PENDEKATAN-PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI DAN IMPLEMENTASI DALAM PENDIDIKAN BUDI PEKERTI Teuku Ramli Zakaria* * DR. T.

Rmali Zakaria adalah Kepala Bidang Pengembangan Pengelolaan dan Tenaga Kependidikan pada Pusat Inovasi, spesialisasi dalam bidang pendidikan nilai. ___________________________________________________________________ Abstraksi Banyak pakar telah mengembangkan berbagai pendekatan Pendidikan Nilai. Di antara berbagai pendekatan yang ada dan banyak digunakan, dapat diringkas menjadi lima macam pendekatan, yaitu: pendekatan penanaman nilai, pendekatan perkembangan kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan klarifikasi nilai, dan pendekatan pembelajaran berbuat. Dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti lebih tepat digunakan Pendekatan Campuran, dengan penekanan pada Pendekatan Penanaman Nilai, karena esensi dari tujuan antara Pendidikan Budi Pekerti dan Pendekatan Penanaman Nilai adalah sama, yakni menanamkan nilai-nilai sosial tertentu dalam diri siswa. Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan dalam berbagai pendekatan lain dapat digunakan juga dalam proses pendidikan dan pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. Hal ini penting, untuk memberi variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan. 1. Pendahuluan Pendidikan budi pekerti memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari Pendidikan Budi Pekerti dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur

yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian masal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, seperti Jakarta, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian siswa melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan budi pekerti. Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan budi pekerti pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri siswa. Bagaimanakah karakteristik dari berbagai pendekatan nilai yang berkembang saat ini? Pertanyaan selanjutnya, pendekatan apakah yang paling tepat diimplementasikan dalam pelaksanaan pendidikan budi perkerti di Indonesia? Uraian dalam naskah ini bertumpu pada dua persoalan pokok tersebut. 2. Pendekatan-pendekatan dalam pendidikan nilai Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku

pendekatan afektif. Uraian tentang pendekatan-pendekatan pendidikan nilai dalam pembahasan berikut akan didasarkan pada pendekatan-pendekatan seperti yang telah dikaji dan dirumuskan tipologinya dengan jelas oleh Superka. selanjutnya berdasarkan kepada hasil pembahasan dengan para pendidik dan alasan-alasan praktis dalam penggunaaannya di lapangan. Dua orang pakar menyatakan meragukan kemanfaatannya. (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach). Klasifikasi dan tipologi dari masing-masing pendekatan tersebut telah divalidasikan juga dengan dua cara. Klasifikasi ini menurut Rest (1992) didasarkan pada tiga unsur moralitas. dengan melibatkan lebih banyak pakar. 64 orang pakar pendidikan . al. pendekatan-pendekatan tersebut telah diringkas menjadi lima (Superka. Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga. dan pendekatan perilaku. et. yakni: pendekatan kognitif.sosial. Ketika menyelesaikan pendidikan tingkat doktor dalam bidang pendidikan menengah di University of California. Enam di antara mereka telah memberikan tanggapannya. Empat di antaranya menyatakan bahwa tipologi itu sangat bermanfaat. Dalam kajian tersebut dibahas delapan pendekatan pendidikan nilai berdasarkan kepada berbagai literatur dalam bidang psikologi. ringkasan dari tipologi itu telah dikirimkan kepada sepuluh pakar dalam bidang ini. Superka telah melakukan kajian dan merumuskan tipologi dari berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dan digunakan dalam dunia pendidikan. 1976). (1976). al. Dalam dua konferensi yang diselenggarakan pada bulan Oktober 1974. dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach). et. kognisi. yakni: perilaku. Namun. Lima pendekatan tersebut adalah: (1) Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach). Berkeley tahun 1973. dan pendidikan yang berhubungan dengan nilai. Pertama. dan afeksi. (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach). sosiologi. yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi. filosofi. (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach). dan dapat dibedakan dengan jelas antara yang satu dengan yang lain. Validasi kedua dilakukan dalam suatu aplikasi yang lebih konkrit. Berbeda dengan klasifikasi tersebut.

tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan demokrasi (Banks. (1978) kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. 2. Menurut Superka et al. . (1976). tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama. penguatan positif dan negatif. Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa.telah diminta untuk menganalisis lebih dari 200 bahan pelajaran pendidikan sosial tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. selain telah dikaji dan dirumuskan tipologinya dengan jelas oleh Superka. Menurut Raths et al. Menurut beliau. Pendekatan ini dipandang indoktrinatif. setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya sendiri. juga dipandang sesuai dan bermanfaat dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di Indonesia. Selanjutnya mereka diminta untuk mengklasifikasikannya ke dalam pendekatan-pendekatan tersebut. Hasil analisis tersebut membuktikan bahwa sistem klasifikasi tersebut bermanfaat dan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi (Superka. 1985. berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. permainan peranan. et. Oleh karena itu. Kelima pendekatan ini. Kedua. dan lain-lain. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. 1976). 1976). al. sesuai dengan tipologi yang telah dirumuskan. Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang. Uraian lebih lanjut dalam pembahasan ini akan didasarkan pada lima pendekatan tersebut. yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya nilai. simulasi. Windmiller. Banyak kritik dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan. Untuk setiap bahan pelajaran telah dilakukan dua kali analisis secara bebas (independent).1 Pendekatan penanaman nilai Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa.

. Ajaran agama tentang berbagai aspek kehidupan harus diajarkan. Seperti dipahami bahwa dalam banyak hal batas-batas kebenaran dalam ajaran agama sudah jelas. seperti dijelaskan oleh Superka. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Oleh karena itu. 1989). Para penganut agama memiliki kecenderungan yang kuat untuk menggunakan pendekatan ini dalam pelaksanaan program-program pendidikan agama. mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka. agama merupakan ajaran yang memuat nilai-nilai ideal yang bersifat global dan kebenarannya bersifat mutlak. membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. 2. diterima. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral. al. Nilai-nilai itu harus diterima dan dipercayai. Pendekatan penanaman nilai mungkin tidak sesuai dengan alam pendidikan Barat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu. Keimanan merupakan dasar penting dalam pendidikan agama. sesuai dengan tempat dan zamannya. dan diyakini kebenarannya oleh pemeluk-pemeluknya. Kedua. dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias. dan harus diimani. 1976. (1976) disadari atau tidak disadari pendekatan ini digunakan secara meluas dalam berbagai masyarakat.. Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. et. Pertama. proses pendidikannya harus bertitik tolak dari ajaran atau nilai-nilai tersebut. Bagi penganut-penganutnya. Pendekatan perkembangan kognitif Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Banks. 1985). supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka sendiri. et. Namun demikian. al.melainkan proses. terutamanya dalam penanaman nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya. pasti.

(3) Tahap "autonomous". Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971. berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. Ketiga. Kedua. et. dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan.Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma moral. 1985). Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller. 1976). Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial. adanya dilemma. Hersh. Pertama. al. Seperti dijelaskan oleh Elias (1989). Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari . dengan menggunakan metoda diskusi kelompok. suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik (Superka. Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilemma. Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis. et. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Banks. Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi-asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. 1980). tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya. baik dilemma hipotetikal maupun dilemma faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan seharian. Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel. 1977. Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. apa alasan-alasannya. siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat. 1976. Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri. Dalam diskusi tersebut. Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya. al. Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: (1) Tahap "premoral" atau "preconventional". mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. 1977). Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka. (2) Tahap "conventional".

Seseorang berusaha untuk memenuhi kepentingan sendiri dengan memperhatikan juga kepentingan orang lain. dan otonomi lebih baik daripada heteronomi. dan tidak memiliki prinsip yang jelas dalam mengambil suatu keputusan moral. Seseorang mulai sadar dengan tujuan dan keperluan orang lain. Dalam tingkat perkembangan ini moralitas dari sesuatu perbuatan ditentukan oleh ciri-ciri dan akibat yang bersifat fisik. Kriteria baik atau buruknya suatu perbuatan dalam tingkat ini ditentukan oleh norma bersama dan hubungan saling mempercayai. Pada tingkat ini kriteria benar atau salah bersifat personal dan subjektif. Sesuatu perbuatan dinilai baik jika disetujui oleh yang berkuasa dan sesuai dengan peraturan yang menjamin ketertiban dalam masyarakat.konsekuensi yang sederhana. Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik. Tahapan "conventional": Tingkat 3: moralitas harapan saling antara individu . Tingkat 2: moralitas individu dan timbal balik . Tahapan "posconventional": Tingkat 4. Tingkat 5: moralitas kesejahteraan sosial dan hak-hak manusia. Tingkat 4: moralitas sistem sosial dan kata hati . sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku. Kriteria moralitas dari sesuatu perbuatan adalah yang dapat menjamin hak-hak individu serta sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Seseorang belum sampai pada tingkat "posconventional" yang sebenarnya.5: tingkat transisi . . Tahap-tahap perkembangan moral diperinci sebagai berikut: Tahapan "preconventional": Tingkat 1: moralitas heteronomus .

yakni dengan memahami alasan-alasan yang melatar belakangi perbuatannya. Oleh karena pendekatan ini memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam masyarakat. Pertama. Sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut. penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Ukuran benar atau salah ditentukan oleh pilihan sendiri berdasarkan prinsip-prinsip moral yang logis. mendukung perkembangan moral. Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Penggunaannya dapat menghidupkan suasana kelas. Kedua. (c) Konsep tingkat perkembangan moral menyatakan rangkaian urutan perkembangan yang bersifat universal. Keempat. (b) Tingkat perkembangan tersusun sebagai suatu keseluruhan cara berpikir. konsep perkembangan moral menurut teori Kohlberg memiliki empat ciri utama. Seseorang tidak pernah melompati suatu tingkat. Asumsi-asumsi yang digunakan Kohlberg (1971. konsisten. seseorang konsisten pada tahapan pertimbangan moralnya. Setiap orang akan konsisten dalam tingkat pertimbangan moralnya. Artinya.1977) dalam mengembangkan teorinya sebagai berikut: (a) Bahwa kunci untuk dapat memahami tingkah laku moral seseorang adalah dengan memahami filsafat moralnya. karena pendekatan ini memberikan penekanan pada aspek perkembangan kemampuan berpikir. dan bersifat universal. Ketiga. seseorang yang membuat pertimbangan moral pada tingkat yang lebih tinggi. tingkat perkembangan itu terstruktur sebagai suatu keseluruhan. tingkat perkembangan itu terjadi dalam rangkaian yang sama pada semua orang. bukan pada isi pertimbangannya. tingkat perkembangan ini memberi penekanan pada struktur pertimbangan moral.Tingkat 6: moralitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral yang umum . Dengan demikian. dengan mudah dapat memahami pertimbangan moral tingkat yang lebih rendah. peka untuk membedakan kemampuan dalam membuat pertimbangan moral. dan melebihi . Teori Kohlberg dinilai paling konsisten dengan teori ilmiah. Perkembangannya selalu ke arah tingkat yang lebih tinggi. tingkat perkembangan itu selalu tersusun berurutan secara bertingkat. dalam berbagai kondisi kebudayaan.

standard.berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris. Dari sisi lain. Dalam pelaksanaan program-programnya. berbagai kajian dalam bidang antropologi tidak mendukung pandangan tentang adanya prinsip-prinsip moral yang universal seperti yang dikemukakan Kohlberg. Yang dipentingkan adalah alasan yang dikemukakan atau pertimbangan moralnya. teori ini juga telah memberi sumbangan berharga bagi perkembangan pendidikan moral. pengakuan Kohlberg bahwa teorinya berdasarkan kepada prinsip-prinsip moral yang bersifat universal dibantah juga oleh Liebert (1992). 1994). Antara lain sangat menjunjung tinggi kebebasan pribadi yang berdasarkan filsafat liberal. namun seperti dijelaskan juga oleh Ryan dan Lickona (1987). Pendekatan ini juga memiliki kelemahan-kelemahan. (1980). al. Berhubungan dengan hal ini. Salah satu kelemahannya seperti dikemukakan oleh Hersh. tidak akan mencapai sepenuhnya apa yang diharapkan. et. kaum wanita cenderung mendapat skor lebih rendah dari kaum pria (Power.3 Pendekatan analisis nilai Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis. karena dilemma yang dikemukakannya dan orientasi penilaian pada keadilan dan hak lebih tepat bagi kaum pria. dan nilai-nilai moral yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat pendukungnya. pendidikan moral dengan penekanan kepada proses semata dan mengabaikan isi. pendekatan ini menampilkan bias budaya barat. pendekatan ini juga tidak mementingkan kriteria benar salah untuk suatu perbuatan. 2. Realita yang ditemukan adalah berbagai norma. . teori ini juga memberi penekanan pada proses dan struktur pertimbangan moral. mengabaikan nilai dan isi pertimbangnnya. Berdasarkan kepada hasil uji empiris. Walaupun pendekatan ini mengandung kelemahan-kelemahan dalam segi-segi tertentu. Menurut Liebert. menurut Ryan dan Lickona (1987). Teori Kohlberg juga dikritik mengandung bias sex. Dalam proses pendidikan dan pengajaran.

Menguji kebenaran fakta yang berkaitan. 1989). et. membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik. . dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Enam langkah tersebut menjadi dasar dan sejajar dengan enam tugas penyelesaian masalah berhubungan dengan nilai. membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. metoda-metoda pengajaran yang sering digunakan adalah: pembelajaran secara individu atau kolompok tentang masalah-masalah sosial yang memuat nilai moral. yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Mengurangi perbedaan dalam fakta yang berhubungan 3. Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait 1. Ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses pendidikan nilai menurut pendekatan ini (Hersh.dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Ada dua tujuan utama pendidikan moral menurut pendekatan ini.. Selanjutnya. Kedua. 1976). Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif. 1980. al. al. et. Mengumpulkan fakta yang berhubungan. dan diskusi kelas berdasarkan kepada pemikiran rasional (Superka. Enam langkah dan tugas tersebut sebagai berikut: Langkah analisis nilai: Tugas penyelesaian masalah: 1. Pertama. Elias. penyelidikan lapangan. 2. penyelidikan kepustakaan. Mengurangi perbedaan penafsiran tentang nilai yang terkait 2.

Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan 4. et. pendekatan ini menawarkan langkah-langkah yang sistematis dalam pelaksanaan proses pembelajaran moral. (1976). 6. antara lain mudah diaplikasikan dalam ruang kelas. seperti terlihat dalam rumusan prosedur analisis nilai dan penyelesaian masalah di atas. sangat berat memberi penekanan pada proses. seperti yang dijelaskan oleh Ryan dan Lickona (1987). karena penekanannya pada pengembangan kemampuan kognitif. Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Mengurangi perbedaan dalam rumusan keputusan sementara. Mengurangi perbedaan dalam pengujian prinsip moral yang diterima. al. Milton Mieux. kurang mementingkan isi nilai. dan James Chadwick (Elias. Penganjur pendekatan ini adalah suatu kelompok pakar pendidikan. Kelemahannya. dan pakar psikologi. Mengurangi perbedaan kebenaran tentang fakta yang berkaitan. 1980). pendekatan ini sangat menekankan aspek kognitif. Mengurangi perbedaan tentang kaitan antara fakta yang bersangkutan. 1989. 4. Kekuatan pendekatan ini. 2. Hersh. seperti yang dijelaskan oleh Superka.3.3 Pendekatan klarifikasi nilai Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan . berdasarkan kepada: prosedur analisis nilai yang ditawarkan serta tujuan dan metoda pengajaran yang digunakan. 5. pendekatan ini sama dengan pendekatan perkembangan kognitif dan pendekatan klarifikasi nilai. dan sebaliknya mengabaikan aspek afektif serta perilaku. termasuk di dalamnya: Jerrold Commbs. Dari perspektif yang lain. 5. Selain itu. Merumuskan keputusan moral sementara. 6. filosuf.

Hal yang sangat dipentingkan dalam program pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. Kedua. seperti agama. Al. pendekatan ini menggunakan metoda: dialog. dan lain-lain (Raths. tidak ditentukan oleh faktor luar. membantu siswa. ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri. Mereka telah menulis sebuah buku. dan pola tingkah laku mereka sendiri (Superka. Oleh karena itu. et. Pertama. membantu siswa. Peranan guru adalah mendorong siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. nilai bersifat subjektif. untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. ketika beliau mengajar di New York University. Bagi penganut pendekatan ini. melainkan sebagai role model dan pendorong. Sejalan dengan pandangan tersebut. membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain. nilai-nilai. 1978). 1976). bahwa bagi penganut pendekatan ini. supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain. . supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. al. berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri. dan sebagainya. Merrill. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Edisi pertama buku tersebut diterbitkan pada tahun 1966 oleh penerbit Charles E. sebagaimana dijelaskan oleh Elias (1989). untuk memahami perasaan. yang pertama-tama membahas tentang pendekatan ini secara terperici. menulis. dengan judul Values and teaching: working with values in the classroom. Harmin.. masyarakat. et.perbuatannya sendiri. guru bukan sebagai pengajar nilai. 1976). Istilah values clarification pertama kali digunakan oleh Louis Raths pada tahun 1950an. diskusi dalam kelompok besar atau kecil. bagi penganut pendekatan ini isi nilai tidak terlalu penting. Pendekatan ini antara lain dikembangkan oleh Raths. Kedua. Dalam proses pengajarannya. dan Simon (Shaver.

Yang dimaksudkan adalah berusaha untuk mengarahkan tumpuan perhatian orang pada berbagai aspek kehidupan mereka sendiri. Artinya. Kedua. et. Yang dimaksudkan. Raths. bertindak: 6). dengan pendekatan ini bukan hanya mengembangkan keterampilan klarifikasi nilai. mau mengakui pilihannya itu di depan umum. dari pada sekedar menerima. (3) Stimulus untuk bertindak lebih lanjut. menghargai: 4). sesuai dengan apa adanya. dari berbagai alternatif 3). et. 1978). Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses sebagai berikut: Pertama. tetapi juga mendapat ..Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan ini. Untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai tersebut. (2) Penerimaan sesuai dengan apa adanya. dengan bebas 2). (1978) telah merumuskan juga empat pedoman sebagai kunci penting sebagai berikut: (1) Tumpuan perhatian diberikan pada kehidupan. Ketiga. kita perlu lebih banyak berbuat sebagai refleksi nilai. setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya. al. memilih : 1). 7). supaya mereka dapat mengidentifikasi hal-hal yang mereka nilai. Artinya. diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup (Raths. kita perlu menerima posisi orang lain tanpa pertimbangan. berbuat sesuatu sesuai dengan pilihannya. ketika kita memberi perhatian pada klarifikasi nilai. al. merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya. (4) Pengembangan kemampuan perseorangan. 5).

et. mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat. baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Pertama. pendidikan nilai menurut pendekatan ini tidak memiliki suatu tujuan tertentu berkaitan dengan nilai. Metoda pengajarannya juga sangat fleksibel. yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi. (1976) menyimpulkan ada dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. 1985). Dalam pendekatan ini. Seperti dikemukakan oleh Banks (1985). Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. seperti telah dijelaskan di atas Sama halnya dengan pendekatan perkembangan kognitif. menghargai. selama dipandang sesuai dengan rumusan proses menilai dan empat garis panduan yang ditentukan. melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat. kriteria benar salah sangat relatif. al.5 Pendekatan pembelajaran berbuat Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral. dan bertindak berdasarkan kepada nilainya sendiri (Banks. pendekatan ini juga mengandung kelemahan menampilkan bias budaya barat. Kedua. berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Superka.tuntunan untuk berpikir dan berbuat lebih lanjut. baik secara perseorangan mahupun secara bersama-sama. dan praktek . bagi penganut pendekatan ini. Kekuatan pendekatan ini terutama memberikan penghargaan yang tinggi kepada siswa sebagai individu yang mempunyai hak untuk memilih. memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral. 2. karena sangat mementingkan nilai perseorangan. Sebab. yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya. menentukan sejumlah nilai untuk siswa adalah tidak wajar dan tidak etis.

(3) kompetensi kewarganegaraan (civic competence). yakni warga negara yang memiliki kompetensi yang diperlukan dalam lingkungan hidupnya (environmental competence) sebagai berikut: (1) kompetensi fisik (physical competence). dan hubungan ekonomi. Menurut mereka. Menurut Elias (1989). menurut Hersh. 1980).. 1976).. al. supaya mereka berkemampuan untuk mempengaruhi kebijakan umum sebagai warga dalam suatu masyarakat yang demokratis. atau melalui kelompok peminat tertentu. (2) kompetensi hubungan antarpribadi (interpersonal competence). al.keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka. Hersh. Di antara ketiga kompetensi tersebut. et. dengan memberikan perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa sekolah menengah atas dalam melakukan perubahan-perubahan sosial. yang dapat memberikan nilai tertentu terhadap suatu obyek. et. (1980) kurang mendapat perhatian dalam berbagai pendekatan lain. . et. Kekuatan pendekatan ini terutama pada program-program yang disediakan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan demokrasi. namun tujuan yang paling penting adalah memberikan pengajaran kepada siswa. Misalnya: saling memperhatikan. al. dan lain-lain. mampu mempengaruhi perubahan kebijaksanaan umum. Penganjur pendekatan ini memandang bahwa kelemahan dari berbagai pendekatan lain adalah menghasilkan warga negara yang pasif. al. walaupun pendekatan ini berusaha juga untuk meningkatkan keterampilan "moral reasoning" dan dimensi afektif. al. yang dapat memberi pengaruh kepada urusan-urusan masyarakat umum. Misalnya: melukis suatu sesuatu membangun sebuah rumah. dan sebagainya. kompetensi yang ketiga (civic competence) merupakan kompetensi yang paling penting bagi Newman (Hersh.. pendekatan pembelajaran berbuat diprakarsai oleh Newmann. persahabatan. yang dapat meberi pengaruh kepada orang-orang melalui hubungan antara sesama. Misalnya: proses pemilihan umum dengan memberi bantuan kepada seseorang calon atau partai peserta untuk memperoleh kemenangan. et. et. melalui program-program pendidikan moral sepatutnya menghasilkan warga negara yang aktif. Kompetensi ini ingin dikembangkan melalui program-program pendidikan moral. Kesempatan seperti ini. (1980) dan Superka. Menurut Elias (1989). (1976).

3. disertai kewajiban sebagai pegawai negeri terhadap masyarakat dan negara. misalnya: hak sebagai pembeli. Menurut beliau. siswa perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajibannya. 1. manusia memiliki berbagai hak dan kewajiban dalam hidupnya. 3. dan sebagainya.Kelemahan pendekatan ini menurut Elias (1989) sukar dijalankan. Implementasi dalam Pendidikan Budi Pekerti Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah pendekatan yang paling tepat digunakan dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di Indonesia. Dalam rangka Pendidikan Budi . hak sebagai anak. makhluk sosial. namun secara keseluruhannya sukar dilaksanakan. yakni nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia lainnya. Pengajarannya bertitik tolak dari nilai-nilai sosial tertentu. sebagai hak dan kewajiban dasar yang melekat eksistensi kemanusiaannya itu. Sehubungan dengan hakikatnya itu. manusia memiliki hak dan kewajiban asasi. Setiap hak senantiasa disertai dengan kewajiban. pendekatan ini dipandang paling sesuai. hak sebagai pegawai negeri. supaya menyadari dan dapat melaksanakan hak dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya. 2. Dalam rangka Pendidikan Budi Pekerti. sebahagian dari program-program yang dikembangkan oleh Newmann dapat digunakan. Menurut nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan pandangan hidup Pancasila. seperti telah diuraikan di atas. menurut konsep Pancasila. hakikat manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun pendekatan ini dikritik sebagai pendekatan indoktrinatif oleh penganut filsafat liberal. Hak dan kewajiban asasi tersebut juga dihargai secara berimbang. yang tumbuh dan berkembangan dalam masyarakat Indonesia. disertai dengan kewajiban sebagai anak terhadap orang tua. disertai kewajiban sebagai pembeli terhadap penjual. dan makhluk individu. Alasan-alasan untuk mendukung pandangan ini antara lain sebagai berikut. Selanjutnya. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti adalah penanaman nilai-nilai tertentu dalam diri siswa. namun berdasarkan kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan falsafah Pancasila.

yang harus dijauhi. sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. berzina. siswa juga perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajiban asasinya sebagai manusia. bermanfaat jua untuk diaplikasikan sebagai salah satu strategi dalam proses pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. untuk didiskusikan dalam kelas. aspek perkembangan kognitif merupakan aspek yang dipentingkan juga. keduanya sama-sama dipentingkan. dalam pengajaran Pendidikan Budi Pekerti siswa diarahkan sampai pada kesimpulan akhir yang sama. adalah perhuatan tercela. Seperti telah dijelaskan. Misalnya mengangkat dan mendiskusikan kasus atau masalah Budi Pekerti dalam masyarakat yang mengandung dilemma. berjudi. faktor isi atau nilai merupakan hal yang amat penting. sesuai dengan nilai-nilai sosial tertentu. khususnya prosedur analisis nilai dan penyelesaian masalah yang ditawarkan. Penggunaan metoda ini akan dapat menghidupkan suasana kelas. 4. orang tua harus dihormati. Anak harus diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan nilainya sendiri. Namun berbeda dengan Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif di mana yang memberi kebebasan penuh kepada siswa untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang sesuai dengan tingkat perkembangan moral reasoning masing-masing. Dengan demikian. yang bersumber dari Pancasila dan budaya luhur bangsa Indonesia. Nilai-nilai ini harus diajarkan kepada anak. Implementasinya sebagai berikut: (1) Metode yang digunakan dalam Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif.Pekerti. Berbagai metode pengajaran yang digunakan dalam pendekatan-pendekatan lain dapat digunakan juga dalam pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang hanya mementingkan proses atau keterampilan dalam membuat pertimbangan moral. yakni untuk mendukung dan menjadi dasar bagi pengembangan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai . Pandangan ini berbeda dengan falsafah Pancasila dan budaya luhur bangsa Indonesia. (2) Metoda pengajaran yang digunakan Pendekatan Analisis Nilai. Misalnya. Dalam hal ini berbeda dengan pendidikan moral dalam masyarakat liberal. Dalam pengajaran Budi Pekerti di Indonesia. Pengajaran nilai menurut pandangan tersebut adalah suatu indoktrinasi. dalam pengajaran Budi Pekerti faktor isi nilai dan proses. yang harus dihindari. dalam mata pelajaran ini. dan sebagainya.

pendekatan-pendekataan yang berkembang lebih banyak memberikan penekanan kepada proses dan kurang mementingkan aspek isi nilai. 4. untuk membentuk sikap moral yang lebih stabil dalam diri seseorang. mengingat kelemahan-kelemahan pendekatan ini. Namun demikian. terutama nilai-nilai Agama dan nilai-nilai Pancasila yang ingin dibudayakan dan ditanamkan dalam diri mereka. dapat diaplikasikan juga dalam pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. penggunaan metoda dan strategi pengajaran berdasarkan kepada pendekatan ini dapat digunakan dalam batas-batas yang memungkinkan. seperti dikemukakan di atas. Pada umumnya. untuk memilih nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya. Hal ini sejalan dengan penegasan Haydon (1995) bahwa pengetahuan dan pemahaman konsep adalah penting dalam pendidikan moral. khususnya pada peringkat sekolah lanjutan tingkat atas. (4) Metoda pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Pembelajaran Berbuat bermanfaat juga untuk diaplikasikan dalam pengajaran "Pendidikan Pancasila" di Indonesia. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Berdasar uraian di atas. karena keduanya memiliki esensi tujuan yang sama. penggunaannya perlu hati-hati. (3) Metoda pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Klarifikasi Nilai.sosial yang ingin ditanamkan. Untuk ini perlu dirumuskan program-program yang sederhana dan memungkinkan untuk dilaksanakan pada masing-masing sekolah. seperti yang dituntut oleh pendekatan ini. supaya tidak membuka kesempatan bagi siswa. seperti dijelaskan oleh Prayitno (1994). dengan memperhatikan faktor keadaan serta bahan pelajarannya yang relevan. serta mempunyai kekuatan dan kelemahan yang relatif berbeda pula. dapat disimpulkan berbagai hal berikut: (1) Berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang mempunyai aspek penekanan yang berbeda. yang dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi yang berhubungan dengan lingkungan. Para siswa pada peringkat ini lebih tepat untuk melakukan tugas-tugas di luar ruang kelas. yakni pendekatan campuran dengan penekanan pada Pendekatan Penanaman Nilai. (2) Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti lebih tepat disebut sebagai Pendekatan Eklektik. Namun demikian. yakni menanamkan nilai-nilai sosial tertentu dalam diri .

1985. New York: Longman. Moral education: secular and religious. Selain dari pada itu. guru perlu menjadi teladan. DAFTAR PUSTAKA Banks. Oleh karena itu. (3) Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan oleh berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dapat digunakan juga dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti. Florida: Robert E. karena agama dapat menjadikan nilai-nilai budi pekerti memiliki akar yang kuat dalam diri siswa. Inc. dan orang dewasa pada umumnya. yakni iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan dalam masyarakat. (2) Penyusunan program-program Pendidikan Budi Pekerti dan pengimple-mentasiannya perlu memberikan penekanan yang berimbang kepada aspek isi nilai dan proses pengajarannya. di sekolah. emosional. Krieger Publishing Co. untuk memberikan variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya.. dalam rangka membentuk dan mengembangkan kepribadian siswa seutuhnya. 1989. J. perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa.A. dan harus mampu mendorong siswa untuk menjadi insan yang beriman dan bertaqwa. baik dalam keluarga. dan perbuatan. sehingga lebih menarik dan tidak membosankan. . B. Selain daripada itu. J. sesuai dengan agama yang dianutnya masing-masing. pelaksanaan program-program Pendidikan Budi Pekerti akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian siswa. Dengan demikian. Hal ini penting. serta tingkah laku. Hal ini penting. Saran Berdasar uraian di atas. L. Elias. dapat disimpulkan berbagai hal berikut: (1) Pelaksanaan program-program Pendidikan Budi Pekerti perlu disertai dengan keteladanan guru. Teaching strategies for the social studies. orang tua. (3) Faktor agama perlu mendapat perhatian yang baik dalam penyusunan program-program Pendidikan Budi Pekerti dan dalam pengimplementasiannya.siswa. perlu memberikan penekaanan yang berimbang pula kepada perkembangan rasional.

1977.. M. perilaku moral. L.). New York: Longman. Inc. Encyclopedia of human behavior: 203-212.P.R. Dlm. Dlm. E. New Jersey: Prentice-Hall. 1980. Dlm.M.. K. San Diego: Academic Press.C. Rogrs. Apa yang berkembang dalam perkembangan moral?.C.L. Dlm. Harmin. L. J. 1980. Dlm.H. Kertas kerja seminar pendidikan budi pekerti. 1984.D. (pnyt. New Jersey: Printice Hall. Miller. & Fielding. & McLean. R. J. L. Helping students think and value: strategies for teaching the social studies. Lictona. R. Inc.E. Character development in schools and beyond: 253-273.(pnyt. Second Edition. dan perkembangan moral:287-313.). W. 1978.M. & Dahlan. J. Crittenden.D. (pnyt.I. S. New York: Newman Press. V. The cognitive-developmental approach to moral education. 1987. Character development in the family. & Sullivan. Power. New Jersey: Prentice-Hall.B. Inc. G. M. M. 1971. Inc. F. . T.M. New York: Praeger. Beck. Budi pekerti dan pendidikan. C.S. Ryan. Second Edition. Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. Hersh. 1977. Soelaeman. Fraenkel. Stages of moral development as a basis of moral education. How to teach about values: an analytic approach. Model of moral education: an appraisal. Terj.F. Values and teaching: working with values in the classroom. Ramachandran. Moral development.V. Balitbang Dikbud. 2-3 Ogos 1994. Columbus: Charles E.. Prayitno.R. & Simon. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. 1992. & Gerwitz.Fraenkel. B.). 1994. Kurtines. Kohlberg. Merrill Publishing Company. Raths. Issues in adolescent psychology: 283-299. D. anjuran Pusat Kurikulum dan Sarana Pendidikan. G. Kohlberg. Liebert. J. Moralitas.

Inc. W. J. dari .com/group/pakguruonline/message/131 Di unduh selasa 14 12 2010/ pukul 10.F. http://groups. Understanding adolescence: current developments in adolescent psychology: 176-198.I.L.R.yahoo. (pnyt. 1976. Ford. Boston: Allyn and Bacon.D. 1973.). Doctor of Education Dissertation. M. Ahrens. Columbia University. dan perkembangan moral:37-60. Kurtines. Hedstrom. Dlm. Terj. Second Edition. J. Windmiller. perilaku moral. J. & Dahlan. New York: Teacher College. M. A typology of valuing theories and values education approaches..Rest.). J. Colorado: Social Science Education Consortium. P. Dlm. Soelaeman.M. M. Moralitas. C.E. Facing value decisions: rationale-building for teachers.P.L. University of California. 1982. L. Superka. Values education sourcebook.P. Shaver.10 . (pnyt. Moral development.. Superka. 1976.. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Inc. Berkeley. D. & Johnson.P. 1992 Komponen-komponen utama moralitas. & Strong. J. Adams.J. W. & Gerwitz. D.

seperti digambarkan dalam surat AlIsra ayat 11 :µ . Sikap ingin serba cepat dalam setiap persoalan ini memang merupakan salah satu karakteristik manusia. Sikap manusia modern seperti ini telah digambarkan oleh Al-Qur·an dengan kata-kata al·ajalah (ketergesa-gesaan. loving the good. mau antre. nilai-nilai moral terabaikan. ingin serba cepat. tanpa memahami nilai-nilai itu maka mustahil seseorang mampu mempraktekkannya dalam kehidupan. Pendidikan nilai bertujuan untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good.. atau bidang ilmu yang ditekuni itu tidak lagi dilandasi dan dijiwai.dan adalah manusia diciptakan selalu bersifat tergesagesaµ. serba instan).. praktis.. sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadihabit of the mind. yaitu proses pendidikanyang melibatkan aspek kognitif. Demikian juga tidak semua . Sesungguhnya tidak salah keinginan serba cepat dan tidak bertele-tele itu sepanjang tetap dalam koridor nilai-nilai dan norma-norma moral. Ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak (al-ummu madrasatul ula). sebab ´kesanµ pada pendidikan dini inilah yang akan berakar kuat dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang. Disadari betul bahwa cara satusatunya yang paling tepat adalah melalui jalur pendidikan. yang disebutkan dalam surat Al-Qiyamah ayat 2021.. and hands. karena ia telah dibatasi oleh sekat-sekat ilmu yang ditekuninya. dan fisik. tidak menyogok untuk dapat didahulukan kepentingannya sendiri sementara orang lain dibelakangkan. dan lain sebagainya. Seseorang tidak lagi bisa menjadi generalis. heart. tidak semua orang tua di rumah memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukannya. Sebab. and acting the good. Seseorang yang telah menghayati nilai kejujuran sebagaimana dijarkan oleh Islam akan terdorong untuk bersikap dan bertindak jujur kepada orang lain bahkan terhadap dirinya sendiri. emosi. Masalahnya sekarang. Lebih diperparah lagi jika seseorang tidak mampu lagi bahkan sekedar menengok bidang-bidang lain yang bukan spesialisasinya. Sedini mungkin anak-anak harus mendapat pendidikan akhlak mulia. tetapi harus dilakukan. Dalam hal ini peran ibu dalam pendidikan akhlak sangat penting. Selain itu pada masyarakat modern terlihat kecenderungan berperilaku serba instan. perhatian yang cukup besar hendaklah dberikan terhadap pendidikan akhlak anak-anak. Pemberdayaan masyarakat untuk tetap memegang nilai-nilai bukanlah suatu perkara mudah. bahkan mungkin tak tersentuh sama sekali oleh nilai-nilai moral universal (baca nilai-nilai agama). Nilai merupakan realitas abstrak dalam diri manusia yang menjadi daya pendorong terhadap sikap dan tingkah laku sehari-hari. kedisiplinan. Ketepatan waktu. Dalam pembinaan akhlak. Karena itu anak-anak harus dididik dengan akhlak yang mulia. Masa kanak-kanak adalah mata rantai jiwa hewan dengan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak berakhirlah ufuk hewani dan dimulailah ufuk manusiawi.Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dewasa ini telah menggiring manusia kepada bidang keahlian tertentu sebagai konsekuensi logis dari persaingan antar bidang ilmu yang telah terspesialisasi sedemikian rupa. Akibatnya keinginan serba cepat itu kadangkala menyebabkan aturan dilanggar. dan lain sebagainya.

Di sinilah pendidikan nilai memegang peran penting karena mendidik perasaan manusia agar peka terhadap nilai-nilai akhlak yang luhur untuk diimplementasikan dalam kehidupan individu maupun kelompok. sudah amat sulit memasukkan nilai-nilai karena harus membangun kembali kepribadian yang telah terbentuk (reconstruction of personality). Komunikasi pendidik dengan peserta didik harus baik yang didasari pada adanya penerimaan kedua belah pihak. Sekolah sebagai institusi pendidikan yang berperan aktif menanamkan nilai-nilai kepada para peserta didik harus memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan nilai ini. yaitu bukan menggunakan perasaan untuk mendidik.orang tua mampu memahami dan menerapkan teknik-teknik pendidikan akhlak secara baik kepada anak sesuai dengan perbedaan usia dan perkembangan maturasinya. Ada atau tidak ada polisi akan berhenti otomatis bila lampu merah lalu lintas menyala. Apa yang gencar disosialisasikan akhir-akhir ini dengan istilah kecerdasan emosional (emotionalintelegence) pada dasarnya adalah metode Al-Qur·an dalam menanamkan nilainilai akhlak kepada manusia. From : http://diaz2000. Gerakan ketrampilan emosional yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman adalah mengubah istilah pendidikan afektif secara terbalik. maupun proses belajar mengajar dalam arti seluas-luasnya. Ada atau tidak ada orang yang melihat secara otomatis akan menjalankan kewajibannya kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh sebab itu nilai-nilai Islam dalam bentuk akhlak al-karimahsudah terkristal dan terinternalisasi sejak kecil agar menjadi sikap hidup yang tak memerlukan lagi pengawasan dari luar diri individu. Pendidikan nilai harus ditanamkan kepada peserta didik sebelum mereka mencapai usia akhir pembentukan kepribadian pada usia 20 atau 21 tahun. Jika melewati batas ini. diskusi. baik melalui keteladanan personal.multiply. melainkan mendidik perasaan itu sendiri. Wallahu a·lam.com/journal/item/82/Pendidikan_Nilai Selas 14 12 10/ 10:10 . Penerapan pendidikan nilai di sekolah harus melibatkan semua unsur yang terlibat di sekolah itu. Iklim sekolah harus memberi peluang terjadinya interaksi positif antara peserta didik dengan nilai-nilai yang akan diinternalisasikan. Muatan komunikasi itu juga penting agar mengarah kepada nilai-nilai yang diinginkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful