MAKALAH

KEWARGANEGARAAN

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW
Dosen : Amrul Sitompul

Disusun oleh NAMA : AGUS TRI WIJAYA NIM : 41409120064

UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2010

DAFTAR ISI BAB I ......................................................................... ........................ 3 PENDAHULUAN............................................................................. . 3
1.1 Latar Belakang.............................................. .............................. 3 1.2 Perumusan masalah............................................................. ....... 3

BAB II................................................................................................. 4 PEMBAHASAN................................................................................. 4
2.1 HUKUM / ATURAN DASAR .............................................. 4 2.2 SEJARAH KETATANEGARAAN....................................... 9 2.3 PANDANGAN TERHADAP AMANDEMEN UUD 1945...... 10 2.4 PANDANGAN PENOLAKAN TERHADAP UUD 1945 ....... 21

BAB III ................................................................ ............................. 23 KESIMPULAN.................................................................................. 23 DAFTAR PUSTAKA.................................................................... ..... 24

2

1. masalah perundang ± undangan merupakan hal yang sangat penting bagi jalannya sistem pemerintahan suatu negara.2 Perumusan Masalah Dalam sistem ketatanegaraan. Ketentuan dalam TAPMPR No. Kemudian dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan (selanjutnya disingkat TAP MPR No.Persatuan Indonesia. Indonesia adalah suatu negara berdasar atas hukum (rechtsstaat) sebagaimana ditentukan dalam penjelasan UUD 1945 yang kemudian ³diangkat´ ke dalam Pasal 1 ayat (3) Perubahan Ketiga UUD 1945 (2001) dengan rumusan: Negara Indonesia adalah negara hukum. dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosialbagi seluruh Rakyat Indonesia).Sebagai hukum dasar suatu bangsa atau negara maka secara hierarki semua peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh negara atau bangsa yang bersangkutan haruslah dari dan tidak boleh bertentangan dengan konstitusi.BAB I PENDAHULUAN 1. disebabkan berjalannya sistem pemerintahan tidak lepas dari rujukan yang mesti dilaksanakan dalam perundang±undangan negara. Masalah kontroversi perubahan UUD 1945 yang masih menjadi perbincangan.merupakan bahan yang kami bahas dalam makalah ini. III/MPR/2000 ini menempatkan konstitusi (dalam hal ini UUD 1945 dan perubahannya). Kemanusiaan yang adil dan beradab. dan Batang Tubuh UUD 1945 (dan Perubahannya) sebagai sumber hukum dasar nasional. III/MPR/2000).1 Latar Belakang Dalam menyusun suatu peraturan perundang-undangan. Menempatkan Pancasila yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 (dengansila-silanya: Ketuhanan Yang Maha Esa. 3 . landasan konstitusional memegang peranan yang sangat penting dan strategis karena konstitusi adalah hukum dasar bagi suatu bangsa.

misalnya adalah pidato Presiden dihadapan DPR setiap tanggal 16 Agustus dan pemisahan pengertian treaty dan agreement (sekarang tidak lagi). sedang di samping UUD itu berlaku juga hukum dasar tidak tertulis. sedangkan yang tidak tertulis.Dalam prosesnya. yang dituangkan ke dalam konstitusi.Pendapat Sri Soemantri ini rupa-rupanya sangat besar pengaruhnya kepada PAHII BP MPR.1. Artinya. BAB II PEMBAHASAN 2. 4 . penyusun mengidentifikasi beberapa masalah pokok sebagai berikut : 1. Beberapa pendapat terhadap amandemen UUD 1945. yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dant erpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara meskipun tidak tertulis. Indonesia menganut pemahaman hukum dasar tertulis dan tidak tertulis. amandemen UUD 1945 menimbulkan perdebatan. III/MPR/2000 ini dan rencana akan dihapuskannya Penjelasan UUD 1945. 2. sebagaimana yang dianut dalam UUD 1945 (lama) yang termuat dalam Penjelasannya. III/MPR/2000 telah menetapkan bahwa sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila dan UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis. UUDialah hukum dasar tertulis.Penjelasan ini memberikan landasan konstitusional bahwa konvensi ketatanegaraan merupakan bagian dari hukum dasar. 3. dikatakan bahwa UUD hanyalah sebagian dari hukum dasar negara itu. HUKUM / ATURAN DASAR Dalam Penjelasan Umum Angka I UUD1945. Sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia sejak awal terbentuknya UUD 1945sampai saat kini.Konstitusi tertulis adalah UUD 1945. Menurut Sri Soemantri konstitusi adalah sama dengan UUD. Berdasarkan TAP MPR No. Permasalahan yang kencenderungan terjadi perdebatan sehingga timbulnyaprakontra terhadap perumusan amandemen UUD 1945. sehingga TAP MPR No. maka tidak dibedakan lagi antara konstitusi tertulis dan tidak tertulis.

di mana kemudian norma-norma hukum yang dimuat dalam PenjelasanUUD 1945 diangkat ke dalam Batang Tubuh UUD 1945.sehingga kemudian ingin menghapuskan Penjelasan UUD 1945 dari dunia perundang-undangan Indonesia. Sedangkan hukum tatanegara sendiri menurut penulis tidak bersifat dinamis.. tidak seperti hukum ekonomi yang terus bergerak seiring dengan perkembangan ekonomi dunia. dan Penjelasan UUD 1945 lahir satu tahun kemudian setelah lahirnya UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945. Namun kalau alasannya ³tidaklazim´ karena di seluruh dunia tidak ada satu pun konstitusi yang mempunyai penjelasan. alinea kedua dan ketiga): ³. Alasan lain perlunya penghapusan tersebut adalah bahwa Penjelasan itu dibuat oleh Soepomo yang bukan ahli hukum tata negara --Soepomo adalah ahli hukum adat. dengan alasan bahwa Penjelasan UUD tidak lazim dalam dunia konstitusi. Para pakar dan anggota MPR tersebut lupa bahwa semua sarjana hukum belajar hukum tata negara. akan tetapi harus menyelidiki juga bagaimana prakteknya dan bagaimana suasana kebatinannya (geistlichen Hintergrund) dari UUD tersebut. Ataupun bidang-bidang ilmu lain misalnya ilmu kedokteran dan obat-obatan (farmasi) yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan dari zaman ke zaman tidak statisseperti hukum tata negara yang sejak dikenalnya bentuk organisasi negara hukummodern yang demokratis. praktis tidak berkembang lagi.Merasa heran kalau sebagian besar para ahli hukum tata negara sekarang dan para anggota MPR yang duduk di PAH I BP MPR (yang diberi tugas mengamandemen UUD 1945) berpendapat bahwa di dunia ini hanya Indonesia satu-satunya negara yang konstitusinya mempunyai Penjelasan.karena sebagaimana diutarakan dalam Penjelasan UUD 1945 (Penjelasan Umum Angka I. Rupa-rupanya MPR EraReformasi sangat terpengaruh dengan pendapat para pakar hukum tata negara..sesuai dengan teori dan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan ..Memang untuk menyelidiki hukum dasar (droitconstitutionnel) suatu negara. tidak cukup hanya menyelidiki pasal-pasal UUD (loi constitutionelle) saja. oleh karena itu Penjelasan UUD 1945 harus dihapus. 5 . Kalau alasan penghapusan Penjelasan UUD 1945 adalah karena dalam Penjelasan banyak dimuat norma hukum yang seharusnya dimuat ke dalam Batang Tubuh UUD 1945.

Hans Nawiasky ±murid HansKelsen²mengembangkan teori gurunya dengan mengelompokkan norma hukum kedalam 4 kelompok yaitu: 1..Sedangkan kalau Penjelasan tersebut tidak dihapus tetapi disempurnakan dan disesuaikan dengan pasal-pasal perubahan tersebut.dan dapat ditelusuri lebih lanjut serta bersifat hipotetis dan fiktif.Selanjutnya Maria Farida mengatakan bahwa berdasarkan teori jenjangnya (stoefenTheory) Hans Kelsen suatu norma hukum itu selalu berdasar dan bersumber pada norma di atasnya. Dengan demikian apabila kita ingin mengetahui alasan penghapusan Penjelasan UUD 1945.Norma dasar yang merupakan norma tertinggi dalam sistem norma ±yang ditetapkan terlebih dahulu²merupakan gantungan bagi norma yang berada di bawahnya. Untuk mengerti sungguh-sungguh maksudnya UUD dari suatu negara kita harus mempelajari juga bagaimana terjadinya teks itu. Staatsfundamentalnorm (norma funda mental negara). Verordnung dan Autonome Satzung (Aturan pelaksana dan aturan otonom).´ Penjelasan UUD 1945 tersebut memberikan arahan bahwa untuk mengerti pasal-pasal dalam Batang TubuhUUD 1945 perlu dimengerti latar belakang dan suasana kebatinan lahirnya teks-teks pasal tersebut. Staatsgrundgesetz (aturan dasar/pokok negara). 6 . Dalam suatu organisasi masyarakat yang bernama negara.. Hal ini hanya dapat diketahui kalau kita membaca risalah/notulen pembahasan perubahan tersebut dalam Sidang-sidang MPR atau mewawancarai anggota MPR yang membahas perubahan UUD 1945 tersebut khususnya penghapusan Penjelasan. 4.norma dasar ini kemudian menjadi dasar dibentuknya konstitusi atau UUD. harus diketahui keterangan-keterangannya juga harus diketahui dalam suasana apa teksitu dibikin. Berdasarkan literatur. hukum dasar negara disebut norma dasar (grundnorm )yang dalam hierarki norma menduduki jenjang yang paling tinggi dan bersifat presupposed yang ditentukan sebelumnya oleh suatu masyarakat manusia. ke bawah. 2. maka risalah Sidang-sidang MPR tersebut hanyalah sebagai pelengkap dari Penjelasan tersebut.UUD negara manapun tidak dapat dimengerti kalau hanya dibaca teksnya saja. Formell Gesetz (undang-undang formal). norma hukum tersebut menjadi sumber dana bagi norma yang lebih rendah. maka untuk mengetahui alasan penghapusan tersebut perlu mengetahui latar belakang dan suasana kebatinan penghapusan tersebut. 3.

dibedakan antara treaty dengan agreement. Aturan dasar/pokok negara merupakan aturan umum yang masih bersifat garis besar. sebelum lahirnya UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional (selanjutnya disingkat UU No. Hamid SA dan Maria Farida. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undangundang harus dengan persetujuan DPR.dan perjanjian dengan negara lain (sesuai dengan aslinya). Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. berdasarkan Surat Presiden RI (Soekarno) kepada DPR-GR Nomor 2826/HK/60. Substansi treatytersebut biasanya soal-soal politik yang penting yang akan mempengaruhi haluan politik luar negeri. Salah satu contoh aturan dasar/pokoknegara yang dimuat dalam UUD 1945 adalah ketentuan dalam Pasal 11 UUD 1945 dan Perubahannya yang berbunyi: 1. 3. Sedangkan yang berbentuk agreement cukup diratifikasi dengan Keputusan Presiden yang kemudian 7 . Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara.Apabila teori di atas dikaitkandengan sistem dan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia. dinamakan staatsverfassung dan kalau dituangkan dalam berbagai dokumen disebut staatsgrundgesetz. sehingga masih merupakan norma tunggal dan belum disertai norma sekunder (sanksi). Aturan dasar/pokok kalau dituangkan dalam satu dokumen resmi menurutHans Nawiasky sebagaimana dikutip A. Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undangundang Dalam praktik ketatanegaraan Indonesia. SA. tanggal 22 Agustus 1960. 24/2000). membuat 2. Suatu treaty yang ditandatangani Indonesia sebagai negara peserta diratifikasi dengan undangundang. perdamaian. perihal ³pembuatan perjanjian dengan negara lain´. maka yang dikatakan ³norma fundamental negara´ adalah Pancasila yang merupakan cita hukum (rechts idee) dan sebagai ³bintang pemandu´ (leitstern) UUD 1945yang berisi ³aturan dasar/pokok negara´ sebagaimana dikatakan A. Hamid.

c. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan DPR. Namun klausula ³mengharuskan perubahan atau pembentukan undang -undang´masih perlu dicermati dan dipikirkan bersama apakah sudah terkover dalamPasal 11 (khususnya huruf e) UU No. b.disampaikan kepada DPR untuk diketahui. Aturan dasar di atas khususnya klausula ³menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara´ mungkin sudah terkover dalam Pasal 10 huruf f UU No. perdamaian. hak asasi manusia danlingkungan hidup. 24/2000. d.24/2000 dikatakan bahwa: Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang apabila berkenaan dengan: a. pertahanan. 24/2000 ataukah ada maksud lain dari pembentuk UUD. masalah politik. Dalam Pasal 11 Perubahan Ketiga UUD1945 khususnya yang termuat dalam ayat (3) dikatakan bahwa:: Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. dan keamanan negara. Dalam Pasal 10 UU No. 8 . Dalam UU No. 24/2000 tidak dibedakan lagi antara istilah ³persetujuan´ (agreement) dan ³perjanjian´ (treaty) karena hanya menggunakan istilah ³perjanjian´. pembentukan kaidah hukumbaru.24/2000. kedaulatan atau hakberdaulat negara. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Dalam UU No. perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara Republik Indonesia. yang disampaikan kepada DPR adalah Salinan Keputusan Presiden tentang Ratifikasi Perjanjian Internasional (videPasal 11 ayat (2) UU No. e. f. 24/2000).

Kelompok ketiga yaitu FormellGesetz adalah yang kita kenal sehari dengan nama undang-undang (UU). Kewenangan atributif adalah diberikan/diciptakan oleh suatu UUD/UU kepada lembaga/pejabat negara tertentu untuk membuat peraturan perundangundangan. Bukan disebabkan Konstituante tak berhasil atau mengalami deadlock dalam 9 . Maklumat Wakil Presiden No X mengubah secara mendasar sistem ketatanegaraan dari Presidensial ke Parlementer. berarti hanya dua bulan kita menerapkan UUD 1945 yang "asli" yang kekuasaan sepenuhnya di tangan Presiden.sedangkan kewenangan delegatif adalah dilimpahkan dari pemegang kewenangan atributif kepada lembaga/pejabat di bawahnya untuk membuat peraturan perundang-undangan. bahkan pernah bertolak belakang secara konseptual. Baru tahun 1955 pertama kali diselenggarakan pemilu dan dibentuk Majelis Konstituante untuk membuat UUD baru yang definitif. Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. Dalam periode revolusi. Pada 1949 bangsa Indonesia telah mengganti UUD 1945 dengan Konstitusi RIS dan tahun 1950 lagi-lagi diganti dengan UUD Sementara 1950. Kelompok keempat yaitu Peraturan Pelaksanaan dan Peraturan Otonom merupakan peraturan pelaksanaan dari UU (Formell Gesetz) yang dibuat oleh lembaga atau pejabat baik berdasarkan kewenangan atribusi (untuk peraturan otonom) maupun kewenangan delegasi (untuk peraturan pelaksanaan). bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilu untuk membuat UUD baru yang definit berasas kedaulatan rakyat. UUD 1945 hanya bersifat sementara atau istilah Bung Karno "undang-undang dasar kilat". 2. Sebelum tugasnya selesai. Dalam hal ini pengertian undang-undang dalam artian formil dan materiel kurang tepat diterapkan di sini karena yang dimaksud dalam Formell Gesetz di sini hanyalah UU yang dibentuk oleh DPR dan Presiden.2 SEJARAH KETATANEGARAAN Saat founding fathers menerima diberlakukannya UUD 1945 yang dicetuskan Prof Soepomo pada sidang PPKI 18 Agustus 1945 telah menyadari. Mereka semua committed jika kelak keadaan mengizinkan. meski tetap menggunakan UUD 1945 sebagai konstitusi. tetapi tetap menganut paham demokrasi konstitusional meski dengan sistem berlainan. Dalam kelompok inilah norma hukumnya dapat dilekati dengan norma sekunder yaitu berupa sanksi untuk penegakan hukumnya. hanya di masa kabinet Soekarno-Hatta yang pertama (Agustus 1945-sampai keluar Maklumat X tanggal 16 Oktober 1945). Sejarah ketatanegaraan kita yang menggunakan konstitusi UUD 1945 sebagai landasan struktural telah menghasilkan berbagai sistem pemerintahan yang berbeda-beda.

MPR mengubah 10 . kondisi dewasa ini dikhawatirkan kita menghadapi bahaya pengulangan sejarah. timbul kembali pemerintahan otoriter di bawah panji Demokrasi Terpimpin Soekarno dilanjutkan rezim otoriter Orde Baru Soeharto dengan panji Demokrasi Pancasila. Megawati sebelum Pemilu 2004. Ditambah ketentuan lain yang terdapat dalam pasal 3 UUD 1945 bahwa tugas dari MPR adalah menetapkan UUD. Pada perubahan yang pertama. Dalam masa pemerintahan transisi. Atau pendukung Soeharto yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Pancasila" yang dengan landasan UUD 1945 yang "murni dan konsekuen" berhasil berkuasa selama 32 tahun. adanya sisa-sisa kalangan militer dan pendukung Soekarno yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Terpimpin". Dengan diberlakukannya kembali UUD 1945 melalui Dekrit 5 Juli 1959. baik di zaman Habibie. Dulu mereka berhasil menjegal Majelis Konstituante dengan memakai "pedang" Dekrit 5 Juli 1959. MPR telah mengubah UUD 1945 sebanyak empat kali. 2. Abdurrahman Wahid. Tuntutan untuk kembali ke UUD 1945 jelas diwarnai nostalgia atau sindrom pada kekuasaan otoriter dan totaliter yang pernah dinikmati di masa lampau dan merasa "kehilangan" atau tak bisa eksis lagi untuk membangun kekuatan politik dalam konteks UUD 1945 hasil amandemen. Pemegang kekuasaan negara bisa melakukan berbagai distorsi dan devisiasi nilai-nilai demokrasi dan sistem pemerintahan. Hal ini didasari pula pada ketetentuan pasal 37 UUD 1945 yang menyatakan bahwa ³untuk melakukan perubahan UUD ditentukan dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang hadir´. tetapi karena ada kepentingan politik dari kalangan militer dan pendukung Soekarno. Sepanjang reformasi dalam sidang-sidangnya. disamping memilih dan menetapkan Presiden dan Wapres serta membuat GBHN.3 PANDANGAN TERHADAP AMANDEMEN UUD 1945 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai badan/lembaga politik yang diposisikan ³tertinggi´ karena dianggap representasi dari kedaulatan rakyat adalah badan yang dianggap memiliki kewenangan melakukan perubahan UUD. kita menyaksikan betapa lemahnya UUD 1945 mengatur penyelenggaraan kekuasaan negara karena sifatnya yang multiinterpretasi.menyusun UUD baru sebagaimana diajarkan dalam semua buku pelajaran sejarah versi pemerintah.

jika dikaitkan dengan kejelasan masing-masing hak dan kewenangan lembaga-lembaga negara serta relasi (check and balances). Bendera. sehingga ³tidak ada´ kontrol sama sekali dari DPR terhadap kinerja pemerintahan. 11 . Lambang Negara dan Lagu kebangsaan. masih belum menampakkan secara jelas sistem pemerintahan yang akan diterapkan. Perubahan dan penambahan itu menyangkut soal wilayah negara. terutama dalam soal fungsi legislasi dan pengawasannya dapat dikatakan telah terjadi pergeseran bandul politik ke arah legislatif. warga negara dan penduduk. kewenangan DPR. MPR tidak hanya mengubah tapi juga menambah muatan materi yang terkandung didalamnya. masih menyisakan soal yudikatif (kekuasaan kehakiman yang mandiri) yang belum diubah yang selama ini juga tidak lepas dari dominasi eksekutif.Diakui bahwa dalam perubahan UUD 1945 itu ada beberapa kemajuan. hak asasi manusia. Sedangkan pada perubahan yang kedua. Sebagaimana hakikat dari konstitusionalisme yang mengharuskan adanya pengakuan dan jaminan terhadap HAM diatur dalam konstitusi. Selain itu dengan adanya pembatasan kewenangan dan masa jabatan bagi eksekutif (presiden). Pengalaman dengan pemerintahan yang didominasi eksekutif dan tiadanya kontrol terhadapnya telah berlangsung lebih dari 32 tahun dan itu menimbulkan akibat-akibat seperti yang dialami saat ini. apalagi perubahan itu juga tidak dilakukan secara bersamaan. Perubahan ini berangkat dari pengalaman pemerintahan yang terjadi selama ini dengan sangat kuatnya eksekutif (presiden) dan lemahnya DPR. terutama dengan dimuatnya soal hak asasi manusia. Sistem dengan pencampuran semacam nampaknya akan masih menyisakan persoalanpersoalan. telah mengurangi dominasi dari pemerintahan yang eksekutif heavy.9 pasal UUD 1945 yang berkenaan dengan soal kewenangan eksekutif-legislatif serta pembatasan masa jabatan eksekutif (presiden). Pemerintahan Daerah (otonomi daerah). Perubahan dan penambahan kewenangan kepada DPR itu nampaknya hanya memindah masalah baru dan memperpanjang krisis politik. antara sistem pemerintahan presidensiil atau parlementer. Pertahanan dan Keamanan Negara. Bahasa. sebagai upaya untuk memberdayakan legislatif terutama dalam fungsinya melakukan kontrol terhadap eksekutif. Dan sebagai perimbangannya diberikan kewenangan-kewenangan kepada DPR. Kesemuanya masih menggantung. Namun pergeseran itu sendiri. Mengingat hanya ada dua model pemerintahan yang dianut negaranegara demokrasi lainnya. Indonesia dikategorikan menganut sistem percampuran (quasi) antara keduanya berdasarkan distribusi kekuasaan bukan atas dasar pemisahan kekuasaan. karena tidak berangkat dari kerangka dasar disertai pemahaman yang jelas. Dengan penambahan kewenangan kepada DPR.

kekhawatiran bubarnya negara.Satu hal mendasar lagi adalah tentang keberadaan MPR yang dalam posisinya sebagai lembaga tertinggi negara membuat rancu sistem pemerintahan yang demokratis. Sesungguhnya kekhawatiran bubarnya negara jika pembukaan diubah tidaklah beralasan. Bahkan kalau mau jujur saat ini model pemerintahan yang diterapkan sudah condong jauh kearah parlementarian. karena perannya juga seperti lembaga legeslatif namun ia bukan lembaga legeslatif. Dan perubahan pembukaan itu ternyataa tidak menyebabkan bubarnya negara. Disamping mengubah dan menambah materi dalam UUD 1945. MPR terlalu tergesa-gesa menutup ruang publik yang hendak mempertanyakan kembali esensi dari ketiganya dan publik dipaksa untuk menerima sesuatu yang diluar kehendak dan pada kenyataannya adalah berbeda. Keputusan untuk tidak mengubah ketiga hal tersebut secara politis memang terkesan telah menjadi kehendak mayoritas bangsa. Dalam soal negara kesatuan misalnya. karena secara historis para founding fathers yang merumuskan pembukaan itu juga telah mengubahnya dalam pembukaan Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950. Terhadap soal pembukaan. MPR yang dimaknai sebagai representasi kekuasan tertinggi rakyat dan dapat melakukan kontrol terhadap kekuasaan lainnya menjadi super body yang tidak dapat dikontrol. Dengan ³ditutupnya´ ruang publik untuk 12 . Alasan yang dikemukakan lebih menekankan pada penghargaan terhadap para pendiri bangsa yang telah merumuskan itu. pada kenyataannya masih ada unsur-unsur pemerintahan parlementarian yang dianut dan diterapkan. Meskipun telah ada pemikiran dan kehendak dari masyarakat untuk merekontruksi kembali posisi dan peran MPR terkait dengan keinginan pemilihan presiden secara langsung menjadi sistem bikameral atau meniadakannya sama sekali. Ruang publik itu telah dipenjara secara politis oleh MPR. Namun keputusan itu tidak berangkat dari kenyataan yang ada dan disertai pemahaman dan penerimaan publik yang rasional.kalau itu diubah dan adanya deologi negara pancasila dalam pembukaan. hasil perubahan-perubahan UUD 1945 itu belum menyentuh persoalan-persoalan yang menyangkut MPR. Sistem Pemerintahan Presidensiil dan Konsep Negara Kesatuan. MPR tidak memberikan alasan yang tepat dan cukup rasional diterima publik. Sedangkan penetapan sistem pemerintahan presidensiil. masyarakat telah menggugat konsep negara kesatuan dan ingin menggantikannya dengan negara federal untuk menghindar dari sentralisasi dan eksploitasi yang selama ini terjadi dalam negara kesatuan. MPR juga telah memutuskan untuk tidak mengubah Pembukaan.

yakni sebagai berikut. hasil perubahan UUD 1945 belum menjadikan identitas nasional baru yang sesuai dengan kebutuhan. Padahal masih banyak lagi sesungguhnya hak-hak yang hakikatnya diberikan kepada warga negara sebagai 13 . Hak Asasi Manusia (HAM) Dimuatnya materi soal hak asasi manusia dalam perubahan UUD 1945. Dirumuskannya materi HAM dalam bab tersendiri diharapkan akan memberikan perlindungan dan jaminan bagi pelaksanaan HAM di Indonesia. Beberapa persoalankelemahan yang terdapat dalam rumusan HAM ini adalah: a. dikhawatirkan akan tetap menimbulkan persoalan dikemudian hari. Mengingat peran konstitusi sebagai sumber dari segala sumber hukum dan sebagai kerangka kerja demokrasi yang mengatur dan menentukan posisi serta hubungan lembaga presiden. catatan dibawah ini dibuat sistematikanya berdasarkan tema/issue (bab perubahan) yang dilakukan. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa hasil perubahan UUD 1945 tidak menunjukkan perubahan yang mendasar bagi bangunan negara Indonesia yang demokratis kedepan. sehingga terkesan bahwa Anggota MPR tidak dilandasi pemahaman yang mendalam tentang esensi HAM yang harus diatur dalam UUD.merupakan satu langkah maju.3. sistem presidensiil dan negara kesatuan bisa muncul sewaktu-waktu. legeslatif dan yudikatif. bila dijabarkan keseluruhan. 2. Rumusan-rumusan HAM ini. Guna memudahkan pemahaman. juga pemerintahan yang bersifat desentralistik. Lebih dari itu.dapat menerima ketiga hal tersebut secara obyektif dan rasional. secara substansial rumusan rumusan yang dihasilkan tidak mengelaborasi secara rinci seluruh hak asasi manusia. Catatan-catatan ini ditujukan untuk dapat melihat secara komprehensif dan menelaah lebih jauh beberapa kekurangan-kelemahan dari hasil amandement UUD 1945. tuntutan dan gugatan terhadap pembukaan. aspirasi dan semangat yang berkembang saat ini. Rumusan HAM ini dibuat di Sidang Tahunan MPR 2000 dalam Bab XA Pasal 28 Perubahan Ke-II UUD 1945 yang perumusannya terdiri dari 10 pasal (A ± J). Ibaratnya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Hal ini terlihat pula dalam contoh hak yang diberikan untuk warga negara dalam pasal 28 D (3) ³Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan ³ hanya diatur dalam satu pasal. hasil perubahan-perubahan UUD 1945 belum memberikan jaminan soal itu. karena sebelumnya dalam UUD 1945 dapat dikatakan ³tidak ada´ sama sekali materi atau bab tersendiri soal HAM.1.

Penyusunan pasal-pasal HAM itu juga kurang sistematis dan tidak didasari pada pembidangan HAM dalam hak politik. c. Misalnya soal penyiksaan dalam pasal 28 G (2) dan 28 I (1). b. Seharusnya adalah kewajiban negara untuk melindungi apa-apa yang telah diakui sebagai hak asasi seseorang bukan malah menyembunyikannya. hak sipil. Demikian pula dalam rumusan pasal lainnya seperti berhak untuk mendapat pendidikan (pasal 28 C ayat 1) berhak untuk memperoleh informasi (pasal 28 F). menimbulkan ketidakjelasan dan persoalan/kontroversi baru. Rumusan ini mengundang pertanyaan apa yang dimaksud dengan ³dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban itu´? Penggunaan kata µtradisional¶ lebih mengarah kepada pengertian yang sempit. d. Bahkan dalam beberapa soal perumusannya disebut disebut dua kali yakni. 14 . Hal ini dapat dilihat. Apabila ditinjau dari tujuan negara sebagaimana diatur dalam Pembukaan UUD maka ada hak-hak yang secara khusus hanya dimiliki dan diberikan oleh negara hanya untuk warganegara. begitu pula hak pendidikan dipisahkan dengan hak memilih pendidikan dan pengajaran. ketentuan hak asasi warga negara ini harus diatur serta dalam mengelaborasi ketentuan mengenai hak asasi manusia perlu kiranya dibedakan antara hak yang diberikan kepada setiap orang dengan hak yang diberikan kepada warga negara.konsekuensi kalau UUD adalah hukum dasar yang substansinya antara lain mengenai bagaimana hubungan antara negara dan warga negara. masih rancu. hal ini dapat dilihat dari rumusan-rumusan Rumusan pasal 28D (2) yang berbunyi ³setiap orang berhak untuk bekerja«´ rumusan semacam itu ada pemikiran berusaha untuk menghilangkan/ menyembunyikan tanggungjawab negara. Berbeda esensinya dengan rumusan yang berbunyi ³setiap orang berhak atas pekerjaan«´. demikian pula soal hak beragama (pasal 28E ayat 1 dan pasal 28I ayat 1) dan hak hidup (pasal 28A dan pasal 28I ayat (1). sosial. Rumusan ± rumusan HAM itu juga tidak sesuai dengan Deklarasi Umum HAM atau International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Oleh karena itu. seperti yang tertuang dalam pasal 23 ayat 1 DUHAM. hak sosialbudaya. hak ekonomi. misalnya dipisahkannya hak bekerja dengan hak memilih pekerjaan. Pasal 28I (3) yang berbunyi ³Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban´. Malah perumusannya disatukan atau dicampurbaur antara satu soal dengan soal lain. dan politik. yang hanya berkaitan dengan identitas budaya tidak menerjemahkan secara lebih luas mencakup hak ekonomi.

Dalam perumusan pasal 28 I (1) dimasukkan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut (prinsip non retroaktif) yang lengkapnya berbunyi ³hak untuk hidup. suatu hal yang kurang disadari oleh para anggota MPR. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun´. yang statusnya sama dengan undang-undang.e. Adanya penegasan untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut karena belum ada aturan ketentuan sebelumnya atau dikenal dengan asas nonretroaktif telah mengadposi secara mentah Konvensi Hak Sipil dan Politik tanpa mengetahui prinsip dasarnya. dan menjadi dilematis apabila diterapkan. Berarti. Rumusan itu telah memutlakkan prinsip non retroaktif dan tidak membuka peluang bagi digunakannya prinsip-prinsip hukum internasional seperti yang tertuang dalam pasal 11(2) DUHAM dan pasal 15 (1-2) ICCPR (Konvensi Hak Sipil dan Politik). hak untuk tidak diperbudak. Perumusan pasal ini juga dipandang sangat lemah. sebagaimana dimaksud Konvensi Geneva 1949. rumusan itu tidak menyerap seluruh aspirasi dalam DUHAM dan ICCPR yang mengakui adanya kewenangan untuk mengadili para pelanggaran HAM masa lalu. Karena sepertinya kita mengikat tangan sendiri. keterbatasan dana pemerintah yang selalu menjadi alasan untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar dapat diterima masyarakat. jika dikaitkan dengan ketentuan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana pula dicantumkan dalam UUD akan berakibat pada masalah pelanggaran hak asasi manusia. Prinsip itu memang merupakan prinsip hukum pidana modern yang oleh sistem hukum internasional ditempatkan sebagai hak yang bersifat sekunder ketika berhadapan dengan asas keadilan dan adanya kejahatan HAM berat. Maka dari itu perlu dipertimbangkan secara serius apakah asas non derogable tetap akan dipertahankan dalam UUD atau dihilangkan. 15 . Meskipun ada klausul lain dalam pasal 28 J (2) yang menyatakan wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Oleh karena itu keberadaan pasal itu bukan untuk melindungi para pelanggar HAM melainkan untuk tempat persembunyian para pelaku pelanggaran HAM. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. yang dianggap sebagai kejahatan menurut hukum nasional maupun internasional. hal ini bisa berdampak serius mengingat bahwa penempatan pasal ini ada dalam konstitusi yang merupakan hukum tertinggi yang tidak mungkin dikalahkan peraturan perundangan dibawahnya. Sementara di pihak lain. dengan memasukkan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun (non derogable) kedalam UUD. Artinya. apalagi bila mengingat bahwa PBB sendiri hanya meletakkan non derogable rights dalam kovenan. hak beragama. hak untuk tidak disiksa.

Namun konsekwensinya yang terjadi kemudian adalah terhambatnya prosesproses pemulihan yang harus dilakukan oleh presiden karena kesemuanya harus melalui mekanisme atau prosedur DPR. hak angket dan hak menyatakan pendapat untuk menjalankan fungsinya (pasal 20A ayat 2). Terhadap pemberian kewenangan/kekuasaan kepada DPR dapat terlihat dalam rumusan-rumusan perubahan pertama UUD 1945. hal ini dapat dilihat dari tertundanya pembebasan Sdr. presiden membentuk departemen (pasal 17 ayat 4). Yakni dalam soal presiden mengangkat duta/konsul dan penerimaan/penempatan duta negara lain (pasal 13). Budiman Sujatmiko karena harus menunggu proses dari DPR dan pembubaran Departemen Sosial dan Penerangan yang menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan adanya upaya pemberdayaan dan meningkatkan peran DPR. Perubahan dengan semangat ³parlementarian´ itu. presiden memberi amnesti dan abolisi (pasal 14 ayat 2). Sama seperti halnya perubahan pada pasal 7 yang telah membatasi masa jabatan presiden dan wapres hanya untuk dua periode. Perubahanperubahan itu menjadikan lembaga DPR ³setara´ dengan presiden sebagai balance sekaligus kontrol terhadap peranan presiden. Sebagai contoh. Sedangkan dalam perubahan yang kedua kekuasaan DPR ini ditambah dengan memiliki hak interpelasi. 1. Kontruksi semacam ini nampaknya juga tidak menguntungkan juga bagi jalannya demokrasi.2. Artinya. harus dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPR.2 System Pemerintahan Yang akan dicermati soal sistem pemerintahan ini adalah rumusan perubahan yang berkenaan dengan pemberian kewenangan/kekuasaan kepada Legeslatif (DPR) dan pengurangan kewenangan presiden serta pembatasan masa jabatannya. satu sisi pemberian kekuasaan itu membuat DPR menjadi ³kuat´ dan disisi lain membuat presiden menjadi ³lemah´ tidak berdaya. termasuk dalam hal ini ketika presiden memberikan grasi dan rehabilitasi harus dengan pertimbangan MA (pasal 14 ayat 1) dan dalam memberikan gelar serta tanda jasa yang harus diatur dengan undangundang (pasal 15). telah menempatkan DPR pada posisi yang kurang proporsional karena tidak berangkat dari kebutuhan yang paling urgen yang sekarang dibutuhkan. meskipun masa jabatan dan kekuasaan presiden tidak dibatasi 16 . Hal ini menjadi dilematis. yang secara tidak langsung pula menandakan pembatasan kewenangan presiden yang besar.3.

yang hingga kini menggantung tidak jelas nasib penentuannya. RUU tersebut sah menjadi UU dan wajib diundangkan´. perihal pernyataan mengesahkan RUU oleh 17 . Misalnya dalam kasus RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) dan RUU Serikat Pekerja. pada akhirnya Presiden tidak mempunyai hak apakah akan menyetujui ataukah menolak RUU yang diusulkan DPR itu. pernyataan mengesahkan RUU untuk menjadi UU. Dan dalam pasal 20 (5) disebutkan ³Dalam hal rancangan UU yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak RUU tersebut disetujui. Selain itu ketentuan ini juga menimbulkan kendala lain apakah memang ketentuan ini berlaku surut terhadap RUU yang belum disahkan Presiden sebelum adanya amandemen kedua UUD. sedangkan dalam perubahan pasal 20 (1) DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. 2. Perubahan lainnya yang terjadi adalah dalam soal pengajuan dan pengesahan undang-undang. ada 3 hal pokok yang terkandung. Karena dari usulan rancangan UU yang diajukan DPR kepada Presiden itu. Namun ada ketentuan lainnya yg mengatur bahwa dalam pembahasan rancangan undang-undang dibahas oleh DPR bersama presiden untuk mendapat persetujuan bersama. dan kewenangan mengundang UU. Disisi lainnya dari ketentuan ini menimbulkan adanya abuse of power terhadap kewenangan DPR untuk mengusulkan rancangan undang-undang sekaligus untuk memaksa Presiden agar mensahkan RUU yang diajukan DPR tersebut. Dalam kekuasaan membuat undang-undang.seperti yang tertuang diatas. Dalam hal ini. (pasal 20 ayat 2). Kebebasan berekspresi. Rupanya pula pengertian pemegang kekuasaan membentuk undang-undang ini tidak dicermati secara benar. presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR. Perubahan ini menempatkan DPR pada posisi sebagai pemegang kekuasaan pembuat undangundang yang sebelumnya dipegang oleh presiden. yaitu persetujuan yang dilakukan oleh DPR dan Presiden. berorganisasi dan pers yang telah dijamin dapat menjadi kontrol yang efektif kepada kekuasaan presiden. Dua ketentuan ini membikin rancu dan mengundang kontroversi karena menempatkan secara bersama kewenangan presiden dan DPR dapat mengesahkan undang-undang. karena dalam amandemen pasal 20 (4) menyatakan bahwa Presiden mengesahkan Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama DPR dan Presiden untuk menjadi undang-undang. Berdasarkan perubahan pertama pasal 5 UUD 1945. disatu sisi. Kekuasaan ini tidak hanya DPR secara institusional namun juga secara personal anggota DPR mempunyai hak mengajukan usul rancangan undang-undang (pasal 21). diyakini dalam masa transisi tidak akan terjadi lagi penyalahgunaan kekuasaan lagi oleh presiden.

Perubahan itu ditambah lagi dengan adanya Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000 yang mengaharuskan adanya persetujuan DPR jika Presiden mengangkat Panglima TNI dan Kapolri. pembagian wilayah (ps 18 ayat 1). Rumusan ±rumusan ini dapat dikatakan masih menggunakan sebagian sistem presidensiil dan sebagian sistem parlementer. Presiden dan Wapres bersumpah /berjanji dihadapan pimpinan MPR dengan disaksikan oleh pimpinan MA´.VII/MPR/1973 yang dipakai sebagai landasan yuridis pengunduran diri Soeharto sebagai presiden.Presiden menimbulkan pertanyaan.3. Perubahan-perubahan dalam konteks sistem pemerintahan itu nampaknya cenderung memberi penguatan . pemilihan kepala daerah dan DPRD (ps 18 ayat 3&4). 5. Rumusan semacam ini dapat menimbulkan penafsiran yang beragam. Rumusan ini dapat menimbulkan penafsiran diskriminatif terhadap hak warga negara untuk menduduki jabatan di pemerintahan (presiden). Dengan kata lain DPR lah yang harus mengesahkan RUU menjadi UU berdasarkan asas kedaulatan rakyat. Dikarenakan masih belum jelasnya apa yang dimaksud dengan tidak dapat mengadakan sidang. terutama bagi faktor kepentingan politis baik yang dilakukan untuk kepentingan presiden sendiri maupun fraksi-fraksi politik di MPR. Hampir semua obyek yang merupakan proporsi undang-undang diatur dalam pasal ini. 2. yang amat rentan menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. 4. Rumusan ini nampaknya mengadopsi dari Ketetapan MPR No. Seharusnya. Seperti soal. jika mau konsisten prosedur itu menjadi kewenangan DPR sesuai dengan bunyi pasal 20 (1) Amandemen UUD 1945. sampai soal pengakuan terhadap masyarakat 18 . yang sebelumnya merupakan hak prerogatif presiden sebagaimana diatur dalam pasal 10 UUD 1945.terutama fungsi kontrolnya kepada DPR dengan melakukan pemangkasan terhadap peran dan kewenanangan presiden. Terhadap penambahan pasal 9 yang menyatakan ³jika MPR/DPR tidak dapat mengadakan sidang. Secara umum perumusan yang terkandung dalam pasal 18 ini tidak mensistematisir apa yang sesungguhnya harus diatur dalam UUD perihal otonomi daerah. dan itu termasuk bagian dari kekuasaan proses penerapan kekuasaan membentuk undang undang. apa syarat-syaratnya atau dalam kondisi yang bagaimana MPR/DPR itu dikatakan tidak dapat mengadakan sidang.3 Pemerintahan Daerah a. 3. Terhadap perubahan yang menyatakan bahwa ³presiden ialah warga negara Indonesia asli´ (pasal 6) apa yang menjadi ukuran ³asli´ itu tidaklah jelas.

Disini ada ketidak jelasan apa yang dimaksud dengan ³yang berciri Nusantara´ itu? apa yang kemudian menjadi tolak ukurnya? Bagaimana penentuannya yang meskipun akan diatur kembali lewat UU. TAP MPR No. 22 tahun 1999 yakni Otonomi yang luas. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dampak dari perbedaan ini disamping menimbulkan kotradiksi hukum. b. persoalan kemudian adalah bias apa yang hendak ditekankan karena harus diatur (atribusi) lagi dalam undang-undang. yakni di Amandemen Kedua UUD 1945. serta kehendak untuk merubah bentuk negara kesatuan menjadi federalisme tidak bisa dinafikkan begitu saja. Sehingga penempatan konsep pemerintahan daerah ini dalam konstitusi masih menjadi kendala. Penggunaan kata ³dibagi´ dalam perumusan ³Negara kesatuan RI dibagi atas daerah provinsi-provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota«. dan apa yang hendak dikonsepsikan dalam konstitusi ini perihal pemerintahan daerah (otonomi daerah). namun disisi lain pada kenyataan adanya tuntutan untuk membebaskan daerah (merdeka) seperti Aceh dan Papua. namun tetap seharusnya dari penentuan wilayah ini. nyata dan bertanggungjawab. c.«´ berbeda maknanya dengan apa yang sebelumnya dirumuskan dalam UU No. karena bisa jadi itu bukan merupakan rumusan yang final berdasarkan kehendak politis seluruh rakyat Indonesia. Dalam kasus lain. IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah dan UU No. Wilayah Negara Masalah wilayah negara dirumuskan dalam Bab IX A pasal 25 E yang menyatakan bahwa ³Negara Kesatuan RI adalah sebuah negara kesatuan yang berciri Nusantara dengan wilayah dan hak-haknya ditetapkan dengan UU´.hukum adat (ps. dengan mengacu hukum 19 . Konsepsi otonomi daerah dalam rumusan pasal 18 (5) yang berbunyi ³ Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. Kalaupun itu mau diatur dalam UUD. 2. Karena pengertian ³dibagi´ ini tergantung dari interprestasi pemerintah pusat yang tidak didasari realitas dan aspirasi masing-masing daerah.´ Dapat menimbulkan kontradiksi. juga akan menimbulkan interpretasi yang beragam dalam pelaksanaannya.3.4. Dan seharusnya digunakan kata terdiri yang lebih menunjukan prinsip independensi dan egalitarian dalam mewujudkan otonomi daerah. Hal ini berkenaan dengan adanya beragam format pengaturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah/otonomi daerah. 18B ayat 2). meskipun prinsip pemerintahan daerah dengan otonomi daerah itu merupakan hakikat dalam konteks negara kesatuan.

Dengan kewajiban itu akan memudahkan siapapun yang mempunyai kewenangan (dalam hal ini alat negara yang bernama TNI) untuk melakukan mobilisasi secara paksa terhadap warga negara.3. yang perlu dicermati kemudian adalah siapa yang berwenang untuk menengahi apabila suatu saat terjadi persinggungan antara kekuatan pertahanan dan keamanan. dimana sistem Pertahanan dipegang oleh kekuatan TNI dan sistem keamanan yang dipegang oleh POLRI. 2. Ketentuan pasal 35 amandemen II UUD 1945 (tentang Pertahanan dan Keamanan Negara) ini memperbaharui ketentuan dari pasal 30 UUD 1945 (tentang Pertahanan Negara). maka terlihat adanya paksaan dari negara kepada warga negaranya untuk ikut serta dalam usaha pertahanan negara.kebijakan itu amat bertentangan dengan kehendak tuntutan dicabutnya dwifungsi TNI dan penempatan kontrol militer dibawah sipil. Pertahanan dan Keamanan Dalam pasal 35 ayat 1 amandemen II UUD 1945 disebutkan bahwa ³Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan negara. 20 . dan AU. setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. 2. Warga Negara dan Penduduk Dalam pasal 27 (3) bab tentang warga negara disebutkan bahwa. AL. AL. Misalnya dari ketentuan pasal 7 UUD 1945 yang mensyaratkan bahwa Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas AD. dan AU pun berada di tangan Presiden.5. Dari pemisahan kedua sistem ini. Bila hal ini menjadi suatu kewajiban bagi warga negara. bila mengingat pula Ketetapan MPR No. Upaya ini amat rentan terhadap kemungkinan terjadinya konflik horizontal yang dapat menimbulkan kerusuhan-kekerasan dalam skala yang luas. Dalam ketentuan pasal 35 Amandemen UUD 1945 ini dipisahkan antara kekuatan pertahanan dan keamanan negara yang semula berada dalam satu sistem (Sistem HANKAMARATA). masih ada ketentuan pasal yang menimbulkan kendala. Seharusnya hal mengenai pembelaan negara ini cukup menjadi hak dan bukan menjadi kewajiban warga negara.internasional. Dengan demikian kewenangan untuk mengangkat Panglima AD. untuk mencegah terulangnya kembali ³ekspansi´ dalam kasus Timur-Timor. VII/MPR/2000 bahwa untuk penentuan Panglima TNI/Kapolri harus melalui persetujuan DPR. Dari UUD 1945. (misalnya RUU Kepolisian) agar antara peraturan satu dengan lainnya tidak saling bertentangan.6. Dengan adanya ketentuan pasal 35 ini berarti pula harus pula diperhatikan ketentuan peraturan-peraturan dibawah UUD yang berkaitan dengan TNI dan POLRI. Sehingga kedudukan Panglima TNI sejajar atau bahkan diatas kedudukan menteri.3.´ Dalam hal usaha pertahanan negara ini seharusnya bukan menjadi kewajiban tetapi menjadi hak dan kehormatan bagi warga negara.

Selain sifatnya restriktif. menyangkut masalah teknik yuridis. yang diharapkan dapat membantu penyampaian aspirasi daerah. yaitu : a. penjelasan mengenai pasal-pasal yang diamandemen pun minim. Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dinilai belum transformatif. apakah paham kenegaraan integralistik atau demokrasi konstitusional. Akibatnya. lebih terfokus pada aspek restriktif negara dan aspek protektif individu dalam hak asasi manusia aspek restriktif ini merupakan koreksi langsung terhadap. yakni lemahnya kemampuan legal drafting dalam merumuskan dan menyusun pasal-pasal. yaitu Indonesia dan Myanmar. yang tampak dari segi sistematika yang rancu maupun bahasa hukum yang dipergunakan. banyak pasal hasil amandemen yang tumpang tindih. Kedua. Demikian pula peningkatan otonomi daerah yang membatasi kekuasaan pusat. kontradiktif. terkait dengan masalah konseptual. Jadi hanya tinggal dua negara didunia ini yang Panglima TNI berada tidak di bawah Menhankam. misalnya. Secara umum perumusan amandemen UUD 1945 ada beberapa kelemahan mendasar. Amandemen UUD 1945 memiliki pula aspek protektif dengan dicantumkannya 10 pasal (28A sampai 28J) tentang HAM. tiadanya pembatasan masa jabatan presiden di masa Presiden Soeharto. amandemen UUD 1945 juga memiliki aspek integratif yang tercermin dari pembentukan DPD.4 PANDANGAN PENOLAKAN TERHADAP UUD 1945 Adanya pro dan kontra amandemen UUD 1945 dilihat dari perspektif konstitusionalisme adalah karena belum jelasnya konsep kenegaraan (staatsidee) yang kita anut. dan masyarakat adat. partisipasi publik rendah. bukan oleh komisi independen. d. e.Nampaknya masih ada upaya konsolidasi militer dan menarik-narik kembali militer kekancah politik. Konstitusi ini masih bersifat parsial. Dibuat Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan memungkinkan multitafsir. proteksi bahasa daerah. Amandemen UUD 1945 ini juga tak memiliki content draft yang utuh. Adapun beberapa alasan penolakan atas amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan sebagai berikut : c. Publik tidak diberi peluang menilai perubahan yang dilakukan. adanya kelemahan tersebut tidak berarti kita harus kembali kepada UUD 1945. Pertama. b. Selain itu. 2. Namun. 21 . MPR tidak memiliki konsep atau desain ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang hendak dicapai melalui serangkaian amandemen itu.

i. tampak amandemen belum bersifat membatasi (restriktif) kekuasaan legislatif terhadap pemilih.Rakyat pemilih tidak dapat melakukan impeachment pada wakil rakyat yang tidak menjalankan aspirasi mereka. tidak tercantumnya otonomi khusus Aceh dan Papua maupun Yogyakarta. Kurangnya kemampuan rakyat sebagai pemegang kedaulatan melakukan koreksi atas pihak yang dititipi kedaulatan. tidak dicantumkan supremasi otoritas sipil terhadap militer 3.f. h. "Salah satu contoh terjadinya perombakan itu pada pasal 1 ayat 2 UUD 45 yang berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. yakni DPR. sehingga peraturan di bawah konstitusi dapat mengurangi arti kekhususan otonomi. Amandemen yang telah dilakukan masih meninggalkan tiga hal yang penting dilihat dari segi kedaulatan : 1. g. dan pemerintah pusat terhadap daerah otonomi khusus. militer terhadap sipil. Sekarang dirombak menjadi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD. Hal ini akan menimbulkan kontroversi. perombakan itu membawa implikasi perubahan hukum yaitu hilangnya eksistensi konstitusional MPR dan tidak lagi penyelenggara negara yang tertinggi. Sebaliknya. Hilangnya Kemampuan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. tiadanya kemampuan rakyat pemilih menarik kedaulatan mereka 2. pola pemecatan pejabat eksekutif dapat dilakukan oleh lembaga legislatif 22 .

kontradiktif. Pertama. keempat amandemen yang telah dilakukan masih meninggalkan tiga hal yang penting dilihat dari segi kedaulatan. Ketiga. tiadanya kemampuan rakyat pemilih menarik kedaulatan mereka. Kedua.. banyak pasal hasil amandemen yang tumpang tindih. Perbedaan perdapat yang terjadi pula terkait dengan masalah konseptual. Permasalahan pokok yang mengakibatkan terjadinya perdebatan adalah perumusan amandemen UUD 1945 yang multitafsir. Akibatnya. yakni lemahnya kemampuan legal drafting dalam merumuskan dan menyusun pasal-pasal. dan memungkinkan multitafsir 2. sehingga peraturan di bawah konstitusi dapat mengurangi arti kekhususan otonomi. tidak tercantumnya otonomi khusus Aceh dan Papua maupun Yogyakarta. yang tampak dari segi sistematika yang rancu maupun bahasa hukum yang dipergunakan. 3. Maka penyusun dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : 1. tidak dicantumkan supremasi otoritas sipil terhadap militer. MPR tidak memiliki konsep atau desain ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang hendak dicapai melalui serangkaian amandemen itu.BAB III KESIMPULAN Melihat dengan adanya pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. 23 .

pikiran-rakyat.blogspot.id/ http://makalahdanskripsi.mpr.com/ http://www.DAFTAR PUSTAKA http://www.go.com 24 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful