P. 1
ipa_unit_1

ipa_unit_1

|Views: 3,557|Likes:
Published by anon_564332

More info:

Published by: anon_564332 on Feb 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

Sections

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

1

Wasih Djojosoediro

PENDAHULUAN

Selamat berjumpa Saudara Mahasiswa. Anda telah menjadi guru cukup lama,

bukan? Ketika Anda memilih suatu kejadian atau benda tertentu untuk diamati

atau dipelajari, pasti memiliki alasan, bukan? Apa alasan Anda mengamati yang

kejadian atau benda ini bukan kejadian atau benda yang itu? Banyak alasan yang

dapat diutarakan, misalnya: benda itu menarik, baru, bagus, aneh, atau benda itu

mengundang rasa ingin tahu Anda. Dapat dikatakan, rasa ingin tahu dan minat merupakan

salah satu pendorong untuk mengarahkan perhatian kita ke arah suatu kejadian atau suatu

benda tertentu.

Agar diperoleh data yang akurat, selain mengandalkan pancaindera, kita juga memerlukan

bantuan satu atau beberapa alat ukur. Misalnya, ketika Anda ingin mengetahui tentang

ukuran meja belajar yang Anda pakai saat ini, alat ukur apa saja yang perlu disiapkan?

Ya, Anda perlu meteran/penggaris. Dalam kaitan dengan penggunaan analisa dan

pembuktian dari apa yang kita amati, dalam Unit 1 ini Anda akan diajak untuk

mempelajari Hakikat IPA dan Pembelajaran IPA SD.

HAKIKAT IPA DAN
PEMBELAJARAN IPA SD

UNIT 1

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1 ini,
adalah Anda dapat:

1. menjelaskan karakteristik IPA,

2. menjelaskan kedudukan IPA sebagai produk,proses, dan sikap,

3. membedakan pengertian belajar dan pembelajaran IPA menurut teori
behavioristik dan konstruktivistik, dan

4. menjelaskan dampak pengertian belajar dan pembelajaran IPA teori
behavioristik dan konstruktivistik terhadap pelaksanaan pembelajaran
IPA SD.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

2

PENDAHULUAN

Bila Anda diminta mengamati seekor kelinci, apakah yang Anda lakukan? Apa

yang Anda lakukan pertama kali? Mungkin Anda mengendap-endap

mendekatinya agar binatang itu tidak lari bersembunyi. Mungkin Anda

menyiapkan kamera untuk mengambil gambarnya dari kejauhan. Atau, Anda

mencoba mencari suatu posisi yang „tepat‟ agar dapat mengamati binatang itu

tanpa membuatnya ketakutan. Apa yang anda lakukan berikutnya? Nah, kini ada banyak

kemungkinan dapat Anda lakukan. Mungkin Anda akan memperhatikan binatang itu,

mungkin akan mengobservasi, mengukur, menimbang, meraba, mencatat, dan sebagainya.

Setelah Anda memperoleh banyak data dan informasi Anda mulai menganalisis data tersebut,

bukan? Dengan menganalisis telinganya, moncongnya, kepalanya, matanya, tubuhnya, pakan

yang ada di depannya dan seterunya, apa yang ingin Anda cari?. Betul! Yang dicari adalah

ciri-ciri khas dari binatang itu. Dengan menemukan ciri-ciri khas dari binatang itu, Anda

dapat menetapkan namanya. Anda menetapkan bahwa binatang itu adalah kelinci.

Proses analisa dan pengambilan kesimpulan seperti di atas akan menjadi topik bahasan pada

Unit 1.1 ini.

HAKIKAT IPA

SUB UNIT
1.1

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1.1 ini,
adalah Anda dapat
:

1. Membedakan 2 konsep IPA yaitu metode khusus dan ilmiah,

2. Menjelaskan karakteristik IPA, dan

3. Menjelaskan karakteristik belajar IPA.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

3

1. KONSEP IPA

Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini

berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris,

kata sains berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian

berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu

pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal

dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).

Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai:

systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and based

mainly on observation and induction (yang diartikan bahwa ilmu pengetahuan alam

didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan

menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada

hasil pengamatan dan induksi).

Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai a piece of

theoretical knowledge atau sejenis pengetahuan teoritis.

IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA

didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang

diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan

keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah.

Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang

dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan

diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi

penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian,

pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan

berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu

rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

4

Dalam perkembangan selanjutnya, metode ilmiah tidak hanya

berlaku bagi IPA tetapi juga berlaku untuk bidang ilmu lainnya.

Hal yang membedakan metode ilmiah dalam IPA dengan ilmu

lainnya adalah cakupan dan proses perolehannya.

Secara umum, kegiatan dalam IPA berhubungan dengan

eksperimen. Namun dalam hal-hal tertentu, konsep IPA adalah

hasil tanggapan pikiran manusia atas gejala yang terjadi di

alam. Seorang ahli IPA (ilmuwan) dapat memberikan sumbangan besar kepada IPA tanpa

harus melakukan sendiri suatu percobaan, tanpa membuat suatu alat atau tanpa

melakukan observasi.

a. IPA sebagai Metode Khusus

Metode khusus yang dimaksud merupakan langkah-langkah

seorang ilmuwan dalam memperoleh pengetahuan.

Pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan gejala-gejala

alam. Pengetahuan berupa teori yang diperoleh melalui hasil

perhitungan atau pemikiran tidak akan bertahan kalau tidak

sesuai dengan hasil observasi, sehingga suatu teori tidak dapat

berdiri sendiri. Teori selalu didasari oleh hasil pengamatan.

Planet Neptunus tidak akan dapat ditemukan secara teoritis jika sebelumnya tidak ada

pengamatan yang menyaksikan suatu keanehan

dalam lintasan planet lainya. Atau dapat dikatakan

bahwa Planet Neptunus tidak ditemukan berdasarkan

hasil observasi melainkan melalui perhitungan-

perhitungan

Demikian halnya dengan pembuktian teori Einstein

yang secara ekperimental tidak dilakukan oleh

Einstein.

IPA sebagai
produk dan
proses
. Science
is both of
knowledge and a
process

(Trowbridge and
Sund, 1973:2)

IPA merupakan
pengetahuan
teoritis
yang
diperoleh dengan
metode khusus
(Nokes, 1941).

Gambar 1.1 Albert Einstein (1879-1955)

http://bit.ly/5oGQfz

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

5

b. IPA sebagai Metode Ilmiah

Jika IPA merupakan suatu jenis pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara

yang khusus, maka cara tersebut dapat berupa observasi, eksperimentasi,

pengambilan kesimpulan, pembentukan teori, observasi dan seterusnya. Cara yang

demikian ini dikenal dengan metode ilmiah (scientific method).

2. KARAKTERISTIK IPA

IPA disiplin ilmu memiliki ciri-ciri sebagaimana disiplin ilmu lainnya. Setiap disiplin

ilmu selain mempunyai ciri umum, juga mempunyai ciri khusus/karakteristik.

Adapun ciri umum dari suatu ilmu pengetahuan adalah merupakan himpunan fakta serta

aturan yang yang menyatakan hubungan antara satu dengan lainnya. Fakta-fakta tersebut

disusun secara sistematis serta dinyatakan dengan bahasa yang tepat dan pasti sehingga

mudah dicari kembali dan dimengerti untuk komunikasi (Prawirohartono, 1989: 93).

Ciri-ciri khusus tersebut dipaparkan berikut ini.

a. IPA mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat dibuktikan lagi

oleh semua orang dengan menggunakan metode ilmiah dan prosedur seperti yang

dilakukan terdahulu oleh penemunya.

Contoh : nilai ilmiah ”perubahan kimia” pada lilin

yang dibakar. Artinya benda yang

mengalami

perubahan

kimia,

mengakibatkan benda hasil perubahan

sudah tidak dapat dikembalikan ke sifat

benda sebelum mengalami perubahan atau

tidak dapat dikembalikan ke sifat semula.

Gambar 1.2 Perubahan kimia: lilin yang dibakar

http://51-374.blogspot.com/2009/04/stanza-lilin-
kecil.html

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

6

b. IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis,

dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

c. IPA merupakan pengetahuan teoritis.

Teori IPA diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan

melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,

eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang

satu dengan cara yang lain

d. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan.

Dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen

dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut

(Depdiknas, 2006).

e. IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap.

Produk dapat berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan prosedur

pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan,

penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan,

pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan

kesimpulan.

Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam

kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena

alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru

yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

7

3. Karakteristik Belajar IPA

Berdasarkan karakteristiknya, IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang

alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan

yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan

suatu proses penemuan. Pemahaman tentang karakteristik IPA ini berdampak pada proses

belajar IPA di sekolah.

Kegiatan 1.1 (1):

Anda telah membaca dan mempelajari dengan baik, 5 karakteristik IPA. Cobalah jelaskan

kembali ke 5 karakteristik IPA tersebut!

1. IPA mempunyai nilai ilmiah:

……………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………..

2. IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis

……………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………..

3. IPA merupakan pengetahuan teoritis

……………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………..

4. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan

……………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………..

5. IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap

……………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………..

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

8

Sesuai dengan karakteristik IPA, IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi

peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan karakteristik IPA pula, cakupan IPA yang dipelajari di sekolah tidak hanya

berupa kumpulan fakta tetapi juga proses perolehan fakta yang didasarkan pada

kemampuan menggunakan pengetahuan dasar IPA untuk memprediksi atau

menjelaskan berbagai fenomena yang berbeda. Cakupan dan proses belajar IPA di

sekolah memiliki karakteristik tersendiri.

Uraian karakteristik belajar IPA dapat diuraikan sebagi berikut.

a. Proses belajar IPA melibatkan hampir semua alat indera, seluruh proses berpikir,

dan berbagai macam gerakan otot.

Contoh : untuk mempelajari pemuaian pada benda, kita perlu melakukan

serangkaian kegiatan yang melibatkan indera penglihat untuk mengamati

perubahan ukuran benda (panjang, luas, atau volume), melibatkan gerakan

otot untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang

sesuai dengan benda yang diukur dan cara pengukuran yang benar, agar

diperoleh data pengukuran kuantitatif yang akurat.

b. Belajar IPA dilakukan dengan menggunakan berbagai macam cara (teknik).

Misalnya, observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.

c. Belajar IPA memerlukan berbagai macam alat, terutama untuk

membantu pengamatan. Hal ini dilakukan karena kemampuan

alat indera manusia itu sangat terbatas. Selain itu, ada hal-hal

tertentu bila data yang kita peroleh hanya berdasarkan

pengamatan dengan indera, akan memberikan hasil yang kurang

obyektif, sementara itu IPA mengutamakan obyektivitas.

Contoh : pengamatan untuk mengukur suhu benda diperlukan

alat bantu pengukur suhu yaitu termometer.

Gambar 1.3 Termometer

http://fakhrul92.wordpress.com/200
9/03/10/termometer/

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

9

d. Belajar IPA seringkali melibatkan kegiatan-kegiatan temu ilmiah (misal seminar,

konferensi atau simposium), studi kepustakaan, mengunjungi suatu objek,

penyusunan hipotesis, dan yang lainnya. Kegiatan tersebut kita lakukan semata-mata

dalam rangka untuk memperoleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar

obyektif.

Contoh : sebuah temuan ilmiah baru untuk memperoleh pengakuan kebenaran,

maka temuan tersebut harus dibawa ke persidangan ilmiah lokal, regional,

nasional, atau bahkan sampai tingkat internasional untuk dikomunikasikan

dan dipertahankan dengan menghadirkan ahlinya.

e. Belajar IPA merupakan proses aktif. Belajar IPA merupakan sesuatu yang harus

siswa lakukan, bukan sesuatu yang dilakukan untuk siswa. Dalam belajar IPA, siswa

mengamati obyek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, memperoleh pengetahuan,

menyusun penjelasan tentang gejala alam, menguji penjelasan tersebut dengan cara-

cara yang berbeda, dan mengkomunikasikan gagasannya pada pihak lain.

Keaktifan secara fisik saja tidak cukup untuk belajar

IPA, siswa juga harus memperoleh pengalaman

berpikir melalui kebiasaan berpikir dalam belajar IPA.

Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA

menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya

melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah

kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Keaktifan dalam
belajar IPA
terletak
pada dua segi, yaitu

aktif bertindak
secara fisik
atau
hands-on dan aktif
berpikir
atau minds-
on (NRC, 1996:20)

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

10

KESIMPULAN

Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA menyatakan bahwa pembelajaran IPA seyogianya

melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan

afektif. Hal ini dikuatkan dalam kurikulum IPA yang menganjurkan bahwa pembelajaran

IPA di sekolah melibatkan siswa dalam penyelidikan yang berorientasi inkuiri, dengan

interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. Melalui kegiatan penyelidikan, siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan ilmiah yang

ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan materi IPA untuk mengajukan

pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya dalam pemecahan masalah, perencanaan,

membuat keputusan, diskusi kelompok, dan siswa memperoleh asesmen yang konsisten

dengan suatu pendekatan aktif untuk belajar.

Kegiatan 1.1 (2):

Karakteristik belajar manakah yang Anda gunakan ketika Anda belajar fenomena gerak

jatuh bebas? Mengapa demikian?

…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

11

Dengan demikian, pembelajaran IPA di sekolah yang berpusat pada siswa dan

menekankan pentingnya belajar aktif berarti mengubah persepsi tentang guru yang selalu

memberikan informasi dan menjadi sumber pengetahuan bagi siswa (NRC, 1996:20).

Ditinjau dari isi dan pendekatan kurikulum pendidikan sekolah tingkat pendidikan dasar dan

pendidikan menengah yang berlaku saat ini maupun sebelumnya, pembelajaran di sekolah

dititikberatkan pada aktivitas siswa. Dengan cara ini diharapkan pemahaman dan

pengetahuan siswa menjadi lebih baik. Kenyataan di lapangan, aktivitas siswa sering

diartikan sempit. Bila siswa aktif berkegiatan, walaupun siswa sendiri tidak mengetahui

(merasa pasti) untuk apa berbuat sesuatu selama pembelajaran, maka dianggap pembelajaran

sudah menerapkan pendekatan yang aktif.

Proses pembelajaran IPA di sekolah menekankan pada pemberian pengalaman langsung

untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara

ilmiah. Hal ini disebabkan karena IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk

memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat

diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak

buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan pembelajaran IPA ada penekanan

pembelajaran Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan

pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan

konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

12

RANGKUMAN

1. IPA memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan bidang ilmu lain.

Karakteristik IPA tersebut yaitu;

a. IPA mempunyai nilai ilmiah, artinya kebenaran-kebenaran IPA dapat dibuktikan

kembali oleh semua orang dengan melakukan prosedur yang sama seperti yang

dilakukan penemunya;

b. IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang yang

berkaitan dengan gejala-gejala alam;

c. IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang

khas atau khusus yaitu denga melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan,

penyusunan teori, eksperimen, observasi demikian seterusnya sehingga saling terkait

satu sama lain;

d. IPA meliputi 4 unsur yaitu proses, produk, aplikasi, dan sikap.

2. Karakteristik belajar IPA meliputi:

a. hampir semua indera, seluruh proses berpikir, dan berbagai gerakan otot;

b. berbagai teknik (cara), seperti observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi;

c. alat bantu pengamatan untuk memperoleh data yang obyektif, sesuai sifat IPA yang

mengutamakan obyektivitas;

d. kegiatan temu ilmiah, mengunjungi objek, studi pustaka, dan penyusunan hipotesis

untuk mempeloleh pengakuan kebenaran temuan yang benar-benar obyektif, dan

e. proses aktif, artinya belajar IPA merupakan suatu yang harus dilakukan siswa, bukan

suatu yang dilakukan untuk siswa.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

13

TES FORMATIF

Dalam tes formatif ini terdiri dari 2 bagian, yaitu:

Soal-soal pada nomer 1 sampai dengan 3 adalah soal untuk mengukur kompetensi

Anda dalam memahami materi.

Untuk soal nomer 4 dan 5 merupakan soal yang akan membutuhkan analisa Anda dari

teori yang telah dipelajari.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberikan uraian secara runtut dan

jelas!

1. Jelaskan secara runtut mengapa IPA dikatakan mempunyai nilai ilmiah?

2. Jelaskan karakteristik IPA!

3. Jelaskan 5 (lima) karakteristik Pembelajaran IPA dan berikanlah contoh masing-masing!

4. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang agar temuannya di bidang IPA

mempunyai nilai obyektivitas yang tinggi?.Jelaskan!

5. Mengapa pengukuran panjang benda dengan menggunakan alat ukur jengkal tidak

obyektif? Jelaskan!

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

14

UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban sub-Unit 1.1 yang terdapat pada bagian

akhir unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk

mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi sub-Unit 1.1.

Rumus:

Skor jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan =

X 100%

Skor total (25)

Penentuan Skor

: Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor

berbeda. Jika jawaban benar, setiap butir soal diberi skor 5.

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90 – 100% = baik sekali

80 - 89% = baik

70 – 79% = cukup

< 70%

= kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan dengan

Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda!

Tetapi apabila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari

kembali materi sub-Unit 1.1 terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

15

LEMBAR DISKUSI MAHASISWA

Petujuk Umum:

1. Amati simulasi fenomena pemuaian dan gelombang pada website matakuliah

Pengembangan Pembelajaran IPA SD yang disediakan!

2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini melalui diskusi kelompok!

Pertanyaan

1. Ketika anda melihat tayangan proses ”pemuaian atau gelombang”, aktivitas-aktivitas

mental dan fisik apa yang anda alami?. Sebutkan!

2. Cobalah anda cari alternatif lain untuk dapat menunjukkan perubahan panjang batang

logam yang dipanaskan seperti pada fenomena yang ditampilkan pada website?

Mengapa anda memilih alternatif demikian?, Jelaskan!

3. Berdasarkan pemahaman anda terhadap karakteristik IPA, apakah materi tayangan

tersebut menunjukkan karakteristik IPA? Jika ya, apa alasan anda?

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

16

PENDAHULUAN

Sudah siapkah Anda memulai pembelajaran pada Unit 1.2 ini?

Tentu Anda sudah pernah menghadiri acara seminar. Dan bila Anda amati dengan

seksama, banyak pembicara dalam seminar yang menyajikan hasil laporan dari

penelitian maupun pengamatan yang dilakukannya. Tujuannya adalah untuk

mendapat pengakuan ilmiah dan juga membagi informasi.

Nah... Saudara mahasiswa sekalian, keinginan untuk menyampaikan hasil temuan dalam

seminar tersebut adalah merupakan salah satu kedudukan IPA sebagai ”sikap ilmiah”.

Untuk itu, setelah kita memahami konsep dan karakteristik IPA, pada pada Unit 1.1, maka

selanjutnya kita akan membahas kedudukan IPA sebagai proses, produksi dan juga sikap

ilmiah.

Kompetensi yang hendaknya dicapai setelah mempelajari Unit 1.2 ini, adalah

Anda dapat:

membedakan 3 kedudukan IPA sebagai proses, produk dan sikap ilmiah,

dan

menjelaskan keterampilan masing-masing dari kedudukan IPA sebagai

proses produk, dan sikap ilmiah.

KEDUDUKAN IPA SEBAGAI
PROSES, PRODUK DAN SIKAP
ILMIAH

SUB UNIT
1.2

Pengembangan dan Pembelajaran IPA SD

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->