P. 1
Kepribadian menurut teori Barat

Kepribadian menurut teori Barat

|Views: 334|Likes:
Published by chollo

More info:

Published by: chollo on Feb 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

Bentuk Kepribadian Dilihat dari Teori Islam atau Teori Timur I.

Contoh Kasus Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa subjek merasa sangat terganggu dengan sifat kurang percaya dirinya itu. Subjek sebenarnya juga merasa bingung mengapa subjek menjadi kurang percaya diri, padahal saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, subjek adalah murid yang dikenal sangat aktif dan disayang sama guru-gurunya dulu. Tetapi, saat subjek memasuki bangku Sekolah Menengah Atas, subjek berubah menjadi sosok yang pendiam, jarang bertanya di kelas, susah bergaul, tidak lagi menjadi murid yang berprestasi , dan tidak menjadi murid yang disayang oleh guru-gurunya. Akibatnya, saat duduk di bangku SMA, nilainilai subjek banyak yang turun. Memang diakui subjek, lingkungan sekolah antara SD, SMP, dan SMA sangat berbeda. Saat SD dan SMP, subjek memilih untuk bersekolah di lingkungan rumahnya. Sehingga, subjek tidak terlalu kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya itu, karena subjek sudah banyak mengenal teman-teman satu kelas subjek. Baru, saat memasuki dunia SMA, subjek harus melakukan sedikit adaptasi karena subjek memilih untuk bersekolah di luar lingkungan rumah subjek. Di lingkungan SMA, subjek menemukan banyak hal-hal yang baru. Subjek menemukan banyak perbedaan saat sekolah di lingkungan rumah subjek dengan di luar lingkungan rumah subjek. Saat SMA, kebanyakan teman-teman subjek berasal dari SMP yang berbeda dengan subjek, sehingga subjek memerlukan sedikit adaptasi lagi untuk memahami kepribadian dari teman-temannya. Adaptasi ini, sedikit banyak berpengaruh juga terhadap cara bergaul subjek. Subjek merasa nyaman dengan orang-orang yang kepribadiannya hampir sama bahkan sama dengan subjek. Ini terbukti bahwa hampir semua teman-teman subjek merupakan siswa yang tidak aktif di kelas, pendiam, kurang percaya diri dengan kemampuannya. 1

Memasuki dunia perkuliahan, subjek merasa sifat kurang percaya dirinya ini semakin bertambah. Subjek menjadi semakin tidak aktif di kelas, sering duduk di belakang, sulit untuk berbicara di depan kelas, sulit untuk memulai sebuah hubungan pertemanan baru, masih suka berkelompok dengan teman-teman yang kepribadiannya juga sama dengan subjek. Karena sifatnya yang tidak berubah ini, subjek juga harus kembali menjadi mahasiswa yang tidak dikenal sama dosen dan semakin sulit untuk mengeluarkan pendapatnya. Sebenarnya, subjek juga sadar bahwa sifatnya ini sangat mengganggu bahkan bisa menghambat masa depannya. Subjek juga tahu, bahwa seharusnya masa kuliah adalah masa yang paling baik untuk menambah teman baru guna memperluas relasi bila nanti subjek sudah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Tapi, subjek juga tidak bisa bila harus seketika mengubah sifatnya ini dengan instant,karena semua yang ada di dunia ini butuh proses. Dan subjek akan terus berusaha untuk menghilangkan sifat kurang percaya dirinya ini sedikit demi sedikit. II. Dasar Teori Dalam Abhidhamma kata “kepribadian” serupa dengan konsep atta, atau diri (self) menurut konsep barat. Menurut Abhidhamma tidak ada diri yang bersifat kekal atau abadi, benar-benar kekal, yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang. Yang nampak sebagai pribadi terbentuk dari perpaduan antara proses-proses impersonal ini. Apa yang nampak sebagai diri, tidak lain adalah bagian keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu dan sebagainya. Satu-satunya benang dalan jiwa adalah bhava, yakni kesinambungan kesadaran dari waktu ke waktu. Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia, dibentuk oleh momen sebelumnya, dan pada gilirannya akan menentukan momenmomen yang berikutnya. Bhavalah yang menghubungkan momen kesadaran yang satu dengan momen kesadaran berikutnya. Jadi semua proses kejiwaaan manusia itu berkesinambungan.

2

Dhamma sama dengan energi unsur yang dengan gerak dan kombinasikombinasinya memberi daya bangkit pada proses-proses yang ada. Adapun susunannya yakni: 1. Kumpulan proses kegiatan badan yang digerakkan oleh dhammadhamma dari telinga, mata, hidung, lidah, kulit, serta dhammadhamma pelengkap dari warna suara, bau, rasa, dan daya tahan.
2.

Kumpulan-kumpulan indrawi (vedana) Proses pembentuk persepsi Proses pembentuk naluri sadar dan tak sadar untuk bertindak (sankhara), terbagi dalam:
a)

3.
4.

Unsur-unsur penyusun aktivitas batin dalam kesadaran:

perasaan, persepsi, kehendak, sensasi langsung, keinginan, pengertian, kecendurangan, dan konsentrasi.
b)

Unsur-unsur yang menyusun keutamaan: iman, keberanian,

kesopanan, rasa muak akan hal-hal yang tidak baik, sikap tidak loba, tidak benci, sabar, dan nalar. c) Pembentuk cacat kelemahan: keras kepala, keraguan,

kecerobohan, kemarahan, kemunafikan, iri hati, cemburu, pembohong, menipu, benci, dan sombong. 5. Kumpulan kegiatan-kegiatan kesadaran dibagi dalam unsur-unsur atau dhamma yang bertanggung jawab atas tiga kategori kesadaran: kesadaran murni, tidak murni, dan tidak jelas murni atau tidak. Semua tiga kategori kesadaran ini meliputi 89 unsur-unsur utama dhamma, yang bila dikaitkan dengan macam-macam kumpulan proses pembentuk sankhara. Model abhidamma untuk tipe-tipe kepibadian secara langsung diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda. Apabila jiwa seseorang tetap dikuasai oleh suatu faktor, maka hal ini akan menentukan kepribadian, motif-motif dan tingkah lakunya. Keunikan pola-pola faktor-faktor jiwa setiap orang menimbulkan perbedaan 3

individual dalam kepribadian melampaui kategori-kategori kasar tipe-tipe pokok kepribadian. Seseorang yang dikuasai oleh delusi merupakan suatu tipe kepribadian yang agak lumrah, atau sama seperti pendengki yang dikuasai oleh kemuakan, dan budak nafsu yang dikuasai oleh ketamakan. Suatu tipe yang lebih positif adalah orang yang cerdas, ditandai oleh sikap penuh hatihati dan pemahaman yang kuat. Pandangan Abhidamma tentang motivasi pada manusia berasal dari analisanya tentang faktor-faktor jiwa dan pengaruh dari faktor-faktor tersebut pada tingkah laku. Keadaan jiwa seseoranglah yang menggerakkannya untuk mencari sesuatu dan menjauhi lainnya, keadaan-keadaan jiwannya membimbing setiap perbuatannya. Apabila jiwa dikuasai oleh ketamakan, maka ini akan menjadi motif yang menonjol, dan orang akan bertingkah laku sesuai motif tersebut, berusaha mendapatkan objek ketamakannya. Apabila egoisme yang merupakan suatu faktor yang kuat, maka orang tersebut akan bertindak dengan cara-cara yang serba meningkatkan dirinya. Dalam arti ini, setiap tipe kepribadian merupakan tipe motivasi juga. Vhisuddimagga (Budhaggosa 1976), sebuah buku pegangan bagi meditator yang didasarkan pada Abhidhamma dan berasal dari abad V M, menyediakan satu bagian untuk mengenali kepribadian karena setiap macam orang harus diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan sifat-sifatnya. Salah satu metode untuk meneliti kepribadian adalah mengamati dengan seksama cara orang berdiri dan bergerak. Misalnya orang yang kuat nafsunya atau senang dalam kenikmatan, angggun jalannya; orang yang penuh kebencian suka menyeret kakinya kalau berjalan, orang yang dikuasai oleh delusi cepat langkahnya bila berjalan. Contoh petunjuk untuk melakukan analisis ini berbunyi sebagai berikut “ orang yang kuat nafsunya, jejak kakinya terbelah tengah. Orang yang tidak ramah jejak kakinya membentuk garis kebelakang, jejak kaki orang yang dikuasai oleh delusi kelihatan terburu-buru titampakkan………………….” Selanjutnya dikatakan bahwa Budhha meninggalkan jejak kaki yang rata secara sempurna karena jiwanya tenang sedangkan badanya pun seimbang.

4

Penulis Visuddhimagga mengakui bahwa setiap detil kehidupan merupakan petunjuk watak; buku pedoman dari abad V ini memberikan suatu profil tingkah laku yang sangat lengkap tentang setiap tipe kepribadian. 1. Orang suka kenikmatan (sensual) Berpenampilan menarik, sopan, dan menjawab dengan hormat kalau disapa. Kalau tidur mengatur tempat tidurnya, membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, ketika tidur tidak banyak bergerak. Melakukan tugastugasnya dengan seni; menyapu dengan ayun-ayunannya yang halus dan teratur, malakukan tugas-tugasnya dengan seksama. Pada umumnya mereka merupakan pekerja yang terampil, halus, rapi, sangat berhati-hati. Mereka berpakaian rapi dan bagus. Apabila makan mereka menyukai makanan yang empuk yang manis dan dimasak sampai matang dan disajikan dengan cara yang mewah; mereka makan dengan perlahan-lahan, sedikit-sedikit, dan sangat menikmati cita rasa. Kalau melihat objek yang menyenangkan, mereka akan berhenti untuk mengaguminya dan terpesona oleh keindahannya dan tidak akan memperhatikan kekurangannya. Mereka akan meninggalkan objek semacam itu dengan rasa sesal. Akan tetapi segi negatifnya mereka suka berlagak, menipu, sombong, tamak, tidak mudah puas, penuh nafsu, dan sembrono.

2. Orang yang penuh kebencian

Berdiri dengan kaku, membereskan tempat tidur secara serampangan dan tergesa gesa, tidur dengan badan tegang dan marah kalau dibangunkan. Apabila bekerja kasar dan sembrono ; apabila menyapu berbunyi keras dan gaduh. Pakaian ketat dan tidak rapi. Menyukai makanan yang pedas dan asam: makan dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan cita rasa, mereka tidak menyukai rasa yang hambar. Tidak tertarik pada objek-objek yang indah, memperhatikan kekurangan-kerkuangan kecil apapun, sementara mengabaikan

5

kebaikan-kebaikannya.

Sering

marah,

penuh

kebencian,tidak

mau

menunjukkan rasa terima kasih, mudah iri hati, dan kikir.

3. Berada diantara kedua tipe diatas

Orang yang dikuasai delusi berdiri dengan seenaknya. Tempat tidur tidak rapi, tidur terlentang,bangun dengan lamban dan menggerutu penuh keluh kesah. Sebagai pekerja mereka tidak terampil dan jorok, menyapu dengan kaku dan serampangan, tidak bersih. Pakaian kedodoran dan tidak rapi. Pemakan yang ceroboh, memasukan suapan yang besar-besar kemulut, dan mengotori muka dengan makanan. Tidak mempunyai ide apakah suatu objek bagus atau tidak selalu percaya dengan apa yang dikatakan orang lain lantas ikut memuji dan mencelanya. Kelihatan malas dan kaku, pikiran mudah kacau, mudah menyesal dan bingung, keras kepala, dan bandel. Faktor yang tidak sehat sentral, yakni delusi, adalah bersifat perseptual: delusi (moha) didefinisikan sebagai kegelapan jiwa yang menyebabkan persepsi salah tentang objek kesadaran. Dalam Abhidama delusi dilihat sebagai ketidaktahuan dasar yang merupakan sumber utama pendertiaan manusia. Persepsi yang salah tentang sifat sebenarnya dari hal-hal ini adalah ketidakmampuan melihat dengan jelas, tanpa prasangka atau bias apapun merupakan inti dari keadaan jiwa yang tidak sehat. Delusi menyebabkan “pandangan yang salah “ atau pemahaman yang tidak tepat (aditthi). Pandangan yang salah berarti menempatkan sesuatu pada kategori yang salah atau miss kategorisasi. Contoh bagaimana bekerjanya faktor-faktor ini adalah pada kasus orang yang menderita paranoid, yang secara keliru mempersepsikan orang lain sebagai sesuatu yang mengancam, padahal sesungguhnya sama sekali tidak berniat jahat, karenanya mengkategorikan orang lain itu sebagai anggota komplotan khyalan itu untuk melawan dirinya. Buddha berpandangan bahwa

6

apabila jiwa seseorang telah dikuasai oleh pandangan yang salah, apa saja yang mungkin ingin dilakukan atau dicita-citakan hanya akan “mengarahkan pada suatu keadaan yang tidak diinginkan, tidak menyenangkan, tidak mengenakkan pada kesengsaraan dan penderitaan “(Angutara Nikkaya, 1975, I, Hlm. 23). Diantara pandangan-pandangan salah yang dikecam secara eksplisit oleh Buddha adalah suatu asumsi umum terdapat dalam teori kepribadian barat, tetapnya terdapat diri atau ego yang bersifat tetap. Dalam Abhhidhama tidak ada diri sebagai diri, melainkan “suatu proses gejala fisik dan jiwa yang menenggelamkan aku yang timbul dan segera hilang lagi secara terus menerus” (Nyanatiloka 1972,hlm 25). Kebingungan (vicikiccha), mencerminkan ketidakmampuan untuk menentukan atau membuat suatu keputusan yang tepat. Apabila faktor ini menguasai jiwa seseorang, maka ia berada dalam kebimbangan, dan pada akhirnya dapat menjadi lumpuh. Faktor-faktor kognitif lain yang tidak sehat adalah sikap tidak tahu malu (ahirika) dan tanpa belas kasihan (anattapa); sikap-sikap ini menyebabkan seseorang tidak menghiraukan pendapat orangorang lain dan norma yang tertanam dalam dirinya sendiri. Apabila faktorfaktor ini menonjol maka seseorang akan melihat perbuatan-perbuatan jahat tanpa penyesalan dan dengan demikian orang cenderung berperilaku buruk. Memang faktor-faktor ini merupakan prasyarat bagi keadaan jiwa yang mendasari setiap perbuatan jahat. Faktor tidak sehat lainnya yang dapat meenimbulkan kejahatan adalah egoisme (mana). Sikap mementingkan diri sendiri ini menyebabkan orang melihat objek semata-mata sebagai pemenuhan nafsu atau kebutuhannya sendiri. Bergabungnya ketiga faktor jiwa ini (sikap tidak tahu malu, sikap tanpa belas kasihan, egoisme) dalam satu momen sudah pasti sering kali menjadi dasar bagi banyak kejahatan yang dilakukan manusia. Faktor-faktor jiwa yang tidak sehat sisanya bersifat afektif. keresahan (uddhaccca) dan kekhawatiran (kukucca) adalah keadaan bingung, penyesalan, linglung. Faktor-faktor ini menciptakan kecemasan yang merupakan ciri utama dari kebanyakan kekalutan jiwa. Serangkaian faktor tidak sehat lainnya berhubungan dengan ketergantungan: ketamakan (lobha), kekikiran (macchariya), dan iri hati (issa) merupakan aneka bentuk dari 7

ketertarikan pada suatu objek sedangkan kemuakan (dosa) merupakan sisi negatifnya. Ketamakan dan kemuakan terdapat dalam semua keadaan jiwa yang negatif dan selalu berkombinasi dengan delusi. Dua faktor terakhir yang tidak sehat adalah kontraksi (thina) dan kebekuan (midhha). Faktor-faktor ini membuat keadaan jiwa menjadi kaku, tidak fleksibel. Apabila faktor-faktor negatif ini menonjol, maka jiwa dan tubuh seseorang cenderung menjadi lamban. Setiap faktor yang tidak sehat ditentang oleh faktor yang sehat. Faktorfaktor ini bersifat tidak sehat atau sehat; tidak ada yang berada ditengah. Cara untuk mencapai keadaan jiwa yang sehat dalam Abhhidama adalah menggantikan faktor-faktor yang tidak sehat menjadi faktor-faktor yang sehat. Prinsip yang berlaku mirip dengan “reciprocal inhibition” (hambatan timbal balik yang digunakan dalam “systematic desentizatin”, dimana pengendoran (relaxation) menghambat lawan psikologisnya yaitu ketegangan (wolpe 1958)). Untuk setiap faktor jiwa yang negatif terdapat faktor positif yang menangkalnya. Apabila satu faktor sehat tertentu ada dalam suatu keadaan jiwa, maka faktor tidak sehat yang ditekannya tidak akan dapat muncul. Faktor sehat yang terpenting adalah pemahaman yang benar “insight” (panna), lawan dari delusi. “insight” dalam arti “presepsi yang jelas tentang objek sebagaimana adanya” menekan delusi, faktor tidak sehat yang fundamental. Kedua faktor ini tidak mungkin hadir bersama dalam satu keadaan jiwa: dimana terdapat kejelasan, maka tidak dapat terdapat delusi; sebaliknya dimana terdapat delusi maka tidak dapat ada kejelasan. Sikap penuh perhatian atau mindfulness (sati) adalah pemahaman yang jelas dan bersifat kontinyu tentang objek; pasangan hakiki dari pemahaman yang benar ini membuat jiwa seseorang selalu tetap terang. Pemahaman yang benar dan sikap penuh perhatian adalah faktor-faktor sehat yang utama; apabila keduanya muncul dalam suatu keadaan jiwa maka faktor-faktor sehat lainnya akan muncul juga. Kehadiran dua faktor sehat ini cukup untuk menekan semua faktor tidak sehat. Sejumlah faktor sehat menuntut syarat-syarat tertentu agar dapat muncul. dua faktor kognitif kembar, yakni sikap rendah hati (hiri), yang akan menghambat sikap tidak tahu malu dan sikap penuh hati-hati (ottapa), lawan dari sikap tanpa penyesalan, muncul dalam jiwa kalau hanya ada godaan untuk 8

berbuat jahat. Sikap rendah hati dan sikap hati-hati selalu berhubungan dengan kejujuran (cittujjukata) yakni sikap menilai secara tepat. Sikap lain yang sehat adalah kepercayaan (saddha), kepastian yang didasarkan pada presepsi yang tepat. Kelompok faktor jiwa ini yakni sikap rendah hati, penuh hati-hati, kejujuran, kepercayaan, bekerja sama untuk menghasilkan perbuatan kebajikan diukur dari norma pribadi maupun norma masyarakat. Kelompok faktor yang tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekikiran, irihati, dan kemuakan dilawan oleh faktor-faktor sehat meliputi ketidakterikatan (alobha), ketidakmuakan (adosa), sikap tidak memihak (tatramajihata), dan sikap tenang (passadhi), yang mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang terjadi karena berkurangnya perasaaan-prasaan ketertarikan. Keempat faktor di atas menggantikan sikap rakus atau kebalikannya, sikap menolak dengan penuh perhatian terhadap apa saja yang mungkin timbul dalam kesadaran seseorang. Faktor-faktor tidak sehat yakni ketamakan, egois, iri hati, dan kemuakkan, misalnya dapat menyebabkan seseorang sangat mendambakan pekerjaan yang terpandang dengan upah yang lebih tinggi dan mewah, atau iri hati terhadap orang lain yang memiliki pekerjaan yang demikian atau memandang rendah terhadap pekerjaan dirinya yang kurang bergengsi. Sebaliknya faktor-faktor sehat tandingannya meliputi ketenangan, ketidakterikatan, ketidakmuakan dan sikap netral akan menyebabkan orang itu menimbang keuntungan-keuntungan berupa upah dengan prestise dengan kerugian-kerugiannya seperti ketekanan dan ketegangan yang lebih besar, menilai secara lebih adil kelebihan-kelebihan yang telah menyebabkan orang lain memangku jabatan semacam itu dan kelemahan-kelemahan yang menyebabkan dirinya tampil kurang baik daripada semestinya. Akhirnya keempat faktor yang sehat ini akan menyebabkan seseorang mampu menilai keuntungan-keuntungan apa saja yang dapat diperoleh dari pekerjaannya, dalam hal-hal manakah pekerjaan itu kurang memuaskan, manakah kemampuan-kemapuannya yang sebenarnya, dan bagaimana menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut untuk mendapatkan posisi yang terbaik dalam batas-batas kemampuannya. Yang lebih penting lagi adalah sikap netral akan menyebabkan seseorang memandang seluruh situasi dengan tenang, tidak perlu merasa susah bahwa dirinya tidak memiliki pekerjaan yang lebih baik, tidak menganggap rendah 9

kerjaan yang dimilikinya, atau berpasrah kalah menerima dengan putus asa suatu pekerjaan yang dirasa tidak cocok. Keempat faktor jiwa ini memungkinkan orang menerima hal-hal sebagaimana adanya dan membuat perubahan-perubahan apa saja yang mungkin. Tubuh dan jiwa dalam Abhidhama dianggap saling berhubungan. Karena setiap faktor memepengaruhi baik tubuh maupun jiwa, maka kumpulan faktor jiwa yang terakhir ini merupakan satu-satunya kelompok faktor yang secara eksplisit dilukiskan sebagai memiliki akibat-akibat fisis dan psikologis. Faktor-faktor tersebut adalah kegembiraan (ahutta), fleksibilitas (muduta), kesangupan menyesuaikan diri (kammananata), dan kecakapan (pequnnnata). Apabila faktor-faktor ini muncul maka seseorang akan berpikir dan bertindak dengan yang mungkin timbul leluasa dan mudah mewujudkan ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal. Faktor-faktor ini menekankan faktor kontraksi dan kebekuan yang tidak sehat itu, yang menguasai jiwa seperti keadaan depresi. Faktor-faktor yang sehat ini mampu menyesuaikan diri secara fisik dan psikis terhadap keadaan-keadaan yang senantiasa berubah, menghadapi tantangan-tantangan manapun. Dalam psikodinamik Abidhama, faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat; kehadiran faktor yang satu menekan faktor tandingannya. Kamma seseorang lah yang akan mentukan apakah dalam keadaan sehat atau tidak sehat. Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh faktor situasi disamping itu juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan-keadaan jiwa sebelumnya. Faktor-faktor tersebut biasanya timbul sebagai suatu kelompok, entah bersifat positif maupun negatif. Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktorfaktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatankekuatan yang berbeda yaitu faktor apa saja yang paling kuat menetukan bagaimana seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu. Meskipun mungkin semua faktor negatif hadir, namun keadaan yang dialami akan sangat berbeda tergantung pada apakah misalnya ketamakan atau kebekuan yang mendominasi jiwa. Hirarki kekuatan dari faktor-faktor tersebut menetukan apakah keadaaan spesifik itu akan menjadi negatif atau positif. Apabila faktor tertentu muncul dalam keadaan jiwa seseorang maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian. Jumlah keseluruhan faktor10

faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang menentukan sifatsifat kepribadiannya. III. Analisis Kasus Dari contoh kasus di atas terlihat bahwa subjek mengalami masalah berupa krisis percaya diri yang mulai timbul sejak subjek masuk Sekolah Menengah Atas hingga subjek memasuki dunia perkuliahan. Bila dianalisis dengan teori kepribadian Budha, maka bisa dikatakan kalau kepribadian subjek termasuk ke dalam kepribadian yang tidak sehat. Terus bagaimanakah teori kepribadian Budha menjelaskan arti kepribadian subjek dalam contoh kasus di atas? Seperti yang dikatakan dalam Abhidhamma, kepribadian seseorang itu tidak kekal, selalu berubah, yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang, perpaduan antara proses-proses impersonal, serta merupakan bagian keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh yakni pikiran, penginderaan,hawa nafsu dan sebagainya. Jadi jika contoh kasus tersebut dikaitkan dengan teori di atas, maka bisa ditulis bahwa krisis kurang percaya diri yang dialami subjek merupakan suatu keadaan yang tidak kekal, selalu berubah-ubah, karena subjek yang dulunya percaya diri saat duduk di TK hingga SMP, tiba-tiba saja mengalami krisis percaya diri saat duduk di Sekolah Menengah Atas. Ini bisa dijadikan bukti bahwa kepribadian seseorang itu selalu berubah. Jadi, krisis percaya diri yang dialami subjek dalam contoh kasus di atas bisa disebabkan karena adanya momen krisis kurang percaya diri yang sebelumnya telah subjek punya dan terus berlanjut hingga sekarang. Seperti yang dipaparkan dalam contoh kasus di atas, bahwa krisis percaya diri yang dialami subjek sejak Sekolah Menengah Atas bisa disamakan dengan momen sebelumnya dan krisis percaya diri saat kuliah adalah momen selanjutnya. Selain itu, mungkin saja krisis kurang percaya diri yang dialami subjek telah menguasai jiwa subjek, sehingga krisis kurang percaya diri ini akan dijadikan sebuah motif yang menonjol dalam tingkah laku keseharian subjek, dan berusaha untuk mendapatkan objek krisis kurang percaya dirinya tersebut. 11

Nah, apabila krisis kurang percaya diri ini telah menjadi faktor yang kuat dalam hidup subjek, bisa saja subjek akan terus mempertahankan krisis kurang percaya dirinya ini dalam setiap tindakannya. Maka tidak aneh, bila sampai kuliah subjek masih mengalami krisis kurang percaya diri ini padahal subjek sudah mengetahui bahwa keadaan ini sangat merugikan dia. Mengapa ini tetap dipertahankan oleh subjek? Karena krisis kurang percaya diri ini secara tidak langsung telah menjadi tipe kepribadian baru bagi subjek yang sekaligus sebagai sebuah tipe motivasi bagi subjek. Krisis kurang percaya diri yang dialami subjek pada contoh kasus di atas bisa juga karena subjek mengalami delusi yaitu kegelapan jiwa yang menyebabkan persepsi salah tentang objek kesadaran yang merupakan sumber utama penderitaan manusia. Delusi yang dialami subjek sepertinya bila dilihat dari contoh kasus di atas lebih disebabkan karena subjek keliru mempersepsikan orang lain sebagai sesuatu yang mengancam, padahal sesungguhnya sama sekali tidak berniat jahat. Subjek merasa bahwa temanteman baru subjek ini akan menertawakan subjek saat subjek salah. Padahal pandangan subjek terhadap teman-temannya ini salah, teman-teman subjek hanya ingin memberi tahu yang benar itu seperti apa kepada subjek. Mengaitkan dengan pandangan Budha, delusi yang dialami subjek ini menunjukkan bahwa jiwa subjek telah dikuasai oleh pandangan yang salah, sebenarnya subjek juga ingin seperti teman-temannya yang bisa percaya diri di depan umum, tetapi karena jiwa subjek telah ditutupi dengan pandangan yang salah maka subjek berpikiran kalau keinginanya untuk menjadi lebih percaya diri akan mengarahkan subjek dalam keadaan yang tidak diinginkan, tidak menyenangkan, tidak mengenakan, bahkan bisa menjadi kesengsaraan. Karena dalam setiap perubahan pasti ada sesuatu yang aneh dalam diri subjek, nah keanehan yang dialami subjek itu mungkin saja akan menjadi bahan tertawaan bagi teman-teman subjek. Makanya, subjek memilih untuk tetap pada keadaannya sekarang. Krisis kurang percaya diri mungkin bisa dimasukkan sebagai faktorfaktor jiwa yang tidak sehat yang bersifat keresahan (uddhaccca) dan kekhawariran (kukucca) yaitu suatu keadaan bingung, penyesalan, linglung.

12

Faktor-faktor ini menciptakan kecemasan pada diri subjek yang merupakan ciri utama dari kebanyakan kekalutan jiwa menurut pendapat Abidhama. Dari contoh kasus di atas, dapat dilihat bahwa sebenarnya subjek juga ingin berubah, ingin menjadi percaya diri lagi seperti saat sebelum masuk bangku SMA, tetapi subjek bingung mencari cara yang tepat untuk berubah agar teman-teman subjek nanti tidak menertawakan perubahan yang dialami oleh subjek. Kemudian dari contoh kasus juga, subjek juga menyesal kenapa sekarang subjek menjadi krisis kurang percaya diri, padahal dunia perkuliahan adalah dunia yang bisa dijadikan subjek sebagai tempat untuk berkembang dan memuluskan karier subjek bila sudah lulus nanti. Bila contoh kasus di atas dikaitkan dengan pernyataan yang ada dalam psikodinamik Abidhama di atas, bisa saja krisis kurang percaya diri yang dialami subjek merupakan suatu kombinasi faktor yang merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh faktor situasi di samping itu juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Maksudnya, bias saja faktor postur tubuh menjadi alasan mengapa subjek merasa kurang percaya diri, entah postur tubuh subjek pendek, gendut, jelek, atau yang lainnya. Ini dipakai sebagai contoh bila dikaitkan dengan faktor biologis. Kemudian bila dilihat pengaruh dari faktor situasi bisa saja diambil dari hasil wawancara pada contoh kasus di atas yaitu pernyataan subjek yang beranggapan bahwa lingkungan subjek saat SMP dengan SMA sangat berbeda, lingkungan yang berbeda otomatis membuat situasi lingkungan yang dirasakan subjek juga berubah, bisa saja lingkungan yang berubah itu membuat situasi yang dirasakan subjek menjadi sebuah ancaman atau malah menjadi suatu situasi yang aman bagi subjek untuk kepribadiannya. Sedangkan krisis yang dialami subjek dari SMA bias dijadikan contoh bahwa krisis kurang percaya diri yang dialami subjek saat kuliah merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Sebetulnya dalam kepribadian manusia itu ada faktor positif dan negatif. Hanya saja kebetulan faktor negatiflah yang lebih dominan pada diri subjek ini. Sehingga factor negatif inilah yang mendapatkan penguatan dari subjek yang akhirnya menjadi sifat dari kepribadian subjek.

13

IV. Referensi Sutrisno, Mudji (Editor). 1993. Buddhisme:Pengaruhnya dalam Abad Modern.. Yogyakarta: Kanisius. Buddhadasa, Bhikku. 2008. The Truth of Nature: Tanya Jawab dengan Bhikku Buddhadasa Tentang Ajaran Buddha. Bandung: Karaniya

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->