http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. menurut Titus (1959:78). Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. untuk melakukan operasi-operasi logis. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). pengetahuan logiko-matematik. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. dapat dipelajari secara langsung. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. atau memahami sesuatu. Menurut Piaget (dalam Dahar. Penguasaan Pengetahuan Sains. dan pengetahuan sosial. Sains. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Untuk memperjelas hal tersebut.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. A. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. tanda atom unsur-unsur. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. dan sebagai metode-metode. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. sebagai sekumpulan pengetahuan. satuan besaran pokok.

konsep. Sains dirumuskan secara sistematis.. Dengan demikian sains. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Produk sains meliputi fakta. teknologi adalah sebagai berikut: ……. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. dan cara bersikap. prinsip. 1990 . 1994: 29). Sains. cara berfikir. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Menurut Robert B. Jadi.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. cara memecahkan masalah. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Sains melandasi perkembangan teknologi. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Dengan demikian. resources. and systems. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. dan norma-norma sosial tertentu. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. Masyarakat . to solve problems. Sedangkan teknologi. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. kebutuhan. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). menurut Fischer (1975). sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. Teknologi. teori dan hukum. Menurut Poerwadarminta (1983).technology is the know-how and creative process that may utilize tools. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Yager. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. 1992: 4). Sund (1973: 2). Menurut Poerwadarminta (1983). Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. sedangkan menurut UNESCO (1983). teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. menurut Aikenhead (dalam Mariana. Sedangkan.

Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Kirham (dalam Wellington. masyarakat). STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. penyadaran. process. 1992: 19-20). nutrisi. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. 2. teknologi. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. 5. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 3. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. . Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. 4. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. 1992:87-88) B. (Varella.

dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Content. Context. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Process. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. 1994: 1). menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. konsep. Untuk kepentingan itu. dan terminologi. strategi pertama. model. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Pada awal perubahan tiap topik. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content.dan context. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . teori. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. National Science Teacher Association atau NSTA. definisi. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Strategi kedua. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. prinsip.

mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. berpengaruh satu sama lain. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains.pembelajaran. (b) mampu menggunakan proses sains. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. Literasi sains (scientific literasi). Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu.J. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. masyarakat dan nilai-nilai manusia. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. Literasi teknologi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Strategi ketiga. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. efesien dan efektif. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. tepat. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. teknologi dan masyarakat. dan masyarakat secara terintegrasi. 1993: 428). 1994: 34) . dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. sadar akan efek hasil teknologi. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. teknologi. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. kreatif membuat produk teknologi sederhana.

et al. Gagne. (1971). (1979). A. Belmount: Wadsworth Publishing Company. R. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. A. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. DAFTAR PUSTAKA Bloom. Merrill Publishing. Teaching Science Through Discovery. P..L.I.A. Fischer. Dictionary of Education. The Condition of Learning and Theory of Instruction.J.H. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire.e.’lay Company. Principlesof Instructional Desig.B. New York: Holt. Good. New York: Mc Graw Hill Book Company. & Briggs. Balai Pustaka. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. Bandung. R.masyarakat. (1985).M.M. 17-19 Januari. C.V. Man and Siciety. & Stone. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Kuslan. Teori-teori Belajar.J. (1973). (1980). (1968).B. Jakarta: Erlangga. New York: Rinehort and Winston. W. Dahar. Science. R. Columbus: Charles E. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. 3 Mei. (1990). Carin. Jakarta. R. (1985). Jakarta: PN. _______. G. Gordner. Disertai Doktor FPS IKIP. The Stucture of Science Education. & Sund. _______. (1975). Hall. (1971). A. et al. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1998: 276). (1989). “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. R. Poedjiadi. . Austin: Univercity of Texas. Gagne. (Eds). Philadelphia: Saunders Co. New York: David Mc. (1983).W. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Inc. L. (1974).(1995). Rinehort and Winston. L.S..

“Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. namun retensinya berbeda signifikan.M. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Pendahuluan 1. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. (1971). G. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. (1992).(1959). Living Issues In Philoshophy. 2-8.A. “Science-Technology-Society as Reform”. Titus. New York: Free Press. 87-92. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. H. (1992). Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. A. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan . ICASE YEARBOOK. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. E. & Shoemaker.F. Science Education.F. R. Varella.E. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. ICASE YEARBOOK.Rogers.H. Rubba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Yager. (1993). P. New York: American Book Company. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. F. 407-431.

Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 2. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Namun. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. mendorong siswa berfikir. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen..keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. B. 1996:117). 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains.W. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. R. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Pada kenyataannya. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. 1991: 97). hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1996:458). 1985:122). Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi.

banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. 1996: 18). 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.1999:4). (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Namun. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. misalnya topik polusi. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa.Wrag dan George Brown 1997: 43). Wrag dan George Brown . Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. Uzer Usman. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas.1997: 43) 2.C. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Dalam mempelajari sains biologi. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan.C. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman.1987:72). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. pertanyaan retoris (rhetorical questions). mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Namun. dalam Nuryani Rustaman.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. 1991: 97). Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Pertanyaan permintaan (compliance questions).

al. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Hursh (1976). Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 1959: 241). menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. Kulik et. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. tugas yang harus dipelajari. Winkel (1996: 305). 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan.dengan retensi. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. al. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa.. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. (1978 & 1990) (dalam Semb et. tidak diperlukan individu sehingga tidak . 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. dan perbedaan individual. metode pembelajaran. 1959: 236). 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya.. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa.

C. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka.dihiraukan. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. dalam Susan Hanley.

dan R = nilai terendah Tabel 2. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.6 7.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.4 78.75 8.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.93 8. Tabel 1. Sd = standar deviasi.36 80. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.25 Sd 10. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini.7 X = rata-rata nilai. T = nilai tertinggi.Retensi % Pre.07 11.Post.9 95. Pos-tes.) R 33 52 59 75.58 81.48 1.58 8. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .16 1. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.98 50.83 116.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp.4 12.03 79 74. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98. T2(1)= Postes.25 1.Keterangan Konsep Kontrol & kel.5 9. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.

8%) 10 (27. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. 1989:159). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar.8%) (33.3%) (41. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.7%) 16 18 (50%) 3 (44.3%) - - K= kelompok kontrol. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Retensi.8%) 4 (11.4%) 5 (13.3%) (58.9%) 3 (8. Peristiwa ini dapat .7%) (91. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.6%) 4 (11.3%) 3 (8. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2).2%) 1 (2.3%) 11 (30.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97.3%) (8. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes.Tabel 3.1%) 3 (8. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . dan E = kelompok eksperimen E. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. mempengaruhi. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik.

Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. maka hal ini kita bicarakan. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. . maka pengertian itu relatif adanya. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Sikap berpakaian. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. A. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian.hidupnya”. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. 1. sederhana tetapi terpelihara. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. B. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan.

jangan menggangap. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Bagi seorang guru kita haris berani: a. c. b. 3. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Ciptakan suasana kelas yang baik. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Jangan memberi hukuman badan. mereka harus mengidahkan suruhannya. Karena itu harap sabar. matanya. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. f. mungkin guru. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Sering guru merasa. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan .2. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Sikap di muka kelas. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Jangan bersikap putus asa. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. yaitu. e. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Jangan mengajak murid-murid. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Kelas menjadi gaduh. saling tolong menolong. Dalam kelas yang suasananya baik. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Berani memandang tiap-tiap murid. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Sikap sabar. d. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid.

bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. menedang. Sikap yang banyak memberi larangan. . 5. umpamanya: memukul. dan sebagainya. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Menurut peraturan sekolah. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. 7. Janganlah guru lekas marah karena itu. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. melempar dsb. atau ia menjadi takut kepada guru. 6. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Sikap yang memberi hukuman badan. umpamanya: murid yang tidak sopan . Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. memukulnya dan sebagainya. mengejek. yang tolol. guru boleh memberi hukuman badan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. Guru mudah marah menghukum anak. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. mencela. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Memukul murid dengan tongkat kecil. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Menurut hemat penulis. guru dilarang memberi hukuman badan. Sikap yang mengejek murid. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. untuk memberi hukuman badan. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. yang selalu gaduh. dan kedua-duanya tidak baik. mencelanya. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. 4. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. yang kotor.

mereka lekas melihat. sosial dan sebagainya. Memang dalam mendidik. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. jarang melarang. 9. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. ada pula pada syarat intelek. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Murid-murid akan lekasa mengerti. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. tidak jujur. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. insinyur. 8. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. ahli hukum. sebab biasanya perintahnya dituruti. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya.Guru yang baik. montir. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. karena itu jangan banyak melarang. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Bersikap jujur dan adil. serta menjadikan . Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. pilih kasih dan sebagainya. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan.

J. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Daftar pustaka Abu Ahmad. kontrol luar. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. cv.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Penutup Daripembahasan diatas ini. C.) adalah cara belajar yang alamiah. Metode-metode belajar konvensional. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. Mashoed. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Tarsito. Otang Kardi Saputra. standardisasi. I. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman).. Accelerated Learning (A. VI Januari 1993 M. Baru Jakarta 1996. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Bambang Laksono. Simanjuntak M. (A. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . DR. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab.L. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Didaktik Metodik. Prof. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. organis bukan sekedar mekanis. diterjemajkan. cv. Jakarta 1989.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik .L. Bandung 1993. Belajar dan Pembelajaran . Winarno Surakhmad. Langevld. nasco. Toha Putra. satu-ukuran-untuk-semua. cetakan ketiga. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno.. A. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. P. fragmentasi. Majalah Mahasiswa No. Semarang 1995.33 Thn. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. FKIP-UNLA 2000.

Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja.dikenal sebagai teknik membosankan). Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. pelatih sebagai pelaksana program. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. kerja sama murni. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . dan tidak efektif. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. dan kita lamban menyadarinya. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. kesalingterkaitan. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. kontrol birokrasi terpusat. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. pada prestasi individu. variasi dan keragaman dalam metode belajar. statis. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). dan dapat diramalkan. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. pada kerja sama dan prestasi kelompok. lamban. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut.

L. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. 3. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. dan “hidup”. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. dan aplikasi A. nonmekanistis. linear. seluruh tubuh. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. kolaboratif. kita semua harus menjadi inovator. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). sugesti. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. 2. Georgi Lozanov. dan . langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. kreatif. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Di setiap tingkatan. diantaranya : 1. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Ilmu kognitif modern. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. semua indra. 4.atau “budaya perusahaan”. metode. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria.

mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. Belajar adalah Berkreasi. dan sarafnya. 2. otak bukanlah prosesor berurutan. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 1. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). rasional. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Bagaimanapun juga. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. 5. Bukan Mengonsumsi. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. 7. 3. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. jaringan saraf baru. 6. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Hal-hal yang dipelari secara . Belajar paling baik adalah dalam konteks. 4. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. memakai “otak kiri”. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. indra. dan verbal). Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. indra. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. melainkan prosesor paralel. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang.

dan menerjunkan diri kembali. santai. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Belajar yang penuh tekanan. Kita belajar berenang dengan berenang. Sudah saatnya. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. cara menual dengan menjual. menyakitkan. investasi dalam pendidikan. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Perasaan positif mempercepatnya. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Perasaan negatif menghalangi belajar. merenung. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. dan menarik hati. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. mendapatkan umpan balik. Dengan demikian. S. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya.Pd. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. pembiayaan dalam pendidikan. cara bernyanyi dengan bernyanyi.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. 7. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. . Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. A. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). 6.

Dengan kata lain. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. dan 2.Untuk menjawab hal tersebut di atas. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Namun demikian pada kenyataannya . Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. yaitu 1. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.

penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. 6. 5. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Secara ringkas tampak berikut ini. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. diantaranya: 1. 1. telepon. . Pendapatan per-kapita 2. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. 2. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Di negara maju. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. pemakaian teknologi yang canggih. Di Amerika Serikat yang sudah maju. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Negara Industri vs Non-Industri. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Ekonomi di negara sosialis. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar.

Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Pendapatan nasional. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Di negara non-industri. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. 1. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Pendapatan Domestik Bruto. Pendapatan per-kapita 3. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Dari uraian di atas. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Pendidikan. 1. maupun Pendapatan Perkapita .

Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.3. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. terutama dalam hal-hal berikut: 1. 2. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Konsumsi energi A. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Sebagai fungsi investasi. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Perubahan peta ketenagakerjaan. Kenneth J. sementara bentuk pendidikan formal.

bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. 4. 1991: 14). Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. 2. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitan ini. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. yaitu: 1. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Jones melihat. 3. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. yang secara . Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. B. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Backer. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah.

Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. midle. distribusi. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Oleh karena itu. Argumen ini memiliki dua sepek. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. yaitu: 1. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Di samping tenaga kerja.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. dan low management. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. dan konsumsi. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. C. dan 2. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Menurutnya.

Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. dari perspektif . Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. tingkat pendidikan. sekolah maupun masyarakat. Sambas. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. yaitu: 1. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). pendidikan dalam keluarga. Elly Retnaningrum. baik di keluarga. dan 3. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. tingkat pendalaman agama. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Hj. Kata Kunci: Konflik sosial. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Sebagai ilustrasi. M.Pd.

beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Ketiga. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. merusak fasilitas umum. Kedua. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. dan semacamnya. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Pertama. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. menghilangkan nyawa orang lain. Misalnya. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Kelima. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Lebih jauh. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . Keempat.

yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. serta masyarakat. Selain itu. secara langsung maupun tidak langsung. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Dan yang lebih mendasar.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. sekolah. baik di lingkungan keluarga. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. kekerasan. . di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Demikianlah. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Berbagai tindak penyimpangan. Dalam situasi sehari-hari. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Ini bisa diperkuat di sekolah. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. sekolah.

suasana belajar A. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Erman Suherman. guru masih menjadi pemain dan siswa . pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. life skill. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Drs. afektif. Ar. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Namun pada kenyataannya. Dengan belajar aktif. model pembelajaran.Pd. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Kata Kunci: model belajar. kompetensi. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. M. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. agama. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. H.Untuk itu. dan ras dapat dihindarkan. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru masih dominan dan siswa resisten. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. potensi siswa.

jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. observasi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. . Demikian pula. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. kecakapan hidup. dan guru itu sendiri. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.penonton. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. karena ia telah memiliki komptensi. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. fasilitas. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. identifikasi. yang saya hormati dan saya banggakan. Padahal. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). pada pihak siswa. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Dengan paradigma yang berubah. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. materi. B. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. dan memang itu kewajiban utama. guru aktif dan siswa pasif. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. sehingga misi KBK dapat terwujud. Dengan perkataan lain. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. aplikasi. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Inilah hakikat pembelajaran. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. penalaran. analisis. tuntutan KBK. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru.

dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . pengendalian impulsi. hipotesis. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. empati). dan tidak sebaliknya. yaitu: 1. pengelolaan suasana hati. Sebagai contoh. membaca. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). pemecahan masalah). guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. konjektur. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. inkuiri. generalisasi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. atau ke tokoh lain Oneng. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. sosialisasi. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. kreativitas. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. seperti gemuk. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Istilah psikologi kontemporer. dosen-dosen dan staf administrasi. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. supir bajay. kata kunci). C. pejabatnya. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Hindun. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. Dalam bidang studi keahlian anda. . presentasi. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. atau yang lainnya. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Dengan memahami model-model belajar ini. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi.investigasi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. koneksi. Ema. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. komunikasi. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. motivasi aktivitas positif. kocak. eksplorasi. Ucup. prilaku). Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. Akuntansi. sederhana. Agama.

sekuensial. senyum-tertawa. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. intuitif. misalnya berangan-angan. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. dan kreativitas. ide. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. linier. 2. mengobrol atau bercanda tanpa makna. kelembutan. Bagaimana dengan anda?. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. misalnya keramahan.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. sebagai instrumen kecerdasan. kesadaran diri. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Selanjutnya. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. verbal. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Mengingat hal itu. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. emosional. abstrak. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. teratur. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. spasial. rasional. menonton. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). realitas. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. misal kenakalan atau lamunan. dan simbolik. musik. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. holistic. Yang produknya berupa peta konsep. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. suasana nyaman dan menyenangkan.

Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. tergantung dari variabel meta kognitif. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. 3. 4. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. strategi. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. anak yang pada awalnya secara alami penuh . yaitu: refleksi kognitif. dan aplikasi. dan regulasi. Interpersonalcommunication. dkk. Logic-thinking-reasoning. koneksi. Linguistic-verbal. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. Akibatnya sungguh mengejutkan. monitoring. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. kompleksitas. dan ibadah lainnya. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Holler. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. yaitu Spacial-visual . Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. Intrapersonal-reflective. dan regulasi. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. manfaat. prediksi. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Musical-rithmic. dan strategi berpikir. pengalaman. natural. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Sebagai orang beragama. Metakognitif Secara harfiah. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. yaitu kondisi individu. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. bantuan. untuk kita simak dan renungkan. monitoring. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. siswa dengan fasilitas belajar. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. pertanyaan. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. pengetahuan. Body-kinestic. yaitu: kesadaran.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. ataupun dengan guru. sintesis. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya.

prasangka. mengembangkan). mengendalikan keadaan. dikendalikan keadaan .” bukan katanya. ragu-ragu. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Makin lama ia makin dewasa. menduga. pemalu. menyimpulkan. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. nada suara. dan cemas. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. dan sibuk dengan alasan. 5. presentasi. yaitu optimis. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. minds-on. pribadinya berpola negative. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. menimpakan kesalahan. dan mau memperbaiki diri. dari mendengar 20%. ingin mencoba. mendengar dan melihat 50%. konstruksivis. partisipatidf. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). diskusi). Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. dan sosok panutan). menghindar. bertanya. bersikap mengajak dan bukan memerintah. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. Agar bermakna. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. memanfaatkan. m\udah menyerah. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. mengerjakan. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. meng-identifikasi. dari melihat 30%. pembenaran. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. tumbuhkan citra positif. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). seperti pesimis. berkomentar. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. katakana “saya …. Sebagai guru. ada kebebasan memilih.presentasi). Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. menjawab. menemukan). tepai harus dengan hands-on. mengkomunikasikan. Selanjutnya. keberanian. Mencobapek (menyelidiki. suka tantangan. gerak tubuh. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan.keyakinan. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. punya alternative. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). dan bukan dengan kegiatan mengajar. Dengan perkataan lain. membiarkan. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. menggunakan. dan . Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa.

guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. 7. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. seperti kemampuan sosialisasi. kekonvergenan. sitematik. presentasi. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. tanya-jawab. justifikasi. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. keterpaduan. atau mungkin terjadi eksalahan. membiarkan segalanya terjadi. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. dan sintaks (SOP). Dari indikator belajar aktif. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. aksionmatik). Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. berkonjektur. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. berupaya terlaksana. simbolisasi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat.diskusi. koherensi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. . structuralistic (terstrutur. mengeksplorasi. berhipotesis. kontinuitas historical. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). tidak melalui pemberitahuan oleh guru. tindak lanjut. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. yaitu: konsistensi internal. empati dan pengendalian diri. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. 6. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. menggeneralisasi. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart.daily life (kontekstual). Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). mengerjakan). mengabaikan kesempatan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. refeleksi-eksplanasi. menghindar dari kegiatan. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan.

Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. pengarahan-strategi. pengalaman. pembegian tugas. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. melakukan-mengkomunikasikan.nyaman dan menyenangkan. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. fasilitas-media yang tersedia. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. dan suasana menjadi kondusif . 1. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. gender. kontekstual-trealistik. karekter). untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. belajar berkelompok secara koperatif. kerja kelompok. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. Kontekstual (CTL. siawa heterogen (kemampuan. ada control dan fasilitasi. 2. dan pelaporan. terbuka. D. Cooperative Learning). atau inkuiri. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. presentasi hasil kelompok. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. sifat materi bahan ajar. menyelesaikan persoalan. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Oleh karena itu. Koperatif (CL. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. motivasi belajar muncul. membentuk kelompok heterogen. dan inklusif life skill. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. tugas.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. konstruksivis-inkuiri. siswa melakukan dan mengalami. dan rasa senasib. tidak hanya menonton dan . dunia pikiran siswa menjadi konkret. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. dan kondisi guru itu sendiri. Dalam prakteknya. tanggung jawab.

fakta. konjektur. terbuka. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. 5. interpretasi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. Realistik (RME. penilaian portofolio. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. sintesis. reflection (reviu. mengerjakan). sharing). identifikasi. pengemabngan mateastika). konjektur. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). rangkuman. prinsip. generalisasi. investigasi. generalisasi). rambu-rambu. membimbing.mencatat. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. motivasi. menuntun. investigasi. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). mencoba. questioning (eksplorasi. inquiry (identifikasi. hipotesis. negosiasi. yaitu modeling (pemusatan perhatian. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). hands-on. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. analisis-sintesis). penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. 3. mengkonstruksi konsep-aturan. algoritma. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. generalisasi. refleksi. dan . demokratis. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. latihan mandiri. minds-on. penyampaian kompetensitujuan. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. sajian informasi dan prosedur. konsep. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. elaborasi (analisis). pengarahan-petunjuk. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. informal ke formal). tindak lanjut). dan evaluasi. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. eksplorasi. induksi. evaluasi. yaitu matematika horizontal (tools. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. constructivism (membangun pemahaman sendiri. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). mengarahkan. Pembelajaran Langsung (DL. contoh). mengembangkan. menemukan). authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. 4. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. inkuiri. latihan terbimbing.

aturan. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. keterbukaan. komunikasi-interaksi. Sintaknya adalah: pemahaman. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. . yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi.menginvestigasi. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. bimbingan dan pengarahan. kritis. 9. Problem Terbuka (OE. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. keterbukaan. fluency). siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). 8. belum dikenal cara penyelesaiannya. jawaban siswa beragam. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. kognitif tinggi. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. pengorganisasian pembelajaran. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. kreativitas. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. menduga. kaitakkan dengan materui selanjutnya. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar.atau algoritma). kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. dan sosialisasi. identifikasi kekeliruan. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. . table). Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. perhatikan dan catat reson siswa. membuat kesimpulan. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. 7. menimalisasi tulisan-hitungan. jalan keluar. mengeksplorasi. sharing.inkuiri 6. menyusun soalpertanyaan. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. dan ragam berpikir. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. diagram. dan akhirnya menemukan solusi. keterpasuan. cara. siswa mengidentifkasi. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. cari alternative.

setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. ia telah berpartisipasi 10. senyum. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. menyenangkan. hipotesis. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. presentasi. yaitu: informasi. mengidentifikasi. dan ceria. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. memecahkan masalah. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. 11. menyelidiki. dan memotivasi diri. merangkum. yaitu bagaimana siswa belajar. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. menggunbakan media dan alat peraga. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. argumentasi. menyimak. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. namun demikian bisa dibiasakan. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. 12. dan menerapkan. dan tertawa. bertanya. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). mengkonstruksi. Ada canda. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. berpikir. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. berbicara. Untuk mewujudkan belajar efektif. mendemonstrasikan. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. suara menyejukkan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. 13. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. menemukan. SDetelah memperoleh tugas. menggambar. Usahakan dinamikia . pengarahan. membaca-merangkum. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. mengemukakan penndepat. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. membaca. Untuk mngurang kondisi tersebut. mencipta. nada lembut. representasi. mengingat. kemudian eksplanasi (empiric). dan mennaggapi. Jangan lupa. sehingga suasana menjadi nyaman.

Bumping. ramah . . good. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. perluasan. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. medium. Siapkan meja turnamen secukupnya. mengembangkannya. berikan penghargaan kelompok dan individual. 15. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). VAK (Visualization. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Auditory. lembut.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. AIR (Auditory. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. santun. 14. c. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. very good. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. d. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport.). Intellectualy.

(2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. iformasi bahan ajar. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. 19. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa.16. saling tukar jawaban. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. presentasi kelompok (share). tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). kuis . buat kelompok heterogen (4-5 orang). Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. tuiap kelompok bahan belajar sama. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. umumkan hasil kuis dan beri reward. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. kembali ke kelompok aasal. 17. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. 18. penyimpulan dan evaluasi. 20. Pengarahan. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. buat kelompok heterogen. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. refleksi. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok.

kelompok (membaca-mencatatat-menandai). kuis individual. Refleting. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. Organizing. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. kerja kelompok. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. dan alternative solusi). Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. diskusi. banyak guru dan staf sekolah). tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. kerja kelompok. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. kembali ke kelompok asal. buat skor perkem\angan siswa. presentasi dan diskusi. identifikasi perbedaan. mengkritisi. presentasi. (0) organisasi ide untuk memahami materi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. 22. 25. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas.individual. presentasi. diskusi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. CORE (Connecting. (E) . mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. 26. (R) memikirkan kembali. misal mengukur tinggi pohon. laporan kelompok. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. umumkan hasil kuis dan berikan reward. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. 24. umumkan hasil kuis dan berikan reward. melaporkan. pilih strategi solusi 23. rencanakan pelaksanaan investigasi. dan menggali. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. Sintaknya adalah kerja kelompok. buat skor perkembangan tiap siswa. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. mendalami. 21. Sinatknya adalah: informasi.

DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. dan menemukan. 2 untuk not sure. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer.mengembangkan. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Question. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. 32. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. dn 5 untuk certain. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). SQ4R (Survey. Question. Read. 1 untuk amost guest. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. memperluas. SQ3R (Survey. 27. Reflect. Read. Ajukan pengujian pemahaman. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. 29. dan konsep-ide. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Selanutnya menyelesaikan masalah . 31. 4 untuk almost certain. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Recite. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). 3 untuk sure. analisi pengalaman. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Kerangka pikir untuk sukses. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. menggunakan. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Recite.

Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. solusi tentative. deteksi kausal. dan penutup. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. dan kembali berbagai informasi. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. deteksi kausal lain. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. dan seterusnya 36. 37. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. Sintaksnya adalah: persiapan. Reading. menemukan pilihan solusi utama. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. mengidentifikasui kausal. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. identifikasi kausal utama. pengemabangan. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. menemukan kata kunci. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. CIRC (Cooperative. 33. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. sajian . pendahuluan. 34. analisis kausal. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. dan rencana solusi yang terpilih. pertimbangan solusi. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. penggunaan. siswa bekerja sama (membaca bergantian. mengelompokkan gejala. presentasi hasil kelompok. penerapan. refleksi. dan implementasi solusi utama. Sintaknya adalah: identifkasi. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. 35. Integrated. imoplementasi solusi.

guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. bimbingan penimpoulan dan refleksi. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. 38. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. 43. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. bekerja kelompok. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. 41. 39. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. tanya jawab untuk pemantapan. pembentukan kelompok siswa. penyuimpulan. presentasi di depan hasil diskusinya. presentasi hasil kelompok. sajian materi. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. penyampaian kompetensi. kelompok lain menjawab secara bergantian. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. . siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. sajian materi. refleksi dan evaluasi 42. kesimpulan dan evaluasi. membentuk kelompok. 40. refleksi. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat.materi. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. bentuk kelompok berpasangan sebangku. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. sajian materi pokok.

Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. penyimpulan dan evaluasi. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. dikusi kelas. refleksi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. 44. 48. 49. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. refleksi. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. 50. kartu dikumpul lagi dan dikocok. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. membimbing pelatihan-penerapan. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. evaluasi dan refleksi. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. penyimpulan dan evaluasi. 46. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. penyimpulan dan evaluasi. langkah demi langkah bertahap. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. sajian permasalahan terbuka. 47. bertukar peran. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. refleksi.pemberian reward. refleksi. 45. sajian gambaran umum materi bahan ajar. presentasi hasuil diskusi kelompok. Examples Non Examples . siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. sajikan materi. mengecek pemahaman dan balikan. penyimpulan dan evaluasi. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. penyimpulan dan evaluasi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. refleksi. pengecekan kebenaran jawaban. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural.

presentasi hasil kelompok.Persiapkan gambar. ranguman. aplikasi. Enrichment. Obtaining mastery. 53. bagikan wacana materi bahan ajar. bertukar peran. evaluasi dan refleksi. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. penyimpulan. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Metakognitive questioning. solusi. 55. siswa latian dan bertanya. 52. Tanya jawab dan refleksi 57. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. rencana. 51. pengungkapan ide-konsep awal. Reviewing and reducing difficulty. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. Practicing. dan pengecekan. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. diagram. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. dan refleksi 56. apakah bermanfaat. Verivication. Sintaks: pemahaman masalah. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. apakah solusinya. sajian materi. bimbingan penyimpulan. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. valuasi dan refleksi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. penyimpulan. 54. evaluasi dan refleksi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . evaluasi. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. adakah alternative. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang.

Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. integrasi. kelompok-kerjasama. sampaikan kompetensi. kebebasan-terbuka. siswa berkelompok melengkapi. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. . Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. dan hipotesis. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep.dan nama yang diberi. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. 62. 58. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. reward. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. virtual workshop menggunakan computer-internet.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. 59. sajian materi. 60. koperatifinkuiri-solusi-workshop. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). evaluasi dan refleksi 61. presentasi. setelah selesai kupon dikembalikan. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. berikan sal tes bentuk super item. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. informasikan kompetensi. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. guru membentuk kelompok. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. 63. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. siswa ditugaskan membaca wacana. berupa opemecahan masalah. membentuk kelompok heterogen. sajian materi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap.bahan belajar . Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. presentasi. berikan latihan soal bertingkat.

65. ketrampilan.64. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. semua mempunyai tujuan. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. alami-dengan dunia realitas siswa. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. Perth: Edith . interaktif. Jakarta: Arga. dan saling menghargai. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. namai-buat generalisasi sampai konsep. The Constructivist Classroom Education in Profile. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Semoga. dinamis. partisipatif. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. Guru harus menciptakan suasana kondusif. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Emotional Spritual Quotient (ESQ). kohesif. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. L (1993). Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. kerja individual. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. E. Begitu pulal dalam pembelajaran. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. latihan. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. dan model pembelajaran yang inovatif. konsep harus dialami. dengan E = energi yang diartikan sukses. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. c = communication. lima kali salah guru membimbing. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. tiap usaha siswa diberi reward. komunikasi positif yang efektif. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Burton. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. menciptakan inovasi.

Tony (1989). Jakarta. De Porter. . Daniel (1995).. Goleman. S. WWI Publishing Texas: Waco.Ar. Bandung: JICA-FPMIPA. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Quantum Learning. (2002). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Buzan. New York: Basic Bools. New York: Bantam Books. Emotional Intelligence. What is Contextual Learning. Howard (1985). New York: Penguin Books. CTL). Gardner. dkk. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. New York: Dell Publishing. Ditdik SLTP (2002). Erman. 3rd ed. Use Both Sides of Yoru Brain. Bobbi (1992).Cowan University. Cord (2001).:Depdiknas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful