Pendahuluan A.

Latar Belakang
Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa usia dini, semua potensi anak berkembang sangat cepat. Fakta yang ditemukan oleh ahli-ahlineurologi, menyatakan bahwa sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun dan 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun. Pertumbuhan fungsional sel-sel syaraf tersebut membutuhkan berbagai situasi pendidikan yang mendukung, baik situasi pendidikan keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, pemerintah sudah mengembangkan Kurikulum PAUD dan perangkatnya yang dijadikan acuan bagi penyelenggaraan PAUD. Kurikulum PAUD hendaknya disusun berdasarkan landasan teoritik, yuridis, dan empiric. Hingga saat inibelum ditetapkan Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD sebagai acuan penyusunan KTSP. Untuk itu perlu disusun naskah akademik kajian kebijakan kurikulum PAUD. Penyusunan naskah akademik kajian kebijakan kurikulum PAUD bertujuan untuk memberikan landasan teoritik (keilmuan) dan empirik bagi perumus kebijakan dan penyelenggara PAUD pada berbagai kelembagaan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan secara konseptual akademik dalam mengembangkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) terutama Standar Kompetensi Lulusan (untuk PAUD disebut Standar Kompetensi Akhir Usia) dan Standar Isi Perkembangan (SIP). Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD meliputi kajian dokumen dan kajian pelaksanaan kurikulum PAUD serta permasalahannya. Selain itu juga dilakukan kajian pustaka (kajian teoritis) berbagai landasan keilmuan yang dapat mendasari atau menjadi pijakan PAUD. Peserta yang terlibat dalam kajian ini terdiri atas ahli PAUD dari perguruan tinggi, Guru dan Kepala Sekolah TPA/KB/TK/RA. Kajian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan, meliputi: penyusunan desain, seminar, studi dokumen, workshop dan presentasi. Dari hasil kajian dokumen dan kajian pelaksanaan kurikulum PAUD ditemukan banyak masalah yang meliputi semua dokumen kurikulum dan pelaksanaannya.

dan perlu dikembangkan Standar Nasional Pendidikan untuk anak usia dini yang didasarkan pada naskah akademik. TK/RA. Tujuan Tujuan Kajian kurikulum PAUD ini disusun untuk memberikan landasan keilmuan dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini pada berbagai kelembagaan. 3.Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa Standar Kompetensi TK/RA dan Menu Pembel Generik belum sesuai dengan landasan teoritis (landasan psikologis). Memberikan acuan (guideline) secara konseptual akademik dalam menyusun standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi (SI) sebagai bagian intergral kurikulum. Upaya ini sekaligus dapat membangun kebiasaan berpikir dan bertindak praksis dalam menjalankan profesi tenaga pendidik anak usia dini. perlu disusun tahapan perkembangan anak mulai dari lahir sampai usia delapan tahun sebagai dasar penentuan SK dan KD sehingga ada kesinambungan kompetensi dari TB/KB. Memberikan analisis konsep dasar filosofis dan keilmuan pendidikan serta ilmu bantu lainnya sebagai dasar pengembangan seluruh komponen kurikulum. 2. terutama dalam hal penyusunan gradasi perkembangan dan lingkup perkembangan. yaitu perlu dilakukan riset perkembangan anak usia dini Indonesia sebagai acuan empirik dalam menyusun SKAU (Standar Kompetensi Akhir Usia) dan SIP (Standar Isi Perkembangan). Adapun tujuan khusus kajian ini diarahkan pada : 1. Memberikan guideline secara konseptual akademik dalam menyusun standar proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan (Developmentally Appropriate) dan berbagaikebutuhan anak usia dini . Kajian ini menghasilkan beberapa rekomendasi. hingga SD kelas awal. Kajian ini juga dimaksudkan memberikan pemahaman tentang pentingnya penguasaan konsep keilmuan yang membangun dan mendukung penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.

2. Pasal 4 mengungkapkan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup. 2).BAB I Landasan Yuridis Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini 1. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. . Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Dalam undang-undang nomor 23 tahun 2002 ditegaskan beberapa hal penting sebagai berikut : a. Pada pasal 28 undang-undang nomor 20 tahun 2003 ditegaskan tentang penyelenggaraan pendidikan anak usia dini pada jalur informal (keluarga). 1). berkembang. Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).kanak dan Raudhatul Atfal). Pasal 9 mengungkapkan dua hal pokok yaitu. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diksriminasi. khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa. tumbuh. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. jalur non formal (seperti Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak) dan jalur formal (Taman Kanak. sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. Undang-Undang Nomor 20 telah memberikan payung hukum untuk perlunya diselenggarakan pendidikan anak usia dinipada ketiga jalur pendidikan. b.

metode pembelajaran dan teknik pembelajaran. spiritual atau rohaniah. Pandangannya tentang hakikat pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali. dan Hegel. dan menyimpang dari keadaan lingkungan yang lebih sempurna. Kerangka filosofis memberikan gambaran tentang cara pandang guru terhadap pendidikan itu sendiri (termasuk didalamnya kurikulum. penyusunan langkah pembelajaran dan penilaian yang mendidik. Tokoh aliran ini antara lain Plato. Filosofis-Pedagogis Filosofi pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik. Adapun landasan pedagogis memberikan sejumlah pemahaman konseptual dan praktis tentang bagaimana proses pendidikan itu terjadi dalam berbagai lingkungan. tidak lengkap. karena dunia materi hanyalah tipuan belaka. Idealisme. hal zat atau substansi yang kekal dan abadi dalam dunia ini bersifat keijiwaan. Dan hal-hal yang bersifat materil bersumber kepada hal-hal yang bersifat kejiwaan. Beberapa konsep filosofis tersebut dapat dirangkum sebagai berikut : a.BAB II LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI A. banyak ragam konsep cara pandang pelaksanaan pendidikan yang digagas oleh para filosof. David Hume. anak didik dan proses pembelajaran. Landasan Akademis (Teoritis) 1. termasuk didalamnya adalah pola pengasuhan anak. penggunaan media dan sumber belajar. model pembelajaran. sifatnya maya. Idealisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta ini adalah perwujudan intelegensi dan kemauan. Pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti. tujuan pendidikan dan isi pendidikan). Dari sudut filosofis pendidikan. Kebenaran hanya mungkin dapat . Kerangka filosofis harus menjadi kerangka berpikir guru ataumind set guru dalam menyelenggarakan praksis pembelajaran.

Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD – Tahun 2007 11 2. Kondisi psikologis pendidik dan anak didik ini akan digambarkan dalam landasan psikologis. Standar normatif perkembangan ini akan menjadi kerangka acuan dalam menyusun . Landasan psikologis merupakan acuan konseptual akademis yang berisi kajian konsep psikologi yang memberikan pemahaman berbagai konsep tentang perkembangan anak (psikologi perkembangan dan perkembangan anak). ragam pemahaman kondisi psikologis pendidik dan anak didik menjadi konsep penting untuk memberikan acuan dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum. menusia yang berbudi luhur. setiap anak didik memiliki karakteristik dan tahapan perkembangan normatif yang relatif sama sesuai dengan usia kalender (cronological ages). Standar tingkah laku manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan dari kenyataan sebenarnya atau metafisik. Bagaimana cara anak belajar (psikologi belajar) dan faktor yang mempengaruhi belajar anak (psikologi pendidikan). Dengan demikian pengetahuan yang diajarkan di sekolah harus bersifat intelektual. intelek dan akal memegang peranan yang sangat penting atau menentukan proses belajar mengajar.dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran cemerlang. Landasan Psikologis Pendidikan anak usia dini pada berbagai kelembagaan sesungguhnya merupakan proses interaksi antara pendidik dengan anak didik untuk membantu anak mencapai tugas-tugas perkembangannya dan/atau memperoleh optimalisasi berbagai ragam potensi perkembangan. pengembangan bakat insani dan kebajikan social. Hanya satu kebenaran. Hakikat nilai menurut pandangan idealisme bersifat absolut. Upaya pendidikan harus ditujukan pada pembentukan karakter. dan sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat. Pendidikan menurut idealisme diartikan sebagai upaya terencana untuk mewujudkan manusia ideal yaitu manusia yang dapat mencapai keselarasan individual yang terpadu dalam keselarasan alam semesta. Dalam konteks interaksi edukatif. watak. karena menurut aliran ini manusia akan dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Sehubungan dengan teori pengetahuannya. yaitu kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta. Dalam konteks psikologi perkembangan dan perkembangan anak.

Studi psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya. Beberapa konsep generik psikologi perkembangan dan perkembangan anak yang dijadikan landasan psikologis dalam naskah akademik ini diantaranya seperti berikut ini: Pemahaman tentang konsep perkembangan anak didik dapat diperoleh melalui studi perkembangan. pengalaman interaksi anak dalam keluarga (termasuk kondisi spiritualkeagamaan. Metode studi kasus dilakukan dengan mempelajari . Studi longitudinal telah memperoleh sejumlah informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan. Walaupun secara normatif anak memiliki standar perkembangan yang relatif sama namun dalam proses pencapaiannya. Metode cross sectional (cross lateral) melakukan pengamatan dan pengkajian terhadap berbagai kelompok selama suatu periode yang singkat. tempo dan irama perkembangan masing-masing. Ia mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia.masa berikutnya. Menurut Freud. setiap anak memiliki keunikan. Olson. Terdapat perbedaan kondisi psikologis (mental ages) yang telah dimiliki dan dicapai setiap anak didik dibandingkan dengan standar perkembangan yang sesuai dengan usia kalender (sesuai usia). mencatat ciri-ciri fisik dan mental. sosiologik maupun studi kasus. Studi ini lebih banyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya.standar kompetensi perkembangan sesuai dengan usia kelender masingmasing murid. Hal ini pernah dilakukan oleh Arnold Gessel. Tuntutan akan tugas-tugas kehidupan masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). psikoanalitik. kondisi ekonomi. baik yang bersifat longitudinal. seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. pola-pola perkembangan dan kemampuan serta perilaku mereka. Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai individu dalam setiap tahap perkembangan. terutama pada masa kanak-kanak (balita). Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst yang mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. dari saat lahir sampai dengan dewasa. kondisi sosial-antropologi yang dimiliki keluarga). pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa balita dapat mengganggu perkembangan pada masa. Perbedaan tersebut dalam konsep perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor heriditas (faktor bawaan). cross sectional (cross lateral).

agama. perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. ♦ ♦ ♦ ♦ Tahap sensorimotor. Dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. usia 2-4 tahun. Dalam pendekatan pentahapan yang bersifat khusus. Tahap praoperasional. yaitu pendekatan pentahapan (stage approach). pendekatan diferensial (differential approach) dan pendekatan ipsatif (ipsative approach). usia 0-2 tahun. Masa praoperasional atau masa prakonseptual disebut juga sebagai masa intuitif . bahasa awal.kasus-kasus tertentu. b. Menurut pendekatan pentahapan. waktu sekarang dan ruang yang dekat saja. status sosial-ekonomi dan sebagainya. Studi seperti ini pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak. ras. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya. Tahap formal operasional. seperti kelompok individu berdasarkan jenis kelamin. dan sebagainya. individu dikatagorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks. anak mengenal lingkungan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapi dalam kehidupannya.bangan dari kemampuan kognitif anak. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki kesamaan dan perbedaan. yaitu sebagai berikut. Tahap konkret operasional. pendekatan ipsatif adalah suatu pendekatan yang berusaha melihat individu berdasarkan karakteristiknya. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut. para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. yang terpenting adalah penguasaan dan kategori konsep-konsep. Erikson. usia 7-11 tahun. Melalui penguasaan konsep-konsep itu. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep Piaget. Dari ketiga pendekatan itu yang banyak dianut oleh para ahli psikologi perkembangan adalah pendekatan pentahapan. Selain itu. usia 11-15 tahun. dikenal pentahapan dari Piaget. Tahap sensorimotor disebut juga sebagai masadescrim ina ting andla b el ing. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkem. Pendekatan ini lebih disenangi karena lebih jelas menggambarkan proses urutan perkembangan dan kemajuan individu. Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu.

walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak. memiliki kelebihan. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak tidak sama. induktif. Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengenal pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus. Perilaku anak juga beragam. demikian pula langgam belajarnya. dan adapula yang berbakat olah raga. bahasa. Dengan memahami kebutuhan khusus setiap anak diharapkan para guru mampu mengembangkan potensi anak dengan baik. menganalisis. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugastugas menggabungkan. mampu berpikir abstrak dan berpikir reflektif serta memecahkan berbagai persoalan Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat diamati. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda. kehidupan ini tunduk kepada hokum stimulus respon atau aksi-reaksi. Mereka sudah mampu berpikir secara deduktif. meyusun. dilihat. Setangkai mawar merah dapat merupakan suatu stimulus dan direspon oleh mata dengan cara meliriknya. Ki Hadjar Dewantara(1957) merangkum semua potensi .dengan kemampuan menerima perangsang yang terbatas. Hakikat Anak Usia Dini a. dan ada yang kurang cerdas. Teori S-R Bond bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan teori pertama dari rumpun behaviorisme. anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi. Menurut teori ini. tidak ada dua anak yang sama sekalipun kembar siam. Pada masa ini. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus respons sebanyak-banyaknya. matematika. persepsi waktu dan tempat masih terbatas. menyintesis. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya. memisahkan. ada yang biasa saja. Demikian halnya dengan belajar. melipat dan membagi. bakat dan minat sendiri. terdiri atas rentetan hubungan stumulus respons. Kesan indah yang diterima individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespon memetik bunga tersebut. Masa konkret operasional disebut juga masa performing operation. ada pula yang berbakat menari. Masa formal operasional disebut juga sebagai masaproportional thinking. ada yang sangat cerdas. Keunikan Anak Usia Dini Setiap anak bersifat unik. menderetkan. Ada anak yang berbakat menyanyi.

terjadi saat anak dalam kandungan. . Oleh karena itu usia dini (usia 0-8 tahun) juga disebut tahun emas atau golden age. intelektual. Oleh karenanya PAUD diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan belajar dan bimbingan belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas genetisnya. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik. dan karsa. rasa. Memang disadari ada faktor-faktor pembatas. Oleh karena itu jika ingin mengembangkan bangsa yang cerdas. perkembangan moral (termasuk kepribadian. beriman dan bertaqwa. sebagai modal pembentukan kecerdasan. dan akhlak). bahkan pada saat lahir jumlah sel otak tidak bertambah lagi. sampai ada teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai. tetapi hubungan antar sel syaraf otak (sinap) terus berkembang. tetapi sama pentingnya dengan pendidikan SD atau sekolah menengah. Anak usia dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Anak usia dini juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat. Selanjutnya setelah lahir terjadi proses mielinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antar sel syaraf. Itulah sebabnya negara-negara maju amat serius mengembangkan PAUD. Oleh karena itu guru harus memahami kebutuhan khusus dan kebutuhan individual anak. Tahap awal perkembangan janin sangat penting untuk pengembangan sel-sel otak. tetapi amat jarang yang memiliki secara sempurna delapan kecerdasan tersebut. sosial. yaitu faktorfaktor yang sulit atau tidak dapat diubah dalam diri anak yaitu faktor genetis. watak. dan bahasa juga berlangsung amat pesat. yaitu sejak dalam kandungan. Setelah lahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak. Biasanya seorang anak memiliki satu atau lebih kecerdasan. Teori Multiple Intelligencies (Kecerdasan Ganda) dari Gardner (1998) menyatakan ada delapan tipe kecerdasan. PAUD bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi setiap anak agar dapat berkembang secara optimal sesuai tipe kecerdasannya. dua hal yang sangat penting dalam pembentukan kecerdasan. Pembentukan sel syaraf otak. emosional.anak menjadi cipta. Pertumbuhan dan perkembangan telah dimulai sejak prenatal. Sel-sel tubuh anak tumbuh dan berkembang amat cepat. serta berbudi luhur hendaklah dimulai dari PAUD. tidak dianggap sebagai pelengkap. Makanan bergizi dan seimbang serta stimulai pikiran sangat diperlukan untuk mendukung proses tersebut. Begitu pentingnya usia dini. dan 80% pada usia delapan tahun.

ilmu Pendidikan.Cara Belajar Anak Usia Dini Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Untuk itu guru dan orangtua perlu memahami karakteristik anak agar dapat memberi bantuan belajar yang paling tepat.negara maju karena mengembangkan sumberdaya manusia lebih mudah jika dilakukan sejak usia dini. Bandura. Modalitas belajar anak juga berbeda-beda. ilmu Gizi. Bermain erupakan cara belajar yang sangat penting bagi anak usia dini. ilmu Biologi perkembangan anak. Anak tipe auditif. . ilm Seni. Bruner. Untuk mengembangkan kemampan intelektual anak. Case. PAUD telah berkembang dengan pesat dan mendapat perhatian yang luar biasa terutama di negara. sehingga cara anak belajar berbeda pula. dan Smilansky menjelaskan cara belajar anak dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit diterima anak dan banyak hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orangtua. ilmu Bahasa. berbeda cara belajarnya dengan tipe visual dan kinestetik. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ilmu Pendidikan telah berkembang pesat dan terspesialisasi. Montessori. Untuk itu orangtua dan guru anak usia dini perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat PAUD agar dapat memberi pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak. Oleh karena itu teori belajar tersebut perlu dipilih dan disesuaikan dengan karakteristk anak serta materi ajarnya. Berbagai teori belajar pada anak seperti teori Piaget. Sering guru dan orangtua mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. Anak usia tersebut dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak usia di atasnya sehingga pendidikan untuk anak usia tersebut dipandang perlu untuk dikhususkan. diperlukan berbagai kegiatan yang dilandasi dengan ilmu psikologi. misalnya. ilmu pendidikan. Neurosains. ilmu matematika untuk anak. Vygotsky. salah satunya ialah PAUD yang membahas pendidikan untuk anak usia 0-8 tahun. PAUD adalah ilmu multi dan interdisipliner. seperti melarang anak untuk bermain. artinya tersusun oleh banyak disiplin ilmu yang saling terkait. dan ilmu-ilmu terkait lainnya saling erintegrasi untuk membahas setiap persoaan PAUD. sebaliknya banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak. Ilmu Psikologi perkembangan. sains.

budaya. watak. tidak terpaksa. (2) sosial. etika. Guru memasukkan unsurunsur edukatif dalam kegiatan bermain tersebut. Satu kegiatan dapat menjadi wahana belajar berbagai hal bagi anak. demokratis. Adapula yang menyatakan bahwa PAUD juga mempersiapkan anak untuk siap belajar (ready to learn). (3) kognitif (intelektual). yaitu siap belajar . Materi pembelajaran PAUD juga amat variatif.emosional. agama. membuat anak tertarik untuk ikut serta. etika. dan merdeka menjadi jiwa setiap kegiatan. dan falsafah suatu bangsa. dan tidak terpaksa. Bermain sambil belajar. Interaksi anak dengan benda dan dengan orang lain diperlukan untuk belajar agar anak mampu mengembangkan kepribadian. meliputi (1) moral dan nilainilai agama. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Pembelajaran mengembangkan semua aspek perkembangan. aktif. Esensi bermain meliputi perasaan senang. Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. aturan. berperilaku. (5) Fisik-motorik. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mulai mengenal dunia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa PAUD hanya mengembangkan logika berpikir.Kurikulum PAUD Kurikulum PAUD bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh seuai kultur. (4) bahasa. Pembelajaran PAUD Pembelajaran bersifat holistik dan terpadu. Usia dini merupakan saat yang amat berharga untuk menenamkan nilai-nilai nasionalisme. kebangsaan. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. (6) Seni. norma. dimana esensi bermain menjiwai setiap kegiatan pembelajaran amat penting bagi PAUD. Pembelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan. moral. dan berbagai hal tentang dunia. Pembelajaran bersifat terpadu yaitu tidak mengajarkan bidang studi secara terpisah. sopansantun. dan sosial yang berguna untuk kehidupannya dan strategis bagi pengembangan suatu bangsa. dan akhlak yang mulia. Ia belum mengetahui tatakrama. sehingga anak secara tidak sadar telah belajar berbagai hal. dan berkreasi.

anak-anak memerlukan mainan yang tidak perlu mahal tetapi baik dan aman untuk belajar anak. dan kemampuan akan dirinya (self efficacy). fisik-motorik. dan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat sangat diperlukan. . Bukannya tidak boleh mengajarkan semua itu. dan intelektual. Berbagai fasilitas yang ada di masyarakat. perikanan. membaca. menulis. dan menulis. tetapi harus menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai elemen. lingkungan perlu ditata agar kondusif untuk belajar. bengkel. Banyak pertanyaan dari guru dan orangtua tentang bolehkan mengajarkan anak berhitung. tetapi yang penting ialah anak sudah siap dan guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk belajar anak. seperti kebun. Penataan lingkungan belajar dan fasilitas belajar untuk anak usia dini amat pentinguntuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. PAUD membimbing anak yangpremora l agar berkembang ke arahm oral realismd an moral relativism. ke arah prososial. Untuk itu kerjasama antar guru di dalam satu sekolah. Kerjasama Sekolah-Masyarakat Institusi dan Guru PAUD tidak bias bekerja sendiri.berhitung. Berbagai alat permainan dan fungsinya bagi PAUD perlu dipahami dan digunakan dengan cara yang benar. dan dengan masyarakat. Peranan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah maupun secara luas amat diperlukan. Di rumah. Seting Lingkungan Belajar Untuk membelajarkan anak. Pembelajaran membimbing anak dari yang bersifat egosentris-individual. emosional. Pembelajaran juga melatih anak menganal jati dirinya (self identity). dengan doketer atau Puskesmas. Ada pula yang menyatakan bahwa materi pembelajaran bebas. baik dengan kelompok profesional PAUD. menghargai dirinya (self esteem). Di sekolah anak-anak juga perlu mainan yang aman dan baik untuk belajar. sosial. dengan orangtua anak. Posyandu. dan sosial-komunal. seni. dalam profesi. membaca. kemampuan berbahasa. yang penting PAUD mengembangkan aspek moralagama. Sekolah amat terbatas dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak. pertanian.

sekolah.perpustakaan. Oleh karena itu kerjasama yang baik ketiga unsur tersebut dalam PAUD sangat diperlukan KESIMPULAN . dan masyarakat. stasiun kereta api. Trilogi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga. PAUD sebaiknya memberi kaya pengalaman belajar pada anak dengan multikonteks seperti tersebut. dan instansi lainnya sangat penting untuk PAUD. bank.

Sosial. DAFTAR PUSTAKA . dan seni pada kedua dokumen (versi Puskur dan Direktorat) dikelompokkan ke dalam Kemampuan Dasar. Fisik/ motorik.Pada ketiga dokumen. Sosial. Sedangkan versi Direktorat TK/SD kedua aspek perkembangan tersebut dikelompokkan ke dalam Bidang Pengembangan Pembiasaan. aspek perkembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. dan Seni. kognitif. Namun ada sedikit perbedaan pada pengelompokan aspek perkembangan. yaitu Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA versi Puskur dan versi Direktorat TK/SD serta Menu Pembelajaran Generik terdapat 6 (enam) aspek perkembangan yang sama substansinya. Emosional dan Kemandirian. Aspek perkembangan berbahasa. Pada dokumen versi Puskur. Berbahasa. Aspek perkembangan dikelompokkan menjadi dua kelompok. yaitu Moral dan Nilai-nilai Agama. Kognitif. Emosional dan Kemandirian dikelompokkan ke dalam Pembentukan Perilaku dan Pembiasaan. fisik/motorik.

Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (2002). The Young child: Development from Birth through Age Eight. Tools of the Mind: A Vygotskian approach to early childhood education. et all. (1996). DAFTAR ISI Hal . Jakarta: Diektorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan pemuda. & Leong. J. Bodrova. Black. (1995). E. J. New York: Merrill Publishing CO 3. Englewood Cliffs. Departeman Pendidikan Nasional (2004). 2. Pendidikan Anak Dini Usia. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional 5. Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak Dan Raudhatul Athfal. L.1. NJ: Merrill Publishing Company. 6. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi 4.

Landasan Empirik 28 BAB III TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Landasan Yuridis 26 C. Tujuan 3 BAB II LANDASAN PAUD A. Landasan Yuridis 2 C. Landasan Akademik (Teoritis) 4 B. Kajian Dokumen 30 B. Kajian Lapangan 33 C. Latar Belakang 1 B.KATA PENGANTAR i ABSTRAK DAFTAR ISI ii iii BAB I PENDAHULUAN A. Pembahasan 36 BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDAS KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful