ILMU DALAM PANDANGAN SAYYED HUSSEIN NASHR

A. Sayyed Hussein Nashr; Riwayat Hidup Sayyed Hussein Nashr dilahirkan di Teheran, Iran, pada tanggal 7 April 1933. Ayahnya bernama Sayyed Valullah Nashr, yaitu seorang ulama, dokter dan pendidikan terkenal pada masa dinasti Qajar. Pendidikan awalnya diperoleh dari kota kelahirannya, (Teheran). Kemudian oleh ayahnya ia dikirim belajar kepada sejumlah besar ulama besar di Iran di Qura. Termasuk kepada Ayatullah Muhammad Hussein Thabatba’iy, seorang ahli tafsir dan penulis Tafsir al-Mizan. Setelah menamatkan pedidikannya di Massachusatts Institute of technologi (MIT). Ameika Serikat,1 dan berhasil mendapatkan Diploma B.Sc dan MA dalam bidang fisika. Tidak puas dengan bidang studi fisika, tampaknya Nashr melanjutkan ke Universitas Harvard menekuni History of Science dan Philosophy dengan titik tekanan pada Islamic Science and Philosophy. Di perguruan tinggi ini Nashr berhasil meraih diploma Ph.D, tahun 1958,2 di bawah bimbingan orientalis terkenal, Hamilton A.R Gibb, dengan disertai tentang berbagai kosmologi Islam.3 Selanjutnya Nashr kembali ke Iran diangkat menjadi guru besar Filsafat dan Sains Islam pada Universitas Teheran. Pada tahun 1962-1965 ia diangkat menjadi guru besar tamu di Harvard University. Dalam periode yang sama ia dipercayai sebagai pemegang pertama pimpinan Agha Khan Chair of Islamic Studies dari American University of Beirut. Setelah selesai di Harvard, Nashr kembali mengajar di Universitas Teheran dan kemudian menjadi Dekan di Fakultas Sastra dan Seni (1969-1972). Pada waktu yang sama ia
Ambari Hasan Mu’arif, dkk, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996. hlm.80 Komaruddin Hidayat, dalam Dawam Raharjo, Insan Kamil; Konsepsi Manusia menurut Islam, Pustaka Grafitti Press, Jakarta, 1987, hlm.183. 3 Ambari Hasan Mu’arif ,dkk.op.cit.
2 1

1

Washington D. Walaupun demikian. Sufi Essay (Essay Tentang Sufi). Nashr berada di Amerika Serikat. Yang terakhir lebih menekankan paham sufisme. Ia memutuskan untuk tidak kembali ke Iran dan menetap di Amerika Serikat. yaitu faham metafisika Islam di pihak lain. Menjelang revolusi Iran. Nashr memiliki orientalitas tersendiri pada tingkat tertentu yakni. Di antara buku-buku itu adalah Three Sage Moslim (Tiga Muslim yang Bijak). Pemikiran Filsafatnya Sayyed Hussein Nashr Dari beberapa buku karangan Nashr. Sebagaimana tokoh-tokoh sufi yang dikenal di dunia Islam. dan lain-lain. meskipun Nashr sendiri tampaknya belum sampai pada tingkatan sufi. B. kemudian ia mengajar diberbagai Universitas seperti Temple University. kemudian ia diangkat sebagai konselor Arya-Mehr University of tehnology Teheran sampai ia meninggalkan Iran. dan telah disalin (diterjemahkan) ke dalam lebih dari sepuluh bahasa asing. untuk mencari alternatif jawaban bagi problem manusia modern. Man and Nature (Manusia dan Alam).juga memangku jabatan pembantu Dekan Universitas Teheran (1970-1971). mengesankan ada dua arus pemikiran yang dikonfrontasikan antara yang satu dengan yang lain. Islam and The Plightof Modern (Islam dan Kegelisahan Manusia Modern). 4 Ibid 2 . selain mengajar Nashr juga menulis dari selusin buku4.C. ia meramu paham sufisme yang dikuasainya dengan pengalaman dan hasil studinya di Barat. yang sebagian besar kumpulan naskah ceramahnya diberbagai tempat. sampai ia meninggalkan Iran menjelang meletusnya Revolusi Islam Iran (1979). Idealis and Realities in Islam (Cita-cita dan Realitas Dunia Islam). Philadelphia dan akhirnya di Georgia University.

Dalam mencari alternatif jawaban itu. Sedangkan yang kedua. Menurut Nashr. bahwa masyarakat modern sedang berada di wilayah pinggiran eksistensinya berdiri sendiri. Terhadap fenomena spesial semacam ini Nashr menggunakan dua istilah pokok yaitu Axis dan Rim atau cenre dan Perphery untuk membedakan dua kategori orientas hidup manusia. sebagai buah gerakan reneisans abad ke 16. 184-185. Persia. kian dihinggapi rasa cemas justru karena kemewahan hidup yang diraihnya. hlm. serta pengaruh kebudayaan leluhurnya. Ia berulang kali mengatakan walaupun dengan ungkapan yang berbeda-beda. Mereka telah menjadi pemuja ilmu dan teknologi. baik filsafat maupun sufisme. lalu terperangkap pada sistem rasionalitas teknologi yang semakin tidak benar. yang memiliki pemikiran metafisik. suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat materi rupa dengan perangkat teknologi yang serba mekanis dan otomatis. minat. barangkali karena bakat. sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaan tereduksi. masyarakat barat yang sering digolongkan The Post Industrial Sosiety. sementara pemikiran dan paham keagamaan yang bersumber pada ajaran wahyu yang ditinggalkan dengan ungkapan yang lebih populer masyarakat Barat telah memasuki The Post Cristian Era dan berkembang paham secularism5. Dalam pandangan Nashr ada dua sebab terjadinya problem manusia modern yaitu karena kehilangan visi keilahian dan kehampaan spiritual. bukannya mendekati kebahagiaan hidup melainkan sebaliknya. yang pertama tentunya sesuai dengan disiplin ilmunya. 5 Ibid. 3 . bergerak menjauh dan pesat baik yang menyangkut dalam lingkungan dirinya maupun dalam kosmisnya. Nashr menggunakan pendekatan Filosofis dan Sufistik. Mereka merasa cukup dengan perangkap ilmu dan teknologi.

modernisme melahirkan corak pemikiran yang mengarah pada rasioanalisme. baikteralienasi dari dirinya sendiri. dari lingkungan sosilanya maupun teralienasi dari Tuhannya. Kritik terhadap modernisme dan usaha pencarian ini sering disebut dengan masa pasca modernisme (post-modernisme). pada abad ke-20. dengan watak dasarnya yang sekuleris-meminjam istilahnya Fritchjof Schuon-sudah terlepas dari Scintia Sacra (Pengetahuan suci) atau Philosophia Perenneis (Filsafat Keabadian). sekulerisme dan materialisme. manusia modern menderita keterasingan (alienasi). Sebagai akibatnya. jika kita kembalikan pada bahasan semula tentang metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris. telah menghantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme. Proses modernisasi yang dijalankan Barat yang diikuti negara-negara lain. Masa ini seperti yang dikatakan Jurgen Habermes seorang 4 . terutama sejak beberapa dekade terakhir ini. pragmatisme. karena itu mudah dihinggapi kahampaan spiritual. Menyadari kondisi masyrakat modern yang sedemikian. Modernisme justru telah diraskan membawa dampak terhadap terjadinya kerancauan dan penyimpangan nilai-nilai. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadarn dan pola kehidupan baru. Manusia modern kian dihinggapi dasa cemas dan tidak bermanaan dalam kehidupannya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya.Maka dari itulah. ternyata tidak selalu berhasil memenuhi janjinya mengangkat harkat kemanusiaan dan sekaligus memberi makna yang lebih dalam bagi kehidupan. Aliran-aliran filsafat ini. positifisme. muncul suatu gerakan yang mencoba menggugat dan mengkritik teori-teori modernisasi. Mereka telah kehilangan visi keillahiahan atau dimensi ransedental.

Gerakan ini dikenal dengan sebutan perenneialisme atau tradisionalisme: adalah sebuah gerakan yang ingin mengembalikan bibit Yang Asal. Muhammad Arkoun(l. ataupun prinsipprinsip yang asal. yang sekarang hilang dari tradisi pemikiran manusia modern. Sayyid Quthub (m. Ananda K. atau lebih tepat ‘Neo-Revivalis Islam’) menghendaki agar semua persoalan kemoderenan selalu dikembalikan kepada acuan alQur’an.1965). as-Sunnah dan kehidupan para Sahabatdalam pengertian tekstual. Abul A’al al-Maududi (m. Coomaraswamy. Sementara di kalangan modernis Islam gerakan Pembaharuan dan pemikiran dalam Islam sejak fase 60-an hingga dewa ini mencoba bersikap lebih kritis terhadap ide-ide modernisasi sebelumnya. dan bahkan terhapa sebagian kelompok pemikir Islam yang mencoba mencari alternatif non-Barat. Fritcjof Schoun.Sosiolog dan Filosof Jerman tidak hanya ditandai dengan kehidupan yang semakin materialistik dan hedonistik.1986)-yang sering disebut kelompok Neo-Modernis-berusaha mencarai relevansi Islam bagi dunia modern Islam. Martin Lings. Untuk menyebut beberapa nama tokoh yang melopori gerakan-gerakan tersebut antara lain. Manusia perlu untuk memikirkan kembali hubungan antara Yang Suci (Sacred) dan yang sekuler (Profan). dan masih banyak lagi.1978). dan isma’il Raji al-Faruqi (m. Fazlur Rahman (m. Henry Corbin (m. Masyarakat pada Era Post-Modernisme mencoba untuk keluar dari lingkaran krisis tersebut dengan kembali pada hikmah spiritual yang terdapat dalam semua Agama otentik.1989).1962). Kelompok yang disebut terkahir misalnya Hasan Albana (m. Cahaya Yang Asal.1949). Louis Massignon (m. Rene Guenon. Titus Burckhart. tetapi juga telah mengakibatkan terjadinya intrusi massif dan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidupan.1928).1979). 5 . dan pemuka-pemuka AlIkhwan (sering disebut kelompok fundamentalis.

rakyat tertindas dan menampilkan ISlam sebagai kekuatan revolusionerpolitik. Hassan Hannafi (l. yakni Sayyed Hussein Nasr yang mencoba menawarkan konsep nilai-nilai keislaman yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘Tradisionalisme Islam’. Nasionalisme. dan liberalistik. Kelompok ini dalam pembaharuannya berkecndrungan k arah humanistik. rasionalistik. C. Sayyed Hussein Nasr beranggapan. Sekalipun gerakan-gerakan seperti itu. dan ekses-ekses kapitalisme.bagi mereka. dan Abdillah Larraui (sering disebut penyebar paham Kiri Islam) berkepentingan membela massa. Etika Ilmu Pengetahuan 6 . keberadaannya justru menjadi terlalu radikal dan terlalu mengarah kepada misi politis dari pada normatikreligius (nilai-nilai ke-Agamaan). Sedang tokoh-tokoh muslim lain seperti Ali Syari’ati (m. sejauh ini gerakan-gerakan fundamentalis atau revivalis Islam tak lebih merupakan dikotomi tradisionalisme-modernisme. atasnama pembaharuan-pembaharuan trdisional Islam.1979). Mereka mengutuk westernisasi dan sekulerisasi masyarakat Islam. Oleh karenanya kelompokterkhir ini. dimana menurut penilaian Nasr menyarankan agar Timur menjadi Barat sebagai case study guna mengambil hikmah dan pelajaran sehingga Timur tidak mengulangi kesalahn-kesalahan Barat. sering juga disebut sebagai penyebar sosiallisme ISlam dan Marxisme Islam sebagai model pembangunan di dunia Islam. demikian juga materialisme serta ke-tak Bertuhanan Marxisme. Kemudian selnjutnya lahir tokoh-tokoh pemikir kontemporer lain sebagai pemikir alternatif .1935). adlah al-Qur’an adn as-Sunnah yang meski ditangkap pesan-pesan tersebut. Merupakan gerakan respon terhadap kekacauan Barat modern yang sedang mengalami kebobrokan spiritul.

Van Peursen menyatakan. Maka keresahan adalah jarak yang prinsipil ke arah kebenaran. Paradigma keilmuan Barat modern cendrung berpendapat ilmu pengetahuan dari aspek teoritis bebas nilai (netral).Pada masa Yunani ilmu tidak terikat dengan nilai. Dasar-Dasar Filsafat Islam. apa sebenarnya tujuan ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini memunculkan jawaban kegunaan ilmu untuk menjawab kebutuhan manusia. etika teleologis (tujuan ilmu). Hal ini berangkat dari ucapan primum vivere. 2004. diende philosophari. ilmu mulai terikat nilai. Pembahasan melebar kepada aspek konsekwensi logis dan tanggung jawab ilmu pengetahuan. maka harus dilihat dari dua aspek.. Apakah penemu atom (yang bergerak dalam tataran teoritis) dapat disalahkan atas kejadian tersebut? Ataukah tentara sekutu yang menjatuhkan (secara praktis) menggunakan bom atom untuk tujuan membunuh manusia? Untuk melihat apakah ilmu bebas nilai atau terikat nilai. Ilmu digeluti manusia untuk ilmu itu sendiri (le’science pour le’science). pertama. tugas ilmu adalah menjawab keresahan manusia.hlm. Hal ini disebabkan kegiatan ilmiah bertujuan hanya menyusun teori-teori keilmuan dan mewujudkan karya praktis ilmu pengetahuan (teknologi). Setelah jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945.7 Pada masa keemasan keilmuan Barat modern perdebatan tentang etika keilmuan beralih kepada aspek teoritis dan aspek praktis ilmu pengetahuan.. Hal ini berangkat dari pertanyaan. Bandung: Nuansa 2004. Pengantar Filsafat.135 6 7 . Pengantar ke Gerbang Pemikiran. Ilmu adalah sesuatu yang mewah yang dapat dilakukan oleh segelintir orang yang sudah mapan. Menurut Aristoteles ilmu tidak mengabdi kepada fihak lain. Kebenaran sebagai tugas ilmu pada hakikatnya adalah sebuah nilai. etika ontologis (hakikat ilmu).6 Pada fase rasional dan empiric (abad ke 17). perdebatan tentang ini terus berlanjut. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 39 7 Soejono Soemargono.hlm. kedua. Ali Mahdi Khan. Orang bebas berbuat apa saja untuk kepentingan ilmiah.

fiqh dan tasawwuf. Ada yang mengatakan bahwa sains itu netral seperti almarhum Abdussalam. Ada yang mengatakan sains yang sekarang tidak islami seperti kata Sayyed Hossein Nasr. sains tak dapat dilepaskan dan konteks sosial dan kultural yang selalu 8 . kegiatan ilmiah dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang agama. tidak mungkin ilmu lepas dari nilai. Dari segi teoritis pembahasan menyangkut paradigma bebas nilai atau tidaknya ilmu pengetahuan. Kemunduran peradaban Islam bersumber pada ketidak mampuan umat Islam menggali Quran secara ilmiah di satu pihak dan kegagalan mengakomodasi tuntutan-tuntutan zaman sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi. tetapi modernisasi ilmu-ilmu kalam. Berdasarkan uraian di atas. tujuan sains modern yang rasional obyektif serta menyangkut nilai pemanfaatan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. etnis. Dengan demikian terdapat sebuah spektrum pandangan mengenai relasi sains modern dan Islam.Jadi ilmu pengetahuan dalam tataran teoritis bebas nilai dalam arti secara ontologis. Dari segi praktis pembahasan menyangkut nilai kegunaan.Sebagai proses. Oleh karena itu yang perlu dilakukan bukanlah islamisasi sains. Dari sains itu tak islami. Cara kerja ilmu pengetahuan sudah mengabaikan prinsi-prinsip agama. D. ideology dan bangsa. lewat sains itu netral hingga sains itu sudah islami (terikat nilai). Islamisasi Ilmu Pengetahuan Islamisasi ilmu pengetahuan bergerak pada dua poros utama yaitu: teoritis dan praktis. karena ilmu pengetahuan modern yang berkiblat ke Barat sudah lepas dari nilai teologisnya (agama). Kecuali nilai yang boleh mengikat adalah kebenaran/ hikmah/ kebijaksanaan. Dalam tataran praktis ilmu harus tunduk kepada nilai-nilai universal yaitu mengabdi untuk kebenaran.

DR. namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil. Tetapi dalam hal penamaan. Sosiologi Islam. baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis. dan 3) etika pengajar dan pelajar. Shustery mengatakan. 2) etika orang berilmu. di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. Kecuali dalam ilmu-ilmu tertentu yang menunjukkan kekhasannya. kimia Islam dan sebagainya. Sastra Islam. epistemologinya tidak mendesak sampai ke arah itu. Begitu juga teknologi. Di dorong oleh semangat semacam ini epistemologi Islam melahirkan rumus peran sosial ilmu dan hal-hal terlibat di dalamnya. Ilmu ditujukan untuk ibadah. meskipun 9 . metalurgi Islam. Ilmu dalam Islam bersifat spiritual. metode ilmiah dari Barat. Dari segi prakteknya. tidak perlu mencantumkan Islamnya dalam satu frasa semisal. Dalam hal ini al-Ghazalı merumuskan 3 kelompok ilmu yaitu 1) jenisjenis ilmu terpuji dan tercela. Imaduddin Khalil bahkan mengusulkan agar disusun khusus sebuah Kode Etik Keilmuan Islam. ilmu tanpa agama buta. Dari penjalasan di atas Islamisasi ilmu sangat perlu dilakukan.berkembang sesuai dengan kemajuan sains sebagai produk dan teknologi sebagai aplikasi sains. misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur. dan Islam tidak mengenal klaim “bebas nilai” dalam ilmu-pengetahuan. seperti politik Islam dan ekonomi Islam. Sekadar ilustrasi. agama tanpa ilmu lumpuh. Oleh karena itu di dalam Islam persoalan “relevansi sosial” lebih diunggulkan daripada “relevansi intelektual”. sains terapan (teknologi) itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan. etika dari Timur. Einstein. pentingnya islamisasi.

Manusia hanya dipandang sebagai mahluk yang bebas yang independen dari Alam dan Tuhan. kebenaran sesuatu hanya mereka perhitungkan dari sudut fisiologis-lahiriah yang sangat bersifat profanik (keduniawian atau kebendaan).Shustery mengklaim ilmu itu dari Barat. Dengan Kontek ini. dengan perkecualian minoritas penganut Yahudi. namun ia tetap mengakui etika itu datang dari Timur. Zaman Modern atau Abad Modern di Barat adalah zaman. kebenaran ilmu pengetahuan hanya diukur dari sudut koherensi dan korespodernsi. termasuk didalamnya penegtahuan yang bersumber pada Religie. ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan segala persoalanpersoalan hidupnya. Dengan demikian. yakni kristen. Hingga kemudian mulai bermunculan gerakan-gerkan responsif alternatif sebagai respon balik terhadap prilaku masyarakat modern yang tidak lagi mengenal dunia metafisik. Islam sekarang identik dengan Timur. Termasuk didalamnya Tradisonalisme Islam yang dihidupkan Nasr. segala pengetahuan yang berada diluar jangkauan indra dan rasio serta pengujian ilmiah ditolaknya. Dengan wataknya tersebut sudah dapat dipastikan bahwa. Dengan meode ilmiah itu. 10 . Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri. Anggapan semacam ini seolah-olah Barat masih seperti Barat pada abad pertengahan. Atau dengan istilah lain. Ada sebagian orang beranggapan bahwa seluruh orang Barat menganut Agama Kristen. untuk selanjutnya membangun Tatanan Antropomorphisme suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada manusia. atau gerakan New Age di Barat pada akhir dewasa ini. perlu juga ditegaskan antar hubungan Barat yang modern dan peran Agama resmi yang berlaku disana. Manusia di Barat sengaja membebaskan dari Tatana Ilahiah (Theo Morphisme).

Pandangan semacam ini bisa disebut keliru. yaitu bahwa seluruh orang Baat bersifat materialik atau agnostik serta skeptik dan tidak menganut satu Agama apapun. Kermajuan masyarakat yang sudah berhasil dan begitu percaya pada iptek. Akhirnya berakibat pada sejumlah orang Barat yang secaa praktis tidak lagi menganut Agama Kristen atau Yahudi. akhirnya berkembang lepas dari kontrol Agama. yang karenanya ia harus ditinggalkan. Nurkholis Madjid) yang dikutipnya dari Baigent. Krisis Epistimologis.Namaun dalam kurung waktu yang panjang iptek ternyata menghianati kepercayaan manusia. Pada Abad ke-17. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi Agama. bahkan sebelumnya. Kemunculan gagasan-gagasan semacam itu mungkindiakibatkan adanya ketidak mampuan sistem keimanan sistem yang berlaku disana untuk mengakomodasikan perkembangan masyarakat modern dengan ilmu pengetahuanya. karena yang terjadi tidaklah demikian. Orang semacam Comte. Ada juga sebagian yang lain beranggapan sebaliknya. Puncak penolakan terhadap Agama Kristen di Barat disuarakan oleh Nietzsche dengan statemennya yang banyak di kenal orang The God is dead. kemajuan iptek justru identik dengan bencana.ketika trjadi perang salib yang perabannya saat itu adalah disebut abad keimanan. telah terjadi upaya membawa dunia Baat kearah sekularisme dan penipisan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari manusia. Yakni masyarakat Barat tidak lagi menegtahui tentang makna dan tujuan hidup (Meaning and Purpose of Life). yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis menjadi jalan mulus menuju kearah sekularisme Dunia Barat. Marx (Maxisme) yang menegaskan bahwa Agama adalah candu masyarakat. 11 . Kondisi inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa yang disebut Cak Nur (Dr. Segala kebutuhan Agama seolah bisa terpenuhi dengan iptek. Ditambah dengan ajaran filsafat sosial (sosialisme). yaitu ketika renaisans.

Manusia modern semakin memperparah dirinya dengan yang dia nyatakan sendiri. Seperti yang dilakukan Faust setelah menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan terhadapa lingkungan alam manusia ia menciptakan suatu situasi. tidak lagi memilki ‘horizon spiritual’. sehingga mengakibatkan ia lupa siapa dirinya. hinggakonfernsi bumi (Earth Summith) di Rio De Janeiro tahun lalu. tetpi juga perbuatan bunuh diri. Dimulai dengan laporan mengenai batas-batas pertumbuhan sekitar 25-an tahun lalu. Itu sebabnya. tapi karena manusia modern-dalam istilah Filsafat Perrenial-hidup dipinggir lingkaran eksistensi. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari pinggiran eksistensinya saja. dimana kontrol terhadap lingkungan berubah menjadi pencekikan. dan menjadi bergantung berhubungan dengan dirinya. tidak pada pusat spiritualitas dirinya. tapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnyamenyangkut pengertian-pengertian mengenai dirinya sendiri-ternyata dangkal. tidak hanya disebabkan karena alasan maerialdulu sering diungkap oleh banyak ahli-tapi justru lebih pada sebab-sebab yang bersifat transedental: sebab-sebab cara pandang manusia terhadap alam ini. karena ia telah lupa sipakah ia sesungguhnya. Memang dengan apa yang dilakukannya sekarang-memberi perhatian pada dirinya yang secara kuantitatif sangat mengangumkan. Dunia modern sekarang ini. Dengan demikian menjadi wajar jika peradaban modern yang 12 . Manusia dewasa ini semakin sadar bahwa seluruh krisis dibumi ini. dunia ini menurut pandangan manusia adalah dunia yang memang tak memiliki dimensi transedental. Dekadensi atau kejatuhan manusia di zaman modern ini terjadi karena mansuia kehilangan ‘pengetahuan langsung’ mengenai dirinya itu. Ini bukan berarti hprozon spiritual itu tidak ada. yang selanjutnya tidak hanya berubah menjadi kehancuran ekonomi. Begitulah dunia belakangnan ini juga ditandai pembicraan tentang krisis lingkungan hidup.

Dengan falsafahnya yang amat terkenal cogito ergo sum (karena berpikir maka aku ada). Gerakan Tradisonalisme Islam yang diidekan dan dikembangkan nasr. yang bagian-bagiannya dekat sekali dengan Interpretasi tradisional tentang Islam. merupakan gerakan untuk mengajak kembali ke ‘akar tradisi’. tidak saja didalam kandungan tetapi juga didalam ‘iklim’ yang mereka nafaskan. namun justru keadaan yang semakin menjauh dari eksistensi dan pengertian yang tepat mengenai hakekat diri yang diperoleh. Tetapi tekanan utama macam gerakan polito-religius yang sekarang ini disebut fundamentalisme itu mempunyai perbedaan yang mendasar dengan Islam Tradisional. sejak Rene Descartes ditandai dengan usaha menjawab tantangan keberadaan manusia sebagai mahluk mikro kosmik. dimana beberapa jenis fundamentalisme dan dimensidimensi khusus Islam Tardisonal bersesuaian. Sejarah pemikiran Barat modern. Dengan demikian perbedaan yang tajam antara keduanya terjustifikasi. Pada momen sejarah ini pulalah saat yang tepat untukmembedakan gerakan-gerakan yang disebut sebagai ‘Fundamentalisme Islam’ dari Islam Tradisional yang sering dikelirukan siapapun yang telah membaca karya-karya yang bercorak tradisionaltentang Islam dan membandingkannya dengan perjuangan lairan-aliran ‘fundamentalis’ tersebut segera dapat melihat perbedaan-perbedaan mendasar diantara mereka. bukan pengerian yang makin mendalam yang didapat. Malahan yang dijuluki sebagai fundamentalisme mencakup satu spektrum yang luas. sekalipun terdapat wlayah-wilayah tertentu.dibangun selama ini tidak menyertakan hal ayng paling esensial dalam kehidupan manusia. yaitu dimensi spiritual. yang merupakan Kebenaran dan Sumber 13 . Tetapi sayangnya. Belakangan ini baru disadari adanya krisis spiritual dan krisis pengenalan diri.

seperti halnya yang dilakukan di Iran. dan selanjutnya untuk sekaligus dapat membedakan gerakan Tradisionalisme Islam tersebut dengan gerakan Fundamentalisme Islam. Tradisonalisme Islam boleh dikatakan juga disebut sebagai gerakan intelektual secara universal untuk mampu merespons arus pemikiran Barat modern (merupakan efek dari filsafdat modern) yang cenderung bersifat profanik. 14 . Turki dan kelompok-kelompok fundamentalis lain. dan Yang Absolut.Asal segala sesuatu. dalam satu cara yang mengimplikasikan baik kesinambungan horizontal dengan sumber maupun mata rantai vertikal yang menghubungkan setiap denyut kehidupan tradisi yang sedang diperbincanngkan dengan realitas transeden meta-historikal. Usaha Nasr untuk menelorkan ide semacam itu paling tidak merupakan tawaran alternatif sebuah nilai-nilai hidup bagi manusia modern maupun sebuah negara yang telah terjangkit pola pikir modern (yang cenderung bersifat profanik dengan gaya sekuleristiknya) untuk kemudian kembali pada sebuah akar tradisi yang bersifat transedental. dengan mencoba menghubungkan anatar sekuler (Barat) dengan dimensi ke-Ilahiahan yang bersumber pada wahyu Agama. Seperti disampaikan manusia melalui wahyu maupun pengungkapan dan pengembangan peran sakral itu di dalam sejarah kemanusiaan tertentu untuk mana ia maksudkan. Tradisionalisme Islam adalah gambaran awal sebuah konsepsi pemikiran dalam sebuah bentuk Sophia Perenneis (keabadian). Sekaligus makna absolut memiliki kaitan emanasi dan nominasi dari sesuatu sesuatu yang profan dan aksidental. Sebagaimana yang dipergunakan oleh para kelompok Traditonalis tema tradis menyiratkan sesuatu Yang Sakral. Yang Suci.

kaitannya dengan dimensi batini. yang langgeng. Ilmu skuder tidak akan dapat menampakkan eksistensinya tanpa harus terlibat dalam proses perubahan dan menjadi secara utuh. serta penerapan bersinambungan prinsip-prinsipnya yang lansung perennei terhadap berbagai situasi ruang dan waktu. Hukum menyangkut kefustifikan. Untuk itulah Islam Tradisional mempertahankan syariah sebagai hukum Ilahi sebagiamana ia dipahami dan diartikan selama berabad-abad dan sebaimana ia dikristalkan dalam madzab-madzab klasik. Dalam hal ini yang dikehendaki oleh Nashr adalah agar manusia modern memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang merupakan landasan kebijakan. masyarakat Barat asyik bergelut dengan problem empiris. Untuk dapat menguak kembali integritas manusia dan alam secara utuh. tampaknya memiliki signifikansi yang kuat terhadap realitas kehidupan manusia modern sekarang.Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus. Nashr menekankan manusia harus berada pada titik pusat yang mampu mengambil jarak dari kenyataan yang senantiasa berubah dan serba tidak senonoh (profane). Manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya. kebijaksanaan yang abadi (sophia perenneis). bukannya menguak hekekat keberadaan manusia dan alam semesta ini sama dengan hancurnya aspek-aspek manusia dan alam yang tidak dapat berubah. yaitu masyarakat yang hanya menekuni dimensi luar yang senantiasa berubah. Nashr juga menawarkan agar manusia barat modern kembali kepada 15 . Alternatf yang diberikan oleh Nashr terhadap kritik yang diberikan terhadap kritik manusia modern. Perspektif tadisional selalu berpegang pada realisme yang didasarkan pada norma-norma Islam. Islam Tradisional memempertahankan Islamitas seni Islam. wahyu Islam dan kristalisasi khazanah spiritual Agama dalam bentuk-bentuk yang tampak dan terdengar. dan dalam domain politik. yang tetap. Lebih lanjut ia katakan. sejak reneisans.

Nashr juga berusaha menggali dan membangkitkan warisan pemikiran-pemikiran Islam untuk mengkonfrontir paham-paham filosofi keduniawian. Jakarta : PT. Penutup dan Kesimpulan Dari pemaparan diatas. para pemikir dunia barat lebih mementingkan konsep keilmuan yang mengatur kehidupannya. Ichtiar Baru Van Hoeve. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa ia termasuk kedalam kelompok Neo-modernis muslim dan sebagian lagi menyebutnya Neo-tradisionalis muslim. Ini disebabkan karena ia yakin benar bahwa Islam sebagai agama dengan karakter universal mampu menjawab tantangan dan krisis dunia modern. C. Sehingga merasakan bahwa ilmu itu diciptakan sendiri oleh manusia. Sementara dilain pihak. yang salah satu fungsinya adalah untuk membimbing jalan hidup manusia agar lebih baik dan selamat di dunia dan di akhirat kelak. dapatlah ditarik kesimpulan mengenai filosofi Sayyed Hussein Nashr tentang pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ensiklopedi Islam.agama. telah meyakinkan kita bahwa ia termasuk salah seorang pemikir yang lebih mementingkan konsep ketuhanan (agama) sebelum ilmu. Selain itu. 16 . namun bantahannya kepada dunia barat yang lebih mengagungkan ilmu pengetahuan daripada agama. 1996. Hal ini disebabkan proses reneisans yang telah membolakbalikan pemikiran manusia yang lebih mementingkan ilmu pengetahuan daripada agama. DAFTAR KEPUSTAKAAN Ambari Hasan Mu’arif. dkk.

dalam Dawam Raharjo. Bandung: Nuansa. Konsepsi Manusia menurut Islam.com 17 . nasirsalo. Jakarta: Pustaka Grafitti Press. 1987. Pengantar ke Gerbang Pemikiran.Komaruddin Hidayat. Soemargono.blogspot. Ali Mahdi. Insan Kamil. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 2004 www. Dasar-dasar Filsafat Islam. Soejono. Khan. 2004. Pengantar Filsafat.