Cara mendeteksi gizi buruk pada balita Oleh : drh. Sarmin, MP dan Dr.

Fitri Rachmayanti
Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat, dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmu-ilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi mereka menjadi buruk. Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan ASI, dan selalu memperhatikan kesehatan²apalagi berpendidikan; maka anaknya tidak akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu, hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8 ) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8 ) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Cara Mengukur Status Gizi Anak Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas. Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18

Pencegahan Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami ayat-ayat Alloh. Referensi: Anonim. 2007. Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008: Republika Online. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Rineka Cipta. Nasar, dkk. Ped Tata Kurang Protein. pkm-IDAI Nency, Y dan Arifin, M.T. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi yang Hilang. Inovasi Edisi Vol. 5/XVII/November 2005: Inovasi Online.
http://almawaddah.wordpress.com/2009/02/07/cara-mendeteksi-gizi-buruk-pada-balita/ tgl. 14 januari 14 januari 2011 jam 11.25

Gizi Buruk
oleh: Muhammad Bima Arrynugrah, S.Ked

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.

Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Kwashiorkor memiliki ciri: 1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2) pandangan mata sayu 3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4) terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5) terjadi pembesaran hati 6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9) anemia dan diare Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut: 1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2) wajah seperti orang tua 3) mudah menangis/cengeng dan rewel 4) kulit menjadi keriput 5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6) perut cekung, dan iga gambang 7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) diare kronik atau konstipasi (susah buang air) Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Pencegahan

Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

50 wib . Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya.google.com/2009/03/gizi-buruk.25 Http://www. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. Pada kondisi yang sudah berat. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat.id/imglanding?q=gizi+buruk?&um=1&2clint=firefox-a&saa&sa=x&rls=org. http://bimaarry. Namun. lemak.blogspot. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik.mozilla:en-us:official&tb.3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Jika tidak sesuai.htm/ tgl 14 januari 2011 jam 11. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas.=1sch:1&tbnid=aod80UeVVYIEgl^ Tgl. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. dan gula.co. segera konsultasikan hal itu ke dokter.14 januari 2011 jam 11. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum.

Dari indikator kesehatan. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini. dewasa sampai dengan usia lanjut. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi. dan lainlain. mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. . Mulai dari bayi dilahirkan. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten. serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. anak usia sekolah. walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup. Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. Angka Kematian Tinggi Akibat Kekurangan Gizi Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. dan menurunnya angka kematian bayi dan balita. faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis. masalahnya sudah mulai muncul. See posts relating to your search » Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias.You were searching for "makalah gizi buruk". Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara.5 Kg). Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya ³fenomena double burden´ yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan. Cara ³Bivariate dan Multivariate´ analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang. dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. kanker. seperti jantung. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa. yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2. Disamping itu. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih. Analisis menggunakan data utama dari SUSENAS 1989 sampai dengan 2003. akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi (AKB) >50 per 1000 lahir hidup. antar provinsi. remaja.

Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. serta rendahnya umur harapan hidup. akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat. angka kematian balita. terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas. sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat. selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan. umumnya disebut kekurangan gizi. Pada saat ini. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai. . Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. angka kematian bayi. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain.

Penurunan status gizi tergantung dari banyak faktor. berdasarkan situasi terakhir 2003 di Indonesia dan dibahas dengan memperhatikan Indonesia Sehat 2010.Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan. maka status kesehatan dapat tercapai. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya. 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur. karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. 1998) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada masyarakat. Proyeksi Status Gizi Penduduk 2015 Jika status gizi penduduk dapat diperbaiki. yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai. bagan 2 di atas (Unicef. penyakit infeksi. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi. World Fit for Children 2002. United Nations (Januari. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi. . konsumsi makanan yang kurang. pola asuh. dan Millenium Development Goal 2015. dengan mengikuti siklus kehidupan. Berikut ini hanya memfokuskan proyeksi status gizi.

Kajian pemantauan konsumsi makanan tahun 1995 sampai dengan 1998. Berdasarkan SP 2000. bayi dan balita. prevalensi gizi kurang .0/kapita/tahun). dan adanya kecenderungan yang menurun dari tahun 1995 ke tahun 2003. o Rendahnya pembiayaan untuk kesehatan baik dari sektor pemerintah dan non-pemerintah (tahun 2000: Rp 147.2% atau 38. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI menjadi masalah dan berakibat pada penghambatan pertumbuhan. dan hasil SKRT 2001 adalah sebesar 11%. kabupaten) yang terlihat dari variasi prevalensi berat ringannya masalah gizi. 10% dan 9%.Berdasarkan uraian sebelumnya dan juga yang tertuang pada bagan 1 dan bagan 2. dan 63% kabupaten dengan rasio pengeluaran pangan/non pangan antara 65-75%. Dari besaran masalah gizi 2003 dan penyebab yang multi faktor. 1994 dan 1997 juga tidak banyak berbeda dari tahun ketahun yaitu masing-masing 11%. o Tingginya angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan sanitasi. masalah kesehatan lainnya. Proyeksi prevalensi gizi kurang pada balita Dari uraian sebelumnya. o Masih tingginya prevalensi anak pendek yang menunjukkan masalah gizi di Indonesia merupakan masalah kronis. 12% and 10%. diketahui proporsi penduduk miskin adalah 18. banyak Posyandu yang tidak berfungsi.4 juta penduduk (BPS. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. kajian ini masih menujukkan rasio pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total keluarga yang masih tinggi. diharapkan terjadi penurunan prevalensi gizi kurang minimal sama dengan periode sebelumnya atau sebesar 30%. o Masih tingginya angka kematian ibu. 2002). Hasil SDKI tahun 1991. rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan indeks SDM rendah. penyebab yang mendasar adalah: o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang tidak memadai. Penyakit infeksi penyebab kurang gizi pada balita antara lain ISPA dan diare. Pemantauan pertumbuhan hanya dilakukan pada sekitar 30% dari jumlah balita yang ada. Sedangkan prevalensi diare SDKI 1991. yang berdasarkan kajian Susenas 2002.513. Paling tidak Indonesia masih menghadapi 20% kabupaten di perdesaan dimana rasio ini masih >75%. masih ada sekitar 15% kabupaten dengan persen penduduk miskin > 30%. maka dapat diprediksi proyeksi kecenderungan gizi yad seperti berikut: 1. lingkungan. Telah banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi pada balita. (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi/WKNPG. diperkirakan jumlah rumah tangga adalah 51. hanya sekitar 15-17%. o Pemberian ASI saja pada umumnya masih rendah. o Ketahanan pangan tingkat rumah tangga ini berkaitan erat dengan kemiskinan. Dengan meningkatkan upaya pelayanan status gizi terutama berkaitan dengan peningkatan konseling gizi kepada masyarakat. menyimpulkan (lihat tabel 10): 40-50% rumah tangga mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 25% rumah tangga mengkonsumsi protein 32 gram per orang per hari atau mengkonsumsi <70% dari kecukupan yang dianjurkan. Sebaran penduduk miskin tingkat kabupaten sangat bervariasi. Bahkan hasil SKRT 2001 prevalensi ISPA sebesar 17%. berarti masalah ketahanan pangan melanda 20-25 juta rumah tangga di Indonesia.364. Lebih lanjut pemberian ASI saja sampai 6 bulan cenderung renda. Seperti diungkapan pada uraian sebelumnya bawah ada 75% kabupaten di Indonesia menanggung beban dengan prevalensi gizi kurang pada balita >20%. 1994 dan 1997 prevalensi ISPA tidak menurun yaitu masing-masing 10%. dan masalah kemiskinan. Pada hasil kajian Susenas 2003. disertai dengan cakupan imunisasi yang masih belum universal. o Ketidak seimbangan antar wilayah (kecamatan. antara lain pelayanan gizi melalui Posyandu. demikian juga pembiayaan untuk gizi (tahun 2003: Rp 200/kapita/tahun). Walaupun ada perbaikan pada tahun 2003 terhadap ketahanan pangan rumah tangga. penurunan prevalensi gizi kurang pada balita (berat badan menurut umur) yang dikaji berdasarkan Susenas 1989 sampai dengan 2003 adalah sebesar 27% atau penurunan prevalensi sekitar 2% per tahun. 2000). o Cakupan program perbaikan gizi pada umumnya rendah.

Pengalaman kenaikan tinggi badan rata-rata dari generasi ke generasi pada negara sedang berkembang pada umumnya setinggi 1 cm dalam periode 10 tahun. Proyeksi KEK pada Wanita Usia Subur Berdasarkan kajian Susenas 1999-2003. Intervensi yang dilakukan untuk kelompok umur ini mungkin tidak terlalu kompleks dibanding intervensi pada balita atau ibu hamil. Di Indonesia penelitian ³secular trend´ kenaikan tinggi badan penduduk dari satu waktu tertentu. Untuk peningkatan status gizi penduduk. Sudah diketahui bersama bahwa dibanyak negara anak-anak tumbuh lebih cepat dari 20-30 tahun yang lalu. GAKY dan Anemia Gizi. Mayoritas intervensi yang telah dilakukan untuk mengurangi masalah KVA. kelompok umur ini terutama pada WUS usia 15 ± 19 tahun harus menjadi prioritas untuk masa yang akan datang. Kenaikan tinggi badan rata-rata anak baru masuk sekolah dari tahun 1994 ke tahun 1999 dalam waktu 5 tahun berkisar antara 0. maupun tablet besi. Strategi lain yang jauh lebih efektif seperti fortifikasi.adalah 19. Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada beberapa negara. Asumsi penurunan proporsi KEK pada kelompok WUS 15-19 tahun 2015 diharapkan dapat menekan terjadinya BBLR. penyuluhan untuk penganekaragaman makanan masih belum dilaksanakan. 4. Kelompok wanita usia subur sampai dengan tahun 2003 belum menjadi prioritas program perbaikan gizi. menunjukkan adanya perbedaan tinggi badan antara kelompok usia 20 tahun dan 60 tahun pada pria maupun wanita dewasa setinggi kurang lebih 8 cm. Dengan situasi tahun 1999 dengan penurunan hanya 3. Dengan menggunakan asumsi penurunan yang terjadi dari tahun 1999 ± 2003 untuk kelompok umur 15-19 tahun. Stunting atau pendek merupakan masalah gizi kronis dan pada umumnya penurunan sangat lambat.7% dan prevalensi gizi buruk menjadi 5. pada tahun 2015 asumsinya akan menjadi 20%. GAKY dan Anemia Gizi di Indonesia masih berkisar pada suplementasi atau pemberian kapsul vitamin A. Dengan posisi proporsi resiko KEK 35% pada tahun 2003. 35-40% WUS usia 15-19 tahun berisiko KEK. 3.3 cm pada anak laki-laki dan 2. . kurang zink. kurang vitamin B1.7%. penurunan proporsi risiko KEK berkisar antara 5-8% dalam kurun waktu 4 tahun tergantung pada kelompok umur. kapsul yodium. menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dan juga mempercepat kenaikan tinggi badan anak Indonesia.4 cm pada anak perempuan dalam jangka waktu 14 tahun. seperti masalah kurang kalsium. Akan tetapi intervensi yang dilakukan akan lebih banyak bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia generasi mendatang. Seperti yang terlihat pada Figure 10.7% dalam kurun waktu 5 tahun.1-0. Proyeksi prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah Perubahan ukuran fisik penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan asumsi penurunan 30%. serta menggunakan asumsi yang sama dengan penurunan prevalensi gizi kurang pada balita. Dari hasil kedua survei tersebut. yaitu 40% maka pada tahun 2015 prevalensi stunting pada anak baru masuk sekolah diasumsikan akan menjadi 24%. Analisis yang dilakukan pada survei TBABS menunjukkan penurunan prevalensi gizi kurang (stunting) pada anak baru masuk sekolah tahun 1994-1999 sebesar 3. Dinyatakan pula bahwa pada kebanyakan negara sedang berkembang µsecular trend´ dari kenaikan tinggi badan adalah 1 cm untuk setiap decade semenjak tahun 1850. Mereka tidak hanya matang lebih awal tetapi juga mencapai pertumbuhan dewasa lebih cepat. dinyatakan bahwa ada perubahan rata-rata tinggi badan sebesar 2.3 cm.2% dan gizi buruk 8.3%. Masih banyak masalah gizi mikro lainnya yang belum terungkap akan tetapi berperan sangat penting terhadap status gizi penduduk. Proyeksi masalah gizi mikro Masalah gizi mikro yang sudah terungkap sampai dengan tahun 2003 adalah masalah KVA. Perubahan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perubahan kualitas hidup manusia. diperkirakan pada tahun 2015 prevalensi gizi kurang menjadi 13. Informasi yang ada adalah hasil survei ansional 1978 dan 1992 pada anak balita dari 15 provinsi. kurang asam folat.7% 2.

antara lain konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga masih belum universal (SUSENAS 2003 menunjukkan hanya 73% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium).Untuk proyeksi masalah gizi mikro sampai dengan tahun 2015 sesuai dengan informasi yang tersedia sampai dengan tahun 2003 ini hanya dapat dilakukan untuk masalah KVA. Diharapkan TGR pada tahun 2015 dapat ditekan menjadi kurang dari 5%.9% (1995) menjadi 40% (2001). akan tetapi 50% balita masih menderita serum retinal <20 mg. pola penyakit. Angka prevalensi anemia pada WUS menurut SKRT 2001 adalah 27. prevalensi GAKY ada kemungkinan akan meningkat lagi. . Dengan kondisi ini. Asumsi penurunan hanya sekitar 30% sampai dengan 2015. Pada uraian sebelumnya diketahui masalah KVA pada balita diketahui hanya dari hasil survei 1992. intervensi penanggulangan anemia pada WUS masih belum intensif. karena informasi untuk kurang kalsium. dan penganekaragaman makanan) mulai diintensifkan. Seperti yang diungkapkan pada uraian sebelumnya prevalensi anemia pada ibu hamil menurun dari 50. GAKY dan anemia gizi. asam folat. pendapatan dan pendidikan. terutama di NTB. penyuluhan. Mengingat masalah GAKY sangat erat kaitannya dengan kandungan yodium dalam tanah.1%. Dari beberapa laporan. Asumsi penurunan prevalensi masalah gizi ini perlu disempurnakan dengan memperhatikan angka kecenderungan kematian. Diharapkan dengan ³multiple strategy´ 50% KVA pada balita dapat ditekan menjadi 25% pada tahun 2015. selain strategi lain (fortifikasi. Akan tetapi. pada umumnya prevalensi GAKY pada penduduk yang tinggal di daerah endemik berat dan sedang dapat menurun setelah intervensi kapsul yodium dalam periode tertentu dan akan membaik jika konsumsi garam beryodium dapat universal. tingkat konsumsi. kasus xeroftalmia ternyata sudah mulai muncul kembali. zink. Penanggulangan anemia untuk yang akan datang diharapkan tidak saja untuk ibu hamil. vitamin B1 hanya tersedia dari hasil informasi konsumsi makanan pada tingkat rumah tangga yang cenderung defrisit dalam makanan sehari-hari.8% pada tahun 1996/1998. Selain itu sampai dengan tahun 2003. Intervensi KVA dengan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk 5 tahun kedepan masih dianggap perlu. masih banyak masalah gizi yang belum terungkap terutama berkaitan dengan masalah gizi mikro lainnya yang mempunyai peran penting dalam perbaikan gizi secara menyeluruh. penurunan ini secara nasional tidak terjadi. Pemberian kapsul vitamin A pada balita diasumsikan belum mencapai seluruh balita. atau penurunan 50%. Akan tetapi jika pemberian kapsul tidak tepat sasaran dan garam beyodium tidak bisa universal. Data dasar untuk keseluruhan masalah gizi mikro untuk waktu mendatang perlu dilakukan. pada tahun 1996 diasumsikan prevalensi GAKY akan diturunkan sekurang-kurangnya 50% pada tahun 2003 setelah intensifikasi proyek penanggulangan GAKY (IP-GAKY) 1997-2003. akan tetapi juga untuk wanita usia subur dalam rangka menekan angka kematian ibu dan meningkatkan produktivitas kerja. ada kemungkinan prevalensi GAKY tidak bisa seratus persen ditanggulangi dalam kurun waktu 12 tahun kedepan (sampai dengan 2015). dimana dengan situasi ini akan dapat mencetus kembali munculnya kasus xeroftalmia. Penanggulangan anemia sampai dengan 2002 masih difokuskan pada ibu hamil. karena sampai dengan tahun 2002. Selain itu pemantauan pemberian kapsul yodium pada daerah endemik berat dan sedang tidak diketahui sampai sejauh mana kapsul ini diberikan pada kelompok sasaran. Diproyeksikan angka ini menjadi 20% pada tahun 2015. masih banyak masalah yang belum teratasi secara tuntas dalam penanggulangan ini. Pada survei tersebut dinyatakan masalah xeroftalmia sebagai dampak dari KVA sudah dinyatakan bebas dari Indonesia. Tahun 2003 ini sudah dilakukan evaluasi penanggulangan GAKY untuk mengetahui prevalensi GAKY setelah informasi terakhir adalah 9.

antara lain: 1. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting. Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang. 3. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan. provinsi. 4. strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan. mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.com/2010/05/makalah-gizi-situasi-gizi-dan kesh-masy/ tgl 14 januari 2010 jam 12. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan. http.//astqauliyah. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang. maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten. baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi.05 wib . 2. selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah. maupun nasional.Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah. dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benarbenar membutuhkan.

Mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan ini banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan umum universitas islam negeri malang hal ini terlihat dalam keseharianya. kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malanguntuk membaca adalah banyak sekali. yang mana buka untuk melayani mahasiswanya baik yang hanya membaca. Hal ini berarti bahwa. dalam keseharianya sangat banyak kebiasaan-kebiasaan khususnya kebiasaan membaca yang berlangsung otomatis baik oleh kalangan para mahasiswa maupun oleh kalangan para dosen bahkan oleh kalangan para pemimpin universitas. Yang telah tersebut di atas. Jika kita bandingkan dengan perpustakaan jurusan khususnya jurusan psikologi bagaimana? Apakah disana juga terlihat banyak mahasiswa yang setiap harinya mengunjungi perpustakaan jurusan yang mana di sana mereka melakukan aktivitas membaca ataupun meminjam buku. Fakta yang ada. Jadi. perpustakaan selalu di penuhi oleh mahasiswa. kesempatan bagi mahasiswa jurusan psikologi untuk membaca juga banyak dan lengkap. Selain itu.Contoh proposal kualitatif A. meminjam buku maupun yang mengembalikan buku yang telah di pinjam oleh mahasiswa mulai dari hari senin sampai hari sabtu adapun waktunya adalah mulai dari jam delapan pagi sampai pada jam lima sore. Akan tetapi. membaca merupakan suatu kebutuhan yang wajib terpenuhi. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan kampus. Jika kita melihat fakta yang ada. hal ini wajar karena itu adalah perpustakaan untuk seluruh mahasiswa universitas islam negeri malang. untuk fasilitas buku bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Malangjuga tersedia dalam perpustakaan pada setiap jurusan. meskipun perpustakaan ramai oleh mahasiswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata kuliah mahasiswa. Hal ini juga berarti bahwa. semua itu hanyalah sebatas pengertian kita tentang kebiasaan membaca yang dapat terlihat. Hal ini dikarenakan. perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu mahasiswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya. Sebagai mahasiswa psikologi. akan tetapi hal ini dapat memberikan dampak yang positif. Bukti ini dapat dilihat pada aktivitas dalam perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. dalam penggambaran yang terlihat banyak mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan umum Universitas Islam Negeri Malang. Meskipun dampak yang terlihat nyata belum begitu besar dan jelas. pengertian dan pengetahuan tentang kebiasaan itu sendiri dapat dijabarkan dan juga perlu untuk dilakukan penelitian secara lebih lanjut. Akan tetapi. Sebenarnya. karena manusia dan lingkungan bukanlah sebuah bilangan yang dalam menghadapinya dengan menghitungnya ataupun mengalikanya. dari aktivitas kebiasaan membaca akan dapat mempelajari rahasia segala ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan. kemungkinan banyak waktu yang di berikan kesempatan bagi mahasiswa untuk hanya sekedar mengunjungi untuk mencari referensi bahan kuliah sampai pada aktivitas membaca dalam perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut. . Manusia dan lingkungan hanya dapat di masuki melalui membaca. kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas mahasiswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka. tentunya ada suatu konteks atau suatu informasi yang harus diejah dan dikenali terlebih dahulu. Karena hal inilah yang kemungkinan dapat memberikan dampak yang positif bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Karena ruang lingkup psikologi adalah manusia dan lingkungan. banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh mahasiswa. Akan tetapi manusia dan lingkungan hanya dapat dihadapi dengan pemahaman. Baik dari segi buku-buku yang tersedia maupun waktu yang tersedia dan bahkan waktu pelayanan dari pegawai perpustakaan. Sebelum kita memahami. khususnya kehidupan kampus Universitas Islam Negeri Malang. atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka.

Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. Di kutip dari bukunya Ad Rooijakkers. Membaca mencari. Faktor-faktor apa yang menjadi kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 3. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya. ada lima cara yang diperlukan untuk membaca yaitu: 1. Dari kelima cara-cara membaca di atas. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja. serta untuk menghindari adanya kerancuan dan diskriminasi penilaian tentang mana kebiasaan yang baik dan mana kebiasaan yang tidak baik. akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. yang mana dalam membaca belajar ini kita harus mengetahui dan mengingat halhal yang penting dan detail. Dalam melakukan rutinitas membaca. Karena kebiasaan membaca merupakan bukan suatu aktivitas yang dapat dengan mudah terlihat dan dapat di ukur oleh indera saja.Pengertian kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambanglambang yang ada baik tertulis maupun tidak. yang mana kita harus mengingat dan mengerti bahkan kita harus menilainya.Membaca terarah. Membaca belajar. yang berjudul cara belajar di perguruan tinggi beberapa petunjuk praktis pada halaman 17-18. yang mana dalam membaca mencari ini kita harus dengan cepat mencari kuncinya yaitu tentang keterangan yang akan di cari 4. Karena hal ini dapat membantu dalam perkembangan dan kemajuan serta dapat menjadikan masukan untuk menjadi lebih baik kusunya bagi mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. 2. Bagaimana kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? 2. 5. yang mana dalam membaca terarah ini kita akan mendapatkan informasinya dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. B. yang mana dalam membaca sepintas ini kita harus mengetahui pikiran pokok tiap-tiap bab. Adapun Rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut: 1. apakah cara yang sebenarnya individu pakai. 3. Membaca kritis. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat. secara terlihat mata kita tidak akan mengetahui. Membaca sepintas. maka disinilah kita perlu untuk melakukan suatu penelitian dan penggalian informasi lebih mendalam tentang kebiasaan membaca pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang? . ada banyak cara yang diperlukan untuk dapat mendapatkan informasi yang memang benar-benar dapat membantu kita dalam pemahaman. RUMUSAN MASALAH Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan.

membaca. dan selainnya. mengetahui cirri-cirinya. Meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan. dan membedakannya dengan kata-kata lain. Sekarang kalau kita pertanyakan. Pada waktu anak belajar membaca. meneliti. akurat.Quraish Shihab dalam bukunya ´Tafsir Al Amanahµ. mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. KAJIAN TEORI PENGERTIAN MEMBACA Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. mengamati. pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut : . Oleh karena itu. kata Iqra· diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan. Anak harus membaca dengan bersuara. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca pada mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang Dari tujuan diadakannya penelitian tadi. peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Akan tetapi tema yang kita angkat adalah membaca buku. maka adapun manfaat penelitaian yaitu penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat yang urgen bagi : 1. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. dan mengingat-ingat. tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. 2. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3. ia belajar mengenal kata demi kata. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Malang. Dalam hal tersebut membahas masalah strategi atau cara membaca buku dengan cepat. mendalami. Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca bagi peneliti b. mengejanya. Menurut Dr. Diharapkan dari penelitian ini. Peneliti a. Dalam kaidah ilmu tafsir dikatakan suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutgkan objeknya.C. maka objek yang dimaksud bersifat umum. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan. efektif. Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra· yang diterjemahkan denagn perintah ´membacaµ(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW. 2. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. apa yang harus dibaca? Dalam surat Al-alaq tersebut tidak terdapat obyek spesifik yang harus dibaca. menelaah. Keilmuan Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin keilmuan psikologi khususnya dan seluruh disiplin keilmuan secara umum D. khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.

kemampuan. latihan khusus membaca cepat. teratur. ³Apa yang sedang Anda kerjakan?µ Anda bertanya. seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunyaµThe 7 Habits of Highly Effective Peopleµ sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. dan ketajaman mencerna isi bacaan. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain.1. dan baik penuturannya. Orang yang tidak mendapat bimbingan. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan! Inilah perintah yang pertama kali diturunkan oleh Allah ¶Azza wa Jalla kepada kita. yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan. Mestinya. Itu sebabnya. pendiri General Motors yang mengatakan bahwa ´Anyone who stops learning is old. ³Tidak dapatkah Anda melihat?µ demikian jawabnya dengan tidak sabar. orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase. Anyone who keeps learning stays young. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca.µ . tidak tahan membaca buku. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. sering mudah lelah dalam membaca karena lamban. sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Kita tumbuhkan semangat iqra· bismirobbikal-ladzi khalaq. Tampilan komputer dapat pula dibaca. menyaring. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. merasa bosan. yang perlu kita kembangkan pada anak-anak semenjak awal. šPengertian Kebiasaan membaca Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca. Secara tidak disadari. kalimat. jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua.µ Tidak peduli berapapun usia kita. ³Saya sedang menggergaji pohon ini. dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca³bukan sekadar membunyikan huruf dan kata³akan memiliki keterampilan. 2. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita. The greatest thing in life is to Keep your mind young. whether at twenty or eighty. mengolah. akan sangat menentukan bagaimana mereka menyerap. kemampuan berpikir mereka akan lebih matang dan tertata. tidak ada gairah. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi. dan memaknai informasi yang mereka lahap dari berbagai bacaan. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata. dan urutan ide sehingga caracara di waktu anak-anak tidak perlu lagi di gunakan. 3. Apa yang menggerakkan mereka untuk membaca.

Dalam model ini. dan sosial/emosional. . dan letaknya. fiturfitur ini bermunculan. 1. dalam Gleason dan Ratner 1998. ataukah dengan mengakses fitur-fitur seperti bentuk huruf. Meskipun kita memiliki ´keterbatasan waktuµ. kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. representasi yang mewakili kata dalam memori kita adalah fiturfitunya seperti garis lurus. ´Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat. mental. setengah lingkaran. Apakah pengenalan kata itu terutama dibantu oleh konteks (dari atas ke bawah) ataukah dari bawah ke atas? Ataukah merupakan interaksi antara kedua-duanya? 5. Model atas ke bawah Smith (1971. gabungannya menjadi suku. Karena itu. Apakah kata dikenali dengan akses langsung ke makna ataukah melewati wujud fonologisnya? 3. MODEL DALAM MEMBACA Kebanyakan model teoritis yang ada mengenai proses membaca mencoba menjawab pertanyaan bagaimana orang mengenali kata-kata yang tercetak dalam bacaan. ´Saya terlalu sibuk menggergaji. Akan tetapi. persis dengan apa yang ada dalam leksikon mental itulah yang akhirnya dipilih. Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. kita tetap perlu mengasah gergaji kita. Apakah pengenalan kata itu menyangkut proses yang berseri ataukah proses yang simultan? 4. Apakah pengenalan kata itu terjadi melalui aktivasi atau melalui pencarian di kamus mental kita?µ Berikut adalah beberapa model yang menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan diatas.µ orang itu berkata dengan tegas.µ ³Nah. spiritual. kemudian kata dan sebagainya? 2. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. ´ dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras. ´Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?µ ³Lebih dari lima jam. tetapi hanya fitur-fitur yang cocok. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita ² fisik.µ ³Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji.µ jawabnya. A. Pada waktu sebuah kata dibaca.µ Bahkan menurut Covey. mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah Gergaji itu?µ Anda bertanya. hampir semua model terfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut (Wolf dkk 1988: dalam Gleason dan Ratner 1998: 425). Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. retrival fitur-fitur ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang kita miliki dan konteks di mana kata itu dipakai.³Anda kelihatan letih!µ Anda berseru. Seandainya kata yang tertulis dalam suatu kalimat anting seperti pada kata ´Kucing itu sedang dikejar antingµ maka tidak mustahil bahwa pembaca akan menafsirkan kata anting sebagai salah cetak.426) mengajukan model atas ke bawah yang prototipikal. Apakah kata dikenali dengan mengakses representasi kata itu secara keseluruhan.

dan model lagogen yang menangani aspek-aspek lain dalam membaca yang akan terlalu rinci untuk disajikan disini (Lihat Gleason dan Ratner 1998: 427-436). metode SQ3R memberikan srategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari. Model bawah ke atas Landasan dasar untuk model yang disebut juga sebagai model yang berdasarkan stimulus. kita akan membahas salah satunya yakni metode SQ3R. Karena itu pada tahap ini ada tahap sensori. untuk mengetahui makna kata itu. dan tahap interpretasi. tahap rekognisi. Pengantar pemahaman bahasa manusia. menumbuhkan pertanyaan dari judul/sub judul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban pertanyaan. adalah bahwa rekognisi terjadi secara diskrit. 2003. C. Pada kesempatan kali ini. 2. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. membaca bukan berhenti pada rekognisi kata demi kata saja tetapi mencakup berkaitan antara satu kata dengan kata lain. Survey atau meninjau 2. atau melihat dikamus. Question atau bertanya 3. (Psikolinguistik.Pemakaian konteks sebagai pembantu menimbulkan kontroversi karena dari penelitian yang lain ditemukan bahwa orang hanya menerka 1 dari 4 kata dalam konteks di mana kata itu dipakai. atau dia akan bertanya kepada orang lain. kita tetap saja bisa membacanya. merupakan sistem membaca yang semakin popular digunakan orang. Bila ditemukan makna dari kata itu. Jakarta: yayasan obor Indonesia). Seandainya kata yang dibaca tidak ditemukan maknanya. fitur yang membentuk kata banyak mendapat dukungan karena wujud dan macam huruf (font) seperti apapun yang dipakai. Metode ini bukan cara yang lebih cepat untuk memahami suatu bab. Review atau mengulang 1. maka pembaca dapat menolak kata itu sebagai kata bahasa Indonesia. Survey Survey adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. mempercepat menangkap arti. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks karena ia menyangkut berbagai kemampuan linguistik dan pengetahuan yang ekstralinguistik. Recite atau menuturkan 5. maka selesailah sudah proses interpretasi kata itu. Ada beberapa model lain seperti model Whole-Word. Tentunya. Read atau membaca 4. mendapatkan abstrak. berhierarki. namun tingkat pemahaman yang di peroleh diharapkan lebih mendalam karena kita membaca dengan aktif sehingga proses membaca menjadi lebih efektif dan efisien. . model component-letter. soenjono dardjowidjojo. B. dan bertahap. Robinson tahun 1941. Sebaliknya. CARA MEMBACA YANG EFEKTIF Ada banyak metode yang ditawarkan ilmuwan. Membaca dengan metode SQ3R trediri atas lima tahapan proses yaitu : 1. Informasi yang ada pada suatu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk : 1.

6. Dan ubah kepala judul tersebut menjadi beberapa pertanyaan. memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. 5. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan kata-kata sendiri di kertas. Apa yang ditinjau ? Baca judul: Hal ini membantu untuk memfokuskan pada topik bab. kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada proses Question. kita mulai mengisi inforfmasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. mengetahui ide-ide yang penting. Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting. diagram: Adanya grafik. melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut. Dengan melakukan survey atau peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian pada saat membaca. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. 2. diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks. definisi. Tahap bertanya ini akan menyebabkan pikiran kita terlibat secara akthif dalam proses belajar sehingga akan membantu pemahaman dan mengingat. 4. Perhatikan grafik. Baca pendahuluan: Memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab. mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan. Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan. Misalkan kita membaca buku tentang ´Belajar di Universitasµ dan kepala judulnya adalah ´Gunakan Tempat Belajar yang Samaµ. Pertanyaan yang baik akan memberikan pemahaman yang lebih baik pula. mulai perhatikan kepala judul/sub bab yang biasanya dicetak tebal. Bacalah suatu subbab dengan tuntas. Pada saat membaca. Untuk kemudian nanti dapat dicek kembali. 3. Tulislah pertanyaan-pertanyaan ini pada suatu kolom dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca.3. . catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. Ini akan memperlambat anda dalam membaca.contoh dari konsep utama. Kita perlu memisahkan keterangan rinci dan contoh. yang mendukung ide pokok. Hal itu ditujukan untuk membantu kita memahami konsep utama. bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat. Read Dengan membaca. (2) jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Selain itu juga berbahaya. Perhatikan alat Bantu baca: Termasuk huruf miring. Pertanyaan yang dapat kita munculkan adalah ´Mengapa saya harus belajar di tempat yang sama?µ dan ´Di mana lokasi belajar saya sebaiknya?µ Kita dapat menambah pertanyaan pada waktu membaca. Question Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh. Baca kepala judul/sub bab: Memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran. yaitu : (1) jangan membuat catatancatatan. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu.

perlu diingatkan bahwa untuk memakai metode SQ3R. coba temukan mengapa kita menjadi binggung. misalkan untuk membaca pertama kali suatu bahan sebagai persiapan untuk kuliah. šKapan SQ3R dipakai ? Tidak ada teknik yang cocok untuk semua kondisi. Review Daya ingat kita terbatas. Kita dapat pula melakukan Recite dengan menuliskan butir-butir pemikiran yang penting dalam subbab tersebut. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab. kita perlu menekankan pada proses survey untuk memperoleh gambaran tentang kerangka berpikir. Tetaplah memelihara motivasi kita untuk belajar. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu. Bila kita belajar untuk menyiapkan ujian. berhentilah sejenak. . Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku. teruskan membaca subbab berikutnya. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. bacalah kembali paragraf tersebut. Dalam pemakaiannya. Jika masih mengalami kesulitan. Subbab seperti ini dapat membuat kita binggung bahkan mengalami frustasi. melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. Untuk buku jenis teks ini kita lebih baik memberikan waktu lebih banyak untuk mengerjakan soalsoal. Teknik ini membantu kita untuk dapat mengetahui kerangka suatu subyek. Review membantu kita untuk menyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. pada kesempatan itu. Sekalipun dalam waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan. Ingatlah keuntungan berupa pemahaman yang lebih baik yang dapat kita peroleh untuk jangka panjang. Dan cobalah menjawab pertanyaanpertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. Dengan melakukan proses Recite ini kita melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang di baca. Kadang-kadang ada masalah yang membuat kita bingung menjadi jelas pada subbab berikutnya. 4. Berapa lama untuk tahap ini ? anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. misalkan buku teks matematika. tandai subbab ini. Recite Setiap selesai membaca suatu bagian. Demikian juga dengan SQ3R. kemampuan kita dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. Bila kita menemukan paragraf yang membuat kita sulit untuk dapat melakukan proses ini. Bila ini terjadi berfhentilah sejenak. Oleh karena itu. Dan. Kalau upaya ini belum membuahkan hasil. proses review yang ditekankan sambil menambahkan pertanyaan (Question) sebagai bagian untuk mensimulasikan soal ujian. Jangan patah semangat karena waktu yang dibutuhkan lebih banyak. janganlah Anda lewatkan langkah terakhir ini: Review. Dengan teknik SQ3R diharapkan kita dapat memperoleh keuntungan maksimum dari waktu yang diberikan untuk membaca. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain. membantu kita memisahkan konsep utama dengan keterangan rinci dan membantu kita menetapkan sasaran belajar. Pengetahuan kita akan kerangka bahan akan sangat membantu kita membuat catatan kuliah di kelas. proses-proses dalam SQ3R ini dapat memperoleh tekanan yang berbeda tergantung pada kebutuhan kita. kita dapat juga mencoba menimbulkan pertanyaan lain. ulangi membaca bab itu sekali lagi. kita perlu latihan. teknik ini tidak cocok untuk buku teks dengan fokus untuk memecahkan masalah. anda dapat juga membuat catatan seperlunya.Proses membaca ini terkadang berlangsung sangat lambat terutama bila subbab mengandung informasi yang padat dan kompleks. SQ3R merupakan teknik yang tepat untuk memahami buku-buku teks yang memberikan banyak informasi dan mengharuskan kita mempelajarinya secara mendalam. 5.

dan mengatuk. sebagain besar orang percaya bahwa waktu yang baik untuk membaca. tenang dan rapih menurut kita sendiri. Namun membaca di sini diikuti oleh proses menelaah isi bacaan tersebut. 5. Bagian-bagian yang perlu diperhatikan adalah : . seperti pensil atau spidol. Tertarik dengan membaca kritis? Simak deh aturan main dalam membaca kritis di bawah ini : a.Bagian daftar isi. paragaraf akhir dan juga beberapa paragraf di tengah . 3. 2. Membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang tujuannya adalah mencari dan memahami ilmu yang terkandung dalam bacaan tersebut. di mana? dan bagaimana itu bisa terjadi? Dalam membaca kritis. Pastikan posisi membaca kita adalah posisi yang benar. 1. oleh siapa?. Waktu yang sesuai di sini adalah waktu di mana tidak terdapat gangguan. yaitu tempat yang terang. Simak deh tip-tip di bawah ini supaya tercipta suasana membaca yang menyenangkan. Siapkan juga hal-hal yang biasanya membantu kita dalam membaca. Waktu yang sesuai disini hanya kita sendiri yang tahu kapan. misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan apa itu?. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran umum mengenai bacaan tersebut. tidak bungkuk. Belajar dengan menggunakan metode membaca kritis akan menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. kapan?. bosan. komik. nyaman. tabel dan grafik yang memiliki gambaran umum mengenai bacaan tersebut. mengapa bisa terjadi?. dan pastikan jarak antara buku dengan mata kita kurang lebih 30cm. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah membaca terlebih dahulu bahan bacaan secara sepintas pada bagian-bagian tertentu saja. Kita tidak hanya diminta untuk memahami isi bacaan tapi juga diajak berpikir kreatif mengenai isi tersebut. Posisi yang benar pada waktu membaca adalah duduk dengan posisi badan tegak. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca. šBerbagai Cara Membaca Terdapat 3 cara umum membaca di dalam kehidupan sehari-hari dilihat dari apa tujuan proses membaca tersebut.Paragraf awal. 4. Namun. Bacaan yang mengandung unsur hiburan disini contohnya novel. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masingmasing supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat. Pilihlah tempat dan suasana yang sesuai untuk membaca. 3. sejuk. bersih. kita membuat bacaan sebagai lawan yang harus dikalahkan dengan cara mengetahui dan memahami seluruh isinya. khususnya buku pelajaran. šPersiapan Sebelum Membaca 1. sehingga pada saat membaca timbul rasa malas. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. majalah ringan dll. gambar-gambar.šCara membaca yang menyenangkan Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. Di zaman sekarang ini. Membaca di sini sama dengan membaca untuk mencari ilmu. Melakukan survei isi buku. Membaca kritis. . Pilihlah waktu yang menurut kita sesuai untuk membaca. baik dari luar maupun dari dalam diri kita. cerpen. Membaca sebagai hiburan tanpa perlu memeras otak terlalu keras. adalah di pagi hari. terutama membaca buku pelajaran. 2. kelihatannya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca.

minimal ada sebuah kata yang kita tidak tahu artinya dan beri tanda pada bagian-bagian yang tidak dimengerti tersebut. Cobalah kita tutup dulu bukunya. c. kemudian pikirkan apa yang sudah didapat dari bacaan tersebut. bagian demi bagian untuk menangkap pokok-pokok pikiran dari tiap bagian.. Menurut Keirl dan Miller dalam Moleong yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah ´tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri. Membaca. Pertimbangan penulis menggunakan penelitian kualitatif ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lexy Moleong: 1. Merupakan langkah terakhir kita dalam membaca kritis.Soal-soal yang mungkin terdapat dalam bacaan tersebut. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam. Membaca di sini sebagai langkah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses survei. penelitian adalah usaha untuk menemukan. Meninjau ulang. rinci dan tuntas. dan bandingkan dengan apa yang terdapat pada buku bacaan E. Tuliskan hasil pikiran tersebut dalam secarik kertas. Evaluasi. terutama untuk mengumpulkan data. di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Baca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. Jika belum. dokumen pribadi. b. e. dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannyaµ. Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya akan timbul pada saat kita melakukan survei. mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif. dan dokumen resmi lainnya. analisis data bersifat induktif. Merupakan langkah di mana terdapat pertanyaan apakah kita sudah menguasai bahan? Yakinkan bahwa kita sudah memahami bahan bacaan tersebut. METODE PENELITIAN 1. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apa bila berhadapan dengan kenyataan ganda . Jika tidak terdapat pertanyaan. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITAN Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian. Merupakan langkah dominan dalam metode ini. catatan lapangan. teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. digunakan langkah-langkah sebagai berikut: šPendekatan dalam Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Menurut Hadi.1 Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Membuat pertanyaan. usahakan cari apa yang kita tidak mengerti. Usahakan jangan pindah bagian jika kita belum mengerti dan memahami bagian tersebut. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. d. catatan memo. coba cari apa yang anda tidak mengerti dan temukan jawabannya. melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara.

namun berfungsi sebagai instrument pendukung. KEHADIRAN PENELITIAN Dalam penelitian ini. serta merupakan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti asrama untuk mahasiswa. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. termasuk tentang hubungan-hubungan. studi histories. sikap-sikap. peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. beserta jalan dan kotanya. kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti. Data sekunder juga dapat berupa majalah. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian4. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat.2. Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Universitas Islam Negeri Malang. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang Manajemen Pembelajaran di Universitas Islam Negeri Malang yaitu dengan cara wawancara dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. yaitu bahasa arab dan bahasa inggris. 50. dan merupakan universitas yang menerapkan dua bahasa pada mahasiswanya. yang berada di daerah malang. lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian. . serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Jalan Gajayana no. sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. Oleh karena itu. pandangan-pandangan. Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden 3. baik putra dan putri. buku harian. serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena3. 2. Malang. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan5. profesional. 4. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. dan mempunyai kedalaman spiritual. SUMBER DATA 1. dan sebagainya. Data sekunder Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi. hasil-hasil studi. buletin. publikasi dari berbagai organisasi. hasil survey. tesis. serta menerapkan sistem pembelajaran yang mengintegrasikan antara ilmu islam dan konvesional. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan. 3. 2. Data Primer Menurut S. notula rapat perkumpulan. sehingga mahsiswa menjadi isnsan yang cerdas.2 Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. Menurut Whitney dalam Moh. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan mahasiswa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Jawa Timur Universitas Islam Negeri Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi islam negeri. kegiatan-kegiatan.

dan berita yang disiarkan kepada media massa. kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Observasi lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan. Dalam penelitian ini. dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. majalah. karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. Tujuan penulis menggunakan metode ini. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. biografi. 2. sewaktu kejadian tersebut berlaku sehingga tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang. peneliti akan mengadakan wawancara dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang 3.7 Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. dokumen berupa laporan. Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal. perkembangan. buletin. aturan suatu lembaga masyarakat. maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif. tanpa menggunakan teknik kuantitatif. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas. Dalam kegiatan sehari-hari. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatancatatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. pengumuman. Observasi Langsung Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. instruksi. . foto. perilaku. memo. 6. ANALISIS DATA Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola. 1. gambar. kategori. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian. Dokumentasi Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan. pernyataan. komentar peneliti. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. artikel.5. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada mahasiawa Fakulatas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6. dan sebagainya.

Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu. meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi. perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan. dan pengecekan kecakupan refrensi. Kebergantungan (depandibility) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (3) tahap analisis data. 8. 3. penyusunan usulan penelitian. waktu. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi. Data tersebut diperoleh dengan observasi. Kepastian (konfermability) Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit. (2) tahap pekerjaan lapangan. . 7. meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan membaca pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. c) Tahap analisis data. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi. (4) tahap penulisan laporan··10. diskusi teman sejawat. dokumen maupun wawancara mendalam dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. (4) kepastian (konfermability)9. sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi. Kepercayaan (kreadibility) Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang. d) Tahap penulisan laporan. (3) kebergantungan (dependibility). (2) keteralihan (tranferability). Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman. TAHAP-TAHAP PENELITIAN Moleong mengemukakan bahwa ··Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. 2. penjajakan alat peneliti. kebiasaan membaca. wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya membaca. pengecekan anggota. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain : 1. b) Tahap pekerjaan lapangan. pengetahuan. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. PENGECEKAN KEABSAHAN TEMUAN Menurut Moleong ··kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility). meliputi kegiatan penentuan fokus. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki8. penyesuaian paradigma dengan teori. sumber. meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut : a) Tahap sebelum kelapangan. sering atau tidaknya membaca. konsultasi fokus penelitian. Menurut M. gambaran atau lukisan secara sistematis. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.

1991 Moh. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. M. analisis data. sumber data. pengecekan keabsahan data. 2003 Prof.A. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Jakarta 2004. Nasution. Dalam penelitian kuantitatif. 4. Format Proposal Penelitian Kualitatif 1. prosedur pengumpulan data. Dengan kata lain. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas. 6. . Apabila digunakan istilah rumusan masalah. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. dan berakhir dengan suatu ³teori´.wordpress. Ghalia Indonesia. Ph. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik.9. kehadiran peneliti. Metode Research. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. PUSTAKA Lexy J Moleong. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. 2. laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. 5. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. Bumi Aksara. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. Metode Penelitian (Jakarta: PT. PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF (SKRIPSI) Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.com 3. dan tahap-tahap penelitian. induktif. Nazir. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Dr. D. penelitian berangkat dari teori menuju data. dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. lokasi penelitian. Oleh karena itu. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. untuk maksud apa peelitian ini dilakukan. S. sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. http://skripsistikes.

kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. program. subjek. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. peneliti pernah bekerja di situ. penelitian tindakan. b. bagaimana karakteristiknya. e. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. partisipatoris. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala.com bagaimana data dijaring. kebudayaan. atau kritik seni (hermeneutik). siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. keunikan. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. format ringkasan rekaman data. dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. interaksi simbolik. dan suasana seharihari. Oleh karena itu.a. dan dengan cara http://skripsistikes. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). Dengan pemilihan lokasi ini. informan. misalnya observasi partisipan. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Selain itu juga dikemukakan orientasi http://skripsistikes.com teoretik. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. struktur organisasi. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. d. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. misalnya letak geografis. dan waktu.wordpress. misalnya fenomenologis. dan dokumentasi. studi kasus. c. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. atau pengamat penuh. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). . sumber data. interaktif. ekologis. sehingga kredibilitasnya dapat dijamin.wordpress. etnometodologis. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. grounded theory. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. pengamat partisipan. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. atau penelitian kelas. wawancara mendalam. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. atau peneliti telah mengenal orangorang kunci. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti.

f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahanbahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
http://skripsistikes.wordpress.com

g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. 7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit
http://skripsistikes.wordpress.com

Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penel itian

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK
Satu lagi postingan terbaruku, nah postingan kali ini menyagkut tentang karya ilmiah. ini bukan karyaku lho, jujur.. aku cuma ngetik doank wank wank wank. hari minggu tgl 15 kemarin aku apel ke rumah pacarku, 20 km ku kebut motor kesayanganku, sesampainya disana, eh... ga di kasih apa-apa malah disuruh bantu ngetik karya ilmiahnya, n katanya disuruh ngedit grammar indonesia yg hambur-hamburan.. capek deh gua.. asli capek. udah di suruh ngetik di suruh ngedit grammar lagi. ya udah ga papa kalo semua atas dasar cinta ga akan capek kata ibuku... suerrr dah.. walau dusuruh ngetik sejuta lembar capek gak akan terasa karena cinta. gombal.. gagagag ya udah langsung aja, dari pada karya ilmiah ini nganggur n menuhin hardisk lebih baik ku posting aja. siapa tau aja ada temen2 yg membutuhkan sebagai bahan referensi kalo mau penelitian, ya kan....?

KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK

Disusun oleh : Abdul Ghofur Dewi Fatmawati Ira Suprihatin M. Fitroh Al-Hadi Rahmat Effendi Sinta Purnamasari Sunadi Vina Sulistya Ningsih

MOTTO Orang yang kuat ialah yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah azza wajalla . ( HR. Syaddad bin Aus ).

HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini kami persembahkan untuk Kedua orang tua kami yang telah mencurahkan sentuhan kasih sayangnya dan yang telah mengasuh, merawat serta mendidik kami sehingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Segenap dewan guru yang tak henti-hentinya membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada kamiSemua teman sekelas XII IPS dan adik-adik kelas yang  kami sayangi

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah Swt tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya serta memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pengemban risalah suci, nabi Muhammad saw, yang telah banyak mengajarkan adab dan tatakrama dalam kehidupan, ilmu-ilmu agama dan lainnya sehingga kita khususnya umat muslim dapat lepas dari zaman yang suram, zaman yang penuh dengan kefasikan menjadi zaman yang penuh dengan rahmat tuhan. Karya ilmiah ini secara garis besar meneliti tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan karakteristik anaknya. Atas terselesaikannya karya ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kami. Demikian yang dapat kami upayakan, namun hal ini masih belum sempurna dan terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik yang berkaitan dengan isi maupun metode penyusunannya. Harapan kami tim penulis, semoga karya ilmiah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan karya ilmiah ini dikemudian hari. Manunggal Jaya, Maret 2009 Penulis Tim BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini sering kita saksikan tindakan kriminal atau perilaku-perilaku menyimpang baik itu disiaran televisi, Koran, radio, media massa dan lain sebagainya. Sebagian besar pelakunya adalah dari kalangan remaja. Seperti halnya kasus tawuran antar pelajar, miras, obat-obatan terlarang, bahkan pembunuhan yang bermotif dendam atau kecemburuan. Padahal anak itu masih dalam tahap perkembangan menjadi ( pubertas ) atau katakan saja masih bayi, bayi yang baru lahir kedunia ini belum mengenal apapun, ia masih bersih dan murni dan belum terpengaruh sedikitpin oleh suatu hal. Bagaimana dengan perkembangan bayi selanjutnya agar menjadi anak yang baik? Dalam hal ini orang tualah yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua dalam mendidik anaknya. Apakah pola yang mereka gunakan itu adalah yang tepat?, masalah ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, karena penerapan pola anak sangat menentukan perkembangan pribadi si anak. Merujuk dari kasus diatas, kelompok kami mengambil tema tersebut untuk dijadikan sebagai objek penelitian. Besar harapan kami agar penelitian ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua serta para orang tua atau calon orang tua tentang bagaimana mengasuh anak yang baik itu. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja macam-macam pola asuh orang tua itu? 2. Bagaimana pengaruh atau dampak pola asuh orang tua terhadap anak? 3. Pola Asuh yang bagaimana yang dapat mengganggu kepribadian anak? 1.3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam pola asuh orang tua 2. Mengetahui pengaruh atau dampak dari pola asuh orang tua 3. Dapat mengetahui penerapan pola asuh yang tidak baik

Adapun manfaat yang kami harapkan dalam hasil karya ilmiah ini adalah semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, menambah ilmu pengetahuan baru dan menjadi media pengingat bahwasanya penerapan pola asuh orang tua itu mempunyai pengaruh besar terhadap anak, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bijaksana. 1.4. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan karya ilmiah ini, metode penulisan yang kami gunakan yaitu : BAB I PENDAHULUAN, Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode serta penulisan BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODOLOGI PENELITIAN, Yakni mencakup tentang tempat penelitian, populasi, sampel, waktu penelitian dan metode penelitian BAB IV PEMBAHASAN, Yaitu mengenai pembahasan seputar jenis pola asuh orang tua dan dampakdampaknya terhadap karakteristik sang anak. BAB V PENUTUP, Meliputi kesimpulan dan saran.  BAB II LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN ORANG TUA Orang tua adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia baru ( anak ) serta mempunyai kewajiban untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak tersebut guna menjadi generasi yang baik. Orang tua mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual anaknya seperti:
y y y

Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar anak tidak tertekan. Mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup pergaulan yang benar. Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia baik-baik.

2.2. PENGERTIAN ANAK Dalam kamus umum bahasa Indonesia edisi ketiga susunan W.J.S Poerwadinata, anak itu dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu anak kandung atau anak dari darah daging sendiri. Anak angkat, yaitu anak yang bukan berasal dari keturunan asli atau anak orang lain yang di angkat dan diasuh sebagaimana anak sendri. Sedangkan anak tiri, adalah anak yang bukan anak kandung (anak bawaan suami atau isteri). Sebagian besar orang laki-laki atau perempuan beranggapan bahwa anak adalah karunia terbesar, harta yang paling berharga, cita-cita yang tinggi, serta belahan jiwa yang secara khusus diberikan oleh tuhan yang maha kuasa kepada manusia yang telah menanti-nantikan kehadirannya. Menurut kajian ilmu biologi, anak adalah hasil dari suatu proses tahapan yang bermula dari bertemunya sel kelamin jantan dan betina ( pembuahan ), lalu terbentuklah zigot yang bergerak ke uterus hingga terbentuklah embrio yang akan tumbuh menjadi janin. Janin tersebut akan tumbuh dan jika saatnya telah tiba maka akan lahir ke dunia menjadi seorang anak. Dalam ilmu agama islam disebutkan bahwa yang dinamakan anak adalah amanah allah swt yang harus dirawat, diasuh dan dipelihara hingga tumbuh menjadi dewasa. Sebelum anak tersebut dilahirkan kedunia, ia telah diberi ketetapan oleh allah yaitu meliputi 3 perkara antara lain umur, rizki dan jodoh. Supaya anak mampu mencapai kesempurnaan tersebut, maka allah swt memberi tugas kepada orang tuanya untuk membimbing anaknya dengan baik dan benar agar tidak menyimpang dari jalan ajaranNya

WAKTU PENELITIAN Penelitan ini kami laksanakan selama 1 bulan yaitu mulai tanggal 1 februari sampai tanggal 28 februari 2009. tata cara. 3. Melakukan penyusunan dan penulisan karya ilmiah. merawat dan mendidik. SAMPEL Selama penelitian. Melakukan observasi tentang pola asuh orang tua terhadap karakteristik anak. pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau sistem dalam menjaga. Selain itu.  BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.       . PENGERTIAN POLA ASUH ANAK Secara etimologi. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak : y y y y 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok A 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok B 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok C 3 keluarga dari warga Bangun Rejo Blok D Objek penelitiannya adalah sistem penerapan pola asuh orang tua terhadap anak dan karakteristik anak yang diasuh tersebut. Kami gunakan untuk hunting buku-buku di perpustakaan dan mencari informasi dari media massa. POPULASI Dalam penelitian ini kami mengambil populasi yaitu warga Desa Bangun Rejo Blok A hingga Blok D Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur 3. Sedangkan asuh berarti menjaga. 3. 1. pola berarti bentuk. y y y y Minggu Pertama. Observasi Metode observasi yang kami lakukan adalah melalui observasi nonpartisipasi ( observasi tak terlibat ).3.2. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif. 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut : Pustaka Yaitu dengan menelaah.2. mempelajari dan meriset ke perpustakaan dari berbagai sumber bukubuku yang mempunyai keterkaitan dengan tema karya ilmiah ini. Minggu Keempat. kami berhasil mengumpulkan beberapa sampel.1. merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu.5. Melakukan study pustaka dengan menelaah berbagai informasi yang berkaitan dengan tema penelitian. Jika ditinjau dari terminologi. kesibukan serta kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dari jarak tertentu. merawat dan mendidik. Minggu Kedua.4. Gambaran objek yang kami peroleh dari lapangan adalah dengan cara mengamati pola perilaku. observasi yang kami lakukan yaitu dengan menganalisis dari isi media massa seperti artikel-artikel dan internet yang berkaitan dengan sistem pola asuh orang tua serta dampaknya terhadap karakteristik seorang anak. TEMPAT PENELITIAN Dalam penelitian ini tempat atau wilayah yang kami teliti adalah kawasan Desa Bangun Rejo L III Blok A sampai Blok D Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.3. Minggu Ketiga.

Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. dan kooperatif terhadap orang lain. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi. padahal mungkin ia sudah bisa memberi pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi anggota keluarga yang lain. 4. berkepribadian lemah. gemar menentang. kurang mandiri. DAMPAK / PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK 1. bahkan ada yang sampai menjadikan anak-anak mereka sebagai objek kekerasan atau pelampiasan amarah. suka melanggar normanorma. sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya. dapat mengontrol diri. kalau tidak mau makan. yaitu : 1. yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. dan akan sulit bagi dirinya untuk cepat menjadi dewasa. 3. maka tidak akan diajak bicara. agresif. tidak berinisiatif. . Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anakanak mereka. Pengaruh Pola Asuh Penelantar Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak yang moody. tidak mau mengalah. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. 4. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. karena perbuatan yang ia lakukan selalu diremehkan oleh orang tuanya. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti dan mengenal anaknya 3.BAB IV PEMBAHASAN 4.2. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA Menurut Baumrind ( 1967 ). mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. Misalnya. Pola Asuh Penelantar Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. kurang bertanggung jawab. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya. Ada pula sebagian anak yang terus-menerus dipandang sebagai anak kecil. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Pendekatan Orang tua Yang Negatif Ada orang tua yang menyikapi anak-anaknya dengan cara yang negatif.1. mau menang sendiri. Pola Asuh OtoriterPola asuh otoriter adalah kebalikan dari pola asuh demokratis. pendiam. tertutup. memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua. cemas dan terkesan menarik diri. manja. impulsif. self esteem ( harga diri ) yang rendah. Pengaruh Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anakanak yang mandiri. waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. mampu menghadapi stress. tidak patuh. tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. Jika anak sudah memasuki usia remaja namun masih saja disikapi atau diperlakukan seperti anak kecil maka akan muncul kekecewaan yang mendalam pada diri anak tersebut. agresif. Pola Asuh Secara Demokratis Pola asuh secara demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. mereka merasa tak dihargai sebagai manusia. Orang tua tipe ini juga bersifat realistis terhadap kemampuan anak. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini. kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. Pengaruh Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. 4. 2. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru. 2. dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah.3 PENDEKATAN ORANG TUA YANG BERPOTENSI MENGGANGGU KEPRIBADIAN ANAK Berikut ini adalah dua sisi pendekatan atau cara mengasuh orang tua yang mempunyai potensi dapat mengganggu kepribadian anak yaitu : 1. memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Pola asuh orang tua dikelompokkan menjadi 4 macam. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. akibatnya si anak jadi merasa tak berarti dalam hidup. 4. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa. dan sangat sedikit bimingan yang diberikan oleh mereka.

The Lost Boy. terkadang permasalahannya lebih serius. BAB V PENUTUP A. kecuali bila kasusnya ditangani secara serius hingga tuntas. Selain diperlakukan tidak adil. mereka ini cenderung akan bersikap arogan. Orang tua seperti ini kemungkinan mengalami gangguan jiwa dan perkembangan anak akan terhambat oleh perbuatannya tersebut. Penganiayaan yang dialami oleh Pelzer sebagai seorang anak sangat sulit untuk dibayangkan. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah terurai diatas dapat kami tarik kesimpulan. karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri. pergaulan bebas. seolah ia bukan anak kandung dalam keluarga tersebut. tidak diberi makan sampai terpaksa harus mengorek-ngorek tong sampah demi mendapatkan makanan. malas dan merasa tidak perlu bekerja keras dalam hidup serta kurang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia perbuat. ada juga yang justru bersikap terlalu positif. dan tentu saja sang anak menderita problem psikologi yang serius dimasa mendatang. tetapi mereka tidak tahu cara mendidiknya.Ada juga anak-anak yang disikapi secara tidak adil oleh orang tuanya. Pelzer ternyata bisa hidup normal. dan A Child Called Dave . Hal tersebut merupakan titik terberat dan sangat serius. ia mengalami berbagai siksaan yang sulit dan panjang. sementara ia sendiri diperlakukan secara berbeda. disuruh memakan kotoran adikya sendiri. Hendaknya orang tua lebih bijaksana kepada anak serta mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anaknya. malah ia menjadi seorang yang sukses dan hidupnya dan lebih berhasil daripada kebanyakan orang yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga normal. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menganiaya anaknya sekejam itu. Seperti sebuah contoh pengalaman-pengalaman yang dialami oleh david Pelzer yang kemudian ditulis dan dibukukan oleh dirinya sendiri dan diberi judul A Child Called It. Karena orang tua adalah tempat curahan hati seorang anak. buku-buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup sang penulis sebagai korban Child Abuse Penganiayaan Anak yang kedua terburuk di Negara bagian Amerika. Saran Beberapa saran yang ingin tim peneliti sampaikan kepada segenap pembaca. sekiranya dapat dijadikan bahan introspeksi diri agar dapat menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya kelak. bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. B. maka jadilah orang tua yang mampu dijadikan sandaran yang baik bagi anak. Pilihlah pola asuh anak yang baik agar anak yang diasuh dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakteristik baik y y y   . Hal ini tentu sangat menyakitkan si anak dan dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan hal-hal yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkoba. tawuran dan lain sebagainya. Mereka dijadikan pelampiasan emosi orang tua. dianiaya setiap hari. Hendaknya orang tua lebih memahami nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan mengajarkan hal tersebut dengan sosialisasi yang baik kepada anaknya. Mereka sangat sayang terhadap anak-anaknya. Ia seolah tidak dianggap manusia. Oleh sebab itu orang tua harus benar-benar mawas diri dan bersungguh-sungguh dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta norma-norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar. Hingga kemudian dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak Negara setelah melalui proses penyembuhan yang cukup lama. yaitu menganggap bahwa dirinya saja yang paling benar. bahkan tidak sedikit pula mereka menjadi korban nafsu syahwat orang tuanya sendiri. semua anggota keluarganya mendapat perlakuan yang baik. Orang tua yang terlalu baik Selain orang tua yang bersikap negatif pada anak-anaknya. yaitu : y Hendaknya orang tua tidak egois. mendekati miras. tetapi itulah yang terjadi. 2. bahkan nyaris mati ditangan ibunya sendiri. Tidak sedikit anak yang dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Hal yang perlu dituturkan disini karena pengalaman dilapangan menunjukkan betapa banyak anak-anak yang dimanjakan dan memperoleh fasilitas yang lebih dari orang tua mereka. sehingga akhirnya sang anak jadi manja.

SMA YPM DIPONEGORO. Tgl lahir : Tenggarong.MTS AL-IKHSAN Separi Besar. Kertabuana. Tgl lahir : Kutai. Tenggarong Seberang 2. 16 Januari 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .RIWAYAT HIDUP 1.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 5. 25 Mei 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . 23 Februari 1991 Jenis Kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .SDN 021 L II Blok C. 12 Agustus 1991 Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SDN 016 SEPARI IV. Tenggarong Seberang .SMA YPM DIPONEGORO. Tenggarong Seberang 3. Tamat Tahun 2003 . Tamat Tahun 2003 . Nama : Vina Sulistya Ningsih Tempat. Nama : Abdul Ghofur Tempat. Tamat Tahun 2006 .SDN 004 Bukuan.SMP YPM DIPONEGORO. Tgl lahir : Kediri. Tgl lahir : Ds. Tamat Tahun 2003 . Tamat Tahun 2006 . Nama : Ira Suprihatin Tempat. Tamat Tahun 2003 .SMP 20 Bukuan. Tamat Tahun 2006 . Fitroh Al-Hadi Tempat. Tamat Tahun 2006 .SMA YPM DIPONEGORO. 20 Desember 1991 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan : .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Tamat Tahun 2006 .SMA YPM DIPONEGORO. Tenggarong Seberang 4.SDN 016 Separi IV.SDN 011 L4 Blok C II. Tamat tahun 2003 .SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Nama : M. Tgl lahir : Tenggarong. Nama : Dewi Fatmawati Tempat.

Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orang Tuanya. Label: KARYA ILMIAH PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK ANAK . Bumi Aksara. Laura dan. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas X. 13X . Jakarta : PT. 2006. Untuk 13X .6. J. Alwi. Jakarta : PT. Sosiologi .SDN 010 Bangun Rejo. Tamat Tahun 2006 . 13 Februari 1990 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan .SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang 8. 2005. Muhammad. Tenggarong Seberang 7.SMP YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang. Nama : Rahmat Effendi Tempat.SMPN 1 Tenggarong Seberang. Anak . Psikologi Remaja.SMA YPM DIPONEGORO Tenggarong Seberang DAFTAR PUSTAKA Alatas. 2005. Sosiologi Keluarga. Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat Kelas XII. Tgl lahir : Kertabuana. 1989. 2007. 2007. 12 Desember 1991 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Alatas. 7 Agustus 1990 Jenis kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Kewarganegaraan : Indonesia Pendidikan . Remaja Juga Bisa. Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Nama : Sinta Purnamasari Tempat.SDN 011 L IV Tamat Tahun 2003 . Jakarta : yudistira.SMP YPM DIPONEGORO. Bumi Aksara. Jakarta : Penerbit Pena. Lein. Tim Sosiologi. Nama : Sunadi Tempat. Tim Sosiologi.SMA YPM DIPONEGORO. Gode. Tgl lahir : Pendingin. Ali. Sosiologi . Tamat Tahun 2003 . Tgl lahir : Madiun.SDN 011 SP 1 Tamat Tahun 2003 . Jakarta : yudistira. william. Tamat Tahun 2006 . Tamat Tahun 2006 . Alwi. 2006.

Script.115. Berdasarkan kenyataan diatas permasalahan yang diteliti adalah Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi.085). M..515) dengan status gizi.HUBUNGAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4±12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDANG KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang Oleh Endang Suwiji NIM 6450402116 FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2006 ii ABSTRAK Endang Suwiji.001.499). Fakultas Ilmu Keolahragaan.S.001.59% kurang. dan praktek penyapihan sebagai variabel bebas dan status gizi pada anak balita sebagai variabel terikat. Berdasarkan hasil penelitian.C=0. Hasil perhitungan menunjukkan ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal(p=0. praktek pemberian ASI 47. Dari hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45. praktek pemberian ASI (p=0.556). 2006. praktek pemberian MP-ASI.34%.001.06% sedang.001.572). =0. . Dan pada tahun 2005 terdapat 1. praktek pemberian makanan pendamping ASI 57.. praktek pemberian ASI.35% sedang.8% balita gizi buruk. Sport Science Faculty. 12. dan praktek penyapihan 79. Skripsi. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4±12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh gizi.12% tidak diberikan. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara menggunakan angket. praktek pemberian MP-ASI (p=0. SKM. demikian juga dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang.41% belum disapih. status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 45. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saran yang dapat penulis ajukan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar dan bagi petugas penyuluhan di Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. Universitas Negeri Semarang. Analisis data menggunakan statistik chi square.7% balita gizi kurang. Sutardji.59%.38% pada tahun 2003 sampai 2004. M. The Association Take Care Pattern of Nutrition with Nutritional Status at Children 4-12 Months Old in the Work Zonal of Medang Public Health Center Blora Regency on 2006. praktek pemberian kolostrum 44.C=0. Sampel berjumlah 68 balita dan dipilih secara random sampling. 2006. Pembimbing I : Drs. praktek pemberian kolostrum. Pembimbing II : Irwan Budiono. Status Gizi Data hasil survey BPS Semarang 2004 menunjukkan tingginya angka prevalensi gizi kurang 2.C=0. praktek pemberian kolostrum (p=0. SKM. yang meningkat dari 12.S. Sutardji. Kata Kunci : Pola Asuh Gizi. Study Program of Public Health Science.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. Teacher I : Drs. teacher II : Irwan Budiono .76% kurang.16% menjadi 15. Adapun praktek penyapihan tidak menunjukan adanya hubungan dengan status gizi balita (p=0. =0. iii ABSTRACT Endang Suwiji. State University of Semarang. Populasi penelitian ini adalah balita usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. Sedang praktek pola asuh gizi yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 36.

Kes (Ketua) NIP.59% was under nutrition. DR. The data analysis was using the statistical of Chi. Irwan Budiono. there was 1. Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari cara berpikir kita kemarin.001. the gift practical of colostrum.572). Based on the reality above. the gift practical of colostrum 44. nutritional status of children 4-12 months old at work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency 45. The sample were consist of 68 childrens and it chose in random sampling.7% childrens of under nutrition.001.35% was middle.76% was less. and the wean practical such as independent variable and nutritional status at children such as dependent variable. the gift practical of breastfeeding nearing food 57. The variables that studied in this study were take care pattern of nutrition.Pd Drs. Hati yang terang akan senantiasa berada dalam suasana damai dan mendamaikan. And on 2004. =O. dr. 131695159 2. Drs. iv PENGESAHAN Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari : Senin Tanggal : 4 September 2006 Panitia Ujian Ketua Panitia. Kelemahan terbesar adalah menyerah. M.C=0. The calculation result showed that any positive association between the gift practical of prelactal food or drink (p=0. 131469639 NIP. The aim of this study was to known the association take care pattern of nitrition status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency.06% was middle. The survey result data of Semarang Statistical Center Agency 2004 showed the high prevalence of under nutrition 2. the gift practical of breastfeeding nearing food (p=0. =0.Keyword : Take Care Pattern of Nutrition. so the report result of Blora regency Health Departement showed too the high prevalence of under nutrition. The suggestion that can proposed by writer for Babe¶s Gave Birth Hospital officer and public health center officer that helpchildbirth are hopped to give knowladge for mothers so she does not giving food or drink before breastfeeding to go out and for the torching officers at public health center are hopped to entering about colostrum in the tourching programs that it had been. that inflate from 12. 2.34%. The data collecting was using method of observation and interview that use questionnaire. 1. Based on the study result. the problem that studied was there any association nutritional status of children 4-12 months old at the work zonal of Medang Piblic Health Center Blora Regency with take care pattern of nutrition.515) with nutritional status.C=0. it could known that under nutrition prevalence at children 45. 130523506 3. 12. 132308392 v MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : 1. was not gave.38% on 2003 untill 2004. the gift practical of breastfeeding nearing food. C=0.001. SKM (Anggota) NIP. From the study result at Medang Public Health Center Blora Regency.41% was not weaned. Nutritional Status. Oktia Woro KH. the gift practical of breastfeeding 47.Square. (Aa Gym) 3. 131571549 Dewan Penguji. Sutardji. 2004:26). Kehidupan besok akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan hari ini (Maxwell. Sekretaris.556). includes the gift practical of prelactal food or drink. The population of this study were children 4-12 months old that lived at the work zonal of Medang Public Health Center Blora Regency consist of 211 childrens.115.8% childrens of bad nutrition.16% become 15.001. and the wean practical 79. MS NIP. the gift practical of breastfeeding. the gift practical of colostrum (p=0. jalan paling pasti menuju sukses .085). Khomsin.59%. The wean practical did not showed there any association with nutritional status of children (p=0. tenang dan menenangkan. Herry Koesyanto.499).12%. the gift practical of breastfeeding (p=0. tentram dan mententramkan. M. Where as the practical of take care pattern that consist of the gift practical of prelactal food or drink 36. MS (Anggota) NIP.

... Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini sehingga selesai vii Semoga amal baik dari semua pihak..... xi DAFTAR GAMBAR.. v KATA PENGANTAR ................................................ 4........ Bapak dan ibu tercinta yang telah berjuang dan berdo¶a demi keberhasilanku................................Kes........... MS....................................................................... bantuan dan dorongan dari berbagai pihak........................................... Keaslian Penelitian............ Teman IKM 02´ yang tak terlupakan........................................................................... Sutardji. ( Thomas A............. xii DAFTAR LAMPIRAN. Oktia Woro K.......... Ruang Lingkup Materi.......... dr.............................................................1.... Agustus 2006 Penulis viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................ vi DAFTAR ISI....2...............................................6.. selaku Kepala Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang telah memberikan ijin penelitian bagi penulis.. 6.................................................... Gati............................................. diharapkan adanya penelitian yang sejenis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca............. vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya............ 8 1............ 5............ 10 1..... Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1..3...... Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah berkenan memberikan ijin penelitian dalam penyusunan skripsi ini dan selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi. dr... Danik dan semua)´ atas keceriannya 5................... 7 1... ii HALAMAN PENGESAHAN..... Rumusan Masalah..... Ruang Lingkup Penelitian.........adalah selalu mencoba sekali lagi........................H........... SKM......................3... Proe......5. M............................. 10 ............................6...... mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT........................ xiii BAB I PENDAHULUAN....................... 10 1...... sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat menyelesaikan studi pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat...... Abdul Hadi................................ Drs......... Almamater Universitas Negeri Semarang..... Edison) Persembahan : Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1..................................... 3.. Teman kost ³Panji Sukma I lantai 2 (Lucas.............. 6 1.................. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN...................................... 10 1... 4........... Ruang Lingkup Waktu ....... 6 1............................. Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya 2................ Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penyusunan skripsi.....................4......6.................. Latar Belakang ..... Manfaat Hasil Penelitian...................1........... Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini.....................6....... i ABSTRAK............................................ 3................................. 1 1.. Akhirnya disadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna........................... Adikku Im dan Susi yang selalu memberikan motivasi........................... 2........................ Ruang Lingkup Tempat ........... Fakultas Ilmu Keolaragaan yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 4-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang kabupaten Blora Tahun 2006´ Penyusunan Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat kerjasama.................. Irwan Budiono.. 1 1................. Tujuan Penelitian .............. viii DAFTAR TABEL.....2.................... Cemot......................................... Semarang.....

.................................................... 46 3..... 30 3........4 Praktek pemberian MP-ASI.................. 37 3............ 41 3............................. Penilaian Status Gizi ................1..............1.......................2...... 11 2. Karakteristik Responden ........ Teknik Pengumpulan Data.... 51 10....................1....BAB II LANDASAN TEORI .................. 43 3........................... 26 2.... 50 8........................1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal..2.................................................. Distribusi Praktek Penyapihan .......................... 11 2...........1.......................... Sampel Penelitian ..............6.................................... 47 3............ Definisi Operasional ..... Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum .............................................1.1...................................5 Praktek penyapihan ...4.... 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........5...1....................................... 46 3.... 51 9........................ 49 7...............5...................1.....1............ 49 4.......................................................... 11 ix 2.................................................................... 36 BAB III METODE PENELITIAN . 44 3...2 Praktek pemberian kolostrum.. Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal.....6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi ..............2................................ Distribusi Status Gizi Balita... 24 2............. 69 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Gambar Halaman 1..............1................8............................................ Instrumen Penelitian .. TB/U dan BB/TB....1....................... 33 2.............................. 37 3........2................. Saran ...................... 40 3.................................... 7 2..............2......................................................................................... 27 2..................... Populasi dan Sampel penelitian ..1....................................................................... Analisis Univariat................ 46 3.....1. 48 4.......... 18 2................................................. 60 BAB V SIMPULAN DAN SARAN.................................... 39 4....................3..1.......1. Data Primer........ 41 3..... Pola Asuh Gizi .......................................7...................1..............3......... 30 2.......................... Status Gizi...........7.................................................. Kerangka teori ..........................................................2.............................1......... 14 2.............................................. Landasan Teori ......................................................3....... 26 2...... Analisis Univariat ......... Definisi Operasional ........ 48 5........................ Distribusi Umur Responden......................... 13 2.............. Klasifikasi Status Gizi menurut WHO-NCHS.1.....2....... 52 11............ 41 x 3.............................5........... Analisis Bivariat .......................... Anilisis Bivariat........................ Pengertian Status Gizi..1............5..................................2................. 67 5............................1........................ Wawancara dengan menggunakan kuesioner.................................... Keaslian Penelitian........7 Hubungan pola asuh Gizi dengan Status Gizi....1....................... Macam-macam Status Gizi dan Penyakit yang berhubungan dengan Status Gizi ........................... Kerangka Konsep..........1............8....... 43 2.............................1.........8.............. 53 12................ 43 1.......................... 48 4................2.................................... Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita............1.................................................. Simpulan ................. 20 2.. Macam Status Gizi dengan Indikator BB/U...1... 48 4......... Antropometri Indeks BB/U ........... 67 5...................1............ Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI ..........................6....................3 Praktek pemberian ASI .................................1.......... Popukasi penelitian.Hasil Penelitian .........................................................................2...... 11 2. 43 3... 53 4................................... 39 3...................................................1..........................1............................1................. Validitas Instrumen...........1.......... Distribusi Praktek Pemberian ASI ............ Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal dengan ... Reliabilitas .......4........1.......1...2... 29 2....................Pembahasan ....6...........................................1...2..................... 49 6.................2... 46 3.......2.............................................................2........ Jenis dan Rancangan Penelitian ........ Distribusi Jenis Kelamin Responden ..................2.................................... Hipotesis ... 68 DAFTAR PUSTAKA ............ Data Skunder ......7................. Teknik Analisis Data ............................ 38 3. 17 2.............................................2.........................................

............. tingkat pendapatan keluarga. Dalam menciptakan SDM yang bermutu.............. khususnya anak balita.......................... 86 10....... perkembangan............ kata kunci pembangunan bangsa di negara berkembang............ 2004:70).. 101 xiv 1 BAB I PENDAHULUAN 1.. Selain itu status gizi juga dapat dipengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup...... cerdas....... Surat Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Blora........ 91 13....... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian Makanan Prelaktal ... 88 12........................................................................................... 74 5... Kerangka Konsep........................................... rawan terhadap penyakit........................... 73 4.. Data Hasil Uji Coba Kuesioner dan Nilai rTabel ............... 55 14.. 87 11............ 96 14........................ Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian MP-ASI. Masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat.................................. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi.... Data Hasil penelitian .............. Analisis Chi Square............. termasuk di Indonesia adalah Sumber Daya Manusia (SDM)............. 54 13.................. 56 15................................................. kolostrum................. Terciptanya keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM yang baik.......................... 85 9..................... menyusui secara eksklusif dan praktek penyapihan........................... pemeliharaan dan aktivitas.................. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Soegeng Santoso...... tingkat pendidikan ibu................. Deskripsi Data Hasil penelitian ................. 72 3..................... Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi .................... 83 8.......... Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian..... dipengaruhi beberapa faktor antara lain: penyakit infeksi. 77 7.. tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu...... pelayanan kesehatan..... Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan......................................... budaya pantang makanan.... Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan.................................................... Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi.. Menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI. pertumbuhan dan perkembangan anak. Lebih lanjut praktek penyusuan dapat meliputi pemberian makanan prelaktal........................................................ 58 16.............. dan pola asuh gizi...................................... Instrumen Penelitian .. Tabel Silang Prakyek Penyapihan dengan Status Gizi .............. Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi.....Status Gizi ........................... Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ................ Surat Ijin Penelitian dari Fakultas . Menurut Suhardjo (1986:33) anak±anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga lainnya dan anak yang kecil biasanya ... dan terganggunya mental anak... Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket Pemberian ASI..... Gizi sangat penting bagi kehidupan..... Kerangka Teori................... Tabel Rujukan BB/U menurut WHO-NCHS... pendapatan keluarga................. jumlah anggota keluarga..... Surat Keterangan Selesai Penelitian .................................................................. Praktek pola asuh gizi dalam rumah tangga biasanya berhubungan erat dengan faktor pendapatan keluarga.......................1 LATAR BELAKANG Sejak Dasawarsa 1990-an........................ dan produktif........ menurunnya tingkat kecerdasan.......... 75 6.... Daftar Populasi dan Sampel............... 36 2......................... 71 2..... 100 15..................................... 37 xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1................... konsumsi makanan.............................. Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat.............. perlu ditata sejak dini yaitu dengan memperhatikan kesehatan anak-anak.......... 59 xii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1....................

Pada tahun 2003 jumlah kasus balita dengan status gizi kurang mencapai 12. maka perhatian ibu terhadap pemeliharaan atau pengasuhan anak yang pertama akan dapat berkurang setelah kehadiran anak berikutnya. Laporan terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora berupa hasil penimbangan serentak balita Puskesmas bulan Agustus 2005 terdapat 1. dapat dijelaskan bahwa keadaan gizi masyarakat Jawa Tengah seperti yang tercermin dalam hasil penimbangan balita adalah sebagai berikut.448 dengan rincian yang naik berat badannya 1. prosentase jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 15.1% dan gizi buruk sebanyak 1.6%. Keadaan diatas akan lebih buruk jika ibu balita memiliki perilaku pola asuh yang kurang baik dalam hal penyusuan.paling terpengaruh oleh kurang pangan. padahal anak tersebut masih memerlukan perawatan khusus (Maryati Sukarni. Dari hasil laporan dinas kesehatan Kabupaten Blora (2004). dan bayi usia > 12 bulan dikawatirkan ibu lupa terhadap riwayat pola asuh gizi yang telah diberikan di masa lalu. 23 diantaranya mengalami rawan gizi dan tingginya angka gizi kurang pada bayi dan balita. Hal ini dapat terjadi juga jika jarak antara anak pertama dengan anak kedua kurang dari 2 tahun. pekerjaan dan seleranya.38 %. Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan laporan (RR) program dari Badan Pusat Statistik (BPS) Semarang. 1994:16).993. Sebab dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda perlu zat gizi yang relatif lebih banyak dari pada anak-anak yang lebih tua.16 %. mempunyai pengaruh terhadap kesakitan anak selain struktur keluarga.7% balita gizi kurang.575.12. Pada umumnya perilaku ini dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan gizi yang dimiliki ibu. Pola asuh yang berhubungan dengan perilaku kesehatan setiap hari. karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang jumlahnya besar. ditambah juga diperlukan makanan khusus untuk balita sebagai MP-ASI.03 %) dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 46. untuk gizi kurang sebanyak 17.486 anak (79. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan. Tidak semua anggota keluarga menyukai jenis makanan yang sama. Dari hasil penimbangan dapat diketahui status gizi balita. artinya dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Blora. Dengan demikian anak-anak yang lebih muda mungkin tidak diberi cukup makanan yang memenuhi kebutuhan gizi. anak-anak dapat menderita oleh karena peghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. Keadaan gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang dilaporkan pada bulan Februari 2006 bahwa jumlah balita dengan usia 4-12 bulan sebanyak 176 anak. 2003:18). Dalam keadaan tersebut tentunya reaksi ibu akan berbeda-beda. . Kecil kemungkinan seorang ibu rumah tangga menyediakan jenis makanan yang berbeda-beda setiap hari sesuai keinginan tiap anaknya.816. Semakin banyak jumlah anggota keluarga. Dari hasil data BPS tentang jumlah kecamatan rawan gizi dan status gizi bayi dan balita Propinsi Jawa Tengah juga dapat dijelaskan bahwa di Kabupaten Blora hanya ada satu kecamatan yang bebas rawan gizi. Contoh dalam keadaan anak sakit.8% balita gizi buruk. maka dapat dipastikan terjadi kekurangan makanan yang bernilai gizi dan juga tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (Soekidjo Notoatmodjo. Dalam hal ini faktor selera dari masing-masing anggota keluarga sangat berpengaruh. Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah balita usia 4±12 bulan dengan alasan : Bayi usia < 4 bulan belum menyelesaikan program ASI eksklusif.676 anak (2. Data tersebut menunjukan bahwa di Jawa Tengah masih banyak balita yang status gizinya berada di bawah standar. Sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. secara relatif harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas.34 %). Di dalam keluarga besar dengan keadaan ekonomi lemah.199 dan jumlah tersebut yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 1. pemberian MP-ASI serta pembagian makanan dalam keluarga. menyebutkan bahwa di Kabupaten Blora jumlah kasus balita dengan status gizi kurang masih tinggi. data tahun 2004 menunjukkan jumlah balita yang ada 2. tentunya akan semakin bervariasi aktivitas. Hal ini memudahkan penularan penyakit menular dikalangan anggota-anggotanya. yang hadir dalam penimbangan sebanyak 154 anak.

3. Berdasarkan uraian latar belakang di atas.8% balita gizi buruk . peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan alasan sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. 3) Menguji hubungan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. pada tahun 2004 mengalami peningkatan prosentase menjadi 15. praktek pemberian kolostrum.1 Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat manjadi masukan dalam pengelolaan program gizi di wilayah kerja Puskesmas Medang Blora.4 MANFAAT HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. praktek pemberian ASI. maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : ³Apakah status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora ada hubungannya dengan pola asuh gizi?´ 1. 1. 1.1 Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita untuk dijadikan sebagai informasi program penyebarluasan dan penyuluhan tentang pengolahan gizi dalam keluarga dan dampak yang diakibatkan karena masalah gizi pada anak balita. praktek pemberian MP-ASI. buruh.1 Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh peneliti dari perkuliahan. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1234567 1.Berdasarkan uraian di atas.4.16%. 1. Rata-rata pendidikan ibu rendah. dan praktek penyapihan pada bayi. 12. praktek pemberian MP-ASI. dan pengetahuan ibu tentang gizi kurang.3. Dari sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora sebagai bahan skripsi dengan judul ³Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status gizi pada Balita Usia 4± 12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006³. 2) Mendeskripsikan status gizi balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora. dan serabutan. 1.3 TUJUAN PENELITIAN 1. praktek pemberian ASI. 1.4.2 Tujuan Khusus 1) Mendeskripsikan pola asuh gizi yang meliputi praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.7% balita gizi kurang. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbu han . 1.4. praktek pemberian kolostrum.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora.2 RUMUSAN MASALAH Data diatas menggambarkan tingginya kasus balita dengan status gizi kurang dari tahun 2003 yang mencapai 12.5 KEASLIAN PENELITIAN Tabel 1 Keaslian Penelitian No.38% dan tahun 2005 terdapat 1. praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4± 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten blora.

3.449). praktek pemberian kolostrum. Hubungan antara pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita Kurniati Ninik Asri .069. Amy Prahesti 2001 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Case Control 1.R 2003 Wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi .(Growth Faltering) pada anak usia 0-12 bulan.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal. yaitu : Praktek pemberian kolostrum (nilai p=0. OR=4. Variabel yang lain tidak menunjukan hubungan. 1234567 2.01. Hubungan pola asuh gizi dengan perkemban gan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagar Agung Provinsi Sumatera Selatan. pola Variabel yang menunjukan hubungan dengan growth faltering adalah : Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (nilai p=0.

OR=1. Tidak ada hubungan praktek penyapihan dg perkembangan bayi (0.Perkembangan bayi.365.246).697) Ada hubungan riwayat pemberian makanan/minuman prelaktal dg perkembangan (p=0. pola pemberian MP-ASI.025) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg perkembangan bayi (p=0. 2005 Betokan Demak Cross Sectional Cross Sectional pemberian ASI. OR=2. dan praktek penyapihan. Tidak ada hubungan antara pendapatan dg status gizi Ada hubungan antara pola .893).812.672).509). Pola pemberian ASI (nilai p=0. masukan zat gizi dan praktek penyapihan. praktek pemberian kolostrum. 2. Gangguan pertumbuhan 1.Pola asuh gizi yang meliputi: praktek pemberian makanan/min uman prelaktal.237. praktek pemberian MP-ASI.039) Ada hubungan pola pemberian ASI dg perkembangan bayi (p=0. Pendapatan keluarga 2. masukan zat gizi (nilai p=0. Pola Asuh gizi 3.011) Ada hubungan riwayat pemberian kolostrum dg perkembangan bayi (p=0. 2.Sumatera Selatan. praktek penyapihan (nilai p=0. Status gizi OR=2. pola pemberian ASI.028). 1. OR=1.

MP-ASI. keempat dan kelima ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum.898) Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan seperti terdapat pada tabel diatas. 5. R=3. Kalibawng. Kejadian KEP 1. oleh . ASI.027.265) Ada pengaruh status pemberian ASI terhadap status gizi (tingkat kemaknaan 0. Status Gizi Ada hubungan pola pemberian ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. Etty Dwi Lastani 2004 Muktiharjo Kidul Kec.024. Theresia Spika N. selain itu dalam penelitian tersebut di atas terdapat hasil yang kurang konsisten. penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dalam hal waktu dan tempat penelitian. ketiga. status gizi dan kejadian KEP. Pola pemberian ASI 2. 1234567 4. ASI Eksklusif 2. R=0.asuh gizi dengan status gizi anak balita. ASI. DIY Cross Sectional Case control 1.023. dengan perkembangan bayi. R=0. Kulon Progo. Hubungan pola pemberian ASI dan MP-ASI dengan kejadian KEP pada bayi usia 412 bulan Pengaruh status pemberian ASI thd status gizi bayi usia 411 bulan. Pola pemberian MP-ASI 3. Pedurungn Kota Semarang 2001 Kec. Sedangkan pada penelitian kedua. seperti pada penelitian pertama terdapat hasil tidak ada hubungan antara praktek pemberian kolostrum.266) Ada hubungan pola pemberian MP-ASI dg kejadian KEP (nilai p=0. asupan zat gizi dan praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan.

Bayi tidak mau mengisap susu dari payudara karena pemberian makanan ini menghentikan rasa lapar. dan sebagainya (Depkes RI. 2000:2). Jenis minuman prelaktal yang diberikan biasanya adalah susu formula. 1. kolostrum. Pola asuh gizi merupakan praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup.1.1 Pola Asuh Gizi. Lebih lanjut praktek penyusuan meliputi pemberian makanan prelaktal.3 Ruang Lingkup Materi Materi yang akan diteliti adalah tentang gizi. Sedangkan bagi ibu-ibu di pedesaan yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi biasanya juga masih sering memberi makanan prelaktal ini dengan alasan yang tidak . 1.1. memberi kasih sayang. Pemberian ini didorong oleh sulitnya/sedikitnya ASI 13 yang dihasilkan.6. 1991:37). misal air kelapa.6.karena itu perlu diadakan penelitian kembali. dan sebagainya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental). b Bendungan dan mastitis mungkin terjadi karena payudara tidak mengeluarkan ASI. Saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain ASI. Diare sering terjadi karena makanan ini mungkin tercemar. 1991:37). air gula. Bila yang diberikan susu sapi alergi sering terjadi. c. d. air tajin. e. kebersihan. pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan. b. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah : 2. c Ibu sulit menyusui dan cenderung berhenti menyusui. Sedangkan menurut Zeitlin Marian (2000:122) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 21) mengatakan bahwa salah satu aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek penyusuan dan pemberian MP-ASI. 1) Batasan makanan/minuman prelaktal Makanan prelaktal adalah makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi sebelum ASI keluar.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medang yang meliputi 10 Desa. Akibat lanjut dari hal ini bahwa ibu lebih senang memberi susu formula kepada bayinya dari pada menyusui.1. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. dan praktek penyapihan. Menurut Soekirman (2000: 84). pertumbuhan dan perkembangan anak. 2) Bahaya pemberian makanan/minuman prelaktal Untuk bayi: a. Untuk Ibu: a ASI keluar lebih lama karena bayi tidak cukup mengisap. menyusui secara eksklusif.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Agustus dan pengambilan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat dilakukan pada saat yang bersamaan. pisang.6. Praktek pemberian ini menjadi semakin meningkat dengan banyaknya iklan dan poster mengenai susu formula yang terpasang di RS dan RSB. susu sapi. 11 BAB II LANDASAN TEORI 2. 12 Kebiasaan memberikan makanan prelaktal harus dihindari karena dirasa tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi (Savage. susu bubuk. 1. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian makanan/minuman prelaktal Pemberian makanan/minuman prelaktal masih sering dilakukan terutama bagi bayi yang lahir di Rumah Sakit (RS) atau Rumah Sakit Bersalin (RSB). Bayi bingung mengisap puting susu ibunya bila pemberian makanan lewat botol.6. madu.1 Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.1 LANDASAN TEORI 2. (Savage.

dan 8. protein. Pola pemberian ASI dibedakan menjadi 2 macam yaitu pola eksklusif dan pola non eksklusif (Depkes RI. Pemberian makanan lain akan mengganggu produksi ASI dan mengurangi kemampuan bayi untuk mengisap. Menurut Suhardjo. 2000:2). Pada periode usia bayi 0±4 bulan kebutuhan gizi bayi baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi dari ASI saja tanpa harus diberikan makanan/minuman lainya. 2) Alasan pemberian ASI eksklusif antara lain adalah a.jauh berbeda dengan diatas. Bahan anti tersebut membantu bayi menyediakan sedikit kekebalan terhadap infeksi penyakit. namun masyarakat terutama ibu-ibu masih banyak yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya (Depkes RI. Zat kekebalan dalam ASI maksimal dan dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan mereka akan manfaat kolostrum bagi bayinya.1. 2000:2). c. b.5 Kg memerlukan 525 ml sehari.3 Praktek pemberian ASI Pola pemberian ASI merupakan model praktek penyusuan/pemberian ASI oleh ibu kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama kehidupan bayi. 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun. 1998:2). Pengetahuan gizi ibu yang rendah semakin mendorong praktek ini. dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari penyakit infeksi (Depkes RI. dan bayi 7 Kg memerlukan 1 L per hari. Penelitian menunjukan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4. 2. 16 sehingga bayi dengan BB 3. yaitu bahwa ASI sulit keluar dan sangat lama sehingga bayi terus menangis. 2) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian kolostrum Meskipun kolostrum sangat penting untuk meningkatkan daya tahan bayi terhadap penyakit. Kebanyakan ibu-ibu di pedesaan yang persalinannya ditolong oleh dukun bayi belum terlatih selalu membuang kolostrum dengan alasan bahwa ASI tersebut mengandung bibit penyakit. Asam lemak essensial dalam ASI bermanfaat untuk pertumbuhan otak sehingga merupakan dasar perkembangan kecerdasan bayi dikemudian hari. 15 1) Batasan ASI eksklusif dan non eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 4 bulan tanpa diberi makanan pendamping ataupun makanan pengganti ASI. 1998:3). Biasanya kolostrum tersebut dikubur bersama plasenta bayi.1. 3) Kebutuhan ASI bayi Rata-rata bayi memerlukan 150 ml susu per kilogram BB perhari. dkk (1986:114) cairan yang dikeluarkan dari buah dada ibu selama beberapa hari pertama setelah bayi dilahirkan merupakan suatu cairan yang menyerupai air. Apabila bayi mengikuti garis pertumbuhan normalnya selama 6 bulan pertama . 2005:4).1.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun. Sedangkan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat semakin memperburuk keadaan ini. agak kuning yang dinamakan kolostrum. Cairan tersebut mengandung lebih banyak protein dan mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. bayi 5 Kg memerlukan 750 ml. dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI. selama bulan-bulan pertama dari hidupnya. 2. 14 Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dialihkan melalui susu dari tubuh ibu kepada bayi yang diteteki. Sedangkan ASI non eksklusif adalah pola pemberian ASI yang ditambah dengan makanan lain baik berupa MP-ASI maupun susu formula (Depkes RI.1.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan. dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI (Depkes RI.2 Praktek pemberian kolostrum 1) Batasan kolostrum Kolostrum (susu pertama) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena mengandung banyak vitamin. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi. Selain karena kepercayaan tersebut di beberapa daerah memang terdapat tradisi yang mengharuskan untuk membuang kolostrum. 2005:11).

makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. 2) Tujuan pemberian MP-ASI Tujuan pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. 1991:105). Selain MP-ASI. Namun demikian. Dalam kebudayaan tertentu adanya kebiasaan makan bagi bayi yang khas dengan berbagai pantangan yang ada sangat mempengaruhi baik tidaknya praktek penberian MP-ASI oleh ibu bagi bayinya (Ebrahim. Bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dan berkembang sangat pesat. Gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat terjadi ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi tidak terpenuhi.maka kebutuhan susu 15 L (Savage. 2000:15). Hal-hal yang mendasar yang sangat berhubungan dengan pola pemberian ASI adalah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif. Selain itu ternyata lingkungan sosial juga tidak lepas pengaruhnya pada hal ini. pekerjaan orang tua. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi yang hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang kurang memenuhi syarat. Disamping itu faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernaan memberi pengaruh yang cukup besar (Diah Krisnatuti.5 Praktek penyapihan 1) Batasan Penyapihan Masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahab bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan berhenti (Savage. 5) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pola pemberian ASI. 1990:78). cukup jelas bahwa peranan MP-ASI bukan sebagai pengganti ASI tetapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Diah Krisnatuti. 2000:14). Sedangkan faktor yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap pemberian ASI ini antara lain keterlibatan sosial orang tua.J.1. Pengetahuan ini dapat ditingkatkan dengan penyuluhan oleh petugas kesehatan. Dengan demikian. Dengan sedikitnya frekuensi penyuluhan yang dilakukan maka pengetahuan ini akan sulit ditingkatkan dan perubahan kearah praktek yang diharapkan akan sulit diwujudkan. 1988:74). 4) Lama Menyusui Ibu selalu dinasehati untuk menyusui selama 3-5 menit dihari-hari pertama dan 5±10 menit dihari-hari selanjutnya.1990:54). 18 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap pemberian MP-ASI Menurut Zetlein Marian (2000:124) yang dikutip oleh Amy Prahesti (2001: 25) faktor utama yang berpengaruh terhadap praktek pemberian MP-ASI adalah pengetahuan dan pendidikan ibu. serta pendidikan orang tua. .1.G. Dengan pendidikan yang cukup ditunjang pengetahuan gizi modern akan menjadikan praktek pemberian MP-ASI kepada bayi semakin baik. sehingga perlu penjagaan khusus untuk memastikan bahwa bayi mendapat makanan yang benar (Depkes RI. Selain itu sedikitnya ASI yang dihasilkan juga mendorong praktek pemberian ASI dilakukan secara parsial dimana ASI tetap diberikan dengan ditambah dengan susu formula. 1991:30). 1998:19). MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi. 2. paling tidak sampai usia 24 bulan.1.1. 17 2. pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung lebih lama antara 15±25 menit (Winarno F. Jadi MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan zatzat gizi yang terkandung didalam ASI.4 Praktek pemberian MP-ASI 1) Batasan MP-ASI Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi.G. Hal ini lebih bisa dimaklumi sebab interaksi orang tua dengan lingkungannya akan menambah pengalaman yang berguna untuk melakukan praktek yang lebih baik (Satoto. Ririn Yenrina. Ririn Yenrina. baik maksud maupun manfaat pemberian ASI tersebut bagi bayi.

2000:3). 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan . Bayi-bayi yang kurang gizi mungkin akan menjadi lebih buruk keadaannya pada masa penyapihan. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. 1998:10). Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. bagaimana cara menjaga kesehatan anak. Menurut studi WHO pada tahun 1981 dipelajari bahwa jumlah ibu-ibu di pedesaan yang mulai penyapihan lebih awal tidak sebanyak diperkotaan. Di beberapa tempat. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. dkk 2004:74). 20 2.1. bayi pada usia penyapihan tidak tumbuh dengan baik. karsa. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. yaitu rohani (pikir. Di daerah semi perkotaan. Makanan yang tidak cukup dan adanya penyakit membuat bayi tidak tumbuh dengan baik. Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. disamping karena ASI tidak keluar dari sesaat sesudah melahirkan (Savage. dibanding waktu-waktu lain. Dua peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas kebutuhan dasar) (Yayuk Farida B. 3) Tingkat pengetahuan ibu Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. Adapun tingkat pendidikan di negara kita meliputi : pendidikan dasar. karena dengan pendidikan yang baik. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 3) Hal-hal yang berpengaruh terhadap praktek penyapihan dini Penyapihan dimulai pada umur yang berbeda pada masyarakat yang berbeda. dkk 2004:74). ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini karena ibu kembali bekerja. 2) Tingkat pendidikan ibu Menurut Kunaryo Hadikusumo (1996:35) yang dikutip oleh Hardianto (2001:11) tingkat pendidikan adalah jenjang aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan 21 membina potensi-potensi pribadinya.1. maka sering jatuh sakit dan lebih sering terkena penyakit infeksi terutama diare. 1991:99). terutama pada keluarga golongan miskin.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Gizi Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain: 1) Tingkat pendapatan keluarga Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan.2) Masa penyapihan Masa penyapihan dapat terjadi pada waktu yang berbahaya bagi 19 bayi. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat gizi bayi/anak kurang terpenuhi apalagi kalau pemberian MP-ASI kurang diperhatikan. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli (Yayuk Farida B. 1995:10). sehingga anak menjadi kurus dan pertumbuhannya sangat lambat (Depkes RI. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. rasa. dimana konsumsi pangan pada balita ditentukan dari pola asuh gizi. Hal ini dapat terlihat pada KMS terjadi kenaikan Berat Badan yang tidak memuaskan atau dalam keadaan yang lebih parah terjadi penurunan Berat Badan (Depkes RI. cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilanketerampilan) melalui pendidikan formal. Selain karena alasan tersebut kegagalan penyusuan akibat pemberian makanan atau minuman prelaktal sebelum ASI keluar juga menjadi alasan praktek penyapihan dilakukan secara dini.

menjaga kebersihan. Menurut Maryati Sukarni (1994:192) penelitian di suatu negara Colombia menunjukan bahwa dengan kenaikan jumlah anak. Dengan adanya perbaikan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk sehingga dengan demikian program ditujukan pada pembatasan pertumbuhan penduduk.1. Hal ini lebih banyak dilihat pada keluarga yang tinggal di pedesaan. tetapi mempunyai kesan larangan dari penguasa supernatural. memberi kasih sayang dan sebagainya.1. Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi adalah pantangan atau tabu. Program pemerintah ini bertujuan agar anggota keluarga dengan jumlah sekian diharapkan dapat lebih memudahkan keluarga tersebut mencukupi semua kebutuhan anggota keluarganya. orang sering tidak dapat mengatakan dengan jelas dan pasti. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. 4) Jumlah anggota keluarga Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga (Chaterine Lee 1989:180). 1986:31). yang akan memberi hukuman bila larangan tersebut dilanggar. dengan pengetahuan yang kurang dapat menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari (Suhardjo. akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi baik bagi bayi yang baru lahir ataupun pada anak sapihan. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi. siapa yang melarang tersebut dan apa alasannya (Achmad Djaeni Sediaoetomo. pemeliharaan dan energi. Namun program pemerintah ini belum 100 % berhasil. Pada keluarga yang memiliki balita. tanpa menanggung beban kebutuhan anggota keluarganya yang banyak. Program Keluarga Berencana telah mencanangkan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah 4 orang. 3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. 2. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan 22 pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia.yang optimal. dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat kemajuan budaya masyarakat tersebut. Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki 23 jumlah anggota keluarga yang banyak. Kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Namun demikian. merawat. dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing anggota keluarga terutama balita yang membutuhkan makanan pendamping ASI. 1999:17). Pendapat masyarakat tentang konsepsi kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. 5) Budaya pantang makanan Pola asuh dan pola konsumsi makanan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan. Jika jarak kelahiran pendek. Pola asuh ini diajarkan dan bukan diturunkan secara herediter dari nenek moyang sampai generasi sekarang dan generasi-generasi yang akan datang. sehingga angka kematian anak kurang dari dua tahun akan meningkat.7 Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Status Gizi Menerut Soekirman (2000:84) pola asuh gizi anak adalah sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. memberikan makan. Pola asuh yang tidak memadai dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan . Terdapat jenis-jenis makanan yang 24 tidak boleh dimakan oleh kelompok umur tertentu atau oleh perempuan remaja atau perempuan hamil dan menyusui. Ada pengaruh status gizi anak dan masyarakat pada jumlah keluarga. jumlah makanan per orang akan menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-anak dibawah lima tahun. Larangan ini sering tidak jelas dasarnya. dkk.

maka secara tidak langsung praktek pemberian MP-ASI merupakan salah satu faktor langsung dari status gizi pada bayi. yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung. pemberian ASI.1. Selain ASI konsumsi makanan yang diperoleh bayi dibawah umur 2 tahun adalah makanan pendamping ASI (MP-ASI).2. Dengan demikian jelas bahwa ASI mempunyai hubungan terhadap status gizi.2 Penilaian Status Gizi Menurut Supariasa. Makanan ini 26 diberikan dengan tujuan untuk melengkapi kebutuhan gizi bayi yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya umur bayi. praktis dengan suhu yang sesuai dengan bayi/anak serta dapat meningkatkan hubungan psikologis serta kasih sayang antara ibu dan anak. karena kolostrum mengandung lebih banyak protein. 1991:105) masa penyapihan adalah proses dimana seorang bayi secara perlahan-lahan memakan makanan keluarga ataupun makanan orang dewasa sehingga secara bertahap bayi semakin kurang ketergantungannya pada ASI dan perlahan-lahan proses penyusuan akan terhenti. 1) Penilaian satus gizi secara langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat . Pengaruh praktek penyapihan terhadap status gizi bayi dijelaskan oleh Depkes RI (1998:19) bahwa bayi yang sehat pada usia penyapihan akan tumbuh dengan pesat dan sehat. Selain itu ASI mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Sebagaimana dijelaskan oleh Soekirman (2000:84) bahwa salah satu faktor langsung dari status gizi adalah konsumsi makanan. Kolostrum juga mengandung beberapa bahan anti penyakit yang dapat membantu bayi menyediakan kekebalan terhadap penyakit infeksi yang mempengaruhi status gizi. Sedangkan menurut (Savage. yang mana makanan/minuman prelaktal tersebut memang tidak seharusnya diberikan karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna 25 makanan selain ASI dan apabila dipaksakan dapat menimbulkan terjadinya penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi status gizi bayi.1 Pengertian Status Gizi Menurut Soekirman (2000:65) status gizi berarti keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran±ukuran gizi tertentu. 2. Dengan demikian praktek penyapihan secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi dimana konsumsi makanan tersebut merupakan faktor langsung dari status gizi.1. pemberian MP-ASI dan penyapihan. ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan anak bibawah umur 2 tahun.1.seimbang. dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak.2 Status Gizi 2. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi sampai dengan umur 4 bulan. 2. Berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa. status gizi merupakan keadaan atau tingkat kesehatan seseorang pada waktu tertentu akibat pangan pada waktu sebelumnya. mineral serta sedikit karbohidrat dari pada susu ibu sesudahnya. Menurut Suhardjo (1985:114) kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita. sehingga ASI adalah makanan tunggal yang seharusnya diberikan kepada bayi umur 04 bulan. pemberian kolostrum. sehingga kekawatiran terjadinya gizi kurang akibat penyakit infeksi dapat dihindari. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. Savage (1991:37) menjelaskan adanya hubungan antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi. Suhardjo (1986:15) mengatakan bahwa status gizi adalah keadaan tubuh yang 27 disebabkan oleh konsumsi penyerapan dan penggunaan makanan.dkk (2001:18). Konsumsi makanan yang diperoleh bayi umur 0-12 bulan berasal dari pola asuh gizi yang salah satunya adalah praktek pemberian ASI. penilaian status gizi dapat dibedakan menjadi dua.1998:2).2. ASI juga merupakan makanan yang bersih. semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik pula status gizi bayi (Depkes RI.

2. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa. dkk 2001:38). irigasi dll. TB/U. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. lingkar kepala. 2001:69). angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya dengan gizi. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. dkk.3. berat badan. Penilaian secara biofisik merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan). Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang 29 dikonsumsi. Ditinjau dari sudut pandang gizi. Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. keluarga. Indeks BB/TB adalah indeks untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi secara kronis atau akut (Supariasa. mata. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan zat gizi (Supariasa. Pemeriksaan secara biokimia merupakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. 2001 : 20). 2001 : 20). 2. 28 mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. dkk. 2001 : 19). dkk. Macam status gizi dengan indikator BB/U. dan lingkar dada (Supariasa. dkk. 2) Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan. rambut. Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). 2001 : 20). Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa. Metode ini digunakan untuk peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa. 2001 : 19). Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi dalam masyarakat. 2001:21). dan individu. Tinggi Badan 30 menurut Umur (TB/U). dkk. otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa. klinis. Metode ini didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. . Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa. tulang. tanah. dan otot.1. lemak. Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh. 2001 : 20). dkk. tinggi badan. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Faktor Ekologi digunakan untuk mengungkap bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik. Parameter yang digunakan pada penilaian status gizi dengan menggunakan antropometri adalah umur. dan BB/TB. lingkar lengan atas. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologis seperti iklim. urin. dkk. biologis dan lingkungan budaya. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. dkk. Pemeriksaan klinis merupakan metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.penilaian yaitu : antropometri. statistik vital dan faktor ekologi. Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Indeks TB/U adalah pengukuran pertumbuhan linier. biokimia dan biofisik. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi (Supariasa.

Orang yang kelebihan berat badan. Mudak menyesuaikan duri dengan lingkungan. yaitu: gizi lebih. Macam-macam penyakit akibat dari Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah sebagai berikut : a. diubah menjadi lemak dan ditimbun dalam tempat-tempat tertentu. dkk. dengan indeks berat badan menurut umur. gizi kurang dan gizi buruk. (Supariasa. Adapun ciri-ciri anak berstatus gizi baik dan sehat menurut Departemen Kesehatan RI (1993) dalam Soegeng Santoso dan Anne Lies R. Jika kebutuhan zat-zat gizi tidak tercukupi maka anak akan mudah terserang penyakit. Nafsu makan baik f. Refleksi yang diberikan adalah keselarasan antara pertumbuhan berat badan dengan umurnya. Kurang gizi banyak menimpa anak-anak khususnya anakanak berusia di bawah 5 tahun.(1999:3) adalah sebagai berikut : a. 2000:27). Depkes dalam Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan WHO-NCHS dengan klasifikasi seperti terlihat pada tabel. Keadaan ini berkaitan dengan kelebihan energi dalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan penggunaannya atau energy expenditure. Ada tiga zat penghasil energi utama yaitu karbohidrat. gizi baik. Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya. lemak dan protein. 2) Status Gizi lebih Gizi lebih adalah suatu keadaan karena kelebihan konsumsi pangan. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh.9% Median BB/U baku WHO-NCHS < 60% Median BB/U baku WHO-NCHS. Marasmus Dengan ciri-ciri : Tampak sangat kurus tinggal tulang terbungkus . Baku rujukan yang digunakan adalah World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5.1. Mata bersih dan bersinar d. 2001 : 76) 2. Selain itu zat gizi yang dikonsumsi gagal untuk diserap dan dipergunakan oleh tubuh.9% Median BB/U baku WHO-NCHS 60%-69.Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999. Jaringan lemak ini merupakan jaringan yang relatif inaktif. Bibir dan lidah tampak segar e. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering g. Status gizi anak balita dibedakan menjadi : 31 1) Status gizi baik Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai penggunaan untuk aktivitas tubuh.2.4 Macam-macam status gizi dan penyakit yang berhubungan dengan status gizi Menurut Soekirman (2000:61). Beberapa hal yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi adalah karena makanan yang dikonsumsi kurang atau mutunya rendah atau bahkan keduanya. 3) Kurang Gizi (Status Gizi Kurang dan Status Gizi Buruk) Status Gizi Kurang atau Gizi Buruk terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa zat gizi yang diperlukan. Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS Kategori Cut of poin *) Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk 120% Median BB/U baku WHO-NCHS 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS 70%-79. karena merupakan golongan yang rentan. gizi sedang. terutama kerja jantung (Achmad Djaeni S. c. Kelebihan energi dalam tubuh. biasanya 32 karena jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. Kondisi seperti ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh. Tumbuh dengan normal b.

kelainan kulit berupa bercak merah muda yang luas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavemen dermatosis). Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pola Asuh Gizi Pola Asuh Gizi merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi konsumsi makanan pada bayi. wajah seperti orang tua. rambut tipis. terutama diare dan ispa. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : Menurut Soekirman (2000:84) penyebab langsung timbulnya gizi kurang pada anak adalah konsumsi pangan dan penyalit infeksi. Selain genetik atau hereditas ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu lingkungan. Marasmus-Kwarsiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwarsiorkor dan marasmus. b. sering disertai penyakit inveksi (kronis berulang). 3) Genetik Genetik menjadi salah satu faktor dari status gizi. . 2001:131). dan kalau kedua orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak meningkat sebesar 80%. jumlah anggota keluarga dan budaya pantang makanan.1. perut cekung. 2. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi sudah dijelaskan diatas diantaranya: tingkat pendapatan keluarga. Akhirnya berat badan anak menurun. umumnya seluruh tubuh terutama pada 33 punggung dan kaki. kulit keriput. Kwasiorkor Dengan ciri-ciri : Udema. Dapat juga merupakan respons terhadap rangsangan dari luar seperti iklan makanan atau kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. wajah membulat dan sembab. pemeriksaan kehamilan. Makanan yang berlebihan atau kekurangan dapat terjadi sebagai respons terhadap kesepian. Dengan demikian pola asuh gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan faktor tidak langsung dari status gizi. 2) Psikologi Menurut Sarwono Waspadji (2003:116) psikologi seseorang mempengaruhi pola makan.2. tingkat pendidikan ibu. Hal ini dijelaskan oleh Ali Khomsan (2003:90) pada anak dengan status gizi 35 lebih atau obesitas besar kemungkinan dipengaruhi oleh orang tuanya (herediter). diare kronik / konstipasi / susah buang air besar (Supariasa.5 Fakor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. Dalam keadaan demikian anak mudah diserang infeksi dan kurang nafsu makan sehingga anak kekurangan makanan. rewel. Apabila keadaan ini terus berlangsung anak dapat menjadi kurus dan timbulah kejadian kurang gizi. Kedua penyebab tersebut saling berpengaruh. iga gambang. akhirnya dapat menderita gizi kurang. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada. cengeng. 2001:131). berduka atau depresi. pertolongan persalinan. 4) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. pandangan mata sayu. sering disertai penyakit infeksi umumnya akut. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. dengan BB/U < 50% baku median WHONCHS disertai udema yang tidak mencolok (Supariasa. otot mengecil (hipertrofi) lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. Dengan demikian timbulnya gizi kurang tidak hanya karena kurang makanan tetapi juga karena adanya penyakit infeksi. dkk. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam. tingkat pengetahuan ibu. Bila salah satu orang tua mengalami gizi lebih atau obes maka peluang anak untuk mengalami gizi lebih dan menjadi obes sebesar 40%. mudah dicabut tanpa rasa sakit dan rontok. rewel. apatis. dkk. pembesaran hati. kemerahan seperti warna rambut jagung. dkk 2001:131).kulit. dimana lingkungan ini mempunyai pengaruh terhadap pola makan seseorang. c. anemia dan diare (Supariasa. perubahan status mental. Sebaliknya anak yang tidak memperoleh 34 makanan cukup dan seimbang daya tahan tubuhnya dapat melemah.

Press dalam Soekirman. 36 2. faktor pola asuh gizi. faktor psikologi. The State of the World`s Children 1998. Disini tidak semua faktor diteliti.Kes Budaya Pantang Makanan Tingkat Pendapatan Praktek pemb./min. Mak.penimbangan anak. variabel terikatnya adalah status gizi sedangkan sebagai variabel pengganggunya adalah penyakit infeksi. praktek bidan. dan rumah sakit (Soekirman 2000:85). diantaranya faktor penyakit infeksi. Keterangan : : Variabel bebas : Variabel terikat : Variabel pengganggu Gambar 2 Kerangka Konsep Praktek pemb. 2000 Gambar 1 Kerangka Teori Tingkat Pendidikan Tingkat Pengetahuan Status Gizi Konsumsi Makanan Pola Asuh Gizi Infeksi Akses untuk menjangkau Pel. faktor genetik dan faktor keterjangkauan pelayanan kesehatan (Soekirman. prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Praktek penyapihan Jumlah Anggota Keluarga Psikologi Genetik 37 37 BAB III METODE PENELITIAN 3. faktor konsumsi pangan. Faktor yang diteliti sebagai variabel bebas adalah pola asuh gizi. dokter.1 KERANGKA KONSEP Status gizi di pengaruhi oleh banyak faktor.2 KERANGKA TEORI Hubungan tidak langsung Hubungan langsung Sumber : Modifikasi penulis disesuaikan dari bagan UNICEF (1998). Makanan/minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI . 2000:83). Oxford Univ. dan sarana lain seperti keberadaan posyandu dan puskesmas.

3. (Depkes RI. Infeksi 38 3.3 DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 1.2.5 Bayi yang disapih setelah umur dua tahun status gizinya lebih baik dibanding bayi yang disapih sebelum umur dua tahun.2 HIPOTESIS Dengan bertitik tolak pada landasan teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 3. 3.Praktek penberian MP-ASI Praktek penyapihan Status Gizi Pola Asuh Gizi Peny. (Depkes RI. Praktek pemberian makanan /minuman prelaktal Praktek pemberian kolostrum Praktek pemberian ASI Praktek pemberian MP-ASI Adalah tindakan ibu / penolong persalinan untuk pemberian makan/minuman kepada bayi baru lahir selama ASI belum keluar. 3.4 Semakin baik praktek pemberian MP-ASI maka semakin baik status gizi balita.2.3 Semakin baik praktek pemberian ASI maka semakin baik status gizi balita. 39 3.2. 3.2 Bayi yang diberi kolostrum memiliki status gizi lebih baik dibanding yang tidak diberi kolostrum.2.1998:2) Tindakan ibu untuk .1 Semakin dini diberikan makanan/minuman prelaktal maka semakin buruk status gizi balita.2000:2) Adalah tindakan ibu untuk memberikan ASI yang keluar pertama kali setelah bayi lahir (4-7 hari) berwarna kekuningkuningan dan lebih kental (Depkes RI. 3.2005:4) Adalah praktek ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya pada usia 4 bulan pertama.2. 4. 2.

memberikan makanan tambahan sebagai pelengkap dan pendamping ASI.3 Wawancara dengan kuesioner no.4 Wawancara dengan kuesioner no.Sedang =6.Kurang = 4<Skor 6. .5 .5<Skor 9. (Diah Krisnatuti.5<Skor 12 .Sedang =15<Skor 21 .Baik =9. 6. 2000:15) Wawancara dengan kuesioner no. Praktek penyapihan Status gizi Adalah tindakan ibu untuk menghentikan pemberian ASI secara bertahab kepada bayinya dan diganti dengan makanan pengganti ASI.5 . Variabel Definisi Cara Pengukuran Klasifikasi Skala 5.dkk.Kurang = 9<Skor 15 Ordinal Nominal Ordinal Ordinal 40 No .Baik =21<Skor 27 .Diberi = Skor 2 .Tidak beri = Skor 1 .17 -Baik = 7 < Skor 9 -Sedang = 5 < Skor 7 -Kurang = 3 Skor 5 . 5-8 Wawancara dengan kuesioner no.1 . 9 .

Belum disapih =Skor 2 .9% . Jenis penelitian ini bersifat ³eksplanatory research´ (penelitian penjelasan) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh melalui pengujian hipotesis.5.1997:105) Adalah keadaan kesehatan fisik seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau dua kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu.Gizi lebih > 120% .2.4 JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan hubungan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. . Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 4±12 bulan yang terdaftar di posyandu Puskesmas Medang. -BB diukur dengan timbangan dacin -Umur dihitung dengan bulan .5 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.18 Diukur dengan antropometri indeks BB/U.(Savage. maka metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross-Sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat pada suatu saat yang bersamaan (Soekidjo Notoatmojo.1.4. Berdasarkan fokus penelitian tersebut.Gizi buruk < 60% Nominal Ordinal 3. 2002:26).2. praktek pemberian MP-ASI. praktek pemberian ASI. meliputi praktek pemberian makanan atau minuman prelaktal. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penentuan dan pemilihan sampel penelitian.1. 3. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 4±12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Medang Kabupaten Blora sejumlah 211 anak. 41 3.1.Gizi baik > 80-120% .Gizi kurang 60-79.5.1 Variabel Bebas Variabel bebas yaitu pola asuh gizi.1 Variabel Penelitian 3. 3.4.Disapih =Skor 1 Indeks BB/U . 2000:66) Wawancara dengan kuesioner no. praktek pemberian kolostrum. Variabel Terikat Variabel terikat yaitu status gizi pada anak balita.4. (Soekirman. dan praktek penyapihan. 3.

dengan ukuran minimal 20 kg dan maksimal 25 kg. (Soekidjo notoadmojo. 2) Bayi lahir normal/tidak prematur.6. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.1 Validitas Instrumen Alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila mampu mengukur apa yang diinginkan serta dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.2 Wawancara dengan menggunakan kuesioner. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah : 1) Bayi umur 4±12 bulan yang mempunyai KMS dengan catatan hasil penimbangan lengkap minimal 3 bulan terakhir sampai dilaksanakannya penelitian. Adapun untuk mengetahui tentang tingkat validitas instrumen dilakukan uji coba responden yang selanjutnya dihitung dengan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut : r xy = ( )( ) ( X )2 {N X 2 }{N Y 2 ( Y )2 } N XY X Y 44 Keterangan : rxy : Koefisien Korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total N : Jumlah subyek X2 : jumlah kuadrat skor item Y2 : Jumlah kuadrat skor total.2.2002:146).6 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3. (Suharsimi Arikunto. 3) Tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap sehingga sulit dihubungi.1 / 10 %. 43 3.6.6. 3. Sedangkan untuk umur dihitung dengan bulan. 2002:92). Sehingga didapat jumlah sampel sebagai berikut : n = ( 2 ) 1 211 0.Untuk menentukan besarnya jumlah sampel minimal yang terdapat dalam populasi yaitu dengan rumus : n= 1 N(d 2 ) N + 42 Dimana : N : Ukuran populasi n : Ukuran sampel d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan yaitu 0. . 3.1 Antropometri indeks BB/U Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan balita yaitu timbangan dacin. 3) Bayi dalam keadaan sehat (Tidak dalam keadaan sakit) Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Bayi yang diasuh selain ibunya 2) Subyek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian.1 211 + = 68 Berdasarkan karakteristik sampel maka sampel minimal yang diambil sebanyak 68 anak dengan menggunakan teknik simple random sampling. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang anak balita dan pola asuh gizi yang dilakukan ibu terhadap balita.

dan 9 item kuesioner mengenai praktek pemberian MPASI dinyatakan valid karena nilai xy r > tabel r . Instrumen yang sudah dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya kebenarannya untuk mengetahui reliabilitas dari penelitian dengan menggunakan rumus alpha: r11 = 2 2 1 1t b K K keterangan : r 11 : reliabilitas instrumen K : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal b 2: 2: Jumlah varians butir t varians total (Suharsimi Arikunto.897.2. 0. 3.2 Reliabilitas Reliabilitas memiliki pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena 45 instrumen itu sudah baik.399 : rendah c. 46 3. karena pada tingkat signifikan 5% dengan n = 50 diperoleh tabel r = 0. praktek pemberian MP-ASI.00 ± 0. praktek pemberian kolostrum.1.849 dan untuk item kuesioner praktek pemberian MP-ASI adalah 0. praktek pemberian ASI. 0. dan praktek penyapihan.1.6.40 ± 0. praktek pemberian ASI.20 ± 0.69 ± 0.7.199 : sangat rendah b. 0.80 ± 1.00 : sangat kuat Dari hasil pengujian terhadap 3 item kuesioner mengenai praktek pemberian makanan prelaktal . Dengan demikian seluruh item pertanyaan pada kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal. 0.2 Wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner.599 : sedang d.Untuk mengetahui tingkat validitas item-item tersebut adalah dengan cara membandingkan hasil perhitungan validitas masing-masing item dengan koefisien dengan koefisien korelasi sebagai berikut: a.2 Data skunder diperoleh melalui Puskesmas.2002:171) Dari tabel perhitungan reliabilitas diperoleh nilai alpha untuk item kuesioner praktek pemberian makanan prelaktal yang dinyatakan valid adalah 0.7.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulkan berupa data primer dan skunder.7. berupa data jumlah posyandu dan data mengenai jumlah balita usia 4±12 bulan.813. . praktek pemberian makanan prelaktal. 3.1 Data primer diperoleh melalui : 3.799 : kuat e.7. 4 item kuesioner mengenai praktek pemberian ASI. 3. 0.1 Observasi untuk mengetahui status gizi yang diukur dengan indeks BB/U dengan melakukan penimbangan langsung menggunakan dacin. 3.444. dan praktek pemberian MP-ASI yang dianggap valid juga dinyatakan reliabel untuk digunakan karena nilai 11 r > tabel r . sedangkan untuk item kuesioner praktek pemberian ASI sebesar 0. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden (identitas ibu dan anak).

Distribusi Umur Responden No Rentang Umur Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 ± 6 Bulan 7 ± 9 Bulan 10 ± 12 Bulan 14 14 40 20.2 Analisa Bivariat Analisa ini diperlukan untuk menguji hubungan antara masingmasing variabel bebas yaitu praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara.1. dilakukan tahap-tahap pengolahan data yang meliputi : 1) Editing.8.3. Dalam analisa ini uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. praktek pemberian ASI.59 58. Lebih jelasnya distribusi jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. praktek pemberian ASI. praktek pemberian MP-ASI.8. Karena variabel yang diteliti berskala ordinal dan menggunakan lebih dari dua kelompok sampel tidak berpasangan (Sopiyudin Dahlan 2004:5). praktek pemberian kolostrum. merupakan langkah memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk memudahkan pengolahan data. 2) Koding. praktek pemberian MP-ASI. merupakan pengelompokan data berdasarkan variabel yang diteliti yang disajikan dalam tabel frekuensi. Lebih jelasnya distribusi umur balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. praktek penyapihan dan variabel terikat yaitu status gizi.59 20.1 Karakteristik Responden 1) Umur Berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa umur dari 68 balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur antara 4 sampai dengan 12 bulan. 3. 2) Jenis Kelamin Berdasarkan data penelitian dapat diketahui jenis kelami dari balita yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar sebagian besar adalah 49 laki-laki. praktek penyapihan dan status gizi pada balita usia 4±12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang.8 TEKNIK ANALISIS DATA Setelah semua data dikumpulkan. 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.82% adalah balita dengan umur antara 10 sampai dengan 12 bulan. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Jenis Kelami Frekuensi Persentase (%) 1 2 . praktek pemberian kolostrum.1 Analisa Univariat Analisa ini diperlukan untuk mendeskripsikan praktek pemberian makanan/minuman prelaktal. 47 3.1 Hasil Penelitian 4.82 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu 58. 3) Tabulasi.

53 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki jenis kelamin laki-laki (51.88%).Laki-laki Perempuan 35 33 51. sedangkan yang paling sedikit dalam kategori baik sedang (14.1. 3) Praktek Pemberian ASI Praktek pemberian ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : 51 Tabel 8.47 48. Distribusi Praktek Pemberian ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 . Distribusi Praktek Pemberian Makanan/Minuman Prelaktal No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 33 10 25 48. 4.71%).12 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan kolostrum (55.2 Analisis Univariat 1) Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal Praktek pemberian makanan/minuman prelaktal pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6. Distribusi Praktek Pemberian Kolostrum No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Diberikan Tidak diberikan 38 30 55.76 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 50 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan/minuman prelaktal dalam kategori baik (48.88 44.53 14.53%).47). 2) Praktek Pemberian Kolostrum Praktek pemberian kolostrum pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 7.71 36.

17 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan ASI dalam kategori Sedang (47. 4) Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Praktek pemberian makanan pendamping ASI pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 9. selebihnya yaitu 20.06 14.59 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini belum disapih (79. Distribusi Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 Baik Sedang Kurang 10 39 19 14. Hasil indeks BB/U ini selanjutnya dikonsultasikan dengan norma keadaan gizi untuk mengetahui kategori status gizi dari masing-masing balita.3 Baik Sedang Kurang 26 32 10 38.94 Jumlah 68 100 Sumber : Data Penelitian 2006 Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori Sedang (57.41%).74%). 52 5) Praktek Penyapihan Praktek penyapihan pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006 berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 10. 6) Status Gizi Pengumpulan data tentang status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dilakukan dengan antopometri indeks BB/U yaitu pengukuran berat badan dan umur.35 27.35%) dan yang paling sedikit mendapat makanan pendamping ASI dalam kategori baik (14. Distribusi Praktek Penyapihan No Kategori Frekuensi Persentase (%) 1 2 Belum disapih Disapih 54 14 79.17 57.24 47. Berdasarkan penelitian .17%).59% sudah disapih.06%) sedangkan paling sedikit mendapatkan ASI dalam kategori kurang (14.41 20.

.0808 2429.001 < 0....1.572..0706 Sedang %F 57.0401 16080.572 termasuk kategori cukup erat. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 12 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 36.88% yang status gizinya kurang. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita sebesar 0.0509 3547..0305 1104.0401 2356.0605 3438. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan 55 status gizi balita sebesar 0.41% yang status gizinya baik.41 Jumlah 68 100 Sumber : Data Primer Hasil Penelitian Tabel di atas menunjukkan bahwa paling banyak balita dalam penelitian ini memiliki status gizi baik (54.65% diantaranya status gizinya juga baik dan hanya 5.diperoleh data status gizi seperti disajikan pada tabel berikut: 53 Tabel 11.. Data pola asuh gizi dalam penelitian ini ditinjau dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal.. 41%). 32. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 13. dan dari 48. Tabel Silang Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Makanan Prelaktal KuranSgt atus Gizi Baik Total Kurang %F 2322..0701 Baik %F 45. Kategori Frekuensi Prosentase (%) 1.05. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. 2. 4.35% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 4.0305 57. Distribusi Status Gizi Balita No.76% balita yang mendapatkan makanan prelaktal kurang..0.0503 Total %F 3415. 2) Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan kolostrum status gizinya lebih baik dibanding balita yang tidak mendapatkan kolostrum. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan prelaktal menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. 1) Hubungan Praktek Pemberian Makanan/minuman Prelaktal dengan Status Gizi Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal kurang status gizinya juga kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan/minuman prelaktal baik status gizinya juga baik. Kurang Baik 31 37 45. 42. praktek pemberian kolostrum.59 54. Berdasar hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Lebih jelasnya hubungan antara prktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : 54 Tabel 12.3 Analisis Bivariate Uji bivariate dalam penelitian ini menggunakan rumus chi kuadrat guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi balita usia 4±12 tahun di wilayah Puskesmas Medang Kabupaten Blora tahun 2006. praktek pemberian makanan pendamping ASI dan penyapihan.0305 34.. praktek pemberian ASI. .53% balita yang mendapatkan makanan prelaktal baik.

dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek kolostrum dengan status gizi balita.00 % 33. 33. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.706 3440. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.00 % 27.59 54. dari 47.24% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori baik.82% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 10.Tabel Silang Praktek Pemberian Kolostrum dengan Status Gizi Kolostrum KuranSgt atus Gizi Baik Total Tidak diberi F 23..12% balita yang tidak diberi kolostrum.0.88% balita yang diberi kolostrum.0401 16080.00 37.05.06% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori sedang.001 < 0.12% diantaranya status gizinya baik dan hanya 11.0401 2333.. 44. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian kolostrum ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita. Tabel Silang Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi ASI Status Gizi Kurang Baik Total Kurang %F 193.204 11.1020 3558.00 7.82% diantaranya satus gizinya baik dan hanya 4.12 47.0509 3547. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi balita sebesar 0..0..0204 Total F 31.29% yang status gizinya baik.41 100.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 14.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 44.. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0.71% balita yang mendapatkan ASI dalam kategori kurang.0. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian kolostrum 56 dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.47% yang status gizinya baik.499 termasuk kategori cukup erat.06 Baik %F 34.8080 Total %F 3415. 4) Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik satus gizinya juga baik.00 68.499.556 dan termasuk kategori cukup erat.82 10.00 13.05. sedangkan dari 38. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian ASI dengan status gizi balita. sedangkan dari 55.. 13. Lebih jelasnya hubungan antara praktek 58 ..00 30.29 44.76% yang status gizinya kurang.001 < 0.94% diantaranya status gizinya kurang dan 33.7010 Sedang F 19.12 Diberi %F 181. 27.8% yang status gizinya baik.4070 1140.0802 2368.00 % 45. 3) Hubungan Praktek Pemberian ASI dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa dari sebagian besar balita yang mendapatkan ASI kurang status gizinya kurang sedangkan balita yang mendapatkan ASI baik satus gizinya juga baik... Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.94 19. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita sebesar 0.41% yang status gizinya kurang. Lebih jelasnya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14.24% 57 diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 1. 33. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.00 32.

00 % 13.085.35% yang status gizinya baik.0000 1104.35% diantaranya status gizinya kurang dan 47.41 Total F 31.0904 1279. Lebih jelasnya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 16.. 32.0000 22..94% yang status gizinya baik.24 7.05.2 Pembahasan Status gizi balita salah satunya pengaruhi oleh praktek pola asuh gizi yang dilakukan dalam rumah tangga yang diwujudkan dalam tersedianya pangan dan perawatan dan perkembangan anak.0706 3579.05..001 < 0. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien phi antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0. 36.0701 Total %F 3415.59 Belum disapih F 22.35 20..00 % 45. dengan demikian dapat daputuskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek penyapihan dengan status gizi balita. dari 57.69% yang status gizinya kurang. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 59 0.0305 Baik %F .41 100.35% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori sedang.0509 2356. dengan demikian dapat daputuskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi ditinjau dari praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita.00 37. Secara statistik tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.00 14. 25.24% diantaranya memiliki status gizi kurang dan 7.085 termasuk kategori sangat lemah.000 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 15 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 27.78% diantaranya status gizinya baik dan 20. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa keeratan hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi balita sebesar 0.00 5.00 68.59 54.515 termasuk kategori cukup erat.59% balita yang disapih. Dengan demikian menunjukkan bahwa praktek penyapihan tidak ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita..06 79.. 4. Tabel Data Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi MP .00 54. Secara statistik adanya hubungan antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita tersebut dibuktikan dari hasil uji chi square.71% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori baik seluruhnya memiliki status gizinya baik.90% balita yang mendapatkan makanan pendamping ASI dalam kategori kurang.0509 3547.00% diantaranya memiliki status gizi kurang dan hanya 2.pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 15..00 32.ASI KurangS tatus GiziB aik Total Kurang %F 1257. 5) Hubungan Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Hasil tabel silang menunjukkan bahwa baik balita yang disampih maupun yang belum disampih memiliki kecenderungan status gizi yang sama. Dengan demikian menunjukkan bahwa baik tidaknya praktek pemberian makanan pendamping ASI ikut menentukan baik tidaknya status gizi seorang balita.515. sedangkan dari 14...115 > 0.06% yang status gizinya baik. 13.0401 16080. Menurut Ninik Asri.35 47..41% balita yang 60 belum disapih.0904 Sedang %F 1204. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh pula koefisien kontingensi antara praktek pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita sebesar 0.00 % 32. sedangkan dari 79.00 Sumber : Data Penelitian 2006 Berdasarkan tabel 16 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20.0701 1104. Berdasarkan hasil perhitungan harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Tabulasi Silang Praktek Penyapihan dengan Status Gizi Penyapihan KuranSgt atus Gizi Baik Total Disapih F 9.0.R (2005) ..

2. Dr. dan pemberian makanan pendamping ASI berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Bentuk hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Secara nyata berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa praktek 61 pola asuh gizi yang terdiri dari pemberian makanan prelaktal. pemberian kolostrum.001 < 0. Sedangkan bagi ibu bendungan dan mastitis makin terjadi karena payu dara tidak mengeluarkan ASI dan sering menjadi penyebab berhentinya praktek penyusuan karena ibu kesulitan untuk menyusui. Hamam Hadi (2005) menambahkan bahwa jumlah kolostrum yang diproduksi.2 Hubungan Praktek Pemberian Kolostrum Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian kolostrum dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0.3 Hubungan Praktek Pemberian ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Lebih lanjut Savege (1997:37) menegaskan praktek pemberian makanan prelaktal ini harus dihindari karena tidak perlu dan malah bisa membahayakan bagi bayi dan ibu bayi. walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi oleh karena itu.semakin tinggi pola asuh akan dikuti kenaikan status gizi.05. harus diberikan kepada bayi. 4. saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencerna makanan selain asi sehingga sering menyebabkan diare. Pentingnya pemberian kolostrum pada bayi ditegaskan oleh Depkes RI (2004:4) yang menyatakan bahwa pemberian kolostrum penting untuk meningkatkan daya tahan bayi 63 terhadap penyakit karena kolostrom mengandung banyak protein.1 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Prelaktal Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. bervariasi tergantung dari isapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. pemberian ASI. Bentuk hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien phe yang bertanda positif. sedangkan untuk praktek penyapihan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi balita. Adanya hubungan pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi balita ini memberikan gambaran lebih konkrit bahwa praktek pemberian makanan prelaktal betul-betul harus dihindari sebab dengan diberikan makanan prelaktal status gizi bayi menjadi menurun. dan zat-zat kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan balita dari penyakit maupun infeksi. pemberian makanan pendamping ASI dan praktek penyapihan. kolostrum.001 < 0. pemberian ASI.2. 4. protein. Lebih lanjut Depkes RI (2000:2) menegaskan bahwa pemberian makanan prelaktal bagi bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena dapat menggangu keberhasilan menyusui.05. Adanya hubungan pemberian kolostrum dengan status gizi balita ini disebabkan kolostrum atau susu pertama banyak mengandung vitamin.2.05. Secara lebih spesifik praktek pola asuh tersebut meliputi pemberian makanan prelaktal. 4. artinya semakin baik praktek pemberian makanan prelaktal maka akan sebakin baik pula status gizi balita.001 < 0. artinya semakin baik praktek pemberian makanan/minuman prelaktal (sebelum ASI keluar balita tidak diberi makanan prelaktal) maka akan semakin baik pula status gizi balita. Bentuk hubungan pemberian makanan prelaktal dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. vitamin dan zat kekebalan yang penting untuk kesehatan bayi dari berbagai penyakit infeksi. Adapun bahaya pemberian makanan prelaktal bagi bayi menjadi 62 tidak mampu mengisap susu dari payudara ibu. dan bayi menjadi bingung untuk mengisap puting ibu. artinya semakin baik praktek pemberian ASI maka akan semakin baik .

ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan yang dapat mempertinggi tingkat kesehatan balita.2. Depkes RI (2005:1) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya dapat mempengaruhi status gizi balita. Tidak adanya hubungan antara praktek penyapihan dengan status gizi 66 balita disebabkan pada umumnya praktek penyapihan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora rata-rata di atas umur 24 bulan sehingga dengan dihentikannya pemberian ASI pada balita tidak berpengaruh secara nyata bagi status gizi balita sebab pada usia tersebut balita telah terbiasa dengan pemberian makanan pendamping berupa bubur ataupun nasi lunak serta sayuran sehingga kebutuhan gizi balita tetap tercukupi dari suplai makanan tersebut. Hasil penelitian di Bogor tahun 2001 dalam Depkes RI (2005) 64 menunjukan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5 bulan.115 > 0. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Amy Prahesti (2001). Dengan penanggulangan terjadinya kekurangan gizi pada balita melalui salah satu upaya pola asuh gizi yaitu praktek pemberian ASI yang baik maka diharapkan adanya kejadian kurang gizi pada balita dapat terhindari. Pola penyapihan diatas sesuai dengan yang dianjurkan oleh Depkes RI (1998:10) yang menyatakan bahwa anak memungkinkan disapih jika telah berumur 24 bulan. Bentuk hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita adalah hubungan positif yang ditunjukkan dari harga koefisien kontingensi yang bertanda positif. Alasan penyapihan dilakukan pada anak berumur lebih dari 24 bulan karena pada umur tersebut ASI masih diproduksi dalam . memperoleh simpulan bahwa pemberian 65 makanan pendamping ASI yang baik dapat mengurangi terjadinya KEP pada balita usia 4±12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. seiring dengan bertambahnya umur balita maka semakin meningkat pula kebutuhan gizi balita. yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara praktek penyapihan dengan gangguan pertumbuhan pada anak usia 0-12 bulan.2. oleh karena itu balita sejak usia 4 bulan mulai diberi makanan pendamping selain ASI. cara pembuatan dan cara pemberiannya. 4. Sampel dalam penelitian ini adalah balita usia 4-12 bulan dimana dengan bertambahnya umur balita bertambah pula kebutuhan gizinya.5 Hubungan Praktek Penyapihan Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator penyapihan dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Dalam pemberian makanan pendamping ASI perlu diperhatikan waktu pemberian. frekuensi. porsi. Hasil penelitan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004) yang memperoleh simpulan bahwa praktek pemberian ASI yang baik dapat mengurangi kejadian KEP pada balita usia 4± 12 bulan di Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. pemilihan bahan makanan.001 < 0. Adanya hubungan pemberian ASI dengan status gizi balita ini disebabkan ASI merupakan makanan sangat dibutuhkan balita karena selain memenuhi kebutuhan gizi bagi balita.05.4 Hubungan Praktek Pemberian Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh gizi pada balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dari indikator pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita ditunjukkan dari harga p-value yang diperoleh yaitu 0. Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berumur 4-6 bulan sampai bayi berumur 24 bulan. dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita. 4. artinya semakin baik praktek pemberian makanan pendamping ASI maka akan semakin baik pula status gizi balita. Kedudukan makanan pendamping ASI ini merupakan makanan tambahan bagi bayi guna menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan Theresia Spika Ningrum (2004).05.pula status gizi balita. Selain itu perlu juga diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah.

Semarang Depkes RI. Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan Profesi Jilid I. dan sesuai anjuran agama bahwa sebaiknya bayi disapih bila telah mencapai umur 24 bulan. praktek pemberian ASI.38%. Jakarta : Dian Rakyat Amy Prahesti. 1992. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak.485) disarankan bagi petugas Puskesmas untuk memasukan penyuluhan tentang kolostrum kedalam program-program penyuluhan yang sudah ada. 2) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian kolostrum dengan status gizi (p=0. Makanan sehat Balita dan Ibu Hamil. Sedang praktek pola asuh gizi yang terjadi. C=0. Manajemen Laktasi. 2001. 1998.572) disarankan bagi petugas Rumah Bersalin dan petugas Puskesmas yang menangani persalinan untuk memberikan pengertian pada ibu agar tidak memberikan makanan/minuman sebelum ASI keluar. Skirpsi S-1. 1999a. praktek pemberian kolostrum 55.001. 2005.8% balita gizi buruk. Pola asuh gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora yang terdiri dari praktek pemberian makanan/minuman prelaktal 48. Depkes RI.24% baik.001.53% baik. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. 2000. Buku Pedoman ASI Eksklusif Bagi Petugas. 3. Jakarta : Rajagrafindo Persada Achmad Dajaeni. 1989. C=0. 68 5. 67 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. praktek pemberian kolostrum. Jakarta Depkes RI.88% diberikan. 12.41% belum disapih. Berdasarkan kenyataan diatas saran yang dapat diajukan penulis adalah : 1) Adanya hubungan positif antara praktek pemberian makanan/minuman prelaktal dengan status gizi (p=0. Universitas Diponegoro. 2003.7% balita gizi kurang. Jakarta . Catherine Lee. praktek pemberian MP-ASI 57. Ada hubungan positif antara praktek pemberian makanan/miniman prelaktal.35% sedang dan praktek penyapihan 79.76% kurang dan praktek pemberian kolostrum 44. Status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora 54. Jakarta : Arcan. diantaranya praktek pemberian makanan prelaktal 36. S.12% tidak diberikan. Jakarta Depkes RI. Hubungan Pola Asuh Gizi dengan Gangguan Pertumbuhan (Growth Faltering) pada Anak Usia 0-12 Bulan di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.59%. praktek pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan tidak ada hubungan praktek penyapihan dengan status gizi balita usia 4-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dengan nilai.16% menjadi 15. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi disarankan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita untuk lebih memperhatikan praktek pola asuh gizi yang diberikan pada balitanya guna mencegah terjadinya gizi kurang pada balita usia 4-12 bulan. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. 2. Jakarta : Dian Rakyat 2000b. praktek pemberian ASI 38.jumlah cukup. Makanan Pendamping ASI. Hasil penelitian di Puskesmas Medang Kabupaten Blora dapat diketahui prevalensi gizi kurang pada balita 45.41% baik. Dan pada tahun 2005 terdapat 1.1 Saran Tingginya angka prevalensi gizi kurang di kabupaten Blora dapat dilihat pada tahun 2003 dan 2004 yang mengalami peningkatan dari 12.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat diambil simpulan: 1. 69 DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan.

KEP yang terjadi pada usia awal masa kanak-kanak akan memiliki dampak yang bersifat permanen pada usia selanjutnya. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat kecerdasan adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma. Kurang gizi khususnya Kurang energi protein (KEP) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. balita kurus dan balita pendek masih tinggi. Binet juga menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasarkan suatu criteria tertentu. (2008) bahwa inteligensi atau kecerdasan terdiri atas tiga komponen. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi gizi kurang (BB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 18. dan tetap abnormal walaupun telah terjadi pemulihan dari stadium akut (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM (Amarita dan Falah. b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. balita pendek ( TB/U <-2 SD WHO 2006) sebesar 36. masa balita ini menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Pengertian Kecerdasan Menurut Binet dan Simon dalam Azwar. yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. 2008).8 %. dan balita kurus (BB/TB <-2 SD WHO 2006) sebesar 13.4%. Watanabe et al. adaptasi. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup cerdas atau tidak dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. 1998). Binet juga beranggapan bahwa inteligensi bersifat monogeneik. Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.Status gizi dan perkembangan inteligensi Pendahuluan Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Beberapa penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara gizi buruk pada usia kanak-kanak dini dengan berkurangnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prevalensi gizi kurang sudah menurun di mana lebih rendah dari target pembangunan kesehatan Indonesia 2009 sebesar 20% dan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 18. Menurut Hadi (2005).6 %. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Mendez & Adair (1999) yang melakukan penelitian di Filipina menemukan bahwa anak yang pendek sejak lahir sampai usia 2 tahun memiliki skor kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak yang normal pada usia 8 dan 11 tahun. dan kritik. 2009). 2004). Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. yaitu a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakantindakan. dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.5%. namun prevalensi balita pendek dan balita kurus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF. KEP dapat mengakibatkan perubahan structural dan fungsional otak yang sebagiannya dapat bersifat permanen. Prevalensi balita gizi kurang. Anak-anak dengan kekurangan gizi berat memiliki kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal berdasar hasil pemeriksaan auditory-evoced potensials. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah. mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan . (2005) menemukan pengaruh yang signifikan dari intervensi gizi dan stimulasi pada peningkatan skor tes kognitif anak pendek/stunted.

iklim emosional di rumah. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal Secara biologis. Dengan demikian diferensiasi dan pertumbuhan otak berlangsung hanya sampai usia 3 tahun. Bagaimanapun juga besarnya stimulus lingkungan yang diterima oleh organism yang bersangkutan tidak dapat melampaui batas yang telah ditetapkan oleh faktor keturunan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bukti adanya pewarisan inteligensia berasal dari penelitian yang menghubungkan IQ orang dari berbagai tingkatan genetik. Menurut Georgieff (2007). Sehingga kekurangan gizi saat usia kehamilan dan usia anak sangat berpengaruh terhadap kualitas otaknya. (2008) menyimpulkan bahwa hereditas menetapkan batas perkembangan yang dapat dilakukan oleh lingkungan. kembar DZ berjenis kelamin berbeda dan saudara sekandung biasa. yaitu struktur yang berisi faktor-faktor herediter.2 point pada 65 pasangan kembar MZ. dapat ditentukan kualitas pertumbuhan. 17. Sedangkan kekurang gizi pada usia anak sejak lahir hingga 3 tahun akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sel glia dan proses mielinisasi otak. Sperma dan sel telur masing-masing berisi 23 kromosom. Setelah usia tersebut praktis tidak ada pertumbuhan lagi. 1. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Bila dinyatakan dalam korelasi maka korelasi IQ antara kembar MZ dalam studi Herman dan Hogben sebesar 0. Keadaan gizi kurang dapat mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Gizi kurang pada usia di bawah 2 tahun akan menyebabkan sel otak berkurang 15-20%. warna rambut dan kulit (Azwar. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. dari analisa lanjutan mengatakan bahwa 80 % variasi total IQ disebabkan oleh faktor genetik. dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku (Sobur. Komorita dkk dalam Azwar. sehingga anak yang demikian kelak kemudian hari akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 8085%.2003).dan berkembang pesat sejak dalam rahim. individu berkembang dari dua sel benih yaitu sel telur (ovum) yang ada pada ibu dan sel sperma yang berasal dari ayah yang akan membuahi sel telur.9 point pada 138 pasang kembar DZ berlainan jenis kelamin. Menurut Atkinson dkk. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi. kesehatan. kecuali pembentukan sel neuron baru untuk mengganti sel otak yang rusak. sehingga jumlah sel neuron di otak dapat berkurang secara permanen.(2008) melaporkan hasil studi awal yang dilakukan di Inggris oleh Herman dan Hogben. Sel-sel otak mulai terbentuk pada trimester pertama kehamilan. kualitas stimulus (rangsangan).7 point pada 96 pasang kembar DZ berjenis kelamin sama dan 17. Makanan yang kurang baik secara kualitas maupun kuantitas akan menyebabkan gizi kurang.Faktor genetik : Faktor genetik merupakan modal dasar untuk dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Perkembangan ini berlanjut saat setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun. Di dalam setiap kromosom terdapat struktur yang lebih kecil yang disebut sebagai gen. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata IQ sebesar 9. . gizi. periode tercepat usia 6 bulan pertama.47. sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan menghambat multiplikasi sel janin. yang melakukan penelitian kembar MZ. kondisi lingkungan yang menentukan potensi intelegensia individu akan berkembang antara lain . Eysenck (1981) disitasi oleh Azwar. Gen inilah yang sesungguhnya menjadi penentu sifat-sifat unik yang akan diturunkan seperti warna mata.2008).) Status Gizi Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik maka diperlukan zat makanan yang adekuat.84 dan untuk kembar DZ sebesar 0. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang luar biasa antara minggu ke 24 dan minggu 42 setelah konsepsi.

Penelitian yang dilakukan Watanabe et al. Pertumbuhan neuron tidak hanya terjadi pada bagian otak yang mengontrol fungsi motorik tapi juga pada bagian yang mengontrol kognitif (Singh.. 2008). Bila anak mendapatkan stimulasi maka ia akan mengembangkan kemampuannya dalam batasbatas yang diberikan oleh keluarga atau lingkungannya. Anak mempunyai kebutuhan untuk belajar.(2005) di Vietnam menunjukkan bahwa peranan stimulus dan intervensi gizi secara bersama-sama sangat penting dalam meningkatkan skor tes kognitif anak-anak yang menderita gizi kurang. 2009). merasa. memperbaiki koordinasi gerakan otot. Anak-anak gizi kurang yang diberikan . melihat. meningkatkan lama konsentrasi dan meningkatkan Inte!!igence Quotion (IQ) bayi sebanyak 15 poin. Ketika tikus ditempatkan di treadmill. Selama dalam kandungan susunan syaraf yang terutama tumbuh cepat adalah jumlah dan ukuran sel syaraf. Setelah bayi lahir maka pertumbuhan susunan syaraf lebih terarah pada perkembangan sel syaraf yang belum berkembang.) Stimulasi Perkembangan psikis seseorang tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor dari dalam dirinya. pada usia 10 tahun berat otak akan satu per delapan belas berat tubuh. beberapa perubahan dianggap permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf (Baker-Henningham & Grantham-McGregor. Setelah anak berusia lebih dari 4 tahun. Ketika dilahirkan otak bayi beratnya satu per delapan dari berat tubuh seluruhnya. mineral dan zat gizi lainnya mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. Hal ini ditunjukkan oleh program stimulasi yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan. mencium dan meraba. dan pada usia 15 tahun berat otak akan satu pertigapuluh berat tubuh pada usia dewasa akan mencapai berat satu perempat puluh berat tubuh seluruhnya. 2009) Pertumbuhan susunan syaraf ini dapat dikatakan berlangsung dengan cepat sekali selama dalam kandungan dan 3 sampai 4 tahun setelah dilahirkan. sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak.kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makanan kembali. Stimulasi memegang peranan sangat penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. Pola pertumbuhan ini berlaku baik bagi cerebrum maupun cerebellum. Namun demikian. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan yang sehat (Monks et a!. yang diberikan selama awal kehidupan mempunyai pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan maturasi otak. Terdapat bukti eksperimental yang menyatakan bahwa tikus yang dibesarkan dalam lingkungan stimulasi dengan penuh kegembiraan dan permainan mempunyai sel otak ekstra 50.000 pada setiap sudut hipokampusnya dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dalam kandang biasa. 2003). Berbagai stimulasi melalui pancainderanya seperti mendengar. Walter tahun 2003 melakukan penelitian terhadap 825 anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah dibandingkan anak yang mempunyai gizi baik. Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang. menyebabkan sel otak mereka memproduksi faktor pertumbuhan yang menstimulasi pertumbuhan dendrit dan perluasan jaringan saraf. Kualitas interaksi yang baik akan menimbulkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi rasa saling menyayangi (Soetjiningsih. 1995). Stuart dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kekurangan zat gizi berupa vitamin. Hal itu berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak terutama usia di bawah 3 tahun. Penting untuk diingat bahwa sinaps akan menghilang secara spontan bila tidak digunakan (Sophia. 2. Oleh karena itu lingkungan sosial harus mendukung perkembangan anak melalui pemberian berbagai stimulasi. Interaksi yang harmonis antara anak dengan anggota keluarga akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka pada orang tuanya sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara orang tua dan anak.. pertumbuhan berat otaknya rata-rata paling cepat. Selama dua tahun pertama kehidupannya. pertumbuhan susunan syaraf berlangsung lebih lambat (Hurlock. 2006). tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar diri anak tersebut.

3. 2007). Penelitian Muljati et al. Pada satu sisi seorang ibu terkadang dituntut untuk ikut membantu perekonomian keluarga. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat penting untuk perekembangan intelligensi anak. tanpa mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang. Hal ini dapat menghambat perkembangannya (Depkes. Sementara di sisi lain proses tumbuh kembang anak juga memerlukan perhatian yang khusus. Angka normative dari hasil tes dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ) (Azwar. Pekerjaan ibu menimbulkan permasalahan yang dilematis. . ketegangan dan kondisi hidup yang berubah.) Status ekonomi Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Ibu yang berpendidikan tinggi lebih terbuka menerima informasi dari luar tentang cara pengasuhan anak yang baik. menjaga kesehatan anaknya. dan sering mereka tidak mengetahui caranya. 1. Penelitian lain menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan anak. Anak-anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik memiliki proporsi intelektual yang lebih baik daripada anak-anak dengan rangsangan intelektual jelek. Kemiskinan akan menyebabkan keterbatasan keluarga dalam menyediakan berbagai fasilitas bermain menyebabkan otak anak kurang mendapatkan stimulasi. Cara mengukur Kecerdasan Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan adalah menerjemahkan hasil test intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma.intervensi gizi dan stimulus memiliki tes skor kognitif yang lebih tinggi daripada anak yang hanya diberikan intervensi gizi saja. dkk (2008). 5. kecil kemungkinannya untuk dapat meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan pengembangan kemampuan anak. Hal ini mengakibatkan kurangnya stimulasi yang diberikan kepada anak sehingga dapat mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. 4.) Pendidikan ibu Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Menurut Davidof (1991). 1995). kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan. Sedangkan Purwandari. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. Selanjutnya adalah anak yang berasal dari orang tua miskin. Keterbatasan perbendaharaan kata-kata akan mempersempit pemikirannya dan dapat mengakibatkan intelligensi menurun. Pendidikan ibu akan mempengaruhi perkembangan jika ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan anaknya serta adanya interaksi yang harmonis antara ibu dan anak. kebisingin. Oleh karena itu seorang ibu harus bersikap bijak dalam menentukan prioritas yang akan dipilih. Kemiskinan berkaitan dengan kekurangan makanan. efek kemiskinan terhadap inteligensi antara lain : kemiskinan sering dihubungkan dengan kepadatan. Tanpa kedua hal tersebut pendidikan ibu yang tinggi tidak serta merta dapat mempengaruhi perkembangan terlebih kepedulian ibu terhadap tumbuh kembang anak minim. Dengan kondisi seperti ini anak-anak kurang memperoleh informasi baru yang teratur untuk belajar.2008). Efek yang kedua adalah anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sedikit sekali memperoleh tambahan kata-kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan diri dan pengalamannya. karena keterbatasan pendidikannya. (2002) juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan mental anak batita gizi kurang. yang melakukan penelitian tentang intelegensia pada anak yang disapih sebelum dua tahun dan sesudah dua tahun menunjukkan bahwa rangsangan intelektual menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap intelegensia anak. Pekerjaan yang mengharuskan ibu untuk keluar rumah menyebabkan kurangnya interaksi antara ibu dan anak.) Pekerjaan ibu Ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak.

Tabel 1. The Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-R) untuk usia 16 sampai 64 tahun. The Standard Progressive Matrices (SPM) dan The Kaufman Assesment Battery for Children (K-ABC) untuk anak usia 4 sampai 12. Dalam revisi terakhir ini konsep intellegensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes. IQ = (MA/CA) x 100 Keterangan : MA CA 100 = Mental Age (usia mental) = Chronological age (usia kronologis) = Angka konstan untuk menghindari bilangan decimal. kecuali untuk level Dewasa-Rata-rata yang berisi delapan tes. 2008). Setiap level usia dalam skala ini berisi enam tes. Kemudian digunakan secara resmi pada tahun 1916 ketika Terman. dan III. Berdasarkan perbedaan taraf kesukaran yang kecil itulah disusun urutan soal dari yang paling mudah sampai kepada yang paling sukar (Azwar. yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang anak dengan usia anak tersebut. Tes ini juga bagus untuk menilai memori jangka pendek. kuantitatif dan memori jangka pendek (Gregory. Angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet. Tes-tes dalam skala ini dikelompokkan menurut berbagai level usia mulai dari usia-II sampai dengan usia dewasa-superior. Distribusi IQ untuk Kelompok Standarisasi Tes Binet Tahun 1937 (Dari Garrison dan Magoon 1972) IQ Persentase Klasifikasi . Skala Stanford-Binet dikenalkan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemeberi tes. 1992).5 tahun (Azwar. Pada saat ini ada beberapa tes IQ yang popular antara lain : Standford-Binet Intelligence Scale untuk usia 3-14 tahun. tes kecerdasan yang akan digunakan adalah Standford-Binet Intelligence Scale. 2008). level usia meningkat dengan interval satu tahunan. Pada waktu itu perhitungan IQ dilakukan dengan memakai rumusan . Tidak ada individu yang dikenai semua soal dalam tes karena setiap subjek diberi hanya soal dalam tes yang berada dalam cakupan level usia yang sesuai dengan level intelektualnya masing-masing (Azwar. 1992). IQ yang dihasilkan oleh skala ini merupakan IQ-deviasi yang mempunyai rata-rata sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16. Penyajian tesnya sendiri mengandung kerumitan yang spesifik bagi masing-masing individu yang dites. seorang ahli psikologi Amerika menerbitkan Revisi Binet.Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi Jerman bernama William Stern. skor pada skala Stanford-Binet dikonversikan dengan bantuan suatu table konversi. Dalam penelitian ini. The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun. Keempat area penalaran itu adalah penalaran verbal. sebuah buku catatan untuk mencatat jawaban dan skornya. Diantara usia-V dan usia-XIV. dan sebuah manual/petunjuk pelaksanaan pemberian tes (Azwar. 2008). 2008). dua buah buku kecil yang memuat cetakan kartu-kartu. Stanford-Binet Intelligence Scale: Fourth Edition merupakan versi terbaru yang diterbitkan pada tahun 1986. Diantara usia-II dan usia-V. Untuk memperoleh angka IQ. Materi-materi yang terdapat dalam Skala Stanford-Binet berupa sebuah kotak yang berisi bermacam-macam benda mainan tertentu yang disajikan pada anak-anak. abstrak/visual. Pemilihan tes didasarkan pertimbangan bahwa tes ini memiliki validitas yang tinggi dalam menilai kerusakan otak yang bermakna atau retardasi mental. dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut. Selain itu kelompok umur penelitian yaitu umur 5-6 tahun masuk ke dalam kategori umur yang dapat menggunakan tes tersebut (Gregory.II. sangat terlatih dalam penyajian tesnya. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level Dewasa-rata-rata dan level Dewasa-Superior I. Dalam masing-masing tes untuk setiap level usia terisi soal-soal dengan taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda. tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi.

emosi. kepribadian. B. spiritual dan jiwa. 2003). Tidak ada yang lebih utama untuk meraih kesuksesan hidup dari pada fungsi otak yang optimal. Tergantung pada waktu dan lamanya defisiensi. astrosit dan mikroglia. Pengaruh pada anatomi otak termasuk pada neuron dan sel pendukung seperti oligodendrosit.00 14. Mikroglia adalah sel yang penting untuk migrasi neuron dari bagian tengah tabung saraf ke korteks serebri. persepsi.00 0.50 23.20 18.60 2. pemikiran intuitif dan spritual. menari.03 0.20 1. Kita dapat mengoptimalkan fungsi saraf dalam otak melalui kecukupan zat gizi dan melalui aktivitas mental dan fisik.10 23.20 0. Oligodendrosit juga berfungsi memasukkan asam lemak ke dalam myelin. Sementara itu hipokampus berfungsi untuk interaksi sosial. emosi dan memori (Singh. Dalam teori ini bahwa karakteristik perilaku anak-anak gizi kurang menurunkan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini yang selanjutnya berdampak pada pada perkembangan yang buruk.10 3. emosional. Hemisfer kiri terutama bertanggung jawab dalam hal logika. Menurut Baker-Henningham & Grantham-McGregor (2009) ada dua hipotesa penting yang menjelaskan bagaimana defesiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. analitis. neurokimia dan neurofisiologi dari perkembangan otak.50 5. 2003). akal. Oligodendrosit adalah sel glia yang memproduksi myelin dan bergantung pada substrat zat gizi makro untuk metabolisme energinya. Hipotesa pertama yang disebut sebagai ³ isolasi fungsonal¶. Berbagai aktivitas yang menstimulasi kedua hemisfer secara bersamaan akan mendorong perkembangan inteligen secara global. pusat segala eksistensi kita seperti inteligen. pemikiran. Pengaruh Status Gizi Terhadap Kecerdasan Anak Otak terbagi menjadi 2 belahan yaitu sisi kiri dan sisi kanan yang disebut hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Kualitas perkembangan otak manusia tergantung pada interaksi antara potensi genetik dan faktor-faktor lingkungan seperti asupan gizi.10 8.03 Sangat superior 140-149 130-139120-129 Superior 110-119 100-10990-99 Rata-rata tinggi Rata-rata normal 80-89 70-79 60-6950-59 Rata-rata rendah Batas lemah Lemah mental 40-49 30-39 Sumber : Azwar (2008) halaman 59 1. Astrosit berfungsi untuk menghantarkan zat gizi. kreatif. stimulasi dan sikap orang tua. Sel-sel otak lebih sensitif terhadap zat gizi dari pada sel-sel tubuh yang lain. (Georgieff. Oleh karena itu defisiensi zat gizi makro dapat mengakibatkan hipomyelinasi dan lebih jauh lagi mengurangi hantaran zat gizi dan migrasi neuron yang abnormal selama awal perkembangan otak. Defisiensi berbagai zat gizi terutama zat gizi makro akan mempengaruhi neuroanatomi. 2006). Anak kecil yang berat badannya kurang dan bertubuh pendek ternyata dapat menunjukkan perubahan perilaku. Hemisfer kanan bertanggung jawab untuk perkembangan karakteristik artistik seperti musik. Otak adalah organ fisik yang sangat berharga. puisi.40 0. Anak- . pengertian. melukis. bahasa dan matematis.160-169150-159 0. Terdapat lebih dari 100 milyar jaringan saraf dalam otak yang integritasnya tergantung pada asupan zat gizi yang cukup dan juga aktivitas mental dan fisik (Singh. akan mengurangi jumlah dan ukuran neuron serta pembentukan sinapsis.

Protein dan energi mendukung perkembangan otak yang cepat. Defisiensi protein menyebabkan kehilangan struktur dendrit dan gangguan pada dendrit tulang belakang. dan lingkar kepala pada usia kanak-kanak dapat memprediksikan nilai IQ pada perkembangan usia kanak-kanak selanjutnya(Baker-Henningham & Grantham-McGregor. sintesis faktor pertumbuhan serta untuk perpanjangan neurit sehingga fungsi otak efisien dalam jaringan sinapsis. Pengaruh neurokimia dari Kekurangan Energi dan Protein (KEP) adalah perubahan sintesis neurotransmiter dan jumlah reseptornya. di mana anak yang mendapatkan rangsangan intelektual baik maka tingkat intelegensianya lebih tinggi. Sementara Suhartono et al (2008) juga melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan anak gizi buruk masa lalu di Kabupaten Tanggamus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunted bukan merupakan faktor resiko dari rendahnya intelegensia pada anak. Grantham. 2009) Sedangkan beberapa penelitian observasional dan longitudinal menujukkan bahwa keadaan gizi kurang yang terjadi setiap saat dalam usia dibawah 36 bulan pertama biasanya disertai efek jangka panjang. 11 dan 17 tahun di Mauritius. beberapa perubahan dianggap permanen meliputi jumlah myelin dan jumlah dendrite kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron syaraf. Anak-anak yang pendek memiliki ukuran kepala yang kecil. (1991) melakukan penelitian eksperimen pada anak stunted usia 9-24 bulan. Secara langsung merubah metabolisme neuron atau secara tidak langsung merubah struktur neuron atau homeostasis neurotransmiter (Georgieff. Anakanak dengan malnutrisi berat memiliki kepala yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditoryevoced potentials yang abnormal. Anak diberi susu formula sebanyak 1 kilogram (kg) per minggu selama 2 tahun. Sejumlah penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan tersebut. Perilaku ini yang diyakini mempengaruhi perkembangannya. KEP juga mempengaruhi neurofisiologi yaitu kemampuan neuron untuk bekerja menghantarkan impuls saraf. Anak yang stunted pada usia 2 tahun pertama kehidupan. 2006).5 tahun. (2004) melakukan penelitian tentang kurang gizi pada usia 3 tahun dan dampaknya terhadap masalahmasalah perilaku pada usia 3. Mendez & Adair (1999) mengatakan bahwa gizi kurang pada bayi dan awal kehidupan diperkirakan memiliki efek negatif terhadap perkembangan kognitif. 2006).anak tersebut memperlihatkan aktivitas yang menurun. Hipotesa lainnya mengatakan bahwa keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan structural dan fungsional pada otak. Namun beberapa penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan kognitif. Pemberian suplementasi bersama dengan stimulasi meningkatkan perkembangan mental anak Watanabe et al. lebih rewel dan tidak merasa bahagia. Lampung. Purwandari et al (2008) melakukan penelitian tentang hubungan usia penyapihan dengan intelegensia pada anak TK. kelompok stimulasi saja serta kelompok suplementasi dan stimulasi. et al. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skor tes kognitif lebih tinggi pada kelompok subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan dari pada kelompok subjek yang hanya mendapatkan intervensi gizi saja. Subjek berasal dari 2 kelompok yaitu subjek yang pernah mendapatkan intervensi gizi saja dan subjek yang mendapatkan intervensi gizi dan program stimulasi dini perkembangan. Otak membutuhkan protein untuk sintesis deoxyribonucleic Acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). Afrika.5-8. produksi neurotransmiter. Namun demikian. serta tidak begitu menujukkan rasa ingin tahu jika dibandingkan anak-anak yang gizinya. Sebanyak 129 anak dirandom untuk masuk kelompok suplementasi saja. Liu et al. Penelitian ini lebih menekankan bahwa rangsangan intelektual merupakan faktor resiko rendahnya tingkat intelegensia. di mana jika terus belangsung akan berdampak pada masalah-masalah perilaku sampai usia dewasa. Efek terberat pada bagian kortek dan hipokampus yang berfungsi sebagai pusat memori (Georgieff. kendati perubahan itu akan membaik pada saat tikus itu diberi makan kembali. serta tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari stadium akut. Penelitian . pada usia 8 dan 11 tahun mempunyai skor tes kognitif yang signifikan lebih rendah dari pada anak nonstunted terutama bila severe stunted. (2005) melakukan penelitian untuk mengetahui efek jangka panjang dari intervensi gizi dan stimulasi dini perkembangan anak usia 4-5 tahun terhadap perkembangan kognitifnya pada usia 6. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurang gizi berpengaruh terhadap kekurangan neurokognitif. Kelompok anak yang tidak stunted juga diikutkan dalam penelitian ini.

doc&docid=39f2cf95789e513d313b80216f273058&a=bi &pagenumber=3&w=756 .ums.id%2Febook%2FProposal %20Penelitian%20Kajian%20Pustaka. 2:30 pm and is filed under tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan status gizi masa lalu dengan pertumbuhan anak saat ini.com/gview?url=http%3A%2F%2Fgeografi. or trackback from your own site.mengumpulkan anak yang menderita gizi buruk masa lalu dan dilakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangannya saat ini. http://docs. You can leave a response. You can follow any responses to this entry through RSS 2. tetapi tidak ada hubungan bermakna dengan perkembangan anak saat ini.google.0.ac. This entry was posted on July 10. 2009.

Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya. pelajar SMA Desa Cilebut Timur. Ibukota negara. yakni ³Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. karena takut akan membawa kehancuran pada diri remaja itu sendiri dan masyarakat luas. Alasan-alasan yang muncul dari para siswa yang terlibat itu biasanya bernada klise seperti membela teman. baik yang memulai perkelahian maupun yang sekedar menjadi korban. Kedua potongan berita di atas menunjukan bahwa persoalan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar bukan lagi persoalan jagad pendidikan di Jakarta. yakni ³ Ahmad Algofari (18). penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap membahayakan. Oleh karena itu semua pihak terutama para orang tua dan guru sibuk memikirkan bagaimana cara mengatasi tawuran pelajar tersebut dan menghindarkan mereka dari faktor-faktor yang mengarah pada tindakan ± tindakan itu. .00 tanggal 26 Maret 2007. Tawuran tersebut diduga sebuah upaya balas dendam para pelajar«´. Para guru dan pengelola kependidikan di mana pun dan jenjang apa pun dibayangi kemungkinan mesti menghadapi persoalan-persoalan para siswanya. yaitu terjadinya perubahan psikis dan fisik secara sederhana dan umum menurut ukuran masyarakat maju. Selain itu pemuda juga merupakan tombak perubahan zaman dan jawaban sebuah peradaban. Pada setiap fikrah. berita yang termuat pada Cerita Pagi Trans TV hari senin pukul 08. tangannya tertebas pedang hingga buntung dalam tawuran di Kampung Cilebut. Penyebab tersembunyi banyak tawuran adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Kedua. kebiasaan bergerombolan dipinggir jalan dan mejeng-mejeng dipusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. Pelajar atau siswa yang terlibat dalam tawuran pelajar adalah mereka yang masih duduk disekolah menengah dan usia mereka tergolong masih remaja. ahli psikologi menganggap masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak kemasa dewasa. solider. Remaja selaku tunas bangsa akhir-akhir ini semakin menarik semua kalangan baik dari kalangan orang tua. Bogor. Di media massa baik cetak maupun elektronik banyak membicarakan remaja yang suka mencuri. Pemuda sebagai pelajar adalah modal bagi terlaksananya tujuan ke masa depan. Terlebih lagi belakangan ini kasus tawuran pelajar telah banyak menimbulkan kerugian berbagai pihak dan mencemaskan para orang tua.Contoh Skripsi Posted on January 23. Masa remaja adalah usia transisi. pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat. Data menunjukan kenakalan dan tawuran semakain memprihatinkan. remaja yang suka minum beralkohol dan remaja yang melakukan perkelahian terutama perkelahian pelajar antarsekolah. Pertama. atau merasa dendam. seperti yang dikemukakan oleh ulama besar Hasan Al-Bana sebagaimana di kutip oleh koesmarwati bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan. berita yang termuat pada 1 Maret 2007. Masalah tawuran pelajar adalah masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan terutama diwilayah DKI Jakarta hampir setiap media massa yang ada di kota Jakarta memberitakan permasalahan tawuran pelajar. baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun yang terkena diakibatkan tawuran pelajar tersebut. semua ini menjadi bukti ada yang salah dalam proses kegiatan yang dilakukan para siswa disekolahnya. Sukaraja. Dengan demikian dapat disinyalir bahwa tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan permasalahan yang sangat signifikan dan memprihatinkan. tetapi di daerah-daerah atau di banyak pelosok negeri ini. karena bukan hanya menimbulkan korban yang luka ringan tetapi juga korban yang meninggal dunia. membela diri. pemuda adalah pengibar panji-panjinya.´ Salah satu persoalan yang menyita perhatian para guru di zaman kini adalah jika siswanya terlibat perkelahian atau tawuran. 2008 by yudhim BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dua potong berita dari harian POS KOTA dan Trans TV mengusik perhatian saya dan membekaskan rasa miris berkepanjangan. setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. Di sisi lain perilaku dan akhlak sebagai siswa sangat jauh disparitas antara cita dan dan fakta. guru maupun anggota masyarakat. didahului. masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun.

maka penulis merumuskan sebagai berikut : Bagaimana pendekatan metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam upaya pencegahan tawuran pelajar di SMKN 8 Jakarta? Bagaimana analisis pengembangan kegiatan dakwah yang dilakukan di SMKN 8 Jakarta dalam upaya pencegahan tawuran pelajar dengan menggunakan analisis SWOT? TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui apa saja pendekatan metode yang digunakan dalam upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan DSL Untuk mengetahui analisis dakwah sistem langsung dengan menggunakan analisis SWOT pada SMKN 8 dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Tadarus Al-Qur¶an. aspek kualitas keimanan dan ketakwaan yang perlu dibangun pada setiap diri siswa tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja. Mentoring.Pengajian Kelas. Latihan Marawis. Nasyid maupun Qosidah. penulis ingin melakukan suatu kegiatan penelitian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Studi Pada Dakwah Sistem Langsung (DSL) SMKN 8 Jakarta´. kegiatan yang berada disekolah harus ditingkatkan terutama pada kegiatan dakwah yang menjadikan diri siswa tersebut terlepas dari tindakantindakan yang merugikan diri siswa itu sendiri. penulis membatasi bagaimana Upaya Pencegah Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta . Contoh dari kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) tersebut yang dilakukan para siswa: Kegiatan Ceramah Jum¶at Keputrian. Kualitas keimanan.Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi. Beruntunglah anda mempunyai agama untuk menjadi sandaran Rohani. Rumusan Masalah Dari batasan masalah diatas. . Kegunaan Penelitian Dapat diketahui dengan sistematis mengenai upaya pencegahan tawuran pelajar melalui kegiatan dakwah terutama mengatasi tawuran pelajar. hal ini diharapakan akan memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. akan tetapi meliputi kemampuan siswa menapis (filter) pengarah perubahan zaman. HC Link yaitu tak ada manusia yang dapat memberikan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Agama pada anda. Berdasarkan gambaran pokok pikiran tersebut. guru dan pihak-pihak yang terkait serta memberikan motivasi untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan dakwah sistem langsung terhadap anak dan siswa yang bermasalah. Untuk menambah Khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. penulis merasa perlu memberikan batasan serta rumusan permasalahan sebagai berikut : Batasan Masalah Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini. Untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Sholat Jum¶at. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH Agar pembahasan tidak terlalu meluas. ketakwaan dan keagamaan berfungsi meringankan dan membebaskan manusia yang terlibat konflik kejiwaan dari tekanan penderitaan dan juga memberikan ketenangan. Dapat menjadi masukan bagi para orang tua. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Pendalaman Materi. kekuatan batin dan kecerahan. Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masingmasing siswa.

Telaah pustaka. Di lakukan guna untuk memperoleh informasi dan keterangan langsung dari informan. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan proses induktif. majalah. Tlp. Penetapan Lokasi Penelitian Adapun lokasi data penelitian ini adalah di SMKN 8 Jakarta Jln. Sumber Data Sekuknder: yang menjadi sumber data sekunder dari penelitian ini adalah bukubuku dan berbagai literatur yang berhubungan dengan aktivitas peranan kegiatan dakwah sistem langsung dalam upaya pencegahan tawuran pelajar. Yang dilakukan guna untuk mengamati dan mencatat kondisi objek dengan melihat pelaksanaan kegiatan dakwah sistem langsung (DSL). Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang penulis butuhkan berdasarkan permasalahan maka penulis menggunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara. serta usaha menambah informasi dalam menyusun skripsi ini maka penulis menggunakan beberapa metode. mencatat yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Dalam hal ini penulis mewawancarai pihak yang terkait yakni seperti guru pembimbing atau koordinator kegaitan Dakwah Sistem Langsung (DSL) serta pihak lainnya yang bisa membantu dalam melengkapi skripsi ini. tesis dan desertasi) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2007. Analisa Data Yang dimaksud dengan analisa data adalah ³proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interpretasikan´. Moleong dalam bukunya ialah bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Jakarta Selatan. Sumber Data Sumber data adalah subjek utama dalam meneliti masalah diatas untuk memperoleh data-data konkrit. dan sebagainya. Observasi. Adapun pengertian dari penelitian kualitatif adalah menurut Bagdan dan Taylor (1975) seperti yang dikutip Lexy J. yang dimaksud adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam penelitian ini unit analisis yang dimaksud adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMKN 8 Jakarta. adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: Sumber Data Primer: yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah guru pembimbing atau koordinator kegiatan Dakwah Sistem Langsung (DSL). 021-7996493 Waktu Penelitian Waktu penelitian yang saya lakukan mulai dari tanggal 14 Mei 2007 sampai dengan tanggal 28 Mei 2007 Unit Analisis Yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan akan menjadi subjek penelitian. . berupa pengumpulan data dan informasi dari sumber tertulis yang memiliki hubungan dengan masalah yang sedang diteliti berupa buku.METODOLOGI PENELITIAN Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial siswa yang teliti. Raya Pejaten Pasar Minggu. antara lain : Metode penelitian Berdasarkan permasalahan diatas maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. dengan situasi tersebut menampilkan diri. yakni memperhatikan secara akurat. koran. Di katakan induktif karena peneliti tidak memaksakan diri untuk hanya membatasi penelitian pada menerima atau menolak dugaannya. tetapi memahami situasi. Teknik Penulisan Penulis gunakan pada buku Pedoman penulisan Karya Ilmiah (skripsi.

Bab IV:Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah: Pelaksanaan Metode Kegiatan DSL. telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis dan ternyata ada beberapa mahasiswa/I sebelumnya menulis dalam masalah yang hampir sama bahkan menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. yaitu sebagai berikut : Bab I : Merupakan Pendahuluan yang menjelaskan. Pembatasan dan Perumusan Masalah. Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi. Faktor Pendukung dan Penghambat. Analisa SWOT. Pengertian DSL. Tinjauan Pustaka. Penulis membahas tentang bagaimana ³Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah dan apa faktor pendukung dan penghambat kegiatan dakwah di SMKN 8 Jakarta ³. Latar Belakang Masalah. Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar. Bab II : Dalam bab ini dibahas tentang Pengertian Tawuran Pelajar. Sistematika Penulisan. Kepentingan DSL. Metodologi Penelitian. SISTEMATIKA PENELITIAN Skripsi ini dibahas dalam lima bab. namun kalau dilihat lebih dalam materi utama yang dibahas sangat berbeda. dan Pengertian Dakwah. maka penulis perlu mempertegas perbedaan antara masing-masing judul dan masalah yang dibahas. untuk menghindari dari halhal yang tidak diinginkan seperti ´menduplikat´ hasil karya orang lain. Bab V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran. Pendekatan DSL. Sedangkan judul skripsi penulis ³ Upaya Pencegahan Tawuran Pelajar Melalui Kegiatan Dakwah ³ sekilas memang tampak hampir sama. Bab III: Dalam bab ini dibahas tentang gambaran umum SMKN 8 Jakarta: yang meliputi Identitas Sekolah.. yaitu sebagai berikut : ³ Implementasi Program Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Kualitas Keberagamaan Remaja ´ oleh YUSNIARNI / NIM 9954017602 / PMI 2005 Masalah : Temuan dan Analisa Implementasi Mentoring Agama Islam Dalam Pemberdayaan Keberagamaan di SMKN 8 Jakarta.TINJAUAN PUSTAKA Dalam menyusun skripsi ini. Oleh karena itu. Tujuan dan Manfaat Penelitian. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TAWURAN PELAJAR DAN KEGIATAN DAKWAH Tawuran Pelajar Pengertian Tawuran Pelajar Faktor-faktor Penyebab Tawuran Pelajar Tawuran Pelajar Sebagai Delinkuensi . sejarah dan perkembangan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dan juga struktur organisasi di SMK N 8.

google. C.yahoo. Struktur Organisasi BAB IV UPAYA PENCEGAHAN TAWURAN PELAJAR MELALUI KEGIATAN DAKWAH SMKN 8 JAKARTA Melalui Pendekatan Metode Dakwah Sistem Langsung 1. Kegiatan Mentoring 3.Kegiatan Dakwah Pengertian Dakwah Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL) Kepentingan Dakwah Sistem Langsung (DSL) Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) BAB III GAMBARAN UMUM SMKN 8 JAKARTA DAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) Identitas SMKN 8 Jakarta Sejarah dan Perkembangan Dakwah Sistem Langsunng (DSL) SMKN 8.yahoo.com/ http://reader.com/ http://360.com . Kegiatan Mandiri Analisa SWOT BAB V PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://my. kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2.