P. 1
Tugas FILSAFAT ILMU (SAID MUBAROK, NIM.0904 S2 975)

Tugas FILSAFAT ILMU (SAID MUBAROK, NIM.0904 S2 975)

|Views: 202|Likes:
Published by Mohd Rafi Riyawi

More info:

Published by: Mohd Rafi Riyawi on Jan 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

ILMU DALAM PANDANGAN SAYYED HUSSEIN NASHR

A. Sayyed Hussein Nashr; Riwayat Hidup Sayyed Hussein Nashr dilahirkan di Teheran, Iran, pada tanggal 7 April 1933. Ayahnya bernama Sayyed Valullah Nashr, yaitu seorang ulama, dokter dan pendidikan terkenal pada masa dinasti Qajar. Pendidikan awalnya diperoleh dari kota kelahirannya, (Teheran). Kemudian oleh ayahnya ia dikirim belajar kepada sejumlah besar ulama besar di Iran di Qura. Termasuk kepada Ayatullah Muhammad Hussein Thabatba’iy, seorang ahli tafsir dan penulis Tafsir al-Mizan. Setelah menamatkan pedidikannya di Massachusatts Institute of technologi (MIT). Ameika Serikat,1 dan berhasil mendapatkan Diploma B.Sc dan MA dalam bidang fisika. Tidak puas dengan bidang studi fisika, tampaknya Nashr melanjutkan ke Universitas Harvard menekuni History of Science dan Philosophy dengan titik tekanan pada Islamic Science and Philosophy. Di perguruan tinggi ini Nashr berhasil meraih diploma Ph.D, tahun 1958,2 di bawah bimbingan orientalis terkenal, Hamilton A.R Gibb, dengan disertai tentang berbagai kosmologi Islam.3 Selanjutnya Nashr kembali ke Iran diangkat menjadi guru besar Filsafat dan Sains Islam pada Universitas Teheran. Pada tahun 1962-1965 ia diangkat menjadi guru besar tamu di Harvard University. Dalam periode yang sama ia dipercayai sebagai pemegang pertama pimpinan Agha Khan Chair of Islamic Studies dari American University of Beirut. Setelah selesai di Harvard, Nashr kembali mengajar di Universitas Teheran dan kemudian menjadi Dekan di Fakultas Sastra dan Seni (1969-1972). Pada waktu yang sama ia
Ambari Hasan Mu’arif, dkk, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996. hlm.80 Komaruddin Hidayat, dalam Dawam Raharjo, Insan Kamil; Konsepsi Manusia menurut Islam, Pustaka Grafitti Press, Jakarta, 1987, hlm.183. 3 Ambari Hasan Mu’arif ,dkk.op.cit.
2 1

1

meskipun Nashr sendiri tampaknya belum sampai pada tingkatan sufi. Pemikiran Filsafatnya Sayyed Hussein Nashr Dari beberapa buku karangan Nashr. mengesankan ada dua arus pemikiran yang dikonfrontasikan antara yang satu dengan yang lain. selain mengajar Nashr juga menulis dari selusin buku4. Philadelphia dan akhirnya di Georgia University. Ia memutuskan untuk tidak kembali ke Iran dan menetap di Amerika Serikat. dan lain-lain. kemudian ia diangkat sebagai konselor Arya-Mehr University of tehnology Teheran sampai ia meninggalkan Iran. B.juga memangku jabatan pembantu Dekan Universitas Teheran (1970-1971). sampai ia meninggalkan Iran menjelang meletusnya Revolusi Islam Iran (1979). Washington D.C. Di antara buku-buku itu adalah Three Sage Moslim (Tiga Muslim yang Bijak). Idealis and Realities in Islam (Cita-cita dan Realitas Dunia Islam). Nashr memiliki orientalitas tersendiri pada tingkat tertentu yakni. kemudian ia mengajar diberbagai Universitas seperti Temple University. untuk mencari alternatif jawaban bagi problem manusia modern. 4 Ibid 2 . Yang terakhir lebih menekankan paham sufisme. Man and Nature (Manusia dan Alam). Sufi Essay (Essay Tentang Sufi). ia meramu paham sufisme yang dikuasainya dengan pengalaman dan hasil studinya di Barat. yaitu faham metafisika Islam di pihak lain. Walaupun demikian. dan telah disalin (diterjemahkan) ke dalam lebih dari sepuluh bahasa asing. Nashr berada di Amerika Serikat. yang sebagian besar kumpulan naskah ceramahnya diberbagai tempat. Menjelang revolusi Iran. Sebagaimana tokoh-tokoh sufi yang dikenal di dunia Islam. Islam and The Plightof Modern (Islam dan Kegelisahan Manusia Modern).

Dalam mencari alternatif jawaban itu. bukannya mendekati kebahagiaan hidup melainkan sebaliknya. baik filsafat maupun sufisme. 3 . Mereka telah menjadi pemuja ilmu dan teknologi. sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaan tereduksi. 184-185. Mereka merasa cukup dengan perangkap ilmu dan teknologi. Nashr menggunakan pendekatan Filosofis dan Sufistik. Terhadap fenomena spesial semacam ini Nashr menggunakan dua istilah pokok yaitu Axis dan Rim atau cenre dan Perphery untuk membedakan dua kategori orientas hidup manusia. Menurut Nashr. 5 Ibid. hlm. suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat materi rupa dengan perangkat teknologi yang serba mekanis dan otomatis. sementara pemikiran dan paham keagamaan yang bersumber pada ajaran wahyu yang ditinggalkan dengan ungkapan yang lebih populer masyarakat Barat telah memasuki The Post Cristian Era dan berkembang paham secularism5. yang memiliki pemikiran metafisik. masyarakat barat yang sering digolongkan The Post Industrial Sosiety. bahwa masyarakat modern sedang berada di wilayah pinggiran eksistensinya berdiri sendiri. Dalam pandangan Nashr ada dua sebab terjadinya problem manusia modern yaitu karena kehilangan visi keilahian dan kehampaan spiritual. yang pertama tentunya sesuai dengan disiplin ilmunya. lalu terperangkap pada sistem rasionalitas teknologi yang semakin tidak benar. sebagai buah gerakan reneisans abad ke 16. bergerak menjauh dan pesat baik yang menyangkut dalam lingkungan dirinya maupun dalam kosmisnya. minat. Persia. barangkali karena bakat. Sedangkan yang kedua. kian dihinggapi rasa cemas justru karena kemewahan hidup yang diraihnya. serta pengaruh kebudayaan leluhurnya. Ia berulang kali mengatakan walaupun dengan ungkapan yang berbeda-beda.

ternyata tidak selalu berhasil memenuhi janjinya mengangkat harkat kemanusiaan dan sekaligus memberi makna yang lebih dalam bagi kehidupan. Manusia modern kian dihinggapi dasa cemas dan tidak bermanaan dalam kehidupannya. dengan watak dasarnya yang sekuleris-meminjam istilahnya Fritchjof Schuon-sudah terlepas dari Scintia Sacra (Pengetahuan suci) atau Philosophia Perenneis (Filsafat Keabadian). Kemudian pada perkembangan selanjutnya. positifisme. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadarn dan pola kehidupan baru. baikteralienasi dari dirinya sendiri. Sebagai akibatnya. dari lingkungan sosilanya maupun teralienasi dari Tuhannya. karena itu mudah dihinggapi kahampaan spiritual. telah menghantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme. pada abad ke-20. modernisme melahirkan corak pemikiran yang mengarah pada rasioanalisme.Maka dari itulah. Masa ini seperti yang dikatakan Jurgen Habermes seorang 4 . sekulerisme dan materialisme. Menyadari kondisi masyrakat modern yang sedemikian. terutama sejak beberapa dekade terakhir ini. jika kita kembalikan pada bahasan semula tentang metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris. Mereka telah kehilangan visi keillahiahan atau dimensi ransedental. Proses modernisasi yang dijalankan Barat yang diikuti negara-negara lain. pragmatisme. muncul suatu gerakan yang mencoba menggugat dan mengkritik teori-teori modernisasi. Modernisme justru telah diraskan membawa dampak terhadap terjadinya kerancauan dan penyimpangan nilai-nilai. manusia modern menderita keterasingan (alienasi). Kritik terhadap modernisme dan usaha pencarian ini sering disebut dengan masa pasca modernisme (post-modernisme). Aliran-aliran filsafat ini.

Cahaya Yang Asal.1989). Titus Burckhart. dan pemuka-pemuka AlIkhwan (sering disebut kelompok fundamentalis. Fritcjof Schoun.1949).1928). Abul A’al al-Maududi (m. dan bahkan terhapa sebagian kelompok pemikir Islam yang mencoba mencari alternatif non-Barat.1978).Sosiolog dan Filosof Jerman tidak hanya ditandai dengan kehidupan yang semakin materialistik dan hedonistik. as-Sunnah dan kehidupan para Sahabatdalam pengertian tekstual. Sayyid Quthub (m. Gerakan ini dikenal dengan sebutan perenneialisme atau tradisionalisme: adalah sebuah gerakan yang ingin mengembalikan bibit Yang Asal. Masyarakat pada Era Post-Modernisme mencoba untuk keluar dari lingkaran krisis tersebut dengan kembali pada hikmah spiritual yang terdapat dalam semua Agama otentik. Martin Lings. Henry Corbin (m.1965). Rene Guenon. Untuk menyebut beberapa nama tokoh yang melopori gerakan-gerakan tersebut antara lain. tetapi juga telah mengakibatkan terjadinya intrusi massif dan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidupan. dan isma’il Raji al-Faruqi (m.1986)-yang sering disebut kelompok Neo-Modernis-berusaha mencarai relevansi Islam bagi dunia modern Islam. Louis Massignon (m.1962). Kelompok yang disebut terkahir misalnya Hasan Albana (m. ataupun prinsipprinsip yang asal. yang sekarang hilang dari tradisi pemikiran manusia modern. dan masih banyak lagi. Ananda K. Fazlur Rahman (m. Manusia perlu untuk memikirkan kembali hubungan antara Yang Suci (Sacred) dan yang sekuler (Profan). atau lebih tepat ‘Neo-Revivalis Islam’) menghendaki agar semua persoalan kemoderenan selalu dikembalikan kepada acuan alQur’an. Muhammad Arkoun(l. Sementara di kalangan modernis Islam gerakan Pembaharuan dan pemikiran dalam Islam sejak fase 60-an hingga dewa ini mencoba bersikap lebih kritis terhadap ide-ide modernisasi sebelumnya. Coomaraswamy. 5 .1979).

Kemudian selnjutnya lahir tokoh-tokoh pemikir kontemporer lain sebagai pemikir alternatif . sejauh ini gerakan-gerakan fundamentalis atau revivalis Islam tak lebih merupakan dikotomi tradisionalisme-modernisme.bagi mereka. rasionalistik.1979). Hassan Hannafi (l. Mereka mengutuk westernisasi dan sekulerisasi masyarakat Islam. dan ekses-ekses kapitalisme. keberadaannya justru menjadi terlalu radikal dan terlalu mengarah kepada misi politis dari pada normatikreligius (nilai-nilai ke-Agamaan). yakni Sayyed Hussein Nasr yang mencoba menawarkan konsep nilai-nilai keislaman yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘Tradisionalisme Islam’. dan Abdillah Larraui (sering disebut penyebar paham Kiri Islam) berkepentingan membela massa. Etika Ilmu Pengetahuan 6 . Merupakan gerakan respon terhadap kekacauan Barat modern yang sedang mengalami kebobrokan spiritul. Oleh karenanya kelompokterkhir ini. Sedang tokoh-tokoh muslim lain seperti Ali Syari’ati (m. rakyat tertindas dan menampilkan ISlam sebagai kekuatan revolusionerpolitik. atasnama pembaharuan-pembaharuan trdisional Islam. Sayyed Hussein Nasr beranggapan. dan liberalistik.1935). Nasionalisme. Kelompok ini dalam pembaharuannya berkecndrungan k arah humanistik. C. Sekalipun gerakan-gerakan seperti itu. adlah al-Qur’an adn as-Sunnah yang meski ditangkap pesan-pesan tersebut. sering juga disebut sebagai penyebar sosiallisme ISlam dan Marxisme Islam sebagai model pembangunan di dunia Islam. dimana menurut penilaian Nasr menyarankan agar Timur menjadi Barat sebagai case study guna mengambil hikmah dan pelajaran sehingga Timur tidak mengulangi kesalahn-kesalahan Barat. demikian juga materialisme serta ke-tak Bertuhanan Marxisme.

maka harus dilihat dari dua aspek.6 Pada fase rasional dan empiric (abad ke 17). Hal ini disebabkan kegiatan ilmiah bertujuan hanya menyusun teori-teori keilmuan dan mewujudkan karya praktis ilmu pengetahuan (teknologi).Pada masa Yunani ilmu tidak terikat dengan nilai. etika teleologis (tujuan ilmu). Van Peursen menyatakan. Apakah penemu atom (yang bergerak dalam tataran teoritis) dapat disalahkan atas kejadian tersebut? Ataukah tentara sekutu yang menjatuhkan (secara praktis) menggunakan bom atom untuk tujuan membunuh manusia? Untuk melihat apakah ilmu bebas nilai atau terikat nilai. Kebenaran sebagai tugas ilmu pada hakikatnya adalah sebuah nilai. Orang bebas berbuat apa saja untuk kepentingan ilmiah. Paradigma keilmuan Barat modern cendrung berpendapat ilmu pengetahuan dari aspek teoritis bebas nilai (netral). Maka keresahan adalah jarak yang prinsipil ke arah kebenaran. Hal ini berangkat dari ucapan primum vivere. diende philosophari. 39 7 Soejono Soemargono. tugas ilmu adalah menjawab keresahan manusia. Ilmu digeluti manusia untuk ilmu itu sendiri (le’science pour le’science). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. pertama. Pembahasan melebar kepada aspek konsekwensi logis dan tanggung jawab ilmu pengetahuan.. Menurut Aristoteles ilmu tidak mengabdi kepada fihak lain. etika ontologis (hakikat ilmu). 2004. Pengantar Filsafat.. ilmu mulai terikat nilai. Ali Mahdi Khan.7 Pada masa keemasan keilmuan Barat modern perdebatan tentang etika keilmuan beralih kepada aspek teoritis dan aspek praktis ilmu pengetahuan.hlm. Hal ini berangkat dari pertanyaan. Dasar-Dasar Filsafat Islam. Setelah jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. apa sebenarnya tujuan ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini memunculkan jawaban kegunaan ilmu untuk menjawab kebutuhan manusia. Ilmu adalah sesuatu yang mewah yang dapat dilakukan oleh segelintir orang yang sudah mapan.135 6 7 .hlm. kedua. Pengantar ke Gerbang Pemikiran. perdebatan tentang ini terus berlanjut. Bandung: Nuansa 2004.

Jadi ilmu pengetahuan dalam tataran teoritis bebas nilai dalam arti secara ontologis. fiqh dan tasawwuf.Sebagai proses. Dalam tataran praktis ilmu harus tunduk kepada nilai-nilai universal yaitu mengabdi untuk kebenaran. Dengan demikian terdapat sebuah spektrum pandangan mengenai relasi sains modern dan Islam. Berdasarkan uraian di atas. kegiatan ilmiah dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang agama. Dari sains itu tak islami. tidak mungkin ilmu lepas dari nilai. D. Cara kerja ilmu pengetahuan sudah mengabaikan prinsi-prinsip agama. tujuan sains modern yang rasional obyektif serta menyangkut nilai pemanfaatan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Dari segi teoritis pembahasan menyangkut paradigma bebas nilai atau tidaknya ilmu pengetahuan. Ada yang mengatakan bahwa sains itu netral seperti almarhum Abdussalam. Dari segi praktis pembahasan menyangkut nilai kegunaan. sains tak dapat dilepaskan dan konteks sosial dan kultural yang selalu 8 . Kemunduran peradaban Islam bersumber pada ketidak mampuan umat Islam menggali Quran secara ilmiah di satu pihak dan kegagalan mengakomodasi tuntutan-tuntutan zaman sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi. tetapi modernisasi ilmu-ilmu kalam. Kecuali nilai yang boleh mengikat adalah kebenaran/ hikmah/ kebijaksanaan. etnis. lewat sains itu netral hingga sains itu sudah islami (terikat nilai). Ada yang mengatakan sains yang sekarang tidak islami seperti kata Sayyed Hossein Nasr. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Islamisasi ilmu pengetahuan bergerak pada dua poros utama yaitu: teoritis dan praktis. ideology dan bangsa. karena ilmu pengetahuan modern yang berkiblat ke Barat sudah lepas dari nilai teologisnya (agama). Oleh karena itu yang perlu dilakukan bukanlah islamisasi sains.

namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil. Imaduddin Khalil bahkan mengusulkan agar disusun khusus sebuah Kode Etik Keilmuan Islam. meskipun 9 . baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis. dan 3) etika pengajar dan pelajar. DR. Di dorong oleh semangat semacam ini epistemologi Islam melahirkan rumus peran sosial ilmu dan hal-hal terlibat di dalamnya. ilmu tanpa agama buta. Oleh karena itu di dalam Islam persoalan “relevansi sosial” lebih diunggulkan daripada “relevansi intelektual”. dan Islam tidak mengenal klaim “bebas nilai” dalam ilmu-pengetahuan. Ilmu ditujukan untuk ibadah. di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur. 2) etika orang berilmu. Kecuali dalam ilmu-ilmu tertentu yang menunjukkan kekhasannya. metalurgi Islam. Dari penjalasan di atas Islamisasi ilmu sangat perlu dilakukan. Dalam hal ini al-Ghazalı merumuskan 3 kelompok ilmu yaitu 1) jenisjenis ilmu terpuji dan tercela. kimia Islam dan sebagainya. Begitu juga teknologi. agama tanpa ilmu lumpuh. pentingnya islamisasi. Sekadar ilustrasi. Ilmu dalam Islam bersifat spiritual.berkembang sesuai dengan kemajuan sains sebagai produk dan teknologi sebagai aplikasi sains. etika dari Timur. Shustery mengatakan. tidak perlu mencantumkan Islamnya dalam satu frasa semisal. Dari segi prakteknya. Sosiologi Islam. Sastra Islam. metode ilmiah dari Barat. Tetapi dalam hal penamaan. sains terapan (teknologi) itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan. epistemologinya tidak mendesak sampai ke arah itu. Einstein. seperti politik Islam dan ekonomi Islam.

Dengan meode ilmiah itu. yakni kristen. segala pengetahuan yang berada diluar jangkauan indra dan rasio serta pengujian ilmiah ditolaknya. Anggapan semacam ini seolah-olah Barat masih seperti Barat pada abad pertengahan. 10 . Dengan wataknya tersebut sudah dapat dipastikan bahwa. termasuk didalamnya penegtahuan yang bersumber pada Religie. namun ia tetap mengakui etika itu datang dari Timur. perlu juga ditegaskan antar hubungan Barat yang modern dan peran Agama resmi yang berlaku disana. Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri. Termasuk didalamnya Tradisonalisme Islam yang dihidupkan Nasr. Manusia di Barat sengaja membebaskan dari Tatana Ilahiah (Theo Morphisme). Hingga kemudian mulai bermunculan gerakan-gerkan responsif alternatif sebagai respon balik terhadap prilaku masyarakat modern yang tidak lagi mengenal dunia metafisik. Zaman Modern atau Abad Modern di Barat adalah zaman. atau gerakan New Age di Barat pada akhir dewasa ini. Atau dengan istilah lain. Dengan Kontek ini. ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan segala persoalanpersoalan hidupnya. kebenaran sesuatu hanya mereka perhitungkan dari sudut fisiologis-lahiriah yang sangat bersifat profanik (keduniawian atau kebendaan). Dengan demikian. Islam sekarang identik dengan Timur.Shustery mengklaim ilmu itu dari Barat. untuk selanjutnya membangun Tatanan Antropomorphisme suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada manusia. dengan perkecualian minoritas penganut Yahudi. Ada sebagian orang beranggapan bahwa seluruh orang Barat menganut Agama Kristen. kebenaran ilmu pengetahuan hanya diukur dari sudut koherensi dan korespodernsi. Manusia hanya dipandang sebagai mahluk yang bebas yang independen dari Alam dan Tuhan.

telah terjadi upaya membawa dunia Baat kearah sekularisme dan penipisan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari manusia. kemajuan iptek justru identik dengan bencana.Namaun dalam kurung waktu yang panjang iptek ternyata menghianati kepercayaan manusia. bahkan sebelumnya. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi Agama. yaitu ketika renaisans.ketika trjadi perang salib yang perabannya saat itu adalah disebut abad keimanan. Marx (Maxisme) yang menegaskan bahwa Agama adalah candu masyarakat. Krisis Epistimologis. Kemunculan gagasan-gagasan semacam itu mungkindiakibatkan adanya ketidak mampuan sistem keimanan sistem yang berlaku disana untuk mengakomodasikan perkembangan masyarakat modern dengan ilmu pengetahuanya. Puncak penolakan terhadap Agama Kristen di Barat disuarakan oleh Nietzsche dengan statemennya yang banyak di kenal orang The God is dead. yaitu bahwa seluruh orang Baat bersifat materialik atau agnostik serta skeptik dan tidak menganut satu Agama apapun. Ada juga sebagian yang lain beranggapan sebaliknya. Pada Abad ke-17. Yakni masyarakat Barat tidak lagi menegtahui tentang makna dan tujuan hidup (Meaning and Purpose of Life). Pandangan semacam ini bisa disebut keliru. Akhirnya berakibat pada sejumlah orang Barat yang secaa praktis tidak lagi menganut Agama Kristen atau Yahudi. karena yang terjadi tidaklah demikian. Kermajuan masyarakat yang sudah berhasil dan begitu percaya pada iptek. yang karenanya ia harus ditinggalkan. Ditambah dengan ajaran filsafat sosial (sosialisme). yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis menjadi jalan mulus menuju kearah sekularisme Dunia Barat. Segala kebutuhan Agama seolah bisa terpenuhi dengan iptek. Kondisi inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa yang disebut Cak Nur (Dr. 11 . Orang semacam Comte. Nurkholis Madjid) yang dikutipnya dari Baigent. akhirnya berkembang lepas dari kontrol Agama.

yang selanjutnya tidak hanya berubah menjadi kehancuran ekonomi.Manusia modern semakin memperparah dirinya dengan yang dia nyatakan sendiri. tapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnyamenyangkut pengertian-pengertian mengenai dirinya sendiri-ternyata dangkal. Seperti yang dilakukan Faust setelah menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan terhadapa lingkungan alam manusia ia menciptakan suatu situasi. dunia ini menurut pandangan manusia adalah dunia yang memang tak memiliki dimensi transedental. sehingga mengakibatkan ia lupa siapa dirinya. tidak lagi memilki ‘horizon spiritual’. tetpi juga perbuatan bunuh diri. hinggakonfernsi bumi (Earth Summith) di Rio De Janeiro tahun lalu. Itu sebabnya. tidak pada pusat spiritualitas dirinya. dan menjadi bergantung berhubungan dengan dirinya. tidak hanya disebabkan karena alasan maerialdulu sering diungkap oleh banyak ahli-tapi justru lebih pada sebab-sebab yang bersifat transedental: sebab-sebab cara pandang manusia terhadap alam ini. Manusia dewasa ini semakin sadar bahwa seluruh krisis dibumi ini. Memang dengan apa yang dilakukannya sekarang-memberi perhatian pada dirinya yang secara kuantitatif sangat mengangumkan. Dimulai dengan laporan mengenai batas-batas pertumbuhan sekitar 25-an tahun lalu. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari pinggiran eksistensinya saja. Begitulah dunia belakangnan ini juga ditandai pembicraan tentang krisis lingkungan hidup. tapi karena manusia modern-dalam istilah Filsafat Perrenial-hidup dipinggir lingkaran eksistensi. Ini bukan berarti hprozon spiritual itu tidak ada. Dunia modern sekarang ini. dimana kontrol terhadap lingkungan berubah menjadi pencekikan. Dekadensi atau kejatuhan manusia di zaman modern ini terjadi karena mansuia kehilangan ‘pengetahuan langsung’ mengenai dirinya itu. karena ia telah lupa sipakah ia sesungguhnya. Dengan demikian menjadi wajar jika peradaban modern yang 12 .

Dengan demikian perbedaan yang tajam antara keduanya terjustifikasi. Sejarah pemikiran Barat modern. sekalipun terdapat wlayah-wilayah tertentu. dimana beberapa jenis fundamentalisme dan dimensidimensi khusus Islam Tardisonal bersesuaian. namun justru keadaan yang semakin menjauh dari eksistensi dan pengertian yang tepat mengenai hakekat diri yang diperoleh. Belakangan ini baru disadari adanya krisis spiritual dan krisis pengenalan diri. sejak Rene Descartes ditandai dengan usaha menjawab tantangan keberadaan manusia sebagai mahluk mikro kosmik. yaitu dimensi spiritual. Pada momen sejarah ini pulalah saat yang tepat untukmembedakan gerakan-gerakan yang disebut sebagai ‘Fundamentalisme Islam’ dari Islam Tradisional yang sering dikelirukan siapapun yang telah membaca karya-karya yang bercorak tradisionaltentang Islam dan membandingkannya dengan perjuangan lairan-aliran ‘fundamentalis’ tersebut segera dapat melihat perbedaan-perbedaan mendasar diantara mereka. Malahan yang dijuluki sebagai fundamentalisme mencakup satu spektrum yang luas. Gerakan Tradisonalisme Islam yang diidekan dan dikembangkan nasr. yang bagian-bagiannya dekat sekali dengan Interpretasi tradisional tentang Islam. Tetapi sayangnya. merupakan gerakan untuk mengajak kembali ke ‘akar tradisi’.dibangun selama ini tidak menyertakan hal ayng paling esensial dalam kehidupan manusia. bukan pengerian yang makin mendalam yang didapat. yang merupakan Kebenaran dan Sumber 13 . Tetapi tekanan utama macam gerakan polito-religius yang sekarang ini disebut fundamentalisme itu mempunyai perbedaan yang mendasar dengan Islam Tradisional. Dengan falsafahnya yang amat terkenal cogito ergo sum (karena berpikir maka aku ada). tidak saja didalam kandungan tetapi juga didalam ‘iklim’ yang mereka nafaskan.

dan Yang Absolut. Yang Suci. Tradisonalisme Islam boleh dikatakan juga disebut sebagai gerakan intelektual secara universal untuk mampu merespons arus pemikiran Barat modern (merupakan efek dari filsafdat modern) yang cenderung bersifat profanik. Turki dan kelompok-kelompok fundamentalis lain. Sekaligus makna absolut memiliki kaitan emanasi dan nominasi dari sesuatu sesuatu yang profan dan aksidental.Asal segala sesuatu. dengan mencoba menghubungkan anatar sekuler (Barat) dengan dimensi ke-Ilahiahan yang bersumber pada wahyu Agama. Usaha Nasr untuk menelorkan ide semacam itu paling tidak merupakan tawaran alternatif sebuah nilai-nilai hidup bagi manusia modern maupun sebuah negara yang telah terjangkit pola pikir modern (yang cenderung bersifat profanik dengan gaya sekuleristiknya) untuk kemudian kembali pada sebuah akar tradisi yang bersifat transedental. 14 . dan selanjutnya untuk sekaligus dapat membedakan gerakan Tradisionalisme Islam tersebut dengan gerakan Fundamentalisme Islam. Seperti disampaikan manusia melalui wahyu maupun pengungkapan dan pengembangan peran sakral itu di dalam sejarah kemanusiaan tertentu untuk mana ia maksudkan. Tradisionalisme Islam adalah gambaran awal sebuah konsepsi pemikiran dalam sebuah bentuk Sophia Perenneis (keabadian). dalam satu cara yang mengimplikasikan baik kesinambungan horizontal dengan sumber maupun mata rantai vertikal yang menghubungkan setiap denyut kehidupan tradisi yang sedang diperbincanngkan dengan realitas transeden meta-historikal. seperti halnya yang dilakukan di Iran. Sebagaimana yang dipergunakan oleh para kelompok Traditonalis tema tradis menyiratkan sesuatu Yang Sakral.

yaitu masyarakat yang hanya menekuni dimensi luar yang senantiasa berubah. Islam Tradisional memempertahankan Islamitas seni Islam. Manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya. Untuk dapat menguak kembali integritas manusia dan alam secara utuh. Nashr juga menawarkan agar manusia barat modern kembali kepada 15 . yang langgeng. masyarakat Barat asyik bergelut dengan problem empiris. serta penerapan bersinambungan prinsip-prinsipnya yang lansung perennei terhadap berbagai situasi ruang dan waktu. wahyu Islam dan kristalisasi khazanah spiritual Agama dalam bentuk-bentuk yang tampak dan terdengar. Ilmu skuder tidak akan dapat menampakkan eksistensinya tanpa harus terlibat dalam proses perubahan dan menjadi secara utuh. Perspektif tadisional selalu berpegang pada realisme yang didasarkan pada norma-norma Islam. Nashr menekankan manusia harus berada pada titik pusat yang mampu mengambil jarak dari kenyataan yang senantiasa berubah dan serba tidak senonoh (profane). kebijaksanaan yang abadi (sophia perenneis). bukannya menguak hekekat keberadaan manusia dan alam semesta ini sama dengan hancurnya aspek-aspek manusia dan alam yang tidak dapat berubah. Alternatf yang diberikan oleh Nashr terhadap kritik yang diberikan terhadap kritik manusia modern. Untuk itulah Islam Tradisional mempertahankan syariah sebagai hukum Ilahi sebagiamana ia dipahami dan diartikan selama berabad-abad dan sebaimana ia dikristalkan dalam madzab-madzab klasik. Lebih lanjut ia katakan.Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus. Dalam hal ini yang dikehendaki oleh Nashr adalah agar manusia modern memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang merupakan landasan kebijakan. kaitannya dengan dimensi batini. yang tetap. dan dalam domain politik. tampaknya memiliki signifikansi yang kuat terhadap realitas kehidupan manusia modern sekarang. sejak reneisans. Hukum menyangkut kefustifikan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Ambari Hasan Mu’arif. Sehingga merasakan bahwa ilmu itu diciptakan sendiri oleh manusia. 16 . Ini disebabkan karena ia yakin benar bahwa Islam sebagai agama dengan karakter universal mampu menjawab tantangan dan krisis dunia modern. Penutup dan Kesimpulan Dari pemaparan diatas. namun bantahannya kepada dunia barat yang lebih mengagungkan ilmu pengetahuan daripada agama. Nashr juga berusaha menggali dan membangkitkan warisan pemikiran-pemikiran Islam untuk mengkonfrontir paham-paham filosofi keduniawian. Sementara dilain pihak.agama. 1996. para pemikir dunia barat lebih mementingkan konsep keilmuan yang mengatur kehidupannya. Ichtiar Baru Van Hoeve. yang salah satu fungsinya adalah untuk membimbing jalan hidup manusia agar lebih baik dan selamat di dunia dan di akhirat kelak. Selain itu. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa ia termasuk kedalam kelompok Neo-modernis muslim dan sebagian lagi menyebutnya Neo-tradisionalis muslim. dapatlah ditarik kesimpulan mengenai filosofi Sayyed Hussein Nashr tentang pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ensiklopedi Islam. telah meyakinkan kita bahwa ia termasuk salah seorang pemikir yang lebih mementingkan konsep ketuhanan (agama) sebelum ilmu. Jakarta : PT. Hal ini disebabkan proses reneisans yang telah membolakbalikan pemikiran manusia yang lebih mementingkan ilmu pengetahuan daripada agama. C. dkk.

Dasar-dasar Filsafat Islam. Khan. dalam Dawam Raharjo.Komaruddin Hidayat. 2004 www. Soejono. Soemargono. 1987. Insan Kamil. 2004.blogspot.com 17 . Bandung: Nuansa. Ali Mahdi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Pengantar Filsafat. Konsepsi Manusia menurut Islam. nasirsalo. Jakarta: Pustaka Grafitti Press. Pengantar ke Gerbang Pemikiran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->