P. 1
penyelenggaraan makan di sekolah madania

penyelenggaraan makan di sekolah madania

5.0

|Views: 2,283|Likes:
Published by Ika Rizki Rahmawati

More info:

Published by: Ika Rizki Rahmawati on Feb 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2015

pdf

text

original

MANAGEMENT GIZI INSTITUSI PENYELENGGARAAN MAKANAN DI SEKOLAH MADANIA SD SMP dan SMA

Oleh : Ika Rizki Rahmawati Kurniati Asria Nena Maziyah Ratih Swari Puspita Siti Rohmiana

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H / 2011 M

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama dan paling mendasar bagi manusia. Semakin maju suatu bangda, tuntutan dan perhatian terhadap kualitas makanan semakin besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi semakin kompleks. Masyarakat semakin sadar bahwa makanan merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan zat- zat gizi, seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan tubuh (Purnawijayanti, 2001). Selain itu, dewasa ini masyarakat juga menjadi lebih selektif dalam menentukan jenis makanan yang akan dikonsumsi. Salah satu pertimbangan yang digunakan sebagai dasar pemilihan adalah factor keamanan makanan. Institusi pendidikan memiliki sarana tempat penjualan makanan yang khusus disediakan untuk murid, guru dan staf administrasi. Keberadaan tempat pengolahan makanan atau biasa disebut kantin di tingkat sekolah bertujuan untuk memudahkan hal tersebut sehingga dapat terpenuhinya kebutuhan makanan dan minuman yang terlindungi dan terjamin kesehatannya. Bagi tingkat sekolah peranan tempat pengolahan makanan sangat penting dan besar sekali pengaruhnya dalam menunjang gizi para muridnya. Dua dari beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah menurut William H. Roe, memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat; memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata. Dilihat dari dua tujuannya saja terlihat bahwa kantin berfungsi membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat, bergizi, dan praktis (Depdiknas, 2007). Kualitas keamanan makanan yang dikonsumsi para murid tergantung dari kualitas kebersihan tempat pengolahan makanan, oleh karena itu tempat pengolahan makanan harus memenuhi standar kesehatan seperti factor lokasi dan bangunan tempat pengolahan makanan. Lokasi dan bangunan yang tidak

memenuhi syarat kesehatan akan memudahkan terjadinya kontaminasi makanan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus dan parasit, serta bahan- bahan kimia yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan (Depkes RI, 2006). Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena anak adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. anak sekolah sedang mengalami pertumbuhan secara fisik dan mental yang sangat diperlukan guna menunjang kehidupannya di masa datang, guna mendukung keadaan tersebut di atas anak sekolah memerlukan kondisi tubuh yang optimal dan bugar, sehingga memerlukan status gizi yang baik, dan anak sekolah dapat dijadikan perantara dalam penyuluhan gizi pada keluarga dan masyarakat sekitarnya (Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat, 2001:1). Madania - Progressive Indonesian School merupakan salah satu sekolah full day yang mengelola kantin sekolah bekerjasama dengan orangtua siswa. Terdapat tiga kantin di Sekolah Madania yang siap melayani siswa-siswi di tiga jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA yang bertotal ±870 siswa-siswi. Kantin sekolah dikelola oleh dua pengelola yang berasal dari tender yang dilakukan pihak sekolah. Dengan alasan tersebut penulis ingin menggambarkan penyelenggaraan dan penggelolaan kantin sekolah di sekolah madania.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Diketahuinya Gambaran Umum Penyelenggaraan makanan di kantin sekolah Madania – Progressive Indonesian School pada setiap tingkatan SD,SMP dan SMA. 1.2.2 Tujuan Khusus

- Diketahui gambaran umum sekolah Madania – Progressive

Indonesian School
- Diketahui gambaran umum tentang penyelenggaraan makanan di

kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya informasi tentang proses perencanaan menu dalam

penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya

informasi makanan

tentang bagi

proses siswa di

penerimaan kantin

dalam

penyelenggaraan

Madania–

Progressive Indonesian School
- Diketahuinya

informasi

tentang

proses

penyimpanan

dalam

penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya

informasi

tentang

proses

persiapan

dalam

penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya informasi tentang proses pengelolaan bahan makanan

dalam penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya

informasi

tentang

penyajian

makanan

dalam

penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya informasi tentang proses pendistribusi makanan dalam

penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya informasi tentang sarana, peralatan, dan perlengkapan

dalam penyelenggaraan makanan bagi siswa di kantin Madania – Progressive Indonesian School

- Diketahuinya kesesuian penyelenggaraan makanan dengan teori di

kantin Madania – Progressive Indonesian School
- Diketahuinya kekuatan dan kelemahan penyelenggaraan makanan di

kantin Madania – Progressive Indonesian School

1.3 Manfaat 1.3.1 Mahasiswa
- Menambah

khazanah

kelimuan

dan

wawasan

tentang

Penyelenggaraan makanan Skala institusi di Sekolah Madania
- Mengaplikasikan ilmu atau teori yang telah diperoleh selama

proses belajar mengajar di bangku kuliah. 1.3.2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN SYARIEF HIDAYATULLAH JAKARTA - Terlaksananya salah satu dari upaya untuk mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.
- Terbinanya suatu jaringan kerjasama yang berkelanjutan dengan

Sekolah MADANIA dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan kompetensi sumber daya yang kompetitif yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
- Mendapat tambahan pustaka tentang Penyelenggaraan makanan di

Sekolah Madania – Progressive Indonesian School

1.3.3 Sekolah Madania – Progressive Indonesian School - Menjadi bahan masukan yang dapat di aplikasikan untuk

menjadikan kantin Sekolah Madania – Progressive Indonesian School lebih bermutu lagi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Makanan Definisi makanan menurut Permenkes No. 329 Tahun 1976 adalah barang yang digunakan sebagai makanan atau minuman manusia, termasuk permen karet dan sejenisnya tetapi bukan obat. Makanan penting untuk pertumbuhan karena sebagai bahan yang diperlukan untuk membangun dan mengganti jaringan tubuh, untuk memelihara pertahanan tubuh terhadap penyakit dan memberikan energy untuk bekerja. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses pengolahan atau pembuatan makanan dan minuman (UU No. 7 Th. 1996).

2.2 Penyelenggaraan Makanan Menurut Moehyi (1992), makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Oleh karena itu penyelenggaraan makanan merupakan suatu keharusan,

baik

di

lingkungan

keluarga

maupun

lingkungan

di

luar

keluarga.

Penyelenggaraan makanan di luar lingkungan keluarga diperlukan oleh sekelompok orang karena berbagai hal sehingga tidak dapat makan bersama dengan keluarganya di rumah Mereka itu terdiri dari para karyawan pabrik atau perusahaan, pekerja perkebunan, para prajurit, orang sakit, penghuni asrama atau panti asuhan, narapidana, dan sebagainya. Mereka ini memerlukan pelayanan makanan di luar rumah yang diselenggaraan secara khusus untuk mereka. 2.2.1 Pengertian Penyelenggaraan Makanan Menurut Moehyi (1992), penyelenggaraan makanan adalah suatu proses menyediakan makanan dalam jumlah besar dengan alasan tertentu. Sedangkan Kemudian Depkes (2003), menjelaskan bahwa penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada konsumen dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian makanan yang tepat dan termasuk kegiatan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi bertujuan untuk mencapai status kesehatan yang optimal melalui pemberian makan yang tepat.

2.2.2 2.2.2.1

Jenis Penyelenggaraan Makanan Berdasarkan Waktu Penyelenggaraan Menurut Moehyi (1992), penyelenggaraan makanan berdasarkan waktu dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu penyelenggaraan makanan hanya satu kali saja, baik berupa makanan lengkap atau hanya berupa makanan kecil (snack food). Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah penyelenggaraan untuk pesta atau jamuan makan atau snack pada acara tertentu. Kemudian penyelenggaraan makanan secara tetap untuk jangka waktu tidak terbatas, biasanya adalah makanan lengkap, baik untuk satu kali makan atau setiap hari seperti penyelenggaraan makanan untuk asrama, panti asuhan, rumah sakit dan kampus dan yang terakhir adalah penyelenggaraan makanan dalam keadaan darurat yang persediannya dilakukan untuk jangka waktu tertentu seperti kebakaran, tsunami, dll. Moehyi (1992)

2.2.2.2

Berdasarkan Tempat Penyelenggaraan Penyelenggaraan makanan yang dibedakan berdasarkan tempat memasak dan menyajikan makanan terdiri dari 2 jenis yaitu jasa boga, bersifat komersial, makanan jadi diangkut ke tempat lain untuk dihidangkan seperti ke tempat jamuan makan pesta perkawinan, rapat, kantin atau kaftaria pusat industri. Jasa boga yang biasanya melayani keluarga biasanya mengantar makanan dengan menggunakan tempat atau wadah yang disebut rantang. Moehyi (1992) Penyelenggaraan makanan selanjutnya adalah penyelenggaraan makanan institusi yaitu bentuk penyelenggaraan makanan yang tempat memasak dan menyajikan makanan berada pada satu tempat. Jenis penyelenggaraan makanan ini biasanya bersifat non komersial, seperti panti asuhan, asrama, lembaga pemasyarakatan. Moehyi (1992)

2.2.2.3

Berdasarkan Pengelolaan penyelenggaraan Ada dua jenis pengelolaan penyelenggaraan makanan yaitu swakelola, Outsourcing, dan kombinasi kedua-duanya. Swakelola artinya sistem penyelenggaraaan makanan yang dilakukan menggunakan seluruh sumber daya yang disediakan oleh institusi tersebut begitu juga pengelolaan dan kebijakan yang berjalan di dalam insitusi. Keuntungannya adalah pengawasan dapat dilakukan di setiap langkah atau proses kegiatan secara langsung dan tenaga instansi banyak berperan. Sedangkan kelemahannya adalah untuk dapat melakukan seluruh proses kegiatan dibutuhkan tenaga dalam jumlah besar serta kualifikasi yang sesuai dan kebutuhan sarana dan prasarana termasuk peralatan masak dan peralatan makan yang besar.(Depkes, 2007) Kemudian outsourcing yaitu sistem yang memanfaatkan perusahaan jasa boga atau catering untuk penyelenggaraan makanan. Ada dua kategori sistem outsourcing yaitu semi outsourcing yaitu menggunakan sarana dan prasarana milik instansi dan kategori full outsourcing yaitu sarana dan prasarana bukan berasal dari instansi melainkan dari perusahan jasa boga atau catering sendiri.

Dalam

penyelenggaraan

makanan

sistem

outsourcing

harus

mengikuti

perencanaan menu, penentu sntandar porsi dan pemesanan makanan yang diajukan oleh instansi. .(Depkes, 2007) Dan yang terkahir adalah sistem kombinasi yang menjadi alternatif. Dalam pelaksanaan kegiatan penyelengaraan makanan sering ditemukan banyak masalah mengenai tenaga ataupun sarana sehingga menyulitkan untuk mengelola secara swakelola sehingga dapat dipilih pilihan sistem kombinasi swakelola dan outsourcing dimana sebagian makanan dikelola oleh instansi dan sebagian lagi oleh outsourcing. Diperlukan pencatatan dan pelaporan yang terpisah agar mudah dilakukan pengawasan dan pengendalian. .(Depkes, 2007)

2.2.2.4

Berdasarkan Sifat Penyelenggaraaan Sifat penyelengaraan makanan kelompok dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyelenggaraan makanan yang bersifat komersial dan non komersial. (Moehyi (1992)

2.2.3 Tujuan Penyelenggaraan Makanan Menurut nursiah,dkk (1990), setiap pengelolaan makanan di berbagai institusi menganut tujuan yang hampir sama yaitu dengan tujuan agar institusi dapat menyediakan makanan yang berkualitas tinggi, dipersiapkan dan dimasak dengan baik, pelayanan cepat, tepat dan murah, gizi seimbang dengan menu yang bervariasi, harga tepat dan layak, fasilitas cukup dan nyaman, dan standar kebersihan dan sanitasi yang tinggi.

2.2.4

Prinsip Sistem Penyelenggaraan Makanan Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan penerapan prinsip sistem

yaitu strategi yang menetapkan masukan (input) meliputi tenaga, dana, faslitas, bahan makanan, prosedur. Kemudian dilanjutkan dengan proses yang meliputi

penyusunan anggaran, perencanaan menu, penyusunan kebutuhan bahan makanan, pembelian bahan makanan, penerimaan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, persiapan dan pengolahan, pendistribusian, pelaporan, evaluasi. Dimana selama proses berlangsung dilakukan pengawasan dan pengendalian dan yang terakhir adalah keluaran (output) yaitu makanan yang memenuhi syarat gizi dan sanitasi, cita rasa dan pelayanan yang baik. (Depkes, 2000) Menurut Depkes (1998), dalam pelaksanaan penyelenggaraan makanan, pimpinan pondok pesantren menetapkan ketentuan/peraturan makanan untuk santri atas dasar kecukupan gizi yang dianjurkan oleh Depkes RI dan dana yang tersedia.Ketetapan atau peraturan makanan mencakup 9-10 macam bahan makanan yan biasa dikonsumsi. Berdasarkan ketetapan bahan makanan yang dibeli, mengecek cara persiapan dan pemasakan serta menilai mutu makanan yang dihasilkan.

2.3 Kantin Sekolah 2.3.1 Pengertian Kantin Good (1959) dalam bukunya Dictionary of Education mengatakan bahwa: “cafetaria a room or building in which public school pupuils or college student select prepared food and serve themselves”. Kantin adalah suatu ruang atau bangunan yang berada di sekolah maupun perguruan tinggi, di mana menyediakan makanan pilihan/sehat untuk siswa yang dilayani oleh petugas kantin.

2.3.2

Tujuan Penyediaan Layanan Kantin Di Sekolah William H. Roe dalam bukunya School Business Management

menyebutkan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah: 1. memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat;

2. memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata; 3. menganjurkan kebersihan dan kesehatan; 4. menekankan kesopanan dalam masyarakat, dalam bekerja, dan kehidupan bersama; 5. menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat; 6. memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik; 7. menunjukan adanya koordinasi antara bidang pertanian dengan bidang industri; 8. menghindari terbelinya makanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya dan kesehatannya. Dilihat dari tujuan kantin sekolah di atas, maka kantin sekolah dapat berfungsi untuk: 1. membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat, bergizi, dan praktis; 2. mendorong siswa untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang; 3. untuk memberikan pelajaran sosial kepada siswa; 4. memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor emosi berpengaruh pada kesehatan seseorang; 5. memberikan batuan dalam mengajrkan ilmu gizi secara nyata; 6. mengajarkan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat; 7. sebagai tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran-pelajaran di sekolah, dan tempat menunggu apabila ada jam kosong.

2.3.3

Bentuk Layanan Kantin Sekolah Terkait dengan bentuk pelayanan kantin sekolah, terdapat 3 (tiga)

alternatif bentuk layanan, yaitu:

1. Self service system. Sistem pelayanan dimana pembeli melayani dirinya

sendiri makanan yang diingini;
2. Wait service system Sistem pelayanan dimana pembeli menunggu dilayani

oleh petugas kantin sesuai dengan pesanan;
3. Tray service system. Sistem pelayanan dimana pembeli dilayani petugas

kantin, dan penyajian makanannya dengan menggunakan baki atau nampan.

2.4 Pembinaan warung / Kantin Sekolah Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan pengelolaan sekolah, maka pembinaan warung /kantin di sekolah sejak tahun 1999 telah mengalami perubahan yang cukup nyata. Hal ini disebabkan adanya Dewan Sekolah yang terdiri dari tokoh masyarakat setempat, orangtua murid, dan donatur sekolah (Dewan Penyantun Sekolah) yang didukung oleh pemerintah setempat. Menurut Depkes (1999) Warung /Kantin Sekolah hendaknya memiliki persyaratan sebagai berikut : a. Tenaga Pengelola Pengelolaan warung sekolah memerlukan seorang penanggung jawab yang mempunyai tugas sebagai penanggung jawab kelangsungan Warung Sekolah secara keseluruhan, baik ke dalam sekolah maupun keluar yaitu kepada orang tua murid dan instansi terkait terutama bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau tak terduga. Misalnya terjadi keracunan makanan yang dijual di warung sekolah, maka penanggungjawab warung yang harus mampu memberikan penjelasan dan bertindak untuk penyelamatan murid. Sebaiknya penanggungjawab warung sekolah adalah kepala sekolah, namun tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan oleh guru / pamong/ PKK desa, dll. Kepala Sekolah, sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan akademik dan administrasi sekolah dapat merangkap sebagai pengelola dan penyelenggara Warung Sekolah. Sementara Guru Sekolah mempunyai tugas

membina dan mengawasi langsung pelaksanaan Warung Sekolah, jenis makanan dan minuman yang disediakan, kebersihan Warung Sekolah dan lingkungannya (termasuk pengadaan dan jaminan adanya air bersih).

b.

Mitra Pengelola Orang tua peserta didik (BP3/POMG) bersama tokoh masyarakat dapat menjadi mitra dan melakukan perencanaan peningkatan kualitas atau perbaikan warung/kantin sekolah, dengan cara : a. b.
c.

Berpartisipasi membantu modal Warung Sekolah. Ikut menyediakan makanan dan minuman bergizi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Ikut membantu mengawasi kebersihan Warung Sekolah dan cara pemasakan / pengolahan makanan dan minuman di Warung Sekolah BAB III HASIL dan PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Madania - Progressive Indonesian School (Pusat) yang beralamat di Telaga Kahuripan, Parung, Bogor, Jawa Barat. Sejak tahun pendidikan 1998/1999, sekolah telah meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas secara bertahap dan berkesinambungan. 3.1.1 Visi dan Misi Visi: Sekolah yang tepat untuk generasi pemimpin berikutnya. Misi: Pendidikan terhadap membangun kesadaran terhadap Tuhan, aktualisasi standar kelas dunia, cara hidup dengan karakter mulia, dan menghormati nilai-nilai indonesia

Nilai-nilai: Kejujuran, inklusif, integritas, kepedulian

3.1.2 Struktur Organisasi

Direktur/ketua umum:

M. Saiful Imam

Kepala sekolah tingkat 1-6 (SD) Siti Hidayati

Kepala sekolah tingkat 7-9 (SMP)

Kepala sekolah tingkat 1012 (SMA)

Alfi Afifah

Wuri Handayani

Manajer administrasi dan keuangan Eka Ropi

3.1.3 Fasilitas Fasilitas yang terdapat di madania terdiri dari : • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kelas untuk belajar Ruang ibadah (islam, katolik, protestan, hindu, budha, yudas) fakultas pendukung belajar Pelayanan siswa Laboraturium (komputer dan ilmiah) Ruang masak perpustakaan Sertifikat penilaian global Pusat universitas Audio visual Musik dan seni (seni, band, vocal, biola, alat musik tradisional, teater) Lapangan olahraga (basket, seoakbola, baseball, dan catching box) Kolam renang dan tribun Ruang serba guna Ruang kesehatan Tempat bermain Loker siswa Ruang utama / ruang ketua umum Penelitian dan pengembangan Ruang kepala sekolah SD, SMP, SMA (1-6 = SD, dst...) Administrasi (keuangan, administrasi siswa, dept.personalia dan TIK << teknologi informasi dan komunikasi)

• •
• •

Ruang guru Ruang asosiasi orang tua - guru Gudang Kantin Ruang rapat

3.1.4 Karakteristik Murid Jumlah siswa ± 870 jiwa yang terdiri dari : SD terdiri dari 240 Siswa/i SMP terdiri dari 320 Siswa/i SMA terdiri dari 310 Siswa/i

3.2 Sistem penyelenggaraan makanan di Kantin Sekolah Madania–

Progressive Indonesian School

3.2.1 Gambaran Umum Penyelenggaraan Makanan di Kantin Sekolah

Madania–Progressive Indonesian School Penyelenggaraan makanan di kantin sekolah madania dikelola oleh Sekolah dan orangtua siswa yang di beri nama Parent Teacher Assosiasion (PTA). Tujuan dari penyelenggaraan makanan di kantin sekolah madania ini Memberikan makanan yang mencukupi, gizi tercukupi dan memenuhi kriteria sekolah. Kriteria yang dimaksud Halal, baik, sehat, nutrisi, bebas pengawat dan pewarna, tanpa MSG, tidak ketagihan, no storoform. Kantin di Madania terdiri dari kantin kawasan Asia untuk SD, kantin kawasan Afrika untuk SMP dan kantin kawasan Amerika untuk SMA. Ketiga kantin dikelola oleh dua vendor yang telah memenuhi persyaratan yang diajukan pihak sekolah diantaranya berpengalaman menyedikan 500 porsi dalam satu waktu, memenuhi seleksi administrasi, food test oleh siswa dengan mengisi form, pihak sekolah telah mengecek dapur vendor dan memeriksa bahan dan bumbu yang akan digunakan.

Sistem yang di gunakan pihak kantin dalam proses penjulan makanan dengan cara berlangganan bulanan ini melibatkan peran orangtua dan secara langsung ketika anak ingin makan ke kantin. Semua pembayaran di lakukan secara kontan.

3.2.2 Pengelolaan menu

di Kantin Sekolah Madania–Progressive

Indonesian School

Perencanaan menu menurut Depkes (2003) adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang. Perencanaan menu merupakan kegiatan yang kritis, artinya menu yang ditampilkan mempunyai dampak pada kegiatan penyelenggaraan makanan selanjutnya. Selain itu, perencanaan menu akan menjadi factor penentu dan citra dari institusi penyelenggaraan makanan. Tujuan perencanaan menu adalah tersedianya menu sesuai dengan tujuan system penyelenggaraan makanan, baik komersil maupun non komersil (Depkes, 2007).

Masing- masing institusi biasanya mempunyai ketentuan- ketentuan atau peraturan tersendiri misalnya dalam hal penggunaan biaya. Sedangkan kaidah dalam menyusun menu menurut Depkes (2007), yaitu : 1. Balance Artinya keseimbangan dalam rasa, warna, dan penggunaan bahan makanan. Artinya tidak boleh terjadi : a) Pengulangan warna pada setiap kali makan b) Pengulangan bahan pada setiap kali makan

c) Pengulangan bentuk pada setiap kali makan d) Pengulangan rasa pada setiap satu kali makan, misalnya ada lebih dari 1 hidangan yang pedas pada 1 kali makan 2. Bervariasi Artinya tidak boleh terjadi penggunaan hidangan yang sama dalam satu siklus menu atau tidak boleh terjadi metode pemasakan yang sama dalam satu kali makan. Perencanaan awal menu makanan melibatkan siswa, guru dan orangtua siswa. Perencanaan awal menu biasanya dilakukan setiap awal tahun ajaran baru, pihak kantin akan bertanya kepada siswa mengenai makanan yang di inginkan. Daftar menu kemudian di laporkan kepada pihak guru dan PTA ( Parent Teacher Asosiasion )yang menangani kantin untuk diseleksi, setelah di seleksi kemudian menu dapat di aplikasikan di kantin sekolah. Menu yang disajikan kantin berupa : makan siang, ala carte (somay, bakso dll), dan baverage (jus buah, buah potong, minuman tanpa soda dan alkohol). Dalam perjalanannya, menu yang di sajikan pihak kantin mengalami perubahan khususnya menu makan siang setiap satu bulan sekali, hal ini di lakukan untuk menghindari kejenuhan siswa, setiap perubahan menu melibatkan pihak guru. Setiap menu diharapkan memenuhi tujuan dari penyelenggaraan kantin. Perubahan menu dapat terjadi ketika permintaan meningkat atau menurun, pihak kantin akan menyediakan makanan yang sedang digemari siswa dan akan menghilangkan sementara makanan yang kurang digemari.

3.2.3 Penyimpanan Makanan di Kantin Sekolah Madania–Progressive

Indonesian School

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, bahan makanan masuk melalui gerbang masuk Madania – Progressive Indonesian School dan didistribusikan ke tempat penyimpanan bahan makanan yang ada di dapur kantin sekolah. Jarak dari gerbang tempat masuknya bahan makanan ke tempat penyimpanan bahan makanan cukup jauh, menyebabkan bahan makanan rentan terpapar cemaran. Saat bahan makanan tersebut telah sampai di tempat penerimaan dan penyimpanan, karyawan yang bertugas menjaga counter kantin tersebut mengecek kembali kelengkapan bahan makanan yang didistribusikan, memastikan kecukupan dari tempat penyimpanan dan mengecek apakah bahan makanan tersebut ada yang rusak atau tidak. Setelah pengecekan bahan makanan lengkap sudah dilakukan, bahan makanan tersbut disimpan sesuai dengan tempat penyimpanannya yang sesuai. Bahan makanan basah seperti misalnya sosis dan sayur- sayuran disimpan didalam kulkas yang tersedia disetiap dapur counter. Bahan makanan tersebut disimpan sampai tiba waktunya pengolahan makanan. Sedangkan untuk bahan makanan kering seperti misalnya pasta kering biasanya hanya diletakkan diatas meja didekat kompor. Karena berdasarkan hasil observasi, tidak ditemukan adanya lemari penyimpanan khusus untuk bahan makanan kering.

Gambar . Tempat Penyimpanan Makanan

3.2.4 Pengolahan Makanan di Kantin Sekolah Madania–Progressive

Indonesian School

Pemasakan atau pengolahan bahan makanan adalah suatu kegiatan mengubah atau memasak bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas, dan aman yang dikonsumsi. Pengolahan makanan di Sekolah Madania bersifat tetap untuk jangka waktu yang tidak di tentukan. Menurut moehyi, penyelenggaraan makanan secara tetap untuk jangka waktu tidak terbatas, biasanya adalah makanan lengkap, baik untuk satu kali makan atau setiap hari seperti penyelenggaraan makanan untuk asrama, panti asuhan, rumah sakit dan kampus dan yang terakhir adalah penyelenggaraan makanan dalam keadaan darurat yang persediannya dilakukan untuk jangka waktu tertentu seperti kebakaran, tsunami, dll. Pengelolaan makanan yang digunakan oleh kantin Madania - Progressive Indonesian School menggunakan system penyelenggaraan makanan yaitu commisary dan assembly. Dimana system commisary ini mempunyai proses pengolahan makanan yang sifatnya membutuhkan waktu lama tidak berlangsung di dapur kantin, melainkan di dapur lain yaitu dapur pemilik catering dan masak dalam jumlah besar. Kantin sebagai unit penyajian, setelah proses penerimaan barang disimpan sampai waktu penyajian, jika keadaannya beku dicairkan (di letakkan di refrigerator terlebih dahulu) dan jika sudah pada suhu ruang maka didistribusian atau dilakukan pemorsian. Beberapa pengelolaan makanan yang menggunakan system assembly seperti nugget, pasta, sushi, ayam bakar dan ayam goreng. Pada makananmakanan tersebut kantin sudah menerima makanan dalam bentuk setengah jadi, dapur kantin hanya difungsikan untuk menghangatkan kembali masakan dan mengolah makanan yang siap di sajikan.

Berdasarkan jenis pengelolaannya kantin Madania - Progressive Indonesian School menggunakan semi outsourcing, dimana sarana dan prasarana milik instansi seperti meja, kursi. Namun untuk alat masak pihak catering yang menyediakan. Dalam penyelenggaraan makanan sistem outsourcing harus mengikuti perencanaan menu, penentu sntandar porsi dan pemesanan makanan yang diajukan oleh instansi. (Depkes, 2007)

3.2.5 Distribusi Makanan di Kantin Sekolah Madania–Progressive

Indonesian School

Dalam distribusi makanan, pihak yayasan melakukan distribusi sebanyak 1 kali yang dilaksanakan setiap pagi pada jam 6 pagi. Metode pendistribusian dilakukan secara desentralized yaitu pemorsian makanan tidak terjadi di dapur utama tetapi di distribusi sudah dilakukan ke tempat penyajian (kantin) dalam jumlah besar. Setelah itu di tempat penyajian baru dilakukan pemorsian. Desentralisasi ialah pengiriman hidangan dengan menggunakan alatalat yang ditentukan dalam jumlah porsi lebih dari satu, kemudian diruang distribusi disajiakan untuk setiap konsumen. System desentralisasi mempunyai syarat yaitu adanya Pantry yang mempunyai alat-alat pendingin, pemanans dan alat-alat makan. (Depkes, 2007)

3.2.6 Penyajian Makanan di Kantin Sekolah Madania–Progressive

Indonesian School Ada beberapa cara penyajian makanan, baik dalam penyelenggaraan makanan indtitusi maupun dalam penyelenggaraan makanan komersial yaitu sebagai berikut :

1. 2. 3. 4.

Penyajian makanan di atas meja makan Penyajian makanan dengan cara prasmanan Penyajian makanan dengan cafeteria Penyajian makanan melalui kemasan

Jenis- jenis pengorganisasian makanan dibagi menjadi 3, yaitu : a. Self Service, yaitu dimana konsumen melayani diri sendiri. Self Service dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: Drive Thru, konsumen biasanya memesan makanan dari mobil untuk dibawa pulang Machine Vanded, yaitu konsumen membeli makanan melalui mesin Cafeteria, konsumen memilih makanannya sendiri namun porsi sudah ditentukan oleh penjual. Buffet, konsumen mengambil sendiri makanannya sesuai dengan porsi yang diinginkan konsumen itu sendiri. b. Tray Service, yaitu konsumen mendapatkan makanan yang sudah diporsikan oleh penjual dan jenis makanannya sudah ditentukan oleh penjual c. Waiter Service, yaitu konsumen dilayani oleh pelayan. Waiter service dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu : Counter, dimana makanan diambilkan oleh pelayan Table service, konsumen memilih makanan dan kemudian dilayani oleh pelayan Drive in service , konsumen mengkonsumsi makanannya didalam kendaraan

Menurut hasil observasi yang dilakukan, jenis pelayanan makanan di Madania – Progressive Indonesian School adalah Self Service – Cafetaria. Karena di dalam kantin sekolah tersebut, makanan sudah disediakan di meja penyajian makanan dengan porsi yang sudah dibuat oleh counter selanjutnya siswa/ guru memilih sendiri makanan yang mereka inginkan.

Gambar . Proses Penyajian Makanan

Gambar. Proses Penyajian Makanan

3.2.7

Sarana,

Peralatan,

dan

Perlengkapan

dalam

Penyelenggaraan

makanan di Kantin Sekolah Madania–

Progressive Indonesian School a. Sarana Fisik 1) Letak dapur dan Ruang makan

Dapur dan ruang makan sekolah Madania (SD maupun SMP/SMA) letaknya strategis karena saling berdekatan sehingga memudahkan konsumen untuk makan. Selain itu dapur mendapat udara dan sinar matahari yang cukup serta jauh dari tempat pembuangan sampah akhir. Letak dapur baik di kantin SD maupun SMP/SMA kurang strategis untuk penerimaan bahan makanan dari supplier karena jaraknya cukup jauh antara dapur dan gerbang masuk sekolah Madania.

Menurut Depkes 2003, letak tempat penyelenggaraan makanan sebaiknya memperhatikan beberapa hal, antara lain mudah dicapai dari semua ruangan, kebisingan dan keributan di ruang pengolahan tidak mengganggu ruangan lain disekitarnya, mudah dicapai kendaraan dari luar untuk memudahkan pengiriman bahan makanan, tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah, ruang cuci (laundry) dan lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan mendapat udara serta sinar yang cukup. Sebaiknya, terdapat pintu masuk (gerbang) didekat dapur agar memudahkan penerimaan bahan makanan dan tidak terlalu banyak cemaran. 2) Bangunan Dapur dan Ruang Makan

Sekolah Madania dilengkapi dengan dapur dan ruang makan. Ruangan dapur di kantin Sekolah Madania terdiri dari tempat memasak, tempat penyimpanan bahan makanan basah maupun kering, tempat persiapan, tempat pengolahan dan tempat pembagian makanan. Konstruksi bagian dapur dan ruang makan Sekolah Madania cukup kuat dan bersih secara fisik dan tidak terdapat barang sisa atau bekas bahan bangunan yang ditempatkan sembarangan. Menurut Depkes (2000), criteria yang perlu diperhatikan pada bangunan dapur, antara lain jumlah orang yang mendapat makanan, macam dan jumlah bahan makanan, variasi makanan yang akan diolah atau diselenggarakan, arus kerja penerimaan, persiapan, pemasakan, dan pendistribusian makanan, serta dana atau anggaran yang tersedia. Sedangkan persyaratan banyaknya ruang di dapur yang dianjurkan, antara lain ruang penerimaan bahan makanan, ruang penyimpanan bahan makanan, ruang persiapan bahan makanan, ruang pemasakan, ruang distribusi

makanan, ruang pencucian dan penyimpanan alat masak, ruang ganti pakaian pegawai (sebaiknya ada kamar mandi dan wc) dan ruang pengawas atau kepala dapur. Berdasarkan hasil observasi, bangunan dapur dan ruang makan Sekolah Madania sudah cukup baik dimana jumlah seluruh siswa sudah mencukupi ruang makan yang tersedia dan pengolahan bahan makanan tidak terlalu rumit, arus kerja penerimaan, persiapan, pemasakan, dan pendistribusian makanan berlangsung baik. b. 1) Tempat dan Peralatan dalam Penyelenggaraan Makanan Tempat Penerimaan dan Persiapan Bahan Makanan

Bahan makanan yang diterima dari supplier berupa makanan yang sudah siap diolah dan ada yang bisa langsung di re-heat. Bahan makanan tersebut disimpan di ruang persiapan bahan makanan. Menurut Depkes (2003). Apabila tidak ada ruangan khusus untuk tempat penerimaan bahan makanan, sebaiknya perlu disediakan tempat khusus penerimaan bahan makanan yang letaknya mudah dijangkau dari kendaraan (untuk pengiriman) dan dekat tempat penyimpanan serta persiapan bahan makanan. Menurut hasil observasi, tempat penerimaan bahan makanan kurang sesuai dengan aturan Depkes karena jauh dari akses masuk penerimaan. 2) Tempat dan Peralatan Penyimpanan Bahan Makanan

Di Sekolah Madania tidak terdapat gudang khusus penyimpanan bahan makanan kering karena bahan makanan kering yang masuk langsung diolah di dapur.

Menurut Depkes (2007), gudang bahan makanan kering tergantung pada jumlah bahan makanan yang akan disimpan, cara pembelian bahan makanan, dan frekuensi pemesanan bahan makanan. Untuk penyimpanan bahan makanan kering dianjurkan pada suhu 10-21˚C. Untuk tempat penyimpanan bahan makanan basah, tersedia kulkas dan refrigerator di dapur. Menurut Tarwotjo (1998). Bagian penyimpanan bahan makanan basah dapat berupa kamar pendingin atau chiller dan freezer. Perbedaan chiller dan freezer terletak pada temperature. Chiller untuk menyimpan bahan makanan yang tidak perlu beku hanya sejuk tidak terlalu dingin, baik untuk menyimpan sayuran maupun buah- buahan. Kalau freezer untuk menyimpan yang perlu dibekukan, seperti daging dan sejenisnya, dapat pula untuk membuat es batu. Ruangan chiller ini dapat pula dibuat dengan memasang AC, untuk ruangan yang kecil lokasi sebaiknya dekat dengan pintu masuk dapur. 3) Tempat Pencucian dan Penyimpanan Alat

Syarat tempat pencucian alat makan antara lain (Depkes,2003) : a. Terletak terpisah dengan ruang pencucian bahan makanan

dan peralatan b. c. Tersedia air mengalir dengan jumlah cukup Tersedia air panas dan alat pembersih seperti sabun,

deterjen, dan sebagainya. Tempat pencucian alat makan di Sekolah Madania berada di luar ruang makan atau bersebelahan dengan dapur. 4) Tempat Pemasakan Bahan Makanan

Tempat pemasakan bahan makanan di Sekolah Madania berdekatan dengan tempat penyimpanan bahan makanan kering dan basah serta tempat persiapan bahan makanan. Pada setiap counter terdapat masing- masing 1 kompor dan meja. Disediakan meja di dekat proses pemasakan untuk menyimpan bahan makanan yang sudah diolah atau makanan yang sudah setengah diolah. Menurut Tarwotjo (1998) pada tempat atau bagian pemasakan sebaiknya terdapat fasilitas seperti kompor atau tungku, oven, cerobong asap. Apabila ruangan cukup luas sebagian dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menghidangkan makanan yang telah matang. Ruangan ini dilengkapi dengan meja dan lemari untuk meletakkan bahan makanan atau masakan matang dan menyimpan alat- alat untuk memasak. Tempat pemasakan di Sekolah Madania sudah cukup baik dimana sudah terdapat kompor yang cukup untuk memasak atau menghangatkan makanan sesuai dengan siklus menu yang telah dibuat dan juga terdapat meja untuk meletakkan bahan makanan dan masakan yang sudah matang. Namun, di tempat pemasakan ini belum terdapat lemari untuk menyimpan bahan makanan kering. 5) Tempat/ Ruang Makan dan Pembagian Makanan

Ruang makan bagi para siswa dan guru di Sekolah Madania dilengkapi dengan meja makan berukuran persegi panjang beserta kursi kayu panjang yang sesuai dengan tingginya ukuran meja. Sedangkan makanan untuk para guru dan karyawan disajikan di meja yang dapat diambil sendiri sesuai dengan porsi yang diinginkan. Saat penyajian makanan, makanan hanya ditutup dengan plastic wrap (plastic penutup makanan). Selain

itu juga terdapat wastafel yang dapat dipergunakan oleh siswa/ siswi, guru dan karyawan. 6) Tempat Pembuangan Sampah

Tempat sampah di ruangan dapur kantin Sekolah Madania ada satu di setiap counter ( ruang pemasakan makanan), dimana tempat sampah tersebut dilapisi oleh plastic. Juga terdapat tempat sampah untuk membuang sisa makanan di pinggir ruang makan. Nantinya sampah tersebut akan dibuang bersamaan ke tempat pembuangan sampah akhir. Sampah tersebut dibuang setiap hari. Menurut Depkes (2003), diperlukan tempat pembuangan sampah yang cukup untuk menampung sampah yang dihasilkan dan harus segera dikosongkan begitu sampah terkumpul.

3.3 Kesesuaian Penyelenggaraan Makanan di Kantin Sekolah Madania

dengan Teori Penyelenggaraan makanan di kantin sekolah madania dilakukan dengan Proses pengolahan makanan yang sifatnya membutuhkan waktu lama tidak berlangsung di dapur kantin, melainkan di dapur lain yaitu dapur pemilik catering. Dapur kantin hanya difungsikan untuk menghangatkan kembali masakan dan mengolah makanan yang siap di sajikan seperti pasta, sushi, nugget dan sebagainya. Di masak dalam jumlah besar, di bawa ke kantin dengan menggunakan wadah setelah matang dilakuakan Pemorsian di kantin. Serving unit banyak yang disesuaikan dengn jumlah siswa.

Berdasarkan penyelenggaraan

Kriteria

yang

ada

dikantin

sekolah

madania

jenis

yang digunakan

adalah kombinsi antara Commisary dan

Assembly yakni dengan rincian pada jenis penyelenggaraan Commisary - Pembelian bahan makanan dalam jumlah banyak dan pemasakan dalam jumlah besar dan setelah dimasak langsung di porsi-porsi kan - Perbedaan dengan jenis penyelenggaraan makanan yang lain adalah tempat pemasakan dan penyajiannya berbeda
- Serving unit yang banyak.

Dari jenis penyelenggaraan Commisary ini contoh makanan yang di sajikan seperti ayam goreng, ayam bakar, Sate kambing dan sebagainya. Untuk jenis penyelenggaraan Assembly termasuk makanan yang setengah jadi/ sudah jadi dan dapat di Reheat baru dpaat disajikan seperti Sushi Roti bakar, Pisang goreng, Pisccok, Spagheti , Otak-otak dan lain-lain. Penyelenggaraan makanan di kantin sekolah madania menggunakan cara siswa dapat memilih sendiri makanan yang di inginkan, melihat dari stylenya yang cocok dengan keadaannya self service. Yang di maksud self service ialah konsumen bisa memilih makanan yang diinginkan.

3.4 Kekuatan dan Kelemahan Penyelenggaraan Makanan di Kantin Sekolah Madania

3.4.1

Kekuatan

Kekuatan dari system penyelenggaraan makanan di kantin Madania –

Progressive Indonesian School ada beberapa hal, yaitu :

-

Madania – Progressive Indonesian School mempunyai tim pengawas

untuk mengawasi system dan hasil kerja vendor, sehingga kualitas dan kuantitas makanan yang disediakan vendor tetap terjamin
Makanan yang disajikan oleh para vendor dipastikan habis dalam sehari karena kebanyakan menu yang disajikan adalah menu- menu yang disukai oleh siswa/siswi Madania

Progressive Indonesian School.
-

Kisaran harga makanan di kantin sesuai dengan uang saku para murid
Madania – Progressive Indonesian School, sehingga memungkinkan

para murid bebas memilih makanan yang mereka inginkan.
Dapur tiap counter di kantin Madania – Progressive Indonesian

School dapat terjamin kebersihannya, karena proses pemasakan dilakukan di tempat yang berbeda dengan tempat penyajian, di dapur counter hanya dilakukan re-heat. Dengan adanya system penyelenggaraan makanan seprti ini, orang tua jadi lebih bisa memastikan pola konsumsi anaknya terutama di sekolah.

Gambar. Kebersihan Dapur tempat re-heat makanan

Gambar. Harga terjangkau di kantin Asia

Gambar. Menu yang bisa dipilih oleh orang tua murid

3.4.2 -

Kelemahan Tidak adanya ahli gizi dalam penanganan penyelenggaraan makanan dari pihak Vender sehingga tujuan pencukupan Gizi tercapai.

-

Penerimaan barang à jarak gerbang masuk terlalu jauh dengan tempat penerimaan makanan, seharusnya di buat pintu khusus penerimaan agar makanan tidak terlalu lama terkena cemaran atau meminimlisir terjadi kemungkinan lain. Jarak meja penyajian makanan terlalu dekat dengan tempat pembungan sisa makanan yang memungkinkan vektor seperti lalat mencemari makanan yang sudah matang.

-

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
1. Madania - Progressive Indonesian School (Pusat) yang beralamat di

Telaga Kahuripan, Parung, Bogor, Jawa Barat. Memiliki tiga buah kantin, kantin di Madania terdiri dari kantin kawasan Asia untuk SD melayani ±240 siswa, kantin kawasan Afrika untuk SMP melayani ± 320 siswa dan kantin kawasan Amerika untuk SMA melayani ±310 siswa. Tujuan dari penyelenggaraan makanan di kantin sekolah madania ini Memberikan makanan yang mencukupi, gizi tercukupi dan memenuhi kriteria sekolah.
2. Perencanaan awal menu makanan melibatkan siswa, guru dan orangtua

siswa. Perubahan menu dapat terjadi ketika permintaan meningkat atau menurun, pihak kantin akan menyediakan makanan yang sedang digemari siswa dan akan menghilangkan sementara makanan yang kurang digemari.

3. Pengelolaan makanan yang digunakan oleh kantin Madania - Progressive

Indonesian School menggunakan system penyelenggaraan makanan yaitu commisary dan assembly.
4. Proses penyimpanan yang dilakukan oleh kantin madania langsung

dilakukan di setiap counter kantin. Bahan basah seperti bauh langsung dimasukan ke dalam kulkas.
5. Dalam distribusi makanan, pihak yayasan melakukan distribusi sebanyak 1

kali yang dilaksanakan setiap pagi pada jam 6 pagi. Metode pendistribusian dilakukan secara desentralized.
6. Dapur dan ruang makan sekolah Madania (SD maupun SMP/SMA)

letaknya strategis

Sekolah Madania dilengkapi dengan dapur dan ruang

makan. Ruangan dapur di kantin Sekolah Madania terdiri dari tempat memasak, tempat penyimpanan bahan makanan basah maupun kering, tempat persiapan, tempat pengolahan dan tempat pembagian makanan.Di Sekolah Madania tidak terdapat gudang khusus penyimpanan bahan makanan kering karena bahan makanan kering yang masuk langsung diolah di dapur.Tempat pemasakan di Sekolah Madania sudah cukup baik dimana sudah terdapat kompor yang cukup untuk memasak atau menghangatkan makanan sesuai dengan siklus menu yang telah dibuat dan juga terdapat meja untuk meletakkan bahan makanan dan masakan yang sudah matang.
7. Pelaksanaan penyelenggararaan makanan cukup sesuai dengan teori yang

ada, yaitu jenisnya commisary dan assembly, tipenya selective dan stylenya self service cafetaria.
8. Namun pada pelaksanaannya, terdapat beberapa kelemahan diantaranya

tidak terdapatnya ahli gizi di vendor maupun sekolah untuk menjamin makanan yang bergizi, jarak penerimaan yang terlalu jauh, masih terlihat tempat sampah yang berdekatan dengan meja penyajian.
9. Selain kelemahan, ada pula kelebihan yang di miliki kantin sekolah

madania, madania memiliki Parent Teacher Assosiasion (PTA) selaku tim

pengawas untuk mengawasi system dan hasil kerja vendor, sehingga kualitas dan kuantitas makanan yang disediakan vendor tetap terjamin. Makanan yang di sajikan habis dalam satu hari, sehingga setiap hari siswa di sajikan makanan yang fresh. Selain itu makanan yang di jual relatif terjangkau siswa sekolah madania.

4.2 Saran
1. Untuk memenuhi tujuan dari penyelenggaraan makanan di kantin Madania

– Progressive Indonesian School sebaiknya sekolah bekerjasama dengan ahli gizi untuk pemenuhan gizi siswa
2. Sebaiknya tim pengawas kantin menyertakan ahli gizi agar makanan yang

dijual sesuai dengan kebutuhan gizi siswa
3. Sebaiknya pada saat tander pihak sekolah lebih memperhatikan makanan-

makanan apa saja yang sesuai dengan tujuan sekolah terutama pada pemenuhan zat gizi siswa.
4. Sebaiknya PTA dan kantin lebih berinovasi dalam pembuatan menu

terutama menyertakan sayuran agar siswa mendapatkan zat gizi yang banyak terdapat pada sayur-sayuran.
5. Sebaiknya peran guru dan orang tua dalam mengawasi makan siswa perlu

ditingkatkan lagi agar siswa mau makan dan menghabiskan makanan mereka sesuai kebutuhan gizi mereka
6. Sebaiknya letak antara meja prasmanan dengan tempat pembuangan sisa

makanan dan piring kotor berjauhan agar terhindar dari cemaran.
7. Sebaiknya kondisi pencucian alat makan lebih layak agar alat makan yang

sudah bersih terhindar dari cemaran.
8. Sebaiknya penyimpanan alat makan yang sudah dibersihkan disimpan

dalam lemari yang tertutup sehingga terhindar dari cemaran.

9. Sebaiknya terdapat pintu khusus penerimaan di dekat kantin agar makanan

tidak terlalu lama terkena cemaran.
10.

Sebaiknya dilakukan evaluasi dengan penyebaran angket secara

berkala.

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar 2003 Pedoman Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI, Jakarta Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar 2007 Pedoman Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI, Jakarta Depdiknas. 2007. Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jakarta. Moehyi, Sjahmien 1992 Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga. Bharata, Jakarta http://www.dinaspendidikan-parepare.info/index.php? option=com_content&view=article&id=217:tentang-kantin-sekolah&catid=46:peserta-didik

LAMPIRAN
Menu kantin SD Deka Catheringè Penyediaan : 60 porsi • Sushi, Ayam goreng, Ayam bakar, Sate, Spagheti, Mie ayam, Mie bakso Snack: • Otak-otak, Roti bakar, Pisang goreng, Soft drink Bu Dede Cathering Menu makanan berat: • Shabu-shabu, Mi gudong, Dori keju,Nasi+sosis, Makaroni Snack: • Panada,Gorengan, Pisccok Menu kantin Smp/Sma Menu makanan berat: • Nasi Goreng Hijau • Sushi • Ayam goreng • Ayam bakar Padang, • Ayam bakar kecap • Ayam Kremes • Sate Ayam • Sate Kambing • Spagheti • Mie ayam • Mie bakso • Sop buntut goreng Sayur Mayur :

• Salad • Selada • Wortel • Buncis • Sawi ijo • Daun singkong • Tomat • Timun Snack: • Otak-otak • Roti bakar • Pisang goreng • Soft drink

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->