P. 1
R M E

R M E

|Views: 111|Likes:
Published by bambang_irawan_15

More info:

Published by: bambang_irawan_15 on Jan 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2012

pdf

text

original

April 13, 2007 ‡ 1:41 am

Pembelajaran Matematika Realistik ( RME)
Abstrak: Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR). Karakteristik RME adalah menggunakan konteks ³dunia nyata´, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan dengan hal itu, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika. Dengan demikian, pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. Kata kunci: matematika realistik, dunia nyata, rekonstruksi konsep matematika, modelmodel, interaktif. 1. Pendahuluan Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) melaporkan bahwa rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (tingkat II SLTP) Indonesia jauh di bawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38 negara (TIMSS,1999). Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika. Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna (Soedjadi, 2000; Price,1996; Zamroni, 2000). Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat

pendekatan dalam pendidikan matematika dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu mekanistik. serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. 1994). dan penvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik. strukturalistik. emperistik.1 Realistic Mathematics Education (RME) Realistic Mathematics Education (RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian. penggunaan model-model yang berbeda. dan realistik. Kedua jenis matematisasi ini mendapat perhatian seimbang. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR). dan penggeneralisasian. sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi. Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar. Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan ³realistik´. Pembelajaran MR pertama kali dikembangkan dan dilaksanakan di Belanda dan dipandang sangat berhasil untuk mengembangkan pengertian siswa. 2000). yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. . Berdasarkan matematisasi horisontal dan vertikal. Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal. karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai sama (Van den Heuvel-Panhuizen. dan pentransformasian masalah dunia real ke masalah matematik. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Treffers (1991). 2. perumusan. perbaikan dan penyesuaian model matematik. pengimplementasian pembelajaran MR. 2000) . pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari. Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus. Selain itu. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. perlu menerapkan kembali konsep matematika yang telah dimiliki anak pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang lain sangat penting dilakukan. Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer. Kajian Teori 2.mengaplikasikan matematika Berdasarkan pendapat di atas.

dan keterkaitan (intertwinment) (Treffers. Pendekatan emperistik adalah suatu pendekatan dimana konsep-konsep matematika tidak diajarkan.2 Menggunakan Model-model (Matematisasi) Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models). Kedua jenis matematisasi tidak digunakan. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.3 Menggunakan Produksi dan Konstruksi .1987) Dalam RME. tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika. Generalisasi dan formalisasi model tersebut akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Cinzia Bonotto.2.2. pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (³dunia nyata´). 2. siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization). 2000) 2. dan diharapkan siswa dapat menemukan melalui matematisasi horisontal. Pendekatan strukturalistik merupakan pendekatan yang menggunakan sistem formal. Pertama adalah model situasi yang dekat dengan dunia nyata siswa. produksi dan konstruksi siswa. Gambar 1 Konsep Matematisasi (De Lange. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. Van den Heuvel-Panhuizen.2 Karakteristik RME Karakteristik RME adalah menggunakan: konteks ³dunia nyata´. Kemudian. Melalui aktivitas matematisasi horisontal dan vertikal diharapkan siswa dapat menemukan dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika. 2.Pendekatan mekanistik merupakan pendekatan tradisional dan didasarkan pada apa yang diketahui dari pengalaman sendiri (diawali dari yang sederhana ke yang lebih kompleks). sehingga suatu konsep dicapai melalui matematisasi vertikal. interaktif. Dalam pendekatan ini manusia dianggap sebagai mesin. sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. 2.1991.1998). model-model. akan menjadi model matematika formal. Pada akhirnya. Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran. misalnya pengajaran penjumlahan cara panjang perlu didahului dengan nilai tempat. Peran self developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal.2. Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis. Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (1987) sebagai matematisasi konseptual. Oleh karena itu.1 Menggunakan Konteks ³Dunia Nyata´ Gambar berikut menunjukkan dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana ³dunia nyata´ tidak hanya sebagai sumber matematisasi.

Pembelajaran MR di kelas berorientasi pada karakteristik-karakteristik RME. Selanjutnya. tidak setuju.2. Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal. siswa diberi kesempatan mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Jika dalam pembelajaran kita mengabaikan keterkaitan dengan bidang yang lain. Cara-cara informal yang ditunjukkan oleh siswa digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau aspek matematiknya ditingkatkan melalui matematisasi vertikal. pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.Streefland (1991) menekankan bahwa dengan pembuatan ³produksi bebas´ siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar. aljabar. 2.2 Pembelajaran Matematika Realistik (MR) Menurut Pandangan Konstruktivis Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep- . 2. dan tidak hanya aritmetika. biasanya diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks.5 Menggunakan Keterkaitan (Intertwinment) Dalam RME pengintegrasian unit-unit matematika adalah esensial.4 Menggunakan Interaktif Interaksi antarsiswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam RME. penjelasan. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsepkonsep matematika atau pengetahuan matematika formal. 3. maka akan berpengaruh pada pemecahan masalah.2. Melalui proses matematisasi horisontal-vertikal diharapkan siswa dapat memahami atau menemukan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi. Karena matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontektual atau sesuai dengan pengalaman siswa. atau geometri tetapi juga bidang lain. Dalam mengaplikasikan matematika.1 Matematika Realistik (MR) Matematika Realistik (MR) yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi dan memakai matematika yang siap pakai untuk memecahkan masalah-masalah. 3. Pembahasan 3. setuju. pembenaran. sehingga siswa dapat memecahkan masalah dengan cara-cara informal melalui matematisasi horisontal.

mengorganisasikan. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Menurut . peringatan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. memberikan contoh. di dalam pembelajaran MR disebut dengan penemuan kembali terbimbing (guided reinvention). Bleicher & Cooper. dan (4) pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir. (2) dalam pengerjaan matematika. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor. Dalam pembelajaran matematika. 1998). Konsep ZPD dan Scaffolding dalam pendekatan konstruktivis sosio.1993. Siswa berinteraksi dengan guru. Wilson. dan menginterpretasikan pengalamannya. Cobb. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. Atwel. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. bukan apa yang mereka katakan atau tulis. kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin. Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Menurut Davis (1996). Teslow dan Taylor. (3) informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan. 1993. setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa. dorongan. yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. 1997). 1991). pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada: (1) pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi. 1997). dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

terlebih dahulu siswa dibawa ke ³situasi´ informal. atau ³Pak « pada saat di kelas saya mengerti contoh yang Bapak berikan . Bagian dari keseluruhan juga dapat diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret. Pengalaman belajar siswa dipengaruhi oleh unjuk kerja guru. pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). sebelum siswa masuk pada sistem formal. Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama. sedangkan pembelajaran MR merupakan pendekatan khusus yaitu hanya dalam pembelajaran matematika. dan model volume. Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan. kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri. diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang lain (lihat gambar 02). berikut ini diberikan contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD). baru diperkenalkan istilah pecahan. Jadi. 3. hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal.4 Kaitan antara Pembelajaran MR dengan Pengertian Kalau kita perhatikan para guru dalam mengajar matematika senantiasa terlontar kata ³bagaimana. Setelah itu.3 Bagaimana Implementasi Pembelajaran MR? Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR. Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa adalah daerah. Dalam pembelajaran. . Misalnya. Mitzel (1982) mengatakan bahwa. apa mengerti ?´ Siswa pun biasanya buru-buru menjawab mengerti atau sudah. panjang. Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit ke dalam bagian yang berukuran sama. Pecahan di SD diinterpretasi sebagai bagian dari keseluruhan. Siswa yang mengerti konsep atau mempunyai pengetahuan konseptual dapat menemukan kembali konsep yang mereka lupakan.1995) 3. Bila siswa dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan antara informasi baru dengan jaringan representasi maka siswa akan mendapatkan suatu pengertian. Siswa sering mengeluh seperti berikut. tetapi begitu sampai di rumah saya lupa´. tetapi saya tidak bisa menyelesaikan soal-soal latihan´ Apa yang dialami oleh siswa pada ilustrasi di atas menunjukkan bahwa siswa belum mengerti atau belum mempunyai pengetahuan konseptual. ³Pak « pada saat di kelas saya mengerti penjelasan Bapak.Graevenmeijer (1994) walaupun kedua pendekatan ini mempunyai kesamaan tetapi kedua pendekatan ini dikembangkan secara terpisah. Gambar 2 Penemuan dan Pengkonstruksian konsep (Diadopsi dari Van Reeuwijk. pembelajaran MR diawali dengan fenomena. Perbedaan keduanya adalah pendekatan konstruktivis sosio merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat umum.

Anak sebelum sekolah belajar ide matematika secara alamiah. ukuran dsb. sehingga memerlukan paradigma yang berbeda tentang bagaimana siswa belajar. jika mereka secara aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka.Mengembangkan pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. Umumnya. sejak anak-anak orang telah mengenal ide matematika. Selanjutnya. 2000) mengatakan bahwa belajar dengan pengertian dapat ditingkatkan melalui interaksi kelas. Hanna dan Yackel (NCTM. dan melalui matematisasi horisontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. data. Hal ini menunjukkan bahwa siswa datang ke sekolah bukanlah dengan kepala ³kosong´ yang siap diisi dengan apa saja. Karena itu. Melalui interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat. pola. Cara-cara informal siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan pengkonstruksian konsep. sehingga siswa belajar dengan bermakna (pengertian). Simpulan dan Saran Berdasarkan uraian di atas. dan apa yang dipelajari oleh siswa dengan paradigma pembelajaran matematika selama ini. ataupun proses. Dengan kata lain. Pembelajaran MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. pembelajaran MR berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari (everydaying mathematics). bagaimana guru mengajar. Melalui pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks. 4. Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan apa yang telah diketahui anak. sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. 1992). perubahan persepsi guru tentang . Pengertian siswa tentang ide matematik dapat dibangun melalui sekolah. bentuk. misalnya tentang bilangan. Dengan demikian. Hal ini berarti informasi yang diberikan kepada siswa telah dikaitkan dengan skema (jaringan representasi) anak. Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa menggunakan cara-cara informal untuk menyelesaikan masalah. Dengan kata lain. maka sebagai simpulan dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut. konsep. Karena tanpa pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur. Matematika Realistik (MR) merupakan matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. siswa diberi kesempatan menerapkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. matematika dimengerti bila representasi mental adalah bagian dari jaringan representasi (Hiebert dan Carpenter . pembelajaran MR akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. Percakapan kelas dan interaksi sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan keterkaitan di antara ide-ide dan mengorganisasikan pengetahuan kembali. Pembelajaran MR berpusat pada siswa. Pembelajaran MR menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran.

dan (2) kepada guru-guru matematika untuk mencoba mengimplementasikan pembelajaran MR secara bertahap.23. Dalam Journal for Research in Mathematics Education. 1996. Principles and Standards for School Mathematics.27. Vol. 1982. Bleicher & Cooper.J. ³The Construction of The Social Contex of Mathematics Clasroom : A Sociolonguistic Analysis´. H. ³President¶s Report : Bulding Bridges of Mathematical Understanding for All Children´ .uk/telematics/T3/maths/actar01. Pustaka Acuan Atwel.27. Real-life Stories. 2000.5 November 1996. Hiebert. Dalam Journal for Research in Mathematics Education. misalnya mulai dengan memberikan masalah-masalah realistik untuk memotivasi siswa menyampaikan pendapat. Mathematics in and out of school : is it possible connect these contexts ? Exemplification from an activity in primary schools. No. 1994.htm Cobb.hal 63-82 Cinzia Bonotto.´A Constructivist Alternative to The Representational View of Mind in Mathematics Education´. Developing Realistics Mathematics Education. 2000. Dalam Journal for Research in Mathematics Education.Real Stories.1 January 1998.nku. 1992.E. hal. Vol.1998. 1991.J & Thomas Carpenter.1992. New York : Macmillan NCTM. No. Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB.mengajar perlu dilakukan bila ingin mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik.1 January 1992. Encyclopedia of Educational Research (Fifth Ed). Sesuai dengan simpulan di atas. New York : Macmillan Jennings.1999. 100-106 De Lange. Vol 29 No.ex. The Philosopy of Mathematics Education. Mitzel.edu/~sheffield/bonottopbyd. 2000. 17-20 Juli 2000) .1 January 1996.htm. 2-33 .ac. Math Stories. ³Learning and Teaching With Understanding´ Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning. Dunne.Yackel & Wood. http://www. Utrecht Ernest. Davis. London : Falmer Press Gravemeijer. No. maka disarankan: (1) kepada pakar atau pencinta pendidikan matematika untuk melakukan penelitianpenelitian yang berorientasi pada pembelajaran MR sehingga diperoleh global theory pembelajaran MR yang sesuai dengan sosial budaya Indonesia. 1987. Freudenthal Institute. Utrecht. 603-608 Soedjadi.USA : NCTM Price. OW & OC. Mathematics Insight and Meaning. ³Nuansa Kurikulum Matematika Sekolah Di Indonesia´.P. 1996. http://www. hal. ³One Very Complete View (Though Only One) of How Children Learn Mathematics ´ Dalam Journal for Research in Mathematics Education Vol. hal. Sue & R.

Boston : Allyn and Bacon. http://www.L. 17-20 Juli 2000 Streefland. http://www. Teslow. Van Reeuwijk. Focus on Learning Problem in Mathematics.317. Utrecht.fi. International Student Achievement in Mathematics. 1998. Balitbang ± Depdiknas Filed under: Education . 1999. hal. Fifth Edition.pdf Treffers.pdf Wilson.1993. Taylor.nl/ ««2000. ³Didactical Background of a Mathematics Program for Primary Education´. Educational Psychology Theory and Practice. The Role of Realistic Situations in Developing Tools for Solving Systems of Equations.1991. Slettenhaar.nl/en/indexpublicaties/3781. Mathematics Education in the Netherlands a Guided Tour. ³Instruction Design Perspectives on Mathematics Education With Refrences to Vygotsky¶s Theory of Social Cognition´.No 2 &3. 2 hal. Paradigma Pendidikan Masa Depan.bc. Dalam Jurnal Focus on Learning in Mathematics.fi. http://timss.uu.1993.edu/timss 1999i/pdf/T99i_math_01. Martin. Dalam Realistic Mathematics Education in Primary School. ³Adapting Realistic Mathematics Education in the Indonesian Context´. Dosen Jurusan Pendidikan Matematika IKIP Negeri Singaraja Sumber: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 38. Utrecht. Freudenthal Institute.Vol 15. www. Van den Heuvel-Panhuizen. Taylor. 1995. Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB.´Vygotskian Influences in Mathematics Education With Particular Refrences to Attitude Development´. Yogyakarta : Bigraf Publishing I Gusti Putu Suharta.R.Vol 15 No. Realistic Mathematics Education in Primary School. 1997. 1991.fi. Realistic Mathematics Education Work in Progress. Pusat Data dan Informasi Pendidikan.Slavin. 2000.uu.nl/en/indexpulicaties. Freudenthal Institute. 65-84 Zamroni.html. TIMSS. 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->