P. 1
MANUAL ASPAL

MANUAL ASPAL

5.0

|Views: 9,990|Likes:
Published by athawenger
VERY GOOD BOOK
VERY GOOD BOOK

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: athawenger on Feb 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2015

pdf

text

original

W

H

P

sudut gesek

V

W : Berat unit sepatu (screed)
P : Gaya tarik (alat finisher bergerak maju)
V : Tahanan gesek arah vertikal
H : Tahanan gesek arah horisontal

153 dari 197

Gaya tahanan campuran ditentukan oleh sudut yang dibentuk oleh pelat screed
dengan bidang horisontal (sudut gesek). Jika terjadi perubahan salah satu gaya
maka akan terjadi perubahan sudut pelat screed untuk mengimbanginya, sampai
tercapai kondisi keseimbangan (equilibrium). Perubahan sudut tersebut dimungkinkan
karena, pinsip screed yang menggambang/menggantung.
Perubahan keseimbangan (equilibrium) dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti
misalnya jika terjadi perubahan kecepatan atau perubahan kuantitas campuran
beraspal yang masuk ke pelat screed, dan perubahan temperatur campuran beraspal.
Keseimbangan akan tercapai kembali kira-kira setelah alat penghampar bergerak
sejauh 5 kali panjang lengan penarik (tow).
Sementara itu sudut yang dibentuk antara pelat screed dengan bidang horisontal
sangat menentukan ketebalan dan tekstur campuran beraspal yang akan dihasilkan.
Berikut ini disampaikan hal-hal yang dapat mempengaruhi tekstur dan ketebalan dari
hamparan campuran aspal panas yang dihasilkan, akibat dari perubahan sudut pelat
sepatu (screed) dengan bidang horisontal (angle of attack).

1) Pengaruh perubahan kecepatan
Sudut pelat screed dapat berubah jika terjadi perubahan kecepatan
penghamparan, dan baru stabil kembali setelah terjadi keseimbangan (equilibrium).
Penambahan kecepatan akan menyebabkan sudut yang dibentuk pelat screed
mengecil, dan sebaliknya jika pengurangan kecepatan akan menyebabkan
sudutnya membesar. Karena itu kecepatan dari alat penghampar harus dijaga
tetap konstan selama proses penghamparan agar diperoleh tekstur dan ketebalan
yang disyaratkan. Kecepatan alat penghampar disesuaikan dengan kapasitas
produksi unit pencampur aspal. Sebagai contoh untuk produksi unit pencampur
aspal (AMP) 454 ton (500 ton) per jam, untuk lebar penghamparan 3,7 m, dan
ketebalan lapisan 5 cm (tebal padat), maka kecepatan alat penghampar (finisher)
adalah sekitar 11,5 m per menit, atau dengan rumus :

Kecepatan alat (meter/jam) = produksi AMP (m3

/jam) / luas hamparan (m2
)

2) Pengaruh dari perubahan kuantitas campuran beraspal yang masuk ke screed
Karena prinsip sepatu (screed) yang menggantung/mengambang, maka apabila
kuantitas campuran beraspal yang masuk ke screed terlalu berlebih, maka pelat
screed berputar dan berakibat sudut yang dibentuk pelat screed berubah menjadi
lebih besar. Dan sebaliknya jika campuran beraspal yang masuk berkurang, akan
menyebabkan sudut tersebut mengecil, sampai kemudian tercapai kondisi
keseimbangan (equilibrium). Perubahan kuantitas campuran beraspal yang masuk
ke screed dapat disebabkan karena dihidupkan/dimatikan (on/off) pergerakan
conveyor. Prosedur ini benar jika pintu masukan penampung (hopper flow gate)
belum diatur secara benar dan pengaturan dilakukan dengan cara manual.
Pengaturan secara manual memerlukan keahlian operator yang baik untuk
menjamin kontinuitas aliran material ke screed. Jika memungkinkan disarankan
untuk menggunakan sistem pengontrol pasokan otomatis, sehingga pasokan
material dapat dijaga relatif konstan.
3) Pengaruh dari perubahan temperatur campuran beraspal
Perubahan temperatur campuran beraspal juga dapat mempengaruhi perubahan
sudut yang dibentuk pelat screed. Campuran beraspal yang dingin akan relatif
kaku dan tekanan ke pelat screed menjadi lebih besar dan berakibat sudut pelat
screed membesar. Demikian sebaliknya untuk campuran beraspal yang relatif
lebih panas, akan menyebabkan sudut pelat screed mengecil, sampai kemudian
mencapai kondisi keseimbangan (equilibrium).

154 dari 197

4) Pengaruh dari penghentian operasi alat penghampar
Jika alat penghampar (finisher) dapat dioperasikan secara terus menerus dengan
kecepatan yang tetap, maka tekstur dan ketebalan campuran beraspal yang
dihasilkan akan sangat baik. Pada umumnya alat penghampar (finisher) akan
berhenti sementara jika truk pengangkut campuran beraspal terlambat datang,
akibatnya akan terjadi perubahan sudut pelat screed. Harus diusahakan meskipun
relatif sulit, agar truk datang secara kontinyu dan pengisian kembali dilakukan
sebelum campuran beraspal dalam hopper berada di bawah elevasi pintu masukan
(flow gate) hopper.
Alat penghampar diusahakan bergerak terus dengan kecepatan relatif konstan.
Penghentian sementara dihindari sebisanya. Jika terjadi penghentian yang lama
akibat dari sesuatu hal, maka perlu dipertimbangkan untuk menghentikan
penghamparan dan menyiapkan konstruksi sambungan di lokasi tersebut.
Selanjutnya dilakukan pemadatan untuk mencapai kerataan dan kepadatan yang
disyaratkan. Seperti diketahui untuk mencapai kepadatan yang disyaratkan
pengaruh temperatur sangat penting. Jika temperatur campuran beraspal yang
berada di dekat/di bawah alat penghampar (finisher) dibiarkan dingin sampai di
bawah temperatur pemadatan yang disyaratkan, maka pada segmen tersebut tidak
akan tercapai kepadatan dan kerataan yang disyaratkan. Karena pentingnya
pengaruh temperatur terhadap pencapaian kepadatan campuran beraspal yang
disyaratkan, maka jika campuran beraspal telah dingin (temperaturnya di bawah
persyaratan), campuran tersebut harus dibuang.

Proses selanjutnya pada unit screed adalah pra-pemadatan dengan pemadat jenis
pemadat tumbuk (tamping bars-type) atau dengan jenis pemadat getar (vibrating
type).

1) Jenis pemadat tumbuk (tamping bars type)
Jenis ini memadatkan campuran beraspal dengan cara seperti menumbuk dan
memposisikan material di bawah pelat screed, sesuai dengan ketebalan yang
diinginkan. Gambar 81 di bawah ini memperlihatkan skema dari jenis pemadat
tersebut.
Bagian yang penting dari jenis pemadat ini adalah tinggi jatuh penumbuk dan
perbedaan elevasi antara penumbuk dengan pelat screed. Tinggi jatuh penumbuk
kira-kira 3,2 mm (1/8 inci) dan melewati elevasi pelat screed kira-kira 0,4 mm (1/64
inci) lebih kebawah. Tinggi jatuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan
jejak/tanda (scuff) pada permukaan campuran beraspal, dan lewat terlalu jauh dari
elevasi pelat screed dapat menyebabkan permukaan campuran beraspal
bergelombang (rippling). Sebaliknya jika tinggi jatuh kurang tinggi dan jatuhnya
tidak melewati elevasi pelat screed dapat menyebabkan tekstur campuran beraspal
kasar atau terbuka / lubang-lubang (pitting) dan batuan yang besar tertarik
sehingga timbul goresan pada permukaan campuran beraspal. Untuk mencegah
kerusakan tekstur permukaan yang tidak diharapkan, maka sebelum pengoperasi
penumbuk (tamper) harus diperiksa tinggi jatuhnya dan perbedaan elevasi antara
penumbuk dengan pelat screed (elevasi penumbuk berada di bawah elevasi pelat
screed). Penumbuk juga harus berfungsi dengan baik, dan menghasilkan pra-
pemadatan yang sesuai.
Jika alat penumbuk tidak berfungsi dengan baik, maka akan terlihat tekstur yang
kasar atau terbuka dengan lubang atau goresan-goresan pada permukaan
beraspal.

155 dari 197

Gambar 81 Skema jenis pemadat tumbuk (tamping bar type)

10 Jenis pemadat getar (vibrating type)
Prinsip kerja dari jenis pemadat getar secara umum serupa dengan jenis pemadat
tumbuk (tamping bar type), perbedaanya hanya pada tenaga pemadat, yaitu
dihasilkan dari penggetar elektrik. Skema pemadat jenis ini diperlihatkan pada
Gambar 82.

Gambar 82 Skema jenis pemadat getar (vibrating type)

Usaha pra-pemadatan yang dihasilkan tergantung dari frekuensi (jumlah getaran per
menit) dan amplitudonya (besarnya gaya). Pada beberapa finisher frekuensi dan
amplitudo dapat dirubah-rubah sesuai dengan kebutuhan. Sementara pada finisher
yang lain frekuensi konstan dan hanya amplitudo yang dapat dirubah-rubah.
Frekuensi dan amplitudo harus diatur sesuai dengan ketebalan campuran beraspal,
kecepatan finisher, dan karakteristik dari campuran beraspal. Secara umum untuk
memperoleh kepadatan yang maksimal digunakan frekuensi maksimum dengan
pengaturan besaran amplitudo. Untuk tebal hamparan yang lebih tebal digunakan
amlitudo yang lebih besar. Amplitudo yang lebih besar akan menghasilkan usaha
pemadatan yang lebih besar. Amplitudo yang besar tidak cocok untuk campuran
beraspal yang tipis, karena getaran yang dihasikan tidak dapat diserap oleh
campuran beraspal. Getaran yang dihasilkan akan dipantulkan kembali oleh
perkerasan di bawahnya dan dapat menyebabkan segregasi pada permukaan.

Penumbuk

Screed

156 dari 197

Kecepatan pergerakan alat pemadat juga mempengaruhi usaha pemadatan yang
dilakukan. Semakin cepat pergerakan alat pemadat melewati suatu segmen
perkerasan, maka semakin kecil usaha pemadatan yang dilakukan pada segmen
tersebut. Karakteristik campuran yang relatif kaku akan memerlukan usaha
pemadatan yang relatif besar. Penyesuaian dapat dilakukan hanya satu kali selama
ketebalan dan karakteristik campuran beraspal tidak berubah

Bagian-bagian lainnya yang mendukung operasi penghamparan dalam unit screed,
adalah sebagai berikut :
1) Pemotong screed (Screed strike-offs)
Screed pada beberapa finisher dilengkapi dengan alat yang diletakkan pada ujung
depan pelat screed dan biasanya disebut dengan pemotong (strike-off). Alat ini
berfungsi mengontrol kuantitas campuran beraspal yang melewati depan screed
dan juga mengurangi keausan yang mungkin terjadi pada ujung pelat screed.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->