P. 1
MAKALAH PAI GENDER

MAKALAH PAI GENDER

|Views: 10,819|Likes:

More info:

Published by: Dian Septiana Chandra Dewi on Jan 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2015

pdf

text

original

GENDER DALAM PENDIDIKAN ISLAM AHWY OKTRADIKSA PENDAHULUAN Salah satu tuntutan terhadap dunia pendidikan saat ini

adalah keadilan dan kesetaraan gender, baik pada aspek akses, mutu dan relevansi maupun pada aspek manajemen pendidikan. Pengembangan model pembelajaran responsif gender pada Madrasah Ibtida’iyah merupakan salah satu upaya untuk memutus mata rantai budaya bias gender sejak dini. Merekayasa pembelajaran menjadi responsif gender dapat dilakukan melalui dua aspek yaitu materi ajar dan proses belajar mengajar. Pengembangan pada materi pelajaran dilakukan dengan menganalisis setiap pesan terdapat dalam materi pelajaran yang akan disampaikan, apakah telah memenuhi kebutuhan belajar siswa secara adil gender. Sedangkan pengembangan pada proses kegiatan belajar mengajar dilakukan sejak merancang desain model pembelajaran sampai pada proses implementasi pembelajaran di kelas dan dikemas sedemikian rupa sehingga keterterapan parameter keadilan dan kesetaraan gender dapat dilihat dari aspek akses, partisipasi, kontrol, dan penerimaan manfaat dalam setiap komponen desain pembelajaran. Dalam proses pendidikan di Indonesia secara umum, masih terdapat bias atau ketimpangan gender. Gender adalah sebuah konsep yang dijadikan parameter dalam pengidentifikasian peran laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada pengaruh sosial budaya masyarakat social contruction dengan tidak melihat jenis biologis secara equality dan menjadikannya sebagai alat pendiskriminasian salah satu pihak karena pertimbangan yang sifatnya biologis. Kaum laki-laki lebih dominan dalam memilih jurusan dan mempelajari kemampuan atau keterampilan pada bidang kejuruan teknologi dan industri dan seolah-olah secara khusus kaum laki-laki dipersiapkan untuk menjadi pemain utama dalam dunia produksi. Sementara itu, perempuan lebih dipersiapkan untuk melaksanakan peran pembantu, misalnya ketatausahaan dan teknologi kerumah-tanggaan. Perbaikan dalam sistem kurikulum

termasuk tentang keadilan dan kesetaraan gender. Kesenjangan pada bidang pendidikan telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia.yang menjamin terwujudnya content pendidikan yang berperspektif gender. sampai pada masalah menyuarakan pendapat antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab bias gender adalah karena faktor kesenjangan pendidikan yang belum setara selain masalah-masalah klasik yang cenderung menjustifikasi ketidakadilan seperti interpensi teks-teks keagamaan yang tekstual dan kendala sosial budaya lainnya. Ketimpangan gender merupakan masalah sosial yang harus diselesaikan secara integratif holistik dengan menganalisis berbagai faktor dan indikator penyebab yang ikut aktif melestarikannya. Nilai-nilai tersebut ditransfer dan ditumbuhkembangkan melalui proses pembelajaran. Jumat Mimbar Pendidikan. metode/strategi pembelajaran. kurikulum (tujuan pembelajaran. Fakta menunjukkan bahwa ketimpangan gender dalam relasi laki-laki dan perempuan masih sering terjadi. kompetensi guru. Adanya berbagai hasil penelitian yang menunjukkan terjadinya bias gender pada berbagai dimensi pendidikan sekolah. peran dimasyarakat. Pendidikan pada tingkat usia sekolah dasar (MI) merupakan waktu yang paling tepat untuk membentuk karakter manusia. termasuk faktor hukum dan pendidikan yang kerapkali mendapat justifikasi agama. evaluasi) serta fasilitas dan media pendidikan lainnya. (character building)1. Karena lembaga pendidikan dasar (MI) memiliki peran penting dalam penanaman nilai-nilai terhadap diri siswa. sehingga lembaga pendidikan dasar (MI) dipilih menjadi sasaran kegiatan ini. seperti pada materi pembelajaran. bahan ajar. dan ini diyakini dapat melestarikan ideologi gender yang timpang. Pembentukan Karakter Peserta Didik. jabatan. Proses pembelajaran yang efektif untuk mentransfer dan menumbuhkembangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender harus didukung oleh komponen-komponen seperti. (IKIP . 1 Slamet PH. dalam mengkombinasi-kan antara hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. kebijakan pendidikan. hampir semua sektor. seperti lapangan pekerjaan.

alat-alat.PEMBAHASAN A. 2002). tetapi juga kepada laki-laki. 177. Ensiklopedia Feminisme. hal. 4-6 . (Malang: Bayumedia Publishing. Hanya saja. 3 Mufidah Ch. Perbedaan gender antara manusia laki-laki dan perempuan telah terjadi melalui proses panjang. kemudian disosialisasikan. hlm. hal. Dalam Ensiklopedia Feminisme2 gender diartikan sebagai kelompok atribut dan perilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki atau perempuan.178. 2003). diperkuat. bentuk pembicaraan. tugastugas. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. 2 Maggie. dilanggengkan oleh interpretasi agama dan mitos-mitos seolah-olah telah menjadi kodrat laki-laki dan perempuan. Gender merupakan analisis yang digunakan dalam menempatkan posisi setara antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. yang dianggap mengalami posisi termarginalkan sekarang adalah pihak perempuan. Gender bukan hanya ditujukan kepada perempuan semata. bahkan dikonstruksi melalui sosial atau kultural. Pembedaan tersebut menjadi bermasalah ketika menghasilkan ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu. Mufidah dalam Paradigma Gender3 mengungkapkan bahwa pembentukan gender ditentukan oleh sejumlah faktor yang ikut membentuk. Ivan Illich mendefinisikan gender dengan pembedabedaan tempat. Wacana Gender Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. maka perempuanlah yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan untuk mengejar kesetaraan gender yang telah diraih oleh laki-laki beberapa tingkat dalam peran Bandung Edisi Juli 1994). waktu. Jadi. Paradigma Gender. Pembedaan laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak menjadi masalah.43. tingkah laku dan persepsi yang dikaitkan dengan perempuan dalam budaya sosial4. Humm. gender bisa dikategorikan sebagai perangkat operasional dalam melakukan measure (pengukuran) terhadap persoalan laki-laki dan perempuan terutama yang terkait dengan pembagian peran dalam masyarakat yang dikonstruksi oleh masyarakat itu sendiri.

bertindak. Gender sebagai Suatu Persoalan Sosial Budaya Fenomena pembedaan laki4 Ivan Illich. gender bersifat relatif dan kontekstual.bagi masyarakat Jawa. 3. Gender sebagai istilah asing dengan makna tertentu Sering orang berpandangan bahwa perbedaan gender disamakan dengan perbedaan seks sehingga menimbulkan pengertian yang keliru. I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 5 Maggie. Menurut Mosse5 mereka menuntut seksualitas sebagai sebuah wilayah yang memberikan kesempatan pada perempuan untuk dapat menolak penindasan atas dirinya.sosial. Gender. hal. Mereka menyoroti masalah pemahaman tentang seksualitas perempuan yang telah diterima. 69-70 . Heddy Shri Ahimsa Putra menegaskan bahwa istilah gender dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut ini. diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi dengan judul Gender. berbeda dengan gender dalam masyarakat Bali. dan berbeda juga dengan gender. Gender sebagai Suatu Kesadaran sosial Pemahaman gender dalam wacana akademik perlu diperhatikan pemaknaannya sebagai suatu kesadaran sosial. 2. yang mengaitkan subordinasi ekonomi dan sosial perempuan dengan subordinasi seksualnya. Masalah gender dalam masyarakat patriarkal telah menempatkan perempuan sebagai objek yang selalu dikendalikan sehingga menimbulkan reaksi dari kelompok perempuan di seluruh dunia. Ensiklopedia Feminisme. Gender sebagai Fenomena Sosial Budaya Perbedaan seks adalah alami dan kodrati dengan ciri-ciri fisik yang jelas. b. dan berperan dalam berbagai segmen kehidupan sosial. 1. Hal itu diakibatkan. Gender yang dikenal orang Minang.. oleh konstruksi sosial budaya yang membedakan peran atas dasar jenis kelaminnya. 1998).hal. cet. a.. Penghapusan diskriminasi gender tanpa mengindahkan perbedaan seks yang ada sama halnya dengan mengingkari suatu kenyataan yang jelas.. terutama di bidang pendidikan karena bidang inilah diharapkan dapat mendorong perubahan kerangka berpikir. tidak dapat dipertukarkan. Sebagai fenomena sosial.

2003). peneliti dituntut untuk memiliki sensitivitas gender dengan baik. Kritik sastra feminis seperti yang disampaikan Tinneke Hellwig6 merupakan salah satu komponen dalam bidang kajian perempuan. Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia (diterjemahkan oleh Rika Iffati Farikha). sastra tidak boleh diisolasi dari konteks atau kebudayaan karena karya sastra menjadi salah satu bagian dari konteks atau kebudayaan tersebut. yang di Barat dimulai sebagai suatu gerakan sosial pada masyarakat akar rumput karena studi perempuan dianggap sebagai suatu bagian dari agenda politik feminis. Gender sebagai Sebuah Perspektif untuk memandang suatu Kenyataan. 7 Mosse. Bagi kritikus sastra feminis. 2003). Masalah gender juga menyentuh bidang sastra dan memunculkan sebuah bentuk kajian yang disebut kritik sastra feminis. Gender sebagai sebuah Konsep untuk Analisis Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis merupakan gender yang digunakan oleh seorang ilmuwan dalam mempelajari gender sebagai fenomena sosial budaya. (Jakarta: Desantara. c. d.. 17. 6 . termasuk ketidakadilan yang ditimbulkannya. pengkajian perempuan dan sastra terlebih Penjelasan lebih jauh mengenai proses kerja yang dilakukan dalam kritik sastra feminis disampaikan Jane Moore7 sebagai sebuah kerja berkesinambungan. Oleh karena itu. di mana jenis kelamin tertentu memperoleh kedudukan yang lebih unggul dari jenis kelamin lainnya. Dari perspektif feminis. 29. hal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. In The Shadow of Change. Seorang peneliti menggunakan ideologi gender untuk mengungkap pembagian peran atas dasar jenis kelamin serta implikasi-implikasi sosial budayanya. pada masa sekarang. semua interpretasi bersifat politis. Julia Cleves. Suatu teks sastra mengajak para pembacanya Hellwig.laki dan perempuan sesungguhnya bukan menjadi masalah bagi mayoritas orang. Dalam hal ini. Kritikus feminis meneliti bagaimana kaum perempuan ditampilkan dan bagaimana suatu teks membahas relasi gender dan perbedaan jenis kelamin. Pembedaan tersebut menjadi bermasalah ketika menghasilkan ketidakadilan. (Diterjemahkan oleh Hartian Silawati. hal. Gender dan Pembangunan. Tinneke.

termasuk feminis di Indonesia. Getar Gender. Sejumlah penelitian terhadap masalah itu sudah banyak dilakukan. kemudian mendorong mereka untuk menyetujui atau menentang norma-norma budaya yang berlaku di masyarakat. fenomena kesenjangan gender dalam pendidikan dapat diklasifikasi dalam beberapa dimensi. 27. Nunuk P. perempuan di seluruh dunia menghadapi problem yang sama. Hal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah perempuan tidak hanya menjadi bagian kepedulian para ahli ilmu sosial. Murniati8 dalam Getar Gender menyebutkan bahwa kebudayaan menjadi faktor dominan ketika sebuah ideologi dioperasionalisasikan dalam kehidupan manusia. Isu-Isu Kesenjangan Gender dalam Dunia Pendidikan Berbagai bentuk kesenjangan gender yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Kurangnya partisipasi (under-participation) Dalam hal partisipasi pendidikan. Jadi. . antara lain: 1. jelaslah bahwa pekerjaan mengkritik teks sastra dengan sudut pandang feminisme membutuhkan penilaian kritikus pada aspek-aspek lain di luar teks. Masalah diskriminasi gender hingga saat ini masih menjadi wacana yang diusung kaum feminis. (Magelang: Indonesiatera.. Saat ini. B. A. Bahkan proses dan institusi pendidikan dipandang berperan besar dalam mensosialisasikan dan melestrikan nilai-nilai dan cara pandang yang mendasari munculnya berbagai ketimpangan gender dalam masyarakat. Secara garis besar. baik laki-laki maupun perempuan. penulisan fiksi di Indonesia yang mengangkat masalah feminisme salah satunya dilakukan dengan cara mengkritik diskriminsi gender dan kritik sastra mengenai masalah itu banyak dijumpai. tetapi para sastrawan dan kritikus sastra pun memiliki kepedulian akan hal itu. terpresentasi juga dalam duniapendidikan.untuk memahami makna menjadi perempuan atau laki-laki. 2004). Jika agama dipakai sebagai alasan. Dibanding lawan 8 Murniati. Mengenai hal itu. bagaimana ideologi gender meresap dan masuk ke tulang sumsum seluruh anggota masyarakat. maka kebudayaan adalah mesin penggerak.

angka partisipasi murni (APM) sekolah dasar (SD) sebesar 96. karena dalam kenyataan empirik membuktikan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang maka tingkat pendapat juga akan itu berpengaruh. Hasil penelitian tersebut di atas memberikan gambaran bahwa bias gender dalam bidang pendidikan masih sangat timpang terutama pada tingkat pendidikan sarjana. dan sedikit lebihkecil untuk perempuan yaitu sebesar 94. Jumlah guru perempuan pada jenjang pendidikan dasar umumnya sama atau melebihi jumlah guru laki-laki. partisipasi perempuan dalam pendidikan formal jauh lebih rendah Di negara-negara dunia ketiga di mana pendidikan dasar belum diwajibkan. Kurangnya keterwakilan (under-representarion) Partisipasi perempuan dalam pendidikan sebagai tenaga pengajar maupun pimpinan juga menunjukkan kecenderung disparitas progresif. Berdasarkan angka statistik pendidikan tahun 2001. Perlakuan yang tidak adil (unfair treatment) Kegiatan pembelajaran dan proses interaksi dalam kelas seringkali bersifat merugikan murid perempuan. meskipun dalam angka 9 Amasari (Member of PSG LAIN). 2. Para guru kadang kala cenderung berpikir ke arah "self fulfilling prophecy" terhadap siswa perempuan karena menganggap perempuan tidak perlu memperoleh pendidikan yang tinggi. Kesenjangan gender juga dapat dilihat dari angka partisipasi pendidikan.64% untuk laki-laki. Kondisi ini dirasakan oleh perempuan memiliki tingkat pendidikan yang masih rendahdi bandingkan dengan laki-laki. 3.jenisnya. berdasarkan kelompok usia maupun jenjang pendidikan. jumlah murid perempuan umumnya hanya separuh atau sepertiga jumlah murid lakilaki9. jumlah tersebut menunjukkan penurunan drastis. Laporan Penelitian Pendidikan Berujatuasan Gender. Namun. . Guru secara tidak sadar cenderung menaruh harapan dan perhatian yang lebih besar kepada murid laki-laki dibanding murid perempuan. pada jenjang pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi.34%. Sedangkan untuk APM tingkat sekolah lanjutan tingkatpertama (SLTP) sudah mengalami kesetaraan gender.

2001.30% perempuan. yaitu partisipasi. 31. 11 Siti Musda Mulia. Angka partisipasi murni(APM) untuk sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) lebih rendah dan untuk perempuan masih lebihrendah lagi. dan struktur hukumnya (structure of law)11. budaya hukum (culture of law). 2005). hal.62% laki dan 56. dan partisipasi dalam birokrasi. kaum wanita berada pada posisi yang jauh lebih terkebelakang daripada kaum pria. . Namun. dan kontrol. Jakarta. partisipasi politik. Adapun faktor yang menjadi penyebab bias gender berkaitan dengan perolehan kesempatan belajar pada setiap jenjang pendidikan dasar adalah : Perbedaan angkatan partisipasi pendidikan pada tingkat SD/Madrasah Ibtida’iyah sudah mencapai titik optimal yang tidak mungkin diatasi hanya dengan kebijakan pendidikan.06% laki-laki dan 31. Faktor Penyebab Bias Gender dalam Pendidikan Islam Faktor-faktor penyebab bias gender dapat dikategorisasikan ke dalam tiga aspek. I (Bandung: Mizan. hal. hlm. posisi dalam pekerjaan. Menurut Musda ada tiga aspek ketimpangan gender dalam bidang hukum yaitu pada materi hukum (content of law). juga bias gender termasuk di bidang hukum.14% untuk perempuan10. Kesenjangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor struktur karena (Banjarmasin: IAIN Antasari. 2004). 20.Dengan kata lain faktor-faktor penyebab bias gender akan sangat tergantung dari situasinya masingmasing. Muslimah Reformis Perempuan Pembaru Keagamaan.yang masih sama-sama menunjukkan hasil rendah yaitu 56. 124-125. Bidang hukum jugasangat signifikan berpengaruh dalam pengambilan keputusan dan lagi-lagi bias gender sangat dirasakan oleh kaum perempuan. sehingga perbedaan itu menjadi semakin sulit ditekan ke titik yang lebih rendah lagi. Indikator Wanita dan Anak. akses. Cet. Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan. yaitu 34. 10 Ace Suryadi dan Ecep Idris. Di samping hasil penelitian tersebut di atas dalam bidang pendidikan terjadi ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. Dalam Laporan tersebut diuraikan bahwa dalam hal pendidikan. laporan Biro Pusat Statistik. tidak semua aspek yang disebutkan dapat dipaksakan untukmenjelaskan masing-masing bias gender yang terjadi secara empiris dalam bidang pendidikan. upah kerja.

pandangan.fasilitas pendidikan SD sudah tersebar relatif merata. teknologi kerumahtanggaan. yakni yang menyangkut nilai. Keadaan ini akan semakin bertambah parah jika para pemikir atau pemegang kebijaksanaan pendidikan tersebut tidak memiliki sensitivitas gender. 3. hal. danbiasanya perempuanlah yang memilih keluar dari pekerjaan. psikologi. guru sekolah Rukmina Gonibala adalah dosen tetap pada Jurusan Syari’ah STAIN Manado. dan perilaku masyarakat yang secara dominan mempengaruhi keputusan keluarga untuk memilih jurusan-jurusan yang lebih dianggap cocok untuk perempuan. 2. khususnya menyangkut sistem seleksi dalam pendidikan. kesehatan. Khusus pada kebijaksanaan pendidikan. misalnya Bank. Khususnya dalam lembaga birokrasi di lingkungan pendidikan sebagai pemegang kekuasaan atau kebijaksanaan. Faktor kesenjangan antar gender dalam bidang pendidikan jauh lebih dominan laki-laki. Ini bagian dari faktor-faktor bias gender dalam bidang pendidikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebab bias gender dalam bidang kurangnya kontrol kebijakan pendidikan adalah13: 1. Kenyataan menunjukkan bahwa jika suami istri berada dalam salah satu perusahaan. seperti pekerjaan perawat. 40. maka salah satunya harus memilih untuk keluar. 12 . baik milik pemerintah maupun swasta. Fenomena Bias Gender Dalam Pendidikan Islam (artikel Juli . Kontrol dalam penerimaan karyawan terutama di sektor swasta sangat dirasakan bias gender.Desember 2007). Faktor ini berlaku terutama di daerah-daerah terpencil yang jarang penduduknya serta pada keluarga-keluarga berpendidikan rendah yang mendahulukan pendidikan untuk anak lakilaki12. Faktor struktural. Faktor-faktor struktural itu di antaranya adalah nilai-nilai sosial budaya. sikap. maupun dalam jabatan-jabatan akademis kependidikan sebagai pemegang kendali pemikiran yang banyak mempengaruhi kebijakan pendidikan. dan ekonomi keluarga yang lebih menganggap pendidikan untuk anak laki-laki lebih penting dibandingkan dengan perempuan. kandidat doktor Universitas Indonesia dalam bidang sosiologi.

Memahami Perspektif Gender Membangun Relasi yang Adil Antara Lakilaki dan Perempuan Pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stoller (1968) untuk memisahkan pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya dengan ciri-ciri fisik biologis. 5. Dalam Ilmu Sosial orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan istilah dan pengertian gender adalah Ann Oakley (1972) yang mengartikan gender sebagai konstruksi sosial atau atribut yang dikenalkan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan. yang berarti mengangkat nilai-nilai faktual empirik. C. 13 Ibid . maka akan melahirkan komunitas intelektual yang cendekiawan. Konferensi Wanita Sedunia ke-4 di Beijing Tahun 1995 menghasilkan Beijing Platform for Action yang isinya tentang 12 Critical Area bagi perempuan. yang menggantikan peranan pekerja perempuan dengan mesin. Hal ini terjadi karena perempuan dianggapnya memilih fungsifungsi produksi (reproductive function). hal. apabila hapalan itu hilang maka subyek didik tidak akan punya apa-apa lagi. lagi-lagi perempuan menjadi korban teknologi khususnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan rendah ditambah pula dengan kemampuan ekonomi yang masih lemah. Faktor lain yang turut mempengaruhi bias gender dalam pendidikan adalah muncul persaingan dengan teknologi. 4.dan sejenisnya. Pendidikan reseptif yang hanya memperkuat hapalan. 41 . Pendidikan Islam yang konstruktif merupakan salah satu pendekatan pendidikan melalui pembelajaran induktif. maka diperlukan pendidikan yang demokratis yaitu peserta didik diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Laki-laki dianggap lebih berperan sebagai fungsi penopang ekonomi keluarga (productive function) sehingga harus lebih banyakmemilih keahlian-keahlian ilmu teknologi dan industri. dan mengeskpresikankemampuan nalar. menyampaikan opini. Pembangunan Manusia Berprespektif Gender : 1. Dampaknya.

i. Perempuan sering menjadi korban pertama jika terjadi PHK f. b. c. Perempuan kurang didorong atau memiliki kebebasan kultural untuk memilih karir daripada rumah tangga atau akan mendapat sanksi sosial. waktu luang dan pengambilan keputusan . Perempuan yang tidak menikah atau tidak punya anak dianggap lebih rendah secara sosial sehingga ada alasan untuk poligami.2. Perempuan sering tidak mempunyai akses terhadap sumber daya ekonomi. Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan tertentu terhadap perempuan h. Selanjutnya ke seluruh dunia digaungkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) dengan strategi Gender Mainstreaming (Pengarusutamaan Gender) yang berarti : sebuah strategi yang mengintegrasikan kepedulian gender dalam segala aspek kehidupan sehingga tercapai relasi yang adil dan setara bagi semua pihak. gono-gini. Kerja domestik tidak dihargai setara dengan pekerjaan publik. Sub-Ordinasi atau penomorduaan a. Ada beberapa pasal hukum dan tradisi yang memperlakukan perempuan tidak setara dengan laki-laki : harta waris. dst. permohonan kredit harus seizin suami g. Kemajuan teknologi sering meminggirkan peran serta perempuan. Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender 1. . Marginalisasi proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan a. c. 2. Izin usaha perempuan harus diketahui ayah (jika masih lajang & suami jika sudah menikah. Masih sedikit perempuan yang berperan dalam level pengambil keputusan dalam organisasi / pekerjaan b. D. Perempuan dibayar sebagai pekerja lajang atau bahkan dikeluarkan karena alasan menikah atau hamil. d. Perempuan sering mendapat upah yang lebih kecil dibanding lelaki untuk jenis pekerjaan yang setara e.

d.macak . Beberapa pasal hukum tidak menganggap perempuan setara dengan lakilaki misalnya : pendirian izin usaha. dst. Perempuan tidak mampu mengendalikan syahwat jika diberi kekebasan : tradisi sunat perempuan. e. Pria adalah Kehebatannya dilekatkan pada kemampuan seksual dan karirnya. menganggap “wajar” jika laki-laki menggoda perempuan. c. jika gagal dicap sbg “tidak bertanggungjawab”. Perempuan emosional. Ada aturan pajak penghasilan perempuan lebih tinggi dari laki-laki karena perempuan dianggap lajang. Pria adalah tulang punggung keluarga dan pencari nafkah tidak peduli seperti apapun kondisinya. 4. selingkuh. Stereotipe (Pelabelan Negatif) a. pengelolaan harta (suami wajib mengemudikan harta pribadi isteri) f. 3. bagian penjualan. sebagian besar dikerjakan ibu dan anak perempuan sedangkan ayah dan anak lelaki terbebas dari pekerjaan . kalaupun bekerja dianggap sebagai perpanjangan peran domestik : guru TK. Dalam materi pendidikan agama Islaam tentang hukum waris masih menjdi sebuah fenomena. Beban Ganda (Double Burden) a. sekretaris. b. poligami. janda dianggap sebagai berpotensi mengganggu rumah tangga orang. Perempuan : sumur .dapur – kasur . e. Beban pekerjaan di rumah tidak berkurang dengan adanya peran publik dan peran pengelolaan komunitas (walaupun perempuan telah masuk dalam peran publik/meniti karier peran dalam rumah tangga masih besar).masak – manak : “sekedar ibu rumah tangga” dan dianggap sebagai pengangguran.d. b. Pekerjaan dalam rumah tangga. tidak rasional dan tidak mandiri sehingga tidak berhak pada fungsi perwakilan dan pemimpin. perda tentang larangan keluar malam bagi perempuan.

Perempuan sebagai perawat. nenek lincah. Pemukulan atau penyiksaan fisik lain. rangkulan. inses. o. karena tidak dapat diwakili oleh perempuan. Penggunaan genitalitas perempuan sbg alat penaklukan baik pada masa damai ataupun perang. Tindakan yang diasosiasikan sebagai pernyataan hasrat seksual : kerdipan. Perselingkuhan atau poligami tanpa izin isteri. Pembatasan atau pengabaian pemberian nafkah g. c. Pemaksaan atau sebaliknya pengabaian penggunaan kontrasepsi. k. e. Violence atau Kekerasan Terhadap Perempuan baik Fisik & Non Fisik a. h. suitan. Penggunaan istilah yang menyebut ciri fisik atau status sosial : bahenol. Pengurungan di dalam rumah. 5.mata sebagai objek seks dalam iklan. Pemasungan hak-hak politik l. j. dst. pendamping suami. janda kembang. c. e. tetap harus terlibat dalam peran sosial kemasyarakatan. Perempuan pencari nafkah utama masih harus mengerjakan tugas domestik. perkosaan. Perendahan martabat laki-laki dan perempuan semata. Larangan untuk belajar atau mengembangkan karir b. . f. d. juga pencari nafkah tambahan. green jokes. n. Pemaksaan perkawinan m. Pria yang tidak “macho” atau maskulin atau gagal di bidang karir dianggap kurang laki-laki. Pemaksaan pindah agama mengikuti agama pasangan. pendidik anak. Pencabulan. perawan tua. dan akan dilecehkan dalam masyarakat. i.domestik. d. Lelaki meski bekerja sebagai mencari nafkah.

pendidikan dan pertahanan & keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. bernegara dan membangun keluarga berkualitas. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. hukum dan politik terhadap satu jenis kelamin tertentu. kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.E. Perbedaan biologis tidak bisa dijadikan dasar untuk terjadinya diskriminasi mengenai hak sosial. Pemahaman para pemimpin dan pengambil keputusan terhadap makna & inkonsistensi kaum perempuan . Kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. sosial budaya. hukum. 4. budaya. 5. tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan. Jumlah penduduk perempuan hampir setengah (49. 2. beban ganda. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. Kelemahan kurang percaya diri. Kesetaraan dan Keadilan Gender Keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar. Kesetaraan Gender. Nilai sosial dan budaya patriarkhi sama dengan pranata kehidupan yang berdasarkan pandangan laki-laki. Pemahaman ajaran agama yang tidak komprehensif dan cenderung parsial. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Ketidakadilan Gender 1. ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dan dengan demikian mereka memiliki akses. tekad sendiri dlm memperjuangkan nasibnya. ekonomi. F. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Produk dan peraturan perundang-undangan yang masih bias gender.9%) dari seluruh penduduk Indonesia dan merupakan potensi yang sangat besar dalam mencapai kemajuan dan kehidupan yang lebih berkualitas. Membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Keadilan gender Suatu perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. subordinasi. 3.

pertama adanya kelebihan oleh Allah SWT dan kemampuan memberi nafkah dari harta hasil usahanya sendiri. (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga. Bias-bias gender dalam istinbat hukum Islam hubungan dengan pengembangan materi Ke-MI-an14 1. Masalah hak memilih jodoh Dalam hal ini masih banyak wali yang memaksakan kehendaknya untuk memilihkan jodoh untuk anak perempuan unutk meujudkan kehidupan rumah tangga mawaddah wa rahmah. 2002). kaibatnya adalah kemungkinan terjadinya disharmonisasi dalam kehidupan rumah tangga anaknya. hal. 142-144. 4. 14 . Masalah kepemimpinan dalam rumah tangga Ada dua alasan mengapa Allah SWT memilih laki-laki memilih laki untuk menjadi seorang pemimpin keluarga.Kesetaraan dan Keadilan Gender yang belum mendalam. Upaya Penanggulangan Dampak Negatif dari Bias Gender Pendidikan dalam Islam Adapun upaya untuk mengatasi bias gender dalam pendidikan Islam melalui upaya sebagai berikut : Waryono Abdul Gafur. Masalah kewarisan Konsep pembagian harta warisan dengan perbanding 2:1 yang menurut ketentuan-ketetuan nas yang sudah bersifat qat’iy. Dari sini kemutlakan seorang laki-laki adalah suatu keniscyaan yang abadi dalam memimpin kaum dan bakan sudah menjadi kodrati untuk selalu menjadi pelindung bagi kaum perempuan H. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan dan apabila seorang kaum perempuan yang menjadi pemimpin maka akan menimbulkan bencana. Masalah imamah. Gender dan Islam dalam teks dan Konteks. 2. 3. G. maka ketettuan ini tidak bisa di tawar menawar atau ruang waktu historikal dan kontekstual.

Dengan demikian kuota 30% sesuai dengan amanah Undang-Undang segara terpenuhi. 2. Pendidikan politik bagi perempuan agar dilakukan secara intensif untuk menghilang melek politikbagi kaum perempuan. mengingatpemilih terbanyak adalah perempuan. 6. keadilan. 5. Reinterpretasi ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang bias gender. yang di mulai dari tingkatpendidikan taman kanak-kanak sampai ke tingkat perguruan tinggi. 3. danpolitik itu adalah kekerasan. Karena salah satu terjadinyamarginalisasi pada perempuan adalah ketergantungan ekonomi keluarga kepada laki-laki. Karena masih ada anggapan bahwa politik itu hanya milik laki-laki. Sosialisasi Undang-Undang Anti Kekerasan dalam Rumah tangga lebih intens dilakukan agarkaum perempuan mengetahui hak dan kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan amanah dari UU K . dilakukan secara kontinu agarajaran agama tidak dijadikan justifikasi sebagai kambing hitam untuk memenuhi keinginan segelintir orang.1. padahal sebaliknya politik adala seni untuk mencapai kekuasaan.demikian pula kurikulum lokal dengan berbasis kesetaraan.Kurikulum disusun sesuai dengan kebutuhan dan tipologi daerah. 7. Muatan kurikulum nasional yang menghilangkan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Pemberdayaan di sektor ekonomi untuk meningkatkan pendapatan keluarga terutama dalamkegiatan industri rumah tangga (home industri) dengan demikian perlahan-lahan akanmenghilangkan ketergantungan ekonomi kepada laki-laki. dan keseimbangan. Pemberdayaan di sektor ketrampilan (skill) baik ketrampilan untuk kebutuhan rumah tangga. 4. Pemberdayaan kaum perempuan di sektor pendidikan informal seperti pemberian fasilitas belajarmulai di tingkat kelurahan sampai kepada tingkat kabupaten/kota dan disesuaikan dengankebutuhan daerah.maupun yang memiliki nilai jual di tingkatkan terutama kaum perempuan di pedesaan agar terjadikeseimbangan antara perempuan yang tinggal di perkotaan dengan pedesaan sama-sama memilikiketrampilan yang relatif bagus.

Faktor ini berlaku terutama di daerah-daerah terpencil yang jarang penduduknya serta pada keluarga-keluarga berpendidikan rendah yang mendahulukan pendidikan untuk anak lakilaki . bahan ajar. Jadi. metode/strategi pembelajaran. dan ekonomi keluarga yang lebih menganggap pendidikan untuk anak lakilaki lebih penting dibandingkan dengan perempuan. Pembedaan tersebut menjadi bermasalah ketika menghasilkan ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu. Gender merupakan analisis yang digunakan dalam menempatkan posisi setara antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat sosial yang lebih egaliter. Faktor-faktor struktural itu di antaranya adalah nilai-nilai sosial budaya.KESIMPULAN Pembedaan laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak menjadi masalah. Kesenjangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor struktur karena fasilitas pendidikan SD sudah tersebar relatif merata. Adapun faktor yang menjadi penyebab bias gender berkaitan dengan perolehan kesempatan belajar pada setiap jenjang pendidikan dasar adalah : Perbedaan angkatan partisipasi pendidikan pada tingkat SD/Ibtidaiyah sudah mencapai titik optimal yang tidak mungkin diatasi hanya dengan kebijakan pendidikan. Proses pembelajaran yang efektif untuk mentransfer dan menumbuhkembangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender harus didukung oleh komponen-komponen seperti. kompetensi guru. gender bisa dikategorikan sebagai perangkat operasional dalam melakukan measure (pengukuran) terhadap persoalan laki-laki dan perempuan terutama yang terkait dengan pembagian peran dalam masyarakat yang dikonstruksi oleh masyarakat itu sendiri. kurikulum (tujuan pembelajaran. kebijakan pendidikan. sehingga perbedaan itu menjadi semakin sulit ditekan ke titik yang lebih rendah lagi. evaluasi) serta fasilitas dan media pendidikan lainnya.

Getar Gender. Tinneke. 1998). Ensiklopedia Feminisme. Gonibala.DAFTAR PUSTAKA Amasari (Member of PSG LAIN). Slamet PH. Hellwig. Mosse. 2003). Rukmina. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Julia Cleves. Fenomena Bias Gender dalam Pendidikan Islam (artikel STAIN Manado Juli . Illich Ivan . Nunuk P. Waryono Abdul Gafur. Maggie. Mufidah Ch. 2004). I (Bandung: Mizan. Laporan Penelitian Pendidikan Berujatuasan Gender. Muslimah Reformis Perempuan Pembaru Keagamaan. Paradigma Gender. Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia (diterjemahkan oleh Rika Iffati Farikha). 2005). Humm. cet.. 2003). 2002). (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga. (Diterjemahkan oleh Hartian Silawati. Murniati.Desember 2007). cet. Gender dan Islam dalam teks dan Konteks. 2004). (Malang: Bayumedia Publishing. I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Banjannasin:IAIN Antasari. Siti Musda Mulia. diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi dengan judul Gender. . 2003). 2002). Gender. Gender dan Pembangunan. (Jakarta: Desantara. Pembentukan Karakter Peserta Didik. A. (Magelang: Indonesiatera. (IKIP Bandung Edisi Juli 1994). In The Shadow of Change. Jumat Mimbar Pendidikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->