jurnal

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

tanda atom unsur-unsur. satuan besaran pokok. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. dan pengetahuan sosial. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Untuk memperjelas hal tersebut. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Sains. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. menurut Titus (1959:78). Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. untuk melakukan operasi-operasi logis. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. dapat dipelajari secara langsung. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. Piaget (dalam Dahar. A. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . sebagai sekumpulan pengetahuan. atau memahami sesuatu. pengetahuan logiko-matematik. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. Menurut Piaget (dalam Dahar. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Penguasaan Pengetahuan Sains. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). dan sebagai metode-metode.

teori dan hukum. konsep. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. Dengan demikian. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. Menurut Poerwadarminta (1983). cara berfikir. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. sedangkan menurut UNESCO (1983). namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). dan norma-norma sosial tertentu. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Menurut Robert B. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Teknologi. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. Yager. menurut Fischer (1975).. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sund (1973: 2). 1994: 29). merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . Produk sains meliputi fakta. 1992: 4). berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sains dirumuskan secara sistematis. to solve problems. Menurut Poerwadarminta (1983). Jadi. teknologi adalah sebagai berikut: ……. cara memecahkan masalah.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. and systems. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. resources. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. prinsip. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Masyarakat . sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Sedangkan teknologi. dan cara bersikap. Sains. menurut Aikenhead (dalam Mariana. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. Sedangkan. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. kebutuhan. Dengan demikian sains. misalnya dalam penemuan rumus-rumus.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Sains melandasi perkembangan teknologi. 1990 .

(Varella. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. process. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. teknologi. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. penyadaran. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. . 1992: 19-20). STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. nutrisi. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. masyarakat). Kirham (dalam Wellington. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. 4.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. 1992:87-88) B. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 3. 5. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 2.

Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. Pada awal perubahan tiap topik. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Content. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. National Science Teacher Association atau NSTA. Untuk kepentingan itu. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . strategi pertama. definisi. teori. model. Context. prinsip. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Process. 1994: 1). dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. Strategi kedua. dan terminologi. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. konsep. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content.dan context. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat.

Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. efesien dan efektif. dan masyarakat secara terintegrasi. teknologi dan masyarakat. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu.J. teknologi. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. (b) mampu menggunakan proses sains. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. Literasi sains (scientific literasi). Strategi ketiga. tepat. Literasi teknologi. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. 1994: 34) . teknologi. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. sadar akan efek hasil teknologi. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. kreatif membuat produk teknologi sederhana. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. 1993: 428). dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar.pembelajaran. berpengaruh satu sama lain. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia).

Poerwadarminta.J. P. (1971). 3 Mei. Good. Carin. 17-19 Januari. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. A. et al.L. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Balai Pustaka. Fischer.H. (1971). Belmount: Wadsworth Publishing Company. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire.’lay Company. Dictionary of Education. (Eds). & Briggs. Gagne.J. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains.A. Philadelphia: Saunders Co. Hall.. R. New York: Rinehort and Winston. Gordner.W.B.e.M. Jakarta. A. New York: Mc Graw Hill Book Company. (1974). G. (1983). R. Science. R. Jakarta: PN. Disertai Doktor FPS IKIP.B. W. New York: David Mc. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. IKIP Bandung: tidak diterbitkan.. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. et al. Kuslan.V. Austin: Univercity of Texas. Teaching Science Through Discovery. R. Merrill Publishing. Gagne.S. The Condition of Learning and Theory of Instruction.(1995). L. . “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. Jakarta: Erlangga.I. (1973). Inc. & Stone. A. Man and Siciety. Teori-teori Belajar. (1990). Principlesof Instructional Desig. DAFTAR PUSTAKA Bloom. C. New York: Holt. (1968). (1985). _______. The Stucture of Science Education. Bandung.masyarakat. L. (1980). _______. & Sund. (1985). Rinehort and Winston. Columbus: Charles E.M. (1975). Poedjiadi. R. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Dahar. (1979). (1989). 1998: 276).

Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. ICASE YEARBOOK. Rubba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya.E. A. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja.Rogers. (1992). tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. 87-92. Titus. R. H.F.F. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Varella. Science Education. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Pendahuluan 1. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran.(1959). G. Living Issues In Philoshophy. “Science-Technology-Society as Reform”. New York: American Book Company. (1993).H. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan . eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. namun retensinya berbeda signifikan. ICASE YEARBOOK. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. & Shoemaker. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. 407-431. 2-8.A. F. New York: Free Press.M. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Yager. (1992). E. (1971). P.

Namun. B. 1991: 97). Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. 1985:122). mendorong siswa berfikir. 2. 1996:117).W. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. R. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Pada kenyataannya. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Rumusan Dan Batasan Masalah a.. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. 1996:458).

Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E.1997: 43) 2. 1991: 97). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Namun. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi.1987:72). misalnya topik polusi. Uzer Usman. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Namun. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik.C. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Wrag dan George Brown . pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh.Wrag dan George Brown 1997: 43). baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Dalam mempelajari sains biologi. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . dalam Nuryani Rustaman. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. 1996: 18). Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya.C. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan.1999:4). banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Pertanyaan permintaan (compliance questions). Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Retensi erat hubungannya dengan belajar. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. metode pembelajaran. al. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor.. tidak diperlukan individu sehingga tidak . dan perbedaan individual. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. al. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. tugas yang harus dipelajari. (1978 & 1990) (dalam Semb et. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). Hursh (1976). Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis.. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 1959: 241). Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. 1959: 236).dengan retensi. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Winkel (1996: 305). Kulik et.

Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. dalam Susan Hanley. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen.dihiraukan. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. C. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah.

64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.25 1.) R 33 52 59 75. Z hitung Z tabel Hasil perbandi. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini.25 Sd 10.07 11.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel. Sd = standar deviasi.4 78.36 80.58 81.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.4 12. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.98 50. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.Retensi % Pre.75 8. T2(1)= Postes.9 95.6 7.03 79 74. dan R = nilai terendah Tabel 2.7 X = rata-rata nilai.48 1.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98. Pos-tes.58 8. Tabel 1.16 1. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel.5 9. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. T = nilai tertinggi.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.Keterangan Konsep Kontrol & kel.83 116.Post. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .93 8.

Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.4%) 5 (13.3%) (8.7%) (91. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes.Tabel 3. dan E = kelompok eksperimen E.8%) 4 (11.7%) 16 18 (50%) 3 (44.3%) 11 (30. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97. Retensi.1%) 3 (8.8%) (33.3%) (41.3%) 3 (8. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.2%) 1 (2.3%) (58. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. 1989:159). Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.9%) 3 (8. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar.6%) 4 (11.8%) 10 (27. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). Peristiwa ini dapat . Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.3%) - - K= kelompok kontrol. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes .

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. mempengaruhi. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Dalam pada itu perlu ditegaskan. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan .Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). bahwa di dalam peristiwa pendidikan.

dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. . Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. maka hal ini kita bicarakan. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. sederhana tetapi terpelihara. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. maka pengertian itu relatif adanya. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu.hidupnya”. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. A. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. B. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. 1. Sikap berpakaian. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid.

Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. mungkin guru. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. saling tolong menolong. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. e. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. yaitu. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. Sering guru merasa. f. Kelas menjadi gaduh. b. 3. Jangan mengajak murid-murid. Dalam kelas yang suasananya baik. d. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Berani memandang tiap-tiap murid. mereka harus mengidahkan suruhannya. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Jangan bersikap putus asa. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut.2. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. matanya. berbicaralah dengan tenang dan tegas. c. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Sikap sabar. Karena itu harap sabar. jangan menggangap. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Ciptakan suasana kelas yang baik. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Sikap di muka kelas. Jangan memberi hukuman badan. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri.

tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. mencelanya. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. bukan hak itu tidak jarang dilakukan.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. 4. menedang. memukulnya dan sebagainya. Sikap yang mengejek murid. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. untuk memberi hukuman badan. dan sebagainya. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. yang selalu gaduh. guru dilarang memberi hukuman badan. guru boleh memberi hukuman badan. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. Sikap yang memberi hukuman badan. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. yang tolol. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Memukul murid dengan tongkat kecil. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Menurut hemat penulis. Sikap yang banyak memberi larangan. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. umpamanya: memukul. mengejek. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. umpamanya: murid yang tidak sopan . yang kotor. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. Menurut peraturan sekolah. . atau ia menjadi takut kepada guru. Guru mudah marah menghukum anak. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. mencela. melempar dsb. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Janganlah guru lekas marah karena itu. 7. dan kedua-duanya tidak baik. 5. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. 6.

sebab biasanya perintahnya dituruti. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Memang dalam mendidik. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. ahli hukum. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat.Guru yang baik. montir. pilih kasih dan sebagainya. ada pula pada syarat intelek. insinyur. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. sosial dan sebagainya. 8. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Murid-murid akan lekasa mengerti. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. jarang melarang. mereka lekas melihat. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. karena itu jangan banyak melarang. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. serta menjadikan . 9. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Bersikap jujur dan adil. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. tidak jujur. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. ini adalah suatu bahaya bagi mereka.

yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Bandung 1993. (A. Tarsito. P. I. Majalah Mahasiswa No. FKIP-UNLA 2000. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga .33 Thn. Jakarta 1989. Accelerated Learning (A. Mashoed.. nasco. DR.L. Belajar dan Pembelajaran . Semarang 1995. A. C. Langevld. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Didaktik Metodik. cetakan ketiga.L.) adalah cara belajar yang alamiah. cv. diterjemajkan. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Winarno Surakhmad. satu-ukuran-untuk-semua. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. cv. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Otang Kardi Saputra. kontrol luar. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral.J. Baru Jakarta 1996. VI Januari 1993 M. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . Toha Putra. Bambang Laksono. Metode-metode belajar konvensional.. Prof. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Penutup Daripembahasan diatas ini. Simanjuntak M. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Daftar pustaka Abu Ahmad. standardisasi. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. fragmentasi. organis bukan sekedar mekanis. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier.

lamban. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. variasi dan keragaman dalam metode belajar. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . pada prestasi individu. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. kesalingterkaitan. pada kerja sama dan prestasi kelompok. kontrol birokrasi terpusat.dikenal sebagai teknik membosankan). adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. pelatih sebagai pelaksana program. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. dan kita lamban menyadarinya. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. statis. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . dan dapat diramalkan. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. dan tidak efektif. kerja sama murni. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi.

dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran.L. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. dan “hidup”. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. nonmekanistis. seluruh tubuh. kreatif. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. 3. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”.atau “budaya perusahaan”. sugesti. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. linear. diantaranya : 1. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. dan . metode. Georgi Lozanov. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. dan aplikasi A.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. semua indra. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Ilmu kognitif modern. 4. Di setiap tingkatan. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. kolaboratif. 2. kita semua harus menjadi inovator. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut.

2. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Hal-hal yang dipelari secara . Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. indra. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Bagaimanapun juga. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. melainkan prosesor paralel. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. 6. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. memakai “otak kiri”. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. dan verbal). indra. 5. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. rasional. jaringan saraf baru. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. 3. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. dan sarafnya. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Belajar adalah Berkreasi. 1. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. 7. 4. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Bukan Mengonsumsi. otak bukanlah prosesor berurutan. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar.

Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian. dan menarik hati. S. Sudah saatnya. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. dan menerjunkan diri kembali. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. A. . cara menual dengan menjual. merenung. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Perasaan positif mempercepatnya. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Belajar yang penuh tekanan. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. menyakitkan. santai. investasi dalam pendidikan.Pd. pembiayaan dalam pendidikan. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Kita belajar berenang dengan berenang. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. 7. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. 6. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. mendapatkan umpan balik. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung).

Namun demikian pada kenyataannya . dan 2. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. yaitu 1. Dengan kata lain. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan.

televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Pendapatan per-kapita 2. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. diantaranya: 1. 5. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. pemakaian teknologi yang canggih. Di negara maju. Ekonomi di negara sosialis. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. telepon.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. 6. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. . bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. 2. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Negara Industri vs Non-Industri. 1. Secara ringkas tampak berikut ini. Diantara ukuran-ukuran tersebut. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai.

Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. 1. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Di negara non-industri. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. maupun Pendapatan Perkapita . Pendidikan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. 1. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Pendapatan per-kapita 3. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Pendapatan Domestik Bruto. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Pendapatan nasional. Dari uraian di atas.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2.

Konsumsi energi A. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Kenneth J. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Sebagai fungsi investasi. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. sementara bentuk pendidikan formal. 2. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Perubahan peta ketenagakerjaan. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia.3. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu.

Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Backer. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. 1991: 14). yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Jones melihat. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. B. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. 3. 2. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. 4. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. yaitu: 1. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). yang secara . Dalam kaitan ini.

korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. dan low management. dan 2. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Menurutnya.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Oleh karena itu. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Argumen ini memiliki dua sepek. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. C. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. yaitu: 1. Di samping tenaga kerja. dan konsumsi. midle. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. distribusi. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih.

Hj. tingkat pendidikan. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. M. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Elly Retnaningrum. Sambas. tingkat pendalaman agama. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Sebagai ilustrasi. yaitu: 1. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. sekolah maupun masyarakat.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Kata Kunci: Konflik sosial. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif.Pd. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. dan 3. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. dari perspektif . pendidikan dalam keluarga. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. baik di keluarga. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius.

Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. menghilangkan nyawa orang lain. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Kedua. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Misalnya. dan semacamnya. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Ketiga. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Lebih jauh. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. merusak fasilitas umum.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. Keempat. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Pertama. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . Kelima. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya.

Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. . Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Selain itu. Ini bisa diperkuat di sekolah. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. sekolah. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. sekolah. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Untuk mengantisipasi kondisi itu. serta masyarakat. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. kekerasan. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Demikianlah. baik di lingkungan keluarga. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Dan yang lebih mendasar. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Dalam situasi sehari-hari. Berbagai tindak penyimpangan. secara langsung maupun tidak langsung. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas.

dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. dan ras dapat dihindarkan. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. suasana belajar A. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Guru masih dominan dan siswa resisten. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. guru masih menjadi pemain dan siswa . melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. afektif. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Ar. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Drs. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. potensi siswa. Dengan belajar aktif. kompetensi. model pembelajaran. Namun pada kenyataannya. Kata Kunci: model belajar. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya.Pd. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). agama. life skill. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial.Untuk itu. M. Erman Suherman. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. H.

yang saya hormati dan saya banggakan. fasilitas. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. penalaran. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. dan guru itu sendiri. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Dengan paradigma yang berubah. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Demikian pula. guru aktif dan siswa pasif. karena ia telah memiliki komptensi. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Padahal. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. analisis. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman.penonton. kecakapan hidup. pada pihak siswa. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Inilah hakikat pembelajaran. observasi. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. aplikasi. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. sehingga misi KBK dapat terwujud. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. tuntutan KBK. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. . mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. identifikasi. Dengan perkataan lain. materi. B. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. dan memang itu kewajiban utama. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula.

yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. dosen-dosen dan staf administrasi. pengelolaan suasana hati. supir bajay. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. presentasi. sosialisasi. sederhana. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Dengan memahami model-model belajar ini. kreativitas. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. prilaku). Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. generalisasi. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. membaca. dan tidak sebaliknya. konjektur. kata kunci). baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Ema. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Akuntansi. empati). kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. pengendalian impulsi. yaitu: 1. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. koneksi. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. Ucup. pejabatnya. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. kocak. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks.investigasi. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. C. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. motivasi aktivitas positif. atau yang lainnya. Agama. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. atau ke tokoh lain Oneng. Dalam bidang studi keahlian anda. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Sebagai contoh. Hindun. komunikasi. pemecahan masalah). eksplorasi. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Istilah psikologi kontemporer. hipotesis. inkuiri. seperti gemuk. .

Yang produknya berupa peta konsep. Mengingat hal itu. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. spasial. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. abstrak. misalnya berangan-angan. realitas. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Bagaimana dengan anda?. dan simbolik. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Selanjutnya. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. emosional. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. sekuensial. senyum-tertawa. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. suasana nyaman dan menyenangkan. kesadaran diri. misal kenakalan atau lamunan. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. kelembutan. holistic. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. musik.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. misalnya keramahan. ide. 2. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. sebagai instrumen kecerdasan. teratur. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. linier. verbal. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. dan kreativitas. intuitif. mengobrol atau bercanda tanpa makna. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. rasional. menonton.

yaitu kondisi individu. Musical-rithmic. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. Interpersonalcommunication. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. bantuan. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. kompleksitas. 3. monitoring. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. monitoring. Body-kinestic. Metakognitif Secara harfiah. sintesis. dan strategi berpikir. pertanyaan. dan regulasi. strategi. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. tergantung dari variabel meta kognitif. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. koneksi. Intrapersonal-reflective. Holler. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. manfaat. yaitu: kesadaran. untuk kita simak dan renungkan.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. pengetahuan. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. Linguistic-verbal. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). Logic-thinking-reasoning. anak yang pada awalnya secara alami penuh . dan regulasi. dkk. dan aplikasi. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Sebagai orang beragama. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. natural. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. 4. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. dan ibadah lainnya. Akibatnya sungguh mengejutkan. ataupun dengan guru. yaitu: refleksi kognitif. prediksi. siswa dengan fasilitas belajar. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. pengalaman. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. yaitu Spacial-visual .

Agar bermakna. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. membiarkan. mendengar dan melihat 50%. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. mengerjakan. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. menghindar. bertanya. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. yaitu optimis. minds-on. pembenaran. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. Mencobapek (menyelidiki. ingin mencoba. 5. tumbuhkan citra positif. partisipatidf. menimpakan kesalahan. punya alternative. dan bukan dengan kegiatan mengajar. Makin lama ia makin dewasa. gerak tubuh. m\udah menyerah. mengembangkan).keyakinan. memanfaatkan. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. keberanian. menduga. prasangka.presentasi). presentasi. meng-identifikasi. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. menggunakan. diskusi). menemukan). Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. menjawab. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah.” bukan katanya. suka tantangan. dikendalikan keadaan . menyimpulkan. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. dari melihat 30%. katakana “saya …. bersikap mengajak dan bukan memerintah. dan sibuk dengan alasan. nada suara. ragu-ragu. konstruksivis. dan mau memperbaiki diri. seperti pesimis. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. Sebagai guru. Dengan perkataan lain. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). mengendalikan keadaan. dan . berkomentar. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. tepai harus dengan hands-on. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. pribadinya berpola negative. Selanjutnya. dari mendengar 20%. ada kebebasan memilih. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. dan sosok panutan). pemalu. dan cemas. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. mengkomunikasikan.

mengerjakan). maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. keterpaduan. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan).diskusi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. menghindar dari kegiatan. mengeksplorasi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. simbolisasi. atau mungkin terjadi eksalahan. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. seperti kemampuan sosialisasi. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). empati dan pengendalian diri. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. refeleksi-eksplanasi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. berhipotesis. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. Dari indikator belajar aktif. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. kontinuitas historical. aksionmatik). di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. dan sintaks (SOP). ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. tanya-jawab.daily life (kontekstual). sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. tindak lanjut. 6. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. kekonvergenan. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. membiarkan segalanya terjadi. yaitu: konsistensi internal. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. menggeneralisasi. sitematik. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. presentasi. berkonjektur. structuralistic (terstrutur. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. justifikasi. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. berupaya terlaksana. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. mengabaikan kesempatan. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. . koherensi. 7.

dan suasana menjadi kondusif . motivasi belajar muncul. dan pelaporan. melakukan-mengkomunikasikan. kerja kelompok. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. siawa heterogen (kemampuan. gender. Koperatif (CL. tanggung jawab. pengalaman. pembegian tugas.nyaman dan menyenangkan. dan kondisi guru itu sendiri. membentuk kelompok heterogen. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Oleh karena itu. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. belajar berkelompok secara koperatif. 1. karekter). penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. konstruksivis-inkuiri. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. sifat materi bahan ajar. 2. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). terbuka. fasilitas-media yang tersedia. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. dan rasa senasib. atau inkuiri. tugas. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. D. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. siswa melakukan dan mengalami. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. tidak hanya menonton dan . presentasi hasil kelompok. ada control dan fasilitasi. Cooperative Learning). kontekstual-trealistik. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). dan inklusif life skill. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Dalam prakteknya. dunia pikiran siswa menjadi konkret. menyelesaikan persoalan. Kontekstual (CTL. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. pengarahan-strategi. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep.

mengembangkan. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. yaitu modeling (pemusatan perhatian. menemukan). generalisasi). Pembelajaran Langsung (DL. hands-on. demokratis. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. konjektur. interpretasi. mengerjakan). mengarahkan. latihan terbimbing. eksplorasi. 5. negosiasi. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. mencoba. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. 4. reflection (reviu. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). prinsip. minds-on. sharing). Sintaknya adalah menyiapkan siswa. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. pengemabngan mateastika). Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). identifikasi. hipotesis. sintesis. generalisasi. contoh).mencatat. konjektur. algoritma. rambu-rambu. evaluasi. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. investigasi. inkuiri. dan . fakta. Realistik (RME. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. inquiry (identifikasi. motivasi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. tindak lanjut). sajian informasi dan prosedur. informal ke formal). investigasi. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). generalisasi. konsep. 3. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. pengarahan-petunjuk. penyampaian kompetensitujuan. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. refleksi. yaitu matematika horizontal (tools. induksi. latihan mandiri. constructivism (membangun pemahaman sendiri. elaborasi (analisis). mengkonstruksi konsep-aturan. dan evaluasi. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). terbuka. membimbing. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. questioning (eksplorasi. menuntun. penilaian portofolio. rangkuman. analisis-sintesis).

Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. fluency). identifikasi kekeliruan. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. 9. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. aturan. belum dikenal cara penyelesaiannya. perhatikan dan catat reson siswa. komunikasi-interaksi. cari alternative. table). siswa mengidentifkasi. keterbukaan. dan sosialisasi. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. kognitif tinggi. sharing. dan akhirnya menemukan solusi. pengorganisasian pembelajaran. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. mengeksplorasi. . 8. membuat kesimpulan. . 7. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. diagram. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. kritis.atau algoritma).inkuiri 6. Sintaknya adalah: pemahaman. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. kreativitas. kaitakkan dengan materui selanjutnya. jawaban siswa beragam. cara. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. keterbukaan. keterpasuan. dan ragam berpikir. menimalisasi tulisan-hitungan. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. Problem Terbuka (OE.menginvestigasi. jalan keluar. menduga. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. menyusun soalpertanyaan. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. bimbingan dan pengarahan.

suara menyejukkan. representasi. mulai dari eksplorasi (deskripsi). mencipta. berpikir. menyenangkan. senyum. mendemonstrasikan. menggunbakan media dan alat peraga. membaca-merangkum. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. yaitu bagaimana siswa belajar.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. berbicara. dan menerapkan. dan ceria. SDetelah memperoleh tugas. mengingat. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. Jangan lupa. nada lembut. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut. pengarahan. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. kemudian eksplanasi (empiric). menggambar. bertanya. merangkum. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. argumentasi. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. presentasi. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. mengidentifikasi. 11. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. dan tertawa. hipotesis. dan memotivasi diri. sehingga suasana menjadi nyaman. 12. 13. dan mennaggapi. menyimak. memecahkan masalah. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. mengkonstruksi. yaitu: informasi. Untuk mewujudkan belajar efektif. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. menyelidiki. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. Ada canda. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Usahakan dinamikia . Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. mengemukakan penndepat. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. menemukan. membaca. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). ia telah berpartisipasi 10.

suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. medium. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. c. perluasan. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. VAK (Visualization. d. 14. santun.). berikan penghargaan kelompok dan individual. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. 15. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. good. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. . Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. mengembangkannya. e. dan ada sajian bodoran. lembut. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Siapkan meja turnamen secukupnya. very good. Intellectualy.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. ramah . Bumping. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. AIR (Auditory. Auditory. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.

berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. kuis . buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. penyimpulan dan evaluasi. 20. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. 18. refleksi. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. tuiap kelompok bahan belajar sama. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. 17. buat kelompok heterogen. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. Pengarahan. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu.16. saling tukar jawaban. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. umumkan hasil kuis dan beri reward. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. presentasi kelompok (share). saling berbagi sehingga terjadi diskusi. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. iformasi bahan ajar. 19. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. buat kelompok heterogen (4-5 orang). pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. kembali ke kelompok aasal.

laporan kelompok. diskusi. presentasi dan diskusi. mendalami. melaporkan. umumkan hasil kuis dan berikan reward. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. 22. Sintaknya adalah kerja kelompok. Sinatknya adalah: informasi. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. presentasi. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. kuis individual. kembali ke kelompok asal. kerja kelompok. rencanakan pelaksanaan investigasi. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. pilih strategi solusi 23. 25. dan alternative solusi). presentasi. CORE (Connecting. 21. Refleting. 24. diskusi. identifikasi perbedaan. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. misal mengukur tinggi pohon. buat skor perkembangan tiap siswa. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). mengkritisi. banyak guru dan staf sekolah). pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. Organizing. (E) . elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. 26. (R) memikirkan kembali. dan menggali. (0) organisasi ide untuk memahami materi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. dan kemudian buat laopran hasil presentasi.individual. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. umumkan hasil kuis dan berikan reward. buat skor perkem\angan siswa. kerja kelompok.

Kerangka pikir untuk sukses. analisi pengalaman. menggunakan. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. 3 untuk sure. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Read. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. 2 untuk not sure. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. 4 untuk almost certain. Recite. Question. Recite. Reflect. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. Ajukan pengujian pemahaman. 29. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Read. Selanutnya menyelesaikan masalah . Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. dan konsep-ide. dan menemukan. 1 untuk amost guest. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. dn 5 untuk certain. SQ3R (Survey. Question. SQ4R (Survey. 32. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat.mengembangkan. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. 31. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. memperluas. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. 27.

guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. deteksi kausal. Sintaksnya adalah: persiapan. analisis kausal. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. Integrated.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. dan seterusnya 36. pendahuluan. siswa bekerja sama (membaca bergantian. menemukan pilihan solusi utama. dan kembali berbagai informasi. Sintaknya adalah: identifkasi. dan rencana solusi yang terpilih. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. penggunaan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. sajian . IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. solusi tentative. dan penutup. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. pengemabangan. imoplementasi solusi. 34. penerapan. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. menemukan kata kunci. mengelompokkan gejala. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. 35. refleksi. identifikasi kausal utama. 33. presentasi hasil kelompok. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. Reading. mengidentifikasui kausal. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. pertimbangan solusi. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. dan implementasi solusi utama. 37. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. CIRC (Cooperative. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. deteksi kausal lain.

sajian materi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. 38. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. 40. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. 41. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. penyuimpulan. bentuk kelompok berpasangan sebangku. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. penyampaian kompetensi. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. . membentuk kelompok. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. 39. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. sajian materi. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. bimbingan penimpoulan dan refleksi. pembentukan kelompok siswa. bekerja kelompok. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. refleksi. 43. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. tanya jawab untuk pemantapan. kesimpulan dan evaluasi.materi. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. presentasi di depan hasil diskusinya. kelompok lain menjawab secara bergantian. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. refleksi dan evaluasi 42. presentasi hasil kelompok. sajian materi pokok. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian.

sajikan materi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. penyimpulan dan evaluasi. sajian gambaran umum materi bahan ajar. 45. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. dikusi kelas. penyimpulan dan evaluasi. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. membimbing pelatihan-penerapan. penyimpulan dan evaluasi. 46. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. evaluasi dan refleksi. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. 48. kartu dikumpul lagi dan dikocok. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. 44. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. 49. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. refleksi. Examples Non Examples . Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. sajian permasalahan terbuka. 47. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. mengecek pemahaman dan balikan. pengecekan kebenaran jawaban. refleksi. bertukar peran. langkah demi langkah bertahap. presentasi hasuil diskusi kelompok. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. refleksi. 50. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok.pemberian reward.

perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Practicing. Enrichment. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. 51. dan refleksi 56. apakah bermanfaat. ranguman. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. 55. penyimpulan. sajian materi. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi.Persiapkan gambar. bagikan wacana materi bahan ajar. Reviewing and reducing difficulty. dan pengecekan. evaluasi dan refleksi. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. evaluasi dan refleksi. apakah solusinya. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. rencana. 52. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. bimbingan penyimpulan. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Metakognitive questioning. Sintaks: pemahaman masalah. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. pengungkapan ide-konsep awal. evaluasi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. diagram. 54. 53. presentasi hasil kelompok. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . Tanya jawab dan refleksi 57. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. siswa latian dan bertanya. Verivication. valuasi dan refleksi. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. aplikasi. solusi. bertukar peran. adakah alternative. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. Obtaining mastery. penyimpulan. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi.

siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. sajian materi. reward. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. koperatifinkuiri-solusi-workshop. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. presentasi. evaluasi dan refleksi 61. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. setelah selesai kupon dikembalikan. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. siswa ditugaskan membaca wacana. . 63. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. kelompok-kerjasama. Time Token Model ini digunakan (Arebds. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. virtual workshop menggunakan computer-internet. berikan sal tes bentuk super item. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. informasikan kompetensi. dan hipotesis. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. 58. berikan latihan soal bertingkat. kebebasan-terbuka. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. siswa berkelompok melengkapi.bahan belajar . 62. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. 59. integrasi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit).dan nama yang diberi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . membentuk kelompok heterogen. berupa opemecahan masalah. sajian materi. presentasi. guru membentuk kelompok. sampaikan kompetensi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. 60. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap.

lima kali salah guru membimbing. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. partisipatif. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. kohesif. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. E. konsep harus dialami. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. namai-buat generalisasi sampai konsep. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. alami-dengan dunia realitas siswa. dan saling menghargai. interaktif. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. kerja individual. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Jakarta: Arga. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. menciptakan inovasi. Perth: Edith . tidak lagi takut dalam berpartisipasi. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Burton. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. dan model pembelajaran yang inovatif. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. latihan.64. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. L (1993). tiap usaha siswa diberi reward. dinamis. The Constructivist Classroom Education in Profile. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). dengan E = energi yang diartikan sukses. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Begitu pulal dalam pembelajaran. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. ketrampilan. c = communication. semua mempunyai tujuan. 65. komunikasi positif yang efektif. Emotional Spritual Quotient (ESQ). sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Semoga. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan.

De Porter.. Jakarta. Ditdik SLTP (2002). Bandung: JICA-FPMIPA. Gardner. Daniel (1995). New York: Basic Bools.:Depdiknas.Cowan University. Cord (2001). (2002). Howard (1985). WWI Publishing Texas: Waco. Quantum Learning. S. What is Contextual Learning. Buzan. Goleman. Erman. New York: Bantam Books. CTL). Emotional Intelligence.Ar. Tony (1989). Use Both Sides of Yoru Brain. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. New York: Dell Publishing. dkk. . 3rd ed. Bobbi (1992). New York: Penguin Books.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful