Draft RUU-PKS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ...TAHUN ...

TENTANG PENANGANAN KONFLIK SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa negara melindungi, memajukan, dan menegakkan hak asasi setiap warga negara melalui upaya penciptaan suasana yang aman, tentram, damai dan sejahtera lahir maupun batin sebagai wujud hak setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya; b. bahwa masih adanya kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi dalam keragaman kelompok masyarakat, suku, budaya, adat istiadat, dan agama, dapat menimbulkan konflik yang mengakibatkan korban jiwa, hilangnya rasa aman, rusaknya pranata sosial, kerugian harta benda, renggangnya hubungan sosial antar warga masyarakat, disintegrasi nasional dan terhambatnya proses pembangunan dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat; c. bahwa ketentuan hukum mengenai penanganan konflik selama ini masih bersifat parsial dan reaktif yang tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan dan belum bersifat komprehensif sesuai dengan dinamika dan kebutuhan hukum masyarakat; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Penanganan Konflik Sosial;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28G ayat (1), Pasal 28J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN KONFLIK SOSIAL. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: Konflik sosial yang selanjutnya disebut konflik adalah pertentangan fisik antara dua atau lebih kelompok atau golongan yang mengakibatkan korban jiwa, hilangnya rasa aman, rusaknya pranata sosial, kerugian harta benda, renggangnya hubungan sosial antar warga masyarakat, disintegrasi nasional dan terhambatnya proses pembangunan dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat. Penanganan konflik adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam situasi dan peristiwa sebelum, pada saat maupun sesudah terjadi konflik yang mencakup kegiatan pencegahan konflik, penghentian konflik dan pemulihan pasca konflik. Pencegahan konflik adalah serangkaian kegiatan yang menyangkut peningkatan kapasitas kelembagaan dan sistem peringatan dini. Penghentian konflik adalah serangkaian kegiatan untuk mengakhiri kekerasan, menyelamatkan korban, menghambat perluasan dan eskalasi konflik, serta mencegah bertambahnya jumlah korban dan kerugian harta benda. Pemulihan pasca konflik adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan keadaan dan memperbaiki hubungan yang tidak harmonis dalam masyarakat akibat konflik melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pengungsi adalah orang atau kelompok-kelompok orang yang telah terpaksa atau dipaksa oleh pihak-pihak tertentu melarikan diri atau meninggalkan tempat tinggal dan harta benda mereka sebelumnya sebagai akibat dari adanya ancaman dan intimidasi terhadap keselamatan jiwa, keamanan bekerja dan kegiatan kehidupan lainnya dan harta benda sebagai akibat dan dampak konflik, sehingga berpindah ke tempat lain, baik secara in-situ maupun eks-situ. Keadaan konflik adalah suatu keadaan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat atau wilayah tertentu di mana keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat, aktivitas pelayanan

pemerintahan terancam dan/atau terganggu yang cara penanganan dan penyelesaiannya tidak dapat dilakukan secara biasa oleh pihak-pihak berwenang dalam tugas fungsinya sebagaimana dalam keadaan normal. Komisi Penyelesaian Konflik Sosial yang selanjutnya disingkat KPKS, adalah lembaga khusus yang independen dan bersifat ad hoc, yang dibentuk untuk menyelesaikan konflik di luar pengadilan melalui mediasi dan rekonsiliasi. Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Tentara Nasional Indonesia yang selanjutnya disebut TNI adalah alat negara dibidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut POLRI adalah alat negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Lembaga adat adalah lembaga yang lahir dari nilai-nilai adat yang dihormati, diakui dan ditaati oleh masyarakat.

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2 Penanganan Konflik dilaksanakan berdasarkan asas: kemanusian; kebangsaan; kekeluargaan; bhinneka tunggal ika; keadilan; ketertiban dan kepastian hukum; keberlanjutan; kearifan lokal; tanggung jawab negara;

harta benda dan sarana prasarana umum. dan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman. Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh masyarakat. meningkatkan tenggang rasa. Pasal 3 Penanganan Konflik bertujuan untuk: menjaga kondisi damai dan harmonis dalam hubungan sosial masayarakat. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan dengan : . Pasal 4 Ruang lingkup Penanganan Konflik meliputi: pencegahan konflik. tentram.partisipatif. toleransi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. melindungi jiwa. mengembangkan penyelesaian perselisihan secara damai. Bagian kedua Menjaga Kondisi Damai Pasal 6 Untuk menjaga kondisi damai dimasyarakat. menjaga keberlangsungan fungsi pelayanan pemerintahan. memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak korban. memulihkan kondisi mental dan fisik masyarakat serta sarana prasarana umum. damai dan sejahtera. BAB III PENCEGAHAN KONFLIK Bagian Kesatu Umum Pasal 5 Pencegahan konflik dilakukan dengan upaya: menjaga kondisi damai di masyarakat. pemerintah dan pemerintah daerah. dan pemulihan pasca konflik. penghentian konflik.dan meredam potensi konflik.

barangbarang. status dan perbedaan lainnya dimasyarakat. dan adat istiadat orang lain. mengembangkan sikap saling membantu tanpa membedakan perbedaan. kemampuan ekonomi. kedudukan dan jabatan orang lain. kedudukan dan jabatanya dimasyarakat atau pemerintahan. mengembangkan toleransi. atau merendahkan: harkat dan martabat orang lain. bahasa. menjelek-jelekan. Bagian Ketiga Mengembangkan Penyelesaian Perselisihan Secara Damai Pasal 10 Setiap perselisihan dalam masyarakat diupayakan semaksimal mungkin dilakukan dengan penyelesaian secara damai. atau merendahkan simbol-simbol. mengembangkan sikap saling menghargai perbedaan.mengembangkan sikap saling menghargai agama dan kepercayaan orang lain. Pasal 9 Setiap orang dilarang menghina. pluralitas dan budaya anti kekerasan. dan /atau keyakinan/kepercayaan orang lain dihormati. Setiap orang dilarang menghina. pendapat. menjelek-jelekan. benda-benda atau sesuatu apapun yang dalam adat istiadat atau pandangan suku orang lain dihormati. Penyelesaian perselisihan secara damai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh: para pihak yang berselisih. melalui mediasi. mengembangkan sikap saling menghargai suku. dan/atau kondisi. Pasal 7 Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terjadinya konflik. barangbarang. profesi atau mata pencaharian orang lain.atau . benda-benda atau sesuatu apapun yang dalam agama. kemapuan ekonomi. profesi. menjelek-jelekan. Pasal 8 Setiap orang dilarang menghina. atau merendahkan simbol-simbol.

Pasal 12 Setiap penyelesaian secara damai yang dicapai untuk menyelesaikan setiap perselisihan di masyarakat sah secara hukum dan mengikat. Pelaksanaan penyelesaian perselisihan secara damai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara sukarela. Cara penyelesaian perselisihan secara damai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak. menerapkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. . dan melakukan penegakan hukum tanpa diskriminasi.mekanisme adat. Dalam hal pelaksanaan penyelesaian perselisihan secara damai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dilakukan. melakukan program-program perdamaian di daerah potensi konflik. atau tokoh masyarakat. melakukan pemetaan wilayah potensi konflik. struktur adat. Bagian Keempat Meredam Potensi Konflik Pasal 13 Pemerintah dan pemerintah daerah untuk meredam potensi konflik bertanggung jawab untuk: melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang sensitif konflik. pelaksanaanya dapat dimintakan melalui permohonan kepada pihak yang berwenang. Mediator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atas kesepakatan para pihak. kecuali terhadap perselisihan yang diduga merupakan pelanggaran HAM. mengintensifkan dialog antar kelompok masyarakat. Pasal 11 Pihak mediator dalam penyelesaian perselisihan secara damai melalui mediasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b dapat dilakukan oleh : struktur pemerintahan.

tepat. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengembangkan sistem peringatan dini melalui media komunikasi dan informasi. Pasal 15 Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan sistem peringatan dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1). dan tidak menyesatkan. . dan peningkatan dan pemanfaatan fungsi intelijen berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. tegas. pengembangan penelitian dan pendidikan dalam rangka penguatan sistem peringatan dini. pernyataan status keadaan konflik. tindakan darurat penyelamatan dan perlindungan korban. BAB IV PENGHENTIAN KONFLIK Bagian Kesatu Umum Pasal 16 Penghentian konflik dilakukan melalui: penghentian kekerasan.Pasal 14 Selain upaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 untuk mencegah konflik pada daerah yang diidentifikasikan sebagai daerah potensi konflik atau untuk mencegah perluasan konflik pada daerah yang sedang terjadi konflik. Sistem peringatan dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi konflik atau konflik yang terjadi di daerah lain. pemanfaatan potensi modal sosial masyarakat di tingkat lokal. dan/atau bantuan pengerahan sumber daya TNI. melakukan: penyampaian informasi mengenai konflik secara cepat. pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem peringatan dini.

Bagian Ketiga Pernyataan Status Keadaan Konflik Pasal 20 Dalam hal konflik tidak dapat dihentikan yang mengakibatkan tidak berjalannya fungsi pemerintahan dan tidak dapat dikendalikan melalui operasi penegakan hukum oleh POLRI. atau melarang menghasut.Bagian Kedua Penghentian Kekerasan Pasal 17 Penghentian kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a dilakukan di bawah koordinasi POLRI. konflik provinsi. Pasal 18 POLRI dalam rangka menghentikan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dilakukan melalui: pemisahan kedua kelompok yang berkonflik. Pasal 19 POLRI dalam rangka menghentikan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 berwenang untuk: menetapkan demarkasi wilayah antar kedua kelompok yang terlibat konflik. dan perampasan senjata tajam dan peralatan lainnya yang dapat merusak atau menciderai manusia atau rusaknya harta benda. dinyatakan status keadaan konflik. atau konflik kabupaten/kota. Konflik nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a apabila eskalasi konflik mencakup . Pasal 21 Status keadaan konflik terdiri atas: konflik nasional. memprovokasi. melakukan tindakan darurat penyelamatan dan perlindungan terhadap korban . menetapkan zona konflik. melarang berkumpul dalam jumlah tertentu di daerah konflik. dan menyampaikan informasi atau melakukan kegiatan tertentu yang dapat menimbulkan konflik.

Presiden dapat menunjuk Menteri sebagai pelaksana penyelesaian konflik. kepala kejaksaan tinggi. Konflik provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b apabila eskalasi konflik mencakup beberapa kabupaten/kota dalam satu provinsi. Konflik kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c apabila eskalasi konflik terjadi dalam satu kabupaten/kota. bupati/walikota yang wilayahnya mengalami konflik. Pasal 24 Dalam status keadaan konflik provinsi. dan kepala daerah yang wilayahnya mengalami konflik. Menteri Sosial.beberapa provinsi. Menteri Agama. Panglima TNI. gubernur melaksanakan penyelesaian konflik dibantu oleh: kepala kepolisian daerah komandan satuan TNI yang ditunjuk. Jaksa Agung. Status keadaan konflik provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b ditetapkan oleh gubernur. gubernur wajib . Pasal 23 Dalam hal status keadaan konflik nasional. Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh: Kepala POLRI. Status keadaan konflik kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf c ditetapkan oleh bupati/walikota. Menteri Kesehatan. Pasal 22 Status keadaan konflik nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a ditetapkan oleh Presiden. Dalam melaksanakan penyelesaian konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Presiden dengan persetujuan DPR dapat memperpanjang jangka waktu status keadaan konflik untuk waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari. Pasal 25 Dalam status keadaan konflik kabupaten/kota. pembatasan orang di luar rumah untuk sementara waktu. bupati/walikota. bupati/walikota dengan persetujuan DPRD kabupaten/kota dapat memperpanjang jangka waktu status keadaan konflik untuk waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari. gubernur. Berdasarkan evaluasi terhadap laporan pengendalian keadaan konflik kabupaten/kota. pelarangan orang sementara waktu untuk memasuki atau meninggalkan kawasan konflik. dengan persetujuan DPRD provinsi dapat memperpanjang jangka waktu status keadaan konflik untuk waktu paling lama 60 (enam puluh) hari. Berdasarkan evaluasi terhadap laporan pengendalian keadaan konflik provinsi. bupati/walikota melaksanakan penyelesaian konflik dibantu oleh: kepala kepolisian resort. kepala kejaksaan negeri. Pasal 27 Penetapan status keadaan konflik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 berlaku paling lama 30 (tiga puluh) hari. komandan satuan TNI yang ditunjuk. Pasal 26 Presiden. Dalam hal DPR atau DPRD tidak dapat memberikan persetujuannya sebagaimana dimaksud . penempatan orang untuk sementara waktu di luar kawasan bahaya . bupati/walikota wajib melaporkan perkembangan penanganan konflik kepada Presiden melalui gubernur dan Menteri Dalam Negeri. dalam menangani keadaan konflik berwenang melakukan: pembatasan dan penutupan sementara waktu kawasan konflik. Dalam melaksanakan penyelesaian konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).melaporkan perkembangan penanganan konflik kepada Presiden. Berdasarkan evaluasi terhadap laporan pengendalian keadaan konflik nasional. dan camat / kepala desa yang wilayahnya mengalami konflik. gubernur.

DPRD provinsi melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiataan pengendalian keadaan konflik provinsi. Bantuan TNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Presiden. . dan badan perwakilan desa membentuk tim kerja pengawasan pengendalian keadaan konflik. gubernur. maka secara otomatis keadaan konflik diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari. Penggunaan dan pemanfaatan bantuan TNI dalam penanganan konflik dilakukan dalam komando POLRI. Pasal 28 Dalam hal keadaan konflik telah dapat ditanggulangi sebelum batas waktu yang ditentukan dalam Pasal 27. DPRD kabupaten/kota melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiataan pengendalian keadaan konflik kabupaten/kota. Dalam hal pernyataan keadaan konflik telah dicabut.pada ayat (2). ketrampilan dan personil. ayat (3) dan ayat (4). Pasal 31 DPR melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiataan pengendalian keadaan konflik nasional. DPRD. Pasal 30 Dalam hal pernyataan keadaan konflik sudah dicabut. bupati/walikota harus mencabut pernyataan keadaan konflik. alat. berupa penggunaan unit-unit. Bagian Keempat Bantuan Pengerahan Sumberdaya TNI Pasal 29 POLRI daerah dalam status keadaan konflik dapat meminta bantuan TNI. Dalam hal pernyataan keadaan konflik sudah dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). semua kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak berlaku. DPR. bantuan keamanan TNI ditarik kembali. maka pengendalian keamanan sepenuhnya dilaksanakan POLRI. Pasal 32 Dalam melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan pengendalian keadaan konflik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.

barang dan jasa.dan rekonstruksi. wakil fraksi-fraksi. Bagian Kelima Tindakan Darurat Penyelamatan Korban Pasal 33 Pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka tindakan darurat penyelamatan korban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c bertanggung jawab melakukan: pengkajian secara cepat dan tepat terhadap jenis konflik. dan komisi yang menangani masalah keamanan dan pemerintahan. penegakan hukum. Tim Kerja pengawasan pengendalian keadaan konflik kabupaten/kota terdiri terdiri dari Pimpinan DPRD kabupaten/kota. dan Komisi yang menangani masalah keamanan dan pemerintahan dengan ketentuan paling sedikit 30% (tiga puluh prosen) diantaranya adalah perempuan. BAB V PEMULIHAN PASCA KONFLIK Bagian Kesatu Umum Pasal 34 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab melakukan upaya-upaya pemulihan pasca konflik. dan komisi yang menangani masalah keamanan dan pemerintahan. dan pengaturan mobilitas orang. akar permasalahan. serta dampak dan sumberdaya. perlindungan terhadap kelompok rentan. penyelamatan dan evakuasi masyarakat yang terkena dampak konflik. (2) Upaya pemulihan pasca konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : rehabilitasi. . dan kelompok difabel. anak-anak.Tim kerja pengawasan pengendalian keadaan konflik nasional terdiri dari Pimpinan DPR. lokasi terjadinya konflik. dari dan ke daerah konflik. Tim kerja pengawasan pengendalian keadaan konflik provinsi terdiri dari Pimpinan DPRD provinsi. wakil fraksi-fraksi. pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi termasuk kebutuhan spesifik perempuan. wakil fraksi-fraksi.

perbaikan berbagai struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan. dan penguatan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang perdamaian dan rekonsiliasi. perbaikan dan pengembangan lingkungan/daerah perdamaian. pemulihan sosial psikologis korban konflik dan perlindungan kelompok rentan. rekonsiliasi. perdamaian. kesehatan serta mata pencaharian. mendorong terbukanya partisipasi masyarakat untuk perdamaian (dijelaskan partisipasi perempuan sebagai leader perdamaian). pengampunan. Bagian Ketiga Rekonstruksi Pasal 36 Pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf b bertanggung jawab melakukan: pemulihan dan peningkatan fungsi pelayanan publik daerah konflik. pengembangan berbagai proses dan sistem yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya keadilan. bertanggung jawab melakukan: pemulihan sosial.dan pemberdayaan masyarakat menuju perecepatan proses rekonstruksi. budaya. ekonomi. . pemulihan dan pemerataan aset dan akses pendidikan. peningkatan sikap toleransi dan kerukunan antarkelompok dan golongan masyarakat yang berkonflik. mendorong terciptanya relasi sosial yang adil bagi kesejahteraan masyarakat berkaitan langsung dengan hak-hak dasar masyarakat. dan keamanan serta ketertiban. pengakuan. dan pemulihan pelayanan pemerintahan. peningkatan pendidikan toleransi dalam upaya pembangunan perdamaian. penguatan terciptanya kebijakan publik yang mendorong pembangunan perdamaian berbasiskan hak-hak masyarakat. termasuk kesenjangan ekonomi. mendorong optimalisasi fungsi kearifan lokal dalam penyelesaian konflik. pemulihan ekonomi.Bagian Kedua Rehabilitasi Pasal 35 Pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a. mengembangkan bentuk-bentuk resolusi konflik untuk memelihara kelangsungan perdamaian penegakan aparat hukum dan pemerintahan yang bersih. pemulihan hak-hak keperdataan. perbaikan sarana dan prasarana umum daerah konflik.

maka Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat membentuk KPKS. Bagian Kedua Lembaga Adat Penyelesaian Konflik Pasal 39 Pemerintah atau Pemerintah Daerah mengakui lembaga adat penyelesaian konflik. penyelesaian konflik melalui pranata adat tidak berhasil. gubernur. Presiden. Dalam hal Lembaga adat penyelesaian konflik menyatakan tidak mampu menghentikan konflik. Bagian Ketiga KPKS Pasal 40 Dalam rangka penyelesaian konflik. dan daerah konflik ditetapkan dalam status keadaan konflik. Penyelesaian konflik yang dilakukan melalui KPKS dapat dilakukan dalam hal: tidak ada pranata adat di daerah konflik. bupati/walikota membentuk KPKS berdasarkan skala konflik.BAB VI LEMBAGA PENYELESAIAN KONFLIK Bagian Kesatu Umum Pasal 37 Penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui KPKS atau pranata adat. Pasal 38 KPKS berfungsi sebagai lembaga penyelesaian konflik di luar pengadilan. Hasil mediasi dan rekonsiliasi yang difasilitasi oleh KPKS memiliki kekuatan final dan mengikat bagi kelompok atau golongan masyarakat yang terlibat dalam konflik. . yaitu: Pembentukan KPKS untuk menyelesaikan konflik nasional diusulkan oleh Menteri Kepada Presiden.

Pembentukan KPKS untuk menyelesaikan konflik yang meliputi beberapa Kabupaten/Kota dibentuk oleh gubernur berdasarkan usulan dan masukan dari masyarakat. atas permintaan sendiri. dan tidak pernah dipidana. Pasal 43 Penetapan anggota KPKS didasarkan pada kualifikasi keahlian dan integritas moral yang tinggi dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: Warga Negara Indonesia. Pembentukan KPKS ditetapkan dengan peraturan presiden untuk KPKS Nasional. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . kelompok. dan/atau mengurangi kemandirian dan kredibilitas KPKS. memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang perdamaian dan resolusi konflik. sehat jasmani dan rohani. atau organisasi sosial. sakit jasmani atau rohani yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan tugas selama 30 (tiga puluh) hari secara terus menerus. berwibawa. berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahun. dan berkelakuan tidak tercela. Pasal 44 Anggota KPKS diberhentikan karena : meninggal dunia. masa tugasnya telah berakhir. gubernur. Pembentukan KPKS untuk menyelesaikan konflik dalam lingkup Kabupaten/Kota dibentuk oleh bupati/walikotaberdasarkan usulan dan masukan dari masyarakat. Pasal 41 Pembentukan KPKS yang dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah didasarkan pada hasil kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf a. jujur. peraturan gubernur untuk KPKS Provinsi. atau dipidana karena bersalah melakukan tindak pidana. bupati berdasarkan pengajuan oleh perseorangan. Keanggotaan KPKS ditetapkan oleh Presiden. Pasal 42 Anggota KPKS berjumlah paling sedikit 9 (sembilan) orang dan paling banyak 15 (lima belas orang) dengan ketentuan minimal 30% diantaranya adalah perempuan. adil. dan peraturan bupati/walikotauntuk KPKS kabupaten/kota. melakukan perbuatan tercela dan/atau hal-hal lain yang berdasarkan Keputusan sidang KPKS yang bersangkutan harus diberhentikan karena telah mencemarkan martabat dan reputasi.

. POLRI. tokoh agama. POLRI TNI. pegiat perdamaian. tokoh agama. dan wakil dari kelompok masyarakat yang berkonflik. tokoh masyarakat. tokoh masyarakat. wakil dari pihak-pihak yang berkonflik. Pasal 45 KPKS di tingkat nasional terdiri dari unsur-unsur: Pemerintah. kepala desa/lurah dari daerah yang berkonflik. pegiat perdamaian. TNI. TNI. camat dari daerah yang berkonflik. tokoh masyarakat. Pasal 47 KPKS di tingkat Kabupaten/kota terdiri dari unsur-unsur: pemerintah daerah kabupaten/kota.Pimpinan KPKS terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (dua) orang wakil ketua. wakil dari pihak-pihak yang berkonflik. Pasal 46 KPKS di tingkat provinsi terdiri dari unsur-unsur: pemerintah daerah provinsi. tokoh agama. pegiat perdamaian. Pemilihan dan pengangkatan ketua dan wakil ketua KPKS ditetapkan melalui sidang KPKS. bupati/walikotadari daerah yang berkonflik. POLRI. gubernur dari daerah yang berkonflik.

Pasal 49 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 KPKS mempunyai wewenang: membentuk Tim Pencari Fakta. dan sebab-musabab terjadinya konflik. Pasal 52 Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme dan tatacara pelaksanaan tugas KPKS ditetapkan melalui peraturan menteri dalam hal status keadaan konflik sosial nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme dan tatacara pelaksanaan tugas KPKS ditetapkan . dan/atau rehabilitasi. yang ditetapkan melalui sidang KPKS. menetapkan jumlah . ahli waris korban. kepada DPRD. pelapor. mediasi. meminta keterangan kepada korban.Pasal 48 Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1). memberikan rekomendasi kepada Presiden dalam hal permohonan amnesti. restitusi. saksi. dprd provinsi/ gubernur. dan rekonsiliasi. KPKS melaksanakan upaya perdamaian. Pasal 51 Dalam melaksanakan tugas penyelesaian konflik. pelaku dan barang bukti sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelaku dan/atau pihak lain. menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka rehabilitasi dan pemulihan konflik. Presiden dan DPR RI serta tembusannya kepada kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Negeri setempat. menyampaikan laporan akhir tentang pelaksanaan tugas dan wewenang berkaitan konflik yang ditanganinya. menteri. baik di dalam maupun di luar negeri. membuat keputusan penyelesaian konflik. memanggil setiap orang yang terkait untuk memberikan keterangan dan kesaksian. Pasal 50 Tim pencari fakta terdiri dari anggota KPKS. bupati/wali kota. meminta dan mendapatkan dokumen resmi dari instansi sipil atau militer serta badan lain. KPKS mempunyai tugas: melakukan mediasi dan rekonsiliasi penyelesaian konflik. Tugas utama tim pencari fakta adalah mengungkapkan fakta-fakta. melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk memberikan perlindungan kepada korban.

penghentian konflik. bantuan teknis. masyarakat internasional berhak mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan. dan pejabat lain sesuai peraturan perundang-undangan Dalam melaksanakan peranserta sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 54 Ketentuan lebih lanjut mengenai pegelolaan pelaksanaan pencegahan konflik. gubernur.melalui peraturan gubenur dalam hal status keadaan konflik sosial provinsi. . penghentian konflik. bupati/walikota. Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme dan tatacara pelaksanaan tugas KPKS ditetapkan melalui peraturan bupati/walikota dalam hal status keadaan konflik sosial kabupaten/kotamadya. penyediaan kebutuhan dasar minimal bagi korban konflik. Ketentuan lebih lanjut mengenai peranserta masyarakat dalam penanganan konflik diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 53 Dalam pelaksanaan tugasnya. KPKS dibantu oleh sekretariat KPKS yang bertugas memberikan pelayanan administrasi bagi pelaksanaan kegiatan KPKS. dan/atau bantuan tenaga Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melibat masyarakat internasional yang dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Dalam Negeri. dan pemulihan pasca konflik diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah Daerah mengatur lebih lanjut pegelolaan pelaksanaan pencegahan konflik. dan pemulihan pasca konflik dengan Peraturan Daerah untuk disesuaikan dengan kondisi dan karakter daerah serta mengakomodasi kearifan lokal. BAB VII PERANSERTA MASYARAKAT Pasal 55 Masyarakat dapat berperanserta dalam penanganan konflik Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: pembiayaan.

penghentian konflik dan pemulihan keadaan setelah konflik Selain alokasi pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. Pembiayaan yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diterima oleh Pemerintah dicatat dalam APBN.BAB VIII PEMBIAYAAN PENANGANAN KONFLIK Bagian Kesatu Sumber Pembiayaan Pasal 56 Pembiayaan penanganan konflik bersumber dari APBN dan/atau APBD. dan dana bantuan sosial berpola hibah.00 (sepuluh milyar rupiah). . dialokasikan untuk pencegahan konflik. Pemerintah daerah hanya dapat menerima pembiayaan yang bersumber dari masyarakat dalam negeri. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 1. BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 58 Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terjadinya konflik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.000. pemerintah menyediakan pula: dana kontinjensi. Selain pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagian Kedua Alokasi Pembiayaan Pasal 57 Pembiayaan penanganan konflik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai pembiayaan penanganan konflik diatur dengan Peraturan Pemerintah.000.000.000. Pembiayaan yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diterima oleh Pemerintah daerah dicatat dalam APBD. dana siap pakai. pembiayaan dapat bersumber dari masyarakat.00 (satu milyar rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.

kemapuan ekonomi.000.00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000. menjelek-jelekan. barangbarang. Pasal 60 Setiap orang dilarang menghina.000. status dan perbedaan lainnya dimasyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. . dan/atau kondisi. benda-benda atau sesuatu apapun yang dalam agama.000. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 63 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.00 (sepuluh milyar rupiah). profesi atau mata pencaharian orang lain. atau merendahkan harkat dan martabat orang lain. 000. barangbarang. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000. atau merendahkan simbol-simbol.000. Agar setiap orang mengetahuinya. benda-benda atau sesuatu apapun yang dalam adat istiadat atau pandangan suku orang lain dihormati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.000.00 (lima milyar rupiah).000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 7.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 10. atau merendahkan simbol-simbol. menjelek-jelekan.000.000. menjelek-jelekkan.000. Pasal 61 Setiap orang dilarang menghina.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.00 (satu milyar rupiah) dan paling banyak Rp 10.00 (tujuh milyar rupiah). BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 62 Pada saat berlakunya UU ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penanganan konflik dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dikeluarkan peraturan pelaksanaan baru berdasarkan UU ini.Pasal 59 Setiap orang yang menghina.000. dan /atau keyaqinan/kepercayaan orang lain dihormati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). kedudukan dan jabatan orang lain.

.... MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN …NOMOR … .... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal …. PRESIDEN REPUBLIK INDOONESIA..Disahkan di Jakarta pada tanggal.......

serta Gerakan Aceh Merdeka dan Gerakan Organisasi Papua Merdeka. Kerusuhan/Konflik Poso. pada satu sisi merupakan suatu kekayaan bangsa yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya menciptakan kesajahteraan masyarakat. kerusakan lingkungan. dan budaya Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa. transisi demokrasi dalam tatanan dunia yang semakin terbuka mengakibatkan semakin cepatnya dinamika sosial. kerugian harta benda. TENTANG PENANGANAN KONFLIK SOSIAL UMUM Keanekaragaman suku. Ada banyak contoh konflik horisontal yang cara penyelesaiannya juga menggunakan cara-cara yang militeristik/represif. Beberapa contoh konflik horisontal yang bersifat masif dan pola penyelesaiannya menggunakan cara-cara militersitik/represif tersebut diantaranya adalah Kerusuhan Sosial di Banjarmasin. Di samping itu. Konflik tersebut.. baik konflik horisontal maupun vertikal. kondisi tersebut dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan nasional. Kerusuhan Sosial di Sambas. kebencian dan perasaan permusuhan). penanganan konflik yang cenderung mengunakan cara-cara yang represif tersebut bukan hanya digunakan pada konflik-konflik yang bersifat vertikal saja. Namun pada sisi lain. Kerusuhan Sosial di Sumatera Utara. ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Pemberontakan Permesta. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). korban jiwa dan trauma psikologis (dendam. Namun demikian. TAHUN . agama. termasuk faktor intervensi asing. ekonomi. dan pemilihan kepala daerah. dan Andi Azis. . dan termasuk didalamnya adalah perkelahian antar kampung. presiden dan wakil presiden. terbukti telah mengakibatkan hilangnya rasa aman. DI/TII Kahar Muzakar. apabila terdapat kondisi ketimpangan pembangunan. sehingga menghambat terwujudnya kesejahteraan umum. Kerusuhan Sosial di Tasikmalaya. sistem penanganan konflik yang dikembangkan lebih mengarah kepada penanganan yang bersifat militeristik/represif. Kerusuhan/Konflik Ambon.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . kemiskinan serta dinamika kehidupan politik yang tidak terkendali seperti dalam pelaksanaan pemilihan legislatif. Kerusuhan Sosial di Situbondo. Sesuai dengan tipologi konflik yang terjadi selama ini. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Karto Suwiro.. Kerusuhan Sosial di Solo. seperti pemberontakan DI/TII. Kerusuhan Sosial di DKI. konflik Pilkada 2007 Maluku Utara. Kerusuhan/Konflik Irian Jaya Barat dan Papua.. menciptakan rasa takut masyarakat. Pemberontakan Daud Buereuh.. Kondisikondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan konflik. ras. Beberapa konflik vertikal yang penanganannya lebih menggunakan cara-cara yang militeristik/represif tersebut diantaranya adalah terhadap gerakan-gerakan separatisme yang ada di tanah air.

yaitu: Pertama. bersatu. Kerangka regulasi yang dimaksud adalah segala peraturan perundang-undangan. Visi mewujudkan Indonesia Aman dan Damai didasarkan pada permasalahan bahwa Indonesia masih rawan dengan konflik sosial. pembentukan Provinsi atau Kabupaten/Kota baru. pemanfaatan Sumber Daya Alam. termasuk membentuk kerangka regulasi baru. baik yang tertuang dalam UUD 1945 maupun dalam peraturan perundang-undangan yang lain. Mengacu kepada strategi penanganan konflik yang dikembangkan oleh pemerintah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (JPJM) 2004-2009 yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. baik di sektor Industri. pada saat konflik. kerangka regulasi bagi kegiatan penanganan konflik pada saat terjadi konflik yang meliputi upaya penghentian kekerasan sosial dan mencegah jatuhnya banyak korban manusia maupun harta benda. merupakan fenomena yang menandai perjalanan bangsa Indonesia sejak memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan proses transisi demokrasi di Indonesia bersamaan dengan bergulirnya orde reformasi tahun 1998. reintegrasi dan rehabilitasi. ekonomi. kesetaraan. demografis yang dapat memicu munculnya konflikkonflik tersebut. dan hak asasi manusia. . serta ketiga: terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkalnjutan. yaitu pertama. kerangka regulasi dalam rangka upaya pencegahan konflik seperti regulasi mengenai kebijakan dan strategi pembangunan yang sensitif terhadap konflik dan upaya-upaya untuk tidak terjadinya konflik. bangsa. bangsa. Kedua. terwudnya masyarakat. mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai. yaitu: pertama. Pemerintah terus melakukan upaya penanganan konflik dengan strategi penanganan sebelum terjadi konflik. Penyelesaian terhadap konflik-konflik belum dilaksanakan secara komprehensif dan integratif. Mewujudkan Indonesia yang sejahtera. berdasarkan visi tersebut di atas ditetapkan 3 (tiga) misi pembangunan nasional Indonesi tahun 2004-2009. Kedua. terwujudnya kehidupan masyarakat. serta sektor-sektor lainnya..Salah satu sebab yang turut memicu terjadinya konflik adalah kebijakan negara yang dianggap kurang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Banyak faktor kondisi sosial. Ketiga. Kedua. Selanjutnya. dan setelah konflik. Konflik komunal dengan kekerasan (Konflik Sosial) yang selanjutnya disingkat Konflik. rukun dan damai. Berbagai upaya terus dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Ketiga. serta kegiatan-kegiatan recovery. maka kerangka regulasi yang ada juga mencakup tiga strategi. adalah peraturan yang menjadi landasan bagi pelaksanaan penanganan pasca konflik yaitu ketentuan yang berkaitan dengan tugas penyelesaian sengketa/proses hukum. termasuk di dalamnya adalah dalam bentuk Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat (TAP MPR). termasuk peraturan perundang-undangan yang bersifat parsial dan dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah seperti dalam bentuk Instruksi Presiden. mewujudkan Indonesia yang Adila dan Demokratis. dan negara yang aman. 7 Tahun 2005 menetapan 3 (tiga) visi pembangunan nasional tahun 20042009. dan negara yang menjunjung tinggi hukum.

Sehingga tidak menggambarkan suatu manajemen konflik yang terkoordinasi dan integratif. Undang-undang yang ada di samping bersifat sektoral. Beberapa dari hukum positif yang erat kaitannya. Undang-Undang No. dan pemerintah daerah berjalan sendiri-sendiri. baik dalam rangka upaya pencegahan (preventif). Undang-Undang No.Penyusunan RUU Penanganan Konflik dilakukan dengan melakukan analisis sinkronisasi dan harmonisasi dengan berbagai Undang-Undang terkait dalam penanganan konflik sosial. 15 Tahun 2003 tentang Anti Terorisme. Undang-Undang No. Beberapa undang-undang yang terkait dengan penanganan konflik mengedepankan ego sektoral. belum menetapkan secara jelas dan komprehensif mengenai tindakan-tindakan serta tahap-tahap dalam penanganan konflik. Langkah-langkah yang diambil hanya didasarkan pada kebijakan lembaga eksekutif (pemerintah). 23/Prp/1959 tentang Keadaan Bahaya. Akibat dari pengaturan yang demikian. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang No. Sebagian besar peraturan yang ada bersifat operasional. Undang-Undang No. 27 Tahun 1997 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi. tanpa satu payung hukum yang kuat. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. maupun penanganan pada saat. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. 56 Tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. Undang-Undang No. dan sesudah konflik (recovery). sehingga dalam implementasinya masing-masing departemen. Kedua. maka dalam pelaksanaannya ada keraguan masing-masing institusi karena setiap institusi mengacu kepada undang-undang yang berbeda. Kondisi ini menggambarkan suatu peraturan perundang-undangan yang saling bertentangan. . sehingga belum merupakan suatu kebijakan yang sistematis dan terukur. Undang-Undang No. 6 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan. Kajian dan analisis terhadap berbagai peraturan perundang-undangan tersebut menggambarkan hal-hal sebagai berikut: Pertama. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-Undang No. Ketiga. bahkan menjadi dasar dan acuan bagi penanganan konflik sosial adalah: Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) berkaitan dengan tugas-tugas intelijen dan tugas-tugas POLRI dalam rangka bimbingan masyarakat. baik secara vertikal maupun horisontal. Undang-Undang No. Undang-Undang No. baik Pemerintah Pusat maupun Daerah. Karakter yang muncul dalam setiap peraturan tersebut adalah tindakan yang bersifat reaktif. tidak konsisten/harmonis/sinkron.

tanggungjawab negara memberikan . maupun melalui kebijakan anggaran melalui sistem APBN dan ABPD. Pemerintah Indonesia pada awal 2005 melalui inisiatif DPR mengajukan Rancangan Undang –Undang tentang Penanggulangan Bencana (UUPB) yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. agama dan budaya dan seluruh tumpah darah Indonesia. tanpa diganggu akibat perbedaan pendapat atau konflik yang terjadi di antarkelompok dan golongan. Hal ini disebabkan oleh paradigma yang digunakan dalam UU PB lebih didominasi oleh paradigma penanganan bencana alam. Oleh karena itu. termasuk memberikan jaminan rasa aman dan bebas dari rasa takut dalam rangka terwujudnya kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menyadari kebutuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih komperhensif dan integratif. Ketiga. Oleh karena itu. Kelima. kapasitas anggota POLRI. jaminan tetap eksisnya cita-cita pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terjadi pemahaman yang keliru mengenai konflik dalam UUPB. Intelijen Negara dan Jaksa dalam melacak. Sementara pada tahap proses penegakan hukum. Gubernur. pilihan penguatan peraturan perundang-undangan penanganan konflik dalam bentuk Undang-Undang semakin kuat dengan menempatkan UndangUndang Penanganan Konflik menjadi lex specialis dari penanggulangan bencana yang diatur dalam Undang-Undang No. dengan menempatkan konflik sebagai salah satu jenis bencana yaitu bencana sosial. Kelemahan utama dari UUPB adalah tidak secara konsisten mengatur mengenai penanganan berbagai jenis bencana yang dimaksudkan dalam Undang-Undang tersebut. argumentasi sosiologis. serta mengabaikan perbedaan karakteristik bencana alam dan konflik. aturan yang jelas tentang skala besaran konflik. yaitu argumentasi filosofis. Dari perspektif kelembagaan (struktur) DPR dan DPRD belum memberikan kontribusi yang kuat dalam penanganan konflik melalui bentuk regulasi yang menjadi kewenangannya. Sebagian peraturan dikeluarkan dalam keputusan Presiden. 24 Tahun 2007. dan Bupati/Wali Kota. tanggungjawab dan kewenangan dua institusi pertahanan dan keamanan negara yaitu TNI dan POLRI dalam penanganan konflik. tujuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa. penanganan konflik menjadi bagian dari sistem Penanggulangan Bencana. Dalam UndangUndang tersebut. maka pada dasarnya terdapat tiga argumentasi pentingnya RUU Penanganan Konflik. institusi negara yang berhak menyatakan (declare) bahwa diperlukan peran TNI dalam membantu tugas POLRI dalam ranah keamanan negara. Berdasarkan pemikiran di atas. salah satu materi penting dalam RUU Penanganan Konflik adalah pengaturan mengenai pengerahan tugas perbantuan TNI kepada POLRI dalam penghentian konflik kekerasan. Kedua. Ketika dalam tahap saat terjadi konflik khususnya pada kegiatan penghentian konflik kekerasan. dan argumentasi yuridis. dikuatirkan akan mengakibatkan tidak efektifnya UUPB dalam tataran pelaksanaan atau implementasinya. undang-undang yang ada saat ini masih belum jelas mengatur tentang tugas. Argumentasi filosofis berkaitan dengan pertama. Pengaturan yang demikian. mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. menemukan para pelaku atau aktor intelektual tindakan kerusuhan belum optimal.Keempat.Konflik atau bencana sosial merupakan salah satu substansi yang tidak dirumuskan dengan tepat dan komprehensif.

Keempat. argumentasi Sosiologis dari Pembentukan Undang-Undang Penanganan Konflik adalah. sangat rawan dan berpotensi menimbulkan konflik. serta tidak memadai menjadi landasan hukum penanganan konflik yang komprehensif dan integratif. dan pada sisi lain hidup dalam tatanan dunia yang terbuka dengan pengaruh-pengaruh asing. efisien. serta hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya. akuntabel dan transparan serta tepat sasaran dengan mendasarkan pada pendekatan dialogis dan cara damai. keluarga. martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. Konflik menyebabkan hilangnya rasa aman dan menciptakan rasa takut masyarakat. integratif. damai. agama dan budaya yang masih diwarnai ketimpangan pembangunan. sehingga dapat menghambat terwujudnya kesejahteraan umum. Sedangkan argumentasi yuridis dari Pembentukan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial bahwa peraturan perundang-undangan di bidang penanganan konflik sudah tidak sesuai dengan perkembangan sistem ketatanegaraan. efektif. pemajuan. Kelima. tentram. adil dan sejahtera. . kerusakan pranata sosial. politik. Penanganan konflik dapat dilakukan secara komprehensif. bersifat sektoral. Ketiga. maupun karena kelemahanan dalam sistem pengelolaannya yang tidak memperhatikan kepentingan masyarakat setempat. akuntabel dan transparan serta tepat sasaran dengan mendasarkan pada pendekatan dialogis dan cara damai berdasarkan landasan hukum yang memadai. integratif. Pemerintah Indonesia belum menemukan suatu format kebijakan penanganan konflik yang menyeluruh (comprehensive). Selanjutnya.perlindungan. reaktif. Kedua. Indonesia yang sedang mengalami transisi demokrasi dan pemerintahan membuka peluang bagi munculnya gerakan radikalisme di dalam negeri pada satu sisi. perasaan permusuhan). kerugian harta benda. ketidakadilan dan kesenjangan sosial. efektif. ekonomi. kemiskinan berpotensi untuk melahirkan konflik-konflik di tengah masyarakat. Bebas dari rasa takut. melebarnya jarak segresi antar para pihak yang berkonflik. Kekayaan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan yang semakin terbatas dapat menimbulkan konflik. penegakan dan pemenuhan hak asasi melalui upaya penciptaan suasana yang aman. Pertama. Negara Republik Indonesia dengan keanekaragam suku bangsa. damai dan sejahtera lahir maupun batin sebagai wujud hak setiap orang atas perlindungan diri pribadi. kehormatan. korban jiwa dan trauma psikologis (dendam. jaminan terhadap hak hidup secara aman. Dalam mengatasi dan menangani berbagai konflik tersebut. efisien. serta kerusakan lingkungan. baik karena masalah kepemilikan. Keenam. kebencian.

agama. Huruf b Yang dimaksud dengan “asas kebangsaan“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus mencerminkan sifat dan watak bangsaIndonesia yang pluralistik dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Huruf g Yang dimaksud dengan “asas keberlanjutan“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan untuk menciptakan suasana tenteram dan damai. Huruf c Yang dimaksud dengan “asas kekeluargaan “ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus mencerminkan mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Huruf f Yang dimaksud dengan “asas ketertiban dan kepastian hukum“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum.PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan “asas bhinneka tunggal ika“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus memperhatikan keragaman penduduk. Huruf e Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa penanganan konflik sosial harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa terkecuali. Pasal 2 Huruf a Yang dimaksud dengan “asas kemanusian“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. kondisi khusus daerah. berbangsa dan bernegara. suku. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. Huruf h Yang dimaksud dengan “asas kearifan lokal“ adalah bahwa penanganan konflik sosial harus memperhatikan nilai-nilai yang hidup dan dihormati di dalam masyarakat. . dan golongan.

Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 7 Yang dimaksud dengan perbuatan yang mengakibatkan terjadinya konflik adalah seluruh perbuatan yang secara materiil menjadi penyebab timbulnya konflik. dan tidak mendapatkan. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. Pasal 3 Cukup jelas. dan pengawasan. Pasal 4 Cukup jelas. . Pasal 11 Cukup jelas. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Huruf k Yang dimaksud dengan “asas partisipatif“ adalah bahwa penanganan konflik sosial melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses penangan konflik mulai dari perencanaan. pembiayaan. membatasi. Pasal 6 Cukup jelas.Huruf i Yang dimaksud dengan “asas tanggung jawab negara“ adalah bahwa penanganan konflik sosial merupakan tanggung jawab seluruh komponen negara baik pemerintah maupun masyarakat. dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang. Pasal 12 Ayat 1 Yang dimaksud dengan “pelanggaran HAM” ádalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian.

Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Cukup jelas Pasal 13 Huruf a Yang dimaksud dengan “perencanaan pembangunan sensitif konflik” adalah perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan aspek yang dapat mengakibatkan konflik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Pasal 14 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. . dan pendidikan kewarganegaraan. toleransi. Huruf e Cukup jelas. menjaga dan melestarikan perdamaian (peace keeping). Pasal 15 Cukup jelas. menciptakan perdamaian (peace making). Huruf d Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. multikulturalisme. inklusivisme. Pasal 16 Huruf a Yang dimaksud “kekerasan” adalah tindakan yang dapat melukai fisik seseorang baik yang dilakukan dengan menggunakan senjata maupun tidak yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa atau harta benda. Huruf b Cukup jelas. Huruf c Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendidikan membangun perdamaian (peace building).

Huruf d Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. . Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas.Huruf c Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas.

dan kelompok minoritas. Pasal 33 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan “pemenuhan kebutuhan dasar” adalah bantuan makan. Pasal 38 Cukup jelas. pakaian. kesehatan.Pasal 30 Cukup jelas. anak-anak. . difabel. Huruf d Yang dimaksud dengan “kelompok rentan” adalah perempuan. Yang dimaksud dengan “kebutuhan spesifik perempuan” adalah kebutuhan yang diperlukan oleh kaum perempuan yang terkait dengan kodratnya sebagai perempuan dalam kehidupan seharihari. Pasal 31 Cukup jelas. minum. Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. termasuk sarana untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan tempat tinggal. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. lansia. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas.

Pasal 54 . Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas.Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas.

. . Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas.Pasal 55 Ayat 1 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas.. Pasal 63 Cukup jelas. Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Yang dimaksud dengan “Masyarakat internasional” adalah lembaga internasional dan lembaga asing non pemerintah. Pasal 61 Cukup jelas. Ayat 4 Cukup jelas. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. Ayat 5 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful