TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK DALAM PEMBELAJARAN VOKASIONAL Heri Subowo 1 Abstrak: Ada sedemikian banyak teori belajar yang

dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran konstruktivistik dapat menjadi salah satu pilihan yang cukup tepat untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran guru SMK khususnya untuk pembelajaran vokasional. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu, dalam pembelajaran konstruktivime harus dikemas dalam proses ”konstruksi” bukan ”menerima” pengetahuan. Kata Kunci: teori belajar, konstekstual, konstruktivistik, vokasional A. PENDAHULUAN Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka , dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektifitas metode pembelajaran. Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan tidak overload, dan mampu mengakomodasikan keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara makro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif dikelas, yang lebih memberdayakan potensi siswa. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi dikelaskelas kita. Pendekatan konstekstual (contekstual learning and teaching) adalah suatu pendekatan pengajaran yang karaktersitiknya memenuhi harapan itu. Pembelajaran konstekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dam mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam
1

Heri Subowo adalah guru SMKN 3 Boyolangu Tulungagung, yang telah menyelesaikan tugas belajarnya pada Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Kejuruan Universitas Negeri Malang. Artikel ini dipublikasikan melalui website www.smkn3boy.sch.id

1

Untuk itu tugas guru memfasilitasi proses tersebut dengan cara (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. refleksi (reflection). Secara sederhana skemata dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang di gunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. (2) asimilasi. Landasan berfikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum obyektivis dalam hal tujuan pembelajaran. yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit-demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Sedangkan keseimbangan (ekuilibrium) merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang selalu stabil. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual. ada empat konsep belajar konstruktivisme yang dapat diaplikasikan dalam pendidikan yaitu (1) skemata. bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. asimilasi adalah proses kognitif individu dalam usahanya untuk mengadaptasikan diri dengan lingkungannya. Dalam pandangan konstruktivis. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. (4) keseimbangan (equilibrium). (constructivism). Sedangkan asimilasi pada dasarnya tidak merubah skemata. asimilasi bersama-sama akomodasi secara terkoordinasi dan terintegrasi menjadi penyebab terjadinya adaptasi intelektual. Oleh karena itu. dalam pembelajaran konstruktivime pengetahuan. Dengan demikian. masyarakat belajar (learning community). pemodelan (modeling). Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme. Proses kognitif tersebut menghasilkan terbentuknya skemata baru dan berubahnya skemata lama. Dengan perkataan lain. Ada tujuh komponen utama yang mendasari penerapan dalam pembelajaran kontekstual di kelas. Menurut Jean Piaget. bertanya (questioning).bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Akan tetapi dalam pembahasan makalah ini lebih difokuskan pada komponen konstruktivisme. sehingga skemata merupakan struktur kognitif yang selalu berkembang dan berubah. (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Kaum obyektivis lebih menekankan pada hasil pembelajaran yang berupa pengetahuan. (3) akomodasi. menemukan (inquiri). tetapi mempengaruhi atau memungkinkan pertumbuhan skemata. ”strategi memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memproleh dan mengingat pengetahuan. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. dalam artian terjadi keseimbangan antara proses asimilasi dan proses akomodasi dengan adanya 2 harus dikemas dalam proses ”konstruksi” bukan ”menerima” . (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Dalam pandangan Jean Piaget akomodasi adalah suatu proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai pengalaman baru. dan penilaian sebenarnya (auntentic assesment).

Penggunaan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran akan membawa implikasi sebagi berikut: a.keseimbangan ini maka efisiensi interaksi antara anak yang sedang berkembangan dengan lingkungannya dapat tercapai dan dapat terjamin. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Suparno. Prinsip Implikasi Konstruktivistik terhadap Pembelajaran Bagi kaum konstruktivis. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan. Mengingat aliran konstruktivistik lebih mengutamakan pemahaman terhadap konsep-konsep besar. mencari kejelasan. 3) bagaimana menjelaskan penjelasan dan solusi. Dari berbagai pendapat yang melandasi pembelajaran konstruktivistik. bukan sebaliknya. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. PEMBAHASAN 1. 4) penerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh (applying knowledge). membuat makna. tetapi hanya sebatas memberikan rambu-rambu bahan pembelajaran yang sifatnya umum. maka konsep tersebut disajikan dalam konteksnya yang aktual 3 . dan bersikap kritis. 2) bagaimana melanjutkan pelajaran. 3) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge). 5) melakukan refleksi (reflecting on knowledge) Sedangkan menurut Yager (1991) prosedur pembelajaran konstruktivistik ada empat langkah: 1) bagaimana memulai pelajaran. guru tidak dapat menentukan secara spesifik isi atau bahan yang harus dipelajari oleh siswa. Isi Pembelajaran Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik. rumusan masalah yang akan dibahas adalah 1) Bagaimanakah prinsip implikasi konstruktivistik pada pembelajaran? 2) Bagaimanakah peranan siswa dan guru dalam kelas konstruktivistik? 3) Apa saja kelebihan pembelajaran secara konstruktivistik? 4) Apa perbedaan situasi pembelajaran antara berdasarkan konstruktivistik dan tradisional? 5) Apa perbedaan pandangan antara konstruktivistik dan behavioristik? 6) Bagaimanakah perbandingan komponen strategi pembelajaran yang berorientasi behavioristik dengan konstruktivistik? 7) Bagaimanakah aplikasi konstruktivistik dalam pembelajaran vokasional? 8) Apa saja tantangan guru konstruktivistik dalam penerapannya pada pembelajaran? B. Proses penyajian dimulai dari keseluruhan ke bagian-bagian. menurut Jean Piaget ada lima langkah: 1) pengaktifan pengatahuan yang sudah ada (akfating knowledge). 2) pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge). Proses konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan.1997:64-65). Proses ini adalah proses aktif. Adapun penerapan filosofi konstruktivisme dalam pembelajaran. sedangkan mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. 4) bagaimana kegiatan selanjutnya.

siswa harus membentuk pengertian dari berbagai sudut pandang. guru perlu melakukan hal-hal berikut: (1) menyajikan masalah-masalah aktual kepada siswa dalam konteks yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Siswa perlu didorong agar ia tidak takut pada hal-hal yang komplek.1997). Untuk maksud tersebut. (4) memberikan siswa untuk menemukan jawaban dari pertanyaan sendiri. Pemahaman terjadi kalau terjadi proses akomodasi atau perubahan paradigma dalam pikiran siswa (Ardhana. sedangkan pemahaman terjadi sebagai akibat terbentuknya struktur kognitif baru dalam pikiran siswa. c. pendekatan konstruktivistik mementingkan pengembangan lingkungan belajar yang meningkatkan pembentukan pengertian dari perspektif ganda. Transformasi terjadi kalau ada pemahaman (understanding). Karena itu tekanan belajar bukanlah untuk memperoleh atau menemukan lebih banyak. Dalam hal ini teknik dan pembelajaran. akan tetapi yang lebih penting adalah memberikan interpretasi melalui skema atau struktur kognitif yang berbeda. (3) memberi dorongan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan sendiri. Tujuan Pembelajaran Tugas guru dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik adalah membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi. Siswa perlu memahami bahwa hal-hal yang kompleks akan memberikan tantangan untuk diketahui dan dipahami. Guru tidak dapat memastikan strategi yang digunakan. maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa. karena pemahaman akan memberikan makna kepada apa yang dipelajari. tujuan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik adalah membangun pemahaman. (5) memberanikan siswa mengemukakan pendapat dan 4 seni yang dimiliki guru ditantang untuk mengoptimalkan . dan informasi yang efektif atau kontrol eksternal yang teliti dari peristiwa-peristiwa siswa yang ketat. Pemahaman dinilai penting. dihindari sama sekali. Menurut Merril (1991). (2) pembelajaran distrukturkan di sekitar konsep-konsep primer.yang kadang-kadang kompleks. Dalam belajar secara konstruktivis. b. pembentukan kembali. Berlandaskan teoritik. Di kelas siswa harus dimotivasi untuk mencari sudut pandang baru dan mempertimbangkan sumber data alternatif. maka dalam proses belajarnya tidak bisa dipisahkan dengan dunia riil dan informasi dari berbagai sumber. Strategi Pembelajaran Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasi konkrit. yang dapat hanya sebatas tawaran dan saran. dan transformasi informasi yang telah diperolehnya menjadi pengetahuan baru.

strategi dan waktu yang menjadi pilihannya sendiri. Dalam proses belajar. (5) peningkatan interaksi antara guru dengan siswa dan antar siswa sendiri. e. sedangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik. (4) memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan arah belajar mereka dengan menempatkan guru sebagai konsultan. (7) meningkatkan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan mereka agar siswa mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan cara tertentu. karena itu harus diberi tahu. Sumber Belajar Sumber-sumber belajar yang dianjurkan melalui pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik adalah sumber belajar yang berupa: (1) data atau informasi yang berasal dari sumber-sumber primer. (1) menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan dalam mana siswa ikut menentukan topik/sub topik yang mereka sikapi. Hubungan Guru-Siswa Dalam aliran kostruktivisme. menemukan dan mendayagunakan sumber belajar itu sesuai dengan pilihan isi. guru bukanlah seseorang yang mahatahu dan siswa bukanlah yang belum tahu. Penataan Lingkungan Belajar Penataan lingkungan belajar berdasar pendekatan konstruktivistik menurut pandangan Wilson (1996) diidentifikasikan dengan alternatif sebagai berikut. metode pembelajaran berikut strategi pembelajaran yang dipergunakan. (6) meningkatkan penggunaan berbagai sumber belajar disamping komunikasi tertulis dan lisan. d. dan (9) menilai proses dan hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran. (8) mendorong siswa untuk berani menerima tanggung jawab.menghargai sudut pandangnya. (3) mengintegrasikan proses belajar dengan konteks yang nyata dan relevan dengan harapan siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam hidup sehari-hari. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama membangun pengetahuan. (2) menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan alternatif seperti peninjauan masalah dari berbagai segi. Dalam hal ini hubungan guru dan siswa lebih sebagai mitra yang bersamasama membangun pengetahuan. f. bukan sekedar menyelesaikan tugas. Sumber-sumber belajar yang dapat ditemukan dapat berupa sumber belajar yang sengaja dirancang untuk kepentingan pembelajaran (by desain) maupun sumber belajar yang tidak sengaja dirancang untuk pembelajaran (by utilization). Siswa mencari. (2) bahan-bahan yang dapat dimanipulasikan sehingga siswa dapat mengadakan interaksi dengan bahan-bahan tersebut. siswa aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya. 5 . (7) menganjurkan siswa bekerja dalam kelompok. (6) menantang siswa untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam.

Brooks (1993) mengidentifikasi sejumlah karakteristik hubungan guru-siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik berikut ini: (1) hubungan antara guru dengan siswa diupayakan terjadi secara optimal. Peranan Siswa dan Guru dalam Kelas Konstruktivistik Apabila pembelajaran secara konstruktivistik dilaksanakan di dalam kelas. Evaluasi Belajar Belajar secara konstruktivis.1997). (4) aktivitas siswa lebih ditekankan pada pengembangan generalisasi dan demonstrasi. (2) pembelajaran perlu difokuskan pada kemampuan siswa untuk menguasai konsep dan mengutarakan pandangannya. 6 . Terdapat beberapa perubahan khususnya tentang peranan siswa dan guru serta keadaan yang mungkin dihadapi oleh mereka dalam pembelajaran secara konstruktivistik. 2. peranan siswa dan guru akan berubah. dan teliti bagaimana mereka menyelesaikan tersebut. (2) pameran hasil karya siswa. Tidak ada gunanya mengatakan siswa itu salah karena hanya merendahkan motivasi belajar (Ardhana. apakah ingin memperkembangkan kemampuan berpikir atau sekedar dapat menangani prosedur standart dan memberikan jawaban terbatas. Guru konstruktivis. g. evaluasi lebih ditekankan pada proses belajarnya siswa. Pendekatan siswa terhadap persoalan itu lebih penting daripada jawaban akhir yang diberikannya. a. (3) portofolio atau kumpulan dokumen tentang kegiatan siswa. tetapi berhasilnya suatu operasi. Instrumen evaluasi yang dipergunakan antara lain adalah berupa: (1) observasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh siswa. kemudian secara individu mereka membuat analisis dan menjawab soal-soal itu. Mereka bertanggungjawab terhadap pembelajaran mereka sendiri dan boleh menyelesaikan masalah. yang perlu dikerjakan guru adalah menunjukkan bahwa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi. (4) performasi siswa dalam menyajikan hasil-hasil belajarnya. Peranan Siswa  Siswa mengambil inisiatif mengemukakan soal-soal dan isu. (3) evaluasi siswa terintegrasi dalam proses belajar mengajar melalui observasi terhadap siswa yang umumnya bekerja dalam kelompok. guru perlu memberikan persoalan kepada siswa yang belum pernah ditemui sebelumnya dan belum ada pemecahannya yang baku. (5) aktivitas pembelajaran relatif tergantung pada isi yang menyebabkan siswa berpikir. amati bagaimana mereka mengkonseptualisasikannya. tidak menekankan kebenaran. Guru perlu menentukan tujuan pembelajaran.

bukan hanya dalam bentuk ujian bertulis. Siswa selalu berdiskusi dengan guru dan sesama mereka. Merencanakan pembelajaran melalui aktivitas harian di kelas. Memahami Pemahaman siswa tentang sesuatu konsep dan ide lebih jelas apabila mereka terlibat secara langsung dalam penyusunan 7 pengetahuan baru. Membimbing siswa mendapatkan jawaban yang tepat. Kelebihan Pembelajaran Secara Konstruktivistik a. Peranan Guru            Mendorong siswa menerangkan ide mereka serta menghargai pandangan mereka. meramal. memproses data. Diskusi itu akan membantu siswa mengubah atau mengukuhkan ide-ide mereka. dan membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi berbagai kemungkinan dan tantangan. ini boleh dicapai melalui aktivitas penelitian dan strategi seperti mengenal pasti masalah. terutamanya melalui diskusi dalam kelompok. Memberi waktu secukupnya kepada siswa untuk membuat hubungan antara ideide yang telah diterima. Seorang siswa yang . Mendorong pembelajaran kooperatif dalam menjalankan tugas tertentu. Sebagai contoh. Siswa diberi banyak ruang dan peluang untuk menguji hipotesis mereka. menganalisis. manipulatif atau interaktif untuk menolong mereka menemukan ide dan pengetahuan. Menstruktur pengertian untuk memperdayakan persepsi siswa. siswa akan berfikir untuk menyelesaikan masalah. memunculkan ide. Mendorong siswa membuat tugas yang berbentuk penyelesaian. Mendorong siswa menerangkan lebih lanjut jawaban mereka.  Siswa menganalisa hipotesis yang telah dibuat dan didorong berdiskusi untuk membuat rencana. Memberi waktu secukupnya pada siswa untuk menjawab soal setelah soal dikemukakan. memperkirakan dan membuat hipotesis. b. siswa tersebut dapat menyusun pengetahuan yang mereka fahami. Berfikir Dalam proses menyusun pengetahuan baru. Membantu siswa menyadari keterkaitan kurikulum dengan kehidupan mereka. b. 3. Jika siswa itu berpeluang mengemukakan pendapat mereka dan mendengar ide orang lain.  Siswa menggunakan data dan bahan-bahan. membuat interpretasi dan membuat kesimpulan. mengumpul informasi. Mendorong penemuan oleh siswa melalui pertanyaan soal dan mendorong siswa bertanya kepada siswa yang lain.

bagian per bagian. c. dengan penekanan pada pencapaian keterampilan dasar Kurikulum harus diikuti sampai habis Kegiatan pembelajaran hanya berdasarkan buku teks yang sudah ditentukan Siswa dilihat sebagai ember kosong tempat ditumpahkan semua pengetahuan dari guru Guru mengajar dan menyebarkan informasi keilmuan kepada siswa Pembelajaran Konstruktivistik Ruang lingkup pembelajaran disajikan secara utuh dengan penjelasan tentang keterkaitan antarbagian. Ini menjadikan mereka lebih yakin kepada diri sendiri dan berani menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. konsep dan ide secara aktif. Kemahiran Sosial Siswa yang mempunyai kecerdasan sosial bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi berbagai masalah. Yakin Siswa yang belajar secara konstruktivistik diberi peluang untuk menyusun sendiri kefahaman mereka tentang sesuatu. Ini menjadikan mereka lebih jelas. lebih yakin dan lebih mandiri untuk terus belajar sepanjang hayat walaupun menghadapi berbagai kemungkinan dan tantangan. f.memahami apa yang dipelajari akan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang baru dalam kehidupan dan situasi baru. dengan penekanan pada konsepkonsep utama Pertanyaan siswa dan konstruksi jawaban siswa adalah penting Kegiatan pebelajaran berlandaskan beragam sumber informasi primer dan materi-materi yang dapat dimanipulasi langsung oleh siswa Siswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan Guru bersikap interaktif dalam pembelajaran.menjadi fasilitator dan mediator dari lingkungan bagi siswa dalam proses belajar 8 . e. Perbedaan Situasi Pembelajaran antara Berdasarkan Konstruktivistik dan Tradisional Menurut Brooks & Brooks (1993). Kemahiran sosial ini diperoleh apabila siswa berinteraksi dengan rekan-rekan dan guru dalam membina pengetahuan mereka. perbedaan situasi pembelajaran dalam kelas berdasarkan konstruktivistik dan tradisional adalah: Pembelajaran Tradisional Ruang pembelajaran disajikan secara terpisah. d. Mandiri Dalam pembelajaran secara konstruktivistik. 4. siswa membina sendiri pengetahuan. siswa akan dapat mengingat lebih lama konsep tersebut karena mereka terlibat secara aktif dalam mengaitkan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan yang sudah ada untuk membina pengetahuan baru. Mengingat Setelah memahami sesuatu konsep.

objek. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Table 2 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang Penataan Lingkungan Belajar Konstruktivistik Behavioristik Ketidakteraturan. Siswa akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. dan 9 . Kebebasan menjadi unsur Siswa harus dihadapkan pada aturan-aturan yang esensial dalam lingkungan belajar. evaluasi. Keteraturan. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. dan tetap . ketidakpastian. Behavioristik Pengetahuan adalah objektif. Siswa harus bebas. tujuan pembelajaran. dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Konstruktivistik Pengetahuan adalah non-obyektif. Kegagalan atau keberhasilan. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. sebagai kesalahan yang perlu dihukum. dan refleksi serta interpretasi. selalu berubah dan tidak menentu. apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh siswa. tidak berubah. kepastian. kemampuan Kegagalan atau ketidakmampuan dalam atau ketidakmampuan dilihat sebagai penambahan pengetahuan dikategorikan interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. strategi pembelajaran. ketertiban kesemrawutan. atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistik. bersifat temporer. pasti. Tabel 1 Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang belajar dan pembelajaran. aktivitas kolaboratif. Siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. Pikiran berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa. Lebih banyak siswa belajar dalam kelompok 5. Belajar adalah perolehan pengetahuan. Artinya.Guru selalu mencari jawaban yang benar untuk memvalidasi proses belajar siswa Penilaian terhadap proses belajar siswa merupakan bagian terpisah dari pembelajaran dan dilakukan hampir selalu dalam bentuk tes/ujian Siswa harus selalu bekerja sendiri Guru mencoba mengerti persepsi siswa agar dapat melihat pola pikir siswa dan apa yang sudah diperoleh siswa untuk pembelajaran selanjutnya Penilaian terhadap proses belajar siswa merupakan bagian integral dalam pembelajaran dilakukan melalui observasi guru terhadap hasil kerja siswa melalui pameran karya siswa dan portofolio. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. yang jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara ketat. Fungsi pikiran adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan. penataan lingkungan belajar. Perbedaan Pandangan antara Teori Belajar Konstruktivistik dengan Teori Belajar Behavioristik Perbedaan pandangan antara teori belajar behavioristik dengan konstruktivistik ini terbagai atas perbedaan pada belajar dan pembelajaran.

keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Control belajar dipegang oleh system yang berada di luar diri siswa. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks. siswa adalah subjek yang harus mempu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. bukan hanya satu jawaban benar Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang disiswai dalam konteks nyata. 10 . Evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar telah menyelesaikan tugas belajar. dan biasanya terintegrasi. Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent. Pembelajaran menekankan pada proses. Table 4 Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang Tujuan Pembelajaran Konstruktivistik Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn) Behavioristik Tujuan belajar ditekankan pada penambahan pengetahuan. Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. dan biasanya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual. siswa adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. Control belajar dipegang oleh siswa. Pembelajaran menekankan pada hasil Tabel 6 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang evaluasi Konstruktivistik Behavioristik Evaluasi menekankan pada penyusunan makna Evaluasi menekankan pada respon pasif. pemecahan ganda. secara aktif yang melibatkan keterampilan keterampilan secara terpisah. Tabel 5 Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang strategi pembelajaran Konstruktivistik Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. dengan menggunakan masalah menggunakan ‘paper and pencil test’ dalam konteks nyata. Evaluasi yang menuntun satu jawaban benar. Behavioristik Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.

tetapi membuat panduan tersedia ke siswa seperti halnya mereka menerapkan informasi yang diperlukan ke SKA (skill.attitude) yang sedang difasilitasi Penyajian informasi Partisipasi siswa Menyediakan praktek tentang ketrampilan eksak yang ditunjukkan dengan tujuan dengan pemberian umpan balik tepat waktu 11 . knowledge. Mengidentifikasi secara jelas akses untuk memberikan panduan belajar.harus ada ketika dibutuhkan ( ini mungkin mencakup pendekatan behavioris yang didesain untuk memfasilitasi ketrampilan khusus. metakognitive. tutor dan contoh) Panduan belajar tambahan. intelektual. strategi. khususnya panduan prosedural (panduan bagaimana menggunakan sumberdaya dan alat. Menyediakan kesempatan untuk mengekplorasi keseluruhan lingkungan belajar dengan panduan dan intervensi guru yang minimal. Menginisialisasi orientasi aktivitas yang tujuannya secara personal melaksanakan pembelajaran yang telah disusun Merangsang ingatan prasyarat Interaksi awal dalam konteks pembelajaran (misal prates prasyarat yang harus memfasilitasi latar tujuan personal diperlukan yang relatif untuk menghasilkan pengalaman pembelajaran mendatang. Perbandingan Komponen Strategi Pembelajaran yang Berorientasi Behavioristik dengan Konstruktivistik Tabel 7 Perbandingan Komponen Strategi Pembelajaran yang Berorientasi Behavioristik dengan Konstruktivistik Komponen Aktivitas pra pembelajaran Strategi pembelajaran berorientasi behavioristik Memotivasi siswa (mendapatkan dan memelihara perhatian) Menyatakan tujuan umum dan khusus Strategi pembelajaran berorientasi konstruktivistik Menyusun konteks pembelajaran yang bermakna dan berguna yang mencakup semua strategi pembelajaran.konseptual.6. dan peran siswa yang diterima secara jelas. Menyusun peran siswa yang diterima secara jelas dan mekanisme dukungan siswa. attitude siap diperlukan untuk menghasilkan lingkungan belajar baru. dan konteks sosial yang lebih besar dimana tujuan pembelajaran saat ini ada Mengimplementasikan strategi untuk membantu siswa mengidentifikasi dalam beberapa cara dimana skill. Menyajikan informasi dalam urutan yang cocok dengan jenis ketrampilan yang difasilitasi Menyajikan contoh dan bukan contoh yang jelas Menyajikan gambar besar yang memfokuskan perhatian pada konsepsi. knowledge. Menyusun kelompok kooperatif dan mengkomunikasikan tanggung jawab tugas. lembar kerja.

mendengar. Pada saat tertentu dari pandangan siswa tersebut dapat diperdalam pemahamannya dengan pancingan pertanyaan. Di bawah ini contoh aplikatif kontruktivistik dalam pembelajaran vokasional/kejuruan. Ini mungkin mencakup penyusunan konsep atau peta pikiran Menyediakan kesempatan ke siswa untuk merefleksikan dan mengartikulasikan apa yang mereka siswai dan bagaimana mereka secara personal memsiswainya. menjamah. seseorang mengkonstruksi gambaran dunianya. Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalamanpengalaman mereka atau konstruksi yang telah mereka bangun/miliki sebelumnya (Lorsbach & Tobin. menjamah. Alat/sarana praktik yang biasa di SMK merupakan bagian dari sumber belajar yang dengan melihat. 1992). Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) ke kepala orang lain (siswa). pengetahuan ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Ini mungkin melibatkan penilaian proyek final mereka menggunakan rubrik analisis atau historis Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengidentifikasi bagaimana ketrampilan mereka diperoleh secara baru. mencium dan merasakannya. dengan rubrik analisis yang disediakan melalui pengalaman untuk memandu siswa mencapai keberhasilan Tindak lanjut dengan aktivitas Menyediakan kesempatan untuk meringkas kunci ide muncul dari pengalaman belajar. Motor ada yang dikatakan 2 tak. mencium dan merasakan serta mencobanya pada akhirnya siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sehingga dapat lebih memperkaya pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari. Dilihat jenis bahan bakarnya kalau dilihat yang dijual di SPBU. Lalu guru menanyakan apa saja yang siswa ketahui tentang motor? Lalu beberapa/banyak siswa yang menyampaikan pandangannya tentang motor.Testing Prates dan pasca tes untuk mendapatkan ketrampilan yang ditunjukkan dengan tujuan yang diimplementasi Aktivitas remidi Aktivitas pengayaan Memorisasi dan job aids menggunakan latihan-latihan Transfer belajar dengan menerapkan ketrampilan dalam situasi baru Pasca tes secara umum ialah penyelesaian proyek yang sukses. 12 . misal: Ciri-cirinya? Fungsinya? Cara kerjanya? Dan sebagainya. terlebih dahulu guru menanyakan apakah ada yang punya sepeda motor? Atau memberikan contoh berbagai kendaraan (mobil/sepeda motor) yang penggeraknya adalah motor. Menurut konstruktivisme. Untuk pembelajaran dengan materi motor otomotif. pengetahuan dan sikap cocok dengan gambar besar ketika menentukan pada awal pengalaman 7. ada bensin dan solar sehingga dikenal dengan motor bensin dan motor solar (diesel). mendengar. Dari sentuhan inderawi itu. ada 4 tak. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan cara melihat. Aplikasi Konstruktivistik dalam Pembelajaran Vokasional Alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya.

masing-masing siswa akan mengkontruksi/membangun pengetahuan yang dimiliki dengan informasi-informasi baru sehingga dapat memperkuat tingkat pemahaman terhadap suatu materi/permasalahan. dan sebagainya untuk dibuat laporan dan dikumpulkan/didiskusikan pertemuan berikutnya. sehingga jika ada halhal yang belum dipahami pada kesempatan ini dapat untuk lebih menguatkan tingkat kepahamannya. dimungkinkan presenter membawa peralatan/benda nyata untuk lebih memudahkan kepemahaman semua peserta. perangkat komputer dan LCD proyektor. Harapannya pertanyaan/pendapatnya benar-benar dipikirkan secara sungguh-sungguh sehingga pada akhirnya diharapkan secara umum peserta diskusi akan mendapatkan pemahaman dengan lebih baik. memperagakan. baik. Bila peralatan praktik relatif terbatas. Pada saat ini selain dengan media LCD proyektor. Selanjutnya terjadilah proses tanya jawab dan saling tukar informasi. Misalkan kelompok 2 tak.Selanjutnya guru dapat memberikan tugas ke masing-masing siswa dengan mencari informasi yang terkait dengan motor otomotif dari berbagai sumber misalnya buku. kurang). misalnya dengan . koran. Dari interaksi tersebut. Cara memotivasi dapat dengan memberikan informasi cara penilaian dengan memberi tanda pada daftar penilaian untuk siswa yang mengajukan pertanyaan atau pendapatnya dengan kode tertentu misal A. majalah. bengkel. B. Setelah topik ditentukan maka selanjutnya dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok sejumlah topik yang telah ditentukan. Pada pertemuan selanjutnya. Selain diskusi. ke bengkel. Guru dengan pengalaman dan pengetahuannya dapat pula bertindak seperti “wasit/konsultan/pengamat” untuk mengarahkan/memberikan penjelasan apabila ada pendapat yang bertentangan. motor wankel. ke perpustakaan. guru menawarkan/ menerima usulan topik yang akan dibahas terkait dengan tugasnya. dan saling tukar pendapat dari semua topik diskusi tersebut di bengkel. Maksud “pandangan” di sini bukannya untuk menyimpulkan/memberikan penegasan simpulan dari topik yang ada tetapi merupakan informasi tambahan yang dapat dikonstruksi oleh pikiran masingmasing siswa. Dalam hal ini guru memberikan motivasi agar semua peserta menyumbangkan pemikiran/informasi terkait dengan topik secara aktif. K (amat baik. cukup. C. dan motor solar. internet. atau juga turut menyampaikan pandangannya terkait dengan topik yang tengah dibicarakan. 4 tak. maka diberikan kesempatan 13 dan sebagainya sekaligus mempersiapkan file yang diperlukan untuk presentasi. Pada kesempatan lain semua siswa dapat mempraktikkan. motor bensin. Masingmasing kelompok diskusi membuat laporan sementara tentang topik yang baru tersebut dalam waktu yang ditentukan. masing-masing kelompok diberikan kebebasan untuk mencari informasi dari berbagai sumber yang ada di sekolah misal dari tugas individu pertemuan yang lalu. masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Selanjutnya pada pertemuan berikutnya sesuai dengan urutan hasil undian.

SIMPULAN DAN SARAN 1. b. C. laporan individu. Penilaian/evaluasi dapat dilaksanakan dengan pengamatan pada saat berdiskusi.masing-masing kelompok untuk praktik/memperagakan secara bergantian.   Pengetahuan guru harus selalu ditingkatkan dan diperluas agar mampu dengan baik menyumbangkan penguatan pemahaman siswa. 14 . Ada perbedaan yang cukup mencolok dalam situasi pembelajaran antara konstruktivistik dan tradisional baik dari sisi siswa. behavioristik: belajar adalah perolehan pengetahuan. kesemrawutan. Pengawasan kelas agak merosot. ketidakpastian. dan penilaiannya.  Ketidakteraturan. strategi pembelajaran. Selanjutnya guru dapat memberikan tugas kelompok untuk menyempurnakan laporan makalah sesuai dengan hasil diskusi. guru. 8. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Pihak sekolah dan guru perlu menyiapkan semua sumber belajar siswa agar gaya eksplorasi siswa dalam menggali pengetahuan terlayani dengan baik sehingga tingkat kepahamannya lebih baik. dan unjuk kerja siswa. dan kebebasan siswa harus selalu dalam situasi terkendali dalam rangka untuk meningkatkan kepahaman siswa sesuai dengan rambu-rambu yang telah disampaikan. kesulitan itu harus dipandang sebagai tantangan yang perlu diatasi oleh guru. aktivitas kolaboratif. Kegiatan yang dimajukan dalam pembelajaran secara konstruktivistik dianggap tidak realistik. Tantangan Guru Konstruktivistik  Walaupun terdapat beberapa kesulitan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran secara konstruktivistik. Guru merasa bahwa penjelasan mereka tidak penting lagi. Perbedaan pandangan antara teori belajar konstruktivistik dengan teori belajar behavioristik yang paling mencolok adalah konstruktivistik: belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit. Simpulan a. dan refleksi serta interpretasi. Beberapa tantangan guru dalam menerapkan pembelajaran konstruktivistik adalah:      Guru merasa mereka tidak mengajar . sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. laporan kelompok. Guru yang sedang menukar cara mengajar kepada pendekatan konstruktivistik memerlukan dukungan profesionalisme serta pengukuhan keyakinan dari pihak sekolah.

mengingat lebih lama. tujuan. Ada perbedaan yang mencolok dalam perbandingan komponen strategi pembelajaran yang berorientasi behavioristik dengan konstruktivistik yang menyangkut komponen aktivitas pra pembelajaran. A. Peranan siswa dalam kelas konstruktivistik: mengambil inisiatif. Wirta. & Brooks. membantu siswa. 1992..1997. Universitas Negeri Malang. Peran guru dalam kelas konstruktivistik: mendorong. berdiskusi. d. Penerapan Kaidah-kaidah Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Fisika Teknik. dan lebih mandiri. Constructivism as a Referent for Science Teaching. dan menguji hipotesa untuk menyusun pengetahuan. sekaligus ‘pelayan’ untuk peningkatan pemahaman pengetahuan siswa. menganalisis. Kelebihan pembelajaran secara konstruktivistik: berpikir bijak. 2. Tobin.dan memberikan kesempatan waktu yang cukup pada siswa untuk meningkatkan pemahaman. pemahaman lebih baik. dan evaluasi belajar. 1993. 2005. In Search Of Understanding: The Case For Constructivist Classrooms. menstruktur pengertian.c. Aplikasi konstruktivistik terhadap pembelajaran vokasional menyangkut isi.30 Mustaji & Sugiarso. hubungan guru dan siswa. P. Belajar dan Pembelajaran. sumber belajar. Saran Model pembelajaran konstruktivistik dapat menjadi salah satu pilihan untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar guru SMK. penataan lingkungan belajar. 2000. Jakarta: PT. Sudiatmika. yakin dan berani menghadapi masalah. penyajian informasi. Tantangan guru konstruktivistik adalah memposisikan dirinya sebagai mitra. K. g. fasilitator. strategi. 15 . menjawab. NARST Reseach Matters-To The Science Teacher. Pembelajaran Berbasis konstruktivistik:Penerapan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah :Unesa University Press Anggota IKAPI Santyasa. Alexandria: VA:Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD). Dengan pembelajaran berorientasi pada siswa ini. No. Budiningsih. partisipasi siswa. DAFTAR RUJUKAN Brooks. membimbing. konselor. Yogyakarta:Kanisius. 2005. Filsafat Konstruktivistik dalam Pendidikan.G. testing.C. semua sumber daya dan sumber belajar yang ada. merupakan fasilitas yang harus dilengkapi dan dipergunakan secara optimal serta guru harus selalu mengembangkan pengetahuan/pengalamannya sehingga dapat memperluas pengetahuan dan mempertajam tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang menjadi orientasi belajarnya. tindak lanjut dengan aktivitas. Suparno. f. Rineka Cipta Lorsbach. M. e. A.G. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful