P. 1
Cara mendeteksi gizi buruk pada balita

Cara mendeteksi gizi buruk pada balita

|Views: 2,179|Likes:
Published by Sri Setyo

More info:

Published by: Sri Setyo on Feb 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum.mozilla:en-us:official&tb.25 Http://www.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk.14 januari 2011 jam 11. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. dan gula. Jika tidak sesuai.com/2009/03/gizi-buruk. Pada kondisi yang sudah berat. http://bimaarry. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Namun. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.co. lemak. segera konsultasikan hal itu ke dokter.50 wib .htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org.google.blogspot.

faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. Disamping itu. dewasa sampai dengan usia lanjut. anak usia sekolah. . masalahnya sudah mulai muncul. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Dari indikator kesehatan. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. seperti jantung. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara.5 Kg). Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. dan lainlain.You were searching for "makalah gizi buruk". Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. Mulai dari bayi dilahirkan. kanker. antar provinsi. See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. remaja. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan.

selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan.Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. . Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. serta rendahnya umur harapan hidup. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. Pada saat ini. Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. angka kematian bayi. umumnya disebut kekurangan gizi. angka kematian balita. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat.

Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. World Fit for Children 2002.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. dan Millenium Development Goal 2015. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. bagan 2 di atas (Unicef. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. maka status kesehatan dapat tercapai. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. United Nations (Januari. pola asuh. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. . Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. konsumsi makanan yang kurang. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. dengan mengikuti siklus kehidupan. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. penyakit infeksi. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki.

2000). banyak Posyandu yang tidak berfungsi. dan masalah kemiskinan. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. hanya sekitar 15-17%. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. masalah kesehatan lainnya. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai.0/kapita/tahun). yang berdasarkan kajian Susenas 2002.513. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. Pada hasil kajian Susenas 2003. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%.2% atau 38. Berdasarkan SP 2000. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003.364. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan. rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%. prevalensi gizi kurang . demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda.Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. 12% and 10%. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. 2002). Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%. o Masih tingginya angka kematian ibu. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. lingkungan. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. bayi dan balita. 10% dan 9%. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. Hasil SDKI tahun 1991.4 juta penduduk (BPS.

4. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. 3. Untuk peningkatan status gizi penduduk.3 cm.1-0. kurang asam folat. Seperti yang terlihat pada Figure 10. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk. maupun tablet besi. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.2% dan gizi buruk 8. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. seperti masalah kurang kalsium. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13. kurang vitamin B1. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat.3%. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang.7%. Dari hasil kedua survei tersebut.7% dalam kurun waktu 5 tahun. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. Dengan asumsi penurunan 30%. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3.adalah 19.7% 2. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. kapsul yodium. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003. GAKY dan Anemia Gizi. . Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun. kurang zink.3 cm pada anak laki-laki dan 2.

akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. pola penyakit.8% pada tahun 1996/1998. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. Akan tetapi. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari. GAKY dan anemia gizi. Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. penyuluhan. karena informasi untuk kurang kalsium. karena sampai dengan tahun 2002. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. selain strategi lain (fortifikasi. tingkat konsumsi. Dari beberapa laporan. penurunan ini secara nasional tidak terjadi.9% (1995) menjadi 40% (2001). Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal.1%. pendapatan dan pendidikan. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. atau penurunan 50%. dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. zink. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil.Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. terutama di NTB. asam folat. antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. Dengan kondisi ini. . Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. Selain itu sampai dengan tahun 2003.

Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. provinsi. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. http. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. antara lain: 1. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting. 4. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang.05 wib . Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. maupun nasional. 2. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan. 3.//astqauliyah. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan.

yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. Fakta yang ada. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus. Di dalam perpustakaan tersebut. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Jadi. Hal ini berarti bahwa. Sebagai mahasiswa psikologi. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. . dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. Sebenarnya.Contoh proposal kualitatif A. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Akan tetapi. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. Akan tetapi. Yang telah tersebut di atas. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. Sebelum kita memahami. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca. Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. Selain itu. Jika kita melihat fakta yang ada. baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan. perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. Hal ini juga berarti bahwa. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka.

Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. Membaca mencari. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Membaca sepintas. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. 3. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. Dalam melakukan rutinitas membaca. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. 5. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2. Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. B. yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya. 2. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1. ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. Membaca kritis. Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3.Membaca terarah. Dari kelima cara-cara membaca di atas. Membaca belajar.

Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. 2. ia belajar mengenal kata demi kata.C. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat. Sekarang kalau kita pertanyakan. akurat. Diharapkan dari penelitian ini. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. 2. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. menelaah. efektif. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. dan membedakannya dengan kata-kata lain. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dan selainnya. mengejanya. maka objek yang dimaksud bersifat umum. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. mendalami. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. dan mengingat-ingat. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. meneliti. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. Anak harus membaca dengan bersuara. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D. mengetahui cirri-cirinya. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. Pada waktu anak belajar membaca. Menurut Dr. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya. membaca. Peneliti a. Oleh karena itu. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . mengamati.

Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca. The greatest thing in life is to Keep your mind young. merasa bosan. latihan khusus membaca cepat. mengolah. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras.µ Tidak peduli berapapun usia kita. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata. Tampilan komputer dapat pula dibaca. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan. 2. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. Mestinya. Orang yang tidak mendapat bimbingan. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan. Itu sebabnya. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua. kemampuan. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. Secara tidak disadari. Anyone who keeps learning stays young. kalimat. whether at twenty or eighty. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain. tidak tahan membaca buku.1. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. menyaring. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old.µ . seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. dan baik penuturannya. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan. tidak ada gairah. 3. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. teratur. yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. dan ketajaman mencerna isi bacaan. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa.

µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. A.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. ´Saya terlalu sibuk menggergaji. 1. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3. dan sosial/emosional. spiritual. Pada waktu sebuah kata dibaca. Akan tetapi. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik. kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. kemudian kata dan sebagainya? 2. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf. mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. ´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam.µ ³Nah. MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan. fiturfitur ini bermunculan. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan. dalam Gleason dan Ratner 1998.µ jawabnya. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas. dan letaknya. mental. Dalam model ini.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ.µ orang itu berkata dengan tegas.µ Bahkan menurut Covey. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak. Karena itu. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai. setengah lingkaran. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. gabungannya menjadi suku. Model atas ke bawah Smith (1971. .

Pengantar pemahaman bahasa manusia. atau dia akan bertanya kepada orang lain. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. dan tahap interpretasi. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. model component-letter. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1. adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. (Psikolinguistik. Pada kesempatan kali ini. untuk mengetahui makna kata itu. B. Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. Recite atau menuturkan 5. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. Sebaliknya. menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan. 2. tahap rekognisi. maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia. soenjono dardjowidjojo. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. berhierarki. Bila ditemukan makna dari kata itu. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. dan bertahap. mempercepat menangkap arti. metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. Review atau mengulang 1. . Read atau membaca 4. atau melihat dikamus. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan. kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. Jakarta: yayasan obor Indonesia). kita tetap saja bisa membacanya. C. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. Tentunya. Survey atau meninjau 2. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Robinson tahun 1941. mendapatkan abstrak. 2003. fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Question atau bertanya 3.

2. Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. . 6. definisi. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. mengetahui ide-ide yang penting. yang mendukung ide pokok. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. 3. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut. Perhatikan grafik. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran.3. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. 5. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. 4.contoh dari konsep utama. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question. Selain itu juga berbahaya. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. Pada saat membaca. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring. diagram: Adanya grafik. Read Dengan membaca. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat.

Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. teruskan membaca subbab berikutnya. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. Dalam pemakaiannya. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. 4. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. Oleh karena itu. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku. berhentilah sejenak. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab. kita perlu latihan. pada kesempatan itu. melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi. kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir.perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. Demikian juga dengan SQ3R. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar. . Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. bacalah kembali paragraf tersebut. ulangi membaca bab itu sekali lagi. Jika masih mengalami kesulitan. Review Daya ingat kita terbatas. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. misalkan buku teks matematika. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. 5. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. tandai subbab ini. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. Dan.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks.

kapan?. 1. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. seperti pensil atau spidol. Namun. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut. terutama membaca buku pelajaran. 2. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. komik. khususnya buku pelajaran. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. . bersih. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a. Di zaman sekarang ini. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . dan mengatuk. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut. bosan. 5. oleh siapa?. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. adalah di pagi hari. Membaca kritis. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. šPersiapan Sebelum Membaca 1. nyaman. 3.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan.Paragraf awal. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. sejuk. tidak bungkuk. gambar-gambar. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut. tenang dan rapih menurut kita sendiri. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut.Bagian daftar isi. 2. baik dari luar maupun dari dalam diri kita. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca. yaitu tempat yang terang. majalah ringan dll. mengapa bisa terjadi?. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. 4. 3. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. cerpen. Melakukan survei isi buku. Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan.

c. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. Cobalah kita tutup dulu bukunya. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam. Evaluasi. Jika tidak terdapat pertanyaan. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. terutama untuk mengumpulkan data. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Menurut Hadi. b. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Membuat pertanyaan. catatan lapangan. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. dokumen pribadi. dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda .1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut. penelitian adalah usaha untuk menemukan. METODE PENELITIAN 1. d. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E. Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri. dan dokumen resmi lainnya. analisis data bersifat induktif. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. e. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian. Jika belum. catatan memo. Membaca. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti. rinci dan tuntas. minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. Meninjau ulang.

2. pandangan-pandangan. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri. termasuk tentang hubungan-hubungan. SUMBER DATA 1. Data sekunder juga dapat berupa majalah. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. publikasi dari berbagai organisasi. Oleh karena itu. hasil-hasil studi. Malang. dan mempunyai kedalaman spiritual. yang berada di daerah malang. studi histories. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. 50. Jalan Gajayana no. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. notula rapat perkumpulan. 4. namun berfungsi sebagai instrument pendukung. beserta jalan dan kotanya. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. 2. profesional. peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. 2. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. 3. dan sebagainya. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. kegiatan-kegiatan. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. baik putra dan putri. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. hasil survey. buletin. serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas. sikap-sikap.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. tesis. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. Menurut Whitney dalam Moh. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. buku harian. Data Primer Menurut S. .

Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. 1. pengumuman. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. instruksi. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. dokumen berupa laporan. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. Dalam kegiatan sehari-hari. Dalam penelitian ini. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. artikel. dan sebagainya. 2.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. . untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. pernyataan. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. tanpa menggunakan teknik kuantitatif. perilaku. biografi. gambar. komentar peneliti. memo. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. 6. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. foto. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal. kategori. majalah. dan berita yang disiarkan kepada media massa. perkembangan. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. aturan suatu lembaga masyarakat. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal.5. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. Tujuan penulis menggunakan metode ini. buletin. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8.Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility). 3. Data tersebut diperoleh dengan observasi. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. waktu. meliputi kegiatan penentuan fokus. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. sering atau tidaknya membaca. (2) keteralihan (tranferability). Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. (4) kepastian (konfermability)9. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. gambaran atau lukisan secara sistematis. Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. (2) tahap pekerjaan lapangan. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. penyesuaian paradigma dengan teori. penjajakan alat peneliti. penyusunan usulan penelitian. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. 8. 2. kebiasaan membaca. 7. c) Tahap analisis data. sumber. konsultasi fokus penelitian. . Menurut M. (3) tahap analisis data. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti. diskusi teman sejawat. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. pengetahuan. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. (4) tahap penulisan laporan··10. dan pengecekan kecakupan refrensi. (3) kebergantungan (dependibility). b) Tahap pekerjaan lapangan. d) Tahap penulisan laporan. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1. pengecekan anggota. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi.

Jakarta 2004. . Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. 6. Dalam penelitian kuantitatif. Metode Penelitian (Jakarta: PT. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. lokasi penelitian.com 3. pengecekan keabsahan data. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. kehadiran peneliti. 4.9. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. penelitian berangkat dari teori menuju data. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1. dan tahap-tahap penelitian. sumber data. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan.wordpress.A. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Ghalia Indonesia. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. 1991 Moh. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. S. M. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. 2. Nazir. Bumi Aksara. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik. PUSTAKA Lexy J Moleong. 2003 Prof. http://skripsistikes. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. Dengan kata lain. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Ph. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Metode Research. Oleh karena itu. analisis data. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. 5. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. Nasution. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. prosedur pengumpulan data. induktif. dan berakhir dengan suatu ³teori´. PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Apabila digunakan istilah rumusan masalah. D. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Dr.

interaktif. pengamat partisipan. e. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. dan dengan cara http://skripsistikes. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. informan. dan waktu. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai.com teoretik. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. sumber data. b. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. grounded theory. atau pengamat penuh. penelitian tindakan. dan suasana seharihari. studi kasus. yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. dan dokumentasi. Dengan pemilihan lokasi ini. dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi).com bagaimana data dijaring. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). format ringkasan rekaman data. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. kebudayaan. bagaimana karakteristiknya. partisipatoris.a. d. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. Oleh karena itu. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. keunikan. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). . peneliti pernah bekerja di situ. misalnya observasi partisipan. c. interaksi simbolik.wordpress. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. misalnya fenomenologis. ekologis. atau kritik seni (hermeneutik). Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. misalnya letak geografis. struktur organisasi. atau penelitian kelas. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. program. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru.wordpress. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. etnometodologis. wawancara mendalam. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. subjek.

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu. pola berarti bentuk. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel.1. SAMPEL Selama penelitian. Sedangkan asuh berarti menjaga. Minggu Keempat. Selain itu. 3. Minggu Ketiga. merawat dan mendidik. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.3. Jika ditinjau dari terminologi. POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3.3.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. tata cara. Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. 1. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ).4. mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini. Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian. y y y y Minggu Pertama. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa. Minggu Kedua. merawat dan mendidik.2. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009.5. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut.       . 3. 3.2.

dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah.BAB IV PEMBAHASAN 4. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini. tidak patuh. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. pendiam. agresif. Misalnya. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. dapat mengontrol diri. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. cemas dan terkesan menarik diri. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. gemar menentang. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. 3. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. kurang mandiri. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. mau menang sendiri. berkepribadian lemah. manja. impulsif. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri. . tertutup. 2.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. 2. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. kalau tidak mau makan. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. dan kooperatif terhadap orang lain. DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. self esteem ( harga diri ) yang rendah. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. kurang bertanggung jawab. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka.2. 4. 4. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody. 4. maka tidak akan diajak bicara. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. tidak mau mengalah. 4. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). agresif. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil.1. yaitu : 1. mampu menghadapi stress. mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. suka melanggar normanorma. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. tidak berinisiatif.

Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. terkadang permasalahannya lebih serius. 2. dianiaya setiap hari. Selain diperlakukan tidak adil. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya. tawuran dan lain sebagainya. Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. pergaulan bebas. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. tetapi itulah yang terjadi. seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. The Lost Boy. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. Pelzer ternyata bisa hidup normal. malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. Ia seolah tidak dianggap manusia. Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. sehingga akhirnya sang anak jadi manja. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama. Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. BAB V PENUTUP A. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. dan A Child Called Dave . sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal. mendekati miras. B. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar.

20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Tamat Tahun 2003 . Kertabuana. 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tgl lahir : Tenggarong. Nama : Ira Suprihatin Tempat.MTS AL-IKHSAN Separi Besar. Nama : Abdul Ghofur Tempat.SMA YPM DIPONEGORO. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tgl lahir : Ds. Tamat tahun 2003 . Tenggarong Seberang 3. Fitroh Al-Hadi Tempat. 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Tamat Tahun 2006 . Tenggarong Seberang . Tgl lahir : Tenggarong.SDN 021 L II Blok C.SDN 011 L4 Blok C II.SMP YPM DIPONEGORO.SDN 016 Separi IV.SMA YPM DIPONEGORO. Nama : Dewi Fatmawati Tempat. Tamat Tahun 2003 . Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2006 . 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tamat Tahun 2003 . Tgl lahir : Kediri.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tenggarong Seberang 2. Nama : M.RIWAYAT HIDUP 1. Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat.SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2006 . Tgl lahir : Kutai.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang.SDN 016 SEPARI IV.SDN 004 Bukuan.SMP 20 Bukuan. Tamat Tahun 2003 .SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5.SMA YPM DIPONEGORO. Tenggarong Seberang 4.

Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Tamat Tahun 2006 . Tim Sosiologi. Alwi. Nama : Rahmat Effendi Tempat.SDN 010 Bangun Rejo. Remaja Juga Bisa. Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Muhammad. Bumi Aksara.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas. J. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. Tamat Tahun 2006 . Tgl lahir : Pendingin.6.SMA YPM DIPONEGORO.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8.SMP YPM DIPONEGORO. Anak . Tamat Tahun 2003 . 2006.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . 2005. Jakarta : Penerbit Pena. 2007. Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK . Bumi Aksara. Jakarta : PT. Tgl lahir : Madiun. Psikologi Remaja. Tenggarong Seberang 7. Lein. 7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Laura dan. 2007. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Nama : Sunadi Tempat. Ali. Tamat Tahun 2006 . 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . 2006. Alwi. Jakarta : PT. 2005.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 . william. Sosiologi . Tim Sosiologi. Untuk 13X . Nama : Sinta Purnamasari Tempat. Gode.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Jakarta : yudistira. Tgl lahir : Kertabuana. Jakarta : yudistira. Sosiologi . 1989. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII. Alatas. 13X . Sosiologi Keluarga.SMPN 1 Tenggarong Seberang.

115.499).59% kurang. Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2. Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi. praktek pemberian kolostrum. Teacher I : Drs.001. SKM.59%. 2006. Pembimbing I : Drs.. Sutardji. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. praktek pemberian MP-ASI (p=0.085).06% sedang. praktek pemberian kolostrum 44. Study Program of Public Health Science. praktek pemberian kolostrum (p=0.001. =0.8% balita gizi buruk. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. iii ABSTRACT Endang Suwiji. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji. Sport Science Faculty.C=0. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57. M. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Fakultas Ilmu Keolahragaan.C=0. dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat.16% menjadi 15.556). praktek pemberian ASI.001. Analisis data menggunakan statistik chi square. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.572).34%. teacher II : Irwan Budiono . Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Pembimbing II : Irwan Budiono. State University of Semarang.S. dan praktek penyapihan 79. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi..38% pada tahun 2003 sampai 2004. Skripsi. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45.41% belum disapih. praktek pemberian ASI (p=0. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006. M. Berdasarkan hasil penelitian.001. yang meningkat dari 12. =0. praktek pemberian ASI 47.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora.515) dengan status gizi.76% kurang. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket.7% balita gizi kurang. 12. Script. SKM.C=0. praktek pemberian MP-ASI.12% tidak diberikan. . 2006. Universitas Negeri Semarang.S. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0.35% sedang. Sutardji.

131695159 2. and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable. Irwan Budiono.12%.34%. the gift practical of colostrum 44. includes the gift practical of prelactal food or drink. M.001. 2. that inflate from 12.8% childrens of bad nutrition.001.085). Sutardji. The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens.556). Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin.41% was not weaned. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1.Square. The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition. The data analysis was using the statistical of Chi.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been. the gift practical of breastfeeding.499). it could known that under nutrition prevalence at children 45. Khomsin.001.7% childrens of under nutrition. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36. Oktia Woro KH. 131469639 NIP. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0.C=0. there was 1. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling. Herry Koesyanto.001. SKM (Anggota) NIP.C=0. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency.515) with nutritional status.59% was under nutrition. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. 131571549 Dewan Penguji. MS (Anggota) NIP.59%. Drs.38% on 2003 untill 2004. dr. C=0. Based on the study result. 12. Nutritional Status. Kelemahan terbesar adalah menyerah. Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell.Kes (Ketua) NIP. Sekretaris. 130523506 3.16% become 15. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency. DR.06% was middle. And on 2004. the gift practical of breastfeeding (p=0. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan. Based on the reality above. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45. tentram dan mententramkan. MS NIP. jalan paling pasti menuju sukses . The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0. =0. was not gave.115. the gift practical of breastfeeding nearing food.572). the gift practical of colostrum. 1. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia.76% was less. =O. (Aa Gym) 3.Pd Drs. M. the gift practical of breastfeeding 47. the gift practical of colostrum (p=0. tenang dan menenangkan.35% was middle. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0. 2004:26). and the wean practical 79.

...... Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini. 7 1.............................. 2............... 3..................... 10 1.................6............................................. ( Thomas A................... vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya........................ Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi.......... M....... MS...............3................................................... viii DAFTAR TABEL.. Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku........ iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................. Ruang Lingkup Materi...................................... 6 1...5.. Gati....... Almamater Universitas Negeri Semarang.................... SKM.. 1 1.................................... Ruang Lingkup Tempat .........................................................Kes...................... 4...... 10 ........ dr...... xiii BAB I PENDAHULUAN..............H.... Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2.................6........ Proe............................... 10 1.........................4......................2.... 6 1.......... Semarang................ Danik dan semua)´ atas keceriannya 5........................... 10 1.......1................ xi DAFTAR GAMBAR.................................. dr.......... Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi...........................2.................... xii DAFTAR LAMPIRAN.............. Rumusan Masalah...................... Oktia Woro K.. Ruang Lingkup Penelitian.. Ruang Lingkup Waktu ...... 4............................................. selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis.......................... 8 1....................... Teman IKM 02´ yang tak terlupakan.................. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak......... vi DAFTAR ISI........................ Latar Belakang ..........3...... bantuan dan dorongan dari berbagai pihak................. 5...... Tujuan Penelitian ......... Drs........... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1. Manfaat Hasil Penelitian....................... 1 1...... Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna........... 6.................................... Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas............................ Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi.1... ii HALAMAN PENGESAHAN.............. Irwan Budiono.................................. v KATA PENGANTAR .......................................... sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.. Sutardji.............. Cemot................. Abdul Hadi...6............................. Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..............................................adalah selalu mencoba sekali lagi.. i ABSTRAK.. Keaslian Penelitian...........6........ diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca... mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT.......................... Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama........... 3..................................... Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.................

...................................... Pola Asuh Gizi ...... Status Gizi..........8..Pembahasan ................ Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum .........7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi........ Pengertian Status Gizi....................1.......1.................. 37 3..................................2...............................................................1..................1.1...5.......1............................................ Data Primer........... TB/U dan BB/TB............1.4 Praktek pemberian MP-ASI............................ 44 3......1...... Teknik Analisis Data ............................. Distribusi Status Gizi Balita.........8..... 27 2. 29 2.................... Distribusi Praktek Pemberian ASI ..................... Distribusi Jenis Kelamin Responden ................................... 53 12.......................2..............................1....................... 48 4...... 43 3..............4...........................................................3 Praktek pemberian ASI ..........3...............6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi ................................................................................ 46 3...................... 26 2.....................1.....................1. Wawancara dengan menggunakan kuesioner...............................2.................... 51 10. 48 5.............. Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS.................. Penilaian Status Gizi ......... 39 3.................. Distribusi Praktek Penyapihan ....3............... 11 2................. 68 DAFTAR PUSTAKA ....... 11 2.....2......2................... 46 3..... 49 6............................................ Analisis Univariat ....4...2......................... Validitas Instrumen............. 47 3.. 17 2...1........ 49 7................2.....6.........2.......................................................... Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ................... 53 4.......1.............. Instrumen Penelitian ..... Saran ...........................................................7...........2 Praktek pemberian kolostrum..................7.........1........ 52 11............ 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1..............1...1........ 30 2................................ 67 5... 43 2.............. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal.........1............................ 41 3....................................................................... Jenis dan Rancangan Penelitian ....... 46 3............2.............. Antropometri Indeks BB/U ........ Karakteristik Responden .1.............BAB II LANDASAN TEORI ........1......................8......2.....................2.......................................... 50 8........1...... Populasi dan Sampel penelitian ...................................... Data Skunder ...5.. Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U....2......................................................... 26 2....................1....1.....5.............2.............. Definisi Operasional ................................6.......1...........1....................... 14 2......................................... 48 4..... 49 4.....................................................................1.......................................... Landasan Teori ....... 36 BAB III METODE PENELITIAN ...... 20 2............. 33 2.................................................1.. 30 3........................................ 18 2. Popukasi penelitian...........2.................... 39 4..........................3.................................... Keaslian Penelitian........................... 43 1......... Anilisis Bivariat..................6...................................... 43 3........................................1............................. Analisis Univariat.1. 67 5................................................... 37 3.............................. 13 2..1........2...2.....................1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal... Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita.......................... 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................... Kerangka Konsep.................. Distribusi Umur Responden................................ 24 2............. 7 2................... 51 9....................1............1.............. Sampel Penelitian .. Hipotesis ....................1.Hasil Penelitian ......... Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI ....................... 38 3...1.. 48 4.... 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN.................................................................................. Simpulan ................................... 46 3......................... 40 3......1.................................5 Praktek penyapihan ............................................ Analisis Bivariat ..................... 11 ix 2... 41 x 3........... Reliabilitas .................................................. 11 2.......5................................................... Teknik Pengumpulan Data.............................. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan .. 41 3................2.................. Definisi Operasional ................................................. Kerangka teori ..................7..............................

.... menurunnya tingkat kecerdasan..................... Surat Keterangan Selesai Penelitian .......... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI............................. Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya ..1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an................................. cerdas........ Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi......... Daftar Populasi dan Sampel. 77 7................. Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan...... 88 12................... Dalam menciptakan SDM yang bermutu.... Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik................................................................. 75 6.......... 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1................................................... tingkat pendidikan ibu............ 73 4....... Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan............ Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga.... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI..... pemeliharaan dan aktivitas........................... 58 16............................................... Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal....... 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1...................... 86 10................................... kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang........................ budaya pantang makanan................... Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi ....... Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora......................................................... pertumbuhan dan perkembangan anak. 56 15...................... Surat Ijin Penelitian dari Fakultas ..... Kerangka Teori................... konsumsi makanan................................ Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi ......... pendapatan keluarga....................................................... Data Hasil penelitian ............................................................................. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso................. 87 11..................... Kerangka Konsep......... tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu.............. Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing.......... Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat.. Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS................................................................. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi...... Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat...................... Deskripsi Data Hasil penelitian ........ Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel .... 83 8..... 2004:70)....... Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian............... 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1.. pelayanan kesehatan............. dan pola asuh gizi... dan terganggunya mental anak........................... 55 14............. Instrumen Penelitian ......................... termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM).......................... dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi. 71 2............................. tingkat pendapatan keluarga...... Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ........ khususnya anak balita....... Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi.... 91 13............ 74 5.. kolostrum... menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan...... 96 14.......... 54 13..... 36 2.........Status Gizi ............ 85 9. Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup.......................... Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI..... 100 15.......... perkembangan.................. Gizi sangat penting bagi kehidupan.... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal . rawan terhadap penyakit.... Analisis Chi Square................. jumlah anggota keluarga.. dan produktif.................... perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak......... 72 3..........

6%. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi. Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah. 2003:18). karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar.16 %. . dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu. untuk gizi kurang sebanyak 17. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. pekerjaan dan seleranya.486 anak (79. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora.575. Semakin banyak jumlah anggota keluarga. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita.34 %). Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004).7% balita gizi kurang. 1994:16). mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga. anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan.448 dengan rincian yang naik berat badannya 1.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas.8% balita gizi buruk. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1. Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari.38 %. Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi. Contoh dalam keadaan anak sakit. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama. Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya.paling terpengaruh oleh kurang pangan. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan. data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2.676 anak (2. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.993. padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI. Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12.12.816. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun.1% dan gizi buruk sebanyak 1. Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan.

16%. buruh. pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15. Berdasarkan uraian latar belakang di atas. dan serabutan.3.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. dan praktek penyapihan pada bayi. 1.4. praktek pemberian MP-ASI.3 TUJUAN PENELITIAN 1. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. 3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 1.7% balita gizi kurang. 12. 1.3.8% balita gizi buruk . praktek pemberian kolostrum.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita. 1.38% dan tahun 2005 terdapat 1. praktek pemberian MP-ASI. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12. 1.Berdasarkan uraian di atas.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. praktek pemberian ASI.4. Rata-rata pendidikan ibu rendah. Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1. dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang. praktek pemberian kolostrum.4. 1. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1. praktek pemberian ASI.

Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. 3.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan. Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri . OR=4.069. Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1.449). pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0.01. 1234567 2.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi . praktek pemberian kolostrum.(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan.

Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola . praktek pemberian kolostrum. Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0.509). OR=1. 1.039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0.011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0. Pola pemberian ASI (nilai p=0.Perkembangan bayi. Pola Asuh gizi 3. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.028). masukan zat gizi dan praktek penyapihan. dan praktek penyapihan. praktek penyapihan (nilai p=0. pola pemberian MP-ASI.246).365. OR=1. Status gizi OR=2.672). praktek pemberian MP-ASI.893). OR=2. 2. pola pemberian ASI. Pendapatan keluarga 2. masukan zat gizi (nilai p=0.697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0.237. 2.Sumatera Selatan.812.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0. Gangguan pertumbuhan 1.

R=0. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec. R=3. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas.024. MP-ASI.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. DIY Cross Sectional Case control 1. R=0. Sedangkan pada penelitian kedua. oleh . status gizi dan kejadian KEP. Kulon Progo. Theresia Spika N.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. Pola pemberian ASI 2.027. Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. ASI.asuh gizi dengan status gizi anak balita. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. ketiga. dengan perkembangan bayi. seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. 1234567 4. Kejadian KEP 1. ASI Eksklusif 2. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian. ASI. 5. Pola pemberian MP-ASI 3. Kalibawng.023. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten.

2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB. e.1 LANDASAN TEORI 2. susu bubuk. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan. Menurut Soekirman (2000: 84). 1. menyusui secara eksklusif.1. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal.1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. misal air kelapa. 1. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental). b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. dan sebagainya (Depkes RI. d.6.1 Pola Asuh Gizi. 1991:37). Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol. b. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui. dan praktek penyapihan.1.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. madu. 1.6. 1991:37).3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. air gula. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar. (Savage. Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup. Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar.karena itu perlu diadakan penelitian kembali. air tajin. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB). susu sapi. memberi kasih sayang. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2. 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a. pertumbuhan dan perkembangan anak. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. kebersihan. c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui.6.1. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan. 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage. kolostrum. 2000:2). c. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak .6. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI. pisang.

3 point lebih tinggi pada usia 8. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari. 1998:2). 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . c. dan 8. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. 2. 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki.5 Kg memerlukan 525 ml sehari. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. 2000:2).3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI. Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. 1998:3). b. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI. protein. Menurut Suhardjo.1. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI. 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit. Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. 2005:11). 16 sehingga bayi dengan BB 3. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun. 2. Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya.5 tahun. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air.1. Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini.jauh berbeda dengan diatas. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI.1. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml.1. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap. 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. agak kuning yang dinamakan kolostrum. 2005:4). Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi. 2000:2).2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit. Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi.

paling tidak sampai usia 24 bulan. 18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu.1. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI. Ririn Yenrina. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan. cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. 17 2. 2000:14). Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. 1998:19). Ririn Yenrina. ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi.1.1. 1988:74). Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi. Dengan demikian.4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan.1990:54).1. Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi. 2000:15). Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti. Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua. serta pendidikan orang tua. 1991:105). Selain MP-ASI. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat.G. 2. pekerjaan orang tua. pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F. Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim. Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat. Namun demikian.G. Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. 1990:78). 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI. Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula. Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya.J. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. .maka kebutuhan susu 15 L (Savage. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik.5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi. 1991:30).

6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan. bagaimana cara menjaga kesehatan anak. Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. 2000:3). 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya. 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan . pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda.1. Di beberapa tempat. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan.1. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. Di daerah semi perkotaan. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal. ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage. dibanding waktu-waktu lain. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B. Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. terutama pada keluarga golongan miskin. karena dengan pendidikan yang baik.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. 1995:10). rasa. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. yaitu rohani (pikir. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar. 1991:99). dkk 2004:74). dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi. Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. karsa. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. 1998:10). sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan. dkk 2004:74). Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. 20 2. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.

memberikan makan. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan.7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan . tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. merawat. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). 1986:31). dkk. tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun. dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang. pemeliharaan dan energi. Pada keluarga yang memiliki balita. Namun demikian. Jika jarak kelahiran pendek. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. 1999:17). dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui.yang optimal. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan.1. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. memberi kasih sayang dan sebagainya. Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk. menjaga kebersihan. 2. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang.1.

mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi. pemberian MP-ASI dan penyapihan. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat . Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi. status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya. pemberian kolostrum. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun.1. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua. Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi.seimbang. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI). 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti. Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat. 2.1. Sedangkan menurut (Savage. ASI juga merupakan makanan yang bersih. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak. Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak.dkk (2001:18).2. 2.2 Status Gizi 2. maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi.2. sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita. pemberian ASI.1998:2). Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari. Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi.1. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan.

biologis dan lingkungan budaya. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. 2001 : 20). Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). lingkar lengan atas. 2001 : 20). Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). dkk. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. biokimia dan biofisik. 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. dkk. statistik vital dan faktor ekologi. dkk. TB/U. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. tanah. dkk. 2001 : 19).3. urin. mata. dkk. Macam status gizi dengan indikator BB/U. Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. 2001:21). lingkar kepala. dan BB/TB. 2001 : 19). rambut. Ditinjau dari sudut pandang gizi.penilaian yaitu : antropometri. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. 2001 : 20). Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. dkk. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. klinis. Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. keluarga. tulang. dkk. . 2001:69). Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. dkk 2001:38). Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi. Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi. dan lingkar dada (Supariasa. tinggi badan. irigasi dll. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. 2.2. Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur.1. dan otot. 2001 : 20). lemak. dan individu. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). berat badan. dkk. Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).

Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh. 2001 : 76) 2. Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). 2000:27). Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61).9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69.Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999. Nafsu makan baik f. gizi sedang. gizi baik. klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5. Bibir dan lidah tampak segar e. Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat. (Supariasa. lemak dan protein. karena merupakan golongan yang rentan. terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan. Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya. Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun. Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. Mata bersih dan bersinar d. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan. Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. c. Tumbuh dengan normal b.2. Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. Orang yang kelebihan berat badan. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan. yaitu: gizi lebih. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu.1. Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. dengan indeks berat badan menurut umur. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus . dkk. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Kelebihan energi dalam tubuh.

Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. Akhirnya berat badan anak menurun. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. 2. b. Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. pandangan mata sayu. anemia dan diare (Supariasa. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa. rewel. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut.kulit. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi. dkk. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). apatis. terutama diare dan ispa. rewel. diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. tingkat pendidikan ibu. 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi.2. 2001:131). perut cekung. wajah membulat dan sembab. dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. pembesaran hati. rambut tipis. . mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. c. kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis). 2001:131). Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema. wajah seperti orang tua. pemeriksaan kehamilan. pertolongan persalinan. dkk 2001:131). perubahan status mental. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus. iga gambang.1. 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan. dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. tingkat pengetahuan ibu. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. kulit keriput. jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan. umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. dkk. akhirnya dapat menderita gizi kurang. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. cengeng. berduka atau depresi. sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang). Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. kemerahan seperti warna rambut jagung. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi.

penimbangan anak. faktor psikologi.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb. 36 2. Mak. diantaranya faktor penyakit infeksi. faktor pola asuh gizi. Oxford Univ. 2000:83). dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas. prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85). dokter. Press dalam Soekirman. Disini tidak semua faktor diteliti. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman./min. praktek bidan. faktor konsumsi pangan. variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. The State of the World`s Children 1998. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI .1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor.

39 3.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita. 3. 4. 3.2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum. 3.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama. 2.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita. Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar.2.2.1998:2) Tindakan ibu untuk . (Depkes RI. 3. 3.2. (Depkes RI.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun.1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny. Infeksi 38 3.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1.2.2.

Diberi = Skor 2 .5<Skor 9.memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI. .17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 .Sedang =15<Skor 21 .dkk.5<Skor 12 .5 .Sedang =6. Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.Baik =9.Kurang = 4<Skor 6. 5-8 Wawancara dengan kuesioner no.Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No . 9 .5 . (Diah Krisnatuti. 6.3 Wawancara dengan kuesioner no.4 Wawancara dengan kuesioner no. 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no.1 .Baik =21<Skor 27 .Tidak beri = Skor 1 . Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI.

3. 2000:66) Wawancara dengan kuesioner no. praktek pemberian MP-ASI.Gizi baik > 80-120% .Disapih =Skor 1 Indeks BB/U .4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.1. 2002:26). maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian. 3.5.4.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi. 3. 41 3.(Savage.1 Variabel Penelitian 3.1. Berdasarkan fokus penelitian tersebut. . (Soekirman. Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita. praktek pemberian kolostrum.Gizi kurang 60-79. Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal.2.4.Belum disapih =Skor 2 . dan praktek penyapihan. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. -BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan .Gizi lebih > 120% .1.2.1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu.5.5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3. praktek pemberian ASI.9% . Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang.4.

43 3.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0. (Suharsimi Arikunto. Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0.1 / 10 %. .6. 2002:92).1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. (Soekidjo notoadmojo. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi.1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.6. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita.2002:146).6. 3.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner.1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur.2. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan.6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3. 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg. 3.

Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal. 3. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r . berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan.849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0. praktek pemberian kolostrum.20 ± 0. 46 3.7.599 : sedang d.40 ± 0. 0.444.80 ± 1. dan praktek penyapihan. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI.6. sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0.199 : sangat rendah b. Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto.7. 0. 3.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0. 3.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder.1. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik.69 ± 0.1.1 Data primer diperoleh melalui : 3. praktek pemberian makanan prelaktal. praktek pemberian MP-ASI. praktek pemberian ASI. 0.799 : kuat e.7. dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r .897. 0. 0.399 : rendah c.2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. praktek pemberian ASI. .7.00 ± 0.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal . Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak).2.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas.813. 3.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a.

Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. praktek pemberian kolostrum.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. praktek pemberian kolostrum.3. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. praktek pemberian MP-ASI.8. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara. praktek pemberian MP-ASI. 3. Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square.1 Hasil Penelitian 4.1.59 58.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan. 47 3. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing. 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan.8.59 20. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 . 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. praktek pemberian ASI.2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi. Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20. praktek pemberian ASI. 3) Tabulasi. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5). merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data. 2) Koding.1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan.

2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7.88 44. 4.71%). sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14.53%).53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.1.71 36.53 14.12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 .47).47 48.Laki-laki Perempuan 35 33 51. Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48.76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48.2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6. 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8.88%).

4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9.41 20.41%).59% sudah disapih.24 47.06 14.17%).06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14.3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38. 52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10. Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita. selebihnya yaitu 20.35 27.17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47.17 57. Berdasarkan penelitian .59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79. Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.74%). 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur.35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14.

praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan.1.35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4. 32. 41%).572 termasuk kategori cukup erat..53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum. Kurang Baik 31 37 45.001 < 0.. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita...41% yang status gizinya baik.. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0.0605 3438.. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12... . Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11. praktek pemberian ASI. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36.0305 57. 42. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0. dan dari 48.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang.0509 3547..3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006..0401 16080..0. 4.0305 34.05.41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54.0808 2429.59 54. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1.65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5.0706 Sedang %F 57.0401 2356.572. 2. praktek pemberian kolostrum. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.88% yang status gizinya kurang. Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Distribusi Status Gizi Balita No.0305 1104.0701 Baik %F 45. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0503 Total %F 3415.

13.0509 3547..00 30.41% yang status gizinya kurang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita.706 3440.47% yang status gizinya baik..05. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. 27.0.0. 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik.8080 Total %F 3415.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11.0401 2333.29% yang status gizinya baik. 33.7010 Sedang F 19. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1.00 % 45..29 44.00 7.82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.41 100.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44.12% balita yang tidak diberi kolostrum.06 Baik %F 34. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.00 % 27.. 33.0.556 dan termasuk kategori cukup erat.499..1020 3558.94 19. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 ..001 < 0.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14. dari 47.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23.24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.8% yang status gizinya baik. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik.12 47.00 % 33.0802 2368.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33.0401 16080. sedangkan dari 55..82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4.0204 Total F 31..05.204 11.88% balita yang diberi kolostrum.71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.001 < 0. sedangkan dari 38.4070 1140. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.59 54. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0..00 32.12 Diberi %F 181.82 10.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang.499 termasuk kategori cukup erat.00 68.76% yang status gizinya kurang. 44.00 37.00 13.

Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.69% yang status gizinya kurang. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita..00 5.05.0706 3579. 36. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0.0509 3547.R (2005) .06% yang status gizinya baik. Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16.0904 Sedang %F 1204..24 7.0509 2356.0904 1279.00 % 13..00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2.41 Total F 31.35% yang status gizinya baik.94% yang status gizinya baik.59 54. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. sedangkan dari 79.90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang.59% balita yang disapih. Menurut Ninik Asri.0305 Baik %F ..00 14.0401 16080. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.59 Belum disapih F 22.00 68.00 % 45. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257..085 termasuk kategori sangat lemah.115 > 0.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27..00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.05.00 54.78% diantaranya status gizinya baik dan 20.0701 1104.00 32. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.41 100.35 20.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang. 4.2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak.35 47.00 % 32.00 37. sedangkan dari 14. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP . Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.41% balita yang 60 belum disapih. 25. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0...0701 Total %F 3415.06 79.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47.. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.0000 1104. 13.. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita.0000 22.0. 32. dari 57.515 termasuk kategori cukup erat.24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7.71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik.515.085. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15.001 < 0.

artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita. Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi. protein. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Dr. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0.2.05.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi. pemberian ASI.2. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal. kolostrum. 4. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik . harus diberikan kepada bayi.05. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita.001 < 0. 4. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal. pemberian ASI. saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare.05. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran.1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi.001 < 0. 4.2. pemberian kolostrum. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita. Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin.001 < 0. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi.

ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita.115 > 0. 4. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan. 4.2. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004). memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. cara pembuatan dan cara pemberiannya.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah. porsi. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI. artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita.001 < 0. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita. seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita.2. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya. frekuensi. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.05.pula status gizi balita. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan. Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan. Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita. Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam . Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001). Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan.05. pemilihan bahan makanan.

67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. 2005. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan.jumlah cukup. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I. 1992. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0.38%. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni. 2003. Makanan Pendamping ASI.12% tidak diberikan. 1989.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. 68 5. Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal. Depkes RI. Jakarta . Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12. praktek pemberian MP-ASI 57. Skirpsi S-1. 2. Manajemen Laktasi. Jakarta Depkes RI. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. C=0. Jakarta : Arcan.35% sedang dan praktek penyapihan 79. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45.41% baik. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. 12.16% menjadi 15. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan.53% baik. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. 1999a.001. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan.88% diberikan. Universitas Diponegoro. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. Semarang Depkes RI.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44.24% baik.41% belum disapih. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai. 3. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36.59%. Catherine Lee. 2000.001. praktek pemberian ASI 38. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. 1998. Jakarta Depkes RI. Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti. 2001. praktek pemberian ASI.8% balita gizi buruk. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas.7% balita gizi kurang. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. S. C=0. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1. praktek pemberian kolostrum 55. praktek pemberian kolostrum.572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar.

dan kritik. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18.6 %. 2008). Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Hadi (2005). 1998). 2009). yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen. Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials. KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya.4%.8 %. (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu.Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. balita kurus dan balita pendek masih tinggi. Watanabe et al. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Prevalensi balita gizi kurang. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. adaptasi. Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. 2004). yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen. Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah.5%. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF.

Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. kualitas stimulus (rangsangan). yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter. warna rambut dan kulit (Azwar.9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak.2008). Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0. kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur. Komorita dkk dalam Azwar.dan berkembang pesat sejak dalam rahim. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan. kesehatan. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom. Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%. (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan.2 point pada 65 pasangan kembar MZ. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0. iklim emosional di rumah.) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. 17. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. yang melakukan penelitian kembar MZ. Menurut Georgieff (2007). sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis. gizi. Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak.7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. 1. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain .Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Menurut Atkinson dkk. .2003).47. periode tercepat usia 6 bulan pertama.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben.

. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. merasa.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar.kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak. dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. 2003). Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang. memperbaiki koordinasi gerakan otot. Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. Anak-anak gizi kurang yang diberikan . Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. Namun demikian. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!. Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh. melihat. Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. 2006). Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat. Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. mencium dan meraba. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak. Ketika tikus ditempatkan di treadmill. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. 2. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut. Selama dua tahun pertama kehidupannya. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang. 1995). pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf.. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. 2008). 2009). Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak.

yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih. 5. 1. kebisingin. kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. dan sering mereka tidak mengetahui caranya. menjaga kesehatan anaknya. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis. ketegangan dan kondisi hidup yang berubah. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. (2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. Penelitian Muljati et al. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar.) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan.intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja. 1995). pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. Menurut Davidof (1991). Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. karena keterbatasan pendidikannya. Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. . 4. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim. Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan.2008). Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun. 3. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak. Sedangkan Purwandari.) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. 2007). dkk (2008). Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang. Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek.

Diantara usia-II dan usia-V. Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. 1992). Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. Tabel 1. Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut.II. 1992). Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . sangat terlatih dalam penyajian tesnya. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. level usia meningkat dengan interval satu tahunan. tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale. Dalam penelitian ini. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. Untuk memperoleh angka IQ. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I.5 tahun (Azwar. Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12. 2008). Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. 2008). Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes. kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi. 2008). skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. abstrak/visual. Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. Diantara usia-V dan usia-XIV. IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. 2008). dan III.

Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya.10 8. 2003). Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku. melukis.20 1. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh. kreatif. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi. Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1. emosional. emosi dan memori (Singh. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. akal. 2003). Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak.50 23. Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin.00 0. puisi. pemikiran. analitis. pemikiran intuitif dan spritual. Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi. spiritual dan jiwa. persepsi. astrosit dan mikroglia. (Georgieff.03 0.60 2. kepribadian.40 0. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain. Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal.20 0. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen. Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi.00 14.160-169150-159 0. menari. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak.50 5. pengertian. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik.10 23. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. bahasa dan matematis. emosi. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit. 2006).10 3. Anak- . stimulasi dan sikap orang tua. B.20 18.

dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja. et al. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. 2006). Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al. Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan. Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya. Namun demikian. Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan. Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat. Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut.anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. produksi neurotransmiter. di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi.5 tahun. Lampung. Afrika. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi. pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. 2006). Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. 11 dan 17 tahun di Mauritius. Grantham. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak.5-8. Penelitian . KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. Liu et al. (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA).

ums. You can leave a response.0.doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 . 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi.mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini. tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini. You can follow any responses to this entry through RSS 2. or trackback from your own site.google.ac. 2009. http://docs. This entry was posted on July 10.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka.

Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta. Ibukota negara. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. Masa remaja adalah usia transisi. yakni ³ Ahmad Algofari (18).00 tanggal 26 Maret 2007. atau merasa dendam. Pada setiap fikrah. . Bogor. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. Kedua. membela diri. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. didahului. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri. penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan. Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. guru maupun anggota masyarakat. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. solider. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan. Sukaraja. Pertama. Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas. tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua. pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman.Contoh Skripsi Posted on January 23. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan.

hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Sholat Jum¶at. Nasyid maupun Qosidah. Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. Latihan Marawis. Kualitas keimanan. kekuatan batin dan kecerahan. Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa. Tadarus Al-Qur¶an. . Pendalaman Materi. Mentoring. akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar.Pengajian Kelas. Dapat menjadi masukan bagi para orang tua. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani. Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut.

Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya. Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. dan sebagainya. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif. 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. . mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. majalah. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. Telaah pustaka. Raya Pejaten Pasar Minggu. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. yakni memperhatikan secara akurat. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan.METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti. Jakarta Selatan. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL). koran. tetapi memahami situasi. dengan situasi tersebut menampilkan diri. Observasi. adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J. yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini. Tlp.

Kepentingan DSL. Pembatasan dan Perumusan Masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. Tinjauan Pustaka. SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama. Analisa SWOT. Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas. Pendekatan DSL. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi .. dan Pengertian Dakwah.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta. sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Faktor Pendukung dan Penghambat. Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi. Oleh karena itu. Sistematika Penulisan. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. Metodologi Penelitian. Pengertian DSL. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. Latar Belakang Masalah. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah.

Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1.com/ http://reader.com/ http://360.yahoo.com . C. Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my.google.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8. Kegiatan Mentoring 3.yahoo. kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->