P. 1
Pemeriksaan Rektum Dan Anus

Pemeriksaan Rektum Dan Anus

|Views: 1,435|Likes:
memberikan pemberitahuan terhadap semua masyarakat tentang bahaya-bahaya akan penyakit yang menyerang pada rectum dan anus
Untuk mendownload silahkan kunjungi alamat berikut http://bit.ly/gIl7ca
memberikan pemberitahuan terhadap semua masyarakat tentang bahaya-bahaya akan penyakit yang menyerang pada rectum dan anus
Untuk mendownload silahkan kunjungi alamat berikut http://bit.ly/gIl7ca

More info:

Published by: iyandri tiluk wahyono on Jan 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

PEMERIKSAAN RECTUM DAN ANUS

Latar belakang Maksud dari pembuatan makalah ini adalah memberikan pemberitahuan terhadap semua masyarakat tentang bahaya-bahaya akan penyakit yang menyerang pada rectum dan anus. Dalam makalah ini juga disebutkan apa saja dampak dari penyakit pada rectum dan anus, dan terletak pada bagian tubuh manakah rectum dan anus. Pada makalah ini disebutkan juga definisi dari rectum dan anus. Dari makalah ini kita dapat mengetahui definisi, penyakit akibat dan cara penanganan penyakit pada rectum dan anus. Rectum dan anus adalah salah satu bagian dari organ pencernaan pada manusia. Dimana pada bagian ini (rektum) sudah tidak terjadi lagi proses penyerapan sari makanan. Tujuan
1. Mengetahui lebih awal penyebab penyakit pada rektum dan anus 2. Mengetahui cara penanganan penyakit pada rektum dan anus.

3. Penanganan lebih dini pada keluhan yang terjadi dibagian rektum dan anus 4. Dampak-dampak dari penyakit pada rektum dan anus

Manfaat 1. Dapat memahami penanganan penyakit pada rektum dan anus. 2. Dapat meminimalisir dampak penyakit yang lebih kronis pada rektum dan anus.
3. Dapat memelihara dan menjaga kesehatan rektum dan anus pada setiap induvidu.

INDIKASI 1. Konstipasi

Konstipasi berhubungan dengan jalur pembuangan yang kecil, kering, kotoran yang keras, atau tidak lewatnya kotoran di usus untuk beberapa waktu. Ini terjadi karena pergerakan feses melalui usus besar lambat dimana reabsorbsi cairan terjadi di usus besar. Konstipasi berhubungan dengan pengosongan kotoran yang sulit dan meningkatnya usaha atau tegangan dari otot-otot volunter pada proses defekasi. Ada banyak penyebab konstipasi : 1. Kebiasaan buang air besar (b.a.b) yang tidak teratur Salah satu penyebab yang paling sering menyebabkan konstipasi adalah kebiasaan b.a.b yang tidak teratur. Refleks defekasi yagn normal dihambat atau diabaikan, refleks-refleks ini terkondisi menjadi semakin melemah. Ketika kebiasaan diabaikan, keinginan untuk defekasi hilang. Anak pada masa bermain biasa mengabaikan refleks-refleks ini; orang dewasa mengabaikannya karena tekanan waktu dan pekerjaan. Klien yang dirawat inap bisa menekan keinginan buang air besar karena malu menggunakan bedpan atau karena proses defekasi yang sangat tidak nyaman. Perubahan rutinitas dan diet juga dapat berperan dalam konstipasi. Jalan terbaik untuk menghindari konstipasi adalah membiasakan b.a.b teratur dalam kehidupan. 2. Penggunaan laxative yang berlebihan Laxative sering digunakan untuk menghilangkan ketidakteraturan buang air besar. Penggunaan laxative yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan mengabaikan keinginan b.a.b – refleks pada proses defekasi yang alami dihambat. Kebiasaan pengguna laxative bahkan memerlukan dosis yang lebih besar dan kuat, sejak mereka mengalami efek yang semakin berkurang dengan penggunaan yang terus-menerus (toleransi obat). 3. Peningkatan stres psikologis Emosi yang kuat diperkirakan menyebabkan konstipasi dengan menghambat gerak peristaltik usus melalui kerja dari epinefrin dan sistem syaraf simpatis. Stres juga dapat menyebabkan usus spastik (spastik/konstipasi hipertonik atau iritasi colon ). Yang berhubungan dengan konstipasi tipe ini adalah kram pada abdominal, meningkatnya jumlah mukus dan adanya periode pertukaran antara diare dan konstipasi. 4. Ketidaksesuaian diet Makanan lunak dan rendah serat yang berkurang pada feses menghasilkan produks ampas sisa yang tidak cukup untuk merangsang refleks pada proses defekasi. Makan rendah serat

seperti; beras, telur dan daging segar bergerak lebih lambat di saluran cerna. Meningkatnya asupan cairan dengan makanan seperti itu meningkatkan pergerakan makanan tersebut. 5. Obat-obatan Banyak obat-obatan dengan efek samping berupa konstipasi. Beberapa di antaranya seperti ; morfiin, codein, sama halnya dengan obat-obatan adrenergik dan antikolinergik, melambatkan pergerakan kolon melalui kerja mereka pada sistem syaraf pusat. Penyebab lainnya seperti: zat besi, mempunyai efek menciutkan dan kerja yang lebih secara lokal pada mukosa usus menyebabkan konstipasi. Zat besi juga mempunyai efek mengiritasi dan dapat menyebabkan diare pada sebagian orang. 6. Latihan yang tidak cukup Pada klien dengan masa rawat inap yang lama, otot secara umum akan melemah, termasuk otot abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi. Kurangnya latihan secara tidak langsung dihubungkan dengan berkurangnya nafsu makan dan kemungkinan kurangnya jumlah serat yang penting untuk merangsang refleks pada proses defekasi. 7. Umur Pada manula, otot-otot dan tonus spinkter semakin melemah turut berperan sebagai penyebab punurunan kemampuan defekasi. 8. Proses penyakit Beberapa penyakit pada usus dapat menyebabkan konstipasi, beberapa di antaranya obstruksi usus, nyeri ketika defekasi berhubungan dengan hemorhoid, yang membuat orang menghindari defekasi; paralisis, yang menghambat kemampuan klien untuk buang air besar; terjadinya peradangan pelvik yang menghasilkan paralisis atau atoni pada usus. Konstipasi bisa jadi beresiko pada klien, regangan ketika b.a.b dapat menyebabkan stres pada abdomen atau luka pada perineum (post operasi); Ruptur dapat terjadi jika tekanan saat defekasi cukup besar. Ditambah lagi peregangan sering bersamaan dengan tertahannya napas. Gerakan ini dapat menyebabkan masalah serius pada orang dengan sakit jantung, trauma otak, atau penyakit pada pernapasan. Tertahannya napas meningkatkan tekanan intra torakal dan intrakranial. Pada kondisi tertentu, tekanan ini dapat dikurangi jika seseorang mengeluarkan napas melalui mulut ketika mengejan/regangan terjadi. Bagaimanapun, menghindari regangan merupakan pencegahan yang terbaik. 2. Impaksi Feses (tertahannya feses)

Impaksi feses dapat didefenisikan sebagai suatu massa atau kumpulan yang mengeras, feses seperti dempul pada lipatan rektum. Impaksi terjadi pada retensi yang lama dan akumulasi dari bahan-bahan feses. Pada impaksi yang gawat feses terkumpul dan ada di dalam colon sigmoid. Impaksi feses ditandai dengan adanya diare dan kotoran yang tidak normal. Cairan merembes keluar feses sekeliling dari massa yang tertahan. Impaksi dapat juga dinilai dengan pemeriksaan digital pada rektum, selama impaksi massa yang mengeras sering juga dapat dipalpasi. Diare yang bersama dengan konstipasi, termasuk gejala yang sering tetapi tidak ada keinginan untuk defekasi dan nyeri pada rektum. Hadirnya tanda-tanda umum dari terjadinya penyakit ; klien menjadi anoreksia, abdomen menjadi tegang dan bisa juga terjadi muntah. Penyebab dari impaksi feses biasanya kebiasaan buang air besar yang jarang dan konstipasi. Obat-obat tertentu juga berperan serta pada impaksi. Barium digunakan pada pemeriksaan radiologi pada saluran gastrointestinal bagian atas dan bawah dapat menjadi faktor penyebab, sehingga setelah pemeriksaan ini hasil pengukuran diperoleh untuk memastikan pergerakan barium. Pada orang yang lebih tua, faktor-faktor yang beragam dapat menyebabkan impaksi; asupan cairan yang kurang, diet yang kurang serat, rendahnya aktivitas, melemahnya tonus otot. Pemeriksaan digital harus dilakukan dengan lembut dan hati-hati karena rangsangan pada nervus vagus di dinding rektum dapat memperlambat kerja jantung pasien. 3. Persiapan pre operasi Biasanya pada semua tindakan operasi sebelumnya di lakukan enema. Anastesia umum (GA) dalam pembedahan bisa diberikan melalui enema dengan tujuan untuk mengurangi efek muntah selama dan setelah operasi, juga mencegah terjadinya aspirasi. 4. Untuk tindakan diagnostik misalnya pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologi seperti colonoscopy, endoscopy, dll. Pengkajian Pengkajian pasien dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan data objektif melalui interview dan pemeriksaan fisik terutama yang berkaitan dengan saluran cerna, pemeriksaan laboratorium dan radiology

Rektum dan anus Pada pemeriksaan anorektal klien biasanya dianjurkan dalam posisi sims/miring ke kiri atau genupectoral. Klien wanita juga disarankan dalam posisi litotomi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan berasal dari pengkajian data yang konkrit dari perawat. Contoh – contoh diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan alternatif b.a.b : 1. Konstipasi yang berhubungan dengan barium. 2. Konstipasi yang berhubungan dengan immobilitas 3. Konstipasi yang berhubungan dengan trauma pada sumsum tulang belakang Perencanaan Tujuan utama klien dalam perencanaan/intervensi adalah : 1. mengerti tentang eleminasi yang normal 2. mengerti akan makanan dan cairan yang dibutuhkan secara wajar 3. memelihara integritas kulit 4. mengikuti program latihan secara teratur 5. memelihara kestabilan dalam pengeluaran BAB 6. mengerti tentang pengukuran untuk menghilangkan stress

Prosedur pemberian pemeriksaan rectum dan anus Persiapan pasien a. b. c. d. Mengucapkan salam terapeutik Memperkenalkan diri Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang Prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.

e. f. g. h. i.

Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam. Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi Menjaga privasi klien. Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

j.

Pasien disiapkan dalam posisi yang sesuai

Peralatan 1. sarung tangan 2. selimut mandi untuk menutupi klien 3. bedpan. Intervensi 1. Tutup pintu/pasang sampiran (screen). Rasional: memberikan privasi pada klien. 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Rasional: pencegahan terjadinya transmisi bakteri. 3. Kaji kondisi anal dan deformitas. Rasional: pengkajian merupakan tahap awal setiap prosedur yang akan memberikan informasi suatu tindakan dapat dilaksanakan atau tidak. 4. memberikan informasi dapat meningkatkan kesiapan dan kerjasama pasien selama proses tindakan enema berlangsung. 5. Bantu klien orang dewasa atau usia toddle untuk mengambil posisi lateral kiri, dengan kali kanan fleksi dan beri selimut mandi. 6. Pencatatan merupakan aspek legal sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat.

EVALUASI Klien akan : · · · · · · · Menetapkan waktu yang teratur untuk defekasi Berpartisipasi dalam program latihan yang teratur Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan B.A.B dengan nyaman dan lancar Minum + 2000 ml cairan / hari Tidak terjadi defekasi pada saat dilakukan tindakan operasi Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi

DAFTAR PUSTAKA

Carol Taylor Et All, 1997, Fundamental Of Nursing, Washington.

Lippincott Raven

Chen TS, Chen PS (1989). “Intestinal autointoxication: a medical leitmotif”. Journal of Clinical Gastroenterology. www.google.com www.msn.com

PEMERIKSAAN REKTUM DAN ANUS

Disusun oleh :
1. Nurtin 2. Ovi Nindya Putri 3. Putu Citra Adi Antara 4. Rahayu Isti Suryani 5. Ratna Astuti 6. Ratna Suciati 7. Refana Indra Kusuma 8. Rifqi Achmad Danu K 9. Rini Tri Astuti

( 33 ) ( 34 ) ( 35 ) ( 36 ) ( 37 ) ( 38 ) ( 39 ) ( 40 ) ( 42 )

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO YOGYAKARTA 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->