P. 1
Makalah Matahari Dan BumiShort

Makalah Matahari Dan BumiShort

|Views: 183|Likes:
Published by kehati

More info:

Published by: kehati on Feb 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2015

pdf

text

original

TANGGAPAN ATAS BUKU

“Matahari Mengelilingi Bumi”
Tentang Buku “Matahari Mengelilingi Bumi”:
Judul : Matahari Mengelilingi Bumi - Sebuah Kepastian alQur'an dan as-Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari : : : : : : : : : : Astronomi (pergerakan benda-benda langit) Penelitian dan penafsiran teks-teks Al-Quran dan Hadits astronomy; bahasa Arab; tafsir; hadits; fisika. 2 224 hlm 14.5x20.5 Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Pustaka Al-Furqon

Penulis Penerbit Edisi/jilid Cetakan ke Tebal Ukuran sampul Lain-lain Masalah yang dikaji Corak pengkajian Kualifikasi Keilmuan

Tentang Penanggap:
Nama Latar Belakang Pendidikan Tinggi Menengah Dasar Kompetensi Penanggap : : : : Pernah kuliah di IAIN Alauddin (sekarang UIN) Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam. SMP/SMU Pest. Modern IMMIM, Makassar SD. Inp. Kaluku Bodoa Makassar. Ilmu sosial; bahasa Inggris; pendidikan. : Muhammad Hamzah

Kesan Umum Terhadap Buku “Matahari Mengelilingi Bumi”:
Profil Penulis Referensi : Tidak ada. Pembaca menjadi buta akan kompetensi penulis buku. : 1. Mayoritas referensi yang dicantumkan adalah kitabkitab (yang berhubungan dengan masalah) hadits. Sementara dalil-dalil yang dicantumkan dalam buku ini mayoritas adalah ayat-ayat Al-Quran. 2. Minim (atau sama sekali tidak ada?) kitab-kitab yang membahas masalah astronomy. Apakah penulis tidak memiliki akses ke buku-buku tersebut? Metodologi Penafsiran : Tidak dicantumkan metodologi penafsiran Al-Quran. Pencatuman metodologi tafsir akan sangat membantu pembaca awam dalam memahami cara-cara menafsirkan ayat sekaligus membantu memahami alur pikir penulis

Profil Penulis

: Tidak ada. Pembaca menjadi buta akan kompetensi penulis buku. buku.

Tanggapan umum terhadap masalah pokok yang diangkat oleh penulis
Masalah Pokok Bumi diam tidak bergerak. Tanggapan Umum Tidak ada ayat yang menyebut “bumi diam tidak bergerak”. Ungkapan “bumi diam tidak bergerak” hanya penafsiran atau pemahaman orang-orang tertentu yang membaca dan mengkaji ayat-ayat Al-Quran. Implikasinya, ungkapan tersebut mengandung unsur “kemungkinan” benar atau “kemungkinan” keliru. Matahari mengelilingi bumi. Tidak ada ayat yang menyebut “matahari mengelilingi bumi”. Ungkapan “matahari mengelilingi bumi” hanya penafsiran atau pemahaman orang-orang tertentu yang membaca dan mengkaji ayat-ayat Al-Quran. Implikasinya, ungkapan tersebut mengandung unsur “kemungkinan” benar atau “kemungkinan” keliru.

Tanggapan terhadap dalil-dalil Al-Quran yang berkaitan dengan “bumi diam tidak bergerak”

Dalil No.
1. QS Fathir [35]:41

Penulis
“ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa bumi tidak bergerak [hal. 113]”

Penanggap
Yang “tidak bergerak” adalah langit dan bumi. Sayangnya, dua kata kunci, “yumsik” dan “tazula” dalam ayat ini tidak dijelaskan maknanya dari sisi bahasa oleh penulis.

2. QS Ar-Rum [30]:25 “Dan diantara tandatanda kekuasaan-Nya adalah berhentinya langit dan bumi dengan izin-Nya… (QS Ar-Rum [30]:25)

“Berkata Imam Ibnu Mandhur: “ al-qiyaam juga bisa berarti berhenti dan tetap di satu tempat… [hal.114]”

Di sini, kata “berhenti” dipilih sebagai terjemahan dari kata “taqum[a]” Meskipun akhirnya Ibn Mandhur memilih menggunakan makna diam dan tetap, namun hal tersebut tidak lantas menghilangkan kemungkinan memilih makna lain selain diam dan tetap atas dasar frasa “juga bisa berarti”.

Dalil No.
3. Dalil No. 5 hingga 7 : An-Nahl [16]: 15 ; Al-Anbiya [21]:31 ; QS Luqman [31]: 10

Penulis
“maada –yamiidu-maydan berarti bergerak, guncang, atau berputar, sebagaimana dikatakan oleh Imam Jauhari dalam ash-Shahihah dan Imam Ibnu Mandhur dalam Lisanul Arab 3/411. Berkata ar-Raghib AlAshfahani: al-maydu adalah goncangnya sesuatu yang besar seperti goncangnya bumi …. [hal. 117]”

Penanggap
Ada tiga makna yang tidak sama namun diwakili oleh satu kata: maada –yamiidumaydan. Bisakah sesuatu bergerak tanpa menimbulkan guncangan? Apakah setiap gerakan menimbulkan guncangan?Adakah gerakan yang tidak menimbulkan guncangan? “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kalian… (An-Nahl [16]: 15).” Lihat juga yang senada: Al-Anbiya [21]:31 ; QS Luqman [31]: 10 Ada tiga pilihan kata untuk menerjemahkan kata “tamiyda” yang berasal dari maada –yamiidu-maydan. Pertama, bergerak. Kedua, guncang. Ketiga berputar. Kata yang mana yang dipilih? Tepat. Berguncang. Bukan bergerak.

4. Dalil No. 15 hingga 19 : QS AzZukhruf [43]:10 ; QS Az-Zariyat [51]:48 ; QS Al-Baqarah [2]:2122 ; Qs Nuh [71]:19, 20 ; QS Al-Mulk [67]:15

“ [Fakhruddin ar-Razi] … dan ketahuilah bahwa keberadaan bumi itu sebagai firasy (hamparan) [QS Al-Baqarah:21-22] harus terpenuhi beberapa syarat. Yang pertama: bumi itu harus tenang tidak bergerak. Karena seandainya bergerak, maka gerakannya mungkin lurus atau mungkin berputar. Kalau gerakannya itu lurus…” [hal. 121] “ [Abdullah ad-Duwaisy] … Maka takkala bumi itu tenang terhampar, hal ini menunjukkan bahwa bumi itu tidak bergerak. …” [h.123].”

di sini, beliau (Ar-Razi) berupaya memaparkan pemahamannya terhadap makna bumi sebagai firasy (hamparan). Apa yang diperlukan bumi supaya bisa berfungsi sebagai hamparan? Aha! Bumi itu harus tenang tidak bergerak! Siapakah yang mengatakan “bumi itu harus tenang tidak bergerak”. Aha! Fakhruddin ar-Razi! Apakah perkataan beliau adalah sebuah kepastian?

Dalil No.
5. Dalil No. 20 : QS Al-Mulk [67]:16

Penulis
“Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” QS Al-Mulk [67]:16 “ maara – yamuuru artinya adalah pergi, datang dan bergerak. Berkata arRaghib Al-Ashfahani: “almauru adalah berjalan dengan cepat.” “Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa bumi itu diam di suatu tempat, tidak bergerak, tidak datang dan pergi. Oleh karena itulah Alloh menyebut nikmat-Nya kepada manusia saat menjadikan bumi itu tenang, dan mengancam mereka dengan dijungkirbalikkan bumi dan diancam dengan akan dijadikan bumi bergerak. Seandainya yang diklaim oleh para astronom itu benar maka maknanya setiap saat bumi itu sudah bergerak, lantas apa fungsi dari ancaman ini?” [hal. 124].

Penanggap
Pernahkah Anda berada dalam sebuah mobil (atau kereta api) yang bergerak/melaju dalam kecepatan tertentu dan Anda merasa aman, nyaman, dan tenang berada di dalamnya? Bagus! Berikutnya… Pernahkah Anda berada dalam sebuah mobil (atau kereta api) yang bergerak/melaju dalam kecepatan tertentu dan tiba-tiba pergerakannya menjadi tak terkendali lalu kendaraan itu terjungkal/berguling/berbolak-balik keluar dari jalurnya? Bagaimana jika saat ini bumi sedang bergerak dalam kecepatan tertentu di jalur tertentu… mungkinkah Anda tetap merasa aman, nyaman, dan tenang bahkan hampir-hampir tidak merasakan bahwa bumi ini sedang bergerak? Mungkinkah jika suatu saat nanti, Sang Pencipta dan Penguasa bumi yang sedang bergerak dalam kecepatan tertentu di jalur tertentu ini menjungkirbalikkan bumi dan mengeluarkan bumi ini dari jalurnya? Apakah Anda tidak merasa terancam dengan kemungkinan terakhir ini? … Saya ingin melanjutkan komentar saya terhadap dalil nomor dua puluh ini dengan mengajak Anda memperhatikan terjemahan QS Al-Mulk [67]:16 sekali lagi. “Apakah kamu merasa aman terhadap

Dalil No.

Penulis

Penanggap
Alloh yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” Saya ingin Anda melihat kata “berguncang” dan membandingkannya dengan ungkapan Al-Ashfahani: “almauru adalah berjalan dengan cepat.” Mengapa terjemahan yang disajikan penulis adalah: “… sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang.” Dan bukannya: “…sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berjalan dengan cepat.”? Samakah kondisi “berguncang” dengan kondisi “berjalan dengan cepat? Atau, samakah kondisi “berguncang” dengan “bergerak”? Adakah kemungkinannya Anda dan kendaraan Anda akan terjatuh/terjungkal ketika Anda mencapai dan/atau melewati batas kecepatan maksimum? Adakah suatu hal yang mungkin jika bumi yang saat ini sedang bergerak akan “terjungkirbalik” ketika kecepatannya ditambah? Adakah suatu hal yang mungkin jika bumi yang saat ini sedang “diam tidak bergerak “ akan “terjungkirbalik” ketika ia “bergerak/digerakkan”? Jika dua pertanyaan terakhir dapat dijawab dengan “ya”, maka di manakah letak “sebuah kepastian” itu?

Penutup
Ketika Al-Quran berbicara tentang (fenomena-fenomena) alam semesta, kesan saya, Al-Quran tidak bermaksud untuk menjadi buku yang menjelaskan teori-teori ilmiyyah atau menjadi dasar untuk mendukung atau menolak teori-teori tertentu. Pembicaraan tentang alam semesta dimaksudkan agar manusia terdorong untuk menyelediki, mempertanyakan, serta mempelajari fenomena-fenomena tersebut. Hasil dari penyelidikan fenomena-fenomena alam, paling tidak, dalam pandangan saya ada dua: pertama, kuatnya keyakinan bahwa hanya ada satu pencipta, penguasa, pengatur alam semesta. Kedua, tidak ada satu ciptaan pun yang tidak memiliki makna, tidak memiliki tujuan penciptaan. Semuanya bermakna. Ketika Anda telah berada dalam dua kondisi di atas, maka tujuan Al-Quran mengungkapkan fenomena-fenomena alam telah terpenuhi!

Makassar 7 Desember 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->