Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.com/2009/03/gizi-buruk. Namun.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. Pada kondisi yang sudah berat. http://bimaarry. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.14 januari 2011 jam 11.blogspot.25 Http://www.mozilla:en-us:official&tb. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. Jika tidak sesuai.50 wib . segera konsultasikan hal itu ke dokter.google.co. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. lemak. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. dan gula. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik.

Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. antar provinsi. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. dan lainlain. masalahnya sudah mulai muncul.5 Kg). dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Disamping itu. dewasa sampai dengan usia lanjut. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. seperti jantung. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.You were searching for "makalah gizi buruk". mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2. faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. Dari indikator kesehatan. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. anak usia sekolah. Mulai dari bayi dilahirkan. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. . remaja. kanker. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus.

angka kematian balita. umumnya disebut kekurangan gizi. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. . Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai.Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. angka kematian bayi. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. serta rendahnya umur harapan hidup. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. Pada saat ini. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa.

Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. konsumsi makanan yang kurang. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010. maka status kesehatan dapat tercapai. dengan mengikuti siklus kehidupan. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. United Nations (Januari. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. pola asuh. bagan 2 di atas (Unicef. penyakit infeksi. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. . Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. World Fit for Children 2002. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. dan Millenium Development Goal 2015.

menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). yang berdasarkan kajian Susenas 2002.0/kapita/tahun). hanya sekitar 15-17%. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. masalah kesehatan lainnya. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1.364. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. o Masih tingginya angka kematian ibu. banyak Posyandu yang tidak berfungsi. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147. 2002). penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat. bayi dan balita. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. dan masalah kemiskinan. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. lingkungan. 10% dan 9%. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. Pada hasil kajian Susenas 2003. diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. 2000). 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. prevalensi gizi kurang . Hasil SDKI tahun 1991. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%.Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya.2% atau 38. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. Berdasarkan SP 2000.4 juta penduduk (BPS. 12% and 10%.513. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%.

adalah 19.7% dalam kurun waktu 5 tahun. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. 3. . Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. kurang vitamin B1. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003.3%. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur.2% dan gizi buruk 8. kapsul yodium. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003.1-0. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5.7% 2. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. maupun tablet besi. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. seperti masalah kurang kalsium. Seperti yang terlihat pada Figure 10. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. Untuk peningkatan status gizi penduduk.3 cm pada anak laki-laki dan 2. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. GAKY dan Anemia Gizi.3 cm. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. Dengan asumsi penurunan 30%.7%.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Dari hasil kedua survei tersebut. kurang asam folat. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. kurang zink. 4. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat.

Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. selain strategi lain (fortifikasi. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. karena sampai dengan tahun 2002. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. atau penurunan 50%. antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. penyuluhan. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. penurunan ini secara nasional tidak terjadi. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. terutama di NTB. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. tingkat konsumsi. zink. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. Dari beberapa laporan. pola penyakit. pendapatan dan pendidikan. asam folat. . ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015).Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. GAKY dan anemia gizi. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. Selain itu sampai dengan tahun 2003.9% (1995) menjadi 40% (2001). Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil.8% pada tahun 1996/1998. Dengan kondisi ini. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9.1%. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. karena informasi untuk kurang kalsium. Akan tetapi. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari.

strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang. antara lain: 1.05 wib . Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. maupun nasional. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. 3. 2. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan. 4. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting.//astqauliyah. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten. http. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. provinsi. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.

perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. Jika kita melihat fakta yang ada. Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca. Akan tetapi. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. Hal ini dikarenakan. dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. . Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. Sebenarnya. Jadi. Fakta yang ada. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. Sebagai mahasiswa psikologi. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. Akan tetapi. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. Sebelum kita memahami.Contoh proposal kualitatif A. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. Hal ini juga berarti bahwa. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Di dalam perpustakaan tersebut. baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. Hal ini berarti bahwa. perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus. Selain itu. Yang telah tersebut di atas. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca.

Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. Dari kelima cara-cara membaca di atas. 5. Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. Membaca sepintas. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. Membaca mencari. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja. Membaca belajar. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2.Membaca terarah. yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1. Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. 2. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . 3. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Dalam melakukan rutinitas membaca.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak. Membaca kritis. B. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik.

apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. menelaah. Peneliti a. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. dan selainnya. Anak harus membaca dengan bersuara. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. ia belajar mengenal kata demi kata. Diharapkan dari penelitian ini. mendalami. dan mengingat-ingat. Oleh karena itu. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. membaca. akurat. Menurut Dr. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Sekarang kalau kita pertanyakan. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. mengetahui cirri-cirinya. mengamati. Pada waktu anak belajar membaca. maka objek yang dimaksud bersifat umum. 2.C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. meneliti. dan membedakannya dengan kata-kata lain. 2. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. efektif. mengejanya. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D.

mengolah. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. The greatest thing in life is to Keep your mind young. 2. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain. menyaring. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. Orang yang tidak mendapat bimbingan. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan.µ Tidak peduli berapapun usia kita. Tampilan komputer dapat pula dibaca. tidak ada gairah. whether at twenty or eighty. dan baik penuturannya. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. Mestinya. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. kalimat. 3. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. dan ketajaman mencerna isi bacaan. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. tidak tahan membaca buku. teratur. Secara tidak disadari. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua. Itu sebabnya.1. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan.µ . menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. kemampuan. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. merasa bosan. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. latihan khusus membaca cepat. Anyone who keeps learning stays young. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan.

´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai.µ ³Nah. dan letaknya. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. . kemudian kata dan sebagainya? 2. fiturfitur ini bermunculan. Karena itu. Akan tetapi. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3. mental.µ jawabnya. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. spiritual. Model atas ke bawah Smith (1971. kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita.µ Bahkan menurut Covey. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. A. gabungannya menjadi suku.µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ. Dalam model ini. ´Saya terlalu sibuk menggergaji. dan sosial/emosional.µ orang itu berkata dengan tegas. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. setengah lingkaran. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan. MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan. dalam Gleason dan Ratner 1998. mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. Pada waktu sebuah kata dibaca. 1. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal.

atau melihat dikamus. soenjono dardjowidjojo. 2. Robinson tahun 1941. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. Tentunya. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Question atau bertanya 3. Pengantar pemahaman bahasa manusia. C. Jakarta: yayasan obor Indonesia). menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan. tahap rekognisi. dan tahap interpretasi. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. kita tetap saja bisa membacanya. Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Sebaliknya.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. Pada kesempatan kali ini. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. untuk mengetahui makna kata itu. Recite atau menuturkan 5. Bila ditemukan makna dari kata itu. dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). mempercepat menangkap arti. dan bertahap. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. mendapatkan abstrak. B. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. berhierarki. 2003. (Psikolinguistik. Review atau mengulang 1. model component-letter. Read atau membaca 4. Survey atau meninjau 2. Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word. atau dia akan bertanya kepada orang lain. metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. . CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan.

contoh dari konsep utama. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. . Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. 3. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. Selain itu juga berbahaya. 4. 5. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. 6. Perhatikan grafik. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring.3. Pada saat membaca. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. yang mendukung ide pokok. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. mengetahui ide-ide yang penting. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran. Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. 2. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca. definisi. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. Read Dengan membaca. diagram: Adanya grafik. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan.

dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. teruskan membaca subbab berikutnya. melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. Dalam pemakaiannya. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks. 5. berhentilah sejenak. Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. 4. proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. Demikian juga dengan SQ3R. bacalah kembali paragraf tersebut. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar.perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. pada kesempatan itu. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. . kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. Jika masih mengalami kesulitan. kita perlu latihan. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. anda dapat juga membuat catatan seperlunya. tandai subbab ini. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. ulangi membaca bab itu sekali lagi. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. Review Daya ingat kita terbatas. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Dan. Oleh karena itu. misalkan buku teks matematika. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian.

seperti pensil atau spidol. 2. 3. mengapa bisa terjadi?. Membaca kritis. Melakukan survei isi buku. komik. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. cerpen. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. nyaman. terutama membaca buku pelajaran. 2. dan mengatuk.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. . Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. bersih. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. oleh siapa?.Bagian daftar isi. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . sejuk. bosan. Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca.Paragraf awal. 1. 3. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a. šPersiapan Sebelum Membaca 1. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. khususnya buku pelajaran. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. kapan?. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. yaitu tempat yang terang. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut. 5. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. baik dari luar maupun dari dalam diri kita. gambar-gambar. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. tidak bungkuk. adalah di pagi hari. Namun. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. majalah ringan dll. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut. 4. Di zaman sekarang ini. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. tenang dan rapih menurut kita sendiri.

rinci dan tuntas. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam. terutama untuk mengumpulkan data. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. Jika tidak terdapat pertanyaan. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian. dan dokumen resmi lainnya. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. d. dokumen pribadi. Cobalah kita tutup dulu bukunya. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif.1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Meninjau ulang. Jika belum.. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda . Membuat pertanyaan. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. b. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. analisis data bersifat induktif. minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E. catatan lapangan. Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri. Menurut Hadi. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. e. catatan memo. c. METODE PENELITIAN 1. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti. Evaluasi. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. penelitian adalah usaha untuk menemukan. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. Membaca.

serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri. Malang. 50. studi histories. dan mempunyai kedalaman spiritual. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. tesis. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. Data Primer Menurut S. kegiatan-kegiatan. yang berada di daerah malang. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. hasil survey. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Menurut Whitney dalam Moh. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. 4. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. 2. buletin. Oleh karena itu. hasil-hasil studi. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. baik putra dan putri. profesional. Jalan Gajayana no. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. buku harian. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang.2. pandangan-pandangan. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. termasuk tentang hubungan-hubungan. Data sekunder juga dapat berupa majalah. beserta jalan dan kotanya. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. 3. publikasi dari berbagai organisasi. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. dan sebagainya. 2. . namun berfungsi sebagai instrument pendukung. sikap-sikap. notula rapat perkumpulan. serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. SUMBER DATA 1.

2. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. kategori. dokumen berupa laporan. instruksi. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. perkembangan. komentar peneliti. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. . foto. Dalam kegiatan sehari-hari. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. memo. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. dan berita yang disiarkan kepada media massa. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal. 6. biografi. untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. perilaku. pernyataan. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. 1. aturan suatu lembaga masyarakat. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. dan sebagainya. Tujuan penulis menggunakan metode ini. buletin. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola.5. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. gambar. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. tanpa menggunakan teknik kuantitatif. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. pengumuman. artikel. Dalam penelitian ini. majalah.

Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. 3. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility). 2. (2) tahap pekerjaan lapangan. (4) kepastian (konfermability)9. c) Tahap analisis data. penjajakan alat peneliti. sering atau tidaknya membaca. wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. waktu. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti.Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. kebiasaan membaca. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. (2) keteralihan (tranferability). faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. diskusi teman sejawat. meliputi kegiatan penentuan fokus. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi. Menurut M. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. penyusunan usulan penelitian. (3) kebergantungan (dependibility). pengetahuan. 7. b) Tahap pekerjaan lapangan. sumber. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. pengecekan anggota. d) Tahap penulisan laporan. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 8. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. Data tersebut diperoleh dengan observasi. penyesuaian paradigma dengan teori. konsultasi fokus penelitian. (3) tahap analisis data. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. (4) tahap penulisan laporan··10. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. . dan pengecekan kecakupan refrensi. gambaran atau lukisan secara sistematis.

pengecekan keabsahan data. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. . sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. 2003 Prof.wordpress. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. dan tahap-tahap penelitian. PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. Ph. analisis data. D. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. Apabila digunakan istilah rumusan masalah. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dengan kata lain. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. sumber data. Metode Penelitian (Jakarta: PT. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. http://skripsistikes. 6. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1.A. Nazir.com 3. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik. dan berakhir dengan suatu ³teori´. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. 1991 Moh. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.9. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. 5. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. penelitian berangkat dari teori menuju data. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. S. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. 4. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. Dalam penelitian kuantitatif. Oleh karena itu. induktif. Bumi Aksara. Metode Research. Ghalia Indonesia. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. 2. lokasi penelitian. kehadiran peneliti. prosedur pengumpulan data. M. PUSTAKA Lexy J Moleong. Nasution. Jakarta 2004. Dr.

Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman.a. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. atau kritik seni (hermeneutik). d. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. atau penelitian kelas. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). sumber data. etnometodologis. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. keunikan.com teoretik. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. grounded theory. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). partisipatoris. penelitian tindakan. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. wawancara mendalam. Oleh karena itu. studi kasus. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). subjek. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. misalnya fenomenologis. misalnya letak geografis. yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala. dan suasana seharihari. e. c. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. atau pengamat penuh. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. struktur organisasi. Dengan pemilihan lokasi ini. peneliti pernah bekerja di situ. program. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. pengamat partisipan. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. dan dokumentasi. dan waktu. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. . Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. ekologis. interaktif. bagaimana karakteristiknya. format ringkasan rekaman data. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. b.wordpress. interaksi simbolik. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. misalnya observasi partisipan. dan dengan cara http://skripsistikes. informan. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin.com bagaimana data dijaring. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen.wordpress. kebudayaan. dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan.

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku. WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009. observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut.2. Sedangkan asuh berarti menjaga. merawat dan mendidik. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa.4. Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. Minggu Kedua. POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga. SAMPEL Selama penelitian. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. merawat dan mendidik. Selain itu. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ). Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif. pola berarti bentuk. 1.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Jika ditinjau dari terminologi.3.3. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel. mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini.2. Minggu Ketiga.5. 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah.       . 3. Minggu Keempat. y y y y Minggu Pertama. 3. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu.1. PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi. tata cara.

mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. 2. . Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. kurang bertanggung jawab. self esteem ( harga diri ) yang rendah. agresif. 3. tertutup. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). maka tidak akan diajak bicara. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. suka melanggar normanorma. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. tidak patuh. pendiam. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. manja. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka. tidak berinisiatif. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. dan kooperatif terhadap orang lain. gemar menentang. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. 4. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Misalnya. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. kurang mandiri. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. mau menang sendiri. 4. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya. yaitu : 1. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. agresif.BAB IV PEMBAHASAN 4. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. 4. cemas dan terkesan menarik diri. impulsif. berkepribadian lemah. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. dapat mengontrol diri. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. mampu menghadapi stress. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup.1. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody.2. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. 2. Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut. 4. tidak mau mengalah. kalau tidak mau makan.

tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. terkadang permasalahannya lebih serius. tawuran dan lain sebagainya. B. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. Pelzer ternyata bisa hidup normal. malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. 2. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. dan A Child Called Dave . Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. dianiaya setiap hari. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. sehingga akhirnya sang anak jadi manja. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. BAB V PENUTUP A. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. pergaulan bebas. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. tetapi itulah yang terjadi. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. mendekati miras. Selain diperlakukan tidak adil. Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. Ia seolah tidak dianggap manusia. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . The Lost Boy. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya.

Tenggarong Seberang 3.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tenggarong Seberang . Tamat tahun 2003 . Tamat Tahun 2006 .SDN 016 SEPARI IV.SMP YPM DIPONEGORO.SDN 021 L II Blok C.SDN 011 L4 Blok C II.SMA YPM DIPONEGORO. 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 . 20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .SMA YPM DIPONEGORO. Nama : Dewi Fatmawati Tempat. Tgl lahir : Ds. Tamat Tahun 2006 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tamat Tahun 2003 .SDN 004 Bukuan.RIWAYAT HIDUP 1. Tenggarong Seberang 4. Kertabuana. Tgl lahir : Kediri.SMP 20 Bukuan. Tamat Tahun 2003 . 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tgl lahir : Tenggarong. Tamat Tahun 2003 . Nama : Abdul Ghofur Tempat. 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Nama : Ira Suprihatin Tempat. Fitroh Al-Hadi Tempat. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tamat Tahun 2003 . Tgl lahir : Kutai. Tamat Tahun 2006 . Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat.MTS AL-IKHSAN Separi Besar. Tgl lahir : Tenggarong. Tenggarong Seberang 2.SDN 016 Separi IV. Nama : M.SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 .SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5.

2005. Jakarta : yudistira. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . J. Remaja Juga Bisa. Nama : Sunadi Tempat. Ali. 2006.SMPN 1 Tenggarong Seberang.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas. Alatas.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8. Tamat Tahun 2006 . Anak . Tamat Tahun 2006 . Tgl lahir : Pendingin. Muhammad. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII. Tgl lahir : Kertabuana. Jakarta : PT. 2007.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Jakarta : Penerbit Pena. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. Alwi. 13X . Jakarta : PT. Sosiologi . Tamat Tahun 2006 . 7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Laura dan. Nama : Rahmat Effendi Tempat.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . Sosiologi Keluarga. Nama : Sinta Purnamasari Tempat. Untuk 13X . william. 2007. Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. 2006. Tgl lahir : Madiun. Tenggarong Seberang 7. Tamat Tahun 2003 . 1989.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 .6. Alwi. Tim Sosiologi. Bumi Aksara. Psikologi Remaja. Tim Sosiologi. Sosiologi .SMA YPM DIPONEGORO. Lein. Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK .SDN 010 Bangun Rejo. Bumi Aksara. 2005.SMP YPM DIPONEGORO. Jakarta : yudistira. Gode.

Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi. SKM.16% menjadi 15.C=0. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45. .76% kurang.C=0. 12.572). praktek pemberian MP-ASI (p=0. iii ABSTRACT Endang Suwiji. 2006.001. praktek pemberian ASI 47.515) dengan status gizi. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. SKM.S.499). Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. Analisis data menggunakan statistik chi square. 2006.59%.115. M. Sport Science Faculty. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. Skripsi.556). praktek pemberian kolostrum.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji.001.S. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57. praktek pemberian kolostrum (p=0. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006.38% pada tahun 2003 sampai 2004. M.8% balita gizi buruk.34%.41% belum disapih. praktek pemberian ASI (p=0. Berdasarkan hasil penelitian. praktek pemberian MP-ASI. praktek pemberian ASI. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0. Sutardji. =0. praktek pemberian kolostrum 44. Fakultas Ilmu Keolahragaan.7% balita gizi kurang.35% sedang. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Teacher I : Drs. Universitas Negeri Semarang. Study Program of Public Health Science.001. teacher II : Irwan Budiono . Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. dan praktek penyapihan 79. Sutardji.001. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang.06% sedang.59% kurang.085). dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat. Pembimbing II : Irwan Budiono.12% tidak diberikan. State University of Semarang. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora.. Pembimbing I : Drs. yang meningkat dari 12. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket. Script. =0.C=0. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal.. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi.

was not gave.001. Based on the study result.34%. Drs. 12.Kes (Ketua) NIP. the gift practical of colostrum.7% childrens of under nutrition. the gift practical of breastfeeding nearing food. 131571549 Dewan Penguji. MS (Anggota) NIP.001. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency. 2. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. Sekretaris. M. Khomsin. Based on the reality above. Irwan Budiono. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1.C=0.41% was not weaned. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency.499).001. tentram dan mententramkan. includes the gift practical of prelactal food or drink. Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan.35% was middle. it could known that under nutrition prevalence at children 45. Oktia Woro KH. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. DR. dr. that inflate from 12. tenang dan menenangkan. Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin.572). =O. M. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0. (Aa Gym) 3. the gift practical of colostrum (p=0. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0. the gift practical of breastfeeding 47.38% on 2003 untill 2004.085). C=0. Nutritional Status. and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition.59%. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been. SKM (Anggota) NIP. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia. Sutardji. there was 1.C=0. Herry Koesyanto.8% childrens of bad nutrition. the gift practical of colostrum 44. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling. 131695159 2.76% was less.556). The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition. 2004:26).Square. 130523506 3. The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0.001. and the wean practical 79. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition. And on 2004.12%. The data analysis was using the statistical of Chi.59% was under nutrition.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition. The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens.16% become 15. the gift practical of breastfeeding.06% was middle. Kelemahan terbesar adalah menyerah. 131469639 NIP. the gift practical of breastfeeding (p=0. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36. =0. jalan paling pasti menuju sukses .115.Pd Drs. MS NIP.515) with nutritional status. 1.

. Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas.................. Cemot...................................................6....................Kes....... ii HALAMAN PENGESAHAN............................................2................................... Tujuan Penelitian ............. 7 1............ Danik dan semua)´ atas keceriannya 5.......................................... 4.... Gati....... selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis..... Almamater Universitas Negeri Semarang....................................................................H......................6.. Ruang Lingkup Materi...............................1. xiii BAB I PENDAHULUAN.. 3............ vi DAFTAR ISI..........................6.......................................... Ruang Lingkup Waktu ................................... Teman IKM 02´ yang tak terlupakan.. 2............ 3........................... Irwan Budiono..................................... M.................................... 10 .adalah selalu mencoba sekali lagi................ Proe......................... Manfaat Hasil Penelitian...................................3.............. Rumusan Masalah......... Abdul Hadi.............2.......... Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini.4.............. bantuan dan dorongan dari berbagai pihak.. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat......... Keaslian Penelitian.......... 4.................... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1....... Latar Belakang ............... MS.... v KATA PENGANTAR ............. 1 1.............................. 10 1.... Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku.................. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN..... 1 1.5........ dr.. 10 1. Semarang. Ruang Lingkup Tempat .... ( Thomas A.......... Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.... xii DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ 6 1.......................... 6...... 5.................... Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi......... SKM. Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Sutardji...... 10 1................................................... mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT................. Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama...... dr..... Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.... viii DAFTAR TABEL........ Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi..........6......... 8 1.... i ABSTRAK......... diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.. 6 1............. Ruang Lingkup Penelitian.... vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.......................................................... Drs......................................................... Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak.......................... xi DAFTAR GAMBAR...... Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2.....................1......................3................ Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi................. Oktia Woro K...........................................................

............ 43 3... Definisi Operasional ..............3........8........................... 46 3....................1.......... 26 2....................2...... Populasi dan Sampel penelitian .................................1........ 49 6...................................... 14 2........ Distribusi Status Gizi Balita...... 39 3......1......2....................... Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS.........2... Reliabilitas ........ Kerangka teori ............ 48 4..........................1....1...................................... Distribusi Praktek Pemberian ASI ......1........7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi........4................... Distribusi Praktek Penyapihan ................................................................ TB/U dan BB/TB...........................................................1.....................1.........1.......... 48 5....................... Pengertian Status Gizi..........1..............1................................................................................... Popukasi penelitian................................ 52 11. Penilaian Status Gizi ....... 44 3..... Validitas Instrumen........... 49 4. 27 2..............................4 Praktek pemberian MP-ASI.................................2................................. Distribusi Umur Responden.. Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum ............BAB II LANDASAN TEORI ........... Keaslian Penelitian................................. 37 3............... 50 8. 47 3. Data Primer.......... Wawancara dengan menggunakan kuesioner.........1....................1. Hipotesis .....................Pembahasan ............................................................ Status Gizi......................................... 30 2................................... 26 2.. Karakteristik Responden ..................................2. 53 12..........................................1..........................2............. Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ........................1...... Instrumen Penelitian ............................................................. Analisis Univariat..........................2.......6......1..... 11 2.... Anilisis Bivariat........................................................ 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...............2.............1.....................6..................... Kerangka Konsep.. 33 2....... 67 5......................1..............................1.................................3 Praktek pemberian ASI ...............................2 Praktek pemberian kolostrum............ 11 2.................1......................................3.......7.............. 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Sampel Penelitian ....................................................................2. Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita...................1.. Saran ........ 11 ix 2......................................... 51 10................... 68 DAFTAR PUSTAKA ............. 24 2..1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal...................... 46 3.......................2......................... 53 4........2...... Simpulan ............................ 37 3.1......... 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1... 30 3.................................................. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan .................7..........................8..........1..1.............4................2.....2.............. Definisi Operasional .1............... 48 4. 13 2......................................................... Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U....... 18 2.6............. 11 2.............................................1.......................................................................................1.......................................................................... Antropometri Indeks BB/U .................. 51 9..................2..... 41 3............... 7 2........ 38 3............................ 48 4......................................5................................ 17 2........ 43 1........2...........5........................................... 43 2..3..............2...... Analisis Bivariat . 36 BAB III METODE PENELITIAN ................. Distribusi Jenis Kelamin Responden ....... 43 3.............8........ Pola Asuh Gizi ......5 Praktek penyapihan ..............Hasil Penelitian ........................... 29 2.................... Teknik Pengumpulan Data...................................1..........................................................................................5....................5.1..................... Data Skunder ......................2...6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi ................. Landasan Teori ......... 49 7...... Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal. 39 4......... 20 2.........1.......................... Jenis dan Rancangan Penelitian ....................... Teknik Analisis Data ................ 46 3.....................1..................................1........................................1... Analisis Univariat ...................7........ 46 3.................1...... 67 5.. 41 3................. 41 x 3................................ Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI ... 40 3...........................

.... Data Hasil penelitian ............... Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi ......... dan produktif...... 88 12.. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian...... 73 4................................................................... jumlah anggota keluarga.. perkembangan..................... Instrumen Penelitian ..... Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI............ Kerangka Teori........................... 85 9.. Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat................Status Gizi ............... Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi .................. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal .................. 77 7.............................................................. 72 3.................................................................................... Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga................. Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel ............................... 55 14.............1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an.... 56 15....... 36 2................................ rawan terhadap penyakit.................. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi ........... Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat........................................... tingkat pendapatan keluarga....... Surat Ijin Penelitian dari Fakultas ... 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1...................... Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya .... 71 2...... Deskripsi Data Hasil penelitian .......... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI.. konsumsi makanan.............. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi.. tingkat pendidikan ibu... 83 8... Kerangka Konsep............................... khususnya anak balita........................................ 100 15... termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM).. pelayanan kesehatan. Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora........... budaya pantang makanan....... menurunnya tingkat kecerdasan........ cerdas... dan pola asuh gizi............ Daftar Populasi dan Sampel................................... 54 13....... pertumbuhan dan perkembangan anak...... tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu...... Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup....... menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan...... Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS... Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing... dan terganggunya mental anak.............. Dalam menciptakan SDM yang bermutu.. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI..... 74 5............................... Surat Keterangan Selesai Penelitian .. 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1... Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso..... 2004:70)................................... 58 16........................... Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan......... Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik............................. 87 11............................ Analisis Chi Square........................ Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi.......................................... Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi................................. 75 6................................... pemeliharaan dan aktivitas.................... 91 13............................ Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal.............. dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi............... kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang....................... 96 14........ 86 10............... Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan............. perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak. Gizi sangat penting bagi kehidupan............................. pendapatan keluarga. 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1....................... kolostrum.

anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.16 %.paling terpengaruh oleh kurang pangan. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua. . secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas.676 anak (2.1% dan gizi buruk sebanyak 1. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya. dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu.575. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif.816. untuk gizi kurang sebanyak 17. data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI. Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni. 2003:18).448 dengan rincian yang naik berat badannya 1. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004).38 %. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut. mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya.12. Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar.6%. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15. karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar. Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun.7% balita gizi kurang.486 anak (79. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. 1994:16). Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora. pekerjaan dan seleranya. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1.34 %). Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12. Semakin banyak jumlah anggota keluarga. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi.8% balita gizi buruk.993. Contoh dalam keadaan anak sakit.

praktek pemberian ASI.16%. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora.3.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12.3. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1. praktek pemberian MP-ASI. buruh. pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15.Berdasarkan uraian di atas.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. 1. Berdasarkan uraian latar belakang di atas.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No. 1. 3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. dan praktek penyapihan pada bayi.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora. 1. 1. Rata-rata pendidikan ibu rendah.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita.8% balita gizi buruk . praktek pemberian kolostrum. dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang. praktek pemberian ASI.3 TUJUAN PENELITIAN 1.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan. maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1.4.38% dan tahun 2005 terdapat 1. 1. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³. praktek pemberian MP-ASI. dan serabutan.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1.4. praktek pemberian kolostrum.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 12.4.7% balita gizi kurang. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. 1.

OR=4.449). pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0.01.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1.(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0. praktek pemberian kolostrum.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi .069. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan. 3. Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri . 1234567 2.

011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0. Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0. pola pemberian ASI.Sumatera Selatan. Pola Asuh gizi 3. Pola pemberian ASI (nilai p=0.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0. 2. OR=1.365.509).Perkembangan bayi. Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola .697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0. Gangguan pertumbuhan 1. pola pemberian MP-ASI. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI.237. masukan zat gizi (nilai p=0. dan praktek penyapihan. 2. 1.672).Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0. praktek penyapihan (nilai p=0.812.246). Pendapatan keluarga 2. OR=1.028). OR=2. masukan zat gizi dan praktek penyapihan.893). praktek pemberian MP-ASI. praktek pemberian kolostrum. Status gizi OR=2.

Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. R=0. ketiga. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. status gizi dan kejadian KEP. oleh . Pola pemberian MP-ASI 3.027. seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec. Kalibawng. 1234567 4.023. dengan perkembangan bayi. Kejadian KEP 1. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian. ASI. R=3. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. Sedangkan pada penelitian kedua. MP-ASI. Kulon Progo. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten. DIY Cross Sectional Case control 1. ASI Eksklusif 2. Pola pemberian ASI 2. 5.asuh gizi dengan status gizi anak balita.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas.024. Theresia Spika N.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan. R=0. ASI.

dan praktek penyapihan. Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. susu bubuk. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB). madu. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. pertumbuhan dan perkembangan anak. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. 1991:37). kolostrum.6. c. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa. b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. Menurut Soekirman (2000: 84). Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui. c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui. 1.1. menyusui secara eksklusif. Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. (Savage. 1.1. air gula.1 Pola Asuh Gizi. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak .3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. 1991:37).2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan. 1. 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a. b. e. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental).1 LANDASAN TEORI 2. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar. misal air kelapa. air tajin. kebersihan. memberi kasih sayang. d. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2.6.6. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. pisang. susu sapi. Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI. 2000:2).karena itu perlu diadakan penelitian kembali. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan.6.1. 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB.1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. dan sebagainya (Depkes RI.

b. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air. yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI.3 point lebih tinggi pada usia 8. agak kuning yang dinamakan kolostrum. 2.1.1. Menurut Suhardjo. selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi. dan 8. 2000:2). c. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari.5 tahun.5 Kg memerlukan 525 ml sehari. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4. Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. 2000:2). dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. 1998:3). dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya.1. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI. protein. 2005:4). Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit. 16 sehingga bayi dengan BB 3. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI. Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . 1998:2). 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki.1. Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml. 2005:11). Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi. Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya.2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a.jauh berbeda dengan diatas.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini. 2. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun.

4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan.G. 2000:14). paling tidak sampai usia 24 bulan. serta pendidikan orang tua. pekerjaan orang tua. Ririn Yenrina. Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim.1. Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi. 1991:30).5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage.J. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan. Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua. cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. Ririn Yenrina.1. 2. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi. Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti. 1988:74). Dengan demikian.maka kebutuhan susu 15 L (Savage. 2000:15). Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat. 1998:19). 18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi.1990:54). Selain MP-ASI. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. Namun demikian. Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan. . 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya. Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula. 17 2. 1991:105). 1990:78).1. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi.G. ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi. pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat. 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI. Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto.1.

cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal. dkk 2004:74).6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan.1. Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. Di beberapa tempat. 1998:10). Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda. bagaimana cara menjaga kesehatan anak. Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. 20 2. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. dkk 2004:74). sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. dibanding waktu-waktu lain. ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. 1991:99). Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. karena dengan pendidikan yang baik. yaitu rohani (pikir. 2000:3).1. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya. 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan . 1995:10). disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B. terutama pada keluarga golongan miskin. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar. Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. rasa. karsa. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan. dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi. Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini. Di daerah semi perkotaan. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari.

menjaga kebersihan. Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk. dkk. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun. 2. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. 1986:31). yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti.1. Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat. Jika jarak kelahiran pendek. akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan. pemeliharaan dan energi. memberi kasih sayang dan sebagainya. tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.1. merawat. Namun demikian. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan .7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak.yang optimal. Pada keluarga yang memiliki balita. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. 1999:17). memberikan makan. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI. 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang. dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo.

semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua. Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan. mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya.1998:2).2. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi.dkk (2001:18). 2. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.seimbang. Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan. maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein.1.1. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita. pemberian MP-ASI dan penyapihan.1. pemberian ASI. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi. Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat. Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung. sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi. Sedangkan menurut (Savage. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI).2. 2. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat .2 Status Gizi 2. pemberian kolostrum. ASI juga merupakan makanan yang bersih.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun. sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari. 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak. Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi.

2001 : 20). tulang. 2001:21). tanah. 2001 : 20). TB/U. 2.3. Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. biokimia dan biofisik. mata. Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. . biologis dan lingkungan budaya. rambut. dan otot. keluarga. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa. dkk. Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). dkk. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. berat badan. 2001 : 19). 2001 : 19).1. urin. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. dkk. dkk. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. 2001 : 20). statistik vital dan faktor ekologi. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. lemak. tinggi badan. Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi.penilaian yaitu : antropometri. dkk. dan BB/TB. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur. lingkar lengan atas. dkk 2001:38). Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa. dkk. dkk. Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. Ditinjau dari sudut pandang gizi. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). dkk. lingkar kepala. 2001:69). Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). Macam status gizi dengan indikator BB/U.2. 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. 2001 : 20). irigasi dll. dan lingkar dada (Supariasa. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. klinis. dan individu. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi.

Kelebihan energi dalam tubuh.9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. Tumbuh dengan normal b. Orang yang kelebihan berat badan. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh.Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61). Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit. klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5. Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. gizi kurang dan gizi buruk. gizi sedang. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure. dkk. Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh. dengan indeks berat badan menurut umur. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. c. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus . Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan. Bibir dan lidah tampak segar e. Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya.9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69. Mata bersih dan bersinar d. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. Nafsu makan baik f. Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat.2. 2001 : 76) 2. yaitu: gizi lebih. Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya. (Supariasa. 2000:27). terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh.1. Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). karena merupakan golongan yang rentan. gizi baik. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. lemak dan protein. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan.

dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. iga gambang. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. pertolongan persalinan. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa.2. 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan. rewel. berduka atau depresi. sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang). 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. . Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema. 2001:131). anemia dan diare (Supariasa.1. wajah membulat dan sembab.kulit. dkk 2001:131). jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan. c. 2. tingkat pendidikan ibu. diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa. Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. pembesaran hati. kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis). umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. dkk. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus. apatis. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. terutama diare dan ispa. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. rambut tipis. rewel. dkk. Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. 2001:131). kulit keriput. kemerahan seperti warna rambut jagung. perut cekung. Akhirnya berat badan anak menurun. pandangan mata sayu. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi. akhirnya dapat menderita gizi kurang. cengeng. tingkat pengetahuan ibu. wajah seperti orang tua. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. pemeriksaan kehamilan. dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. b. perubahan status mental. mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi.

Mak. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb. prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3. 36 2. Oxford Univ./min. Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI . praktek bidan. diantaranya faktor penyakit infeksi. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas. faktor konsumsi pangan. faktor pola asuh gizi. The State of the World`s Children 1998. 2000:83). Disini tidak semua faktor diteliti.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi. faktor psikologi. dokter. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85). Press dalam Soekirman.1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman.penimbangan anak.

2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum. 3. 3.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1. (Depkes RI. 4.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI.2.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama. 2. 3. 3.1998:2) Tindakan ibu untuk . 3.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3. 39 3.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun.2.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny. Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar.2. Infeksi 38 3.1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita.2. (Depkes RI.2.

5-8 Wawancara dengan kuesioner no.Kurang = 4<Skor 6.3 Wawancara dengan kuesioner no.Baik =21<Skor 27 . 6.dkk. 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no.1 .memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI. . 9 .Diberi = Skor 2 .5 .17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 .5 .Sedang =6.5<Skor 9.Tidak beri = Skor 1 .Sedang =15<Skor 21 . Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI. (Diah Krisnatuti.4 Wawancara dengan kuesioner no. Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.5<Skor 12 .Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No .Baik =9.

Gizi lebih > 120% .1.Belum disapih =Skor 2 .2. Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.4. 2002:26). Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian. Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang.1. 3.4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. praktek pemberian ASI.4.Disapih =Skor 1 Indeks BB/U . praktek pemberian kolostrum. 2000:66) Wawancara dengan kuesioner no.Gizi kurang 60-79.(Savage. 3. dan praktek penyapihan. Berdasarkan fokus penelitian tersebut.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi.2.5. maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo.Gizi baik > 80-120% .1 Variabel Penelitian 3.1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. -BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan .5. . praktek pemberian MP-ASI. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3. 3.4. (Soekirman. 41 3.1.9% .5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.

Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. 43 3.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan.6.1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi.1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. 2002:92). Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita.6. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total. 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. 3.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0.2002:146). 3.6. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. (Soekidjo notoadmojo. (Suharsimi Arikunto.6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur.1 / 10 %. .1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin.2. dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg.

7. 0. praktek pemberian kolostrum. berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan. sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0.849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0.7. . 3.80 ± 1. 0.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin. 0. 3. praktek pemberian MP-ASI. 0.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas.399 : rendah c.813.1.00 ± 0.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a.2.1.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder. 3. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0.199 : sangat rendah b. dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r . Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak). dan praktek penyapihan.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik. praktek pemberian ASI. 3.6.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal .2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner.7.599 : sedang d. 46 3. Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto.20 ± 0. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r . praktek pemberian makanan prelaktal. praktek pemberian ASI.69 ± 0.40 ± 0.799 : kuat e.444. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI.1 Data primer diperoleh melalui : 3. Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0.7. 0.897.

48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan.59 20. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 . 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki. praktek pemberian kolostrum.1 Hasil Penelitian 4. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. praktek pemberian ASI. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5).8.8. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara. Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. 47 3. 2) Koding. Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20.59 58.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan. merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing. Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. 3.3. praktek pemberian ASI. 3) Tabulasi. praktek pemberian kolostrum.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. praktek pemberian MP-ASI.2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58.1.1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan. praktek pemberian MP-ASI.

71%).12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55.47 48. 4. 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8.53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.47). Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48. sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14.2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6.71 36.53 14.53%). 2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7.1.Laki-laki Perempuan 35 33 51.76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48.88%). Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 .88 44.

17 57.59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79.17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47.3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.59% sudah disapih. Berdasarkan penelitian .35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14.35 27.06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14.41%). 4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9.17%).06 14. 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur.41 20.24 47. Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79.74%). selebihnya yaitu 20. 52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14. Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita.

.0701 Baik %F 45.0305 1104. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik.0401 2356.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36.65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5.1. praktek pemberian kolostrum...05. praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan. .572.diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11. Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.0305 34.3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006.0.. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0. dan dari 48. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0.572 termasuk kategori cukup erat. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13.41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12. 2.0605 3438.0509 3547..41% yang status gizinya baik. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita.. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322.. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1.0503 Total %F 3415.0305 57. 41%). Distribusi Status Gizi Balita No.59 54.0706 Sedang %F 57.53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik. Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.001 < 0.88% yang status gizinya kurang.0401 16080. 42. 4. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum. praktek pemberian ASI.. 32... Kurang Baik 31 37 45.0808 2429.35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.

00 % 27. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 .8% yang status gizinya baik.06 Baik %F 34.499 termasuk kategori cukup erat.0204 Total F 31. dari 47.82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10. 33.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang. 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik.00 37.4070 1140. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0.. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11.94 19.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33. 13.88% balita yang diberi kolostrum. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0..41 100.. 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik.24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1.29 44.41% yang status gizinya kurang. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita.0401 16080.7010 Sedang F 19.12% balita yang tidak diberi kolostrum.00 32.12 47.00 68.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23.1020 3558.12 Diberi %F 181.47% yang status gizinya baik.00 7.8080 Total %F 3415. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.0802 2368. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.59 54.82 10.00 % 45.0509 3547. 33.001 < 0...29% yang status gizinya baik.00 % 33..204 11.05.. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.0401 2333.001 < 0.0.00 13. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.0.82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4..71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang.00 30.556 dan termasuk kategori cukup erat.05.76% yang status gizinya kurang. 44. sedangkan dari 55.499.0. 27.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44. sedangkan dari 38.. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.706 3440.

00 % 32.. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita.00 32.0701 Total %F 3415. 25. dari 57..000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27.71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik.00 54. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP .0305 Baik %F ..69% yang status gizinya kurang.0509 3547.35% yang status gizinya baik. 13. Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16.35 20.41% balita yang 60 belum disapih.00 5.59 Belum disapih F 22. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7.00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.00 68. Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Menurut Ninik Asri. Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.59 54.. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.59% balita yang disapih. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0.0904 Sedang %F 1204.0701 1104.06% yang status gizinya baik. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita.085. 4.515.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0...94% yang status gizinya baik..115 > 0.00 14.0401 16080.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.05.90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang.35 47. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.24 7.001 < 0.515 termasuk kategori cukup erat.00 37.2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak.0509 2356. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9..0706 3579. sedangkan dari 79. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama. sedangkan dari 14.0904 1279.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang.085 termasuk kategori sangat lemah.00 % 45.. 32..05.R (2005) . 36.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15.78% diantaranya status gizinya baik dan 20.0000 1104.0000 22..41 Total F 31.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.41 100.00 % 13.06 79.0.

pemberian ASI. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu. 4. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi.2. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein.05. kolostrum. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan. artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik .1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal.001 < 0.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui. pemberian ASI. Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu. saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare. 4.05. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif.05.001 < 0.2. Dr. harus diberikan kepada bayi. 4.2. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. protein.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui.001 < 0. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. pemberian kolostrum.

pula status gizi balita. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita. Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001).2.001 < 0. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam . artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita. ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita. 4. pemilihan bahan makanan. porsi. Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah.05.115 > 0. 4. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya. seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004). Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. frekuensi. Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan. Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan.2.05. Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. cara pembuatan dan cara pemberiannya. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI.

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jakarta Depkes RI. 1989. Universitas Diponegoro.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. praktek pemberian ASI 38. Semarang Depkes RI. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta . Makanan Pendamping ASI.24% baik. praktek pemberian kolostrum 55. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.7% balita gizi kurang. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I.12% tidak diberikan. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan.38%. 1999a.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12.35% sedang dan praktek penyapihan 79.jumlah cukup. 68 5. 1998. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36. 2001. S. 2003.88% diberikan.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. Depkes RI.53% baik. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan.001.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1. Skirpsi S-1. Manajemen Laktasi. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan. 2000. praktek pemberian MP-ASI 57. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. 12. Catherine Lee. 67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. C=0. Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti.572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48. praktek pemberian ASI.41% baik. 1992. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0.59%. Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal.8% balita gizi buruk. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54. 3.41% belum disapih. Jakarta : Arcan. C=0. Jakarta Depkes RI. 2.001.16% menjadi 15. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni. praktek pemberian kolostrum. 2005. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0.

6 %. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu.Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari.5%. Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen. yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism. 2009). dan kritik. adaptasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. balita kurus dan balita pendek masih tinggi.4%. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. 2004).8 %. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Watanabe et al. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. Menurut Hadi (2005). Prevalensi balita gizi kurang. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. 1998). (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted. KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF. b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. 2008). Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu.

. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain . periode tercepat usia 6 bulan pertama. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. kualitas stimulus (rangsangan).9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin. gizi. Komorita dkk dalam Azwar. sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur.2 point pada 65 pasangan kembar MZ.2008). 1. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen.7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. warna rambut dan kulit (Azwar. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun.2003). yang melakukan penelitian kembar MZ. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. iklim emosional di rumah. Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9. Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. 17. kesehatan.dan berkembang pesat sejak dalam rahim. (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata. yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan. Menurut Atkinson dkk. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak.47.Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. Menurut Georgieff (2007).) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik. kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa.

Ketika tikus ditempatkan di treadmill. pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh. merasa. Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar. Anak-anak gizi kurang yang diberikan . Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. mencium dan meraba. Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi. Namun demikian.. Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. 2006). mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. 2.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. memperbaiki koordinasi gerakan otot. melihat. dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor.kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang.. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. 2008). Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia. Selama dua tahun pertama kehidupannya. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!. 2003). 2009). Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock. Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut. Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang. 1995). pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50.

Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. kebisingin. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar. dan sering mereka tidak mengetahui caranya. menjaga kesehatan anaknya. efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. 3. Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya. Penelitian Muljati et al. Sedangkan Purwandari. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. ketegangan dan kondisi hidup yang berubah. Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis. karena keterbatasan pendidikannya. 4. 1995).2008). 5. Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak.) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim. Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun.) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. (2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. 1. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak. kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar. . Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. dkk (2008). Menurut Davidof (1991). 2007). Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih.intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja.

Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale. Diantara usia-V dan usia-XIV. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. Untuk memperoleh angka IQ. Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12. 2008). Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi. 1992). Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. 1992). 2008). seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet. Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes. skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. dan III. dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. 2008). kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. sangat terlatih dalam penyajian tesnya.5 tahun (Azwar. level usia meningkat dengan interval satu tahunan. 2008). Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. Dalam penelitian ini. Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. Tabel 1.II. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal. dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya. abstrak/visual. Diantara usia-II dan usia-V.

60 2.00 0.20 0. 2003).50 5. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. persepsi.10 3. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi. pengertian. menari. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik. 2006). emosi dan memori (Singh. Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. 2003). Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶. puisi. Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya.03 0. emosional. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis. Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak.160-169150-159 0. pemikiran intuitif dan spritual. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk. astrosit dan mikroglia. analitis. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi.50 23. melukis. Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. spiritual dan jiwa. kepribadian. kreatif. bahasa dan matematis. (Georgieff.10 23. pemikiran. akal.40 0. Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi. B.20 18.10 8. Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak. Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit.00 14. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh.20 1. Anak- . Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal. stimulasi dan sikap orang tua. emosi. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak.

Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan.5 tahun.5-8. Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf.anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. Namun demikian. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja. Lampung. dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor. 2006). 2006). Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak. Afrika. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. produksi neurotransmiter. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang. Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. Liu et al. beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al. Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. et al. Grantham. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. 11 dan 17 tahun di Mauritius. (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. Penelitian . Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini.

mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi. You can leave a response.doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 .0. http://docs. You can follow any responses to this entry through RSS 2.ums. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini.google. 2009. This entry was posted on July 10. 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak. or trackback from your own site.ac.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka. tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini.

semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. atau merasa dendam. Sukaraja. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan. remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah.00 tanggal 26 Maret 2007. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. Bogor. Kedua. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. solider. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08. Masa remaja adalah usia transisi. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa. Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri. tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. Pertama. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta.Contoh Skripsi Posted on January 23. Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. didahului. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan. tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut. pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Ibukota negara. membela diri. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. yakni ³ Ahmad Algofari (18). . Pada setiap fikrah. guru maupun anggota masyarakat.

akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman. Latihan Marawis. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. kekuatan batin dan kecerahan. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. Pendalaman Materi. Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa. Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri. Mentoring. Nasyid maupun Qosidah. Sholat Jum¶at. maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini. hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Tadarus Al-Qur¶an. Kualitas keimanan. . Dapat menjadi masukan bagi para orang tua.Pengajian Kelas.

adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL). 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. dan sebagainya. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif. dengan situasi tersebut menampilkan diri. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini. Telaah pustaka. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. yakni memperhatikan secara akurat. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL). Raya Pejaten Pasar Minggu. Tlp. majalah. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan. berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku. Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi. Jakarta Selatan. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. . Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J.METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti. Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. tetapi memahami situasi. koran. Observasi. mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya.

Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini. Tinjauan Pustaka. Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL.. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Tujuan dan Manfaat Penelitian. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta. Oleh karena itu. Analisa SWOT. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. Faktor Pendukung dan Penghambat. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda. Pendekatan DSL. dan Pengertian Dakwah. Latar Belakang Masalah. Pengertian DSL. Metodologi Penelitian. Sistematika Penulisan. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama. SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi . Kepentingan DSL. Pembatasan dan Perumusan Masalah.

C. kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2.yahoo.com/ http://360.com/ http://reader. Kegiatan Mentoring 3.com .google.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8. Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my.yahoo. Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1.