http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

Skemata merupakan dasar untuk berpikir. sebagai sekumpulan pengetahuan.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Piaget (dalam Dahar. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). untuk melakukan operasi-operasi logis. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . pengetahuan logiko-matematik. A. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. dan pengetahuan sosial. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. dan sebagai metode-metode. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. atau memahami sesuatu. satuan besaran pokok. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Penguasaan Pengetahuan Sains. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. menurut Titus (1959:78). Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. dapat dipelajari secara langsung. Menurut Piaget (dalam Dahar. Sains. tanda atom unsur-unsur. Untuk memperjelas hal tersebut. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

cara memecahkan masalah. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Sains.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Sund (1973: 2). sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. konsep. 1990 .. teknologi adalah sebagai berikut: ……. sedangkan menurut UNESCO (1983). 1994: 29). prinsip.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Sains dirumuskan secara sistematis. menurut Aikenhead (dalam Mariana. resources. menurut Fischer (1975). namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. Sedangkan teknologi. teori dan hukum. 1992: 4). Teknologi. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Jadi. Masyarakat . to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Sains melandasi perkembangan teknologi. Dengan demikian. cara berfikir. and systems. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. Menurut Poerwadarminta (1983). sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. Produk sains meliputi fakta. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Yager. Menurut Poerwadarminta (1983). terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Dengan demikian sains. Sedangkan. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. dan norma-norma sosial tertentu. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. kebutuhan. to solve problems. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. dan cara bersikap. Menurut Robert B.

4. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Kirham (dalam Wellington. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. teknologi. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. process. . Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. 5. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. masyarakat). Untuk penyusunan materi pendidikan sains. 1992:87-88) B. nutrisi. 1992: 19-20). 3. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. 2. (Varella. penyadaran.

Content. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat.dan context. konsep. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Context. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . prinsip. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. teori. Untuk kepentingan itu. Process. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. model. strategi pertama. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Strategi kedua. definisi. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. 1994: 1). National Science Teacher Association atau NSTA. dan terminologi. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada awal perubahan tiap topik. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS.

Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. masyarakat dan nilai-nilai manusia. kreatif membuat produk teknologi sederhana. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. (b) mampu menggunakan proses sains. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Literasi sains (scientific literasi). Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains.J. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. sadar akan efek hasil teknologi. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. berpengaruh satu sama lain. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. teknologi. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. efesien dan efektif. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . dan masyarakat secara terintegrasi. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. 1993: 428). Literasi teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. teknologi dan masyarakat. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. teknologi. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. 1994: 34) . Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains.pembelajaran. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. tepat. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. Strategi ketiga.

& Briggs.(1995). W.W. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Jakarta: Erlangga. Carin. Teori-teori Belajar. Merrill Publishing. (1979). “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. R. Teaching Science Through Discovery. (1990). et al. The Stucture of Science Education. A. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. (1973). Austin: Univercity of Texas. Poedjiadi. Man and Siciety. C. (1980). (1971). (1989). dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager.M. Dahar. 1998: 276). Fischer. Philadelphia: Saunders Co. & Sund.H. Rinehort and Winston. New York: David Mc. & Stone.e. G. (1974). Science. Gagne.B. Kamus Umum Bahasa Indonesia. _______. (1985). et al. Gordner. 3 Mei. .’lay Company. The Condition of Learning and Theory of Instruction. (1975).M. (1971). Belmount: Wadsworth Publishing Company. L. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”.A. R.masyarakat. Balai Pustaka. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. Inc.V. Poerwadarminta. Dictionary of Education. R. (1985).B. R. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains.I.. Jakarta. New York: Rinehort and Winston. _______. Bandung. DAFTAR PUSTAKA Bloom.J. 17-19 Januari. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Jakarta: PN. Gagne. R..S. Principlesof Instructional Desig. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung.L. Kuslan. Disertai Doktor FPS IKIP. P. (1968). A. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. L. (1983).J. Columbus: Charles E. New York: Mc Graw Hill Book Company. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. New York: Holt. Good. Hall. (Eds). A.

(1993).A. New York: American Book Company. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. E.F. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. P. 2-8. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. “Science-Technology-Society as Reform”. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. (1992). (1992). Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. ICASE YEARBOOK. & Shoemaker. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. Rubba. H. F.M. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. 407-431.Rogers.H. (1971). retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. R. Science Education. Living Issues In Philoshophy. Yager.F. namun retensinya berbeda signifikan. A. Pendahuluan 1. New York: Free Press. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. G.(1959). 87-92. Varella. Titus. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan .E. ICASE YEARBOOK.

dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. 2. Rumusan Dan Batasan Masalah a. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. 1985:122). Pada kenyataannya.. R. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. 1996:458). B. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. mendorong siswa berfikir. 1996:117). hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi.W. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. 1991: 97). tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. Namun. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok.

(2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly.1999:4). Retensi erat hubungannya dengan belajar. 1996: 18). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. Uzer Usman. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. 1991: 97). (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E.C. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Wrag dan George Brown . pertanyaan retoris (rhetorical questions). Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.Wrag dan George Brown 1997: 43). Namun.1987:72). Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan.C.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Pertanyaan permintaan (compliance questions).1997: 43) 2. Namun. Dalam mempelajari sains biologi. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. dalam Nuryani Rustaman. misalnya topik polusi.

3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. (1978 & 1990) (dalam Semb et. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. al. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Kulik et. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. metode pembelajaran. tugas yang harus dipelajari. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Winkel (1996: 305). Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. 1959: 236).. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa.dengan retensi. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Hursh (1976). Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 1959: 241). Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese.. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. dan perbedaan individual. tidak diperlukan individu sehingga tidak . Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. al.

1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. dalam Susan Hanley. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. C.dihiraukan. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna.

48 1.16 1.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.83 116.36 80.9 95. Z hitung Z tabel Hasil perbandi. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.58 8. T = nilai tertinggi.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.58 81.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp. T2(1)= Postes. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .98 50.Keterangan Konsep Kontrol & kel. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. Pos-tes.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.75 8.5 9. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.25 1.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50. dan R = nilai terendah Tabel 2.Retensi % Pre. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.) R 33 52 59 75.07 11. Sd = standar deviasi.03 79 74. Tabel 1.7 X = rata-rata nilai.4 12.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.25 Sd 10.93 8.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.4 78. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.Post.6 7. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.

9%) 3 (8.3%) 11 (30.7%) 16 18 (50%) 3 (44. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. Retensi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.Tabel 3. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. 1989:159). Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).8%) 4 (11.3%) 3 (8.8%) 10 (27.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97. Peristiwa ini dapat .3%) (58. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2).3%) (41.1%) 3 (8.8%) (33.7%) (91. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes .3%) (8. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test. dan E = kelompok eksperimen E. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar.6%) 4 (11.2%) 1 (2. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.4%) 5 (13.3%) - - K= kelompok kontrol.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Dalam pada itu perlu ditegaskan. mempengaruhi. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk).

Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. A. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. B. . Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. 1. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh.hidupnya”. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Sikap berpakaian. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. maka pengertian itu relatif adanya. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. maka hal ini kita bicarakan. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. sederhana tetapi terpelihara.

2. e. Kelas menjadi gaduh. jangan menggangap. Jangan mengajak murid-murid. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. saling tolong menolong. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. mereka harus mengidahkan suruhannya. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Sikap sabar. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. matanya. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Ciptakan suasana kelas yang baik. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. mungkin guru. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. 3. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. b. Jangan bersikap putus asa. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Dalam kelas yang suasananya baik. f. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. Jangan memberi hukuman badan. Sering guru merasa. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. berbicaralah dengan tenang dan tegas. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Sikap di muka kelas. d. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. c. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Berani memandang tiap-tiap murid. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. yaitu. Karena itu harap sabar. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa.

maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Sikap yang memberi hukuman badan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. atau ia menjadi takut kepada guru. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Memukul murid dengan tongkat kecil. umpamanya: murid yang tidak sopan . Menurut peraturan sekolah. Sikap yang banyak memberi larangan. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. yang selalu gaduh. 4. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. yang tolol. melempar dsb. mencela. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Sikap yang mengejek murid. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. . Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. 7. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. dan kedua-duanya tidak baik. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. memukulnya dan sebagainya. Guru mudah marah menghukum anak. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. yang kotor. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. untuk memberi hukuman badan. 5. Menurut hemat penulis. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. mengejek. guru dilarang memberi hukuman badan. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. umpamanya: memukul. mencelanya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. 6. guru boleh memberi hukuman badan. dan sebagainya. menedang. Janganlah guru lekas marah karena itu.

pilih kasih dan sebagainya. ahli hukum. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. karena itu jangan banyak melarang. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. serta menjadikan . Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. sebab biasanya perintahnya dituruti. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. 8. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Bersikap jujur dan adil. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. mereka lekas melihat. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. tidak jujur.Guru yang baik. Memang dalam mendidik. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. ada pula pada syarat intelek. insinyur. montir. 9. jarang melarang. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. sosial dan sebagainya. Murid-murid akan lekasa mengerti. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu.

Toha Putra. DR. fragmentasi.J. Metode-metode belajar konvensional. C. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. (A. Otang Kardi Saputra. cv. organis bukan sekedar mekanis. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. Prof. Majalah Mahasiswa No. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman).) adalah cara belajar yang alamiah. Belajar dan Pembelajaran . yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20.. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. Mashoed. A. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. VI Januari 1993 M.L. Accelerated Learning (A.L. Winarno Surakhmad. Beknopte Theoretische Paedagogiek. diterjemajkan. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Semarang 1995. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. FKIP-UNLA 2000. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. standardisasi. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . satu-ukuran-untuk-semua. kontrol luar. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. I.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Tarsito. Bandung 1993. cv. Langevld. Didaktik Metodik. P. Daftar pustaka Abu Ahmad. Simanjuntak M.33 Thn.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. nasco. Bambang Laksono. cetakan ketiga. Baru Jakarta 1996. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Jakarta 1989. Penutup Daripembahasan diatas ini..

dan kita lamban menyadarinya. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar.dikenal sebagai teknik membosankan). bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. dan dapat diramalkan. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. kontrol birokrasi terpusat. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. pada prestasi individu. kesalingterkaitan. pada kerja sama dan prestasi kelompok. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. pelatih sebagai pelaksana program. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. lamban. variasi dan keragaman dalam metode belajar. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. dan tidak efektif. statis. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. kerja sama murni. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh.

Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. sugesti. kita semua harus menjadi inovator. kolaboratif. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar.L. 2. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. dan aplikasi A. seluruh tubuh. 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Georgi Lozanov. 4. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. metode. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Di setiap tingkatan. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. linear. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). diantaranya : 1. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. dan “hidup”. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. dan . nonmekanistis. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. kreatif. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Ilmu kognitif modern. semua indra.atau “budaya perusahaan”.

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. melainkan prosesor paralel. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. rasional. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Bukan Mengonsumsi. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. 6. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Bagaimanapun juga. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. 2. dan verbal). Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. 4. 1.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. otak bukanlah prosesor berurutan. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. jaringan saraf baru. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. dan sarafnya. 5. Hal-hal yang dipelari secara . Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Belajar adalah Berkreasi. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. indra. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. 7. indra. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. 3. memakai “otak kiri”. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru.

pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap.Pd. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. dan menerjunkan diri kembali. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Kita belajar berenang dengan berenang. 6. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Belajar yang penuh tekanan. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. investasi dalam pendidikan. A. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Dengan demikian. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. S. menyakitkan. Perasaan negatif menghalangi belajar. 7. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. dan menarik hati. cara menual dengan menjual. . cara bernyanyi dengan bernyanyi. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. mendapatkan umpan balik. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. merenung. Sudah saatnya. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. pembiayaan dalam pendidikan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Perasaan positif mempercepatnya. santai.

kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. yaitu 1. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Dengan kata lain. Namun demikian pada kenyataannya . Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. dan 2. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya.

Secara ringkas tampak berikut ini. Negara Industri vs Non-Industri. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. 5. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. 1. 6. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Ekonomi di negara sosialis. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Di Amerika Serikat yang sudah maju. diantaranya: 1. pemakaian teknologi yang canggih. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Di negara maju. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pendapatan per-kapita 2. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. 2. telepon. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. .tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran.

maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. 1. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. 1. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Di negara non-industri. Pendapatan per-kapita 3. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Pendapatan nasional. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Berdasarkan hal tersebut di atas. Pendidikan. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. maupun Pendapatan Perkapita . dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Pendapatan Domestik Bruto. Dari uraian di atas.

Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Konsumsi energi A. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Perubahan peta ketenagakerjaan. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. kualitas manusia dan pendapatan nasional. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. 2. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. sementara bentuk pendidikan formal.3. Sebagai fungsi investasi. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Kenneth J.

B. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. 4. yaitu: 1. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Backer. 3. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. 1991: 14). Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. 2. Jones melihat. yang secara . Dalam kaitan ini. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial.

juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. yaitu: 1. Menurutnya. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Oleh karena itu. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. dan konsumsi. C. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Argumen ini memiliki dua sepek. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. midle. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Di samping tenaga kerja. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. dan low management. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. distribusi. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. dan 2. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih.

dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. yaitu: 1. tingkat pendidikan. Kata Kunci: Konflik sosial. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. dari perspektif . Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Hj. Elly Retnaningrum. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. tingkat pendalaman agama. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Sambas. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. baik di keluarga. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka.Pd. sekolah maupun masyarakat. M. pendidikan dalam keluarga. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Sebagai ilustrasi. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. dan 3. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis.

Kedua. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Keempat.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. dan semacamnya. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Pertama. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Misalnya.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. merusak fasilitas umum. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . Kelima. menghilangkan nyawa orang lain. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. Ketiga. Lebih jauh. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama.

Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. baik di lingkungan keluarga. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. . Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Berbagai tindak penyimpangan. kekerasan. sekolah. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Dalam situasi sehari-hari. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Demikianlah. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Selain itu. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. secara langsung maupun tidak langsung. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. sekolah. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. serta masyarakat. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Dan yang lebih mendasar. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Untuk mengantisipasi kondisi itu. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Ini bisa diperkuat di sekolah. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga.

telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Namun pada kenyataannya. dan ras dapat dihindarkan. Ar. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. agama. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal.Pd. afektif. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. Drs. Kata Kunci: model belajar. model pembelajaran. M. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Guru masih dominan dan siswa resisten. kompetensi. H. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Dengan belajar aktif. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK).Untuk itu. guru masih menjadi pemain dan siswa . yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). suasana belajar A. potensi siswa. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. life skill. Erman Suherman. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya.

yang saya hormati dan saya banggakan. aplikasi. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. Dengan paradigma yang berubah. kecakapan hidup. fasilitas. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. B. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. pada pihak siswa. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. penalaran. materi. guru aktif dan siswa pasif. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Dengan perkataan lain. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. analisis. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Inilah hakikat pembelajaran. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. dan guru itu sendiri. tuntutan KBK. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. identifikasi.penonton. Demikian pula. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. observasi. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. dan memang itu kewajiban utama. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. sehingga misi KBK dapat terwujud. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Padahal. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. karena ia telah memiliki komptensi. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. .

dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. atau yang lainnya. membaca. Istilah psikologi kontemporer.investigasi. dan tidak sebaliknya. kreativitas. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. . sosialisasi. atau ke tokoh lain Oneng. koneksi. motivasi aktivitas positif. Ema. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. Ucup. pengendalian impulsi. yaitu: 1. supir bajay. inkuiri. dosen-dosen dan staf administrasi. eksplorasi. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Akuntansi. seperti gemuk. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. pejabatnya. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. pengelolaan suasana hati. Sebagai contoh. C. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. hipotesis. generalisasi. sederhana. Hindun. kata kunci). kocak. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . presentasi. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. Dalam bidang studi keahlian anda. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). empati). yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. pemecahan masalah). meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Dengan memahami model-model belajar ini. konjektur. prilaku). Agama. komunikasi.

Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. ide. intuitif. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. spasial. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Mengingat hal itu. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. senyum-tertawa. sebagai instrumen kecerdasan. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. kelembutan. sekuensial. musik. misal kenakalan atau lamunan. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. emosional. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. holistic. menonton. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. realitas. linier. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. mengobrol atau bercanda tanpa makna. dan kreativitas. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. abstrak. Bagaimana dengan anda?. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. 2. Yang produknya berupa peta konsep. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. kesadaran diri. misalnya berangan-angan. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. dan simbolik. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. teratur. rasional. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. suasana nyaman dan menyenangkan. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Selanjutnya. misalnya keramahan. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . verbal.

bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. bantuan. dan aplikasi. yaitu kondisi individu. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. dan regulasi. dan strategi berpikir. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). sintesis.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. natural. koneksi. manfaat. Musical-rithmic. dan ibadah lainnya. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. pengetahuan. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. Body-kinestic. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. tergantung dari variabel meta kognitif. Metakognitif Secara harfiah. yaitu: kesadaran. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. Interpersonalcommunication. pengalaman. anak yang pada awalnya secara alami penuh . Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. 3. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. strategi. prediksi. dkk. Holler. 4. yaitu: refleksi kognitif. untuk kita simak dan renungkan. Intrapersonal-reflective. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. siswa dengan fasilitas belajar. ataupun dengan guru. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. Akibatnya sungguh mengejutkan. Linguistic-verbal. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. monitoring. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. dan regulasi. kompleksitas. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. yaitu Spacial-visual . Logic-thinking-reasoning. Sebagai orang beragama. monitoring. pertanyaan.

ada kebebasan memilih. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). mendengar dan melihat 50%. Selanjutnya. menemukan). minds-on. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. keberanian. m\udah menyerah. dan mau memperbaiki diri. Makin lama ia makin dewasa. pembenaran. pemalu. punya alternative. konstruksivis. mengerjakan. menghindar. partisipatidf. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. mengendalikan keadaan. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. Agar bermakna. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. gerak tubuh. menimpakan kesalahan. menduga. tepai harus dengan hands-on. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. ingin mencoba. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). Dengan perkataan lain. yaitu optimis. seperti pesimis. presentasi. dan . dan sibuk dengan alasan. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. meng-identifikasi. menyimpulkan. Sebagai guru. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. nada suara. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. dan sosok panutan). katakana “saya ….presentasi). dan bukan dengan kegiatan mengajar. suka tantangan. diskusi).keyakinan. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. dari melihat 30%. tumbuhkan citra positif. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. Mencobapek (menyelidiki. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. menjawab. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. bertanya. pribadinya berpola negative. membiarkan. dari mendengar 20%. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. mengembangkan). belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. mengkomunikasikan. prasangka. memanfaatkan. bersikap mengajak dan bukan memerintah.” bukan katanya. berkomentar. dikendalikan keadaan . 5. dan cemas. ragu-ragu. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. menggunakan.

yaitu: konsistensi internal. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. refeleksi-eksplanasi. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. koherensi. mengerjakan). belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. sitematik. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. berkonjektur. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. dan sintaks (SOP). yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. justifikasi. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. membiarkan segalanya terjadi. mengabaikan kesempatan. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. tindak lanjut. 6.daily life (kontekstual). 7. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. kekonvergenan. empati dan pengendalian diri. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. structuralistic (terstrutur. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). tidak melalui pemberitahuan oleh guru. berhipotesis. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. atau mungkin terjadi eksalahan. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. menghindar dari kegiatan. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. kontinuitas historical. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. menggeneralisasi. berupaya terlaksana. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. presentasi. seperti kemampuan sosialisasi. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. mengeksplorasi. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. simbolisasi. tanya-jawab. aksionmatik). Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. keterpaduan. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing.diskusi. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. Dari indikator belajar aktif. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. .

Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. melakukan-mengkomunikasikan. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. dan pelaporan. sifat materi bahan ajar. presentasi hasil kelompok. dan suasana menjadi kondusif . Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. siawa heterogen (kemampuan. membentuk kelompok heterogen. 1. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. dunia pikiran siswa menjadi konkret. konstruksivis-inkuiri. pembegian tugas. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. dan inklusif life skill. atau inkuiri. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. menyelesaikan persoalan. pengalaman. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. karekter). tugas. kontekstual-trealistik. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. Cooperative Learning). kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). fasilitas-media yang tersedia. belajar berkelompok secara koperatif. tidak hanya menonton dan . kerja kelompok. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. tanggung jawab. ada control dan fasilitasi. dan rasa senasib. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. terbuka. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). D. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. 2. pengarahan-strategi. siswa melakukan dan mengalami. Koperatif (CL. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. Dalam prakteknya. motivasi belajar muncul. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. dan kondisi guru itu sendiri. gender.nyaman dan menyenangkan. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Kontekstual (CTL. Oleh karena itu.

Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. Realistik (RME. 5. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). sharing). eksplorasi. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. refleksi. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. motivasi. konjektur. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. demokratis. fakta.mencatat. questioning (eksplorasi. contoh). negosiasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. yaitu matematika horizontal (tools. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. konjektur. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. analisis-sintesis). mengkonstruksi konsep-aturan. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. investigasi. tindak lanjut). pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. latihan mandiri. evaluasi. hands-on. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). dan . identifikasi. dan evaluasi. prinsip. menuntun. elaborasi (analisis). informal ke formal). mengembangkan. inkuiri. generalisasi. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. penyampaian kompetensitujuan. menemukan). yaitu modeling (pemusatan perhatian. 4. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. sajian informasi dan prosedur. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. rangkuman. membimbing. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. minds-on. pengemabngan mateastika). penilaian portofolio. generalisasi. Pembelajaran Langsung (DL. terbuka. mencoba. interpretasi. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. sintesis. induksi. inquiry (identifikasi. hipotesis. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. konsep. algoritma. investigasi. mengerjakan). dan pengembangan kemampuan sosialisasi. constructivism (membangun pemahaman sendiri. latihan terbimbing. mengarahkan. 3. rambu-rambu. generalisasi). Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). reflection (reviu. pengarahan-petunjuk.

menimalisasi tulisan-hitungan. belum dikenal cara penyelesaiannya.menginvestigasi. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). 8. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. aturan. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. dan sosialisasi. identifikasi kekeliruan. menduga. table). kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. mengeksplorasi. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. pengorganisasian pembelajaran. fluency). Sintaknya adalah: pemahaman. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. keterpasuan. jalan keluar. diagram. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. jawaban siswa beragam. membuat kesimpulan. keterbukaan. Problem Terbuka (OE. kaitakkan dengan materui selanjutnya. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. kritis. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. kreativitas. menyusun soalpertanyaan. bimbingan dan pengarahan. 7. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. . dan ragam berpikir. kognitif tinggi. cari alternative. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. keterbukaan. siswa mengidentifkasi. . Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. cara. 9. komunikasi-interaksi. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. sharing. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. dan akhirnya menemukan solusi. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. perhatikan dan catat reson siswa.inkuiri 6.atau algoritma).

menyenangkan. kemudian eksplanasi (empiric). Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. nada lembut. dan tertawa. mencipta. 11. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. dan memotivasi diri. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. namun demikian bisa dibiasakan. menggunbakan media dan alat peraga. pengarahan. sehingga suasana menjadi nyaman. memecahkan masalah. SDetelah memperoleh tugas. mengemukakan penndepat. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. menggambar. Untuk mngurang kondisi tersebut. mengingat.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. membaca. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. mengidentifikasi. senyum. yaitu: informasi. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Jangan lupa. mulai dari eksplorasi (deskripsi). bertanya. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. yaitu bagaimana siswa belajar. merangkum. presentasi. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. membaca-merangkum. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. 12. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. menemukan. berbicara. argumentasi. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. dan ceria. Usahakan dinamikia . Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Ada canda. ia telah berpartisipasi 10. menyelidiki. berpikir. mendemonstrasikan. hipotesis. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. suara menyejukkan. dan menerapkan. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. representasi. Untuk mewujudkan belajar efektif. 13. menyimak. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. dan mennaggapi. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. mengkonstruksi. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan.

14.). Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. . c. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. Bumping. santun. medium. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. AIR (Auditory. ramah . good. d. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. Siapkan meja turnamen secukupnya. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. mengembangkannya. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. lembut. e. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. berikan penghargaan kelompok dan individual. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. VAK (Visualization. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. 15. perluasan. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Intellectualy. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. dan ada sajian bodoran. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. very good. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. Auditory.

18. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. refleksi. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. 17. saling tukar jawaban. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. iformasi bahan ajar. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. kuis . buat kelompok heterogen (4-5 orang). Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. penyimpulan dan evaluasi. presentasi kelompok (share). Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok.16. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. tuiap kelompok bahan belajar sama. Pengarahan. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. buat kelompok heterogen. kembali ke kelompok aasal. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. umumkan hasil kuis dan beri reward. 19. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. 20. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu.

kerja kelompok. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. (0) organisasi ide untuk memahami materi. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. melaporkan. (R) memikirkan kembali. (E) . buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. 26. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. identifikasi perbedaan. 24. dan alternative solusi). TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. buat skor perkembangan tiap siswa. presentasi. Sinatknya adalah: informasi. Organizing. diskusi. presentasi. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. presentasi dan diskusi. CORE (Connecting. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. pilih strategi solusi 23. mendalami. misal mengukur tinggi pohon. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. laporan kelompok. kembali ke kelompok asal. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. 25. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. Sintaknya adalah kerja kelompok. rencanakan pelaksanaan investigasi. 21.individual. kerja kelompok. umumkan hasil kuis dan berikan reward. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. Refleting. umumkan hasil kuis dan berikan reward. 22. mengkritisi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. diskusi. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. buat skor perkem\angan siswa. banyak guru dan staf sekolah). kuis individual. dan menggali. kelompok (membaca-mencatatat-menandai).

Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). dan konsep-ide. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Recite. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Selanutnya menyelesaikan masalah . Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. dn 5 untuk certain. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. 27. 2 untuk not sure. Kerangka pikir untuk sukses. 31. 32. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). SQ4R (Survey. menggunakan. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. Reflect. dan menemukan. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Recite. SQ3R (Survey. 29. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). 4 untuk almost certain. Ajukan pengujian pemahaman. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Question. memperluas. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. analisi pengalaman. Read. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman.mengembangkan. Question. 1 untuk amost guest. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. 3 untuk sure. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Read. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat.

CIRC (Cooperative. pengemabangan. Sintaksnya adalah: persiapan. dan penutup. 35. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. menemukan kata kunci. dan implementasi solusi utama. dan seterusnya 36. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. identifikasi kausal utama. penggunaan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. Sintaknya adalah: identifkasi. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. Reading. deteksi kausal. Integrated. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. imoplementasi solusi. dan rencana solusi yang terpilih. dan kembali berbagai informasi. 37. sajian . penerapan. solusi tentative. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. analisis kausal. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. 34. pendahuluan. pertimbangan solusi. refleksi. deteksi kausal lain. menemukan pilihan solusi utama. 33. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. presentasi hasil kelompok. siswa bekerja sama (membaca bergantian. mengidentifikasui kausal. mengelompokkan gejala. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya.

sajian materi.materi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. kelompok lain menjawab secara bergantian. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. kesimpulan dan evaluasi. penyuimpulan. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. tanya jawab untuk pemantapan. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. 38. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. bekerja kelompok. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. pembentukan kelompok siswa. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. 41. bentuk kelompok berpasangan sebangku. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. penyampaian kompetensi. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. 43. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. sajian materi pokok. presentasi hasil kelompok. . guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. presentasi di depan hasil diskusinya. bimbingan penimpoulan dan refleksi. refleksi. 40. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. membentuk kelompok. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. refleksi dan evaluasi 42. 39. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. sajian materi. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya.

untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. refleksi. penyimpulan dan evaluasi. dikusi kelas. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. refleksi. kartu dikumpul lagi dan dikocok. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. 45. refleksi. refleksi. mengecek pemahaman dan balikan. penyimpulan dan evaluasi. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. 50. 47. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. 46. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. 49. bertukar peran. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. penyimpulan dan evaluasi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. 44. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. sajian gambaran umum materi bahan ajar. sajian permasalahan terbuka. 48. pengecekan kebenaran jawaban. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. presentasi hasuil diskusi kelompok. langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi.pemberian reward. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. membimbing pelatihan-penerapan. penyimpulan dan evaluasi. evaluasi dan refleksi. sajikan materi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. refleksi. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. penyimpulan dan evaluasi. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Examples Non Examples . Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural.

dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. evaluasi dan refleksi. evaluasi. apakah bermanfaat. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. 52. solusi. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. Sintaks: pemahaman masalah. bimbingan penyimpulan.Persiapkan gambar. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. adakah alternative. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. pengungkapan ide-konsep awal. ranguman. penyimpulan. 53. evaluasi dan refleksi. dan pengecekan. siswa latian dan bertanya. Verivication. 55. Tanya jawab dan refleksi 57. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. 51. sajian materi. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. dan refleksi 56. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . Practicing. bagikan wacana materi bahan ajar. Obtaining mastery. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. penyimpulan. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. aplikasi. presentasi hasil kelompok. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. diagram. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. 54. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. rencana. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Enrichment. Metakognitive questioning. Reviewing and reducing difficulty. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. valuasi dan refleksi. apakah solusinya. bertukar peran. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi.

Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. sajian materi. dan hipotesis. kelompok-kerjasama. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. 63. berikan sal tes bentuk super item. presentasi. koperatifinkuiri-solusi-workshop. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. 60. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. sajian materi. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. sampaikan kompetensi. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks.bahan belajar . Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. siswa berkelompok melengkapi. 58. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. presentasi. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. siswa ditugaskan membaca wacana. 62. informasikan kompetensi. membentuk kelompok heterogen. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. setelah selesai kupon dikembalikan. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). integrasi. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap.dan nama yang diberi. evaluasi dan refleksi 61. berikan latihan soal bertingkat. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. 59. reward. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. virtual workshop menggunakan computer-internet. berupa opemecahan masalah. guru membentuk kelompok. Time Token Model ini digunakan (Arebds. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . kebebasan-terbuka. .

ketrampilan. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. dan model pembelajaran yang inovatif. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). partisipatif. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Jakarta: Arga. dinamis. Sintaksnya adalah: sajian konsep. komunikasi positif yang efektif. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. konsep harus dialami. dengan E = energi yang diartikan sukses. The Constructivist Classroom Education in Profile.64. E. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Guru harus menciptakan suasana kondusif. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. interaktif. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. dan saling menghargai. menciptakan inovasi. kerja individual. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Begitu pulal dalam pembelajaran. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Perth: Edith . namai-buat generalisasi sampai konsep. Emotional Spritual Quotient (ESQ). c = communication. Burton. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Semoga. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. L (1993). tiap usaha siswa diberi reward. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. alami-dengan dunia realitas siswa. latihan. lima kali salah guru membimbing. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. 65. kohesif. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. semua mempunyai tujuan. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban.

Gardner. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Quantum Learning. CTL). . Tony (1989).:Depdiknas. Howard (1985). dkk.Ar. Use Both Sides of Yoru Brain. New York: Dell Publishing. New York: Basic Bools. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Goleman. Bandung: JICA-FPMIPA. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning.Cowan University. S. (2002). New York: Penguin Books. De Porter. Buzan. Ditdik SLTP (2002). New York: Bantam Books. What is Contextual Learning. Jakarta. 3rd ed. Cord (2001).. Erman. Emotional Intelligence. Daniel (1995). Bobbi (1992). WWI Publishing Texas: Waco.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful