yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. alih-alih melakukan proses transformasi budaya dengan pelatihan atau kursus. Grossberg dan kawan-kawan dalam Media Making: Mass Media in a Popular Culture (Sage Publication.yang menuntut “serba uang”. 2006) menegaskan bahwa media mempunyai peran dalam memproduksi identitas masyarakat. Saya tidak yakin. tidak nyaman harus mandi dan buang hajat di kamar mandi yang bersih dan tertutup.

alih-alih bagaimana media berkontribusi signifikan pada proses-proses globalisasi yang melahirkan imperialisme kebudayaan karena adanya “global media”. bagaimana media berpengaruh secara langsung maupun tidak dalam kehidupan masyarakat. sesuai dengan apa yang diharapkan oleh media sendiri. Media dengan segenap kekuatannya mampu membangun sebuah konstruksi masyarakat sebagai audiens dengan idenditas budaya tertentu yang sangat bergantung pada bagaimana media berlaku dan bagaimana sebenarnya proses konsumsi media dijalankan. politik. sosial dan ideologi. Intinya. Hal ini 99 . terutama dalam ekonomi. D. Betapa media mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam membangun sebuah perubahan mendorong dinamika sosial budaya masyarakat.4.sebuah perilaku atau tindakan tertentu. Komodifikasi Kemiskinan : Gambaran Kondisi Kemiskinan Dari penjelasan interpretasi penulis diatas dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang dimiliki oleh media massa dengan adanya fenomena kemiskinan yaitu suatu fenomena kemiskinan dimanfaatkan oleh media massa untuk dimuat dengan asumsi bahwa fenomena kemiskinan dapat menguntungkan pihak media secara ekonomi. Yaitu publik akan tertarik dengan fenomena yang dimuat. Representasi Bentuk-Bentuk Komodifikasi Kemiskinan Dari analisis interpretative penulis diatas dapat disimpulkan menjadi kategori bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan pada tayangan reality show “Bedah Rumah” yaitu antara lain : A.

Dengan memanfaatkan fenomena kemiskinan sebagai bahan pemuatan hiburan reality show maka sebenarnya telah terjadi komodifikasi fenomena kemiskinan oleh media massa. Pe-make up-an. dan serba kekurangan. tak mampu. Tema kemiskinan tentang kehidupan sebuah keluarga miskin yang lengkap disajikan dengan sorotan gambar rumah yang tidak layak. fasilitas yang tidak 100 . Kesan yang timbul adalah kasihan dan tak berdaya.terlihat dari semakin tinggi oplah yang terjual atau semakin tinggi rating dan selanjutnya menarik pemasang iklan maka jenis acara ini menguntungkan pihak media. Hal itu menjadikan adanya persaingan yang ketat antar industri TV menyebabkan mereka berlomba untuk dapat menarik public dengan memuat tema tayangan yang diasumsikan menaikkan oplah atau rating. Sehingga terlihat persaingan ini tidak lagi mengindahkan bagaimana efek yang terjadi bagi publiknya. menjadikan nilai acara sensasional dengan menggunakan angle dan pemuatan shot-shot yang disengaja menciptakan keadaan lemah. Terutama pemuatan fenomena kemiskinan yang cukup detail mengenai tampilan shot-shot kondisi fisik yang melekat pada orang miskin cendeung tidak mengindahkan etika atau bagaimana tanggungjawab media sebagai institusi bagi publiknya. merupakan hal yang sangat memprihatinkan terjadi pada saat ini. Dari adanya dominasi ini secara tidak langsung akan menciptakan suatu asumsi bahwa “kemiskinan bukan ancaman tetapi peluang” bagi media massa sebagai untuk dijadikan tema yang menarik. Ada hubungan yang diuntungkan terutama pihak media massa oleh terjadinya fenomena-fenomena kemiskinan walau dalam pemuatannya setiap media mempunyai kriteria yang tidak sama.

memadai. tampak dari luar Shot 2 (gambar 3) Tempat mandi yang Long Shot (LS) : keadaan tempat yang terbuka. dan biasanya kasus yang dibahas dalam reality show tersebut cukup mengena dengan kehidupan sehari-hari para pemirsa setianya. Ketertarikan pemirsa akan reality show yang bergenre demikian disebabkan para penonton masih sangat tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi seseorang. kumuh dan kotor 101 . Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Gambaran Kondisi Kemiskinan Pengambilan Shot Shot 1 (Gambar 2) Keterangan Gambar Pemandangan sebelum di Unsur pesan yang signifikan dengan bentuk komodifikasi kemiskinan rumah Setting rumah : bedah Halaman dan lingkungan di sekitar rumah. Tabel 6. fasilitas yang tidak memenuhi derajat kesehatan. Pengambilan gambar : Long Shot (LS). dan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pangan adalah bentuk reality show yang bergenre tentang kehidupan pribadi seorang yang miskin tersebut akan menjadi tontonan yang menarik dan memang peminatnya lebih banyak dibandingkan dengan reality show bergenre lainnya. tidak adanya jaminan kesehatan. kode sinematik zoom out.

genteng Extreme Close Up (ECU) : kondisi di bocor dan lantai yang dalam rumah. Dari sensasi yang ditampilkan akan menciptakan suatu budaya bahwa seolah-olah masyarakat miskin hanya dilihat sebagai beban masyarakat dan harus segera diberi bantuan kemanusiaan (charity). masih tanah Narasi signifikansi komodifikasi kemiskinan. 102 . Komodifikasi Kemiskinan : Sensasi Kegembiraan Wasburn (dalam Fajar Junaedi 2005: 175) menyebutkan media massa mempunyai kecenderungan proses trivialisasi.Dialog signifikansi komodifikasi Shot 3 (gambar 4) (gambar 5) (gambar 6) Dapur kotor. B. Trivialisasi adalah kecenderungan media untuk menampilkan hal-hal yang kurang esensial dalam tayangannya. Kecenderungan media untuk menampilkan hal-hal yang lebih “disukai” daripada “dibutuhkan” menjadi hal yang justru lebih dipilih oleh media. tidak berlebihan jika bisa dikatakan bahwa media massa membuat paket berita bukan semata-mata karena adanya peristiwa penting yang harus diberitakan melainkan untuk “jualan” berita itu sendiri. Akibatnya. Seperti halnya dalam tayangan Bedah Rumah ini yang lebih mengumbar sensasi kegembiraan dari golongan miskin yang baru bisa merasakan nikmatnya kemewahan lewat kesempatan yang diberikan tim Bedah Rumah.

Ekspresi tawa keluarga Sami. Tabel 7. Ekspresi keluguan dan kepolosan. 103 . Namun jika tidak. tentu tetap tidak ada perubahaan pada bangsa ini. maka isi pesan kesedihan yang berakhir kebahagiaan ini akan selalu dipertontonkan. Menikmati siaran yang mengangkat kemiskinan mungkin baik jika hasilnya adalah tumbuh empati dan rasa ingin membantu. Misalkan audiens dianggap senang dengan isi media tayangan yang berisikan tentang sebuah cerita yang berakhir dengan kebahagiaan atau happy ending. Dilain pihak bagi kalangan kebawah secara tidak langsung akan menimbulkan efek pengharapan orang miskin yang membuat mereka tidak produktif dan akhirnya bisa mengalami stress karena pengharapan yang tak kunjung datang tersebut padahal jika kita tilik lebih lanjut sebenarnya kemiskinan berasal dari masyarakat itu sendiri. Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Sensasi Kegembiraan Pengambilan Shot Shot 9 (Gambar 10) Keterangan Gambar Keluarga Sami Unsur pesan yang signifikan dengan bentuk komodifikasi kemiskinan yang Full Shot (FS) : tingkah laku keluarga nenek Sami. di mana nilai tukar yang berusaha didapatkan oleh media semata-mata berasal dari interaksi antara isi dan audiens. FS menyatakan hubungan social menikmati fasilitas hotel pemirsa.Komodifikasi isi pesan media ini termaktub dalam komodifikasi intrinsik.

independensi kebijakan editorial menjadi suatu “kemewahan” yang semakin sulit untuk dimiliki oleh media. Komodifikasi Kemiskinan : Merangsang Syaraf Keharuan Struktur media yang terkonsentrasi menyebabkan peningkatan pengaruh kekuatan pemilik (ownership) terhadap media (McQuail. 104 . Akibatnya. 2000: 199). Sehingga tidak sulit dipahami jika kemudian media cenderung lebih merupakan sebuah “mesin pengeruk keuntungan” bagi para penanam modal di dalamnya. Shot 13 (gambar 14) Saat tirai dibuka Full Shot (FS) suasana diluar saat tirai dibuka : Tangisan kegembiraan keluarga Sami dan Tiara. Close Up (CU) : aktivitas pijat refleksi. Narasi signifikansi komodifikasi kemiskinan. Tepuk Tangan penonton (warga) sekitar rumah. C. Ekspresi nenek Sami dan cucu.Shot 10 (gambar 11) Keluarga Sami dimanja Full Shot (FS) : Aktivitas creambath fasilitas hotel dan lulur.

These are use-value. 1994: 468). Dramatisasi adalah penonjolan unsur drama daripada penyajian acara mendalam yang mempunyai makna sosial. Nilai (value) komoditas tidak tergantung pada manfaatnya tapi pada jumlah jam kerja yang telah digunakan untuk menghasilkannya. value. tidak hanya kesetiaan. bahkan tubuh. Uang kemudian digunakan sebagai ukuran nilai (Lovell. Tidak hanya cinta. 2000: 149). tidak hanya impian. 2000: 149). exchange-value. seni. karena semua hal harus menjadi produk budaya untuk konsumsi massa (Ibrahim. segala produk dan simbol budaya pada gilirannya harus distandardisasikan. dikomodifikasikan. Hal tersebut terjadi karena berbagai informasi yang dihadirkan media sudah disesuaikan dengan berbagai kepentingan pihak-pihak di balik layar media. Sehingga produk informasi di media sudah melewati apa yang disebut Wasburn (dalam Fajar Junaedi 2005: 175) sebagai proses dramatisasi. musik dan suara pun telah menjadi “komoditi” (Ibrahim. Akibatnya yang terjadi kemudian media memperlakukan semua hal sebagai komoditas. Dalam penyajian tayangan Bedah Rumah terkait dengan proses dramatisasi adalah merupakan proses sekontekstualisasi di mana media lebih 105 . Oleh karena itu. surplusvalue and comodity fetishism. kecantikan. dikomersialisasikan. Terry Lovell ( 1994: 467) menyatakan bahwa : Cultural production shares features with all capitalist commodity production. and tehe most appropiate starting point of a Marxist analysis of cultural production might be Marx’s own categories for the analysis of capitalist commodity production. Hal ini antara lain disebabkan oleh asumsi bahwa penyajian visualisasi secara dramatik lebih menarik daripada yang kurang dramatik.Dengan masuknya modal. dihomogenisasikan.

perwakilan Trans Coorporation Panca mengatakan.com) 106 . Komodifikasi terjadi saat dilakukan pengambilan gambar seperti yang dijelaskan di atas yang dilakukan dengan kesengajaan dengan teknik-teknik pengambilan gambar tertentu yang bertujuan menunjukkan susah duka orang miskin secara dramatisasi untuk diharapkan terdapat simpati publik. Merangsang syaraf keharuan adalah bagaimana pemirsa dapat menerima pesan tayangan untuk dapat terhanyut dalam acara itu sehingga menjadikan seakanakan terjadi kedekatan langsung antara pemirsa dengan orang-orang yang terlibat dalam isi acara. iklan pun tinggi. Sementara itu. Tayangan itu membangun generasi yang rapuh. reality show memberikan keuntungan kepada masyarakat (www. perwakilan ANTV Edi mengatakan program reality show mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. penderitaan. sehingga memberikan keuntungan kepada industri televisi. kesusahan dan ketidakberdayaan masyarakat miskin berupa banyaknya sorotan isak tangisan kesedihan ataupun tangisan kebahagiaan. Masyarakat menjadi bingung dengan yang benar dan salah.kompas. Senada dengan Edi. Bentuk dramatisasi perangsang keharuan seperti yang ditayangkan dalam acara Bedah Rumah tercermin pada penonjolan ekspresi kesedihan. tidak mengerti bagaimana berjuang.menonjolkan menampilkan peristiwa yang penuh belas kasihan dan penuh rasa haru untuk menciptakan keintiman pada audiensnya. dan pelukan yang disertai tangisan serta keluhan. Anggota Dewan Pers Bekti Nugroho mengatakan tayangan reality show yang menawarkan kesedihan membuat masyarakat menjadi melankolis dan pesimis. ekspresi kepasrahan dalam menerima hidup susah.

Terdapat drama yang menyedihkan. Rumah Shot 12 (gambar 13) Saat melihat rumah Medium Shot (MS) : ekspresi Tiara dan nenek yang berpelukan. Ekspresi menangis Tiara. Karakter simpati Tiara Smith. Memancing kesedihan dan tangisan pemirsa. Shot 11 (gambar 12) Kejutan saat diberi Full Shot (FS) pelukan Tiara Smith. kesempatan oleh Bedah FS tangisan nenek dan Tiara Smith. Ekspresi menangis yang ditampilkan. Tangisan bahagia nenek dan Tiara. Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Merangsang Syaraf Keharuan. Pengambilan Shot Shot 4 (Gambar 7) Keterangan Gambar Unsur pesan yang signifikan dengan bentuk komodifikasi kemiskinan Nenek Sami dan cucu Close Up (CU) pada mimic wajah cucu menangis nenek Sami. selesai dibedah 107 . Dialog signifikansi komodifikasi Shot 5 (gambar 8) Tiara Smith menangis Full Shot (FS) emosi tangisan.Tabel 8.

Acara reality show memang menarik dari segi hiburan.D. Cara tim Bedah Rumah yang mengirimkan selebriti untuk menyamar menjadi orang yang butuh bantuan dan akhirnya ikut tinggal dan merasakan kesusahan keluarga miskin tentunya akan menimbulkan simpati yang besar kepada audiesnya dan itu akan menambah jumlah rating acara. tayangan mengenai kemiskinan seperti pada acara berita dan 108 . Merekam emosi-emosi orang yang mendapat rezeki tak terduga juga terlihat dalam acara ini. Komodifikasi Kemiskinan : Memancing Simpati dan Emosi Spontan Memancing simpati dan emosi spontan yang dimaksud adalah bagaimana reaksi-reaksi yang dapat timbul secara spontan ketika menyaksikan tayangan yang memperlihatkan indikasi-indikasi komodifikasi kemiskinan. Namun yang sangat tidak dibutuhkan dalam acara tersebut adalam adanya dimensi ekspoitasi orang miskin untuk ditayangkan. dan tentu saja dari pihak televisi beralasan bahwa acara ini untuk menolong orang miskin. Sebutan yang tepat dalam hal ini adalah bagaimana merekam keajaiban. mungkin itulah yang menjadi gagasan bagi penyelenggara acara reality show yang mewujudkan mimpi yang kontroversional bagi pengamat yang menikmatinya. walaupun sebenarnya semua hal yang ditayangkan merupakan suatu bentuk kesengajaan dan terdapat unsur scenario. Kehebohan saat tim Bedah Rumah datang terutama saat pembukaan tirai di akhir acara itulah yang menarik untuk direkam dan dijadikan sebuah show. Seperti dipaparkan oleh produser acara Bedah Rumah Helmy Yahya dalam sebuah artikel yang mengatakan.

sikap pelaku industry pertelevisian menganggap rating seakan segala-galanya. acara yang rating-nya terus meningkat itu bagi sebagian pemirsa lebih merupakan sebuah bentuk eksploitasi kemiskinan masyarakat bawah. Bak telur dan ayam. artinya ini sudah menjadi areal publik. Masalahnya. televisi sudah menjadi sebuah instrument social dan cultural sehingga meski orang-orang yang menjadi “korban” tayangan Bedah Rumah tidak keberatan. industri televisi berlanjut kalau pendapatan dari iklan tinggi. tak heran bila kemudian muncul budaya latah yang menyebutkan acara yang sukses di satu stasiun televisi. “Harus ada desain (acara) lain yang bisa membuat orang terinspirasi membantu orang lain”. Maka. Seperti dua sisi mata uang. namun tak berarti tak ada masalah. Karena begitu mereka masuk ke televisi. Karena disiarkan. cakupannya sudah tidak hanya orang itu dan stasiun televise saja. kesusahan masyarakat miskin untuk mencari sesuap nasi sampai rela seadanya hanya dengan pendapatan sangat kecil merupakan sesuatu yang sangat tidak 109 . Pendapatan besar bila acara yang disajikan ditonton sebanyak mungkin pemirsa. acara yang rating-nya cenderung naik akan langsung diproduksi sebanak mungkin. Visualisasi yang menunjukkan ekspresi dan tingkah laku berlebihan seperti menangis terisak-isak tidak jarang yang sampai pingsan. tak lama kemudian akan muncul di beberapa stasiun televisi lainnya.com/kompas-cetak) Namun di sisi lain. (http://www.kompas. Kalau sudah begini.sejenisnya justru untuk menginspirasikan orang lain ikut membantu sesama yang kesusahan.

Dialog signifikansi komodifikasi Shot 7 (gambar 10) Kegiatan saat memulung Long Shot (LS) : kegiatan memulung sampah sampah. Tabel 9. sapu lidi Simpati artis Tiara Smith. hal ini dapat berimplikasi pada sikap memandang kesusahan orang lain sebagi hiburan. Kategorisasi bentuk komodifikasi kemiskinan : Memancing Simpati dan Emosi Spontan Pengambilan Shot Shot 6 (gambar 9) Keterangan Gambar Unsur pesan yang signifikan dengan bentuk komodifikasi kemiskinan Tiara membantu membuat Long Shot (LS) : membuat sapu lidi. Shot 8 (gambar 11) Tiara saat tidur di rumah Full Shot (FS) : setting kamar tidur.layak disaksikan atau menjadi tontonan. 110 . Memancing rasa kasihan dan simpati pemirsa. Alasannya. Kondisi tempat yang bau dan jorok. Narasi dan dialog signifikansi komodifikasi kemiskinan. Nenek tua yang masih bekerja kasar. Memancing rasa iba dan simpati pemirsa. nenek Sami Ekspresi gelisah Tiara.

Sebelum menggali lebih jauh mengenai resepsi atau penerimaan khalayak terhadap tayangan Bedah Rumah. kamar saat sebelum dan Memancing rasa kagum pemirsa. Shot 14 (gambar 16) (gambar 17) (gambar 18) (gambar 19) Penampilan kondisi Full Shot (FS) : perbandingan rumah rumah tampak dari luar. Berdasarkan informasi yang berhasil digali baik pada saat mengawali aktivitas FGD maupun perkenalan FGD diperoleh keterangan bahwa para pembantu rumah tangga belum tergolong pemirsa yang sangat “fanatic” 111 . selesai dibedah.1. E. maka perlu diperoleh informas mengenai kesan umum atau pengalaman partisipan. Karakteristik Informan Informasi mengenai resepsi khalayak pemirsa terhadap tayangan reality show “Bedah Rumah” diperoleh setelah melakukan serangkaian FGD ( Focus Group Discussion ). dapur dan Iris Out (pemaknaan gambar tua).Memancing rasa iba pemirsa. PENERIMAAM PESAN PEMIRSA TERHADAP TAYANGAN E. sebelum dan sesudah dibedah. Terdapat 2 kelompok dalam FGD ini. yaitu kelompok majikan dan kelompok pembantu rumah tangga. Identitas sumber dapat dilihat selengkapnya dalam Tabel 3 dan 4. Untuk melakukan FGD ini terlebih dahulu dilakukan pemetaan terhadap kebutuhan kategori berdasarkan kriterianya. Informan seperti itu akan memberikan deskripsi tentang karakteristik mereka. ruang depan.

Sebagaimana dikemukakan oleh salah satu pembantu rumah tangga : “Iyo ra mbak. p. jika memang ada kesempatan dan waktu luang untuk menonton televisi.namun acara ini merupakan salah satu acara favorite.. mereka lebih memilih untuk menonton acara reality show Bedah Rumah. Kan acarane ora sore-sore banget jadi waktu luange luwih akeh” (… tapi tidak terlalu sering menonton. Saya sih juga mau. Bisa membantu orang yang miskin. Penayangan acara pada sore hari menjadi pilihan yang tetap karena dapat menghibur di waktu istirahat setelah melakukan pekerjaan rutin. Karena jam tayangnya tidak terlalu sore jadi waktu luangnya lebih banyak. Seperti pengalaman salah satu pembantu rumah tangga : “. Terlepas dari itu semua. yo rak?” ( Jelas iya mbak. 20 tahun). Bener gak? ) (Kutipan FGD kelompok I.. Artinya mereka memang mempunyai pengalaman dalam menonton acara reality show Bedah Rumah namun bukan termasuk pilihan tontonan yang wajib untuk ditonton pada setiap episodenya.3. lha kan acara itu biso ngubah omah sing olo dadi apik. Selain itu karena kebutuhan untuk meluangkan waktu menonton televisi juga terbatas karena pekerjaan mereka. 112 .17 tahun). acara itu bisa mengubah rumah yang jelek jadi bagus. Tapi kalau memang ada kesempatan. Biso ngebantu wong seng mlarat.) (Kutipan FGD kelompok I. Aku be gelem mbak. Tapi nek ada kesempatan nonton yo aku nonton.p.5. yo rak sering-sering banget nonton. Kuswati. Hal ini bisa dimaklumi mengingat begitu banyaknya acara di televisi. Yuni. Namun mereka mengaku. saya pergunakan untuk menontonnya. mengapa acara ini diminati dikarenakan berdampak positif bagi masyarakat miskin dalam bentuk membantu merenovasi rumah menjadi rumah layak huni.

Misalnya latar belakang hobi atau karena semata-untuk hiburan saja seperti jawaban Bu Sari : “ Oh…acara bedah rumah yang di TV itu. Itu kalau tidak salah acaranya sore hari kan? Sebenarnya saya pribadi sebagai orang tua sih tidak suka .” (p. Jawaban/ 113 .43 tahun). Yah dijadikan hobi saja. dari salah satu jawaban kalangan ibu-ibu ini juga diperoleh informasi bahwa karena faktor personal.3. Selain itu. dapat dicatat hal pokok berkaitan dengan pengalaman mereka dengan acara reality show Bedah Rumah yakni bahwa penerimaan mereka terhadap acara ini dilatarbelakangi oleh persoalan kebutuhan hiburan dan faktor latar belakang personal (hobi). Hal ini tercermin dari pernyataan sebagaimana diungkapkan oleh salah satu ibu rumah tangga ketiika menjawab pertanyaan bagaimana tanggapan secara umum mengenai acara Bedah Rumah : “Saya sih sama saja kalau anak-anak nonton ya saya ikut nonton. yang rumahnya miskin terus dibedah jadi bagus itu ya. tapi kalau anak-anak nonton ya saya jadinya nonton. ngikutin anak-anak saja. Tapi yang jelas saya kurang suka sih sama acara itu. Oh kadang-kadang suka nonton sih. Mau melarang juga gimana jadi ya. Bu Peni.Untuk kalangan pemirsa umum Ibu Rumah Tangga. Kalau anaknya nonton ya ibu sama bapaknya juga ikutan nonton.3) Dari beberapa temuan yang dikemukakan di atas.” (Kutipan FGD kelompok II.p. mereka juga sudah pada gede jadi saya ikutan nonton saja. tanggapan mereka terhadap acara reality show Bedah Rumah cukup bersikap kontra. Setelah melakukan FGD maka dilakukan analisis terhadap hal-hal apakah yang kemudian muncul dan menjadi perhatian para peserta.

mengenai bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan pada tayangan.2. Kedua pendekatan tersebut melihat dari sisi yang berbeda. Mengatakan : 114 . E. dan bagaimana bentuk komodifikasi yang digambarkan dalam reality show Bedah Rumah. mengapa. Dalam pengelompokan tersebut akan dijabarkan dari setiap perwakilan informan yang dianggap representative.pernyataan dari masing-masing peserta ketika mereka memaknai beberapa contoh tayangan itulah yang kemudian menjadi dasar penentuan di dalam pengelompokkan kategori konsep terkait dengan “Bentuk-Bentuk Komodifikasi Kemiskinan”. Dari apa. E. serta akan melihat pendekatan mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi pembentukan komodifikasi kemiskinan. TEMUAN FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Pada analisis ini menggunakan model pendekatan dispossisional dan pendekatan kontekstual yang mengarah pada kelengkapan hasil analisis.2. jawaban informan akan dianalisis dengan kedua pendekatan tersebut.1 Resepsi Komodifikasi Kemiskinan Informan Jawaban informan yang akan dianalisis dengan kedua model pendekatan berawal dari pertanyaan kepada informan. Hal tersebut terlihat dari variable-variabel yang menjadi prioritas sehingga dalam penerapannya. Dari jawaban yang diterima peneliti melalui salah satu informan yaitu Bu Tien (52 tahun). Jawaban para informan yang sama berdasarkan jenis model pendekatan akan dikelompokkan.

di bawah kondisi potensialnya yang seharusnya. (Subakti : 120). Yaitu keadaan dimana manusia yang menempatkan kondisi actual kemiskinan yang ada. Termasuk di dalamnya ya komersialisasi kemiskinan. Artinya harus ada seseorang atau kelompok yang melakukan tindakan aktif agar masyarakat tersebut paling tidak menyadari adanya aspek negative dari bedah rumah itu selain melihat hanya pada aspek positif saja. (p.2.2. yang merupakan bentukan dari sosialisasi yang berasal dari hubungan bersifat assosiatif (orang belajar melalui pengamatan atau mengalami assosiasi atau hubungan berbagai hal).“Kalau mendefinisikan tema mbak yang tentang apa tadi.8) Melihat pernyataan diatas.” (p. Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Gambaran Kondisi Kemiskinan Penerimaan para informan terhadap bentuk penyajian kondisi kemiskinan adalah merupakan sesuatu yang “miris” yang mengedepankan ketertarikan 115 . “ Untuk melihat suatu bentuk kemiskinan itu dijual tentunya mungkin untuk kebanyakan orang terutama masyarakat di bawah tidak sadar mengenai apa yang mbak sebut tadi sebagai komodifikasi kemiskinan. komodifikasi ya. E. Stimulus tersebut menurut analisis disposisi merupakan faktor situasi langsung. bahwa kesadaran akan adanya bentuk komodifikasi berasal dari stimulus. karena orang melihat acara ini dari kemasannya saja tidak dari kebutuhan. mungkin itu sama saja dengan eksploitasi kemiskinan.8) Begitu juga dengan Bu Peni (43 tahun) yang menyatakan bahwa masyarakat kurang menyadari adanya komodifikasi kemiskinan.

) (p. Apa yang bisa dilihat dari kesengsaraan itu malah dinikmati oleh yang nonton. Hal-hal yang miris seperti itu kan justru diperlihatkan untuk membuat kita kasihan kan. Karena rumah saya juga jelek mbak. Hal tersebut terlihat dari pernyataan Bu Sari (45 tahun). Sama saja serba kekurangan seperti di televisi itu.6) Melihat pernyataan di atas. Karena disebutkan bahwa 70 persen sampel pemirsa yang digunakan untuk rating 116 . nek dibangun omahe gratisan yo sopo sing rak gelem mbak” ( Kalau dilihat seperti di televisi itu ya sama seperti rumah saya mbak. Rumah yang udah lapuk.audiens saja.3) Penerimaan para informan terhadap bentuk komodifikasi kemiskinan yang secara tidak langsung telah memberikan efek kepada audiens khususnya masyarakat menengah kebawah yaitu bagaimana mereka menangkap isi dari proses panyajian visualisasi tayangan reality show Bedah rumah. akan menimbulkan suatu bentuk pengaharapan atas acara tersebut. kadang juga dilihatkan nyuci di sungai kotor saking gak ada sarana air. Podo wae serba kekurangan koyo neng tv kuwi. Sehingga dengan adanya program acara yang menawarkan perbaikan rumah tak layak secara drastis menjadi rumah idaman. menyatakan bahwa keluarga miskin mempunyai rasa ketidakpuasan atas hidupnya yang telah dibangun bertahuntahun namun tetap menjadikan mereka sebagai masyarakat yang masih berada di garis kemiskinan.” (p. mengatakan : “Memang seperti itu. Acara ini kan awalnya menampilkan kesengsaraan orang miskin. pakaian yang lusuh. kalau dibagun secara gratis. Seperti yang diungkapkan Yanti (22 tahun) : “Nek didelok koyo neng tv kui yo podo karo omahku seng neng deso mbak. Omahku soale juga elek mbak. siapa yang tidak mau mbak.

((http://www.com/kompas-cetak). Kampung-kampung tempat kelompok masyarakat miskin tinggal dapat dengan mudah beralih fungsi menjadi kawasan bisnis atau kawasan lainnya. dan E yang berarti pengeluaran per bulannya di bawah Rp 1 juta. Bagi perempuan.kompas. ya karena dengan menonton itu kita justru merasa terhibur ya. kurangnya kepastian hokum ini bahkan terjadi pada barang dan aset formal lainnya. Golongan tersebut biasanya tidak mengetahui tayangan televisi seperti apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Hal ini menyebabkan masyarakat miskin di mana banyak terdapat perempuan di dalamnya semakin tergusur ke kawasan pinggiran yang jauh dari kota. kawasan perkotaan sangat sulit menyediakan lahannya untuk keperluan perumahan masyarakat miskin. Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Sensasi Kegembiraan Penerimaan para informan terhadap bentuk komodifikasi sensasi kegembiraan yaitu bentuk kesenangan berupa ekspresi dan hal-hal yang menyenangkan dari masyarakat miskin. Kita kan akan penasaran seperti apa sih senengnya orang yang dibedah rumahnya. mungkin menjadi hal yang kita tunggu-tunggu juga ya. Keadaan kemiskinan pada dasarnya dipengaruhi oleh perumahan bagi keluarga miskin itu sendiri.8) 117 .p.”(Bu Sari. Perumahan bagi keluarga miskin seringkali tidak memberikan kepastian hukum bagi penghuninya.acara televisi adalah golongan ekonomi masyarakat C. “Nah dari kesenangan-kesenangan itulah juga bisa menjadi dimanfaatkan. FGD 11. D. Sebaliknya.3.2.. E. atas tanah dan bangunan yang mereka tempati.

diperlihatkan bagaimana dia menikmati tidur di hotel. Seperti yang diungkapkan Bu Sari bahwa : “Kebutuhan itu memang kita perlukan. Dalam reality show ini yang menjadi ukuran kebahagiaan hanya dilihat dari materinya saja. kalo keinginan sesuai dengan orang itu mau gini menurut versinya dia. yang tadinya rumahnya sangat sederhana sekali dan bisa dikatakan kaum ke bawah tapi diajak ke hotel. Misalnya. sedangkan harus ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.” (p. hal tersebut dinyatakan oleh Bu Sihombing. saya kurang sukanya saat-saat adegan yang diinapkan ke hotel.8) Dari pernyataan di atas. Tapi bagi yang lain hiburan.Bentuk komodifikasi sensasi kegembiraan lebih menunjuk pada aspek hiburan dibanding aspek manfaat.18) Senada dengan Bu Sihombing yang menyatakan bahwa : “…. Tapi lebih condong ke hiburan. kemudian diperlihatkan juga bagaimana mereka sedang lompat-lompat di atas kasur dan sebagainya. Semua itu sebenarnya buat apa harus ditampilkan. reality show Bedah Rumah yang menyajikan sensasi kegembiraan masyarakat miskin ditujukan semata-mata hanya untuk menarik perhatian audiens dengan tontonan yang menjual moment tampilnya tim Bedah Rumah sebagai pihak yang telah mewujudkan mimpi masyarakat miskin untuk menjadi orang kaya. Walaupun ada nilai positifnya sedikit mungkin ya sedikit menggugah membantu. padahal belum tentu dibutuhkan. karena tujuannya ini sebenarnya menjual kemiskinan. saya nggak tahu ya apa yang dilakukan disana tapi sebetulnya 118 . salah satu peserta FGD II : “Saya rasa lebih banyak ke hiburannya. saat sedang mandi menggunakan shower yang mereka tidak pernah merasakannya sebelumnya. tidur di hotel.” (p. Namun jika dilihat dari pihak rakyat miskin tentu pada kenyataannya tidak bisa menjamin kelanjutan kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya. Bagi yang miskinnya kan yang bersangkutan mungkin hanya sesaat saja ya.

E. fungsi atau keadaan itu diubah sesuai dengan keinginan dari pihak penyelenggara.tapi kalo untuk kepanjangan saya juga nggak tau gitu. mungkin kalo sesaat sih. Memang konsep konsumerisme di sini tidak sama persis dengan perspektif yang berkembang dalam wacana kajian budaya. Karena kebutuhannya seperti itu dengan kemampuan yang ada.” (p. Kalau pun mereka diberikan modal usaha.2. bagaimana mereka akan memenuhi gaya hidup yang menuntut “serba belanja” dan “serba uang”.. belum tentu ketrampilan usaha tersebut dimiliki sehingga pengusahaannya dapat dipastikan berhasil dan dapat menjadi penopang hidup barunya. Ada fungsi-fungsi tertentu. selain komodifikasi hanya menjual kesenangan saja. Hal tersebut diungkapkan oleh Kuswati. Kuswati berkata : 119 .4.kenapa sih orang itu menciptakan rumah dengan kondisi tertentu. dia menciptakan rumahnya seperti itu. Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Merangsang Syaraf Keharuan Penerimaan para informan terhadap bentuk komodifikasi merangsang syaraf keharuan lebih kepada saat-saat dimana kamera menyorot tangisan yang menjadi hal yang paling sensitif karena berkaitan dengan perasaan para pemirsa sehingga ketertarikan untuk menonton akan lebih besar. yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti biasa saja mereka sangat terbatas. Nah kalo sekarang..14) Melihat pernyataan diatas. surprise. Bu Sari juga meresepsi bahwa dari bentuk kesenangan itu akan menjadikan masyarakat menjadi konsumtif atau timbul budaya konsumerisme.. Namun inilah faktanya.

120 . kayak misalnya ada sedih. menangis. 2007) bahwa media menciptakan dunia simulasi yang kebal terhadap kritik rasional tidak ada satu pun iklan yang menampilkan sesuatu secara rasional. itu kan disorot lebih lama. Kemiskinan yang membuat banyak penonton menangis dan terharu adalah sebuah komoditas menguntungkan bagi para pemilik modal.”( Iya mbak. lebih jelas dan lebih besar. Kasihan dia sampai menangis seperti itu.12) Menurut sebagian besar kelompok FGD II menyatakan bahwa semua bentuk sorotan kamera yang berisi tangisan merupakan hal-hal yang tidak pantas untuk dipertontonkan seperti yang dikatakan oleh Bu Peni (43 tahun) : “ Kalau kita lihat secara teliti.“Iyo mbak.” (p. Tak diragukan lagi. maka apa yang dihadirkan media seringkali dimaknai sebagai apa yang ada dan harus ada dalam kenyataan sebenarnya. saat media menjadi sebuah wahana pengembangan budaya. nek ndelok gambar mbahe nangis aku dadi melu nangis juga. Melaske soale sampe nangise koyo kuwi. Menjadi relevan apa yang dikatakan oleh Baudrillard (Madan Sarup.8) Dan hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Bu Tutik yang menyatakan bahwa hal-hal yang bisa membuat pemirsa merasa terharu adalah merupakan sebuah kesengajaan yang diatur oleh penyelenggara. kalau saya melihat gambar nenek itu nangis saya jadi terharu dan ikut menangis. Berarti memang itu yang ingin diutamakan sebagai tontonan. Sangat rasional apa yang muncul dalam Bedah Rumah adalah sebuah simulasi.) (p. kan terlihat tuh apa yang sebenarnya pingin dilihatkan oleh sang sutradara kepada pemirsa.

Semua bagaikan sudah diatur. memelas. E. kaget. marah. rasa terima kasih yang berlebihan yang ditunjukkan dengan menangis terisak-isak dan sampai bersujud.3. Seperti contohnya yang diungkapkan oleh Bu Tutik : “Salah satu bentuk kemiskinan yang dimanfaatkan ya seperti salah satunya banyak adegan menangis.8) Dari penyajian acara tayangan sendiri akan sering terlihat reaksi kesenangan. kecewa. serta ekspresi kesedihan yang juga berlebihan akan semakin memancing simpati dan emosi-emosi tertentu para audiens seperti emosi iba. seperti itu malah justru dijual kan mbak. sampai teriak-teriak.2. Bentuk Komodifikasi Kemiskinan : Memancing Simpati dan Emosi Spontan Penerimaan para informan terhadap bentuk komodifikasi yang memancing simpati serta emosi spontan ditunjukkan dengan adanya reaksireaksi yang di luar dugaan oleh rakyat miskin yang dibedah rumahnya begitu juga timbul respon-respon yang spontan dari audiens. Bentuk-bentuk emosi inilah yang menjadi indikasi komodifikasi kemiskinan.E.” (p. kesedihan ataupun keharuan yang tidak disangka-sangka oleh oleh audiens yang menonton seperti kebahagiaan yang meluap-luap hingga pingsan. Faktor- 121 . Analisis Kontekstual Analisis kontekstual lebih mengarah pada faktor-faktor lingkungan sosioekonomi dan politik masyarakat yaitu tempat individu tersebut hidup. rasa sedih.5. dan kagum.

Kemiskinan tidak lahir dengan sendirinya (given). itu artinya uang yang dia keluarkan dengan yang dia terima pastinya lebih banyak yang dia terima kemungkinan. direkayasa dan diposisikan sedemikian rupa untuk ditindas. Mereka miskin bukan pula karena nasibnya yang sedang sial sehingga menjadi miskin. Status ekonomi dan status social Pada penerimaan informan didapatkan bahwa status ekonomi dan social yang rendah dari masyarakat miskin lebih menjadi ketertarikan untuk diangkat sebagai tema yang menarik. diperas. Jadi mengkomersialkan kemiskinan sebetulnya. Orang-orang miskin muncul bukan karena mereka malas atau boros. Mereka miskin karena dieksploitasi. politik dan sosial. Argumen para penganut teori konservatif dan liberal telah lama dipatahkan. Saya sendiri juga nggak tahu. yakni 122 . menjelaskan bahwa kemiskinan menjadi harga yang besar sebagai bentuk komersialisasi. E. Mereka miskin karena memang sengaja dilestarikan untuk menjadi miskin. dijarah dan dirampok hak-haknya.” (p. Mereka miskin karena dipaksa oleh sistem ekonomi dan politik yang tidak adil. Kemiskinan penting untuk dipelihara dan dilestarikan karena besar manfaatnya.faktor yang masuk dalam kategori ini antara lain. status social dan ekonomi dan rezim yang berkuasa. Mereka menjadi orang miskin karena dibuat miskin oleh struktur ekonomi.11) Dari pernyataan diatas.3. “Sekarang kalau ini namanya proyek kemiskinan kemudian dia bisa bikin proposal. ia tidak muncul bukan tanpa sebab. Bu Tien (52 tahun) berpendapat.1. dia bisa jual kemana-mana. Mereka menjadi kaum tertindas karena memang disengaja. mungkin keluar negeri atau dalem.

Kaum miskin selalu dilihat sebelah mata dalam berbagai proses pembuatan kebijakan. Warga negara yang miskin dianggap tidak memiliki kedaulatan tertinggi di dalam sebuah negara. Hal tersebut di ataslah yang membuat kemiskinan sulit diatasi karena kaum miskin tidak memiliki daya tawar terhadap kebijakan yang selama ini tidak berpihak kepada mereka. Kebijakan yang dilahirkan penguasa tidak terlalu banyak memerhatikan poros warga negara. di sisi lain. 1993). Tetapi pemerintah. Inilah yang selama ini membuat kaum miskin tak berdaya untuk memiliki daya tawar terhadap pengambilan keputusan.menunjang kepentingan kelompok dominan. elite penguasa (the ruling elites) atau kaum kapitalis. Kaum miskin hanya menjadi alat produksi semata-mata. Kebijakan politik yang ada selama ini sering (dan sebagian besar) hanya berpihak kepada mereka yang memiliki alat produksi dan modal. dan membuat yang kaya semakin berada di puncak. tidak mampu berbuat bagaimana seharusnya meningkatkan keterampilan mereka agar bisa berkompetisi lebih adil dengan lainnya (Suparlan. Pelanggaran konstitusi ini terus terjadi tanpa adanya kemauan untuk memperbaikinya dengan melahirkan sebuah kebijakan yang sungguh-sungguh mengapresiasi dan melibatkan kaum miskin untuk berperan sebagai warga negara normal. Pendapatan mereka hanya sekadar mencukupi kebutuhan hidup saja. Struktur kemiskinan masyarakat kita tidak terlepas dari 123 . Kaum miskin diperas tenaganya hanya sekadar menjadi buruh kasar dengan dalih keterampilan mereka terbatas.

di pihak lain juga Bu Peni berpendapat bahwa : “Iya. Dan untuk mewujudkan itu kan dibutuhkan dana yang cukup besar. keadilan yang sedang kita bicarakan di sini adalah menyangkut keadilan untuk semua.2.” (p. (p.3. Terkait dengan modal. Saya kira begitu. punya sistem organisasi. punya kelembagaan. E. Dengan demikian. Jadi banyak dikenal dan khususnya untuk anak-anak muda itu biar pada suka dan produknya itu bisa laku keras.persoalan utama. maka salah satu hal utama yang terungkap adalah pola kepemilikan serta praktik produksi dan distribusi produk media yang terkonsentrasi pada kelompok bisnis besar. persaingan dan profit oriented ini. yang tentu tidak lepas dari persoalan modal.Ya suatu organisasi mungkin. 124 .11) Dari ciri diatas bisa dikatakan tipe yang berkuasa menurut resepsi informan adalah iklan. Seperti sponsor itu yang saya tahu familiar itu ya dari Likna itu salah satunya. punya anggota atau kru dan itu pimpinannya kan pasti ada. persaingan dan profit oriented. Dosa struktur yang dimaksud adalah menyangkut bagaimana distribusi yang adil dan menjangkau semua pihak. yakni adanya dosa struktur.11) Dari pernyataan Bu Tien terlihat bahwa televisi dikatakan sebagai media industri. Itu juga agar Likna itu sendiri juga terdongkrak menjadi banyak yang menyukai. Rezim yang berkuasa Bu Tien mengatakan bahwa : “…. walaupun yang melaksanakan bedah rumah itu kan bukan dari TV nya melainkan dari sponsor. Stasiun televisi kan organisasi.

keadaan distribusi dapat dan memang terjadi kecondongan terhadap audiens dan kecenderungan lainnya dalam masyarakat. dalam batasan tertentu.Sehubungan dengan kekuasaan media. tampaknya media cenderung lebih berfungsi. kekuasaan kelas atau kelompok kepentingan tertentu. melindungi atau menonjolkan kepentingan mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi atau politik yang lebih besar dalam masyarakatnya sendiri melalui tindakan atau peniadaan. meskipun atau bahkan aspirasi media berupaya untuk bersikap netral. Pertama.4. dampak komunikasi dn perubahan jangka panjang. Kategorisasi FGD I (Kelompok Pembantu Rumah Tangga) Pada proses FGD peneliti melakukan diskusi interpretasi terhadap tayangan dan mencoba mengelompokkan hal-hal yang menonjol dari diskusi FGD kelompok pembantu rumah mengenai pemaknaan peserta terhadap acara reality show Bedah Rumah. apakah kekuasaan masyarakat keseluruhan. E. Kedua. 2005). yang berkaitan dengan arah yang tersirat dalam media. yang menjadi persoalan pokok adalah bagaimana keefektifan media sebagai sarana untuk mencapai tujuan kekuasaan tertentu (persuasi. Untuk kelompok I yaitu kelompok 125 . mendukung atau meniadakan ketidakmerataan kekuasaan yang terjadi di masyarakat (Fajar Junaaedi. karena berbagai alasan. Dari penjelasan di atas ada kemungkinan yang muncul. mobilisasi.informasi) dan kekuasaan siapa yang diterapkan media. atau kekuasaan komunikator sebagai individu karena pada umumnya media bertindak untuk meningkatkan.

) (p.” ( Bedah rumah memang acara bagi orang miskin. Omahe wong ra nduwe kan mrihatini. Koyo sing neng video kuwi kan melaske.8) “Seng omahe wes rak layak mbak. penulis mencoba menangkap beberapa pernyataan spontan hasil diskusi bersama mengenai bentuk-bentuk komodifikasi yang cara interpretasi tayangannya masih bersifat dangkal.pembantu rumah tangga.” ( Iya kebanyakan dicari yang rumahnya masih memakai kayu. omahe seng wes meh bobrok. durung ubinan. FGD I Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Bedah rumah kan memang nggo acarane wong miskin mbak. Pokoke durung nggo tembok. dadi mesti yo dadi acara sing apik nek pas dewe ndelok omah elek biso dadi apik. nggo maem tok be angel.9) Partisipan Kuswati (17 tahun) I’ah (29 tahun) “ha’a akehe kan digoleki seng omahe jek nganggo kayu. Tabel 10 . (p. Kan Yuni (20 tahun) 126 . buat mandi aja tempate angel neng njobo koyo kuwi. Pokoknya belum pakai tembok. kalau yang dibedah orang kaya itu baru aneh. Berikut adalah pembagian temuan pernyataan audiens berdasarkan kategori yang telah dilakukan peneliti mengenai bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan. Rumah orang yang tidak punya yang memprihatinkan pasti menjadikan acara ini bagus saat kita menyaksikan rumah jelek bisa jadi bagus). belum pakai lantai. soko gajine sing rak tentu. nek seng dibedah wong sugih yo wagu.

kasihan mbak.) (p. restoran. FGD I Kategori Merangsang Syaraf Keharuan Partisipan Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Iyo mbak. keluarga dibawa ke hotel dulu untuk kejutan.) (p. koyo sak durunge dibedah kan keluargane digowo neng hotel ndisik.” (Yang paling ingin dilihat saat-saat rumah yang jelek berubah jadi bagus saat tirainya dibuka. FGD I Kategori Sensasi Kegembiraan Partisipan Yuni (20 tahun) Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “ Seng paling pengen dilihat ya pas omah seng olo berubah dadi apik mbak. salon. pas buka tirai.) (p.11) Kuswati (17 tahun) Tabel 12. Diajak ke hotel. ” (Iya mbak. kalau saya melihat gambar nenek itu nangis saya jadi terharu dan ikut menangis. dari gaji yang tak tentu. Diajak neng hotel.8) Tabel 11. salon.) Kuswati (17 tahun) 127 . restoran.14) “Iyo mbak. Kasihan mbak.” ( Iya mbak. Melaske soale sampe nangise koyo kuwi. buat makan saja susah. Seperti yang di video itu buat mandi saja tempatnya susah seperti itu. nek ndelok gambar mbahe nangis aku dadi melu nangis juga. contohnya sebelum dibedah. Saya senang melihatnya. ” (Yang rumahnya sudah tidak layak. men nggo kejutan. Kasihan dia sampai menangis seperti itu. rumah yang sudah mau rubuh. Aku seneng wae ndelo’e.

Kalau artis yang menangis sepertinya bisa termasuk skenario. Nek artis sing nangis kayane sih bisa dadi skenario.13) Yanti (22 tahun) Tabel 13. semakin banyak nangise kita sing ndelok semakin melas juga jadi aku yo ngeroso koyo kuwi juga mbak. pas tiraine dibuka. tirai yo.” (Yang bikin deg-degan waktu tirainya dibuka.” ( Kalau kita melihat orang yang menangis. FGD I Kategori Memancing Simpati dan Emosi Spontan Partisipan I’ah (29 tahun) Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Seng marai deg-degan kan pas opo jenenge. Pertama lihat bercampur ada rasa kaget.14) “ iya mbak waktu ngliat wonge sing senenge ra karuan nyampe sujud ngucap alhamdulilah. saya juga orang kecil. Pertama liat ki yo campur ono rasa kaget. ada juga yang pingsan. takjub karo rak percoyo. Misalnya kalau ada artisnya mungkin bisa lebih menarik. jadinya Ita’ (32 tahun) 128 . dadine yo keto’e emang kejadian kuwi berkah banget mbak.12) “Ya kan kalau ngliat wong sing nangis. Contohe nek ono artise kan bisa lebih menarik co’an mbak.) (p. Iyo. aku kan juga wong cilik. takjub dan tidak percaya ) (p. ono sing semaput juga. semakin banyak tangisannya maka kita yang melihat semakin merasa kasihan jadi saya juga ikut merasa seperti itu.(p.” ( iya mbak kalau melihat orang yang sangat gembira samapi bersujud mengucap Alhamdulillah.

5. Tabel 14. Kita kan akan penasaran seperti apa sih senengnya orang yang dibedah rumahnya. (p.3) Partisipan Bu Sari (45 tahun) Tabel 15.14) E. Acara ini kan awalnya menampilkan kesengsaraan orang miskin. Rumah yang udah lapuk. Apa yang bisa dilihat dari kesengsaraan itu malah dinikmati oleh yang nonton. Kategorisasi FGD II (Kelompok Majikan) Sedangkan hal-hal yang menonjol dari diskusi FGD kelompok majikan adalah mengenai pemaknaan yang lebih peka dalam menanggapi text dalam reality show Bedah Rumah ini. mungkin menjadi hal 129 .” (p. Hal-hal yang miris seperti itu kan justru diperlihatkan untuk membuat kita kasihan kan. FGD II Kategori Gambaran Kondisi Kemiskinan Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Memang seperti itu. kadang juga dilihatkan nyuci di sungai kotor saking gak ada sarana air. FGD II Kategori Sensasi Kegembiraan Partisipan Bu Sari (45 tahun) Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Nah dari kesenangan-kesenangan itulah juga bisa menjadi dimanfaatkan. Berikut adalah pembagian temuan pernyataan audiens berdasarkan kategori yang telah dilakukan peneliti mengenai bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan.ya sepetinya memang kejadian itu merupakan berkah). pakaian yang lusuh.

yang kita tunggu-tunggu juga ya.” (p.” (p.8) “ Kalau kita lihat secara teliti.8) “Salah satu bentuk kemiskinan yang dimanfaatkan ya seperti salah satunya banyak adegan menangis. kecewa.” (p. sampai teriak-teriak. rasa sedih. Kita juga tidak tahu apakah acara itu di set terlebih dahulu atau tidak kan.. Semua itu sebenarnya buat apa harus ditampilkan.8) Bu Sihombing (34 tahun) “…. yang tadinya rumahnya sangat sederhana sekali dan bisa dikatakan kaum ke bawah tapi diajak ke hotel. Semua bagaikan sudah diatur.8) Tabel 16. seperti itu malah justru dijual kan mbak. FGD II Kategori Merangsang Syaraf Keharuan Partisipan Bu Peni (43 tahun) Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Apalagi kalau ada acara tangis-tangisannya itu lho yang kayaknya terlalu berlebihan banget yang mungkin ini menjadi salah satu bentuk bagaimana kemiskinan tadi dimanfaatkan. seneng melihat sebegitu mewahnya rumah mereka. memelas. saya kurang sukanya saat-saat adegan yang diinapkan ke hotel. tidur di hotel. kemudian diperlihatkan juga bagaimana mereka sedang lompat-lompat di atas kasur dan sebagainya. saat sedang mandi menggunakan shower yang mereka tidak pernah merasakannya sebelumnya. Nangis-nangis seperti itu jadi kan anak-anak saya yang nonton jadi ikutan nangis padahal siapa mereka kita juga gak kenal. kan terlihat tuh apa yang sebenarnya pingin dilihatkan oleh sang sutradara kepada pemirsa. Ya memang sih kalau kita bilang bahasanya mungkin mereka terenyuh ya. diperlihatkan bagaimana dia menikmati tidur di hotel.” (p. kayak Bu Tutik (47 tahun) Bu Peni (43 tahun) 130 . ya karena dengan menonton itu kita justru merasa terhibur ya.

Gambaran Penerimaan Pesan Dari pernyataan salah satu informan tentang menerima atau tidaknya pesan. biasa melakukan adegan tangis menangis seperti itu kan mudah sekali untuk memancing untuk menangis. ANALISIS SPECTRUM OF READING Analisis ini melihat pernyataan para informan dari pertanyaan tentang hal yang menarik dari tayangan Bedah Rumah. dermawan dan unsure lain mungkin ada. kalo…kalo memang niatnya membantu kan dia tidak perlu sampai program-program seperti itu to. Berarti memang itu yang ingin diutamakan sebagai tontonan. pesan apa saja yang ada di dalam tayangan.1. Pertama. ok kita hargai. itu tu tetep ada.misalnya ada sedih. Walaupun itu niat utama atau urutan kesekian kita nggak tahu gitu ya. FGD II Kategori Memancing Emosi dan Simpati Spontan Partisipan Bu Tien (52 tahun) Example Pernyataan Partisipan dalam diskusi “Ya itu sih strategi saja ya. Terus yang kedua juga dengan ditayangkan di 131 . lebih jelas dan lebih besar. Memang ada sisi positifnya juga ya. Saya rasa pertama. mengatakan : “Saya menerima. nilai tayangan. pasti yang tadi ada menolong. Saya rasa begini.” (p.9) F.. tapi ada pengkritisan. menangis. F. strategi pertelevisian ya. itu kan disorot lebih lama. biasa main sinetron. biasalah mereka yang golongan selebriti itu biasa tampil di TV.8) Tabel 17.” (p. menerima atau menolak isi tayangan serta pengalaman si informan.

Bu Tutik). bahwa : “Ya membantu mbak. itu juga akan mendorong supaya orang juga terbuka untuk membantu kelompok-kelompok yang miskin. membangun. mungkin ada sisi positifnya gitu ya. dan bekerja sama.12) Pernyataan diatas memperlihatkan bahwa Bu Tutik tidak sepenuhnya menerima semua isi pesan begitu saja. nanti takutnya dengan hal yang tiba-tiba menjadi berubah total itu tidak akan mendidik tapi justru memberi kebiasaan orang untuk malas. Inginnya seperti ini. Sementara hidup sekarang ini sangat sulit tapi karena dia sudah diberi kesempatan untuk punya sesuatu yang baik sementara dia tidak punya kerja 132 . (p. Ok dalam hal ini.. inginnya seperti itu sehingga kadang-kadang orang punya pikiran yang tidak wajarlah. tetapi memperlihatkan tawaran bahwa seharusnya tayangan reality show itu lebih imbang dari segi pesan atau nilai yang dibawa di dalam tayangan. Saya menerima. karena menurut saya baru kali ini ada acara televisi yang model seperti ini yang membantu secara langsung rakyat yang miskin”. Hal lain yang mencerminkan penerimaan nilai atu pesan yang ada dinyatakan oleh Yuni FGD II dari kelompok pembantu rumah tangga.TV seperti gitu. membantunya ya dalam membantu orang yang betul-betul tidak punya menjadi orang yang punya.. Misalnya gini.” (FGD II.(p. Tapi ya kalo dari sudut pandang kapitalisme sebetulnya itu enggak…nggak. Dapat membantu tetapi membuat beberapa orang menjadi cemburu. Pernyataan lainnya adalah yang dikatakan salah satu informan ibu rumah tangga yang melihat ada dampak cemburu social yang terjadi di sekitar masyarakat : “Menurut ibu itu ya dua-duanya. yang terjadi seperti itu. Tetapi membantu dengan dratis itu kurang baik ya.nggak nyucuk lah. nggak sebanding.18) Pada bagian pernyataan tersebut Yuni telah melihat sebuah contoh perilaku prososial dalam tayangan Bedah Rumah yang menyatakan terdapat perilaku prososial membantu.

Pengelompokan Audiens F. Menyelesaikan persoalan kemiskinan tidak akan pernah tuntas ketika warganya lebih senang “bermain” dengan status miskin. Bu Tutik).yang tetap itu akan menjadikan budaya malas di masyarakat. sekolah gratis. Sedangkan untuk informan kelompok pembantu rumah tangga menerima sebagian besar pesan acara sebagai bentuk perilaku prososial. Ada semacam perasaan tidak aman ketika tidak lagi disebut miskin. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat kelas bawah dengan jelas menerima pesan media secara mentah-mentah yang tidak lain adalah merupakan korban dari komodifikasi kemiskinan media.1. dan bantuan-bantuan lainnya. Jika kemiskinan sudah dianggap sebagai sebuah kondisi aman dan nyaman. Takut tidak bisa berobat gratis.2.7) Pada pernyataan tersebut melihat bahwa informan kelompok ibu rumah tangga menerima sebagian pesan prososial acara reality show. (p. namun menolak ketika terjadi bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan yang dibawa dalam reality show tersebut.2.” (FGD II. maka program-program yang dirancang akan senantiasa membentur tembok tebal mentalitas pengemis dan manipulatif. Dominan (or hegemonic) reading 133 . mendapat sembako murah. F.

dan lebih memilih untuk membawa sesuatu kerangkan alternative pemikiran. Dalam analisis informan pembantu rumah tangga cenderung menerima sepenuhnya program beserta isinya sebagai bentuk perilaku prososial. Pada negotiated reading para informan ibu rumah tangga menerima jika terdapat pesan prososial namun menolak secara luas isi pesan yang mencerminkan bentuk komodifikasi kemiskinan. F. dan asumsi) dan sepenuhnya menerima program “yang dibentuk” (pembacaan yang bukan merupakan hasil dari keinginan yang sadar dari bagian yang dibuat oleh pembuat program). Oppositional (counter hegemonic) reading Oppositional (counter hegemonic) reading adalah pembaca yang tidak membagi kode program dan menolak pembacaan yang dibentuk. kepercayaan. tetapi mengubahnya sedemikian rupa sehingga merefleksikan posisi dan kepentingan mereka. 134 .Dominant (or hegemonic) reading adalah pembaca yang membagi kode program (system nilai. Negotiated reading Negotiated reading adalah pembaca yang sebagian membagi kode program dan secara luas menerima bacaan yang dibentuk. Pada kelompok ibu rumah tangga melihat dan sepakat bahwa reality show adalah bentukan program televisi yang syarat kepentingan dan manipulasi.2.2. F. tingkah laku.2.3.

Konsumsi adalah pemanfaatan barang dan sumbersumber untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Industri media dijalankan dengan sistem ekonomi kapitalis yang pada dasarnya berorientasi pada keuntungan. menyatakan bahwa : 1. Resources dipahami oleh paradigma ekonomi sebagai item yang dipergunakan untuk memproduksi barang. dimana media negara tertentu juga diproduksi dan didistribusikan di berbagai negara lain. G. Samuelson dan Nodhaus. Produksi content media cenderung lebih menghibur karena pertimbangan agar disukai dan dibeli oleh khalayak. Tercipta media global.Kepentingan dan manipulasi ini bisa dibuat berdasarkan scenario dan proses editing. Kebutuhan dan keinginan yang berbeda tersebutlah yang menciptakan ‘genre’ yang berbeda dalam produksi content media massa Karenanya dapat dikatakan bahwa “ media economics is the study of how media industries use scarce resources (sumberdaya langka) to produce content that is distributed among consumers in a society to satisfy various want and needs” 135 . 1987). 2. Economics is the study how societies use scare resources to produce valuable commodities and distribute them among different groups. Konsep Ekonomi Media Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi media yang ditargetkan pada khalayak atau konsumen (Picard.

Karena itulah keberadaan dan karakteristik media massa tak pernah lepas dari persoalan modal.Konsep ekonomi. struktur ekonomi seluruh masyarakat dipengaruhi oleh politik. persaingan dan profit oriented ini. persaingan dan profit oriented. Akibatnya kepemilikan media kemudian hanya terkonsentrasi pada sekelompok orang tertentu yang memiliki dukungan modal yang kuat. Ketika modal sudah menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi maka upaya-upaya untuk mengembalikan modal sehingga perusahaan bisa mencapai break point bahkan mendapat keuntungan sebesarbesarnya dari investasi yang ditanamkan tersebut kemudian menjadi suatu hal 136 . 2001: 16). Media massa modern merupakan hasil persilangan pasar. Tuntutan akan modal yang tinggi untuk mendirikan sebuah industri media baik cetak maupun penyiaran. produk dan teknologi. telah menjadi sebuah entry barrier tersendiri yang menghambat masuknya para pelaku media baru. Konsep kapitalisme mempengaruhi seluruh aktivitas ekonomi masyarakat dan negara. (Albarran dan Melody dalam Subiakto. Terkait dengan modal. Persoalan ekonomi melibatkan proses yang berkaitan dengan isu-isu penting dari produksi dan konsumsi. Kepemilikan Media Membicarakan bisnis media massa mendorong kita untuk melihat media dari perspektif ekonomi. Konsep komodifikasi media dapat terjadi di semua aspek bidang yaitu jasa maupun aktivitas ekonomi. hukum dan karakteristik sosial. maka salah satu wacana utama yang menarik untuk diungkap adalah pola kepemilikan serta praktik produksi dan distribusi produk media yang terkonsentrasi pada kelompok bisnis besar. membentuk praktek atau aktivitas bisnis perusahaan media.

yang lumrah. Persaingan dan berbagai upaya yang muaranya pada perolehan profit sebesar-besarnya menjadi tidak terelakkan. Di sinilah idealisme media yang semula menjadi pelayan kepentingan publik, yang mereflesikan realitas yang ada di masyarakat menjadi bias. Produk media kemudian bermetamorfosis menjadi tidak lebih dari sebuah komoditas yang perhitungannya hanya diukur dari seberapa besar uang atau keuntungan yang bisa dihasilkannya.

H. Konsep Politik Media Media massa (pers) adalah subsistem dari sistem politik. (Mursito BM, 2000:24). Sebagai subsistem dari system politik maka media massa tidak

memberi corak pada sistem politik, melainkan sebaliknya, system politiklah yang menentukan corak bahkan perilaku media. Menurut perspektif ini, perilaku pers sangat tergantung pada kebijakan dan control dari pemerintah. Ketika represi pemerintah terhadap media sangat kuat, itu berarti fungsi control media dimatikan dan media tidak bisa bebas memberitakan isu-isu politik. Pers adalah salah satu sarana bagi warga negara untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peranan penting dalam negara demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis dan merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang demokratis karena salah satu ciri negara demokrasi adalah memiliki pers yang bebas dan bertanggung jawab. Negara demokrasi adalah negara yang mengikutsertakan partisipasi rakyat dalam pemerintahan serta menjamin terpenuhinya hak dasar rakyat dalam

137

kehidupan berbangsa, dan bernegara. Salah satu hak dasar rakyat yang harus dijamin adalah kemerdekaan menyampaikan pikiran, baik secara lisan maupun tulisan. (http ://www.marxist.org/glossary/terms/c/o.htm). Akses informasi melalui media massa ini sejalan dengan asas demokrasi, dimana adanya tranformasi secara menyeluruh dan terbuka yang mutlak bagi negara yang menganut paham demokrasi, sehingga ada persebaran informasi yang merata. Wajah demokrasi sendiri terlihat pada dua sisi. Pertama, demokrasi sebagai realitas kehidupan sehari-hari, kedua, demokrasi sebagaimana ia

dicitrakan oleh media informasi. Di satu sisi ada citra, di sisi lain ada realitas. Antara keduanya sangat mungkin terjadi pembauran, atau malah keterputusan hubungan. Ironisnya yang terjadi sekarang justru terputusnya hubungan antara citra dan realitas demokrasi itu sendiri. Istilah yang tepat digunakan adalah simulakrum demokrasi, yaitu kondisi yang seolah-olah demokrasi padahal sebagai citra ia telah mengalami deviasi, distorsi, dan bahkan terputus dari realitas yang sesungguhnya. Distorsi ini biasanya terjadi melalui citraan-citraan sistematis oleh media massa. Demokrasi bukan lagi realitas yang sebenarnya, ia adalah kuasa dari pemilik informasi dan penguasa opini publik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

138

A. KESIMPULAN
1. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa

reality

show

“Bedah

Rumah”

merepresentasikan

bentuk-bentuk

komodifikasi kemiskinan dalam media.
2. Bentuk-bentuk komodifikasi kemiskinan tersebut terbagi menjadi empat

bentuk yaitu gambaran kondisi kemiskinan, sensasi kegembiraan, merangsang syaraf keharuan dan memancing simpati dan emosi spontan.
3. Pemahaman resepsi informan sebagai audiens kalangan menengah ke atas

tayangan reality show “Bedah Rumah” yaitu ibu rumah tangga secara luas mencoba menyaring pesan yang diterima. Sedangkan resepsi informan sebagai audiens kalangan menengah ke bawah yaitu pembantu rumah tangga secara luas menerima semua bentuk pesan tayangan acara baik dari isi media maupun bentuk penyajiannya.
4. Penerimaan dan pemahaman informan FGD sebagai audiens yaitu

pembantu rumah tangga dan majikan mendukung kategorisasi bentukbentuk komodifikasi kemiskinan dalam tayangan reality show “Bedah Rumah”.

B. SARAN

139

Sehingga untuk penelitian kedepannya diharapkan ada peneliti yang meneliti media yang lebih mengungkap tentang konsep komodifikasi isi dalam media. Dalam sebuah reality show tentunya juga mengandung story taled dan nilai baik yang jelas terlihat maupun terselubung. Diharapkan para mahasiswa dapat menggunakan banyak analisis isi media dan banyak persepsi lainnya melalui pendekatan-pendekatan lainnya dalam melihat keseluruhan tayangan reality show.1. Untuk itu audiens diharapkan memiliki resistensi dapat mengungkap dan menyaringnya agar tidak mempengaruhi pemikiran tertentu audiens tentang suatu kebenaran. DAFTAR PUSTAKA 140 . terutama reality show yang sarat akan bentuk komodifikasi. 2.

Nauralistic Inquiry. “A Cultural Approach to Communication”. 2000. T. Gunter. Penduduk Fakir Miskin Indonesia 2002. Barrie. Carey. Dan Egon G. S. 1985. A Reader Havester Wheatsheaf : Heatfordshire. Thousand Oaks : Sage Publication. and Social Behavior. Analisis Isi : Pengantar Teori dan Metodologi. 2008. Media Research Methods : Measuring Audiences. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial. PT. Lovell. 2002. Beverly Hill : Sage Publication. 5/Oktober 2000. 2007. Krippendorff. New York : Sage Publication. “Outline of Presentation on Poverty Alleviation Programs in the Asia-Pacific Region” makalah yang disampaikan pada International Seminar on Curriculum Development for Social Work Education in Indonesia. 1994. David (2004). PT Raja Grafindo Persada : Jakarta. Joy Keiko & Gordon L. J. Junaedi. Kencana : Jakarta. I. 1993. Burhan. 2000. Industri Pers dan Prospek Kebebasannya. Jurnal ISKI. _____________. Arthur Asa. Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. London : Sage Publication. Sebelas Maret University Press : Surakarta. James W. Dalam Dennis Mc Quail (ed) Mc Quail’s Reader in Mass Communication Theory. Lincoln. Yvonna S. Reactions and Impact. Komodifikasi Budaya dalam Media Massa. RajaGrafindo Persada : Jakarta. (ed) Cultural Theory & Popular Culture. Guba. Klaus. Media and Communication Research Methods An Introduction to Qualitative and Quantitative Approaches. BPS/Badan Pusat Statistik dan Depsos/Departemen Sosial (2002). Jendela : Yogyakarta. Ekonomi. Ibrahim. _____________. “Cultural Production”. No. 2005. 1998. television. Jakarta: BPS Berger.Asamen. Bungin. Dalam Storey. “Kebangkitan “Generasi Ne(x)T” dalam Rimba Budaya Pop : Parodi di Balik Budaya Musik Kawula Muda”. Imaji Media Massa : Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Fajar. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologi ke Arah Varian Kontemporer. Penelitian Kualitatif : Komunikasi. 141 . Research Paradigms. Cox. Berry. London : Sage Publication.

Sugiyono. Mosco. 2005. Bandung : Alfabeta. Sunardian. Terj. Metode Penelitian Sosial. Metode Penelitian Kualitatif.marxist. Mathew B dan Michael A. Dalam Jurnal ISKI.kompas. Nailil Printika : Yogyakarta. Mulyanto. Pembangunan. Sage Publication: New York. Sumber Lain : http ://www. 2006. “Demokrasi dalam Komunikasi Terprivatisasi”.B. Bandung: Lembaga Studi Pembangunan-STKS Sumardi. Moleong. Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Spektrum Pemikiran. Pers Indonesia Era Transisi. 1982.com/kompas-cetak diakses pada 21 November 2010 TRANSKRIP FGD ( Focus Group Discussion ) I 142 . Wirodono. H. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 1996. IGN. Putra. Suharto. Sutopo. 1996. Rajawali : Jakarta. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Slamet.Miles. Lexy.org/glossary/terms/c/o. CV. Memahami Penelitian Kualitatif. Huberman. Matikan TV. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terpaannya dalam Penelitian.Mu! : Teror Media Televisi di Indonesia. Vol. Tjetjep Rohendi Rohidi. _____________. Edi (1997). 1992. VI/ Nopember 2001. 2002. University Indonesia Press : Jakarta. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber tentang Metode Baru. Surakarta : Sebelas Maret University Press. 2005. Vincent. Surakarta : Sebelas Maret University Press.htm diakses pada 9 Agustus 2010 http://www. 2006. The Political Economy of Communication. Y. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

3 Maret 1990 : SMP : Ita’ : Perempuan : 32 tahun : Poncol. Nama peserta 4 Jenis Kelamin Umur Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir 5. Nama peserta 2 Jenis Kelamin Umur Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir 3. Nama peserta 5 143 . Nama peserta 3 Jenis Kelamin Umur Tanggal/tgl lahir Pendidikan terakhir 4. 22 Juli 1993 : SMP : Yuni Septiani : Perempuan : 20 tahun : Wiradesa. 22 Agustus 1978 : SD : Yanti : Perempuan : 22 tahun : Pekalongan. 3 Februari 1988 : SMP : I’ah Jenis Kelamin Umur Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir 2. Nama peserta 1 : Kuswati : Perempuan : 17 tahun : Sumbang.Kelompok Pembantu Rumah Tangga 1.

” : “Waalaikumsalam wr. Dalam FGD ini peneliti merangkap sebagai moderator. Berikut adalah transkripsi diskusi tersebut : Moderator Audiens : “Assalamu’alaikum wr.wb.Jenis Kelamin Umur Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Hari / tanggal pelaksanaan FGD Waktu Tempat : Perempuan : 29 tahun : Batang. namun dalam hal ini peneliti sebisa mungkin hanya akan berlaku sebagai fasilitator dan tidak terlalu banyak melakukan intervensi selama diskusi. kecuali pada awal diskusi melontarkan pertanyaan pembuka yang berjalan dengan sendirinya. Peneliti menyediakan seperangkat alat pendukung berupa laptop berisi video tayangan reality show Bedah Rumah edisi Jumat 22 Maret 2009 dan alat perekam suara yang bertujuan untuk mendokumentasikan jalannya kegiatan FGD. yaitu dilakukan di pagi hari bertempat di rumah peneliti yaitu di Bina Griya Blok B V/209 Pekalongan.1) 144 .00 WIB : Bina Griya Blok B V/209 Pekalongan Sesuai dengan jadwal kesepakatan penyelenggaraan FGD.wb. 19 April 1981 : SD : 15 Agustus 2010 : 10.” (p.

wes do ngerti acara bedah rumah kan? Suka do nonton rak” ( Begini mbak.” ( Met pagi mbak… makasih ya sebelumnya sudah mau datang maen kerumahku sebentar. Yo rak sering-sering banget nonton. (p.2) Kuswati : “Iyo mbak Santi. Aku ngganggu rak ke mbak? Saya menggangggu apa tidak mbak? ) Yuni : “Yo oralah mba. santai saja. Aku ngganggu rak ke mbak? hehe.2) Moderator : “Gini lho mbak. Ini sebenarnya mau ngapain sih?) (p. Kan 145 .” ( Ya enggaklah mbak. Bapak dan ibu juga sudah berangkat ke kantor). nyante wae..Moderator : “Met pagi mbak… makasih ya sebelumnya sudah mau datang maen kerumahku sebentar. aku ada video ki lho. Nek jam sakmene kan kebetulan lagi gak ono kerjaan. saya ada video nih. nyante wae. Kalau jam segini memang kebetulan kita sedang tidak ada kerjaan. santai saja. Ibu bapak juga wes mangkat kantor. Tapi nek ada kesempatan nonton yo aku nonton. Ki sebenere arep ngopo toh?” ( Iya mbak Santi. apa semua sudah kenal acara bedah rumah? Apakah semua sudah sering menontonnya? ) Yuni : “Oh iyo yo ngerti.

yo rak?” 146 . Tapi kalau memang ada kesempatan. saya pergunakan untuk menontonnya. acara seng nggawe omah dadi apik kae ra.4) :“Oh jadi acara bedah rumah itu bagus ya?” : “Iyo ra mbak. ) (p. pendapat mbak-mbak tentang acara bedah rumah itu gimana?” ( Iya. Aku be gelem mbak. saya mau ngobrol nih. pendapat mbak acara bedah rumah itu bagaimana?) Yuni Moderator : “Ya bagus mbak. acara yang membuat rumah jadi bagus itu kan. Karena jam tayangnya tidak terlalu sore jadi waktu luangnya lebih banyak.4) : “Menurut yang lain?” Ita’ dan Yanti : “Bagus mbak. Biso ngebantu wong seng mlarat.acarane ora sore-sore banget jadi waktu luange luwih akeh” ( Oh iya iya saya tahu.3) Yuni : “Iya mbak Santi. kan bisa membantu yang kecil” (p. lha kan acara itu biso ngubah omah sing olo dadi apik koyo kui.” (p. Tapi tidak terlalu sering menonton. aku meh ngobrol ke.” ( Iya mbak Santi.4) Yanti Moderator Kuswati : “Iya mbak.) (p.3) Moderator : “Iya.” (p.

5) :“ Lha emang kenopo kok do gelem?” ( Memang kenapa kok kalian juga mau) Yanti : “Nek didelok koyo neng tv kui yo podo karo omahku seng neng deso mbak. Bisa membantu orang yang miskin.6) Kuswati : “ Arane yo berguna nggo wong rak nduwe mbak. Bener gak? ) (p.) (p. kalau dibagun secara gratis. nek dibangun omahe gratisan yo sopo sing rak gelem mbak” ( Kalau dilihat seperti di televisi itu ya sama seperti rumah saya mbak. Saya sih juga mau.” (p.6) 147 . siapa yang tidak mau mbak.6) I’ah : “ iya aku juga kepengen nek dibedah omahe” ( iya saya juga mau kalau dibedah rumahnya. acara seperti itu bagus buat ditonton. Sama saja serba kekurangan seperti di televisi itu. Podo wae serba kekurangan koyo neng tv kuwi.) (p. (p. acara itu bisa mengubah rumah yang jelek jadi bagus seperti itu. Omahku soale juga elek mbak.5) Audiens Moderator : “ Bener mbak”.( Jelas iya mbak.” ( Itu namanya ya berguna buat orang yang gak punya mbak. Saya juga senang nontonnya.6) Moderator Ita : “Kalau menurut mbak Ita dan I’ah? : “ Sama mbak. Karena rumah saya juga jelek mbak. ) (p.

gak teratur. Kan kasihan mbak. 148 .Moderator : “lha emang yang pantes dibedah rumahnya tu yang gimana?” ( Memang yang pantas untuk dibedah rumahnya itu yang bagaimana?) Kuswati : “Ya yang serba kekurangan.) (p. Kan yang miskin yang wajib dibantu.” ( Yang serba kekurangan. Yang miskin yang wajib dibantu) (p. tidak teratur. dari gaji yang tak tentu. dan sejenisnya. nggo maem tok be angel. ” (Yang rumahnya sudah tidak layak. agak rusak. rumah yang sudah mau rubuh. soko gajine sing rak tentu. buat makan saja susah. buat mandi aja tempate angel neng njobo koyo kuwi.7) Moderator Yanti : “ Serba kekurangan gimana?” : “ Yang rumahe berantakan.7) Moderator : “Lha kalo yang di acara bedah rumah kae yang gimana?” ( Kalau yang di acara bedah rumah itu yang bagaimana?) Yuni : “Seng omahe wes rak layak mbak. omahe seng wes meh bobrok. ya gitulah pokoke” (Yang rumahnya berantakan. Koyo sing neng video kuwi kan melaske. rusak.

8) I’ah : “ ha’a akehe kan digoleki seng omahe jek nganggo kayu. Kasihan mbak. Memangnya pernah bedah rumah ada disini. Padahal masih kelihatan miskinnya.) (p.) (p.” ( Berarti kalau begitu rumah saya tidak termasuk ya. Pokoknya belum pakai tembok. rumah saya sudah pakai tembok.” ( Iya kebanyakan dicari yang rumahnya masih memakai kayu. Pokoke durung nggo tembok.) (p.) (p.8) Yuni : “ Halah nek elek nemen juga durung tentu biso dibedah omahe kan.8) Kuswati : “ Berarti nek koyo kuwi omahku rak termasuk ra.Seperti yang di video itu buat mandi saja tempatnya susah seperti itu. Emange pernah ono bedah rumah neng kene?” (Walaupun rumah jelek juga belum tentu dibedah rumahnya. durung ubinan.8) Kuswati : “ Yo mbok-mbokan wae” ( Ya mungkin saja) Moderator : “ oh jadi ciri-ciri rumah seng pantes dibedah ya kaya di video ini pok mbak?” ( Oh jadi ciri-ciri rumah yang pantas untuk dibedah itu seperti yang ada di video ini mbak?) 149 . belum pakai lantai. omahku wes nganggo tembok og. Padahal yo jek ketok mlarate.

150 . (p. dadi mesti yo dadi acara sing apik nek pas dewe ndelok omah elek biso dadi apik. kan mesti ada yang ngatur.) (p. Ya seperti itu” (p.” ( Sepertinya acara itu beneran.10) Moderator Yuni : “Maksudnya?” : “Yo maksude acara mbedah omahe temenan . Rumah orang yang tidak punya yang memprihatinkan pasti menjadikan acara ini bagus saat kita menyaksikan rumah jelek bisa jadi bagus). ) (p. Seng nduwe omah be nyampe nangis-nangis sujud koyo kae.10) Yuni : “ Ah tapi kayane ono seng diatur lho acarane. mosok langsung koyo kuwi” ( Tapi sepertinya ada yang sengaja diatur acaranya. tapi emang bisa langsung kaya gitu.9) : “Bedah rumah kan memang nggo acarane wong miskin mbak.” ( Bedah rumah memang acara bagi orang miskin. tidak secara langsung seperti itu. Omahe wong ra nduwe kan mrihatini. nek seng dibedah wong sugih yo wagu.Audiens Kuswati :“ Iya.9) Moderator : “ Lha kira-kira acara iki beneran rak yo?” ( Kira-kira acara ini betulan tidak ya?) Kuswati : “ Acara iki kayane beneran. Yang punya rumah saja sampai nangis-nagis sujud seperti itu. kalau yang dibedah orang kaya itu baru aneh.

koyo sak durunge dibedah kan keluargane digowo neng hotel ndisik.) (p. Diajak neng hotel. melaske rak?” ( Coba dilihat gambar-gambar ini. Kalau acara TV biasanya ada yang mengarahkan. contohnya sebelum dibedah. Lha kuwi sih mbah wes pikun koyo kuwi. restoran.( Maksudnya acara bedahnya beneran.10) Moderator : “Oh maksude mbak ono semacem scenario gitu pok mba? Seng ndi mbak?” ( Maksud mbak ada semacam scenario? Di bagian mana mbak?) Yuni : “Ha’a mbak. salon. kasihan tidak?) Yanti : “Melaske ra mbak. restoran.) (p. ” ( Iya mbak. Diajak ke hotel. men nggo kejutan. Lha nek acara TV kan biasane ono seng ngarahke” ( Iya mbak.11) I’ah : “Maeme juga neng restoran mbak” ( Makannya juga di restaurant mbak. Kuwi jare tivine mbahe 151 .11) Kuswati : “Iyo mbak. omahe wes ora layak juga. Saya senang melihatnya.11) Moderator : “Coba dilihat gambar-gambar iki mbak.) (p. Aku seneng wae ndelo’e. tapi memangnya bisa langsung kaya gitu? Pasti sudah diatur sebelumnya) (p. keluarga dibawa ke hotel dulu untuk kejutan. salon.

Kasihan dia sampai menangis seperti itu. Penghasilane yo cuma telungewu perhari. Penghasilannya juga cuma tiga tibu rupiah saja perhari). (p. Nek artis sing nangis kayane sih bisa dadi skenario. nek ndelok gambar mbahe nangis aku dadi melu kuwi. kalau saya melihat gambar nenek itu nangis saya jadi terharu dan ikut menangis.juga jek kerjo dadi tukang lidi. Melaske soale sampe nangise koyo 152 . kasihan ya.) (p. Lihat saja nenek itu sudah pikun.12) Yuni : “Omahe juga wes soko pager gedhek.) (p. aku kan juga wong cilik.12) Moderator : “Lha ini kan artisnya juga termasuk scenario rak? gunane artis ki nggo opo?” ( Kalau ini artisnya juga termasuk scenario tidak? Peranan artis itu apa?) Yanti : “Ya kan kalau ngliat wong sing nangis. ” ( Kasihan mbak.” ( Iya mbak. Seperti yang dikatakan di TV nenek itu juga masih kerja jadi tukang lidi. nangis juga. semakin banyak nangise kita sing ndelok semakin melas juga jadi aku yo ngeroso koyo kuwi juga mbak.melas yo” (Rumahnya juga dari anyaman.12) Kuswati : “Iyo mbak. rumahnya juga sudah tidak layak.

14) Yuni : “ Seng paling pengen dilihat ya pas omah seng olo berubah dadi apik mbak.) (p. apa yang paling ingin ditonton?) Ita : “Ya acara bedah rumahnya mbak” ( Acara bedah rumahnya mbak.Contohe nek ono artise kan bisa lebih menarik co’an mbak.) (p. Misalnya kalau ada artisnya mungkin bisa lebih menarik.) (p.” ( Kalau kita melihat orang yang menangis. perabotane anyaranyar” 153 . pas buka tirai.13) Ita : “Opo meneh nek artise ayu-ayu yo” ( Apalagi kalau artisnya cantik-cantik ya.” ( Yang paling ingin dilihat saat-saat rumah yang jelek berubah jadi bagus saat tirainya dibuka. semakin banyak tangisannya maka kita yang melihat semakin merasa kasihan jadi saya juga ikut merasa seperti itu.14) Kuswati : “Iya mbak.) (p. wes ono isine meneh.13) Moderator : “Lha emang nek mbake nonton acara iki. saya juga orang kecil. Kalau artis yang menangis sepertinya bisa termasuk skenario. opo seng paling utama pengen ditonton?” ( Memangnya kalau mbak menonton acara ini.

) (p. Pertama lihat bercampur ada rasa kaget. ada juga yang pingsan. jadinya ya sepetinya memang kejadian itu merupakan berkah). (p.14) Moderator : “Kira-kira seng dilakuin artis ki tulus rak mbak?” ( Kira-kira yang dilakukan artis ini tulus tidak?) I’ah : “Ya tulus-tulus wae sih. Iyo.( Iya mbak. Perabotannya baru-baru. Pertama liat ki yo campur ono rasa kaget.” ( iya mbak kalau melihat orang yang sangat gembira samapi bersujud mengucap Alhamdulillah.” ( Yang bikin deg-degan waktu tirainya dibuka.15) Ita : “Ya mungkin melu mbantu juga co’an mbak” 154 . tirai yo. dadine yo keto’e emang kejadian kuwi berkah banget mbak. kan kui diarahke karo sutradarane” ( Ya tulus-tulus saja. pas tiraine dibuka.14) Ita’ : “ iya mbak waktu ngliat wonge sing senenge ra karuan nyampe sujud ngucap alhamdulilah. sudah ada isinya lagi. ono sing semaput juga. takjub dan tidak percaya ) (p. Tapi yo mboh juga.14) I’ah : “Seng marai deg-degan kan pas opo jenenge. Tapi tidak tahu juga karena itu diarahkan oleh sutradara. takjub karo rak percoyo.) (p.

15) Kuswati : “Nek jareku sih co’an artis kui emang ada rasa kasihan. apakah akan dipakai untuk seterusnya?) Kuswati : “Yo ora mbak. kalau menurut saya dia cuma ikut-ikut televisi saja. opo meneh nek seng nganggo listrik kan larang. pasti ada perabotan yang tidak dipake) (p.15) Yuni : “Nah ya itu.15) Moderator : “Lha terus kui kan dike’i barang-barang anyar mbak. barangkali saja artisnya jijik jika disuruh macam-macam seperti itu.) (p. Palingan juga didol tok” 155 . ) (p.15) Yanti : “Iyo mbak. Nek jareku sih cuma ikut-ikut televisi tok.( Ya mungkin ikut membantu juga. tapi belum tahu juga itu cuma acting atau bukan.16) Yuni : “Iyo. mesti ono seng rak di nggo” ( Engga mbak. Nangisnangise juga mboh acting opo udu” ( Kalau menurut saya sih artis itu memang ada rasa kasihan. mbok-mbokan artise jijik nek dikon macemmacem koyo kui” (Iyo mbak. Tapi yo mboh juga kui cuma acting opo udu. terus emange bakalan di nggo terus?” ( Lalu mengenai barang-barang baru yang diberi. Tangisannya juga tidak tahu apakah hanya acting atau bukan.” ( Nah itu dia.) (p.) (p.

) (Ya kalau menurut saya sih narasi yang diceritakan oleh presenter itu benar dilihat dari kondisi hidup nenek yang sangat prihatin seperti yang terlihat pada gambar tersebut).) (p. kirakira acara ini membantu orang miskin atau justru memanfaatkan orang miskin? 156 . kemungkinan dijual lagi. jadi kemungkinan dijual lagi. apalagi kalau perabotan yang memakai listrik kan mahal. (p.( Iya.) (p. Seng jare uripe payah tapi yo mbahe tetep tegar demi istilahe nggo nggolek sesuap nasilah mbak.16) Yanti : “Ora biasa sih mbak jadi yo paling didol meneh” ( Tidak biasa mbak.17) Moderator : “Terus kesimpulane nek dilihat dari tayangan iki. kira-kira acara iki membantu orang miskin opo malah memanfaatkan orang miskin? ( Terus kesimpulannya kalau dilihat dari tayangan ini.16) Moderator : Terus nek seng diomongke neng TV kui kira-kira sebenere gak sih? (Terus kalau yang diceritakan di TV itu kira-kira sebenarnya nyata bukan?) I’ah : “Yo nek jareku sih cerito seng diomongke karo presenter yo bener nek ndelok soko kondisi hidup mbahe seng prihatin banget koyo neng gambar kui.

18) Kuswati : “Tapi nek menurutku yo kadang orang ono seng ga percaya. Banyak orang yang menganggap bedah rumah itu bohongan. peneliti kemudian menyudahi pertemuan FGD ini. Banyak kok seng nganggep bedah rumah kui ngapusi. Tidak lupa peneliti meminta ijin untuk melakukan diskusi si lain waktu apabila data yang dibutuhkan dirasa kurang.” ( Tapi kalau menurut saya kadang ada orang yang menganggap tidak percaya. Saya menerima. karena menurut saya baru kali ini ada acara televisi yang model seperti ini yang membantu secara langsung rakyat yang miskin ) (p.18) Setelah dirasa cukup. 157 .) (p.Yuni : “Ya membantu sih mbak” ( Ya membantu mbak. kan orang-orang beda.

Sihombing Jenis Kelamin Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Pekerjaan 2. Nama peserta 1 : Sutini (Tien) : Perempuan : Madiun. Nama peserta 3 Jenis Kelamin Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Pekerjaan 4. 8 September 1957 : SMA : Wiraswasta : Tutik : Perempuan : Ambarawa.TRANSKRIP FGD ( Focus Group Discussion ) II Kelompok Majikan 1. 10 Juni 1948 : SMA : Pensiunan PNS : Sri Nur Peni : Perempuan : Pekalongan. Nama peserta 2 Jenis Kelamin Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Pekerjaan 3. Nama peserta 4 158 . 10 Februari 1953 : SMA : Pensiunan PNS : Ny.

159 . 13 Juni 1955 : SMA : Wiraswasta : 30 Agustus 2010 : 10. Dalam FGD ini peneliti merangkap sebagai moderator. 17 Mei 1966 : Sarjana Muda : PNS : Sari : Perempuan : Yogyakarta. yaitu dilakukan di pagi hari bertempat di rumah salah satu audiens yaitu di Bina Griya Blok B V/210 Pekalongan. Peneliti menyediakan seperangkat alat pendukung berupa laptop berisi video tayangan reality show Bedah Rumah edisi Jumat 22 Maret 2009 dan alat perekam suara yang bertujuan untuk mendokumentasikan jalannya kegiatan FGD.Jenis Kelamin Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Pekerjaan 5.00 WIB : Bina Griya Blok B V/210 Pekalongan Jenis Kelamin Tempat/tgl lahir Pendidikan terakhir Pekerjaan Hari / tanggal pelaksanaan FGD Waktu Tempat Sesuai dengan jadwal kesepakatan penyelenggaraan FGD. Nama peserta 5 : Perempuan : Batak. kecuali pada awal diskusi melontarkan pertanyaan pembuka yang berjalan dengan sendirinya. namun dalam hal ini peneliti sebisa mungkin hanya akan berlaku sebagai fasilitator dan tidak terlalu banyak melakukan intervensi selama diskusi.

Kalau anaknya nonton ya ibu sama bapaknya juga ikutan nonton. wb. Santi badhe minta pendapat tentang acara niki lho bulek.” (p. Nggehpun saya langgung saja. wb.” : “Waalaikumsalam wr. tentang acara bedah rumah” ( Maap sebelumnya bulek kalau Santi mengganggu.Berikut adalah transkripsi diskusi tersebut : Moderator Audiens Moderator : “Assalamualaikum wr. Santi ganggu bulek sebentar. (p.1) : “Nyuwun sewu nggeh bulek. Yah dijadikan hobi saja.2) Moderator : “Inggih maturnuwun. Santi ingin meminta pendapat bulek tentang acara acara bedah rumah.) Bu Tien : “Halah yo rak popo tho cah ayu” ( Iya tidak masalah dek cantik) (p. ini saya ada video tentang bedah rumah.3) 160 . ngikutin anak-anak saja. Oh kadang-kadang suka nonton sih. Sering nonton acara ini tidak? Pendapat bulek tentang acara ini bagaimana ya?) Bu Sari : “ Oh…acara bedah rumah yang di TV itu. yang rumahnya miskin terus dibedah jadi bagus itu ya. Sering nonton acara niki boten? Pendapat bulek tentang acara ini bagaimana ya?” ( Iya terimakasih. Ini saya ada video tentang bedah rumah. kalau begitu saya langsung saja.

3) Bu Tutik : Sama. dari orang yang sangat-sangat miskin sekali dalam sekejap hidupnya bisa menjadi berubah seperti apa ya. Acara ini kan awalnya menampilkan kesengsaraan orang miskin. (p.3) Moderator : Kalau ibu Peni? 161 . Hal-hal yang miris seperti itu kan justru diperlihatkan untuk membuat kita kasihan kan. (p.3) Moderator Bu Tutik : Lucu bagaimana ya bu? : Bayangin aja. Soalnya lucu deh.” (p. orang miskin dalam sekejap bisa jadi keluarga kaya. Rumah yang udah lapuk. pakaian yang lusuh. orang yang tidak punya sama sekali. seperti halnya disulap.3) Bu Sari : Memang seperti itu. Itu juga salah satu acara favorit kami. biasanya saya yang mengalah kalau urusan channel TV sih. (p. (p. kadang juga dilihatkan nyuci di sungai kotor saking gak ada sarana air.3) Bu Sihombing : Kalau saya sih ngikut orang rumah saja yang mau nonton acara TV.Moderator Bu Tien : Kalau ibu yang lain? : Iya sama saya juga kadang nonton kalau ada waktu luang. Apa yang bisa dilihat dari kesengsaraan itu malah dinikmati oleh yang nonton.

Tapi yang jelas saya kurang suka sih sama acara itu. terus kapan giliran aku. sebagai ibu yang sudah tau kerasnya kehidupan ini kalau melihat acara itu seperti dibikin-bikin. mereka juga sudah pada gede jadi saya ikutan nonton saja. Dan menurut mereka yang kaum miskin pasti melihat hal itu sebagai sesuatu yang mewah kan. yang nonton kan akan merasa seakan-akan wah seneng ya. Dari yang miskin banget terus rumahnya dibedah.3) Moderator Bu Peni : Kurang suka gimana bu? : Ya karena menurut saya pribadi sebagai seorang ibu yang gimana ya. Itu kalau tidak salah acaranya sore hari kan? Sebenarnya saya pribadi sebagai orang tua sih tidak suka . kok enak ya mereka dapet. Dan satu hal lagi parameternya mereka seseorang dan keluarga untuk dibedah rumahnya itu apa sebenarnya sedangkan diluar sana orang yang lebih miskin itu lebih banyak. tujuannya apa mempertontonkan seperti itu di televisi. (p. Dan akhirnya saat nonton acara itu yang nonton 162 .Bu Peni : Saya sih sama saja kalau anak-anak nonton ya saya ikut nonton. Misalnya saja mereka yang dapat televisi baru. Mau melarang juga gimana jadi ya. Itu maksudnya apa. tapi kalau anak-anak nonton ya saya jadinya nonton. diganti semuanya sampai ke perabotannya juga dengan barang-barang yang cukup mewah.

Jadi terus terang saya tidak begitu suka sih sama acara itu.jadi bilang ih kok enak banget ya. Mendingan nonton acara kuis yang bisa membantu mereka untuk berpikir otaknya. Apakah grab B atau grab C seperti itu kan kita tidak tahu. Orang yang miskin atau keluarga yang miskin dengan tidak berlama-lama boleh 163 . Dan itu mereka memilihnya dalam hal apa. Dan kayaknya terlalu berlebihan banget pake acara nangis-nangis seperti itu kan. Jadi nanti ujung-ujungnya anak-anak minta sama ibunya buat belikan barang-barang yang kayak di TV itu. seperti itu? Bu Sari : Iya setuju. Bisa saja acara seperti itu di setting sedemikian rupa kan? Ya gitu aja sih. gimana kalau menurut ibu tutik? (p. (p. akhirnya yang keluar dari mulut anak-anak saya seperti itu. Yang paling terpenting kalau menurut saya acara seperti itu akan membuat lingkungannya itu cemburu social. Padahal ya kita termasuk dalam keluarga yang bisa dibilang menengah atau cukup. parameternya apa untuk mereka memilih sebuah keluarga yang dijadikan rumahnya dibedah.5) Bu Tutik : Kalau menurut ibu tidak beda jauh.4) Moderator : oh jadi maksud ibu seolah-olah menjadikan hidup konsumtif. Tidak mendidik gitu seperti tidak ada untungnya. jadi mereka akan berpikir kapan ya saya seperti itu.

5) Bu Sari : Betul. pasti ada maksudnya. Seperti itu kan berlebihan sekali.dikatakan menjadi orang yang kaya. padahal di lingkungan kita itu masih banyak orang yang miskin. itu kan secara tidak langsung bisa saja menjadikan tetangga kiri kanannya menjadi cemburu social. dari perabotan yang tadinya tidak ada sama sekali menjadi menerima perabotan yang bagus-bagus. mungkin biar televisi tersebut mendapat rating yang tinggi. stasiun yang B bisa dikatakan jiwa 164 . (p. Itu kan lucu sekali.5) Bu Tien : Iya kalau menurut saya sih hal-hal seperti itu terlihat dibuat-buat deh. Menurut saya salah satunya apa ya. Jadi kalau menurut saya. satu misi itu bisa dijadikan beberapa misi yang tadinya keluarga miskin dijadikan seakan-akan menjadi orang kaya yang semestinya tidak seperti itu. dari yang miskin lalu menerima rumah yang menjadi bagus. seperti mencari keuntungan. Maksudnya seperti ini lho stasiun yang A. (p. Apa tidak sebaiknya dari rumah yang kurang dijadikan rumah sehat tanpa adanya pemberian mebel-mebel yang bagus-bagus. alangkah baiknya jika misi dibagikan menjadi beberapa dan pembagian tersebut dibagikan secara merata. mencari sensasi. betul juga sih mungkin kalau dilihat dari bisnis pertelevisian mungkin kaya gitu sih.

Namanya manusia pasti wajar punya rasa iri seperti itu. Jadi seperti itu yang akan nonton menjadi cemburu social. Dapat membantu tetapi membuat beberapa orang menjadi cemburu. (p.6) Moderator : Jadi kesimpulannya acara ini itu membantu orang miskin atau justru memanfaatkan orang miskin? Bu Tutik : Menurut ibu itu ya dua-duanya.sosialnya tinggi terhadap sesama. Misalnya gini.5) Moderator : Jadi maksudnya yang menonton itu bisa menelan secara mentah-mentah? Bu Sari : Iya. (p. kemudian apa tadi seperti parameternya apa. Inginnya seperti ini. Maksudnya kalau secara individu kita ingin membantu orang ngapain pakai disiarkan seperti itu. Sementara hidup sekarang ini sangat sulit tapi karena dia 165 . Tetapi membantu dengan dratis itu kurang baik ya. inginnya seperti itu sehingga kadang-kadang orang punya pikiran yang tidak wajarlah. membantunya ya dalam membantu orang yang betul-betul tidak punya menjadi orang yang punya. jadi mereka akan merasa iri. ditampilkan seperti itu dan dalam acara ini seperti tidak ada petunjuk bagaimana acara ini dibuat. dengan cara ditampilkan atau disiarkan di acara bedah rumah itu. nanti takutnya dengan hal yang tiba-tiba menjadi berubah total itu tidak akan mendidik tapi justru memberi kebiasaan orang untuk malas.

tidur di hotel. kalau ibu sihombing bagaimana ibu berpendapat mengenai hal ini? Bu Sihombing : Oh sama saja sih mbak. Sebenarnya membantu dengan memberikan barang yang serba mewah tapi juga nanti akan ada pamrih yaitu diharapkan acara ini mendapat rating yang tinggi stasiun televisi itu juga mendapat keuntungan yang berlimpah. Jadi kan itu akhirnya ada pihak yang diuntungkan. 166 . (p.7) Moderator : Tadi ibu bilang bahwa acara ini justru memanfaatkan orang miskin. lalu kalau kita lihat dari cara penyajiannya. seperti itu kan? (p.8) Moderator : Oh begitu.sudah diberi kesempatan untuk punya sesuatu yang baik sementara dia tidak punya kerja yang tetap itu akan menjadikan budaya malas di masyarakat. yang tadinya rumahnya sangat sederhana sekali dan bisa dikatakan kaum ke bawah tapi diajak ke hotel. tapi mungkin saya kurang sukanya saat-saat adegan yang diinapkan ke hotel. bagian mana yang menurut ibu mencerminkan bahwa kemiskinan itu telah dimanfaatkan atau mungkin bisa dibilang dieksploitasi? Bu Tien : Kalau menurut saya sih kata-kata diekspoitasi mungkin terlalu berlebihan ya tapi mungkin lebih tepatnya diuntungkan secara bisnis melalui acara itu.

8) Bu Sari : “Nah dari kesenangan-kesenangan itulah juga bisa menjadi dimanfaatkan. Semua bagaikan sudah diatur. kemudian diperlihatkan juga bagaimana mereka sedang lompat-lompat di atas kasur dan sebagainya. rasa sedih. menangis.8) Bu Tien : Kalau mendefinisikan tema mbak yang tentang apa tadi. mungkin itu sama saja dengan eksploitasi 167 . (p..” (p. kan terlihat tuh apa yang sebenarnya pingin dilihatkan oleh sang sutradara kepada pemirsa. Berarti memang itu yang ingin diutamakan sebagai tontonan.8) Bu Peni : “ Kalau kita lihat secara teliti.8) Bu Tutik : Salah satu bentuk kemiskinan yang dimanfaatkan ya seperti salah satunya banyak adegan menangis.” (p. kayak misalnya ada sedih. komodifikasi ya. itu kan disorot lebih lama. (p. saat sedang mandi menggunakan shower yang mereka tidak pernah merasakannya sebelumnya. Semua itu sebenarnya buat apa harus ditampilkan. seperti itu malah justru dijual kan mbak. kecewa. Kita kan akan penasaran seperti apa sih senengnya orang yang dibedah rumahnya. mungkin menjadi hal yang kita tunggu-tunggu juga ya.diperlihatkan bagaimana dia menikmati tidur di hotel. lebih jelas dan lebih besar. memelas. sampai teriakteriak. ya karena dengan menonton itu kita justru merasa terhibur ya.

karena orang melihat acara ini dari kemasannya saja tidak dari kebutuhan. ingin mengambil milik orang untuk bisa merasakan lagi kemewahan seperti di hotel seperti yang di ajak oleh kru bedah rumah itu. Saya kira seperti itu. (p. dengan diajak ke hotel yang sangat mewah yang bagi masyarakat menengahpun belum tentu bisa masuk ke sana sedangkan masyarakat yang sangat dibawah justru dibawa kesana yang menurut saya kurang mendidik.8) 168 . Mungkin bisa mempunyai pikiran yang kurang baik. di bawah kondisi potensialnya yang seharusnya.8) Bu Tutik : Iya saya setuju. Takutnya dengan mengenali itu mereka menjadi ingin seperti itu dan malah justru menimbulkan hal yang kurang baik di masyarakat sekitarnya. Termasuk di dalamnya ya komersialisasi kemiskinan. (p.” (p. jadi menurut saya betul-betul dirasa kurang mendidik.kemiskinan.8) Bu Peni : “ Untuk melihat suatu bentuk kemiskinan itu dijual tentunya mungkin untuk kebanyakan orang terutama masyarakat di bawah tidak sadar mengenai apa yang mbak sebut tadi sebagai komodifikasi kemiskinan. Yaitu keadaan diman manusia yang menempatkan kondisi actual kemiskinan yang ada.

Bu Peni : Apalagi kalau ada acara tangis-tangisannya itu lho yang kayaknya terlalu berlebihan banget yang mungkin ini menjadi salah satu bentuk bagaimana kemiskinan tadi dimanfaatkan. seneng melihat sebegitu mewahnya rumah mereka. (p. Nangis-nangis seperti itu jadi kan anak-anak saya yang nonton jadi ikutan nangis padahal siapa mereka kita juga gak kenal. Kita juga tidak tahu apakah acara itu di set terlebih dahulu atau tidak kan. Jadi ya yang nonton jadi ikutan nagis kalau melihat acara seperti itu tadi dan juga merasa ikutan kasihan dan merasa kagum kok bisa mengubah rumah dalam waktu 12 jam saja. terus 169 . Akhirnya kalau anak saya minta kamarnya dicat ulang mintanya cepet padahal kan memperbaiki rumah tidak bisa secepat itu. Ya memang sih kalau kita bilang bahasanya mungkin mereka terenyuh ya. Jadi kan anak-anak saya banyak maunya pengennya seperti yang mereka lihat di TV. pengen cepet kalau bahasa jawanya sak deg sak nyet seperti itu.8) Bu Sari : Oh iya kalau alat-alat yang mereka kasih itu sebenarnya beneran atau tidak ya? Saya sempat berpikir begini. apakah pada waktu syuting itu yang diberikan berbagai macam alat mewah maksudnya yang dulunya tidak punya meja makan kemudian dikasih meja makan mewah.

jujur saya jadi berpikir seperti itu. kulkas. Begini ya mbak. Bisa saja kan. Tetapi justru mereka yang sangat miskin. TV. kipas angin sampai dapur yang bersih dan kompor gas segala macam membuat saya berpikir apakah pada saat syuting semua itu dipertontonkan tetapi setelah selesai syuting barang-barang itu ditarik lagi. kita kan tidak tahu. apakah setelah selesai syuting akan ditarik kembali atau tidak.8) Bu Tutik : Kalau saya sih tidak begitu. dan tidak punya pekerjaan tetap dengan waktu yang sangat singkat bisa menikmati seperti itu. badcover yang indah.meja tamu. Mungkin yang awal-awalnya dia tidak mempunyai listrik atau pasti 170 . disamping saya yang hidupnya sedang-sedang saja untuk beberapa barang itu ada yang tidak terbeli padahal saya kerja dan mendapat gaji itu malah tidak terbeli. (p. Apakah bisa mereka menggunakannya? Contohnya mesin cuci. tidak tahu apa-apa. kulkas justru membebani kehidupannya. spring bed. Mungkin kita bisa beli tapi kan itu barang yang mahal. Ya wajar saja kalau ada yang berpikir kok enak sekali dikasih rumah bagus beserta elektronik yang mewah seperti itu yang menurut saya bukan barang murah ya. TV. kita kan tidak tahu apakah itu proses editingnya atau gimana bisa jadi kan. kompor gas.

ganteng-ganteng.(p. (p.9) Bu Sihombing : Kalau Ratna Listi itu kan pembawa acaranya bu. Ya kebanyakan kita sebagai penonton TV biasa kan biasanya mempunyai idola masing-masing.9) 171 . kalau tidak salah cowok juga pernah ada kan walaupun sebagian besar yang dipakai itu artis cewek. (p. jadi kan itu justru akan membebani dia sementara penghasilan dia tidak menentu.. Kalau memang ingin membantu lebih baik dibuat program dululah sedikit demi sedikit dan tidak dratis seperti itu.. (p.. Kalau mempunyai penghasilan menentu tidak mungkin kan mereka mempunyai rumah yang sangat dibawah sederhana. Jadi menurut saya itu kurang pas sekali.9) Bu Sihombing : Jadi itu ya memang di scenario sekali. siapa ya artis yang lagi booming atau banyak yang dikenal masyarakat misalnya ada pok ati atau artis yang cantik-cantik.kan harga lisriknya nambah.9) Bu Peni : Kaya Ratna Listi. (p.9) Bu Tien : Bintang tamunya kan seorang selebritis bu.8) Moderator : Terus kalau berbicara mengenai adanya artis didalamnya itu peranannya apa ya? Bu Sihombing : Oh kalau itu ya jelas scenario. (p.

(p. orang-orang lain juga berduyung-duyung itu juga mungkin bisa saja hanya ingin melihat selebritisnya saja kan? (p. biasa melakukan adegan tangis menangis seperti itu kan mudah sekali untuk memancing untuk menangis. (p.Bu Peni : Ya sama saja.. biasalah mereka yang golongan selebriti itu biasa tampil di TV.9) Moderator : Lalu bagaimana dengan narasi yang ditampilkan.9) Bu Sihombing : Ya karena dia selebritis jadi pasti banyak yang lihat jadi bayarannya juga banyak. biasa main sinetron.9) Bu Tien : Ya itu sih strategi saja ya. strategi pertelevisian ya. Coba kalau pembawa acaranya orang-orang biasa seperti orang dari kru bedah rumah kemungkinan tidak banyak yang melihat. Coba kalau orang biasa mungkin tidak sebegitu menarik perhatian jika dibandingkan dengan artis yang menjadi bintang tamunya. Coba kalau kita masyarakat biasa kan ya tidak segitunya juga. (p.9) Bu Tutik : Yak kan bintang tamunya juga mendapat bayaran yang mahal. (p. Contohnya pada saat bedah rumah saat pemiliknya tidak di tempat.9) Bu Tien : Ya intinya selebritisnya memenuhi sesuai permintaan dari pihak TV nya. dia kan juga artis selebriti. apakah juga berlebihan? 172 .

Yah inikan hanya salah satu cara yang diupayakan dari pembuat acara ini untuk lebih menarik simpati pemirsa yang nonton. (p. Ya seperti di acara bedah rumah ini menggunakan narasi dengan penekanan agar kita yang menontonnya bisa kena di hati kita. (p. 173 . punya kelembagaan. dimanfaatkanlah oleh suatu program. punya sistem organisasi.11) Bu Tien : Ya suatu organisasi mungkin. ya seperti itulah. Semua acara di pertelevisian juga pasti menggunakan narasi dengan penekanan yang lebih dan bukan penekan yang biasa kita gunakan sehari-hari.10) Bu Sihombing : Kalau pendapat saya sih narasi yang dikatakan oleh pihak TV itu mungkin memang berlebihan karena mungkin di kenyataan sebenarnya memang benar seperti itu tapi bisa saja tidak separah atau seprihatin itu. (p. Stasiun televisi kan organisasi. Dan narasi yang dilebihlebihkan itu juga mungkin wajar ya dalam dunia pertelevisian.10) Moderator : Jadi intinya dalam acara bedah rumah ini kemiskinan dimanfaatkan ya? Bu Tutik : Bisa dibilang begitu.Bu Sari : Kalau mengenai narasi sih itu cara dari pihak pembawa acara untuk penekanan mereka untuk bisa orang mendengarnya lebih enak.seperti itu.

(p.11) Bu Tien : Sekarang kalau ini namanya proyek kemiskinan kemudian dia bisa bikin proposal.11) Moderator : Tetapi kalau kita lihat dari sudur perilaku yang positif seperti menolong.11) Bu Peni : Iya. kalo…kalo memang niatnya membantu kan dia tidak perlu sampai program-program seperti itu to. 174 . Saya sendiri juga nggak tahu. dia bisa jual kemana-mana. itu artinya uang yang dia keluarkan dengan yang dia terima pastinya lebih banyak yang dia terima kemungkinan.punya anggota atau kru dan itu pimpinannya kan pasti ada. mungkin keluar negeri atau dalem. Jadi banyak dikenal dan khususnya untuk anak-anak muda itu biar pada suka dan produknya itu bisa laku keras. Jadi mengkomersialkan kemiskinan sebetulnya. Dan untuk mewujudkan itu kan dibutuhkan dana yang cukup besar. (p. kedermawanan yang ditunjukkan apakah hal ini tidak bisa dikatakan bertujuan membantu? Bu Tutik : Saya rasa begini. Seperti sponsor itu yang saya tahu familiar itu ya dari Likna itu salah satunya. Itu juga agar Likna itu sendiri juga terdongkrak menjadi banyak yang menyukai. walaupun yang melaksanakan bedah rumah itu kan bukan dari TV nya melainkan dari sponsor. Saya kira begitu. (p.

itu juga akan mendorong supaya orang juga terbuka untuk membantu kelompok-kelompok yang miskin. ok kita hargai.kemudahan ya. Memang ada sisi positifnya juga ya. Nah sebetulnya. kita kan nggak tahu juga ya. Tapi ya kalo dari sudut pandang kapitalisme sebetulnya itu enggak…nggak. Sebetulnya gini ya. nggak sebanding. yang terjadi seperti itu. Ok dalam hal ini. saya nggak tahu juga itu waktunya kan singkat kemudian juga mereka mendramatisir. Pertama. Walaupun itu niat utama atau urutan kesekian kita nggak tahu gitu ya.Saya rasa pertama. itu kan diberikan sesuatu yang. dari dua belas jam itu hanya ditunjukkan sekian menit saja gitu ya. mungkin ada sisi positifnya gitu ya.nggak nyucuk lah.. pasti yang tadi ada menolong.. mungkin bisa aja tersiksa gitu. itu tu tetep ada. Belum tentu juga orang diberikan fasilitas itu. dermawan dan unsure lain mungkin ada.12) Bu Sari : Iya betul. apakah betulbetul orang itu merasa gembira dengan perlakuan seperti itu.. Terus yang kedua juga dengan ditayangkan di TV seperti gitu.. e…naik tangga. udah belasan tahun itu ndak brani naik lift lebih sering jalan.(p. Itu kalo dia ditarik masuk lift itu dia bisa nangis. Jadi. Misalnya aja. Tapi tidak berarti kemudahan itu 175 . diantara kita ini ada yang nyampe sekarang. apa ya.

Karena kebutuhannya seperti itu dengan kemampuan yang ada. mungkin kalo sesaat sih. saya nggak tahu ya apa yang dilakukan disana tapi sebetulnya kenapa sih orang itu menciptakan rumah dengan kondisi tertentu. Bu Sari : Ya betul.tapi kalo untuk kepanjangan saya juga nggak tau gitu. ukuran kebahagiaannya dilihat dari materinya saja. Nah kalo sekarang.. Jadi. Kebutuhan itu memang kita perlukan.. Malahan. surprise. kalo keinginan sesuai dengan orang itu mau gini menurut versinya dia. Tapi kalo berkepanjangan belum tentu juga lho. padahal belum tentu dibutuhkan. Jadi. Mungkin karena waktunya singkat ya trus didramatisir gitu.(p. Misalnya.membuatnya lebih senang. belum tentu juga mereka. dia menciptakan rumahnya seperti itu. Ada fungsi-fungsi tertentu. dia kalo disuruhsuruh ke lantai Sembilan itu naik tangga. fungsi atau keadaan itu diubah sesuai dengan keinginan dari pihak penyelenggara.13) Moderator : Tapi selalu dimunculkan komentar kalo mereka itu bahagia karena mendapat rejeki ini.. (p. Lebih baik dia naik tangga daripada dia naik lift seperti itu. Nah sebetulnya kan rumah itu harus dibedakan antara kebutuhan dan keinginan.14) 176 .

apakah betul. ya dari sisi negatifnya terjadi seperti itu. Itu kan persoalan. Kemudian yang jadi persoalan juga sebetulnya. mungkin ada sedikit nilai positifnya supaya orang lebih tergugah…Tapi kemudian juga ada sisi negatifnya. Kita nggak tahu juga apakah itu rekayasa kita nggak tahu.Moderator : Menurut Helmy Yahya. Nah sebetulnya. itu kan tidak. orang itu rasanya membantu kalo dia itu bisa diketahui oleh orang lain. mungkin ada juga yang harusnya dibantu lebih. Kalo mereka dibiarkan terus disana kemungkinan retakan-retakan tersebut kan bisa 177 . acara ini memang dibuat menampilkan orang miskin agar dapat lebih menggugah penonton peduli kepada sesama dan disetiap akhir acara terdapat pesan untuk membantu sesama. tadi Bu Sari katakan apakah kebutuhan dari orang tersebut ataukah keinginan dari penyelenggara. Kalo kita tahu seperti banyaknya bencana di negara kita yang sudah bertahun-tahun yang lalu aja kan banyak rumah-rumah yang belum direnovasi. Ini kan.tidak tersentuh. Terus apakah juga itu kemudian bisa menyampaikan pesan bahwa memang yang ditayangkan di TV itu betul-betul miskin yang…yang sebenarnya.. Bagaimana pendapat ibu? Bu Tutik : Nah kalau itu yang saya katakan. Tapi okelah dianggap seperti itu.

Ada kerusakan-kerusakan seperti bocor itu ditutup. mereka tidak merubah rumah tersebut secara keseluruhan.saya nggak tahu juga apa yang ditayangkan itu memang rumah itu sudah mengancam keamanan mereka ataukah hanya persoalan selera aja. Bu Peni : Dan belum tentu juga kebocorannya hilang kan? Kan Cuma sekedar tampilannya aja. Apakah kemudian dengan misalnya ya.15) Moderator : Berdasarkan pengamatan saya.roboh. (p. Itu kan mengancam jiwa. Mungkin ada juga yang masih dipertanyakan ya. saya rasa perilaku bisa diubah gitu. Mungkin mereka lebih senang dengan situasi itu. Tapi saya rasa untuk lebih berat ke eksplotasinya atau yang mbak bilang tadi komodifikasi kemiskinannya.. kalau tidak ditampilkan seperti ini orang tidak akan tergugah? 178 . Tembok yang agak rusak terus tiba-tiba di cat dengan warna yang terang itu rasanya kan ada sesuatu yah persoalannya apakah itu akan mengubah perilaku mereka. Nah tapi kan kalo. Jadi. Mungkin sifat membantunya sedikit ada loh. rumahnya masih kokoh cuman tidak terawat.16) Moderator : Menurut Helmy Yahya. Belum tentu itu perilakunya dalam waktu dua belas jam. Ada sedikit.(p.

tayangan ini bermanfaat atau hanya menghibur? Bu Sihombing : Saya rasa lebih banyak ke hiburannya. Walaupun ada nilai positifnya sedikit mungkin ya sedikit menggugah membantu. Di sekitar kita juga banyak. sebetulnya masyarakat kita harusnya lihat ya. Harusnya mungkin lebih natural. Tapi lebih condong ke hiburan. Tapi bagi yang lain hiburan. Mungkin program-program seperti itu yang perlu.17) Moderator : Menurut ibu-ibu. Misalnya petani yang miskin diberi kemudahan. Nggak usah diekspos pun kita tahu.18) Moderator : Apakah ada saran untuk tayangan reality show yang seperti ini? 179 .(p. Ketika di TV ada berita-berita bencana kan banyak. ada program yang mengarahkan mereka. karena mereka menggunakan teknologi yang terbatas nah mungkin diperkenalkan sesuatu yang baru untuk lebih meningkatkan.(p. Oh biasanya hasilnya sekian. Bagi yang miskinnya kan yang bersangkutan mungkin hanya sesaat saja ya. karena tujuannya ini sebenarnya menjual kemiskinan. tetapi meningkatkan produktivitas. Nah cuma cara mereka mengangkatnya menurut saya ini kan terlalu didramatisir gitu ya.Bu Tien : Nggak. Dan saya lebih condong bukan membantu rumah.

ketika ada bencana mungkin penanganan apa yang bisa dialkukan dengan segera. Program untuk membantu masyarakat miskin bukan sekedar dari materinya saja.(p. peneliti kemudian menyudahi pertemuan FGD ini. Kalau rumahnya diperbaiki dalam waktu 12 jam. materi dalam waktu berapa bulan kembali keasalnya. Mempunyai mata pencaharian sebagai apa didukung supaya dia bisa keluar dari persoalan-persoalan kemiskinan tersebut. menurut saya seperti itu. apakah kehidupan mereka berubah kan tidak ya. Tidak lupa peneliti meminta ijin untuk melakukan diskusi di lain waktu apabila data yang dibutuhkan dirasa kurang. Misalnya ya. 180 .19) Setelah dirasa cukup. Seharusnya kalo mereka itu mau bantu itu lebih kepada persoalan-persoalan yang bermanfaat.Bu Tutik : Nggak perlu dieksploitasi seperti itu. Kalau rumah. kita juga kan nggak mengharapkan ada. Di dorong pada mata pencahariannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->