Tinjauan Terhadap Peraturan Daerah (Perda) Syariah di Kalimantan Selatan

Februari 10, 2008
Pendahuluan Setelah diterapkannya otonomi daerah yang ditandai dengan diberlakukannya Undangundang (UU) No.22 Tahun 1999 sejak 01 Januari 2001yang kemudian diperbaharui dengan UU No.32 Tahun 2004, Setiap daerah (propinsi, Kabupaten/kota) diberikan kewenangan yang sangat besar untuk mengatur dan memerintah daerahnya masing-masing. Peluang yang diberikan oleh kebijakan otonomi daerah itu diterjemahkan beragam oleh daerah. Salah satu ³terjemah´ yang dipakai adalah dengan membuat beragam Peraturan daerah (Perda). Di beberapa daerah, termasuk di Kalimantan Selatan terdapat fenomena pembuatan Perda yang menarik untuk dikaji secara akademik, khususnya dari perspektif hukum tatanegara. Fenomena tersebut adalah munculnya banyak Perda yang mengatur persoalan-persoalan terkait dengan keberagamaan seseorang dan/atau kelompok di masyarakat, diantaranya adalah Perda Kabupaten Banjar No.4 tahun 2005 tentang Kewajiban Pandai Baca Tulis Al-Quran bagi siswa/siswi SD/MI sederajatya dan Perda Kota Banjarmasin No.6 Tahun 2004 tentang larangan Minuman Keras (Miras) di Kota Banjarmasin. Perda-Perda demikian sering disebut sebagai Perda Syariah. Munculnya perda-perda syariah demikian memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Bagi kalangan yang pro-perda syariah, lahirnya perda-perda demikian dianggap sebagai terobosan untuk menjamin tertib masyarakat, baik dari sisi hubungan antar individu, maupun keterjaminan ³moral´ individu tersebut di masyarakat. Bagi kalangan yang kontr dengan a perda ini, mereka mengargumenkan bahwa pembentukan perda syariah dinilai berlebihan, bahkan ada yang menyatakannya secara terbuka bahwa perda-perda tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Tulisan ini mencoba melihat perda syariah tersebut dari kacamata hukum tatanegara. Dari kajian hukum tatanegara terdapat hal prinsipil yang penting untuk dikaji seiring dengan munculnya Perda Syariah ini. Hal tersebut terkait dengan pertanyaan : Apakah Perda Syariah sesuai dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah seiring dengan kebijakan otonomi daerah?, serta sejauhmanakah pembentukan perda-perda syariah tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah dalam pembentukan peraturan perudang-undangan di Indonesia? Persoalan-persoalan tersebut akan dilihat dengan menggunakan parameter dasar-dasar hukum diberlakukannya otonomi daerah, serta hirarki peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia yang terdapat dalam Undang-undang Dasar RI 1945, UU No.22 Tahun 1999 jo UU No.32 Tahun 2004, UU No. 10 Tahun 2004 dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang dapat dijadikan rujukan dalam tulisan ini. Apa itu otonomi daerah ? Indonesia adalah Negara yang menganut sistem Negara kesatuan (unitary) yang berbentuk republik. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah

i. perencanaan. m. penanganan bidang kesehatan. c. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. fasilitasi pengembangan koperasi. pelayanan kependudukan.32 Tahun 2004 juga mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah daerah. yaitu meliputi : . n. l. Dalam pasal 13 UU No. g. o. h. Selanjutnya secara lebih terperinci Undang-undang (UU) No. k. b. perencanaan dan pengendalian pembangunan.provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus daerahnya masing masing dalam berbagai hal. j. pelayanan administrasi umum pemerintahan. pemanfaatan. a.32 Tahun 2004 ditegaskan tentang kewenangan wajib pemerintahan propinsi. Artinya selain enam bidang tersebut berbagai kewenangan yang ada merupakan kewenangan pemerintah daerah. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. kecuali : a. Dalam pasal 14 UU ini juga diatur mengenai kewenangan wajib pemerintah kabupaten. f. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. e. pelayanan administrasi penanaman modal (investasi) termasuk lintas kabupaten/kota. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Politik luar negeri e. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. Otonomi daerah adalah kebijakan pemerintah republik Indonesia untuk mendistribusikan kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pertahanan c. Agama Keenam bidang tersebut diatas merupakan kewenangan pemerintah pusat. Melalui otonomi daerah. yaitu . penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. dan catatan sipil. Politik luar negeri b. yaitu antara provinsi dengan kabupaten atau kota. Keamanan d. Moneter dan Fiskal f. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. p. yang tiap kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dalam undang-undang. penyediaan sarana dan prasarana umum. dan pengawasan tata ruang. pengendalian lingkungan hidup. usaha kecil. d.

e. perencanaan dan pengendalian pembangunan. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang -undangan. penyelenggaraan pendidikan. perencanaan. o. pelimpahan wewenang demikian dikenal dengan mandat. m. dan catatan sipil. namun dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Dekonsentrasi dapat dimaknai sebagai pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada perangakat pemerintahan pusat di daerah. pelayanan kependudukan. n. k. Diluar kewenangan-kewenangan tersebut.32 Tahun 2004 dengan cara dekonsentrasi. pelayanan pertanahan. b. l. g. i. dan pengawasan tata ruang. penanganan bidang kesehatan. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. j. pemanfaatan. . Pelimpahan wewenang tersebut berdasarkan UU No. fasilitasi pengembangan koperasi. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.a. penyediaan sarana dan prasarana umum.terdapat beberapa kewenangan yang merupakan kewenangan pemerintah pusat. Dalam konsepsi hukum administrasi negara. h. maupun tugas pembantuan. pelayanan administrasi penanaman modal (investasi). usaha kecil dan menengah. yaitu pelimpahan wewenang yang terjadi atas izin suatu organ kepada organ lain agar organ tersebut menjalankan wewenang atas namanya. seperti gubernur dan wakil pemerintah pusat lainnya di daerah. c. pelayanan bidang ketenagakerjaan. f. baik pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota. penanggulangan masalah sosial. pengendalian lingkungan hidup. pelayanan administrasi umum pemerintahan. d. dan p.

pengayoman. . sehingga kepala daerah hanya diserahi tugas teknisnya. termasuk sanksi yang dapat dimuat dalam perda tersebut. maupun pada saat perumusan terhadap materi perda tersebut. Dalam pembentukan perda. demikian pula di tingkat kabupaten/kota. Selain itu materi perda juga harus memuat beberapa asas dalam pembentukan perda. materi muatan perda. Pada prinsipnya tidak terlalu ada perbedaan antara dekonsentrasi dengan tugas pembantuan ini. Hanya saja dalam tugas pembantuan hal-hal tekhnis sudah diatur oleh pemerintah pusat. sarana prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggung jawabkannya kepada yang menugaskan. Kewenangan Pemda membuat Perda Pemerintah daerah. yaitu . 3. asas yang harus terkandung dalam perda. a. beserta pertanggung jawabannya. Hal ini berlaku terhadap seluruh usulan perda. d. kecuali rancangan perda mengenai APBD yang harus berasal dari kepala daerah (eksekutif) saja. Kewenangan dapat dilaksanakan sewaktu-waktu oleh pemberi mandat c. kekeluargaan. e.Dalam mandat juga terdapat beberapa konsekwensi yuridis yang mengikutinya. baik provinsi. Tidak terjadi peralihan tanggungjawab. Usul pembentukan perda dapat dilakukan oleh kepala daerah sebagai kepala eksekutif daerah dan oleh DPRD sebagai legislative daerah. kebangsaan. Perda berisikan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas daerah.32 Tahun 2004 menjelaskan tentang prosedur pembentukan perda. yaitu . Tidak harus berdasarkan Undang-undang. baik dalam proses awal pembentukannya. Perintah untuk melaksanakan b. maupun kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk membuat peraturan daerah (perda). 1. Dalam konteks ini. masukan dari masyarakat harus diberi ruang.32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Perda adalah peraturan yang dimiliki oleh pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota. materi perda ditafsirkan dari berisi rumusan lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan diatasnya. Selain itu. Perda dibentuk/ditetapkan oleh kepala daerah setempat bersama dengan DPRD. kemanusiaan. 4. materi perda juga dapat memuat hal-hal yang terkait dengan ciri khas daerah tersebut. Artinya perda yang dibuat di tingkat provinsi ditetapkan oleh gubernur setempat bersama dengan DPRD provinsi. Tidak harus tertulis. Pertama: Prosedur pembentukan perda. Sedangkan yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. Dalam pasal 1 UU No. 2. Kedua : Materi muatan perda disesuaikan dengan kewenangan yang dimiliki daerah sesuai dengan asas desentralisasi dan tugas pembantuan. Secara terperinci Bab VI UU No.

Sedangkan mekanisme review melalui Pemerintah Pusat c. Selambat-lambatnya setelah 7 (tujuh) hari sejak dibatalkan. Review yang diajukan ke Mahkamah Agung menuntut keaktifan dari masyarakat dan terbatas hanya dalam waktu 180 hari sejak perda tersebut sejak perda tersebut diundangkan.q Departemen Dalam Negeri (Depdagri) dilaksanakan sebagai bentuk pengawasan pemerintah pusat terhadap produk hukum pemerintah daerah sebagamana dijelaskan diatas. Keempat : Sebagai produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam menjalankan tugasnya berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan. maka perda tersebut dengan sendirinya dinyatakan berlaku. Ketiga : Sebagai salah satu produk peraturan perundang-undangan di republik Indonesia yang berada pada hirarki bawah. kenusantaraan. dan keselarasan. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya.00 (lima puluh juta rupiah). masyarakat memiliki kesempatan untuk malakukan ³control´ terhadap perda tersebut dengan melakukan review terhadapnya. maka perda tersebut diberlakukan kembali dengan terlebih dahulu dikeluarkan Keputusan Presiden yang membatalkan Keputusan Presiden sebelumnya yang menyatakan perda tersebut tidak berlaku. Jika keberatan tersebut diterima. Prosuder pembentukan. (2) dan (3) UU No. 7. Perda dapat memuat ketentuan sanksi pidana dan denda yang jenis sanksinya lebih ringan daripada sanksi yang dimuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Kendati demikian publik dapat pro aktif meminta pemerintah pusat untuk menggunakan kewenangannya ini guna mengawasi perda-perda yang dianggap bermasalah. keseimbangan. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan.000. Kelima : Setelah perda dibuat dan dilaksanakan. Ada dua mekanisme yang dapat digunakan public untuk melakukan review terhadap perda. 9. bhineka tunggal ika. dan/atau 10. yaitu : (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. keadilan. keserasian. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp50. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda tersebut dan selanjutnya DPRD dan kepala daerah harus mencabut perda tersebut. maupun materi Perda dilakukan melalui verifikasi oleh pemerintah pusat sebagaimana ditegaskan dalam pasal 145 UU No. Apabila pemerintah pusat tidak mengeluarkan keputusan presiden untuk membatalkan perda tersebut.000. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. 8. Lebih rinci mengenai pengujian (review) terhadap perda dapat dilihat dalam table berikut . Bagi kepala daerah dan DPRD yang merasa keberatan atas pembatalan perda dari pemerintah pusat dapat mengajukan keberatan melalui Mahkamah Agung. Dalam ketentuan pasal 143 ayat (1). ketertiban dan kepastian hukum.5. . Perda yang dianggap melanggar kepentingan umum dan/atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh pemerintah pusat melalui Keputusan Presiden. yaitu melalui Mahkamah Agung (judicial review) dan melalui pemerintah pusat (executive review).32 Tahun 2004.32 Tahun 2004diatur mengenai sanksi yang dapat diatur dalam perda. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 6.

1 Tahun 1999 yang sudah diganti dengan Peraturan Mahkamah Agung No. Peraturan Mahkamah Agung No. Departemen PU c. 5/2004 tentang Mahkamah Agung y d. 2. Pasal 24A ayat (1) UUD kewenangan 1945 pengujian y b. Pasal 11 ayat (2) huruf b UU No. ayat (3). evaluasi terhadap seluruh perda yang dikeluarkan (pengawasan represif) Dalam rangka pengawasan dan pembinaan terhadap pemerintah daerah y y a. Departemen Hukum dan HAM Sifat kewenangan Pasif à menunggu datangnya lembaga yang permohonan dari pemohon melakukan review Kapasitas lembaga Menyelesaikan sengketa peraturan perundang-undangan yang timbul dibawah undang-undang terhadap undang-undang (konflik norma) Dasar hukum y a. pajak dan retribusi daerah serta tata ruang. Pengawasan represif terhadap PERDA dari pemerintah pusat terhadap daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah. Pasal 31 ayat (1) sampai ayat (5) UU No. 4/2004 tentang Kekuasaan Kehakiman y c. Pasal 145 ayat (1). Pasal 114 ayat (1) sampai ayat (4) UU No 22/1999 tentang Pemda b. 1 Tahun 2004 tentang Hak Uji Materil Aktif à melakukan pengawasan. dan ayat (4) jo Pasal 136 ayat (4) jo Pasal 218 ayat (1) huruf b UU No 32/2004 tentang Pemda . y y Lembaga yang Mahkamah Agung melakukan review Departemen Dalam Negeri dibantu dengan: y y y a. ayat (2).Tabel Perbedaan Pengujian Perda antara Mahkamah Agung dengan Pemerintah Kategori Jenis Review Bentuk review Mahkamah Agung Judicial Review Permohonan keberatan Pemerintah Pusat Executive Review 1. Pengawasan preventif terhadap oleh pemerintah pusat terhadap RANPERDA yang bermuatan APBD. Departemen Keuangan b.

Dalam Pasal 7 UU tersebut ditegaskan jenis dan hirarkhi peraturan perundang-undangan di Indonesia. Peraturan Pemerintah.wordpress. selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut perda tersebut Peraturan Presiden Mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung Sumber : Yance Arizona. bertentangan dengan kepentingan umum a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perda merupakan jenis peraturan perundang-undangan paling bawah yang disebutkan dalam UU No. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi b. d. a. perda harus dicabut oleh DPRD bersama kepala daerah.10 tahun 2004 ini. bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi b. yaitu .Standar pengujian y y a. pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku y y a. kendati dalam rumusan pasal 7 ayat (3) UU tersebut disebutkan bahwa jenis peraturan perundang-undangan selain yang disebutkan diatas diakui keberadaannya dan mengikat secara hukum sepanjang diperintahkan oleh peraturan .10 Tahun 2004 Tentang Pembetukan Peraturan Perundang-undangan. kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan perda. Suatu Tinjauan Normatif dalam www. e. Peraturan Daerah. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Presiden. Bila perda dibatalkan. Bentuk hukum pembatalan Upaya Hukum Putusan Mahkamah Agung Tidak dapat diajukan Peninjaun Kembali Paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkannya pembatalan perda. b. Secara hirarkhi. y y Waktu eksekusi Paling lama 90 (sembilanpuluh) hari setelah putusan yang mengabulkan permohonan keberatan perda. maka peraturan presiden pembatalan harus sudah ditetapkan paling lama 60 (emanpuluh) hari sejak diterimanya perda Lama waktu review Permohonan Keberatan paling lambat diajukan ke MA setelah 180 hari pengundangan Perda. Tetapi tidak diatur berapa lama proses review harus diselesaikan oleh MA.com diakses pada 08 Januari 2008. Perda dalam Hirarkhi Perundang-undangan RI Perda sebagai salah satu produk hukum yang berlaku di Republik Indonesia (RI) memiliki tempat dalam struktur hirarkhi perundang-undangan RI sebagaimana diatur dalam UU No. Disparitas Pengujian Perda. c. Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan b.yancearizona.

Sebagai contoh sebuah Perda dapat dibatalkan oleh Keputusan Presiden karena dianggap bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. maka terdapat beberapa jenis peraturan perundang-undangan di Indonesia yang tidak termasuk dalam hirarkhi perundang-undanga. Kabupaten Cianjur (Jawa Barat). Jika perda merupakan jenis peraturan paling bawah yang disebutkan oleh UU No. Bagi daerah-daerah yang mayoritas muslim. n Pola pemberlakuan syariat Islam pun berbeda ± beda seperti di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menegaskan pelaksanaan hukum Islam. tanpa ada aturan induk di tingkat provinsi. Peraturan Menteri. Perda Syariah saat ini setidaknya dilaksanakan di enam provinsi. Melihat Perda Syariah Fenomena munculnya Perda syariah di berbagai daerah di Indonesia satu mata rantai dengan kemunculan otonomi daerah. Aturan yang diatur umumnya terkait dengan pelarangan pelacuran dan peredaran minuman keras. seperti : Keputusan Presiden. yaitu Perda Nomor 5 Tahun 2000 tentang Penegakan Syariah Islam dimana Perda ini dibuat berlaku bagi seluruh kabupaten/kota . 38 kabupaten da 12 kota. Apakah keputusan presiden lebih tinggi daripada perda. Perda -perda demikian populer disebut sebagai perda syariat Islam. dimana antara agama Islam dan budaya masyarakat setempat telah berjalan berbarengan. Jawa Timur) adalah beberapa pemerintah kabupaten dan/atau kota yang melaksanakan Perda syariat walau provinsi induknya tak mengaturnya. bahkan telah menyatu selama puluhan bahkan ratusan tahun. atau sebaliknya. mempertahankan dan/atau menjaga berbagai karakteristik khas daerahnya. Implikasi yuridis dari tidak dimuatnya beberapa jenis peraturan diatas dalam UU 10 tahun 2004 adalah terjadinya ketidakjelasan kedudukan beberapa peraturan tersebut dalam hirarkhi peraturan perundang-undangan RI. Banjarmasin (Kalimantan Selatan). perda dibuat di tingkat provinsi secara umum dengan harapan akan dikembangkan dan dijadikan aturan induk bagi pelaksanaan perda serupa di kabupaten/kota. Perda tentang Jumat khusu¶ dan berbagai perda lainnya. tetapi tidak diikuti pemerintah kabupaten/kota. Sumatera Selatan. Bentuk lain dari pemberlakuan Perda syariat adalah perda dibuat oleh pemerintah kabupaten/kota. perda syariat dibuat di tingkat provinsi. Beberapa kabupaten/kota di kedua provinsi itu sudah memberlakukan aturan serupa. Daerah-daerah demikian memprkarsai beberapa perda yang bernuansa syariah. seperti perda tentang kewajiban khatam Al-Qur¶an bagi anak usia SD/MI. . baik provinsi maupun kabupaten/kota dimanfaatkan oleh sebagian daerah untuk membuat perda dengan maksud melindung. Keputusan Menteri dan beberapa jenis peraturan lainnya.10 Tahun 2004. Di Provinsi Riau. dan Pamekasan (Madura. Perda tentang Ramadhan.10 tahun 2004. Perda syariat dibuat oleh Pemerintah Provinsi yang mengacu kepada sebuah aturan induk. Kewenangan yang besar yang diberikan kepada daerah.perundang-undangan yang lebih tinggi. dan Gorontalo. Tangerang (Banten). Di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat. Padahal keputusan presiden tidak termasuk dalam hirarkhi perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU No. Dengan diberlakukannya UU ini. maka bagaimana kedudukan perda dengan keputusan presiden misalnya.

masih banyak pemuda Banjar yang memperdalam ajaran Islam melalui berbagai lembaga pendidikan formal. Sampai saat ini. bahkan sampai ke Timur Tengah. khususnya hukum tatanegara. Gambaran diatas ingin menyatakan bahwa terdapat antusiasme yang tinggi oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Sejak saat itulah raja dan rakyat kerajaan Banjar memeluk agama Islam. Sehingga secara yuridis terdapat konsekwensi secara formil. Bukan itu saja. raja bandjarmasih meminta bantuan kepada Sultan Demak dengan mengirimkan utusan bernama Patih Balit. Dalam tulisan ini akan dikemukakan beberapa aspek untuk melihat sejauhmana perda-perda syariah dapat diterima. raja Banjar tersebut memeluk agama Islam dan diberi gelar Sunan Batu Abang. Baik negara Daha.345. seperti undangundang (UU). beribukota di Amuntai. Maka. Pasca otonomi daerah. Raja Badjarmasih bernama Sultan Suriansyah yang memimpin kerajaan Banjar pada suatu ketika berebut tahta dengan pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung. Sebab perda merupakan produk hukum yang harus tunduk dan patuh terhadap kaidah-kaidah pembuatan produk hukum dan tertib hukum Indonesia. pembentukan perda syariah memerlukan analisis yang lebih holistik dari kaca mata hukum. bukan pemerintah daerah.784 jiwa yang tersebar di 13 (tigabelas) kabupaten/kota. maupun non-formal. dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. maupun materiil bahwa perda tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Kendati demikian.10 Tahun 2004. atau bahkan bertentangan secara yuridis dilihat dari sudut pandang hukum tata negara Indonesia. mulai saat itu. masalah agama merupakan domain pemerintah pusat. pesantren. Kalimantan Selatan adalah bekas wilayah kerajaan Banjar. Secara historis. Perpindahan raja Banjar dari agama Islam ke Hindu berawal dari adanya perpecahan di kerajaan tersebut. Sehingga jika perda syariah sama dengan perda yang mengatur perihal persoalan-persoalan agama. kendati . Oleh Sultan Demak permohonan tersebut dikabulkan dengan syarat sang raja harus memeluk agama Islam. sejak zaman kerajaan Banjar dahulu sampai dengan sekarang terhadap ajaran Islam. perda merupakan jenis peraturan yang berada paling bawah sesuai dengan UU No. Sebut saja Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang terkenal dengan kitabnya ³Sabilal Muhtadin´.Propinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah penduduk sekitar 3. Beberapa ulama dari Banjar bahkan tersohor ke penjuru negeri karena ilmu agama yang ia miliki. Pertama : Dari sisi tertib hukum Indonesia sebagaimana dijelaskan diatas. Sehingga formalisasi ajaran Islam dalam produk perundang-undangan oleh beberapa kalangan dianggap penting. Hal ini ditandai dengan banyaknya pemudapemuda Banjar yang serius memperdalam ajaran agama ini. Dalam UU No. peluang melakukan formalisasi tersebut memungkinkan dalam bentuk Perda. Bahkan. terutama Arab Saudi (yang dianggap sebagai sumber awal ajaran Islam). baik di Kalimantan Selatan. beribukota di Daha (nagara) Kandangan. maupun diluar Kalimantan Selatan. maupun negara Dipa raja-rajanyanya memeluk agama Hindu. Kerajaan Banjar atau dikenal juga dengan nama kesultanan Banjar yang berdiri sejak 24 September 1526 sampai dengan 11 Juni 1860. Dimana 96% dari total penduduknya beragama Islam. seperti pengajian-pengajian.32 Tahun 2004 sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Dalam perebutan tersebut. Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Daha. termasuk ke luar negeri. Kerajaan Negara Daha juga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa. ajaran Islam berkembang sedimikian rupa di wilayah ini.

Materi/muatan yang diatur oleh perda-perda syariah akan menentukan bertentangan atau tidaknya perda tersebut secara yuridis. dimana anak -anak usia SD berkewajiban (secara budaya) untuk mengkhatamkan Al-Qur¶an. pembuatan perda syariah dibuat pada saat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). maka secara tertib hukum nasional ia dianggap bertentangan dan wajib dinyatakan tidak berlaku. sebab bukan merupakan wewenang pemerintah daerah untuk mengaturnya. maka perda demikian tidaklah bertentangan secara yuridis. Jika perda demikian muatannya didekati dari sisi pendidikan. pembuatan perda syariah harus dilihat secara proporsional. Sangat aneh. Ketiga : Dilihat dari sisi legal drafting. apakah kewajiban khatan Al-Quran merupakan ranah agama. Kendati materi perda yang dianggap bermuatan agama masih dapat diperdebatkan. secara etika hukum. perda anti korupsi dan berbagai perda lain yang seharusnya menjadi prioritas tidak dikerjakan. Hal ini terkait dengan budaya dan tradisi masyarakat Banjar yang dekat dengan budaya baca (termasuk tulis) Al Qur¶an. Terlebih di banyak kasus. Perda yang berkaitan dengan pelayanan pubik. Jika terdapat perda yang menerapkan sngsi di luar sanksi tersebut.000.50. Terlebih hukum (hukum positif) bertujuan untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia semata. di beberapa daerah beberapa perda yang mendesak untuk dibuat justeru di kesampingkan dan mendahulukan pembuatan perda-perda syariah. terutama latar belakang dan kondisi pada saat perda syariah itu dibuat. Sanksi pidana misalnya tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan penjara. atau dapat ditarik menjadi ranah pendidikan. Persoalan khusu¶ adalah persoalan keagamaan dan sifatnya sangat privat. Pencantuman kedua sumber hukum tersebut membuat perda-perda syariah ³cacat´ dilihat dari sisi tata cara penyusunan produk hukum (legal drafting). hubungan manusia dengan Tuhan tidak menjadi domain hukum positif. materi perda yang merupakan wilayah agama dan bersifat privat dapat dinyatakan bertentangan secara yuridis. Dalam kontek demikian. sebuah perda hanya diperkenankan menerapkan sanksi administratif dan sanksi pidana.. Dari persfektif ini. serta denda dalam batasan tertentu.000. Keempat : Dari sisi penerapan sanksi. Hanya sang individu yang dapat merasakan khusu¶ atau tidaknya pada saat ia beriadah.(lima puluh juta rupiah) sebagaimana dijelaskan diatas. termasuk sanksi-sanksi yang terdapat dalam hukum Islam untuk perbuatan tertentu. Materi perda yang memuat persoalan agama jelas bertentangan dengan tertib hukum nasional. seperti Perda Jum¶at khusu¶. Hal ini berbeda dengan perda syariah yang murni mengatur tentang persoalan agama dan bersifat privat. adanya pencantuman sumber hukum perda berupa AlQur¶an dan Al-Hadist tidak konkruen dengan produk hukum Indonesia yang bukan negara agama. termasuk perda. Sebagai contoh Perda Kabupaten Banjar tentang kewajiban khatam Al-Qur¶an masih mengandung perdebatan. sedangkan sanksi berupa denda maksimal sebesar Rp. Sebagai contoh. Perda ini memuat tentang larangan membuat ³keributan´ pada saat sholat jum¶at dilaksanakan dengan tujuan agar orang y ang melaksanakan sholat jum¶at dapat dengan khusu¶ melaksanakan ibadahnya. Sebab di Kalimantan Selatan terdapat kultur pendidikan. Kedua : Dilihat dari sisi materi perda. pembentukan perda syariah mengundang tanda tanya besar. Kelima : Dari aspek etika-moral hukum (law in ethic). jika persoalan khusu¶ ini ditarik oleh pemerintah daerah menjadi kewenangannya. Pembuatan perda syariah dapat dimaknai sebagai cara penarikan simpati publik kepada penguasa dan diharapkan dari simpati itu akan muncul dukungan kembali untuk menjadikan penguasa yang ada .skopnya lokal.

sehingga ia tidak boleh bertentangan dengan UU (vide UU No. sehingga peraturan yang mejunjung tinggi persamaan di depan hukum lambat laut akan tersingkirkan. lambat laun akan menimbulkan sintemen dari kalangan lain. Jika fenomena ini terus berlanjut. Hukum positif mengatur hubungan manusia dengan manusia.(incombent) duduk kembali di kursi kekuasaannya. Munculnya peraturan yang identik dengan kepentingan kalangan tertentu. bukan domain pengaturan melalui perda y Perda syariah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam konteks ini. Hal lain yang juga harus mendapat perhatian dalam koridor etika-moral hukum dalam pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan. antusiasme sebagian daerah yang mayoritas penduduknya muslim untuk membentuk perda-perda syariah akan menimbulkan sintemen kalangan nonmuslim untuk membentu peraturan serupa di daerah-daerah yang menjadi basisnya.32 2 Materi/Muatan Perda 3 Legal Drafting 4 Sanksi . maka kedepan yang menonjol adalah peraturan-peraturan berbasis kepentingan kelompok tertentu. Tabel Parameter Penilaian Perda Syariah dari sisi Yuridis Ketatanegaraan No 1 Parameter Penilaian Tertib Hukum Nasional Permasalahan Krusial y Diaturnya persoalan-persoalan terkait wilayah agama yang seharusnya menjadi domain pemerintah pusat berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 y Perda secara hirarkhi berada dibawah UU. kekuasaan cenderung disalahgunakan untuk kepentingan jangka pendek sang penguasa (power tends to corrupts.10 Tahun 2004) y Perda syariah mengatur masalah agama. absolute power corrupts absolutely). termasuk perda adalah sejauhmana terbentuknya pelbagai peraturan tersebut dapat menciptakan tertib hukum nasional yang bermuara pada tertib masyarakat secara luas. Hal ini bukan tidak mungkin akan menimbulkan disintegrasi hukum nasional yang merupakan awal mula lahirnya disintegrasi bangsa. Dalam kacamata ke-Indonesia-an. y Pencantuman sumber hukum perda berupa Al-Qur¶an dan Al-Hadist y Tidak boleh menerapkan sanksi pidana dan/atau denda melebihi ketentuan dalam UU No.

R. Data didapat dari Jurnal Reform Volume I No.go. Sebelumnya terdapat Perda Provinsi Kalsel bernomor 1 Tahun 2000 tentang Larangan minuman beralkohol yang dibatalkan oleh Pemerintah Pusat. perda itu dianggap bertentangan dengan PP Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Indu stri dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom. serta Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan pengendalia n minuman beralkohol. UII Press. Mencari Kebenaran Menuai Kecaman di Balik Kontroversi Perda Ramadhan. Hukum Administrasi Negara. . Melalui parameterparameter tersebut diharapkan akan menghasilkan tesis yang objektif dan proporsional dalam melihat perda-perda syariah dimaksud sebagai bagian dari peraturan perundangundangan yang ada di Indonesia. Salah satu diskursus tentang Perda Syariah di Kota Banjarmasin dapat dilihat dalam Mukhtar Sarman. Makalah ini dipersiapkan sebagai salah satu makalah yang akan disajikan pada Seminar Serantau ³Perkembangan Islam di Borneo´ yang diselenggarakan oleh Universiti Tekhnologi Mara (UiTM) Kota Samarahan. diakses dari www.iddiakses pada tanggal 09 Pebruari 200 8. karena pelarangan minum khamar (minuman keras) terdapa t dalam ajaran Islam. Yogyakarta.32 Tahun 2004.tahun 2004 y Penerapan sanksi diluar yang diatur dalam UU No.kalselprov. termasuk sanksi-sanksi yang sesuai dengan hukum Islam (syariah) y Prioritas pembentukan perda y Latar belakang pembentukan perda Sumber : diolah dari analisis penulis 5 Etika-Moral Hukum Penutup Perda syariah dengan berbagai varian nama yang melekat padanya tidak dapat serta merta dikatakan baik atau bahkan cacat hukum. mendistribusikan. begitupula tidak dapat begitu saja dikatakan sejalan atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Alamat korespondesi melalui email : rechtolog@yahoo.com Perda tersebut berisi larangan menjual. Sedang menempuh studi pada Centre of Postgraduate Institute National University of Malaysia (Universiti Kebangsaan Malaysia) dalam kajian Constitutional Law (Hukum Tatanegara). menyimpan. Kuching.com pada 09 Pebruari 2008. hlm 75. mempromosikan dan mengkonsumsi miras ini diidentikkan de ngan Perda syariah. 2006. Ada parameter yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian itu. Ridwan A. 2002. Sarawak. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437. Pasalnya.32 tahun 2004 tidak dibenarkan. Malaysia pada tanggal 27 -28 Pebruari 2008.zfikri. 1 Tahun 2007 Data didapat dari situs resmi Pemerintah Provinsi Kalsel dalam www.wordpress. hlm 78 Ketentuan perihal asas meteri perda diatur dalam pa sal 138 UU No. Diterbitkan bersama oleh P K2PD & LK3 Banjarmasin. *Tenaga Pengajar Bagian Hukum Tatanegara Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Lihat ketentuan dalam pasal 18 ayat (1) UUD 1945 (Konstitusi Indonesia) Hal ini diatur dalam Pasal 18 ayat (2) Undang -undang dasar 1945 dan juga dalam Pasal 10 Undang -Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Ibid.

seorang pakar Politik dan Ketatanegaraan Inggris. GKPPD. http://rifq1. Fiqh Syafe¶i: Cuplikan Kitab Sabilal Muhtadin .Sejarah Kesultanan/Kerajaan Banjar dapat di akses melalui http://id.com. Jumat 03 Mei 2002 dalamwww. Borneo Press Banjarmasin.wikipedia.com/2008/02/10/tinjauan-terhadap-peraturan-daerah-perda-syariah-dikalimantan-selatan/ . Buku yang mengupas secara lebih detail tentang sejarah kerajaan Banjar dan masuknya Islam ke tanah Banjar dapat di baca dalam Alfani Daud. katanya. Kini hanya 5 gereja yang masih berfungsi di sana. HKI dan Katholik. UUD 1945. Semangat beragama itu tidak benar. Jakarta. Artinya : Kekuasaan cenderung disalahgu nakan. menunjuk pada Pemda dan DPRD di tiga kabupaten itu yang menerapkan Syariah Islam. Adagium ini muncul dari Lord Acton. Kekuasaan yang absolut cenderung (ingin) bertahan selama -lamanya Dalam suatu kesempatan K. Di Sumatera UMMAT KRISTEN pun melihat dengan cemas bagaimana 17 gereja ditutup di Aceh.H. Diantara asas yang disebutkan adalah asas kebangsaan dan kenusantaraan.org/wiki/Kerajaan_Banjar . Islam dan Masyarakat Banjar : Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar . Ketujuh belas gereja yang ditutup itu berasal dari Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi.wordpress. Sumber hukum yang diakui di Indonesia saat ini adalah : Pancasila.10 tahun 2004). Salah satu Buku yang merupakan ringkasan Sabilal Muhtadiin dalam versi Bahasa Indonesia adalah buku yang diedit oleh M. Gus mendesak pemerintah untuk bertindak meluru skan kembali perda-perda Syariah Islam itu. 2007. Peraturan Presiden dan P erda (vide Pasal 7 ayat (1) UU No.10 Tahun 2004. Dikutip dari Radio Nederland Wereldo mroep. UU/Perppu. Gereja Huria Kristen Indonesia Daerah IV di Kabupaten Aceh Singkil. PP. Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Kedua asas itu mengandung makna bahwa dalam pembentukan peraturan perundang -undangan.wordpress.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (mantan Presiden Republik Indonesia) pernah mengeluhkan penerapan Syariah Islam di Kabupaten Cianjur. Lihat asas-asas pembentukan peraturan perundang -undangan dalam pasal 6 UU No.Karsayuda. hendaknya dihindari adanya kepentingan yang teramat kental oleh kelompok tertentu yang dapat membahayakan nilai -nilai kebangsaan dan kenusantaraan. 1997.zfikri. Rajawali. Majelis Ulama Indonesia Kota Banjarmasin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful