Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi.mozilla:en-us:official&tb. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org.com/2009/03/gizi-buruk. Namun.25 Http://www. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl.co.14 januari 2011 jam 11. Pada kondisi yang sudah berat. Jika tidak sesuai. lemak. dan gula. segera konsultasikan hal itu ke dokter. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.google. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya.50 wib .blogspot. http://bimaarry.

You were searching for "makalah gizi buruk". See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. Disamping itu. kanker. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. remaja. Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. Mulai dari bayi dilahirkan. . Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. dewasa sampai dengan usia lanjut. mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi.5 Kg). faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. Dari indikator kesehatan. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. dan lainlain. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. masalahnya sudah mulai muncul. antar provinsi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. seperti jantung. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. anak usia sekolah. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat.

terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. angka kematian balita. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. Pada saat ini. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai. . mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat. serta rendahnya umur harapan hidup. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. umumnya disebut kekurangan gizi. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. angka kematian bayi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh.Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif.

United Nations (Januari. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. penyakit infeksi. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. konsumsi makanan yang kurang. World Fit for Children 2002.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. bagan 2 di atas (Unicef. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. dan Millenium Development Goal 2015. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi. . maka status kesehatan dapat tercapai. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. pola asuh. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. dengan mengikuti siklus kehidupan. Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor.

dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah. prevalensi gizi kurang .Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. Berdasarkan SP 2000. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). 2000). rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1. banyak Posyandu yang tidak berfungsi. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%. dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia. lingkungan.0/kapita/tahun). Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat.513. masalah kesehatan lainnya. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147. penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun.364. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. yang berdasarkan kajian Susenas 2002.4 juta penduduk (BPS. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. Pada hasil kajian Susenas 2003. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. Hasil SDKI tahun 1991. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. 10% dan 9%. dan masalah kemiskinan. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG.2% atau 38. 12% and 10%. Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. 2002). o Masih tingginya angka kematian ibu. menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. hanya sekitar 15-17%. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. bayi dan balita.

Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003.1-0. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. . GAKY dan Anemia Gizi. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK.7%. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. Untuk peningkatan status gizi penduduk. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. Dari hasil kedua survei tersebut. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur.adalah 19. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A.7% dalam kurun waktu 5 tahun. kurang vitamin B1. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. kurang zink. 3. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. kurang asam folat. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3.3 cm.3%. Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. maupun tablet besi. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm. seperti masalah kurang kalsium. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia.3 cm pada anak laki-laki dan 2. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat. Dengan asumsi penurunan 30%. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. kapsul yodium. 4. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun.2% dan gizi buruk 8.7% 2.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. Seperti yang terlihat pada Figure 10. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang.

pola penyakit. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. GAKY dan anemia gizi. akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari.Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. zink. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. karena sampai dengan tahun 2002. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. atau penurunan 50%. antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium). Akan tetapi. asam folat. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27.8% pada tahun 1996/1998. Dengan kondisi ini. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. tingkat konsumsi. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. penurunan ini secara nasional tidak terjadi.9% (1995) menjadi 40% (2001). Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil. Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. terutama di NTB. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu.1%. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah. penyuluhan. dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. selain strategi lain (fortifikasi. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). Dari beberapa laporan. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. pendapatan dan pendidikan. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9. . Selain itu sampai dengan tahun 2003. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. karena informasi untuk kurang kalsium. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia.

Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. provinsi. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. 3. http. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. maupun nasional. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten.05 wib . baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. antara lain: 1.//astqauliyah. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. 4. 2. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.

Jadi. dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. Jika kita melihat fakta yang ada. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. Akan tetapi. kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. Selain itu. yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca. Fakta yang ada. Hal ini dikarenakan. perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. Hal ini juga berarti bahwa. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Di dalam perpustakaan tersebut. Sebenarnya. Hal ini berarti bahwa. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. Akan tetapi. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus. Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. Yang telah tersebut di atas. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan.Contoh proposal kualitatif A. baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Sebelum kita memahami. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. . Sebagai mahasiswa psikologi. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya.

yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya. Membaca belajar. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja.Membaca terarah. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. B. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. Membaca sepintas. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. 2. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. 5. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. 3. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak. Membaca kritis. ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. Membaca mencari. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. Dari kelima cara-cara membaca di atas. Dalam melakukan rutinitas membaca.

pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . efektif. mengamati. akurat. Peneliti a. apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. menelaah. Pada waktu anak belajar membaca. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. dan membedakannya dengan kata-kata lain. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca. mendalami. dan mengingat-ingat. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. dan selainnya. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. meneliti. 2. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. ia belajar mengenal kata demi kata. 2. mengejanya. Anak harus membaca dengan bersuara. Sekarang kalau kita pertanyakan. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. Diharapkan dari penelitian ini. Menurut Dr. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. maka objek yang dimaksud bersifat umum. membaca. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat.C. mengetahui cirri-cirinya. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya. Oleh karena itu. Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis.

Anyone who keeps learning stays young. Orang yang tidak mendapat bimbingan. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. teratur.µ Tidak peduli berapapun usia kita. seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. dan baik penuturannya. menyaring. Secara tidak disadari. 2. kalimat. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. 3. Itu sebabnya. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. dan ketajaman mencerna isi bacaan. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua. kemampuan. Mestinya. The greatest thing in life is to Keep your mind young. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. tidak tahan membaca buku. tidak ada gairah. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. mengolah. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca.1. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. Tampilan komputer dapat pula dibaca. whether at twenty or eighty.µ . yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. latihan khusus membaca cepat. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. merasa bosan. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata.

kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan. dan letaknya. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. .µ ³Nah. gabungannya menjadi suku. mental. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). 1. dalam Gleason dan Ratner 1998. Model atas ke bawah Smith (1971. kemudian kata dan sebagainya? 2.µ Bahkan menurut Covey. MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan.µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. spiritual. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. ´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam. ´Saya terlalu sibuk menggergaji. Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. dan sosial/emosional. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai. mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. setengah lingkaran. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak. Akan tetapi.µ jawabnya. fiturfitur ini bermunculan. Dalam model ini. A.µ orang itu berkata dengan tegas. Karena itu. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik. Pada waktu sebuah kata dibaca.

kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. kita tetap saja bisa membacanya. menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan. atau melihat dikamus. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia. Tentunya. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. dan tahap interpretasi. Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. atau dia akan bertanya kepada orang lain. dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Survey atau meninjau 2. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. . adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word. dan bertahap. soenjono dardjowidjojo. B. untuk mengetahui makna kata itu.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. Recite atau menuturkan 5. Robinson tahun 1941. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1. mempercepat menangkap arti. mendapatkan abstrak. Bila ditemukan makna dari kata itu. metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. 2003. Pengantar pemahaman bahasa manusia. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Jakarta: yayasan obor Indonesia). Sebaliknya. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. Review atau mengulang 1. Question atau bertanya 3. model component-letter. Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. 2. C. (Psikolinguistik. tahap rekognisi. Read atau membaca 4. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. Pada kesempatan kali ini. berhierarki.

Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca.3. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Read Dengan membaca. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. Pada saat membaca. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. diagram: Adanya grafik. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. 4. Perhatikan grafik. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut. catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran. 3. . Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali.contoh dari konsep utama. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question. mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. yang mendukung ide pokok. definisi. 5. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat. 6. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring. 2. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. mengetahui ide-ide yang penting. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. Selain itu juga berbahaya.

berhentilah sejenak. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. Oleh karena itu. Jika masih mengalami kesulitan. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. 5. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. kita perlu latihan. . Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. Dalam pemakaiannya. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. tandai subbab ini. Demikian juga dengan SQ3R. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi. kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir.perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. Dan. melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. bacalah kembali paragraf tersebut. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. teruskan membaca subbab berikutnya. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. pada kesempatan itu. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. misalkan buku teks matematika. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. ulangi membaca bab itu sekali lagi. Review Daya ingat kita terbatas.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks. anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. 4. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar.

Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. 3. seperti pensil atau spidol. dan mengatuk. 5. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. 1. 4. terutama membaca buku pelajaran. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. šPersiapan Sebelum Membaca 1. majalah ringan dll. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca.Bagian daftar isi. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. yaitu tempat yang terang. 2. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. . kapan?. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut. tenang dan rapih menurut kita sendiri. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. gambar-gambar. bersih. bosan. komik. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. nyaman. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. sejuk. Namun. adalah di pagi hari. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut. mengapa bisa terjadi?. Membaca kritis. Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut. baik dari luar maupun dari dalam diri kita.Paragraf awal. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . 2. oleh siapa?. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar. Di zaman sekarang ini. 3. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Melakukan survei isi buku. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca. khususnya buku pelajaran. tidak bungkuk. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. cerpen. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan.

c. Evaluasi. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian.1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. analisis data bersifat induktif. catatan lapangan. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. dokumen pribadi. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Meninjau ulang. Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. rinci dan tuntas. minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. METODE PENELITIAN 1. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis. penelitian adalah usaha untuk menemukan. e. terutama untuk mengumpulkan data. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf.. Jika tidak terdapat pertanyaan. b. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti. Membuat pertanyaan. dan dokumen resmi lainnya. catatan memo. Cobalah kita tutup dulu bukunya. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. Membaca. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda . Menurut Hadi. d. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. Jika belum. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E.

LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. 50. Menurut Whitney dalam Moh. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. tesis. pandangan-pandangan. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. Oleh karena itu. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. sikap-sikap. Data Primer Menurut S. profesional. 2. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. SUMBER DATA 1. 2. namun berfungsi sebagai instrument pendukung. baik putra dan putri. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. studi histories. publikasi dari berbagai organisasi. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. dan mempunyai kedalaman spiritual. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. notula rapat perkumpulan. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. dan sebagainya. yang berada di daerah malang. hasil-hasil studi. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. . serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.2. Malang. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Data sekunder juga dapat berupa majalah. hasil survey. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas. buletin. buku harian. peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. Jalan Gajayana no. 3. termasuk tentang hubungan-hubungan. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri. 4. kegiatan-kegiatan. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. beserta jalan dan kotanya. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai.

Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Tujuan penulis menggunakan metode ini. buletin. aturan suatu lembaga masyarakat. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola. perkembangan. foto. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. gambar. artikel. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. majalah. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. perilaku. . tanpa menggunakan teknik kuantitatif. Dalam penelitian ini. pernyataan. dan sebagainya. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang.5. instruksi. biografi. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. dokumen berupa laporan. memo. 2. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. kategori. komentar peneliti. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. 6. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Dalam kegiatan sehari-hari. dan berita yang disiarkan kepada media massa. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. 1. pengumuman.

penjajakan alat peneliti. sering atau tidaknya membaca. konsultasi fokus penelitian. kebiasaan membaca. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1.Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. meliputi kegiatan penentuan fokus. meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. pengecekan anggota. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. waktu. . dan pengecekan kecakupan refrensi. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. c) Tahap analisis data. sumber. 7. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. penyusunan usulan penelitian. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. b) Tahap pekerjaan lapangan. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. (2) tahap pekerjaan lapangan. Menurut M. penyesuaian paradigma dengan teori. 8. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. diskusi teman sejawat. (3) tahap analisis data. PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility). wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. gambaran atau lukisan secara sistematis. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. 2. Data tersebut diperoleh dengan observasi. 3. (2) keteralihan (tranferability). pengetahuan. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. (4) kepastian (konfermability)9. (4) tahap penulisan laporan··10. d) Tahap penulisan laporan. (3) kebergantungan (dependibility).

Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.9. Bumi Aksara. Metode Penelitian (Jakarta: PT. analisis data. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. S. PUSTAKA Lexy J Moleong. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. sumber data. Nasution. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. induktif. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. M. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya.com 3. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. kehadiran peneliti. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Nazir. 2. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1. Dalam penelitian kuantitatif. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. http://skripsistikes. D. 1991 Moh. dan tahap-tahap penelitian. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. 2003 Prof. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. . Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data.A. dan berakhir dengan suatu ³teori´.wordpress. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. Metode Research. Jakarta 2004. 4. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. penelitian berangkat dari teori menuju data. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik. Apabila digunakan istilah rumusan masalah. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Oleh karena itu. 5. Ghalia Indonesia. prosedur pengumpulan data. Dengan kata lain. lokasi penelitian. Dr. Ph. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. pengecekan keabsahan data. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. 6.

d. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. misalnya letak geografis.a.wordpress. subjek. keunikan. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. Dengan pemilihan lokasi ini. peneliti pernah bekerja di situ. ekologis. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. kebudayaan. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. etnometodologis. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai.wordpress. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. format ringkasan rekaman data. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala. b. penelitian tindakan. atau kritik seni (hermeneutik). Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). dan suasana seharihari. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. dan dengan cara http://skripsistikes. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes. partisipatoris. informan. pengamat partisipan. e. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. dan waktu. Oleh karena itu. misalnya fenomenologis. dan dokumentasi. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. program. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur.com bagaimana data dijaring. interaktif. Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). interaksi simbolik. wawancara mendalam. struktur organisasi. sumber data. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. atau penelitian kelas. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. atau pengamat penuh.com teoretik. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. studi kasus. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. grounded theory. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. bagaimana karakteristiknya. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. c. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. misalnya observasi partisipan. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). .

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

Selain itu. PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi.4. mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini. merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari terminologi. 1. WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009. Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku.3. SAMPEL Selama penelitian. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut. Minggu Keempat. Sedangkan asuh berarti menjaga. Minggu Kedua. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian. 3.1. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah. observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ). POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. pola berarti bentuk.2.2.3. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga.       .5. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. y y y y Minggu Pertama. merawat dan mendidik. Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. 3. 3. Minggu Ketiga. Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. tata cara.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.

DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. gemar menentang. yaitu : 1. agresif. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. 4. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. kalau tidak mau makan. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3. cemas dan terkesan menarik diri. self esteem ( harga diri ) yang rendah. manja. mau menang sendiri. suka melanggar normanorma. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. 4. agresif. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. tertutup. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja.1. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. maka tidak akan diajak bicara. 2. . kurang mandiri. tidak mau mengalah. 3. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri. berkepribadian lemah. dapat mengontrol diri. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. 2. 4. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut. tidak berinisiatif. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. kurang bertanggung jawab. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. impulsif. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. 4. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. dan kooperatif terhadap orang lain. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini.BAB IV PEMBAHASAN 4. mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. mampu menghadapi stress.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. pendiam. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Misalnya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. tidak patuh. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya.2.

Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. The Lost Boy. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya. pergaulan bebas.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. Selain diperlakukan tidak adil. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal. Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. sehingga akhirnya sang anak jadi manja. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. dianiaya setiap hari. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. mendekati miras. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. dan A Child Called Dave . Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. tetapi itulah yang terjadi. maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. BAB V PENUTUP A. tawuran dan lain sebagainya. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. B. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. Ia seolah tidak dianggap manusia. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. Pelzer ternyata bisa hidup normal. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. 2. sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. terkadang permasalahannya lebih serius.

Tgl lahir : Tenggarong. 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tgl lahir : Ds.SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2006 . 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMP YPM DIPONEGORO. Tenggarong Seberang 2. 20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .MTS AL-IKHSAN Separi Besar. Nama : Ira Suprihatin Tempat. 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : . Tgl lahir : Kutai. Tenggarong Seberang . Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat.SDN 004 Bukuan.SDN 021 L II Blok C. Tamat Tahun 2003 . Nama : M.SDN 016 SEPARI IV. Tamat Tahun 2006 . Kertabuana.RIWAYAT HIDUP 1.SMA YPM DIPONEGORO.SDN 016 Separi IV.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5. Tenggarong Seberang 3. Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2003 . Tenggarong Seberang 4. Tgl lahir : Kediri. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMA YPM DIPONEGORO. Tamat Tahun 2003 . Tgl lahir : Tenggarong.SMP 20 Bukuan. Tamat tahun 2003 . Nama : Abdul Ghofur Tempat. Fitroh Al-Hadi Tempat. Tamat Tahun 2006 .SDN 011 L4 Blok C II.SMA YPM DIPONEGORO.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tamat Tahun 2006 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Nama : Dewi Fatmawati Tempat. Tamat Tahun 2003 .

Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK .SMPN 1 Tenggarong Seberang. 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Psikologi Remaja. 2006. Tgl lahir : Madiun. Untuk 13X . Bumi Aksara.SMP YPM DIPONEGORO. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tamat Tahun 2003 .6. 2007. Nama : Rahmat Effendi Tempat. Laura dan. Sosiologi . Alatas. Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Jakarta : Penerbit Pena. 2005. Ali. J. Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2006 . Nama : Sinta Purnamasari Tempat.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 . Bumi Aksara. 2005. Muhammad. 1989. Gode.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . Sosiologi Keluarga. Anak . Tenggarong Seberang 7. Sosiologi .SMA YPM DIPONEGORO. Lein. Tgl lahir : Kertabuana. 2006. Tamat Tahun 2006 . 7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Tim Sosiologi. Jakarta : PT. Alwi. Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Alwi.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Jakarta : PT. Remaja Juga Bisa. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII. 13X .SDN 010 Bangun Rejo. Jakarta : yudistira. 2007. Tgl lahir : Pendingin. Nama : Sunadi Tempat. william. Tim Sosiologi. Jakarta : yudistira.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8.

iii ABSTRACT Endang Suwiji. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36. Skripsi. praktek pemberian MP-ASI.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. Teacher I : Drs. Fakultas Ilmu Keolahragaan.41% belum disapih.S. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada.7% balita gizi kurang.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji. teacher II : Irwan Budiono .115. Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2. State University of Semarang.59%.C=0.06% sedang.499). Berdasarkan hasil penelitian. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57. praktek pemberian kolostrum 44. Sport Science Faculty. SKM.59% kurang. praktek pemberian kolostrum. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006.S.76% kurang. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. Script. Pembimbing I : Drs. M. 2006.001. =0. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. Study Program of Public Health Science.001..35% sedang. Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi. SKM. praktek pemberian MP-ASI (p=0..38% pada tahun 2003 sampai 2004. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi.34%. praktek pemberian kolostrum (p=0. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket. praktek pemberian ASI 47. Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Sutardji. . 2006. Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0.16% menjadi 15. Universitas Negeri Semarang. dan praktek penyapihan 79. M. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi.572).085). Sutardji.12% tidak diberikan. dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat.001. praktek pemberian ASI. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0. yang meningkat dari 12.556).C=0. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal.515) dengan status gizi. Pembimbing II : Irwan Budiono.8% balita gizi buruk. Analisis data menggunakan statistik chi square.C=0.001. praktek pemberian ASI (p=0. 12. =0.

tenang dan menenangkan. MS (Anggota) NIP. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia.572).8% childrens of bad nutrition. it could known that under nutrition prevalence at children 45.001. the gift practical of colostrum (p=0. =0.59% was under nutrition. Oktia Woro KH. Khomsin. 2. Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell. Based on the study result.515) with nutritional status.7% childrens of under nutrition.C=0. tentram dan mententramkan. Irwan Budiono. the gift practical of breastfeeding (p=0. dr. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition. DR. The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36. 12.001. SKM (Anggota) NIP. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition. M.34%. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. Based on the reality above. The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition.001.Square. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been. MS NIP. and the wean practical 79. Sekretaris. 1. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0. Herry Koesyanto. Sutardji. that inflate from 12. 2004:26).16% become 15. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. the gift practical of colostrum 44.06% was middle. C=0.12%. there was 1. includes the gift practical of prelactal food or drink.499).38% on 2003 untill 2004.41% was not weaned. (Aa Gym) 3. jalan paling pasti menuju sukses . the gift practical of breastfeeding 47. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency. And on 2004. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency. 130523506 3. The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0. the gift practical of colostrum. Nutritional Status. 131469639 NIP. 131571549 Dewan Penguji. Kelemahan terbesar adalah menyerah. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan.35% was middle. was not gave.115.085). Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin. The data analysis was using the statistical of Chi. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition. the gift practical of breastfeeding nearing food. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling.C=0.Pd Drs. the gift practical of breastfeeding.001.59%. and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable. M. 131695159 2.Kes (Ketua) NIP.76% was less. =O. Drs.556).

................. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat........................... vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.............................3................ Cemot... Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....... 10 1........................................ dr.... ( Thomas A... 1 1...1............... 5. 10 1.......2.6.......... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1...... Ruang Lingkup Waktu ............6..................... Ruang Lingkup Materi............... Tujuan Penelitian .. Irwan Budiono................3.............1... Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. 6 1...................... MS.... 6......... Oktia Woro K. Ruang Lingkup Tempat .............................................................. Rumusan Masalah.. 8 1.......... 3...................... i ABSTRAK......................Kes...................5........ iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN. vi DAFTAR ISI......... xii DAFTAR LAMPIRAN......6........ mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT..................... Teman IKM 02´ yang tak terlupakan........... 7 1.............................................. Semarang........ 4.................. Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama.. 6 1.................. 1 1.. xi DAFTAR GAMBAR...... dr................... 10 1...... Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi.............................................................................................. 4........ Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku........ Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak.................. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini........................................................ Proe....6.............................................. Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi............. Sutardji........2...... selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis....... Danik dan semua)´ atas keceriannya 5......... ii HALAMAN PENGESAHAN................ Drs....................... 10 .............. Gati.... v KATA PENGANTAR .... Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas....................... Latar Belakang ........................ viii DAFTAR TABEL........... Almamater Universitas Negeri Semarang.......................... Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.... Keaslian Penelitian............... Abdul Hadi........................ bantuan dan dorongan dari berbagai pihak...................................... 2. xiii BAB I PENDAHULUAN........ 3....................................4...................................................... Manfaat Hasil Penelitian.. Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi... M................................................................................................................... Ruang Lingkup Penelitian.......H....................................... Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2....................................... diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca....................adalah selalu mencoba sekali lagi................. SKM...............

.................................. 46 3..........1... 37 3............... 43 3........................ 48 4............ 14 2........... 51 9....................................... Reliabilitas ..............7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi.. Distribusi Umur Responden...1.......................1.1...... Distribusi Praktek Penyapihan ................. Analisis Univariat...... Data Primer...5........ 44 3............. 26 2..........1....3................................... 11 2................1........ 67 5....................1................................................6..1.............. 46 3..................1.....................5 Praktek penyapihan ........................ 40 3............................... Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ...... 11 2... Landasan Teori ...............................................................................................................2.................... 13 2................... 7 2..................... 41 3........................2............................ Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U................. 47 3.... Sampel Penelitian ..................4............ 37 3......................................................... 33 2................ Jenis dan Rancangan Penelitian ..........2...............2........1... Kerangka Konsep......... Karakteristik Responden ............. 20 2....................................2......... Wawancara dengan menggunakan kuesioner..... Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI .......1........................................... Antropometri Indeks BB/U .... Instrumen Penelitian ....................................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan ........2.............................. Status Gizi....................... 41 x 3................... Teknik Analisis Data ............5................ 41 3.... 48 5.......................................................1. Validitas Instrumen....................................................................... Teknik Pengumpulan Data...........3 Praktek pemberian ASI ...................................................2...........................................................Pembahasan .1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal........... Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita............................. 11 2.... 30 2.2..1....... Distribusi Status Gizi Balita................ 29 2...........................8..................................................... Hipotesis ...... Definisi Operasional .........................1....................... 11 ix 2........... 39 4....2.......... 46 3.... 39 3.....1...1....1........................................................................2......................... 49 4.........................5...1............2 Praktek pemberian kolostrum................. Anilisis Bivariat.....1....... Saran ..................1.......................... Penilaian Status Gizi ... Pola Asuh Gizi ..............................................1..........2.............. 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN............. 50 8.............1.......................1........................................ Pengertian Status Gizi. 18 2.....2.. 26 2... Simpulan ............ 67 5.... Distribusi Praktek Pemberian ASI ............. 48 4........................ 36 BAB III METODE PENELITIAN ...BAB II LANDASAN TEORI ...................1............................ Distribusi Jenis Kelamin Responden .......................7.......Hasil Penelitian ... 30 3........1....................... 51 10..........................................2...............1...........................................1....................................................................................... 46 3.............................8............ 48 4........................6...... Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS....................... 43 3.7..................4 Praktek pemberian MP-ASI.......................1............................... 49 6.......... 27 2. Kerangka teori ............ 52 11............................................ 43 1.................................... Analisis Univariat ....................... 38 3. 24 2................. 49 7....................................3................3....6........................... Keaslian Penelitian.........1. 43 2..............................................................................................................................................2..........1...2................ Definisi Operasional .. 53 4...............................................1...1........... 17 2... 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................... TB/U dan BB/TB...................8... Analisis Bivariat ....1..............................................................................5.......... 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1............. Populasi dan Sampel penelitian .1..................2...................... Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum ........... 53 12.... Data Skunder ........7.....2... Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal.............6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi .. Popukasi penelitian...............................4.................. 68 DAFTAR PUSTAKA ......................

.............. 75 6............. Gizi sangat penting bagi kehidupan.............. pendapatan keluarga............. jumlah anggota keluarga.................. dan produktif............................ cerdas...... kolostrum.......... 100 15. tingkat pendapatan keluarga.............. 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1.................. Analisis Chi Square............... Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel ......... pelayanan kesehatan............... Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal........................................................... Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup............................ Deskripsi Data Hasil penelitian .... 55 14.......................................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi ......................... Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi ................................. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso.. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ..... menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan........ Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI.............................................................................. konsumsi makanan... Instrumen Penelitian ........... 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1........... 88 12................ Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian............. Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat...................... Kerangka Teori.............. dan pola asuh gizi. 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1........ 72 3. pertumbuhan dan perkembangan anak...... dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi.......... Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI... perkembangan........ 86 10. 54 13..... kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang............... Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS.... 36 2................. 83 8........................... pemeliharaan dan aktivitas........... Daftar Populasi dan Sampel................. 58 16........ Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan... budaya pantang makanan....... Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi......... Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga................... 73 4............... Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan.....................Status Gizi ................ tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu...................................... menurunnya tingkat kecerdasan...... Surat Ijin Penelitian dari Fakultas ....................... 74 5....... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal ............. rawan terhadap penyakit.................. Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing................ khususnya anak balita.................................. dan terganggunya mental anak............... 87 11...................... Kerangka Konsep....... Data Hasil penelitian ....... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI........................................................ 56 15.... tingkat pengetahuan ibu tentang gizi............ Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora.............. perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak.... Dalam menciptakan SDM yang bermutu................................. 71 2.. 2004:70)........ 85 9......... Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi.................. 77 7.................. Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya ... Surat Keterangan Selesai Penelitian ...................... 91 13............... tingkat pendidikan ibu....... 96 14...................... Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik................................................... termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM).....................1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an.............................

34 %).448 dengan rincian yang naik berat badannya 1.676 anak (2. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi.paling terpengaruh oleh kurang pangan. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. untuk gizi kurang sebanyak 17. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi.1% dan gizi buruk sebanyak 1. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15.16 %. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI. data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari. karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar.8% balita gizi buruk. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun. Contoh dalam keadaan anak sakit. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya. Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo.816. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan.38 %. dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu.575. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas. pekerjaan dan seleranya. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan.7% balita gizi kurang. mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004).486 anak (79. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. Semakin banyak jumlah anggota keluarga. 1994:16). Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1.6%. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita. 2003:18). padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora. secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas. Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya. Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita. . Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak.993. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.12. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif.

3. 1. praktek pemberian kolostrum. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 1.16%. buruh. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora.4.Berdasarkan uraian di atas.8% balita gizi buruk . pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15. maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1.3 TUJUAN PENELITIAN 1. Rata-rata pendidikan ibu rendah.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora.38% dan tahun 2005 terdapat 1.4. Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No. 3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 1.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. praktek pemberian kolostrum. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . praktek pemberian MP-ASI. praktek pemberian ASI.4. peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora. 1. praktek pemberian MP-ASI.7% balita gizi kurang. 1. 12.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan. dan praktek penyapihan pada bayi. Berdasarkan uraian latar belakang di atas.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang. praktek pemberian ASI. 1.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita.3. dan serabutan.

069. 3.449). 1234567 2. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan. OR=4. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0.(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1. pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0.01.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi . Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. praktek pemberian kolostrum. Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri .

812. pola pemberian MP-ASI. OR=1. OR=2. Pola pemberian ASI (nilai p=0. 2.893). Status gizi OR=2. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI. Gangguan pertumbuhan 1.509).039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0. praktek pemberian kolostrum.672). masukan zat gizi (nilai p=0.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. dan praktek penyapihan. Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0. Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola . OR=1.365. 1. Pola Asuh gizi 3. Pendapatan keluarga 2.246). 2.697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0.237. masukan zat gizi dan praktek penyapihan.028).Sumatera Selatan. praktek penyapihan (nilai p=0.011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0. pola pemberian ASI.Perkembangan bayi. praktek pemberian MP-ASI.

R=0. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian. Kejadian KEP 1. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec.023. Pola pemberian MP-ASI 3.024. R=3.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec. Theresia Spika N. ketiga.027. R=0. Sedangkan pada penelitian kedua. dengan perkembangan bayi. ASI Eksklusif 2. seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum. ASI. Kalibawng. status gizi dan kejadian KEP. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten.asuh gizi dengan status gizi anak balita. MP-ASI. 5. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan. Kulon Progo. Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. Pola pemberian ASI 2. 1234567 4.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. oleh . ASI. DIY Cross Sectional Case control 1. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum.

Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. susu sapi. Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI.6. 1. Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. susu bubuk.1. dan sebagainya (Depkes RI.6. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar. c. pertumbuhan dan perkembangan anak.karena itu perlu diadakan penelitian kembali.3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. 1991:37). air tajin. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal. 1. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB. madu. d. memberi kasih sayang. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak . dan praktek penyapihan. e. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB).1. Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup. (Savage.1 LANDASAN TEORI 2. Menurut Soekirman (2000: 84). 1991:37). 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa.1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. b.1 Pola Asuh Gizi. 2000:2). 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage.6. pisang. air gula. kolostrum. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2. c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar.1. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental). 1. kebersihan. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI.6. misal air kelapa. menyusui secara eksklusif. b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol.

2005:11). dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit. 1998:3).5 Kg memerlukan 525 ml sehari. agak kuning yang dinamakan kolostrum.1.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. c. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap.1. Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi. Menurut Suhardjo. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. 2000:2). 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki. 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini.1. 16 sehingga bayi dengan BB 3. 2000:2). yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis. b. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi.3 point lebih tinggi pada usia 8. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya. Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari. Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI. 1998:2).1. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml. Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air. protein. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI.jauh berbeda dengan diatas. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari. 2.2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. dan 8.5 tahun. 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . 2005:4). Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI. 2.

Namun demikian. 1988:74). Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim. Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI. Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto. 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI.G. Dengan demikian. serta pendidikan orang tua. 18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu. Ririn Yenrina.G.1. Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan. Ririn Yenrina. Selain MP-ASI. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi. 1991:105). 17 2. 1990:78). . ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi. Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti.1.maka kebutuhan susu 15 L (Savage. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan. cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat.1.J. Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula. 2000:15). Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan.1990:54). 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya. 1991:30). paling tidak sampai usia 24 bulan. pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F.5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage. pekerjaan orang tua. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi.1. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik.4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. 2. 1998:19). makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. 2000:14).

sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI. Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. bagaimana cara menjaga kesehatan anak. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan. dkk 2004:74). 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. terutama pada keluarga golongan miskin. karsa. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. Di beberapa tempat. 1998:10). cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal. disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage. karena dengan pendidikan yang baik. 1991:99). Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan. 20 2. Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B. 1995:10). maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. yaitu rohani (pikir. dibanding waktu-waktu lain. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini. Di daerah semi perkotaan. dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan .1. 2000:3). 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda.1. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar. dkk 2004:74). rasa. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih.

Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. 1999:17). Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. 1986:31). Jika jarak kelahiran pendek. tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. dkk. tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. menjaga kebersihan. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat.7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan . Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Namun demikian.1. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang.yang optimal. Pada keluarga yang memiliki balita. dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI. Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun. memberikan makan. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. 2. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang. dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo.1. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. pemeliharaan dan energi. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan. yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. memberi kasih sayang dan sebagainya. merawat. Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI).1. status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya. Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita.1. 2. semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI. Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein. Sedangkan menurut (Savage. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi. pemberian kolostrum. ASI juga merupakan makanan yang bersih. Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat.dkk (2001:18). sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak. pemberian ASI. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat . sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari.2. Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung.seimbang. pemberian MP-ASI dan penyapihan. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi. 2. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa.2. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun.2 Status Gizi 2.1. mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya.1998:2). Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan. 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan. maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi.

klinis. Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). dkk 2001:38). tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. 2.penilaian yaitu : antropometri. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. tanah. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. Ditinjau dari sudut pandang gizi.1. 2001 : 20). Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa. dkk. TB/U. irigasi dll. 2001 : 19). otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. dkk. dan BB/TB. dkk. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. 2001 : 19). 2001 : 20). lingkar lengan atas. 2001 : 20). Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. 2001:21). Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur. Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. dan lingkar dada (Supariasa.2. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. mata. dkk. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. keluarga.3. dan individu. tinggi badan. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa. 2001:69). Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi. statistik vital dan faktor ekologi. Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. biokimia dan biofisik. . Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. dkk. berat badan. lingkar kepala. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). dkk. dan otot. Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). urin. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi. lemak. Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). rambut. Macam status gizi dengan indikator BB/U. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. dkk. 2001 : 20). Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. biologis dan lingkungan budaya. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. dkk. tulang.

9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh. terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. gizi sedang. Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). Kelebihan energi dalam tubuh. Tumbuh dengan normal b.Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999. c. Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun. 2001 : 76) 2. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61).2. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya. dengan indeks berat badan menurut umur. Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure.1. yaitu: gizi lebih. Nafsu makan baik f. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh.9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan. Orang yang kelebihan berat badan. Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. dkk. 2000:27). Bibir dan lidah tampak segar e. gizi baik. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. karena merupakan golongan yang rentan. klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus . Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh. Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan. lemak dan protein. Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya. Mata bersih dan bersinar d. (Supariasa. Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya. gizi kurang dan gizi buruk.

sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang). Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. dkk. dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. 2. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut. perut cekung. pemeriksaan kehamilan. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. pembesaran hati. perubahan status mental. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. wajah membulat dan sembab. dkk. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. akhirnya dapat menderita gizi kurang. 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. anemia dan diare (Supariasa. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi.2. kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis). cengeng. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus. pandangan mata sayu. berduka atau depresi. Akhirnya berat badan anak menurun. tingkat pendidikan ibu. dkk 2001:131). Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. b. tingkat pengetahuan ibu. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi. 2001:131). Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. rewel. kulit keriput. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema. diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa. iga gambang. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. pertolongan persalinan. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. c. 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi.kulit. apatis. rewel. rambut tipis. jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan. kemerahan seperti warna rambut jagung. terutama diare dan ispa. 2001:131). . wajah seperti orang tua. umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah.1. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam.

diantaranya faktor penyakit infeksi. faktor pola asuh gizi. faktor konsumsi pangan.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). 2000:83)./min. Disini tidak semua faktor diteliti. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. Press dalam Soekirman. Mak. praktek bidan. dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas. variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi. Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb.1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor. faktor psikologi. 36 2.penimbangan anak.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb. Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI . prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3. The State of the World`s Children 1998. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman. Oxford Univ. dokter. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85).

2.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1.1998:2) Tindakan ibu untuk . 3.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI. 3. 2.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3. (Depkes RI. 39 3. Infeksi 38 3.2. Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny.2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum. 4.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita. 3.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita. (Depkes RI.2. 3.2.2. 3.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun.1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita.

5 . 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no. 6. 5-8 Wawancara dengan kuesioner no. Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI. Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.5<Skor 9.Tidak beri = Skor 1 .memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI.5 . 9 .Sedang =15<Skor 21 . (Diah Krisnatuti.Diberi = Skor 2 .1 .Baik =9.17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 .5<Skor 12 . .Kurang = 4<Skor 6.3 Wawancara dengan kuesioner no.dkk.4 Wawancara dengan kuesioner no.Sedang =6.Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No .Baik =21<Skor 27 .

2000:66) Wawancara dengan kuesioner no.Disapih =Skor 1 Indeks BB/U .2.2. 3. .Belum disapih =Skor 2 . dan praktek penyapihan.Gizi baik > 80-120% . Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita. 41 3. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian.1 Variabel Penelitian 3.9% . praktek pemberian ASI. 2002:26).5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.1.Gizi kurang 60-79.4. Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal.(Savage. 3. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang. Berdasarkan fokus penelitian tersebut.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3.5.Gizi lebih > 120% .1.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi.4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. praktek pemberian kolostrum.5. -BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan . praktek pemberian MP-ASI. maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo.1. (Soekirman.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.4.4. 3.1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu.

1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin.2.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner.1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3. 3. (Suharsimi Arikunto.6. . 2002:92).1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. 3. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0.6. 43 3. Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0.1 / 10 %.2002:146). 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita. (Soekidjo notoadmojo.6. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan. dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg.

7.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin. 3.69 ± 0. 0.20 ± 0.1.399 : rendah c. berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan.80 ± 1. 0.813. praktek pemberian MP-ASI. dan praktek penyapihan. 3. 0.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0.6.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder. praktek pemberian ASI.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal . praktek pemberian ASI.1.897.7. 0. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r .849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0. praktek pemberian makanan prelaktal. sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a. Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal.7.1 Data primer diperoleh melalui : 3.444.799 : kuat e. .00 ± 0.199 : sangat rendah b.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0.599 : sedang d. Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI. praktek pemberian kolostrum. 46 3.7.2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. 3.40 ± 0.2. 0.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas. dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r . 3. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak).

1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. praktek pemberian ASI. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 . Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20.59 20. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang.1 Hasil Penelitian 4. Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing. 3. praktek pemberian MP-ASI. 47 3. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan. praktek pemberian MP-ASI. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara.59 58.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan.8. 2) Koding.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58.3. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5).8.1. praktek pemberian ASI. praktek pemberian kolostrum. praktek pemberian kolostrum. 3) Tabulasi. 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki. merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data.

71%).53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.1. Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55.Laki-laki Perempuan 35 33 51. 4.12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55. 2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7.2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48.47 48.88 44. sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14.53 14.76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48.88%).71 36. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 . 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8.53%).47).

06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14.24 47. Berdasarkan penelitian . 4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9.59% sudah disapih.74%).35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14.35 27.17%).3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38.17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47.41%). selebihnya yaitu 20.17 57.41 20. 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur. Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79. Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita. 52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10.06 14.59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.

praktek pemberian kolostrum. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12.diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11.0808 2429. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita...65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0.0305 34. 4. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322.0509 3547.3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36.0401 16080. dan dari 48.0605 3438... 41%).88% yang status gizinya kurang. Distribusi Status Gizi Balita No. Kurang Baik 31 37 45. praktek pemberian ASI.59 54. praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik.41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1.53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik. 42.35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4..41% yang status gizinya baik. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. .0305 1104.0.0503 Total %F 3415.001 < 0.0305 57.0706 Sedang %F 57. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.1.. 32.. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum.... 2. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0.572.0701 Baik %F 45. Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.0401 2356.05.572 termasuk kategori cukup erat.. Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.

00 7.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.00 37.. 13.00 % 33.12 Diberi %F 181.0401 16080. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square..499.24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44.0509 3547. dari 47.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1.4070 1140.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14..0401 2333.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23.06 Baik %F 34. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.0802 2368. 33.001 < 0. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.. 33. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita..82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10.41% yang status gizinya kurang.88% balita yang diberi kolostrum.29 44. 27.0.0.00 30. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita.1020 3558. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0. sedangkan dari 55.00 13.00 32. 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik.05.82 10. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.0204 Total F 31.8% yang status gizinya baik.12% balita yang tidak diberi kolostrum..001 < 0. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.556 dan termasuk kategori cukup erat.706 3440. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.12 47.29% yang status gizinya baik.82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4.47% yang status gizinya baik.00 % 27.8080 Total %F 3415.00 % 45. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0.94 19. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11..0.41 100.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang.. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 .76% yang status gizinya kurang..05. sedangkan dari 38.7010 Sedang F 19. 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik.71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang.59 54.00 68. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.499 termasuk kategori cukup erat.204 11. 44.

71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik.00 54.0000 22..69% yang status gizinya kurang. Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.515.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang.0904 Sedang %F 1204.24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7. 13.0701 Total %F 3415.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47.35 47. 4. 25.00 % 32.41 100.05.0706 3579.R (2005) .00 % 45.00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama.59 Belum disapih F 22. sedangkan dari 14.78% diantaranya status gizinya baik dan 20.0000 1104.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257. sedangkan dari 79. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.00 5.24 7.2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak.. Menurut Ninik Asri. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.0509 3547.06% yang status gizinya baik.41 Total F 31.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.115 > 0.001 < 0. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9.0. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita....00 14. 36.00 32.0904 1279.0401 16080. Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.94% yang status gizinya baik..35 20. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0.0305 Baik %F .90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang.0701 1104.59 54.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15.06 79.35% yang status gizinya baik.085..59% balita yang disapih.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27.41% balita yang 60 belum disapih..00 37.00 68. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.. 32. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita.085 termasuk kategori sangat lemah..05.515 termasuk kategori cukup erat. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP . Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.. dari 57.0509 2356.00 % 13.

4. pemberian ASI. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein.05. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu. pemberian ASI.2. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran.001 < 0. protein. Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif.05. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan. saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare.001 < 0. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi. harus diberikan kepada bayi.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. 4.2.001 < 0. pemberian kolostrum.2. Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin.05. kolostrum. 4. Dr. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik .1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita.

Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita. Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya.2. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI. Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam .2.05. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan. cara pembuatan dan cara pemberiannya. artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001). pemilihan bahan makanan. seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI.pula status gizi balita. Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah. frekuensi.115 > 0. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. porsi. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004). Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut. 4. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan. 4. Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.001 < 0. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.05.

572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. 1998.41% baik.16% menjadi 15. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. 67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. Skirpsi S-1.59%.41% belum disapih. 2001.jumlah cukup. Dan pada tahun 2005 terdapat 1. 1992. 2.12% tidak diberikan. Jakarta . 2005.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44. praktek pemberian kolostrum 55. Semarang Depkes RI.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. praktek pemberian MP-ASI 57.001. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12. Manajemen Laktasi. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0. praktek pemberian kolostrum. 1999a. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. 3. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54. 12. Jakarta Depkes RI. 2003. praktek pemberian ASI.88% diberikan. Universitas Diponegoro. 1989. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas. S.24% baik. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. 68 5. Jakarta Depkes RI. Catherine Lee. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan. praktek pemberian ASI 38. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan. C=0. 2000. C=0. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0.38%.8% balita gizi buruk. Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal. Makanan Pendamping ASI. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36.53% baik.35% sedang dan praktek penyapihan 79. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. Depkes RI.001. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48. Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti. Jakarta : Arcan.7% balita gizi kurang.

2009). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI. balita kurus dan balita pendek masih tinggi. dan kritik. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu.Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen. adaptasi. (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen. Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya. b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism. 2004). Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh.4%. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18. Menurut Hadi (2005). Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. Prevalensi balita gizi kurang. yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum.8 %. 1998).6 %. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted.5%. 2008). Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Watanabe et al. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari.

sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis. (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin. kesehatan. 17.Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Menurut Atkinson dkk.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0. yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter. warna rambut dan kulit (Azwar. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Menurut Georgieff (2007). kualitas stimulus (rangsangan). periode tercepat usia 6 bulan pertama.2003). kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa.47. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9. Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan.2008). Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang.) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat.7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.dan berkembang pesat sejak dalam rahim. Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%. 1. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. Komorita dkk dalam Azwar. yang melakukan penelitian kembar MZ.9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya.2 point pada 65 pasangan kembar MZ. iklim emosional di rumah. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. . Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain . gizi. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen.

Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang. mencium dan meraba. Ketika tikus ditempatkan di treadmill. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. 2008).. Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar. Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock. 2003). 2009).. mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. 2006). Anak-anak gizi kurang yang diberikan . Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. 2. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak. Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak. Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. memperbaiki koordinasi gerakan otot. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. Selama dua tahun pertama kehidupannya. merasa.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. Namun demikian.kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar. 1995). pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh. melihat. pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.

(2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. ketegangan dan kondisi hidup yang berubah. Sedangkan Purwandari. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar.) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek. 3. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. 4. karena keterbatasan pendidikannya. Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. dan sering mereka tidak mengetahui caranya.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. menjaga kesehatan anaknya. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis. Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan. 1. Menurut Davidof (1991).2008). kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak. Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang.intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. kebisingin. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim. yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. 2007). 5. Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak. Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. Penelitian Muljati et al. 1995). Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar.) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. dkk (2008). Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya. kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan. . Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya.

Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. Dalam penelitian ini. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . 2008). Diantara usia-V dan usia-XIV.5 tahun (Azwar. 2008). tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale. dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya. Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. Untuk memperoleh angka IQ. Tabel 1. IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory. Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I. Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. sangat terlatih dalam penyajian tesnya. dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu. level usia meningkat dengan interval satu tahunan. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. dan III. 2008). Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. 1992). IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal.II. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. Diantara usia-II dan usia-V. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. 2008). skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet. Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes. 1992). abstrak/visual.

50 23.00 0. B. emosi dan memori (Singh. Anak- . Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi. emosional. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis. 2003). puisi. bahasa dan matematis.10 8.50 5. 2006). 2003). Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi. Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. analitis. pengertian. Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit.40 0. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1. Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku.00 14. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial. stimulasi dan sikap orang tua. kreatif. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain. melukis. menari. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan.20 1. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi.10 3. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi.10 23.20 0. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk. kepribadian.20 18. akal. Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak. Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin.03 0.160-169150-159 0.60 2. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. emosi. Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal. astrosit dan mikroglia. spiritual dan jiwa. Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶. persepsi. pemikiran. pemikiran intuitif dan spritual. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh. (Georgieff.

beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan. Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut. 2006). Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. 11 dan 17 tahun di Mauritius. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi.5-8. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. et al. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang.anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf. produksi neurotransmiter. Grantham. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Lampung. 2006). Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal.5 tahun. kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Afrika. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi. Penelitian . Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. Namun demikian. Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al. Liu et al. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan.

tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini.mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini. 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini.ac. You can leave a response.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka.google. You can follow any responses to this entry through RSS 2.ums.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi. or trackback from your own site.doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 .0. This entry was posted on July 10. http://docs. 2009.

tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut. Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta. Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri. solider. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. guru maupun anggota masyarakat. pemuda adalah pengibar panji-panjinya. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. Ibukota negara. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua. penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. Kedua. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman. didahului. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun. membela diri. Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya.00 tanggal 26 Maret 2007. Masa remaja adalah usia transisi. remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. Pada setiap fikrah. yakni ³ Ahmad Algofari (18). Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Bogor. Sukaraja. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan.Contoh Skripsi Posted on January 23. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan. berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. Pertama. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. atau merasa dendam. . Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan.

maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Kualitas keimanan. Sholat Jum¶at. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Latihan Marawis. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´. kekuatan batin dan kecerahan. Dapat menjadi masukan bagi para orang tua. Tadarus Al-Qur¶an. Mentoring. Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani.Pengajian Kelas. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar. . HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. Nasyid maupun Qosidah. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa. Pendalaman Materi. Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini.

koran. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. dengan situasi tersebut menampilkan diri. Observasi. yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Jakarta Selatan. adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL). dan sebagainya. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya. yakni memperhatikan secara akurat. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi. majalah. Raya Pejaten Pasar Minggu. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL). berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku. Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. . Tlp. tetapi memahami situasi. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. Telaah pustaka. 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif.METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti.

SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. Pengertian DSL. Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah. Metodologi Penelitian. Kepentingan DSL. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. dan Pengertian Dakwah. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi. Tinjauan Pustaka. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama. Tujuan dan Manfaat Penelitian. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Pembatasan dan Perumusan Masalah. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda. Oleh karena itu. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi . Analisa SWOT. Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL. Sistematika Penulisan. Pendekatan DSL. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. Faktor Pendukung dan Penghambat. Latar Belakang Masalah.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini.. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas.

kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2. Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8.yahoo. Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my.yahoo.com/ http://360. Kegiatan Mentoring 3.com/ http://reader. C.com .google.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful