http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Penguasaan Pengetahuan Sains. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. dan pengetahuan sosial. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. dapat dipelajari secara langsung. Untuk memperjelas hal tersebut. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. tanda atom unsur-unsur. pengetahuan logiko-matematik. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. Sains.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. Menurut Piaget (dalam Dahar. dan sebagai metode-metode. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Piaget (dalam Dahar. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. menurut Titus (1959:78). sebagai sekumpulan pengetahuan. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. atau memahami sesuatu. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . untuk melakukan operasi-operasi logis. A. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. satuan besaran pokok. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya.

konsep. menurut Aikenhead (dalam Mariana. Menurut Robert B. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. prinsip. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. menurut Fischer (1975). 1992: 4). Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Sedangkan. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . cara berfikir. to solve problems. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. dan norma-norma sosial tertentu. Dengan demikian sains. Jadi. Menurut Poerwadarminta (1983). teori dan hukum. Masyarakat . teknologi adalah sebagai berikut: ……. Sains melandasi perkembangan teknologi. Teknologi. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu.. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. 1994: 29). Yager.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. and systems. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983). mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. cara memecahkan masalah. sedangkan menurut UNESCO (1983). dan cara bersikap. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. kebutuhan. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Sains. Sund (1973: 2). Sains dirumuskan secara sistematis. 1990 . masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. Sedangkan teknologi. resources. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Produk sains meliputi fakta. Dengan demikian. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention).

dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. . Untuk penyusunan materi pendidikan sains. nutrisi. 2. 3. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Kirham (dalam Wellington. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. 5. process. 4. 1992: 19-20). yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. masyarakat). (Varella. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. teknologi. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. penyadaran. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 1992:87-88) B.

dan terminologi. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS.dan context. teori. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Untuk kepentingan itu. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. konsep. 1994: 1). model. Content. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. strategi pertama. definisi. prinsip. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Strategi kedua. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Process. Context. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Pada awal perubahan tiap topik. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam .

Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. kreatif membuat produk teknologi sederhana. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. 1994: 34) . isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains.pembelajaran. tepat. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains.J. masyarakat dan nilai-nilai manusia. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. teknologi. teknologi. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. dan masyarakat secara terintegrasi. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. teknologi dan masyarakat. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. sadar akan efek hasil teknologi. berpengaruh satu sama lain. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. 1993: 428). (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. (b) mampu menggunakan proses sains. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Literasi teknologi. Strategi ketiga. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . efesien dan efektif. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. Literasi sains (scientific literasi). mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat.

Gordner.I. R. (1985).A. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. G. 1998: 276). R. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. New York: Holt. Good. Fischer. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. & Briggs. (1989). (1971). (1990). Teori-teori Belajar. Poedjiadi. (1968).J. Austin: Univercity of Texas. Dictionary of Education. (Eds).B. W.. (1974). Bandung. R. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. Merrill Publishing. 17-19 Januari. Disertai Doktor FPS IKIP. (1983). et al. R. Rinehort and Winston. Carin. Columbus: Charles E. Science. _______. (1973).M. DAFTAR PUSTAKA Bloom.M. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. A. The Stucture of Science Education. . Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. Philadelphia: Saunders Co. 3 Mei. Gagne. New York: David Mc.W. (1975). Jakarta: PN. Gagne. Teaching Science Through Discovery. Jakarta: Erlangga. (1980). Jakarta. Belmount: Wadsworth Publishing Company.(1995). A.J. _______. & Sund.L. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. C.masyarakat.V. (1979).. R. Inc. The Condition of Learning and Theory of Instruction. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Balai Pustaka.B. Poerwadarminta.e.S. & Stone. (1971). (1985). Dahar. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Hall. P. Kuslan. L.’lay Company. New York: Rinehort and Winston. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Man and Siciety. New York: Mc Graw Hill Book Company. Principlesof Instructional Desig. et al. L.H. A.

Yager. F. R. Varella. (1993). “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”.Rogers. New York: Free Press. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan . tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka.M. & Shoemaker. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. ICASE YEARBOOK. 87-92. “Science-Technology-Society as Reform”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. 407-431. H. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. G. P.F. namun retensinya berbeda signifikan. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. A. (1992). Living Issues In Philoshophy.A.E. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen.H. E. New York: American Book Company. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. ICASE YEARBOOK. (1992). Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Science Education.F.(1959). “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Rubba. Pendahuluan 1. 2-8. Titus. (1971). hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja.

1996:117). Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. B. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi.W. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Pada kenyataannya. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. 2.. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1991: 97). Namun. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. R. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. 1996:458).keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. 1985:122). Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. mendorong siswa berfikir. Rumusan Dan Batasan Masalah a. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu.

pertanyaan retoris (rhetorical questions). Pertanyaan permintaan (compliance questions). dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. misalnya topik polusi.Wrag dan George Brown 1997: 43). Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Uzer Usman. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen.1997: 43) 2. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Wrag dan George Brown . 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Namun. 1996: 18). Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Dalam mempelajari sains biologi. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. dalam Nuryani Rustaman. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh.1987:72). dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E.1999:4). dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Namun. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.C. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . 1991: 97).C. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan.

5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. al. metode pembelajaran. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. tugas yang harus dipelajari..dengan retensi. 1959: 241). Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. al. Kulik et. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. tidak diperlukan individu sehingga tidak . 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. Hursh (1976). Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. dan perbedaan individual. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. (1978 & 1990) (dalam Semb et.. Winkel (1996: 305). kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. 1959: 236). Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese.

Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. C. dalam Susan Hanley. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.dihiraukan. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka.

64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.07 11. Z hitung Z tabel Hasil perbandi. Pos-tes.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.83 116.98 50.5 9.03 79 74. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.25 1.93 8.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50.) R 33 52 59 75.Keterangan Konsep Kontrol & kel. T = nilai tertinggi.58 81. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.58 8. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.36 80.Retensi % Pre.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp. dan R = nilai terendah Tabel 2. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.75 8.48 1. T2(1)= Postes. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.9 95. Tabel 1. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.7 X = rata-rata nilai.4 12.Post.25 Sd 10. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Sd = standar deviasi.6 7.16 1. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.4 78.

8%) 4 (11.4%) 5 (13.7%) (91.7%) 16 18 (50%) 3 (44. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.3%) (8. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.8%) (33. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test. Retensi.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes.9%) 3 (8. Peristiwa ini dapat .8%) 10 (27.3%) 11 (30. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes .3%) 3 (8.Tabel 3. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. dan E = kelompok eksperimen E.3%) - - K= kelompok kontrol. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah.1%) 3 (8. 1989:159).6%) 4 (11.3%) (41. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.2%) 1 (2.3%) (58.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. mempengaruhi. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam pada itu perlu ditegaskan. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu.

Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. . Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya.hidupnya”. A. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. B. 1. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. maka hal ini kita bicarakan. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. sederhana tetapi terpelihara. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. maka pengertian itu relatif adanya. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Sikap berpakaian. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang.

Karena itu harap sabar. Kelas menjadi gaduh. Dalam kelas yang suasananya baik. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. c. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). b. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Jangan bersikap putus asa. e. Jangan memberi hukuman badan. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. mungkin guru. Sikap sabar. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. mereka harus mengidahkan suruhannya. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. yaitu. saling tolong menolong. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Jangan mengajak murid-murid. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. d. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah.2. Ciptakan suasana kelas yang baik. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. 3. Bagi seorang guru kita haris berani: a. matanya. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. berbicaralah dengan tenang dan tegas. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Sering guru merasa. f. Sikap di muka kelas. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Berani memandang tiap-tiap murid. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. jangan menggangap. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula.

dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. 4.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. mencela. umpamanya: murid yang tidak sopan . guru dilarang memberi hukuman badan. yang kotor. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. 7. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. memukulnya dan sebagainya. Memukul murid dengan tongkat kecil. guru boleh memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. dan kedua-duanya tidak baik. dan sebagainya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. 5. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. yang selalu gaduh. Menurut peraturan sekolah. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. mencelanya. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. 6. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. untuk memberi hukuman badan. Guru mudah marah menghukum anak. umpamanya: memukul. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. . atau ia menjadi takut kepada guru. menedang. yang tolol. Janganlah guru lekas marah karena itu. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. melempar dsb. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Sikap yang banyak memberi larangan. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. mengejek. Sikap yang mengejek murid. Sikap yang memberi hukuman badan. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam.

pilih kasih dan sebagainya. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. sosial dan sebagainya. tidak jujur. ada pula pada syarat intelek. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan.Guru yang baik. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Memang dalam mendidik. ahli hukum. karena itu jangan banyak melarang. jarang melarang. 9. mereka lekas melihat. sebab biasanya perintahnya dituruti. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Murid-murid akan lekasa mengerti. insinyur. montir. Bersikap jujur dan adil. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. serta menjadikan . 8. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama.

kontrol luar. Baru Jakarta 1996. cv. Semarang 1995. standardisasi. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Mashoed. Prof. Metode-metode belajar konvensional. organis bukan sekedar mekanis.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. I. Daftar pustaka Abu Ahmad. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. A. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. P. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. cv. Beknopte Theoretische Paedagogiek. nasco. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. (A.L. Winarno Surakhmad.J. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. DR. cetakan ketiga. Otang Kardi Saputra.. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. satu-ukuran-untuk-semua.33 Thn. diterjemajkan. Tarsito. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Toha Putra.. fragmentasi. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini.L. Simanjuntak M. Penutup Daripembahasan diatas ini. Majalah Mahasiswa No. VI Januari 1993 M. Langevld. C. FKIP-UNLA 2000. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Belajar dan Pembelajaran . dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga .) adalah cara belajar yang alamiah. Didaktik Metodik. Bambang Laksono. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Bandung 1993. Jakarta 1989. Accelerated Learning (A.

statis. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. kesalingterkaitan. pada kerja sama dan prestasi kelompok. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana.dikenal sebagai teknik membosankan). belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. pelatih sebagai pelaksana program. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. dan kita lamban menyadarinya. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. lamban. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . dan dapat diramalkan. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. kontrol birokrasi terpusat. variasi dan keragaman dalam metode belajar. kerja sama murni. pada prestasi individu. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. dan tidak efektif. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan.

) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. 2. metode. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. linear. dan aplikasi A. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear.atau “budaya perusahaan”. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. kita semua harus menjadi inovator. Di setiap tingkatan. 4. dan . Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. diantaranya : 1. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. Georgi Lozanov. nonmekanistis. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. 3. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Ilmu kognitif modern. dan “hidup”.L. kolaboratif. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. sugesti. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. seluruh tubuh. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. kreatif. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. semua indra. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. terutama penelitian mengenai otak dan belajar.

dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. indra. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. dan verbal). memakai “otak kiri”. Belajar paling baik adalah dalam konteks. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. Hal-hal yang dipelari secara . Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. dan sarafnya. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Belajar adalah Berkreasi. 7. 5. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. 4. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. Bukan Mengonsumsi. 2. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 3. rasional. jaringan saraf baru. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. otak bukanlah prosesor berurutan. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. 1. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. indra. melainkan prosesor paralel. Bagaimanapun juga. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. 6. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun.

yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. cara bernyanyi dengan bernyanyi. S. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. 7. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. pembiayaan dalam pendidikan. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Perasaan negatif menghalangi belajar. merenung. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Kita belajar berenang dengan berenang. Dengan demikian. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan.Pd. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. 6. cara menual dengan menjual. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Baik secara langsung maupun tidak langsung. santai. Perasaan positif mempercepatnya. Belajar yang penuh tekanan. dan menarik hati. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. mendapatkan umpan balik. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. . (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. Sudah saatnya. A. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. dan menerjunkan diri kembali. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. menyakitkan. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. investasi dalam pendidikan.

yaitu 1. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. dan 2. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Namun demikian pada kenyataannya . kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Dengan kata lain. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.

Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Secara ringkas tampak berikut ini. 6. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. pemakaian teknologi yang canggih. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. telepon. Pendapatan per-kapita 2.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Di negara maju. Ekonomi di negara sosialis. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. . memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. 2. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Negara Industri vs Non-Industri. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. diantaranya: 1. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. 1. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. 5.

Di negara non-industri. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. maupun Pendapatan Perkapita . Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Pendapatan per-kapita 3. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Berdasarkan hal tersebut di atas. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. 1. 1. Pendidikan. Pendapatan Domestik Bruto. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Pendapatan nasional. Dari uraian di atas. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Berdasarkan ukuran tersebut di atas.

Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Konsumsi energi A. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Perubahan peta ketenagakerjaan. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Kenneth J. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara.3. 2. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. sementara bentuk pendidikan formal. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Sebagai fungsi investasi. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4.

1991: 14). Dalam kaitan ini. Backer. 4. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Jones melihat. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. B. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. 2. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. yaitu: 1. yang secara .metode serta teknik baru yang berkelanjutan. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. 3. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya.

juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Menurutnya. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. distribusi. dan 2. dan low management. dan konsumsi. Oleh karena itu. yaitu: 1. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Argumen ini memiliki dua sepek. midle. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Di samping tenaga kerja. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. C. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja.

terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. yaitu: 1. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. pendidikan dalam keluarga.Pd. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. dari perspektif . Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. tingkat pendidikan.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. dan 3. M. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. tingkat pendalaman agama. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Sebagai ilustrasi. Kata Kunci: Konflik sosial. sekolah maupun masyarakat. Sambas. Hj. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Elly Retnaningrum. baik di keluarga. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon.

tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. Lebih jauh. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Kedua. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Ketiga. menghilangkan nyawa orang lain. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. dan semacamnya.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Keempat. Misalnya. merusak fasilitas umum. Kelima. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Pertama.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas.

Untuk mengantisipasi kondisi itu. kekerasan. Berbagai tindak penyimpangan. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Selain itu. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. sekolah. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Dalam situasi sehari-hari. Ini bisa diperkuat di sekolah. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Dan yang lebih mendasar. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. . perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. secara langsung maupun tidak langsung. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. sekolah. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. serta masyarakat. Demikianlah. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. baik di lingkungan keluarga. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama.

pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Dengan belajar aktif. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Drs. afektif. Ar. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Erman Suherman. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. guru masih menjadi pemain dan siswa . yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. dan ras dapat dihindarkan. Namun pada kenyataannya. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. kompetensi. H. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. agama. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). M. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. Kata Kunci: model belajar. potensi siswa. Guru masih dominan dan siswa resisten. suasana belajar A.Untuk itu.Pd. model pembelajaran. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. life skill.

dan guru itu sendiri. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. yang saya hormati dan saya banggakan. . guru aktif dan siswa pasif. dan memang itu kewajiban utama. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. karena ia telah memiliki komptensi. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. B. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. kecakapan hidup. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Dengan paradigma yang berubah. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. tuntutan KBK. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Padahal. sehingga misi KBK dapat terwujud. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. aplikasi. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. materi. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Inilah hakikat pembelajaran. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. penalaran. fasilitas. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. observasi. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Dengan perkataan lain.penonton. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Demikian pula. pada pihak siswa. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. analisis. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. identifikasi.

Sebagai contoh. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. kata kunci). meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Dengan memahami model-model belajar ini. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. yaitu: 1. Ema. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. koneksi. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. atau ke tokoh lain Oneng. generalisasi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. empati). dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. konjektur. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). dosen-dosen dan staf administrasi. Istilah psikologi kontemporer. Dalam bidang studi keahlian anda. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. dan tidak sebaliknya. pengendalian impulsi. pengelolaan suasana hati. membaca. kreativitas. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. inkuiri. hipotesis. motivasi aktivitas positif. pemecahan masalah). komunikasi. Hindun. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Agama. sosialisasi. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. eksplorasi. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. presentasi. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. atau yang lainnya. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal.investigasi. sederhana. supir bajay. Akuntansi. . C. seperti gemuk. pejabatnya. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. prilaku). kocak. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Ucup.

Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. sebagai instrumen kecerdasan. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. ide. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. dan simbolik. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. verbal. teratur. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. spasial. dan kreativitas. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Selanjutnya. intuitif. suasana nyaman dan menyenangkan. senyum-tertawa. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. misal kenakalan atau lamunan. Mengingat hal itu. abstrak. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). misalnya keramahan. Yang produknya berupa peta konsep. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. menonton. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. linier. 2. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. kesadaran diri. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. realitas. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. holistic. kelembutan. rasional. sekuensial. Bagaimana dengan anda?. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. emosional. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. musik. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. misalnya berangan-angan.

Holler. dkk. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. monitoring. sintesis. Linguistic-verbal. kompleksitas. strategi. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. dan regulasi. pengetahuan. bantuan. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. Interpersonalcommunication. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. Logic-thinking-reasoning. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. pengalaman. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. dan regulasi. siswa dengan fasilitas belajar. Metakognitif Secara harfiah. Akibatnya sungguh mengejutkan. yaitu Spacial-visual . Body-kinestic. 3. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. tergantung dari variabel meta kognitif. manfaat. yaitu kondisi individu. natural. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. yaitu: refleksi kognitif. Sebagai orang beragama. monitoring. Musical-rithmic. 4. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. Intrapersonal-reflective. untuk kita simak dan renungkan. koneksi. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. ataupun dengan guru. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. prediksi. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). anak yang pada awalnya secara alami penuh . yaitu: kesadaran. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. dan aplikasi. pertanyaan. dan strategi berpikir. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. dan ibadah lainnya. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir.

dan sibuk dengan alasan. seperti pesimis. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. menjawab. membiarkan. dan mau memperbaiki diri. pribadinya berpola negative. menimpakan kesalahan. berkomentar. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. 5. mengerjakan. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya).keyakinan. prasangka. yaitu optimis. dari mendengar 20%. memanfaatkan. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. mengkomunikasikan. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. keberanian. mendengar dan melihat 50%. mengendalikan keadaan.” bukan katanya. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. pemalu. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. Dengan perkataan lain. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. mengembangkan). Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. ragu-ragu. tepai harus dengan hands-on. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. presentasi. suka tantangan. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). dan bukan dengan kegiatan mengajar. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. pembenaran. Makin lama ia makin dewasa. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. dari melihat 30%. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). m\udah menyerah. katakana “saya …. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. menemukan). konstruksivis. Sebagai guru. gerak tubuh. bersikap mengajak dan bukan memerintah. nada suara. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. diskusi). meng-identifikasi. ada kebebasan memilih. dan sosok panutan). punya alternative. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. menggunakan. dan . Agar bermakna. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. bertanya. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. minds-on. ingin mencoba. partisipatidf. dikendalikan keadaan . menduga. Mencobapek (menyelidiki. menyimpulkan.presentasi). Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. menghindar. tumbuhkan citra positif. Selanjutnya. dan cemas.

berkonjektur. empati dan pengendalian diri. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. aksionmatik). maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. 6. koherensi. justifikasi. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. sitematik. mengeksplorasi. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. refeleksi-eksplanasi. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). dan sintaks (SOP). Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. 7. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. menggeneralisasi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. kontinuitas historical. tindak lanjut. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. mengerjakan). kekonvergenan.daily life (kontekstual). di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. simbolisasi. yaitu: konsistensi internal. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). presentasi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. . berhipotesis. berupaya terlaksana. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. atau mungkin terjadi eksalahan. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. menghindar dari kegiatan. mengabaikan kesempatan. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. keterpaduan. seperti kemampuan sosialisasi. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. membiarkan segalanya terjadi.diskusi. Dari indikator belajar aktif. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. tanya-jawab. structuralistic (terstrutur.

modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. tugas. dan kondisi guru itu sendiri. D. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. dan pelaporan. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. karekter).empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Dengan memanfaatkan kenyatan itu. atau inkuiri. dan inklusif life skill. siswa melakukan dan mengalami. konstruksivis-inkuiri. gender. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. pengalaman. Kontekstual (CTL. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. kontekstual-trealistik. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Oleh karena itu. Cooperative Learning). dunia pikiran siswa menjadi konkret. Koperatif (CL. menyelesaikan persoalan. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. membentuk kelompok heterogen. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. 1. 2. Dalam prakteknya. terbuka. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. tanggung jawab. motivasi belajar muncul. dan suasana menjadi kondusif . presentasi hasil kelompok. belajar berkelompok secara koperatif. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). dan rasa senasib. pengarahan-strategi. kerja kelompok. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. melakukan-mengkomunikasikan. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. ada control dan fasilitasi. tidak hanya menonton dan . siawa heterogen (kemampuan. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). fasilitas-media yang tersedia. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa.nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. pembegian tugas. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. sifat materi bahan ajar. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing.

inquiry (identifikasi. sharing). penilaian portofolio. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. tindak lanjut). mengerjakan). informal ke formal). eksplorasi. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. evaluasi. identifikasi. konsep. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. questioning (eksplorasi. konjektur. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). dan . Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. 4. terbuka. sajian informasi dan prosedur. membimbing. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. Realistik (RME. prinsip. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). negosiasi. sintesis. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. yaitu matematika horizontal (tools. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. fakta. 3. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. analisis-sintesis). inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). 5. pengarahan-petunjuk. generalisasi. demokratis. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). generalisasi). menemukan). mencoba. elaborasi (analisis). algoritma. yaitu modeling (pemusatan perhatian. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. refleksi. constructivism (membangun pemahaman sendiri. mengarahkan.mencatat. konjektur. minds-on. induksi. motivasi. rangkuman. investigasi. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. pengemabngan mateastika). dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. dan evaluasi. penyampaian kompetensitujuan. latihan mandiri. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. reflection (reviu. mengkonstruksi konsep-aturan. menuntun. latihan terbimbing. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. mengembangkan. generalisasi. inkuiri. interpretasi. contoh). interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. investigasi. rambu-rambu. Pembelajaran Langsung (DL. hands-on. hipotesis.

yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan.inkuiri 6. cara. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. kritis. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. belum dikenal cara penyelesaiannya. dan sosialisasi. keterpasuan. pengorganisasian pembelajaran. mengeksplorasi. kaitakkan dengan materui selanjutnya. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. bimbingan dan pengarahan. 8. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas.menginvestigasi. aturan. Sintaknya adalah: pemahaman.atau algoritma). Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. 7. menimalisasi tulisan-hitungan. Problem Terbuka (OE. 9. fluency). jawaban siswa beragam. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. identifikasi kekeliruan. perhatikan dan catat reson siswa. . dan ragam berpikir. diagram. table). jalan keluar. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. sharing. dan akhirnya menemukan solusi. . menyusun soalpertanyaan. kreativitas. komunikasi-interaksi. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. keterbukaan. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). membuat kesimpulan. cari alternative. kognitif tinggi. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. siswa mengidentifkasi. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. keterbukaan. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. menduga.

dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. SDetelah memperoleh tugas. menyenangkan. Usahakan dinamikia . menemukan. dan mennaggapi. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. 13. namun demikian bisa dibiasakan. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. Ada canda. Untuk mngurang kondisi tersebut. mengingat. dan memotivasi diri. mengkonstruksi. argumentasi. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. yaitu: informasi. pengarahan. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. mencipta. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). sehingga suasana menjadi nyaman. membaca-merangkum. hipotesis. menyimak. ia telah berpartisipasi 10. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. suara menyejukkan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). menggunbakan media dan alat peraga. mendemonstrasikan. 11. memecahkan masalah. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. membaca. Untuk mewujudkan belajar efektif.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. dan tertawa. representasi. nada lembut. mengemukakan penndepat. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. yaitu bagaimana siswa belajar. bertanya. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. dan menerapkan. berbicara. menggambar. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. merangkum. presentasi. senyum. dan ceria. berpikir. Jangan lupa. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. 12. menyelidiki. kemudian eksplanasi (empiric). siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. mengidentifikasi.

Auditory. dan ada sajian bodoran. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Bumping. santun. AIR (Auditory. c. 14. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. lembut. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. medium. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. VAK (Visualization. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. good. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. e. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.). . setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). perluasan. 15. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. very good. d. Siapkan meja turnamen secukupnya. ramah . pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. berikan penghargaan kelompok dan individual. mengembangkannya. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. Intellectualy.

NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. tuiap kelompok bahan belajar sama. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. iformasi bahan ajar. 20. 18. kuis . (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. umumkan hasil kuis dan beri reward. saling tukar jawaban. presentasi kelompok (share). STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. buat kelompok heterogen (4-5 orang).16. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. refleksi. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. Pengarahan. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). 17. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. kembali ke kelompok aasal. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. penyimpulan dan evaluasi. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. buat kelompok heterogen. 19. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa.

kelompok (membaca-mencatatat-menandai). TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. 21. (R) memikirkan kembali. melaporkan. kerja kelompok. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. mendalami. presentasi dan diskusi. mengkritisi.individual. banyak guru dan staf sekolah). dan menggali. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. umumkan hasil kuis dan berikan reward. presentasi. presentasi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. 25. buat skor perkem\angan siswa. kuis individual. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. identifikasi perbedaan. diskusi. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. rencanakan pelaksanaan investigasi. buat skor perkembangan tiap siswa. laporan kelompok. pilih strategi solusi 23. CORE (Connecting. 24. umumkan hasil kuis dan berikan reward. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. kerja kelompok. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. diskusi. misal mengukur tinggi pohon. kembali ke kelompok asal. dan alternative solusi). Organizing. Sinatknya adalah: informasi. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. Sintaknya adalah kerja kelompok. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. (E) . 22. Refleting. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. (0) organisasi ide untuk memahami materi. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. 26. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi.

27. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Recite. dan konsep-ide. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Kerangka pikir untuk sukses. Read. Selanutnya menyelesaikan masalah . analisi pengalaman. 3 untuk sure. dn 5 untuk certain. Reflect. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). memperluas. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Read. 1 untuk amost guest. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. SQ3R (Survey.mengembangkan. SQ4R (Survey. Ajukan pengujian pemahaman. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. menggunakan. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Question. 29. 32. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). 2 untuk not sure. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Question. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). 4 untuk almost certain. 31. Recite. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. dan menemukan.

CIRC (Cooperative. 35.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. pengemabangan. penggunaan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. 37. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. dan penutup. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. dan kembali berbagai informasi. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. refleksi. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. penerapan. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. pertimbangan solusi. imoplementasi solusi. Sintaknya adalah: identifkasi. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. siswa bekerja sama (membaca bergantian. identifikasi kausal utama. Reading. deteksi kausal lain. analisis kausal. mengidentifikasui kausal. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. solusi tentative. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. 33. pendahuluan. menemukan pilihan solusi utama. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. Integrated. deteksi kausal. dan implementasi solusi utama. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. mengelompokkan gejala. presentasi hasil kelompok. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. 34. Sintaksnya adalah: persiapan. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. dan seterusnya 36. sajian . dan rencana solusi yang terpilih. menemukan kata kunci.

43. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. sajian materi. bimbingan penimpoulan dan refleksi. refleksi. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. 38. 39. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. membentuk kelompok. presentasi hasil kelompok. kesimpulan dan evaluasi. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. 41. tanya jawab untuk pemantapan. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. bentuk kelompok berpasangan sebangku. presentasi di depan hasil diskusinya. pembentukan kelompok siswa. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. . bekerja kelompok. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. refleksi dan evaluasi 42. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. penyuimpulan. kelompok lain menjawab secara bergantian. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. sajian materi pokok. penyampaian kompetensi. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. 40. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. sajian materi.materi.

Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. sajikan materi. refleksi. 48. 45. pengecekan kebenaran jawaban. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. kartu dikumpul lagi dan dikocok. 50. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. membimbing pelatihan-penerapan. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. presentasi hasuil diskusi kelompok. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. 46. 49. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. refleksi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan.pemberian reward. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. sajian permasalahan terbuka. 44. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. bertukar peran. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. refleksi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. penyimpulan dan evaluasi. langkah demi langkah bertahap. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. sajian gambaran umum materi bahan ajar. evaluasi dan refleksi. refleksi. 47. penyimpulan dan evaluasi. mengecek pemahaman dan balikan. penyimpulan dan evaluasi. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. Examples Non Examples . penyimpulan dan evaluasi. dikusi kelas.

siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. apakah bermanfaat. aplikasi. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. Enrichment. Metakognitive questioning. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. 51. penyimpulan. bimbingan penyimpulan. evaluasi dan refleksi. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. rencana. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. pengungkapan ide-konsep awal. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. apakah solusinya. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. Sintaks: pemahaman masalah. 53.Persiapkan gambar. diagram. adakah alternative. penyimpulan. dan pengecekan. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. dan refleksi 56. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. bertukar peran. Tanya jawab dan refleksi 57. evaluasi. ranguman. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. Reviewing and reducing difficulty. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. Verivication. valuasi dan refleksi. Practicing. 52. presentasi hasil kelompok. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. 55. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. evaluasi dan refleksi. sajian materi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . siswa latian dan bertanya. 54. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. bagikan wacana materi bahan ajar. solusi. Obtaining mastery. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi.

setelah selesai kupon dikembalikan. evaluasi dan refleksi 61. 62.bahan belajar . presentasi. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. virtual workshop menggunakan computer-internet. 59. berikan latihan soal bertingkat. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci.dan nama yang diberi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. 60. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. reward. membentuk kelompok heterogen. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . koperatifinkuiri-solusi-workshop.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. presentasi. berikan sal tes bentuk super item. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. . siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. siswa ditugaskan membaca wacana. siswa berkelompok melengkapi. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. kebebasan-terbuka. sajian materi. berupa opemecahan masalah. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. integrasi. 58. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. kelompok-kerjasama. sajian materi. 63. Time Token Model ini digunakan (Arebds. dan hipotesis. sampaikan kompetensi. guru membentuk kelompok. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. informasikan kompetensi. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.

tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. namai-buat generalisasi sampai konsep. lima kali salah guru membimbing. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. komunikasi positif yang efektif. Semoga. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. latihan. Perth: Edith . Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. dan saling menghargai. semua mempunyai tujuan. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. partisipatif. tiap usaha siswa diberi reward. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. Burton. alami-dengan dunia realitas siswa. E. konsep harus dialami. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. Jakarta: Arga. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. interaktif. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. kohesif. ketrampilan. dan model pembelajaran yang inovatif.64. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. L (1993). The Constructivist Classroom Education in Profile. kerja individual. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. Guru harus menciptakan suasana kondusif. 65. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Begitu pulal dalam pembelajaran. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. dengan E = energi yang diartikan sukses. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. c = communication. dinamis. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Emotional Spritual Quotient (ESQ). menciptakan inovasi.

New York: Penguin Books. Bandung: JICA-FPMIPA. Gardner. Ditdik SLTP (2002). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Erman. Daniel (1995). Quantum Learning. Cord (2001). 3rd ed.Ar. New York: Dell Publishing. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. S.. Emotional Intelligence. Tony (1989). . New York: Bantam Books. What is Contextual Learning. Use Both Sides of Yoru Brain. New York: Basic Bools. Howard (1985). De Porter. dkk. WWI Publishing Texas: Waco. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. CTL). Jakarta.Cowan University. Buzan. Bobbi (1992). Goleman.:Depdiknas. (2002).