P. 1
Metode Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Kristen

Metode Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Kristen

|Views: 11,919|Likes:
Published by hengki_lily
Didaktik Metodik
Didaktik Metodik

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: hengki_lily on Jan 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2015

pdf

text

original

1

TUGA AKHI AS IR DIDAKTI METO D IK ODIK

“ Pe engemban ngan Mode Pembela el ajaran Pen ndidikan Agama A Kriste di Sekol Dasar melalui Pendekata Konteks en lah r P an stual (Co Contextual Teaching And Learn ning).

Oleh Hengki W Wijaya, S S.TP (Peter Wijaya r a)

Sekol Tingg Theolog Jaffra lah gi gia ay Ma akassar 2010

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Judul Peranan agama dalam kehidupan manusia sangatlah penting karena

berhubungan dengan kehidupan rohani seseorang dengan keyakinannya kepada Tuhan. Peranan agama adalah menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan mulia (Indarto,2010) Hakikat Pendidikan Agama Kristen hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas. Penerapan Kurikulum PAK 2006 yang berorientasi pada pencapaian kompetensi di bidang PAK yaitu mewujudkan model pembelajaran yang bertujuan mencapai transformasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan dan memberikan ruang yang sama terhadap keunikan yang berbeda dalam pengembangan pemahaman iman kristiani sesuai dengan tingkat kemampuan serta daya kreativitas individu. Dalam pengajaran PAK , metode dan pendekatan serta model yang telah dipilih, merupakan alat komunikasi yang baik antara pengajar dan anak didik, sehingga setiap pengajaran dan setiap uraian PAK yang disajikan dapat memberikan motivasi belajar. Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah mata pelajaran Mata

pelajaran PAK bertujuan: (1) Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya, (2) Menanamkan pemahaman tentang Allah dan

3

karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya, (3) Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik. Selama ini pembelajaran PAK cenderung kearah pembahasan tematik teoritik sehingga terkesan bahwa pengajaran PAK terdiri dari materi hafalan belaka. Padahal Pendidikan Agama Kristen berbeda sekali dengan mata pelajaran lain karena implikasi PAK berisikan ajaran doktrin Kristen, norma dan didikan yang berfungsi memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari dan membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Kecenderungan yang lain adalah motivasi belajar yang kurang dalam mempelajari PAK karena adanya anggapan bahwa mata pelajaran PAK hanya untuk memenuhi syarat kelulusan saja dan berfaedah sebagai informasi tentang alkitab dan pengenalan tentang Allah Trinitas dan karya-Nya dan tidak dapat mengubah perilaku dan karakter anak didik sebagaimana yang diharapkan setiap orang Kristen yaitu serupa dengan gambar-Nya. Kecenderungan diatas dipengaruhi oleh cara guru

sejarah dalam memberikan materi pelajaran PAK yang monoton dan membosankan. Pembelajaran PAK yang didominasi metode ceramah cenderung berorientasi kepada materi yang tercantum dalam kurikulum dan buku teks, serta jarang mengaitkan yang dibahas dengan masalah-masalah nyata yang ada dalam kehidupan Kristiani dan pergumulan hidup sehari-hari. Hal ini akan memberikan dampak yang tidak baik bagi siswa karena siswa belajar hanya untuk ulangan atau ujian, sehingga pelajaran PAK dirasakan tidak bermanfaat, tidak menarik, dan membosankan oleh siswa, yang pada akhirnya tidak tercapainya tujuan PAK pada siswa khususnya siswa SMA yang nantinya diharapakan memiliki iman Kristiani yang kuat dan berakar dalam Kristus untuk menghadapi tantangan dan pengaruh globalisasi yang semakin menghimpit nilai-nilai Kristus. Perilaku belajar yang kurang produktif dan pembelajaran yang berorientasi pada terget penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak, memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Inilah yang terjadi disekolah-sekolah, jika perilaku belajar yang

4

kurang produktif dan berorientasi pembelajaran pada penguasaan materi terjadi terus menerus maka kualitas pendidikan akan semakin merosot (Nurhadi, 2003:1) Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak-anak belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Paradigma pembelajaran berubah menjadi bersifat dari teacher centered menjadi student centered. Guru sedikit menjelaskan materi sedangkan siswa berusaha membuktikan sendiri dari eksperimen yang difasilitasi oleh guru. Guru tidak lagi menjadi subyek utama, yang membawakan materi bahan dan menentukan jalannya pengajaran. Ia tetap menjadi subyek. Salah satu alternatif pembelajaran yang menggunakan

paradigma tersebut adalah pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning yang disingkat CTL. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya (Tim Depdiknas, 2002:2). Dengan kata lain, guru berperan sebagai fasilitator, mentor, bahkan bapak/ibu rohani namun bukan sebagai sumber

ilmu pengetahuan satu-satunya dalam proses belajar mengajar yaitu memberikan fasilitas kepada siswa, berupa strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk menemukan dan mengenal pribadi Allah Trinitas dan mengalami hubungan yang indah dengan-Nya dan siap menjadi saksi Kristus bagi sesama dan memuliakan Tuhan dalam kehidupannya. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan 7 (tujuh) komponen utama pembelajaran efektif yaitu konstruktivisme (constructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling),refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran melahirkan ide kreativitas dan inovasi baru ini yang melibatkan siswa peserta didik untuk mengekspresikan

kasihnya kepada Allah Trinitas dan mengsyukuri karya-Nya dengan pengabdian melalui ibadah sebelum memulai proses belajar mengajar dan bersaksi kemudian

5

masuk dalam inti pembelajaran kontekstual yang akan dibahas lebih rinci pada isi pembahasan model pembelajaran. Selama ini pemikiran peserta didik dan orang tua siswa menganggap Pendidikan Agama Kristen hanyalah syarat untuk lulus dan tidak berharap bahwa anaknya dapat pula mengalami perubahan hidup setelah mengikuti mata pelajaran PAK ini tidak hanya dalam komunitas gereja, keluarga atau melalui kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Melalui inovasi baru ini diharapkan merubah pemikiran konvensional

masyarakat tentang PAK di Sekolah Dasar. Anak SD atau seumur untuk tingkatan Sekolah Minggu difokuskan sebagai awal pendidikan dasar untuk memiliki pondasi yang kuat dalam iman dan pengenalan awal tentang Allah Trinitas. Hal ini akan berdampak pada generasi pelanjut visi gereja dan harapan orang tua tentang anak terdidik dalam Tuhan dalam hal ini tidak terlepas dari peranan Roh Kudus mendidik dan memimpin baik guru dan anak didik (Ul 6:4-9; Ef 4:6; Ams 22:6; 2 Tim 3:16). Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka penulis dengan alasan diatas memilih judul “ Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning). B. Konsep Pengembangan Pembelajaran Konsep pengembangan yang akan dijadikan landasan model pembelajaran adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran efektif (Nurhadi, 2002:5). Karakteristik pendekatan kontekstual, menurut Nurhadi (2002:20) bahwa ada beberapa karakteristik pembelajaran kontekstual yaitu : a. Adanya kerjasama, sharing dengan teman dan saling menunjang. b. Siswa aktif dan kritis, belajar dengan bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan serta guru kreatif. c. Pembelajaran terintregasi, menggunakan berbagai sumber. d. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa misalnya: peta, gambar,diagram dll.

6

e. Laporan kepada orang tua bukan sekedar raport akan tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum dll. Untuk memahami pembelajaran kontekstual maka ada kata kunci dalam pembelajaran kontekstual yaitu : a. Real World Learning, mengutamakan pengalaman nyata. b. Berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis dan kreatif serta guru mengarahkan. c. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata, serta adanya perubahan perilaku dan pembentukan manusia. d. Siswa praktek, bukan menghafal, learning bukan teaching, pendidikan bukan pengajaran. e. Memecahkan masalah dan berfikir tingkat tinggi. f. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes. Proses pembelajaran yang sesuai dengan situasi belajar saat ini adalah konsep pendekatan kontekstual menurut pandangan teori belajar konstruktivistik, ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna. Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah,

mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Hal yang lebih penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi siswa, investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-umber primer (bukan hanya buku teks), menghargai pikiran siswa, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran. Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian “menirukan” suatu proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk membantu siswa dalam

7

menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Paradigma baru ini sangat sesuai dengan pengembangan model pembelajaran PAK saat ini karena berorientasi pada peserta didik dan melibatkan keaktifan dan kreativitas siswa untuk pengembangan diri dalam hal kemampuan diri, panggilan dan karakter yang tentunya bersumber dari pengenalan Tuhan melalui proses pembelajaran kontekstual. Adapun ciri-ciri praktek pembelajaran yang baik didukung oleh tenaga guru sebagai fasilisator yang memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran. Secara

umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan siswa, (5) menilai pembelajaran secara kontekstual. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Menghargai otonomi dan inisiatif siswa. 2. Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. 3. Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas. 4. Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. 5. Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut. 6. Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupun dengan siswa yang lain. 7. Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut mereka untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya. 8. Mengelaborasi respon awal siswa. 9. Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkan kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.

8

10. Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan mengerjakan tugas-tugas. 11. Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model pembelajaran yang beragam. Para guru diharapkan dapat belajar sepanjang hayat seirama dengan pengetahuan yang mereka perlukan untuk mendukung pekerjaannya serta menghadapi tantangan dan kemajuan sains dan teknologi. Guru tidak diharuskan memiliki semua pengetahuan, tetapi hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup sesuai dengan yang mereka perlukan, di mana memperolehnya, dan bagaimana memaknainya. Para guru diharapkan bertindak atas dasar berpikir yang mendalam, bertindak independen dan kolaboratif satu sama lain, dan siap menyumbangkan pertimbangan-pertimbangan kritis. Konsep pembelajaran tersebut meletakkan landasan yang meyakinkan bahwa peranan guru tidak lebih dari sebagai fasilitator, suatu posisi yang sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagai transmiter pembelajaran. Guru sebagai fasilitator akan memiliki konsekuensi langsung sebagai perancah, model, pelatih, dan pembimbing. Di samping sebagai fasilitator, secara lebih spesifik peranan guru dalam pembelajaran adalah sebagai expert learners, sebagai manager, dan sebagai mediator. Sebagai expert learners, guru diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk siswa, menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran, merubah strategi ketika siswa sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Hubungan praktek pembelajaran kontekstual dalam penerapannya dalam lingkungan kelas PAK sangat sesuai dengan strategi PAK dalam upaya untuk fungsi kontrol moral bagi umat/masyarakat dalam memasuki era globalisasi yang sarat dengan kejahatan dan dosa akibat arus informasi dan kemajuan teknologi yang sedemikian cepat dapat diakses melalui internet dan perangkat komunikasi lainnya. PAK sebagai bagian dari pilar gereja dimana aktivitas anak didik sepertiga waktu dihabiskan di bangku sekolah dalam sehari. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen sangat bermanfaat bagi pertumbuhan rohani anak didik dan sebagai ketopong keselamatn menghadapi arus globalisasi jaman yang semakin jahat.

9

C. PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN Pengembangan model pembelajaran kontekstual yang menjadikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran di kelas dapat meningkatkan minat siswa akan mata pelajaran PAK dan mata pelajaran lain karena tidak mengandalkan metode konvensional yaitu metode ceramah yang umumnya mnoton dan membosankan. Tetapi melalui pendekatan kontekstual maka siswa dapat menujukkan kemampuannya dan kerinduannya dalam melayani Tuhan dan mengekspresikan kasihnya kepada Tuhan dan tidak hanya mengenal tentang Tuhan dan ajaran-Nya tetapi mengalami hubungan yang indah dengan-Nya. Hal inilah yang akan menghasilkan transformasi pribadi yang membawa pada tujuan penggenapan janji-Nya. Dalam proses

pembelajaran maka peserta didik akan diproses oleh Roh Kudus untuk mengetahui panggilan, pembentukan karakter dan kompetensi diri. Aspek-aspek yang dapat mendorong keberhasilan pengembangan model pembelajaran adalah (1) Kondisi pembelajaran, (2) Metode Pembelajaran dan (3) Hasil pembelajaran (Abutarya,2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan, tetapi dalam proses pembelajaran ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Nana Sudjana (1989:39) menyebutkan ada dua faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu : a. Faktor Internal : adalah fakta yang timbul pada dirinya sendiri atau dari dalam diri siswa itu sendiri, misalnya keadaan fisik, minat dan tingkat kecerdasan. b. Faktor Eksternal : adalah fakta yang timbul dari luar individu atau diri siswa itu sendiri, misalnya faktor lingkungan dan faktor sosial. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono faktor yang mempengaruhi belajar siswa meliputi : 1). Faktor dari dalam Faktor dari dalam adalah faktor yang mempengaruhi belajar, berasal dari diri siswa yang belajar. Faktor dari dalam yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh pada belajar siswa meliputi: a. Sikap terhadap belajar Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu,

10

mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. Akibat penerimaan, penolakan atau pengabaian kesempatan belajar akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, siswa harus mempertimbangkan akibat sikap tersebut. b. Motivasi belajar Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Apabila motivasi belajar siswa melemah maka kegiatan belajar siswa juga melemah. Hal ini akan menyebabkan mutu hasil belajar akan melemah. c. Konsentrasi belajar Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. d. Mengolah bahan belajar Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Kemampuan siswa mengolah bahan makin baik, apabila siswa berpeluang aktif belajar. e. Menyimpan perolehan hasil belajar Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan siswa untuk menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. f. Menggali hasil belajar yang tersimpan Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Pengaktifan ini ada hubungannya dengan baik buruknya penerimaan, pengolahan, dan penyimpanan pesan. g. Rasa percaya diri Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Semakin sering berhasil menyelesaikan tugas, semakin memperoleh pengakuan umum sehingga rasa percaya diri semakin kuat. h. Intelegensi Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau dalam kehidupan sehari-hari.

11

i. Cita-cita siswa Cita-cita sebagai motivasi intrinsik perlu ditanamkan. Penanaman pemilikan dan pencapaian cita-cita sebaiknya berpangkal dari kemampuan berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana ke yang lebih sulit (Dimyati dan Mudjiono, 1999: 239-247). 2). Faktor dari luar Faktor dari luar yaitu faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar yang berasal dari luar diri anak/ siswa yang belajar. Faktor ini meliputi : a. Guru sebagi pembina siswa belajar Guru adalah pengajar yang mendidik. Sebagai pendidik, guru memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan semangat belajar yang merupakan wujud emansipasi siswa. Sebagai pengajar, guru bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah. b. Prasarana dan sarana pembelajaran Prasarana pembelajaran meliputi: gedung sekolah, ruang belajar, ruang ibadah, lapangan olah raga, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi: buku pelajaran, buku bacaan, fasilitas laboratorium sekolah, dan berbagai media pengajaran yang lain. c. Kebijaksanaan penilaian Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Hasil belajar dinilai dengan ukuranukuran guru, tingkat sekolah, dan tingkat nasional. Keputusan hasil belajar merupakan puncak harapan siswa. Oleh karena itu, sekolah dan guru diharapkan berlaku arif dan bijak dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa. d. Lingkungan sosial siswa di sekolah Siswa-siswa di sekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan yang dikenal dengan lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan tersebut, ditemukan adanya kedudukan dan peran sehingga di dalamnya terjadi pergaulan, seperti hubungan akrab, kerjasama, kompetisi, konflik dan perkelahian. e. Kurikulum sekolah Adanya perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah bagi guru dan siswa. Bagi Guru, perlu adanya perubahan pembelajaran. Bagi siswa, perlu mempelajari cara-cara belajar, buku pelajaran, dan sumber belajar yang baru (Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 247-254).

12

BAB II URAIAN MATERI

A. Gagasan Isi Pembelajaran Mengingat model pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang akan dikembangkan adalah bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang religius dan memiliki hikmat Roh Kudus yang berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Model pembelajaran dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan kontekstual yang berpusat pada siswa. Penerapan model ini dilakukan pada siswa Sekolah Dasar yang diupayakan dapat memiliki daya pikir konstruktivisme yang bercirikan yaitu membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Permasalahan yang dihadapi siswa-siswa yang dihasilkan hanya memiliki intelektual namun kreativitas dan religious yang tidak seimbang mengakibatkan moral dan karakter yang bertentangan dengan ajaran dan perintah Tuhan. Sebagai murid Tuhan Yesus pengembangan model pembelajaran PAK ini dikemas dengan memasukkan teladan Yesus Kristus yaitu beribadah meliputi doa, pujian, penyembahan dan bersaksi atas anugerah yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Arah yang ingin dicapai menuju transformasi diri yang melakukan nilai-nilai Kristiani dalam menjalani kehidupan ini. Dalam uraian materi ini akan dijelaskan kegiatan awal belajar (termasuk keaktifan siswa terlibat dalam merencankan dan menyusun liturgi ibadah dan

mengaplikasikannya di dalam kelas), menyusun rencana pembelajaran berbasis kontekstual sebagai kegiatan inti belajar, dan kegiatan akhir. Model pembelajaran ini didukung oleh berbagai ilmu seperti ilmu teologi, seni, komunikasi, kepribadian. Melalui model pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengeksplorisasi pengetahuan dan pengalaman pribadinya bersama Tuhan melalui mata pelajaran PAK dan menjadi perenungan pribadi yang mampu diimplementasikan dalam kehidupan siswa sebagai anak-anak Tuhan. Selain itu, hasil belajar dapat dievaluasi tidak hanya dengan hasil tes dan diskusi namun diharapkan dapat dilihat pada perubahan perilaku atau didapati buah yang tetap dalam kehidupan Kristiani jaman ini.

13 3

B. Tah hapan Proses Belajar M Mengajar Belajar me engandung arti bahwa siswa aktif melakukan kegiatan be elajar sesuai i tuj juan yang di iharapkan. Di tingkat se D ekolah dasar keberhasila belajar si r an iswa hamper r sel luruhnya ter rletak pada usaha guru u u untuk mema ahami proses belajar sisw Menurut s wa. t Es stiningsih (2 2004) pada umumnya p u proses belaja mengajar terdiri atas 3 kejadian ar r s n ya meliputi yaitu input, proses dan o ang output siswa setelah bela a ajar. Input meru upakan keja adian pertam yang menggambarka siswa yan memiliki ma an ng sej jumlah mate prasyara dari kons yang ak dipelaja sikap d motivasi eri at sep kan ari, dan belajar. Dari s segi guru, pr roses belajar tersebut dap diamati secara langs r pat sung, artinya a pro belajar yang merup oses pakan proses internal sisw yang dap diamati d dipahami wa pat dan i ole guru. Pr eh roses belaja tersebut t ar terlihat bany yak melalui perilaku s i siswa ketika a me empelajari b bahan belaj jar. Perilak belajar t ku tersebut me erupakan re espon siswa a ter rhadap tindak mengajar atau tindak p pembelajara dari guru (Dimyati da Mudjiono, an an 19 994:16). Oleh karen itu, mata pelajaran P na PAK diupaya akan dan dib biasakan unt memulai tuk i kelas dengan i ibadah dan siswa-siswa yang terliba Sedangka dari pihak guru harus s at. an k s me elakukan pe ersiapan yan harus dir ng rencanakan dengan baik meliputi pengetahuan k p n pra asyarat yang berkaitan dengan PAK yang tela dimiliki o g K ah oleh siswa, menetapkan n pendekatan/str rategi/metod de/teknik dan sarana be n elajar. Untuk lebih jela k asnya, posisi i erarkis mode pembelaja el aran yang ter rdiri atas beberapa tahap dapat divi p isualisasikan n hie seb bagai beriku ut:

14

C. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. 1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. 2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. 3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. Menurut Nurhadi (2002:3) ada kecenderungan pemikiran tentang belajar, adapun dalam pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang brlajar sebagai berikut : a. Proses Belajar Belajar tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri, anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi saja oleh guru. Siswa dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi

15

dirinya dan bergelut dengan ide-ide, sehingga proses belajar dapat mengubah otak, perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. b. Transfer Belajar Siswa belajar dan mengalami sendiri, bukan pemberian orang lain, pengetahuan diperluas dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit. Siswa tahu untuk apa ia belajar dan bagaimana ia menggunakannya. c. Siswa sebagai pembelajar Kecenderungan manusia untuk belajar dalam bidang tertentu, belajar dengan cepat hal-hal baru. Strategi belajar sangat penting, karena anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. d. Pentingnya lingkungan belajar Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Adapun hal-hal yang terkait dengan lingkungan belajar adalah: 1). Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka dengan mementingkan strategi belajar daripada hasilnya. 2). Umpan balik sangat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang sebenarnya (assessment). 3). Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Menurut Nurhadi (2002: 10) bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual memiliki tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu sebagai berikut : a. Konstruktivisme (Constructivisme) Konstruktivisme (Constructivisme) merupakan landasan berfikir atau filosofi pendekatan kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusi sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep,atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima

16

pengetahuan saja. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran, siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru. Tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : 1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. 2) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. 3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri. Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman, pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. b. Menemukan (Inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh bukan hasil mengingat tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Langkah-langkah kegiatan inquiry: 1) Merumuskan masalah Misalnya : Yesus Kristus Tuhan yang memunculkan masalah mengapa Yesus adalah Tuhan sementara yang lainnya hanya menyebutnya nabi? Apakah benar Yesus disalibkan dan bangkit ? 2) Mengamati atau observasi (a) Membaca alkitab, buku rohani, artikel, film rohani atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung. (b) Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati. 3) Menganalisa dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya. (a) Siswa membuat karya tulis tentang Yesus Kristus adalah Tuhan (b) Siswa bersaksi bahwa Yesus Kristus Tuhan (c) Siswa dapat berkreasi membuat lagu atau berkhotbah tentang Yesus. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.

17

(a) Karya siswa disampaikan didepan teman sekelas untuk didiskusikan. (b) Memunculkan ide-ide baru dalam tata ibadah sesuai pimpinan Roh Kudus. (c) Melakukan refleksi yaitu perenungan dan rasa syukur atas keselamatan yang diperoleh dari Tuhan Yesus. (d) Menempelkan gambar, karya tulis, dan sejenisnya di dinding kelas. c. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: 1) Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis. 2) Mengecek pemahaman siswa 3) Membangkitkan respon kepada siswa 4). Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa 5) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa 6) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru 7) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa 8) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Bertanya dapat diterapkan di kelas; antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dan orang lain yang didatangkan ke kelas. d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Pengetahuan diperoleh dari hasil bekerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan yang antara tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. Penerapan masyarakat belajar dalam pembelajaran terwujud dalam : a) Pembentukan kelompok kecil b) Pembentukan kelompok besar c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, perawat, dsb). d) Bekerja dengan kelas derajat e) Bekerja dengan masyarakat f) Belajar kelompok dengan kelas diatasnya.

18

e. Pemodelan (Modelling) Pemodelan PAK adalah komponen pembelajaran yang maksudnya dalam pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara memainkan alat musik, cara menyanyikan lagu rohani dalam vocal grup. Atau guru memberi contoh melakukan sesuatu misalnya berkhotbah. Dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Dalam pendekatan kontekstual, guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seseorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara bersikap seperti teladan yang diajarkan Tuhan Yesus. Model juga dapat didatangkan dari luar. Contoh penerapan modeling dalam kelas : a) Guru sejarah memberi contoh bukti-bukti sejarah melalui gambar dan peta tentang keberadaan agama Kristen. b) Guru seni mendemonstrasikan penggunaan biola dan piano untuk mendukung pelayanan rohani c) Guru agama menunjukkan ilustrasi atau cerita tentang kepahlawanan Daud, dan cerita nabi-nabi dalam alkitab. f. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari ataupun berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada akhir pembelajaran guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa : a) Pertanyaan langsung tentang hal yang didiskusikan dan yang dijelaskan hari itu. b) catatan atau buku jurnal di buku siswa. c) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. d) diskusi e) hasil karya. g. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) Kemajuan belajar siswa dinilai dari proses, bukan melulu hasil dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya, itulah hakekat dari penilaian yang sebenarnya. Penilaian authentic menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa,

19

penilaian tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman atau orang lain. Karakteristik Authentic Assessment : 1) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. 2) Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif. 3) Yang diukur ketrampilan dan performens, bukan mengingat fakta. 4) Berkesinambungan 5) Terintegrasi 6) Dapat digunakan sebagai feedback. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa PAK yaitu melalui: proyek, PR, kuis, presentasi, demonstrasi, laporan, hasil tes tulis, karya tulis dan perubahan karakter. Intinya dengan Authentic Assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah “apakah anak-anak belajar”, bukan “apa yang sdah diketahui?”. Jadi siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Tidak melulu dari hasil ulangan tulis. Menurut Nurhadi (2002: 10) bahwa suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL), jika menerapkan ketujuh komponen belajar aktif dalam pembelajarannya. Untuk melaksanakan hal tersebut tidak sulit. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Penerapan pembelajaran kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar langkahnya sebagai berikut : a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. d. Ciptakan ‘Masyarakat Belajar’ (belajar dengan kelompok-kelompok). e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

20

Berdasarkan Sukayati,2004 pada dasarnya rencana pembelajaran memuat 4 komponen pokok sebagai berikut. 1. Identitas mata pelajaran yang meliputi : nama mata pelajaran, kelas dan alokasi waktu. 2. Kompetensi yang akan dicapai siswa a. Standar kompetensi yaitu kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran PAK. b. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar merupakan jabaran dari standar kompetensi yaitu gambaran dari pengetahuan, pengetahuan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa yang ada pada kurikulum PAK. c. Indikator Pencapaian Kompetensi Merupakan cirri atau tanda-tanda pencapaian hasil belajar berupa kompetensi dasar yang lebih spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar. d. Kompetensi prasyarat yang harus sudah dikuasai siswa Merupakan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa untuk mencapai kompetensi berikutnya. 3. Materi pokok beserta uraiannya Merupakan pokok-pokok materi yang harus dipelajari oleh siswa sebagai sarana pencapaian kemampuan dasar. Materi pokok dapat diuraikan menjadi sub-sub materi. 4. Strategi pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang secara kongkret harus dilakukan oleh siswa dalam berinteraksi dengan materi pelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar. Dalam perencanaan pembelajaran juga dibutuhkan media, sumber bahan dan alat dan bahan bacaan lainnya yang terkait dengan mata pelajaran untuk mendukung proses pembelajaran dan guru juga melakukan penilaian dan hasil belajar sementara ditindak lanjuti dengan melihat kompetensi dasar siswamisalnya remidi atau pengulangan.

21

D. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual 1. Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran berbasis kontekstual sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Adapun langkah-langkahnya adalah :
• mengidentifikasi prasyarat (prerequisite), • membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi, • mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.

Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran berbasis kontekstual adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. 2. Peran Guru Strategi pembelajaran berbasis kontekstual menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar. Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:

Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unitunit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.

• • • •

Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif)

• •

Menggunakan teknik diagnostik Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan

22

3. Peran Peserta didik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual. 4. Evaluasi Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar. Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:
• • •

Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD) Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan.

• •

Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb. Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam

pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama, maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai, dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi.

23

BAB III KESIMPULAN Berdasarkan uraian materi metode pembelajaran dan studi referensi maka dapat disimpulkan yaitu: 1. Pengembangan model pembelajaran berbasis kontekstual memberikan dampak

positif pada potensi siswa sebagai pusat pembelajaran yang aktif, kreatif dan inovatif dan guru sebagai fasilitator, manager dan mentor yang dapat memotivasi belajar dan prestasi serta kompetensi siswa dan mampu memotivasi untuk tertarik mempelajari Pendidikan Agama Kristen. 2. Berdasarkan kajian, penelitian dan makalah yang ada maka pengembangan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual menunjukkan hasil belajar yang

signifikan yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional baik secara kuantitatif dan kualitatif pada siswa mata pelajaran apapun. 3. Pengembangan model pembelajaran berbasis kontekstual akan memberikan kontribusi positif untuk peningkatan hasil belajar siswa PAK dan membantu misi gereja untuk menghasilkan generasi penerus yang mengasihi Tuhan dan itu adalah impian semua orang termasuk orang tua, gereja dan masyarakat. 4. Kepada guru bidang studi PAK sebaiknya mulai mengembangkan model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dalam rangka menimbulkan motivasi belajar PAK dan pengembangan karakter Kristiani yang nantinya akan berpengaruh terhadap hasil belajar PAK siswa. 5. Dalam model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual siswa diharapkan dapat mengembangkan dan menggunakan kemampuan masing-masing dalam mengkaitkan antara materi pelajaran PAK dengan mengamalkan dalam kehidupan nyata seharihari, karena jika siswa pasif dalam pendekatan kontekstual ini proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Setiap Firman Tuhan yang dibaca, didengar dan dipelajari pada akhirnya harus dilaksanakan sebagai anak-anak Tuhan.

24

DAFTAR PUSTAKA

Abutarya, Endang. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Dinas Menengah dan Tinggi DKI Jakarta.

Pendidikan

Depdiknas. 2008. Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud. Indarto, 2010. Materi Kuliah Didaktik Metodik. Makassar : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.

25

Heriyanto. 2005. Contextual Teaching And Learning (Pembelajaran Kontekstual). Makalah disajikan dalam SEMILOKA Nasional, Jurusan Geografi FIS UNNES 1415 Februari. Nurhadi dan Agus Gerrard. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning/ CTL) Dan Penerapannya Dalam KBK. Surabaya : Universitas Negeri Malang. Nurhadi. 2002. Contextual Teaching And Learning. Jakarta : Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Ratnafuri, Dhina. 2007. Studi Komparasi Hasil Belajar antara Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dengan Pendekatan Konvensional Dalam Pembelajaran Sejarah Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri I Pejagoan Kabupaten Kebumen Tahun Ajaran 2006/ 2007. Semarang : Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang Santyasa, I W. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Makalah. Disajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,29 Juni-1 Juli 2007. Sukayati. 2004. Contoh Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut, 6-19 Agustus 2004.

DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL ................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................... BAB I . PENDAHULUAN ......................................................................................... A. Latar Belakang Judul ............................................................................................ B. Konsep Pengembangan Pembelajaran ................................................................ C. Pengembangan Model Pembelajaran .................................................................. i ii 1 1 4 8

26

BAB II URAIAN MATERI ....................................................................................... A. Gagasan Isi Pembelajaran ................................................................................... B. Tahapan Proses Belajar Mengajar ..................................................................... C. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual ................................ D. Indikator Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kontekstual ........................... BAB III KESIMPULAN ............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................

11 11 12 13 20 22 23

Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah Dasar melalui pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)

27 7

Oleh Hengki W Wijaya, S S.TP

K TINGGI THEOLO OGIA JA AFFRAY SEKOLAH T KASSAR R MAK 2010

28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->