Cara mendeteksi gizi buruk pada balita

Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat.google. Namun.co.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl.htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11.mozilla:en-us:official&tb. lemak. segera konsultasikan hal itu ke dokter.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Jika tidak sesuai. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. http://bimaarry. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.blogspot. dan gula. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.14 januari 2011 jam 11. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.50 wib .25 Http://www.com/2009/03/gizi-buruk.

walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. anak usia sekolah. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara. . faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. Mulai dari bayi dilahirkan. kanker. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. Disamping itu. dewasa sampai dengan usia lanjut. Dari indikator kesehatan. remaja. seperti jantung.5 Kg). antar provinsi. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2. dan lainlain. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan.You were searching for "makalah gizi buruk". akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. masalahnya sudah mulai muncul.

mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. umumnya disebut kekurangan gizi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Pada saat ini. serta rendahnya umur harapan hidup. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat.Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. . angka kematian bayi. angka kematian balita.

Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. United Nations (Januari. dan Millenium Development Goal 2015. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. maka status kesehatan dapat tercapai. bagan 2 di atas (Unicef. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. penyakit infeksi. pola asuh. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. konsumsi makanan yang kurang. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. . dengan mengikuti siklus kehidupan. World Fit for Children 2002. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor.

banyak Posyandu yang tidak berfungsi. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. Hasil SDKI tahun 1991. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. lingkungan. 12% and 10%. Berdasarkan SP 2000. bayi dan balita.4 juta penduduk (BPS. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi.2% atau 38. masalah kesehatan lainnya.364. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%.513. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. 2000). yang berdasarkan kajian Susenas 2002. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan.0/kapita/tahun). diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. dan masalah kemiskinan. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun.Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. o Masih tingginya angka kematian ibu. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%. 2002). Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda. 10% dan 9%. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. hanya sekitar 15-17%. menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. prevalensi gizi kurang . Pada hasil kajian Susenas 2003.

Dari hasil kedua survei tersebut. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. .7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. Seperti yang terlihat pada Figure 10.1-0. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu.3 cm pada anak laki-laki dan 2. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. Untuk peningkatan status gizi penduduk.3 cm. GAKY dan Anemia Gizi. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13.7%. kapsul yodium. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. kurang vitamin B1. 4. 3. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0.7% 2. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2.2% dan gizi buruk 8. seperti masalah kurang kalsium. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan.3%. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu.7% dalam kurun waktu 5 tahun. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3. maupun tablet besi. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003. kurang asam folat. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. kurang zink. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia.adalah 19. Dengan asumsi penurunan 30%. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat.

1%. terutama di NTB. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil. Dari beberapa laporan. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. pola penyakit. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. Akan tetapi. penurunan ini secara nasional tidak terjadi. zink. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. asam folat. Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi.9% (1995) menjadi 40% (2001). antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. karena informasi untuk kurang kalsium. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9. dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. penyuluhan. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). Dengan kondisi ini. tingkat konsumsi. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. selain strategi lain (fortifikasi. Selain itu sampai dengan tahun 2003. . Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. karena sampai dengan tahun 2002. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil.Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan.8% pada tahun 1996/1998. atau penurunan 50%. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. GAKY dan anemia gizi. pendapatan dan pendidikan.

3. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang.05 wib . 2. 4. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah.//astqauliyah. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi. provinsi. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten. http. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan. antara lain: 1. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. maupun nasional. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.

baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. Di dalam perpustakaan tersebut. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. Sebenarnya. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka. Jadi. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan. Akan tetapi. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. Yang telah tersebut di atas. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. . perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. Hal ini juga berarti bahwa. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. Selain itu. Fakta yang ada. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Hal ini berarti bahwa. Akan tetapi. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Jika kita melihat fakta yang ada. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. Sebelum kita memahami. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca. Hal ini dikarenakan. perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya. Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus.Contoh proposal kualitatif A. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. Sebagai mahasiswa psikologi.

Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. Membaca sepintas. B. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. 5. Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. Dari kelima cara-cara membaca di atas. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya. 3. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Membaca kritis. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja.Membaca terarah. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. 2. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik. Membaca belajar. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. Dalam melakukan rutinitas membaca. ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. Membaca mencari. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak.

Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. 2. mengejanya. meneliti. ia belajar mengenal kata demi kata. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Peneliti a. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca.C. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. maka objek yang dimaksud bersifat umum. mengetahui cirri-cirinya. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. Pada waktu anak belajar membaca. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. Anak harus membaca dengan bersuara. 2. mendalami. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D. membaca. dan membedakannya dengan kata-kata lain. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. mengamati. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . dan mengingat-ingat. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. dan selainnya. akurat. Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Sekarang kalau kita pertanyakan.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. Menurut Dr. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. menelaah. Oleh karena itu. Diharapkan dari penelitian ini. efektif. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat.

Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. menyaring. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Secara tidak disadari. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. teratur. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. 3. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. tidak tahan membaca buku. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Itu sebabnya. latihan khusus membaca cepat. tidak ada gairah. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. kalimat. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. mengolah. kemampuan.µ Tidak peduli berapapun usia kita. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. 2. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. whether at twenty or eighty. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to Keep your mind young. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca.1. merasa bosan. seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan.µ . dan ketajaman mencerna isi bacaan. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan. Mestinya. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain. Orang yang tidak mendapat bimbingan. dan baik penuturannya. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua. yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya.

Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. dalam Gleason dan Ratner 1998. MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. Dalam model ini. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. kemudian kata dan sebagainya? 2. mental. setengah lingkaran.µ orang itu berkata dengan tegas. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. A.µ jawabnya. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). Model atas ke bawah Smith (1971. 1. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak.µ Bahkan menurut Covey. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ. ´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal. kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik.µ ³Nah. spiritual. gabungannya menjadi suku.µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. dan letaknya. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3. . mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. Pada waktu sebuah kata dibaca. dan sosial/emosional. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai. Akan tetapi. fiturfitur ini bermunculan. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. ´Saya terlalu sibuk menggergaji. Karena itu.

adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word. . kita tetap saja bisa membacanya. Pada kesempatan kali ini. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. model component-letter. Survey atau meninjau 2. menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan. atau melihat dikamus. berhierarki. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. C. Pengantar pemahaman bahasa manusia. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. B. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. Recite atau menuturkan 5. dan tahap interpretasi. 2003. Bila ditemukan makna dari kata itu. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. tahap rekognisi. mempercepat menangkap arti. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. Question atau bertanya 3. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. untuk mengetahui makna kata itu. kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. dan bertahap. 2. Read atau membaca 4. Jakarta: yayasan obor Indonesia). Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Review atau mengulang 1. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. (Psikolinguistik. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1. Sebaliknya. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. Tentunya. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan. soenjono dardjowidjojo. atau dia akan bertanya kepada orang lain.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. Robinson tahun 1941. mendapatkan abstrak. dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia.

Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran. yang mendukung ide pokok. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. . Perhatikan grafik. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Selain itu juga berbahaya. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. Read Dengan membaca. Ini akan memperlambat anda dalam membaca.3. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali. Pada saat membaca. mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. 6. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. 3. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. 4. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. definisi. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. 5.contoh dari konsep utama. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut. 2. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. mengetahui ide-ide yang penting. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring. diagram: Adanya grafik. Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question.

melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab.perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. Oleh karena itu. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. . proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. 5. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. ulangi membaca bab itu sekali lagi. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. Dan. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. misalkan buku teks matematika. anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. teruskan membaca subbab berikutnya. Demikian juga dengan SQ3R. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. berhentilah sejenak. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar. tandai subbab ini. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. 4. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. Jika masih mengalami kesulitan. bacalah kembali paragraf tersebut. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. kita perlu latihan. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. pada kesempatan itu. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian. Dalam pemakaiannya. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah. Review Daya ingat kita terbatas. dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%.

3. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. gambar-gambar. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. tenang dan rapih menurut kita sendiri. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . komik. Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut.Bagian daftar isi. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja. kapan?. yaitu tempat yang terang. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut. tidak bungkuk. Namun. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. 3. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca. . Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan. bersih. majalah ringan dll. cerpen. oleh siapa?. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. 2. bosan. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut. baik dari luar maupun dari dalam diri kita. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. adalah di pagi hari. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. Di zaman sekarang ini. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. Membaca kritis. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. seperti pensil atau spidol. šPersiapan Sebelum Membaca 1. Melakukan survei isi buku. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. 4. sejuk. nyaman. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar.Paragraf awal. 2. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. 5. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . dan mengatuk. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. 1. khususnya buku pelajaran. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a. terutama membaca buku pelajaran. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. mengapa bisa terjadi?.

Membaca. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka.1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. catatan lapangan. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. c. analisis data bersifat induktif. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. METODE PENELITIAN 1. b. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian. Menurut Hadi. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. Cobalah kita tutup dulu bukunya. Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut. rinci dan tuntas. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti. dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam. dokumen pribadi. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. terutama untuk mengumpulkan data.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis.. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. catatan memo. e. Jika tidak terdapat pertanyaan. minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. Evaluasi. penelitian adalah usaha untuk menemukan. Jika belum. Meninjau ulang. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda . d. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. Membuat pertanyaan. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci.

Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. 50. 2. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian.2. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. buku harian. SUMBER DATA 1. publikasi dari berbagai organisasi. 4. . Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. 2. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. Data sekunder juga dapat berupa majalah. studi histories. baik putra dan putri. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. buletin. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. beserta jalan dan kotanya. sikap-sikap. yang berada di daerah malang. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data Primer Menurut S. namun berfungsi sebagai instrument pendukung. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. dan sebagainya. hasil-hasil studi. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. hasil survey. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. Menurut Whitney dalam Moh. Oleh karena itu. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. Malang. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. tesis. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. kegiatan-kegiatan. Jalan Gajayana no. termasuk tentang hubungan-hubungan. peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. 3. profesional. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. pandangan-pandangan. notula rapat perkumpulan. dan mempunyai kedalaman spiritual.

dokumen berupa laporan. dan berita yang disiarkan kepada media massa. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. Dalam kegiatan sehari-hari. 6. biografi. Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu.5. buletin. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. . foto. 2. instruksi. dan sebagainya. aturan suatu lembaga masyarakat. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. perkembangan. kategori. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. gambar. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. pengumuman. majalah. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. komentar peneliti. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. memo. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. pernyataan. Dalam penelitian ini. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola. perilaku. 1. tanpa menggunakan teknik kuantitatif. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. Tujuan penulis menggunakan metode ini.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. artikel.

PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility). TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. 7. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. sumber. Menurut M. 2. d) Tahap penulisan laporan. waktu. diskusi teman sejawat. meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. pengecekan anggota. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. (4) kepastian (konfermability)9. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi. Data tersebut diperoleh dengan observasi. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. pengetahuan. b) Tahap pekerjaan lapangan. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti. dan pengecekan kecakupan refrensi. gambaran atau lukisan secara sistematis. (4) tahap penulisan laporan··10. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) tahap pekerjaan lapangan. kebiasaan membaca. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. (2) keteralihan (tranferability). meliputi kegiatan penentuan fokus. 3.Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. penjajakan alat peneliti. (3) tahap analisis data. Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. . 8. c) Tahap analisis data. penyusunan usulan penelitian. (3) kebergantungan (dependibility). wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. penyesuaian paradigma dengan teori. konsultasi fokus penelitian. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti. sering atau tidaknya membaca.

analisis data. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. Oleh karena itu. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Ph. Dr. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. . lokasi penelitian. dan tahap-tahap penelitian. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. S. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian.9. dan berakhir dengan suatu ³teori´. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. Nazir. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik. Bumi Aksara. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. induktif. sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. 6. Jakarta 2004.A. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. http://skripsistikes. PUSTAKA Lexy J Moleong. sumber data. Metode Research. Dengan kata lain. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Nasution. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. 2003 Prof. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. Metode Penelitian (Jakarta: PT. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.wordpress. Dalam penelitian kuantitatif. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. kehadiran peneliti. M. PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. 4.com 3. pengecekan keabsahan data. penelitian berangkat dari teori menuju data. prosedur pengumpulan data. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Ghalia Indonesia. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. 5. 2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Apabila digunakan istilah rumusan masalah. 1991 Moh.

partisipatoris. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. program. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). c. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. d.com teoretik. wawancara mendalam. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. atau penelitian kelas. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. studi kasus. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. informan. dan dokumentasi. dan suasana seharihari. misalnya observasi partisipan. sumber data.a. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman.wordpress. misalnya letak geografis. grounded theory. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. e. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. peneliti pernah bekerja di situ. . atau kritik seni (hermeneutik). tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. pengamat partisipan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. ekologis. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. etnometodologis. penelitian tindakan.com bagaimana data dijaring. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). b. Oleh karena itu. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. keunikan. subjek. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. Dengan pemilihan lokasi ini. kebudayaan. interaksi simbolik. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. interaktif. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). bagaimana karakteristiknya. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. dan waktu. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. misalnya fenomenologis. format ringkasan rekaman data. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes. yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala.wordpress. struktur organisasi. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. atau pengamat penuh. dan dengan cara http://skripsistikes. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin.

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

3. Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku. Minggu Kedua. SAMPEL Selama penelitian. Minggu Keempat. Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.       . Selain itu. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ). Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. 3.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga.2. Minggu Ketiga.5. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel.2. merawat dan mendidik. 3. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. y y y y Minggu Pertama. Sedangkan asuh berarti menjaga. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian.1. observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.3. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu. 1. WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009. tata cara.4. 3. merawat dan mendidik. pola berarti bentuk. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Jika ditinjau dari terminologi. PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi. mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut. POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3.

mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. tertutup. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. tidak berinisiatif. yaitu : 1. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. tidak mau mengalah. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini. self esteem ( harga diri ) yang rendah. 3. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. 4. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. 4. kalau tidak mau makan. agresif. gemar menentang. pendiam. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. impulsif. tidak patuh.BAB IV PEMBAHASAN 4. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody. 4. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. suka melanggar normanorma. 2. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. mau menang sendiri. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional.2. 4. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. mampu menghadapi stress. kurang bertanggung jawab. cemas dan terkesan menarik diri. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. dapat mengontrol diri. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya. berkepribadian lemah. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. Misalnya. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup. maka tidak akan diajak bicara. 2. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. manja. agresif. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. . kurang mandiri.1. dan kooperatif terhadap orang lain.

malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Pelzer ternyata bisa hidup normal. Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar. Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. tawuran dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. terkadang permasalahannya lebih serius. sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. B. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya. Selain diperlakukan tidak adil. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. mendekati miras. tetapi itulah yang terjadi. sehingga akhirnya sang anak jadi manja. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. BAB V PENUTUP A. 2. Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. dianiaya setiap hari. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. pergaulan bebas. Ia seolah tidak dianggap manusia. dan A Child Called Dave . yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya. yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. The Lost Boy. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama.

MTS AL-IKHSAN Separi Besar. Fitroh Al-Hadi Tempat. Nama : Abdul Ghofur Tempat. Tgl lahir : Tenggarong.SDN 011 L4 Blok C II. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Nama : Dewi Fatmawati Tempat. Tgl lahir : Tenggarong.SDN 004 Bukuan. Tgl lahir : Kediri. Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat.SMA YPM DIPONEGORO.SMP 20 Bukuan. Tamat Tahun 2006 .SMA YPM DIPONEGORO.SDN 016 Separi IV. Tgl lahir : Ds.SDN 021 L II Blok C. Tamat Tahun 2006 . 20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Nama : M. Tamat Tahun 2003 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5. Tamat Tahun 2006 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2003 .SMP YPM DIPONEGORO. Nama : Ira Suprihatin Tempat. Tgl lahir : Kutai.SDN 016 SEPARI IV. Tamat Tahun 2003 . Kertabuana. Tamat Tahun 2003 . 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Tenggarong Seberang 3.SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 .RIWAYAT HIDUP 1. Tenggarong Seberang .SMA YPM DIPONEGORO. Tenggarong Seberang 4. Tenggarong Seberang 2. Tamat tahun 2003 . 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .

7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK . Nama : Rahmat Effendi Tempat. 2005. Tamat Tahun 2003 .SMA YPM DIPONEGORO. Sosiologi Keluarga. Tgl lahir : Pendingin. Tenggarong Seberang 7. Untuk 13X . Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Jakarta : yudistira. Jakarta : PT. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Ali.SMP YPM DIPONEGORO. Alwi. Tgl lahir : Madiun. Nama : Sinta Purnamasari Tempat. Tamat Tahun 2006 . J. Tim Sosiologi. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. Laura dan. Sosiologi . william.6. 13X . 2005. Tamat Tahun 2006 . 2006. Tgl lahir : Kertabuana. 1989. Muhammad. Tim Sosiologi. Jakarta : Penerbit Pena.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . Sosiologi . 2007. Anak . 2007. Jakarta : PT. 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Lein. Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Alatas.SDN 010 Bangun Rejo. Bumi Aksara. Nama : Sunadi Tempat. Bumi Aksara. Remaja Juga Bisa. Psikologi Remaja.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 .SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8. Jakarta : yudistira. 2006. Tamat Tahun 2006 .SMPN 1 Tenggarong Seberang. Gode. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Alwi.

Sutardji.001. 12. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. SKM.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi. Study Program of Public Health Science. Teacher I : Drs. dan praktek penyapihan 79.S.001.556). praktek pemberian MP-ASI (p=0. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36.38% pada tahun 2003 sampai 2004. praktek pemberian ASI 47. yang meningkat dari 12. dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat. Sport Science Faculty.085). praktek pemberian ASI (p=0.34%. praktek pemberian kolostrum (p=0. .16% menjadi 15. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi. Pembimbing I : Drs. M.C=0. praktek pemberian kolostrum 44.515) dengan status gizi.8% balita gizi buruk.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji.572). Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006.7% balita gizi kurang.001. 2006.59% kurang. praktek pemberian kolostrum. Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0.59%.35% sedang. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. 2006. M.S. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0. Script. praktek pemberian ASI. =0. Skripsi.06% sedang.76% kurang.001. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Fakultas Ilmu Keolahragaan. SKM. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45. Berdasarkan hasil penelitian. State University of Semarang.12% tidak diberikan. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006. =0. Analisis data menggunakan statistik chi square.C=0. teacher II : Irwan Budiono .. Pembimbing II : Irwan Budiono. iii ABSTRACT Endang Suwiji.41% belum disapih. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Negeri Semarang. Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2.C=0.499). Sutardji. praktek pemberian MP-ASI. Dan pada tahun 2005 terdapat 1.. Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57.115.

the gift practical of breastfeeding 47. Herry Koesyanto.556). was not gave. 130523506 3. the gift practical of breastfeeding (p=0.41% was not weaned. 131469639 NIP. C=0. Sutardji. 12.76% was less. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1. and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable. the gift practical of breastfeeding nearing food. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan. (Aa Gym) 3. M.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition.001.06% was middle.C=0.Square. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling.35% was middle.16% become 15. there was 1. And on 2004. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0.572). The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens. Khomsin.085).499). 1.515) with nutritional status. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been.C=0. the gift practical of colostrum 44.001.8% childrens of bad nutrition. M. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency. Nutritional Status.7% childrens of under nutrition. that inflate from 12. the gift practical of colostrum.59%. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. =0.001.12%.Pd Drs. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency. includes the gift practical of prelactal food or drink. tentram dan mententramkan. DR. jalan paling pasti menuju sukses .59% was under nutrition. The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0. SKM (Anggota) NIP. The data analysis was using the statistical of Chi. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia. and the wean practical 79. Kelemahan terbesar adalah menyerah. 131571549 Dewan Penguji. MS (Anggota) NIP. the gift practical of breastfeeding. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition. Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition.34%. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45. Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition. Based on the reality above. dr. =O. Based on the study result.115. Sekretaris. 2004:26).Kes (Ketua) NIP.001. Drs. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0. the gift practical of colostrum (p=0.38% on 2003 untill 2004. tenang dan menenangkan. 2. it could known that under nutrition prevalence at children 45. 131695159 2. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36. MS NIP. Irwan Budiono. Oktia Woro KH.

...... Danik dan semua)´ atas keceriannya 5.......... Almamater Universitas Negeri Semarang.... viii DAFTAR TABEL.................... Irwan Budiono........ 1 1.. Ruang Lingkup Penelitian........1.... ii HALAMAN PENGESAHAN.............................2..................6.......... Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2............ 6...................................... Drs..................... Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi......... selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis..................... 3..................................... 3..................... Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama....................... Ruang Lingkup Materi.................... Keaslian Penelitian................ Tujuan Penelitian .................................. xi DAFTAR GAMBAR......................... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1.............................................. diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.. Abdul Hadi.............. i ABSTRAK..5.......................... Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi........................................................ v KATA PENGANTAR ... Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi...3......................... Latar Belakang ............ SKM..................................................... 10 ................. 6 1.3............................................ Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini.................... 2..... 6 1..... 4......... dr....................................2...........6........................ 1 1... dr..... Cemot.. 10 1........................................ Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.......... 4............... 5............. Proe..................... Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak. Sutardji................................... Ruang Lingkup Tempat .................................................. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.. MS........ Gati..... vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya...Kes............................ Manfaat Hasil Penelitian........................... Oktia Woro K....... Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas....................... 7 1...................6... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN............... Rumusan Masalah.... 10 1........................................................ 8 1.............6. vi DAFTAR ISI..1.................................................... 10 1... xii DAFTAR LAMPIRAN. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.......... bantuan dan dorongan dari berbagai pihak........... xiii BAB I PENDAHULUAN... Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku.................... Teman IKM 02´ yang tak terlupakan.......................... Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.............................. Ruang Lingkup Waktu ................... ( Thomas A..... mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT...................adalah selalu mencoba sekali lagi. M................4........................ Semarang.................H...............

.. Distribusi Praktek Penyapihan ..1. Definisi Operasional ..................2. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal..................1................. 48 4.......... Teknik Pengumpulan Data.... Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ....................... 48 4.................................................... Analisis Univariat...................................5. 30 2....... 7 2................................ 11 2.........2.1.... 43 3..................5..................................................... 46 3..... 46 3.. 51 9....................1... 48 4. 24 2........ Saran ..............3 Praktek pemberian ASI ....................... Pola Asuh Gizi .3.............2.. 46 3..............................1.... Anilisis Bivariat.....................2................................................... 41 x 3.......................8. 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN............................................... 43 3....... 46 3.........1........... Definisi Operasional .8.........................2.....2....................................... 29 2.....8.................. Antropometri Indeks BB/U ..............1......... 11 2............... 13 2..........2 Praktek pemberian kolostrum.......2....................... 30 3........ Karakteristik Responden .. Kerangka Konsep................ Teknik Analisis Data ........................... Sampel Penelitian ...............................1.................... Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum ............. 14 2.............................................. Status Gizi.....................................1..........1..1.......................... 53 12...... Data Skunder .............2...... 26 2............. Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita..1................................1... 18 2............1.......1................................3... 43 2.................................................................1... 40 3.....1..........................1.................................... 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........BAB II LANDASAN TEORI .1.....5 Praktek penyapihan ............. 11 ix 2................................................................................................................................................... 27 2....................... 39 4.1................................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan ... 11 2................................. 44 3...2..................................1..........Hasil Penelitian ................ 49 6....... 68 DAFTAR PUSTAKA .7............ 36 BAB III METODE PENELITIAN ................................ Wawancara dengan menggunakan kuesioner...... 20 2..1........... Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI ......... Jenis dan Rancangan Penelitian . 47 3..........................................6...................................................................1............... 49 4......... 52 11.... Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U.................. 39 3......................3......................1.................................................2.......................................1..................................2.........1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.................................................................................................................... 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1. 37 3..................................... Distribusi Status Gizi Balita...2................................. Distribusi Praktek Pemberian ASI ..........................................2............1....................................... Validitas Instrumen....... Reliabilitas .................................................. Analisis Univariat .......................................... Data Primer....................2............................... 43 1............................................... Landasan Teori ....................... 49 7............ 41 3................. 17 2............. Distribusi Jenis Kelamin Responden ................ 53 4....7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi...............7.........1.......... Hipotesis ....... 50 8...................... 48 5. 67 5..... Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS.............................................. Distribusi Umur Responden............ 37 3............1........Pembahasan ..................................................... Analisis Bivariat .......2..........6.........................1......4............. 38 3................... 41 3.......................1................................... Instrumen Penelitian .............5........6..........................2..........2............................ Keaslian Penelitian......................1...................1............ Popukasi penelitian.......1..... Simpulan .....4 Praktek pemberian MP-ASI..................... Pengertian Status Gizi......... 26 2.....6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi .............................................................5. Kerangka teori ..... Penilaian Status Gizi . TB/U dan BB/TB...................1...........4...... Populasi dan Sampel penelitian ...........................7. 33 2............................................................ 51 10................................. 67 5.....................

.. 72 3......... Daftar Populasi dan Sampel......... Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI.................. 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1.. Kerangka Konsep................... Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing............ Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat.. Instrumen Penelitian .... Deskripsi Data Hasil penelitian ................ 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1................... rawan terhadap penyakit................... Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik..... 75 6. khususnya anak balita.. dan pola asuh gizi............... jumlah anggota keluarga...... Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal......... Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga.............. termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM).. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas ............. tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu..................................... 96 14.............................Status Gizi .. Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup............................................ Dalam menciptakan SDM yang bermutu.............. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso...... kolostrum...... 74 5.... 87 11............... budaya pantang makanan... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI.. 91 13................................ Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi.................. 77 7....................... 100 15................................. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI......................... 73 4........ Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya ................................. Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS.............................1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an.... Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel .... pelayanan kesehatan........................ pemeliharaan dan aktivitas........................... Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi....... Gizi sangat penting bagi kehidupan........................................ 88 12........................... dan produktif.................. menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan.................. Kerangka Teori....... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal ... 58 16... cerdas.................................. tingkat pendapatan keluarga.................. 36 2........... Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora.. Surat Keterangan Selesai Penelitian ............. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi. 83 8................. perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak.... Analisis Chi Square............................ tingkat pendidikan ibu. 56 15....................... 2004:70)............................................ Data Hasil penelitian .................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi ............. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan................ pendapatan keluarga................... konsumsi makanan............... perkembangan.... Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian....................................... Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi ............................................................... 86 10...... Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat................................. pertumbuhan dan perkembangan anak........ 71 2......................... Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ...... kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang............................................ Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan........... 54 13. 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1...... dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi.... menurunnya tingkat kecerdasan....... 85 9........ dan terganggunya mental anak..................................................... 55 14.........

Semakin banyak jumlah anggota keluarga. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita.8% balita gizi buruk.993. mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga. secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif. data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2. Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga.34 %). Contoh dalam keadaan anak sakit. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI. padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni. Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah. pekerjaan dan seleranya. dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu.paling terpengaruh oleh kurang pangan.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar.575.12. 1994:16).38 %. . Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak. untuk gizi kurang sebanyak 17. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004). karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan.16 %. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. 2003:18).1% dan gizi buruk sebanyak 1.676 anak (2. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1.816. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut.486 anak (79. Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama.7% balita gizi kurang.6%. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi.448 dengan rincian yang naik berat badannya 1. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya.

3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora. dan praktek penyapihan pada bayi.Berdasarkan uraian di atas. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita. 1.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan.4. praktek pemberian kolostrum.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12.4. praktek pemberian MP-ASI. Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³. 1.4.3 TUJUAN PENELITIAN 1.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. praktek pemberian kolostrum. 1. praktek pemberian ASI.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. dan serabutan.3. Berdasarkan uraian latar belakang di atas.16%.7% balita gizi kurang.3.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. 1. Rata-rata pendidikan ibu rendah. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. 1. praktek pemberian MP-ASI. maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1. pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15.8% balita gizi buruk . praktek pemberian ASI. 12.38% dan tahun 2005 terdapat 1. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1. 1. buruh.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No.

3. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi . praktek pemberian kolostrum. Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1. 1234567 2. OR=4.069. Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri .(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan.01. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0. pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.449).

2. praktek pemberian kolostrum.237. 1.697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0. Gangguan pertumbuhan 1. pola pemberian ASI. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI. masukan zat gizi (nilai p=0.812. Pola pemberian ASI (nilai p=0. praktek penyapihan (nilai p=0. Pola Asuh gizi 3. OR=2.509). dan praktek penyapihan. Status gizi OR=2.893). Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola . praktek pemberian MP-ASI. masukan zat gizi dan praktek penyapihan. OR=1. Pendapatan keluarga 2.039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.246). Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0.028). OR=1.365. 2.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0. pola pemberian MP-ASI.Sumatera Selatan.Perkembangan bayi.672).011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0.

MP-ASI. 1234567 4.027. ASI. Kalibawng. Pola pemberian ASI 2. seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten. R=3. ASI Eksklusif 2. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan.023. dengan perkembangan bayi. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas. 5. DIY Cross Sectional Case control 1. Kulon Progo. ASI. R=0. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec. Pola pemberian MP-ASI 3. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. ketiga. Sedangkan pada penelitian kedua.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0.asuh gizi dengan status gizi anak balita.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. Kejadian KEP 1. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian. Theresia Spika N. Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. oleh .024. R=0. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. status gizi dan kejadian KEP.

memberi kasih sayang.1 Pola Asuh Gizi. Menurut Soekirman (2000: 84). kebersihan.karena itu perlu diadakan penelitian kembali. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal. susu sapi. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI. 1991:37).1. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. dan praktek penyapihan. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. d.1 LANDASAN TEORI 2. misal air kelapa. pisang. pertumbuhan dan perkembangan anak. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak . 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a. Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol. susu bubuk.6. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB). menyusui secara eksklusif. (Savage. Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup.6.1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 1.6. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. madu. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan. air gula.3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. 1991:37). 1. b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. b.1. 1. Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar. 2000:2). 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage.6. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental). dan sebagainya (Depkes RI.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan. c.1. e. air tajin. c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. kolostrum.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa.

Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.5 tahun. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. 2000:2). selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. 1998:3). 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . 2. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya.jauh berbeda dengan diatas. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml. 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki. Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya. yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis. Menurut Suhardjo. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari.1. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya.1.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit. dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI. Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi. protein. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI. 2.5 Kg memerlukan 525 ml sehari. Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. dan 8. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI.1. 2005:4).1. 16 sehingga bayi dengan BB 3. dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. 2000:2). c.3 point lebih tinggi pada usia 8. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun. agak kuning yang dinamakan kolostrum. b. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. 2005:11). Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari. 1998:2). 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini.

18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat. Selain MP-ASI. pekerjaan orang tua. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI. 1998:19). Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi. 1988:74). Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti. . pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik. 17 2. serta pendidikan orang tua.G.1990:54). Namun demikian. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan.5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage. Ririn Yenrina. 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya. Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua.1.J. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat.1. 1991:30).4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. 2. Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto. Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi.maka kebutuhan susu 15 L (Savage.1. Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. 2000:14). Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula.G. 1991:105).1. 1990:78). paling tidak sampai usia 24 bulan. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. Ririn Yenrina. Dengan demikian. cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. 2000:15). 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI. Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi. ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi.

bagaimana cara menjaga kesehatan anak. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. 1995:10). Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. dkk 2004:74). pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan. Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. dkk 2004:74). ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini. 2000:3). Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan . Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya. karsa. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. Di daerah semi perkotaan.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan. sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI.1. terutama pada keluarga golongan miskin. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. 20 2. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda. karena dengan pendidikan yang baik. disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage. dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi. yaitu rohani (pikir. Di beberapa tempat.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. dibanding waktu-waktu lain. 1998:10). 1991:99). Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. rasa. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan. cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal.

1. dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. merawat. tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan . 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.1. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo. Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. memberikan makan. Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui. Jika jarak kelahiran pendek. pemeliharaan dan energi. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. Pada keluarga yang memiliki balita. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun. memberi kasih sayang dan sebagainya. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. 1986:31). yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan. 2. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang.yang optimal. 1999:17). Namun demikian. menjaga kebersihan. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI.7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. dkk. Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk.

1. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa. mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya.dkk (2001:18). status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya. Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi. sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung.1998:2). Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita. maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi. Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. Sedangkan menurut (Savage.2. Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI.2. Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat . 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun. pemberian MP-ASI dan penyapihan. 2. ASI juga merupakan makanan yang bersih. Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan. pemberian kolostrum.seimbang. pemberian ASI.2 Status Gizi 2. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi.1. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein.1. Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi. 2. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. dan otot. 2001 : 20). dkk. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. mata. Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. 2.2. 2001 : 19). 2001:21). Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi. 2001 : 20). 2001 : 20). Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. Macam status gizi dengan indikator BB/U.3. 2001:69). Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. rambut. tinggi badan. biologis dan lingkungan budaya. dkk. dkk. tulang. keluarga. tanah. . Ditinjau dari sudut pandang gizi. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. dan lingkar dada (Supariasa. dan BB/TB. klinis.1. 2001 : 19). dkk. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. lingkar kepala. Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. dan individu. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa.penilaian yaitu : antropometri. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. dkk. lemak. statistik vital dan faktor ekologi. angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi. 2001 : 20). TB/U. dkk. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). biokimia dan biofisik. irigasi dll. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. urin. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. lingkar lengan atas. berat badan. dkk. 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. dkk 2001:38). dkk.

Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun. Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu. lemak dan protein. Bibir dan lidah tampak segar e.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61). dengan indeks berat badan menurut umur. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. yaitu: gizi lebih. (Supariasa. Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh. Nafsu makan baik f. gizi kurang dan gizi buruk. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh. klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Tumbuh dengan normal b. gizi baik. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus .Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999. 2000:27). Mata bersih dan bersinar d. c. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan.9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69. Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. gizi sedang. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat. dkk. Kelebihan energi dalam tubuh. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya. Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh.1. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. karena merupakan golongan yang rentan.9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit. Orang yang kelebihan berat badan. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan. Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). 2001 : 76) 2.2. terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya.

berduka atau depresi. umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah. . Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi. dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa. 2001:131).2. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. rambut tipis. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. c. akhirnya dapat menderita gizi kurang. Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. anemia dan diare (Supariasa. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam.kulit. pertolongan persalinan. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung.1. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. dkk 2001:131). b. apatis. tingkat pengetahuan ibu. Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. Akhirnya berat badan anak menurun. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. perubahan status mental. pembesaran hati. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. dkk. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. iga gambang. kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis). diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa. perut cekung. tingkat pendidikan ibu. Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. wajah seperti orang tua. kulit keriput. Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. 2001:131). 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. terutama diare dan ispa. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut. kemerahan seperti warna rambut jagung. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. cengeng. 2. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. rewel. jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan. pandangan mata sayu. pemeriksaan kehamilan. rewel. dkk. wajah membulat dan sembab. sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang).

1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor./min. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85). dokter. dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas. variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi.penimbangan anak. faktor psikologi. Oxford Univ. 36 2. faktor pola asuh gizi. prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. 2000:83). Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI . Mak. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. The State of the World`s Children 1998. Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman. Disini tidak semua faktor diteliti. praktek bidan.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). Press dalam Soekirman. faktor konsumsi pangan. diantaranya faktor penyakit infeksi.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb.

Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar. 4. 3.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita.2.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama. 39 3.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun.2.2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum.1998:2) Tindakan ibu untuk . 3. (Depkes RI.1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita. Infeksi 38 3. 3.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3.2.2.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita. (Depkes RI. 3.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI. 3.2. 2.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny.

Baik =9.Tidak beri = Skor 1 . 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no.Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No .4 Wawancara dengan kuesioner no. (Diah Krisnatuti.17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 .Sedang =15<Skor 21 .5 .Baik =21<Skor 27 . Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI. 9 .Sedang =6.Diberi = Skor 2 .5 .memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI. 6.3 Wawancara dengan kuesioner no. .5<Skor 9.5<Skor 12 . Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.1 . 5-8 Wawancara dengan kuesioner no.Kurang = 4<Skor 6.dkk.

Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian. 3.Gizi baik > 80-120% .Gizi lebih > 120% .Belum disapih =Skor 2 . 3.(Savage.4. Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis. dan praktek penyapihan.5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3. praktek pemberian ASI. Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita. maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo.1 Variabel Penelitian 3.Gizi kurang 60-79. 41 3. Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang. 2000:66) Wawancara dengan kuesioner no. Berdasarkan fokus penelitian tersebut.9% .2.4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.1. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. 2002:26).1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu. .1.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.4.5.4.5.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi. (Soekirman. -BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan .Disapih =Skor 1 Indeks BB/U .2. praktek pemberian MP-ASI.1. praktek pemberian kolostrum. 3.

6. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita.6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. . Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. (Suharsimi Arikunto. 43 3.1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total.6. 3.1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin. 3.2. dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0. 2002:92). 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0.1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur. (Soekidjo notoadmojo.2002:146).6.1 / 10 %.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner.

813.799 : kuat e.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik.40 ± 0.80 ± 1.7. 0.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder. 3.7. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0. 3.2.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas.599 : sedang d. Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal.1. .00 ± 0.2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. 0. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak). praktek pemberian kolostrum. 3.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal . dan praktek penyapihan.199 : sangat rendah b.1 Data primer diperoleh melalui : 3.7. 0. 0.444.399 : rendah c.69 ± 0. praktek pemberian ASI. praktek pemberian makanan prelaktal. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r .897. 0. Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto.1. praktek pemberian ASI. praktek pemberian MP-ASI. dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r . 3.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a.20 ± 0. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0.6.7. sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0.849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0. 46 3. berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan.

2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5). Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang. 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 . praktek pemberian MP-ASI.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan. praktek pemberian kolostrum.3. 3.8. Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara. 3) Tabulasi. praktek pemberian ASI. 2) Koding. 47 3. praktek pemberian kolostrum.1 Hasil Penelitian 4.59 58. Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20.59 20. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi. 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki. praktek pemberian ASI. praktek pemberian MP-ASI.1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan.8.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.

2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6.47 48. sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14. 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8.47).76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48. 2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7.1.12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55.71 36.88%). Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55.71%). Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48. 4. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 .53%).53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.Laki-laki Perempuan 35 33 51.88 44.53 14.

52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10.35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14. selebihnya yaitu 20.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38.17 57. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14. Berdasarkan penelitian . 4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9.06 14.06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14.59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79.74%).24 47.35 27.17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47.59% sudah disapih. Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79.17%).41%). Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita.41 20. 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur.

42.0509 3547.0305 34.0706 Sedang %F 57.0808 2429.3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.572 termasuk kategori cukup erat.. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum. 32.. praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0305 1104.0.0605 3438. Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0..53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik..0305 57..0401 16080. ..41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54.. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0.05..35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4. 41%)..1.0401 2356.65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5.88% yang status gizinya kurang.. praktek pemberian kolostrum. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322. Kurang Baik 31 37 45. 4. dan dari 48.572. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1. Distribusi Status Gizi Balita No.diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11. praktek pemberian ASI. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. 2.41% yang status gizinya baik.59 54.0503 Total %F 3415. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita.001 < 0..0701 Baik %F 45.

.12 Diberi %F 181.8% yang status gizinya baik..82 10.00 % 27. dari 47. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.0509 3547.94 19.82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1.0204 Total F 31.7010 Sedang F 19.204 11.00 % 33. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita.71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang.00 37. 33. 33. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.05. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 .0401 16080.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14.59 54. sedangkan dari 38.29 44.00 13.29% yang status gizinya baik.00 7...8080 Total %F 3415.05.00 30. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0..12 47.00 32. 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik.4070 1140. sedangkan dari 55.. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.499 termasuk kategori cukup erat.41% yang status gizinya kurang. 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0401 2333.0.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23.06 Baik %F 34. 27.001 < 0.12% balita yang tidak diberi kolostrum.41 100.0802 2368.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.00 % 45.706 3440.24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.499. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita..1020 3558. 13.82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4.00 68. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.0. 44.556 dan termasuk kategori cukup erat.88% balita yang diberi kolostrum.76% yang status gizinya kurang.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44.0.001 < 0.47% yang status gizinya baik...

115 > 0.59 54. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita.78% diantaranya status gizinya baik dan 20.00 % 32.90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang. 4.00 5.69% yang status gizinya kurang.085 termasuk kategori sangat lemah.35 20.. Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16..0904 1279.41% balita yang 60 belum disapih.41 100. Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0509 2356.0000 22.0701 1104.59% balita yang disapih.515 termasuk kategori cukup erat..06% yang status gizinya baik.35% yang status gizinya baik. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.05. sedangkan dari 79.00 68. Menurut Ninik Asri.. 13..0509 3547.001 < 0.00 37.71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik. Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.515.24 7. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0. 32.94% yang status gizinya baik. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0.. 36.0000 1104.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.00 % 13..0701 Total %F 3415..0.. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama.085.00 32. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP .0904 Sedang %F 1204.2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak.06 79.00 14.00 % 45.24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7..0305 Baik %F . sedangkan dari 14.59 Belum disapih F 22.R (2005) .0401 16080.41 Total F 31. dari 57.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27.. 25.00 54.0706 3579.35 47.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang.05.00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2.

2. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi. pemberian ASI. 4. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita. saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita.001 < 0. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu. Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. kolostrum. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein. pemberian ASI. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. harus diberikan kepada bayi. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan.05.1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui.001 < 0. 4.2. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi. artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik . Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun.05.001 < 0. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi.05. pemberian kolostrum.2. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi. Dr. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. protein. 4. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif.

seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita. ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita.115 > 0. Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan.2. 4. 4. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya.001 < 0.pula status gizi balita. Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam . Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004). Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita.05.05. Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut. cara pembuatan dan cara pemberiannya. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. porsi. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan. pemilihan bahan makanan. Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. frekuensi.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001). Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan. memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita.2. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita. Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah.

Jakarta Depkes RI. 2003.41% baik.53% baik. Manajemen Laktasi. 1998. Makanan Pendamping ASI. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas. Jakarta : Arcan. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. 1999a. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. praktek pemberian kolostrum. C=0. Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti.001. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan.572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48. 67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.7% balita gizi kurang. Jakarta Depkes RI. 2.35% sedang dan praktek penyapihan 79. Catherine Lee. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II.41% belum disapih.24% baik. praktek pemberian ASI.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. 68 5. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45.12% tidak diberikan. 1989.59%. 2000. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. 12. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.16% menjadi 15.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12. Depkes RI. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan. C=0. 3. praktek pemberian ASI 38.38%.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0. 1992.jumlah cukup.8% balita gizi buruk. Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal.001. S. Jakarta . 2001. praktek pemberian kolostrum 55. Universitas Diponegoro. Skirpsi S-1. praktek pemberian MP-ASI 57.88% diberikan. 2005. Semarang Depkes RI.

8 %. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen. KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. Prevalensi balita gizi kurang. b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials.5%. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.4%. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.6 %. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. 2009). (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Menurut Hadi (2005). 1998). yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. balita kurus dan balita pendek masih tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18. yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. dan kritik. Watanabe et al. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism. adaptasi. Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. 2004).Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI. 2008).

Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.2003). iklim emosional di rumah.dan berkembang pesat sejak dalam rahim. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Komorita dkk dalam Azwar. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. periode tercepat usia 6 bulan pertama. Menurut Georgieff (2007). yang melakukan penelitian kembar MZ. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain . Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. gizi. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0. (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan.7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang. warna rambut dan kulit (Azwar. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak. Menurut Atkinson dkk. 1.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin.Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak.2 point pada 65 pasangan kembar MZ. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. . yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter.47. Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%.) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9.2008). kesehatan. kualitas stimulus (rangsangan). kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa.9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. 17. sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen. Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur.

Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. 1995). Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak. Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak. Namun demikian. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. 2003). Anak-anak gizi kurang yang diberikan . mencium dan meraba. Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia. merasa.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. Ketika tikus ditempatkan di treadmill. Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang. Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar. Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. 2008). dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf.. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50. Selama dua tahun pertama kehidupannya. 2. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. melihat.. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. memperbaiki koordinasi gerakan otot.kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. 2006). tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut. pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat. 2009). pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh.

Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak. 3. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. . kebisingin. Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak. kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan. efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan. karena keterbatasan pendidikannya.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya. Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. 1995).) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis.2008). Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. 2007). Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar. Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. (2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar.intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek. Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun.) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. dan sering mereka tidak mengetahui caranya. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. ketegangan dan kondisi hidup yang berubah. 1. 5. Sedangkan Purwandari. Menurut Davidof (1991). 4. Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. menjaga kesehatan anaknya. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang. dkk (2008). Penelitian Muljati et al. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim.

Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. Tabel 1. 1992). Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. 1992).II. 2008). Diantara usia-II dan usia-V. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I. level usia meningkat dengan interval satu tahunan. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes. abstrak/visual. tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale. Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. dan III. seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. 2008). 2008). Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak. Diantara usia-V dan usia-XIV. IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . sangat terlatih dalam penyajian tesnya. dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu.5 tahun (Azwar. Untuk memperoleh angka IQ. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi. Dalam penelitian ini. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. 2008). Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12. Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes.

Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen. 2003).20 0.03 0. Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶.50 23. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik.60 2. B. pemikiran. astrosit dan mikroglia. akal. kreatif. emosi. (Georgieff. Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1.10 23.20 1. Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya. Anak- .10 3. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. analitis. melukis. Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin. Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak. pengertian.10 8. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. puisi. Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain.00 0. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh. menari. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit. kepribadian. persepsi.20 18. 2003). Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. emosi dan memori (Singh. stimulasi dan sikap orang tua. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk.160-169150-159 0. pemikiran intuitif dan spritual. Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi. Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan. 2006). spiritual dan jiwa. emosional. bahasa dan matematis.50 5. Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak.40 0.00 14.

Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang. Grantham. Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. 2006). produksi neurotransmiter. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. 11 dan 17 tahun di Mauritius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya. beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja. Liu et al. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat.anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. Penelitian . Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. Afrika. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut. Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi. Namun demikian. dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor.5-8. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi. et al. pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal.5 tahun. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini. 2006). Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan. Lampung.

2009. You can leave a response.mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka. You can follow any responses to this entry through RSS 2.google. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini. This entry was posted on July 10.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi.ums. or trackback from your own site.doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 . tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini. 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak.0. http://docs.ac.

tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut. remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut. Ibukota negara. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan. guru maupun anggota masyarakat. membela diri. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. yakni ³ Ahmad Algofari (18). tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua. Pertama. pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. atau merasa dendam. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan. Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta. . berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas. solider. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun.Contoh Skripsi Posted on January 23.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. didahului. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman. Sukaraja. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. Kedua.00 tanggal 26 Maret 2007. Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan. Pada setiap fikrah. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. Masa remaja adalah usia transisi. Bogor. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri.

penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini. Pendalaman Materi. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Dapat menjadi masukan bagi para orang tua. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. Kualitas keimanan. akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani. maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Latihan Marawis. Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar. Tadarus Al-Qur¶an. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri. HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´. .Pengajian Kelas. kekuatan batin dan kecerahan. hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Mentoring. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut. Nasyid maupun Qosidah.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa. Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. Sholat Jum¶at.

dengan situasi tersebut menampilkan diri. Jakarta Selatan. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti. mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Tlp. Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J. koran. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. majalah. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL). yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. yakni memperhatikan secara akurat. Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku. tetapi memahami situasi. 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini. Telaah pustaka. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan. Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. Raya Pejaten Pasar Minggu. . Observasi. dan sebagainya.

Tujuan dan Manfaat Penelitian. Latar Belakang Masalah. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Pembatasan dan Perumusan Masalah. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi. SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama.. Tinjauan Pustaka. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi . Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah. Kepentingan DSL. Metodologi Penelitian. Pendekatan DSL. Oleh karena itu. Pengertian DSL. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. Analisa SWOT. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda. Faktor Pendukung dan Penghambat. Sistematika Penulisan. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. dan Pengertian Dakwah. Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL.

Kegiatan Mentoring 3.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8.yahoo.com/ http://360.com . kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2.com/ http://reader.google.yahoo. C. Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1. Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful