UNIT 1

HAKIKAT IPA DAN PEMBELAJARAN IPA SD
Wasih Djojosoediro

PENDAHULUAN
Selamat berjumpa Saudara Mahasiswa. Anda telah menjadi guru cukup lama, bukan? Ketika Anda memilih suatu kejadian atau benda tertentu untuk diamati atau dipelajari, pasti memiliki alasan, bukan? Apa alasan Anda mengamati yang kejadian atau benda ini bukan kejadian atau benda yang itu? Banyak alasan yang dapat diutarakan, misalnya: benda itu menarik, baru, bagus, aneh, atau benda itu mengundang rasa ingin tahu Anda. Dapat dikatakan, rasa ingin tahu dan minat merupakan salah satu pendorong untuk mengarahkan perhatian kita ke arah suatu kejadian atau suatu benda tertentu.

Agar diperoleh data yang akurat, selain mengandalkan pancaindera, kita juga memerlukan bantuan satu atau beberapa alat ukur. Misalnya, ketika Anda ingin mengetahui tentang ukuran meja belajar yang Anda pakai saat ini, alat ukur apa saja yang perlu disiapkan? Ya, Anda perlu meteran/penggaris. Dalam kaitan dengan penggunaan analisa dan pembuktian dari apa yang kita amati, dalam Unit 1 ini Anda akan diajak untuk mempelajari Hakikat IPA dan Pembelajaran IPA SD.

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1 ini, adalah Anda dapat: 1. menjelaskan karakteristik IPA, 2. menjelaskan kedudukan IPA sebagai produk,proses, dan sikap, 3. membedakan pengertian belajar dan pembelajaran IPA menurut teori behavioristik dan konstruktivistik, dan 4. menjelaskan dampak pengertian belajar dan pembelajaran IPA teori behavioristik dan konstruktivistik terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA SD.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

1

SUB UNIT 1.1

HAKIKAT IPA

PENDAHULUAN
Bila Anda diminta mengamati seekor kelinci, apakah yang Anda lakukan? Apa yang Anda lakukan pertama kali? Mungkin Anda mengendap-endap mendekatinya agar binatang itu tidak lari bersembunyi. Mungkin Anda menyiapkan kamera untuk mengambil gambarnya dari kejauhan. Atau, Anda mencoba mencari suatu posisi yang „tepat‟ agar dapat mengamati binatang itu tanpa membuatnya ketakutan. Apa yang anda lakukan berikutnya? Nah, kini ada banyak kemungkinan dapat Anda lakukan. Mungkin Anda akan memperhatikan binatang itu, mungkin akan mengobservasi, mengukur, menimbang, meraba, mencatat, dan sebagainya.

Setelah Anda memperoleh banyak data dan informasi Anda mulai menganalisis data tersebut, bukan? Dengan menganalisis telinganya, moncongnya, kepalanya, matanya, tubuhnya, pakan yang ada di depannya dan seterunya, apa yang ingin Anda cari?. Betul! Yang dicari adalah ciri-ciri khas dari binatang itu. Dengan menemukan ciri-ciri khas dari binatang itu, Anda dapat menetapkan namanya. Anda menetapkan bahwa binatang itu adalah kelinci.

Proses analisa dan pengambilan kesimpulan seperti di atas akan menjadi topik bahasan pada Unit 1.1 ini.

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1.1 ini, adalah Anda dapat: 1. Membedakan 2 konsep IPA yaitu metode khusus dan ilmiah, 2. Menjelaskan karakteristik IPA, dan 3. Menjelaskan karakteristik belajar IPA.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

2

1. KONSEP IPA
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).

Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai: systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and based mainly on observation and induction (yang diartikan bahwa ilmu pengetahuan alam didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan

menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi).

Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai a piece of theoretical knowledge atau sejenis pengetahuan teoritis.

IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah.

Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian, pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

3

Dalam perkembangan selanjutnya, metode ilmiah tidak hanya
IPA sebagai produk dan proses. Science is both of knowledge and a process (Trowbridge and Sund, 1973:2)

berlaku bagi IPA tetapi juga berlaku untuk bidang ilmu lainnya. Hal yang membedakan metode ilmiah dalam IPA dengan ilmu lainnya adalah cakupan dan proses perolehannya.

Secara umum, kegiatan dalam IPA berhubungan dengan eksperimen. Namun dalam hal-hal tertentu, konsep IPA adalah hasil tanggapan pikiran manusia atas gejala yang terjadi di

alam. Seorang ahli IPA (ilmuwan) dapat memberikan sumbangan besar kepada IPA tanpa harus melakukan sendiri suatu percobaan, tanpa membuat suatu alat atau tanpa melakukan observasi.

a. IPA sebagai Metode Khusus

Metode khusus yang dimaksud merupakan langkah-langkah
IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus (Nokes, 1941).

seorang

ilmuwan

dalam

memperoleh

pengetahuan.

Pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan gejala-gejala alam. Pengetahuan berupa teori yang diperoleh melalui hasil perhitungan atau pemikiran tidak akan bertahan kalau tidak sesuai dengan hasil observasi, sehingga suatu teori tidak dapat berdiri sendiri. Teori selalu didasari oleh hasil pengamatan.

Planet Neptunus tidak akan dapat ditemukan secara teoritis jika sebelumnya tidak ada pengamatan yang menyaksikan suatu keanehan dalam lintasan planet lainya. Atau dapat dikatakan bahwa Planet Neptunus tidak ditemukan berdasarkan hasil observasi melainkan melalui perhitunganperhitungan

Demikian halnya dengan pembuktian teori Einstein yang secara ekperimental tidak dilakukan oleh Einstein.
Gambar 1.1 Albert Einstein (1879-1955) http://bit.ly/5oGQfz

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

4

b. IPA sebagai Metode Ilmiah

Jika IPA merupakan suatu jenis pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara yang khusus, maka cara tersebut dapat berupa observasi, eksperimentasi, pengambilan kesimpulan, pembentukan teori, observasi dan seterusnya. Cara yang demikian ini dikenal dengan metode ilmiah (scientific method).

2. KARAKTERISTIK IPA
IPA disiplin ilmu memiliki ciri-ciri sebagaimana disiplin ilmu lainnya. Setiap disiplin ilmu selain mempunyai ciri umum, juga mempunyai ciri khusus/karakteristik. Adapun ciri umum dari suatu ilmu pengetahuan adalah merupakan himpunan fakta serta aturan yang yang menyatakan hubungan antara satu dengan lainnya. Fakta-fakta tersebut disusun secara sistematis serta dinyatakan dengan bahasa yang tepat dan pasti sehingga mudah dicari kembali dan dimengerti untuk komunikasi (Prawirohartono, 1989: 93).

Ciri-ciri khusus tersebut dipaparkan berikut ini.

a. IPA mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat dibuktikan lagi oleh semua orang dengan menggunakan metode ilmiah dan prosedur seperti yang dilakukan terdahulu oleh penemunya. Contoh : nilai ilmiah ”perubahan kimia” pada lilin yang dibakar. Artinya perubahan benda yang kimia,

mengalami

mengakibatkan benda hasil perubahan sudah tidak dapat dikembalikan ke sifat benda sebelum mengalami perubahan atau tidak dapat dikembalikan ke sifat semula.
Gambar 1.2 Perubahan kimia: lilin yang dibakar http://51-374.blogspot.com/2009/04/stanza-lilinkecil.html

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

5

b. IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

c. IPA merupakan pengetahuan teoritis. Teori IPA diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,

eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain

d. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan. Dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut (Depdiknas, 2006).

e. IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap. Produk dapat berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.

Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

6

Kegiatan 1.1 (1):

Anda telah membaca dan mempelajari dengan baik, 5 karakteristik IPA. Cobalah jelaskan kembali ke 5 karakteristik IPA tersebut!

1. IPA mempunyai nilai ilmiah:

…………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………..
2. IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis

…………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………..
3. IPA merupakan pengetahuan teoritis

…………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………..
4. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan

…………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………..
5. IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap

…………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………….. 3. Karakteristik Belajar IPA

Berdasarkan karakteristiknya, IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pemahaman tentang karakteristik IPA ini berdampak pada proses belajar IPA di sekolah.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

7

Sesuai dengan karakteristik IPA, IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan karakteristik IPA pula, cakupan IPA yang dipelajari di sekolah tidak hanya berupa kumpulan fakta tetapi juga proses perolehan fakta yang didasarkan pada kemampuan menggunakan pengetahuan dasar IPA untuk memprediksi atau menjelaskan berbagai fenomena yang berbeda. Cakupan dan proses belajar IPA di sekolah memiliki karakteristik tersendiri.

Uraian karakteristik belajar IPA dapat diuraikan sebagi berikut.

a. Proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indera, seluruh proses berpikir, dan berbagai macam gerakan otot.

Contoh : untuk mempelajari pemuaian pada benda, kita perlu melakukan serangkaian kegiatan yang melibatkan indera penglihat untuk mengamati perubahan ukuran benda (panjang, luas, atau volume), melibatkan gerakan otot untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dengan benda yang diukur dan cara pengukuran yang benar, agar diperoleh data pengukuran kuantitatif yang akurat.

b. Belajar IPA dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik). Misalnya, observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.

c. Belajar IPA memerlukan berbagai macam alat, terutama untuk membantu pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemampuan alat indera manusia itu sangat terbatas. Selain itu, ada hal-hal tertentu bila data yang kita peroleh hanya berdasarkan pengamatan dengan indera, akan memberikan hasil yang kurang obyektif, sementara itu IPA mengutamakan obyektivitas.
Gambar 1.3 Termometer
http://fakhrul92.wordpress.com/200 9/03/10/termometer/

Contoh : pengamatan untuk mengukur suhu benda diperlukan alat bantu pengukur suhu yaitu termometer.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

8

d. Belajar IPA seringkali melibatkan kegiatan-kegiatan temu ilmiah (misal seminar, konferensi atau simposium), studi kepustakaan, mengunjungi suatu objek, penyusunan hipotesis, dan yang lainnya. Kegiatan tersebut kita lakukan semata-mata dalam rangka untuk memperoleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar obyektif.

Contoh : sebuah temuan ilmiah baru untuk memperoleh pengakuan kebenaran, maka temuan tersebut harus dibawa ke persidangan ilmiah lokal, regional, nasional, atau bahkan sampai tingkat internasional untuk dikomunikasikan dan dipertahankan dengan menghadirkan ahlinya.

e. Belajar IPA merupakan proses aktif. Belajar IPA merupakan sesuatu yang harus siswa lakukan, bukan sesuatu yang dilakukan untuk siswa. Dalam belajar IPA, siswa mengamati obyek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, memperoleh pengetahuan, menyusun penjelasan tentang gejala alam, menguji penjelasan tersebut dengan caracara yang berbeda, dan mengkomunikasikan gagasannya pada pihak lain.

Keaktifan secara fisik saja tidak cukup untuk belajar
Keaktifan dalam belajar IPA terletak pada dua segi, yaitu aktif bertindak secara fisik atau hands-on dan aktif berpikir atau mindson (NRC, 1996:20)

IPA, siswa juga harus memperoleh pengalaman berpikir melalui kebiasaan berpikir dalam belajar IPA. Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA

menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

9

Kegiatan 1.1 (2):

Karakteristik belajar manakah yang Anda gunakan ketika Anda belajar fenomena gerak jatuh bebas? Mengapa demikian? ……………………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………………….

KESIMPULAN
Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hal ini dikuatkan dalam kurikulum IPA yang menganjurkan bahwa pembelajaran IPA di sekolah melibatkan siswa dalam penyelidikan yang berorientasi inkuiri, dengan interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. Melalui kegiatan penyelidikan, siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan ilmiah yang ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan materi IPA untuk mengajukan pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya dalam pemecahan masalah, perencanaan, membuat keputusan, diskusi kelompok, dan siswa memperoleh asesmen yang konsisten dengan suatu pendekatan aktif untuk belajar.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

10

Dengan demikian, pembelajaran IPA di sekolah yang berpusat pada siswa dan menekankan pentingnya belajar aktif berarti mengubah persepsi tentang guru yang selalu memberikan informasi dan menjadi sumber pengetahuan bagi siswa (NRC, 1996:20). Ditinjau dari isi dan pendekatan kurikulum pendidikan sekolah tingkat pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang berlaku saat ini maupun sebelumnya, pembelajaran di sekolah dititikberatkan pada aktivitas siswa. Dengan cara ini diharapkan pemahaman dan pengetahuan siswa menjadi lebih baik. Kenyataan di lapangan, aktivitas siswa sering diartikan sempit. Bila siswa aktif berkegiatan, walaupun siswa sendiri tidak mengetahui (merasa pasti) untuk apa berbuat sesuatu selama pembelajaran, maka dianggap pembelajaran sudah menerapkan pendekatan yang aktif.

Proses pembelajaran IPA di sekolah menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Hal ini disebabkan karena IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat

diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan pembelajaran IPA ada penekanan pembelajaran Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

11

RANGKUMAN

1. IPA memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan bidang ilmu lain. Karakteristik IPA tersebut yaitu; a. IPA mempunyai nilai ilmiah, artinya kebenaran-kebenaran IPA dapat dibuktikan kembali oleh semua orang dengan melakukan prosedur yang sama seperti yang dilakukan penemunya; b. IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang yang berkaitan dengan gejala-gejala alam; c. IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus yaitu denga melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimen, observasi demikian seterusnya sehingga saling terkait satu sama lain; d. IPA meliputi 4 unsur yaitu proses, produk, aplikasi, dan sikap.

2. Karakteristik belajar IPA meliputi: a. hampir semua indera, seluruh proses berpikir, dan berbagai gerakan otot; b. berbagai teknik (cara), seperti observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi; c. alat bantu pengamatan untuk memperoleh data yang obyektif, sesuai sifat IPA yang mengutamakan obyektivitas; d. kegiatan temu ilmiah, mengunjungi objek, studi pustaka, dan penyusunan hipotesis untuk mempeloleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar obyektif, dan e. proses aktif, artinya belajar IPA merupakan suatu yang harus dilakukan siswa, bukan suatu yang dilakukan untuk siswa.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

12

TES FORMATIF

Dalam tes formatif ini terdiri dari 2 bagian, yaitu:

Soal-soal pada nomer 1 sampai dengan 3 adalah soal untuk mengukur kompetensi Anda dalam memahami materi. Untuk soal nomer 4 dan 5 merupakan soal yang akan membutuhkan analisa Anda dari teori yang telah dipelajari.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberikan uraian secara runtut dan jelas! 1. Jelaskan secara runtut mengapa IPA dikatakan mempunyai nilai ilmiah? 2. Jelaskan karakteristik IPA! 3. Jelaskan 5 (lima) karakteristik Pembelajaran IPA dan berikanlah contoh masing-masing! 4. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang agar temuannya di bidang IPA mempunyai nilai obyektivitas yang tinggi?.Jelaskan! 5. Mengapa pengukuran panjang benda dengan menggunakan alat ukur jengkal tidak obyektif? Jelaskan!

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

13

UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban sub-Unit 1.1 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi sub-Unit 1.1.

Rumus: Skor jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = Penentuan Skor X 100% Skor total (25) : Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor berbeda. Jika jawaban benar, setiap butir soal diberi skor 5.

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai : 90 – 100% = baik sekali 80 - 89% 70 – 79% < 70% = baik = cukup = kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan dengan Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda!

Tetapi apabila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi sub-Unit 1.1 terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

14

LEMBAR DISKUSI MAHASISWA
Petujuk Umum:

1. Amati simulasi fenomena pemuaian dan gelombang Pengembangan Pembelajaran IPA SD yang disediakan!

pada website matakuliah

2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini melalui diskusi kelompok!

Pertanyaan 1. Ketika anda melihat tayangan proses ”pemuaian atau gelombang”, aktivitas-aktivitas mental dan fisik apa yang anda alami?. Sebutkan! 2. Cobalah anda cari alternatif lain untuk dapat menunjukkan perubahan panjang batang logam yang dipanaskan seperti pada fenomena yang ditampilkan pada website? Mengapa anda memilih alternatif demikian?, Jelaskan! 3. Berdasarkan pemahaman anda terhadap karakteristik IPA, apakah materi tayangan tersebut menunjukkan karakteristik IPA? Jika ya, apa alasan anda?

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

15

SUB UNIT 1.2

KEDUDUKAN IPA SEBAGAI PROSES, PRODUK DAN SIKAP ILMIAH

PENDAHULUAN

Sudah siapkah Anda memulai pembelajaran pada Unit 1.2 ini?

Tentu Anda sudah pernah menghadiri acara seminar. Dan bila Anda amati dengan seksama, banyak pembicara dalam seminar yang menyajikan hasil laporan dari penelitian maupun pengamatan yang dilakukannya. Tujuannya adalah untuk mendapat pengakuan ilmiah dan juga membagi informasi.

Nah... Saudara mahasiswa sekalian, keinginan untuk menyampaikan hasil temuan dalam seminar tersebut adalah merupakan salah satu kedudukan IPA sebagai ”sikap ilmiah”.

Untuk itu, setelah kita memahami konsep dan karakteristik IPA, pada pada Unit 1.1, maka selanjutnya kita akan membahas kedudukan IPA sebagai proses, produksi dan juga sikap ilmiah.

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1.2 ini, adalah Anda dapat: membedakan 3 kedudukan IPA sebagai proses, produk dan sikap ilmiah, dan menjelaskan keterampilan masing-masing dari kedudukan IPA sebagai proses produk, dan sikap ilmiah.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

16

1. IPA SEBAGAI PROSES
Mari kita telusuri materi kajian IPA sebagai proses dari sajian berikut ini. IPA sebagai proses mengandung pengertian cara berpikir dan bertindak untuk menghadapi atau merespons masalah-masalah yang ada di lingkungan. Jadi, IPA sebagai proses menyangkut proses atau cara kerja untuk memperoleh hasil (produk) inilah yang kemudian dikenal sebagai proses ilmiah. Melalui proses-proses ilmiah akan didapatkan temuan-temuan ilmiah.

Perwujudan proses-proses ilmiah ini berupa kegiatan ilmiah yang disebut sebagai inkuiri/penyelidikan ilmiah.

Sejumlah proses IPA yang dikembangkan para
Secara sederhana Nyoman (1985-1986: 8) mendefinisikan inkuiri ilmiah sebagai usaha mencari pengetahuan dan kebenaran.

ilmuwan

dalam

mencari

pengetahuan

dan

kebenaran ilmiah itulah yang kemudian disebut sebagai keterampilan proses IPA.

Iskandar (1997:5) mengartikan keterampilan proses IPA adalah keterampilan yang

dilakukan oleh para ilmuwan.

Ditinjau dari tingkat kerumitan dalam penggunaannya, keterampilan proses IPA dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu keterampilan: Proses Dasar (Basic Skills) dan Keterampilan Proses Terintegrasi (Integrated Skills) (Moejiono dan Dimyati, 1992:16).

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

17

a. Proses Dasar

Keterampilan-keterampilan proses dasar menjadi dasar untuk keterampilanketerampilan proses terintegrasi yang lebih kompleks.

Contoh : seseorang untuk dapat menabulasikan data (jenis keterampilan proses

terintegrasi) maka orang tersebut harus memiliki keterampilan

mengukur (jenis keterampilan proses dasar).
Gambar 2.1 Tabulasi data Microsoft Excel http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Dokumentasi/Pand uan/6/Bab7

b. Jenis-jenis Keterampilan Proses dan Pengertiannya

1) Mengamati

Mengamati adalah kegiatan yang melibatkan satu atau lebih alat indera. Pada tahap pengamatan orang hanya mengatakan kejadian yang mereka lihat, dengar, raba, rasa, dan cium.

Pada tahap ini seseorang belajar mengumpulkan petunjuk. Kegiatan inilah yang membedakan antara pengamatan dengan

penarikan kesimpulan atau pengajuan pendapat.

Contoh : merasakan air gula, meraba permukaan daun, mendengarkan bunyi dari

dawai yang dipetik, mengamati daur air, mencium bau tape.
Gambar 2.2 Mengatur nada dawai gitar http://www.kaskus.us/showthread.php?p=206 232919

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

18

Hasil dari pengamatan ini disebut fakta. Pengamatan dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengamatan kualitatif terjadi apabila pelaksanaan pengamatan hanya menggunakan pancaindera dalam rangka untuk memperoleh informasi. Pengamatan kuantitatif terjadi manakala dalam pelaksanaannya selain menggunakan pancaindera juga menggunakan peralatan lain yang memberikan informasi khusus dan tepat.

2) Menggolongkan/Mengklasifikasi

Menggolongkan adalah

memilah

berbagai

obyek

dan/atau peristiwa

berdasarkan persamaan sifat khususnya, sehingga diperoleh kelompok sejenis dari obyek atau peristiwa yang dimaksud.

Dua hal penting yang perlu dicermati dalam mengembangkan keterampilan mengklasifikasi adalah: kegiatan menghimpun hasil pengamatan dan menyajikan dalam bentuk tabel hasil pengamatan, dan kegiatan memilah hasil pengamatan sesuai sifat khusus yang dimiliki oleh obyek dan/atau peristiwa serta menyajikannya dalam tabel klasifikasi atau penggolongan atau pengelompokan.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

19

Kegiatan 1.2 (1):

Untuk mengetahui pemahaman Anda dalam pengembangan keterampilan proses mengklasifikasi, cobalah Anda lakukan kegiatan mengumpulkan daun dari berbagai jenis tumbuhan dengan berbagai bentuk tulang daun yang dimiliki. Amati bentuk tulang daun dari berbagai jenis tumbuhan amatan dan kelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan bentuk tulang daunnya. Masukkan hasil pengamatan Anda ke dalam tabel hasil pengamatan bentukbentuk tulang daun.

Tabel Pengamatan Bentuk Daun
No Nama Tumbuhan Bentuk Tulang Daun
Menyirip Sejajar Menjari Melengkung

Gunakan tabel untuk mempermudah pencatatan data yang Anda peroleh Tabel Hasil Kalrifikasi
No
Menyirip

Bentuk Tulang Daun
Sejajar Menjari Melengkung

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

20

3) Mengukur

Mengukur adalah kegiatan membandingkan benda yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk kegiatan mengukur diperlukan bantuan alat-alat ukur yang sesuai dengan benda yang diukur.

Contoh : mengukur panjang, lebar, tinggi almari dengan menggunakan alat ukur panjang yang sesuai yaitu meteran gulung (roll meter), bukan menggunakan penggaris plastik.

Gambar 2.3 Alat Ukur Gulung http://smanpangkalan.blogspot.com/2009/07/pengukuran.html

Hal penting yang perlu diperhatikan ketika akan menggunakan alat ukur adalah: cara menggunakan alat ukur, kapasitas maksimal alat ukur, dan nilai skala alat ukur.

Kesalahan dalam cara menggunakan alat ukur tertentu dapat menimbulkan kecelakaan kerja.

4) Mengkomunikasikan

Mengkomunikasikan adalah kegiatan menyampaikan perolehan fakta, konsep dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk audio, visual, dan/atau audio visual. Cara-cara komunikasi yang sering digunakan dalam ilmu pengetahuan selain dengan bahasa tulis maupun lisan adalah melalui sajian bentuk grafik, tabel, gambar, bagan, simbol/lambang, persamaan matematika.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

21

Contoh : mempresentasikan hasil pengamatan, membuat laporan penyelidikan,

membacakan peta dan yang lainnya.

Gambar 2.4 Mempresentasi hasil pengamatan http://kingandam.wordpress.com/2007/12 /24/persiapan-presentasi/

5) Menginterpretasi Data

Menginterpretasi adalah memberi makna pada data yang diperoleh dari pengamatan karena data tidak berarti apa-apa sebelum diartikan. Menginterpretasi berarti memberi arti/makna, misal: mengartikan tabel data, mengartikan grafik data. Menginterpretasi juga diartikan menduga dengan pasti sesuatu yang tersembunyi dibalik fakta yang teramati.

Contoh

:

Berikut ini tabel data pengukuran suhu pada pemanasan 500 cc (500 ml) air selama 15 menit, dengan frekuensi pengukuran setiap 3 menit.

Tabel 1.2.1 Hasil Pengukuran Suhu pada Pemanasan Air

No 1 2 3 4 5 6

Frekuensi pengukuran 0 menit 3 menit ke 1 3 menit ke-2 3 menit ke-3 3 menit ke-4 3 menit ke-5

Suhu 280C 42,50C 570C 730C 85,50C 97,50C mendidih

Apa yang dapat Anda simpulkan dari tabel di atas?

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

22

Tabel tersebut dapat diinterpretasi dari sudut pandang tertentu, misal interpretasi terhadap terjadinya kenaikan suhu selama menit-menit pemanasan. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa: sampai pada menit ke-6 pemanasan kenaikan suhu setiap 3 menit masih konstan, yaitu sebesar 14,50C, dan kenaikan suhu sesudah 6 menit pemanasan menjadi tidak teratur lagi.

Oleh karena banyaknya kalor dalam suatu zat menentukan suhu zat itu, maka kemungkinan penyebab kenaikan suhu air menjadi tidak konstan adalah faktor pemanasan yang tidak konstan juga, sehingga mengakibatkan kalor yang diserap air pada pemanasan tersebut juga tidak konstan. Karena banyaknya kalor yang diserap tidak konstan, maka kenaikan suhu juga tidak konstan.

6) Memprediksi

Memprediksi ialah menduga sesuatu yang akan terjadi berdasarkan pola-pola peristiwa atau fakta yang sudah terjadi. Prediksi biasanya dibuat dengan cara mengenal kesamaan dari hasil berdasarkan pada pengetahuan yang sudah ada, mengenal bagaimana kebiasaan terjadinya suatu peristiwa berdasarkan pola kecenderungan.

Prediksi berkaitan erat dengan: observasi, klasifikasi, dan penarikan kesimpulan.

Prediksi didasarkan pada observasi yang seksama dan penarikan kesimpulan yang sahih mengenai hubungan antara peristiwa-peristiwa yang diobservasi. Sejumlah kemampuan yang tercakup dan mendukung keterampilan memprediksi yaitu mengantisipasi berdasarkan kecenderungan, mengantisipasi berdasarkan pola, dan mengantisipasi berdasarkan hubungan antara data atau informasi.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

23

7) Menggunakan Alat

Menggunakan alat adalah kegiatan merangkai dan menggunakan alat-alat untuk kegiatan pengujian atau kegiatan percobaan/eksperimen.

8) Melakukan Percobaan

Melakukan percobaan adalah keterampilan untuk mengadakan pengujian terhadap ide-ide yang bersumber dari fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan sehingga dapat diperoleh informasi yang menerima atau menolak ide-ide itu.

9) Menyimpulkan

Menyimpulkan adalah keterampilan memutuskan keadaan suatu objek berdasarkan fakta, konsep, prinsip yang diketahui.

c. Jenis-jenis Keterampilan Proses IPA Terintegrasi dan Pengertiannya

1) Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan salah satu tahapan dari suatu kegiatan penyelidikan ilmiah, setelah masalah yang akan diteliti ditetapkan. Suatu masalah perlu dirumuskan agar jelas variabel-variabelnya dan jenis data yang perlu dikumpulkan. Masalah tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa sehingga hanya dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan di dunia ini.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

24

Rumusan tersebut yang kemudian disebut sebagai rumusan masalah (Arif, 1982: 28). Untuk itu dalam rumusan masalah harus secara tegas menunjukkan jenis variabelnya.

Contoh

: Bagaimanakah hubungan antara penerapan pendekatan siklus belajar dengan kemampuan siswa mengaplikasi konsep dalam pembelajaran IPA di kelas V, SD Kartika Kota Malang?

2) Mengidentifikasi Variabel

Mengidentifikasi variabel merupakan suatu kegiatan menentukan jenis variabel dalam suatu penelitian. Arikunto, (1993: 91) mengartikan variabel adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.

3) Mendeskripsikan Hubungan Antar Variabel

Mendeskripsikan hubungan antar variabel perlu dilakukan karena deskripsi tersebut dapat memperjelas tentang bagaimana penelitian dilaksanakan, dan data apa yang harus dikumpulkan.

Perhatikan rumusan masalah berikut. Bagaimanakah hubungan antara penerapan pendekatan siklus belajar dengan kemampuan siswa mengaplikasi konsep dalam pembelajaran IPA di kelas V SD Kartika Kota Malang?

Hubungan antar variabelnya dapat dideskripsikan sebagai variabel bebas yaitu penerapan pendekatan siklus belajar ini mempengaruhi kemampuan mengaplikasi konsep. Jadi pendekatan siklus belajar merupakan tindakan penyelesaian masalah, sedangkan kemampuan mengaplikasi konsep merupakan akibat dari penerapan pendekatan siklus belajar.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

25

4) Mengendalikan Variabel

Mengendalikan variabel merupakan kegiatan menentukan atau mengatur variasi/macam-macam suatu variabel bebas penelitian.

Contoh dari suatu rumusan masalah penelitian yang menyatakan: Bagaimanakah peranan jumlah tetes yodium terhadap perubahan warna pada uji amilum tepung terigu?

Dari rumusan masalah tersebut, dapat diinformasikan bahwa dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah jumlah tetes yodium yang diberikan pada tepung terigu Cakra.

Jumlah tetes jodium tersebut dikendalikan dengan cara mengatur pemberian jumlah tetes jodium yang berbeda-beda pada tepung untuk diketahui: apakah perubahan warnanya juga berbeda?

Untuk menguatkan kebenaran pengaruh perubahan warna yang berbeda-beda pada tepung diakibatkan oleh variasi jumlah tetesan yodium yang diberikan, diperlukan pengontrol. Kontrol yang digunakan adalah pemberian tetes yodium sama banyak pada tepung terigu yang sama

5) Mendefinisikan Variabel Secara Operasional

Definisi secara operasional variabel adalah memberikan penjelasan secara operasional terhadap variabel penyelidikan agar jelas bagaimana kedudukan dan penggunaan variabel dalam penyelidikan. Contoh judul penyelidikan “Peranan Ketinggian Benda Terhadap Waktu Jatuh Benda di Permukaan Tanah” (materi diambil dari KD IPA SD/MI kelas V semester II tentang gerak karena gaya gravitasi).
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

26

Definisi operasional variabel dari penyelidikan ini adalah sebagai berikut ini.

Tabel 1.2.2

Operasional Terhadap Variabel Penyelidikan

Penyelidikan dilakukan dengan menjatuhkan Variabel bebas: ketinggian benda (h) dari permukaan tanah yang berbeda-beda. benda yang massanya sama secara bergantian dan tegak lurus dari bermacam-macam ketinggian, misal: 1m, 2m, 3m dari permukaan tanah, untuk mengetahui apakah waktu jatuh dari ketinggian yang berbeda sama atau berbeda?

Variabel kontrol: ketinggian benda (h) yang sama.

Penyelidikan dilakukan dengan menjatuhkan benda yang massanya sama dari ketinggian yang sama pula, untuk mengetahui apakah waktu jatuh kedua benda tersebut juga sama?

Variabel terikat: waktu jatuh benda (dicatat pada tabel pencatat data).

Yang dicatat semua hasil/data penyelidikan baik dari variabel bebas maupun variabel kontrol.

6) Memperoleh dan Menyajikan Data

Data yang diperoleh dari percobaan/penyelidikan dicatat, kemudian disusun secara sistematis. Selanjutnya data tersebut disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan atau/ gambar disesuaikan dengan jenis datanya. Contoh tabel data untuk percobaan yang dicontohkan di atas adalah disajikan di bawah ini.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

27

Tabel 1.2.3 Data Peranan Ketinggian Benda Terhadap Waktu Jatuh Benda No 1 2 3 4 Tinggi tempat (h) dalam meter 1 2 3 1 (kontrol) Waktu jatuh (t) dalam detik ……. ……. ……. …….

7) Menganalisis Data

Data percobaan yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk sajian data yang sesuai dengan jenisnya, selanjutnya perlu dianalisis dulu sebelum ditarik kesimpulannya. Kegiatan menganalisis data diartikan sebagai menginterpretasi data, selanjutnya hasil interpretasi data dibandingkan dan diintegrasikan dengan teori yang relevan dengan masalah penyelidikan, dan/atau dibandingkan dan diintegrasikan dengan temuan penelitian lain yang relevan

8) Merumuskan Hipotesis Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara dari peneliti terhadap permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis

dirumuskan berdasarkan hasil kajian teori yang relevan. Contoh : jika masalahnya dirumuskan sebagai “Apakah ketinggian

benda menentukan waktu jatuh benda?”. Maka hipotesis dari rumusan masalah tersebut adalah “Waktu jatuh benda diduga atau kemungkinan ditentukan oleh ketinggian kedudukan benda yang jatuh”. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya melalui

percobaan/penyelidikan.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

28

9) Merancang Penelitian

Merancang penelitian merupakan keterampilan proses yang terdri dari urutan berbagai keterampilan proses. Keterampilan proses merancang penelitian dapat dikembangkan di SD/MI diawali di kelas tinggi (IV, V, dan VI).

Secara berurutan kegiatan merancang penelitian minimal terdiri atas prosesproses IPA: membuat pertanyaan-pertanyaan (merumuskan masalah) dari sebuah topik pembelajaran yang sesuai untuk didekati melalui penyelidikan, merumuskan hipotesis, memilih alat dan bahan dan merancang cara kerja percobaaan untuk menguji hipotesis yang difasilitasi oleh guru, memperkirakan hasil yang diharapkan dari masalah yang akan dipecahkan, dan membuat format pencatat data untuk mengumpulkan data.

10) Melakukan Penyelidikan/Percobaan

Keterampilan proses melakukan percobaan yang dapat dikembangkan di SD/MI dalam mata pelajaran IPA adalah percobaan-percobaan sederhana yang dilakukan di SD/MI adalah untuk membangun konsep-konsep, dan/atau prinsip-prinsip dasar IPA, bukan membangun teori baru, atau menerapkan teori. Contoh : melakukan percobaan berdasarkan rancangan penyelidikan yang telah dibuat atau melakukan percobaan atau penyelidikan berdasarkan rancangan cara kerja percobaan yang telah dirancang guru, untuk membangun konsep dasar IPA yang dipelajari.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

29

2. IPA SEBAGAI PRODUK
Produk IPA adalah sekumpulan hasil kegiatan empirik dan kegiatan analitik yang dilakukan oleh para ilmuwan selama berabad-abad. Produk IPA yang disebut istilah adalah sebutan, simbol atau nama dari benda-benda dan gejala-gejala alam, orang, tempat. Contoh: malaria (sebutan),
Pudyo (1991: 2) menyebutkan bentukbentuk produk IPA meliputi istilah, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur

lamda (simbol untuk panjang gelombang), matahari (nama benda), angin puting beliung (gejala alam), Newton (nama orang), Galapagos (nama tempat).

Iskandar (1997: 3) menyatakan bahwa fakta adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif.

Sementara itu Susanto (1991: 3) mengartikan fakta sebagai ungkapan tentang sifatsifat suatu benda, tempat, atau waktu adanya atau terjadinya suatu benda atau kejadian. Sifat yang dimaksud dapat berupa wujud, bentuk, bangun, ukuran, warna, bau, rasa dan yang lainnya.

Contoh: fakta mengenai sifat: air jeruk rasanya asam. fakta mengenai waktu: Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. fakta mengenai tempat: Ujung Kulon (tempat suaka badak bercula satu) fakta mengenai orang: Mukibat (adalah orang Indonesia penemu teknik menyambung singkong).

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

30

Konsep dapat diartikan dari beberapa tinjauan.

Susanto (1990/1991: 3) mengartikan konsep dari berbagai sudut pandang: konsep dapat merupakan istilah yang sudah diberi makna khusus, konsep dapat merupakan penjelasan tentang ciri-ciri khusus dari sekelompok benda, gejala, atau kejadian, atau penjelasan tentang ciri-ciri utama untuk mengklasifikasikan atau mengkategorikan sekelompok benda atau kejadian.

Sedangkan Iskandar (1997:3) mengartikan ”konsep IPA adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA”.

Jadi konsep merupakan hubungan antara fakta-fakta yang memang berhubungan.

Contoh: 1) Konsep merupakan istilah yang diberi makna khusus:

Gerhana adalah istilah, tetapi jika gerhana tersebut diberi makna khusus menjadi sebuah konsep tentang gerhana. Makna khusus yang dimaksud adalah Gerhana adalah peristiwa alam terhalangnya cahaya sampai ke bumi.

Gambar 2.5 Gerhana matahari http://persembahanku.wordpress.com/2006/09/14/gerhana-satelit/

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

31

2) Konsep yang merupakan penjelasan ciri-ciri khusus dari sekelompok benda:

Konsep tentang zat cair (kelompok benda-benda seperti air, minyak, alkohol, bensin, spiritus) adalah zat yang mempunyai ciri-ciri bentuk selalu berubah sesuai bentuk wadah/tempat yang ditempatinya, volume dan beratnya selalu tetap, dapat mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah, tidak dapat dimampatkan.

3) Konsep yang merupakan hubungan antara fakta-fakta, yaitu konsep bunyi.

Fakta-fakta yang berhubungan misalnya: gong dipukul bergetar menghasilkan bunyi, dawai gitar dipetik bergetar menghasilkan bunyi, kaleng dipukul bunyi, terompet bergetar ditiup menghasilkan membrannya
Gambar 2.6 Memuku gong http://hlasrinkosgorobogor.wordpress.com/categ ory/kosgoro-in-action/

bergetar menghasilkan bunyi dan fakta yang lainnya.

Fakta-fakta tersebut berhubungan dalam hal benda yang bergetar-menghasilkan bunyi. Dari fakta-fakta yang berhubungan ini dibuatlah konsep”bunyi” sebagai ”bunyi adalah sesuatu yang dihasilkan dari getaran suatu benda”.

Contoh prinsip dalam IPA:
Prinsip diartikan sebagai generalisasi tentang hubungan antara konsep-konsep (Iskandar, 1997: 3).

Semua benda dipanaskan mengalami kenaikan suhu.

Prinsip tersebut menghubungkan konsep-konsep benda, pemanasan, suhu. Prinsip ini dibangun melalui berpikir analitik, sebab merupakan generalisasi induktif yang ditarik dari beberapa fakta.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

32

Bersifat tentatif karena prinsip sewaktu-waktu dapat berubah jika observasi baru dilakukan menghasilkan hal baru. Para ilmuwan mengatakan bahwa prinsip merupakan deskripsi yang paling tepat tentang obyek atau kejadian/fenomena.

Dalam IPA prinsip dapat berupa hipotesis, teori atau hukum.

Contoh: Hukum Mendel, hukum Newton.

Kegiatan 1.2 (2): 1. Coba sebutkan pernyataan Hukum III Newton! ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… 2. Mengapa Hukum Newton tersebut disebut prinsip IPA? ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………… …………………………………………………………………………

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

33

Produk dalam IPA dapat berupa prosedur. Prosedur diartikan sebagai “langkahlangkah dari suatu rangkaian kejadian, suatu proses, atau suatu kerja” (Susanto,1991: 4). Contoh prosedur: Prosedur kerja generator pembangkit listrik Prosedur fotositesis Proses terjadinya angin Proses fermentasi alkohol

3. IPA SEBAGAI SIKAP ILMIAH
Sikap ilmiah adalah sikap tertentu yang diambil dan dikembangkan oleh ilmuwan untuk mencapai hasil yang diharapkan (Iskandar, 1996/1997: 11).

Sikap-sikap ilmiah meliputi:

a. Obyektif terhadap fakta Obyektif artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang. Contoh : Seorang peneliti menemukan bukti pengukuran volume benda 0,0034 m3, maka ia harus mengatakan juga 0,0034m3, padahal seharusnya 0,005m3.

b. Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu. Contoh : Ketika seorang ilmuwan menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung kesimpulan tersebut.
Gambar 2.7 Burung berparih panjang http://faunakaltim.wordpress.com/2008/0 5/31/enggang-burung-besar-bercula/

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

34

c. Berhati terbuka artinya bersedia menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak ragu menolak temuannya sendiri.

d. Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat.

Contoh

: tinggi batang kacang tanah di pot A pada umur lima (5) hari 2 cm, yang di pot B umur lima hari tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta.

e. Bersikap hati-hati. Sikap hati-hati ini ditunjukkan oleh ilmuwan dalam bentuk cara kerja yang didasarkan pada sikap penuh pertimbangan, tidak ceroboh, selalu bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya sikap tidak cepat mengambil kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan fakta-fakta pendukung yang benar-benar akurat.

f. Sikap ingin menyelidiki atau keingintahuan (couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuwan hal yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki.

Contoh

: Orang menganggap hal yang biasa ketika melihat benda-benda jatuh, tetapi tidak biasa bagi seorang Issac Newton pada waktu itu. Beliau berpikir keras mengapa buah apel jatuh ketika dia sedang duduk istirahat di bawah pohon tersebut. Pemikiran ini ditindaklanjuti dengan menyelidiki selama bertahun-tahun sehingga akhirnya ditemukannya hukum Gravitasi.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

35

KESIMPULAN

1. Kedudukan IPA pada dimensi proses ditunjukkan oleh sejumlah keterampilan proses IPA dasar dan terintegrasi. Keterampilan proses IPA diartikan sebagai keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Dalam proses IPA terkandung cara kerja dan cara berpikir untuk kemajuan IPA itu sendiri.

2. Proses-proses IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA dasar adalah: mengamati, mengukur, mengklasifikasi, menginterpretasi, memprediksi, mengkomunikasikan hasil, menggunakan alat, menarik kesimpulan.

3. Proses-proses IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA terintegrasi adalah: merumuskan masalah penelitian/percobaan, mengidentifikasi dan mendeskripsikan variabel, mendeskripsikan hubungaan antar variabel, mengendalikan dan kemungkinan mengontrol variabel, mendefinisikan variabel secara operasional, memperoleh dan menyajikan data, mengolah data, menyusun hipotesis, merancang penelitian/penyelidikan, melakukan penelitian/penyelidikan.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

36

4. Pada tataran penerapan, keterampilan proses dasar lebih sederhana dibanding dengan penerapan keterampilan proses terintegrasi yang lebih kompleks. Penerapan

keterampilan proses terintegrasi lebih rumit

karena memerlukan penggunaan

keterampilan proses yang lain. Keterampilan proses dasar merupakan modal dasar untuk dapat mengembangkan keterampilan proses terintegrasi.

5. Kedudukan IPA pada dimensi produk mengkaji produk-produk IPA yang diperoleh dari kegiatan serangkaian proses-proses IPA. Produk-produk IPA meliputi: istilah, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur (urutan proses dari suatu kejadian/fenomena alam).

6. Kedudukan IPA pada dimensi sikap: dipahami sebagai sikap-sikap yang diperlukan oleh para ilmuwan dalam melakukan proses-proses ilmiah. Sikap-sikap ilmiah meliputi: obyektif terhadap fakta, tidak cepat mengambil kesimpulan jika data yang mendukung belum kuat/lengkap, berhati terbuka, berhati-hati, tidak mencampur adukkan fakta dengan pendapat, ingin menyelidiki

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

37

TES FORMATIF

Dalam tes formatif ini terdiri dari 2 bagian, yaitu:

Soal-soal pada nomer 1 sampai dengan 3 adalah soal untuk mengukur kompetensi Anda dalam memahami materi. Untuk soal nomer 4 dan 5 merupakan soal yang akan membutuhkan analisa Anda dari teori yang telah dipelajari.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberikan uraian secara runtut dan jelas! 1. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan hakikat IPA sebagai proses, produk dan sikap ilmiah? 2. Menurut Moejiono dan Dimyati (1992:16), salah satu keterampilan IPA sebagai proses adalah keterampilan proses terintegrasi. Sebutkan dan jelaskanlah yang termasuk dalam proses terintegrasi! 3. Terdapat 3 (tiga) konsep keterampilan IPA sebagai produk. Sebutkanlah dan berikan contoh dari masing-masing konsep! 4. Identifikasikan keterampilan proses IPA terintegrasi dari sebuah judul percobaan sederhana berbunyi “Pertumbuhan Tanaman Jagung Ditinjau Dari Jenis Tekstur Tanah”. Berdasarkan judul tersebut jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini! a. Buatlah tiga rumusan masalahnya! b. Identifikasikan jenis variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrolnya! c. Deskripsikan masing-masing variabel dengan jelas! d. Definisikan secara operasional masing-masing variabel hasil identifikasi Anda! 5. Identifikasikan fakta-fakta dari sebuah konsep: pemuaian pada benda padat.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

38

UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban sub-Unit 1.2 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi sub-Unit 1.2.

Rumus: Skor jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = Skor total (25) Penentuan Skor : Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor berbeda. Jika jawaban benar, setiap butir soal diberi skor 5. X 100%

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai : 90 – 100% = baik sekali 80 - 89% 70 – 79% < 70% = baik = cukup = kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan dengan Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda!

Tetapi apabila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi sub-Unit 1.2 terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

39

SUB UNIT 1.3

HAKIKAT PEMBELAJAN IPA

PENDAHULUAN
Tentunya Anda mengenal penjual Es-Krim yang menawarkan dagangannya dengan menggunakan suara atau nada sambil berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing bagi kita, tetapi setelah si penjual Es-Krim sering lewat maka suara atau nada itu dapat mengundang selera Anda atau mengeluarkan air liur. Perubahan ini di dalam hakikat pembelajaran termasuk teori yang mana?

Dalam Unit 1.3 ini Anda akan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut karena Anda akan diajak untuk mengkaji secara cermat dan seksama hal-hal yang berkenaan dengan hakikat pembelajaran, dalam hal IPA. Untuk itu marilah kita baca secara seksama paparan bahan ajar pada bagian ini.

Disamping itu apakah Anda sudah kenal dengan teori-teori belajar? Bagi Anda yang sudah mengenal marilah disegarkan kembali memori terhadap teori-teori tersebut, sedangkan bagi Anda yang belum kenal marilah mengkaji teori-teori belajar tersebut agar memahami apa sebenarnya belajar itu.

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1.3 ini, adalah Anda dapat: menjelaskan pengertian belajar dan pembelajaran IPA menurut teori belajar behavioristik dan konstruktivistik, dan menjelaskan dampak pengertian belajar dan pembelajaran IPA menurut teori behavioristik dan konstruktivistik terhadap pembelajaran IPA.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

40

1. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK
Teori belajar perilaku (behavioristik) merupakan teori belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu: Ivan Pavlov dengan teori classical conditioning, Skinner dengan teori operant conditioning, dan Bandura dengan teori observasional atau teori belajar sosial.

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan belajar melibatkan terbentuknya hubunganSecara umum teori belajar perilaku menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi melalui terkaitnya stimulus-stimulus dan respon-respon menurut prinsip-prinsip mekanistik (Dahar, 1989: 19).

hubungan tertentu antara satu seri stimulus (serangkaian stimulus) dengan respon-respon. Yang dimaksud dengan stimulus adalah penyebab belajar (yaitu lingkungan, sesuatu yang bertindak terhadap organisme yang menyebabkan organisme tersebut memberikan respon-respon (tanggapan).

Para penganut teori perilaku (behaviourist) berpendapat, bahwa sudah cukup bagi siswa untuk megasosiasikan stimulus-stimulus dan respon-respon, dan diberi penguatan bila mereka memberikan respon yang benar. Para penganut teori ini tidak mempersoalkan apa yang terjadi dalam pikiran siswa sebelum dan sesudah respon dibuat. Ahli lain menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil dari tindakan penguatan (reinforcement) (Hergenhahn, 1982 dalam Sutrisno & Kresnadi, 2007: 2-2).

Tingkah laku sebagai padanan behaviour merupakan media yang dapat digunakan untuk menunjukkan suatu struktur telah dipelajari atau tingkah laku merupakan fungsi dari stimulus, pujian atau hukuman (Blackman, 1984 dalam Sutrisno, dkk. 2007: 2). Dalam pembelajaran, stimuli, pujian atau hukuman merupakan kejadian yang dibuat secara sengaja oleh guru. Respons siswa terhadap stimuli diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Jadi, tingkah laku dipandang sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

41

2. PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK
Apa dan bagaimanakah pembelajaran behavioristik itu? (Tentunya Anda masih ingat contoh pada pengantar pembelajaran Unit 1.3 ini).

Pembelajaran behavioristik merupakan bentuk pembelajaran yang menggunakan teori behaviourisme. Artinya bahwa dalam pembelajaran tersebut menekankan pada pemberian stimuli, pujian atau hukuman untuk memperoleh respons siswa sebagai bentuk hasil belajarnya, dan menggunakan lingkungan belajar sebagai bagian penting dari pembelajaran. Sutrisno & Kresnadi, (2007: 2-3) menyatakan bahwa “ciptakan lingkungan yang sesuai, maka Anda akan dapat membangun suatu ’habitat’ yang anda kehendaki”. Dengan demikian ada dua hal penting dalam pembelajaran behavioristik yaitu: materi bahan ajar disusun secara hirarkis (berurutan), dan lingkungan belajar siswa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga mendorong siswa belajar.

Kegiatan 1.3 (1)

Apa saja ciri-ciri dari belajar dan pembelajaran behaviouristik?
…………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

42

Salah satu bentuk realisasi pembelajaran behavioristik adalah seperti yang dikemukakan oleh Gagne yang dikenal dengan sebutan Teori Hierarki Belajar Gagne. Prosedur yang ditempuh adalah yang dimulai dari: menetapkan secara verbal deskripsi operasional sejumlah variabel kemampuan yang diharapkan (sekarang disebut tujuan pembelajaran/sasaran belajar), membuat hipotesis hubungan hirarki antar variabel, menetapkan model hirarki belajar untuk mewujudkan hubungan antar variabel yang dihipotesiskan, dan menetapkan sejumlah tata cara untuk memvalidasi hirarki.

Contoh Penerapan Pembelajaran Behaviouristik Mata Pelajaran : IPA SD Kelas : 4 Langkah-langkah :

1) Menetapkan tujuan mata pelajaran IPA SD Kelas, ada 7 butir tujuan.
Tujuan mata pelajaran ini sama untuk semua tingkatan kelas, sedangkan yang membedakan antar tingkatan kelas adalah adalah tujuan yang dirumuskan dalam SK dan KD (tujuan-tujuan ini tujuan yang dihipotesiskan untuk dicapai siswa). Terdapat dua kemungkinan bagi para siswa dalam pembelajaran dan penguatan mata pelajaran yaitu (1) menguasai, atau (2) tidak menguasai.

2) Menyusun materi bahan ajar yang diduga dapat mewujudkan kompetensi-kompetensi.
Materi bahan ajar tersebut yang tersurat dalam rumusan KD mata pelajaran di semua semester (ganjil dan genap). Contoh : di semester ganjil materi ajar kelas 4 tersusun secara terurut mulai KD 1.1 s.d KD 6.3, di semester genap KD 7.1 s.d KD 11.3.

3) Menyusun urutan belajar.
Dalam tahap ini guru membelajarkan siswa mengikuti hirarki KD-KD dalam kurikulum. Jika misalnya KD 1.1 sudah berhasil diselesaikan dan dikuasai berdasarkan standar yang telah ditetapkan, maka pembelajaran baru boleh dilanjutkan ke KD 1.2, dan seterusnya. Penguatanpenguatan yang diberikan berupa latihan atau tugas. Jika siswa-siswa dapat berhasil menyelesaikan latihan/tugas dengan baik sesuai standar, siswa merasa senang dan mendapat pujian, tetapi manakala belum berhasil siswa diberi kesempatan untuk memperbaiki (ini merupakan hukuman).

4) Menetapkan cara untuk memvalidasi hirarki belajar.
Misal, dengan cara: mengukur hasil belajar dari materi ajar yang disusun secara hirarkis dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang mudah ke yang sulit, dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang dekat ke yang jauh, melalui teknik tes dan non tes yang meliputi domain/ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif merujuk apa yang dipikirkan seseorang; domain afektif (sikap) merujuk kepada apa yang dirasakan seseorang, dan domain psikomotorik (keterampilan) merujuk kepada yang dilakukan seseorang. Hasil belajar dari tiga domain ini terbentuk dan tercermin secara simultan.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

43

Kegiatan 1.3 (2)

Tunjukkan dampak apa yang ditimbulkan dari pengertian belajar dan pembelajaran behaviouristik yang Anda miliki terhadap pembelajaran IPA di SD/MI? …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

3. FILOSOFI TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Teori belajar konstruktivistik dikembangkan dari teori Developmental Piaget. Dalam teori developmental, Piaget mengemukakan empat periode perkembangan intelektual manusia sejak dilahirkan sampai dengan puncak perkembangannya.

Empat periode perkembangan inletektual manusia yang dimaksud yaitu: periode sensori-motor, pra-operasional, konkrit operasional, dan operasional formal (berpikir abstrak) atau hipotetiko-deduktif (Dahar, 1989: 152).
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

44

Masing-masing tahap perkembangan intelektual tersebut akan dipaparkan berikut ini.

a. Periode Sensori Motor (0 - 2 tahun)

Periode sensori motor menempati dua tahun pertama dalam masa kehidupannya. Selama periode ini anak mengatur alamnya didominasi oleh indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Selama periode ini bayi tidak mempunyai konsepsi object permanence.

Contoh : bila suatu benda disembunyikan, ia gagal untuk menemukannya. Pengalaman terus bertambah selama periode ini sampai mendekati akhir periode sensori motor, bayi mulai menyadari bahwa benda yang disembunyikan itu masih ada, dan ia mulai mencarinya sesudah dilihatnya benda itu disembunyikan. Konsep-konsep yang tidak ada pada waktu lahir, antara lain konsep-konsep ruang, waktu, kausalitas, berkembang dan terinkorporasi (terjadi, tergabung) ke dalam pola-pola perilaku anak.

b. Periode Pra-Operasional (2 - 7 tahun)

Rentang umur anak 2 sampai 7 tahun inilah yang disebut oleh Piaget sebagai periode pra-operasional. Dinamakan pra-operasional karena pada rentang umur ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, seperti yang telah dikemukakan terdahulu, seperti menambah, mengurangi dan yang lain-lain.

Ciri-ciri yang dapat dikenali dari periode pra-operasional ini adalah: kemampuan menalar transduktif; berpikir irreversibel (tidak dapat balik); sifat egosentris, dan lebih berpikir statis tentang suatu peristiwa daripada transformasi suatu keadaan ke keadaan lain.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

45

1) Kemampuan Menalar Transduktif

Kemampuan menalar transduktif dimiliki oleh anak pada rentang usia 2-4 tahun yang disebut sebagai subperiode pra-logis. Sub-periode kedua dari periode pra-operasional adalah berada pada rentang usia 4-7 tahun, yang disebut sub-periode intuitif.
Kemampuan menalar transduktif menurut Piaget (Dahar, 1989: 153) mengatakan “penalaran anak bukan deduksi dan bukan pula induksi”.

Pemikiran Piaget ini bergerak dari khusus ke khusus, tanpa menyentuh yang umum. Anak melihat suatu hubungan hal-hal tertentu yang sebenarnya hubungan tersebut tidak ada. Contoh berpikir transduktif tersebut misalnya “saya belum tidur jadi belum sore”.

Dari pernyataan anak tersebut sebenarnya tidak ada hubungan antara belum tidur dengan sore hari, tetapi anak tersebut menghubungkannya berdasarkan pola pikirnya sendiri, bukan hubungan antar dua hal yang khusus dengan umum atau antara umum dengan khusus.

2) Berpikir Irreversibel

Berpikir irreversibel artinya anak tidak mampu memecahkan masalah yang memerlukan berpikir reversibel.

Contohnya sebagai berikut: “Apakah kamu mempunyai saudara?” “Ya” “Siapa namanya?” “Hasan” “Apakah Hasan mempunyai saudara?” ”Tidak”

Jadi dari contoh tersebut secara jelas dapat dipahami bahwa anak belum dapat berpikir balik.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

46

3) Sifat Egosentris

Anak bersifat egosentris. Fenomena berpikir egosentris ditunjukkan oleh anak kesulitan untuk menerima pendapat orang lain. Sifat egosentris yang dimaksud memasuki kawasan bahasa dan komunikasi, bukan personalitas (individu) anak.

Contoh : pada waktu anak pra-operasional bermain bersama-sama. Pembicaraan egosentris mereka adalah bahwa anak-anak itu ”saling berbicara” tetapi sebetulnya tanpa mengharapkan saling berbicara atau saling menjawab.

4) Berpikir Statis Bila kepada anak yang berkemampuan berpikir statis tersebut ditunjukkan dua bola dari plastisin yang sama besarnya. Selanjutnya salah satu bola tersebut diubah bentuknya seperti sosis. Kemudian kepada anak tersebut ditanyakan ”masih sama banyakkah zat pada kedua lilin ini?, anak akan menjawab ”yang berbentuk sosis lebih besar”.

c. Periode Operasional Konkret (7 - 11 tahun)

Periode ini merupakan awal dari berpikir rasional, artinya anak memiliki operasioperasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret. Operasi anak pada periode ini terikat pada pengalaman perorangan. Operasi-operasi itu konkret bukan operasi-operasi formal. Anak belum dapat berurusan dengan materi abstrak seperti hipotesis dan proposisi-proposisi verbal. Berpikir operasional konkret lebih stabil dibanding dengan berpikir statis yang terdapat pada anak pra-operasional. Ciriciri umum yang ditunjukkan oleh anak pada periode operasional konkret yaitu: mampu menyusun urutan seri objek, mengalami kemampuan berbahasa, sifat egosentris berkurang, bergeser ke sosiosentris dalam berkomunikasi, dan

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

47

sudah dapat menerima pendapat orang lain.

d. Periode Operasional Formal (11 tahun ke atas)

Periode ini ditandai oleh kemampuan anak dalam operasi-operasi konkret untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Periode ini disebut juga tahap adolesen. Anak mulai dapat memecahkan masalah verbal yang serupa.

Contoh : Abas lebih putih dari Hasan. Abas lebih hitam dari Budi. Siapakah yang terhitam dari ketiga anak ini?

Ciri-ciri umum anak pada periode operasional formal yaitu: 1) berpikir hipotetis-deduktif (dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menanggapi masalah, dan memeriksa data terhadap hipotesis untuk membuat kputusan yang layak; tetapi belum dapat menerima atau menolak hipotesis). 2) berpikir proposisional (dapat menangani pernyataan/proposisi –proposisi yang memerikan data konkret, dan dapat menangani proposisi yang berlawanan dengan fakta). 3) berpikir kombinatorial (berpikir meliputi semua kombinasi benda-benda, gagasan-gagasan atau proposisi-proposisi yang mungkin). 4) berpikir refleksif (dapat berpikir tentang berpikirnya).

Jadi berdasarkan teori ini, penerapannya dalam mengajar adalah bahwa mengajar perlu memperhatikan tahap perkembangan intelektualnya. Setiap individu dalam perkembangan intelektualnya selalu melalui tahapan-tahapan tersebut tetapi yang dapat berbeda dalah kecepatan perkembangannya.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

48

Kegiatan 1.3 (3)

Temukan 4 ciri utama belajar dalam paradigma kontruktivistik! …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

4. BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Belajar kontruktivistik mengedepankan dan mengakui bahwa anak memiliki pengetahuan sebelum mengikuti pembelajaran. Pengetahuan yang dimiliki anak sebelum mengikuti pembelajaran inilah yang disebut sebagai pengetahuan awal. Pengetahuan awal anak dapat diperoleh dari sumber-sumber belajar yang tersedia di luar sekolah atau dari pembelajaran sebelumnya.

Hal ini berlawanan dengan belajar absolutime yang menganggap anak sebagai botol kosong yang dapat diisi pengetahuan dari guru. Pengetahuan awal siswa mengarahkan perhatiannya pada satu atau dua hal tertentu dari seluruh materi yang sedang dipelajari. Dengan demikian pengetahuan awal ini sebagai ”penyaring” terhadap pengetahuan baru yang dipelajari. Pengetahuan awal ini juga menentukan bangunan pengetahuan yang baru dikonstruksi (dibangun).
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

49

Contoh : ketika guru menjelaskan tentang kalor/panas dapat berpindah secara merambat, maka dalam pikiran anak telah ada pengetahuan awal tentang panas (dalam diri anak terpikir tentang api, matahari, air mendidih); dan berpindah (dimaknai berjalan/bergerak berpindah tempat), dan merambat (dimaknai anak sebagai menjalar, berjalan dengan cara berpegangan sesuatu agar tidak terpeleset/terjatuh).

Pemikiran anak seperi itu belum sesuai dengan keinginan gurunya kan? Nah pemikiran awal seperti inilah yang perlu diperbaiki oleh guru dalam proses pembelajaran untuk diarahkan kepada pemikiran para ilmuwan (diarahkan kepada konsep ilmiah). Dalam proses belajar seperti ini anak mencari makna sendiri, untuk pembenarannya dibantu guru. Makna pembelajaran dalam paradigma konstruktivistik tentunya tidak akan lepas dari makna belajar dalam paradigma konstruktivistik.

Dengan demikian pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang menekankan kepada minimal tiga hal penting yaitu bahwa: belajar itu adalah proses aktif mengkonstruksi pengetahuan; aktif membentuk keterkaitan (link) antara pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan pengetahuan yang sedang dipelajari; melakukan interaksi dengan siswa yang lain.

Contoh : Anak yang belajar menulis awal. Awalnya anak dibantu gurunya bagaimana cara memegang pensil yang benar. Selanjutnya bagaimana menggerakkan pensil yang benar untuk menulis, yaitu dengan cara tangan anak dipegang oleh guru lalu digerakkan sesuai bentuk tulisan. Lama- kelamaan anak dilepas sendiri untuk menulis. Nah pada saat ini anak terus mengingat kembali apa yang pernah dilakukan bersama gurunya, selama kurun waktu ini anak terus-menerus memperbaiki pengetahuan sebelumnya.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

50

Menurut paham konstruktivis, belajar merupakan suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan atau tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah yang dimiliki siswa bersifat sementara, tidak statis dan merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang berlangsung terus menerus dan setiap pengetahuan mengandalkan suatu interaksi dengan pengalaman. Berdasarkan hal tersebut, konstruktivis menyatakan bahwa belajar adalah: proses aktif dan konstruktif yang terjadi di lingkungan luar kelas mengubah informasi menjadi proses mental membangun pengetahuan dan pengertian dari pengalaman pribadi mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman lama (asimilasi) membangun pengetahuan baru dari fenomena lama (akomodasi) proses kognitif untuk memecahkan masalah dunia nyata, menggunakan alat yang tersedia dalam situasi pemecahan masalah. bersifat situasional, interaktif bekerja dengan teman dalam konstruksi sosial yang berarti bagi dirinya proses pribadi terus-menerus untuk memonitor kemajuan belajar Berikut ini disajikan gambaran perbandingan antara paradigma behavioris dengan konstruktivis
Tabel 1.3.1 Perbandingan Paradigma Behavioristik dengan Konstruktivis pada Dimensi Kurikulum Dimensi Paradigma Behavioris Daftar materi obyek belajar; pasti; kebenaran yang tak perlu dibantah; ditetapkan dari atas Belajar sebagai perubahan tingkah laku; sedangkan pengajaran sebagai alih pengetahuan. Paradigma Konstruktivis Nilai dari inkuari dan diskoveri; tergantung proses siswa; penjelasan yang terbaik saat itu; ditetapkan atas kesepakatan antara siswa dan guru Belajar sebagai konstruksi pengetahuan melalui interaksi berbagai aspek belajar. Pengajaran sebagai investigasi (pencarian) pengetahuan Menunjukkan pengetahuan yang telah dikonstruksi.

Silabus

Pedagogi

Evaluasi

Reproduksi pengetahuan sebagai bukti bagi perolehannya

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

51

Kegiatan 1.3 (4)

Jelaskan dampak belajar dan pembelajaran paradigma konstruktivistik terhadap pembelajaran IPA SD/MI! …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

52

KESIMPULAN

1. Belajar dan pembelajaran menurut paradigma behavioristik adalah merupakan perubahan tingkah laku yang sifatnya permanen.

2. Pembelajaran behavioristik ditekankan pada penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar (biasanya berupa pemberian penguatan), adanya stimuli, respons siswa merupakan bentuk hasil belajar, materi ajar disusun secara hirarkis.

3. Belajar dan pembelajaran menurut paradigma kontruktivistik adalah merupakan proses membangun pengetahuan yang bermakna melalui pencarian hubungan antara pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sedang dipelajari, siswa berinteraksi multi arah dengan memanipulasi alat dan bahan di lingkungan sekitar sebagai wahana proses belajarnya yang dalam pelaksanaannya difasilitasi oleh guru.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

53

RAMBU-RAMBU JAWABAN KEGIATAN 1.3 (1 SD 4)

1. Jawaban Anda benar jika belajar dan pembelajaran behavioristik dicirikan oleh 4 hal yaitu: (a) lingkungan belajar sebagai bagian penting dari pembelajaran, (umumnya berupa penguatan/reinforsemen); (b) pemberian stimuli dalam belajar dan pembelajaran; (c) terbentuk respon sebagai manifestasi hasil belajar; dan (d) materi ajar disusun secara berurutan (hirarkis).

2. Dampak pengertian belajar dan pembelajaran behavioristik terhadap pembelajaran IPA SD/MI. Kata kuncinya adalah: pembelajaran IPA yang mengikuti ciri-ciri pembelajaran behavioristik (a-d).

3. Empat (4) ciri utama belajar dan pembeljaran konstruktiivistik adalah: (a) pengetahuan awal siswa menjadi bagian penting dalam pembelajaran; (b) siswa aktif belajar dan menghubungkan pengetahuan awal yang dimiliki dengan pengetahuan yang sedang dipelajari; (c) siswa membangun pengetahuan sendiri sehingga pengetahuan tersebut bermakna bagi dirinya; dan (d) selalu beriteraksi multi arah (guru siswa, siswa siswa)

4. Dampak pengertian belajar dan pembelajaran konstruktivistik terhadap pembelajaran IPA SD/MI adalah seperti bagan alur pembelajaran berikut ini. Menggali pengetahuan awal siswa yang terkait dengan materi baru yang akan dipelajari investigasi/penyelidikan mengumpulkan Melakukan

Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk sebagai bahan untuk mengkonstruksi

bukti-bukti/fakta-fakta

pengetahuannya atas bantuan guru (atau melalui kerja sama dengan teman). Terjadi interaksi yang efektif dan bermakna sehingga siswa memperoleh pengetahuan baru (konsep, prinsip) yang bermakna.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

54

TES FORMATIF

Dalam tes formatif ini terdiri dari 2 bagian, yaitu:

Soal-soal pada nomer 1 sampai dengan 3 adalah soal untuk mengukur kompetensi Anda dalam memahami materi. Untuk soal nomer 4 dan 5 merupakan soal yang akan membutuhkan analisa Anda dari teori yang telah dipelajari.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberikan uraian secara runtut dan jelas!

1. Temukan perbedaan yang mendasar antara pengertian belajar dan pembelajaran behavioristik dengan pengertian belajar dan pembelajaran konstruktivistik!

2. Jelaskan

dampak

pengertian

belajar

dan

pembelajaran

behavioristik

terhadap

pembelajaran IPA SD/MI.

3. Jelaskan secara runtut pengertian Anda terhadap kemampuan anak berpikir konkret.

4. Jelaskan dampak pengertian belajar dan pembelajaran konstruktivistik terhadap pembelajaran IPA SD/MI!

5. Temukan perbedaan penting antara assesment pada pembelajaran behavioristik dengan assesment pada pembelajaran konstruktivistik! .

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

55

F. UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban sub-Unit 1.3 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi sub-Unit 1.3.

Rumus: Skor jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = Skor total (25) Penentuan Skor : Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor skor 5 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai : 90 – 100% 80 - 89% 70 – 79% < 70% = baik sekali = baik = cukup = kurang X 100%

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan dengan Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda ! Tetapi apabila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi sub-Unit 1.23 terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

56

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

Kunci Jawaban sub-Unit 1.1

1. Jawaban cukup jelas (lihat uraian IPA mempunyai nilai ilmiah)

2. Jawaban cukup jelas (lihat uraian karajteristik IPA).

3. Jawaban cukup jelas

4. Yang harus dilakukan seseorang agar temuannya di bidang IPA mempunyai nilai objektivitas yang tinggi adalah dengan cara membawa temuan ke sidang ilmiah regional, nasional, atau internasional (skor = 5) 5. Anda benar jika pemahaman Anda terhadap ukuran “jengkal” tidak objektif (skor = 2); sebab ukuran jengkal tidak konstan, sehingga data pengukuran dengan jengkal menjadi sangat bervariasi (skor = 1,5). Contoh: Benda yang sama bila diukur dengan jengkal orang yang berbeda hasilnya tidak sama, jadi tidak objektif (skor = 1,5).

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

57

Kunci Jawaban sub-Unit 1.2

1. Jawaban cukup jelas (lihat di uraian tentang IPA sebagai proses dasar, produk dan sikap ilmiah)

2. Jawaban cukup jelas (lihat keterampilan proses IPA terintegrasi).

3. Penjelasan IPA sebagai produk cukup jelas (bacalah uraian tentang IPA pada dimensi produk)

4. a. Tekstur tanah ada 3 macam yaitu pasir, lempung, dan liat maka rumusan masalahnya: Bagaimanakah pertumbuhan tanaman jagung pada tanah tekstur pasir? (skor = 3) Bagaimanakah pertumbuhan tanaman jagung pada tanah tekstur lempung? (skor = 3) Bagiamanakah pertumbuhan tanaman jagung pada tanah tekstur liat? (skor = 3)

b. Identifikasi dan deskripsi jenis variabel: Variabel bebas: jenis tekstur tanah. Jenis tekstur tanah ini dijadikan variabel bebas karena jenis tekstur tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Variabel terikat: pertumbuhan tanaman jagung. Pertumbuhan tanaman jagung merupakan variabel terikat karena terjadinya pertumbuhan diakibatkan oleh jenis tekstur tanah. Variabel control: jenis tekstur tanah yang sama. Tekstur yang sama memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan, sehingga hasil ini memperkuat hasil bahwa pertumbuhan yang berbeda hanya disebabkan oleh perbedaan jenis tekstur tanah yang berbeda pula.

c. Definisi operasional masing-masing variabel  Variabel bebas: jenis tekstur tanah yang digunakan adalah tekstur pasir, liat, dan lempung dengan jumlah tanah yang sama banyak dan kondisi awal (tingkat kekeringan) yang sama pula.
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

58

 

Variabel terikat: pertumbuhan tanaman.Yang dijadikan indikator pertumbuhan adalah panjang batang, jumlah daun, warna daun, lebar daun. Variabel kontrol: pertumbuhan tanaman jagung pada variabel kontrol diamati dengan cara sama seperti halnya pada variabel bebas.

6.

Jawaban Anda benar, jika fakta-fakta dari konsep ”pemuaian pada benda padat” adalah seperti tabel hasil percobaan di bawah ini.

Ukuran panjang benda No 1 2 3 Nama benda Potongan jeruji sepeda Potongan seng Potongan aluminium
Sebelum dipanaskan (cm) Sesudah dipanaskan (cm)

........ ........ ........

........ ........ .........

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

59

Kunci Jawaban sub-Unit 1.3

1. Cukup jelas (periksa pada Tabel 3.1)

2. Cukup jelas (periksa kembali Tabel 3.1) 3. Jawaban Anda benar jika mengandung pernyataan-pernyataan: Dampak pengertian belajar dan pembelajaran behavioristik terhadap pembelajaran IPA SD/MI adalah dijelaskan sebagai pembelajaran IPA SD/MI yang behavioris adalah: a. Bahan kajian IPA disusun secara hirarkis, b. Pemberian stimuli (rangsangan) yang berupa benda-benda di lingkungan sekitar yang sesuai dengan bahan kajian, c. Dengan adanya rangsangan siswa memberikan respons sebagai bentuk hasil belajarnya berupa perubahan tingkah laku, dan d. Siswa yang berhasil diberi pujian. 4. Anda benar, jika jawaban Anda mengarah pada informasi tentang: a. Kemampuan anak berpikir konkret adalah bahwa anak hanya dapat melakukan operasi-operasi mental dalam proses belajarnya dengan memanipulasi benda-benda konkret, b. Karena anak tersebut belum mampu berpikir hal-hal yang abstrak, c. Contoh anak belajar tentang benda padat. Agar anak mampu membangun konsep benda padat, maka kepada mereka diberikan berbagai benda padat di lingkungan sekitar untuk dipegang, diraba, dibau, diukur, diremas dan sebagainya sehingga anak mengenal untuk dipahami tentang konsep benda padat dari ciri-cirinya.

5. Anda benar manakala jawaban Anda mengarah pada informasi bahwa pembelajaran IPA SD/MI adalah: a) Pembelajaran yang selalu diawali dengan menghubungkan pengetahuan awal yang telah ada pada diri siswa dengan bahan yang akan dipelajari
Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

60

b) Pembelajaran ditekankan pada proses mencari tahu atau melakukan kegiatan manipulatif melalui pengembangan proses-proses IPA untuk mengumpulkan buktibukti c) Bukti-bukti/fakta-fakta yang terkumpul dijadikan sarana untuk membangun pengetahuan IPA d) Pengetahuan yang dibangun belum tentu cocok dengan pengetahuan para ahli, karena itu selanjutnya pengetahuan yang belum mapan ini perlu diluruskan dengan bantuan guru Pengetahuan yang telah menjadi milik siswa ini selanjutnya diterapkan untuk memecahkan masalah terkait, yang terjadi di lingkungan sekitar.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

61

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful