P. 1
Asuhan Keperawatan Gerontik

Asuhan Keperawatan Gerontik

|Views: 7,234|Likes:
Published by gian_budiana

More info:

Published by: gian_budiana on Jan 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2014

pdf

text

original

Sections

|Type text] Page ŵ

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar beIakang
Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin,
yang berarti bengkak. ÌstilahTumor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan
biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat
digolongkan sebagai ganas (malignant) atau jinak (benign).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya
tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak
sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari
jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah
dikeluarkan dengan cara operasi (Robin dan Kumar, 1995).

Tumor (bahasa Ìnggris: tumor, tumour) adalah sebutan untuk neoplasma atau lesi padat
yang terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang tidak semestinya, yang mirip dengan
simtoma bengkak. Tumor berasal dari kata tumere dalam bahasa latin yang berarti
"bengkak". Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai ganas (malignan) atau jinak
(benign).Tumor ganas disebut kanker. Kanker memiliki potensi untuk menyerang dan
merusak jaringan yang berdekatan dan menciptakan metastasis. Tumor jinak tidak
menyerang tissue berdekatan dan tidak menyebarkan benih (metastasis), tetapi dapat
tumbuh secara lokal menjadi besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah
penyingkiran melalui operasi.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mahasiswi STiKes Santo Borromeus dapat memahami dan
mengaplikasikan asuhan keperawatan tentang masalah system Ìntegumenl yang telah
diberikan dan telah dipelajari dalam praktek nantinya.

2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mahasiswi dapat memahami dan menjelaskan kembali serta
mengaplikasikan kembali tentang:
Pengertian
Anatomi fisiologi
Etiologi
|Type text] Page Ŷ

Patofisiologi
Manifestasi
Klasifikasi
Komplikasi
Penatalaksanaan medik
Konsep dasar keperawatan
Tinjauan kasus
Asuhan keperawatan

C. METODE PENULISAN
Makalah ini dibuat dengan menggunakan buku-buku referensi, studi kasus diruangan serta
proses konsul kepada dosen pembimbing.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini disusun dalam 5 BAB, yang terdiri dari:
BAB Ì : PENDAHULUAN yang terdiri dari, latar belakang, tujuan penulisan,
metode penulisan serta sistematika penulisan.
BAB ÌÌ : TÌNJAUAN TEORÌTÌS yang terdiri dari, pengertian, anatomi fisiologi
system pencernaan, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, klasifikasi, komplikasi,
penatalaksanaan medik, dan konsep asuhan keperawatan.
BAB ÌÌÌ : TÌNJAUAN KASUS yang terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, asuhan keperawatan dan implementasinya.
BAB ÌV : PENUTUP yang terdiri dari kesimpulan dan saran












|Type text] Page ŷ

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian

Proses menua
Masa kemunduran ( degenerative ), masa ini terjadi mulai dewasa tua. Kecepatan proses
menua dipengaruhi oleh dua factor yaitu :
a. Faktor dalam
Factor dalam merupakan factor yang terjadi secara alami menyangkut fisis dan
psikis. Factor ini tidak dapat dihilangkan dan tidak berubah.
b. Faktor luar
Faktor yang dimaksud adalah lingkungan, dalam pengertian yang lebih luas,
menyangkut pola atau gaya hidup (perilaku). Faktor ini kecenderungan dapat
dikendalikan dan dirubah sehingga memungkinkan orang dapat meningkatkan usia
harapan hidup ( bukan memperpanjang umur).
Proses menjadi tua disebabkan oleh factor biologic yang terdiri dari tiga fase yakni fase
progresif, fase stabil dan fase regresif;
alam fase regresif, mekanisme lebih berat kearah kemunduran yang dimulai dalam
sel, komponen terkecil dari tubuh manusia.
Dapat dikatakan, bahwa sel-sel mengalami kehausan karena berfungsi lama sehingga
mengakibatkan kemunduran lebih dominan dibandingkan pemulihan. Dalam struktur
anatomi dapat terlibat tanda-tanda kemunduran tersebut di dalam sel, ini adalah proses
menjadi tua . Proses ini terjadi secara alamiah, continue, terus-menerus dan
berkesinambungan yang dalam keadaan lanjut menyebabkan perubahan anatomis,
fisiologis dan biokemis pada jaringan atau organ badan yang pada akhirnya
mempengaruhi keadaan serta fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan.
WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yang meliputi :
1. Midle age (usia pertengahan) yaitu kelompok usia 45-59 tahun
2. Elderly, antara 60-74 tahun
3. Old, antara 75-90 tahun
4. Very old, lebih dari 90 tahun

Menurut Departemen Kesehatan , pengelompokan usia lanjut sebagai berikut :
1) Kelompok pertengahan umur
Masa ini dikenal dengan masa verilitas atau masa persiapan menjadi lansia.
2) Kelompok usia lanjut dini
Masa ini disebut masa pra pension atau masa mulai memasuki usia lanjut. Usia 55-
64 tahun.
|Type text] Page Ÿ

3) Kelompok usia lanjut ( usila atau lansia )
Masa senium.
Usia 65 tahun ke atas.
4) Kelompok lansia dengan resiko tinggi
Usia di atas 70 tahun.
Biasanya hidup sendiri dan sering sakit

C. TUJUAN KEPERAWATAN LANSIA
1. Mempertahankan derajat kesehatan para lanjut usia pada taraf yang setinggi-tingginya,
sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan.
2. Memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas-aktifitas fisik dan mental.
3. Merangsang para petugas kesehatan (dokter, perawat) untuk dapat mengenal dan
menegakkan diagnosa yang tepat dan dini.
4. Mencari upaya semaksimal mungkin agar para lanjut usia yang menderita suatu
penyakit atau gangguan, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal
tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal.
5. Mendampingi dan memberikan bantuan moril dan perhatian pada lansia yang berada
dalam fase terminal sehingga lansia dapat menghadapi kematian dengan tenang dan
bermartabat.

D. PERUBAHAN FISIK PADA LANSIA
1. System Ìntegument
Pada kulit akan mengalami perubahan berikut :
$truktur anatomis
1) Lapisan epidermis
, Lapisan keranosit : tebalnya berkurang, daya adhesi kurang, terjadi perubahan
secara morfologis dan kandungan air pada stratum korneum berkurang
sehingga kulit menjadi kering dan kasar.
- Lapisan stratum basale : mengalami perubahan ukuran dan bentuk, reduplikasi
pada lamina densa serta ruan antar sel keranosit menjadi bertambah lebar.
. Perbatasan dermis dan epidermis lebih datar sehingga pemberian nutrisi
berkurang pada epidermis akibat lapisan tersebut bila terjadi trauma akan
mudah robek dan abrasi ( bula ).
/ Sel melanosit jumlahnya berkurang, hal ini mengakibatkan terjadinya
pigmentasi kulit tidak teratur, sebagain dampak lainnya insiden neoplasma kulit
meningkat yang disebabkan oleh sel melanosit menyerap ultra violet.
0 Sel-sel langerhans menurun, akibatnya : respon kekebalan seluler kulit
tergangggu sehingga pembentukan antigen terganggu, dampak lain terjadinya
karsinoma kulit.
|Type text] Page Ź

2) Lapisan dermis
, Dermis atrofi, relative aseluler dan avaskuler, sel mati berkurang sehingga
reaksi hepersensitif menurun.
- Sel fibroblast mengandung banyak reticulum endoplasmic yang kasar.
. Serat kolagen jumlahnya berkurang disertai penebalan, kemampuan
membengkak berkurang dan susunannya tidak teratur sehingga kulit menjadi
kendur ( lax ).
/ Jumlah glikosaminoglikan ( bahan dasar dermis ) berkurang sehingga
viscoelastisitas berubah.
0 Serat-serat elastic mengalami degradasi, anyaman serat hilang, akibatnya kulit
keriput dan kendur.
3) Jaringan sub kutis
, Adanya atrofi pada muka, dorsum tangan dan tungkai bawah, hal ini
mengakibatkan hipotermi, telapak kaki mudah luka atau ulserasi.
- Jaringan subkutis mengalami hipertrofi, pada laki-laki lebih banyak pada daerah
pinggang dan pada wanita pad paha.

E. PERUBAHAN FUNGSI
1. Proliferasi dan penyembuhan
a. Waktu pergantian kulit menjadi lebih panjang.
b. Epidermal repair berkurang sehingga resiko infeksi sekunder tinggi.
c. Pertumbuhan kuku dan rambut lambat.
d. Anaplasia : hampir semua orang diatas 65 tahun mengalami tumor jinak ( keratosis
seboroika ), penyebabnya :
Sel epidermis bermacam bentuk dan ukuran.
Paparan bahan karsinogen.
Jumlah sel melanosit berkurang÷proteksi kurang/.
Jumlah sel langerhans berkurang.
2. Absorbsi dan clearance dermal
a. Permeabilitas meningkat
b. Dermal clearance menurun
Menurunkan sirkulasi pada dermis
Dermatitis kontak menetap
c. Cenderung timbul gangguan termoregulator.
3. Respon terhadap stimulasi eksternal
a) Reaksi terhadap rangsangan raba, vibrasi dan kornea kurang, nilai ambang nyeri
meningkat.
|Type text] Page ź

1) Respon vascular menurun yang akan mengakibatkan gangguan regulasi suhu
tubuh÷hipotermi atau heat stroke.
2) Produksi keringat berkurang.
3) Produksi sebum menurun.
b) Sifat-sifat mekanis
Serat kolagen dan serat elastisitas mengalami perubahan ( perubahan sifat mekanik
) sehingga elastic recovery menurun ( kulit lama kembali ), hal ini mengakibatkan
kulit mudah robek bila trauma, penurunan piupi dan distorsi.
c) Respon imun
1) Gangguan fungsi sel beta
2) Gangguan imunitet seluler, sehingga mudah mengalami infeksi virus, jamur dan
keganasan.

F. PERUBAHAN SISTEM TUBUH
1. Sistem Pencernaan
Pada mulut, warna gigi menjadi lebih gelap. Terjadi penurunan produksi saliva yang
mengakibatkan sel mukosa menjadi kering. Pada lansia juga terjadi perubahan
kemampuan mencerna sehingga meningkatkan sisa zat makanan sehingga produksi
gas meningkat, motilitas usus dan peristaltik menurun.
Perubahan akibat proses penuaan yang terjadi pada system pencernaan sering
dimanifestasikan dengan terjadinya :
, Kesulitan menelan
- Sendahak (reflex gastroesofageal)
. Perut terasa lama penuh ( hidroklorhidri )
/ Konstipasi
0 Obat tidak terlalu cocok.
Perubahan oleh karena menua primer :
, Berkurangnya motilitas esophagus, fungsi spingter, sekresi asam lambung, pepsin
dan tripsin.
- Berkurangnya motilitas usus serta perubahan enzim hepar.
Perubahan oleh karena menua sekunder :
, Hernia
- Anemia pernisiosa
. Konstipasi karena diit rendah residu dan pemakaian laksans yang berlebihan.
/ Merokok dan alcohol terlalu banyak, sehingga menyebabkan perubahan
metabolisme obat.
2. Sistem Pernafasan
Teradi perubahan struktur thorax yang menyebabkan pengembangan paru
menjadi terbatas, tulang iga tidak dapat bergerak bebas. Tulang punggung kifosis yang
|Type text] Page Ż

menyebabkan paru semakin kaku dan kurang elastic, peningkatan kapasitas residual,
penurunan kapasitas vital ynag pada akhirnya dapat mengakibtakan kolaps basal.
Perubahan oleh karena menua primer :
a. Berkurangnya elastisitas paru
b. Berkurangnya otot-otot pernapasan
Perubahan oleh karena menua sekunder :
, Penyakit Paru Obstruksi Menahun ( PPOM ) atau COPD ssebagai akibat dari
kebiasaan merokok dan polusi udara.
- Menurunnya kekuatan otot pernafasan oleh karena kurang aktifitas ( olahraga ).
3. Sistem KardiovaskuIer
Perubahan yang berhubungan dengan usia lanjut terjadi pada komposisis
kimiawi, sel-sel, jaringan jantung dan pembuluh darah, semuanya ini akhirnya
mempengaruhi fungsi kardiovaskuler. Namun walaupun demikian, jantung masih
mampu memenuhi kebutuhan harian dan berfungsi dengan baik kecuali dalam kondisi
stress atau karena gangguan penyakit.
Secara umum manifestasi klinis yng sering terjadi pada sistem kardiovaskuler
akibat ketuaan adalah :
, Berkurangnya cadangan jantung (cardiac reserve)
- Bertambahnya tekanan nadi (pulse pressure)
. Kecenderungan hipotensi dan sinkop.
Perubahan oleh karena menua primer :
, Berkuranhgnya jumlah sel dinding jantung dan vaskuler
- Baroreseptor sensitivity
Perubahan oleh karena menua sekunder :
, Ìskemia akibat adanya arteriosklerosis
- Disfungsi ventrikel
. Debaran jantung tidak teratur ( aritmia )
/ Penyakit ujantung oleh karena hipertensi
0 Gagal jantung kongestive
1 Ìnfeksi akibat imunitas berkurang
4. Sistem Perkemihan
Terjadi hubungan langsung antara suplai darah dan fungsi ginjal, renal sendiri
mendapat darah ( blood flow ) sekitar 25% dari keseluruhan volume darah yang ada
dalam tubuh, dengan kecepatan aliran darah kira-kira 5 sampai 10 kali lebih besar dari
suplai untuk jantung, hati dan otak.
Perubahan pada system urogenital dimanifestasikan dengan :
Berkurangnya rasio filtrasi glomerular dan reabsorbsi tubuler.
Uropati obstruktif dan overflow incontinence.
Stress incontinence.
|Type text] Page 8

Perubahan oleh karena menua primer :
Jumlah nefron berkurang disertai perubahan fungsi tubuler.
Tekanan dinding atau kapasitas kandung kemih dan tegangan spingter berkurang.
Pada kebanyakan laki-laki mengalami hipertropi prostat, sedangkan pada
perempuan tegangan otot-otot pelvis yang berkurang.
Perubahan oleh karena menua sekunder :
Kondisi nefrosclerosis, biasanya karena adanya penyakit hipertensi.
Penyakit ginjal yang disebabkan oleh konsumsi obat-obatan .
Ìnfeksi saluran kemih karena system imunitas berkurang.
5. Sistem Endokrin
Perubahan akibat proses penuaan pada system endokrin secara klinis dimanifestasikan
oleh:
, Pada wanita terjadi menopause yang meliputi system vasomotoris dan atrofi
vagina.
- Pada laki-laki terjadi penurunan libido, potensi serta frekuensi kegiatan seks.
. Ìntoleransi relative terhadap glukosa.
Perubahan oleh karena menua primer :
a. Relative lebih cepat terjadi pada wanita setelah berhenti haid.
b. Relative lambat pada laki-laki : testis mengecik, reserve capacity testis,
sperbmatogenesis dan kadar testosterone berkurang.
c. Respon dan sensitivitas terhadap insulin berkurang, sehingga cenderung menjadi
gemuk.
d. Respon tiroid berkurang.
Perubahan oleh karena menua sekunder :
a. Hipogonadism oleh karena pembedahan atau alcoholism.
b. Penyakit Diabetes Melitus.
6. Sistem MuscuIoskeIetaI
Perubahan struktur musculoskeletal dan fungsi bervariasi diantara individu
selama proses penuaan. Perubahan yang bermakna terjadi mulai usia pertengahan.
Secara umum perubahan sacara fisiologis adalah :
a. Penurunan tinggi badan sekitar 6-10 cm.
b. Lebar bahu menurun.
c. Fleksi pada lutut dan panggul.
d. Terjadi penyempitan dari diskus intervertebrae yang dapat berkurangnya ukuran
intervertebrae dan ruang intercostae.
e. Patah tulang akibat kompresi dari vertebrae.
f. Peningkatan kurve spina thoraks.
g. Kepala miring ke belakang dan leher memendek÷ mengimbangi kondisi kiposis.
h. Jalan goyah karena perubahan otot dan fungsi motorik.
|Type text] Page 9

i. Jengkal lengan lebih besar.
Perubahan secara klinis dimanifestasikan oleh adanya :
, Kekuatan berkurang.
- Cenderung patah tulang ( osteoporosis )
. Sendi kaku dan cenderung inflamasi
Perubahan oleh karena menua primer :
a. Berkurangnya serta dan diameter otot.
b. Jumlah mineral dalam tulang berkurang.
c. Pembentukan tulang berkurang ( senile osteoporosis )
d. Resorbsi tulang bertambah.
e. Tendon dan jaringan pengikat bertambah kaku
f. Tulang rawan persendian makin tipis
Perubahan oleh karena menua sekunder :
, Atropi akibat inaktivitas ( misalnya karena terlalu banyak duduk )
- Defisiensi steroid gonadal.
. Osteoporosis oleh karena defisiensi kalsium, alcoholism dan pengaruh
tembakau.
/ Osteomalasia ( tulang lunak ) oleh karena defisiensi vitamin D.
7. System PengIihatan
Pada usia 40-50 tahun visus akan menurun, dan pada 70 tahun banyak
memakai alat bantu. Terjadi perubahan struktur retina, pupil, lensa dan kornea. Retina
akan kehilangan sel-selnya. Kemampuan penglihatan berkurang akibat berkurangnya
elastisitas lensa, astigmatisma (tidak terpusatnya cahaya pada satu titik retina ).
Perubahan pada system penglihatan secara klinis dimanifestasikan oleh
adanya :
Penurunan kekuatan otot mata untuk berakomodasi.
Kulit kelopak mata mengendur, jaringan lunak berkurang, sehingga mata menjadi
cekung.
Kelopak mata jauh dari permukaan bola mata sehingga mata tampak berair.
Selaput mata keruh, pinggir kornea bergaris putih,pupil kecil sehingga penglihatan
menjadi tidak terang.


8. Sistem Pendengaran
Perubahan yang terjadi pada system pendengaran akibat penuaan adalah kehilangan
daya mendengar jenis sensori neural berupa : presbikusis ( TULA = Tuli Usia Lanjut ),
dengan manifestasi klinis :
, Kekurangan pendengaran progresif.
- Pendengaran bertambah menurun ÷ stress.
|Type text] Page ŵŴ

. Daya diskriminasi menurun.
/ Tinnitus jika mendengar suara dengan nada tinggi.
9. Sistem Persyarafan
Pada persyarafan, walaupun tidak mengalami mitosis, tapi karena terjadinya
penurunan fungsi, maka secara klinis akan menunjukkan adanya hal-hal berikut :
1) Status mental
, Gangguan ingatan ( lupa ).
- Sangat hati-hati, namun inisiatif kurang.
. Curiga
2) Ìnsomnia÷perubahan pola tidur/bangun.
3) Saraf kranialis
a. Saraf penglihatan
, Melihat dekat terganggu
- Melihat jauh dengan koreksi lensa
b. Saraf pendengaran
Kemampuan mendegar menurun
c. Saraf penggerak bola mata
Gerak bola mata lambat, melirik dan melihat ke atas terbatas
d. Saraf pengecap dan penghidu
Sensasi rasa terganggu
e. Sistem motorik
, Cara berjalan dengan langkah kecil
- Dasar melebar ÷ Parkinson
. Postur tubuh bungkuk
/ Ayunan tangan berkurang
0 Tungkai mengalami kekakuan
1 Tendo kurang elastis
f. Reflex
, Reflex otot dan tumit menurun
- Reflex telapak kaki ÷ ekstensi
. Reflex abdomen menghilang


g. Sensorik
, Rasa getar menurun pada tungkai bawah
- Ambang rasa, raba dan tusuk meningkat



|Type text] Page ŵŵ

G. PERUBAHAN PSIKOSOSIAL PADA LANSIA
Perubahan psikososial pada lansia sering dimanifestasikan dengan tingkat
penyesuaian/adaptasi usila terhadap hal-hal berikut :
1. Penyesuaian terhadap penurunan fisik .
2. Penyesuaian terhadap penurunan penghasilan.
3. Penyesuaian terhadap pengaturan hidup yang layak.
4. Penyesuaian terhadap kematian pasangan hidup orang yang dicintai.
5. Penetapan hubungan dengan teman sebaya.
6. Pertemuan-pertemuan atau sosialisasi dengan masyarakat dan pemenuhan kewajiban
sebagai warga negara.


H. PENYAKIT-PENYAKIT YANG SERING TERJADI PADA LANSIA
1. Osteoarthritis
2. Hipertensi
3. Diabetes Mellitus
4. Gastritis
5. Rabun Senja
6. Remathoid Arthritis
7. Decomp Cordis
8. AMÌ
9. Dislokasi Sendi

















|Type text] Page ŵŶ

B. Anatomi Fisiologi Kulit
Pengertian
Kulit merupakan organ terbesar dalam tubuh, luasnya sekitar 2 m2. Ketebalan pada
setiap bagian tubuh berbeda-beda (0,5-5 mm) dan rata-rata ketebalanNYA 1-2 mm.
Kulit terdiri dari lapisan Epidermis di bagian luar yang merupakan lapisan jaringan epitel
dan lapisan dermis di bagian bawahnya yang merupakan lapisan jaringan ikat. Di
bawah jaringan dermis terdapat jaringan hipodermis atau subkutis.

1 Struktur Kulit
a. Epidermis
Lapisan epidermis terdiri dari epitel squamosa, dan tidak mengandung pembuluh darah.
Lapisan ini terdiri atas lima lapisan yaitu:
1) Stratum Korneum
2) Stratum Lusidum
3) Stratum Granulosum
4) Stratum Spinosum
5) Stratum Basale
Stratum spinosum dan basale keduanya disebut dengan stratum germinatifum karena
menghasilkan sel-sel baru. Selain di telapak tangan dan kaki, lapisan epidermis
biasanya hanya terdapat stratum korneum dan germinatifum.
1) Stratum Korneum
Lapisan ini merupakan lapisan tipis dari sel-sel mati, mengandung soft keratin untuk
mempertahankan elastisitas kulit dan melindungi lapisan dibawahnya dari udara dan
kekeringan. Normalnya lapisan ini mengalami abrasi setiap harinya.
2) Stratum Lusidum
Lapisan ini tembus cahaya, terdiri dari sel-sel mati, mengandung eleidin (protein
peralihan antara soft keratin dengan keratohyaline), hanya tampak di telapak tangan
dan kaki. Lapisan ini berperan dalam melindungi kulit dari sinar Ultra Violet.
3) Stratum granulosum
Stratum granulosum m engandung granula keratohyalin yang merupakan awal awal
proses keratinisasi dan berkaitan dengan proses kematian sel.
4) Startum Spinosum
Stratum spinosum terdiri dari sel polihedral (banyak sisi) , sel-sel saling berikatan dan
mengunci. Pada lapisan ini terjadi proses sintesis protein secara aktif dan pembentukan
sel-sel baru dan didorong ke permukaan untuk mengganti sel-sel mati pada stratum
korneum
5) Stratum Basale
Lapisan ini berbatasan dengan lapisan dermis, biasanya terdapat sel kolumnar/sel
kuboid dan pada lapisan ini terjadi produksi sel-sel baru.
|Type text] Page ŵŷ

b. Dermis
Lapisan dermis merupakan bagian tersbesar dari komposisi kulit, merupakan lapisan
yang kuat dan memiliki jaringan ikat yang fleksibel yang mengandung serabut kolagen.
Retikular dan serabut-serabut elastis. Serabut kolagen dibentuk dari protein kolagen
yang sangat tipis. Serabut retukular, merupakan serabut paling tipis sebagai jaringan
penyokong. Serabut elastis menjadikan kulit lebih fleksibel. Kebanyakan sel pada
dermis adalah fibroblast, sel lemak dan makrofag Pada lapisan ini terdapat pembuluh
darah, pembuluh limfe, ujung syaraf, folikel rambut dan kelenjar-kelenjar. Lapisan
dermis terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan papila dan lapisan retikular.
1) Lapisan Papila
Lapisan papila hampir tidak mengandung jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang
tipis. Lapisan ini dikenal dengan lapisan subepitel karena dibawah lapisan epitel
epidermis. Lapisan ini disebut juga lapisan papila karena terdapat papila (kecil, seperti
jari-jari) yang berikatan dengan epidermis. Kebanyakan papila mengandung kapiler
untuk memberi nutrisi pada epidermis. Pada lapisan ini pula terdapat ujung-ujung syaraf
husus (meissner untuk sentuhan). Papila dengan serabut dobel ditelapak tangan dan
kaki membentuk sidik jari.
2) Lapisan retikular
Lapisan retikuler terdiri dari jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang kasar dan
berkas serabut yang saling bersilangan membentuk seperti jaring. Garis-garis serabut
tersebut membentuk Cleavage yang penting dalam proses pembedahan. Sayatan
bedah yang memotong garis cleavage lebih sulit sembuh daripada yang paralel dengan
garis ini.
Lapisan reticular sangat banyak mengandung pembuluh darah, syaraf, ujung-ujung
syaraf bebas, sel-sel adiposa(lemak), kelenjar minyak dan akar rambut, reseptor untuk
tekanan dalam. Bagian terbawah lapisan ini mengandung serabut otot polos (hususnya
di genital dan putting susu) dan folikel rambut.

c. Hipodermis/Subkutan
Lapisan hypodermis atau lapisan subkutan terdiri dari jaringan adipose, banyak
mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan syaraf juga terdapat gulungan
kelenjar keringat dan dasar dari folikel rambut. Tidak seperti epidermis dan dermis,
batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas.

Pada bagian yang banyak bergerak jaringan hipodermis kurang, pada bagian yan
melapisi otot atau tulang mengandung anyaman serabut yang kuat. Pada area tertentu
yng berfungsi sebagai bantalan (payudara dan tumit) terdapat lapisan sel-sel lemak
yang tipis. Distribusi lemak pada lapisan ini banyak berperan dalam pembentukan
bentuk tubuh terutama pada wanita.
|Type text] Page ŵŸ

2 Fungsi kulit

Kulit memiliki banyak fungsi diantaranya adalah:
a. Menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya
b. Melindungi tubuh dari masuknya mikroorganisme dan benda asing yang dapat
membahayakan tubuh. Fungsi ini merupakan fungsi perlindungan pasif. Selain fungsi
perlindungan pasif, lapisan dermis berperan dalam proses menyiapkan limfosit yang di
produksi oleh sumsum tulang sebelum benar-benar dipakai untuk menyerang berbagai
mikroorganisme penyebab penyakit. Peran kulit dalam hal ini merupakan peran aktif
dalam perlindungan tubuh.
c. Pengaturan suhu. Kulit, jaringan sub kutan dan lemak merupakan penyekat panas
dari tubuh. Lemak menyalurkan panas sepertiga kecepatan jaringan lain atau dalam
kata lain lemak menghambat pengeluaran panas dari tubuh. . Kecepatan aliran darah
ke kulit menyebabkan konduksi panas sangat efisien. Konduksi panas ke kulit diatur
oleh sistem syaraf simpatis. Syaraf simpatis mengatur kecepatan lairan darah dengan
menstimulasi vaso konstriksi dan vaso dilatasi.
d. Ekskresi: Melalui perspirasi/berkeringat, membuang sejumah kecil urea.
e. Sintesis: Konversi 7-dehydrocholesterol menjadi Vit D3(cholecalciferol) dengan
bantuan sinar U.V. Kekurangan UV dan Vit D mengakibatkan absorpsi Ca dari intestinal
ke darah menurun.
f. Sensori persepsi: mengandung reseptor terhadap panas, dingin, nyeri, sentuhan
/raba, tekanan. Juga mengandung ujung-ujung syaraf bebas yang berfungsi sebagai
homeostatis.
















|Type text] Page ŵŹ

C. Konsep Penyakit

Pengertian Tumor
Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik
inflamasi berasal dari bahasa latin, yang berarti bengkak. Ìstilah Tumor ini digunakan
untuk menggambarkan pertumbuhan biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut
Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas (malignant) atau
jinak (benign).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada
umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara
serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan
tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak
mudah dikeluarkan dengan cara operasi (Robin dan Kumar, 1995).
Pengertian Kanker
Sedangkan kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang
tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik
dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan
migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini
menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol
pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra, 1991).
EtioIogi Tumor
· elainan kongenital
Kelainan kongenital adalah kelainan yang dibawa sejak lahir, benjolannya dapat berupa
benjolan yang timbul sejak lahir atau timbul pada usia kanak-kanak bahkan terkadang
muncul setelah usia dewasa. Pada kelainan ini ,benjolan yang paling sering terletak di
leher samping bagian kiri atau kanan di sebelah atas , dan juga di tengah-tengah di
bawah dagu. Ukuran benjolan bisa kecil beberapa cm tetapi bisa juga besar seperti
bola tenis. Kelainan kongenital yang sering terjadi di daerah leher antara lain adalah
hygroma colli , kista branchial , kista ductus thyroglosus.
· Genetic
· Gender / jenis kelamin
· Usia
· Rangsangan fisik berulang
|Type text] Page ŵź

Gesekan atau benturan pada salah satu bagian tubuh yang berulang dalam waktu yang
lama merupakan rangsangan yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker pada
bagian tubuh tersebut, karena luka atau cedera pada tempat tersebut tidak sempat
sembuh dengan sempurna.
· Hormon
Hormon adalah zat yang dihasilkan kelenjar tubuh yang fungsinya adalah mengatur
kegiatan alat-alat tubuh dan selaput tertentu. Pada beberapa penelitian diketahui
bahwa pemberian hormon tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan peningkatan
terjadinya beberapa jenis kanker seperti payudara, rahim, indung telur dan prostat
(kelenjar kelamin pria).
· Infeksi
· Gaya hidup
· karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi)
Zat yang terdapat pada asap rokok dapat menyebabkan kanker paru pada perokok dan
perokok pasif (orang bukan perokok yang tidak sengaja menghirup asap rokok orang
lain) dalam jangka waktu yang lama.Bahan kimia untuk industri serta asap yang
mengandung senyawa karbon dapat meningkatkan kemungkinan seorang pekerja
industri menderita kanker.
Beberapa virus berhubungan erat dengan perubahan sel normal menjadi sel kanker.
Jenis virus ini disebut virus penyebab kanker atau virus onkogenik.
Sinar ultra-violet yang berasal dari matahari dapat menimbulkan kanker kulit. Sinar
radio aktif sinar X yang berlebihan atau sinar radiasi dapat menimbulkan kanker kulit
dan leukemia.
Patofisiologi Tumor
Kelainan congenital, Genetic, Gender / jenis kelamin, Usia, Rangsangan fisik berulang,
Hormon, Ìnfeksi, Gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat
menimbulkan tumbuh atau berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat benign
(jinak) atau bersifat malignant (ganas).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada
umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara
serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan
tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak
mudah dikeluarkan dengan cara operasi.
Sel tumor pada tumor ganas (kanker) tumbuh cepat, sehingga tumor ganas pada
umumnya cepat menjadi besar. Sel tumor ganas tumbuh menyusup ke jaringan sehat
sekitarnya, sehingga dapat digambarkan seperti kepiting dengan kaki-kakinya
mencengkeram alat tubuh yang terkena. Disamping itu sel kanker dapat membuat anak
sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain yang jauh dari tempat asalnya melalui
pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan tumbuh kanker baru di tempat lain.
|Type text] Page ŵŻ

Penyusupan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat
tubuh tersebut sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu.
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur
dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan
pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel
ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan
kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan
fungsi lainnya (Tjakra, Ahmad. 1991).
Adapun siklus tumbuh sel kanker adalah membelah diri, membentuk RNA,
berdiferensiasi / proliferasi, membentuk DNA baru, duplikasi kromosom sel, duplikasi
DNA dari sel normal, menjalani fase mitosis, fase istirahat (pada saat ini sel tidak
melakukan pembelahan).
Manifestasi Klinis Tumor
Ada tujuh gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk
memastikan ada atau tidaknya kanker, yaitu :
1) Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2) Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3) Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh.
4) Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5) Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, mejadi makin besar dan gatal.
6) Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh.
7) Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.
Klasifikasi Tumor
Berdasarkan asal jaringan, tumor dapat dibagi menjadi:
1) Tumor yang berasal dari epithelial
· Squamous epithelium : squamous cell papilloma, squamous cell carcinoma
· Transitional epithelium : transitional cell papilloma, transitional cell carcinoma.
· Basal cell (hanya di kulit): basal cell carcinoma.
· Glandular epithelium: adenoma, cystadenoma, adenocarcinoma.
· Tubules epithelium (ginjal): renal tubular adenoma, renal cell carcinoma
(Grawitz tumor).
· Hepatocytes: hepatocellular adenoma, hepatocellular carcinoma
· Bile ducts epithelium: cholangiocellular adenoma, cholangiocellular carcinoma.
· Melanocytes: melanocytic nevus, malignant melanoma.
2) Tumor yang berasal dari mesenchymal
· Jaringan yang berhubungan
fibroma, fibrosarcoma
myxoma, myxosarcoma
chondroma, chondrosarcoma
|Type text] Page ŵ8

osteoma, osteosarcoma (osteogenic sarcoma)
lipoma, liposarcoma
· Otot:
leiomyoma, leiomyosarcoma
rhabdomyoma, rhabdomyosarcoma
· Endothelium:
Hemangioma (capillary h., cavernous h.), glomus tumor, hemangiosarcoma, Kaposi
sarcoma
Lymphangiosarcoma
· Tumor sel darah:
Hematopoetic cells: leukemia
Lymphoid cells: non-Hodgkin lymphoma, Hodgkin lymphoma
· Tumor sel germ:
Teratoma (mature teratoma, immature teratoma)
Tumor epithelial dianggap ganas apabila telah menembus lamina basalis dan dianggap
jinak bila tidak menembus lamina basalis.
2. Pemeriksaan Penunjang
1) Skrining
2) Laboratorium
3) Teknik Pencitraan (Ìmaging)
4) Pemeriksaan Rontgen Konvensional
5) Radiografi Digital
6) Tomografi Komputer (CT Scan)
7) Ekhografi
8 ) Resonansi magnetik nuklear
9) Skintigrafi
3. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan kanker pada dasarnya sama, yaitu salah satu atau kombinasi dari
beberapa prosedur berikut :
1) Pembedahan (Operasi)
2) Penyinaran (Radioterapi)
3) Pemakaian obat-obatan pembunuh sel kanker ( sitostatika/khemoterapi)
4) Peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi)
5) Pengobatan dengan hormone
Manajemen Keperawatan Tumor
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :
|Type text] Page ŵ9

· Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau
stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
· Ìntegritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi
simpatis.
· Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;
malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan
pemasukkan / periode puasa pra operasi).
· Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
· Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi
immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya
kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi
anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat
mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
· Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik
glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi,
antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan
rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi
koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
Diagnosa Keperawatan Tumor
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata
maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith,
2006) meliputi :
1) Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap
perubahan status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang
berarti, krisis situasi atau krisis maturasi.
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping
penanganan, factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan
penampilan.
|Type text] Page ŶŴ

3) Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan,
keluhan terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
4) Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks,
hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan.
5) Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker),
ketidakberdayaan.
6) Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan
saraf/otot, dan nyeri.
Ìntervensi dan Ìmplementasi Tumor
Ìntervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,
1994:20)
Ìmplementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Ìntervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith,
2006) adalah :
1) Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah
atau dread yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya
yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk
mengatasi ancaman.
Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria hasil : - klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang
membuat stress.
- klien mampu mempertahankan penampilan peran.
- klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori.
- klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
- tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.
· Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
Rasional : memudahkan intervensi.
· Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di
masa lalu.
Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
mengontrol ansietas.
· Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
kecemasan yang dirasakan.
|Type text] Page Ŷŵ

· Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini,
harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.
Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
mengurangi kecemasan.
· Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari
meskipun dalam keadaan cemas.
Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu
mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan
dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.
· Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.
Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.
· Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga
menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.
Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.
· Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.
2) Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang.
Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
Kriteria hasil : - pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
- memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.
- menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh.
· Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang
tubuhnya.
Rasional : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.
· Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh.
Rasional : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga
pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.
· Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya
perhatian terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis.
Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi
kecemasan.
· Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan
martabat pasien.
Rasional : menciptakan suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan
berarti dalam diri pasien.
3) Koping individu, ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang
tepat terhadap stressor, pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat, dan atau
ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia.
Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif.
|Type text] Page ŶŶ

Kriteria hasil : - pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu
luang.
- mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang
efektif.
- menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya.
- berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).
· Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan
pandangan pemberi pelayanan kesehatan.
Rasional : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya.
· Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
Rasional : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya,
memudahkan intervensi
· Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang
realitas.
Rasional : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada
saat ini.
· Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain.
Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.
· Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan
dukungan emosional untuk pasien dan keluarga.
Rasional : menciptakan suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi
kecemasan.
4) Proses keluarga, perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau
fungsi keluarga.
Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
Kriteria hasil : - pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping.
- paien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan
perawatan setelah rawat inap.
· Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
· Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat
pengobatan.
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
· Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping
yang digunakan.
Rasional : membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat .
· Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang
normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu.
|Type text] Page Ŷŷ

Rasional : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota
keluarga.
5) Ketakutan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar
dan bahaya nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata.
Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
Kriteria hasil : - mencari informasi untuk menurunkan ketakutan.
- menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan.
- mempertahankan penampilan peran dan hubungan social.
· Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien.
Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
· Berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat
menurunkan atau mengurangi takut.
Rasional : mempertahankan perilaku koping yang efektif.
· Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
kecemasan yang dirasakan.
· Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini,
harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.
Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
mengurangi kecemasan.
6) Mobilitas fisik, hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian,
pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang..
- melakukan pergerakkan dan perpindahan.
- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
· Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
· Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
Rasional : mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena
ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
· Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
Rasional : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
|Type text] Page ŶŸ

· Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
Rasional : mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
· Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
Rasional : sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan
mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.
Evaluasi
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah :
1) Ansietas berkurang/terkontrol.
2) Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
3) Pasien menunjukkan koping yang efektif.
4) Pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
5) Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
6) Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.

D. Konsep Asuhan Keperawatan
Pengkajian:
1. Ìdentitas klien:
Nama
Umur
Alamat
Pendidikan
Jenis kelamin
Suku
Agama
Status perkawinan
Tanggal masuk ke panti
Tanggal pengkajian
2. Status kesehatan saat ini
Keluhan utama
PQRST
Keluhan yang menyertai
Alasan masuk panti

3. Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat kesehatan penyakit
Alergi
|Type text] Page ŶŹ

Tindakan yang dilakukan saat sakit
4. Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit keluarga
Genogram 3 generasi
5. Tinjauan system
Keadaan umum
Kepala
Mata
Telinga
Mulut dan tenggorokan
Leher
Payudara
Sistem pernapasan
Sistem kardiovaskuler
Sistem hemopoetik
Sistem integument
Sistem gastrointestinal
Sistem perkemihan
Sistem genitoreproduksi
Muskuloskeletal
Sistim saraf pusat
Sistem endokrin

6. Pengkajian psikososial dan spiritual
Psikososial
Emosional
Spiritual
7. Pengkajian fungsional







|Type text] Page Ŷź

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GERONTIK PADA OMA K
DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN
DI PANTI WERDHA BUDHI PERTIWI

A. Pengkajian
1. Ìdentitas
a. Ìdentitas klien
Nama : Oma K
Umur : 69 tahun
Alamat : jln. Sukagalih Bandung
Pendidikan : Tidak pernah sekolah
Jenis kelamin : Perempuan
Suku : Sunda
Agama : Ìslam
Status perkawinan : Janda
Tanggal masuk : 24 September 2009
Tanggal pengkajian : 17 januari 2011

b. Ìdentitas penanggung jawab
Ditanggung oleh Anak laki-laki kandung :
Nama : A

2. Riwayat kesehatan
a. Alasan masuk panti
Klien mengatakan klien di suruh masuk kepanti oleh ibu kandungnya oleh
karena di rumah tidak ada yang mengurus.
b. Keluhan utama
Nyeri
c. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan kaki kiri nyeri dan bengkak, nyeri sudah dirasakan sejaki 4
tahun yang lalu, nyeri dirasakan bila klien beraktivitas dan berkurang bila klien
|Type text] Page ŶŻ

beristirahat neyeri terasa nyut-nyutan kayak di cubit-cubit nyeri terasa
menyebar ke daerah sekitar luka, nyeri terasa berat ketika malam hari.
d. Keluhan yang menyertai
Klien mengatakan ada batuk dan pusing tapi hanya kadang-kadang saja

e. Riwayat kesehatan masa lalu
Klien menatakan 4 tahun yang lalu kakinya gatal di garuk lalu bengkak
f. Riwayat alergi
Klien mengatakan semenjak sakit klien alergi makanan ikan mas dan daging
ayam
g. Tindakan yang dilakukan saat sakit
Klien mengatan bila sakit selalu berobat ke dokter dan selalu minum obat
h. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan sudah lupa
i. Genogram







Keterangan :
: Laki ÷laki sudah meninggal
: Perempuan sudah meninggal
: Perempuan yang masih hidup
: Laki-laki yang masih hidup
: Klien
: Menikah

j. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Tekanan darah : 200/90 mmHg
Nadi : 92 kali/menit
Suhu : 37,5
0
C
Respirasi : 37 kali/menit
Berat badan :
Tinggi badan :
ÌMT :

|Type text] Page Ŷ8

3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Klien tampak sehat, klien berjalan tanpa memakai tongkat, kaki kiri tampak
bengkak dan kemerahan terdapat luka tumor, klien mengatakan ada sedikit
batuk dan pusing tapi hanya kadang- kadang.
b. Sistem pernafasan
Anamnese :
Klien mengatakan ada sedikit batuk, tapi hanya kadang-kadang, pola
nafas teratur.
Ìnspeksi :
Hidung tampak bersih, tampak simetris, septum berada ditengah,
Perkusi:
Terdengar bunyi sonor disemua lapang paru, batas paru normal
interkostal 1-6 kanan dan kiri.
Auskultasi:
Terdengar suara vesicular di seluruh lapang paru, bronchial terdengar
di suprasternal notch dan suara bronchovesikular terdengar di
percabangan trakea. terdengar bunyi wheezing.
c. Sistem kardiovaskuler
O Ìnspeksi:
Ìctus cordis tidak terlihat, tidak ada tanda-tanda epitaksis, tidak
terlihat cyanosis di sekitar bibir, mulut ataupun ekstremitas.
O Palpasi:
Ìctus cordis teraba di ÌCS 5 mid clavicularis sinistra, tidak ada
edema pitting ataupun non-pitting. Tidak ada pembesaran
jantung.
O Perkusi:
Terdengar bunyi pekak di ÌCS 2-5 mid clavicularis sinistra.
O Auskultasi:
4 Tidak terdengar bunyi jantung tambahan seperti
murmur ataupun gallop.
4 Bunyi jantung Ì terdengar di ÌCS 4 linea sternalis
sinistra dan ÌCS 5 midclavicularis sinistra, teratur, HR
92x/menit.
4 Bunyi jantung ÌÌ terdengar di ÌCS 2 linea sternalis
dekstra dan ÌCS 2 linea sternalis sinistra, teratur.
4
d. Sistem hemopoetik
e. Sistem integument
|Type text] Page Ŷ9

Ìnspeksi:
Kulit tidak icteric, ada luka di daerah kulit di extemitas bagian sinistra
(tumor), tidak ada ptechie, ekimosis, bulla ataupun pustule.
Palpasi:
Kulit teraba kenyal dan lembab, turgor kulit kembali cepat setelah
dicubit, akral hangat.
f. Sistem gastrointestinal
Klien mengatakan tidak memiliki gastritis, klien memiliki pantang dalam
makanan seperti makan ikan mas dan ayam , klien memiliki pola makan yang
teratur
g. Sistem perkemihan
Anamnese : Klien mengatakan tidak sulit BAK dan tidak terasa sakit saat BAK,
klien mengatakan minum sekitar 3 gelas / hari dan tidak terdapat nyeri di
bagian pinggang
h. Sistem musculoskeletal
Ìnspeksi:
Tidak ada tremor di ekstremitas atas maupun bawah, tidak ditemukan
kelemahan di kedua ekstremitas, ada edema di kaki kiri.
Palpasi:
Akral hangat, turgor kulit kembali ke semula dengan cepat.
i. Sistem gastroreproduksi
Klien mengatakan sudah tidak menstruasi lagi, klien memiliki 3 orang anak, 2
anak perempuan 1 laki-laki.
j. Sistem endokrin
Klien mengatakan tidak memiliki penyakit gula
k. Sistem pancaindra
Klien mengatakan matanya sudah berkurang fungsinya. klien sudah susah
untuk membedakan warna. klien juga mengatakan pendengarannya sudah
berkurang.
ÌV. Pengkajian fungsional
a. KATZ Ìndeks
Klien termasuk dalam kategori mandiri dalam:
Makan, kontinensia (BAB/BAK) , menggunakan pakaian, pergi ketoilet, berpindah
dan mandi





|Type text] Page ŷŴ

b. Modifikasi dari Barthel indeks
No Kriteria Dgn bantuan mandiri frekuensi
1.
2.
3.



4.
5.
6.
7.

8.
9.

10
11
12
13
Makan
Minum
Berpindah dari kursi roda
ketempat tidur, atau
sebaliknya

Personal toilet
Keluar masuk toilet
Mandi
Jalan dipermukaan datar

Naik turun tangga
Menganakan pakaian

Kontrol bowel
Kontrol blader
Olah raga/ latihan
Rekreasi/ pemanfaatan
waktu luang











5




5
5
10
10
15



5
10
10
5


10

10
10

3 kali, 1 porsi, nasi
5 kali2,00 cc, air putih




3 kali

3 kali





1 kali , lembek
2-3, kuning
Frek, jenis
Frek, jenis



Jumlah : 110
Jadi klien masuk kedalam kategori ketergantungan ringan













|Type text] Page ŷŵ

V. Pengkajian stetus mental
a. Ìdentifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Mental
Status Questioner (SPSMQ)
Benar Salah no Pertanyaan



















1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.

9.
10.
Tanggal berapa hari ini?
Hari apa sekarang?
Apa nama tempat ini?
Dimana alamat anda?
Berapa umur anda?
Kapan anda lahir?
Siapa nama presiden Ìndonesia sekarang?
Siapa nama presiden Ìndonesia sebelumnya?
Siapa nama ibu anda?
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari
setiap angka baru, semua secara menurun

Skor total : 6
Jadi klien masuk kedalam kategori kerusakan intelektual sedang

c. Ìdentifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan mini mental
status exam (MMSE)
NO Aspek kognitif Nilai max Nilai klien Kriteria
1.






Orientasi






5






0






Menyebutkan dengan benar:
Ŵ Tahun
Ŵ Musim
Ŵ Tanggal
Ŵ Hari Bulan

|Type text] Page ŷŶ

2.








3.




4.






5.















Registrasi








Perhatian dan
kalkulasi



Mengingat






Bahasa
5







3








5




3






9
3







2








0




3






1


1




1
Dimana sekarang kita berada:
Ŵ Negara
Ŵ Provinsi
Ŵ Kota
Ŵ Panti
Ŵ Kamar no



Sebutkan nama 3 objek
(sebelunya pemeriksa
menyebutkan 3 objek dalam
waktu sau detik, kemudian
tanyakan pada klien ketiga
objek tadi)
Ŵ jam
Ŵ pulpen
Ŵ kunci

Minta klien untuk memulai dari
angka 100 kemudian dikurangi
7, lakukan sampai 5X
Minta klien untuk mengulangi
ketiga objek pada no 2. bila klien
benar berikan 1 poinuntuk
masing-masing objek yang
sudah benar
Tunjukan pada klien suatu
benda dan tanyakan apa
namanya (2)
Minta klien untuk mengulang
kata berikut:
" tak ada jika, dan, atau, tetapi
(1)
|Type text] Page ŷŷ

1





0
Minta klien untuk mengikuti
perintah berikut yang terdiri dari
3 langkah: (3)
" ambil kertas ditangan anda,
lipat 2 dan taruh dilantai¨
Ŵ ambil kertas ditangan anda
Ŵ lipat 2
Ŵ taruh dilantai
Perintahkan klien untuk
melakukan aktivitas sesuai
perintah dan berikan 1 poin
Ŵ Tutup mata anda
Perintahkan pada klien untuk
menulis satu kalimat dan
menyalin gambar
Ŵ tulis satu kalimat
Ŵ Menyalin gambar


Skor : 11
Jadi interpretasi hasilnya:
Terdapat kerusakan aspek fungsi mental

VÌ. Pengkajian psikososial
a. Kemampuan sosialisasi klien saat ini
Klien mampu bersosialisasi baik dengan orang lain
b. Sikap klien terhadap orang lain
Sikap yang ditunjukan klien saat bersosialisasi adalah baik dan ramah
c. Harapan-harapan klien dalam melakukan sosialisasi
Harapan klien dalam melakukan sosialisasi adalah untuk menambah teman mengobrol
agar tidak kesepian
d. Kepuasan klien dalam bersosialisasi
Puas, karena dengan bersosialisasi klien dapat berbagi pengalaman
e. Penerimaan klien terhadap kondisinya saat ini
|Type text] Page ŷŸ

Klien sangat kurang mnerima keadaan yang sekarang, beliau selalu merasa
penyakitnya bikinan orang.
f. Status emosional klien
Emosi klien stabil
VÌÌ. Pengkajian spiritual
a. Kegiatan keagamaan klien saat ini
Kegiatan yang dilakukan adalah mengikuti kegiatan doa yang ada dipanti
b. Keyakinan klien tentang kematian
c. Harapan-harapan klien sehubungan dengan spiritual

B. Pengelompokan Data
Data objektif Data subjektif
Ŵ Terdapat nyeri tekan pada kaki
yang sakit
Ŵ Klien tampak kesakitan
Ŵ Terdapat luka terbuka pada kaki
kiri (tumor)
Ŵ Suhu : 36
0
C
Ŵ TD : 200/90 mmHg
Ŵ Klien tampak curiga
Ŵ Kaki kiri tampak bengkak

Ŵ Klien mengeluh nyeri pada kaki
kiri
Ŵ Klien mengatakan nyeri
diperberat jika tubuh digerakan
Ŵ Nyeri dirasakan hampir setiap
saat terutama malam hari.
Ŵ Nyeri terasa cekot-cekot
Ŵ Klien mengatakan pusing
Ŵ Klien mengatakan sakitnya
buatan orang
Ŵ Klien mengatakan tidak tahu
tentang penyakitnya












|Type text] Page ŷŹ

C. Analisa Data
Data Etiologi Masalah
DO :
Ŵ Terdapat nyeri tekan
pada kaki yang sakit
Ŵ Klien tampak
kesakitan
Ŵ Terdapat luka
terbuka pada kaki kiri
(tumor)
Ŵ Suhu : 36
0
C
Ŵ TD : 200/90 mmHg
DS :
Ŵ Klien mengeluh
nyeri pada kaki kiri
Ŵ Klien mengatakan
nyeri diperberat jika
tubuh digerakan
Ŵ Klien mengatakan
neri terasa cekot-
cekot
Ŵ Nyeri dirasakan
hampir setiap saat
terutama malam hari.
DO :
O TD : 200/ 90 mmHg
DS :
O Klien mengatakan pusing




Tumor
Membesar
Menekan saraf-saraf nyeri
Merangsang pengeluaran
bradikini,prostaglandin, dan
histamine
Di persepsikan ke otak
nyeri








Keturunan
Perubahan pada vaskuler

Viskositas meningkat

Vasokonstriksi pembuluh
darah

Gangguan rasa nyaman
nyeri














Penurunan curah jantung
Kurang,pengetahuan
mengenai kondisi penyakit





|Type text] Page ŷź

DO :
O Terdapat luka terbuka
pada kaki kiri (tumor)
O TD : 200/ 90 mmHg
DS :
O Klien mengatakan tidak
tahu tentang penyakitnya


DO :
O Terdapat luka terbuka
pada kaki kiri (tumor)
DS :
O Klien mengatakan nyeri
terasa cekot-cekot





Peningkatan beban kerja
jantung
Pompa jantung meningkat

Co2 meningkat

Hipertensi

Penyakit tumor

Kurang informasi

Kurang pengetahuan


Terdapat luka terbuka (tumor)
Terdapat port the entry
Ìnvasi mokroorganisme
Reaksi antigen antibody
Proses inflamasi
Reaksi tubuh tidak adekuat
Resti infeksi


















Resti infeksi









|Type text] Page ŷŻ

C. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan injuri fisik
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terdapatnya port the entry
3. Penurunan curah jantung b.d. peningkatan vasokontriksi pembuluh darah
4. Kurang pengetahuan b.d. kurang pemajanan informasi tentang proses penyakit
5. Gangguan proses pikir waham curiga










DO :
O Klien tampak curiga
DS :
O Klien mengatakan
sakitnya buatan
orang

Ŵ

Sakit fisik yang
berkepanjangan
Menekan kesehatan
psikologis
Coping yang mal adaptip
Curiga yang berlebihan
Waham curiga

Gangguan proses pikir
waham
|Type text] Page ŷ8

N
o
TgI Diagnosa Keperawatan Tujuan
Perencanaan
Intervensi RasionaI
1. Selasa,
19 ÷ 1 -
2011
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan injuri fisik
DO :
Ŵ Terdapat nyeri tekan pada
kaki yang sakit
Ŵ Klien tampak kesakitan
Ŵ Terdapat luka terbuka pada
kaki kiri (tumor)
Ŵ Suhu : 36
0
C
Ŵ TD : 200/90 mmHg
DS :
Ŵ Klien mengeluh nyeri pada
kaki kiri
Ŵ Klien mengatakan nyeri
diperberat jika tubuh
digerakan
Ŵ Klien mengatakan neri
terasa cekot-cekot
Rasa nyeri berkurang sampai dengan
hilang dalam waktu 1 minggu dengan
criteria :
O Klien tampak rileks
O Klien mengatakan nyeri
berkurang








Kaji tingkat nyeri klien
Observasi keadaan luka

Observasi TTV terutama Nadi
Ajarkan klien tarik nafas dalam
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgetik













Mengetahui tingkat nyeri klien
Keadaan luka klien menandakan
tingkat penyakit yang di derita
Nadi yang meningkat dapat
menandakan tingkat nyeri
Tarik nafas dalam mengurangi
nyeri
Analgetik dapat menekan tingkat
nyeri











|Type text] Page ŷ9

Ŵ Nyeri dirasakan hampir
setiap saat terutama malam
hari.

Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan terdapatnya port the entry
DO :
O Terdapat luka terbuka pada kaki
kiri (tumor)
DS :
O Klien mengatakan nyeri terasa
cekot-cekot








Selama perawatan tidak terjadi infeksi
Dengan criteria hasil :
Tidak terjadi infeksi baru

Tidak terjadi pembengkakan pada
luka












Kaji Keadaan luka
Observasi TTV terutama suhu
Lakukan perawatan luka secara steril
Anjurkan klien untuk tidak menggaruk
luka
Kolaborasi dengan dokter pemberian
obat antibiotic
Anjurkan klien untuk makan TKTP















Memantau perkembangan luka
klien
Suhu yang tinggi menandakan
terjadi infeksi
Perawatan yang steril dapat
menekan tingkat infeksi dan
dapat mempercepat
pnyembuhan
Mengorek luka dapat menambah
inveksi akibat invasi
mikroorganisme
Pemberian antibiotic dapat
menekan perkembangan
mikroorganisme
Makanan TKTP membbantu
proses penyembuhan dengan
membantu pembbetukan sel-sel
baru


|Type text] Page ŸŴ

Penurunan curah jantung b.d.
peningkatan vasokontriksi
pembuluh darah
DO :
O TD : 200/ 90 mmHg
DS :
O Klien mengatakan pusing










O Tekanan darah dalam keadaan
normal, TD : 120/80mmHg
O Tidak terjadi penurunan curah
jantung













1. observasi Tekanan darah setiap
hari

2. Kaji aktivitas yang dilakukan klien
sehari-hari.



3. Kaji pola istirahat klien
4. kaji pola kebiasaan makan pasien

.












- mengetahui keadaan klien
(tekanan darah apakah dalam
keadaan normal atau tidak)

-mengetahui apakah
kegiatan/aktivitas yang dilakukan
klien apakah memperberat klien.

- mengetahui pola istirahat klien,
apakah cukup/tidak
- mengidentifikasi pemicu
terjadinya hipertensi dari pola
makan klien







|Type text] Page Ÿŵ

Kurang pengetahuan mengenai
proses penyakit b.d kurangnya
informasi dan pemahaman tentang
proses penyakit.
DO :
O Terdapat luka terbuka pada
kaki kiri (tumor)
O TD : 200/ 90 mmHg

DS :
O Klien mengatakan tidak tahu
tentang penyakitnya


Pengetahuan & pemahaman klien
tentang proses penyakit bertambah
dalam waktu 2 hari.
Kriteria hasil :
O Klien membatasi asupan
makanan yang ikan mas dan
ayam goreng
O Klien mengatakan tahu banyak
tentang penyakit & merasa harus
diobati
O Klien mengatakan membatasi
makan asin & berlemak
1. Bantu klien dalam mengidentifikasi
faktor-faktor resiko kardiovaskuler
yang dapat diubah



2. Kaji kesiapan dan hambatan dalam
belajar termasuk orang terdekat.



3. Kaji tingkat pemahaman klien
tentang
pengertian,penyebab,tanda&gejala,pe
ncegahan,pengobatan, dan akibat
lanjut
4. Jelaskan pada klien tentang proses
penyakit hipertensi (pengertian,
penyebab, tanda dan gejala,
pencegahan, pengobatan, dan akibat
lanjut) melalui penkes
- Faktor-faktor resiko ini telah
menunjukan hubungan dalam
menunjang hipertensi dan
penyakit kardiovaskuler serta
ginjal


Bila klien tidak menerima
realitas bahwa membutuhkan
pengobatan kontinu, maka
perubahan perilaku tidak akan
dipertahankan.

- mengidentifikasi tingkat
pengetahuan tentang proses
penyakit hipertensi dan
mempermudah dalam
menentukan intervensi.
Meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan klien tentang
proses penyakit hipertensi.


|Type text] Page ŸŶ

-mengidentifikasi tingkat
pemahaman klien tentang
tekanan darah tinggi
-supaya klien dapat tahu
mengenai tekanan darah tinggi,
apa yang menyebabkan penyakit
ini terjadi, dan bagaimana cara
pencegahan tekanan darah
tinggi


|Type text] Page Ÿŷ

|Type text] Page ŸŸ

IMPLEMENTASI
TanggaI/
Hari
Jam ImpIementasi paraf
Senin 17
januari 2011







Selasa, 18
januari 2011
















11.00




12.30



08.00


09.00


10.00






11.00


11.15
Membina trust dan mengajarkan tekhnik tarik nafas
dalam
R : Oma kooperatif
H : oma tampak percaya dan mau mempraktekan tarik
nafas dalam
Melakukan pengkajian
R : oma kooperatif
H : data sudah terkumpul

Menengok oma
R : -
H : oma sedang tidur
Ngobrol-ngobrol dengan oma
R : oma kooperatif
H : oma dapat menseringkan maslahnya
Mengobservasi TTV
TD : 200/90 mmHg
N : 92 kali/ menit
S : 36
0
C
RR : 37 kali/menit
HR : 72 kali/menit
BU : 9 kali/menit
Melakukan perawatan kulit dengan baby oil
R : oma kooperatif
H : perawatan sudah dilakukan
Mengajarkan tarik nafas dalam
R : oma kooperatif

|Type text] Page ŸŹ

Rabu, 19
januari 2011
























13.00



13.00

14.00


13.00


17.00


18.00










H : oma dapat melakukan tarik nafas dalam
Mengobservasi
R :-
H : oma sedang tidur

Melakukan anamnesa dan pengkajian untuk melengkpi
data
Mengobservasi makan
R : oma kooperatif
H : makan tidak habis
Mengobservasi TTV
TD : 130/70 mmHg
N : 82 kali/menit
Mengambilkan makan
R : oma kooperatif
H : oma mau makan
Mengobservasi oma
R : oma kooperatif
H : oma mua shalat magrib










|Type text] Page Ÿź

Kamis, 20
januari 2011
08.00



09.00



10.00



11.00



12.00



12.30
Mengobservasi oma
R : oma kooperatif
H : oma mengeluh sakit dan pusing

Mengobservasi TTV
TD : 180/80 mmHg
N : 78 kali/menit

Mengukur BB dan TB
BB : 41 kg
TB : 133 cm

Memotong kuku oma
R ; oma kooperatif
H :kuku sudah di potong

Melakukan penyuluhan tentang manfaat mentimun
R : oma kooperatif
H : oma dapat mengerti dan dapat mempraktekan

Mengobservasi TTV
TD : 170/70 mmHg







|Type text] Page ŸŻ

EVALUASI SOAPIE
TanggI DK EvaIuasi Paraf
Selasa, 18
januari
2011
























1






2






3





4





S : oma masih mengeluh nyeri
O : oma tampak nyeri, terdapat luka tumor di kaki kiri
A : masalah belum tertasi
P : Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam
Ì : Mengajarkan tarik nafas dalam
E : Nyeri berkurang setelah melakukan tarik nafas dalam

S : oma mengeluh nyeri
O : ada luka di kaki kiri, kaki kiri tampak bengkak
A : masalah belum teratasi
P : lakukan perawatan luka
Ì : menjaga kebersihan sekitar luka
E : nyeri tetap dirasakan

S : oma mengeluh pusing
O : TD : 200/90 mmHg
A : masalah teratasi sebagian
P : batasi aktivitas klien
Ì : membatasi aktivitas klien
E : klien lebih rileks
S : oma mengatakan belum tau tentang penyakitnya
O : oma tidak tau tentang penyakitnya
A : masalah teratasi
P : berikan penyuluhan
Ì : memberikan penyuluhan
E : pengetahuan oma tentang penyakitnya bertambah

|Type text] Page Ÿ8

Rabu, 19
januari
2011



















5






1






2






3






S : oma mengatakan sakitnya bikinan orang
O : Oma tampak curiga
A : masalah teratasi
P : jelaskan tentang penyebab penyakit
Ì : menjelaskan tentang penyakit yang diderita
E : oma mengerti setelah dijelaskan

S : oma masih mengeluh nyeri
O : oma tampak nyeri, terdapat luka tumor di kaki kiri
A : masalah belum tertasi
P : Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam
Ì : Mengajarkan tarik nafas dalam
E : Nyeri berkurang setelah melakukan tarik nafas dalam

S : oma mengeluh nyeri
O : ada luka di kaki kiri, kaki kiri tampak bengkak
A : masalah belum teratasi
P : lakukan perawatan luka
Ì : menjaga kebersihan sekitar luka
E : nyeri tetap dirasakan

S : oma mengatakan tidak pusing
O : TD : 130/70 mmHg
A : masalah teratasi
P : intervensi di hentikan
Ì : -
E : -

|Type text] Page Ÿ9

Kamis,20
januari
2011


























1






2






3













S : oma masih mengeluh nyeri
O : oma tampak nyeri, terdapat luka tumor di kaki kiri
A : masalah belum tertasi
P : Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam
Ì : Mengajarkan tarik nafas dalam
E : Nyeri berkurang setelah melakukan tarik nafas dalam

S : oma mengeluh nyeri
O : ada luka di kaki kiri, kaki kiri tampak bengkak
A : masalah belum teratasi
P : lakukan perawatan luka
Ì : menjaga kebersihan sekitar luka
E : nyeri tetap dirasakan

S : oma mengeluh pusing
O : TD : 180/80 mmHg
A : masalah teratasi sebagian
P : berikan jus mentimun
Ì : memberikan jus mentimun
E : TD 170/70 mmHg







|Type text] Page ŹŴ

Senin, 24
januari
2011

























1






2






3













S : oma masih mengeluh nyeri
O : oma tampak nyeri, terdapat luka tumor di kaki kiri
A : masalah belum tertasi
P : Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam
Ì : Mengajarkan tarik nafas dalam
E : Nyeri berkurang setelah melakukan tarik nafas dalam

S : oma mengeluh nyeri
O : ada luka di kaki kiri, kaki kiri tampak bengkak
A : masalah belum teratasi
P : lakukan perawatan luka
Ì : menjaga kebersihan sekitar luka
E : nyeri tetap dirasakan

S : oma mengeluh pusing
O : TD : 180/80 mmHg
A : masalah teratasi sebagian
P : anjurkan untuk banyak istirahat
Ì : menganjurkan oma istirahat
E : oma tampak lebih rileks








|Type text] Page Źŵ

Selasa, 25
januari
2011

























1






2







3












S : oma masih mengeluh nyeri
O : oma tampak nyeri, terdapat luka tumor di kaki kiri
A : masalah belum tertasi
P : Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam
Ì : Mengajarkan tarik nafas dalam
E : Nyeri berkurang setelah melakukan tarik nafas dalam

S : oma mengeluh nyeri
O : ada luka di kaki kiri, kaki kiri tampak bengkak
A : masalah belum teratasi
P : lakukan perawatan luka
Ì : menjaga kebersihan sekitar luka
E : nyeri tetap dirasakan


S : oma mengeluh pusing
O : TD : 170/80 mmHg
A : masalah teratasi sebagian
P : anjurkan untukbanyak istirahat
Ì : menganjurkan oma untukbanyak istirahat
E : oma tampak lebih rileks



|Type text] Page ŹŶ

BAB IV
PENUTUP

a. SimpuIan
Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin,
yang berarti bengkak. ÌstilahTumor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan
biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat
digolongkan sebagai ganas (malignant) atau jinak (benign).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya
tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak
sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari
jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah
dikeluarkan dengan cara operasi (Robin dan Kumar, 1995).
b. Saran
Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya dan
dapat di aplikaasikan dalam kehidupan sehari-hari

|Type text] Page Źŷ

DAFTAR PUSTAKA

O Doenges E Marilynn, 2000., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
O Kalim, Handono, 1996., Ìlmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUÌ, Jakarta.
O Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaapius FKUÌ,
Jakarta.
O Prince, Sylvia Anderson, 1999., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.
O http://www.medicastore.com/nutracare/image/sendi.gif
O Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
O Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.
O Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. Jakarta : EGC.
O Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
O Robin S.L. dan Kumar V. 1995. Buku Ajar Patologi Ì. Jakarta : EGC.
O Tjakra, Ahmad. 1991. Patologi. Jakarta : Bagian Patologi FKUÌ
O Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.
















You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->