http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. satuan besaran pokok. dan pengetahuan sosial. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. Untuk memperjelas hal tersebut. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. atau memahami sesuatu. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. Sains. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Penguasaan Pengetahuan Sains. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. A. Menurut Piaget (dalam Dahar. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . menurut Titus (1959:78). Piaget (dalam Dahar. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. sebagai sekumpulan pengetahuan.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. dan sebagai metode-metode. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. dapat dipelajari secara langsung. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. pengetahuan logiko-matematik. untuk melakukan operasi-operasi logis. tanda atom unsur-unsur. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak.

Dengan demikian. Sund (1973: 2). sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. Sains dirumuskan secara sistematis. 1992: 4). misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Sedangkan teknologi. Produk sains meliputi fakta. Sedangkan.. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. menurut Fischer (1975). 1994: 29). Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. kebutuhan. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. teknologi adalah sebagai berikut: ……. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Sains melandasi perkembangan teknologi. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. sedangkan menurut UNESCO (1983). Menurut Poerwadarminta (1983). Jadi. 1990 . Menurut Poerwadarminta (1983). menurut Aikenhead (dalam Mariana. prinsip. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. Masyarakat . merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. to solve problems. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. cara berfikir. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Teknologi. dan cara bersikap. dan norma-norma sosial tertentu. and systems. Dengan demikian sains. Menurut Robert B. Yager. resources. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . cara memecahkan masalah. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. Sains. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. teori dan hukum. konsep.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi.

3. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. . Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. 1992:87-88) B. Kirham (dalam Wellington. teknologi. masyarakat). penyadaran. 2. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. 5.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. process. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. nutrisi. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. 1992: 19-20). Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. 4. (Varella. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari.

serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. model. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. teori. Pada awal perubahan tiap topik. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. definisi. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Strategi kedua. National Science Teacher Association atau NSTA. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan terminologi. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. Context. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. prinsip. strategi pertama. Untuk kepentingan itu. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. 1994: 1). Content.dan context. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. Process. konsep. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep .

serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. efesien dan efektif. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. teknologi. (b) mampu menggunakan proses sains.J. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. teknologi. tepat. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu.pembelajaran. Literasi teknologi. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. Literasi sains (scientific literasi). 1993: 428). (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. berpengaruh satu sama lain. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. teknologi dan masyarakat. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. sadar akan efek hasil teknologi. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. 1994: 34) . dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. dan masyarakat secara terintegrasi. kreatif membuat produk teknologi sederhana. Strategi ketiga. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung.

Teaching Science Through Discovery.. _______. C. (1990). & Sund. Carin. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. 17-19 Januari. Fischer.V. New York: Mc Graw Hill Book Company. (Eds). Gagne. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Jakarta. (1971). Dictionary of Education. Hall.M. (1973). (1983). Man and Siciety. Philadelphia: Saunders Co. Columbus: Charles E. New York: David Mc. Belmount: Wadsworth Publishing Company. Science. New York: Rinehort and Winston. Teori-teori Belajar. 1998: 276). DAFTAR PUSTAKA Bloom. The Stucture of Science Education.B.I. (1974). Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung.J.(1995). (1975). R. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. 3 Mei. Bandung. Poedjiadi.J.masyarakat. (1985). (1968).e.’lay Company. & Briggs. The Condition of Learning and Theory of Instruction. R.H. Balai Pustaka. L. G. R. (1980). Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Disertai Doktor FPS IKIP. et al. Austin: Univercity of Texas. . Teaching Children Science: An Inquiry Approach. R. R. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. _______. L. (1979).. Jakarta: PN. Gagne. et al. Kuslan. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. (1985). A. A. (1971). Jakarta: Erlangga. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Dahar. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. Merrill Publishing. Rinehort and Winston. & Stone.A.S. P. Good.M. A. Poerwadarminta. W. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Inc. Gordner. Principlesof Instructional Desig. New York: Holt.W. (1989).L.B.

F.F. E. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan.Rogers. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. New York: American Book Company. & Shoemaker. 2-8. G. 407-431. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. “Science-Technology-Society as Reform”.(1959). tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. Titus. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. New York: Free Press. (1992). Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. F. H. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan .H. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Rubba. Pendahuluan 1.A. Living Issues In Philoshophy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. 87-92.M. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. (1971). ICASE YEARBOOK. Science Education. ICASE YEARBOOK. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. (1992). Yager. Varella. P. namun retensinya berbeda signifikan. A. (1993). hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja.E. R.

Pada kenyataannya. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . B. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1985:122). Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. 2. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. R. Namun. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1996:458). Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu.W.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar.. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. 1996:117). salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. 1991: 97). mendorong siswa berfikir. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Rumusan Dan Batasan Masalah a.

Wrag dan George Brown . misalnya topik polusi. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Pertanyaan permintaan (compliance questions). mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Namun.1999:4). Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. 1991: 97). Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . 1996: 18). Retensi erat hubungannya dengan belajar. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Dalam mempelajari sains biologi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S.Wrag dan George Brown 1997: 43).1987:72). Namun. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.C.C. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik.1997: 43) 2. Uzer Usman. pertanyaan retoris (rhetorical questions). 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. dalam Nuryani Rustaman. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. al. Winkel (1996: 305). 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Kulik et. (1978 & 1990) (dalam Semb et. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. tidak diperlukan individu sehingga tidak . Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis.. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. dan perbedaan individual. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). 1959: 236). metode pembelajaran. Hursh (1976). tugas yang harus dipelajari. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang.dengan retensi. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. 1959: 241). 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. al.. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan.

salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. dalam Susan Hanley. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. C. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru.dihiraukan. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991.

6 7. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel.03 79 74.93 8. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .Keterangan Konsep Kontrol & kel. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.25 1. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.48 1.16 1. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre. Pos-tes.25 Sd 10.9 95. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.75 8.58 8.58 81.36 80. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. dan R = nilai terendah Tabel 2.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.5 9.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.Retensi % Pre.4 78.7 X = rata-rata nilai.07 11.4 12. T2(1)= Postes. T = nilai tertinggi.83 116. Tabel 1.Post.98 50.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test. Sd = standar deviasi.) R 33 52 59 75. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.

3%) - - K= kelompok kontrol. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar.7%) (91. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).2%) 1 (2.3%) 3 (8. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52.3%) (8. Peristiwa ini dapat .Tabel 3.6%) 4 (11.8%) 10 (27. Retensi. dan E = kelompok eksperimen E. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.3%) 11 (30. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.3%) (58.1%) 3 (8. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.8%) (33. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.3%) (41.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.7%) 16 18 (50%) 3 (44.4%) 5 (13. 1989:159).9%) 3 (8.8%) 4 (11. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2).

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. mempengaruhi. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan.

Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Sikap berpakaian. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. . maka hal ini kita bicarakan. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. B. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian.hidupnya”. sederhana tetapi terpelihara. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. A. 1. maka pengertian itu relatif adanya. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat.

bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. 3. mungkin guru. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. Jangan mengajak murid-murid. b. saling tolong menolong. Sikap di muka kelas. e.2. jangan menggangap. Jangan bersikap putus asa. Jangan memberi hukuman badan. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Berani memandang tiap-tiap murid. Sering guru merasa. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. d. c. mereka harus mengidahkan suruhannya. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Dalam kelas yang suasananya baik. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . Kelas menjadi gaduh. Sikap sabar. matanya. yaitu. berbicaralah dengan tenang dan tegas. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Ciptakan suasana kelas yang baik. Karena itu harap sabar. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. f. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut.

hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. yang tolol. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. 6. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. 4. 7. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. 5. dan kedua-duanya tidak baik. . umpamanya: memukul. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Sikap yang memberi hukuman badan. Janganlah guru lekas marah karena itu. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Sikap yang mengejek murid. mengejek. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. guru boleh memberi hukuman badan. guru dilarang memberi hukuman badan. melempar dsb. mencelanya. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Guru mudah marah menghukum anak. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Menurut peraturan sekolah. Sikap yang banyak memberi larangan. untuk memberi hukuman badan. umpamanya: murid yang tidak sopan . mencela. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. menedang. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. memukulnya dan sebagainya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Menurut hemat penulis. atau ia menjadi takut kepada guru. Memukul murid dengan tongkat kecil. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. yang kotor. dan sebagainya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. yang selalu gaduh. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya.

pilih kasih dan sebagainya. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. montir. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. mereka lekas melihat. 9. ahli hukum. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. jarang melarang. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Bersikap jujur dan adil. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik.Guru yang baik. sosial dan sebagainya. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. 8. Murid-murid akan lekasa mengerti. tidak jujur. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Memang dalam mendidik. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. insinyur. sebab biasanya perintahnya dituruti. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. karena itu jangan banyak melarang. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. ada pula pada syarat intelek. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. serta menjadikan .

Otang Kardi Saputra. Semarang 1995. cv. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. FKIP-UNLA 2000. Simanjuntak M. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. standardisasi. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. satu-ukuran-untuk-semua. fragmentasi. Belajar dan Pembelajaran . Majalah Mahasiswa No. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Bambang Laksono. Didaktik Metodik. Tarsito. cetakan ketiga. Metode-metode belajar konvensional. I. Toha Putra. organis bukan sekedar mekanis.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Bandung 1993. DR.33 Thn.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. nasco. cv. Baru Jakarta 1996. Daftar pustaka Abu Ahmad.. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik .L..) adalah cara belajar yang alamiah. diterjemajkan. (A. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. kontrol luar.J. VI Januari 1993 M.L. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Langevld. Prof. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Accelerated Learning (A. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. C. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. P. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Mashoed. Penutup Daripembahasan diatas ini. Jakarta 1989. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . A. Winarno Surakhmad. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar.

pada prestasi individu. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja.dikenal sebagai teknik membosankan). variasi dan keragaman dalam metode belajar. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. kontrol birokrasi terpusat. statis. kerja sama murni. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. kesalingterkaitan. pada kerja sama dan prestasi kelompok. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. pelatih sebagai pelaksana program. dan dapat diramalkan. dan tidak efektif. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. dan kita lamban menyadarinya. lamban. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar.

Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. 3. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. dan aplikasi A. nonmekanistis. kolaboratif. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi.L. metode. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Ilmu kognitif modern. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Georgi Lozanov.atau “budaya perusahaan”. seluruh tubuh. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. 4. 2. Di setiap tingkatan. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. dan . dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. diantaranya : 1. dan “hidup”. kita semua harus menjadi inovator. linear. semua indra. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. sugesti. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. kreatif.

Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Hal-hal yang dipelari secara . jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. dan sarafnya. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. indra. memakai “otak kiri”. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Bagaimanapun juga. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. 7. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Belajar adalah Berkreasi. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. otak bukanlah prosesor berurutan. jaringan saraf baru. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. rasional. 4. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Bukan Mengonsumsi. Belajar paling baik adalah dalam konteks. melainkan prosesor paralel. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). 2. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. 6. dan verbal). 1. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. 5.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. indra. 3. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear.

Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. . dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. 6. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Perasaan negatif menghalangi belajar. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. dan menerjunkan diri kembali. S. Perasaan positif mempercepatnya. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. 7. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. investasi dalam pendidikan. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. pembiayaan dalam pendidikan. Sudah saatnya. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. menyakitkan. mendapatkan umpan balik. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. merenung. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Belajar yang penuh tekanan. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. santai. cara menual dengan menjual. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana.Pd. dan menarik hati.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Kita belajar berenang dengan berenang. Baik secara langsung maupun tidak langsung. A. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Dengan demikian.

Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Dengan kata lain. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. dan 2. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Namun demikian pada kenyataannya . Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. yaitu 1.

Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. 6. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Secara ringkas tampak berikut ini. telepon. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. diantaranya: 1. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. pemakaian teknologi yang canggih. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. 1. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. . 5. 2. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Pendapatan per-kapita 2. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Negara Industri vs Non-Industri. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Ekonomi di negara sosialis. Di negara maju. Diantara ukuran-ukuran tersebut. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran.

sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Pendapatan Domestik Bruto. Pendapatan per-kapita 3. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Dari uraian di atas. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Berdasarkan hal tersebut di atas. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Pendidikan. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Pendapatan nasional. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. 1. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Di negara non-industri. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. maupun Pendapatan Perkapita . Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. 1. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas.

Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Kenneth J. Perubahan peta ketenagakerjaan. Konsumsi energi A. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Sebagai fungsi investasi. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung.3. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). kualitas manusia dan pendapatan nasional. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). 2. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. sementara bentuk pendidikan formal. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan.

1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. 1991: 14). Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. yaitu: 1. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). B. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Backer. 4. Dalam kaitan ini. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Jones melihat. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. 3. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. yang secara . Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. 2. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang.

atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Argumen ini memiliki dua sepek. distribusi. Oleh karena itu. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. dan konsumsi. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. C. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Di samping tenaga kerja. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. midle. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. yaitu: 1. Menurutnya. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. dan low management. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. dan 2. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern.

Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. Hj. Sebagai ilustrasi. sekolah maupun masyarakat.Pd. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. dari perspektif . Sambas. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. tingkat pendidikan. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. baik di keluarga. Elly Retnaningrum. M.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. tingkat pendalaman agama. Kata Kunci: Konflik sosial. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. yaitu: 1. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. pendidikan dalam keluarga. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. dan 3.

ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. merusak fasilitas umum. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. dan semacamnya. Lebih jauh.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Pertama. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Kelima. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Ketiga. Misalnya. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. menghilangkan nyawa orang lain. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Kedua. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Keempat.

lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. secara langsung maupun tidak langsung. serta masyarakat. Ini bisa diperkuat di sekolah. Selain itu. Berbagai tindak penyimpangan. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. sekolah. Demikianlah. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. . baik di lingkungan keluarga. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. sekolah. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Dan yang lebih mendasar. kekerasan. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Dalam situasi sehari-hari. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran.

life skill. Namun pada kenyataannya. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. Ar. model pembelajaran. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. potensi siswa. dan ras dapat dihindarkan. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. M.Pd. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Kata Kunci: model belajar.Untuk itu. agama. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. suasana belajar A. Dengan belajar aktif. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. kompetensi. afektif. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Drs. H. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Erman Suherman. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. guru masih menjadi pemain dan siswa . Guru masih dominan dan siswa resisten. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran.

fasilitas. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. Padahal. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. materi. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. yang saya hormati dan saya banggakan. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. guru aktif dan siswa pasif. karena ia telah memiliki komptensi. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. B. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. dan memang itu kewajiban utama. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. identifikasi. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. observasi. analisis. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). . pada pihak siswa. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.penonton. Dengan perkataan lain. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. kecakapan hidup. Demikian pula. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. penalaran. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. tuntutan KBK. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dengan paradigma yang berubah. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. aplikasi. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. sehingga misi KBK dapat terwujud. dan guru itu sendiri. Inilah hakikat pembelajaran.

kata kunci). dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. C. komunikasi. presentasi. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. motivasi aktivitas positif. Akuntansi. Dalam bidang studi keahlian anda. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill.investigasi. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. generalisasi. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. membaca. Istilah psikologi kontemporer. pemecahan masalah). Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . dan tidak sebaliknya. Agama. kocak. sederhana. dosen-dosen dan staf administrasi. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. Sebagai contoh. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. yaitu: 1. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. atau yang lainnya. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. seperti gemuk. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. hipotesis. pengendalian impulsi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. pejabatnya. Hindun. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Ema. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. eksplorasi. pengelolaan suasana hati. sosialisasi. . diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. atau ke tokoh lain Oneng. empati). Ucup. supir bajay. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. inkuiri. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. kreativitas. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. konjektur. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. prilaku). tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. koneksi.

atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. misalnya keramahan. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Bagaimana dengan anda?. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. kesadaran diri. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. kelembutan. suasana nyaman dan menyenangkan. intuitif. sekuensial. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. realitas. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. Selanjutnya. emosional. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. spasial. sebagai instrumen kecerdasan. teratur. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. abstrak. dan simbolik. musik. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. linier. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. ide. menonton. verbal. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Yang produknya berupa peta konsep. misalnya berangan-angan. Mengingat hal itu. senyum-tertawa. holistic. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. dan kreativitas. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. 2. rasional. misal kenakalan atau lamunan. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep.

pengetahuan. 3. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. Interpersonalcommunication. dan aplikasi. siswa dengan fasilitas belajar. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. yaitu Spacial-visual . Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. monitoring. dan regulasi. dan strategi berpikir. Holler. pertanyaan. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. natural. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. koneksi. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. Linguistic-verbal. Metakognitif Secara harfiah. bantuan. yaitu: kesadaran. sintesis. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. yaitu: refleksi kognitif. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. pengalaman. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Akibatnya sungguh mengejutkan. kompleksitas. untuk kita simak dan renungkan. Sebagai orang beragama. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. dan ibadah lainnya. prediksi. Body-kinestic. Logic-thinking-reasoning. Intrapersonal-reflective. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. monitoring. strategi. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. dkk. tergantung dari variabel meta kognitif. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. dan regulasi.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. manfaat. yaitu kondisi individu. Musical-rithmic. anak yang pada awalnya secara alami penuh . (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. 4. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas.

Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Agar bermakna. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. pemalu. ada kebebasan memilih. mendengar dan melihat 50%. Sebagai guru. Mencobapek (menyelidiki. menduga. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. 5. membiarkan. dikendalikan keadaan . dan cemas. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. dan mau memperbaiki diri. prasangka. yaitu optimis. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. dari mendengar 20%. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. menjawab. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. dan sosok panutan).presentasi). berkomentar. bersikap mengajak dan bukan memerintah. menemukan). punya alternative. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). dan . m\udah menyerah. dan bukan dengan kegiatan mengajar. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. konstruksivis. menghindar.” bukan katanya. tepai harus dengan hands-on. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. mengembangkan). menyimpulkan. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. mengkomunikasikan. Makin lama ia makin dewasa. tumbuhkan citra positif. Dengan perkataan lain. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). ragu-ragu. nada suara. menggunakan. presentasi. keberanian. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. suka tantangan. bertanya. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. meng-identifikasi. dan sibuk dengan alasan. dari melihat 30%. Selanjutnya.keyakinan. pribadinya berpola negative. partisipatidf. ingin mencoba. gerak tubuh. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). memanfaatkan. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. seperti pesimis. minds-on. diskusi). mengerjakan. menimpakan kesalahan. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. katakana “saya …. pembenaran. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. mengendalikan keadaan. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya.

daily life (kontekstual). Dari indikator belajar aktif. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. seperti kemampuan sosialisasi. . jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. atau mungkin terjadi eksalahan. yaitu: konsistensi internal. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan.diskusi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. menghindar dari kegiatan. tanya-jawab. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. koherensi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. dan sintaks (SOP). Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. empati dan pengendalian diri. menggeneralisasi. mengeksplorasi. mengerjakan). justifikasi. mengabaikan kesempatan. keterpaduan. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). berupaya terlaksana. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. kontinuitas historical. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). simbolisasi. refeleksi-eksplanasi. berkonjektur. tindak lanjut. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. membiarkan segalanya terjadi. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. structuralistic (terstrutur. presentasi. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. 6. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. kekonvergenan. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. 7. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. berhipotesis. sitematik. aksionmatik).

pengalaman. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran.nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. presentasi hasil kelompok. dan suasana menjadi kondusif . Cooperative Learning). motivasi belajar muncul. membentuk kelompok heterogen. terbuka. 1. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. kontekstual-trealistik. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. dan pelaporan. dan rasa senasib. pembegian tugas. Kontekstual (CTL. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. karekter). Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). tugas. siawa heterogen (kemampuan. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. Koperatif (CL. melakukan-mengkomunikasikan. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. dunia pikiran siswa menjadi konkret. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). D. konstruksivis-inkuiri. dan kondisi guru itu sendiri. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. gender. 2. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. ada control dan fasilitasi. Dalam prakteknya. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. atau inkuiri. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. tidak hanya menonton dan . kerja kelompok. dan inklusif life skill. pengarahan-strategi. siswa melakukan dan mengalami. Oleh karena itu. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. fasilitas-media yang tersedia. menyelesaikan persoalan. sifat materi bahan ajar. tanggung jawab. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. belajar berkelompok secara koperatif.

Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. inquiry (identifikasi. sintesis. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. interpretasi. dan evaluasi. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. yaitu modeling (pemusatan perhatian. menuntun. yaitu matematika horizontal (tools. questioning (eksplorasi. membimbing. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. generalisasi. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). terbuka. konjektur. konsep. generalisasi. analisis-sintesis). rangkuman. fakta. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. contoh). induksi. elaborasi (analisis). menemukan). mengarahkan. tindak lanjut). investigasi. prinsip. mengembangkan. identifikasi. latihan mandiri. sharing). investigasi. mengkonstruksi konsep-aturan. hipotesis. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. motivasi. hands-on. 3. inkuiri. 4. negosiasi. konjektur. evaluasi. mencoba. penyampaian kompetensitujuan. algoritma. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. pengarahan-petunjuk. mengerjakan). latihan terbimbing. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. informal ke formal). Pembelajaran Langsung (DL. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. minds-on. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. dan . Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. sajian informasi dan prosedur. generalisasi). Realistik (RME. demokratis. 5. constructivism (membangun pemahaman sendiri. refleksi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. pengemabngan mateastika). interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. penilaian portofolio. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran.mencatat. reflection (reviu. rambu-rambu. eksplorasi.

pengorganisasian pembelajaran. siswa mengidentifkasi. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. diagram. kognitif tinggi. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. fluency). atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. dan akhirnya menemukan solusi. komunikasi-interaksi. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. menimalisasi tulisan-hitungan. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. kreativitas. bimbingan dan pengarahan. 7.atau algoritma). dan ragam berpikir. aturan. menyusun soalpertanyaan. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. kaitakkan dengan materui selanjutnya. jawaban siswa beragam. Problem Terbuka (OE.menginvestigasi. . Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. perhatikan dan catat reson siswa. 9. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. Sintaknya adalah: pemahaman. sharing. mengeksplorasi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. identifikasi kekeliruan. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. kritis. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. jalan keluar. table). dan sosialisasi. cari alternative. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. keterbukaan. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. membuat kesimpulan. cara. 8. belum dikenal cara penyelesaiannya. . keterpasuan. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. keterbukaan. menduga. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker.inkuiri 6. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing.

menyelidiki. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. kemudian eksplanasi (empiric). bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. yaitu: informasi. argumentasi. berpikir. mengkonstruksi. dan mennaggapi. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. membaca. menggunbakan media dan alat peraga. menemukan. yaitu bagaimana siswa belajar. merangkum. SDetelah memperoleh tugas. mengemukakan penndepat. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. bertanya. mendemonstrasikan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). nada lembut. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. menggambar. 11. Untuk mewujudkan belajar efektif. Ada canda. mengingat. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. 13. ia telah berpartisipasi 10. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. memecahkan masalah. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. representasi. membaca-merangkum. dan memotivasi diri. pengarahan. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. namun demikian bisa dibiasakan. hipotesis. Usahakan dinamikia . mencipta. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. senyum. mengidentifikasi. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. sehingga suasana menjadi nyaman. suara menyejukkan. dan ceria. Jangan lupa. presentasi. dan tertawa. menyimak. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. dan menerapkan. berbicara. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. 12. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. Untuk mngurang kondisi tersebut. menyenangkan.

Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. berikan penghargaan kelompok dan individual. Siapkan meja turnamen secukupnya. Intellectualy. medium. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. VAK (Visualization.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. dan ada sajian bodoran. very good. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. good. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. 14. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. AIR (Auditory. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. lembut. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. ramah . missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. e. c. . Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. santun. perluasan. Auditory. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. d. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. Bumping. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. mengembangkannya. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. 15.). setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit).

buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. kembali ke kelompok aasal. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. saling tukar jawaban. 17. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. 18. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. tuiap kelompok bahan belajar sama. umumkan hasil kuis dan beri reward. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. kuis . TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. penyimpulan dan evaluasi. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. 19. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. 20. iformasi bahan ajar. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan.16. Pengarahan. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. buat kelompok heterogen (4-5 orang). presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. presentasi kelompok (share). buat kelompok heterogen. refleksi.

kerja kelompok.individual. 21. Refleting. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. dan menggali. umumkan hasil kuis dan berikan reward. presentasi. misal mengukur tinggi pohon. 26. (E) . Sintaknya adalah kerja kelompok. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. kuis individual. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. melaporkan. mengkritisi. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. 25. (0) organisasi ide untuk memahami materi. presentasi. kembali ke kelompok asal. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. kerja kelompok. buat skor perkem\angan siswa. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. laporan kelompok. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. banyak guru dan staf sekolah). 22. buat skor perkembangan tiap siswa. presentasi dan diskusi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. CORE (Connecting. umumkan hasil kuis dan berikan reward. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. 24. Sinatknya adalah: informasi. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. dan alternative solusi). identifikasi perbedaan. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. (R) memikirkan kembali. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. Organizing. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. rencanakan pelaksanaan investigasi. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. diskusi. diskusi. mendalami. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. pilih strategi solusi 23. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan.

2 untuk not sure. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. analisi pengalaman. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. 29. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. menggunakan. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). memperluas. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. dan menemukan. 32. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. Ajukan pengujian pemahaman. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Kerangka pikir untuk sukses. dan konsep-ide. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Selanutnya menyelesaikan masalah . 31. Question. Recite. SQ4R (Survey. SQ3R (Survey. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. 3 untuk sure. Question. 1 untuk amost guest. 27. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Read. Read. Recite. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya.mengembangkan. dn 5 untuk certain. Reflect. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. 4 untuk almost certain.

pendahuluan. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. presentasi hasil kelompok. mengidentifikasui kausal. deteksi kausal. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. menemukan kata kunci. Integrated. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. mengelompokkan gejala. dan implementasi solusi utama. deteksi kausal lain. CIRC (Cooperative. identifikasi kausal utama. dan penutup. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. sajian . 34. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. penggunaan. 35. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. menemukan pilihan solusi utama. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. siswa bekerja sama (membaca bergantian. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. 37. Sintaksnya adalah: persiapan. Sintaknya adalah: identifkasi. imoplementasi solusi. 33. refleksi. Reading. pengemabangan. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. dan seterusnya 36. dan rencana solusi yang terpilih. solusi tentative. pertimbangan solusi. penerapan. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. dan kembali berbagai informasi. analisis kausal.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. sajian materi. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. 43. sajian materi pokok. 38. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. refleksi dan evaluasi 42. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. presentasi hasil kelompok. . bimbingan penimpoulan dan refleksi. pembentukan kelompok siswa. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. penyampaian kompetensi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. 40. kesimpulan dan evaluasi. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. membentuk kelompok. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. bekerja kelompok. kelompok lain menjawab secara bergantian. penyuimpulan. refleksi. 39. 41. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. tanya jawab untuk pemantapan. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. bentuk kelompok berpasangan sebangku. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. sajian materi. presentasi di depan hasil diskusinya.materi. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok.

penyimpulan dan evaluasi. 48. 49. evaluasi dan refleksi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. kartu dikumpul lagi dan dikocok. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. 45. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. sajian permasalahan terbuka. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. penyimpulan dan evaluasi. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. mengecek pemahaman dan balikan. refleksi. penyimpulan dan evaluasi. sajikan materi.pemberian reward. 50. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. presentasi hasuil diskusi kelompok. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. pengecekan kebenaran jawaban. 46. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. Examples Non Examples . refleksi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. penyimpulan dan evaluasi. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. bertukar peran. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. refleksi. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. dikusi kelas. 44. penyimpulan dan evaluasi. langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. refleksi. sajian gambaran umum materi bahan ajar. refleksi. 47. membimbing pelatihan-penerapan.

tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. 53. penyimpulan. Enrichment. penyimpulan. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. 52. dan refleksi 56. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. Sintaks: pemahaman masalah. siswa latian dan bertanya. Verivication. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. bertukar peran. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. 51. Obtaining mastery. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. rencana. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. sajian materi. aplikasi. evaluasi dan refleksi. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. adakah alternative. evaluasi dan refleksi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. 54. Practicing. presentasi hasil kelompok. valuasi dan refleksi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. apakah solusinya. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. pengungkapan ide-konsep awal. Reviewing and reducing difficulty. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. evaluasi. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. ranguman. dan pengecekan. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. 55.Persiapkan gambar. solusi. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Tanya jawab dan refleksi 57. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. bagikan wacana materi bahan ajar. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Metakognitive questioning. apakah bermanfaat. bimbingan penyimpulan. diagram. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian.

berikan sal tes bentuk super item. . tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. berikan latihan soal bertingkat. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. evaluasi dan refleksi 61. siswa ditugaskan membaca wacana. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. berupa opemecahan masalah. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. sajian materi. integrasi. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. 60. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. kebebasan-terbuka. setelah selesai kupon dikembalikan. reward. 59. virtual workshop menggunakan computer-internet. koperatifinkuiri-solusi-workshop. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. guru membentuk kelompok. 58. Time Token Model ini digunakan (Arebds. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. membentuk kelompok heterogen. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. informasikan kompetensi. presentasi. 63. siswa berkelompok melengkapi.bahan belajar . dan hipotesis. sajian materi. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. sampaikan kompetensi. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap.dan nama yang diberi. 62. presentasi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . kelompok-kerjasama.

Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. lima kali salah guru membimbing. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Semoga. Burton. kohesif. Perth: Edith . interaktif. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. dengan E = energi yang diartikan sukses. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. namai-buat generalisasi sampai konsep. kerja individual. dan model pembelajaran yang inovatif. dan saling menghargai. komunikasi positif yang efektif. tiap usaha siswa diberi reward. dinamis. Jakarta: Arga. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. L (1993). jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). partisipatif. ketrampilan. Emotional Spritual Quotient (ESQ). semua mempunyai tujuan. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. Sintaksnya adalah: sajian konsep. alami-dengan dunia realitas siswa.64. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. 65. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). c = communication. The Constructivist Classroom Education in Profile. konsep harus dialami. menciptakan inovasi. Begitu pulal dalam pembelajaran. latihan. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. E. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi.

New York: Penguin Books. Gardner. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. New York: Bantam Books. (2002). WWI Publishing Texas: Waco. Bobbi (1992). Goleman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Tony (1989). Cord (2001). Emotional Intelligence. What is Contextual Learning. New York: Dell Publishing. De Porter. CTL). 3rd ed. Use Both Sides of Yoru Brain. New York: Basic Bools. Quantum Learning.Cowan University. Bandung: JICA-FPMIPA. Buzan. Jakarta. Howard (1985). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. S.:Depdiknas.. Erman. Ditdik SLTP (2002). Daniel (1995). dkk. .Ar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful