P. 1
MANUAL ASPAL

MANUAL ASPAL

5.0

|Views: 9,995|Likes:
Published by athawenger
VERY GOOD BOOK
VERY GOOD BOOK

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: athawenger on Feb 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2015

pdf

text

original

Berat Jenis bulk, volume dipandang volume menyeluruh agregat, termasuk volume pori
yang dapat terisi oleh air setelah direndam selama 24 jam. Berat Jenis Semu, volume
dipandang sebagai volume menyeluruh dari agregat, tidak termasuk volume pori yang
dapat terisi air setelah perendaman selama 24 jam. Berat Jenis efektif, volume
dipandang volume menyeluruh dari agregat tidak termasuk volume pori yang dapat
menghisap aspal.

Berat Jenis dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :

Berat Jenis Semu:

Berat Jenis curah :

Gsa Ws
Vs w

=

Gsb

Ws
Vs Vpp w

=

+

(

).γ

58 dari 197

Berat Jenis efektif :

Dengan pengertian :

Ws = Berat agregat kering
γw = Berat Isi air= 1 g/cm3
Vs = volume bagian padat agregat
Vpp = Volume pori meresap air
Vap = Volume pori meresap aspal
Vpp-Vap = volume pori meresap air yang tidak meresap aspal

Pemilihan macam berat jenis untuk suatu agregat yang digunakan dalam rancangan
campuran beraspal, dapat berpengaruh besar terhadap banyaknya rongga udara yang
diperhitungkan. Bila digunakan Berat Jenis Semu maka aspal dianggap dapat terhisap
oleh semua pori yang dapat menyerap air. Bila digunakan Berat Jenis Bulk, maka aspal
dianggap tidak dapat dihisap oleh pori-pori yang dapat menyerap air. Konsep mengenai
Berat Jenis Efektif dianggap paling mendekati nilai sebenarnya untuk menentukan
besarnya rongga udara dalam campuran beraspal. Bila digunakan berbagai kombinasi
agregat maka perlu mengadakan penyesuaian mengenai Berat Jenis, karena Berat Jenis
masing-masing bahan berbeda.

a) Berat Jenis dan penyerapan agregat kasar
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1969-1990 dengan garis besar
sebagai berikut :
- Siapkan sekitar 5 kg benda uji tertahan saringan No.4 (4,75 mm) dan cuci untuk
menghilangkan debu atau bahan lain yang melekat pada permukaan.
- Keringkan benda uji dalam oven sampai berat tetap.
- Dinginkan benda uji pada temperatur kamar selama 1-3 jam, kemudian timbang
dengan ketelitian 0,5 gram (Bk).
- Rendam benda uji dalam air selama 24 jam.
- Keluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air pada
permukaan hilang.
- Timbang benda uji kering-permukaan jenuh (Bj).
- Letakkan benda uji didalam keranjang, goncangkan batunya untuk mengeluarkan
udara yang tersekap dan tentukan beratnya di dalam air (Ba), dan ukur temperatur
air untuk penyesuaian perhitungan ke temperatur standar (25°C).

Berat Jenis dan Penyerapan agregat kasar dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :

- Berat Jenis Curah (bulk specific gravity) =

- Berat Jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry) =

Ba

BjBk

Ba

BjBj

Gse

Ws
Vs Vpp Vap w

=

+ −

(

).γ

59 dari 197

- Berat Jenis semu (apparent specific gravity) =

- Penyerapan (absorpsi) =

dengan pengertian :

Bk = berat benda uji kering oven, dalam gram
Bj = berat benda uji kering permukaan jenuh, dalam gram
Ba= berat benda uji kering permukaan jenuh di dalam air, dalam gram

b) Berat Jenis dan penyerapan agregat halus
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1970-1990 dengan garis besar
sebagai berikut:
- Sekitar 1000 gram agregat halus dikeringkan sampai berat tetap.
- Benda uji direndam di dalam air selama 24 jam.
- Buang air perendam, tebarkan agregat diatas talam, keringkan di udara dengan
cara membalik-balikkan benda uji, lakukan pengeringan hingga tercapai keadaan
kering permukaan jenuh.
- Benda uji kering permukaan jenuh sebanyak 500 gram (A) dimasukkan ke dalam
piknometer. Masukkan air suling ke dalam piknometer, putar sambil diguncang
sampai tidak terlihat gelembung udara di dalamnya, dapat juga dilakukan dengan
merebus piknometer.
- Rendam piknometer dalam air dan ukur temperatur air untuk penyesuaian
perhitungan ke temperatur standar (25°C).
- Tambahkan air hingga mencapai tanda batas. Timbang piknometer berisi air dan
benda uji (Bt).
- Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven sampai berat tetap.
- Benda uji ditimbang setelah dingin (Bk).

Berat Jenis dan Penyerapan agregat halus dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :

- Berat Jenis Curah (bulk specific gravity) =

- Berat Jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry) =

%

100

x

BkBk

Bj

Ba

BjBk

Bk
B A Bt

+ −

A
B A Bt

+ −

60 dari 197

- Berat Jenis semu (apparent specific gravity) =

- Penyerapan (absorpsi) =

Dengan pengertian :

Bk = berat benda uji kering oven, dalam gram
B = berat piknometer berisi air, dalam gram
Bt = berat piknometer berisi benda uji dan air, dalam gram
A = 500 = berat benda uji dalam keadaan kering permukaan jenuh, dalam gram

6.1.1.4.2 Penyerapan (absorpsi)

Agregat hendaknya sedikit berpori agar dapat menyerap aspal, sehingga terbentuklah
suatu ikatan mekanis antara film-aspal dan butiran batu. Agregat berpori banyak akan
menyerap aspal besar pula sehingga tidak ekonomis. Agregat berpori terlalu besar
umumnya tidak dapat digunakan sebagai bahan campuran beraspal.

6.1.1.5 Pemeriksaan keausan dengan mesin abrasi

Pada pekerjaan jalan, agregat akan mengalami proses tambahan seperti pemecahan,
pengikisan akibat cuaca, pengausan akibat lalu lintas. Guna mengatasi hal tersebut,
agregat harus mempunyai daya tahan yang cukup terhadap pemecahan (crushing),
penurunan (degradation) dan penghancuran (disintegration).

Agregat pada atau didekat permukaan perkerasan memerlukan kekerasan dan
mempunyai daya tahan terhadap pengausan yang lebih besar dibandingkan dengan
agregat yang letaknya pada lapisan lebih bawah, karena bagian atas perkerasan
menerima beban terbesar.

Agregat dengan nilai keausan yang besar mudah pecah selama pemadatan atau akibat
pengaruh beban lalu-lintas atau hal lainnya tidak diijinkan karena beberapa sebab :

a) Gradasi akan berubah karena agregat yang kasar akan menjadi butiran yang halus.
Dengan demikian agregat mempunyai gradasi yang tidak memadai.
b) Agregat yang lemah tidak akan menghasilkan lapisan yang kuat karena bidang
pengunci yang bersudut mudah pecah.

Ketahanan agregat terhadap keausan dapat dilakukan dengan pengujian keausan
agregat dengan mesin abrasi Los Angeles (SNI-03-2417-1991), seperti diperlihatkan
pada Gambar 28. Pengujian dilaksanakan pada ukuran agregat kasar atau sedang
dengan variasi gradasi A, B, C atau D .

Agregat dengan perbandingan dan ukuran yang benar dimasukkan kedalam alat (drum)
yang diisi bola baja dengan diameter 46,80 mm. Drum diputar sebanyak 500 putaran.

Bt

Bk
B Bk

+

(

)

A Bk
Bk x

100%

61 dari 197

Bagian agregat yang hancur yang besarnya lebih kecil dari ukuran saringan 1,7 mm
ditimbang dan beratnya dinyatakan dalam persentase terhadap benda uji semula.

Gambar 28 Mesin abrasi Los Angeles

6.1.1.6 Pengujian setara pasir (sand equivalent)

Agregat yang digunakan sebagai bahan jalan harus bersih, bebas dari zat-zat asing
seperti tumbuhan, butiran lunak, gumpalan tanah liat (lempung) atau lapisan tanah liat
(lempung).

Kebersihan agregat sering dapat dilihat secara visual, namun dengan suatu analisa
saringan disertai pencucian agregat akan memberikan hasil yang lebih akurat, bersih
atau tidaknya agregat tersebut.

Pengujian setara pasir (sand equivalent test) dilakukan untuk menentukan perbandingan
relatif dari bagian yang dapat merugikan (seperti butiran lunak dan lempung) terhadap
bagian agregat yang lolos saringan No.4. Secara garis besar dilakukan sebagai berikut :

- Benda uji dimasukkan kedalam takaran yang berisi larutan calcium chloride,
glyserine dan formaldehyde dalam air.
- Benda uji dan larutan dikocok dengan cara yang sesuai.
- Larutan yang sama secara perlahan-lahan diisikan kedalam tabung irrigator yang
diberi tekanan
- Setelah mencapai pengendapaan selama 20 menit, baca dan catat tinggi suspensi
tanah liat (suspensi : sesuatu yang dapat mengambang dalam cairan)
- Sebuah kaki alat yang dibebani, dimasukkan kedalam silinder pengukur dan
dibiarkan berdiri diatas pasir yang mengendap dibawah suspensi tersebut.
- Kemudian dibaca tinggi alas kaki tersebut.
- Nilai sand equivalent ialah perbandingan pembacaan tinggi pasir dengan pembacaan
tinggi suspensi tanah liat (dalam %).

62 dari 197

6.1.1.7 Pemeriksaan gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecah
dalam agregat

Sebagai bahan jalan, butiran agregat yang lemah tidak dikehendaki. Butiran-butiran yang
menjadi lemah jika terkena air lebih tidak diinginkan karena perkerasan jalan akan
terkena tingkat kebasahan yang tinggi, selain hal tersebut jika sampai pecah biasanya
menunjukkan suatu kecenderungan bahwa butiran lemah ini mengandung lempung.

Alat dan prosedur pengujian diuraikan pada SNI 03-4141-1996, secara garis besar
adalah sebagai berikut :

Agregat yang berukuran tertahan saringan 1,18 mm dipisahkan menjadi beberapa fraksi
dan direndam sekitar 24 jam. Butiran-butiran tersebut diremas dengan jari guna melihat
apakah agregat tersebut mudah pecah atau tidak. Butiran halus yang terjadi disaring dan
ditimbang. Persentase dari setiap fraksi ukuran agregat yang mudah pecah kemudian
ditentukan dengan formula sebagai berikut :

Dengan pengertian :

P = gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam agregat (%).
W = berat benda uji (gram).
R = berat benda uji kering oven yang tertahan pada masing-masing ukuran
saringan setelah dilakukan penyaringan basah (gram).

6.1.1.8 Pemeriksaan daya lekat agregat terhadap aspal (affinity)

Stripping yaitu pemisahan aspal dari agregat akibat pengaruh air, dapat membuat
agregat tidak cocok untuk bahan campuran beraspal karena bahan tersebut mempunyai
sifat hydrophylik (senang terhadap air). Jenis agregat yang menunjukkan sifat ketahanan
yang tinggi terhadap pemisahan aspal (film-stripping), biasanya merupakan bahan
agregat yang cocok untuk campuran beraspal. Agregat semacam ini bersifat
hydrophobik (tidak suka kepada air). Prosedur pengujian untuk menentukan kelekatan
agregat terhadap aspal diuraikan pada SNI 06-2439-1991.

SNI 06-2439-1991 menguraikan cara pengujian kelekatan agregat terhadap aspal
dengan berbagai pelapisan yaitu pelapisan agregat dengan aspal cair, aspal emulsi dan
aspal keras. Garis besar pengujian kelekatan agregat dengan menggunakan aspal cair
adalah sebagai berikut :

- Benda uji adalah agregat lolos saringan 9,5 mm (3/8 in.) dan tertahan saringan 6,3
mm (1/4 in.).
- Masukkan 100 gram benda uji kedalam wadah.
- Isi aspal sekitar 5,5 gram yang telah dipanaskan pada temperatur yang sesuai.
- Aduk aspal dan benda uji sampai merata selama 2 menit.
- Masukkan adukan beserta wadahnya dalam oven pada temperatur 60°C selama 2

jam.

- Keluarkan adukan beserta wadahnya dari oven dan diaduk kembali sampai dingin.
- Pindahkan adukan kedalam tabung gelas kimia.
- Isi dengan air suling sebanyak 400 ml kemudian diamkan pada temperatur ruang
selama 16 sampai 18 jam.

%

100

)

(

x

W R

W
P

=

63 dari 197

- Perkirakan prosentase luas permukaan yang masih terselimuti aspal.

Prosedur pengujian kelekatan agregat dengan menggunakan aspal emulsi atau aspal
keras pada prinsipnya sama tetapi beberapa tahap pengujian berlainan seperti
temperatur dan lama contoh dalam oven, lama pengadukan dan sebagainya.

6.1.1.9 Angularitas

Angularitas merupakan suatu pengukuran penentuan jumlah agregat berbidang pecah.
Susunan permukaan yang kasar yang menyerupai kekasaran kertas ampelas
mempunyai kecenderungan untuk menambah kekuatan campuran, dibanding dengan
permukaan yang licin. Ruangan agregat yang kasar biasanya lebih besar sehingga
menyediakan tambahan bagian untuk diselimuti oleh aspal.

Agregat dengan permukaan licin dengan mudah dapat dilapisi lapisan aspal tipis (asphalt
film), tetapi permukaan seperti ini tidak dapat memegang lapisan aspal tersebut tetap
pada tempatnya.

Tatacara pengujian angularitas agregat kasar diuraikan oleh Pennsylvania DoT Test
Method No.621 dan angularitas agregat halus ditentukan berdasarkan AASHTO TP-33
atau ASTM C 1252.

a) Angularitas agregat kasar

Angularitas agregat kasar adalah persentase dari berat partikel agregat lebih besar
dari 4,75 mm (No.4) dengan satu atau lebih bidang pecah. Secara garis besar
pengujian adalah sebagai berikut :

- Siapkan agregat yang telah dicuci dan kering tertahan saringan 4,75 mm (No.4)
kurang-lebih 500 gram.
- Pisahkan agregat diatas saringan 4,75 mm dan singkirkan agregat lolos saringan
4,75 mm, kemudian ditimbang (B).
- Seleksi dan timbang agregat pecah yang terdapat pada benda uji (A).

Angularitas agregat kasar dihitung dengan persamaan :

Dengan pengertian :

A = berat agregat yang mempunyai bidang pecah
B = berat total benda uji tertahan saringan 4,75 mm (No.4)

b) Angularitas agregat halus

Angularitas agregat halus adalah persen rongga udara yang terdapat pada agregat
padat lepas. Agregat halus merupakan agregat lolos saringan 2,36 mm (No.8). Makin
besar nilai rongga udara berarti makin besar bidang pecah yang terdapat pada
agregat halus. Garis besar pengujian adalah sebagai berikut :

- Siapkan benda uji agregat halus, cuci dan keringkan, kemudian dituangkan melalui
corong standar dengan tinggi dan jarak tertentu, kedalam silinder dengan volume
tertentu (V).

%

100

x

BA

s
Angularita
=

64 dari 197

- Timbang benda uji agregat halus yang mengisi volume silinder (W).
- Tentukan Berat Jenis Curah agregat halus (Gsb) yang digunakan untuk
menghitung volume agregat halus (W/Gsb).
- Angularitas agregat halus (persen rongga udara) dihitung sebagai berikut :

Dengan pengertian :

V = volume silinder
W = berat benda uji yang mengisi silinder
Gsb = Berat Jenis Curah agregat halus

6.1.1.10 Pemeriksaan kepipihan agregat

Bentuk butir (particle shape) agregat dibedakan menjadi 6 katagori yaitu bulat, tidak
beraturan, berbidang pecah (angular), pipih, panjang, pipih dan lonjong.

Pada umumnya ikatan antar butir yang baik diperoleh apabila bentuk butir bersudut
tajam dan berbentuk kubus; ikatan antar butir yang paling buruk adalah pada butiran
agregat yang berbentuk bulat. Agregat berbentuk kubus mempunyai kecenderungan
untuk saling mengunci satu sama lain apabila dipadatkan.

Agregat yang pipih dan atau panjang akan mudah patah apabila mendapat beban lalu-
lintas. Besarnya kepipihan dinyatakan dalam indek kepipihan. Banyaknya agregat yang
pipih dinyatakan dengan indeks kepipihan (flackiness index) dan agregat yang panjang
dinyatakan dengan indeks kelonjongan (elongation index). Diameter contoh agregat
kasar untuk pemeriksaan lebih besar dari 6,5 mm. Kepipihan dinyatakan dalam
persentase berat contoh agregat sebanyak minimum 200 butir agregat, dimana besarnya
bidang pipih lebih kecil dari 0,6 x ukuran rata-rata lubang yang sesuai. Sedangkan
indeks kelonjongan merupakan persentase berat contoh agregat dimana bagian yang
panjang lebih besar dari 1,8 x ukuran rata-rata lubang pengukur yang sesuai. Alat
pengujian ditunjukkan pada Gambar 29 dan tata cara pengujian diuraikan secara detail
pada BS 812 - 1975.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->