http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Untuk memperjelas hal tersebut. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. Sains. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi).generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. satuan besaran pokok. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. pengetahuan logiko-matematik. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. tanda atom unsur-unsur. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Piaget (dalam Dahar. Penguasaan Pengetahuan Sains. dan pengetahuan sosial. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. menurut Titus (1959:78). dan sebagai metode-metode. untuk melakukan operasi-operasi logis. sebagai sekumpulan pengetahuan. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . atau memahami sesuatu. dapat dipelajari secara langsung. A.

Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Sains dirumuskan secara sistematis. cara memecahkan masalah. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. Sains melandasi perkembangan teknologi. Menurut Poerwadarminta (1983). sedangkan menurut UNESCO (1983). Yager.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. 1994: 29). teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. cara berfikir. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu.. Dengan demikian. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). Teknologi. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. teori dan hukum. Sains. menurut Aikenhead (dalam Mariana. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. dan norma-norma sosial tertentu. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Jadi. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. and systems. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. 1992: 4). masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. Produk sains meliputi fakta. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Dengan demikian sains. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Sedangkan teknologi. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. teknologi adalah sebagai berikut: ……. kebutuhan. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. menurut Fischer (1975). Masyarakat . teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. konsep.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. Menurut Poerwadarminta (1983). to solve problems. resources. dan cara bersikap. 1990 . Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Sedangkan. Sund (1973: 2). prinsip. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses.

teknologi. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. 3. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. . Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. masyarakat). process. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. 1992: 19-20). 1992:87-88) B. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. nutrisi. penyadaran. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 2. 4. 5. Kirham (dalam Wellington. (Varella. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut.

strategi pertama. Strategi kedua. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Pada awal perubahan tiap topik. 1994: 1).dan context. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. dan terminologi. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. National Science Teacher Association atau NSTA. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Content. Untuk kepentingan itu. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. model. prinsip. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. teori. Process. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Context. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. definisi. konsep. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep .

(c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. kreatif membuat produk teknologi sederhana. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. teknologi dan masyarakat. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi.J. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. efesien dan efektif. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. Literasi sains (scientific literasi). dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. Strategi ketiga. tepat. 1994: 34) . mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. dan masyarakat secara terintegrasi. 1993: 428). Adapun individu yang literat teknologi menurut M. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). (e) memilki pengertian hubungan antara sains. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . Literasi teknologi. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. berpengaruh satu sama lain.pembelajaran. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. teknologi. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. teknologi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (b) mampu menggunakan proses sains. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. sadar akan efek hasil teknologi. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan.

A. Dahar. R. & Stone. Carin.J. L. (1985). A. G. C. Jakarta: Erlangga.B. Jakarta: PN. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. P. & Briggs. .’lay Company. Philadelphia: Saunders Co. Gagne. Merrill Publishing.H.e.V. 17-19 Januari. Man and Siciety.L. (1980). & Sund. (1971).S. Austin: Univercity of Texas. R. Columbus: Charles E. Gordner. A. R. Kuslan. Hall. Balai Pustaka. Jakarta. New York: Rinehort and Winston. Disertai Doktor FPS IKIP. et al. 1998: 276). (1968). Principlesof Instructional Desig. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. (Eds).W. (1985). Belmount: Wadsworth Publishing Company. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. R. Science.A. (1971). _______. R. (1974). DAFTAR PUSTAKA Bloom. (1979). (1989).M.. (1990).. Dictionary of Education. 3 Mei. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (1983). Inc.(1995). The Condition of Learning and Theory of Instruction. Teaching Science Through Discovery. Fischer. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. W.masyarakat. (1975). L. Bandung.I. New York: Holt. New York: David Mc. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. New York: Mc Graw Hill Book Company. Good. (1973). Teori-teori Belajar. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Gagne. Poedjiadi.M. et al. Rinehort and Winston. _______. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. The Stucture of Science Education. Poerwadarminta.B. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung.J.

F.(1959). Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. F. Living Issues In Philoshophy. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan . “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. New York: Free Press. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. namun retensinya berbeda signifikan. “Science-Technology-Society as Reform”. New York: American Book Company. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. & Shoemaker.H.M. Varella. ICASE YEARBOOK. A. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. 87-92. 407-431. Rubba. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. E. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. 2-8. Titus.Rogers. Yager. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Science Education. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. (1971). (1992). (1992). H. P.F. R.E. Pendahuluan 1. ICASE YEARBOOK. (1993).A. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. G.

dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. 1985:122). banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Pada kenyataannya. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. mendorong siswa berfikir. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. R. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu.W. 2. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. B. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1996:458). 1991: 97). Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Namun. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1996:117). tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan.. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa.

Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Namun. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Dalam mempelajari sains biologi.1997: 43) 2. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Uzer Usman. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Pertanyaan permintaan (compliance questions).C. 1996: 18). dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. Wrag dan George Brown .1999:4). (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.1987:72). Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Retensi erat hubungannya dengan belajar. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. Namun. dalam Nuryani Rustaman. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . 1991: 97). yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan.C.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. misalnya topik polusi. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak.Wrag dan George Brown 1997: 43). Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh.

al. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. al.dengan retensi. dan perbedaan individual.. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Winkel (1996: 305). 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 1959: 241). maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari.. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. metode pembelajaran. tugas yang harus dipelajari. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). tidak diperlukan individu sehingga tidak . Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Kulik et. Hursh (1976). 1959: 236). (1978 & 1990) (dalam Semb et.

Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. dalam Susan Hanley. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. C. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya.dihiraukan. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan.

93 8.07 11. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 . X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.Retensi % Pre.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50. T2(1)= Postes.4 12.25 Sd 10. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.75 8. Tabel 1. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.58 8. T = nilai tertinggi. Pos-tes. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.03 79 74.6 7. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.25 1. Sd = standar deviasi.9 95.4 78. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.) R 33 52 59 75.Post.58 81.5 9.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.48 1.36 80.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.98 50.Keterangan Konsep Kontrol & kel.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini.16 1. dan R = nilai terendah Tabel 2.7 X = rata-rata nilai.83 116.

1%) 3 (8.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97.Tabel 3. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.3%) - - K= kelompok kontrol.8%) 10 (27. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).3%) (58.6%) 4 (11.3%) 3 (8. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.7%) 16 18 (50%) 3 (44.8%) (33. Peristiwa ini dapat . Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah.3%) (8.4%) 5 (13.2%) 1 (2. dan E = kelompok eksperimen E. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.8%) 4 (11.7%) (91. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.3%) 11 (30. Retensi.9%) 3 (8. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.3%) (41. 1989:159). Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Dalam pada itu perlu ditegaskan. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. mempengaruhi. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan.

Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. . Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. sederhana tetapi terpelihara. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. B. maka pengertian itu relatif adanya. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Sikap berpakaian. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. maka hal ini kita bicarakan. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. 1. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan.hidupnya”. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. A. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu.

Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Jangan mengajak murid-murid. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Jangan bersikap putus asa. b. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. e. Ciptakan suasana kelas yang baik. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. yaitu. Sikap di muka kelas. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh.2. Berani memandang tiap-tiap murid. Sering guru merasa. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. jangan menggangap. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. d. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. mungkin guru. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. matanya. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Jangan memberi hukuman badan. c. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Kelas menjadi gaduh. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. saling tolong menolong. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Sikap sabar. Dalam kelas yang suasananya baik. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . 3. Karena itu harap sabar. mereka harus mengidahkan suruhannya. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. f.

dan tidak diberikan untuk membalas dendam. dan kedua-duanya tidak baik. melempar dsb. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. untuk memberi hukuman badan. Janganlah guru lekas marah karena itu. yang tolol. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. 5. Sikap yang mengejek murid. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. 7. 6. guru boleh memberi hukuman badan. Guru mudah marah menghukum anak. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. yang selalu gaduh. mengejek. dan sebagainya. umpamanya: memukul. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Sikap yang banyak memberi larangan. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. umpamanya: murid yang tidak sopan . Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. mencela. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. atau ia menjadi takut kepada guru. Menurut hemat penulis. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Memukul murid dengan tongkat kecil. .maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Menurut peraturan sekolah. 4. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Sikap yang memberi hukuman badan. guru dilarang memberi hukuman badan. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. menedang. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. yang kotor. memukulnya dan sebagainya. mencelanya. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya.

ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Memang dalam mendidik. pilih kasih dan sebagainya. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid.Guru yang baik. sebab biasanya perintahnya dituruti. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. montir. Murid-murid akan lekasa mengerti. ada pula pada syarat intelek. 8. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. jarang melarang. serta menjadikan . metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Bersikap jujur dan adil. tidak jujur. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. karena itu jangan banyak melarang. insinyur. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. ahli hukum. mereka lekas melihat. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. 9. sosial dan sebagainya.

Accelerated Learning (A. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Belajar dan Pembelajaran . Bambang Laksono.) adalah cara belajar yang alamiah. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. diterjemajkan. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Penutup Daripembahasan diatas ini. Didaktik Metodik.J.L. FKIP-UNLA 2000. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. A. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. satu-ukuran-untuk-semua.33 Thn. I. Daftar pustaka Abu Ahmad. cetakan ketiga. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar.. Otang Kardi Saputra. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Bandung 1993. fragmentasi. Mashoed. Baru Jakarta 1996. Jakarta 1989. standardisasi. (A. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . Majalah Mahasiswa No. Toha Putra. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. cv. Winarno Surakhmad. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Semarang 1995. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . Metode-metode belajar konvensional. Simanjuntak M. nasco. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000.. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. P. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. C.L.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. DR.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Prof. Langevld. Tarsito. kontrol luar. cv. organis bukan sekedar mekanis. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. VI Januari 1993 M. penulis buku The Accelerated Learning Handbook.

kesalingterkaitan. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. dan kita lamban menyadarinya. statis. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. dan tidak efektif. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. pada prestasi individu. kerja sama murni. lamban. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . dan dapat diramalkan. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. variasi dan keragaman dalam metode belajar. pelatih sebagai pelaksana program. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). pada kerja sama dan prestasi kelompok. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi.dikenal sebagai teknik membosankan). Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . kontrol birokrasi terpusat. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin.

seluruh tubuh. diantaranya : 1. 3. 2. Di setiap tingkatan. 4. nonmekanistis. kita semua harus menjadi inovator. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Georgi Lozanov. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. metode. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. semua indra. kolaboratif. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. kreatif. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. sugesti.atau “budaya perusahaan”. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. dan “hidup”. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. dan . linear.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Ilmu kognitif modern. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut.L. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). dan aplikasi A.

Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. 1. indra. rasional. melainkan prosesor paralel. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Hal-hal yang dipelari secara . Bukan Mengonsumsi.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. Bagaimanapun juga. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. dan sarafnya. 5. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. memakai “otak kiri”. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. 3. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. 7. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. indra. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. 6. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Belajar adalah Berkreasi. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. dan verbal). 4. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. otak bukanlah prosesor berurutan. jaringan saraf baru. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. 2. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar.

menyakitkan. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. S. Sudah saatnya. merenung. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. santai.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kita belajar berenang dengan berenang. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. Perasaan positif mempercepatnya. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. A. . cara menual dengan menjual. cara bernyanyi dengan bernyanyi. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. mendapatkan umpan balik. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Perasaan negatif menghalangi belajar. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. dan menerjunkan diri kembali. 7. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Belajar yang penuh tekanan. pembiayaan dalam pendidikan.Pd. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Dengan demikian. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. investasi dalam pendidikan. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. 6. dan menarik hati. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya.

Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Dengan kata lain. Namun demikian pada kenyataannya . pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. yaitu 1. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. dan 2. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat.

memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. 6. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. . Diantara ukuran-ukuran tersebut. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Secara ringkas tampak berikut ini. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. diantaranya: 1. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Di negara maju. Ekonomi di negara sosialis. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. pemakaian teknologi yang canggih. 5. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. 2. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. 1.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Negara Industri vs Non-Industri. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Pendapatan per-kapita 2. telepon. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan.

Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Di negara non-industri. Pendapatan per-kapita 3. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Pendidikan. Dari uraian di atas. Pendapatan Domestik Bruto. 1. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. 1. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Pendapatan nasional. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. maupun Pendapatan Perkapita . sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7.

Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Sebagai fungsi investasi. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Perubahan peta ketenagakerjaan. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). 2.3. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Konsumsi energi A. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Kenneth J. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. kualitas manusia dan pendapatan nasional. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. sementara bentuk pendidikan formal.

1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). 4. yaitu: 1. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. 2. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. B. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Backer. 1991: 14). Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Dalam kaitan ini. Jones melihat. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. yang secara . Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. 3. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja.

Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. dan konsumsi. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. midle. Menurutnya. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Oleh karena itu. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Di samping tenaga kerja. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Argumen ini memiliki dua sepek. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. dan low management. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. dan 2. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. distribusi. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. yaitu: 1. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. C. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi.

Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Hj. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. pendidikan dalam keluarga. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Elly Retnaningrum. Sambas. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. dari perspektif . yaitu: 1. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. tingkat pendalaman agama. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. dan 3. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Sebagai ilustrasi. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Kata Kunci: Konflik sosial. tingkat pendidikan. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. baik di keluarga.Pd.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. sekolah maupun masyarakat. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. M. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketiga. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. menghilangkan nyawa orang lain. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Kelima. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Misalnya. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . dan semacamnya. merusak fasilitas umum. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. Kedua. Lebih jauh. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Pertama. Keempat.

Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. kekerasan. Dan yang lebih mendasar. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Ini bisa diperkuat di sekolah. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. sekolah. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. . Dalam situasi sehari-hari. sekolah. baik di lingkungan keluarga. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. serta masyarakat. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Selain itu. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Berbagai tindak penyimpangan. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Demikianlah. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan.

Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. agama. Drs. kompetensi. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. H. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. potensi siswa. Guru masih dominan dan siswa resisten. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Dengan belajar aktif. Kata Kunci: model belajar. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). model pembelajaran. guru masih menjadi pemain dan siswa .Untuk itu. Namun pada kenyataannya. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah.Pd. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. suasana belajar A. afektif. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. M. dan ras dapat dihindarkan. life skill. Erman Suherman. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Ar.

pada pihak siswa. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. penalaran. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.penonton. kecakapan hidup. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. observasi. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. karena ia telah memiliki komptensi. dan guru itu sendiri. Demikian pula. materi. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. . B. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. aplikasi. Inilah hakikat pembelajaran. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. sehingga misi KBK dapat terwujud. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. yang saya hormati dan saya banggakan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. Dengan perkataan lain. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Dengan paradigma yang berubah. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). dan memang itu kewajiban utama. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. identifikasi. analisis. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. fasilitas. guru aktif dan siswa pasif. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. tuntutan KBK. Padahal.

kata kunci). hipotesis. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. C. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. inkuiri. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. empati). dan pengendalian diri disebut dengan soft skill.investigasi. generalisasi. supir bajay. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. koneksi. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Hindun. sederhana. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. dosen-dosen dan staf administrasi. . diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. motivasi aktivitas positif. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. yaitu: 1. Dengan memahami model-model belajar ini. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Ema. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. Akuntansi. seperti gemuk. pengelolaan suasana hati. membaca. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). komunikasi. sosialisasi. pemecahan masalah). Ucup. Istilah psikologi kontemporer. presentasi. atau ke tokoh lain Oneng. Dalam bidang studi keahlian anda. konjektur. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. eksplorasi. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. pengendalian impulsi. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. Agama. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. dan tidak sebaliknya. pejabatnya. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. kreativitas. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. kocak. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. prilaku). maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. atau yang lainnya. Sebagai contoh.

dan kreativitas. rasional. musik. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. spasial. Mengingat hal itu. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Bagaimana dengan anda?. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. menonton. kelembutan. misalnya keramahan. dan simbolik. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). misalnya berangan-angan. holistic. verbal. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. realitas. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. misal kenakalan atau lamunan. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. emosional. ide. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. abstrak. intuitif. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. teratur. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. sebagai instrumen kecerdasan. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. 2. suasana nyaman dan menyenangkan. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. sekuensial. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. kesadaran diri. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. linier. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. senyum-tertawa. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. Yang produknya berupa peta konsep. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Selanjutnya. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan .

dengan nilai-nilai kehidupan beragama. strategi. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. natural. 3. dan ibadah lainnya. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. tergantung dari variabel meta kognitif. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Intrapersonal-reflective. dan aplikasi. prediksi. siswa dengan fasilitas belajar. pertanyaan. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. yaitu Spacial-visual . Akibatnya sungguh mengejutkan. dan strategi berpikir. dkk. pengetahuan. yaitu kondisi individu. bantuan. sintesis. Musical-rithmic. yaitu: kesadaran. Body-kinestic. manfaat. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. Metakognitif Secara harfiah. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. Interpersonalcommunication. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). 4. untuk kita simak dan renungkan. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. monitoring. Sebagai orang beragama. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Holler. kompleksitas. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. dan regulasi. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. anak yang pada awalnya secara alami penuh . yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Logic-thinking-reasoning. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. monitoring. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. koneksi. ataupun dengan guru. pengalaman. yaitu: refleksi kognitif. Linguistic-verbal. dan regulasi. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.

Dengan perkataan lain. dikendalikan keadaan . dan bukan dengan kegiatan mengajar. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. mengerjakan. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. menjawab. 5.” bukan katanya. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). membiarkan. suka tantangan. pembenaran. pribadinya berpola negative. dan sibuk dengan alasan. menghindar. tepai harus dengan hands-on. mendengar dan melihat 50%. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. ada kebebasan memilih. dari mendengar 20%. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran.keyakinan. memanfaatkan. Selanjutnya. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. nada suara. konstruksivis. keberanian. Sebagai guru. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. m\udah menyerah. menduga. dan sosok panutan). bertanya. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. berkomentar. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. dari melihat 30%. yaitu optimis. diskusi). Makin lama ia makin dewasa. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. katakana “saya …. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. menyimpulkan. dan . presentasi. Mencobapek (menyelidiki. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). menimpakan kesalahan. menggunakan. partisipatidf. tumbuhkan citra positif. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. minds-on. menemukan). Agar bermakna. bersikap mengajak dan bukan memerintah. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. ragu-ragu. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %.presentasi). punya alternative. meng-identifikasi. seperti pesimis. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. prasangka. dan mau memperbaiki diri. mengendalikan keadaan. pemalu. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. dan cemas. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. ingin mencoba. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. mengembangkan). mengkomunikasikan. gerak tubuh. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%.

Mungkin saja kemasannya tidak akurat. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Dari indikator belajar aktif. justifikasi. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. simbolisasi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). atau mungkin terjadi eksalahan.daily life (kontekstual). refeleksi-eksplanasi. menggeneralisasi. membiarkan segalanya terjadi. mengerjakan). presentasi. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. 7. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. empati dan pengendalian diri. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. keterpaduan. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. sitematik. seperti kemampuan sosialisasi. berkonjektur. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. menghindar dari kegiatan. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. koherensi. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. mengabaikan kesempatan. tindak lanjut. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. 6. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. mengeksplorasi. dan sintaks (SOP). .diskusi. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. kekonvergenan. berupaya terlaksana. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. berhipotesis. kontinuitas historical. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. structuralistic (terstrutur. tanya-jawab. yaitu: konsistensi internal. aksionmatik).

dunia pikiran siswa menjadi konkret. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Cooperative Learning). fasilitas-media yang tersedia.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). 2. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. dan pelaporan. dan kondisi guru itu sendiri. motivasi belajar muncul.nyaman dan menyenangkan. karekter). siawa heterogen (kemampuan. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. Oleh karena itu. ada control dan fasilitasi. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). melakukan-mengkomunikasikan. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. Dalam prakteknya. presentasi hasil kelompok. kerja kelompok. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. terbuka. pengalaman. atau inkuiri. siswa melakukan dan mengalami. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. D. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. menyelesaikan persoalan. sifat materi bahan ajar. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. dan suasana menjadi kondusif . dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Kontekstual (CTL. tidak hanya menonton dan . Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. tanggung jawab. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. kontekstual-trealistik. dan inklusif life skill. tugas. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. dan rasa senasib. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). pembegian tugas. belajar berkelompok secara koperatif. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. membentuk kelompok heterogen. pengarahan-strategi. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. gender. Koperatif (CL. 1. konstruksivis-inkuiri.

menuntun. konjektur. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. fakta. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. refleksi. 3. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. mengarahkan. evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). analisis-sintesis). penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). 5. elaborasi (analisis). generalisasi. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. identifikasi. mengerjakan). Pembelajaran Langsung (DL. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. rangkuman. hipotesis. latihan terbimbing. rambu-rambu. generalisasi. konsep. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). demokratis. mengkonstruksi konsep-aturan. informal ke formal). Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. terbuka. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). penilaian portofolio.mencatat. pengarahan-petunjuk. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. induksi. investigasi. sajian informasi dan prosedur. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. tindak lanjut). Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. penyampaian kompetensitujuan. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. menemukan). sintesis. algoritma. mengembangkan. dan evaluasi. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. mencoba. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. sharing). investigasi. constructivism (membangun pemahaman sendiri. Realistik (RME. hands-on. yaitu matematika horizontal (tools. konjektur. yaitu modeling (pemusatan perhatian. contoh). Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. pengemabngan mateastika). 4. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. generalisasi). interpretasi. eksplorasi. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. questioning (eksplorasi. motivasi. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. dan . latihan mandiri. inkuiri. membimbing. negosiasi. inquiry (identifikasi. prinsip. minds-on. reflection (reviu. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya.

keterbukaan. keterpasuan. dan sosialisasi. 8. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan.menginvestigasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. Problem Terbuka (OE. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. jawaban siswa beragam. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. komunikasi-interaksi. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. kritis. menduga. sharing. menyusun soalpertanyaan. cari alternative. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. fluency). Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. jalan keluar. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. belum dikenal cara penyelesaiannya. kognitif tinggi. . menimalisasi tulisan-hitungan. . membuat kesimpulan. identifikasi kekeliruan. kaitakkan dengan materui selanjutnya. 7. diagram. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. siswa mengidentifkasi. aturan.atau algoritma). mengeksplorasi.inkuiri 6. perhatikan dan catat reson siswa. pengorganisasian pembelajaran. keterbukaan. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. kreativitas. dan akhirnya menemukan solusi. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. 9. bimbingan dan pengarahan. table). Sintaknya adalah: pemahaman. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. cara. dan ragam berpikir.

menyelidiki. hipotesis. representasi. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. mengemukakan penndepat. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. menemukan. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. mengingat.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. namun demikian bisa dibiasakan. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. mengkonstruksi. Usahakan dinamikia . 11. dan mennaggapi. memecahkan masalah. membaca. mengidentifikasi. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. Ada canda. dan memotivasi diri. dan menerapkan. menyenangkan. yaitu bagaimana siswa belajar. berbicara. suara menyejukkan. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. pengarahan. Untuk mewujudkan belajar efektif. Untuk mngurang kondisi tersebut. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. mendemonstrasikan. merangkum. sehingga suasana menjadi nyaman. senyum. kemudian eksplanasi (empiric). Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. menggambar. presentasi. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. 13. dan ceria. menggunbakan media dan alat peraga. mulai dari eksplorasi (deskripsi). Jangan lupa. argumentasi. 12. yaitu: informasi. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. dan tertawa. SDetelah memperoleh tugas. mencipta. ia telah berpartisipasi 10. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. nada lembut. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. bertanya. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. membaca-merangkum. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. berpikir. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. menyimak.

Siapkan meja turnamen secukupnya. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Bumping. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. d. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. berikan penghargaan kelompok dan individual. very good. Auditory. mengembangkannya. good. medium. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. 14. AIR (Auditory. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). ramah . VAK (Visualization. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Intellectualy. c. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. 15. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. e. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. . santun. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. perluasan. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi.). Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. lembut. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. dan ada sajian bodoran.

presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. penyimpulan dan evaluasi. iformasi bahan ajar. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). saling berbagi sehingga terjadi diskusi. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. tuiap kelompok bahan belajar sama. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. 20. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. umumkan hasil kuis dan beri reward. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. 17. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. refleksi. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. 18. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. presentasi kelompok (share). berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. kuis . buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. buat kelompok heterogen. 19. saling tukar jawaban. buat kelompok heterogen (4-5 orang). umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. kembali ke kelompok aasal. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru.16. Pengarahan.

buat skor perkembangan tiap siswa. kembali ke kelompok asal. kerja kelompok. 25. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. diskusi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. rencanakan pelaksanaan investigasi. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. Refleting. kuis individual. dan menggali. CORE (Connecting. pilih strategi solusi 23. Sinatknya adalah: informasi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. mendalami. umumkan hasil kuis dan berikan reward. Organizing. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). melaporkan. kerja kelompok. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. umumkan hasil kuis dan berikan reward. presentasi. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi.individual. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. buat skor perkem\angan siswa. 26. (E) . banyak guru dan staf sekolah). 21. (R) memikirkan kembali. misal mengukur tinggi pohon. Sintaknya adalah kerja kelompok. presentasi dan diskusi. diskusi. 24. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. mengkritisi. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. 22. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. dan alternative solusi). presentasi. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. laporan kelompok. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. identifikasi perbedaan. (0) organisasi ide untuk memahami materi. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi.

Kerangka pikir untuk sukses. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. menggunakan. Question. dn 5 untuk certain. memperluas. 3 untuk sure. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. dan menemukan. 27. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Read. Ajukan pengujian pemahaman. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Read. SQ4R (Survey. SQ3R (Survey. analisi pengalaman. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. 32. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. dan konsep-ide. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. Question. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. 4 untuk almost certain. 1 untuk amost guest. 29. Selanutnya menyelesaikan masalah . DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. Reflect. Recite. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. 31. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa.mengembangkan. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). 2 untuk not sure. Recite. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer.

analisis kausal. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. dan kembali berbagai informasi. penerapan. 37. identifikasi kausal utama. pendahuluan. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. Reading. pengemabangan. CIRC (Cooperative. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. 33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. dan implementasi solusi utama. Sintaknya adalah: identifkasi. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. Integrated. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. dan rencana solusi yang terpilih. mengidentifikasui kausal. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. deteksi kausal lain. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. presentasi hasil kelompok. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. dan penutup. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. sajian . 35. menemukan pilihan solusi utama. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. refleksi. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. 34. penggunaan. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. pertimbangan solusi. Sintaksnya adalah: persiapan.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. solusi tentative. mengelompokkan gejala. dan seterusnya 36. siswa bekerja sama (membaca bergantian. deteksi kausal. menemukan kata kunci. imoplementasi solusi.

pembentukan kelompok siswa. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. presentasi di depan hasil diskusinya. penyuimpulan. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. bimbingan penimpoulan dan refleksi. 40. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. penyampaian kompetensi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. sajian materi. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. . salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. kelompok lain menjawab secara bergantian. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. presentasi hasil kelompok. bekerja kelompok. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. refleksi dan evaluasi 42. tanya jawab untuk pemantapan. sajian materi.materi. 43. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. bentuk kelompok berpasangan sebangku. sajian materi pokok. membentuk kelompok. 39. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. kesimpulan dan evaluasi. refleksi. 38. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. 41.

evaluasi dan refleksi. sajian gambaran umum materi bahan ajar. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. Examples Non Examples . 46. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. 47. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. 50. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. refleksi. sajikan materi.pemberian reward. langkah demi langkah bertahap. refleksi. presentasi hasuil diskusi kelompok. sajian permasalahan terbuka. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. 48. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. refleksi. pengecekan kebenaran jawaban. kartu dikumpul lagi dan dikocok. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. penyimpulan dan evaluasi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. 45. penyimpulan dan evaluasi. 49. dikusi kelas. membimbing pelatihan-penerapan. refleksi. 44. bertukar peran. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. penyimpulan dan evaluasi. penyimpulan dan evaluasi. mengecek pemahaman dan balikan. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward.

dan refleksi 56. apakah bermanfaat. Enrichment. penyimpulan. Tanya jawab dan refleksi 57. evaluasi dan refleksi. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. presentasi hasil kelompok. Reviewing and reducing difficulty. pengungkapan ide-konsep awal. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. rencana. ranguman. 51. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. bimbingan penyimpulan. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. valuasi dan refleksi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . 54. Practicing. Verivication. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. penyimpulan. diagram. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. adakah alternative. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. apakah solusinya. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. aplikasi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. dan pengecekan.Persiapkan gambar. sajian materi. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. bertukar peran. siswa latian dan bertanya. evaluasi. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. 52. evaluasi dan refleksi. 55. solusi. Sintaks: pemahaman masalah. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. bagikan wacana materi bahan ajar. 53. Metakognitive questioning. Obtaining mastery.

Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. integrasi. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. berikan latihan soal bertingkat. membentuk kelompok heterogen. dan hipotesis. berupa opemecahan masalah. Time Token Model ini digunakan (Arebds. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. siswa ditugaskan membaca wacana. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. kelompok-kerjasama. koperatifinkuiri-solusi-workshop. sampaikan kompetensi. informasikan kompetensi. 63. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. reward. virtual workshop menggunakan computer-internet. kebebasan-terbuka. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. 59.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . . guru membentuk kelompok. 60. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. siswa berkelompok melengkapi. evaluasi dan refleksi 61. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi.dan nama yang diberi.bahan belajar . tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. presentasi. 58. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. sajian materi. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. 62. setelah selesai kupon dikembalikan. sajian materi. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. presentasi. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. berikan sal tes bentuk super item.

komunikasi positif yang efektif. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. L (1993). sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. semua mempunyai tujuan. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. Perth: Edith .64. E. interaktif. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. menciptakan inovasi. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. Semoga. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. dan saling menghargai. namai-buat generalisasi sampai konsep. partisipatif. kohesif. konsep harus dialami. dengan E = energi yang diartikan sukses. dan model pembelajaran yang inovatif. lima kali salah guru membimbing. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Sintaksnya adalah: sajian konsep. 65. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Emotional Spritual Quotient (ESQ). Guru harus menciptakan suasana kondusif. Jakarta: Arga. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. Begitu pulal dalam pembelajaran. c = communication. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. dinamis. The Constructivist Classroom Education in Profile. Burton. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. kerja individual. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. tiap usaha siswa diberi reward. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. latihan. ketrampilan. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). alami-dengan dunia realitas siswa. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi).

Buzan. De Porter. New York: Bantam Books. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. dkk. Erman. WWI Publishing Texas: Waco. Emotional Intelligence. Jakarta. (2002). New York: Basic Bools. New York: Dell Publishing. Use Both Sides of Yoru Brain. Cord (2001). Ditdik SLTP (2002). Goleman. CTL). What is Contextual Learning. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. Tony (1989). 3rd ed. S. Daniel (1995). Gardner.Cowan University. Bandung: JICA-FPMIPA. Bobbi (1992). Quantum Learning.Ar. New York: Penguin Books.:Depdiknas.. . Howard (1985).