ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ANGINA PEKTORIS Oleh: Sunardi (Residensi Sp.KMB) I.

Pendahuluan Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya, penyakit jantung koroner ( PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting. Di Negara-negara maju dan beberapa Negara berkembang seperti Indonesia, PJK merupakan penyebab kematian utama. Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita PJK mempunyai manifestasi awal Angina Pectoris Stabil ( APS ). Jumlah pasti penderita angita pectoris ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000 penduduk. Asosiasi jantung Amerika memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil bila dibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted Country dan Framingham, yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3% sampai 3.5% dari penderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS untuk setiap penderita infark miokard akut Mengingat banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang ditimbulkannya terutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif. Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya infark miokard akut dan kematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta mengurangi symptom dengan harapan meningkatnya kualitas hidup. Pada penderita yang berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan awal didapatkan kemungkinan sedang atau tinggi untuk menderita suatau PJK perlu dilakukan test secara non invasif maupun invasive untuk memastikan diagnosa serta menentukan stratifikasi resiko. Penderita APS dengan resiko tinggi atau resiko sedang yang kurang berhasil dengan terapi standart, perlu dilakukan tindakan revaskularisasi, terutama bila penderita memang menghendaki. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mampu menerapkan keperawatan pada klien dengan angina pectoris.

1

II. Tinjauan Pustaka a. Definisi Angina pectoris adalah suatu syndrome yang ditandai dengan rasa tidak enak yang berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan yang disebabkan oleh ischemia miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis. Rasa tidak enak tersebut sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa terjerat, rasa kemeng, rasa penuh, rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa seperti sakit gigi. Rasa tidak enak tersebut biasanya berkisar 1 – 15 menit di daerah retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke rahang, leher, bahu, punggung dan lengan kiri. Walaupun jarang, kadang-kadang juga menjalar ke lengan kanan. Kadang-kadang keluhannya dapat berupa cepat capai, sesak nafas pada saat aktivitas, yang disebabkan oleh gangguan fungsi akibat ischemia miokard. b. Penyebab Penyebab dari angina pectoris antara lain : ateroskelerosis, spasme pembulu koroner, latihan fisik, pajanan terhadap dingin, makan makanan berat dan stress. c. Tipe Angina Pectoris Angina Stabil Dapat diramal, konsisten, terjadi saat latihan dan hilang dengan istirahat. Dibedakan antara lain :  Angina Nokturnal Nyeri terjadi saat malam hari, biasanya saat tidur, dapat dikurangi dengan duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri.   Angina Dekubitus : Angina saat berbaring Iskemia tersamar Terdapat bukti obyektif ischemia ( seperti tes pada stress tetapi pasien tidak menunjukkan gejala Angina Non stabil ( angina prainfark, angina kresendo ) Frekwensi, intensitas, dan durasi serangan angina meningkat secara progresif. Angina non stabil di bedakan antara lain :

2

di duga disebabkan oleh spasme arteri koroner d. Patofisiologi -ateroskelerosis .d kematian Perlu menghindari kompilkasi Diperlukan pengetahuan tinggi Kurang pengetahuan bd deficit knoeledge 3 .Spasme pembulu darah Pajanan terhadap dingin stress Latihan fisik Makan makanan berat Adrenalin me ↑ vasokontriksi Kebutuha n O2 jantung me↑ aliran O2 me ↑ ke mesentrikus Aliran O2 arteri koronaria me ↓ Aliran O2 ke jantung me ↓ jantung ke kurangan O2 Ischemia otot jantung Kontraksi jantung me ↓ Nyeri Curah jantung me ↓ Nyeri b.d iskhemia Takut mati cemas Cemas b. - Angina Refrakter atau intraktabel Angina yang sangat berat sampai tidak tertahan Varian angina  Angina Prinzmetal Nyeri angina yang bersifat spontan disertai elevasi segmen ST pada EKG.

factor yang bisa meredakan nyeri dada tersebut. Ada 5 hal yang perlu digali dari anamnese mengenai angina pectoris yaitu : lokasinya. factor pencetus. leher. Dengan anamnese yang baik dan teliti sudah dapat disimpulkan mengenai tinggi rendahnya kemungkinan penderita tersebut menderita angina pectoris stabil atau kemungkinan suatu angina pectoris tidak stabil.e. does not cause angina. such as walking and climbing stairs. walking or stair climbing after meals. Serangan angina dapat timbul pada waktu tidur malam Lamanya serangan sakit dada biasanya berlangsung 1 – 5 menit. mungkin pasien mendapat serangan infark miokard akut dan bukan disebabkan angina pectoris biasa. or when under emotional stress. Sakit dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Angina result from strenues or rapid or prolonge exertion at work. Walking 1 to 2 block on the level and climbing more than 1 flight under normal conditions. seperti pada table di bawa ini : Class I II Description Ordinary physical activity. Walking or climbing stairs rapidly. Slight limitation of ordinary activity. walking uphill. Kualitas sakit dada pada angina biasanya timbul pada waktu melakukan aktivitas. bila sakit dada berlangsung lebih dari 20 menit . Diagnosa . lamanya. Inability to carry on any physical activity without discomfort-angina syndrome may be present at rest III IV 4 . Beratnya nyeri pada angina pectoris dapat dinyatakan dengan menggunakan skala dari Canadian Cardiovaskuler Society. in cold. in wind. walaupun perasaan tidak enak di dada masih dapat terasa setelah sakit dada hilang . rahang. kualitasnya.Anamnese Diagnosa angina pectoris terutama didapatkan dari anamnese mengenai riwayat penyakit. atau ke lengan kanan. Walking more than 2 blocks on the level and climbing more than 1 flight of ordinary stairs at a normal pace and under normal conditions. seringkali pasien merasakan adanya sakit dada di daerah sternum atau dibawah sternum. or only during the few hour after awakening. atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri kadang-kadang dapat menjalar ke punggung. Marked limitations of ordinary physical activity. karena diagnosa pada angina sering kali berdasarkan adanya keluhan sakit dada yang mempunyai cirri khas sebagai berikut : letaknya.

Depresi yang rendah. misalnya tekanan darah tinggi. Foto thoraks pada penderita angina pectoris biasanya normal. tes ini merupakan termurah bila dibandingkan dengan tes gejala yang mengarah pada angina harus atau elevasi segmen ST menguatkan dilakukan EKG 12 lead. Namun hasil EKG akan normal pada 50 % dari penderita kemungkinan adanya angina dan menunjukkan suatu ischemia pada beban kerja 5 . mereda bila istirahat atau diberi nitrogliserin. Kesimpulan yang didapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu angina yang tipikal. Dari segi biaya. Tetapi pemeriksaan fisik yang dilakukan saat serangan split S2 angina dapat memberikan bila nyerinya informasi tambahan yang berguna. Pemeriksaan Penunjang Setiap penderita dengan dengan angina pectoris. g. angina yang atipikal atau nyeri dada bukan karena jantung. mur-mur regurgitasi mitral. Hal-hal lain yangn bisa didapat dari pemeriksaan fisik adalah tanda-tanda adanya factor resiko. dipicu oleh aktivitas atau stress emosional. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik biasanya normal pada penderita angina pectoris. pemeriksa membuat tersebut. Manfaat pemeriksaan foto thorak secara rutin pada penderita angina masih dipertanyakan.Setelah semua deskriptif nyeri dada tersebut kesimpulan dari gabungan berbagai komponen didapat. Uji latih beban dengan monitor EKG merupakan prosedur yang sudah baku. f. atau ronkhi basah basal yang kemudian menghilang mereda dapat menguatkan diagnosa PJK. Foto thoraks lebih sering menunjukkan kelainan pada penderita dengan riwayat infark miokard atau penderita dengan nyeri dada yang bukan berasal dari jantung. Angina termasuk tipikal bila : rasa tidak enak atau nyeri dirasakan dibelakang sternum dengan kualitas dan lamanya yang khas. Angina dikatakan atipikal bila hanya memenuhi 2 dari 3 kreteria diatas. Nyeri dada dikatakan bukan berasal dari jantung bila tidak memenuhi atau hanya memenuhi 1 dari tiga kreteria tersebut. Adanya gallop.

Interpretasi EKG uji latih beban yang paling penting adalah adanya depresi dan elevasi segmen ST lebih dari 1 mm. tekanan darah harus dimonitor dengan baik dan direkam pada tiap tingkatan dan juga pada saat abnormallitas segmen ST. h.echo. metode yang dipakai pada uji beban yaitu dengan menggunakan treadmill dan sepeda statis. Pada penderita yang tidak bisa di diagnosa dengan uji latih beban berdasarkan EKG. maka dilakukan uji latih beban dengan pencitraan. kesadaran menurun. 6 . Biasanya uji latih beban dihentikan bila mencapai 85% dari denyut jantung maksimal berdasarkan umur. Indikasi absolute untuk menghentikan uji beban adalah penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg dari tekanan darah awal meskipun beban latihan naik jika diikuti tanda ischemia yang lain : angina sedang sampai berat . namun perlu diperhatikan adanya variabilitas yang besar dari denyut jantung maksimal pada tiap individu. Tindakan untuk angiografi koroner diagnostic secara langsung pada penderita dengan nyeri dada yang diduga karena ischemia miokard. tanda-tanda penurunan perfusi seperti sianosis. ataxia yang meningkat. berkurangnya ketebalan dinding saat sistol atau lebih segmen pada saat uji latih beban. hiperkinesia kompensasi pada segmen dinding yang berkaitan atau yang tidak ischemia. Penatalaksanaan Angina Pektoris Ada dua tujuan utama penatalaksanaan angina pectoris : Mencegah terjadinya infark miokard dan nekrosis. protocol harus disesuaikan untuk masing-masing penderita agar dapat mencapai setidaknya 6 menit. frekwensi. dengan demikian meningkatkan kuantitas hidup. Tes uji latih ekokardiografi dianalisa berdasarkan penilaian penebalan miokard pada saat uji latih dibandingkan dengan saat istirahat. dapat dilakukan jika ada kontra indikasi untuk test non invasive. Gambaran ekokardiografi yang mendukung adanya ischemia miokard adalah : penurunan gerakan dinding pada 1 atau lebih segmen ventrikel kiri. Untuk mendapatkan informasi yang optimal. Isotop yang biasa digunakan adalah thalium-210. Selama EKG.

Kalsium Antagonis obat ini bekerja dengan cara menghambat masuknya kalsium melalui saluran kalsium. . dengan pemberian demikian meningkatkan kualitas hidup. nadolol.- Mengurangi symptom penatalaksanaan dan frekwensi serta beratnya ischemia. Prinsip angina pectoris adalah : meningkatkan oksigen ( dengan meningkatkan aliran darah koroner ) dan menurunkan kebutuhan oksigen ( dengan mengurangi kerja jantung ). amil nitrit. verapamil. diltiazem.Penyekat Beta obat ini merupakan terapi utama pada angina. nifedipin. isradipin. Penyekat beta dapat menurunkan kebutuhan oksigen miokard dengan cara menurunkan frekwensi denyut dan peregangan pada dinding jantung. Efek samping biasanya muncul bradikardi dan timbul blok atrioventrikuler. Kalsium antagonis juga menurunkan kabutuhan oksigen miokard dengan cara menurunkan resistensi vaskuler sistemik. Salah satu masalah penggunaan nitrat jangka panjang adalah terjadinya toleransi terhadap nitrat. ISDN. metoprolol. nitrogliserin. felodipin.Nitrat dan Nitrit Merupakan vasodilator endothelium yang sangat bermanfaat untuk mengurangi symptom angina pectoris. Untuk mencegah terjadinya toleransi dianjurkan memakai nitrat dengan periode bebas nitrat yang cukup yaitu 8 – 12 jam. disamping juga mempunyai efek antitrombotik dan antiplatelet. yang akan menyebabkan relaksasi otot polos pembulu darah sehingga terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah epikardial dan sistemik. Terapi Farmakologis untuk anti angina dan anti iskhemia. tekanan di arteri ventrikel kiri. Obat penyekat beta antara lain : atenolol. kontraktilitas . Golongan obat kalsium antagonis adalah amlodipin. . nikardipin. nimodipin. propranolol. Obat golongan nitrat dan nitrit adalah : mononitrat. isosorbid 7 . Nitrat menurunkan kebutuhan oksigen miokard melalui pengurangan preload sehingga terjadi pengurangan volume ventrikel dan tekanan arterial. bepridil. .

Pengontrolan gula darah. Terapi penurunan kolesterol. Terapi Non Farmakologis Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung antara lain : pasien mengakibatkan takikardia harus berhenti merokok. karena merokok dan naiknya tekanan darah. Revaskularisasi Miokard Angina pectoris dapat menetap sampai bertahun-tahun dalam bentuk serangan ringan yang stabil. Penggunaan antitrombolitik dosis rendah akan menurunkan resiko terjadinya ischemia pada penderita dengan factor resiko . Penggunaan kontra sepsi dan kepribadian seperti sangat kompetitif. kecuali ada kontra indikasi. sehingga memaksa jantung bekerja keras.Terapi Farmakologis untuk mencegah Infark miokard akut Terapi antiplatelet. obatnya adalah aspirin diberikan pada penderita PJK baik akut atau kronik. simvastatin akan menurunkan LDL ( low density lipoprotein ) sehingga memperbaiki fungsi endotel pada daerah atheroskelerosis maka aliran darah di arteria koronaria lebih baik. Namun bila menjadi tidak stabil maka dianggap serius. agresif atau ambisius. 8 . Orang obesitas dianjurkan menurunkan berat badan untuk mengurangi kerja jantung. maka penderita dapat diberikan tiiclopidin atau clopidogrel. terjadi tanpa penyebab yang jelas. Terapi Antitrombolitik. obatnya adalah heparin dan warfarin. Bila gejala tidak dapat dikontrol dengan terapi farmakologis yang memadai. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang dapat menimbulkan vasokontriksi pembulu darah. episode nyeri dada menjadi lebih sering dan berat. maka tindakan invasive seperti PTCA ( angioplasty coroner transluminal percutan ) harus dipikirkan untuk memperbaiki sirkulasi koronaria.

Gunakan flow sheet untuk memonitor nyeri terhadap efek pemberian obat angina. pusing. 4. palpitasi. 5. 2.Gambaran EKG tidak ada segmen ST elevated/depresi. Nursing Intervention Diagnosa Keperawatan Kreteria evaluasi Intervensi 1. karekteristik.kaji secara komprehensif terhadap nyeri : lokasi. onset. Managemen nyeri : . bahu. leher. . Kaji tentang kepercayaan. Posisikan pasien pada istirahat total selama episode angina. dan kualitasnya. terhadap nyeri pasien dan responnya. mual/muntah. anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada.Tanda vital dalam batas normal. 7. 9 . evaluasi laporan nyeri pada rahang. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan pada data pengkajian.Observasi nonverbal pasien terhadap ketidaknyamanan. 8.i. durasi. frekuensi.Individu dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk meningkatkan kenyamanan . observasi gejala yang berhubungan dengan dispnea. 6. . . j. tangan/lengan khususnya sisi kiri. Nyeri berhubungan Setelah dilakukan asuhan selama 1dengan ischemia 3 jam diharap nyeri miokardium berkurang/hilang dengan kreteria: . diagnosa keperawatan utama untuk klien angina pectoris meliputi :     Nyeri berhubungan dengan ischemia miokardium Curah jantung menurun berhubungan dengan gangguan kontraksi Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan deficit knowledge. kebudayaan. observasi pasien tentang skala nyeri atau ketidaknyamanan 3.pasien dapat mengekspresikan bahwa nyeri berkurang/hilang secara verbal dan oral.

10. marah berhubungan dengan rasa takut diharapkan kecemasan berkurang : 3. nyeri. Tekankan untuk menghindari regangan : selama defekasi. bingung 3. beta bloker. pemasangan monitor Cemas keperawatan selama 1.9.EKG serial Curah jantung menurun berhubungan dengan gangguan kontraksi Setelah dilakukan asuhan selama 13 jam diharap curah jantung normal dengan kreteria: . 5.Klien bertoleransi terhadap aktivitas. Kaji tanda vital : blood pressure.Tidak ada suara nafas tambahan.Hipotensi orthostatic tidak ada . . 6. 11. Evaluasi respon pasien terhadap terapi O2.dan nitrat.Morfin sulfat . Pantau dan catat efek terapeutik/efek samping selama pemberian kalsium antagonis. Berikin periode istirahat dalam melakukn aktivitas keperwatan. Observasi tanda-tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina.Tes katerisasi untuk persiapan PTCA  Setelah dilakukan asuhan1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas terhadap perubahan : nafas pendek. Kaji status mental : disorentasi. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi yang nyaman selama episode akut. klien menyatakan ansietas4.Tanda vital dalam batas normal. - 1. Kolaborasi : . Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan : EKG. nadi dan suhu. Beritahu pasien tentang program medis yang telah dibuat untuk menurunkan 10 .Penyekat beta . depresi. Tingkatkan ekspresi pasien terhadap takut : menolak. nyaman bila perlu batasi pengunjung berikan makanan yang lembut Kolaborasi : .Nitrit . capillary refile. 4.pemberian oksigen . Anjurkan keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya. 9. Ciptakan lingkungan yang tenang. 2. pusing.Klien berpartisipasi dalam prilaku yang menurunkan curah jantung .pemberian kalsium antagonis. .2 hari2. 8. 12. 11. . . batuk 10. Auskultasi bunyi nafas : bunyi tambahan dan bunyi jantung : murmur 7. palpitasi.Nyeri angina tidak ada .AGD dalam batas normal. Catat warna kulit : cianosis. status respirasi rate.

Berpartisipasi dalam program diet dan olah raga. kerja fisik. pengetahuan keperawatan diharapkan : 2. mematuhi semua aturan medis. 11 . belajar dan mencari informasi cara yang dapat mereka hindari. tentang penyakitnya. 5.Melakukan perubahan pola kelelahan. dengan deficit .Bertanggung jawab untuk 3. pemberian obat. makan terlalu banyak/berat. diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina : menghentikan aktivitas. 6. mengetahui kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri menetap. Diskusikan tentang obat-obat yang sesuai dengan indikasi. Tunjukkan pada pasien untuk memantau nadi sendiri selama aktivitas 7. Kaji orientasi pasien : orang. Perubahan .Klien menunjukkan strategi6. pengobatan 5. Mematuhi program perawatan diri : menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi. 8. menurun sampai tingkat yang serangan akan datang dapat diatasi. Kaji tanda vital . tempat dan waktu koping yang efektif 7. hidup. Jelaskan pentingnya mengkontrol berat badan. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress dan diskusikan knowledge. penggunaan teknik relaksasi. Jelaskan kembali tentang perlunya mencegah serangan ulang. Kolaborasi : Pemberian sedative Kurang Setelah dilakukan asuhan 1. akan kematian k. Dorong klien untuk menghindari factor yang dapat sebagai pencetus episode tentang penyakit . menghentikan rokok. Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan untuk pencegahan . 4. Evaluasi Keperawatan hasil yang diharapkan : Bebas dari nyeri. perubahan suhu yang berhubungan belajar ekstrem. kebiasaan sehari-hari mencerminkan penyesesuaian gaya hidup pada pasien angina. Menunjukkan penurunan kecemasan : memahami penyakit dan tujuan perawatannya.berpatisipasi dalam proses angina : stress.

12 .

Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat Suku Pekerjaan Mrs Pengkajian Regester Diagnosa masuk : Tn. Kasus ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. NSTEMI DI RSUP CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA A. Damai Poncol 2 RT 004 RW 09 Jati Waringin . 5. DM. PENGKAJIAN 1.12 – 2005 : 296 99 92 : NSTEMI 2. Pola nutrisi dan metabolisme Sebelum MRS klien makan 3 x sehari dengan porsi cukup dan suka makan di luar rumah. keluar keringat dingin. Olah raga/gerak badan . 4. nyeri menjalar ke bahu belakang. b.Jaktim : Batak : Wiraswasta ( Designer Baju ) : 19 – 12. Riwayat penyakit dahulu Sekitar 4 tahun yang lalu klien dirawat di RS Haji dengan sakit jantung dan setelah itu tidak pernah control. 3.00 : 22 .III.2005 jam : 14. jamu . dada terasa tertekan. saat MRS pemenuhan nutrisi bubur kasar satu porsi habis setiap kali makan. Riwayat penyakit keluarga Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi. JL : 54 tahun : Laki-Laki : Islam : Gg. Karena kondisinya membaik maka klien dipindahkan ke ruang IRNA lantai 6 kanan. Riwayat penyakit sekarang Alasan utama MRS : Klien tiba-tiba pingsan Keluhan utama : 3 jam sebelum MRS klien tiba-tiba pingsan. kesulitan menelan tidak ada. atau jantung. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Kebiasaan merokok seak muda ( sekitar 40 tahun ) dengan konsumsi 3 bungkus/ hari. Maka oleh keluarga di bawah ke IGD RSCM dan masuk ke ICCU. keadaan yang mengganggu nutrisi tidak 13 . JL DENGAN . Pola-pola fungsi kesehatan a.

Oleh raga kadang-kadang seminggu sekali jalan-jalan pagi ke TMII. BB Kg.ada. nyeri kepala tidak ada. kesadaran komposmentis. daya rasa. suhu tubuh 365◦C. permukaan kulit baik. f. daya raba. status gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh: postur tubuh tinggi besar. Pertahanan diri sementara biasanya klien meminta bantuan keluarga terutama istri. rambut tipis dan bersih . reguler 2. c. Pola sensori dan kognitif Sensori : Daya penciuman. sianosis tidak ada. tekanan darah 120/80 mmHg. Kognitif : Proses berfikir. isi pikiran. TB cm. daya pendengaran baik. mekanisme terhadap stress. keadaan rambut bersih. Sistem integument Tidak tampak pucat. Pola tidur dan istirahat Tidur Frekuensi : 2 x/hari Jam tidur siang : 1. Pola penanggulangan stress Penyebab stress. daya ingat baik. 3. 4. Kepala Normo cephalic. adaptasi terhadap stress. Status kesehatan umum Keadaan penyakit sedang. suara bicara jelas. simetris. tidak botak. sianosis pada circum oris tidak ada 14 . g. otot muka dan rahang kekuatan normal. Muka Simetris.3/hari Jam tidur malam : 6 – 7 jam/hari Keluhan : tidak ada Istirahat Frekuensi : 4 – 6 x/hari Keluhan : tidak ada e. nadi 100X/menit. Pola aktivitas Klien biasanya duduk seharian untuk membuat pola rancangan baju dari pemesanan. Pemeriksaan fisik 1. odema . pernapasan 20 X/menit. tekstur baik. Pola eliminasi BAB Frekuensi Warna dan bau Konsistensi Keluhan BAK Frekuensi Warna dan bau Keluhan : 1 x/3 hari : dbn : dbn : tidak ada : Kondom cat : dbn : tidak ada d.

edema -/-. Ekstrimitas Akral hangat. mumur (-). 9. retraksi intercoste (-). secret. 7. Tulang belakang Tidak ada lordosis. Pemeriksaan penunjang Laboratorium ( 19 – 12 – 2005 ) 15 . stomatitis (-). obstruksi tidak ada. gallop (-). tidak ada hernia. tidak ada benjolan. nyeri tekan pada kuadran kanan bawah tidak ada. 8. Mulut dan faring Bau mulut . 6. pembesaran hepar tidak ada.5. 13. pupil isokor sclera tidak ikterus (-). kaku kuduk tidak adak. 14. Bunyi s1 dan s2 tunggal. konjuktiva anemis (-). mukosa. Abdomen Bising usus +. gigi lengkap. Telinga Secret. Inguinal-Genitalia-Anus Nadi femoralis teraba. vocal fremitus kuat dan simitris. serumen. tidak ada hemoroid. bau. pembengkakan pembulu limfe tidak ada. wheezing -/-. Leher Simetris. benda asing. Jantung Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri. Kelainan lidah tidak ada. kelopak mata normal. kifosis atau scoliosis. Mata Alis mata. dalam batas normal. rhonchi -/-. Hidung Deformitas. gerak yang tidak disadari -/15. Tajam penglihatan norma. reflek cahaya positif. batas kanan ics 2 sternal kanan dan ics 5 axilla anterior kanan. perkusi resonan. pernafasan cuping hidung tidak ada. Thoraks Paru Gerakan simitris. kekuatan 5/5. retraksi supra sternal (-). perkusi resonan 11. pembesaran vena jugularis 5+0 cmH2O 10. capillary refill 2 – 3 detik 12.perkusi dullness. membran timpani pendengaran menurun..

Terapi Obat-obatan.20.. interval PR < 0.Cl . 19-12-2005 Di ICCU ISDN 3 x 10 mg Ascardia 1 x 160 mg Laxadin 3 x C1 Diazepam 3 x 2 mg KSR 2 x 1 tab Digoxin 1 x 1 tab Captopril 2 x 6.Hb .GDA .Na -K .Leukosit .000/ 12 jam 22-12-2005 Furosemid Captopril Digoxin ISDN Ascardia Omeprazole Laxadin Diazepam KSR 1 x 40 mg 2 x 6.Trombosit .Albumin . ( terlampir ) I. dilatasi LV dan LA. hipokinetik global.Diff Count .7 : 97 : 24 : 1.Creatinin . hipertropi ventrikel tidak ada.25 mg Furosemid 1 x 1 tab Bosoprolol 1 x 25 mg IVFD heparin drip 10. HR : 100/mnt.2 : 11. ST elevasi dan depresi tidak ada.2005 ) Irama sinus.Ureum .SGOT/PT .2 : 119 : -/-/75/24/: 49.800 : 284. EKG ( 22 – 12.000 : 27/ 34 : 3.7 : 138 : 3.25 mg 3 x 5 mg 1 x 160 mg 1 x 20 mg 3 x C1 3 x 2 mg 2 x 1 tab 16 .APTT : 13.25 mg 1 x 0. axis normal.4 Ecokardiograp Ef : 22 %.

Kaji tentang oral. reguler . EKG tidak ada ST depresi/elevasi A Masalah tetap dalam resiko P Pertahankan intervensi Setelah dilakukan 1. melakukan EGK ( hasil Evaluasi 23-12-2005 S Klien mengatakan sudah tidak nyeri lagi O . tentang 4. meningkatkan onset. responnya. tanda vital T : 120/80 mmHg. HR : 100/mnt.Tanda vital kebudayaan. axis normal. mengukur dada. pernapasan 20 X/menit. tanda vital T : 120/80 mmHg.kaji secara sikan teknik komprehensif relaksasi terhadap nyeri : untuk lokasi. Hr 100/mnt regular. Gunakan flow sheet nyeri untuk memonitor nyeri berkurang/hila terhadap efek ng secara pemberian obat angina. durasi. terjadi nyeri2.pasien dapat tentang skala nyeri atau mengekspresik ketidaknyamanan an bahwa 3. Klien mengatakan nyeri sudah tidak ada. hipertropi ventrikel tidak Kreteria evaluasi Nursing intervensi Implementasi 23-12 -2005 24-12 -2005 1. karekteristik. tapi 4 hari yang lalu nyeri mendadak dan sekarang baru keluar dari ICCU O: tekanan darah 120/80 mmHg. mengkaji EGK. Managemen nyeri : mendemonstra . terhadap dalam batas nyeri pasien dan normal.3 memberitahu perawat jam diharap nyeri dengan cepat bila berkurang/hilang terjadi nyeri dada. Intervensi. verbal dan 4. si. anjurkan pasien untuk asuhan selama 1. Hr 100/mnt regular 5. menganjurkan karena penyakit klien istirahat jantungnya 6. 13. 6.skala nyeri 1. Hr 100/mnt regular. 3. mengukur lembut tanda vital T : 120/80 mmHg. nadi 100X/menit. mengkaji kepercayaan. dengan kreteria: 2. Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan NO 1 Data Resiko Nyeri berhubungan dengan ischemia miokardium S.Observasi nonverbal segmen ST pasien terhadap elevated/depre ketidaknyamanan.Gambaran kualitasnya. kepercayaan. terhadap nyeri : dispnea bahwa nyerinya5. .Individu dapat 5. suhu tubuh 365◦C. observasi gejala yang 17 . EKG tidak ada . EKG Irama sinus. adanya kebudayaan. tanda vital T : 2. kenyamanan frekuensi. pasien tentang Hr 100/mnt skala nyeri yaitu regular pada skala 1. melakukan 3. mengobservasi 120/80 mmHg. Diagnosa. menganjurkan bukan oleh klien makan sebab yang lain makanan yang 4. mengobservasi pasien untuk pasien tentang memberitahu skala nyeri perawat dengan yaitu pada cepat bila skala 1. menganjurkan 1. EKG tidak ada ST depresi/elevasi A Masalah tetap dalam resiko P Pertahankan intervensi 24-12 -2005 S Klien mengatakan sudah tidak nyeri lagi O . mual/muntah.skala nyeri 1. dan .B. observasi pasien . .

Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan deficit knowledge. Observasi tanda-tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina. leher.Morfin sulfat . 8. S Klien mengatakan mengetahui tentang penyebab nyeri dan kerugian dari merokok serta halhal yang harus di hindari untuk mencegah S Klien mengatakan mengetahui tentang cara memeriksa nadi. O Klien dapat menjelaskan 18 . mual/muntah. 11. 10.Bertanggung jawab untuk Jelaskan kembali tentang perlunya mencegah serangan ulang. dalam proses belajar . asuhan keperawatan diharapkan : . 13. Menganjurkan klien untuk menghindari mendiskusika n langkah yang diambil bila terjadi serangan angina meliputi : menghentikan aktivitas.berpatisipasi 2. tangan/lengan khususnya sisi kiri. S: Klien mengatakan suka makan di luar menjelaskan tentang penyebab nyeri nya yaitu karena penyempitan pembulu darah. obat angina. nyaman bila perlu batasi pengunjung 12.Nitrit . kerja fisik. Dorong klien untuk menghindari factor yang dapat sebagai pencetus episode angina : stress. Kolaborasi : . evaluasi laporan nyeri pada rahang. ST elevasi dan depresi tidak ada. Ciptakan lingkungan yang tenang. bahu. makan terlalu terlampir ) 2. palpitasi. berikan makanan yang lembut 13. pusing.EKG serial Setelah dilakukan 1. Posisikan pasien pada istirahat total selama episode angina.pemberian oksigen . 9.ada. ( terlampir berhubungan dengan dispnea. interval PR < 0.Penyekat beta .20.

terjadinya serangan. 5. meliputi nitrat. tentang penyakitnya. penyebab terjadinya serangan angina misal stress. Lanjutkan intervensi no. Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan untuk pencegahan kelelahan. - pemberian obat. kerja berat. A. Menganjurkan klien untuk berhenti merokok karena merokok dapat merusak pemdulu darah. 7. O: Klien dirawat 2 kali. menghentikan rokok. banyak/berat. 8. Berpartisipasi dalam program pengobatan 4. Diskusikan tentang obatobat yang sesuai dengan indikasi. tidak suka olal raga. O Klien dapat menjelaskan kembali tentang penyabab angina. sering makan berlemak - belajar dan mencari informasi 3. 8. masalah teratasi sebagian P. penggunaan teknik relaksasi. 6. masalah teratasi P. Menjelaskan kepada pasien tentang cara pemeriksaan pasien. 6. hal-hal yang harus dihindari untuk mencegah terjadinyab serangan angina. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress dan diskusikan cara yang dapat mereka hindari. penggunaan teknik relaksasi yaitu nafas panjang ( nafas lewat hidung dan di keluarkan lewat mulut ) mendiskusika n tentang obat-obat yang sesuai dengan indikasi. kalsium antagonis. Hentikan intervensi 19 . perubahan suhu yang ekstrem.rumah dan tidak bisa menghindari makanan berlemak. Perubahan diet dan olah raga. pemberian obat. 7. Tunjukkan pada pasien untuk memantau nadi sendiri selama aktivitas diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina : menghentikan aktivitas. A. tentang memeriksa obat angina cara nadi. beta bloker. 5. Jelaskan pentingnya mengkontrol berat badan. Melakukan perubahan pola hidup.

Surabaya : Surabaya Pres. Jakarta : EGC Betram G Katzung. ( 1998 ) Farmakologi Dasar Dan Klinik. beta bloker dan calsium antagonis Tidak semua diagnosa keperawatan muncul pada kasus. (2003) Holistic Management of Cardiovaskuler Disease. PERKI. Kesimpulan Tipe angina adalah unstabil angina atau Angina Refrakter / intraktabel Pemeriksaan fisik antara kasus dan teori sama yaitu tidak ditemukan kelainan fisik. Jakarta : EGC Sjaifoellah Noor. karena pengkajian pasien setelah 4 hari serangan. ( 2005 ) Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Interventions and NOC Outcome.IV. Pada pemeriksaan laboratorium seharusnya adanya pemeriksaan kolesterol. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus adalah EKG karena sudah di pandang cukup untuk menegakkan diagnosa. Daftar pustaka Brunner & Suddarth. Wilkinson. Marilyn E. doenges at all (2000). Pengobatan pada kasus sama dengan teori yaitu meliputi nitrit. ( 2002 ) Keperawatan Medical-Bedah Vol 2. Jakarta : Balai Pustaka. V. New Jersey : Horrisonburg. Jakarta : EGC Judith M. 20 . ( 1996 ) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Rencana Asuhan Keperawatan. kadar LDL dan HDL untuk mencari factor predisposisi.