P. 1
jurnal

jurnal

|Views: 1,819|Likes:
Published by Nur Khasanah

More info:

Published by: Nur Khasanah on Jan 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains
  • 2. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains
  • 3. Sikap sabar
  • 4. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi
  • 5. Kebermaknaan Belajar
  • 6. Konstruksivisme
  • 7. Prinsip Belajar Aktif
  • 8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
  • 9. Probing-prompting
  • 10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
  • 11. Reciprocal Learning
  • 12. SAVI
  • 13. TGT (Teams Games Tournament)
  • 14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
  • 15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
  • 16. TAI (Team Assisted Individualy)
  • 17. STAD (Student Teams Achievement Division)
  • 18. NHT (Numbered Head Together)
  • 19. Jigsaw
  • 20. TPS (Think Pairs Share)
  • 21. GI (Group Investigation)
  • 22. MEA (Means-Ends Analysis)
  • 23. CPS (Creative Problem Solving)
  • 24. TTW (Think Talk Write)
  • 25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
  • 26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
  • 29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
  • 30. KUASAI
  • 31. CRI (Certainly of Response Index)
  • 32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
  • 33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
  • 34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
  • 35. IOC (Inside Outside Circle)
  • 36. Tari Bambu
  • 37. Artikulasi
  • 38. Debate
  • 39. Role Playing
  • 40. Talking Stick
  • 41. Snowball Throwing
  • 42. Student Facilitator and Explaining
  • 43. Course Review Horay
  • 44. Demostration
  • 45. Explicit Instruction
  • 46. Scramble
  • 47. Pair Checks
  • 48. Make-A Match
  • 49. Mind Mapping
  • 50. Examples Non Examples
  • 51. Picture and Picture
  • 52. Cooperative Script
  • 53. LAPS-Heuristik
  • 54. Improve
  • 55. Generatif
  • 56. Circuit Learning
  • 57. Complette Sentence
  • 58. Concept Sentence
  • 59. Time Token
  • 60. Take and Give
  • 61. Superitem
  • 62. Hibrid
  • 63. Treffinger
  • 64. Kumon
  • 65. Quantum

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Untuk memperjelas hal tersebut. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. tanda atom unsur-unsur. satuan besaran pokok. dapat dipelajari secara langsung.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. dan sebagai metode-metode. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. A. pengetahuan logiko-matematik. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. sebagai sekumpulan pengetahuan. Menurut Piaget (dalam Dahar. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . Sains. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. Piaget (dalam Dahar. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. untuk melakukan operasi-operasi logis. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. dan pengetahuan sosial. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. menurut Titus (1959:78). yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Penguasaan Pengetahuan Sains. atau memahami sesuatu. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya.

teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. Sains. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. to solve problems. menurut Aikenhead (dalam Mariana. Sedangkan teknologi. Yager. Jadi. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition.. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. Masyarakat . cara memecahkan masalah. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. Dengan demikian sains. dan cara bersikap. Sedangkan. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. 1994: 29). Sains dirumuskan secara sistematis. konsep. Sains melandasi perkembangan teknologi. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. prinsip. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. kebutuhan. and systems. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Produk sains meliputi fakta. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). teori dan hukum. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. 1990 . resources. menurut Fischer (1975). sedangkan menurut UNESCO (1983). cara berfikir. Sund (1973: 2). masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. 1992: 4). Menurut Poerwadarminta (1983). berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Teknologi. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. teknologi adalah sebagai berikut: ……. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . dan norma-norma sosial tertentu. Menurut Robert B. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Dengan demikian. Menurut Poerwadarminta (1983).

Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. (Varella. 2. penyadaran. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. . Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 3. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. 1992: 19-20). process. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 1992:87-88) B. masyarakat). 5. Untuk penyusunan materi pendidikan sains.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. Kirham (dalam Wellington. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. 4. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. teknologi. nutrisi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan.

dan terminologi. National Science Teacher Association atau NSTA. Context. Strategi kedua. 1994: 1). dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka.dan context. teori. prinsip. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. konsep. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. Pada awal perubahan tiap topik. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. model. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Content. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. definisi. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Untuk kepentingan itu. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Process. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. strategi pertama. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu.

isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. efesien dan efektif. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Literasi sains (scientific literasi). memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. berpengaruh satu sama lain. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (b) mampu menggunakan proses sains. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. tepat. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. 1994: 34) . Adapun individu yang literat teknologi menurut M. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. kreatif membuat produk teknologi sederhana.pembelajaran. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. Strategi ketiga. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. Literasi teknologi. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. 1993: 428). teknologi dan masyarakat. teknologi. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu.J. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. dan masyarakat secara terintegrasi. sadar akan efek hasil teknologi. teknologi. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia).

The Stucture of Science Education.’lay Company. Fischer. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. Principlesof Instructional Desig.M. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “.J. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. et al. R. _______.M. Austin: Univercity of Texas. L. A. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. A. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited.A.e. (Eds). Belmount: Wadsworth Publishing Company. Inc. Good. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (1975). Gordner. Hall. (1985). Science. C. Kuslan.V. Jakarta. Poedjiadi. (1974). (1971). Philadelphia: Saunders Co.B. R. & Sund. (1985). Columbus: Charles E.S. Rinehort and Winston. (1983). R. Teaching Science Through Discovery. (1980). (1973).J. DAFTAR PUSTAKA Bloom. W. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Carin. Gagne. The Condition of Learning and Theory of Instruction.L. Jakarta: Erlangga. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. & Stone. . Teori-teori Belajar.B. (1968). Merrill Publishing. New York: Mc Graw Hill Book Company. Man and Siciety. Gagne. R. Disertai Doktor FPS IKIP. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains.I..(1995).W. A. New York: David Mc. Poerwadarminta. _______. New York: Rinehort and Winston. Jakarta: PN. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. R.masyarakat. Bandung. (1990). Dictionary of Education.H. G. (1971). (1979). Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. (1989). et al. New York: Holt. Dahar. 3 Mei. 17-19 Januari. Balai Pustaka. L. & Briggs. 1998: 276). P..

87-92. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. ICASE YEARBOOK. Living Issues In Philoshophy.H. 407-431. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. H. (1971). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa.E. A. R. P. (1992). Titus. namun retensinya berbeda signifikan. New York: Free Press. Yager. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Varella.Rogers. & Shoemaker. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Science Education. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan .F. Rubba. Pendahuluan 1. ICASE YEARBOOK. New York: American Book Company. (1992). “Science-Technology-Society as Reform”. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda.F. E. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. 2-8.M. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. G.A. F.(1959). (1993). Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran.

Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. 1996:458). karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Namun. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan.. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. 1991: 97). 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Pada kenyataannya. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat .W. B. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. 2. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1985:122). Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. R. mendorong siswa berfikir. 1996:117). Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1.

1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan permintaan (compliance questions). 1991: 97).C. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. misalnya topik polusi.Wrag dan George Brown 1997: 43). Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Namun. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E.1997: 43) 2. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.1987:72). 1996: 18). Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi.1999:4). dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. dalam Nuryani Rustaman. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Namun. Uzer Usman. Wrag dan George Brown . mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Dalam mempelajari sains biologi. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep.C. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan . Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen.

metode pembelajaran.. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Kulik et. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. 1959: 236). Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. 1959: 241). (1978 & 1990) (dalam Semb et. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Winkel (1996: 305). Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese.dengan retensi. Hursh (1976). dan perbedaan individual. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. al.. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. tugas yang harus dipelajari. al. tidak diperlukan individu sehingga tidak .

1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.dihiraukan. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. dalam Susan Hanley. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. C. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen.

T = nilai tertinggi. Sd = standar deviasi.7 X = rata-rata nilai.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.Post.93 8.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50.) R 33 52 59 75.6 7.25 Sd 10.07 11. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 . T2(1)= Postes. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.83 116.4 12.16 1. dan R = nilai terendah Tabel 2.Retensi % Pre. Pos-tes.58 81.9 95. Tabel 1.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.4 78.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.75 8. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.58 8.25 1.03 79 74. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D.5 9.98 50.36 80. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.48 1. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.Keterangan Konsep Kontrol & kel.

Retensi. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2).3%) - - K= kelompok kontrol.9%) 3 (8.2%) 1 (2. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).8%) (33. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes.7%) (91.3%) 3 (8.3%) (58. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Peristiwa ini dapat . Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.3%) (41.6%) 4 (11.7%) 16 18 (50%) 3 (44. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . dan E = kelompok eksperimen E. 1989:159). Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.3%) 11 (30.1%) 3 (8.3%) (8.4%) 5 (13. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah.8%) 10 (27.Tabel 3.8%) 4 (11.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Dalam pada itu perlu ditegaskan. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . bahwa di dalam peristiwa pendidikan. mempengaruhi. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat.

Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat.hidupnya”. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. 1. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. . maka pengertian itu relatif adanya. B. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Sikap berpakaian. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. maka hal ini kita bicarakan. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. A. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. sederhana tetapi terpelihara. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia.

3. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Sering guru merasa. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. saling tolong menolong. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . c. Sikap sabar. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Dalam kelas yang suasananya baik. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. e. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Sikap di muka kelas. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. Kelas menjadi gaduh. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Karena itu harap sabar. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras.2. mungkin guru. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. f. mereka harus mengidahkan suruhannya. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Ciptakan suasana kelas yang baik. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Berani memandang tiap-tiap murid. Jangan bersikap putus asa. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. yaitu. jangan menggangap. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Bagi seorang guru kita haris berani: a. b. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Jangan mengajak murid-murid. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. matanya. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Jangan memberi hukuman badan. d.

menedang. 7. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. untuk memberi hukuman badan. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. umpamanya: memukul. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Sikap yang banyak memberi larangan. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Guru mudah marah menghukum anak. mencelanya. Sikap yang mengejek murid. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Memukul murid dengan tongkat kecil. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. dan sebagainya. umpamanya: murid yang tidak sopan . atau ia menjadi takut kepada guru. yang tolol. Janganlah guru lekas marah karena itu. melempar dsb. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. mengejek. yang selalu gaduh. 4. memukulnya dan sebagainya. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Menurut hemat penulis. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. mencela. guru dilarang memberi hukuman badan. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Menurut peraturan sekolah. Sikap yang memberi hukuman badan. guru boleh memberi hukuman badan. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. 6. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. . Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. yang kotor. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. dan kedua-duanya tidak baik. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. 5. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru.

insinyur. Memang dalam mendidik. sebab biasanya perintahnya dituruti. 8. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Bersikap jujur dan adil. sosial dan sebagainya. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. 9. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. mereka lekas melihat. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. ahli hukum. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. jarang melarang. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. serta menjadikan . Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. montir.Guru yang baik. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. karena itu jangan banyak melarang. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. ada pula pada syarat intelek. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. pilih kasih dan sebagainya. tidak jujur. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Murid-murid akan lekasa mengerti. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan.

cetakan ketiga. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman).) adalah cara belajar yang alamiah.33 Thn. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Metode-metode belajar konvensional.. Otang Kardi Saputra. Accelerated Learning (A. DR. A. Semarang 1995. cv.L. Baru Jakarta 1996.L.. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . Didaktik Metodik. nasco. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. I.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. cv. FKIP-UNLA 2000. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. satu-ukuran-untuk-semua. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Bandung 1993. Tarsito. Langevld. Beknopte Theoretische Paedagogiek. C. organis bukan sekedar mekanis. P.J. fragmentasi. Belajar dan Pembelajaran . standardisasi. diterjemajkan. Mashoed. kontrol luar. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Bambang Laksono. Toha Putra. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Jakarta 1989. Daftar pustaka Abu Ahmad. Majalah Mahasiswa No. Winarno Surakhmad. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Penutup Daripembahasan diatas ini. Prof. (A. Simanjuntak M. VI Januari 1993 M. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik .

Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. dan tidak efektif. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. dan kita lamban menyadarinya. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. lamban. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. kontrol birokrasi terpusat. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. variasi dan keragaman dalam metode belajar. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. pada prestasi individu. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. pelatih sebagai pelaksana program. statis. kesalingterkaitan. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. pada kerja sama dan prestasi kelompok. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . kerja sama murni. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. dan dapat diramalkan.dikenal sebagai teknik membosankan).

Georgi Lozanov. diantaranya : 1. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar.L. Ilmu kognitif modern. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. semua indra. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. dan aplikasi A. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. kreatif. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. dan “hidup”. metode. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Di setiap tingkatan. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. seluruh tubuh. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. kolaboratif. sugesti. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. kita semua harus menjadi inovator. 4. linear.atau “budaya perusahaan”. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. nonmekanistis. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. 3. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. 2. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. dan . dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Dengan disponsori pemerintah Bulgaria.

Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. dan verbal). Belajar adalah Berkreasi. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). indra. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. 5. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. indra. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. rasional. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. dan sarafnya. 7. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Bagaimanapun juga. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. 3. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. 6. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Hal-hal yang dipelari secara . Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. 4. 1. Belajar paling baik adalah dalam konteks.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. melainkan prosesor paralel. 2. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. jaringan saraf baru. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. otak bukanlah prosesor berurutan. Bukan Mengonsumsi. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. memakai “otak kiri”. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an.

Sudah saatnya. Kita belajar berenang dengan berenang. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Dengan demikian. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. menyakitkan. dan menarik hati. investasi dalam pendidikan. merenung. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. . Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Baik secara langsung maupun tidak langsung. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Perasaan negatif menghalangi belajar. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. cara menual dengan menjual. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan positif mempercepatnya. 6. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. pembiayaan dalam pendidikan. A. santai. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Belajar yang penuh tekanan. dan menerjunkan diri kembali. 7. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. pendidikan harus dipandang sebagai investasi.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. S. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. mendapatkan umpan balik.Pd.

kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. yaitu 1. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Dengan kata lain. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Namun demikian pada kenyataannya . Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien.Untuk menjawab hal tersebut di atas. dan 2. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital.

Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. 5. 6. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. diantaranya: 1. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. 1. Secara ringkas tampak berikut ini. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Negara Industri vs Non-Industri. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Di negara maju. . persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Pendapatan per-kapita 2. 2. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Di Amerika Serikat yang sudah maju. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Ekonomi di negara sosialis. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. pemakaian teknologi yang canggih. telepon. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran.

baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Pendapatan per-kapita 3. Pendapatan nasional. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Berdasarkan hal tersebut di atas. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. 1. Di negara non-industri. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. maupun Pendapatan Perkapita . 1.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pendapatan Domestik Bruto. Dari uraian di atas. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Pendidikan. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan.

Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). 2. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Konsumsi energi A. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. sementara bentuk pendidikan formal. Kenneth J. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara.3. Perubahan peta ketenagakerjaan. Sebagai fungsi investasi. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya).

yang secara . Jones melihat. 2. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Backer. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. 4. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). 3. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. 1991: 14). maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. B. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Dalam kaitan ini. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. yaitu: 1. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak.

Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. yaitu: 1. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Di samping tenaga kerja. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. C. Argumen ini memiliki dua sepek. distribusi. Oleh karena itu. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. midle. Menurutnya. dan 2. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. dan konsumsi. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. dan low management.

Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. Elly Retnaningrum. tingkat pendidikan. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. sekolah maupun masyarakat. tingkat pendalaman agama. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. yaitu: 1. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Hj. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. dan 3. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. pendidikan dalam keluarga. baik di keluarga.Pd. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. dari perspektif . Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. M. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Kata Kunci: Konflik sosial. Sebagai ilustrasi. Sambas.

Ketiga. merusak fasilitas umum. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. dan semacamnya. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Kelima. menghilangkan nyawa orang lain. Kedua. Keempat. Lebih jauh. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Misalnya.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Pertama.

kekerasan. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Untuk mengantisipasi kondisi itu. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. sekolah. Demikianlah. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Selain itu. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Dan yang lebih mendasar. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Berbagai tindak penyimpangan. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Dalam situasi sehari-hari. baik di lingkungan keluarga. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Ini bisa diperkuat di sekolah. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. . serta masyarakat. secara langsung maupun tidak langsung. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. sekolah.

pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Erman Suherman. suasana belajar A.Untuk itu. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Drs. Dengan belajar aktif. guru masih menjadi pemain dan siswa . H. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Namun pada kenyataannya. potensi siswa. agama. life skill. Kata Kunci: model belajar. Guru masih dominan dan siswa resisten. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. kompetensi. M. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. dan ras dapat dihindarkan. model pembelajaran. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Ar. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. afektif.Pd.

memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. karena ia telah memiliki komptensi. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. materi. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. dan guru itu sendiri. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). . pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. tuntutan KBK. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. identifikasi. analisis. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. guru aktif dan siswa pasif. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Dengan paradigma yang berubah. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah.penonton. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. aplikasi. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. kecakapan hidup. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Inilah hakikat pembelajaran. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. fasilitas. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. observasi. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. pada pihak siswa. penalaran. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. sehingga misi KBK dapat terwujud. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. yang saya hormati dan saya banggakan. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. Padahal. B. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Dengan perkataan lain. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. dan memang itu kewajiban utama.

Ucup. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. supir bajay. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Dalam bidang studi keahlian anda. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. seperti gemuk. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Agama. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. pejabatnya. kreativitas. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). hipotesis. Sebagai contoh. pengendalian impulsi. prilaku). Akuntansi. generalisasi. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. koneksi. dosen-dosen dan staf administrasi. Istilah psikologi kontemporer. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. yaitu: 1. C. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. kata kunci).investigasi. sederhana. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. pengelolaan suasana hati. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. . inkuiri. sosialisasi. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. motivasi aktivitas positif. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. dan tidak sebaliknya. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Hindun. Ema. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. empati). komunikasi. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. konjektur. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . atau ke tokoh lain Oneng. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. pemecahan masalah). membaca. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. eksplorasi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. atau yang lainnya. kocak. presentasi. Dengan memahami model-model belajar ini.

mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. teratur. suasana nyaman dan menyenangkan. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. intuitif. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. rasional. linier. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . emosional. Yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. ide. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Mengingat hal itu. musik. kelembutan. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. dan kreativitas. sebagai instrumen kecerdasan. dan simbolik. realitas. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. misalnya berangan-angan. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). senyum-tertawa. holistic. verbal. spasial. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. 2. Bagaimana dengan anda?. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. Selanjutnya. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. kesadaran diri. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. mengobrol atau bercanda tanpa makna. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. abstrak. sekuensial. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. menonton. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. misal kenakalan atau lamunan. misalnya keramahan. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran.

strategi. yaitu Spacial-visual . Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. kompleksitas. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. dan regulasi. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. ataupun dengan guru. Musical-rithmic. pengetahuan. bantuan. Akibatnya sungguh mengejutkan. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. monitoring. pengalaman. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. dan ibadah lainnya. 4. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. dan regulasi. Holler. Linguistic-verbal. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. Interpersonalcommunication. yaitu: refleksi kognitif. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. dkk. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). dan aplikasi. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. natural. monitoring. dan strategi berpikir. siswa dengan fasilitas belajar. 3. prediksi. yaitu: kesadaran. untuk kita simak dan renungkan. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Intrapersonal-reflective. sintesis. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. yaitu kondisi individu. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. tergantung dari variabel meta kognitif. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. manfaat. anak yang pada awalnya secara alami penuh . Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. Body-kinestic. koneksi. Logic-thinking-reasoning. Metakognitif Secara harfiah. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. pertanyaan. Sebagai orang beragama.

ada kebebasan memilih. memanfaatkan. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. mengendalikan keadaan. minds-on. Selanjutnya. dan . dan sosok panutan). yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. mengkomunikasikan. menggunakan. diskusi). pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. pembenaran. dan mau memperbaiki diri. membiarkan. Agar bermakna. menemukan). dari melihat 30%. Mencobapek (menyelidiki. prasangka. mengerjakan.” bukan katanya. nada suara. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. yaitu optimis. Sebagai guru. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. menduga. meng-identifikasi. pemalu. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. mendengar dan melihat 50%. Makin lama ia makin dewasa. Dengan perkataan lain. dari mendengar 20%. berkomentar. tumbuhkan citra positif. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. bersikap mengajak dan bukan memerintah. dan sibuk dengan alasan. tepai harus dengan hands-on. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). ingin mencoba.keyakinan. menimpakan kesalahan. mengembangkan). Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. gerak tubuh. pribadinya berpola negative. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. m\udah menyerah. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. menghindar. dan bukan dengan kegiatan mengajar. bertanya. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya).presentasi). seperti pesimis. menjawab. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. dikendalikan keadaan . presentasi. menyimpulkan. punya alternative. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. 5. konstruksivis. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. suka tantangan. partisipatidf. katakana “saya …. dan cemas. keberanian. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. ragu-ragu. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).

melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.diskusi. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. presentasi. tanya-jawab. structuralistic (terstrutur. 6. koherensi. berhipotesis. refeleksi-eksplanasi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. membiarkan segalanya terjadi. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. menggeneralisasi. yaitu: konsistensi internal. mengeksplorasi. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. kekonvergenan. dan sintaks (SOP). mengerjakan).daily life (kontekstual). tindak lanjut. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. justifikasi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Dari indikator belajar aktif. berkonjektur. atau mungkin terjadi eksalahan. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. sitematik. menghindar dari kegiatan. aksionmatik). tidak melalui pemberitahuan oleh guru. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). simbolisasi. kontinuitas historical. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. keterpaduan. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. mengabaikan kesempatan. 7. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. empati dan pengendalian diri. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. berupaya terlaksana. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. . Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). seperti kemampuan sosialisasi. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart.

motivasi belajar muncul. tanggung jawab. dan kondisi guru itu sendiri. dan inklusif life skill. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. fasilitas-media yang tersedia. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. tidak hanya menonton dan . belajar berkelompok secara koperatif. ada control dan fasilitasi. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. presentasi hasil kelompok. Kontekstual (CTL. melakukan-mengkomunikasikan. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Cooperative Learning). menyelesaikan persoalan. siawa heterogen (kemampuan. Koperatif (CL. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. 1. D.nyaman dan menyenangkan. 2. gender. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. dan rasa senasib. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). kerja kelompok. atau inkuiri. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. dan suasana menjadi kondusif . siswa melakukan dan mengalami. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. konstruksivis-inkuiri. pembegian tugas. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. karekter). kontekstual-trealistik. membentuk kelompok heterogen. sifat materi bahan ajar. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). tugas. pengalaman. dunia pikiran siswa menjadi konkret. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. Oleh karena itu. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. dan pelaporan. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). terbuka. pengarahan-strategi.

hipotesis. dan evaluasi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. rambu-rambu. mengkonstruksi konsep-aturan. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). yaitu modeling (pemusatan perhatian. sajian informasi dan prosedur. membimbing. prinsip. analisis-sintesis). penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). penilaian portofolio. terbuka. minds-on. demokratis. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. konjektur. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. investigasi. rangkuman. konsep. konjektur. latihan mandiri. algoritma. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. induksi. sintesis. fakta. generalisasi. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). 5. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. menemukan). constructivism (membangun pemahaman sendiri. evaluasi. pengemabngan mateastika). pengarahan-petunjuk. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. contoh). generalisasi). Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. negosiasi. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. generalisasi. 3. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. investigasi. inkuiri. hands-on. elaborasi (analisis). identifikasi. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). menuntun. motivasi. mengembangkan. sharing). Pembelajaran Langsung (DL. refleksi. mengarahkan. eksplorasi. mengerjakan). Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung.mencatat. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. 4. latihan terbimbing. inquiry (identifikasi. mencoba. reflection (reviu. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. informal ke formal). inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). yaitu matematika horizontal (tools. penyampaian kompetensitujuan. questioning (eksplorasi. tindak lanjut). Realistik (RME. dan . interpretasi.

jawaban siswa beragam. kognitif tinggi. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. keterpasuan. 7. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. kreativitas. kaitakkan dengan materui selanjutnya. sharing.menginvestigasi. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. . dan ragam berpikir. identifikasi kekeliruan.inkuiri 6. fluency). Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar.atau algoritma). Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). menyusun soalpertanyaan. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. aturan. perhatikan dan catat reson siswa. table). siswa mengidentifkasi. Sintaknya adalah: pemahaman. menimalisasi tulisan-hitungan. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. 8. diagram. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Problem Terbuka (OE. cara. kritis. . menduga. bimbingan dan pengarahan. dan sosialisasi. cari alternative. belum dikenal cara penyelesaiannya. keterbukaan. membuat kesimpulan. mengeksplorasi. dan akhirnya menemukan solusi. 9. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. komunikasi-interaksi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. pengorganisasian pembelajaran. keterbukaan. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. jalan keluar.

Ada canda. hipotesis. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. 11. presentasi. menyelidiki. membaca. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. yaitu bagaimana siswa belajar. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. menemukan. membaca-merangkum. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. berbicara. Untuk mngurang kondisi tersebut. 13. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. menyenangkan. dan memotivasi diri. kemudian eksplanasi (empiric). representasi. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). berkelompok mengerjakan LKSD-modul. suara menyejukkan. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. mengingat. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. mendemonstrasikan. namun demikian bisa dibiasakan. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. sehingga suasana menjadi nyaman. mulai dari eksplorasi (deskripsi). ia telah berpartisipasi 10. menggambar. dan menerapkan. bertanya. merangkum. berpikir. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. 12. Untuk mewujudkan belajar efektif. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. senyum. menyimak. SDetelah memperoleh tugas. mengemukakan penndepat. Jangan lupa. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. dan tertawa. dan ceria. mencipta. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. yaitu: informasi. Usahakan dinamikia . setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. mengkonstruksi. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. memecahkan masalah. mengidentifikasi. dan mennaggapi. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. pengarahan. argumentasi. nada lembut. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. menggunbakan media dan alat peraga.

e. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Intellectualy. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. 14. c. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. lembut. berikan penghargaan kelompok dan individual. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. dan ada sajian bodoran. Siapkan meja turnamen secukupnya. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. mengembangkannya.). Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. VAK (Visualization.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. very good. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. ramah . Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Bumping. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. perluasan. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. medium. d. good. Auditory. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. AIR (Auditory. santun. 15. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. .

18. saling tukar jawaban. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. kuis .16. Pengarahan. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. penyimpulan dan evaluasi. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. umumkan hasil kuis dan beri reward. presentasi kelompok (share). buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. 17. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. refleksi. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. 19. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. kembali ke kelompok aasal. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. buat kelompok heterogen. tuiap kelompok bahan belajar sama. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. 20. iformasi bahan ajar. buat kelompok heterogen (4-5 orang). NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok.

25. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. 21. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. buat skor perkembangan tiap siswa. Sintaknya adalah kerja kelompok. diskusi. Organizing. (0) organisasi ide untuk memahami materi. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. (R) memikirkan kembali. melaporkan. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. rencanakan pelaksanaan investigasi. Refleting. presentasi. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. mengkritisi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. kuis individual. misal mengukur tinggi pohon. kerja kelompok. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. presentasi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. kembali ke kelompok asal. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. dan menggali. (E) . buat skor perkem\angan siswa. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. presentasi dan diskusi. 26. Sinatknya adalah: informasi. kerja kelompok. CORE (Connecting.individual. 22. diskusi. umumkan hasil kuis dan berikan reward. pilih strategi solusi 23. dan alternative solusi). mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. banyak guru dan staf sekolah). mendalami. laporan kelompok. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. identifikasi perbedaan. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. umumkan hasil kuis dan berikan reward. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. 24.

Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. SQ4R (Survey. 27. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. analisi pengalaman. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Reflect. 32. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Kerangka pikir untuk sukses. 3 untuk sure. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. SQ3R (Survey. Question. Recite. Read.mengembangkan. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). Recite. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). 2 untuk not sure. menggunakan. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. 31. Selanutnya menyelesaikan masalah . dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. dan menemukan. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. Ajukan pengujian pemahaman. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Read. Question. 4 untuk almost certain. 29. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dan konsep-ide. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. dn 5 untuk certain. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. 1 untuk amost guest. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. memperluas.

37. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. deteksi kausal. Sintaksnya adalah: persiapan. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. dan rencana solusi yang terpilih. refleksi. mengidentifikasui kausal. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. CIRC (Cooperative. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. pengemabangan. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. dan seterusnya 36. 35. deteksi kausal lain. presentasi hasil kelompok. pertimbangan solusi. identifikasi kausal utama. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. penggunaan. 34. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. dan implementasi solusi utama. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Sintaknya adalah: identifkasi. menemukan pilihan solusi utama. mengelompokkan gejala. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. imoplementasi solusi. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. dan penutup. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. menemukan kata kunci. sajian . siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. dan kembali berbagai informasi. analisis kausal. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. Reading. pendahuluan. Integrated. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. 33. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. penerapan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. solusi tentative.

Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. bentuk kelompok berpasangan sebangku. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. . 38. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. sajian materi pokok. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. presentasi hasil kelompok. pembentukan kelompok siswa. penyampaian kompetensi. 39.materi. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. refleksi dan evaluasi 42. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. kesimpulan dan evaluasi. kelompok lain menjawab secara bergantian. refleksi. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. 43. bekerja kelompok. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. sajian materi. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. presentasi di depan hasil diskusinya. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. sajian materi. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. penyuimpulan. 41. tanya jawab untuk pemantapan. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. bimbingan penimpoulan dan refleksi. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. membentuk kelompok. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. 40. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru.

siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. mengecek pemahaman dan balikan. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. Examples Non Examples . sajian permasalahan terbuka. pengecekan kebenaran jawaban. penyimpulan dan evaluasi. 44. refleksi.pemberian reward. membimbing pelatihan-penerapan. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. kartu dikumpul lagi dan dikocok. 46. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. sajikan materi. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. 50. bertukar peran. 47. penyimpulan dan evaluasi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. 45. refleksi. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. 49. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. sajian gambaran umum materi bahan ajar. dikusi kelas. presentasi hasuil diskusi kelompok. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. 48. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. evaluasi dan refleksi. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. refleksi. penyimpulan dan evaluasi. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. langkah demi langkah bertahap. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok.

valuasi dan refleksi. dan pengecekan. Enrichment. 52. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. Practicing. solusi. evaluasi. pengungkapan ide-konsep awal. adakah alternative. dan refleksi 56. aplikasi. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. 51. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. 54. ranguman. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. penyimpulan. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Reviewing and reducing difficulty. sajian materi. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. Verivication. 55. apakah solusinya. penyimpulan. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Metakognitive questioning. evaluasi dan refleksi. siswa latian dan bertanya. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. diagram. evaluasi dan refleksi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. presentasi hasil kelompok. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus.Persiapkan gambar. bimbingan penyimpulan. apakah bermanfaat. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. Obtaining mastery. bagikan wacana materi bahan ajar. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. Tanya jawab dan refleksi 57. bertukar peran. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. rencana. 53. Sintaks: pemahaman masalah.

sajian materi. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. membentuk kelompok heterogen. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep.dan nama yang diberi. berupa opemecahan masalah. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. evaluasi dan refleksi 61. 58. . 60. sajian materi. siswa ditugaskan membaca wacana. Time Token Model ini digunakan (Arebds. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. berikan sal tes bentuk super item.bahan belajar . Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. 63. dan hipotesis. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. virtual workshop menggunakan computer-internet. siswa berkelompok melengkapi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. 59. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. integrasi. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. setelah selesai kupon dikembalikan. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. 62. kebebasan-terbuka. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. guru membentuk kelompok. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. berikan latihan soal bertingkat. sampaikan kompetensi. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. reward. presentasi. presentasi. koperatifinkuiri-solusi-workshop. informasikan kompetensi. kelompok-kerjasama.

Semoga. lima kali salah guru membimbing. partisipatif. menciptakan inovasi. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Emotional Spritual Quotient (ESQ). Jakarta: Arga. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. kerja individual. dan model pembelajaran yang inovatif. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. ketrampilan. L (1993). m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan.64. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Sintaksnya adalah: sajian konsep. namai-buat generalisasi sampai konsep. interaktif. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. semua mempunyai tujuan. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. konsep harus dialami. alami-dengan dunia realitas siswa. 65. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). c = communication. Begitu pulal dalam pembelajaran. Perth: Edith . Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. E. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. The Constructivist Classroom Education in Profile. komunikasi positif yang efektif. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. latihan. tiap usaha siswa diberi reward. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. kohesif. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. dan saling menghargai. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. dinamis. dengan E = energi yang diartikan sukses. Burton.

. S. New York: Penguin Books. Gardner. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Buzan. . Emotional Intelligence. Bobbi (1992). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 3rd ed. Goleman. Jakarta. De Porter. Erman. New York: Basic Bools. Use Both Sides of Yoru Brain. Howard (1985). Bandung: JICA-FPMIPA.Ar. Ditdik SLTP (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. (2002).Cowan University. Tony (1989). WWI Publishing Texas: Waco. New York: Dell Publishing. CTL). Cord (2001).:Depdiknas. dkk. New York: Bantam Books. What is Contextual Learning. Quantum Learning. Daniel (1995).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->