Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

dan gula. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat.blogspot.htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi. Namun. Pada kondisi yang sudah berat. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Jika tidak sesuai.50 wib .co.mozilla:en-us:official&tb. segera konsultasikan hal itu ke dokter. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.com/2009/03/gizi-buruk. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. http://bimaarry.14 januari 2011 jam 11. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org. lemak. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.google.25 Http://www.

akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. dan lainlain. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.You were searching for "makalah gizi buruk". mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. remaja. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. seperti jantung. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi.5 Kg). Dari indikator kesehatan. antar provinsi. kanker. masalahnya sudah mulai muncul. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. Disamping itu. anak usia sekolah. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. . Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara. Mulai dari bayi dilahirkan. dewasa sampai dengan usia lanjut. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan.

Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai. Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. serta rendahnya umur harapan hidup. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat. angka kematian balita. . Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. angka kematian bayi. Pada saat ini.Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. umumnya disebut kekurangan gizi. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain.

berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. World Fit for Children 2002. bagan 2 di atas (Unicef. dengan mengikuti siklus kehidupan. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. . Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor. maka status kesehatan dapat tercapai. United Nations (Januari. penyakit infeksi. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. pola asuh. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. konsumsi makanan yang kurang. dan Millenium Development Goal 2015. Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan.

dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. 2002). 2000).513. o Masih tingginya angka kematian ibu. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita.0/kapita/tahun). o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%.Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147. dan masalah kemiskinan. Berdasarkan SP 2000. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%.2% atau 38. Pada hasil kajian Susenas 2003. masalah kesehatan lainnya. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. prevalensi gizi kurang . penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. lingkungan.364. bayi dan balita. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. Hasil SDKI tahun 1991. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1.4 juta penduduk (BPS. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%. diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. hanya sekitar 15-17%. yang berdasarkan kajian Susenas 2002. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. banyak Posyandu yang tidak berfungsi. 12% and 10%. 10% dan 9%. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan.

Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. kapsul yodium. 4. Untuk peningkatan status gizi penduduk. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. Seperti yang terlihat pada Figure 10. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13.3 cm pada anak laki-laki dan 2.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5.3 cm. Dari hasil kedua survei tersebut. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. kurang asam folat. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.7% 2. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003. seperti masalah kurang kalsium. 3. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia.2% dan gizi buruk 8. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2.1-0. GAKY dan Anemia Gizi. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. kurang zink.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. . kurang vitamin B1. maupun tablet besi. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. Dengan asumsi penurunan 30%. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0.adalah 19. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu.7% dalam kurun waktu 5 tahun.3%. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun.7%. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A.

1%. penurunan ini secara nasional tidak terjadi. penyuluhan. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. selain strategi lain (fortifikasi. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. terutama di NTB. karena sampai dengan tahun 2002. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. Akan tetapi. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. tingkat konsumsi. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. karena informasi untuk kurang kalsium. . Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil. Dari beberapa laporan. akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal. Dengan kondisi ini.8% pada tahun 1996/1998.Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. Selain itu sampai dengan tahun 2003. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. asam folat. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9. atau penurunan 50%. pola penyakit.9% (1995) menjadi 40% (2001). kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. zink. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. pendapatan dan pendidikan. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. GAKY dan anemia gizi. dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia.

antara lain: 1. 2. 3. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang. http. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten.//astqauliyah. maupun nasional. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. provinsi. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. 4. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan.05 wib . mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.

Contoh proposal kualitatif A. perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. Hal ini juga berarti bahwa. Di dalam perpustakaan tersebut. Sebenarnya. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. Akan tetapi. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Sebagai mahasiswa psikologi. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. . kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. Fakta yang ada. Akan tetapi. Jika kita melihat fakta yang ada. Jadi. Selain itu. yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. Sebelum kita memahami. Hal ini dikarenakan. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. Yang telah tersebut di atas. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Hal ini berarti bahwa. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca.

yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. Dari kelima cara-cara membaca di atas. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja. Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3.Membaca terarah. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. 5. Membaca mencari. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. Dalam melakukan rutinitas membaca. Membaca kritis. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1. Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. Membaca sepintas. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. 3. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. 2. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik. B. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Membaca belajar. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4.

apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. akurat. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca. dan selainnya. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Menurut Dr. pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. Anak harus membaca dengan bersuara. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. mengamati.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D. mendalami. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya. Pada waktu anak belajar membaca. 2. dan membedakannya dengan kata-kata lain. efektif. membaca. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca.C. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. maka objek yang dimaksud bersifat umum. Oleh karena itu. menelaah. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. ia belajar mengenal kata demi kata. Diharapkan dari penelitian ini. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. mengetahui cirri-cirinya. meneliti. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Sekarang kalau kita pertanyakan. 2. Peneliti a. mengejanya. dan mengingat-ingat.

yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. dan baik penuturannya.µ . Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Anyone who keeps learning stays young. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata.1. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca. mengolah. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. menyaring. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua. yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. tidak tahan membaca buku. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya. Mestinya. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan. kemampuan. tidak ada gairah. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. teratur. Tampilan komputer dapat pula dibaca. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda.µ Tidak peduli berapapun usia kita. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. latihan khusus membaca cepat. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. Orang yang tidak mendapat bimbingan. kalimat. whether at twenty or eighty. dan ketajaman mencerna isi bacaan. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. 3. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. merasa bosan. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. Secara tidak disadari. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. 2. Itu sebabnya. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. The greatest thing in life is to Keep your mind young. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan.

setengah lingkaran.µ jawabnya. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. Akan tetapi. gabungannya menjadi suku. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita.µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. spiritual. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. fiturfitur ini bermunculan. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf. dalam Gleason dan Ratner 1998. Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. A. Karena itu. Pada waktu sebuah kata dibaca. dan letaknya. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. 1.µ Bahkan menurut Covey. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3.µ orang itu berkata dengan tegas. Model atas ke bawah Smith (1971. . ´Saya terlalu sibuk menggergaji. Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan. Dalam model ini. mental. kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. ´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan.µ ³Nah. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal. kemudian kata dan sebagainya? 2.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai. dan sosial/emosional. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien.

Tentunya. kita tetap saja bisa membacanya. Robinson tahun 1941. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. 2003. maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. Recite atau menuturkan 5. . Pengantar pemahaman bahasa manusia. Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. Sebaliknya. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. 2. dan bertahap. Read atau membaca 4. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. atau melihat dikamus. Jakarta: yayasan obor Indonesia). CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan. adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. berhierarki. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. Survey atau meninjau 2. (Psikolinguistik. C. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1. B. Pada kesempatan kali ini. Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. mendapatkan abstrak. metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. Review atau mengulang 1. Question atau bertanya 3. Bila ditemukan makna dari kata itu. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). dan tahap interpretasi. model component-letter. Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word. tahap rekognisi. mempercepat menangkap arti. untuk mengetahui makna kata itu. soenjono dardjowidjojo. kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. atau dia akan bertanya kepada orang lain. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan.

Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali.contoh dari konsep utama. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. 5. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. Pada saat membaca. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca. 4. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat. definisi. Read Dengan membaca. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. mengetahui ide-ide yang penting. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question. 3. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran. 2. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. . mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan. Selain itu juga berbahaya. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring.3. diagram: Adanya grafik. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Perhatikan grafik. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. 6. yang mendukung ide pokok. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut.

anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. kita perlu latihan. Dan. Review Daya ingat kita terbatas. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. 5. pada kesempatan itu. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. ulangi membaca bab itu sekali lagi. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab. Demikian juga dengan SQ3R. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. Jika masih mengalami kesulitan. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku. . teruskan membaca subbab berikutnya. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir. Dalam pemakaiannya. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. 4. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi.perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. tandai subbab ini. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. bacalah kembali paragraf tersebut. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. misalkan buku teks matematika. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Oleh karena itu. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. berhentilah sejenak. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah.

komik. seperti pensil atau spidol. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . sejuk. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. 3. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut. 1. Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. mengapa bisa terjadi?. cerpen. nyaman. gambar-gambar. bosan. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan. 2. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. terutama membaca buku pelajaran. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . 5. 4. oleh siapa?. majalah ringan dll. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. tenang dan rapih menurut kita sendiri. baik dari luar maupun dari dalam diri kita. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. dan mengatuk. 3. tidak bungkuk. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a.Bagian daftar isi. yaitu tempat yang terang. šPersiapan Sebelum Membaca 1. adalah di pagi hari. Membaca kritis. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut.Paragraf awal. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. kapan?. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. . Di zaman sekarang ini. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. Namun. Melakukan survei isi buku. 2. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. bersih. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja. khususnya buku pelajaran.

dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. Membaca. catatan lapangan. Jika tidak terdapat pertanyaan. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E. rinci dan tuntas.. dan dokumen resmi lainnya. d. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. Meninjau ulang. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. Evaluasi. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis. e. Jika belum. penelitian adalah usaha untuk menemukan. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian. dokumen pribadi. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. Menurut Hadi. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. catatan memo. Cobalah kita tutup dulu bukunya. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda . Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri. analisis data bersifat induktif. Membuat pertanyaan. METODE PENELITIAN 1. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam.1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. c. b. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. terutama untuk mengumpulkan data. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. termasuk tentang hubungan-hubungan. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. profesional. publikasi dari berbagai organisasi. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. SUMBER DATA 1. 3. pandangan-pandangan. beserta jalan dan kotanya. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. baik putra dan putri. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. 50.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. dan sebagainya. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. notula rapat perkumpulan. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti. hasil survey. Oleh karena itu. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. yang berada di daerah malang. hasil-hasil studi. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. buletin.2. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. buku harian. Malang. Data Primer Menurut S. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. kegiatan-kegiatan. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. Jalan Gajayana no. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. studi histories. . Menurut Whitney dalam Moh. serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas. Data sekunder juga dapat berupa majalah. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 4. 2. 2. namun berfungsi sebagai instrument pendukung. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. dan mempunyai kedalaman spiritual. sikap-sikap. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. tesis. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri.

biografi. 2. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. Dalam penelitian ini. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. komentar peneliti. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. instruksi. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. perkembangan. buletin. 1. Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal. Dalam kegiatan sehari-hari. tanpa menggunakan teknik kuantitatif. dan berita yang disiarkan kepada media massa. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. pernyataan. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. gambar. pengumuman.5. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Tujuan penulis menggunakan metode ini. kategori. majalah. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. dokumen berupa laporan. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola. dan sebagainya. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. . 6. artikel. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. aturan suatu lembaga masyarakat.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. memo. perilaku. foto. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab.

d) Tahap penulisan laporan. gambaran atau lukisan secara sistematis. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. penyesuaian paradigma dengan teori. pengetahuan. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi. dan pengecekan kecakupan refrensi. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti. 3. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. (3) tahap analisis data. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1. 2. (3) kebergantungan (dependibility). PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility).Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. (4) kepastian (konfermability)9. 8. diskusi teman sejawat. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8. waktu. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. kebiasaan membaca. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. (2) keteralihan (tranferability). meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. sering atau tidaknya membaca. konsultasi fokus penelitian. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. sumber. penjajakan alat peneliti. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. (4) tahap penulisan laporan··10. b) Tahap pekerjaan lapangan. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. 7. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. (2) tahap pekerjaan lapangan. . Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. meliputi kegiatan penentuan fokus. penyusunan usulan penelitian. Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. Data tersebut diperoleh dengan observasi. pengecekan anggota. c) Tahap analisis data. Menurut M.

Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. lokasi penelitian. . PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. 1991 Moh. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. Oleh karena itu. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian.com 3. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. 2. PUSTAKA Lexy J Moleong. D. prosedur pengumpulan data. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Nasution. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik. pengecekan keabsahan data. Apabila digunakan istilah rumusan masalah. sumber data. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Bumi Aksara. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. dan berakhir dengan suatu ³teori´. sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. 4. S. 5. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. M. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Ph. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. Nazir.9.A. Ghalia Indonesia. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. http://skripsistikes. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1. Dalam penelitian kuantitatif. 6. 2003 Prof. analisis data. Dengan kata lain. penelitian berangkat dari teori menuju data. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. induktif. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Metode Penelitian (Jakarta: PT. Metode Research. Jakarta 2004.wordpress. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. Dr. kehadiran peneliti. dan tahap-tahap penelitian. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

com teoretik. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. wawancara mendalam. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. atau penelitian kelas. . Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.wordpress. misalnya letak geografis. misalnya observasi partisipan. ekologis. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. subjek. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. misalnya fenomenologis. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. partisipatoris. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). Oleh karena itu. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala.wordpress. bagaimana karakteristiknya. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. dan dokumentasi. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. Dengan pemilihan lokasi ini. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur.com bagaimana data dijaring. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. keunikan. dan suasana seharihari. format ringkasan rekaman data. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman. struktur organisasi. dan dengan cara http://skripsistikes. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. dan waktu. etnometodologis. penelitian tindakan. d. informan. kebudayaan. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. grounded theory. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes. Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. b. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. interaksi simbolik. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. sumber data. program. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. atau pengamat penuh. pengamat partisipan. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. c. atau kritik seni (hermeneutik). e. studi kasus. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data.a. peneliti pernah bekerja di situ. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). interaktif.

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.3. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu.1.4. Minggu Keempat. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian. WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009.5. Minggu Ketiga. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut. Jika ditinjau dari terminologi. 3. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ).2. merawat dan mendidik. PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi. Selain itu.2. y y y y Minggu Pertama. SAMPEL Selama penelitian.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif. Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku. 3. merawat dan mendidik.3. Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. 3. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. 1. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa. observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3. Sedangkan asuh berarti menjaga. tata cara. Minggu Kedua.       . Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. pola berarti bentuk.

Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka. self esteem ( harga diri ) yang rendah. impulsif. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. kurang mandiri. 2. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. 4. yaitu : 1. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif. 4. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini. kurang bertanggung jawab. agresif. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. dan kooperatif terhadap orang lain. akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup. dapat mengontrol diri. tidak mau mengalah. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. pendiam. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. 3. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody. gemar menentang. 4. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. tidak berinisiatif. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. manja. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). mau menang sendiri. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. tidak patuh. Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut.BAB IV PEMBAHASAN 4. 4. agresif. kalau tidak mau makan. . tertutup. Misalnya. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil. 2. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. berkepribadian lemah. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. suka melanggar normanorma. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.2. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. cemas dan terkesan menarik diri. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis.1. mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. mampu menghadapi stress. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri.

Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. Selain diperlakukan tidak adil. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. BAB V PENUTUP A. Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. B. yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. tawuran dan lain sebagainya. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. tetapi itulah yang terjadi. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. Pelzer ternyata bisa hidup normal. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya. The Lost Boy. Ia seolah tidak dianggap manusia. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika. Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama. tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya. mendekati miras. Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar. pergaulan bebas. terkadang permasalahannya lebih serius.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. sehingga akhirnya sang anak jadi manja. seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. dan A Child Called Dave . maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. 2. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal. malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. dianiaya setiap hari.

SMA YPM DIPONEGORO. Tgl lahir : Ds. Nama : Abdul Ghofur Tempat. Tamat Tahun 2003 . Nama : M.MTS AL-IKHSAN Separi Besar.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tamat Tahun 2003 . Tamat Tahun 2006 . Tgl lahir : Tenggarong. 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 .SDN 011 L4 Blok C II. Tamat Tahun 2003 . 20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .SDN 016 Separi IV.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tgl lahir : Kediri.SDN 016 SEPARI IV.SMP YPM DIPONEGORO. 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Kertabuana. Tenggarong Seberang 3.RIWAYAT HIDUP 1. Tenggarong Seberang 4. Fitroh Al-Hadi Tempat.SDN 004 Bukuan. Tgl lahir : Tenggarong. Nama : Dewi Fatmawati Tempat. Tenggarong Seberang 2.SMA YPM DIPONEGORO. Nama : Ira Suprihatin Tempat.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5.SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2006 . Tamat tahun 2003 . Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2003 .SMP 20 Bukuan. Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat.SDN 021 L II Blok C. Tenggarong Seberang . Tgl lahir : Kutai. 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .

Alwi. Tamat Tahun 2006 .6.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 .SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas. 2007. Alatas. 2005. Nama : Sunadi Tempat. Jakarta : PT. Tim Sosiologi. Jakarta : yudistira. Tamat Tahun 2006 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Alwi. Remaja Juga Bisa. 1989. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Nama : Rahmat Effendi Tempat.SMPN 1 Tenggarong Seberang. william. 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMA YPM DIPONEGORO. Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Jakarta : yudistira. 2006. Tenggarong Seberang 7. Muhammad. Tamat Tahun 2003 . Jakarta : Penerbit Pena.SDN 010 Bangun Rejo. Bumi Aksara.SMP YPM DIPONEGORO. Psikologi Remaja. Sosiologi . Sosiologi Keluarga. Gode. Tgl lahir : Kertabuana. J. Lein. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII. Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK . Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. Untuk 13X . Bumi Aksara. 2007. 13X . Anak . Sosiologi . Tamat Tahun 2006 . Laura dan. Tim Sosiologi. Nama : Sinta Purnamasari Tempat. 7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tgl lahir : Madiun. 2006.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8. Tgl lahir : Pendingin. 2005.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . Jakarta : PT. Ali.

2006. Sport Science Faculty. =0. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006. teacher II : Irwan Budiono . SKM. dan praktek penyapihan 79. Berdasarkan hasil penelitian. Pembimbing II : Irwan Budiono. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. Fakultas Ilmu Keolahragaan. M. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada.06% sedang. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang. State University of Semarang. Pembimbing I : Drs.001. . Script. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. =0. dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0. praktek pemberian kolostrum 44. praktek pemberian MP-ASI (p=0. Study Program of Public Health Science. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45.16% menjadi 15. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57.. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. Skripsi.085). Universitas Negeri Semarang. Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0.S. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi. Sutardji. praktek pemberian ASI 47. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36. praktek pemberian MP-ASI. Teacher I : Drs. Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi. praktek pemberian kolostrum (p=0. yang meningkat dari 12. praktek pemberian ASI (p=0.76% kurang.59%. iii ABSTRACT Endang Suwiji.59% kurang.001. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi. 2006. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket.556).001.C=0.C=0.8% balita gizi buruk.7% balita gizi kurang.38% pada tahun 2003 sampai 2004.S.41% belum disapih.115.572). M. Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2. praktek pemberian kolostrum. 12.515) dengan status gizi.001.34%. praktek pemberian ASI. Analisis data menggunakan statistik chi square.C=0.35% sedang.12% tidak diberikan.. Sutardji. SKM.499).

tenang dan menenangkan. jalan paling pasti menuju sukses .001.12%. there was 1. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. Drs. dr. Based on the reality above. =0. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. MS (Anggota) NIP.572). and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable.8% childrens of bad nutrition. the gift practical of breastfeeding 47. Irwan Budiono. includes the gift practical of prelactal food or drink. Sutardji. that inflate from 12.001. The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition. the gift practical of colostrum (p=0. 131571549 Dewan Penguji.59%. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45.Kes (Ketua) NIP. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition. was not gave. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36.Square. =O.41% was not weaned.06% was middle. the gift practical of breastfeeding nearing food. SKM (Anggota) NIP. the gift practical of breastfeeding (p=0. and the wean practical 79. the gift practical of colostrum 44. 1.515) with nutritional status. Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell. Khomsin. 131469639 NIP. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition.C=0.Pd Drs. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0. C=0. it could known that under nutrition prevalence at children 45. 2. tentram dan mententramkan. DR. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia. Nutritional Status.C=0.34%.001. 130523506 3. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan. 2004:26). MS NIP.76% was less. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0. (Aa Gym) 3. 131695159 2.001. the gift practical of breastfeeding.7% childrens of under nutrition. Herry Koesyanto. The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens. the gift practical of colostrum.38% on 2003 untill 2004.556).085).115. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been.16% become 15.59% was under nutrition. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency. M. And on 2004. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. The data analysis was using the statistical of Chi. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling. Sekretaris.499). Oktia Woro KH. Kelemahan terbesar adalah menyerah. The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0. M. Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin.35% was middle. 12.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition. Based on the study result.

......... Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi............................................................ Gati............................. Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi.. 6 1.....6...................................3.................................. Cemot........................ ( Thomas A......... 4............................ SKM.... xi DAFTAR GAMBAR............. Ruang Lingkup Penelitian..... Almamater Universitas Negeri Semarang...... Irwan Budiono............................... 8 1................. 10 1..1. dr................... selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis............5..................................... Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama...................2................ Drs.... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1.................... Ruang Lingkup Waktu ... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN...............H................ Ruang Lingkup Tempat ...... Teman IKM 02´ yang tak terlupakan... 10 ......... 7 1........ Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi...................... sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat............................ Rumusan Masalah.................................. 1 1.. 1 1................1... viii DAFTAR TABEL..................... xii DAFTAR LAMPIRAN........ 3...... Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas..................... Sutardji..... 3.................................. vi DAFTAR ISI..... vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya...... Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak............. 5............. Latar Belakang ........ 6 1.................... Ruang Lingkup Materi..................Kes...................................6. 2.adalah selalu mencoba sekali lagi........6................ Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................6.................. i ABSTRAK.............3....................... Tujuan Penelitian ............ 10 1................... Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini........ ii HALAMAN PENGESAHAN. mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT..4....... Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1..................... Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2.. Abdul Hadi........ Oktia Woro K.............. dr......................... xiii BAB I PENDAHULUAN............................................................................ Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna...................... bantuan dan dorongan dari berbagai pihak...... Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku................. v KATA PENGANTAR ........ Proe............ M............. Manfaat Hasil Penelitian................................................ MS......................... Semarang...................................... 10 1...................... 6............ Danik dan semua)´ atas keceriannya 5..... 4.................................................................. Keaslian Penelitian........................................ diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca..............................................2..

............................. 37 3............... 46 3....... Analisis Univariat...............................................1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal........... Distribusi Status Gizi Balita....................................................3 Praktek pemberian ASI .........................................................2......... Instrumen Penelitian ................. 30 3............................................1......... Distribusi Praktek Penyapihan ......1..................................6.. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................... 11 2.................. Data Skunder .. 40 3.....4......... Data Primer......6............... 49 6.......................1........... Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U....... 52 11............................................. 29 2............................................................................. 51 10.............1..................... Distribusi Jenis Kelamin Responden ......................... Kerangka teori .1............................ Hipotesis .................................... TB/U dan BB/TB.. 49 4.. 39 4.................4 Praktek pemberian MP-ASI......2.5...... 48 4.................2............. 48 5...................................................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan .................................3................................. Analisis Univariat .................. Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita.......... Penilaian Status Gizi .. 46 3....BAB II LANDASAN TEORI .. 43 1.......2... 33 2....................... 43 3.............................1...........1...........1... 24 2...........................................1....................... 67 5........5............................................... 17 2............ Status Gizi.....3............ 41 3................8....1..8... Antropometri Indeks BB/U ................ Simpulan .................................................................................2.................................... Distribusi Umur Responden......................5 Praktek penyapihan ..............................1............. 27 2........... Analisis Bivariat ...... 48 4............ 51 9..... 47 3............2........ Saran ................. Anilisis Bivariat...................................................1...... Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS..................1...6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi ................ 11 2.................... Teknik Analisis Data ................... 38 3........................................... Distribusi Praktek Pemberian ASI .......1..... 20 2............................. Validitas Instrumen....................... Pola Asuh Gizi .... 68 DAFTAR PUSTAKA . 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN............1................ 39 3.......... 36 BAB III METODE PENELITIAN .....4....................7................. 26 2................... 44 3............... Popukasi penelitian............ Populasi dan Sampel penelitian .............................1..................... Wawancara dengan menggunakan kuesioner. 13 2.7............... Jenis dan Rancangan Penelitian .............................................................................................2.................1............................ 41 x 3............................................................. 53 4......................................2...............................................1.............. 11 2........................ 46 3.................... 43 2........1....1.Hasil Penelitian ........................................7......1.1...1...1................... 53 12.............1.............. 26 2................ Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal.......................................................1. 43 3....2......................1........................................................... 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1..Pembahasan ...................................... Keaslian Penelitian.... 41 3............................ 37 3...6.1....................5.......................................................................1............................ 11 ix 2.............2....................2........5..1.......... Teknik Pengumpulan Data....1......................2..........................8...... Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum .....2 Praktek pemberian kolostrum............. 48 4..... Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI ...... 50 8................2..... Karakteristik Responden ..................... 14 2..................................................... 18 2.................1......................2...................... Definisi Operasional ............ Landasan Teori ... 46 3......... 67 5....................1....................................2................. Definisi Operasional ............... Kerangka Konsep..........................................1............ Pengertian Status Gizi...................... 7 2..... 30 2........................................2.................................... 49 7.........................2...........7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi..... Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ............... Reliabilitas ............ Sampel Penelitian ..3......................

....................... menurunnya tingkat kecerdasan................. kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang....................... Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora........................... tingkat pendidikan ibu..............Status Gizi ......... Surat Keterangan Selesai Penelitian ... 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1................... pelayanan kesehatan................................... Kerangka Konsep....1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an............................................... Surat Ijin Penelitian dari Fakultas ....... Data Hasil penelitian .................................... pertumbuhan dan perkembangan anak............................. 73 4......... Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso.... 55 14. 36 2............................................................ Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel . cerdas.. Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat............................ khususnya anak balita....... Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup.................... 83 8....... 72 3.......... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal ............. 85 9............ perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak......... Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing........... perkembangan....................... Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi.... 100 15... tingkat pendapatan keluarga........ 58 16......... 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1........ 87 11...... 71 2....... pendapatan keluarga.. tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu. jumlah anggota keluarga.. rawan terhadap penyakit........ Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS..................... Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat......................................... Kerangka Teori... Analisis Chi Square... 2004:70).. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian.............................................. menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan........................ 88 12........ 91 13................................................................ Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI........ kolostrum. termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM)...................... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI.......................................... 54 13........... 96 14........................ Gizi sangat penting bagi kehidupan................................................... Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga............ Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ............... dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi. Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi ................ 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal........................................... Instrumen Penelitian . konsumsi makanan.... Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan............... 77 7........ pemeliharaan dan aktivitas.... dan terganggunya mental anak. budaya pantang makanan........ Deskripsi Data Hasil penelitian ............................ 75 6................................................. Dalam menciptakan SDM yang bermutu. 56 15...... tingkat pengetahuan ibu tentang gizi........... Daftar Populasi dan Sampel.......... Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya .......... dan pola asuh gizi............ Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik.................................. 74 5..... Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan......... Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi........................ dan produktif..................... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI................................... 86 10............ Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi ..............

Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita. untuk gizi kurang sebanyak 17. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. . Semakin banyak jumlah anggota keluarga. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi.448 dengan rincian yang naik berat badannya 1. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun.16 %. karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004). data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2.676 anak (2. Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12. Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita.993. dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu. secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas. padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut. Contoh dalam keadaan anak sakit. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya.486 anak (79.paling terpengaruh oleh kurang pangan.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo.12.575. mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1.38 %. Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda.816. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan. 2003:18). Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. 1994:16).8% balita gizi buruk. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya.34 %).6%. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas.1% dan gizi buruk sebanyak 1.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar.7% balita gizi kurang. pekerjaan dan seleranya. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan.

3 TUJUAN PENELITIAN 1. dan praktek penyapihan pada bayi. praktek pemberian kolostrum. maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1. 1.38% dan tahun 2005 terdapat 1. 1. 1.Berdasarkan uraian di atas.4.16%.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12.8% balita gizi buruk . 12.4.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1.7% balita gizi kurang. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora. praktek pemberian MP-ASI.3. buruh.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No. dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. dan serabutan. Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³. praktek pemberian kolostrum. praktek pemberian MP-ASI. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1. praktek pemberian ASI.3. 1. pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15. praktek pemberian ASI. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. Rata-rata pendidikan ibu rendah. 3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Berdasarkan uraian latar belakang di atas.4. 1.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . 1.

3. Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0. OR=4.01.449). Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan.069.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi . Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri .(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan. 1234567 2. praktek pemberian kolostrum.

1. OR=1. Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0. Status gizi OR=2. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI. Pendapatan keluarga 2. OR=2.697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0. Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola . Pola Asuh gizi 3.246).028).237. masukan zat gizi dan praktek penyapihan.Perkembangan bayi. praktek pemberian kolostrum.893).509). dan praktek penyapihan. 2. Gangguan pertumbuhan 1.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0.672). pola pemberian ASI. OR=1. praktek penyapihan (nilai p=0.011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0. pola pemberian MP-ASI. 2.039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0. masukan zat gizi (nilai p=0.812. Pola pemberian ASI (nilai p=0. praktek pemberian MP-ASI.Sumatera Selatan.365.

Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. dengan perkembangan bayi.024. R=3. Kalibawng. ASI. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan. oleh . seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. 5.027. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec. Pola pemberian ASI 2.asuh gizi dengan status gizi anak balita. ketiga. ASI. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten. Sedangkan pada penelitian kedua.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. R=0. status gizi dan kejadian KEP. ASI Eksklusif 2. Theresia Spika N. R=0. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas. MP-ASI. Kejadian KEP 1. DIY Cross Sectional Case control 1.023.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. 1234567 4. Kulon Progo. Pola pemberian MP-ASI 3. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian.

1. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB). Menurut Soekirman (2000: 84). c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui.1. air tajin.6.1 LANDASAN TEORI 2.1. Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup. misal air kelapa. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental).1 Pola Asuh Gizi. 1. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak . Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI.6. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2. kebersihan. b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. pertumbuhan dan perkembangan anak. air gula. 1991:37).1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage. 1991:37).6. susu bubuk. pisang. b. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. kolostrum. d. 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a. Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. 2000:2).3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. menyusui secara eksklusif. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan. memberi kasih sayang. susu sapi. madu. dan praktek penyapihan. (Savage. e. 1. c.6. dan sebagainya (Depkes RI.1. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan.karena itu perlu diadakan penelitian kembali.

Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya. dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. 16 sehingga bayi dengan BB 3. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. 1998:2). agak kuning yang dinamakan kolostrum. 2000:2). 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit.3 point lebih tinggi pada usia 8. b. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya. Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml. 2005:4).1. 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.jauh berbeda dengan diatas. dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi. selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . 2. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari. 1998:3). Menurut Suhardjo.2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. 2005:11). Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki.5 Kg memerlukan 525 ml sehari. 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a. c. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap. yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis.1. protein. 2000:2).1. Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari. 2. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun.5 tahun. dan 8. Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi.1.

Namun demikian.1990:54).G. 2. 2000:15).1. Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula.maka kebutuhan susu 15 L (Savage. pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F. pekerjaan orang tua. Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi. makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. 17 2. 1998:19). Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua.1.5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik. 18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu. 1991:105). Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti. Ririn Yenrina. 1988:74).G. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi. Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat. 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya. Ririn Yenrina. serta pendidikan orang tua. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. 1991:30). Dengan demikian. cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. paling tidak sampai usia 24 bulan.1. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI. 2000:14). Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat.1.4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim. . 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI. ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi.J. Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. Selain MP-ASI. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan. 1990:78). Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto. Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan.

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. terutama pada keluarga golongan miskin. Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. 1998:10). Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini. 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan . 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda. Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. 1995:10). karena dengan pendidikan yang baik. disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. bagaimana cara menjaga kesehatan anak.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. Di daerah semi perkotaan. Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. 1991:99). pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. Di beberapa tempat. dkk 2004:74). karsa. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan. dkk 2004:74). cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan.1. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. rasa. 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya. dibanding waktu-waktu lain. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. 20 2. sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI. 2000:3). maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. yaitu rohani (pikir.1. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B.

dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo.1. tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. 1986:31). Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Jika jarak kelahiran pendek. 1999:17). Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk. tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. pemeliharaan dan energi. merawat.yang optimal. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat. memberi kasih sayang dan sebagainya. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan . Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Namun demikian. Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang. menjaga kebersihan. 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.1. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. Pada keluarga yang memiliki balita. memberikan makan. 2. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang. dkk.7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun.

Sedangkan menurut (Savage. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak.1998:2). Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan. sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun. status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya. maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita. 2. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung.1.2 Status Gizi 2. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi. 2. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua. pemberian kolostrum. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi. sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari. pemberian ASI. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein.1. ASI juga merupakan makanan yang bersih.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa.1. 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti.dkk (2001:18).2.seimbang. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi. Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi. pemberian MP-ASI dan penyapihan. Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat.2. Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat . Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI). semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI.

2001 : 19). dkk 2001:38). Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa. dan otot. keluarga. biokimia dan biofisik. tanah. Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Macam status gizi dengan indikator BB/U. 2001:69). Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa.3. Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. tinggi badan. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. mata. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). 2001:21). 2001 : 20). Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. dkk. lingkar kepala. dkk.2. dan BB/TB. dkk. berat badan. dkk. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi. dan lingkar dada (Supariasa. tulang. dkk. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. dkk. Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur.penilaian yaitu : antropometri. irigasi dll. . Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. lemak. 2001 : 20). 2001 : 20). TB/U. urin. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. Ditinjau dari sudut pandang gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. 2. dkk. 2001 : 20). rambut. dan individu. klinis. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. biologis dan lingkungan budaya.1. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. statistik vital dan faktor ekologi. 2001 : 19). lingkar lengan atas. dkk. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.

Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61). 2000:27).Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999. Tumbuh dengan normal b. Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Orang yang kelebihan berat badan. Kelebihan energi dalam tubuh. klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. gizi baik.9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. 2001 : 76) 2. Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). c. Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh. Nafsu makan baik f. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure. Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh. Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.1. lemak dan protein. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan. terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. Mata bersih dan bersinar d. Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. karena merupakan golongan yang rentan. gizi kurang dan gizi buruk. yaitu: gizi lebih. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh.9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan. dkk. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu. Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun.2. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus . Bibir dan lidah tampak segar e. dengan indeks berat badan menurut umur. (Supariasa. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat. gizi sedang.

Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan. mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. b. Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. pembesaran hati. rewel. dkk. cengeng. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema. kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis).2. tingkat pengetahuan ibu. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa. rewel. dkk. wajah seperti orang tua. 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. iga gambang. dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. dkk 2001:131). Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). akhirnya dapat menderita gizi kurang. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. c. Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. 2. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. kemerahan seperti warna rambut jagung. umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. berduka atau depresi. pandangan mata sayu. terutama diare dan ispa. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. tingkat pendidikan ibu. . 2001:131). Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut. Akhirnya berat badan anak menurun. sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang). rambut tipis. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. apatis. pemeriksaan kehamilan. perubahan status mental. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. perut cekung. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi. pertolongan persalinan. 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan. kulit keriput. Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus.1. wajah membulat dan sembab.kulit. diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa. 2001:131). anemia dan diare (Supariasa.

diantaranya faktor penyakit infeksi./min.penimbangan anak. Oxford Univ. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman. Disini tidak semua faktor diteliti. faktor pola asuh gizi. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. The State of the World`s Children 1998. dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas. dokter.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb. 2000:83). 36 2. prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3. variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi. Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI . faktor konsumsi pangan. Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). Press dalam Soekirman. faktor psikologi. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85). praktek bidan. Mak.1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor.

Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar.1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI.2.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita. 2. 4. 3. 3.2. 39 3.2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum. (Depkes RI.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun. 3. 3. 3.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama.2. Infeksi 38 3.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1.2.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny. (Depkes RI.1998:2) Tindakan ibu untuk .2.

1 . 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no.Sedang =6.3 Wawancara dengan kuesioner no.4 Wawancara dengan kuesioner no.5 . Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI. 5-8 Wawancara dengan kuesioner no. 9 . 6.dkk.Tidak beri = Skor 1 .Sedang =15<Skor 21 .5 .Diberi = Skor 2 .5<Skor 12 .Baik =21<Skor 27 . (Diah Krisnatuti.Baik =9. .Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No .5<Skor 9.17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 . Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI.Kurang = 4<Skor 6.

-BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan .1 Variabel Penelitian 3. Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang. 2000:66) Wawancara dengan kuesioner no.5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.1.Disapih =Skor 1 Indeks BB/U .Belum disapih =Skor 2 .4. (Soekirman. Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu. dan praktek penyapihan.(Savage. praktek pemberian MP-ASI.Gizi baik > 80-120% . praktek pemberian ASI. .4. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. 3.9% . 2002:26).5. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal.Gizi kurang 60-79. praktek pemberian kolostrum. 3.4.1.2. 3. 41 3.2.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3.5.4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.1. maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo. Berdasarkan fokus penelitian tersebut. Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita.Gizi lebih > 120% .

3. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita. 43 3. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. 2002:92).6.6. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur. (Soekidjo notoadmojo.1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin.1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.1 / 10 %. . 3.2. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0.1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner.2002:146). 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total. dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg.6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3.6. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0. (Suharsimi Arikunto.

1 Data primer diperoleh melalui : 3.1.20 ± 0. dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r .1. 0.199 : sangat rendah b. berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan. 0.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0.444. 0.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal . 3. 0.799 : kuat e.7.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas. .849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0.6.7. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0. praktek pemberian MP-ASI.813. 0.7. Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal.399 : rendah c.69 ± 0. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r .2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak).40 ± 0.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder.00 ± 0. dan praktek penyapihan.897. praktek pemberian makanan prelaktal.80 ± 1. praktek pemberian ASI.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a. 3.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin. praktek pemberian ASI.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI.2. sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0. 3.7. 46 3.599 : sedang d. praktek pemberian kolostrum. 3.

praktek pemberian MP-ASI.1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan. 3) Tabulasi.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58. 47 3. 3.1 Hasil Penelitian 4. 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5).8. praktek pemberian kolostrum.1. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data. praktek pemberian kolostrum. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi. 2) Koding. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang. praktek pemberian ASI. 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki.8.59 58. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 .2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. praktek pemberian MP-ASI.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan.3. praktek pemberian ASI. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing. Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square.59 20. Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.

53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48.Laki-laki Perempuan 35 33 51.47 48. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48.2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6.47).88 44. sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14.53%).71 36.71%).53 14.1.88%).12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55. 2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7. 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8. Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 . 4.

4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9.17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47.74%).17 57. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14.35 27. 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur.35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14.41%). Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79. selebihnya yaitu 20.06 14.59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79. 52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10.3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38.06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14.59% sudah disapih. Berdasarkan penelitian .17%).24 47. Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita.41 20.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.

Kurang Baik 31 37 45....1.65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5..0.53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik. Distribusi Status Gizi Balita No. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik. 32... 4..diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang. 41%). Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.572. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.05.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36.41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54.0701 Baik %F 45. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita.0401 2356. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1.0808 2429. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. 42. . dan dari 48.. Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.0706 Sedang %F 57..41% yang status gizinya baik. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12.001 < 0. praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13.0605 3438.0305 1104.572 termasuk kategori cukup erat.88% yang status gizinya kurang. praktek pemberian kolostrum.0401 16080.0509 3547. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum. praktek pemberian ASI.35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4.0503 Total %F 3415. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322...59 54.0305 34.3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. 2.0305 57.

8% yang status gizinya baik.12 Diberi %F 181.0802 2368.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33..05. dari 47.204 11.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14..24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.0401 2333. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4.00 7.. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.556 dan termasuk kategori cukup erat.29 44.0401 16080.00 % 33. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita.94 19.29% yang status gizinya baik. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. 44. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0. 33.76% yang status gizinya kurang.499 termasuk kategori cukup erat.4070 1140. 33. 13.00 32.71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang.0.0.001 < 0. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.88% balita yang diberi kolostrum.59 54. sedangkan dari 55.06 Baik %F 34.001 < 0.0509 3547.00 30..0204 Total F 31.8080 Total %F 3415..05.00 68.7010 Sedang F 19.82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10.41% yang status gizinya kurang.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44. sedangkan dari 38. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 . 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.0. 27. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.41 100.00 37.12% balita yang tidak diberi kolostrum.00 % 27.12 47..1020 3558.82 10... 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita.00 % 45.00 13.499.706 3440.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1.47% yang status gizinya baik.

..0.71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik.05.00 68. dari 57.41 Total F 31.00 % 32.35% yang status gizinya baik.00 32..085 termasuk kategori sangat lemah.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47.90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang.0706 3579.115 > 0.0701 1104. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.515..24 7. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0..24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7.41 100.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15.59 54. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.0701 Total %F 3415..2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. sedangkan dari 79..00 % 45.0305 Baik %F .35 20.00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2. Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP .000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27.0904 Sedang %F 1204..00 14.0509 2356.06% yang status gizinya baik. 13. 25.78% diantaranya status gizinya baik dan 20.001 < 0.0904 1279.R (2005) . Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0. 32..00 37. 4..00 5. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama. sedangkan dari 14. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9.69% yang status gizinya kurang.085. Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.00 54.06 79.0401 16080.59% balita yang disapih.05.0000 1104.515 termasuk kategori cukup erat. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0000 22.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257.35 47. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita.59 Belum disapih F 22.94% yang status gizinya baik.. Menurut Ninik Asri. 36. Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.00 % 13.41% balita yang 60 belum disapih.0509 3547.

Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui.001 < 0. pemberian ASI. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu.001 < 0. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein. 4. pemberian kolostrum. 4. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. kolostrum. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita.2. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan.001 < 0. Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin. Dr.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal. protein. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik . saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi.1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0.05. artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0.05. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. pemberian ASI.2.2. 4. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita. harus diberikan kepada bayi. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui.05. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran.

Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut. artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001). frekuensi. Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari.2. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan.pula status gizi balita.115 > 0. seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita. cara pembuatan dan cara pemberiannya. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004). Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam . Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah.2.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. 4. memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita. pemilihan bahan makanan. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.05. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan.05. 4. porsi. ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita.001 < 0. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita. Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya.

Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. S. Catherine Lee. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. 2005.572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar.001.41% baik.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44. Jakarta Depkes RI. 1992. Jakarta : Arcan. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12. 2. praktek pemberian ASI. Depkes RI. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36.53% baik. 2003. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I.88% diberikan. 1999a. 1989. praktek pemberian kolostrum 55. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni.7% balita gizi kurang.12% tidak diberikan. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan. 67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. praktek pemberian ASI 38. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan. C=0. Universitas Diponegoro. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. praktek pemberian MP-ASI 57. Jakarta Depkes RI. praktek pemberian kolostrum. 1998. 3. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan.41% belum disapih.001. 2000. Jakarta . Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal.35% sedang dan praktek penyapihan 79. Makanan Pendamping ASI.24% baik.59%.jumlah cukup. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. 12. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas.38%. Skirpsi S-1.16% menjadi 15. 68 5. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai. C=0. 2001. Manajemen Laktasi. Semarang Depkes RI. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0.8% balita gizi buruk.

Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. dan kritik. 2009). Watanabe et al. Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut Hadi (2005). b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu.5%. Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya. 2008). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen.6 %. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. 1998).4%. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh.Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials. balita kurus dan balita pendek masih tinggi. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah. Prevalensi balita gizi kurang. (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. adaptasi. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI.8 %. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . 2004). (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen.

kualitas stimulus (rangsangan). kesehatan.dan berkembang pesat sejak dalam rahim. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%.2 point pada 65 pasangan kembar MZ. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur. Komorita dkk dalam Azwar. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Menurut Atkinson dkk. yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. warna rambut dan kulit (Azwar. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa.Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin. . (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan.9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0.2008). Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. gizi. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9.) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben. 1. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0.7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis. 17. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom.2003). yang melakukan penelitian kembar MZ. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik.47. Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi. periode tercepat usia 6 bulan pertama. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain . iklim emosional di rumah. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Menurut Georgieff (2007). Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%.

mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50.. Namun demikian. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. 2003). dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. Anak-anak gizi kurang yang diberikan . Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. 1995). Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang. Selama dua tahun pertama kehidupannya. melihat.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. mencium dan meraba. Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar. Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi.. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar. Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh. Ketika tikus ditempatkan di treadmill. pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. 2008). memperbaiki koordinasi gerakan otot. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak. Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. merasa. Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. 2006).kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. 2009). 2.

efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan. Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya. dan sering mereka tidak mengetahui caranya.) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. 1. kebisingin. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar.2008). 1995).) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. 5. . Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak. yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. Penelitian Muljati et al. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. 4. 3. Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar. Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih. kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan. (2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. Sedangkan Purwandari. dkk (2008). kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak. Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak. ketegangan dan kondisi hidup yang berubah. Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. 2007).intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja. karena keterbatasan pendidikannya. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. Menurut Davidof (1991). Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis. menjaga kesehatan anaknya.

Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. abstrak/visual. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. Diantara usia-II dan usia-V. Diantara usia-V dan usia-XIV. IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale.5 tahun (Azwar. IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi. Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak. dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu. Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. 2008). 2008). Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes. seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet. Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. 1992).II. 2008). Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory. level usia meningkat dengan interval satu tahunan. Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. Tabel 1. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. sangat terlatih dalam penyajian tesnya. 1992). dan III. dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya. Untuk memperoleh angka IQ. Dalam penelitian ini. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . 2008).

Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin.20 18.50 23. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi. emosi dan memori (Singh. menari.20 1.10 8. 2006). Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya. kepribadian. (Georgieff. Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk. melukis. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak. emosi. analitis.00 14. bahasa dan matematis. Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku.20 0. astrosit dan mikroglia.50 5.60 2. persepsi.03 0. 2003). Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi. emosional. Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak.40 0. puisi. Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit. stimulasi dan sikap orang tua.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1. Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik. pengertian. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen.10 23. B. pemikiran intuitif dan spritual. kreatif.10 3.160-169150-159 0. 2003). akal. pemikiran.00 0. spiritual dan jiwa. Anak- .

Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal. KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat. Afrika. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi. Liu et al. Lampung. Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. 2006). 2006). (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. et al. produksi neurotransmiter. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al.anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. 11 dan 17 tahun di Mauritius. di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja.5-8. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. Penelitian . (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini.5 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan. Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. Namun demikian. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. Grantham. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya.

tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi.doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 .0. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini. You can leave a response. This entry was posted on July 10.ums.google.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka.mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini. http://docs. 2009. You can follow any responses to this entry through RSS 2. 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak. or trackback from your own site.ac.

remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah. Pada setiap fikrah. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun. semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. Pertama. tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut. atau merasa dendam. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. Ibukota negara. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. guru maupun anggota masyarakat. yakni ³ Ahmad Algofari (18). Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. membela diri. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. pemuda adalah pengibar panji-panjinya. . Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri. Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. didahului.00 tanggal 26 Maret 2007. Kedua. penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. Masa remaja adalah usia transisi. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08.Contoh Skripsi Posted on January 23. solider. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. Sukaraja. Bogor.

HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. Sholat Jum¶at.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani. Dapat menjadi masukan bagi para orang tua. aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. . Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar. Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. Kualitas keimanan. Latihan Marawis. kekuatan batin dan kecerahan. hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa. Pendalaman Materi. Tadarus Al-Qur¶an. Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Nasyid maupun Qosidah. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . Mentoring. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri.Pengajian Kelas. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut. akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman.

Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. yakni memperhatikan secara akurat. Telaah pustaka. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. . Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi. Tlp. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. majalah. yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya. dan sebagainya. mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Observasi. Raya Pejaten Pasar Minggu. Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif. berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. Jakarta Selatan. tetapi memahami situasi. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini.METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL). dengan situasi tersebut menampilkan diri. koran. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL).

Oleh karena itu. dan Pengertian Dakwah. Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi . Sistematika Penulisan. Latar Belakang Masalah. sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8. Tujuan dan Manfaat Penelitian.. Faktor Pendukung dan Penghambat. SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab. Pengertian DSL. Tinjauan Pustaka. Metodologi Penelitian. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas. Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Pembatasan dan Perumusan Masalah. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. Kepentingan DSL. Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL. Analisa SWOT.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini. Pendekatan DSL. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda.

com/ http://360. Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1.com/ http://reader.com . C. Kegiatan Mentoring 3.yahoo. Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my.yahoo.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8.google. kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful