Globalisasi, Negara dan Liberalisasi Pendidikan Tauran

1. Pendahuluan Globalisasi telah memunculkan fenomena baru dalam perjalanan peradaban manusia. Globalisasi telah menghadirkan interaksi politik, ekonomi, sosial dan budaya antar manusia dengan dimensi yang berbeda dari sebelumnya. Lodge menyebutnya sebagai proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan (Winarno,2004). Dengan kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, setiap negara menjadi terhubung satu sama lain yang melibatkan mobilitas informasi, modal, dan manusia yang lebih intensif dari yang pernah terjadi sebelumnya. Dalam pandangan Petras dan Veltmeyer, globalisasi dilihat sebagai suatu deskripsi dan sekaligus preskripsi. Globalisasi sebagai deskripsi mengacu pada perluasan dan penguatan arus perdagangan modal, teknologi, dan arus informasi internasional dalam sebuah pasar global. Sedangkan globalisasi sebagai preskripsi lebih merujuk pada upaya pencarian ‘resep mujarab’ bagi ekonomi dunia yang merujuk pada pandangan kaum neoliberal yang menginginkan adanya pasar bebas dan meyakini bahwa dengan merujuk pada sistem tersebut maka perdamaian dan kemakmuran akan terwujud (Winarno,2004). Sedangakan Martin Khor (2003) menarik dua ciri utama dari globalisasi, yakni: pertama, peningkatan konsentrasi dan monopoli berbagai sumber daya dan kekuatan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan transnasional maupun oleh perusahaan-perusahaan dan dana global. Kedua, terciptanya ‘globalisasi’ dalam kebijakan dan mekanisme pembuatan kebijakan nasional. Kebijakan nasional yang sekarang ini berada dalam yurisdiksi suatu pemerintah dan masyarakat dalam suatu wilayah negara bangsa bergeser menjadi di bawah pengaruh atau proses badan-badan internasional atau pelaku ekonomi dan keuangan internasional. Dalam kondisi tersebut negara dihadapkan pada dua kutub yang berlawanan antara 1

Dalam pandangan Khor (2003). Kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak produktif seperti subsidi untuk pelayanan sosial. melakukan deregulasi. Paham ini sesunguhnya merujuk pada kembalinya bentuk baru aliran ekonomi liberal klasik yang mulanya dibangkitkan oleh ekonom Inggris Adam Smith dalam karyanya yang berjudul the Wealth of Nations yang menggagas penghapusan intervensi pemerintah dalam ekonomi. 2. Negara dan Liberalisasi Layanan Publiknya Globalisasi dengan paham neoliberalisme berkembang tahun 1980-an yang ditandai dengan pemerintahan Thatcher di Inggris dan Reagen di Amerika Serikat. untuk melindungi dan menjamin hak-hak dasar warganya seperti pendidikan dan kesehatan mengalami kemerosotan. Mendorong apa yang disebut gagasan “tanggung jawab individual’ Di era global ini. Saat ini kemampuan negara-negara berkembang. dan menghilangkan tarif bagi perdagangan demi terwujudnya free trade. Globalisasi. 2. mengurangi segenap restriksi pada industri. melalui agen-agennya seperti Bank Dunia. melalui kebijakan-kebijakannya. sebagian erosi kemampuan nasional dalam pembuatan kebijakan tersebut 2 . Privatisasi demi terwujudnya efisensi dan mengurangai kurupsi. IMF dan WTO. pemerintah harus membiarkan mekanisme pasar bekerja. Perlunya deregulasi ekonomi 4. mencabut semua rintangan birokratis perdagangan. 5. Perdagangan dan persaingan bebas dianggap sebagai cara terbaik bagi ekonomi nasional untuk berkembang.2002). 3.tekanan global untuk meminimalisir peran layanan publiknya (liberalisasi) dan upayanya memenuhi tanggungjawab filosofisnya untuk menyediakan layanan pendidikan bagi warganya yang sekaligus menjaga basis legitimasi kekuasaannya (Husein. Dalam pandangan neoliberal. Secara rinci Fakih (2003) merumuskan pokok-pokok pendirian paham neoliberal sebagai berikut: 1. Biarkan pasar bekerja. paham liberalisme disebarkan dengan pesat dan “diikatkan” pada berbagai negara lain terutama negara-negara berkembang.

Melalui WTO. Kesejahteraan masyarakat termasuk pendidikan diyakini akan tercapai dengan dilepaskannya campur tangan negara. Pendidikan yang selama ini dianggap sebagai layanan publik yang menjadi tanggung jawab negara telah mengalami pergeseran. Institusi-institusi Bretton Woods tersebut mempunyai otoritas besar terhadap kebanyakan negara berkembang yang tergantung karena hutang mereka. Pemerintah terpaksa harus menerapkan kebijakan yang sejalan dengan keputusankeputusan dan aturan-aturan berbagai intitusi internasional seperti Bank Dunia. privatisasi. deregulasi. IMF dan WTO. Negara-negara yang membutuhkan penjadwalan hutang harus menerapakan kebijakan penyesuaian struktural (SAPsStructural Adjustment Policies) yang disusun oleh institusi-institusi di Wahington yang mencakup kebijakan-kebijakan ekonomi makro dan belakangan ini mencakup juga berbagai kebijakan sosial seperti pendidikan.disebabkan oleh liberalisasi pasar dan perkembangan teknologi. SAPs menjadi instrumen utama yang menggerakkan kebijakan negaranegara yang berhutang untuk melakukan liberalisasi. Liberalisasi dan Jebakan Pendangkalan Pendidikan Salah satu layanan publik yang terimbas liberalisasi adalah bidang pendidikan. Pendidikan yang sejatinya merupakan hak asasi manusia yang harus disediakan negara terhadap warganya telah berubah menjadi barang komersil yang hanya bisa didapat dengan membelinya. 3. pendidikan 3 . dan penarikan negara dari berbagai aktivitas di bidang ekonomi dan sosial. Liberalisasi pendidikan telah menggeser bidang pendidikan dari layanan publik menjadi sebuah industri yang bernilai komersil. Sedangkan bagi kaum kapitalis liberalisasi pendidikan merupakan keberhasilan ekspansi bisnisnya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia yang ingin diuangkan (dan. Arus besar neoliberalisme telah mendesak negara bangsa untuk merevisi berbagai kebijakan proteksionisnya terhadap sektor-sektor layanan publik. arus besar neoliberalisme telah berhasil menempatkan bidang pendidikan menjadi salah satu bidang jasa yang diperdagangkan di dunia. Mekanisme pasar dianggap sebagai cara yang paling efisien untuk penyediaan layanan publik.

Dengan begitu sejatinya negara merupakan institusi utama yang bertanggung jawab dalam menyediakan pelayanan publik dasar seperti pendidikan. Kelompok rentan ini. Dalam kondisi tersebut sesungguhnya orang miskin adalah kelompok yang sering tidak tersentuh oleh kebijakan liberalisasi pendidikan yang bertumpu pada mekanisme pasar. negara sesungguhnya memiliki tanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. 4 . dibatasinya peran negara dalam menyediakan Di layanan studi publiknya yang seperti Tim pendidikan Penelitian dan dan membiarkannya terintegrasi dengan pasar telah melahirkan permasalahan tersendiri. April 2005). baik karena kulturalnya maupun strukturalnya tidak mampu merespon dengan cepat perubahan yang terjadi di sekitarnya. Negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa seluruh warga negara mendapatkan layanan pendidikan tanpa memperhatikan kelas sosial ekonominya. Menyerahkan permasalahan pendidikan kepada mekanisme pasar kapitalis sangat berbahaya.merupakan ladang bisnis yang menggiurkan karena merupakan kebutuhan pokok manusia). Utamanya di negara-negara berkembang. dilakukan Pengembangan Kompas melaporkan bahwa kebijakan pemerintah untuk melakukan liberalisasi di bidang pendidikan dengan cara desentralisasi dan privatisasi kamampuan sekolah diyakini berpengaruh besar pada anaknya. Indonesia. mereka terpelanting ke luar arena dalam mekanisme pasar layanan publik yang tidak adil. Pasar kapitalis memiliki logika yang sekedar mencari keuntungan ekonomi dan tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sosial. Sementara di sisi lain seperti terungkap dengan jelas dalam Pancasila dan UUD 1945. menurunnya Persoalan masyarakat untuk menyekolahkan kompleks seputar dunia pendidikan diyakini tidak akan mampu diatasi sepenuhnya oleh masyarakat tanpa campur tangan negara (Kompas.

Nugroho (2002) memberikan analisisnya tentang proses industrilaisasi yang terjadi pada sektor pendidikan khususnya pendidikan tinggi. jika diterapkan tanpa reserve. Menurutnya proses industrialisasi pendidikan saat ini bekerja dengan logika restoran cepat saji model restoran McDonald’s yang bekerja dengan empat prinsip kuantifikasi. kuantifikasi menjelma menjadi semacam kapal pukat harimau yangs siap menangkap ikan hingga cacing. Pertama. padahal di dalam prakteknya. Sebuah perguruan tinggi dinilai berhasil apabila dapat memproduksi lulusan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Meminjam analisis George Ritzer (1996) dalam bukunya McDonalization of Society. efisiensi. kuantifikasi yang terjadi pada pendidikan tinggi muncul ketika pendidikan sebagai sebuah “proses” untuk memanusiakan manusia dilihat layaknya sebuah pabrik yang dalam kerjanya. Dalam 5 . tingginya IP seorang mahasiswa tidak selalu berkorelasi positif dengan kemampuan akademiknya. Sedangkan pada sisi input. keterprediksian dan teknologi. proses dan outputnya harus dapat dihitung secara matematis. dengan kebijakan BHMN Perguruan Tinggi. akan menjauhkan pendidikan dari ruh-nya. Kedua. efisiensi dilakukan dalam rangka meningkatkan produk-produk perguruan tinggi. Berbagai metode operasi industri (bisnis) yang di-cloning-kan pada dunia pendidikan. sarjana. Prinsip kuantifikasi tersebut menjelma diataranya pada sisi output. semakin lancar perguruan tinggi menghasilkan lulusan baik pada jenjang diploma. baik dalam arti mutu lulusan maupun hasil-hasil penelitiannya. semakin dianggap sukses dalam mengelola pendidikan.Implikasi lain dari liberalisasi dan industrialiasi pendidikan adalah munculnya jebakan pendangkalan pendidikan. input. master dan doktor. Jebakan pendangkalan pendidikan ini secara baik digambarkan Nugroho (2002) sebagai McDonalisasi pendidikan. Kualitas peserta didik diukur hanya dengan indeks prestasi (IP) yang memiliki skala 1 sampai 4. siap mengantongi mahasiswa jenjang diploma hingga doktor dengan orientasi kuantitas dan bukannya kualitas tingkat pertumbuhan. yakni sebuah upaya untuk memanusiakan manusia.

Hanya dengan sebuah komputer seseorang dapat mengembangkan dirinya secara mandiri dari rumah. Pendidikan mengalami pendangkalan menjadi sekedar upaya menciptakan robot atau tukangtukang yang siap memenuhi kebutuhan pasar kerja. Kurikulum yang baik adalah yang mampu memberikan bekal teknis bagi mahasiswa untuk dapat bekerja di kelak kemudian hari. yang dapat memberikan sumbangan pada masalah kemanusiaan. Sekali pemanfaatan 6 . Keempat. Program studi tersebut dianggap tidak prospektif dan tidak menghasilkan uang secara signifikan sesuai dengan biaya penyelenggaraan yang dikeluarkan perguruan tinggi. Wen (2003) secara provokatif menyebutkan bahwa dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi maka upaya pendidikan melalui“sekolah’ adalah sebuah upaya usang. maka program studi yang didorong dan difasilitasi adalah program kedokteran. maka yang akan muncul adalah robot-robot yang berbentuk manusia. Dalam bukunya Future Education. Dengan kata lain. Ketiga. menghasilkan uang seperti filsafat. terancam ditutup. antara jumlah uang yang masuk dari peserta didik dengan biaya penyelenggaraan yang dikeluarkan lebih besar pasak dari pada tiang.manajemen pengelolaan program studi. akuntansi. Penyelenggaraan pendidikan diintegrasikan dengan penggunaan teknologi modern atau bahkan hi-tech untuk mencapai efisensinya. prinsip keterprediksian dalam berproduksi dilakukan dengan mengaitkan antara kurikulum dan manfaatnya dalam pasaran kerja. studi yang banyak peminatnya sehingga Sedangkan progran studi yang tidak dapat menghasilkan uang seperti program studi informatika. sastra. Orientasi ini tidak sepenuhnya salah. Robot dan tukangtiukang tersebut telah kehilangan kemanusiaannya yang menjadi basis kesadaran kritis atas pertanyaan mengapa ia bekerja? Dan untuk apa ia bekerja? Sehingga dapat dipastikan robot dan tukang-tukang ini berpotensi besar unutk memunculkan patologi sosial di masyarakat. budaya dan sebagian ilmu-ilmu sosial. Kurikulum didesain sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. prinsip teknologisasi. dan sebagainya. Namun apabila kurikulum semata-mata hanya didesain untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Yogyakarta Khor. sedangkan pembangunan kesejahteraan sosial adalah strategi mendistribusikan uang secara adil dan merata (Suharto:2005). Dalam Jurnal Wacana: Mencari Format Negara Baru. kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa? Referensi: 1.. Edisi 10 tahun III 2002. 2. Penutup Sejarah telah memberi pelajaran bahwa jika negara menerapkan sistem demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis. Mansour. Yogyakarta. Bisa dibayangkan manusia seperti apa yang akan tercipta jika sekolah hanya mengajarkan pengetahuan tanpa upaya pemahaman nilainilai sosial kemanusiaan. Husein. Fakih. Nugroho (2002) menyebutnya sebagai cheerful robots yang pintar menjalankan instruksi teknis (berkaitan dengan pertanyaan how) dan bukannya berpikir kritis dan reflektif (berurusan dengan pertanyaan why). Muhammad Zaki.teknologi untuk transfer pengetahuan dalam pendidikan tidaklah salah. Cinderalas Pustaka Rakyat Cerdas. maka itu tidak berarti pemerintah harus “cuci tangan” dalam pembangunan kesejahteraan sosial. 4. Bebas dari Neoliberalisme. Namun apabila pendidikan hanya dilihat sebagai sebuah transfer pengetahuan dan mengabaikan pengembangan aspek afektinya yang membutuhkan interaksi pendidik dan peserta didik maka itu sebuah kekeliruan. 3. 7 . 2003. tidakkah tujuan didirikannya bangsa. Insist Press. Mengingat pada hakekatnya sistem ekonomi kapitalis adalah strategi mencari uang. Martin (2000). 2004. negara namun memang bukankah untuk negara melindungi didirikan segenap untuk mensejahterakan memajukan publiknya? Secara spesifik untuk Indonesia. Globalisasi dan Nasib Negara Bangsa. Mengutip sosiolog C. Wright Mills. Yogyakarta. Globalization Perangkap Negara-Negara Selatan (terjemahan). Meskipun para penganut liberalisme selalu mengkritik bahwa cara semacam ini hanya akan menjadikan masyarakat tidak mandiri dan tergantung kepada negara. Insist press.

2002. 8 .4. Alfabeta. Lucky Publishers. Tajidu Press. 5. 6. Winarno. 2003. McDonalisasi Pendidikan Tinggi. Nugroho. Heru Yogyakarta. Batam Centre. 7. Analisis Kebijakan Publik. Bandung. Future Education (Terjemahan).. Wen. Kanisius. Yogyakarta. Edi (2005). Globalisasi Wujud Imperialisme Baru: Peran Negara dalam Pembangunan. (Editor). Sayling. Budi. 2004. Suharto.