Minggu, 21 September 2008 dinamika Fatwa MUI

Dinamika Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Antara Independensi dan Intervensi Politik) Oleh : Pamela Maher Wijaya[2] Abstraksi Hukum Islam yang dalam penerapannya selalu berhadapan dengan normativitas dan dinamika perkembangan pemikiran dan kebutuhan manusia dituntut untuk dapat mencari bentuk agar dapat mengadopsi kedua kepentingan tersebut. Dalam kaitan ini, untuk melihat dinamikanya secara integral dengan melihat produk hukum yang dihasilkan oleh Majelis Ulama Indonesia (fatwa) selama ini. Ketidak-sinkronan pertumbuhan antara fungsi dan struktur hukum itu disebabkan oleh terjadinya gangguan oleh tindakantindakan politik terhadap upaya penegakkan fungsi hukum tersebut.[3]Realitas sejarah perjalanan hukum islam ternyata bahwa factor social budaya telah mempunyai pengaruh penting dalam mewarnai produk-produk pemikiran hukum islam, baik yang berbentuk kitab fiqh, peraturan perundangan di negeri muslim, keputusan pengadilan, maupun fatwa-fatwa ulama. Oleh karena itu maka yang disebut hukum islam itu pada kenyataan sebenarnya adalah produk pemikiran hukum islam yang merupakan hasil interaksi antara ulama sebagai pemikir dengan lingkungan sosialnya. Meskipun al-Qur¶an dan Hadis mempunyai aturan yang bersifat hukum, tetapi jumlahnya amat sedikit dibanding dengan jumlah persoalan hidup yang memerlukan ketentuan hukumnya. Untuk mengisi kekosongan itu maka para ulama telah menggunkan akalnya dan hasilnya adalah produk pemikiran hukum yang ada sekarang. Key Word : Dinamika, Pemikiran Hukum Islam, Majelis Ulama Indonesia, Politik.

ulama adalah ahli ilmu pengetahuan. umara (pemerintah). Pertama.[9] Tetapi dalam kenyataan bermasyarakat hasil produk pemikiran hukum islam Majelis Ulama Indonesia yang berbentuk sebuah fatwa. dan kenegaraan yang baik sebagai hasil penggalangan potensi dan partisipasi umat Islam dan umat islam (izzu al-islam wa al-muslimin). Peranan para ulama dalam gerak dinamika bangsa Indonesia ini dapat ditunjuk dalam beberapa peran. .[6] Peranan ulama dalam dinamika bangsa di Indonesia sangat besar. menimbulkan pertanyaan seperti: seberapa jauh fatwa-fatwa itu absah dari segi hukum islam dan factorfaktor social politik ikut melatarbelakangi lahirnya fatwa-fatwa itu. ilmu pengetahuan dan teknologi. baik dalam kehidupan social maupun politik. sebagai pembimbing rohani bangsa. kebangsaan. yakni ibadah.d. sebagai pemimpin dan pengarah gerakan masyarakat. Pendahuluan Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan pada 17 Rajab 1395 H. dan cendikiawan Muslim. Wadah ini dicetuskan dalam Musyawarah Nasional pertama Majelis Ulama seIndonesia di Jakarta.A. masalah social kemasyarakatan.[7] Sejak berdirinya pada tahun 1975 sampai akhir tahun 1988 Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan lebih dari 39 buah fatwa. Kedua. Bahkan. paham keagamaan. atau dengan kata lain. sebagai penampung dan perumus aspirasi masyarakat.[8] Selama kurun waktu 22 tahun (1975 s. [4] Kata ³Ulama´ yang berasal dari bahasa Arab ini sebagai bentuk jamak (plural) dari kata ³alim´ secara lughat berarti ³orang-orang yang mempunyai pengetahuan´. ³Terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan. Untuk melihat realitas tersebut kita memerlukan pendekatan secara tekstual dan kontekstual. Isi fatwa itu dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori. dan pengaruhnya luas sekali.[5] Cita-cita pendirinya merupakan wadah musyawarah para ulama. serta penerapan status halal makanan dan minuman. 1997) MUI telah mengeluarkan sebanyak 76 fatwa. seringkali fatwa-fatwa MUI itu menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. bertepatan dengan 26 Juli 1975. menciptakan. Visinya. Ketiga.

tawaran teoritis dan metode ijtihad apapun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hukum islam harus mengacu pada terwujudnya kemaslahatan tersebut. Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia selama ini sebagai hasil Ijtihad para ulama Indonesia. bahwa salah satu persyaratan penting mujtahid dalam melakukan ijtihadnya adalah keharusan mengetahui tujuan ditetapkannya hukum dalam Islam. Basis teori ini secara sistematis dan rinci dikembangkan oleh Abu Ishaq al-Syatibi dan dileberalisasikan oleh Najamuddin at-Tufi. munculnya teori ijtihad dalam islam adalah karena adanya persentuhan antara ajaran Islam di satu pihak dan tuntutan realitas kehidupan manusia di lain pihak. formulasi dan rekonstruksi peraturan perundang-undangan. Kegiatan ijtihad telah dimulai sejak masa Rasulullah dan akan terus berlanjut sesuai dengan dinamika zaman.Fatwa Sebagai Produk Hasil Pemikiran Hukum Islam (Ijtihad). Pernyataan ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Abd al-Malik al-Juwani. ijtihad sebagai suatu prinsip dan gerak dinamis dalam khazanah Islam. diteruskan oleh Izzuddin ibn Abd al-Salam.[10] Dengan demikian. dilanjutkan oleh Abu Hamid al-Gazali. Kajian utama dalam teori maqasid al-syari¶ah adalah mengenai tujuan hukum islam yang diwujudkan dalam bentuk kemaslahatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. disamping dilandasi oleh epistemologisnya yang kokoh juga perlu memformulasikan dan merekonstruksi basis teorinya. Secara histories.[13]Oleh karena itu. Teori ijtihad dalam hukum Islam menimbulkan dan merupakan permulaan epistemologis hukum islam karena menyangkut persoalan wahyu dan akal.[12] Pengembangan hukum Islam. Tentu yang dimaksud dengan persoalan hukum dalam hubungan ini adalah persoalan-persoalan hukum kontemporer yang menyangkut bidang mu¶amalah. merupakan aktivitas daya nalar yang dilakukan para fuqaha¶ (para mujtahidin) dalam menggali hukum Islam. Ijtihad menurut ulama Ushul ialah usaha seseorang yang ahli fiqh yang menggunakan seluruh kemampuan menggali hukum yang bersifat amaliah (praktis) dari dalil-dalil yang terperinci.[11] Ijtihad mempunyai pengertian upaya mengerahkan seluruh kemampuan dan potensi untuk sampai pada suatu perkara atau perbuatan. Basis teori hukum Islam sebagaimana dibahas oleh para ahli teori hukum islam terdahulu. Untuk melihat tingkat keabsahan fatwa-fatwa MUI sebagai bentuk Ijtihad dari segi syar¶i .

ijma¶. maka diambil jalan. Di dalam kenyataan prosedur itu tidak diikuti secara konsisten. b) terhadap dalil al-Sunnah.diperlukan pengamatan ushul al-fiqh terhadap proses perumusan fatwa-fatwa tersebut. hadis. merujuk ke sunnah sebagai penjelas al-Qur¶an.[17]Sejatinya dalam penentuan produk hukum. mengacu pada al-Qur¶an sebagai sumber utama (sumber dari segala sumber dalam hukum Islam). memahami al-Qur¶an dalam konteks kesejarahan dan harfiyah. Bidang ini meliputi segala tatatanan yang qat¶iyah dan merupakan jati diri hukum agama Islam. menekankan pentingnya memahami kondisi-kondisi aktual ketika al-Qur¶an diturunkan. Secara teoritis MUI mempunyai pedoman bahwa dasar pengeluaran suatu fatwa ialah setelah meneliti secara tuntas dasar-dasar atau argumen-argumen dari al-Qur¶an. Di antara nilai-nilai dalam dimensi ini adalah yang dirumuskan dalam tujuan hukum Islam . mempunyai fungsi hukum sebagai sosial kontrol merupakan aspek yuridis normatif dari kehidupan sosial masyarakat. terhadap nash yang mengandung dalalah dhanniyah dilakukan ijtihad. Ada fatwa yang langsung saja melihat hadis tanpa meninjau argumen al-Qur¶an terlebih dahulu.[15] Selain itu. lalu memproyeksikan kepada situasi masa kini kemudian membawa fenomena-fenomena sosial kedalam naungan tujuan-tujuan al-Qur¶an.[16] Atau dengan kata lain.[18] Di dalam hukum Islam terkandung nilai-nilai fitriyah yang abadi dan bertumpu pada prinsip-prinsip yang solid. Ketiga.) melakukan pengumpulan isi kandungan dalil. disamping sebagai penetap hukum manakala al-Qur¶an tidak menentukan hukumnya. dengan urutan seperti itu. dalam menghadapi dua atau beberapa dalil kekuatannya sama dan dhahirnya bertentangan (ta¶rrud al-adilah). Kedua. maka dilakukan tarjih. diperlukan pendekatan soiso-historis dalam penetapan hukum. sehingga dapat diamalkan semuanya. dapat dilakukan penelitian waktu wurudnya dan yang lebih dahulu dinasakh dengan yang datang kemudian. ada pula yang langsung saja mengutip teks sesuatu kitab fiqh tanpa melihat tiga sumber sebelumnya. c) apabila tidak dapat dikumpulkan dan tidak dapat dinyatakan adanya nasakh mansukh. tidak akan berubah dan tidak akan diubah. pertama. dan qiyas.[14] Sementara itu harus dipegangi pula prinsip-prinsip istidlal dalam menetapkan hukum yaitu. bahkan ada pula fatwa yang tidak memberikan argumen sama sekali dan langsung saja kepada pernyataan fatwa itu sendiri. Keempat. dalam rangka menafsirkan pernyataan legal dan sosial-ekonomisnya. a.

Tidak terlalu banyak peran fatwa MUI yang dapat memberikan kepuasan bagi Umat Islam.(maqasid al-syari¶ah). dan rahmat. selain pertimbangan-pertimbangan murni keagamaan. di mana MUI mengharamkan hukum memakan kodok tetapi menghalalkan pembudidayaan yang ketika itu sedang digalakkan pemerintahan. kenikmatan. Dr. oleh banyak pihak fatwa itu juga dipandang tidak mempunyai integritas karena seolaholah biar saja orang lain yang memakan kodok itu asalkan kita sendiri tidak memakannya bahkan mendapatkan uang daripadanya. ialah faktor keinginan MUI untuk turut menunjang kebijakan pemerintah. maka peran MUI dapat menjadi sandaran dan pelipis ketidakpuasan Umat Islam terhadap peran pemerintah. Fatwa tentang pembudidayaan kodok adalah contoh kuat dalam hal ini. [20] Selain fatwa itu dipandang melakukan talfiq (karena mengambil pendapat mazhab Syafi¶i untuk keharaman memakannya dan mazhab Maliki untuk kehalalan pembudidayaannya). H. MUI pada masa orde baru. Pertama. maka fatwa-fatwa hukum Islam kebanyakan dikeluarkan untuk melancarkan program pemerintah. keadilan. terutama ketika Majelis Fatwa dipegang oleh Prof.[19] Latar Belakang Sosial Politik Fatwa MUI Dari segi isinya. ditandai oleh adanya kehendak bagi kemandirian eksistensi MUI agar bekerja secara tidak memihak dan bebas dari intervensi politik. Tetapi yang terjadi antara idealisme dan realitasnya perlu adanya sebuah independensi. Independensi kekuasaan MUI dalam mengeluarkan fatwa merupakan salah satu hal yang amat penting di dalam penetapannya sebagai sebuah Ijtihadi.[21] Dalam situasi pemerintah yang secara fungsional terdapat berbagai kelemahan. Begitulah kuatnya pengaruh keinginan untuk turut mendukung kebijakan pemerintah itu dalam fatwa tersebut. Kasus Porkas tahun 1988 merupakan . ternyata ada beberapa faktor sosial dan politik yang ikut melatarbelakangi lahirnya fatwa-fatwa MUI dalam bentuk dan bunyinya. Ibrahim Musen. yaitu kebahagiaan manusia. yang dapat dijabarkan dalam kemaslahatan.

dan zu'ama yang independen.[23] Kalau kita lihat di dalam aspek politik hukum Islam adalah membangun tata cara kehidupan dan penghidupan yang diatur dan damai. Buya Hamka menggambarkan bahwa jika tidak bekerja sungguh-sungguh MUI akan menghadapi berbagai kesulitan. terasa tidak mudah. Prof Hamka mengibaratkan MUI sebagai "kue bika". Faktor ini sebagai usaha MUI untuk menjawab tantangan tersebut. Pemerintah (dari atas) menginginkan ulama membuat masyarakat mengerti dan turut atas kebijakan pemerintah. atau lebih tepatnya adalah faktor keinginan untuk memelihara aqidah umat Islam dari segi kuantitas.Sebenarnya. sementara dari atas . cendekiawan. ketika harus memilih mundur dari jabatannya sebagai ketua umum MUI waktu itu akibat fatwa "perayaan natal" yang dikeluarkan berbeda dengan sikap dan kepentingan pemerintah. Karena itulah.[24] Faktor yang kedua yang mempengaruhi fatwa-fatwa MUI. sedangkan masyarakat (dari bawah) mendesak ulama untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah.kasus nasional menjadi bukti bagaimana pemerintah orde baru tidak mau menerima apresiasi umat Islam. Prof Hamka adalah saksi sejarah dari upaya itu. karena berbagai impitan persoalan dan keterbatasan yang melingkupinya. Kedudukan ulama yang diharapkan menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan aspirasi masyarakat memang serba sulit. tetapi disisi yang lain menyebabkan fatwa-fatwa yang independen itu jatuh sama dengan keinginan pemerintah.[22] Faktor untuk mendukung kebijakan pemerintahan ini lah yang membuat MUI belum bisa independen dalam mengeluarkan Ijtihad. akhirnya Porkas dimusnahkan selain tertekan 1992. upaya menjaga independensi MUI bukan tidak pernah dilakukan. menyangkut soal hubungan antar agama. yaitu keinginan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman modern. Setelah desakan kuat mat Islam. Buya Hamka menggambarkannya seperti kue bika yang sedang dimasak di periuk belanga yang terdiri atas dan bawah dijepit api.Atas dasar pengalamannya. berdasarkan hukum-hukum perdamaian yang harus terus menerus diperjuangkan. dipanasi dari bawah karena masyarakat berharap banyak terhadap peran MUI. Faktor ketiga.[25] Upaya untuk memosisikan MUI sebagai wadah ulama.

konon MUI juga tidak tertutup menerima sokongan dari kelompok pengusaha. tetapi harus "dipaksakan" dengan membebani MUI untuk mendukungnya.[27] Secara kelembagaan MUI mendapat dukungan penuh pemerintah. Kaum idealis yang lebih berdiri pada sudut das sollen mengatakan bahwa hukum harus mampu mengendalikan dan merekayasa perkembangan masyarakat. Tetapi kaum realis seperti . dan dinyatakan halal). Penulis seperti Roscue Pound telah lama berbicara ´law as a tool of social engineering´. Di kalangan ahli hukum minimal ada dua pendapat mengenai hubungan kausalitas antara politik dan hukum. Sokongan-sokongan dana kepada MUI ini beberapa kali justru memancing persoalan di masyarakat karena dampak dari kucuran dana itu sendiri yang melahirkan bias keputusan maupun fatwa di masyarakat. April 2005 menampilkan Menteri Agama Maftuh Basyuni menjelang penyelenggaraan Kongres Umat Islam II di Jakarta mengeluh atas permohonan Din Syamsuddin (sebelum menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah) yang meminta dana dari pemerintah dengan alasan untuk kepentingan umat Islam. kita bisa melihat bahwa hukum sebagai produk politik. masjid yang dibangun pemerintah pada jaman Soekarno untuk kantor MUI.[26] Bukti kedua adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya Ajino Moto saat dalam produksinya dicampuri zat tertentu yang berasal dari babi (sekarang sudah kembali kepada semula. Bukti dukungan itu dengan diberikannya salah satu ruangan di Masjid Istiqlal.pemerintah juga "memanasi" dengan berbagai program dan kebijakannya yang sering kontroversial. Sebagai keiginan tentu saja wajar jika ada upaya untuk meletakkan hukum sebagai penentu arah perjalanan masyarakat karena dengan itu fungsi hukum untuk menjamin ketertiban dan melindungi kepentingan masyarakatnya akan menjadi lebih relevan. termasuk kehidupan politiknya. Ketika itu. dalam hal ini tampak sekali kontribusi dari Departemen Agama (DEPAG). Begitu pula dengan kucuran dana-dana rutin dari pemerintah.[29] Dari realitas yang mempengaruhi fatwa MUI. Salah saatu bukti adanya keinginan MUI mendapatkan dana dari pemerintah. Majalah Gatra. seperti Dana Abadi Umat (DAU) dan dana-dana lain seperti yang pernah disinyalir mantan Presiden Abdurrahman Wahid. fatwa tersebut berbeda dengan pernyataan presiden Gus Dur.[28] Menurut sebuah sumber.

mau tidak mau. Sehingga aspek hukum Islam mencakup segi nilai dan tujuan hukum sesuai dengan kriteria dan pedoman Allah Yang Maha Sempurna. terutama keadaan politiknya. dari Macrocosmos sampai dengan micro-cosmos.[30] Perubahan masyarakat dimaksud terjadi bila seseorang atau sekelompok orang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin lembaga-lembaga kemasyarakatan. Konteks perubahan social yang semakin komleks. Dengan kata lain. Pelopor perubahan pemimpin masyarakat dalam mengubah system social dan di dalam melaksanakan hal itu langsung tersangkut tekanan-tekanan untuk melakukan perubahan. dan pihak lain memberikan arahan dan penjelasan kepada masyarakat dalam kerangka norma apa yang harus mereka pegangi.[33] Memang di dalam kenyataan hukum itu lahir sebagai refleksi dari konfigurasi politik yang melatarbelakanginya. Gagasan ini . fungsi ulama diperlukan untuk melakukan penataan ulang atas nilai-nilai dan norma-norma yang telah goncamh di satu pihak.[31] Realitas keulamaan di Indonesia.[34] Hukum Islam mencakup peraturan gerak semesta alam. konfigurasi politik otoriter dan non demokratis akan melahirkan hukum-hukum yang berkarakter ortodoks/konservatif/elitis.[32] Dengan kepemimpinan tersebut diharapkan mampu untuk melakukan rekayasa sosial. kalimat-kalimat yang ada di dalam aturan hukum itu tidak lain merupakan kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling bersaingan.Savigny mengatakan bahwa ³hukum selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya´. kepemimpinan Ulama lebih dipersepsikan sebagai kepemimpinan ´karismatik´ atau kepemimpinan ³tradisional´.[35] Gagasan Ibrahim Hosen tentang kewenangan pemerintah dalam persoalan hukum islam. Konfigurasi politik tertentu akan melahirkan karakter produk hukum tertentu dengan spesifikasi yang pertama. menjadi independent variable atas keadaan di luarnya. Kedua. konfigurasi politik demokratis dan non-otoriter akan melahirkan hukum-hukum yang berkarakter responsif/populistis. Ibrahim Hosen mengungkapkan bahwa pemerintah diberi kewenangan untuk membatasi makna umum dari nash dan membatasi kemutlakan kata-kata yang Muthlaq. Ini berarti bahwa hukum.

[38] .kelihatannya diilhami oleh kaidah ´ ´ (Keputusan hakim dapat menghilangkan perbedaan pendapat. secara historis fiqih merupakan produk sejarah panjang umat manusia yang dilanggengkan oleh lembaga keulamaan dan seringkali juga rezim kekuasaan.[36] Kalau melihat kerangka fiqih. Melalui Majelis Ulama hampir seluru elite santri ditempatkan di bawah kontrol pemerintah.[37] Strukturisasi ideologi dan kebijakan politik pada masa Orde Baru melakukan usaha penyerapan tokoh dan pimpinan Islam serta ulama ke dalam kekuasaan birokrasi melalui organisasi-organisasi sosial politik dan organisasi keagamaan di samping Partai.

Pembaruan Pemikiran Hukum Islam Antara Fakta dan Realita: Kajian Pemikiran Hukum Syaikh Mahmud Syaltut. 1999) Mubarok.2004. Http://www. (Yogyakarta: Gama Media. 1994) Rofiq. Jurnal Asy-Syir¶ah Vol. 2003 Sodik.Atho. Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam. Suryadilaga. Mencairkan Kebaikan Fikih: Membaca KHI dab CLD KHI bersama Musdah Mulia. (Yogyakarta: Teras. Yogyakarta: UII Press. ( Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Zaenal. Sosiologi Hukum.Yogyakarta. 2005) Mudzhar. Suara Merdeka 25 Juli 2005 Salam. Titian Ilahi Press. Moh. ( Jakarta : Lantabaora Press.Daftar Pustaka Abidin. Muhammad Tholhah.M. Gema Insani Press. 2005) Ali. Islam Dalam Perspektif Sosio Kultural. Jawahir. Jakarta. (Jakarta: Sinar Grafika. 2005) Mahfud. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi. 2001 Mulkhan. Amrullah. LESFI. (Jakarta: Pustaka Firdaus. Metodologi Ilmu Tafsir. 2002) . Gama Media.Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Ahmad. Abd. Yogyakarta. Arif. Thontowi. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional. Runtuhnya Mitos Politik Santri: Strategi Kebudayaan dalam Dakwah Islam. Politik. Membaca Gelombang Ijtihad: Antara tradisi dan Liberasi. Islam. 2006) Hasan. Yogyakarta. Ushul Fiqih. Abdul Munir. Ijtihad Kemanusiaan di Indonesia.MD.dkk.1999 Alfatih. 1999 ___________.II. (Yogyakarta: Sipress. Fatwa MUI yang Mengayomi.org Abu Zahrah.1998 Mu¶allim. (Yogyakarta: Madyan Press.dkk. Amir. M. Zainuddin. Pelanggeng Pragmatisme Religius.H. Muhammad.icrp-online. Th. 2002) Ahmad. dan Hukum. Jalil. 38 No. Mochamad.

2002). hal 15 [12] Abu Zahrah.. Muhammad Tholhah.H. Metodologi Ilmu Tafsir. 1999) hal 3 [4] Abidin.dkk. [18] Ali. Ushul Fiqih. 2002). Ibid. (Yogyakarta: Madyan Press. (Jakarta: Sinar Grafika. Abd. Arif. (Yogyakarta: Titian Ilahi Press. hal 567 [13] Ibid. Arif. Hal 4 [14] Mudzhar.icrp-online. Zaenal. [7] Hasan. Ibid [10] Mu¶allim.[2] Mahasiswa Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta [3] Mahfud. hal 21 [16] Alfatih. dan Hukum. Politik. hal 19 [23] Mahfud.dkk.1999). Abd. hal 54 [20] Mudzhar.org [5] Hasan. 2006).Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Zaenal. (Jakarta: Pustaka Firdaus. Islam.H. Amir.. 2005). Sosiologi Hukum. (Jakarta: Gema Insani Press. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional. Pembaruan Pemikiran Hukum Islam Antara Fakta dan Realita: Kajian Pemikiran Hukum Syaikh Mahmud Syaltut.M. Moh. hal 223 [6] Abidin. (Yogyakarta: LESFI.2001) hal 3 [11] Salam.MD. Muhammad Tholhah.. Amrullah.. (Yogyakarta: UII Press. Zaenal. hal 134 [15] Salam. hal 137-138 [21] Ibid.H. Islam Dalam Perspektif Sosio Kultural. Http://www.M. ( Jakarta : Lantabaora Press. M.. Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam. hal 259 . [22] Thontowi. hal 232-233 [8] Mudzhar. Membaca Gelombang Ijtihad: Antara tradisi dan Liberasi. hal 37 [19] Ahmad.M.. Pelanggeng Pragmatisme Religius. Suryadilaga. (Yogyakarta: Teras. Zainuddin. 2005).Atho. Jawahir.2003).(Yogyakarta: Gama Media.MD.Atho. Muhammad.Atho.. Moh.1998) hal 133 [9] Abidin. hal 142 [17] Ibid.

2004. Amrullah. MUI http://jurnalpamel. Mochamad. (Yogyakarta: Sipress.[24] Ahmad. Moh.Atho. Ijtihad Kemanusiaan di Indonesia.. hal 242 [34]Mahfud.. Suara Merdeka 25 Juli 2005 [27] Ibid..M. hal 38 [32] Hasan. (Yogyakarta: Gama Media. [28] Abidin. hal 22 [33] Ibid.MD..II.. hal 71 [31] Ali. Mencairkan Kebaikan Fikih: Membaca KHI dab CLD KHI bersama Musdah Mulia. Ibid [29] Ibid.. Ahmad.MD. hal 194 [38] Mulkhan. Jurnal Asy-Syir¶ah Vol. Muhammad Tholhah. Zaenal. Fatwa MUI yang Mengayomi. [30] Mahfud. Runtuhnya Mitos Politik Santri: Strategi Kebudayaan dalam Dakwah Islam.dkk. hal 141 [26] Rofiq. Amrullah. hal 154-155 [35] Ahmad. hal 144 [36] Mubarok. Th. Zainuddin. hal 141 [25] Mudzhar. fatwa. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi.. Abdul Munir.56 Label: Dinamika. ( Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Jalil.com/2008/09/dinamika-fatwa-mui. 38 No. Moh. hal 41 Diposkan oleh Islamic Studies di 23.blogspot. 2005) [37] Sodik.html . 1999).H. 1994)..

MUI menegaskan pergeseran tersebut tak mempengaruhi arah kiblat. Aminudin Yakub. dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Prof. Senin (22/3). dengan mengubah bahkan membongkar masjid atau musala agar mengarah ke kiblat.Fatwa tentang Arah Kiblat Selasa. dan sebagainya. 03 Tahun 2010 tentang Kiblat disebutkan. (ws) Terakhir Diperbaharui ( Sabtu. MA. maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap kea rah barat. Diktum Fatwa Tentang diktum dari fatwa MUI No. Nazri Adlani. Dalam kententuan hukum tersebut disebutkan bahwa: (1) Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat ka¶bah adalah menghadap ke bangunan Ka¶bah (ainul ka¶bah). 23 Maret 2010 13:08 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait arah kiblat sebagai konsekuensi dari pergeseran lempeng bumi. dibongkar. Dr. H. (3). (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka¶bah adalah arah Ka¶bah (jihat al-Ka¶bah). tidak perlu diubah. MUI mengingatkan umat Islam agar tak perlu bingung dengan arah kiblat. MUI merekomendasikan agar bangunan masjid/mushalla di Indonesia sepanjang kiblatnya menghadap kea rah barat. pertama. tentang ketentuan hukum. Kedua. H Amrullah Ahmad. KH Ali Mustafa Yaqub. Untuk itu. Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Ka¶bah/Mekkah. H. Terlebih. Konferensi pers tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Drs. MA. Dalam konferensi pers di Jakarta. didampingi Sekretaris MUI Dr. rekomendasi. 27 Maret 2010 07:22 ) .

menderita TBC dan bronkhitis lebih besar dibandingkan dengan yang bukan perokok 2. Merokok memperlemah Paru-paru Orang yang terbiasa merokok kemungkinan mengalami sesak nafas. Satu berita yang menarik perhatian saya bukan lagi kasus BLBI yang melebar kemana-mana atau kasus Ryan pembunuh berantai yang mulai kadaluarsa.wordpress. Berita pagi itu yang menarik perhatian saya adalah rencana Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram untuk merokok. saya mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang pengaruh rokok terhadap kesehatan. Saya terbiasa sarapan pagi sambil ditemani Televisi yang menayangkan berita pagi. Saya coba mengulas berita ini dari segi kesehatan bukan agama.FATWA HARAM MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG ROKOK 15 Agustus 2008 http://ardansirodjuddin. Ketika saya mengantar istri berobat ke Balai Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru (BP4) di Jalan KH. saya selalu disibukkan dengan persiapan untuk mengajar pada pagi hari. 39 Semarang. Pengaruh asap rokok terhadap kesehatan antara lain : 1.com/2008/08/15/fatwa-haram-majlis-ulama-indonesiamui-tentang-rokok/ Sebagai seorang guru yang harus mengajar jam pertama. Merokok Mengganggu Aliran Darah Stroke. Suatu rutinitas yang selalu saya jalani dari hari ke hari. Achmad Dahlan No. serangan jantung dan pembusukan jaringan (gangren) merupakan akibat terganggunya aliran darah . Selama ini MUI hanya mengeluarkan fatwa makruh bagi perokok.

Merokok meningkatkan impotensi dan infertilitas Orang yang setiap hari menghabiskan berbatang-batang rokok akan mengalami peningkatan terjadinya impotensi dan infertitilitas (kemandunlan) 4. kanker lambung dan kanker tenggorokan 5. alergi. Fatwa haram rokok. pengaruh rokok thd kesehatan. dan infeksi telinga. berhenti merokok adalah satu hal yang paling penting untuk meningkatkan derajat kesahatan diri dan keluarga. Merokok merupakan masalah kesehatan keluarga Anak-anak yang terkena asap rokok lebih sering menderita sesak nafas. . Untuk itu. Berdasarkan paparan bahaya akibat rokok di atas. Tags: Akibat rokok. fatwa haram MUI tentang rokok patut kita tunggu. Selain itu asap rokok juga menyebabkan adanya hambatan perkembangan otak dan gangguan belajar. bronkhitis. kanker mulut. asma. Entry filed under: Lingkungan. Merokok merupakan masalah bagi kesehatan wanita Wanita hamil yang terkena asap rokok memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami keguguran. Merokok meningkatkan resiko kanker Merokok meningkatkan kemungkinan untuk menderita semua jenis kanker terutama kanker paru-paru.3. melahirkan bayi prematur (tidak cukup bulan) ataupun melahirkan bayi dengan badan lahir rendah 6.

bukan barat. MUI pun menghimbau agar semua wilayah di Indonesia harus menyesuaikan arah kiblat sesuai dengan ralat dari fatwa sebelumnya. 14 Juli 2010 10:01 Jakarta-detiknews .Majelis Ulama Indonesia (MUI) meralat fatwa No 03 Tahun 2010 tentang Kiblat. Rabu (14/7/2010). 2. "Untuk Indonesia secara umum kiblat menghadap ke barat laut. "Indonesia itu letaknya tidak di timur pas Kabah tapi agak ke selatan. Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Kabah/Mekkah." terangnya.id/index. Arah kiblat yang sebelumnya disebutkan menghadap barat kini telah direvisi menjadi ke arah barat laut." ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Ma'ruf Amin saat berbincang dengan detikcom.or. Kiblat bagi orang yang salat dan tidak dapat melihat Kabah adalah arah Kabah (jihat al-Ka¶bah). maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah barat http://www. ini sekaligus merevisi fatwa kita yang tempo hari. 03 Tahun 2010 tentang Kiblat disebutkan 1.mui. Adapun diktum fatwa MUI No.php?option=com_content&view=article&id=249:muiralat-fatwa-arah-kiblat-salat . 3. Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat Kabah adalah menghadap ke bangunan Kabah (ainul ka¶bah).MUI Ralat Fatwa Arah Kiblat Salat Rabu. Fatwa yang diralat tersebut adalah fatwa yang dikeluarkan MUI Tanggal 22 Maret 2010 lalu. jadi arah kiblat kita juga tidak barat pas tapi agak miring yaitu arah barat laut.

Tapi.MUI: Fatwa Arah Kiblat MUI Ternyata Keliru Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia. (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka¶bah adalah arah Ka¶bah (jihat al-Ka¶bah). Alasanya. menyebutkan bahwa fatwa MUI nomor 3 tahun 2010 tentang Arah Kiblat Masjid di Indonesia ternyata keliru. melencengnya arah kiblat tidak dipengaruhi oleh pergeseran lempeng bumi akibat gempa. pada tanggal 22 Maret 2010. Dalam waktu dekat. Jombang pada Selasa kemarin. MUI melangsungkan jumpa pers soal Fatwa MUI nomor 3 Tahun 2010 tentang Kiblat. rentang pergeseran antara Indonesia dengan titik kiblat itu sebesar 140 sentimeter. setelah ditandatangani ketua. "Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa bergeser sesuai rentang itu. MUI sudah merevisi fatwa itu. dan Tanzania. (3). ³Setelah melalui kajian dengan beberapa pakar ilmu falak dan astronomi.´ ucap Sopar dalam Seminar Arah Kiblat dan Penentuan Waktu Shalat di Pondok Pesantren Tebuireng. Jika pergeseran hanya 7 sentimeter itu tidak ada artinya. Letak georafis . Menurut Sopar. Sopar juga menambahkan. Somalia Selatan. Sebelumnya. belum disebar ke masyarakat karena masih berupa draft." jelas Sopar. Ada tiga diktum dalam fatwa tersebut: (1) Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat ka¶bah adalah menghadap ke bangunan Ka¶bah (ainul ka¶bah). Sopar RA. arah yang ditentukan MUI justru menghadap ke Afrika. Kenya. revisi fatwa itu akan segera disebarkan ke masyarakat.

letak Indonesia tidak persis berada di sebelah timur Makkah. Diktum ketiga itulah yang mengalami koreksi. Arah kiblat masjid yang benar adalah menghadap ke barat laut dengan kemiringan yang bervariasi. bukan ke arah barat seperti yang disebutkan dalam diktum fatwa tersebut.Indonesia yang berada di bagian timur Ka¶bah/Mekkah. maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah barat. Secara geografis.eramuslim. Jadi. 06/07/2010 11:52 WIB Di Gaza. sesuai dengan letak geografis. 22/06/2010 14:04 WIB y y y y y y http://www. Listrik Hanya Menyala 4 Jam Dalam Sehari Jumat.com/berita/nasional/mui-fatwa-arah-kiblat-mui-ternyata- . 24/06/2010 17:07 WIB Putra Indonesia Raih Anugerah Buku Karya Terbaik di Malaysia Selasa. Mnh/tempo Rabu. 14/07/2010 09:47 WIB | email | print | share Berita Nasional Lainnya y Din Syamsuddin Akhirnya Terpilih Secara Aklamasi Rabu. 30/06/2010 13:21 WIB Mer-C: Kalau SBY Cerdas. 06/07/2010 11:53 WIB Din Syamasuddin Memimpin Muhammadiyah Lagi? Selasa. 02/07/2010 14:02 WIB Politisi PKS Misbakhun Menjalani Sidang Perdana Rabu. Dia akan Dukung Penuh Relawan untuk Gaza Kamis. 07/07/2010 13:25 WIB Surat Mujahidah Palestina untuk Muslimah di Indonesia Selasa.

keliru.htm .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful