P. 1
IMPLEMENTASI METODE KONTEMPORER DALAM PEMBELAJARAN AL QUR'AN (Metode Komparatif Metode Iqra' deng

IMPLEMENTASI METODE KONTEMPORER DALAM PEMBELAJARAN AL QUR'AN (Metode Komparatif Metode Iqra' deng

|Views: 7,358|Likes:
Published by atimthok

More info:

Published by: atimthok on Jan 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

1

IMPLEMENTASI METODE KONTEMPORER DALAM PEMBELAJARAN AL QUR’AN (Studi Komparatif Metode Iqra’ dengan Metode Tilawati) SKRIPSI

Oleh: FIRMANDINI ISLAMY 02110138

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Desember, 2006

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Al Qur’an merupakan Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah s.w.t kepada Nabi Muhammad s.a.w sebagai mu’jizat dan salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Allah s.w.t. menurunkan KitabNya yang kekal Al Qur’an-agar dibaca oleh lidah-lidah manusia, didengarkan oleh telinga mereka, ditadaburi oleh akal mereka, dan menjadi ketenangan bagi hati mereka.1 Selain itu Al Qur’an juga merupakan petunjuk kepada jalan yang benar/lurus. Sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah Q.S. Al Isro’ ayat 9, yang berbunyi:

ْ ُ ‫إن هذا القرآن ي َهْدِيْ للتي هِمي أق موَم وي ُبش مر الم مؤمني ْن‬ َ َ ّ ُ َ ُ َ ْ َ ً ْ ْ ُ ّ ِ َ ‫المممذي ْن ي َعملممموْن الصمممال ِحات أن لهمممم أجمممرا كمممبي ْرا‬ َ ْ َ ّ ً ( :‫)السراء‬
Artinya: “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S Al Isro’: 9) 2 Mengingat demikian pentingnya peran Al Qur’an dalam membimbing dan mengarahkan kehidupan manusia, maka belajar membaca, memahami dan menghayati Al Qur’an untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan kewajiban bagi setiap insan muslim. Namun sayangnya, fenomena
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al Qur’an (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 175 Al Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an, 1971) hlm. 425-426
2 1

3

yang terjadi saat ini tidaklah demikian. Masih banyak kaum muslim baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua belum dapat membaca dan menulis huruf Al Qur’an (buta huruf Al Qur’an). Keadaan yang demikian inilah menimbulkan keprihatinan khususnya bagi muslimin di Indonesia. Hal tersebut disebabkan bukan karena minimnya lembaga-lembaga pendidikan Al Qur’an (TPA/TPQ), akan tetapi kurangnya peran serta maupun perhatian dari masyarakat. Khususnya dalam hal ini adalah orang tua yang seharusnya bertanggung jawab memberikan pembelajaran Al Qur’an kepada putra-putrinya sejak dini, karena orang tua adalah komponen yang bersinggungan langsung dengan anak. Selain adanya faktor eksternal tersebut, masih ada pula faktor internal yang dapat menghambat atau menjadi masalah dalam usaha untuk menciptakan generasi yang bebas dari buta huruf Al Qur’an. Yaitu tidak adanya tekad, semangat (ghiroh) ataupun keinginan dari dalam diri untuk belajar membaca dan menulis Al Qur’an. Padahal dalam aktifitas kita sehari-hari (ritual keagamaan) tidak lepas dari bacaan-bacaan Al Qur’an, misalnya saja bacaan sholat (surat-surat pendek), dzikir, bacaan-bacaan do’a untuk menghindarkan diri dari segala mara bahaya, serta bacaan tahlil dan yasin. Oleh karena itu hendaknya para orang tua menyisihkan waktunya untuk memantau perkembangan kegamaan anak serta mendidik anak untuk mengenal agama sedini mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut Muhammad Tholhah Hasan mengutip pernyataan dari Prof. Muhyi Hilal Sarhan, yang menyatakan bahwa: Agama Islam memberikan perhatian besar terhadap anak-anak pada periode ini (umur 1-5 tahun) mengingat akibatnya yang besar dalam hidup kanak-kanak baik dari segi pendidikan, bimbingan serta perkembangan jasmaniyah maupun infialiyahnya dan pembentukan sikap serta prilaku mereka dimulai pada periode

4

ini dan bahkan pada umur 2 tahun mereka telah meletakkan suatu dasar untuk perkembangan mereka selanjutnya”.3 Zakiah Daradjat juga menyatakan bahwa “perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) umur 0-12 tahun”.4 Hal tersebut senada dengan sabda Nabi s.a.w.:

‫اطلب العلم من المهد الى اللحد‬
Artinya: “Belajarlah (carilah ilmu) sejak engkau dalam buaian (ayunan) sampai ke liang lahat.” 5 Maksudnya, “semua apa saja yang dipelajari anak di waktu kecil mempunyai kesan/pengaruh yang amat dalam baginya dan sulit untuk dihilangkan, kalaupun ingin dihilangkan harus dengan melalui proses yang lama”.6 Untuk mengantisipasi ataupun meminimalisir buta huruf Al Qur’an, kita sebagai umat Rasulullah s.a.w hendaknya dapat melakukan langkah-langkah positif untuk mengembangkan pembelajaran Al Qur’an. Dan juga untuk membangkitkan semangat (ghiroh) dan tekad saudara kita khususnya kaum muslim yang belum dapat baca tulis Al Qur’an untuk belajar lebih giat lagi dalam memahami serta mentadaburi kandungan-kandungan Al Qur’an baik yang tersurat maupun yang tersirat. Misalnya dengan menggunakan metode serta tehnik belajar baca tulis Al Qur’an yang sesuai, praktis, efektif dan efisien.

Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia (Jakarta: Lantabora Press, 2004), hlm. 18 4 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan bintang, 1993), hlm. 58 5 Dudung Abd. Rahman, 350 Mutiara Hikmah dan Sya’ir Arab (Bandung: Media Qalbu, 2004), hlm. 14 6 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C.V. Pustaka Setia, 1997), hlm. 99

3

5

Dan seperti yang telah diketahui bahwasannya di Indonesia banyak terdapat metode-metode yang digunakan dalam rangka pembelajaran Al Qur’an. Misalnya; metode Qa’idah Baghdadiyah, metode Jibril, metode Iqra’, metode Qiro’ati, metode Al Barqy, metode Tilawati, dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka tugas seorang pendidik, guru, ustadz/ustdzah-lah untuk menentukan metode yang tepat agar peserta didik dapat lebih mudah untuk belajar baca tulis Al Qur’an. Berkenaan dengan penggunaan metode-metode pembelajaran Al Qur’an tersebut, pada awalnya Madrasah Diniyah Al Husna menggunakan metode Iqra’ yang kemudian dipadukan dengan metode yang baru saja disosialisasikan yaitu metode Tilawati. Dimana masing-masing metode tersebut terdiri dari beberapa jilid yang ditambah dengan buku panduan ghorib dan musykilat (bacaan-bacaan yang dianggap sulit). Maka dengan perpaduan dua metode tersebut diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran Al Qur’an, atau bahkan dapat menemukan inovasi (pembaharuan) dengan cara membandingkan kedua metode tersebut. Dengan demikian apabila pembelajaran Al Qur’an dengan menggunakan metode yang sesuai dapat diterapkan secara konsekuen, diharapkan target dalam memberantas buta huruf Al Qur’an dan serta menciptakan generasi Qur’ani dapat terwujud. Maka dari pokok permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis terdorong untuk mengadakan penelitian mengenai ”Implementasi Metode Kontemporer Dalam Pembelajaran Al Qur’an” (Studi Komparatif Metode Iqra’ dengan Metode Tilawati).

6

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, serta agar penelitian dapat mencapai hasil yang diharapkan, maka dapat penulis rumuskan permasalahan pokok sebagai berikut:
1.

Bagaimana implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati dalam pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

2.

Apa persamaan serta perbedaan implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

3.

Apa faktor-faktor yang mendukung serta menghambat implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

C. Tujuan Penelitian Dalam setiap penelitian, tentunya memiliki tujuan yang digunakan sebagai pedoman dan tolak ukur dari suatu penelitian. Sehingga dalam penelitian ini juga mempunyai tujuan yang berdasarkan dari rumusan masalah yang telah diuraikan di atas. Adapun tujuan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati dalam pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang 2. Untuk mengetahui persamaan serta perbedaan implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

7

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung serta menghambat implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi (sumbangsih) kepada masyarakat luas, khususnya bagi umat muslim yang masih belum bisa baca tulis Al Qur’an (buta huruf Al Qur’an). Dan adapun manfaat dari penelitian ini antara lain yaitu: 1. Bagi Lembaga (Madrasah) Memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang 2. Bagi Guru (ustadz/ustadzah) Dapat menambah wawasan para ustadz/ustadzah dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran Al Qur’an, meningkatkan profesionalisme dalam pembelajaran Al Qur’an serta kreatifitas dan inovatif dalam memilih metode pembelajaran Al Qur’an 3. Bagi Peneliti Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam pengembangan metode pembelajaran Al Qur’an yang variatif dan merupakan wujud aktualisasi dari peneliti sebagai mahasiswa sebagai bentuk pengabdiannya terhadap lembaga pendidikan 4. Bagi Khalayak Umum

8

Sebagai sarana da’wah/syi’ar kepada masyarakat dalam rangka memberantas buta huruf Al Qur’an, serta sebagai bahan informasi yang bermanfaat guna menuju jalan yang diridhoi Allah s.w.t.

5. Bagi Wali Santri (Orang Tua) Sebagai media untuk mempererat jalinan tali kasih sayang berupa dukungan, semangat dan perhatian orang tua kepada putra-putrinya guna mencetak generasi yang shalih dan shalihah. E. Batasan Penelitian Dalam hal ini penulis membatasi obyek penelitiannya yang telah disesuaikan dengan tujuan penelitian, sehingga penyajian analisa dapat ditulis dengan tepat. Maka penulis membatasi obyek penelitian ini yang berkisar pada:
1.

Memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran Al Qur’an dengan menggunakan metode Iqra’ dan metode Tilawati

2.

Pencarian informasi tentang persamaan dan perbedaan antara metode Iqra’ dan metode Tilawati

3.

Pencarian informasi terhadap faktor-faktor yang dapat mendukung serta menghambat pada implementasi pembelajaran Al Qur’an dengan

menggunakan metode Iqra’ dan metode Tilawati A. Sistematika Pembahasan Di dalam setiap penulisan skripsi tentunya disajikan sistematika pembahasannya guna memberikan gambaran yang jelas mengenai isi penelitian,

9

demikian

halnya dengan skripsi yang berjudul ”Implementasi Metode

Kontemporer Dalam Pembelajaran Al Qur’an” (Studi Komparatif Metode Iqra’ dengan Metode Tilawati). Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut: Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan yang berfungsi sebagai pengantar informasi penelitian. Dalam pendahuluan ini penulis menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika pembahasan. Bab Kedua, berisi tentang kajian teoritis yang membahas tentang pengertian metode kontemporer dalam pembelajaran Al Qur’an, tinjauan tentang metode Iqra’ serta tinjauan tentang metode Tilawati, dan perbandingan antara metode Iqra’ dan Tilawati. Bab Ketiga, berisi tentang metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian. Bab Keempat, berisi tentang hasil penelitian yang berisi tentang kajian empiris yang menyajikan hasil penelitian lapangan; antara lain berisi tentang latar belakang obyek yang meliputi letak geografis, sejarah berdirinya, struktur organisasi, keadaan ustadz/ ustadzah, keadaan santri, sarana prasarana, dan kurikulum, serta penyajian dan analisis data. Bab Kelima, berisi tentang temuan dan pembahasan yang menyajikan hasil penelitian lapangan yang nantinya akan dipadukan dengan teori yang ada

10

Bab Keenam, adalah bab penutup yang mengemukakan kesimpulan hasil penelitian dan saran yang berkaitan dengan realitas hasil penelitian, demi pencapaian keberhasilan tujuan yang diharapkan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Metode Kontemporer dalam Pembelajaran Al Qur'an 1. Pengertian Metode Kontemporer dalam Pembelajaran Al Qur'an Tidak diragukan lagi bahwa Al Qur’an mempunyai peranan penting bagi pendidikan seorang muslim agar menjadi generasi yang Qur’ani. Melalui Al Qur’an pula, mata manusia dapat terbuka lebar agar mereka meyakini jati diri dan hakekat keberadaan mereka di muka bumi ini. Dan seiring dengan urgensi (pentingnya) peran Al Qur’an tersebut para tokoh pendidikan Islam berlombalomba dalam menciptakan metode-metode baru yang mudah, cepat, efektif dan efisien dalam hubungannya dengan pembelajaran Al Qur’an. Sebelum membahas tentang metode kontemporer dalam pembelajaran Al Qur’an, terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian dari istilah tersebut. Pertama-tama akan diuraikan tentang pengertian metode kontemporer, yang terdiri dari dua suku kata yaitu ”metode” dan ”kontemporer”. Menurut Nur Uhbiyati, Kata metode berasal dari bahasa latin ’meta’ yang berarti melalui, dan ’hodos’ yang berarti jalan atau ke atau cara ke. Dalam bahasa Arab metode disebut ’tariqah’ artinya jalan, cara, sistem, atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu.

11

Sedangkan menurut istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur suatu citacita7 Selaras dengan pengertian metode tersebut, M. Sastrapradja dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum menyebutkan bahwa metode adalah ”cara yang telah diatur dan dipikirkan baik-baik untuk menyampaikan suatu maksud atau tujuan”.8 Sama halnya dengan pengertian metode dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang menyatakan bahwa metode adalah ”cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud”.9 Selain itu ada beberapa definisi lagi yang dikemukakan oleh para ahli, sebagai berikut: 1. Mohammad Athiyah al-Abrasy mendefinisikan metode sebagai jalan yang kita ikuti untuk memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran, jadi metode adalah rencana yang kita buat untuk diri kita sebelum kita memasuki kelas. 2. Prof. Abd. Al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik. 3. Edgar Bruce Wesley mendefinisikan metode sebagai kegiatan terarah bagi guru yang menyebabkan terjadi proses belajar-mengajar, hingga pengajaran menjadi berkesan.10 Sedangkan Kontemporer, menurut W.J.S. Poerwadarminta berarti

”sewaktu; semasa; pada waktu/masa yang sama; pada masa kini; dewasa ini”.11 Senada dengan pengertian kontemporer menurut Drs. Saliman dan Drs. Sudarsono yang berarti ”masa kini”.12
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C.V. Pustaka Setia, 1997), hlm. 123 M. Sastrapradja, Kamus Istilah dan Pendidikan Umum (Surabaya: Usaha Nasional,1981), hlm. 318 9 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 580 10 Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1994), hlm. 52-53 11 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 521 12 Drs. Saliman dan Drs. Sudarsono, Kamus Pendidikan Pengajaran dan Umum (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 126
8 7

12

Dari uraian tersebut, yang dimaksud dengan metode kontemporer yaitu suatu cara yang ditempuh pada masa kini (modern) untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita yang diharapkan. Selanjutnya tentang pengertian pembelajaran Al Qur’an, juga terdiri dari dua suku kata, yaitu ”pembelajaran” dan ”Al Qur’an”. Pembelajaran berasal dari kata ”belajar” yang mendapat awalan pem- dan akhiran –an. Dimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ”keduanya (pem-.....-an) merupakan konfiks nominal yang bertalian dengan prefiks verbal meng-, yang mempunyai arti proses”.13 Maka sesuai dengan pernyataan tersebut jika kata belajar mendapat imbuhan serta akhiran (pem-.....-an) maka dapat diartikan sebagai proses belajar. Kemudian ada beberapa batasan mengenai pengertian belajar, antara lain: a. Dalam belajar ada tingkah laku yang timbul atau berubah, baik tingkah laku jasmaniah maupun rohaniah b. Perubahan itu terjadi karena pengalaman (menghadapi situasi baru) dan latihan c. Perubahan tingkah laku yang bukan karena latihan (pendidikan) tidak digolongkan belajar d. Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme sebagai hasil pengalaman, hal ini berarti bahwa belajar membutuhkan waktu.14 Sedangkan definisi Al Qur’an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan oleh Dr. Subhi Al Shalih ”yang berasal dari kata qara’a dan berarti bacaan”.15 Al Qur’an juga dapat didefinisikan sebagai ”kalam Allah s.w.t. yang ditrunkan (diwahyukan) secara mutawatir, yang ditulis di mushaf dan membacanya adalah ibadah”.16
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op.cit., hlm. 664 Drs. Muhaimin,MA. Dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), hlm. 44-45 15 Al Qur’an dan Terjemahnya, op.cit., hlm. 15 16 Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 16
14 13

13

Dari beberapa definisi tentang metode, kontemporer, pembelajaran serta Al Qur’an yang telah dipaparkan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi dari metode kontemporer dalam pembelajaran Al Qur’an. Yaitu suatu cara masa kini (modern) yang digunakan/ditempuh dalam rangka perubahan tingkah laku peserta didik dengan melalui suatu proses guna mengetahui, mengerti, serta memahami isi kandungan kalam Ilahi (Al Qur’an). Atau bisa juga didefinisikan sebagai suatu cara modern yang digunakan dalam rangka mengetahui, mengerti, serta memahami mu’jizat Allah s.w.t. yang paling besar yaitu Al Qur’an. 2. Urgensi Pembelajaran Al Qur'an Setiap insan di dunia membutuhkan pedoman (pegangan) dalam hidupnya guna mencapai tujuan akhir yang bahagia baik di dunia maupun setelah ia meninggalkan dunia. Dan Allah menurunkan mu’jizatNya kepada Nabi Muhammad s.a.w. berupa wahyu yang telah dibukukan yaitu Al Qur’an, yang berisi tentang petunjuk jalan yang lurus dan benar serta yang diridhoi oleh Allah s.w.t.. Oleh karena itu agama Islam memerintahkan kepada semua umatnya untuk mengajarkan dan mempelajari kitab suci Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah sumber dari segala ajaran Islam yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, juga memberikan rahmat serta hidayah bagi umat manusia. Dan bukti bahwa Al Qur’an mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, maka H. Oemar Bakry mengklasifikasikan kandungan pokok Al Qur’an menjadi 10 aspek, antara lain: 1. Al Qur’an 2. Keimanan 3. Ibadah

14

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Perkawinan Sains dan Teknologi Kesehatan Ekonomi Kemasyrakatan / Kenegaraan Budi Pekerti Luhur 10. Sejarah 17 Melihat betapa banyaknya kandungan serta pentingnya Al Qur’an bagi kehidupan manusia, maka hendaknya pendidikan dan pembelajaran Al Qur’an lebih diutamakan. Bahkan menurut pengungkapan Ibnu Khaldun, ”di daerah Andalusia kurikulum pendidikan anak ditekankan pada aspek Al Qur’an, karena Al Qur’an merupakan sumber ilmu, bahkan di negara-negara Afrika pun lebih mementingkan pendidikan Al Qur’an dan menghafalnya daripada pelajaran yang lain”.18 Dari paparan tersebut maka hendaknya pembelajaran Al Qur’an dilaksanakan sejak usia dini. Pendidikan Agama Islam dalam hal ini pembelajaran Al Qur’an bagi anak sangatlah penting dan menjadi tuntunan dan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi untuk menyelamatkan mereka dari ancaman modernisasi dan westernisasi yang penuh dengan kedholiman dan kemudhorotan. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan yang bijaksana dan baik dari orang tua maupun dari para pendidik, agar ketika dewasa nanti anak tidak merasa canggung dan ketakutan dalam mengarungi serta mengahadapi pengalaman-pengalaman baru. Pentingnya pembinaan keagamaan tersebut adalah sebagai usaha yang bersifat preventif (pencegahan), misalnya dengan upaya pemecahan masalah (problem solving) terhadap kenakalan anak atau remaja salah satunya dengan cara mengadakan pembinaan mental keagamaan. Selain itu juga sebagai suatau usaha
17 18

Drs. Tjiptohardjono, Analisis Bacaan Basmallah (Jakrta: Kalam Mulia, 1994), hlm. 8 Ahmad Syarifuddin, op. cit., hlm. 62

15

kuratif (perbaikan) terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. Akan tetapi, bukan berarti selain anak-anak (remaja dan orang dewasa) tidak membutuhkan pembelajaran Al Qur’an, karena Al Qur’an diwahyukan dan diturunkan untuk semua golongan tanpa mengenal usia, status, dan jenis kelamin. Melihat demikian pentingnya atau urgensi dari pembelajaran Al Qur’an tersebut bagi kehidupan manusia, Rasulullah s.a.w. sampai mengumpakan antara Al Qur’an dengan manusia adalah ”seperti perumpamaan bumi dengan hujan, pada saat bumi mati Allah mengirimkan hujan yang lebat sehingga bumi menjadi tumbuh dan subur serta Allah mengeluarkan apa-apa yang ada di perut bumi berupa kebutuhan manusia maupun binatang-binatang ternak, demikian juga yang dilakukan Al Qur’an kepada manusia”.19 Selain itu dengan membaca Al Qur’an ”yang disertai perenungan, pendalaman, dan tadabbur merupakan satu dari sekian banyak sebab kebahagiaan dan kelapangan hati, sehingga Allah s.w.t. menyifati Kitab-Nya sebagai petunjuk, cahaya, dan penawar atas semua yang ada di dalam dada serta sebagai rahmat”. 20 Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah s.w.t. Q.S. Yunus ayat 57, yang berbunyi:

ٌ ‫ياايها النا س قد ْ جاء تكم موْعظة من ر بكم وشفا ء‬ َ ْ ُ َ ْ ّ َ ِ َ ْ ‫: لما َ فىالصدوروهُدى وّرحمة للمؤمني ْن )يونس‬ ِ ً ُ ّ ُ َ ْ َ َ )

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
19

Husain Mazhahiri, Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani (Jakarta: Lentera, 2000), hlm. 239 20 DR. ‘Aidh al-Qarni, Laa Tahzan (Jakarta: Qisthi Press, 2003), hlm. 236

16

dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S Yunus: 57) 21 Mengingat urgensi (pentingnya) pembelajaran Al Qur’an bagi umat manusia khususnya umat Islam, dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI Nomor 128 Tahun 1982/44A secara eksplisit ditegaskan “bahwa umat Islam agar selalu berupaya meningkatkan kemampuan baca tulis Al Qur’an dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari”.22 Juga karena dari

pembelajaran Al Qur’an tersebut dapat diambil kandungan, hikmah serta ilmu yang tiada bandingannya. Karena pembelajaran Al Qur’an memiliki keterkaitan erat dengan ibadah-ibadah ritual kaum muslim, seperti; sholat, haji, dan kegiatan berdo’a lainnya. Merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang mampu dan juga tugas bagi seorang hamba yang mengaku beriman kepada Kitab Allah untuk belajar, dan bila ia mampu mengajarkan kepada saudara-saudaranya yang belum bisa membaca, menulis, serta mempelajari Al Qur’an. Maka dengan adanya tanggung jawab yang dibebankan kepada umat Islam yakni belajar serta mengajar Al Qur’an tersebut, diharapkan kepada seluruh kaum muslimin yang merasa bahwa Al Qur’an merupakan Kitab Suci yang harus menjadi pedoman dalam hidupnya, minimal dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar serta maksimal dapat mencetak generasi yang Qur’ani. 3. Macam-macam Metode Kontemporer dalam Pembelajaran Al Qur'an

21

22

Al Qur’an dan Terjemahnya, op.cit., hlm, 315 Supardi, Jurnal Penelitian KeIslaman (Mataram: Lemlit STAIN Mataram, 2004),

hlm. 98

17

Dalam rangka mentransfer sebuah ilmu yang dicita-citakan sangat dibutuhkan suatu metode (cara) yang tepat agar peserta didik mengerti dan memahami ilmu yang disampaikan tersebut. Demikian halnya dengan pembelajaran Al Qur’an, juga memerlukan suatu metode yang dirancang khusus agar memudahkan peserta didik dalam proses belajar, baik menulis, membaca, serta memahami kalam Ilahi. Oleh karena itu kaum muslim (pakar Pendidikan Islam) berlomba-lomba untuk menciptakan metode baru yang efektif dan efisien serta mudah dipahami dalam hubungannya dengan pembelajaran Al Qur’an. Metode kontemporer (masa kini/modern) dalam pembelajaran Al Qur’an secara umum yang berkembang di masyarakat adalah sebagai berikut: a. Metode Tradisional (Qa’idah Baghdadiyah) Metode ini paling lama digunakan di kalangan umat Islam (khususnya di Indonesia), dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam metode ini adalah: • Hafalan

Sebelum santri diberi materi, terlebih dahulu harus menghafal hurufhuruf hijaiyah yang berjumlah 28 huruf dari alif ( ‫ ) ا‬sampai ya’ ( ditambah dengan huruf hamzah ( ‫ ) ء‬dan lam alif ( ‫)ل‬ • Eja

‫)ي‬

18

Maksud dari eja yaitu, sebelum santri membaca per kalimat terlebih dahulu membaca huruf secara eja, misalnya: alif fathah a ( fathah ba ( ‫ ) ب‬dan seterusnya َ

‫ا‬

), ba’

Modul

Siswa yang lebih dahulu menguasai materi, dapat melanjutkan kepada materi/halaman berikutnya tanpa harus menunggu santri atau temannya yang lain • Tidak Variatif

Pada metode ini tidak disusun menjadi beberapa jilid buku, melainkan hanya 1 jilid buku saja • Pemberian contoh yang Absolut

Seorang ustadz/ustadzah dalam memberikan bimbingan, terlebih dahulu memberikan contoh kemudian santri mengikutinya, sehingga santri tidak diperlukan untuk bersikap aktif23 Metode ini meskipun kini sudah sangat jarang ditemui akan tetapi metode ini merupakan salah satu pencetus lahirnya metode-metode yang lain dalam hubungannya dengan pembelajaran Al Qur’an. Dan karena lamanya metode ini sampai saat inipun masih belum diketahui secara jelas siapa penemu/pencetus dari metode Qa’idah Baghdadiyah tersebut. Dilihat
23

Sa’id Ibn Nashir, Qa’idah Baghdadiyah

19

dari sistem pembelajaran yang telah dikemukakan di atas metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, karena harus menunggu santri mengenal dan menghafal huruf-huruf hijaiyah. terlebih dahulu. b. Metode Al Barqy Metode ini ditemukan/dicetuskan oleh Drs. Muhadjir Sulthon, dan disosialisasikan pertama kali sebelum tahun 1991, yang sebenarnya sudah dipraktekkan pada tahun 1983. Pada metode ini juga tidak disusun atau dicetak menjadi beberapa jilid melainkan sudah berbentuk buku. Dalam pembelajaran Al Qur’an, metode ini lebih menekankan kepada pendekatan global atau gestald psycology yang bersifat Struktural Analitik Sintetik (SAS). Yang dimaksud dengan SAS ini adalah penggunaan struktur kata/kalimat yang tidak mengikuti bunyi mati (sukun), seperti kata Jalasa dan Kataba. Metode ini sifatnya bukan mengajar, namun mendorong hingga guru hanya: tut wuri handayani dan murid (santri) dianggap telah memilki persiapan dengan pengetahuan tersedia. Dalam perkembangannya Al Barqy ini menggunakan metode yang diberi nama metode lembaga (kata kunci yang harus dihafal) dengan pendekatan global dan bersifat Analitik Sintetik. Dan kata lembaga tersebut adalah:     A-DA-RA-JA MA-HA-KA-YA KA-TA-WA-NA SA-MA-LA-BA

20

Secara teoritis, metode ini apabila diterapkan pada anak kelas IV SD keatas hanya memerlukan waktu (memenuhi sistem) 8 jam, bahkan bagi anak SLTA keatas cukup 6 jam, sedangkan jika buku Al Barqy diterapkan pada anak TK dengan cara bermain, maka dapat memicu kecerdasan.Adapun fase yang harus dilalui dalam metode Al Barqy, antara lain:
1.

Fase analitik, yaitu guru memberikan contoh bacaan yang berupa

kata-kata lembaga dan santri mengikutinya sampai hafal, dilanjutkan dengan pemenggalan kata lembaga dan terakhir evaluasi yaitu dengan cara guru menunjuk huruf secara acak dan santri membacanya
2.

Fase sintetik, yaitu satu huruf (suku) digabung dengan yang lain,

hingga berupa suatu bacaan, misal : ‫ج‬ َ menjadi : ‫جا‬

‫ا دَ ر‬ َ ‫أَ ر‬ َ

3. Fase penulisan, yaitu santri menebali tulisan yang berupa titik-titik
4.

Fase pengenalan bunyi a-i-u, yaitu pengenalan terhadap tanda baca fathah, kashroh, dan dhommah (‫ا‬
5.

‫)ا ا‬

Fase pemindahan, yaitu pengenalan terhadap bacaan atau bunyi

Arab yang sulit, maka didekatkan pada bunyi-bunyi Indonesia yang berdekatan, misal: ‫ ذ‬dengan pendekatan َ ‫د‬

‫ش‬dengan pendekatan ‫س‬ َ َ
6. Fase pengenalan mad, yaitu mengenalkan santri pada bacan-bacaan panjang

21

7. Fase pengenalan tanda sukun, yaitu mengenalkan santri pada bacaan-bacaan yang bersukun
8.

Fase pengenalan tanda syaddah, yaitu mengenalkan santri pada

bacaan-bacaan yang bersyaddah (berbunyi dobel)

9.

Fase pengenalan huruf asli, yaitu mengenalkan santri pada huruf

asli (tanpa harokat), seperti; Alif Ba’ ‫ب‬ Ta’
10.

‫ا‬

‫ت‬

Fase pengenalan huruf yang tidak dibaca, yaitu mengenalkan santri

pada huruf yang tidak mendapat tanda saksi (harokat) atau tidak dibaca, misal: ‫والضحى‬
11.

Fase pengenalan bacaan yang masykil, yaitu mengenalkan santri pada huruf yang biasa dijumpai di Al Qur’an, misal: ‫انانذيرمبين‬ dibaca pendek

12.

Fase pengenalan menyambung, yaitu mengenalkan santri pada hurufhuruf yang disambung di awal, di tengah, dan di akhir
13.

Fase pengenalan tanda waqof, yaitu mengenalkan santri pada

tanda-tanda baca seperti yang sering ditemui di Al Qur’an24 c. Metode Iqra’

24

Muhadjir Sulthon, Al Barqy (Surabaya: Sinar Wijaya, 1991), hlm. o-s

22

Metode pembelajaran ini pertama kali disusun oleh H. As’ad Humam, di Yogyakarta. Buku metode Iqra’ ini disusun/tercetak dalam enam jilid sekaligus dan ada pula yang tercetak atau disusun menjadi beberapa jilid (jilid 1-6). Di mana dalam setiap jilidnya terdapat petunjuk mengajar dengan tujuan untuk memudahkan setiap peserta didik (santri) yang akan menggunakannya, maupun ustadz/ustadzah yang akan menerapkan metode tersebut kepada santrinya. Metode Iqra’ ini termasuk salah satu metode yang cukup dikenal di kalangan masyarakat, karena metode ini sudah umum penggunaannya. Adapun metode ini dalam implementasinya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam karena hanya ditekankan pada bacannya (membaca huruf Al Qur’an dengan fasih), serta menggunakan sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif). Adapun proses pembelajaran metode Iqra’ berlangsung melalui tahap-tahap sebagai berikut:  Ath Thoriqoh Bil Muhaakah, yaitu ustadz/ustadzah memberikan

contoh bacaan yang benar dan santri menirukannya  Ath Thoriqoh Bil Musyaafahah, yaitu santri melihat gerak-gerik

bibir ustadz/ustadzah dan demikian pula sebaliknya ustadz/ustadzah melihat gerak-gerik santri untuk mengajarkan makhrojul huruf serta menghindari kesalahan dalam pelafalan huruf  Ath Thoriqoh Bil Kalaamish Shoriih, yaitu ustadz/ustadzah harus

menggunakan ucapan yang jelas dan komunikatif

23

Ath

Thoriqoh

Bis

Sual

Limaqoo

Shidit

Ta’liimi, dan

yaitu santri

ustadz/ustadzah

mengajukan

pertanyaan-pertanyaan

menjawab atau ustadz/ustadzah menunjuk bagian-bagian huruf tertentu dan santri membacanya.25 d. Metode Qiro’ati Metode Qiro’ati adalah metode yang telah baku yang tidak dapat diubah lagi. Dan metode ini disususun oleh H. Dachlan Salim Zarkasyi, di Semarang pada tanggal 1 Juli 1989 sebanyak 10 jilid yang kemudian menjadi 6 jilid setelah dilakukan revisi dan ditambahkan materi yang cocok. Dalam prakteknya metode Qiro’ati ini dibeda-bedakan, khusus untuk anak pra sekolah TK (usia 4-6 tahun) dan untuk remaja serta orang dewasa. Adapun sistem pembelajaran Qiro’ati ini adalah : • Eja langsung, yaitu bacaan langsung dibaca tanpa harus

mengejanya terlebih dahulu

Hafalan, santri sebelumnya diharuskan menghafalkan huruf

hijaiyah sebelum menginjak pada materi atau bahasan yang lebih tinggi • Asistensi, santri yang sudah mampu pada jilid tertentu dapat

menyimak santri yang masih belajar pada jilid yang lebih rendah • Variatif, artinya buku Qiro’ati ini terdiri dari beberapa jilid (6

jilid), hal ini dimaksudkan untuk merangsang santri agar tidak

25

HM. Budiyanto, Prinsip-prinsip Metodologi Buku IQRO’ (Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”, 1995), hlm. 23-24

24

mengalami kejenuhan, dan mempunyai rasa bangga karena telah menamatkan jilid tertentu • Modul, maksudnya yaitu santri yang sudah menyelesaikan jilid

tertentu dapat melanjutkan pada materi atau jilid yang lebih tinggi Sedangkan prinsip-prinsip dasar metode Qiro’ati antara lain: A. Prinsip dasar bagi guru (ustadz/ustadzah) 1. Dak-Tun (Tidak boleh Menuntun)

Dalam mengajarkan Qiro’ati ustadz/ustadzah tidak diperbolehkan menuntun, akan tetapi membimbing (memberi contoh bacaan yang benar, mengingatkan/membenarkan bacaan yang salah) 2. Ti-Wa-Gas (Teliti Waspada Tegas)

Dalam mengajarkan ilmu baca Al Qur’an sangatlah dibutuhkan ketelitian, kewaspadaan, dan ketegasan dari ustadz/ustadzah karena akan sangat berpengaruh atas kefasihan dan kebenaran murid dalam membaca ayat-ayat Al Qur’an 3. Teliti

Maksudnya, bahwa seorang ustadz/ustadzah harus meneliti bacaannya apakah sudah benar atau belum dan harus memnberikan contoh secara benar kepada santrinya 4. Waspada

Dalam menyimak Al Qur’an, ustadz/ustadzah harus teliti dan waspada serta tidak boleh lengah 5. Tegas

25

Ustadz/ustadzah harus tegas dalam menentukan penilaian (evaluasi kelancaran) bacaan murid jangan segan dan ragu-ragu B. Prinsip dasar bagi murid (santri) 1. CBSA + M (Cara Belajar Santri Aktif dan Mandiri)

Santri dituntut untuk selalu aktif dan mandiri serta tidak tergantung pada orang lain (ustadz/ustadzah)

2.

LCTB (Lancar Cepat Tepat dan Benar)

Dalam hal ini santri diharapkan mampu cepat dalam membaca, tepat dalam membaca, dan tidak keliru dalam membaca huruf, serta benar ketika membaca hukum-hukum bacaan.26 e. Metode Tilawati Metode Tilawati ini timbul karena keprihatinan para aktifis yang sudah lama berkecimpung di TPA/TPQ karena masih banyak kalangan umat muslim yang belum bisa membaca dan menulis Al Qur’an (buta huruf Al Qur’an). Oleh karena itu Drs. H. Hasan Sadzili, Drs. H.M. Thohir Al Aly, M.Ag., KH. Masrur Masyhud serta Drs. H. Ali Muaffa bertekad untuk membuat suatu metode yang praktis, cepat, dan lancar.

26

H. Dachlan Salim Zarkasyi , Metodologi Pengajaran Qiro’ati (Malang: Koordinator Pendidikan Al Qur’an Metode Qiro’ati), hlm. 1

26

Dalam metode Tilawati ini terdapat/tersusun menjadi beberapa jilid, yaitu mulai jilid 1 sampai dengan jilid 5, ditambah jilid 6 yang berisi tentang bacaan ghorib dan musykilat (bacaan-bacaan yang sulit dalam Al Qur’an). Dan pada setiap jilidnya terdiri dari 44 halaman dengan desain cover yang lux. Selain itu, pada setiap jilidnya juga dicantumkan syarat umum menjadi guru pembelajaran Al Qur’an dengan menggunakan metode Tilawati, serta pokok bahasan atau materi yang akan diajarkan pada setiap jilidnya. Adapun sistem pembelajaran metode Tilawati ini adalah sebagai berikut:  Eja Langsung, huruf-huruf yang ada langsung dibaca atau eja

langsung tanpa harus mengejanya satu persatu, misal; a, ba, ta, dan seterusnya  Klasikal atau baca simak, setelah ustadz/ustadzah memberikan

contoh bacaan maka santri kemudian mengikuti atau membacanya secara bersama-sama dengan melihat alat peraga yang tersedia  Variatif, disusun menjadi beberapa jilid buku yaitu jilid 1 sampai

jilid 6 dengan desain cover yang lux, serta pada setiap bahasan atau bacaan huruf yang disampaikan selalu ditandai atau dibedakan dengan menggunakan tinta merah

Modul, santri yang sudah menamatkan jilidnya dapat melanjutkan

jilid selanjutnya27
B.
27

Tinjauan Tentang Metode Iqra'

H. Hasan Sadzili, dkk., Tilawati Jilid 1-6 (Surabaya: Pesantren Virtual Nurul Falah, 2004), hlm. i-iv

27

1. Sejarah Metode Iqra' Iqra’ sebenarnya adalah judul sebuah buku yang berisi tuntunan belajar membaca Al Qur’an dengan cara-cara baru yang berbeda dengan cara-cara lama, sebagaimana yang dituntunkan oleh metode Qa’idah Baghdadiyah. Dengan ditemukannya metode Iqra’ ini yang kemudian dibarengi dengan gerakan TK Al Qur’an dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TKA-TPA) yang merupakan suatu bentuk lembaga baru dari pengajian anak-anak akhir-akhir ini, diseuruh tanah air telah terjadi suasana dan gairah baru dalam mempelajari baca tulis Al Qur’an. Metode Iqra’ ini pertama kali disusun oleh Ustadz As’ad Humam sekitar tahun 1983-1988. Pada usia belia Ustadz As’ad Humam sudah aktif mengajar membaca Al Qur’an untuk anak-anak di lingkungan sekitarnya. Dan pada waktu itu beliau masih menggunakan metode Qa’idah Baghdadiyah atau dikenal dengan istilah Turutan. Cara atau metode ini ternyata tidak memuaskan hati beliau, karena dinilainya terlalu lambat dalam mengantarkan anak bisa membaca Al Qur’an, yaitu setelah belajar selama 2-3 tahun. Ketidakpuasan hatinya itulah yang kemudian mendorong beliau mencari dan terus mencoba berbagai sistem dan metode yang ada. Barulah sekitar tahun 1970-an, beliau mendapatkan buku Qiro’ati yang disusun oleh ustadz Dachlan Salim dari Semarang, yang prinsip-prinsip pengajarannya hampir sama dengan tulisan Prof. Mahmud Yunus dan telah tersusun dalam tuntunan-tuntunan pengajaran yang lebih sistematis dan lengkap. Bersamaan dengan itu, beliau bertemu dengan sejumlah anak-anak muda yang mempunyai kekhawatiran yang sama dalam memikirkan problema pengajaran

28

membaca Al Qur’an ini. Anak-anak muda tersebut dihimpun dalam suatu wadah yang diberi nama “Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla Yogyakarta” atau biasa disingkat dengan “Team Tadarus AMM”, dengan pusat kesekretariatannya di Musholla Baiturrahman Selokraman Kotagede Yogyakarta. Demikianlah bersama Team Tadarus “AMM” ini beliau untuk beberapa tahun menggerakkan pengajian anak-anak dengan menggunakan metode Qiro’ati tersebut. Namun dari pengalaman memakai buku Qiro’ati ini, ternyata masih banyak ditemui beberapa kelemahan mendasar yang perlu disempurnakan. Untuk itu dengan didukung oleh masukan-masukan dari Team Tadarus”AMM” yang beliau asuh serta dikuatkan oleh hasil studi banding ke berbagai lembaga pengajaran/pesantren Al Qur’an yang ada, maka disusunlah buku Iqra’ ini.28 2. Struktur Metode Iqra' Dalam metode Iqra’ ini agar materi mudah dipahami oleh peserta didik (santri) maka disusun/dicetak menjadi beberapa jilid yaitu mulai jilid 1 sampai dengan jilid 6, dengan bentuk buku-buku kecil ukuran ¼ folio. Masing-masing buku/jilidnya rata-rata terdiri dari 32 halaman, dan dikemas dengan warna sampul yang berbeda-beda agar menarik perhatian peserta didik (santri) Menurut M. Sastrapradja yang dimaksud dengan struktur adalah bentuk atau susunan.29 Maka sesuai dengan maksud tersebut struktur atau susunan dari metode Iqra’ adalah sebagai berikut: Iqra’ Jilid 1

28 29

H.M. Budiyanto, op.cit., hlm. 5-8 M. Sastrapradja, op.cit., hlm. 457

29

− Pada jilid ini seluruhnya berisi tentang pengenalan huruf-huruf tunggal berharokat fathah yang diawali dengan huruf a, ba, ta, tsa, sampai dengan ya

Pembedaan terhadap bunyi huruf-huruf yang memiliki makhroj berdekatan, seperti:

‫خ-غ ث-س ص-س‬
)

Pengenalan terhadap angka-angka Arab (

Iqra’ Jilid 2 − Pengenalan terhadap bunyi huruf-huruf bersambung berharokat fathah, baik huruf sambung di awal, di tengah, maupun di akhir, seperti:

‫ت ا ت = تا ت‬ َ َ
seperti:

‫ب ت = ب َت‬ َ َ َ

− Pengenalan bacaan mad (bacaan panjang) namun tetap berharokat fathah,

‫ا دَ م‬ َ

‫ا من‬ َ َ
(‫) ا‬

Pengenalan terhadap huruf alif

Iqra’ Jilid 3 − Pengenalan terhadap bacaan-bacaan selain harokat fathah yaitu kashroh dan dhommah, seperti:

َ ‫فعِل‬

َ ِ ‫عَمل‬

− Pengenalan terhadap bacaan panjang yang berharokat kashroh dan berharokat dhommah yang diikuti dengan ya’ bertanda sukun dan wawu bertanda sukun serta kashroh berdiri dan dhommah terbalik, seperti:

‫معه‬

‫بطئه‬

‫يكون‬

‫عز ي ْز‬ َ ُ

Pengenalan terhadap huruf ya’ ( ‫ ) ي‬dan wawu ( ‫) و‬

Iqra’ Jilid 4 − Pengenalan terhadap tanda baca fathahtain, kashrohtain, dan

dhommahtain, seperti:

30

‫رحي ْم‬ ٌ َ

ٍ‫حاسد‬ ِ َ

‫حسنا‬

Pengenalan pada huruf ya’ sukun yang jatuh setelah tanda fathah dan

huruf wawu sukun yang jatuh setelah tanda fathah , seperti:

‫سوْف‬ َ َ

‫ب َي ْن‬ َ

− Pengenalan terhadap huruf mim sukun dan nun sukun, seperti:

‫ان هو‬ ‫اق‬ ْ ‫اط‬

‫اولم‬ ْ ‫اد‬ ‫اج‬ ْ

− Pengenalan terhadap huruf Qolqolah, seperti:

− Pengenalan huruf-huruf bersukun yang memiliki makhroj yang berdekatan, seperti:

‫تق‬ ْ
Iqra’ Jilid 5

ْ ‫تك‬

‫تع‬ ْ

‫تأ‬

− Pengenalan atau cara baca alif lam Qomariyah, seperti:

‫والفجر‬

‫الحمد‬

− Cara baca akhir ayat atau tanda waqof, seperti:

O‫.............نستعي ْن‬ ُ َ
− Cara baca mad far’i, seperti:

‫على‬
− Cara baca alif lam Syamsiyah, seperti:

‫والنهار‬

Pengenalan terhadap tajwid yaitu bacaan Idghom Bighunnah, seperti:

‫خي ْرالنساء‬ ٌ َ
− Cara baca lam dalam lafadz Jalalah, seperti:

ٍ ّ ْ ِ ‫من ماء‬

31

‫لله‬ ِ ‫فمن لم‬ ْ َ

‫والله‬ ُ َ ‫من ر بهم‬ ْ ّ ْ ‫ا ِن‬ ّ

− Pengenalan terhadap tajwid yaitu bacaan Idghom Bilaghunnah, seperti:

Pengenalan terhadap tanda baca tasydid, seperti:

‫عَما‬ ّ
Iqra’ JIlid 6

− Pengenalan terhadap tajwid yaitu bacaan Idghom Bighunnah, seperti:

َ ‫ان يوصل‬ ْ ْ

ِ ّ ْ ِ ٍ‫من واحد‬

− Pengenalan terhadap tajwid yaitu bacaan Iqlab, seperti:

ِ‫من ب َعْد‬ ْ ِ

Pengenalan terhadap tajwid yaitu bacaan Ikhfa’, seperti:

‫من جوع‬ ْ ُ ْ
− Pengenalan tanda-tanda waqof, seperti: Boleh waqof boleh terus Bukan tempat waqof

‫ج‬ ‫ل‬ َ َ ‫ما ء - ما ء‬ ً َ

− Cara baca waqof pada beberapa huruf atau kata musykilat, seperti:

‫والفتح – والفتح‬ َ َ

Cara baca huruf-huruf dalam fawatihussuwar, seperti:

‫طسم‬ ّ

‫ص‬

‫يس‬

Melalui pemaparan struktur dari metode Iqra’ tersebut di atas maka akan memudahkan peserta didik dalam hal ini santri untuk mempelajari Al Qur’an.

32

Karena diperlihatkan tahapan-tahapan materi yang akan dilalui oleh peserta didik (santri).30 3. Implementasi Metode Iqra' Untuk mencapai target atau tujuan pembelajaran Al Qur’an yang diharapkan, maka seorang anak usia TK sekalipun akan bisa mempelajari buku Iqra’ ini dengan pelan-pelan, bertahap, dan tanpa ada perasaan tertekan. Sedangkan frekwensi pembelajaran Iqra’ sebaiknya diberikan tiga sampai enam kali dalam seminggu. Dan pada setiap pertemuan berlangsung selama 90 menit dengan perincian sebagai berikut: • •
• • • •

05 menit 10 menit 45 menit 15 menit 10 menit 05 menit

: pembukaan (persiapan, salam, do’a, dan lain-lain) : hafalan (surat-surat pendek, do’a-do’a harian, ayat-ayat pilihan, dan lain-lain) : pengajaran Iqra’ secara klasikal (dengan alat peraga) : pendalaman Iqra’ secara individual bersama tutor teman sebaya (dengan buku Iqra’) : materi-materi bersifat rekreasi (Bermain Cerita dan Menyanyi/BCM) : penutup31

Jadi dalam metode Iqra’ penyampaian materi dilakukan secara klasikal dan individual. Klasikal yaitu dengan cara ustadz/ustadzah memberikan contoh terlabih dahulu kemudian santri mengikutinya secara bersama-sama. Sedangkan Individual adalah dengan cara ustadz/ustadzah menyimak bacaan santri satu persatu yang kemudian hasil dari bacaan tersebut ditulis ke dalam buku drill atau buku prestasi bacaan. Selain ustadz/ustadzah teman sebaya yang sudah mencapai

As’ad Humam, Buku Iqra’ Jilid 6 (Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”, 2000) H.M. Budiyanto, dkk., Ringkasan Pedoman Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Gerakan 5M (Yogyakarta: Team Tadarus AMM, 2003), hlm. 25
31

30

33

jilid tertentu (lebih tinggi) dapat juga bertindak sebagai tutor., sistem ini dapat disebut sebagai sistem baca simak. Dalam implementasi (penyampaiannya) metode Iqra’ ini memiliki perbedaan serta persamaan pada setiap jilid bukunya. Adapun implementasinya adalah sebagai berikut: Iqra’ Jilid 1 1. CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), dalam hal ini

guru (ustadz/ustadzah) bertindak sebagai penyimak saja jangan sampai menuntun kecuali hanya memberikan contoh pokok pelajaran 2. Mengenai judul-judul ustadz/ustadzah langsung

memberi contoh bacaannya, jadi tidak perlu banyak komentar 3. Ustadz/ustadzah cukup membetulkan bacaan-

bacaan santri yang keliru saja, dengan cara: eee…, awas, stop, dan sebagainya atau bisa juga memberi titian ingatan seperti: bila ada titiknya dibaca Ro, bila tidak ada maka bacanya…… 4. sekiranya mampu Bagi santri yang betul-betul menguasai pelajaran berpacu dalam menyelesaikan belajarnya maka

membacanya boleh diloncat-loncatkan, tidak harus utuh 1 halaman 5. ustadz/ustadzahnya 6. Sebelum menguasai atau mengenal serta hafal Untuk EBTA sebaiknya ditentukan

terhadap huruf-huruf berfathah, santri tidak boleh naik ke jilid selanjutnya, terutama pada huruf-hurf yang susah pengucapan/pelafalannya, seperti:

34

‫ش‬ َ ‫ق‬ َ
Iqra’ Jilid 2
1.

Lebih diarahkan ke bunyi sia daripada keliru

‫س‬ َ

َ Lebih diarahkan ke bunyi ko daripada keliru ‫خ‬

Jadi, bisa naik ke pelajaran atau jilid 2 dengan “her” pada huruf-huruf tertentu

Implementasi no. 1-5 pada Iqra’ Jilid 1 masih

diterapkan pada Iqra’ Jilid 2 2. Mulai halaman 16 materi menginjak pada bab mad

(bacaan panjang), dan untuk sementara diperbolehkan santri yang belum bisa membaca lebih dari 2 harokat, yang penting harus tahu mana bacaan yang dibaca panjang dan mana bacaan yang harus dibaca pendek
3.

Ustadz/ustadzah

harus

menegur

santri

yang

memanjangkan bacaan pendek ataupun memendekkan bacaan yang panjang, Iqra’ Jilid 3
1.

Peraturan no. 1-5 pada Iqra’ jilid 1 masih diterapkan

pada jilid 3 ini + peraturan/implementasi no. 3 pada Iqra’ jilid 2
2.

Ustadz/ustadzah harus menegur santri yang selalu

mengulang-ulang bacaannya, misalnya bacaan wamaa dibaca berulang-ulang guru cukup menegur “bacaan wamaa ada berapa?” Iqra’ Jilid 4
1.

Peraturan no. 1-5 pada Iqra’ jilid 1 masih diterapkan

pada jilid 4 ini 2. Bila santri keliru pada akhir kalimat, maka

ustadz/ustadzah hanya boleh membetulkan bacaan yang keliru saja

35

3.

Untuk memudahkan ingatan santri terhadap hurufhuruf Qolqolah maka boleh dengan menyingkatnya, seperti: BAJU DI THOQO 4. Untuk menentukan bacaan yang betul pada bab

hamzah dan sukun santri diajak membaca dengan harokat fathah dulu dengan berulang-ulang baru dimatikan Iqra’ Jilid 5
1.

Peraturan no. 1-5 pada Iqra’ jilid 1 masih diterapkan

pada jilid 5
2.

Pada halaman 23 terdapat potongan surat Al

Mu’minun ayat 1-11, santri dianjurkan untuk menghafalnya
3.

Santri tidak diharuskan mengenal istilah-istilah

tajwid, seperti Idghom Bighunnah, Idghom Bilaghunnah, Idzhar, Iqlab, dan lain sebagainya yang penting praktis dan betul bacaannya
4.

Agar menghayati bacaan yang penting dan untuk

membuat suasana semarak, santri bisa diajak untuk membaca bersama-sama secara koor yaitu pada halaman 16 sampai dengan 19 (3 baris dari atas) Iqra’ Jilid 6
1.

Peraturan no. 1-5 pada Iqra’ jilid 1 masih diterapkan

pada jilid 6 2. Materi EBTA dalam jilid 6 ini sebaiknya dihafalkan

36

3.

Ustadz/ustadzah

tidak

diperkenankan

untuk

mengajari santri membaca dengan menggunakan lagu/irama walaupun dengan irama murottal
4.

Tanda waqof dibuat sesederhana mungkin yang

terdapat/tertulis pada Iqra’ jilid 6 ini pada halaman 21
5.

Sebelum EBTA ada tambahan beberapa huruf yang

biasa terdapat pada bagian awal surat (bacaan fawatihussuwar) serta bacaanbacaan Muqhottho’ah32
4.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Iqra' Setiap metode pastilah seluruhnya akan memiliki keunggulan, karena

dibalik keunggulan/kelebihan tersebut pastilah terselip beberapa kelemahannya, baik dari segi struktur maupun implementasinya. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan yang dimiliki oleh setiap manusia. Dari paparan data di atas, maka dapat diklasifikasikan antara kelebihan serta kelemahan yang dimiliki oleh metode Iqra’ ini, antara lain yaitu:

a. 

Kelebihan Metode Iqra’ Menggunakan metode CBSA (Cara Belajar Santri Aktif),

jadi bukan guru atau ustadz/ustadzah-lah yang aktif disini melainkan santri yang dituntut untuk aktif membaca
32

As’ad Humam, loc.cit.

37

Eja Langsung, dimana santri tidak perlu mengeja huruf dan

tanda secara satu persatu  Variatif, disusun menjadi beberapa jilid buku dengan

dengan desain cover menarik dan warna yang berbeda  Modul, yaitu santri yang sudah menamatkan jilidnya dapat

melanjutkan jilid selanjutnya  Menggunakan teknik Klasikal, dimana ustadz memberi

contoh dan santri mengikutinya bersama-sama, ataupun menggunakan teknik Privat/Individual yaitu santri membaca secara perorangan di depan ustadz/ustadzah dengan menggunakan kartu drill  Pada huruf-huruf yang dianggap sulit pelafalannya dapat

digunakan pendekatan-pendekatan bunyi   Pengenalan terhadap angka Arab (1-10) Bacaan mad (panjang) dikupas/dipaparkan dalam 2 jilid

(jilid 1 dan jilid 3)  Setelah khatam Iqra’ (jilid 6) dapat dilanjutkan Al Qur’an

juz 1 bukan bacaan juz ’Amma

b. 

Kelemahan metode Iqra’ Pada jilid-jilid awal tidak ada pengenalan terhadap huruf-

huruf Hijaiyah asli

38

Pengenalan terhadap bacaan-bacaan tajwid, tetapi tanpa

harus mengenalkan istilah bacaan tajwid  Tidak adanya media atau lembar kerja siswa atau panduan

untuk menulis huruf-huruf Arab  Tidak dianjurkan untuk mengajarkan metode ini dengan

menggunakan irama murottal, kecuali santri sudah khatam jilid akhir serta dapat membaca lancar  Untuk bacaan-bacaan Muqhottho’ah hanya dipaparkan

pada 1 halaman saja Dengan melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki metode Iqra’ ini maka patutlah pengarang dan pencetus metode ini berbangga hati. Akan tetapi jika dilihat dari kekurangan serta kelemahan yang ada, hendaknya hal tersebut dapat dijadikan sebagai cambuk atau motivasi untuk menuju pembaharuan yang lebih sempurna dan bermanfaat bagi kalangan umat Islam.
C.

Tinjauan Tentang Metode Tilawati
1.

Sejarah Metode Tilawati Dengan melihat data pada tahun 90-an dimana semakin hari jumlah umat

Islam yang tidak bisa membaca Al Qur’an semakin banyak dan belum lagi yang belum paham akan makna serta kandungan Al Qur’an, maka para aktifis yang sudah lama berkecimpung dalam TPA/TPQ terdorong untuk membuat/merancang suatu metode pembelajaran Al Qur’an yang diharapkan dapat mudah dipelajari.

39

Selain persoalan tersebut diatas, lahirnya metode Tilawati juga antara lain karena seba-sebab dibawah ini:  Bergesernya peran orangtua terhadap anak (yang semula sebagai pendamping efektif bagi anak)

Terhapusnya pelajaran Pegon (arab gundul) di sekolah Perkembangan zaman yang kurang kondusif bagi pendidikan Al Qur’an Guru kehilangan cara untuk mengajar Al Qur’an sehingga mutu pendidikan kian merosot

 

Metode pembelajaran Al Qur’an selama ini yang terjadi tidak dilakukan secara maksimal

Fenomena yang terjadi TPA/TPQ tidak bisa berkembang karena tidak bisa merekrut tenaga guru ngaji karena kekurangan dana untuk membayar tenaga guru

Fenomena yang terjadi anak biasanya khatam metode pembelajaran Al Qur’an dengan memakan waktu yang cukup lama Oleh karena itu para aktifis yang terdiri dari 4 orang yang sehari-hari

berjibaku dengan pendidikan Al Qur’an memberikan solusi yang mudah yaitu dengan meluncurkan metode baru yang diberi nama Tilawati, para aktifis tersebut adalah : Drs. Hasan Sadzili, Drs. HM. Thohir Al Aly, M.Ag. , KH. Masrur Masyhud, dan Drs. H. Ali Muaffa. Para penyusun metode Tilawati tersebut menawarkan sebuah metode yang menurut mereka berbeda, karena melalui metode ini diharapkan anak sudah dapat melafalkan huruf-huruf Al Qur’an dengan tartil yaitu dengan pendekatan irama Rost.

40

Metode Tilawati ini dituangkan kedalam buku yang terdiri dari beberapa jilid, yaitu jilid 1 sampai dengan jilid 5 ditambah jilid 6 yang berisi surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan, ghorib dan musykilat. Dengan desain cover lux dan warna yang indah serta menarik perhatian, juga dengan tulisan standard dan disertai alat peraga pada masing-masing jilidnya. 33
2.

Struktur Metode Tilawati Struktur atau susunan pada metode Tilawati ini sebenarnya hampir sama

dengan struktur atau susunan pada metode Iqra’. Yaitu pada setiap jilidnya membahas kurang lebih 4 pokok bahasan atau materi. Adapaun struktur Tilawati adalah sebagai berikut: Tilawati Jilid 1

Pengenalan dan pemahaman huruf hijaiyah berharokat fathah tidak berangkai, contoh:

‫بتث‬ َ َ َ

‫ ا‬dan seterusnya………….

Pengenalan dan pemahaman huruf hijaiyah berharokat fathah berangkai, contoh:

‫ب ت ث = بت َث‬ َ َ َ َ
=‫ا‬ =‫ب‬ =‫ت‬ Tsa' Jim =‫ث‬ =‫ج‬

− Pengenalan dan pemahaman huruf hijaiyah asli, contoh: Alif Ba' Ta'

Pengenalan angka-angka arab, contoh: (

)
33

Drs. H. Ali Muaffa, Standar Nasional dan Metodologi Pengajaran Al Qur’an, Makalah disajikan pada Sosialisasi Lagu Tartil TKA / TPA, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya 21 Mei 2006

41

Tilawati Jilid 2 − Kalimat berharokat fathah, kashroh, dan dhommah contoh :

ُ ‫وَ لك‬ ‫رحي ْم‬ ٌ َ

‫وَ لك‬ ِ ٍ‫حاسد‬ ِ َ ‫ة=ت‬

َ ‫وَ لك‬ ‫حسنا‬ ً َ َ

− Kalimat berharokat fathahtain, kashrohtain, dan dhommahtain, contoh:

Bentuk-bentuk ta’, contoh:

− Kalimat / bacaan panjang satu alif, contoh:

‫ج - جا‬ َ َ ‫معه‬ َ َ

‫ب – با‬ َ َ ‫ب َط َئه‬ ِ ‫ا من‬ َ َ ‫قا لوا‬ ْ

− Fathah panjang, kashroh panjang, dhommah panjang, contoh:

Dhommah diikuti wawu sukun, ada alifnya atau tidak ada alifnya tetap

dibaca sama panjangnya, contoh: Tilawati Jilid 3

− Membunyikan huruf yang disukun, contoh:

‫ا – املهم ز - زمهريرا‬
− Lam sukun dan didahului alif dan huruf yang berharokat, contoh:

‫الحسيب‬

ْ ‫ا – ال‬

− Lam sukun berhadapan dengan hamzah bersyakal hidup, contoh:

‫ولخر ة = ول اخر ة‬

Fathah diikuti wawu sukun, contoh:

‫ك َوْك َبا‬ ً
− Fathah diikuti ya’ sukun, contoh:

‫قوْم‬ ٌ ‫اي ْن‬ َ

َ‫ش ي ء‬ ْ َ

42

Tilawati Jilid 4 − Huruf-huruf bertasydid, contoh:

‫سلم‬ َ

ّ َ ْ َ ‫س ل ل = سل‬ َ َ ‫ماء = ماء‬ َ َ

Tanda panjang (mad wajib dan mad jaiz), contoh:

Bacaan nun dan mim tasydid, contoh:

‫عَما = عَم ما‬ َ ْ ّ
− Cara mewaqofkan, contoh:

‫انا = ا ِن نا‬ ِ َ ْ

‫يقي ْن – يقي ْن – يقين – يقين – يقي ْن‬ ْ َ ْ َ ْ َ ُ َ ٌ َ
− Lafdhul Jalalah, contoh:

‫لله‬ ِ
− Alif lam syamsiyah, contoh:

‫والله‬ ُ َ

‫والسارقُ = وَسارق‬ ُ ّ ّ َ
− Bacaan Ikhfa’ Hakiki, contoh:

‫رسول‬ ُ َ

‫=ن‬ ْ

ً

‫ن – اندادا – عند َها‬ َ ِ ً َ ْ ‫كريم‬

Wawu yang tidak ada sukunnya, contoh:

َ َ ‫اولئ ِك = ا لئ ِك‬
− Bacaan Idghom Bighunnah, contoh:

ٍ َ ْ ِ ‫م من ماء = مم ماء‬atau ٍ ّ ْ ِ
Tilawati Jilid 5 − Bacaan Idghom Bighunnah, contoh:

ً

‫لقوْم ٍ ي ّعملوْن‬ ِ َ ْ
− Bacaan Iqlab, contoh:

‫ن = ي‬atau ْ

43

‫من ب َعْدِ هِم‬ ْ ْ ِ ‫ب َي ْن َهُم موبقا‬ ْ ّ ْ
− Bacaan Qolqolah, contoh:

‫ن = ب‬atau ْ ‫م- ب‬
bertemu dengan

ً ‫م‬ ْ

− Bacaan Ikhfa’ Syafawi, contoh:

َ ْ َُ ‫ق –ْط – ب – ج – د = يقرء و ن‬ ْ ْ ْ ْ

Bacaan Idghom Bilaghunnah, contoh:

‫ا ِن لم يكن‬ ْ
− Bacaan Idzhar Halqi, contoh:

‫ن = ر ل‬atau ْ ‫ن = ا ء خ ح ع غ هم‬atau ْ

ً ً

َ ْ َ ‫وَمن اصد َق‬ َ

− Cara membunyikan akhir kalimat ketika waqof, contoh:

‫ كل ي َوم هُوَفِي شأ ن‬ْ َ ْ ْ ّ
− Tanda-tanda waqof, contoh: Boleh waqof boleh terus Bukan tempat waqof
3.

َ ْ ‫كل ي َوم هُوَفِي شأ ن‬ ْ ّ

‫ج‬ ‫ل‬
34

Implementasi Metode Tilawati Dalam metode Tilawati ini menawarkan model-model pengelolaan kelas

yang bertujuan: 1. efektifitas belajar, sehingga santri mudah menguasai materi
2.

metodologi pengajaran Al Qur’an bisa berjalan dengan baik

3. efektifitas kelas, sehingga waktu yang tersedia tidak terbuang sia-sia 4. santri tertib di kelas 5. target kurikulum dapat tercapai tepat waktu
H.Hasan Sadzili dkk, Tilawati Jilid 1-6 (Surabaya: Pesantren Virtual Nurul Falah, 2004), hlm. iv
34

44

Selain itu teknik dalam penyampaian materi juga menggunakan teknik klasikal, dimana guru membaca dan santri mendengarkan, menirukan serta membaca. Namun teknik ini dapat bersifat fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan kondisi kelas. Alokasi waktu pembelajaran yang ditawarkan oleh metode Tilawati ini adalah: Tabel 2.1 Alokasi Pembelajaran Metode Tilawati Waktu 5 menit 15 menit 30 menit 20 menit 5 menit Materi Do’a pembuka Peraga Tilawati Buku Tilawati Materi Penunjang Do’a penutup Teknik Klasikal Klasikal Baca SImak Klasikal Klasikal Keterangan Lagu Rost Lagu Rost Lagu Rost Lagu Rost Lagu Rost

Sedangkan target belajar yang ingin dicapai oleh metode Tilawati ini, adalah sebagai berikut: Waktu Jumlah santri / kelas Masa belajar Target : 75 menit/pertemuan : 15-20 santri : 3 Bulan 4x pertemuan/minggu : 80% santri naik jilid dengan bacaan standart35

Adapun implementasi metode Tilawati pada setiap jilidnya adalah sebagai berikut: Tilawati Jilid 1 1. Ajarkan huruf-huruf hijaiyah asli secara bertahap hingga santri faham dan hafal 2. Untuk memulai mengajarkan bunyi huruf, ustadz/ustadzah cukup memberi contoh dengan bacaan dan hindarkan memberi keterangan
Drs. H. Ali Muaffa, Standar Nasional dan Metodologi Pengajaran Al Qur’an, Makalah disajikan pada Sosialisasi Lagu Tartil TKA/TPA, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya 21 Mei 2006.
35

45

3. Mengajak santri untuk membaca klasikal 4. Setiap pergantian materi selalu ditandai dengan tulisan atau tinta merah 5. Pada halaman 33-44 sudah diajarkan pada huruf-huruf yang bersambung Tilawati Jilid 2 1. Buku Tillawati 2 ini pada halaman-halaman tertentu terdapat bacaanbacaan yang belum diberi tanda baca, maka tugas santri untuk memberinya tanda sesuaka hatinya dan kemudian membacanya 2. Ustadz/ustadzah dalam membaca huruf-huruf harus dengan fasih, agar santri terhindar dari kesalahan pelafalan huruf Tilawati Jilid 3 1. Pada bahasan Lam Sukun ustadz/ustadzah harus memberikan contoh yang benar agar santri terhindar dari bacaan Tawallud atau mental, missal: Al dibaca Alle 2. Seluruh potongan ayat atau kalimat dibaca berirama 3. Agar bacaannya benar, ustadz/ustadzah dalam mengajarkan membaca huruf-huruf Muqhottho’ah dengan jelas dan perlahan Tilawati Jilid 4
1. Ustadz/ustadzah

pada halaman 12-selesai harus tetap mengajar dengan

bacaan tartil 2. Ustadz/ustadzah tetap harus memberikan contoh, tetapi tidak menuntun santri dalam membaca 3. Pada jilid ini santri mulai diajarkan cara membaca akhir kalimat ketika waqof

46

Tilawati Jilid 5 1. Pada jilid 5 ini implementasi pembelajarannya sama dengan tilawati jilid 4 2. Pada tilawati jilid 5 ini ustadz/ustadzah diharapkan mengajarkan bacaan secara berulang-ulang agar santri dapat menghafalnya
4.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Tilawati Dilihat dari struktur dan implementasinya, kelebihan dari metode Tilawati

ini antara lain adalah:  Menggunakan metode CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), jadi bukan guru atau ustadz/ustadzah-lah yang aktif disini melainkan santri yang dituntut untuk aktif membaca  Eja Langsung, dimana santri tidak perlu mengeja huruf dan tanda secara satu persatu  Variatif, disusun menjadi beberapa jilid buku dengan dengan desain cover menarik dan warna yang berbeda  Modul, yaitu santri yang sudah menamatkan jilidnya dapat melanjutkan jilid selanjutnya  Menggunakan teknik Klasikal, dimana ustadz memberi contoh dan santri mengikutinya bersama-sama, ataupun menggunakan teknik

privat/individual yaitu santri membaca secara perorangan di depan ustadz/ustadzah dengan menggunakan kartu drill  Melagukan bacaan (mulai jilid 1-5) dengan menggunakan Irama Rost Standar Nasional

47

Pengenalan terhadap huruf-huruf Hijaiyah asli serta angka-angka Arab, mulai dari satuan sampai ribuan

Menggunakan khot standar dengan tinta berwarna merah (untuk materi baru) dan tinta berwarna hitam (untuk materi lalu)

  

Pengenalan terhadap bacaan-bacaan tajwid beserta istilah-istilahnya Pengenalan terhadap huruf-huruf bersambung pada jilid awal (1) Pengenalan terhadap huruf-huruf awal surat (fawatihussuwar) yang Muqhottho’ah pada jilid 3 sampai dengan jilid 5, dan diberikan secara konstan (terus-menerus)

Setelah khatam Tilawati (jilid 5) dapat dilanjutkan Al Qur’an juz 1 bukan bacaan juz ’Amma Sedangkan kelemahan atau kekurangan yang dimiliki oleh metode

Tilawati ini adalah sebagai berikut:  Bagi ustadz/ustadzah yang akan menggunakan metode ini harus mengikuti pelatihan atau harus bisa membaca secara tartil  Dengan pendekatan irama lagu rost yang digunakan dalam metode Tilawati ini, jika diterapkan pada anak-anak khususnya usia pra sekolah dikhawatirkan irama tersebut tidak dapat terjaga secara intensif  Pada huruf-huruf yang pelafalannya agak sulit tidak diperbolehkan menggunakan pendekatan, jadi sejak awal santri harus bisa melafalkan huruf dengan baik, benar, serta fasih  Untuk materi bacaan mad (panjang) hanya disajikan/dikupas pada satu jilid saja

48

D.

Perbandingan antara Metode Iqra' dengan Metode Tilawati
1.

Persamaan antara Metode Iqra' dengan Metode Tilawati Dilihat dari struktur serta penerapan atau implementasinya metode Iqra’

dan Tilawati memiliki beberapa persamaan, antara lain yaitu: a) Menggunakan sistem CBSA (Cara Belajar

Santri Aktif), dalam hal ini yang dituntut untuk aktif adalah, oleh karena itu ustadz/ustadzah dilarang untuk menuntun santri ketika membaca melainkan memberi contoh santri sehingga santri tidak selalu menggantungkan diri kepada ustadz/ustadzah b) Variatif, terdiri dari beberapa jilid buku

dengan desain cover yang menarik serta warna yang berbeda, untuk Iqra’ terdiri dari 6 jilid sedangkan Tilawati terdiri dari 5 jilid buku c) Menggunakan tehnik membaca secara

Privat/Individual, dimana santri membaca secara perorangan atau satu persatu didepan ustadz/ustadzah dengan menggunakan buku drill (hasil prestasi bacaan santri) d) Eja langsung, jadi santri tidak perlu mengeja

huruf serta tanda baca secara satu persatu e) Berbentuk modul, yaitu bagi santri yang

lulus serta membaca baik dan benar dapat melanjutkan pada jilid yang lebih tinggi f) Setelah khatam jilid akhir (Iqra’ jilid 6 atau

Tilawati jilid 5) dapat dilanjutkan Al Qur’an juz 1,bukan bacaan juz ’Amma

49

g) dimulai pada jilid 2

Pengenalan terhadap bacaan mad (panjang)

2.

Perbedaan antara Metode Iqra' dengan Metode Tilawati Sedangkan perbedaan yang ada pada metode Iqra’ dan metode Tilawati

adalah sebagai berikut: a) Pada metode Tilawati dalam pembacaannya menggunakan irama lagu Rost, sedangkan pada Iqra’ dalam pembacaannya dilarang menggunakan lagu sekalipun dengan menggunakan irama Murottal b) Menurut susunan bukunya pada metode Iqra’ terdiri dari 6 jilid plus buku Ghorib dan Musykilat dan pada metode Tilawati hanya terdiri dari 5 jilid, sedangkan Ghorib dan Musykilat terdapat pada jilid 6 Metode Iqra’: jilid 1, berwarna = orange jilid 1, berwarna = hijau jilid 3, berwarna = biru jilid 4, berwarna = merah jilid 5, berwarna = ungu jilid 6, berwarna = coklat c) Pada jilid pertama dalam metode Iqra’ belum diajarkan huruf bersambung, sedangkan bersambung dalam metode Tilawati sudah diajarkan huruf-huruf Metode Tilawati: jilid 1, berwarna = hijau jilid 2, berwarna = coklat jilid 3, berwarna = biru tua jilid 4, berwarna = ungu jilid 5, berwarna = biru muda

50

d) Pada metode Iqra’ pengenalan terhadap huruf-huruf Hijaiyah asli baru dipaparkan pada jilid 2 dan itupun hanya terbatas 2 sampai 3 huruf saja, sedangkan dalam metode Tilawati bacaan huruf asli sudah diberikan pada jilid pertama mulai dari alif sampai ya’ ditambah dengan pengenalan terhadap angka-angka arab mulai satuan sampai ribuan
e)

Pada metode Tilawati setiap pergantian pokok bahasan baru selalu ditandai dengan tinta merah sehingga memudahkan santri untuk mengingatnya, sedang dalam metode Iqra’ baik pokok bahasan baru atau lama tetap menggunakan tinta hitam Metode Tilawati

‫ب ت‬ َ َ ‫بت‬ َ َ ‫تب‬ َ َ ‫تا‬ َ ‫ت‬ َ ‫تب‬ َ َ ‫ب ا‬ َ ‫ت‬ َ ‫ا ب‬ َ ‫ت‬ َ
Metode Iqra’

‫تب‬ َ ‫تت‬ َ َ

‫ات‬ َ

‫تبت‬ َ َ َ ‫ت ا ب‬ َ َ ‫ا ت ب‬ َ َ

‫ب ت‬ َ َ

51

‫تبا‬ َ ‫اب‬ َ ‫بتا‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ ‫با‬ َ ‫ت‬ َ ‫ت‬ َ ‫تا‬ َ ‫ت‬ َ

‫اتب‬ َ ‫تاب‬ َ َ

‫تات‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ

f)

Pada metode Iqra’ untuk huruf-huruf yang dianggap sulit dalam pelafalannya menggunakan pendekatan bunyi, contohnya seperti;

‫ش‬ َ ‫ق‬ َ ‫ض‬ َ ‫ظ‬

Lebih diarahkan ke bunyi SIA daripada keliru

‫س‬ َ

َ Lebih diarahkan ke bunyi KO daripada keliru ‫خ‬ ‫ذ‬

Lebih diarahkan ke bunyi DHO (kendor) daripada keliru ‫ظ‬ Lebih diarahkan ke bunyi (dibaca dengan bibir agak maju)

sedangkan pada Tilawati ustadz/ustadzah harus mengenalkan huruf-huruf sesuai dengan makhraj dengan baik dan benar
g)

Untuk huruf-huruf Muqhottho’ah, pada Iqra’ hanya dipaparkan/disajikan ½ halaman saja yang ditulis pada jilid akhir (6), sedangkan untuk Tilawati

52

disajikan sejak jilid 3 sampai jilid akhir secara berkesinambungan (istiqomah)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan teoritis dan empiris dalam penelitian sangatlah diperlukan. Oleh karena itu sesuai dengan judul di atas, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sebagaimana pendapat Kirk dan Miller seperti yang dikutip oleh Moeloeng, yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif ”berusaha mengungkapkan gejala suatu tradisi tertentu yang secara fundamental tergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya

53

sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan peristilahannya”.36 Sedangkan deskriptif menurut Moeloeng adalah ”laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan”.37 Dalam hal ini peneliti menggunakan metode kualitatif karena ada beberapa pertimbangan lain, menjelaskan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-kenyataan ganda. Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden, metode ini lebih reka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Dalam pendekatan deskriptif terdapat beberapa jenis metode yang telah lazim dilaksanakan. Dan sehubungan dengan hal tersebut peneliti menggunakan pendekatan deskriptif dengan jenis studi komparatif. Yang berarti ”suatu penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisa tentang perhubungan-perhubungan sebab akibat, yakni yang meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain”.38 Oleh karena itu melalui observasi, wawancara dan angket adalah teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh peneliti yang juga akan ditambah dengan dokumentasi. B. Kehadiran Peneliti

36

Lexy J. Moeloeng, Metologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya Offset, 2002), hlm. 3 37 Ibid,. hlm. 6 38 Winarno Surachmad, Dasar dan Tehnik Research (Bandung: CV. Tarsito, 1976), hlm. 135-136

54

Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif mutlak diperlukan, karena peneliti sendiri merupakan alat (instrumen) pengumpul data yang utama sehingga kehadiran peneliti mutlak diperlukan dalam menguraikan data nantinya. Karena dengan terjun langsung ke lapangan maka peneliti dapat melihat secara langsung fenomena di daerah lapangan seperti “kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana

pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi hasil pelapor dari hasil penelitiannya”.39 Kedudukan peneliti sebagai Instrumen atau alat penelitian ini sangat tepat, karena ia mempunyai peran yang sangat vital dalam proses penelitian. Sedangkan kehadiran peneliti dalam penelitian ini diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subyek atau informan, dengan terlebih dahulu mengajukan surat izin penelitian ke lembaga yang terkait. Adapun peran peneliti dalam penelitian adalah sebagai pengamat berperan serta yaitu peneliti tidak sepenuhnya sebagai pemeran serta tetapi masih melakukan fungsi pengamatan. Peneliti pada saat penelitian mengadakan pengamatan langsung, sehingga diketahui fenomenafenomena yang nampak. Secara umum kehadiran peneliti di lapangan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1. lapangan penelitian 2. Pengumpulan data, dalam bagian ini peneliti Penelitian pendahuluan yang bertujuan mengenal

secara khusus mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam proses penelitian
39

Lexy J. Moeloeng, op.cit., hlm. 121

55

3.

Evaluasi data yang bertujuan menilai data yang

diperoleh di lapangan pnelitian dengan kenyataan yang ada Dalam penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 3 minggu, peneliti hadir secara intensif di Madrasah Diniyah Al Husna guna memperoleh informasi serta data yang dibutuhkan. Misalnya saja dengan masuk ke ruang-ruang kelas secara bergantian (mulai kelas IA sampai kelas VIB), dan mengikuti proses belajar-mengajar di kelas-kelas tersebut. Kemudian selebihnya peneliti melakukan interview (wawancara) kepada Kepala Madrasah Diniyah Al Husna dan ustadz/ ustadzah serta mengumpulkan atau menyalin data yang berupa dokumendokumen yang berhubungan dengan latar belakang, visi, misi, serta kurikulum. C. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah letak dimana penelitian akan dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan dan berkaitan dengan permasalahan penelitian. Adapun lokasi penelitian ini berada di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang, tepatnya terletak di Jalan Mayor Abdullah No. 248 Lawang – Malang, dan berdiri dibawah naungan Yayasan Ponpes. Al Husna Lawang. Lokasi Madrasah Diniyah Al Husna berada di tempat yang sangat strategis dan tanah berada di kelas A dengan luas 343 m persegi, lingkungan sangat mendukung untuk berkembang pesat karena akan sangat kompetitif dilihat dari banyaknya tempat pendidikan yang lain di lingkungan tersebut, baik dalam kalangan Islam maupun Nasrani. Dan berada tepat di depan instansi pemerintah

56

(dinas pertanian) di jalur menuju Agro Wisata Wonosari (perkebunan teh) serta ada di belakang perkampungan padat penduduk. D. Sumber Data Menurut pernyataan Lofland dan Lofland yang dikutip oleh Moeloeng, “sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistic”.40 Berdasarkan pengertian tersebut dapat dapat dimengerti bahwa yang dimaksud dengan sumber data adalah dari mana peneliti akan mendapatkan dan menggali informasi berupa data-data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: 1. Sumber Data Primer Sumber data primer merupakan data yang dikumpulkan, diolah, dan disajikan oleh peneliti dari sumber utama, yang dapat berupa kata-kata atau tindakan. Dalam hal ini yang akan menjadi sumber data primer/ utama adalah Kepala Madrasah Diniyah Al Husna, ustadz/ ustadzah dan para stafnya serta santriwan-santriwati Madrasah Diniyah Al Husna. 2. Sumber Data Skunder Sumber data skunder merupakan sumber data pelengkap yang berfungsi melengkapi data-data yang diperlukan oleh data primer/ data

40

Ibid., hlm. 112

57

utama. Yaitu dapat berupa buku-buku, makalah, arsip, dokumen pribadi serta dokumen resmi. E. Prosedur Pengumpulan Data 1. Observasi Di dalam pengertian psikologik, “observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra”.41 Dengan kata lain, metode observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena (kejadian) yang diamati dan diselidiki untuk kemudian dilakukan pencatatan. Melalui metode ini peneliti ingin memperoleh data mengenai: a. Penerapan pembelajaran Al Qur’an dengan menggunkan metode Iqra’ dan Tilawati. b. Persamaan dan perbedaan antara metode Iqra’ dan metode Tilawati. c. Faktor-faktor yang mendukung serta menghambat bagi penerapan metode Iqra’ dan Tilawati. Sedangkan untuk proses observasinya yaitu, peneliti menggunakan metode angket yang disebarkan kepada para ustadz/ ustadzah, melakukan interview (wawancara) kepada beberapa ustadz/ ustadzah yang mengerti serta paham tentang metode Iqra’ dan Tilawati. Selain itu, guna
41

Suharsimi Arikunto, op.cit., hlm. 133

58

memperoleh informasi lebih lengkap maka peneliti juga terjun langsung, yaitu dengan masuk ke ruang-ruang kelas dan mengikuti proses belajarmengajar. 2. Interviu (Interview) Interviu yang sering juga “disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara

(interviewer)”.42 Metode ini juga merupakan wawancara langsung dengan responden sebagai pihak yang memberikan keterangan. Adapun data yang ingin diperoleh oleh peneliti melalui metode/ tehnik ini adalah : a. Mengetahui gambaran umum tentang Madrasah Diniyah Al Husna, antara lain seabagai berikut: a. Sejarah dan latar belakang Madrasah Diniyah Al Husna b. Visi dan Misi Madrasah Diniyah Al Husna c. Struktur organisasi Madrasah Diniyah Al Husna d. Keadaan ustadz/ ustadzah Madrasah Diniyah Al Husna e. Keadaan santri Madrasah Diniyah Al Husna f. Keadaan sarana prasarana Madrasah Diniyah Al Husna b. Penggalian informasi tentang metode pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna, diantaranya:  Penerapan metode Iqra’ dan Tilawati di Madrasah Diniyah

Al Husna

42

Ibid, hlm. 132

59

Persamaan dan perbedaan antara metode Iqra’ dan Tilawati

di Madrasah Diniyah Al Husna  Faktor pendukung dan penghambat bagi penerapan metode

Iqra’ dan Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Adapun yang menjadi responden dalam metode Wawancara (Interview) ini adalah Kepala Madrsah Diniyah Al Husna, ustadz/ ustadzah serta para staf Madrasah Diniyah Al Husna. 3. Dokumentasi Dokumentasi atau “dokumen (document) ialah semua jenis rekaman/ catatan ‘skunder’ lainnya, seperti surat-surat, memo/ nota, pidato-pidato, buku harian, poto-poto, kliping berita koran, hasil-hasil penelitian, agenda kegiatan”.43 Tehnik/ metode ini biasa digunakan sebagai sumber data yang berupa laporan ataupun catatan tertulis, misalnya: bukubuku, makalah, catatan, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, agenda kegiatan, dan sebaginya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperoleh data tentang: a. Visi dan misi Madrasah Diniyah Al Husna b. Struktur organisasi Madrasah Diniyah Al Husna c. Kurikulum di Madrasah Diniyah Al Husna d. Keadaan ustadz/ ustadzah Madrasah Diniyah Al Husna e. Keadaan santri Madrasah Diniyah Al Husna f. Sarana prasarana
43

Sanapiah Faisal, Penelitian Kualitatif dasar-dasar dan aplikasi (Malang: IKIP Malang, 1990), hlm. 81

60

F. Analisis Data Analisis data menurut Moeleong adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.44 Karena dalam penelitian ini tidak menggunakan angka, maka metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dimana dengan analisis deskriptif berusaha menggambarkan, mempresentasikan serta menafsirkan tentang hasil penelitian secara detail/ menyeluruh sesuai data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan dari hasil observasi, interview, dan dokumentasi. Mendeskripsikan data kualitatif adalah “dengan cara menyusun dan mengelompokkan data yang ada, sehingga memberikan gambaran nyata terhadap responden. Metode penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau metode statistik”.45

Proses analisa yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Reduksi Reduksi Data data merupakan analisis yang menajamkan,

menggolongkan data dengan cara sedemikian rupa hingga dapat ditarik kesimpulan final/ akhirnya (diverifikasi). Data yang diperoleh dari lapangan langsung ditulis dengan rinci dan sistematis setiap selesai mengumpulkan data. Laporan-laporan itu perlu direduksi, yaitu dengan
44

Lexy J. Moeloeng, op.cit., hlm. 103 Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif-Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnnya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 155
45

61

memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian agar mudah untuk menyimpulkannya. Reduksi data dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan serta membantu dalam memberikan kode kepada aspek-aspek tertentu.46 2. Display Data atau Penyajian Data Display data menurut “yaitu mengumpulkan data atau informasi secara tersususun, yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data yang sudah ada disusun dengan menggunakan teks yang bersifat naratif, selain itu dapat berupa matriks, grafik, networks, dan chart”.47 Hal tersebut dilakukan dengan alasan supaya peneliti dapat menguasai data dan tidak terpaku pada tumpukan data, serta memudahkan peneliti untuk merencanakan tindakan selanjutnya.

3.

Verifikasi atau menarik kesimpulan Verifikasi atau penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dan

analisis data puncak. Meskipun begitu, kesimpulan juga membutuhkan verifikasi selama penelitian sedang berlangsung. Verifikasi dimaksudkan untuk menghasilkan kesimpulan yang valid. Oleh karena itu, ada baiknya sebuah kesimpulan ditinjau ulang dengan cara mem-verifikasi kembali catatan-catatan selama penelitian dan mencari pola, tema, model, hubungan dan persamaan untuk diambil sebuah kesimpulan.48
46 47

Nasution, Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1988), hlm. 129 Ibid 48 Ibid, hlm. 130

62

G. Pengecekan Keabsahan Data Dalam penelitian, setiap hal temuan harus dicek keabsahannya, agar hasil penelitiannya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya dan dapat dibuktikan keabsahannya. Dan untuk pengecekan keabsahan temuan ini teknik yang dipakai oleh peneliti adalah triangulasi. Triangulasi menurut Moeloeng adalah “teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu”.49 Dan pengecekan atau pemeriksaan yang dilakukan oleh peneliti antara lain yaitu:
1.

Triangulasi

Data,

yaitu

dengan

cara

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, data hasil wawancara dan data hasil dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh.
2.

Triangulasi Metode, yaitu dengan cara mencari data

lain tentang sebuah fenomena yang diperoleh dengan menggunakan metode yang berbeda yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ini dibandingkan dan disimpulkan sehingga memperoleh data yang bisa dipercaya.
3.

Triangulasi

Sumber,

yaitu

dengan

cara

membandingkan kebenaran suatu fenomena berdasarkan data yang

49

Lexy J. Moeloeng, op.cit., hlm. 178

63

diperoleh oleh peneliti, baik dilihat dari dimensi waktu maupun sumber lainnya. H. Tahap-tahap Penelitian Selama melakukan penelitian dalam rangka penyelesaian tugas akhir ini, peneliti melalui beberapa tahapan, antara lain: 1. Tahap Persiapan, meliputi; a) Pengajuan judul dan proposal penelitian kepada pihak Kajur (kantor jurusan) b) Konsultasi proposal ke Dosen Pembimbing c) Melakukan kegiatan kajian pustaka yang sesuai dengan judul penelitian d) Menyusun metode penelitian e) Mengurus surat perizinan penelitian kepada fakultas untuk diserahkan kepada Pimpinan/ Kepala Madrasah yang dijadikan obyek penelitian f) Menjajaki dan menilai keadaan lapangan yang akan diteliti g) Memilih dan memanfaatkan informan h) Menyiapkan perlengkapan penelitian 2. Tahap Pelaksanaan, meliputi; Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data dan pengolahan data, adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara: a) Memahami latar belakang penelitian dan persiapan diri b) Mengadakan observasi langsung

64

c) Melakukan wawancara kepada subyek penelitian d) Menggali data penunjang melalui dokumen-dokumen Pengolahan data dilakukan dengan cara data yang diperoleh dari hasil penelitian di analisis dengan tehnik atau metode analisis yang telah ditentukan sebelumnya. 3. Tahap Penyelesaian, meliputi; a) Menyusun kerangka laporan hasil penelitian b) Menyusun laporan akhir penelitian dengan selalu berkonsultasi kepada Dosen Pembimbing c) Ujian pertanggung jawaban hasil penelitian di depan dewan penguji d) Penggandaan dan penyampaian hasil laporan hasil penelitian kepada pihak-pihak yang bersangkutan dan berkepentingan

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Obyek Penelitian

65

Dalam rangka mengadakan pembuktian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penulisan (skripsi ini), maka penulis mengadakan penelitian lapangan (field research) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang. Dan latar belakang obyek penelitian merupakan hal sangat penting untuk dikemukakan dalam penelitian, karena obyek penelitian adalah pusat informasi data yang akan diambil oleh peneliti dalam menyempurnakan penelitiannya. Oleh karena itu, dalam latar belakang obyek ini akan memaparkan profil obyek penelitian secara garis besar, yaitu mengenai hal-hal sebagai berikut: 1. Letak Geografis Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Madrasah Diniyah Al Husna terletak di wilayah/ kota Lawang, yang kurang lebih berjarak 25 km dari kota Malang. Tepatnya terletak di Jalan Mayor Abdullah No. 248 Lawang-Malang, dan berdiri di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Husna Lawang. Lokasi Madrasah Diniyah Al Husna berada di tempat yang sangat strategis dan tanah berada di kelas A dengan ukuran luas 343 m persegi. Dengan lingkungan yang sangat mendukung untuk berkembang, karena akan sangat kompetitif dilihat dari banyaknya tempat pendidikan di sekitar lingkungan tersebut. Baik di bawah naungan umat Muslim maupun di bawah naungan umat Nasrani, serta merupakan jalur menuju Agro Wisata Wonosari (perkebunan teh). Adapun batas wilayah Madrasah Diniyah Al Husna adalah, di sebelah Barat terletak/ berdiri sebuah instansi pemerintahan (Dinas Pertanian), serta sebuah bangunan TK (Taman Kanak-kanak) dan KB

66

(Kelompok Bermain/ Play Group) yang juga berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Husna. Kemudian di sebelah Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan TK dan SD yang dikelola oleh kaum Nasrani juga sebuah Gereja,di sebelah Utara dan Selatan terdapat perkampungan dan perumahan padat penduduk. Sesuai dengan letaknya yang strategis, maka santri Madrasah Diniyah Al Husna tidak hanya berasal dari desa atau perkampungan sekitarnya saja, bahkan banyak yang datang dari luar desa atau kecamatan yang letaknya sangat jauh. Sehingga salah satu dari wali santri menyediakan jasa antar jemput (abumen) bagi santri yang rumahnya terletak agak jauh dari lokasi Madrasah Diniyah Al Husna. 2. Sejarah Berdirinya Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Pada awal berdirinya (sebelum resmi menyandang nama Madrasah Diniyah Al Husna), Ibu Lailil Qomariyah yang sejak kecil memang sudah akrab dengan lingkungan pondok pesantren, dan dibantu oleh dua orang adiknya mengajar anak-anak kampung di sekitar rumahnya agar bisa membaca dan menulis huruf Al Qur’an Semula jumlah anak-anak yang mengajihanya 50 orang, akan tetapi sejalan dengan tingginya animo serta kesadaran masyarakat sekitar akan agama dan pentingnya Al Qur’an, maka dalam jangka waktu 3 bulan jumlah anak-anak bahkan ibu-ibu yang mengaji bertambah menjadi tiga kali lipat. Karena jumlah anak-anak dan ibu-ibu yang mengaji bertambah banyak sehingga membutuhkan tempat yang lebih luas, maka pada awal tahun 2000 tepatnya pada bulan April,

67

Ibu Lailil Qomariyah mendirikan tempat belajar Al Qur’an atau biasa disebut dengan TPA/TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an). Dan berdasarkan atas saran serta hasil musyawarah ustadz-ustadz dan ulama’ se-Lawang maka Madrasah Diniyah Al Husna resmi dibuka untuk umum. Sedangkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh Madrasah Diniyah Al Husna yaitu menjadi salah satu sarana/ tempat pendidikan Al Qur’an (TPA/ TPQ) yang unggul dari segi mutu, dan ingin menciptakan ciri khas yang berbeda dari tempat-tempat mengaji lainnya. Oleh karena itu diberi nama Madrasah Diniyah atau biasa diartikan sebagai sekolah agama, dimana didalamnya anak-anak dibekali dengan pengetahuan mengenai dasar-dasar agama. Sehingga mereka (santri) nantinya ketika dewasa tidak hanya bisa membaca Al Qur’an saja. Hal tersebut disebabkan karena di sekolah-sekolah umum kebanyakan materi pelajaran agama dirasa sangat kurang, yaitu hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggunya. Maka sangat mendesak dibutuhkan keberadaan suatu lembaga yang khusus menangani pendidikan agama anak-anak sejak usia dini. Dan Madrasah Diniyah Al Husna berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan cara menyediakan sarana yang representatif dalam rangka pembelajaran keagamaan. Setiap instansi atau lembaga baik formal maupun non formal, pasti memiliki visi dan misi guna mencapai tujuan yang dicita-citakan, begitupun dengan Madrasah Diniyah Al Husna. Adapun Visi dan Misi

68

yang ingin dicapai oleh Madrasah Diniyah Al Husna adalah sebagai berikut: Visi Mencetak generasi Qur’ani, yang mempunyai komitmen pada agama Islam, bertaqwa, berprestasi, ber-akhlaqul karimah, shaleh, dan bermanfaat bagi keluarga, bangsa dan agama. Misi • Menumbuhkan kecintaan anak/ santri pada Allah, Rasul-Nya,

Agama-Nya, dan Kitab Suci-Nya • Menyiapkan santri untuk dapat membaca Al Qur’an dengan tartil,

fasih, dan lancar serta dapat memahami maknanya, sehingga kelak dapat mengamalkan ajaran-Nya • Mengetahui dasar-dasar agama Islam untuk bekal dalam

menghadapi perubahan zaman dan membentengi diri dari pengaruhpengaruh luar yang merusak moral dan aqidah anak/ santri • Memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk

mengembangkan bakat, minat dan potensinya agar tersalurkan secara wajar dan seimbang sehingga dapat berprestasi 3. Lawang Struktur organisasi merupakan kerangka atau susunan yang menunjang hubungan antara komponen yang satu dengan komponen yang lainnya, sehingga jelas antara wewenang dan tanggung jawab masingStruktur Organisasi Madrasah Diniyah Al Husna

69

masing dalam kebulatan yang teratur. Pengorganisasian adalah menyusun hubungan perilaku yang efektif antar personalia, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan beberapa tugas dan dalam situasi lingkungan yang ada disekitarnya guna mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan. Oleh karena itu Madrasah Diniyah Al Husna sebagai suatu lembaga pendidikan dimana didalamnya terdapat penasehat, kepala Madrasah, Waka. Bid. Kurikulum, Waka. Bid. Kesantrian, Waka Bid. Sarana Prasarana, ustadz/ ustadzah, karyawan/ security, staff tata usaha, santriwan/ santriwati dan sebagainya memerlukan pengorganisasian yang baik. Hal ini bertujuan agar program serta kurikulum yang sudah dibentuk (ditentukan) dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu agar kerjasama dan tanggung jawab dapat dijalankan secara maksimal, baik antara ustadz dengan ustadzah, santri dengan santri, ustadz dengan santri, dan demikian pula sebaliknya. Adapun struktur organisasi pada Madrasah Diniyah Al Husna adalah sebagai berikut:

STRUKTUR ORGANISASI MADRASAH DINIYAH AL HUSNA

Penasehat

Kepala Madrasah Diniyah

Wali Waka. Bidang Kelas Kelas Wali Kurikulum Asisten Asisten

Waka. Bidang Kesantrian Waka. Bidang Wali Kelas Wali Kelas Wali Kelas (Pengembangan SDM) Tata Usaha Asisten Sarana Prasarana Asisten Asisten Santri

70

Wali Kelas Asisten

Keterangan: Penasehat : Ustadz H. Anis Shahab H. Soepra’i Ahmad Rifa’i H. Abdul Mu’in Effendi Kepala Madrasah Waka Bid. Kurikulum Waka Bid. Kesantrian : Ustadzah Lailil Qomariyah : Ustadz M. Mukhlisin, S.Pd. : Ustadzah Misbahus Sholihah

Waka Bid. Sarana Prasarana : Ustadz Heri Utomo Staff Tata Usaha : Ibu Endah Rahayu Listyarini Ibu Zuliatul Masruroh
4.

Keadaan Ustadz/ ustadzah Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

71

Guru atau pendidik merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena keberadaannya sangat mempengaruhi hal tersebut dan sekaligus merupakan faktor penentu menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Dan dalam lingkungan pembelajaran Al Qur’an (TPA/ TPQ), istilah guru atau pendidik sering disebut juga dengan istilah ustadz/ ustadzah. Untuk melihat lebih lengkap mengenaai data guru (ustadz/ ustadzah) dan para staff/karyawan Madrasah Diniyah Al Husna dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.1 Data Ustadz/ ustadzah serta staff Madrasah Diniyah Al Husna Lawang No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama ustadz/ ustadzah dan staff Ustdz. Lailil Qomariyah Ust. Abdul Bari, SH. M.HUM Ust. Heri Utomo Ustdz. Misbahus Sholihah Ust. M. Mukhlisin, S.Pd. Ust. Ahmad Hanafi Ust. M. Ali Chusni Ustdz. Siti Nur Azizah Ustdz. Anisatul Maghfiroh Ustdz. Siti Latifatul Hidayah Ustdz. Reny Fitria Ustdz. Siti Aminah Ustdz. Firmandini Islamy Ustdz. Luluk Muthoifah Ust. Muhammad Imam, S.Pd.I Ust. Ainun Hakim Ust. Thoha Luqoni, S.Sos. Ust. Mujib Bpk Sony Ibu Endah Rahayu Listyarini Ibu Zuliatul Masruroh Pendidikan terakhir SMU S2 MA SMU S1 MA MA PGTK SMU D3 SMU SMU SMU SMU S1 SMU S1 MA SMU SMU SMK Jabatan Kepala madrasah Wali kls.6B Wali kls.1A+ass. kls.6B Wali kls.3A+ass. kls.6A Wali kls.2A+5B Wali kls. penjurusan Ass. penjurusan Wali kls.4A+ass. Kls.1B Wali kls.2B+4B Wali kls.3A+ass. kls.6A Wali kls.3A+ass. kls.6A Asss. kls.4A Wali kls.3A+ass. kls.6A Asss. kls.2B+4B Wali kls.3A+ass. kls.6A Ass. kls.2A+4A Guru ekstra kurikuler jurnalistik Guru ekstra kurikuler tartil Guru ekstra kurikuler menggambar Staff TU Staff TU

72

22

Bpk. Rahmad Jatmiko

SMU

Security

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

5.

Keadaan Santri Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Peserta didik dalam hal ini santri, merupakan salah satu dari sekian

banyak faktor yang mendukung dalam kegiatan belajar mengajar dan juga merupakan salah faktor yang dominan. Dan murid (santri) sebagai obyek pendidikan tentunya mempunyai peranan yang sangat penting dalam mensukseskan proses pembelajaran Al Qur’an, meskipun hal ini tidak dapat dilepaskan hubungannnya dengan pendidik atau ustadz/ ustadzah. Secara garis besar jumlah santriwan/ santriwati Madrasah Diniyah Al Husna dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.2 Data Santriwan/ santriwati Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Kelas 1A 1B 2A 2B 3A 3B 4A 4B 5A 5B 6A 6B Penjurusan Jumlah Total Santriwan 5 11 7 11 10 9 13 5 13 8 92 Santriwati 18 10 14 13 5 5 10 24 20 8 127 Jumlah 23 21 21 24 15 14 10 13 24 5 20 13 16 219

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

73

Dari penyajian data di atas dapat dilihat bahwasannya jumlah santriwati lebih dominan (lebih banyak) daripada jumlah santriwan. Dan dari jumlah tersebut, sebagian besar santri Madrasah Diniyah Al Husna berasal dari daerah sekitar (wilayah Kecamatan Lawang sendiri). Seedangkan usia santri, rata-rata masih duduk pada tingkatan sekolah dasar (SD), meskipun ada pula beberapa santri yang masih TK atau bahkan pra-sekolah (Play Group). 6. Sarana dan Prasarana Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Dalam suatu lembaga, sarana prasarana merupakan suatu alat atau media keberhasilan dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan. Apalagi suatu lembaga pendidikan seperti Madrasah Diniyah Al Husna, sarana prasarana merupakan alat penunjang keberhasilan bagi kelancaran proses pembelajaran Al Qur’an selama ini. Adapun saran dan prasaran yang ada di Madrasah Diniyah Al Husna secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4.3 Sarana Prasarana Madrasah Diniyah Al Husna Lawang No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Ruang kelas Musholla Ruang guru/kantor KM/WC Koperasi santri Ruang Audio Visual Alat-alat peraga Televisi/TV VCD (Video Casette Disk) Komputer Papan Tulis Jumlah 6 1 1 4 1 1 11 1 1 1 6

74

12 13 14 15 16 17 18 19 20

Almari Berkas Rak Al Qur’an Mading (Majalah Dinding) Almari Perpustakaan Puzzle Hijaiyah Kartu-kartu Hijaiyah Salon Sound System Bangku/Dampar

1 2 2 2 4 6 4 1 100

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Selain sarana prasarana yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi sarana prasarana yang dalam waktu dekat akan berusaha untuk dipenuhi serta dibangun oleh Madrasah Diniyah Al Husna. Misalnya saja seperti: penambahan bangku-bangku santri/ dampar, pembangunan kamar inap santri, serta pengembangan usaha seperti koperasi santri, kios bunga, dan rental VCD Islami. Sarana dan prasarana yang telah dimiliki atau yang telah tersedia dirawat dengan baik oleh ustadz/ ustadzah, karyawan, serta santriwan/santriwati Madrasah Diniyah Al Husna. 7. Kurikulum Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Eksistensi mempunyai kurikulum yang dalam sangat sebuah penting, lembaga karena pendidikan merupakan

peranan

operasionalisasi yang dicita-citakan, bahkan tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa kurikulum pendidikan. Oleh karena itu Madrasah Diniyah Al Husna menggunakan Modifikasi Kurikulum Depag. (Departemen Agama), LPTQ Nasional/ LPPTKA (Lembaga Pembinaan dan

Pengembangan Taman Kanak-kanak Al Qur’an), BKPRMI (Badan

75

Komunikasi Remaja Masjid Indonesia) dan Madrasah Diniyah Al Husna sendiri. Akan tetapi pada setiap tahunnya kurikulum di Madrasah Diniyah Al Husna ini dapat berubah, mengingat usia santri yang selalu berubah pada setiap tahunnya (menyesuaikan) berdasarkan kelas. Misalnya pada tahun 2004/2005 di kelas I A dan I B rata-rata usia santri adalah TK sampai SD, akan tetapi pada tahun 2005/2006 pada kelas I A dan I B banyak santri yang berusia pra sekolah (Play Group atau usia KB/ Kelompok Bermain) sampai TK, sehingga apabila diterapkan kurikulum yang sama (dengan tahun sebelumnya) akan membebani santri-santri tersebut. Maka Kepala Madrasah Diniyah Al Husna mengambil kebijakan dengan cara mengurangi materi atau mengubah kurikulum kelas I tersebut, hal ini dilakukan agar santri rajin dan bersemangat dalam menjalani proses transferisasi ilmu. Jadi sifat dari kurikulum Madrasah Diniyah Al Husan adalah fleksibel, karena dapat berubah sewaktu-waktu atau menyesuaikan dengan kondisi santri pada saat itu. Adapun kurikulum yang digunakan pada tahun 2005/2006 oleh Madrasah Diniyah Al Husna adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4 Kurikulum Kelas I (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

76

Bidang Studi

Tujuan Umum Pembelajaran Santri mampu menghafal do’ado’a dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari

Hafalan Do’a

Praktek Ibadah

Khot / Imla’

Hafalan Surat Pendek

Santri mengetahui dan mampu melaksanakan tata cara bersuci seperti; wudhu dan tayamum juga mempraktekkan sholat subuh dan maghrib secara berjama’ah, serta dapat melafalkan lafadz adzan dan iqomat dengan baik dan benar Santri mengetahui nama-nama huruf Hijaiyah dan mampu menulis dengan baik, rapi dan benar yang diikuti dengan tanda fathah, kashroh, dan dhommah Santri mengenal nama-nama surat pendek dan menghafalkannya dengan fasih dan tartil

Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Menghafal do’a-do’a: sebelum & sesudah makan, sebelum & bangun tidur, masuk & keluar wc/km, belajar, keluar rumah, masuk & keluar masjid, kebaikan dunia akhirat, naik kendaraan, mohon pertolongan, dan mensyukuri ni’mat Niat wudhu, gerakan-gerakan wudhu, praktek wudhu, niat tayamum, sebab-sebab tayamum, praktek sholat subuh dan maghrib berjama’ah, menghafal serta mempraktekkan bacaan-bacaan adzan dan iqomat Menulis 29 huruf hijaiyah (untuk setiap minggu/pertemuan menulis 3 huruf) diikuti dengan tanda-tanda fathah, kashroh, dan dhommah Membaca Ta’awudz serta Basmallah yang baik danbenar, menghafal surat Al Fatihah (pada minggu ke-1 membaca ayat 1-4, minggu ke-2 membaca ayat 5-7), menghafal surat-surat pendek seperti; An Naas, Al Ikhlas, Al ’Ashr, Al Kautsar, Al Lahab, An Nashr, dan Al Maa’un Tepuk Anak Sholeh, Mewarnai ”Al Qur’an Kitabku”, Menyanyi Lagu ”Satu-Satu Aku Cinta Allah”, Cerita Tentang Nabi-Nabi Seperti; Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Yusuf, dan Nabi Muhammad, tepuk Rukun Iman, melihat VCD tentang kekuasaan Allah, tepuk ”kalau kau suka ngaji”, menyanyi ”mari kita sembahyang”, mewarnai ”pergi ke masjid”, tepuk rukun Islam, serta mewarnai ”Nuri menyayangi si Meong”

Aqidah Akhlaq dengan metode BCM (Bermain Cerita dan Menyanyi)

Santri mengetahui dasar-dasar aqidah (Rukun Iman), memahami kekuasaan dan sifat-sifat Allah, mengenal Nabi-nabi melalui kisahkisahnya, dan berakhlaq terpuji. (Semuanya dijelaskan atau disampaikan dengan menggunakan metode BCM/Bermain Cerita dan Menyanyi)

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Tabel 4.5 Kurikulum Kelas II (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

77

Bidang Studi

Tujuan Umum Pembelajaran Santri mampu menulis huruf-huruf Hijaiyah dengan baik dan benar, mengenal tanda baca dalam Al Qur’an, serta mampu menulis huruf Hijaiyah yang bersambung Santri mampu membiasakan bersikap terpuji terhadap orang tua, guru, teman, dan lingkungan sekitar, mengetahui cerita Nabinabi untuk diambil hikmah dan diteladani, serta hafal dan mengerti tentang Rukun Iman Santri hafal do’a seharihari, dan hafal surat-surat pendek untuk dibaca pada waktu sholat

Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Menulis 29 huruf Hijaiyah (setiap minggu 3 huruf), dengan harokat fathah, kashroh, dan dhommah, pengenalan terhadap harokat fathahtain, kashrohtain, dan dhommahtain, dikte/imla’ (guru membaca santri menulis), pengenalan terhadap tanda baca tasydid dan sukun serta menyambung 2, 3, atau 4 huruf Adab tidur, mandi, buang hajat, makan, minum, berpakaian, belajar, terahadap orang tua, di rumah, kepada guru, berjumpa dan berpisah dengan teman di jalan, menyayangi binatang, bersin, menguap, meludah, bertamu, serta cerita tentang Nabi Adam, Nabi Nuh, dan Nabi Hud

Khot / Imla’

Aqidah / Akhlaq

Hafalan Do’a dan Surat Pendek

Fiqih

Praktek Ibadah

Mengahafal do’a sehari-hari, seperti; akan belajar, untuk kedua orang tua, kebaikan dunia dan akhirat, mohon pertolongan, mensyukuri ni’mat, sesudah wudhu, sesudah adzan, serta do’a naik kendaraan, dan menghafal surat-surat pendek seperti; Al Kautsar, Al Lahab, An Nashr, Al Maa’un, Al Falaq, dan Al Quraisy Santri hafal dan mengerti Melafalkan Syahadatain beserta artinya, Rukun Islam, mengetahui menghafalkanRukun Islam, mengetahui dan manfaat hidup bersih, mengerti tentang; kebersihan, macam-macam mengetahui macam-macam najis dan cara mensucikannya, macam-macam air, najis, dan cara perbedaan wudhu dan tayamum, syarat-syarat mensucikannya, serta wudhu, rukun, serta sunnahwudhu, sebab dan mengerti tata cara wudhu syarat tayamum, praktek wudhu dan tayamum dan tayamum Santri mampu melakukan Praktek sholat subuh berjama’ah, menghafal gerakan-gerakan serta bacaan-bacaan pada setiap gerakan sholat, mampu melafalkan bacaan- praktek sholat dzuhur, ashar, maghrib, dan isya’, bacaan sholat wajib dengan serta praktek adzan dan iqomat baik dan benar
Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Tabel 4.6 Kurikulum Kelas III (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang

78

Bidang Studi

Tujuan Umum Pembelajaran Santri mengetahui adab terhadap lingkungannya, mengenal sifat-sifat Allah untuk memumbuhkan keimanan kepada Allah, memiliki sifat-sifat terpuji dan meneladani kisah para Nabi

Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Mengetahui dan mengerti mengenai macammacam adab seperti; bertetangga, terhadap alam, cara memelihara kelestarian alam dan manfaatnya, cara beriman kepada Allah, mengetahui sifat-sifat Allah seperti; Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Pemaaf, Maha Pemurah, tanda-tanda orang yang beriman kepada Allah, taat kepada Rasul, menjadi orang yang sabar, jujur, sederhana, amanah, ikhlas, optimis, rendah hati, kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yusuf, dan Nabi Musa Waktu-waktu sholat fardhu, jawaban ketika mendengar adzan, bacaan iqomat, syarat wajib dan sah sholat, yang membatalkan sholat, cara sholat berjama’ah, syarat sah menjadi ma’mum, ma’mum masbuq, keutamaan sholat berjama’ah, sholat tahjud, sholat bagi orang sakit, sholat sunnah rowatib dan keutamaannya, sholat witiw, sholat jama’ dan qoshor, praktek sujud sahwi dan sujud syukur

Aqidah Akhlaq

Fiqih

Hafalan Do’a dan Surat Pendek

Praktek Ibadah

Khot / Imla’

Santri mengerti tentang waktu-waktu sholat, cara menjawab adazn, mengetahui syarat, rukun, serta hal-hal yang membatalkan sholat, mengerti tata cara sholat berjama’ah, sholatnya orang sakit, sholat-sholat sunnah, sholat jama’ dan qoshor, sujud sahwi dan sujud syukur Santri hafal do’a seharihari dan hafal surat-surat pendek untuk bacaan dalam sholat dan dzikir ba’da sholat Santri mengetahui dan dapat mempraktekkan sholat-sholat sunnah, sholat berjama’ah, menjadi ma’mum masbuq, sholat ketika sakit, sholat jama’ dan qoshor, sujud sahwi dan sujud syukur Santri dapat menulis huruf Hijaiyah bersambung, serta dapat menulis kalimatkalimat Thoyyibah dan ayat-ayat pendek dengan metode dikte atau imla’

Menghafal do’a: setelah adzan, sesudah wudhu, mohon pertolongan, mensyukuri ni’mat, bercermin, serta bacaan dzikir setelah (ba’da) sholat, dan menghafal surat: Al Maa’un, Al Quraisy, Al Fiil, Al Humazah, dan At Takatsur Niat wudhu dan tayamum, praktek sholat: subuh, dzuhur, ashar, maghrib, isya’, jum’at, dhuha, tahajud, witir, jenazah, ketika sakit, qobliyah, ba’diyah, jama’, qoshor, serta sujud sahwi dan sujud syukur

Menulis 4 huruf dengan disambung (bergandeng), menulis kalimat-kalimat Thoyyibah seperti: salam, sholawat, hamdalah, basmalah, tahmid, takbir, istighfar, serta ta’awudz, dan menulis atau menyalin tulisan do’a: sebelum dan sesudah makan, keluar rumah, masuk dan keluar masjid

79

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Tabel 4.7 Kurikulum Kelas IV (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Bidang Studi Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Santri memahami Pengertian puasa, syarat dan rukun puasa, ketentuan-ketentuan dan amalan-amalan puasa, hal-hal yang tata cara melaksanakan membatalkan puasa, orang yang boleh tidak puasa, serta terbiasa berpuasa dan cara menggantinya, cara melaksanakannya dan menyambut bulan puasa, cara berbuka puasa memahami hukum Islam dan sahur yang benar, do’a buka puasa, khususnya mengenai zakat sikap taat kepada Allah, Qiyamul Lail, memperbanyak infaq dan shodaqoh, keutamaan menghafal Al Qur’an, hari-hari yang disunnahkan dan diharamkan untuk berpuasa, pengertian dan hukum zakat, macam-macam zakat, nishab zakat, orangorang yang berhak menerima zakat Santri memahami dan Menyebutkan alasan (logika) sederhana meyakini bahwa Allah bahwa Allah Maha Dahulu, dalil aqli dan Maha Dahulu, berbeda naqli bahwa Allah Maha Dahulu, dengan makhluk-Nya, menyebutkan alasan sederhana serta dalil Maha Pemelihara, serta naqli bahwa Allah berbeda dengan mengimani kitab-kitab makhluk-Nya, menyebutkan kitab-kitab Allah dan meneladani Allah, bercerita tentang kisah Nabi Yunus kisah-kisah para Rasul juga dan Nabi Daud serta mengambil hikmah mengerti sikap-sikap dari kisah tersebut, pengertian syukur, adil, terpuji dan kebiasaanikhlas, tama’, dan boros kebiasaan baik Santri mengenal hurufPengenalan terhadap huruf-huruf yang huruf Hijaiyah, tanda baca, disambung dari depan, tengah dan belakang, cara menyambung huruf, pengenalan tanda baca seperti: fathah, serta mampu membaca kashroh, dhommah, fathahtain, kashrohtain, huruf sesuai dengan sifat dhommahtain, sukun, tasydid, mad alif, alif dan makhrojnya lam syamsiyah, alif lam qomariyah, serta praktek membacanya Santri mengerti dan Masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam memahami sejarah Nabi dilihat dari segi/keadaan alam, sosial, Muhammad s.a.w. dan ekonomi, adat-istiadat, serta kepercayaan, meneladani sifat dan kisah teladan tentang keimanan seorang sikapnya Raja, kelahiran Nabi Muhammmad s.a.w., penyerangan pasukan gajah, waktu dan tempat kelahiran Nabi Muhammmad s.a.w., Tujuan Umum Pembelajaran

Fiqih

Aqidah Akhlaq

Qur’an Hadits

SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)

80

Bahasa Arab

Santri mengenal beberapa kata tanya dalam bahasa arab, kata benda dan warna-warna, serta dapat menterjemahkan kalimatkalimat sederhana ke dalam bahasa arab

masa-kanak-kanak hingga masa remaja Nabi Muhammmad s.a.w. Untuk materi pelajaran bahasa arab, disesuaikan dengan sub-sub bahasan yang ada pada kitab/buku panduan yang telah ditetapkan oleh Madrasah Diniyah Al Husna, misalnya untuk kelas IV pelajaran 118 maka pada setiap pertemuan dibahas 1 pelajaran dan apabila santri belum paham akan materi tersebut dapat diulang kembali pada pertemuan selanjutnya

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Tabel 4.8 Kurikulum Kelas V (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Bidang Studi Tujuan Umum Pembelajaran Santri mampu membaca, menyalin dan menghafal surat-surat pendek pada juz ’amma, memahami pokokpokok isi kandungan hadits Santri mengetahui sejarah Nabi Muhammad s.a.w. sejak masa remaja hingga masa kerasulan Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Menghafal dengan fasih surat: Al Qodar, Al ’Adiyat, Al Zalzalah, Al ’Alaq, serta menyalin / menulis dengan baik dan rapi serta melafalkan, menghafal, menyebutkan isi / kandungan dari hadits: menghormati orang tua, dan tentang ukhuwah Islamiyah (persaudaraan) Perjalanan Rasulullah ke Syam, Rasulullah bertemu Bukhairo, Rasulullah berdagang, kebijakan Rasulullah dalam peletakan Hajar Aswad, awan yang menaungi Rasulullah, pengangkatan Nabi Muhammmad sebagai Rasul, Rasulullah di Gua Hiro’, nasehat Waroqoh bin Naufal, bukti-bukti ke Rasulan Nabi Muhammmad s.a.w., Da’wah Sirr dan Jahr, kisah teladan Arif dan Bijaksana, Assabiquna Awwalun, siksaan kaum kafir terhadap pengikut Rasulullah, pengucilan kaum Muslimin Untuk materi pelajaran bahasa arab kelas V melanjutkan pelajaran kelas IV (tahun lalu) dengan menggunakan buku/kitab yang sama dan telah ditentukan oleh Madrasah Diniyah Al Husna

Qur’an Hadits

SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)

Bahasa Arab

Santri mampu melafalkan bacaan / kalimat berbahasa arab dengan fasih, hafal beberapa kalimat tanya, kata benda, dan bisa mempraktekkan percakapan dengan menggunakan bahasa

81

Tajwid

arab Santri mengetahui hukumhukum bacaan Al Qur’an, macam-macam mad, dan ghoroibul kalimat

Fiqih

Aqidah Akhlaq

Santri mengerti perbedaan infaq dan shodaqoh, makanan serta minuman yang halal dan haram, binatang yang halal dan haram, mengerti dan faham akan pengertian; qurban, aqiqah, dan khitan Santri mengetahui cara mentaati Allah, beriman kepada Hari Akhir, beriman Qodlo’ dan Qodar, berperilaku terpuji, serta menjauhi perbuatan yang tercela

Mad wajib muttashil, mad jaiz munfashil, mad aridl lissukun, mad badal, mad len, mad shilah, mad iwadh, mad farqi, mad lazim kilmi musaqqol, mad lazim mukhoffaf, mad lazim harfi musaqqol, mad lazim harfi mukhoffaf, tanda-tanda waqof dan ghoroibul kalimat Ketentuan infaq dan shodaqoh, makanan dan minuman halal, makanan dan minuman haram, binatang halal, binatang haram, menyembelih binatang, pengertian qurban, hukum qurban, pengertian aqiqah dan jumlahnya, ketentuan dan manfaat aqiqah, pengertian dan hukum khitan, waktu pelaksanaan dan manfaat khitan Taat kepada Allah, sopan santun beribadah kepada Allah, Iman kepada hari kiamat, tanda-tanda hari kiamat, arti Qodlo’ dan Qodar, pengertian Qona’ah, persaudaraan dan persatuan, sesama mu’min bersaudara, bertanggung jawab, berani menegakkkan kebenaran, menjauhi perilaku marah, dusta, malas, boros, kikir, ingkar janji, acuh tak acuh, tinggi hati, dengki, dendam, fitnah, adu domba, mencari kesalahan orang lain, tamak dan dzalim

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Tabel 4.9 Kurikulum Kelas VI (A & B) di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Bidang Studi Tujuan Umum Pembelajaran Santri mengerti tujuan mencari ilmu, niat yang benar dalam mencari ilmu, dengan membaca kitab berbahasa arab Santri mengerti kewajiban Mukallaf, makna syahadatain, kewajiban orang Islam, dengan media kitab Target Pemahaman dan Kemampuan Santri (2 semester) Pengenalan huruf pego, latihan membaca dan cara membuka kitab (Ta’limul Muta’allim) dengan contoh dari ustadz, membaca dan memepelajari kitab sesuai dengan urutan babnya Pengenalan huruf pego serta latihan membaca dan membuka kitab (Sulamut Taufiq) dengan bantuan dab arahan dari ustadz/ustadzah, serta mempelajari kitab sesuai dengan urutan babnya

Aqidah Akhlaq

Fiqih

82

Nahwu Shorof

yang berbahasa arab Santri mengerti pembagian kalam

Terjemah Lafdziyah

Hadits

SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)

Pengenalan huruf pego dan tashrif, pembagian kalimat, isim mufrod mudzakkar, isim mufrod muannas, jama’ mudzakkkar salim, jama’ muannas salim, isim tasniyah, jam’ ta’tsir, isim dhomir, isim isyaroh, membuat contoh-contoh kalimat, isim mausul, fi’il madhi, fi’il mudhore’, fi’il ’amr, huruf jer, huruf nashob, huruf jazm Santri hafal ayat-ayat Menghafalkan ayat Qursy dan terjemahnya per pilihan beserta artinya kata (per mufrodat), serta surat Al Baqarah ayat perkata 284-286, surat Al Isra’ ayat 23-27, surat Al Luqman ayat 12-19, dan surat Al Jumu’ah ayat 9-11 Santri mengerti dan Hadits tentang: kewajiban seorang muslim, memahami hadts-hadits berbakti kepada orang tua, larangan bersumpah, tentang kasih sayang berdusta, mendo’akan orang yang bersin, serta kewajiban istighfar, adab duduk, berlindung dari godaan seorang muslim syetan, menyuruh berbuat baik, kasih sayang kepada sesama, keutamaan mandi pada hari Jum’at Santri mengetahui dan Pengertian Khulafaur Rasyidin dan mengerti tentang periodesasinya, masa kepemerintahan Khalifah periodesasi Khulafaur Abu Bakar Ash Shiddiq, masa kepemerintahan Rasyidin serta Khalifah Umar bin Khattab, masa perkembangan dan kepemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, keadaan Islam pada masa kepemerintahan Khalifah Ali bin Abi masa Khulafaur Thalib, serta keadaan bangsa arab pada periode Rasyidin Khulafaur Rasyidin
Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

Proses belajar mengajar di Madrasah Diniyah Al Husana berlangsung selama 5 hari, yaitu mulai hari Senin sampai hari Jum’at. Dan di bagi menjadi 2 waktu, untuk kelas I, II, & III masuk pada pukul 14.3016.00 wib., sedangkan untuk kelas IV, V, & VI masuk pada pukul 16.0017.30 wib.. Sedangkan untuk pengajian KIR (Karya Ilmiah Remaja) atau pengajian bagi santri remaja/ dewasa dimulai pada pukul 18.00-19.30 wib.. Khusus untuk pengajian santri remaja/ dewasa hanya dilaksanakan setiap 2 hari dalam satu minggu, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Dan

83

untuk pengajian remaja/ dewasa ini kurikulum juga bersifat fleksibel karena mengkaji dari kitab-kitab yang telah ditentukan oleh ustadz (wali kelas). Selain kurikulum yang telah disampaikan di atas, untuk setiap harinya santri mengikuti pelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran, adapun susunan jadwal pelajaran (kls I-KIR) adalah sebagai berikut: Tabel 4.10 Jadwal Pelajaran di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Kelas I (A&B) Jam 14.30-14.45 14.45-15.30 15.30-16.00 14.30-14.45 14.45-15.30 15.30-16.00 14.30-14.45 14.45-15.30 15.30-16.00 16.00-16.15 16.15-17.00 17.00-17.30 16.00-16.15 16.15-17.00 17.00-17.30 16.00-16.15 16.15-17.00 17.00-17.30 18.00-18.15 18.15-19.00 19.00-19.30 Senin Klasikal Individual Haf. Do’a Klasikal Individual Khot / Imla’ Klasikal Individual Aqidah Akhlaq Klasikal Individual Fiqih Klasikal Individual Qur’an Hadits Klasikal Individual Aqidah Akhlaq Klasikal Individual Kitab Selasa Klasikal Individual Praktek Ibadah Klasikal Individual Aqidah Akhlaq Klasikal Individual Fiqih Klasikal Individual Aqidah Akhlaq Klasikal Individual SKI Klasikal Individual Fiqih Rabu Klasikal Individual Khot / Imla’ Klasikal Individual Haf. Do’a+ Srt Pendek Klasikal Individual Haf. Do’a+ Srt Pendek Klasikal Individual Qur’an Hadits Klasikal Individual Bhs. Arab (Tajwid) Klasikal Individual Nahwu Shorof Kamis Klasikal Individual Haf. Surat Pendek Klasikal Individual Fiqih Klasikal Individual Praktek Ibadah Klasikal Individual SKI Klasikal Individual Fiqih Klasikal Individual Terj.Lafdz+ Hadits Klasikal Individual Kitab Jum’at Klasikal Individual Aqidah Akhlaq (BCM) Klasikal Individual Praktek Ibadah Klasikal Individual Khot / Imla’ Klasikal Individual Bahasa Arab Klasikal Individual Aqidah Akhlaq Klasikal Individual SKI -

II (A&B)

III (A&B)

IV (A&B) V (A&B) VI (A&B) KIR

Sumber data: Dokumentasi Madrasah Diniyah Al Husna

84

Dari kurikulum serta jadwal pelajaran yang telah dipaparkan maka dapat dilihat bahwasannya Madrasah Diniyah Al Husna tidak hanya menawarkan atau ingin menjadikan santrinya agar bisa mengaji Al Qur’an saja, melainkan santri juga dibekali dengan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Seperti praktek ibadah, menulis huruf-huruf Al Qur’an (Khot), menghafal do’a sehari-hari dan surat-surat pendek, fiqih, aqidah akhlaq, hadits, bahkan santri dikenalkan pada kitab-kitab yang tidak berharokat (pego). Khusus santri yang masih berumur TK ataupun Play Group, dalam pemberian materinya lebih banyak menggunakan metode BCM atau Bermain, Cerita dan Menyanyi, dengan tujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap pendidikan keagamaan. Oleh karena itu kurikulum di Madrasah Diniyah Al Husna bersifat lentur atau fleksibel, karena materi pelajarannya dapat dikurangi, ditambah maupun dimodifikasi sedemikian rupa. Hal tersebut dimaksudkan agar santri tidak merasa terbebani dan timbul semangatnya untuk terus belajar, dalam hal ini berkaitan dengan ilmu agama. B. Penyajian dan Analisis Data 1. Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati dalam

Pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Sebelum Madrasah Diniyah Al Husna dibuka secara resmi, yaitu pada waktu proses pembelajaran Al Qur’an masih berlangsung atau dilaksanakan di kediaman pribadi Ibu Lailil Qomariyah, metode pembelajaran Al Qur’an yang pertama kali digunakan adalah metode Iqra’.

85

Hal tersebut dikarenakan pada waktu itu masih belum banyak sosialisasi mengenai metode-metode pembelajaran Al Qur’an seperti sekarang, dan metode Iqra’ merupakan salah satu metode yang gencar atau aktif dalam pensosialisasian tentang cara mudah belajar membaca Al Qur’an. Selain itu metode Iqra’ dirasa lebih mudah jika dibandingkan metode pembelajaran Al Qur’an yang telah lazim digunakan oleh masyarakat (metode Baghdadiyah), karena memiliki sistem yang runtut dan menggunakan teknik Eja Langsung dan tanpa harus menghafalkan ke-29 huruf Hijaiyah terlebih dahulu. Misalnya huruf alif yang berfathah bisa langsung dibaca “a” bukan “alif fathah a”, seperti contoh bacaan yang terdapat pada Iqra’ jilid 1 (halaman pertama) berikut:

‫اب‬ َ ‫ا ب ا‬ َ ‫ا ا ب‬ َ ‫ا ب ب‬ َ َ ‫ا ب ا‬ َ ‫ب ب ب‬ َ َ َ ‫ا ب‬ َ

‫أَ = ا‬ ‫ب ا ب‬ َ َ ‫ب ا ا‬ َ ‫ب با‬ َ َ ‫ب ا ب‬ َ َ ‫اا ا‬ ‫ا ب‬ َ ‫ا ب‬ َ

Dan ternyata dengan penggunaan metode Iqra’ tersebut respect atau tanggapan masyarakat yang mengikuti pengajian (pembelajaran Al

86

Qur’an) di kediaman Ibu Lailil sangat bagus. Karena dengan menggunakan metode ini peserta didik (anak-anak atau ibu-ibu) tidak perlu menghafal begitu banyak huruf juga tidak perlu mengeja huruf dengan satu persatu, sehingga tidak membutuhkan waktu yang panjang/lama. Setelah hampir (kurang lebih) 5 tahun menggunakan metode Iqra’ tersebut, Ibu Lailil Qomariyah selaku Kepala Madrasah, ingin melakukan inovasi (pembaruan) terhadap metode pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna, yaitu dengan memilih metode Tilawati. Hal tersebut terjadi karena pada waktu Ibu Lailil diundang untuk mengikuti sosialisasi/pelatihan metode Tilawati merasa tertarik dan ingin mencoba menerapkan metode tersebut di Madrasah Diniyah Al Husna. Pada akhirnya metode baru ini (Tilawati) digunakan di Madrasah Diniyah Al Husna, tepatnya pada satu tahun yang lalu hingga sampai saat ini. Selain sebagai inovasi (pembaruan), metode Tilawati digunakan bukan semata-mata karena alasan bahwa metode Iqra’ dirasa sudah tidak efektif dan efisien serta banyak memiliki kekurangan/kelemahan. Melainkan untuk lebih mempermudah tercapainya target jenjang yang diharapkan oleh Madrasah Diniyah Al Husna, sebagaimana penuturan dari Ibu Lailil berikut: “...Sebenarnya dengan metode Iqra’ untuk bacaan jika diukur dari kelancaran dapat dicapai, kemudian untuk makhraj anak-anak diberi waktu kira-kira 2 tahun agar lancar dulu, baru setelah itu tajwidnya yang dijadikan perhatian, dan setelah target makhroj dan tajwid dapat dicapai/dijalankan maka jenjang atau target terakhir adalah tartil atau lagu. Karena dirasa tahapan (jenjang/target) tersebut terlalu lama dan

87

membutuhkan banyak waktu, maka setelah metode Tilawati hadir dan menawarkan tahapan makhraj, tajwid, dan lagu/tartil yang dikemas menjadi satu paket, saya tertarik untuk mencoba metode tersebut di Madrasah Diniyah Al Husna dengan harapan ketiga target dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat.” (Wawancara dengan Ibu Lailil Qomariyah selaku Kepala Madrasah Diniyah Al Husna, tgl. 10 Oktober 2006, pkl. 15.30 wib.) Meskipun menggunakan metode baru (metode Tilawati), Madrasah Diniyah Al Husna tidak secara langsung mengganti atau menghapus metode Iqra’ yang sudah hampir 5 tahun digunakan. Karena melalui metode Iqra’ itu pula banyak anak-anak (santri) bahkan ibu-ibu yang dapat membaca atau melafalkan huruf-huruf Al Qur’an dengan baik dan benar bahkan adapula diantaranya yang sudah khatam Al Qur’an. Oleh karena itu untuk sementara metode Iqra’ tidak dihilangkan atau dihapus sebagai metode pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna. Pada implementasi atau penerapannya di Madrasah Diniyah Al Husna, metode Tilawati hanya digunakan oleh santri-santri baru saja atau pada santri yang menggunakan metode Iqra’ jilid awal (jilid 1 atau jilid 2). Akan tetapi apabila santri yang menggunakan metode Iqra’ tersebut keberatan karena menurutnya lebih mudah penggunaan metode Iqra’ dan tidak mau berganti metode baru (metode Tilawati), maka pihak Madrasah Diniyah Al Husna tidak akan memaksa serta membebaskan santri tersebut untuk memilih. Karena pada dasarnya semua metode pembelajaran Al Qur’an itu tujuannya adalah sama, yaitu memudahkan seseorang (peserta didik) untuk belajar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

88

Dan ustadz/ustadzah yang akan mengajarkan metode Iqra’ tidak harus lulus dengan bersyahadah, cukup dengan melihat aturan atau petunjuk mengajar metode Iqra’ yang terdapat pada tiap-tiap jilid buku Iqra’. Sedangkan implementasi metode Iqra’ di Madrasah Diniyah Al Husna dilaksanakan dengan menggunakan teknik privat atau individual, yaitu santri membaca di hadapan ustadz/ustadzah yang kemudian hasil dari bacaannya ditulis pada buku prestasi santri (kartu drill) , apakah santri harus mengulang bacaannya atau bisa melanjutkan ke halaman selanjutnya. Dan apabila santri telah sampai pada halaman terakhir atau halaman EBTA, maka santri yang bersangkutan harus membaca halaman tersebut di depan munaqis (dalam hal ini adalah Kepala Madrasah Diniyah Al Husna), apabila santri melafalkan huruf atau bacaan dengan baik dan benar serta memenuhi kriteria untuk lulus maka santri tersebut dapat melanjutkan pada jilid selanjutnya atau jika sudah sampai pada Iqra’ jilid 6 dan dinyatakan lulus dapat melanjutkan membaca Al Qur’an juz 1. Dalam implementasi metode Iqra’ dan Tilawati ustadz/ ustadzah tidak diperbolehkan untuk menuntun santri, akan tetapi ustadz/ ustadzah hanya boleh memberi arahan tentang pokok bahasannya saja, misalnya “ini huruf a”. Atau biasa dikenal dengan metode CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), dimana yang dituntut untuk untuk aktif disini adalah santri. Dengan tujuan agar potensi yang ada dalam dirinya dapat berkembang secara maksimal dan santri dapat mandiri serta tidak bergantung kepada orang lain.

89

Kemudian untuk implementasi/ penerapan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna, selain menggunakan teknik membaca secara Individual juga dilakukan dengan menggunakan teknik Klasikal Baca Simak, yaitu ustadz/ ustadzah membaca pokok bahasan/ materi yang telah ditentukan dengan menggunakan alat peraga di depan kelas, dan santri menyimak bacaan ustadz/ ustadzah yang kemudian menirukannya secara bersama-sama ataupun secara perorangan (bergiliran) yang ditunjuk oleh ustadz/ ustadzah. Setelah mengaji secara Klasikal, santri kemudian membaca secara individual, yaitu membaca satu-persatu di hadapan ustadz/ ustadzah dengan menggunakan kartu drill. Selain itu pada metode Tilawati ini juga menggunakan teknik Eja Langsung seperti teknik yang terdapat pada metode Iqra’, misalnya seperti contoh berikut ini: Tilawati jilid 1 halaman 1

‫ا ب‬ َ ‫اب‬ َ ‫با‬ َ ‫بب‬ َ َ ‫ا ب‬ َ ‫ا ب ا ب با‬ َ َ َ ‫ا ب ب‬ َ َ ‫ا ب ب‬ َ َ ‫با‬ َ ‫اا‬

90

Iqra’ jilid 1 halaman 4

‫ب ت‬ َ َ ‫تبا‬ َ ‫اب‬ َ ‫بتا‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ ‫با‬ َ ‫ت‬ َ ‫ت‬ َ ‫تا‬ َ ‫ابت‬ َ َ ‫ابت‬ َ َ
Karena metode Tilawati ini dirasa sangat menarik yaitu dengan menggunakan lagu atau irama tartil yang diterapkan sejak jilid pertama, maka Kepala Madrasah Diniyah Al Husna meng-instruksikan kepada ustadz/ustadzah yang pernah mengikuti pelatihan metode ini untuk mengimplementasikannya pada setiap kelas. Maka pada setiap jam pelajaran Klasikal, selain diisi Klasikal surat-surat pendek juga diisi Klasikal Tilawati dengan menggunakan alat peraga mulai kelas I sampai kelas VI tanpa terkecuali, meskipun pada kelas VI kebanyakan santri sudah dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan lancar. Hal tersebut dilakukan dengan harapan agar santri mengetahui dan dapat mempraktekkan

‫اتب‬ َ ‫تاب‬ َ َ ‫ت‬ َ ‫تات‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ

91

membaca Al Qur’an dengan cara melagukannya (menggunakan irama Rost Standar Nasional). Untuk dapat menerapkan metode Tilawati ini secara maksimal, maka seorang ustadz atau ustadzah dituntut untuk mengikuti pelatihan metode Tilawati ini (bersyahadah) minimal mengetahui teknik atau cara menyampaikan metode Tilawati pada santri. Atau jika ada salah satu ustadz/ ustadzah yang belum pernah mengikuti pelatihan Tilawati dapat mendengarkan arahan atau cara melagukan bacaan melalui kaset. Karena pada metode Tilawati ini mempunyai ciri khas yaitu menggunakan lagu tartil berirama Rost Standar Nasional, maka ustadz/ ustadzah harus mengetahui dan bisa mempraktekkan irama tartil tersebut serta melagukannya dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk Tutor atau kaset (cara membaca dalam metode Tilawati) yang telah tersedia. Dari hasil observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh peneliti menghasilkan beberapa data sebagai berikut: yaitu bahwa di Madrasah Diniyah Al Husna pada kedua metode tersebut (Iqra’ dan Tilawati) menggunakan sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif). Maksudnya, yaitu guru atau ustadz/ ustadzah tidak dianjurkan untuk menuntun atau memberi contoh secara intensif dan juga tidak dianjurkan untuk memberi informasi yang berlebihan. Hal ini dimaksudkan untuk membantu santri agar mandiri, aktif, dan kreatif serta tidak selalu mengandalkan bantuan dari orang lain (ustadz/ ustadzah). Selain itu, pada penerapan pembacaannya metode Iqra’ dan Tilawati menggunakan sistem Individual. Yaitu membaca secara perorangan (satu persatu) di depan wali kelas atau asisten. Apabila bacannya baik dan benar maka pada buku drill atau prestasi bacaan santri lebih banyak dituntun dibenarkan bacaannya oleh ustadz/ ustadzah maka harus ditulis Diulang atau C- (kurang). Khusus pada metode Tilawati, selain menggunakan sistem Individual juga menggunakan sistem Klasikal. Yaitu membaca secara bersama-sama setelah ustadz/ ustadzah memberikan contoh terlebih dahulu. Kemudian untuk kelas I-VI (baik yang sudah sampai Al Qur’an ataupun yang belum) sebelum memulai pelajaran dan Individual terlebih

92

dahulu diberikan Klasikal dengan menggunakan alat peraga Tilawati (Jilid 1-5) selama 15 menit. Jadi, di Madrasah Diniyah Al Husna untuk saat ini masih menggunakan 2 metode pembelajaran Al Qur’an,yaitu metode Iqra’ dan metode Tilawati. Hal tersebut dilakukan karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu karena santri Madrasah Diniyah Al Husna masih banyak yang menggunakan metode Iqra’ dan sudah sampai pada jilid 3-6, maka apabila santri dipaksa untuk mengganti dengan metode baru (metode Tilawati) santri akan merasa kecewa dan putus asa. Kemudian faktor selanjutnya yaitu, karena metode Tilawati masih dalam masa percobaan (transisi) maka metode ini hanya diterapkan pada santri baru (khususnya santri kelas 1 dan sebagian santri kelas 2) serta pada santri yang menggunakan metode Iqra’ jilid 1 dan 2 yang mau atau bersedia untuk mengganti metodenya. Akan tetapi meskipun banyak diantara santri yang masih menggunakan metode Iqra’, secara otomatis santri-santri tersebut juga dapat belajar metode Tilawati, karena pada jam pelajaran Klasikal selain pembacaan surat-surat pendek secara Klasikal, ustadz/ ustadzah juga akan mengajarkan metode Tilawati secara Klasikal. Sehingga santri mengetahui serta dapat melafalkan bacaan-bacaan dengan menggunakan irama/ tartil, meskipun dalam metode Iqra’ santri tidak boleh melagukan bacaan secara murottal sebelum bacaan santri baik dan benar.

93

2. Persamaan dan Perbedaan Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Metode merupakan suatu sarana atau cara yang digunakan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal, efektif, dan efisien. Pada dasarnya semua metode dalam hal ini metode kontemporer dalam pembelajaran Al Qur’an menginginkan/ mengharapkan agar peserta didik mudah dan cepat dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Oleh karena itu persamaan dan perbedaan yang terdapat antara metode satu dengan metode yang lainnya lazim (sudah umum) ditemukan keberadaannya. Menurut kepala Madrasah serta ustadz/ ustadzah yang mengajar di Madrasah Diniyah Al Husna antara metode Iqra’ dan metode Tilawati memiliki beberapa persamaan, yaitu sama-sama merupakan suatu metode pembelajaran Al Qur’an dengan cara yang cepat tanpa harus mengeja huruf secara satu-persatu serta menghafal terlebih dahulu atau biasa disebut dengan Eja Langsung. Hal tersebut sesuai dengan penuturan dari Ibu Lailil Qomariyah berikut: “...Persamaan antara metode Iqra’ dan metode Tilawati terletak pada cara membacanya yang tidak harus menghafal ke-29 huruf Hijaiyah terlebih dahulu, karena hal tersebut dapat membebani santri. Selain itu pada kedua metode tersebut tidak perlu mengeja huruf secara satu persatu seperti; alif fathah a, ba’ fathah ba, jim fathah ja, dan seterusnya, akan tetapi dapat dibaca secara langsung tanpa harus mengejanya misalnya; a, ba, ta, tsa, ja, dan seterusnya.” (Wawancara dengan Ibu Lailil Qomariyah selaku Kepala Madrasah Diniyah Al Husna, tgl. 10 Oktober 2006, pkl. 16.00 wib.) Maka dari pernyataan tersebut salah satu alasan atau faktor penggunaan kedua metode tersebut di Madrasah Diniyah Al Husna yaitu

94

karena keduanya menggunakan sistem Eja Langsung, jadi santri tidak perlu mengeja huruf satu persatu serta dapat mempersingkat waktu. Selain persamaan yang telah dituturkan oleh Kepala Madrasah Diniyah Al Husna tersebut di atas, menurut deskripsi salah satu ustadz yang menyatakan: “...Metode Iqra’ dan metode Tilawati mempunyai persamaan struktur, yaitu keduanya disajikan dalam bentuk yang bervariasi atau dalam bentuk yang berjilid-jilid, dimana setiap satu jilid disusun dalam 1 buku dengan warna sampul yang berbeda, sehingga santri dapat terpacu untuk segera menyelesaikan jilidnya dan menuju jilid selanjutnya. Sedangkan secara implementasi/ penerapannya, dalam kedua metode tersebut santri dikelompokkan menurut tingkatan jilidnya masing-masing dan ustadz/ ustadzah hanya memberi contoh/ arahan serta tidak diperbolehkan menuntun. Karena pada kedua metode ini menerapkan sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), sehingga santri dapat mandiri tanpa harus selalu mengharapkan bantuan dari ustadz/ ustadzah.” (Wawancara dengan Ustadz M. Mukhlisin selaku Waka Bid. Kurikulum, tgl. 11 Oktober 2006, pkl. 15.15 wib.) Dari deskripsi tersebut juga terlihat pada implementasi kedua metode yang diterapkan di Madrasah Diniyah Al Husna. Misalnya mengenai cover atau sampul yang berbeda warna dalam setiap jilid dari kedua metode tersebut dapat merangsang santri untuk berpacu dan lebih meningkatkan belajarnya agar cepat menuju ke tingkatan jilid yang lebih tinggi. Selain itu pada sistem yang ditawarkan oleh kedua metode tersebut, yaitu sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif) Madrasah Diniyah Al Husna juga menerapkannya. Hal itu terbukti pada saat proses pembelajaran Al Qur’an secara individual atau privat, yaitu ketika santri maju satu-persatu, ustadz/ ustadzah hanya berfungsi sebagai pemerhati (penyemak) serta memberikan peringatan kepada santri bahwa bacaannya salah, dan ustadz/ ustadzah dilarang untuk memberikan keterangan

95

ataupun informasi lainnya agar santri dapat konsentrasi dan mengetahui mengapa bacaannya salah. Pernyataan yang telah disampaikan oleh Ustadz Mukhlisin di atas, diperkuat oleh informasi yang disampaikan oleh Ustadzah Misbahus Sholihah seperti dalam petikan deskripsi berikut ini: “...Setiap metode pembelajaran Al Qur’an sebenarnya menginginkan tujuan yang sama, yaitu ingin menerapkan suatu cara yang cepat dan mudah untuk membaca Al Qur’an dimana didalamnya juga terdapat petunjuk tajwid dan makhraj yang baik dan benar.” (Wawancara dengan Ustadzah Misbahus Sholihah selaku Waka Bid. Kesantrian, tgl. 12 Oktober 2006, pkl. 15.30 wib.) Senada dengan deskripsi tersebut, pada metode Iqra’ dan metode Tilawati juga disajikan mengenai tajwid serta makharijul huruf seperti contoh bacaan tajwid berikut: • Bacaan Idghom Bighunnah:

‫لقوْم ٍ ي ّعملوْن‬ ِ َ ْ
• Bacaan Idghom Bilaghunnah:

‫ن = ي‬atau ْ ‫ن = ر ل‬atau ْ ‫ن = ب‬atau ْ ً ً ً

‫ا ِن لم يكن‬ ْ
• Bacaan Iqlab:

‫من ب َعْدِ هِم‬ ْ ْ ِ
• Bacaan Idzhar Halqi:

‫وَمن اصد َق‬ َ ْ َ
• Bacaan Ikhfa’ Hakiki:

‫ن = ا ء خ ح ع غ هم‬atau ْ ً ‫ن – اندادا – عند َها‬ َ ِ ً َ ْ ‫كريم‬

‫رسول‬ ُ َ

‫=ن‬ ْ

Serta contoh makharijul huruf sebagai berikut:

96

‫ص‬

-

‫ز‬

-

‫غ‬

‫غ غ غ : بغ ز زِ ز : بز ص ص ص : بص‬ ُ َ ُ َ ‫يغسلوْ ن‬ ِ َ َ ‫مزعمي ْن‬ ِ ُ َ ‫يصحب ُوْ ن‬ َ ُ ‫يغل ِب ُوْن‬ َ َ ‫مز رعي ْن‬ ُ َ ِ ‫يصبروْ ن‬ َ ُ ُ ‫يغفروْ ن‬ َ ُ ِ َ ‫مزهمدِي ْن‬ ِ ُ َ ‫يصل ِحوْن‬ َ ُ ُ

Akan tetapi di Madrasah Diniyah Al Husna juga mengemas/ memasukkan masalah tajwid dan makharijul huruf kedalam satu bidang studi yaitu Tajwid, yang juga telah diformat kedalam kurikulum Madrasah Diniyah Al Husna, sehingga informasi mengenai makharijul huruf serta tajwid dapat diketahui secara mendalam. Maka apabila santri masih bingung akan keterangan yang dipaparkan dalam buku Iqra’ maupun Tilawati, santri dapat memperhatikan serta menanyakan secara langsung hal-hal mengenai tajwid kepada ustadz/ ustadzah. Kemudian untuk pemakaian sistem atau cara penerapan

pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna, pada kedua metode tersebut (Iqra’ dan Tilawati) diterapkan melalui sistem privat/ individual, yaitu santri membaca di depan ustadz/ ustadzah yang kemudian hasil bacaannya tersebut ditulis ke dalam kartu drill. Sehingga ustadz/ ustadzah secara langsung dapat memantau perkembangan bacaan santri satu-persatu.

97

Selain persamaan yang telah dipaparkan serta dituturkan oleh ustadz/ ustadzah di atas, antara metode Iqra’ dan Tilawati juga terdapat perbedaan yang menonjol pada implementasinya di Madrasah Diniyah Al Husna, sebagaimana pernyataan dari Ustadz Heri Utomo berikut: “...Perbedaan yang sangat menonjol antara metode Iqra’ dan metode Tilawati yaitu terletak pada lagu. Untuk metode Iqra’ pelaguan terhadap bacaan bisa diberikan apabila santri sudah khatam dan lancar, baik dan benar dalam pelafalan makhraj dan tajwidnya (jika sudah khatam Iqra’ jilid 6). Sedangkan untuk metode Tilawati pelaguan pada bacaan (tartil) sudah diterapkan sejak Tilawati jilid 1 sampai jilid 5.” (Wawancara dengan Ustadz Heri Utomo selaku Waka Bid. Sarana Prasarana, tgl. 13 Oktober 2006, pkl. 15.45 wib.) Setelah selesai membaca do’a dan sebelum proses pembelajaran dimulai secara individual atau privat, terlebih dahulu santri diajak untuk membaca secara Klasikal. Dan untuk teknik membaca Klasikal ini digunakan alat peraga Tilawati, dengan harapan santri mengetahui dan bisa melafalkan bacaan dengan menggunakan lagu seperti pada metode Tilawati, meskipun santri tersebut masih menggunakan metode Iqra’ ataupun sudah sampai Al Qur’an. Oleh karena itu, pada setiap kelas harus tersedia peraga Tilawati sebagai media untuk mempermudah proses belajar secara Klasikal tersebut. Maka pada setiap jam pelajaran Klasikal, selain membaca surat-surat pendek dengan cara bersama-sama (Klasikal), juga membaca Tilawati secara Klasikal dengan menggunakan alat peraga mulai dan dapat disesuaikan menurut rata-rata usia santri. Misalnya pada santri kelas VI yang rata-rata sudah membaca Al Qur’an dengan baik dan lancar dapat menggunakan alat peraga Tilawati jilid 4 atau jilid 5. Hal tersebut dilakukan dengan harapan agar santri mengetahui dan dapat

98

mempraktekkan membaca Al Qur’an dengan cara melagukannya melalui pendekatan irama Rost. Jadi khusus pada metode Tilawati saja yang menggunakan teknik membaca Klasikal sebagai media sosialisasi terhadap bacaan tartil. Selain perbedaan tersebut di atas, pada metode Iqra’ untuk hurufhuruf yang sulit atau rumit dalam pelafalannya menggunakan pendekatan bunyi, misalnya seperti:

‫ش‬ َ ‫ق‬ َ ‫ض‬ َ ‫ظ‬

Lebih diarahkan ke bunyi SIA daripada keliru

‫س‬ َ

َ Lebih diarahkan ke bunyi KO daripada keliru ‫خ‬ ‫ذ‬

Lebih diarahkan ke bunyi DHO (kendor) daripada keliru ‫ظ‬ Lebih diarahkan ke bunyi (dibaca dengan bibir agak maju)

Sedangkan pada metode Tilawati untuk huruf-huruf yang dalam pelafalannya rumit, disarankan untuk tetap melafalkannya secara baik dan benar sesuai dengan makharijul hurufnya. Hal tersebut dimaksudkan agar santri terhindar dari kesalahan pelafalan huruf sejak dini dan terbiasa melafalkan huruf secara baik dan benar. Maka, dari penjelasan di atas perbedaan antara metode Iqra’ dan Tilawati dapat dikategorikan sebagai berikut: Metode Iqra’ Tidak diperbolehkan Metode Tilawati Menggunakan lagu dengan irama Rost Standart Nasional Makharijul huruf harus dilafalkan dengan baik dan benar khot standart  Menggunakan khot standart dengan

untuk 

melagukan bacaan  Menggunakan pendekatan bunyi  Menggunakan pada makharijul huruf 

99

dengan tinta hitam  Dalam pembacaannya  menggunakan sistem Individual

tinta

hitam

dan

merah

untuk

membedakan materi Dalam pembacaannya menggunakan sistem Individual dan Klasikal

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Penerapan suatu metode tentunya tidak akan terlepas dari faktor pendukung serta faktor penghambat yang dapat menjadi kesuksesan serta kendala dalam pelaksanaan metode tersebut. Begitu pula dengan penerapan (implementasi) metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang. Dengan adanya faktor pendukung saja tidak mungkin suatu metode atau harapan yang diinginkan dapat tercapai, karena dibalik faktor tersebut terdapat hambatan-hambatan yang apabila solusinya dapat ditemukan dapat menjadi jalan atau media untuk menuju kesuksesan. Hambatan (faktor penghambat) ini mungkin terjadi karena metode merupakan salah satu unsur pendidikan yang sangat kompleks, karena bersangkutan atau berkaitan dengan unsur-unsur pendidikan lainnya. Sehingga untuk mencapai tujuan pembelajaran Al Qur’an secara maksimal dan optimal bukanlah suatu hal yang mudah. Kesemuanya membutuhkan

100

suatu proses dan solusi untuk meminimalisir hambatan (faktor-faktor penghambat) tersebut. Adapun faktor-faktor yang mendukung bagi implementasi metode Iqra’ dan Tilawati antara lain yaitu: tersedianya alat-alat peraga Iqra’ dan Tilawati. Akan tetapi untuk saat ini alat peraga yang sering dan selalu digunakan adalah alat peraga Tilawati, hal ini dilakukan sebagai sarana untuk mensosialisasikan metode baru (Tilawati) kepada santri yang masih menggunakan metode Iqra’. Selain itu juga tersedianya kaset-kaset Murottal dengan beragam irama dalam pelaguan bacaan Al Qur’an. Jadi meskipun santri yang dulunya menggunakan metode Iqra’ dapat belajar tartil atau melagukan bacaan surat-surat pendek secara Klasikal, karena pada metode Iqra’ tidak diperkenankan memakai lagu (tartil) jika santri belum khatam Iqra’. Agar proses pembelajaran Al Qur’an secara Individual dapat berlangsung secara optimal dan maksimal, maka pada setiap kelas selain diajar oleh ustadz/ ustadzah wali kelas, juga dibantu oleh asisten. Maka asisten juga harus mengetahui bagaimana bentuk atau struktur serta cara penerapan kedua metode yang digunakan di Madrasah Diniyah Al Husna. Jika asisten tidak pernah mengikuti diklat atau pelatihan kedua metode tersebut dapt belajar secara autodidak, misalnya saja untuk metode Iqra’ dapat melihat panduan atau petunjuk mengajar Iqra’ yang tercantum pada halaman-halaman awal di setiap jilid Iqra’. Kemudian untuk metode Tilawati dapat mendengarkan kaset yang telah tersedia.

101

Pada semua metode pembelajaran selalu dipaparkan informasi mengenai tajwid dan makharijul huruf. Dan seringkali pada pembahasan tentang materi tersebut santri selalu merasa bingung karena penjelasan yang ditawarkan oleh metode tersebut terlalu sulit (rumit). Oleh karena itu, Madrasah Diniyah Al Husna mengemas/ memasukkan masalah tajwid dan makharijul huruf tersebut kedalam satu bidang studi yaitu Tajwid, yang juga telah diformat kedalam kurikulum Madrasah Diniyah Al Husna, sehingga informasi mengenai makharijul huruf serta tajwid dapat diketahui secara mendalam, dan dapat medapatkan informasi serta menanyakan secara langsung hal-hal mengenai tajwid kepada ustadz/ ustadzah. Selain kaset-kaset Murottal yang telah tersedia di Madrasah Diniyah Al Husna, agar ustadz/ ustadzah dapat menerapkan metode Tilawati; dimana cara membacanya harus dengan menggunakan irama Rost (Standar Nasional), maka pihak Madrasah Diniyah Al Husna mengadakan kursus tartil gratis bagi para ustadz/ ustadzah. Kursus tartil ini dilaksanakan 1 kali dalam setiap minggunya dengan mendatangkan tutor atau ustadz yang berpengalaman serta mengetahui seluk beluk Irama Tartil. Dan untuk metode Iqra’, apabila ustadz/ ustadzah tidak pernah mengikuti diklat atau pelatihan metode tersebut dapat merujuk atau mengikuti petunjuk mengajar yang tertera pada setiap jilidnya, seperti petunjuk mengajar Iqra’ jilid 5 berikut; Petunjuk mengajar jilid 5

102

1.

Petunjuk mengajar jilid 1 nomor 1,2,3,5,7,8, jilid 2 nomor

6, jilid 3 nomor 3, dan jilid 4 nomor 3 masih berlaku untuk jilid 5 ini. 2. Halaman 23 adalah surat Al Mu’minun ayat 1-11

sebaiknya santri dianjurkan menghafalkan, syukur dengan artinya. 3. Bila ada beberapa santri yang sama tingkat pelajarannya

boleh menggunakan sistem tadarus, secara bergiliran membaca sekitar 2 baris, sedang lainnya menyimak. 4. Santri tidak harus mengenal istilah-istilah tajwid, seperti

idghom, ikhfa’ dan sebagainya, yang penting secara praktis betul bacaannya. 5. Agar menghayati bacaan yang penting dan untuk

membikin suasana semarak, baik andaikata santri diajak membaca bersama-sama/ koor yaitu halaman 16 sampai dengan 19 (3 baris dari atas). Kemudian untuk faktor penghambat bagi implementasi kedua metode tersebut, Ustadzah Misbahus Sholihah menyatakan argumennya dalam deskripsi wawancara berikut: “...Untuk santri yang menggunakan metode Iqra’ maupun metode Tilawati, apabila sudah sampai pada bab atau materi yang membahas tentang bacaan mad (panjang) sering terjadi pengulangan pada bab tersebut. Dan untuk metode Tilawati apabila penguasaan lagu, santri kurang bisa memahami dan mempraktekkannya, maka santri cenderung tidak dapat mempertahankan lagu atau irama tersebut.” (Wawancara dengan Ustadzah Misbahus Sholihah selaku Waka Bid. Kesantrian, tgl. 12 Oktober 2006, pkl. 16.00 wib.) Dari deskripsi wawancara yang diutarakan oleh Ustadzah Misbahus Sholihah tersebut, maka pada metode Iqra’ dan metode Tilawati

103

salah factor penghambatnya yaitu terletak pada materi bacaan mad yang seringkali terjadi pengulangan pada halaman-halaman tertentu. Hal tersebut terjadi karena santri merasa kebingungan atau lupa pada bacaan mana yang harus dibaca panjang serta mana yang harus dibaca pendek. Selain itu pada implementasi metode Tilawati, apabila santri telah menginjak jilid 3 keatas, cenderung tidak dapat mempertahankan irama lagunya. Salah satu penyebabnya yaitu karena santri merasa bingung antara mengingat atau menghafal lagu dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Selanjutnya untuk faktor penghambat bagi implementasi metode Tilawati, Ustadzah Siti Aminah menambahkan: “...Apabila ustadz/ustadzah kurang menguasai cara atau teknik penyampaian metode Tilawati pada santri, maka cara membaca (dengan menggunakan irama) santri-pun akan beraneka ragam dan tidak sesuai dengan kaidah atau tata cara membaca Tilawati dengan menggunakan irama Rost (Standar Nasional).” (Wawancara dengan Ustadzah Siti Aminah, tgl. 14 Oktober 2006, pkl. 15.30 wib.) Maka meskipun ustadz/ ustadzah yang belum pernah mengikuti diklat atau pelatihan Tilawati belajar dengan Irama Rost melalui kaset, tidak menjamin ustadz/ ustadzah tersebut akan berhasil mengajarkan metode Tilawati tersebut secara maksimal dan optimal. Sedangkan faktor lainnya yang dapat menghambat implementasi metode Iqra’ adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Kepala Madrsah Diniyah Al Husna berikut: “...Pada metode Iqra’ tidak disusun atau dicetak buku khusus untuk panduan petunjuk membaca secara Klasikal. Selain itu pada metode Iqra’ santri tidak dikenalkan pada huruf-huruf Hijaiyah asli, sehingga ketika

104

santri sampai pada Iqra’ jilid 6 dan bertemu dengan bacaan-bacaan fawatihussuwar atau Muqhottho’ah, santri tidak dapat membacanya dengan benar dan membutuhkan bimbingan serta contoh dari ustadz/ustadzah.” (Wawancara dengan Ibu Lailil Qomariyah selaku Kepala Madrasah Diniyah Al Husna, tgl. 10 Oktober 2006, pkl. 16.15 wib.) Dari deskripsi tersebut di atas menyatakan bahwa implementasi metode Iqra’ di Madrasah Diniyah Al Husna kurang berjalan secara maksimal karena tidak tersedianya buku khusus sebagai panduan dalam membaca secara Klasikal. Selain itu, pada metode Iqra’ ini santri tidak dikenalkan pada huruf-huruf Hijaiyah asli, sehingga ketika santri menginjak pada jilid 6 khususnya pada halaman 28 yang membahas mengenai materi bacaan-bacaan fawatihussuwar atau Muqhottho’ah, contohnya seperti berikut di bawah ini:

‫عسق‬ ‫ا لر‬

‫ن‬

‫طسم‬ ّ ‫ا لم‬ ‫حم‬ ‫طس‬

‫ص‬

‫يس‬

‫كهيعص‬

‫ا ل مص ا لمر‬

santri tidak dapat melafalkan dengan baik dan benar, dan membutuhkan bantuan atau contoh dari ustadz/ ustadzah. Sehingga pada materi atau bahasan ini santri cenderung mengulangnya sampai beberapa kali. Dari hasil deskripsi di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan mengenai faktor-faktor pendukung serta penghambat bagi penerapan metode Iqra’ dan Tilawati, dan dapat dikategorikan seperti berikut: • Faktor Pendukung Tersedianya alat-alat Faktor Penghambat • Pada materi bacaan mad

peraga

105

Iqra’ dan Tilawati • Untuk metode Iqra’ ustadz/ tidak sudah perlu ada harus panduan ustadzah karena

(panjang), cenderung bacaan selalu diulang-ulang • Untuk metode Tilawati ustadz/ ustadzah harus mengikuti diklat terlebih dahulu • Pada santri yang usianya masih kecil untuk metode Tilawati setelah menginjak jilid 2 keatas lagunya cenderung hilang

bersyahadah atau mengikuti diklat, mengajarnya Agar proses belajar (khususnya membaca secara Individual) dapat terlaksana secara maksimal, wali kelas dibantu oleh seorang asisten

BAB V TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati dalam Pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwasannya Madrasah Diniyah Al Husna untuk saat ini menggunakan 2 metode pembelajaran Al Qur’an. Hal ini terjadi karena Madrasah Diniyah Al Husna ingin mengadakan pembaharuan atau inovasi terhadap metode pembelajaran Al Qur’an. Yaitu dengan cara mengganti metode lama (Iqra’) dengan metode baru (Tilawati) secara bertahap. Bukan berarti dengan berganti metode baru Madrasah Diniyah Al Husna menganggap remeh terhadap metode yang lama,

106

akan tetapi semata-mata ingin lebih meningkatkan implementasi metode pembelajaran Al Qur’an secara efektif dan efisien. Pada dasarnya sistem yang dimiliki oleh kedua metode tersebut sama, yaitu memudahkan peserta didik dalam rangka belajar membaca menulis Al Qur’an secara praktis. Selain menerapkan sistem Eja Langsung, dimana santri tidak perlu mengeja huruf satu-persatu serta menghafal ke-29 huruf Hijaiyah terlebih dahulu, pada kedua metode yang diterapkan (diimplementasikan) pada Madrasah Diniyah Al Husna tersebut juga menggunakan prinsip CBSA (Cara Belajar Santri Aktif). Yang berarti ustadz/ustadzah tidak boleh memberikan tuntunan atau informasi secara berlebihan kepada santri mengenai materi yang ia baca, cukup dengan memberikan contoh atau arahan sesuai dengan kebutuhan santri. Hal tersebut dimaksudkan agar santri dapat mandiri dan tidak selalu menggantungkan pada bantuan ustadz/ustadzah. Sebagaimana pernyataan Drs. HM. Budiyanto, yang menyatakan bahwa: Prinsip CBSA (Cara Belajar Santri Aktif) atau prinsip ‘Biriyadlotuil Athfal’ adalah suatu prinsip dalam pengajaran yang ditandai oleh diutamkannya ‘belajar’ daripada ‘mengajar’, atau dengan perkataan lain CBSA adalah suatu sistem belajra-mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra kognitif, afektif, dan psikomotorik”.50 Pada implementasi kedua metode tersebut (Iqra’ dan Tilawati) dilakukan dengan menggunakan teknik privat atau penyimakan. Dimana santri membaca secara satu-persatu di depan ustadz/ustadzah, yang kemudian hasil bacaan santri tersebut ditulis atau dicatat dalam buku prestasi bacaan santri
50

HM. Budiyanto, , op.cit., hlm. 19

107

atau biasa disebut dengan kartu drill. Jika santri mampu membaca dengan baik dan benar, maka santri dapat melanjutkan ke halaman atau materi selanjutnya. Teknik privat atau penyemakan ini biasa juga disebut dengan teknik Individual. Sedangkan untuk santri yang akan khatam diwajibkan untuk membaca halaman terakhir (EBTA) di depan munaqis, dalam hal ini yang bertindak sebagai munaqis adalah Kepala Madrasah Diniyah Al Husna. Dan jika bacaan santri baik dan benar maka dapat melanjutkan pada tingkatan jilid selanjutnya atau dapat melanjutkan ke tahap membaca Al Qur’an 1. Selain teknik Individual yang telah dijelaskan diatas, pada Madrasah Diniyah Al Husna juga menggunakan teknik Klasikal. Dan untuk teknik ini hanya dikhususkan pada penggunaan metode Tilawati saja. Dimana seorang ustadz/ustadzah memberikan contoh bacaan atau materi terlebih dahulu, kemudian santri mengikutinya secara bersama-sama. B. Persamaan dan Perbedaan Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati dalam Pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Antara metode yang satu dengan lainnya pastilah memiliki persamaan serta perbedaan, baik secara stuktur maupun dalam implementasinya. Adapun persamaan yang dimiliki oleh metode Iqra’ dan metode Tilawati antara lain sebagai berikut: sama-sama menggunakan prinsip CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), sebagaimana yang telah dijelaskan pada sub bahasan sebelumnya. Kemudian susunan buku atau jilidnya Variatif, karena kedua metode tersebut

108

disusun menjadi beberapa jilid yang disajikan menjadi beberapa buku dengan cover menarik dan warna yang berbeda misalnya: Metode Iqra’: jilid 1, berwarna = orange jilid 1, berwarna = hijau jilid 3, berwarna = biru jilid 4, berwarna = merah jilid 5, berwarna = ungu jilid 6, berwarna = coklat sehingga melalui warna-warna cover atau sampul yang menarik tersebut dapat merangsang santri untuk segera menuju ke tingkatan jilid selanjutnya. Selain itu, pada implementasi kedua metode tersebut menggunakan sistem Eja Langsung atau membaca langsung tanpa terputus-putus, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu serta tidak harus menghafal ke-29 huruf Hijaiyah terlebih dahulu. Dan agar santri terhindar dari kesalahan dalam pelafalan makhraj maka sejak jilid pertama (awal), pada huruf yang agak sulit dalam pelafalannya ustazd/ustadzah membantu santri untuk bagaimana cara membaca huruf tersebut serta cara pendekatannya, misalnya: Metode Tilawati: jilid 1, berwarna = hijau jilid 2, berwarna = coklat jilid 3, berwarna = biru tua jilid 4, berwarna = ungu jilid 5, berwarna = biru muda

‫ش‬ َ ‫ق‬ َ ‫ض‬ َ ‫ظ‬

Lebih diarahkan ke bunyi SIA daripada keliru

‫س‬ َ

َ Lebih diarahkan ke bunyi KO daripada keliru ‫خ‬ ‫ذ‬

Lebih diarahkan ke bunyi DHO (kendor) daripada keliru ‫ظ‬ Lebih diarahkan ke bunyi (dibaca dengan bibir agak maju)

109

Akan tetapi cara pendekatan tersebut hanya bersifat sementara, mengingat usia santri yang masih sangat kecil atau santri memiliki keterbatasan fisik. Maka secara bertahap santri tersebut harus juga dibiasakan dan diarahkan untuk melafalkan huruf yang sempurna, agar kelak ketika ia dewasa dapat melafalkan huruf dengan baik dan benar. Oleh karena itu, para ustadz/ ustadzah harus tetap menanamkan kepada santri cara pelafalan huruf yang baik dan benar sedini mugkin. Sebagaimana yang tercantum dalam buku karangan Nur Uhbiyati, yang menyatakan bahwa “semua yang dipelajari anak di waktu kecil mempunyai pengaruh atau kesan yang sangat mendalam, sehingga sulit untuk dihilangkan, dan kalaupun ingin dihilangkan harus menempuh proses yang sangat lama”.51 Sedangkan perbedaan implementasi yang dimiliki oleh metode Iqra’ dan Tilawati pada Madrasah Diniyah Al Husna antara lain yaitu: untuk metode Tilawati menggunakan lagu dengan irama Rost Standar Nasional. Oleh karena itu, para ustadz/ustadzah harus bisa memberikan contoh bacaan secara fasih di depan santri. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dipaparkan dalam tehnik mengajar buku Tilawati pada jilid 4, yaitu “pada jilid 4 ini merupakan kunci keberhasilan bacaan tartil, maka ustadz yang mengajar jilid ini bacaannya harus benar-benar tartil/fasih dan telah mentashihkan diri pada para ahli Al Qur’an setempat serta mengikuti pembinaan di daerah setempat”.52

Nur Uhbiyati, loc. cit. H. Hasan Sadzili, dkk., Tilawati Jilid 4 (Surabaya: Pesantren Virtual Nurul Falah, 2004), hlm. iv
52

51

110

Sedangkan untuk metode Iqra’ pelaguan terhadap bacaan tidak boleh diberikan sebelum santri khatam atau dapat melafalkan bacaan secara baik dan benar. Sebagaimana yang tercantum dalam petunjuk mengajar Iqra’ jilid 6 yang menyatakan “santri tidak diperbolehkan untuk diajari dengan bacaan berlagu walaupun dengan irama Murottal, dan untuk kaset Murottal yang dikeluarkan oleh Team Tadrus ‘AMM’ dimaksudkan bagi yang sudah lancar dalam bertadarrus Al Qur’an”.53 Sedangkan untuk penulisan huruf (khot) pada metode Tilawati menggunakan 2 warna tinta yaitu tinta hitam dan tinta merah, tinta merah berfungsi untuk memberi tanda pada materi/pokok bahasan yang baru sedangkan tinta hitam untuk materi yang pernah diberikan sebelumnya, seperti pada contoh materi jilid 1 berikut:

‫ب ت‬ َ َ ‫بت‬ َ َ ‫تب‬ َ َ ‫تا‬ َ ‫ت‬ َ ‫تب‬ َ َ ‫ب ا‬ َ ‫ت‬ َ ‫ت ا ب‬ َ َ ‫تبت‬ َ َ َ ‫تب‬ َ ‫تت‬ َ َ ‫ات‬ َ

53

As’ad Humam, Buku Iqra’ jilid 6 (Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”, 2000), hlm. 2

111

‫ا ب‬ َ ‫ت‬ َ ‫ب‬ َ ‫بت‬ َ َ
54

‫ا ت ب‬ َ َ ‫تتب‬ َ َ َ

Akan tetapi pada metode Iqra’ penulisan huruf (khot) hanya menggunakan tinta hitam saja baik pada materi yang sudah diberikan sebelumnya maupun pada materi baru, sebagaimana contoh berikut:

‫ب ت‬ َ َ ‫تبا‬ َ ‫اب‬ َ ‫بتا‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ ‫با‬ َ ‫ت‬ َ ‫ت‬ َ ‫تا‬ َ ‫ابت‬ َ َ ‫ابت‬ َ َ
55

‫اتب‬ َ ‫تاب‬ َ َ ‫ت‬ َ ‫تات‬ َ َ ‫اتب‬ َ َ

H. Hasan Sadzili, dkk., Tilawati Jilid 1 (Surabaya: Pesantren Virtual Nurul Falah, 2004), hlm. 2 55 As’ad Humam, Buku Iqra’ jilid 1 (Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”, 2000), hlm. 6

54

112

C.

Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode Iqra’ dan Metode Tilawati dalam Pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang Dalam penerapan (implementasi) metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang, memiliki faktor pendukung dan faktor penghambat. Adapun faktor-faktor yang mendukung bagi implementasi metode Iqra’ dan Tilawati antara lain yaitu: tersedianya alat-alat peraga Iqra’ dan Tilawati, yang juga didukung oleh kaset-kaset Murottal dengan beragam irama dalam pelaguan bacaan Al Qur’an. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan proses belajar santri, yaitu dengan sarana atau media kaset-kaset Murottal tersebut yang diputar selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Sehingga santri dapat menyimak serta mengingat-ingat irama tartil, yang kemudian dapat dipraktekkan ketika santri membaca Al Qur’an. Dan melalui latihan serta kebiasaan mendengarkan tersebut, diharapkan santri dapat meningkatkan prestasi membaca Al Qur’annya. Sebagaimana pernyataan Zakiah Daradjat “untuk membina anak agar mempunyai sifat-sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan hal yang baik, karena dengan kebiasaan dan latihan tersebutyang membuat dia cenderung kepada melakukan yang baik.”56 Dan untuk mempersingkat waktu selama proses pembelajaran secara Individual seorang wali kelas dibantu oleh seorang asisten. Sehingga prestasi

56

Zakiah Daradjat, op.cit., hlm. 62

113

bacaan santri dapat dipantau secara maksimal, dan memiliki waktu belajar yang maksimal pula. Kemudian untuk metode Iqra’, bagi ustadz/ustadzah yang belum pernah mengikuti diklat ataupun pelatihan metode ini dapat melihat atau merujuk pada petunjuk mengajar yang tercantum pada tiap jilidnya, dimana pada tiap jilid terdapat petunjuk yang berbeda-beda, seperti berikut ini: Petunjuk mengajar jilid 5 1. Petunjuk mengajar jilid 1 nomor 1,2,3,5,7,8, jilid 2 nomor 6, jilid 3 nomor 3, dan jilid 4 nomor 3 masih berlaku untuk jilid 5 ini. 2. Halaman 23 adalah surat Al Mu’minun ayat 1-11 sebaiknya santri dianjurkan menghafalkan, syukur dengan artinya. 3. Bila ada beberapa santri yang sama tingkat pelajarannya boleh menggunakan system tadarus, secara bergiliran membaca sekitar 2 baris, sedang lainnya menyimak. 4. Santri tidak harus mengenal istilah-istilah tajwid, seperti idghom, ikhfa’ dan sebagainya, yang penting secara praktis betul bacaannya. 5. Agar menghayati bacaan yang penting dan untuk membikin suasana semarak, baik andaikata santri diajak membaca bersama-sama / koor yaitu halaman 16 sampai dengan 19 (3 baris dari atas). Demikian, semoga sukses. Amin.57 Untuk faktor penghambat bagi implementasi kedua metode tersebut, diantaranya yaitu: yaitu terletak pada materi bacaan mad yang seringkali terjadi pengulangan pada halaman-halaman tertentu. Hal tersebut terjadi karena santri merasa kebingungan atau lupa pada bacaan mana yang harus dibaca panjang serta mana yang harus dibaca pendek. Selain itu pada implementasi metode Tilawati, apabila santri telah menginjak jilid 3 keatas, cenderung tidak dapat mempertahankan irama tartil Salah satu penyebabnya yaitu karena santri merasa bingung antara mengingat atau menghafal lagu dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.
57

As’ad Humam, Buku Iqra’ jilid 5 (Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”, 2000), hlm. 2

114

Selain itu, pada metode Iqra’ ini santri tidak dikenalkan pada hurufhuruf Hijaiyah asli, sehingga ketika santri menginjak pada jilid 6 khususnya pada halaman 28 yang membahas mengenai materi bacaan-bacaan fawatihussuwar yang Muqhottho’ah, santri tidak dapat melafalkannya dengan baik dan benar. Sebagaimana contoh berikut ini:

‫عسق‬ ‫ا لر‬

‫ن‬

‫طسم‬ ّ ‫ا لم‬ ‫حم‬ ‫طس‬

‫ص‬ ‫ا لمر‬

‫يس‬ ‫ا لمص‬

‫كهيعص‬

Sehingga dalam penerapan/ implementasinya santri selalu menunggu ustadz/ ustadzah untuk memberi contoh secara berulang-ulang. Sehingga pada materi atau bahasan ini santri cenderung mengulangnya sampai beberapa kali. Oleh karena itu, dibutuhkan pembiasaan berupa latihan-latihan secara kontinyu atau berkelanjutan dari ustadz/ ustadzah, agar ketika santri membaca Al Qur’an tidak selalu menunggua ustadz/ ustadzah memberikan contoh bacaan terlebih dahulu. Menginagt pembiasaan dan latihan memiliki peranan yang penting dalam pendidikan, maka Zakiah Daradjat dalam bukunya menyatakan “hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya.”58

58

Zakiah Daradjat, op.cit., hlm. 61

115

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan penulis pada penyajian dan analisis data di atas, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1 Implementasi metode Iqra’ dan Tilawati di Madrasah Diniyah Al

Husna diantaranya yaitu: penggunaan sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif); penggunaan teknik membaca Eja Langsung serta Individual (membaca secara perorangan di depan ustadz/ ustadzah).
2

Persamaan implementasi antara metode Iqra’ dan Tilawati antara

lain yaitu: penggunaan sistem CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), penggunaan teknik Eja Langsung dalam pembacaannya, penggunaan teknik Individual (membaca secara perorangan didepan ustadz/ ustadzah), serta disusun/ dicetak dengan bentuk yang Variatif. Sedangkan untuk perbedaan pada implementasi metode Iqra’ dan Tilawati adalah: untuk metode Tilawati menggunakan lagu Irama Rost Standar Nasional, sedangkan untuk metode Iqra’ tidak diperbolehkan menggunakan lagu meski Irama Murottal sekalipun; pada metode Iqra’ menggunakan pendekatan bunyi untuk huruf-huruf yang sulit dalam pelafalannya, sedangkan pada metode Tilawati ditekankan untuk melafalkan huruf

116

sesuai dengan makhraj yang benar; selain menggunakan teknik membaca secara Individual pada metode Tilawati juga menggunakan teknik Klasikal, sedangkan pada metode Iqra’ hanya menggunakan teknik Individual saja.
3

Faktor-faktor yang mendukung dalam implementasi metode Iqra’

dan Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna, yaitu: telah tersedianya alatalat peraga serta kaset-kaset Murottal (dengan beberapa jenis irama lagu); untuk mempersingkat waktu, selama Individual ustadz/ ustadzah dibantu oleh seorang asisten sehingga prestasi bacaan santri dapat dipantau secara maksimal dan santri memiliki banyak waktu belajar yang maksimal pula. Untuk metode Iqra’ meskipun ustadz/ ustadzah tidak mengikuti diklat/ pelatihan dapat secara langsung mengajarkan metode Iqra’ ini karena terdapat petunjuk mengajar pada setiap jilidnya. Dan untuk perbedaan pada implementasinya adalah: jika ustadz/ ustadzah tidak mengikuti pelatihan atau diklat metode pembelajaran Al Qur’an, maka akan kesulitan dalam menerapkan metode tersebut kepada santri; santri yang

menggunakan metode Tilawati jika sampai pada jilid 3 ke atas, cenderung tidak mampu mempertahankan irama lagunya, untuk metode Iqra’ materi bacaan Muqhottho’ah yang dipaparkan terlalu sedikit (½ halaman). B. Saran Dari kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, perlu kiranya penulis memberikan sumbangan pemikiran berupa saran-saran bagi semua pihak terhadap implementasi metode Iqra’ dan Tilawati di Madrasah Diniyah Al

117

Husna Lawang dalam hubungannya dengan pembelajaran Al Qur’an. Adapun saran-sarannya adalah sebagai berikut: 1. Kepada Lembaga (Madrasah Diniyah Al Husna)

Madrasah Diniyah Al Husna dapat merealisasikan tujuan serta sasaran yang ingin dicapai, yaitu berusaha terus meningkatkan mutu pendidikan keagamaan khususnya yang berhubungan dengan metode pembelajaran Al Qur’an dengan cara peningkatan SDM secara berkala. 2. Kepada Kepala Madrasah Diniyah Al Husna

Memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas SDM dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran Al Qur’an yang efektif, efisien dan maksimal. Serta memberikan motivasi kepada para ustadz/ ustadzah untuk berkreasi dan inovatif dalam menyampaikan metode sebagai wujud peningkatan efektifitas pembelajran Al Qur’an. 3. Kepada Ustadz/ ustadzah Madrasah Diniyah Al Husna

Berusaha untuk terus meningkatkan kinerjanya (profesionalisme) melalui penyampaian metode yang tepat dalam hubungannya dengan pembelajaran Al Qur’an, agar tercipta generasi qur’ani yang bertaqwa, berprestasi, shalih, dan berakhlaqul karimah. 4. Kepada Santri Madrasah Diniyah Al Husna

Rajin belajar serta sabar dalam mengarungi samudera ilmu, memahami dan mengamalkan ajaran Al Qur’an supaya kelak menjadi insan shalih dan bermanfaat bagi keluarga, bangsa, dan agama serta menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

118

5.

Kepada Wali Santri (Orang Tua)

Memberi dukungan, semangat dan perhatian kepada putra-putrinya dalam mengarungi samudera ilmu agar terpenuhi harapan untuk menjadikan anak yang shalih dan shalihah.

119

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Rahman, Dudung. 2004. 350 Mutiara Hikmah dan Sya’ir Arab. Bandung: Media Qalbu. al-Qarni, ‘Aidh. 2003. Laa Tahzan. Jakarta: Qisthi Press. Al Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/ Pentafsir Al Qur’an. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Budiyanto. 1995. Prinsip-prinsip Metodologi Buku IQRO’. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. Budiyanto. 2003. Ringkasan Pedoman Pengelolaan, Pembinaan dan

Pengembangan Gerakan 5M. Yogyakarta: Team Tadarus AMM. Daradjat, Zakiah. 1993. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. et. al.. 2004. Tilawati Jilid 1-5. Surabaya: Pesantren Virtual Al Falah. Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif dasar-dasar dan aplikasi. Malang: IKIP Malang. Hasan, Muhammad Tholhah. 2004. Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lantabora Press. Humam, As’ad. 2000. Buku Iqra’ (Jilid 1-6). Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. Ibnu Nashir, Sa’id. Qaidah Baghdadiyah.

120

Mazhahiri, Husain. 2000. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani . Jakarta: Lentera Muaffa, Ali. Makalah Standar Nasional dan Metodologi Pengajaran Al Qur’an. Surabaya: IAIN Sunan Ampel. Mulyana, Dedy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif-Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnnya. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moeloeng, Lexy J.. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya Offset. Muhaimin, H. Abd. Ghofir, dan Nur Ali Rahman.. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: CV. Citra Media. Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito. Poerwadarminta, W.J.S.. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Qardhawi, Yusuf. 1998. Berinteraksi dengan Al Qur’an. Bandung: Mizan. Sudarsono, dan Saliman. 1994. Kamus Pendidikan Pengajaran dan Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Said, Usman dan Jalaluddin. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Salim Zarkasyi , Dachlan. Metodologi Pengajaran Qiro’ati. Malang: Koordinator Pendidikan Al Qur’an Metode Qiro’ati. Sastrapradja. 1981. Kamus Istilah dan Pendidikan Umum. Surabaya: Usaha Nasional. Sulthon, Muhadjir. 1991. Al Barqy. Surabaya: Sinar Wijaya.

121

Supardi. 2004. Jurnal Penelitian KeIslaman. Mataram: Lemlit STAIN Mataram. Surachmad, Winarno. 1976. Dasar dan Tehnik Research. Bandung: CV. Tarsito. Syarifuddin, Ahmad. 2004. Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al Qur’an. Jakarta: Gema Insani. Tjiptohardjono. 1994. Analisis Bacaan Basmallah. Jakarta: Kalam Mulia. Uhbiyati, Nur. 1997. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: C.V. Pustaka Setia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->