P. 1
Proposal Evaluasi Program Pendidikan

Proposal Evaluasi Program Pendidikan

|Views: 3,087|Likes:
Published by K-conk Azis

More info:

Published by: K-conk Azis on Jan 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

A. Judul: Evaluasi Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Sekolah Menengah Tekhnologi Industry Yogyakarta B. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Masalah Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang menyiapkan lulusannya untuk siap memasuki lapangan kerja (Depdikbud, 1997: 1). Pada jenis sekolah ini, anak didik disiapkan untuk memiliki keterampilan agar setelah lulus nantinya mereka siap memasuki dunia kerja, seperti yang tertian dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Selanjutnya dijelaskan bahwa pendidikan kejuruaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Dengan demikian, pendidikan kejuruan memiliki fungsi sebagai sarana persiapan untuk memasuki dunia kerja. Vocational education is a multifaceted system with diverse clientele and multiple goals, and it exist in a complex policy environment. Developing and implementing a system of performance standard for vocational education requires making demanding decisions on performance assessment, accountability, and actions (Eric, 1990: 4) Sesuai dengan fungsinya sebagai penghasil tenaga kerja yang siap memasuki dunia kerja, maka siswa SMK harus disiapkan sedemikian rupa sehingga lulusannya memiliki kualifikasi yang diharapkan dunia kerja sesuai bidangnya masing-masing. Hal ini perlu ditangani secara sungguh-sungguh karena dikawatirkan lulusan sekolah kejuruan kurang dapat beradaptasi dengan sarana dan fasilitas kerja yang terdapat dilingkungan kerja. Siswa sering mengalami kesulitan dalam mengantisipasi dan mengatasi permasalan dalam bidang ilmu yang dipelajari selama sekolah dan kurang mampu secara tepat mengoperasikan mesin-mesin atau sarana dalam pelaksaan praktik di dunia industry. Kenyataan semacam ini bias diakibatkan oleh minimnya fasilitas, sehingga siswa tidak sepenuhnya melaksanakan praktik sesuai dengan tuntutan kurikulum. Agar dapat menghadapi masalah tersebut maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan sekolah, diantaranya adalah pengoptimalan pelaksanaan Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 1

pembelajaran. Menurut Jorin Pakpaham (2002: 240), pembelajaran dilaksanakan tidak cukup hanya terbatas diruang kelas, dilingkungan sekolah, tetapi semua potensi dan sumber belajar yang ada di dunia kerja dan lembaga-lembaga pemerintah perlu dikoordinasikan sehingga mampu memberikan kesempatan belajar secara komprehensif kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya akan tercipta lulusan yang professional dibidangnya. Sementara ini bentuk mata pelajaran praktik kejuruan yang disajikan di SMK, walaupun ditunjang dengan peralatan modern namun pada dasarnya hanya mampu menyajikan dasar-dasar keterampilan dan situasi tiruan (simulasi), karena itu sulit diharapkan untuk dapat membentuk keahlian professional pada diri siswa. Dengan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara sekolah dan dunia kerja. dengan pembelajaran demikian diharapkan diharapkan akan menghasilkan sumberdaya manusia yang terdidik, telatih dan terampil serta siap berkompetisi secara professional. Pembentukan keahlian professional pada diri siswa dapat melalui pengalaman nyata dalam bentuk pelatihan atau yang tercantum dalam kurikulum adalah praktik kerja lapangan. Model pelatihan di industry (on the job training) adalah pembentukan keterampilan kejuruan khusus (specific skill) di industry. Keterampilan khusus yang terkait dengan iklim, budaya dan karakteristik suatu industri, sehingga industry adalah pihak yang tepat dalam membekali keterampilan khusus (Sutarto, 1998: 102). Belajar sambil bekerja adalah inti latihan yang sesungguhnya, tidak mungkin ada suatu latihan tanpa terjun langsung dilapangan pekerjaan yang nyata dan berhubungan langsung dengan rekan kerja yang sebaya maupun yang lebih senior, dalam lingkungan pekerjaan yang sama dapat berlangsung transformasi gaya, pengetahuan, teknik, kebijaksanaan, dan bahkan tingkah laku senior yang lebih berpengalaman selanjutnya untuk diteruskan kepada yang lebih muda. Sekolah menengah kejuruan sebagai instrument pembangunan dalam menyiapkan tenaga kerja, diharapkan mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam dunia kerja, karena dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak peralatan baru yang diciptakan. Hal ini mengakibatkan perubahan pada tugas (task) maupun jenis pekerjaan yang ada di dunia kerja.perubahan yangada di Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 2

dunia kerja tersebut mengakibatkan perubahan yang mendasan yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap persaingan untuk mendapat pekerjaan, sehingga tenaga kerja dituntut bukan hanya memiliki kemampuan teknis belakatetapi juga harus lebih fkeksibel dan mampu belajar pengetahuan dan keterampilan baru. Namun pada kenyataanya, pelaksanaan PKL di SMK terkesan hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan kurikulum, sehingga pelaksanaannya tidak pernah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan matang, hal ini jelas akan bepengaruh terhadap proses pelaksanaan dan hasil akhir yang akan dicapai yaitu terbentuknya keahlias siswa yang professional dibidang kimia industry. Pelaksanaan PKL di SMK bidang kimia industry disamping bertujuan untuk membentuk keahlian professional siswa juga diharapkan mampu memberikan pengalan bagi siswa sehingga apabila sudah terjun ke dunia kerja nantinya mereka tidak canggung lagi dengan lingkungan kerja yang baru., akan tetapi hal itu sulit dari apa yang diharapkan karena kenyataannya dilapangan tidaksemua siswa mendapat tempat yang ssuai dengan bidang keahliannya karena terbatasnya perusahaan yang bergerak dibidang kimia industry terutama diwilayah Yogyakarta, sehingga akhirnya masih ada siswa yang melaksanakan PKL tidak sesuai dengan bidangnya. Keberhasilan pelaksanaan PKL selain ditentukan oleh kesiapan program perencanaan, juga ditentukan oleh kesiapan siswa dan kesiapan team yang didalamnya termasuk guru pembimbing, guru pembimbing adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan PKL, kesiapan guru pembimbing akan berpengaruh pada pelaksanaan dan hasil akhir kegiatan tersebut. Latar belakang pendidikan dan pengalaman guru pembimbing akan sangat memberikan kontribusi besar baik secara psikologis maupun terhadap pemahaman pelaksanaan PKL bagi siswa. Penunjukan guru pembimbing di SMK tidak didasarkan pada latar belakang pendidikan dan pengalaman, namun berdasarkan azaz pemerataan tugas dan penghasilan serta semua guru dianggap memiliki pengalaman dan mampu membimbing pelaksanaan PKL. 2. Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 3

Dari uraian latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi babarapa masalah yang meuncul terkait dengan pelaksanaan PKL sebagai berikut: a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai harapan dan kebutuhan siswa. b. Belum semua guru siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa. c. Masih rendahnya kualitas pelaksanaanprogram PKL oleh sekolah. d. Belum adanya buku pedoman pelaksanaan PKL yang jelas. e. Perlunya kesiapan yang cukup bagi siswa untuk mengikuti program PKL. f. Minimnya informasi tentang pelaksanaan PKL yang diketahui siswa. g. PKL belum mampu membeerikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dinia kerja. h. Pelaksanaan KL belum mampumemberikan dasar kompetensi yang cukup bagi siswa. i. Terbatasnya jumlah perusahaan yang relevan dengan bidang kimia industry di wilayah Yogyakarta. j. Materi pembelajaran di tempat PKL yang kurang sesuai dengan keahlian siswa. k. Terdapat perbedaan persepsi diantara guru pembimbing tentang tujuan PKL l. Waktu elaksanaan PKL yang terlalu pendek. m. Belum optimalnya pengelolaan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung peproses pembelajaran disekolah. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka evaluasi ini difokuskan pada proses perencanaan, pelaksanaan, serta tujuan PKL siswa SMTI Yogyakarta: a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai dengan kebutuhan siswa. b. Siswa belum memiliki kesiapan yang cukup untuk mengikuti program PKL c. Guru kurang siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL. d. Masih rendahnya kualitas pelaksanaan PKL oleh sekolah. e. PKL belum mampu memberikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dunia kerja. 3. Tujuan Program dan Indicator Keberhasilan

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 4

Sesuai dengan pedoman pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan yang dikeluarkan oleh SMTI Yogyakarta, maka pelaksanaan praktik kerja industry di SMTI Yogyakarta bertujuan untuk: a. Sebagai latihan kerja dilapangan. b. Sebagai latihan penyesuaian di lingkungan kerja. c. Sebagai latihan kedisiplinan di lingkungan kerja. d. Sebagai perbandingan antara teori yang diperoleh dengan dengan penerapanya di lapangan. e. Sebagai latihan penyusunan laporan. Sedangkan indicator ketercapaian program/kegiatan ini adalah: a. Siswa terlatih kerja dilapangan. b. Siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. c. Siswa berdisiplin di lingkungan kerja. d. Siswa mampu membandingkan antara teori yang diperoleh dengan dengan penerapanya di lapangan. e. Siswa mampu menyusun laporan. 4. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah identifikasi masalah, dan pembatasan masalah yang dikemukakan diatas, maka masalah dalam penelitian pada pelaksanaan PKL di SMTI Yogyakarta program kimia industry, dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Apakah pelaksanaan PKL sudah sesuai dengan kebutuhan siswa? b. Sejauh mana kesiapan siswa untuk mengikuti program PKL? c. Sejauh mana kesiapan guru dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa? d. Sejauh mana kualitas pelaksanaan program PKL yang dilakukan oleh sekolah? e. Apakah pelaksanaan PKL dapat memberikan manfaat bagi siwa maupun sekolah? 5. Tujuan Evaluasi Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 5

a. Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program PKL dengan kebutuhan siswa. b. Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti program PKL. c. Untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan yang dilakukan oleh guru pembimbing dalam dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa d. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kualitas pelaksanaan PKL yang diselenggarakan sekolah. e. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemanfaatan program PKL yang diselenggarakan sekolah. 6. Manfaat Evaluasi a. Memberikan gambaran kepada sekolah tentang keksesuaian pelaksanaan program PKL dengan kebutuhan siswa dan tuntutan kurikulum. b. Memberikan gambaran tentang cakupan materi PKl kesesuainnya dengan industry, sehingga pohak sekoalh memahami secara seksama tentang bentuk praktik yang akan dilakukan oleh siwa selama kegiatan berlangsung. Hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan serta evaluasi materi pembelajaran dan kuriulum yang sesuai, untuk mempersiapkan siswasebelum melaksanakan PKL dimasa yang akan dating. c. Sebagai bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan PKL yang telah

diprogramkan oleh sekolah. d. Memberikan informasi tentang sejauh mana kesesuaian antara tempat praktik yang ada dengan program keahlian yang dimiliki siswa. e. Memberikan informasi tentang kemampuan siswa pengetahuan pasca pelaksanaan PKL f. Memberikan informasi tentang keterampilan yang diperoleh siswa setelah melaksanakan PKL g. Memberikan informasi tentang sikap siswa selama melaksanakan PKL C. Kajian Teori 1. Praktik Kerja Lapangan a. Pengertian Praktik Kerja Lapangan. Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com dalam penguasaan

Page 6

Praktik kerja lapangan merupakan salah satu bentuk implementasi daro Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yaitu suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan yang memadukan secara sistematik pendidikan disekolah dengan dunia kerja. Tujuan PKL salah satunya adalah untuk membelajarkan siswa mempraktikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku sekolah serta membelajarkan siswa beradaptasi dengan suasana dunia kerja. Sedangkan feedback bagi sekolah adalah memperoleh masukan tentang kesesuaian antara kurikulum sekolah dengan “kurikulum“ dunia kerja. Idealism yang diusung oleh PSG adalah ingi mendekatkan kualitas tamatan yang meliputi kemampuan kerja dengan sikap profesionalnya, yang oleh karena itu pola yang dipilih adalah menugaskan siswa terjun langsung ke dunia kerja/usaha dan industry dalam bentuk PKL untuk mendapatkan pengalaman kerja dan membina kemampuan adaptasi dengan lingkungan kerja nyata. Secara pragmatis program PKL memiliki dampak positif baik bagi siswa maupu sekolah. Menurut Smith (Jusuf Irianto, 2001: 6), bahwa profil kapabilitas siswa berkaita dengan skill yang diperoleh dari PKL. Seiring dengan penguasaan keterampilan dan keahlian siswa akan menambah peluang bagi pengembangan karirnya setelah lulus dan terjun kemasyarakat. Menurut Manulang (Moekijat, 1981: 2) bahwa keberhasilan PKL mencakup tiga hal, yaitu 1. Menambah pengetahuan; 2. Menambah keterampilan; 3. Merubah sikap. Implementasi dari pelaksanaan PSG biasanya berupa: praktik kerja lapangan, praktik kerja industry, dan magang industry, ketiga jenis ini dibedakan oleh waktu pelaksanaannya. Kebijakan di SMK pada umumnya menerapkan jadwal pelaksanaan PKL baik di dalam maupun diuar negeri adalah pada tahun ke-2 atau pada saat kelas 2 dan sebagian kecil lagi di kelas 3 pada awal tahun ajaran baru. Penentuan jadwal ini didasarkan atas pertimbangan asumsi bahwa pada saat kelas 2 atau kelas 3, seorang siswa dianggap cukup memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan dasar tentang pekerjaan yang akan dilakoninya, dan tidak sedang menghadapi ujian akhir.rentang

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 7

waktu pelaksanaan PKL ini antara 4 sampai dengan 6 bulan, dan pada beberapa kasus bias mencapai 1 tahun (Retailer, 2003: 2) Sekolah menengah kejuruan merupakan bentuk satuan pendidikan pada pendidikan jalur profesi dan bagian dari pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. SMK mempersiapkan siswa memasuki duia kerja dan pengembangan sikap professional. b. Tahap-Tahap Pelaksanaan PKL Agar pelaksanaan PKL berjalan dengan baik dan lancer serta tercapai apa yang menjadi tujuan program, maka tahapan yang harus dilaksanakan meliputi: 1. Persiapan/perencanaan. Perencanaan merupakan tahap awal sebelum melaksanakan sebuah program, dan perencanaan akan sangat menentukan berhasil tidak suatu program mencapai tujuan. Beberapa aspek yang berperan dalam menentukan program PKL yang diadakan sekolah antara lain: a. Guru, merupakan tenaga pendidik dari sekolah yang bertugas menyiapkan siswa memasuki pekerjaan yang ada di institusi terkait. b. Instruktur, merupakan tenaga pembimbing dari institusi terkait. c. Siswa, sebelum melaksanakan praktik kerja di institusi terkait setiap siswa hendaknya telah mempunyai pengetahuan yang memadai, sehingga disamping mereka memperoleh pengalaman nyata, juga mampu memberikan konstribusi kepada instansi terkait. d. Peralatan, perangkat bantu dalam memperoleh hasil secara cepat, tepat dan efisien. Peralatan harus relevan dengan bidang garapan siswa. e. Bahan, material yang digunakan untuk membuat produk, terdiri dari bahan pokon dan bahan penunjang. f. Bahan ajar, merupakan susunan materi yang akan diajarkan kepada siswa dalam mencapai ingkat keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. g. Method, cara penyampaian materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 8

h. Jadwal, perangkat pelaksanaan program baik disekolah maupun di instansi terkait mengenai siapa, apa dan dimana kegiatatan tersebut akan berlangsung. i. Waktu, waktu pelaksanaan program hendaknya disesuaikan hendaknya disesuaikan dengan pecapaian target kompetensi sesuai dengan standard keahlian. j. Perangkat lunak/administrative, perangkat untuk melaksanakan KBM yang berbeda antara perangkat yang digunakan disekolah dan perangkat yang digunakan di instansi, meliputi; jurnal siswa, administrasi program dan kesiswaan, dan perangkat supervise. k. Pembiayaan, biaya tetap yang harus ada dalam pelaksanaan PKL. Adapun dalam pelaksanaannya persiapan yang harus dilakukan sekolah antara lain; a. Menentukan instansi dan menghubunginya. b. Menyiapkan administrasi atau surat izin untuk instansi dan kepada orang tua siswa, c. Memberikan pembekalan pada siswa, d. Penempatan siswa di intansi yang telah dihubungi. 2. Pelaksanaan. Tahap ini adalah tahap berlangsungnya pembelajaran di instansi, agar pelaksanaannya berjalan dengan baik maka diperlukan komunikasi yang intensif antara sekolah dan instansi agar segala permasalah yang mungkin muncul dapat diselesaikan dengan cepat. Tahap-tahapdalam pelaksanaan ini meliputi: a. Perencanaan. Unsure yang terlibat antara lain guru, kepala sekolah staf administrasi, instansi terkait dan orang tua. Sedangkan kegiatan koordinasi perencanaan meliputi; penyusunan kurikulum PKL, penyusunan program pembelajaran, peerencanaan kebutuhan, biaya dan sumber dana, penyiapan system monitoring, dan evaluasi, penyusunan program ujian kompetensi, dan evaluai. b. Pengorganisasian. Kegiatan ini meliputi penyusunan struktur organisasi, pemilihan proposal, penyusunan uraian tugas, penyusunan mekanisme kerja, Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 9

serta penysusunan system koordinasi. Unsure yang terlibat antara lain; pengelola sokolah, komite sekolah dan instansi terkait. c. Pelaksanaan. Kegiatan ini meliputi koordinasi pembelajaran disekolah dan pembelajaran di instansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepala sekolah, komite sekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum. d. Evaluasi. Meliputi koordinasi penilaian pembelajaran di sekolah dan di instansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepala sekolah, komite sekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum. 3. Penilaian/evaluasi. Penilaian merupakan proses akhir dari suatu kegiatan yang hasilnya bias dalam bentuk angka-angka maupun kalimat-kalimat. Penilaian bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Adapun penilaian meliputi: a. Penilaian hasil belajar. meliputi hasil belajar disekolah dan di instansi. Penilaian hasil belajar disekolah mencakup komponen kemampuan normative, adaptif dan teori kejuruan. Sedangkan penilaian hasil belajar di institusi mencakup komponen praktik keahlian yang dilakukan di instansi terkait. b. Penilaian keahlian. Meliputi 1. 1) Penilain uji kompetensi yang merupakan terminal dari suatu paket pembelajaran untukmencapai kompetensi tertentu, 2) Penilaian uji profesi, merupakan penilaian terminal dari suatu kompetensikompetensi yang harus dimiliki oleh suatu jabatan profesi tertentu. 3) Sertifikasi pendidikan, diberikan kepada seseorang yang telah

menyelesaikan paket kegiatan tertentu sehingga dinilai layak, mampu dan berwenang untuk melaksanakan tugas/kegiatan sesuai dengan

kemampuannya. 2. Evaluasi a. Pengertian Evaluasi. Setiap program kegiatan yang dilaksanakan semesrtinya dan harus diakhiri dengan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi bertujuan untuk melihat kembali apakah program yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dari kegiatan evaluasi Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 10

tersebut akan diketahui hal-hal yang telah dicapai maupun yang belum, criteria apa yang telah dicapai maupun yang belum. Berdasarkan hasil evaluasi akan diambil keputusan apakn program tersebut akan dilanjutkan, direvisi, maupun dihentikan atau diganti sama sekali. Uraian ini didasarkan atas pengertian evaluasi yaitu suatu proses pengumpulan informasi, pengumpulan data dengan menggunakan instrument tertentu utuk mengambil keputusan. Jadi pada dasarnya kegiatan evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yang menguji dan menilai pelaksanaan program. Para ahli evaluasi berbeda pendapat dalam mendefinisikana evaluasi, Stufflebeam mendefinisikan evaluasi sebagai berikut: Evaluation appraises the extent to which a program realizes certain goal. When evaluation based on an experimental design, the evaluation criteria are imbedded in the program at its inception. The value frame work is that of the program’s administrators, and there is no incentive to use alternative criteria. Definisi tesebut menunjukan adanya criteria yang digunakan untuk

menentukan nilai dan adanya hal yang dinilai. Didalam konteks pelaksanaan program, criteria yang dimaksud adalah criteria keberhasilan pelaksanaan program dan yang dinilai dapat berupa hasil yang dicapai atau prose situ sendiri. Selanjutnya, Jusuf Irianto (2001: 21) menjelaskan bahwa “evaluasi program dimaksudkan sebagai pemenuhan keberadaan arti atau nilai signifikan sebuah program pelatihan dalam hbungannya dengan tujuan dan sasaran yang harus dikembangkan”. Menurut Hamblan (Leslie Rac, 1990: 4) mendefinisikan “evaluasi sebagai suatu usaha memperoleh umpan balik atau efek dari suatu program pelatihan dan usaha mengukur nilai pelatihan yang bersangkutan berdasarkan informasi itu”. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses pengumpulan, penyajian dan penilaian informasi untuk mengetahui sejauhmana suatu program telah mencapai tujuan, sehingga pengambilan keputusan dapat ditetapkan pada program selanjutnya. b. Evaluasi Program Program merupakan acuan kegiatan gabungan dari tujuan-tujuan,

kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, langkah-langkah yang akan diambil,

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 11

sumber-sumber yang akan digunakan, dan unsure-unsur lain yang diperlukan untuk melaksanakan arah tindakan tertentu. Evaluasi program menurut Suharsimi (2007: 23) adalah langkah awal dalam supervise, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat. Evaluasi program sangat bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan karena dengan masukan hasil evaluasi program, para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang telah atau sedang dilaksanakan. Evaluasi membantu dalam memahami program, juga untuk mengetahui program apa yang belum terlaksana dengan baik maupun program yang belum berjalan, serta apa penyebabnya yang selanjutnya akan diambil keputusan apakan program tersebut perlu dilajutkan dengan beberapa perbaikan atau bahkan diberhentikan. Evaluasi dapat dilaksanakan pada saat program sedang berjalan maupun sesudah proram tersebut dilakasanakan. c. Model Evaluasi. 1. Model evaluasi formatif dan sumatif Model evaluasi ini dikembangkan oleh Michel Sciven dan sudah dikenal oleh umum dari segi fungsinya. Evaluasi formatif digunakan untuk memperoleh informasi guna membentu memperbaiki proyek, kurikuum dan pelatihan. Focus evaluasi inberkisar pada kebutuhan yang dirumuskan oleh karyawan atau orangorang. Adapun evaluasi sumatif dibuat untuk menilai apakah suatu program akan diteruskan atau diberhentikan. Oleh karena itu evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi yang potensial tentang manfaat dan penggunaan program. 2. Model kesenjangan. Model ini dikembangkan oleh Malcolm Provus Diana penilain kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian anara standard yang telah ditentukan dalam program dengan penampilan actual dari program. Model ini menekankan pada kesenjangan yang sebetulnya merupakan persayaratan umum bagi

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 12

semua kegiatan evaluasi, yaitu mengukur adanya perbedaan antara yang seharusnya dengan apa yang sudah dicapai. 3. Model CIPP (context, input, process, product) a. Evaluasi kontek. Model ini merupaka upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi, dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek. Ada 4 pertanyaan yang bias diajukan dalam model evaluasi ini, 1. Kebutuhan apa yang belum terpenuhi oleh program, 2. Tujuan pengembangan apa yang belum dapat tercapai oleh program, 3. Tujuan pengembangan apa yang dapat membentu tercapainya program, 4. Tujuan-tjuan manakan yang paling mudah dicapai oleh program. b. Evaluasi input Model ini meliputi sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan, baik umum maupun khusus suatu program. Pertanyaan yang diajukan dalam model ini antara lain: 1. Apakah strategi yang digunakan sudah sesuai dengan pencapaian tujuan, 2. Apakah strategi yang diambil ini merupakan strategi resmi, 3. Strategi manakan yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk mencapai tujuan yang lalu, 4. Apa yang dikatakan sebagai cirri khusus dari kegiatan yang dilaksanakan didalam program dan apa pula akibat yang ditimbulkan. c. Evaluasi proses. Model evaluasi ini diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Pertayan yang bias diajukan dalam model ini antara lai: 1. Apakan pelaksanaan program sudah berjalan sesuai dengan jadwal yang direncanakan, 2. Apakah staf yang terlibat dalam pelaksanaan program sudah siap melaksanakan kegiatan tersebut, 3. Apakah sarana dan prasarana yang ada sudah dimanfaatkan dengan maksimal, 4. Hambatan apa saja yang dijumpai selama pelaksanaan program dan bagaimana mengatasinya. d. Evaluasi produk. Model evaluasi ini dilakukan untuk melihat atau mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat berguna Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 13

apakah program akan dilanjutkan, disempurnakan, atau dihentikan. Penilain program memerlukan perbandingan antara hasil program dan tujuan yang ditetapkan. Dalam evaluasi model ini pertanyaan yang bias diajukan antara lain: 1. Tujuan manakah yang sudah dicapai, 2. Apakah yang mungkin dirumuskan berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan, 3. Kebutuhan peserta manakah yang telah terpenuhi sebagai akibat dari pelaksanaan program, 4. Hasil jangka panjang apakah yang namapak sebagai akibat dari pelaksanaan program. D. Methodology Evaluasi. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil setting lokasi di Sekolah Menengah Tekhnologi Industry Yogyakarta. Dipilihnya Sekolah Menengah Tekhnologi Industry Yogyakarta dengan pertimbangan bahwa SMTI Yogyakarta merupaka satusatunya sekolah menengah kejuruan yang konsen di bidang industry di Yogyakarta. 2. Jenis dan Pendekatan Penelitian Adapun jenis evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model CIPP, sesuai dengan namanya model ini menyoroti empat aspek sekaligus yaitu: konteks, input, proses, dan produk yang melibatkan keempatnya secara bertahap. Keempat evaluasi ini merupakan satu kesatuan yang utuh, namun dalam pelaksanaannya dapat saja seorang peneliti hanya melakukan satu jenis evaluasi dan tidak menggunakan jenis evaluaasi tersebut. Evaluasi yang menggunakan model ini harus mempeertimbangkan dua hal: 1. Bahwa kekuatan model ini terdapat pada rangkaian keempatnya, sehingga pelaksanaan keempat elemen tersebut dalam satu dimensi yang utuh sangat diharapkan, 2. Jika dilaksanakan secara terpisah, sebaiknya menggabungkan dua atau lebih jenis yang ada. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan kualitatif, data penelitian diperoleh melalui angket yang diberikan kepada siswa dan guru pembimbing yang telah melaksanakan PKL, disamping menggunakan angket, untuk melengkapi data penelitian juga dilakukan observasi,

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 14

dokumentasi dan wawancara yang mendalam. Objek sasaran yang dicermati dalam penelitian ini mengarah pada evaluasi kontek, input, proses, dan produk (CIPP). 3. Sumber data dan Sample Yang dimaksud dengan sumber data di sini adalah subjek dari rnana data diperolch. Suharsimi Ariktmto (2002 : 107) mengklasifikasi sumber data menjadi tiga jenis ; a. person, yaitu sumber data berupa orang, b. place, yaitu sumber data berupa ternpat, dan c. paper, yaitu sumber data berupa simbol. Berdasarkan klasifikasi tersebut, maka sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis person dan paper serta place. Penentuan subjek penelitian berupa person dilakukan dengan teknik purposif. Dengan teknik ini, ditetapkan kriteria-kriteria sesuai dengan tujuan penelitian. Subjek berupa paper digunakan sebagai sumber data-data sekunder sesuai dengan tujuan penelitian. Sedangkan sumber data berupa place dibutuhkan untuk memperkaya data penelitian melalui observasi. Dalam penelitian ini sumber data dimaksud meliputi pengelola sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa 4. Variable Penelitian 5. Pengumpulan Data a. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara Mendalam (indepth interview) Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi mengenai seluruh aspek yang diteliti dan relevan dengan masalah penelitian. Wawancara mendalam (indepth interview) dilakukan dengan menggunakan instrument berupa pedoman wawancara (interview guide). Pedoman tersebut tidak sepenuhnya mengikat proses wawancara secara kaku, akan tetapi wawancara dapat berkembang sesuai denga situasi masyarakat dan khususnya informan. Meski demikian, peneliti berupaya secara jeli agar wawancara dapat menjawab tujuan penelitian. Instrument yang digunakan adalah pedoman wawancara 2. Dokumentasi Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 15

Metode ini merupakan metode pengumpulan data dengan memanfaatkan data sekunder serta data tertulis lainnya dari obyek yang diteliti. Metode dilakukan untuk memperoleh data dengan jalan pengkajian atas berbagai dokumen resmi baik yang bersifat internal maupun eksternal. Bersifat internal dalam artian pengkajian langsung atas dokumen, misanyal arsip aktif maupun pasif, sedangkan bersifat eksternal dalam artian pengkajian terhadap sumbersumber pendukung atas pengkajian dokumen seperti arsip berita. 3. Observasi Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi dengan jalan meninjau obyek penelitian untuk melihat realitas yang terjadi di lapangan. lnstrumen yang digunakan untuk pengamatan berupa lembar pengamatan (observation cheklist). 4. Angket atau kuestioner Angket atau kuestioner merupakan alat pengumpul data yang berupa serangkaian Pengumpulan data dilakukan dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada responden. Instrumen yang digunakan berupa angket dengan jawaban tertutup.

5. Instrument 6. Uji Instrumen 6. Analisis Data.

Abdul Azis, M.Pd Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta azisyamhari@gmail.com

Page 16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->